Artikel Review Abstrak Pada sebuah workshop yang dikoordinir oleh WHO Collaborating Centre for Oral Cancer

and Precancer di Inggris mengemukakan isu atau pokok pembicaraan yang berhubungan dengan terminologi, definisi dan klasifikasi prekanker oral yang didiskusikan oleh para ke lompok ahli. Pendapat konsensus dari tim ini ditampilkan disini. Istilah potentially malignant disorder (gangguan yang berpotensi ganas), direkomendasikan untuk merujuk pada prekanker yangberarti bahwa tidak seluruh gangguan yang dijelaskan dengan istilah ini dapat berubah atau bertransformasi menjadi kanker. Setelah mengevaluasi secara kritis seluruh definisi yang diajukan selama ini mengenai leukoplakia oral, tim kerja menyetujui bahwa istilah leukoplakia harus digunakan untuk mengenali plak putih dengan resiko adanya keraguan terhadap penyakit atau gangguan lainnya telah ditiadakan (diekslusi) yang tidak menyebabkan peningkatan resiko untuk kanker . Sebuah bagan diajukan untuk mendiagnosis leukoplakia oral yang akan mencegah gangguan plak putih lainnya yang tidak diklasifikasikan sebagai leukoplakia. Tim kerja mengajukan kritikan/keberatan yang meliputi:penggunaan terbaru dari terminologi dan klasifikasi potentially malignant disorder (gangguan yang berpotensi ganas), kekurangan dari sistem kompleks i i, dan bagaimana mereka n telah mengalami perkembangan pada beberapa dekade terakhir. Terminologi yang ditampilkan pada laporan ini mencerminkan pemahaman terbaik kita mengenai multistep karsinogenesis dalam mukosa oral, dan diharapkan untuk digunakan secara konsisten.

Pendahuluan Sebuah tim internasional yang terdiri atas berbagai ahli dalam bidang epidemiologi, oral medicine dan patologi, dan biologi molekuler dengan spesialisasi pada oral cancer dan prekanker mengadakan pertemuan di London pada bulan M 2005 untuk mendiskusikan konsep terbaru, terminologi, ei klasifikasi, riwayat alami, patologi dan tanda molekuler, serta untuk menganalisis secara kritis perkembangan pengetahuan dan latihan mengenai diagnosis dan manajemen dari apa yang secara tradisi atau turun temurun disebut, secara bersama , lesi prakanker dan kondisi mukosa oral. Workhsop tersebut dikoordinir oleh WHO Collaborating Centre for Oral Cancer a Precancer di nd Inggris. Rangkaian diskusi paper mengenai aspek di atas disiapkan lebih dahulu ol h para ahli, lalu e didiskusikan secara luas pada workshop dan kemudian direvisi. Serangkaian laporan menjadi pokok pembicaraan, dimana yang menjadi fokus pertama ialah masalah: nomenklatur, definisi, dan klasifikasi dengan beberapa rekomendasi jelas dari tim kerja yang didesain untuk mewakili kemajuan pemahaman kita mengenai biologi prekanker oral, dan untuk mencapai diagnosis yang konsisten dalam praktik klinis. Pendapat konsensus dari tim ditunjukkan pada kalimat yang tercetak miring dimana terdapat rekomendasi untuk mengubah terminologi atau definisi. Konsep Prekanker Konsep yang menunjukkan bahwa beberapa lesi atau gangguan mukosa oral sebagai prekanker didasarkan pada bukti bahwa:

1. Penelitian longitudinal, daerah jaringan yang memiliki beberapa perubaha pada tampilan n klinisnya yang diidentifikasikan pada penilaian pertama sebagai prekanker telah mengalami perubahan menjadi ganas selama periode follow up dilakukan. 2. Beberapa perubahan ini, khususnya patch merah dan putih terlihat terdapat bersama pada margin dari oral squamous cell carcinoma yang jelas. 3. Perbandingan ini dapat memberikan perubahan morfologis dan sitologis pada epitelial ganas, tetapi tanpa adanya invasi yang jelas. 4. Beberapa kromosom, perubahan genom dan molekuler ditemukan pada oral kanker yang secara jelas invasif dideteksikan pada pendapat ini sebagai fase prekanker atau preganas Istilah prekanker, lesi prekursor, preganas, intra epitelial neoplasia, dan berpotensi ganas (potentially malignant) telah digunakan dalam literatur internasiona untuk menjelaskan secara l umum mengenai presentasi atau penampakan klinis yang kemungkinan berpotensi menjadi kanker. Keseluruhan istilah tersebut menunjukkan proses dua tahap atau multi tahap dari perkembangan kanker, tetapi hal ini tidak mungkin pada dasar priori, bahwa terdapat keseragaman dalam diri pasien atau reaksi jaringan. Terminologi seharusnya mencermikan pemahaman terbaik kita mengenai karsinogenesis dalam mukosa oral, dan pengharapan untuk dapat digunakan secara konsisten. Monograf terbaru dari WHO mengenai Tumor Kepala dan Leher (2005) menggunakan istilah epithelial precursor lesions Konsensus dari tim terbaru merekomendasikan istilah potentially malignant disorder (gangguan yang berpotensi ganas), yang menunjukkan bahwa tidak semua lesi dan kondisi yang dijelaskan melalui istilah ini dapat bertransformasi atau berubah menjadi kanker, lebih dari itu terdapat beberapa perubahan morfologi di antara beberapa yang memiliki peningkatan potensi untuk mengalami perubahan menjadi ganas. Potentially malignant disorder (gangguan yang berpotensi ganas) pada mukosa oral juga menjadi indikator kemungkinan besar resiko keganasan yang akan terjadi mendatang di tempat lain (secara klinis sekarang nampak normal) pada mukosa oral dan tidak hanya prediktor pada tempat tertentu. Jauh sebelumnya, tim WHO pada tahun 1978 mengemukakan bahwa gambaran klinis dari kavitas oral yan dikenal sebagai prekanker (yang sekarang disebut potentially malignant disorder (gangguan berpotensi ganas-lihat di atas) diklasifikasikan ke dalam dua kelompok besar, sebagai lesi dan kondisi, dengan definisi: Lesi prekanker merupakan perubahan morfologis dimana kemungkinan terjadinya kanker mulut lebih besar daripada menjadi normal. Kondisi prekanker merupakan kondisi umum yang berhubungan dengan peningkatan resiko kanker yang signifikan. Hal ini dapat diperhatikan dari pengalaman-pengalaman di seluruh dunia bahwa prekanker mulut memiliki bermacam-macam gambaran klinis. Kelompok lesi prekanker dan kondisinya pada laporan tersebut tercantum pada Tabel 1. Perbedaan antara lesi prekanker dan kondisi prekanker betul-betul diperhatikan tidak hanya secara teoritis. Pada waktu itu, istilah ini telah diciptakan, yang dianggap bahwa sumber keganasan dalam mulut pasien ialah lesi prekanker yang akan berhubungan dengan daerah prekanker. Di lain pihak, pada kondisi prekanker, kanker dapat timbul dari berbagai daerah anatomi di mulut atau faring. Sekarang

telah diketahui bahwa meskipun secara klinis mukosa nampak normal pada pasien yang memiliki lesi prekanker kemungkinan juga memiliki displasia pada daerah anatomi kontralateralnya atau kelainan molekular di daerah mukosa lain yang kemungkinan menjadi jalur untuk terjadinya perubahan menjadi ganas, dan bahwa setelah itu kanker dapat timbul pada jaringan normal. Untuk itu, tim terbaru tidak mendukung pembagian prekanker menjadi lesi dan kondisinya, sehingga pendapat konsensus mengenai seluruh gambaran klinis yang dapat membawa resiko kanker ialah menyebutnya dengan istilah potentially malignant disorder untuk dapat mencerminkan luasnya distribusi penyebaran anatominya. Tabel 1. Klasifikasi lesi prekanker dan kondisinya (WHO) Lesi Prekanker Kondisi Prekanker Leukoplakia Fibrosis submukosa Eritroplakia Actinic keratosis Lesi Palatal pada Perokok yang Merokok Lichen Planus Terbalik Discoid lupus eritematous

Terminologi dan Definisi potentially malignant disorder (gangguan yang berpotensi ganas) Leukoplakia WHO Collaborating Centre for Oral Precancerous Lesions pada tahun 1978 mencoba untuk mendefinisikan oral leukoplakia dengan cukup sempit untuk mendukung penerimaan secara internasional sistem untuk mengenali patch putuh yang membawa resiko peningkatan potensi keganasan. Lebih dari 25 tahun definisi WHO mengenai leukoplakia dikutip oleh para peneliti dan klinisi, dan diubah dan dipersempit oleh tim-tim peneliti lain dan para ahli pada beberapa seminar internasional. Beberapa pendapat untuk menetapkan atau mempersempit definisi WHO mengenai oral leukoplakia ditunjukkan pada Tabel 2. Patut untuk dipertanyakan apakah definisi WHO (1978,1997) telah dipakai lebih lama daripada tujuan awalnya. Definisi untuk gangguan spesifik dibutuhkan untuk memfasilitasi perubahan informasi pada para epidemiologis, klinisi, dan patologis untuk membantu da lam perkembangan intervensi hasil, untuk membandingkan hasil treatmen, dan pada waktunya, untuk menentukan prognosis. Dibandingkan dengan kelompok luas seluruh patch putih-mayoritas gangguan ini tidak berbahaya- definisi WHO membuat sistem pengelompokan bersama dari kelainan di atas yang membawa peningkatan resiko perubahan keganasan. Hal ini memberikan beberapa pencapaian, secara luas melalui eksklusi dari patch-patch putih yang tidak memiliki hubungan dengan terjadinya kanker. Setelah memperhatikan seluruh definisi yang diajukan, tim menyetujui untuk mengubah definisi WHO tahun 1978 menjadi: Istilah leukoplakia harus digunakan untuk mengenali plak putih dengan resiko adanya keraguan pada penyakit atau gangguan lainnya telah ditiadakan (diekslusi) yang ti ak d menyebabkan peningkatan resiko kanker . Lebih lanjut leukoplakia merupakan istilah klinis dan lesi yang tidak memiliki histologis khusus. Leukoplakia dapat memperlihatkan adanya atropi atau hipeplasia (acanthosis) dan mungkin atau tidak menunjukkan adanya displasia epitelial. Leukopklakia memiliki pola tampilan yang bervariasi tetapi disertai dengan adanya kecurigaan perubahan menjadi

ganas. Harus diperhatikan bahwa displasia epitelial oral tidak memiliki tampilan klinis yang spesifik dan istilah tersebut tidak boleh digunakan untuk deskripsi klinis dari lesi putih.

Tabel 2. Definisi leukoplakia oral yang diajukan dalam dekade terakhir Tim Kerja WHO Definisi

Patch atau plak putih yang tidak dapat dikarakteristikan/ditandai secara klinis atau patologis sebagai adanya penyakit lain Konferensi Internasional Pertama Leukoplakia Patch atau plak putih yang tidak dapat Oral, Malmo, Swedia dikarakteristikkan/ditandai secara klinis atau patologis sebagai penyakit lain dan tidak berhubungan dengan berbagai agen penyebab fisik dan kimiawi selain dari penggunaan tembakau Simposium Internasional Uppasala, Swedia WHO WHO Warnakulasuriya et al, (laporan ini) Lesi putih yang dominan pada mukosa oral yang tidak dapat ditetapkan sebagai lesi lain Lesi putih yang dominan pada mukosa oral yang tidak dapat ditetapkan sebagai lesi lain Tidak didefinisikan; tidak ada perbedaan dengan patch putih lainnya Leukoplakia harus digunakan untuk mengenali plak putih dengan resiko adanya keraguan terhadap penyakit atau gangguan lainnya telah ditiadakan (diekslusi) yang tidak menyebabkan peningkatan resiko untuk kanker

Tipe Klinis Dua tipe klinis utama leukoplakia telah dikenali, yakni homogenous dan nonhomogenous leukoplakia. Perbedaan tipe tersebut semata-mata hanya pada klinis, berdasarkan warna permukaan dan karakteristik morfologis (ketebalan), dan memerlukan beberapa penunjang untuk hasil atau prognosis. Lesi homogenous secara keseluruhan rata, tipis, dan memperlihatkan adanya celah dangkal dari permukaan keratin. Resiko perubahan menjadi ganas secara relatif rendah. Lesi nonhomogenous memiliki resiko yang jauh lebih besar untuk berubah menjadi ganas. Jenis nonhomegenous meliputi:
y y y

Bintik: campuran, putih dan merah, tetapi yang paling dominan adalah putih Nodular: hasil pertumbuhan yang menyerupai polip kecil; dikelilingi oleh tonjolan putih atau merah Verrucous: tampilan permukaan yang mengkerut atau tidak rata

Pendapat konsensus dari tim menyebutkan bahwa pembagian secara luas leukoplakia menjadi tipe homogenous atau nonhomogenous merupakan hal yang tidak tepat dan tidak akurat. Namun, tipe dengan plak yang bercampur putih dan merah harus diketahui memiliki kead aan resiko yang lebih tinggi. Hal tersebut dinamakan erithroleukoplakia.
y

Proliferative verrucous leukoplakia (PVL) tampak multipel, leukoplakia berkelompok ; sebagai penyakit yang terlihat multifokal dan seringkali menutupi daerah yang luas. Hal ini secara jelas sesuai dengan terminologi potentially malignant disorder (gangguan yang berpotensi ganas) yang diajukan daripada mempertahankan untuk menyebut P sebagai VL lesi atau sebagai sebuah keadaan.

Penjelasan klinis tambahan yang dapat membantu dalam mengenai oral leukoplakia yang direkomendasikan, antara lain: a. Deskripsi etiologi: secara jelas berhubungan dengan penggunaan tembakau atau pinang: idiopatik. b. Gambaran tempat memberikan sub-site anatomis pada mulut atau orofaring (ICD-DA/ICD) c. Ukuran atau perluasan lesi Diagnosis sementara leukoplakia ditetapkan ketika terdapat lesi putih yang dominan pada pemeriksaan klinis yang tidak dapat didiagnosis secara jelas sebagai penyakit atau gangguan lain dari mukosa oral (tabel 3). Biopsi dianjurkan untuk dilakukan. Diagnosis definitif dibuat ketika semua penyebab selain penggunaan tembakau dan pinang telah dikeluarkan (tidak ada) dan hasil histopatologis tidak menunjukkan adanya gangguan khusus lain. Tabel 3. Gangguan yang Harus Ditiadakan (Diekslusi) untuk Diagnosis Leukoplakia Gangguan Gambaran Diagnostik Biopsi White sponge nevus Terlihat ketika usia muda, riwayat Biopsi tidak diindikasikan keluarga, daerah yang terkena luas, mukosa genital dapat terkena. Frictional Keratosis Riwayat trauma, kebanyakan di Biopsi dilakukan bila sepanjang oklusal plane, etiologi kelainan tetap terjadi nyata, kebanyakan reversibel setelah diakukan eliminasi apabila dihilangkan penyebabnya, khususnya pada pengguna tembakau. Morsicatio buccarum Habitual cheek-gigitan bibir Biopsi tidak diindikasikan terlihat, serpihan putih iregular dengan tepi yang bergerigi Chemical injury Riwayatnya diketahui, tempat lesi Tidak diindikasikan berhubungan dengan tempat luka kimia (chemical injury), sakit, cepat hilang (sembuh) Acute Membran dapat dikelupas/dikerok Diswab (diseka) untuk pseudomembranous yang meninggalkan bekas kultur candidosis permukaan eritematous atau lecet. Leukoedema Bilateral pada mukosa bukal, dapat Tidak diindikasikan hilang bila di retraksi, rasial

Lichen planus (jenis plak)

Reaksi lichenoid

DLE

Bentuk lain dari lichen planus (retikular) ditemukan dalam kumpulan Riwayat penggunaan obat, misalnya dekat dengan restorasi amalgam Lesi terbatas dengan bagian tengah eritema, garis putih menyebar

Biopsi konsisten dilakukan untuk lichen planus Biopsi konsisten dilakukan untuk lichen planus atau reaksi lichenoid Biopsi konsisten dilakukan pada DLE yang didukung oleh imunoflorenses dan pemeriksaan lainnya Tidak diindikasikan Histopatologis khusus dengan koilositosis; EBV dapat ditunjukkan pada ISH Tidak diindikasikan

Skin graft Hairy leukoplakia

Riwayat diketahui Keratosis bilateral lidah

Leukokeratosis nikotina palatal

Riwayat merokok, palatal putih keabu-abuan

Patch putih Meniadakan kemungkinan kondisi/gangguan/penyakit lain berdasar pada riwayat dan pemeriksaan Diagnosis klinis sementara Leukoplakia BIOPSI Penyakit lain tidak ada (dieksklusi) Leukoplakia dengan displasia Leukoplakia tanpa displasia Ditemukan adanya gangguan lain

Diagnosis kembali menjadi penyakit atau gangguan lain

Gambar 1. Skema yang mewakili tahap-tahap dalam mendiagnosis leukoplakia oral

Diagram skema untuk membantu memperkenalkan oral leukoplakia dengan mengeliminasi gangguan mukosa lain digambaran oleh para ahli pada workshop dan ditampilkan pada Gambar 1. Setelah biopsi, apabila tidak ada gangguan lain yang ditunjukkan pada hasil, les kemudian i digolongkan lebih lanjut menjadi leukoplakia dengan atau tanpa displasia. Meskipun banyak alat prognostic molekuler yang diajukan, namun, adanya kehadiran displasia epitel yang dilihat melalui pemeriksaan mikroskop cahaya masih menjadi prediktor yang terkuat dari adanya transformasi atau perubahan keganasan pada gangguan yang berpotensi ganas di mulut masa mendatang. Peran histopatologi memiliki nilai prediksi positif dan negatif, dan dikarenakan nilai dan keterbatasannya-atau kegunaannya-dalam memprediksi transformasi keganasan didiskusikan pada publikasi mendatang dari rangkaian ini. Sistem tingkatan untuk leukoplakia oral yangmengkombinasikan antara aspek klinis dan penemuan patologis telah diajukan, pada tabel 4 merupakan sebuah proposal un tuk

melaporkan hasil treatmen leukoplakia. Harus diperhatikan bahwa usulan belum selesai divalidasi. Tabel 4. Melaporkan Hasil Treatmen Leukoplakia Oral; sebuah proposal (dimodifikasi dari Miller et al. (11)) Jenis Treatmen
y y y y

Surgical (termasuk CO2) Non-surgical Chemo-prevention Hanya Observasi

Tingkat respon (dalam kasus treatmen non-bedah atau observasi tanpa treatmen)
y Tidak ada respon (penyakit stabil) y Respon parsial (>50% pengurangan pada jumlah, tetapi tidak seluruhnya) y Respon penuh (Complete response) y Penyakit progresif(>25% peningkatan pada jumlah atau tampak lesi baru)

Rekurensi Leukoplakia pada bagian bawah daerah yang sama, interval waktu diabaikan New primary Leukoplakia pada daerah bagian bawah yang berbeda Transformasi keganasan Keganasan yang terjadi pada daerah kepala dan leher, bagian luar kavitas oral Keganasan terjadi pada bagian luar daerah kepala dan leher Lamanya follow up Tabel 5. Diagnosis diferensial eritroplakia Keadaan alami Gangguan inflamasi/imunitas Kategori diagnostik Gingivitis desquamatis Eritematous lichen planus Discoid lupus eritematous Pemphigoid Reaksi hipersensitif Penyakit reiter Kandidiasis eritematous Hemangioma Sarcoma kaposi

Infeksi Hamartmas/neoplasma

Eritroplakia Eritroplakia oral sudah lama dianggap sebagai lesi mukosa oral dengan potensi terbesar untuk berubah menjadi ganas dalam mulut. Definisinya tidak mengalami perubahan terlalu banyak selama periode dan definisi WHO 1978 tetap sama dan secara luas digunakan. tonjolan berwarna merah menyala yang tidak dapat dikenali secara klinis atau patologi sebagai penyakit lain yang dapat ditetapkan. Tim kerja terbaru mensahkan definisi ini untuk digunakan secara umum di dunia untuk membedakan dengan jelas lesi merah. Perlu diperhatikan bahwa eritroplakia seringkali rata dengan permukaan halus atau bergranula. Banyak patch merah atau makula lain yang dapat muncul pada mukosa oral yang harus diekslusi sebelum menganggap eritroplakia sebagai diagnosisnya. Hal ini tercantum pada tabel 5. Eritroplakia kelihatannya relatif tidak biasa dan seringkali merupakan gabungan lesi merah dan putih. Hal ini harus dianggap sebagai istilah eritroplakia seperti yang dijelaskan sebelumnya. Lesi palatal pada Perokok yang Merokok Terbalik Gangguan ini khusus untuk orang-orang yang merokok dengan bagian ujung yang menyala (berapi) dari rokok, cigaret, atau cerutu yang masuk ke dalam mulut, yang menyebabkan timbulnya lesi merah, putih, atau gabungan pada palatal. Tidak terdapat kesulitan untuk menetapkan atau mendiagnosis lesi ini karena dikhususkan pada individu atau komunitas yang memiliki kebiasaan khusus. Seluruh perubahan yang berhubungan dengan kebiasaan ini terjadi pada bagian palatal. Fibrosis submukosa oral Oral fibrosis submucosa (OSF) merupakan kelainan kronis yang dikarakteristikkan/ditandai dengan fibrosis pada lapisan mukosa traktus digestivus atas meliputi; kavitas oral, orofaring, dan seringkali pada bagian ketiga atas esofagus. Selain bentuk awal penyakit, gambaran klinis yang karakteristiknya disebabkan oleh fibrosis lamina propria dan submukosa dengan peningkatan kehilangan mobilitas jaringan. Populasi yang berbeda dapat menunjukkan daerah terkena yang berbeda pada mulut. Bentuk awal dan akhir gambarannya dicantumkan dalam Tabel 6. OSF diketahui sebagai potentially malignant disorder atau gangguan yang berpotensi ganas Actinic keratosis Actinic keratosis dianggap dapat menunjukkan adanya kondisi yang berpotensi ganas pada bibir. Epitel squamous pada vermilon bibir dapat menjadi hiperplasia atau atropi dan menunjukkan kelainan maturasi, berbagai tingkat keratinisasi, atipik sitologis, dan peningkatan aktivitas mitosis pada pemeriksaan mikroskopik. Jaringan konektif dasar biasanya menunjukkan degenerasi basofil kolagen dan elastosis. Diagnosis sementara dapat dibuat pada tampilan klinis, tetapi diagnosis pastinya harus dilakukan dengan biopsi.

Lichen planus Lichen planus merupakan gangguan inflamasi kronis yang menunjukkan adanya beberapa patologis dari imun. Kondisi cell mediated tidak diketahui etiologinya; dimana limfosit T terakumulasi di bawah epitelium mukosa oral dan peningkatan tingkat diferensiasi dari epitel stratified squamous, menyebabkan terjadinya hiperkeratosis dan eritema dengan atau tanpa ulserasi. Terdapat kontroversi besar mengenai potensi keganasan alami pada kondisi ini sementara beberapa pendapat ahli mengemukakan bahwa lichen planus tidak diragukan membawa potensi keganasan dan resiko yang tidak spesifik. Lichen planus dan lesi lichenoid berkarakteristik, tetapi gambaran klinis dan histologis tidak patogonomik(tidak khusus), biasanya berbeda dengan leukoplakia oral; tipe plak lichen planus yang mungkin, namun, seringkali mirip dengan leukoplakia, sehingga menegaskan pentingnya dilakukan biopsi untuk menetapkan diagnosis. Terdapat kesulitan dalam membedakan lichen planus dari lesi-lesi lichenoid atau lichenoid yang berhibungan dengan lesi-lesi. Discoid lupus erythematous Discoid lupus erythematous (DLE) merupakan penyakit autoimun kronik dengan etiologi yang tidak diketahui. Perbedaan klinis DLE dengan lichen planus dan eritroplakia seringkali sulit. Terdapat data yang bertentangan dari literatur apakah DLE dianggap gangguan berpotensi ganas (potentially malignant disorder). Transformasi menjadi ganas dilaporkan lebih besar kemungkinan terjadi ketika DLE mengenai bibir dibanding daerah intraoral. Hereditary disorder with increased risk Dua kondisi yang dapat memiliki peningkatan resiko keganasan dalam mulut adalah kongenital diskeratosis (DC) dan epidermolysis bullosa. Kedua penyakit tersebut merupakan penyakit herediter yang jarang ditemukan, sebagian besar kasus DC terpaut kromosom X dan mengenai pria. Pasien dengan DC seringkali terdapat plak putih pada dorsal lidah yang mungkin dapat diduga sebagai leukoplakia, tetapi tidak adanya kebiasaan khusus dan usia yang masih muda dapat menunjukkan bahwa terdapat herediter alami pada gangguan ni. i Perubahan menjadi ganas pada daerah plak putih dilaporkan telah ada. Kesimpulan Terminologi dan klasifikasi yang diajukan pada workshop ini memperkuat pemahaman mengenai istilah yang telah diketahui dan dilanjutkan serta sistem yang telah menunjukkan nilainya dalam penelitian bidang epidemiologi dan klinis. Melakukan perubahan terhadap klasifikasi yang sudah luas digunakan dan yang telah membantu kita dalam memantau penyakit dan evaluasi penelitian merupakan hal yang tidak ril, tetapi penting untuk kita menjelaskan kritikan terhadap penggunaan dan berbagai kekurangan sistem kompleks ini, dan

memahami bagaimana mereka telah mengalami perkembangan pada beberapa dekade terakhir. Kita harus berusaha untuk memperkuat definisi oral leukoplakia. Penggunaan skematik yang dianjurkan untuk mendiagnosis leukoplakia akan mencegah berbagai gangguan putih pada oral yang tidak diklasifikasikan sebagai leukoplakia. Kita tidak akan berhasil untuk merekomendasikan bahwa beberapa istilah yang digunakan secara universal dengan cepat dibuang, tetapi harus menjadi acuan dalam pendidikan bagaimana istilah-istilah ini harus digunakan dalam rangka konsensus internasional.