Laporan Pendahuluan

A.

Konsep Dasar Carsinoma Mammae Carsinoma Mammae adalah pertumbuhan dan

Pengertian pembelahan sel khususnya sel pada jaringan mammae yang tidak normal/abnormal yang terbatas yang bertumbuh perlahan karena suplai limpatik yang jarang ketempat sekitar jaringan mamae yang banyak mengandung banyak pembuluh limfe dan meluas dengan cepat dan segera bermetastase. Penyakit kanker payudara/mammae adalah penyakit keganasan yang berasal dari struktur parenchim payudara. Paling banyak berasal dari efitel duktus laktiferus (70 %), efitel lobulus (10%) sisanya sebagian kecil mengenai jaringan otot dan kulit payudara, kanker payudara/mammae tumbuh lokal ditempat semula, lalu selang beberapa waktu menyebar melalui saluran limfe (penyebaran sisitemik) keorgan vital lain seperti paru-paru, tulang, hati, otak dan kulit. Etiologi Karsinoma mammae secara pasti tidak diketahui penyebabnya tapi pencetus yang sering disebabkan olah estorogen yang lebih dikenal sebagai estorogen dependent mengandung eseptor yang mengikat estradiol, suatu tife esterogen yang pertumbuhnya diangsang oleh esterogen, karena reseptor ini tidak muncul pada jaringan payudara yang normal Tanda dan Gejala Tanda dan gejala paling dini adalah berupa tumbuhnya benjolan pada daerah mamae, 1

Klasifikasi TNM Kanker Payudara/mammae
Tahapan ukuran Keterlibatan nodul Metatasis Tidak ada (MO) Tidak ada (MO) Tidak ada (MO) tumor I kurang dari 2 cm Tidak aa NO II Kurang dari 5 cm (T1 Axillary nodes dan T2) III lebih dari 5

dapat

berpindah (N1) cm Axillary nodes tetap atu

dengan invai kulit atau dpat berpindah (N dan melebar pada dinding N2) dada IV setiap ukuran Setiap nodes Ya (M1)

Prognosa Prognosa kanker payudara dlam hal pencapaiansurvival yang tinggi dan perbaikan kualitas idup dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor prognostik primer antara lain : 1. Status kelenjar getah ening (lympa node kelenjar getah bening invasi kapsul 2. Diameter tumor (tumor size) : diametr tumor mempunyai korelasi dengan penyebarannya kelenjar getah bening 3. Hormon reseptor (HR) status : esterogen reseptor (ER), progesteron reseptor (PR) 4. Histopathology status : nuclear rade, histologic grade 5. S-phase: indeks profilasi sell 6. DNA ploidy : ondeks diploid dan undiploid cell 7. HER-2 /new reseptor(C-er B-2 reseptor 8. P53 9. Epiermal growth faktor reseptor (EGFR) 10. 11. 12. 13. Cathepsin D Angiognesis Umur Staadium panyakit status) : jum;ah

Patologi 2

Ket : o Apoptosis abnormal o Protoencogen pertumbuhan o Tumor supresor gen pertumbuhan o BCL2 & MDM 2 yang dihasilkan oleh gen suppresor o NER : Nucleotine eksesion refair o P53 P21 o P21 o CDK : protein yang menekan CDK4,6 : Cyclin dependent protein kinase : : gen perbaikkan : protein yang mengatur expresi : meregulasi protein : yang mengatur : mengatur proses : program sel dimatikan kalau

yang berperan dalam pembelahan sel Respon NER Stressor DNA Defect abnormal Berhasil immortal normal PK-C DNA PK Defoforfikasi Dan acetylinan Melalui serin P53 BCL 3 Hemeostatis Blok Bax DNA Defect Gagal Apoptosis modulasi : CPK -2& DNA

2 Aktif 15 437  P53  stabil MDM2 memfosforilasi P53 Melalui serin 15 dan P53 aktif Memfosforilasi MDM 2 secara ATR Berhub oleh K3 teroeinin manzain MDM 2 aktif ATM 4 .

norefinefrin. bradikinin. rangsangan organ viseral Penekanan reseptor Pada parenkhim payudara prostalagnin . adeno carsinoma ) Kohesif Ketakutan (Kecemasan) Ganas/kanker (Sel kecil/oat cell) Kurang kohesif Pertumbuhan cepat Kompetisi Pemakaian Nutrisi.Patofisiologi Infeksi virus ( Virus SV – Mutasi gen pengendali pertumbuhan Tumor supresor Berfungsinya onkogen ( Carsinogenic Gangguan mekanisme pengendalian Perubahan parenkhim sel payudara / mammae Jinak (Epidermoid. serotonin. sel besar. melalui Metastase Hematogen/Limfogen/Lan gsung Multiorgan failure Sepsis Respon Neuroendokrin Syok Sepsis Peningkat an suhu tubuh maladaptasi Morbiditas dan mortalitas Nyeri Resiko infeksi Ggn Nutrisi Kelemaha n /Intoleran si 5 .

meninggalkan /membiarkan kulit. patah tulang dan pengobatan ulkus Tife-tife pembedahan untuk membuang ca mammae • Lympectomi : Pembuangan sederhana benjolan tumor • Mastektomi parsial : pembuangan tumor dan 2. areola dan 6 .B. Penatalaksanaan Ca Mammae/kanker payudara 1. dan II). Pembedahan Terapi bedah bertujuan kuratif dan paliatif Jenis terapi : lokal /lokoregional Jenis terapi : terapi utama /terapi tambahan Prinsif terapi kuratif bedah Pengangkatan sel kanker secara kuratif dapat dilakukan dengan cara : • • • Modified radikal mastektomi Breast conversing treatment (BCT) ± rekontruksi payudara Tumorrektomi /lumpektomi /kuadran tektomi /parsial mastektomi ± diseksi axsila Pengobatan bedah kuratif dilakukan pada kanker payudara dini (stadium 0. dan pegobatan paliatif bedah adalah dengan mengangkat kanker payudara secara makroskopis dan masih meninggalkan sel kanker secara mikroskopis dan biasanya dilakukan pada stadium II dan IV dan juga untk mengurangi keluhan-keluhan penderita baik perdarahan. I.5 – 7.5 cm (1 sampai3 inci) jaringan sekitarnya ubcutaneoou s • Mastektomy : pembuangan seluruh jaringan yang mendasari tumor payudara .

Sebagai terapi tambahan/adjuvan biasanya diberikan bersama dengan terapi bedah dan kemoterapi pada kanker stadium I. III. ovorektomi. dan lemak dan fasia yang berdekatan dengan pembedahan 2. Hormon terapi Pengobatan hormon terapi untuk pengobatan sistemik untuk meningkatkan survival. Radioterapi dapat merupakan terapi utama . II dan IIIA . Pengobatan kemoterapi umumnya diberikan dalam regimen poliferasi lebih baik dibanding pemberian pengobatan monofaramasi / monoterapi 3. hormon terpi dapat juga digunakan sebagai terapi p[ravelensi kanker payudara. antiGn RH. II. Pemberian hormon ini sebagai adjuvan stadium I. seluruh payudara (dengan atau tanpa pectoralis minor) menghilangkan beberapa axilla lympa 7 .memasukkan putting intact) • mastectomy sederhana : menghilangkan seluruh payudara tapi tidak dengan nodus axillary • modifikasi mastektomy radikal: menghilangkan nodes • mastectoy radikal : menghilangkan seluruh payudara. pectolaris muscle (besar atau kecil. pemberian hormon aromatase inhibitor. yaitu dengan pemberian anti esterogen. Radioterapi Pegobatan radioterapi adalah untu penobatanlokal /lokoregional yang sifatnya bisa kuratif ataupaliatif. acillary lympa nodes. IV terutama pada pasiien yangreceptor hormon positif. misalnya pada operasi BCT dan kanker payudara stadium lanjut III.

dan Pengangatan tergantung mana pertumbuhan penyebaranya dipilih berdasar stadiumnya. sebaiknya dilakukan rehabolitasi mencegah timbulnya komplikasi akiabt treatment tersebut. Pengobatan bioterapi dengan rekayasa genetika mengoreksi mutasi genetik untuk mengoreksi mutasi genetik masih dalam penelitian. modified molekuler. 7. penyinaran. sebagai terapi utama pada kanker stadium lanjut (stadium IIIB dan IV) dan sebagai terapi tambahan Pada kasus karsinoma mammae dapat dilakukan pengobatan dengan radiasi dan pengangkatan sejauh mammae (Mastektomi).dan chemoterapy 8 . Immunoterapi dan ioterapi Sampai saat ini penggunaan immunoterapi seperti pemberian interferon. Rehabilitasi fisik dan psikis Penderita kemoterapi kanker payudara sebaiknya setelah mendapat fisik untuk pengobatan konvensiobnal seperti pembedahan. Rehabilitasi psikis juga diperlukan untuk mendorong semangat hidup yang lebh baik.4. untuk tujuan perbaikan kualitas hidup. paliatif (pemberian obat-obat paliatif) dan non medicamentosa (radiasi paliatif dan pembedahan paliatif) 5. Terapi Paliatif dan pain Terapi paliatif untuk dapat dikerjakan sesuai dengan keluhan pasien. 6. Dapat bersifat medikamentosa. Kemoterapi Pengobatan kemoterapi adalah pengobatan sisitemik yang mengguanakan obat-obat sitostatika melalui aliran sisitemik. masih bersifat terbatas sebagai terapi adjuvan untuk mendukung u ntuk keberhasilan pengobatan-pengobatan lainnya. biologi agent.

betadine 10%. psikososial.Asuhan Keperawatan klien pra dan pasca bedah Payudara. tentang macam tindakan yang akn dilakukan manfaatdan akibat yang mungkin muncul dan terjadi serta memberikan penjelasan tentang prosedur-prosedur yang akan dilakukan sebelum operasi. untuk mengaurangi bau tersebut dapat dilakukan nekrotomi dan pencucian luka. meraik diri dari pergaulan dan merasa canggung dan bersoislaisasi dengan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari c. kepada klien pasien dalam memhadapi perawta Persiapan diharapkan mempersiapkandiri mengetahui maupun keluarga. meliputi : Persiapan dan perawatan sebelum dan sesudah operasi 1 Sebelum dilakukan pembedahan.seperti :  perawatan ulkus pada kanker payudara adanya bau yangtidak sedap yang dapat mengganngu lingkungan sekitaranya. penderita disiapkan secara optimal antara lain : a. persiapan fisik yang baik. Persiapan psikologis. b. dan jangan lupa mengerjakan kultur pus 9 . psikologis bertujuan informasi untuk dokter membantu operasi. persiapan psikososial di tujukan menghindari adanya gangguan hubungan sosisal dan interpersonal dan peran dimasyarakat. kaena ituperlu adanya perawatan yang intensif sebelu operasi. bau ini terjadi karena adanya jaringan n ekrotik yangdisertaidengan infeksi sekunde. dan antiseptik lainnya. bisa dengan BWC 3 %. akiabt perubahan kondisi kesehatan dimana klien seolah-olah klien tidak mampu menerima simpati dariorang lain.

fungsi normal. bone scan. Mammografi. 10 . a. penderita dipindah keruang pemulihan disertai dengan oleh ahli anesthesidan staf profesional lainnya. fungsi lever. USG mamma. Mempertahankan ventilasi pulmoner Menghindari terjadiya obstruksi saluran pernafasan. harus dilakukan penghisapan dengan suction. Perawatan sesudah operasi Mastektomi adalah suatu tindakan pengangkatan tumor beserta payudara dan kelenjar axilla.  Menontrol kelengkapan data-data radiologi. Fase pasca anesthesi Setelah dilakukan mastektomi.dan sensitifitas tes bakterinya. seperti pemeriksaan darah. pada periode anestesi penyumbatan pada oleh diakibatkan lidahyangjatuh. gula darah. urine. 2. untuk mengatasi kesulitan-kesulitan atau komplikasi yang timbul kerena intervensi anesthesii maupun trauma pembedahannya. faal hemostasis. kebelakang dan tumpukan sekret.  Mengontrol data-data laboratorium.  Pengosongan saluran pencernaan 6-8 jam dipuasakan kemudian 3-4 jam dilakukan lavemen.  Pencukuran rambut ketiak dilakukan 2 jam sebelum operasi  Mandi bersih dan keramas. lendir yang terkumpul dalam faring trakea atau bronkhial ini dapat dicegah dengan posisi yang tepat dengan posisi miring/setengah telungkup dengan kepala ditengadahkan bila klien tidak bisa batuk dan mengeluarkan dahak atau lendir. . b. seperti fhoto thorak.

maka posisi tidur diatur ”semi fowler” untuk mengurangi oozing venous (keluarnya darah dari pembuluh-pembuluh darah halus) lengan diangkat untuk meningkatkan sirkulasi dan mencegah terjadinya udema. Masalah psikologis Payudara merupakan alat vital seseorang ibu dan wanita.c. rotasi ssendi bahu jika fisioteraifiditerapkan sedii mungkin tidak akan terjadi kontraktur sendi bahu dikemudian hari. Latihan awal bagi pasien pasca mastektomi :  Pada hari pembedahan. dan hilangnya daya tarik serta serta pengaruh terhadap anak dari segi menyusui. Mempertahankan sirkulasi Pada saat klien sadar. ada rasa kehilangan tentang hubungannya dengan ssuami. kelainan atau kehilangan akibat operasi payudara sangat terasa oleh pasien. baik dan stabil. Mobilisasi fisik Pada pasien pasca mastektomi perlu adanya latihan-latihan untuk mencegah atropi otot-otot kekakuan dan kontraktur sendi bahu. semua masalah ini gangguan rasa nyaman (nyeri) akibat dari sayatan luka operasi merupakan hal yang pailing sering terjadi d. melenturkan dan meluaskan gerakkan jari-jari membalik-balikan lengan  Hari pertema pasca operasi harus sudah dimulai fisioterafi pasif dan aktif Seperti : o Fisioterapi aktif : melatih gerakkan-gerakkan sendi bahu reduksi.haknya seperti dirampas sebagai wanita normal. untuk mencegah kelainan bentuk (diformity) lainnya. maka latihan harus seimbang dengan menggunakan secara bersamaan. e. dan juga 11 .

Perawatan pada luka eksisi tumor Bila dikerjakan tumorektomi. Perawatan post mastektomi a. kesamping. b. aliran drain lebih aktif dan lancar. pasien haurs mengetahui gerakkan apa yang dilakukan dalam setiap latihan. misalnya dapat .pakai hipafik ukuran 10 cm yang dibuat seperti BH sehingga menyangga payudara 12 .dnegan fisioterafi dini. Pemasangan plester /hipafik Dalam hal ini pemasangan plester pada operasi mastektomi hendaknya diperhatikan arah tarikan-tarikan kulit (langer ‘line) agar tidak melawan gerakkan-gerakkan alamiah. dapat menyisir rambut sendiri dan dapat memakai rambut sendiri. latihan harus kontiyu dan istirahat bila merasa sakit 3. dan kedepan. dengan lengan yang sakit.       Plester medial melewati garis midsternal Plester posterior melewati garis axillaris line/garis ketiak Plester posterior(belakang) melewati garis axillaris psoterior Plester superior tidak melewati clavicula Plester iferior harus melewati lubang drain Untuk dibawah klavicula ujug hifavik dipotong miring seperti memotong baju dan dipasang miring dibawah ketiak sehingga tidak mengangu grakkan tangan. o Selanjutnya pasien dapat mengosokkan gigi dan menyisir rambut. sehingga pasien dengan rileks menggerakkan sendi bahu tanpa hambatan dan tidak nyeri untuk itu perlu diperhatikan cara meletakkan kasa pada luka operasi dan cara melakukan fiksasi plester pada dinding dada.mengangkat lengan keatas.

tutup lagi dengan sofratule dan kasa steril Kalau tidak hidup. dsb pada sisi yang sakit. tetapi bola penutup (thiersch) tidak boleh dibuka. yang memudahkan terjadinya oedema lengan. mengabil darah. karena kalau terjadi oedema lengan sangat sukar mengoreksinya dan mungkin memerlukan operasi trasposisi omentum untuk mengatasinya. mamasang infus. Klien yang dikerjakan transplantasi kulit kalau kasa penutup luka basah dengan darah atau serum harus segera diganti. Pengukuran tensi 13 . Thiersch umumnya dibuka pada hari ke-7 pasc bedah untuk melihat apakah hidup atau mati   Kalau hidup. pada eksisi tumor mamma tidak melebihi 5 cc d. Pemakaian drain redonm harus tetap vakum dan diukur jumlah cairan yang tertampung dalam botol drain tiap pagi. Pada mastektomi radikal atau radikal modifikasi. f.c. misalnya terjadi bekuan darah. bilain drain dengan PZ 510 cc supaya tetap lancar. bila drain buntu. drain umumnya dicabut setelah jumlah cairan dalam 24 jam tidak melebihi 20-30 cc. Untuk mencegahnyajangan melkukan injekdi.  Demikian pula halnya kasa penutup donor dan dibuka hari ke 14.luka dapat dikompres dengan larutasn boor atau larutan garam fisiologis dan buang jaringan yang nekrotik. Penderita harus menjaga lengn dan tangannya dengan baik supaya jangan sampai terjadi luka atau injeksi yangakan menambah kerusakansluran limfe diketiak yang sudah minimal. Pemberian injeksi dan pengambilan darah Pada klien yang dilakukan mastektomi radikal modifikasi sebagian besar kelenjar dari saluran getah bening axilla dieksisi. keculai kalau ada tanda-tanda infeksi e.

C.Pemgukuran tensi jaringan pada lengan homolateral dan diseksi axilla karena memudahkan terjadinya oedema lengan. 14 . Dasar data pengkajian keperawatan Data pre dan post operasi tergantung pada tipe khusus atau lokasi proses kanker dan komplikasi yang ada.

Observasi gejala memegang payudara dan wajah tampak menyeringai b. late menopouse). Biodata Ca mammae terjadi terutama pada usia lanjut (diatas 50 th). riwayat kehamilan (nullipara.Pada payudara terdapat adanya borok atau nodulmengeras lainKlien menyengat Klien tampak enggan bergaul dan berintegrasi pasien terlihat melamun. riwayat menstruasi (early menarce. Dahulu: adanya siklus perubahan hormonal yang lama dan tidak ada heti-hentinya.(long. benjolan serta serta atau ulkus takut enak dan pada atau yang sering payudara dan kadangkadang nodul dengan perasaan bau tidak sedih cemas. Riwayat penyakit a. menarche awal. menopuse terlambat dan tidak ada kehamilan. Pemeriksaan Ca Mammae/kanker payudara meliputi : 15 . penggunaan obat-obatan hormonal kontrapsepsi. Keluhan utama Data Subjektif Klien mengeluh adanya benjolan atau ulkus padapayudara an kadang-kadang timbul nyeri. Data Objektif Pada payudara terdapat adanya borok atau nodul-nodul yang mengeras serta bau tidak enak yang menyengat Klien tampak enggan bergaul dan berintegrasi dengan pasien lain Klien terlihat sedih dan sering melamun Observasi gejala memegang payudara dan wajah tampak menyeringai 3.1996). Keluarga: Ibu dan anak prempuan khususnya dengan kanker premenopuse atau kanker payudara bilateral.ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN CA MAMMAE Pengkajian 1. serta perasaan takut atau cemas. adanya riwayat kanker sebelumnya. tetapi 80 % terjadi pada usia 35 tahun sampai 65 tahun cendrung meningkat 6 kali lipat Jenis kelamin : laki-laki dibanding 1 :100 2. Sekarang : Klien mengeluh timbul yang adanya nyeri. multipara). Adanya papaaran radiasi riwayat peminum alkohol c. adanya anggota keluarga yang menderita ca mammae 4.

accuration rate ± 95 % o Pemeriksaan tambahan 1. tanda-tanda kanker payudara. Pemeriksaan biopsi terbuka (open Biopsy) : insisional biopsi dan eksisional biopsi 2. USG 3. Pemeriksaan darah/fungsiliver dan tulang 7.o Pemeriksaan skrening Tujuan untuk menemukan kanker payudara dini pada penderita asimptomatis dengan Mammografi : tebukti lebih akurat mendeteksi kanker payudara berdiameter kurang dari 0. Pemeriksaan head CT-scan 16 . trucut biopsy Needle aspiraton biopsy merupakan piliha utama untuk pemeriksaan diagnostik tumor payudara yang palpable mass. Pemeriksaan tumor marker 6.5 cm dengan acuration rate : ± 80-90 % (tanpa keluhan) dengan tujuan menurunkan anka kamtian standar pemeriksaan skrining payudara dapat dilakukan o Pemeriksaan Diagnostik Meliputi : 1. Pemeriksaan biopsi tertutup (minimal invasif biopsy) : needle aspiration biopsy. Anamnesa cermat mengenai waktu timbulnya tuor dan ada tidaknya faktor resiko 2. Pemeriksaan torak fhoto 2. Palpasi. Ifeksi tanda-tanda kecurigaan kanker payudara 3. MRI o Pemeriksaan Mikroskopik Pemeriksaan mikroskopik terdiri dari : 1. Mammografi 2. Pemeriksaan USG Abdomen /Bone siurvey 4. o Pemeriksaan Imaging Terdiri dari : 1. Pemeriksaan USG abdomen/CT scan abdomen 5. Pemeriksaaan bone scaning /bone survey 3.

Perhatikan pigmentasi kulit 4. nyeri abdomen kuadran atas kanan C. Sistem Integumen 1. Kaji : jaundice. Inspeksi kemerahan & gatal. mukosa & lidah B. Sistem Gastrointestinalis 1. Kaji Trombositopenia : < 50. gigi. capilarry refill  Dispnoe. Kaji diare & konstipasi 4. Perhatikan : nyeri. eritema 3. Sistem Hematopoetik 1. Kaji frekwensi. Sistem Respiratorik & Kardiovaskular 17 . palpitasi. vertigo D.000/m3 – berat 3. anemia ginjal. bengkak.000/m3 – menengah. Kaji Netropenia  Kaji tanda infeksi  Auskultasi paru  Perhatikan batuk produktif & nafas dispnoe  Kaji suhu 2. Kaji Anemia  Warna kulit. vomiting alopecia rasa (pengecap) menurun mucositis PENGKAJIAN KEPERAWATAN A.KOMPLIKASI KEMOTHERAPI  Efek samping :  toksik hematologik : depresi sumsum tulang. lemah. hepar nausea. berat ringannya mual & muntah setelah pemberian kemotherapi 2. < 20. Observasi perubahan keseimbangan cairan & elektrolit 3. Kaji anoreksia 5. ulkus 2. Kondisi gusi. flebitis. durasi. mulai.

lemah. kering. Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan netropenia 2. Evaluasi refleks 4. Perhatikan adanya perubahan aktifitas motorik 2. warna. Kaji terhadap fibrosis paru yang ditandai : Dispnoe. Perhatikan bau. Sistem genitourinari 1. Perubahan selaput mukosa berhubungan dengan stomatitis 6. Kaji ataksia. Mengurangi stomatitis 6. Lakukan pemeriksaan EKG E. oliguria. Mencegah infeksi 2. Perubahan gambaran diri berhubungan dengan alopecia INTERVENSI KEPERAWATAN 1. Lemah berhubungan dengan anemia 4. Diskusikan ADL F. Meningkatkan koping pada perubahan gambaran diri THERAPI RADIASI Terapi radiasi menggunakan energi tinggi & getaran ion. Sistem Neuromuskular 1. kekeruhan urine 3. Meningkatkan nutrisi 5. batuk non produktif – terutama bleomisin 2. Kaji frekwensi BAK 2. Kaji tanda CHF 3. Mencegah perdarahan 3. Resiko perlukaan berhubungan dengan trombositopenia 3. Mengurangi kelelahan 4. Perhatikan adanya parestesia 3. Kaji : hematuria. Monitor BUN. Dapat menimbulkan kerusakan molekul sel dan perubahan biokimia : mematikan sel kanker 18 . menyeret kaki 5.1. anuria 4. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan efek samping 5. kreatinin DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Kaji gangguan pendengaran 6.

status kesehatan klien 1. Efek samping akut 1 – 6 bulan eritema lemah & lunglai nausea. Memastikan terlindungi dari efek radiasi D. hipertermia Pertimbangan klinis :  Indikasi : digunakan tersendiri atau kombinasi  Perencanaan pengobatan Komplikasi : Komplikasi tergantung dari lokasi. pengecapan menurun. lineacc  Brakhitherapi : dosis tinggi lebih terlokalisasi  Intra operative radioterapi. kehitaman permanen atropi Gastro intestinal : fibrosis. muntah. mucositis. obstruksi. ulkus. pnemonia sistitis 2. penggosokan. minyak kosmetik pada lokasi hindari. garuk therapi hanya tepung maizena 2. Emosi/psikologis klien Intervensi Keperawatan 1.Jenis therapi radiasi :  Teletherapi : cobalt. diare oral : kering. Mempertahankan perawatan kulit secara optimal informasikan tentang reaksi kulit jangan menggunakan lotion. Sistem terkait 2. fibrosis Kanker lain 5 – 7% leukemia Pengkajian 1. jenis radiasi. Prioritas keperawatan pre dan post operasi 19 . penekanan. xerostomia dispnoe. striktur Oral : xerostomia. caries gigi Paru : fibrosis Ginjal : nefritis. Efek samping kronis > dari 6 bulan Kulit : fibrosis. dosis.

Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang pra dan pascaoperasi dan takut akan kecacatan. Jika mastektomi akan dilakukan. Kriteria Hasil : Mengungkapkan perasaan dan pikirannya secara terbuka.obat-obatan praoperasi. 3.Rasional pengetahuan tentang apa yang diperkirakan membantu mengurangi kecemasan dan meningkatkan kerjasama pasien. mengungkapkan kurang mengerti dan gelisah. Atur waktu untuk berdiskusi dengan terapi tentang alternatif metoda-metoda untuk rehabilitasi dan melihat suara. menolak operasi. dan program paskaoprasi. Jika akan dilakukan matektomi. mengungkapkan mengerti tentang pre dan post operasi. Rencana Tindakan : 1. melaporkan berkurangnya cemas dan takut. merasa tidak mampu. konsultasikan dulu dengan pasien dan dokter untuk mendapatkan kunjungan dari tim medis yang bersangkutan. 2. Batasan Karakteristik : Mengungkapkan keluhan khusus. Goal : Cemas berkurang atau hilang. melenturkan dan meluaskan Hari pertema pasca operasi harus sudah dimulai gerakkan jari-jari membalik-balikan lengan  hasil yang sukses membantu menurunkan kecemasan dan 20 . Izinkan pasien untuk mengetahui keadaan pascaoperasi : satu atau dua hari akan dirawat di UPI sebelum kembali ke ruangan semula. secara verbal mengemukakan menyadari terhadap apa yang diinginkannya yaitu menyesuaikan diri terhadap perubahan fisiknya..obat-obatan posoperasi. termasuk tes laboratorium praoperasi.PREOPERASI 1. alasan status puasa. persiapan kulit. tinggal di ruang pemulihan. Jelaskan apa yang terjadi selama periode praoperasi dan pascaoperasi.Rasional mengetahui apa yang diharapkan memungkinkan pasien berpikir realistik. 4. Informasikan pada klien obat nyeri tersedia bila diperlukan untuk mengontrol nyeri. Rasional pengetahuan tentang apa yang diharapkan dari intervensi bedah membantu menurunkan kecemasan dan memungkinkan pasien untuk memikirkan tujuan yang realistik. meminta informasi. ajarkan pasien dan latih caracara latihan sebagai berikut : Latihan awal bagi pasien pasca mastektomi :  Pada hari pembedahan.

fisioteraifiditerapkan sedii mungkin tidak akan terjadi kontraktur sendi bahu dikemudian hari. Rencana tindakan : 1. pasien haurs mengetahui gerakkan apa yang dilakukan dalam setiap latihan. Anjurkan keluarga untuk memberikan suport seperti dukungan spiritual. misalnya dapat . o Selanjutnya pasien dapat mengosokkan gigi dan menyisir rambut. klien dioperasi. 3. 2. mengatakan mengerti pre dan posoperasi.menanyakan informasi tentang persiapan pre dan prosedur posoperasi. aliran drain lebih aktif dan lancar. Kriteria hasil : Mengungkapkan perasaan dan pikirannya secara terbuka. dapat menyisir rambut sendiri dan dapat memakai rambut sendiri.mengangkat lengan keatas. Menolak kecemasan. Direncanakan tindakan sesuai diagnosa keperawatan no. Goal : Klien akan bersedia dioperasi. dan kedepan. operasi berhubungan akan dengan dan kurang ancaman pengetahuan tentang prosedur pre dan pascaoperasi.fisioterafi pasif dan aktif Seperti : o sendi Fisioterapi bahu aktif : melatih rotasi gerakkan-gerakkan ssendi bahu jika reduksi. Kaji faktor-faktor yang menyebabkan klien menolak untuk dioperasi. dan juga dnegan fisioterafi dini.1. latihan harus kontiyu dan istirahat bila merasa sakit 2. mengatakan berkurangnya kecemasan. kesamping. kematian. Karakteristik data : kurang kerjasama dan menolak untuk dioperasi. ketakutan kecacatan 21 . dengan lengan yang sakit.

4. dan sianosis. Diagnosa Keperawatan 1. bunyi napas tidak normal.sianosis. tidak sianosis. 5. dispnea. batuk dan menelan. 2. Rasional perubahan pada pernapasan. Proses penyakit atau prognosis dan program terapi dapat dipahami. 2.mengi. Goal : Klien akan mempertahankan jalan napas tetap terbuka.Auskultasi bunyi napas. 5. 3. Tujuan Pemulangan 1. adanya ronki.penggunaan otot aksesori pernapasan. 3. Ventilasi atau oksigenasi adekuat untuk kebutuhan individu. Rencana tindakan : Mandiri 1) Awasi frekwensi atau kedalaman pernapasan. perubahan pada frekwensi atau kedalaman pernapasan. Kriteria hasil : bunyi napas bersih dan jelas. Membantu pasien dalam mengembangkan metode komunikasi alternatif. Komunikasi dengan efektif.POSt OPERASI 1. 4. 6. Memberikan informasi tentang proses penyakit atau prognosis dan pengobatan. Memberikan dukungan emosi untuk penerimaan gambaran diri yang terganggu. Komplikasi tercegah atau minimal. ventilasi adekuat.frekwensi napas normal. Memperbaiki atau mempertahankan integritas kulit. Selidiki kegelisahan. tidak sesak. serta sekresi banyak dan 22 . Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan efek kental. Mempertahankan jalan napas tetap terbuka. gangguan kemampuan untuk bernapas. Batasan karakteristik : sulit bernapas. Membuat atau mempertahankan nutrisi adekuat. Memulai untuk mengatasi gambaran diri.diduga adanya retensi sekret. dari anestesi.

Rasional mencegah pengumpulan sekret oral menurunkan resiko aspirasi. Rasional mencegah akumulasi sekret dan perlengketan mukosa tebal dari obstruksi jalan napas. 7) Ganti selang atau kanul sesuai indikasi. Catatan : ini penyebab umum distres pernapasan atau henti napas pada paskaoperasi. oral dan rongga nasal. Rasional mencegah sekresi menyumbat jalan napas. 5) Hisap selang laringektomi atau trakeotomi. contoh tekanan oksigen udara atau dan peningkatan masukan cairan. Rasional memobilisasi sekret untuk membersihkan jalan napas dan membantu mencegah komplikasi pernapasan. Ubah posisi pasien untuk memeriksa adanya pengumpulan dibelakang leher posterior. 6) Observasi jaringan darah sekitar selang terhadap atau adanya balutan perdarahan. Catat jumlah. 3) Dorong menelan bila pasien mampu. 4) Dorong batuk efektif dan napas dalam. Catatan : menelan terganggu bila epiglotis diangkat atau edema paskaoperasi bermakna dan nyeri terjadi. foto dada. Kolaborasi 8) Berikan humidifikasi tambahan.Rasional fisiologi normal ( hidung) berarti menyaring atau melembabkan udara yang lewat. Rasional pengumpulan sekret atau adanya ateletaksis dapat menimbulkan pneumonia yang memerlukan tindakan terapi 23 . Rasional memudahkan drainase sekret.Tambahan kelembaban menurunkan mengerasnya mukosa dan memudahkan batuk atau penghisapan sekret melalui stoma. Namun perdarahan terus-menerus atau timbulnya perdarahan tiba-tiba yang tidak terkontrol dan menunjukkan sulit bernapas secara tiba-tiba.2) Tinggikan kepala 30-45 derajat. khususnya bila kemampuan menelan terganggu dan pasien tidak dapat meniup lewat hidung. 9) Awasi seri GDA atau nadi oksimetri.Rasional sedikit jumlah perembesan mungkin terjadi. warna dan konsistensi sekret. kerja pernapasan dan ekspansi paru.

lebih agresif.Rasional kulit harus berwarna merah muda atau mirip dengan warna kulit sekitarnya. radiasi atau agen gangguan udema sirkulasi dan atau suplai atau pengumpulan drainase terus-menerus.Rasional drainase jam berdarah biasanya sedikit ). yang dapat menimbulkan iskemia atau nekrosis jaringan.Rasional meminimalkan kongesti paskaoperasi dan edema sehubungan dengan eksisi saluran pertama. Goal : Menunjukkan waktu penyembuhan yang tepat tanpa komplikasi. kerusakan lapisan kulit atau jaringan. suhu dan pengisian kapiler pada area operasi dan tandur kulit.pembentukan pengangkatan. Karakteristik data : kerusakan permukaan kulit atau jaringan. 24 . Sianosis dan pengisian lambat dapat menunjukkan kongesti vena. Rasional drainase seperti susu menunjukkan kebocoran duktus limfe torakal ( dapat menyebabkan kekurangan cairan tubuh dan elektrolit ). 5) Catat atau laporkan adanya drainase seperti susu. darah. 2. Kriteria hasil : integritas jaringan dan kulit sembuh tanpa komplikasi Rencana tindakan : 1) Kaji warna kulit. Awasi edema wajah ( biasanya meningkat pada hari ketiga-kelima jaringan pascaoperasi limfe. jahitan tetap dan drein.Kebocoran ini dapat sembuh spontan atau memerlukan penutupan bedah. 3) Pertahankan posisi somifowler pada punggung atau sisi yang tidak sakit dengan lengan tinggi dan disokong dengan bantal Rasional memabantu drainase dengan bantuan gravitasi 4) Awasi setelah drainase 24 berdarah dari sisi operasi. Kerusakan integritas kulit atau jaringan berhubungan dengan bedah kemoterapi. Perdarahan terus-menerus menunjukkan masalah yang memerlukan perhatian medik. 2) Pertahankan kepala tempat tidur 30-45 derajat.

hemovac. darah meningkatkan penyembuhan dan menurunkan kerentanan terhadap infeksi. 8) Jangan melakukan pengukuran TDm menginjeksikan obat atau memasukkan IV pada lengan yang sakit. dan meningkatkan ukuran luka. tidak ada gigi. Kolaborasi 10) Berikan antibiotik oral. saliva kental atau banyak. dan limfadema pada sisi yang sakit 9) Kosongkan drain luka secara periodik catat jumlah dan karakteristik drainase Rasional. meningkatkan pontensial konstriksi infewksi. 3. alat penghisap (contoh. Rasional balutan basah meningkatkan resiko kerusakan jaringan atau infeksi. merusak tepi kulit. Catatan : balutan tekan tidak digunakan diatas lembaran kulit karena suplai darah mudah dipengaruhi. selang bisanya diangkat sekitar hari ketiga atau bila drainase berhenti. Rasional. Karakteristik data : Xerostomia ( mulut kering ). lidah kering. penurunan produksi saliva. Rasional mencegah atau mengontrol infeksi. Goal : menunjukkan membran mukosa oral baik atau integritas 25 . penurunan produksi saliva sekunder terhadap radiasi atau prosedur pembedahan dan defisit nutrisi. Rasional mencegah pembetukan kerak . 7) Bersihkan insisi dengan cairan garam faal steril dan peroksida ( campuran 1 : 1 ) setelah balutan diangkat. kanker oral. topikal dan IV sesuai indikasi. akumulasi cairan drainase (cont. jacsonfart) sering dimasukkan selama masa pembedahan untuk mempetahankan tekanan negatif pad aluka.bibir inflamasi. Perubahan membran mukosa oral berhubungan dengan dehidrasi.6) Ganti balutan sesuai indikasi bila digunakan. Peroksida tidak banyak digunakan karena dapat membakar tepi dan menggangu penyembuhan. kebersihan oral tidak adekuat. yang dapat menjebak drainase purulen. limfe. ketidaknyamanan mulut.pecah dan kotor.

meningkatkan penyembuhan jaringan dan kenyamanan. bibir. 4) Tunjukkan pasien bagaimana menyikat bagian dalam mulut. ulserasi. Membran mukosa mungkin sangat kering. geligi dan gusi serta membran mukosa. Biarkan pasien melakukan pengisapan sendiri bila mungkin atau menggunakan kasa untuk mengalirkan sekresi.Rasional kerusakan kelenjar menurunkan produksi saliva.dan edema. 26 . dan faring. Kriteria Hasil : mulut lembab atau tidak kering. 2) Perhatikan perubahan pada lidah. mengakibatkan mulut kering. Rasional menurunkan bakteri dan resiko infeksi. pasien dapat meningkatkan kenyamanan sendiri dan meningkatkan higiene oral. serta potensial hemoragi. Rencana tindakan : Mandiri 1) Inspeksi rongga oral dan perhatikan pada perubahan saliva pada dapat saliva.membran mukosa baik. Karena pengalirannya konstan. Gusi juga dapat terinflamasi karena higiene yang buruk. riwayat lama dari merokok atau mengunyah tembakau atau terapi kimia. Pasien akan mengalami penurunan sensasi dan gerakan lidah. Penumpukan dan pengaliran saliva dapat terjadi karena penurunan kemampuan menelan atau nyeri tenggorok dan mulut. mulut terasa segar. Pembedahan dapat mengankat bagian bibir mengakibatkan pengaliran saliva tidak terkontrol. lidah normal. bersih dan tidak pecah.eritema. tidak ada tanda inflamasi pada bibir. Rasional pembedahan meliputi reseksi parsial dari lidah. platum. Rasional saliva mengandung enzim pencernaan yang mungkin bersifat erosif pada jaringan yang terpajan. lidah dan geligi dengan sering. Geligi mungkin tidak utuh ( pembedahan ) atau mungkin kondisinya buruk karena malnutrisi dan terapi kimia. platum lunak. dengan kesulitan menelan dan peningkatan resiko aspirasi sekresi. 3) Hisapan rongga oral secara perlahan atau sering.

dan berlanjut selama beberapa bulan. Rencana tindakan : 1) Kaji keluahan nyeri. contoh 27 . Kriteria hasil : klien mengatakan nyeri hilang. perilaku berhati-hati. gelisah. Perhatikan petunjuk verbal dan nor verbal. 4. perilaku distraksi. perhatikan lokasi. berikan irigasi oral sesuai indikasi. Karakteristik data : Ketidaknyamanan pada area bedah atau nyeri karena insisi bedah. Rasional mengatasi efek kekeringan dari tindakan terapeutik. ukuran baju. 2) Diskusikan masih adanya sensasipayudara normal.5) Berikan pelumas pada bibir. rileks dan ekpresi wajah ceria. Rasional membantu dalam mengidentifikasi derajat ketidaknyamanan dan kebutuhan untuk efektif analgesik. Kerusakan saraf pada regio aksilaris yang menyebabkan kebas pada lengan atas dan regio skapula yang dapat ditoleransi daripada nyeri pembedahan catatan : nyeri pada dinding dapat terjadidari tegangan otot. tidak gelisah. pasien dan utuk adanya rilwks drain dan mempengaruhi kemampuan tidur/istirahat secara efektif. Goal : Nyeri klien akan berkurang atau hilang. dan sisitem limfatik diangkat dapat dapat mempengaruhi jumlah nyeri yang dialami. Rasional. Peninggian lengan. 4) Catat indikator non verbal dan respon automatik terhadap nyeri.adanya selang nasogastrik atau orogastrik. Nyeri akut berhubungan dengan insisi bedah. menghilangkan sifat erosif dari sekresi. Rasional memberikan kenyakinan bahwa sensasi bukan imajinasi dan penghilangan dapat dilakukan 3) Batu pasien menemukan posisi yang nyaman. dipengaruhi oleh panas atau dingin ekstrem. pembengkakan jaringan. 5) Anjurkan penggunaan perilaku manajemen stres. Rasional alat menentukan adanya nyeri dan keefektifan obat. otot. lamanya dan intensitas nyeri (o-10). Evaluasi efek analgesik. Jumlah jaringan.

contoh kehilangan. Kriteria perawatan hasil diri : menunjukkan dan interaksi adaptasi positip awal terhadap orang perubahan tubuh sebagai bukti dengan partisipasi aktivitas dengan lain.teknik relaksasi.Rasional dalam mengidentifikasi data :perasaan negatif tentang citra diri. 3) Catat reaksi emosi. Rasional derajat nyeri sehubungan dengan luas dan dampak psikologi pembedahan sesuai dengan kondisi tubuh. Rencana tindakan : 1) Diskusikan arti kehilangan atau perubahan dengan pasien. perilaku negatif atau bicara sendiri. Goal : Mengidentifikasi perasaan dan metode koping untuk persepsi negatif pada diri sendiri. kebutuhan untuk pengkajian lanjut atau intervensi lebih intensif.Diharapkan dapat menurunkan atau menghilangkan nyeri. Kaji pengrusakan diri atau perilaku bunuh diri. perubahan anatomi tubuh. contoh codein. identifikasi persepsi alat situasi atau harapan yang akan atau datang. 5. ASA. dan Darvon sesuai indikasi. Rasional dapat menunjukkan depresi atau keputusasaan. 6) Kolaborasi dengan pemberian analgesik. depresi. kurang mengartikan masalah untuk memfokuskan perhatian dan intervensi secara konstruktif. ansietas. bimbingan imajinasi. Berpartisipasi dalam tim sebagai upaya melaksanakan rehabilitasi. Rasional pasien dapat mengalami depresi cepat setelah 28 . 2) Catat bahasa tubuh non verbal. Rasional meningkatkan rasa sehat.Berkomunikasi dengan orang terdekat tentang perubahan peran yang telah terjadi. perubahan dalam keterlibatan sosial. depresi. Karakteristik kontak mata.Mulai mengembangkan rencana untuk perubahan pola hidup. Gangguan citra diri berhubungan dengan kehilangan payudara. marah. dapat menurunkan kebutuhan analgesik dan meningkatkan penyembuhan.

6. membatasi rentang gerak. Ganguan mobilisasi fisik berhubungan dengan penurunan massa otot/ kekuatan otot akiabt luka bekas operasi Karakteristik data : perasaannyeri pada saatr aktifitas. konseling keluarga. bantu pasien untuk mengidentifikasi perilaku positip yang akan membaik. Kriteria hasil : menunukkan tehnik yang memampukan melakukan aktivitas. bantuan dalam adalah pemahaman proses yang pasien lalui dan membantu mereka Tujuannya memampukan mereka untuk melawan kecendrungan untuk menolak dari atau isolasi pasien dari kontak sosial. Rasional penolakan dapat mengakibatkan penurunan harga diri dan mempengaruhi penerimaan gambaran diri yang baru. Rasional pendekatan menyeluruh diperlukan untuk membantu pasien menghadapi rehabilitasi dan kesehatan. Goal : mobilisasi fisik dapat terpenuhi dan berpartisifasi aktif dalam terapi. Latihan pasca oerasi dini biasanya muaipada 24 jam pertama untuk mencegah kekakuan sendi yang dapat berlanjut pada keterbatasan gerak/mobilisasi. Meningkatkan aliran limfe vena. 5) Kolaboratif dengan merujuk pasien atau orang terdekat ke sumber pendukung. Rasional. dalam Keluarga emosi memerlukan mereka. Intervensi : 1) Tinggikan lengan yang sakit sesuaiindikasi mulai melakukan rentang gerak psif (con : pleksi/ekstensi menekuk/ekstensi siku. sesegera mungkin. Penerimaan perubahan tidak dapat dipaksakan dan proses kehilangan membutuhkan waktu untuk membaik. menolak untuk bergerak. Peningkatan kekuatan bagian dalam tubuh yang sakit.pembedahan atau reaksi syok dan menyangkal. contoh ahli terapi psikologis. jari) pronasi/supinasi pergelangan. 4) Susun batasan pada perilaku maladaptif. 29 . mengurngi kemungkinan limfadema. pekerja sosial.

mengangkat lengan untuk menyentuh ujung jari dibelakang kepala. menghemat energi mencegah kelelahan. contoh ekstensi aktif lengandan rotasi bahu saat berbaring sitempat tidur. mengpakkan pendulum. contoh makan. Rasional . aktivitas ini menggunakan lengan tanpa abduksi yang dapat menekan jahitan pada periode pasca operasi. mengukur lengan atas dan lengan bawah bila terjadi udema. memutar tali. Rasionalpeningkatan sirkulasi.2) Biarkan pasien untuk menggunakan lengan utuk kebersihan diri. menyisir rambut. 3) Bantu dalam perawatan diri sesuai dengan keperlan. Rasional mencegah kekakuan sendi. dan latihan abduksi penuh sesgera mungkin pasien dapat melakukan Rasional karenakelompok latihan ini dapat menyebabkan tegangan berlebihan pada insisi. dapat adanya mengawasi memerlukan latihan dan kemujuan/perbaikkan penundaan untuk koplikasi meningkatkan menunggu sampai penyembuhan berikutnya. mencucui muka. 4) Tingkatkan latihan ssesuai indikasi. sampai terjadi proses penyembuhan lebih lanjut. 6) Evaluasi adanya /derajat latihan sehubungan dengan nyeri dan perubahan mobilisasi sendi.rasional. meningkatkan sirkulasi dan mempertahankan tonus otot bahu dengan lengan. latihan dihentikan. membantu meminimalkan edema dan mempertahankan kekuaatan dan fungsi lengn da tangan. 30 . 5) Lanjutkan pada tangan (jari berjalan didinding) menjepit tangan dibelakang kepala.

V Mosby Company St Louis. EGC : Jakarta. A Nursing Process Approach 2 nd Edition : WB Sauders. C. Perencanaan Asuhan Keperawatan Perioperatif. D. EGC : Jakarta.DAFTAR PUSTAKA Dunna. 1995. Essential Of Medical – Surgical Nursing A Nursing Process Approcach. Sjamsuhidajat & Wim De Jong. Long. Et al.I. 1997. C. J. USA. C. 2000. 31 . Medical Surgical Nursing . Barbara (1996). PPNI pertemuaan ilmiah perawat bedah Indonesia (2000) “ Pendekatan asuhan keperawtan secara parifurna dalam penanganan kasus bedah” Surabaya Rothrock. Buku Ajar Ilmu Bedah.