Penatalaksanaan dalam terapi wicara dalam perkembanganya,terapi wicara mengalami perjalanan yang ckp panjang.

pada mulanya terapi wicara ini hanya bertanggung jawab untuk melakukan koreksi atau membuatkan kesalahan ucapan yang terjadi pada penderita tuna rungu,tetapi akhirnya sesuai dengan perkembangan peradaban manusia timbul berbagai gangguan/ kelainan komunikasi, akibat gangguan pertumbuhan dan perkembangan, di samping karena gangguan anatomis dan fisiologis dari organ bicara itu sendiri.dahulu terapi wicara hanya melakukan koreksi atas adanya kesalahan artikulasi atau ucapan penderita gangguan komunikasi, sekarang dikembangkan pelayanannya disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, perkembangan ilmu dan teknologi, untuk orang-orang normal dengan fungsi komunikasi yang tidak optimal. TINDAKAN DALAM TERAPI WICARA sifat tindakan dalam terapi wicara dibedakan sebagai berikut: 1. kuratif : bertujuan untuk menyembuhkan gangguan / kelainan perilaku komunikasi, agar dapat berkomunikasi secara wajar 2. Rehabilitatif / Habilitatif : bertujuan untuk memulihkan / memberikan kemampuan kepada penderita gangguan perilaku komunikasi sebagaimana kemampuan sebelum sakit / sekurangkurangnya mendekati komunikasi normal. 3. Preventif : bertujuan untuk mencegah terjadinya gangguan / kelainan perilaku komunikasi sehingga sesorang dapat tumbuh dan berkembang secara wajar. 4. Promotif : bertujuan untuk meningkatkan kemampuan perilaku komunikasnya sehingga dapat meningkatkan tingkat kehidupan secara optimal. PELAKSANAAN TERAPI WICARA biasanya menggunakan metode berikut : 1. Stimulasi dilakukan dengan cara memberikan rangsangan yang cukup kuat sehingga dapat diterima lebih mudah.rangsangannya berupa rangsangan visual, auditoris dan taktil 2. Psikoedukasi dilakukan dengan cara memberikan pengertian agar penderita memiliki sikap positif terhadap perilaku komunikasinya sehingga dapat berinteraksi dengan lingkungannya 3. Motokinestetik dilakukan untuk melatih penderita agar mampu menempatkan organ / otot dengan benar 4. Penempatan Fonetik dilakukan untuk melatih penderita agar mampu menempatkan organ bicara pada tempat yang tepat dan menggerakkan dengan cara yang benar sehingga dapat mengucapkan bunyi bahasa dengan benar. 5. Kompensasi dilakukan apabila penderita tidak mungkin lagi untuk melakukan dengan cara yang normal 6. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui perkembangan kemampuan yang telah diterapi sehingga dapat diketahui kemungkinan penderita untuk dapat berkomunikasi dalam menjalankan tugas dan fungsinya dalam kehidupan sehari-hari