1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penyakit Tuberkulosis sudah ada sejak ribuan tahun sebelum masehi. Menurut hasil penelitian, penyakit Tuberkulosis sudah ada sejak zaman Mesir kuno yang dibuktikan dengan penemuan pada mumi dan penyakit ini juga sudah ada pada kitab pengobatan Cina ‘pen tsao’ sekitar 5000 tahun yang lalu. Pada tahun 1882 ilmuan Robert Koch berhasil menemukan kuman Tuberkulosis yang

merupakan penyebab penyakit ini (Widoyono, 2008). Pada tahun 1995, WHO memperkirakan terdapat 9 juta penduduk dunia terserang Tuberkulosis dengan kematian 3 juta orang per tahun. Di Negara-negara berkembang kematian TBC merupakan 25% dari seluruh kematian yang sebenarnya dapat dicegah. Diperkirakan 95% penderita TBC berada di Negara berkembang, 75 % penderita TBC adalah kelompok usia produktif (15-50 tahun). Munculnya endemik HIV/AIDS di dunia, diperkirakan penderita TBC akan meningkat (Depkes RI, 2002). Di Indonesia, TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. Jumlah pasien TB di Indonesia merupakan ke-3 terbanyak di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah pasien sekitar 10% dari total jumlah pasien TB di dunia. Diperkirakan pada

2

tahun 2004, setiap tahun ada 539.000 kasus baru dan kematian 101.000 orang. Insiden kasus TB BTA positif sekitar 110 per 100.000 penduduk (Depkes RI, 2008). Seseorang terinfeksi penyakit Tuberkulosis dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain umur, jenis kelamin, pekerjaan, perilaku, keadaan sosial ekonomi masyarakat yaitu kemiskinan, kekurangan gizi, rendahnya latar belakang pendidikan (buta huruf), kepadatan penduduk serta lingkungan rumah. (Misnadiarly, 2006). Akan tetapi faktor-faktor yang berperan paling penting pada insidensi kejadian Tuberkulosis adalah lingkungan rumah, karena lingkungan rumah merupakan salah satu faktor yang memberikan pengaruh besar terhadap status kesehatan penghuninya (Notoatmodjo, 2003). Penyakit TBC tergolong penyakit rakyat. Lebih banyak

masyarakat kurang mampu yang diserangi basil TBC dibandingkan dengan masyarakat mampu. Biasanya masyarakat yang hidupnya berdesak-desakan, rumah yang padat, tidak ada ventilasi udara, dan kurang cahaya matahari, basil TBC gemar bersarang di lingkungan yang seperti itu, basil TBC bertebaran dalam udara. Tua, muda,

besar, kecil dapat dimasuki basil ini (Sistem Informasi TBC, 2008). Menurut J.A Salvato dalam buku Lubis menyatakan bahwa akibat perumahan yang tidak sehat akan menyebabkan angka kesakitan Tuberkulosis 8 kali lebih tinggi dan angka kematian 8,6 kali lebih tinggi dibanding dengan perumahan sehat (Lubis, 1989).

3

Data penderita Tuberkulosis di wilayah Provinsi Kalimantan Timur pada tahun 2007 berjumlah 1.889 orang, kemudian penderita Tuberkulosis meningkat pada tahun 2008 menjadi 1.993 orang (P2M Dinas Kesehatan Propinsi. Kaltim, 2007-2008). Di Kota Samarinda pada tahun 2007 jumlah penderita Tuberkulosis Paru BTA positif sebanyak 333 orang. Sedangkan pada tahun 2008 terjadi peningkatan yang cukup tinggi, kasus penderita Tuberkulosis BTA positif sebanyak 455 orang (P2M Dinas Kesehatan Kota Samarinda, 2007-2008). Kecamatan Sungai Kunjang merupakan salah satu dari 6 Kecamatan yang ada di Kota Samarinda dan menjadi urutan kedua dalam jumlah kasus Tuberkulosis Paru BTA positif pada tahun 2008 yakni 68 penderita. Puskesmas Wonorejo adalah salah satu Puskesmas yang ada di wilayah Kecamatan Sungai Kunjang dan menjadi urutan terbanyak penderita Tuberkulosis BTA positif dari 3 Puskesmas di wilayah Kecamatan Sungai Kunjang. Selama 2 tahun terakhir mempunyai kecendrung peningkatan kasus Tuberkulosis Paru BTA positif. Pada tahun 2007 ada 9 penderita Tuberkulosis Paru BTA positif dan pada tahun 2008 terjadi peningkatan kasus sebesar 30 penderita (Register TBC Puskesmas Wonorejo, 2007-2008). Peneliti melakukan penelitian pada penderita TB Paru BTA positif di Puskesmas Wonorejo karena peneliti melihat bahwa Puskesmas Wonorejo berada pada letak yang sangat strategis

4

membuat masyarakat mudah mengakses Pelayanan Kesehatan Masyarakat tersebut, sehingga banyak dari masyarakat diluar wilayah kerja Puskesmas Wonorejo berobat di Puskesmas Wonorejo. Setelah melakukan observasi pada daerah Puskesmas Wonorejo Kecamatan Sungai Kunjang saya melihat lingkungan pemukiman masyarakat sangat padat didaerah tersebut. Banyak ganggang kecil yang didalamnya terdapat rumah warga, sehingga rumah warga tersebut menjadi gelap karena diapit oleh bangunan atau rumah warga lain yang lebih besar. Kondisi rumah tempat tinggal penderita Tuberkulosis paru BTA positif kebanyakan adalah rumah non permanen dimana dinding dan lantai terbuat dari kayu serta memiliki ruangan yang tidak mendapatkan pencahayaan yang cukup, ini dikarenakan ventilasi yang tidak memenuhi syarat atau tidak digunakan dengan baik. Pencahayaan dari sinar matahari yang tidak memadai membuat tempat tinggal mereka menjadi lembab dan gelap. Bakteri Mycobacterium Tuberculosis seperti halnya bakteri lain pada umumnya, akan tumbuh dengan subur pada lingkungan dengan kelembaban yang tinggi. Menurut Nooatmodjo (2003), kelembaban udara yang meningkat merupakan media yang baik untuk bakteribakteri patogen termasuk tuberkulosis. Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan kondisi rumah terhadap kejadian

Tuberkulosis paru BTA positif di Wilayah Kerja Puskesmas Wonorejo

5

Samarinda tahun 2009, sejauh mana kondisi rumah mempengaruhi kejadian penyakit Tuberkulosis.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “apakah ada hubungan kondisi rumah tentang kepadatan penghuni, ventilasi, pencahayaan, suhu dan kelembaban rumah terhadap kejadian Tuberkulosis BTA positif di Wilayah Kerja Puskesmas Wonorejo Samarinda tahun 2009?”. C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui hubungan kondisi rumah terhadap kejadian Tuberkulosis paru BTA positif di Wilayah Kerja Puskesmas Wonorejo Samarinda tahun 2009. 2. Tujuan Khusus
a. Untuk

mengetahui apakah terdapat hubungan kepadatan

penghuni terhadap kejadian Tuberkulosis paru BTA positif di Wilayah Kerja Puskesmas Wonorejo Samarinda tahun 2009.

6

b. Untuk mengetahui apakah terdapat hubungan ventilasi terhadap

kejadian Tuberkulosis paru BTA positif di Wilayah Kerja Puskesmas Wonorejo Samarinda tahun 2009.
c. Untuk mengetahui apakah terdapat hubungan pencahayaan

terhadap kejadian Tuberkulosis paru BTA positif di Wilayah Kerja Puskesmas Wonorejo Samarinda tahun 2009.
d. Untuk mengetahui apakah terdapat hubungan suhu rumah

terhadap kejadian Tuberkulosis paru BTA positif di Wilayah Kerja Puskesmas Wonorejo Samarinda tahun 2009.
e. Untuk mengetahui apakah terdapat hubungan kelembaban

rumah terhadap kejadian Tuberkulosis paru BTA positif di Wilayah Kerja Puskesmas Wonorejo Samarinda tahun 2009.

D. Manfaat penelitian 1. Manfaat bagi Peneliti Merupakan pengalaman berharga dan menambah wawasan serta pengetahuan peneliti tentang hubungan kondisi rumah dengan kejadian Tuberkulosis Paru BTA positif. 2. Manfaat bagi Institusi terkait Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan dalam Program Penanggulangan penyakit Tuberkulosis Paru, serta

7

sebagai salah satu sumber informasi bagi penentu kebijakan dan pelaksanaan program di Depkes dalam rangka perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program TB paru. 3. Manfaat bagi masyarakat Memberikan informasi dan menambah wawasan masyarakat tentang penyakit menular agar masyarakat mendapat pemahaman yang benar tentang penyakit TB Paru / TBC, sehingga masyarakat dapat mencegah terjadinya penyakit TBC.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tuberkulosis Paru Bakteri Tahan Asam (BTA) Positif 1. Pengertian Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis).

Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. Tuberkulosis Paru adalah

8

Tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim) paru tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus (Depkes RI, 2008). Kuman Mycobacterium Tuberculosis pada penderita TB paru dapat terlihat langsung dengan mikroskop pada sedian dahaknya (BTA positif) dan sangat infeksius. Sedangkan penderita yang kumannya tidak dapat dilihat langsung dengan mikroskop pada sedian dahaknya (BTA negatif) dan sangat kurang menular. Penderita TB BTA positif mengeluarkan kuman-kuman di udara dalam bentuk droplet yang sangat kecil pada saat bersin atau batuk. Droplet yang mengandung kuman ini dapat terhisap orang lain. Jika kuman tersebut sudah menetap dalam paru orang yang menghirupnya, kuman mulai membelah diri (berkembang biak) dan terjadi infeksi. Orang yang serumah dengan penderita TB BTA positif adalah orang yang besar kemungkinannya terpapar kuman Tuberkulosis (Notoatmodjo, 2007). 2. Kuman Tuberkulosis Kuman penyebab Tuberkulosis ini berbentuk batang ramping lurus atau sedikit bengkok dengan kedua ujungnya membulat. Koloninya yang kering dengan permukaan berbentuk bunga kol dan berwarna kuning tumbuh secara lambat walaupun dalam kondisi normal. Diketahui bahwa pH optimal untuk pertumbuhannya adalah antara 6,8 sampai dengan 8,0. Untuk memelihara virulensinya harus dipertahankan kondisi pertumbuhannya pada pH 6,8.

9

Sedangkan

untuk

merangsang

pertumbuhannya

dibutuhkan

karbondioksida dengan kadar 5-10%. Umumnya koloni baru Nampak setelah kultur berumur 14-28 hari, tetapi biasanya harus ditunggu sampai berumur 8 minggu. Mycobacterium Tuberculosis memproduksi katalase, tetapi ia akan berhenti memproduksi bila dipanaskan pada suhu 65oC selama 20 menit dalam kadar fosfat. Mycobacterium Tuberkulosis yang resisten terhadap obat anti Tuberkulosis INH, tidak

memproduksi katalase. Kuman ini tahan asam pada pewarnaan dan berukuran kira-kira 0,5-4 mikron x 0,3-0,6 mikron (Misnadiarly, 2006).

10

3.

Gejala dan Tanda Penyakit Tuberkulosis

Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, malaise, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, demam meriang lebih dari satu bulan. Gejala-gejala tersebut diatas dapat dijumpai pula pada penyakit paru selain TB, seperti bronkiektasis, bronkitis kronis, asma, kanker paru dan lain-lain. Mengingat prevalensi TB di Indonesia saat ini masih tinggi, maka setiap orang yang datang ke UPK dengan gejala tersebut diatas, dianggap sebagai seorang tersangka (suspek) pasien TB dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung (Depkes RI, 2008). 4. Penularan penyakit Tuberkulosis Kebanyakan penularan penyakit Tuberkulosis ini melalui inhalasi kuman Tuberkulosis yang terdapat di udara. Pada perjalanannya kuman ini banyak mengalami hambatan antara lain di hidung (terhambat oleh bulu hidung) dan lapisan lendir yang melapisi seluruh saluran pernafasan dari atas sampai ke kantong alveoli. Bila penderita baru pertama kali ketular kuman Tuberkulosis ini, terjadilah suatu proses dalam tubuhnya (paru-paru) yang disebut Primary Complex of Tuberkulosis (PCT). PCT ini terdiri dari

11

fokus di paru-paru dimana terjadi eksudasi dari sel karena proses dimakannya kuman Tuberkulosis oleh sel macropag. Lesi dapat terjadi pada kelenjar getah bening, yang disebabkan karena lepasnya kuman pada saluran lymphe. Proses pemusnahan kuman TB oleh macropag ini akhirnya akan

menimbulkan kekebalan spesifik terhadap kuman Tuberkulosis. PCT dapat terjadi pada semua umur. Di negara dimana prevalensi TB tinggi kebanyakan anak-anak sudah ”terinfeksi oleh penyakit Tuberkulosis” pada tahun-tahun pertama dari

kehidupannya. Namun yang kemudian menjadi penyakit TBC sedikit saja. Selanjutnya ada 2 kemungkinan yang terjadi menyusul pembentukan PCT ini, yaitu: a. Dapat sembuh dengan sendirinya karena adanya proses penutupan fokus primer oleh kapsul membran yang akhirnya akan terjadi ”perkapuran”.
b. Beberapa kuman akan ikut terlepas ke dalam pembuluh

darah dan dapat berkembang menginfeksi organ-organ yang terkena. Infeksi yang demikian disebut Post Primary

Tuberkulosis (PTT). PTT ini akan dapat berupa: Infeksi pada paru-paru, larynx dan telinga tengah, kelenjar getah bening dileher, saluran pencernaan dan lubang dubur, saluran kemih, tulang dan sendi.

12

Kontak serumah dengan penderita TBC merupakan salah satu faktor risiko terjadinya TBC. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kontak erat dengan penderita TBC BTA positif mempunyai risiko maksimum untuk infeksi. Berdasarkan penelitian Salehuddin, 2002 di Kabupaten Maros, responden pada penderita yang memiliki riwayat kontak serumah dengan penderita TBC sebanyak 69,2% dan yang tidak memiliki riwayat kontak serumah dengan penderita TBC sebanyak 30,8%. 5. Penemuan penderita penyakit Tuberkulosis Tujuan penemuan kasus adalah untuk menentukan sumber infeksi dalam masyarakat yang berarti mencari orang yang mengeluarkan basis Tuberkulosis untuk diobati. Penemuan

penderita pada orang dewasa dilaksakan secara pasif, artinya penyaringan penderita tersangka TB Paru yang dilaksakan pada mereka yang datang ke unit pelayanan kesehatan, ini sangat dipengaruhi oleh faktor individu penderita untuk berkunjung ke pelayanan kesehatan. Kegiatan ini harus didukung oleh penyuluhan secara aktif baik oleh petugas kesehatan maupun oleh masyarakat untuk meningkatkan cakupan penemuan, cara ini disebut passive promotive case finding. Semua tersangka penderita harus diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari berturut-turut. Penemuan penderita pada anak sebagian besar didasarkan pada gambaran klinis, foto rontgen dan uji tuberculin (Depkes, RI 2002)

13

6.

Penegakan Diagnosa Untuk menegakkan diagnosis penyakit Tuberkulosis

dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk menemukan BTA positif. Pemeriksaan lain yang dilakukan yaitu dengan pemeriksaan kultur bakteri, namun biayanya mahal dan hasilnya lama. Metode pemeriksaan dahak (bukan liur) sewaktu, pagi, sewaktu (SPS) dengan pemeriksaan mikroskopis membutuhkan ±5 ml dahak dan biasanya menggunakan pewarnaan panas dengan metode Ziehl neelsen (ZN) atau pewarnaan dingin Kinyoun-Gabbet menurut Tan Thiam Hok. Bila dari dua kali pemeriksaan didapatkan hasil BTA positif, maka pasien tersebut dinyatakan positif mengidap Tuberkulosis paru (Widoyono, 2008). Pembacaan hasil pemeriksaan sediaan dahak dilakukan dengan menggunakan skala IUATLD sebagai berikut : a. Tidak ditemukan BTA dalam 100 lapang pandang, disebut negatif. b. Ditemukan 1-9 BTA dalam 100 lapang pandang, ditulis jumlah kuman yang ditemukan. c. Ditemukan 10-99 BTA dalam 100 lapang pandang, disebut + atau (1+). d. Ditemukan 1-10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut ++ atau (2+), minimal dibaca 50 lapang pandang.

14

e. Di

temukan > 10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut

+++ atau (3+), minimal dibaca 20 lapang pandang. Bila ditemukan 1 – 3 BTA dalam 100 lapang pandang, pemeriksaan harus diulangi dengan spesimen dahak yang baru. Bila hasilnya tetap 1 – 3 BTA, hasilnya diloporkan negatif. Bila ditemukan 4 – 9 BTA dilaporkan positif (Depkes RI, 2002). B. Tinjauan Umum tentang Perumahan Pengertian sehat menurut WHO adalah keadaan yang sempurna baik fisik, mental dan sosial bukan hanya keadaan yang bebas dari penyakit atau kelemahan (Irianto, 2004). Pengertian perumahan merupakan kelompok rumah yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau lingkungan hunian dan sarana pembinaan keluarga yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan. Sedangkan pemukiman merupakan bagian dari lingkungan hidup baik kawasan perkotaan maupun pedesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang mendukung perikehidupan. Untuk menciptakan satuan lingkungan pemukiman diperlukan kawasan perumahan dalam berbagai bentuk dan ukuran dengan penataan tanah dan ruang, prasarana dan sarana lingkungan yang memenuhi kesehatan (Mukono, 2000).

15

Didalam membangun dan menjaga kebersihan rumah harus memperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut : 1. Memenuhi Kebutuhan Fisiologis a. Suhu ruangan harus dijaga agar jangan banyak

berubah, suhu ruangan ini tergantung pada : 1) Suhu udara luar, 2) Pergerakan udara, 3) Kelembaban Udara, dan 4) Suhu benda di sekitarnya. Pada rumah-rumah modern, suhu ruangan ini dapat diatur dengan air conditioner. b. Harus cukup mendapat penerangan

Harus cukup mendapat penerangan baik siang maupun malam hari. Yang agar ideal adalah penerangan sinar listrik.

Diusahakan

ruangan

mendapat

matahari

terutama pagi hari. c. Harus cukup mendapat pertukaran hawa (ventilasi)

Pertukaran hawa yang cukup menyebabkan hawa ruangan tetap segar (cukup mengandung oksigen). Untuk ini rumah harus cukup mempunyai jendela. Susunan ruangan harus sedemikian rupa sehingga udara dapat mengalir bebas bila jendela dibuka.

16

d.

Harus cukup mempunyai isolasi suara

Dinding ruangan harus kedap suara, baik terhadap suara yang berasal dari luar maupun dari dalam. Sebaiknya rumah jauh dari sumber suara yang gaduh misalnya : pabrik, lapangan terbang dan sebagainya. 2. Memenuhi Kebutuhan Psikologi a. Keadaan rumah dan sekitarnya, cara pengaturannya

harus memenuhi rasa keindahan (estetis) sehingga rumah tersebut menjadi pusat kesenangan rumah tangga yang sehat. b. Adanya jaminan kebebasan yang cukup, bagi setiap

anggota keluarga yang tinggal dirumah tersebut. c. Untuk tiap anggota keluarga, terutama yang

mendekati dewasa harus mempunyai ruangan sendiri sehingga rahasia pribadinya tidak terganggu. d. Harus ada ruangan untuk menjalankan kehidupan

keluarga dimana semua anggota keluarga dapat berkumpul. e. Harus ada ruangan untuk hidup bermasyarakat, jadi

harus ada ruang untuk menerima tamu. 3. Menghindari Terjadinya Kecelakaan a. Konstruksi rumah dan bahan bangunan harus kuat sehingga tidak mudah ambruk.

17

b. Sarana pencegahan terjadinya kecelakaan di sumur, kolam dan tempat lain terutama untuk anak-anak c. Diusahakan agar tidak mudah terbakar d. Adanya alat pemadam kebakaran terutama yang

mempergunakan gas. 4. Menghindari Terjadinya Penyakit a. Adanya sumber air yang sehat, cukup kualitas maupun kuantitasnya b. Harus ada tempat pembuangan kotoran, sampah dan air limbah yang baik. c. Harus dapat mencegah perkembangbiakan vector penyakit seperti : nyamuk, lalat, tikus dan sebagainya. d. Harus cukup luas. (Irianto, 2004). Rumah sehat memiliki : 1. Persyaratan rumah : pondasi, dinding, atap, langit-langit, jendela dan pintu serta lantai. 2. Penataan bangunan rumah : perencanaan ruang dan konstruksi bangunan rumah. 3. Fasilitas kelengkapan bangunan rumah : air bersih, air kotor dan kotoran, pencahayaan / penerangan, penghawaan / ventilasi serta sampah.

18

4. Tertib membangun : merawat rumah dan pekarangan serta

mematuhi aturan dan peraturan .

Persyaratan rumah sehat dapat ditinjau dari : 1. Aspek teknis (konstruksi bangunan kokoh dan tahan lama) 2. Aspek fisiologis (penghawaan dan penerangan cukup, luas bangunan memadai dan perencanaan ruang efisien) 3. Aspek psikologi (kondisi lingkungan aman dan nyaman, lokasi tidak jauh dari tempat kerja dan fasilitas lainnya) 4. Aspek kesehatan (dilengkapi dengan fasilitas sanitasi dan air bersih) 5. Aspek administrasi (memiliki surat-surat dan izin mendirikan bangunan) 6. Aspek hukum (memiliki sertifikat) Berdasarkan persyaratan tersebut diatas, maka setiap keluarga yang menempati rumah sehat akan merasa aman, nyaman dan

19

sehat (Departemen Permukiman dan prasarana wilayah, 2004). Jenis rumah berdasarkan konstruksinya, kriteria rumah terbagi atas: 1. Rumah permanen : rumah yang sudah dikonstruksi dengan pondasi, berdinding tembok batu bata atau batako, beratap genteng dan lantainya diplester atau dikeramik. 2. Rumah semi permanan : rumah yang sudah dikonstruksi dengan pondasi, berdinding setengah tembok, setengah bambu atau kayu, dilengkapi atap genteng serta lantainya diplester atau dikeramik. 3. Rumah non permanen : rumah tanpa pondasi, berdinding bambu atau kayu dan atap genteng ataupun selain genteng. C. Tinjauan Umum Tentang Kepadatan Penghuni Kepadatan penghuni adalah perbandingan antara luas lantai rumah dengan jumlah anggota keluarga dalam satu rumah tinggal (Lubis, 1989). Persyaratan kepadatan hunian untuk seluruh

perumahan biasa dinyatakan dalam m² per orang. Luas minimum per orang sangat relatif, tergantung dari kualitas bangunan dan fasilitas yang tersedia. Untuk perumahan sederhana, minimum 10 m²/orang. Untuk kamar tidur diperlukan minimum 3 m²/orang. Kamar tidur sebaiknya tidak dihuni > 2 orang, kecuali untuk suami istri dan anak dibawah dua tahun. Apabila ada anggota keluarga yang menjadi

20

penderita penyakit Tuberkulosis sebaiknya tidak tidur dengan anggota keluarga lainnya. Secara umum penilaian kepadatan penghuni dengan menggunakan ketentuan standar minimum, yaitu kepadatan penghuni yang memenuhi syarat kesehatan diperoleh dari hasil bagi antara luas lantai dengan jumlah penghuni adalah 10 m²/orang dan kepadatan penghuni tidak memenuhi syarat kesehatan bila diperoleh hasil bagi antara luas lantai dengan jumlah penghuni adalah < 10 m²/orang (Lubis, 1989). Luas lantai bangunan rumah sehat harus cukup untuk penghuni didalamnya, artinya luas lantai bangunan tersebut harus disesuaikan dengan jumlah penghuninya. Luas bangunan yang tidak sebanding dengan luas penghuninya akan menyebabkan perjubelan

(Overcrowded). Hal ini tidak sehat, sebab di samping menyebabkan kurangnya konsumsi O2 juga bila salah satu anggota keluarga terkena penyakit infeksi, akan mudah menular kepada anggota keluarga yang lain. Luas bangunan yang optimum adalah apabila dapat menyediakan 2,5-3 m2 untuk setiap orang (tiap anggota keluarga) (Notoatmodjo, 2007). Kepadatan penghuni akan menyebabkan efek negatif terhadap kesehatan baik fisik dan mental. Penyebaran penyakit menular pada rumah dengan kepadatan tinggi akan cepat terjadi. Pengalaman menunjukkan bahwa pada ruangan yang padat, penyebaran penyakit menular terutama pada saluran pernafasan mempercepat terjadinya penyakit tersebut.

21

Rumah

tinggal

dinyatakan

padat,

bila

jumlah

penghuni

menunjukkan hal-hal sebagai berikut : 1. Dua individu dari jenis yang berbeda dan berumur diatas sepuluh tahun dan tidak berstatus sebagai suami istri, tidur dalam satu kamar. 2. Jumlah orang dalam luas rumah melebihi

dibandingkan

dengan

ketentuan yang telah ditetapkan. (Suharmadi, 1994) Luas rumah ditentukan oleh jumlah penghuninya, jumlah perabotan (barang-barang yang dimilikinya) dan jumlah pintu serta jendela, sebagai contoh : untuk 1 kepala keluarga yang menghuni rumah dengan luas rumah 50 m2, dapat dibagi dalam tiap-tiap ruangan sebagai berikut :
1. 1 kamar makan dan kamar duduk seluas 9,00 m2 (3x3m2) 2. Kamar tidur terdiri dari 2 ruangan, tiap ruangan seluas 9,00 m2

(3x3m2). Jarak kamar tidur minimal 90 cm untuk menjamin keleluasan bergerak, bernafas dan untuk memudahkan

membersihkan lantai. Ukuran ruang tidur anak yang berumur 5 tahun sebanyak 4 ½ m3 dan yang berumur lebih dari 5 tahun adalah 9 m3, artinya dalam 1 ruangan anak yang berumur 5 tahun kebawah diberi kebebasan menggunakan volume ruangan 4 ½ m3

22

(1 ½ x 1 x 3 m3) dan diatas 5 tahun menggunakan volume ruangan 9 m3 (3 x 1 x 3 m3).
3. Dapur merupakan kegiatan pokok bagi

rumah tangga, terutama ibu-ibu. Maka dapur hendaknya dibuat, sedemikian rupa sehingga akan mendapat

penyegaran udara yang cukup serta mudah mengadakan pembersihan. Agar penerangan alam harus cukup, maka letak dapur agar disebelah timur dari rumah dan untuk maka mempercepat diusahakan

pergantian

udara

ventilasi yang cukup dan mengarah pada angin. Perlu diperhatikan juga asap yang dikeluarkan dari tungku atau kompor tidak dapat masuk kedalam rumah, diatap dibuat lubang sehingga akan langsung keluar, namun bila perlu dibuatkan cerobong asap sampai diatas atap/genteng minimum 30 cm. Rata-rata luas dapur lebih kurang 8,00 m2.
4. Luas kamar mandi dan wc dalam suatu

kesatuan 4,00 m2 (2x2 m2).

23

5. Serambi muka atau dipergunakan juga

untuk kamar tamu seluas 3,00 m2 (2x1,50 m2). 6. Selain luas ruangan perlu diperhatikan pula luas jendela dan ventilasi sebagai berikut : 1) Luas jendela 4% dari luas lantai tiap ruangan

secara keseluruhan 2) Luas ventilasi 20% dari luas jendela dari tiap

jendela. Jendela dan ventilasi tersebut untuk memenuhi kebutuhan udara dalam ruangan (menentukan sirkulasi udara dalam ruangan). Sebagai pedoman dasar kebutuhan udara bersih.
a)

Kebutuhan udara bersih dalam rumah lebih kurang

tiap penghuni 27 m3.
b)

Kebutuhan pergantian udara 0,80 m3 per menit per

orang, (0,80 m3/menit/orang). (Suharmadi, 1985) D. Tinjauan Umum Tentang Ventilasi (Penghawaan) Ventilasi adalah usaha untuk memenuhi kondisi atmosfer yang menyenangkan dan menyehatkan manusia (Lubis, 1989). Umumnya di daerah tropis lebih banyak angin, terutama didaerah pantai. Biasanya udara di dalam rumah lebih sejuk dari pada diluar rumah (bagi yang mengatur ventilasinya dengan baik) dan juga

24

tergantung dari bahan dinding atau atapnya (bahan dari seng akan memanaskan pada siang hari dan dingin pada malam hari). Keluar masuknya udara dalam ruangan dan lantai tergantung dari derajat kelembaban dari bahan apa yang melapisi dinding dan lantai. a. Plester mengurangi masuknya udara sampai 25 % b. Cat mengurangi masuknya udara sampai 30 %
c. Permadani mengurangi masuknya udara sampai 30 % d. Cat minyak mengurangi masuknya udara sampai 100 %

(Suharmadi, 1989) Ventilasi rumah mempunyai banyak fungsi. Fungsi pertama adalah untuk menjaga agar aliran udara dalam rumah tersebut tetap segar. Hal ini berarti keseimbangan O2 yang diperlukan oleh penghuni rumah tersebut tetap terjaga. Kurangnya ventilasi akan menyebabkan kurangnya O2 dalam rumah yang berarti kadar CO2 yang bersifat racun bagi penghuninya akan meningkat. Di samping itu, tidak cukupnya ventilasi akan menyebabkan kelembaban udara dalam ruangan naik karena terjadinya proses penguapan cairan dari kulit dan penyerapan. Kelembaban ini akan merupakan media yang baik untuk bakteri-bakteri patogen (bakteri-bakteri penyebab penyakit). Fungsi kedua dari ventilasi adalah untuk membebaskan udara ruangan dari bakteri-bakteri, terutama bakteri patogen, karena disitu selalu terjadi aliran udara yang terus-menerus. Bakteri yang terbawa oleh udara akan selalu mengalir. Fungsi lainnya adalah untuk menjaga

25

agar ruangan rumah selalu tetap dalam kelembaban (humudity) yang optimum. Ada dua macam ventilasi, yakni : 1. Ventilasi alamiah, dimana aliran udara dalam ruangan tersebut terjadi secara alamiah melalui jendela, pintu, lubang angin, lubang-lubang pada dinding dan sebagainya. Di pihak lain ventilasi alamiah ini tidak menguntungkan, karena juga merupakan jalan masuknya nyamuk dan serangga lainnya ke dalam rumah. Untuk itu harus ada usaha-usaha lain untuk melindungi kita dari gigitan nyamuk tersebut.
2. Ventilasi buatan, yakni dengan mempergunakan alat-alat

khusus untuk mengalirkan udara tersebut, misalnya kipas angin dan mesin pengisap udara. Tetapi jelas alat ini tidak cocok dengan kondisi rumah di pedesaan. (Notoatmodjo, 2007). Buakaan untuk ventilasi disesuaikan dengan luas ruangan, luas bukaan ventilasi 1 m2 atau minimal 5 % dari luas lantai. Bukaan ventilasi dapat berupa pintu dan jendela yang dapat dibuka dan ditutup, serta jalusi dan lubang angin. Untuk ventilasi silang dibuat dua bukaan pada dinding yang berhadapan. Bukaan ventilasi yang paling baik searah dengan arah tiupan angin. Ventilasi yang baik dalam ruangan harus mempunyai syarat lainnya, diantaranya :

26

1. Luas lubang ventilasi tetap, minimum 5 % dari luas lantai ruangan, sedangkan luas lubang ventilasi insidentil (dapat dibuka dan ditutup) minimum 5 %. Jumlah keduanya menjadi 10 % kali luas lantai ruangan. Ukuran luas ini diatur sedemikian rupa sehingga udara yang masuk tidak terlalu deras dan tidak terlalu sedikit. 2. Udara yang masuk harus udara bersih, tidak dicemari oleh asap dari sampah atau dari pabrik, dari knalpot kendaraan, debu dan lain-lain. 3. Aliran udara jangan menyebabkan

seseorang menjadi masuk angin. Untuk ini jangan menempatkan tempat

tidur/tempat duduk persis pada aliran udara, misalnya didepan jendela pintu. 4. Aliran udara diusahakan CROSS

VENTILATION dengan menempatkan lubang hawa berhadapan antara 2 dinding ruangan. Aliran udara ini jangan sampai terhalang oleh barang-barang besar misalnya almari, dinding sekat

27

dan lain-lain. Secara umum, penilaian ventilasi rumah dengan cara antara

membandingkan

luas ventilasi dan luas lantai rumah, dengan menggunakan Rolemeter.

Menurut indikator pengawaan rumah, luas ventilasi yang memenuhi syarat kesehatan adalah 10% luas lantai

rumah dan luas ventilasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan adalah < 10% luas lantai rumah. 5. Kelembaban sampai terlalu udara tinggi dijaga jangan

(menyebabkan

orang berkeringat) dan jangan terlalu rendah (menyebabkan kulit kering, bibir pecah-pecah dan hidung berdarah). (Jati Patria, 2009)

E. Tinjauan Umum Tentang Pencahayaan Cahaya yang cukup untuk penerangan ruang di dalam rumah merupakan kebutuhan kesehatan manusia. Penerangan ini dapat diperoleh dengan pengaturan cahaya buatan dan cahaya alam. 1. Pencahayaan alam.

28

Pencahayaan alam diperoleh dengan masuknya sinar matahari kedalam ruangan melalui jendela, celah-celah dan bagian-bagian bangunan yang terbuka. Sinar ini sebaiknya tidak terhalang oleh bangunan, pohonpohon maupun tembok pagar yang tinggi. Cahaya matahari ini berguna selain untuk penerangan juga dapat mengurangi

kelembaban ruang, mengusir nyamuk, membunuh kuman-kuman penyebab penyakit tertentu seperti TBC, Influenza, penyakit mata dan lain-lain (Suharmadi, 1989). Lokasi penempatan jendela pun harus diperhatikan dan diusahakan agar sinar matahari lama menyinari lantai (bukan menyinari dinding). Maka sebaiknya jendela itu harus di tengahtengah tinggi dinding (tembok). Jalan masuknya cahaya alamiah juga diusahakan dengan genteng kaca. Genteng kaca pun dapat dibuat secara sederhana, yakni dengan melubangi genteng biasa pada waktu pembuatangnya, kemudian menutupnya dengan pecahan kaca (Notoatmodjo, 2007). Kebutuhan standar cahaya alam yang memenuhi syarat kesehatan untuk berbagai keperluan menurut WHO adalah sebagai berikut : Standar Minimum Pencahayaan dalam rumah (lux). Macam ruang : a. Kamar keluarga dan kamar tidur : 60 – 120 lux b. Kantor administrasi : 60 – 120 lux

29

c. Pabrik 1) Kerja Kasar : 120 – 250 lux 2) Kerja halus : 600 – 1000 lux d. Hotel : 120 – 250 lux e. Sekolah : 120 – 250 lux Pemenuhan kebutuhan – kebutuhan cahaya untuk

penerangan alami sangat ditentukan oleh letak dan lebar jendela. Untuk memperoleh jumlah cahaya matahari pada pagi hari secara optimal sebaiknya jendela kamar tidur menghadap ke timur. Luas jendela yang baik paling sedikit mempunyai luas 10 – 20 % dari luas lantai. Apabila luas jendela melebihi 20 % dapat menimbulkan kesilauan dan panas, sedangkan sebaliknya kalau terlalu kecil dapat menimbulkan suasana gelap dan pengap.

2. Pencahayaan buatan. Untuk penerangan pada rumah tinggal dapat diatur dengan memilih sistem penerangan yang telah dijelaskan diatas dengan suatu pertimbangan hendaknya penerangan tersebut dapat

menumbuhkan suasana rumah yang lebih menyenangkan. Lampu Flouresen (neon) sebagai sumber cahaya dapat memenuhi kebutuhan penerangan karena pada kuat penerangan yang relatif

30

rendah mampu menghasilkan cahaya yang baik bila dibandingkan penggunaan lampu pijar. Namun demikian bila ingin

mempergunakan lampu pijar sebaiknya dipilih yang berwarna putih dengan dikombinasikan beberapa lampu neon. Kuat sinar yang memenuhi kebutuhan standar penerangan berkisar 50-100 lux. Hanya untuk bagian-bagian tertentu seperti dapur memerlukan 200 lux, sedangkan kamar tidur, kamar mandi, ruang makan dan ruang belajar diatur berkisar 100 lux. (Suharmadi, 1989) Penerangan dapat dilakukan dengan cara alami ialah dengan cahaya matahari baik secara langsung bila waktu pagi hari ataupun tidak langsung bila malam hari, maka perlu pula adanya penerangan buatan. Cahaya buatan diuraikan berikut : 1. Kamar kerja adalah kamar yang sangat memerlukan penerangan yang lebih banyak dibandingkan ruang kerja

ruangan-ruangan

yang

lain. Untuk

sekurang-kurangnya 50 lux harus diberikan.
2. Untuk ruangan makan, tidur dan lain-lainnya dapat

diberikan sekurang-kurangnya 10 lux (Suharmadi, 1985). Secara umum pengukuran pencahayaan terhadap sinar

matahari adalah dengan menggunakan lux meter, yang diukur ditengah-tengah ruangan, pada tempat setinggi < 84 cm dari lantai,

31

dengan ketentuan tidak memenuhi syarat kesehatan bila < 50 lux atau > 300 lux dan memenuhi syarat kesehatan bila pencahayaan rumah antara 50-300 lux (Suharmadi, 1989). Kuman Tuberkulosis hanya dapat mati oleh sinar matahari langsung. Oleh sebab itu, rumah dengan standar pencahayaan yang buruk sangat berpengaruh terhadap kejadian Tuberkulosis. Kuman Tuberkulosis dapat bertahan hidup pada tempat yang lembab dan gelap tanpa sinar matahari sampai bertahun-tahun lamanya dan mati bila terkena sinar matahari, sabun, lisol, karbol dan panas api. Kuman Mycobacterium Tuberculosis akan mati dalam waktu 2 jam oleh sinar matahari, oleh tinctura iodii selama 5 menit dan juga oleh ethanol 80% dalam waktu 2-10 menit serta mati oleh fenol 5% dalam waktu 24 jam. Rumah yang tidak masuk sinar matahari mempunyai resiko menderita tuberkulosis 3-7 kali dibandingkan dengan rumah yang dimasuki sinar matahari (Depkes RI, 2002).

F. Tinjauan Umum Tentang Suhu Rumah atau bangunan yang sehat haruslah mempunyai suhu yang diatur sedemikian rupa sehingga suhu badan dapat

dipertahankan. Suhu didalam ruangan harus dapat diciptakan sedemikian rupa sehingga tubuh tidak terlalu banyak kehilangan panas atau sebaliknya tubuh tidak sampai kepanasan. Prinsip pengaturan

32

suhu

dalam

ruangan

adalah

mendinginkan

udara

jika

udara

disekitarnya terlalu panas. Faktor suhu ini dilengkapi dengan keadaan faktor kelembaban serta aliran udara yang terjadi dalam ruangan tersebut agar terdapat suhu yang tepat dengan kelembaban dan aliran udara dalam ruangan. Menurut Azrul Azwar untuk membuat suhu ruangan sesuai dengan yang dikehendaki, maka ada beberapa cara yang dapat dilakukan yakni : 1. Mendinginkan atau memanaskan udara. 2. Melakukan penukaran udara. 3. Memasang penyekat suhu pada ruangan. Tubuh manusia mengadakan penyesuaian terhadap temperatur udara dalam ruangan. Pada suhu ruangan yang tinggi, pembuluhpembuluh kapiler akan melebar untuk melepaskan panas. Proses ini dibantu oleh proses penguapan keringat dari kulit. Sedangkan pada suhu yang rendah terjadi sebaliknya dimana pembuluh-pembuluh dikulit menyempit. Bila suhu ruangan terlalu tinggi dan dalam ruangan banyak mengandung uap air, maka proses mekanisme pendinginan tubuh tidak dapat bekerja efisien karena proses penguapan keringat terhalang sehingga timbul perasaan tidak enak. Standar suhu nyaman yang dibutuhkan manusia, Mc. Null menganjurkan bahwa temperatur yang optimal didalam rumah adalah 73 – 77oF (23 – 25oC), kelembaban antara 20 – 60%. Joseph Lubart menganjurkan batas antara 68oF dengan kelembaban relatif 50%

33

sampai pada temperatur 70 oF dengan kelembaban 10%. Sedangkan menurut ASHREA (American Society Of Heating Refrigerating and Air Conditioning Engineering) menetapkan temperatur 77,0oF dengan variasi lebih kurang 1,21oF dan kelembaban dibawah 70oF dan Sujono menganjurkan temperatur kamar dari 22° – 30°C dianggap segar dengan kelembaban udara optimum 60% (Azwar, 1990). Suhu adalah panas atau dinginnya udara yang dinyatakan dengan satuan derajat tertentu. Suhu udara dibedakan menjadi: 1). Suhu kering, yaitu suhu yang ditunjukkan oleh termometer suhu ruangan setelah diadaptasikan selama kurang lebih sepuluh menit, umumnya suhu kering antara 24 ºC – 34 ºC; 2) Suhu basah, yaitu suhu yang menunjukkan bahwa udara telah jenuh oleh uap air, umumnya lebih rendah daripada suhu kering, yaitu antara 20 ºC – 25 ºC. Secara umum, penilaian suhu rumah dengan menggunakan termometer ruangan. Berdasarkan indikator pengawasan perumahan, suhu rumah yang memenuhi syarat kesehatan adalah antara 20 ºC – 25 ºC, dan suhu rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan adalah < 20 ºC atau > 25 ºC. Suhu dalam rumah akan membawa pengaruh bagi penguninya (Suharmadi, 1989). Bakteri Mycobacterium Tuberculosis memiliki rentang suhu yang disukai, tetapi di dalam rentang ini terdapat suatu suhu optimum saat mereka tumbuh pesat. Mycobacterium Tuberculosis merupakan bakteri mesofilik yang tumbuh subur dalam rentang > dari 25 ºC – 40

34

ºC, tetapi akan tumbuh secara optimal pada suhu 31 ºC – 37 ºC (Suharmadi, 1989). G. Tinjauan Umum tentang Kelembaban Kelembaban udara adalah prosentase jumlah kandungan air dalam udara (Depkes RI, 1989). Kelembaban terdiri dari 2 jenis, yaitu 1) Kelembaban absolut, yaitu berat uap air per unit volume udara; 2) Kelembaban nisbi (relatif), yaitu banyaknya uap air dalam udara pada suatu temperatur terhadap banyaknya uap air pada saat udara jenuh dengan uap air pada temperatur tersebut. Secara umum penilaian kelembaban dalam rumah dengan menggunakan hygrometer. Menurut indikator pengawasan perumahan, kelembaban udara yang memenuhi syarat kesehatan dalam rumah adalah 40-60 % dan kelembaban udara yang tidak memenuhi syarat kesehatan adalah < 40 % atau > 60 %. Rumah yang tidak memiliki kelembaban yang memenuhi syarat kesehatan akan membawa pengaruh bagi penghuninya. Rumah yang lembab merupakan media yang baik bagi pertumbuhan

mikroorganisme, antara lain bakteri, spiroket, ricketsia dan virus. Mikroorganisme tersebut dapat masuk ke dalam tubuh melalui udara. Selain itu kelembaban yang tinggi dapat menyebabkan membrane mukosa hidung menjadi kering sehingga kurang efektif dalam menghadang mikroorganisme (Suharmadi, 1989). Bakteri Mycobacterium Tuberculosis seperti halnya bakteri lain, akan tumbuh dengan subur pada lingkungan dengan kelembaban

35

tinggi karena air membentuk lebih dari 80 % volume sel bakteri dan merupakan hal yang essensial untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup sel bakteri. Selain itu menurut Notoatmodjo (2003), kelembaban udara yang meningkat merupakan media yang baik untuk bakteribakteri patogen termasuk bakteri Tuberkulosis

H. Prosedur Pengukuran Rumah 1. Mengukur kepadatan penghuni a. Alat dan bahan 1) 2) 3) Rolemeter Alat tulis Kalkulator

b. Cara kerja 1)
2)

Menyiapkan rolemeter. Mengukur luas lantai rumah Catat hasil pengukuran. Kemudian luas rumah dibagi dengan jumlah penghuni

3) 4)

dirumah tersebut. 2. Mengukur ventilasi dirumah (ruang tamu, kamar tidur dan dapur) a. Alat dan bahan 1) 2) 3) Rolemeter Alat tulis Kalkulator

b. Cara kerja

36

1) 2) 3) 4)
5)

Menyiapkan rolemeter. Menentukan titik pengukuran. Mengukur luas ventilasi Catat hasil pengukuran. Kemudian dihitung apabila 10% dari luas lantai

ruangan maka memenuhi syarat. 3. Mengukur pencahayaan dirumah (ruang tamu, kamar tidur dan dapur) a. Alat dan bahan 1) 2) 3) 4) Luxmeter Alat tulis Kalkulator Tempat/ruangan yang akan diukur pencahayaannya

b. Cara kerja 1) 2) Pengukuran dilakukan pada siang hari Kalibrasikan alat sehingga pada saat mengukur alat

sudah terkalibrasikan. 3) 4) Menentukan titik pengukuran. Tinggi alat dari bagian atas permukaan lantai 0,8

m/8,5 cm. 5)
6)

Jarak antara pengukur dengan alat 60-90 cm Catat hasil pengukuran yang tertera pada alat..

4. Mengukur suhu dirumah (ruang tamu, kamar tidur dan dapur) a. Alat dan bahan

37

1) 2)

Termometer ruangan Alat tulis

b. Cara kerja 1) Pengukuran dilakukan pada siang hari 2) Kalibrasikan alat sehingga pada saat mengukur alat sudah terkalibrasikan. 3) Menentukan titik pengukuran. 4) kemudian dipaparkan selama 15 menit di titik yang sudah ditentukan.
5) Catat hasil pengukuran yang tertera pada alat.

5. Mengukur kelembaban dirumah (ruang tamu, kamar tidur dan dapur) a. Alat dan bahan 1) Hygrometer 2) Air 3) Tabel b. Cara kerja 1) Pengukuran dilakukan pada siang hari 2) Basahi sumbu yang ada pada alat Hygrometer 3) Setelah dibasahi, kemudian dipaparkan selama 15 menit di titik yang sudah ditentukan. 4) Lalu bacalah angka yang tertera dialat tersebut 5) Mencatat hasilnya 6) Kemudian hasil yang didapat, dibaca di dalam tabel

38

7) Cocokkan pada standar apakah sudah memenuhi standar kelembaban rumah atau belum. (Suharmadi, 1985). I. Kerangka Teori Adapun kerangka teori dalam penelitian ini adalah model segitiga Epidemiologi (the epidemiologic triangle) sebagai berikut: Gambar 2.1 Kerangka Teori Penelitian berdasarkan Segitiga Epidemiologi Induk semang (Host)

Penyebab penyakit (Agent)

Lingkungan (Environment)

Sumber : (Soekidjo, 2003)

Penyakit Tuberkulosis Paru BTA positif adalah penyakit menular yang ditandai dengan adanya (hadirnya) agen atau penyebab penyakit yang hidup dan dapat berpindah. Penyakit Tuberkulosis Paru BTA positif dapat menular dari orang satu kepada orang yang lain, ditentukan oleh 3 faktor tersebut dibawah, yakni : a. Agent (penyebab penyakit) Agent atau penyebab penyakit Tuberkulosis Paru BTA positif adalah kuman TBC (Mycobacterium Tuberculosis) yaitu sejenis kuman yang berbentuk batang, gram positif tahan asam dan pada

39

pemeriksaan mikroskospik akan tampak berwarna merah. Kuman TBC ini dapat hidup pada daerah yang lembab namun tidak tahan pada sinar matahari langsung. b. Host (Induk semang) Kuman TBC dapat menyerang kesemua jenis umur, mulai dari anak-anak, remaja maupun dewasa tergantung bagaimana daya tahan tubuh seseorang pada saat terpapar dengan kuman TBC. Terinfeksinya penyakit Tuberkulosis Paru BTA positif pada seseorang ditentukan pula oleh faktor-faktor yang ada pada induk semang itu sendiri. Semakin rentan daya tahan tubuh seseorang maka semakin mudah kuman TBC tersebut masuk dan menyerang organ tubuh terutama paru-paru dan menjadikan orang tersebut mengidap penyakit TBC Paru. Dengan perkataan lain penyakit-penyakit dapat terjadi pada seseorang tergantung atau ditentukan oleh kekebalan atau resistensi orang yang bersangkutan. Faktor yang mempengaruhi kekebalan atau resisten pada penyakit Tuberkulosis adalah usia dimana menurut WHO pada tahun 1995 sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia produktif (15-49 tahun), TB paru Iebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan dengan wanita karena laki-laki sebagian besar mempunyai kebiasaan merokok sehingga memudahkan

terjangkitnya TB paru, Kekurangan gizi pada seseorang akan

40

berpengaruh terhadap kekuatan daya tahan tubuh dan respon immunologik terhadap penyakit. Di benua Afrika banyak Tuberkulosis terutama menyerang laki-laki. Pada tahun 1996 jumlah penderita TB Paru laki-laki hampir dua kali lipat dibandingkan jumlah penderita TB Paru pada wanita, yaitu 42,34% pada laki-laki dan 28,9 % pada wanita. Antara tahun 1985-1987 penderita TB paru laki-laki cenderung meningkat sebanyak 2,5%, sedangkan penderita TB Paru pada wanita menurun 0,7%. TB paru Iebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan dengan wanita karena laki-laki sebagian besar mempunyai kebiasaan merokok sehingga memudahkan

terjangkitnya TB paru. Merokok diketahui mempunyai hubungan dengan

meningkatkan resiko untuk mendapatkan Kanker Paru-paru, penyakit Jantung Koroner, Bronchitis Kronik dan Kanker Kandung Kemih. Kebiasaan merokok meningkatkan resiko untuk terkena TB paru sebanyak 2,2 kali. Pada tahun 1973 konsumsi rokok di Indonesia per orang per tahun adalah 230 batang, relatif lebih rendah dengan 430 batang/orang/tahun di Sierra Leon, 480 batang/orang/tahun di Ghana dan 760 batang/orang/tahun di Pakistan. Prevalensi merokok pada hampir semua Negara berkembang lebih dari 50% terjadi pada laki-laki dewasa, sedangkan wanita perokok kurang dari 5%. Dengan adanya

41

kebiasaan merokok akan mempermudah untuk terjadinya infeksi TB Paru. Tingkat pendidikan seseorang juga mempengaruhi terhadap pengetahuan seseorang diantaranya mengenai rumah yang memenuhi syarat kesehatan dan pengetahuan penyakit TB Paru, sehingga dengan pengetahuan yang cukup maka seseorang akan mencoba untuk mempunyai perilaku hidup bersin dan sehat. Selain itu tingkat pedidikan seseorang akan mempengaruhi terhadap jenis pekerjaannya. Jenis pekerjaan menentukan faktor risiko apa yang harus dihadapi setiap individu. Bila pekerja bekerja di lingkungan yang berdebu paparan partikel debu di daerah terpapar akan

mempengaruhi terjadinya gangguan pada saluran pernafasan. Paparan kronis udara yang tercemar dapat meningkatkan

morbiditas, terutama terjadinya gejala penyakit saluran pernafasan dan umumnya TB Paru. Jenis pekerjaan seseorang juga mempengaruhi terhadap pendapatan keluarga yang akan mempunyai dampak terhadap pola hidup sehari-hari diantara konsumsi makanan, pemeliharaan kesehatan selain itu juga akan mempengaruhi terhadap

kepemilikan rumah (kontruksi rumah). Kepala keluarga yang mempunyai pendapatan dibawah UMR akan mengkonsumsi makanan dengan kadar gizi yang tidak sesuai dengan kebutuhan bagi setiap anggota keluarga sehingga mempunyai status gizi yang

42

kurang dan akan memudahkan untuk terkena penyakit infeksi diantaranya TB Paru. Dalam hal jenis kontruksi rumah dengan mempunyai pendapatan yang kurang maka kontruksi rumah yang dimiliki tidak memenuhi syarat kesehatan sehingga akan

mempermudah terjadinya penularan penyakit TB Paru. Keadaan sosial ekonomi berkaitan erat dengan pendidikan, keadaan sanitasi lingkungan, gizi dan akses terhadap pelayanan kesehatan. Penurunan pendapatan dapat menyebabkan kurangnya kemampuan daya beli dalam memenuhi konsumsi makanan sehingga akan berpengaruh terhadap status gizi. Apabila status gizi buruk maka akan menyebabkan kekebalan tubuh yang menurun sehingga memudahkan terkena infeksi TB Paru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang dengan status gizi kurang mempunyai resiko 3,7 kali untuk menderita TB Paru berat dibandingkan dengan orang yang status gizinya cukup atau lebih. Kekurangan gizi pada seseorang akan berpengaruh terhadap kekuatan daya tahan tubuh dan respon immunologik terhadap penyakit. Perilaku dapat terdiri dari pengetahuan, sikap dan tindakan. Pengetahuan penderita TB Paru yang kurang tentang cara penularan, bahaya dan cara pengobatan akan berpengaruh terhadap sikap dan prilaku sebagai orang sakit dan akhinya berakibat menjadi sumber penular bagi orang disekelilingnya. c. Environment (lingkungan)

43

Penyakit TBC dapat menular pada semua daerah, terutama pada daerah-daerah kumuh, kotor dan lembab, dimana kuman TBC mudah berkembang biak. Penduduk dengan prilaku atau gaya hidup yang kurang sehat akan memudahkan kuman TBC berkembang biak, misalnya saja orang yang sering batuk dengan tidak menutup mulut. Kuman TBC (Mycobacterium Tuberculosis) pada umumnya hidup di reservoir dan lingkungan. Kuman ini terdapat dalam butirbutir percikan dahak yang disebut droplet nuclei dan melayang di udara untuk waktu yang lama sampai terhisap oleh orang atau mati dengan sendirinya kena sinar matahari langsung. Kuman Tuberkulosis dapat hidup selama 1 – 2 jam bahkan sampai beberapa hari hingga berminggu-minggu tergantung pada ada tidaknya sinar ultraviolet, ventilasi yang baik, kelembaban, suhu rumah dan kepadatan penghuni rumah. (clubpenakita,2009).

44

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis metode penelitian yang digunakan adalah penelitian Survei Analitik dengan pendekatan Case Control yakni suatu penelitian untuk membandingkan dua kelompok yaitu kelompok kasus dan kontrol, kemudian ditelusuri secara retrospektif ada tidaknya faktor risiko yang berperan. Kelompok kasus merupakan kelompok yang menderita penyakit TB Paru BTA positif (efek positif), sedangkan yang kontrol merupakan kelompok yang tidak menderita penyakit TBC (efek negatif). Studi kasus-kontrol sering disebut studi retrospektif, karena faktor risiko diukur dengan melihat kejadian masa lampau untuk mengetahui ada tidaknya faktor risiko yang dialami.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Tempat penelitian yang akan dilakukan adalah di rumah penderita Tuberkulosis Paru BTA positif, yang terdaftar pada buku register TBC Paru di Puskesmas Wonorejo tahun 2008 dan rumah tetangga penderita Tuberkulosis Paru BTA positif yang tidak menderita

45

TBC. Waktu penelitian dilakukan pada pertengahan bulan Desember 2009 sampai dengan bulan Januari 2010.

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien yang datang ke Puskesmas Wonorejo pada tahun 2008 untuk melakukan pemeriksaan medis. 2. Sampel
a. Kasus

: Semua penderita TB Paru BTA positif.

Dengan kriteria Inklusi sebagai berikut :
1)

Berdomisili diwilayah kerja Puskesmas Wonorejo Menurut diagnosis petugas medis dinyatakan

2)

menderita TB paru BTA positif.
3)

Telah menempati rumah tersebut selama lebih dari 1

tahun
4)

Rumah yang ditempati adalah rumah sendiri/bukan

kos b. Kontrol : Bukan penderita TBC

Dengan kriteria Inklusi sebagai berikut :

46

1)
2)

Berdomisili diwilayah kerja Puskesmas Wonorejo Telah menempati rumah tersebut selama lebih dari 1

tahun 3) kos
4)

Rumah yang ditempati adalah rumah sendiri/bukan

Merupakan tetangga yang berdekatan rumah dengan

penderita TB Paru BTA positif.
5)

Jenis

rumah

berdasarkan

konstruksinya

(rumah

permanen, semi permanen, non permanen) sama dengan penderita TB Paru BTA positif (kelompok kasus). Berdasarkan kriteria inklusi diatas maka besarnya sampel kasus dalam penelitian ini adalah sebanyak 24 penderita TB Paru BTA positif. Besarnya sampel kontrol dalam penelitian adalah 1:2 dengan kelompok kasus, yakni sebanyak 48 orang, maka total sampel dalam penelitian ini adalah 72 responden. D. Kerangka Konsep Adapun kerangka konsep sebagai berikut : Gambar 3.1 Kerangka Konsep Penelitian Kasus-Kontrol
Faktor risiko + Tentang kepadatan penghuni, ventilasi, pencahayaan, suhu dan kelembaban.

dalam penelitian ini adalah

Kasus (Penderita TB Paru BTA positif)

47

R e tro s p e k tif
Faktor risiko – Tentang kepadatan penghuni, ventilasi, pencahayaan, suhu dan kelembaban. Faktor risiko + Tentang kepadatan penghuni, ventilasi, pencahayaan, suhu dan kelembaban. Faktor risiko – Tentang kepadatan penghuni, ventilasi, pencahayaan, suhu dan kelembaban.

Populasi Dan sampel

R e tro s p e k tif

Kontrol (Bukan E. penderita TBC)

E. Variabel Penelitian
1. Variabel Bebas

Variabel kepadatan

penelitian bebas atau yang Penghuni, ventilasi,

mempengaruhi adalah suhu dan

pencahayaan,

kelembaban rumah. 2. Variabel Terikat Adalah kejadian Tuberkulosis Paru BTA positif. F. Hipotesis Penelitian Berdasarkan landasan teori maka dapat dibuat hipotesis sebagai berikut :

48

1. Ada hubungan kepadatan penghuni terhadap kejadian

Tuberkulosis paru BTA positif di Wilayah kerja Puskesmas Wonorejo Kota Samarinda tahun 2009.
2. Ada hubungan ventilasi rumah terhadap kejadian

Tuberkulosis paru BTA positif di Wilayah kerja Puskesmas Wonorejo Kota Samarinda tahun 2009.
3. Ada hubungan pencahayaan rumah terhadap kejadian

Tuberkulosis paru BTA positif di Wilayah kerja Puskesmas Wonorejo Kota Samarinda tahun 2009.
4. Ada

hubungan

suhu

rumah

terhadap

kejadian

Tuberkulosis paru BTA positif di Wilayah kerja Puskesmas Wonorejo Kota Samarinda tahun 2009.
5. Ada hubungan kelembaban rumah terhadap kejadian

Tuberkulosis paru BTA positif di Wilayah kerja Puskesmas Wonorejo Kota Samarinda tahun 2009. G. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif
Definisi Operasional Perbandingan antara luas lantai rumah dengan jumlah anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah. Tempat keluar masuknya udara dari luar rumah, berupa jendela dan pintu.

No 1

Variabel Kepadatan Penghuni

Kriteria Memenuhi syarat bila ≥ dari 10m2 per orang. Tidak memenuhi syarat bila < dari 10m2 per orang Memenuhi syarat bila ≥10% dari luas lantai ruangan. Tidak memenuhi syarat bila < 10% dari luas lantai ruangan

Alat Ukur Rolemeter dan kuesioner

Cara Ukur Mengukur luas lantai rumah menggunakan Rolemeter, lalu luas lantai rumah dibagi dengan jumlah penghuni Mengukur luas ventilasi menggunakan Rolemeter pada ruang tamu, kamar dan dapur. Kemudian dihitung apabila 10% dari

Skala Ordinal

2

Ventilasi

Rolemeter dan kuesioner

Ordinal

49

3

Pencahayaan

Penerangan didalam rumah yang bersumber dari sinar matahari pada siang hari.

Memenuhi syarat bila 50-300 lux. Tidak memenuhi syarat bila < 50 atau > 300 lux.

Luxmeter dan kuesioner

4

Suhu

Panas atau dinginnya udara di dalam rumah yang diukur dalam satuan derajat.

Memenuhi syarat bila 20oC-25oC. Tidak memenuhi syarat bila <20oC atau >25oC

Termometer ruangan dan kuesioner

5

Kelembaban

Banyak nya kandungan uap air di udara dalam ruangan.

Memenuhi syarat bila 40%-60%. Tidak memenuhi syarat bila <40% atau >60%

Hygrometer dan kuesioner

luas lantai ruangan maka memenuhi syarat. Pengukuran dilakukan pada siang hari pada titik pengukuran yaitu ruang tamu, kamar tidur dan dapur, dengan meletakkan luxmeter pada ketinggian 0,8m/8,5cm dari permukaan ruangan&ditengah ruangan. Lalu baca hasilnya Pengukuran dilakukan pada siang hari pada titik pengukuran yaitu ruang tamu, kamar tidur dan dapur, dengan meletakkan alat pada ditengah ruangan. Lalu baca hasilnya Pengukuran dilakukan pada siang hari pada titik pengukuran yaitu ruang tamu, kamar tidur dan dapur, letakkan Hygrometer, lalu paparkan 15 menit pada ruangan yang ditentukan. Hasilnya tertera pada Hygrometer dibaca ditabel.

Interval

Interval

Interval

H. Pengujian Instrumen penelitian Setelah kuesioner sebagai alat pengumpul data selesai, belum berarti kuesioner tersebut dapat langsung digunakan untuk

mengumpulkan data. Kuesioner penelitian perlu diuji validitas dan reliabilitas, untuk itu kuesioner harus diuji coba atau “trial” dilapangan. Responden yang dipilih untuk diuji coba sebaiknya responden yang

50

memiliki

ciri-ciri

responden

dimana

penelitian

tersebut

harus

dilaksanakan. Agar diperoleh distribusi nilai hasil pengukuran mendekati sedikit normal maka sebaiknya jumlah responden untuk uji coba ini paling sedikit 20 orang, hasil uji coba ini kemudian digunakan untuk mengetahui sejauh mana alat ukur (kuesioner) yang telah disusun memiliki validitas dan reliabilitas. Suatu alat ukur harus mempunyai kriteria validitas dan reliabilitas. Adapun pengujian instrument meliputi :

1. Uji Validitas Validitas adalah tingkat-tingkat kehasihan suatu instrument. Uji validitas dalam penelitian menggunakan rumus Korelasi Product Moment Pearson sebagai berikut :

Keterangan : rix I x n = Koefisien item-total (bivariate pearson) = Skor item = Skor total = Banyaknya subjek

Pengujian menggunakan uji dua sisi dengan taraf signifikansi 0,05. Kriteria pengujian adalah sebagai berikut :

51

a. Jika r hitung ≥ r tabel maka instrument atau item-item pertanyaan berkolerasi signifikan terhadap skor total

(dinyatakan valid).
b. Jika r hitung < r tabel maka instrument atau item-item

pertanyaan tidak berkolerasi signifikan terhadap skor total (dinyatakan tidak valid). 2. Uji Reliabilitas Uji Reliabilitas digunakan untuk mengetahui konsistensi alat ukur, apakah alat pengukur yang digunakan dapat diandalkan dan tetap konsisten jika pengukuran tersebut diulang. Dalam peneitian ini digunakan teknik pengukuran reliabilitas internal dengan rumus Alpha (Cronbach’s). Rumus reliabilitas dengan metode Alpha adalah :

=

[1 -

]

Keterangan : r11 k ∑σb2 ∑σ12 = reliabilitas Instrumen = banyaknya butir pertanyaan = jumlah varian butir = varian total

Pengujian menggunakan uji dua sisi dengan taraf signifikansi 0,05. a. Jika α ≥ r tabel maka instrument atau item-item pertanyaan reliabel.

52

b. Jika α < r tabel maka instrument atau item-item pertanyaan tidak

reliabel. 3. Hasil pengujian Instrumen Sebelum kuesioner digunakan, maka sebelumnya dilakukan pengujian instrumen melalui uji validitas dan reliabilitas terhadap 20 orang responden. Hasil uji validitas untuk variabel kepadatan penghuni dari 6 pertanyaan, 4 pertanyaan valid karena memiliki nilai r hitung > r tabel, sedangkan 2 pertanyaan tidak valid karena memiliki nilai r hitung < r tabel yaitu nomor 1 dan 5. Uji reliabilitas instrumen dinyatakan reliable dengan nilai α = 0,8824. Hasil uji validitas untuk variabel ventilasi dari 5 pertanyaan, 3 pertanyaan valid karena memiliki nilai r hitung > r tabel, sedangkan 2 pertanyaan tidak valid karena memiliki nilai r hitung < r tabel yaitu nomor 3 dan 4. Uji reliabilitas instrumen dinyatakan reliabel

dengan nilai α = 0,7183. Hasil uji validitas untuk variabel pencahayaan dari 5 pertanyaan, 2 pertanyaan valid karena memiliki nilai r hitung > r tabel, sedangkan 3 pertanyaan tidak valid karena memiliki nilai r hitung < r tabel yaitu nomor 2, 4 dan 5. Uji reliabilitas instrumen dinyatakan reliabel dengan nilai α = 0,6073. Hasil uji validitas untuk variabel suhu dan kelembaban dari 4 pertanyaan, 2 pertanyaan valid karena memiliki nilai r hitung > r tabel, sedangkan 2 pertanyaan tidak valid karena memiliki nilai r

53

hitung < r tabel yaitu nomor 1 dan 2 . Uji reliabilitas instrumen dinyatakan reliable dengan nilai α = 0,8479. I. Teknik pengumpulan data Data dikumpulkan melalui kuesioner dengan responden

menggunakan daftar pertanyaan yang telah disusun serta pengamatan dan pengukuran langsung di lokasi penelitian dengan menggunakan lembar observasi. Jenis data yang diambil pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Data Primer Data primer adalah data yang diperoleh dari hasil kuesioner yang diajukan langsung kepada responden yang terpilih (kasus dan kontrol) mengenai kepadatan penghuni, ventilasi, pencahayaan, suhu dan kelembaban. Serta menggunakan lembar observasi sebagai validasi jawaban. 2. Data Sekunder Data sekunder diperoleh melalui laporan yang telah ada, yaitu dari register TB-01, register TBC dan TB-06 Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) dari bulan Januari 2008 sampai bulan Desember

54

2008 di Puskesmas Wonorejo. Data umum mengenai penderita TBC tahun 2008 diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi Kal-tim dan Dinas Kesehatan Kota Samarinda.

J. Teknik Analisis Data Analisis data hasil penelitian dilakukan 2 tahapan yaitu analisis univariat dan analisis bivariat. a. Analisis Univariat Analisa univariat dilakukan terhadap variabel dari hasil penelitian. Tujuan dari analisis ini adalah untuk mendeskripsikan karakteristik masing-masing variabel yang diteliti yaitu kepadatan penghuni, ventilasi, pencahayaan, suhu dan kelembaban. Data yang telah didapat kemudian diolah dan dianalisis dengan menggunakan perangkat lunak pengolah data statistik lalu ditampilkan dalam bentuk tabel data yang menjabarkan distribusi frekuensi dan presentasi dari masing-masing variabel. b. Analisis bivariat Analisa bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat.

Analisis bivariat menggunakan uji statistik yang sesuai dengan tujuan penelitian dan skala data yang ada. Uji statistik yang digunakan dalam analisa ini adalah Chi Square dengan uji alternatif Fisher Exact Test.

55

K. Jadwal Penelitian NO 1 2 3 4 5 6 7 Kegiatan Persiapan Proposal Penyusunan Proposal Seminar Proposal Pelaksanaan Penelitian Pengolahan Data Seminar Hasil Pendadaran 10 X Bulan, Tahun 2009-2010 11 12 1 2 3 X X X X 4 6

X X X X X

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

J. Hasil Penelitian 7. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Puskesmas Wonorejo terletak di Jalan Cendana No. 58 Kelurahan Teluk Lerong Ulu, letaknya yang sangat strategis membuat masyarakat mudah mengakses Pelayanan Kesehatan Masyarakat tersebut. Puskesmas Wonorejo adalah Puskesmas

56

Induk dan merupakan salah satu dari 3 Puskesmas yang ada di wilayah Kecamatan Sungai Kunjang. Luas wilayah kerja Puskesmas Wonorejo sekitar 241315 km2 dengan jumlah penduduk diwilayah kerja Puskesmas Wonorejo 28.569 jiwa yang terdiri dari laki-laki sebanyak 14.958 jiwa dan perempuan sebanyak 13.611 jiwa serta terdapat 7103 kepala keluarga. Wilayah kerja Puskesmas Wonorejo terdiri dari 2 Kelurahan yaitu Kelurahan Teluk Lerong Ulu dan Kelurahan Karang Anyar. Di sebelah utara Puskesmas Wonorejo berbatasan dengan Kelurahan Lok Bahu dan Kelurahan Air Putih, di sebelah selatan berbatasan dengan sungai Mahakam, sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Karang Asam Ilir dan di sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Teluk Lerong Ilir. (Profil Puskesmas Wonorejo, 2009). Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap 24 kasus atau yang menderita Tuberkulosis Paru BTA positif dan 48 kontrol atau yang bukan penderita Tuberkulosis di wilayah Kerja Puskesmas Wonorejo yang terdapat di 2 Kelurahan, yaitu Kelurahan Teluk Lerong Ulu dan Kelurahan Karang anyar, maka diperoleh hasil sebagai berikut : 8. Karakteristik Responden a. Umur

57

Umur adalah lama hidup responden sejak dilahirkan sampai wawancara di lakukan. Untuk menentukan interval umur di gunakan anjuran dari WHO dengan pembagian umur menurut tingkat kedewasaan. Adapun karakteristik responden menurut umur dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.1 : Distribusi Responden Menurut Kelompok Umur di Wilayah Kerja Puskesmas Wonorejo Samarinda Tahun 2009
Kejadian TB Paru Kasus Kontrol N % N % 17 70,8 38 79,2 7 29,2 10 20,8 24 100 48 100 Total N 55 17 72 % 76,4 23,6 100

Umur (tahun) 16 – 49 ≥ 50 Total

Dari tabel 4.1 menunjukkan bahwa pada penderita Tuberkulosis paru BTA positif lebih banyak diderita pada kelompok umur produktif atau umur 15 – 49 yaitu sebesar

70,8%, dibandingkan dengan umur 50 tahun keatas hanya sebesar 29,2%.

b. Jenis Kelamin Jenis kelamin adalah perbedaan anatomi responden yang ditinjau dari alat reproduksi. Adapun karakteristik

responden menurut jenis kelamin dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.2 : Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin di Wilayah Kerja Puskesmas Wonorejo Samarinda Tahun 2009

58

Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total

Kejadian TB Paru Kasus Kontrol N % N % 14 58,3 29 60,4 10 41,7 19 39,6 24 100 48 100

Total N 43 29 72 % 59,7 40,3 100

Dari tabel 4.2 menunjukkan bahwa pada penderita Tuberkulosis paru BTA positif lebih banyak diderita oleh Lakilaki yaitu sebesar 58,3%. dibandingkan dengan perempuan sebesar 41,7%. c. Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan adalah jenjang pendidikan responden dalam mendapatkan ilmu pengetahuan secara formal

berdasarkan ijazah terakhir. Adapun karakteristik responden menurut tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.3 :

Distribusi Responden menurut Tingkat Pendidikan di wilayah kerja Puskesmas Wonorejo Samarinda Tahun 2009
Kejadian TB Paru Kasus Kontrol N % N % 7 29,2 4 8,3 10 41,7 11 22,9 6 25,0 28 58,3 1 4,2 5 10,4 24 100 48 100 Total N 11 21 34 6 72 % 15,3 29,2 47,2 8,3 100

Pendidikan SD SMP SMA PT Total

59

Dari tabel 4.3 menunjukkan bahwa pada penderita Tuberkulosis paru BTA positif sebagian besar pendidikannya adalah SMP yaitu sebesar 41,7%. Sedangkan pada responden yang tidak menderita Tuberkulosis dengan persentase terbesar pendidikannya adalah SMA yaitu 58,3%. d. Pekerjaan Pekerjaan adalah usaha yang dimiliki seorang

responden. Adapun karakteristik responden menurut jenis pekerjaan dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.4 : Distribusi Responden menurut Pekerjaan di wilayah kerja Puskesmas Wonorejo Samarinda Tahun 2009
Kejadian TB Paru Kasus Kontrol N % N % 5 20,8 1 2,1 6 1 8 4 0 24 25,0 4,2 33,3 16,7 0 100 10 2 13 15 7 48 20,8 4,2 27,1 31,3 14,6 100 Total N 6 16 3 21 19 7 72 % 8,3 22,2 4,2 29,2 26,4 9,7 100

Pekerjaan Tidak Bekerja Buruh bangunan Petani/tukang ojek Wiraswasta/ Pedagang Karyawan Swasta PNS/honorer Total

Dari tabel 4.4 menunjukkan bahwa pada penderita Tuberkulosis paru BTA positif sebagian besar pekerjaannya adalah wiraswasta/pedagang yaitu sebesar 33,3%. Sedangkan pada responden yang tidak menderita Tuberkulosis dengan persentase terbesar pekerjaannya adalah karyawan swasta yaitu 31,3%.

60

e. Jenis Rumah Jenis Rumah adalah rumah yang dimiliki responden berdasarkan konstruksinya yaitu rumah permanen, semi

permanen dan non permanen. Adapun karakteristik responden menurut jenis rumah dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.5 : Distribusi Responden menurut Jenis Rumah di wilayah kerja Puskesmas Wonorejo Samarinda Tahun 2009
Kejadian TB Paru Kasus Kontrol N % N % 16 5 3 24 66,7 20,8 12,5 100 32 10 6 48 66,7 20,8 12,5 100 Total N 48 15 9 72 % 66,7 20,8 12,5 100

Jenis Rumah Non Permanen Semi Permanen Permanen Total

Dari tabel 4.5 menunjukkan bahwa pada penderita Tuberkulosis paru BTA positif lebih banyak terdapat jenis rumah non permanen yaitu sebesar 66,7%.

9. Analisis Univariat a. Kepadatan Penghuni Kepadatan Penghuni disini adalah perbandingan antara luas lantai rumah responden dengan jumlah anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah. Adapun hasil penelitian mengenai kepadatan penghuni adalah sebagai berikut :

61

Tabel 4.6 :

Distribusi Responden berdasarkan Kepadatan Penghuni diwilayah kerja Puskesmas Wonorejo Samarinda Tahun 2009
Kejadian TB Paru Kasus Kontrol N % N % 17 70,8 10 20,8 7 29,2 38 79,2 24 100 48 100 Total N 27 45 72 % 37,5 62,5 100

Kepadatan Penghuni TMS MS Total

Dari tabel 4.6 menunjukkan bahwa pada penderita Tuberkulosis paru BTA positif lebih banyak terdapat kondisi kepadatan penghuni yang tidak memenuhi syarat kesehatan yaitu sebesar 70,8%. Sedangkan pada responden yang tidak menderita Tuberkulosis dengan persentase terbesar yaitu 79,2% terdapat kondisi kepadatan penghuni yang memenuhi syarat kesehatan. b. Ventilasi Ventilasi disini adalah adalah tempat keluar masuknya udara dari luar rumah, berupa jendela dan pintu yang terdapat dirumah responden. Adapun hasil penelitian mengenai ventilasi adalah sebagai berikut :

Tabel 4.7 :

Distribusi Responden berdasarkan Ventilasi rumah diwilayah kerja Puskesmas Wonorejo Samarinda Tahun 2009
Kejadian TB Paru Kasus Kontrol N % N % 20 83,3 12 25,0 4 16,7 36 75,0 24 100 48 100 Total N 32 40 72 % 44,4 55,6 100

Ventilasi TMS MS Total

62

Dari tabel 4.7 menunjukkan bahwa pada penderita Tuberkulosis paru BTA positif lebih banyak terdapat kondisi ventilasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan yaitu sebesar 83,3%. Sedangkan pada responden yang tidak menderita Tuberkulosis dengan persentase terbesar yaitu 75% terdapat kondisi ventilasi yang memenuhi syarat kesehatan. c. Pencahayaan Pencahayaan disini adalah penerangan didalam rumah responden yang bersumber dari sinar matahari pada siang hari. Adapun hasil penelitian mengenai pencahayaan adalah sebagai berikut : Tabel 4.8 : Distribusi Responden berdasarkan Pencahayaan rumah diwilayah kerja Puskesmas Wonorejo Samarinda Tahun 2009
Kejadian TB Paru Kasus Kontrol N % N % 22 91,7 10 20,8 2 8,3 38 79,2 24 100 48 100 Total N 32 40 72 % 44,4 55,6 100

Pencahayaan TMS MS Total

Dari tabel 4.8 menunjukkan bahwa pada penderita Tuberkulosis paru BTA positif lebih banyak terdapat kondisi pencahayaan yang tidak memenuhi syarat kesehatan yaitu sebesar 91,7%. Sedangkan pada responden yang tidak menderita Tuberkulosis dengan persentase terbesar yaitu 79,2% terdapat kondisi pencahayaan yang memenuhi syarat kesehatan. d. Suhu

63

Suhu disini adalah Panas atau dinginnya udara di dalam rumah responden yang diukur dalam satuan derajat. Adapun hasil penelitian mengenai suhu adalah sebagai berikut : Tabel 4.9 : Distribusi Responden berdasarkan suhu rumah diwilayah kerja Puskesmas Wonorejo Samarinda Tahun 2009
Kejadian TB Paru Kasus Kontrol N % N % 23 95,8 11 22,9 1 4,2 37 77,1 24 100 48 100 Total N 34 38 72 % 47,2 52,8 100

Suhu TMS MS Total

Dari tabel 4.9 menunjukkan bahwa pada penderita Tuberkulosis BTA positif lebih banyak terdapat kondisi suhu dalam rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan yaitu sebesar 95,8%. Sedangkan pada responden yang tidak menderita Tuberkulosis dengan persentase terbesar yaitu 77,1% terdapat kondisi suhu dalam rumah yang memenuhi syarat kesehatan.

e. Kelembaban Kelembababan disini adalah Banyaknya kandungan uap air di udara dalam ruangan dirumah responden. Adapun hasil penelitian mengenai kelembaban adalah sebagai berikut : Tabel 4.10 : Distribusi Responden berdasarkan kelembaban rumah diwilayah kerja Puskesmas Wonorejo Samarinda Tahun 2009

64

Kelembaban TMS MS Total

Kejadian TB Paru Kasus Kontrol N % N % 21 87,5 8 16,7 3 12,5 40 83,3 24 100 48 100

Total N 29 43 72 % 40,3 59,7 100

Dari tabel 4.10 menunjukkan bahwa pada penderita Tuberkulosis paru BTA positif lebih banyak terdapat kondisi kelembaban rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan yaitu sebesar 87,5%. Sedangkan pada responden yang tidak menderita Tuberkulosis dengan persentase terbesar yaitu 83,3% terdapat kondisi kelembaban rumah yang memenuhi syarat kesehatan. 10. Analisis Bivariat a. Faktor Risiko Kepadatan Penghuni terhadap Kejadian TB Paru BTA positif Risiko kepadatan penghuni terhadap kejadian

Tuberkulosis paru BTA positif diwilayah kerja Puskesmas Wonorejo pada 24 orang kelompok kasus dan 48 orang pada kelompok kontrol dapat dilihat pada tabel 4.11 berikut : Tabel 4.11 : Faktor Risiko Kepadatan Penghuni terhadap Kejadian TB Paru BTA positif diwilayah kerja Puskesmas Wonorejo Samarinda Tahun 2009
Kejadian TB Paru Kasus N 17 7 24 % Kontrol N 10 38 48 % 20,8 79,2 100 Total N 27 45 72 %
Chisquare Test P Value OR 95% CI Phi Value

Kepadatan Penghuni

TMS MS Total

70,8 29,2
100

37,5 62,5
100 17.067 .000 9.229 .487

65

Tabel 4.11 diatas menunjukkan bahwa pada penderita Tuberkulosis paru BTA positif, lebih tinggi persentase pada faktor risiko positif atau pada kondisi kepadatan penghuni yang tidak memenuhi syarat kesehatan yaitu 70,8% (17 responden) sedangkan pada kondisi kepadatan penghuni yang memenuhi syarat kesehatan hanya 29,2% (7 responden). Pada responden yang tidak menderita Tuberkulosis, lebih tinggi persentase pada kondisi kepadatan penghuni yang memenuhi syarat kesehatan yaitu 79,2% (38 responden) sedangkan pada kondisi kepadatan penghuni yang tidak memenuhi syarat kesehatan hanya 20,8% (10 responden). Hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh hasil p value = 0,000 artinya p < 0,05 sehingga Ho ditolak dengan interpretasi bahwa ada hubungan kepadatan penghuni terhadap kejadian Tuberkulosis paru BTA positif. Dilihat dari analisa faktor risiko (Odds Ratio) sebesar 9,229 maka dapat di interpretasikan bahwa rumah dengan kepadatan penghuni yang tidak memenuhi syarat kesehatan mempunyai faktor risiko 9,2 kali terkena Tuberkulosis paru BTA positif dibandingkan dengan kepadatan penghuni yang

memenuhi syarat kesehatan.

66

Nilai Phi menunjukkan nilai 0,487, artinya hubungan antara kepadatan penghuni terhadap kejadian Tuberkulosis paru BTA positif memiliki keeratan hubungan sedang.
b. Faktor Risiko Ventilasi Rumah terhadap Kejadian TB Paru

BTA positif. Risiko ventilasi rumah terhadap kejadian Tuberkulosis paru BTA positif diwilayah kerja Puskesmas Wonorejo pada 24 orang kelompok kasus dan 48 orang pada kelompok kontrol dapat dilihat pada tabel 4.12 berikut : Tabel 4.12 : Faktor Risiko Ventilasi Rumah terhadap Kejadian TB Paru BTA positif diwilayah kerja Puskesmas Wonorejo Samarinda Tahun 2009
Kejadian TB Paru Ventilasi TMS MS Total Kasus N 20 4 24 % 83,3 16,7 100 Kontrol N 12 36 48 % 25,0 75,0 100 Total N 32 40 72 % 44,4 55,6 100
Chisquare Test P Value OR 95% CI Phi Value

22.050

.000

15.000

.553

Tabel 4.12 diatas menunjukkan bahwa pada penderita Tuberkulosis paru BTA positif, lebih tinggi persentase faktor risiko positif atau pada kondisi ventilasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan yaitu 83,3% (20 responden) sedangkan pada kondisi ventilasi yang memenuhi syarat kesehatan hanya 16,7% (4 responden). Pada responden yang tidak menderita Tuberkulosis, lebih tinggi persentase pada kondisi ventilasi yang memenuhi syarat

67

kesehatan yaitu 75% (36 responden) sedangkan pada kondisi ventilasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan hanya 25% (12 responden). Hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh hasil p value = 0,000 artinya p < 0,05 sehingga Ho ditolak dengan interpretasi bahwa ada hubungan ventilasi terhadap kejadian Tuberkulosis paru BTA positif. Dilihat dari analisa faktor risiko (Odds Ratio) sebesar 15,000 maka dapat di interpretasikan bahwa rumah dengan ventilasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan mempunyai faktor risiko 15 kali terkena Tuberkulosis paru BTA positif dibandingkan kesehatan. Nilai Phi menunjukkan nilai 0,553, artinya hubungan antara ventilasi terhadap kejadian Tuberkulosis paru BTA positif memiliki keeratan hubungan sedang. c. Faktor Risiko Pencahayaan Rumah terhadap Kejadian TB Paru BTA positif. Risiko pencahayaan rumah terhadap kejadian dengan ventilasi yang memenuhi syarat

Tuberkulosis paru BTA positif diwilayah kerja Puskesmas Wonorejo pada 24 orang kelompok kasus dan 48 orang pada kelompok kontrol dapat dilihat pada tabel 4.13 berikut :

68

Tabel 4.13 :

Faktor Risiko Pencahayaan Rumah terhadap Kejadian TB Paru BTA positif diwilayah kerja Puskesmas Wonorejo Samarinda Tahun 2009
Kejadian TB Paru Total N 32 40 72 % 44,4 55,6 100
Chisquare Test P Value OR 95% CI Phi Value

Pencahayaan

Kasus N 22 2 24 % 91,7 8,3 100

Kontrol N 10 38 48 % 20,8 79,2 100

TMS MS Total

32.512

.000

41.800

.672

Tabel 4.13 diatas menunjukkan bahwa pada penderita Tuberkulosis paru BTA positif, lebih tinggi persentase faktor risiko positif atau pada kondisi pencahayaan rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan yaitu 91,7% (22 responden) sedangkan pada kondisi pencahayaan rumah yang memenuhi syarat kesehatan hanya 8,3% (2 responden). Pada responden yang tidak menderita Tuberkulosis, lebih tinggi persentase pada kondisi pencahayaan rumah yang memenuhi syarat kesehatan yaitu 79,2% (38 responden) sedangkan pada kondisi pencahayaan rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan hanya 20,8% (10 responden). Hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh hasil p value = 0,000 artinya p < 0,05 sehingga Ho ditolak dengan interpretasi bahwa ada hubungan pencahayaan rumah terhadap kejadian Tuberkulosis paru BTA positif.

69

Dilihat dari analisa faktor risiko (Odds Ratio) sebesar 41,800 maka dapat di interpretasikan bahwa rumah dengan pencahayaan yang tidak memenuhi syarat kesehatan

mempunyai faktor risiko 41,8 kali terkena Tuberkulosis paru BTA positif dibandingkan dengan pencahayaan yang memenuhi syarat kesehatan. Nilai Phi menunjukkan nilai 0,672, hal ini menunjukkan bahwa terjadi hubungan yang kuat antara pencahayaan rumah terhadap kejadian Tuberkulosis paru BTA positif. d. Faktor Risiko Suhu Rumah terhadap Kejadian TB Paru BTA positif. Risiko suhu rumah terhadap kejadian Tuberkulosis paru BTA positif diwilayah kerja Puskesmas Wonorejo pada 24 orang kelompok kasus dan 48 orang pada kelompok kontrol dapat dilihat pada tabel 4.14berikut : Tabel 4.14 : Faktor Risiko Suhu Rumah terhadap Kejadian TB Paru BTA positif diwilayah kerja Puskesmas Wonorejo Samarinda Tahun 2009
Kejadian TB Paru Suhu TMS MS Total Kasus N 23 1 24 % 95,8 4,2 100 Kontrol N 11 37 48 % 22,9 77,1 100 Total N 34 38 72 % 47,2 52,8 100
Chisquare Test P Value OR 95% CI Phi Value

34.133

.000

77.364

.689

Tabel 4.14 diatas menunjukkan bahwa pada penderita Tuberkulosis paru BTA positif, lebih tinggi persentase faktor risiko positif atau pada kondisi suhu rumah yang tidak

70

memenuhi syarat kesehatan yaitu 95,5% (23 responden) sedangkan pada kondisi suhu rumah yang memenuhi syarat kesehatan hanya 4,2% (1 responden). Pada responden yang tidak menderita Tuberkulosis, lebih tinggi persentase pada kondisi suhu rumah yang memenuhi syarat kesehatan yaitu 37 responden (77,1 %) sedangkan pada kondisi suhu rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan hanya 11 responden (22,9 %). Hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh hasil p value = 0,000 artinya p < 0,05 sehingga Ho ditolak dengan interpretasi bahwa ada hubungan suhu rumah terhadap kejadian Tuberkulosis paru BTA positif. Dilihat dari analisa faktor risiko (Odds Ratio) sebesar 77,364 maka dapat di interpretasikan bahwa rumah dengan suhu yang tidak memenuhi syarat kesehatan mempunyai faktor risiko 77,4 kali terkena Tuberkulosis paru BTA positif

dibandingkan dengan suhu rumah yang memenuhi syarat kesehatan. Dilihat dari nilai Phi menunjukkan nilai 0,689, hal ini menunjukkan bahwa terjadi hubungan yang kuat antara suhu rumah terhadap kejadian Tuberkulosis paru BTA positif.

71

e. Faktor Risiko Kelembaban Rumah terhadap Kejadian TB

Paru BTA positif. Risiko kelembaban rumah terhadap kejadian

Tuberkulosis paru BTA positif diwilayah kerja Puskesmas Wonorejo pada 24 orang kelompok kasus dan 48 orang pada kelompok kontrol dapat dilihat pada tabel 4.15 berikut :

Tabel 4.15 :

Faktor Risiko Kelembaban Rumah terhadap Kejadian TB Paru BTA positif diwilayah kerja Puskesmas Wonorejo Tahun 2009
Kejadian TB Paru Total N 29 43 72 % 40,3 59,7 100
Chisquare Test P Value OR 95% CI Phi Value

Kelembaban

Kasus N 21 3 24 % 87,5 12,5 100

Kontrol N 8 40 48 % 16,7 83,3 100

TMS MS Total

33.373

.000

35.000

.681

Tabel 4.15 diatas menunjukkan bahwa pada penderita Tuberkulosis paru BTA positif, lebih tinggi persentase faktor risiko positif atau pada kondisi kelembaban rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan yaitu 87,5% (21 responden) sedangkan pada kondisi kelembaban rumah yang memenuhi syarat kesehatan hanya 12,5% (3 responden). Pada responden yang tidak menderita Tuberkulosis, lebih tinggi persentase pada kondisi kelembaban rumah yang memenuhi syarat kesehatan yaitu 83,3% (40 responden) sedangkan pada kondisi kelembaban rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan hanya 16,7% (8 responden).

72

Hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh hasil p value = 0,000 artinya p < 0,05 sehingga Ho ditolak dengan interpretasi bahwa ada hubungan kelembaban rumah terhadap kejadian Tuberkulosis paru BTA positif. Dilihat dari analisa faktor risiko (Odds Ratio) sebesar 35,000 maka dapat di interpretasikan bahwa rumah dengan kelembaban yang tidak memenuhi syarat kesehatan

mempunyai faktor risiko 35 kali terkena Tuberkulosis paru BTA positif dibandingkan dengan kelembaban rumah yang

memenuhi syarat kesehatan. Dilihat dari nilai Phi menunjukkan nilai 0,681, hal ini menunjukkan bahwa terjadi hubungan yang kuat antara kelembaban rumah terhadap kejadian Tuberkulosis paru BTA positif.

K. Pembahasan 1. Kepadatan Penghuni Kepadatan penghuni adalah perbandingan antara luas lantai rumah dengan jumlah anggota keluarga dalam satu rumah tinggal (Lubis, 1989). Persyaratan kepadatan hunian untuk seluruh perumahan biasa dinyatakan dalam m² per orang.

73

Secara umum penilaian kepadatan penghuni dengan menggunakan ketentuan standar minimum, yaitu kepadatan penghuni yang memenuhi syarat kesehatan diperoleh dari hasil bagi antara luas lantai dengan jumlah penghuni adalah 10 m²/orang dan kepadatan penghuni tidak memenuhi syarat kesehatan bila diperoleh hasil bagi antara luas lantai dengan jumlah penghuni adalah < 10 m²/orang (Lubis, 1989). Hasil penelitian pada penderita Tuberkulosis paru BTA positif diketahui bahwa 70,8% (17 kasus) pada kondisi kepadatan penghuni yang tidak memenuhi syarat kesehatan. Keadaan ini disebabkan oleh faktor pengetahuan yang rendah karena dari 17 orang responden dapat dilihat bahwa ada 82,3% (14 kasus) dengan tingkat pendidikan rendah yaitu SMP dan SD. Tingkat pendidikan seseorang mempengaruhi terhadap pengetahuan

seseorang diantaranya mengenai rumah yang memenuhi syarat kesehatan dan pengetahuan tentang penyakit TB Paru

(clubpenakita,2009). sehingga dengan pengetahuan yang kurang maka seseorang tidak mengetahui cara perilaku hidup bersih dan sehat. Dengan pendidikan rendah pula seseorang tidak

mempunyai pekerjaan dan penghasilan yang cukup. Sehingga mempengaruhi usaha dalam membangun rumah yang cukup untuk penghuni dirumah responden. Terdapat 29,4% (9 kasus) responden yang lebih banyak melakukan aktifitas dirumah yaitu responden yang tidak bekerja

74

dan bekerja sebagai wiraswasta atau pedagang yang melakukan usahanya dirumah responden sendiri. 35,3% (6 kasus) dengan pekerjaan sebagai buruh bangunan. Jenis pekerjaan menentukan faktor risiko apa yang harus dihadapi setiap individu. Bila pekerja bekerja di lingkungan yang berdebu paparan partikel debu di daerah terpapar akan mempengaruhi terjadinya gangguan pada saluran pernafasan. Paparan kronis udara yang tercemar dapat meningkatkan morbiditas, terutama terjadinya gejala penyakit saluran pernafasan dan umumnya TB Paru (clubpenakita,2009). Pada kondisi kepadatan penghuni yang memenuhi syarat kesehatan namun mereka menderita Tuberkulosis paru BTA positif diketahui terdapat 29,2% (7 kasus). Ada 42,8% (3 kasus) dari 7 responden tersebut yang menderita Tuberkulosis meskipun

kepadatan penghuni memenuhi syarat kesehatan. Ini disebabkan faktor kontak serumah dengan orang yang mempunyai riwayat menderita Tuberkulosi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kontak erat dengan penderita TBC BTA positif mempunyai risiko maksimum untuk terinfeksi. Berdasarkan penelitian Salehuddin, 2002 di Kabupaten Maros, responden pada penderita yang memiliki riwayat kontak serumah dengan penderita TBC sebanyak 69,2% dan yang tidak memiliki riwayat kontak serumah dengan penderita TBC sebanyak 30,8%. Ada 57,1% (4 kasus) dengan pendidikan baik sehingga mereka mempunyai pekerjaan dan penghasilan yang cukup untuk

75

membangun rumah untuk semua anggota keluarga, sehingga kepadatan penghuni dirumah responden dapat memenuhi syarat kesehatan. Pada kondisi kepadatan penghuni yang tidak memenuhi syarat kesehatan namun responden tidak menderita Tuberkulosis terdapat 20,8% (10 kontrol). 90% responden ini memiliki tingkat pendidikan yang cukup baik yaitu tingkat pendidikan SMA dan PT, sehingga mereka mempunyai pengetahuan yang baik dalam upaya pencegahan penyakit Tuberkulosis. Dimana pengetahuan yang cukup maka seseorang akan mencoba untuk mempunyai perilaku hidup bersih dan sehat (clubpenakita,2009). Pada kondisi kepadatan penghuni yang memenuhi syarat kesehatan terdapat 79,2% (38 kontrol) yang tidak menderita Tuberkulosis. Sebagian besar dari mereka memiliki Tingkat pendidikan baik yaitu 63,2%. Dengan tingkat pendidikan baik, mereka memiliki pekerjaan yang lebih baik. Ini memepengaruhi usaha mereka dalam membangun rumah yang cukup besar sesuai dengan anggota keluarga. Mengetahui adanya hubungan faktor risiko kepadatan penghuni pada kasus TB paru BTA positif diwilayah kerja Puskesmas Wonorejo, digunakan rumus Odds ratio maka didapat nilai OR 9,229. Artinya kepadatan penghuni yang tidak memenuhi syarat kesehatan mempunyai faktor risiko 9,2 kali untuk menderita

76

TB paru BTA positif dibandingkan dengan rumah yang memiliki kepadatan penghuni yang memenuhi syarat kesehatan. Hal ini menunjukkan bahwa kepadatan penghuni merupakan faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian TBC. Kepadatan penghuni dalam satu rumah tinggal akan memberikan pengaruh bagi penghuninya. Luas bangunan yang tidak sebanding dengan luas penghuninya akan menyebabkan perjubelan (Overcrowded). Hal ini tidak sehat, sebab di samping menyebabkan kurangnya konsumsi O2 juga bila salah satu anggota keluarga terkena penyakit infeksi, akan mudah menular kepada anggota keluarga yang lain. Luas bangunan yang optimum adalah apabila dapat menyediakan 2,5-3 m2 untuk setiap orang (tiap anggota keluarga). Kepadatan penghuni dengan luas > 10 m2 per orang akan memberikan jarak terjadinya penularan penyakit akibat udara (airborne disease), misalnya penyakit Tuberkulosis

(Notoatmodjo, 2007). Kepadatan penghuni pada penderita TB paru BTA positif menunjukkan lebih tinggi persentase faktor risiko positif atau kepadatan penghuni yang tidak memenuhi syarat kesehatan dibandingkan dengan kelompok yang bukan penderita TB. Ini artinya bahwa masyarakat belum sepenuhnya mampu membangun rumah yang cukup besar, dilihat dari segi pendidikan dan sosial ekonomi memang terbatas sehingga upaya untuk memenuhi rumah

77

yang memenuhi syarat kesehatan dirasakan begitu sulit. Luas rumah yang tidak ada perkembangannya kemudian dengan jumlah anggota keluarga yang semakin bertambah akan mengakibatkan tingginya kepadatan penghuni. Apabila ada anggota keluarga yang sakit, maka akan semakin besar risiko penularan penyakit TB. Kepadatan penghuni akan menyebabkan efek negatif terhadap kesehatan baik fisik dan mental. Penyebaran penyakit menular pada rumah dengan kepadatan tinggi akan cepat terjadi. Pengalaman menunjukkan bahwa pada ruangan yang padat, penyebaran penyakit menular terutama pada saluran pernafasan mempercepat terjadinya penyakit tersebut (Suharmadi, 1994). Upaya untuk mengurangi kepadatan penghuni yang tinggi tentunya berkaitan dengan kemampuan ekonomi masyarakat, serta pengetahuan yang baik tentang rumah sehat. Penghasilan dengan pekerjaan yang terbatas tentunya akan sulit dipenuhi. Namun untuk mengurangi risiko menderita Tuberkulosis masyarakat bisa melakukan usaha pengendalian, misalnya

anggota keluarga yang menderita penyakit TB harus tidur terpisah dengan anggota keluarga lain, sebaiknya dua individu dari jenis yang berbeda dan berumur diatas sepuluh tahun dan tidak berstatus sebagai suami istri, tidur tidak dalam satu kamar, menutup mulut saat batuk atau bersin, meludah pada tempat khusus yaitu Pot Sputum, jangan menggunakan alat-alat makan

78

dan minum secara bersamaan dengan orang lain ketika menderita penyakit TB, serta selalu mencuci tangan dan gunakan antiseptik. 2. Ventilasi Ventilasi adalah usaha untuk memenuhi kondisi atmosfer yang menyenangkan dan menyehatkan manusia. Secara umum, penilaian ventilasi rumah dengan cara membandingkan antara luas ventilasi dan luas lantai rumah, dengan menggunakan Rolemeter. Menurut indikator pengawaan rumah, luas ventilasi yang memenuhi syarat kesehatan adalah 10% luas lantai rumah dan luas ventilasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan adalah < 10% luas lantai rumah (Lubis, 1989). Hasil penelitian pada penderita Tuberkulosis paru BTA positif diketahui bahwa 83,3% (20 kasus) pada kondisi ventilasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan. Keadaan ini disebabkan oleh faktor pengetahuan yang rendah karena dari 20 orang responden dapat dilihat bahwa ada 65% (13 kasus) dengan tingkat pendidikan rendah yaitu SMP dan SD. Tingkat pendidikan seseorang mempengaruhi terhadap pengetahuan seseorang

diantaranya mengenai rumah yang memenuhi syarat kesehatan dan pengetahuan tentang penyakit TB Paru (clubpenakita,2009). sehingga dengan pengetahuan yang kurang maka seseorang tidak mengetahui cara perilaku hidup bersih dan sehat. Dengan

79

pendidikan rendah pula seseorang tidak dan penghasilan yang cukup.

mempunyai pekerjaan

Terdapat 50% (10 kasus) responden yang lebih banyak melakukan aktifitas dirumah yaitu responden yang tidak bekerja dan bekerja sebagai wiraswasta atau pedagang yang melakukan usahanya dirumah responden sendiri. Dengan ventilasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan memperbesar peluang penularan penyakit pada saat responden berkomunikasi pada pelanggan ketika berjualan. Kurangnya ventilasi akan menyebabkan

kurangnya oksigen didalam rumah, tidak cukupnya ventilasi akan menyebabkan kelembaban udara di dalam ruangan naik karena terjadinya proses penguapan cairan dari kulit dan penyerapan. Kelembaban ini merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri-bakteri patogen / bakteri penyebab penyakit, misalnya kuman TB (Notoatmodjo, 2007). Terdapat 35,3% (6 kasus) dengan tingkat pendidikan cukup baik. Tingkat pendidikan seseorang juga mempengaruhi terhadap pengetahuan seseorang diantaranya mengenai rumah yang memenuhi syarat kesehatan dan pengetahuan penyakit TB Paru, sehingga dengan pengetahuan yang cukup maka seseorang akan mencoba untuk mempunyai perilaku hidup bersih dan sehat. Pada kondisi ventilasi yang memenuhi syarat kesehatan namun mereka menderita Tuberkulosis paru BTA positif diketahui

80

terdapat 16,7% (4 kasus). Dipengaruhi faktor tingkat pendidikan responden yang rendah sehingga responden kurang mengerti tentang menjaga kebersihan dan perilaku yang dapat mencegah terjangkitnya penyakit TB. 72% (2 kasus) dari 4 responden tidak bekerja sehingga penghasilan merekapun terbatas. Jenis pekerjaan seseorang juga mempengaruhi terhadap pendapatan keluarga yang akan mempunyai dampak terhadap pola hidup sehari-hari diantara konsumsi makanan dan pemeliharaan kesehatan itu juga akan mempengaruhi terhadap kepemilikan rumah (kontruksi rumah). Kepala keluarga yang mempunyai pendapatan dibawah UMR akan mengkonsumsi makanan dengan kadar gizi yang tidak sesuai dengan kebutuhan bagi setiap anggota keluarga sehingga mempunyai status gizi yang kurang dan akan memudahkan untuk terkena penyakit infeksi diantaranya TB Paru.

Pada

kondisi

ventilasi

yang

tidak

memenuhi

syarat

kesehatan namun responden tidak menderita Tuberkulosis terdapat 25% (12 kontrol). 67% responden ini memiliki tingkat pendidikan yang cukup baik yaitu tingkat pendidikan SMA dan PT, sehingga mereka mempunyai pengetahuan yang baik dalam upaya

pencegahan penyakit Tuberkulosis. Dimana pengetahuan yang cukup maka seseorang akan mencoba untuk mempunyai perilaku hidup bersin dan sehat (clubpenakita,2009).

81

Pada kondisi ventilasi yang memenuhi syarat kesehatan terdapat 75% (36 kontrol) yang tidak menderita Tuberkulosis. Sebagian besar dari mereka memiliki Tingkat pendidikan baik yaitu 69,4%. Dengan tingkat pendidikan baik, mereka memiliki

pengetahuan yang baik tentang pentingnya ventilasi untuk menciptakan udara yang sehat di dalam rumah. Mengetahui adanya hubungan faktor risiko ventilasi pada kasus TB paru BTA positif diwilayah kerja Puskesmas Wonorejo, digunakan rumus Odds ratio maka didapat nilai OR 15,000. Artinya ventilasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan mempunyai faktor risiko 15 kali untuk menderita TB paru BTA positif dibandingkan dengan rumah yang memiliki ventilasi yang memenuhi syarat kesehatan. Hal ini menunjukkan bahwa ventilasi didalam rumah merupakan faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian TBC. Ventilasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan mengakibatkan berkurangnya konsentrasi oksigen dan

bertambahnya konsentrasi karbondioksida yang bersifat racun bagi penghuninya. Secara alamiah, terjadi tekanan udara dari dalam rumah menuju keluar rumah, hal ini diperlukan ventilasi yang cukup, dengan demikian ventilasi mempunyai fungsi untuk membebaskan udara ruangan dari bakteri-bakteri terutama bakteri patogen seperti

82

Tuberkulosis, karena terjadi aliran udara yang terus menerus maka bakteri yang terbawa akan selalu mengalir (Notoatmodjo, 2007). Umumnya di daerah tropis lebih banyak angin, Biasanya udara di dalam rumah lebih sejuk dari pada diluar rumah (bagi yang mengatur ventilasinya dengan baik). Akan tetapi rata-rata

responden masih banyak yang kurang memanfaatkan ventilasi dengan baik, dimana pada siang hari responden lebih sering menutup jendela mereka, adapula yang menutup ventilasi dengan papan atau kertas, disamping itu ventilasi responden sangat tidak sesuai dengan besar ruangan. Dengan pemantauan langsung tanpa alatpun peneliti dapat melihat bahwa ukuran jendela setiap ruangan yang dimiliki sebagian besar responden sangat kecil sekali. Responden jarang sekali membuka jendela mereka dengan berbagai alasan, sehingga kelembaban pun akan menjadi tinggi. Pada akhirnya ventilasi juga berkaitan erat dengan pencahayaan alamiah, karena sebagian besar responden menggunakan jendela yang terbuat dari kayu sehingga apabila jendela ditutup maka tidak ada sinar matahari yang masuk kedalam rumah. Sanitasi lingkungan termaksud sistem sirkulasi udara dalam rumah, dimana sangat berpengaruh pada kesehatan keluarga. Secara umum sesuai dengan teori H.L.Blum, dimana faktor lingkungan merupakan salah satu faktor risiko yang berpengaruh terhadap derajat kesehatan masyarakat (Notoatmodjo, 2003)..

83

Bahkan bila dilihat dari penularan suatu penyakit infeksi, penyakit yang paling tinggi penularannya adalah melalui udara. Hal ini dikarenakan udara adalah kebutuhan pokok pertama oleh makhluk hidup, tidak ada satupun manusia yang tidak memerlukan udara, sehingga apabila udara yang kita hirup mengandung bibit-bibit penyakit maka risiko penularan akan lebih besar. Kurangnya pengetahuan dan pemahaman responden

tentang hubungan ventilasi terhadap penularan penyakit, membuat responden menganggap ventilasi di dalam rumah merupakan hal yang tidak penting sehingga diabaikan begitu saja. Masyarakat dapat memaksimalkan penggunaan ventilasi yang terdapat didalam rumah dengan rutin membuka jendela pada siang hari, lebih baik lagi jika menggunakan jendela yang bukan permanen atau jendela yand dapat dibuka dan ditutup sehingga udara dapat mengalir dengan lancar dan sinar matahari pun dapat masuk ke dalam rumah sehingga pencahayaan di dalam rumah cukup. Lubang ventilasi yang terbuka sebaikanya tidak ditutup permanen dengan kayu atau kertas sehingga sirkulasi udara bisa tetap lancar.

3. Pencahayaan Pencahayaan adalah penerangan didalam rumah yang bersumber dari sinar matahari pada siang hari. Pencahayaan alam diperoleh dengan masuknya sinar matahari kedalam ruangan

84

melalui jendela dan pintu. Sinar ini sebaiknya tidak terhalang oleh bangunan, pohon-pohon maupun tembok pagar yang tinggi. Secara umum pengukuran pencahayaan terhadap sinar matahari adalah dengan menggunakan lux meter, yang diukur ditengah-tengah ruangan, pada tempat setinggi < 84 cm dari lantai, dengan ketentuan tidak memenuhi syarat kesehatan bila < 50 lux atau > 300 lux dan memenuhi syarat kesehatan bila pencahayaan rumah antara 50-300 lux (Suharmadi, 1989). Hasil penelitian pada penderita Tuberkulosis paru BTA positif diketahui bahwa 91,7% (22 kasus) pada kondisi

pencahayaan yang tidak memenuhi syarat kesehatan. Keadaan ini disebabkan oleh faktor pengetahuan yang rendah karena dari 22 orang responden dapat dilihat bahwa ada 68,2% (15 kasus) dengan tingkat pendidikan rendah yaitu SMP dan SD. Tingkat pendidikan seseorang mempengaruhi terhadap pengetahuan

seseorang diantaranya mengenai rumah yang memenuhi syarat kesehatan dan pengetahuan tentang penyakit TB Paru

(clubpenakita,2009). sehingga dengan pengetahuan yang kurang maka seseorang tidak mengetahui cara perilaku hidup bersih dan sehat. Dengan pendidikan rendah pula seseorang tidak

mempunyai pekerjaan dan penghasilan yang cukup. 31,8% (7 orang) adalah laki-laki. Di benua Afrika banyak Tuberkulosis terutama menyerang laki-laki. Pada tahun 1996 jumlah penderita TB Paru laki-laki

85

hampir dua kali lipat dibandingkan jumlah penderita TB Paru pada wanita, yaitu 42,34% pada laki-laki dan 28,9 % pada wanita. TB paru Iebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan dengan wanita karena laki-laki sebagian besar mempunyai kebiasaan merokok sehingga memudahkan terjangkitnya TB paru. Merokok diketahui mempunyai hubungan dengan

meningkatkan resiko untuk mendapatkan Kanker Paru-paru, penyakit Jantung Koroner, Bronchitis Kronik dan Kanker Kandung Kemih. Kebiasaan merokok meningkatkan resiko untuk terkena TB paru sebanyak 2,2 kali. (clubpenakita,2009). Pencahayaan pun berkaitan erat dengan ventilasi, ada 81,8% (18 kasus) dari 22 responden yang memiliki ventilasi tidak memenuhi syarat kesehatan sehingga ini juga mempengaruhi pencahayaan. Pada kondisi pencahayaan yang memenuhi syarat

kesehatan namun mereka menderita Tuberkulosis paru BTA positif diketahui terdapat 8,3% (2 kasus). Dipengaruhi faktor tingkat pendidikan responden yang rendah sehingga responden kurang mengerti tentang menjaga kebersihan dan perilaku yang dapat mencegah terjangkitnya penyakit TB. Pada kondisi pencahayaan yang tidak memenuhi syarat kesehatan namun responden tidak menderita Tuberkulosis terdapat 20,8% (10 kontrol). 70% responden ini memiliki tingkat pendidikan

86

yang cukup baik yaitu tingkat pendidikan SMA dan PT, sehingga mereka mempunyai pengetahuan yang baik dalam upaya

pencegahan penyakit Tuberkulosis. Dimana pengetahuan yang cukup maka seseorang akan mencoba untuk mempunyai perilaku hidup bersih dan sehat (clubpenakita,2009). Pada kondisi pencahayaan yang memenuhi syarat

kesehatan terdapat 79,2% (38 kontrol) yang tidak menderita Tuberkulosis. Sebagian besar dari mereka memiliki Tingkat pendidikan baik yaitu 68,4%. Dengan tingkat pendidikan baik, mereka memiliki pengetahuan yang baik tentang pentingnya pencahayaan untuk menciptakan rumah yang sehat. Mengetahui adanya hubungan faktor risiko pencahayaan pada kasus TB paru BTA positif diwilayah kerja Puskesmas Wonorejo, digunakan rumus Odds ratio maka didapat nilai OR 41,800. Artinya pencahayaan yang tidak memenuhi syarat kesehatan mempunyai faktor risiko 41,8 kali untuk menderita TB paru BTA positif dibandingkan dengan rumah yang memiliki pencahayaan yang memenuhi syarat kesehatan. Hal ini

menunjukkan bahwa pencahayaan didalam rumah merupakan faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian TBC. Kuman Tuberkulosis hanya dapat mati oleh sinar matahari langsung. Oleh sebab itu, rumah dengan standar pencahayaan yang buruk sangat berpengaruh terhadap kejadian Tuberkulosis.

87

Kuman Tuberkulosis dapat bertahan hidup pada tempat yang lembab dan gelap tanpa sinar matahari sampai bertahun-tahun lamanya dan kuman Mycobacterium Tuberculosis itu akan mati dalam waktu 2 jam oleh sinar matahari (Depkes RI, 2002). Rumah yang tidak masuk sinar matahari mempunyai risiko menderita tuberkulosis 3-7 kali dibandingkan dengan rumah yang dimasuki sinar matahari (Depkes RI, 2002). Rumah yang kurang mendapatkan sinar matahari pada umumnya berkaitan dengan kurangnya ventilasi yang dapat dibuka dan ditutup. Akibatnya upaya untuk mendapatkan cahaya agar masuk kedalam rumah sangat sedikit. Padahal diketahui bahwa sinar matahari

mengandung sinar ultra violet yang mampu membunuh kumankuman yang ada diudara. Bila sinar matahari tidak dapat masuk kedalam rumah, maka kuman yang ada didalam rumah dapat berkembang dan dapat menyebabkan risiko terjadinya penyakit terutama penyakit Tuberkulosis. Setelah melakukan penelitian diwilayah Puskesmas

Wonorejo, diketahui bahwa sebagian besar responden pada kelompok kasus memiliki pencahayaan yang kurang. Hal ini terjadi karena responden kurang memanfaatkan ventilasi, contohnya jendela yang terbuat dari kayu (bukan jendela kaca) lebih sering mereka tutup. Selain itu keadaan lingkungan yang padat permukiman membuat antara rumah satu dengan yang lainnya sangat

88

berdekatan sehingga tidak ada celah untuk sinar matahari masuk kedalam rumah. Sebagian besar responden memiliki jendela yang sangat kecil dan letaknya pun di pojok ruangan sehingga cahaya matahari yang masuk tidak merata, ada sisi ruangan yang tidak terkena cahaya matahari. Pencahayaan yang berkaitan dengan aspek kesehatan adalah pencahayaan alamiah atau sinar matahari pada siang hari, bila sinar matahari tidak dapat masuk secara langsung maka akan berpengaruh terhadap kelembaban didalam rumah, ditambah lagi aktifitas yang ada didalam rumah akan lebih berpotensi dalam penyebaran penyakit yang berbasis udara seperti Tuberkulosis. Pencahayaan merupakan salah satu indikator pengukuran rumah sehat, dengan demikian perlu dilakukan upaya untuk memenuhi syarat kesehatan. Menurut J.A Salvato dalam buku Lubis menyatakan bahwa akibat rumah yang tidak sehat akan menyebabkan angka kesakitan Tuberkulosis 8 kali lebih tinggi dan angka kematian 8,6 kali lebih tinggi dibanding dengan rumah sehat. Dengan demikian orang yang berada pada lingkungan rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan lebih berisiko untuk terkena penyakit Tuberkulosis (Lubis, 1989). Sebaiknya masyarakat dapat lebih memanfaatkan

pencahayaan alamiah yang bersumber dari matahari dengan baik. Sebagian besar posisi rumah responden kurang baik karena antara rumah yang satu dengan yang lain sangat rapat sehingga

89

pencahayaan kurang dapat masuk kedalam rumah dengan maksimal. Responden bisa menggunakan genting kaca atau genting transparan, Genteng kaca pun dapat dibuat secara sederhana, yakni dengan melubangi genteng biasa pada waktu

pembuatangnya, kemudian menutupnya dengan pecahan kaca. Menggunakan jendela kaca yang bukan permanen juga lebih baik digunakan sehingga udara dapat mengalir dengan lancar dan sinar matahari pun dapat masuk ke dalam rumah sehingga pencahayaan di dalam rumah cukup. Letak ventilasi pun harus diperhatikan saat membangun rumah sehingga cahaya matahari mudah masuk kedalam rumah (Notoatmodjo, 2007). 4. Suhu Suhu merupakan panas atau dinginnya udara di dalam rumah yang diukur dalam satuan derajat. Secara umum, penilaian suhu rumah dengan menggunakan termometer ruangan.

Berdasarkan indikator pengawasan perumahan, suhu rumah yang memenuhi syarat kesehatan adalah antara 20 ºC – 25 ºC, dan suhu rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan adalah < 20 ºC atau > 25 ºC. Suhu dalam rumah akan membawa pengaruh bagi penguninya (Suharmadi, 1989). Hasil penelitian pada penderita Tuberkulosis paru BTA positif diketahui bahwa 95,8% (23 kasus) pada kondisi suhu yang tidak memenuhi syarat kesehatan. Keadaan ini disebabkan oleh

90

faktor pengetahuan yang rendah karena dari 23 orang responden dapat dilihat bahwa ada 74% (17 kasus) dengan tingkat pendidikan rendah yaitu SMP dan SD. Tingkat pendidikan seseorang mempengaruhi terhadap pengetahuan seseorang diantaranya mengenai rumah yang memenuhi syarat kesehatan dan

pengetahuan tentang penyakit TB Paru

(clubpenakita,2009).

sehingga dengan pengetahuan yang kurang maka seseorang tidak mengetahui cara perilaku hidup bersih dan sehat. Dengan pendidikan rendah pula seseorang tidak dan penghasilan yang cukup. Terdapat 4,2% (1 kasus) dengan tingkat pendidikan cukup baik. Tingkat pendidikan seseorang juga mempengaruhi terhadap pengetahuan seseorang diantaranya mengenai rumah yang memenuhi syarat kesehatan dan pengetahuan penyakit TB Paru, sehingga dengan pengetahuan yang cukup maka seseorang akan mencoba untuk mempunyai perilaku hidup bersih dan sehat. Pada kondisi suhu yang tidak memenuhi syarat kesehatan namun responden tidak menderita Tuberkulosis terdapat 22,9% (11kontrol). 82% responden ini memiliki tingkat pendidikan yang cukup baik yaitu tingkat pendidikan SMA dan PT, sehingga mereka mempunyai pengetahuan yang baik dalam upaya pencegahan penyakit Tuberkulosis. Dimana pengetahuan yang cukup maka seseorang akan mencoba untuk mempunyai perilaku hidup bersih dan sehat (clubpenakita,2009). mempunyai pekerjaan

91

Pada kondisi suhu yang memenuhi syarat kesehatan terdapat 77,1% (37 kontrol) yang tidak menderita Tuberkulosis. Sebagian besar dari mereka memiliki tingkat pendidikan baik yaitu 65%. Mengetahui adanya hubungan faktor risiko suhu pada kasus TB paru BTA positif diwilayah kerja Puskesmas Wonorejo, digunakan rumus Odds ratio maka didapat nilai OR 77,364. Artinya suhu yang tidak memenuhi syarat kesehatan mempunyai faktor risiko 77,5 kali untuk menderita TB paru BTA positif dibandingkan dengan rumah yang memiliki suhu yang memenuhi syarat kesehatan. Hal ini menunjukkan bahwa suhu didalam rumah merupakan faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian TBC. Suhu rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan meningkatkan kehilangan panas tubuh dan tubuh akan berusaha menyeimbangkan dengan suhu lingkungan melalui proses

evaporasi. Kehilangan panas tubuh ini akan menurunkan vitalitas tubuh dan ini merupakan predisposisi untuk terkena infeksi terutama infeksi saluran nafas oleh agent yang menular. Kuman Mycobacterium Tuberculosis merupakan bakteri mesofilik yang tumbuh subur dalam rentang > dari 25 ºC – 40 ºC, tetapi akan tumbuh secara optimal pada suhu 31 ºC – 37 ºC. Pada daerah tropis termasuk di Indonesia, suhu berkisar relatif panas dibandingkan daerah sub tropis, walaupun secara

92

alamiah diluar rumah membunuh kuman TB, tetapi suhu yang berada di dalam rumah mempunyai kaitannya dengan penularan TB. Hal ini terjadi kerena mengingat kondisi rumah yang kurang ventilasi, pada umumnya akan menghambat proses keluar masuk udara, terjadinya penumpukan panas dengan kelembaban tinggi akan sangat mendukung penularan TB di dalam rumah. Bila suhu terlalu ekstrim untuk pertumbuhan kuman TB, maka bisa saja bakteri Tuberkulosis ini bertahan dengan kondisi inaktif untuk sementara waktu. (Suharmadi, 1989). Penerapan sistem sirkulasi udara dengan penempatan lubang udara termasuk luas ventilasi akan mendukung pertukaran udara yang optimal sehingga suhu dalam rumah akan stabil. Namun masyarakat yang saya amati setelah melakukan penelitian, diketahui bahwa sebagian besar responden pada kelompok kasus memiliki suhu yang tidak memenuhi syarat kesehatan. Hal ini dikarenakan bahwa masyarakat kurang memperhatikan tentang keluar masuknya udara, maka ventilasi yang kurang akan berpengaruh terhadap suhu ruangan. Selain itu aktifitas yang menghasilkan panas akan meningkatkan suhu dalam rumah. Hal ini juga tidak lepas dari sistem kamarisasi dalam rumah. Banyak rumah yang tidak terdapat sekat langsung dengan dapur, terutama rumah jenis non permanen. Hal ini berakibat pada suhu udara yang akan meningkat dan terkurung didalam rumah. Ini tentunya jarang diperhatikan oleh masyarakat.

93

Dalam penelitian ini menunjukkan kondisi suhu didalam rumah pada rumah penderita TB sebagian besar kurang

diperhatikan, bila dilihat dari aspek pendidikan yang sebagian besar adalah SMP dapat dikaitkan aspek pengetahuan berkontribusi dalam upaya bagaimana agar suhu dalam rumah memenuhi syarat kesehatan. Selain itu faktor ekonomi keluarga yang tergolong rendah sehingga tidak mampu dalam mengoptimalkan rumah yang memenuhi syarat kesehatan. Ada baiknya jika masyarakat bisa menanan tanaman di sekitar rumah sehingga udara akan terasa sejuk, disamping itu tanaman menghirup CO2 dan mengeluarkan O2, oksigen sangat baik untuk kebutuhan manusia. Jika udara didalam rumah sangat panas masyarakat bisa menggunakan kipas angin atau pendingin udara lainnya. 5. Kelembaban Kelembaban udara adalah prosentase jumlah kandungan air dalam udara (Depkes RI, 1989). Secara umum penilaian

kelembaban dalam rumah dengan menggunakan hygrometer. Menurut indikator pengawasan perumahan, kelembaban udara yang memenuhi syarat kesehatan dalam rumah adalah 40-60 % dan kelembaban udara yang tidak memenuhi syarat kesehatan adalah < 40 % atau > 60 %. Berdasarkan hasil penelitian pada variabel kelembaban rumah terdapat 12,5% pada kondisi kelembaban rumah memenuhi

94

syarat kesehatan namun menderita Tuberkulosis paru BTA positif hal ini terjadi kerenakan berbagai faktor seperti faktor perilaku dan pendidikan. Perilaku dapat terdiri dari pengetahuan, sikap dan tindakan. Pengetahuan penderita TB Paru yang kurang tentang cara penularan, bahaya dan cara pengobatan akan berpengaruh terhadap sikap dan prilaku sebagai penderita dan akhinya berakibat menjadi sumber penular bagi orang disekelilingnya. Misalnya tidak menutup mulut saat batuk atau bersih dan meludah sembarang tempat. TB paru Iebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan dengan wanita karena laki-laki sebagian besar mempunyai kebiasaan merokok sehingga memudahkan terjangkitnya TB paru. Di benua Afrika banyak Tuberkulosis terutama menyerang laki-laki. Pada tahun 1996 jumlah penderita TB Paru laki-laki hampir dua kali lipat dibandingkan jumlah penderita TB Paru pada wanita, yaitu 42,34% pada laki-laki dan 28,9 % pada wanita. Kebiasaan merokok meningkatkan resiko untuk terkena TB paru sebanyak 2,2 kali. Prevalensi merokok pada hampir semua Negara berkembang lebih dari 50% terjadi pada laki-laki dewasa, sedangkan wanita perokok kurang dari 5%. Dengan adanya kebiasaan merokok akan mempermudah untuk terjadinya infeksi TB Paru.

95

Tingkat pendidikan seseorang juga mempengaruhi terhadap pengetahuan seseorang diantaranya mengenai rumah yang memenuhi syarat kesehatan dan pengetahuan penyakit TB Paru, sehingga dengan pengetahuan yang cukup maka seseorang akan mencoba untuk mempunyai perilaku hidup bersin dan sehat. Selain itu tingkat pedidikan seseorang akan mempengaruhi terhadap jenis pekerjaannya. Keadaan sosial ekonomi berkaitan erat dengan pendidikan, keadaan sanitasi lingkungan, gizi dan akses terhadap pelayanan kesehatan. Penurunan pendapatan dapat menyebabkan kurangnya kemampuan daya beli dalam memenuhi konsumsi makanan sehingga akan berpengaruh terhadap status gizi. Apabila status gizi buruk maka akan menyebabkan kekebalan tubuh yang menurun sehingga memudahkan terkena infeksi TB Paru. Hasil penelitian pada variabel kelembaban terdapat 16,7% pada kondisi kelembaban rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan namun tidak menderita TBC, hal ini terjadi karena beberapa faktor misalnya sebagian besar responden berpendidikan SMA sehingga mereka memiliki pengetahuan yang baik terhadap pencegahan terhadap penyakit TBC misalnya dengan menjaga prilaku hidup bersih dan sehat. Mengetahui adanya hubungan faktor risiko kelembaban pada kasus TB paru BTA positif diwilayah kerja Puskesmas

96

Wonorejo, digunakan rumus Odds ratio maka didapat nilai OR 35,000. Artinya kelembaban yang tidak memenuhi syarat

kesehatan mempunyai faktor risiko 35 kali untuk menderita TB paru BTA positif dibandingkan dengan rumah yang memiliki kelembaban yang memenuhi syarat kesehatan. Hal ini menunjukkan bahwa kelembaban didalam rumah merupakan faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian TBC. Semua ini terjadi dikarenakan kuman Mycobacterium Tuberculosis akan tumbuh dengan subur pada lingkungan dengan kelembaban yang tinggi. Menurut Nooatmodjo (2003), kelembaban udara yang meningkat merupakan media yang baik untuk bakteri-bakteri patogen termasuk tuberkulosis. Rumah yang tidak memiliki kelembaban yang memenuhi syarat kesehatan akan membawa pengaruh bagi penghuninya. Rumah yang lembab merupakan media lain yang bakteri, baik bagi

pertumbuhan

mikroorganisme,

antara

spiroket,

ricketsia dan virus (Suharmadi, 1989). Kuman Mycobacterium Tuberculosis akan tumbuh dengan subur pada lingkungan dengan kelembaban tinggi karena air membentuk lebih dari 80% volume sel bakteri dan merupakan hal yang essensial untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup sel bakteri. Karakteristik atau sifat kuman TB yang merupakan bakteri tahan asam akan lebih dapat bertahan pada kondisi yang lebih

97

lembab dengan sifat asam tersebut maka kondisi lembab diperlukan untuk mempertahankan hidup Kuman Mycobacterium Tuberculosis. Setelah melakukan penelitian diwilayah Puskesmas

Wonorejo, diketahui bahwa sebagian besar jenis rumah responden pada kelompok kasus adalah jenis rumah non permanen dengan lantai yang cukup rendah sehingga dapat menyebabkan

kelembaban yang tinggi. Kelembaban yang cukup tinggi ini dirasa oleh masyarakat bukan permasalahan yang penting, sehingga tidak ada tindakan untuk mengurangi kelembaban di dalam rumah. Mengatur kelembaban udara di dalam rumah dengan cara membuka ventilasi atau tempat keluar masuk udara.

98

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

L. Kesimpulan Dari hasil penelitian dan analisa yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Ada hubungan antara kepadatan penghuni terhadap kejadian Tuberkulosis paru BTA positif di Wilayah Kerja Puskesmas Wonorejo Kota Samarinda tahun 2009. 2. Ada hubungan antara ventilasi terhadap kejadian Tuberkulosis paru BTA positif di Wilayah Kerja Puskesmas Wonorejo Kota Samarinda tahun 2009. 3. Ada hubungan antara pencahayaan terhadap kejadian

Tuberkulosis paru BTA positif di Wilayah Kerja Puskesmas Wonorejo Kota Samarinda tahun 2009. 4. Ada hubungan antara suhu terhadap kejadian Tuberkulosis paru BTA positif di Wilayah Kerja Puskesmas Wonorejo Kota Samarinda tahun 2009.

99

5. Ada

hubungan

antara

kelembaban

terhadap

kejadian

Tuberkulosis paru BTA positif di Wilayah Kerja Puskesmas Wonorejo Kota Samarinda tahun 2009.

M. Saran Dari hasil kesimpulan yang di kemukakan, maka ada beberapa hal yang dapat disarankan yaitu : 1. Bagi Masyarakat a. Bagi masyarakat yang sebagian besar adalah pedagang haruslah lebih waspada ketika berbicara dengan pembeli karena dikhawatirkan ada diantara mereka yang menderita penyakit Tuberkulosis. Misalnya menjaga jarak bicara dengan pembeli sehingga tidak terkena percikan air liur mereka, sebaiknya di rumah atau tempat berjualan mempunyai ventilasi yang cukup yaitu 10% dari luas ruangan, ventilasi yang cukup dapat membebaskan udara dari bakteri – bakteri patogen, karena disitu selalu terjadi aliran udara yang terus – menerus. b. Lubang ventilasi yang terbuka sebaikanya tidak ditutup permanen dengan kayu atau kertas, serta terhalang oleh barang – barang besar misalnya lemari. Memanfaatkan

100

pencahayaan alamiah yang bersumber dari matahari pada siang hari misalnya sinar ini sebaiknya tidak terhalang oleh bangunan, pohon-pohon maupun tembok pagar yang tinggi. c. Letak jendela pun harus diperhatikan dan diusahakan agar sinar matahari lama menyinari lantai (bukan menyinari dinding), maka sebaiknya jendela itu harus di tengah-tengah tinggi dinding (tembok). Responden bisa menggunakan genting kaca atau genting transparan, Genteng kaca pun dapat dibuat secara sederhana, yakni dengan melubangi genteng biasa pada waktu pembuatangnya, kemudian menutupnya dengan pecahan kaca. d. Ada baiknya jika masyarakat bisa menanam pepohonan di sekitar rumah, agar udara menjadi sejuk. Namun jangan sampai pepohonan tersebut menutupi ventilasi di rumah. e. Jika udara didalam rumah sangat panas bisa menggunakan kipas angin atau pendingin udara serta mengatur kelembaban udara di dalam rumah dengan membuka ventilasi atau tempat keluar masuk udara. 2. Bagi Puskesmas Menciptakan rumah sehat tidak selalu harus dengan materi yang banyak, rumah, rumah yang sederhana bisa dikatakan sehat apabila dapat memenuhi kebutuhan fisiologis (suhu dan

kelembaban ruangan harus dijaga, cukup mendapat penerangan,

101

cukup mendapat pertukaran hawa) dan memenuhi kebutuhan psikologi (merasa nyaman, tenang), menghindari terjadinya

kecelakaan dan terjadinya Penyakit. Namun masyarakat kurang mengerti dan memahami, selama ini bagaimana menciptakan rumah sehat. Maka sebaiknya kepada petugas kesehatan lebih meningkatkan pendidikan

kesehatan kepada masyarakat mengenai rumah sehat. Menambah petugas kesehatan di bidang KESLING/PHBS agar lebih

memaksimalkan survei rumah tangga secara rutin. Serta adanya konsultan KESLING/PHBS khususnya tentang menciptakan

lingkungan rumah yang sehat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful