1

TUGAS DISKUSI KASUS

Disusun oleh : Kelompok 4 Rosallia Megawati Sekar Puspita L. Siti Nurlaela Fauziah Pratiwi Rabbi Natiqah Jihad binti Ahmad 0510710118 0510710129 0510710133 0610710050 0610710105 0610714010

Pembimbing: dr. Tasmonoheni, SpF

LABORATORIUM ILMU KEDOKTERAN KEHAKIMAN RSU Dr. SAIFUL ANWAR FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2011

2

BAB I KASUS Kasus 1 Pelajar Tewas di Tangan Penambal Ban indosiar.com, Jambi - Jenazah Novri, siswa sebuah SMK di kota Jambi, ditemukan di Jalan Lingkar Selatan Kebon Bohok Jambi. Korban ditemukan di bawah pohon karet dengan luka pada bagian kepala. Polisi yang mendapat laporan warga langsung mendatangi TKP. Petugas kemudian membawa korban ke Rumah Sakit Raden Mattaher guna dilakukan visum. Dari informasi yang dihimpun polisi di lokasi kejadian, selang beberapa jam pelaku pembunuhan tertangkap. Polisi menangkap Jeffry, yang berprofesi sebagai tukang tambal ban, ketika akan melarikan diri ke Palembang. Peristiwa pembunuhan terjadi malam sebelum jenazah korban ditemukan. Menurut paman korban, Kardiman, malam itu pelaku mendatangi ruko tempat ayah korban bekerja, tak jauh dari TKP, sebagai petugas keamanan. Pelaku dalam suasana emosi bertemu dengan korban Novri. Kontan pelaku yang sudah membawa alat pencongkel ban menghajar korban. Korban tidak membela diri karena tanpa senjata. Ia melarikan diri. Pelaku mengejar korban hingga ke kebun karet milik warga dan menganiaya hingga tewas. Guna proses hukum lebih lanjut, pelaku saat ini menjalani pemeriksaan intensif di Polsek Jambi Selatan.

3

Kasus 2 Polri Didesak Jelaskan Prosedur Penyergapan di Sukoharjo JAKARTA - Kompolnas mendesak Polri segera menjelaskan ke masyarakat terkait hasil penyelidikan penyergapan terduga teroris di Desa Sanggrahan, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, pukul 01.10, Sabtu (14/5). Dalam penyergapan itu terjadi baku tembak antara Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri dengan dua terduga teroris yang menewaskan dua terduga teroris Sigit Qurdowi dan Hendro Yunianto dan satu warga yang tak bersalah, Nur Iman. Anggota Kompolnas Novel Ali mengungkapkan, pihaknya memberi apresiasi terhadap kinerja Densus 88 dalam mengejar dan menangkap terduga terorisme di Indonesia dan sudah banyak prestasi Densus 88 yang diakui publik. Kendati demikian tewasnya Nur Iman dalam penyergapan itu, lanjut Novel, dapat merusak citra Densus 88 dan akuntabilitas Polri jika Mabes Polri tidak secepatnya melakukan uji balistik untuk menetapkan apakah peluru yg membunuh warga tak bersalah tersebut berasal dari senjata anggota Densus 88 ataukah dari senjata terduga teroris. ”Jawaban terbuka atas pertanyaan itu sangat menentukan kualitas dukungan masyarakat terhadap Densus 88,” ujar Novel ketika dihubungi Minggu (22/5). Terpisah, Kepala Bidang Penerangan Umum (Kabid Penum) Polri Kombes Boy Rafli Amar mengungkapkan, Inspektorat Pengawasan Umum (Itwarsum) dan Divisi Profesi dan Pengamanan (Div Propam) bekerjasama dengan Komnas HAM tengah melakukan penyelidikan penyergapan itu sudah sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) atau tidak sesuai SOP. ”Uji balistik tengah dilakukan,” ujar Boy. Seperti diberitakan, sejumlah pihak di antaranya Komans HAM menyayangkan adanya jatuh korban dari warga sipil yang tak bersalah dalam penyergapan itu. Sebab, seharusnya sesuai dengan SOP penyergapan itu harus steril dari warga sipil untuk menghindari jatuhnya korban.

pelaku bom bunuh diri Muchamad Sarip tewas dan 30 orang luka-luka di antaranya AKBP Herukoco. Dalam aksi itu. Jawa Barat.4 Sigit dan Hendro merupakan jaringan teroris Tauhid wal Jihad yang melakukan aksi teror bom bunuh diri di Masjid Adz-Zikra kompleks Mapolres Cirebon. Buronan tersebut diduga membawa 15 bom siap ledak dan sudah merencanakan aksi teror berikutnya . Polisi telah merelease lima buronan terkait jaringan teroris tersebut.

pemecah es. 1. Organ atau jaringan pada tubuh mempunyai beberapa cara menahan kerusakan yang disebabkan objek atau alat.1 Definisi Pengertian traumatologi (injury) dari aspek medikolegal sering berbeda dengan pengertian medis.1. Laserasi 3. Korban yang bergerak pada benda tumpul yang diam. Kompresi 2.1 Trauma Tumpul Dua variasi utama dalam trauma tumpul adalah: 1. Sekilas nampak sama dalam hasil lukanya namun jika diperhatikan lebih lanjut terdapat perbedaan hasil pada kedua mekanisme itu. 2. Luka bacok . 2. Artinya orang yang sehat. dan bayonet menyebabkan luka yang dapa dikenali oleh pemeriksa. Luka insisi 2. Abrasi 2. Aplikasinya dalam pelayanan Kedokteran Forensik adalah untuk membuat keterangan suatu tindak kekerasan yang terjadi pada seseorang. daya tahan tersebut menimbulkan berbagai tipe luka. tiba – tiba terganggu kesehatannya akibat efek dari alat atau benda yang dapat menimbulkan kecederaan. Luka tusuk 3.2 Trauma Tajam Benda tajam seperti pisau. Fraktur 5. pemotong. Ada beberapa tipe yang disebabkan oleh benda tajam : 1. Kontusi/ruptur 4. Dalam pengertian medikolegal trauma adalah pengetahuan tentang alat atau benda yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan seseorang. Pengertian medis menyatakan trauma atau perlukaan adalah hilangnya diskontunuitas dari jaringan. kapak. Benda tumpul yang bergerak pada korban yang diam.1.5 BAB II PEMBAHASAN 2.

terdapat nilai yang sangat berarti dari kasus penusukan. terdapat 12 % dari penyerangan menggunakan besi batangan dan pemukul baseball atau benda – benda serupa dengan itu. Jumlah penduduk yang beresiko terkena kejahatan rata-rata 123 orang per 100.43 persen.3 Aspek Medikolegal Dari sudut hukum. jumlah kejahatan meningkat dari 256. Estetika jasmani. baik yang bersifat intensional (sengaja). Kesehatan rohani. Beberapa jenis senjata digunakan pada 68 dari 147 kasus penyerangan di jalan raya.000 penduduk Indonesia di 2006. Pekerjaan jabatan atau pekerjaan mata pencarian.2 Insiden Sebagaimana diketahui bahwa kejahatan yang terjadi di muka bumi ini sama usia tuanya dengan sejarah manusianya itu sendiri. luka merupakan kelainan yang dapat disebabkan oleh suatu tindak pidana. Luka bisa terjadi pada korban hidup maupun korban mati. Ratarata orang terkena kejahatan pun naik di tahun ini. Inilah peningkatan kejahatan yakni sekitar 15. lalu di ikuti dengan penggunaan pisau 18%.6 4. Untuk menentukan berat ringannya hukuman perlu ditentukan lebih dahulu berat ringannya luka. atau negligence (kurang hati-hati).119. sekitar 47% kasus yang masuk rumah sakit dan 90% mengalami luka yang serius. Luka tembak 2. Luka merupakan salah satu kasus tersering dalam kedokteran Forensik. Jumlah kejahatan di Indonesia meningkat 15 persen pada 2006. dan Fungsi alat indera. Dalam sebuah survei di sebuah rumah sakit di selatan tenggara kota London dimana didapatkan 425 pasien yang dirawat oleh karena kekerasan fisik yang disengaja. Bila dibandingkan tahun 2005 terjadi kenaikan 1. 2. recklessness (ceroboh).65 persen. Pengertian kualifikasi luka semata-mata pengertian Ilmu Kedokteran Forensik sesuai dengan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Bab XX pasal 351 dan 352 serta Bab IX pasal 90. . Kelangsungan hidup janin di dalam kandungan. Kebijakan hukum pidana didalam penentuan berat ringannya luka tersebut didasarkan atas pengaruhnya terhadap : Kesehatan jasmani. Selama 2006.543 (tahun 2005) menjadi 296.

(2) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana. (6) Terganggunya daya pikir selama empat minggu lebih. maka penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencarian. atau menjadi bawahannya.7 Pasal 351 (1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. sebagai penganiayaan ringan. (3) Jika mengakibatkan mati. Pasal 90 Luka berat berarti: (1) Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali. Pasal 352 (1) Kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan 356. (5) Menderita sakit lumpuh. (5) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana. atau yang menimbulkan bahaya maut (2) Tidak mampu terus-menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan pencarian. Pidana dapat ditambah sepertiga bagi orang yang melakukan kejahatan itu terhadap orang yang bekerja padanya. (2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat. yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun. . diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. (7) Gugur atau matinya kandungan seorang perempuan. (4) Mendapat cacat berat. (4) Dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak kesehatan. (3) Kehilangan salah satu pancaindera. diancam.

e. c. depresi atau gangguan jiwa lainnya. Contohnya trauma pada tangan kiri pemain biola atau pada wajah seorang peragawati dapat dikategorikan luka berat jika akibatnya mereka tidak dapat lagi menjalankan pekerjaan tersebut selamanya. Luka atau penyakit yang tidak dapat diharapkan akan sembuh dengan sempurna. 2. Cacat besar atau kudung. yaitu g. Luka berat : Luka yang sebagaimana diuraikan di dalam pasal 90 KUHP. disorientasi. Lumpuh. Luka ringan : luka yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencahariannya. Yang dimaksud dengan keguguran ialah keluarnya janin sebelum masa waktunya. 3. anxietas. Luka yang dapat mendatangkan bahaya maut. Luka yang dari sudut medik tidak membahayakan jiwa. d. b. Jika trauma menimbulkan kebutaan satu mata atau kehilangan pendengaran satu telinga. tetapi mata tersebut tidak dapat melihat. yang terdiri atas: a. Sesudah dijahit sembuh. Kehilangan salah satu dari panca indera. Luka sedang : luka yang mengakibatkan penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencahariannya untuk sementara waktu. Gangguan daya pikir . h. Pengertian tidak akan sembuh dengan sempurna lebih ditujukan pada fungsinya. Contohnya trauma pada satu mata yang menyebabkan kornea robek. tidak harus berupa kehilangan kesadaran tetapi dapat juga berupa amnesia. Dapat mendatangkan bahaya maut pengertiannya memiliki potensi untuk menimbulkan kematian.8 Berikut ini klasifikasi luka : 1. tidak dapat digolongkan kehilangan indera. Keguguran atau kematian janin seorang perempuan. Meskipun demikian tetap digolongkan sebagai luka berat berdasarkan butir (a) di atas. f. tetapi sesudah diobati dapat sembuh. dari sudut hukum dapat dikategorikan sebagai luka berat. Luka yang menimbulkan rintangan tetap dalam menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencahariannya. Gangguan daya pikir lebih dari 4 minggu lamanya.

1. Jika abrasi terjadi lebih dalam dari lapisan epidermis pembuluh darah dapat terkena sehingga terjadi perdarahan. kasar dan luka lecet membedakan laserasi dengan luka oleh benda tajam seperti pisau. Pada beberapa kasus.9 tidak didahului oleh proses sebagaimana umumnya terjadi seorang wanita ketika melahirkan. tidak dipersoalkan bayi keluar atau tidak dari perut ibunya. disekitarnya terdapat luka lecet yang diakibatkan oleh bagian yang lebih rata dari benda tersebut yang mengalami indentasi. Sedang. Tanda yang pertama adalah arah dimana epidermis bergulung. . Tepi dari laserasi ireguler dan kasar. robeknya kulit atau membran mukosa dan jaringan dibawahnya tidak sempurna dan terdapat jembatan jaringan. Tepi dari laserasi dapat menunjukkan arah terjadinya kekerasan. lebih dalam ke lapisan bawah kulit (dermis)atau lebih dalam lagi sampai ke jaringan lunak bawah kulit. Jembatan jaringan. tepi luka yang ireguler. tanda yang kedua adalah hubungan kedalaman pada luka yang menandakan ketidakteraturan benda yang mengenainya.4. 2. Tepi yang paling rusak dan tepi laserasi yang landai menunjukkan arah awal kekerasan. Sisi laserasi yang terdapat memar juga menunjukkan arah awal kekerasan. Dua tanda yang dapat digunakan.1 Trauma tumpul 2. Arah dari pengelupasan dapat ditentukan dengan pemeriksaan luka.4.1 Abrasi Abrasi per definisi adalah pengelupasan kulit.4 Gambaran Klinis 2. kematian janin mengandung pengertian bahwa janin tidak lagi menunjukkan tanda-tanda hidup.2 Laserasi Laserasi disebabkan oleh benda yang permukaannya runcing tetapi tidak begitu tajam sehingga merobek kulit dan jaringan bawah kulit dan menyebabkan kerusakan jaringan kulit dan bawah kulit. 2. Dapat terjadi superfisial jika hanya epidermis saja yang terkena.4.1.

Kontusio pada otak. namun waktu tersebut bervariasi tergantung jenis luka dan individu yang terkena. Pada mayat waktu antara terjadinya luka memar.1 Kontusio superfisial Kata lazim yang digunakan adalah memar. 2. Pemeriksaan mikroskopik adalah sarana yang dapat digunakan untuk menentukan waktu terjadinya luka sebelum kematian.2 Kontusio pada organ dan jaringan dalam Semua organ dapat terjadi kontusio.1. Kontusio ringan dan sempit pada daeran yang bertanggungjawab pada inisiasi dan hantaran impuls dapat menyebabkan gannguan pada irama jantung atau henti jantung. Semakin lama waktu antara kematian dan pemeriksaan luka akan semakin membuat luka memar menjadi gelap.1.3. Pada organ vital seperti jantung dan otak jika terjadi kontusio dapat menyebabkan kelainan fungsi dan bahkan kematian. Jantung juga sangat rentan jika terjadi kontusio.10 2. Penekanan ini menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah kecil dan dapat menimbulkan perdarahan pada jaringan bawah kulit atau organ dibawahnya.3. kematian dan pemeriksaan menentukan juga karekteristik memar yang timbul. Tidak ada standart pasti untuk menentukan lamanya luka dari warna yang terlihat secara pemeriksaan fisik.4.1. Peradangan ini dapat menyebabkan penurunan kesadaran.4. Kontusio . Kontusio dan perangan yang kecil pada otak dapat menyebabkan gangguan fungsi organ lain yang luas dan kematian jika terkena pada bagian vital yang mengontrol pernapasan dan peredaran darah.3 Kontusio 2. Perubahan warna pada memar berhubungan dengan waktu lamanya luka. koma dan kematian. dengan perdarahan pada otak. Pada orang dengan kulit berwarna memar sulit dilihat sehingga lebih mudah terlihat dari nyeri tekan yang ditimbulkannya. Namun sulit menentukan secara pasti karena hal tersebut pun bergantung pada keahlian pemeriksa. Kontusio pada tiap organ memiliki karakteristik yang berbeda. terjadi karena tekanan yang besar dalam waktu yang singkat. dapat menyebabkan terjadi peradangan dengan akumulasi bertahap produk asam yang dapat menyebabkan reaksi peradangan bertambah hebat.4.

fraktur dibagi menjadi fraktur sederhana dan komplit atau terbuka. dimana dapat terjadi fraktur pada trauma yang ringan. sedang dalam penyembuhan. 2. Istilah fraktur pada bedah hanya memiliki sedikit makna pada ilmu forensik.4. Terjadinya fraktur selain disebabkan suatu trauma juga dipengaruhi beberapa faktor seperti komposisi tulang tersebut.1. arah kekerasan. Penggabungan dari metode diatas menjadikan akurasi yang cukup tinggi. Jangka waktu penyembuhan tulang berbeda-beda setiap orang. 2.1 Luka insisi .4. 2. dan telah sembuh sempurna. Bentuk dari fraktur dapat menggambarkan benda penyebabnya (khususnya fraktur tulang tengkorak).5 kompresi Kompresi yang terjadi dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan efek lokal maupun sistemik yaitu asfiksia traumatik sehingga dapat terjadi kematiaan akibat tidak terjadi pertukaran udara. sebagian telah sembuh. Mikroskopis dapat dibedakan daerah yang fraktur dan daerah penyembuhan. Kontusio pada organ lain dapat menyebabkan ruptur organ yang menyebabkan perdarahan pada rongga tubuh.11 luas yang mengenai kerja otot jantung dapat menghambat pengosongan jantung dan menyebabkan gagal jantung. Fraktur yang terjadi pada tulang yang sedang mengalami penyembuhan berbeda dengan fraktur biasanya. Daerah fraktur yang sudah sembuh tidaklah dapat menjadi seperti tulang aslinya.4.1.4. Anak-anak tulangnya masih lunak.2.4 Fraktur Fraktur adalah suatu diskontinuitas tulang. sehingga apabila terjadi trauma khususnya pada tulang tengkorak dapat menyebabkan kerusakan otak yang hebat tanpa menyebabkan fraktur tulang tengkorak. Secara radiologis dapat dibedakan berdasarkan akumulasi kalsium pada kalus.2 Trauma Tajam 2. Fraktur mempunyai makna pada pemeriksaan forensik. Wanita usia tua sering kali telah mengalami osteoporosis. Dari penampang makros dapat dibedakan menjadi fraktur yang baru. Pada bedah.

Abrasi lanjutan dapat ditemukan pada jenis luka tersebut pada sisi diseberang tempat penipisan. Harus dipahami bahwa jaringan elastis terbentuk dari garis lengkung pada seluruh area tubuh. maka kedua sudutnya tajam.3 Luka Bacok Luka bacok dihasilkan dari gerakkan merobek atau membacok dengan menggunakan instrument yang sedikit tajam dan relatif berat seperti kapak. mempunyai efek yang sesuai dengan bentuk senjata. sedangkan sisi lainnya tumpul atau hancur. Makin tajam instrument makin tajam pula tepi luka. luka yang terjadi sempit dan panjang. Terkadang bayonet dan pisau besar juga digunakan untuk tujuan ini.2. dan keadaan jaringan yang terkena. yang disebabkan oleh hapusan bilah yang pipih. Sedangkan bila tusukan terjadi paralel dengan garis tersebut. Luka alami yang disebabkan oleh senjata jenis tersebut bervariasi tergantung pada ketajaman dan berat senjata.2 Luka tusuk Luka tusuk disebabkan oleh benda tajam dengan posisi menusuk atau korban yang terjatuh di atas benda tajam. atau parang. Panjang dan kedalaman luka dipengaruhi oleh gerakan benda tajam. Penampakan luar luka tusuk tidak sepenuhnya tergantung dari bentuk senjata. maka salah satu sudut akan tajam. maka lukanya akan lebar dan pendek. kapak kecil. Karakteristik luka ini yang membedakan dengan laserasi adalah tepinya yang rata. Jika tusukan terjadi tegak lurus garis tersebut. Pada . hal tersebut dapat menyebabkan lukanya menjadi tidak begitu khas. Jaringan elastis dermis. Karena gerakan dari benda tajam tersebut. bukan dalam. bagian kulit yang lebih dalam. salah satunya adalah reaksi korban saat ditusuk atau saat pisau keluar. Jika pisau bermata dua. Sebagaimana luka lecet yang dibuat oleh instrument tajam yang lebih kecil. penipisan terjadi pada tempat dimana bacokan dibuat. luka biasanya panjang. 2.12 Luka insisi disebabkan gerakan menyayat dengan benda tajam seperti pisau atau silet. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi bentuk luka tusuk. 2. ketajaman.4. Bila pisau yang digunakan bermata satu. kekuatannya.2.4. Atau manipulasi yang dilakukan pada saat penusukan juga akan mempengaruhi.

Gas.6-2 m).2. dilepaskan 3 substansi berbeda dari laras senjata.4 Luka Tembak Saat tembakan terjadi. Tergantung kepada tipe bubuknya.4. Efek gas. Perbedaan luka tembak akibat senapan dan pistol Senapan 1. dengan massa yang lebih besar. luka tembak dapat diklasifikasikan sebagai luka tembak jarak dekat. bubuk mesiu yang tidak terbakar. dan gas. yang bersamanya juga terkandung jelaga. kemampuan bubuk mesiu untuk terlontar bervariasi antara 2-6 kaki (0. disekitar tulang dangkal Penampakkan ”eksplosif” Pistol Penampakkan ”eksplosif” Jelaga pada tepi luka danJelaga pada tepi luka dan dalam di dalam jaringan. dan jauh. Bubuk mesiu yang tidak terbakar. Makin berat anak peluru tentu saja membuatnya terlontar lebih jauh menuju target yang ditentukan atau tidak ditentukan. membantu menilai ciri alami luka akibat kecelakaan. Keras. Perkiraan tersebut memiliki kepentingan sebagai berikut: untuk membuktikan atau menyangkal tuntutan. Sisi pipih bilah bisa meninggalkan cekungan pada salah satu sisi patahan. didalam di dalam jaringan. Massa materi yang terlontar dari laras pada saat penembakan dapat menjadi patokan jarak yang ditempuhnya. Seperti yang tertera pada tabel 1 adalah ciri-ciri yang disebabkan oleh senapan dan pistol.Kontak a. termasuk juga revolver dan pistol otomatis.13 instrumen pembacok yang diarahkan pada kepala. Proses tersebut akan menghasilkan jelaga. Yaitu anak peluru. 2. sementara sisi yang lain dapat tajam atau menipis. sudut besatan bilah terkadang dapat dinilai dari bentuk patahan tulang tengkorak. sedang. dapat terlontar lebih jauh. bubuk mesiu. dan anak peluru terhadap target dapat digunakan dalam keilmuan forensik untuk memperkirakan jarak target dari tembakan dilepaskan. Meski kisaran jarak tembak tidak dapat dinilai dengan ketajaman absolut. untuk menyatakan atau menyingkirkan kemungkinan bunuh diri. Gas tersebut dihasilkan dari pembakaran bubuk mesiu yang memberikan tekanan pada anak peluru untuk terlontar keluar dari senjata. di . sangat jelas dan dapat melalui jarak yang sangat pendek yang diukur dengan satuan inch.

keras. Jarak dekat atas tulang moncongGambaran senjata Defek sirkular moncong Jelaga pada jaringan yangJelaga pada jaringan yang lebih dalam lebih dalam Korona (ditambah denganSama dengan B B) Jelaga (gas mesiu) Bubk mesiu bebas Jelaga (gas mesiu) Terbakar (gas mesiu) Bubuk mesiu bebas Tanda gumpalan cabang Kelim tato (bubuk mesiu) Tepi luka yang tidak rata Stippling (isi plastik pada selongsong) Luka tidak rata defek satelit Makin jauh jarak tembak: satelit makin banyak. Daerah temporal Dahi sampai occiput . Luka tembak tempel (kontak) Pada umumnya luka tembak masuk kontak adalah merupakan perbuatan bunuh diri. terlihat penggumpalan 3. Luka tembak masuk: 1. tidak dangkal Defek sirkular disekitar tulang c. Cara yang biasa dilakukan:   Sasarannya: • • Ujung laras ditempelkan pada kulit dengan satu tangan menarik alat penarik senjata. longgar 2.14 atas tulang Gambaran senjata b. Adakalanya tangan yang lain memegang laras supaya tidak bergerak dan tidak miring. Jarak sedang Kelim tato (bubuk mesiu) 4. Jarak jauh Luka saja dengan Klasifikasi Luka Tembak Dalam balistik luka tembak diklasifikasikan menjadi: a.

oleh karena itu perlu dilakukan pemeriksaan mikroskopis. mesiu hitam atau smokeless • 3. Jarak ini tergantung: • Jenis senjata. wajah dibawah dagu dengan arah yang menuju otak. telinga. Luka pada kulit tidak bulat. maka picu akan menimbulkan luka lecet pada kulit antara ibu jari dan jari telunjuk. Pada tembakan tempel di kepala. yang mengenai sasaran hanyalah anak peluru saja. sedangkan untuk bunuh diri biasanya ditemukan tandatanda schot hand. dan antara tulang kepala dengan selaput otak keras (tabula interna) 2. Luka tembak keluar (luka tembus) .15 • Dalam mulut. Bila korban menggunakan senjata api dengan picu. sisa mesiu yang ikut menembus kulit. Jarak dekat disini diartikan tembakan dari suatu jarak dimana pada sekitar luka tembak masuk masih didapatkan sisa-sisa mesiu yang habis terbakar. dapat dicari antara kulit dengan tulang kepala (tabula eksterna). tetapi berbentuk bintang dan sering ditemukan cetakan/jejas ujung laras daun mata pejera. Desakan keluar ini menembakkan cetakan laras dan robeknya kulit. b. bundar. Pada arah tembakan tegak lurus permukaan sasaran (tangensial) bentuk contusio ringnya konsentris. Luka tembak pada jaringan lunak sukar dibedakan antara inshoot dan outshoot. Terjadinya luka berbentuk bintang disebabkan karena ujung laras ditempelkan keras pada kulit. Sedangkan pada tembakan miring bentuk contusio ringnya oval. Luka lecet ini dinamakan schot hand. laras panjang atau pendek Jenis mesiu. Sedangkan partikel lainnya tidak didapatkan. untuk mencari adanya pigmen mesiu. maka seluruh gas masuk kedalam dan akan keluar melalui lubang anak peluru. jelaga. minyak senjata atau adanya serat pakaian yang ikut masuk kedalam luka. Luka tembak jarak jauh Pada luka tembak masuk jarak jauh ini. Pada luka tembak jarak jauh ini hanya ditemukan luka bersih dengan contusio ring. Luka tembak jarak dekat Pada umumnya luka tembak masuk jarak dekat ini disebabkan oleh peristiwa pembunuhan.

Sering kali besar luka tembak keluar berlipat ganda dari pada besarnya luka tembakan masuk. Hal ini termasuk kerusakan pada organorgan dalam. tidak berdasarkan bentuknya namun berdasarkan akibatnya yang dapat membahayakan nyawa korban. Misalnya saja luka tembakan masuk beserta contusio ring sebesar kira-kira 8 mm dan luka tembakan keluar sebesar uang logam (seringgit).1 Patofisiologi Luka Didefinisikan sebagai kerusakan pada bagian tubuh yang disebabkan oleh kekuatan mekanis. tidak hanya peluru yang berubah bentuknya. maka biasanya sebelum keluar anak peluru telah mengenai tulang hingga berpecahan dan beberapa serpihannya ikut keluar. maka hal ini didapatkan bila anak peluru hanya mengenai jaringan lunak tubuh dan daya tembus waktu keluar dari kulit masih cukup besar.4 Patofosiologi 2. maka bentuk dari pada peluru tadi menjadi berubah. Berdasarkan ukurannya maka ada beberapa kemungkinan. 2.16 Luka tembak keluar ini ialah bahwa setelah peluru membuat luka tembak masuk dan saluran luka tembakan maka akhirnya peluru akan mengenai kulit lagi dari sebelah dalam dan kulit terdorong ke luar. . Jika sebuah peluru setelah membuat lubang luka tembakan masuk dan mengenai tulang (benda keras). Pasal lain juga menyebutkan tentang derajat luka. berdasarkan kerusakan yang terjadi. Kejadian inilah yang mengakibatkan luka tembakan keluar yang besar dan lebar. tapi juga diikuti oleh pecahan-pecahan tulang tadi oleh karena ikut terlempar karena dorongan dari peluru. Akibatnya waktu peluru menembus terus dan membuat lubang luka tembak keluar. Tulang-tulang yang kena peluru tadi akan menjadi patah pecah atau kadang-kadang remuk. Beberapa pasal memiliki definisi tersendiri tentang luka. sedangkan bentuknya tidak tertentu. yaitu: Bila luka tembak keluar ukurannya lebih besar dari luka tembak masuk. dan luka baru inilah yang dinamakan luka tembak keluar.4. Tulang-tulang inipun kadang-kadang mempunyai kekuatan menembus juga. Serpihan tulang ini bisa menjadi peluru baru yang membuat luka keluar menjadi lebih lebar. maka kulit dari dalam menjadi robek dan akhirnya timbul suatu lubang luka baru lagi. Kalau batas kekenyalan kulit dilampaui. Bila luka tembak keluar ukurannya sama dengan luka tembak masuk.

Faktor lain yang penting adalah daerah yang mendapatkan kekuatan. atau tendangan. Efek dari kekuatan mekanis yang berlebih pada jaringan tubuh dan menyebabkan penekanan. 1 kg batu bata ditekankan ke kepala tidak akan menyebabkan luka. Kekuatan dari masa dan kecepatan yang sama yang terjadi pada daerah yang lebih kecil menyebabkan pukulan yang lebih besar pada jaringan.kekerasan penekanan pada ledakan mungkin hanya sedikit perlukaan pada otot namun dapat menyebabkan ruptur paru atau intestinal. Peluru yang masuk tegak lurus. Pada luka tembak terjadi efek perlambatan yang disebabkan pada trauma mekanik seperti pukulan. epidermis kurang elastis bila dibandingkan dengan dermis. semua energi kinetik terkonsentrasi pada ujung pisau sehingga terjadi perlukaaan. Intensitas tekanan mengikuti hukum fisika. Kerusakan yang terjadi tergantung tidak hanya pada jenis penyebab mekanisnya tetapi juga target jaringannya. Diameter luka pada epidermis kurang lebih sama dengan diameter anak peluru. sedangkan diameter luka pada dermis lebih kecil. Sebagai contoh. Contusio ring ini didapatkan pada luka tembak masuk dan luasnya tergantung pada arah peluru pada kulit. penarikan. Contohnya.4. tusukan. 2. Pada luka tusuk. maka cacat pada epidermis lebih luas dari pada dermis.17 Kulit terdiri dari lapisan epidermis. namun batu bata yang sama dilemparkan ke kepala dengan kecepatan 10 m/s menyebabkan perlukaan. Hukum fisika yang terkenal dimana kekuatan = ½ masa x kecepatan. maka contusio ringnya akan besar. contusio ringnya akan lebih lebar dibagian dimana peluru membentuk mulut yang terkecil pada kulit. Keadaan tersebut dikenal sebagai kelim memar (contusio ring). Bila sebutir peluru menembus tubuh. luka iris. perputaran. sementara pada torsi mungkin tidak memberikan efek pada jaringan adiposa namun menyebabkan fraktur spiral pada femur. sedangkan peluru yang masuknya miring. sementara dengan energi yang sama pada pukulan oleh karena tongkat pemukul kriket mungkin bahkan tidak menimbulkan memar. Jika dilihat dari elastisitasnya. Kerusakan yang terjadi pada jaringan .2 Mekanisme luka Tubuh biasanya mengabsorbsi kekuatan baik dari elastisitas jaringan atau kekuatan rangka. dermis dan subkutis. hal ini terjadi akibat adanya transfer energi dari luar menuju jaringan.

suara serta gangguan mekanik lainnya. hati ataupun otot akan mengakibatkan kerusakan dengan adanya zona-zona disekitar luka. 2. terutama yang berkaitan dengan alibi seseorang.1 Luka ante mortem atau post mortem Jika pada tubuh jenazah ditemukan luka maka pertanyaannya ialah luka itu terjadi sebelum atau sesudah mati.4. Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu dicari ada tidaknya tanda-tanda intravital.3. kerusakan terjadi bila terdapat ruptur pembuluh darah atau struktur lainnya dan terjadi luka yang sedikit lebih besar dari diameter peluru. dan rongga ini akan mengecil sesaat setelah peluru berhenti. Masalahnya ialah. tidak seharusnya seseorang dituduh atau dihukum jika pada saat terjadinya tindak pidana ia berada di tempat yang jauh dari tempat kejadian perkara. 2. dengan ukuran luka tetap sama. Energi kinetik ini akan mengakibatkan daya dorong peluru ke suatu jaringan sehingga terjadi laserasi.18 tergantung pada absorpsi energi kinetiknya. Organ dengan konsistensi yang padat tingkat kerusakan lebih tinggi daripada organ berongga. lintasan peluru yang menembus jaringan akan terjadi gelombang tekanan yang mengkompresi jika terjadi pada jaringan seperti otak.4. Jika ditemukan berarti luka terjadi . Jika kecepatan melebihi kecepatan udara.3 Waktu Terjadinya Luka Waktu terjadinya kekerasan merupakan hal yang sangat penting bagi keperluan penuntutan oleh penuntut umum. pembelaan oleh penasehat hukum terdakwa serta untuk penentuan keputusan oleh hakim. Dengan melakukan pemeriksaan yang teliti akan dapat ditentukan : luka terjadi ante mortem atau post mortem dan umur luka. Pada pemeriksaan harus dipikirkan adanya kerusakan sekunder seperti infark dan infeksi. Dengan adanya lesatan peluru dengan kecepatan tinggi akan membentuk rongga disebabkan gerakan sentrifugal pada peluru sampai keluar dari jaringan dan diameter rongga ini lebih besar dari diameter peluru. Efek luka juga berhubungan dengan gaya gravitasi. yang juga akan menghamburkaan panas. Dalam banyak kasus informasi tentang waktu terjadinya kekerasan akan dapat digunakan sebagai bahan analisa guna mengungkapkan banyak hal.

Organ dalam masih berfungsi saat terjadi trauma. • Kenaikan kadar histamine (kadar maksimal terjadi 20-30 menit sesudah trauma) • Kenaikan kadar enzime yang terjadi beberapa jam sesudah trauma sebagai akibat dari mekanisme pertahanan jaringan. b. Emfisema kulit krepitasi 2. Jaringan setempat masih hidup ketika terjadi trauma. Tidak ada satupun metode yang digunakan untuk menilai dengan tepat kapan . Pada trauma benda keras dan tumpul. Emboli udara. Pneumotorak f. Perdarahan hebat (profuse bleeding) c. Jika organ dalam (jantung atau paru) masih dalam keadaan berfungsi ketika terjadi trauma maka tandatandanya antara lain : b. c. d. perlu diketahui umur luka.4. Jika arah luka memotong serabut secara tegak lurus maka bentuk luka akan menganga. Tanda intravital itu sendiri pada hakekatnya merupakan tanda yang menunjukkan bahwa : 1. 2. Retraksi jaringan.19 sebelum mati dan demikian pula sebaliknya. Retraksi mikroorganisme (infeksi). Tanda-tanda bahwa jaringan yang terkena trauma masih dalam keadaan hidup ketika terjadi trauma antara lain : a. Terjadi karena serabut-serabut elastis di bawah kulit terpotong dan kemudian mengkerut sambil menarik kulit di atasnya. Emboli lemak. Jika tubuh dari orang masih hidup mendapat trauma maka pada daerah tersebut akan terjadi aktivitas biokimiawi berupa : • Kenaikan kadar serotinin (kadar maksimal terjadi 10 menit sesudah trauma). tetapi jika arah luka sejajar dengan serabut elastis maka bentuk luka tidak begitu menganga. Retraksi vaskuler.4 Umur Luka Untuk mengetahui kapan terjadi kekerasan. e. bentuk intravital berupa : Kontusio atau memar.

Kehilangan ½ volume darah dan mendadak dapat menyebabkan syok yang berakhir pada kematian. Luka pada arteri besar yang disebabkan oleh tembakan akan mengakibatkan luka . fraktur. seperti luka yang disebabkan oleh pisau. Pemeriksaan biokemik a. Apabila luka pada arteri besar berupa sayatan. akan terjadi perdarahan banyak yang sulit dikontrol oleh tubuh sendiri.2 Perdarahan Perdarahan dapat muncul setelah terjadi kontusio. penyulit (misalnya infeksi. Luka lecet: • Hari ke 1 – 3 : warna coklat kemerahan • Hari ke 4 – 6 : warna pelan-pelan menjadi gelap dan lebih suram • Hari ke 7 – 14 : pembentukan epidermis baru • Beberapa minggu : terjadi penyembuhan lengkap b. Kehilangan ¼ volume darah dapat menyebabkan pingsan meskipun dalam kondisi berbaring. dan kompresi. 2. Pemeriksaan histokemik 4. Pemeriksaan mikroskopik 3. laserasi.4. Kecepatan perdarahan yang terjadi tergantung pada ukuran dari pembuluh darah yang terpotong dan jenis perlukaan yang mengakibatkan terjadinya perdarahan. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk memperkirakannya. yaitu dengan melakukan : 1. Pada arteri besar yang terpotong. perdarahan akan berlangsung lambat dan mungkin intermiten. Pemeriksaan Makroskopik.20 suatu kekerasan (baik pada korban hidup atau mati) dilakukan mengingat adanya faktor individual. luka memar : • • • • Hari ke 1 : terjadi pembengkakan warna merah kebiruan Hari ke 2 – 3 : warna biru kehitaman Hari ke 4 – 6 : biru kehijauan–coklat > 1 minggu-4 minggu : menghilang / sembuh 2. Kehilangan 1/10 volume darah tidak menyebabkan gangguan yang bermakna. kelainan darah. atau penyakit defisiensi).

a. melekat pada otak dan meluas masuk ke dalam sulkus-sulkus otak. Lapisan berikutnya yang terletak antara duramater dan piamater disebut arakhnoid. Adanya gangguan pembekuan darah juga dapat menyebabkan perdarahan yang lama. Hipertensi dapat menyebabkan perdarahan yang banyak dan cepat apabila terjadi perlukaan pada arteri. Perlu diingat.1 Cedera Kepala pada Penutup Otak Jaringan otak dilindungi oleh 3 lapisan jaringan. Lapisan paling luar disebut duramater. Ruang ini penting dalam bidang forensik. Pecandu alcohol biasanya tidak memiliki mekanisme pembekuan darah yang normal. atau pada otak itu sendiri. serta orangorang yang mendapat terapi antikoagulan. cairan otak terdapat pada ruang subarakhnoid. Lapisan ini tidak terlalu penting dalam bidang forensik. Perdarahan Epidural (Hematoma) . atau sering dikenal sebagai dura. yaitu perdarahan yang berasal dari arteri lebih berisiko dibandingkan perdarahan yang berasal dari vena. Lapisan yang melekat langsung ke otak disebut piamater. Lapisan ini sangat rapuh.21 yang sulit untuk dihentikan oleh mekanisme penghentian darah dari dinding pembuluh darah sendiri. Kedalaman ruang ini bervariasi di beberapa tempat.3. Ruang yang dibentuk antara lapisan duramater dan arakhnoid ini disebut ruang subdural. 2.4. sehingga cenderung memiliki perdarahan yang berisiko. Perdarahan kepala dapat terjadi pada ketiga ruang yaitu ruang epidural. Investigasi terhadap kematian yang diakibatkan oleh perdarahan memerlukan pemeriksaan lengkap seluruh tubuh untuk mencari penyakit atau kondisi lain yang turut berperan dalam menciptakan atau memperberat situasi perdarahan. bukan di ruang subdural. Hal ini sesuai dengan prinsip yang telah diketahui. Antara tengkorak dan dura terdapat ruang yang disebut ruang epidural atau ekstradural.4. Lapisan ini tebal dan lebih dekat berhubungan dengan tengkorak kepala dibandingakan otak. Kondisi ini terdapat pada orangorang dengan penyakit hemofili dan gangguan pembekuan darah.3 Cedera Kepala 2. subdural atau ruang subarakhnoid.

sehingga hanya menimbulkan gejala-gejala yang ringan. Karena perdarahan yang timbul berlangsung perlahan. Perdarahan ini juga dapat menyebabkan kompresi pada otak yang terletak di bawahnya. Pada beberapa kasus yang lain. maka “lucid interval” juga lebih lama dibandingkan perdarahan epidural. otak mendapatkan kompresi atau tekanan yang akhirnya menimbulkan gejalagejala seperti nyeri kepala. pembuluh dara besar menetap pada skar. sehingga membuat skar tersebut rentan terhadap perlukaan berikutnya yang dapat menimbulkan perdarahan kembali. Pada waktu yang bersamaan. berkisar dari beberapa jam sampai beberapa hari. sehingga tidak menyebabkan perdarahan subdural yang fatal. Penyembuhan pada perdarahan subdural dimulai dengan terjadinya pembekuan pada perdarahan. memerlukan tindakan operatif segera untuk dekompresi otak. dapat menyebabkan arteri terkoyak dan terjadi perdarahan yang cepat. Kematian akan terjadi bila tidak dilakukan terapi dekompresi segera. Hasil akhir dari penyembuhan tersebut adalah terbentuknya jaringan skar yang lunak dan tipis yang menempel pada dura. Waktu yang diperlukan untuk penyembuhan pada . Kumpulan darah akhirnya mendorong lapisan dura menjauh dari tengkorak dan ruang epidural menjadi lebih luas. Tidak semua perdarahan epidural atau subdural bersifat letal. Apabila fraktur mengenai jalinan pembuluh darah kecil yang dekat dengan bagian dalam tengkorak. Pembentukan skar dimulai dari sisi dura dan secara bertahap meluas ke seluruh permukaan bekuan. penurunan kesadaran bertahap mulai dari letargi. stupor dan akhirnya koma.22 Perdarahan jenis ini berhubungan erat dengan fraktur pada tulang tengkorak. perdarahan tidak berlanjut mencapai ukuran yang dapat menyebabkan kompresi pada otak. Sering kali. Pada beberapa kasus. Waktu antara timbulnya cedera kepala sampai munculnya gejala-gejala yang diakibatkan perdarahan epidural disebut sebagai “lucid interval” b. umumnya arteri meningea media. Akibat dari lapisan dura yang terdorong ke dalam. Jumlah perdarahan pada ruang ini berkisar dibawah 120 cc. darah mengalami degradasi. Perdarahan Subdural (Hematoma) Perdarahan ini timbul apabila terjadi “bridging vein” yang pecah dan darah berkumpul di ruang subdural.

yaitu yang disebabkan trauma dan yang tidak berhubungan dengan trauma. tergantung pada kemampuan reparasi tubuh setiap individu sendiri. Salah satu contohnya adalah perdarahan intraserebral yang keluar dari substansi otak melewati piamater. Perdarahan ini dapat terjadi pada orang-orang dengan gangguan mekanisme pembekuan darah atau pada pecandu alcohol kronik. Akibatnya.23 perdarahan subdural ini bervariasi antar individu. Hampir semua kasus perdarahan subdural berhubungan dengan trauma. c. Akan tetapi. dan terbagi menjadi 2 kelompok besar. Perdarahan Subarakhnoid Penyebab perdarahan subarakhnoid yang tersering ada 5. Pada kasus-kasus perdarahan subdural akibat trauma. meskipun dapat tidak berhubungan dengan trauma. dapat bersifat fatal. Penyebabnya antara lain: • Nontraumatik: − − Ruptur aneurisma pada arteri yang memperdarahi otak Perdarahan intraserebral akibat stroke yang memasuki subarakhnoid • Traumatik: − − − Trauma langsung pada daerah fokal otak yang akhirnya Trauma pada wajah atau leher dengan fraktur pada tulang Robeknya salah satu arteri berdinding tipis pada dasar otak yang menyebabkan perdarahan subarakhnoid servikal yang menyebabkan robeknya arteri vertebralis diakibatkan gerakan hiperekstensi yang tiba-tiba dari kepala. Arteri yang lemah dan membengkak seperti pada aneurisma. pada orang-orang yang memiliki gangguan pada mekanisme pembekuan darah. dapat timbul persarahan kecil yang tidak berisiko apabila terjadi pada orang normal. sangat rapuh dindingnya dibandingkan arteri yang normal. Adakalanya juga perdarahan subdural terjadi akibat perluasan dari perdarahan di tempat lain. kemudian masuk dan menembus lapisan arakhnoid dan mencapai ruang subdural. meskipun tidak menyebabkan perdarahan yang besar dan berbahaya. trauma yang ringan pun dapat menyebabkan ruptur pada aneurisma yang mengakibatkan .

Pada beberapa kasus. tamparan pada pada sisi samping kepala dan leher dapat mengakibatkan fraktur pada prosesus lateralis salah satu tulang cervical superior. Tekanan dan goncangan ini menyebabkan robeknya pembuluh-pembuluh darah kecil pada lapisan subarakhnoid. maka fraktur pada daerah tersebut dapat menyebabkan robeknya arteri yang menimbulkan perdarahan masif yang biasanya menembus sampai lapisan subarakhnoid pada bagian atas tulang belakang dan akhirnya terjadi penggenangan pada ruang subarakhnoid oleh darah. apakah trauma yang menyebabkan ruptur pada aneurisma yang sudah ada. atau seseorang mengalami nyeri kepala lebih dahulu akibat mulai pecahnya aneurisma yang menyebabkan gangguan tingkah laku berupa perilaku mudah berkelahi yang berujung pada trauma. Aliran darah ke atas meningkat dan perdarahan meluas sampai ke dasar otak dan sisi lateral hemisfer serebri. Pada beberapa kasus. atau seseorang tersebut mengalami ruptur aneurisma terlebih dahulu yang menyebabkan perdarahan subarakhnoid dan akhirnya kehilangan kesadaran dan terjatuh. investigasi yang teliti disertai dengan otopsi yang cermat dapat memecahkan teka-teki tersebut. Jarang sekali. Apabila tidak ditemukan faktor pemberat lain seperti kemampuan pembekuan darah yang buruk. Perdarahan subarakhnoid ringan yang terlokalisir dihasilkan dari tekanan terhadap kepala yang disertai goncangan pada otak dan penutupnya yang ada di dalam tengkorak.24 banjirnya ruang subarakhnoid dengan darah dan akhirnya menimbulkan disfungsi yang serius atau bahkan kematian. Tipe perdarahan subarakhnoid traumatic yang akan dibicarakan kali ini merupakan tipe perdarahan yang masif. Perdarahan ini melibatkan dasar otak dan meluas hingga ke sisi lateral otak sehingga serupa dengan perdarahan yang berhubungan dengan aneurisma pada arteri besar yang terdapat di dasar otak. . Contoh yang lain. apakah seseorang yang jatuh dari ketinggian tertentu menyebabkan ruptur aneurisma. dan umumnya bukan merupakan perdarahan yang berat. Yang menjadi teka-teki pada bagian forensik adalah. perdarahan ini dapat menceritakan atau mengungkapkan tekanan trauma yang terjadi pada kepala. kondisi ini sulit dibedakan dengan perdarahan nontraumatikyang mungkin disebabkan oleh ruptur aneurisma. Karena arteri vertebralis melewati bagian atas prosesus lateralis dari vertebra di daerah leher.

kontusio yang terjadi.4. Kita juga harus mempertimbangkan situasi lainnya dimana kepala yang bergerak mengenai benda yang padat dan diam. sedangkan arteri vertebralis tetap intak. yaitu abrasi. yang bisa mendukung dugaan apakah kejadian ini murni dimulai oleh trauma terlebih dahulu. Hal ini terjadi saat kepala relatif tidak bergerak. hal ini disebut coup. dan laserasi dari kulit kepala. Beberapa dapat lebih dalam. Kontusio pada bagian superfisial atau daerah abu-abu sangat penting dalam ilmu forensik. mengenai daerah putih otak. lingkaran kekerasan dapat terbentuk apabila kontusio yang terbentuk cukup besar. hanya mengenai daerah abuabu. yang nantinya dapat menyebabkan kolaps dan bahkan kematian.3. dan otak. Yang harus dipertimbangan adalah lokasi kontusio tipe superfisial yang berhubungan dengan arah kekerasan yang terjadi. Terdapat 2 bukti. . Namun. kranium. kurang lebihnya. Poin kedua terpenting dalam hal medikolegal adalah penyembuhan kontusio tersebut yang dapat menyebabkan jaringan parut yang akan menyebabkan adanya fokus epilepsi. Penyebab terjadinya perdarahan diduga akibat pecahnya pembuluh darah berdinding tipis pada bagian bawah otak. Kranium dapat patah atau tidak. Pada keadaan ini kerusakan pada kulit kepala dan pada kranium dapat serupa dengan apa yang ditemukan pada benda yang bergerak-kepala yang diam. Jika jaringan dibawahnya terkena. Bukti pertama yaitu adanya riwayat gerakan hiperekstensi tiba-tiba pada daerah kepala dan leher. 2. Hal ini bermakna jika pola luka ditemukan dalam pemeriksaan kepala dan komponen yang terkena pada trauma sepeti pada kulit kepala. meskipun tidak selalu ada. tidak ditemukan adanya aneurisma. hasilnya dapat berupa.25 Akan tetapi. pada pemeriksaan yang cermat dan teliti. kontusio. Ketika bagian kepala terkena benda yang keras dan berat seperti palu atau botol bir. serta tidak terdapat aneurisma. koma. edema otak dapat menghambat sirkulasi darah yang menyebabkan kematian otak. Rupturnya pembuluh darah dengan terhambatnya aliran darah menuju otak dan seperti yang telah disebutkan menyebabkan adanya pembengkakan sebelumnya.2 Kontusio otak Hampir seluruh kontusio otak superfisial. dan kematian total.

Perdarahan yang lebih besar dan dalam biasanya berbentuk ireguler dan hampir serupa dengan perdarahan apopletik atau stroke. Tempat predileksinya adalah ganglia basal. yang tidak memerlukan penjelasan mendetail. Biasanya mengenai orang yang lebih muda dan tidak mempunyai riwayat hipertensi. Keberadaan gelembung tidak membuktikan adanya trauma kepala. Hal tersebut dapat ditemui pada kematian akibat tenggelam. serta adanya penyakit penyerta dapat membedakan trauma dengan kasus lain yang menyebabkan perdarahan. Manifestasi eksternal yang dapat ditemui adalah ‘foam cone’ busa berwarna putih atau merah muda pada mulut dan hidung. dengan perdarahan kecil atau besar. Perdahan tersebut berhubungan dengan malformasi arteri vena. sehingga gambaran yang ada akan tercampur.5 Hasil Pemeriksaan Otopsi 2. pons.. 2. ada atau tiadanya tanda trauma kepala. Tipe lain kontusio adalah penetrasi yang lebih dalam. dan serebelum. Karena foto dari semua komponen trauma kepala dari berbagai tipe kadang tidak tepat sesuai dengan demontrasi yang ada. Perdarahan intraserebral tipe apopletik tidak berhubungan dengan trauma biasanya melibatkan daerah dengan perdarahan yang dalam. Anamnesis yang cukup mengenai keadaan saat kematian. dapat saja kepala yang diam dan terkena benda yang bergerak pada akhirnya akan jatuh atau mengenai benda keras lainnya. Pemeriksaan kepala penting untuk mengetahui pola trauma.1 Luka Tumpul .6. Hal ini disebut kontusio contra-coup. membingungkan. overdosis.26 bukan pada tempat trauma melainkan pada sisi yang berlawanan. Kadang-kadang dapat terjadi hal yang membingungkan. diliputi oleh lapisan normal otak. Edema paru tipe neurogenik biasanya menyertai trauma kepala. Hal tersebut dapat serupa dengan perdarahan fokal yang disebabkan hipertensi. penyakit jantung yang didahului dekompensasio kordis. Perdarahan kecil dinamakan ‘ball hemorrhages’ sesuai dengan bentuknya yang bulat. diagram dapat menjelaskan hubungan trauma yang terjadi. biasanya mengenai daerah putih atau abu-abu.

9) Memperkirakan cara terjadinya luka apakah kasus pembunuhan. Dari pemeriksaan dalam ini dapat diketahui juga adanya rupture arteri yang dapat mengakibatkan perdarahan yang masif dan mengakibatkan syok bahkan kematian. penutup otak. 4) Ada tidaknya memar atau lecet di sekitar luka.27 Ada 9 hal yang penting kita periksa. 5) Ada tidaknya sesuatu yang keluar dari luka. bunuh diri. 3) Terpotong tidaknya rambut pada luka korban. Garis ordinat adalah garis hayal yang melalui sternum atau vertebra. yaitu : 1) Memotret korban. Garis aksis adalah garis hayal yang mendatar melalui umbilikus atau papilla mammae atau ujung skapula. 7) Menentukan intravitalitas luka. maupun otaknya. . Lokasi luka kita tentukan berdasarkan garis aksis dan garis ordinat. 3) Menentukan lokasi luka. ujung pisau yang patah. 2) Menghitung jumlah luka. atau kecelakaan. 6) Mencari benda asing : pecahan kaca. tepi luka dan dasar luka. 8) Memperkirakan luka sebagai penyebab kematian korban atau bukan. Pada kasus trauma pada kepala dapat dilakukan pemeriksaan dalam untuk mengetahui adanya cedera pada kepala. yaitu : 1) Sudut luka. 2) Ada tidaknya jembatan jaringan. kita mesti merapatkan luka korban terlebih dahulu. Sebelum panjang luka kita ukur. otot perut dan jaringan hati sejauh 5 cm. Ukuran luka kita tentukan dengan mengukur panjang luka dan kedalaman luka. Kita harus menyebutkan alat tubuh apa saja yang dilalui luka tersebut saat kita melakukan pengukuran kedalaman luka korban. 5) Menentukan sifat / ciri-ciri luka. Misalnya luka mengenai kulit dinding perut. 4) Mengukur luka. catat & laporkan pada kasus trauma (kecederaan). Ada 5 hal yang penting kita periksa untuk menggambarkan sifat-sifat atau ciri-ciri luka si korban.

Dalam keadaan ini dipotret lagi arah tembakan dari luar depan/belakang atau samping dan sudutnya Sebelum dilakukan pemeriksaan dalam sebaiknya dilakukan X. Antimony. Saluran.2 Luka Tembak • • • Luka tembak masuk dilukiskan dalam keadaan aslinya. dan barium pada tangan • Identifikasi Senjata Api  Syarat mutlak untuk identifikasi senjata api ialah harus ditemukan anak peluru dan/atau selongsong  Identifikasi anak peluru. jalannya anak peluru harus ditentukan sebelum organorgan dikeluarkan. dapat dipakai sabun.6. dibandingkan dengan hasil “test firing • • • Luka dibersihkan.28 2. lebih baik kalau bisa di potret Sebelum dibersihkan dilakukan “parafin test” terutama pada luka tembak jarak dekat Luka tembak karena peluru penabur shotgun harus dijiplak atau dipotret. setelah bersih periksa pada ada tattoage dll. tahap pertama ialah mencocokkan senjata api ialah dicurigai dengan anak peluru bukti mengenai :  Kaliber .Foto dahulu. Ini perlu untuk memperkirakan arah tembakan dari luar depan/belakang atau samping dan sudutnya • Neutron activation analysis     Identifikasi lubang di pakaian Menentukan jarak tembakan Menentukan asal anak peluru/gotri dari kadar Pb Menentukan apakah seseorang telah menembakan suatu senjata atau tidak dengan deteksi ada tidaknya Pb. Anak peluru yang bersarang dalam tubuh harus dicari/diambil untuk pemeriksaan balistik • Letak luka tembak masuk/keluar diukur dengan mengambil patokan tumit dan garis tengah tubuh melalui tulang punggung. Ini perlu untuk mentukan jarak tembakan.

sulfat. nitrat. karbon. komposisi (tembaga. dan merkuri. . antimon.  Pada “smokeles gun powder” dapat ditemukan nitrit dan selulosa nitrat.  Pada senjata api yang modern.29  Jumlah alur  Arah alur • Pemeriksaan anak peluru      • pemeriksaan visual pencatatan berat dan diameternya penentuan kaliber pemeriksaan cacat-cacat/goresan firing test Identifikasi dengan selongsong  Seperti anak peluru pada selongsong juga didapatkan goresan yang dapat membantu identifikasi senjata  Pemeriksaan pendahuluan pada selongsong meliputi :  Keadaan umum selongsong seperti : bentuk. nitrit. karton dll )  Pabrik pembuatnya. karbonat. sulfis. kaliber. tiosianat dan tiosulfat. biasanya tertera pada pangkal selongsong  Goresan-goresan yang terdapat pada selongsong ditimbulkan oleh karena : o o o o o Bekas pukulan pasak pemalu pada primer Bekas cetakan pengancing (breechlock mark) Magazine mark Bekas penarik selongsong pada rim/groove Bekas pembuang selongsong ejector pada bagian belaka Pemeriksaan Tambahan • Pemeriksaan Kimiawi  Pada “black gun powder” dapat ditemukan kalium. unsur kimia yang dapat ditemukan ialah timah. nikel brass. barium.

unsur-unsur tersebut dapat dideteksi pada tangan yang menggenggam senjata. yaitu dengan ditemukannya anak peluru pada foto rongent. • • Pada “tanden bullet injury” dapat ditemukan dua peluru walaupun luka tembak masuknya hanya satu. antimon.yang tidak beralur. maka korban ditembak oleh senjata jenis rifled. maka dapat dipastikan bahwa korban ditembak dengan senjata jenis “shoot gun” . dimana dalam satu peluru terdiri dari berpuluh pellet. tembaga. Bila pada tubuh korban tampak banyak pellet tersebar. . demikian pula bila ada partikel-partikel yang tertinggal. • Pemeriksaan dengan Sinar X Pemeriksaan secara radiologik dengan sinar X ini pada umumnya untuk memudahkan dalam mengetahui letak peluru dalam tubuh korban. sehingga pemeriksaan sulit. didalam atau di sekitar luka. Pada keadaan dimana tubuh korban telah membusuk lanjut atau telah rusak sedemikian rupa.30  Unsur-unsur kimia yang berasal dari laras senjata dan dari peluru sendiri dapat di temukan ialah timah. nikel. maka dengan pemeriksaan radiologi ini akan dengan mudah menentukan kasusnya.  Pada pelaku penembakan. • • Bila pada tubuh korban tampak satu peluru. bismut perak dan thalium  Pemeriksaan atas unsur-unsur tersebut dapat dilakukan terhadap pakaian.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful