BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Berdasarkan informasi yang diperoleh melalui observasi dan wawancara dengan guru mata pelajaran matematika kels II SMP Negeri 3 Mataram tahun pelajaran 2005/2006 terdapat beberapa permasalahan yang dihadapi, terutama adalah rendahnya prestasi belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata nilai yang mereka peroleh pada saat mereka masih duduk di kelas I, sebagai berikut : Tabel 1 : Rata-rata nilai matematika Kelas I semester 2 SMP Negeri 3 Mataram tahun pelajaran 2005/2006 No 1 2 3 Rentang nilai Kelas
I-1 I-2 I-3 I-4

Tertinggi 91 87 85 Terendah 45 35 38 Rata – rata kelas 62,0 59,0 59,7 Sumber : Daftar nilai guru matematika SMP Negeri 3 Mataram

88 30 56,5

Prestasi belajar siswa yang rendah tersebut lebih disebabkan karena terdapat permasalahan pembelajaran matematika dan sulitnya guru

menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dalam proses pembelajaran. Padahal guru sudah menerapkan metode mengajar dari sistem yang klasikal yaitu guru sebagai pusat informasi, juga metode kelompok yaitu guru sebagai fasilitator dan pengarah yang bertujuan agara siswa bersama-sama lebih terpacu dalam meningkatkan prestasi belajar. Tetapi, metode yang pernah diterapkan ternyata kurang optimal, dilihat dari proses pembelajaran yang tidak kondusif dan suasana proses pembelajaran tidak berjalan baik yaitu 1

melihat sering ributnya peserta didik, baik ribut bertanya kepada rekan kelas mereka tentang pelajaran maupun mengerjakan hal lain di luar pelajaran. Keadaan ini juga dipengaruhi oleh kurang simpatinya siswa kepada gurunya. Hal ini dapat diamati di lapangan, yaitu banyaknya siswa yang ragu bertanya kepada gurunya dan jarangnya siswa mengeluarkan ide atau pendapat pada saat pelajaran berlangsung ataupun di luar jam pelajaran, sehingga guru sulit juga menangkap kemampuan verbal mereka yang tidak nampak. Hal ini didukung oleh kurang adilnya guru dalam menempatkan siswanya dalam proses pembelajaran, yaitu menganggap bahwa kemampuan rata-rata siswa adalah sama, sehingga ada siswa yang lambat dalam belajar merasa tertinggal dan yang cepat (pandai) terpaksa tertahan kemajuannya. Melihat fenomena seperti yang diuraikan di atas, maka pemilihan

pendekatan, strategi, metode dan model pembelajaran harus dipertimbangkan dengan baik oleh guru, yaitu dengan melihat keberagaman (heterogen) nya kelas, terutama dari segi prestasi peserta didik dan mempertimbangkan permasalahan yang muncul. Artinya bahwa guru dituntut agar dapat menciptakan proses pembelajaran yang inovatif dan kreatif yang mampu memotivasi siswa untuk memahami pelajaran matematika agar lebih mudah dipelajari. Sehingga keragaman tidak dijadikan sebagai penyebab lemahnya prestasi siswa, tetapi bagaimana keragaman itu dijadikan motivasi bersama agar prestasi siswa dapat meningkat secara merata. Keberagaman siswa dalam hal ini dilihat pada prestasi siswa, juga diperhatikan dari sulitnya guru menangkap kemampuan verbal siswa seperti 2

yang telah disebutkan di atas. Karena kesempatan yang telah diberikan untuk mengemukakan pendapat untuk berdiskusi atau bertanya kepada guru tidak dimanfaatkan oleh siswa dengan baik. Bahkan cenderung ribut bertanya kepada temannya. Karena di dalam kesehariannya siswa akan lebih mudah untuk menerima ”bantuan” pengajaran dari teman-teman nya daripada dari gurunya. Hal ini disebabkan karena biasanya seorang teman tidak memiliki rasa enggan ataupun rendah diri untuk bertanya dan meminta bantuan kepada teman yang lain. Melihat kenyataan tersebut di atas, untuk mengoptimalkan pembelajaran dari segi proses maupun waktu pelaksanaan pembelajaran dan agar siswa mampu mengungkapkan kesulitan-kesulitannya untuk memaksimalkan

kemampuan individu mereka, dengan melihat kenyataan bahwa mereka banyak bertanya kepada teman sekelasnya dibandingkan dengan guru, maka perlu respon guru untuk mengatasi permasalahan tersebut, yaitu dengan mengoptimalkan potensi siswa yang berprestasi sebagai basis pembelajaran. Karena walaupun rata-rata nilai yang diperoleh relatif rendah, namun ada beberapa orang siswa yang nilainya lebih dari rata-rata nilai kelas, hal ini menunjukan bahwa siswa-siswa yang berprestasi tersebut dapat dijadikan tutor untuk membantu rekannya dalam memahami materi yang diajarkan. Sehubungan dengan itu, peneliti ingin mengkaji model pembelajaran kooperatif yang berbasis tutor sebaya, karena dalam setingan kooperatif siswa lebih banyak belajar dari satu teman ke teman yang lain dari pada belajar dengan guru. Menurut Slavin dalam Nurhadi (2000:16), teknik pembelajaran 3

kooperatif lebih unggul dalam meningkatkan hasil belajar dibandingkan pengalaman belajar individual atau kompetitf. Untuk penelitian ini, yang akan menjadi sampelnya adalah kelas II-4 pada tahun pelajaran 2006 / 2007, merupakan tingkatan kelas bagi kelas I-4 untuk yang naik ke kelas II, karena di SMP Negeri 3 sendiri tidak ada sistem roling kelas seperti yang terjadi di sekolah yang lain. Dengan melihat rendahnya nilai rata-rata matematika yang diperoleh oleh mereka pada tahun ajaran sebelumnya yang terlihat pada tabel 1. Untuk diketahui, kurikulum terbaru 2006 ini di kelas II semester satu dibagi menjadi dua garis besar materi yang di ajarkan yaitu 1) Aljabar, terdiri dari Faktorisasi Suku Aljabar, Fungsi, Persamaan garis lurus, dan Sistem persamaan Linear dua variabel, dan 2) Geometri dan pengukuran yaitu Dalil Phytagoras. Dari peneliti sendiri mengambil pokok bahasan Sistem Persamaan Linear dua Variabel sebagai pokok bahasan yang akan diteliti, dilihat dari karakteristik materi. Sistem persamaan linear variabel terdiri dari tiga sub pokok bahasan, yaitu : Persamaan Linear dua Variabel ,Sistem Persamaan Linear dengan dua Variabel , dan Menyelesaikan Soal Cerita yang Berkaitan dengan Sistem Persamaan Linear dua variabel. Seperti yang dipaparkan sebelumnya bahwa di dalam kegiatan pembelajaran di kelas ada beberapa orang siswa yang cepat memahami materi pembelajaran, sehingga pembelajaran pokok bahasan sistem persamaan linear dua variabel tidak terlalu sulit dipelajari dan masih berkaitan dengan materi pelajaran sebelumnya yaitu pokok bahasan bentuk aljabar, persamaan garis 4

lurus dan sistem persamaan linear satu variabel, yang menjadi pokok bahasan prasyarat atau pendukung materi pelajaran Sistem persamaan linear dua variabel. Berdasarkan hal tersebut maka rekan kelas yang memiliki kemampuan pemahaman cepat dapat memberikan bimbingan bagi rekan kelas yang lain yang lambat dalam memahami pelajaran, sehingga peran guru dapat dibagi kepada siswa yang dijadikan tutor bagi rekan kelas mereka. Apabila ada di antara tutor yang menemukan kesulitan dalam menyampaikan materi terkait dengan pemodelan matematika dari pernyataan soal cerita, maka di sinilah peran guru sebagai pembimbing. Sehingga dari penjelasan di atas maka pembelajaran dengan tutor sebaya dapat diterapkan pada pokok bahasan Sistem persamaan linear dua variabel dengan menggunakan dan pembelajaran kooperatif guru dalam untuk mengefektifkan maupun

pembelajaran

mempermudah

memantau

mengevaluasi perkembangan prestasi akademik siswa. Berdasarkan uraian di atas maka perlu diadakan penelitian untuk melihat bagaimana penerapan model pembelajaran kooperatif berbasis tutor sebaya khususnya dalam pembelajaran mata pelajaran matematika pokok bahasan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel kelas II-4 semester I di SMP Negeri 3 Mataram dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. B. Identifikasi Masalah Adapun masalah-masalah yang ada dalam proses pembelajaran di SMP Negeri 3 Mataram, antara lain :

5

1.

Pembelajaran yang cenderung klasikal dan monoton yang menyebabkan kebosanan dan antipatinya siswa terhadap pelajaran yang diajarkan.

2.

Siswa malu dan ragu bertanya kepada gurunya apabila mengalami kesulitan dalam memahami materi pelajaran.

3.

Kurangnya interaksi antara guru dengan siswa dalam proses pembelajaran. Keadaan inilah yang menyebabkan adanya tuntutan kepada guru untuk

mengantisipasi hal tersebut, yaitu dengan menerapkan suatu model pembelajaran yang kreatif, maksudnya walaupun model tersebut sudah sering digunakan maka dicobalah dengan pendekatan yang lebih inovatif, yaitu model pembelajaran yang akan memaksimalkan kondisi belajar demi tercapainya tujuan pembelajaran yang diinginkan, dengan memanfaatkan tutor sebaya sebagai basis pembelajarannya untuk membimbing rekan-rekan sekelasnya. Sehingga diharapkan dengan penerapan model pembelajaran kooperatif berbasis tutor sebaya dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa, khususnya pokok bahasan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel kelas II-4 semester I SMP Negeri 3 Mataram. C. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah, maka yang menjadi rumusan permasalahannya adalah “Bagaimana meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas II-4 semester I SMP Negeri 3 Mataram dengan penerapan pembelajaran kooperatif berbasis tutor sebaya”. 6

D.

Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa pada pokok bahasan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel, melalui perapan model pembelajaran kooperatif berbasis tutor sebaya.

E.

Manfaat Penelitian Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah : 1. Pengembangan Ilmu Matematika sebagai salah satu mata pelajaran excact, dan dalam pembelajarannyapun perlu metode-metode dalam menciptakan pemahan. Untuk itulah penerapan model pembelajaran ini diharapkan dapat dijadikan sumber informasi dalam mengembangkan strategi pembelajaran matematika. 2. a. Penerapan dan kemanfaatan Bagi Guru, Hasil penelitian ini dapat dijadikan pedoman

bagi guru, untuk mengajar sebagai model pembelajaran alternatif. Dan dapat memanfaatkan model pembelajaran ini sebagai pengalaman manajemen kelas untuk mengenal karakteristik dan keragaman peserta didik

7

b.

Bagi siswa, mengembangkan sikap kebersamaan, dan

menerapkan kerjasama postitif , saling memberikan motivasi, dan kepemimpinan. c. Bagi sekolah, diharapkan hasil penelitian ini dapat

memberikan sumbangan yang baik dalam perbaikan pembelajaran dan peningkatan mutu dalam proses pembelajaran. d. Bagi peneliti, diupayakan sebagai titik awal

perbandingan untuk penelitian berikutnya.

8

BAB II KAJIAN TEORI A. Deskripsi Teori 1. Proses Belajar dan Mengajar Belajar adalah kegiatan para siswa baik itu dengan bimbingan guru atau usaha sendiri sepenuhnya Menurut Winkel (1991 : 36), ”Belajar adalah aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan sikap”. Sedangkan Sardiman mengungkapkan bahwa belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak dari masih bayi hingga ke liang lahat nanti. Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya. ( Sardiman, 2003: 1) Pengajaran matematika yang dilaksanakan oleh guru hendaknya benar-benar menjamin terjadinya kegiatan belajar bagi siswa, untuk menjamin terjadinya kegiata belajar pada siswa, guru perlu

mengusahakann situasi atau proses yang memungkinkan siswa untuk berperan aktif selama proses pembelajaran, karena pada dasarnya proses belajar adalah berbuat, berkreasi, menjalani, mengalami. Hal ini mengisyaratkan bahwa dalam pembelajaran guru hendaknya mampu menjamin terjadinya pemahaman siswa melalui kegiatannya sendiri, bukan semata-mata akibat informasi verbal guru. Dalam hal ini 9

diharapkan bukan peran guru yang mendominasi, artinya bahwa ada peran rekan kelas mereka dalam perubahan tingkah laku dalam hal ini adalah diharapkan meningkatnya prestasi belajar siswa. Menurut Sudjana (2004:2), belajar dan mengajar sebagai suatu proses mengandung tiga unsur yang dapat dibedakan, yaitu tujuan pengajaran (intruksional), pengalaman (proses) belajar mengajar, dan hasil belajar. Tujuan intruksional pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku yang diingiknak pada diri siswa. Dengan mengetahui tercapainya tujuan instruksional, dapat diambil tindakan perbaikan pengajaran dan perbaikan siswa yang bersangkutan. Sedangakan hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku siswa, yang mencakup kognitif, afektif dan psikomotoris. Penilaian proses belajar mengajar adalah upaya memberi nilai terhadap kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh siswa dan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran. Sudjana (2004:3)

menyebutkan fungsi penilaian yaitu : 1) alat untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan instruksional; 2) umpan balik bagi perbaikan proses belajar mengajar; 3) dasar dalam menyusun laporan kemajuan belajar siswa kepada orang tuanya. Sehingga secara umum proses belajar merupakan kegiatan atau aktivitas yang dilakukan sekelompok orang atau individu baik secara sadar ataupun tidak yang terorganisir dengan baik, di dalamnya ada interaksi pengajar dan yang diajar dalam rangka terjadinya perubahan tingkah laku pada individu tersebut. 10

Dalam penelitian ini, sebagai umpan balik (feedback) bagi perbaikan proses belajar mengajar selanjutnya, maka perlu diadakan penilaian. Penilaian proses belajar mengajar menyangkut penilaian terhadap kegiatan guru, kegiatan siswa, dan terlaksananya program belajar mengajar. Sedangkan penilaian hasil belajar menyangkut penilaian prestasi belajar siswa setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar. Diharapkan dengan pengaturan dan manajemen yang baik dari guru sebagai fasilitator maupun sebagai pendidik dapat secara penuh memberikan potensi yang dimiliki demi tercapai hasil belajar sebagai buah dari proses yang dilaksanakan selama kegiatan belajar mengajar. 2. a. Prestasi Belajar Pengertian Prestasi Belajar Setiap kegiatan atau usaha yang telah dilakukan oleh seseorang perlu dilakukan penilaian. Hal ini bertujuan untuk mengetahui apakah tujuan dari kegiatan tersebut telah tercapai atau belum. Tingkat keberhasilan yang dicapai sebagai hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan baik secara individu maupun berkelompok disebut prestasi. Menurut Djamarah (1994:24), ”prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, baik secara individu maupun kelompok”.. Dikatakan juga bahwa hasil belajar dapat berupa sikap, kebiasaan dan keterampilan. Dalam konteks ini belajar bisa bermakna sesuai dengan hakekat belajar sebagai proses (Sudjana, 1989 : 18). 11

Sedangkan Djamarah mengungkapkan bahwa prestasi adalah hasil yang dicapai dari sutau kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja, baik secara individual maupun kelompok dalam bidang kegiatan tertentu.. Hasil dari aktivitas belajar terjadilah perubahan dalam diri individu. Dengan demikian belajar dikatakan berhasil jika telah terjadi perubahan dalam diri individu, ( Djamarah, 1996 : 21) Kegiatan belajar menghasilkan perubahan pada siswa yang tampak pada tingkah laku atau prestasi belajar siswa. Prestasi belajar siswa ditentukan oleh kegiatan belajarnya. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Sardiman (2001: 94) bahwa segala pengetahuan harus diperoleh dari pengamatan, pengalaman dna usaha dari individu. Hal ini mengindikasikan bahwa prestasi belajar seseorang ditentukan oleh kegiatan belajarnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa prestasi adalah hasil belajar berupa perubahan sikap atau tingkah laku atau kesan-kesan dalam diri individu maupun kelompok yang diperoleh melalui keuletan kerja. b. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar Aktivitas belajar seseorang diisyaratkan oleh banyak hal dalam rangka menuju keberhasilan yang diinginkan begitu juga adanya beberapa faktor yang mempengaruhinya. ”Hasil belajar yang dicapai 12

oleh siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor internal (dari dalam individu) dan faktor eksternal (dari luar individu atau lingkungan)”. Faktor yang datang dari siswa terutama kemampuan yang dimilikinya. Faktor kemampuan siswa besar sekali

pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Adapun faktor yang berada di luar siswa yang menentukan atau mempengaruhi hasil belajar adalah kualitas pengajaran yakni tinggi rendahnya atau efektif tidaknya proses belajar mengajar dalam mencapai tujuan pengajaran, ( Uswatun, 2003 : 18). Dari penjelasan tersebut bisa dijelaskan lebih lanjut bahwa faktor siswa dan faktor yang berasal dari eksternal siswa saling mendukung dan berpengaruh bagi peningkatan prestasi siswa. Dari dalam diri siswa salah satunya disebutkan adalah kemampuan siswa, ini merupakan ungkapan umum yang nilainya relatif. Kemampuan siswa yang dimaksud di sini adalah : kemampuan menerima dan mengolah dinformasi, dan yang lebih penting adalah motivasi dari diri siswa sehingga walaupun kemampuan yang dimiliki siswa agak kurang tetapi didukung oleh motivasi yang kuat pada dirinya, maka dengan pengalaman yang dimiliki siswa dalam hal itu menjadi evaluasi tersendiri bagi diri mereka bagaimana motivasi dan semangat dalam belajar itu senantiasa ada pada diri mereka. Dari segi eksternal, hal ini merupakan yang sangat berpengaruh bagi terwujudnya prestasi siswa yang optimal, artinya tidak hanya 13

berupa kualitas pengajaran, tetapi juga lingkungan sekitar yang ikut andil dalam menciptakan kualitas belajar yang bermutu. Mulai dari teman sekitar, keluarga, tempat tinggal dan budaya belajar di lingkungan personal dan sosial siswa. Karena bagaimanapun siswa memiliki motivasi ataupun kemampuan yang dimiliki siswa, tetapi tidak didukung oleh iklim belajar dan lingkungan sosial masyarakat dalam hal ini rumah atau lokasi tempat tinggal maka prestasi siswa yang ingin dicapi tidak terwujud. Untuk melengkapi dua faktor yang mempengaruhi belajar maka Djajadisastra (1987 : 66) menambahkan faktor ketiga yaitu, faktor teknik atau pendekatan belajar. Artinya, jika faktor internal dan eksternal sudah baik maka haruslah ditunjang oleh teknik belajar yang baik. Kaitannya dengan cara belajar di sekolah ada beberapa cara belajar siswa di sekolah, yaitu : menyusun rencana belajar, membuat rangkuman tentang hal-hal yang dianggap perlu, membaca catatan hasil belajar, memanfaatkan sumber belajar, menganalisis atau mengerjakan soal dan tugas serta membuat situasi yang kondusif untuk belajar. Di samping faktor kemampuan yang dimiliki oleh siswa, juga ada faktor seperti motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis. (Arikunto, 1988 : 126). Artinya faktor kemampuan siswa akan didorong oleh berbagai faktor baik yang dikemukakan oleh Uswatun 14

maupun

faktor

pendukung

belajar

yang

dikemukakan

oleh

Djajadisastra, dan semuanya saling mendukung satu sama lain. 3. Model Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran kooperatif adalah pendekatan pengajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam

memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar. Artinya bahwa pembelajaran kooperatif intinya ada interaksi antar siswa, dan pendekatan guru. (Nurhadi, 2003 : 59) Pembelajaran yang kooperatif terjadi ketika peserta didik berbagi tanggung jawab untuk mencapai tujuan bersama. Pengembangan keterampilan bekerja sama dalam kelompok meliputi waktu, praktek, dan penguatan perilaku yang sesuai. Guru memegang peranan penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung aktivitas belajar peserta didik : BookOnline (2004:22) a. Peserta didik merasa mampu mengatasi masalah mereka b. Peserta didik merasa dihargai Kerja kelompok yang kooperatif dapat membantu peserta didik meningkatkan pemahaman dan rasa senang serta memiliki sikap yang positif, baik terhadap pekerjaannya maupun terhadap dirinya sendiri. Tetapi agar semua peserta didik dapat mengambil manfaat dari aktivitas kerja kelompok yang kooperatif, mereka hendaknya diberi kesempatan untuk mengembangkan berbagai keterampilan. BookOnline (2004:22)

15

Nurhadi (2003: 60) menyatakan unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut : a. Saling ketergantungan positif, artinya guru menciptakan suasana yang mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan, untuk meraih hasil belajar yang optimal. b. Interaksi tatap muka, artinya adalah ada tuntutan bahwa para siswa dalam kelompok dapat saling bertatap muka sehingga mereka dapat saling dialog, tidak hanya dengan guru tetapi juga dengan sesama siswa, yang memungkinkan siswa dapat saling menjadi sumber belajar sehingga sumber belajar lebih bervariasi. Interaksi semacam itu sangat penting karena ada siswa yang merasa lebih mudah belajar dari sesamanya ( sebaya ). c. Akuntabilitas individual Pembelajaran kooperatif menampilkan wujudnya dalam belajar kelompok. Meskipun demikian, penilaian ditujukan untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap meteri pelajaran secara individual. Penilaian berdasarkan atas rata-rata penguasaan semua anggota kelompok secara individual inilah yang dimaksud dengan akuntabilitas individual. d. Keterampilan menjalin hubungan antar pribadi Dalam pembelajaran kooperatif keterampilan sosial seperti tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman, mengkritik ide dan bukan mengkritik teman, berani mempertahankan pikiran logis, tidak mendominasi orang lain, mandiri, dan berbagai sifat lain yang bermanfaat dalam menjalin hubungan antar pribadi (interpersonal relationship) tidak hanya diasumsikan tetapi secara sengaja diajarkan. ”Pembelajaran kooperatif adalah suatu pendekatan dalam

pembelajaran melalui pembentukan kelompok-kelompok kecil yang sesungguhnya” (Pujawan, 2000 : 15). Umumnya belajar secara kooperatif kelompok kecil yang terdiri dari 4–5 orang siswa agar siswa dapat belajar secara kolaboratif dengan memaksimalkan produktivitas dan prestasi belajar mereka baik secara individual maupun secara kelompok (Suryanti, 1998 : 30). Hasil penelitian Slavin dalam Pujawan ( 2000 : 15) menyatakan bahwa ”Efek pendekatan kooperatif dalam pembelajaran sangat positif 16

dalam meningkatkan hasil belajar”. Dalam pembelajaran dengan pendekatan kooperatif, siswa memperoleh dua macam tanggung jawab. Pertama, semua siswa terlibat dalam mempelajari dan menyelesaikan tugas-tugas yang dibebankan. Kedua, meyakini bahwa semua siswa dalam kelompok mengerti dan memahami tentang tugas yagn dibebankan kepadanya. Beberapa keuntungan dalam pembelajaran kooperatif antara lain, seperti yang diungkapkan Muslimin (2000 : 18) yaitu : 1. Siswa berkerjasama dalam mencapai tujuan dengan menjunjung tinggi norma-norma kelompok. 2. Siswa aktif membantu dan mendorong semangat untuk samasama berhasil. 3. Aktif berperan sebagai tutor sebaya untuk lebih meningkatkan keberhasilan kelompok. 4. Interaksi antar siswa seiring peningkatan kemampuan mereka dalam berpendapat. Roestiyah (2001: 15) mengemukakan beberapa kelemahan belajar kooperatif antara lain : a. Kerja kolompok sering hanya melibatkan siswa yang mampu sebab mereka cakap memimpin temannya yang kurang dalam belajar. b. Strategi ini kadang-kadang menuntut pengaturan tempat duduk yang berbeda dan gaya mengajar yang berbeda pula 4. Tutor sebaya Pada dasarnya guru harus memiliki metode yang paling sesuai dengan keadaan siswa. Tetapi tidak hanya metode yang dilihat tetapi bagaimana proses pembelajaran yang akan mendukung penerapan suatu metode 17

mengajar. Seperti yang sering terlihat dalam proses pembelajaran secara umum, penggunaan suatu metode mengajar oleh guru terkadang akan menyebabkan siswa aktif bahkan juga tidak. Namun demikian adakalanya seorang siswa lebih mudah untuk menerima bantuan pengajaran dari teman-temannya dari pada bantuan dari gurunya. Hal ini disebabkan karena biasanya antar teman tidak memiliki rasa enggan , rendah diri dan sebagainya lebih-lebih teman akrabnya untuk bertanya dan meminta bantuan . Untuk itulah maka guru dapat memilih tutor sebaya, yakni para siswa yang menemukan kesulitan belajar diberikan bantuan perbaikan oleh teman-teman mereka sekolah (Ischak dan Warji, 1982 : 45). Dalam kamus besar bahas Indonesia, tutor diartikan sebagai orang yang memberi pelajaran (membimbing) kepada seseorang atau sejumlah kecil siswa di rumah (bukan di sekolah) sedangkan sebaya adalah seumur atau sama-sama tua (Depdikbud, 2002 : 984). Tutor sebaya adalah seseorang atau beberapa orang siswa yang ditunjuk dan ditugaskan untuk membantu siswa tertentu yang mengalami kesulitan belajar (Depdikbud, 1985 : 88). Ahli yang lain mengatakan bahwa ”para siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami bahan yang dipelajarinya mendapat bantuan dari teman sekelasnya sendiri yang telah tuntas terhadap bahan tersebut (Ischak dan Warji, 1982 : 44). Kegiatan tutor sebaya biasanya dilaksanakan dalam bentuk

kelompok. Pengelompokan siswa dianggap sebagai cara ideal bagi 18

pelaksanaan metode tutor sebaya, karena pengaturan kondisi belajar dapat berlangsung fleksibel, dimana tutor dapat menyesuaikan diri sepenuhnya dengan kondisi temannya (Winkel, 1996 : 291). Selanjutnya Winkel (1996 : 292) mengatakan bahwa tutor dapat diambil dari seorang siswa, dengan maksud mendampingi teman atau beberapa orang teman dalam mengejar ketinggalan atau kesulitan tertentu. Untuk menjadi tutor sebaya yang baik diperlukan penguasaan bahan pelajaran yang memadai dan kemampuan serta keterampilan untuk memberikan pelajaran kepada sesama temannya. Siswa yang dipilih sebagai tutor adalah siswa yang telah tuntas terhadap pelajaran yang ditutorkan atau memiliki kemampuan lebih dari pada temannya, dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut : a) b) c) d) e) Memiliki hubungan emosional yang baik, bersahabat dan menunjang situasi tutoring Diterima oleh siswa yang akan ditutor Menguasai Bahan yang akan ditutorkan Mampu menyampaikan bahan perbaikan yang dibutuhkan oleh siswa yang menerima bantuan. Mempunyai daya kreatifitas yang cukup untuk dapat membantu bimbingan dan bantuan (Ischak dan Warji, 1982 : 45) Adapun kelebihan pengajaran dengan menerapkan metode tutor sebaya sebagai berikut : a) Pengajaran metode tutor dapat menjadi alat bantu untuk menimbulkan motivasi dan pengajaran yang bermutu. Artinya bahwa dengan bantuan tutor yang merupakn teman mereka sendiri maka rasa canggung dan ragu untuk bertanya sirna, terlebih lagi tutor yang dipilih adalah siswa yang memiliki kemampuan lebih dibandingkan teman yang ditutorkan. b) Metode tutor merupakan kegiatan yang kaya akan pengalaman yang justeru sebenarnya merupakan kebutuhan anak itu sendiri. Karena bagaimanapun, selama ini kegiatan pembelajaran yang menjadi pusat 19

pembelajaran adalah guru dan siswa hanya menerima materi , mencatat dan masih ada yang kebingungan. Sehingga tutor sebaya bisa menjadi alternatif untuk menghilangkan perasaan malu untuk bertanya sehingga lebih dirasakan manfaatnya bahwa mereka membutuhkan tutor atau pembimbing yang bisa mereka contoh dan ikuti sebagai teman sebaya. c) Tutor dengan rekan mereka dapat mewujudkan apa yang terpendam di dalam hatinya dan khayalannya. Artinya bahwa siswa akan lebih mudah mengungkapkan apa yang menjadi masalah bagi mereka kepada teman sekelas mereka, atau juga menyampaikan ide yang bermunculan di benak mereka masing-masing. (Muntasir, 1985 : 83) Perlu diketahui juga bahwa keberadaan tutor bukan sebagai tenaga pengajar dalam kegiatan belajar mengajar tetapi hanya sebagai pemimpin teman atau adik kelas, agar mereka terlepas dari kesulitan memahami bahan pelajaran, sehingga mereka mampu meningkatkan prestasi belajar.

Sedangkan guru hanya sebagai fasilitator dan melihat kondisi kelas ketika kegiatan belajar ini dilaksanakan (Arikunto, 1988 : 126)

Memperhatikan uraian di atas tentang tutor sebaya dapat penulis simpulkan bahwa yang dimaksud dengan tutor sebaya dalam penelitian ini adalah seseorang atau beberapa orang siswa yang berprestasi dan menguasai pelajaran yang ditunjuk dan ditugaskan untuk memberikan bantuan kepada teman sekelasnya yang mengalami kesulitan belajar. Pembelajaran kooperatif berbasis tutor sebaya merupakan model pembelajaran yang sebenarnya tidak asing bagi pelaku pendidikan, terutama guru kelas yang telah banyak berinteraksi dengan siswa. Penerapannya pun secara tidak langsung sudah dilaksanakan, misalnya dengan membentuk beberapa kelompok dalam pembelajaran, meminta mereka mengerjakan tugas

20

secara kelompok dan memberikan kesempatan kepada setiap kelompok untuk mempresentasikan hasilnya. Penerapan model pembelajaran kooperatif berbasis tutor sebaya sebenarnya adalah pembelajaran yang melibatkan siswa sebagai pembimbing teman atau rekan sekelas mereka. Seperti telah dikemukakan pada uraian teori di atas bahwa tutor sebaya dirasakan sangat efektif dalam pembelajaran, karena siswa akan senang dan tidak canggung jika yang harus mengajarkan atau membimbing mereka adalah teman sekelasnya. Dilihat dari keuntungan yang diperoleh dalam pembelajaran kooperatif yaitu agar siswa aktif membimbing dan memotivasi rekan kelasnya yang sejalan dengan kelebihan dalam menerapkan metode tutor sebaya yaitu untuk menimbulkan motivasi dan pengajaran yang bermutu, yaitu agar adanya perubahan tingkah laku dalam hal ini adalah prestasi belajar yang meningkat dalam diri siswa secara merata. Untuk itulah pembelajaran kooperatif berbasis tutor sebaya ini diterapkan untuk mengoptimalkan bimbingan teman sebaya, dengan bimbingan guru mata pelajaran yang bersangkutan sebagai media penyelaras jika nantinya ada kesulitan yang dihadapi oleh tutor maupun oleh siswa / peserta didik secara umum dalam upaya peningkatan prestasi belajar siswa. Tabel 2 : Tahap-tahap pembelajaran kooperatif berbasis tutor sebaya Fase ke1 Indikator Menyampaikan pembelajaran dan siswa Perilaku Guru tujuan Guru menyampaikan tujuan memotivasi pembelajaran pelajaran dan memotivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran. 21

2

Menyajikan informasi

Guru mempresentasikan materi kepada siswa baik dengan demonstrasi dan teks.

3

Mengorganisasikan siswa dalam Guru menjelaskan kepada siswa kelompok-kelompok belajar bagaimana membentuk dengan satu orang tutor kelompok belajar dan kerjasama kelompok serta menjelaskan fungsi tutor dalam pembelajaran Membimbing kelompok bekerja Guru membimbing kelompok dan belajar pada saat tutor mengalami kesulitan dalam membimbing rekan-rekannya Evaluasi Guru memberikan umpan balik/evaluasi materi pelajaran secara kelompok dengan bimbingan tutor dan dipresentasikan hasil pekerjaannya. Guru memberikan penghargaan kepada tiap-tiap kelompok.

4

5

6

Memberikan penghargaan

B.

Kerangka Berfikir Keberagaman siswa dilihat dari varian yang ada antara lain prestasi belajar siswa yang kurang, latar belakang siswa, dan lain-lain di SMP Negeri 3 secara umum mempengaruhi kegiatan pembelajaran. Selain itu kegiatan pembelajaran yang klasikal dan monoton dari guru, juga mempengaruhi kegiatan belajar siswa. Sehingga siswa kesulitan dalam mengungkapkan ide dan permasalahan mereka dalam belajar. Hal ini juga menyebabkan guru kesulitan dalam menangkap kemampuan verbal siswa, karena pada saat guru memberikan kesempatan untuk bertanya, siswa tidak menanggapi bahkan mereka cenderung ’ribut’ bertanya kepada teman / rekan. 22

Seperti yang telah dikemukakan dalam uraian teori bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah faktor internal, faktor eksternal, dan faktor teknik dan pendekatan belajar. Agar proses belajar berjalan dengan lancar dan hasilnya baik maka harus ditunjang oleh teknik dan pendekatan belajar yang baik pula. Hal ini berkaitan dengan pemilihan model pembelajaran yang tepat, karena baik buruknya kegiatan pembelajaran siswa sangat dipengaruhi oleh model pembelajaran yang digunakan oleh guru (Sudjana 1989 : 73) Dalam proses pembelajaran Matematika diperlukan pengetahuan dan pemahaman yang baik dari guru tentang matematika sebagai suatu wahana pendidikan, sehingga proses pembelajaran berjalan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam pelajaran matematika khususnya pokok bahasan Sistem Persamaan Linear dua variabel dan untuk mengaktifkan siswa dalam pembelajaran, perlu dilakukan proses pembelajaran yang lebih baik dengan memperhatikan perkembangan dan keragaman peserta didik dalam belajar dan dengan menggunakan metode yang tepat. Guru sebagai pusat pembelajaran perlu memahami kondisi siswanya, apa yang mereka butuhkan dan metode apa yang harus diterapkan dalam pembelajaran, karena dalam kegiatan pembelajaran di SMP Negeri 3 Mataram ternyata terdapat beberapa siswa yang cepat menyerap pelajaran dan agak lambat dalam memahami materi, dan siswa yang cepat memahami materi biasanya menjadi tempat / sumber rekan kelasnya bertanya untuk memahami 23

materi. Sehingga seperti yang telah diungkapkan di atas, pembelajaran yang klasikal dan monopoli guru kurang mendapat perhatian siswa. Bahkan pada saat diberikan kesempatan bertanya kepada gurunya, banyak siswa yang tidak memperhatikan, dan tidak sedikit juga dari mereka yang berdiskusi dan bertanya pada temannya. Melihat potensi siswa yang demikian itu, maka guru harus menerapkan metode yang tepat dalam menyikapi hal tersebut. Potensi siswa yang sering bertanya kepada temannya dan ragu bertanya kepada guru bisa dijadikan modal awal untuk memajukan siswa dari segi kerja sama, motivasi dan kedekatan hubungan antar siswa demi peningkatan prestasi belajar siswa. Pembelajaran kooperatif yang memiliki keuntungan antara lain : pertama, siswa berkerjasama dalam mencapai tujuan dengan menjunjung tinggi norma-norma kelompok, kedua siswa aktif membantu dan mendorong semangat untuk sama-sama berhasil, ketiga siswa aktif berperan sebagai tutor sebaya untuk lebih meningkatkan keberhasilan kelompok, dan keempat adanya interaksi antar siswa seiring peningkatan kemampuan mereka dalam berpendapat. Sehingga dari kelebihan atau keuntungan pembelajaran kooperatif tersebut diharapkan bisa menjadi salah satu metode dalam peningkatan prestasi belajar siswa dengan memanfaatkan potensi beberapa siswa sebagai basis pembelajaran, yaitu tutor sebaya. Metode pembelajaran kooperatif berbasis tutor sebaya merupakan salah satu metode yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat langsung mengelolah informasi dan berinteraksi dan saling memberikan 24

pemahaman, untuk memunculkan strategi pemecahan masalah yang efektif, yang mana tutor sebagai basis pembelajaran. Tujuannya adalah

memaksimalkan proses bimbingan dan pemberian bantuan terhadap siswa untuk menciptakan situasi belajar yang kondusif dan diperolehnya keberhasilan belajar dalam tataran individu maupun kelompok. Oleh karena itu untuk mencapai keberhasilan belajar dan meminimalisir permasalahan dalam belajar dengan melihat kenyataan bahwa beberapa siswa di SMP Negeri 3 juga berprestasi yang menjadi pusat pembelajaran dan memiliki potensi dalam menjalin hubungan, maka perlu kiranya kegiatan pembelajaran kooperatif dengan tutuor sebaya diterapkan, artinya tutor sebaya pada tiap kelompok nantinya berusaha memberikan bimbingan optimal dan mendorong teman sekelas ataupun kelompoknya untuk mencapai upaya maksimum. Terutama pada pokok bahasan yang memerlukan perhatian lebih dalam, dan siswa yang dijadikan tutor tidak terlalu sulit untuk menjelaskan kepada teman sekelasnya. Pokok bahasan sistem persamaan linear dua variabel, merupakan salah satu pokok bahasan yang tidak terlalu sulit untuk dipelajari karena masih berkaitan erat dengan pokok bahasan yang sudah ditempuh oleh siswa sebelumnya, yaitu bentuk aljabar dan sistem persamaan linear satu variabel. Sehingga dengan penjelasan dan bimbingan oleh rekan kelas dalam hal ini tutor sebaya lebih mudah dilaksanakan. Walaupun ada bagian-bagian yang perlu perhatian mendalam dalam penyampaiannya, misalnya dalam hal

25

pemodelan matematis dan menerjemahkan soal cerita, maka diperlukan arahan dan penjelasan dari guru. Berdasarkan penjelasan di atas maka pembelajaran kooperatif berbasis tutor sebaya dianggap perlu untuk membantu dalam rangka memahami

konsep atau materi pelajaran demi meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas II-4 SMP Negeri 3 Mataram pada pokok bahasan sistem persamaan linear dua variabel dua variabel. C. Hipotesis Penelitian Hipotesis dalam penelitian ini adalah jika pembelajaran kooperatif berbasis tutor sebaya diterapkan pada kegiatan pembelajaran, terdapat peningkatan prestasi belajar siswa di kelas II-4 semester 1 SMP Negeri 3 Mataram. pokok bahasan Sistem Persamaan Linear dua variabel

26

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas. Yakni penelitian yang menekankan pada kegiatan atau tindakan yang

mengujicobakan suatu ide ke dalam praktek atau situasi yang nyata dalam skala mikro, yang diharapkan kegiatan tersebut mampu memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses belajar megajar. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada pokok bahasan Sistem Persamaan Linear dua variabel dengan menerapkan pembelajaran kooperatif berbasis tutor sebaya. B. Tempat dan subyek penelitan Penelitian ini akan dilaksanakan di SMP Negeri 3 Mataram. Dengan subyek penelitian adalah siswa kelas II-4 semester I tahun pelajaran 2006/2007, dengan jumlah siswa 32 orang (19 orang Laki-laki dan 13 orang Perempuan). C. Faktor yang diamati Ada beberapa faktor yang diselidiki dalam penelitian ini, yaitu : 1. Faktor siswa, yang diamati adalah peningkatan

prestasi belajar siswa pada pokok bahasan Sistem Persamaan Linear dua variabel melalui penerapan model pembelajaran kooperatif berbasis tutor sebaya.

27

2.

Faktor guru yang diamati adalah kegiatan guru

selama pembelajaran berlangsung melalui penerapan pembelajaran kooperatif berbasis tutor sebaya. 3. Faktor proses kegiatan belajar mengajar yang

diselidiki adalah pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas. Maksudnya adalah apakah pembelajarannya sudah sesuai dengan skenario

pembelajaran yang dibuat. D. Prosedur Penelitian Prosedur penelitian tindakan kelas ini pertama kali yang dilakukan adalah melakukan identifikasi permasalahan yaitu tentang prestasi belajar siswa yang diperoleh dari hasil wawancara dengan guru mata pelajaran Matematika SMPN 3 Mataram. Dari wawancara awal diperoleh keterangan bahwa pada proses pembelajaran sebenarnya guru sudah pernah menerapkan pembelajaran kelompok dalam kegiatan belajar, tetapi belum maksimal karena peran siswa dalam kegiatan belajar mengajar sangat kurang, terutama dari interaksi siswa dengan guru. Dilihat dari ragu-ragunya siswa dalam mengungkapkan kesulitan-kesulitan belajar mereka, walaupun guru telah memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan kesulitan atau permasalahan yang dihadapi selama pembelajaran. Berdasarkan kenyataan di atas, maka peneliti mencoba menerapkan model pembelajaran kooperatif berbasis tutor sebaya pada pokok bahasan sistem persamaan linier dua variabel. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dengan alokasi waktu delapan pertemuan (16 jam pelajaran). Setiap siklus dilaksanakan sesuai perubahan 28

yang dicapai. Untuk materi pada pokok bahasan Sistem Persamaan Linear dua variabel meliputi 3 sub pokok bahasan dengan alokasi (pertemuan) sebagai berikut : Table 3 : Alokasi waktu untuk tiap-tiap sub pokok bahasan pada pokok bahasan Sistem Persamaan Linear dua variabel. No Sub Pokok Bahasan 1 Persamaan Linear dengan dua Variabel 2 3 Sistem Persamaan Linear dengan dua Variabel Menyelesaikan Soal Cerita yang Berkaitan dengan Sistem Persamaan Linear Jumlah 2 8 Banyak Pertemuan 3 3

Melihat ada tiga kompetensi dasar dalam pokok bahasan ini, dan alokasi yang tersedia hanya 16 jam pelajaran, dua kali pertemuan pertama masingmasing dua jam pelajaran dan satu jam untuk pertemuan ketiga, penelitian tindakan kelas ini akan dilaksanakan dalam tiga siklus. Setiap siklus memuat satu kompetensi dasar. Materi yang akan dibahas untuk masing-masing siklus adalah sebagai beriktut : Siklus I : Persamaan Linear dengan dua Variabel ,

Siklus II : Sistem Persamaan Linear dengan dua Variabel dan, Siklus III : Menyelesaikan Soal Cerita yang Berkaitan dengan Sistem Persamaan Linear dua variabel Dari masing-masing siklus tersebut, dilakukan tahapan-tahapan sebagai berikut : 1. Tahap perencanaan tindakan Dalam tahap perencanaan dilakukan kegiatan sebagai berikut :

29

a. Pada pertemuan perdana peneliti mensosialisasikan pembelajaran kooperatif berbasis tutor sebaya kepada guru matematika dan mengkoordinasikannya. b. Menyiapkan Rencana Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif berbasis tutor sebaya. c. Menyiapkan lembar Observasi, untuk melihat bagaimana kegiatan guru dan siswa selama proses belajar mengajar. d. Menyiapkan LKS e. Menyiapkan soal tes hasil belajar dan pedoman penskorannya. f. Mendiskusikan perangkat pembelajaran dengan guru matematika 2. Tahap pelaksanaan tindakan Yang dilaksanakan pada tahap ini adalah melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas sesuai dengan rencana yang telah dituangkan dalam skenario pembelajaran. Tahap pelaksanaan tindakan ini akan dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu : a. Pendahuluan Hal-hal yang diperhatikan oleh guru pada tahap ini adalah : 1) Mensosialisasikan kepada siswa tentang model

pembelajaran kooperatif berbasis tutor sebaya. Agar siswa cepat memahami. 2) Guru membentuk kelompok, yang beranggotakan 4 - 5

siswa yang memiliki kemampuan heterogen, serta jenis kelamin yang berbeda dengan satu orang tutor. 30

3)

Memotivasi

siswa

dengan

menyampaikan

tujuan

pembelajaran yang hendak dicapai . 4) Memberikan apersepsi/ pengetahuan awal, mengajukan

pertanyaan-pertanyaan dan membahas soal-soal sebagai gambaran tentang pengetahuan awal yang diberikan. b. Kegiatan Inti, yaitu : 1) Pembahasan teori Pada tahap ini digunakan beberapa petunjuk sebagai berikut : a) Menyampaikan bagian-bagian /pokok utama materi

secara umum. b) Mengajukan siswa, pertanyaan khususnya kepada siswa untuk

mengaktifkan

pertanyaan

mengenai

pengetahuan pendahuluan dengan mengingat kaitannya dengan teori yang akan dibahas. c) Setelah guru menyampaikan materi secara umum,

guru meminta siswa untuk mengerjakan LKS yang sudah dibagikan dengan bantuan tutor, dan mendiskusikannya dengan bantuan tutor sebelum bertanya kepada guru. Pada saat tutor kesulitan dalam membimbing temannya maka guru

mengarahkan. Guru juga menekankan hasil diskusi kelompok akan dipresentasikan. 2) Memberikan umpan balik dan latihan soal Pada tahap ini perlu dilakukan adalah : 31

a)

Membahas contoh soal yang representatif dan

berkaitan jelas dengan materi. Kemudian meminta tutor untuk menjelaskan kepada rekan-rekannya. b) Siswa diminta maju ke depan untuk mengerjakan

soal, yang bertujuan untuk mengetahui kesulitan-kesulitan yang dirasakan siswa maupun tutor. Kemudian guru

mengarahkan atau membimbing siswa agar siswa memiliki persepsi yang sama tentang jawaban dari soal maupun LKS yang dikerjakan . c) Meminta siswa secara individu tanpa bantuan tutor

mengerjakan soal-soal latihan dari guru. d) kelompok. c. Penutup Dalam mengakhiri pembelajaran guru harus memberikan kata penutup. Kata penutup tersebut terdiri dari ringkasan materi yang telah diberikan, tinjauan kembali tujuan pembelajaran dan rekomendasi untuk pembelajaran berikutnya. Selanjutanya memberikan uraian mengenai tugas yang harus dikerjakan oleh siswa di rumah. 3. Observasi. Pada tahap ini dilakukan observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah disediakan, di mana pada tahap ini peneliti dan siswa diobservasi oleh orang lain yang telah 32 Memberikan reward atau penghargaan bagi setiap

ditetapkan dan Guru bidang studi dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Apakah pembelajaran sudah sesuai dengan skenario yang telah dibuat. 4. Evaluasi Pada tahap ini dilakukan evaluasi hasil tes yang diberikan setelah proses belajar mengajar berlangsung. Kemudian memeriksa dan

menganilisis hasil tes tersebut. 5. Refleksi Refleksi dilakukan pada akhir siklus. Pada tahap ini, peneliti bersama guru mengkaji pelaksanaan dan hasil belajar yang diperoleh dalam pemberian tindakan tiap siklus. Refleksi dilakukan dari data kualitatif dan data kuantitatif sebagai dasar untuk memperbaiki serta menyempurnakan perencanaan tindakan pada siklus berikutnya. E. Indikator Kerja Yang menjadi indikator keberhasilan penelitian ini adalah : 1. Tercapainya Standar Ketuntasan Belajar Mengajar (SKBM) di SMP Negeri 3 Mataram dengan skor minimal 55 2. F. Aktivitas siswa minimal berkategori aktif. Instrumen Penelitian Dalam penelitian data-data penelitian diambil dengan menggunakan dua instrumen penelitian : 1. Lembar Observasi

33

Untuk mengetahui aktivitas belajar siswa dalam proses belajar mengajar digunakan beberapa indikator, sebagai berikut : a. b. c. d. e. f. g. Kesiapan siswa dalam menerima materi pembelajaran Interaksi siswa dengan tutor dalam diskusi kelompok Interaksi siswa dengan guru Antusiasme siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar Aktivitas tutor Kerja Kelompok Partisipasi siswa dalam menyimpulkan hasil belajar Untuk mengetahui aktivitas guru dalam proses belajar mengajar digunakan beberapa indikator, sebagai berikut : a. Pemberian Motivasi dan Apersepsi b. Komunikasi dengan tutor c. Penyampaian materi pembelajaran d. Bimbingan dan pengarahan dalam penyelesaian soal e. Perhatian guru selama proses belajar mengajar f. Kemampuan guru dalam mengelola kelas g. Kemampuan guru dalam memberi penguatan materi 2. Lembar Kerja Siswa Untuk mengoptimalkan kerja kooperatif dalam kelompok dengan tutor sebagai pusat pembelajaran, maka setiap siklus masing-maisng kelompok dibagikan LKS, satu orang memegang satu LKS sebagai pegangan.

34

Adapun materi yang dicantumkan adalah disesuaikan dengan Skenario Pembelajaran dan melihat efektivitas alokasi waktu.

3.

Tes hasil belajar Untuk mengetahui hasil belajar siswa dapat digunakan instrumen berupa tes. Jenis soal tes yang digunakan adalah dalam bentuk essay, ini dibuat untuk mengetahui sejauh mana tingkat kemampuan siswa dalam memahami materi yang telah diajarkan. Tes ini cocok untuk mengukur atau menilai hasil dari suatu proses belajar yang komplek dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyusun jawaban sesuai dengan jalan pikirannya sendiri (Nurkancana, 1983: 42). Jumlah soal dalam tes essay ini disesuaikan dengan indikator hasil belajar, dan waktu yang dialokasikan.

G.

Teknik Pengumpulan Data Untuk mendapatkan data sebagai bahan analisis adalah dengan

mengambil data kuantitatif (prestasi belajar siswa) dan kualitatif (kegiatan belajar mengajar). Data kuantitatif diperoleh dengan tes, sedangkan data kualitatif diperoleh dari lembar observasi guru dan siswa. H. Teknik Analisis Data

1. Data kuantitatif Untuk mengetahui prestasi belajar siswa, hasil tes belajar dianalisis secara deskriftif yaitu dengan menentukan nilai rata-rata hasil tes. Analisis untuk mengetahui prestasi belajar, dirumuskan sebagai berikut : 35

x=

∑x
i =1

n

i

n

Keterangan :
x

= mean (nilai rata-rata hasil tes)

x = nilai yang diperoleh dari masing-masing siswa n = banyak siswa Prestasi belajar siswa dikatakan meningkat apabila terdapat

peningkatan rata-rata nilai dari rata-rata nilai sebelumnya, dan memenuhi indikator kerja yang telah ditetapkan. 2. Data Kualitatif a. Data aktivitas siswa di analisis dengan cara berikut : 1) Menentukan rata-rata skor akivitas belajar siswa dengan

menggunakan rumus sebagai berikut: A=

∑T
n

Keterangan: A ∑T n = rata-rata skor aktivitas belajar siswa = total skor aktivitas belajar seluruh siswa = banyak siswa

2) Data tentang aktivitas belajar siswa dianalisis secara deskriptif kualitatif. Indikator tentang aktivitas belajar siswa yang diamati adalah sebanyak 7 indikator. Setiap indikator memiliki 4 deskriptor. skor 5 diberikan jika semua deskriptor nampak, skor 4 36

diberikan jika 3 deskriptor nampak, skor 3 diberikan jika

2

deskriptor nampak, skor 2 diberikan jika 1 deskriptor nampak, dan skor 1 diberikan jika 0 deskriptor nampak. 3) Analisis data aktivitas belajar siswa menggunakan Mi (mean ideal) dan SDi (standar deviasi ideal). Mi = ½ x (skor max + skor min) = ½ x (35 + 7) = 21 SDi = 1 6 x (skor max - skor min) = 1 6 x (35 – 7) = 4,67 Berdasarkan skor standar maka kriteria untuk menentukan aktivitas siswa dijabarkan pada tabel berikut ini (Nurkancana, 1983: 101) Tabel 4 : Kriteria untuk menentukan aktivitas belajar siswa berdasarkan skor standar Interval Mi+1,5 SDI ≤ A ≤ Mi+3 SDI Mi+0,5 SDI ≤ A <Mi+1,5 SDI Mi-0,5 SDI ≤ A <Mi+0,5 SDI Mi-1,5 SDI ≤ A <Mi- 0,5 SDI Mi- 3 SDI ≤ A <Mi- 1,5 SDI Interval Skor 28,00 ≤ A ≤ 35,00 23,33 ≤ A <28,00 18,67 ≤ A <23,33 14,00 ≤ A < 18,67 7,00 ≤ A < 14,00 Kategori Sangat Aktif Aktif Cukup Aktif Kurang Aktif Sangat Kurang Aktif

Aktivitas belajar siswa dikatakan meningkat apabila terdapat peningkatan rata-rata skor dari rata-rata skor sebelumnya. b. Data Aktivitas Guru

37

Setiap indikator perilaku guru pada penilaiannya mengikuti aturan berkut : BS (Baik Sekali) diskor 4, jika semua deskriptor yang nampak B (Baik) diskor 3, jika ada 3 deskriptor yang nampak C (Cukup) diskor 2, jika ada 2 deskriptor yang nampak K (Kurang) diskor 1, jika tidak ada deskriptor yang nampak., nilai 1 Menentukan MI dan SDI Mi = ½ x (skor max ideal) =½x4 =2 SDi = 1 3 x MI = 13 x 2 = 0,67 Berdasarkan skor standar dapat dibuat kriteria untuk menentukan aktivitas guru yang dijabarkan pada tabel berikut (Nurkencana, 1983 : 80) : Tabel 5. Pedoman pembelajaran. Skor S >3 2,33 < S ≤ 3 1,67 < S ≤ 2,33 S≤1 skor standar aktivitas Kategori Sangat Baik Baik Cukup Kurang guru dalam

38

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.

Hasil Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam tiga siklus. Subyek

penelitiannya adalah siswa kelas II-4 SMP Negeri 3 Mataram dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif berbasis tutor sebaya.

Berdasarkan prosedur penelitian tindakan kelas masing-masing siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan evaluasi serta refleksi setiap akhir siklus. 1. Hasil Penelitian Siklus I Proses pembelajaran siklus I berlangsung dalam tiga kali pertemuan, pertemuan pertama dan kedua masing-maing 2 x 40 menit dan pertemuan ketiga untuk evaluasi 1 x 40 menit. Adapun kompetensi dasar yang diajarkan pada penelitan ini adalah Menyelesaikan Sistem Persamaan Linear dua variabel (SPLDV). Kegiatan pembelajaran pada siklus I terdiri dari : a. Tahap perencanaan tindakan Dalam tahap perencanaan yang dilakukan guru (peneliti) adalah sebagai berikut : 1) Membuat Outline pembelajaran

siklus I, yang berisi kegiatan pembelajaran secara umum dan ringkasan materi ajar (Lampiran 1) 39

2)

Menyiapkan Rencana Pembelajaran

dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif berbasis tutor sebaya (Lampiran 2 dan Lampiran 4) 3) 3 dan Lampiran 5) 4) Menyiapkan soal Evaluasi Siklus I Menyiapkan LKS Siklus I (Lampiran

dan pedoman penskorannya (Lampiran 6 dan Lampiran 7). 5) Menyiapkan lembar Observasi, untuk

melihat bagaimana kegiatan guru dan siswa selama proses belajar mengajar (Lampiran 9 dan Lampiran 10) 6) Mendiskusikan perangkat

pembelajaran dengan guru matematika 7) Membentuk kelompok, yang

beranggotakan 4 - 5 siswa (dengan satu orang tutor) yang memiliki kemampuan heterogen dan jenis kelamin yang berbeda. Daftar Nama kelompok dapat dilihat pada lampiran 30. b. Tahap pelaksanaan tindakan Yang dilaksanakan pada tahap ini adalah melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas sesuai dengan rencana yang telah dituangkan dalam skenario pembelajaran. Pelaksanaan siklus I dapat dijelaskan sebagai berikut : 1) Pendahuluan

40

a) Mensosialisasikan kepada siswa tentang model pembelajaran kooperatif berbasis tutor sebaya. Respon siswa pada awal disampaikan model pembelajaran ini masih ada beberapa yang kurang mengerti tentang tutor sebaya dan tugasnya. Dan ada juga yang tidak senang dengan pembagian kelompok yang ditetapkan. Tetapi pada pertemuan kedua siswa sudah mulai beradaptasi dan bekerja kelompok dengan bantuan tutor sebaya, walaupun menurut pengamatan peneliti masih belum optimal, karena masih banyak siswa yang belum berinisiatif untuk mengerjakan tugas dari guru. b) Pada saat guru menyampaikan persepsi di awal pembelajaran ada sebagian siswa yang merespon dengan mengajukan pertanyaan tentang kesulitan mereka yaitu tentang bentuk aljabar dan persamaan garis lurus. 2) Kegiatan Inti, yaitu : Pada saat kerja kooperatif berlangsung, sebagian besar kelompok belum mengoptimalkan peran tutornya, dan langsung bertanya kepada guru (peneliti). Sehingga suasana kelas tidak kondusif, karena masih banyak siswa yang ribut bertanya. Kemudian guru menenangkan suasana kelas, dengan meminta semua kelompok mengumpulkan hasil diskusinya dan dipresentasikan, sementara itu kelompok yang lain mendengarkan hasil presentasi anggota kelompok yang ditunjuk. 41

Pada pertemuan pertama siswa masih banyak yang malu untuk maju ke depan untuk mempresentasikan kerjanya. Setelah guru memberikan umpan balik berupa latihan pada siklus I yang dikerjakan dengan bantuan tutor, kemudian meminta salah satu anggota kelompok yang ditunjuk untuk maju ke depan menuliskan hasilnya, maka keberanian siswa mulai muncul untuk

mengemukakan pendapatnya walaupun hanya sebagian kecil siswa. Pada akhir pembelajaran, saat guru memberikan PR, atau tugastugas yang harus dilaksanakan oleh siswa untuk mendukung pembelajaran berikutnya, siswa memberikan tanda pada soal yang harus dijawab dan mencatat apa yang harus mereka bawa. Karena situasinya adalah jam terakhir pelajaran dan akan segera pulang, ada juga di antara siswa yang tidak melaksanakan perintah guru. c. Observasi kegiatan belajar mengajar 1) Hasil observasi kegiatan guru Dari data observasi terhadap kegiatan guru pada siklus I dapat dilihat bahwa kegiatan yang dilakukan oleh guru selain sebagai penyampai materi, juga berperan dalam membimbing siswa dalam berdiskusi dengan rekannya, dan memberikan motivasi agar siswa tidak malu untuk menyampaikan kesulitan yang dihadapinya kepada tutor atau rekan sebayanya. Hal ini dilakukan agar siswa mampu menguasai materi dengan lebih baik, yang tidak menyimpang dari skenario yang telah 42

ditetapkan. Di sini juga dapat disampaikan bahwa guru sudah menguasai pembelajaran dengan optimal. Sedangkan kekurangan yang ditemukan dari hasil pengamatan atau lembar observasi yang dapat dilihat pada lampiran 9 adalah seabagai berikut : a) mengelolah kelas masih kurang, b) Masih kurangnya perhatian Kemampuan guru dalam

guru selama proses belajar mengajar, c) Penyampaian materi

pemebelajaran terutama dalam hal memberikan contoh soal dan penyelesaiannya masih kurang. d) Guru juga kurang

memberikan kesempatan kepada siswa selain tutor untuk bertanya. Selain kekurangan tersebut guru sudah cukup baik dalam pemberian motivasi dan apersepsi, komunikasi dengan tutor, bimbingan dan pengarahan dalam penyelesaian soal dan kemampuan guru dalam memberi penguatan materi. 2) Hasil observasi kegiatan siswa Dari analisis hasil observasi dapat diketahui pelaksanaan tindakan dari kegiatan siswa. Pada siklus I dapat dikatakan bahwa siswa masih kurang aktif walaupun dari observer dinyatakan bahwa aktivitas siswa dari segi kesiapan siswa dalam menerima materi 43

pelajaran, interakasi siswa dengan tutor dalam diskusi kelompok, interaksi siswa dengan guru, antusiasme dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar dan partisipasi siswa dalam menyimpulkan hasil belajar, sudah baik tapi sebenarnya dari peneliti (guru) sendiri dirasakan bahwa aktivitas siswa dalam diskusi kelompok dan partisipasinya dalam menyimpulkan hasil belajar masih kurang karena hanya diwakili oleh beberapa orang siswa saja, yang menjadi kekurangannya adalah : a) Aktivitas tutor belum

optimal karena anggota kelompok belum memaksimalkan fungsi tutor, dan b) Aktivitas siswa dalam

mengikuti pembelajaran masih kurang d. Hasil Evaluasi Evaluasi dilakukan setelah pertemuan ke II siklus I yaitu dengan memberikan tes dalam bentuk essai sebanyak 3 soal dalam waktu 40 menit, yang dilakukan pada akhir pembelajaran siklus I. Pada hasil evaluasi belajar siklus I diperoleh skor rata-rata siswa 43,6. Skor tersebut merupakan rata-rata nilai siswa dengan jumlah siswa 32 orang yang mengikuti evaluasi. Berdasarkan indikator keberhasilan penelitian yaitu tercapainya Standar Ketuntasan Belajar Mengajar (SKBM) dengan skor rata-rata minimal 55, maka dapat disimpulkan bahwa skor rata-rata

44

tersebut belum menunjukan keberhasilan dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.. Dilihat dari hasil evaluasi dan analisis setiap butir soal, siswa ratarata siswa mengalami kesulitan menyelesaiakan soal nomor 3. hal ini dapat dilihat hanya satu orang siswa yang mampu menjawab sempurna. Untuk soal nomor 1 dengan persentase 34,3% atau 11 orang siswa yang menjawab sempurna dan soal nomor 2 persentase siswa yang menjawab sempurna hanya 22% atau hanya 7 orang siswa. . Untuk lebih jelasnya tentang analisis nilai evaluasi siklus III dapat dilihat pada lampiran 8. Data selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4 berikut ini : Tabel 4 : Data hasil evaluasi siklus I Skor rata-rata Nilai tertinggi Nilai terendah Jumlah siswa yang ikut evaluasi Jumlah siswa yang nilainya ≥ skor rata-rata e. Refleksi Berdasarkan hasil analisis evaluasi dan observasi siklus I, dapat dikatakan bahwa hasil yang diperoleh belum memenuhi indikator kerja yang telah ditetapkan sebelumnya, yaitu minimal 65. Hal ini berarti penelitian dilanjutkan ke siklus berikutnya. Dari hasil yang diperoleh pada siklus I, masih banyak terdapat kekurangan-kekurangan yang akan diperbaiki pada siklus II di antaranya : 43,6 85 10 32 siswa 11 orang atau 34,4%

45

1)

Guru harus bisa menguasai dan

mengontrol kelas sepenuhnya, dengan jalan memberikan perhatian yang cukup terhadap kelompok ataupun siswa. 2) Lebih sering mendatangi tiap-tiap

kelompok dan memberikan motivasi agar lebih aktif dalam berdiskusi. 3) Memberikan motivasi kepada tutor

agar lebih optimal kerjanya, dengan menekankan agar siswa lebih banyak bertanya kepada tutor. Guru juga meberikan reward kepada tutor yang aktif memotivasi kelompoknya dalam berdiskusi. 4) Menyuruh siswa agar maju ke depan

untuk mengerjakan soal, terutama yang belum pernah maju. 5) Guru memberikan latihan soal untuk

dikerjakan oleh siswa agar optimalnya penguasaan siswa dalam belajar. Lebih jelasnya dapat dilihat pada Lampiran 31. 2. Hasil Penelitian Siklus II Materi yang dibahas pada siklus II adalah menyatakan pengertian sistem persamaan linear dua variabel (SPLDV) dan menentukan akar / himpunan penyelesaian SPLDV melalui metode grafik, substitusi, dan eliminiasi.. Proses belajar mengajar berlangsung 3 kali pertemuan masingmasing pertemuan pertama dan kedua 2 x 40 menit dan pertemuan ketiga untuk evaluasi 1 x 40 menit. 46

Pertemuan pertama dibahas tentang pengertian SPLDV dan cara menentukan akar / himpunan penyelesaian SPLDV dengan metode grafik. Pertemuan kedua dibahas cara menentukan akar SPLDV dengan dua metode terakhir (substitusi dan eliminasi). a. Tahap Perencanaan Siklus II

Kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan siklus II ini tidak berbeda dengan yang dilaksanakan pada siklus I, yaitu : 1) Siklus II (Lampiran 11) 2) Membuat Rencana pembelajaran Membuat Outline pembelajaran

Siklus II (Lampiran 12 dan Lampiran 14) 3) 4) Membuat LKS (Lampiran 13 dan 15) Menyiapkan soal Evaluasi siklus II

dan pedoman penskorannya (Lampiran 16 dan Lampiran 17). 5) Membuat lembar observasi

(Lampiran 19 dan Lampiran 20) b. Tahap pelaksanaan tindakan Pada siklus II dilaksanakan dengan menggunakan skenario pembelajaran yang telah direncanakan dan Outline yang telah dibuat dengan menggunakan pembelajaran kooperatif berbasis tutor sebaya. Pada siklus kedua pelaksanaan pembelajaran tidak jauh berbeda dengan pada siklus I, yang berbeda adalah adanya perbaikan dari kekurangan-

47

kekurangan yang muncul pada siklus I. pelaksanaan Siklus II dapat dijelaskan sebagai berikut : 1) Pendahuluan c) Pada saat guru meminta mengumpulkan PR ada beberapa siswa yang tidak mengumpulkan, maka guru meminta mereka untuk mengumpulkannya pada pertemuan berikutnya bersamaan dengan tugas atau PR yang akan diberikan kemudian. Jika tidak siswa tetap akan ikut pelajaran, tapi nilainya akan dikurangi. d) Pada saat guru memberikan apersepsi berupa pertanyaan seputar pelajaran sebelumnya, beberapa siswa menjawab pertanyaan guru dengan benar dan ada juga yang tidak memberikan respon sama sekali. 2) Kegiatan Inti, yaitu : Suasana kelas pada saat guru menyampaikan pokok materi pelajaran seluruh kelompok memperhatikan dengan seksama, walaupun masih ada siswa yang tidak respon dengan penyampaian guru. Agar semua aktif guru membagi LKS kepada tiap kelompok yang dikoordinir oleh tutor. Kemudian tiap kelompok mengerjakan LKSnya dengan berdiskusi dipimpin oleh tutor masing-masing. Selanjutnya salah satu kelompok maju untuk mempresentasikan hasil disukusinya, sementara itu kelompok yang lain mendengarkan hasil presentasi anggota kelompok yang ditunjuk, pada saat presentasi berlangsung sedikit sekali siswa yang memberikan tanggapan 48

ataupun memperbaiki kesalahan temannya, kebanyakan dari mereka memberikan tanggapan dengan bertanya kepada guru (peneliti), tentang kesulitan mereka. Pada pertemuan kedua siklus II ini, sebagian kelompok sudah aktif dalam kerja kooperatif. Hal ini dilihat baik pada saat mengerjakan LKS ataupun setelah guru memberikan umpan balik berupa latihan pada siklus II, sebagian siswa sudah aktif bertanya kepada tutor, walaupun dalam bagian tertentu mereka juga bertanya kepada guru, terutama saat tutor kesulitan membimbing atau mengarahkan untuk membuat kesimpulan di akhir pembelajaran. Kemudian guru memberikan reward kepada tiap kelompok berupa kartu sertifikat seperti pada siklus I, kemudian membacakan skor sementara yang diperoleh tiap kelompok salama proses pembelajaran berlangsung. Di akhir pertemuan setelah guru menyampaikan akan dilaksanakan evaluasi pada pertemuan selanjutnya, beberapa siswa ada yang senang dan ada juga yang tidak senang karena masih ada yang belum dimengerti. Siswa juga bertanya soalnya berapa dan bahannya dari mana. Akhirnya guru memberikan oleh-oleh berupa latihan soal kepada siswa, karena selama pembelajaran berlangsung guru sangat sedikit memberikan latihan soal yang menyebabkan kepahaman terhadap materi siswa masih kurang. c. Observasi kegiatan belajar mengajar 49

1)

Hasil Observasi kegiatan guru

Dari hasil observasi kegiatan pembelajaran dapat dilihat bahwa guru sudah melaksanakan : mengontrol siswa dengan cukup baik, memberikan motivasi, dan mengaktifkan tutor untuk lebih membantu rekannya, meminta salah satu siswa yang belum pernah maju agar berani untuk mengerjakan soal di papan tulis dengan bimbingan guru. Adapun kekurangan yang terdapat pada siklus II adalah sebagai berikut : 1) Guru masih kurang memberikan soal latihan yang berkaitan dengan materi sebelumnya. 2) Guru masih belum mampu mengaktifkan seluruh siswa untuk aktif dalam kerja kelompoknya masing-masing karena masih ada siswa yang hanya menunggu jawaban tutornya. 3) Guru juga kurang mampu dalam mengatur waktu secara proporsional.

2)

Hasil Observasi kegiatan siswa Dari hasil observasi, kekurangan pada siklus ini adalah

aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran. Di samping aktivitas tutor dalam kelompok dan kegiatan guru sudah baik dari siklus sebelumnya, terdapat beberapa aktivitas yang dapat ditingkatkan dengan pelaksanaan tindakan pada siklus II yaitu : 50

interaksi siswa dengan tutor dalam diskusi kelompok, interaksi siswa dengan guru. Adapun kekurangan pada kegiatan siswa yang di amati oleh peneliti maupun observer adalah : a) Terdapat anggota kelompok

yang kurang menguasai konsep sebelumnya pada pokok bahasan sebelumnya. b) Masih terdapat siswa yang

malu bertanya pada tutor, sehingga mereka cenderung menunggu jawaban dari tutor, bahkan ada yang tidak berani menegur jika ada kesalahan dari temannya. c) Hasil evaluasi yang masih

rendah dilihat dari rata-rata kelompok. d. Hasil Evaluasi Tes evaluasi siswa terdiri dari 3 soal. Setelah dilaksanakan evaluasi diperolah skor rata-rata siswa adalah 60,3. Berdasarkan indikator keberhasilan penelitian yaitu skor rata-rata siswa minimal bernilai 65,0. Dapat disimpulkan bahwa Skor tersebut belum memenuhi indikator tersebut. Artinya pembelajaran dilanjutkan ke siklus berikutnya dengan memperhatikan kekurangan yang ada pada siklus sebelumnya. Dilihat dari hasil evaluasi siswa rata-rata mengalami kesulitan dalam menyelesaiakan soal nomor 2 dengan presentase siswa yang menjawab sempurna hanya satu orang siswa. Untuk soal nomor 1 dan 3 persentase siswa yang menjawab sempurna masing-masing 51

berturut-turut adalah 37,5% dan 81%. . Untuk lebih jelasnya tentang analisis nilai evaluasi siklus II dapat dilihat pada lampiran 18. Hasil lengkapnya dapat dilihat pada tebel berikut ini : Tabel 5. : Data hasil evaluasi siklus II Skor rata-rata Nilai tertinggi Nilai terendah Jumlah siswa yang ikut evaluasi Jumlah siswa yang nilainya ≥ skor rata-rata e. Refleksi Berdasarkan hasil analisis evaluasi dan observasi siklus II, dapat diktakan bahwa hasil yang diperoleh belum memenuhi indikator kerja yang telah ditetapkan sebelumnya, yaitu minimal 65. Tetapi skor ratarata siswa meningkat, walaupun belum sampai 50% siswa yang mendapatkan nilai di atas rata-rata. Dari hasil observasi terdapat kekurangan yang perlu diperbaiki yaitu kurangnya pemahaman konsep siswa pada materi pokok bahasan sebelumnya, nilai rata-rata kelompok yang masih rendah, dan masih adanya rasa malu bertanya pada tutornya bahkan tidak berani menegur atau memberikan tanggapan jika ada kesalahan dari temannya. Oleh karena itu guru melakukan perbaikan dari kekurangan tersebut pada siklus III, yaitu : 1) menjelaskan kembali secara rinci 60,3 100 35 32 siswa 11 orang atau 37,5%

contoh soal yang berkaitan dengan materi sebelumnya. 2) Guru juga meberikan penjelasan akan

pentingnya kekompakan kerjasama kelompok, dan tidak malu 52

bertanya kepada tutor. Kemudian meminta tutor untuk lebih membimbing rekannya. 3) Memberikan motivasi kepada tiap-

tiap kelompok bahwa kelompok yang mendapatkan skor rata-rata yang tinggi akan mendapatkan reward / hadiah. Untuk jelasnya dapat dilihat Lampiran 32. 3. Hasil Penelitian Siklus III Pada siklus III ini materi yang disampaikan adalah tentang Menyelesaikan soal cerita yang berhubungan dengan SPLDV dengan jumlah 2 kali pertemuan (pertemuan pertama 2 x 40 menit dan pertemuan kedua 1 x 40 menit) a. Perencanaan Seperti pelaksanaan dua siklus sebelumnya, pada tahap perencanaan siklus III ini dilakukan adalah : 1) Siklus III (Lampiran 21) 2) siklus III (Lampiran 22) 3) 4) Membuat LKS (Lampiran 23) Menyiapkan soal evaluasi siklus III Membuat Rencana Pembelajaran Membuat Outline pembelajaran

dan pedoman penskorannya (Lampiran 24 dan Lampiran 25). 5) Membuat lembar observasi

(Lampiran 27 dan Lampiran 28) 53

b. Tahap pelaksanaan tindakan Pada tahap pelaksanaan ini yang dilakukan adalah melaksanakan skenario pembelajaran dan Outline pembelajaran siklus III, dengan melakukan perbaikan-perbaikan berdasarkan kekurangan yang muncul pada pembelajaran siklus II. Tahap pelaksanaan tindakan ini adalah sebagai berikut : 1) Pendahuluan Hal-hal yang diperhatikan oleh guru pada tahap ini adalah guru memberikan pengulangan sedikit tentang materi yang telah disampaikan pada siklus II terkati dengan materi menentukan penyelesaian SPLDV terutama metode untuk menentukan

penyelesaian SPLDV, dengan bertanya kepada siswa beberapa contoh soal. Beberapa siswa menjawab pertanyaan guru dengan benar dan ada juga yang tidak memberikan respon sama sekali. 2) Kegiatan Inti, yaitu : Suasana pembelajaran saat guru menyampaikan materi pokok tentang menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan SPLDV semua siswa mendengarkan dengan seksama. Untuk diketahui formasi kelompok tetap sama seperti di siklus I dan II. formasi ini sudah lebih baik dalam kerja kelompok, baik dalam diskusi kelompok maupun mengungkapkan kesulitannya kepada tutor. Pada siklus III ini banyak dari siswa yang kesulitan dalam membuat soal cerita menjadi kalimat matematis (modeling).. Di siklus III ini guru 54

lebih banyak memberikan perhatiannya kepada aktivitas tiap kelompok dan memberikan bimbingan, terutama memperbanyak soal-soal latihan. Sehingga selama proses siklus III pertemuan pertama seluruhnya diisi dengan pemberian umpan balik dengan latihan soal siklus III dan soal yang lain yang berhubungan dengan materi. Kondisi siswa pada siklus ini sudah antusias dalam

pembelajaran terutama dalam kerja kelompok tetapi mereka kesulitan jika diberikan soal yang rumit dan perintahnya bertingkat. Akhirnya setiap kelompok lebih banyak bertanya kepada guru. Agar suasana kelas lebih hidup guru memberikan sesuatu yang berbeda daripada siklus sebelumnya yaitu dengan memberikan yel-yel penyemangat. kemudian membacakan skor yang diperoleh tiap kelompok selama proses pembelajaran berlangsung. Terakhir guru menyampaikan bahwa untuk pertemuan selanjutnya akan dilaksanakan evaluasi dan meminta siswa untuk mempelajari LKS ataupun soal-soal yang telah diberikan. c. Observasi kegiatan belajar mengajar 1) Hasil Observasi kegiatan guru

Dari hasil observasi kegiatan mengajar guru, dapat dilihat bahwa dengan memperhatikan kekurangan pada siklus sebelumnya, kegiatan belajar mengajar sudah lebih baik walaupun masih ada siswa yang mengganggu temannya. Setidaknya kegiatan belajar 55

mengajar sudah lebih baik, di antaranya : pemberian motivasi dan apersepsi, komunikasi dengan tutor, penyampaian materi,

bimbingan dan pengarahan dalam penyelesaian soal dan mengatur waktu dengan baik. 2) Hasil Observasi kegiatan siswa Pada siklus III ini guru ada sedikit perubahan dalam pembelajaran, yaitu dengan memberikan yel-yel kelas sebagai penyemangat dan motivasi. kegiatan siswa dan pada siklus II dapat ditingkatkan pada siklus III, akan tetapi masih terdapat siswa yang masih kurang berpartisipasi dalam memperbaiki atau menambahkan kesimpulan dari temannya. d. Hasil Evaluasi Skor rata-rata yang diperoleh siswa pada evaluasi sisklus III adalah 67,7. Berdasarkan indikator keberhasilan penelitian dengan skor minimal 65, maka dapat disimpulkan penelitiannya berhasil. Melihat hasil evaluasi siklus III ini kebanyakan siswa sekitar 75% belum mampu menjawab soal nomor 3 dengan sempurna. Sedangkan soal nomor 1 dan nomor 2, lebih dari 50 % yang menjawab benar. Untuk lebih jelasnya tentang analisis nilai evaluasi siklus III dapat dilihat pada lampiran 26.

Tabel 6. : Data hasil evaluasi siklus III 56

Skor rata-rata Nilai tertinggi Nilai terendah Jumlah siswa yang ikut evaluasi Jumlah siswa yang nilainya ≥ skor rata-rata

67,7 100 30 32 siswa 16 orang atau 50%

Dari skor-rata nilai siswa pada siklus III terdapat peningkatan dari skor rata-rata siswa yang diperoleh pada siklus II yaitu dari 60,3 menjadi 67,7. dari tabel 6 di atas terlihat 50% siswa mendapat nilai di atas skor rata-rata. Walaupun demikian dilihat dari hasil evaluasi dan juga indikator keberhasilan yang telah ditetapkan ternyata 65,6% siswa memperoleh nilai ≥65, dan dari skor rata-rata siswa yang diperoleh menunjukan bahwa penelitian yang dilakukan berhasil karena indikator telah tercapai. B. Pembahasan Dari pelaksanaan pembelajaran dan hasil penelitian siklus I dengan menggunakan model kooperatif berbasis tutor sebaya diperoleh skor rata-rata siswa 43,6 , yang mengindikasikan bahwa pembelajaran pada siklus pertama perlu diperbaiki. Berdasarkan hasil refleksi, terdapat kekurangan yaitu masih banyak anggota kelompok yang kurang aktif dalam diskusi kelompok yang sejalan dengan kurang optimalnya fungsi tutor, hal ini terjadi karena terdapat anggota kelompok yang hanya mengandalkan jawaban dari tutor padahal sebelum pembelajaran telah dijelaskan tugas tutor. Akhirnya tutor yang aktif mengemukakan pendapat dan pertanyaan kepada guru sedangkan anggota kelompok belum memaksimalkan tutor sebagai pembimbing mereka. Hal ini juga pernah diungkapkan Roestiyah (2001 : 15) yang menyebutkan “salah 57

satu yang menjadi kelemahan dalam kerja kelompok adalah sering hanya melibatkan siswa yang mampu sebab mereka cakap dalam memimpin dan mengarahkan siswa yang kurang” .Tapi keadaan ini masih kurang dimanfaatkan oleh rekan kelompoknya. Rendahnya hasil yang diperoleh

siswa, lebih disebabkan karena kurangnya kepahaman siswa terhadap pokok bahasan prasyarat yaitu bentuk aljbar, persamaan linear satu variabel dan persamaan garis lurus. Selain itu juga siswa masih menyesuaikan diri dengan pola pembelajaran kooperatif berbasis tutor sebaya. Kemudian dari hasil pengamatan juga ada siswa yang tidak mau tampil maju untuk mengerjakan soal di depan kelas, ini adalah akibat dari anggota kelompok yang hanya mengandalkan tutor saja yang berkerja. Temuan selanjutnya adalah masih kurangnya latihan dan pembahasan soal latihan yang diberikan oleh guru (peneliti), karena guru tidak mengatur waktu dengan baik, sehingga kondisi kelas kurang kondusif. Untuk mengatasi hal yang dikemukakan di atas guru melakukan perbaikan-perbaikan dalam pembelajaran siklus II dan meningkatkan hal-hal yang masih perlu dilengkapi. Pada siklus II pelaksanaannya masih seperti siklus I, namun dilakukan perbaikan-perbaikan yang dianggap kurang pada siklus I. Bagi anggota kelompok yang kurang aktif diberikan motivasi dengan jalan mendatangi tiap kelompok yang kurang aktif. Untuk permasalahan kurang optimalnya fungsi tutor yang dilakukan guru adalah memberikan motivasi kepada tutor agar lebih optimal kerjanya dan meminta siswa untuk meminta bimbingan kepada tutor kemudian jika tutor tidak bisa maka siswa 58

bertanya kepada guru dan bagi tutor yang kelompoknya paling aktif diberikan reward / hadiah. Guru juga memberikan penekanan-penekanan pada materi yang masih memerlukan penjelasan lebih lanjut misalnya tentang konsep perkalian dan penjumlah bilangan bulat dan bentuk aljabar yang merupakan materi prasyarat untuk mempelajari materi Sistem persamaan linear dua variable (SPLDV). Hasil penelitian pada siklus II menunjukan bahwa kesiapan siswa dalam menerima materi pelajaran sudah cukup baik, guru juga memberikan lebih banyak latihan bagi siswa dan prestasi belajar sudah ada peningkatan walaupun masih ada kekurangan yang perlu ditingkatkan untuk pembelajaran berikutnya. Skor rata-rata siswa pada siklus II meningkat menjadi 60,3 yang berarti bahwa skor yang diperoleh masih di bawah skor rata-rata keberhasilan penelitian yaitu skor minimal 65. Dengan memperhatikan hasil penelitian dan hasil observasi pada pembelajaran siklus II masih terdapat kekurangan yang perlu diperbaiki yaitu siswa kurang menguasai materi pada pokok bahasan sebelumnya, perbaikannya adalah guru lebih banyak membahas contoh soal dan membahas PR yang berkaitan dengan materi sebelumnya. Untuk siswa yang masih malu bertanya kepada tutor dan cenderung menunggu jawaban tutornya, guru memberikan penjelasan tentang pentingnya kerjasama dalam kelompok, dan kesolidan kelompok dengan memaksimalkan potensi kelompok. Untuk siswa yang tidak berani menegur kesalahan temannya, guru memberikan penjelasan tentang 59 pentingnya saling melengkapi dan

memperbaiki kesalahan untuk kepentingan bersama. Hasil pengamatan selanjutnya diperoleh bahwa hasil evaluasi yang masih rendah dilihat dari rata-rata kelompok, yang perlu segera dilakukan adalah memberikan motivasi kepada tiap kelompok terutama tutor, bahwa setiap kelompok yang mempunyai skor rata-rata tinggi akan mendapatkan reward/ penghargaan. Dari hasil evaluasi dan observasi siklus III diperoleh skor rata-rata siswa yaitu sebesar 67,7. Hasil ini menunjukan bahwa indikator kerja telah tercapai karena skor rata-rata siswa yang diperoleh lebih besar dari skor sebelumnya dan lebih besar dari 65. Hal ini terjadi tidak lepas dari perbaikanperbaikan yang dilaksanakan berdasarkan kekurangan-kekurangan pada siklus sebelumnya, sehingga penggunaan model pembelajaran kooperatif berbasis tutor sebaya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Tujuan dari penelitian tindakan kelas (PTK) ini adalah untuk meningkatkan / memperbaiki proses pembelajaran di sekolah. Perbaikan ini dapat dilihat dari peningkatan prestasi belajar siswa. Dari hasil penelitian ini, ternyata dapat meningkatkan prestsi belajar siswa kelas II-4 SMP Negeri 3 Mataram. Penerapan model pembelajaran kooperatif yang menekankan

kekompakan kelompok untuk meningkatkan kemampuan tiap anggota kelompok dalam belajar dengan basis tutor sebaya dilakukan dengan memberikan tugas dalam hal ini LKS kepada kelompok-kelompok yang telah dibentuk , untuk dikerjakan secara kooperatif dengan dibimbing oleh seorang tutor. Dalam hal ini guru hanya menyampaikan materi secara garis besar 60

dengan beberapa contoh soal. Selanjutnya mengecek kepahaman masingmasing siswa, khususnya siswa yang telah ditunjuk sebagai tutor. Tutor inilah sebagai mediator untuk menjelaskan materi kepada rekannya yang kesulitan dalam belajar, seperti yang disampaikan oleh Ischak dan Warji (1982 : 45) bahwa guru dapat memilih tutor sebaya, yakni para siswa yang menemukan kesulitan dalam belajar diberikan bantuan perbaikan oleh teman-teman mereka sekolah. Apabila dalam pelaksanaan pembelajaran tutor mengalami kesulitan dalam mentransfer pelajaran kepada rekannya, maka guru akan

menjelaskannya sebagai fasilitator, tetapi tetap dalam kontetks tutor dioptimalkan fungsinya. Dalam pembelajaran ini, setelah tutor menjelaskan kepada siswa dengan mengerjakan bersama tugas yang diberikan guru maka guru meminta salah seorang siswa dari masing-masing kelompok untuk maju mengerjakan soal di depan kelas. Kemudian guru menyamakan persepsi siswa tentang soal yang telah dikerjakan, agar pemahaman siswa sama dan kepahaman mereka terhadap materi menjadi lebih baik, dan prestasi belajar siswa akan meningkat.

61

BAB V PENUTUP

A.

Kesimpulan Dari hasil penelitian dan pembahasan tentang penerapan model

pembelajaran kooperatif berbasis tutor sebaya dalam pembelajaran matematika pokok bahasan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV) di SMP Negeri 3 Mataram siswa kelas II-4, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Dari ketiga siklus yang dilaksanakan diketahui bahwa penerapan

model pembelajaran kooperatif berbasis tutor sebaya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada pokok bahasan Sistem persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV). Hal ini dilihat dari peningkatan skor rata-rata yang meningkat dan yaitu untuk siklus I, siklus II, dan siklus III berturut-turut sebesar 40,3 ; 60,2 dan 67,7. 2. Pembelajaran kooperatif berbasis tutor sebaya dapat digunakan

pada pokok bahasan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV) yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut : a. Anggota kelompok terdiri dari 4-5 orang dengan satu orang tutor b. Ada pembagian tugas. Selain yang bertugas sebagai tutor yang lain membagi perannya masing-masing, terutama yang mencatat hasil diskusi dan perannya dalam menyumbangkan ide dan pertanyaan.

62

c. Pada saat diskusi berlangsung tutor sebaya memimpin teman kelompok untuk menyelesaikan soal sampai tuntas d. Setiap kelompok membuat kesimpulan akhir hasil diskusi 3. Pembelajaran kooperatif berbasis tutor sebaya lebih baik lagi jika

digunakan untuk pokok bahasan Geometri (Bidang maupun ruang) B. Saran

Berdasarkan hasil yang dicapai dalam penelitian ini maka saran-saran yang dapat disampaikan adalah : 1. Diharapkan pada guru matematika SMP Negeri 3 Mataram untuk menggunakan model pembelajaran kooperatif berbasis tutor sebaya sebagai salah satu metode mengajar pada pokok bahasan SPLDV dan pokok bahasan yang cocok. 2. Bagi Mahasiswa yang ingin meneliti lebih lanjut diharapkan untuk mencoba menggunakan pada pokok bahasan yang lain agar lebih sempurna.

63

DAFTAR PUSTAKA Anonim, 1985. Diagnostik kesulitan belajar dan pengajara Remedial. Depdikbud : UT. Arikunto, S. 1997. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Evaluatif, Jakarta : CV Rajawali. Depdikbud, 2004. Mengelola Kelas Inklusif dengan Pembelajaran yang Ramah. Jakarta Buku Online, www.depdikbud.co.id: DIREKTORAT PLB Djajadisastra, Y. 1987. Psikologi perkembangan dan Psikologi Pendidikan, Jakarta : Usaha Nasional Djamarah, 1996. Prestasi Belajar dan Kompetensi guru. Surabaya : Usaha Nasional. Hasanah, Uswatun. 2003. Peningkatan Prestasi Belajar pada Pokok Bahasan Garis-garis sejajar melalui pembelajaran Kooperatif Model STAD (Student Team achievement Division) pada siswa kelas II SLTPN 15 Mataram. Skripsi (tidak diterbitkan). Mataram : FKIP UNRAM Ischak, SW dan Warji, R, 1992. Program Remedial dan Proses Belajar Mengajar. Yogyakarta : Liberty Muntasir.1985.Pengajaran Terprogram. Jakarta : CV Rajawali Muslimin, Ibrahim. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya : University Press Nurhadi, Dr,M.Pd dan Gerrad S, Agus, Drs, M.Pd. 2003. Pembelajaran kontekstual dan penerapannya dalam KBK. Malang : UM Press. Nurkancana, W. dan PP.N. Sumartana, 1983. Evaluasi Pendidikan. Surabaya : Usaha Nasional. Pujawan, Gita. 2000. Intensifikasi tes formatif dan Umpan balik tersruktur melalui pembelajaran kooperatif berbatuan lembar kerja mahasiswa dalam meningkatkan kualitas perkuliahan Kalkulus I di Program Studi Biologi STKIP. Singaraja. Singaraja : STKIP Roestiyah, N.K. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta. Sardiman, 2003. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : RajaGrafindo Persada. Slavin, Robert E. 1995. Cooperative Learning : Theory Research and Proctive. Boston : Allyn And Bacon Publisher 64

Sudjana N., 1989. Cara belajar siswa aktif dalam proses belajar mengajar. Bandung, Sinar baru Algesindo. Suryati, 1998. Pengembangan Model Pembelajaran Tipe Games Tournament (TGT) dalam meningkatkan Hasil belajar Fisika siswa SMU. Surabaya : Tesis Program Pasca Sarjana IKIP Surabaya. Walgito, B, Drs, 1989. Bimbingan dan penyuluhan di sekolah. Yogyakarta :Andi Offset. Winkel, WS., 1991. Psikologi Pengajaran. Jakarta : PT. Grasindo.

65

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful