Pengantar Hukum mempunyai fungsi untuk memberikan perlindungan terhadap kepentingan manusia (seluruh manusia tanpa terkecuali).

Oleh karena itu maka hukum harus dilaksanakan agar kepentingan manusia tersebut dapat terlindungi. Dalam pelaksanaannya, hukum dapat berlangsung secara normal dan damai, akan tetapi dapat juga terjadi pelanggaran-pelanggaran hukum dalam prakteknya. Dalam hal ini hukum yang telah dilanggar itu harus ditegakkan. Melalui penegakan hukum inilah hukum ini menjadi kenyataan. Dalam menegakkan hukum ada tiga unsur yang selalu harus diperhatikan : kepastian hukum (Rechtssicherheit), kemanfaatan (Zweckmassigkeit) dan keadilan (Gerechtigkeit). Hukum harus dilaksanakan dan ditegakkan. Setiap orang mengharapkan dapat ditetapkannya hukum dalam hal terjadi peristiwa konkrit. Bagaimana hukumnya itulah yang harus berlaku ³fiat justitia et pereat mundus´ (meskipun dunia ini runtuh hukum harus ditegakkan). Itulah yang diinginkan oleh kepastian hukum. Masyarakat mengharapkan adanya kepastian hukum. Karena dengan adanya kepastian hukum masyarakat akan lebih tertib. Sebaliknya masyarakat mengharapkan manfaat dalam pelaksanaan atau penegakan hukum. Masyarakat sangat berkepentingan bahwa dalam pelaksanaan atau penegakan hukum, keadilan diperhatikan. Dalam pelaksanaan atau penegakan hukum harus adil. Dalam kehidupan bermasyarakat diperlukan suatu sistem hukum untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis dan teratur. Kenyataannya hukum atau peraturan perundangundangan yang dibuat tidak mencakup seluruh perkara yang timbul dalam masyarakat sehingga menyulitkan penegak hukum untuk menyelesaikan perkara tersebut. Dalam usaha menyelesaikan suatu perkara adakalanya hakim menghadapi masalah belum adanya peraturan perundangundangan yang dapat langsung digunakan untuk menyelesaikan perkara yang bersangkutan, walaupun semua metode penafsiran telah digunakan. A. Pengertian Penemuan Hukum Penemuan hukum, pada hakekatnya mewujudkan pengembanan hukum secara ilmiah dan secara praktikal. Penemuan hukum sebagai sebuah reaksi terhadap situasi-situasi problematikal yang dipaparkan orang dalam peristilahan hukum berkenaan dengan dengan pertanyaan-pertanyaan hukum (rechtsvragen), konflik-konflik hukum atau sengketa-sengketa hukum. Penemuan hukum diarahkan pada pemberian jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tentang hukum dan hal pencarian penyelesaian-penyelesaian terhadap sengketa-sengketa konkret. Terkait padanya antara lain diajukan pertanyaan-pertanyaan tentang penjelasan (tafsiran) dan penerapan aturanaturan hukum, dan pertanyaan-pertanyaan tentang makna dari fakta-fakta yang terhadapnya hukum harus diterapkan. Penemuan hukum berkenaan dengan hal menemukan penyelesaianpenyelesaian dan jawaban-jawaban berdasarkan kaidah-kaidah hukum. Penemuan hukum termasuk kegiatan sehari-hari para yuris, dan terjadi pada semua bidang hukum, seperti hukum pidana, hukum perdata, hukum pemerintahan dan hukum pajak. Ia adalah aspek penting dalam ilmu hukum dan praktek hukum. Dalam menjalankan profesinya, seorang ahli hukum pada dasarnya harus membuat keputusan-keputusan hukum, berdasarkan hasil analisanya terhadap fakta-fakta yang diajukan sebagai masalah hukum dalam kaitannya dengan kaidah-kaidah hukum positif. Sementara itu, sumber hukum utama yang menjadi acuan dalam proses analisis fakta tersebut adalah peraturan perundangan-undangan. Dalam hal ini yang

menjadi masalah, adalah situasi dimana peraturan Undang-undang tersebut belum jelas, belum lengkap atau tidak dapat membantu seorang ahli hukum dalam penyelesaian suatu perkara atau masalah hukum. Dalam situasi seperti ini, seorang ahli hukum tidak dapat begitu saja menolak untuk menyelesaikan perkara tersebut. Artinya, seorang ahli hukum harus bertindak atas inisiatif sendiri untuk menyelesaikan perkara yang bersangkutan. Seorang ahli hukum harus mampu berperan dalam menetapkan atau menentukan apa yang akan merupakan hukum dan apa yang bukan hukum, walaupun peraturan perundang-undangan yang ada tidak dapat membantunya. Tindakan seorang ahli hukum dalam situasi semacam itulah yang dimaksudkan dengan pengertian penemuan hukum atau Rechtsvinding. Dalam proses pengambilan keputusan hukum, seorang ahli hukum pada dasarnya dituntut untuk melaksanakan dua tugas atau fungsi utama, diantaranya yaitu : a. Ia senantiasa harus mampu menyesuaikan kaidah-kaidah hukum yang konkrit (perundangundangan) terhadap tuntutan nyata yang ada di dalam masyarakat, dengan selalu memperhatikan kebiasaan, pandangan-pandangan yang berlaku, cita-cita yang hidup didalam masyarakat, serta perasaan keadilannya sendiri. Hal ini perlu dilakukan oleh seorang ahli hukum karena peraturan perundang-undangan pada dasarnya tidak selalu dapat ditetapkan untuk mengatur semua kejadian yang ada didalam masyarakat. Perundang-undangan hanya dibuat untuk mengatur halhal tertentu secara umum saja. b. Seorang ahli hukum senantiasa harus dapat memberikan penjelasan, penambahan, atau melengkapi peraturan perundang-undangan yang ada, dikaitkan dengan perkembangan yang terjadi di dalam masyarakat. Hal ini perlu dijalankan sebab adakalanya pembuat Undang-undang (wetgever) tertinggal oleh perkembangan perkembangan didalam masyarakat. Penemuan hukum merupakan pembentukan hukum oleh hakim atau aparat hukum lainnya yang ditugaskan untuk penerapan peraturan hukum umum pada peristiwa hukum konkrit, juga merupakan proses konkretisasi atau individualis peraturan hukum (das sollen) yang bersifat umum dengan mengingat akan peristiwa konkrit (das sein) tertentu, jadi dalam penemuan hukum yang penting adalah bagaimana mencarikan atau menemukan hukumnya untuk peristiwa konkrit Salah satu fungsi dari hukum ialah sebagai alat untuk melindungi kepentingan manusia atau sebagai perlindungan kepentingan manusia. Upaya yang semestinya dilakukan guna melindungi kepentingan manusia ialah hukum harus dilaksanakan secara layak. Pelaksanaan hukum sendiri dapat berlangsung secara damai, normal tetapi dapat terjadi pula karena pelanggaran hukum. Dalam hal ini hukum yang telah dilanggar tersebut haruslah ditegakkan, dan diharapkan dalam penegakan hukum inilah hukum tersebut menjadikan kenyataan. Dalam hal penegakan hukum tersebut, setiap orang selalu mengharapkan dapat ditetapkannya hukum dalam hal terjadinya peristiwa kongkrit, dengan kata lain bahwa peristiwa tersebut tidak boleh menyimpang dan harus ditetapkan sesuai dengan hukum yang ada (berlaku), yang pada akhirnya nanti kepastian hukum dapat diwujudkan. Tanpa kepastian hukum orang tidak mengetahui apa yang harus diperbuat yang pada akhirnya akan menimbulkan keresahan. Akan tetapi terlalu menitik beratkan pada kepastian hukum, terlalu ketat mentaati peraturan hukum akibatnya juga akan kaku serta tidak menutup kemungkinan akan dapat menimbulkan rasa ketidakadilan. Apapun yang terjadi

antara lain sebagai berikut : 1. penegak hukum (hakim) harus melaksanakan atau menegakkan undang-undang. Olehnya. maka dalam hal ini penegak hukum (hakim) haruslah mencari. dalam Al-Qur¶an sendiri yang merupakan rujukan kita (umat Islam) dalam menentukan hukum akan suatu peristiwa yang terjadi.peraturannya adalah demikian dan harus ditaati dan dilaksanakan. menggali dan mengkaji hukumnya. oleh karena dalam kesehariannya ia senantiasa dihadapkan pada peristiwa konkrit atau konflik untuk diselesaikannya. Di samping itu pula hasil penemuan hukum oleh hakim itu merupakan sumber hukum. Tidak hanya itu. pada masalah-masalah yang dianggap kurang jelas dan dimungkinkan (terbuka) atasnya untuk dilakukan suatu penafsiran. Ada kalanya undangundang itu tidak lengkap atau ada kalanya undang-undang tersebut tidak jelas. Problematik yang berhubungan dengan penemuan hukum ini memang pada umumnya dipusatkan sekitar ³hakim´. sehingga tidak mungkin tercakup dalam satu peraturan perundang-undangan dengan tuntas dan jelas. ada kalanya masih memerlukan suatu penafsiran (interpretasi). sehingga tak ada peraturan perundang-undangan yang lengkap selengkap-lengkapnya dan jelas sejelas-jelasnya. undang-undang tidaklah mungkin dapat mengatur segala kegiatan kehidupan manusia secara tuntas. kita (masyarakat) hanya melihat kepada peraturan hukum dalam arti kaidah atau peraturan perundang-undangan. Atau lebih lanjutnya dapat dikatakan bahwa penemuan hukum adalah proses konkretisasi atau individualisasi peraturan hukum (das sollen) yang bersifat umum dengan mengingat akan peristiwa konkrit (das sein) tertentu. Oleh karena hukumnya tidak lengkap dan tidak jelas maka harus dicari dan ditemukan. Dari abstraksi pemikiran yang dikemukakan di atas. . jadi sifatnya konfliktif. tidak terhitung jumlah dan jenisnya. Berbicara tentang hukum pada umumnya. Hakim tidak dapat dan tidak boleh menangguhkan atau menolak menjatuhkan putusan dengan alasan karena hukumnya tidak lengkap atau tidak jelas. hakim harus menemukan hukumnya dengan jalan melakukan penemuan hukum (rechtsvinding). Hakim dilarang menolak menjatuhkan putusan dengan dalih tidak sempurnanya undang-undang. Dan hasil penemuan hukum oleh hakim itu merupakan hukum karena mempunyai kekuatan mengikat sebagai hukum serta dituangkan dalam bentuk putusan. Penemuan hukum itu sendiri lazimnya diartikan sebagai proses pembentukan hukum oleh hakim atau petugas-petugas hukum lainnya yang diberi tugas melaksanakan hukum terhadap peristiwa hukum yang kongkrit. Sedang kita sadar bahwa undang-undang itu tidaklah sempurna. Dalam hal terjadinya pelanggaran undang-undang. Bahwa kegiatan kehidupan manusia ini sangatlah luas. terutama bagi para praktisi. karena undang-undang yang mengatur akan peristiwa kongkrit tidak lengkap ataupun tidak jelas. Hal ini merupakan proses kongkretisasi dan individualisasi peraturan hukum yang bersifat umum dengan mengingat peristiwa kongkrit. Maka wajarlah kalau tidak ada peraturan perundang-undangan yang dapat mencakup keseluruhan kegiatan kehidupan manusia. Dan kadang undang-undang itu sering terasa kejam apabila dilaksanakan secara ketat (lex dura sed tamen scripta). terdapat beberapa hal atau faktor serta alasan yang melatarbelakangi perlunya suatu analisis terhadap prosedur penemuan hukum oleh hakim dalam proses penyelesaian perkara terutama pada tahap pengambilan keputusan.

Kegunaan Penemuan Hukum Kegunaan dari penemuan hukum adalah mencari dan menemukan kaidah hukum yang dapat digunakan untuk memberikan keputusan yang tepat atau benar. ajaran penafsiran hukum atau metode yuridis ini dalam abad ke 19 dikenal dengan hermeneutic yuridis (hermeneutika). dan secara tidak langsung memberikan kepastian hukum juga didalam masyarakat. kata. Munculnya suatu gejala umum. namun yang menjadi pertanyaan. pengertian. 4. Adakalanya istilah. atau tidak dapat diwujudkan lagi dalam kenyataan sebagai akibat adanya perkembangan-perkembangan didalam masyarakat. B. Adakalanya terjadi suatu masalah yang tidak ada peraturan perudang-undangan yang mengatur masalah tersebut. Adakalanya pembuat Undang-undang sengaja atau tidak sengaja menggunakan istilah-istilah atau pengertian pengertian yanga sangat umum sifatnya. Gejala ini hampir dapat didengar dan dilihat. kalimat yang digunakan di dalam peraturan perundangundangan tidak jelas arti atau maknanya. dari mekanisme penyelesaian perkara (kasus) yang ada. Alasan yang lain yang tentunya sangat terkait dengan kajian ini yakni melihat bagaimana seorang hakim melakukan penemuan hukum dalam tugas dan tanggung jawabnya yang sudah menjadi kewajiban melekat pada profesinya serta sejauhmana hal itu dapat mewarnai dalam setiap putusan yang dilahirkan. Menurut hemat peneliti gejala ini lahir tidak lain adalah karena terjadinya suatu ketimpangan dari apa yang seharusnya dilakukan/diharapkan (khususnya dalam proses penegakan hukum) dengan apa yang terjadi dalam kenyataannya. Kaitannya dengan gejala umum di atas. yakni kurangnya serta menipisnya rasa kepercayaan sebagian ³besar´ masyarakat terhadap proses penegakan hukum di Indonesia.2. b. Sementara itu. Dalam menghadapi kemungkinan-kemungkinan itulah seorang hakim atau pengemban profesi hukum lainnya harus dapat menemukan dan juga menentukan apa yang dapat dijadikan hukum . 1. kenyataan menunjukkan bahwa : a. Salah satu contoh yang masih hangat dimemori kita pada awal bulan yang lalu yakni divonis bebasnya beberapa kasus korupsi (koruptor) kelas kakap yang nyata-nyata telah merugikan Negara. bagaimana dengan penerapannya. tidak jarang hakim selaku penegak hukum menjatuhkan putusan/vonis terhadap kasus yang tanpa disadari telah melukai rasa keadilan masyarakat disebabkan karena terlalu kaku dalam melihat suatu peraturan (bersifat normative/positivistik) tanpa mempertimbangkan faktor sosiologis yang ada. melalui berbagai media yang ada. 3. sehingga dapat diberi lebih dari satu pengertian atau pemaknaan. Perhatian dan kesadaran akan sifat dan tugas peradilan telah berlangsung lama dan ajaran penemuan hukum.

Hukum Yurisprudensi. meliputi : 1. 2. Obyek hukum Pengertian butir diatas tidak terlepas dari makna sebenarnya hukum yang merupakan bagian integral dari kehidupan bersama. yang kemudian pasca kemerdekaan tata hukum . Masyarakat hukum : suatu wadah bagi pergaulan hidup yang teratur yang tujuannya kedamaian. yakni : hukum yang dibentuk dalam keputusan hakim pengadilan. Ius Constituendum (hukum yang kelak berlaku) Dasar pembedaannya adalah ruang dan waktu 3. 2. yakni hukum yang dicantumkan dalam keputusan resmi secara tertulis. 2. yang sifatnya mengikat umum. namun selain dua sistem hukum tersebut terdapat beberapa hukum lainnya yang diterapkan di dunia yakni sistem hukum Islam (Islamic Law) dan sistem hukum komunis (Communist Law). Hukum kebiasaan yaitu : keteraturan-keteraturan dan keputusan-keputusan yang tujuannya kedamaian. Pengertian dasar dalam suatu sistem hukum 1. 4. Unsur sistem hukum. akibat penjajahan yang dilakukan oleh Belanda selama kurun waktu 350 tahun melalui kebijakan bewuste rechtspolitiek. 5. Hubungan hukum . Ius Constitutum (hukum yang kini berlaku). dalam keadaan semacam itu hukum tidak diperlukan. Hukum Traktat : hukum yang terbentuk dalam perjanjian internasional. sederajat dan timpang 6. Pembidangan sistem hukum 1. Hukum undang-undang. Hukum dan kewajiban 4. Kedua sistem hukum ini merupakan dua sistem hukum utama yang banyak diterapkan di dunia. Penemuan Hukum Dalam Sistem Hukum Indonesia Indonesia dalam perspektif keluarga-keluarga hukum di dunia termasuk kedalam kelurga hukum civil law yang sering diperlawankan dengan keluarga hukum common law. C. Peristiwa hukum 5. Hukum Ilmiah (ajaran) : hukum yang dikonsepsikan oleh ilmuwan hukum. Subyek hukum 3. Indonesia menganut sistem hukum sipil. Persoalan pokok yang ada dalam sistem hukum antara lain adalah : 1. 3. kalau manusia hidup terisolir dari manusia lain.dalam rangka pembuatan keputusan hukum atau menyelesaikan masalah hukum yang sedang dihadapi. maka tidak akan terjadi sentuhan atau kontak baik yang menyenangkan maupun yang merupakan konflik. 2.

Umum baik mengenai waktu. Seorang hakim memiliki kedudukan pasif di dalam menerapkan aturan hukum tersebut. maka diberikanlah kewenangan kepada hakim untuk mampu mengembangkan hukum atau melakukan penemuan hukum (rechtsvinding). Hakim pada prinsipnya merupakan corong dari undang-undang. Oleh karenanya. aturan hukum selalu berada satu langkah dibelakang realitas masyarakat. akan menyebabkan terjadinya apa yang disebut dengan bankruptcy of justice yakni suatu konsep yang mengacu kepada kondisi dimana hukum tidak dapat menyelesaikan suatu perkara akibat ketiadaan aturan hukum yang mengaturnya. tersusun dalam suatu kodifikasi. Untuk melindungi masyarakat dari tindakan-tindakan sewenang-wenang dan demi kepastian hukum. Pemikiran kodifikasi ini dipengaruhi oleh konsepsi hukum abad ke-18 ± 19. bahwa hukum harus bisa memecahkan suatu persoalan dari suatu realitas baru masyarakat. Berdasarkan pandangan ini Pemerintah dan Hakim tidak lebih dari sebuah mesin yang bertugas untuk menerapkan undang-undang (secara . dan menjadi persoalan karena tidak dapat menjawab persoalan-persoalan yang ada di masyarakat. termasuk salah satu dari keluarga hukum Eropa Kontinental (civil law). namun demikian dalam konteks sistem hukum civil law hal ini menjadi suatu persoalan. Sehingga diperlukan batasan-batasan mengenai penemuan hukum (rechtsvinding) oleh hakim dengan menggunakan konstruksi hukum. dia akan menerjemahkan suatu aturan hukum apabila telah terjadi sengketa diantara individu satu dengan yang lainnya di dalam masyarakat yang kemudian hasil terjemahan aturan hukum tersebut ditetapkan di dalam suatu putusan pengadilan yang mengikat pada pihak-pihak yang bersengketa. relevansi suatu aturan yang dibuat dengan perkembangan masyarakat. Untuk menerjemahkan aturan-aturan hukum tersebut. Pengunaan aturan hukum tertulis di dalam civil law. akan menciptakan kekacuan dan ketidakadilan. Lebih lanjut pemikiran ini menyatakan bahwa. maka difungsikanlah seorang hakim. dimana peranan dari kekuasaan kehakimanan hanya sebagai penerap undang-undang (rule adjudication function) yang bukan merupakan kekuasaan pembuat undang-undang (rule making function). Sehingga dapat disimpulkan bahwa. kaidah-kaidah hukum harus tertulis dalam benruk undang-undang. oleh karenanya segala aturan hukum yang dibentuk pada suatu masa tertentu belum tentu relevan dengan masa sekarang. Sistem Eropa Kontinental ini. Kedua. terkadang memiliki kendala-kendala tertentu. orang atau obyeknya. Salah satu kendala utama ialah. suatu undang-undang harus bersifat umum (algemeen). mengutamakan hukum tertulis dan terkodifikasi sebagai sendi utama dari sistem hukum eropa kontinental ini. kepada peristiwa-peristiwa konkret. Aturan hukum yang tidak relevan. keberadaan lembaga dan aturan-aturan yang ada merupakan lembaga dan aturanaturan yang dibawa oleh Belanda yang merupakan negara yang menganut sistem civil law. Relevansi di sini mengandung pengertian. undang-undang harus lengkap. Relevansi aturan hukum dengan persoalan masyarakat merupakan hal yang esensial demi terciptanya keadilan dan ketertiban di masyarakat. tempat. Indonesia di dalam keluarga-keluarga sistem hukum dunia. Salah satu karakteristik utama dari civil law ialah penggunaan aturan-aturan yang tertulis dan terbukukan (terkodifikasi) sebagai sumber hukumnya.tersebut diresepsi menjadi tata hukum nasional Indonesia melalui Aturan Peralihan UUD 1945 Pasal II (Pra Amandemen) yang menyatakan : ³segala badan negara dan peraturan yang ada masih berlaku. selama belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini´. Hal ini dikarenakan akitivitas masyarakat selalu dinamis. Sehingga jika tidak. oleh karenanya sering pula disebut sebagai . Untuk menyelesaikan persoalan ini.

b. bentuk. Peraturan perundang-undangan memberikan kepastian hukum yang lebih nyata karena kaidah-kaidahnya mudah diidentifikasi dan mudah diketemukan kembali. Struktur dan sistematika peraturan perundang-undangan lebih jel sehingga memungkinkan untuk diperiksa kembali dan diuji baik segi-segi formal maupun materi muatannya. Yurisprudensi ini merupakan keputusan-keputusan hakim mengenai suatu perkara konkret yang kemudian putusan tersebut menciptakan kaidah dan asas-asas hukum yang kemudian mengikat bagi hakim-hakim berikutnya di dalam memutus suatu perkara yang memiliki karakteristik yang sama dengan perkara sebelumnya. Berkebalikan dengan sistem eropa continental. masyarakat akan menumbuhkan hukum sendiri sesuai dengan kebutuhan. diantaranya ialah : a. Bagi masyarakat yang tidak mampu menumbuhkan hukum-hukum sendiri akan ³terpaksa´ menerima peraturan-peraturan perundangan-undangan yang sudah ketinggalan. Amerika Serikat. Australia dan lain-lain. dan d. Peraturan perundang-undangan tidak pernah lengkap untuk memenuhi segala peristiwa hukum atau tuntutan hukum dan menimbulkan apa yang lazim disebut kekosongan hukum atau . Faktor ini sangat penting bagi negara-negara yang sedang membangun termasuk membangun sistem hukum baru yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat. Tetapi tidak berarti pemanfaatan peraturan perundang-undangan tidak mengandung masalahmasalah. Akibatnya maka terjadi semacam jurang antara peraturan perundang-undangan dan masyarakat. mudah diketemukan kembali dan mudah ditelusuri. Namun demikian.mekanis). Dalam keadaan demikian. Sementara itu masyarakat berubah terus bahkan mungkin sangat cepat. Canada. Pembentukan dan pengembangan peraturan perundang-undangan dapat direncanakan. Makin besarnya peranan peraturan perundang-undangan terjadi karena beberapa hal. pada perkembangannya kedua sistem hukum tersebut mengalami konvergensi (saling mendekat). Peraturan perundang-undangan tidak fleksibel. Tidak mudah menyesuaikan peraturan perundang-undangan dengan perkembangan masyarakat. yang ditandai dengan peranan yang cukup penting suatu peraturan perundang-undangan bagi sistem common law dan sebaliknya peranan yang signifikan pula dari yurisprudensi dalam sistem Eropa Kontinental. Begitu pula pembuatnya. 1. Penerapan peraturan perundang-undangan yang tidak sesuai itu dapat dirasakan sebagai ketidakadilan dan dapat menjadi hambatan perkembangan masyarakat. Sebagai kaidah hukum tertulis. jenis dan tempatnya jelas. adapun masalah-masalah tersebut ialah : a. sistem anglo saxon yang biasa disebut dengan sistem common law merupakan sistem hukum yang menjadikan yurisprudensi sebagai sendi utama di dalam sistem hukumnya. Pembentukan peraturan perundangundangan membutuhkan waktu dan tata cara tertentu. b. Aliran hukum ini menyebar dari daratan Inggris kemudian ke daerah-derah persemakmuran Inggris (eks jajahan Inggris). Peraturan perundang-undangan merupakan kaidah hukum yang mudah dikenali.

Gagasan penolakan ini lebih disebabkan oleh ketidakmungkinan dari apa yang disebut dengan kekosongan hukum. Lebih dari itu. Kelemahan-kelemahan dari peraturan perundang-undangan inilah yang kemudian menimbulkan konsep penemuan hukum oleh hakim. dituntut peranan hakim yang lebih besar dari pada sekedar corong undang-undang. Hal ini dikarenakan argumentasi Kelsen yang membangun konstruksi berpikirnya hanya pada ranah logikal. melakukan analogi. Setiap masyarakat mempunyai mekanisme untuk menciptakan kaidah-kaidah hukum apabila ³hukum resmi´ tidak memadai atau tidak ada.maka tidak akan pernah ada kekosongan hukum. namun tidak memperhatikan fakta-fakta empiris dimana hukum tidak semata-mata merupakan apa yang kemudian dinyatakan oleh negara sebagai hukum. maka individu-individu tersebut adalah bebas secara hukum. Barangkali yang tepat adalah kekosongan peraturan perundang-undangan bukan kekosongan huku. Pada konteks tersebut di atas kekosongan hukum yang berujung pada kebangkrutan hukum adalah hal yang dipastikan dapat terjadi. Hal ini merupakan pandangan dari positivisme Kelsen. Hal ini kemudian yang sering diistilahkan jugde made law atau penemuan hukum (rechtsvinding). individu dengan kelompok ataupun kelompok dengan kelompok dan menjadi kontraproduktif jika tidak dapat diselesaikan oleh hukum. Berkebalikan dengan pandangan ini.rechstvacuum. dan memutuskan suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya´. melakukan penghalusan hukum dan lain-lain. argumentasi dari yang menyatakan terjadinya kekosongan hukum dapat menimbulkan kebangkrutan keadilan titik tekannya adalah kehidupan yang selalu berkembang di dalam masyarakat. Hal ini dikarenakan ajaran Cicero-ubi societas ubi ius. oleh karenanya fakta sosial yang demikian dinamis kadang kala merupakan friksi antara kepentingan individuindividu. Oleh karenannya. Namun demikian. merupakan konsekuensi dari kondisi dimana hukum tidak dapat menyelesaikan suatu sengketa yang timbul di dalam masyarakat. mengadili. justru kekosongan hukum sangat mungkin terjadi dan akan menimbulkan kebangkrutan keadilan (bankruptcy of justice) dimana hukum tidak dapat memfungsikan dirinya di tengah-tengah masyarakat untuk menyelesaikan persoalan yang ada di masyarakat. jika hanya menyatakan bahwa sumber hukum satusatunya adalah undang-undang. dinyatakan sebagai berikut : ³pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa. yang menyatakan bahwa ³tidak mungkin terdapat suatu kekosongan hukum dikarenakan jika tata hukum tidak mewajibkan para individu kepada suatu perbuatan tertentu. hukum juga terdapat di dalam masyarakat akibat proses interaksi yang sangat dinamis dari kehidupan sehari-hari. Dalam rangka mengisi kekosongan hukum ini. memungkinkan hukum selalu tertinggal satu langkah di bandingkan fakta-fakta sosial kemasyarakatan. diakomodir di dalam UndangUndang Kekuasaan Kehakiman Nomor : 4 Tahun 2004 dimana dalam Pasal 16 ayat (1). Melihat dua pandangan yang saling bertentangan tersebut. maka kekosongan hukum ini adalah mungkin terjadi. Konsep ini di Indonesia. Kemudian. Kebangkrutan keadilan. maka hakim memiliki kewenangan untuk melakukan penafsiran. . terdapat beberapa pandangan yang menyatakan bahwa penemuan hukum tidak diperkenankan hakim melakukan penemuan hukum. sepanjang negara tidak menetapkan apa-apa maka itu merupakan kebebasan pribadinya´.

hakim wajib memperhatikan pula sifat yang baik dan jahat dari terdakwa. ketentuan kodrati ini tertuang di dalam kitab-kitab suci dan perenungan-perenungan kefilsafatan tentang keadilan dan moralitas. Dalam konteks tersebut sistem Eropa Kontinental khususnya Belanda. Pasal 16 ayat (1) undang-undang Nomor 4 Tahun 2004 yang sebelumnya ada pada Pasal 14 ayat (1) Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang pokok kekuasaan kehakiman. Sehingga dalam konteks hukum Indonesia kebangkrutan hukum tidaklah di perbolehkan. tidak hanya berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang sudah ada namun lebih dari itu. juga harus ditafsirkan secara sistematis dengan Pasal 28 ayat (1) dan (2) UndangUndang Nomor 4 tahun 2004. sangat jelas terlihat bahwa hakim tidak boleh menolak mengadili suatu perkara atas dasar ketiadaan dasar hukum. persoalan yang muncul adalah mengenai apakah hakim dalam konteks penemuan hukum memiliki kesamaan pengertian dengan konsep hakim membuat hukum (judge made law) seperti di dalam hukum common law. aliran ini disebut juga rechterkoningschap. Ajaran kedua memandang hukum dapat ditemukan di dalam ketentuan-ketentuan kodrati yang sudah ada untuk manusia. dimana hakim terikat dengan keputusan hakim terdahulu menyangkut suatu perkara yang identik. Apabila dalam suatu perkara hakim di dalam menerapkan precedent justru akan melahirkan ketidakadlian maka hakim harus menemukan faktor atau unsur perbedaannya. Dengan demikian ia bebas membuat putusan baru yang menyimpang dari putusan lama. guna mencapai kepastian hukum maka dikembangkanlah sistem precedent. yang pada ajaran tersebut terbagi menjadi tiga ajaran menyangkut dimanakah hukum bebas tersebut dapat ditemukan. dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan dalam masyarakat.Pada Pasal 16 ayat (1) undang-undang Nomor 4 Tahun 2004 tersebut. dengan adanya ketentuan ini. yang berbunyi sebagai berikut : (1). mengikuti. Pengertian judge made law dalam pengertian sistem hukum common law. Dari kedua ayat dalam pasal tersebut. Hakim wajib menggali. ialah bahwa hakim memiliki peranan di dalam membentuk suatu norma hukum yang mengikat yang didasarkan pada kasus-kasus konkrit. (2). Dalam menerapkan berat ringannya pidana. penemun hukum didasarkan pada ajaran menemukan hukum dengan bebas (vrije rechtsvinding). oleh karenanya ajaran ini disebut pula ajaran aliran sosiologi. mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan dalam masyarakat dan memperhatikan hal-hal . Namun demikian. Ajaran pertama yang dimotori oleh Hamaker menyatakan bahwa hukum bebas dapat ditemukan dengan menggalinya dari adat istiadat di dalam masyarakat. hukum ini disebut dengan hukum kodrat. oleh karenanya. sehingga hukum di dalam pengertian ini benar-benar membentuk suatu norma hukum baru. Pada konteks hukum positif tampaknya kewenangan hakim menemukan hukum sebagaimana dimaksud di dalam Pasal 14 ayat (1) undang-undang nomor 4 tahun 2004 tentang kekuasaan kehakiman. dengan jelas dinyatakan hakim menggali. hakim di dalam menemukan hukum harus juga dalam konteks mengoreksi dan jika perlu membatalkan peraturan perundangundangan tersebut dan membentuk norma hukum baru. Dan ajaran ketiga ialah ajaran yang menghendaki hakim dalam menemukan hukum.

Di dalam melakukan penafsiran suatu aturan hukum. dimana hukum tidak menjadi keras bagi kelompok-kelompok tertentu. yang mengkualifikasikan listrik sebagai barang pada H. Namun tidak sebatas itu. Hukum bebas dalam pengertian rasa keadilan dan nilai-nilai masyarakat sangat identik dengan hukum agama dan adat yang ada di dalam masyarakat. misalnya dalam kasus sengkon dan karta yang menumbuhkan kembali lembaga Herzeining (peninjauan kembali) dan penafsiran secara meluas (ekstensif) di dalam definisi mengenai barang dalam Pasal 378 oleh Bintan Siregar kemudian pada zaman kolonial dengan beberapa benchmark cases. Penemuan hukum secara operasional dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan penafsiran. hakim harus berusaha mengembalikan identitas antara sistem formil hukum dengan sistem materil dari hukum. seperti mendefinisikan ulang unsur-unsur perbuatan melawan hukum melalui kasus pipa ledeng atau mendefinisikan secara luas (ekstensif) pengertian barang dalam delik pencurian. ditujukan untuk mengisi ruang kosong yang terdapat di dalam sistem formil dari hukum. akan tetapi hakim dapat mengkontekskan aturan hukum yang ada sesuai dengan rasa keadilan dan nilai-nilai masyarakat. Salah satu contoh penemuan hukum yang menjadi preseden di dalam hukum Indonesia. penafsiran tidak melulu menggunakan asas-asas logika. sed tamen scripta (hukum adalah keras. Dalam konteks hukum nasional ialah putusan yang mengizinkan perubahan status jenis kelamin pasca operasi penggantian kelamin sebagaimana diputus oleh Pengadilan Jakarta Selatan dan Barat Nomor 546/73. yang menggunakan asas-asas logika. Misalkan seorang pencuri yang didesak karena kebutuhan ekonominya tentu akan berbeda hukumannya dengan pencuri yang mencuri dikarenakan ketamakan. Keseluruhan operasi logika dan penafsiran menggunakan aspek-aspek lainnya.J. penghalusan hukum dan argumentum a contrario. 23 Mei 1921. tetapi memang demikian bunyinya) menjadi tidak relevan di dalam konteks ini. mengenai mana yang adil dan tidak adil menjadi aspek yang tidak dapat diabaikan dalam memutus suatu perkara. Sehingga hukum bebas di posisikan sebagai tambahan dari aturan perundang-undangan dia tidak dapat menyimpang dari aturan perundang-undangan tersebut.R. Hal ini menunjukan bahwa. 564. Indonesia memang menganut ajaran penemuan hukum bebas (vrije rechstvinding). Cara kerja atau proses berpikir hakim demikian dalam menentukan hukum disebut konstruksi hukum yang terdiri dari konstruksi analogi. hakim hendaknya mengikuti beberapa prinsip di bawah ini : . N. sehingga membentuk pengertian hukum (rechtsbegrip). terdapat pula aspek-aspek lain yang menjadi faktor di dalam menentukan suatu keputusan hakim menyangkut penerapan hukum ke dalam suatu perkara. dapat menghaluskan hukum (rechstvervijning). Untuk memenuhi ruang kosong ini. Faktor-faktor yang sifatnya non logikal dan non yuridis. Namun demikian. tafsir rasa keadilan dan nilainilali masyarakat juga dapat ditafafsirkan di dalam dinamika sosial kemasyakatan. Dimana aspek tuntutan dan tekanan masyarakat. yang merupakan inti dari ajaran penemuan hukum bebas yang beraliran sosiologis.yang baik dan jahat dari terdakwa sebelum memutus suatu perkara. Dengan mencari persamaan dalam sistem materil yang menjadi dasar lembaga hukum yang bersangkutan. Sehingga adagium lex dura.P Tanggal 14 November 1973 dengan pemohon ialah Iwan Robianto Iskandar. namun menyangkut hukum bebas tersebut hakim masih terikat oleh peraturan perundang-undangan.1921.

keberadaan teks asli harus dijadikan pertimbangan. 4. Prinsip penafsiran genetis : selama melakukan penafsiran terhadap teks. 2. Prinsip objektivitas : penafsiran hendaknya berdasarkan pada arti secara literal dari aturan hukum dan berdasarkan hakekat dari aturan hukum tersebut harus dibuat sejelas mungkin untuk perkembangan selanjutnya. budaya dan kondisi sosial dari pembentukan hukum tersebut dan terutama dari pembuat hukum tersebut. sehingga kepastian hukum dan keadilan di dalam masyarakat dapat terjalin secara baik. tata bahasa. . Bagian harus berasal dari keseluruhan dan keseluruhan harus berasal dari bagiannya. Prinsip kesatuan : setiap norma harus dibaca dengan teks dan tidak secara terpisah.1. Prinsip perbandingan : prinsip ini ialah prinsip untuk membandingkan suatu teks hukum dengan teks hukum lainnya menyangkut hal yang sama di suatu waktu. terutama dalam aspek objektifitas. Keempat prinsip tersebut merupakan prinsip yang dijadikan semacam panduan bagi penafsiran dalam rangka menemukan hukum. 3.

Hakim dilarang menolak menjatuhkan putusan dengan dalih tidak sempurnanya undang-undang. yang pada akhirnya nanti kepastian hukum dapat diwujudkan. Upaya yang semestinya dilakukan guna menciptakan kepastian dan keadilan ialah hukum harus dilaksanakan secara layak. M. penegak hukum (hakim) harus melaksanakan atau menegakkan undang-undang. menggali dan mengkaji hukumnya. dengan kata lain bahwa peristiwa tersebut tidak boleh menyimpang dan harus ditetapkan sesuai dengan hukum yang ada (berlaku). karena undang-undang yang mengatur akan peristiwa kongkrit tidak lengkap ataupun tidak jelas. undang-undang tidaklah mungkin dapat mengatur segala kegiatan kehidupan manusia secara tuntas. Hal ini merupakan proses kongkretisasi dan individualisasi peraturan hukum yang bersifat umum dengan mengingat peristiwa kongkrit.. Berbicara tentang hukum pada umumnya. masyarakat umumnya hanya melihat kepada peraturan hukum dalam arti kaedah atau peraturan perundang-undangan. Apapun yang terjadi peraturannya adalah demikian dan harus ditaati dan dilaksanakan. Salah satu fungsi dari hukum ialah sebagai alat untuk menciptakan kepastian dan keadilan tersebut. Dalam hal penegakan hukum tersebut. . Ada kalanya undangundang itu tidak lengkap atau ada kalanya undang-undang tersebut tidak jelas. Dalam hal terjadinya pelanggaran undang-undang. Dan kadang undang-undang itu sering terasa kejam apabila dilaksanakan secara ketat (lex dura sed tamen scripta). setiap orang selalu mengharapkan dapat ditetapkannya hukum dalam hal terjadinya peristiwa kongkrit.Pendahuluan Manusia mempuyai kecenderungan dan kebutuhan akan kepastian dan keadilan. Olehnya. Namun perlu diingat bahwa dalam penegakan hukum ada tiga unsur yang selalu harus diperhatikan guna mewujudkan hakikat dari fungsi dan tujuan itu sendiri. Sebab. terlalu ketat mentaati peraturan hukum akibatnya juga akan kaku serta tidak menutup kemungkinan akan dapat menimbulkan rasa ketidakadilan. Penemuan hukum lazimnya diartikan sebagai proses pembentukan hukum oleh hakim atau petugas-petugas hukum lainnya yang diberi tugas melaksanakan hukum terhadap peristiwa hukum yang kongkrit. hakim harus menemukan hukumnya dengan jalan melakukan penemuan hukum (rechtsvinding). terutama bagi para praktisi. yaitu: kepastian hukum (rechtssicherheit). normal tetapi dapat terjadi pula karena pelanggaran hukum. Dalam hal ini hukum yang telah dilanggar tersebut haruslah ditegakkan. Tanpa kepastian hukum orang tidak mengetahui apa yang harus diperbuat yang pada akhirnya akan menimbulkan keresahan. SHI. hanya dalam kepastian berkeadilan manusia mampu untuk mengaktualisasikan segala potensi kemanusiannya secara wajar dan baik. Sedang kita sadar bahwa undang-undang itu tidaklah sempurna. Pelaksanaan hukum dapat berlangsung secara damai.HERMENEUTIKA HUKUM SEBAGAI METODE PENEMUAN HUKUM DALAM PUTUSAN HAKIM Oleh: Ahmad Zaenal Fanani. Akan tetapi terlalu menitikberatkan pada kepastian hukum. dan diharapkan dalam penegakan hukum inilah hukum tersebut menjadikan kenyataan sehingga ketertiban berkeadilan terwujud. kemanfaatan (zweckmassigkeit) dan keadilan (gerechtgkeit). Dalam penemuan hukum terdapat beberapa aliran serta metode-metode penemuan hukum.Si 1. maka dalam hal ini penegak hukum (hakim) haruslah mencari. Hakim tidak dapat dan tidak boleh menangguhkan atau menolak menjatuhkan putusan dengan alasan karena hukumnya tidak lengkap atau tidak jelas.

(2) menjelaskan. kesadaran sejarah pengaruh (effective historical conciousness). Menurut versi mitos lain. perlu menengok kronologi asal-usul kata hermeneutika. Gadamer mengembangkan hermeneutika sebagai landasan kefilsafatan ilmu-ilmu manusia dalam bukunya ³Truth and Method´. yaitu seorang dewa yang bertugas menyampaikan dan menjelaskan pesan (message) dari Sang Dewa kepada manusia. Ketiga makna itu bisa diwakilkan dengan bentuk kata kerja inggris ³to interpret´. kata benda ³hermenia¶ yang berarti: penafsiran atau interpretasi.namun dalam tulisan ini tidak akan membahas secara mendalam tentang aliran-aliran (mazhab) dalam penemuan hukum. namun masingmasing dari ketiga makna tersebut membentuk sebuah makna yang independen dan signifikan bagi interpretasi. khususnya ilmu sejarah. diharapkan hakim dan praktisi hukum yang lain bisa lebih menciptakan kepastian dan keadilan hukum secara seimbang. kata hermeneutika merupakan derivasi dari kata Hermes. naskah-naskah kuno. Theory and Practice´. lewat karya Hegel dan karya Heidegger. Gadamer menyisishkan paragraph khusus dengan judul ³the exemplary significance of legal hermeneutics´ yang intinya berbicara mengenai signifikansi hermeneutika hukum. tradisi (ueberliefrung). Arief Sidharta . yaitu menafsirkan kehendak tuhan sebagaimana terkandung di dalam ayat-ayat kitab suci. Secara teologis peran Hermes tersebut dapat dinisbahkan sebagaimana peran Nabi. dan perpaduan cakrawala (fusion of horizons). (3) menerjemahkan. seperti didalam transliterasi bahasa asing. mula pertama hermeneutika itu dikembangkan adalah sebagai metode atau seni untuk menafsirkan teks. Kemudian lewat karya Scleiermacher dan Wilhelm Dilthey mengembangkan dan menggunakan hermeneutika sebagai metode untuk ilmu-ilmu manusia. sebagaimana yang didefinisikan oleh Gregory Leyh dalam buku ³Legal Hermeneutics: History. prasangka (Vorurteil). Pengertian dari mitologi ni kerapkali dapat menjelaskan pengertian hermeneutika teks-teks kitab suci. lingkaran hermeneutika (hermeneutische zirkel). Akhirnya. Kemudian dalam karya Heidegger dan karya Gadamer. pemahaman (verstehen). seperti menjelaskan sebuah situasi. Sesuatu yang dimaksud disini dapat berupa teks. bahkan Sayyed Hossein Nashr menyatakan bahwa Hermes tersebut tidak lain adalah Nabi Idris a. Menurut B. sejarah pengaruh (wirkungsgeschichte). melainkan hanya ingin mengkaji hermeneutika hukum dalam perspektif filsafat hukum sebagai metode penemuan hukum baru dengan metode interpretasi teks hukum. pemikiran dan kitab suci. yang kesemua hal ini adalah merupakan objek penafsiran hermeneutika. hermeneutika merupakan aliran filsafat yang mempelajari hakikat hal mengerti atau memahami sesuatu. Secara etimologis kata ³hermeneutika´ itu berasal dari bahasa Yunani kata kerja ³Hermeneuein´ yang berarti: menafsirkan atau menginterpretasi. Dari kata kerja hermeneuein dapat ditarik tiga bentuk makna dasar dalam pengertian aslinya. Pada mitologi Yunani kuno. Dalam buku tersebut. supaya tidak terjadi distorsi pemaknaan sejarah hermeneutika. Sedangkan dalam perspektif filosofis. 2.s. Adapun yang dimaksud dengan hermeneutika hukum. misalnya ³to say´. Jadi disni dapat disimpulkan bahwa hermeneutika adalah ilmu dan seni menginterpretasikan (the art of interpretation) suatu teks/kitab suci. peristiwa. pengalaman (erfahrung). yaitu: (1) mengungkapkan kata-kata. Hermes adalah seorang utusan yang memiliki tugas menafsirkan kehendak dewata dengan bantuan kata-kata manusia. hermeneutika sebagai metode dikembangkan menjadi filsafat hermeneutika yang berintikan konsep-konsep kunci berikut: pendidikan (bildung). dimana Gregory . Pengertian Hemeneutika Hukum Untuk memahami apa yang dimaksud dengan hermeneutika. Dengan menggunakan hermeneutika hukum sebagai metode penemuan hukum.

yang memungkinkan untuk memahami kejadian yang pertama kali (genuine) Urgensi kajian hermeneutika hukum. Menurut Gadamer ada tiga syarat yang harus dipenuhi oleh seorang penafsir yaitu: memenuhi subtilitas intelegendi (ketepatan pemahaman). Hermeneutika Hukum Sebagai Metode Penemuan Hukum dengan Interpretasi Teks Hukum Kajian hermeneutika hukum mempuyai dua makna sekaligus: pertama. dimaksudkan tidak hanya akan membebaskan kajian-kajian hukum dari otoritarianisme para yuris positif yang elitis. konteks. kita dapat kembali kepada definisi hermeneutika secara umum diatas. peristiwa hukum. dan subtilitas applicandi (ketepatan penerapan). Dimana interpretasi yang benar terhadap teks hukum itu harus selalu berhubungan dengan isi (kaidah hukumnya). atau antara bunyi hukum dan semangat hukum. Maka tidak berlebihan jika para pakar hukum. dan kontekstualisasi. Sedangkan Jazim Hamidi menjelaskan bahwa untuk mengetahui definisi hermeneutika hukum itu seperti apa. Hermeneutika sebagai metode penemuan hukum melalui interpretasi teks hukum selalu menjadi . naskah kuno atau kitab suci. 3. fakta hukum. ilmu sosial dan filsafat beranggapan bahwa hermeneutika hukum merupakan alternatif yang tepat dan praktis untuk memahami naskah normatif. tetapi juga dari kajian-kajian hukum kaum strukturalis atau behaviorial yang terlalu empirik sifatnya. Teks tersebut bisa berupa teks hukum. yaitu proses timbal balik antara kaidah-kaidah dan fakta-fakta. Kedua. hermeneutika hukum dapat dipahami sebagai metode interpretasi atas teks-teks hukum. hermeneutika hukum mempuyai tugas ontologis yaitu menggambarkan hubungan yang tidak dapat dihindari antara teks dan pembaca. dokumen resmi negara. Kajian hermeneutika hukum juga telah membuka kepada para pengkaji hukum untuk tidak hanya berkutat pada pradigma positivisme dan metode logis formal saja.mengutip pendapat Gadamer yang menyatakan bahwa hermeneutika hukum bukanlah merupakan suatu kasus yang khusus. tetapi ia hanya merekonstruksikan kembali dari seluruh problema hermeneutika dan kemudian membentuk kembali kesatuan hermeneutika secara utuh. sebagaimana dijelaskan oleh Gadamer. baik yang tersurat maupun yang tersirat. Secara filosofis. subtilitas explicandi (ketepatan penjabaran). hermeneutika hukum juga mempuyai pengaruh besar dengan teori penemuan hukum. Karena dalil hermeneutika menjelaskan bahwa orang harus mengkualifikasi fakta-fakta dalam bingkai kaidah-kaidah dan menginterpretasi kaidah-kaidah dalam bingkai fakta-fakta. Dari sini dapat ditarik definisi hermeneutika hukum adalah ajaran filsafat mengenai hal mengerti /memahami sesuatu. masa lalu dan masa sekarang. Sedangkan menurut Greogry. Tetapi sebaliknya hermeneutika hukum menganjurkan agar para pengkaji hukum menggali dan meneliti makna-makna hukum dari perspektif para pengguna dan atau para pencari keadilan. Adapun fungsi dan tujuan dari hermeneutika hukum menurut James Robinson adalah untuk memperjelas sesuatu yang tidak jelas supaya lebih jelas. atau sebuah metode interpretasi terhadap teks dimana metode dan teknik menafsirkannya dilakukan secara holistik dalam bingkai keterkaitan antara teks. dimana ahli hukum dan teologi bertemu dengan para ahli humaniora. Hal ini ditunjukkan dalam kerangka lingkaran spiral hermeneutika. tujuan hermeneutika hukum adalah untuk menempatkan perdebatan kontemporer tentang interpretasi hukum didalam kerangka hermeneutika pada umumnya.

arti-arti. Sebab setiap orang terlahir kedalam suatu dunia produk sejarah yang selalu menjalani proses menyejarah terus menerus. selalu menemukan dirinya sudah berada dalam suatu tradisi yang sudah ada sebelum ia dilahirkan (Befindlichkeit: ia menemukan dirinya sudah ada disitu). pra-pemahaman dan cakrawala pandang dapat mengalami pergeseran. Menurut B. yakni refleksi kefilsafatan yang menganalisis syarat-syarat kemungkinan bagi semua pengalaman dan pergaulan manusiawi dengan kenyataan. Hal ini tidak terlepas dari substansi filsafat hermeneutika adalah tentang hakikat hal mengerti atau memahami sesuatu. dan dengan itu membentuk pra-pemahaman terhadap segala sesuatu. Arief Sidharta. tiap bagian hanya dapat dipahami secara tepat dalam konteks keseluruhan. pengertian-pengertian. yakni prasangka berupa putusan yang diberikan sebelum semua unsur yang menentukan sesuatu atau suatu situasi ditelaah secara tuntas. tiap subyek. pola-pola perilaku dan sebagainya. dalam arti meluas. dalam filsafat hermeneutika khususnya pada peristiwa memahami atau menginterpretasi sesuatu. termasuk peristiwa mengerti dan/atau interpretasi. tiap orang menyerap atau diresapi muatan tradisi tersebut. melainkan juga terhadap kenyataan yang menimbulkan masalah hukum yang bersangkutan (misalnya menetapkan fakta-fakta yang relevan dan makna yuridikalnya). Proses interpretasi itu berlangsung dalam proses lingkaran pemahaman yang disebut lingkaran hermeneutik (hermeneutische zirkel). Menurut B. wawasan-wawasan. karena pada diri interpretator sudah ada cakrawala pandang dan pra-pemahaman yang terbentuk lewat interaksi dengan tradisi yang didalamnya ia menjalani kehidupan. Dalam dinamika proses insterpretasi. dan dengan itu juga terbentuk cakrawala pandang. sebaliknya keseluruhan ini hanya dapat dipahami berdasarkan pemahaman atas bagian-bagian yang mewujudkannya. hasilnya disorotkan pada bagian-bagian guna memperoleh pemahaman yang lebih tepat untuk kemudian hasilnya disorotkan balik pada keseluruhan. Arief Sidharta. kegiatan interpretasi itu tidak hanya dilakukan terhadap teks yuridis. yakni medan pengamatan (range of vision) yang memuat semua hal yang tampak dari sebuah titik pandang subyektif tertentu. dan demikian seterusnya sampai tercapai suatu pemahaman yang utuh dan tepat. terlepas dan tidak tergantung dari kehendaknya sendiri. Lingkaran pemahaman ini dimungkinkan. Sebab. kaidah-kaidah. misalnya di pengadilan. Pergeseran ini dapat mengubah pengetahuan subyek. melebar dan meningkat derajat kedalamannya. interpretator berusaha menemukan makna dari bagian-bagian lalu berdasarkan pemahaman atas bagian-bagian tersebut dalam hubungan antara yang satu dengan yang lainnya berupaya memahami interpretandum. Dalam proses pemahaman ini. filsafat hermeneutika memberikan landasan kefilsafatan (ontologikal dan epsitemologikal) pada ilmu hukum. Pengembangan ilmu hukum berintikan kegiatan menginterpretasi teks yuridik untuk mendistilasi . Pra pemahaman dan cakrawala pandang itu akan menentukan persepsi individual terhadap segala sesuatu yang tertangkap dan teregistrasi dalam wilayah pandang pengamatan individu yang bersangkutan. yakni gerakan bolak-balik antara bagian atau unsur-unsur dan keseluruhan sehingga terbentuk pemahaman yang utuh.diskursus utama dalam setiap kajian hermeneutika hukum. asas-asas. Bertolak dari pra-pemahaman dalam kerangka cakrawala pandangnya tentang interpretandum (ihwal yang mau dipahami) sebagai suatu keseluruhan. yang terbentuk dan berkembang oleh dan dalam perjalanan sejarah. Lewat proses interaksi dengan dunia sekelilingnya. dalam mengimplementasikan ilmu hukum untuk menyelesaikan suatu masalah hukum. Jadi. karena akan dapat memunculkan hal-hal baru dan aspek-aspek baru dari hal-hal yang tertangkap dalam cakrawala pandang. yakni tradisi yang bermuatan nilai-nilai. subyek (interpretator) tidak dapat memulai upayanya dengan mendekati obyek pemahamannya sebagai tabula rasa (tidak bertolak dari titik nol). atau filsafat ilmu dari ilmu hukum.

Selain dari itu seorang interpretator senantiasa berusaha melahirkan kembali makna tersebut sesuai dengan situasi dan kondisi saat teks tersebut dibaca atau dipahami. perlu dibedakan dua hal yaitu mengenai tahap sebelum pengambilan putusan (ex ante) dan tahap sesudah pengambilan putusan (ex post). Kedua. Dalam upaya mendistilasi kaidah hukum dari dalam teks yuridis dengan menginterpretasi teks tersebut. 4. Dengan memperhatikan ketiga horison tersebut. di samping melacak bagaimana suatu teks itu dilahirkan oleh pengarangnya dan muatan apa yang masuk atau ingin dimasukkan oleh pengarang kedalam teks yang dibuatnya. yang terjadi sebelum pengambilan putusan disebut ³heuristika´. kehasilgunaan). yaitu proses mencari dan berfikir yang mendahului tindakan pengambilan putusan hukum. horison pengarang dan horison pembaca. yaitu teks. terbentuknya teks yuridis itu terjadi dalam kerangka cakrawala pandang pembentuk hukum berkenaan dengan kenyataan kemasyarakatan yang dipandang memerlukan pengaturan hukum dengan mengacu cita-cita hukum yang dianut dan hidup dalam masyarakat. Subyektivitas dari hasil interpretasi itu akan dapat dikurangi hingga ketingkat yang paling minimal. Jadi. kemudian ditemukan makna yang tepat. Hermeneutika Hukum Dalam Praktek Peradilan Pada proses penemuan hukum (rechtsvinding). interpretator tidak dapat lain kecuali dalam kerangka prapemahaman dan cakrawala pandangnya dengan bertolak dari titik berdirinya sendiri. dan legitimasi . Dengan demikian. yakni cakrawala dari interpretandum (teks yuridik) dan cakrawala dari interpretator. Simpulan yang bisa diambil adalah sebagai sebuah metode penemuan makna teks. produk interpretasi selalu terbuka bagi pengkajian rasional terhadap argumentasi yang melandasi produk interpretasi tersebut oleh forum hukum dengan cita hukum. nilai-nilai kemanusiaan yang fundamental dan sistem hukum yang berlaku.atau mengekstraksi kaidah hukum yang (secara implisit) ada pada teks yuridik tersebut dan dengan itu menetapkan makna dan wilayah penerapannya. Antara ilmuwan hukum (interpretator) dan teks yuridik itu terdapat jarak waktu. karena pertama-tama kegiatan interpretasi itu harus selalu mengacu cita hukum (keadilan. pada setiap interpretasi teks yuridik terjadi proses lingkaran hermeneutik yang didalamnya berlangsung pertemuan antara dua cakrawala pandang. Jadi. konteks. Menurut Fahruddin Faiz. kemudian upaya kontekstualisasi. nilai-nilai kemanusiaan yang fundamental dan sistem hukum sebagai kriteria pengujinya. sehingga memiliki keberlakuan intersubyektif. Sedangkan penemuan hukum yang terjadi sesudah putusan disebut ³legitimasi´. Pada tahap ini berbagai argument pro-kontra terhadap suatu putusan tertentu ditimbang-timbang antara yang satu dengan yang lain. Perpaduan cakrawala tersebut dapat menghasilkan pemahaman baru pada interpretator tentang kaidah hukum yang terkandung dalam teks yuridik itu. kepastian hukum. hermeneutika berusaha menggali makna dengan mempertimbangkan horison/cakrawala yang melingkupi teks. hermeneutika harus selalu memperhatikan tiga komponen pokok. Horison yang dimaksud adalah horison teks. diharapkan suatu upaya pemahaman atau penafsiran menjadi kegiatan rekonstruksi dan reproduksi makna teks. lewat berbagai perpaduan cakrawala dalam dialog rasional dalam forum hukum dapat diharapkan akan dihasilkan produk interpretasi yang paling akseptabel. jadi terikat pada waktu yang didalamnya interpretsi itu dilakukan. Dalam perspektif teori penemuan hukum modern. yakni secara rasional dapat dipertanggungjawabkan karena kekuatan argumentasinya. Teks yuridik adalah produk pembentuk hukum untuk menetapkan perilaku apa yang seyogianya dilakukan atau tidak dilakukan orang yang berada dalam situasi tertentu karena hal itu oleh pembentuk hukum dipandang merupakan tuntutan ketertiban berkeadilan.

telah menolak untuk mengeluarkan writ of mandamus. Konsekuensinya. Disinilah pentingnya hermeneutika hukum berperan sekaligus digunakan oleh para hakim pada saat menemukan hukum. Tetapi John Marshall tahu bahwa dibalik sengketa itu tersembuyi masalah yang lebih besar dan menyangkut kepentingan rakyat banyak. untuk menyakinkan forum hukum tersebut agar putusan tersebut dapat diterima. Oleh karena itulah hermeneutika hukum berfungsi sebagai metode untuk interpretasi atas teks hukum/peraturan perundangan yang dijadikan dasar pertimbangannya serta interpretasi atas peristiwa dan fakta akan sangat membantu Hakim dalam memeriksa dan memutus perkara dipengadilan. Putusan terhadap kasus Marbury versus Madison ini. Putusan tersebut adalah putusan pengadilan kasus Marbury versus Madison (1803). Alasannya. yaitu suatu perintah pengadilan kepada pejabat pemerintah untuk melakukan perbuatan tertentu yang merupakan salah satu kewajiban dari pejabat tersebut. The legislature cannot be permittes to pass statutes contrary to a constitution.´ Sebenarnya dibalik kasus itu sarat dengan muatan politis. maka berarti putusan itu tidak memperoleh legitimasi. Since the constitution is paramount law. metode hermeneutika hukum pada hakikatnya sangat berguna. ketika seorang hakim menganggap dirinya berhak untuk menambah makna orisinal dari teks hukum. dengan tetap berpegang pada penalaran ex ante. yang dituntut oleh William Marbury kepada James Madison selaku secretary of state. dalam tulisan ini akan dipaparkan putusan pengadilan di Amerika sebagai ilustrasi dalam penerapan metode hermeneutika hukum oleh Hakim dipengadilan. Penemuan hukum oleh Hakim tidak semata-mata hanya penerapan peraturan-peraturan hukum terhadap peristiwa konkrit. A court avoid choosting between the constitution and a conflicting statute when both are relevant to a case which the court is asked to decide.selalu berkenaan dengan pembenaran dari putusan yang sudah diambil. Bahkan menurut Charter. menandai lahirnya lembaga ³Judicial Review. untuk pertama kalinya dalam tatanan sistem hukum di Amerika Serikat. tetapi sekaligus penciptaan hukum dan pembentukan hukumnya. Dalam . if the letter is to prevail as superior law. judges have no choise but to prefer it to refuse to give effect to the latter. UU tidak bisa mengubah konstitusi yang merupakan ³the supreme law of the land´ (asas lex superior derogate leg inferiori). dengan cara menyusun suatu penalaran yang secara rasional dapat dipertanggungjawabkan. dasar hukum penuntutan hak tersebut yaitu pasal 13 judicial act (UU Kekuasaan Kehakiman) tahun 1789 yang dirumuskan oleh kongres. Sebab. premis-premis yang baru harus diajukan. Untuk memperjelas penerapan hermeneutika hukum dalam aras praksis. pengalaman Hakim pada saat menemukan hukum dalam praktek dipengadilan memberikan dukungan bagi konsepsi pragmatis dan interpretasinya. dengan mengatakan bahwa: ³it one of the purpose of written constitution to define and limit the powers of the legislature. dianggap menambahkan kewenangan supreme court dari kewenangan yang tercantum dalam konstitusi Amerika Serikat. Doktrin judicial review memperoleh kekuatan hukum ketika John Marshal memutuskan kasus Marbury versus Madison tersebut pada bulan Februrai 1803. Apabila suau putusan hukum tidak bisa diterima oleh forum hukum. Menurut Gadamer. Oleh karena itu. meskipun jika dilihat dari posisi kasus yang sebenarnya sekedar merupakan sengketa kepentingan antara Marbury (sebagai Penggugat) dan Madison (sebagai Tergugat). ketentuan tersebut adalah inkonstitutional dan tidak sah. Dimana dalam kasus ini John Marshal selaku Chief of Justice dari supreme court. Pada tahap ini putusan diberi motivasi (pertimbangan) da argumentasi secara substansial.

kaidah-kaidah. pengertian-pengertian. peristiwa hukum. karena ³ratio decidendi´-nya akseptabel. atau sebuah metode interpretasi terhadap teks dimana metode dan teknik menafsirkannya dilakukan secara holistik dalam bingkai keterkaitan antara teks. dan keputusan yang dia ambil merupakan wujud dari kebijaksanaannya.usahanya memberikan putusan yang tepat. b. Pada peristiwa memahami atau menginterpretasi sesuatu. dokumen resmi negara. naskah kuno atau kitab suci. Pertimbangan yang dia lakukan itu merupakan pertimbangan atas dasar nilai. Dalam proses . Masa depan: kemungkinan muncul konflik terbuka antara lembaga kepresidenan dengan supreme court. yang bisa membahayakan keutuhan nasional. asas-asas. yang terbentuk dan berkembang oleh dan dalam perjalanan sejarah. wawasanwawasan. Kesimpulan Dari uraian diatas dapat diambil beberapa kesimpulan: 1. yang keberadaannya diakui di AS hingga sekarang. fakta yuridis. John Marshall dalam putusannya berusaha mencari titik temu dalam kasus tersebut dengan cara mendialogkan antara konstitusi Amerika Serikat. Penemuan hukum dengan perspektif hermeneutika yang spektakuler ini. Penemuan hukum seperti ini juga membuktikan bahwa supreme court lewat hakim Marshall ini tidak sekedar bertindak sebagai corong undang-undang. Masa lalu: masalah itu muncul karena kelalaian Jhon Marshall sendiri. Akibatnya lahir suatu temuan baru dibidang hukum berupa lembaga judicial review. c. yakni gerakan bolak-balik antara bagian atau unsur-unsur dan keseluruhan sehingga terbentuk pemahaman yang utuh. tapi telah sanggup menemukan dan membentuk nilai hukum baru. judicial act. 2. antara lain: a. bisa muncul berkat ³cakrawala pandang yang luas´ dari hakim Marshall. fakta hukum. 3. Dengan dalih mempertimbangkan dan menyelaraskan ketiga kepentingan diatas. kondisi sosial politik. Interpretasi teks yuridik berlangsung dalam proses lingkaran pemahaman yang disebut lingkaran hermeneutik (hermeneutische zirkel). Teks tersebut bisa berupa teks hukum. karena kesimpulan ini merupakan suatu pengembangan (inovasi) secara kreatif dari asas ³lex superior derogate leg inferiori´. konteks. keputusan akhir bahwa judicial act adalah inkonstitusional itu muncul secara heuristika. Masa kini: ada perseteruan politik antara partai republik (Thomas Jefferson) dengan partai federalis (John Adam). Mengapa. Hermeneutika hukum adalah ajaran filsafat mengenai hal mengerti /memahami sesuatu. temuannya itu menjadi suatu asas hukum yang mempuyai kekuatan sebagai preseden. termasuk peristiwa mengerti dan/atau interpretasi. arti-arti. subyek (interpretator) tidak dapat memulai upayanya dengan mendekati obyek pemahamannya sebagai tabula rasa (tidak bertolak dari titik nol). Selain itu pula diperkuat dengan interpretasi hermeneutika atas lafal sumpah jabatannya sebagai hakim dengan asas ³ius curia novit´ dan pada akhirnya dapat memperjelas maksud konstitusi. yakni tradisi yang bermuatan nilai-nilai. pola-pola perilaku dan sebagainya. dan kontekstualisasi. 5. Filsafat hermeneutika adalah filsafat tentang hakikat hal mengerti atau memahami sesuatu. Marshall menalar secara hermeneutika. Menurut analisa Samuel Jaya Kusuma. yakni refleksi kefilsafatan yang menganalisis syarat-syarat kemungkinan bagi semua pengalaman dan pergaulan manusiawi dengan kenyataan. Pada akhirnya. Sebab setiap orang terlahir kedalam suatu dunia produk sejarah yang selalu menjalani proses menyejarah terus menerus. Premis yang muncul berdasarkan penalaran secara hermeneutika (premis tak terberi). serta kepentingan dirinya dan lembaga yang dia pimpin. setelah mendapat pengakuan dari forum hukum dan masyarakat. bila tuntutan Marbury dikabulkan.

Nasrudin Baidan. Skripsi pada Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan. 1989. terjemah oleh Ahmad Sahidah. Dengan demikian. Truth and Method. 2. DAFTAR PUSTAKA 1. ketika seorang hakim menganggap dirinya berhak untuk menambah makna orisinal dari teks hukum. 2. Arief Sidharta. Penemuan hukum oleh Hakim tidak semata-mata hanya penerapan peraturan-peraturan hukum terhadap peristiwa konkrit. Konteks dan Kontekstualisasi. 4. B. kemudian upaya kontekstualisasi. Refleksi Tentang Struktur Ilmu Hukum. 4. Menurut Gadamer. pada program doktor (S3) Ilmu Hukum UII Yogyakarta. Yogyakarta. Hermeneutika Qur¶ani: Antara Teks. hermeneutika harus selalu memperhatikan tiga komponen pokok. tahun 2007. Fahruddin Faiz. Mandar Maju. Qalam. 8. Bandung: 1999. Kebenaran dan Metode. Yogyakarta: 1965. 5. Vol. Samuel Jaya Kusuma. Sebagai sebuah metode penemuan makna teks. Pustaka Pelajar. konteks. Hans Georg Gadamer. Knowledge and The Secred. 2011 . Sayyed Hossein Nasr. Juli 2001. UII Press: 2005. 6. Bandung.. dimuat dalam Jurnal Esensia. makalah Hermeneutik: landasan kefilsafatan ilmu hukum dalam Bahan Kuliah/Handout Mata Kuliah Filsafat Hukum. tiap bagian hanya dapat dipahami secara tepat dalam konteks keseluruhan. metode hermeneutika hukum pada hakikatnya sangat berguna. yakni cakrawala dari interpretandum (teks yuridik) dan cakrawala dari interpretator. yaitu teks. Hermeneutika Hukum. Oleh karena itulah hermeneutika hukum berfungsi sebagai metode untuk interpretasi atas teks hukum/peraturan perundangan yang dijadikan dasar pertimbangannya serta interpretasi atas peristiwa dan fakta akan sangat membantu Hakim dalam memeriksa dan memutus perkara dipengadilan. Perpaduan cakrawala tersebut dapat menghasilkan pemahaman baru pada interpretator tentang kaidah hukum yang terkandung dalam teks yuridik itu.pemahaman ini. tetapi sekaligus penciptaan hukum dan pembentukan hukumnya. SH. 3. Hermeneutika hukum penting digunakan oleh para hakim pada saat menemukan hukum. Januari 01. Proses Penemuan Hukum Dalam Perspektif Hermeneutika Hukum. sebaliknya keseluruhan ini hanya dapat dipahami berdasarkan pemahaman atas bagian-bagian yang mewujudkannya. Yogyakarta: 2002. ³Tinjauan Kritis Konsep Hermeneutik´. Jazim Hamidi. Arief Sidharta. New York. 2002. No 2. pada setiap interpretasi teks yuridik berlangsung pertemuan antara dua cakrawala pandang. oleh Zakaria Lombok di Sabtu. B. State university press. 7. Pengantar Filsafat Hermeneutika. 5.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful