Majalah Farmasi Indonesia, 20(3), 141 – 150, 2009

Pembuatan garam ibuprofen dan aplikasinya dalam sediaan tablet
Ibuprofen salt dosage form
1) 2)

production and its application in tablet

Lannie Hadisoewignyo 1*), Achmad Fudholi 2) dan M. Muchalal 3)
Fakultas Farmasi Unika Widya Mandala Surabaya Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 3) Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Abstrak
Ibuprofen merupakan suatu obat antiinflamasi yang praktis tidak larut dalam air. Selain itu, titik leleh yang rendah dan sifat alir yang kurang baik dari ibuprofen dapat mempersulit dalam proses pembuatan tabletnya. Penelitian ini bertujuan membuat garam natrium ibuprofen yang memiliki kelarutan dalam air yang baik. Garam natrium ibuprofen diperoleh dengan mereaksikan ibuprofen dengan natrium hidroksida, kemudian dilakukan karakterisasi dengan menggunakan TG/DTA, DSC, spektrofotometer UV-VIS, spektrofotometer IR, difraksi sinar-X, dan SEM. Pembuatan tablet dilakukan dengan metode granulasi basah. Hasil yang diperoleh dari karakterisasai natrium ibuprofen hasil sintesis menunjukkan bahwa natrium ibuprofen hasil sintesis merupakan bentuk dihidrat dengan titik leleh 199,9 °C. Granul natrium ibuprofen hasil sintesis memiliki sifat alir yang lebih baik dan densitas yang lebih besar dibanding dengan granul ibuprofen. Pada pengujian mutu fisik tablet, tampak bahwa formula tablet natrium ibuprofen hasil sintesis memiliki kompaktibilitas yang lebih baik dibanding dengan formula tablet ibuprofen. Bentuk garam natrium dari ibuprofen menunjukkan kecepatan pelepasan yang lebih tinggi dari pada ibuprofen sehingga dapat memberikan mula kerja obat yang lebih cepat.
Kata kunci: natrium ibuprofen, ibuprofen, disolusi.

Abstract
Ibuprofen is an anti-inflammatory drug and is practically insoluble in water. The low melting point and the poor flowability of ibuprofen can lead to process difficulty in tablets production. The purpose of this research was to make the sodium salt form of ibuprofen which has better solubility in water. Sodium ibuprofen salt was prepared by reacting the ibuprofen and sodium hydroxide, then characterized using TG/DTA, DSC, spectrophotometer UV-VIS, spectrophotometer IR, X-ray diffraction, and SEM. Tablets were prepared by wet granulation method. The characterization result showed that sodium ibuprofen result of the synthesis was dehydrate form with melting point of 199.9 °C. Granules of sodium ibuprofen result of the synthesis had better flowability and bigger density than ibuprofen granules. The physical characterization of the tablet showed that the formula of sodium ibuprofen resulted from the. Sodium ibuprofen showed the higher release rate than ibuprofen so can give quicker onset of action.
Key words: sodium ibuprofen, ibuprofen, dissolution.

Majalah Farmasi Indonesia, 20(3), 2009

141

Shaw et al. Pendahuluan Ibuprofen adalah obat anti inflamasi yang banyak digunakan dengan dosis lazim yang besar (200-800 mg). Differensial Scaning Calorimetry DSC-Seiko SSC 5200H. kalium dihidrogen fosfat (pa. Germany). IRPrestige-21). Metodologi Alat Bahan Ibuprofen (BP/Ph. Japan). Hal ini juga menjadi masalah dalam formulasinya (Lund. Selain itu ibuprofen memiliki titik leleh yang rendah (75-77 °C) dan sifat alir yang buruk. tipe U-1100.. Darmstadt. baik dalam bentuk kapsul maupun dalam bentuk tablet.. dilarutkan sedikit-sedikit dalam larutan NaOH dan diaduk dengan menggunakan magnetic stirrer pada skala 7 (1320 rpm) hingga seluruh ibuprofen larut. kemudian ditetapkan pola termogram pada rentang suhu 30-230 °C. Spektrum ultraviolet diperoleh dengan cara mengamati serapan ibuprofen dan natrium ibuprofen dalam larutan NaOH 0. tipe TA-3. Kasim et al.. karena pembentukan garam tidak mengubah struktur kimia dari senyawa (Dong. Berdasarkan masalah-masalah yang ada pada ibuprofen. Dilakukan karakterisasi kristal garam natrium ibuprofen yang diperoleh.. dengan kecepatan pemanasan 10 °C/menit. natrium hidroksida (pa. Germany). pada panjang gelombang antara 200-400 nm. Germany). serta dapat meningkatkan titik leleh dari ibuprofen sehingga masalah pada saat pengeringan dan pencetakan tablet dalam formulasi dapat teratasi. 2005).. Darmstadt. maka pembentukan garam dari ibuprofen dapat menjadi salah satu solusi dari problem yang ada.Tokyo. amilum jagung.. 1994). kemudian dipanaskan di atas hot plate magnetic stirrer dengan suhu 60 – 65 ºC. Penetapan pola termogram TG/DTA (Thermal Gravimetry/Diferential Thermal Analysis) dilakukan dengan cara menimbang 6 mg sampel. Penetapan pola termogram DSC (Differential Scanning Calorimetry) dilakukan dengan cara menimbang 6 mg sampel. Germany). (Anonim. magnesium stearat (Peter Greven CV.. Merck. Germany). hardness tester (Schleuniger Hardness Tester. selain itu diamati persentase air yang hilang. Proses endotermik atau eksotermik yang terjadi dicatat pada rekorder. Ibuprofen dengan perbandingan mol terhadap NaOH 1.Eur. Japan).Tokyo. 2009 . Jalan penelitian Pembuatan garam natrium ibuprofen NaOH dilarutkan dalam air. Japan .. monitorized tapping device (Erweka. Karakterisasi garam natrium ibuprofen Mesin tablet single punch (model TDP. E Merck. spektrofotometer UV-VIS (Hitachi. Kristal yang dihasilkan dimurnikan dengan rekristalisasi menggunakan aseton sebagai anti solvent dan dikeringkan kembali pada suhu kamar. spektrofotometer IR (Shimadzu. Electrothermal Melting Point Apparatus (Electrothermal 9100).. Germany). friabilation tester (Erweka. Shanghai.05 : 1. 2004. China). 20(3). di dalam gelas piala. Netherland). Pondicherry. tipe 6D-30. Menurut Biopharmaceutics Classification System (BCS).. laktosa monohidrat (DMV International-Veghel-the Netherlands. Nederland). Shasun Chemicals And Drugs Limited. Larutan ibuprofen dalam NaOH dibiarkan pada suhu kamar sampai terbentuk kristal hasil sintesis.. Thermal Gravimetry/Diferential Thermal Analysis (TG/DTA-Seiko SSC 5200H. Pelet diperoleh dengan cara 142 Majalah Farmasi Indonesia. Japan). Proses endotermik atau eksotermik yang terjadi dicatat pada rekorder. ibuprofen termasuk obat golongan II yaitu obat yang memiliki kelarutan rendah dan permeabilitas tinggi. Difraktometer sinar-X (JEOL JDX 3530. tanpa merubah sifat farmakologinya. kemudian ditetapkan pola termogram pada rentang suhu 30-550 °C. Seiko Instrument Inc. Spektrum inframerah diperoleh dengan cara mengamati serapan pelet ibuprofen maupun natrium ibuprofen pada bilangan gelombang 4000-400 cmˉ1. dissolution tester (Erweka. 2005). 1997. India). Garam ibuprofen dapat meningkatkan disolusi obat dengan meningkatkan kemampuan untuk terbasahi dan meningkatkan kelarutan dalam air. dengan kecepatan pemanasan 10 ºC/menit. Seiko Instrument Inc.1 N.Pembuatan garam ibuprofen dan aplikasinya.. tipe DT70.

Formula tablet ibuprofen dan natrium ibuprofen Jumlah (mg) per tablet Tablet Ibuprofen Ibuprofen Natrium ibuprofen Laktosa monohidrat Amilum jagung Magnesium stearat BOBOT TOTAL 400 271. Granul dikeringkan dengan menggunakan oven pada 55 °C selama 1 jam. Penetapan pola difraksi sinar-X dilakukan dengan cara menimbang 5 mg serbuk.Lannie Hadisoewignyo menimbang sampel dengan kadar 1-2 % yang digerus bersama KBr sampai halus dan homogen. Selanjutnya pellet tersebut dimasukkan dalam alat spektrofotometer inframerah. Sebagai fase luar. Granul kering diayak dengan ayakan no.5 8 8 800 Komposisi Tabel II. sesuai dengan ketentuan seperti pada Tabel II. dan diamati volume akhir serbuk. Laktosa monohidrat digunakan sebagai pengisi. dengan radiasi Cu-Kθ. skala pada alat dibaca pada saat tablet pecah dan nilai yang diperoleh menyatakan kekerasan tablet dalam Kp (Kilopound). 1979) Majalah Farmasi Indonesia. dengan komposisi formula tercantum pada Tabel I.5 271.5 8 8 687. alat dijalankan sampai tablet pecah.5 Tablet Natrium Ibuprofen 512. 2009 Bobot tablet rata-rata ≤ 25 mg 26-150 mg Penyimpangan (%) dari bobot tablet rata-rata A B 15 30 10 20 143 . Morfologi permukaan partikel diamati dengan menggunakan SEM (Scanning Electron Microscopy). kemudian campuran tersebut ditekan dengan penekan hidrolik dalam ruangan hampa selama 5 menit sehingga diperoleh pellet yang transparan. lalu ditambahkan musilago amilum jagung 10 % b/b sejumlah 10 g (untuk satu bets) sampai terbentuk massa granul. Kekerasan tablet ditentukan dengan cara tablet diletakkan pada alat hardness tester dengan skala awal 0. dan dihitung waktu yang diperlukan granul untuk melewati corong tersebut. Bobot tablet rata-rata dan penyimpangannya (Anonim. Carr' s index = ρ − ρ tapped bulk ρ tapped x100% Hausner ratio = ρ tapped ρ bulk Tablet ibuprofen dan natrium ibuprofen dibuat dengan menggunakan metode granulasi basah. Pembuatan tablet Sifat alir granul ditentukan dengan cara menimbang 100 gram granul. Carr’s index dan Hausner-ratio ditentukan dengan cara mengisikan bahan yang akan diuji ke dalam gelas ukur volume 100 mL. Tabel I. diamati pada sudut 2θ. kemudian dimasukkan ke dalam corong. kemudian diayak dengan ayakan no. Campuran ditablet dengan tekanan kompresi yang sama (0. setelah itu dengan menggunakan motorized tapping device dilakukan penghentakan sebanyak 500 kali. interval 5 – 50 ºC. dan dilakukan pengamatan sifat fisik granul. Bulk density = (gram ) berat serbuk (ml volume awal serbuk ) Tapped density = berat serbuk (gram ) volume setelah pengetapan (ml ) Karakterisasi tablet Keseragaman bobot tablet ditentukan dengan cara menimbang 20 tablet. ditambahkan magnesium stearat. lalu dihitung bobot rata-rata tiap tablet. Karakterisasi granul Serbuk yang ada di dalam gelas ukur ditimbang bobotnya. amilum jagung digunakan sebagai pengikat dan magnesium stearat sebagai pelicin.25 ton). mesh 20. kemudian dihitung bulk density (θbulk) dan tapped density (θtapped). 20(3). sedangkan ukuran partikel ditentukan dengan metode pengayakan. Bahan aktif (natrium ibuprofen/ibuprofen) dicampur dengan laktosa monohidrat. mesh 20.

5 cm. dimasukkan dalam friabilation tester. Sedangkan pada ibuprofen tidak tampak terjadinya dehidrasi.. pada suhu 37 ± 0.3 %. (b) natrium ibuprofen hasil sintesis.6 %.. selanjutnya alat dimasukkan ke dalam beaker glass yang telah diisi air/0. dan 60 dengan volume 5.. dengan kecepatan putaran pengadukan 100 rpm.1 dan 119 °C pada natrium ibuprofen hasil sintesis terlihat adanya puncak endotermik yang menunjukkan terjadinya dehidrasi dari natrium ibuprofen..1 M HCl/dapar fosfat pH 7. 20(3). dan tablet dinyatakan hancur jika tidak ada bagian yang tertinggal di atas kasa. yang secara teoritis adalah 13. Hal ini sesuai dengan hasil pada kurva DTA yaitu munculnya puncak endotermik pada suhu ± 80 °C. dan diputar selama empat menit dengan kecepatan 25 putaran per menit.. UV-VIS pada Hasil dan Pembahasan Karakteristik natrium ibuprofen hasil sintesis Waktu hancur tablet ditentukan dengan cara memasukkan enam tablet ke dalam masingmasing tabung pada alat disintegration tester.9 °C yang berhubungan dengan proses meleleh dan merupakan titik leleh dari natrium ibuprofen hasil sintesis.. 30. Dicatat waktu hancurnya ketika tablet terakhir hancur (Anonim. dibiarkan tenggelam ke dalam dasar labu sebelum diaduk. 1979).2.0 mL. Pola termogram DSC dari senyawa ibuprofen dan natrium ibuprofen dapat dilihat pada Gambar 2.2. 50. pada suhu 37 ± 0. Pola termogram TGA (garis putus-putus)/DTA (garis penuh): (a) ibuprofen.. Tiap kali pengambilan sampel. 144 a Majalah Farmasi Indonesia. Uji disolusi dilakukan selama 1 jam dengan pengambilan sampel pada menit ke 10. Pada suhu 102. . Kerapuhan tablet ditentukan dengan cara membebasdebukan dua puluh tablet kemudian ditimbang (Wo). 40. Kerapuhan (%) = W 0 W −W 0 x 100% menggunakan spektrofotometer panjang gelombang 265 nm. Tablet dimasukkan dalam labu disolusi.0 mL.Pembuatan garam ibuprofen dan aplikasinya. Puncak endotermik kedua pada DTA muncul pada 199. Tablet dibebasdebukan lagi dan ditimbang (W). Uji disolusi Alat yang digunakan adalah USP tipe II (paddle/dayung). 2009 b Gambar 1. Dihitung selisih beratnya dalam persen.. volume medium diganti dengan larutan medium baru dengan volume dan suhu yang sama.. hanya tampak puncak endotermik yang menunjukkan titik leleh dari ibuprofen. Dua molekul air yang hilang sesuai dengan kehilangan berat sejumlah 13.5 °C. Tabung dinaikturunkan secara teratur. jarak dayung dari dasar labu adalah 2.5 °C. Volume medium disolusi yang digunakan 900. Masing-masing sampel yang diperoleh ditentukan serapannya Berdasarkan pola termogram TG/DTA ibuprofen dan natrium ibuprofen hasil sintesis (Gambar 1) terlihat pada kurva TGA bahwa natrium ibuprofen merupakan bentuk dihidrat yang kehilangan dua molekul air melalui transisi endotermik antara 70 °C dan 90 °C.. Uji disolusi dilakukan dalam larutan dapar fosfat pH 7. 20.

Lannie Hadisoewignyo a b Gambar 2. 20(3). (b) natrium ibuprofen hasil sintesis. a b Majalah Farmasi Indonesia.1 N: (a) ibuprofen. 2009 145 . a b Gambar 3. Spektrum ultraviolet dalam larutan NaOH 0. (b) natrium ibuprofen hasil sintesis. Pola termogram DSC: (a) ibuprofen.

5 °C.. Spektrum 146 Majalah Farmasi Indonesia. Puncak ibuprofen menunjukkan hanya terdapat satu endotermik yang berikut terlihat pada suhu puncak serapan yang tajam pada θ 265 nm 204.Pembuatan garam ibuprofen dan aplikasinya. 20(3).. berarti tidak terjadi perubahan Spektrum ultraviolet ibuprofen dan struktur pada natrium ibuprofen hasil natrium ibuprofen dalam larutan NaOH 0. (b) natrium ibuprofen hasil sintesis. (b) natrium ibuprofen hasil sintesis. N dapat dilihat pada Gambar 3.. dari natrium ibuprofen hasil sintesis.. Gambar 6.... serapan.1 sintesis.. berkaitan dengan proses meleleh serta adanya puncak kecil di 272 nm. Berdasarkan spektrum ultraviolet ibuprofen Sedangkan pada ibuprofen hanya terlihat dan natrium ibuprofen dapat disimpulkan satu puncak endotermik yang berkaitan bahwa tidak terjadi pergeseran puncak dengan proses meleleh dari ibuprofen. 2009 ... a b Gambar 5. Foto SEM: (a) ibuprofen. Pola difraksi sinar-X: (a) ibuprofen. ultraviolet ibuprofen maupun natrium dihidrat menuju ke bentuk anhidrat.

16±0.13 368.13±0. Spektrum inframerah ibuprofen dan natrium ibuprofen dapat dilihat pada Gambar 4.8±1. pada garam natrium ibuprofen hasil sintesis tampak adanya puncak serapan yang masih menunjukkan keberadaan gugus -OH yang muncul pada daerah 3363.11±0.01 Carr’s Index (%) 11.47±0. dan 1300-1050 cmˉ1 (rentangan C-O) (Skoog et al. 1450-1375 cmˉ1 (bengkokan CH3).51±0.81 Dg (µm) 342.00 3. Interpretasi spektrum inframerah ditekankan pada pergeseran pita-pita puncak.58 9. Selain itu.88±0.. hal ini disebabkan garam natrium ibuprofen yang dihasilkan merupakan bentuk hidrat. dan intensitas spektrum pada daerah bilangan gelombang yang karakteristik pada spektrum ibuprofen dan natrium ibuprofen hasil sintesis. Karakteristik granul ibuprofen (IBP) dan natrium ibuprofen hasil sintesis (NaIBP) Zat IBP Na IBP Kadar air /MC (%) 6.25 28.8±1. Morfologi permukaan partikel natrium ibuprofen hasil sintesis terlihat memiliki permukaan yang lebih Majalah Farmasi Indonesia. hal ini menunjukkan perbedaan dalam kristalinitas antara ibuprofen dan bentuk garam natriumnya. Selain itu.46±0.5±1. 01 1. 2007).5 4.3±0. terdapat juga spektrum pada daerah 1600-1500 cmˉ1 (rentangan C=C aromatis).07±0.67±0.69 2.26 Kecepatan Alir (g/dt) 12.06 5.18 Sudut Diam (°) 29. Ibuprofen memiliki jarak absorpsi antara 1760-1690 cmˉ1 karena adanya vibrasi rentangan yang khas dari gugus karbonil (θ(C-O)).Lannie Hadisoewignyo Tabel III.00 ρ tapped (g/ml) 0.1 M HCl Spektrofotometer inframerah digunakan untuk mengidentifikasi adanya gugus-gugus fungsi pada senyawa hasil sintesis.86 cmˉ1.92 2.33±1. pola.28 6. Hasil foto Scanning Electron Microscopy (SEM) dari ibuprofen dan natrium ibuprofen hasil sintesis dapat dilihat pada Gambar 6.3±0. Pada natrium ibuprofen hasil sintesis menunjukkan frekuensi serapan C=O yang Tablet Ibuprofen 685. Pengukuran dengan sudut difraksi (2θ) menunjukkan puncakpuncak yang berbeda antara ibuprofen dan natrium ibuprofen.0 Natrium Ibuprofen 798.8±0.95±0.01 0. Karakteristik tablet ibuprofen dan tablet natrium ibuprofen hasil sintesis yang dibuat dengan metode granulasi basah Parameter Keragaman bobot Kekerasan (Kp) Kerapuhan (%) Waktu hancur (menit) Air 0.42±0.88 ρbulk (g/ml) 0. Adanya serapan O-H asam karboksilat yang sangat lebar.5 nilainya lebih rendah bila dibanding dengan asam karboksilatnya karena terjadi resonansi dan merupakan vibrasi dari rentangan (θas(COOˉ)).29±1.54±0. 2009 147 .01 0.01 13. muncul pada daerah dari 3300 cmˉ1 hingga 2850 cmˉ1.39 4. Pola difraksi sinar-X dari ibuprofen dan natrium ibuprofen hasil sintesis dapat dilihat pada Gambar 5.4 4.16 Hausner ratio 1. 01 Tabel IV. 20(3).35 2.

dan sudut diam yang lebih kecil dari pada ibuprofen. dibuktikan dengan nilai Carr’s index.. 1989). Karakterisasi granul Karakteristik granul ibuprofen maupun natrium ibuprofen hasil sintesis yang dibuat dengan metode granulasi basah..22 θm. memiliki kadar air yang berbeda.35 %. Granul ibuprofen dan natrium ibuprofen hasil sintesis yang dibuat dengan metode granulasi basah.. (b) tablet natrium ibuprofen. kasar dibandingkan dengan ibuprofen.. Karakterisasi tablet Karakteristik tablet yang dihasilkan dari metode granulasi basah ibuprofen dan natrium ibuprofen hasil sintesis dapat dilihat pada Tabel IV. sedangkan syarat sudut Gambar 7. Selain itu granul natrium ibuprofen hasil sintesis memiliki densitas yang lebih besar dari densitas granul ibuprofen. Granul natrium ibuprofen hasil sintesis memiliki sifat alir yang lebih baik dari granul ibuprofen. Syarat granul dapat mengalir dengan baik jika Carr’s index tidak kurang dari 20 %.. Profil pelepasan obat dalam larutan dapar fosfat 0.26 % dibanding dengan granul ibuprofen yang mengandung kadar air 6. dengan waktu pengeringan yang sama... sehingga dapat mengurangi masalah dalam pencetakan tablet untuk mendapatkan bobot tablet yang diinginkan.. 1983). Diameter geometris dari serbuk natrium ibuprofen hasil sintesis adalah 96. Keduanya cenderung membentuk agregat.. 20(3). Kadar air granul natrium ibuprofen lebih kecil yaitu 2.. diam granul yang dikehendaki adalah 25-40º (Peck et al. Menurut Guyot untuk 100 gram granul atau serbuk dengan waktu alir lebih dari 10 detik akan mengalami kesulitan dalam penabletan (Fudholi. Majalah Farmasi Indonesia. dan Hausner-ratio kurang dari 1.Pembuatan garam ibuprofen dan aplikasinya. sedangkan untuk ibuprofen 76.25 (Wells.2: (a) tablet ibuprofen. Hausner ratio.2 M pH 7. 2009 148 . dapat dilihat pada Tabel III.. 1988).4 θm. hal ini disebabkan karena ukuran partikel granul natrium ibuprofen hasil sintesis lebih besar dari pada granul ibuprofen.

Sedangkan dalam medium dapar fosfat pH 7.13 µm) serta jumlah serbuk halus lebih banyak dari pada granul natrium ibuprofen hasil sintesis (368. morfologi permukaan granul yang lebih kasar pada natrium ibuprofen hasil sintesis menyebabkan terjadinya ikatan antar partikel yang lebih kuat dengan terjadinya interlocking.2 tablet natrium ibuprofen hasil sintesis hancur dengan lebih lambat dan membentuk hancuran mikrogranuler.Lannie Hadisoewignyo Pada uji keseragaman bobot tablet. dalam waktu 30 menit. hal ini sesuai dengan penampakan visual pada uji waktu hancur.88 µm). yaitu berkisar 90-100 %. dapat dilakukan dengan cara meningkatkan konsentrasi pengikat yang digunakan. 20(3). Selain itu. hal ini disebabkan karena sifat hirofilisitas natrium ibuprofen hasil sintesis yang lebih besar dari pada ibuprofen sehingga akan lebih mudah terbasahi. sehingga tablet ibuprofen yang dibuat dapat dinyatakan telah memenuhi persyaratan uji disolusi menurut Farmakope Indonesia IV. Persyaratan uji kerapuhan tablet yang baik adalah kurang dari 1 % (Banker dan Anderson.2. hal ini disebabkan karena granul ibuprofen yang dihasilkan memiliki ukuran partikel lebih kecil (342. sedangkan tablet ibuprofen hancur dalam ukuran yang lebih besar atau makrogranuler. Pada menit ke-60. Pada uji waktu hancur dalam medium air dan HCl 0. sedangkan pada tablet natrium ibuprofen hasil sintesis. Uji disolusi Hasil uji disolusi menunjukkan bahwa tablet natrium ibuprofen hasil sintesis memiliki persen pelepasan obat yang lebih tinggi dari pada tablet ibuprofen. Kekuatan mekanik yang lebih besar pada natrium ibuprofen hasil sintesis disebabkan karena kompaktibilitas yang lebih baik. 1986).1 N. Pada uji kerapuhan untuk semua formula tidak memenuhi persyaratan kerapuhan tablet. Kerapuhan tablet natrium ibuprofen lebih kecil dari tablet ibuprofen. obat yang dilepaskan sudah lebih dari 70 % dalam waktu 10 menit. sedangkan pada tablet ibuprofen hanya berkisar 32 %. sehingga kekuatan ikatan antar partikel dapat itingkatkan dan kerapuhan dapat diperkecil. Pada 10 menit pertama sekitar 72 % obat terlepas pada tablet natrium ibuprofen hasil sintesis. Data kekerasan tablet menunjukkan bahwa tablet natrium ibuprofen hasil sintesis memiliki kekuatan mekanik yang lebih besar dari pada tablet ibuprofen. 2009 149 . didapatkan bahwa semua formula memenuhi persyaratan uji keseragaman bobot menurut Farmakope Indonesia III. dapat memberikan mula kerja obat yang lebih cepat dibandingkan dengan tablet ibuprofen. tablet natrium ibuprofen hasil sintesis memiliki waktu hancur yang lebih cepat daripada tablet ibuprofen.2 M pH 7. tidak kurang dari 70 % ibuprofen harus dapat dilepaskan dari tablet ibuprofen. Menurut persyaratan Farmakope Indonesia IV. Majalah Farmasi Indonesia. Jika dikaitkan dari hasil uji waktu hancur. hal ini disebabkan karena serbuk natrium ibuprofen hasil sintesis mengalami derajat fragmentasi yang lebih tinggi dari pada serbuk ibuprofen sehingga akan terbentuk permukaan baru yang dapat memfasilitasi terjadinya ikatan antar partikel. Profil pelepasan obat pada tablet ibuprofen dan natrium ibuprofen hasil sintesis dapat dilihat pada Gambar 7. terutama pada menit-menit awal. tidak terlalu berbeda antara persen obat yang dilepaskan pada tablet natrium ibuprofen hasil sintesis maupun tablet ibuprofen. tablet natrium ibuprofen hasil sintesis memiliki waktu hancur yang lebih lama dari pada tablet ibuprofen dalam larutan dapar fosfat 0. Untuk mengatasi masalah ini. tablet natrium ibuprofen hasil sintesis hancur dengan membentuk hancuran yang mikrogranuler. tetapi persen obat yang dilepaskan lebih besar dari tablet ibuprofen. Lebih cepatnya obat lepas pada menit-menit awal tablet natrium ibuprofen hasil sintesis.

Shaw. and Crouch. 461-463... L. The Pharmaceutical Codex.. Grattan. Departemen Kesehatan RI Jakarta.. Stavchansky. Lennernas. N. Skoog. .E.. Thomson Brooks/Cole. Ellis Horwood Limited.J. Wincosin Ave.E.A. G. American Society of Health System Pharmacists. L. ed. J. Tablet Formulation and Design.. I. Dong.. Junginger.. V. Great Britain.R. Farmakope Indonesia.III. Salt Selection and Polymorphism in Pharmaceutical Industry. 258-326.. 3rdEd. M. pp.. Banker. Bailey... G... Ramachandran.org [2007.S. N. in:Lieberman. Pharmaceutical Press. Metodologi Formulasi dalam Kompresi Direk.. Principles of Instrumental Analysis. 908-911. (ed). G. Kasim. Anonim. H.. PP. Lachman. 1988. Midha. Marcel Dekker Inc. 2007. T.. H.J. C. and Amidon. M. Natrium ibuprofen dapat dipertimbangkan sebagai solusi dari masalah formulasi dan disolusi dari ibuprofen.J. 591-592. Pharmaceutical Preformulation The Physicochemical Properties of Drug Substances. pp.. Shah. Bentuk garam natrium ibuprofen dalam sediaan tablet. 1983. 2005. Drug Development and Industrial Pharmacy. Anonim.I. A. J. (eds. 1989. Kesimpulan Granul natrium ibuprofen hasil sintesis memiliki sifat alir yang lebih baik dan berat jenis yang lebih besar dari pada granul ibuprofen.com 150 Majalah Farmasi Indonesia. 031-70007576 E-mail: lanhadi@yahoo. S.E. L.. sehingga dapat mengurangi masalah dalam pencetakan tablet. 1979. Irwin.J. pp.. B. W. 6th Edition.S.. Medika.A.. Peck. Dinoyo 42-44 Surabaya-60265. 2009 .A. 293-345. H.. and Anderson. New York... Z.. hal. www.. D. Whitehouse.. Canada... F.R. Vol. J..A. 586-593... Molecular Pharmaceutics. 2nd Edition. V. The Effect of Selected Water-Soluble Excipients on the Dissolution of Paracetamol and Ibuprofen. Lund. MD.. W... K. pada menit-menit awal Daftar Pustaka me-nunjukkan pelepasan obat yang lebih tinggi dari pada ibuprofen sehingga dapat memberikan mula kerja obat yang lebih cepat.L. Marcel Dekker lnc. Bermejo. G. 12th ..Pembuatan garam ibuprofen dan aplikasinya. Wells.R.A. London.B. 2005. New York. Oktober 5]. and Schwartz... and Banker.sapawest.L. 1994. Lieberman. 20(3). G.. S. Tablets. Fudholi. H. and Kanig..R. 1986. pp.K.): Pharmaceutical Dosage Form: Tablet..P. in: Lachman. AHFS Drug Information. Telp.. Holler. 1499-1504. 85-96. Hussain. 2004. 31(6). 209-211. 1(1).. Bethesda. 6-7. A. 515-525. 1997. McCurdy. (eds): The Theory and Practise of Industrial Pharmacy. 9.S. *Korespondensi: Lannie Hadisoewignyo Fakultas Farmasi Unika Widya Mandala Surabaya Jl. and Conway. pp. Molecular Properties of WHO Essential Drugs and Provisional Biopharmaceutical Classification. pp.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful