1.

Menyimak Adalah suatu proses mendengarkan lambang-lambang bahasa lisan dengan sungguh-sungguh penuh perhatian, pemahaman, apresiatif yang dapat disertai dengan pemahaman makna, komunikasi yang disampaikan secara non verbal. Hubungan menyimak dengan berbicara

o

Yaitu, merupakan komunikasi 2 arah/tatap muka secara langsung Hubungan menyimak dengan membaca

o

Keduanya bersifat reseptif (menerima) Hubungan menyimak dengan menulis

o

Menyimak dapat menumbuhkan kreativitas menulis

2. Berbicara Adalah suatu proses penyampaian pesan dari sumber kepada penerima melalui media. Hubungan berbicara dengan menyimak

o

Berbicara dan menyimak merupakan kegiatan komunikasi dua arah yang langsung, merupakan komunikasi tatap muka. Hubungan berbicara dengan membaca

o

ide. Hubungan antara berbicara dengan menulis o Seorang pembicara yang baik biasanya memerlukan persiapan tertulis. pendapat. perasaan. 3. pikiran. Membaca juga sebagai alat utama yang harus dimulai orang yang menghendaki kehidupan yang baik. . Dengan adanya persiapan dalam bentuk tulisan. Membaca Rudolf Flesch memandang membaca sebagai kegiatan memperoleh makna dari berbagai gabungan huruf. Membaca merupakan jantungnya pendidikan. dan pesan kepada orang lain. seorang pembaca akan menjadi mudah memaparkan isi.Kemampuan umum berbahasa lisan memiliki pengaruh yang besar dalam melatarbelakangi pengalaman-pengalaman yang berarti dan keterampilan-keterampilan bagi pengajaran membaca.

Berkaitan dengan ini. kedua ragam ini pada umumnya berbeda. bahasa . yaitu (1) faktor kejelasan. artinya meskipun gelap orang masih bisa berkomunikasi. yaitu ragam bahasa lisan dan ragam tulisan. pada saat itu pula dapat dikoreksi. Badudu (1985: 6) menjelaskan pula perbedaan bahasa lisan dan tulisan. sedangkan dalam bahasa tulisan diperlukan keseksamaan yang lebih besar. menulis. Hal ini menunjukan bahwa peranan penggunaan bahasa ragam lisan itu penting. 0610072 BAB II PEMBAHASAN Kemampuan berbahasa Indonesia adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi masyarakat Indonesia. Sebagaimana diungkapkan oleh Moeliono (Ed. dan (6) pemahaman guru terhadap isi/pesan yang disampaikan anak-anak dwibahasawan sekolah dasar.NAMA. Pateda (1987: 63) menyebutkan bahwa ada empat alasan mengapa bahasa lisan itu penting dalam komunikasi. bahwa ragam bahasa menurut sarananya lazim dibagi atas ragam lisan dan ragam tulisan (1988: 6). Dalam proses pemerolehan dan penggunaannya. leksikal. Bagian-bagian tersebut secara formal terjadi dalam konteks komunikasi di kelas melalui proses belajar-mengajar. morfologi. karena pembicara menambahkan unsur lain berupa tekan dan gerak anggota badan agar pendengar mengerti apa yang dikatakannya. (3) fungsi bahasa. (2) ragam bahasa lisan. Dalam bidang pendidikan dan pengajaran di sekolah dasar. berbeda halnya dengan penggunaan ragam bahasa tulisan. dan berbicara. Menurutnya. apabila terjadi kesalahan. Hal-hal yang dimaksud adalah bagian-bagian yang terkait dengan berbagai permasalahan yang terjadi dalam penelitian ini. (5) isi pesan komunikasi. maka apa yang mungkin tidak jelas dalam pembicaraan dapat dibantu dengan keadaan atau dapat langsung ditanyakan kepada pembicara. Pelajaran bahasa Indonesia diajarkan kepada murid berdasarkan kurikulum yang berlaku. pembicara segera melihat reaksi pendengar terhadap apa yang dibicarakan. mendengarkan (menyimak). bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran pokok. Apa yang tidak jelas dalam bahasa tulisan tidak dapat ditolong oleh situasi seperti bahasa lisan. (2) faktor kecepatan. (3) dapat disesuaikan dengan situasi. Keterampilan berbahasa itu tidak saja meliputi satu aspek. khususnya berbagai persoalan yang akan dibahas dalam bab ini. Penggunaan ragam bahasa lisan mempunyai keuntungan. tetapi di dalamnya termasuk kemampuan membaca. yaitu karena bahasa ragam lisan digunakan dengan hadirnya peserta bicara. (4) keterkaitan antara penggunaan ragam dan fungsi bahasa. Salah satu tujuan pokoknya adalah murid mampu dan terampil berbahasa Indonesia dengan baik dan benar setelah mengalami proses belajar mengajar di sekolah. A. Bahasa Lisan Ada dua ragam komunikasi yang digunakan manusia melalui bahasa. sintaksis). Adapun bagian-bagian yang akan dibahas tersebut adalah (1) struktur ragam bahasa lisan (fonologi. tidak terkecuali murid sekolah dasar. yang di dalamnya (kurikulum pendidikan dasar) tercantum beberapa tujuan pembelajaran.). Ada beberapa hal yang perlu dikemukakan. Dalam penggunaannya. Dalam bahasa lisan. dan (4) faktor efisiensi. Sebaliknya. keterampilan berbahasa tersebut saling berkaitan. TETE NIM. khususnya kemampuan murid dalam berbicara (bahasa lisan). karena dengan bahasa lisan banyak yang dapat diungkapkan dalam waktu yang relatif singkat dan tenaga yang sedikit.

saran-saran suprasegmental memberi sumbangan yang berarti terhadap keberhasilan suatu komunikasi. dan masalah yang dikemukakan. peristiwa konstruksi pasif relatif jarang terjadi. penggunaan susunan kalimat dihubungkan oleh dan tetapi. dari informasi auditif. juga. 2. tentunya tidak terlepas dari penutur-penutur bahasa itu atau orang yang menggunakan bahasa dalam kehidupan bermasyarakat. yaitu (a) bahasa lisan berisi beberapa kalimat tidak lengkap. selain itu. Dalam hal ini Uhlenbeck dalam Teeuw (1984: 27) pun menjelaskan bahwa keberhasilan komunikasi tidak tergantung pada epek sarana-sarana lingual saja. kalimat-kalimat pendek dapat diobservasi. 8. antara lain gejala intonasi yang berupa aksen. bahasa tulis harus disusun lebih sempurna. (b) bahasa lisan secara khusus memuat lebih sedikit kalimat subordinat. dan kognitif (berdasarkan pengetahuan dan penapsiran). dan (c) dalam percakapan lisan. Penggunaan Bahasa Ragam Lisan Berbicara tentang penggunaan bahasa. jika bahasa tutur itu kurang jelas oleh situasi. mata dan anggota badan lainnya. bahkan sering urutan frasa-frasa sederhana. ketika). juga (Brown dalam Yule. lalu. dan keras lembutnya suara. Di samping itu. dalam proses sosialisasinya dapat berfungsi sebagai pembicara. Dalam bahasa tulisan terdapat seperangkat penanda metabahasa untuk menandai hubungan antar klausa (bahwa. Dalam penggunaan bahasa lisan. alat atau sarana yang memperjelas pengertian seperti bahasa lisan itu tidak ada. Dalam bahasa lisan. tentu. Penggunaan bahasa lisan. sedangkan dalam bahasa lisan umumnya berstruktur topik komentar. dan oleh mimiknya. penutur dapat mempercayakan petunjuk pandangan untuk membantu suatu acuan. 6. meskipun kalimat yang diucapkan oleh seorang pembicara tidak lengkap. 1. engkau tahu. Penutur sering mengulangi beberapa bentuk kalimat. Sejumlah ahli telah melakukan studi bahasa lisan. 7. Penutur-penutur bahasa itu. pembaca dan pendengar atau penyimak.lisan lebih bebas bentuknya daripada bahasa tulisan karena faktor situasi yang memperjelas pengertian bahasa yang dituturkan oleh penutur. Meskipun penggunaan bahasa lisan itu memiliki banyak kelonggaran bila dibandingkan dengan bahasa tulisan (seperti diuraikan di atas). situasi harus dinyatakan dengan kalimat-kaliamt. Itulah sebabnya. Dalam bahasa tulisan. Saran suprasegmental itu. 5. bahasa lisan yang digunakan dalam tuturan dibantu pengertiannya. tekanan kata. Dalam obrolan akrab. sedangkan dalam bahasa tulisan. Gambaran karakteristik bahasa lisan sebagaimana telah diungkapkan oleh para ahli yang dimaksud yaitu: 1. Dalam menggunakan bahasa lisan perlu diperhatikan oleh setiap penutur mengenai situasi. bukan berarti penggunaan dapat dilakukan seenaknya. serta agak jarang jika. yang disebut logical connector. Kalimat bahasa tulisan secara umum berstruktur Subjek–Predikat. Kalimat bahasa lisan banyak yang kurang terstruktur ketimbang bahasa tulisan. 3. penulis. kita dapat menangkap maknanya dengan melihat lagu kalimatnya serta gerak-gerik tangan. pemahaman pemakaian bahasa lisan adalah hasil permainan bersama yang subtil dari data pengetahuan lingual dan ekstra lingual. Penyimak dan pembaca dalam hal proses berbahasa ini berfungsi . saya pikir. 4. tinggi rendahnya nada. dan biasanya berbentuk kalimat deklaratif aktif. Penutur sering menghasilkan sejumlah pengisi (filter). seperti. Dalam tuturan formal. biarpun. visual. di samping itu. misalkan. Penutur dapat menjaring ekspresi lawan bicara. baiklah. 1983: 12). lawan bicara. oleh gerak-gerak pembicara.

Berbeda halnya dengan penggunaan bahasa. Saussure memberinya istilah dengan langue. apabila di antara kedua belah pihak terdapat dalam masyarakat bahasa yang sama. Bahasa yang digunakan oleh seseorang akan berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh orang lain. belumlah dapat dikatakan mampu berbahasa dengan baik. 1985: 4). yang mengacu pada tempat dan waktu terjadinya . Berkaitan dengan ini Anton Moeliono (Ed. tata makna. Dalam hal ini Rusyana (1984: 104) menjelaskan bahwa berbahasa dengan baik berarti bukan saja dapat menguasai struktur bahasa dengan baik. Kenyataan yang terjadi di masyarakat adalah bahwa bahasa itu terdiri dari berbagai ragam. Kedelapan faktor itu adalah (1) setting and scence. Komunikasi di antara pembicara dan pendengar atau penulis dengan pembaca dapat berjalan lancar. Dengan demikian. karena penggunaan bahasa bersifat heterogen. sama bagi semuanya dan berbeda di luar kemauan penyampainya. Istilah competence (kompetensi) diartikan sebagai “… the speaker hearers knowledge of his language …” (Aiwasilah. sistem gramatikal (tata bentuk kata. 1988: 88). dan kosa kata. mendengar. Kevariasian bahasa itu dipengaruhi oleh siapa yang berbicara. sesuai pokok permasalahan. sedangkan pembicara dan penulis berfungsi sebagai orang yang memproduksikan (menghasilkan) bahasa. tata bentuk kalimat). dan variasi bahasa menurut penggunaannya (use) disebut dengan istilah register. yaitu diistilahkan dengan parole. Untuk itu. supaya apa yang ingin diungkapkan dapat diterima oleh lawan tuturnya. setiap penutur harus menggunakan bahasa tersebut sesuai dengan situasi dan fungsinya. Konsep penggunaan bahasa itu didasari teori Sassure. yaitu totalitas dari sekumpulan fakta satu bahasa.) menguraikan bahwa orang yang mahir menggunakan bahasanya sehingga maksud hatinya mencapai sasarannya. dan suasana pembicaraan. lawan bicara. Langue adalah sesuatu yang ada pada setiap individu. seorang penutur harus lebih cermat dalam menggunakan bahasanya. Langue merupakan norma dari segala pengungkapan bahasa. situasi. yaitu sistem bunyi bahasa. topik pembicaraan. Orang yang berhadapan dengan sejumlah lingkungan hidup memilih salah satu ragam yang cocok dengan situasi itu. tetapi kurang terampil menulis dan begitu pula halnya dengan keterampilan yang lainnya. Keterampilan bahasa yang terdiri dari berbicara.sebagai penerima. Ini sebagai satu gudang segala fakta kebahasaan yang ada pada setiap orang. Dalam hal ini Fishman (1972: 149) membedakan variasi bahasa tersebut menurut penuturnya (user). Langue adalah suatu sistem yang memiliki susunan sendiri. Setiap penutur dapat dikatakan terampil berbahasa apabila ia memiliki kompetensi atau langue dari bahasa yang dikuasainya. yang disebut dengan dialek. membaca ini pun pada umumnya jarang dikuasainya penutur yang sama baiknya. setiap bahasa memiliki seperangkat sistem. Del Hymas merinci faktor-faktor yang mempengaruhi pemakaian bahasa menjadi delapan faktor. Perangkat sistem ini ada dalam benak penutur. Ragam itu ada yang berhubungan dengan pemakaian bahasa dan ada pula yang berhubungan dengan pemakaiannya. Pemanfaatan ragam yang tepat dan serasi menurut golongan penutur dan jenis pemakaian bahasa itulah yang disebut bahasa yang baik dan tepat (1988: 19). dengan pemakaiannya keterampilan penutur dalam menggunakan bahasa sesuai dengan sistem-sistem di atas. Bahasanya memberikan efek atau hasil karena serasi dengan peristiwa atau keadaan yang dihadapinya. tetapi juga dapat memakainya secara serasi. Parole adalah bahasa sebagaimana ia dipakai karena itu sangat bergantung pada faktor-faktor linguistik ekstern (Sassure dan Rahayu. menulis. Ada penutur yang terampil berbicara. tokoh bicara. Penggunaan bahasa mengenal berbagai variasi. apa pun jenisnya itu disebut berbahasa dengan efektif. Dengan demikian. Namun. dan sebagainya. Kaitannya dengan penelitian ini penggunaan bahasa yang dimaksud adalah parole.

Badudu (1985: 12) menjelaskan bahwa yang sering sukar dihindari adalah pengaruh lafal bahasa daerah. yang mengacu kepada peserta komunikasi yang terdiri atas pembicara/pengirim. leksis (pilihan kata). Seperti dikatakan oleh Badudu (1985: 12) bahwa tidak seorang pun yang dapat melepaskan diri dari pengaruh itu seratus persen. akhirankan akan diucapkan dengan /ken/. dan masing-masing suku memiliki bahasa daerah. (4) sintaksis. yang mengacu kepada norma perilaku dalam berinteraksi. (3) morfologi. Atau orang yang berasal dari Jawa. dan sintaksis. Pengaruh tersebut beragam. Kata-kata seperti mengapa. Ada pengaruh lafal. Mengenai pengertian lafal baku tersebut. Lebih lanjut dikatakannya. dialek. (2) participant. kata-kata yang befonem /e/ akan dilafalkan dengan /E/. tampaknya pengaruh lafal bahasa daerah sering kita dengar. Akan tetapi. maka lafalnya dapat digolongkan kepada bahasa baku (standar). Bali. Lagi pula agaknya pengaruh-pengaruh tersebut sulit untuk dihindari dengan sepenuhnya. Sejalan dengan pendapat tersebut. ada pengaruh bentuk kata. Dari beberapa pengaruh tersebut. dan (5) intonasi (Badudu. (5) key. Untuk mengetahui ragam bahasa apa yang dipakai oleh seseorang kita dapat mengenalnya melalui (1) pilihan kata atau leksis. yang mungkin adalah bahwa pengaruh ini sangat sedikit. . Keadaan seperti ini akan berpengaruh terhadap pemakaian bahasa Indonesia. yang dilihat dari segi fonologi (pelafalan/pengucapan). yang mengacu kepada bentuk dan jenis bahasa yang digunakan dalam komunikasi. intonasi. identitas kata-kata. Kemudian. 1991: 85). yang dipakai dalam keadaan atau keperluan/tujuan yang berbeda-beda. tidaklah mengherankan kalau bahasa daerah tersebut sudah menyatu dengan kehidupan masyarakat di Indonesia. kemana. dan (8) genres. Bila seseorang dalam berbahasa Indonesia (lisan) terdengar bahasa daerahnya. Berkaitan dengan pendapat di atas. dan juga dipergunakan di lingkunagn keluarga. (6) instrumentalities. (4) actsequence. bila seseorang dalam berbahasa Indonesia tidak terdengar lafal bahasa daerahnya. pendengar/penerima. prosa puisi (Hymes dalam Bell. 2. Bila kita perhatikan lafal orang Tapanuli misalnya. sehingga sukar kita menerka dari suku manakah orang yang bertutur itu berasal. diucapkan dengan menggunakan /e/ benar. misalnya cerita. ada juga pengaruh struktur kalimat. Oleh karena itu. Soemantri (1987: 11) mengemukakan bahwa lafal bahasa Indonesia yang standar adalah tuturan bahasa Indonesia yang tidak terlalu menonjol ciri lafal daerah penuturnya. yang mengacu kepada bentuk dan isi pesan komunikasi. Perbedaan struktural ini berbentuk ucapan. karena lidah penutur yang sudah “terbentuk” sejak kecil oleh lafal bahasa daerahnya. Badudu (1980: 115) menjelaskan bahwa lafal bahasa Indonesia baku adalah lafal yang tidak memperdengarkan “warna” lafal bahasa daerah atau dialek. kosakata dan sintaksis (kalimat). maka lafalnya tergolong lafal nonbaku. (2) fonologi. (7) norms. morfologi. Bahasa daerah tersebut dipergunakan oleh bangsa (masyarakat) Indonesia sebagai sarana komunikasi antar suku. ragam bahasa yang digunakan dalam komunikasi. morfologi (bentuk kata). ada pengaruh makna kata. Ragam-ragam itu menunjukan perbedaan struktural dalam unsur-unsurnya. Demikian pula dengan suku-suku lain misalnya Sunda. dalam penelitian ini akan memfokuskan pada pemakaian bahasa.komunikasi. karena. (3) ends (pupose and goals). Nebaban (1984: 22) menjelaskan bahwa setiap bahasa mempunyai banyak ragam. yang mengacu kepada tujuan dan hasil atau harapan mengadakan komunikasi. yang mengacu kepada sarana atau perantara yang digunakan dalam komunikasi dan bentuk tuturan. bahasa. 1976: 81). yang mengacu kepada gaya. Pelafalan (Pengucapan) Masyarakat Indonesia terdiri dari beratus-ratus suku. interpretasi komunikasi. Aceh. juga tidak memperdengarkan “warna” lafal bahasa asing seperti bahasa Belanda. bila berbicara akan diwarnai oleh pengaruh bahasa daerahnya. Inggris atau Arab.

yang dapat dikemukakan berkenaan dengan peristiwa tersebut. 1) Upaya yang dilakukan guru pada saat proses belajar berlangsung adalah digunakan bahasa Indonesia yang baik oleh guru ketika mengajar di kelas.dalam kata manjat. Data yang diperoleh dalam penelitian ini pun menunjukan bahwa penggunaan bentuk-bentuk morfologi dalam kalimat anak-anak dwibahasawan secara struktur sudah baik. yang seharusnya memanjat. Dalam bahasa lisan. Hal ini disebabkab oleh penggunaan ragam baku yang lebih sering digunakan dari pada ragam tidak baku. pemajemukan. struktur bahasa ragam lisan anak-anak dwibahasawan masih dipengaruhi oleh bahasa ibu dan bahasa percakapan. ketika meminjam buku. Karena pada umumnya para murid tergolong dwibahasawan. nembak. Meskipun demikian. ada beberapa hal. Hal ini disebabkan oleh lingkungan terjadinya peristiwa bahasa. mereka juga mampu merespon pembicaraan orang lain. dan membeli . Dalam peristiwa itu pun terjadi penggunaan struktur bahasa lisan pada anak-anak. menyuruh. aturan-aturan yang berlaku juga dapat digunakan sebagai tolak ukur baku atau tidaknya penggunaan bahasa secara keseluruhan. maka penggunaan bahasa Indonesia di kelas pun diwarnai bahasa daerah. dan mbeli (tidak baku). antara lain dapat terlihat pada penghilangan awalan me. morfologi. secara umum anak-anak telah mampu menggunakan seperangkat penanda linguistik yang diperlukan dalam berbahasa lisan sehingga mampu mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan orang lain. leksikal. Dalam hal ini. 2) Digunakannya ragam baku dan tidak baku dalam peristiwa komunikasi pada prinsipnya tidak mengganggu proses belajar mengajar di kelas. Di samping itu. bentuk morfologis. sintaksis dan semantik. Keseluruhan sistem bahasa itu meliputi bidang fonologi. Hanya terjadi beberapa kesalahan penggunaan afiksasi karena pengaruh bahasa daerah atau bahasa percakapan seharihari. Uraian di atas memberikan gambaran bahwa struktur bahasa ragam lisan anak-anak pun dapat dianalisis melalui unsur-unsur bahasa yang dugunakannya. Unsur-unsur bahasa itu tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang terpisah-pisah.3. Dari deskrifsi dan hasil analisis data. Peristiwa itu terjadi karena faktor lingkungan (keluarga dan masyarakat) mendominasi terjadinya penggunaan bahasa daerah setempat. Ragam tidak baku pada dasarnya digunakan anak-anak atas dasar pertimbangan situasi dan sosial. Kalimat yang pertama pada dasarnya digunakan sebagai acuan munculnya kalimat yang kedua. seperti frekuensi penggunaan bahasa ibu yang dominan. Hal ini. kalimat kedua dapat memunculkan kalimat ketiga dan seterusnya. bertanya. Hal ini terlihat pada kemapuan dalam penggunaan afiksasi. dan pengulangan. Situasi atau konteks peristiwa yang terjadi itu memang mengharapkan penggunaan ragam tidak baku oleh anak-anak. Pada dasarnya anak-anak usia sekolah dasar telah menguasai struktur bahasa secara sempurna. semantik dan sintaksis. memahami bahasa lisan seseorang dapat dilakukan. Pada saat proses belajar berlangsung terjadi berbagai ungkapan pikiran dan perasaan melalui bahasa lisan. dan marah dengan temannya yang sebahasa (bahasa ibu). Pada usia ini anak-anak di samping udah matang organ-organ bicaranya. Efek dari peristiwa itu. Anak-anak cenderung atau lebih sering menggunakan bahasa ibu daripada bahasa Indonesia ketika di rumah. seperti penggunaan bentuk-bentuk morfologi dalam kalimat-kalimat komplek. antara lain dengan cara menganalisis unsur-unsur bahasa dan aturan yang berlaku dalam bahasa itu. memetik. maka dalam peristiwa itu pun ragam bahasa lisan (baku dan tidak baku) tidak bisa dielakkan. Struktur Bahasa Ragam Lisan Anak-anak Dwibahasawan di SD Dalam wujudnya. unsur-unsur tersebut terangkai dalam wujud kalimat yang saling berkaitan. Kematangan anak-anak dapat diwujudkan secara verbal. Misalnya. menembak. metik. Oleh karena itu. bahasa yang kita gunakan terdiri dari unsur bunyi.

topik prmbicaraan yang telah ditentukan dapat dibahas bersama sesuai dengan pengalaman hidup sehari-hari. dan membandil (Indonesia=cabang pohon. Hal ini terdapat pada kata daerah (Jawa). pembicara dan pendengar ada dalam ruang dan waktu yang memberikan kemungkinan untuk berkontak secara langsung. Andaikan ada yang tidak dipahami. predikat. makna atau isi pembicaraan akan terwakili secara jelas berdasarkan ketepatan dalam penggunaannya. nyucuk. Di dalam konteks komunikasi formal. Di samping itu. Artinya. lawan bicara dan masalah yang dikemukakan. Sesuai dengan sifat dan penggunaannya. Penggunaan bahasa lisan banyak kelonggaran bila dibandingkan dengan bahasa tulisan. dan ‘bagaimana cara belajar yang baik’. Selain itu. saja. seharusnya hanya. kontekstual. . dan duren (tidak baku). bukan berarti penggunaan dapat dilakukan seenaknya. Kaitan dengan penilaian ini. Salah satu hal yang paling sempurna adalah penggunaan pemajemukan. nggak. Selanjutnya. Dalam hal ini. Rangkaian penjelasan itu secara kongkrit diungkapkan melalui kalimat-kalimat yang sesuai dan saling terkait. predikat dan objek. Berbagai pilihan dan penggunaan kata terkait langsung dengan topik pembicaraan. tidak ditemukan kesalahan dalam penggunaan kata majemuk pada bahasa lisan anak-anak dwibahasawan. terarah. lesapnya unsur-unsur kalimat tersebut masih dapat dianggap wajar karena hal itu terjadi dalam konteks bahasa lisan atau hadirnya antara pembicara (komunikator) dan pendengar (komunikan). dalam hal ini konstruksi pasif jarang terjadi. Hanya ada beberapa pilihan kata yang menyimpang akibat pengaruh bahasa ibu dan bahasa pergaulan sehari-hari. seperti pangnya. dan penggunaannya dalam ujaran sangat mempengaruhi isi pembicaraan. kalimat-kalimat yang digunakan anak-anak dwibahasawan terdiri dari beberapa kalimat deklaratif aktif. pilihan kata atau istilah-istilah yang digunakan anak-anak dwibahasawan secara umum dapat dikatakan baik (baku) bila diukur dengan konteks pembicaraan. Kesalahan juga terjadi pada kata ngambilin dan nunggu (tidak baku). dan melempar batu dengan ketapel). dan objek. seharusnya bintang-bintang dan berputar-putar. maka penggunaan bahasa lisan anak-anak lebih banyak berisi komentar. Hal ini terjadi karena topik yang harus disampaikan dalam proses komunikasi memerlukan penjelasan. Pilihan kata atau istilah yang tepat dan penggunaan kata yang baku dalam konteks pembicaraan akan mencerminkan kemampuan berbahasa. terjadi juga beberapa kesalahan penggunaan pada kata ulang. Karena itu.(baku). Kata-kata itu. antara lain cuma. (2) kalimat deklaratif aktif lebih banyak daripada konstruksi pasif. Keterkaitan itu terbukti oleh adanya saling dimengerti topik pembicaraan yang yang dibicarakan melalui berbagai pilihan atau penggunaan kata atau istilah. struktur kalimat yang terjadi pada anak-anak dwibahasawan adalah lesapnya unsur subjek. Meskipun demikian. seharusnya mengambil dan menunggu. ketidak jelasan itu mungkin sudah teratasi oleh pemahaman terhadap hubungan dalam peristiwa pembicaraan atau langsung dijelaskan oleh pembicara. tidak dan durian (baku). ada beberapa pilihan dan penggunaan kata yang disebabkan oleh bahasa pergaulan. Dalam wujudnya. Pilihan kata. walaupun ada yang jika dipandang dari kalimat-kalimat yang digunakan. anak-anak harus menjelaskan ‘pentingnya memelihara lingkungan’. tidak begitu jelas. aja. kosakata atau istilah. ’menceritakan pengalaman pribadi’. dan situasional. bahwa dalam penuturan lisan. Misalnya. mematuk makanan melalui paruh burung. Situasinya juga diketahui oleh kedua belah pihak. Akan tetapi. Artinya. struktur kalimat dalam ujaran anak-anak dwibahasawan berupa (1) topik komentar. Kenyataan seperti ini juga dijelaskan oleh Rusyana (1984: 130). dapat ditanyakan dan kemudian dijelaskan. dan (3) lepasnya unsur subjek. Yang dimaksud adalah bintangnya-bintang dan mutar-mutar (tidak baku). Dalam menggunakan bahasa lisan perlu diperhatikan oleh setiap penutur mengenai situasi. Pilihan dan penggunaan kata daerah digunakan anak-anak dwibahasawan karena kesulitan mencari padanannya.

Sebelum seseorang menguasai dua bahasa atau lebih.Dengan demiklian. Sebagian besar masyarakat. Meskipun anak-anak telah memasuki sekolah. maka hendaknya menggunakan bahasa Indonesia ragam baku. tidak dapat disangkal bahwa seseorang (dwibahasawan) akan mengalihkan atau mencampurkan bahasa lain ke dalam bahasa yang sedang digunakan pada saat komunikasi sedang berlangsung. Dari perjalanan waktu dan usia sekolah itulah. Hal ini dapat terjadi karena berbagai alasan. Selanjutnya alih kode sering terjadi ketika dwibahasawan sedang dalam keadaan lelah. antara lain agar pembicaraan dapat berlangsung komunikatif. Pergantian ragam baku ke ragam . Faktor yang paling dominan karena pada umumnya masyarakat Indonesia. Bagi anak-anak. Namun. Kedwibahasaan seseorang di dalam masyarakat pada dasarnya dapat dilihat dari kemampuannya menggunakan dua bahasa atau lebih. Terutama di daerahdaerah pedesaan. Dalam rentang waktu selanjutnya. sesuai dengan usianya kemudian seseorang akan mempelajari bahasa kedua. hal ini akan dialami apabila anak-anak mulai masuk sekolah. Alih kode juga terjadi sewaktu dwibahasawan menemukan kata yang sulit diungkapkannya tidak ada padanan yang tepat. Sebagai masyarakat dwibahasawan tentunya mereka mampu menggunakan lebih dari satu bahasa. 4. sehingga mereka dapat menguasai lebih dari satu bahasa. penyimpangan-penyimpangan struktur kalimat dan lesapnya unsur-unsur kalimat dalam ujaran anak-anak dwibahasawan disebabkan oleh sifat bahasa lisan itu sendiri. kita tidak heran bila kalau bahasa daerah atau bahasa percakapan akan mempengaruhi penggunaan bahasa Indonesia penuturnya. termasuk juga anak-anak sekolah dasar tergolong masyarakat dwibahasawan. maka pemakaian bahasa daerahlah yang cenderung dominan dalam berkomunikasi. baik dalam tataran formal ataupun nonformal. Bahasa ibu. yang merupakan bahasa pertama biasanya diperoleh dalam lingkungan keluarga atau masyarakat. Dengan kata lain. bahwa kegiatan beralih bahasa (kode) terjadi manakala dwibahasawan kekurangan fasilitas pada suatu bahasa pada saat dwibahasawan itu mengemukakan suatu topik. atau sedang marah. Senada dengan hal ini. dalam proses belajar mengajar di kelas. Berbagai uraian di atas pada dasarnya terjadi karena beberapa faktor. Hal ini terbukti karena bahasa daerah lebih sering digunakan bila dibandingkan dengan bahasa yang lain. yang pertama kali mempengaruhi mendasari bahasa seseorang umumnya adalah bahasa ibu. Ragam Bahasa Lisan yang Digunakan Anak-anak Dwibahasawan di SD Pada bagian terdahulu telah diuraikan bahwa penggunaan bahasa Indonesia lisan dalam situasi formal atau resmi hendaknya digunakan ragam bahasa baku. karena dituntut penggunaan bahasa yang cermat terutama terkait dengan keperluan keilmuan. yaitu pergantian penggunaan ragam baku keragam tidak baku atau sebaliknya. termasuk anak-anak sekolah dasar kebanyakan berbahasa ibu bahasa daerah. maka akan diperoleh dan dikuasai bahasa kedua. karena sebagian besar masyarakat menggunakan bahasa daerah. Kecenderungan pemakaian bahasa ibu atau bahasa pertama sangat tergantung pada bahasa yang paling dominan dipergunakan di tengah-tengah masyarakat. misalnya bahasa Indonesia. biasanya yang dominan adalah bahasa ibu daerah. Demikian juga. dan kesulitan mencari padanan kata. penyimpangan-penyimpangan struktur bahasa lisan yang digunakan anak-anak dwibahasawan SD masih dalam batas kewajaran. Keadaan seperti ini tentu akan mempengaruhi penggunaan bahasa Indonesia mereka dalam komunikasi sehari-hari. Dengan demikian. untuk menunjukan status sosialnya. Grosjean (1982: 149) menjelaskan. Alasan-alasan itu. Berdasarkan deskripsi dan hasil analisis data ditemukan pergantian bahasa dalam ujian lisan anak-anak dwibahasawan ketika berinteraksi atau mengikuti pelajaran di kelas.

Ayam di kandang hilang tanpa suara. bahwa ada kalanya terjadi kesenjangan penutur dengan situasinya. 5. atau kecewa. baca puisi. Akan tetapi. tarik tambang. dan (4) memberi atau membuat contoh. kagum. ada Burung Pipit. (3) alat untuk memperoleh ilmu pengetahuan atau heuristik. Wujud kendala itu adalah berupa kesulitan-kesulitan tertentu. Begitu pila kambing dan ternak lainnya. Pak. Adapun faktor lain yang menyebabkan timbulnya peralihan bahasa (kode) tersebut disebabkan oleh kesulitan mencari padanan kata dan faktor situasi yang melingkupinya. seperti pada saat merespon atau memahami materi pelajaran. Bebereapa pakar memberikan penjelasan mengenai fungsi bahasa dilihat dari cara pandang masing-masing. Fungsi Bahasa yang Digunakan Anak-anak Dwibahasawan SD Fungsi bahasa yang paling utama adalah sebagai alat komunikasi. Ungkapan-ungkapan tersebut dapat tergambar pada kalimat (a) Paman Mus pergi bertransmigrasi karena Gunung Galunggung meletus. Akhir-akhir ini malingnya berani mencongkel jendela rumah Pak Lurah. Dalam hal ini berbagai penjelasan mengenai fungsi bahasa telah dapat dikemukakan para ahli bahasa. penat dan panas (jam pelajaran terakhir). Oleh karena itu. di desa. Berkaitan dengan fungsi ‘untuk menjelaskan informasi atau materi pelajaran’. senagnya pengalaman waktu libur. Selanjutnya. antara lain ditandai oleh adanya rasa gembira. Bangau. tanggapan. Fungsi tersebut dapat digambarkan melalui kalimat (a) Ada anjungan dari berbagai daerah di Indonesia. Di samping itu. Fungsi untuk menyatakan perasaan atau ekspresi dalam ujaran anak-anak dwibahasawan. situasi kelas yang ramai. sementara mereka mengalami berbagai kendala. dan (d) Saya Pak. perlombaan panjat pinang. dan (c) Pada saat aku mengamati gambar tugu monas aku heran melihat bangunan yang amat tinggi. dan (c) Keamanan di Desa Pak Thomas sangat terganggu. (c) Saya Pak. khususnya ketika proses belajarmengajar berlangsung. Berdasarkan data yang diperoleh dalam penelitian ini. meminta suatu pendapat. tapi maling itu melarikan diri. dilihat dari struktur kalimatnya penggunaan bahasa lisan anak-anak dwibahasawan berfungsi (1) untuk menyatakan perasaan atau ekspresi.tidak baku terjadi apabila interaksi terjadi antar anak-anak atau antara anak dan guru yang sebahasa ibu. tanggapan atau jawaban. (2) merupakan alat untuk diri atau personal. ribut. atau jawaban’ juga terjadi karena terikat oleh konteks pembicaraan. Fungsi untuk menjelaskan informasi atau materi pelajaran ini terkait secara kontekstual. secara konstekstual bahasa yang digunakan anak-anak dwibahasawan berfungsi (1) sebagai alat untuk berinteraksi atau interaksional. (2) bertanya. ketika proses belajar- . Faktorfaktor situasional ini terjadi pada anak-anak dwibahasawan. (b) Rumah Wangi terbakar karena ledakan kompor tetangganya. Hal ini sejalan dengan pendapat Suwito (1983: 149). senang. meminta suatu pendapat. lari karung. (3) untuk menjelaskan informasi atau materi pelajaran. (b) Kita mengadakan upacara di sekolah. (b) Aduh. Pembicaraan tersebut berlangsung di kelas. dan (4) untuk menyatakan imajinasi dan khayal. maka mereka beralih bahasa (kode) ketika menyampaikan ujarannya. Pemakaian bahasa yang demikian biasanya tidak disadari dimaksudkan untuk mengubah situasi tertentu menjadi yang lain. di kecamatan. Fungsi ‘bertanya. penjelasan mengenai fungsi bahasa tersebut secara keseluruhan memiliki banyak persamaan. fungsi ‘memberi atau membuat contoh’ pun berkaitan dengan topik dan situasi pembicaraan. Kutilang. Sekarang masa depan Paman dan keluarganya terjamin. Ungkapan ini dapat tergambar pada kalimat (a) Aku sangat senang pergi bersama-sama keluarga. wajarlah apabila dalam ujaran anak-anak dwibahasawan SD terdapat ragam tidak baku ketika mengungkapkan kembali isi/materi pelajaran di kelas. Untung cepat diketahui.

Bandung: Angkasa Badudu. tampak jelas bahwa pengajaran bahasa Indonesia itu dimaksudkan untuk membuat anak didik mampu mengintegrasikan diri dalam masyarakat Indonesia. Ditulis dalam makalah bahasa indonesia. Rusyana. 1978. Bandung: Angkasa. DAFTAR PUSTAKA Alwasilah. 1984. Bandung: Pustaka Prima. ekonomi. Tarigan. Dasar-dasar Pembinaan Kemampuan Proses Belajar Mengajar. A.mengajar berlangsung antara murid dan guru. 1985. 1986. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. dan (6) Yang mana. Sekaitan dengan itu. Materi pelajaran bahasa Indonesia yang disajikan kepada murid pada umumnya berhubungan dengan masalah sosial. Bandung: CV Andira. Bandung: Angkasa. Mansoer. pertanian. fungsi lain yang berkaitan. Hal ini disebabkan oleh faktor materi pelajaran yang disampaikan di sekolah. Bndung: FKSS IKIP —————. Pak?. (ed). Bu?… Melihat kontek ujaran anak-anak dwibahasawan di atas. Bandung: Diponegoro. 1987. Pelik-pelik Bahasa Indonesia. Bahasa dan kebudayaan ini mengemban fungsi kebudayaan. dan (3) inventaris ciri-ciri kebudayaan. pada dasarnya masih terkait dengan fungsi-fungsi yang lain. Jakarta: Jambatan. Syamsu. Sosiolinguistik. kebudayaan. Pengembangan dan Pembinaan Bahasa: Ancangan Alternatif di dalam Perencanaan Bahasa. “Morfologi” Bahan Kuliah pada Penataran Disiplin Ilmu. Oleh karena itu sangat penting bagi lembaga pendidikan di sekolah dasar untuk memasyarakatkan bahasa Indonesia kepada anak-anak. 1993. Yus. ya. Henry Guntur. A. 1986. Yusuf. dkk. Chaedar. ya Bu?. (4) Judulnya Ronda Malam. Hal ini dapat dilihat pada contoh-contoh kalimat (1) Judulnya liburan. (5) Di buku halaman berapa. Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan. Untuk itu. Dalam konteks itu. bahasa merupakan unsur kebudayaan yang memungkinkan pengembangan dan perkembangan kebudayaan. 4 Komentar » . Pak?. (3) Pahlawan juga. Dengan berbahasa Indonesia diharapkan anak didik menjadi bagian utuh dari bangsa Indonesia. antara lain bahwa bahasa dan kebudayaan memiliki hubungan yang sangat erat. (2) jalur penerus kebudayaan. 1985. Fungsi kebudayaan itu mencakup fungsi bahasa sebagai (1) sarana pengembangan kebudayaan. Apabila dikaitkan dengan pengajaran bahasa Indonesia. bahasa Indonesia adalah bahasa yang membuka jalan bagi kita menjadi anggota yang seutuhnya dari bangsa Indonesia. Moeliono. Pateda. Pak?. Sosiologi Bahasa. J. dan alam sekitar. Pak?.S. (2) Judulnya apa.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful