Sengketa Israel-Palestina Jelang Konferensi Damai (2

)
Diskriminasi Warga Arab hingga Denda Tilang
Oleh: Tofan Mahdi Dari Tel Aviv, Israel Mengunjungi Negeri Sengketa Israel-Palestina Jelang Konferensi Damai (2) Salah satu isu paling berat pada perundingan Israel-Palestina menyangkut status kota Jerusalem. Apa harapan warga Palestina tentang kota yang menjadi tempat suci agama Islam, Kristen, dan Yahudi itu? TOFAN MAHDI, Tel Aviv "Come to Israel before Israel come to You." (Datanglah ke Israel sebelum Israel mendatangi Anda). Ini joke yang juga sangat populer tentang Negeri Yahudi itu. Karena menduduki sebidang tanah yang dulu milik warga Arab-Palestina, Israel oleh negara-negara Arab tetangganya lebih dianggap sebagai penjajah. Sebab, di beberapa wilayah pendudukan seperti Jerusalem dan Tepi Barat, aparat keamanan Israel menerapkan sejumlah aturan ketat dan diskriminatif. Status Kota Jerusalem dan kawasan Tepi Barat itulah yang akan dibahas secara detail dala m konferensi di Annapolis, Maryland, Amerika, bulan depan. Jika disepakati, perjanjian damai Israel-Palestina yang disponsori AS kembali diteken. Secara geografis, Jerusalem dibagi dua wilayah: barat dan timur. Warga Yahudi tinggal di Jerusalem barat, sedangkan warga Arab-Palestina (Islam dan Kristen) di Jerusalem timur. Namun, setelah Perang Arab-Israel pada 1967, administrasi dan kontrol keamanan seluruh wilayah kota itu dikendalikan Israel. Jumlah permukiman dan warga Yahudi di Jerusalem timur pun terus bertambah. "Meski tinggal dalam satu wilayah, warga Yahudi dan Arab-Palestina hidup saling curiga. Masing-masing hidup eksklusif, menjaga jarak, dan selalu khawatir penyerangan secara fisik," kata Hasan Nasralah, warga Arab-Palestina yang tinggal di Jerusalem timur. Seperti halnya Tel Aviv, Haifa, dan kota-kota besar lain di Israel, pengamanan di Jerusalem sangat ketat. Aparat keamanan yang bersenjata bertugas di berbagai sudut kota. Mereka ada di hotel, supermarket, mal, dan tempat-tempat publik lain.

Setel ah maraknya aksi intifadah dan bom bunuh diri melawan pendudukan Israel, setiap mobil yang masuk halaman hotel harus melalui pemeriksaan ketat. Bahkan, ruang-ruang konferensi di hotel berbintang pun dibangun di lantai bawah tanah (underground level). "Tidak seluruh hotel. Tetapi, banyak yang seperti itu. Alasan sesungguhnya menyangkut lahan yang terbatas. Tetapi, aspek keamanan juga menjadi pertimbangan," ujar Roley Horowitz, warga Yahudi yang bermigrasi dari India. Meski sekarang Kota Jerusalem diklaim sebagai ibu kota negara Yahudi itu, warga Palestina terus berjuang agar kelak kota ini menjadi ibu kota negaranya. Di kota ini berdiri salah satu tempat suci umat Islam, yaitu Masjid Al Aqsa. Di areal, Al Aqsa juga berdiri Qubah al Sahra (Dome of The Rock). Dari tempat ini, Nabi Muhammad mengawali perjalanan ke langit (dalam peristiwa Isra Mikraj) untuk menerima perintah salat lima waktu. Dengan dalih keamanan pula, akses warga muslim untuk beribadah di Al Aqsa, Jerusalem, makin terbatas. Ada sejumlah check point (pos pemeriksaan) untuk masuk ke sana. "Yang diberi akses masuk ke Al Aqsa, umumnya, warga Arab Palestina berusia di bawah 18 tahun dan di atas 45 tahun," kata Syekh Bukhari, salah seorang pemuka agama Islam di Jerusalem timur. Saya beruntung bisa melaksanakan ibadah salat Jumat pada 18 Oktober pekan lalu. Saat itu, saya melihat tindakan tentara Israel yang memeriksa warga Arab-Palestina yang akan masuk ke masjid tersebut. Semua harus menunjukkan identitas. Mobil juga diperiksa. Lantas, tentara Israel itulah yang berhak menentukan siapa yang bisa masuk dan siapa yang tidak. Warga Palestina yang tinggal di Tepi Barat (Hebron, Nablus, Ramallah, dan sejumlah kota lain) jelas dilarang masuk ke Al Aqsa. Tak ada toleransi sama sekali. Selain itu, sejak ada ratusan kilometer tembok pembatas yang dibangun Israel, akses warga Tepi Barat menuju ke Jerusalem menjadi sangat terbatas. Jadi, Al Aqsa h anya bisa diakses oleh muslim di Jerusalem setelah lolos pemeriksaan tentara Israel. "Wisatawan asing seperti Anda lebih mudah (masuk ke Al Aqsa) daripada kami," kata Bukhari. Hidup di Jerusalem bagi warga Arab-Palestina juga sarat dengan diskriminasi. Memang, mereka memiliki opsi jika mau menjadi warga negara Israel. Namun, sebagian besar warga Arab-Palestina menolak. "Kami tetap warga Palestina. Namun, karena tinggal di Jerusalem yang dikuasai Israel, kami harus memegang kartu identitas penduduk Israel," kata Shuha, warga Jerusalem timur yang mengantarkan saya ke Ramallah. Shuha menceritakan sejumlah perlakuan yang menyinggung perasaan warga Arab-Palestina. Suatu hari, pencuri masuk ke rumah Shuha. Dia lalu melaporkan kejadian tersebut kepada polisi Israel. Tahu korbannya adalah warga Arab-Palestina, kata dia, tidak ada seorang polisi pun yang datang. "Juga kalau ditilang akibat pelanggaran lalu-lintas. Denda untuk warga Arab-Palestina pasti lebih mahal daripada denda bagi orang Yahudi. Terus tera ng, kami sangat berat hidup seperti ini," kata wanita berwajah cantik itu.

Jika Israel tetap menguasai Jerusalem, Shuha yakin selamanya orang-orang Arab-Palestina menjadi warga negara kelas dua. Mereka tidak bisa bekerja di pemerintahan dan sektor-sektor strategis lain. "Sebagian besar kami di sini bekerja di sektor informal. Misalnya, menjadi pedagang dan sopir taksi," ujarnya. Sejumlah upaya dilakukan kedua pihak (Arab-Yahudi) agar bisa berintegrasi. Salah caranya, mendirikan sekolah multicultural. Harapannya, sekolah itu dapat memberikan pemahaman lebih baik tentang tiga agama yang sama-sama menjadikan Jerusalem sebagai tempat suci mereka: Islam, Kristen, dan Yahudi. "Namun, kami akui respons atas sekolah multikultural seperti ini sangat kecil. Bahkan, di sekolah kami yang sudah berdiri 10 tahun, hanya ada 40 siswa," kata Adena Levine, direktur Peace Preschool International YMC, satu-satunya sekolah antaragama di Jerusalem. Meski banyak yang pesimistis, warga Arab Palestina berharap agar akan ada kesepakatan t entang pembagian wilayah Israel-Palestina, termasuk tentang status Kota Jerusalem, pada konferensi di Annapolis bulan depan. Kalaupun diberikan kepada Palestina, opsi lain yang diharapkan adalah yurisdiksi Jerusalem dikendalikan dunia internasional (PBB). Tidak lagi di bawah kekuasaan negeri Zionis Israel. (bersambung) Labels: dunia islam Penyelesaian Sengketa Palestina Perlu Keterbukaan Posted by Redaksi on Mei 13, 2008 · Leave a Comment Jakarta ( Berita ) : Penyelesaian sengketa menahun di Palestina hanya dapat dilakukan jika kedua pihak, termasuk kelompok/negara yang ingin membantu, membuka diri dan membangun kepercayaan. Itu dikemukakan pengamat hubungan antarbangsa Universitas Indonesia Hariyadi Wiryawan di Jakarta pada Senin [12/05] , saat diminta tanggapannya mengenai sengketa Palestina-Israel mengingat pada tahun ini, Israel tepat berusia 60 tahun. Kalau ingin menuntaskannya, maka secara jujur, kita harus membuka diri terhadap sesama pihak, yang bertikai, dan sungguh-sungguh melihat akar permasalahannya, katanya dengan menambahkan bahwa kedua pihak perlu duduk satu meja. Menurut dia, tanpa membuka diri, upaya dunia untuk menyelesaikan sengketa Palestina tidak akan menghasilkan apa pun. Selama ini, tambah dia, berbagai upaya dunia belum menyentuh penuntasan masalah dan hanya merupakan ungkapan dukungan atau simpati atas nasib rakyat Palestina, yang harus hidup di bawah tekanan Israel. Pada 14-16 Mei, Pusat Studi Islam dan Timur Tengah Universitas Indonesia bekerjasama dengan Suara Palestina (VoP) menggelar konferensi internasional memperingati 60 tahun pembersihan suku di Palestina dengan tema Kebebasan dan Hak untuk Kembali, Palestina dan 60 Tahun Pembersihan Bangsa . Menurut ketua pelaksana konferensi itu, Mujtahid Hashem, beberapa tokoh penting dalam daftar pembicara adalah mahaguru Universitas Gadjah Mada Amien Rais, Ketua DPR Agung Laksono, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Hasyim Muzadi dan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda. Sementara itu, tokoh antarbangsa yang akan hadir di antaranya koordinator Serikat Lembaga Swadaya Masyarakat Antarbangsa Pendukung Palestina Zahra Mustafawi, jurubicara Netural Karta International (Yahudi penentang zionis) Rabbi Yisroel Dovid Weiss, serta perwakilan Hizbullah dan Hamas. Mujtahid Hashem mengatakan, penyelenggaraan konferensi itu menandai peristiwa Nakba pada 1948, saat terjadi pembersihan suku di sebagian besar wilayah Palestina dalam upaya membentuk negara Israel.

Sejak itu, jutaan pengungsi Palestina hidup di pengasingan akibat 40 tahun pendudukan Israel dan penjajahan Tepi Barat serta Jalur Gaza dan pembangunan tembok, yang semua melanggar hukum antarbangsa, katanya. Hingga saat ini, lebih dari 4,5 juta warga Palestina tercatat sebagai pengungsi, sepertiganya masih tinggal di perkampungan di Libanon, Suriah, Yordania, Jalur Gaza dan Tepi Barat. ( ant ) Penyelesaian Sengketa Palestina Perlu Keterbukaan Posted by Redaksi on Mei 13, 2008 · Leave a Comment Jakarta ( Berita ) : Penyelesaian sengketa menahun di Palestina hanya dapat dilakukan jika kedua pihak, termasuk kelompok/negara yang ingin membantu, membuka diri dan membangun kepercayaan. Itu dikemukakan pengamat hubungan antarbangsa Universitas Indonesia Hariyadi Wiryawan di Jakarta pada Senin [12/05] , saat diminta tanggapannya mengenai sengketa Palestina-Israel mengingat pada tahun ini, Israel tepat berusia 60 tahun. Kalau ingin menuntaskannya, maka secara jujur, kita harus membuka diri terhadap sesama pihak, yang bertikai, dan sungguh-sungguh melihat akar permasalahannya, katanya dengan menambahkan bahwa kedua pihak perlu duduk satu meja. Menurut dia, tanpa membuka diri, upaya dunia untuk menyelesaikan sengketa Palestina tidak akan menghasilkan apa pun. Selama ini, tambah dia, berbagai upaya dunia belum menyentuh penuntasan masalah dan hanya merupakan ungkapan dukungan atau simpati atas nasib rakyat Palestina, yang harus hidup di bawah tekanan Israel. Pada 14-16 Mei, Pusat Studi Islam dan Timur Tengah Universitas Indonesia bekerjasama dengan Suara Palestina (VoP) menggelar konferensi internasional memperingati 60 tahun pembersihan suku di Palestina dengan tema Kebebasan dan Hak untuk Kembali, Palestina dan 60 Tahun Pembersihan Bangsa . Menurut ketua pelaksana konferensi itu, Mujtahid Hashem, beberapa tokoh penting dalam daftar pembicara adalah mahaguru Universitas Gadjah Mada Amien Rais, Ketua DPR Agung Laksono, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Hasyim Muzadi dan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda. Sementara itu, tokoh antarbangsa yang akan hadir di antaranya koordinator Serikat Lembaga Swadaya Masyarakat Antarbangsa Pendukung Palestina Zahra Mustafawi, jurubicara Netural Karta International (Yahudi penentang zionis) Rabbi Yisroel Dovid Weiss, serta perwakilan Hizbullah dan Hamas. Mujtahid Hashem mengatakan, penyelenggaraan konferensi itu menandai peristiwa Nakba pada 1948, saat terjadi pembersihan suku di sebagian besar wilayah Palestina dalam upaya membentuk negara Israel. Sejak itu, jutaan pengungsi Palestina hidup di pengasingan akibat 40 tahun pendudukan Israel dan penjajahan Tepi Barat serta Jalur Gaza dan pembangunan tembok, yang semua melanggar hukum antarbangsa, katanya. Hingga saat ini, lebih dari 4,5 juta warga Palestina tercatat sebagai pengungsi, sepertiganya masih tinggal di perkampungan di Libanon, Suriah, Yordania, Jalur Gaza dan Tepi Barat. ( ant )

Konflik Israel-Palestina, bagian dari konflik Arab-Israel yang lebih luas, adalah konflik yang berlanjut antara bangsa Israel dan bangsa Palestina. Konflik Israel-Palestina ini bukanlah sebuah konflik dua sisi yang sederhana, seolah-olah seluruh bangsa Israel (atau bahkan seluruh orang Yahudi yang berkebangsaan Israel) memiliki satu pandangan yang sama, sementara seluruh bangsa Palestina memiliki pandangan yang sebaliknya. Di kedua komunitas terdapat orang-orang dan kelompok-kelompok yang menganjurkan penyingkiran teritorial total dari komunitas yang lainnya, sebagian menganjurkan solusi dua negara, dan sebagian lagi menganjurkan

solusi dua bangsa dengan satu negara sekular yang mencakup wilayah Israel masa kini, Jalur Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Tim Sejarah [sunting] Akhir abad ke-19 - 1920: Asal konflik Tahun 1897, Kongres Zionis Pertama diselenggarakan. Deklarasi Balfour 1917 2 November 1917. Inggris mencanangkan Deklarasi Balfour, yang dipandang pihak Yahudi dan Arab sebagai janji untuk mendirikan tanah air bagi kaum Yahudi di Palestina. [sunting] 1920-1948: Mandat Britania atas Palestina

David Ben-Gurion memproklamasikan kemerdekaan Israel dari Britania Raya pada 14 Mei 1948 di bawah potret Theodor Herzl Teks 1922: Mandat Palestina Liga Bangsa-bangsa Mandat Britania atas Palestina Revolusi Arab 1936-1939. Revolusi Arab dipimpin Amin Al-Husseini. Tak kurang dari 5.000 warga Arab terbunuh. Sebagian besar oleh Inggris. Ratusan orang Yahudi juga tewas. Husseini terbang ke Irak, kemudian ke wilayah Jerman, yang ketika itu dalam pemerintahan Nazi. Rencana Pembagian Wilayah oleh PBB 1947 Deklarasi Pembentukan Negara Israel, 14 Mei 1948. Secara sepihak Israel mengumumkan diri sebagai negara Yahudi. Inggris hengkang dari Palestina. Mesir, Suriah, Irak, Libanon, Yordania, dan Arab Saudi menabuh genderang perang melawan Israel. [sunting] 1948-1967 Perang Arab-Israel 1948 Persetujuan Gencatan Senjata 1949 3 April 1949. Israel dan Arab bersepakat melakukan gencatan senjata. Israel mendapat kelebihan wilayah 50 persen lebih banyak dari yang diputuskan dalam Rencana Pemisahan PBB. Exodus bangsa Palestina Perang Suez 1956 Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) resmi berdiri pada Mei 1964. Perang Enam Hari 1967 Resolusi Khartoum Pendudukan Jalur Gaza oleh Mesir Pendudukan Tepi Barat dan Yerusalem Timur oleh Yordan [sunting] 1967-1993 Perjanjian Nasional Palestina dibuat pada 1968, Palestina secara resmi menuntut pembekuan Israel. 1970 War of Attrition Perang Yom Kippur 1973 Kesepakatan Damai Mesir-Israel di Camp David 1978 Perang Lebanon 1982

Intifada pertama (1987 - 1991) Perang Teluk 1990/1 [sunting] 1993-2000: Proses perdamaian Oslo

Yitzhak Rabin dan Yasser Arafat berjabat tangan ,dipantau oleh Bill Clinton, pada penandatanganan Persetujuan Oslo pada 13 September 1993 Kesepakatan Damai Oslo antara Palestina dan Israel 1993 13 September 1993. Israel dan PLO bersepakat untuk saling mengakui kedaulatan masing-masing. Pada Agustus 1993, Arafat duduk semeja dengan Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin. Hasilnya adalah Kesepakatan Oslo. Rabin bersedia menarik pasukannya dari Tepi Barat dan Jalur Gaza serta memberi Arafat kesempatan menjalankan sebuah lembaga semiotonom yang bisa "memerintah" di kedua wilayah itu. Arafat "mengakui hak Negara Israel untuk eksis secara aman dan damai". 28 September 1995. Implementasi Perjanjian Oslo. Otoritas Palestina segera berdiri. Kerusuhan terowongan Al-Aqsa September 1996. Kerusuhan terowongan Al-Aqsa. Israel sengaja membuka terowongan menuju Masjidil Aqsa untuk memikat para turis, yang justru membahayakan fondasi masjid bersejarah itu. Pertempuran berlangsung beberapa hari dan menelan korban jiwa. 18 Januari 1997 Israel bersedia menarik pasukannya dari Hebron, Tepi Barat. Perjanjian Wye River Oktober 1998 berisi penarikan Israel dan dilepaskannya tahanan politik dan kesediaan Palestina untuk menerapkan butir-butir perjanjian Oslo, termasuk soal penjualan senjata ilegal. 19 Mei 1999, Pemimpin partai Buruh Ehud Barak terpilih sebagai perdana menteri. Ia berjanji mempercepat proses perdamaian. [sunting] 2000-sekarang: Intifada al-Aqsa

Peta wilayah Tembok Pemisah Israel.

Intifada al-Aqsa (2000-sekarang) Maret 2000, Kunjungan pemimpin oposisi Israel Ariel Sharon ke Masjidil Aqsa memicu kerusuhan. Masjidil Aqsa dianggap sebagai salah satu tempat suci umat Islam. Intifadah gelombang kedua pun dimulai. KTT Camp David 2000 antara Palestina dan Israel Maret-April 2002 Israel membangun Tembok Pertahanan di Tepi Barat dan diiringi rangkaian serangan bunuh diri Palestina. Juli 2004 Mahkamah Internasional menetapkan pembangunan batas pertahanan menyalahi hukum internasional dan Israel harus merobohkannya. 9 Januari 2005 Mahmud Abbas, dari Fatah, terpilih sebagai Presiden Otoritas Palestina. Ia menggantikan Yasser Arafat yang wafat pada 11 November 2004 Peta menuju perdamaian Juni 2005 Mahmud Abbas dan Ariel Sharon bertemu di Yerusalem. Abbas mengulur jadwal pemilu karena khawatir Hamas akan menang. Agustus 2005 Israel hengkang dari permukiman Gaza dan empat wilayah permukiman di Tepi Barat. Januari 2006 Hamas memenangkan kursi Dewan Legislatif, menyudahi dominasi Fatah selama 40 tahun. Januari-Juli 2008 Ketegangan meningkat di Gaza. Israel memutus suplai listrik dan gas. Dunia menuding Hamas tak berhasil mengendalikan tindak kekerasan. PM Palestina Ismail Haniyeh berkeras pihaknya tak akan tunduk. November 2008 Hamas batal ikut serta dalam pertemuan unifikasi Palestina yang diadakan di Kairo, Mesir. Serangan roket kecil berjatuhan di wilayah Israel. Serangan Israel ke Gaza dimulai 26 Desember 2008. Israel melancarkan Operasi Oferet Yetsuka, yang dilanjutkan dengan serangan udara ke pusat-pusat operasi Hamas. Korban dari warga sipil berjatuhan. [1] Mei 2010 Israel mem-blokede seluruh jalur bantuan menuju palestina 30 Mei 2010 Tentara Israel Menembaki kapal bantuan Mavi Marmara yang membawa ratusan Relawan dan belasan ton bantuan untuk palestina

Klip video dari sebuah serangan roket di Israel Selatan, March 2009.

Sebuah roket Qassam ditembakkan dari sebuah daerah sipil di Gaza ke Israel selatan, Januari 2009.

Ledakan disebabkan oleh airstrike Israel di Gaza selama 2008-2009 Konflik Israel-Gaza, Januari 2009. [sunting] Situasi saat Sejak Persetujuan Oslo, Pemerintah Israel dan Otoritas Nasional Palestina secara resmi telah bertekad untuk akhirnya tiba pada solusi dua negara. Masalah-masalah utama yang tidak terpecahkan di antara kedua pemerintah ini adalah: Status dan masa depan Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur yang mencakup wilayah-wilayah dari Negara Palestina yang diusulkan. Keamanan Israel. Keamanan Palestina. Hakikat masa depan negara Palestina. Nasib para pengungsi Palestina. Kebijakan-kebijakan pemukiman pemerintah Israel, dan nasib para penduduk pemukiman itu. Kedaulatan terhadap tempat-tempat suci di Yerusalem, termasuk Bukit Bait Suci dan kompleks Tembok (Ratapan) Barat. Masalah pengungsi muncul sebagai akibat dari perang Arab-Israel 1948. Masalah Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur muncul sebagai akibat dari Perang Enam Hari pada 1967. Selama ini telah terjadi konflik yang penuh kekerasan, dengan berbagai tingkat intensitasnya dan konflik gagasan, tujuan, dan prinsip-prinsip yang berada di balik semuanya. Pada kedua belah pihak, pada berbagai kesempatan, telah muncul kelompok-kelompok yang berbeda pendapat dalam berbagai tingkatannya tentang penganjuran atau penggunaan taktik-taktik kekerasan, anti kekerasan yang aktif, dll. Ada pula orang-orang yang bersimpati dengan tujuan-tujuan dari pihak yang satu atau yang lainnya, walaupun itu tidak berarti mereka merangkul taktik-taktik yang telah digunakan demi tujuan-tujuan itu. Lebih jauh, ada pula orang-orang yang merangkul sekurang-kurangnya sebagian dari tujuan-tujuan dari kedua belah pihak. Dan menyebutkan "kedua belah" pihak itu sendiri adalah suatu penyederhanaan: AlFatah dan Hamas saling berbeda pendapat tentang tujuan-tujuan bagi bangsa Palestina. Hal yang sama dapat digunakan tentang berbagai partai politik Israel, meskipun misalnya pembicaraannya dibatasi pada partai-partai Yahudi Israel. Mengingat pembatasan-pembatasan di atas, setiap gambaran ringkas mengenai sifat konflik ini pasti akan sangat sepihak. Itu berarti, mereka yang menganjurkan perlawanan Palestina dengan kekerasan biasanya membenarkannya sebagai perlawanan yang sah terhadap pendudukan militer oleh bangsa Israel yang tidak sah atas Palestina, yang didukung oleh bantuan militer dan diplomatik oleh A.S. Banyak yang cenderung memandang perlawanan bersenjata Palestina di lingkungan Tepi Barat dan Jalur Gaza sebagai hak yang diberikan oleh persetujuan Jenewa dan Piagam PBB. Sebagian memperluas pandangan ini untuk membenarkan serangan-serangan, yang seringkali dilakukan terhadap warga sipil, di wilayah Israel itu sendiri. PLO Al-Fatah Hamas JIP

Demikian pula, mereka yang bersimpati dengan aksi militer Israel dan langkah-langkah Israel lainnya dalam menghadapi bangsa Palestina cenderung memandang tindakan-tindakan ini sebagai pembelaan diri yang sah oleh bangsa Israsel dalam melawan kampanye Lambang-lambang dari organisasi-organisasi utama terorisme yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Palestina termasuk peta wilayah Israel sekarang, Palestina seperti Hamas, Jihad Islami, Al Fatah dan lainTepi Barat dan Jalur Gaza. (Sejumlah besar lainnya, dan didukung oleh negara-negara lain di penduduk Palestina maupun Israel sama-sama wilayah itu dan oleh kebanyakan bangsa Palestina, mengklaim hak atas seluruh wilayah ini). sekurang-kurangnya oleh warga Palestina yang bukan merupakan warga negara Israel. Banyak yang cenderung percaya bahwa Israel perlu menguasai sebagian atau seluruh wilayah ini demi keamanannya sendiri. Pandangan-pandangan yang sangat berbeda mengenai keabsahan dari tindakan-tindakan dari masing-masing pihak di dalam konflik ini telah menjadi penghalang utama bagi pemecahannya.

Sebuah poster gerakan perdamaian: Bendera Israel dan bendera Palestina dan kata-kata Salaam dalam bahasa Arab dan Shalom dalam bahasa Ibrani. Gambar-gambar serupa telah digunakan oleh sejumlah kelompok yang menganjurkan solusi dua negara dalam konflik ini. Sebuah usul perdamaian saat ini adalah Peta menuju perdamaian yang diajukan oleh Empat Serangkai Uni Eropa, Rusia, PBB dan Amerika Serikat pada 17 September 2002. Israel juga telah menerima peta itu namun dengan 14 "reservasi". Pada saat ini Israel sedang menerapkan sebuah rencana pemisahan diri yang kontroversial yang diajukan oleh Perdana Menteri Ariel Sharon. Menurut rencana yang diajukan kepada AS, Israel menyatakan bahwa ia akan menyingkirkan seluruh "kehadiran sipil dan militer... yang permanen" di Jalur Gaza (yaitu 21 pemukiman Yahudi di sana, dan 4 pemumikan di Tepi Barat), namun akan "mengawasi dan mengawal kantong-kantong eksternal di darat, akan mempertahankan kontrol eksklusif di wilayah udara Gaza, dan akan terus melakukan kegiatan militer di wilayah laut dari Jalur Gaza." Pemerintah Israel berpendapat bahwa "akibatnya, tidak akan ada dasar untuk mengklaim bahwa Jalur Gaza adalah wilayah pendudukan," sementara yang lainnya berpendapat bahwa, apabila pemisahan diri itu terjadi, akibat satu-satunya ialah bahwa Israel "akan diizinkan untuk menyelesaikan tembok [artinya, Penghalang Tepi Barat Israel] dan mempertahankan situasi di Tepi Barat seperti adanya sekarang ini" [1] [2]. Dengan rencana pemisahan diri sepihak, pemerintah Israel menyatakan bahwa rencananya adalah mengizinkan bangsa Palestina untuk membangun sebuah tanah air dengan campur tangan Israel yang minimal, sementara menarik Israel dari situasi yang diyakininya terlalu mahal dan secara strategis tidak layak dipertahankan dalam jangka panjang. Banyak orang Israel, termasuk sejumlah besar anggota partai Likud -- hingga beberapa minggu sebelum 2005 berakhir merupakan partai Sharon -- kuatir bahwa kurangnya kehadiran militer di Jalur Gaza akan mengakibatkan meningkatnya kegiatan penembakan roket ke kota-kota Israel di sekitar Gaza. Secara khusus muncul keprihatinan terhadap kelompokkelompok militan Palestina seperti Hamas, Jihad Islami atau Front Rakyat Pembebasan Palestina akan muncul dari kevakuman kekuasaan apabila Israel memisahkan diri dari Gaza. Lihat pula

Israel, Tepi Barat, dan Jalur Gaza berada di pusat konflik Israel-Palestina. [sunting] Etnisitas Arab -- Yahudi -- Palestina [sunting] Agama Islam -- Yudaisme -- Kristen [sunting] Geografi Palestina (Tanah Israel) Geografi Israel Tepi Barat (Yudea dan Samaria) Jalur Gaza [sunting] Tempat-tempat penting Yerusalem -- Ma'alot -- Hebron -- Betlehem -- Gereja Kelahiran -- Kota Gaza -- Jenin -- Yerikho [sunting] Ideologi dan gagasan Zionisme Pan-Arabisme Negara Yahudi Usul-usul pembentukan negara Palestina [sunting] Laporan media New Historians Promises, sebuah film dokumenter yang dinominasi untuk Oscar Laporan media tentang konflik Israel-Palestina Charles Enderlin Muhammed al-Dura [sunting] Organisasi dan angkatan bersenjata Angkatan Pertahanan Israel Gerakan anti Israel Al-Fatah Hamas Hizbullah

Front Rakyat Pembebasan Palestina (FRPP) Yayasan Bantuan dan Pembangunan Tanah Suci Otoritas Palestina Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) Jihad Islami Palestina [sunting] Tokoh Israel David Ben-Gurion -- Menachem Begin -- Shimon Peres -- Yitzhak Rabin -- Ariel Sharon -- Chaim Weizmann Palestina Mahmud Abbas -- Hanan Ashrawi -- Yasser Arafat -- Marwan Barghouti -- Haj Amin Al-Husseini -- Dalal Mughrabi -- Nabil Shaath -- Ahmed Shukairy -- Syekh Ahmed Yassin -- Ahmed Qurei Lainnya Raja Hussein -- Anwar Sadat -- Colin Powell -- Anthony Zinni -- Raja Abdullah [sunting] Konflik-konflik terkait Konflik Arab-Israel Konflik Timur Tengah Perang Lebanon 2006

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful