Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Volume 10 Nomor 3 Tahun 2004

PENGARUH PENAMBAHAN KITIN PA D A MEDIUM PRODUKSI TERHADAP AKTIVITAS KITIN DEASETILASE DARI Bacillus K29-14
) Yusro Nuri Fawzya, Ninoek Indriati dan Th. Dwi Suryaningrum*

ABSTRAK Penelitian untuk mempelajari pengaruh kandungan kitin dalam medium produksi terhadap aktivitas enzim kitin deasetilase telah dilakukan. Sebagai penghasil enzim digunakan bakteri t r o i i Bacillus K29-14, sedangkan kitin yang digunakan sebagai komponen dalam medium emflk adalah kitin limbah udang buatan lokal, terdiri dari kitin kepala udang dari Cirebon, kitin kulit punggung udang dari Cirebon dan kitin limbah udang (berupa campuran kulit punggung dan kepala udang) dari Sidoarjo. Enzim kitin deasetilase yang dihasilkan dari fermentasi Bacillus K29-14 pada medium yang mengandung kitin, merupakan filtrat hasil sentrifugasi larutan fermentasi. Hasil fermentasi Bacillus K29-14 pada medium yang mengandung kitin kepala udang dengan konsentrasi 0, 1, 2 dan 3% selama 24, 48 dan 72 jam pada suhu 55oC menunjukkan bahwa aktivitas enzim tertinggi dihasilkan dari perlakuan konsentrasi kitin 2% selama 48 jam, yaitu sebesar 25,49 mU/ml. Sedangkan berdasarkan jenis kitin di dalam medium produksi kitindeasetilase, aktivitas enzim tertinggi dihasilkan oleh perlakuan medium produksi yang mengandung kitin kulit punggung udang sebesar 2% pada fermentasi selama 72 jam. A t v tas kii enzim kitin deasetilase yang dihasilkan sebesar 87,39 mU/ml, dengan kadar protein 4,43 mg/ml dan aktivitas spesifik enzim sebesar 19,73 mU/mg. ABSTRACT : Activity of chitin deacetylase from Bacillus K29-14 in the chitin containing medium. By: Yusro Nuri Fawzya, Ninoek Indriati and Th. Dwi Suryaningrum

Research on the effect of chitin added to the medium in the production of chitin deacetylase on the enzyme activity has been carried out. A thermophilic Bacillus K29-14 was used as the source of the chitin deacetylase, whereas three kinds of local chitin added to the medium were head shrimp-chitin as well as shell shrimp-chitin obtained from Cirebon and shrimp waste chitin that was processed using mixed of head and shell shrimp and was purchased from Sidoarjo. Chitin deacetylase produced from fermentation of Bacillus K29-14 in chitin containing medium was filtrate of fermentation solution separated by sentrifugation. Fermentation of Bacillus K29-14 in production medium containing of 0, 1, 2 and 3% head shrimp-chitin at 55oC for 24, 48 and 72 hours showed that the highest enzyme activity was produced from the treatment of 2% chitin for 48 hours fermentation, i.e. 25.49 mU/ml. On the other hand, based on the type of chitin contained in the production medium, enzyme with highest activity was produced by medium containing 2% of shell shrimp-chitin for 72 hours fermentation. The enzyme activity was 87.39 mU/ml, while the protein content and the specific activity of enzyme were 4.43 mg/ml and 19.73 mU/mg respectvl i e y. KEYWORDS: chitin deacetylase, Bacillus K29-14, chitin containing medium.

PENDAHULUAN Kitin deasetilase (CDA : EC 3.5.1.41) adalah enzim hidrolase yang mengkatalisis reaksi hidrolisis ikatan N-asetamida dalam kitin yang menghasilkan molekul kitin yang hilang gugus asetilnya (terdeasetilasi). Kitin yang mengalami deasetilasi sekitar 55 sampai dengan 100% disebut sebagai ktsn (lia e a i o a I ’ n t l., 2001 dalam Wibowo, 2003). Enzim kitindeasetilase dapat diperoleh dari kapang s p r i Mucor rouxii (Kafetzopoulos e a 1993, 1994; eet t l., Martinou e a , 1 9 ) Absidia coerulea (Gao e a ., t l. 9 5 , tl 1995), Aspergillus nidulans (Alfonso e a , 1 9 ) t l. 9 5 ,

Colletotrichum lindemuthianum ( Tsigos e a 1995) t l, atau bakteri seperti V b i a g n l t c s ( h s i e a . i r o l i o y i u Oih, t l, 1997), B c l u K29-14 (Rahayu, 2000), Vibrio harveyi ails (Heruwati e a , 2 0 ) t l. 0 2 . Kitin deasetilase merupakan salah satu enzim yang bersifat kitinolitik. Sejak sekitar dasawarsa terakhir, eksplorasi enzim-enzim kitinolitik seperti kitinase, kitin deasetilase dan kitosanase, terutama yang berasal dari mikroba, banyak dilakukan untuk menghasilkan kitosan maupun bentuk oligomernya. Teknik produksi kitosan secara enzimatis tersebut merupakan alternatif dari teknik ekstraksi kitosan

* )

Peneliti pada Pusat Riset Pengolahan Produk dan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

11

MO. Dilaporkan bahwa enzim kitin deasetilase yang dihasilkan oleh Bacillus K2914 mempunyai aktivitas enzim 0. sedangkan kitin dari Sidoarjo adalah campuran antara kitin kepala dan kulit punggung udang. Media untuk kultivasi dan produksi enzim antara lain adalah yeast extract (Oxoid Ltd. 9 8 . sehingga lebih mudah dihidrolisis oleh enzim. USA) untuk pembuatan koloidal kitin. Kitin yang digunakan sebagai komponen medium dalam tahap (1) adalah kitin limbah rajungan (Sigma Chemical Co. Bahan-bahan kimia untuk analisis aktivitas enzim meliputi glikol kitosan (Sigma Chemical Co. Bakteri penghasil enzim kitinolitik ini adalah bakteri termofilik yang diisolasi dari kawah gunung Kamojang. 1999). Metode Penelitian dilakukan dalam 2 tahap : (1) penentuan konsentrasi kitin optimum (ulangan 2 kali). Bakteri ini menghasilkan enzim kitinolitik dengan indeks kitinolitik (suatu nilai yang menunjukkan kemampuan enzim untuk menghidrolisis medium padat yang mengandung kitin) mencapai 5. telah dilakukan ekstraksi dan uji aplikasi enzim untuk menghidrolisis kitin menjadi kitosan (Heruwati e a . Kultur yang digunakan berumur lebih kurang 1 tahun sejak didapatkan dan disimpan dalam medium padat yang mengandung kitin serta dikemas rapat dalam aluminium foil di lemari pendingin suhu sekitar 4oC.N. MO. Hampshire. 2002. Koloidal kitin sebagai salah satu komponen medium untuk 12 . Basingstoke. Jerman). Louis. Untuk mengetahui efektifitas enzim kitin deasetilase dari Bacillus K29-14 dalam proses deasetilasi kitin. sedangkan suhu optimum kedua jenis enzim adalah sama yaitu 55oC. tumbuh optimum pada pH 7. Detroit.0. USA) dalam bentuk koloidal kitin dan kitin kepala udang dalam bentuk tepung kitin..0 dan suhu 55 oC ( Tanuwijaya. MO. BAHAN DAN METODE Bahan Bahan yang digunakan dalam riset ini adalah bakteri Bacillus K29-14 yang diperoleh dari Laboratorium Mikrobiologi dan Biokimia PAU. Selain itu digunakan t g j n sk t nl m a u a gl k lt r i id r k t ny n ia ei ii ibh dn oa edr ai ii ag berasal dari Cirebon dan Sidoarjo. Enzim kitinase dan kitin deasetilase yang dihasilkan mempunyai pH optimum masing-masing adalah 7. (2) penentuan jenis kitin yang ditambahkan ke dalam medium produksi (ulangan 3 kali). t l. kitin kulit punggung udang dan kitin campuran keapal dan kulit punggung udang) selain koloidal kitin. 2000). yaitu kitin kepala udang dan kitin kulit punggung Cirebon udang. 2003). MI.. (2000) t l melaporkan bahwa Pseudomonas aeruginosa K-187 menghasilkan enzim protease dengan aktivitas tertinggi apabila diproduksi dengan menggunakan medium yang mengandung tepung limbah udang dan rajungan sebesar 5%. Riset ini dimaksudkan untuk mempelajari pengaruh penambahan kitin ke dalam medium sintetik minimal yang mengandung koloidal kitin pada proses produksi enzim kitin deasetilase terhadap aktivitas enzim yang dihasilkan.0052 U/ml dan belum cukup efektif untuk menghidrolisis kitin menjadi kitosan.. IPB – Bogor. USA) dan berbagai garam anorganik dan pelarut (Merck. Jawa Barat. meliputi: Pembuatan koloidal kitin Koloidal kitin merupakan turunan kitin yang bersifat amorf dengan kerapatan polimer lebih rendah.D. bacto agar dan bacto tryptone (Difco. England).. Diduga bahwa jenis dan konsentrasi kitin yang berbeda memberikan pengaruh yang berbeda terhadap aktivitas enzim yang dihasilkan. Untuk analisis protein digunakan a t r l i bovine serum albumin/BSA (Sigma Cheminaa an cal Co. N. St. t l. USA). Rahayu (2000) melaporkan bahwa enzim kitinase dan kitin deasetilase yang dihasilkan oleh bakteri ini mempunyai pH optimum masingmasing adalah 7. Fawzya. Penggunaan koloidal kitin dan kompos sebagai komponen medium mampu meningkatkan pertumbuhan dan aktivitas enzim endokitinase dari Bacillus MH-1 (Sakai e a . dan Suryaningrum.0 dan suhu 55oC (Tanuwijaya. USA) dan bahan kimia lainnya (Merck. St.0 dan tumbuh optimum pada pH 7. Louis. Beberapa tahap preparasi yang diperlukan untuk produksi enzim kitin deasetilase dan analisis aktivitas enzimnya. Jawa Barat. Fawzya e a t l. Jerman). 1995) Bacillus K29-14 adalah bakteri termofilik yang diisolasi dari kawah gunung Kamojang. Th.. Salah satu upaya untuk meningkatkan aktivitas enzim adalah dengan menambahkan inducer ke dalam medium sintetik minimal yang digunakan dalam ekstraksi enzim. 1999).5%. Kitin dari Cirebon terdiri atas 2 jenis. 1 9 ) t l. St. Damstadt.0 dan 8.Y.. Darmstadt. Aktivitas enzim tertinggi dihasilkan oleh medium yang mengandung koloidal kitin dan kompos masingmasing 0. Bahan lain yang digunakan adalah kitin limbah rajungan (Sigma Chemical Co. Indriati. sedangkan dalam tahap (2) digunakan tiga jenis kitin (kitin kepala udang. Sebagian kultur juga disimpan dalam gliserol 40% untuk stok. St.0 (Rahayu. Sementara itu Oh e a . Louis. MO. Louis. secara kimiawi yang selama ini banyak dilakukan dan dinilai kurang ramah lingkungan karena menghasilkan limbah yang mengandung basa kuat (Martinou e a .0 dan 8.

1998). St arter sebanyak 7. Aktivitas enzim cenderung meningkat pada produksi jam ke 48 dan menurun lagi pada 24 jam berikutnya. Kyoto. England) selama 24 jam pada suhu 55oC .0% ditambah agar 1. 180 rpm. endapan ditambah akuades dingin dan diaduk untuk melarutkan sisa garam. kadar abu 0. kadar protein (Lowry e a l. 1997) serta pengamatan terhadap kitin yang digunakan. Campuran didiamkan dalam keadaan tertutup selama 1 malam pada suhu 4 oC. Ke dalam pelet (endapan) ditambahkan 100-150 ml metanol dan dilakukan homogenisasi lagi. Japan) dengan jumlah scan 5 kali dan menggunakan rasio sampel/KBr 1:100 pada preparasi contohnya. juga dilakukan pengamatan pertumbuhan sel selama produksi enzim melalui pengukuran OD660nm medium sebelum dilakukan pemisahan larutan enzim dengan biomassa. Enzim kasar berupa filtrat kemudian diuji kadar proteinnya (Lowry e a .19%. USA) sambil diaduk pelan menggunakan magnetic s i r r dan dibiarkan sekitar 10 menit pada suhu tre ruang. serta dilanjutkan dengan sentrifugasi. suhu 4oC selama 20 menit. Barrington.1997.05% dan bacto tryptone 0. sulfat 0. t l. N tota l 7. Japan) (Ohishi e a t l. 1 5 di dalam Bollag & t l.. Supernatan dibuang. Berdasarkan konsentrasi kitin dalam medium. kitin yang digunakan adalah kitin kepala udang yang diperoleh dari Cirebon dengan spesifikasi sebagai berikut : kadar air 11. menggunakan spektrofotometer UV 1201 (Shimadzu. ammonium . enzim kasar kitin deasetilase yang diperoleh diuji aktivitasnya. Pelet yang diperoleh adalah koloidal kitin yang siap untuk digunakan lebih lnu. Selanjutnya dilakukan sentrifugasi pada kecepatan 8000 rpm. 180 rpm selama 24.7%. yeast extract 0.5%) sebanyak seperempat bagian cawan petri diinokulasikan ke dalam 50 ml medium cair untuk starter dan diinkubasikan dalam shaking bath (Grant SS40D. kemudian disaring menggunakan glasswool. 4oC selama 15 menit.02% sodium azide dan diaduk lagi menggunakan magnetic stirrer selama 4 menit. Wang & Chang. Kyoto.52%. Sebagai data dukung. kadar abu. Selanjutnya disentrifugasi (Beckman J2-21. Memperbanyak ulangan percobaan mungkin dapat mengurangi keragaman bahan. dengan pH akhir medium 7. HASIL DAN BAHASAN Pada penentuan konsentrasi kitin yang optimum dalam medium produksi enzim kitin deasetilase. 9 6 . t l. kemudian disentrifus pada 8000 rpm. Hasil uji aktivitas enzim sangat bervariasi yang ditunjukkan oleh deviasi yang cukup besar.0 (Sakai e a .1%. 1980) dan derajat deasetilasi dengan metode spektroskopi infra merah (Sabnis & Block. Pembuatan glikol kitin didasarkan atas metode Trudel & Asselin (1989) sebagai berikut : Satu gram glikol kitosan dilarutkan dalam 20 ml asam asetat 10% dan dibiarkan dalam suhu ruang selama 24 jam.5 ml asetat anhidrat (Sigma Chemical Co. Kultur murni B c l u K29-14 pada media padat ails (komposisi sama dengan medium cair. Pembuatan glikol kitin Glikol kitin digunakan sebagai substrat dalam pengujian aktivitas enzim kitin deasetilase. USA) pada 8000 rpm. ajt Produksi enzim kitin deasetilase Produksi enzim dilakukan menggunakan medium cair yang mengandung koloidal kitin 0.. Kondisi semacam ini layaknya memang sering terjadi pada penelitian biologis karena sifat bahan biologis itu sendiri. Filtrat yang diperoleh ditambah dengan 100 ml akuades dingin dan dinetralkan dengan NaOH 12N (+ 200 ml). MO. 9 1 Edelstein.5% dimasukkan ke dalam medium produksi kemudian diinkubasikan dalam shaking bath pada suhu 55oC. 4oC selama 20 menit.. Larutan adalah 1% (b/v) glikol kitin. Sentrifugasi dilakukan pada 7000 rpm. pada produksi selama 48 dan 72 jam terlihat kecenderungan peningkatan aktivitas enzim dengan meningkatnya konsentrasi kitin sampai dengan 2%. St.65%. 41 sambil divakum.5% dan kitin (dalam bentuk tepung kitin) sesuai perlakuan. Ke dalam larutan kemudian ditambahkan 100 ml metanol absolut secara pelanpelan lalu disaring dengan kertas Whatman no. 1990) dan aktivitas enzimnya (Tokuyasu e a .Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Volume 10 Nomor 3 Tahun 2004 ekstraksi enzim (digunakan sebagai inducer) d b a iut berdasarkan metode Arnold & Solomon (1986) melalui tahapan sebagai berikut : Sebanyak 10 gram kitin dimasukkan ke dalam 200 ml HCl pekat (37%). Hasil aktivitas enzim disajikan pada Ta e 1 bl . MgSO4 7H2O 0. N tota l (AOAC.1%. Louis. 48 dan 72 jam. Ke dalam filtrat ditambahkan 1. K2H P O4 0. k c a i eul koloidal kitin 2.1%. 1990) dan perhitungan aktivitas enzim spesifiknya. Setelah proses produksi. kemudian menurun lagi pada konsentrasi 13 . 1951 di dalam Bollag & Edelstein. Pellet ditambah 100 ml 0. kecuali pada medium yang mengandung kitin sebanyak 3%. meliputi kadar air.01%.19) t l. ditambahkan 150 ml metanol absolut kemudian dihomogenisasi menggunakan blender tangan.. 1997) menggunakan Fourier Transform Infra Red spectrophotometer (FTIR) 8400 S (Shimadzu. NaCl 0. Pengamatan Pengamatan yang dilakukan terhadap enzim kasar m l p t a t v tas enzim kitin deasetilase (Touyasu e eiui kii t a 1996). Saat terbentuk gel.53% dan derajat deasetilasi 53. 4oC selama 20 menit.

22 0. Jenis kitin/ Chitin type Kitin campuran kepala dan kulit punggung udang/ Mixed head and shell shrimp chitin Kitin kulit punggung udang/ Shrimp shell chitin Kitin kepala udang/ Shrimp head chitin Air (%)/ M oisture (%) 8.34 31.23 + 1.36 11. Tiga jenis kitin digunakan yaitu kitin campuran kepala dan kulit punggung udang dari Sidoarjo. Indriati.99 1.05 53.2 U/ml.64 0 5. kitin kepala udang dari Cirebon dan kitin kulit punggung udang dari Cirebon dengan spesifikasi sebagaimana terlihat pada Tabel 2. Diduga bahwa pada 24 jam pertama persediaan substrat koloidal kitin.72 7. Jumlah sel yang dimasukkan/Cell count inoculated into production medium : 23. Aktivitas enzim kitin deasetilase (mU/ml) dari Bacillus K29-14 dalam medium produksi yang mengandung kitin kepala udang Chitin deacetylase activity (mU/ml) from Bacillus K29-14 in a head shrimp chitin containing medium Lama produksi (jam)/Production time (hours) 24 7. sedangkan hasil uji aktivitas enzim kitin deasetilase yang diperoleh ditunjukkan pada Tabel 3.5%. sedangkan pada produksi selama 24 jam pola yang dihasilkan tidak jelas.02 0.36 25.31 11. (1%) dan tepung campuran limbah udang dan limbah rajungan sebanyak 5% ke dalam medium produksi untuk meningkatkan aktivitas enzim protease dari Pseudomonas aeruginosa K-187. yang lebih mudah dikonsumsi oleh sel dibandingkan kitin. A t v tas enzim kii yang dihasilkan mencapai 21.18 3. Aktivitas enzim tertinggi dihasilkan oleh medium yang mengandung kitin kepala udang sebanyak 2% pada produksi selama 48 jam. Sp s f k s k t n l k l eiiai ii oa Seiiaino lclcii pcfcto f oa htn oleh Ohishi e a (1997) yang berupa kitin cumi t l.D.49 + 10.56 Konsentrasi kitin (%)/ Chitin concentration (%) 0 1 2 3 Catatan/Note : Ulangan/replication : 2.49 + 13.Y.03 7.70 72 + + + + 2.9 U/ mg.59 4. Pada tahap ke-2.28 Abu (%)/ N Total (%)/ Derajat Deasetilasi (%)/ Ash (%) Total N (%) Degree of deacetylation (%) 2. N.21 + 0.N. Th. Ta l 1 be . dan Suryaningrum.44 6. sehingga ketersediaan kitin (kelebihan substrat) akan bersifat menghambat produksi enzim.49 mU/ml. Ta e 1 bl . sedangkan Oh e a (2000) menambahkan laktosa t l. penambahan jenis kitin yang berbeda ke dalam medium produksi dengan konsentrasi 2% dilihat pengaruhnya terhadap aktivitas enzim kitin deasetilase yang dihasilkan. kecuali bahwa aktivitas enzim tertinggi dihasilkan oleh perlakuan medium tanpa penambahan kitin.41 5.86+ 5. Fawzya.43 5.25 48 14. sehingga penambahan kitin sampai dengan 2% merangsang mikroba (Bacillus K29-14) untuk mengeluarkan enzimnya agar dapat mengkonsumsi substrat dalam rangka mempertahankan hidupnya. Ta l 2 be .29 + 7.25 + 5.22 2. yaitu sebesar 25.65 7.43 + 0.2 x 1010 kitin 3%. sebesar 0. Pada produksi selama 48 dan 72 jam diduga ketersediaan koloidal kitin sudah menipis atau habis.18 + 2. masih cukup.29 4.62 + 0.52 14 . Penggunaan kitin dalam medium produksi enzim deasetilase dari Vibrio alginolyticus juga dilakukan Ta e 2 bl .20 8.59 16. Enzim kasar yang dihasilkan mempunyai aktivitas spesifik enzim sebesar 0.02 24.53 + 0.

Spesifik/ Cell density Enzyme activity Protein content Specific activity (mU/ml) (mg/ml) (mU/mg)* (OD660 nm) Kitin campuran kepala dan kulit punggung udang/ Mixed head and shrimp chitin : 24 jam/hours 48 jam/hours 72 jam/hours Kitin kulit punggung udang/ Shrimp shell chitin: 24 jam/hours 48 jam/hours 72 jam/hours Kitin kepala udang/ Shrimp head chitin: 24 jam/hours 48 jam/hours 72 jam/hours 0.43 19.20 x 10-2 5.536 + 0.00 0.73 0.5 4. sehingga produksi enzim berlangsung lebih lambat.06 + 0.08 58.36 + 0. 15 .257 + 0.12 x 10-3 5.08 58. enzyme activity.19 0.50 4. A t v tas enzim kitin kii deasetilase yang tertinggi dihasilkan dari fermentasi menggunakan medium yang mengandung tepung kitin dari kulit punggung udang yang diperoleh dari Cirebon.5 18.3 x 106.2 x 1010).54 + 5. Enzim/ Kadar Protein/ Akt.35 4.54 + 5. aktivitas enzim.12 0.739 + 0.793 + 1. Jumlah sel starter yang dimasukkan/Cell count inoculated into production medium : 55.46 6.18 4.044 0.18 Catatan/Note:Ulangan/replication = 3.11 0 0 4.88 + 0.00 + 0.73 87.045 0.108 0.22 + 25.015 0.Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Volume 10 Nomor 3 Tahun 2004 Ta e 3 bl .324 + 0.8 4.12 0. kadar protein dan aktivitas spesifik enzim kasar selama produksi Cell density in medium.269 + 0.18 + 78.00 87.00 6.64 4.8 Catatan/Note:Ulangan/replication = 3.54 x 10-1 1.365 + 0.793 + 1.077 0. kii produksi selama 48 jam relatif lebih tinggi dari produksi selama 24 dan 72 jam.00 + 0.18 + 78.13 + 0.43 + 0.44 11.71 + 0.19 + 4. Aktivitas enzim (mU/ml) dari B c l u K29-14 dalam medium produksi yang mengandung kitin ails Enzyme activity (mU/ml) from Bacillus K29-14 in a chitin containing medium Lama produksi (jam)/Production time (hours) 24 48 72 0. Hal ini kemungkinan berkaitan dengan jumlah sel starter yang dimasukkan ke dalam medium produksi lebih rendah dari jumlah sel pada tahap 1 (55.092 0. Ta l 4 be ..51 8.1 Jenis kitin dalam medium/ Type of Chitin contained in medium Kitin campuran kepala dan kulit punggung udang/ Mixed head and shell shrimp chitin Kitin kulit punggung udang/ Shrimp shell chitin Kitin kepala udang/ Shrimp head chitin 3. Dibandingkan dengan Ta e 1 a t v tas enzim pada bl .57 + 0. Jumlah sel starter yang dimasukkan/Cell count inoculated into production medium: 55.3 x 106 Ta e 4 bl . protein content and specific activity of crude enzyme during production Perlakuan/ Treatment Kepadatan Sel/ Akt.1 9.73 0. Kepadatan sel dalam medium. Ta l 3 be .11 6.00 + 0.39 + 67.848 + 0.069 0.22 + 1.071 0. * aktivitas enzim/kadar protein (enzyme activity/protein content) Pola yang terlihat pada Tabel 3 adalah bahwa aktivitas enzim yang dihasilkan pada produksi selama 72 jam relatif lebih tinggi dibandingkan dengan aktivitas enzim pada produksi selama 24 dan 48 jam.3 x 106 vs 23.22 + 25.39 + 67.044 3.24 + 0.19 11.84 + 0.430 + 0.11 0.00 1.492 + 0.06 + 0.00 + 0.19 + 4.

Beberapa mikroba penghasil enzim-enzim kitinolitik dilaporkan juga menghasilkan protease. Berdasarkan pengaturan rantai Ntl - asetilglukosaminnya. yang berikatan secara spesifik dengan a-kitin. N. Akan tetapi kandungan protein enzimnya adalah sebaliknya. bl ) Setelah produksi enzim berlangsung selama 72 jam. Streptomyces o i a e v r d s dapat secara langsung mengenali lvcoiii struktur a–kitin karena mikroba ini menghasilkan lektin. Tingginya protein enzim pada medium yang mengandung kitin campuran dari Sidoarjo mungkin disebabkan oleh terbentuknya enzim kitinolitik yang lain. substrat koloidal kitin yang bersifat lebih mudah larut dikonsumsi lebih awal dibandingkan kitin dan terhidrolisis lebih dulu oleh enzim kitin deasetilase sehingga menjadi lebih jernih.D. pertumbuhan sel belum maksimum dan belum seluruh substrat dikonsumsi oleh sel mikroba.N. Perbedaan substrat sangat berpengaruh terhadap kemampuan sel mikroba dalam menggunakan substrat tersebut untuk menghasilkan enzim.49 kii 16 .2 x 1010. KESIMPULAN Penambahan kitin dalam bentuk tepung ke dalam medium produksi enzim kitindeasetilase dari B c l ail s K29-14 dapat meningkatkan aktivitas enzim kitin u deasetilase yang dihasilkan. dan Pseudomonas aeruginosa K-187 (Wang e a t l. sehingga ails data yang ada hanya menggambarkan kondisi/ penampakan medium selama produksi enzim. diperoleh nilai OD660nm yang semakin kecil. sejenis protein. 1 9 ) Sih t l 9 7 . antara lain Vibrio harveyi ( v t e a S i h t l. Selama produksi terjadi pertumbuhan sel mikroba dan konsumsi substrat oleh mikroba.19 mU/ml) (Ta e 4 . Adapun Tabel 4 menunjukkan data tentang pertumbuhan sel bakteri (kepadatan sel). kadar protein dan aktivitas enzim kasar serta aktivitas spesifiknya selama produksi. Berdasarkan penurunan nilai ini terlihat bahwa selama produksi enzim. Fenomena perubahan medium. Indriati. Hal ini kurang mencerminkan pola pertumbuhan sel mikroba yang umumnya mengikuti fase lag. a -ii. at tutr . yaitu protein enzim dari perlakuan medium kitin campuran dari Sidoarjo lebih tinggi dari protein enzim dari perlakuan medium kitin kulit punggung dari Cirebon. Enzim kasar merupakan filtrat setelah medium produksi dipisahkan dari sel mikroba dan komponen padat lainnya. derajat deasetilasi dan ikatan silang komponen strukturalnya dengan komponen lain seperti protein dan glukan (Svith e a. sedangkan sel mikroba yang lain dapat segera mengenali derajat deasetilasi melalui jumlah proporsi glukosamin dan N-asetiglukosamin atau mengenali adanya protein yang terikat secara kovalen dengan kitin ( v t e a. terdapat 3 jenis struktur ktn yiusrku a bdngktn Sta sl ii. tidak tertutup kemungkinan bahwa enzim yang dihasilkan secara ekstraseluler tidak hanya kitin deasetilase. Fawzya. eip e mikroba mempunyai kemampuan berbeda dalam mengenali substratnya.A t v tas enzim yang dihasilkan mencapai 25. t l.Y. Selain itu protease pun dapat dihasilkan karena adanya enzim-enzim kitinolitik yang terbentuk. Oh e a . 2000). tetapi aktivitas enzimnya tidak terukur.39 mU/ml.. produksi enzim dan kadar protein ekstrak kasar enzim pada Tabel 4 kemungkinan dapa t diuraikan sebagai berikut : Pada produksi enzim selama 24 jam. Terjadinya hal tersebut disebabkan tidak dilakukannya pengukuran OD 660nm terhadap medium yang mengandung kitin yang tidak ditambah (diinokulasi) dengan sel B c l u K29-14 sebagai kontrol. medium yang mengandung kitin dari kulit punggung udang mempunyai nilai OD660nm p l aing rendah yaitu 0. Selama produksi enzim kitin deasetilase. Hal ini didukung oleh data aktivitas enzim yang relatif masih rendah (0 – 3. dapat menstimulasi ekskresi protease. 1997).257 dan ternyata nilai aktivitas enzimnya paling tinggi yaitu 87. 1997). tetapi juga enzim kitinolitik lainnya seperti kitinase dan kitosanase. Oleh karena itu yang terdeteksi sebagai protein pada ekstrak enzim sebagian besar adalah berasal dari medium yang mengandung tripton dan yeast extract. yang juga merupakan suatu protein. Rahayu (2000) melaporkan bahwa B c l u K29-14 selain menghasilkan kitin ails deasetilase juga kitinase. A t v tas enzim tertinggi kii dihasilkan pada produksi selama 48 jam pada suhu 55oC menggunakan medium yang ditambahkan berupa tepung kitin kepala udang sebesar 2% dengan jumlah sel awal yang ditambahkan sebesar 23.. log dan stasioner. Pada perlakuan medium yang mengandung kitin campuran kepala dan kulit punggung udang dari Sidoarjo dihasilkan aktivitas enzim kitin deasetilase yang lebih kecil dari aktivitas enzim dari medium yang mengandung kitin kulit punggung udang dari Cirebon. 1997... Selama produksi. Struktur fisik dan kimia kitin sangat bervariasi antara lain tergantung pada pengaturan rantai N-asetilglukosamin. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap degradasi kitin oleh m k o aa a a s f ta a ia a s r k u f s kk t n irb dlh ia lm tu tutr ii ii. dan Suryaningrum. substrat makin berkurang dan untuk dapat bertahan hidup mikroba akan mengekskresikan enzim untuk dapat memecah substrat sebagai makanannya. Th. Makin lama produksi.

N. 39:67-71.3 x 106. Biotechnol. Santamaria. E. H.. American Society for Microbiology. Chadain. Environ. Fawzya.. J. Moriguchi. Microbiol. H. Sabnis. F. S.J. 117(2):257-263. Ariyani. Purification and characterization of three thermostable endochitinases of a noble Bac l u strain MH-1.D. Microbiol. M. Kurokawa. 1997. 1997. Riset Ekstraksi Enzim dan Kitosan dari Biota Laut dan Aplikasinya.S. 1993. Martinou. jumlah sel dapat diketahui.N. beberapa perbaikan perlu dilakukan untuk menyempurnakan penelitian ini atau penelitian lain yang sejenis. Kavelaki. Washington. AOAC.S. Kafetzopoulos. Biochem. F. J . New York. V. hsi .1986. in f fiil 3h d I c Arlington.Agency for Marine and Fisheries Research.. and Kirchman. Wiley-Liss Protein Methods. D. Ministry of Marn A i e ffairs and Fishery. Moore. J. Adachi. yaitu : Untuk setiap produksi enzim sebaiknya digunakan jumlah sel yang sama dari starter yang digunakan. and Bouriotis. Martinou. Zilda. Prog. D. menghasilkan enzim dengan aktivitas yang berbeda. . K . Sakai. Heruwati. Wakayama. D. Laporan Tahunan Pusat Riset Pengolahan Produk dan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Perlu kajian lebih lanjut mengenai metode pengujian aktivitas enzim agar diperoleh hasil yang lebih akurat. tepung kitin kepala udang dan tepung kitin kulit punggung udang sebesar 2%. Motosugi. 9(1):291-294. 27:3-10. Christodoulidou. Hal ini bisa dilakukan dengan mencari terlebih dahulu hubungan antara OD660nm dengan jumlah sel sta t r.A. Appl.. pengujian aktivitas enzim kitin deasetilase dapat dilakukan dengan menggunakan metode Bergmeyer (1974) d i dalam Martinou e a (1995) melalui reaksi t l. 30(1):49-54. Proc. and Bouriotis. AOAC. Inc.D. IPB. Appl. Purification of heat stable chitin deacetylase from Aspergillus nidulans and its role in cell wall degradation. Chitin degradation proteins produced by the marine bacterium Vibrio harveyi growing on different forms of chitin. I. H. 273(2):235-242. DAFTAR PUSTA K A Alfonso. Yi-Su. Purification and properties of two deacetylases produced by Vibrio alginolyticus H-8. Yamagishi. Izumida. Biochem..M. J. O. Official Methods of Analysis of the Associat o o O f c a Analytical Chemists. Bioconvertion of chitin to chitosan: Purification and characterization of chitin deacetylase from Mucor rouxii. aktivitas enzim tertinggi dihasilkan oleh penambahan tepung kitin kulit punggung udang ke dalam medium selama 72 jam produksi. Ohta T. Tzeng. p 45-68. J. Preliminary study on chitin degradation by chitinolytic enzyme from Bacillus K29-14. Indriati. L. 1 t e .L. U. and Bouriotis. Tsigos. V..M. Kafetzopoulus. Rahayu.. 1994. Microbiol.L. Papers IMFS 2003. and Tan Miwa. vt. 2002. Shih. Gao. Bollag. 2000. Oh. 17 . dan Heruwati. Martinou. P. Jakarta. Yokota A. and Edelstein. Katsumoto. Polym Bull. Neuro. 2003. 1990.39 mU/ml. T.A.43 mg/ml dan aktivitas spesifik enzim sebesar 19. Enzyme Microb. A. and . O i h . K. 2000.Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Volume 10 Nomor 3 Tahun 2004 mU/ml. Res. aktivitas enzim kasar ( crude extract) yang dihasilkan adalah sebesar 87.S. D. J. Di antara tepung kitin limbah udang (mengandung campuran kepala dan punggung udang). 64(9):3397-3402 ot S i h A. and Block. dengan kadar protein 4. Yew-Min and Wang. Purification and characterization of chitin deacetylase from Absidia coerulea. V. 63(2):408-413. SARAN Berdasarkan hasil penelitian di atas. L. Sci. and Reves. J. 1995. Selain metode Tokuyasu (1996) yang didasarkan atas glukosamin yang dihasilkan. Perlu dilakukan penelitian/perhitungan kinetika proses produksi enzim untuk mendapatkan kondisi yang optimum baik substrat maupun sel mikrobanya.. Protein Concentration Determination. A .. 1998. Chitin deacetylation by enzymatic means.. E. Hanya saja metode ini lebih mahal karena menggunakan bahan substrat dan enzim yang relatif mahal. Natl. J. Carbohydr. Curr. and Onodera. Dengan jumlah sel dalam starter yang ditambahkan sebesar 55. 90(7):25642568. M.... S.S. ezimatis bertingkat yang didasarkan atas jumlah asam asetat yang terbentuk. Manual of Industrial Microbiology and Biotechnology. M.. 61(7):1113-1117. 1980. agar dapat dihitung nilai OD660nm sl e. Acad.. Improved infrared spectroscopic method for the analysis of degree of Ndeacetylation of chitosan. A.H. X. p:234-239. Chitin deacetylation by enzymatic means: monitoring of deacetylation process. D. Sano. 1995. D. Biotech. D. M. In ternational Seminar on Marine and Fisheries. Arnold. S.A..M. K. 1995. Environ. C. Jawa Barat.S. Pengukuran densitas sel melalui OD660nm p r u el dibarengi dengan kontrol yaitu medium sebelum diinokulasi dengan sel dan diperlakukan seperti contoh lainnya. n. Y. San-Lang. Ing-Lung. A.. Penambahan tepung kitin dari jenis yang berbeda. Technol.73 mU/mg. Biosci. . F. sehingga dengan hanya re mengukur OD660nm starter sebelum produksi enzim.. K. S. Protease produced by Pseudomonas aeruginosa K-187 and its application in the deproteinazion of shrimp and crab shell wastes.. Pemurnian dan Karakterisasi Kitinase dan Kitin Deasetilase Termosta i d r I o a B c l bl ai slt ailus K29-14 Asal Kawah Kamojang. dan Zilda. Thesis Program Pascasarjana. isolated from chitin containing comils p s .. Kafetzopoulos. Virginia 1018 pp. 1997. N.. and Solomon.

Purification and characterization of chitin deacetylase from Colleotrichum lindemuthianum. Anal. Isolasi dan Pemilahan Bakteri Termofilik Penghasil Enzim Kitinase. Th. Surimi Wash Water Treatment by Chitosan-Alginate Complexes. Bogor. IPB. Bioche 178: 302-306. J. PhD. USA. F. Biochem. J. dan Suryaningrum. Trudel. S r psi. Oregon. San-Lang and Chang. 1989. Appl. Tanuwijaya. A. Microbiol. 1997. Detection of chitinase after polyacrilamide gel electrophoresis.D. S. Purification and characterization of extracellular chitindeasetylase from Colleotrichum lindemuthianum. Oregon St ate University. 2003.Y. K. 63(2): 380-386. Ohnishi Kameyama. Fakultas Teknologi Pertanian. W ibowo. Indriati. Tsigos. 270:26286-26291. Jurusan ki Teknologi Pangan dan Gizi. Tokuyasu K. Biotechnol. I. and Asselin. N. Disertation. Corvallis. 1996. 123 pp 18 . Fawzya. Biosci. Biol.. M and Hayasi. W ang.N. and Bouriotis. 1995. J. Wen-Tsu. Chem. 1999. Purification and characterization of two bifunctional chitinases/lysozymes extracellularly produced by Pseudomonas aerogenosa k-187 in a shrimp and crab shell powder medium.Environ. V. Biochem. 60:1598-1603.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful