1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau yang disebut Dengue Haemorragic Fever (DHF) merupakan salah satu jenis penyakit menular akut yang menjadi masalah kesehatan dunia terutama pada Negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) menjadi masalah kesehatan di Indonesia yang menimbulkan dampak sosial maupun ekonomi sering menimbulkan keresahan

masyarakat karena perjalanan penyakitnya yang cepat dan dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat. Sampai saat ini yang jadi vektor utama yaitu nyamuk Aedes aegypti. Peningkatan insidensi dan penyebarluasan DBD tersebut diduga erat kaitannya dengan kepadatan vector yang sangat tinggi dan didukung dengan meningkatnya mobilitas penduduk oleh karena meningkatnya sarana transportasi dalam kota maupun luar kota. Seluruh wilayah Indonesia mempunyai resiko untuk terjangkit penyakit DBD kecuali daerah yang memiliki ketinggian lebih dari 1000 meter diatas laut. (Depkes. R,I, 2006) Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit dengan perantara serangga yang menjadi masalah kesehatan di Asia Tenggara pada umumnya dan di Indonesia

2

pada khususnya, disamping malaria, filarisasis dan Japanese B encephalitis. Demam Berdarah Dengue merupakan bentuk infeksi Dengue yang berat. Demam Berdarah Dengue (DBD) telah dikenal di Indonesia dan beberapa negara Asia sebagai penyakit yang endemis terutama bagi anak-anak dengan usia kurang dari 15 tahun (Pinzon, 1999). Di Indonesia kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) pertama kali dilaporkan terjadi di Surabaya pada tahun 1968 dengan jumlah penderita 58 orang dan 24 orang di antaranya meninggal dunia. Kemudian DBD berturut-turut dilaporkan terjadi di Jakarta, Bandung dan Yokyakarta. Dari tahun 1968 sampai 1972 wabah dilaporkan hanya terjadi di pulau Jawa

(Soedarmo,1988) Berdasarkan laporan dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia, sampai pertengahan tahun 2001 kasus penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) sudah menjadi masalah endemis di 122 kabupaten, 605 kecamatan dan 1800 desa/kelurahan di Indonesia, sehingga sering terjadi berjangkit penyakit DBD di berbagai wilayah di Indonesia hampir di sepanjang waktu dalam satu tahun. Tercatat bahwa pada tahun 2002 sampai dengan 2005 terjadi kasus dalam jumlah masing-masing 40.377, 52.000, 79.462 dan 80.837. Kejadian Luar Biasa (KLB) terjadi pada tahun 2005, dengan Case Fatality Rate (CFR) mencapai 2%. Tahun 2006, total kasus DBD di Indonesia sudah mencapai 104.656 kasus dengan

3

CFR =1,03% dan tahun 2007 mencapai angka 140.000 kasus dengan CFR = 1%. (Depkes RI,2009). Kabupaten Kutai Kartanegara dengan 48 jiwa/km

merupakan daerah yang berpotensi besar terhadap terjadinya kejadian luar biasa (KLB), yang merupakan daerah endemis demam berdarah dengue (DBD). Pada tahun 2007 terdapat kasus DBD sebanyak 792 kasus dengan angka kematian 10 orang. Pada tahun 2008 sebanyak 759 kasus dengan angka kematian 13 orang sedangkan tahun 2009 sebanyak 771 kasus. Kabupaten Kutai Kartanegara merupakan salah satu wilayah endemis DBD di Propinsi Kalimantan Timur dimana dari 18 Kecamatan yang ada seluruhnya termasuk daerah endemis. IR untuk provinsi Kaltim sebesar 173,84 pada tahun 2009 tertinggi setelah Provinsi DKI dan Provinsi Kalbar. Selama tiga tahun terakhir kasus DBD di Kabupaten Kutai Kartanegara juga cenderung meningkat. Berdasarkan laporan tahunan bagian P2M Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Kartanegara, pada tahun 2007 terdapat jumlah penderita DBD sebanyak 208 ,dengan IR = 37,02 , Case Fatality Rate (CFR)= 8,17 %, ABJ = 51,12 % , tahun 2008 terdapat jumlah penderita DBD sebanyak 350 ,dengan IR = 62,29 , Case Fatality Rate (CFR)= 4,86 %, ABJ = 55,68 % , tahun 2009 terdapat jumlah penderita DBD sebanyak 413 ,dengan IR = 71,12 , Case Fatality Rate (CFR)= 2,7 %, ABJ = 63,39 %. (Profil Dinkes Kukar, 2009)

4

Kecamatan Muara Badak merupakan salah satu wilayah endemis DBD dengan capaian ABJ sebesar 55 % .Dari 7 desa yang ada di Kecamatan Muara Badak capaian ABJ terendah adalah desa Muara Badak ulu yaitu 33 %.Berdasarkan laporan dari Puskesmas Muara Badak pada trimester pertama tahun 2011 terdapat kematian kasus DBD di desa Muara Badak ulu sebanyak satu orang. Selain itu gambaran daerah desa muara badak ulu sendiri adalah daerah pesisir yang memiliki kepadatan penduduk cukup tinggi dibanding dengan desa lain, masih sangat terbatas ketersediaan air bersih

sehingga memiliki kecendrungan akan

perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti . Melihat hasil pencapaian ABJ yang masih rendah tersebut maka perlu dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan PSN-DBD yang selama ini telah dilaksanakan di masyarakat. Ruang lingkup evaluasi ditujukan pada perilaku masyarakat dalam melaksanakan PSN-DBD karena perilaku masyarakat yang baik dan benar dalam melaksanakan PSN-DBD sangat dominan dalam menunjang keberhasilan PSN-DBD. Aedes aegypti merupakan vektor utama yang paling penting, sementara spesies lain seperti Ae. albopictus, Ae. scutellaris merupakan vektor sekunder (Anny Widiyani,2004). Adanya vektor tersebut berhubungan erat dengan beberapa faktor antara lain (Siti Rahmah Ummiyati, 1992) Kebiasaan masyarakat menampung air bersih untuk keperluan sehari-hari; 2) Sanitasi

5

lingkungan yang kurang baik; 3) Penyediaan air bersih yang kurang. Pengendalian vektor dilakukan dengan berbagai cara yaitu dengan pengasapan (untuk nyamuk dewasa) dan abatisasi (untuk larva), serta PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) untuk menghilangkan tempat perkembangbiakan nyamuk. Namun

kegiatan pengasapan dan abatisasi untuk jangka panjang kurang efektif, hal ini disebabkan karena biaya yang besar dan akibat lain yang ditimbulkan seperti pencemaran lingkungan dan

kemungkinan terjadinya resistensi nyamuk apabila dosisnya tidak tepat (Sumarmo Purwo Soedarmo, 1995). Oleh karena itu kegiatan pengendalian vektor yang dianggap murah, aman, mudah serta mempunyai nilai

keberhasilan yang tinggi bila dilakukan secara serentak dan berkesinambungan adalah PSN (WHO, 2005 ; Ditjen PPM&PLP, 1997), namun demikian pelaksanaan PSN masih mengalami hambatan karena tidak semua masyarakat mau melakukan PSN. Hal ini karena pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap penyakit DBD masih kurang. Kepadatan populasi nyamuk Aedes . aegypti sangat tergantung dari pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan khususnya kebersihan tempat penampungan air dan sampah yang dapat menampung air (Anny Widiyani, 2004). Disamping itu kepadatan nyamuk Aedes aegypti juga dipengaruhi oleh kondisi kontainer seperti warna, jenis bahan kontainer, jenis kontainer, jumlah air

6

dan ukuran kontainer (Saleha Sungkar, 1994), hal lain seperti letak tempat penampungan air juga mempengaruhi populasi nyamuk Aedes aegypti (M Hasyimi, 1994). Indikator keberhasilan PSN- DBD adalah meningkatnya angka bebas jentik (ABJ ) di suatu wilayah. Kegiatan PSN-DBD

yang dilakukan di desa Muara Badak Ulu ditekankan pada kegiatan 3 M yang didukung dengan kegiatan penyuluhan PSN, kerja bakti PSN, pemantauan jentik berkala (PJB), abatisasi selektif dan labelisasi rumah bebas jentik. Namun demikian pencapaian ABJ sebagai salah satu indikator keberhasilan kegiatan PSN – DBD masih rendah di bawah target nasional yaitu 33 %. Masih rendahnya perilaku pemberantasan sarang nyamuk DBD dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: “faktor kepercayaan, nilai, sikap, usia”. Faktor yang mempengaruhi perilaku adalah pengetahuan, persepsi, emosi, motivasi dan lainnya. Mengingat sangat berbahanya penyakit BDB, maka perlu ada upaya pemberantasan yang komprehensif dari penyakit tersebut. Pemerintah Sarang telah Nyamuk mengeluarkan (PSN kebijakan untuk

pemberantasan

3M-Plus)

menanggulanggi penyakit BDB. Ini merupakan cara utama yang di anggap efektif, efisien dan ekonomis untuk memberantas vektor penular DBD mengingangat obat dan vaksin pembunuh virus DBD belum di temukan (Depkes,R.I, 2006).

7

Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti tertarik untuk meneliti dan mengambil judul penelitian “ Hubungan pengetahuan, sikap dan tindakan masyarakat dalam PSN-DBD dengan keberadaan jentik aedes aegypti di desa muara badak ulu kecamatan Muara Badak Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun 2011.

B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah ada hubungan antara pengetahuan, Sikap dan tindakan Masyarakat dalam PSN – DBD dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti di desa Muara Badak Ulu Kecamatan Muara Badak ?”.

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Mengetahui hubungan antara pengetahuan, Sikap dan tindakan Masyarakat dalam PSN – DBD dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti di desa Muara Badak Ulu Kecamatan Muara Badak Tahun 2011. 2. Tujuan Khusus a. Mengetahui hubungan pengetahuan Masyarakat

dalam PSN – DBD dengan keberadaan jentik nyamuk

8

Aedes aegypti di Desa Muara Badak Ulu Kecamatan Muara Badak. b. Mengetahui hubungan sikap masyarakat dalam PSN – DBD dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti di Desa Muara Badak Ulu Kecamatan Muara Badak. c. Mengetahui hubungan tindakan Masyarakat dalam PSN – DBD dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti di Desa Muara Badak Ulu Kecamatan Muara Badak.

D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Instansi Terkait Sebagai bahan masukan bagi pengelola program P2 DBD dan pihak terkait dalam upaya pengendalian dan pemberantasan vektor DBD di daerah penelitian. 2. Bagi Masyarakat Memberikan informasi yang dapat dilaksanakan dalam hal pencegahan dan pemberantasan DBD dengan mengubah kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat dalam PSN-DBD 3. Bagi Peneliti Memberikan tambahan pengetahuan dan pengalaman dalam melakukan kajian ilmiah terhadap pengetahuan tentang penyakit DBD dan PSN-DBD, sikap terhadap PSN-DBD dan tindakan masyarakat dalam melaksanakan kegiatan PSN-DBD.

9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A.

Pengertian Demam Berdarah Dengue Penyakit Demam Berdarah Dengue adalah penyakit menular

yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang ditandai dengan demam mendadak 2 sampai 7 hari tanpa penyebab yang jelas, lemah atau lesu, gelisah, nyeri ulu hati, disertai tanda perdarahan di kulit berupa bintik perdarahan (petechie), lebam (echymosis), atau ruam (purpura), kadang-kadang mimisan, berak darah, muntah darah, kesadaran menurun atau renjatan (shock). Demam dengue (DF) adalah penyakit febris-virus akut, seringkali ditandai dengan sakit kepala, nyeri tulang atau sendi dan otot, ruam, dan leukopenia sebagai gejalanya. Demam berdarah dengue (Dengue Haemoragick Frever/DHF) ditandai dengan empat gejala klinis utama: demam tinggi, fenomena hemoragi, sering dengan hepatomegali dan pada kasus berat disertai tanda – tanda kegagalan sirkulasi. Pasien ini dapat mengalami syok yang diakibatkan oleh kebocoran plasma. Syok ini disebut sindrom syock dengue (DSS) dan sering menyebabkan fatal. Epidemi dengue dilaporkan sepanjang abad kesembilan belas dan awal abad ke dua puluh di Amerika, Eropa

10

selatan, Afrika Utara, Mediterania Timur, Asia dan Australia, dan beberapa pulau di Samudra India, Pasifik Selatan dan tengah serta Karibia. DF dan DHF telah meningkat dengan menetap baik dalam insiden dan distribusi sepanjang 40 tahun, dan pada tahun 1996, 2500 – 3000 juta orang tinggal di area yang secara potensial beresiko terhadap penularan 200 juta virus dengue. infeksi Setiap dengue tahun dan

diperkirakan

terdapat

kasus

mengakibatkan kira–kira 24 juta kematian.

B. Epidemiologi Demam Berdarah Dengue a. Agent Virus Dengue merupakan bagian dari famili Flafiridae dan termasuk dalam group B Arthropod born viruses (arboviruses). Keempat serotipe virus dengue (disebut DEN 1, DEN 2, DEN 3 dan DEN 4) dapat dibedakan dengan metode serologi. Keempat tipe virus tersebut telah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia antara lain Jakarta dan Yogyakarta. Virus yang banyak berkembang di masyarakat adalah virus dengue tipe satu dan tipe tiga. Infeksi pada manusia oleh salah satu serotipe menghasilkan imunitas sepanjang hidup terhadap infeksi ulang oleh serotipe yang sama, tetapi hanya menjadi perlindungan sementara dan parsial terhadap serotipe yang lain (WHO, 1997). b. Vektor

11

Aedes aegypti adalah spesies nyamuk tropis dan subtropis yang ditemukan di bumi, biasanya antara garis lintang 35°LU dan 35°LS, kira-kira berhubungan dengan musim dingin isoterm 10°C. Meski Aedes aegypti telah ditemukan sejauh 45°LU, invasi ini telah terjadi selama musim hangat dan nyamuk tidak hidup pada musim dingin. Distribusi Aedes aegypti juga dibatasi oleh ketinggian. Ini biasanya tidak ditemukan diatas ketinggian 1.000 m tetapi telah dilaporkan pada ketinggian 2.121 m di India, pada 2.200 m di Kolombia, dimana suhu rerata tahunan adalah 17°C, dan pada ketinggian 2.400 m di Eritrea. Aedes aegypti adalah salah satu vektor nyamuk yang paling efisien untuk arbovirus, karena nyamuk ini sangat antropofilik dan hidup dekat dengan manusia dan sering hidup di dalam rumah. Wabah dengue juga telah disertai dengan Aedes albopictus, Aedes polynesiensis dan banyak spesies kompleks Aedes scutellaris. Setiap spesies ini mempunyai distribusi geografisnya masing-masing, namun mereka adalah vektor epidemik yang kurang efisien dibanding Aedes aegypti. Faktor penyulit pemusnahan vektor adalah bahwa telur-telur Aedes aegypti dapat bertahan dalam waktu lama terhadap desikasi (pengawetan dengan pengeringan), kadang selama lebih dari satu tahun (WHO, 1997). c. Host Manusia adalah pejamu (host) pertama yang dikenai virus, meskipun studi telah menunjukkan bahwa monyet pada

12

beberapa bagian dunia dapat terinfeksi dan mungkin bertindak sebagai sumber virus untuk nyamuk penggigit. Virus bersirkulasi dalam darah manusia terinfeksi pada kurang lebih saat dimana mereka mengalami demam, dan nyamuk nyamuk tak terinfeksi mendapatkan virus bila mereka menggigit individu saat dia dalam keadaan viramia. Virus kemudian berkembang di dalam tubuh nyamuk selama periode 8-10 hari sebelum ini dapat ditularkan ke manusia lain selama menggigit atau menghisap darah berikutnya. Lama waktu yang diperlukan untuk inkubasi ekstrinsik ini tergantung pada kondisi lingkungan khususnya suhu sekitar (WHO, 1997). d. Lingkungan

1. Suhu dan Kelembaban Udara Nyamuk dapat bertahan hidup pada suhu rendah, tetapi proses metabolismenya menurun atau bahkan terhenti bila suhu turun sampai dibawah suhu kritis. Rata-rata suhu optimum untuk untuk pertumbuhan nyamuk adalah 25ºC 27ºC, pertumbuhan nyamuk akan terhenti sama sekali bila suhu kurang dari 10ºC. Kelembaban optimum dalam kehidupannya adalah 70%-80%. Kelembaban dapat

memperpanjang umur nyamuk. Umumnya nyamuk akan meletakkan telurnya pada temperatur udara sekitar 20ºC – 30ºC (Depkes RI, 2003). 2. Musim dan Curah Hujan

13

Peningkatan

curah

hujan

mempengaruhi

perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, demikian pula pada musim penghujan. Dikarenakan akan semakin banyak jumlah tempat penampungan air yang dapat digunakan sebagai tempat perindukan. Perubahan musim akan

berpengaruh pada frekuensi gigitan nyamuk atau panjang umur nyamuk dan berpengaruh pula pada kebiasaan hidup manusia untuk lebih lama tinggal didalam rumah pada waktu musim hujan (Soedarmo, 1988). 3. Sanitasi Lingkungan Sanitasi perkembangbiakan lingkungan nyamuk mempengaruhi Aedes aegypti tempat terutama

tempat-tempat penampungan air sebagai media breeding place nyamuk. Seperti bak mandi/WC, gentong, tempayan, vas bunga, tempat minum burung, kaleng bekas, ban bekas dan lain-lain. Tempat penampungan air yang berisi air jernih dan ada didalam rumah serta tidak terkena sinar matahari langsung adalah tempat yang disukai nyamuk (Soegijanto, 2004). 4. Kepadatan dan Mobilitas Penduduk Kepadatan dan mobilitas penduduk ikut menunjang penularan DBD, semakin padat penduduk maka semakin mudah penularan DBD. Jarak antara rumah mempengaruhi penyebaran nyamuk dari suatu rumah ke rumah lain,

14

semakin dekat jarak antara makin mudah nyamuk menyebar ke rumah sebelah. Mobilitas memudahkan penularan dari satu tempat ke tempat lain dan biasanya penyakit menjalar dimulai dari suatu pusat sumber penularan kemudian mengikuti lalu lintas penduduk. Makin ramai lalu lintas itu, makin besar kemungkinan penyebaran (Soedarmo,1988).

C.Daur Hidup Nyamuk Aedes Ageypti Nyamuk mengalami Aedes aegypti dalam lengkap siklus hidupnya

meta

morfosa

(helometabola),

sebagaimana serangga lain dalam ordo diptera. Stadium yang dialami meliputi stadium telur, larva, pupa dan dewasa . a. Telur Telur nyamuk Aedes berbentuk lonjong, berwarna hitam dan terdapat gambaran seperti anyaman (sarang lebah) telur diletakkan oleh nyamuk betina secara terpisah-pisah ditengah atau di tepi permukaan air jernih yang tenang. Nyamuk betina ini akan di genangan air jernih baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Tempat-tempat ini dikenal sebagai tempat perindukan. Tempat perindukan biasanya terlindung dari pancaran sinar matahari secara langsung dan mengandung air jernih. Telur ini akan berumur 1 – 2 hari yang kemudian menetas, apabila kondisi memungkinkan yaitu terdapat

15

genangan air, namun pada keadaan kering telur dapat bertahan lama bahkan dapat bertahan sampai bertahuntahun. b. Larva (jentik-jentik) Larva nyamuk berbentuk seperti cacing, aktif

bergerak dengan gerakan-gerakan naik ke permukaan dan turun ke dasar secara berulang-ulang. Larva ini makan mikroba di dasar genangan dan disebut sebagai pemakan di dasar (ground feeder). c. Pupa / kepompong Pupa Aedes aegypti mempunyai ciri morfologi yang khas yaitu seperti koma, bersifat aktif dan sensitif terhadap gerakan dan cahaya. Biasanya pupa terbentuk pada sore hari dan umurnya hanya dua hari untuk segera menjadi nyamuk dewasa (Wulandari,2001). d. Nyamuk Dewasa Setelah keluar dari kepompong, nyamuk beristirahat di kulit kepompong untuk sementara waktu, setelah sayapnya kuat ia mulai terbang untuk mencari

mangsa/makanan. Nyamuk betina menghisap darah yang diperlukan untuk mematangkan telur agar dapat menetas dan apabila dibuahi oleh nyamuk jantan. Proses

pencarian darah biasanya pada siang hari, aktifitas menggigit dimulai pada pagi hari yakni antara jam 09.00 –

16

10.00 dan pada sore hari jam 16.00 – 17.00 WIB. Nyamuk Aedes aegypti mempunyai kebiasaan menghisap darah berulang-ulang dan setelah menghisap ia hinggap dan istirahat di dalam rumah berdekatan dengan tempat perkembangbiakannya. Kemampuan terbang nyamuk dewasa adalah 40 atau maksimal 100 M (Lubis,1998).

D. Penularan Virus Dengue a. Mekanisme Penularan Seseorang yang di dalam darahnya mengandung virus dengue merupakan sumber penular penyakit demam berdarah dengue (DBD). Virus dengue berada dalam darah selama 4-7 hari mulai 1-2 hari sebelum demam. Bila penderita tersebut digigit nyamuk penular, maka virus dalam darah akan ikut terhisap masuk ke dalam lambung nyamuk. Selanjutnya virus akan memperbanyak diri dan tersebar di berbagai jaringan tubuh nyamuk termasuk di dalam kelenjar liurnya. Kira-kira 1 minggu setelah menghisap darah penderita, nyamuk tersebut siap untuk menularkan kepada orang lain (masa inkubasi ekstrinsik). Virus ini akan tetap berada dalam tubuh nyamuk sepanjang hidupnya. Oleh karena itu nyamuk Aedes aegypti yang telah menghisap virus dengue ini menjadi penular (infektif) sepanjang hidupnya. Penularan ini terjadi karena setiap kali nyamuk menusuk (menggigit),

17

sebelum menghisap darah akan mengeluarkan air liur melalui saluran alat tusuknya (probosis), agar darah yang dihisap tidak membeku. Bersama air liur inilah virus dengue dipindahkan dari nyamuk ke orang lain. b. Tempat Potensial Penularan Penularan demam berdarah dengue dapat terjadi di semua tempat yang terdapat nyamuk penularnya.Tempat yang potensial untuk terjadi penularan DBD adalah sebagai berikut : 1. Wilayah yang banyak kasus DBD (rawan atau endemis). 2. Tempat-tempat umum merupakan tempat “berkumpulnya” orang-orang yang datang dari berbagai wilayah sehingga kemungkinan terjadinya pertukaran beberapa tipe virus dengue cukup besar, seperti sekolah, Rumah

Sakit/Puskesmas dan sarana pelayanan kesehatan lainnya serta tempat umum lainnya, seperti Hotel, Pertokoan, Pasar, Restoran, tempat ibadah dan lain-lain. 3. Pemukiman baru di pinggir kota : Penduduk umumnya berasal dari berbagai wilayah, maka kemungkinan diantaranya terdapat penderita atau “carier” yang membawa tipe virus dengue yang berlainan dari masing-masing lokasi asal.

c.

Vektor Penular Penyakit DBD

18

Demam berdarah dengue dapat ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti maupun Aedes albopictus. Yang paling berperan dalam penularan penyakit ini ialah Aedes aegypti, karena hidupnya di dalam dan di sekitar rumah, sedangkan Aedes albopictus hidup di kebun-kebun sehingga jarang kontak dengan manusia.

d.

Morfologi dan Lingkaran Hidup Nyamuk Aedes aegypti dewasa berukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan rata-rata nyamuk lain. Nyamuk ini mempunyai warna dasar hitam dengan bintik-bintik putih pada bagian badan, kaki dan sayapnya. Nyamuk Aedes aegypti mengalami metamorfosis sempurna yaitu : Telur – Jentik – Kepompong – Nyamuk. Stadium telur, jentik dan kepompong hidup di dalam air. Telur nyamuk Aedes aegypti berwarna hitam dengan ukuran + 0,80 mm. Pada umumnya telur akan menetas menjadi jentik dalam waktu + 2 hari setelah telur terendam air. Stadium jentik biasanya berlangsung 6-8 hari, stadium pupa (kepompong) berlangsung antara 2-4 hari. Pertumbuhan dari telur menjadi nyamuk dewasa mencapai 9-10 hari. Umur nyamuk betina dapat mencapai 2-3 bulan.

e. Tempat Perindukan

19

Tempat perindukan atau perkembangbiakan Aedes aegypti adalah berupa genangan-genangan air yang

tertampung di suatu wadah atau tempat penampungan air yang tidak berhubungan langsung dengan tanah yang ada di dalam atau di sekitar rumah atau tempat-tempat umum yang biasanya tidak melebihi jarak 50 meter dari rumah. Tempat air yang tertutup longgar lebih disukai oleh nyamuk betina sebagai tempat bertelur dibandingkan dengan tempat air yang terbuka dikarenakan tutupnya jarang dipasang secara baik dan sering dibuka mengakibatkan ruang didalamnya relatif lebih gelap dibandingkan dengan tempat air yang terbuka (Soedarmo, 1988). f. Perilaku Nyamuk Dewasa Setelah lahir (keluar dari kepompong), nyamuk istirahat di kulit kepompong untuk sementara waktu. Beberapa saat setelah itu sayap meregang menjadi kaku, sehingga nyamuk mampu terbang untuk mencari mangsa atau darah. Nyamuk tumbuhan atau Aedes sari aegypti bunga jantan untuk menghisap cairan

keperluan

hidupnya,

sedangkan yang betina menghisap darah. Nyamuk betina lebih menyukai antropofilik). darah manusia daripada binatang diperlukan (bersifat untuk

Darah

(proteinnya)

mematangkan telur agar jika dibuahi oleh sperma nyamuk jantan dapat menetas. Waktu yang diperlukan untuk

20

menyelesaikan

perkembangan

telur,

mulai

dari

nyamuk

menghisap darah sampai telur dikeluarkan,biasanya bervariasi antara 3-4 hari. Jangka waktu tersebut disebut satu siklus gonotropik (gonotropic cycle). Biasanya nyamuk betina mencari mangsa pada siang hari dan aktivitas menggigit mulai pagi sampai petang hari, dengan puncak aktivitas antara pukul 9.00 – 10.00 dan 16.00 – 17.00. Aedes aegypti mempunyai kebiasaan menghisap darah berulang kali (multiple bites) dalam satu siklus gonotropik, untuk memenuhi lambungnya dengan darah. Dengan demikian nyamuk ini sangat efektif sebagai penular penyakit. Setelah menghisap darah, nyamuk ini hinggap

(beristirahat) di dalam atau kadang-kadang di luar rumah, berdekatan dengan tempat perkembangbiakannya. Tempat hinggap yang disenangi ialah benda-benda yang tergantung, seperti : pakaian, kelambu, atau tumbuh-tumbuhan di dekat tempat perkembangbiakannya. Biasanya di tempat yang agak gelap dan lembab. Di tempat-tempat ini nyamuk menunggu proses pematangan telurnya. Setelah beristirahat dan proses pematangan telur selesai, nyamuk betina akan meletakkan telurnya di dinding tempat perkembangbiakannya, sedikit di atas permukaan air. Pada umumnya telur akan menetas menjadi jentik dalam waktu + 2 hari setelah telur terendam air. Setiap kali bertelur nyamuk

21

betina dapat mengeluarkan telur sebanyak 100 butir. Telur itu di tempat yang kering (tanpa air) dapat bertahan berbulanbulan pada suhu -2ºC - 42ºC dan bila tempat tersebut kemudian tergenang air atau kelembabannya tinggi maka telur dapat menetas lebih cepat.

g. Penyebaran dan Jarak Terbang Kemampuan terbang nyamuk betina rata-rata 40 meter, maksimal 100 meter. Namun secara pasif, misalnya karena angin atau terbawa kendaraan nyamuk ini dapat berpindah lebih jauh. Aedes aegypti tersebar luas di daerah tropis dan sub tropis. Di Indonesia, nyamuk ini tersebar luas baik di rumahrumah maupun di tempat umum (TTU). Nyamuk ini dapat hidup dan berkembang biak sampai ketinggian daerah + 1000 m dari permukaan air laut. Diatas ketinggian 1000 m tidak dapat berkembang biak,karena pada ketinggian tersebut suhu udara terlalu rendah sehingga tidak memungkinkan bagi kehidupan nyamuk tersebut.

E.

Survei Jentik (Pemeriksaan Jentik) Survei jentik atau larva dilakukan dengan 2 cara sebagai berikut : a. Cara single larva

22

Survei ini dilakukan dengan mengambil satu jentik di setiap tempat genangan air yang ditemukan jentik untuk diidentifikasi lebih lanjut jenis jentiknya. b. Cara visual Survei ini cukup dilakukan dengan melihat ada atau tidak adanya jentik di setiap tempat genangan air tanpa mengambil jentiknya. Survei ini biasa digunakan dalam program pemberantasan penyakit DBD.

F. Cara Memberantas Nyamuk Penular DBD a. Pemberantasan Nyamuk (Dewasa) Pemberantasan terhadap nyamuk dewasa dilakukan dengan cara penyemprotan/pengasapan (fogging) dengan insektisida. Hal ini dilakukan mengingat kebiasaan nyamuk yang hinggap pada benda-benda tergantung, karena itu tidak dilakukan penyemprotan di dinding rumah. Insektisida yang dapat digunakan ialah insektisida golongan :

-

Organophospate, misalnya malathion, fenitrothion. Pyretroid sintetic, misalnya lamda sihalotrin, permetrin. Carbamat. Alat yang digunakan untuk menyemprot ialah mesin Fog atau ULV. Penyemprotan dilakukan dengan cara pengasapan sehingga tidak mempunyai efek residu. Penyemprotan insektisida

23

ini dilakukan 2 siklus dengan interval 1 minggu untuk membatasi penularan virus dengue. Pada penyemprotan siklus I, semua nyamuk yang mengandung virus dengue (nyamuk infektif) dan nyamuk-nyamuk lainnya akan mati. Tetapi akan segera muncul nyamuk-nyamuk baru yang diantaranya akan menghisap darah penderita viremia yang masih ada setelah penyemprotan siklus I, yang selanjutnya dapat menimbulkan penularan virus dengue lagi. Oleh karena itu perlu dilakukan penyemprotan siklus ke II. Dengan penyemprotan yang ke II satu minggu setelah penyemprotan yang I, nyamuk baru yang infektif ini akan terbasmi sebelum sempat menularkan pada orang lain. Penyemprotan insektisida ini dalam waktu singkat dapat membatasi penularan, akan tetapi tindakan ini perlu diikuti dengan pemberantasan jentiknya agar populasi nyamuk penular dapat ditekan serendah-rendahnya. Sehingga apabila ada penderita DBD atau orang dengan viremia tidak dapat menular kepada orang lain. b. Pemberantasan Jentik Pemberantasan terhadap jentik Aedes aegypti yang dikenal dengan istilah Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), dilakukan dengan cara : 1. Kimia : Cara memberantas jentik Aedes aegypti dengan menggunakan insektisida pembasmi jentik (larvasida) ini dikenal dengan istilah abatisasi. Larvasida yang biasa yang

digunakan

adalah

temephos.

Formulasi

temephos

24

digunakan

ialah

granules

(sand

granules).

Dosis

yang

digunakan 1 ppm atau 10 gram (+ 1 sendok makan rata) untuk tiap 100 liter air. Abatisasi dengan temephos ini mempunyai efek residu 3 bulan. Selain itu dapat digunakan pula Bacillus thuringiensis varisraeliensis (Bti) atau golongan insect growth regulator. 2. Biologi : Misalnya memelihara ikan pemakan jentik (ikan kepala timah, ikan gupi). 3. Fisik : Cara ini dikenal dengan kegiatan 3 M (Menguras, Menutup, Mengubur) yaitu menguras bak mandi atau WC, menutup tempat-penampungan air rumah tangga (tempayan, drum dan lain-lain), serta mengubur atau memusnahkan barang-barang bekas (seperti : kaleng, ban dan lain-lain). Pengurasan tempat-tempat penampungan air (TPA) perlu dilakukan secara teratur sekurang-kurangnya seminggu sekali agar nyamuk tidak dapat berkembang biak di tempat itu. G. Gerakan PSN DBD Gerakan PSN DBD adalah keseluruhan kegiatan masyarakat dan pemerintah untuk mencegah penyakit DBD, yang disertai pemantauan hasil-hasilnya secara terus menerus. Gerakan PSN DBD merupakan bagian terpenting dari keseluruhan upaya

pemberantasan penyakit DBD, dan merupakan bagian dari upaya mewujudkan kebersihan lingkungan serta perilaku sehat dalam rangka mencapai masyarakat dan keluarga sejahtera.

25

Gerakan PSN DBD ini bertujuan untuk membina peran serta masyarakat dalam pemberantasan penyakit DBD, terutama dalam memberantas jentik nyamuk penularnya, sehingga penularan

penyakit DBD dapat dicegah. Adapun sasaran utama gerakan PSN DBD adalah agar semua keluarga dan pengelola tempat umum melakukan PSN DBD serta menjaga kebersihan lingkungan di rumah dan lingkungannya masing-masing secara terus menerus. Secara garis besar sasaran gerakan PSN DBD pada Pelita VI adalah tercapainya angka bebas jentik (ABJ) > 95% di Kecamatan endemis dan Kecamatan sporadis DBD, dan > 80% di seluruh wilayah. Dalam pelaksanaannya dilapangan gerakan PSN DBD ini menggunakan kebijaksanaan dan strategi sebagai berikut : 1. Gerakan PSN DBD dilaksanakan oleh masyarakat bersama pemerintah. Pembinaannya dilakukan melalui kerjasama lintas program dan lintas sektoral yang dikoordinasikan oleh Kepala Wilayah/Daerah. 2. Gerakan PSN DBD dilaksanakan dengan pendekatan edukatif dan persuasif melalui berbagai kegiatan penyuluhan dan motivasi kepada masyarakat. Pelaksanaannya dapat diintegrasikan dalam berbagai program yang berkaitan dengan kebersihan lingkungan seperti program K3, Gerakan Jum’at Bersih dan lain-lain. 3. Gerakan PSN DBD diprioritaskan pada wilayah Kecamatan endemis dan sporadis DBD.

26

Untuk pengorganisasian pelaksanaannya, penggerakan PSN DBD di Desa/Kelurahan dikoordinasikan oleh POKJA DBD, yaitu forum koordinasi kegiatan pemberantasan penyakit DBD di

Desa/Kelurahan dalam wadah Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD). Sedangkan dilaksanakan untuk oleh pembinaan POKJANAL POKJA DBD DBD

Desa/Kelurahan

Tingkat

Kecamatan, Kabupaten/Kodya, Propinsi dan Tingkat Pusat secara berjenjang. POKJANAL DBD merupakan forum koordinasi lintas program/sektoral dalam pembinaan upaya pemberantasan penyakit DBD, dan berada di bawah serta bertanggung jawab kepada Ketua Harian Tim Pembina LKMD. a. Kegiatan Gerakan PSN DBD

Kegiatan gerakan PSN DBD yang dilaksanakan antara lain : 1. Gerakan PSN DBD di Rumah-rumah (Desa/Kelurahan). Penggerakan PSN DBD di rumah-rumah yang diselenggarakan oleh Pokja DBD Tk. Desa/Kelurahan adalah penyuluhan dan motivasi kepada masyarakat. Kegiatan pokoknya meliputi : a. Kunjungan rumah berkala sekurang-kurangnya tiap 3 bulan (untuk penyuluhan dan pemeriksaan jentik) oleh kader dasawisma atau tenaga lain sesuai kesepakatan masyarakat setempat. b. Penyuluhan kelompok masyarakat oleh Tokoh Masyarakat, antara lain Posyandu, Tempat Ibadah, di RT/RW.

27

c. Kerja bakti PSN DBD dan kebersihan lingkungan secara berkala dan pada kesempatan-kesempatan tertentu,

misalnya setiap hari Jum’at (sebagai perwujudan dari pelaksanaan Gerakan Jum’at Bersih atau GJB, pada hari besar Nasional atau HUT Daerah, dan sebagainya. 2. Gerakan PSN DBD di Sekolah a. Kegiatan pokok gerakan PSN DBD dilaksanakan sesuai Petunjuk Teknis Pelaksanaan PSN DBD di Sekolah melalui UKS yang telah diedarkan Dirjen Dikdasmen-Depdikbud melalui Edaran No.81/TPUKS 00/X/1993 tanggal 14 Oktober 1993, yang pokok-pokoknya adalah sebagai berikut : 1) Penyampaian pengetahuan tentang penyakit DBD dan pencegahannya oleh guru kepada siswa secara terus menerus melalui kegiatan belajar-mengajar, baik intra maupun ekstra kurikuler. 2) Bimbingan dan pengawasan kepada siswa, karyawan/penjaga sekolah, dan pengelola warung

sekolah dalam pelaksanaan PSN DBD dan kebersihan lingkungan pada umumnya. b. Pelaksanaan gerakan PSN DBD di sekolah menjadi tanggung jawab Kepala Sekolah selaku Ketua Tim

Pelaksana UKS. Pembinaanya dilakukan oleh Tim Pembina UKS di semua tingkat administrasi pemerintahan. 3. Gerakan PSN DBD di Tempat Umum

28

Kegiatan penggerakan PSN DBD di Tempat Umum : hotel, restoran, pasar, kantor, pabrik, dan lain-lain termasuk Rumah Sakit, Puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya dipadukan dalam program Pemeliharaan Kesehatan Lingkungan (PKL), antara lain dengan melakukan pemeriksaan sanitasi lingkungan termasuk pemeriksaan jentik secara berkala (PJB).

b.

Pemantauan dan Pelaporan Pemantauan pelaksanaan penggerakan PSN DBD meliputi

(1) Analisis laporan kegiatan dan ABJ (form PWS DBD), (2) Sweeping PSN DBD oleh Pokjanal DBD Tk. Kecamatan, (3) Supervisi terpadu : Kunjungan tim Pokjanal DBD ke lapangan dan (4) Pertemuan evaluasi tahunan (Depkes RI, 1995). Untuk pelaporan pelaksanaan penggerakan PSN DBD dilaksanakan oleh Pokja DBD Desa/Kelurahan kepada Kepala Desa/Kepala Kelurahan dan Pokjanal DBD Tingkat Kecamatan, sedangkan pelaporan pembinaan pelaksanaan penggerakan PSN DBD dilaksanakan oleh Pokjanal DBD kepada masing-masing Kepala Wilayah/Daerah pada tingkat pemerintahan yang satu tingkat lebih atas. Laporan meliputi kegiatan dan hasil

penggerakan PSN DBD (ABJ) yang harus disampaikan sekurangkurangnya setiap 3 bulan (Depkes RI, 1992 ).

c.

Penilaian

29

Penilaian

hasil

pelaksanaan

penggerakan

PSN

DBD

menggunakan dua indikator, antara lain : 1. a. b. c. d. Indikator Keberhasilan Angka Bebas Jentik (ABJ) Angka kesakitan (Insidens DBD) Angka kematian Jumlah desa/kelurahan endemis, sporadis dan potensial DBD 2. Indikator Cakupan a. b. Cakupan Kelembagaan (CKI) Cakupan Kunjungan Rumah (Ckr) c. Cakupan Kerja Bakti (Ckb)

H. Perilaku Perilaku manusia sangat kompleks dan mempunyai ruang lingkup yang sangat luas. Menurut Benjamin Bloom (1908) seorang ahli psikologi pendidikan dalam (Notoatmodjo, 1997), membagi perilaku itu dalam 3 (tiga) domain (ranah/kawasan) yang terdiri dari ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor. Dalam

perkembangan selanjutnyanya oleh para ahli pendidikan dan untuk kepentingan pengukuran hasil pendidikan, ketiga domain ini diukur dari pengetahuan, sikap dan praktik atau tindakan.
a.

Pengetahuan (knowledge)

30

Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 1997). Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior). Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 1993). Penelitian Rogers (1974) dalam (Notoatmodjo, 1993)

mengungkapkan bahwa sebelum seseorang mengadopsi perilaku baru, di dalam diri orang tersebut telah terjadi beberapa proses yang berurutan antara lain (1) Awareness (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari atau mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (obyek), (2) Interest, dimana orang mulai tertarik kepada stimulus, (3) Evaluation, menimbang-nimbang terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya, hal ini berarti sikap orang tersebut sudah lebih baik lagi, (4) Trial, dimana orang telah mencoba perilaku baru dan (5) Adoption dimana subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus. Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku didasari oleh pengetahuan,

31

kesadaran dan sikap yang positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting). Namun demikian dari penelitian selanjutnya Rogers menyimpulkan bahwa perubahan perilaku tidak selalu melewati tahap-tahap tersebut diatas.

b.

Sikap (Attitude) Sikap adalah suatu kecenderungan untuk berespon (secara

positif atau negatif) terhadap orang, obyek atau situasi tertentu (Sarwono, 2004). Menurut para ahli psikologi Louis Thurstone (1928), Rensis Likert (1932), Charles Osgood, sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Berkowitz, (1972)

mengatakan bahwa sikap seseorang terhadap suatu obyek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun

perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada obyek tersebut. Secara lebih spesifik, Thurstone sendiri memformulasikan sikap sebagai derajat efek positif atau efek negatif terhadap suatu obyek psikologis (Edwards, 1957) di kutip oleh (Azwar, 2003). Sikap merupakan merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau obyek yang manifestasinya tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari

32

merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Newcomb, salah seorang ahli psikologi sosial menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksana motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas akan tetapi adalah merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap obyek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap obyek (Notoatmodjo, 1997). Faktor-faktor yang menyebabkan perubahan sikap yaitu: a) Faktor intern yaitu faktor yang terdapat dalam pribadi manusia itu sendiri. Faktor ini berupa daya pilih seseorang untuk menerima dan mengolah pengaruh-pengaruh yang datang dari luar. b) Faktor ekstern, yaitu faktor yang terdapat diluar pribadi manusia. Faktor ini berupa interaksi sosial diluar kelompok (Azwar, 2003).

c.

Praktik atau Tindakan (Practice) Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan

(overt behavior). Untuk terwujudkannya sikap agar menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas. Disamping faktor fasilitas juga diperlukan faktor dukungan (support) dari pihak lain

33

misalnya dari suami atau istri, orang tua atau mertua dan lain-lain (Notoatmodjo, 1997). Hal-hal yang mempengaruhi perilaku seseorang sebagian terletak didalam individu itu sendiri (keturunan dan motif) dan sebagian dari luar individu yaitu faktor lingkungannya. Sebagai anggota suatu kelompok atau sebagai anggota masyarakat maka unsur-unsur yang diperlukan agar individu bisa berbuat sesuatu ialah : a. Pengertian atau pengetahuan tentang apa yang akan

dilakukannya.
b.

Keyakinan/kepercayaan tentang manfaat dan kebenaran dari apa yang akan dilakukan (attitude yang positif).

c. Sarana yang diperlukan untuk melakukannya. d. Norma atau dukungan kelompok bahwa apa yang dilakukan itu benar/bisa diterima oleh kelompoknya. e. Dorongan atau motifasi untuk berbuat yang dilandasi oleh kebutuhan yang dirasakan (Mantra, 1985).

d. Peran Serta Masyarakat dalam PSN Partisipasi masyarakat adalah ikut seranya masyarakat dalam memecahkan permasalahan kesehatan. Didalam hal ini masyarakat sendirilah yang aktif memikirkan, merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi program-program kesehatan. Partisipasi dari masyarakat menuntut suatu kontribusi atau

34

sumbangan finansial, daya dan ide. Departemen Kesehatan menyimpulkan berbagai pengertian tentang peran serta

masyarakat yang ada yaitu proses dimana individu, keluarga serta lembaga masyarakat termasuk swasta bersedia:
a.

Mengambil tanggung jawab atas diri sendiri, keluarga dan

kesehatan dan kesejahteraan masyarakat
b.

Mengembangkan

kemampuan

berkontribusi dalam pengembangan mereka sendiri sehingga termotivasi untuk memecahkan berbagai masalah kesehatan yang dihadapi
c.

Menjadi

pelaku

perintis

pembangunan kesehatan dan pimpinan dalam pergerakan yang dilandasi semangat gotong royong. Penyuluhan masyarakat perlikau adalah upaya meningkatkan pengetahuan keterampilan. peran serta

dengan

meningkatkan

mengubah Penyuluhan

dan

mengembangkan

pemberantasan sarang nyamuk adalah: penyuluhan tentang PSN demam berdarah pada masyarakat. Guna membina peran serta masyarakat dalam melaksanakan pencegahan penyakit DBD, sangat penting untuk diberikan pengetahuan dan keterampilan tentang teknik-teknik PSN. Diharapkan setelah selesai penyuluhan maka peserta:

35

a. Dapat menjelaskan penyebab penyakit DBD, cara penularannya, tanda-tanda dan pertolongan pertama DBD b. Dapat menyebutkan cirri-ciri nyamuk Aedes aegypti, tempat berkembang biaknya, lingkaran hidupnya c. Dapat mejelaskan berbagai cara memberantas nyamuk Aedes aegypti dengan melakuan PSN-DBD dan abatisasi d. Dapat memberi pengertian pada keluarga maupun teman sebaya di lingkungannya e. Dapat merubah serta mengembangkan pengetahuan dan praktek PSN .

I . Kerangka Teori

Vektor Nyamuk Aedes Aegypti

Variasi Musiman

Abatisasi selektif Tempat Perindukan bukan tempat Penampungan Air

Pembuangan sampah padat Ketinggian Tempat

Keberadaan Jentik

Persedian air bersih Macam Tempat Penampungan

Tingkat Pendidikan Tingkat Pengetahuan

Penyuluhan Kesehatan Masyarakat

Pelaksanaan PSN DBD

Sumber: Modifikasi dari Depkes RI, 1992: 15-17, Depkes RI, 2002: 4-5, Soekidjo Notoatmodjo, 2003: 95-99, Buku saku Dinas Kesehatan Propinsi JawaTengah 2005, Green L.W, 1998: 119-120, WHO, 2004: 63-86).

36

Ketersedian Sumber Daya Kesehatan Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) Penyemprotan Masal Sikap Hidup Bersih Sikap dan Perilaku Petugas kesehatan Komitmen pemerintah Terhdap Kesehatan

Gambar 2.1 Kerangka Teori Analisis Beberapa faktor yang berhubungan dengan keberadaan jentik

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian yaitu

Observasional dengan rancangan Cross Sectional Study

suatu rancangan penelitian yang mempelajari hubungan antara variabel bebas dengan variabel tergantung dengan melakukan

pengukuran sesaat. (Sastroasmoro dan Ismael, 2002) Penggunaan Cross Sectional Study dalam penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan, sikap, dan tindakan masyarakat dalam PSN – DBD dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes Aegypty dengan cara pengumpulan data pada suatu saat atau

periode yang sama, dengan langkah-langkah:

37

1.

Merumuskan pertanyaan penelitian beserta hipotesis yang

sesuai 2. 3. 4.
5.

Mengidentifikasi variabel bebas dan tergantung. Menetapkan subyek penelitian. Melaksanakan pengukuran. Melakukan analisis. (Sastroasmoro dan Ismael, 2002)

B. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian ini adalah Desa Muara Badak Ulu

kecamatan muara badak Kabupaten Kutai kartanegara. Waktu penelitian adalah sejak pembuatan proposal sampai membuat laporan penelitian yaitu mulai bulan Pebruari 2011 sampai bulan Juli 2011. Pengumpulan data dilakukan selama bulan April 2011 sampai bulan Mei 2011.

C. Populasi dan Sampel Penelitian a. Populasi Populasi penelitian ini adalah rumah tangga yang berada di Desa Muara Badak Ulu Kecamatan Muara Badak tahun 2011 sebanyak 1113 rumah tangga. 1. Kriteria Inklusi Kriteria inklusi adalah karakteristik umum dari subjek penelitian yang layak untuk dilakukan penelitian atau dijadikan responden. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah:

38

a. Rumah tangga yang berada di Desa Muara Badak Ulu Kecamatan Muara Badak tahun 2011. b. Kepala keluarga atau ibu rumah tangga atau anggota keluarga yang dapat ditemui pada saat penelitian. c. Bersedia menjadi subjek penelitian. 2. Kriteria Eksklusi Kriteria eksklusi merupakan subjek penelitian yang tidak dapat mewakili sampel karena tidak memenuhi syarat sebagai sampel penelitian. Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah: a. Rumah tangga yang tidak termasuk dalam wilayah Desa Muara Badak Ulu tahun 2011. b. Tidak bisa ditemui pada saat penelitian. b. Sampel

Besar sampel ini menurut Lemeshow (1997), diperoleh dengan menggunakan rumus :
N= Z 2 1 − α / 2 p 1 − p1 d2

(

)
)

N =

1,96 2 × 0,12 1 − 0,12 1 ( 0,05 ) 2

(

N =

1,96 2 ×0,1056 ( 0,0025 )

N = 162,27 N = 162 Keterangan :

39

N Z (1- α/2)

: besar sampel : z skore berdasarkan derajat kepercayaaan (α) yang Dikehendaki

p1 dan p2 d Teknik

: proporsi penelitian sebelumnya : preposisi yang diinginkan pengambilan sampel pada penelitian ini

menggunakan metode Simple Random Sampling (SRS) yaitu metode mencuplik sampel secara acak dimana masing-masing subjek atau unit dari populasi memiliki peluang yang sama dan independen (tidak tergantung) untuk terpilih ke dalam sampel (Murti, 2006). D. Kerangka Konsep Penelitian Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu: Pengetahuan, Sikap Dan Tindakan Masyarakat dalam PSN – DBD. Variabel terikatnya keberadaan jentik. Adapun variabel yang tidak diteliti yaitu: variasi musiman, ketinggian tempat, dan vektor nyamuk aedes aegypti, variabel variasi musiman dan ketinggian tempat tidak diteliti karena diasumsikan hasilnya sama dikarenakan tempat penelitian sama, sedangkan variabel vektor nyamuk aedes aegypti Variabel Bebas Variabel Terikat tidak diteliti karena kendala yang dihadapi peneliti seperti biaya, waktu, dan tenaga. Maka dapat dirumuskan dalam kerangka konsep penelitian sebagai berikut:

40

Pengetahuan Keberadaan Jentik Nyamuk DBD

Tindakan

Sikap

Gambar 3.1

Kerangka Konseptual Hubungan

pengetahuan, Sikap

dan Tindakan Masyarakat dalam PSN – DBD dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti E. Hipotesis Penelitian 1. Ada Hubungan pengetahuan Masyarakat dalam PSN – DBD

dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti di desa Muara Badak Ulu Kecamatan Muara badak 2. Ada Hubungan sikap masyarakat dalam PSN – DBD dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti di desa Muara Badak Ulu Kecamatan Muara badak 3. Ada Hubungan tindakan Masyarakat dalam PSN – DBD dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti di desa Muara Badak Ulu Kecamatan Muara badak

F. Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini ialah : 1. Variabel Bebas (Independent Variabel), yaitu pengetahuan, sikap, dan tindakan masyarakat dalam PSN-DBD.

41

2. Variabel Terikat (Dependent Variabel), yaitu keberadaan jentik Aedes aegypti. G. Definisi Operasional VARIABEL 1 Pengetahuan DEFINISI 2 Pengetahuan tentang penyakit DBD, yaitu mengenai gejala, cara penularan, vektor perantara, cara pencegahan dan pemberantasannya (PSN-DBD). Pernyataan Responden setuju atau tidak setuju tentang kegiatan PSN-DBD CARA PENGUKURAN 3 Wawancara dengan kuesioner,dikategorikan 1. Baik, jika nilai > 80 % 2. Kurang, jika nilai < 80% dari skor Total SKALA 4 Ordinal

Sikap

Wawancara dengan kuesioner,dikategorikan : 1. Baik > 80 % 2. Kurang < 80 % dari Skor Total

Ordinal

Tindakan

Upaya yang pernah dilakukan responden terhadap pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD (upaya PSN-DBD) Ada atau tidaknya jentik dalam TPA (Tempat Penampungan Air) di setiap rumah yang diperiksa

Wawancara dengan kuesioner,dikategorikan : 1. Baik, jika nilai > 80% 2. Kurang baik, jika nilai < 80% dari Skor Total

Ordinal

Keberadaan Jentik

Melihat langsung hasil nominal Pemantauan jentik terhadap TPA , dikategorikan : 1. Ada 2. Tidak ada

42

H. Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui : 1. Data Primer

Data primer diperoleh melalui daftar pertanyaan Kuisioner yang telah disusun sebelumnya berdasarkan tujuan penelitian kemudian diberikan dan diisi sendiri oleh responden. 2. Data Sekunder

Diperoleh dari instansi Dinas kesehatan Kukar dan Puskesmas dimana di lakukan penelitian serta instansi yang terkait Lainnya H. Pengolahan Dan Analisis Data 1. Pengolahan Data a. Koding Adapun langkah dalam tahap pengkodean variabel adalah : 1) Pembuatan daftar variabel, yaitu untuk memberi kode pada semua variabel yang ada dalam angket.
2)

Pemindahan hasil pengisian angket ke dalam daftar kode yang ada di dalam angket.

3) Pembuatan daftar koding, yaitu untuk memindahkan hasil pengisian daftar koding angket ke dalam daftar koding tersendiri yang siap untuk dimasukkan di dalam program pemesukan data di komputer. b. Entry Data

43

Proses pemindahan data kedalam computer agar diperoleh data masukan yang siap diolah system dengan menggunakan perangkat lunak pengolahan data statistik. c. Tabulating Mengelompokkan data sesuai dengan tujuan penelitian kemudian dimasukkan dalam tabel yang sudah disiapkan. 2. Analisis Data Model analisis data yang dilakukan adalah sebagai berikut : a. Analisis Univariat Dilakukan dengan menghitung frekuensi dalam bentuk persentase dari variabel pengetahuan, sikap, dan Tindakan Masyarakat Terhadap Kecamatan Muara Badak.
b.

PSN DBD Di desa Badak Ulu

Analisis Bivariat Dilakukan terhadap tiap variabel sikap, untuk dan melihat Tindakan

hubungan

antara

Pengetahuan,

Masyarakat terhadap PSN DBD dengan menggunakan uji Chi Square dengan tingkat signifikansi ( α ) = 0,05

44

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL

1. Gambaran umum lokasi penelitian Desa Muara Badak ulu Kecamatan Muara Badak Kabupaten Kutai Kartanegara merupakan wilayah pesisir yang sebagaian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai Nelayan selebihnya tersebar di sektor Swasta (Perusahaan) dan sebagian kecil berdagang. Desa Muara Badak ulu Kecamatan Muara Badak memiliki luas wilayah 35.000 Km dengan jumlah penduduk 3.900 jiwa. dan jumlah rumah tangga 893. Puskesmas Muara Badak didirikan sejak tahun 1977, letak Puskesmas berada di Desa Muara Badak Ulu RT 05 Kecamatan

45

Muara Badak dengan luas wilayah kerja + 117.090 Km2 dengan batas wilayah kerja Puskesmas : - Sebelah Utara berbatasan dengan Kec. Marang Kayu - Sebelah Selatan dengan Kec. Anggana - Sebelah Barat dengan Desa Badak Baru (Wilayah kerja Puskesmas Badak Baru) - Sebelah Timur dengan Selat Makassar. Secara geografis wilayah kerja Puskesmas Muara Badak sebagian besar adalah dataran rendah dengan daerah pasang surut, berbukit dan daerah delta mahakam. Sedangkan kondisi jalan di wilayah kerja Puskesmas Muara Badak bervariatif sebagian aspal, beton dan sebagian besar lagi berupa jalan tanah terutama desa terjauh yaitu Saliki dan Salo Cella yang sulit di jangkau saat musim hujan. Wilayah kerja Puskesmas Muara Badak mencakup 7 kelurahan di kecamatan muara badak yang terdiri dari desa Muara badak ulu (MBU), Desa muara badak ilir, Desa saliki, Desa salo palai, Desa tanjung limau, Desa Sallo cella. Dan desa Gas Alam badak 1. Jarak dari pusat pemerintah kecamatan 10 Km, dan jarak dari ibu kota kabupaten kutai kartanegara 110 kilometer,

Puskesmas muara badak dapat dijangkau dengan angkutan kota maupun kendaraan umum pribadi, seperti sepeda motor maupun mobil.

46

2. Karakteristik Responden Karakteristik responden di desa Muara Badak Ulu 2011 meliputi kelompok umur, Pendidikan, Pekerjaan . a. Distribusi Responden Berdasarkan Kelompok umur Pada penelitian yang di lakukan di desa Muara badak ulu kecamatan Muara Badak dilihat dari Kelompok umur responden dapat dilihat pada tabel 4.1 di bawah ini. tahun

Tabel 4.1 :

Distribusi Responden Berdasarkan kelompok umur Responden Di desa Muara Badak ulu Kecamatan Muara Badak Tahun 2011. n 8 62 72 20 162 % 4,9 38,3 44,4 12,3 100

Kelompok umur 20 – 29 tahun 29 – 39 tahun 40 - 49 tahun . > 50 tahun Jumlah

Karakteristik responden Berdasarkan kelompok umur pada penelitian yang dilakukan di desa Muara badak ulu dapat dilihat pada tabel 4.1 di atas, yang menunjukkan bahwa jumlah responden yang berusia di antara umur 20 sampai 29 Tahun sebanyak 8 orang dengan persentase sebesar 4,9 Responden yang berusia berada pada kelompok umur %, 29

sampai 39 Tahun sebanyak 62 orang dengan Persentase sebesar 38,3 %, selain itu dapat dilihat pula responden dengan kelompok umur 40 sampai 49 Tahun sebanyak 72 orang

47

dengan persentase 44,4 %, dan responden dengan kelompok umur lebih dari 50 Tahun sebanyak 20 persentase sebesar 12,3 %. orang dengan

b. Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Responden

Pada penelitian yang di lakukan di Desa Muara badak ulu kecamatan muara Badak tingkat pendidikan responden dapat dilihat pada tabel 4.2 di bawah ini. Tabel 4.2 : Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir Responden Di Desa Badak Ulu kecamatan Muara Badak Tahun 2011. Pendidikan n % Responden SD 20 12,3 SLTP 64 39,5 SMA 70 43,2 Diploma 6 3,7 PT 2 1,2 Jumlah 162 100

Karakteristik responden Berdasarkan Pendidikan terakhir responden di Desa Muara Badak ulu Kecamatan Muara badak dapat dilihat pada tabel 4.2 di atas, yang menunjukkan bahwa jumlah responden yang memiliki pendidikan paling banyak

yaitu SMA sebanyak 70 orang dengan persentase sebesar

48

43,2 %, selanjutnya pada tingkat SMP dengan jumlah Responden sebanyak 64 orang sebesar 39,5 %, terlihat pula responden yang berada pada tingkatan SD sebanyak 20 orang dengan persentase sebesar 12,3 % Selanjutnya diploma sebanyak 6 orang dengan persentase 3,7 %, dan tingkat

Perguruan tinggi (PT) sebanyak 2 orang dengan persentase 1,2 %. c. Distribusi responden berdasarkan Pekerjaan Pada penelitian yang di lakukan di desa Muara badak ulu kecamatan Muara Badak berdasarkan Pekerjaan Responden dapat dilihat pada tabel 4.3 di bawah ini

Tabel 4.3 :

Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan Responden di desa Badak Ulu kecamatan Muara Badak Tahun 2011. n 67 31 28 15 14 4 3 162 % 41,1 19,1 17,3 8,6 8,6 2,5 1,9 100

Pekerjaan IRT Nelayan Swasta Perusahaan Pedagang PNS Polri Total

49

Adapun dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4.3 di atas dimana sebagian besar yang menjadi responden adalah ibu-ibu maka status pekerjaan di dominasi oleh Ibu Rumah Tangga (IRT) yaitu sebanyak 67 orang (41,1%) selain itu pekerjaan responden juga sebagai Nelayan sebanyak 31 orang (19,1%) selanjutnya pada sektor swasta sebanyak 28 orang (17,3%).

3. Analisis Univariat Analisis univariat dilakukan untuk memperoleh gambaran deskripsi tiap-tiap variabel yang digunakan dalam penelitian, data yang dianalisis berasal dari distribusi frekuensi.

a.

Keberadaan Jentik Nyamuk DBD Penyakit Demam Berdarah Dengue adalah penyakit menular

yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang ditandai dengan demam mendadak 2 sampai 7 hari tanpa penyebab yang jelas, lemah atau lesu, gelisah, nyeri ulu hati, disertai tanda perdarahan di kulit berupa bintik perdarahan (petechie), lebam (echymosis), atau ruam (purpura), kadang-kadang mimisan, berak darah, muntah darah, kesadaran menurun atau renjatan (shock).

50

Dari hasil Penelitian yang telah dilakukan di desa Muara badak ulu Kecamatan Muara badak Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun 2011 dengan sampel penelitian sebanyak 162 responden berdasarkan hasil Observasi dan pengamatan secara langsung di tiap rumah responden di dapatkan hasil seperti terlihat pada Tabel 4.1 Dibawah ini : Tabel 4.4 : Distribusi Keberadaan Jentik di rumah responden di desa Muara badak Ulu kecamatan Muara badak Tahun 2011. Fokus Observasi (Pengamatan ) Ada dan Tidaknya Jentik di Rumah responden Hasil Pengamatan Ada (+) 89 % 54,9 Tidak ada (-) 73 % 45, 1 n 16 2 % 100

Dari Hasil Penelitian yang telah di lakukan di dapatkan hasil seperti terlihat pada Tabel di atas dimana dari hasil Observasi tentang ada dan tidaknya jentik di rumah Responden dengan hasil sebanyak 89 rumah responden (54,9%) Positif terdapat jentik nyamuk dan sebanyak 73 Rumah Respoden (45,1%) Negatif atau tidak ada jentik.

51

Selain melihat ada dan tidak nya jentik di rumah responden pada penelitian ini juga mengamati secara langsung keberadaan jentik nyamuk itu sendiri dimana dapat terlihat pada Tabel 4.5 dibawah ini.

Tabel 4.5 Distribusi Keberadaan jentik di dalam dan di luar rumah Responden Di Desa Muara Badak Ulu Kecamatan Muara Badak Tahun 2011. Keberadaan Jentik Di Rumah Responden Di Dalam Rumah Di luar rumah ( Sekitar rumah ) Tidak ada jentik di dalam dan Di Luar Rumah n 64 25 73 % 39, 5 15, 4 45, 1 n %

162

100

Dari Hasil Penelitian yang telah di lakukan di dapatkan hasil seperti terlihat pada Tabel di atas dimana dari hasil Observasi tentang Keberadaan jentik di rumah Responden dengan hasil

sebanyak 64 Rumah responden (39,5%) ditemukan jentik di dalam rumah,selain itu sebanyak 25 rumah responden ditemukan jentik di luar rumah atau di sekitar rumah (15,4%) dan sebanyak 73

Rumah responden (45,1%) negatif tidak ditemukan jentik di dalam dan di luar rumah responden. Setelah melihat hasil pengamatan terhadap ada dan tidaknya jentik serta keberadaannya , berdasarkan hasil

perhitungan container yang positif jentik dan rumah yang positif jentik didapat indeks larva sebagai berikut :

52

Tabel

4.6

Indeks Larva di Desa Muara badak ulu Kecamatan Muara badak tahun 2011. Positif jentik 89 127 Negatif 73 392 Jumlah total 162 519 45,06% 54,94% 24,47% 78,40%

Indeks larva Juml rumah diperiksa Juml Kontainer diperiksa ABJ (Angka Bebas Jentik) House Indeks ( HI ) Container Indeks ( CI ) Breeteau Indeks ( BI )

Dari 519 kontainer yang diperiksa 127 kontainer positif jentik (CI = 24,47 %). Dan dari 162 rumah yang diperiksa 89 rumah ditemukan jentik (HI = 54,94 %). Dengan HI=54,94% tampak jauh sekali dengan HI target nasional di Indonesia yaitu 5% (PPM&PLP, 1989). Sedangkan dari perhitungan didapat angka BI = 78,40%. Dari ketiga indeks larva tersebut dapat dibuat parameter density figure ( kepadatan populasi ) . Nilai DF pada kategori kepadatan 6 s/d 9 yang berarti kepadatan populasi jentik di desa Muara Badak Ulu adalah tinggi.

b. Pengetahuan Responden tentang PSN DBD Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa

53

dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 1997). Dari hasil penelitian yang dilakukan di desa badak ulu Kecamatan Muara badak terhadap pengetahuan responden tentang Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dapat dinilai dari 12 pertanyaan yang meliputi penyebab DBD, Gejala, Siklus serta pola hidup jentik nyamuk, hingga cara pencegahannya. Pada tabel 4.7 di bawah ini secara umum untuk melihat pengetahuan responden terhadap PSN- DBD di desa badak Ulu Kecamatan Muara Badak. Tabel 4.7 : Distribusi pengetahuan DBD dengan responden Dalam PSN –

keberadaan jentik nyamuk Aedes

aegypti di desa Muara Badak Ulu Kecamatan Muara Badak Tahun 2011. Pengetahuan Responden Baik Kurang Jumlah n 73 89 162 % 45,1 54,9 100

Berdasarkan

tabel

4.7

diatas

menunjukan

distribusi

Responden dilihat dari tingkat Pengetahuan dimana sebanyak 73 orang (45,1) memiliki Pengetahuan Baik dan Sebanyak 89 (54,9) orang Responden dengan Pengetahuan kurang. Dapat dilihat pula pada lampiran tentang frekuensi

pengetahuan responden dimana terlihat bahwa responden memiliki pengetahuan kurang pada pertanyaan penyebab penyakit DBD

54

yakni sebanyak 111 (68,5%) yang menjawab salah pada pertanyaan tersebut, hanya sebanyak 51 (31,5) orang saja yang menjawab benar. Selain itu pengetahuan responden juga kurang pada pertanyaan pada waktu kapan nyamuk DBD menggigit manuasia, responden yang menjawab salah sebanyak 94 orang (58%). Dari pengetahuan tersebut pada lampiran terlihat pula responden dengan pengetahuan baik pada pertanyaan cara mencegah gigitan nyamuk DBD dimana sebanyak 132 orang (81,5 %) yang menjawab benar, selain itu responden juga menjawab benar pada pertanyaan barang apa saja yang harus di kubur sebanyak 141 orang (87%)

c. Sikap responden tentang PSN DBD Sikap adalah suatu kecenderungan untuk berespon (secara positif atau negatif) terhadap orang, obyek atau situasi tertentu (Sarwono, 2004). Menurut para ahli psikologi Louis Thurstone (1928), Rensis Likert (1932), Charles Osgood, sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Berkowitz, (1972)

mengatakan bahwa sikap seseorang terhadap suatu obyek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada obyek tersebut. Secara lebih spesifik, Thurstone sendiri memformulasikan sikap sebagai derajat efek positif atau efek Negatif terhadap suatu obyek psikologis (Edwards, 1957) di kutip oleh (Azwar, 2003).

55

Berdasarkan hasil penelitian yang telah di lakukan pada 162 responden di desa badak ulu tentang sikap responden dalam PSN – DBD dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti di desa Muara Badak Ulu Kecamatan Muara Badak Tahun 2011, di dapatkan hasil dari 10 pernyataan sikap yang diajukan kepada responden meliputi cara memberantas Jentik nyamuk DBD, tempat penampungan air cara mencegah DBD berkembang biak serta kebiasaaan yang dilakukan sebagai tindakan Preventif maka secara umum di peroleh hasil tentang sikap responden sebagai berikut : Tabel 4.8 Distribusi Sikap responden Dalam PSN – DBD dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti di desa Muara Badak Ulu Kecamatan Muara Badak Tahun 2011. Sikap Responden Baik Kurang Jumlah n 63 99 162 % 38,9 61,1 100

Pada tabel distribusi menurut sikap di atas dapat terlihat bahwa sikap baik oleh responden di desa badak ulu kecamatan muara badak tahun 2011 sebanyak 63 orang (38,9 %) dan sikap yang kurang sebanyak 99 orang (61,1%). Dimana dapat terlihat pada lampiran tentang sikap

responden dimana tentang peryataan sikap responden terhadap peryataan bahwa Pengasapan (Fogging) lebih baik atau efektif

56

daripada kegiatan 3 M sebanyak 69 orang (42,6%) menyatakan Sikap ragu, terlihat pula pada lampiran mengenai sikap responden selain itu responden menyatakan sangat setuju jika ada kader atau petugas jentik yang datang rutin ke rumah sebanyak 103 Responden (63,6%).

d. Tindakan Responden dalam PSN DBD

Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior). Untuk terwujudkannya sikap agar menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas. Disamping faktor fasilitas juga diperlukan faktor dukungan (support) dari pihak lain misalnya dari suami atau istri, orang tua atau mertua dan lain-lain (Notoatmodjo, 1997). Pada Hasil penelitian yang telah dilakukan di desa Badak ulu Kecamatan Muara badak Kabupaten Kutai Kartanegara tahun 2011, mengenai tindakan responden terhadap PSN DBD meliputi kebiasaan membersihkan tempat penampungan air, pemberian bubuk abate, kebiasaan membersihkan halaman dan lingkungan rumah sekitar, maka secara umum tindakan responden dapat terlihat pada Tabel 4.10 di bawah ini : Tabel 4.9 Distribusi tindakan desa responden Dalam PSN – DBD

dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti di Muara Badak Ulu Kecamatan Muara Badak Tahun 2011.

57

Tindakan Responden Baik Kurang Jumlah

n 76 86 162

% 46,9 53,1 100

Pada tabel distribusi menurut Tindakan responden dapat terlihat bahwa tindakan baik oleh responden di desa badak ulu kecamatan muara badak tahun 2011 tentang PSN DBD sebanyak 76 orang (46,9 %) dan tindakan yang Kurang sebanyak 86 orang (61,1%) Dimana dapat terlihat pada lampiran tentang Tindakan Responden tentang PSN DBD di desa Badak ulu Kecamatan Muara Badak yaitu Tindakan Baik responden dalam hal

membersihkan tempat penampungan air sebanyak 105 orang (64,3%) dan responden juga membersihkan tempat penampungan air seminggu sekali sebanyak 103 responden (63,6%) namun

Justru pada tindakan kurang oleh responden yang tidak menutup tempat penampungan air sebanyak 106 orang (65,4%) dan responden juga tidak menggunakan bubuk abate pada tempat penampungan air di rumah sebanyak 121 orang (74,7%).

4. Analisa Bivariat Analisa Bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antar variabel terhadap 162 responden yang menjadi sampel dalam

penelitian di desa Muara Badak ulu Kecamatan Muara Badak

58

tahun 2011 dan akan di lihat hubungan antara variabel dependen (keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti) dengan variabel

independen (Pengetahuan , Sikap dan Tindakan dalam PSN -DBD)

a.

Pengetahuan Responden Dalam PSN DBD dengan

Keberadaan Jentik Nyamuk Aedes Aegypti. Hasil penelitian pengetahuan Responden terhadap PSN

DBD dengan Keberadaan jentik Aedes Aegypti Di desa badak Ulu Kecamatan Muara Badak Tahun 2011, hasil analisa dapat dilihat pada tabel 4.10 di bawah ini. Tabel 4.10 Hasil Analisa tingkat Pengetahuan responden tentang PSN DBD dengan keberadaan jentik Aedes Aegypti Di desa Badak ulu Kecamatan Muara badak Tahun 2011. Pengetahuan Responden Baik Keberadaan Jentik Ada Tidak % (+) ada (-) 28 38, 4 68, 5 54, 9 45 Total % 61,6 N 73 % 100 0,000 Kurang Total 61 89 28 73 31,5 45,1 89 162 100 100 P Value

Dari Hasil Penelitian dan setelah dilakukan analisa untuk mengetahui hubungan antar variabel maka dapat terlihat pada Tabel di atas dimana responden dengan pengetahuan baik dengan

59

keberadaan ( +) Jentik sebanyak 28 orang (38,4%) dan responden dengan pengetahuan baik tetapi tidak terdapat jentik sebanyak 45 orang (61,6%), dapat terlihat pula responen dengan pengetahuan kurang dan terdapat jentik nyamuk sebanyak 61 orang (68,5%) dan responden dengan pengetahuan kurang tetapi tidak ada jentik sebanyak 28 orang (31,5%). Hasil uji statistik untuk mengetahui besarnya kolerasi

antara variabel pengetahuan responden dengan keberadaan jentik Aedes Aegypti di desa Badak ulu Kecamatan Muara badak Tahun 2011 dengan hasil p = 0,000 berarti terdapat hubungan antara variabel pengetahuan dengan keberadaan jentik Aedes Aegypti Di desa Badak ulu Kecamatan Muara badak Tahun 2011

b. Sikap

Responden dalam PSN DBD dengan Keberadaan

Jentik Nyamuk Aedes Aegypti. Hasil penelitian terhadap Sikap Responden dalam PSN DBD dengan Keberadaan jentik Aedes Aegypti Di desa badak Ulu Kecamatan Muara Badak Tahun 2011. dilihat pada tabel 4.11 di bawah ini. hasil analisanya dapat

Tabel 4.11 Hasil Analisa tingkat Sikap responden dengan PSN DBD keberadaan jentik Aedes Aegypti Di desa Badak ulu Kecamatan Muara badak Tahun 2011.

60

Sikap Responden Baik

Keberadaan Jentik Ada Tidak % (+) ada (-) 27 42, 9 62, 6 54, 9 36

Total % 57,1 n 63 % 100 0,021 P Value

Kurang Total

62 89

37 73

37,4 45,1

99 162

100 100

Dari Hasil Penelitian dan setelah dilakukan analisa untuk mengetahui hubungan antar variabel maka dapat terlihat pada Tabel di atas dimana responden dengan Sikap baik dengan keberadaan Jentik sebanyak 27 orang (42,9%) dan responden dengan sikap baik tetapi tidak terdapat jentik sebanyak 36 orang (62,6%) dengan total responden yang memiliki sikap baik sebanyak 63 orang. dapat terlihat pula responden dengan Sikap Kurang dan terdapat jentik nyamuk sebanyak 62 orang (62,6%) dan responden dengan Sikap kurang tetapi tidak ditemukan adanya jentik nyamuk sebanyak 37 orang (31,5%). Dengan total responden yang memiliki sikap kurang baik sebanyak 99 orang. Hasil uji statistik untuk mengetahui besarnya kolerasi PSN DBD dengan

antara variabel Sikap responden dalam

keberadaan jentik Aedes Aegypti di desa Badak ulu Kecamatan Muara badak Tahun 2011 dengan hasil p = 0,021 maka berarti terdapat hubungan antara variabel Sikap dalam PSN DBD dengan

61

keberadaan jentik Aedes Aegypti Di desa Badak ulu Kecamatan Muara badak Tahun 2011

c. Tindakan Responden Dalam PSN DBD dengan Keberadaan Jentik Nyamuk Aedes Aegypti. Hasil penelitian terhadap Sikap Responden dalam PSNDBD dengan Keberadaan jentik Aedes Aegypti Di desa badak Ulu Kecamatan Muara Badak Tahun 2011, dilihat pada tabel 4.11 di bawah ini. Tabel 4.10 Hasil Analisa tingkat Tindakan responden dalam PSN DBD dengan keberadaan jentik Aedes Aegypti Di desa Badak ulu Kecamatan Muara badak Tahun 2011. Tindakan Responden Baik Keberadaan Jentik Ada Tidak % (+) ada (-) 32 42, 1 66, 3 54, 9 44 Total % 57,9 n 76 % 100 0,003 Kurang Total 57 89 29 73 33,7 45,1 86 162 100 100 P Value hasil analisanya dapat

Dari Hasil Penelitian dan setelah dilakukan analisa untuk mengetahui hubungan antar variabel maka dapat terlihat pada Tabel di atas dimana responden dengan Tindakan baik dengan keberadaan Jentik sebanyak 32 orang (42,1%) dan responden

62

dengan Tindakan

baik tetapi tidak terdapat jentik sebanyak 44

orang (57,9 %) dengan total responden yang memiliki Tindakan baik sebanyak 76 orang. Dapat terlihat pula responden dengan Tindakan Kurang dan terdapat jentik nyamuk sebanyak 57 orang (66,3 %) dan responden dengan Tindakan kurang tetapi tidak ditemukan adanya jentik nyamuk sebanyak 29 orang (33,7 %). Dengan total responden yang memiliki Tindakan kurang baik sebanyak 86 orang. Hasil uji statistik untuk mengetahui besarnya kolerasi PSN DBD dengan

antara variabel Tindakan responden dalam

keberadaan jentik Aedes Aegypti di desa Badak ulu Kecamatan Muara badak Tahun 2011 dengan hasil p = 0,003 ini berarti

terdapat hubungan antara variabel Tindakan dalam PSN DBD dengan keberadaan jentik Aedes Aegypti Di desa Badak ulu Kecamatan Muara badak Tahun 2011

B. PEMBAHASAN
1. Pengetahuan Responden terhadap PSN DBD PSN – DBD

dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti Dari Hasil Penelitian yang telah dilakukan pada 162 responden di Desa Muara badak ulu Kecamatan Muara Badak Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun 2011 tentang Pengetahuan Responden terhadap PSN DBD secara umum pengetahauan

responden dapat terlihat pada tabel 4.7 . Distribusi responden

63

dilihat dari tingkat Pengetahuan memiliki Pengetahuan Baik dan pengetahuan kurang.

sebanyak 73 orang (45,1%) 89 orang (54,9%) dengan

Masih kurangnya pengetahuan responden tentang PSNDBD terlihat dari lampiran tentang frekwensi Pengetahuan

Responden.Dari 13 pertanyaan mengenai pengetahuan tentang PSN-DBD pada pertanyaan penyebab penyakit DBD sebanyak

111 orang (68,5%) yang menjawab salah dan hanya 51 orang (31,5%) orang saja yang menjawab benar. Selain itu pada

pertanyaan pada waktu kapan nyamuk DBD menggigit manusia, responden yang menjawab salah sebanyak 94 orang (58%) dan yang menjawab benar hanya 68 orang ( 42%) Hasil uji statistik untuk mengetahui besarnya kolerasi

antara variabel pengetahuan PSN DBD dengan keberadaan jentik Aedes Aegypti Di desa Badak ulu Kecamatan Muara badak Tahun 2011 dengan hasil p = 0,000 , ini berarti terdapat hubungan PSN- DBD dengan keberadaan

antara variabel Pengetahuan

jentik Aedes Aegypti Di desa Badak ulu Kecamatan Muara badak Tahun 2011. Untuk mengetahui hubungan antar variabel maka dapat terlihat pada Tabel 4.10 , dimana responden dengan pengetahuan baik dengan keberadaan Jentik ( + ) sebanyak 28 orang (38,4%) dan responden dengan pengetahuan baik tetapi tidak terdapat jentik ( - ) sebanyak 45 orang (61,6%), dapat terlihat pula responen

64

dengan Pengetahuan Kurang dan terdapat jentik (+) sebanyak 61 orang (68,5%) dan responden dengan pengetahuan kurang tetapi tidak ada jentik ( - ) sebanyak 28 orang (31,5%). Responden dengan pengetahuan baik tetapi masih positif jentik , berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat dari lampiran bahwa masih terdapat responden yang

frekwensi pengetahuan

salah dalam menjawab pertanyaan berapa hari sekali menguras bak / tempat penampungan air yaitu 34 responden ( 21 % ) dan pertanyaan tempat penampungan air yang dikuras ( 16 % ) responden diasumsikan yang menjawab masih salah.Dari ada data tersebut yang dapat kurang

bahwa

responden

pengetahuan dalam hal tempat perindukan nyamuk dan berapa hari sekali tempat tersebut harus dikuras untuk mencegah dijadikannya tempat penampungan air tersebut sebagai tempat yang potensial berkembangnya nyamuk aedes aegypti. Hal ini juga diperkuat dari data hasil observasi keberadaan jentik yaitu dari 89 responden dengan ( +) jentik terdapat 25 responden ( 15,4% ) positif jentik di luar rumah.Dengan pengetahuan responden yang masih kurang tentang TPA / container yang potensial sebagai tempat perkembangbiakan nyamuk sehingga berdampak pada masih terdapatnya ( + ) jentik diluar rumah yang lepas dari perhatian responden untuk dibersihkan.Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Santoso dan Anif Budiyanto ( 2008) mengenai hubungan pengetahuan sikap dan perilaku masyarakat

65

terhadap vector di kota Palembang dengan hasil ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan vector DBD ( p value = 0,000).Selain itu menurut hasil penelitian yang dilakukan Mulia

Idris Ramly (2003) di kota Jambi bahwa Pengetahuan Responden yang tinggi tentang pemberantasan Sarang Nyamuk (DBD) terkait erat dengan perubahan Perilaku masyarakat terhadap

pemberantasan nyamuk aedes aegypti, dimana masyarakat yang berpengetahuan baik tentang PSN – DBD sebesar 65 %. Dilihat dari Distribusi jenjang pendidikan terakhir ,responden terbanyak adalah lulusan SMA Sebanyak 70 orang dengan

persentase sebesar 43,2 %, selanjutnya pada tingkat SMP dengan jumlah Responden sebanyak 64 orang sebesar 39,5 %. Pendidikan merupakan sarana untuk mendapatkan informasi sehingga

semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin banyak pula informasi yang di dapatkan,dimana dalam penelitian ini secara umum Pengetahuan responden kurang sebesar 54,9 %, hal ini sejalan dengan Hasil penelitian Wetan, yang dilakukan Laksmono bahwa

dikelurahan

Grondol

semarang

menyatakan

sebagian besar responden yakni sekitar 73,3 % dari total responden memiliki pengetahuan yang kurang, Sejalan juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Sri wahyuni Tahun 1999 di kelurahan Padang Bulan yang menyatakan bahwa mayoritas responden yang memiliki tingkat pengetahuan Cukup. Hal ini menunjukan bahwa tingkat Pengetahuan Masyarakat mengenai

66

PSN DBD masih belum dikatakan cukup baik khususnya bagi masyarkat yang berada di luar daerah perkotaan (Kelurahan) karena akses informasi 3 M dan sebagainya masih belum sepenuhnya diterima oleh masyarakat. Pengetahuan Baik dan Kurang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti sumber Informasi dan faktor pendidikan serta sektor lingkungan semakin banyak orang mendapatkan informasi baik dari lingkungan keluarga, lingkungan tetangga dari petugas kesehatan maupun media cetak akan mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang. Menurut Depkes RI (2005) Bahwa pengetahuan baik diproleh dari proses pembelajaran yang baik. Dengan demikian penyebab tingginya angka responden yang memiliki angka kurang baik, salah satunya yaitu kurangnya informasi yang bisa diterima responden saat mendapatkan pendidikan. Sehingga dapat disimpulkan responden yang

berpengetahuan kurang baik mampu ditingkatkan untuk menjadi lebih baik lagi, berdasarkan hasil pengamatan hal ini bisa jadi disebabkan kurangnya minat masyarakat untuk menonton,

membaca dan mendengarkan

hal-hal yang berhubungan dengan

layanan kesehatan khususnya mengenai PSN atau pemberantasan jentik DBD Pengetahuan Responden terhadap upaya pemberantasan sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN-DBD) Khususnya

67

pelaksanaan 3 M ( Menutup, Mengubur dan Menguras tempat penampungan air) adalah untuk mengetahui sejauh mana

responden mengetahui cara-cara untuk memberantasnya sehingga kejadian penyakit DBD dapat ditekan. Menurut Notoatmodjo (1993) perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari dengan pengetahauan. Untuk itu diperlukan partisipasi aktif dari seluruh masyarakat dan keluarga secara bersama-sama yang berkesinambungan untuk melakukan Gerakan 3 M

(menguras, menutup, Mengubur) disekitar lingkungannya. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior). Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 1993). Penelitian Rogers (1974) dalam (Notoatmodjo, 1993)

mengungkapkan bahwa sebelum seseorang mengadopsi perilaku baru, di dalam diri orang tersebut telah terjadi beberapa proses yang berurutan antara lain (1) Awareness (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari atau mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (obyek), (2) Interest, dimana orang mulai tertarik kepada stimulus, (3) Evaluation, menimbang-nimbang terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya, hal ini berarti sikap orang tersebut sudah lebih baik lagi, (4) Trial, dimana orang telah

68

mencoba perilaku baru dan (5) Adoption dimana subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus. Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting). Namun demikian dari penelitian selanjutnya Rogers menyimpulkan bahwa perubahan perilaku tidak selalu melewati tahap-tahap tersebut diatas.

2. Sikap Responden terhadap PSN - DBD dengan keberadaan

jentik nyamuk Aedes aegypti Dari hasil penelitian yang dilakukan pada 162 Responden di desa Muara Badak ulu Kecamatan Muara badak kabupaten Kutai Kartanegara tahun 2011 tentang Sikap terhadap PSN – DBD

dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti secara umum sikap responden dapat terlihat pada tabel distribusi menurut sikap responden terlihat bahwa sikap baik oleh responden di desa Muara badak ulu Kecamatan Muara badak tahun 2011 sebanyak 63 orang (38,9 %) dan sikap yang kurang sebanyak 99 orang (61,1%). Sikap yang kurang mengenai PSN-DBD pada responden lebih besar dibandingkan sikap yang baik terlihat dari lampiran frekwensi mengenai sikap terhadap PSN-DBD.Dari 10 pernyataan mengenai sikap pada pernyataan bahwa tempat penampungan air yang tidak mungkin dikuras di beri abate , responden yang

69

menyatakan tidak setuju 46 orang ( 28,4% ) dan yang menyatakan sangat tidak setuju 42 orang ( 25,9% ). Selain itu pada pernyataan pengasapan (Fogging) lebih baik atau efektif daripada kegiatan 3 M sebanyak 69 orang (42,6%) menyatakan Sikap ragu dan 19 orang ( 11,7% ) yang menyatakan setuju. Hasil uji statistik untuk mengetahui besarnya kolerasi

antara variabel Sikap responden terhadap PSN DBD dengan keberadaan jentik Aedes Aegypti Di desa Muara Badak ulu Kecamatan Muara badak Tahun 2011 dengan hasil p = 0,021 PSN

berarti terdapat hubungan antara variabel Sikap terhadap

DBD dengan keberadaan jentik Aedes Aegypti di desa Muara Badak ulu Kecamatan Muara badak Tahun 2011 Untuk mengetahui hubungan antar variabel dapat dilihat

pada Tabel 4.11 dimana responden dengan Sikap baik dengan keberadaan ( + )Jentik sebanyak 27 orang (42,9%) dan responden dengan Sikap baik tetapi tidak terdapat ( - ) jentik sebanyak 36 orang (57,1%) dengan total responden yang memiliki sikap baik sebanyak 63 orang. Dapat terlihat pula responden dengan Sikap Kurang dengan terdapat ( + ) jentik nyamuk sebanyak 62 orang (62,6%) dan responden dengan Sikap kurang tetapi tidak ditemukan ( - ) jentik nyamuk sebanyak 37 orang (37,4%). Dengan total responden yang memiliki sikap kurang baik sebanyak 99 orang.

70

Responden dengan sikap yang baik tetapi masih terdapat (+) jentik, berdasarkan data hasil penelitian mengenai sikap

tentang tempat penampungan air yang tidak mungkin dikuras diberi abate masih banyak responden yang menyatakan sikap kurang baik . Hal ini akan memicu pencegahan penyakit DBD tindakan yang kurang untuk dengan membersihkan tempat

penampungan air dari jentik nyamuk maupun telurnya. Padahal salah satu cara PSN – DBD pada tempat penampungan air yang tidak mungkin dikuras yaitu dengan abate dan atau ikanisasi.Selain itu pada pernyataan tentang sikap pengasapan lebih efektif dari 3M , lebih banyak responden yang menunjukan sikap kurang .Penelitian ini sejalan dengan penelitian Linda Trinasari AB mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) Di wilayah kerja Puskesmas Kanten pelembang Tahun 2009. Yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara sikap dengan Kejadian DBD ( OR= 4,991 ). Selain itu sejalan pula dengan penelitian Dadang fitrajaya

mengenai “Pengetahuan dan sikap masyarakat Kelurahan Tanjung Hulu terhadap pemberantasan Sarang Naymuk (PSN DBD) Di Kota Pontianak Tahun 2002” yang mana hasilnya adalah responden yang bersikap positif lebih banyak atau cendrung melaksanakan PSN (76,8%) lebih besar dibandingkan dengan responden yang bersikap negatif (62,5%)

71

Sikap adalah suatu kecenderungan untuk berespon (secara positif atau negatif) terhadap orang, obyek atau situasi tertentu (Sarwono, 2004). Menurut para ahli psikologi Louis Thurstone (1928), Rensis Likert (1932), Charles Osgood, sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Berkowitz, (1972)

mengatakan bahwa sikap seseorang terhadap suatu obyek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada obyek tersebut. Secara lebih spesifik, Thurstone sendiri memformulasikan sikap sebagai derajat efek positif atau efek negatif terhadap suatu obyek psikologis (Edwards, 1957) di kutip oleh (Azwar, 2003). Sikap merupakan merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau obyek yang manifestasinya tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Newcomb, salah seorang ahli psikologi sosial menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksana motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas akan tetapi adalah merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi

72

terhadap obyek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap obyek (Notoatmodjo, 1997). Hal ini sesuai denga teori Green (1980) dalam Notoatmodjo (2003) bahwa sikap berhubungan dengan Motivasi individu atau kelompok dalam melakukan sesuatu, dengan demikian sikap

positif dapat memotivasi individu dalam melakukan kegiatan pemberantasan jentik nyamuk sehingga angka kejadian DBD dapat dukurangi. Diharapkan sikap yang baik dari masyarakat didukung dengan perilaku pemberantasan jentik sebagai upaya pencegahan DBD sehingga angka kejadian DBD dapat dikurangi. Kemaknaan antara sikap dengan tindakan PSN-DBD mungkin saja terjadi

karena biasanya semakin positif sikap atau pandangan seseorang terhadap suatu hal seperti misalnya sikap terhadap pemberantasan jentik, maka semakin baik pula tindakan yang dilakukan dalam hal tersebut.

3. Tindakan PSN - DBD

dengan

keberadaan jentik nyamuk

Aedes aegypti .Dari hasil penelitian yang dilakukan pada 162 responden di Desa Muara badak Ulu kecamatan Muara badak Tahun 2011 secara umum dapat dilihat pada tabel distribusi menurut Tindakan responden.Terlihat bahwa Tindakan baik oleh responden tentang

73

PSN- DBD

sebanyak 76 orang (46,9 %) dan tindakan yang

kurang sebanyak 86 orang (53,1%) Tindakan kurang mengenai PSN-DBD di desa Muara Badak Ulu Kec. Muara Badak lebih dominan dibandingkan tindakan yang baik mengenai PSN-DBD , terlihat pada lampiran tentang Tindakan Responden dalam PSN-DBD . Dari 8 pertanyaan mengenai tindakan PSN-DBD dalam hal menutup tempat penampungan air 56 responden ( 34,6%) yang melakukan dan 106 responden (65,4%) tidak menutup penampungan air. Selain itu dalam hal menggunakan / memberikan bubuk abate pada penampungan air di rumah 41 responden ( 25,3%) yang melakukan dan 121 responden ( 74,7%) tidak melakukan abatisasi.Dari kedua hal tersebut diatas sebagai salah satu indikasi bahwa tindakan yang kurang mengenai PSN-DBD, mengingat letak geografis desa Muara Badak Ulu adalah wilayah pesisir / dataran rendah dengan daerah pasang surut sehingga untuk akses dan ketersediaan air bersih kurang . Karena keadaan lingkungan yang kurang

mendukung untuk ketersediaan air bersih maka masyarakat desa Muara Badak Ulu Kec. Muara Badak mempunyai kebiasaan menampung air bersih dan air hujan untuk keperluan sehari –hari. Selain dalam hal penutupan dan abatisasi tempat penampungan air , dalam hal kebiasaan responden membersihkan halaman sekitar rumah ,76 responden ( 46,9 % ) yang melakukan sedangkan 86 responden ( 53,1%) tidak melakukan kebiasaan membersihkan

74

halaman di sekitar rumah.Desa Muara Badak Ulu merupakan wilayah pesisir dengan daerah pasang surut sehingga mayoritas tipe rumah , halaman dan jalanannya adalah tipe panggung yang memungkinkan keadaan sanitasi lingkungan bertambah buruk , apalagi didukung tindakan responden yang kurang mengenai PSNDBD.Keadaan seperti ini potensial sekali untuk

berkembangbiaknya nyamuk DBD.Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Siti Rahmah Umiyati 1992 mengenai faktor yang berhubungan dengan keberadaan vector. Hasil uji statistik untuk mengetahui besarnya kolerasi PSN DBD dengan

antara variabel Tindakan responden dalam

keberadaan jentik Aedes Aegypti di desa Muara Badak ulu Kecamatan Muara badak Tahun 2011 dengan hasil p = 0,003 ini berarti terdapat hubungan antara variabel Tindakan tindakan PSN DBD dengan keberadaan jentik Aedes Aegypti di desa Muara Badak ulu Kecamatan Muara badak Tahun 2011 Untuk mengetahui hubungan antar variabel maka dapat dilihat pada Tabel 4.11 di atas, dimana responden dengan Tindakan baik dan (+) Jentik sebanyak 32 orang (42,1%) sedangkan responden dengan Tindakan baik dan (-) jentik

sebanyak 44 orang (57,9 %) dengan total responden yang memiliki tindakan baik sebanyak 76 orang. Dapat terlihat pula responden dengan tindakan kurang dan terdapat (+) jentik nyamuk sebanyak 57 orang (66,3 %) dan responden dengan tindakan kurang tetapi

75

tidak ditemukan adanya jentik nyamuk sebanyak 29 orang (33,7 %). Dengan total responden yang memiliki Tindakan kurang baik sebanyak 86 orang. Tindakan responden yang baik tetapi masih (+) jentik yaitu 32 responden ( 42,1%),berdasarkan data hasil penelitian mengenai tindakan PSN-DBD dalam hal kebiasaan membersihkan halaman disekitar rumah masih banyak yang tidak melakukan yaitu 86 responden (53,1 % ) sedangkan yang melakukan 76 responden (46,9%) .Bagi responden yang telah melakukan kebiasaan membersihkan halaman sekitar dimungkinkan tidak memperhatikan kondisi lingkungan dengan tipe rumah ,halaman dan jalanan bertipe panggung, sehingga lepas dari perhatian responden untuk dibersihkan pada bagian bawah rumah,halaman dan

jalanan.Padahal pada bagian ini potensial sekali sebagai tempat berkembangbiaknya nyamuk DBD. Untuk mengetahui kebaradaan jentik nyamuk di dalam container yang diperiksa baik di dalam maupun di luar rumah responden dilakukan observasi dan diperoleh hasil bahwa dari 162 responden yang menjadi sampel terdapat sebanyak 89 rumah responden (54,9%) positif terdapat jentik dan sebanyak 73 rumah respoden (45,1%) Negatif atau tidak ada jentik. Selain itu masih dalam ruang lingkup yang sama observasi juga dilakukan pada letak kontainer yang diperiksa. Keberadaan jentik di rumah

Responden di dapatkan hasil sebanyak 64 Rumah responden

76

(39,5%) ditemukan jentik di dalam rumah,selain itu sebanyak 25 rumah responden ditemukan jentik di luar rumah atau di pekarangan (15,4%) dan sebanyak 73 Rumah responden (45,1%) negatif tidak ditemukan jentik di dalam dan di luar rumah responden. Dari hasil observasi keberadaan jentik dilakukan dari 519

perhitungan larva indeks dan diperoleh hasil yaitu

kontainer yang diperiksa 127 kontainer positif jentik (CI = 24,47 %). Dan dari 162 rumah yang diperiksa 89 rumah ditemukan jentik (HI = 54,94 %). Dengan HI=54,94% tampak jauh sekali dengan HI target nasional di Indonesia yaitu 5% (PPM&PLP, 1989). Sedangkan dari perhitungan didapat angka BI = 78,40%. Dari ketiga indeks larva tersebut dapat dibuat parameter density figure ( kepadatan populasi) . Nilai DF pada kategori kepadatan 6 s/d 9 yang berarti kepadatan populasi jentik di desa Muara Badak Ulu adalah tinggi.Tingginya kepadatan populasi akan mempengaruhi distribusi penyebaran penyakit DBD. Dikhawatirkan dengan

tingginya populasi nyamuk Aedes di Desa Muara Badak Ulu akan mempercepat penularan kasus DBD. Hal ini karena ada asumsi bahwa mungkin kurang dari 5 % dari suatu populasi nyamuk yang ada pada musim penularan akan menjadi vektor (Dirjen P2M&PL, 2003). Disamping itu kepadatan nyamuk akan berpengaruh terhadap ketahanan hidupnya terutama hubungannya dengan ancaman musuh/predator. Menurut Sumarmo, morbiditas dan

77

mortalitas yang terjadi di beberapa negara disebabkan oleh beberapa faktor antara lain tingginya kepadatan vektor (Sumarmo Purwo Soedarma, 1995). Namun peneliti lain mengatakan bahwa sampai sekarang belum jelas hubungan antara kepadatan populasi Ae. aegypti / Ae. albopictus dengan timbulnya wabah. Ada wabah DBD meskipun populasi nyamuk Ae. aegypti rendah atau sebaliknya (M Hasyimi, 1997). Mengingat kebiasaan masyarakat yang masih kurang paham mengenai PSN ,sehingga perlu kegiatan pengendalian vektor yang dianggap murah, aman, mudah serta mempunyai nilai keberhasilan yang tinggi bila dilakukan secara serentak dan berkesinambungan hal ini guna mensukseskan Program Gerakan PSN DBD adalah keseluruhan kegiatan masyarakat dan pemerintah untuk mencegah penyakit DBD, yang disertai pemantauan hasil-hasilnya secara terus menerus. Gerakan PSN DBD merupakan bagian terpenting dari keseluruhan upaya pemberantasan penyakit DBD, dan merupakan bagian dari upaya mewujudkan kebersihan lingkungan serta perilaku sehat dalam rangka mencapai masyarakat dan keluarga sejahtera. Gerakan PSN DBD ini bertujuan untuk membina peran serta masyarakat dalam pemberantasan penyakit DBD, terutama dalam memberantas jentik nyamuk penularnya, sehingga

penularan penyakit DBD dapat dicegah. Adapun sasaran utama gerakan PSN DBD adalah agar semua keluarga dan pengelola

78

tempat umum melakukan PSN DBD serta menjaga kebersihan lingkungan di rumah dan lingkungannya masing-masing secara terus menerus. Secara garis besar sasaran gerakan PSN DBD pada Pelita VI adalah tercapainya angka bebas jentik (ABJ) > 95% di Kecamatan endemis dan Kecamatan sporadis DBD, dan > 80% di seluruh wilayah. Secara umum tindakan diketahui adalah respon atau reaksi individu terhadap stimulasi baik berasal dari dalam dirinya. Respon atau reaksi individu terhadap stimulasi atau rangsangan terdiri dari dua bentuk yakni respon yang berupa tindakan yang dapat di lihat dari luar dan dapat diukur di sebut sebagai perilaku yang tampak (0vert behavior). Dan juga respon yang berupa tindakan yang tidak dapat dilihat langsung disebut sebagai perilaku yang tidak tampak (covert behavior). Dalam (Notoadmojo, 2007). Tindakan memiliki tingkatantingkatan. Tingkatan-tingkatan tersebut adalah : persepsi

(perception), respon terpimpin (guided response), mekanisme (Mecanisme ) dan adaptasi (Adaptation). Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior). Untuk terwujudkannya sikap agar menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas. Disamping faktor fasilitas juga diperlukan faktor dukungan (support) dari pihak lain

79

misalnya dari suami atau istri, orang tua atau mertua dan lain-lain (Notoatmodjo, 1997)

80

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN Dari beberapa hal yang telah dikemukakan , maka ada bebarapa hal yang dapat disimpulkan yaitu : 1. Ada hubungan pengetahuan Masyarakat dalam PSN – DBD

dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti di Desa Muara Badak Ulu Kecamatan Muara Badak tahun 2011 ( Pvalue = 0,000) 2. Ada hubungan sikap masyarakat dalam PSN – DBD dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti di Desa Muara Badak Ulu Kecamatan Muara Badak tahun 2011 ( Pvalue = 0,021) 3. Ada hubungan tindakan Masyarakat dalam PSN – DBD dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti di Desa Muara Badak Ulu Kecamatan Muara Badak tahun 2011 (Pvalue = 0,003 ).

B. Saran 1. Bagi Peneliti Lain

Meneliti faktor – faktor lain yang belum diteliti yang berhubungan dengan keberadaan jentik Aedes aegypti dengan membedakan antara jentik Aedes aegypti dengan jentik Albopictus 2. Bagi Masyarakat

81

a) Penggerakan PSN perlu dilaksanakan secara berkala minimal sebulan sekali dan dilakukan lebih intensif

menjelang musim penghujan dan musim penularan DBD.
b)

Lebih memperhatikan kegiatan pelaksanaan PSN – DBD secara mandiri dan teratur agar dapat mengurangi

keberadaan jentik Aedes aegypti dan penularan penyakit DBD dapat ditekan. 3.
a)

Bagi Pemerintah Desa Memotivasi, memfasilitasi, dan mengkoordinasi pemeriksaan jentik berkala pada tiap-tiap RT dengan dukungan sarana dan prasarana yang dibutuhkan.
b)

Diadakannya pertemuan rutin di desa dalam bentuk loka karya dan sebagainya yang melibatkan kader kesehatan , tokoh masyarakat serta aparat pemerintah setempat

dengan koordinasi bersama instansi kesehatan lainnya dalam hal upaya menggalakan Program PSN DBD di desa Muara badak Ulu Kecamatan Muara Badak 4. Bagi DKS dan Puskesmas
a)

Mengkoordinasikan kembali kader-kader jumantik

agar dapat melaksanakan pemeriksaan jentik berkala pada masing – masing wilayah
b)

Penyuluhan PSN atau

kepada (3M)

masyarakat benar

tentang dengan

cara

melakukan demonstrasi

yang

metode agar

menggunakan

alat

peraga

82

masyarakat sasaran dapat menerima pesan penyuluhan dengan jelas. Target penyuluhan dipilih ibu rumah tangga karena mereka lebih banyak tahu tentang keadaan

lingkungan rumah tangganya dan lebih sering berada dirumah. c) Mengoptimalkan sistem surveilans epidemiologi DBD

terutama untuk ketepatan laporan dari puskesmas ke Dinas Kesehatan. d) Uji coba pelaksanaan PJB oleh anak sekolah di

lingkungan rumah mereka masing-masing (4 rumah tangga untuk setiap siswa) sebagai bagian dari kegiatan

ektrakurikuler sekolah. Hasil kegiatan ini dapat dijadikan sebagai pembanding dari hasil kegiatan PJB yang

dilaksanakan oleh para jumantik untuk mengetahui apakah ada perbedaan hasil PJB (ABJ) dan keadaan yang sebenarnya di masyarakat.

83

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful