10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Remaja Menurut World Health Organization ( WHO ), remaja adalah laki-laki dan perempuan berusia 10-19 tahun, dimana usia 12 tahun merupakan batas usia pubertas pada umumnya yaitu ketika secara biologis sudah mengalami kematangan seksual dan usia 20 tahun adalah usia ketika mereka pada umumnya secara sosial dan pisikologis mampu mandiri. Berdasarkan uraian diatas ada dua hal penting menyangkut batasan remaja yaitu mereka yang sedang mengalami perubahan dari masa kanak-kanak kemasa dewasa dan perubahan tersebut menyangkut perubahan fisik dan pisikologis. Masa remaja dibedakan dalam masa remaja awal 10±12 tahun, masa remaja tengah 13±16 tahun dan masa remaja akhir 17±19 tahun ( WHO, 1999 dalam Notoatmodjo, 2007). Menurut Garrison (2005) kebutuhan remaja pada umumnya meliputi : hasrat untuk berprestasi, hasrat untuk mandiri, hasrat untuk diterima di kelompok sebayanya, hasrat untuk memahami dirinya sendiri sehingga selalu mempertanyakan ³ siapa saya ³, hasrat untuk memperoleh harga diri, dan hasrat untuk memperoleh rasa aman dalam membaur kelompok sebayanya serta hasrat pemuasan.

11

1. Aspek Perubahan Pada Remaja. Dua aspek pokok dalam perubahan pada remaja yakni perubahan fisik atau biologis dan perubahan pisikologis. a. Perubahan fisik (pubertas) Masa remaja diawali pertumbuhan yang sangat cepat dan biasanya disebut peberitas. Seperti dikemukakan oleh Santrock (2003) puberty is a rapid change to physical maturation involving hormonal and bodily changes that occur primarily during early adolescence dengan adanya perubahan yang cepat itu terjadilah perubahan fisik yang dapat diamati seperti pertumbuhan tinggi dan berat badan pada remaja atau biasa disebut pertumbuhan dan kematangan seksual sebagai hasil dari pertumbuhan hormonal. Antara remaja putra dan putri kematangan seksual terjadi dalam usia yang agak berbeda. Kematangan seksual pada remaja pria biasanya terjadi pada usia 10-13,5 tahun sedangkan pada remaja putri terjadi pada usia 9-15 tahun. Pada anak laki-laki perubahan itu ditandai oleh perkembangan pada organ seksual, mulai tumbuhnya pada rambut kemaluan, perubahan suara dan juga ejakulasi pertama melalui weet dream atau mimpi basah. Sedangkan pada remaja putri puberitas ditandai dengan menarche (haid pertama) perubahan pada dada (mammae), tumbuhnya rambut kemaluan dan juga perbesaran panggul. Usia

12

menarche rata-rata juga bervariasi dengan rentang umur 10 hingga 16,5 tahun. Dari beberapa penelitian sejak 100 tahun terakhir menunjukan bahwa ada kecenderungan semakin cepatnya remaja mengalami menarche. Pada tahun 1860 rata-rata usia remaja mengalami menarche adalah 16 tahun 8 bulan dan pada tahun 1975 umur 13 tahun 7 bulan. Adanya penurunan umur menarche tersebut disebabkan karena adanya perbaikan gizi, perbaikan pelayanan kesehatan dan lingkungan

masyarakat. Semakin cepat seseorang mengalami menarche tentu semakin cepat pula ia memasuki masa reproduksi (Notoatmodjo,2007). b. Pubertas Psikologis Masa remaja merupakan masa transisi antara masa anak-anak dan masa dewasa. Masa transisi sering kali menghadapi inidividu yang bersangkutan pada situasi yang membingungkan, di satu sisi remaja

adalah manusia dewasa tetapi di sisi lain remaja tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. Situasi-situasi yang menimbulkan konflik ini sering menyebabkan banyak tingkah laku yang aneh, canggung dan kalau tidak dikontrol bisa menimbulkan kenakalan. (Notoatmodjo,2007). Masa remaja merupakan masa dimana banyak terjadi perubahan fisik sebagai akibat mulai berfungsinya kelenjar endokrin yang

menghasilkan berbagai hormon yang akan mempengaruhi pertumbuhan

13

secara keseluruhan dan pertumbuhan organ seks pada khususnya. Masa remaja sering disebut juga sebagai masa pancaroba, masa krisis dan masa pencarian identitas. Kenakalan remaja terjadi pada umumnya karena tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan mereka seperti

kebutuhan akan prestasi, kebutuhan akan konformitas, kebutuhan seksual, kebutuhan yang berhubungan dengan kehidupan keluarga dan kebutuhan akan identitas diri serta kebutuhan akan populeritas

(Notoatmodjo, 2007). Menurut Soetjiningsih (2004) perkembangan psikologis ini antara lain sebagai berikut : 1 Mereka ingin bersikap tidak tergantung pada orang tua 2. Mereka ingin mengembangkan keterampilan secara interaktif dengan kelompoknya 3. Mereka sudah mulai mempelajari prinsip-prinsip etika 4. Mereka ingin menunjukan kemampuan intelektualnya 5. Mereka mempunyai tangung jawab peribadi dan sosial. Dalam usahanya mencari identitas diri, seorang remaja sering membantah orang tuanya karena ia mulai mempunyai pendapat-pendapat sendiri, cita-cita serta nilai-nilai sendiri yang berbeda dengan orang tuanya. Sebenarnya mereka belum cukup mampu untuk berdiri sendiri oleh karena itu sering mereka terjerumus kedalam kegiatan yang

14

menyimpang dari aturan atau disebut dengan kenakalan remaja salah satu bentuk kenakalan remaja adalah seksual remaja pranikah. Pada masa remaja labilnya emosi erat kaitanya dengan perubahan hormon dalam tubuh. Sering terjadi letusan emosi dalam bentuk amarah, sensitif bahkan perbuatan nekat. Denis dan Hansol (1993) menyebutkan sebagai ³time of upheaval and turbulence´. Ketidak setabilan emosional menyebabkan mereka mempunyai dorongan rasa ingin tahu.

Pertumbuhan kemampuan inetelektual pada remaja cenderung membuat mereka bersikap kritis, tersalur melalui perbuatan-perbuatan yang sifatnya eksperimen dan eksploratif. Tindakan dan sikap seperti itu jika dibimbing dan diarahkan dengan baik tentu berakibat konstruktif dan berguna. Tetapi sering kali pengaruh faktor diluar diri remaja, seperti peer group dan ada sekelompok orang cenderung memanfaatkan potensi tersebut untuk perbuatan yang negatif sehingga mereka terjerumus kedalam kegiatan yang tidak bermanfaat, berbahaya bahkan destruktif

(Notoatmodjo,2007). Perubahan kadar hormon reproduksi yang akan diikuti dengan perubahan perilaku. Perilaku seksual pada masa ini terjadi perubahan FSH (follicle stimulating hormone) dan LH (luteinizing hormone) selama tidur dan merangsang produksi hormon testosteron dan spermatozoa pada laki-laki. Selama puberitas produksi testosteron mencapai sepuluh

15

sampai dua puluh kali lipat pada anak laki-laki, sedangkan pada anak perempuan tidak menunjukan perubahan yang berarti (Soetjiningsih, 2004). 2. Determinan Perkembangan Remaja Perilaku remaja seringkali dijadikan acuan terhadap adanya

perubahan yang menyangkut norma-norma dan budaya masyarakat. Termasuk pula ketika orang mulai menyoroti masalah yang paling berkaitan dengan eksistensi manusia sebagai mahluk yang selalu berkembang (generatif) yaitu masalah seksualitas. Sudah sedemikian banyak penelitian baik secara kuantitatif maupun kualitatif yang menyimpulkan bahwa perilaku seks remaja kita sudah semakin permisif salah satu contohnya tingginya tingkat kehamilan di luar nikah yang berhubungan secara positif dengan tindakan aborsi menjadi bukti yang sulit dibantah. Terlepas dari banyaknya anggapan (terutama dari futurolog Barat) yang mengatakan bahwa telah terjadi perubahan fungsi seksual dari prokreasi ke rekreasi, orang mulai menyadari adanya pergeseran norma seksual pada kaum remaja (Wawan, 2008). Pada bagian ini juga penting diketahui aspek faktor-faktor yang berhubungan atau yang mempengaruhi kehidupan remaja, keluarga, sekolah dan tetangga merupakan aspek yang secara langsung mempengaruhi kehidupan remaja. Sedangkan struktur sosial, ekonomi, politik, dan budaya

16

lingkungan merupakan aspek yang mempengaruhi secara tidak langung terhadap kehidupan remaja yaitu internal pressure (tekanan dari dalam diri remaja) dan external pressure (tekanan dari luar remaja). Tekanan dari dalam (internal pressure) merupakan tekanan pisikologis dan emosional. Sedangkan teman sebaya, orang tua, guru dan masyarakat merupakan sumber dari luar (external pressure). Teori ini akan membantu kita memahami masalah yang dihadapi remaja salah satunya adalah masalah kesehatan reproduksi (Notoatmodjo,2007).

2. 2 Perilaku Seksual Remaja Perilaku seksual remaja adalah tindakan yang dilakukan oleh remaja berhubungan dengan dorongan seksual yang datang baik dari dalam dirinya maupun dari luar dirinya. Adanya penurunan usia rata-rata pubertas mendorong remaja untuk aktif secara seksual lebih dini. Adanya persepsi bahwa dirinya memiliki resiko yang lebih rendah atau seksual, semakin mendorong remaja memenuhi dorongan seksualnya pada saat sebelum menikah. Banyak remaja mengira bahwa kehamilan remaja tidak akan terjadi pada intercourse (senggama) yang pertama kali atau mereka merasakan bahwa dirinya tidak akan pernah terinfeksi HIV/AIDS karena pertahanan tubuhnya cukup kuat (Notoatmodjo, 2007).

17

Menurut survey remaja terhadap 8084 remaja laki-laki dan perempuan usia 15-24 tahun di 20 kabupaten tahun 2003 pada empat propinsi (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Lampung) ada 2,9% remaja yang telah seksual aktif. Persentasi remaja yang telah mempraktikkan seks pra-nikah terdiri dari 3,4% remaja putra dan 2,3% remaja putri. Sebuah survei terhadap pelajar SMU di Manado melaporkan persentase yang lebih tinggi yaitu 20% pada remaja putra dan 6% pada remaja putri. Sebuah studi di Bali menemukan bahwa 4,4% remaja putri di perkotaan telah berperilaku seksual aktif . Studi di Jawa Barat menemukan perbedaan an tara remaja putri di perkotaan dan pedesaan yang telah berperilaku seksual aktif yaitu berturutturut 1,3% dan 1,4%. Sebuah studi kuwalitatif di perkotaan Banjarmasin dan pedesaan Mandiair melaporkan bahwa interval 8-10 tahun adalah rata-rata jarak antara usia pertama kali berhubungan seks dan usia pada saat menikah pada remaja putra, sedangkan pada remaja putri interval tersebut adalah 4-6 tahun (Rokhmawati, 2004) Seringkali terjadi perbedaan pengertian antara perilaku seksual dengan hubungan seksual. Perilaku seksual ditanggapi sebagai sesuatu hal yang selalu negatif. Padahal tidak demikian halnya perilaku seksual merupakan perilaku yang bertujuan untuk menarik perhatian lawan jenis. Perilaku seksual ini sangat luas sifatnya. Contohnya antara lain mulai dari

18

berdandan, mejeng, merayu, mengoda, bersiul sekaligus juga yang terkait dengan aktivitas dan hubungan seksual (PKBI, 2009). Menurut Soetjiningsih (2004) hubungan seksual yang dialami oleh remaja dipengaruh oleh beberapa faktor yaitu sebagai berikut : 1. Waktu atau saat mengalami pubertas saat itu mereka tidak pernah memahami tentang apa yang akan dialami 2. Kontrol sosial kurang tepat yaitu terlalu ketat atau terlalu longgar dari sosial dan lingkungan. 3. Frekwensi pertemuan dengan pacarnya. Mereka mempunyai kesempatan untuk melakukan pertemuan yang makin sering tanpa kontrol yng baik sehingga hubungan akan semakin mendalam, hubungan antar mereka akan romantis. 4. Kondisi keluarga yang tidak memungkinkan untuk mendidik anak-anak untuk memasuki masa remaja dengan baik. 5. Kurangnya kontrol dari orang tua, orang tua terlalu sibuk sehingga perhatian terhadap anak kurang baik. 6. Status ekonomi mereka yang hidup dengan fasilitas kecukupan akan

mudah melakukan pesiar ketempat-tempat rawan yang memungkinkan adanya kesempatan melakukan hubungan seksual. Sebaliknya kelompok yang ekonomi lemah tetapi banyak kebutuhan/tuntutan, mereka mencari

19

kesempatan untuk memanfaatkan dorongan seksnya demi mendapatkan sesuatu. 7. Tekanan dari teman sebaya. Kelompok sebaya kadang-kadang saling ingin menunjukan penampilan diri yang salah untuk menunjukan kematanganya, misalnya mereka ingin menunjukan bahwa mereka sudah mampu membujuk seorang perempuan untuk melayani kepuasan seksualnya. 8. Penggunaan rokok sebagai awal dari penggunaan dan pengenalan pada Narkotika, Psikotropika hingga zat adiktif lain. 9. Pengunaan obat terlarang dan alkohol. Peningkatan pengunaan obat terlarang dan alkohol makin lama makin meningkat. 10. Mereka kehilangan kontrol sebap tidak tahu akan batasan-batasanya mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. 11. Mereka sudah merasa sudah melakukan aktifitas seksual sebab sudah merasa matang secara fisik. Adanya keinginan untuk menunjukan cinta pada pacarnya. 12. Penerimaan aktifitas seksual pasangannya. Sekedar menunjukan

kegagahan dan kemampuan fisiknya 13. Terjadi peningkatan rangsangan seksual akibat peningkatan kadar hormon reproduksi/seksual.

20

Secara garis besar tingkah laku seksual dan reproduksi remaja dibagi dalam tiga kelompok, antara lain : 1. Kelompok I adalah remaja yang ³ early sexual experience and late marriage ³. 2. Kelompok II adalah remaja yang ³ early marriage and childbearing´. 3. Kelompok III adalah remaja yang termasuk kelompok transisi. Aktivitas seksual adalah kegiatan yang dilakukan dalam upaya memenuhi dorongan seksual atau kegiatan mendapatkan kesenangan organ kelamin atau seksual melalui berbagai perilaku. Contohnya berfantasi, masturbasi, nonton atau baca pornografi, cium pipi, cium bibir, petting, berhubungan intim (intercourse). Sedangkan hubungan seksual adalah kontak seksual yang dilakukan berpasangan dengan lawan jenis atau sesama jenis. Contohnya pegangan tangan, cium kening, cium basah, petting, intercourse (PKBI, 2009). Selama ini perilaku seksual sering disederhanakan sebagai hubungan seksual berupa penetrasi dan ejakulasi. Padahal menurut Wahyudi (2000), perilaku seksual secara rinci dapat berupa: 1. Berfantasi : merupakan perilaku membayangkan dan mengimajinasikan aktivitas seksual yang bertujuan untuk menimbulkan perasaan erotisme.

21

2. Pegangan Tangan : Aktivitas ini tidak terlalu menimbulkan rangsangan seksual yang kuat namun biasanya muncul keinginan untuk mencoba aktivitas yang lain. 3. Cium Kering : Berupa sentuhan pipi dengan pipi atau pipi dengan bibir. 4. Cium Basah : Berupa sentuhan bibir ke bibir 5. Meraba : Merupakan kegiatan bagian-bagian sensitif rangsang seksual, seperti leher, breast, paha, alat kelamin dan lain-lain. 6. Berpelukan : Aktivitas ini menimbulkan perasaan tenang, aman, nyaman disertai rangsangan seksual (terutama bila mengenai daerah

aerogen/sensitif) 7. Masturbasi (wanita) atau Onani (laki-laki) : perilaku merangsang organ kelamin untuk mendapatkan kepuasan seksual. 8. Oral Seks : merupakan aktivitas seksual dengan cara memasukkan alat kelamin ke dalam mulut lawan jenis. 9. Petting : merupakan seluruh aktivitas non intercourse (hingga

menempelkan alat kelamin). 10. Intercourse (senggama) : merupakan aktivitas seksual dengan

memasukan alat kelamin laki-laki ke dalam alat kelamin wanita. Penelitian yang dilakukan pada tahun 1995 terhadap remaja yang berumur antara 15-19 tahun di Amerika Serikat menunjukan hasil yaitu 55% remaja telah melakukan seksual aktif, 53% remaja telah melakukan

22

masturbasi, 49% remaja mengalami seks oral, 39% remaja melakukan seks oral, 11% sering melakukan seks anal. Remaja melakukan aktifitas seksual tersebut 75% dirumah orang tuanya ( Soetjiningsih, 2004). Menurut Djuwarno 2001 faktor-faktor pendukung perilaku seks yaitu sebagai berikut : a. Tekanan yang datang dari teman pergaulannya Lingkungan pergaulan yang dimasuki oleh seorang remaja dapat juga berpengaruh untuk menekan temannya yang belum melakukan hubungan seks, bagi remaja tersebut tekanan dari teman-teman yaitu dirasakan lebih kuat dari pada yang didapat dari pasangannya sendiri. b. Adanya tekanan dari pasangan Karena kebutuhan seorang untuk mencintai dan dicintai, seseorang harus rela melakukan apa saja terhadap pasangannya, tanpa memikirkan resiko yang akan dihadapinya. Dalam hal ini yang berperan bukan saja nafsu seksual, melainkan juga sikap memberontak terhadap orang tuanya. Remaja lebih membutuhkan suatu hubungan, penerimaan, rasa aman, dan harga diri selayaknya orang dewasa. c. Adanya kebutuhan badaniah Seks menurut para ahli merupakan kebutuhan dasar yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan seseorang, jadi wajar jika semua orang tidak terkecuali remaja, menginginkan hubungan seks ini, sekalipun akibat

23

dari perbuatannya tersebut tidak sepadan dengan resiko yang akan dihadapinya. d. Rasa penasaran Pada usia remaja keingintahuannya begitu besar terhadap seks, apalagi jika teman-temannya mengatakan bahwa terasa nikmat, ditambah lagi adanya infomasi yang tidak terbatas masuknya maka rasa penasaran tersebut semakin mendorong mereka untuk lebih jauh lagi melakukan berbagai macam percobaan sesuai dengan apa yang diharapkan. e. Pelampiasan diri Faktor ini tidak hanya datang dari diri sendiri misalnya karena terlanjur berbuat, seorang remaja perempuan biasanya berpendapat sudah tidak ada lagi yang dapat dibanggakan dalam dirinya maka dalam pikirannya tersebut ia akan merasa putus asa dan mencari pelampiasan yang akan menjerumuskannya dalam pergaulan bebas. f. Faktor lainnya datang dari lingkungan keluarga. Bagi seorang remaja mungkin aturan yang diterapkan oleh kedua orang tuanya tidak dibuat berdasarkan kepentingan kedua belah pihak (orang tua dan anak), akibatnya remaja tersebut merasa tertekan sehingga ingin membebaskan diri dengan menunjukkan sikap sebagai pemberontak yang salah satunya dalam masalah seks.

24

Kurangnya pemahaman tentang perilaku seksual pada masa remaja sangat merugikan bagi remaja itu sendiri termasuk keluarga, sebap pada masa ini remaja mengalami perkembangan yang penting yakni kognitif, emosi, sosial dan seksual. Perkembangan ini akan berlangsung mulai sekitar 12-20 tahun. Kurangnya pemahaman ini disebabkan berbagai faktor antara lain adat istiadat, budaya, agama dan kurangnya informasi dari sumber yang benar (Soetjiningsih, 2004). Dilaporkan bahwa 80% laki-laki dan 70% perempuan melakukan hubungan seksual selama masa puberitas dan 20% mempunyai empat atau lebih pasangan. Ada sekitar 53% perempuan berumur antara 15-19 tahun melakukan hubungan seksual pada masa remaja. Sedangkan jumlah laki-laki yang melakukan hubungan seksual sebanyak dua kali lipat dari pada perempuan. Laporan ini disampaikan oleh National survey of family growth pada tahun 1998 (Soetjiningsih, 2004). Berdasarkan survey surveilen perilaku yang diadakan oleh pusat

penelitian kesehatan universitas Indonesia (PPK-UI) menunjukan bahwa 2,8% pelajar SMA wanita dan 7% dari pelajar SMA Pria melaporkan adanya gejala-gejala PMS periode satu tahun yang lalu. Pada masa remaja rasa ingin tahu terhadap masalah seksual sangat penting dalam pembentukan hubungan yang lebih matang dengan lawan jenis. Dengan matangnya fungsi-fungsi seksual maka timbul pula dorongan-

25

dorongan dan keinginan-keinginan untuk pemuasan seksual. Sebagian besar dari remaja biasanya sudah mengembangkan perilaku seksualnya dengan lawan jenis dalam bentuk pacaran atau percintaan. Bila ada kesempatan para remaja melakukan sentuhan fisik, mengadakan pertemuan untuk melakukan aktifitas seksual bahkan kadang-kadang remaja tersebut mencari kesempatan untuk melakukan hubungan seksual (Soetjiningsih, 2004). Meskipun fungsi seksual remaja perempuan lebih cepat matang dari pada remaja laki-laki, tetapi pada perkembangannya remaja laki-laki lebih aktif secara seksual dari pada remaja perempuan. Banyak ahli berpendapat hal ini dikarenakan adanya perbedaan sosialisasi seksual antara remaja perempuan dan remaja laki-laki. Remaja masa kini menganggap bahwa ungkapan-ungkapan cinta apapun bentuknya adalah baik sejauh kedua pasangan remaja saling tertarik. Bahkan hubungan seks sebelum menikah dianggap ´benar´ apabila orang-orang yang terlibat saling mencintai ataupun saling terikat. Mereka sering merasionalisasikan tingkah laku seksual mereka dengan mengatakan pada diri mereka sendiri bahwa mereka terhanyut cinta. Sejumlah peneliti menemukan bahwa remaja perempuan, lebih dari pada remaja laki-laki, mengatakan bahwa alasan utama mereka aktif secara seksual adalah karena jatuh cinta (Soetjiningsih, 2004).

26

Perasaan bersalah atau berdosa tidak jarang dialami oleh kelompok remaja yang pernah melakukan onani dalam hidupnya. Hal ini akibat adanya pemahaman tentang ilmu pengetahuan yang dipertentangkan dengan pemahaman agama, yang seharusnya saling menyokong. Pemahaman yang benar tentang seksualitas manusia amat diperlukan khususnya untuk para remaja demi perilaku seksualnya dimasa dewasa sampai mereka menikah dan memiliki anak. Sebagai kelompok remaja mengalami kebingungan untuk memahami tentang apa yang boleh dilakukan dan apa yag tidak boleh dilakukan olehnya, antaralain boleh atau tidaknya untuk melakukan pacaran, melakukan onani, nonton bersama atau ciuman. Ada beberapa kenyatan-kenyataan lain yang cukup membingungkan antara apa saja yang boleh dilakukan atau tidak. Kebingungan ini akan menimbulkan suatu perilaku seksual yang kurang sehat dikalangan remaja (Soetjiningsih, 2004). Menurut Pendidikan Penelitian Kesehatan (2009). Sebuah standar untuk mengukur strategi interpersonal heterogen perilaku dikalangan kaum muda Adolescent Seksual Activity Indeks (ASAI) skala Guttman yaitu

sebagai berikut : 1. Berpelukan (Hugging), 2. Memegang tangan, 3. Menghabiskan waktu berduaan,

27

4. Berciuman (kissing), 5. Bermanja-manjaan (cuddling), 6. Tidur bersama-sama , 7. Membiarkan tangan seseorang dimasukan kedalam pakaianya 8. Memasukkan tangannya kedalam pakaian 9. Melepaskan pakaiannya dan memperlihatkan organ seks 10. Terlibat dalam hubungan badan (intercouse) Tiga (3) item tambahan yaitu sebagai berikut : 11. Frekuensi melakukan hubungan seks selama 30 hari sebelumnya, 12. Jumlah mitra seksual yang berbeda selama 30 hari 13. Jumlah pasangan seks yang berbeda selama 12 bulan.

2.3 Peran pengetahuan Menurut Notoadmodjo (2007), pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagaian besar pengetahuan manusia diperoleh dari mata dan telinga. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang.

28

Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan atau lebih langsung dari pada perilaku yang didasari oleh pengetahuan. Penelitian Rogers dalam Notoatmodjo (2007) mengungkapkan sebelum orang berperilaku baru didalam diri orang tersebut proses yang berurutan : 1. Kesadaran menyadari dalam arti pengetahuan terlebih dahulu terdapat stimulus. 2. Merasa tertarik dimana orang mulai tertarik kepada stimulus. 3. Menimbang-nimbang terhadap baik dan tindakannya stimulus tersebut bagi dirinya. 4. Mencoba dimana orang telah mulai mencoba perilaku baru. 5. Mengadopsi dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikap terhadap stimulus. Kurangnya informasi tentang seksualitas menyebapkan para remaja memasuki usia remaja tanpa pengetahuan yang memadai tentang seks dan selama hubungan pacaran berlangsung pengetahuan tersebut bukan saja tidak bertambah, akan tetapi malah bertambah dengan informasi yang salah. Penyebaran informasi dan rangsangan seksual melalui media massa dengan teknologi canggih (vidio, casstte, satelit palapa dan lain-lain) tidak dapat dibendung lagi.

29

Remaja sedang dalam periode ingin tahu dan ingin mencoba akan meniru apa yang dilihat dan didengar dari media massa, khususnya karena pada umumnya mereka belum pernah mengetahui masalah seks secara lengkap dari orang tuanya. Hal ini disebapkan orang tua masih tabu membicarakan seks dengan anaknya dan hubungan orang tua dengan anak sudah terlanjur jauh sehingga anak berpaling kesumber-sumber lain yang tidak akurat khususnya temanya (Wahyudi, 2000). 2.3.1 Kesehatan Reproduksi Dalam kesehari-harianya kesehatan reproduksi dikenal sebagai ilmu Obstetri, Ginekologi dan kelurga berencana. Obstetri adalah ilmu yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan dan masa nifas. Sedangkan

Ginekologi adalah ilmu mempelajari alat dan fungsi perempuan diluar kehamilan, baik yang fisiologis maupun patologis. Adapun keluarga berencana berkaitan dengan pengaturan kesuburan (Pangkahila, 2005). Mengenai kesehatan reproduksi, ada beberapa konsep mengenai kesehatan reproduksi, namun dalam tulisan ini hanya akan dikemukakan dua batasan saja. Batasan kesehatan reproduksi menurut International

Conference On Population And Development (ICPD) hampir berdekatan dengan batasan ³sehat´ dari WHO. Kesehatan reproduksi menurut ICPD adalah sehat jasmani, atau kecacatan semata, yang berhubungan dengan sistem, fungsi dan proses reproduksi (Notoatmodjo,2007).

30

Program Kesehatan reproduksi pada bidang kesehatan merupakan salah satu pelayanan kesehatan, dengan direspon oleh pemerintah dan dikeluarkanya kebijakan dan strategi nasional program kesehatan reproduksi. Telah disepakati ada empat komponen perioritas kesehatan reproduksi yang disebut paket kesehatan reproduksi esensial (PKRE) yaitu kesehatan ibu dan anak baru lahir, keluarga berencana (KB), Kesehatan reproduksi remaja (KRR), pencegahan dan penangulangan penyakit menular seksual (PMS) termasuk HIV/AIDS (PKBI,1999). Beberapa tahun sebelumnya Rai dan Nassim (1992) mengemukakan definisi kesehatan reproduksi mencakup kondisi dimana wanita dan pria dapat melakukan hubungan seks secara aman, dengan atau tanpa tujuan terjadinya kehamilan dan apabila kehamilan diinginkan, wanita dimungkinkan menjalani kehamilan dengan aman, melahirkan anak yang sehat serta didalam kondisi siap merawat anak yang dilahirkan (Iskandar, 1995). Berdasarkan penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh Yeni di SMA Negeri 14 Jakarta tahun (2006) tentang pengetahuan akan kesehatan reproduksi menunjukan hasil bahwa 92.7% siswa memiliki tingkat

pengetahuan tentang kesehatan reproduksi cukup tinggi dan 7.3% siswa memiliki tingkat pengetahuan tentang kesehatan reproduksi yang rendah (Rohmawati, 2006).

31

Kesehatan reproduksi ada beberapa faktor yang berhubungan dengan status kesehatan reproduksi seseorang yaitu faktor sosial, ekonomi, budaya, perilaku lingkungan yang tidak sehat, dan ada tidaknya fasilitas pelayanan kesehatan yang mampu mengatasi gangguan jasmani dan rohani. Dan tidak adanya akses informasi merupakan faktor tersendiri yang juga

mempengaruhi kesehatan reproduksi. Perilaku seksual merupakan salah satu bentuk perilaku manusia yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi seseorang. Pada pasal 7 rencana kerja ICPD Kairo dicantumkan definisi kesehatan reproduksi menyebabkan lahirnya hak-hak reproduksi. Berdasarkan pasal tersebut hakhak reproduksi didasarkan pada pengakuan akan hak-hak asasi semua pasangan pribadi untuk menentukan secara bebas dan bertangung jawab mengenai jumlah anak, penjarangan anak (birth spacing), menentukan waktu kelahiran anak-anak mereka, mempunyai informasi dan cara untuk memperolehnya, serta hak untuk menentukan standar tertinggi seksual dan reproduksi. Dalam pengertian ini ada jaminan individu untuk memperoleh seks yang sehat disamping reproduksi yang sehat. Sudah barang tentu saja kedua faktor ini akan sangat mempengaruhi tercapainya atau tidak kesehatan reproduksi seseorang, termasuk kesehatan reproduksi remaja

(Notoatmodjo,2007).

32

2.3.2 Pendidikan Seks Pengetahuan remaja tentang seks masih sangat kurang. Faktor ini ditambah dengan informasi keliru yang diperoleh dari sumber yang salah seperti mitos seputar seks, VCD porno, situs porno di internet dan lainnya akan membuat pemahaman dan persepsi anak tentang seks menjadi salah. Pendidikan seks sebenarnya berarti pendidikan seksualitas. ³suatu

pendidikan mengenai seksualitas dalam arti luas,´ tambahnya. Seksualitas meliputi berbagai aspek yang berkaitan dengan seks, yaitu aspek biologik, orientasi, nilai sosiokultur dan moral, serta perilaku. Sesuai dengan kelompok usia berdasarkan perkembangan hidup manusia, maka pendidikan seks dapat dibagi menjadi pendidikan seks untuk anak prasekolah dan sekolah, pendidikan seks untuk remaja, untuk dewasa pranikah serta menikah. Pendidikan seks untuk anak-anak bertujuan agar anak mengerti identitas dirinya dan terlindung dari masalah seksual yang dapat berakibat buruk bagi anak. Pendidikan seks untuk anak prasekolah lebih bersifat pemberian informasi berdasarkan komunikasi yang benar antara orangtua dan anak (PKBI, 1999). 2.3.3 Pendidikan Moral Untuk mencegah dan menanggulangi akibat yang mungkin timbul karena perubahan pandangan dan perilaku seksual remaja,Wimpie mewantiwanti orang tua untuk memperhatikan hal-hal berikut :

33

1. Perhatian dan pengawasan orang tua harus diberikan secara memadai, termasuk dalam hal seksualitas. Tentu mutlak dituntut contoh nyata orang tua dalam hidup sehari-hari. 2. Bekali remaja dengan pengetahuan seksualitas yang benar dan bertanggung jawab. 3. Remaja perlu mendapat pendidikan moral dan agama yang relevan dengan kehidupan mereka. 4. Ingatlah bahwa seksualitas berkembang sejak masa bayi, bahkan di dalam kandungan. Seharusnya perhatian orang tua tentang seksualitas anaknya sudah diberikan sejak dini, tidak hanya setelah remaja. 5. Berikan lingkungan yang bersih dari unsur seksual yang bersifat merangsang dan merugikan remaja. Ini tidak mudah karena banyak faktor dan pihak terlibat. 6. Kegiatan positif perlu disediakan bagi remaja agar mereka terlibat aktif didalamnya, sehingga tidak larut dalam rangsangan seksual yang merugikan. 7. Semua pihak yang terlibat dalam penanganan masalah seksual remaja hendaknya meningkatkan tanggung jawabnya, sehingga usaha yang dilakukan tidak malah mendorong remaja untuk makin berani tenggelam dalam aktifitas seksual yang tidak sehat, yang dapat menimbulkan dampak buruk lebih jauh.

34

8. Bagi remaja yang sudah terbiasa melakukan aktifitas seksual, usahakan agar menghentikan aktifitas yang membangkitkan dorongan seksual sehingga tidak berlanjut menjadi hubungan seksual. 9. Bagi remaja yang sudah terbiasa melakukan hubungan seksual, berupayalah untuk menghentikan. Kalau tidak mampu

menghentikan, cegah agar tidak terjadi kehamilan dan tidak terjadi penularan Penyakit Menular Seksual (PMS). 2.4 Pergaulan Teman Sebaya Teman sebaya adalah orang-orang seumur dan kelompok sosialnya, seperti teman sekolah dan mungkin teman sekerja atau tetangga. Tekanan berarti dorongan atau kekuatan. Jadi jika kata-kata tersebut digabungkan berarti dorongan yang berasal dari orang-orang yang sering di temui. Tekanan sebaya adalah sesuatu yang berat, khususnya jika sudah menyangkut masalah hubungan seks. Beberapa remaja memutuskan untuk melakukan hubungan seks karena teman mereka berpikir dengan melakukan hubungan seks adalah cool. Tekanan lain bisa berasal dari teman kencan kita. Lebih mudah

melakukan hubungan seks dari pada harus menjelaskan mengapa kita tidak mau melakukannya. Remaja terperangkap dalam perasaan romantis dan percaya dengan melakukan hubungan seks adalah jalan terbaik untuk membuktikan cinta mereka (Mercy, 2007).

35

Dalam perkembangan sosial remaja maka remaja mulai memisahkan diri dari orang tua dan mulai memperluas hubungan dengan teman sebayanya. Pada umumnya remaja menjadi anggota kelompok usia sebaya (Peer group). Kelompok sebaya menjadi begitu berarti dan sangat berpengaruh dalam kehidupan sosial remaja. Kelompok sebaya juga merupakan wadah untuk belajar kecakapan sosial, karena melaui kelompok remaja dapat menggambil berbagai peran. Didalam kelompok sebaya, remaja menjadi sangat bergantung kepada teman sebagai sumber

kesenangannya dan keterkaitan dengan teman sebaya begitu kuat. Kecenderungan keterikatan (kohesi) dalam kelompok tersebut akan

bertambah dengan meningkatnya frekuensi interaksi diantara angotaangotanya (Soetjiningsih, 2004 ) Besarnya peran teman sebaya dalam kehidupan sosial remaja mendorong remaja untuk membentuk kelompok-kelompok usia sebaya. Kelompok tersebut bisa merupakan kelompok yang besar karena anggotanya banyak, yang disebut crowd tetapi juga bisa kelompok kecil yang bisa disubut sebagai clique kelompok besar biasanya terdiri dari beberapa clique. Karena jumlah anaknya sedikit, maka clique mempunyai kohesi kelompok yang lebih tinggi. Didalam pembentukanya kelompok juga akan diikuti juga dengan adanya perilaku konformitas kelompok. Dimana remaja akan berusaha untuk

36

dapat menyesuaikan dan menyatu dengan kelompok agar mereka dapat diterima oleh kelompoknya (Soejiningsih, 2004). Dalam kelompok dengan kohesi yang kuat dapat berkembang iklim kelompok dan norma-norma kelompok tertentu. Meskipun norma-norma kelompok bukan norma yang buruk, namun dapat membahayakan

pembentukan identitas diri remaja karena dalam hal ini remaja akan lebih mementingkan perananya sebagi anggota kelompok dari pada

mengembangkan pola norma diri sendiri. Nilai-nilai norma dalam kelompok tersebut, dapat berbeda sekali dengan nilai-nilai yang dibawa remaja dan keluarga, maka hal tersebut tidak akan menimbulkan masalah asalkan remaja betul-betul meyakinkan. Namun apabila terjadi pemaksaan dari nilainilai kelompok sehingga nilai kelompok begitu menguasai dan membatasi kebebasan dalam berperilaku, maka hal tersebut dapat menyulitkan serta menghambat perkembangan keperibadian remaja (Soejiningsih, 2004). Pada awal usia remaja, keterlibatan remaja dalam kelompok sebaya ditandai dengan persahabatan dengan teman, utamanya teman sejenis, hubungan mereka begitu akrab karena melibatkan emosi yang begitu kuat . hubungan dengan teman lawan jenisnya biasanya terjadi dalam kelompok yang lebih besar. Pada usia pertengahan keterlibatan remaja dalam kelompok makin besar. Ditandai dengan terjadinya konfomitas terhadap kelompok.

37

Remaja mulai bergabung dengan kelompok-kelompok minat tertentu seperti olehraga, musik, genk-genk dan kelompok-kelompok lainya. Pada usia remaja juga sudah mulai menjalin hubungan-hubungan khusus dengan lawan jenisnya yang dapat diwujutkan dengan kencan dan berpacaran. Pada akhir usia remaja ikatan dengan kelompok teman sebaya menjadi berkurang dan nilai-nilai dalam kelompok menjadi berkurang begitu penting karena pada umumnya remaja lebih merasa senang dengan nilai-nilai dan identitas dirinya (Soejiningsih, 2004).

2.5 Keluarga (Hubungan dengan Orang tua) Keluarga mempunyai pengaruh yang cukup besar bagi perkembangan remaja karena keluarga merupakan lingkungan sosial pertama, yang meletakan dasar-dasar keperibadian remaja. Selain orang tua, saudara kandung dan posisi anak dalam keluarga juga berpengaruh bagi remaja. Pola asuh orang tua sangat besar pengaruhnya bagi remaja. Pola asuh otoriter, demokratik ataupun permisif memberikan dampak yang berbeda bagi remaja. Orang tua yang menerapkan disiplin yang kaku dan menuntut anak untuk mematuhi aturan-aturanya, membuat remaja menjadi frustasi. Sebaiknya pola asuh yang permisif dimana orang tua memberikan kebebasan kepada anak namun kurang disertai dengan adanya batasanbatasan dalam berperilaku, akan membuat anak mengalami kesulitan dalam

38

mengendalikan keinginan-keinginan maupun dalam berperilaku menunda pemuasan. Pola asuh demokratik yang mengutamakan adanya dialog antara remaja dan orang tua akan lebih menguntungkan. Bagi remaja, karena selain memberikan kebebasan kepada anak juga disertai adanya kontrol dari orang tua sehingga apabila terjadi konflik atau perbedaan pendapat diantara mereka dapat dibicarakan dan diselesaikan bersama-sama (Soetjiningsih, 2004 ) Dinamika dan hubungan-hubungan antara angota dalam keluarga juga memainkan peranan yang cukup penting bagi remaja. Seperti halnya pola asuh. Hubungan tersebut telah membentuk perilaku jauh sebelum usia remaja. Ketika anak memasuki usia remaja dimana sangat membutuhkan kebebasan dan mereka mulai sering meninggalkan rumah, maka orang tua harus dapat melakukan penyesuaian terhadap keadaan tersebut. Remaja membutuhkan dukungan yang berbeda dari masa sebelumnya, karena pada masa ini remaja sedang mencari kebebasan dalam mengekplorasi diri sehingga dengan sendirinya keterkaitan dengan orang tua berkurang. Pengertian dan dukungan orang tua sangat bermanfaat bagi perkembangan remaja. Komunikasi yang terbuka dimana masing-masing anggota keluarga dapat berbicara tanpa adanya perselisihan akan

memberikan kekompakan dalam keluarga sehingga hal tersebut juga akan sangat membantu anak remajanya dalam proses pencairan identitas diri.

39

Keluargapun yang berhak membicarakan masalah seksualitas kepada remajanya. Anggapan sebagian orang tua bahwa membicarakan masalah seks adalah hal yang tabu sebaiknya dihilangkan (Soetjiningsih,2004 ) Anggapan seperti inilah yang menghambat penyampaian pengetahuan seks yang seharusnya sudah didapat semenjak dini. Disamping tabu kemungkinan sebagian besar para orang tua merasa khawatir jika mengetahui lebih banyak masalah seksualitas. Si anak akan semakin penasaran dan keberanianya untuk memperaktekkan seks tersebut.

Pendidikan seks disini dapat membantu para remaja laki-laki dan perempuan untuk mengetahui resiko dari sikap seksual mereka dan mengajarkan

pengambilan keputusan seksual secara dewasa sehingga tidak menimbulkan hal-hal yang merugikan diri sendiri dan orang tuanya. (Soetjiningsih, 2004 ) Pentingnya memberikan pendidikan seks bagi remaja, sudah

seharusnya kita pahami. Karena pada dasarnya remaja merupakan masa transisi, masa terjadi perubahan, baik fisik, emosional, maupun seksual. Hormon seks dalam tubuhnya mulai berfungsi dan siap untuk melakukan tugasnya, yaitu dengan berkembang biak dengan memperbanyak keturunan. Perubahan hormon itu ditandai dengan kematangan seksual. Dorongan tersebut akan semakin liar jika tidak diberi bimbingan yang benar tentang perubahan ini. Akibat dorongan seksual yang meledak-ledak tadi, para remaja biasanya melampiaskan dengan mencari bacaan atau film-film porno,

40

bahkan ada yang sengaja melakukan hubungan seksual dengan perkerja seks komersil atau melakukan maturbasi (Dianawati, 2006). Memberikan pendidikan seks bagi remaja, maksudnya membimbing dan menjelaskan tentang perubahan fungsi organ seksual sebagai tahapan yang harus dilalui dalam kehidupan manusia. Harusnya memasukan ajaran agama dan norma-norma yang berlaku. Cara-cara yang biasa dilakukan yaitu dengan berdiskusi masalah seks yang ingin diketahui oleh sianak. Cara seperti itu akan menghilangkan rasa segan dalam dirinya. Lebih baik pendidikan seks itu didapatkan dari orang tuanya, dari pada sianak mendapatkanya dari pendapat atau khayalan sendiri, teman, buku-buku, atau film-film porno yang kini dijual bebas. Ciri khas dan karakteristik remaja yang cenderung keras kepala dan berani menentang pengarahan orang tua dan gurunya. Dengan mengatas namakan kebebasan mereka berani berdebat dan membantah, sehingga masa remaja dianggap masa yang sulit (Dianawati, 2006). Permasalahan yang dihadapi orang tua yang berkaitan dengan perilaku anak-anak dan remaja bersumber dari hubungan yang keliru. Untuk itu penyelesaian masalah dikalangan remaja separuhnya tergantung dari hubungan antara orang tua dan remajanya. Sikap saling menghormati dan mempercayai merupakan dasar hubungan bagi hubungan yang berdasarkan

41

atas persamaan. Ciri-ciri khas hubungan yang didasari dengan persamaan menurut Dianawati (2006) adalah sebagai berikut : 1. Saling memperhatikan dan memperdulikan. 2. Saling memberi empati. 3. Saling mendengarkan satu sama lain. 4. Adanya rasa ketertarikan untuk ikut berkerjasama, memanfaatkan hak dan kewajiban dalam memecahkan dan menyelesaikan konflik. 5. Lebih menekankan pada asset dari pada melihat kesalahan-kesalahan. 6. Sama-sama satu pemikiran, perasaan dan tidak menyembunyikan atau menanggung beban sendiri. 7. Saling membantu dan menerima satu sama lain karena tidak ada orang yang sempurna.

2.6. Keberadaan Klinik Remaja 2.6.1. Pelayanan Kesehatan Pelayanan kesehatan peduli remaja adalah pelayanan kesehatan yang ditujukan dan dapat dijangkau oleh remaja serta berkesan menyenangkan, menerima remaja dengan tangan terbuka, menghargai, menjaga rahasia, peka akan kebutuhan terkait dengan kesehatan remaja, serta efektif, efesien dan komprehensif dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Pelayanan kesehatan peduli remaja sangat mengandalkan informasi secara intensif. Sistem informasi dapat menjadi sarana strategis

42

untuk memberikan pelayanan yang berorientasi pada kebutuhan remaja terutama bila di lihat dari sisi psikologis. Sistem informasi sendiri adalah suatu cara tertentu untuk menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh organisasi untuk beroperasi dengan cara yang sukses dan untuk organisasi bisnis dengan cara yang menguntungkan. Peran sistem informasi adalah menghasilkan informasi dari data yang diproses oleh sistem informasi. (Sabarguna, 2005). Sistem pelayanan kesehatan berkaitan erat dengan sistem informasi dan mutu. Mutu adalah faktor keputusan mendasar dari konsumen. Tiap orang mempunyai pendapat tentang apa yang dimaksud dengan mutu. Konsep mutu yang berarti bagus, lux atau paling bagus tidaklah sama secara profesional sehingga banyak definisi tentang mutu yang dikemukakan para ahli. Definisi tersebut agak berbeda ± beda namun saling melengkapi, sehingga menambah pengertian dan wawasan tentang mutu. (Wijono, 2000) Aditama (2004) mengatakan bahwa, mutu merupakan kekuatan terpenting yang membuahkan keberhasilan dan kekuatan organisasi. Secara umum kegiatan penentuan mutu meliputi tiga tahap, yaitu : 1. Menetapkan standar 2. Menilai kinerja dan membandingkan dengan standar yang telah ditetapkan

43

3. Memperbaiki kinerja yang menyimpang dari standar. Pelayanan kesehatan juga dapat dinilai dari struktur pelayanan itu sendiri dan bagaimana layanan itu diberikan. Hal ini meliputi ruang lingkup pelayanan, karakteristik pemberi layanan seperti tingkat pendidikan, proses interaksi pemberi dan penerima layanan dan lainnya. (Waller, 2004) Dalam hal penilaian sistem pelayanan kesehatan, Jonas & Rosenberg dalam Wijono (2000), menyatakan bahwa 3 aspek penilaian yaitu : 1. Aspek pendekatan Aspek pendekatan terbagi menjadi dua sudut pandang, yaitu secara umum dan khusus. Secara umum akan menilai kemampuan Puskesmas dan atau petugasnya, membandingkan dengan standar yang ada. Puskesmas dinilai dalam segi bangunan fisiknya,

administrasi orang dan manajernya. Petugasnya dinilai kualifikasi SDM yang tersedia dan kemampuan memberikan pelayanan sesuai standar yang berlaku. Secara khusus akan menilai hubungan / interaksi antara remaja dengan pemberi pelayanan di Puskesmas. 2. Aspek teknik Dari aspek teknik dilakukan penilaian pada 3 komponen, yaitu struktur, proses dan hasil. Komponen struktur menilai keadaan fasilitas yang ada, keadaan bangunan fisik, struktur organisasi, kualifikasi staf

44

Puskesmas dan lainnya. Komponen proses menilai apa yang terjadi antara pemberi pelayanan dengan remaja sedangkan komponen hasil menilai hasil penyelenggaraan pelayanan kesehatan terhadap status kesehatan remaja. 3. Aspek kriteria Yaitu kriteria eksplisit dan implisit. Kriteria eksplisit adalah kriteria yang nyata tertulis sedangkan implisit adalah kriteria yang tidak tertulis, yang ada dalam benak anggota tim penilai. Pelayanan adalah memberikan kebutuhan pelanggan sesuai dengan tuntutan yang diharapkan. Kemampuan memberi pelayanan yang baik adalah kemampuan pemberi ± jasa dalam menguraikan dan

mengidentifikasi

kebutuhan

kebutuhan

pelanggan.

Organisasi

pelayanan kesehatan seperti Puskesmas sesungguhnya lebih pada memberikan pelayanan nonmedis profesional, namun juga memberikan pelayanan umum kepada masyarakat (konsumen). Puskesmas pada hakekatnya adalah salah satu jenis industri, dalam hal ini adalah jasa kesehatan oleh karena itu Puskesmas harus patuh pada kaidah ± kaidah bisnis dengan berbagai peran fungsi manajerial, namun dengan pendekatan yang berbeda karena Puskesmas mempunyai beberapa ciri khas yang membedakannya dari industri lain. Menurut Massie dalam Aditama (2004), tiga ciri khas Puskesmas adalah :

45

1. Bahan baku dari industri jasa kesehatan adalah manusia. Puskesmas seyogianya memiliki tujuan utama untuk melayani kebutuhan manusia, bukan hanya untuk menghasilkan produk dengan proses dan biaya yang seefisien mungkin. Unsur manusia mendapat perhatian dan tanggung jawab menyangkut pertimbangan etika dan nilai kehidupan manusia. 2. Dalam industri Puskesmas yang disebut sebagai pelanggan atau konsumen adalah tidak selalu mereka yang menerima pelayanan dalam hal ini remaja. 3. Pentingnya peran para profesional. Proporsi antara tenaga profesional dan pekerja biasa di Puskesmas, lebih banyak dibanding dengan organisasi lain. Hal ini perlu mendapat perhatian karena akibatnya fungsi manajemen sering dianggap tidak penting disebabkan acuan standar profesi yang dianut. 2.6.2. Sistem pelayanan kesehatan remaja di Puskesmas Sebulu II Adapun sistem penyelenggaraan kesehatan remaja di Puskesmas Sebulu II mempunyai alur yang sama dengan sistem penyelenggaraan pelayanan kesehatan pada umumnya dan cukup dapat dipahami oleh remaja sebagai pengguna akses layanan kesehatan. Bahkan untuk di

mempermudah

pelayanan

kesehatan,

layanan

juga

46

selenggarakan via telepon, pelaksanaan bimbingan, penyuluhan dan konseling ke sekolah-sekolah. Pembentukan penyelenggaraan pelayanan kesehatan remaja

merupakan kegiatan yang terdiri dari berbagai tahapan antara lain : a. Tahap Persiapan, meliputi penyediaan data, advokasi,

sosialisasi,pelatihan bagi petugas yang menangani remaja, persiapan sarana dan prasarana di Puskesmas,dan promosi. b. Pelaksanaan pelayanan, meliputi pemeriksaan kesehatan,

pengobatan, konseling, penyuluhan dan bimbingan. c. Monitoring,yang bertujuan untuk mengetahui apakah ada hambatan dalam pelaksanaan program dan Evaluasi yang bertujuan untuk menentukan kelanjutan dari pelaksanaan program pelayanan. d. Pencatatan dan pelaporan, yang dilakukan oleh petugas pemberi pelayanan pada remaja di Puskesmas dengan cara mencatat, merekapitulasi serta melaporkan pada Dinas

Kesehatan Kabupaten yang selanjutnya di lanjutkan pada Dinas Kesehatan Tingkat provinsi. Kegiatan ini bermanfaat untuk

perolehan data tentang remaja, melakukan perencanaan serta memantau program kesehatan remaja sehingga dapat

dilakukan langkah-langkah perbaikan.

47

2.7. Kerangka Teori Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual menurut PKBI (2009) yaitu sebagai berikut : 1. Pengalaman seksual Makin banyak pengalaman mendengar, melihat, mengalami hubungan seksual makin kuat stimulasi yang dapat mendorong munculnya perilaku seksual misalnya : informasi media massa (film, internet, gambar dan majalah), obrolan dari teman sebaya/pacar tentang pengalaman seks, melihat orang-orang yang tengah berpacaran atau melakukan HUS (hubungan seksual). 2. Faktor-faktor kepribadian. Faktor-faktor harga diri seperti harga diri, kontrol diri, tanggung jawab, tolerance for stress, coping stress, kemampuan membuat keputusan, nilai-nilai yang dimilikinya. Remaja yang memiliki harga diri positif, mampu mengelola dorongan dan kebutuhanya secara adekuat, memiliki penghargaan yang kuat terhadap diri dan orang lain, mampu mempertimbangkan resiko perilaku sebelum mengambil keputusan, mampu meningkatkan diri pada teman sebaya secara sehat

proporsional, cenderung mencari penyaluran dorongan seksualnya secara sehat dan bertangung jawab.

48

3. Pemahaman dan penghayatan nilai-nilai agama Remaja yang memiliki penghayatan yang kuat tentang nilai-nilai tentang keagamaan, integritas yang baik (konsitensi antara nilai sikap dan perilaku) juga cenderung menampilkan perilaku seksual yang selaras dengan nilai-nilai yang diyakininya serta mencari kepuasan dan perilaku yang produktif 4. Peran keluarga dalam menjalankan fungsi kontrol afeksi atau

kehangatan, pemahaman nilai moral dan keterbukaan komunikasi. Keluarga yang mampu berfungsi secara optimal membantu remaja untuk menyalurkan dorongan seksualnya dengan cara yang selaras dengan norma dan nilai yang berlaku serta menyalurkan energi psikis secara produktif. 5. Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi. Remaja yang memiliki pengetahuan secara benar dan

proporsional tentang kesehatan reproduksi cenderung memahami resiko perilaku serta alternatif cara yang dapat digunakan untuk menyalurkan dorongan seksual secara sehat dan bertanggung jawab. Berikut ini kerangka teori Faktor-Faktor yang mempengaruhi perilaku seksual remaja.

49

Gambar 1 . Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku remaja (PKBI, 2009) 1. Pengalaman seksual a. Informasi media massa Faktor-faktor Perilaku seksual remaja b. Pergaulan teman sebaya c. Melihat orang berpacaran 2. Faktor-faktor kepribadian a. Harga diri b. Kontrol diri c. Tanggung jawab d. Kemampuan membuat keputusan e. Tolerance for stress f. Coping strees g. Nilai-nilai toleran yang dimiliki 3. Pemahaman dan penghayatan nilai-nilai agama. 4. Peran keluarga 5. Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful