BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Pembangunan dibidang kesehatan mempunyai arti yang penting dalam kehidupan Nasional, khususnya didalam memelihara dan meningkatkan kesehatan. Untuk mencapai keberhasilan tersebut erat kaitannya dengan pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia sebagai modal dasar pembangunan nasional.

Pengembangan sumber daya manusia merupakan suatu upaya yang besar, sehingga tidak hanya dilakukan oleh pemerintah saja tanpa adanya keterlibatan masyarakat (Handayani, 2010). Menurut Depkes RI Salah satu bentuk upaya pemberdayaan masyarakat dibidang

kesehatan adalah menumbuhkembangkan Posyandu. Program pelayanan kesehatan primer untuk upaya promotif dan preventif diawali dengan terbitnya Deklarasi Alma Ata (1978). Sebagai terjemahan dari Deklarasi Alma Ata, maka dilakukan upaya konkrit di Indonesia, yakni mengembangkan program Posyandu dengan prinsip partisipasi masyarakat, yaitu dari, oleh dan untuk masyarakat. Selama lima tahun, usaha ini telah mencakup 50% desa diseluruh Indonesia, disamping usaha lain seperti : pos penimbangan, pos KB desa, pos kesehatan dan pos vaksinasi. Pos-pos ini mempunyai kelompok sasaran yang sama, yaitu ibu hamil, anak balita dan bayi, sehingga diputuskan untuk mengintegrasikannya.

Kegiatannya dilakukan secara simultan pada tempat dan waktu yang

2

sama. Keterpaduan dari pada pos pelayanan ini dikenal sebagai Posyandu (Depkes RI, 2008). Pos pelayanan terpadu ini merupakan wadah titik temu antara pelayanan profesional dari petugas kesehatan dan peran serta masyarakat dalam menanggulangi masalah kesehatan masyarakat, terutama dalam upaya penurunan angka kematian bayi dan angka kelahiran (Handayani, 2010). Posyandu merupakan wadah untuk mendapatkan pelayanan dasar terutama dalam bidang kesehatan dan keluarga berencana yang dikelola oleh masyarakat,

penyelenggaraanya dilaksanakan oleh kader yang telah dilatih dibidang kesehatan dan KB, dimana anggotanya berasal dari PKK, tokoh masyarakat dan pemudi. (Handayani, 2010). Kegiatan di Posyandu merupakan kegiatan nyata yang melibatkan partisipasi masyarakat dalam upaya pelayanan kesehatan dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat, yang dilaksanakan oleh kader-kader kesehatan yang telah mendapatkan pendidikan dan pelatihan dari Puskesmas mengenai pelayanan kesehatan dasar (Wijono, 2005). Pelayanan petugas kesehatan memegang peranan penting terhadap kunjungan ibu ke posyandu. Dengan pelayanan yang menyenangkan, ramah, dan memberikan informasi serta penyuluhan yang jelas dan mudah dimengerti dari petugas kesehatan, sehingga orang tua sadar untuk datang ke posyandu (Mardiati, 2001).

3

Upaya pengembangan kualitas sumber daya manusia dengan mengoptimalkan potensi tumbuh kembang anak dapat dilaksanakan secara merata, apabila sistem pelayanan kesehatan yang berbasis masyarakat seperti Posyandu dapat dilakukan secara efektif dan efisien dan dapat menjangkau semua sasaran yang membutuhkan layanan tumbuh kembang anak, ibu hamil, ibu menyusui dan ibu nifas. Sebagai salah satu sasaran terpenting balita dapat menjadi indikator untuk mengetahui tingkat pemanfaatan posyandu oleh masyarakat. Mengingat proporsi jumlah balita cukup besar maka hal ini menjadi salah satu perhatian utama pemerintah dengan memantau kegiatan posyandu balita dengan menganalisis hal-hal yang

berhubungan dengan rendahnya kunjungan balita ke Posyandu untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan balita sehingga dapat mendeteksi dini jika ada kelainan atau penyakit yang diderita balita (Depkes RI, 1999). Tingkat pengetahuan ibu merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi orang tua untuk melakukan kunjungan balita ke posyandu, karena tingkat pengetahuan seseorang dapat dijadikan tolok ukur dinamika berpikir dari seseorang, ibu yang memiliki pengetahuan yang baik dengan sendirinya akan mempengaruhi ibu untuk memanfaatkan posyandu (BKKBN, 2002) Sebuah penelitian oleh Tuti Pradianto tentang faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakhadiran ibu balita Dalam Penggunaan

Posyandu di Kecamatan Bogor Barat, Tahun 1989 membuktikan

4

bahwa persepsi ibu tentang perilaku kader merupakan faktor yang memudahkan ibu dalam menimbang anaknya ke Posyandu. Pembuktian yang sama juga dilakukan Ridwan M. Thaha dalam penelitiannya tentang Hubungan Pengetahuan, Sikap dengan Praktek Penggunaan Posyandu Oleh ibu balita di Kota madya ujung Pandang Tahun 1990, Didapati hasil bahwa perilaku petugas kesehatan mampu menerangkan variasi perubahan pada praktek serta mampu mempengaruhi kemungkinan peningkatan pada praktek serta mampu mempengaruhi kemungkinan peningkatan pada praktek

menimbangan anak ke posyandu. Persepsi ibu terhadap kelengkapan posyandu dengan perilaku menimbangkan anak keposyandu

mempunyai hubungan yang bermakna ( Hutagulung. S 1992) . Kunjungan ke posyandu balita juga tidak terlepas dari adanya dukungan suami, hal ini terutama jika akses pelayanan posyandu sulit terjangkau, suami yang tidak memberikan dukungan seperti

mengantarkan istri dan anaknya untuk mengikuti kegiatan posyandu menjadi salah satu penyebab rendahnya kunjungan ke posyandu balita (Gmikro, 2006). Faktor umur balita merupakan suatu hal yang sangat berpengaruh pada kunjungan balita ke posyandu (Djamain, 2002). Banyak ibu-ibu yang tidak lagi membawa balitanya ke posyandu setelah vaksinasi dan imunisasinya lengkap. Ibu merasa tidak perlu datang lagi ke posyandu apalagi hanya untuk menimbang anaknya. Bila anak-anak balita tidak datang lagi ke posyandu ketika berusia 2

5

tahun sampai 3 tahun, maka posyandu tidak lagi mempunyai data akurat tentang status gizi balita di wilayahnya (Gmikro, 2006). Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Propinsi tahun 2009, di Kalimantan Timur terdapat sebanyak 360.289 balita, dimana yang melakukan kunjungan ke posyandu adalah sebanyak 313.451 (87%) balita. Sedangkan untuk Kabupaten Kutai Kartanegara dengan

jumlah balita mencapai 66.130 balita, terdapat 46.257 (82,78%) yang melakukan kunjungan ke posyandu.(Dinkes, 2009). Berdasarkan hasil observasi langsung yang telah di amati tentang pemanfaatan posyandu oleh ibu balita di desa loa ulung

selama ini dari Pengetahuan yang di miliki oleh ibu balita bahwa sebagian besar mereka belum mengetahui manfaat secara

menyeluruh tentang fungsi dari posyandu itu selama ini mereka hanya melakukan imunisasi saja dan setelah anak mereka berumur 1 tahun lebih maka kegiatan kunjungan ke posyandu berangsur-angsur mengalami penurunan dan tidak rutin lagi, hal ini di tunjang dari kapasitas pelayanan yang diberikan kader selama ini kurang maksimal, berdasarkan hasil pengamatan kinerja kader selama ini hanya sebatas pada penimbangan saja kenerja mereka yang kurang bukan tanpa alasan salah satu penyebabnya adalah kurangnya insentif yang mereka dapatkan untuk menjalani profesi sebagai kader posyandu, selain itu dukungan yang kurang dari aparat dan kader desa setempat juga masih dirasa sangat kurang untuk kegiatan posyandu.

6

Dari data yang diperoleh untuk Kecamatan Tenggarong Seberang sendiri dengan jumlah balita sebanyak 3.134 balita dengan jumlah Puskesmas pembantu sebanyak 15 buah yang berada di kecamatan tenggarong seberang. paling rendah Jumlah kunjungan posyandu untuk jumlah

di puskesmas pembantu loa bukit

kunjungan yang terdapat di puskesmas pembantu loa bukit hanya mencapai 1.586 (50,6%) balita kunjungan ini paling rendah

dibandingan dengan kecamatan lainnya yang berada di kabupaten kutai kartanegara. Adapun kunjungan balita ke posyandu untuk Desa loa Ulung dengan jumlah balita sebanyak 204 balita yaitu sebanyak 62 balita (30.4%) sementara itu target kunjungan yang diharapkan oleh Dinas Kesehatan dan juga Puskesmas yaitu 90% (PKM Teluk Dalam, 2009). Berdasarkan penjabaran latar belakang diatas, maka

penelitian ini dilakukan untuk menggambarkan bagaimana perilaku ibu balita dalam Pengetahuan, Dukungan sosial dan Pelayanan kader dalam Pemanfaatan posyandu di wilayah kerja Puskesmas Pembantu Loa Bukit Desa Loa ulung Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun 2011.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah yang akan dikemukan oleh penulis yaitu : “Bagaimana pengetahuan, dukungan sosial dan pelayanan kader

7

posyandu dalam hal pemanfaatan posyandu ibu balita didesa loa ulung kecamatan tenggarong seberang tahun 2011?”

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Untuk mendapatkan informasi tentang pemanfaatan

posyandu oleh ibu balita di puskesmas pembantu loa bukit desa loa ulung kecamatan tenggarong seberang serta memperoleh gambaran secara langsung tentang persepsi ibu balita terhadap pemanfaatan posyandu itu sendiri. 2. Tujuan Khusus a. Untuk menggali informasi tentang Pengetahuan Ibu balita dalam pemanfaatan Posyandu oleh ibu balita di Puskesmas Pembantu loa bukit Desa loa ulung Kecamatan Tenggarong Seberang. b. Untuk menggali informasi tentang dukungan sosial Ibu balita dalam pemanfaatan Posyandu oleh ibu balita di Puskesmas pembantu loa bukit Desa loa ulung Kecamatan Tenggarong Seberang. c. Untuk menggali informasi tentang pelayanan kader posyandu dalam pemanfaatan Posyandu oleh ibu balita di Puskesmas pembantu loa bukit Desa loa ulung Kecamatan Tenggarong Seberang.

8

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Bagi Peneliti Merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi peneliti untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam meneliti serta menggunakan cara berpikir obyektif, kritis dan analitis tentang pemanfaatan posyandu di masyarakat. 2. Bagi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Mulawarman Penelitian ini dapat menjadi refrensi untuk melengkapi kepustakaan yang telah ada selain itu juga bermanfaat bagi rekan mahasiswa yang ingin mempelajari dan yang berminat untuk melakukan penelitian serupa. 3. Bagi Masyarakat Memberikan informasi mengenai pentingnya keberadaan posyandu di tengah lingkungan masyarakat, sehingga

meningkatkan kesadaran ibu-ibu tentang pemanfaatan posyandu secara optimal. .

9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum Tentang Posyandu 1. Pengertian Pengertian Posyandu adalah suatu wadah komunikasi alih teknologi dalam pelayanan kesehatan masyarakat dari Keluarga Berencana dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk

masyarakat dengan dukungan pelayanan serta pembinaan teknis dari petugas kesehatan dan keluarga. berencana yang

mempunyai nilai strategis untuk pengembangan sumber daya manusia sejak dini (Eacang, 2009). Pengertian posyandu adalah sistem pelayanan yang dipadukan antara satu program dengan program lainnya yang merupakan forum komunikasi pelayanan terpadu dan dinamis seperti halnya program KB dengan kesehatan atau berbagai program lainnya yang berkaitan dengan kegiatan masyarakat (BKKBN, 1989). Pos Pelayanan Keluarga Berencana - Kesehatan Terpadu (Posyandu) adalah kegiatan kesehatan dasar yang

diselenggarakan dari, oleh dan untuk masyarakat yang dibantu oleh petugas kesehatan. Jadi, Posyandu merupakan kegiatan swadaya dari masyarakat di bidang kesehatan dengan

penanggung jawab kepala desa. A.A. Gde Muninjaya (2002) mengatakan : ”Pelayanan kesehatan terpadu (yandu) adalah

10

suatu

bentuk di

keterpaduan suatu

pelayanan kerja

kesehatan

yang Tempat

dilaksanakan

wilayah

Puskesmas.

pelaksanaan pelayanan program terpadu di balai dusun, balai kelurahan, RW, dan sebagainya disebut dengan Pos pelayanan terpadu (Posyandu)”. Konsep Posyandu berkaitan erat dengan keterpaduan. Keterpaduan yang dimaksud meliputi keterpaduan dalam aspek sasaran, aspek lokasi kegiatan, aspek petugas penyelenggara, aspek dana dan lain sebagainya. (Depkes RI, 1990). Pelayanan yang diberikan di posyandu bersifat terpadu , hal ini bertujuan untuk memberikan kemudahan dan keuntungan bagi masyarakat karena di posyandu tersebut masyarakat dapat memperolah pelayanan lengkap pada waktu dan tempat yang sama (Depkes RI, 1990). Posyandu dipandang sangat bermanfaat bagi masyarakat namun keberadaannya di masyarakat kurang berjalan dengan baik, oleh karena posyandu. itu pemerintah mengadakan revitalisasi posyandu merupakan upaya

Revitalisasi

pemberdayaan posyandu untuk mengurangi dampak dari krisis ekonomi terhadap penurunan status gizi dan kesehatan ibu dan anak. Kegiatan ini juga bertujuan dalam untuk meningkatkan upaya

pemberdayaan

masyarakat

menunjang

mempertahankan dan meningkatkan status gizi serta kesehatan

11

ibu dan anak melalui peningkatan kemampuan kader, manajemen dan fungsi posyandu (Depdagri, 1999). 2. Tujuan Penyelenggaraan Posyandu Adapun tujuan dari diselenggarakannya posyandu yaitu antara lain (Eacang, 2009) : a. Menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Ibu (ibu Hamil, melahirkan dan nifas) b. Membudayakan NKKBS. c. Meningkatkan peran serta dan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan kesehatan dan KB Berta kegiatan lainnya yang menunjang untuk tercapainya masyarakat sehat sejahtera. d. Berfungsi sebagai Wahana Gerakan Reproduksi Keluarga Sejahtera, Gerakan Ketahanan Keluarga dan Gerakan

Ekonomi Keluarga Sejahtera. 3. Jenis Posyandu Untuk meningkatkan kualitas dan kemandirian posyandu diperlukan intervensi sebagai berikut (Eacang, 2009): a. Posyandu pratama (warna merah) Posyandu tingkat pratama adalah posyandu yang masih belum mantap, kegiatannya belum bisa rutin tiap bulan dan kader aktifnya terbatas. Keadaan ini dinilai ‘gawat’ sehingga intervensinya adalah pelatihan kader ulang. Artinya

12

kader yang ada perlu ditambah dan dilakukan pelatihan dasar lagi. b. Posyandu madya (warna kuning) Posyandu pada tingkat madya sudah dapat

melaksanakan kegiatan lebih dari 8 kali per tahun dengan rata-rata jumlah kader tugas 5 orang atau lebih. Akan tetapi cakupan program utamanya (KB, KIA, Gizi, dan Imunisasi) masih rendah yaitu kurang dari 50%. Ini berarti, kelestarian posyandu sudah baik tetapi masih rendah cakupannya. Intervensi untuk posyandu madya ada 2 yaitu : 1) Pelatihan Toma dengan modul eskalasi posyandu yang sekarang sudah dilengkapi dengan metoda simulasi. 2) Penggarapan dengan pendekatan PKMD (SMD dan MMD) untuk menentukan termasuk masalah dan mencari program

penyelesaiannya,

menentukan

tambahan yang sesuai dengan situasi dan kondisi setempat. c. Posyandu purnama (warna hijau) Posyandu pada tingkat purnama adalah posyandu yang frekuensinya lebih dari 8 kali per tahun, rata-rata jumlah kader tugas 5 orang atau lebih, dan cakupan 5 program utamanya (KB, KIA, Gizi dan Imunisasi) lebih dari 50%. Sudah ada program tambahan, bahkan mungkin sudah ada Dana Sehat

13

yang masih sederhana. Intervensi pada posyandu di tingkat ini adalah : 1) Penggarapan mengarahkan dengan pendekatan PKMD untuk sendiri

masyarakat

menetukan

pengembangan program di posyandu 2) Pelatihan Dana Sehat, agar di desa tersebut dapat tumbuh Dana Sehat yang kuat dengan cakupan anggota minimal 50% KK atau lebih. d. Posyandu mandiri (warna biru) Posyandu ini berarti sudah dapat melakukan kegiatan secara teratur, cakupan 5 program utama sudah bagus, ada program tambahan dan Dana Sehat telah menjangkau lebih dari 50% KK. Intervensinya adalah pembinaan Dana Sehat, yaitu diarahkan agar Dana Sehat tersebut menggunakan prinsip JPKM. 4. Pelaksanaan Kegiatan Posyandu a. Posyandu mempunyai kegiatan pokok yaitu antara lain (Eacang, 2009): 1) KIA (Kesehatan Ibu dan Anak). 2) KB (Keluarga Berencana) 3) Imunisasi 4) Gizi, dan 5) Penanggulangan Diare

14

b. Pelaksanaan Posyandu Posyandu dilaksanakan sebulan sekali yang ditentukan oleh LKMD, Kader, Tim Penggerak PKK Desa/Kelurahan serta petugas kesehatan dari KB. Pada hari buka Posyandu dilakukan pelayanan masyarakat dengan sistem 5 (lima) meja yaitu : 1) Meja I : Pendaftaran. 2) Meja II : Penimbangan 3) Meja III : Pengisian KMS 4) Meja IV : Penyuluhan perorangan berdasarkan KMS. 5) Meja V : Pelayanan KB Kes : a) Imunisasi b) Pemberian vitamin A Dosis Tinggi berupa obat c) tetes ke mulut tiap Februari dan Agustus. d) Pembagian pil atau kondom e) Pengobatan ringan. f) Kosultasi KB-Kes. Petugas pada Meja I s/d IV dilaksanakan oleh kader PKK sedangkan Meja V merupakan meja pelayanan

paramedis (Jurim, Bindes, perawat dan petugas KB). c. Sasaran Posyandu 1) Bayi/Balita. 2) Ibu hamil/ibu menyusui. 3) WUS dan PUS.

15

Peserta Posyandu mendapat pelayanan meliputi : 1) Kesehatan ibu dan anak : a) Pemberian pil tambah darah (ibu hamil) b) Pemberian vitamin A dosis tinggi ( bulan vitamin A pada bulan Februari dan Agustus) c) PMT d) lmunisasi. e) Penimbangan balita rutin perbulan sebagai pemantau kesehatan balita melalui pertambahan berat badan setiap bulan. Keberhasilan program terlihat melalui grafik pada kartu KMS setiap bulan. 2) Keluarga berencana, pembagian Pil KB dan Kondom. 3) Pemberian Oralit dan pengobatan. 4) Penyuluhan kesehatan lingkungan dan penyuluhan

pribadi sesuai permasalahan dilaksanakan oleh kader PKK melalui meja IV dengan materi dasar dari KMS alita dan ibu hamil. Keberhasilan Posyandu tergambar melalui cakupan SKDN S : Semua baita diwilayah kerja Posyandu. K : Semua balita yang memiliki KMS. D : Balita yang ditimbang. N : Balita yang naik berat badannya.

16

B. Tinjauan Umum Tentang Perilaku 1. Pengertian Perilaku (manusia) adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar. Perilaku manusia (individu) pada dasarnya merupakan fungsi interaksi antara manusia dan

lingkungan. Interaksi ini melibatkan kepribadian manusia yang kompleks dengan lingkungan yang memiliki tatanan tertentu. Perbedaan-perbedaan kepribadian manusia dan lingkungan yang di hadapinya menimbulkan perilaku manusia (individu) yang berbedabeda (Soekidjo, 2003). Namun secara lebih operasional perilaku dapat diartikan sebagai suatu respaon organism (seseorang) terhadap

rangsangan(stimulasi) dari luar subyek tersebut. Respon ini berbentuk 2 macam yakni bentuk pasif atau respon internal yang terjadi di dalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat dilihat dari orang lain misalnya berpikir, tanggapan atau sikap dan pengetahuan dan bentuk aktif yaitu apabila, perilaku itu jelas dapat di observasi secara langsung (Notoatmodjo, 1993). Skiner (1938) seorang ahli psikologi, merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsanagan dari luar). Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus, maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua, yakni :

17

1. Perilaku tertutup (covert behavior) Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk

terselubung atau tertutup (covert). Respons atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi,

pengetahuan/kesdaran, dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain. 2. Perilaku terbuka (overt behavior) Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk

tindakan nyata atau terbuka. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktik (practice), yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain. Menurut Lawrence Green dalam Notoatmodjo (2007) mengemukakan bahwa perilaku kesehatan di pengaruhi oleh 3 faktor, yaitu : a. Faktor predisposisi (Predisposing Factor), yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan dan nilai-nilai dari seseorang. b. Factor pendukung (Enabling Factor), yang terwujud dalam lingkungan fisik (tersedia atau tidaknya fasilitas kesehatan) c. Faktor pendorong (Reinforcing factor), yang terwujud dalam sikap dari petugas kesehatan atau petugas lain yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat.

18

Menurut WHO (1998) menyebutkan adanya empat penyebab manusia melakukan sesuatu, yakni : a. Pikiran dan perasaan yang di bentuk oleh pengetahuan, keyakinan, sikap dan nilai. b. Pengetahuan yang dating dari pengalaman-pengalaman yang tepat, diperoleh melalui informasi yang diberikan oleh guru, orang tua, kelompok sebaya, buku dan media massa. c. Keyakinan yang diturunkan dari orang tua, kakak atau dari orang yang dihormati, manusia menerima keyakinan tanpa membuktikan hal tersebut benar atau salah. d. Sikap yang merefleksikan kesukaan dan ketidaksukaan serta dapat dating dari pengalaman, kadang-kadang situasi dengan sikapnya, walaupun dalam hal ini sikapnya juga tidak berubah. Jadi, perilaku adalah suatu pengorganisasian proses-proses psikologis oleh seseorang yang memberikan predisposisi untuk melakukan respon menurut cara tertentu terhadap suatu obyek.

C. Tinjauan Umum Tentang Pengetahuan 1. Pengertian Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba.

19

Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Soekidjo, 2003). Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (over behavior). Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa prilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih bertahan daripada prilaku yang tidak didasari pengetahuan. Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi prilaku baru, didalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, mulai dari awareness (kesadaran), interest (perhatian), evaluation (penilaian), trial (mencoba), dan adopsi. Namun demikian penelitian lebih lanjut menyimpulkan bahwa perubahan prilaku

tidak selalu melewati tahap-tahap itu karena dengan didasari oleh pengetahuan, kesadaran, dan sikap positif maka prilaku akan lebih bisa bertahan (Soekidjo, 2003). 2. Tingkat Pengetahuan di Dalam Domain Kognitif Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif

mempunyai 6 tingkatan yaitu antara lain (Soekidjo, 2003): a. Tahu (know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recal) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat

20

pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan, dan sebagainya. Contoh: dapat menyebutkan tanda-tanda kekurangan kalori dan protein pada anak balita. b. Memahami (comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. Misalnya dapat menjelaskan mengapa harus makan makanan yang bergizi. c. Aplikasi (aplication) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk

menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. Misalnya dapat menggunakan rumus statistik dalam perhitungan-perhitungan hasil penelitian, dalam menggunakan prinsip-prinsip siklus pemecahan masalah (problem solving

21

cyclel) di dalam pemecahan masalah kesehatan dari kasus yang diberikan. d. Analisis (analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kat akerja, bagan), seperti dapat

menggambarkan

(membuat

membedakan,

memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya. e. Sintesis (synthesis) Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya, dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkaskan, dapat menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada. f. Evaluasi (evaluation) Evaluasi iniberkaitan dengan kemampuan untuk

melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-

22

kriteria yang telah ada. Misalnya, dapat membandingkan antara anak yang cukup gizi dengan anak yang kekurangan gizi, dapat menanggapi terjadinya diare disuatu tempat, dapat menafsirkan sebab-sebab ibu-ibu tidak mau ikut KB, dan sebagainya. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan

wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalam pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan diatas.

D. Tinjauan Umum Tentang Dukungan Sosial Pada masa sekarang seorang wanita berkarier sudah

merupakan suatu hal yang biasa. Sesuai dengan tuntutan jaman, wanita berkarier tidak semata-mata untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, tetapi juga untuk aktualisasi diri. Seorang wanita ingin lebih maju, sehingga ruang geraknya tidak lagi terbatas pada urusan rumah tangga, tetapi mulai masuk ke wilayah yang lebih luas. Dalam hal ini, dukungan suami merupakan faktor yang penting bagi wanita dalam berkarier. Kurangnya dukungan suami membuat peran wanita karier tidak optimal, karena terlalu banyak yang masih harus dikerjakan sementara dirinya juga merasa lelah sesudah bekerja.

23

Berkenaan dengan dukungan sosial suami tersebut dapat dijelaskan berdasarkan teori dukungan sosial dari Gottlieb (1983) bahwa dukungan sosial adalah informasi verbal dan non verbal, saran, bantuan yang nyata yang diberikan oleh orang-orang yang akrab dengan subyek atau berupa kehadiran dan hal-hal yang dapat memberikan keuntungan emosional atau berpengaruh pada tingkah laku penerimanya. Dukungan sosial tersebut dapat berasal dari keluarga, teman, dan atasan. Mengacu pada pendapat Kuntjoro (2002) bentuk-bentuk dukungan suami yang dapat diberikan pada istri adalah adanya kedekatan emosional, suami mengijinkan istri terlibat dalam suatu kelompok yang memungkinkannya untuk berbagi minat, perhatian, suami mengahargai atas kemampuan dan keahlian istri, suami dapat diandalkan ketika istri membutuhkan bantuan, dan suami merupakan tempat bergantung untuk menyelesaikan masalah istri. Dengan adanya dukungan suami, tugas yang tadinya terasa berat menjadi lebih ringan dan membahagiakan. Sebaliknya, jika suami istri dalam sebuah perkawinan tidak mampu menjalin kerjasama, maka hal itu akan menyebabkan kesulitan dalam mengatasi permasalahan hidup yang lebih kompleks di kemudian hari. Sarason (1983) dalam Kuntjoro mengatakan bahwa dukungan sosial adalah keberadaan, kesediaan, kepedulian dari orang-orang yang dapat diandalkan, menghargai dan menyayangi kita. Sarason berpendapat bahwa dukungan sosial itu selalu mencakup dua hal yaitu

24

a. Jumlah sumber dukungan sosial yang tersedia, merupakan persepsi individu terhadap sejumlah orang yang dapat diandalkan saat individu membutuhkan bantuan (pendekatan berdasarkan kuantitas) b. Tingkatan kepuasan akan dukungan sosial yang diterima, berkaitan dengan persepsi individu bahwa kebutuhannya akan terpenuhi (pendekatan berdasarkan kualitas). Hal di atas penting dipahami oleh individu yang ingin memberikan dukungan sosial karena menyangkut persepsi tentang keberadaan (availability) dan ketepatan (adequancy) dukungan sosial bagi seseorang. Dukungan sosial bukan sekedar pemberian bantuan, tetapi yang penting adalah bagaimana persepsi si penerima terhadap makna dari bantuan tersebut. Hal itu erat hubungannya dengan ketepatan dukungan sosial yang diberikan dalam arti bahwa orang yang menerima sangat merasakan manfaat bantuan bagi dirinya karena sesuatu yang aktual dan memberikan kepuasan. Sarafino (1998:97) mengatakan bahwa dukungan sosial adalah kenyamanan, perhatian, penghargaan atau bantuan yang diperoleh individu dari orang lain, dimana orang lain disini dapat diartikan sebagai individu perorangan atau kelompok. Hal tersebut menunjukkan bahwa segala sesuatu yang ada di lingkungan menjadi dukungan sosial atau tidak, tergantung pada sejauh mana individu merasakan hal tersebut sebagai dukungan sosial. Dukungan sosial didefinisikan oleh House dalam Smet (1994:136) sebagai transaksi

25

interpersonal yang melibatkan satu atau lebih aspekaspek yang terdiri dari informasi, perhatian emosional, penilaian dan bantuan

instrumental. Tersedianya dukungan sosial akan membuat individu merasa dicintai, diperhatikan, dihargai dan menjadi bagian kelompok. Menurut Effendi dan Tjahjono (1999:218) dukungan sosial kepada individu lain dan bantuan itu diperoleh dari orang yang berarti bagi individu yang bersangkutan. Dukungan sosial berperan penting dalam memelihara keadaan psikologis individu yang mengalami tekanan sehingga menimbulkan pengaruh positif yang dapat

mengurangi gangguan psikologis. Selain itu dukungan sosial dapat dijadikan pelindung untuk melawan perubahan peristiwa kehidupan yang berpotensi penuh dengan stres, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis karena adanya perhatian dan pengertian akan menimbulkan perasaan memiliki, meningkatkan harga diri dan kejelasan identitas diri serta memiliki perasaan positif mengenai diri sendiri. Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial merupakan hubungan interpersonal yang di dalamnya berisi

pemberian bantuan yang melibatkan aspek-aspek yang terdiri dari informasi, perhatian emosi, penilaian dan bantuan instrumental yang diperoleh individu melalui interaksi dengan lingkungan, dimana hal itu memiliki manfaat emosional atau efek perilaku bagi penerima, sehingga dapat membantu individu dalam mengatasi masalahnya.

26

E. Tinjauan Umum Kader Kesehatan 1. Pengertian Kader Pelayanan petugas kesehatan memegang peranan penting terhadap kunjungan ibu ke posyandu. Dengan pelayanan yang menyenangkan, ramah, dan memberikan informasi serta

penyuluhan yang jelas dan mudah dimengerti dari petugas kesehatan, sehingga orang tua sadar untuk datang ke posyandu (Mardiati, 2001). Kader kesehatan adalah tenaga kesehatan yang terdidik dan terlatih dalam bidang tertentu yang tumb uh di tengah-tengah masyarakat dan merasa berkewajiban untuk melaksanakan

meningkatan dan membina kesejahtraan dengan rasa ikhlas tanpa pamrih dan didasarkan panggilan jiwa untuk melaksanakan tugastugas kemanusiaan (Depkes, RI 2000) Menurut kramastuti (2004), kader dipilih secara teori oleh, dan untuk masyarakat. Tetapi kadang-kadang kenyataannya dipilih oleh pamong atau aparat desa, adapun kreteria untuk menjadi kader yaitu : a. Bisa membaca, menulis b. Wanita atau pria c. Berdomisili tetap dikelurahan setempat d. Mau dan mampu bekerja secara sukarela untuk

kepentingan untuk masyarakat

27

e. Mempunyai cukup waktu untuk bekerja bagi masyarakat disamping usahanya mencari nafkah 2. Tugas kader kesehatan Menurut Depkes RI (2000) tugas kader kesehatan meliputi : a. Tugas kader dalam posyandu Kegiatan yang dapat dilakukan kader dalam pelayanan posyandu meliputi 5 meja diantaranya. 1) Meja 1 mendaftar bayi atau balita dengan menuliskan nama balita pada KMS dalam secarik kertas yang diselipkan pada KMS, mendaftarkan ibu hamil yang menuliskan nama ibu hamil pada formulir atau lembar registrasi ibu hamil dan wanita usia subur (WUS) 2) Meja 2 penimbangan bayi atau balita, mencatat hasil penimbangan pada secarik kertas yang dipindahkan ke KMS, penimbangan ibu hamil 3) Meja 3 pengisian KMS dan memindahkan catatan hasil penimbagan balita dari secarik kertas di dalam KMS anak tersebut 4) Meja 4 terdiri dari beberapa kegiatan yaitu : a) Menjelaskan data KMS atau keadaan anak yang digambarkan berdasarkan data kenaikan berat badan yang digambarkan dalam grafik KMS kepada ibu dari anak yang bersangkutan.

28

b) Memberikan penyuluhan kepada ibu dengan mengacu pada data KMS anaknya atau dari hasil pengamatan yang di alami sasaran c) Memberikan rujukan kepada balita apabila

diperlukan untuk balita, ibu hamil dan menyusui dengan langkah yaitu dimana balita yang apabila berat badan dibawah garis merah (BGM) pada KMS dua kali berturut-turut berat badannya tidak naik , kelihatan sakit, lesu dan kurus, busung lapar ibu hamil dan menyusui apabila keadaannya kurus, pucat adanya bengkak pada kaki, pusing perdarahan, sesak nafas, gondokan dan orang sakit. d) Memberikan pelayanan gizi dan kesehatan dasar oleh kader posyandu misalnya dalam pemberian pil tambahan darah (pil bezi), vitamin A, dan oralit. 5) Meja 5 merupakan pelayanan sektor yang biasanya dilakukan oleh petugas kesehatan, pusat layanan keluarga berencana (PLKB), pusat program layanan (PPL) pelayanan yang diberiakan yaitu pelayanan KB berupa IUD dan suntikan pemerikasaan kesehatan dan pengobatan, pemberian tablet zat besi (fe) serta vitamin A.

29

b. Tugas kader diluar kegiatan Posyandu Kegiatan yang dilakukan kader diluar kegiatan pelayanan posyandu meliputi : 1) Kegitan yang menunjang pelayanan KB, KIA, Gizi, imunisasi dan penanggulangan diare. 2) Kegiatan yang menunjang upaya kesehatan lainnya sesuai dengan permasalahan yang ada seperti : a) Pemberantasan Penyakit menular b) Penyehatan rumah c) Pembersihan sarang nyamuk d) Pembuangan sampah e) Penyedian sarana air bersih f) Penyedian sarana jamban keluarga g) Pembuatan sarana pembuangan air limbah h) Pemberian pertolongan pada penyakit i) Pemberian pertolongan pertama pada kecelakaan j) Dana sehat k) Kegiatan pembangunan lainnya yang berkaitan dengan kesehatan.

30

3. Peran kader Posyandu Menurut Dekpes RI (1998), peranan kader diluar jadwal kegiatan pelayanan posyandu : a. Merencanakan kegiatan Dalam merencanakan kegiatan yang dapat dilakukan kader adalah : 1) Menyiapkan dan melaksanakan survey mawas diri bersama petugas kesehatan misalnya merencanakan bebrapa balita yang harus didatangi dirumahnya 2) Membahas hasil survey mawas diri bersama petugas puskesmas 3) Menyajikan hasil survey mawas diri dalam musyawarah masyarakat desa (MMD) 4) Menentukan masalah dan kebutuhan kesehatan masyarakat pada musyawarah masyarakat desa (MMD) 5) Menentukan kegiatan penanggulangan masalah kesehatan bersama masyarakat 6) Bersama masyarakat membahas pembagian tugas

(Pengorganisasian) dan membuat jadwal kerja dan sumber dananya b. Melakukan komunikasi, informasi, dan motivasi (KIM) KIM adalah suatu rangkaian kegiatan yang terdiri dari 3 fase dimana fase pertama adalah memperkenalkan diri, membuat hubungan dan memperkenalkan masalah, lalu disusul dengan

31

penjelasan

fase

akhir,

mendorong

membina masyarakat

sehingga masyarakat mau melaksanakan cara hidup sehat. Cara melakukan KIM adalah : 1) Tatap muka a) Perorangan pada pengunjungan kerumah warga b) Pada kelompok pengajian, kelompok arisan atau pada pertemuan lainnya. c) Cara yang digunakan dalam tatap muka adalah tanya jawab, diskusi, ceramah dan demontrasi 2) Alat dan media Alat yang digunakan dalam KIM adalah pengeras suara, selebaran, poster, dengan memasang poster pada tempat yang mudah dan banyak dikunjungi masyarakat, berarti isi pesan telah meluas. c. Menggerakan masyarakat Menggerakan masyarakat adalah usaha yang dilakukan agar masyarakat mau berperan serta nyata dengan

memberikan tenaga, dana dan sarana yang ada guna keberasilan kegiatan. Hal-hal yang dapat dilakukan oleh kader dalam penggerakan masyarakat adalah : 1) Membicarakan bersama masyarakat mengenai masalah yang ada

32

2) Memberiakn informasi mengenai kegiatan

dan mengadakan kesepakatan apa yang dilakukan untuk

menanggulangi masalah. 3) Mendorong masyarakat untuk megumpulkan dana

secara gotong royong. 4) Membagi tugas kegiatan di masyarakat. 5) Menentukan jadwal kerja. 6) Menjelang kegiatan kepada yang kembali akan kepada dilaksanakan, masyarakat

mengingatkan

kembali tentang kegiatan-kegiatan yang harus mereka lakukan sesuai kesepakatan bersama.

4. Hasil Penelitian Yang Relevan Pada hasil penelitian yang dilakukan oleh I. G Widiastuti di Kota denpasar Bali (2006) tentang pemanfaatan pelayanan posyandu di kota denpasar dari data kualitatif yang diperoleh tentang peran ibu balita sebagaian besar mengatakan bahwa Peran ibu balita dalam kegiatan posyandu dinilai kader masih rendah. Ibu balita yang tidak mau datang ke posyandu karena tidak mengetahui manfaat posyandu. Tujuan ibu balita berkunjung ke posyandu untuk memantau perkembangan balitanya dan mendapatkan makanan tambahan serta dapat berkumpul dengan ibu balita yang lain. Dari sisi lain tentang Peran kader menjadi kader di setiap posyandu sangat bervariasi Sebagian posyandu memiliki kader yang bermotivasi tinggi dan

33

sebagian lagi kurang motivasinya. Menurut petugas kesehatan tidak semua kader menyadari perannya hanya sekitar 60 % saja yang menyadari pekerjaan kader. Kurangnya pelayanan petugas kesehatan dapat dilihat dari kemunduran kegiatan posyandu, seperti penyuluhan kesehatan, kunjungan rumah, sedangkan kegiatan yang masih berjalan hanya terbatas pada penimbangan balita, pengisian KMS, imunisasi, serta pemberian makanan tambahan (Gmikro, 2006).

5. Kerangka Teori Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan dengan teori model Anderson (1974), menurut model ini keputusan untuk menggunakan pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh : 1. Komponen Predisposisi (Pendorong) Seseorang untuk menggunakan pelayanan kesehatan. Komponen ini disebut predisposing karena faktot-faktor pada komponen ini menggambarkan karakteristik perorangan yang sudah ada sebelum seseorang ini memanfaatkan pelayanan kesehatan. Komponen ini menjadi dasar atau motivasi seseorang untuk berperilaku dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan. Anderson membagi komponen predisposing ini

berdasarkan karakteristik pasien kedalam tiga bagian meliputi ciri demografi, struktur sosial, keyakinan terhadap pelayanan kesehatan (Health beliefs).

34

2. Komponen Enabling atau kemampuan seseorang untuk menggunakan pelayanan kesehatan. Faktor biaya dan jarak pelayanan kesehatan dengan rumah berpengaruh terhadap perilaku penggunaan atau pemanfaatan pelayanan kesehatan. Menurut Anderson, et all 1975 dalam Greenley (1980) yang menyatakan bahwa jarak merupakan komponen kedua yang memungkinkan seseorang untuk memanfaatkan pelayanan pengobatan. 3. Komponen need atau kebutuhan seseorang akan pelayanan kesehatan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan Anderson tahun 1964 pada 2.367 keluarga tentang

penggunaan pelayanan kesehatan, ternyata faktor kebutuhan berperan lebih besar (20%) dimana persepsi terhadap penyakit yang diukur. Anderson dan sheatsley (1967) menemukan (79 %) orang yang mengalami sakit tidak mencari pengobatan dengan alasan bahwa gejala penyakit tersebut tidak berbahaya sehingga mereka tidak membutuhkan

pelayana kesehatan (Greenley, 1980) . Jadi kesimpulannya pendekatan dengan teori Anderson (1974) Anderson menggambarkan ada 3 katagori utama yang

berpangaruh terhadap perilaku pencarian / pemanfaatan pelayanan kesehatan yaitu predisposing characteristic atau karakteristik predisposisi, enabling characteristic atau karakteristik pendukung dan Need characteristic atau karakteristik kebutuhan. Karakteristik

35

predisposi dapat menggambarkan fakta bahwa setiap individu mempunyai kesehatan kecendrungan yang untuk menggunakan pelayanan adanya

berbeda-beda

disebabkan

karena

perbedaan ciri-ciri individu seperti umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan,ras, dan keyakinan individu. Penelitian ini menggali secara mendalam fenomena perilaku ibu balita dalam pemanfaatan posyandu oleh ibu balita di

Puskesmas Loa bukit Desa Loa lung Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara tahun 2011. Seperti yang telah diuraikan diatas bahwa banyak faktor yang dapat

mempengaruhi perilaku ibu dalam memanfaatkan pelayanan posyandu, namun karena peneliti menduga ada bebarapa faktor yang paling dominan dan juga karena keterbatasan waktu, maka penelitian ini hanya dibatasi pada beberapa factor/variabel penelitian saja. Berikut kerangka Teori Anderson ( 1974)
Karakteristik Predisposisi Jenis kelamin Umur Pendidikan Pekerjaan Suku / ras Manfaat – manfaat kesehatan Karakteristik Pendukung : Sumber daya keluarga dan sumber daya masyarakat Karakteristik Kebutuhan : Kebutuhan yang dirasakan individu terhadap pelayanan kesehatan

Pemanfaatan Pelayanan Posyandu

36

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini dengan menggunakan rancangan kulitatif yakni gambaran dan memperoleh informasi dengan melakukan wawancara mendalam (indept interview), tentang pemanfaatan

posyandu di Puskesmas

loa bukit Desa loa ulung Kecamatan

Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai kartanegara. Dari kejadian tentang definisi-defisini penelitian kualitatif, maka dapat disimpulkan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tantang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain sebagainya. (Moleong, 2006)

B. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di rumah informan penelitian yang berada pada Posyandu di Desa loa ulung Kecamatan Tenggarong seberang dan waktu penelitian dilakukan pada bulan April hingga Mei tahun 2011. C. Sumber Data 1. Data Primer, meliputi : a. Informan Dalam penelitian ini informan dibagi menjadi dua yaitu :

37

1. Informan Utama Data primer didapat dari informan melalui

wawancara mendalam dengan ibu-ibu yang memiliki balita dan masih memanfaatkan posyandu. 2. Informan Pendukung Informan Pendukung yakni Tokoh masyarakat dan kader posyandu yang dapat memberikan keterangan data yang diinginkan. Dalam penelitian ini, peneliti akan mengkaji informasi dari informan berdasarkan pada kejenuhan atau pengulangan data. b. Teknik Penentuan Informan Penentuan informan dalam peneltian ini dengan cara purposive sampling dengan pendekatan snowball sampling. Pengambilan sampel atau dalam penelitian kualitatif, disebut narasumber atau informan berdasarkan pertimbangan

tertentu, misalnya orang tersebut dianggap paling mengetahui atau pada saat memasuki lapangan dipilih orang yang memiliki power dan otoritas pada situasi atau objek yang akan diteliti sehingga “mampu membuka pintu” kemana saja peneliti akan melakukan pengumpulan data (Sugiono, 2008). Sampel sumber data atau sebagai informan sebaiknya yang

memenuhi kriteria sebagai berikut : 1. Ibu yang memiliki anak bayi atau balita 2. Sering mengunjungi posyandu

38

3. Berdomisili tetap di Kecamatan Tenggarong Seberang 4. Bersedia untuk di wawancara

2. Data sekunder meliputi a. Dokumen Dokumen adalah cara memperoleh data dengan mengambil dari hasil dokumentasi yang tersedia (arsip, laporan dan sebagainya) saat penelitian berlangsung. b. Kepustakaan Pengumpulan data melalui buku-buku dan sumber bacaan lainnya sebagai tinjauan pustaka yang memuat tentang beberapa pendapat yang berkaitan dengan penelitian guna mendukung penulisan maupun pembahasan skripsi ini. D. Kerangka Konsep Penelitian

Pengetahuan Dukungan Sosial ibu Pelayanan kader Pemanfaatan Posyandu

E. Definisi Konsep Penelitian Berdasarkan konsep pemikiran dan variabel penelitian, maka dapat dirumuskan definisi konsep atau penjelasan secara teknis tentang pengertian setiap variabel yang akan diteliti :

39

1. Pemanfaatan Posyandu Pemanfaatan Posyandu adalah menggali informasi tentang hal-hal apa saja yang mendorong ibu balita untuk datang ke posyandu yang dipengaruhi oleh Pengetahuan, dukungan Sosial, dan pelayanan Kader. 2. Pengetahuan Pengetahuan Ibu balita adalah hasil penginderaan atau hasil tahu ibu balita terhadap posyandu dan kader-kadernya melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya). Dengan sendirinya, pada waktu penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Pada penelitian ini, pengetahuan ibu balita terfokus pada pengertian posyandu, tujuan posyandu, dan kegiatan posyandu. 3. Dukungan sosial Menggali informasi tentang dukungan sosial yang di dapatkan

oleh ibu balita sumber dukungan tersebut berasal dari orang-orang terdekat (suami,orang tua,keluarga, tokoh masyarakat serta kader kesehatan) dan keberpihakan serta pengaruh mereka dalam memberikan anjuran untuk memanfaatkan layanan Posyandu. 4. Pelayanan Kader Posyandu Menggali informasi tentang tanggapan ibu balita terhadap

pelayanan kader posyandu atau petugas kesehatan yang telah mereka dapatkan.

40

F. Teknik Pengumpulan Data Dalam penelitian dilapangan peneliti menggunakan teknik

pengumpulan data sebagai berikut : 1. Wawancara mendalam Wawancara yang akan dilakukan yaitu dengan wawancara mendalam (indept interview), karena dalam melakukan wawancara, selain harus membawa instrument sebagai pedoman untuk wawancara, maka pengumpulan data juga dapat menggunakan alat tulis, dan tape recorder, dan material lain yang dapat membantu pelaksanaan wawancara menjadi lancar. 2. Pedoman wawancara Yaitu pengambilan data yang dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara (interview guide) yang memuat pokok-pokok yang akan ditanyakan langsung kepada informan untuk

memperoleh keterangan secara lisan antara peneliti dengan informan. 3. Dokumentasi Gambaran-gambaran kegiastan-kegiatan berlangsung. G. Teknik analisis Data Tehnik analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalaha analisis data kualitatif model interaktif. Model ini sesuai dengan pendapat Mathew B. Miles dan A. Michael Huberman (1992) yang nyata telah mengenai dilakukan proses saat serta

penelitian

41

dalam sugiono (2008) yang menyebutkan bahwa analisis data kualitatif terdiri dari 4 komponen yaitu : 1. Pengumpulan data : data pertama atau data mentah dikumpulkan dalam suatu penelitian. 2. Penyajian data : sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian data ini dapat memantau untuk memahami peristiwa yang terjadi dan mengarah pada analisa atau tindakan lebih lanjut berdasarkan pemahan. 3. Reduksi penyederhanaan data : yaitu proses pemilihan,pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabtrakan, dan transformasi data “kasar“ yang muncul dari catatan-catatan tertulis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasi data dengan cara sedemikian rupa hingga kesimpulan-kesimpulan finalnya dapat ditarik. 4. Penarikan kesimpulan atau verifikasi adalah langkah terakhir yang meliputi pemberitahuan makna data yang telah disederhanakan dan di sajikan kedalam pengujian data dengan cara mencatat keteraturan, pola-pola penjelasan secara logis dan metodologis konfigurasi yang memungkinkan diprediksi, hubungan sebab akibat melalui hukum empiris. Jelaslah bahwa data kualitatif merupakan analisis yang terdiri dari pengumpulan data, reduksi data atau penyederhanaan data, penyajian, data dan penarikan kesimpulan.

42

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL 1. Gambaran umum lokasi penelitian Penelitian mengenai pemanfaatan posyandu oleh ibu balita di laksanakan di rumah per rumah ibu-ibu balita tersebut, lokasi penelitian sendiri berada di wilayah Desa Loa Ulung Kecamatan Tenggarong Seberang sampai saat ini memiliki 2 Posyandu yang merupakan dalam wilayah kerja dari Puskesmas Pembantu Loa Bukit Kecamatan Tenggarong seberang Kabupaten Kutai

Kartanegara. Berikut nama serta alamat poyandu yang berada di desa loa Ulung Kecamatan Tenggarong seberang tersebut: a. Flamboyan 1 Berada di RT. 9 Desa Loa Ulung Kecamatan Tenggarong Seberang. b. Flamboyan 2 Berada di Daerah perusahaan Desa Loa Ulung Tenggarong seberang. Desa Loa Ulung merupakan daerah pinggiran sungai Mahakam terdiri dari dataran rendah dan perbukitan yang menjadi areal operasi delapan perusahaan tambang batu bara yang merupakan penghasilan masyarakat Desa Loa Ulung sebagai mitra kerja perusahaan. Untuk akses jalan masih cukup baik walaupun ada sebagian jalan yang rusak jika terjadi musim penghujan.

43

Wawancara sendiri dilakukan setiap hari kerja terkecuali hari minggu yang dimulai antara pukul 09.00 pagi hingga 12.00 siang dimana mencari waktu luang pada informan yang akan di wawancarai.

2. Karakteristik Informan Informan dalam penelitian ini berjumlah 16 orang, yang terdiri dari 11 orang ibu balita dan 5 orang informan kunci yakni kader Posyandu dan Tokoh masyarakat, Karekteristik informan dalam penelitian ini meliputi usia, pendidikan terakhir dan pekerjaan a. Usia Karakteristik informan berdasarkan usia ibu balita di wilayah kerja puskesmas Pembantu Loa Bukit yaitu informan dengan usia 20-30 tahun sebanyak 8 orang, usia 31-40 seb$anyak 6 orang dan 2 orang informan dengan usia lebih dari 40 tahun. b. Pendidikan Terakhir Karakteristik informan berdasarkan pendidikan terakhir ibu balita di wilayah kerja Puskesmas pembantu Loa Bukit yaitu Sebanyak 1 orang informan lulusan D1, sebanyak 10 orang lulusan SMA, sebanyak 3 orang lulusan SLTP dan 3 orang lulusan SD.

44

c. Pekerjaan Karakteristik informan berdasarkan jenis pekerjaan ibu balita diwilayah kerja Puskesmas pembantu Loa Bukit yaitu sebanyak 15 orang Ibu Rumah Tangga, 1 orang PNS.

3. Hasil Wawancara Berdasarkan kegiatan wawancara mendalam yang telah dilakukan pada saat penelitian di wilayah kerja puskesmas Loa bukit Desa Loa ulung Kecamatan Tenggarong seberang Kabupaten Kutai kartanegara pada bulan april sampai dengan mei Tahun 2011 diperoleh hasil sebagai berikut : a) Pemanfaatan Posyandu oleh ibu-ibu balita Pertanyaan ini diajukan untuk memperoleh informasi

mengenai apa saja tujuan dan hambatan ibu-ibu balita untuk datang ke posyandu setiap bulannya. 1) Tujuan Dari hasil wawancara mendalam pada lokasi wilayah kerja Puskesmas Loa Bukit Desa Loa ulung mengenai tujuan ibu-ibu balita setiap bulan datang ke posyandu didapatkan hasil yakni untuk menimbang anak dan imunisasi, seperti yang

diungkapkan ibu balita yang menjadi informan dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut :

45

“Kalo keposyandu ya paling untuk vaksin kanak sama nimbang kanak saya maha tu bu” (LW Mei 2011) “ Ehmmm… ya untuk menimbang anak saya terus mengetahui berat badan kanak saya biar dapat vaksin” (untuk menimbang anak saya dan mengetahui berat badan anak saya agar dapat vaksin) (FD Mei 2011) Demikian juga hasil wawancara dengan informan yang menyebutkan tujuan ibu balita setiap bulan datang ke posyandu untuk menimbang dan mengetahui perkembangan anak seperti hasil wawancara berikut : “ Menimbang anak untuk mengetahui berat badan nya naik atau turun walaupun imunisasi nya sudah habis bu…” (Menimbang anak untuk mengetahui berat badan nya naik atau turun) (YY, Mei 2011) “Nimbang Anak saya bu, biar tau naik kah turun kah timbangannya tu…” (menimbang anak saya agar tahu naik apa turun timbangan nya) (AS, Mei 2011)

46

Namun dari beberapa kutipan diatas tujuan ibu balita datang keposyandu lebih cendrung hanya untuk mendapatkan vaksin dan imunisai saja seperti pada kutipan berikut ini :

“ Untuk imunisasi anak saya maha tu bu…” (untuk Imunisasi anak saya aja bu) (LO, Mei 2011) “ya palingan untuk vaksin anak saya aja sih bu..” (NA, Mei 2011)

2) Manfaat Dari hasil wawancara mendalam (indept interview) pada lokasi wilayah kerja Puskesmas Loa Bukit Desa Loa ulung mengenai manfaat Posyandu ibu-ibu balita sebagian besar informan merasa kan manfaat dari keberadaan posyandu seperti yang diungkapkan ibu balita yang menjadi informan dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut : “Sangat menguntungkan, karena bisa menimbang anak, vaksin anak dan dapat makanan kesehatan yang disiapkan para kader” (IR, Mei 2011) “Sangat menguntungkan soalnya saya dapat menimbang anak saya sekalian dapat Vitamin. A nya bu…” (YY, Mei 2011)

47

“Sangat menguntungkan sekali, yak arena kita bisa vaksin anak, mengetahui berat badan anak, terus untuk mengetahui

perkembangan dan dapat Vitamin A 6 bulan sekali kan, ya itu aja menurut saya bu…” (ML, Mei 2011)

3) Mendorong Ke Posyandu Dari hasil wawancara mendalam (indept interview) pada lokasi wilayah kerja Puskesmas Loa Bukit Desa Loa ulung mengenai hal apa saja yang mendorong ibu-ibu balita datang ke posyandu seperti yang diungkapkan ibu balita yang menjadi informan dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut : “ Ada kegiatan untuk pertumbuhan bayi misalkan beri makan bubur, pembagian susu itu saja yang saya tau tu bu,…” (Ada kegiatan untuk pertumbuhan bayi misalkan member makan bubur, pembagian susu itu saja saya tau bu ) (AS. Mei 2011) “Untuk mengetahui perkembangan anak saya dan mendapatkan bubur” (WD, Mei 2011) “Yah…. untuk keperluan anak agar saya tau perkembangan Gizi anak saya gimana bu..” (YY, Mei 2011)

48

4) Kendala Ke Posyandu Dari hasil wawancara mendalam (indept interview) pada lokasi wilayah kerja Puskesmas Loa Bukit Desa Loa ulung mengenai Kendala dan hambatan oleh ibu-ibu balita datang ke Posyandu yakni jika cuaca hujan dan jarak rumah yang jauh seperti yang diungkapkan ibu balita yang menjadi informan dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut : “ Paling hujan aja bu, tapi tetap datang bu..” (AS, Mei 2011) “ Ya, palingan jika hujan aja bu, soalnya rumah saya kan jauh dari posyandu tapi tetap datang biar hujan bu…” (YY, Mei 2011) “Ya kalo hari hujan bu ya kita mau pergi ke posyandu tu lecak beneh bu, payah jalannya jadi terpaksa saya tidak mau nimbang anak ke posyandu tu bu.. “ ( Ya jika hujan kita mau pergi ke posyandu itu becek benar bu, jalanya terpaksa saya tidak mau nimbang anak ke posyandu) (LW, Mei 2011)

b) Pengetahuan Ibu Balita Terhadap Posyandu Pertanyaan ini untuk memperoleh informasi mengenai

Pengetahuan informan mengenai pemahaman tentang pengertian posyandu dan program apa saja yang telah diadakan posyandu di wilayah tempat informan tinggal.

49

1) Pengertian Dari hasil wawancara mendalam (indept interview) ada beberapa informan yang menjawab bahwa pengertian

posyandu hanya sebatas untuk mendapatkan Vaksin bagi anak saja, seperti pernyataan informan dalam penelitian ini. Yaitu sebagai barikut : “Ndik tahu saya tu bu.. taunya saya Vaksin maha…” ( Tidak tahu saya bu, taunya saya Vaksin saja ) (LO, Mei 2011) “Saya tu ndik tahu bu pengertian posyandu itu apa, yang saya tahu buat vaksin anak saya maha..” ( saya itu tidak tahu bu pengertian posyandu itu apa, yang saya tahu buat vaksin anak saya saja ) (NA, Mei 2011) Demikian juga hasil wawancara dengan informan yang

menyebutkan pengertian posyandu yakni pelayan saja dan Pos pelayanan Terpadu, seperti ungkapan informan berikut : “ Setau saya posyandu untuk pelayanan aja bu…” (AS, Mei 2011) “ Setau saya posyandu itu pos pelayanan terpadu” (IR, Mei 2011) “ Ya, Setau saya posyandu itu pos pelayanan terpadu itu aja sih bu..”

50

(ML, Mei 2011) 2) Program Posyandu Dari hasil wawancara mendalam (indept interview)

sebagian informan yang menjawab tidak mengetahui program apa saja yang telah di lakukan di Posyandu tempat informan tinggal sebagian besar hanya mengetahui jika di posyandu hanyalah untuk menimbang, vaksin dan mendapatkan Vitamin A saja, tanpa mengetahui ada program seperti penyuluhan dan kegiatan lainnya, seperti yang diungkapkan ibu balita yang menjadi informan dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut : “Setau saya di Posyandu itu vaksin Maha” ( Setahu saya di Posyandu itu vaksin saja ) (LO, Mei 2011) “ Untuk imunisasi, penimbangan sama pemberian Vitamin kanak-kanak maha bu..” (Untuk imunisasi, penimbangan dan pemberian vitamin anak-anak saja bu ) (MS, Mei 2011)

“Yang

saya

tau,

untuk

Imunisasi,

penimbangan

dan

pemberian vitamin A setiap bulan februari dan agustus” (IR, Mei 2011)

51

Demikian juga pada interview yang dilakukan pada informan tentang sistem 5 meja yang dilakukan di posyandu, sebagian besar informan tidak mengetahui mendengar tentang sistem tersebut, seperti dan baru yang di

ungkapan ibu balita yang menjadi informan dalam penelitian ini, sebagai berikut : “Ndik tahu jua saya sitem 5 meja itu baru dengar jua saya bu..” ( tidak tahu juga saya sistem lima meja itu baru dengar saya bu ) (LO, Mei 2011) “Ndik tau saya bu, baru ini mendengar…..” ( Tidak tahu saya bu baru ini mendengar ) (Na, Mei 2011) “Saya ndik tahu persis bu, apa itu sitem 5 meja…” ( saya tidak tahu betul bu, apa itu sistem lima meja ) (YY, Mei 2011)

c) Dukungan Sosial Ibu Balita Terhadap Pemanfaatan Posyandu Pertanyaan ini untuk memperoleh informasi mengenai

Dukungan yang di dapatkan oleh ibu-ibu balita di wilayah kerja Puskesmas pembantu Loa bukit desa Loa ulung Dalam hal pemanfataan Posyandu di lingkungan sekitar tempat informan tinggal.

52

1) Motivasi yang di dapatkan ibu balita atau yang menganjurkan ibu balita datang ke posyandu Dari hasil wawancara mendalam pada lokasi wilayah kerja Puskesmas Loa Bukit Desa Loa ulung mengenai

Motivasi atau yang menganjurkan ibu-ibu balita setiap bulan datang ke posyandu yakni atas dasar kemauan dan inisistif sendiri, seperti yang diungkapkan ibu balita yang menjadi informan dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut : “ Ndik da yang nyuruh saya pegi posyandu, waktu kanak saya masih halus, bunyi urang yukk etam vaksin barulah saya pergi bawa anak saya” ( Tidak ada yang nyuruh saya datang ke posyandu waktu anak saya masih kecil kata orang mari kita vaksin baru saya datang bawa anak saya ) (NO, Mei 2011) Ndik da jua bu, inisiatif saya sorang hak bawa anak saya kesitu” ( tidak ada bu, inisiatif sendiri aja bawa anak saya kesitu ) (NA, Mei 2011) “Ya ndak ada itu kemauan saya sendiri” (ML, Mei 2011) Namun jika ditanya bentuk perhatian yang didapat dari keluarga dalam hal pemanfaatan posyandu responden

kadang – kadang mendapatkan anjuran dari suami dan orang

53

tua

dalam

hal

pemanfataan

posyandu

seperti

yang

diungkapan informan dalam penelitian ini sebagai berikut :

“Ndik ada bu perhatian dari lingkungan sekitar paling suami itu pun kadang-kadang” (Tidak ada bu perhatian dari lingkungan sekitar paling suami itu pun kadang-kadang) (MS, Mei 2011) “ Hanya kemauan saya sendiri, kadang-kadang suami juga mengingatkan” (IR, Mei 2011) “ Kadang ada juga sih bu suami nyuruh ke posyandu orang tua juga nyuruh pergi ke posyandu” (FD, Mei 2011)

d) Pelayanan Kader Posyandu Pertanyaan ini untuk memperoleh informasi mengenai Tanggapan ibu balita terhadap pelayanan kader posyandu di wilayah kerja Puskesmas pembantu Loa bukit desa Loa ulung Dalam hal pemanfataan Posyandu di lingkungan sekitar tempat informan tinggal. 1) Tentang Pelayanan Kader Posyandu Dari hasil wawancara mendalam pada lokasi wilayah kerja Puskesmas Loa Bukit Desa Loa ulung mengenai

54

Tanggapan ibi-ibu balita terhadap pelayanan Kader posyandu informan merasa nyaman dengan pelayanan kader selama ini seperti yang diungkapkan ibu balita yang menjadi informan dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut : “ Waktu saya kesitu tu bu tegaknya baik aja hak, tapi ndik tahu lagi yo, karena saya jarang bawa anak saya lagi ke situ bu” ( waktu saya kesitu bu keliyatannya baik saja, tapi tidak tahu lagi ya, karena saya jarang bawa anak saya lagi ke situ bu) (NA, Mei 2011) “ ya nyaman aja bu…” (YY, Mei 2011) “ya merasa nyaman aja…” (ML, Mei 2011) Namun ada pula responden yang menjawab ragu atau

bahkan tidak mengetahui lagi bagaimana pelayanan kader posyandu selama ini karena jarang datang ke posyandu seperti yang di ungkapan ibu balita yang menjadi informan dalam penelitian ini sebagai berikut : “Waktu saya Vaksin anak saya dulu tu kader tegaknya baik–baik aja, kadang ndik ramah jua, tau wayahini baik kah endik kah saya jarang pegi posyandu”

55

( waktu saya vaksin anak saya dulu itu kader keliyatannya baik-baik saja kadang tidak ramah juga, tidak tahu sekarang baik atau tidak saya jarang pergi ke posyandu ) (NO, Mei 2011) “Awalnya nyaman bu, mungkin karena saya ndik tau vaksin kanak saya kan ndik tahu jua sida tu marah endikah saya datang tu” (awalnya nyaman aja bu,mungkin karena saya tidak tau vaksin anak saya kan tidak tahu juga mereka marah atau tidak) (NA, Mei 2011) “Waktu saya sering nimbang bu nyaman aja, tapi selawasan jarang saya tu nimbang ndik tahu lagi saya tu bu…” (waktu saya sering nimbang bu enak saja, tapi selama jarang saya itu nimbang tidak tahu lagi saya bu ) (LW, Mei 2011)

2) Keaktifan kader posyandu Dari hasil wawancara mendalam pada lokasi wilayah kerja Puskesmas Loa Bukit Desa Loa ulung mengenai

Tanggapan ibi-ibu balita terhadap Keaktifan Kader posyandu informan menjawab kadang aktif dan tidak dan ada juga sebagaian informan yang tidak tahu karena jarang ke posyandu selama ini seperti yang diungkapkan ibu balita yang menjadi informan dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut :

56

“ Nah itu hak endik tahu jua saya bu, rutin kah endi kah, saya endik rutin lagi ke posyandu” ( Nah itu saya tidak tahu bu, rutin kah tidak kah, saya tidak rutin lagi ke posyandu) (NO, mei 2011) “ Tu hak bu, karena saya jarang ke situ kan bu, endik tahu rutin kah endi kah sida tu ke posyandu” ( itulah bu, karena saya jarang ke situ kan bu, tidak tahu rutin apa tidak mereka itu ke posyandu ) (NA, Mei 2011) “kadang saya lihat bu ada yang aktif ada juga yang endik bu..” ( kadang saya lihat ada yang aktif ada juga yang tidak bu ) (MS, Mei 2011) “ada yang rutin ada yang gak “ (WD, Mei 2011)

3) Program yang sudah dijalankan selain menimbang dan imunisasi Dari hasil wawancara mendalam pada lokasi wilayah kerja Puskesmas Loa Bukit Desa Loa ulung mengenai

Program lain selain menimbang dan imunisasi yang dijalankan posyandu informan menjawab ada berupa arisan di

57

posyandu selama ini seperti yang diungkapkan ibu balita yang menjadi informan dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut :

“Sepengetahuan saya bu, yang saya dengar ada segala model arisan tu bu” (LW, Mei 2011) “ Ya paling arisan aja bu” (ML, Mei 2011) “setau saya sida di situ ada buka arisan jua” ( setahu saya mereka itu ada buka arisan juga ) (NA, Mei 2011)

Berikut adalah hasil wawancara mendalam terhadap informan kunci sebanyak 3 orang (Kader Posyandu) wawancara seputar kegiatan kader selama ini, program apa yang telah dijalankan, motivasi menjadi kader, insentif kader serta menjalankan tugas sebagai kader posyandu. e) Petugas Kader posyandu Pertanyaan ini untuk memperoleh informasi mengenai kinerja kader terhadap posyandu berupa kegiatan lain di di wilayah kerja hambatan dalam

posyandu selain menimbang dan imunisasi

Puskesmas pembantu Loa bukit desa Loa ulung Dalam hal pemanfataan Posyandu di lingkungan sekitar tempat informan tinggal.

58

1) Program yang dijalankan kader selain menimbang dan imunisasi Dari hasil wawancara mendalam pada lokasi wilayah kerja Puskesmas Loa Bukit Desa Loa ulung mengenai kinerja kader selain menimbang dan imunisasi informan menjawab tidak pernah ada kegiatan lain seperti penyuluhan dan sebagainya seperti diungkapkan kader posyandu yang

menjadi informan dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut :

“Gak pernah ada kegiatan lain bu, karena kami juga gak pernah minta pada petugas kesehatan” (NV, Mei 2011) “gak ada pernah, karena kami gak pernah meminta kepada petugas kesehatan, jadi petugas kesehatan datang habis imunisasi langsung pulang” (DG, Mei 2011) “Kalo penyuluhan gak pernah ada, karena kami juga gak pernah minta ke dinas kesehatan untuk mengadakan penyuluhan habis nimbang, vaksin sudah bu pulang itu aja kegiatannya” (HR, Mei 2011)

59

2) Yang mendorong menjadi kader posyandu Dari hasil wawancara mendalam pada lokasi wilayah kerja Puskesmas Loa Bukit Desa Loa ulung mengenai apa yang mendorong untuk menjadi kader yakni untuk membantu kegiatan didesa dan menjadikan desa lebih baik seperti diungkapkan kader posyandu yang menjadi informan dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut :

“Kalo saya ingin membangun desa saja supaya desa ini lebih maju dari desa lainnya” (HR, Mei 2011) “ Ingin bantu kegiatan di desa saja” (NV, Mei 2011) “ Saya jadi kader hanya sekedar ingin membantu kegiatan di desa bu…” (DG, Mei 2011) 3) Insentif kader Posyandu Dari hasil wawancara mendalam pada lokasi wilayah kerja Puskesmas Loa Bukit Desa Loa ulung mengenai insentif yang di dapatkan kader yakni belum pernah menerima Insentif Apapun dan dari pihak manapun seperti diungkapkan kader posyandu yang menjadi informan dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut :

60

“Gak pernah saya dapatkan bu, dari kegiatan posyandu, selama 3 tahun menjadi kader gak pernah kami dapat insentif” (HR, Mei 2011) “ Selama saya jadi kader bu ya, kami gak pernah dapat insentif dari pihak manapun” (DG, Mei 2011) “ kami gak pernah dapat insentif dari pihak manapun bu..” (NV, Mei 2011)

4) Hambatan dalam menjalankan tugas menjadi kader Dari hasil wawancara mendalam pada lokasi wilayah kerja Puskesmas Loa Bukit Desa Loa ulung mengenai

Hambatan kader yakni sebatas kurangnya dukungan dan keterlambatan ibu balita datang ke posyandu atau semaunya saja seperti diungkapkan kader posyandu yang menjadi informan dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut :

“Yaitu masalah bu, ibu PKK gak pernah memberi dukungan pada kami, selain itu ibu-ibu balita gak ada kerja sama dengan kadernya, ya kalo datang yan datang semaunya aja bu… jadikan orang sudah mau pulang baru dia datang jadi gak ada kerja samanya gitu nah bu” (NV, Mei 2011)

61

Berikut

adalah

hasil

wawancara

mendalam

terhadap

informan kunci yakni ibu PKK dan Sekretaris Desa (Sekdes) wawancara seputar anjuran, Kepedulian dan harapan terhadap ibuibu balita terhadap pemanfaatan Posyandu 1) Anjuran, kepedulian serta Harapan Ketua PKK dalam hal pemanfataan Posyandu Dari hasil wawancara mendalam pada lokasi wilayah kerja Puskesmas Loa Bukit Desa Loa ulung mengenai

Anjuran kader PKK dalam hal Pemanfaatan posyandu kepada ibu–ibu balita yakni tidak pernah ada anjuran yang diberikan seperti diungkapkan kader PKK yang menjadi informan dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut :

“ Endik pernah karena kesibukan saya sendiri” ( tidak pernah karena kesibukan saya sendiri ) (EL, Mei 2011)

Selain itu informan kunci juga tidak mengetahui jadwal diadakan posyandu di tempat informan tinggal seperti yang di ungkapkan Kader PKK yang menjadi informan kunci dalam penelitian ini : “Endik tahu jua urang bejalan kemana, sudah tahu itu hari posyandu oh baru saya tahu kalo itu hari posyandu”

62

(Tidak tahu juga orang jalan kemana, sudah tahu hari itu posyandu baru saya tahu jika itu hari posyandu) (EL, Mei 2011) Demikian pula halnya hasil wawancara mengenai seberapa besar peduli kader PKK terhadap kesehatan balita di desanya informan kunci menjawab tidak tahu sama sekali tentang kesehatan, seperti yang di ungkapan kader PKK yang menjadi informan kunci dalam penelitian ini sebagai berikut :

“endik tahu sama sekali tentang kesehatan ibu balita itu, saya sibuk dengan urusan Rumah tangga” (Tidak tahu sama sekali tentang kesehatan ibu balita itu, saya sibuk dengan urusan rumah tangga) (EL, Mei 2011)

Namun informan kunci memiliki harapan yang agar posyandu bisa lebih baik lagi seperti yang di ungkapan sebagai berikut : “Saya mau Posyandu berjalan dengan baik tapi tegak apa hak saya jua endik pernah ke posyandu, saya biarkan hak tu posyandu walaupun saya ketua PKK” (saya mau posyandu berjalan dengan baik tapi apa lah saya juga tidak pernah ke posyandu, saya bairkan lah tu posyandu walaupun saya ketua PKK) (EL, Mei 2011)

63

2) Anjuran, kepedulian serta Harapan Sekdes dalam hal pemanfataan Posyandu Dari hasil wawancara mendalam pada lokasi wilayah kerja Puskesmas Loa Bukit Desa Loa ulung mengenai Anjuran Sekdes dalam hal Pemanfaatan posyandu kepada ibu–ibu

balita yakni tidak pernah ada anjuran kepada ibu balita yang diberikan seperti diungkapkan Sekdes yang menjadi informan dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut :

“Selama ini untuk masalah posyandu itu endik pernah jua saya menganjurkan karena saya pikir di posyandu itu ada yang bertanggung jawab ada ibu PKK, jadi saya santai-santai aja” (IN, Mei 2011)

Demikian pula halnya hasil wawancara mengenai seberapa besar kepedulian Sekdes atau aparatur desa terhadap kesehatan balita di desanya informan kunci

menjawab itu sudah ada yang bertanggung jawab bukan urusan desa, seperti yang di ungkapan kader PKK yang menjadi informan kunci dalam penelitian ini sebagai berikut :

“Masalah kesehatan di desa ini endik tahu jua tu bu, karena di desa ini kan ada posyandu bu, ada yang bertanggung jawab

64

ibu PKK, kader posyandu jadi sida-sida yang urusi masalah kesehatan balita, jadi saya diam-diam maha hak, mereka juga bediam diam aja jadi sida tu hak yang meurusi tu bu” (Masalah kesehatan di desa ini tidak tahu juga bu, karena di desa sudah ada posyandu bu, ada yang bertanggung jawab ibu-ibu PKK, kader posyandu jadi mereka-mereka yang mengurus masalah kesehatan balita, jadi saya diam-diam aja, mereka juga diam saja jadi mereka lah yang urus itu bu ) (IN, Mei 2011)

Namun informan kunci memiliki harapan yang agar posyandu bisa lebih baik lagi dan ada kerja sama dengan aparat desa seperti yang di ungkapan sebagai berikut :

“Sebenarnya bu kalo masalah posyandu ini kedepannya bisa lebih baik jadi jumlah balita yang ada di desa ini bisa nimbang semua ke posyandu jadi saya harapkan kader posyandu, kader kesehatan bisa saling kordinasi dengan kepala desa, saya juga punya rencana dan terketuk hati saya untuk memperhatikan kesehatan balita di desa ini kedepannya” (IN. Mei 2011)

65

B. PEMBAHASAN Peneliti menggunakan triangulasi sebagai teknik untuk mengecek keabsahan data. Dimana dalam pengertiannya

triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain dalam membandingkan hasil wawancara terhadap objek penelitian (Moleong, 2004).),

membedakan empat macam triangulasi diantaranya dengan memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik dan teori. Pada penelitian ini, dari ke empat macam triangulasi tersebut, peneliti hanya menggunakan teknik pemeriksaan dengan

memanfaatkan sumber. Triangulasi dengan sumber artinya membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif (Patton, 1987). Pembahasan Motivasi Ibu Balita Terhadap Pemanfaatan Posyandu Dalam kegiatan penulisan ini tidak ditemukan suatu kendala dikarenakan informan dalam penelitian yakni ibu-ibu balita hampir seluruhnya pernah atau selalu datang ke posyandu setiap bulannya untuk membawa anaknya, selain itu posyandu juga sudah menjadi bagian dari masyarakat yang membawa dampak baik khususnya untuk ibu dan anak. Motif kadang-kadang dinyatakan orang sebagai kebutuhan, keinginan, dorongan yang muncul dalam diri seseorang. Motif

66

diarahkan kearah tujuan-tujuan yang dapat muncul dalam kondisi dibawah sadar. Motif-motif merupakan “ mengapa “ dari perilaku. Mereka muncul dan mempertahankan aktifitas, dan

mendeterminasi arah umum perilaku seorang individu. (Winardi 2002). Dari hasil penelitian yang dilakukan kepada ibu-ibu balita menunjukkan bahwa ada kebutuhan akan pentingnya mengetahui perkembangan anak sehingga ada keinginan untuk datang ke posyandu setiap bulannya, seperti yang telah diungkapkan oleh kebanyakan ibu-ibu balita dalam penelitian ini. Yaitu dengan ke posyandu ibu-ibu balita dapat mengetahui berat badan dan mengukur tinggi badan anak, mendapatkan imunisasi, vitamin A, Namun dalam hasil wawancara tentang kendala ibu balita dalam hal pemanfataan posyandu oleh ibu balita salah seorang informan menyatakan bahwa jarak rumah yang cukup jauh adalah salah satu kendala dalam mengunjungi posyandu di perparah lagi dengan kondisi jalan yang becek saat hujan tiba. Hal tersebut sesuai dengan yang dinyatakan oleh Lawrence Green dalam Notoatmodjo (2003) bahwa faktor lingkungan fisik atau letak geografis berpengaruh terhadap perilaku seseorang atau masyarakat terhadap masyarakat. Ibu balita tidak datang ke posyandu disebabkan karena rumah ibu balita tersebut jauh dengan posyandu sehingga ibu balita tersebut tidak datang untuk mengikuti kegiatan dalam posyandu.

67

Demikian juga sesuai ya ng dikemukakan oleh WHO dalam Notoadjmojo (2003) yang menyatakan bahwa sikap akan terwujud di dalam suatu tindakan tergantung dari situasi pada saat itu. Ibu balita mau datang ke posyandu tetapi karena jaraknya jauh atau situasi kurang mendukung maka balita tidak berkunjung ke posyandu. Hal ini merupakan sebagian kegiatan pelayanan kesehatan yang dijalankan bayi diposyandu, dan balita seperti yang halnya pemeliharaan besar adalah

kesehatan

sebagian

penimbangan bulanan, pemberian makanan tambahan, imunisasi bayi dan pemberian vitamin A serta pemeliharaan kesehatan ibu hamil, ibu menyusui dan pasangan usia subur seperti

pemeriksaan kehamilan dan nifas,imunisasi TT untuk ibu hamil dan pemberian kesehatan dan KB. Adapun tujuan lain informan ke posyandu yakni selain untuk kegiatan kesehatan, posyandu bisa juga sebagai tempat berkumpul bersama para ibu-ibu dan melakukan kegiatan seperti arisan hal ini sesuai dengan kutipan dalam Effendy (1998) bahwa posyandu kemudian menjadi suatu forum komunikasi tempat para ibu berkumpul bersama dalam suasana yang sesuai dengan adat budaya setempat, anak, untuk berbagi pengalaman tentang dan

pemeliharaan

termasuk

bagaimana

memilih

menyiapkan makanan bergizi yang berguna dan dapat diterima oleh anak-anaknya.

68

Dari adanya kebutuhan dan keinginan informan untuk datang ke posyandu maka terlebih dahulu ada yang mendorong informan untuk melakukan aktifitas tersebut, seperti yang diungkapkan informan bahwa dorongan bisa timbul dari diri

sendiri atau pun mendapat dorongan dari suami serta keluarga. Adapun manfaat posyandu bagi masyarakat itu sendiri khusunya bagi ibu-ibu balita yakni untuk memperoleh kemudahan untuk mendapatkan informasi dan pelayanan kesehatan dasar, terutama berkaitan dengan penurunan AKI dan AKB dan memperoleh bantuan secara profesional dalam pemecahan masalah kesehatan terutama terkait kesehatan ibu dan anak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ibu-ibu balita

termotivasi karena ada keinginan untuk mendapat manfaat kesehatan datang ke posyandu.

a) Pembahasan Pengetahuan Ibu Balita Terhadap Pemanfaatan Posyandu Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior) (Notoatmodjo, 1993). Menurut Bloom, pengetahuan merupakan bagian dari ”cognitive domain“ yang mempunyai 6 tingkatan, yaitu : Tahu

69

(know),

memahami

(comprehension),

aplikasi

(application),

analisis (analysis), Sintesis (synthesis), evaluasi (evaluation) ( Notoatmodjo, 2003). Dari hasil penelitian mengenai pengetahui ibu balita terhadap pemanfaatan posyandu yang di dalam penelitian ini sebagai informasi berada di dalam tingkatan tahu mengenai posyandu tetapi hanya secara garis besar dan tidak dapat menjabarkannya secara spesifik. Selain itu kebanyakan informan menyatakan bahwa

pengertian posyandu adalah sebagai tempat kegiatan kesehatan seperti untuk menimbang anak, tempat mendapatkan imunisasi. dan tempat untuk memeriksakan kesehatan. Padahal secara umum pernyataan informan berada dalam tingkatan memahami, di samping itu ada juga beberapa informan yang tidak tahu tentang pengertian posyandu, informan

menyatakan bahwa mereka tidak pernah mengetahui peran dan pengertian posyandu itu sendiri. Secara umum informan tidak tahu mengenai program apa saja yang telah diadakan di lokasi posyandu tempat tinggal informan, tentang sistem 5 meja sebagian informan baru mendengar tentang sistem tersebut dana pelaksana posyandu sendiri berasal dari swadaya masyarakat untuk membuat makanan tambahan balita berupa bubur.

70

Sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh I. G Widiastuti di Kota denpasar Bali (2006) tentang pemanfaatan pelayanan posyandu di kota denpasar dari data kualitatif yang diperoleh tentang peran ibu balita sebagaian besar mengatakan bahwa Peran ibu balita dalam kegiatan posyandu dinilai kader masih rendah. Ibu balita yang tidak mau datang ke posyandu karena tidak mengetahui manfaat posyandu. Tujuan ibu balita berkunjung ke posyandu untuk memantau perkembangan

balitanya dan mendapatkan makanan tambahan serta dapat berkumpul dengan ibu balita yang lain Kebanyakan informan mengungkapkan bahwa tidak ada program yang di adakan posyandu di wilayah tempat informan tinggal. Sesuai dengan pernyataan dari kader posyandu yang menjadi sumber informan kunci dalam penelitian ini bahwa tidak adanya program posyandu dikarenakan mereka juga tidak pernah meminta ke Dinas kesehatan atau instansi kesehatan untuk melakukan kegiatan lain seperti penyuluhan dan sebagainya. Tidak optimalnya fungsi meja ke empat tersebut sangat di sayangkan sebab meja tersebut menjadi garda terdepan untuk meningkatkan derajat kesehatan bayi dan balita. Sebab meja itu dipergunakan untuk memberikan penyuluhan kesehatan

mengenai kondisi anak setelah di timbang di posyandu yang

71

sedang sakit saat penimbangan tidak mendapatkan perhatian lebih. Hal ini sejalan dengan kerangka teori yang dikemukan oleh Anderson yang digunakan dalam penelitian ini dimana banyak terdapat faktor yang mempengaruhi pemanfaatan posyandu oleh ibu balita, jika dikaitkan dengan teori yang dikemukakan oleh Anderson, Maka salah satu faktor yang berpengaruh adalah Karakteristik Predisposi dapat menggambarkan fakta fakta bahwa setiap individu mempunyai kecendrungan untuk menggunakan pelayanan kesehatan yang berbeda-beda disebabkan karena adanya perbedaan ciri-ciri individu seperti umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan,ras, dan keyakinan individu.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengetahuan ibu balita terhadap pencarian pelayanan kesehatan khususnya dalam hal pemanfataan posyandu oleh ibu balita di desa loa ulung kecamatan tenggarong seberang masih sangat kurang hal ini

dapat dilihat dari tingkat pendidikan responden yang kurang disertai dengan pengetahuan mereka terhadap manfaat dan peran posyandu itu sendiri.

72

b) Pembahasan tentang Dukungan sosial yang diterima ibu-ibu balita dalam hal Pemanfaatan posyandu Berkenaan dengan dukungan sosial suami tersebut dapat dijelaskan berdasarkan teori dukungan sosial dari Gottlieb (1983) bahwa dukungan sosial adalah informasi verbal dan non verbal, saran, bantuan yang nyata yang diberikan oleh orang-orang yang akrab dengan subyek atau berupa kehadiran dan hal-hal yang dapat memberikan keuntungan emosional atau berpengaruh pada tingkah laku penerimanya. Dukungan sosial tersebut dapat berasal dari keluarga, teman, dan atasan Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dalam hal pemanfataan posyandu oleh ibu-ibu balita sebagaian besar informan menjawab bahwa tidak pernah mendapatkan dukungan berupa anjuran untuk keposyandu. Kemauaan atau dorongan itu berasal dari dirinya sendiri dan inisiatif ibu balita sendiri untuk membawa anak mereka keposyandu. Namun ada pula informan yang mengatakan bahwa terkadang mereka mendapatkan dukungan dari suami dan keluarga atau orang tua mereka. Sejalan dengan pendapat Kuntjoro (2002) bentuk-bentuk dukungan suami yang dapat diberikan pada istri adalah adanya kedekatan emosional, suami mengijinkan istri terlibat dalam suatu kelompok yang memungkinkannya untuk berbagi minat, perhatian, suami mengahargai atas kemampuan dan keahlian istri, suami

73

dapat diandalkan ketika istri membutuhkan bantuan, dan suami merupakan tempat bergantung untuk menyelesaikan masalah istri. Sarafino (1998:97) mengatakan bahwa dukungan sosial adalah kenyamanan, perhatian, penghargaan atau bantuan yang diperoleh individu dari orang lain, dimana orang lain disini dapat diartikan sebagai individu perorangan atau kelompok. Hal tersebut menunjukkan bahwa segala sesuatu yang ada di lingkungan menjadi dukungan sosial atau tidak, tergantung pada sejauh mana individu merasakan hal tersebut sebagai dukungan sosial. Dukungan sosial didefinisikan oleh House dalam Smet (1994:136) sebagai transaksi interpersonal yang melibatkan satu atau lebih aspekaspek yang terdiri dari informasi, perhatian emosional, penilaian dan bantuan instrumental. Tersedianya Dukungan sosial akan membuat individu merasa dicintai,

diperhatikan, dihargai dan menjadi bagian kelompok. Namun pada kenyataannya di lapangan bentuk dukungan dari lingkungan sekitar informan mengatakan tidak pernah ada yang menganjurkan atau memperhatikan mereka dalam hal pemanfaatan posyandu sehingga perhatian tersebut dirasakan masih sangat kurang terhadap ibu balita. Selain itu dari hasil wawancara responden mengaku bahwa kader posyandu pun sampai saat ini dirasakan tidak memberikan dukungan kepada ibu balita terlebih lagi bentuk dukungan dari Tokoh masyarakat sekitar seperti ibu kader PKK dan

74

aparat desa setempat yang tidak mengerti bahkan tidak tahu sama sekali akan peran dan fungsi dari posyandu tersebut, dalam penelitian ini hasil wawancara terhadap responden pendukung yaitu kader PKK mengatakan bahwa kader masih terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri sehingga kurang memperhatikan keberadaan dari posyandu yang ada di desa. Sama halnya hasil wawancara terhadap sekretaris desa, (Sekdes) mengatakan bahwa posyandu sudah memiliki kader sehingaa mereka lah yang bertanggung jawab, sehingga aparat desa setempat tidak memiliki rasa tanggung jawab akan

keberadaan posyandu itu sendiri hal ini pula yang menyebabkan bentuk dukungan sosial yang di dapat oleh ibu balita masih sangat kurang namun demikian ada beberapa responden yang

mengatakan mereka terkadang mendapat dukungan dari suami mereka namun hal itu sifatnya juga kadang – kadang. Padahal diharapkan dengan adanya dukungan suami, tugas yang tadinya terasa berat menjadi lebih ringan dan membahagiakan. Sebaliknya, jika suami istri dalam sebuah perkawinan tidak mampu menjalin kerjasama, maka hal itu akan menyebabkan kesulitan dalam mengatasi permasalahan hidup yang lebih kompleks di kemudian hari. Dapat disimpulkan jika dikaitkan dengan pendekatan dengan teori Anderson (1974) Anderson menggambarkan ada 3 katagori utama yang berpangaruh terhadap perilaku pencarian

75

pemanfaatan

pelayanan

kesehatan

yaitu

predisposing

characteristic atau karakteristik predisposisi, enabling characteristic atau karakteristik pendukung dan Need characteristic atau karakteristik kebutuhan, maka dalam penelitian ini katagori Enabling Characteristic atau karakteristik pendukung dimana jika ibu–ibu balita tersebut selalu mendapatkan dukungan dari

lingkungan sekitar

diharapkan mereka akan selalu termotivasi

untuk menggunakan pelayanan kesehatan berupa pemanfaatan posyandu tersebut.

c) Pelayanan Kader Posyandu Pelayanan petugas kesehatan memegang peranan penting terhadap kunjungan ibu ke posyandu. Dengan pelayanan yang menyenangkan, ramah, dan memberikan informasi serta

penyuluhan yang jelas dan mudah dimengerti dari petugas kesehatan, sehingga orang tua sadar untuk datang ke posyandu (Mardiati, 2001). Kader kesehatan adalah tenaga kesehatan yang terdidik dan terlatih dalam bidang tertentu yang tumb uh di tengah-tengah masyarakat dan merasa berkewajiban untuk melaksanakan meningkatan dan membina kesejahtraan dengan rasa ikhlas tanpa pamrih dan didasarkan panggilan jiwa untuk melaksanakan tugastugas kemanusiaan (Depkes, RI 2000)

76

Dari gambaran di desa loa ulung mengenai posyandu didaerah tersebut merupakan Posyandu yang masuk kedalam katagori posyandu Tingkat Purnama. Posyandu pada tingkat

purnama adalah posyandu yang frekuensinya lebih dari 8 kali per tahun, rata-rata jumlah kader tugas 5 orang atau lebih, dan cakupan 5 program utamanya (KB, KIA, Gizi dan Imunisasi) lebih dari 50%. Sudah ada program tambahan, bahkan mungkin sudah ada Dana Sehat yang masih sederhana. Dari hasil penelitian tentang tanggapan ibu balita mengenai pelayanan kader posyandu informan merasakan nyaman akan pelayanan yang diberikan atau yang telah di jalankan selama

ini,walaupun ada sebagaian informan yang kurang mengetahui bagaimana pelayanan kader selama ini dikarenakan mereka jarang datang lagi ke posyandu. Menurut Depkes RI (2000) tugas kader kesehatan meliputi : Kegiatan 5 meja, dalam hasil penelitian ibu-ibu balita masih kurang mengetahui tentang sistem 5 meja tersebut, dilihat dari

pengetahuan ibu balita, dalam hal tanggapan pelayanan kader ketidak tahuan ibu balita tadi berpengaruh dengan pelayan kader yang di jalankan selama ini, karena ibu balita hanya mengetahui di posyandu sebgai tempat menimbang, imunisasi dan vaksin tanpa mengetahui bahwa adanya penyuluhan yang wajib dilakukan posyandu.

77

Sehingga pelayanan kader dalam hasil penelitian ini hanya cendrung kepada kegiatan menimbang, vaksin dan imunisasi saja tanpa adanya kegiatan penyuluhan sehingga dapat dikatakan pelayanan kader masih kurang optimal. Hasil penelitian juga memperoleh hasi tingkat kehadiran kader posyandu sebagian informan mengatakan kadang ada yang aktif namun juga yang tidak, hal ini dikarenakan kader posyandu kurang mendapatkan dukungan dari para tokoh masyarakat dan aparatur desa setempat selain itu kemungkinan besar kenerja kader dan tingkat ke aktifan ini dikarenakan kader belum merasa puas terhadap insentif yang mereka dapatkan selama ini bahkan dari hasil penelitian ini kader mengaku bahwa mereka tidak pernah sama sekali mendapatkan insentif berupa materi dari pihak manapun. Dari sisi lain tentang Peran kader menjadi kader di setiap posyandu sangat bervariasi Sebagian posyandu memiliki kader yang bermotivasi tinggi dan sebagian lagi kurang motivasinya. Menurut petugas kesehatan tidak semua kader menyadari perannya hanya sekitar 60 % saja yang menyadari pekerjaan kader. Kurangnya pelayanan petugas kesehatan dapat dilihat dari kemunduran kegiatan posyandu, seperti penyuluhan kesehatan, kunjungan rumah, sedangkan kegiatan yang masih berjalan hanya terbatas pada penimbangan balita, pengisian KMS, imunisasi, serta pemberian makanan tambahan (Gmikro, 2006).

78

Hal ini jika dikaitkan dengan teori yang dikemukakan Anderson maka pelayanan kader disini adalah tanggapan

responden terhadap pelayanan kader selama ini di posyandu sehingga pelayanan termasuk kedalam faktor pendukung dimana dengan pelayanan kader yang cukup baik diposyandu diharapakan mampu memberikan motivasi kepada ibu balita dalam hal meningkatkan pemanfataan posyandu itu sendiri. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan responden merasa nyaman dengan pelayanan kader selama ini walaupun sebgaian besar responden tidak mengetahui secara menyeluruh tugas dan fungsi dari seorang kader tersebut, hal ini berkaitan kembali dengan pengetahuan responden yang masih kurang mengenai peran dan fungsi dari posyandu. Sehingga responden hanya mengetahui secara umum saja tugas dari seorang kader tersebut seperti menimbang, mencatat KMS dan menggalang dana untuk Pemberian makanan tambahan yang di lakukan tiap bulannya. Dapat disimpulkan bahwa dukungan dari lingkungan sekitar untuk mendukung kinerja kader dalam penelitian ini dirasakan masih kurang selain itu pengetahuan kader PKK dan aparat desa yang diharapkan mampu mendukung kegiatan posyandu di desa juga masih belum paham benar mengenai fungsi dan peran dari posyandu. Diharapkan adanya kerja sama antara kader posyandu, kader PKK, aparat desa dan dinas atau intansi kesehatan guna

79

memperbaiki kedepannya.

dan

lebih

memperhatikan

kegiatan

Posyandu

80

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat dikemukan kesimpulan mengenai Pemanfaatan posyandu Oleh ibu balita di Puskesmas Pembantu Loa bukit Desa Loa Ulung Kecamatan tenggarong seberang kabupaten Kutai Kartanegara tahun 2011. 1. Dalam hal pemanfataan posyandu Sehingga dapat disimpulkan bahwa ibu-ibu balita termotivasi karena ada keinginan untuk mendapat manfaat kesehatan datang ke posyandu. 2. Pengetahuan ibu balita yang masih rendah mengenai Pengertian dan peran dari posyandu ibu balita sebatas hanya mengetahui posyandu sebagai tempat imunisasi dan menimbang saja. 3. Dukungan yang rendah terhadap kepedulian lingkungan sekitar dalam hal pemanfataan posyandu oleh ibu balita di desa loa ulung kecamatan tenggarong seberang. 4. Peran dan fungsi kader yang belum secara Optimal dapat berjalan di setiap posyandu desa loa ulung.

81

B. Saran 1. Dilihat dari Hasil Penelitian, diketahui bahwa Tingkat pemanfaatan posyandu masih rendah maka perlu dilakukan upaya-upaya untuk meningkatkan pemnfataan pelayanan posyandu melalui Promosi dan penyuluhan tentang manfaat posyandu serta meningkatkan kualitas pelayanan di posyandu sehingga para ibu balita termotivasi untuk mengunjungi posyandu setiap bulannya. 2. Diadakannya pertemuan rutin di desa dalam bentuk loka karya dan sebagainya yang melibatkan kader posyandu, kader PKK, dan Toma yang di fasilitasi oleh Intansi kesehatan yang terkait dan dukungan oleh aparat desa setempat. 3. Puskesmas sebagai Tempat pelayanan kesehatan dasar yang berhdapan langsung dengan masyarakat agar dapat memfasilitasi serta mendukung semua kegiatan yang diadakan posyandu sehingga dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful