1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kesehatan menurut World Health Organization (WHO) adalah keadaan sempurna baik fisik, mental dan sosial, tidak hanya bebas dari penyakit dan cacat, juga dapat diukur dari produktivitas, dalam arti mempunyai pekerjaan atau penghasilan secara ekonomi

(Notoatmodjo, 2007). Hal ini juga diatur dalam Undang -Undang RI No. 36 tahun 2009 tentang batasan kesehatan dan keadaan sejahtera badan, jiwa dan sosial yang menyatakan bahwa setiap orang berhak hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Meskipun sudah banyak kemajuan yang telah dicapai bangsa Indonesia yang antara lain ditandai dengan berhasil diturunkan Angka Kematian Ibu dari 334 per 100.000 kelahiran hidup (1997) menjadi 307 per 100.000 kelahiran hidup (2003). Angka Kema tian Bayi dari 46 per 1000 kelahiran hidup (1997) menjadi 35 per 1000 kelahiran hidup (2002). Angka Kematian Balita dari 58 per 1000 kelahiran hidup menjadi 46 per 1000 kelahiran hidup (2003), namun pencapaiannya masih jauh dari yang diharapkan. Dibandingk an dengan Negara tetangga ASEAN, kematian ibu melahirkan, bayi dan balita di Indonesia adalah yang tertinggi (Depkes RI, 2005). Dalam upaya untuk menurunkan angka kematian bayi dan anak balita, angka kelahiran agar terwujud keluarga kecil bahagia dan

2

sejahtera, pelaksanaannya tidak

saja

melalui program -program

kesehatan, melainkan berhubungan erat dengan program KB. Upaya menggerakkan masyarakat dalam keterpaduan ini digunakan

pendekatan melalui pembangunan kesehatan masyarakat desa, yang pelaksanaannya secara operasional dibentuklah Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan

diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembanguna n kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar, utamanya untuk

mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi. Kegiatan di Posyandu merupakan kegiatan nyata yang melibatkan partisipasi masyarakat dalam upaya pelayanan kesehatan dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat, yang dilaksanakan oleh kader-kader kesehatan yang telah mendapatkan pendidikan dan pelatihan dari Puskesmas mengenai pelayanan kesehatan dasar (Wijono, 2005). Upaya pengembangan kualitas sumber daya manusia dengan mengoptimalkan potensi tumbuh kembang anak dapat dilaksanakan secara merata apabila sistem pelayanan kesehatan yang berbasis masyarakat seperti Posyandu dapat dilakukan secara efektif da n

3

efisien serta dapat menjangkau semua sasaran yang membutuhkan layanan tumbuh kembang anak, ibu hamil, ibu menyusui dan ibu nifas. Dimana sebagai salah satu sasaran terpenting balita dapat menjadi indikator untuk mengetahui pemanfaatan Posyandu oleh masya rakat. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Propinsi tahun 2009 di Kalimantan Timur terdapat sebanyak 360.289 balita, dimana yang melakukan kunjungan ke posyandu adalah sebanyak 313.451 (987%) balita. Sedangkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Kartanegara dengan jumlah balita sebanyak 66.130 balita, yang menimbang atau berkunjung ke Posyandu hanya sebesar 46.257 (87,78%) balita, sedangkan untuk wilayah Kecamatan Loa Kulu sendiri ada 1 Puskesmas yakni Puskesmas Loa Kulu yang merupakan induk dari 12 Puskesmas pembantu dan 6 Polindes 34 Posyandu dengan jumlah balita sebesar 3.951 balita, untuk di desa Jembayan sendiri memiliki 1 Puskesmas pembantu dan 1 Polindes dengan 6 Posyandu dengan jumlah balita sebanyak 553 balita . Keadaan Posyandu di wilayah ke rja Puskesmas Pembantu Jembayan Kecamatan Loa Kulu pada tahun 2011 juga menunjukkan, bahwa dari 6 posyandu yang ada, hanya sebanyak 207 balita yang melakukan kunjungan ke posyandu (Pusban Jembayan, 2011). Puskesmas Pembantu Jembayan memiliki 6 Posyandu yang masing-masing tersebar di 3 (tiga) dusun dengan situasi dan kondisi

4

yang beragam dari jarak ke pelayanan kesehatan, medan atau letak geografi dusun dan ragam suku di dusun tersebut. Peneliti mengamati keenam Posyandu di Puskesmas

Jembayan diantara ke ena m Posyandu yakni dengan jumlah balita Posyandu DH : D/S = 189/21, WK : 150/54, AM : 51/30, DL : 63/42, KR : 49/45, AS : 51/15, dua (2) Posyandu yang memiliki jumlah balita terbanyak DH dan WK akses ke pelayanan Posyandu amat mudah dan terjangkau. Bila di Posyandu AM kader memiliki peran serta aktif dengan tiap bulan menyiapkan PMT untuk balita di wilayahnya, begitu pula di DL dan KR yang merupakan Posyandu yang dimiliki ARMED dimana ibu atau istri Komandan ARMED biasanya mewajibkan istri -istri tentara tersebut untuk datang ke Posyandu. Berbeda dengan Ibu -ibu di wilayah Posyandu DH dan WK biasanya mereka jarang menanyakan adanya kenaikan dan penurunan berat badan pada balita mereka. Lalu di kedua Posyandu ini hanya kadang -kadang disiapkan PMT. Salah satu faktor yang mempengaruhi pemanfaatan ibu balita pada posyandu adalah motivasi ibu balita terhadap posyandu yang diiringi oleh pengetahuan tentang posyandu untuk bertindak

mengunjungi posyandu. Sesuai dengan teori S -O-R (StimulusOrganisme-Respons) yang dijabarkan oleh Skinner yakni bila diberikan rangsangan pada organisme (manusia) dengan diberi perhatian, pengertian dan adanya penerimaan maka akan terjadi reaksi berupa sikap (respon tertutup) kemudian karena adanya dukungan fasilitas dan dorongan lingkunga n akan terjadi perubahan sikap dimana dalam

5

hal ini kaitannya bahwa ibu balita akan memiliki respon ketika diberikan rangsangan. Bahwa ibu balita di wilayah kerja Puskesmas Jembayan ini bila tidak diberikan motivasi dari luar maka mereka kurang untuk memanfaatkan pelayanan Posyandu balita. Berdasarkan penjabaran latar belakang diatas, maka

penelitian ini dilakukan secara kualitatif untuk menggambarkan bagaimana peran serta ibu balita dalam motivasi, pengetahuan, dan tindakan terhadap pemanfaatan Posyandu di wilayah kerja Puskesmas Pembantu Jembayan Kecamatan Loa Kulu.
B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pemanfaatan posyandu oleh ibu balita di wilayah kerja Puskesmas Pembantu Jembayan di Desa Jembayan Kec. Loa Kulu?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum Untuk menggali secara mendalam mengenai pemanfaatan

Posyandu Oleh ibu balita di wilayah kerja Puskesmas Pembantu Jembayan, Kecamatan Loa Kulu Kab. Kutai Kartanegara. 2. Tujuan Khusus a. Untuk menggali secara mendalam mengenai motivasi ibu balita terhadap pemanfaatan Posyandu di wilayah kerja Puskesmas Pembantu Jembayan, Kecamatan Loa Kulu Kab. Kutai

Kartanegara.

6

b. Untuk menggali secara mendalam mengenai pengetahuan ibu balita tentang pemanfaatan Posyandu di wilayah kerja

Puskesmas Pembantu Jembayan, Kecamatan Loa Kulu Kab. Kutai Kartanegara. c. Untuk menggali secara mendalam mengenai tindakan ibu balita terhadap pemanfaatan Posyandu di wilayah kerja Puskesmas Pembantu Jembayan, Kecamatan Loa Kulu Kab. Kutai

Kartanegara.

D.

Manfaat Penelitian

1. Manfaat Bagi Fakultas Penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan berikutnya. 2. Manfaat institusi Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu bahan acuan ilmiah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di desa Jembayan khususnya di bidang kesehatan, terutama peningkatan jumlah kunjungan dan merupakan informasi yang berharga untuk memperbaiki upaya pelaksanaan peningkatan pelayanan kepada masyarakat khususnya peningkatan pelayanan kesehatan di Posyandu Balita dan dapat menjadi bahan bacaan peneliti

7

3. Manfaat Bagi Peneliti Merupakan pengalaman berharga dalam memperluas wawasan dan pengetahuan tentang Perilaku masyarakat terhadap

Posyandu melalui penelitian lapangan.

8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Posyandu
1. Pengertian

Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan

diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk

mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi. UKBM adalah wahana pemberdayaan masyarakat, yang dibentuk atas dasar kebutuhan masyarakat, dikelola oleh , dari, untuk dan bersama masyarakat, dengan bimbingan dari petugas Puskesmas, lintas sector dan lembaga terkait lainnya. Pemberdayaan masyarakat adalah segala upaya fasilitasi yang bersifat non instruktif, guna meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat, agar mampu mengidentifikasi masalah yang dihadapi, potensi yang dimiliki, merencanakan dan melakukan pemecahannya dengan memanfaatkan potensi setempat. Pelayanan kesehatan dasar adalah pelayanan kesehatan yang mempercepat penurunan angka kematian ib u dan bayi, yang

9

sekurang-kurangnya mencakup 5 (lima) kegiatan yakni KIA, KB, imunisasi, gizi, dan penanggulangan diare (Depkes RI, 2008). Sasaran Posyandu adalah seluruh masyarakat, utamanya; bayi, anak balita, ibu hamil, ibu melahirkan dan ibu menyusui serta pasangan usia subur (PUS).
2. Prinsip Dasar Posyandu Prinsip dasar Posyandu adalah : 1). Posyandu merupakan usaha masyarakat di mana terdapat perpaduan antara pelayanan professional dan non professional atau oleh masyarakat. 2). Adanya kerjasama lintas program yang baik (KIA, KB, Gizi, Imunisasi dan Penanggulangan Diare) maupun lintas sektoral (Depkes, Depdagri/Bangdes dan BKKBN). 3). Kelembagaan Masyarakat (kelompok timbang/pos timbang, pos imunisasi, pos kesehatan, pos obat desa dan lain -lain). 4). Mempunyai sasaran penduduk yang sama (bayi yang berumur 0 -11 bulan, anak balita yang berumur 1 - 4 tahun, ibu hamil dan PUS). 5). Pendekatan yang digunakan adalah pengembangan dan PKMD/PHC.

3. Tujuan Posyandu

a. Tujuan Umum :

10

Menunjang percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia melalui upaya pemberdayaan masyarakat. b. Tujuan Khusus : 1). Meningkatnya peran masyarakat dalam penyelenggaraan upaya kesehatan dasar, terutama yang berkaitan dengan penurunan AKI dan AKB. 2). Meningkatnya peran lintas sector dalam penyelenggaraan Posyandu, terutama berkaitan dengan penurunan AKI dan AKB. 3). Meningkatnya cakupan dan jangkauan pelayanan kesehatan dasar, terutama yang berkaitan dengan penurunan AKI dan AKB.
4. Kegiatan Posyandu

Kegiatan Posyandu terdiri dari kegiatan utama dan kegiatan pengembangan/pilihan. Secara rinci kegiatan Posyandu adalah berikut: a) Kegiatan Utama 1. Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) a. Ibu Hamil Pelayanan yang diselenggarakan untuk ibu hamil

mencakup: penimbangan berat badan dan pemberian tablet besi yang dilakukan oleh kader kesehatan. Jika ada petugas Puskesmas ditambah dengan pengukuran

11

tekanan

darah

dan

pemberian

imunisasi

Tetanus

Toksoid. Bila tersedia ruang pemeriksaan, ditambah dengan pemeriksaan tinggi fundus/usia kehamilan.

Apabila ditemukan kelainan, segera rujuk ke Puskesmas. b. Ibu Nifas dan Menyusui Pelayanan yang diselenggarakan untuk ibu nifas dan menyusui mencakup : penyuluhan kesehatan, KB, ASI dan gizi, ibu nifas, perawatan kebersihan jalan lahir (vagina), pemberian vitamin A dan tablet besi , perawatan payudara, senam ibu nifas, jika ada tenaga kesehatan Puskesmas dan tersedia ruangan, dilakukan

pemeriksaan kesehatan umum, pemeriksaan payudara, pemeriksaan payudara, pemeriksaan tinggi fundu s dan pemeriksaan lochia. Apabila ditemukan kelainan, segera dirujuk ke Puskesmas. c. Bayi dan Anak Balita Adapun jenis pelayanan yang diselenggarakan Posyandu untuk balita mencakup : penimbangan berat badan , penentuan status pertumbuhan , penyuluhan, jika ada tenaga kesehatan Puskesmas dilakukan pemeriksaan kesehatan, imunisasi dan deteksi dini tumbuh kembang. Apabila ditemukan kelainan, segera dirujuk ke

Puskesmas. 2. Keluarga Berencana (KB)

12

Pelayanan KB di Posyandu yang dapat diselenggarakan oleh kader adalah p emberian kondom dan pemberian kondom dan pemberian pil ulangan. Jika ada tenaga kesehatan Puskesmas dilakukan suntikan KB, dan konseling KB. Apabila tersedia ruangan dan peralatan yang

menunjang dilakukan pemasangan IUD. 3. Imunisasi Pelayanan imunisasi di Po syandu hanya dilaksanakan apabila ada petugas Puskesmas. Jenis imunisasi yang diberikan disesuaikan dengan program, baik terhadap bayi dan balita maupun terhadap ibu hamil. 4. Gizi Pelayanan gizi di Posyandu dilakukan oleh kader.

Sasarannya adalah bayi, balita, ibu hamil dan WUS. Jenis pelayanan yang diberikan meliputi penimbangan berat badan, deteksi dini gangguan pertumbuhan, penyuluhan gizi, pemberian PMT, pemberian vitamin A dan pemberian sirup fe. Khusus untuk ibu hamil dan ibu nifas ditambah dengan pemberian tablet besi serta kapsul Yodium untuk bertempat tinggal di daerah gondok endemic. Apabila setelah 2 kali penimbangan tidak ada kenaikan berat badan, segera dirujuk ke Puskesmas. 5. Pencegahan dan Penanggulangan Diare

13

Pencegahan diare di Posyandu dil akukan antara lain dengan penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Penanggulangan diare di Posyandu dilakukan antara lain penyuluhan, pemberian larutan gula garam yang dapat dibuat sendiri oleh masyarakat atau pemberian Oralit yang disediakan. b) Kegiatan Pengembangan/Tambahan Dalam keadaan tertentu masyarakat dapat menambah kegiatan Posyandu dengan kegiatan baru, di samping 5 kegiatan utama yang telah ditetapkan. Kegiatan baru tersebut misalnya : perbaikan kesehatan lingkungan, pemberantasan penyakit menular, dan berbagai program pembangunan

masyarakat desa lainnya. Posyandu yang seperti ini disebut dengan nama Posyandu Plus.
5. Sistem Pelayanan Posyandu (Sistem Lima Meja)

Pelayanan

Posyandu dimotori oleh kader posyandu

dengan bimbingan teknis dari Puskesmas dan sector terkait. Jumlah minimal kader untuk setiap posyandu adalah 5 (lima) orang, jumlah ini sesuai dengan jumlah kegiatan utama yang dilaksanakan oleh posyandu yang mengacu pada system 5 (lima) meja. Yang dimaksud dengan 5 (lima) meja disini bukan menunjuk pada arti harfiah meja namun pada jumlah dan jenis pelayanan. Guna meminimalisir salah penafsiran tentang system 5 (lima) meja maka istilah ini diganti menjadi langkah pelayanan (Depkes RI, 2008).

14

a. Meja I (langkah pertama) :pendaftaran, pencatatan bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui dan PUS. b. Meja II (langkah kedua) : penimbangan berat badan balita dengan menggunakan dacin, penimbangan berat badan ibu hamil dengan menggunakan timbangan berdiri. c. Meja III (langkah ketiga) : pengisian timbang. d. Meja IV (langkah keempat) : diketahui berat badan anak yang
naik/tidak naik, ibu hamil dengan risiko tinggi, PUS yang belum mengikuti KB, penyuluhan kesehatan , pemberian Oralit, Vitamin A, Tablet tambah darah, PMT dan pil KB.

KMS, pencatatan hasil

e. Meja V (langkah kelima) : pemberian imunisasi untuk bayi dan ibu
hamil, pemeriksaan kehamilan, pemeriksaan kesehatan dan

pengobatan, p elayanan kontrasepsi IUD dan suntikan.

Untuk meja I sampai IV dilaksanakan oleh kader kesehatan dan untuk meja V dilaksanakan oleh petugas kesehatan, diataranya : dokter, bidan, perawat, juru imunisasi, TPG dan sebagainya.
6. Penyelenggara Posyandu

a. Pelaksana Kegiatan
Pelaksana kegiatan adalah anggota masyarakat yang telah dilatih menjadi kader kesehatan setempat dibawah bimbingan petugas Puskesmas (Bidan Desa atau Pembina Posyandu dari pemegang program di Puskesmas).

b. Pengelola Posyandu

15

Pengelola Posyandu adalah pengurus yang dibentuk berasal dari kader PKK desa (Pokja IV PKK), tokoh masyarakat formal atau informal serta kader kesehatan yang ada di wilayah setempat.
7. Pelaksanaan

Pada

pelaksanaan

Posyandu

melibatkan

petugas

Puskesmas, petugas BKKBN sebagai penyelenggara pelayanan professional dan peran serta masyarakat secara aktif dan positif sebagai penyelenggara pelayanan non professional secara terpadu dalam rangka alih teknologi dan swakelola masyarakat. Dari segi petugas Puskesmas : a. Pendekatan yang dipakai adalah pengembangan dan

pembinaan PKMD. b. Perencanaan terpadu tingkat Puskesmas (mikro planning) dan loka karya mini tingkat Puskesmas. c. Pelaksanaan melalui system lima meja dan alih teknologi. Dari segi masyarakat : a. Kegiatan swadaya masyarakat yang diharapkan adanya kader kesehatan. b. Perencanaan melalui musyawarah masyarakat desa. c. Pelaksanaan melalui sistem lima meja.
8. Stratifikasi/Status Posyandu

16

Atas dasar delapan indikator, Posyandu dapat digolongkan menjadi empat tingkatan, yaitu : 1) Posyandu Pratama (Warna Merah) : Posyandu tingkat pratama adalah Posyandu yang masih belum mantap, kegiatannya belum bisa rutin tiap bula n dan kader aktifnya terbatas. 2) Posyandu Madya (Warna Kuning) :Posyandu pada tingkat madya sudah dapat melaksanakan kegiatan lebih dari delapan kali per tahun, dengan rata -rata jumlah kader tugas lima orang atau lebih. Akan tetapi cakupan program utamanya ( cakupan D/S, cakupan KIA, cakupan Imunisasi, cakupan KB) masih rendah, yaitu kurang dari 50%. Ini berarti, kelestarian Posyandu sudah baik tetapi masih rendah cakupannya. 3) Posyandu Purnama (Warna Hijau) : Posyandu pada tingkat purnama adalah Posyandu yang f rekuensi kegiatannya lebih dari delapan kali per tahun, rata -rata jumlah kader tugas lima orang atau lebih dan cakupan program utamanya lebih dari 50%. Sudah ada program tambahan, bahkan sudah ada dana sehat yang masih sederhana. 4) Posyandu Mandiri ( Warna Biru) : Posyandu ini berarti sudah dapat
melakukan kegiatan secara teratur, cakupan lima program utama sudah bagus, ada program tambahan dan dana sehat telah menjangkau lebih dari 50% KK.

Secara ringkas kriteria kategorisasi Posyandu adalah seperti tampak pada tabel berikut ini;

17

Tabel 2.1 Tingkat Kemandirian Posyandu
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Indikator Frekwensi penimbangan Rerata kadar tugas Rerata cakupan D/S Cakupan kumulatif KIA cakupan kimulatif KB Cakupan kum. Imunisasi Program tambahan Cakupan dana sehat Pratama <8 <5 <50% <50% <50% <50% <50% Madya >8 •5 <50% <50% <50% <50% <50% Purnama >8 •5 •50% •50% •50% •50% + <50% Mandiri >8 •5 •50% •50% •50% •50% + •50%

B. Tinjauan Umum Tentang Keikutsertaan Ibu Balita 1. Pengertian peran serta masyarakat

Partisipasi

merupakan

sinonim

dari

keikutsertaan,

keterlibatan. Beberapa definisi dan pendapat yang membahas hal peran serta atau partisipasi (masyarakat), baik dari segi kejiwaan maupun sosial dan efek yang dicapai, dijelaskan dalam buku R.A Santoso Sastropoetro (1988) yang mengutip beberapa ahli sebagai berikut: a) Gordon W. Allport : ´The person who participates is ego -involved instead of merely taks-involved´ b) Pendapat tersebut diterjemahkan oleh R.A.Santoso

Sastropoetro (1988:12) sebagai beriku t:

18

³Bahwa seseorang yang berpartisipasi sebenarnya mengalami keterlibatan keterlibatan keterlibatan perasaannya´. c) Pengertian peran serta masyarakat dikemukakan oleh Marjono dalam makalahnya yang berjudul Revitalisasi Posyantekdes Sebagai Upaya Pemberdayaan Masyarakat Dalam Otonomi Daerah adalah: ³Keikutsertaan/keterlibatan masyarakat dengan sadar dalam suatu program/kegiatan pembangu nan. Peran serta dapat dianggap sebagai tolok ukur dalam menilai apakah suatu kegiatan yang dilaksanakan merupakan upaya pemberdayaan masyarakat atau bukan. Jika masyarakat tidak diberikan kesempatan untuk berperan serta/berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan, maka kegiatan tersebut esensinya tidak dirinya/egonya dalam dirinya, yang sifatnya tugas lebih saja. daripada Dengan dan

pekerjaan berarti

atau

keterlibatan

pikiran

merupakan suatu upaya pemberdayaan masyarakat, melainkan memperdaya masyarakat´. Selanjutnya Marjono

mengemukakan: Konsekuensi logis dari prinsip tersebut, pelaksanaan pemberdayaan masyarakat semestinya meliba tkan langsung/tidak langsung berbagai elemen masyarakat dengan harapan program-program akan pemberdayaan rasa masyarakat memiliki itu dan Dalam

masyarakat

menumbuhkan atas program

bertanggungjawab

tersebut.

19

pemberdayaan masyarakat, peran serta/partisipasi menduduki posisi penting, karena memiliki tujuan dan fungsi yang strategis.
Tujuan daripada peran serta masyarakat dalam kegiatan

pemberdayaan masyarakat, yakni menumbuhkan kesadaran hak dan kewajiban masyarakat, memupuk keswadayaan ( sharing ± jiwa berbagi), meneguhkan rasa tanggungjawab, merasa memiliki dan mau memelihara atas hasil dan pasca kegiatan serta

mengembangkannya. Sedangkan fungsi yang diemban oleh peran serta , antara lain tidak sedikit kegiatan yang memiliki bisa diselesaikan, tambah, kebutuhan,

meminimumkan tanggungjawab

dana/anggaran, tinggi,

nilai

mengakomodir

pemanfaatan/penggunaan sumberdaya alam dan manusia dapat optimum.
2. Pengertian partisipasi Ibu Balita

Upaya peningkatan partisipasi Ibu dalam membina pertumbuhan dan perkembangan anak balita dilakukan antara lain melalui kegiatan kelompok bina keluarga balita (BKB). Sebagai kelanjutan kegiatan tahun sebelumnya, pada tahun 1995/96 dilakukan pendidikan dan pelatihan bagi 420 orang kader BKB di 14 propinsi. Di samping itu, ke giatan posyandu terus ditingkatkan mela lui kegiatan imunisasi bagi ibu hamil, usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK), dan penyuluhan tentang

20

pentingnya imunisasi bagi anak balita dan pentingnya air susu ibu (ASI) bagi pertumbuhan dan perkembangan anak balit a. Upaya peningkatan peran serta ibu balita dalam

masyarakat dilaku kan melalui berbagai aktivitas wanita untuk mendukung pembangunan di daerahnya. Kegiatan tersebut dilaksanakan antara lain melalui wadah PKK, KB, dan posyandu. Melalui gerakan PKK, wanita berperan aktif dalam membina kesejahteraan posyandu, keluarganya, terlibat sedangkan secara aktif dalam dalam kegiatan pembe rian

wanita

pelayanan kesehatan, imunisasi, dan perbaikan gizi keluarga. Di bidang keluarga berencana (KB), peran wanita adalah se bagai peserta dan motivator KB.
3. Tingkat partisipasi masyarakat

Setiap pemimpin yang berusaha menerapkan peran serta atau partisipasi akan mengalami, bahwa tentang kegiatan ini terdapat berbagai tingkatan, demikian pula bahwa jenjangnya itu bisa bergerak dari nol sampai dengan yang tidak terbatas. Dalam kaitan itu, maka partisipasi yang paling rendahlah yang tentunya paling mudah dicapai. Untuk menumbuhkan kegiatan partisipasi masyarakat diperlukan suatu keterampilan dan pengetahuan agar dapat mencapai berbagai tingkatannya, dan untuk itu selalu dapat ditemukan titik tolaknya untuk mengawalinya.

21

C. Tinjauan Umum Tentang Motivasi 1. Pengertian Motivasi

Motivasi adalah semua proses yang menjadi penggerak, alasan-alasan atau dorongan -dorongan dalam diri manusia yan g menyebabkan seseorang berbuat sesuatu. Suatu motivasi murni adalah motivasi yang betul -betul disadari akan pentingnya suatu prilaku dan dirasakan sebagai suatu kebutuhan. Motivasi adalah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.

2. Ciri Motivasi

Motivasi yang tinggi dari setiap orang itu mempunyai ciriciri sebagai berikut:

a. Tekun menghadapi tugas. b. Ulet menghadapi kesulitan karena kuatnya motivasi instrinsik, tidak cepat puas dengan hasil yang telah dicapai c. Menunjukkan minat terhadap be rbagai macam masalah d. Lebih senang bekerja sendiri e. Cepat bosan pada tugas-tugas rutin f. Dapat mempertahankan pendapatnya kalau sudah yakin akan sesuatu g. Tidak mudah melepaskan hal yang diyakininya itu h. Senang mencari dan memecahkan masalah.

22

3. Faktor Penggerak Motivasi

Motivasi ada dalam diri manusia terdorong oleh karena adanya :

a. Keinginan untuk hidup b. Keinginan untuk memiliki sesuatu c. Keinginan akan kekuasaan d. Keinginan akan adanya pengakuan

Sehingga secara singkat, motivasi dapat diartikan sebagai dorongan atau keinginan yang dapat d icapai dengan perilaku tertentu dalam suatu usahanya.

4. Teori Motivasi

Beberapa teori yang menjelaskan tentang motivasi adalah teori motivasi instrumental dan motivasi kebutuhan.

a. Teori Motivasi Kebutuhan : Teori ini menitikberatkan pada pengenalan rangsangan dari dalam atau kebutuhan seseorang. Teori kebutuhan ini dikembangkan oleh Maslow (1993) yang dikenal dengan ³Need Hierarchy Theory´, di mana kebutuhan manusia diklasifikasikan dalam lima jenjang dari yang paling rendah sampai jenjang yang paling tinggi. Adapun jenjang dari kebutuhan seseorang terdiri dari : kebutuhan fisiologis,

kebutuhan rasa aman, kebutuhan akan dicintai dan kasih sayang, kebutuhan penghargaan dan kebutuhan aktualisasi.

23

b. Teori Motivasi Dorongan : Teori ini mengatakan bahwa tingkah laku seseorang didorong kearah suatu tujuan tertentu karena adanya suatu kebutuhan. Dorongan tersebut adalah sesuatu yang dibawa sejak lahir atau bersifat intrinsik. Dorongan dapat dipelajari dan berasal dari pengalaman -pengalaman dimasa lalu, sehingga berbeda untuk tiap orang c. Teori Motivasi Instrumental : Teori motivasi instrumental adalah teori yang berpendapat bahwa harapan akan imbalan dan hukuman merupakan pendorong bagi tindakan seseorang. Menurut Bernand dan Simon, bahwa dala m organisasi selalu terjadi proses tukar-menukar atau jual-beli antara pimpinan dan staf/bawahan. Seseorang akan mempunyai motivasi yang tinggi untuk berprestasi bila ia yakin bahwa prestasinya itu

menghasilkan imbalan yang lebih besar. Jadi manusia memiliki motivasi yang berbeda-beda pada waktu yang dan situasi yang tidak sama. Kemampuan untuk memahami manusia adalah penting bagi seorang pemimpin. Dengan gaya

kepemimpinannya, seseorang diharapkan dapat mengetahui dan memenuhi kebutuhan mereka, sehingga sem akin

termotivasi untuk bekerja yang lebih baik.

5. Kekuatan Motivasi

Motif adalah suatu istilah -istilah psikologis yang berasal dari bahasa Latin

24

Movere. Menurut Branca (Syarkawi, 2000) movere berarti bergerak. Selanjutnya pengertian motif lebih banyak dihub ungkan dengan faktor penyebab timbulnya aktifitas dalam suatu proses terjadinya aktifitas itu sendiri.

Menurut Gerungan (2005) motif adalah suatu pengertian yang mencakup semua penyebab, alasan, dorongan di dalam diri manusia yang membuat manusia bergerak. Segala perilaku manusia dimulai dari adanya kebutuhan dalam diri. Kebutuhan inilah yang kemudian yang mendorong manusia untuk bergerak, berarti bahwa sumber dari motif adalah kebutuhan (need) dan dorongan (drive). Motif, disamping sebagai dorongan dari da lam diri manusia juga mengandung pengertian adanya suatu tujuan yang ingin dicapai.

Motif adalah kondisi internal yang membuat orang aktif dan mengarahkannya untuk mencapai tujuan tertentu. Sebagian ahli berpendapat bahwa istilah motif dan motivasi mengand ung pengertian yang sama. Namun sebagian lagi berpendapat berbeda. Mc. Clelland (Martaniah, 1994:18) menganggap kedua istilah tersebut lebih kurang sama sehingga ia menggunakan istilah itu secara bergantian. Kemudian Atkinson mengartikan motivasi sebagai perwujudan motif yang berbentuk tingkah laku yang nyata. Pendapat yang sedikit berbeda ialah pendapat Muharli yang mengatakan motif adalah alasan atau dorongan yang

25

menggerakkan orang untuk melakukan sesuatu, sedangkan motivasi adalah proses pembangkitan gerak agar seseorang bergerak untuk melakukan sesuatu.

Telah banyak para ahli mengadakan penyelidikan untuk menemukan cara mengukur intensitas atau kekuatan motif dan motivasi, di antaranya Skinner dengan menggunakan metode penghalang atau obstruction method e. Dari hasil eksperimen itu Skinner mengambil kesimpulan bahwa kekuatan motivasi dapat diukur dengan mengamati atau menilai tingkat kemampuan organisme dalam mengatasi hambatan dan rintangan yang dihadapi, artinya semakin besar rintangan yang dapat diatas i berarti memiliki motivasi yang kuat pula.

6. Bentuk Motivasi

Dalam hubungannya dengan motivasi berdasarkan sifat, ada dua bentuk motivasi, yaitu : motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik (Winkel, 1995). Dua bentuk motivasi lain yaitu motivasi terdesak dan motivasi yang berhubungan dengan ideologi, politik, sosial budaya dan pertahanan dan keamanan.

D. Tinjauan Umum Tentang Pengetahuan

Pengetahuan adalah merupakan hasil mengingat suatu hal, termasuk mengingat kembali kejadian yang pernah dialami baik secara sengaja maupun tidak disengaja dan ini terjadi setelah orang

26

melakukan kontak atau pengamatan terhadap suatu objek tertentu (Wahit,dkk, 2006). Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indera pendengaran (telinga) dan indera penglihatan (mata). 1. Tingkat Pengetahuan Menurut Bloom dalam Notoatmodjo (2005), pengetahuan merupakan bagian dari ³Cognitive Domain´ yang mempunyai enam tingkatan, yaitu : a. Tahu (know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. b. Memahami (comprehention) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk

menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. c. Aplikasi (aplication) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). d. Analisis (analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek kedalam komponen-komponen tetapi masih di

27

dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. e. Sintesis (synthesis) Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian -bagian di dalam suatu bentuk yang baru. f. Evaluasi (evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi atau obyek. 2. Domain Pengetahuan Pengetahuan merupakan domain terpenting terbentuknya tindakan seseorang (over behavior). Penelitian Rogers (1974) dikutip oleh Notoatmodjo (2005) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru didalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan yakni : a. Awareness (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (obyek). b. Interest ,dimana orang mulai tertarik kepada stimulus. c. Evaluation (menimbang-nimbang terhadap baik tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya) d. Trial, dimana orang telah berperilaku baru.

28

e. Adoption, dimana subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.
E. Tinjauan Umum Tentang Tindakan

Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam bentuk tindakan (overt behavior). Untuk terwujudnya sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang

memungkinkan, antara lain adalah fasilitas atau sarana dan prasarana . Tingkat-Tingkat Praktek: 1. Persepsi Mengenal dan memilih berbaga i objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil merupakan praktek tingkat pertama. Misalnya seorang ibu dapat memilih makanan yang bergizi tinggi bagi anak balitanya. 2. Respon Terpimpin (Giuded Respons) Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar sesuai dengan contoh merupakan indikator praktek tingkat kedua. Misalnya seorang ibu dapat memasak sayur dengan benar, mulai dari cara mencuci dan memotong-motongnya, lamanya memasak, menutup pancinya, dan sebagainya. 3. Mekanisme (Mecanism) Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan maka ia sudah mencapai praktek tingkat tiga. Misalnya seorang ibu

29

yang sudah biasa mengimunisasi bayi pada umur -umur tertentu tanpa menunggu perint ah atau ajakan orang lain. 4. Adaptasi (Adaptation) Adaptasi adalah suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. Artinya tindakan itu sudah

dimodifikasinya sendiri tanpa mengurangi kebenaran tindakannya tersebut. Misalnya ibu dapat memilih d an memasak makanan yang bergizi tinggi berdasarkan bahan -bahan murah dan sederhana. Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara tidak langsung yakni dengan wawancara terhadap kegiatan -kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam, hari atau bulan yang lalu (recall). Pengukuran juga dapat dilakukan secara langsung yakni dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan responden. (Notoadmodjo, 2007).

F. Determinan Perilaku Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan

Pemanfaatan

pelayanan

kesehatan

tergantung

pada

prediposisi keluarga cenderung menggunakan pelayanan kesehatan yang mana serta kepercayaan dan sikap terhadap pelayanan medis, dokter dan penyakit (termasuk sress serta kecemasan yang ada kaitannya dengan kesehatan). Fungsi pelayanan kesehatan dan pemeliharaan kesehatan tidak dapat lagi seluruhnya ditangani oleh para dokter saja. Apalagi kegiatan itu mencakup kelompok masyarakat luas. Para dokter memerlukan bantuan tenaga paramedic, sanitasi, gizi, ahli ilmu social

30

dan juga anggota masyarakat (tokoh masyarakat, kader) unt uk melaksanakan program kesehatan, tugas tim kesehatan ini dapat dibedakan menurut tahap/jenis program kesehatan yang dijalankan, yaitu promosi kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan dan rehabilitasi (Depkes RI, 2006). Pelayanan yang berkualitas adalah pelayanan kesehatan harus memiliki persyaratan pokok yaitu : a). tersedia dan

berkesinambungan, b). mudah dicapai, c). mudah dijangkau, d). dapat diterima dan wajar, e). bermutu (Azwar, 1996). Menurut Reinke (1994), yang dikutip oleh Hutahuruk (2005) ada beberapa factor yang mempengaruhi seseorang memanfaatkan pelayanan kesehatan adalah : 1). Factor regional. 2). Factor dan system pelayanan kesehatan yang bersangkutan, yaitu tipe dari organisasi, misalnya rumah sakit, puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. 3). Factor adanya fasilitas kesehatan lain 4). Factor-faktor dari konsumen yang menggunakan pelayanan

kesehatan yaitu factor sosio psikologis yang meliputi sikap persepsi terhadap pelayanan kesehatan. Menurut Departemen Kesehatan RI (2002), rendahnya pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah sebagai berikut : 1). Jarak yang jauh (factor geografi) 2). Tidak tahu adanya suatu kemampuan fasilitas (factor informasi)

31

3). Biaya yang tidak terjangkau (factor ekonomi) 4). Tradisi yang menghambat pemanfaatan fasilitas (factor budaya) Teori perilaku menurut Anderson tahun 1974 bahwa faktor faktor yang menentukan pemanfaatan pelayanan kesehatan dibagi menjadi tiga (3) yaitu : 1. Komponen/Karakteristik predisposisi (pendorong) seseorang untuk menggunakan pelayanan kesehatan. Anderson membagi

komponen ini berdasarkan karakteristik pasien ke dalam tiga bagian meliputi ciri demografi, struktur social, keyakinan terhadap pelayanan kesehatan (health beliefs) (Becker, 1995). 2. Komponen/Karakteristik enabling atau kemampuan seseorang untuk menggunakan pelayanan kesehatan. Factor biaya dan jarak pelayanan kesehatan dengan rumah berpengaruh terhadap

perilaku penggunaan atau pemanfaatan pelayanan kesehatan (Kresno, 2005). 3. Komponen/Karakteristik Need atau kebutuhan seseorang akan pelayanan kesehatan. Anderson dan Sheatsley (1967) menemukan 79% orang yang mengalami sakit tidak mencari pengobatan dengan alas an bahwa gejala penyakit tersebut tidak berbahaya sehingga mereka tidak membutuhkan pelayanan kesehatan

(Greenley, 1980).

32

Sedangkan menurut Lawrence Green (1980) Kesehatan seorang individu maupun sebuah masyarakat akan dipengaruhi oleh 2 (dua) factor utama yaitu perilaku itu sendiri dan factor diluar perilaku tersebut. Factor perilaku ditentukan oleh 3 faktor sebagai berikut : 1. Factor predisposisi (predisposing factors) yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan dan nilai -nilai. 2. Factor pendukung (enabling factor) yang terwujud dalam

lingkungan fisik dan tersedia atau tidak tersedianya fasilitas atau sarana kesehatan. 3. Factor pendorong (reinforcing factor) yang terwujud dlam sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lain yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh p engetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Selain itu, ketersediaan fasilitas, sikap dan perilaku petugas yang memberikan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat juga akan mendukung dan memperkuat terben tuknya perilaku masyarakat.

33

G.

Kerangka Teori

Pendekatan teori yang dipakai dalam penelitian ini menggunakan teori Anderson (1974) dan Lawrence green (1980).

Berdasarkan teori di atas berikut bagan kerangka teori :

Teori Anderson Karakteristik predisposisi: Jenis kelamin Umur Pendidikan Pekerjaan Suku/ras Manfaat-manfaat kesehatan Pemanfaatan Pelayanan Posyandu

Teori Lawrence Green

Factor predisposisi: Pengetahuan Sikap Kepercayaan Persepsi motivasi Nilai-nilai
Factor pendorong: Lingkungan fisik Fasilitas/sarkes

Karakteristik pendukung: Sumber daya keluarga Sumber daya masyarakat

Karakteristik kebutuhan: Kebutuhan yang dirasakan individu terhadap pelayanan kesehatan

Factor penguat: Sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lain Dukungan keluarga

Gambar 1 : Kerangka Teori menurut Anderson (1974) dan Lawrence Green (1980)

34

BAB III METODELOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian Kualitatif yang merupakan penelitian yang digunakan untuk menyelidiki, menemukan, menggambarkan, dan menjelaskan kualitas atau keistimewaan dari pengaruh sosial yang tidak dapat dijelaskan, diukur atau digambarkan melalui pendekatan kuantitatif (Saryono, 2010). Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang motivasi, pengetahuan, dan tindakan ibu balita terhadap Posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Pembantu Jembayan di Desa Jembayan Kecamatan Loa Kulu Kabupaten Kutai Kartanegara tahun 2011.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan April ± Mei 2011
2. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Jembayan Kecamatan Loa Kulu Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur .
C. Informan Penelitian

Informan penelitian adalah ibu yang mempunyai anak balita yang pernah dan tidak pernah mengikuti kegiatan Posyandu yang ada

35

di wilayah kerja Puskesmas Pembantu Jembayan Kecamatan Loa Kulu Kabupaten Kutai Kartanegara. Informan kunci pada penelitian ini adalah petug as kesehatan seperti petugas Posyandu dari Puskesmas dan kader -kader Posyandu. Dalam penelitian mengenai teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu purposive sampling dengan pendekatan snowball sampling melalui wawancara yang mendalam (intensive interview, indepth interview) dan berhenti ketika tidak ada informasi baru lagi (Hamidi, 2008). Pemilihan informan dilakukan dengan cara Snowball Sampling yang merupakan teknik pengambilan sampel sumber data, yang pada awalnya jumlahnya sedikit, lama-lama menjadi besar. Hal ini dilakukan karena dari jumlah sumber data yang sedikit itu belum mampu memberikan data yang memuaskan, maka mencari orang lain lagi yang dapat digunakan sebagai sumber data. Dengan demikian jumlah sampel sumber data akan semakin besar, seperti bola salju yang menggelinding, lama-lama menjadi besar (Sugiyono,2010).

36

D.

P

li i

V i

l I

V i

l

Motivasi

Pengetahuan

Pemanfaatan Posyandu Ibu Balita

Tindakan

.B K t: : ti : it liti it liti

K

K

P

liti

E. Defi i i . i i

ep Peneli i n

ti t ii i l iP

i l

l

l t . i lit . t ti

t ii i i t t i f l t

37

2. Pengetahuan

Pengetahuan Ibu balita adalah hal -hal yang diketahui ibu balita atau informan tentang pengertian posyandu, tujuan dan manfaat posyandu untuk balita, serta pelayanan atau kegiatan posyandu untuk balita.
3. Tindakan

Tindakan ibu balita pada penelitian ini terfokus pada kehadiran rutin ibu balita ke posyandu, meminta penjelasan kepada kader ketika balita telah ditimbang.
4. Pemanfaatan Posyandu

Pemanfaatan pelayanan Posyandu adalah tindakan ibu atau informan membawa balitanya menggunakan semua pelayanan kesehatan di Posyandu

F. Cara Pengumpulan Data 1. Data Primer

Data primer didapat dari informan melalui wawancara mendalam dengan orang-orang tertentu atau telah ditentukan sebelumnya yang dapat memberikan keterangan dari data yang diinginkan. Pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara mendalam (indepth interview) terhadap ibu balita dan kader Posyandu di wilayah kerja Puskesmas Jembayan, dengan

38

menggunakan pedoman wawancara (interview guide) dan alat bantu seperti tape recorder, kamera dan catatan lapangan.
2. Data Sekunder

Data sekunder meliputi : a. Dokumen Dokumen adalah cara memperoleh data dengan mengambil hasil dari dokumentasi yang tersedia (arsip, laporan, dan sebagainya) saat penelitian berlangs ung. b. Kepustakaan Pengumpulan data melalui buku -buku dan sumber bacaan lainnya sebagai tinjauan pustaka yang memuat tentang beberapa pendapat pakar yang berkaitan dengan penelitian guna mendukung penulisan maupun pembahasan skripsi ini. Data sekunder diperoleh dari Kantor Desa Jembayan dan Puskesmas Loa Kulu dan Puskesmas Pembantu Jembayan serta 6 (enam) Posyandu di Desa Jembayan.
G. Teknik Pengambilan Data

Hal yang dilakukan Sebelum melaksanakan pengambilan data, yaitu menjalin hubungan baik dengan ibu balita. Ada empat macam teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu sebagai berikut:

39

1. Wawancara Mendalam Jenis wawancara yang akan dilakukan yaitu wawancara terstruktur, karena dalam melakukan wawancara, selain harus membawa instrumen sebagai pedoman untuk wawancara, maka pengumpul data juga dapat menggunakan alat Bantu seperti tape recorder, gambar, brosur, dan material lain yang dapat membantu pelaksanaan wawancara menjadi lancar. (Esterberg, 2002) Wawancara dilakukan secara mendalam dengan orang menggunakan wawancara). bantuan Wawancara pertanyaan -pertanyaan pendahuluan dilakukan (panduan dengan

mewawancarai orang yang dinilai dapat memeberikan informasi yang diperlukan kemudian diteruskan dengan informan-informan berikutnya sesuai dengan permasalahan. 2. Panduan Wawancara Panduan wawancara telah disiapkan untuk informan yang di bagi menajdi 2 yaitu ibu balita yang pernah dan tidak pernah mengikuti kegiatan Posyandu sebagai informan utama, sebagai petugas kesehatan informan kunci. 3. Dokumentasi Gambaran-gambaran kegiatan-kegiatan berlangsung. yang nyata telah mengenai dilakukan proses saat serta

penelitian

40

4. Observasi Beberapa informasi yang diperoleh dari hasil observasi adalah ruang (tempat), pelaku, kegiatan, objek, perbuatan, kejadian, atau peristiwa, waktu dan persaan. Alasan peneliti melakukan observasi adalah untuk menyajikan gambaran realistik perilaku atau kejadian, untuk menjawab pertanyaan, untuk

membantu mengerti perilaku manusia, dan untuk evaluasi yaitu melakukan pengukuran terhadap aspek tertentu melakukan umpan balik terhadap pengukuran.
H. Proses Analisis Data

Analisis telah mulai sejak merumuskan dan menjelaskan masalah, sebelum terjun kelapangan, dan berlangsung terus sampai penulisan hasil penelitian. (Nasution, 1998). Namun difokuskan dalam penelitian di kualitatif, lapanga n analisis data lebih

selama

proses

bersamaan

dengan

pengumpulan data. Analisis kualititif pene litian ini dilaksanakan dengan: 1. Reduksi Data Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya, karena data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data.

41

2. Penyajian Data Setelah mereduksi data, langkah selanjutnya yaitu menyajikan data. Dengan menyajikan data maka akan mudah memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut. Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart, dan sejenisnya. (Miles dan Huberman, 1984) Untuk mempermudah melihat pola -pola jawaban informan, maka data dimasukan kedalam matriks jawaban. Semua jawaban di matriks dianalisa dengan cara mencari persamaan dan perbedaan jawaban narasumber, mengelompokan anta ra jawaban yang sama dan berbeda, mengutip ungkapan lisan dari informan yang

menggambarkan tiap sudut pandang informan yang berbeda. 3. Verifikasi Menurut Miles dan Huberman langkah ketiga dalam analisis data kualitatif adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin juga tidak, karena seperti telah dikemukankan bahwa masalah dan rumusan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah berada di lapangan. Kesimpulan merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada.

42

Temuan dapat berupa deskri psi atau gambaran, hipotesis atau teori.

43

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL PENELITIAN 1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian a. Lokasi Penelitian

Penelitian mengenai Pemanfaatan Posyandu oleh ibu balita di wilayah kerja Puskesmas Pembantu Jembayan di Desa Jembayan Kecamatan Loa Kulu. Secara umum keadaan

Desa Jembayan merupakan dataran rendah dan tinggi yang terletak dipinggiran sungai Mahakam. Sebagian besar wila yah Desa Jembayan merupakan areal operasi tambang batubara dan beberapa perusahaan sawit. Akses jalan desa bila dekat perkotaan baik namun bila menuju dusun ke dusun agak rusak dan semakin parah bila musim hujan. Wawancara dilakukan pukul 09.00 sampai 12.00 wita kadang-kadang jam 12.00 wita keatas saat peneliti pulang kerja dan mencari waktu luang dari informan yang akan diwawancarai.
b. Fasilitas Kesehatan Lokasi Penelitian

Fasilitas kesehatan yang dimiliki Desa Jembayan yaitu terdapat Puskesmas Pembantu dan 1 polindes dengan 4 orang tenaga kesehatan, yaitu 2 perawat dan 2 bidan. Terdapat pula 6 Posyandu dengan masing - masing 5 orang kader.

44

2. Karakteristik Informan

Informan dalam penelitian ini berjumlah 13 orang, yaitu terdiri dari 10 informan utama yaitu ibu balita yang dan 3 informan kunci yaitu petugas kesehatan (1 orang perawat, 2 orang kader posyandu) Karakteristik informan dalam penelitian ini meliputi umur, pendidikan, pekerjaan . a. Usia Karakteristik informan berdasarkan usia ibu balita di wilayah kerja puskesmas Pembantu Jembayan yaitu informan dengan usia 20-30 tahun sebanyak 4 orang, usia 31-40 sebanyak 8 orang. b. Pendidikan terakhir Karakteristik informan berdasarkan pendidikan terakhi r ibu balita di wilayah kerja Puskesmas pembantu Jembayan yaitu Sebanyak 1 orang informan lulusan S1, sebanyak 4 orang lulusan SMA, sebanyak 3 orang lulusan SLTP dan 3 orang lulusan SD. c. Pekerjaan Karakteristik informan berdasarkan jenis pekerjaan ibu balita diwilayah kerja Puskesmas pembantu Jembayan yaitu

sebanyak 8 orang Ibu Rumah Tangga, 5 orang PNS.

45

3. Hasil Wawancara

Dari kegiatan wawancara mendalam (Indepth Interview) yang dilakukan pada saat penelitian di wilayah kerja Puskesmas Pembantu Jembayan Kecamatan Loa Kulu Kabupaten Kutai Kartanegara pada bulan April sampai dengan Mei tahun 2011 , maka diperoleh hasil sebagai berikut : a. Motivasi ibu balita terhadap Pemanfaatan Posyandu Balita Pertanyaan ini diajukan untuk memperoleh informasi mengenai perilaku informan dalam memanfaatkan Posyandu Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Jembayan 1. Tujuan ibu setiap bulan datang ke Posyandu balita Dari hasil wawancara yang dilakukan secara

mendalam kepada informan tentang tujuan ibu setiap bulan datang ke Posyandu Balita yakni untuk menimbang dan imuniasi anak. Seperti yang diungkapkan ibu yang menjadi informan utama dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut: ³Kalo ke posyandu ya biasanya timbang sama vaksin anak saya.´ (DW : 18 April 2011) ³mau nimbang berat badan sama imunisasi anak saya ´ (ER : 18 April 2011)

46

(ibu balita yang tidak pernah dating ke Posyandu) ³ya ini bu.. mau nimbang sama vaksin anak saya´ (YI: 22 April 2011) ³ya.. nimbang sama imunisasi anak saya lah..´ (NN: 22 April 2011)

Hal ini sesuai dengan pernyataan yang diungkapkan informan kunci yaitu petugas kesehatan setempat sebagai berikut: ³ya rata-rata ibu-ibu balita yang datang kemari Posyandu tujuannya untuk menimbang berat badan dan imunisasi anaknya ´ (DM: 22 April 2011)

Dari pernyataan diatas dapat ditarik analisis bahwa ibu balita yang pernah dan yang tidak pernah datang ke Posyandu Balita tujuannya untuk menimbang dan

mengimunisasi balita mereka. 2. Yang mendorong ibu sehingga ibu merasa harus ke Posyandu Balita setiap bulan Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan

secara mendalam kepada informan tentang apa yang mendorong ibu sehingga ibu merasa harus ke Posyandu

47

setiap bulan. Seperti di ungkapkan ibu balita yang menjadi informan utama dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut : ³Pengen tahu berat badan anak saya naik apa nggak, terus supaya bias dapat makanan tambahan dan vitamin A gratis ´ (DW : 18 April 2011) ³Cuman mau tau anak saya naik apa turun timbangannya trus khan bisa vaksin´ (ER : 18 April 2011) ³Mau tahu apakah ada kenaikan berat badan anak saya atau tidak³ (YI : 22 April 2011) ³Yaa.. mau tau berat badan anak saya berubah naik apa turun´ (NN : 22 April 2011)

Hal ini sejalan dengan pernyataan informan kunci yaitu seorang petugas kesehatan yang menyatakan hal serupa sebagai berikut : ³Biasanya ibu-ibu balita yang datang keposyandu itu datang untuk timbang berat badan anak mereka dan imunisasi dan supaya dapat vitamin A kalau memang bulannya vitamin A ´ (DM : 22 April 2011)

Dari hasil wawancara mendalam (Indepth interview) yang telah dilakukan dilapangan bahwa hal-hal yang

48

mendorong ibu-ibu balita untuk datang ke posyandu adalah untuk mengetahui apakah ada kenaikan berat badan anak mereka dan bisa mendapatkan makanan tambahan serta vitamin A. 3. Menurut ibu apakah keberadaan Posyandu Balita sangat menguntungkan ibu dan keuntungan apa yang ibu dapatkan Berdasarkan secara mendalam hasil kepada wawancara informan yang tentang dilakukan apakah

keberadaan Posyandu Balita sangat menguntungkan ibu dan keuntungan apa yang didapat ibu. Sebagian besar ibu ibu balita ini merasakan keuntungan dari adanya Posyandu. Seperti di ungkapkan ibu yang menjadi informan utama dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut : ³Sangat menguntungkan karena bisa timbang sekalian vaksin anak nggak jauh-jauh´ (JR : 22 April 2011) ³Menguntungkan sekali bu.., bisa vaksin dan timbang anak serta dapat vitamin A´. (YI : 22 April 2011) ³Yaa.. sangat menguntungkan bisa timbang dan vaksin serta dapat makanan tambahan dari kader ´. (DW : 18 April 2011)

49

Hal ini sejalan dengan pernyataan informan kunci yaitu seorang kader Posyandu menyatakan hal serupa sebagai berikut : ³Ya iyalah sangat menguntungkan bu,soalnya kalo ke kecamatan khan jauh, disini bisa timbang dan vaksin sekalian dapat vitamin A.´ (YN : 18 April 2011)

b. Pengetahuan ibu Balita tentang Posyandu Balita Pertanyaan ini untuk memperoleh informasi mengenai pengetahuan informan akan pemahaman tentang pengertian Posyandu dan apa saja kegiatan yang ada di Posyandu Balita. 1. Apakah ibu tahu Posyandu Balita itu apa? Dari hasil wawancara yang dilakukan secara

mendalam kepada informan tentang pengertian Posyandu yakni Pos pelayanan terpadu dan sebatas untuk menimbang dan imunisasi anak saja, seperti yang diungkapkan

beberapa informan berikut ini : ³Pos pelayanan terpadu aja saya tahunya bu.. .´ (DW: 18 April 2011) ³Pos pelayanan terpadu yang melayani anak-anak dan ibu hamil´ (ER : 18 April 2011)

50

³Pos penimbangan dan vaksin anak -anak dan ibu hamil³ (CS : 18 Mei 2011) ³Posyandu imunisasi´ (SH : 18 Mei 2011) Hal ini sejalan dengan pernyataan informan kunci yaitu seorang petugas kesehatan yang menyatakan hal serupa sebagai berikut : ³Ibu-ibu balita disini tahunya ya Posyandu itu tempat untuk penimbangan dan pemberian makanan tambahan´ (DM : 22 April 2011) vaksin, vitamin A dan adalah tempat untuk penimbangan dan

2. Ibu tahu kapan pelaksanaan Posyandu Balita Dari hasil wawancara yang dilakukan secara

mendalam kepada informan utama tentang pelaksanaan Posyandu sebagian besar informan mengetahui kapan

pelaksanaannya, seperti yang diungkapkan informan berikut ini : ³Ya iyalah bu anak sudah tiga masa lupa tanggal Posyandu, kalau disini setiap tanggal 18 .´ (DW : 18 April 2011) ³Tahu hak bu mun disini ni tiap tanggal 18 Posyandunya.´

51

(Tahu lah bu kalau disini tiap tanggal 18 posyandunya) (ER : 18 April 2011) ³Tahu bu, tiap tanggal 22 tapi kadang -kadang saya lupa.´ (NN : 22 April 2011) ³Tahu beneh hak saya ni mun posyandu disini ni tanggal 18 .³ (Tahu betul lah saya ini kalau posyandu disini ini tanggal 18) (SH : 18 Mei 2011) Hal ini sejalan dengan pernyataan informan kunci yaitu seorang kader posyandu yang menyatakan hal serupa sebagai berikut : ³Ya pada tahu semua lah bu, biasanya kita umumkan di masjid dan kalau ada acara shalawatan ´ (BI : 22 Mei 2011)

3. Darimana ibu tahu tentang Posyandu Balita Dari hasil wawancara yang dilakukan secara mendalam kepada informan tentang dari mana ibu tahu tentang Posyandu Balita. Seperti yang di ungkapkan ibu yang menjadi informan dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut : ³Tahu dari kader posyandu sama petugas kesehatan yang tiap bulan mengingatkan untuk datang ke posyandu .´ (DW : 18 April 2011)

52

³Dari bu bidan dan kader Posyandu disini...´ (ER : 18 April 2011) ³Dari kader posyandu yang tiap bulan mengingatkan Posyandu di Masjid sini .´ (WT : 10 Mei 2011) ³Dari kader dan petugas kesehatan yang ad disini .³ (NN : 22 April 2011) Hal ini sejalan dengan pernyataan informan kunci yaitu seorang petugas kesehatan dan kader posyandu yang menyatakan hal serupa sebagai berikut : ³Biasanya kami mengingatkan ibu-ibu balitanya untuk dating tiap bulannya ke Posyandu setiap tanggal yang telah ditentukan di tempat tinggal masing -masing ´ (DM : 22 April 2011) ³Biasanya kami umumkan di masjid atau ibu -ibunya ingat setiap tanggal sekian Posyandu´ (BI : 22 Mei 2011) 4. Ibu tahu apa saja kegiatan yang dilakukan di Posyandu Dari hasil wawancara yang dilakukan secara pengetahuan ibu

mendalam kepada informan tentang

mengenai apa saja kegiatan yang dilakukan di Posyandu, sebagian besar ibu-ibu ini menjawab bahwa kegiatan posyandu sebatas penimbangan, imunisasi dan pemberian

53

vaksin, pembagian Vitamin A dan makanan tambahan. Seperti yang diungkapkan oleh beberapa informan ini : ³Tahunya kegiatan diposyandu itu cuma penimbangan, vaksin,.vitamin A sama periksa ibu hamil aja ´ (ER : 18 April 2011) ³Biasanya cuman timbang, vaksin sama pemberian vitamin A´ (DW : 18 April 2011) ³Paling kegiatan di posyandu itu timbang anak sama vaksin dan dikasih vitamin A´ (WT : 10 Mei 2011) Hal ini sejalan dengan pernyataan informan kunci yaitu seorang petugas kesehatan dan kader Posyandu yang menyatakan hal serupa sebagai berikut : ³Sebenarnya kegiatan di Posyandu balita itu ada pelayanan KIA, KB, imunisasi dan gizi juga biasanya dikasih berikut

penyuluhan, namun karena terbatasnya tenaga kami maka hanya kegiatan seperti penimbangan balita, imunisasi, KB, pelayanan KIA yang dapat kami tangani.. ´ (DM : 22 April 2011)

54

³Kami tahunya kegiatan di posyandu sebagai kader hanya melayani pendaftaran dan penimbangan lalu berat badan anak dicatat di KMS dan memberikan makanan tambahan kalau ada..´ (YN : 18 April 2011)

c. Tindakan ibu balita terhadap pemanfaatan Posyandu Balita Pertanyaan ini untuk memperoleh informasi mengenai tindakan ibu-ibu balita terhadap pemanfaatan posyandu balita, karena informan utama sebagian adalah yang pernah dan tidak pernah datang ke posyandu jawaban yang didapat dari ibu -ibu balita ini beragam, seperti yang diungkapkan oleh beber apa informan berikut ini : 1. Kapan terakhir ibu mengunjungi Posyandu Balita dan apa alasannya Dari hasil wawancara mendalam yang dilakukan kepada informan mengenai kunjungan ibu terakhir ke posyandu dan jika tidak dating apa alasannya, berikut ungkapan yang diberikan informan : (Yang pernah datang/rutin ke Posyandu) ³Saya datang terus bu buat timbang anak saya, alasannya ya buat tahu naik apa turun berat badan anak saya´ (ER : 18 April 2011)

55

³Saya ini datang terus kalau ada posyandu bu.. paling nggak ya buat nimbang anak´ (DW : 18 April 2011) (Yang tidak pernah datang ke Posyandu ) ³Waktu vaksin campak anak saya 1 tahun lalu, alasannya saya kerja nggak sempat antar anak´ (NN : 22 April 2011) ³2 tahun yang lalu waktu anak saya vaksin campak.., alasannya nggak dating lagi setelah itu saya banyak kerjaan dirumah..´ (YI : 22 April 2011) 2. Apakah ibu meminta penjelasan kepada kader atau petugas kesehatan ketika anak ibu telah ditimbang

Dari hasil wawancara yang dilakukan kepada informan mengenai anaknya tindakan untuk ibu -ibu bertanya balita atau setelah meminta

menimbang

penjelasan kepada kader, sebagian informan mengatakan bahwa ada yang berat badan anaknya naik, turun dan tetap saja, mereka hanya bertanya berapa berat badan anak mereka, dan kadang-kadang kader akan memberitahukan bahwa berat anak mereka naik, turun atau tetap saja. Seperti yang diungkapkan oleh beberapa informan berikut ini :

56

³Nggak tanya, Cuma tanya berapa berat badan anak saya dan saya lihat yang bulan kemarin ada perubahan nggak?´ (ER : 18 April 2011) ³Kadang tanya sih bu.. Naik nggak berat badan anak saya´ (DW : 18 April 2011) ³Biasanya kalau kita tanya berapa timbangan anak kita, nanti sama kadernya dikasih tahu beratnya naik.. ´ (WT : 10 Mei 2011) Hal ini sejalan dengan pernyataan informan kunci yakni kader posyandu, berikut pernyataannya : ³Biasanya kan kami kasih tahu berapa berat badan anaknya langsung kami lihat di KMS bulan kemarinnya dan bulan ini kalau beratnya naik atau turun atau tetap-tetap aja´

(YN : 18 April 2011) 3. Menurut ibu penting atau tidak membawa anak balita ke Posyandu Dari hasil wawancara yang telah dllakukan kepada informan mengenai penting atau tidak membawa anak ke Posyandu, sebagian besar informan mengungkapk an bahwa sangat penting karena untuk mengetahui berat badan anak dan mendapat vaksin serta vitamin A. seperti yang diungkapkan beberapa informan berikut ini:

57

³Sangat penting, soalnya biar tahu berat badan anak saya naik apa tidak´ (ER : 18 April 2011) ³Ya penting sekali buat tahu berapa timbangan anak saya dan vaksinnya sudah selesai apa belum..´ (DW : 18 April 2011) ³Sangat penting, biar Cuma datang untuk timbang, vaksin dan dapat vitamin A´ (WT : 10 Mei 2011)

B. PEMBAHASAN

Peneliti

menggunakan

triangulasi

sebagai

teknik

untuk

mengecek keabsahan data. Dimana dalam pengertiannya triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain dalam membandingkan hasil wawancara terhadap objek penelitian (Moleong , 2004), membedakan empat macam triangulasi diantaranya dengan memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik dan teori. Pada penelitian ini, dari ke empat macam triangulasi tersebut, peneliti hanya menggunakan teknik pemeriksaan dengan memanfaatkan sumber. Triangulasi dengan sumber artinya membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif (Patton, 1987).

58

a.

Pembahasan Posyandu

Motivasi

Ibu

Balita

Terhadap

Pemanfaatan

Dalam kegiatan penulisan ini tidak ditemukan suatu kendala dikarenakan informan dalam penelitian yakni ibu -ibu balita yang pernah atau selalu datang dan yang tidak pernah datang ke posyandu setiap bulannya untuk membawa anaknya, selain itu posyandu juga sudah menjadi bagian dari masyarakat yang membawa dampak baik khususnya untuk ibu dan anak. Motif kebutuhan, kadang-kadang dorongan dinyatakan yang orang sebagai diri

keinginan,

muncul

dalam

seseorang. Motif diarahkan kearah tujuan -tujuan yang dapat muncul dalam kondisi dibawah sadar. Motif -motif merupakan ³ mengapa ³ dari perilaku. Mereka muncul dan mempertahankan aktifitas, dan mendeterminasi arah umum perilaku seorang individu. (Winardi 2002). Dari hasil penelitian yang dilakukan kepada ibu -ibu balita menunjukkan bahwa ada kebutuhan akan pentingnya mengetahui perkembangan anak sehingga ada keinginan untuk datang ke posyandu setiap bulannya, seperti yang telah diungkapkan oleh kebanyakan ibu-ibu balita dalam penelitian ini. Yaitu dengan ke posyandu ibu-ibu balita dapat mengetahui berat badan dan mendapatkan imunisasi, vitamin A,

59

Hal kesehatan

ini yang

merupakan dijalankan

sebagian

kegiatan

pelayanan halnya

diposyandu,

seperti

pemeliharaan kesehatan bayi dan balita yang sebagian besar adalah penimbangan bulanan, pemberian makanan tambahan, imunisasi bayi dan pemberian vitamin A serta pemeliharaan kesehatan ibu hamil, ibu menyusui dan pasangan usia subur seperti pemeriksaan kehamilan dan nifas,imunisasi TT untuk ibu hamil dan pemberian kesehatan dan KB. Adapun tujuan lain informan ke posyandu yakni selain untuk kegiatan kesehatan, posyandu bisa juga sebagai tempat berkumpul bersama para ibu-ibu dan melakukan kegiatan seperti arisan hal ini sesuai dengan kutipan dalam Effendy (1998) bahwa posyandu kemudian menjadi suatu forum komunikasi tempat para ibu berkumpul bersama dalam suasana yang sesuai dengan adat budaya setempat, anak, untuk berbagi pengalaman tentang dan

pemeliharaan

termasuk

bagaimana

memilih

menyiapkan makanan bergizi yang berguna dan dapat diterima oleh anak-anaknya. Dari adanya kebutuhan dan keinginan informan untuk datang ke posyandu maka terlebih dahulu ada yang mendorong informan untuk melakukan aktifitas tersebut, seperti yang diungkapkan informan bahwa dorongan bisa timbul dari diri

sendiri atau pun mendapat dorongan dari suami serta keluarga.

60

Adapun manfaat posyandu bagi masyarakat itu sendiri khususnya kemudahan bagi untuk ibu-ibu balita yakni untuk dan memperoleh pelayanan

mendapatkan

informasi

kesehatan dasar, terutama berkaitan dengan penurunan AKI dan AKB dan memperoleh bantuan secara profesional dalam

pemecahan masalah kesehatan terutama terkait kesehatan ibu dan anak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ibu -ibu balita

termotivasi karena ada keinginan untuk mendapat manfaat kesehatan datang ke posyandu.

b. Pembahasan Pengetahuan Ibu Balita Terhadap Pemanfaatan Posyandu

Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan atau kognitif mer upakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior) (Notoatmodjo, 1993). Menurut Bloom, pengetahuan merupakan bagian dari ´cognitive domain³ yang mempunyai 6 tingkatan, yaitu : Tahu (know), memahami (comprehension), aplikasi (application), analisis (analysis), Sintesis (synthesis), evaluasi (evaluation) ( Notoatmodjo, 2003).

61

Dari hasil penelitian mengenai pengetahui ibu balita terhadap pemanfaatan posyandu yang di dalam penelitian ini sebagai informasi berada di dalam tingkatan tahu mengenai posyandu tetapi hanya secara garis besar dan tidak dapat menjabarkannya secara spesifik. Selain itu kebanyakan informan menyatakan bahwa pengertian posyandu adalah sebagai tempat kegiatan kesehatan seperti untuk menimbang anak, tempat mendapatkan imunisasi. dan tempat untuk memeriksakan kesehatan. Padahal secara umum pernyataan informan berada dalam tingkatan memahami, di samping itu ada juga beberapa informan yang tidak tahu tentang pengertian posyandu, informan

menyatakan bahwa mereka tidak pernah mengetahui peran dan pengertian posyandu itu sendiri. Secara umum informan tidak tahu mengenai program apa saja yang telah diadakan di lokasi posyandu tempat tinggal informan, tentang sistem 5 meja sebagian informan baru dana pelaksana posyandu

mendengar tentang sistem tersebut

sendiri berasal dari swadaya masyarakat untuk membuat makanan tambahan balita berupa bubur. Hal ini juga sajalan dengan pernyataan dari kader

posyandu yang menjadi sumber informan kunci dalam penelitian ini bahwa tidak adanya program posyandu dikarenakan mereka juga

62

tidak pernah meminta ke Dinas kesehatan atau instansi kesehatan untuk melakukan kegiatan lain seperti penyuluhan dan sebagainya. Tidak optimalnya fungsi meja ke empat tersebut sangat di sayangkan sebab meja tersebut menjadi garda terd epan untuk meningkatkan derajat kesehatan bayi dan balita. Sebab meja it u dipergunakan untuk memberikan penyuluhan kesehatan mengenai kondisi anak setelah di timbang di posyandu yang seda ng sakit saat penimbangan tidak mendapatkan perhatian lebih. Padahal dengan memberikan perhatian pada yang sakit dan memberikan sedikit penyuluhan bisa membentuk ikatan emosional, jadi orang tua menjadi tambah semangat

menimbangkan anaknya ke posyandu.

c. Pembahasan tentang tindakan ibu balita terhadap pemanfaatan posyandu

Tindakan adalah sikap yang terwujud dalam perbuatan nyata dimana diperlukan factor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas atau sarana dan prasarana. Dari hasil penelitian yang dilakukan kepada ibu -ibu balita bahwa tindakan yang dilakukan dengan rutin datang ke posyandu berarti ibu-ibu balita sadar bahwa memanfaatkan fasilitas

kesehatan terutama ke Posyandu itu adalah penting berbeda

63

dengan ibu-ibu balita yang tidak pernah dating ke Posyandu tidak menyadari betapa pentingnya memanfaatkan fasilitas kesehatan terutama posyandu untuk mengetahui informasi kesehatan apa saja yang terdapat disana.

64

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

1. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat dikemukan kesimpulan mengenai Pemanfaatan Posyandu Oleh ibu balita di wilayah kerja Puskesmas Pembantu Jembayan di Desa Jembayan Kecamatan Loa Kulu kabupaten Kutai Kartanegara tahun 2011. 1. Dalam hal pemanfataan posyandu dapat disimpulkan bahwa ibu -ibu balita termotivasi karena ada keinginan untuk mendapat manfaat kesehatan datang ke posyandu. 2. Pengetahuan ibu balita yang masih rendah mengenai Pengertian dan peran dari posyandu ibu balita sebatas hanya mengetahui posyandu sebagai tempat imunisasi dan menimbang mendapatkan vitamin A . 3. Tindakan ibu balita yang tidak pernah mengunjungi/memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada yakni posyandu sangat merugikan ibu balita sendiri sehingga kurang/ tidak tahu apakah ada peningkatan berat badan atau tidak pada anak -anaknya. saja serta tempat untuk

2. SARAN

1. Dilihat dari Hasil Penelitian, diketahui bahwa Tingkat pemanfaatan posyandu masih rendah maka perlu dilakukan upaya -upaya untuk

65

meningkatkan pemanfataan pelayanan posyandu melalui Promosi dan penyuluhan tentang manfaat posyandu serta meningkatkan kualitas pelayanan di posyandu sehingga para ibu balita termotivasi untuk mengunjungi posyandu setiap bulannya. 2. Diadakannya pertemuan rutin di desa dalam bentuk l okakarya dan sebagainya yang melibatkan kader posyandu, kader PKK, dan Toma yang di fasilitasi oleh Intansi kesehatan yang terkait dan dukungan oleh aparat desa setempat. 3. Puskesmas sebagai Tempat pelayanan kesehatan dasar yang berhadapan langsung dengan m asyarakat agar dapat memfasilitasi serta mendukung semua kegiatan yang diadakan posyandu sehingga dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful