1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar BeIakang
Masa remaja pada umumnya dan masa remaja awal pada
khususnya tidak datang secara mendadak tetapi melalui pertumbuhan
yang simultan. Tidak ada pemisah yang membatasi jelas. Di akhir masa
kanak-kanak sebenarnya terjadi masa menjelang kedatangan masa
remaja, yang disebut masa pueral dalam waktu yang singkat (Rumini dan
Sundari, 2004).
Penduduk dunia saat ini berjumlah 6,3 miliar jiwa, memiliki jumlah
penduduk remaja lebih dari satu miliar . pada tahun 2008 jumlah
penduduk Ìndonesia yang saat berjumlah 213 juta, 30 % diataranya atau
62 juta adalah remaja usia 10 ÷ 24 tahun (KBÌ, 2008).
Kelompok umur remaja merupakan fase pertumbuhan yang pesat
selain pada masa balita, sehingga wajar pada masa ini dibutuhkan zat
gizi yang relatif lebih besar jumlahnya. Untuk pertumbuhan normal tubuh
memerlukan nutrisi yang memadai, kecukupan energi, protein, lemak dan
suplai nutrient esensial yang menjadi basis pertumbuhan. Pertumbuhan
remaja dinegara yang sedang berkembang membutuhkan perhatian
khusus pada nutrient vitamin A, seng atau protein selain kebutuhan



energi yang adekuat. Berbeda dengan dinegara barat, disana dilakukan
pengawasan pada produk makanannya sehingga jarang ditemukan
defisiensi nutrient (Litin, 2001 : Soetjiningsih, 2004).
Pada masa remaja, sering kali merasa bertanggung jawab dan
bebas menentukan jenis makanan yang digemarinya. Tekanan-tekanan
sosial sering dialami ketika harus memutuskan beberapa alternatif,
misalnya berbadan langsing atau bertubuh atletik, vegetarian atau berdiet
dan lainnya. Keadaan kesehatan remaja erat hubungannya dengan
asupan gizi, dan masalah utama pada usia remaja adalah kegemukan
atau kelebihan berat badan dan pengaturan makan yang kurang baik.
(Mahdin, 2006)
Prevalensi masalah gizi remaja pada tahun 1989 didapatkan 4,6 %
laki-laki dan 5,9% perempuan, meningkat menjadi 6,3% laki-laki dan 8%
perempuan pada tahun 1992. Remaja putri sangat memperhatikan
penampilannya. Mereka berpendapat bahwa memiliki tubuh kurus akan
menambah rasa percaya diri sehingga mendorong mereka untuk
melakukan usaha pengaturan makan guna menjaga berat badan mereka
walaupun berat badan mereka tergolong normal tetapi mereka
menganggap berat badannya lebih. Pengaturan makan remaja biasanya
sembarangan tanpa memperhatikan aspek kesehatan dan kebutuhan


zat-zat gizi untuk pertumbuhan yang tentunya hal ini bisa membahayakan
bagi remaja itu sendiri (Setyowati, 2007).
Berdasarkan hasil penelitian hamam diketahui bahwa status gizi
remaja SMU yang mengalami gizi lebih di Yogyakarta sedangkan di
Denpasar status gizi lebih mencapai 2%. Kebiasaan makan remaja
dewasa ini yang meliputi kualitas dan jenis makanan utama atau camilan
atau jajanan menurut kelompok zat gizi atau dalam frekuensi makan
sehari-hari, dengan prevalensi pola makan remaja di Yogyakarta kategori
baik sebesar 14,4%, sementara di Denpasar degan kategori baik sebesar
10,3% (Hadi, 2005).
Status gizi remaja yang kurang dipengaruhi oleh kebiasaan makan
yang tidak benar (makan makanan yang berlemak tinggi), gaya hidup
modern yang kurang gerak, stress yang dilarikan ada makanan, dan
faktor keturunan. "Makanan sampah¨ (fast food) kini semakin digemari
oleh remaja, baik hanya sebagai kudapan maupun "makan besar¨.
Makanan ini mudah diperoleh disamping lebih bergengsi karena
terpengaruh iklan. Prevalensi gizi kurang dengan ÌMT < 5 persentil,
sebesar 17,4% dengan rincian 14,1 % pada laki-laki dan 20,7 % pada
perempuan (Permaisih, 2003 ; Arisman, 2007).
Status gizi kurang pada remaja putri dikota Bandung banyak terjadi
karena pola makan yang kurang baik dengan hasil penelitian sekitar (26-


32%) karena remaja putri kurang membiasakan diri untuk sarapan pagi
dan lebih sering mengkomsumsi makanan cepat saji, pendidikan yang
rendah dapat menyebabkan kurangnya pengetahuan gizi dan minimnya
informasi kesehatan( 21-29%), sedangkan untuk aktifitas olahraga jarang
dilakukan oleh remaja putri (24-30%) karena tubuh kurang gerak yang
akhirnya lemak menumpuk dan terjadi gizi lebih(Fikasari, 2005).
Dewasa ini remaja putri tidak jarang melakukan makan diluar rumah
bersama teman sebayanya, hal ini menyebabkan waktu makan yang
tidak menentu dan seringkali mengkomsumsi makanan cepat saji
sehingga pola makan menjadi tidak teratur (Saptawati, 2006).
Menurut data statistik jumlah remaja usia tahun 15-19 di Kaltim
sebanyak 299.000 jiwa (BPS Kaltim 2010).dan jumlah penduduk remaja
di Kabupaten Kutai Kartanegara adalah 251,984 jiwa (Profil Kesehatan
Kab/Kota Prop. Kaltim th.2006). namun data tersebut tidak dibarengi
dengan data kesehatan remaja utamanya status gizi dan masalah gizi
lainnya. Begitu pula data yang diperoleh dari puskesmas sangasanga
hanya ada data tentang status gizi remaja SMP tahun 2008, dari 142
remaja putri dengan status gizi kurus sekali 63 orang, status gizi kurus 25
orang, Satus gizi normal 46 orang, Status Gizi gemuk 8 orang (Data
Program Gizi Puskesmas Sangasanga, 2008).


Sebagaimana diketahui bahwa remaja putri terutama di kalangan
SMA merupakan masa peralihan dari remaja akhir menuju masa dewasa,
yang perlu perhatian khususnya status gizi, kebiasaan makan, makan
jajanan, serta daya beli makanan mereka. Secara geografis kabupaten
kutai kartanegara merupakan daerah perkotaan dan pedesaan.
Pengamatan yang dilakukan oleh peneliti bahwa remaja yang berada di
pedesaan mengalami pergeseran pola makan karena ditunjang dengan
maraknya makanan siap saji. Pada SMA Negeri 1 Sangasanga dimana
sebagian besar muridnya adalah remaja putri, terlihat postur tubuh remaja
putri lebih bervariasi ada yang berpostur kurus, sedang dan gemuk. Dari
wawancara awal didapatkan informasi adanya asumsi dari remaja putri
bahwa tubuh kurus akan membuat percaya diri oleh karena itu mereka
mengurangi makanan pokok dan memilih makan makanan siap saji serta
jajanan yang dianggap tidak membuat gemuk, selain itu ada pula remaja
putri yang tidak bisa menghilangkan kebiasaan makan pokok ditambah
makan selingan. Mereka menganggap pola makan tersebut termasuk
sehat.
Berdasarkan uraian diatas, peneliti bermaksud mengadakan
penelitian untuk mengetahui hubungan tingkat konsumsi makanan dan
daya beli makanan dengan status gizi pada remaja putri di SMA Negeri 1
Sangasanga Tahun 2011.


B. Rumusan MasaIah
Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut, maka yang
menjadi rumusan masalah adalah, "Apakah ada hubungan antara tingkat
konsumsi makanan dan daya beli makanan dengan status gizi pada
remaja putri di SMA Negeri 1 Sangasanga tahun 2011?¨

. Tujuan peneIitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui hubungan tingkat konsumsi makanan dan daya beli
makanan dengan status gizi pada remaja putri di SMA Negeri 1
Sangasanga tahun 2011.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui hubungan tingkat konsumsi makanan dengan status
gizi pada remaja putri di SMA Negeri 1 Sangasanga Tahun 2011.
b. Mengetahui hubungan daya beli makanan dengan status gizi
pada remaja putri di SMA Negeri 1 Sangasanga tahun 2011.

D. Manfaat peneIitian
1. Bagi Ìnstansi terkait dan Dinas kesehatan merupakan pemikiran
dalam penanganan gizi dalam peningkatan kualitas mutu sumber
daya manusia (SDM).


2. Bagi fakultas Kesehatan Masyarakat sebagai sumbangan ilmiah bagi
perkembangan ilmu pengetahuan dan merupakan salah satu bahan
bacaan bagi peneliti berikutnya.
3. Bagi peneliti merupakan tambahan pengalaman, memperluas
wawasan dan pengetahuan mengenai hubungan status gizi dengan
tingkat konsumsi makanan dan daya beli makanan pada remaja putri.
4. Bagi masyarakat sebagai tambahan informasi mengenai hubungan
hubungan status gizi dengan tingkat konsumsi makanan dan daya beli
makanan pada remaja putri. agar dapat meningkatkan derajat
kesehatan baik perorangan maupun berkelompok.













BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Remaja
Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa anak-
anak ke masa dewasa. Ìstilah ini menunjuk masa dari awal pubertas
sampai tercapainya kematangan, biasanya mulai dari usia 14 pada pria
dan usia 12 pada wanita. Batasan remaja dalam hal ini adalah usia 10
tahun s/d 19 tahun menurut klasifikasi World Health Organization (WHO).
Sementara United Nations (UN) atau PBB menyebutnya sebagai anak
muda (youth) untuk usia 15-24 tahun. Ìni kemudian disatukan dalam
batasan kaum muda (young people) yang mencakup usia 10-24 tahun
(Oka negara, 2008).
Masa remaja atau masa adolensi adalah suatu fase yang dinamis
dalam kehidupan seorang individu. Masa ini merupakan periode transisi
dari masa anak ke masa dewasa yang ditandai dengan percepatan
perkembangan fisik, mental , emosional dan social dan berlangsung
pada dekade kedua masa kehidupan (ÌDAÌ, 2002).





1. PengeIompokan Remaja
Dalam tumbuh kembangnya menuju dewasa, berdasarkan
kematangan psikososial dan seksual, semua remaja akan melewati
tahapan berikut : (Soetjiningsih, 2004)

a. Masa remaja awal / dini ( ,7ly ,/olescence ) : umur 11-13 tahun.
b. Masa remaja pertengahan ( Mi/le ,/olescence ) : umur 14-16
tahun.
c. Masa remaja lanjut ( L,te ,/olescence ) : umur 17-20 tahun.
Menurut ÌDAÌ, 2004 masa remaja berlangsung melalui 3 tahapan
yang masing-masing ditandai dengan isu-isu biologik, psikologik dan
sosial, yaitu Masa Remaja Awal (10-14 tahun), Menengah (15-16
tahun), dan Akhir (17-20 Tahun). Masa remaja awal ditandai dengan
peningkatan yang cepat dari pertumbuhan dan pematangan fisik.
Masa remaja menengah ditandai dengan hampir lengkapnya
pertumbuhan pubertas, timbulnya ketrampilan-ketrampilan berpikir
yang baru, peningkatan pengenalan terhadap datangnya masa
dewasa dan keinginan untuk memapankan jarak emosional dan
psikologis dengan orang tua. Masa remaja akhir ditandai dengan
persiapan untuk peran sebagai seorang dewasa, termasuk klarifikasi
dari tujuan pekerjaan dan internalisasi suatu system nilai pribadi.
10

2. Remaja Putri
Setiap remaja putri termasuk orang-orang dewasa
membandingkan penampilannya dengan penampilan orang lain dan
sesekali mereka khawatir akan penampilannya. Gambaran akan
tubuh adalah cara kmu melihat dirimu sendiri dengan kata lain
apakah kamu berpikir kalau kamu menari atau tidak, apakah puas
atau tidak senang dengan penampilanmu. Untuk mengetahui bahwa
remaja bahagia akan penampilannya bisa dilihat darimana gambaran
tubuh itu datang yaitu (weekes,2008) :
a. Mode
b. Budaya
c. Gambaran tubuh itu sendiri
. Nutrisi Remaja
Konsumsi makanan berpengaruh terhadap status gizi remaja.
Status gizi yang baik atau status gizi yang optimal terjadi bila tubuh
memperoleh cukup zat-zat gizi yang digunakan efisien, sehingga
memungkinkan pertumbuhan fisik, pertumbuhan otak, kemampuan
kerja dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin.
Ketidakseimbangan antara asupan kebutuhan atau kecukupan akan
menimbulkan masalah gizi lebih maupun gizi kurang (Almatsier,
2003).
11

Pada remaja yang aktifitasnya tinggi baik kegiatan disekolah
maupun di luar sekolah, mereka sering makan dengan cepat lalu
keluar rumah. Tidak jarang mareka makan diluar rumah, dengan
resiko mereka makan dengan komposisinya gizi yang tidak seimbang
(Soetjiningsih, 2002).
Karakteristik pertumbuhan dan implikasi nutrisi untuk remaja
adalah periode maturasi yang cepat pada fisik, emosi, sosial dan
seksual, pertumbuhan mulai pada waktu yang berbeda pada remaja
yang berbeda, biasanya pertumbuhan cepat pada remaja putri pada
usia 10-11 tahun, puncaknya pada usia 12 tahun dan selesai pada
usia 15 tahun, remaja putri mengalami deposisi lemak,khususnya di
abdomen dan lingkar panggul, pelvis melebar dalam persiapan untuk
hamil, remaja putri sedikit mengalami pertumbuhan jaringan otot dan
tulang dibanding remaja putra, biasanya pertumbuhan cepat remaja
putra pada 12-13 tahun, puncaknya pada usia 14 tahun, dan selesai
pada usia 19 tahun, remaja putra mengalami peningkatan massa otot,
jaringan tanpa otot dan tulang (Paath, 2004).
Banyak remaja terlalu memikirkan dietnya karena khawatir
tentang penampilan mereka selain itu juga banyak remaja putri yang
tidak memahami bahwa peningkatan jaringan lemaknya selama masa
pubertas diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan normal,
1

remaja putra dapat memiliki kenyakinan yang salah bahwa diet akan
memperbaiki penampilan mereka. Kudapan berkontribusi 30 % atau
lebih dari total asupan kalori remaja setiap hari. Tetapi kudapan ini
sering mengandung tinggi lemak, gula, dan natriun dan dapat
meningkatkan risiko kegemukan dan karies gigi. Remaja harus
didorong untuk bertanggung jawab untuk pemilihan kudapan yang
sehat (Paath, 2004).
Biasakan remaja sarapan sebelum memulai aktivitas.
Walaupun kadang dianggap sepele, namun sesungguhnya sarapan
merupakan hal yang penting. Sarapan yang bergizi akan memberi
energi untuk menghadapi aktivitas sepanjang hari. Selain itu, sarapan
dapat mencegah remaja makan berlebihan pada siang dan malam
harinya dan membekali remaja dengan cemilan sehat seperti buah-
buahan (Wulansari, 2008).
. Kebutuhan Nutrisi Remaja
Remaja membutuhkan energi dan nutrient untuk melakukan
deposisi jaringan. Peristiwa ini merupakan suatu fenomena
pertumbuhan tercepat yang terjadi kedua kali setelah yang pertama
dialami pada tahun pertama kehidupannya. Nutrisi dan pertumbuhan
mempunyai hubungan yang sangat erat.
1

Kebutuhan nutrient remaja dapat dikenal dari perubahan
komposisi tubuhnya. Perbedaan jenis kelamin akan membedakan
komposisi tubuhnya, dan selanjutnya mempengaruhi Kebutuhan
nutriennya.
1. Energi
nergi dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan,
perkembangan, aktifitas otot, fungsi metabolik lainnya (menjaga
suhu tubuh, menyimpan lemak tubuh), dan untuk memperbaiki
kerusakan jaringan dan tulang disebabkan oleh karena sakit dan
cedera. Sumber energi makanan berasal dari karbohidrat, protein,
lemak menghasilkan kalori masing-masing, sebagai berikut :
karbohidrat 4 kkal/g dan lemak 9kkal/g. diluar nutrient ini ada yang
memasukkan alkohol sebagai salah satu diantara sumber energi
yang menghasilkan kalori 7 kkal/g. energi yang diperlukan
seorang remaja tergantung dari BMR individu masing-masing,
tingkat pertumbuhan, dan aktifitas fisik.
Kebutuhan energi bervariasi tergantung aktifitas fisik ;
remaja yang kurang aktif dapat menjadi kelebihan BB atau
mungkin obesitas.
Kejar tumbuh pada remaja sangat sensitif terhadap energi
dan perubahan yang terjadi pada energy. Asupan energi yang
1

rendah menyebabkan retardasi pertumbuhan. nergi merupakan
kebutuhan yang terutama : apabila tidak tercapai, diet protein,
vitamin, dan mineral tidak dapat dipergunakan secara efektif
dalam berbagai fungsi metabolik.
2. Protein
Protein diperlukan untuk sebagian besar proses metabolik,
terutama pertumbuhan, perkembangan, dan maintenen/merawat
jaringan tubuh. Asam amino merupakan elemen struktur otot,
jaringan ikat, tulang, enzim, hormone, antibody. Protein juga
mensuplai sekitar 12 % - 14 % asupan energi selama masa anak
dan remaja.
Kebutuhan protein sehari yang direkomendasikan pada
remaja berkisar antara 44-59 g, tergantung pada jenis kelamin dan
umur. Berdasarkan BB, remaja umur 11-14 tahun laki-laki atau
gadis memerlukan protein 1g/kg BB dan pada umur 15-18 tahun
berkurang menjadi 0,9g/kg pada laki-laki dan 0,8 g/kg pada gadis.
Kelebihan asupan protein dapat mengakibatkan kelebihan
berat badan atau sampai obesitas. Bila asupan energi terbatas,
diet protein lebih banyak dimanfaatkan untuk memenuhi
Kebutuhan energy, dan tidak bisa dipakai untuk mensintesis
jaringan baru. Pertumbuhan mengalami kegagalan atau terjadi
1

kurang energi protein (KP). Sumber diet protein yang baik adalah
: daging unggas, ikan, telur, susu, dan keju.
. Lemak
Lemak memiliki peran penting sebagai komponen struktural
dan fungsional membran sel dan prekusor senyawa yang meliputi
berbagai segi dari metabolism. Lemak juga sebagai sumber asam
lamak esensial yang diperlukan oleh perumbuhan, sebagai
sumber suplai energy yang berkadar tinggi, dan sebagai
pengangkut vitamin yang larut dalam lemak. Sekarang, Kebutuhan
lemak dihitung sekitar 37 % dari asupan nergi total remaja, baik
laki-laki maupun gadis. Cara yang digunakan untuk mengurangi
diet berlemak adalah dengan memanfaatkan aneka buah dan
sayur dan produk padi-padian dan sereal ; juga dengan memilih
makanan rendah lemak dan mengiris daging dengan membuang
lemaknya.
Asupan lemak yang kurang adekuat, akan terjadi gambaran
klinis defesiensi asam lemak esensial dan nutrient yang larut
dalam lemak, serta pertumbuhan yang buruk. Sebaliknya
kelebihan asupan beresiko kelebihan BB, obesitas, mungkin
meningkatkan resiko penyakit kardiovaskuler dikemudian hari.
Sumber berbagai lemak tertentu, misalnya : lemak jenuh
1

(mentega, lemak babi), asam lemak tak jenuh tunggal (minyak
olive) asam lemak tak jenuh ganda ( minyak kacang kedelai),
kolesterol (hati, ginjal, otak, kuning telur, daging unggas, ikan dan
keju)
. Karbohidrat
Sumber terbesar energi tubuh adalah karbohidrat yang
menjadi bagian dari bermacam-macam struktur sel dan substan
dan komponen primer diet serat. Karbohidrat disimpan sebagai
glikogen atau diubah menjadi lemak tubuh. Lebih dari seperempat
total karbohidrat pada remaja didapatkan dari pemanis yang
ditambahkan, sebagian besar dari sucrose dan sirup jagung yang
mengandung tinggi sucrose.
Sumber karbohidrat yang baik pada diet, adalah :
karbohidrat simple (buah-buahan, sayur-sayuran, susu, gula,
pemanis berkalori lainnya), dan karbohidrat kompleks (produk
padi-padian dan sayur-sayuran). Asupan yang tidak adekuat
menyebabkan ketosis; sebaiknya asupan yang berlebih-lebihan
mengarah pada kelebihan kalori.



1

. Serat
Serat pada diet jumlahnya berlimpah, fungsinya pada
tubuh adalah untuk melancarkan proses pengeluaran tubuh.
Sumber yang baik dari diet, misalnya ; seluruh produk padi-
padian, beberapa jenis buah dan sayur, kacang-kacangan kering,
dan biji-bijian. Bila kekurangan asupan menyebabkan konstipasi;
sebaliknya bila kelebihan asupan mungkin menimbulkan absorpsi
mineral berkurang.
. MineraI
Kebutuhan mineral seluruhnya meningkat pada masa kejar
tumbuh remaja. Mineral berperan penting pada kesehatan,
kalsium, zat besi dan seng, khususnya penting pada pertumbuhan
dan perkembangan.
7. Zat besi
Remaja adalah salah satu kelompok yang rawan terhadap
defesiensi zat besi, dapat mengenai semua kelompok status
social ekonomi, terutama yang berstatus social-ekonomi rendah.
Penyebabnya sebagian besar oleh karena ketidakcukupan at
asimilasi zat besi yang berasal dari diet, dilusi zat besi dari
cadangan dalam tubuh dengan cepatnya pertumbuhan dan
kehilangan zat besi.
1

Prevalensi defesiensi zat besi pada gadis umur 11 ÷ 14
tahun sekitar 2,8 %, dan pada anak laki-laki 4,1 % seangkan pada
umur 15-19 tahun defesiensi zat besi pada gadis ditemukan
sekitar 7,2 % dan laki-laki 0,6 %.
Kebutuhan zat besi meningkat pada remaja oleh karena
terjadi pertumbuhan yang meningkat dan ekspansi volume darah
dan masa otot. Peran zat besi penting untuk mengangkut oksigen
dalam tubuh dan peran lainnya dalam pembentukan sel darah
merah. Gadis yang menstruasi membutuhkan tambahan zat besi
yang lebih tinggi.
Kebutuhan zat besi rata-rata pada saat anak prepubertas
adalah 10mg/hari.diet remaja hanya mengandung 6 mg/1000 kkal,
sehingga pada gadis yang umumnya membutuhkan kalori yang
lebih rendah akan kesulitan untuk mencukupi Kebutuhan zat
besinya. Kekurangan akan menyebabkan defisiensi besi,atau
anemia besi, sebaliknya kelebihan asupan pada pasien dengan
predisposisi genetic tertentu menyebabkan overload zat besi.
Sumber besi yang baik dalam diet ; hati, daging sapi, kacang
kering, bayam, dan padi-padian dan sereal yang diperkaya.


1

. KaIsium
Pertumbuhan tinggi pada masa remaja mencapai 20%
pertumbuhan tinggi dewasa dan 45 % masa skeletal dewasa.
Kebutuhan kalsium pararel dengan pertumbuhan skeletal, dan
meningkat dari 800mg/hari menjadi 1200 mg/hari pada kedua
jenis kelamin pada umur 11-19 tahun.
Retensi kalsium pada gadis mencapai 200mg/hari dan
pada laki-laki antara 300-400 mg/hari. Kebutuhan kalsium sangat
tergantung pada jenis kelamin, umur fisiologis,dan ukuran tubuh.
Kalsium yng adekuat penting pada remaja untuk
pembentukan dan maintenen pertumbuhan tulang sehingga
puncak masa tulang dapat dipenuhi.
Pada gadis asupan kalsium lebih rendah dari Kebutuhan
sehari yang dianjurkan. Sekitar lebih dari 50% gadis dilaporkan
mengkomsumsi diet dengan kalsium kurang dari 70% Kebutuhan
kalsium sehari.
Faktor utama yang mempengaruhi metabolism kalsium
adalah kecukupan asupan vitamin D baik dari Diet maupun sinar
matahari.


0

. Seng
Seng didapatkan sebagai komponen sekitar 40 metalo-
enzim, terlibat dalam proses metabolism mayor, seperti sintesis
protein, penyembuhan luka, pembentukan sel darah, fungsi imun,
untuk ertumbuhan dan perawatan jaringan tubuh. Seng diperlukan
pada masa remaja untuk pertumbuhan dan pematangan seksual,
terutama saat pubertas.
Defesiensi seng ada hubungannya dengan diet sudah
diketahui sejak tahun 1960 pada remaja laki-laki di Mesir dan Ìran.
Gejala klinis defesiensi seng antara lain : gagal tumbuh, nafsu
makan berkurang, letargi mental, perubahan kulit dan pematangan
seksual yang terlambat, tetapi seng dapat meningkatkan
pertumbuhan dan pematangan seksual, sedangkan gejala
kelebihan asupan seng adalah emesis/intoksikasi akut.
Sumber seng yang baik dalam ; kerang laut, daging merah,
unggas, keju, seluruh padi-padian sereal, kacang kering, dan telur.
10. MineraI Iain
Peran magnesium adalah sebagai komponen tulang,
sintesis protein, melepaskan energy dari glikogen, mengatur suhu
tubuh dan tekanan darah. Defesiensi magnesium jarang terjadi,
1

gejala klinisnya spasme otot,tremor, nausea, apati, kejang, dan
koma.
Peran Fosfor adalah sebagai elemen structural tulang dan
gigi, serta berpartisipasi dalam berbagai reaksi kimia. Asupan
yang tidak adekuat belum diketahui dalam praktek sehari-hari.
Peran Tembaga sebagai komponen beberapa protein dan
enzim, pemakaian zat besi, sumber tembaga yang baik dalam
diet ; kerang laut, kacang tanah, hati, ginjal, minyak jagung,
margarine, dan miju-miju (lentil). Defesiensi tembaga
menimbulkan gejala anemia dan penyakit tulang.
Peran Selenium sebagai konstituen dari sel darah merah
dan glutation. Defesiensi selenium menimbulkan kardiomiopati
pada anak.
11. Vitamin
a) Vitamin A
Viamin A merupakan nutrient yang larut dalam lemak,
essensial untuk mata, tulang, pertumbuhan, pertumbuhan
gigi, diferensiasi sel, reproduksi dan integritas system imun.
Defesiensi Vitamin A masih merupakan masalah
nutrisi utama yang berakibat kebutaan di Negara
berkembang termasuk di Ìndonesia. Kelebihan asupan


vitamin A menimbulkan teraogenitas, gejala toksisitas
termasuk efek pada kulit dan tulang.
b) Vitamin
Fungsi vitamin c dalam pembentukan kolagen
mintenen kapiler, tulang dan gigi, promosi absorpsi zat besi
nonhem ; dan melindungi vitamin lain dan mineral dari
oksidasi (antioksidan).
Rata-rata asupan vitamin vitamin C remaja laki-laki
121 mg/hari, dan pada gadis 80 mg/hari. Asupan ini trmasuk
lebih tinggi dari RDA , yakni 50mg/hari untuk remaja usia 11-
14 tahun, dan 60 mg/hari untuk usia 15-18 tahun. Buah-
buahan segar seperti jeruk, tomat, kentang, sayur hijau tua
dan strawberi yang dijus merupakan sumber vitamin C yang
sangat baik.
Asupan vitamin C yang idak adekuat menimbulkan
gejala defesiensi vitamin C, berupa perdarahan kulit dan
gusi, lemah, defek perkembangan tulang (scurvy).
Sebaliknya kelebihan asupan menimbulkan keluhan
gastrointestinal.




12. Vitamin E (tokoferoI)
Fungsinya sebagai antioksidan, sumber vitamin yang
baik dalam diet, minyak dan lemak sayur-sayuran, beberapa
produk sereal, kacang-kacangan dan beberapa ikan laut.
Asupan yang tidak adekuat menimbulkan fragilitas sel darah
merah.
1. FoIat
Perannya dalam pembentukan hemoglobin dan mineral
genetic. Kebutuhan folat untuk remaja diperkirakan 3 g/kg BB.
Studi terhadap 400 remaja laki-laki dan gadis untuk melihat
status folat mendapatkan 40 % remaja memiliki kadar total sel
darah merah rendah (<140mg/ml).
Ìnsiden defesiensi folat terjadi sebagian besar oleh
karena asupan folatnyang tidak cukup. Sumber folat ditemukan
pada sayur berwarna hijau tua, kacang kering, benih gandum
dan hati. Beberapa jenis makanan sumber asam folat ini,
kebetulan tidak disukai remaja, sehingga beresiko timbulnya
defesiensi. Gejala defesiensi folat berupa : lemah, pucat,
perubahan neurologis dan anemia.




1. Niasin, RibofIavin, dan Thiamin
Kebutuhan energi pada masa remaja memerlukan peningkatan
suplai niasin, riboflavin, dan thiamin yang ikut terlibat dalam
metabolism energy.
1. Vitamin B da B12
Status vitamin B6 ditemukan rendah diantara remaja
gadis, dan hamper separuh pada gadis ini memiliki nilai
stimulasi koenzim dalam status defesiensi.
Peran viatamin B 12 diperlukan untuk pembentukan sel
darah merah, membangun material genetic, fungsi sisem
syaraf, dan metabolisme protein dan lemak.

B. Status Gizi
1. Pengertian Gizi
Kata gizi berasal dari bahasa arab "hi/,¨ yang berarti
makanan. Menurut dialek Mesir, ghidza dibaca ghizi. Selain itu
sebagian orang menterjemahkan nutrision dengan mengejanya
sebagai "Nutrisi" (Yuniastuti, 2008).
Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan
yang dikomsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi,
transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat


yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan,
pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta
menghasilkan energi (Supariasa, 2002).
Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam
bentuk variabel tertentu, merupakan indek yang statis dan agresif
sifatnya kurang peka untuk melihat terjadinya perubahan dalam
kurun waktu pendek misalnya bulanan (Supariasa, 2002).
2. Penentuan Status Gizi Remaja
Antropometri merupakan cara penentuan status gizi yang
paling mudah dan murah. Ìndeks Massa Tubuh (ÌMT)
direkomendasikan sebagai indikator yang baik untuk menentukan
status gizi remaja (Permaisih, 2003).
Tujuan hendak dicapai dalam pemeriksaan antropometri
adalah besaran komposisi tubuh yang dapat dijadikan isyarat dini
perubahan status gizi (Arisman, 2007).
Antropometri sebagai indikator status gizi dapat dilakukan
dengan mengukur beberapa parameter. Parameter adalah ukuran
tunggal dari tubuh manusia, antara lain : umur, berat badan, tinggi
badan, lingkar lengan atas, lingkar kepala, lingkar dada, lingkar
panggul, dan tebal lemak dibawah kulit (Supariasa, 2002).


Dalam penelitian antropometri yang penting dilakukan adalah
penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan (Arisman,
2007).
a. Berat Badan
Berat badan menggambarkan jumlah dari protein, lemak,
air dan mineral pada tulang. Pada remaja, lemak tubuh
cenderung meningkat, dan protein otot menurun. (Supariasa,
2002).
b. Tinggi Badan
Tinggi badan merupakan parameter yang penting bagi
keadaan yang telah lalu dan keadaan sekarang, jika umur tidak
diketahui dengan tepat (Supariasa, 2002).
Tinggi badan dapat diukur dalam keadaan berdiri tegak
lurus, tanpa alas kaki, kedua tangan merapat ke badan,
punggung dan bokong menempel pada dinding dan pandangan
diarahkan kedepan. Kedua tangan bergantung relaks disamping
badan. Potongan kayu (atau logam), bagian dari alat pengukur
tinggi badan digeser, kemudian diturunkan hingga menyentuh
bagian atas (verteks) kepala. Sentuhan harus diperkuat jika
subjek berambut tebal (Arisman, 2007).




Rumus perhitungan ÌMT adalah sebagai berikut :

Berat Badan ( Kg)
ÌMT = ---------------------------------------------
Tinggi badan (m) x Tinggi Badan (m)


Tabel 2.1 Kategori Ambang batas ÌMT untuk Ìndonesia
Status Gizi I M T


Kurus
Kurus tingkat
berat

Kurus tingkat
ringan
< 17


17,0 ÷ 18,4


NormaI


Normal


18,5 ÷ 25,0


Gemuk

Gemuk
tingkat ringan

Gemuk
tingkat berat
25,1 ÷ 27,0


> 27
(Sumber Supariasa, 2002)

. PeniIaian Status Gizi
Komponen penilaian status gizi meliputi (Arisman, 2007)



a. Asupan makanan
Penilaian menggunakan asupan makanan merupakan penilaian
yang paling sulit, karena :
1) Manusia memiliki sifat pelupa, orang sering tidak mengingat
dengan pasti jenis dan jumlah makanan yang disantap.
2) Karena manusia sering mngedepankan gengsi sehingga jik
diberi tahu makanan mereka akan dinilai, pola makanpun
dipaksakan berubah
3) Sejauh ini belumlah mungkin menghitung komposisi makanan
secara akurat, kecuali kegiatan makan diawasi secara ketat.
Metode untuk pengukuran komsumsi makanan untuk individu
antara lain (Supariasa, 2002)
1. Metode recall 24 jam
Prinsip dari metode recall 24 jam, dilakukan dengan mencatat
jenis dan jumlah bahan makanan yang dikomsumsi pada
periode 24 jam yang lalu. Biasanya dimulai sejak ia bangun
pagi kemarin sampai dia istirahat tidur malam harinya. Atau
dapat juga dimulai dari waktu saat dilakukan wawancara
mundur ke belakang sampai 24 jam penuh. Untuk
membandingkan antara komsumsi zat gizi dengan keadaan
gizi seseorang biasanya 24 jam penuh. Untuk membandingkan


antara komsumsi zat gizi dengan keadaan gizi seseorang
biasanya dilakukan perbandingan pencapaian komsumsi zat
gizi individu terhadap AKG ( Angka kecukupan Gizi ). Untuk
menentukan AKG individu dapat dilakukan dengan koreksi
pada BB (Berat badan) nyata individutersebut dengan BB
standart yang ada pada table AKG.

Tabel 2.2. Klasifikasi tingkat komsumsi
Kategori AKG
Baik 100 % AKG
Sedang 80 ÷ 99 % AKG
Kurang 70 ÷ 79 %
Devisit < 70 %

2. Prakiraan makanan
Metode ini digunakan untuk mencatat jumlah yang dikomsumsi.
Pada metode ini responden diminta untuk mencatat semua
yang ia makan dan minum setiap kali sebelum makan dalam
ukuran rumah tangga (URT) atau menimbang dalam ukuran
berat (gram) dalam periode tertentu, termasuk cara persiapan
dan pengolahan makanan tersebut.
0

3. Penimbangan makanan
Pada metode penimbangan makanan, responden atau petugas
menimbang dan mencatat seluruh makanan yang dikonsumsi
responden selama 1 hari. Penimbangan biasanya berlangsung
beberapa hari tergantung tujuan, dana penelitian dan tenaga
yang tersedia.

a. Metode dietary history (riwayat makanan)
Metode ini memberikan gambaran pola konsumsi
berdasarkan pengamatan dalam waktu yang cukup lama (1
minggu, 1 bulan, 1 tahun).
b. Metode frekuensi makanan
Metode ini untuk memperoleh data tentang frekuensi
konsumsi sejumlah bahan makanan atau makanan jadi
selama periode tertentu (hari, minggu, bulan, atau tahun)
4. Pemeriksaan biokimia
Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan
spesimen yang diujikan secara laboratoris yang dilakukan pada
berbagai macam jaringan tubuh (Supariasa,dkk,2002).
Berbagai Test laboratorium meliputi pemeriksaan biokimia,
hematology, dan parasitologi. Pada pemeriksaan biokimia
1

dibutuhkan spesimen yang akan diuji, seperti darah, urin, tinja
dan jaringan tubuh seperti hati, otot, tulang, rambut, kuku, dan
lemak bawah kulit (Yayuk,2007).
5. Pemeriksaan klinis riwayat kesehatan
Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk
menilai status gizi masyarakat. Metode ini berdasarkan atas
perubahan-perubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan
ketidak cukupan zat gizi (Supariasa,dkk,2002).
Pemeriksaan klinis meliputi pemeriksaan fisik secara
menyeluruh, termasuk riwayat kesehatan. Bagian tubuh yang
harus diperhatikan dalam pemeriksaan klinis adalah kulit, gigi,
bibir, lidah, mata dan alat kelamin (Arisman, 2004).
6. Pemeriksaan antropometri
Antropometri adalah ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari sudut
pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan
berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi
tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Beberapa
indeks antropometri yang sering digunakan yaitu Berat Badan
menurut Umur (BB/U), Tinggi Badan menurut Umur (TB/U), dan
Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB)
(Supariasa,dkk,2002).


Ìndeks Massa Tubuh (ÌMT) merupakan alat yang sederhana
untuk memantau status gizi khususnya yang berkaitan dengan
kekurangan atau dengan kelebihan berat badan, maka
mempertahankan berat badan normal memungkinkan
seseorang dapat mencapai usia harapan hidup lebih panjang
(Supariasa, dkk,2002)


Tabel 2.3. ANGKA KCUKUPAN GÌZÌ YANG DÌANJURKAN UNTUK ORANG
ÌNDONSÌA
No UMUR BRAT
BADAN
(cm)
TÌNGGÌ
BADAN
(cm)
NRGÌ
(Kkal)
PROTÌ
N (gram)
Vit.A
(R)
Vit.D
(Mg)
Vit.
(Mg)
Vit.K
(Mg)

1
2
3
4
5
Anak :
0-6 bulan
7-11 bulan
1-3 tahun
4-6 tahun
7-9 tahun

6
8,5
12
17
25

60
71
90
110
120

550
560
1000
1550
1600

10
16
25
39
45

375
400
400
450
500

5
5
5
5
5

4
5
6
7
7

5
10
15
20
25

6
7
8
9
10
11
12
Pria
10-12 tahun
13-15 tahun
16-19 tahun
20-29 tahun
30-49 tahun
50-64 tahun
65 + keatas

35
45
55
56
62
62
62

138
150
160
165
165
165
165

2050
2400
2600
2550
2350
2250
2050

50
60
65
60
60
60
60

600
600
600
600
600
600
600

5
5
5
5
5
10
15

11
15
15
15
15
15
15

35
55
55
65
65
65
65

13
14
15
16
17
18
19
Wanita
10-12 tahun
13-15 tahun
16-19 tahun
20-29 tahun
30-49 tahun
50-64 tahun
65 + keatas

37
45
50
52
55
55
55

145
153
154
156
156
156
156

2050
2350
2200
1900
1800
1750
1600

50
57
50
50
50
50
50

600
600
600
500
500
500
500

5
5
5
5
5
10
15

11
15
15
15
15
15
15

35
55
55
55
55
55
55
Sumber: !enentu,nSt,tus ii , (Sup,7i,s, 2002)




. Tingkat Konsumsi Makanan
a. Kebiasaan Makan
Hidayat (1979) menyebutkan bahwa pada dasarnya intake
makanan dipengaruhi 2 hal, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor
internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri manusia itu
sendiri,dapat berupa emosi/kejiwaan yang memiliki sifat kebiasaan,
sementara itu faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar
manusia, seperti keersediaan bahan pangan yang ada dialam
skitarnya serta kondisi social ekonomi yang mempengaruhi tingkat
daya beli manusia terhadap bahan pangan.
Worthington-Robert (2000) menyebutkan banyak faktor yang
mempengaruhi kebiasaan makan. Pertumbuhan remaja,
meningkatkan partisipasi dalam kehidupan social, dan aktifitas remaja
dapat menimbulkan dampak terhadap apa yang di makan remaja
tersebut. Remaja mulai dapat membeli dan mempersiapkan makanan
untuk mereka sendiri, dan biasanya remaja lebih suka makanan serba
instant yang berasal dari luar rumah seperti fast food. Fast food
biasanya mengandung zat gizi yang terbatas atau rendah, diantaranya
adalah kalsium, riboflavin,vitamin A, magnesium, vitamin C, folat dan
serat. Selain itu, kandungan lemak dan natrium cukup tinggi pada
berbagai fast food.(FKM UÌ,2010)


b. Makan jajanan
Akhir-akhir ini beragam isu kesehatan menjadi topik hangat
yang dibicarakan berbagai kalangan, termasuk para orangtua. Kasus
formalin, boraks, hingga zat pewarna pada makanan membuat kita
semua harus lebih hati-hati lagi dalam memilih makanan terutama
makanan yang dikonsumsi oleh anak-anak. Dalam hal ini para
orangtua harus melakukan pengawasan lebih ketat terhadap makanan
apa saja yang dibeli bebas alias jajanan, tidak terkecuali makanan
yang disediakan di kantin sekolah.
Dengan kondisi tersebut, diperlukan komunikasi antara
orangtua murid dan guru untuk saling memberikan masukan dan
pengawasan pada makanan di kantin sekolah dengan memberikan
dan menyediakan makanan yang sehat dan bergizi bagi murid.
1. Definisi Makanan Jajanan
Makanan jajanan adalah semua makanan yang dapat
langsung dimakan yang dibeli dari penjual makanan, baik yang
diproduksi oleh penjual tersebut atau diproduksi oleh orang lain
tanpa diolah lagi (Savitri, 2009).
Makanan jajanan (Street Foods) adalah jenis makanan yang
dijual dikaki lima, pinggiran jalan , di stasiun, di pasar, di tempat
pemukimanserta lokasi yang sejenis (Winarno, 2007).


Kebiasaan makan di Ìndonesia adalah makanan utama dua
kali atau tiga kali dengan diselingi jajanan di antaranya. Makan pagi
biasanya pada jam 07.00, makan selingan/jajanan jam 10.00
sampai 11.00, makan siang jam 12.00, makan selingan jam 16.00
sampai 17.00 dan makan malam jam 19.00, maka makanan
selingan diantara makan utama dianjurkan pada remaja karena 2
sampai 3 jam setelah makan, zat gizi didalam makanan akan
berkurang dengan akibat pengurangan aktifitas tubuh. Sehingga
makanan jajanan berfungsi mengganti zat gizi yang berkurang,
maka makanan jajanan yang dikonsumsi harus bergizi baik dan
paling sedikit berkalori 150-200 kalori dan cukup protein dan
kebersihannya harus dijaga. Jadi frekuensi makanan jajanan yang
baik adalah 2 kali sehari yaitu pada pagi hari dan sore hari
sedangkan pada malam hari makanan jajanan tidak dianjurkan
(Tarwotjo, 2008).
2. Fungsi Makanan Jajanan
Fungsi makanan jajanan adalah sebagai makanan selingan
dan meningkatkan asupan zat gizi sehingga perlu memilih jajanan
yang bernilai tinggi.




3. Pembagian Makanan Jajanan
a. Makanan berat/utama yang terdiri dari nasi goring, nasi campur,
hamburger, fried chicken, mie bakso dan lain-lain.
b. Makanan cemilan yang terdiri dari berbagai jenis kue basah
ataupun kue kering seperti pisang goreng, onde-onde, snack
kemasan dan lain-lain.
c. Minuman seperti minuman ringan, es campur/es teller, kopi, teh
dan lain-lain.
4. Dampak Negatif Makanan Jajanan
Zat terlarang yang terkandung dalam bahan makanan:
a. h7ysoi/ine 7ho/,2in bu7n u2be7. Zat pewarna yang
dimaksud dipergunakan untuk pewarna industri tekstil dan lain-
lain.
b. Zat pengawet, seperti nitrofuran, asam benzoate, dan
kloroform. Formalin dan boraks juga berada di antara pengawet
yang dilarang karena bukan untuk digunakan pada makanan.
c. Zat pemanis, sakharin dan siklamat.






Bahaya yang mengancam:
a. Zat pewarna seperti rhodamin, jika dikonsumsi secara
berlebihan akan menyebabkan kanker hati beberapa tahun
mendatang.
b. Vetsin atau mono sodium glutamate (MSG) yang dikonsumsi
secara berlebihan bisa menyebabkan kanker. Dalam jangka
pendek bisa juga menyebabkan pusing dan mual.
c. Formalin dan boraks bisa membuat gangguan pencernaan,
muntah-muntah, hingga depresi system saraf.
d. Pencemaran timbal (Pb) pada makanan yang dijajakan di
pinggir jalan tidak bisa diremehkan karena bisa mengakibatkan
infertilitas, kelumpuhan, mual, dan muntah-muntah, sakit
kepala, hingga kesulitan berpikir.
e. Selain timbale, makanan jajanan yang tidak higienis sangat
mungkin tercemar bakteri .coli. Bakteri ini menyebabkan sakit
perut, diare dan gangguan pencernaan lainnya.
. Tips menghindari jajanan:
a. Biasakan makan pagi. Hal ini efektif untuk mengurangi nafsu
jajan pada anak dan remaja.
b. Membawa bekal. Dengan membawa bekal, selain kebersihan
terjaga, nutrisi juga dijamin seimbang.


c. Sediakan kudapan/camilan sehat di rumah, bisa berupa buah,
kue rendah kalori atau yoghurt.
d. Variasi makanan di rumah. Menu yang berganti-ganti membuat
kita tidak cepat bosan dan mencari pilihan lain di luar rumah,
yang belum tentu memenuhi syarat gizi. Ìni bisa diterapkan juga
di kantin-kantin sekolah dengan menyediakan makanan yang
sehat yang variatif dan bergizi, sehingga murid tidak membeli
jajanan di luar sekolah.
e. Jangan biasakan mengganti makanan dengan jajanan.
f. Jangan terlalu sering makan di restoran 1,st 1oo/. Makanan
yang ditawarkan umumnya mengandung garam yang tinggi dan
penyedap rasa berlebih. Kandungan kalorinya juga lebih besar
disbanding kandungan nutrisinya. Protein, mineral dan
vitaminnya pun sangat rendah.
. Daftar Kandungan Zat Gizi Makanan Jajanan (DKGJ)
DKGJ adalah daftar yang memuat angka-angka kandungan
zat gizi berbagai jenis makanan jajanan. Hardinsyah dan Dodik
Briawan (1990) telah membuat rangkuman berbagai jenis makanan
jajanan yang khas dijumpai di berbagai daerah di Ìndonesia, akan
tetapi baru sebagian kecil dari keaneka ragaman makanan jajanan


tersebut yang telah dianalisis kandungan zat gizinya. Rangkuman
tersebut diperoleh dari berbagai sumber hasil penelitian.
Daftar Kandungan Zat Gizi Makanan Jajanan (DKGJ) dibuat
tersendiri, tanpa digabung dengan DKBM yang sudah ada.
Pemisahan ini dilakukan dengan alasan sebagai berikut:
a. Makanan jajanan merupakan campuran dari berbagai bahan
makanan yang dianalisis bersamaan dalam bentuk olahan.
b. Dalam DKGJ susunan zat-zat gizi tercantum dalam satuan
gram Bagian yang Dapat Dimakan (BDD), menurut ukuran
rumah tangga masing-masing (buah, bungkus, potong, iris,
porsi, dan sebagainya), sehingga tidak perlu lagi dicantumkan
kolom BDD.
c. DKGJ hanya memuat kandungan energy dan sembilan jenis zat
gizi, yaitu protein, lemak, karbohidrat, kalsium, besi (Fe),
vitamin A, vitamin C, vitamin B1, dan air.
Apabila akan menghitung kandungan zat gizi suatu
makanan jajanan yang dikonsumsi oleh responden, dengan
menggunakan DKGJ, maka rumus yang digunakan sebagai
berikut:


0





Sumber : Hardinsyah dan Dodik Briawan ÌPB Bogor, 1990
Keterangan:
KG = Kandungan zat gizi Ì makanan jajanan j
B = Berat makanan jajanan j yang akan dianalisis(gram)
B = Berat makanan jajanan j yang tercantum dalam
DKGJ (gram)
G = Kandungan zat gizi Ì makanan jajanan j tabel DKGJ
Contoh penghitungan:
Misalnya seseorang mengkonsumsi kue kroket satu buah seberat 50
gram. Untuk menghitung kandungan protein kroket tersebut:




Catatan: Bila diketahui berat kroket pada tabel DKGJ adalah 25 gr dan kandungan
protein kroket 25 gr tersebut 1,2 gr (pada tabel DKGJ)

Sebagian besar makanan jajanan di Ìndonesia dihasilkan oleh
berbagai industri rumah tangga, sehingga terdapat variasi antar-

B[
kCl[ ƹ x Gl[
Bjd
Berat kroket yang dimakan kandungan
Kadar protein kroket= x protein kroket
Berat kroket pd tabel DKGJ
50 gr
= x 1,2 gr = 2,4 gr
25 gr
1

daerah, oleh karena itu dalam menghitung kandungan zat gizi
makanan jajanan dengan DKGJ perlu diperhtungkan bahwa ukuran
berat makanan jajanan tidaklah sama dan ukuran yang dipergunakan
adalah gram bukan URT.

D. Daya BeIi Makanan
1. Pengertian Daya Beli
Kotler (2006) menjelaskan bahwa daya beli adalah kemampuan
seseorang untuk mendapatkan atau memperoleh barang yang
dibutuhkan.
Kemampuan yang dimaksud adalah kemampuan secara
ekonomi yaitu kemampuan seseorang untuk mengeluarkan uang
yang dimilikinya sesuai dengan barang yang diinginkan. Sehingga
daya beli makanan dapat diartikan sebagai kemampuan secara
ekonomi dari seseorang unutk memperoleh makanan yang
dibutuhkan.
Daya beli seseorang tergantung pada beberapa aspek yaitu:
a. Berapa besar kemampuan ekonomi yang dimiliki seseorang
b. Berapa besar nilai barang tersebut sehingga ia bersedia
mengeluarkan uang untuk memperolehnya


Daya beli makanan remaja tidak terlepas dari besarnya uang
saku yang diberikan orang tua. Dalam penggunaannya, uang saku
digunakan untuk memenuhi kebutuhan membeli makanan, ditabung,
fotocopy, membeli alat tulis yang sifatnya urgent dan uang
transportasi (Rivan, 2010).
2. Perilaku Pembelian Makanan Remaja
Perilaku daya beli remaja dipengaruhi oleh karakteristiknya yaitu
budaya dan sosial. Budaya merupakan penentu pola keinginan belanja
seseorang. Budaya meliputi nilai, persepsi, preferensi dan perilaku
dasar keinginan yang dipelajari dari keluarga. Adanya kebiasaan untuk
sarapan pagi dalam suatu keluarga dapat mempengaruhi remaja untuk
menggunakan uang sakunya yang dibelanjakan untuk makanan
disekolah.
Faktor sosial juga mempengaruhi perilaku pembelian remaja.
Perilaku pembelian ini dipengaruhi oleh lingkungannya yaitu keluarga
dan teman. Kebiasaan yang ada dilingkungan teman untuk membeli
makanan cepat saji yang bersifat modern seperti KFC menyebabkan
remaja membutuhkan lebih banyak uang saku untuk membeli
makanan walaupun makanan tersebut tidak mencukupi kebutuhan gizi
remaja. Hal ini termasuk dalam gaya hidup remaja.


Faktor yang berperan dalam menentukan status kesehatan
seseorang adalah tingkat social ekonomi, dalam hal ini adalah daya
beli keluarga. Kemampuan keluarga untuk membeli bahan makanan
antara lain tergantung pada besar kecilnya pendapatan keluarga,
harga bahan makanan itu sendiri, serta tingkat pengelolaan smber
daya lahan dan pekarangan. Keluarga dengan pendapatan terbatas
kemungkinan besar akan kurang dapat memenuhi kebutuhan
makannya terutama untuk memenuhi kebutuhan zat gizi dalam
tubuhnya(Apriadji,1986)
Tingkat pendapatan dapat menentukan pola makan. Orang
dengan tingkat ekonomi rendah biasanya akan membelanjakan
sebagian besar pendapatan untuk makanan, sedangkan orang
dengan tingkat ekonomi tinggi akan berkurang belanja untuk
makanan. (Berg) mengatakan bahwa pendapatan merupakan faktor
yang paling menentukan kualitas dan kuantitas hidangan. Semakin
banyak mempunyai uang berarti semakin baik makanan yang
diperoleh. Dengan kata lain semakin tinggi penghasilan, semakin
besar pula presentase dari penghailan tersebut untuk membeli buah,
sayuran, dan beberapa jenis bahan makanan lainnya
.



E. Hubungan tingkat konsumsi dengan status gizi remaja putri
Pemenuhan Kebutuhan gizi akan berdampak pada kondisi
kesehatan, dan bisa juga berlaku sebaliknya, yaitu status kesehatan
(terutama infeksi) akan berdampak kepada status gizi seseorang.
Khusus bagi perempuan, gizi memiliki peran yang sangat penting
dalam kesehatan reproduksinya, sejak masih berupa janin hingga usia
lanjut. Siklus kehidupan perempuan dibagi dala tahap masa kecil dan
masa anak-anak, masa remaja, masa reproduksi (hamil dan
menyusui) dan masa akhir kehidupan. Perempuan memiliki Kebutuhan
yang lebih khusus disbanding laki-laki karena perempuan memiliki
kodrat untuk mengalami haid, hamil, melahirkan, dan menyusui.
Kondisi ini menyebabkan perempuan memerlukan pemenuhan gizi
dan pemeliharan kesehatan yang lebih insentif selama fase
kehidupannya. Permasalahan gizi yang timbul pada salah satu masa
yang dilalui akan berdampak pada proses reproduksi seorang
perempuan.
Kesehatan reroduksi remaja ( Adolescent reproductive Health )
adalah upaya kesehatan reproduksi yang dibutuhkan remaja. Salah
satu unsur yang berperan dalam mewujudkan kesehatan reproduksi
pada remaja adalah status gizi. Asupan zat-zat gizi yang seimbang
dan sesuai dengan Kebutuhan remaja akan membantu remaja


mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Ketidak
seimbangan antara asupan Kebutuhan atau kecukupan akan
menimbulkan masalah gizi baik yaitu berupa masalah gizi lebih
maupun gizi kurang

F. Hubungan daya beIi makanan dengan status gizi remaja putri
Menurut dr. benny sogianto, MPH hubungan daya beli makanan
dengan status gizi adalah sebagai berikut :
Kemiskinan menyebabkan daya beli pangan rendah sehingga
terjadi penurunan jumlah komsumsi pangan dengan akibat malnutrisi
akut dan kronis
Daya beli pangan yang rendah mendorong penggunaan pangan
bermutu rendah seperti : makanan kadaluarsa, makanan berjamur,
pengawet dan pewarna berbahaya, sehingga timbul berbagai macam
gangguan.
Daya beli meningkat mendorong peningkatan komsumsi makan
dan jajanan berlemak dengan akibat peningkatan kejadian berat
badan lebih dan obesitas.





G. Kerangka teori
Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam
bentuk variabel tertentu, merupakan indek yang statis dan agresif
sifatnya kurang peka untuk melihat terjadinya perubahan dalam kurun
waktu pendek misalnya bulanan (Supariasa, 2002).







































Karakteristik dari situasi dan
kesediaan makanan

Sikap dan nilai yang
berhubungan dengan
makanan

Pengetahuan dan
kepercayaan terhadap
makanan
Keluarga dan tempat tinggal
Geografis
Keuangan
Ketersediaan
pangan
Sikap dan nilai yang
berhubungan
dengan gizi
Motivation
- Kebutuhan Fisiologis
- Aspek sitausi untuk makan
- Aspek social untuk makan
- Psykologis dan citra diri
yang berhubungan dengan
kebiasaan makan

Cara Berpikir
- Pengetahuan dan
kepercayaan terhadap
makanan
- Sikap dan nilai terhadap
makanan


Status Kesehatan Remaja
Pola
Konsumsi
Makanan
Pendidikan gizi pada remaja

Pengetahuan guru, sikap dan
kepercayaan terhadap gizi

Sikap administrasi sekolah dan
nilai yang berhubungan dengan
gizi
Lingkungan Sekolah
Masyarakat


Bagan 2.1. Faktor Yang berhubungan dengan Pola Konsumsi
Remaja
Konsumsi makanan berpengaruh terhadap status gizi remaja.
Status gizi yang baik atau status gizi yang optimal terjadi bila tubuh
memperoleh cukup zat-zat gizi yang digunakan efisien, sehingga
memungkinkan pertumbuhan fisik, pertumbuhan otak, kemampuan kerja
dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin.
Ketidakseimbangan antara asupan kebutuhan atau kecukupan akan
menimbulkan masalah gizi lebih maupun gizi kurang. Status gizi remaja
tergantung pada pola konsumsi remaja.














BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis PeneIitian
Penelitian ini menggunakan desain penelitian obse7;,sion,l yaitu
suatu penelitian yang dilakukan untuk mengetahui masalah yang diteliti
melalui pengamatan langsung dengan rancangan penelitian c7oss
section,l yakni suatu penelitian di mana variabel-variabel yang termasuk
faktor resiko dan variabel-variabel yang termasuk faktor efek diobservasi
atau pengamatan variabel bebas dan terikat dilakukan pada waktu yang
sama.

B. Tempat dan Waktu PeneIitian
1. Tempat penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Sanga-Sanga
Kabupaten Kutai Kartanegara.






0

2. Waktu penelitian
Penelitian akan dilaksanakan bulan April ÷ Juni 2011
NO KGÌATAN MAR APR MEI JUN
1 2 1 2 1 2 1 2
1 Konsultasi proposal
2 Pengumpulan Proposal
3 Ujian Proposal
5 Revisi proposal
4 Pengambilan Data
6 Pengolahan Data
7 Konsultasi Hasil
8 Pengumpulan Hasil
9 Ujian Hasil Skripsi
10 Revisi dan Pengumpulan
Hasil


. PopuIasi dan SampeI
1. Populasi
Populasi merupakan keseluruhan objek dalam hal ini adalah
siswi putri di SMAN 1 Sanga-sanga kelas X dan XÌ Tahun 2011
sebanyak 168 siswi. Untuk pengambilan sampel siswi kelas XÌÌ tidak
disertakan karena pada saat penelitian yaitu pada bulan April 2011
sedang mengikuti ujian nasional.
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari keseluruhan subjek yang diteliti dan
dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmojo, 2005). Sampel
dalam penelitian ini adalah sebagian siswi remaja putri kelas X dan XÌ
di SMA Negeri 1 Kecamatan Sangasanga.
1


n
n ƹ ŴŴŴŴŴŴŴŴŴŴŴŴŴŴ
nŦd
Dalam penelitian ini sampel diambil secara berstrata (St7,ti1ie/
s,2ple), menurut Suwarno (2007) pengambilan sample dengan
tehnik ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Menetapkan jumlah sampel yang akan dijadikan responden
Peneliti menggunakan rumus dari Taro Yamaro karena
populasi sudah diketahui jumlahnya.




Dimana : n = Jumlah sampel
N = Jumlah populasi
d² = Presisi yang ditetapkan
Tingkat presisi yang dipakai dalam penelitian ini adalah 0,05
sehingga dapat dilakukan perhitungan sebagai berikut :
168
n = -------------------
168.(0,05²) + 1
168
n = ---------------------
168. (0,0025) + 1



n = 118,309 dibulatkan 118
Jadi jumlah sampel yang dibutuhkan adalah 118 responden
Pengambilan sampel secara stratified sampling
Pengambilan sampel secara st7,ti1ie/ s,2pling memakai
rumusan alokasi proportional sebagai berikut :




Dimana,
ni = Jumlah sampel menurut stratum
n = Jumlah sampel seluruhnya
Ni = Jumlah populasi menurut stratum
N = Jumlah populasi seluruhnya

75
Kelas X = ------- x 118 = 52,67 = 53 orang
168

93
Kelas XÌ = ------- x 118 = 65,32 = 65 orang
168
-----------------------------
Jumlah seluruhnya 118 orang

nl
nl ƹ ŴŴŴŴŴŴŴŴŴŴŴŴ n
n


D. VariabeI PeneIitian
Variabel Penelitian terdiri dari:
1. Variabel Terikat/Dependent
Variabel terikat adalah status gizi
2. Variabel Bebas/Ìndependent
a. Tingkat konsumsi makanan
b. Daya beli makanan

E. Kerangka Konsep PeneIitian
Kerangka konsep dalam penelitian ini untuk menghubungkan
tingkat konsumsi makanan dan daya beli makanan sebagai variabel
bebas dan status gizi remaja putri sebagai variabel terikat sebagai berikut:
Variabel Ìndependent Variabel Dependent






Bagan 3.1. Kerangka Konsep

Tingkat Konsumsi
Makan
Status Gizi
Remaja Putri
Daya Beli Makanan
Kebiasaan
Makan
Makan
Jajanan


F. Hipotesis PeneIitian
Hipotesa dalam penelitian ini adalah
1. Ada hubungan antara tingkat konsumsi makanan dengan status gizi
pada remaja putri di SMA Negeri 1 Sangasanga Tahun 2011.
2. Ada hubungan antara daya beli makanan dengan status gizi pada
remaja putri di SMA Negeri 1 Sangasanga Tahun 2011.

G. Definisi OperasionaI
1. Variabel Dependent/terikat
Variabel Definisi operasional Kiteria Objektif Alat Ukur

Skala ukur
1 2 4 5 6
Status Gizi Keadaan
keseimbangan gizi
remaja putri yang
diukur
menggunakan
metode ÌMT
1. Gizi lebih
Jika ÌMT > 25,0
2. Gizi Normal
Jika ÌMT > 18,5-
25,0
3. Gizi Kurang
Jika ÌMT < 17
- Timbangan
Berat Badan
- Pengukur
Tinggi
Badan
Ordinal




















2. Variabel Ìndependent/Bebas
Variabel Definisi
operasional
Kiteria Objektif Alat Ukur

Skala
ukur
1 2 4 5 6
Tingkat
konsumsi
Makanan
Kebiasaan makan
sehari-hari oleh
remaja putri
menggunakan
metode Recall
2x24 jam dan
Frekuensi jajan
yang dilakukan
remaja dalam
sehari yang
berfungsi sebagai
makanan selingan.

1. Defisit : < 70%

2. Kurang : 70-90%

3. Sedang : 80-90%
AKG

4. Baik : > 100%
AKG

Lembar
wawancara
Ordinal
Daya beli
makanan
Kemampuan
remaja untuk
membeli makanan
yang berfungsi
sebagai makanan
pengganti makanan
utama yaitu makan
pagi/makan
siang/makan
malam atau
sebagai makanan
selingan
1. Mampu
Jika remaja mampu
membeli makanan
baik sebagai
makanan pengganti
atau makanan
selingan, jika nilai
jawaban < 4 (80%
jawaban benar).
2. Tidak Mampu
Jika remaja tidak
mampu membeli
makanan baik
sebagai makanan
pengganti atau
makanan selingan,
jika nilai jawaban < 4
Kuesioner Ordinal

H. Teknik PengumpuIan Data
Dalam penelitian ini jenis data yang dikumpulkan berupa data
primer dan data sekunder.





1. Data Primer
Data primer dalam penelitian ini dengan menggunakan
kuesioner yang diisi langsung oleh responden yang memuat
pertanyaan sesuai dengan indikator penelitian. Kuesioner digunakan
untuk mengumpulkan data mengenai daya beli makanan sedangkan
wawancara dilakukan untuk mengumpulkan data tingkat konsumsi
makanan. Sedangkan pengukuran status gizi menggunakan
timbangan dan pengukur tinggi badan untuk mengetahui nilai ÌMT.
2. Data Sekunder
Data ini didapatkan dari data sekolah mengenai jumlah siswa
serta literature yang memiliki relevansi dengan masalah yang
dibahas.

I. Teknik PengoIahan Data
Pengolahan data pada dasarnya merupakan suatu proses untuk
memperoleh data atau ringkasan berdasarkan kelompok data mentah
dengan menggunakan rumus tertentu sehingga menghasilkan informassi
yang dibutuhkan.
Data yang diperoleh melalui alat ukur kuisioner masih dalam
keadaan mentah. Oleh karena itu data tersebut harus diproses atau diolah
sehingga dapat memberikan makna guna menyimpulkan problematika


penelitian. Adapun langkah-langkah dalm pengolahan data sebagai
berikut:
1. o/ing data
proses pemberian kode dalam hubungan dengan pengolahan
dayta jika akan menggunakan computer.
2. Skoring
Pemberikan nilai terhadap item yang perlu diberi skor.
3. Tabulasi
Pengelompokkan data atas jawaban yang diteliti dan diatur,
kemudian dihitung dan jumlah sampel terwujud dalam tabel yang
berguna.
4. diting
proses yang dilakukan setelah data terkumpul, untuk melihat
apakah jawaban-jawaban yang ada pada kuesioner telah terisi
lengkap atau belum.

J. Teknik AnaIisa Data
1. Analisa univariat
Analisa univariat dilakukan terhadap tiap-tiap variabel dari hasil
penelitian (Notoatmodjo, 2002 :188). Tujuan dari analisa ini adalah
untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik masing-masing


variabel tersebut, yaitu kebiasaan makan, makan jajanan, daya beli
makanan dan status gizi. Data yang telah didapat kemudian diolah dan
dianalisa dengan menggunakan perangkat lunak computer dan
ditampilkan dalam bentuk tabel data yang menjabarkan distribusi
frekuensi dan presentase dari masing-masing variabel dengan
menggunakan rumus sebagai berikut :
Rumus
F
P = ------- x 100 %
5 N

Keterngan P = Prosentase
F = Frekuensi
N = Jumlah responden
2. Analisa bivariat
Analisa bivariat didalam penelitian ini menggunakan rumus Chi
Square (X
2
) untuk melihat hubungan kebiasaan makan, makan jajanan
dan daya beli makanan dengan status gizi. Adapan rumus Chi Square
(X
2
) adalah sebagai berikut :
X² = 5 0 - )²

df = (b-1) (k-1)
Keterangan :
X² = Chi Kuadrat


0 = frekuensi yang diobservasi atau diperoleh
= frekuensi yang diharapkan
df = /eg7ee o1 17ee/o2
b = baris
k = kolom

















0

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. HasiI PeneIitian
1. Gambaran Umum Tempat Penelitian
SMA Negeri 1 merupakan satu-satunya sekolah menegah
umum yang terdapat di Kecamatan Sangasanga yang beralamatkan di
Kelurahan Sangasanga Dalam dan sekolah sederajat yang ada yaitu
berupa sekolah menengah kejuruan yang terdapat dua sekolah di
Kecamatan Sangasanga. SMA Negeri 1 ini di pegang oleh seorang
Kepala Sekolah.
2. Karakteristik Responden
Penelitian mengenai hubungan tingkat konsumsi makanan dan
daya beli makanan dengan status gizi pada remaja putri di SMAN 1
Sangasanga pada bulan April sampai dengan Mei tahun 2011 jumlah
responden yang menjadi sampel penelitian adalah sebanyak 118
orang (dengan waktu penelitian selama 1 bulan).
Responden dalam penelitian ini adalah siswi remaja putri kelas
X dan XÌ di SMA Negeri 1 Kecamatan Sangasanga Kabupaten Kutai
Kartanegara.
a. Umur Siswi

1

Karakteristik responden berdasarkan umur siswi remaja putri
kelas X dan XÌ di SMA Negeri 1 Kecamatan Sangasanga
Kabupaten Kutai Kartanegara tahun 2011 sebagai berikut :
Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi Umur Siswi Remaja Putri Kelas X
dan XÌ Di SMA Negeri 1 Kecamatan Sangasanga Tahun
2011
No Umur Siswi (Tahun) Frekuensi Persen
1 14 1 0.8
2 15 39 32.8
3 16 54 45.4
4 17 20 16.8
5 18 4 3.4
Jumlah 118 100

Berdasarkan tabel 4.1 di atas diperoleh hasil mayoritas umur
siswi remaja putri kelas X dan XÌ di SMA Negeri 1 Kecamatan
Sangasanga yaitu 16 tahun sebesar 45,4% sedangkan umur siswi
remaja putri kelas X dan XÌ di SMA Negeri 1 Kecamatan
Sangasanga yaitu 14 tahun hanya sebesar 0,8%. Terdapat siswi
berusia 14 tahun karena responden pada pertama kali masuk
sekolah tergolong pada usia lebih muda dibandingkan siswa
sekelas dengan responden sedangkan pada responden usia 18
tahun dikarenakan responden pertama kali masuk sekolah
tergolong pada usia lebih tua dibandingkan siswa sekelas.
b. Kelas Siswi


Karakteristik responden berdasarkan kelas siswi remaja
putri di SMA Negeri 1 Kecamatan Sangasanga Kabupaten Kutai
Kartanegara tahun 2011 sebagai berikut :


Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi Kelas Siswi Remaja Putri Di SMA
Negeri 1 Kecamatan Sangasanga Tahun 2011
No Kelas Siswi Frekuensi Persen
1 X1 19 16,1
2 X2 11 9,3
3 X3 10 8,5
4 X4 13 11,0
5 XÌ ÌPA 1 18 15,2
6 XÌ ÌPA 2 18 15,3
7 XÌ ÌPS 1 10 8,5
8 XÌ ÌPS 2 19 16,1
Jumlah 118 100

Berdasarkan tabel 4.2 di atas diperoleh hasil mayoritas siswi
remaja pada penelitian ini yang menjadi responden berada di kelas
X1 dan XÌ ÌPS 2 masing-masing sebesar 16,1% sedangkan siswi
kelas X3 dan XÌ ÌPS 1 yang menjadi responden penelitian hanya
masing-masing sebesar 8,5%.
3. Analisis Univariat
Data yang diperoleh dari hasil penelitian akan dilakukan analisa
secara univariat. Analisa univariat ini dilakukan untuk memperoleh
gambaran umum tentang tingkat konsumsi makanan dan daya beli


makanan dengan status gizi pada remaja putri di SMAN 1
Sangasanga, yaitu dengan mendiskripsikan tiap-tiap variabel yang
digunakan baik variabel in/epen/ent maupun variabel /epen/ent yang
ada dalam penelitian dengan bentuk distribusi frekuensinya, data yang
dianalisis berasal dari distribusi frekuensi :

a. Status Gizi
Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan
dalam bentuk variabel tertentu, merupakan indek yang statis dan
agresif sifatnya kurang peka untuk melihat terjadinya perubahan
dalam kurun waktu pendek misalnya bulanan (Supariasa, 2002).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan kepada siswi
remaja putri kelas X dan XÌ di SMA Negeri 1 Kecamatan
Sangasanga Kabupaten Kutai Kartanegara, maka status gizi dapat
dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.3. Distribusi Frekuensi Status Gizi Siswi Remaja Putri
Kelas X Dan XÌ Di SMA Negeri 1 Kecamatan
Sangasanga Tahun 2011

No Status Gizi Frekuensi Persen
1 Kurus 22 18.5
2 Normal 79 66.4
3 Gemuk 17 14.3
Jumlah 118 100



Berdasarkan tabel 4.3 di atas diperoleh hasil bahwa mayoritas
siswi remaja putri kelas X dan XÌ di SMA Negeri 1 Kecamatan
Sangasanga Kabupaten Kutai Kartanegara memiliki status gizi
normal sebesar 66,4%, sedangkan siswi remaja putri kelas X dan
XÌ di SMA Negeri 1 Kecamatan Sangasanga Kabupaten Kutai
Kartanegara memiliki status gizi gemuk hanya sebesar 14,3%.

b. Tingkat Konsumsi
1. Kalori/nergi
nergi dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan,
perkembangan, aktifitas otot, fungsi metabolik lainnya (menjaga
suhu tubuh, menyimpan lemak tubuh), dan untuk memperbaiki
kerusakan jaringan dan tulang disebabkan oleh karena sakit
dan cedera.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan kepada
siswi remaja putri kelas X dan XÌ di SMA Negeri 1 Kecamatan
Sangasanga Kabupaten Kutai Kartanegara, maka tingkat
konsumsi makanan mengandung kalori atau energi dapat dilihat
pada tabel berikut :
Tabel 4.4. Distribusi Tingkat Konsumsi Makanan Mengandung
Kalori/nergi Pada Siswi Remaja Putri Kelas X
Dan XÌ Di SMA Negeri 1 Kecamatan Sangasanga
Tahun 2011



No Tingkat Konsumsi
Kalori/nergi
Frekuensi Persen
1 Defisit 38 31.9
2 Kurang 41 34.5
3 Sedang 28 23.5
4 Baik 11 9.2
Jumlah 118 100

Berdasarkan tabel 4.4 di atas diperoleh hasil bahwa
mayoritas siswi remaja putri kelas X dan XÌ di SMA Negeri 1
Kecamatan Sangasanga Kabupaten Kutai Kartanegara memiliki
tingkat konsumsi makanan mengandung kalori/energi kurang
sebesar 34,5%, sedangkan siswi remaja putri kelas X dan XÌ di
SMA Negeri 1 Kecamatan Sangasanga Kabupaten Kutai
Kartanegara memiliki tingkat konsumsi makanan mengandung
kalori/energy baik hanya sebesar 9,2%.
2. Protein
Protein diperlukan untuk sebagian besar proses
metabolik, terutama pertumbuhan, perkembangan, dan
maintenen/merawat jaringan tubuh. Asam amino merupakan
elemen struktur otot, jaringan ikat, tulang, enzim, hormone,
antibody. Protein juga mensuplai sekitar 12 % - 14 % asupan
energi selama masa anak dan remaja.


Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan kepada
siswi remaja putri kelas X dan XÌ di SMA Negeri 1 Kecamatan
Sangasanga Kabupaten Kutai Kartanegara, maka tingkat
konsumsi makanan mengandung protein dapat dilihat pada
tabel berikut :
Tabel 4.5. Distribusi Tingkat Konsumsi Makanan Mengandung
Protein Pada Siswi Remaja Putri Kelas X Dan XÌ Di
SMA Negeri 1 Kecamatan Sangasanga Tahun
2011

No Tingkat Konsumsi
Protein
Frekuensi Persen
1 Defisit 43 36.1
2 Kurang 40 33.6
3 Sedang 24 20.2
4 Baik 11 9.2
Jumlah 118 100

Berdasarkan tabel 4.5 di atas diperoleh hasil bahwa
mayoritas siswi remaja putri kelas X dan XÌ di SMA Negeri 1
Kecamatan Sangasanga Kabupaten Kutai Kartanegara memiliki
tingkat konsumsi makanan mengandung protein defisit sebesar
36,1%, sedangkan siswi remaja putri kelas X dan XÌ di SMA
Negeri 1 Kecamatan Sangasanga Kabupaten Kutai
Kartanegara memiliki tingkat konsumsi makanan mengandung
protein baik hanya sebesar 9,2%.



3. Lemak
Lemak memiliki peran penting sebagai komponen
struktural dan fungsional membrane sel dan prekusor senyawa
yang meliputi berbagai segi dari metabolism. Lemak juga
sebagai sumber asam lamak esensial yang diperlukan oleh
perumbuhan, sebagai sumber suplai energy yang berkadar
tinggi, dan sebagai pengangkut vitamin yang larut dalam lemak.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan kepada
siswi remaja putri kelas X dan XÌ di SMA Negeri 1 Kecamatan
Sangasanga Kabupaten Kutai Kartanegara, maka tingkat
konsumsi makanan mengandung lemak dapat dilihat pada tabel
berikut :


Tabel 4.6. Distribusi Tingkat Konsumsi Makanan Mengandung
Lemak Pada Siswi Remaja Putri Kelas X Dan XÌ Di
SMA Negeri 1 Kecamatan Sangasanga Tahun
2011

No Tingkat Konsumsi
Lemak
Frekuensi Persen
1 Defisit 37 31.1
2 Kurang 40 33.6
3 Sedang 27 22.7
4 Baik 14 11.8
Jumlah 118 100



Berdasarkan tabel 4.6 di atas diperoleh hasil bahwa
mayoritas siswi remaja putri kelas X dan XÌ di SMA Negeri 1
Kecamatan Sangasanga Kabupaten Kutai Kartanegara memiliki
tingkat konsumsi makanan mengandung lemak kurang sebesar
33,6%, sedangkan siswi remaja putri kelas X dan XÌ di SMA
Negeri 1 Kecamatan Sangasanga Kabupaten Kutai
Kartanegara memiliki tingkat konsumsi makanan mengandung
lemak baik hanya sebesar 11,8%.
4. Karbohidrat
Karbohidrat disimpan sebagai glikogen atau diubah
menjadi lemak tubuh. Lebih dari seperempat total karbohidrat
pada remaja didapatkan dari pemanis yang ditambahkan,
sebagian besar dari sucrose dan sirup jagung yang
mengandung tinggi sucrose.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan kepada
siswi remaja putri kelas X dan XÌ di SMA Negeri 1 Kecamatan
Sangasanga Kabupaten Kutai Kartanegara, maka tingkat
konsumsi makanan mengandung karbohidrat dapat dilihat pada
tabel berikut :
Tabel 4.7. Distribusi Tingkat Konsumsi Makanan Mengandung
Karbohidrat Pada Siswi Remaja Putri Kelas X Dan
XÌ Di SMA Negeri 1 Kecamatan Sangasanga
Tahun 2011



No Tingkat Konsumsi
Karbohidarat
Frekuensi Persen
1 Defisit 41 34.5
2 Kurang 43 36.1
3 Sedang 23 19.3
4 Baik 11 9.2
Jumlah 118 100

Berdasarkan tabel 4.7 di atas diperoleh hasil bahwa
mayoritas siswi remaja putri kelas X dan XÌ di SMA Negeri 1
Kecamatan Sangasanga Kabupaten Kutai Kartanegara memiliki
tingkat konsumsi makanan mengandung karbohidrat kurang
sebesar 36,1%, sedangkan siswi remaja putri kelas X dan XÌ di
SMA Negeri 1 Kecamatan Sangasanga Kabupaten Kutai
Kartanegara memiliki tingkat konsumsi makanan mengandung
karbohidrat defisit hanya sebesar 9,2%.
c. Daya Beli Makanan
Kotler (2006) menjelaskan bahwa daya beli adalah
kemampuan seseorang untuk mendapatkan atau memperoleh
barang yang dibutuhkan.
Pada butir pertanyaan pada faktor daya beli makanan pada
siswi remaja putri kelas X dan XÌ di SMA Negeri 1 Kecamatan
Sangasanga Kabupaten Kutai Kartanegara, maka dapat dilihat
pada tabel berikut :
0


Tabel 4.8. Distribusi Butir Pertanyaan Faktor Daya Beli Makanan
Siswi Remaja Putri Kelas X Dan XÌ Di SMA Negeri 1
Kecamatan Sangasanga Tahun 2011

No Pertanyaan
Ya Tidak
n % n %
1
Menerima uang saku setiap
hari :
114 95,8 4 3,4
2
Jika ya, Apakah uang saku
yang diberikan dapat dibelikan
makanan utama sebagai
pengganti makan dirumah :
94 79 24 20,2
3
Uang saku yang diberikan
dapat dibelanjakan untuk
membeli cemilan (makanan
ringan/minuman) selain
makanan utama pengganti
makan siang :
99 83,2 19 16
4
Uang saku yang diterima lebih
banyak untuk dibelanjakan
keperluan lain seperti
membeli pulsa :
21 17,6 97 81,5
5
Diberikan uang saku
sekaligus untuk satu bulan :
13 10,9 105 88,2
6
Uang saku yang diberikan,
masih dapat disisihkan untuk
ditabung :
89 74,8 29 24,4

Berdasarkan tabel 4.8 di atas diperoleh hasil bahwa
mayoritas siswi remaja putri kelas X dan XÌ di SMA Negeri 1
Kecamatan Sangasanga Kabupaten Kutai Kartanegara menerima
uang saku setiap hari (95,8%), uang saku yang diberikan dapat
dibelikan makanan utama sebagai pengganti makan dirumah
(79%) dan uang saku masih bisa ditabung (74,8%).
1

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan kepada siswi
remaja putri kelas X dan XÌ di SMA Negeri 1 Kecamatan
Sangasanga Kabupaten Kutai Kartanegara, maka daya beli
makanan dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.9. Distribusi Frekuensi Daya Beli Makanan Siswi Remaja
Putri Kelas X Dan XÌ Di SMA Negeri 1 Kecamatan
Sangasanga Tahun 2011

No Daya Beli Makanan Frekuensi Persen
1 Mampu 71 59.7
2 Tidak Mampu 47 39.5
Jumlah 118 100

Berdasarkan tabel 4.9 di atas diperoleh hasil bahwa
mayoritas siswi remaja putri kelas X dan XÌ di SMA Negeri 1
Kecamatan Sangasanga Kabupaten Kutai Kartanegara mampu
membeli makanan sebesar 59,7%, sedangkan siswi remaja putri
kelas X dan XÌ di SMA Negeri 1 Kecamatan Sangasanga
Kabupaten Kutai Kartanegara tidak mampu membeli makanan
hanya sebesar 39,5%.
4. Analisis Bivariat
Analisa bivariat dilakukan untuk mengetahui besarnya
hubungan variabel independen dengan variabel dependen. Dalam hal
ini adalah hubungan antara tingkat konsumsi makanan dan daya beli


makanan dengan status gizi pada remaja putri di SMAN 1
Sangasanga Kabupaten Kutai Kertanegara.
a. Hubungan Tingkat Konsumsi Makanan Mengandung Kalori/nergi
Dengan Status Gizi
Hubungan tingkat konsumsi makanan mengandung
kalori/energi dengan status gizi siswi remaja putri kelas X dan XÌ di
SMA Negeri 1 Kecamatan Sangasanga Kabupaten Kutai
Kartanegara pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel sebagai
berikut :
Tabel 4.10. Hubungan Tingkat Konsumsi Makanan Mengandung
Kalori/nergi Dengan Status Gizi Tahun 2011
KaIori
Status Gizi
TotaI % P VaIue Kurus NormaI Gemuk
n % n % n %
Defisit 14 32,6 26 60,5 3 7,0 43 100
0,000
Kurang 1 2,5 35 87,5 4 10,0 40 100
Sedang 2 8,3 14 58,3 8 33,3 24 100
Baik 5 45,5 4 36,4 2 18,2 11 100
Jumlah 22 18,6 79 66,9 17 14,4 118 100

Pada tabel 4.10 di atas memperlihatkan hubungan tingkat
konsumsi makanan mengandung kalori/energi dengan status gizi
siswi remaja putri kelas X dan XÌ di SMA Negeri 1 Kecamatan
Sangasanga Kabupaten Kutai Kartanegara tahun 2011. Dari
kategori makanan mengandung kalori defisit dengan status gizi
normal sebanyak 26 responden (60,5%) dan status gizi gemuk
sebanyak 3 responden (7,0%) dan dari kategori makanan


mengandung kalori baik dengan status gizi kurus sebanyak 5
responden (45,5%).
Hasil uji statistik dengan menggunakan chi kuadrat diperoleh
hasil value = 0,000 (P < 0,05) sehingga Ho ditolak yaitu ada
hubungan antara tingkat konsumsi makanan mengandung
kalori/energi dengan status gizi siswi remaja putri kelas X dan XÌ di
SMA Negeri 1 Kecamatan Sangasanga Kabupaten Kutai
Kartanegara tahun 2011.
b. Hubungan Tingkat Konsumsi Makanan Mengandung Protein
Dengan Status Gizi
Hubungan tingkat konsumsi makanan mengandung protein
dengan status gizi siswi remaja putri kelas X dan XÌ di SMA Negeri
1 Kecamatan Sangasanga Kabupaten Kutai Kartanegara pada
penelitian ini dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :
Tabel 4.11. Hubungan Tingkat Konsumsi Makanan Mengandung
Protein Dengan Status Gizi Tahun 2011
Protein
Status Gizi
TotaI % P VaIue Kurus NormaI Gemuk
n % n % n %
Defisit 11 28,9 25 65,8 2 5,3 38 100
0,011
Kurang 5 12,2 33 80,5 3 7,3 41 100
Sedang 4 14,3 15 53,6 9 32,1 28 100
Baik 2 18,2 6 54,5 3 27,3 11 100
Jumlah 22 18,6 79 66,9 17 14,4 118 100



Pada tabel 4.11 di atas memperlihatkan hubungan tingkat
konsumsi makanan mengandung protein dengan status gizi siswi
remaja putri kelas X dan XÌ di SMA Negeri 1 Kecamatan
Sangasanga Kabupaten Kutai Kartanegara tahun 2011. Dari
kategori protein defisit dengan status gizi normal sebanyak 25
responden (65,8%) dan status gizi gemuk sebanyak 2 responden
(5,3 %) , sedangkan dari kategori makanan mengandung protein
baik dengan status gizi kurus sebanyak 2 responden (18,2%).
Hasil uji statistik dengan menggunakan chi kuadrat diperoleh
hasil value = 0,011 (P < 0,05) sehingga Ho ditolak yaitu ada
hubungan antara tingkat konsumsi makanan mengandung protein
dengan status gizi siswi remaja putri kelas X dan XÌ di SMA Negeri
1 Kecamatan Sangasanga Kabupaten Kutai Kartanegara tahun
2011.
c. Hubungan Tingkat Konsumsi Makanan Mengandung Lemak
Dengan Status Gizi
Hubungan tingkat konsumsi makanan mengandung lemak
dengan status gizi siswi remaja putri kelas X dan XÌ di SMA Negeri
1 Kecamatan Sangasanga Kabupaten Kutai Kartanegara pada
penelitian ini dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :
Tabel 4.12. Hubungan Tingkat Konsumsi Makanan Mengandung
Lemak Dengan Status Gizi Tahun 2011


Lemak
Status Gizi
TotaI % P VaIue Kurus NormaI Gemuk
n % n % n %
Defisit 14 34,1 24 58,5 3 7,3 41 100
0,006
Kurang 4 9,3 35 81,4 4 9,3 43 100
Sedang 2 8,7 14 60,9 7 30,4 23 100
Baik 2 18,2 6 54,5 3 27,3 11 100
Jumlah 22 18,6 79 66,9 17 14,4 118 100

Pada tabel 4.12 di atas memperlihatkan hubungan tingkat
konsumsi makanan mengandung lemak dengan status gizi siswi
remaja putri kelas X dan XÌ di SMA Negeri 1 Kecamatan
Sangasanga Kabupaten Kutai Kartanegara tahun 2011. Dari
kategori makanan mengandung lemak deficit dengan status gizi
normal sebanyak 24 responden (58,5%) dan status gizi gemuk
sebanyak 3 responden (7,3%), sedangkan kategori makanan
mengandung lemak baik dengan status gizi kurus sebanyak 2
responden (18,2%).
Hasil uji statistik dengan menggunakan chi kuadrat diperoleh
hasil value = 0,006 (P < 0,05) sehingga Ho ditolak yaitu ada
hubungan antara tingkat konsumsi makanan mengandung lemak
dengan status gizi siswi remaja putri kelas X dan XÌ di SMA Negeri
1 Kecamatan Sangasanga Kabupaten Kutai Kartanegara tahun
2011.


d. Hubungan Tingkat Konsumsi Makanan Mengandung Karbohidrat
Dengan Status Gizi
Hubungan tingkat konsumsi makanan mengandung
karbohidrat dengan status gizi siswi remaja putri kelas X dan XÌ di
SMA Negeri 1 Kecamatan Sangasanga Kabupaten Kutai
Kartanegara pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel sebagai
berikut :





Tabel 4.13. Hubungan Tingkat Konsumsi Makanan Mengandung
Karbohidrat Dengan Status Gizi Tahun 2011
Karbohidrat
Status Gizi
TotaI % P VaIue Kurus NormaI Gemuk
n % n % n %
Defisit 9 24,3 26 70,3 2 5,4 37 100
0,005
Kurang 4 10,0 32 80,0 4 10,0 40 100
Sedang 3 11,1 17 63,0 7 25,9 27 100
Baik 6 42,9 4 28,6 4 28,6 14 100
Jumlah 22 18,6 79 66,9 17 14,4 118 100

Pada tabel 4.13 di atas memperlihatkan hubungan tingkat
konsumsi makanan mengandung karbohidrat dengan status gizi
siswi remaja putri kelas X dan XÌ di SMA Negeri 1 Kecamatan


Sangasanga Kabupaten Kutai Kartanegara tahun 2011. Dari
kategori makanan mengandung karbohidrat deficit dengan status
gizi normal sebanyak 26 responden (70,3%) dan status gizi gemuk
sebanyak 2 responden (5,4%), sedangkan dari kategori makanan
mengandung karbohidrat baik dengan status gizi kurus sebanyak 6
responden (42,9%).
Hasil uji statistik dengan menggunakan chi kuadrat diperoleh
hasil value = 0,006 (P < 0,05) sehingga Ho ditolak yaitu ada
hubungan antara tingkat konsumsi makanan mengandung
karbohidrat dengan status gizi siswi remaja putri kelas X dan XÌ di
SMA Negeri 1 Kecamatan Sangasanga Kabupaten Kutai
Kartanegara tahun 2011.
e. Hubungan Daya Beli Makanan Dengan Status Gizi
Hubungan daya beli makanan dengan status gizi siswi
remaja putri kelas X dan XÌ di SMA Negeri 1 Kecamatan
Sangasanga Kabupaten Kutai Kartanegara pada penelitian ini
dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :
Tabel 4.14. Hubungan Daya Beli Makanan Mengandung
Karbohidrat Dengan Status Gizi Tahun 2011
Daya
BeIi
Status Gizi
TotaI % P VaIue Kurang NormaI Lebih
n % n % n %
Tidak
Mampu 4 8,5 37 78,7 6 12,8 47 100
0,048
Mampu 18 25,4 42 47,5 11 10,2 71 100


Jumlah
22 18,6 79 66,9 17 14,4 118 100


Pada tabel 4.14 di atas memperlihatkan hubungan daya beli
makanan dengan status gizi siswi remaja putri kelas X dan XÌ di
SMA Negeri 1 Kecamatan Sangasanga Kabupaten Kutai
Kartanegara tahun 2011. Dari kategori daya beli mampu dengan
status gizi kurus sebanyak 18 responden (25,4%), sedangkan dari
kategori daya beli tidak mampu dengan status gizi gemuk
sebanyak 4 responden (8,5%).
Hasil uji statistik dengan menggunakan chi kuadrat diperoleh
hasil value = 0,048 (P < 0,05) sehingga Ho ditolak yaitu ada
hubungan antara daya beli makanan dengan status gizi siswi
remaja putri kelas X dan XÌ di SMA Negeri 1 Kecamatan
Sangasanga Kabupaten Kutai Kartanegara tahun 2011.



B. Pembahasan
Pada penelitian ini, variable tingkat konsumsi makanan dan daya
beli makanan terbukti berhubungan dengan status gizi siswi remaja putri
kelas X dan XÌ di SMA Negeri 1 Kecamatan Sangasanga Kabupaten Kutai
Kartanegara tahun 2011.


1. Hubungan Tingkat Konsumsi Makanan Dengan Status Gizi
a. Kalori/nergi
nergi dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan,
perkembangan, aktifitas otot, fungsi metabolik lainnya (menjaga
suhu tubuh, menyimpan lemak tubuh), dan untuk memperbaiki
kerusakan jaringan dan tulang disebabkan oleh karena sakit dan
cedera. Kebutuhan energi bervariasi tergantung aktifitas fisik ;
remaja yang kurang aktif dapat menjadi kelebihan BB atau
mungkin obesitas. Kebutuhan energi bervariasi tergantung
aktifitas fisik ; remaja yang kurang aktif dapat menjadi kelebihan
BB atau mungkin obesitas (Almatsier, 2004).
Kejar tumbuh pada remaja sangat sensitif terhadap energi
dan perubahan yang terjadi pada energy. Asupan energi yang
rendah menyebabkan retardasi pertumbuhan. nergi merupakan
kebutuhan yang terutama : apabila tidak tercapai, diet protein,
vitamin, dan mineral tidak dapat dipergunakan secara efektif
dalam berbagai fungsi metabolik.
Dari hasil penelitian terdapat 26 responden (60,5%) dengan
tingkat konsumsi makanan mengandung kalori yaitu defisit akan
tetapi status gizi responden normal, hal disebabkan responden
selain mengkomsumsi makanan mengandung kalori juga
0

mengkomsumsi protein, lemak dan karbohidrat. Dari 26
responden tersebut, yang mengkomsumsi makanan mengandung
protein defisit sebanyak 21 responden, sedangkan yang
mengandung protein kurang sebanyak 1 responden dan yang
mengandung protein baik sebanyak 4 responden, dari komsumsi
lemak terdapat 21 responden dengan lemak defisit dan 5
responden dengan lemak baik,untuk komsumsi karbohidrat
didapatkan 24 responden dengan karbohidrat defisit dan 2
responden dengan komsumsi karbohidrat baik. sedangkan dari
kategori daya beli makan terdapat 16 responden mampu dan 10
responden tidak mampu.
pada responden dengan tingkat konsumsi makanan
mengandung kalori yaitu defisit tetapi memiliki status gizi gemuk
sebanyak 3 responden (7,0 %), hal disebabkan responden selain
mengkomsumsi makanan mengandung kalori juga
mengkomsumsi protein, lemak dan karbohidrat. Dari 3
responden tersebut, yang mengkomsumsi makanan mengandung
protein defisit sebanyak 2 responden, sedangkan yang
mengandung protein kurang sebanyak 1 responden, dari
komsumsi lemak terdapat 3 responden dengan lemak defisit
,untuk komsumsi karbohidrat didapatkan 2 responden dengan
1

karbohidrat defisit dan 1 responden dengan komsumsi karbohidrat
kurang, sedangkan dari kategori daya beli makan terdapat 2
responden mampu dan 10 responden tidak mampu.
Pada kategori konsumsi makanan mengandung kalori baik
tetapi status gizi responden kurus didapatkan 5 responden
(45,5%). hal disebabkan responden selain mengkomsumsi
makanan mengandung kalori juga mengkomsumsi protein, lemak
dan karbohidrat. Dari 5 responden tersebut, yang
mengkomsumsi makanan mengandung protein defisit sebanyak 2
responden, sedangkan yang mengandung protein kurang
sebanyak 1 responden dan yang mengandung protein sedang
sebanyak 2 responden, dari komsumsi lemak terdapat 2
responden dengan lemak defisit dan 3 responden dengan lemak
kurang, untuk komsumsi karbohidrat didapatkan 2 responden
dengan karbohidrat defisit dan 2 responden dengan komsumsi
karbohidrat kurang sisanya 1 responden dengan konsumsi
karbohidrat sedang, sedangkan dari kategori daya beli makan
terdapat 3 responden mampu dan 2 responden tidak mampu.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada remaja putri di
SMA Negeri 1 Sangasanga didapat hasil menggunakan chi square
dengan nilai p value sebesar 0,011 yaitu nilai p < q (0,05), maka


dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara tingkat konsumsi
makanan mengandung kalori/energy dengan status gizi pada
remaja putri SMA Negeri 1 Sangasanga tahun 2011.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan
Lusiahana (2009) pada remaja putri di SMAN 1 Samarinda, yaitu
terdapat hubungan antara angka kecukupan kalori terhadap
status gizi.
Menurut Muhji, (2003) mengatakan bahwa asupan energi
yang kurang dari kebutuhan berpotensi terjadinya penurunan
status gizi. Studi epidemiologi menyatakan bahwa asupan energi
kurang dari kebutuhan dalam jangka waktu tertentu akan
menyebabkan terjadi penurunan status gizi, bila asupan energi
seimbang akan membantu memelihara status gizi normal, jika
asupan energy berlebihan atau berkurangnya pengeluaran energi
berpotensi terjadinya kegemukan. Berdasarkan hasil penelitian
diperoleh gambaran faktor sebagai penyebab rendahnya asupan
makanan yaitu adanya beberapa gangguan dalam konsumsi
makanan yang belum berlangsung lama sehingga belum
berdampak pada penurunan berat badan.
Kebutuhan energi pada seseorang adalah konsumsi energi
dari makanan yang diperlukan untuk menutupi pengeluaran energi


seseorang bila mempunyai ukuran dan komposisi tubuh dengan
aktifitas yang sesuai dengan kesehatan jangka panjang dan
memungkinkan pemeliharaan secara sosial dan ekonomi. Sumber
energy adalah bahan makanan sumber lemak, seperti lemak dan
minyak, kacang-kacangan, dan biji-bijan. Selain itu bahan
makanan sumber karbohidrat seperti padi-padian, umbi-umbian
dan gula murni.
b. Protein
Protein diperlukan untuk sebagian besar proses metabolik,
terutama pertumbuhan, perkembangan, dan maintenen/merawat
jaringan tubuh. Asam amino merupakan elemen struktur otot,
jaringan ikat, tulang, enzim, hormone, antibody. Protein juga
mensuplai sekitar 12 % - 14 % asupan energi selama masa anak
dan remaja.
Dari hasil penelitian terdapat responden dengan tingkat
konsumsi makanan mengandung protein defisit dengan status gizi
normal sebanyak 25 responden (25,4 %), hal ini dikarenakan
responden selain memakan makanan yang mengandung protein
juga mengkomsumsi makanan yang mengandung kalori, lemak,
dan karbohidrat. Dari 25 responden tersebut, yang
mengkomsumsi makanan mengandung kalori defisit sebanyak 21


responden, sedangkan yang mengandung kalori kurang sebanyak
3 responden dan yang mengandung kalori baik sebanyak 1
responden, dari komsumsi lemak terdapat 19 responden dengan
lemak defisit dan 3 responden dengan lemak kurang sisanya 3
responden dengan lemak baik, untuk komsumsi karbohidrat
didapatkan 21 responden dengan karbohidrat defisit, 2 responden
dengan komsumsi karbohidrat kurang dan 2 responden dengan
konsumsi karbohidrat baik . sedangkan dari kategori daya beli
makan terdapat 15 responden mampu dan 10 responden tidak
mampu.

Pada tingkat konsumsi makanan mengandung protein
defisit dengan status gizi gemuk terdapat 2 responden (5,3%), hal
ini dikarenakan responden selain memakan makanan yang
mengandung protein juga mengkomsumsi makanan yang
mengandung kalori, lemak, dan karbohidrat. hal ini karena
responden mengetahui makanan yang bersumber zat gizi penting
seperti mengandung kalori, lemak dan karbohidrat. Dari 2
responden tersebut, yang mengkomsumsi makanan mengandung
kalori defisit sebanyak 2 responden, dari komsumsi lemak
terdapat 2 responden dengan lemak defisit, untuk komsumsi


karbohidrat didapatkan 1 responden dengan karbohidrat defisit, 1
responden dengan komsumsi karbohidrat kurang, sedangkan dari
kategori daya beli makan terdapat 1 responden mampu dan 1
responden tidak mampu.
Dari responden dengan tingkat komsumsi protein baik
dengan status gizi kurus terdapat 2 responden (18,2%), hal ini
karena responden selain mengkonsumsi makanan mengandung
protein juga mengkonsumsi makanan mengandung kalori, lemak
dan karbohidrat. Dari 2 responden tersebut dengan konsumsi
kalori kategori defisit sebanyak 2 responden, dari konsumsi lemak
kedua responden kategori lemak defisit, dari konsumsi karbohidrat
didapatkan keduanya kategori defisit, sedangkan kategori daya
beli makanan keduanya mampu.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada remaja putri
di SMA Negeri 1 Sangasanga didapat hasil menggunakan chi
square dengan nilai p value sebesar 0,000 yaitu nilai p < q (0,05),
maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara tingkat
konsumsi makanan mengandung protein dengan status gizi pada
remaja putri SMA Negeri 1 Sangasanga tahun 2011.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan
Putriana (2009) pada remaja putri di SMA Muhammadiyah Klaten,


yaitu terdapat hubungan antara angka kecukupan protein
terhadap status gizi.
Protein tubuh berguna sebagai bagian dari struktur tubuh
dan juga merupakan bagian yang mempunyai peranan fungsional.
Dalam konsep dasar terapi gizi pada buku pedoman pengobatan
menyebutkan bahwa tubuh tidak mempunyai tempat menyimpan
cadangan protein, protein didalam tubuh tetap dijaga dalam
kondisi seimbang. Dari teori ini diasumsikan asupan protein
kurang atau lebih tidak berpengaruh pada perubahan berat badan
karena kelebihan asupan protein tidak disimpan oleh tubuh seperti
yang terjadi pada kelebihan energi.
Kebutuhan protein sehari yang direkomendasikan pada
remaja berkisar antara 44-59 g, tergantung pada jenis kelamin dan
umur. Berdasarkan BB, remaja umur 11-14 tahun laki-laki atau
gadis memerlukan protein 1g/kg BB dan pada umur 15-18 tahun
berkurang menjadi 0,9g/kg pada laki-laki dan 0,8 g/kg pada gadis.
Kelebihan asupan protein dapat mengakibatkan kelebihan
berat badan atau sampai obesitas. Bila asupan energi terbatas,
diet protein lebih banyak dimanfaatkan untuk memenuhi
kebutuhan energy, dan tidak bisa dipakai untuk mensintesis
jaringan baru. Pertumbuhan mengalami kegagalan atau terjadi


kurang energi protein (KP). Sumber diet protein yang baik adalah
: daging unggas, ikan, telur, susu, dan keju. Adapun sebaiknya
mengikuti batas yang dianjurkan untuk konsumsi protein yaitu dua
kali angka kecukupan gizi untuk protein.
c. Lemak
Lemak memiliki peran penting sebagai komponen struktural
dan fungsional membran sel dan prekusor senyawa yang meliputi
berbagai segi dari metabolism. Lemak juga sebagai sumber asam
lamak esensial yang diperlukan oleh perumbuhan, sebagai
sumber suplai energy yang berkadar tinggi, dan sebagai
pengangkut vitamin yang larut dalam lemak. Sekarang, Kebutuhan
lemak dihitung sekitar 37 % dari asupan nergi total remaja, baik
laki-laki maupun gadis. Cara yang digunakan untuk mengurangi
diet berlemak adalah dengan memanfaatkan aneka buah dan
sayur dan produk padi-padian dan sereal ; juga dengan memilih
makanan rendah lemak dan mengiris daging dengan membuang
lemaknya.
Dari hasil penelitian terdapat responden dengan tingkat
konsumsi makanan mengandung lemak yaitu baik akan tetapi
status gizi responden yaitu kurus, hal ini karena responden tidak


mengetahui pentingnya keanekaragaman pada makanan dan olah
raga berlebih akibat pola makan yang tidak seimbang.
Dari hasil penelitian terdapat 24 responden (58,5 %)
dengan tingkat konsumsi makanan mengandung lemak yaitu
defisit tetapi memiliki status gizi normal, hal ini karena responden
mengetahui makanan yang bersumber zat gizi penting seperti
mengandung kalori, protein dan karbohidrat. Dari 24 responden
tersebut yang mengkonsumsi kalori terdapat 21 responden
dengan kalori defisit dan 3 responden dengan kalori baik, yang
mengkonsumsi protein sebanyak 19 responden dengan protein
defisit, 1 responden dengan protein kurang dan 4 responden
dengan protein baik, dari konsumsi karbohidrat terdapat
karbohidrat defisit sebanyak 23 responden dan karbohidrat baik
sebanyak 1 orang, sedangkan dari kategori daya beli makanan
terdapat 14 responden mampu dan 10 yang tidak mampu.
Adapun pada responden dengan tingkat konsumsi
makanan mengandung lemak yaitu defisit tetapi status gizi
gemuk didapatkan 3 responden (7,3 %), hal ini karena responden
juga mengkonsumsi makanan mengandung kalori, protein, dan
karbohidrat. Adapun dari 3 responden tersebut dengan kategori
kalori defisit sebanyak 3 responden, dari konsumsi protein


terdapat 2 responden dengan protein defisit dan 1 responden
dengan protein kurang, untuk konsumsi karbohidrat terdapat 2
responden dengan kategori karbohidrat defisit dan 1 responden
dengan karbohidrat kurang, sedangkan kategori daya beli
makanan terdapat mampu 2 responden dan 1 responden tidak
mampu.
Adapun pada responden dengan tingkat konsumsi
makanan mengandung lemak yaitu baik tetapi status gizi kurus
didapatkan 2 responden (7,3 %), hal ini karena responden juga
mengkonsumsi makanan mengandung kalori, protein, dan
karbohidrat. dari 2 responden tersebut keduanya dengan kategori
kalori defisit, dari konsumsi protein kedua responden dengan
protein defisit begitu pula dengan konsumsi karbohidrat kedua
responden kategori defisit. Sedangkan kategori daya beli
makanan kedua responden dengan kategori mampu.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada remaja putri di
SMA Negeri 1 Sangasanga didapat hasil menggunakan chi square
dengan nilai p value sebesar 0,005 yaitu nilai p < q (0,05), maka
dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara tingkat konsumsi
makanan mengandung lemak dengan status gizi pada remaja
putri SMA Negeri 1 Sangasanga tahun 2011.
0

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan
Putriana (2009) pada remaja putri di SMA Muhammadiyah Klaten,
yaitu terdapat hubungan antara lemak terhadap status gizi.
Asupan lemak yang kurang adekuat, akan terjadi gambaran
klinis defesiensi asam lemak esensial dan nutrient yang larut
dalam lemak, serta pertumbuhan yang buruk. Sebaliknya
kelebihan asupan beresiko kelebihan BB, obesitas, mungkin
meningkatkan resiko penyakit kardiovaskuler dikemudian hari.
Sumber berbagai lemak tertentu, misalnya : lemak jenuh
(mentega, lemak babi), asam lemak tak jenuh tunggal (minyak
olive) asam lemak tak jenuh ganda ( minyak kacang kedelai),
kolesterol (hati, ginjal, otak, kuning telur, daging unggas, ikan dan
keju).
d. Karbohidrat
Sumber terbesar energi tubuh adalah karbohidrat yang
menjadi bagian dari bermacam-macam struktur sel dan substan
dan komponen primer diet serat. Karbohidrat disimpan sebagai
glikogen atau diubah menjadi lemak tubuh. Lebih dari seperempat
total karbohidrat pada remaja didapatkan dari pemanis yang
ditambahkan, sebagian besar dari sucrose dan sirup jagung yang
mengandung tinggi sucrose.
1

Dari hasil penelitian terdapat responden dengan tingkat
konsumsi makanan mengandung karbohidrat yaitu baik akan
tetapi status gizi responden yaitu kurus, hal ini karena asupan
makanan responden yang mengandung protein dan lemak kurang
dikonsumsi.
Dari hasil penelitian di dapatkan 26 responden (70,3 %)
dengan tingkat konsumsi karbohidrat defisit dengan status gizi
normal, hal ini dikarenakan responden juga mengkonsumsi
makanan mengandung zat gizi lain yaitu kalori, protein, dan lemak
selain mengkonsumsi makanan mengandung karbohidrat. Dari 26
responden tersebut yang mengkonsumsi makanan mengandung
kalori sebanyak 24 responden dengan kalori defisit dan 2
responden dengan kalori baik, untuk makanan mengandung
protein sebanyak 21 responden dengan konsumsi protein defisit, 1
responden dengan protein kurang dan 4 responden dengan
protein baik, sedangkan dari kategori daya beli makanan
ditemukan mampu 16 responden dan tidak mampu 10 responden.
Adapun pada responden dengan tingkat konsumsi
makanan mengandung karbohidrat defisit tetapi status gizi
responden gemuk didapatkan 2 responden (5,4%), hal ini karena
responden setiap harinya mengkonsumsi makanan yang


mengandung zat gizi lain terutama kalori, protein, dan lemak. Dari
2 responden tersebut didapatkan keduanya dengan kategori
makanan mengandung kalori defisit, untuk makanan dengan
kandungan protein sebanyak 1 responden dengan protein defisit
dan 1 responden dengan protein kurang, dari konsumsi lemak
kedua responden dengan kategori defisit, sedangkan kategori
daya beli makanan 1 responden kategori mampu dan 1
responden kategori tidak mampu.
Dari hasil penelitian juga didapatkan 6 responden (42,9%)
memiliki kategori karbohidrat baik dengan status gizi kurus, ini
dikarenakan responden selain mengkosumsi karbohidrat juga
mengkonsumsi makanan mengandung zat gizi lain yaitu kalori,
protein dan lemak. Dari 6 responden tersebut yang mengkonsumsi
makanan mengandung kalori seluruhnya kategori defisit, untuk
makanan mengandung protein didapatkan 4 responden dengan
protein defisit dan 2 responden dengan protein kurang, dari
konsumsi lemak didapatkan keenam responden berada kategori
lemak defisit, sedangkan dari kategori daya beli makanan terdapat
mampu 5 responden dan tidak mampu sebanyak 1 responden.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada remaja putri di
SMA Negeri 1 Sangasanga didapat hasil menggunakan chi square


dengan nilai p value sebesar 0,006 yaitu nilai p < q (0,05), maka
dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara tingkat konsumsi
makanan mengandung karbohidrat dengan status gizi pada
remaja putri SMA Negeri 1 Sangasanga tahun 2011.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan
Yuliansyah (2007) pada remaja putri di SMAN Toho Kabupaten
Pontianak, yaitu terdapat hubungan antara karbohidrat terhadap
status gizi.
Sumber karbohidrat yang baik pada diet, adalah :
karbohidrat simple (buah-buahan, sayur-sayuran, susu, gula,
pemanis berkalori lainnya), dan karbohidrat kompleks (produk
padi-padian dan sayur-sayuran). Asupan yang tidak adekuat
menyebabkan ketosis; sebaiknya asupan yang berlebih-lebihan
mengarah pada kelebihan kalori.

2. Hubungan Daya Beli Makanan Dengan Status Gizi
Kotler (2006) menjelaskan bahwa daya beli adalah kemampuan
seseorang untuk mendapatkan atau memperoleh barang yang
dibutuhkan. Kemampuan yang dimaksud adalah kemampuan secara
ekonomi yaitu kemampuan seseorang untuk mengeluarkan uang
yang dimilikinya sesuai dengan barang yang diinginkan. Sehingga


daya beli makanan dapat diartikan sebagai kemampuan secara
ekonomi dari seseorang unutk memperoleh makanan yang
dibutuhkan.
Dari hasil penelitian terdapat responden mampu membeli
makanan akan tetapi status gizi responden yaitu kurus, hal ini karena
responden kurang memperhatikan gizi yang baik atau seimbang setiap
harinya responden memliki uang tetapi untuk dibelikan kebutuhan
diluar makanan.
Pada responden yang tidak mampu membeli makanan tetapi
memiliki status gizi normal, hal ini karena responden rutin sarapan di
rumah dan sepulang sekolah makan dirumah, serta menghindari
mengkonsumsi jajanan sehingga status gizi responden tetap terjaga.
Adapun pada responden yang tidak mampu membeli makanan
tetapi status gizi responden yaitu gemuk, hal ini karena responden
rutin setiap harinya mengkonsumsi makanan yang mengandung
protein terutama lemak dirumah akan tetapi responden responden
kurang bergerak setiap harinya sehingga kalori tidak terbakar dengan
baik.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada remaja putri di
SMA Negeri 1 Sangasanga didapat hasil menggunakan chi square
dengan nilai p value sebesar 0,000 yaitu nilai p < q (0,05), maka dapat


disimpulkan bahwa ada hubungan antara daya beli makanan dengan
status gizi pada remaja putri SMA Negeri 1 Sangasanga tahun 2011.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan
Yuliansyah (2007) pada remaja putri di SMAN Toho Kabupaten
Pontianak, yaitu terdapat hubungan antara daya beli makanan
terhadap status gizi.
Daya beli seseorang tergantung pada beberapa aspek yaitu
berapa besar kemampuan ekonomi yang dimiliki seseorang dan
berapa besar nilai barang tersebut sehingga ia bersedia
mengeluarkan uang untuk memperolehnya.
Daya beli makanan remaja tidak terlepas dari besarnya uang
saku yang diberikan orang tua. Dalam penggunaannya, uang saku
digunakan untuk memenuhi kebutuhan membeli makanan, ditabung,
fotocopy, membeli alat tulis yang sifatnya urgent dan uang
transportasi (Rivan, 2010).
Perilaku daya beli remaja dipengaruhi oleh karakteristiknya yaitu
budaya dan sosial. Budaya merupakan penentu pola keinginan belanja
seseorang. Budaya meliputi nilai, persepsi, preferensi dan perilaku
dasar keinginan yang dipelajari dari keluarga. Adanya kebiasaan untuk
sarapan pagi dalam suatu keluarga dapat mempengaruhi remaja untuk


menggunakan uang sakunya yang dibelanjakan untuk makanan
disekolah.
Faktor sosial juga mempengaruhi perilaku pembelian remaja.
Perilaku pembelian ini dipengaruhi oleh lingkungannya yaitu keluarga
dan teman. Kebiasaan yang ada dilingkungan teman untuk membeli
makanan cepat saji yang bersifat modern seperti KFC menyebabkan
remaja membutuhkan lebih banyak uang saku untuk membeli
makanan walaupun makanan tersebut tidak mencukupi kebutuhan gizi
remaja. Hal ini termasuk dalam gaya hidup remaja.
Faktor yang berperan dalam menentukan status kesehatan
seseorang adalah tingkat social ekonomi, dalam hal ini adalah daya
beli keluarga. Kemampuan keluarga untuk membeli bahan makanan
antara lain tergantung pada besar kecilnya pendapatan keluarga,
harga bahan makanan itu sendiri, serta tingkat pengelolaan smber
daya lahan dan pekarangan. Keluarga dengan pendapatan terbatas
kemungkinan besar akan kurang dapat memenuhi kebutuhan
makannya terutama untuk memenuhi kebutuhan zat gizi dalam
tubuhnya(Apriadji,2006)
Tingkat pendapatan dapat menentukan pola makan. Orang
dengan tingkat ekonomi rendah biasanya akan membelanjakan
sebagian besar pendapatan untuk makanan, sedangkan orang


dengan tingkat ekonomi tinggi akan berkurang belanja untuk
makanan. Pendapatan merupakan faktor yang paling menentukan
kualitas dan kuantitas hidangan. Semakin banyak mempunyai uang
berarti semakin baik makanan yang diperoleh. Dengan kata lain
semakin tinggi penghasilan, semakin besar pula presentase dari
penghailan tersebut untuk membeli buah, sayuran, dan beberapa
jenis bahan makanan lainnya.
















BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KesimpuIan
Dari hasil penelitian dan analisa yang telah dilakukan, maka dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Ada hubungan antara tingkat konsumsi makanan mengandung kalori
dengan status gizi siswi remaja putri kelas X dan XÌ di SMA Negeri 1
Kecamatan Sangasanga Kabupaten Kutai Kartanegara tahun 2011
dimana pada siswi remaja putri status gizi normal lebih banyak pada
tingkat konsumsi makanan mengandung kalori kurang yaitu sebanyak
33 siswi (80,5%) (Dengan P value = 0,011).
2. Ada hubungan antara tingkat konsumsi makanan mengandung protein
dengan status gizi siswi remaja putri kelas X dan XÌ di SMA Negeri 1
Kecamatan Sangasanga Kabupaten Kutai Kartanegara tahun 2011
dimana pada siswi remaja putri status gizi normal lebih banyak pada
tingkat konsumsi makanan mengandung protein kurang yaitu
sebanyak 35 siswi (87,5%) (Dengan P value = 0,000).
3. Ada hubungan antara tingkat konsumsi makanan mengandung lemak
dengan status gizi siswi remaja putri kelas X dan XÌ di SMA Negeri 1
Kecamatan Sangasanga Kabupaten Kutai Kartanegara tahun 2011



dimana pada siswi remaja putri status gizi normal lebih banyak pada
tingkat konsumsi makanan mengandung lemak kurang yaitu sebanyak
32 siswi (80%) (Dengan P value = 0,005).
4. Ada hubungan antara tingkat konsumsi makanan mengandung
karbohidrat dengan status gizi siswi remaja putri kelas X dan XÌ di
SMA Negeri 1 Kecamatan Sangasanga Kabupaten Kutai Kartanegara
tahun 2011 dimana pada siswi remaja putri status gizi normal lebih
banyak pada tingkat konsumsi makanan mengandung kalori kurang
yaitu sebanyak 35 siswi (81,4%) (Dengan P value = 0,006).
5. Ada hubungan antara daya beli makanan dengan status gizi siswi
remaja putri kelas X dan XÌ di SMA Negeri 1 Kecamatan Sangasanga
Kabupaten Kutai Kartanegara tahun 2011 dimana pada siswi remaja
putri status gizi normal lebih banyak pada siswi mampu membeli
makanan yaitu sebanyak 42 siswi (59,2%) (Dengan P value = 0,048).

B. Saran
Dari hasil pembahasan, maka ada beberapa hal yang dapat
disarankan yaitu:
1. Untuk tingkat konsumsi makanan agar siswa setiap harinya
mengkonsumsi makanan kaya gizi atau gizi seimbang baik kalori,
lemak, protein maupun karbohidrat sebaiknya membuat program
100

penetalaksanaan gizi individu yang dilaksanakan secara proaktif oleh
siswa dan orang tua dengan pengawasan guru UKS dengan
bimbingan petugas gizi untuk mengatasi masalah gizi, membuat dan
melaksanakan penyuluhan Gizi Remaja di lingkungan sekolah.
2. Untuk tingkat daya beli makanan siswa sebaiknya siswa yang mampu
membeli makanan ada baiknya membeli makanan yang kaya gizi agar
status gizi baik dan menghindari kebiasaan membeli makanan atau
jajanan sembarangan.
























101



Sign up to vote on this title
UsefulNot useful