Latar Belakang Masalah Cerita pendek (cerpen) sebagai salah satu jenis karya sastra ternyata dapat memberikan

manfaat kepada pembacanya. Di antaranya dapat memberikan pengalaman pengganti, kenikmatan, mengembangkan imajinasi, mengembangkan pengertian tentang perilaku manusia, dan dapat menyuguhkan pengalaman yang universal. Pengalaman yang universal itu tentunya sangat berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia serta kemanusiaan. Ia bisa berupa masalah perkawinan, percintaan, tradisi, agama, persahabatan, sosial, politik, pendidikan, dan sebagainya. Jadi tidaklah mengherankan jika seseorang pembaca cerpen, maka sepertinya orang yang membacanya itu sedang melihat miniatur kehidupan manusia dan merasa sangat dekat dengan permasalahan yang ada di dalamnya. Akibatnya, si pembacanya itu ikut larut dalam alur dan permasalahan cerita. Bahkan sering pula perasaan dan pikirannya dipermainkan oleh permasalahan cerita yang dibacanya itu. Ketika itulah si pembacanya itu akan tertawa, sedih, bahagia, kecewa, marah , dan mungkin saja akan memuja sang tokoh atau membencinya. Jika kenyataannya seperti itu, maka jelaslah bahwa sastra (cerpen) telah berperan sebagai pemekat, sebagai karikatur dari kenyataan, dan sebagai pengalaman kehidupan, seperti yang diungkapakan Saini K.M. (1989:49). Oleh karena itu, jika cerpen dijadikan bahan ajar di kelas tentunya akan membuat pembelajarannya lebih hidup dan menarik. Tidak hanya itu, kiranya cerpen dengan segala permasalahannya yang universal itu ternyata menarik juga untuk dikaji. Bahkan tidak pernah berhenti orang yang akan mengkajinya. Apalagi jika cerpen itu dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran di kelas. Seperti halnya kami mencoba mengkaji cerpen yang dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran di kelas. Cerpen yang kami kaji itu adalah sebuah cerpen yang berjudul Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis. Dipilihnya cerpen karya A.A. Navis tersebut bukan tanpa pertimbangan atau alasan sebab cerpen ini memiliki keistimewaan (bagi kami) dibandingkan dengan cerpen A.A.Navis yang lain atau cerpen yang ditulis pengarang-pengarang yang lain. Keistimewaannya yaitu terletak pada teknik penceritaan A.A.Navis yang tidak biasa pada saat itu. Tidak biasanya karena Navis menceritakan suatu peristiwa yang terjadi di alam lain. Bahkan di sana terjadi dialog antara tokoh manusia dengan Sang Maha Pencipta. Menurut hemat saya hal seperti ini hanya ada dalam cerpen Langit Makin Mendung karya Kipanjikusmin dan cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis. Akan tetapi, kedua cerpen ini tetap berbeda. Cerpennya Kipanjikusmin muncul dengan membawa kehebohan yang luar biasa di kalangan umat Islam sehingga harus berhadapan dengan hukum. Sedangkan cerpennya A.A. Navis muncul dengan membawa kejutan karena ceritanya menyindir pelaksanaan kehidupan beragama secara luar biasa tajamnya. Di dalam cerpen Langit Makin Mendung Tuhan dan malaikat diimajinasikan dengan kuat sekali (meminjam istilah Bahrum Rangkuti dalam Polemik H.B.Jassin, 1972:177). Sedangkan dalam cerpen Robohnya Surau Kami tidak seperti itu. Itulah sebabnya cerpen A.A. Navis tidak pernah berhadapan dengan hukum. Selain itu cerpen A.A.Navis ini lebih banyak mengingatkan kita untuk selalu bekerja keras sebab kerja keras adalah bagian penting dari ibadah kita (Sapardi Djoko Damono dalam kata pengantar Novel Kemarau karya A.A.Navis, 1992:vi). Sementara itu, tujuan umum pengajaran sastra seperti yang tercantum dalam kurikulum 1994 yaitu agar siswa mampu menikmati, memahami, dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. Lalu, di dalam rambu-rambunya pada butir 10 ditegaskan pula bahwa pembelajaran sastra dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk mengapresiasikan karya sastra. Kegiatan mengapresiasi nalaran, dan daya khayal, serta kepekaan terhadap masyarakat, budaya, dan lingkungan hidup. Dengan demikian peran pelajaran sastra menjadi sangat penting. Mengingat perannya yang sedemikian itu, maka terselenggaranya pembe-lajaran sastra yang menarik dan menyenangkan akan menjadi sebuah tuntutan yang harus dipenuhi. Hal ini dimungkinkan karena pelajaran seperti ini akan dapat mendidik siswa untuk dapat mengenal dan menghargai nilai-nilai yang dijunjung oleh bangsanya, juga untuk dapat menghargai hidup, menikmati pengalaman orang lain, serta dapat menemukan makna hidup dan kehidupan. Bukankah karya sastra (cerpen) itu merupakan miniatur kehidupan manusia di sekitar pembaca?. Jadi, dengan mempelajari cerpen (sastra) berarti siswa diajak untuk mempelajari manusia dan lingkungannya. Biasanya siswa akan sangat antusias jika diajak untuk membicarakan atau mendiskusikannya juga akan mengeluarkan segala pengalaman dan pengetahuannya. Sayangnya, kendala pembelajaran itu sering terletak pada guru. Sebab, masih saja guru yang terlalu mengandalkan LKS (Latihan Kerja Siswa), tidak menyukai sastra, dan tidak bisa memilih bahan ajar yang tepat dan menarik untuk seusia siswa yang dididiknya. Kenyataan inilah yang sering dianggap orang sebagai kegagalan. Gagal karena siswa tidak memiliki daya apresiasi dan kepekaan rasa serta tidak menyukai sastra.

Novis yang mengisahkan seorang kakek Garin. saya mencoba mengkaji keterkaitan cerpen dalam kegiatan pembelajaran dan berusaha menemukan kemungkinan-kemungkinannya cerpen dijadikan bahan ajar di kelas. Lalu. Dia tidak ngotot bekerja karena dia hidup sendiri. Lalu upaya-upaya apa saja yang memungkinkan pemilihan bahan ajar itu efektif? Sinopsis Cerpen Robohnya Surau Kami Karya A. apa yang diceritakan Ajo Sidi itu sebuah ejekan dan sindiran untuk dirinya. apakah itu berupa uang. makanan. kelak ia dimasukkan ke dalam neraka. Semua orang berusaha mengurus mayatnya dan menguburnya. Suatu ketika datanglah Ajo Sidi untuk berbincang-bincang dengan penjaga surau itu. Navis Cerpen karya A. Kelak orang ini disebut sebagai Garin. penjaga surau itu murung. peneliti mencoba mengkajinya dan agar kajian ini.A. Dia senantiasa bersujud. Bagaimana unsur intrinsik cerpen Robohnya Surau Kami karya A. Di suatu tempat ada sebuah surau tua yang nyaris ambruk. Akhirnya. sedih. sepulangnya Ajo Sidi. Dialah Ajo Sidi. Setiap karya sastra prosa. khususnya cerpen dapat dijadikan bahan ajar dikelas. dan berdoa kepada Tuhannya. Karena daya pikat itu. khususnya bab IV ini mudah dipahami agaknya perlu juga memaparkan sinopsis cerpen Robohnya Surau Kami tesebut. beribadah di surau dan bekerja hanya untuk keperluannya sendiri. Hasil kerjanya tidak untuk orang lain. ternyata cukup memikat siapapun yang membacanya. Akan tetapi. saya mencoba mengidentifikasi masalah sayaan ini. Karena dia merasakan. Kecuali satu orang saja yang tidak begitu peduli atas kematiannya.A. Akhirnya. Apakah semua ini yang dikerjakannya semuanya salah dan dibenci Tuhan ? Atau dia ini sama seperti Haji Saleh yang di mata manusia tampak taat tetapi dimata Tuhan dia itu lalai. hasil pengkajian ini dapat memberikan solusi dalam upaya memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran apresiasi sastra (cerpen). Dia hanya mengasah pisau. dia tak kuat memikirkan hal itu. yang meninggal secara mengenaskan yaitu membunuh diri akibat dari mendengar cerita bualan seseorang yang sudah dikenalnya. Dengan harapan. yang pada saat semua orang mengantar jenazah penjaga surau dia tetap pergi bekerja. Navis? 2. tetapi ada yang paling pokok yang membuatnya bisa bertahan. surau itu hingga kini masih tegak berdiri. Dia memang tak pernah mengingat anak dan istrinya tetapi dia pun tak memikirkan hidupnya sendiri sebab dia memang tak ingin kaya atau bikin rumah. Tinjauan atas Unsur Intrinsik . Kehidupan orang ini agaknya monoton. Dia tak berusaha mengusahakan orang lain atau membunuh seekor lalat pun. yaitu dia masih mau bekerja sebagai pengasah pisau. Dari pekerjaannya inilah dia dapat mengais rejeki. bersyukur.Berangkat dari permasalahan yang sudah diuraikan di atas. apalagi untuk anak dan istrinya yang tidak pernah terpikirkan. Kematiannya sungguh mengejutkan masyarakat di sana. dan kesal. keduanya terlibat perbincangan yang mengasyikan.A. kue-kue atau rokok. Sinopsisnya itu seperti yang dipaparkan di bawah ini. Kemudian dia memilih jalan pintas untuk menjemput kematiannya dengan cara menggorok lehernya dengan pisau cukur. Penjaga surau itu begitu memikirkan hal ini dengan segala perasaannya. membersihkan dan merawat surau. menerima imbalan. Identifikasi masalahnya sebagai berikut: 1. Nilai-nilai pendidikan yang bagaimana yang terdapat dalam cerpen tersebut? 4. Meskipun orang ini dapat hidup karena sedekah orang lain. Orang itulah yang merawat dan menjaganya. Segala kehidupannya lahir batin diserahkannya kepada Tuhannya. memuji. Apakah cerpen tersebut mengandung nilai-nilai pendidikan? 3. Identifikasi Berdasarkan latar belakang di atas. Hanya karena seseorang yang datang ke sana dengan keikhlasan hatinya dan izin dari masyarakat setempat.

tetapi aku sudah tua. wajarlah kalau cerpen karya A. Unsur ini berupa tema. kesalahan engkau. Inilah kesalahan mu yang terbesar. Gambaran ini terletak pada halaman 10 berikut ini. Aku bersuci. Segala kehidupanku. dan jangan bermasabodoh terhadap apa yang kau miliki. Aku bangun pagi-pagi. Lalat seekor enggan aku membunuhnya. dan gaya.A. Orang tua menahan ragam. Amanat Di dalam sebuah cerita. terlalu egoistis. Kau takut masuk neraka. Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. lahir batin. Ketujuh unsur yang terdapat dalam cerpen Robohnya Surau Kami itu sebagai berikut: Tema Pengarang yang sedang menulis cerita pasti akan menuangkan gagasannya. tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. beribadah bertawakkal kepada Tuhan . ku serahkan kepada Allah Subhanahu Wata¶ala. amanat merupakan keinginan pengarang untuk menyampaikan pesan atau nasihat kepada pembacanya. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. Amanat-amanat yang dimaksud itu di antaranya: (a) Jangan cepat marah kalau ada orang yang mengejek atau menasehati kita karena ada perbuatan kita yang kurang layak di hadapan orang lain. Takut aku kalau imanku rusak karenanya. Dan simpulan temanya itu ternyata bersifat universal. bersaudara semuanya. Navis adalah: ³Pelihara. amanat. kalau aku masih muda. Tema atau pokok persoalan cerpen Robohnya Surau Kami sesungguhnya terletak pada persoalan batin kakek Garin setelah mendengar bualan Ajo Sidi. supaya bersujud kepadaNya. (b) Jangan cepat bangga akan perbuatan baik yang kita lakukan karena hal ini bisa saja baik di hadapan manusia tetapi tetap kurang baik di hadapan Tuhan itu. melupakan kehidupan anak istimu sendiri. tapi engkau tak memperdulikan mereka sedikitpun. Sudah lama aku tak marah-marah lagi.«´ dari ucapan kakek Garin itu jelas tegambar pandangan hidup/cita-cita pengarangnya mengenai karangan untuk cepat marah. punya anak. Amanat pokok/utama ini kemudian diperjelas atau diuraikan dalam ceritanya. latar. Hal inilah yang dimaksudkan dengan amanat. Dengan kata lain solusi yang dimunculkan pengaranngnya itu dimaksudkan untuk memecahkan pokok persoalan.A. ibadahku rusak karenanya. Dengan demikian. jaga.´ Apakah salahnya pekerjaanku itu? Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. bikin rumah. karena engkau terlalu mementingkan diri mu sendiri. Aku baca KitabNya. ³Astaghfirullah´ kataku bila aku terkejut. Tanpa gagasan pasti dia tidak bisa menulis cerita. Akibatnya muncullah amanat-amanat lain yang mempertegas amanat utama itu. punya keluarga seperti orang-orang lain. titik pengisahan. ³Marah ? Ya. Sudah begitu lama aku berbuat baik. ´ Masa Allah bila aku kagum. gagasan atau pokok persoalan dituangkan sedemikian rupa oleh pengarangnya sehingga gagasan itu mendasari seluuh cerita. ³Alahamdulillah´ kataku bila aku menerima karuniaNya. Amanat ini dimunculkan melalui ucapan kakek Garin pada halaman 9. Aku tak ingin cari kaya.Unsur intrinsik adalah unsur dalam yang membentuk penciptaan karya sastra. penokohan.´ Hal ini terdapat pada paragraf kelima halaman delapan kalimat yang terakhir. Coba saja tengok pengalaman tokoh yang bernama Haji Saleh ketika dia disidang di akhirat sana: . Umpan neraka«. yang didalamnya akan terlibat pandangan hidup dan cita-cita pengarang. yaitu : ³Tidak.´ Dengan demikian. padahal engkau di dunia berkaum. karena aku yakin Tuhan itu ada dan pengasih penyayang kepada umatNya yang tawakkal. Aku bersembahyang setiap waktu. Tapi engkau melupakan kaum mu sendiri. Aku pukul bedug membangunkan manusia dari tidurnya. Gagasan yang mendasari seluruh cerita ini dipertegas oleh pengarangnya melalui solusi bagi pokok persoalan itu. Gagasan yang mendasari cerita yang dibuatnya itulah yang disebut tema dan gagasan seperti ini selalu berupa pokok bahasan. Navis ini diteima oleh setiap orang. jika kita buat kesimpulan atas fakta-fakta di atas maka tema cerpen ini adalah seorang kepala keluarga lalai itu sehingga masalah kelalaiannya itu akhirnya mampu membunuh dirinya. karena itu kau taat bersembahyang. ³Sedari mudaku aku disini. Jadi amanat pokok yang terdapat dalam cerpen Robohnya Surau Kami karya A. Aku puji-puji dia. Tak ku pikirkan hari esokku. bukan? Tak ku ingat punya istri. Oleh karena itu. sehingga mereka itu kucar kacir selamanya. alur.´ Kemudian pada halaman 16 gambaran itu ditegaskan kembali.

tidak membanting tulang. Sedang Aku menyuruh engkau semuanya beramal disamping beribadat.´ Dan akhirnya amanat (d) dan (e) menjadi kunci amanat yang diinginkan pengarang untuk pembacanya. sedang harta bendamu kau biarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Di depannya ada kolan ikan. seperti yang disabdakan Tuhan dalam cerpen ini halaman 16. 15). tapi engkau tak memperdulikan mereka sedikitpun. kenapa engkau biarkan dirimu melarat. Melangkahlah menyusuri jalan raya arah ke barat. latar waktu. terlalu egoistis. Aku beri kau negeri yang kaya raya. petunjuk. Tuan akan berhenti di dekat pasar. karena semua orang-orang yang dilihatnya di Neraka itu tak kurang ibadahnya dari dia sendiri. Kau takut masuk neraka. ada juga yang juga yang jelas-jelas menyebutkan soal waktu. 10) Meskipun begitu. dan sejenisnya. saling memeras. yaitu: (c) Kita jangan terpesona oleh gelar dan nama besar sebab hal itu akan mencelakakan diri pemakainya. Latar tempat yang ada dalam cerpen ini jelas disebutkan oleh pengarangnya. kapal. Bagaimana engkau bisa beramal kalau engkau miskin . Bahkan ada salah seorang yang telah sampai 14 kali ke Mekkah dan bergelar Syekh pula ( Hlm. kau lebih suka beribadat saja.«´ (hlm. karena di Neraka itu banyak teman-temannya didunia terpanggang hangus. karena itu kau taat bersembahyang. Latar Dalam suatu cerita latar dibentuk melalui segala keterangan. dekat pasar. untuk itu cermati sabda Tuhan dalam cerpen ini: ³«. tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri. (hlm. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tan di jalan kampungku.´ kata Ajo Sidi memulai. karena beribadat tidak mengeluarkan peluh. Dan tambah tak mengerti lagi dengan keadaan dirinya. dan sebagainya : Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis. dan latar sosial. kampus. bersaudara semuanya. Kedua amanat itu kemudian dirumuskan. ruang. pengacuan yang berkaitan dengan waktu. di surau. Tidak hanya itu saja. 12 ± 13 ). ´«. yaitu: latar tempat. seperti yang sudah dipaparkan di atas pada latar tempat atau contoh yang lainnya seperti berikut : ³Pada suatu waktu.³Alangkah tercengangnya Haji Saleh. merintih kesakitan. misalnya: Jika tuan datang sekarang. (e) Jangan mementingkan diri sendiri. bangunan.. Dan di ujung jalan itu nanti akan tuan temui sebuah surau tua. sehingga mereka itu kucar kacir selamanya. karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. hutan. hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kebencian yang bakal roboh ««« . saling menipu. dan suasana terjadinya suatu peristiwa.di Akhirat Tuhan Allah memeriksa orang-orang yang sudah berpulang «. Inilah kesalahanmu yang terbesar. hingga anak cucumu teraniaya semua. membeloklah ke jalan sempit itu. 1 ) Latar Waktu Latar jenis ini. seperti kota. Dari gambaran ini terpapar pula amanat lain. ³. padahal engkau didunia berkaum. simpang yang kelima. Latar ini ada tiga macam. yang terdapat dalam cerpen ini ada yang bersamaan dengan latar tempat. melupakan kehidupan anak istrimu sendiri. Latar Tempat Latar jenis ini biasa disebut latar fisik. tapi kau malas. sekolah. seperti yang sudah dituliskan pada bagian awal tentang amanat di atas. yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi. Latar ini dapat berupa daerah. Pada simpang kecil kekanan. Kesalahan engkau. (d) Jangan menyia-nyiakan apa yang kamu miliki.´ (hlm. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri.

contoh latar sosial yang menggambarkan kebiasaan yang lainnya yaitu : ³Kalau Tuhan akan mau mengakui kehilapan ± Nya bagaimana ?´ suatu suara melengking di dalam kelompok orang banyak itu. Namun demikian. dan lain-lainnya«´ Akhirnya ada latar sosial lain yang digambarkan dalam cerpen ini meskipun hanya sepintas saja gambaranya itu. Tuhan kami yang Mahabesar. kelompok-kelompok sosial dan sikapnya. di dunia dulu dengan demonstrasi saja. Dan dengan suara yang menggeletar dan berirama indah. dan kebisaan atau cara hidupnya. cara hidup. Perhatikan pada berikut ini.Dia pergi kerja.´ Mereka bersorak beramai-ramai (hlm. Datanya seperti ini. Strukturnya itu terdiri dari . ³dan sekarang ke mana dia ?´ ³Kerja´ ³Kerja?´tanyaku mengulangi hampa. kami yang menghadap-Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat beribadat. dan berani. banyak yang kita peroleh. kebiasaannya. pekerjaan. ³Setuju. termasuk kelompok orang yang sangat kritis. ³ya.´ (hlm. Sayuti (2000:31) diartikan sebagai peristiwa-peristiwa yang diceritakan dengan panjang lebar dalam suatu rangkaian tertentu dan berdasarkan hubungan-hubungan konsolitas itu memiliki struktur. Kamilah orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu. ³Sedari mudaku aku di sini. Setuju. dan beraninya Dia sering menganggap enteng orang lain dan akhirnya terjebak dalam kesombongan. 7) Dari contoh ini tampak latar sosial berdasarkan usia.´ Alur (plot) Alur menurut Suminto A. Ia memulai pidatonya: ³O. bukan ?«. memuji-muji kebesaran-Mu. vokal.13). penjaga surau itu.10) Latar Sosial Di dalam latar ini umumnya menggambarkan keadaan masyarakat. Karena kritik. vokalnya. Haji soleh yang jadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. mempropagandakan keadilan-Mu.´ tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikitpun bertanggung jawab. dan bahasa. Latar sosial ini menunjukkan bahwa salah satu tokoh dalam cerita ini termasuk kedalam kelompok sosial pekerja.´ kata Haji Soleh. Setuju. ³Dan sekarang. yang paling taat menyembah-Mu. Tokoh-tokoh ini menjadi sombong di hadapan Tuhannya padahal apa yang dilakukannya belum ada apa-apanya. Sudah bertahun-tahun Ia sebagai Garim. ³Kita protes. Orang-orang memanggilnya kakek (hlm.Sekali hari aku datang pula mengupah kepada kakek (hlm. 13) Kebiasaan ini tentunya mengisyaratkan kepada kita bahwa tokoh-tokoh yang terlibat dalam dialog ini (hlm.´ sebuah suara menyela. Kita resolusikan. Di dalam cerpen ini latar sosial digambarkan sebagai berikut : Dan di pelataran surau kiri itu akan tuan temui seorang tua yang biasanya duduk disana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. «««««««««««««««««««««««««««« ³cocok sekali.

mengapa si Kakek wafat dan bagaimana hal itu bisa terjadi ? sehingga ketidakstabilan ini memunculkan suatu pengembangan suatu cerita. dan pisau cukur tua berserakan di sekitar kaki Kakek. penjaga surau itu. Ia sudah meninggal. Bagian Tengah Meskipun ketidakstabilan dalam cerita memunculkan suatu pengembangan cerita tetapi bagian tengah tidak dimulai dari ketidakstabilan itu. 7). « Kakek begitu muram. Ia lebih dikenal sebagai pengasah pisau. Dan tinggallah surau itu tanpa penjaganya «. Hal ini terbukti ketika si Kakek menyebutkan nama pemilik pisau itu. dia begitu geramnya bahkan mengancam. Didalam cerpen ini. sedang ia tidak pernah meminta imbalan apa-apa. . Penyebab munculnya konplikasi ini bukan karena pisau itu melainkan pemilih pisau itu. Orang laki-laki yang minta tolong. Sudah bertahun-tahun ia sebagai garim. Orang-orang perempuan yang minta tolong mengasahkan pisau atau gunting. kakek tidak mendapat apa-apa. yaitu bagian awal. Dan sekali setahun orangorang mengantarkan fitrah Id. tapi sebagai Garim ia tak begitu dikenal. bagian tengah. Akan tetapi begitu tokoh atau bertemu dengan si Kakek suasananya sangat tidak diharapkan. Sebuah blek susu yang berisi minyak kelapa sebuah asahan halus. Orang-orang suka minta tolong kepadanya. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali sejum¶at. kulit sol panjang. (hlm. yaitu bagian yang didalamnya terdapat keterbukaan. bagian tengah dimulai dengan jawaban atas pertanyaan yang muncul. seolah-olah ada sesuatu yang mengamuk pikirannya. eksposisi cerita dalam cerpen ini berupa penjelasan tentang keberadaan seorang kakek yang menjadi garim di sebuah surau tua beberapa tahun yang lalu. Pandangannya sayu kedepan. Dan kerobohan itu kian hari kian cepat berlangsungnya «. Karena Ia begitu mahir dengan pekerjaannya itu. kadang-kadang uang. memberinya sambal sebagai imbalan. dan bagian akhir. seperti yang disebutkan dalam bagian awal. Sekali enam bulan Ia mendapat seperempat dari hasil pemunggahan ikan mas dari kolam itu.tiga bagian. Sebagai penjaga surau. yang menjelaskan/ memberitahukan informasi yang diperlukan dalam memahami cerita. bahwa si Kakek wafat karena dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya. Di sudut benar dia duduk dengan lututnya menegak menopang tangan dan dagunya. Orang-orang memanggilnya kakek. Perhatikan data berikut : Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. (hlm . Dan yang kedua adalah sebagai instabilitas (ketidakstabilan). Bagian Awal Pada bagian awal cerita ini yang terdapat dalam cerpen ini terbagi atas dua bagian. Justru. Yang dimaksud di sini adalah cerita mulai bergerak dan terbuka dengan segala permasalahannya. akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di surau dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Data untuk ini seperti berikut: Dan biang keladi dari kecerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya. Jika Tuan datang sekarang hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh. Data konflik ini kemudian diperkuat dengan pemunculan tokoh alur yang berniat hendak mengupah si Kakek. Rupanya si Kakek sedang dicekam konplik Konplik ini berkembang menjadi konplikasi manakala tokoh aku menanyakan sesuatu yang berupa pisau kepada si Kakek. Jawaban itu sedikitnya menggambarkan suatu konplik. Berdasarkan data ini tampak jelas bahwa yang dimaksud cerita mulai bergerak dan tebuka adalah karena informasi ini belum tuntas bahkan menimbulkan pertanyaan. Tapi yang paling sering diterimanya ialah ucapan terima kasih dan sedikit senyum (hlm. Dalam hal ini. seperti yang diungkapkan pada data berikut : Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku «. struktur plot itu dapat diuraikan seperti berikut. memberinya imbalan rokok. yaitu bagian eksposisi. (hlm.

´ ³Kakek?´ (hlm. benarkah Ajo Sidi orang yang tidak bertanggung jawab? Bukankah perilaku Ajo Sidi yang berusaha menyuruh istrrinya untuk membeli kain kafan itu merupakan suatu bentuk tanggung jawab? Lalu di mana salahnya? Jika struktur alurnya seperti di atas maka alur cerpen ini dikelompokkan ke dalam alur regresif atau alur flash back (sorot balik). yaitu ketika orang-orang terkejut mendapatkan si Kakek garin itu meninggal dengan cara mengenaskan. Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang Tua«. ketika Aku mau turun rumah pagi-pagi istriku berkata apa aku tak pergi menjenguk. yang oleh tokoh Aku kisah itu diceritakan.³Kurang ajar dia. Dia sendiri tak mampu menahannya untuk menyembunyikan apa yang diceritakan Ajo Sidi. makanya dia mau saja melepaskan kekesalannya dengan menceritakan apa yang dilakukan Ajo Sidi terhadapnya di hadapan tokoh aku.´ tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikitpun bertanggung jawab. Menarik karena adanya kejutan (surprise). yang kuasah tajam-tajam ini. Tapi aku berjumpa sama istrinya saja. ³Ia sudah pergi. Beginilah kisahnya (hlm. klimaks kekecewaan si Kakek berakhir dengan cara yang tragis. Orangorang memanggilnya kakek« Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Penyelesaian yang penuh kejutan ini agaknya menyisakan pertanyaan.´ ³Dan sekarang. ³Tidak ia tahu Kakek meninggal ?´ ³Sudah.´ dan sekarang ke mana Dia ?´ ³Kerja. Begitu kuat dan hebat. Kejutannya itu terletak pemecahan masalahnya. Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya. Dia nekat membunuh dirinya sendiri dengan cara menggorok lehernya. Dikatakan demikian karena benar-benar bertumpu pada kisah sebelumnya. ³Kakek.« Dan di ujung jalan itu nanti akan Tuan temui sebuah surau tua«. segala apa yang diungkapkannya di depan tokoh Aku ini tidak membuatnya merasa ringan. Bahkan mungkin semakin berat dan menekan dada dan batinnya.´ jawab istri Ajo Sidi. Dan besoknya. Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis. ³ Kenapa ? ³ ³ Mudah-mudahan pisau cukur ini.´ ³Kerja ?´ Tanyaku mengulang hampa ³Ya. Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya.7-8). Lalu aku tanya dia. 9) Kemarahannya ini demikian hebat. justru Ajo Sidi menganggap hal itu biasa saja bahkan dia berusaha untuk membelikan kain kafan meskipun hal ini dia pesankan melalui istrinya. Dia pergi kerja.16). . Data berikut menggambarkan hal ini.´ Kakek menjawab. Ia sudah meninggal«. 16-17). Namun.´ (hlm. Dan ia meniggalkan pesan agar dibelikan kain kafan buat Kakek tujuh lapis. Akibatnya. Bagian Akhir Bagian terakhir cerita ini ternyata menarik.´ (hlm. ³Siapa yang meninggal?´ Tanyaku kaget. menggorok tenggorokannya. Dia bercerita karena desakan dari dalam batinnya.

´ kataku seraya ceepat-ceepat meninggalkan istriku yang tercengang-cengang. A. Tetapi sayang. Aku tanya lagi kakek : ³Bagaimana katanya. Tokoh Aku Tokoh ini begitu berperan dalam cerpen ini. Apakah Ajo Sidi tidak membuat bualan tentang kakek ? Dan bualan itukah yang mendurjakan kakek ? Aku ingin tahu. bukan ? tak kuingat punya istri.(hlm.9). sukses terbesar baginya ialah karena semua pelaku-pelaku yang diceritakannya menjadi pemeo akhirnya. Sebagai pembual.8-9) . Dari mulutnya kita bisa mendengar kisah si Kakek yang membunuh dirinya dengan cara menggorok lehernya dengan pisau. Ajo Sidi disebutkan sebagai si tukang bual yang hebat karena siapa pun yang mendengarnya pasti terpikat. «. si pembual itu. Oleh si pengarang tokoh ini digambarkan sebagai orang yang mudah dipengaruhi dan gampang mempercayai omongan orang. Aku senang mendengar bualannya. .Penokohan Yang dimaksud dengan penokohan yakni bagaimana pengarang menampilkan perilaku tokoh-tokohnya berikut wataknya. Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatangan Ajo Sidi kepadanya. Dari data ini pula ternyata disebutkan pula bahwa Ajo Sidi orang yang cinta kerja. serta terlalu mementingkan diri sendiri dan lemah imannya. Ajo Sidi punya gara-gara. Ajo Sidi Tokoh ini sangat istimewa. dia segera mengambil jalan pintas malah masuk ke pintu dosa yang lebih besar. Sudah lama aku tak ketemu dia.10). Selain itu bualannya selalu mengena. Data untuk ini seperti berikut. Menurut si tokoh Aku. kek ?´ Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak. Seandainya si kakek panjang akal dan pikirannya serta kuat imannya tidak mungkin ia mudah termakan cerita Ajo Sidi. Ada-ada saja orang di sekitar kampungku yang cocok dengan watak pelaku-pelaku ceritanya«. Padahal yang namanya cerita tidak perlu ditanggapi serius tetapi bagi si kakek hal itu seperti menelanjangi kehidupannya.(hlm. Aku cari AjoSidi ke rumahnya. b. tahu? Tak terpikirkan hidupku sendiri«(hlm. Si Kakek Tokoh ini agaknya menjadi tokoh sentral. c. Lalu aku tanya pada kakek lagi: ³Apa ceritanya.A. Dia menjadi pusat cerita. Tidak banyak dimunculkan tetapi sangat menentukan keberlangsungan cerita ini . kek ?´. a. seperti data berikut: ³ Sedari mudaku aku di sini. Datanya seperti berikut. pendek akal dan pikirannya. Tapi aku berjumpa sama istrinya saja. punya anak. Lalu aku tanya dia. ³Astaga. Pengarang menggambarkan tokoh ini sebagai orang yang ingin tahu perkara orang lain. Secara jelas tokoh ini disebut sebagai si tukang bual. Sedangkan gambaran untuk tokoh si Kakek yang terlalu mementingkan diri sendiri digambarkan melalui ucapanya sendiri. Penggambaran watak seperti ini karena tokoh kakek mudah termakan cecrita Ajo Sidi. Navis menampilkan tokoh-tokohnya sebagai berikut.Maka aku ingat Ajo Sidi. Dia bisa segera bertobat dan bersyukur kepada Tuhan sehingga dia bisa membenahi hidup dan kehidupannya sesuai dengan perintah tuhannya.(hlm. Sebutan ini muncul melalui mulut tokoh Aku.16). punya keluarga seperti orang-orang lain. Ajo Sidi bisa mengikat orang-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari. Dan aku ingin ketemu dia lagi. Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya.

Mereka ini tidak hanya tenggelam dalam KKN dan egoisme tetapi juga tenggelam dalam kemunafikan dan maksiat serta dibakar emosi dan dendam demi keakuan dirinya dan kelompoknya. Bahkan ada pula yang keyakinannya terhadap Tuhan dan agamanya terlibat luntur-pudar. gaya merupakan kemahiran seorang pengarang dalam memilih dan menggunakan kata. Artinya.. Kolusi. ketika si kakek bercerita tentang Haji Soleh di depan tokoh Aku. Suaru di sini merupakan simbol kesucian.A. seperti garin. Di dalam cerpen Robonya Surau Kamii agaknya A. Haji Saleh namaku. kelompok kata. Gaya Gaya merupakan sarana bercerita. Allah Subhanau Wataala. Tapi karena aku sudah ke Mekah. keyakinan. pengarang pun menggunakan pula simbol dan majas. cukup banyak tokoh-tokoh kita dari berbagai kalangan tidak lagi suci hatinya.(hlm.7). Dengan demikian gaya biasa disebut sebagai cara pengungkapan seorang yang khas bagi seorang pengarang atau sebagai cara pemakaian bahasa spesifik oleh seorang pengarang. Jadi. dosa dan pahala. pengarang ikut terlibat langsung dalam cerita iu atau hanya sebagai pengamat yang berdiri di luar cerita. haji. setelah si Kakek menceritakan tentang Haji Saleh ±tokoh dongengan Ajo Sidi. Walaupun begitu kata ³Aku´ ini merupakan kata ganti orang pertama pasif.8). berdoa. Alhamdulillah. dan Nepotisme (KKN) dan keegoismeannya.pengarang kembali ke posisi sebagai tokoh Aku seperti pada bagian awal cerita. ³Engkau ?´ ³Aku Saleh. yakni Robohnya Surau Kami. jabatan. neraka. Navis memposisikan dirinya dalam cerita ini sebagi tokoh utama atau akuan sertaan sebab secara langsung pengarang terlibat di dalam cerita dan ini terasa pada bagian awal cerita. karena aku suka memberinya uang«. hamba-Mu. kitab-Mu. Jadi. Mereka tenggelam dalam Korupsi.´ ««««««««««««««««««««««««««« lalu. Maksudnya apakah. Astagfirullah.(hlm. Sekali hari Aku datang pula mengupah pada kakek. melalui simbol ini sebenarnya pengarang ingin mengingatkan kepada pembaca bahwa kesucian hati atau keyakinan kita terhadap Tuhan dan agamanya sudah roboh. Selain ini. dan Surau serta fitrah Id. Di dalam cerpen ini ternyata pengarang menggunakan kata-kata yang biasa digunakan dalam bidang keagamaan (Islam). Sebab. dan pangkat. 6. Dengan begitu wataknya sudah dipersiapkan oleh penciptanya dan karena kemahirannya Ajo Sidi tokoh ini demikian hidup. Tawakal. atau kalimat dan ungkapan. Akhirat. Biasanya kakek gembira menerimaku. Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke Kota kelahiranku dengan menumpang bis. dan cerita ini diperolehnya dari Ajo Sidi. Di sini pengarang tetap mengunakan kata ³Aku´. Haji Saleh Tokoh ini adalah ciptaan Ajo Sidi.d. juga Sedekah. Simbol yang terdapat dalam cerpen ini tampak jelas pula judulnya. Akan tetapi. Surga. Malaikat. Masya-Allah. yakni tokoh Haji Saleh dan kehidupan di akhirat. Mereka sudah menggadaikannya dengan kedudukan. Secara jelas dan gamblang watak tokoh ini digambarkan sebagai orang terlalu mementingkan diri sendiri. menginsyafkan umat-Mu. Pemunculannya sengaja untuk mengejek atau menyindir orang lain. pengarang tetap melibatkan diri dalam cerita akan tetapi yang sebenarnya ia sedang mengangkat tokoh utama atau berusaha ingin menceritakan tokoh utamanya. maka pengarang sudah memposisikan dirinya sebagai tokoh bawahan. Sedangkan majas yang digunakan dalam cerpen ini di antaranya majas alegori karena di dalam cerita ini cara berceritanya menggunakan lambang. atau lebih tepatnya menggunakan majas . beribadat menyembah-Mu. Tuan akan berhenti di dekat pasar«. Titik Pengisahan Yang dimaksud dengan titik pengisahan yaitu kedudukan/posisi pengarang dalam cerita tersebut. Syekh. Tuhan.

agar pembelajaran sastra dengan bahan cerpen itu menarik dan lancar. Majas ini sangat dominan dalam cerpen ini Selain majas alegori atau parabol. Selain itu. Hal ini dapat dilihat dari unsur-unsur intrinsik dan kesesuaiannya sebagai bahan pembelajaran. 2) jangan cepat bangga kalau berbuat baik. mengembangkan pengertian perilaku manusia dan dapat menyuguhkan pengalaman yang universal. . Meskipun di dalamnya terdapat kosa kata islami. Nvis ini memang sebuah sastra (cerpen) yang menarik dan baik. Cerpen Robohnya Surau Kami karya A. Manfaatnya selain memberikan kenikmatan dan hiburan. yaitu bahasa Indonesia.A. Pemilihan dan penetapan cerpen sebagai bahan/materi pembelajaran tentunya harus mengikuti kriteria yang sudah ditetapkan secara umum yaitu: a. ketika cerpen ini diterbitkan tidak lama kemudian cerpen ini mendapat tempat di hati pembacanya dan masih terus dibicarakan hingga kini. Buktinya.8). yang tak hendak memelihara apa yang tidak dijaga lagi´ (hlm. Hindu. Amanat Amanat cerpen ini adalah : 1) jangan cepat marah kalau diejek orang. b. Adapun hasil analisisnya sebagai berikut. 3) jangan terpesona oleh gelar dan nama besar. siapa pun (baik yang beragama Islam. 1.maupun Budha) bisa dengan mudah memahaminya dan tidak menimbulkan pertentangan yang mendasar. Nasehat dan ejekannya itu ternyata berhasil. guru dan siswanya pun haruslah sama-sama membaca cerpen itu lebih dari satu kali dan jangan coba-coba membaca ringkasannya. Oleh karena itu dapat memberikan manfaat. Berdasarkan kriteria-kritera inilah kiranya cerpen ini sangat sesuai dan tepat bila dijadikan bahan ajar untuk pembelajaran sastra di kelas I dan II. 4) jangan menyia-nyiakan yang kamu miliki. b. Namun demikian. Tema Tema cerpen ini adalah seorang kepala keluarga yang lalai menghidupi keluarganya. dan 5) jangan egois. akan lebih menarik lagi jika gurunya pun aktif-kreatif ketika membelajarkan siswanya dalam menelaah cerpen tersebut. Dilihat dari segi bahasanya. moral atau suatu kebenaran umum dengan mengunakan ibarat. Cerpen sebagai salah satu karya sastra jelas dapat memberikan manfaat seperti layaknya karya sastra yang lain. Latar belakang budaya yang ditampilkan pun masih terasa umum. Inilah sebuah kritik untuk masyarakat kita sekarang ini. gaya bahasanya pun menarik dan pilihan katanya pun dapat memperkaya kosa kata siswa dalam hal bidang keagamaan. apalagi di kelas III SMU. Dengan demikian penggunaan majas-majas itu untuk mengingatkan atau menasehati sekaligus mengejek pembaca atau masyarakat. cerpen ini jelas menggunakan bahasa yang bisa dipahami pembaca orang Indonesia. hal ini tidaklah menggangu bahkan akan menarik jika siswa membandingkan dengan kosa kata non-Islam yang sejenis. Jadi. Unsur-unsur Intrinsik a. Tidak hanya ini. maka sewajarnya sebuah cerpen dapat dijadikan bahan/materi pembelajaran sastra di kelas. dia juga dapat mengembangkan imajinasi. memberikan pengalaman pengganti. pengarang pun menggunakan majas Sinisme seperti yang diucapkan tokoh aku: ´«Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang. Navis sebagai Bahan Pembelajaran Sastra di Kelas. Kesimpulan Cerpen Robohnya Surau Kami karya A.parabel (majas ini merupakan bagian dari majas alegori) karena majas ini berisi ajaran agama.A. kristen.

Gaya Di dalam cerpen ini pengarang benar-benar memanfaatkan kata-kata. dan sinisme. mudah dipengaruhi dan mempercayai orang lain. latar waktu. guru harus mampu membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa akan isi cerpen tersebut. masih sesuai dengan perkembangan psikologis dan pemikiran siswa SMU. yaitu tokoh Aku. g. maka cerpen Robohnya Surau Kami sangat cocok /layak jika dijadikan bahan ajar dalam pembelajaran sastra di SMU. d. guru harus kreatif ketika sedang membelajarkan siswanya. yaitu bagaimana bahasanya. . 2. Juga. Saran untuk guru . 1. f. Ajo Sidi. dan majas alegori. Kakek. Adapun alur mundurnya mulai muncul di akhir bagian awal dan berakhir di awal bagian akhir. e. dan bagaimana latar budaya yang dimunculkan dalam cerita itu ? Tentu saja hal ini dilakukan guru sebelum pembelajaran dimulai. dan latar sosial. 2) Ajo Sidi adalah orang yang suka membual 3) Kakek adalah orang yang egois dan lalai. selain itu konflik-konflik psikologis yang dimunculkan. Sedangkan strukturnya berupa bagian awal. Penokohan Tokoh dalam cerpen ini ada empat orang. Saran untuk siswa . konflik psikologis tokohtokohnya pun tidak terlalu sulit untuk dipelajari. bahasannya benar-benar berdasarkan pengalaman siswa. Selain itu pengarang pun berperan sebagai tokoh bawahan ketika si kakek bercerita tentang Haji Soleh di depan tokoh aku. dan latar budaya yang ditampilkannya pun masih tampak umum sehinga siswa yang berlatar belakang budaya Islam. dan Haji Soleh. penulis meyarankan sebagai berikut. Kristen. Selain kriteria ini. jangan sekali-kali membaca ringkasan cerpen tersebut tanpa pernah membaca cerita itu seluruhnya. Misalnya. 1) Tokoh Aku berwatak selalu ingin tahu urusan orang lain. Latar Latar yang ada dalam cerpen ini adalah latar tempat. 4) Haji Soleh yaitu orang yang telah mementingkan diri sendiri.Pemilihan bahan/materi pembelajaran sastra yang berbentuk cerpen sebaiknya mengikuti kriteria yang ada. bagaimana kesesuaian psikologisnya.Di dalam kegiatan pembelajaran. tengah. Hindu. dan akhir. Berdasarkan uraian di atas. dan Budha pun dapat menerimanya. guru pun harus membaca terlebih dahulu sebelum pembelajaran dimulai begitu pula dengan siswanya. karena bahasa yang digunakannya bisa dipahami oleh siswa SMU. . Saran Berdasarkan hasil penelitian di atas.c. guru harus mampu membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap cerita tersebut kemudian mengarahkannya ke dalam pengalaman siswa sehingga ketika siswa membahas cerita itu. Alur Alur cerpen ini adalah alur mundur karena ceritanya mengisahkan peristiwa yang telah berlalu yaitu sebab-sebab kematian kakek Garin. baik untuk tokoh cerita maupun pembacanya yang duduk di tingkat SMU.Guru yang sudah berani menetapkan cerpen sebagai bahan pembelajaran sastra harus pula membacanya berkali-kali agar memahami isinya. Titik Pengisahan Titik pengisahan cerpen ini yaitu pengarang berperan sebagai tokoh utama (akuan sertaan) sebab secara langsung pengarang terlibat di dalam cerita. Namun. 2.

baca pula buku-buku yang mengulas isi cerpen itu jika ada.Jika mungkin dan sempat. ikutilah setiap seminar atau diskusi sastra di manapun.Berdiskusilah dengan penuh minat dan perhatian agar manfaat sastra bisa dirasakan .Selain itu.. . .Sebaiknya siswa harus membaca cerpennya secara utuh berkali-kali agar memahami isinya. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful