Tegar di Jalan Dakwah

Tulisan ini merupakan suatu resume singkat dari sebuah buku yang merupakan salah satu bacaan wajib bagi para aktivis dakwah khususnya dalam menyongsong mihwar daulah ini. Buku Tegar di Jalan Dakwah yang ditulis oleh Cahyadi Takariawan ini membahas empat hal besar yang masing-masing dijelaskan dalam 4 bab yaitu problematika internal aktivis

dakwah, problematika eksternal dakwah, daya tahan di medan dakwah, dan yang tegar di jalan dakwah.

Problematika Internal Aktivis Dakwah
Pembahasan probelmatika internal lebih didahulukan dari pada pembahasan

problematika eksternal karena problem terberat bagi semua jamaah dakwah adalah kendala internal. Ketika problematika internal sudah diselesaikan/dikelola dengan baik, maka amanah dakwah lebih mudah ditunaikan dan problematika eksternal lebih mudah diselesaikan. Problematika internal yang sering dijumpai dalam jamaah dakwah adalah gejolak kejiwaan, ketidakseimbangan aktifitas, latar belakang dan masa lalu aktivis, penyesuaian diri, dan friksi internal. 1. Gejolak Kejiwaan Gejolak kejiwaan sebenarnya merupakan persoalan yang dimiliki oleh semua manusia biasa. Dan yang perlu disadari adalah para aktivis dakwah juga manusia biasa. Gejolak ini tidak bisa dimatikan sama sekali, tetapi perlu dikelola dengan baik agar tidak merugikan dakwah dan aktifis dakwah. Diantara gejolak kejiwaan itu adalah: Pertama, gejolak syahwat. Banyak orang yang terpeleset oleh gejolak ketertarikan pada lawan jenis ini. Bagi mereka yang belum menikah, gejolak ini biasanya lebih besar dan lebih berpeluang menggoda. Kedua, gejolak

amarah. Seperti kisah Khalid saat menghadapi Jahdam dan pemuka bani Jazimah, gejolak amarah ini bisa berakibat fatal termasuk bagi citra dakwah, hubungan antar aktifis dakwah, dan terjadinya fitnah diantara kaum muslimin. Ketiga, gejolak heroisme. Semangat

3. tetapi pengaruhnya bisa dikendalikan. Bagaimana seorang aktifis melakukan muhasabah. juga harus dipraktikkan dalam kehidupan berjamaah dan oleh semua aktifis dakwah. Masa lalu memang tidak bisa diubah. Yakni penyesuaian diri . ketidakseimbangan antara amal tarbawi dengan amal siyasi. Ia bisa berbentuk lemahnya tsaqafah Islam. gejolak kecemburuan. Ketidakseimbangan antara aktifitas ruhaniyah dengan aktifitas lapangan. ketidakseimbangan antara perhatian terhadap aspek kualitas dengan kuantitas SDM. menyadari kelemahannya dan melakukan perbaikan diri. ketidakseimbangan antara aktifitas pribadi dengan organisasi. Penyesuaian Diri Problematika internal yang keempat adalah penyesuaian diri. 2.heroisme memang bagus dan sangat perlu. gejolak ini segera diselesaikan Rasulullah karena jika dibiarkan bisa berdampak negatif. Kasus pembunuhan terhadap Nuhaik yang dilakukan Usamah bin Zaid adalah contohnya. Tawazun atau kesimbangan yang merupakan asas kehidupan. Keempat. Sedangkan masa lalu yang jahiliyah bisa membawa dampak yang kurang menguntungkan bagi kredibilitas sang aktifis dakwah. tekanan keluarga yang menentang aktifitas dakwah. Ketidakseimbangan Aktifitas Ketidakseimbangan aktifitas juga menimbulkan problematika tersendiri. sikap ini bisa berefek pada melemahnya soliditas internal jamaah. tetapi ketika sudah tidak proporsional ia akan mendatangkan sikap ekstrem yang berbahaya bagi kemaslahatan dakwah dan umat. Meskipun yang dicemburui oleh Anshar sebenarnya adalah perhatian Rasulullah dan bukan materi ghanimah-nya. semuanya bisa berakibat negatif. ketidakseimbangan antara dakwah di dalam dengan di luar rumah tangga. Latar belakang keagamaan keluarga. dan kerancuan dalam orientasi kehidupan. Latar Belakang dan Masa Lalu Aktivis Latar belakang dan masa lalu aktifis yang buruk bisa pula menjadi problematika internal dakwah jika tidak dilakukan langkah-langkah solutif. Solusi atas problem ini terangkum dalam kata mujahadah. Seperti kecemburuan Anshar pada para mualaf yang mendapatkan hampir semua ghanimah perang Hunain. 4. misalnya.

restrukturiasi dakwah tepat dilakukan terhadap orang-orang yang telah memahami karakter dakwah itu sendiri. Antara mihwar tanzhimi yang berkonsentrasi pada konsolidasi internal dan mihwar muassasi yang konsen pada perjuangan politik membuat beberapa kader dakwah tidak mampu menyesuaikan diri. 5. Friksi dalam sejarah dakwah memberi beberapa pelajaran penting bagi kita: bahwa friksi merupakan indikasi kelemahan proses tarbiyah. friksi juga bukti keberadaan ego manusia. atau antarpersonal pendukung dakwah. . Friksi Internal Problem internal kelima adalah friksi internal. Untuk mengatasi problem ini dibutuhkan peran kelembagaan dakwah. ada tahap-tahapnya. friksi menandakan adanya kelemahan dalam penjagaan diri para aktifis dakwah. Banyak gerakan dakwah yang harus tutup usia dan kini tinggal nama karena problematika ini. dan problematika sistemik. Jamaah dakwah perlu melakukan persiapan perubahan fase dakwah. mensosialisasikan cara pandang yang disepakati tentang batas-batas pengembangan dakwah sehingga jelas mana yang termasuk pengembangan (tathwir) dan mana yang termasuk penyimpangan (inhiraf). serta mana yang mutaghayyirat. sampai keterbatasan kapasitas.terhadap karakteristik pendekatan dan sikap dakwah yang melekat pada masing-masing marhalah dan orbit dakwah. kecenderungan jiwa. bahkan masa sirriyah dan jahriyah pada fase Makkah yang juga berbeda. dakwah saat ini juga mengalami hal yang sama. Jamaah dakwah juga harus mendefinisikan masa yang asholah dan tsawabit. Friksi ini bisa timbul dari lingkungan yang kecil seperti intern sebuah lembaga dakwah. keterbatasan dan perbedaan tsaqafah. penumbuhan al-wa yul islami (kesadaran berislam) dan al-wa yu ad-da awi (kesadaran dakwah) lebih utama dibandingkan sekedar meletupkan hamasah (semangat) bergerak. khususnya umat Islam meliputi problematika spiritual dan kultural. Sebagaimana corak dakwah yang berbeda antara fase Makkiyah dan Madaniyah. dan sangat mungkin friksi timbul karena hadirnya pihak ketiga yang sengaja memecah jamaah. Hambatannya bisa karena sifat kelambanan kemanusiaan. Problematika Eksternal Dakwah Problematika eksternal dakwah yang bisa menjadi bahaya besar bagi kebaikan bangsa dan masyarakat Indonesia. problematika moral. atau antarlembaga.

merasakan pengawasan Allah. serta mendapatkan surga di akhirat nanti. paling tidak ada lima faktor yang perlu dimiliki para aktifis dakwah untuk merealisir daya tahan di medan dakwah: menguatkan dan membersihkan motivasi. kolusi dan nepotisme (KKN). Untuk itu. dengan budaya negative efek Daya Tahan di Medan Dakwah Dakwah yang merupakan jalan panjang dan lintas generasi niscaya memerlukan daya tahan yang permanen.berhala modern baik berupa teknologi yang dijadikan rujukan kebanaran. kemiskinan. khurafat dan tahayul yang masih merebak di masyarakat. Untuk menguatkan dan membersihkan motivasi kita perlu selalu memahami makna ikhlas dan berupaya mencapainya dengan jalan: senantiasa memperbaharui niat. kebodohan. yakni menjadikan seluruh aktifitas selalu berorientasi kepada Allah. dan hati-hati dalam beramal. jaminan bahwa orang-orang kafir takkan menguasai. dan ancaman disintegrasi bangsa. individu kader dakwah daya tahan ini jug harus dimiliki agar tetap istiqamah sampai mengakhiri sejarah kehidupannya dengan husnul khatimah. perjudian dan penipuan. Untuk mencapai derajat iman kita perlu : memiliki orientasi rabbani. sains yang diabsolutkan. berusaha keras mewujudkan kecintaan kepada Allah. penyelewenangan seksual. serta tradisi baik yang sudah tergerus dan tergantikan perkembangan peradaban. Jika kita mampu mencapai derajat iman ini. berusaha keras menunaikan kewajiban. menggandakan kesabaran. mendapatkan kehidupan dan rezeki yang baik. Untuk bisa menggandakan kesabaran kita perlu memberikan dorongan jiwa untuk mengejar . menjadi khalifah di muka bumi. kekuatan ukhuwah. maka Allah menjanjikan kemenangan atas musuh. dan dukungan soliditas struktur. mendapatkan izzah. berhati-hati terhadap orientasi duniawi. Problematika moral diantaranya adalah minuman keras dan penyalahgunaan obat-obatan.Diantara problematika dakwah di Indonesia yang menyangkut aspek spiritual dan kultural adalah: berhala. globalisasi dan dialektika kultural. syirik. dan sebaliknya. serta tindakan brutal dan kekerasan. Sedangkan yang dimaksudkan dengan problematika sistemik adalah korupsi. menggapai derajat iman. maupun kekuasaan yang dipuja-puja. materi yang ditaati. Bagi.

untuk membangun soliditas struktur perlu menghindari hal-hal yang bisa merusaknya yaitu munculnya sekat komunikasi dan lemahnya imunitas struktural (mana'ah tanzhimiyah). hambatan. Kita juga harus meminimalisir penghambat-penghambat ukhuwah. sampai kekuasaan. dan betapa besar buahnya bagi agama dan keduniaan kita serta melawan pengaruh hawa nafsu. pahala yang besar.dengan sungguh-sungguh faedah-faedah yang ditimbulkan oleh kesabaran. Sedangkan upaya membangun soliditas struktur paling tidak meliputi konsolidasi manajerial dan konsolidasi operasional. Konsolidasi operasional dimaksudkan untuk menyinkronkan berbagai kegiatan dalam skala gerakan. manisnya rayuan. sebagaimana para dai generasi sebelumnya sejak Rasulullah dan para shahabatnya. Jika kekuatan ukhuwah ini terbangun kokoh. tribulasi. Agar tegar dalam menghadapi ejekan. maka biarkan saja semua orang mengejek. rintangan. kemapanan. dan mendapatkan berbagai macam kebaikan krn sabar. tidak perlu diladeni. teror fisik. Selain itu. . sadarilah bahwa ejekan kepada Rasulullah jauh lebih hebat. Yang Tegar di Jalan Dakwah Jalan dakwah ini pasti dipenuhi dengan beragam kesulitan. Diantara mihnah itu ada yang berupa ejekan. sekaligus senantiasa mengarahkan gerak dakwah kepada tujuan yang ditetapkan. tekanan keluarga. Konsolidasi manajerial dilakukan dengan penataan manajemen yang bagus dan profesional dalam setiap jalur dan lini. keterbatasan ekonomi. prinsip manajemen modern juga bisa diterapkan. dan seterusnya. tabiut tabi'in. Para aktifisnya akan berhadapan dengan beragam mihnah. maka daya tahan kita sebagai aktifis dakwah maupun daya tahan jamaah di medan dakwah akan semakin kokoh. tabi'in. Kader dakwah harus tegar dalam menghadapi semua mihnah itu. Jika kesabaran telah kita miliki maka kita akan mendapatkan hikmahnya yang luar biasa: dijadikan pemimpin. kebersamaan Allah. gelombang fitnah. Untuk membangun ukhuwah kita perlu memotivasi diri dengan keteladanan ukhuwah di zaman kenabian lalu memperbaiki hubungan sesama aktifis dakwah berlandaskan cinta dan kasih sayang. Selain mengambil prinsip-prinsip dari Al-Qur'an dan Hadits.

Agar tegar dalam menghadapi teror fisik. tawakallah kepada Allah dan berdoalah senantiasa. Maka yang diteladani adalah Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf. waspada dan tetap bersama jamaah. jagalah keikhlasan dan senantiasa memperbarui niat.Agar tegar dalam menghadapi fitnah. Agar tegar dalam menghadapi tekanan keluarga. Agar tegar dalam kemapanan harus memiliki paradigma semakin banyak kekayaan. Iman tidak bisa ditukar dengan keluarga. Agar tegar dalam menghadapi manisnya rayuan. semakin banyak kontribusi bagi dakwah. kelurusan orientasi perjuangan. ketaatan pada manhaj dakwah Rasulullah dan keyakinan akan janji-jani-Nya. Agar tegar dalam kondisi kekurangan/keterbatasan ekonomi. tetaplah bekerja dan beramal maka umat akan tahu siapa yang benar dan siapa yang tukang fitnah. Kekuatan ukhuwah sesama aktifis dakwah juga berperan penting untuk menjaga kita tetap tegar. bersabar adalah kuncinya. ketegasan harus diutamakan . Dan pada semua mihnah. di samping persiapan lain yang juga perlu dilakukan oleh struktur dakwah. Agar tegar di puncak kekuasaan. kedekatan dengan Allah dan tawakkal kepada-Nya merupakan kunci utama agar tegar di jalan dakwah! . jika memang itu pilihannya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful