BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Pelayanan rumah sakit yang berfokus pada pelayanan kuratif dan rehabilitatif secara berangsur±angsur dialihkan ke pelayanan promotif dan preventif. Pandangan ini sejalan dengan perubahan paradigma bidang kesehatan yaitu dari paradigma sakit menjadi paradigma sehat. Pergeseran fokus pelayanan dan perubahan paradigma kesehatan tersebut mengisyaratkan pentingnya melaksanakan upaya promotif dan preventif diberbagai tingkatan, termasuk di tingkat lapisan masyarakat, serta menurunkan angka kematian dan angka kesakitan bayi. Salah satu usaha preventif yang berkaitan dengan kelangsungan hidup bayi adalah imunisasi, bayi yang baru lahir mempunyai kekebalan alami yang diterima dari ibunya saat masih dalam kandungan. Kekebalan ini didapat melalui placenta (ari- ari) dan akan habis kira-kira setelah bayi berumur 6 bulan. Pada usia ini, seorang anak menjadi sasaran yang mudah dijangkiti penyakit. Untuk mencegahnya imunisasi harus diberikan sedini mungkin (Depkes RI, 1990). Imunisasi yang diberikan sedini mungkin setelah bayi lahir adalah imunisasi Hepatitis. Imunisasi Hepatitis diberikan untuk mencegah penyakit Hepatitis B yang merupakan penyakit hati kronis. Imunisasi Hepatitis merupakan 3 dari minimal 8 suntikan yang harus diterima oleh bayi. Efektifitas imunisasi Hepatitis akan tinggi bila suntikan Hepatitis diberikan pada usia dini Indonesia adalah negara dengan tingkat endemik penyakit Hepatitis menengah sampai dengan tinggi, prevalensi pengidap penyakit Hepatitis di Indonesia sebanyak 2,5 - 25 %. Prevalensi penyakit Hepatitis pada kalangan wanita hamil sebanyak 3,6 ± 8,7 %, dan prevalensi penyakit Hepatitis pada kalangan anak-anak di bawah usia 4 tahun adalah sebesar 6,2 % ( Ditjen PPm & PL Depkes RI ). Sebesar 50 % dari ibu hamil pengidap Hepatitis akan menularkan penyakit tersebut kepada bayinya. Data epidemiologi menyatakan sebagian kasus yang terjadi pada penderita Hepatitis B ( 10 % ) akan menjurus kepada kronis dan dari kasus yang kronis ini 20 %-nya menjadi hepatoma, dan

1

kemungkinan akan kronisitas akan lebih banyak terjadi pada anak-anak balita oleh karena respon imun pada mereka belum sepenuhnya berkembang sempurna. Persentase cakupan imunisasi Hepatitis di Indonesia yang diberikan pada bayi dengan usia kurang dari 7 hari pada tahun 2000 sebesar 3 % dan mengalami peningkatan pada tahun 2002 menjadi 10 %, sedangkan cakupan imunisasi Hepatitis yang diberikan pada bayi dengan usia lebih dari 7 hari pada tahun 2000 sebesar 90% mengalami penurunan pada tahun 2002 menjadi 50 %. Cakupan imunisasi Hepatitis B1 secara keseluruhan mengalami penurunan dari tahun 2000 sebesar 93 % menjadi 60 % pada tahun 2002. Cakupan imunisasi Hepatitis di jakarta yang diberikan pada bayi dengan usia 07 hari masih sangat rendah yaitu hanya 3.074 bayi dari 22.327 bayi keseluruhan (13,8 % ) dan cakupan imunisasi Hepatitis yang diberikan pada bayi dengan usia lebih dari 7 hari sebanyak 13.326 bayi ( 59,7 % ) dari 22.327 jumlah bayi, dari total jumlah imunisasi Hepatitis B1 usia 0 - 7 hari dan lebih dari 7 hari didapat 5927 bayi tidak diimunisasi Hepatitis

B.

Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum a. Mengetahui tentang penyakit hepatitis b. Mengetahui masalah keperawatan yang muncul pada kasus hepatitis. c. Mengetahui proses keperawatan yang diberikan kepada pasien hepatitis. 2. Tujuan Khusus a. Diperolehnya gambaran pengetahuan ibu klien tentang pengertian imunisasi Hepatitis b. Diperolehnya gambaran pengetahuan ibu klien tentang tujuan imunisasi Hepatitis. c. Diperolehnya gambaran pengetahuan ibu klien tentang manfaat imunisasi Hepatitis d. Diperolehnya gambaran pengetahuan ibu klien tentang waktu yang tepat imunisasi Hepatitis.

2

C.

Ruang Lingkup Mengingat luas permasalahan kasus Hepatitis maka penulis membatasi Asuhan keperawatan pada klien Ny.E dengan hepatitis di Ruang Merpati. Pada tanggal 24-26 April 2011.

D.

Metode Penulisan 1. 2. 3. Penulis melakukan pengamatan langsung terhadap klien dan keluarga. Wawancara Dokumentasi, yaitu kami mengumpulkan data dengan membaca status klien untuk medapatkan gambaran diagnosa medis, terapi dan pemeriksaan penunjang yang berhubungan dengan Ny.E.

E.

Sistematika Penulisan Sistematika penulisan makalah ilimiah ini di susun secara sistematik yang terdiri dari lima bab yaitu: BAB I : Pendahuluan yang berupa latar belakang, tujuan penulis, metode penulisan dan sistematika penulisan. BAB II : Tinjauan teori terdiri dari : pengertian, patofisiologi, penatalaksanaan medis, konsep tumbuh kembang anak , konsep hospitalisasi anak, dan asuhan keperawatan BAB III : Tinjauan khasus yang terdiri dari pelaksanaan proses keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan,pelaksanaan, dan evaluasi juga catatan perkembangan BAB IV BAB V : penutup, kesimpulan dan saran. : Daftar pustaka

3

Virus hepatitis B (HBV) merupakan virus yang bercangkang ganda yang memiliki ukuran 42 mm. terutama ditularkan secara parenteral tetapi juga dapat secara oral. dibawah oleh air dan makanan c. kontak antara manusia. Ditularkan melalui jalur fekal ± oral. bersifat akut. yang bersifat akut dan kroni B. Patofisiologi 1. Corwin. Infeksi ini mudah terjadi didalam lingkungan dengan higiene dan sanitasi yang buruk dengan penduduk yang sangat padat. Masa inkubasinya 15 ± 49 hari dengan rata ± rata 30 hari d. biokimia. ( Kamus Saku Keperawatan edisi 31 ) Hepatitis adalah infeksi sistematis oleh virus disertai nekrosis dan inflamasi pada sel-sel hati yang menghasilkan kesimpulan perubahan klinis. serta seluler yang khas. 2001 ) Hepatitis adalah Penyakit yang disebabkan oleh virus. 2001 ) Kesimpulan :Hepatitis adalah Penyakit yang disebabkan oleh virus yang dapat menular ke orang lain. Virus hepetitis A (HAV) terdiri dari RNA berbentuk bulat tidak berselubung berukuran 27 nm b. 4 . (Elisabeth J.BAB II TINJAUAN TEORITIS A. Etiologi y Hepatitis A a. (Charles J. dan dari ibu ke bayi nya. Pengertian Hepatitis adalah Peradangan luas pada jaringan hati yang menyebabkan nekrosis dan degenerasi sel. melalui hubungan yang antara penderita dengan orang lain. sanitasi yang jelek. Reeves. y Hepetitis B (HBV) a.

kontak antara manusia dimungkinkan meskipun resikonya rendah. d. b. terbungkus lemak yang diameternya 30 ± 60 nm. dokter gigi. Virus hepatitis C (HCV) merupakan virus RNA kecil. y Hepatitis C (HCV) a. kontak seksual dan fekal-oral. y Hepattitis E (HEV) a. d. Masa inkubasi 26 ± 160 hari dengan rata. c. Faktor resiko perjalanan ke negara dengan insiden tinggi hepatitis E dan makan makanan. Ditularkan melalui jalur parenteral dan kemungkinan juga disebabkan juga oleh kontak seksual. perawat dan terapis respiratorik. Faktor resiko bagi para dokter bedah. Penularan virus ini melalui jalur fekal-oral. Masa inkubasi 15 ± 65 hari dengan rata ± rata 42 hari. staf dan pasien dalam unit hemodialisis serta onkologi laki-laki biseksual serta homoseksual yang aktif dalam hubungan seksual dan para pemakai obat-obat IV juga beresiko. b. pekerja laboratorium. Ditularkan melalui parenteral atau lewat dengan karier atau penderita infeksi akut. Masa inkubasi virus ini 15 ± 60 hari dengan rata ± 50 hari Faktor resiko hampir sama dengan hepetitis B y Hepatitis D (HDV) a. c.rata 70 ± 80 hari. 36 nm. minum minuman yang terkontaminasi 5 . c. Virus hepatitis B (HDP) merupakan virus RNA berukuran 35 nm. Masa inkubasi dari virus ini 21 ± 140 hari dengan rata ± rata 35 hari Faktor resiko hepatitis D hampir sama dengan hepatitis B. d. Penularan perinatal dari ibu kepada bayinya. Virus hepatitis E (HEV) merupakan virus RNA kecil yang diameternya 32 b. d. Penularannya terutama melalui serum dan menyerang orang yang memiliki kebiasaan memakai obat terlarang dan penderita hemovilia c.b.

Hepattis dengan sub akut dan kronik dapat permanen dan terjadinya gangguan pada fungsi hati. Respon peradangan menyebabkan pembekakan dalam memblokir sistem drainage hati.2. dalam urine sebagai urobilinogen dan kulit hapatoceluler jaundice. Hepatitis terjadi dari yang asimptomatik samapi dengan timbunya sakit dengan gejala ringan. Keadaan ini menjadi statis empedu (biliary) dan empedu tidak dapat diekresikan kedalam kantong empedu bahkan kedalam usus. sehingga terjadi destruksi pada sel hati. Proses Penyakit virus masuk ke dalam darah melalui membrane mukosa merusak kulit untuk mencapai hati masa inkubasi 6 mnggu-6 bulan Demam (respon infeksi) Ruam. Sel hati mengalami regenerasi secara komplit dalam 2 sampai 3 bulan lebih gawat bila dengan nekrosis hati dan bahkan kem atian. sehingga meningkat dalam darah sebagai hiperbilirubinemia. nyeri perut mual Hepatitis Virus hepatitis yang menyerang hati menyebabkan peradangan dan infiltrat pada hepatocytes oleh sel mononukleous. kekuningan. Proses ini menyebabkan degrenerasi dan nekrosis sel perenchyn hati. Individu yang dengan kronik akan sebagai karier penyakit dan resiko berkembang biak menjadi penyakit kronik hati atau kanker hati 6 .

Dapat meningkat 1-2 minggu sebelum ikterik kemudian tampak menurun. terlepas dari jaringan yang rusak. Adapun manifestasi dari masing±masing stadium adalah sebagai berikut. c. Komplikasi akut : Kern Ikterik pada bayi dan anak. nyeri pada otot dan nyeri diperut kanan atas urin menjadi lebih coklat. Hepatoma.3. tetapi klien masih lemah. Penatalaksanaan Medis 1. muntah. a. Hematemesis Melena. C. Pasien mengeluh sakit kepala. karena penyebab yang biasanya berbeda 4. Komplikasi Komplikasi yang mungkin terjadi adalah : a. Icterus mula±mula terlihat pada sklera. Manifestasi klinik dapat dibedakan berdasarkan stadium. Ikterus mereda. hati dan jaringan skelet. SGOT/SGPT merupakan enzim ± enzim intra seluler yang terutama berada dijantung. Stadium icterik berlangsung selama 3±6 minggu. warna urin dan tinja menjadi normal lagi. Hati membesar dan nyeri tekan. demam. Penyebuhan pada anak±anak menjadi lebih cepat pada orang dewasa. coma hepatikum. Stadium pascaikterik (rekonvalesensi). anoreksia dan muntah. anoreksia. Keluhan±keluhan berkurang. ASR (SGOT) / ALT (SGPT) Awalnya meningkat. Komplikasi yang menahun : Serosis Hepatis. yaitu pada akhir bulan ke 2. kemudian pada kulit seluruh tubuh. Tes Diagnotik a. Manifestasi Klinis Menifestasi klinik dari semua jenis hepatitis virus secara umum sama. b. b. Stadium praicterik berlangsung selama 4±7 hari. meningkat pada kerusakan sel hati 7 . Tinja mungkin berwarna kelabu atau kuning muda. lemah.

Leukopenia Mungkin ada (splenomegali) 4. steatorea (penurunan fungsi hati) 7. Diferensia Darah Lengkap Leukositosis. hal ini disebabkan karena sebagian besar protein serum disintesis oleh hati dan karena itu kadarnya menurun pada berbagai gangguan hati. monositosis. 8 . Gula Darah Hiperglikemia transien / hipeglikemia (gangguan fungsi hati). 5. Alkali phosfatase Agaknya meningkat (kecuali ada kolestasis berat) 6. 8. 9. Masa Protrombin Mungkin memanjang (disfungsi hati). akibat kerusakan sel hati atau berkurang. Darah Lengkap (DL) SDM menurun sehubungan dengan penurunan hidup SDM (gangguan enzim hati) atau mengakibatkan perdarahan. limfosit. HbsAG Dapat positif (tipe B) atau negatif (tipe A) 11. Albumin Serum Menurun. Anti HAVIgM Positif pada tipe A 10. Feses Warna tanah liat. 3. Meningkat absorbsi vitamin K yang penting untuk sintesis protombin.2. atipikal dan sel plasma.

Karena bilirubin terkonyugasi larut dalam air. 14. prognosis buruk. Tes Eksresi BSP (Bromsulfoptalein) Kadar darah meningkat. 16. Biopsi Hati Menujukkan diagnosis dan luas nekrosis 15. Urinalisa Peningkatan kadar bilirubin. Adanya gangguan dalam satu proses ini menyebabkan kenaikan retensi BSP. 9 . Skan Hati Membantu dalam perkiraan beratnya kerusakan parenkin hati. E.12. Tirah baring selama fase akut dengan diet yang cukup bergizi merupakan anjuran yang lazim. organ maupun individu yang bisa di ukur dengan ukuran berat (gram.meter). D. Pemberian makanan intravena mungkin perlu selama fase akut bila pasienterus menerus muntah. disimpan dan dikonyugasi dan diekskresi. Aktivitas fisik biasanya perlu dibatasi hingga gejala-gejala mereda dan tes fungsi hati kembali normal. jumlah.ukuran panjang (cm. ia dsekresi dalam urin menimbulkan bilirubinuria. Gangguan eksresi bilirubin mengakibatkan hiperbilirubinemia terkonyugasi.5 mg/100 ml (bila diatas 200 mg/ml.kilogram). BPS dibersihkan dari darah. mungkin berhubungan dengan peningkatan nekrosis seluler) 13. Konsep Tumbuh Kembang Pada Anak Usia Sekolah (6-10 Tahun) Pertumbuhan (growth) merupakan masalah perubahan dalam ukuran besar. ukuran atau dimensi tingkat sel. Terapi Tidak ada terapi sfesifik untuk hepatitis virus. Bilirubin Serum Diatas 2.

menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangannya kembali kerumah (supartini.mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit.orang tua akan menangis karena tidak tega melihat anaknya kesakitan.2009:hal 2) F. Konsep Hospital Pada Anak Usia Sekolah Hospitalisasi merupakan suatu proses yang karena suatu alas an yang berencana atau darurat.sering kali pada saat anak harus di lakukan prosedur tersebut. 2. 10 . seperti pengambilan darah.sebagai hasil dari proses pematangan (Riyadi dan Sukarmin.Perkembangan (development) adalah bertambah nya kemampuan (skill/keterampilan)dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat di ramal kan.kehilangan control juga terjadi akibat di rawat di rumah sakit karena adanya pembatasan aktivitas. Perasaan Cemas Dan Takut Orang tua akan merasa begitu cemas dan takut pada kondisi anaknya. infuse dan prosedur invansif lainnya.reaksi terhadap rasa nyeri akan di tunjukan dengan Ekpresi baik secara verbal mau pun non verbal karena anak sudah mampu mengontrol mengkomunikasikannya. perasaan takut mati. yaitu keluarga dan terutama kelompok sosial nya dan menimbulkan kecemasan. Reaksi Orang Tua Terhadap Hospitalisasi a. Kehilangan control tersebut berdampak pada perubahan peran dalam keluarga. dan adanya kelemahan fisik. Reaksi Anak terhadap Hospitalisasi Perawatan Anak di Rumah sakit memaksa untuk berpisah dengan lingkungan yang di cintainya. Anak usia sekolah sudah mampu mengontrol perilakunya jika merasa nyeri.2004:hal 188). Perasaan tersebut muncul pada saat orang tua melihat anak mendapat prosedur menyakitkan.anak nkehilangan kelompok sosial nya karena ia biasa melakukan kegiatan bermain atau pergaulan sosial. 1. injeksi.yaitu dengan menggit bibir atau memegang sesuatu dengan erat.

demam dan kuning c. muntah. tanggal pengkajian.b. jenis kelamin. pekerjaan. Keluhan dapat berupa nafsu makan menurun. sakit perut kanan atas. Perasaan Frustasi Pada saat kondisi anak yang telah di rawat cukup lama di rasakan tidak mengalami perubahan serta tidak adekuatnya pendukung psiskologis yang di terima orang tua baik dari keluarga maupun kerabat lainnya maka orang tua akan merasa putus asa. bahkan menginginkan pulang paksa. pendidikan. dan dignosa medis. rasa sedih dan berduka akan dialami orang tua. nyeri perut kanan atas 11 . Identitas klien meliputi . batuk. jenis kelamin. nama. 2). Identitas saudara kandung meliputi : Nama. bahkan Frustasi. sering kali orang tua menunjukan perilaku tidak kooperatif. Identitas orang tua yang terdiri dari : Nama Ayah dan Ibu. oleh karena itu. umur. Riwayat kesehatan 1. Keluhan utama Keluhan anak sehingga anak membutuhkan perawatan. Perasaan bersedih Perasaan ini muncul terutama karena kondisi terminal orang tua mengetahui bahwa tidak ada lagi harapan anak nya yang menjelang ajal. G. Riwayat Kesehatan Sekarang Gejala awal biasanya sakit kepala. umur. No register. lemah. dan hubungan dengan klien. sakit kepala. agama. putus asa. penghasilan. Biodata. pendidikan. 1). 3). Identitas Pasien a. tanggal masuk rumah sakit. agama. menolak tindakan. demam. dan pendidikan terakhir. alamat. umur. mual muntah. b. lemah anoreksia. Pengkajian Keperawatan 1. H.

Riwayat Kesehatan Masa lalu Riwayat kesehatan masa lalu berkaitan dengan penyakit yang pernah diderita sebelumnya. 6. Kehilangan kontrol berhubungan dengan perubahan aktifitas rutin. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan masukan metabolik. prosedur operasi dan perawatan rumah sakit serta perkembangan anak dibanding dengan saudara-saudaranya 3. anoreksia. 12 . I. 5. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan yang berlebihan melalui muntah dan diare. 7. 11. Diagnosa Keperawatan 1. Nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan hepar. mual/muntah. 10. 13. Riwayat kesehatan keluarga Berkaitan erat dengan penyakit keturunan. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan akumulasi garam empedu dalam jaringan. Isolasi sosial berhubungan dengan perawatan isolasi. Diare berhubungan dengan peningkatan peristaltik usus. Resiko infeksi pada orang lain berhubungan dengan kontak pada anak yang terinfeksi. Konstipasi berhubungan dengan kurangnya aktifitas. 4. Hipertermi berhunbungan dengan proses infeksi. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum. riwayat penyakit menular khususnya berkaitan dengan penyakit pencernaan. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat. kecelakaan yang pernah dialami termasuk keracunan.2. 3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi dengan proses penyakit 9. 12. 8. 2.

Awasi pemasukan diet/jumlah kalori. Ini dapat terjadi karena keterbatasan aktifitas yang mengganggu periode istirahat. Rencana Keperawatan. Awasi keluhan anoreksia. DX . Berikan obat vit. Tiarah baring lama dapat menurunkan kemampuan. II. Timbang berat badan. ciptakan lingkunga yang tenang. anoreksia. 2. Intervensi 1. Tidak ada keluhan mual/muntah. Meningkatkan aktifitas yang dilakukan sesuai dengan perkembangan kekuatan otot. vit c dan tambahan diet lain sesuai indikasi. Berikan makanan sedikit dalam frekwensi sering. mual/muntah. 3. Lakukan perawatan mulut sebelum makan. Mencapai BB . mual/ muntah Tujuan : Klien menunjukkan status nutrisi yang adekuat. B kompleks. Kriteria hasil : 1. 3. Tingkat aktifitas sesuai toleransi Rasional 1. b. Tingkatkan tirah baring.J.I . Nafsu makan baik. 13 . DX. Tujuan : Klien menunjukkan perbaikan terhadap aktifitas. Meningkatkan ketenangan istirahat dan menyediakan energi yang digunakan untuk penyembuhan. 5. 4. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum. mengarah kepada BB normal . 2. 2. Intervensi 1. Mengekspresikan pemahaman tentang pentingnya perubahan tingkat aktifitas. Kriteria hasil : a. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan masukan metabolik. 2.

pengisian kapiler . 3. Tujuan : Klien akan menunjukkan status cairan adekuat. III. nadi perifer. Berikan cairan IV (biasanya glukosa). 5. Berguna dalam mendefinisikan derajat luasnya masalah dan pilihan intervensi yang tepat.Memberikan informasi tentang penggantian /efek terapi. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan berlebihan melalui muntah dan diare. 3. Menghilangkan rasa tidak enak dan meningkatkan nafsu makan. Kriteria hasil : Tanda ± tanda vital stabil : TD : 90/50 ± 120/70 mmhg N : 85 ± 100 x/mnt S : 36 ± 37 P : 15 ± 25 x/mnt Turgor kulit normal ( cepat kembali ) Intake dan output seimbang. Kaji tanda vital. Anoreksia juga paling buruk pada siang hari. Penurunan BB menunjukkan tidak adekuatnya nutrisi klien. Indikator volume sirkulasi / perfusi memberikan cairan dan penggatian elektrolit 14 . DX. Intervensi 1. elektrolit.Rasional 1. Memperbaiki kekurangan dan membantu proses penyembuhan. Monitor intake dan output 2. turgor kulit dan membran mukosa . Makan banyak sulit untuk mengatur bila klien anoreksia. 4. membuat masukan makanan sulit pada sore hari. 2.

Dorong klien / keluarga untuk mengeksperisikan perasaan dan permasalahan Rasional 1. akan untuk menunjukkan menghindari tehnik infeksi melakukan dan perubahan transmisi ke pola orang ulang 15 . 2. Tujuan : Klien memperlihatkan prilaku yang menimbulkan interaksi sosial. Kriteria hasil : 1. Intervensi 1. 3. Tujuan : Klien hidup lain. pernapasan jelas dengan tidak ada bukti lain terjadinya infeksi. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat. Jelaskan tentang tujuan dari perawatan . Isolasi sosial berhubungan dengan perawatan isolasi. Mempertahankan suhu tubuh yang normal . Klien berpartisipasi dalam aktifitas. Kriteria hasil : 1. Membantu mengidentiufikasi dan memperjelas alasan kesulitan berinteraksi DX. 2. V. IV. 2. Memperlihatkan pengertian tentang tindakan kewaspadaan dengan mengikuti petunjuk. Klien dapat mengungkapkan perasaan / persepsi. 2. 3. Memberikan cairan dan penggatian elektrolit DX. Pemahaman alasan untuk perlindungan dari mereka sendiri dan oranmg lain dapat mengurangi perasaan isolasi. 2. Tingkatkan hubungan sosial. Memberikan informasi tentang penggantian /efek terapi.Rasional 1. 3. Indikator volume sirkulasi / perfusi . Partisipasi orang lain dapat meningkatkan rasa kebersamaan.

Imunisasi bila indikasi ketularan Rasional 1. 3. Cuci tangan mencegah transmisi virus. Pemahaman alasan untuk perlindungan diri sendiri dan orang lain. 2. Orang tua menerapkan pola hidup yang sehat dan bersih. Intervensi 1. 4. Keluarga mengerti tentang cara penularan. 3.Intervensi 1. Lakukan tehnik isolasi untuk infeksi enterik dan pernapasan sesuai kebijakan rumah sakit termasuk cuci tangan efektif. 2. Resiko infeksi pada orang lain berhubungan dengan kontak pada anak yang terinfeksi. Rasional 1. Awasi / batasi pengunjung sesuai indikasi 3. VI. 2. Ajarkan tentang kebersihan perorangan. Ajarkan tehnik mencuci tangan yang benar. 16 . Pengobatan hepatitis virus dan bacterial untuk mencegah/membatasi infeksi sekunder DX. Klien terpajan terhadap proses infeksi (khususnya respiratorius) dan potensial resiko komplikasi sekunder. Berikan antibiotik untuk agen pencegahan. Kriteria hasil : 1. Mencegah transmisi virus ke orang lain. Melalui cuci tangan efektif dalam mencegah transmisi virus. 2. jelaskan prosedur isolasi pada klien/orang terdekat. Tujuan : Keluarga dan orang lain tidak tertular infeksi. 4.

Tujuan : Klien dan keluarga mengetahui tentang proses penyakitnya. Instruksikan klien menggunakan ujung jari atau menggunakan ujung jari untuk menekan pada kulit bila sangat perlu menggaruk. 3. Infeksi hepatitis dapat terjadi didalam lingkungan dengan hyangiene dan sanitasi yang buruk. Memberikan penghilang gatal 2. Rasional 1. DX. Untuk menurunkan resiko kerusakan kulit bila menggaruk DX. Tujuan : Klien menunjukkan jaringan kulit yang utuh. Intervensi 1. Karena terbatasnya pengobatan terhadap hepatitis maka penekanan lebih diarahkan pada pencegahan melalui imunisasi. Kurang pengetahuan berhubungan kurangnya informasi tentang proses penyakit. 2. VIII. 2. Melaporkan penurunan proritus atau menggaruk. hindari sabun alkali. Melakukan perubahan perilaku dan berpartisipasi pada pengobatan 17 . Lakukan perawatan kulit dengan sering. Kriteria hasil : 1. Mengungkapkan pengertian tentang proses penyakit. VII. Ikut serta dalam aktifitas untuk mempertahankan integritas kulit. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan akumulasi garam empedu dalam jaringan .2. 2. Mencegah kulit kering berlebihan. Kriteria hasil : 1. Pertahankan kuku klien terpotong pendek.

Berikan kompres hangat pada aksila/ dahi Rasional 1. Tujuan : Klien menujukkan suhu tubuh dalam batas normal Kriteria hasil : 1. Mengidentifikasi area kekurangan/salah informasi dan memberikan informasi tambahan sesuai keperluan. 2. Kaji adanya keluahan tanda ± tanda peningkatan suhu tubuh 2. badan teraba hangat. Demam disebabkan efek ± efek dari endotoksin pada hipotalamus dan efinefrin yang melepaskan pirogen 18 . IX. DX. 3. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi. Monitor tanda ± tanda vital terutama suhu tubuh 3. 3. kembali normal. 2. Peningkatan suhu tubuh akan menujukkan berbagai gejala seperti uka merah. Badan tidak teraba hangat 3. Berikan informasi khusus tentang penyakitnya.Intervensi 1. jelaskan pentingnya istirahat dan latihan Rasional 1. Klien tidak mengeluh panas 2. Aktifitas perlu dibatasi sampai hepar 4. kemungkinan pilihan pengobatan. harapan /prognosis. 2. Kebutuhan atau rekomendasi akan bervariasi karena tipe hepatitis dan situasi individu. Suhu tubuh 36 ± 370C Intervensi 1. Kaji tingkat pemahaman proses penyakit.

karakteristik dan jumlah feses 2. Akxila merupakan jaringan tipis dan terdapat pembulu darah sehingga akan mempercepat pross konduksi dan dahi berada didekat hipotalamus sehingga cepat memberikan respon dalam mengatur suhu tubuh DX. Konsistensi feses lembek 2. karakteritik dan jumlah proses penyakit harapan / prognosis. Observasi. 3. hindari makanan tinggi lemak. Tingakatkan diet pasien dengan banyak makan makanan berserat dan buah 19 . Stimulan GI yang meningkatkan mobilitas/ frekensi defekasi. Diare berhubungan dengan peningkatan peristaltik usus.3. Monitor ferkuwensi. Feses tidak encer Intervensi 1. Buang air besar setiap hari Intervensi 1. Konstipasi berhubungan dengan kurangnya aktivitas Tujuan : Klien akan menujukkan pola eliminasikembali seperti biasa Kriteria hasil : 1.makanan dengan kandunganserat tinggi 3. Untuk mengontrol diare. berikan diet yang tepat. Diare tidak terkontrol dapat menyebabkan kekurangan cairan DX. 2.kemungkinan pilihan pengobatan. X. Membantu menentukan berat episode (diare) 2. Klien tidak mengluh sering buang air besar 2. XI. catat frekwensi defekasi. Berikan anti diare yang ditentukan dan evaluasi keevektipan Rasional 1. Tujuan : Klien akan menujukkan pola eliminasikembali sperti biasa Kriteria hasil : 1.

Berikan pelunak feses. supositoria sesuai indikasi Rasional 1. Mengidentifikasi derajat gangguan dan kemungkinan bantuan yang diperukan 2. khususnya bila alasan lain untuk perubahan tanda vital talah terlihat 20 . Tingkatkan pemenuhan cairan dengan minum banyak minimal 1. Mungkin perlu untuk merangsang peristaltik dengan pelahan / evaluasi feses DX. Mengetahui persepsi dan reaksi klien terhadap nyeri serta sebagai dasar keefektifan untuk intervensi selanjutnya 2.000ml/hari 4.3.120 / 70 mmHg N : 85 ± 100 / menit P : 15 ± 25 / menit SB : 36 ± 370 C Intervensi 1. Dapat melembekkan feses dan mefasilitasi eliminasi 4. Perubahan frekuwensi jantungatau TD menujukkan bahwa pasien mengalami nyeri. Ekspresi wajah ceria 2. Monitor tanda ± tanda vital 3. Kaji tingkat nyeri 2. Tanda ± tanda vital dalam batas normal TD : 90 / 50 . Meningkakan konstintensi fekal untuk dapat melewati usus dengan mudah dan menurunkan konstipasi 3. Berikan tindakan kenyamanan misalnya perubahan posisi relaksasi Rasional 1. XII. Nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan hepar Tujuan : klien mengungkapkan nyeri berkurang / teratasi Kriteria hasil : Tidak ada keluhan nyeri 1.

3. XIII. Ajak klien bermain ssuai toleransi 4. Kaji ulang reaksi yang terjadiakibat hospitalisasi 2. Kaji aktif\vitas yang disenangi oleh klien 3. Akibat hopitalisasi pada anak usia sekolah akan menimbulkan reaksi regresi. Kriteria hasil : 1. Membantu dalam menentukan pilihan intervensi 3. depresi. Perawat menyiapkan segala seuatu yang diperlukan dalam tindakan keperawatan yaitu review tindakan keperawatan yang diidentifikasi pada tahap 21 . Klien aktif dalam melakukan aktifitas Intervensi 1. cemas dan deniel 2. Bermain merupakan aspek yang penting bagi kesehatan menal. Persiapan. Klien dapat bermain sesuai toleransi 2. emosional dan social 4. Tahap tindakan ada 3 diantaranya : a.negativisme. Tindakan non analgetik diberikan dengan sentuhan lembut dapat menghilangkan ketidaknyamanan DX. Pelaksanaan keperawatan Pelaksanaan bertujuan untuk mengatasi diagnosa dan msalah keperawatan kolaborasi dan membantu pencapaian tujuan yang ditetapkan memfasilitaskan koping. Membantu mengurangi dampak hospitalisasi akibat prubahan rutinitas K. Libatkan keluarga dalam merencanakan jadwal harian sesuai dengan jadwal dirumah Rasional 1. Kehilangan kontrol berhubungan dengan perubahan aktivitas rutin Tujuan: Klien akan menujukkan reaksi positif ssuai dengan tingkat perkembangan.

analisa. c. menganalisa. independent . Pengertian Tahap Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan yang bertujuan untuk melihat sejauh mana diagnosa keperawatan.dan kode etik terhadap etika terhadap resiko dari kesalahan tindakan. Menentukan kelengkapan. Dokumentasi. 2. b.interdependen. dan . dan dependen. Membandingkan data yang sudah ada dengan pencapaian tujuan komponen untuk mengevaluasi kualitas implementasi keperawatan antara lain. Evaluasi Keperawatan 1. Intervensi. intervensi. Mendokumentasi suatu proses keperawatan secara lengkap dan akurat. b. Evaluasi Formatif: Evaluasi setelah rencana keperawatan dilakukan untuk membantu keefektifan tindakan secara berkelanjutan hingga tujuan tercapai. intervensi keperawatan dan mengevaluasi kesalahan yang terjadi selama pengkajian . afektif. Proses evaluasi a. Evaluasi Somatif : Merupakan rekapitulasi dari hasil observasi dan analisa atatus pasien pada waktu tertentu berdasarkan tujuan yang di rencanakan pada tahap perencanaan 22 mengukur pencapaian tujuan dilihat dari kognitif. L.intervensi. pengetahuan . serta menyiapkan lingkungan yang kondusif.kemampuan dan yang diperlukan untuk mengetahui komplikasi dari tindakan yang mungkin timbul. dan implementasi keperawatan dadpun taha-tahtap evaluasi antara lain: psikomotor.mengidentifikasi aspek hukum. Pelaksanaan keperawatan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan fisik dan emosional dan adapun sifat tindakan keperawatan yaitu .

Tujuan Tercapai Tujuan ini di katakana tercapai apabila klien telah menunjukan perubahan dan kemajuan yang sesuai dengan criteria yang telah di tetapkan. b.3. Penentuan keputusan yang mengacu pada tujuan a. Tujuan tidak tercapai Tujuan tidak tercapai apa bila menunjukkan tidak adanya perubahan kea rah kemajuan sebagaimana criteria yang di harapkan. berbagai masalah aatau 23 . Tujuan tercapai sebagian Tujuan ini di kata kan tercapai sebagian apabila tidak tercapai secara keseluruhan sehingga masih perlu dicari penyebabnya. c.

1.E jenis kelamin perempuan berusia 27 tahun. 2. tanggal 24 Maret 2011.E dengan hepatitis yang di rawat di Ruang Merpati RSPAU. beragama islam suku bangsa Jawa dalam berkomunikasi sehari-hari klien menggunakan bahasa Indonesia. pelaksanaan. Sumber informasi berasal dari klien.penulis melakukan pengkajian pada hari kamis. Untuk melengkapi data penulis melakukan beberapa metode untuk memperoleh data klien yaitu dengan cara wawancara bersama klien dan keluarg. Pengkajian Keperawatan Pengkajian adalah data dasar sesuai dengan kondisi klien. adapun sumber biaya klien yaitu menggunakan biaya pribadi. A. perencanaan. keluarga dan status pasien. Jati kramat no. Jawa Barat. Dalam membuat laporan kasus ini penulis telah malakukan Asuhan keperawatan selama 3 hari yang mulai dari tanggal 24 Maret 2011 sampai 26 Maret 2011. Resume Klien Ny.BAB III TINJAUAN KASUS Pada tinjauan kasus ini kami mengambil kasus pada Ny. Klien dan kedua orang tuanya mengatakan tidak tahu penyebab dari penyakit tersebut. melalaui pendekatan proses keperawatan yang meliputi tahap pengkajan diagnosa keperawaatan. Identitas Pasien Klien bernama Ny. pukul 09. datang pada tanggal 23 Maret 2011 pada pukul 18. perawat yang bertugas. Dilakukan pemeriksaan 24 .air kencing dan kulit kuning. dan dari catatan Rekam medis klien.00 WIB dan memberi Asuhan keperawatan selama 3 hari dari tanggal 24 Maret sampai 26 Maret 2011 WIB di ruang Merpati. Alamat rumah jl.30 WIB ke RSPAU Esnawan Antariksa dengan keluhan panas tinggi 38°c badan terasa lemas dan nafsu makan berkurang dan klien mengatakan sering muntah-muntah dan mual kepala terasa sakit biji mata . dan evaluasi.13B Pondok Gede ( Bekasi). serta pengkajian fisik head to toe ke pada klien. dengan Diagnosa Hepatitis.E (wanita) usia 27 thn di kirimkan dari UGD.

trombosit : 178-000 normal 150.43 mg/d<0. hepatitis berhubungan dengan proses penyakit.fisik di UGD di dapat data: Tekanan Darah (TD) 110 MmHg.000ui f. SGOT/AST : 320 normal F<31 m<37 u/l g.pct 3x1.Nadi 102x/menit.49 mg/<0. Tindakan mandiri keperawatan yang dilakukan di ruangan yaitu: meliputi menganjurkan kompres hangat. RR 17x/menit Kemudian klien Ny. BAK kuning dan Klien tidak tahu apa penyebabnya.200 normal 5000-10. lemas.000-400.suhu 38°C. SGPT /ALT: 284 normal F<31 m <37 u/l Klien mendapatkan therapy medis berupa infuse KN 3B 30 tts/menit. baik tindakan mandiri maupun secara kolaborasi. HB: 11.RR 17x/menit. leukosit: 4. . kurang nafsu makan dan minum. menganjurkan minum air yang banyak minimal 500cc/hari.E di bawa ke Ruang Merpati dilakukan tindakan mandiri observasi tanda-tanda vital (TTV) TD = 100 Mmhg. Bilirubin : direc*4. oral ceftriaxone 3x1. memberikan cairan infuse dan kolaborasi pemeriksaan darah lengkap dengan hasil laboratarium (lab): 23 Maret 2011.curcuma 2x1 Kondisi klien saat ini masih mengeluh panas tinggi.9 normal 12-16 gr % d. pusing. Hasil pemeriksaan fisik keadaan umum kesadaran kompos mentis. mual dan nyeri bagian perut tidak ada nafsu makan oleh sebab itu klien masih memerlukan tindakan keperawatan serta pemantaun yang intensif.2 b. mual muntah. nyeri perut.9 c. yaitu . a. klien mengatakan terasa kepala terasa pusing. obat injeksi vometa 3x1/2 hari. 25 . maka data subyektif . suara napas vaskuler dan tugor kulit lembab dan kuning.000 e.Nadi102X/menit. Bilirubin: in direct*2. Maka berdasarkan data di atas diagnosa keperawatan yang muncul adalah. suhu 38°C.

Riwayat keperawatan a. 8) Pola BAK Klien mengatakan buang air kecil nya 30 kali seminggu dan tidak ada kendala apapun.POLIO. 7) Pola BAB Klien mengatakan BAB nya mengalami gangguan.DPT. lauk pauk dan sayuran. CAMPAK). 5) Pola makanan pada Klien mengatakan sering mengkonsumsi makanan sembaranga 6) Pola makanan dan minuman Klien mengatakan Frekuensi makannya 3 kali sehari jenis makanannya nasi. minuman bahkan obat-obatan. 2) Coping Keluarga Orang tua klien mengatakan cara memecahkan masalah dilakukan dengan secara bersama dalam keluarga 5 kali seminggu dan tidak pernah 26 . Riwayat kesehatan masa lalu 1) Obat-obatan Keluraga klien mengatakan tidak pernah menggunakan obat-obatan apa pun jenis nya.3. 2) Alergi Kelurga klien mengatakan tidak ada alergi baik makanan.HEPATITIS. 9) Riwayat kesehatan keluarga 1) Riwayat Penyakit Orang tua klien mengatakan sebelum nya orang tua klien (ayah) pernah mengalami penyakit DBD. 3) Kecelakaan Kelurga klien mengatakan tidak ada Riwayat kecelakaan di masa lalu 4) Imuunisasi Klien mengatakan tidak menggunakan Imunisasi lengkap sejak kecil (BCG.

Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan darah lengkap dengan hasil laboratarium (lab): 24 Maret 2011. leukosit: 4.000-400.000) e.2 b. obat injeksi vometa 3x1/2 hari. B. Riwayat Kesehatan Sekarang Pada saat pengkajian didapat data: klien mengatakan masih panas tinggi dan juga kadang dingin.200 (normal 5000-10. klien mengatakan hanya menghabiskan ½ porsi makan ada pun upaya yang sudah dilakukan untuk mengatasi keluhannya adalah klien minum obat paracetamol namun keluhan masih terjadi sehingga klien dan keluarga memutuskan untuk berobat ke RSPAU ESNAWAN ANTARIKSA. Penatalaksanaan Pada tanggal 24 Maret 2011 Klien mendapatkan therapy medis berupa infuse NACL 28 tts /menit.peginterferon 180 mg 1x 1 minggu 27 . Bilirubin : direc*4.49 mg/<0. pct 3x1. Bilirubin: in direct*2. SGPT /ALT: 284 (normal F<31 m <37 u/l) 2. oral ceftriaxone 3x1.9 (normal 12-16 gr %) d. curcuma 2x1. lemas. 10. yaitu : a. nyeri perut. trombosit : 178-000 (normal 150.) Riwayat Kesehatan Lingkungan Orang tua klien mengatakan tidak ada resiko kecelakaan baik di lingkungan dalam rumah maupun di lingkungan halaman rumah.3) Spiritual Mereka yakin dan percaya penyakit yang di derita anak nya pasti akan sembuh dan yakin Tuhan itu ada.43 mg/d<0. HB: 11.9 c. 1.000ui) f. SGOT/AST : 320 (normal F<31 m<37 u/l) g.

terbaring tempat tidur.mulut kering. Rencana Keperawatan Nama klien/umur : ny. Klien bisa untuk melakukan mengurangi aktivitas kembali nyeri/membun uh virus cth: ceftriaxon perubahan Setelah di lakukan Mandiri: nutrisi:kurang dari tindakan keperawatan a. TTV : TD 110 mmHg. Klien tidak c.E/27 Tahun No. klien mengatakan terasa kepala terasa pusing. Kaji pola kebutuhan tubuh selama 3x24 jam di makan klien berhubungan harapkan kebutuhan b. perut kembung. kurang nafsu makan dan minum. mata dan air kencing kuning.terpasang infuse NACL 28 ttp/menit. Kaji ada nya 28 Paraf dan nama jelas . klien tampak lemas. lemas. RR :1 7x/menit. 4. NADI 102x/menit. mual muntah. Data Obyektif (DO): Pada tanggal 23 Maret 2011. BAK kuning dan Klien tidak tahu apa penyebabnya. Klien tenang berikan obat c. Data Focus Nama klien/umur No. Batasi nya berkurang pengunjung Kriteria hasil: klien a. klien dan keluarga nya tampak bingung saat ditanya tentang penyakit nya.kamar/Ruang : E/27 Tahun : 4(isolasi) /Merpati Data Subyektif (DS): Pada tanggal 23 Maret 2011. Berikan posisi tindakan keperawatan klien yang selama 2x24 jam di nyaman harapkan rasa nyeri b. Awasi TTV meringis Kolaborasi: b. kamar/Ruang : 4 (ISOLASI) /Merpati Tanggal No 23 maret 2011 1 Diagnosa Keperawatan Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan pembengakkan hati/hepar Tujuan dan kateria Rencana hasil tindakan Setelah di lakukan a. Suhu 38°c . nyeri perut.3.

Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan pembengakkan hati/hepar b. nafsu makan klien c. konsultasi dengan ahli diet RS tentang kebutuhan diet klien Paraf dan nama jelas 5. berikan trapi oral seperti Bcomple b. 29 . tenaga menjadi tapi sering kuat kembali kolaborasi: a. Implementasi Dan Evaluasi Implementasi Diagnosa I Hari/tgl kamis 24 maret 2011 Jam 08.50 : memberikan posisi yang nyaman kepada klaen mengatasi pengunjung klien mengobservasi TTV ND: 80 X / menit TD: 110/ 80 Jam 10.Tanggal No Diagnosa Tujuan dan kateria Rencana Keperawatan hasil tindakan dengan nutrisi terpenuhi mual dan Anoereksia/kurang KH: muntah nafsu makan a. Motivasi untuk makan porsi nasi optimal dalam c.5 Jam 12.30 : Jam 12. klien bisa menghabiskan 1 d.30 mmHg : S : 36.40 : RR : 20 x/ menit kolaborasi dengan dokter memberi obat (ceftriaxone) rasa mengurangi rasa nyeri. Timbang berat badan setiap bertambah hari b. berat badan klien porsi sedikit bertambah d. perubahan nutrisi:kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan Anoereksia/kurang nafsu makan 4. Prioritas Diagnosa Keperawatan a.

klien bisa istirahat/teneng TTV TD: 110/88 mmHg N : 80x /menit S: 36. sering makan tp sedikit.II dan III di lanjutkan.50 Jam 10. Diagnosa II S : klien mengatakan sudah 1 hari tidak mual/muntak lagi.muntak klien. bisa istirahat. Diagnosa II Hari/tgl kamis 24 maret 2011 Jam 08. A P : : gangguan nyaman nyeri sebagian teratasi.5 RR: 20x/menit. Intervensi I. tentang kebutuhan klien.klien sudah 1 hari tidak mual/muntak. A P : : perubahan nutrizi kurang dari kebutuhan tubuh sebagian teratasi. Evaluasi Diagnosa I Hari/tgl jumat 25 maret 2011 S O : : klien mengatakan perutnya masih nyeri skala 3-4. tampak sering makan tapi sedikit. 30 .30 Jam 12. kaji adanya mual. Intervensi I.untuk makan sedikit tapi sering. Hasil : klien makan sering tapi sedikit.30 : : : : kaji pola makan klien. timbang berat badan klien.30 Jam 12. tidak mual/muntak lagi sudah 1 hari. Jam 12.Hasil : nyeri berkurang. beri motifasi untuk makan tapi sedikit tapi sering. klien tampak sedikit susah istirahat.40 : konsultasi dengan ahli diet yang ada di RS. O : klien tampak tenang .II.dan III di lanjutka. klien tampak masih memegang perutnya. kliken sedikit bisa istirahat. memberikan terapi obat spt: B-complek.

hepatitis B.panas tinggi. Dalam bab ini penulis dapat menarik kesimpulan dan memberikan saran yang mungkin berguna untuk meningkatkan asuhan keperawatan yang berkualitas Pada hepatitis.mual. 31 .E dapat teratasi sebagian dalam waktu 1x30 menit.000-10.Hepatitis G.demam sakit kepala. lemas.2 2.9 3. disebabkan karena asupan makanan klien kurang. Hepatitis juga merupakaan kumpulan reaksi terhadap virus atau obat alkohol.hepatitis D. dimana tanda dan gejala sesuai dengan teori yaitu klien mengatakan hanya men ghabiskaan 1/2 porsi makan.E adalah hepatitis yang timbul akibat klien kurang nafsu makan.49 mg/<0. Hb :11.hepatitis E.E dilakukan pemeriksan darah lengkap yaitu: 1.diare. Leukosit:4. RSPAU ESNAWAN ANTARIKSA.nyeri perut.E dengan diagnosa medis hepatitis di ruang Merpati.BAB IV PENUTUP Setelah penulis menguraikan pembahasan dan asuhan keperawatan pada klien Ny. Dan adapun faktor prediposisi pada Ny.nyeri persendian.Hepatitis C. Bilirubin:direc*4. A. Dan diharapkan setelah dilakukan tindakan selama 3x24 jam dari semua diagnosa yang Ditemukan pada Ny.9 normal 12-16 gr% 4.dan diikuti fase kuning. dan kadang tubuhnya dingin. Kesimpulan Hepatitis bukan merupakaan penyakit melainkan merupakan virus atau ganguan peradangan pada fungsi hati. Trombosit :178-000 Hal ini terjadi disebabkan oleh kurangnya keingin tahuan klien dan keluarganya tentang virus hepatitis. Bilirubin:in direc*2.kemudian Ny. kangker hati dan kematian.000 5. Pada dasarnya ada bermacam-macam hepatitis yaitu Hepatitis A.43 mg/d<0.dan TT(transfusion transmitted virus) Gejala umum yang biasa terjadi pada seorang yang terkena virus hepatitis adalah: badan terasa lemas tidak nafsu makan.200 normal 5. karena 80% penderita terinfeksi bias menjadi infeksi menahun dan bias menjadi hepatitis kronik kemudian sirosis hati.muntah.rasa tidak enak dan nyeri pada perut. Dari semua virus hepatitis yang paling berbahaya dibandingkan dengan virus hepatitis lainya.

Reeves. Marrilyn E. J. Keperawatan Medikal Bedah. (2001). Elizabeth. J. (2001). Doengoes. (2001).DAFTAR PUSTAKA Charlene. Mansjoer. (2001). Jakarta : EGC. Arief. Suzanne. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1 Edisi 3. Jakarta : EGC. 32 . Erowin. C. Jakarta : Media Aesculapius. Jakarta : EGC. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Volume 2. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8. Jakarta : EGC. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Smeltzer.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful