BAB I PENDAHULUAN Pada penyusunan referat atau tinjauan pustaka dengan topik penyakit Amyotropic Lateral Sclerosis (untuk

selanjutnya kita singkat ‘ALS’) dan aspek rehabilitasinya ini bertujuan untuk mengetahui seluk-beluk dari penyakit ALS dan bagaimanakah peran rehabilitasi medik dalam mengatasi kelainan yang ditimbulkan oleh penyakit ini, terutama dari segi kelainan muskuloskeletal sebagai akibat langsung dari penyakit ini, disamping kelainan lain seperti aspek psikologis, sosial, dan sebagainya. Amyotropic Lateral Sclerosis (ALS) merupakan suatu penyakit yang disebabkan kelainan motor neuron yang insidennya adalah 1 atau 2 per 100.000 penduduk dan resiko seumur hidup adalah 1 per 800 penduduk.(sumber data: Dunckley,Travis, et al, WholeGenome Analysis of Sporadic ALS, downloaded from www.nejm.org on August 6, 2008. Copyright © 2007 Massachusetts Medical Society.) Kata “amyotropic” digunakan pada nama penyakit ini karena beberapa gejala klinis yang muncul adalah muscle atrophy, kelemahan, dan fasikulasi yang merupakan ciri – ciri dari kelainan lower motor neuron. Sedangkan kata “Lateral Sclerosis” digunakan karena penyakit menunjukkan tanda klinis keras pada palpasi kolumna lateralis medula spinalis pada otopsi, dimana terdapat gliosis pada traktus kortikospinalis lateralis yang mengalami degenerasi. Dan pada pemeriksaan neurologis terdapat peningkatan refleks tendon, terdapat refleks Hoffmann, Babinski sign, yang menunjukkan bahwa ALS juga terdapat lesi pada Upper Motor Neuron. (Rowland, Lewis P.,M.D., et al, Amyotrophic Lateral Sclerosis, pg 1688, nejm, vol.344, no.22, May 31, 2001, wwe.nejm.org, Massachusetts Medical Society.)

1

serta “tropic” artinya makanan. Lewy bodies. Manipulasi ekspresi mutant SOD1 ini terjadi di motor neuron atau pun di mikroglia. Mikroglia normal berfungsi melindungi sel neuron dari trauma atau infeksi. dan Bunani bodies. basophilic inclusions.2000) 2. Kalau digabung artinya tidak ada makanan untuk otot.2000). dan arti sclerosis artinya jaringan ikat atau pengerasan. Secara etiomologi amyotropic berasal dari bahasa yunani yang berasal dari kata “a” artinya tidak ada atau negative dan “myo” berarti otot. Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) merupakan penyakit motor neuron kronik yang ditandai dengan adanya degenerasi progresif dari neuron motoris di kornu anterior medula spinalis. (1. maladie de charcot atau motor neuron disease adalah suatu penyakit yang progresif fatal neurodegenerative disease yang disebabkan oleh degenerasi motor neuron. Ada yang disebabkan proses autoimun karena infeksi virus terutama poliovirus yang mengakibatkan kerusakan neuronal. Sedangkan lateral artinya medulla spinalis dimana control dan persarafan didapatkan. Pada ALS terjadi selektif degenerasi motor neuron yang disebabkan faktor genetik dimana terjadi mutasi pada pengkodean protein SuperOxide Dismutase 1 (SOD1). dimana terjadi kelainan pada kromosom 2 atau 21. (1.2000) Secara mikroskopis abnormalitas dendrit yang diwarnai dengan Golgi staining menunjukkan inclusion bodies yakni semacam hyalin inclusions. tetapi mikroglia yang terkontaminasi SOD1 menjadi kehilangan 2 .Gilroy. dan neuron-neuron area motorik di lobus frontalis (kortikospinalis lateralis). nukleus motoris di batang otak. ALS pada 10% kasus diturunkan secara autosomal dominan atau autosomal resesif. Etiologi dan patologi Etiologi belum diketahui dengan pasti.BAB II TINJAUAN PUSTAKA AMYOTROPHIC LATERAL SCLEROSIS 2. Bisa disebabkan mutasi gen oleh karena zat – zat toksik seperti ion superoksid radikal bebas.Gilroy. (Gilroy. Definisi Amyotropic lateral sclerosis sering disebut Lou Gehrig’s disease.1.2.

fungsi protektifnya. seperti: logam/baja. 2007. Beberapa kemungkinan yang bisa menjadi penyebab ALS. Infeksi virus kronis. ALS-Are Microglia Killing Motor Neurons. David R. d. dan mangan dapat menjadi penyebab ALS walaupun belum cukup bukti untuk itu. selenium.org on July 5. seperti Polio virus yang menyebabkan kerusakan akut kornu anterior dan bisa juga menyebabkan infeksi polio kronis yang secara teori dapat menimbulkan penyakit motor neuron.D. b. antara lain: a.Ph. c. 3 dengan defisiensi .. Downloaded from www.nejm. Aging. Copyright © 2006 Massachusetts Medical Sociaty). Secara mikroskopis ditemukan virus-like particle pada penyakit motor neuron. defisiensi fosfat yang dikaitkan kalsium kronik. justru mengkontaminasi sel-sel motor neuron dengan toksin. Toksin.. Mineral: hipoparatiroid. dan hal ini dapat dicetuskan karena memang sebelumnya ada kelainan genetik. tetapi transmisi atau penularan ke hewan primata selain manusia tidak pernah berhasil. proses penuaan dini yang menyebabkan kemunduran fungsi sel – sel motorik. (Borchelt. merkuri. timah.

juga terjadi progressive muscular atrophy. . Prevalensi ALS merupakan penyakit yang jarang di masyarakat dengan prevalensi 2 per 100. Dengan perbandingan laki:perempuan = 1. Adakalanya gejala klinis diawali lesi nervus kranialis yang progresif. f. Sedangkan secara etnis insiden tinggi di Pasifik Selatan sedangkan suku Afrika lebih rendah (gen). Tanpa melibatkan jaras-jaras sensoris. mempunyai peran penting pada penyakit degeneratif seperti ALS. Gejala Klinik Sesuai dengan topis yang terkena.1 : 1.Lindsay. karena lesi pada nukleus motorik dari nervus kranialis. terkait dengan kelainan kromososm 21 yang menjadi lokus untuk enzim superoxide dismutase (SOD).3. fasikulasi otot-otot kecil di tangan. Gejala klinis diawali dengan karena lesi di kornu anterior medula spinalis: kelemahan otot. Dengan usia rata – rata 66 tahun. seperti kelemahan otot wajah. yang menunjukkan tanda lesi motorik perifer.Guamanian ALS Familiar ALS sekitar 4%-10% dari total ALS dan disebabkan oleh karena genetik faktor.Sporadic ALS . (3. pada umumnya sekitar 90%-95% adalah masuk dalam sporadik ALS dan tidak diketahui secara pasti hubungan genetika.4. Excitotoxins. Genetik. Pemeriksaan sensoris normal. Ada klasifikasi ALS berdasarkan 3 group besar secara epidemologi . 2. excitatory amino acids seperti glutamat. menelan.e. ALS menimbulkan gejala antara lain progressive bulbar palsy.Familiar ALS .000 penduduk. dan juga didapatkan lesi motorik tipe sentral dengan didapatkannya peningkatan refleksrefleks tendon yang menjelaskan keterlibatan lesi di jaras kortikospinalis lateralis.1997) 2. Pada umumnya menyerang di umur 40-60 tahun. Sedangkan Guamaian ALS terjadi menyebar merata di daerah kepulauan pasifik dari Guam. kemudian pasien mengeluh progesif disartria dan 4 . mengunyah. tetapi bisa juga menyerang dibawah atau diatas umur tersebut.

dan nuklei okulomotor biasanya jarang terlibat. 2. Secara klinis gejala UMN dan LMN ada 4 regio : Central Nervous Sistem dan batang otak ( bulbar cranial motor neuron) Medula spinalis cervical (cornu anterior) Medula spinalis thoracal ( cornu anterior) Medula spinalis lumbosacral (cornu anterior) Penegakkan diagnosa tanpa adanya pemeriksaan patologi dapat dibuat dalam beberapa tingkatan antara lain : 1. ALS definitif family. (1. ALS definitif klinis : Ditandai dengan gejala UMN LMN di tiga regio 2. Sedangkan gejala LMN ditandai dengan adanya kelemahan otot yang disertai atrofi otot dan fasikulasi otot – otot kecil. Didapatkan gejala : kelemahan lower motor neuron baik yang dibuktikan dengan pemeriksaan klinik. laboratory-supported ALS Ditemukan gejala UMN dan atau LMN di minimal satu regio dan dapat diidentifikasi penyebab mutasi gen SOD1 dan proband atau positif 5 . Tidak didapatkan : adanya penyakit lain yang memberi gejala degenerasi LMN atau UMN yang dibuktikan secara eletrofisiologi atau patologi DAN adanya proses penyakit lain yang dibuktikan dengan pemeriksaan neuroimaging berdasarkan klinis dan eletrofisiologis. Fasikulasi lidah terlihat sangat jelas pada pemeriksaan.disfagia. Dan hal inilah yang menjadi ciri khas dari ALS. Gilroy) Kriteria diagnostik menurut El-escorial dibagi secara garis besar : 1. Gejala UMN yang timbul ditandai dengan peningkatan refleks fisiologis dan ditemukannya refleks patologis. pemeriksaan eletrofisiologi dan pemeriksaan neuropatologi DAN degenerasi upper motor neuron dengan pemeriksaan klinik DAN gejala satu regio atau beberapa regio secara progresif berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan neurologis. yaitu adanya gejala motoris campuran UMN dan LMN dan tidak disertai kelainan sensoris.

5. Kemungkinan ALS Klinis : Bila didapatkan adanya gejala UMN dan LMN sedikitnya 2 regio dengan gejala UMN rostral di atas LMN 4.keluarga yang terkena ALS dengan identifikasi adanya mutasi gen SOD1 di keluarganya. Kemungkinan ALS klinis.Clinical Neuro) 6 . (Greenberg. Suspected ALS : Bila hanya ditemukan sindroma LMN murni. 6. jika ditemukan hanya satu gejala disfungsi LMN dan UMN satu regio secara bersama-sama atau gejala kelainan UMN dua atau lebih regio atau gejala LMN rostral gejala UMN. 3. Kemungkinan ALS didukung laboratorium-support ALS. dengan adanya gejala kelainan UMN dan LMN hanya satu regio atau hanya gejala UMN satu regio dan gejala LMN dibuktikan dengan adanya kelainan EMG sedikitnya 2 tungkai.

Syphilis.MRI.2005. EMG 2.6. L. Juvenile Inclusion Body Amyotrophic Lateral Sclerosis. 1996). Braddom.. 5.5. Iain. 2. Prosedur Diagnostik 1. Blackwell Publising. Parese yang disebabkan myelopati oleh karena tumor myelum. 3. Essential Neurology. Multifocal motor neuropathy. Combined cervical myeloradiculopathy dan lumbosacral radiculopathy. 2. M. Benign fasicilations. Familial Amyotrophic Lateral Sclerosis. Human T cells Leucemia Virus (HTLV). WB. 9. Massachussets. Ensefalitis. Postencephalitic Amyotrophic Lateral Sclerosis. Community Hospitals Indianapolis. Indiana Univ.D. Multiple Sclerosis. 2. tak ada kelainan pada CT. Indiana.(Wilkinson. abses. Saunders Company. pg 157. Lyme disease. yaitu:      Classic Amyotrophic Lateral Sclerosis. editor Ralph M. Western Pacific Amyotrophic Lateral Sclerosis. Graham. Buschbacher. Physical Medicine & Rehabilitation. Muscle Biopsy 3. Adhesive arachnoiditis. 7. Fpourth Edition. 4.S.) Ada beberapa sumber pustaka yang membagi ALS menjadi beberapa jenis. Medical Center. 6. Randall. M.. Lennox. 7 . muscle Enzymes: Creatinine Phosphokinase 4.. Diagnosis Banding 1. myokimia. CSF normal 5. myelografi. (9. spondilosis. USA. 8. 10.

Terapi ALS antara lain: immunosupresan. Terapi Terapi pada ALS hingga saat ini masih belum efektif karena kerusakannya yang progresif. menghilangkan kram otot. Dokter memberi obat untuk mengurangi kelemahan. Samuel. immunoglobulin. selegiline (MAO inhibitor). Akan tetapi obat ini tidak dapat mengembalikan kerusakan motor neuron serta harus diawasi tentang fungsi liver. Martin. Manual of Neurology) 2. pekerja sosial dan home care dan perawat di rumah. lamotrigine dan gabapentin untuk menekan release glutamat.7. 12.11. mengontrol kekakuan otot. fisioterapist. memperbaiki fungsi kardiovaskular dan menghindari kelemahan serta depresi.(1) Apabila terdapat kelemahan otot-otot pernafasan maka pemberian noctural ventilator assisantance diperlukan dengan cara intermittint positive presure ventilation 8 . dosis 50 mg q 12h. Progressive Muscular Atrophy. Supportif care merupakan pilihan terbaik dengan adanya tim multidisiplin yang terdiri dari beberapa profesional seperti dokter. ceftriaxone.(1) Pengobatan lain adalah menghilangkan gejala dan memperbaiki kualitas hidup. dan mengurangi pengeluran ludah termasuk obat-obatan anti depresi sedangkan farmasi memberi informasi bagaimana cara makan obat memonitor obat dan mencegah terjadinya interaksi obat yang merugikan. Primary Lateral Sclerosis. (1) Fungsi fisioterapi adalah membimbing penderita untuk secara mandiri dapat menggunakan alat-alat fisioterapi yang bersifat low impact aerobic exercise seperti berjalan. 3. berenang dan bersepeda stationary yang dapat mencegah kelumpuhan otot. Dilaporkan bahwa recombinant human insulin – like growth factor-1 bisa menekan progresifitas ALS. dilaporkan bisa meningkatkan angka survival ALS. farmasi. Bila penderita susah bicara maka ahli terapi bicara akan memberi tehnik bicara secara spesifik untuk memungkinkan penderita terus dapat berkomunikasi. acetylcystein. terapi bicara dapat diberikan oleh ahli terapis dengan memberi penlajaran bagaimana cara mengeluarkan suara yang lancar dan jelas. suatu antagonis glutamat.(1) Riluzole. pysostigmin. (3.4-aminopyridine.

atau dengan metode bilevel positif airway presure selama panderita tidur. karena resiko tinggi terjadinya aspirasi pneomonia. (1) 2. McGraw-Hill Companies. pg 357-360. (1) (Gilroy. John. 2000. Basic Neurology. Prognosis Angka harapan hidup pasien dengan disfagia lebih kecil dibanding dengan pasien dengan kelemahan ekstremitas.8. Dan rata-rata angka survival ALS adalah 3 tahun. Third Edition. Bila penderita tidak bisa bernafas sama sekali maka perlu diberi ventilator lewat mulut atau hidung langsung ke trakhea untuk pemakaian jangka panjang.) 9 .

fungsi seksual. secara sinergis rehabilitasi bertujuan mengurangi kelemahan. menghilangkan kram otot. 10 . Fungsi fisioterapist adalah membimbing penderita agar dapat menggunakan alatalat fisioterapi secara mandiri terutama yang bersifat low impact aerobic exercise seperti berjalan.BAB III ASPEK REHABILITASI PADA ALS 3. Terapi bicara dapat diberikan oleh ahli speech terapist dengan memberi pelajaran bagaimana cara mengeluarkan suara yang lancar dan jelas. mengurangi keadaan cacad sebanyak mungkin. berat ringannya penyakit. terapi bicara. Jika diurutkan dari kondisi ringan hingga berat adalah dari impairment – disability – handicap. Selain diberikan terapi medikamentosa. memperbaiki fungsi menelan dan mengurangi pengeluaran ludah. dan motivasi penderita. Bila penderita susah bicara maka ahli terapi bicara akan memberi tehnik bicara secara spesifik untuk memungkinkan penderita terus dapat berkomunikasi.1. Dan keberhasilan terapi rehabilitasi medik tergantung kepada: kapan rehabilitasi diberikan. Tujuan Rehabilitasi pada ALS Tujuan suatu rehabilitasi medis adalah meniadakan keadaan cacad bila mungkin. memperbaiki fungsi kardiovaskular dan menghindari kelemahan serta depresi.2. Jenis terapi rehabilitasi medik yang bisa diberikan pada penderita ALS adalah exercise. dan melatih dengan sisi kecacadan untuk dapat hidup dan bekerja. mengontrol kekakuan otot. 3. modalitas fisik. mengingat sifat kelainan penyakit ini yang progresif. prostetik-ortotik. dan mengatasi aspek-aspek psikologis. Hal ini juga dipengaruhi oleh kondisi penderita ALS dimana kondisi ini menunjukkan progresifitas dari penyakit ALS itu sendiri. dan medikamentosa. berenang dan bersepeda stationary yang dapat mencegah kelumpuhan otot. Rehabilitasi Secara Umum Peran bidang rehabilitasi medik pada kasus Amyotrophic Lateral Sclerosis sangat besar.

Indikator Keberhasilan Kita ketahui bahwa indikator keberhasilan program rehabilitasi medis adalah pemulihan kondisi fisik. Pada terapi latihan ini harus dihindari keadaan kelelahan pada penderita. mampu bekerja lagi sesuai kondisinya. Terapi pilihan antara lain adalah terapi berenang dan bersepeda. Rehabilitasi Respirasi Apabila terdapat kelemahan otot-otot pernafasan maka pemberian noctural ventilator assistance diperlukan dengan cara intermittent positive presure ventilation atau dengan metode bilevel positif airway presure selama panderita tidur. yang diharapkan dapat meningkatkan kekuatan otot. dan tak kalah pentingnya adalah resosialisasi. Tetapi pada beberapa penderita menolak ataupun malas 11 . pemulihan kondisi psikologik. karena terapi ini melibatkan banyak fungsi otot. 3. untuk itu porsi latihan diatur sedemikian rupa sehingga jadwal latihan tidak terlalu lama tetapi frekuensinya lebih sering. Memang sangat berat untuk mencapai indikator yang ideal pada penderita ALS. maka diperlukan latihan pasif. Pertama dengan melakukan terapi latihan aktif.5. tetapi paling tidak selama memungkinkan dilakukan bantuan terapi yang bisa meningkatkan kualitas hidup penderita. ALS dengan Spastisitas Pada pasien ALS yang mengalami spastisitas merupakan kendala yang sering menyebabkan kelainan fungsi motorik yang berat. (10) 3. Tujuan terapi latihan adalah untuk meningkatkan kekuatan otot untuk mempertahankan fungsi dari masing-masing otot tersebut.4.3.3. hal ini harus tetap kita upayakan.(10) Pada fase awal penyakit ALS diusahakan untuk mempertahankan range of motion dan untuk mencegah kontraktur. Pada fase selanjutnya dimana penyakit sudah berkembang progresif. Bila penderita tidak bisa bernafas sama sekali maka perlu diberi ventilator lewat mulut atau hidung langsung ke trakhea untuk pemakaian jangka panjang. juga diperlukan fisio terapi dini yang lebih intensif. yang kadang dibantu bila perlu. maka selain diberikan obat Baclofen dan injeksi thyrotropin-releasing hormone.

karena selain mengenai fungsi fisik. Masing – masing jenis latihan disesuaikan dengan keadaan penderita. pemakaian pemanas (ultrasound diathermi) dan terapi peregangan otot.untuk untuk melakukan terapi ini.(10) Pada latihan penguatan otot (strengthening exercise) diperlukan jika kekuatan motoris penderita adalah 3 ke atas. isotonic exercise. Maka peran dari rehabilitasi sangat diperlukan untuk mengembalikan fungsi vital dari kelainan 12 . soft cervical collar untuk mencegah fleksi leher. tungkai. yang diharapkan sama baiknya pada saat melakukan aktifitas latihan di ruang perawatan. dan isokinetic exercise. dan wheelchair.6. untuk itu para terapist harus tanggap dan terus gencar memompa semangat para pasien tersebut. tetapi yang paling penting adalah aspek psikologis dan dampak sosial yang ditimbulkannya. beberapa jenis kruk. dan juga sekaligus memperbaiki kemampuan untuk aktifitas sehari-hari. Positioning dan terapi latihan diperlukan untuk mencegah deformitas. Fungsi Seksual Pada kasus dimana terdapat kelainan fungsi seksual yang mengakibatkan suatu permasalahan tersendiri bagi penderita. 3. Dan beberapa ortesa diperlukan seperti short and long opponent hand splint. Mempertahankan range of motion dilakukan lebih progresif. Dibutuhkan beberapa ortosa untuk beberapa jenis penyakit ALS ini. antara lain: Lightweight molded plastic ankle-foot orthoses.(10) 3. Meliputi isometric exercise. Dan pasien harus diberitahu bagaimana posisi yang aman bila terjatuh. dalam waktu tidak lama tetapi rutin. Dan beberapa kasus memerlukan terapi operatif untuk meningkatkan fungsi otot. Dan penderita harus diberi edukasi agar secara rutin melakukan terapi latihan di rumahnya seperti latihan senam lengan. foot-ankle orthosis untuk penderita yang mengalami dropfoot.7. maka diperlukan pertolongan atau asistensi untuk membantu fungsi sosial dalam jangka lama. Pemakaian Alat Bantu Pada kelemahan yang progresif dan adanya kelainan fungsi yang berlanjut. (10) Selain itu fisioterapi bertujuan untuk mengantisipasi terjadinya sifat penyakit ALS yang progresif. untuk penggunaan jangka panjang atau untuk mobilisasi. misalnya penderita ALS dengan hipertensi dan penyakit jantung tidak dianjurkan menggunakan jenis latihan isometrik dan yang dianjurkan adalah jenis latihan isokinetik.

yang mempengaruhi semangat dan kemauan untuk terus berlatih dan bertahan hidup. selanjutnya jika diperlukan tindakan invasif yaitu operasi cricopharyngeal myotomy. Dengan kata lain area ini masih intak. (10) 3.(11) 3. ALS dengan hipersalivasi Kondisi hipersalivasi juga merupakan permasalahan tersendiri. Maka diindikasikan untuk pemberian obat neostigmine dan jenis makanan yang diberikan perlu diblender. atau esophagostomy.8.ini. Kondisi ini semua menyebabkan depresi penderita ALS. termasuk memperburuk kondisi intelektual. masalah ejakulasi. dan lubrikasi. jarang mengalami kelainan libido dan lesi pada area sensasi erektil. Disamping diberikan obat-obat jenis anticholinergik untuk mengurangi hipersalivasi. ALS merupakan penyakit yang destruksif. Di samping pemakaian terapi farmakologis yang sering dipergunakan seperti obat antidepresan. Umumnya penderita ALS yang mengalami penurunan fungsi seksual seperti kelainan ereksi. Dan saat ini obat antidepresan yang menjadi pilihan adalah dari golongan selective serotonine re-uptake inhibitor. tetapi memiliki efek samping misalnya kelelahan dan mulut kering. dan jarang gastrotomy. Kondisi lain yang bisa terjadi akibat dari bulbar palsy adalah kesulitan menelan. Masalah Depresi Hal yang tidak kalah penting dari yang disebutkan di atas adalah komponen emosional penderita. hal ini memperberat kondisi penderita dengan hipersalivasi. Untuk mengatasinya diperlukan terapi baik secara individual maupun terapi kelompok untuk menumbuhkan semangat. (12) 13 . dan umumnya depresi ini tertangani hanya sebagian saja. Salah satu solusi dari permasalahan ini adalah dengan terapi operatif Transtympanic Neurectomy. Hal ini sangat menyusahkan bagi penderita ALS.9. Secara mekanik diperlukan suction untuk mencegah aspirasi pneumonia.

Kalau digabung artinya tidak ada makanan untuk otot. Amyotropic Lateral Sclerosis memberikan gejala klinis campuran dari kelemahan motoris tipe UMN dan LMN. modalitas fisik. Beberapa kemungkinan yang bisa menjadi penyebab ALS. timah.000 penduduk dan resiko seumur hidup adalah 1 per 800 penduduk. menghilangkan kram otot. Jenis terapi rehabilitasi medik yang bisa diberikan pada penderita ALS adalah exercise. Excitotoxins Peran bidang rehabilitasi medik pada kasus Amyotrophic Lateral Sclerosis sangat besar. fungsi seksual. Selain diberikan terapi medikamentosa. mengingat sifat kelainan penyakit ini yang progresif. antara lain: Aging. toksin. prostetik-ortotik. dan mangan. secara sinergis rehabilitasi bertujuan mengurangi kelemahan. tanpa disertai kelainan sensoris. genetik. Sedangkan lateral artinya medulla spinalis dimana kontrol dan persarafan didapatkan. secara mikroskopis ditemukan virus-like particle pada penyakit motor neuron. proses penuaan dini yang menyebabkan kemunduran fungsi sel – sel motorik. seperti: logam/baja.BAB IV KESIMPULAN Amyotropic Lateral Sclerosis (ALS) merupakan suatu penyakit yang disebabkan kelainan motor neuron yang insidennya adalah 1 atau 2 per 100. mengontrol kekakuan otot. seperti Polio virus. memperbaiki fungsi menelan dan mengurangi pengeluaran ludah. dan arti sclerosis artinya jaringan ikat atau pengerasan. terkait dengan kelainan kromososm 21 yang menjadi lokus 14 . merkuri. selenium. serta “tropic” artinya makanan. Secara etiomologi amyotropic berasal dari bahasa yunani yang berasal dari kata “A” artinya tidak ada atau negative dan “myo” berarti otot. mineral: hipoparatiroid. infeksi virus kronis. dengan defisiensi kalsium kronik. dan medikamentosa. defisiensi fosfat yang dikaitkan untuk enzim superoxide dismutase (SOD). dan mengatasi aspek-aspek psikologis. terapi bicara.

. Basic Neurology. Essential Neurology.. pg 157. 5. Office Practice of Neurology. Rowland.org. Third Edition.. 2007. Saunders Company. J. pg 236. Indiana Univ. editor Ralph M. nejm. David R.S. Lindsay.MS.D. MD. 1992.D. Manual of Neurologic Therapeutics. Lehmann. Lennox. pg 357360. Neurology and Neurosurgery Illustrated. 9. Churchill Livingstone.MD.22. Blackwell Publising. et al. Fpourth Edition. 4. 3rd edition. 11. 4rd Edition. 10. A. USA. JB. Joel A. Clinical Neurology. pg 553.2005. Samuels. 5th Edition. Copyright © 2007 Massachusetts Medical Society.W. Greenberg. USA.. Steven K. M.nejm. Elsevier Science.. 2000.. Graham.. Buschbacher. Rehabilitation Medicine Principles & Practice. Handbook of Physical Medicine &Rehabilitation. ALS-Are Microglia Killing Motor Neurons. Community Hospitals Indianapolis. Randall. Saunders Company. McGraw-Hill Companies..M. Whole-Genome Analysis of Sporadic ALS.. 6. 8. May 31.. Copyright © 2006 Massachusetts Medical Sociaty. 3.D.D. Martin. Iain. wwe. Second Edition. Braddom. Kottke. 1997..org on July 5. WB. M.M. Massachussets..Ph. Churchill Livingstone.Travis. Martin A. 1993. Indiana. Downloaded from www.344. 2003. Feske. vol.nejm. WB. Justus J. David. Amyotrophic Lateral Sclerosis. MD. 2002. Samuels.. no. Dunckley. Massachusetts Medical Society. et all. 2. et al. Lippincott Williams & Wilkins.. 7. Seventh Edition.. Lewis P. Wilkinson.DAFTAR PUSTAKA 1.. Lippincott Company Philadelphia. 2001. Borchelt. De Lisa. Gilroy. 15 . L. Frederic. pg 1688. McGraw-Hill/Appleton & Lange. downloaded from www. 2nd Edition. 2004. K. 1996. Medical Center..D. John.nejm.. 12. 2008. M. Physical Medicine & Rehabilitation.org on August 6.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful