Skripsi Sammy Fix

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Biosurfaktan atau surface active compound merupakan sekelompok molekul– molekul heterogen aktif yang diproduksi oleh mikroorganisme yang menempel pada permukaan sel atau diekskresikan secara ekstraseluler di dalam medium pertumbuhan (Tabatabae, 2005). Molekul–molekul ini mengurangi tegangan permukaan atau surface tension (SFT) dan Critical Micelle Concentration (CMC) dalam larutan cair dan campuran hidrokarbon (Banat, 1995). Tegangan permukaan atau surface tension (SFT) merupakan usaha atau energi yang dibutuhkan untuk menciptakan suatu unit area pada batas antara cairan dengan cairan atau cairan dengan udara di atasnya. CMC merupakan titik kritis saat penambahan molekul surfaktan akan mengakibatkan terbentuknya misel-misel (Rosen, 1978). Misel merupakan suatu mikroemulsi yang terbentuk oleh biosurfaktan. Molekul-molekul biosurfaktan akan menghasilkan suatu mikroemulsi sehingga hidrokarbon dapat larut dalam air atau air dapat larut dalam hidrokarbon (Banat, 1995). Surfaktan yang disintesis secara kimiawi telah digunakan dalam industri perminyakan untuk membantu membersihkan tumpahan minyak, dan juga meningkatkan pengambilan minyak dari dalam kilang–kilang minyak. Senyawa– senyawa ini tidak dapat didegradasi secara biologis dan dapat bersifat toksik terhadap

1

2

lingkungan. Biosurfaktan memiliki keunggulan dibandingkan dengan surfaktan yang disintesis secara kimiawi karena mempunyai kadar toksisitas yang rendah, dapat didegradasi secara biologis, efektif terhadap suhu, pH dan salinitas ekstrim, serta mudah disintesis. Biosurfaktan merupakan calon potensial untuk aplikasi komersial dalam industri obat–obatan dan makanan serta dalam industri pengambilan minyak (Banat, 1995). Air formasi merupakan air asin yang berada dalam reservoir yang terdiri dari berbagai macam garam (terutama NaCl). Air formasi memiliki peran dalam menentukan terakumulasinya minyak bumi dalam reservoir. Air injeksi merupakan air yang diinjeksikan ke dalam reservoir untuk kegiatan peningkatan perolehan minyak bumi. Saat diinjeksikan air ini berupa uap (steam) dan berfungsi untuk menurunkan viskositas minyak bumi. Air formasi dan air injeksi akan terakumulasi dalam reservoir, sehingga berhubungan langsung dengan minyak bumi

(Koesoemadinata, 1980). Umumnya pengisolasian bakteri dilakukan langsung dari minyak bumi. Oleh karena itu akan dicoba untuk mengisolasi bakteri dari air formasi dan air injeksi yang berhubungan langsung dengan minyak bumi. Biosurfaktan memiliki kemampuan untuk membentuk suatu emulsi antara dua buah cairan yang tidak dapat bercampur seperti air dengan minyak. Kemampuan emulsifikasi dari suatu biosurfaktan dapat diketahui dengan menghitung indeks emulsifikasi. Uji E24 merupakan suatu uji untuk mengetahui kemampuan emulsifikasi biosurfaktan yang dihasilkan oleh suatu isolat bakteri dalam jangka waktu 24 jam (Cooper, 1987). Menurut Tabatabae (2005), biosurfaktan yang dihasilkan oleh Isolat-Isolat bakteri dengan indeks emulsifikasi (E24) diatas 70%

3

dapat dipilih, diseleksi dan diuji lebih lanjut kemampuan penurunan tegangan permukaannya. Microbial enhanced oil recovery (MEOR) merupakan suatu kegiatan peningkatan perolehan minyak bumi dengan bantuan dari mikroorganisme (Sharma, 1993). Penggunaan mikroorganisme untuk peningkatan perolehan minyak bumi MEOR telah banyak diteliti. Pada penelitian ini akan dilakukan isolasi bakteri penghasil biosurfaktan dari air formasi dan air injeksi yang berpotensi dipergunakan dalam bidang MEOR.

1.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang dapat diidentifikasi masalah-masalah sebagai berikut: 1. Apakah bakteri-bakteri yang diisolasi dari air formasi dan air injeksi berpotensi untuk dipergunakan dalam kegiatan MEOR. 2. Berapakah Indeks emulsifikasi (E24) isolat-isolat tersebut. 3. Apakah ada pengaruh isolat – isolat bakteri yang diisolasi dari air formasi dan air injeksi terhadap tegangan permukaan atau surface tension (SFT) dan pH medium pertumbuhan.

1.3 Maksud dan Tujuan Maksud dari penelitian adalah untuk mengisolasi dan menyeleksi bakteribakteri penghasil biosurfaktan dari air formasi dan air injeksi. Selain itu juga untuk menguji kemampuan emulsifikasi dan pengaruh aktivitas bakteri-bakteri penghasil

4

biosurfaktan asal air formasi dan air injeksi terhadap tegangan permukaan atau surface tension dan pH medium pertumbuhan. Tujuan dari penelitian adalah untuk memperoleh isolat-isolat bakteri yang memiliki potensi untuk digunakan dalam kegiatan MEOR.

1.4 Kegunaan Penelitian Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi mengenai potensi isolat-isolat bakteri penghasil biosurfaktan yang berasal dari air formasi dan injeksi untuk kegiatan peningkatan perolehan minyak bumi (MEOR).

1.5 Kerangka Pemikiran dan Hipotesis Di dalam kerak bumi, lapisan reservoir akan selalu terisi oleh air. Hampir tidak pernah ditemukan suatu lapisan reservoir tanpa air. Air merupakan suatu bagian penting dalam reservoir karena memiliki peran dalam hal akumulasi minyak bumi. Air dapat menentukan terakumulasinya minyak bumi dalam suatu reservoir. Tanpa adanya air dalam formasi (air formasi), minyak bumi tidak akan dapat terkumpulkan. Hal ini berarti bahwa keberadaan air formasi selalu berdampingan dengan minyak bumi (Koesoemadinata, 1980). Peningkatan perolehan minyak bumi dapat dilakukan dengan metode Enhanced Oil Recovery (EOR). Salah satu metode EOR yang dikenal adalah dengan penginjeksian uap (steam). Penggunaan uap dapat menurunkan viskositas minyak, sehingga minyak dapat lebih mudah diambil. Air yang dipergunakan untuk dijadikan

5

uap berasal dari sumber air yang berasal dari sekeliling reservoir. Air yang diinjeksikan ke dalam reservoir dikenal dengan air injeksi (Sharma, 1993). Surfaktan merupakan molekul amphifatik dengan gugus hidrofobik dan hidrofilik yang memisah pada daerah pertemuan antara fluida dengan tingkat polaritas dan ikatan hidrogen yang berbeda seperti minyak/air atau udara/air. Kedua gugus inilah yang menyebabkan surfaktan dapat mengurangi tegangan permukaan atau surface tension dan tegangan antar muka serta membentuk mikroemulsi sehingga hidrokarbon dapat larut dalam air atau air dapat larut dalam hidrokarbon (Desai, 1997). Hampir semua surfaktan yang dipergunakan saat ini diperoleh secara kimiawi dari petroleum. Tetapi ketertarikan akan surfaktan dari mikroba telah meningkat beberapa tahun belakangan ini karena beranekaragam, ramah terhadap lingkungan, dapat diproduksi melalui proses fermentasi, dan berpotensi digunakan dalam perlindungan lingkungan, pengambilan minyak bumi, kesehatan dan industri pengolahan makanan (Desai, 1997). Biosurfaktan atau surface active compound merupakan sekelompok molekul – molekul heterogen aktif yang diproduksi oleh mikroorganisme yang dapat mengurangi tegangan permukaan atau surface tension dan memiliki kemampuan untuk membentuk emulsi (emulsifikasi), sehingga potensial untuk dipergunakan dalam berbagai bidang industri (Tabatabaee, 2005). Pengidentifikasian bakteri penghasil biosurfaktan dapat dipastikan dengan pengukuran tegangan permukaan. Penurunan tegangan permukaan oleh bakteri yang diisolasi mengindikasikan produksi suatu surfaktan (Tabatabae, 2005). Hasil serupa

6 didapatkan oleh Tabatabae (2005) dan Banat et al. isolat-isolat bakteri yang berhasil disolasi dapat menurunkan tegangan permukaan medium pertumbuhan sampai dibawah 40 mN/m. penurunan tegangan permukaan medium uji terjadi secara cepat dan mencapai nilai terendah (36 mN/m) selama fase eskponensial setelah sekitar 36-48 jam pertumbuhan. 1978). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Tabatabae (2005). Hal ini mengindikasikan bahwa biosintesis biosurfaktan terjadi selama fase eksponensial pertumbuhan bakteri. Setelah 1436 jam pertumbuhan konsentrasi surfaktan mulai meningkat dan mencapai jumlah tertinggi setelah sekitar 36 jam. Indeks emulsifikasi adalah suatu indeks yang menyatakan persentase kemampuan pembentukan emulsi oleh suatu isolat bakteri. Isolat-isolat bakteri dapat mengurangi tegangan permukaan pada berbagai kisaran suhu. Abu-Ruwaida et al. adalah pada suhu 37oC. Dua cairan murni yang tidak dapat bercampur tidak akan dapat membentuk emulsi. (1991) menemukan bahwa suhu optimum bagi produksi biosurfaktan oleh Rhodococcus sp. Perhitungan indeks emulsifikasi dapat . Komponen ketiga ini disebut agen emulsifikasi dan biasanya merupakan suatu surfaktan (surface active agent) (Rosen. Emulsifikasi merupakan suatu proses saat dua buah cairan yang tidak dapat bercampur distabilkan oleh agen emulsifikasi sehingga terbentuk suatu emulsi. tetapi suhu terbaik bagi isolat-isolat yang terpilih adalah antara 30-40oC. sehingga diperkirakan bahwa biosurfaktan merupakan metabolit primer yang dihasilkan bersama dengan pembentukan biomassa seluler. (1995). Agar suspensi suatu cairan dalam cairan lain dapat cukup stabil sehingga dapat disebut emulsi diperlukan suatu komponen ketiga yang dapat menstabilkan sistem tersebut.

7 dipergunakan (Bicca. Surfaktan. Karakteristik penting dari surfaktan adalah kemampuannya untuk melisis eritrosit mammalia. Oleh Karena itu dipergunakan metode EOR untuk meningkatkan perolehan minyak bumi (Sharma. Aktivitas mikroba yang berguna dalam pengambilan minyak dapat dieksploitasi dengan dua cara. (1999) dan Bodour et al. 1993). Haemolisin berfungsi sebagai antibodi terhadap antigen membran eritrosit. 1997). Lisis disebabkan oleh keberadaan suatu zat yang dihasilkan bakteri yang disebut haemolisin. untuk menseleksi isolat-isolat bakteri penghasil biosurfaktan Beberapa penelitian seperti penelitian oleh Bicca et al. 1999). polisakarida. Sampai 2/3 minyak mentah yang disimpan dalam reservoar minyak bumi tetap tidak terambil sampai akhir produksi primer. Haemolisis merupakan suatu proses saat eritrosit mengalami lisis (pecah. atau produk lain yang dapat memfasilitasi pengambilan minyak mungkin dapat diproduksi dengan teknik fermentasi konvensional dan baru kemudian diinjeksikan ke dalam reservoar. Secara . Karakteristik ini telah dipergunakan untuk mendeteksi produksi surfaktan melalui hemolisis pada agar darah (Desai. 1999). Menurut Banat (1995). yang membuatnya mengalami hemolisis (Yatim. (2004) menitikberatkan penelitiannya pada kemampuan emulsifikasi yang tinggi. 2005). Isolat-Isolat bakteri yang memiliki indeks emulsifikasi (E24) diatas 70% diseleksi dan diuji lebih lanjut kemampuan penurunan tegangan permukaannya (Tabatabae. uji haemolisis merupakan suatu cara untuk mendeteksi produksi biosurfaktan dan dapat dipergunakan sebagai metode untuk seleksi bakteri penghasil biosurfaktan secara cepat. hancur).

Isolat – isolat bakteri penghasil biosurfaktan yang berasal dari air formasi dan air injeksi berpotensi untuk dipergunakan dalam kegiatan MEOR. serta uji pengaruh aktivitas bakteri penghasil surfaktan terhadap surface tension (SFT) dan derajat keasaman (pH). 1. Cipulir Kebayoran Lama Jakarta Selatan. 109. 2. Penelitian dilakukan pada bulan November 2007 sampai dengan April 2008. Indeks emulsifikasi isolat-isolat bakteri penghasil biosurfaktan memiliki nilai diatas 70%. 1. uji emulsifikasi. . pengukuran kadar nitrogen.8 alternatif proses ini dapat dilakukan secara in-situ dengan cara menginjeksikan bakteri dan nutrisi secara bertahap ke dalam reservoar (Sharma. Metode deskriptif dilakukan untuk isolasi.6 Metodologi Penelitian Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif di laboratorium. uji hemolisis. 1993). 3. Berdasarkan kerangka pemikiran di atas dapat diambil hipotesis : 1. pengukuran suhu pertumbuhan optimum.7 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di PPPTMGB LEMIGAS Jl. Ciledug Raya Kav. Isolat – isolat bakteri penghasil biosurfaktan dapat menurunkan tegangan permukaan atau surface tension (SFT) dan dapat mengubah derajat keasaman (pH) medium pertumbuhan. kurva pertumbuhan.

1980). . 1962).9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. seperti suhu dan kadar garam yang tinggi dan juga kondisi kandungan oksigen yang sangat rendah.2 Air Formasi dan Air Injeksi Air yang terdapat dalam formasi selain dinamakan air formasi sering pula disebut air konat (connate water). atau asin sekali (sampai 350. Tetapi kadang-kadang air formasi dapat pula bersifat payau. Air ini biasanya mengandung berbagai macam garam. 1982). Oleh karena itu bakteri yang dapat hidup dan melakukan aktivitasnya pada daerah seperti ini harus memiliki toleransi terhadap suhu tersebut. Mikroorganisme yang hidup di dalam reservoir minyak bumi harus mampu untuk bertahan atau toleran terhadap berbagai kondisi yang sangat ekstrim. Golongan bakteri yang mampu hidup di dalam kondisi yang bersuhu tinggi (di atas 45oC) disebut golongan bakteri termofilik (Moses. sehingga merupakan air asin. Bakteri yang diisolasi dari air formasi dapat bertahan hidup terhadap tekanan osmotik yang tinggi serta kadar oksigen yang rendah (Kusnetsov.1 Keberadaan mikroorganisme di dalam reservoir minyak bumi Reservoir minyak bumi memiliki lingkungan yang bersuhu tinggi. 2.000 ppm) (Koesoemadinata. terutama NaCl.

sehingga jauh lebih asin daripada air laut (33. Air injeksi dapat berasal dari lingkungan sekeliling reservoar (danau. Tidak ada Ca dan Mg dalam air formasi. sungai dan lain-lain) atau didatangkan dari daerah lain. Susunan kimia air formasi berbeda dari lapangan minyak yang satu ke lapangan yang lain dan ada yang membedakannya dari air laut. Untuk kegiatan EOR biasanya dibutuhkan air dalam jumlah besar untuk diinjeksikan ke dalam reservoar (Sharma 1993). Begitu terjadi perubahan fisik atau kimiawi. Air injeksi adalah air yang diinjeksikan ke dalam suatu reservoar dalam bentuk uap/steam untuk membantu meningkatkan perolehan minyak bumi (kegiatan EOR/Enhanced Oil Recovery).000 ppm (mg/L). 1980). Kadar klorida pada air formasi umumnya jauh lebih tinggi daripada air laut. c. seperti misal . 2.000 sampai 350. Sulfat tidak ditemukan berada dalam air formasi. jadi merupakan ’air laut fosil’. Air formasi berasal dari air laut yang ikut terendapkan dengan sedimen sekelilingnya.10 Zat terlarut yang terdapat dalam air formasi pada umumnya adalah garam dengan kadar berkisar dari 50. b.000 ppm) (Koesoemadinata.3 Kondisi yang dibutuhkan untuk Pertumbuhan Bakteri Setiap species mikroorganisme akan tumbuh dengan baik di dalam lingkungan selama kondisi menguntungkan bagi pertumbuhan dan untuk mempertahankan diri. Menurut Koesoemadinata (1980). jika dibandingkan dengan air laut biasa terdapat perbedaan yang khas : a.

1986).5. Bakteri memperlihatkan keragaman yang luas dalam hal respons terhadap oksigen bebas. pertumbuhan bakteri dipengaruhi oleh beberapa faktor fisik lingkungan. Suhu Semua proses pertumbuhan bergantung pada reaksi kimiawi dan karena laju reaksi–reaksi ini dipengaruhi oleh suhu. yaitu : 1. dan mikroaerofilik (tumbuh terbaik bila ada sedikit oksigen atmosferik) (Pelczar. memilih populasi mikrobe (Pelczar. yaitu aerobik (membutuhkan oksigen). Menurut Pelczar (1986). 1986). beberapa species dapat tumbuh dalam keadaan . artinya. yang membuat kondisi bagi pertumbuhan species lain lebih menguntungkan . maka pola pertumbuhan bakteri dapat dipengaruhi oleh suhu. Keragaman suhu dapat juga mengubah proses–proses metabolik tertentu serta morfologi sel (Pelczar. Keasaman atau Kebasaan (pH) Derajat keasaman atau pH optimum pertumbuhan bagi kebanyakan bakteri terletak antara 6. Atmosfer Gas Gas – gas utama yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri adalah oksigen dan karbondioksida.11 nutrisi habis atau terjadinya perubahan radikal dalam hal suhu atau pH. 2. anaerobik (tumbuh tanpa oksigen molekuler). Suhu juga mempengaruhi laju pertumbuhan dan jumlah total pertumbuhan organisme. anaerobik fakultatif (tumbuh pada keadaan aerobik dan anaerobik). Dengan demikian faktor–faktor lingkungan memiliki pengaruh selektif.5 dan 7. 1986). 3. Namun. Atas dasar ini maka bakteri terbagi menjadi empat kelompok. maka organisme yang telah teradaptasi dengan baik yang akan dapat bertahan hidup di dalam kondisi yang baru itu.

Pertumbuhan populasi merupakan akibat adanya pertumbuhan individu. 1986). 2005). yaitu pertumbuhan secara individu dan pertumbuhan secara kelompok dalam satu populasi. Sehingga batas . 1986). Selain itu ada juga yang dipengaruhi oleh tekanan osmotik dan tekanan hidroststik. nilai pH minimum dan optimum adalah antara 4 dan 9 (Pelczar. Pertumbuhan individu diartikan sebagai adanya penambahan volume sel serta bagian–bagian lainnya dan diartikan pula sebagai penambahan kuantitas isi dan kandungan di dalam selnya (Suriawiria. Bagi kebanyakan species. atau alkalis. Hal ini dikarenakan kecepatan pertumbuhan yang tinggi. 2. Contohnya fotoautotrofik (fotosintetik) harus diberi sumber pencahayaan. karena cahaya adalah sumber energinya. Kondisi – kondisi lain Beberapa kelompok bakteri memiliki persyaratan tambahan. 2005). dari empat jadi delapan dan seterusnya hingga berjumlah banyak (Suriawiria. misal satu sel menjadi dua. 1986). Bakteri halofilik hanya dapat hidup pada perairan yang asin (Pelczar. 4.4 Pertumbuhan dan Kurva Pertumbuhan Bakteri Pertumbuhan jasad hidup dapat ditinjau dari dua segi. Selang waktu yang dibutuhkan bagi sel untuk membelah diri atau populasi menjadi dua kali lipat dikenal sebagai waktu generasi (Pelczar.12 sangat masam. dari dua jadi empat. Pada mikroba pertumbuhan dapat berubah langsung menjadi pertumbuhan populasi.

sedang kerapatan sel adalah jumlah materi per unit voluma (Suriawiria. perhitungan selanjutnya digambarkan secara logaritmik ataupun aritmetik sehingga pertumbuhan dan pertambahan jumlah mikroba pada kurun waktu tertentu umumnya dapat digambarkan dalam bentuk kurva pertumbuhan (Suriawiria. Ini mengingat bahwa stadia atau fasa lag. Andaikan satu bakteri tunggal diinokulasikan pada suatu medium dan memperbanyak diri dengan laju yang konstan. 2005). Bila digunakan jumlah teoritis bakteri yang harus ada pada berbagai interval waktu dan kemudian memetakan data tersebut dengan dua cara. Misalnya kecepatan pertumbuhan dan perbanyakan sel bakteri dalam waktu 10 jam saja. dari satu sel dapat berubah menjadi 1. 1986).048.13 antara pertumbuhan sel sebagai individu serta satu kesatuan populasi yang kemudian terjadi sulit diamati dan dibedakan (Suriawiria. merupakan penggambaran jumlah atau massa sel yang terjadi pada saat tertentu. 2005). 2005).576 sel dalam kondisi optimal. Kadang – kadang didapatkan bahwa konsentrasi sel sesuai dengan jumlah sel per unit voluma. yaitu fasa awal saat pertumbuhan belum meningkat sampai fasa selanjutnya dengan penambahan jumlah yang sangat cepat. Pada pertumbuhan populasi bakteri misalnya. . yaitu logaritma jumlah bakteri terhadap waktu dan jumlah bakteri terhadap waktu. maka akan diperoleh satu kurva pertumbuhan bakteri (Pelczar. Perhitungan jumlah tersebut dilakukan secara logaritmik karena pertambahan jumlah yang sangat besar dalam kurun waktu yang relatif singkat.

b. cahaya dan sebagainya (Suriawiria. Peningkatan ini harus diimbangi dengan banyak faktor lingkungan. 2005). 2. Fase eksponensial atau logaritmik Setelah setiap individu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru selama fase lag. perubahan bentuk dan peningkatan jumlah individu akan terjadi sehingga bentuk kurva meningkat dengan tajam (menanjak). Fase lag Selama fase ini pertumbuhan individu tidak secara nyata terlihat. antara lain : a. Menurut Suriawiria (2005). sehingga bentuk kurva selama fase ini umumnya mendatar (Suriawiria. Fase pengurangan pertumbuhan Merupakan puncak dari fase logaritmik sebelum mencapai fase selanjutnya. 3. yaitu : 1. 2005). Fase ini dapat juga dinamakan fase adaptasi (penyesuaian). yaitu bentuk dan sifat jasad. antara lain kandungan nutrien dalam media. Pada fase ini terjadi penambahan jumlah individu mulai berkurang atau menurun. peningkatan kurva akan nampak tajam (Suriawiria.14 Kurva pertumbuhan mikroba merupakan gambaran dari pertumbuhan secara bertahap sejak awal hingga terhenti mengadakan kegiatan. Lingkungan biologis. temperatur. Apabila faktor lingkungan di atas optimal. kadar oksigen. 2005). asosiasi kehidupan di antara jasad yang ada kalau jumlah dan jenis lebih dari satu (Suriawiria. Pada fase ini merupakan suatu fase pengaturan jasad untuk suatu kegiatan dalam lingkungan yang mungkin baru. Lingkungan non-biologis. 2005). Hal . kurva ini umumnya terbagi ke dalam beberapa fase.

Fase kematian Merupakan fase akhir dari kurva pertumbuhan. antara lain berkurangnya sumber nutrien dalam media. Pada fase ini jumlah individu secara tajam akan menurun sehingga kurva tampaknya akan mendekati titik awal kembali (Suriawiria. tercapainya kejenuhan pertumbuhan jasad dan sebagainya (Suriawiria. 2005). jam Gambar 1. mencapai puncak pertumbuhan pada titik yang tidak bisa dilampaui lagi. Fase stasioner Pengurangan sumber nutrien serta faktor-faktor lain yang terkandung di dalam jasadnya sendiri.15 ini disebabkan oleh banyak faktor. sehingga selama fase ini gambaran kurva akan mendatar. 2005). 2005). C B D A p u d il h r e t k a b m u j g o L W aktu. Kurva Pertumbuhan Bakteri . 4. 5. Populasi jasad hidup dalam keadaan secara maksimal stasioner yang konstan disebut dalam konsentrasi M (Suriawiria.

16 Keterangan : A B C D : Fase Lamban : Fase Log (logaritma) : Fase statis : Fase kematian 2. . Struktur seperti ini umum dikenal dengan istilah struktur ampifatik (Rosen.5 Sifat dan Karakteristik Surfaktan Surfaktan atau surface active agent merupakan suatu bahan yang bila berada dalam konsentrasi rendah pada suatu sistem memiliki kemampuan untuk menempel pada permukaan suatu sistem dan mengubah permukaan atau energi bebas pada permukaan tersebut (Rosen. sehingga surfaktan akan terkonsentrasi pada permukaan. 1978). 1978). Dalam suatu larutan air yang mengandung surfaktan gangguan ini akan menyebabkan peningkatan energi bebas dalam sistem saat surfaktan terlarut. keberadaan gugus hidrofobik dalam pelarut menyebabkan suatu gangguan dalam strukturnya sehingga meningkatkan energi bebas dalam sistem tersebut. Saat suatu surfaktan dilarutkan di dalam pelarut. Surfaktan memiliki struktur molekul yang terdiri dari gugus fungsi yang memiliki affinitas rendah terhadap pelarut yang disebut sebagai kelompok lyofobik (hidrofobik) dan suatu gugus yang memiliki affinitas kuat terhadap pelarut yang disebut kelompok lyofilik (hidrofilik). Hal ini berarti bahwa diperlukan kerja/energi yang lebih sedikit untuk mengangkat molekul surfaktan kepermukaan dibandingkan dengan molekul air.

keberadaan surfaktan akan menurunkan kerja yang diperlukan untuk menciptakan unit area pada permukaan (energi bebas permukaan atau tegangan pemukaan) (Rosen. Keberadaan gugus hidrofilik mencegah surfaktan menjadi terpisah sama sekali dari pelarut sebagai bentuk tersendiri. 1978). terhalogenasi atau teroksigenasi atau siloxane dan gugus hidrofilik merupakan suatu gugus yang ionik dan sangat polar. berdasarkan sifat gugus hidrofilik surfaktan diklasifikasikan menjadi : 1. Struktur ampifatik surfaktan tidak hanya akan menyebabkan pengkonsentrasian surfaktan pada permukaan dan penurunan tegangan permukaan. 1978). Contohnya : sabun (RC - - Na+) . 2. Kationik Bagian yang aktif pada permukaan memiliki muatan positif. Gugus hidrofobik biasanya merupakan suatu hidrokarbon rantai panjang. Anionik Bagian yang aktif pada permukaan memiliki muatan negatif. Untuk hal itu diperlukan pemisahan gugus hidrofilik. Menurut Rosen (1978). alkylbenzene sulfonat ( RC6H4SO3-Na+) (Rosen.17 Dikarenakan penggunaan kerja yang lebih sedikit untuk mengangkat molekul– molekul ke permukaan. . tetapi juga pengaturan molekul – molekul surfaktan pada permukaan dengan gugus hidrofilik berada pada bagian air dan gugus hidrofobik menjauhinya (Rosen. 1978).

alkilfenol terpolyoxyethilenasi (RC6H4(OC2H4)xOH) (Rosen. 1978). 4. Umumnya gugus hidrofobik terdiri dari hidrokarbon rantai panjang. 1978). 1978). Perbedaan dalam sifat – sifat gugus hidrofobik biasanya kurang diperhatikan dibandingkan dengan gugus hidrofilik. Contohnya : Monogliserida dengan rantai asam lemak panjang (RCOOCH2CHOHCH2OH). 2. Zwitterionik Dapat memiliki muatan positif dan negatif pada bagian yang aktif pada permukaan. Menurut Rosen (1978). contohnya adalah: 1. Gugus alkil panjang dan rantai lurus (C8 – C20) Gugus alkil panjang dan bercabang (C8 – C20) Residu alkilbenzene rantai panjang (C8 – C15) Residu alkilnaphthalene (C3 dan gugus alkil yang lebih panjang) Turunan Rosin (senyawa yang tersusun dari beberapa asam abietic) Polimer – polimer propylene oxida dengan berat molekul tinggi (turunan – turunan polyoxypropylene glycol) . Contohnya : Asam amino rantai panjang (RNH2+CH2COO -). 5. sulfobetaine (RN+(CH3)2CH2CH2SO3-) (Rosen. Nonionik Bagian yang aktif pada permukaan tidak memiliki muatan ionik. 3. 4. 3.18 Contohnya : garam dengan rantai amina panjang (RNH3+Cl-). 6. quaternary ammonium chloride (RN(CH3)3+Cl-) (Rosen. tetapi biasanya memiliki struktrur berbeda.

Ada 3 glikolipid yang paling dikenal. Gugus polysiloxane Surfaktan merupakan salah satu produk yang penting dalam industri kimia karena dipergunakan dalam berbagai macam produk seperti pada bahan bakar bensin kendaraan bermotor. Glikolipid merupakan karbohidrat yang dikombinasikan dengan rantai panjang asam aliphatic atau asam hydroxyaliphatic. lipopeptida dan lipoprotein.6 Klasifikasi biosurfaktan dan mikrobanya Biosurfaktan dikategorikan oleh komposisinya dan mikroba asalnya. . trehalolipid dan sophorolipid (Desai.1 Glikolipid Biosurfaktan yang paling dikenal adalah glikolipid. yaitu rhamnolipid. pemboran lumpur dalam industri minyak. 1997).19 7. 8. fofolipid dan asam lemak. struktur biosurfaktan terdiri dari gugus hidrofilik yang tersusun dari asam amino atau anion dan kation peptida (mono-. 2. bahan obat – obatan. dan agen pemurni dalam pemanfaatan bahan tambang (Rosen. Rhodococcus erythropolis.6. Kelompok utama biosurfaktan adalah glikolipid. deterjen.. 2. Contoh bakteri penghasil biosurfaktan glikolipid adalah Pseudomonas sp. surfaktan polimerik dan surfaktan partikulat (Desai. Torulopsis sp. di. 1978). 1997).atau polisakarida) dan gugus hidrofobik yang terdiri dari asam lemak jenuh atau tak jenuh. dan lain-lain. Gugus – gugus perfluoroalkil rantai panjang. Secara umum.

20 Tabel 1.5 27-32 Pseudomonas aeruginosa Pseudomonas sp. dan fosfolipid : Asam lemak Lipid netral Phospholipid Surfaktan polimerik : Emulsan Biodispersan Mannan-lipid-protein Liposan KarbohidratProtein PA Rhamnolipid 30 32 27 Rhamnolipid terdiri dari dua molekul rhamnose yang terikat dengan satu atau dua molekul asam β-hydroxydecanoic. lipid netral. Rhodococcus erythropolis Nocardia erythropolis Mycobacterium sp. Rhamnolipid merupakan glikolipid yang . 1997) Biosurfaktan Glikolipid: Rhamnolipid Trehalolipid Sophorolipid Organisme Tegangan permukaaan (mN/m) 29 25-30 32-36 30 38 33 30 27 26. Klasifikasi Biosurfaktan dan Mikroba asalnya (Desai. Torulopsis bombicola Torulopsis apicola Torukposis petrophilum Bacillus licheniformis Pseudomonas fluorescens Bacillus subtilis Bacillus subtilis Bacillus brevis Bacillus polymyxa Candida lepus Nocardia erythrolpolis Thiobacillus thiooxidans Acinobacter calcoaceticus Acinobacter calcoaceticus Candida tropicalis Candida lipolytica Pseudomonas fluorescens Pseudomonas aeruginosa Lipopeptida dan lipoprotein : Peptida-lipid Viscasin Surfactin Subtilisin Gramicidins Polymyxins Asam lemak.

jumlah atom karbon. Sophorolipid Sophorolipid merupakan biosurfaktan yang merupakan campuran dari setidaknya sembilan sophorosida hidrofobik yang berbeda. Spesies Rhodococcus erythropolis dapat menghasilkan senyawa trehalose dimycolate (Desai. dan derajat kejenuhan yang berbeda. Rhamnolipid diketahui dihasilkan oleh dua jenis bakteri yaitu Pseudomonas aeruginosa dan Pseudomonas sp. Trehalolipid yang dihasilkan oleh spesies Mycobacterium. Sophorolipid terdiri dari suatu sophorose karbohidrat dimerik yang terikat dengan suatu rantai panjang asam lemak hidroxy. Apicola (Desai. (Desai. Asam myolic merupakan asam lemak β-hydroxy dengan cabang α. 1997). Nocardia dan Corynebacterium merupakan trehalose disakarida yang terikat pada C-6 dan C-6’ dengan asam myolic. Trehalolipid Trehalolipid yang dihasilkan oleh organisme yang berbeda memiliki ukuran dan struktur asam myolic. . Petrophilum dan T.21 paling banyak diteliti. 1997). Sophorolipid dihasilkan oleh ragi seperti Toruloposis bombicola. T. 1997).

005% (Desai. pH dan salinitas yang baik. Struktur dari Biosurfaktan glikolipid 2. Kemampuan ini telah dipergunakan untuk mendeteksi produksi surfactin melalui hemolisis pada agar darah (Desai.6. Lipopeptida siklik surfactin yang dihasilkan oleh Bacillus subtilis merupakan salah satu biosurfaktan terbaik karena mampu menurunkan tegangan permukaan dari 72 menjadi 27. Bacillus licheniformis dapat memproduksi beberapa biosurfaktan peptida-lipid yang bekerja secara sinergi dan memperlihatkan stabilitas suhu. . 1997).22 Gambar 2. Salah satu karakteristik lipopeptida yang penting adalah kemampuannya untuk melisis eritrosit mammalia.2 Lipopeptida Lipopeptida siklik seperti antibiotik decapeptida (gramicidin) dihasilkan oleh Bacillus brevis.9 mN/m dengan konsentrasi serendah 0. Sedangkan antibiotik lipopeptida (polymyxin) dihasilkan oleh Bacillus polymyxa. 1997).

HLBnya terkait dengan panjangnya rantai hidrokarbon dalam strukturnya. Fosfolipid dan Lipida Netral Beberapa bakteri dan ragi memproduksi surfaktan asam lemak dan fosfolipid dalam jumlah besar selama pertumbuhan pada n-alkana.6. dan Thiobacillus thiooxidans.001 sampai 0. Rantai heteropolisakaridanya mengandung suatu trisakarida berulang yang terdiri dari N-asetil-D-galaktosamine. Emulsan merupakan suatu agen emulsifikasi yang sangat efektif untuk hidrokarbon dalam air bahkan pada konsentrasi serendah 0. Biodispersan merupakan suatu dispersan (pelarut) ekstraseluler yang tidak dapat didialisis.01 % (Desai. Vesikel asam lemak dihasilkan dalam jumlah banyak oleh Acinetobacter sp. 1997). liposan. Biodispersan dihasilkan oleh Acinobacter calcoaceticus.6. asam uronic N- asetilgalaktosamine dan suatu gula N-asetil amino yang belum teridentifikasi. Acinobacter calcoaceticus dapat mempoduksi suatu bioemulsifier heteropolisakarida ampifatik polianionik yang disebut emulsan.23 2. mannoprotein dan kompleks protein polisakarida lain. Asam lemaknya secara kovalen terikat dengan polisakaridanya melalui ikatan ester. Vesikula yang kaya akan asam lemak ini akan menghasilkan mikroemulsi alkana di dalam air. 2.3 Asam Lemak. Surfactan lipida diakumulasi 40 sampai 80% saat dikultivasi pada hexadecane dan minyak kelapa sawit (Desai. Produksi fosfolipid telah terlihat pada beberapa Aspergillus spp.4 Biosurfactan Polimerik Polimerik biosurfaktan telah diteliti dengan baik adalah emulsan. 1997). Senyawa ini merupakan suatu heteropolisakarida yang anionik dengan berat molekul rata – rata .

Liposan terdiri dari 83 % karbohidrat dan 17% protein. Terdapat dua tipe emulsi yaitu makroemulsi dan mikroemulsi. margarine. dan lain –lain merupakan contoh emulsi yang dipergunakan dalam kehidupan sehari – hari. 1997). es krim. 1978). Ukuran partikel – partikel yang terdispersi dalam suatu emulsi menentukan penampakannya terhadap mata telanjang. alkana dan pelarut organik (Desai. semir.24 51.20 mikrometer (Rosen. galaktosa. Mikroemulsi memiliki ukuran partikel antara 0. 1997). Protein ini menunjukkan kemampuan emulsifikasi yang baik terhadap minyak. Suatu emulsi merupakan suatu suspensi stabil yang dibentuk dari suatu partikel cairan dengan ukuran tertentu dengan cairan kedua yang tidak dapat bercampur. 6- methylaminohexose. Cat.400 dan mengandung empat gula pereduksi.2 sampai 50 mikrometer (µm) dan dapat diamati dibawah mikroskop. Apabila diameter partikel – partikel yang .01 sampai 0.7 Proses Emulsifikasi Emulsifikasi merupakan proses pembentukan emulsi dari dua fase cair yang tidak dapat bercampur. Suatu makroemulsi memiliki ukuran antara 0. asam uronic galactosamine dan suatu gula amino yang belum teridentifikasi (Desai. Sejumlah besar mannoprotein dihasilkan oleh Saccharomyces cerevisiae. Liposan merupakan suatu bahan pengemulsi ekstraseluler larut air yang dihasilkan oleh Candida lipolytica. galaktosamine dan asam galakturonik (Desai. 2. 1997). pestisida. bahan kosmetik. Bagian karbohidrat merupakan suatu heteropolisakarida yang terdiri dari glukosa. yaitu glukosamine.

Tipe emulsi yang terbentuk oleh air dan minyak tergantung pada sifat agen emulsifikasi dan juga proporsi dari air dan minyak yang ada. Komponen ketiga ini disebut agen emusifikasi dan biasanya merupakan suatu sufaktan (Rosen. <0. 1978). sedangkan emulsi air dalam . Dua cairan murni yang tidak dapat bercampur tidak akan dapat membentuk emulsi.25 terdispersi adalah 1 µm. Air dalam minyak (W/O) Tipe minyak dalam air merupakan suatu dispersi cairan yang tidak dapat bercampur dengan air (minyak) dalam suatu fase air. sedangkan fase air merupakan fase luar yang continue/mengalir.1-0. Agar suatu suspensi suatu cairan dalam cairan lain dapat cukup stabil sehingga dapat disebut emulsi diperlukan suatu komponen ketiga yang dapat menstabilkan sistem tersebut. Dalam kondisi ini minyak merupakan fase dalam yang discontinue/berhenti. 0. sedang mikroemulsi akan berwarna transparan atau semitransparan (Rosen. Minyak dalam air (O/W) 2. 1978). Menurut Rosen (1978). Tipe air dalam minyak merupakan suatu dispersi air atau larutan air di dalam suatu cairan yang tidak bercampur dengan air (Rosen. Jadi makroemulsi akan berwarna jelas.05 µm berwarna abu-abu dan semi transparan. berdasarkan karakteristik fase yang terdispersi emulsi dapat digolongkani menjadi dua jenis. yaitu : 1.05 µm akan transparan. 1978). maka emulsinya akan berwarna putih susu.1 µm akan berwarna biru putih. 1-0. umumnya emulsi minyak dalam air diproduksi oleh agen emulsifikasi yang lebih larut dalam dalam fase air daripada fase minyak. Menurut hukum Bancroft.

sedangkan metode – metode thermal memiliki kebutuhan energi yang sangat tinggi (Sharma. 1978). Aktifias mikroba yang berguna dalam pengambilan minyak dapat dieksploitasi dengan dua cara. pembakaran in situ. Surfaktan. Metode EOR telah duji dan dilakukan di lapangan dengan cara pengijeksian uap. Biaya produksi yang lebih rendah 2. Penggunaan surfaktan dan pembanjiran dengan polimer memiliki biaya bahan kimia yang tinggi. polisakarida. surfaktan polimer dan pembanjiran atau kombinasi metode – metode di atas. pemasukan CO2. Setiap metode yang tersebut diatas memiliki batasan ekonomi dan teknis dalam aplikasinya. Menurut Sharma (1993). Saat ini telah dilakukan banyak penelitian yang menunjukkan potensi penggunaan mikroba untuk peningkatan pengambilan minyak (MEOR).26 minyak diproduksi oleh agen emulsifikasi yang lebih larut dalam minyak dibandingkan dalam air (Rosen. MEOR memiliki dua keunggulan ekonomis dibandingkan dengan metode EOR lain: 1. Kebutuhan akan bahan kimia dan energi yang lebih rendah Tetapi terdapat beberapa permasalahan teknis penting harus diatasi sebelum MEOR dapat diaplikasikan dilapangan. 1993) . . Metode EOR harus dilakukan untuk mengambil sisa minyak bumi yang tersisa. 2.8 MEOR sebagai Teknologi peningkatan perolehan minyak bumi Sampai 2/3 minyak mentah yang disimpan dalam reservoar minyak bumi tetap tidak terambil sampai akhir produksi primer.

Mekanisme dimana mikroorganisme yang tumbuh meningkatkan pengambilan minyak masih belum sepenuhnya dipahami. Proses ini merupakan suatu proses ex-situ dan secara umum lebih intensif dalam hal produksi. . sehingga memfasilitasi perpindahannya.27 atau produk lain yang dapat memfasilitasi pengambilan minyak mungkin dapat diproduksi dengan teknik fermentasi konvensional dan baru kemudian diinjeksikan ke dalam reservoar. 1993). Secara alternatif proses ini dalam dilakukan secara insitu dengan cara menginjeksikan bakteri dan nutrisi secara bertahap ke dalam reservoar. Cara ini lebih murah dan oleh karena itu lebih menjanjikan untuk kondisi – kondisi yang lebih bervariasi (Sharma. Proses MEOR yang paling umum dilakukan dengan cara menginjeksikan bakteri dan nutrisi secara bertahap ke dalam reservoar. Parameter – parameter inilah yang menentukan pengaruh aktifitas mikroba dalam reservoar dan akhirnya efisiensi pengambilan minyak (Sharma. 1993).Tampaknya berbagai proses mikrobial saling berkoordinasi meningkatkan aliran dari minyak. Kemampuan ini bergantung pada kondisi reservoar. strain mikroorganisme yang dipergunakan dan metode yang dipergunakan untuk menginjeksikan inokula dan nutrisi. Aktifitas mikroba tertentu mempengaruhi lingkungan resevoar dan kemampuan mengalirnya minyak.

pembakar bunsen. kurva pertumbuhan. Penelitian dilakukan dengan tiga tahapan. fotometer SQ 118. waterbath shaker. air formasi.1. thermoreaktor. pH meter Orion 3 Star. pengukuran kadar nitogen. nutrient broth (NB).2 Metode Penelitian Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif di laboratorium. yaitu isolasi. akuadest. cawan petri. laminair air flow. tabung reaksi.1 Alat dan Bahan 3. medium MSS. air injeksi. seleksi dan uji pengaruh bakteri penghasil biosurfaktan terhadap surface tension (SFT) dan derajat keasaman (pH). N-1k. oven pengering.1 Alat Batang pengaduk. asam sulfat. beaker glass. tensiometer prosessor KREUSS K12 . pengukuran suhu pertumbuhan optimum. 3. volume pipet. vortex. ose.2 Bahan Agar darah. serta uji . erlenmeyer.28 BAB III METODE PENELITIAN 3. incubator HERAEUS.1. oven pemanas. Metode deskriptif dilakukan untuk isolasi. crude oil (sumber hidrokarbon). N-2k. 3. shaker. nutrient agar (NA). uji hemolisis. uji emulsifikasi. otoklaf. tabung reaksi dengan penutup bersekrup.

Pengenceran Tiga sampel air untuk diisolasi.1 Prosedur Kerja : Sterilisasi Alat dan Bahan Otoklaf diisi secukupnya . Katup release dibiarkan terbuka untuk mengeluarkan uap. Setelah selesai kunci otoklaf dibuka. Hasil pengenceran pada tabung reaksi I ini disebut sebagai pengenceran 10-1. yaitu dua sampel air formasi dan satu sampel air injeksi disiapkan.2. kemudian alat dan bahan yang akan disterilkan di dalam otoklaf disusun dengan baik. Isolasi Bakteri dari Air Formasi dan Air Injeksi 1. 3. Otoklaf dipanaskan hingga temperature mencapai 121oC dan tekanan 1 atm (15 lbs). Kemudian waktu dihitung hingga 10 – 20 menit. sedangkan katup safety ditutup. Alat – alat dapat dikeringkan di dalam oven dan bahan dapat disimpan.3. Setelah 10 – 20 menit otoklaf dimatikan dan tekanan ditunggu sampai 0. Pengenceran dilanjutkan dengan mengambil 1 ml dari tabung reaksi I dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi .29 pengaruh aktivitas bakteri penghasil surfaktan terhadap surface tension (SFT) dan derajat keasaman (pH). Sampel kemudian diencerkan dengan melakukan seri pengenceran.3.3 3. Setelah udara keluar semua katup ditutup. Sampel AF I (Air Formasi I) diambil sebanyak 1 ml dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi I yang berisi 9 ml akuadest steril dengan menggunakan volume pipet. Hasil pengencerkan dihomogenkan dengan cara menghisap dan memasukkan kembali campuran sampel dengan akuadest dalam tabung reaksi. 3.

Setelah medium beku. Jumlah perhitungan koloni yang baik adalah antara 30-300 koloni pada setiap cawan petri. Kegiatan pengenceran diulangi untuk sampel AF II dan AI (Air Injeksi). Kegiatan ini diulangi terus sampai diperoleh pengenceran 10-5 pada tabung reaksi V.. Rumus perhitungan bakteri : Jumlah bakteri/ml medium = jk1+jk2+jk3 Jumlah lempeng pembiakan Keterangan : Jk : Jumlah koloni pada lempeng ke. dikalikan faktor pengenceran . 2. Tabung reaksi II dikatakan sebagai pengenceran 10-2.30 II yang berisi 9 ml akuadest. Ke dalam masing – masing cawan petri yang telah berisi sampel pengenceran dimasukkan 10 ml medium Nutrient Agar (NA) dan dicampurkan hingga homgen dengan cara memutar petri secara pelan di atas meja.. Perhitungan jumlah bakteri (Metode TPC) Koloni bakteri yang tumbuh pada masing – masing medium dihitung. 3. cawan petri dibalik dan diinkubasikan selama 48 jam pada suhu 30oC dan 50oC. Penanaman pada lempeng agar Tiga pengenceran terakhir dari pengenceran diatas (10-3. Campuran dihomogenkan kembali. 10-4. 10-5) masing – masing diambil sebanyak 1 ml dan dimasukkan ke dalam cawan petri steril.

5. Biakan yang tumbuh merupakan biakan murni. Biakan bakteri kemudian ditanamkan pada agar miring dengan cara digoreskan.31 4. Uji Hemolisis Isolat biakan murni yang diperoleh dari hasil isolasi ditanam pada Agar Darah dengan cara digoreskan. Isolat diinkubasikan pada suhu 30oC selama 72 jam. Pemurnian bakteri dengan metode streak Koloni–koloni bakteri yang diperkirakan berbeda diisolasi dengan menggunakan ose dan kemudian digoerskan keatas lempeng agar. Isolat yang menghasilkan biosurfaktan akan menghasilkan zona bening disekitar koloninya.3 Seleksi atau Screening 1. Uji Emulsifikasi (E24) Beberapa koloni yang merupakan kultur murni disuspensikan ke dalam tabung – tabung uji yang mengandung 2 ml MSS (Mineral Salt Solution) setelah diinkubasi 48 jam pada suhu 30oC.3. Penggoresan dilakukan sebanyak mungkin untuk menipiskan biakan bakteri. Lempeng agar diinkubasikan selama 48 jam pada suhu 30o dan 50oC. 3. Penanaman pada agar miring Koloni – koloni yang telah dimurnikan dengan metode streak pada lempeng agar diisolasi dengan menggunakan ose. 2. Setelah itu ditambahkan 2 ml hydrocarbon . Agar miring yang telah digoreskan diinkubasi selama 48 jam pada suhu 30o dan 50oC.

3. Hasilnya kemudian didiamkan selama 24 jam. Akuadest steril berisi biakan bakteri kemudian diambil sebanyak 1 ml dan dimasukkan ke dalam cawan petri steril dalam kondisi aseptis. Biakan kemudian diencerkan ke dalam tabung reaksi yang berisi akuadest steril sampai pengenceran yang sesuai. 45o dan 50oC. 45o dan 50oC. Indeks E24 merupakan persentase ketinggian lapisan emulsi (cm) dibagi dengan ketinggian cairan total (cm).32 (minyak) pada masing – masing tabung dan campuran divortex pada kecepatan tinggi selama 1 menit. Variasi suhu dengan jumlah bakteri tertinggi kemudian dicatat. Ketinggian lapisan emulsi Indeks E24 = : X Ketinggian cairan total 100 % 3. Setelah inkubasi dilakukan perhitungan jumlah bakteri dengan metode TPC (Total Plate Count). Pengukuran Suhu Optimum Biakan bakteri dilkultur dalam medium nutrient broth (NB) dan diinkubasi selama 48 jam pada variasi suhu 30oC. Cawan petri kemudian diinkubasikan selama 48 jam dengan variasi suhu 30o. .4 Uji Bakteri Penghasil Surfaktan 1..

kemudian dibuat suatu kurva atau grafik pertumbuhan bakteri. Biakan kemudian diencerkan ke dalam akuadest steril sampai pengenceran yang sesuai. 8. yaitu : Konstanta Laju Pertumbuhan (k) : Log No – Log Nt 0. Selain itu. 4. Setelah inkubasi dilakukan perhitungan jumlah bakteri dengan metode TPC (Total Plate Count). 20. dari data dibuat juga perhitungan waktu generasi dan kecepatan pertumbuhan spesifik (µ).301 x t Waktu Generasi (g) : 1 k Laju Pertumbuhan spesifik : ln No – ln Nt t Keterangan : No Nt t : Jumlah baketri awal : Jumlah bakteri akhir : Waktu . Akuadest steril berisi biakan bakteri kemudian diambil sebanyak 1 ml dan dimasukkan ke dalam cawan petri steril dalam kondisi aseptis. 48 dan 72 jam.33 2. Rumusnya. Pembuatan Kurva Pertumbuhan Biakan bakteri diinkubasi dalam medium nutrient broth (NB) selama 48 jam pada suhu pertumbuhan optimum. 16. Cawan petri diinkubasikan selama 72 jam dengan variasi suhu pertumbuhan optimum yang diperoleh dari tahapan sebelumnya dengan selang waktu 0. 12. 24. Setelah perhitungan jumlah bakteri diperoleh.

Setelah 1 jam. Sampel kemudian ditambahkan dengan 1 sendok mikrobiru N-1k dan campuran dilarutkan. Campuran tersebut diinkubasikan pada suhu pertumbuhan optimum selama 72 jam pada kecepatan 150 rpm. Tabung reaksi yang berisi larutan kemudian dipanaskan pada suhu 100oC selama 1 jam dengan menggunakan thermoreaktor. 4. Tabung ditutup rapat dan campuran dikocok hingga larut. Larutan kemudian ditambahkan dengan 6 tetes N-2k dan dicampurkan hingga homogen. Hasil SFT dan pH medium kemudian dicatat hasilnya.5 ml sampel yang telah disiapkan ditambahkan kedalam tabung reaksi yang berisi asam sulfat. Setelah mendingin larutan ditambahkan dengan 1 sendok mikro N-3k. . Campuran kemudian dikocok-kocok sampai larut. tabung reaksi dipindahkan ke rak tabung reaksi agar mendingin. Larutan blanko diukur dengan fotometer SQ 118 dan dihitung pada nilai 0.34 3.0. Hasilnya dicatat. Kegiatan kemudian diulangi sebanyak tiga kali. Medium MSS yang telah berisi biakan bakteri ditambahkan 1% minyak sebagai sumber karbon. Biakan bakteri yang telah disiapkan dimasukkan sebanyak 1 ml ke dalam medium MSS. Uji Pengaruh Aktivitas Bakteri Terhadap tegangan permukaan atau surface tension (SFT) dan derajat keasaman (pH) Kultur bakteri disiapkan dalam medium NB dan diinkubasi selama 48 jam. Pengukuran Kadar Nitrogen Kedalam tabung reaksi tutup ulir bening ditambahkan 10 ml sampel. Sebanyak 1. SFT diukur dengan menggunakan tensiometer dan pH diukur dengan pH meter. Larutan blanko dikeluarkan dan larutan yang telah disiapkan diukur kadar nitrogennya. Larutan blanko kemudian disiapkan.

Isolasi dilakukan dengan terlebih dahulu memperkaya jumlah bakteri dengan ditanam pada media Nutrient Broth (NB). Pengenceran dilakukan untuk mengurangi jumlah bakteri agar tidak terlalu banyak pada lempeng agar dan dapat dihitung dengan metode TPC. Setelah bakteri diperkaya dengan menggunakan NB. Secara keseluruhan dapat disolasi 14 isolat bakteri.1 Isolasi Bakteri dari Air Formasi dan Air Injeksi Isolat bakteri diisolasi dari tiga sampel. Metode TPC didasarkan atas hubungan teoritis bahwa satu koloni berasal dari satu sel bakteri dan asumsi bahwa jumlah koloni pada cawan petri berhubungan erat dengan jumlah . lalu dilakukan seri pengenceran pada tabung reaksi yang berisi akuadest steril. yaitu dua sampel air formasi (T-147-1538 dan T-053 1539) dan satu sampel air injeksi (WIP-TJG 1540). Pada sampel air formasi I (AFI) berhasil diperoleh empat isolat bakteri pada suhu inkubasi 30oC dan tiga isolat pada suhu inkubasi 50oC. Masing – masing pengenceran ditanamkan pada cawan petri yang berisi Nutriemt Agar (NA). Hasil penanaman diinkubasi dan kemudian dihitung jumlah koloni yang tumbuh dengan metode Total Plate Count (TPC). Sedangkan pada sampel air injeksi (AI) dapat diisolasi empat isolat bakteri pada suhu inkubasi 30oC.35 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Pada suhu inkubasi 50oC tidak diperoleh satupun isolat bakteri. Pada sampel air formasi kedua (AFII) dapat diisolasi tiga isolat bakteri pada suhu inkubasi 30oC. Pada suhu inkubasi 50oC tidak diperoleh isolat bakeri.

isolat kemudian dipindahkan pada agar miring menjadi isolat murni yang kemudian disimpan. Sedangkan Isolat So 2 memiliki ciri-ciri koloni yang berbeda. putih Bulat.33 x 10-4 AI 159. yaitu isolat So 1. Setelah koloni tumbuh dan terpisah dengan baik. putih Bulat. 1971). merah Irregular. koloni-koloni yang berbeda kemudian diisolasi dan digoreskan pada lempeng agar untuk dimurnikan. So 2 dan So 3. Hasil perhitungan dengan menggunakan metode Total . kuning AFII 307 x 10-4 AFI 412. yaitu irregular putih. Jumlah koloni yang baik berkisar antara 30-300 koloni (Seeley. kuning Bulat. Isolat So 1 dan So 3 memiliki ciri-ciri koloni yang sama.36 bakteri yang sesungguhnya. Setelah tumbuh dan terlihat murni. putih Bulat putih Bulat. yaitu bulat putih. Hasil Total Plate Count (TPC) dan bentuk koloni bakteri yang berhasil diisolasi dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 2 Hasil Isolasi Bakteri dari Sampel Air Formasi dan Air Injeksi pada suhu inkubasi 30oC SAMPEL TPC ISOLAT So 1 So 2 So 3 So 4 So 5 So 6 So 7 So 8 So 9 So 10 So 11 CIRI-CIRI KOLONI Bulat.2 x 10-4 Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa dari sampel AFII dapat diisolasi tiga isolat bakteri. putih Irregular. putih Bulat. kuning Bulat. putih Irregular.

37 Plate Count (TPC) menunjukkan nilai sebesar 307 x 10-4. Hal ini berarti bahwa dalam 1 mL sampel AFII terdapat 307 x 10-4 sel bakteri. So 5. Hasil perhitungan dengan menggunakan metode Total Plate Count (TPC) menunjukkan nilai sebesar 159. yaitu So 8. Isolat So 4 memiliki ciri-ciri koloni berbentuk bulat dan berwarna putih.2 x 10-4. So 6 dan So 7.3 x 10-4 sel bakteri.3 x 10-4. Hal ini berarti bahwa dalam 1 mL sampel AFI terdapat 412. So 10 dan So 11. Isolat So 11 memiliki bentuk koloni bulat dan berwarna kuning. Tabel 3 Hasil Isolasi Bakteri dari Sampel Air Formasi dan Air Injeksi pada suhu inkubasi 50oC . Pada sampel AI dapat diisolasi empat isolat bakteri. Hasil perhitungan dengan menggunakan metode Total Plate Count (TPC) menunjukkan nilai sebesar 412. yaitu isolat So 4. Isolat So 8 dan So 9 memiliki ciri-ciri koloni irregular putih.2 x 10-4 sel bakteri. Sedangkan Isolat So 7 memiliki bentuk koloni bulat dan berwarna merah. S0 9. Hal ini berarti bahwa dalam 1 mL sampel AI terdapat 159. Isolat So 5 dan So 6 memiliki bentuk koloni bulat dan berwarna kuning. Isolat So 10 memiliki bentuk koloni bulat dan berwarna putih. Dari sampel AFI dapat diisolasi empat isolat bakteri.

Hal ini berarti bahwa dalam 1 mL sampel AI terdapat 180 x 10-4 sel bakteri termofilik. 1986). Isolat St 1 memiliki bentuk bulat dan berwarna putih. yaitu isolat St 1. Isolat yang berhasil diperoleh ada tiga isolat. St 2 dan St 3. Sedangkan isolat St 3 memiliki bentuk bulat dan berwarna kuning. 4. kuning - AFI 180 x 10-4 St 2 St 3 AI - - Dari tabel 3 dapat dilihat bahwa isolat bakteri yang diisolasi dengan menggunakan suhu inkubasi 50oC hanya berhasil diperoleh dari sampel AFI. Hasil perhitungan dengan menggunakan metode Total Plate Count (TPC) menunjukkan nilai sebesar 180 x 10-4. sehingga tidak mampu bertahan hidup dalam suhu inkubasi yang tinggi. Bakteri mesofilik adalah golongan bakteri yang dapat hidup pada rentang suhu antara 25 sampai 40oC (Pelczar.2 Uji Hemolisis . putih Bulat.38 SAMPEL AFII TPC - ISOLAT St 1 CIRI-CIRI KOLONI Bulat. Isolat St 2 berbentuk bulat dan berwarna merah. merah Bulat. Kegagalan dalam mengisolasi isolat bakteri dari sampel AFII dan AI pad suhu inkubasi 50oC mungkin dikarenakan bakteri-bakteri yang berada dalam kedua sampel tersebut hanya terdiri dari golongan bakteri mesofilik.

Hal ini untuk menseleksi isolat-isolat mana saja yang dapat menghasilkan biosurfaktan (Banat. 4. karena umumnya biosurfaktan dihasilkan dalam jumlah maksimum setelah 36 jam (Tabatabae. yang membuatnya mengalami hemolisis (Yatim. St 2 dan St 3. So 8. 1995. Isolat lainnya tidak menunjukkan aktifitas hemolisis. biakan ditambahkan minyak (crude oil) dalam jumlah yang sama. So 4. Tabatabae. Bakteri yang dapat menghasilkan biosurfaktan akan dapat menghasilkan zona bening disekeliling koloninya. Selama proses inkubasi ini diharapkan dihasilkan biosurfaktan. 1999). Hal ini dikarenakan surfaktan berfungsi sebagai zat haemolisin. Kesembilan isolat tersebut adalah So 1. Dari 14 isolat yang ditanamkan pada agar darah sembilan isolat menunjukkan aktifitas hemolisis. So 2. Haemolisin memiliki fungsi sebagai antibodi terhadap antigen membran eritrosit. Selain itu juga agar mempercepat pergerakan biosurfaktan ke daerah pertemuan anrtara dua fluida tersebut. Setelah diinkubasi. 2005). So 3. oleh karena itu dapat dijadikan salah satu standar .3 Emulsifikasi Isolat bakteri disuspensikan kedalam medium MSS dan diinkubasikan pada shaker selama 48 jam. Emulsifikasi merupakan proses percampuran antara dua buah fase cair yang tidak dapat bercampur dengan bantuan agen emulsifikasi (surfaktan). Campuran kemudian divortex pada kecepatan tinggi dan didiamkan selama 24 jam. 2005). So 5. So 9. Campuran divortex agar minyak dan biakan bakteri dapat tercampur dengan baik. Dalam hal ini suspensi bertindak sebagai fase W (water) dan minyak sebagai fase O (oil).39 Isolat bakteri yang berhasil diperoleh ditanamkan pada lempeng agar darah (blood agar).

55. Variasi suhu diterapkan untuk mengetahui suhu pertumbuhan optimum dari ketiga isolat bakteri. 45oC dan 50oC.40 dalam menguji kemampuan surfaktan (Bicca.2%.5% 52.5% dan 54.02%.6% 54. Di bawah ini dapat dilihat indeks emulsifikasi dari isolat-isolat yang diujikan : Tabel 4 Indeks Emulsifikasi (E24) dari Isolat Terpilih ISOLAT So 3 So 4 So 8 So 5 So 1 So 9 So 2 St 2 St 3 kontrol INDEKS EMULSIFIKASI (E24) 56. 1999). Beberapa peneltian sangat menekankan kemampuan emulsifikasi sebagai standar dalam menguji kemampuan surfaktan (Bicca. So 4 dan So 5 merupakan tiga isolat yang memiliki indeks emulsifikasi tertinggi. 45oC dan 50oC. Ketiga isolat ini kemudian dipilih untuk diuji lebih lanjut.02% 52. Tabatabae.2% 55.08% 46. 2005). Biakan bakteri pada media NA diinkubasikan selama 24 jam dengan tiga variasi suhu.4 Pengukuran Suhu Pertumbuhan Optimum Ketiga isolat bakteri yang telah dipilih kemudian ditanamkan pada medium NB dan dinkubasikan dengan tiga variasi suhu yang berbeda.3% 50% 48.07% 0% Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa isolat So 3. yaitu 30oC. . yaitu 30 oC. yaitu 56. 4. 1999. Setelah itu biakan bakteri diencerkan melalui serangkaian seri pengenceran dan ditanamkan pada media NA.5% 50.

1 x 109 sel/mL (So 5). Karena pertumbuhan tertinggi terjadi pada suhu 45oC. Hal ini berarti bahwa ketiga isolat bakteri tergolong bakteri termofilik. Bakteri termofilik adalah golongan bakteri yang dapat hidup diatas suhu 40oC (Pelczar. yaitu sebesar 272 x 109 sel/mL (So 3).86 x 105 281.2 x 105 198.41 Pertumbuhan bakteri dihitung dengan menggunakan metode TPC. 1986). maka suhu 45oC merupakan suhu pertumbuhan optimum. . 466. hal ini mungkin dikarenakan ketiga isolat bakteri tidak dapat bertahan hidup pada suhu sampai dengan 50oC. Hasil perhitungan TPC masing-masing bakteri ketiga variasi suhu dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 5 Hasil perhitungan Total Plate Count Isolat So 3. Pada suhu 50oC tidak ada bakteri yang tumbuh. So 4 dan So 5 dengan tiga variasi suhu ISOLAT So 3 So 4 So 5 30 C 175.1 x 109 50oC - Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa pertumbuhan bakteri pada suhu inkubasi 45oC lebih tinggi dari pertumbuhan bakteri pada suhu 30oC. Pertumbuhan tertinggi dari ketiga isolat bakteri terjadi pada suhu pertumbuhan 45oC.1 x 105 o TPC 45oC 272 x 109 466.4 x 109 sel/mL (So 4) dan 359.4 x 109 359.

02 x 106 62.238 x 106 0.6 x 106 751.31 x 106 36. dibuat kurva pertumbuhan untuk mengetahui karakteristik pertumbuhan masing-masing isolat bakteri.194 x 106 0.6 x 106 270.28 x 106 70.408 x 106 0.5 Kurva Pertumbuhan Bakteri Setelah mengetahui suhu pertumbuhan optimum.9 x 107 520.42 4.5 x 106 62.29 x 106 50.73 x 107 307.456 x 106 0.01 x 106 55.7 x 106 80.156 x 106 0. Hasil perhitungan TPC selama 72 jam pertumbuhan bakteri pada suhu 45 oC dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 6 Hasil perhitungan Total Plate Count Isolat S0 3.9 x 106 165.33 x 1010 113 x 1011 So 5 0. So 4 dan So 5 selama 72 jam pada suhu 45oC Waktu (jam) 0 4 8 12 16 20 24 48 72 So 3 0.98 x 106 73.5 x 107 270.6 x 106 74.36 x 107 462 x 109 Jumlah bakteri (sel/mL) So 4 0.13 x 1010 279 x 1012 .29 x 106 0.

ketiga isolat bakteri masih dalam fase adaptasi atau fase lag. Setelah itu sampai jam ke 20 tidak terlihat . Umumnya pada fase adaptasi bentuk kurva masih mendatar (Suriawiria.6 x 106 sel/ml.01 x 106 sel/ml dan So 5 50.28 x 106 sel/ml.156 x 106 sel/ml. 2005).408 x 106 sel/ml.43 Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa pada jam ke 0 (awal penanaman) jumlah ketiga isolat bakteri tidak jauh berbeda. Isolat dengan jumlah bakteri awal terbanyak adalah isolat So 4.02 x 106 sel/ml. yaitu isolat So 3 menjadi 70. So 4 dan So 5 Pada Gambar 3 dapat dilihat bahwa sampai jam ke 8. sehingga kenaikan jumlah bakteri masih sangat sedikit. Jumlah bakteri pada Isolat So 3 hanya naik sampai 0.29 x 106 sel/ml. Pada jam ke 12 terlihat ada kenaikan jumlah bakteri. 16 14 Log jumlah bakteri 12 10 8 6 4 2 0 0 4 8 12 16 20 24 48 72 waktu (jam) So 3 So 4 So 5 Gambar 3 Kurva Pertumbuhan Isolat bakteri So 3. So 4 36. So 4 0. sedangkan isolat So 3 memiliki jumlah bakteri awal paling sedikit. yaitu 0. yaitu 0.31 x 106 sel/ml dan So 5 0.238 x 106 sel/ml. Isolat So 5 memiliki jumlah bakteri awal 0.

Hal ini dapat dilihat dengan berkurangnya kenaikan jumlah bakteri.44 kenaikan jumlah bakteri yang signifikan. Fase eksponensial ketiga isolat kemungkinan dimulai pada jam ke 20 dimana kenaikan pertumbuhan bakteri mulai tampak signifikan. Sedangkan isolat So 4 terlihat sudah memasuki fase stasioner. 2005). Dari hasil kurva pertumbuhan dapat dihitung waktu generasi (g) dan kecepatan pertumbuhan spesifik (µ). Waktu generasi adalah waktu selang waktu yang dibutuhkan oleh bakteri agar jumlah populasinya menjasi dua kali lipat dari jumlah asalnya (Pelczar. Fase eksponensial ditandai dengan bentuk kurva yang meningkat dengan tajam (Suriawiria. 1987). tetapi mulai terlihat stabil jumlahnya pada jam ke 72. Isolat So 5 terlihat terus mengalami kenaikan jumlah bakteri sampai jam ke 72. Isolat So 4 mengalami kenaikan sampai jam ke 48 (520. yaitu sebesar 113 x 1011 sel/ml. . Hal ini berarti jumlah bakteri kedua isolat masih dapat terus naik. Isolat So 3 terlihat mengalami kenaikan jumlah bakteri pada jam ke 24 dan terus naik sampai jam ke 72. yaitu sebesar 279 x 1012 sel/ml. Isolat So 3 dan So 5 terlihat masih mengalami fase eksponensial sampai jam ke 72. yaitu menjadi 462 x 109 sel/ml.33 x 1010 sel/ml).

3 0.5 Waktu generasi (jam) 3 2. 0.9 jam.45 4 3. Kedua isolat lain memiiki waktu generasi yang sedikit lebih lama.05 0 So 3 So 4 Isolat bakteri So 5 .2 0.25 0. yaitu sebesar 2.35 Kecepatan pertumbuhan spesifik 0.5 0 So 3 So 4 Isolat bakteri So 5 Gambar 4 Grafik perbandingan waktu generasi (g) Waktu generasi terpendek dimiliki oleh isolat So 5.5 2 1. yaitu So 3 3.15 0.4 jam. hal ini berarti bahwa isolat So 5 memiliki kemampuan untuk tumbuh dalam rentang waktu paling singkat.35 jam dan So 4 2.5 1 0.1 0.

Hal ini dilakukan agar diperoleh kultur bakteri yang dipergunakan masih baru dan akan memberikan hasil optimal. juga dikarenakan dari hasil kurva pertumbuhan diketahui bahwa . Pada medium MSS ditambahkan 1% crude oil. yaitu sebesar 0.46 Gambar 5 Grafik perbandingan kecepatan pertumbuhan spesifik (µ) Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa isolat So 5 memiliki kecepatan pertumbuhan spesifik (µ) paling tinggi.6 Uji Pengaruh Aktivitas Bakteri Terhadap tegangan permukaan atau surface tension (SFT) dan derajat keasaman (pH) Isolat bakteri dikulturkan dalam media NB dan diinkubasikan selama 48 jam pada suhu pertumbuhan optimum. Kultur bakteri kemudian ditanamkan dalam media MSS.24. Metode yang dipergunakan diadaptasikan dari penelitian oleh Tabatabae (2005). yaitu sebesar 0. Isolat So 3 dan So 4 memiliki kecepatan pertumbuhan spesifik yang lebih rendah. Hal ini berarti bahwa isolat So 5 memiliki kecepatan pertumbuhan paling tinggi dibandingkan dengan kedua isolat lainnya.2 dan 0. Waktu inkubasi dipilih selama 72 jam selain untuk membandingkan dengan hasil penelitian lain. Medium MSS yang berisi kultur bakteri diinkubasikan selama tiga hari pada suhu 45oC.29. Pemberian crude oil 1% dimaksudkan untuk memberikan tambahan sumber karbon bagi pertumbuhan bakteri. yaitu 45oC. 4.

60 49.65 49.5 8 49.6 0 r 40.5 9 49.91 40.18 41.6 8 49. Hasil pengukuran tegangan permukaan dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 7 Hasil pengukuran Surface tension (SFT) So 3 Awal Akhi 49.6 0 49.5 9 r 42.20 Surface tension (SFT) (mN/m) So 4 So 5 kontrol Awal Akhi Awal Akhi Awal Akhir 49.6 5 49. Pengukuran tegangan permukaan/surface tension dilakukan dengan menggunakan processor tensiometer KREUSS K12.6 5 49.37 49.5 7 49.15 49.81 41.6 2 49.6 7 49.47 ketiga isolat masih berada dalam fase eksponensial .93 40.5 8 49.5 8 49.58 49.15 40.59 Percobaan I II III IV .28 41.6 3 r 40.25 40.96 41. Sehingga produksi biomassa bakteri dan zat lain diperkirakan sedang mencapai puncaknya.79 42.6 0 49.6 8 49.

81 mN/m.93 mN/m dan isolat So 5 mampu menurunkan tegangan permukaan medium kultur dari 49.68 mN/m menjadi 41.62 mN/m menjadi 40.91 mN/m dan isolat So 5 mampu menurunkan tegangan permukaan medium kultur dari 49. yaitu diawal dan akhir percobaan. Hal ini dilakukan agar dapat diketahui pengaruh pemberian kultur bakteri terhadap penurunan tegangan permukaan medium kultur.15 mN/m.68 mN/m menjadi 42. 2005). Semakin menurun tegangan permukaan medium.18 mN/m.65 mN/m menjadi 41. isolat So 4 menurunkan .20 mN/m.96 mN/m dan isolat So 5 mampu menurunkan tegangan permukaan medium kultur dari 49.79 mN/m.58 mN/m menjadi 40. Pada percobaan I isolat So 3 menurunkan tegangan permukaan medium pertumbuhan dari 49. Pada percobaan IV isolat So 3 menurunkan tegangan permukaan medium pertumbuhan dari 49. isolat So 4 menurunkan tegangan permukaan dari 49. isolat So 4 menurunkan tegangan permukaan dari 49. Pada percobaan II isolat So 3 menurunkan tegangan permukaan medium pertumbuhan dari 49.28 mN/m.67 mN/m menjadi 41.63 mN/m menjadi 40. semakin banyak dan efektif biosurfaktan yang dihasilkan. isolat So 4 menurunkan tegangan permukaan dari 49.60 mN/m menjadi 40.25 mN/m. Pada percobaan III isolat So 3 menurunkan tegangan permukaan medium pertumbuhan dari 49.48 Pengukuran tegangan permukaan dilakukan dua kali.57 mN/m menjadi 40.58 mN/m menjadi 40. Penurunan tegangan permukaan merupakan pertanda dihasilkannya biosurfaktan (Tabatabae.

Apabila dibandingkan hasil percobaan dengan hasil penelitian Tabatabae (2005).2 8.84 0 8. 15 mN/m.59 mN/m menjadi 42.23 7.44 0 9.4 8.45 mN/m. Umumnya isolat bakteri penghasil biosurfaktan yang tergolong baik dapat menurunkan tegangan permukaan dibawah 40 mN/m.96 7. .43 8.45 8. Penurunan tegangan permukaan terbesar pada percobaan I dihasilkan oleh So 3.88 0 9.62 7. Hal ini mengindikasikan bahwa biosurfaktan yang dihasilkan masih kurang baik kualitasnya.4 mN/m. ternyata kemampuan penurunan tegangan permukaan ketiga isolat bakteri tidak terlalu baik.15 mN/m.66 7.49 tegangan permukaan dari 49.64 0 Pada percobaan I isolat So 3 berhasil mengurangi tegangan permukaan sebesar 9.62 7.60 mN/m menjadi 41. isolat So 4 sebesar 8.43 8.37 mN/m dan isolat So 5 mampu menurunkan tegangan permukaan medium kultur dari 49.96 mN/m dan isolat So 5 sebesar 7. Tabel 8 Penurunan surface tension (SFT) Percobaan I II III IV Rata-rata Penurunan surface tension (SFT) (mN/m) So 3 So 4 So 5 kontrol 9. Tetapi penurunan tegangan permukaan terendah yang dihasilkan hanya sebesar 40.4 0 9.

62 mN/m dan isolat 7.50 Pada percobaan II isolat So 3 mampu mengurangi tegangan permukaan sebesar 9.4 mN/m. So 5 sebesar .88 mN/m.64 mN/m. isolat yang paling berpotensi untuk dipergunakan dalam kegiatan MEOR adalah isolat So 3. isolat So 4 sebesar 8. Pada percobaan III isolat So 3 mampu mengurangi tegangan permukaan sebesar 8.2 mN/m.43 mN/m. isolat So 4 sebesar 8. Pada percobaan IV isolat So 3 mampu mengurangi tegangan permukaan sebesar 9. isolat So 4 sebesar 8. Kemampuan penurunan tegangan permukaan dapat diterapkan dalam reservor minyak bumi untuk mengeluarkan minyak bumi yang terperangkap dalam pori-pori batuan dalam reservoar (Sharma. isolat So 4 sebesar 8.44 mN/m. Secara keseluruhan ternyata penurunan tegangan permukaan terbesar dihasilkan oleh isolat So 3. Setelah dirata-ratakan isolat So 3 mampu mengurangi tegangan permukaan sebesar 9.62 mN/m dan isolat So 5 sebesar 7.23 mN/m dan isolat So 5 sebesar 7. Penurunan tegangan permukaan terbesar pada percobaan III dihasilkan oleh So 4. Oleh karena itu dari ketiga isolat yang diujikan. Penurunan tegangan permukaan terbesar pada percobaan IV dihasilkan oleh So 3.66 mN/m dan isolat So 5 sebesar 7. Penurunan tegangan permukaan terbesar pada percobaan II dihasilkan oleh So 3.84 mN/m. Hal ini berarti bahwa kemungkinan produksi dan efektifitas biosurfaktan terbesar dihasilkan oleh isolat So 3.43 mN/m. 1993).

78 5.78 5.78 5.78 5.78 5.75.73 5.78 5.74 kontrol Awal Akhir 5. isolat So 4 menurunkan pH dari 5.74 5.78 5.78 r 5.74 dan isolat So 5 mampu menurunkan pH medium kultur dari 5.73.78 5. isolat So 4 menurunkan pH dari 5.78 menjadi 5.78 5.74 Derajat keasaman (pH) So 4 So 5 Awal Akhi Awal Akhi 5.75 5.74 5.74 dan isolat So 5 mampu menurunkan pH medium kultur dari 5. .78 menjadi 5.78 menjadi 5.78 r 5.78 5.74.78 5.78 menjadi 5.78 5.74. Pada percobaan II isolat So 3 menurunkan pH medium pertumbuhan dari 5.78 5.74 5.78 5.74 5.78 menjadi 5.51 Tabel 9 Hasil pengukuran Derajat Keasaman (pH) So 3 Awal Akhi 5.78 5.78 Percobaan I II III IV Pada percobaan I isolat So 3 menurunkan pH medium pertumbuhan dari 5.78 r 5.73 5.78 menjadi 5.74 5.74 5.74 5.78 5.

05.04 dan isolat So 5 sebesar 0. . Tabel 10 Perubahan Derajat Keasaman (pH) Percobaan I II III IV Rata-rata So 3 0.74.78 menjadi 5.04 dan isolat So 5 sebesar 0.78 menjadi 5.78 menjadi 5. isolat So 4 sebesar 0. Pada percobaan III isolat So 3 mengurangi pH sebesar 0.74 dan isolat So 5 mampu menurunkan pH medium kultur dari 5. isolat So 4 sebesar 0.78 menjadi 5.05 0. Pada percobaan II isolat So 3 mengurangi pH sebesar 0.04 0.04 0.04.04 0.045 kontrol 0 0 0 0 0 Pada percobaan I isolat So 3 mengurangi pH sebesar 0.74.04 0.0375 Perubahan Derajat Keasaman (pH) So 4 So 5 0. isolat So 4 menurunkan pH dari 5.04.78 menjadi 5.04 0. Penurunan pH pada percobaan II ternyata sama besar untuk semua isolat.03 0. isolat So 4 menurunkan pH dari 5. Pada percobaan IV isolat So 3 menurunkan pH medium pertumbuhan dari 5.04 0.52 Pada percobaan III isolat So 3 menurunkan pH medium pertumbuhan dari 5.05. isolat So 4 sebesar 0.78 menjadi 5. Penurunan pH terbesar pada percobaan I dihasilkan oleh So 5.04 0.05 0.04 dan isolat So 5 sebesar 0.73.04 0.04.04 0.74.03.74 dan isolat So 5 mampu menurunkan pH medium kultur dari 5.04 0. Penurunan pH terbesar pada percobaan III dihasilkan oleh So 5.

04 dan isolat So 5 sebesar 0.045. Penurunan pH pada percobaan II ternyata sama besar untuk semua isolat. yaitu antara 4 sampai 9 (Pelczar.53 Pada percobaan IV isolat So 3 mengurangi pH sebesar 0.73-5. 4. Setelah dirata-ratakan isolat So 3 mengurangi pH sebesar 0. isolat So 4 sebesar 0.7 Pengukuran Kadar Nitrogen Setelah mengetahui pengaruh isolat bakteri terhadap penurunan tegangan permukaan dan perubahan pH. dilakukan pengukuran kadar nitrogen yang terbentuk di dalam medium pertumbuhan. yaitu antara 5.78. Sehingga perubahan pH medium masih tergolong baik bagi pertumbuhan bakteri. Selain itu perubahan pH yang terjadi juga tidak besar. Nilai pH medium uji sebelum dan sesudah pemberian isolat bakteri semuanya tergolong asam.Hal ini untuk mengetahui apakah biosurfaktan yang dihasilkan mengandung nitrogen.0375. Hasil pengukuran kadar nitrogen dapat dilihat pada tabel berikut: .04.04 dan isolat So 5 sebesar 0. isolat So 4 sebesar 0. Nilai pH tersebut masih tergolong dalam batasan toleransi pH minimum dan optimum untuk pertumbuhan. 1987). sehingga dapat disimpulkan bahwa produksi biosurfaktan tidak terlalu mempengaruhi perubahan pH medium uji.04. Penurunan pH terbesar dihasilkan oleh So 5.

yaitu sebesar 15 mg/L. isolat So 4 40 mg/L dan So 5 38 mg/L. penambahan terbesar dihasilkan oleh isolat So 3 dan penambahan terkecil oleh isolat So 5. Penambahan kadar nitrogen pada medium uji pada dasarnya dapat berasal dari dua sumber. Tapi pada tabel penambahan kadar nitrogen. So 4 dan So 5.54 Tabel 11 Hasil Pengukuran Kadar Nitrogen Kadar Nitrogen (mg/L) Awal Akhir Isolat So 3 So 4 So 5 kontrol 28 28 28 28 43 40 38 28 Penambahan kadar nitrogen (mg/L) 15 12 10 0 Kadar nitrogen dalam medium MSS awal sebesar 28 mg/L dan mengalami peningkatan setelah ditambahkan kultur bakteri isolat So 3. Apabila penambahan kadar nitrogen . Pada kurva pertumbuhan biomassa terbesar dihasilkan oleh isolat So 5 dan yang terkecil dihasilkan oleh isolat So 3. yaitu dari biomassa bakteri sendiri dan juga dari pembentukan zat lain seperti surfaktan. Kadar nitrogen pada isolat So 3 bertambah menjadi 43 mg/L. Penambahan kadar nitrogen terbesar dihasilkan oleh isolat So 3. Tapi dengan membandingkan hasil kurva pertumbuhan dan tabel penambahan kadar nitrogen dapat disimpulkan bahwa penambahan kadar nitrogen bukan disebabkan oleh biomassa bakteri.

diikuti oleh isolat So 4 (8.64 mN/m). yaitu penambahan terbesar adalah isolat So 3 (15 mg/L). Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa biosurfaktan yang dihasilkan mengandung kadar nitrogen di dalamnya. Penambahan kadar nitrogen juga memiliki pola yang sama.55 berasal dari biomassa bakteri. maka seharusnya penambahan kadar nitrogen terbesar dihasilkan oleh isolat So 5. Tetapi bila tabel penambahan kadar nitrogen dibandingkan dengan tabel penurunan tegangan permukaan. kemudian isolat So 4 (12mg/L) dan terakhir isolat So 5 (10 mg/L). maka dapat dilihat ada keterkaitan diantaranya.62 mN/m) dan terakhir isolat So 5 (7.2 mN/m). . Penurunan tegangan permukaan terbesar dihasilkan oleh isolat So 3 (9.

02 % (So 5). Indeks emulsifikasi tertinggi hanya sebesar 56.2 % (So 3).6 % (So 8).1. Isolat-isolat bakteri penghasil biosurfaktan yang berasal dari air formasi dan air injeksi berpotensi dipergunakan dalam kegiatan MEOR.045 (So 5).08% (So 9).64 mN/m. Perubahan tertinggi hanya sebesar 0. terutama isolat So 3. 56. Bakteri-bakteri penghasil biosurfaktan dapat menurunkan tegangan permukaan medium pertumbuhan. 52. Perubahan pH medium pertumbuhan tidak terlalu besar. yaitu sebesar 52.5 % (So 1). isolat So 4 sebesar 8. 55. 46.2 % (So 3).1 Kesimpulan Kesimpulan Umum Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat diperoleh kesimpulan umum sebagai berikut : 1. 3.2 mN/m. 2. 50. So 4 dan So 5. 50 % (St 2) dan 48.56 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 5. Isolat yang paling berpotensi digunakan dalam kegiatan MEOR adalah isolat So 3.5 % (So 4). Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa produksi biosurfaktan tidak terlalu mempengaruhi perubahan pH medium. Isolat So 3 dapat menurunkan tegangan permukaan sebesar 9.62 mN/m dan isolat So 5 sebesar 7.5% (So 4) dan 54. .07% (St 3). 55.3 % (So 2). Indeks emulsifikasi isolat-isolat penghasil biosurfaktan yang diperoleh.02 % (So 5). 54.

yaitu sebesar 2.57 5. 2. Waktu generasi terpendek dimiliki oleh isolat So 5. Penambahan kadar nitrogen berasal dari pembentukan biosurfaktan. Selain itu dapat juga dicoba campurkan beberapa isolat bakteri untuk menguji apakah campuran beberapa jenis biosurfaktan akan meningkatkan keefektifan penurunan tegangan permukaan.1. Oleh karena itu biosurfaktan yang dihasilkan mengandung nitrogen. Hasil pengukuran suhu pertumbuhan optimum menunjukkan bahwa suhu pertumbuhan optimum ketiga isolat bakteri adalah 45oC. Penambahan kadar nitrogen terbesar dihasilkan oleh isolat So 3. sebaiknya diuji cobakan berbagai macam medium pertumbuhan untuk meningkatkan perolehan biosurfaktan dan pertumbuhan isolat bakteri.29. yaitu sebesar 15 mg/L. yaitu sebesar 0. .2 Kesimpulan Khusus Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat diperoleh kesimpulan khusus sebagai berikut : 1. Dari 14 isolat yang ditanamkan pada agar darah sembilan isolat menunjukkan aktifitas hemolisis.4 jam. Sedangkan isolat bakteri yang memiliki kecepatan pertumbuhan spesifik paling tinggi juga adalah isolat So 5. 3. 5.2 Saran Saran untuk penelitian selanjutnya.

Structure and Characterization of Flavolipids. M. Paull A. 1991. Fleck L. P. J.1981. Strain MTN11. D. Isolation of biosurfactant producing bacteria product characterization and evaluation. Baltimore. D. Biores Tech.A. 53(2) : 224-229 Desai.. Kosaric N. E. Enhanced Production of Surfactin from Bacillus subtilis by Continuous Product Removal and Metal Cation Additions. 1994... R. 70(1) : 114 – 120 Campbell.. Bates R.G. Ayub M. J. Biosurfactant production and possible uses in Microbial Enhanced Oil Recovery and Oil Pollution Remediation.58 DAFTAR PUSTAKA ABU-Ruwaida. USA :William & Wilkins Co Jawetz. Applied and Environmental Microbiology. Melnicki. 1980. B. Trinh L.. R. B. 1997. Biologi Jilid 2 Edisi Kelima. M.... A. Banat I. Acta Biotech. Applied and Environmental Microbiology. Production of biosurfaktan by hydrocarbon degrading Rhodococcus ruber and Rhodococcus erythropolis. Somogyi A. G. Geologi Minyak dan Gas Bumi. Banat M. R. a Novel Class of Biosurfactants Produced by Flavobacterium sp. Haditirto. S. Kadri A. Microbial Production of Surfactant and Their Commercial Potenial.. 30 : 231-236 Bodour. M. Z. K. J. 2001. G. Malcomson M. Bergey’s Manual of Determinative Bacteriology. 2004. Duff S. Salem S. Kimia Organik Edisi Ketiga Jilid 2. 1995. 51: 1-12 Bicca. and Adelbergs. Jakarta : Penerbit Erlangga Cooper. A. 2004. Mikrobiologi Kedokteran.. F. Microbiology and Molecular Biology Reviews.. G. D. A. Fessenden J. Maier R. 42(3) : 408-412 Cooper.Jakarta : Penerbit Erlangga Holt. C... 1999. et all. N. Koesoemadinata. G. V. A. Revista De Microbiologia. I.. Jiorle B.. Applied and Environmental Microbiology. Barajas C.. C. Surface-Active Agents from Two Bacillus Species. N... Goldenberg B.. Bandung : Penerbit ITB . Ninth Edition.. 1989. 61(1) : 47-64 Fessenden. 1987. 11(4): 315-24 Banat. Jakarta : Salemba Medika. Macdonald C.

J. 1958. USA Suriawiria H.. USA Pelczar M. 2(1) : 6-12 Yakimov. Dasar-Dasar Mikrobiologi Jilid 2. Iranian J ENV Health Sci Eng. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia . J.1982.E.N. J. N . Dasar-Dasar Mikrobiologi Jilid1. fifth edition. New York : & Sons. and Springham. Ivanov M.Inc. M. McGraw Hill Book Company Inc. 1967. McGraw-Hill Book Company. 2003... Wray V. Fundamental Principles of Bacteriology. 61(5) : 1706-1713 Yatim.M. USA Moses. Inc John Wiley Safitri. G. M. Oaklahoma. New York. 2003. I.. N... Isolation of Biosurfactant Producing Bacteria from Oil Reservoirs. 1978. Bandung : Penerbit PT. London. D. Barotolerence and microbial enhancement of oil recovery. New Jersey.... 2004. V.eds. V. Jakarta : PENERBIT PAPAS SINAR SINANTI Suriawiria U.(1995). R. R. In : Microbial enhanced oil recovery. McGraw-Hill Book Company. Zajic. ALUMNI Tabatabaee A. A. Pelczar. Assadi M M. Bacteria and the enhanced of oil oil recovery. Characterization of a New Lipopeptide Surfactant Produced by Thermotolerant and Halotolerant Subsurface Bacillus licheniformis BAS50. PennWell Publishing. Surfactants and Interfacial Phenomena.D. R. T. W.E. Penuntun Praktikum Mikrobiologi Dasar. Microbiology. G. Inc. D. 1986. Rosiana N.. Lyalikova N. Timmis K.L. New York. S.. 1983.59 Kusnetsov.. Cooper. Miranti M. Fredrickson H.. 2005. Applied and Environmental Microbiology. 1961. Jakarta : UI-Press Rosen M. Mikrobiologi Dasar. J. Noohi A A. J. Applied Science Publishers. U. Jack. Kamus Biologi. New York Marquis. & Kosaric. and Reid. 1986. Mikrobiologi air. R. Introduction of geological microbiology. J.. Indrawati I. Sajadian V A (2005). Jakarta : UI-Press Pelczar M. Jatinangor : Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi FMIPA Unpad Salle.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful