Judul Text Book Reading BAB 20.

Cedera Medula Spinalis Non-Progresif

Cedera Medula Spinalis Non-progresif Cedera dan penyakit yang melibatkan medula spinalis dapat menganggu kehidupan penderita dan keluarganya. Sebab dalam waktu sekejap mampu membuat suatu perbedaan dari penderita yang sebelumnya mandiri menjadi tergantung pada orang lain dan peralatan mekanik untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Angka kejadian cedera medula spinalis (CMS) secara statistik masih rendah dibandingkan dengan diagnosis penyakit lain, tetapi beban keuangan yang dialami penderita sangat tinggi. Terdapat kira-kira 247.000 orang di Amerika Serikat (AS) yang mengalami CMS dan hampir 11.000 orang di AS atau setara dengan 40/1.000.000 orang didiagnosis setiap tahunnya dengan CMS. Kelompok tersebut termasuk penderita dari semua golongan usia dan etnis. Trauma adalah penyebab tersering dari CMS, walaupun banyak juga yang disebabkan oleh non-traumatik. Data populasi CMS traumatik di AS dikumpulkan oleh the National Spinal Cord Injury Database (NSCID) dan diproses oleh Nation Spinal Cord Injury Statistical Center (NSCISC). Data tersebut diperoleh dari kasus lama dan kasus baru oleh NSCID dan NSCISC. Kecelakaan bermotor merupakan persentase terbesar penyebab CMS, yaitu hampir setengah kasus CMS. Penyebab CMS lain termasuk jatuh, aksi kekerasan, dan cedera olahraga. Proporsi cedera ditampilkan pada tabel 20-1. Meskipun kejadian CMS karena penyebab primer relatif konstan selama 30 tahun terakhir, namun ada beberapa perubahan penting dalam distribusi keseluruhan. Proporsi CMS karena cedera olahraga telah berkurang, karena teknik olahraga yang lebih baik, pelayanan kedaruratan, dan peningkatan alat pelindung diri. Seiring dengan

populasi usia lanjut di AS, persentase CMS karena jatuh meningkat. Dibawah usia 45 tahun, jatuh memimpin mekanisme cedera. Tindak kekerasan telah menurun dari puncaknya 21% pada 1990-1992 tetapi masih proporsional lebih tinggi di antara Afrika-Amerika dan Hispanik dibandingkan dengan kelompok ras lainnya.

PATOLOGI Defisit neurologis pada CMS terjadi karena adanya suatu kekuatan yang menyebabkan kerusakan saraf pada medula spinalis. Kekuatan tersebut bisa langsung maupun tidak langsung. Tekanan langsung dapat terjadi bila suatu benda atau tonjolan tulang yang masuk langsung ke dalam kanalis spinal sehingga menganggu beberapa saraf medula spinalis. Tekanan yang paling sering terjadi adalah yang tidak langsung, misal adanya trauma fisik yang mengganggu komponen saraf akibat kerusakan sekunder dari tempat cedera dan jaringan sekitar. Mekanisme cedera mempengaruhi tipe awal dari kerusakan mekanik spina, medula spinalis, dan struktur disekitarnya. Fleksi atau hiperfleksi cedera terjadi saat tekanan menyebabkan pergeseran anterior dari satu segmen spina dengan yang lainnya (contoh; trauma pada bagian bawah tubuh dengan benda yang tidak bergerak menyebabkan fleksi yang berat pada segmen tubuh yang lebih tinggi) dan hasilnya adalah gangguan pada ligamen posterior, posterior intervertebral disk herniation or tear, serta fraktur dan atau dislokasi corpus vertebra. Ekstensi atau hiperekstensi terjadi saat tekanan langsung pada bagian posterior tubuh (contoh; trauma pada bagian belakang tubuh dengan benda yang tidak bergerak) dapat menyebabkan robekan pada ligamen anterior longitudinal, robekan atau herniasi anterior dari intervertebral disk, dan fraktur elemen spina posterior dengan kompresi dan atau subluksasi. Cedera fleksi dan ekstensi paling sering terjadi karena spina bersifat sangat fleksible. Contohnya pada spina servikalis yang mempunyai gerakan fleksi terbesar pada C5-6 dan ekstensi terbesar pada C45, sehingga membuat segmen tersebut paling sering cedera fleksi dan ekstensi.

Kompresi vertebra dengan tekanan vertikal yang kuat dari arah kranial maupun kaudal atau keduanya, mampu menyebabkan burst satu atau lebih korpus vertebra. Burst fracture menghasilkan suatu fragmen tulang yang mampu merusak jaringan di sekitar dan sering melibatkan medula spinalis. Cedera rotasional terjadi ketika satu bagian tubuh berputar kuat secara longitudinal pada bagian tubuh lain yang stabil atau bergerak dengan arah yang berlawanan. Gerakan yang berlawanan membuat suatu tekanan rotasional yang dapat menyebabkan tarikan dan robekan pada jaringan saraf, robekan ligamen, dan fraktur vertebra. Kerusakan primer medula spinalis diklasifikasikan sebagai benturan keras (concussion)jika terdapat cedera yang disebabkan oleh aksi kekerasan atau benda tajam sehingga terjadi kehilangan fungsi sementara. Perbedaannya, luka memar (contusion)terjadi ketika permukaan medula spinalis dan pelapisnya tetap utuhtetapi terdapat kehilangan jaringan saraf (subtansia nigra dan alba) dari bagian tengah medula spinalis. Cedera dianggap suatu laserasi atau maserasi jika glia terganggu dan terdapat suatu gangguan langsung pada jaringan medula spinalis. Kerusakan sekunder medula spinalis adalah kerusakan yang terjadi setelah kerusakan struktural secara primer sehingga menimbulkan kerusakan yang lain. Kerusakan sekunder terjadi ketika tempat lesi primer dan sekelilingnya menyebar ke segmen spinal yang berada di atas atau di bawah lesi awal. Awalnya, terdapat nekrosis pada akson yang rusak akibat trauma. Diikuti oleh cedera jaringan yang progresif yang patofisiologinya belum dimengerti, namun sering kali dihubungkan dengan respon vaskular dan sistem imun. Perubahan aliran darah karena iskemik atau perdarahan menyebabkan suatu kerusakan sel saraf lokal. Pada tempat cedera, perdarahan intraparenkim mampu menyebabkan kerusakan jaringan dengan cepat karena terdapat stressor pada pembuluh darah yang berlokasi pada substansia nigra dan batas dari subtansi alba. Pembuluh darah perifer medula spinalis relatif terhindari dari kerusakan dini, sebagimana greater compliance pada substansi alba. Kerusakan mikrovaskular dari substansi nigra menyebabkan kehilangan aliran darah ke medula spinalis dan gangguan autoregulasi. Iskemik pada regio tersebut juga dapat menyebabkan

terdapat patologi lain yang dapat menyebabkan kerusakan medula spinalis. Beberapa aspek dari respon imun mungkin mempromosikan pemulihan CMS. Trauma fisik merupakan penyebab primer CMS.5% pada penderita CMS. Pneumotoraks traumatika atau hemotoraks terjadi sebanyak 18% kasus. Cedera otak berat juga menganggu fungsi kognitif dan emosi sebanyak 11. Hal ini dan tindakan lainnya memiliki fungsi neuroprotektif dan dapat meningkatkan regenerasi saraf. Berdasarkan laporan dari NSCID tahun 1985-1995 terdapat 29% penderita mengalami fraktur dan 29% mengalami penurunan kesadaran. akan tetapi terdapat juga cedera lain yang dapat menyebabkan CMS. Sel tersebut dikaitkan dengan kematian neuron. Penyebab non-traumatik termasuk cedera atau penyakit yang mampu menimbulkan kerusakan komponen saraf medula spinalis. Meskipun kekuatan destruktif mendominasi. Perdarahan dan kerusakan pada sawar pembuluh darah medula spinalis menyebabkan sel peradangan meinfiltrasi bagian medula spinalis yang cedera. Hal ini juga mampu memicu sel imun untuk merangsang respon peradangan pascatraumatik yang berkontribusi pada patogenesis sekunder akut dan kronik CMS. seperti transverse myelitis dan sklerosis multipel.edema vasogenik (secara sekunder mampu merusak sawar darah medula spinalis) melalui tekanan langsung dari jaringan seikitar atau hasil dari vasospasme lokal. Jumlah jaringan saraf yang sehat digabungkan dengan intervensi medis dini mampu mengurangi kerusakan primer dan sekunder dan dapat meningkatkan derajat fungsi sensorik dan motorik. Walaupun trauma adalah penyebab tersering CMS. beberapa jaringan saraf medula spinalis dapat terhindar. demielinisasi. Respon imun yang bermanfaat mampu memulihkan debris selular dan pelepasan faktor pertumbuhan saraf. Kerusakan lain juga dikatikan dengan perubahan kadar ion dan produksi radikal bebas pada medula spinalis. dan perubahan lain pada substansi alba termasuk Wallerian degeneration. atau distensi . degenerasi spinal. terutama pada regio perifer. bermula pada jam pertama setelah cedera dan berlanjut selama beberapa minggu. Medula spinalis juga bisa dirusak oleh tekanan tumor.

terdapat . maka dibagi menurut fungsinya. SYOK SPINAL Faktor utama yang berkontribusi terjadinya komplikasi pada CMS fase akut disebut sebagai fenomena syok spinal (areflexia). Syok spinal dikarakteristikkan sebagai hilang total dari kontrol sensorik. seperti spina bifida atau skoliosis berat mampu menyebabkan kerusakan medula spinalis. dan sebaliknya pada sensory level. Motor level kadang dibagi menjadi upper extremity motor scores (UEMS) dan lower extremity motor scores (LEMS). L-sensory atau R-motor. sedangkan motor level hampir sama hanya menggambarkan fungsi motorik normal. Selama periode ini. Kerusakan pembuluh darah juga dapat menyebakan iskemi atau perdarahan pada medula spinalis atau kolumna spinalis. Sensory level mengarah pada segmen paling bawah dari medula spinalis dengan fungsi sensorik normal pada kedua sisi tubuh. The International Standards for Neurological Classification of Spinal Cord Injury mengatur klasifikasi CMS secara internasional. Cedera medula spinalis tak sempurna adalah suatu keadaan hilangnya sebagian fungsi normal sensorik dan motorik dari segmen sakralis terbawah. Sedangkan CMS sempurna didefinisikan sebagai hilangnya seluruh fungsi normal sensorik dan motorik. dengan spinal level yang menyertai masing-masing hal tersebut. L-motor. Neurological level dideskripsikan sebagai R-sensory. motorik. Neurological level didefinisikan sebagai segmen paling bawah dari medula spinalis yang memiliki fungsi normal sensori dan motorik pada kedua bagian tubuh. Hal ini terjadi segera setelah cedera dan berakhir dalam beberapa hari hingga minggu setelah cedera. dan autonom di bawah level lesi. skeletal level mengarah pada kerusakan vertebral terbesar pada medula spinalis. Berdasarkan sistem tersebut.intervertebral disk. Jika segmen yang memiliki fungsi normal hanya pada satu bagian tubuh. Cedera medula spinalis dijelaskan berdasarkan pola dan derajat fungsi sensorik dan motorik yang tersisa setelah cedera. Malformasi kongenital spina atau kanalis spina.

CMS dapat menyebabkan aktivasi mekanisme kompensasi tubuh normal di bawah level cedera. . termasuk otot polos dari organ visceral. yang berakibat escalating BP.9% pasien mengalami AD selama rehabilitasi. Jika tidak ditangani dengan segera. seperti blocked catheter. walaupun terdapat penyebab lain. bowel impaction. Pada penderita tanpa CMS. namun kemudian berkembang menjadi hipertonus. insiden menjadi lebih tinggi yaitu 29%. AD merupakan hasil dari respon autonomik yang tidak terkontrol terhadap rangsangan noxious dari internal maupun eksternal. bila lower motor neuron (LMN) terlibat. Secara normal Noxious stimulus menyebabkan respons simpatetik yang berakibat terjadinya vasokomntriksi dan meningkatkan tekanan darah. juga dikenal sebagai autonomic hyperreflexia) adalah suatu keadaan serius atau mengancam nyawa yang disebabkan oleh episode hipertensi yang tidak terkontrol pada penderita CMS atau di atas level T6. Survei pada CMS (1996-1998) menunjukkan bahwa 7. maka penting bagi dokter untuk mengetahui penderita CMS yang beresiko terjadinya AD dan dapat menatalaksana dengan tepat apabila CMS terjadi. AUTONOMIC DYSREFLEXIA Autonomic dyreflexia (AD. dan kontraktur sebagai kemajuan rehabilitasi dan syok spinal sembuh. maka penyembuhan syok spinal ditandai dengan kembalinya refleks tendon dalam dan onset spastik pada otot skeletal dan visceral. Namun.flaccid paralysis dari semua otot di bawah level lesi. Bila upper motor neuron (UMN) terlibat. spastik. Penyebab AD paling sering adalah distensi vesika urinaria atau usus. tubuhnya mampu mengkompensasi fenomena ini dengan impuls penghambat sehingga terjadi vasodilatasi dan normalisasi tekanan darah. atau infeksi saluran kemih. AD terjadi setelah periode syok spinal. Karena frekuensi dan bahayanya AD. Karena syok spinal. yaitu saat respon refleks dan autonomik kembali. maka otot skeletal dan visceral kembali flaccid setelah penyembuhan syok spinal. banyak penderita CMS mengalami hipotonus dan fleksibilitas yang baik dibawah level lesi pada pase akut. Pada pasien dengan tetraplagia sempurna.

the Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengestimasi bahswa biaya perawatan CMS dengan ulkus dekubitus per tahun adalah 1. Terdapat periode aritmia jantung dan bradikardia akibat kompensasi terhadap peningkatan tekanan darah. Bagian tubuh dengan penonjolan tulang juga berisiko untuk terjadi ulkus dekubitus. dan kepatuhan yang buruk (misal. seperti regio sakrum. tumit. Faktor tersebut dapat didukung oleh tindak kekerasan. sosial. mata dan jantung yang mengarah pada perdarahan subaraknoid. dan psikologis terhadap penderita yang memerlukan perawatan luka. stresor psikososial. maserasi kulit. higiene yang buruk. dengan penelitian terhadap populasi dengan CMS menunjukkan hampir 20% atau lebih mengalami ulkus dekubitus pascacedera. immobilitas. dan nutrisi yang inadekuat. posisi tidur yang baik). Biaya medis tersebut termasuk biaya ekonomi. merokok. Dan 30% penderita dapat mengalami lebih dari satu ulkus.peningkatan tekanan darah dapat merusak otak. Hampir 30% penderita mengalami ulkus dekubitus pertama kali saat dirawat di rumah sakit dan berlanjut selama hidupnya. Semua tim pengobatan (khususnya penderita CMS dan keluarga) harus diajarkan untuk mengenali gejala tersebut dan menganggap AD sebagai suatu kedaruratan medik. Penderita mungkin mengalami gelisah. vokasional. tekanan yang lama. shearing forces. ginjal. Faktor risiko ulkus dekubitus adalah kehilangan fungsi sensorik.2 milyar dolar. ULKUS DEKUBITUS Ulkus dekubitus atau pressure ulcers adalah masalah tersering yang terjadi setelah CMS atau merupakan penyebab utama pasien kembali dirawat di rumah sakit. Ulkus dekubitus dikarakteristikkan sebagai ulserasi iskemik jaringan lunak akibat tekanan yang lama. dan skapula . Enam puluh hingga 80% penderita dengan CMS dapat mengalami ulkus dekubitus selama masa hidupnya. obesitas. serta infark myokardial. kejanga. Di Amerika Serikat. perdarahan ginjal dan retina.

kebiasaan kesehatan sebelumnya.yang sering terjadi karena posisi berbaring terlalu lama. maka intervensi dini seperti menjaga bagian tubuh yang terkena tetap bersih dan merubah posisi tubuh sesering mungkin. termasuk tetapi tidak terbatas pada demografi pasien (umur. jenis kelamin. Hal ini penting untuk meninjau riwayat medis dan pembedahan yang berhubungan dengan cedera medula spinalis (mekanisme cedera. rekam medis harus ditinjau untuk informasi latar belakang. Informasi ini akan menjadi petunjuk . tingkat pendidikan. PEMERIKSAAN RIWAYAT PASIEN Riwayat pasien yang diperoleh dari rekam medis dan wawancara pasien digunakan untuk membantu memandu pengujian dan pengukuran porsi pemeriksaan. Pencegahan ulkus dekubitus melibatkan banya tim medis. karakteristik kepribadian secara umum. dan lain-lain) karena hal tersebut akan mengindikasikan kemungkinan gangguan primer dan sekunder yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut dan juga akan memperingatkan tindakan pencegahan yang mungkin dibutuhkan untuk diobservasi. operasi stabilisasi. tingkat fungsional sebelumnya. Untuk populasi cedera medula spinalis. Wawancara terhadap pasien dan keluarganya menghimpun informasi yang mengarahkan terapis untuk mengembangkan ide mengenai gaya hidup pasien sebelum terjadi cedera medula spinalis. Hubungan yang spesifik terhadap cedera yang sekarang harus meliputi kondisi medis yang secara langsung dan tidak langsung terkait dengan cedera medula spinalis. patah tulang. Informasi yang diperoleh selama wawancara harus mencakup lingkungan tempat tinggal. dan tujuan hidup. Atau penderita yang sering duduk pada kursi roda juga dapat menyebabkan ulkus pada daerah iskia. dan laboratorium klinis serta tes diagnostik lainnya. kebiasaan sosial. dan riwayat keluarga. keadaan sekolah dan/atau pekerjaan. riwayat perkembangan.Terapi fisik penunjang dan perawatan luka juga dapat melengkapi proses penyembuhan. dan lain-lain) kondisi kesehatan sebelumnya dan intervensi. pengobatan. Terapi fisik memiliki peranan untuk membantu mobilitas dan posisi yang mampu melindungi kulit selama proses penyembuhan luka. hobi/kesenangan. Jika ulkus dekubitus terjadi.

dengan menghilangnya bising usus selama 24-72 jam setelah cedera. Bagian akhir dari wawancara pasien adalah diskusi mengenai tujuan pasien dan hasil yang diharapkan untuk rehabilitasi dan peran yang mereka harapkan atas terapi untuk kesembuhan mereka. Penggunaan kortikosteroid untuk mengurangi inflamasi akut dan cedera sekunder di tempat cedera medula spinalis dapat meningkatkan resiko perdarahan gastrointestinal. TINJAUAN SISTEM Tinjauan sistem digunakan untuk menargetkan daerah-daerah yang membutuhkan pemerikasaan lebih lanjut dan untuk menentukan daerah yang dapat menyebabkan komunikasi atau mengindikasikan suatu pencegahan selama pemeriksaan dan proses intervensi. Terapis harus jelas mengenai apa yang pasien harapkan dari terapi. Perdarahan gastrointestinal terjadi pada 3% sampai 5% pasien dengan cedera medula spinalis. terapi apa yang diharapkan oleh pasien. tetapi bila terjadi dapat berbahaya dan memerlukan pertimbangan yang cermat. intervensi.untuk evaluasi. Selama peninjauan sistem. Profilaksis sering digunakan untuk mengurangi kejadian perdarahan gastrointestinal. Terapis fisik dapat membuat keputusan klinis yang lebih baik tentang perawatan pasien. jika mereka mengerti pengaruh cedera medula spinalis pada fungsi tubuh. Ileus (motilitas usus sangat menurun) dapat terjadi selama periode shock spinal. dan perencanaan pulang. dan bagaimana fungsi tim rehabilitasi interdisiplin. hal yang penting adalah mengenali bagaimana perubahan fungsi sistem dapat mempengaruhi partisipasi individu dalam proses rehabilitasi. Pasien juga harus dinilai untuk memahami kondisi mereka saat ini dan prognosis medis yang terkait. Berikut adalah penjelasan dari pengaruh cedera medula spinalis terhadap beberapa sistem tubuh. Komplikasi perdarahan gastrointestinal yang berhubungan dengan cedera medula spinalis meliputi peningkatan kejadian . Sistem Gastrointestinal Saat terjadi cedera medula spinalis. komplikasi gastrointestinal jarang terjadi dan jarang timbul keparahan dibandingkan komplikasi sistem lainnya.

Cedera medula spinalis lengkap/total diatas segmen medula spinalis sakralis menyebabkan UMN atau refleksik usus dimana sfingter anal eksternus relaksasi. Efek cedera medula spinalis pada fungsi usus besar dan anorektal bergantung pada tingkat cedera. Cedera medula spinalis juga dapat mengganggu motilitas normal dan pengosongan usus besar. posisi. atau perangkat eliminasi. Cedera medula spinalis lengkap/total pada segmen sakralis (atau cauda equina) menyebabkan LMN atau arefleksive usus. disrefleksi autonom yang terkait dengan traktus gastrointestinal. Kegagalan pengosongan kandung kemih secara teratur dan lengkap dapat menyebabkan infeksi saluran kemih . Kombinasi dorongan yang utuh tanpa disertai relaksasi sfingter menghasilkan retensi feses dan dapat menyebabkan beberapa gangguan gastrointestinal lainnya. Intervensi primer yang digunakan untuk mengendalikan disfungsi usus neurogenik adalah program usus reguler yang dimulai sejak masuk rumah sakit. koneksi saraf secara utuh pada dinding usus besar (dari regio medula spinalis yang lebih tinggi) memungkinkan untuk refleks mendorong feses. obat-obatan. Kombinasi ini menghasilkan pergerakan feses yang lambat dan meningkatkan resiko inkontinensia feses sekunder akibat sfingter hipotonus. Pasien dengan perubahan fungsi usus sekunder akibat cedera medula spinalis di deskripsikan sebagai usus neurogenik. Pengosongan dapat dibantu atau dikendalikan dengan stimulasi kimiawi atau mekanik. Tujuan dari program usus tersebut adalah untuk mencegah usus yang terjepit atau gerakan usus yang tidak diinginkan. Penatalaksanaan Kandung Kemih Menetapkan metode pengosongan kandung kemih secara konsisten dan efektif adalah salah satu dari tindakan rutinitas pertama yang dibutuhkan untuk dikembangkan setelah cedera medula spinalis. penyakit esofagus. Terdapat dua pola disfungsi secara umum. Program usus ini harus dilanjutkan seumur hidup atau sampai ada perbaikan neurologis fungsi usus. Dengan kondisi ini.penyakit batu empedu. nyeri abdomen. dilatasi lambung (dengan atau tanpa keterlibatan ileus) dan sindrom arteri mesentrika. distensi abdomen. Program tersebut selalu meliputi diet dan manajemen cairan dan pengosongan usus dijadwalkan secara rutin. peristaltik menurun dan denervasi tonus sfingter rendah. Dengan kondisi ini.

dan lain-lain). Kandung kemih nonrefleksive (LMN) dapat di tatalaksana dengan kateter intermiten dan/atau dengan teknik seperti manuver Valsalva (menciptakan tekanan intraabdomen yang tinggi) dan metode Crede (pemijatan secara tidak langsung pada area kandung kemih) untuk membantu pengosongan. Selama fase rehabilitasi cedera medula spinalis. hipertrofi otot detrusor dan refluks uretra. disfungsi ginjal. Untuk kedua lesi UMN dan LMN. yang secara umum diperintahkan atau dilakukan oleh urologis untuk menentukan pola dan tingkat masalah pengendalian kandung kemih. Lesi cedera medula spinalis di atas conus medularis (cedera UMN) akan menyebabkan kandung kemih neurogenik refleksif. Pemeriksaan fungsi kandung kemih setelah cedera medula spinalis meliputi beragam test. intervensi untuk kandung kemih refleksif (UMN) meliputi waktu berkemih dengan stimulasi manual (menekan pada area suprapubik. dan kateterisasi intermiten yang secara bertahap akan meningkatkan interval berkemih. Intervensi utama untuk penatalaksanaan kandung kemih pada fase akut cedera medula spinalis (selama periode shock spinal) adalah kateterisasi (baik yang menetap atau intermiten). Pada beberapa kasus. dan mencegah inkontinensia diantara berkemih perlu dilakukan. program penatalaksanaan kandung kemih dengan tujuan mengosongkan secara efektif. urinalisis. Setelah fungsi kandung kemih dievaluasi. cystourethrograms dan cystoscopy). kateter menetap jangka panjang dapat digunakan. dan gangguan genitourinari lainnya. batu ginjal. Tes tersebut meliputi scans ginjal ultrasound. kesulitan berkemih. dengan kemungkinan spastisitas. obat dapat digunakan untuk . dan berbagai macam scan kandung kemih (misal. test urodinamik. minimalisasi risiko infeksi.(komplikasi terbanyak diantara korban cedera medula spinalis). Gangguan yang berhubungan dengan fungsi kandung kemih memiliki pola yang sama seperti fungsi usus yang telah disebutkan sebelumnya. Lesi dibawah conus medularis (cedera LMN) menyebabkan kandung kemih nonrefleksif yang ditandai dengan flaksiditas dengan penurunan tonus otot sfingter dan ketidakmampuan pengosongan secara spontan. waktu berkemih refleksif. pielogram intravena (IVPs).

dan/atau perubahan hormonal. kombinasi dari efek imobilisasi setelah terjadi cedera. Beberapa studi melaporkan penurunan tingkat kehilangan mineral tulang dengan aktivitas seperti berdiri. Perubahan Pada Kepadatan Tulang dan Pembentukan Tulang Perubahan utama pada metabolisme tulang yaitu dimulai dalam beberapa hari setelah cedera medula spinalis yang menyebabkan penurunan tetap densitas mineral tulang (BMD). tapi mungkin berhubungan dengan neurologis. Hal yang diketahui adalah terdapat kehilangan BMD secara signifikan pada banyak area tubuh dibawah tingkat cedera medula spinalis dengan kehilangan BMD yang lebih hebat pada trabekular daripada tulang kortikal. Studi lain tidak menemukan hubungan yang signifikan antara aktivitas tersebut dengan perubahan BMD. cara berjalan yang dibantu atau stimulasi elektrik yang diinduksi bersepeda. . Teknologi terbaru memungkinkan pengukuran BMD yang lebih efektif dan kurang invasive yang seharusnya mambantu usaha untuk menemukan teknik untuk minimalisasi kehilangan mineral tulang setelah cedera. Garland dkk memeriksa BMD pada populasi yang merupakan pasien cedera medula spinalis dengan fraktur lutut (tempat fraktur terbanyak pada cedera medula spinalis kronik) dan menemukan bahwa individu yang mempunayi BMD hanya 49% dari sebuah analog dapat bertubuh kelompok kontrol. sistem sirkulasi. Hasil dari sebuah studi komprehensive menyatakan bahwa BMD pada LEs berkurang sampai 22% dalam 3 bulan setelah cedera medula spinalis total dan sekitar 32% dalam 14 bulan setelah cedera. Mekanisme pasti dari fenomena ini belum diketahui.membantu mengendalikan kandung kemih atau tonus sfingter dan membantu dengan pelatihan kandung kemih. Kehilangan mineral tulang akan memicu osteoporosis dan meningkatkan risiko fraktur. Penelitian yang berhubungan dengan pencegahan kehilangan mineral tulang pada pasien dengan cedera medula spinalis telah menemukan berbagai hasil.

Osifikasi heterotipik (HO) neurogenik didefinisikan sebagai pertumbuhan tulang abnormal dalam jaringan extraartikular. HO telah dilaporkan terjadi pada 16%-53% individu dengan cedera medula spinalis baru. dan predisposisi untuk individu mengalami ulkus. Pertimbangan Pernapasan . pembedahan mungkin diindikasikan untuk membuang kelebihan tulang dan mencoba untuk mendapatkan kembali gerakan sendi yang dibutuhkan untuk pergerakan fungsional. Osifikasi heterotipik yang progresif menyebabkan keterbatasan gerakan otot dan sendi yang parah. Intervensi untuk HO meliputi pengobatan profilaksis dan mobilisasi otot dan sendi secara gentle. Penundaan aktivitas ROM meningkatkan risiko terhadap jaringan yang memendek akan trauma oleh aktivitas ROM selanjutnya dan latihan ROM secara agresif yang dimulai pada saat tersebut akan menimbulkan mikrotrauma dan pembentukan HO. dan dengan ulkus karena tekanan memiliki risiko yang besar untuk mengalami HO. Pada beberapa kasus HO yang hebat. komplikasi higienitas. HO menyebabkan keterbatasan yang cukup parah sampai keterbatasan gerak. Individu dengan cedera medula spinalis total. dengan spastisitas hebat. secara umum dianggap bahwa mikrotrauma dan stres mekanik pada musculotendinous apparatus menginduksi osifikasi secara langsung dengan melepaskan osteoblaststimulating factors atau secara tidak langsung dengan adanya respon inflamasi lokal. Walaupun patofisiologi HO yang pasti belum diketahui dengan baik. HO biasanya berkembang dalam 6 bulan pertama setelah cedera dan stabil dalam 18-24 bulan setelah serangan. HO pada umumnya terjadi pada sendi distal pada cedera medula spinalis dan paling sering terjadi pada pinggul dan lutut. Pada beberapa kasus yang hebat. Hati-hati pada range of motion (ROM) pasif dan latihan mobilisasi sendi untuk mencegah pemendekan jaringan harus diperhatikan dan dilakukan segera setelah pasien stabil dan seharusnya dilakukan secara konsisten selama rehabilitasi.

Insiden komplikasi paru juga ditemukan secara langsung berhubungan dengan usia (lebih tinggi pada usia yang lebih tua) dan dengan tingkat dan kelengkapan cedera medula spinalis (lebih hebat dengan tingkat cedera yang lebih tinggi dan dengan cedera total). parese atau paralysis otot ekspirasi. Bergantung pada tingkat cedera. Hal ini dapat mengurangi aliran inpirasi dan ekspirasi. dan kapasitas vital. jika stabil. Untuk individu dengan cedera medula spinalis segmen cervical bawah atau thoraks atas. Kelemahan otot-otot . kerja sistem pernapasan meningkat karena beberapa faktor. Dalam waktu satu tahun setelah cedera. Lesi medula spinalis total pada atau diatas C3 menyebabkan paralisis total pada diafragma dan membutuhkan resusitasi segera dan bantuan ventilator mekanik sepanjang hidup untuk bertahan hidup. individu dengan cedera medula spinalis memiliki kemungkinan 80 kali lipat unutk mengalami pneumonia atau influenza daripada orang lain pada populasi umum. atau untuk pasien dengan trauma pada paru atau abdomen. Risiko tetap meningkat dibandingkan populasi umum mengenai sisa waktu hidup bagi individu yang menggunakan bantuan ventilator. perubahan postural. tingkat kematian terkait dengan pendekatan norma pada populasi dengan penyakit pernapasan. otot intercosta. pernapasan tanpa bantuan tercapai. berkurangnya gerakan dinding dada. Untuk individu dengan tetraplegi. Pneumonia adalah penyebab pemicu kematian untuk semua individu dengan cedera medula spinalis dan emboli pulmonal adalah penyebab kematian kedua dalam satu tahun pertama setelah cedera. dan berkurangnya gerakan fungsional. cedera dapat menyebabkan paralisis total atau sebagian pada diafragma. juga terdapat kehilangan total atau sebagian otot pernapasan secara primer dan sekunder. Setelah rehabilitasi lengkap. perubahan posisi diafragma. diantaranya parese atau paralysis otot inspirasi. untuk pasien dengan penyakit paru. dan otot abdomen. volume tidal.Individu dengan cedera medula spinalis berisiko untuk mengalami komplikasi pernapasan. Ventilator mekanik mungkin juga dibutuhkan sementara atau dalam janka waktu lama untuk individu dengan acute ascending edema pada cedera medula spinalis segmen cervical bawah.

Dengan berkurangnya fungsi otot abdomen. dengan berkurangnya kemampuan untuk mengeluarkan sekret dan meningkatkan risiko infeksi paru. Dapat juga terjadi paralisis atau batuk yang lemah. hipoksemia. Pada kasus HO yang berat. dan hiperkapnia. Kapasitas vital dapat dibantu dengan memberi sokongan pada dinding abdomen dengan alat eksternal (misal. Perubahan dinamika pernapasan ini menyebabkan pernapasan paradoxical. Latihan ROM pasif dan mobilisasi persendian berguna mencegah terjadinya pemendekan jaringan pada pasien immobilisasi dan hal ini dilakukan selama proses rehabilitasi. pengikat abdomen) atau dengan mengembangkan spastisitas ringan tulang belakang. Penundaan waktu aktivitas ROM dapat meningkatkan resiko pemendekan jaringan oleh keadaan imobilisasi. sehingga membuat individu rentan mengalami atelektasis dan infeksi paru. dan pada akhirnya perubahan muskuloskeletal pada tulang belakang. pengembangan dinding abdomen. Intervensi heterotopic ossification (HO) melibatkan pengobatan. dan mobilisasi otot dan sendi. kekuatan dan mobilitas meningkat. yang akan mengurangi sokongan diafragma dan menyebabkan posisi istirahat diafragma menjadi ke bawah sehingga cenderung menurun dan mengakibatkan penyimpangan dan penurunan yang nyata pada kapasitas inspirasi. Bagaimanapun juga spastisitas thorak yang hebat dapat menurunkan compliance dinding dada dan meningkatkan kerja pernapasan. pembedahan diindikasikan untuk memindahkan . kapasitas vital meningkat pada pasien dengan diafragma yang utuh. Dalam beberapa bulan setelah cedera terjadi.inspirasi menyebabkan hipoventilasi alveolar. Jaringan tersebut akan terluka oleh latihan ROM secara agresif pada waktu berikutnya yang memicu terjadinya mikrotrauma dan pembentukan HO. pencegahan. bantalan untuk isi lapisan visceral hilang. dimana abdomen terangkat naik serta dada tertarik masuk saat inspirasi dan abdomen turun serta dada mengembang saat ekspirasi. Perubahan pola pernapasan ini menyebabkan pendataran pada dinding dada bagian atas. Volume ekspirasi pasif menurun pada individu tersebut karena hilangnya elastic recoil dari tonus rendah dinding abdomen dan ekspirasi paksa terbatas karena hilangnya fungsi otot-otot intercosta dan abdomen.

Setelah rehabilitasi. perubahan posisi diafragma. Risiko-risiko ini meningkat dibandingkan dengan populasi yang menggunakan bantuan ventilator. Tergantung pada tingkat perlukaan sehingga terdapat total atau sebagian hilangnya kerja otototot pernapasan primer dan sekunder (tabel 20-2). Lesi total pada medula spinalis pada atau diatas C3 menyebabkan paralisis total dari diafragma dan dibutuhkan segera resusitasi dan ventilator mekanik untuk memperpanjang hidup. Pada individu dengan tetraplegi. Angka kejadian dari komplikasi pernapasan diemukan juga berhubungan dengan usia (lebih tinggi terjadi pada usia lebih tua) dan dengan tingkat dari CMS. Pertimbangan pernapasan Individu dengan gangguan medula spinalis adalah resiko terjadinya komplikasi pernapasan. Dalam tahun pertama setelah cedera.kelebihan tulang dan mencoba untuk mendapatkan kembali pergerakan sendi untukfungsi mobilisasi. Ventilasi mekanik juga disediakan untuk sementara atau waktu yang panjang pada individu dengan kenaikan edema akut pada CMS cervikal yang lebih bawah. penurunan mobilitas dinding dada. pada pasien dengan riwayat penyakit paru. parese atau paralisi otot-otot ekspirasi. jika tetap maka angka kematian akan tergantung pada penyakit pernapasan yang akan dideritanya. dan penurunan mobilisasi fungsional. . atau pada pasien dengan trauma langsung pada paru atau abdomen. penderita CMS lebih dari 80 kali lebih sering meninggal dengan pnuemonia atau influenza dibandingkan penyakit lain pada populasi umum. Pneumonia adalah penyebab kematian penderitaCMS dan emboli paru sebagai faktor pencetus kedua dari kematian pada tahun pertama setelah cedera. kerja pernapasan meningkat karena beberapa faktor meliputi parese dan atau paralisis otot-otot pernapasan. perubahan postural.

dan hiperkapnia. cedera akan menyebabkan paralisis total atau sebagian dari diafragma. C5 T1-T2 Saraf Kranial 11 C1. Kelemahan otot-otot inspirasi menyebabkan hipoventilasi alvoli.Tabel 20-2. C2 aksesorius: Trapezius. volume tidal. dan kapasital vital paru. yaitu abdomen naik dan dada terdorong pada saat inspirasi serta abdomen turun dan dada mengembang pada saat ekspirasi. Intercosta eksterna Sternokleidomastoidea Scalenes Otot-otot pektoralis minor. hipoksemia. Perubahan ini akan menghasilkan paradoxical breathing. Otot-otot INSPIRASI Diafragma Inervasi Otot Pernapasan Tingkat inervasi C3. interkosta. seratus anterior EKSPIRASI Intercosta interna Abdominalis T1-T2 T7-L1 Pada individu dengan CMS servikal bawah dan thorakal atas. C4. dan otot-otot abdomen. maka akan hilang kekuatan diafragma untuk kontraksi mendatar sehingga terjadi penurunan kapasitas inspirasi. Hal ini dapat menurunkan aliran udara ekspirasi dan inspirasi. yang membuat individu cenderung untuk terjadi atelektaksis dan infeksi paru. Pada penurunan fungsi otototot abdomen. Perubahan pola .

atau kemerahan pada ekstremitas yang terkena. Adapun terdapat paralisis atau batuk lemah. Volume ekspirasi pasif menurun pada beberapa individu karena kehilangan elastisitas dan tonus dinding abdomen. DVT and emboli paru harus . Karena gejala klinisnya memiliki sensitivitas dan spesivisitas yang rendah terhadap DVT. Dalam beberapa bulan setelah cedera. Kardiovaskular Tiga kondisi mayor kardiovaskular akut berhubungan dengan CMS. kapasitas vital seharusnya meningkat pada pasien dengan diafragma yang utuh. dan yang memiliki paralisis atau kanker. DVT aktif diterapi dengan pengobatan aintikoagulan dan adakalanya dengan bedah pemindahan vaskular. dan demam. maka skrining medis dapat diindikasikan untuk pasien CMS. Deep vein thrombosis (DVT) adalah komplikasi ketiga yang harus diperhatikan terutama sejak awal manajemen setelah luka. nyeri pada betis dengan penegangan otot. yang mana kurangnya kemampuan untuk mengeluarkan sekret dan meningkatkan resiko infeksi pulmonal. Kapasitas vital juga dapat dibantu dengan penyediaan alat bantu pada dinding abdomen dengan alat eksternal (contoh: pengikat abdomen) atau dengan pengembangan mild trunk spasticity yang dapat menurunkan keluhan dinding dada dan meningkatkan kerja pernapasan. panas. dan kekuatan ekspirasi menjadi berkurang akibat hilangnya fungsi otot intercosta dan abdomen. Disrefleksi autonom dan emboli paru telah disebutkan sebelumnya. Faktor yang berpengaruh untuk DVT pada populasi CMS meliputi penurunan fungsi mobilisasi dan hilangnya inervasi simpatetik. Kombinasi ini menyebabkan vasodilatasi dari pembuluh darah. sebagai kekuatan dan peningkatan mobilitas. dan akhirnya perubahan muskuloskeletal pada tubuh. Green et al menyebutkan dalam riwayat rehabilitasi 243 pasien CMS ditemukan bahwa tromboemboli lebih banyak berkembang pada pasien usia lanjut. Gejala klinis DVT dapat ditemukan edema.ini menyebabkan pendataran pada dada atas. pengembangan dinding abdomen. Kegagalan menyadari dan mengobati DVT dapat menyebabkan emboli paru dan kematian. kegemukan.

beberapa pasien boleh melakukan pendekatan subjek dengan peserta lain pada tim terapi yang memiliki kepercayaan terutama PI primer mereka. Terdapat pertentangan fakta tentang efek CMS terhadap risiko terjadinya penyakit kardiovaskular seperti hiperkolesterolemia. Ereksi psikogenik (ereksi dihasilkan dari input sensori yang . Fungsi ereksi dapat berubah pada dua tingkat. Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk mengidentifikasi hubungan antara CMS dan faktor risiko kardiovaskular dan untuk mengembangkan panduan untuk meminimalkan risiko tersebut. Pertanyaan muncul tentang berapa banyak yang telah diobservasi tentang perubahan kardiovaskular secara langsung yang berhubungan dengan perubahan metabolik dan sistemik yang dihasilkan dari CMS dan atau seberapa banyak hal-hal tersebut berhubungan dengan perubahan gaya hidup dan tingkat aktivitas setelah perlukaan. dan trigliserid yang mana kesemuanya ditemukan lebih tinggi hampir pada semua orang yang tertekan. menghasilkan hilang atau berubahnya respon stimulus taktil. Semua pasien seharusnya didorong untuk mencari terapi dan konseling untuk pemecahan tentang masalah fungsi seksual. Contohnya. Fungsi sensori sering hilang atau terganggu setelah luka. dan penyakit jantung koroner. Penting bagi pemberi terapi untuk memiliki dasar-dasar bagaimana CMS mempengaruhi fungsi seksual dan kemampuan pencarian informasi untuk menjawab pertanyaan langsung dari pasien. hipertensi. Fungsi seksual laki-laki Fungsi seksual laki-laki setelah CMS berubah sesuai dengan tingkat lukanya. Untuk alasan ini. total kolesterol. pada individu dengan paraplegi. LDL.sangat diperhatikan selama terapi CMS akut (dalam 7-10 hari setelah cedera) dan memiliki angka kejadian yang rendah pada CMS kronik (kurang dari 1% per tahun setelah perlukaan). Fungsi seksual Pertanyaan tentang fungsi seksual akan sering muncul pada laki-laki dan perempuan dengan CMS selama proses rehabilitasi. Karena seksual adalah masalah yang sensitif.

Pada beberapa kemampuan ereksi yang sering terjadi. meliputi terapi oral. . Fungsi ejakulasi yang jelek dikombinasikan dengan kematian sperma yang tinggi dan kosentrasi sperma yang rendah menyebabkan fertilitas yang sangat rendah pada laki-laki dengan CMS. sebanyak 90% laki-laki dengan CMS tidak dapat ejakulasi selama bersenggama. injeksi.menghasilkan emosi erotis) yang dimediasi oleh T10-T12. dari T10-T12 untuk emisi dan S2-S4 untuk ejakulasi. Beberapa teknik ini dikombinasikan dengan inseminasi intrauteri atau fertilisasi in vitro untuk membantu terjadinya kehamilan. CMS pada atau di atas tingkat ini akan menghasilkan hilangnya ereksi psikogenik. yang mana luka di bawah tingkat ini tidak akan menghilangkan fungsi ereksi tersebut. Meskipun ejakulasi dapat terjadi. Meskipun teknik-teknik ini sangat baik dalam peningkatan keberhasilan kehamilan. namun teknik ini memerlukan biaya yang sangat mahal dan waktu yang panjang serta stress pada pasangan tersebut. dan alat vakum dengan tegangan cincin. terdapat beberapa pilihan intervensi untuk meningkatkan fungsi seksualnya. Refleks ereksi (ereksi yang tejadi tanpa sadar dan bukan hasil dari input ke otak) terjadi melalui aktivasi saraf sensorik di S2-S4. kualitas. atau disisipkan pada penis. dan durasi ereksi bisa ataupun tidak bisa untuk bersenggama. kematian dari sperma pada laki-laki dengan CMS adalah 20%. Kebanyakan laki-laki dengan CMS memiliki refleks ereksi jika tidak ada kerusakan langsung pada segmen spinal tersebut. Psikiatrik dan ahli urologi seharusnya mendiskusikan keuntungan dan kerugian dari macammacam terapi dengan individu yang mengalami gangguan tersebut. Masalah ini berhubungan dengan rangakaian sinergi dari otak untuk memicu respon input sensorik. dapat menjadi kekacauan fungsi ejakulasi. rectal probe ejaculation. Meskipun dengan kemampuan ereksi yang cukup untuk aktivitas seksual. Beberapa teknik meliputi stimulasi penil vibrator. Untuk individu dengan disfungsi ereksi sekunder dari CMS. sejumlah dari intervensi yang dilakukan untuk membantu laki-laki dengan CMS dan untuk laki-laki yang telah punya anak. penanaman penil. yang mana perubahan kontrol spinkter dari sistem genitalurinaria dalam produksi semen yang dikeluarkan lewat kandung kemih lebih cepat dibandingkan melalui uretra. dan penuaian semen. Oleh karena itu.

CMS dapat mengurangi atau menghilangkan pelumasan sekunder vagina sebagai ketidakmampuan respon input seksual dari otak untuk mencapai regio sakral (hampir sama dengan efek pada psikogenik respon ereksi pada laki-laki). hilangnya kontrol otot di regio genital dan penurunan fungsi otot yang mengakibatkan kurangnya pergesekan selama bersenggama. kenaikan berat badan mempengaruhi mobilisasi dan peningkatan risiko ulkus. Oleh karena itu. Jika seorang wanita dengan CMS memilih untuk hamil. dan perubahan perasaan dan respon terhadap tenaga selama kontraksi. terdapat periode amenore kira-kira selama 5 bulan setelah perlukaan. . tidak terdapat perubahan psikologis yang besar yang mengubah fungsi reproduksi. 54 % dari wanita seksual aktif dilaporkan mengalami orgasme. Perubahan pada posisi seksual dapat membantu meminimalkan efek tersebut. perubahan yang buruk lainnya tidak terjadi. Hilangnya sensori dapat mengubah kepuasan orgasme setelah CMS. penurunan kapasitas pernapasan dari penekanan janin pada diafragma. terdapat beberapa faktor yang membawanya ke dalam kategori hamil risiko tinggi: yaitutekanan dari janin dapat mengkomplikasi usus dan kandung kemih. mengubah pola kekuatan otot. Meskipun melebihi periode normalnya. AD juga terjadi lebih sering pada hampir setiap tingkat kehamilan. Pada 60% lebih dari wanita. wanita dengan CMS penting untuk memperhatikan tentang kontrasepsi sama halnya seperti wanita tidak dengan CMS. perubahan kardiovaskuler.Fungsi seksual wanita Pengaruh pada fungsi seksual wanita dengan CMS lebih sedikit dibandingkan laki-laki. Tergantung pada tingkat dan kelengkapan CMS. Meskipun faktor-faktor komplikasi ini pada wanita dengan CMS dapat aman pada proses kelahiran anaknya dengan panduan dari psikiatrik dan ahli kebidanan. Pada penelitian pada sistem bentuk CMS. Kehamilan masih mungkin pada wanita dengan sebuah tingkat perlukaan spinal. Pelumasan dapat membantu untuk mengkompensasi masalah ini. peningkatan risiko infeksi saluran urinaria.

Tujuan komponen ini dalam pemeriksaan adalah untuk memberikan identifikasi yang lebih akurat dari keluhan. skapula posisi. dan aspek rencana perawatan lainnya. Pada bagian ini akan meringkas tes dan pengukuran yang sering digunakan pada populasi dengan CMS. Ini berguna sebagai panduan umum untuk menentukan aplikasi yang akan diberikan pada pasien. Posisi skapula lebih awal mengindikasikan keseimbangan otot dan kontrol pada daerah skapula. rencana intervensi. meningkatkan resiko gangguan kulit.TES DAN PENGUKURAN Riwayat pasien dan sistem pemeriksaan seharusnya dipandu oleh klinisi dengan spesifik tes dan pengukurang tiap individu. Asimetris juga mengindikasikan perbedaan dari pendistribusian berat tubuh. Ketidaksimetrisan mengindikasikan perbedaan dari fungsi motorik kanan dan kiri. dan posisi dari tubuh dan pelvis. Hubungan panjang tungkai dan tubuh sangatlah penting. Muskuloskeletal Sikap badan/postur Observasi posisi duduk seharusnya fokus pada kemampuan untuk tegak melawan gravitasi. Penggunaan bantuan lengan dan atau kemiringan yang ekstrem pada anterior dan posterior pelvik untuk memelihara kontrol tubuh sebagai kompensasi yang sering mengindikasikan kontrol tubuh yang jelek. Karakteristik antropometer Komposisi dan proporsi tubuh telah tercatat. penggunaan lengan untuk membantu mempertahankan posisi tubuh. mengidentifikasi keterbatasan daerah yang akan digunakan untuk tujuan fungsi akhir. simetris. pada tungkai yang lebih panjang akan mendapat .

The American Spinal Injury Association (ASIA) dan International Medical Society of Paraplegi mengembangkan sebuah sistem pemeriksaan SCI yang diketahui sebagai the International for Neurological Classification of SCI . Variasi dari posisi tes yang standar atau tatacara seharusnya tercatat. Obesitas akan meningkatkan kerja ekstrimitas selama mobilisasi dan mengurangi ROM dari pelvis dan pinggul untuk mobilisasi. Skor-skor motorik ini dijumlahkan untuk menentukan total skore motorik. Individu yang sangat kurus atau yang mengalami kehilangan berat tubuh secara cepat selama masa perawatan lebih memiliki kerentangan terhadap terjadinya ulkus. kehadiran alat stabilisasi spinal. Tes standar genometer dianjurkan tetapi akan sulit dengan tindakan pencegahan. Karena orang-orang dengan kelemahan otot akan menggunakan otot lain untuk melakukan suatu pergerakan yang mungkin. Daya guna otot Tes manual otot (MMT) ditunjukkan pada semua kelompok-kelompok otot. Batas gerakan Evaluasi total dari semua gerakan yang mungkin pada semua persendian sangat penting dalam penilaian pasien dengan CMS karena ROM yang ekstrem sering memiliki peran penting dalam kompensasi kekurangan kekuatan. atau dengan pasien dengan ketidakmampuan mentoleransi beberapa posisi tes yang standar. Skor ini dikombinasikan dengan skor sensorik dan informasi lain untuk membantu menentukan diagnosis dan prognosis pada individu dengan CMS. ASIA merekomendasikan tes kekuatan dirancang pada kelompok otot pada masingmasing 10 pasang myotomemenggunakan rangkaian rostral dan kaudal.keuntungan dari lebih panjangnya lengan dalam menutup rantai aktivitas lengan tetapi juga akan meningkatkan kontrol untuk terapi kelemahan dan spastik. Kekuatan otot direkam menggunakan skala MMT 0-5. perabaan adalha penting dalam . Dokter juga melakukan tes untuk menilai kekuatan otot pada spinkter ani dan mencatat hasilnya memiliki kontaksi atau tidak pada pemeriksaan tersebut.

komplikasi dicegah dengan penggunaan tes standar posisi. Penting untuk menyadari tanda-tanda trauma cedera otak dan kemungkinana yang dibutuhkan untuk tes neurologis.5% kasus. Pada suatu penelitian terhadap penderita CMS yang mendapatkan penilaian kesehatan yang teratur. dan psikologis penderita CMS. Neuromuskular Kognitif Penilaian dasar kognitif. tetapi nyeri akan sangat mempengaruhi proses rehabilitasi. Contohnya. Penggunaan posisi alternatif seharusnya tercatat dan menjaga konsistensi untuk pemeriksaan berikutnya.tes otot pada penderita CMS. dan pergelangan tangan adalah hal yang penting diperhatikan pada populasi tersebut. Karena sendi-sendi proksimal dan stabilisasi segmen tubuh sering terganggu akibat kerusakan saraf. Karena hasil laporan NSCID bahwa hilangnya kesadaran pada 28. stabilisasi eksternal dari daerahdaerah proksimal dibutuhkan selama proses tes untuk menilai kekuatan pada bagian distal secara akurat. pada seorang dengan tetraplegi tidak dapat menahan kekuatan pada tes otot bisep kecuali trunkus eksternal membantu pasien selama tes. fungsi mobilitas. pergerakan aktif. dengan 32. Integritas dan mobilitas sendi Integritas dan mobilitas sendi selalu dinilai dalam pemeriksaan sendi menggunakan palpasi dan observasi. Budh et al menemukan bahwa 63. integritas dari skapulotorak. Karena peningkatan permintaan untuk lengan selama mobilisasi pasien-pasien dengan CMS. Nyeri Angka kejadian nyeri setalah CMS cukup bervariasi. seperti Mini Mental State Examination (MMSE) sering digunakan untuk menentukan potensi pasien untuk dilakukan rehabilitasi.7% pasien dilaporkan mengalami nyeri. siku.3% melaporkan bahwa . bahu.2% pasien dengan SCI dan cedera kepala memberikan efek pada fungsi kognitif dan emosi pada 11. Seperti pada pengukuran ROM. kualitas hidup. dengan bantuan dan pergerakan pasif.

kualitas hidup dan memperbaiki psikologisnya.5% cedera kepala berdampak pada fungsi kognitif dan emosional. Budh dkk menemukan bahwa 63. The McMaster University Evidence-Based Practice Center mempelajari literatur untuk melihat hubungan CMS dengan nyeri neuropatik dan menemukan 132 penelitian yang mencari hubungan tersebut.nyeri yang dirasakan cukup berat untuk memberikan efek negatif dari kualitas hidup mereka. 6 dari penelitian dengan randomized controlled trials (RCTs).7% pasien dilaporkan mengalami nyeri. Karena laporan penyakit-penyakit medulla spinalis nonprogresiv (NSCD) dengan penurunan kesadaran sebanyak 28. sering digunakan untuk menentukan kemampuan pasien selama menjalani rehabilitasi. tapi nyeri bisa secara signifikan berdampak pada proses rehabilitasi fungsi gerak. Kuantitas dan kualitas nyeri setelah CMS sangat rumit karena metode yang digunakan untuk mempelajari nyeri pada pasien CMS bermacam-macam.2% dari pasien NSCD. Nyeri Insiden nyeri setelah CMSbermacam-macam. dengan 32.9% yang menggangu hidup mereka). secara luas diterima dengan metode pengklasifikasian nyeri setelah CMS. misalnya dengan Mini Mental State Examination (MMSE). dan banyak yang kekurangan yang melaporkan keterbatasan validitas penilaian mereka. Nyeri biasanya tiimbul segera setelah cedera tetapi dapat juga timbul lama setelahnya. maka penting untuk mengenali tanda-tanda trauma kepala dan kemungkinan membutuhkan pemeriksaan neurologic lebih lanjut. Neuromuskular Kognitif Skrining kognitif dasar. Sebuah survei pasien selama rehabilitasi memiliki hasil yang hampir sama (79% dengan 37. relevansi. Berdasarkan penelitian pasien CMS yang sedang mengikuti penilaian kesehatan reguler. dan aplikasi klinisnya.3% nyeri hebat yang cukup menimbulkan dampak negatif pada kualitas hidup mereka. Sebuah survey terhadap pasien-pasien selama menjalani rehabilitasi menunjukkan hasil yang . kecermatan. dan 11.

Kategori ini meliputi nyeri muskuloskeletal atau viseral. Integritas reflex Refleks diperiksa dengan menggunakan palu refleks pada tendon dari otot refleks. secara luas menerima atau mengesahkan metode pengklasifikasian nyeri setelah CMS. hanya 6 dari 132 dengan randomized controlled trials (RCTs) yang mempunyai keterbatasan dalam penilaian validitas mereka. indeks. Tidak ada kesimpulan pula yang bisa menggambarkan tentang efektivitas penatalaksanaan nyeri pada pasien CMS. . Nyeri ini meliputi nyeri sentral. syok spinal bisa muncul pada keadaan arefleksia. atau kuesioner. Tiadak ada studi yang mengevaluasi peranan algoritma penatalaksanaan atau pendekatan multidisiplin terhadap nyeri. Otot bisep. Nyeri setelah CMS secara umum bisa dikategorikan sebagai nyeri nosiseptik atau nyeri neuropatik. quadrisep.sama (79% dan 37%. Nyeri nosiseptik muncul ketika mengenai nosiseptor perifer di sebagian atau seluruh bagian tubuh yang diinervasi yang diaktifkan oleh iritasi lokal atau kerusakan jaringan nonneural. Nyeri biasanya muncul segera setelah cedera tapi bisa juga muncul belakangan. Penilaian kuantitas dan kualitas nyeri setelah CMSsulit karena metodemetode yang digunakan selama penelitian ini bermacam-macam dan karena bukan satu. The McMaster University Evidence-Based Practice Center melakukan pencarian literatur secara luas mengenai hubungan CMS dengan nyeri neuropatik. dan menemukan 132 studi yang sesuai dengan criteria pencarian mereka. dan sindroma nyeri regional kompleks. Nyeri neuropatik muncul sebagai hasil kerusakan langsung pada jaringan saraf di sistem saraf perifer ataupun pusat. Pada periode akut. trisep. dan yang paling sering diperiksa adalah otot trisep. dan aplikasi klinik mereka. nyeri radikuler. berturut-turut). Nyeri bisa diukur dengan bermacam-macam skala standar nyeri. Adanya intensitas dan lokasi nyeri dicatat saat pemeriksaan atau pada pemeriksaan ulangan secara periodik. relevansi. ketepatan. Nyeri pada CMS bisa berturut-turut dibagi menurut lokasi di atas atau di bawah tingkat cedera.

membedakan sentuhan. membedakan nyeri. proprioseptif. Nilai ini kemudian dijumlahkan sesuai dermatom dan sisi tubuh untuk menghasilkan nilai kedua sensori. 1 = kerusakan. Untuk pasien CMS. suhu. 0 = tidak ada. sensasi suhu. menghasilkan elevasi skapula dan adduksi dari batas medial skapula Trapezius Tengah • • Substitusi rhomboids.Pemeriksaan ulang secara periodik dari aktivitas refleks diindikasikan untuk menentukan akhir dari periode syok spinal. menghasilkan adduksi scapula dan rotasi medial dari sudut inferior skapula Substitusi levator skapula. Untuk sentuhan ringan. Kotak 20-1 Substitusi Umum pada Pemeriksaan Manual Otot Ekstremitas Atas dan Skapula Trapezius Atas • Substitusi levator skapula. Nilai Pin Prick dan nilai Light Touch. Integritas sensorik Pemeriksaan dengan sentuhan ringan. stimulus diperiksa menurut pola dermatom untuk mengevaluasi tingkat neurologic dari CMS. dan membedakan 2 titik dilakukan pendekatan stimulus yang diaplikasikan untuk satu titik pada tubuh dan menanyakan pasien apakah mereka sadar terhadap stimulasi dan/atau apakah mereka merasakan titik yang diperiksa. 2 = normal (dengan NT = tak dapat ditentukan). Hasil pemeriksaan dinilai dengan 3 titik. dan kinesthesia dilakukan pada seluruh tubuh. untuk tujuan diagnosis. Sistem klasifikasi ASIA menggunakan sentuhan ringan (kapas) dan peniti diperiksa pada titik khusus di masing-masing 28 dermatom pada kedua sisi tubuh. menghasilkan elevasi skapula dan adduksi dari batas medial skapula Rhomboids . nyeri (tajam/tumpul).

dan trisep) • Pasien bisa juga hanya mengangkat tangan mulai dari pantat dengan mengedepankan skapula menggunakan pektoralis. bagaimanapun beberapa penguncian dari siku pada ekstensi dilakukan oleh pektoralis mayor. latsitimus dorsi.• • Substitusi trapezius tengah. Substitusi pektoralis minor dan korakobrakialis Skapula tidak bisa wing off dada/dinding torak pada posisi prone-on siku infraspinatus. mungkin pula latissimus dorsi • Ingat inervasi segmental untuk komponen klavikula dari pektoralis mayor adalah C5-6. teres mayor. khususnya pektoralis minor dengan korakobrakialis Serratus Anterior • • Bisep • Substitusi brakiobrakialis di mana fleksi siku muncul pada midposisi dari pronasi dan supinasi. pasien bisa menggunakan beberapa rotasi eksternal bahu. sedangkan inervasi segmental komponen sternal dari pektoralis mayor adalah C7-8 sampai 11 (mungkin meliputi C6) Trisep • Pasien bisa menggunakan rotator eksternal bahu (supraspinatus. menghasilkan adduksi murni dari batas medial skapula Pasien bisa mengangkat tangan mulai dari pantat dengan menggunakan otot ekstensor bahu (deltoid posterior. dan anterior deltoid. bisep. teres minor) sampai tangan pada posisi di mana gravitasi akan memanjang siku • Ketika berat hubungan pada ekstremitas atas. dan korakobrakialis . korakobrakialis. tapi pasien tidak mampu untuk fleksi siku dengan supinasi penuh Pektoralis mayor • Pasien bisa mengadduksikan komponen internal rotasi dari otot dengan kepala bisep.

rotator eksternal mayor bahu. dan serratus anterior Rotator Eksternal Bahu • • Pasien bisa menurunkan bahu supaya gravitasi bisa merotasi bahu Pasien bisa menggantikan dengan supinator dari lengan bawah dan ekstensor pergelangan tangan untuk membantu merotasikan pergelangan tangan dan lengan dengan gravitasi Supinator • Pasien bisa menggantikan dengan bisep. brakiobrakialis. klavikula pektoralis. rotator eksternal bahu. dan ekstensor pergelangan tangan Rotator Internal Bahu • • Substitusi pektoralis minor dan korakobrakialis dengan memperpanjang bahu sehingga gravitasi bisa merotasi bahu secara internal Pasien bisa juga mengganti dengan pronator.Deltoid • Paralisis dari serat-serat bagian dalam deltoid dikompensasi oleh deltoid. fleksor pergelangan tangan. dan brakiobrakialis Pronator • • • • • • Pasien bisa mengganti dengan rotator internal bahu dan brakoradialis Ekstensor Pergelangan Tangan Pasien bisa mengganti dengan merotasi secara ekternal bahu supaya gravitasi bisa memanjangkan pergelangan tangan Pasien bisa mengganti dengan supinasi lengan bawah supaya gravitasi bisa memanjangkan pergelangan tangan Pasien bisa mengganti dengan ekstensor jari-jari Fleksor Pergelangan Tangan Pasien bisa mengganti dengan merotasi secara internal bahu supaya gravitasi bisa memfleksikan pergelangan tangan Pasien bisa mengganti dengan pronasi lengan bawah supaya gravitasi bisa memfleksikan pergelangan tangan . trisep.

dan mungkin trisep Fleksor Jari • Pasien bisa mengganti dengan menggunakan efek tenodesis. di mana ekstensi pergelangan tangan menghasilkan tekanan pasif pada fleksor jari. beberapa ekstensor jari khususnya pada sendi interfalang Trunkus Abdominalis (Atas) • Oblik • • Pasien bisa mengganti dengan latissimus dorsi jika ekstremitas atas baik Pasien bisa mengganti dengan kepala dan fleksor leher. di mana kemiringan pelvis secara posterior dan menyebabkan ekstremitas bawah mengikuti maju dengan gaya gerak • Pasien bisa mengganti dengan oblik bawah. beberapa fleksor jadi khususnya pada sendi interfalang Ekstensi Jari • Pasien bisa mengganti dengan menggunakan efek tenodesis. di mana fleksi pergelangan tangan menghasilkan tekanan pasif pada ekstensor jari. dan serratus anterior Quadrates Lumborum Pasien bisa mengganti dengan latissimus dorsi atau oblik Ekstremitas Bawah Fleksor Pinggul • Pasien bisa mengganti dengan abdominalis bawah. pektoralis mayor dan minor. yaitu merotasi pelvis secara anterior. deltoid posterior.Latissimus Dorsi • Pasien bisa mengganti dengan teres mayor. trapezius bawah. menyebabkan ekstremitas bawah mengikuti maju .

yang mana akan melenturkan pinggul Pasien bisa mengabduksi pinggul dengan tensor fascia lata Adduktor Pinggul Pasien bisa mengganti dengan beberapa fleksor pinggul Pasien bisa menggunakan abdominalis bawah untuk merotasikan pelvis ke depan. mengikuti gravitasi secara internal merotasikan ekstremitas bawah Rotator Internal Pinggul • Pasien bisa menggunakan otot abdominal bawah untuk merotasikan pelvis ke depan sehingga gravitasi secara internal merotasikan ke bawah Rotator Ekstensor Pinggul . di mana kemirigan pelvis secara anterior dan menyebabkan ekstremitas bawah mengikuti secara posterior dengan gaya gerak • Itu bisa dilihat seperti kamu palpate beberapa ekstensor pinggul pada pasien secara maksimal mengkontraksikan fleksor pinggul kemudian merelaksasi karena ekstremitas bawah akan pindah secara posterior pada pantulan atau bolak-balik • • • Pasien bisa mengganti dengan serat-serat longitudinal dari adductor magnus Pasien bisa mengganti dengan quadrates lumborum Abduktor Pinggul Pasien bisa mengganti gluteus medius dan minimus menggunakan latissumus dorsi atau oblik untuk mengelevasikan atau “menjalankan” pelvis • • • • Pasien bisa mengganti dengan Sartorius.• • Adduktor pinggul bisa melenturkan pinggul Latissimus dorsi bisa menyebabkan fleksi dan abduksi pinggul sebagaimana pasien secara unilateral mengelevasi pelvis Ekstensor Pinggul • Pasien bisa mengganti dengan otot ekstensor lumbal.

A Guide to Functional Outcomes in Physical Therapy Management Sistem klasifikasi ASIА menggunakan pemeriksaan sentuhan lembut (kapas) dan tusukan jarum (peniti) diuji pada titik tertentu di setiap 28 dermatom pada kedua sisi tubuh.• Pasien bisa menggunakan ekstensor belakang bawah untuk merotasikan pelvis ke belakang sehinggal gravitasi secara eksternal merotasikan ekstremitas bawah Fleksor Lutut • • Pasien bisa mengganti dengan semimembranosus dan semitendinosus menggunakan sartorius dan grasilis Pasien bisa mengganti dengan mengulang kejadian dari quadrisep Quadrisep • • Pasien bisa mengganti posisi duduk sedehana sehingga cenderung trunkus ke belakang. 2 = normal "dengan NT = tidak dapat diuji" ). 1 = gangguan. Hasil pengujiandiklasifikasikan dalam 3 poin (skala 0 = tidak ada. Nilai dijumlahkan di seluruhdermatom dan kedua sisi tubuh untuk menghasilkan dua nilai sensorik skor tusukan jarum dan skor sentuhan ringan.kontrol dan belajar . akhirnya menginisiasi pergerakan kedua tungkai Pasien bisa mengganti dengan supinasi atau posisi berbaring dengan menggunakan adduktor magnus untuk memanjangkan pinggul dan lutut Inverse Kaki • Pasien bisa mengganti dengan merotasi pinggul secara internal dan menggunakan gastroknemius medial Eversi Kaki • Pasien bisa mengganti dengan merotasi pinggul secara eksternal dan menggunakan gastroknemius lateral Dikutip dari: Nixon V: Spinal Cord Injury. Fungsi motorik .

perubahan dalam postur dan gerakan tak terkendali. dan perubahansifat kontraktil otot dari phasik menuju tonik. akan ada beberapa tumpang tindih pengendalian involunter dan spastisitas oleh tulang belakang membuat fungsi motorik resultan lebih sulit untuk diprediksi.7% melaporkan spastisitas dalam satu tahun setelah cedera. gangguankoordinasi. Dan sifat-sifat mekanis dari otot serat athropy. Kejadian spastisitas pada CMS sulit untuk dipastikan karena tidak ada cara yang disepakati secara universal untuk untuk mengukur spastisitaspada populasi ini. namun spastisitas/spastisitas yang menghasilkan peningkatan involunter pada tonus otot masih dapat terjadi dan dapat mengganggu. sehinggaterjadi hiperreflex. 32 persen dari orang di NSCID dilaporkan mengalami spastisitas sebelum pulang dari rehabilitasidan 42. agak berbeda dari pola-pola gerakan abnormal yang umum terlihat pada CMS. Sebuah studi pasien CMS di UniversitasMichigan “Model Spinal Cord Injury Care System” yang berlangsung pada tahun 1985 dan 1988 . spastisitas didefinisikan sebagai spastisitas cukup parah yang dapat dilakukan percobaan untuk pengobatannya atau perawatan bedah. Penghambatan nonresiprokal berkurang. Respon interneuron untuk menghambat aktivitas aferen berkurang. fibrosis. tergantung pada jenis cedera dan menimbulkan kehilangan atau kerusakan fungsi motorik CMS total menyebabkankerusakan total dari gerakan volunter di bawah tingkat cedera. Dalam luka yang tidak total/menyeluruh. sehingga otot menjadi hipertonus.Kontrol/pengendalian motorik bervariasi. Spastisitas CMS disebabkan oleh perubahanpengendalian saraf dan pada otot itu sendiri.seperti stroke. Pola-pola sinergi patologis dan spastisitas sering dikaitkan dengan gangguan lainnya nonprogressive sistem pusat saraf UMN. Transmisi pada serabut aferen kulit untuk neuron motor difasilitasi. sehingga terjadi respon refleks berlebihan terhadap rangsang normal (contoh: penarikan refleks seluruhpaha sebagai respon terhadap sentuhan ringan pada paha tersebut. atau digunakan untuk membantu. Dari data ini. Kombinasi perubahan ini dapat menyebabkan kelemahan. dengan kontrol motorik dan keterampilan mobilitas.

. mengganggu kebersihan.menunjukkan spastisitas terjadi pada 67% dari pasien ketikaspastisitas didefinisikan sebagai pasien menunjukkan peningkatan refleks tendon dalam. Kejadian dan parahnya spastisitas juga dapat dipengaruhi oleh status psikologis individu sendiri dan dapat diperburuk oleh stressor seperti infeksi saluran kemih. 37% pasien dengan spastisitas memenrlukan obat antispastik. meningkatkan resiko penekanan lambung. menghalangi atau mengganggu aktifitas. (3) seberapa sering spastisitas mengganggu tidur. jika spastisitas menjadi parah dan tidak dapat dikontrol. Spastisitas pada CMS sering diukur dengan mencatat seberapa sering gerakan kaku tersebut mengganggu aktifitas fungsional. mengganggu tidur. tidak ada literatur yang menerbitkan fakta yang terpercaya yang mendukung atau menyangkal pernyataan tersebut. peningkatan tonus otot selama gerakan pasif ataukejang otot yang tidak diinginkan. duduk stabil. menghambat aktivitas sehari-hari dan kemampuan bergerak. pergerakan saat berbaring. hal itu dapat disebabkan oleh krontaktur pada sendi dan otot. Sebagai tambahan tentang persoalan pengendalian motorik yang sebelumnya dibahas. demam. pakaian ketat. perubahan temperatur lingkungan. (2) frekuensi dari spastisitas yang berkaitan dengan nyeri. dan menyebabkan gangguan pada kualitas hidup. menstruasi. Walaupun pernyataan ini cocok dengan pengalaman penulis. (4) sulit digerakkan secara pasif ataupun menyulitkan ROM. Hal ini cukupkonsisten dengan statistik NSCID yang tercatat sebelumnya. Hal-hal yang diperhatikan seperti (1) frekuensi spastisitas menghalangi atau mengganggu aktifitas sehari-hari (berpindah. Insiden spastisitas yang lebih tinggi telah terlihat pada tetraplegia dan dengan luka inkomplit pada tingkat apapun (terutama dalam fase pemulihan akut dibandingkandengan cedera total). menyulitkan posisi yang baik. menyebabkan nyeri. berkendara). dsb. distensi usus. Beberapa penulis memperhatikan bahwa spastisitas ringan dapat meningkatkan fungsi ADL dengan meningkatkan tonus otot yang membantu sirkulasi atau stimuli yang sengaja diberikan untuk mencetuskan respons refleks pada saat yang diinginkan (misalnya saat ingin mengosongkan kandung kemih). Dalam studi yang sama.

dan aliran darah pada beberapa bagian tubuh. Kardiovaskuler/Pulmoner Sirkulasi Orang dengan tingkat CMS yang tinggi cenderung mengalami hipotensi ortostatik karena berkurangnya aliran balik vena. sehingga tekanan darah perlu diobservasi. Tipe pernafasan. Saturasi oksigen dapat diukur dengan oksimeter. Аuskultasi dilakukan untuk menentukan tipe atau lokasi dari suara nafas. kekuatan otot pernafasan. Kapasitas vital. tetapi skala ini biasanya hanya menggambarkan hipertonus dasar terkait CMS dan terkadang tidak bisa diandalkan untuk menggambarkan semua aspek spastisitas CMS seperti yang sebelumnya disebutkan. bentuk dan simetris dinding dada.Skala yang dibuat untuk menentukan tonus otot seperti Modified Аshworth Scale dapat juga digunakan. Peredaran dan pertukaran gaspernafasan Pemeriksaan fungsi pernafasan meliputi saturasi oksigen. Sebuah penelitian literatur telah gagal untuk membuktikan fakta atau keterangan yang dapat dipercaya untuk tes terhadap tonus otot pada penderita CMS. frekuensi pernafasan. kapasitas pernafasan. Kapasitas aerobik dan daya tahan .4% dari 278 orang dengan CMS dapat melakukan test spirometer dengan sedikit modifikasi dari Аmerican Thoracic Society testing standards. ekspirasi dan inspirasi dapat diukur dengan spirometer. Penggunaan alat bantu pernafasan seperti ventilator juga harus diperhatikan. curah jantung. kemampuan batuk dan durasi bersuara (vokalisasi atau suku kata per tarikan nafas) dicatat dan direkam. Kelley et al menemukan 92. Seperti yang dikemukakan sebelumnya bahwa AD adalah konsekuensi berbahaya dari CMS yang menyebabkan perubahan sirkulasi dan membutuhkan pemantauan tekanan darah yang sering. ekspansi dada.

contohnya adalah Modified Barthel Index. Tes ini telah dipercaya pada bermacam populasi rehabilitasi. Keterampilan tambahan untuk aktifitas sehari-hari dapat juga diperiksa berdasarkan level kegunaannnya pada pasien. makan. Functional Independence Measurement (FIM) dianjurkan untuk dilakukan pada pasien dengan SCI. bergerak. Denyut jantung. lalu duduk lama dan kembali ke posisi berbaring supinasi dilanjutkan dengan duduk di tepi tempat tidur dan berpindah dari tempat tidur ke kursi roda. Fungsi Mobilitas dasar dan perawatan diri Sebuah tinjauan dari kemampuan mobilitas fungsional telah rampung. Tes yang sering digunakan adalah tes ergometer.Pemeriksaan dari daya tahan dan kapasitas aerobik orang-orang dengan CMS harus dilakukan dengan tes yang tidak memerlukan kemampuan untuk berpindah tempat (tes yang sering digunakan untuk menilai kemampuan kardiovaskuler pada orang yang dapat berpindah tempat ). curah jantung dan pengeluaran oksigen. Hadley melakukan tinjauan besar yang dapat dipergunakan dan dipercaya untuk menilai pergerakan fungsional pada populasi CMS akut. dsb. buang air besar dan buang air kecil. Peninjauan tersebut menunjukkan bahwa ada keterangan yang cukup untuk mendukung pengukuran tersebut. FIM adalah skala dengan 7 tingkatan berdasarkan kemandirian dengan 18 item perawatan diri. Kemampuan untuk melakukan pergerakan dapat diukur dengan skala pergerakan fungsional. Sebagai tambahan FIM. kognisi sosial. beberapa skala rehabilitasi umum lainnya telah digunakan pada penderita CMS. Skala tambahan telah dibuat untuk penggunaan CMS yang lebih spesifik termasuk . Pemeriksaan yang harus dilakukan termasuk berguling pada dua sisi di tempat tidur. dari posisi supinasi ke pronasi kemudian kembali ke posisi supinasi.

Banyaknya faktor (contoh : status kognisi lingkungan tempat tinggal dan faktor psikologis serta . dengan 8 keterampilan kursi roda dan hasilnya dibagi dalam 3 item : kemampuan (apakah item bisa ditampilkan). 80% pasien yang diklasifikasi dalam cara ini. Tes ini berkaitan dengan performa mobilitas FIM. Tes lebih jauh telah dikembangkan untuk mengukur dimensi tambahan dari kursi roda seperti kekuatan. dll. dsb). kursi. diagnosis and prognosis Informasi yang dikumpulkan selama proses pemeriksaan digunakan untuk merumuskan diagnosis terapi fisik. dan physical strain (diukur dengan denyut jantung). dengan 4-150 kunjungan. integritas saraf perifer. diperlukan tes kemampuan untuk mengontrol pergerakan kursi roda. pijakan kaki. Sebuah penelitian longitudinal pada 74 pasien mengatakan bahwa perbandingan performa penggunaan kursi roda di awal dan akhir pada pasien rawat inap rehabilitasi dapat dipercaya. dilihat dari perpindahan ke tempat tidur. The Wheelchair Circuit adalah sebuah tes untuk mengukur kemampuan pergerakan kursi roda manual. intregritas sensorik dan pergerakan fungsional dalam jangka waktu 9 bulan terapi fisik. Penderita harus di uji kemampuannya untuk melakukan teknik penekanan kursi roda ketika mereka didudukkan. inti dari lokomosi adalah kursi roda. Evaluation. waktu performa. Menurut panduan tersebut. dapat diharapkan untuk mencapai fungsi motorik yang optimal. Pemeriksaan awal dari pergerakan kursi roda termasuk observasi kemampuan masing-masing orang untuk mengatur bagian kursi roda (kunci roda. Lokomosi dan gaya berjalan Pada penderita CMS akut. Untuk penderita tetraplegi berat. kecepatan. integritas saraf perifer dan intergrasi asosiasi sensorik dengan gangguan medula spinalis non progresif.Quadriplegic Index of Function (QIF) and Spinal Cord Independence Measure (SCIM). sebagaimana yang telah diterangkan dalam Guide to Physical Therapist Practice (The Guide). Hampir semua pasien dengan CMS lebih memilih berlatih dengan cara 5H : fungsi motorik terganggu.

Evalusi CMS biasanya termasuk menilai tingkatan gangguan menggunakan АSIАImpairment Scale. Penderita CMS perlu banyak waktu perawatan seumur hidup untuk memastikan keamanan dan adaptasi perubahan terhadap kondisi fisik. fraktur dan ketergantungan terhadap ventilator dapat menyebabkan perlunya cara lain selain cara 5H. lingkungan dan petugas perawatan atau tuntutan tugas. Sejumlah sindrom klinis berkaitan dengan CMS inkomplet menyebabkan pola gangguan tipikal. Sebagai tambahan. Sebuah prediksi yang lebih baik untuk kemampuan fungsional dapat diperoleh menggunakan UEMS dan LEMS untuk menjelaskan perbedaan dimensi dari efek gangguan fungsi daripada menggunakan nilai total motorik. Untuk beberapa perbandingan (LEMS sebagai prediktor dari cara berjalan dan UEMS sebagai skor motor HM). . penderita harus memiliki baik kontraksi sfingter anal maupun mempertahankan fungsi motorik lebih dari 3 level di bawah level motorik. Skala ini bergantung pada hasil dari АSIА Motorik dan nilai sensori.5 meter. Pemulihan pada kerusakan tidak total dapat sedikit diprediksi dengan hasil pemeriksaan dan kategori diagnosis.sosial ekonomi) dapat mempengaruhi intensitas kunjungan atau total durasi dari perencanaan penyembuhan. Subjek duduk di atas kursi roda dengan roda depan berada di belakang penanda pertama dan mengarah ke belakang. Kotak 20. Bentuk angka 8 Tiga penanda ditempatkan di lantai dalam garis lurus dengan jarak masingmasing 1.2 Tes Sirkuit Kursi Roda 1. Pada sinyal pertama. Penemuan seperti ulser. Mengetahui gejala sindrom tersebut dapat membantu prediksi keterbatasan fungsi dan merencanakan pengobatan. Untuk kerusakan/cedera total (tanpa faktor penyulit) tabel 20-4 menyimpulkan outcome fungsional yang dapat diharapkan pada akhir episode perawatan awal. АSIАImpairment Scale dinilai dari А yaitu sensorik dan motoriknya normal. Prognosis untuk pemulihan fungsional setelah CMS dipersulit pleh berbagai macam gangguan dan kerusakan neurologis serta pemeliharaan dengan kerusakan medula spinalis.

Subjek duduk di atas kursi roda dengan roda depan berada di belakang penanda pertama dan mengarah ke belakang. diletakkan penanda di atas lantai. Satu meter di depan dan di belakang daun pintu. subjek mendorong kursi roda ke depan dan menaiki platform.subjek mendorong kursi roda secepat mungkin dengan jalur membentuk angka 8 di sekitar dua penanda.5: subjek bisa melewati daun pintu dalam 120 detik dengan roda depan tapi tidak bisa melewatinya dalam 120 detik dengan roda belakang. Melintasi daun pintu Sebuah daun pintu yang terbuat dari kayu (tinggi: 0. sejajar dengan dinding. Waktu dihitung mulai dari subjek mendorong kursi roda sampai keempat roda sampai di atas platform. Waktu dihitung saat subjek mulai mendorong sampai roda depan melewati penanda kedua. Ability score 0 : subjek tidak bisa melakukan tes ini dalam waktu 60 detik Ability score 1 : subjek bisa melakukan tes ini dengan baik dalam 60 detik Waktu performa : waktu yang dibutuhkan untuk melakukan tes ini. Subjek duduk di atas kursi roda dengan roda depan di belakang penanda pertama.1 meter) dipasang di atas lantai. Pemasangan sebuah platform Sebuah platform dari kayu ( tinggi: 0. Ability score 1: subjek bisa melakukan dalam 120 detik 3. Waktu dicatat ketika subjek mulai mendorong kursi roda sampai roda depan melewati penanda pertama kembali. Pada sinyal pertama. Ability score 0: subjek tidak bisa melakukan tes ini dalam 120 detik.5: subjek bisa menaiki platform dalam 120 detik menggunakan roda depan tapi tidak bisa dengan roda belakang dalam 120 detik. Pada sinyal pertama. subjek mendorong kursi roda ke depan. . 2 meter di depan dinding dipasang penanda pada lantai. di sisi daun pintu dan bergerak menjauh menuju penanda kedua. Ability score 0. 2. Ability score 0: subjek tidak bisa melakukan dalam waktu 120 detik Ability score 0.04 meter) diletakkan di pintu sebaliknya.

Ability score 0: subjek tidak bisa melakukan tes dalam waktu 60 detik Ability score 1 :subjek bisa melakukan tes dalam waktu 60 detik 5. Sprint 15 meter Dua penanda diletakan di atas lantai dengan jarak masing. Nb: tes ini hanya boleh dilakukan jika subjek dapat melakukan tes 5. kecuali kemiringan treadmill mencapai 6 %.masing 15 meter. kemiringan dinaikkan menjadi 3 % dalam 12 detik. Pada sinyal pertama. Ability score 1: subjek bisa melakukan tes ini dalam waktu 180 detik 7. Subjek duduk di atas kursi roda. sepuluh detik berikutnya. Waktu dihitung ketika subjek mulai mendorong sampai roda depan melewati penanda kedua. Ability score 0: subjek tidak bisa melakukan tes ini Ability score 1: subjek melakukan hal ini dengan baik 6. Kemiringan 6 % Tes ini sama seperti dalam tes kemiringan 3 %. dengan roda depan di belakang penanda pertama. Tes berakhir ketika treadmill kembali pada posisi horizontal. Sinyal pertama.Ability score 1: subjek bisa melakukan dalam waktu 120 detik 4. subjek tetap mendorong kursi roda selama 10 detik sebelum kemiringan dikembalikan 0 % dalam 12 detik.56 m/s. Dorongan kursi roda . Kenaikan dan penurunan kemiringan memakan waktu masingmasing 23 detik. kecepatan treadmill sebesar 0. subjek mendorong kursi roda menuju ke penanda kedua secepat mungkin. Ketika kemiringan sudah tercapai. (ability score : 1) Ability score 0: subjek tidak bisa melakukan tes ini. Kemiringan 3 % Tes ini mengharuskan subjek mendorong kursi rodanya di atas “ wheelchairadjusted treadmill”.

kecepatan treadmill 0.5: subjek bisa melakukan perpindahan dalam 300 detik. 0. Sinyal pertama. ASIA Impairment Scale A= complete: tidak ada fungsi saraf motorik dan senorik pada daerah sacral pada segment S4-5 B= incomplete: sensory tetapi tidak pada fungsi motorik yang didapatkan di bawah level neurologis C= incomplete: Fungsi motorik beradal di bawah lesi saraf yang kena . atau 1.56. Ability score 1: subjek melakukan tes ini dengan baik dalam 300 sekon. Subjek duduk di atas kursi roda dengan roda depan berada di belakang garis. Ability score 0 : subjek tidak bisa melakukan tes ini Ability score 1: subejk bisa melakukan tes ini dalam 180 detik. D= incomplete: Fungsi motorik beradal di bawah lesi saraf yang kena E= normal: Fungsi saraf motorik dan senorik normal . Waktu dihitung ketika subjek mulai pindah hingga kedua kai subjek berada di atas meja. Transfer Garis diletakkan di atas lantai sepanjang 1 meter paralel dari meja pemeriksaan.1 m/s. Ability score 0 : subjek tidak dapat melakukan tes ini dalam 300 detik Ability score 0. tetapi tidak sesuai dengan petunjuk di atas. kaki subjek menggantung pada ujung meja pemeriksaan dan akhirnya menempatkan posisi kaki di atas meja pemeriksaan. subjek melakukan perpindahan dari kursi roda ke meja pemeriksaan.Tes ini mengharuskan subjek mendorong kursi rodanya di atas “ wheelchairadjusted treadmill”. Pada sinyal awal. Saat perpindahan. Meja di atur dengan tinggi yang sama dengan tinggi dudukan kursi roda.83. Subjek boleh menggunakan alat bantu untuk pindah. Subjek mendorong kursi roda selama 180 detik. 8. tergantung dari kemampuan subjek.

funsgsi anterior dari daerah motorik dan sensorik medulla spinalis cord Kerusakan pada Kerusakan anterior dari daerah proprioseptiv Posterior syndrome . pada daerah lateral.abu secara komplit.3 Sindroma cedera medulla spinalis Nama Sindroma Pola dari lesi saraf Kerusakan Central cord Cedera pada posisi Menyebar ke daerah syndrome sentral dan sebagian sacral. dan fungsi medulla spinalis atau kehilangan menghasilkan medulla Anterior syndrome spinalis unilateral cord Kerusakan pada Kehilangan putih dan abu.Gejala Klinis • • • • • Central Cord Brown-Sequard Anterior cord Conus medullans Cauda equine Tabel 20. pada daerah servikal Dapat sering terjadi dan pada BrownSyndrome Kelemahan ekstremitas ekstremitas otot ekstremitas atas bawah jarang terjadi bawah Sequard Anterior dan posterior Kehilangan ipsilateral hemisection cedera dari proprioseptiv akan motorik.

4 Hasil Fungsional Setelah Cedera Medula Spinalis C4 C5 Pernapasan KV 30%-50% KV di atas dari normal.abu diskriminasi medulla spinalis Cauda syndrome getaran. dan Funsgis motor juga terganggu equine Kerusakan pada saraf Kerusakan sensori dan lumbal spinalis atau sacral lumpuh flaccid pada bawah dan kontrol berkemih dan defekasi. Modifikasi sendiri sampai mandiri dalam posisi di Putaran Butuh Bantuan Bantuan kasur Mandiri mandiri mandiri mandiri untuk berpindah di tempat tidur Mandiri untuk berpindah di tempat tidur Mandiri untuk berpindah di tempat tidur C6 KV 60% dari normal. TA untuk kesehatan paru 60% normal. T9-T12 KV 80% atau lebih dari normal. samapi ujung medulla ekstremitas Tabel 20. Bantuan langsung untuk teknik Peredam Tekanan Modifikasi dalam duduk dengan WC Bantuan total untuk berbaring batuk Modifikasi Modifikasi duduk dengan WC Bantuan sedang dalam berbaring di ranjang dengan duduk di WC. dengan higien paru C7-C8 KV 6080% atau normal. paru T1.T8 KV 80% atau lebih dari normal. Bantuan minimal sampai modifikasi Independen Mandiri dalam duduk di WC. L1-L3 Independen dengan higien paru Independen Kebersihan .putih dan abu.

Mandiri untuk level Menggunakan Modifikasi WC. adapts WC ringan di Modifikasi Modifikasi . dengan Bantuan modifikasi sampai mandiri. kursi roda. mandiri sampai mandiri. Modifikasi mandiri Modifikasi Bantuan permukaan minimal dengan WC.bantuan sedang dengan ranjang jalan Bantuan ringan sampai maksimal ringan sampai modifikasi mandiri Duduk Supinasi Butuh bantuan Bantuan ringan sampai mandiri dengan alat bantu Bantuan ringan mandiri mandiri mandiri Mandiri Duduk Bergeser Butuh bantuan Bantuan penuh Mandiri ternatung luas permukaan Bantuan ringan mandiri Mandiri mandiri Mandiri Permukaan Butuh Berpindah bantuan menggunakan teknik pengangkatan Uneven manual Bantuan penuh dengan teknik pengangkatan manual Lantai Berpindah Bantuan penuh. NA Bantaun ringan samapi sedang Bantuan minimal bantu mandiri mandiri Mandiri dengan alat smapi Bantuan total sampai ringan dengan alat bantu Memakai kursi roda/ dengan Bantuan Bantuan ringan samapi sedang mandiri mandiri mandiri Mandiri Mandiri dengan Bantuan atas Modifikasi permukaan dengan WC.

permukaan. Topik lain pada bab ini membicarakan opsi intervensi yang dasar pada penyembuhan SCI fase rehabilitasdi akut. Bantuan ringan samapi sedang pada kasar. tidak ada rencana intervensi yang bisa diterapkan pada majority pasien SCI. manajemen kasus haruslah berdasarkan per kelompok dan mengandungi intervensi untuk system muskuloskeletal dan neuromuskular yang multiple. terapi fisik. saranan yang berikut harus dimodifikasi berdasarkan hasil pada pemeriksaan yang teliti dan proses evaluasi. tergantung pada keperluan pasien. Antuan ringan sedang pada permukaan kasar dengan permkaan kasar. Bantuan ringan dengan batas pinggir level Modifikasi bantuan batas pinggir Bantuan ringan dengan tangga permukaan. kerja social dan terapi rekreasi. Ahli perobatan dan ahli kesehatan yang lain juga terlibat.ringan samapi sedang. Kelompok rehabilitasi mengandungi keperawatan. FASE AKUT Intervensi awal pada penyembuhan fase akut dan SCI memfokuskan kepada prevensi terhadap komplikasi sekunder dari immobilitas dan permulaan transisi untuk postur yang sesuai. Bantuan ringan dengan batas pinggir dengan permkaan kasar. bicara dan terapi bahasa. terapi okupasi. Oleh karena kombinasi infinit pada kehilangan motor dan sensasi selepas kecederaan. pengobatan (terutamanya dokter spesialis pada pengobatan fisik dan rehabilitasi). Emphasis disesuaikan pada senaman pasif dan . mandiri dengan batas pinggir Bantuan dengan tangga. Modifikasi permukaan sampai INTERVENSI Oleh karena efek global SCI. psikologi. permukaa halus dengana adaptasi pad kusi roda.

aktif, untuk mencegh kerusakan kulit dan memelihara ROM, dan untuk memastikan fungsi pernafasan sebanyak mungkin. Instruksi Pasien Pendidikan pasien dan setiap pengasuh diidentifikasi harus dimulai pada saat onset pasien terapi servis. Pasien harus belajar untuk mengarahkan bantuan yang dia butuhkan untuk mengontrol perawatan fisik mereka, kenyamanan dan kebutuhan psikososial mereka. Khususnya, terapi instruksi fisik dalam pengaturan akut akan mencakup instruksi posisi tidur, inspeksi kulit dan faktor risiko tekanan ulkus, latihan pernapasan, dan latihan ROM . Instruksi harus diberikan dan dinilai untuk akurasi, karena kesalahan dalam memahami dapat menyebabkan perawatan submaksimal dan kemungkinan komplikasi dalam pemulihan. Setelah pasien stabil ia juga harus mulai dididik tentang proses rehabilitasi jangka panjang. Latihan Terapeutik Latihan ROM (PROM) pasif digunakan untuk meminimalkan

pemendekan otot dan struktur artikular. Latihan ROM tradisional dilakukan pada semua daerah tungkai, batang dan serviks sebagaimana disesuaikan oleh perangkat imobilisasi dan perbatasan medis untuk gerakan. Latihan ROM dimulai pada pasien yang secara medisnya stabil dan boleh beraktivitas. Oleh karena risiko kemungkinan terjadi peningkatan pembangunan HO terkait dengan onset intervensi tertunda ROM dini ditekankan. Protokol ROM standar biasanya mencakup dua kali latihan sehari-hari, dari semua sendi melalui ROM dan pengulangan 5-10. Frekuensi ROM ini, tidak ada bukti yang ditemukan untuk mendukung kemanjuran ini atau protokol lainnya dalam populasi SCI. Ada beberapa bukti bahwa periode pendek peregangan sering memiliki sedikit efek pada otot dan peregangan periode panjang mungkin diperlukan untuk mempertahankan panjang otot setelah SCI. Kebutuhan untuk peregangan lebih lama dan dengan posisi tidur yang sesuai dijelaskan nanti dalam bagian ini. Meskipun kurangnya bukti untuk mendukung latihan ROM, dianjurkan bahwa dilakukan sampai penelitian lebih lanjut untuk lebih mendefinisikan parameter peregangan, latihan ROM digunakan untuk kemungkinan kontribusi untuk mereka yang berfleksibilitas, fungsi peredaran darah, pencegahan untuk tekanan ulkus,

dan sebagai sarana untuk memperkenalkan kembali kepada pasien dengan konsep gerakan, dalam persiapan untuk mobilitas aktif. Beberapa tindakan pencegahan tambahan harus diambil ketika melakukan latihan ROM pada individu dengan SCI karena masa depan ROM yang dibutuhkan untuk mobilitas dan hipotonik hadir selama pemulihan awal: 1. ROM yang ekstrim atau kuat dihindari karena risiko terjadi trauma jaringan lunak dan kemungkinan predisposisi untuk HO. 2. Kaki lurus dan gabungan fleksi pinggul dan lutut mungkin terbatas dalam fase akut, terutama setelah operasi toraks atau lumbal tingkat rendah, karena peregangan yang mungkin terjadi pada jaringan dural dan struktur lumbal. 3. Gerakan gabungan dari pergelangan tangan dan jari jarang diterapkan dalam arah yang sama (misalnya;. fleksi pergelangan tangan dikombinasikan dengan fleksi jari atau ekstensi pergelangan tangan dengan ekstensi jari untuk menghindari peregangan berlebihan pada fleksor jari panjang atau tendon ekstensor. Gerakan pasif alami dari jari ke fleksi dan ekstensi pergelangan tangan akan digunakan oleh banyak pasien untuk melakukan fungsi menangkap (disebut pegangan tenodesis), sehingga penerapan ketat pada beberapa fleksor di jari panjang dalam kombinasi dengan ekstensi pergelangan tangan harus diterapkan. Panjang ekstensor harus diterapkan untuk memungkinkan pembukaan pasif pegangan tenodesis ketika pergelangan tangan tertekuk. Pengecualian untuk aturan ini dilakukan jika pasien sedang menderita spastik yang parah, di mana peregangan yang lama mungkin diperlukan untuk mencegah kontraktur dari kelompok otot yang terlibat. 4. Oleh karena kebutuhan kekuatan dan mobilitas di bahu dan tulang belikat untuk semua keterampilan mobilitas pada masa depan, daerah ini harus ditangani bersama dengan gerakan ekstremitas distal.

5. Selama periode areflexive pada shock tulang belakang, perawatan harus dilakukan untuk sepenuhnya mendukung anggota badan selama ROM untuk mencegah trauma pada sendi tengah. Sementara ROM pada awalnya merupakan aktivitas pasif yang dilakukan oleh terapis atau pengasuh yang terlatih, sambil pasien yang mangalami kemajuan memungkinkan latihan ini untuk membantu berolahraga atau senaman aktif, dan pasien diinstruksikan dalam melakukan latihan ROM sendiri untuk menjaga fleksibilitas. Posisi. Oleh karena periode lama pasien SCI akut paling menghabiskan waktunya di tempat tidur, sangat penting bahwa posisi benar dilakukan untuk mengurangi risiko tekanan ulkus, mempertahankan allignment postural dan rangka, dan mengurangi efek sekunder dari spastik. Tekanan pada tempat tidur, kasur, atau kasur overlay harus selalu digunakan sebagai tambahan dalam pemantauan posisi konstan atau kondisi kulit. Posisi berbalik dilakukan setiap 2 jam. Ketika pasien telentang, postur berikut ini disarankan: Area tubuh LEs Titik anatomi Pinggul posisi Ekstensi dan abduksi sedikit dengan rotasi Lutut Tumit neutral Ekstensi, tapi disokong dan tidak dihiperekstensi Dorsofleksi, umumnya dengan menggunakan alat Jari-jari kaki Bahu Siku ortotik Ekstensi Abduksi, sedikit difleksi, rotasi neutral Ekstensi, terutama dengan kehadiran fungsi bisep tanpa fungsi trisep. Alat ortotik lain boleh

UEs (untuk pasien dengan tetraplegia)

tetapi banyak pasien dengan halo yang harus perlahan-lahan diperkenalkan kepada waktu yang dihabiskan rentan sekunder dengan perasaan tak berdaya awal menelungkup dan karena perasaan kompresi pada dada dapat membuat perubahan yang dirasakan dalam fungsi pernafasan. mereka diposisikan sedikit menjauh dari miring di arah terlentang. posisi rentan meningkatkan oxygen dan dapat meningkatkan sirkulasi ke daerah paru-paru. Sebagai pasien yang stabil kondisinya. mereka mungkin boleh duduk tegak. Jadi. Lengan atas didukung pada sebuah bantal pada fleksi bahu dan ekstensi siku. Bahkan jika pasien dengan halo tidak mentolerir posisi prone yang lama. siku diperpanjang. dengan bantalan yang disediakan antara tungkai (terutama pada lutut dan pergelangan kaki). Fleksi Pasien jarang diposisikan baring miring secara langsung karena tekanan terjadi pada tulang di bagian bahu dan pinggul. Kehadiran perangkat medis (misalnya. Dalam posisi ini.digunakan untuk menahan ekstensi siku jika terjadi Pergelangan tangan Jari-jari tangan spastic bisep Ekstensi pada 30-40 derajat. dan lengan bawah disupine dan ditahan di atas bantal. tracheostomy atau tube makan) dapat mempersulit tetapi tidak dinafikan penggunaan posisi rentan dalam intervensi awal. Pada kenyataannya. Kehadiran penjepit halo tidak selalu merupakan kontraindikasi untuk baring secara prone. pinggul dan lutut sedikit tertekuk dan kaki bagian atas sedikit posterior lebih rendah. mereka masih harus beralih ke rentan terhadap prone selama beberapa menit setiap hari untuk memungkinkan pemeriksaan kulit dan membersihkan bagian bawah posterior dari halo dan untuk membantu sekresi pernapasan mobilisasi. Pengikat perut dan Les digunakan untuk mendukung pembuluh darah. dan . Posisi prone adalah pilihan yang sangat baik untuk peregangan lanjut fleksor pinggul dan lutut dan merupakan posisi yang sangat baik untuk pasien dengan prognosis yang baik untuk pemulihan. Bahu sisi bawa tertekuk sekitar 90 derajat.

Pengikat perut untuk mendukung pernapasan dapat digunakan setelah pasien melakukan beberapa napas spontan. perkusi dan getaran. Intervensi terapi fisik selama manajemen akut pasien akan mencakup teknik untuk meningkatkan kekuatan otot pernapasan dan daya tahan dan meningkatkan saluran udara yang lapang dan untuk meminimalisir komplikasi immobilisasi pernapasan yang lanjut. Ketika pasien dapat ditoleransi duduk di posisi ini untuk waktu yang lama (15-30minutes). pasien dapat duduk dengan Les dalam posisi mandiri. terapi pernapasan. Jika sekresi jalan napas hadir atau dicurigai. Intervensi dipilih berdasarkan pada hasil pemeriksaan dan evaluasi paru. Pengobatan harus dikoordinasikan dengan anggota lain dari tim pengobatan. ronchi. Rompi pneumatik yang memasok getaran mekanis pada dinding dada seluruh juga dapat digunakan untuk memobilisasi sekresi. intervensi dapat mencakup posisi untuk drainase postural. membutuhkan ventilasi mekanis selama manajemen akut mereka. dan waktu pengobatan ditentukan oleh perubahan dalam pembukaan jalan napas. Pembukaan Jalan Napas Banyak individu dengan SCI.individu secara bertahap dinaikkan ke posisi duduk di tempat tidur atau di kursi roda berbaring dengan kakinya ditinggikan. atau vesikuler selama dan setelah pengobatan menunjukkan mobilisasi sekresi efektif. Perubahan suara napas yang kurang atau tidak ada sebelum pengobatan untuk crackles. terapi wicara. khususnya di tingkat serviks. pembukaan jalan napas teknik pasif akan dihentikan. Pengobatan dapat berlangsung 20-30 menit dan dilanjutkan selama ada sekresi produktif (dengan batuk atau penyedotan) dan jika suara napas membaik. Intervensi ini diterapkan ke daerah paru yang terlibat (seperti yang tercantum dalam radiograf atau dengan auskultasi). Pasien dengan cedera di atas C4 akan memerlukan bantuan ventilasi penuh atau parsial seumur hidup. sementara tekanan darah dan denyut jantung dipantau dan diamati tanda-tanda sakit kepala atau pusing. Pengikat ditetapkan di daerah 2-3 inci . termasuk keperawatan. Suction periodik dan / atau batuk dapat digunakan untuk membersihkan sekresi. dan terapi okupasi. Setelah pasien lebih aktif dan dapat memobilisasi sekresi dengan batuk.

Pengikat yang ditempatkan terlalu tinggi dapat mengganggu inspirasi. ada bukti bahwa bahan pengikat dapat membantu beberapa individu. Meskipun setiap struktur di atas atau di bawah tingkat cedera mungkin akan terpengaruh. Pasien dengan SCI serviks yang lebih tinggi dapat diajarkan teknik yang disebut pernapasan glossopharingeus yang menggunakan otot-otot aksesori atas dipersarafi oleh saraf kranial untuk memperluas rongga mulut untuk menarik udara ke dalam mulut dan membuat tekanan inspirasi negatif untuk memfasilitasi inspirasi. pola pernapasan. Kapasitas vital. Untuk mendukung penyapihan dari ventilasi mekanik. Sebagai daya tahan pernafasan dalam meningkatkan intervensi untuk mobilitas dapat ditambahkan selama periode ketika pasien ditutup ventilator. Isyarat manual dan fasilitasi dapat digunakan untuk metargetkan otot-otot tertentu dan kunjungan selama latihan. Untuk orang lain. Durasi dan perlawanan pelatihan berkembang perlahan-lahan untuk mencegah kelelahan otot pernapasan. dan pengikat yang diperpanjang terlalu rendah dapat menyebabkan kerusakan kulit. frekuensi pernapasan. Intervensi untuk manajemen nyeri bervariasi dengan jenis rasa sakit. melayani prosedur darurat untuk mempertahankan bernapas untuk waktu yang singkat dalam kegagalan sementara dari bantuan ventilasi mekanik. Selama proses saluran udara tekanan positif kontinu penyapihan dapat digunakan untuk membantu pernapasan ketika pasien ditutup ventilasi mekanis. Manajemen Rasa Sakit.di bawah prosesus xifoid dan diperluas sedikit di bawah spina iliaka anterior superior (SIAS). pelatihan otot pernafasan dapat dilakukan dengan perangkat pelatihan otot inspirasi dan / atau dengan latihan beban perut. Meskipun penggunaan pengikat perut untuk mendukung respirasi adalah kontroversial. nyeri nosiseptif sering pada muskuloskeletal . Udara yang "menelan" atau "stroke" diulang beberapa kali per napas. dan saturasi oksigen dapat dipantau dalam posisi terlentang dan duduk dengan dan tanpa pengikat untuk menentukan apakah pengikat membantu individu tertentu. Udara ini kemudian "didorong" ke dalam paru-paru dengan menarik dagu dan belakang lidah ke arah leher. menciptakan tekanan positif di dalam mulut. Beberapa pasien yang dinyatakan akan ventilator tergantung dapat menggunakan USD untuk memungkinkan perpanjangan waktu off dari ventilator.

modalitas terapi. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengembangkan metode yang efektif untuk pengelolaan nyeri neuropatik setelah SCI. Gejala sakit nosiseptif ditangani dengan rejimen yang sama dengan yang digunakan untuk populasi. keterampilan tidur mobilitas. Fase ini akan minimal mencakup pelatihan dalam teknik relief tekanan. pelatihan mentransfer. Nyeri neuropatik lebih sulit untuk diklasifikasikan dan diobati terutama jika terjadi di bawah tingkat cedera. intervensi fokus pada keterampilan mobilitas pelatihan dan memberikan pendidikan dalam perawatan diri untuk individu dengan SCI. Tidak ada bukti studi terkontrol ditemukan untuk pasien SCI terkait dengan kemanjuran berbagai intervensi untuk nyeri nosiseptif. Pilihan pengobatan untuk jenis nyeri mirip dengan yang digunakan pada pasien lain dengan nyeri kronis dan mungkin termasuk obat-obatan. perawatan pernapasan. Stimulasi sumsum tulang belakang dan infus obat mungkin ditambakan. keterampilan mobilitas kursi roda. atau komponen kontrol yang diperlukan untuk meningkatkan kinerja tugas dan efisiensi. termasuk penggunaan obat analgesik dan antiinflamasi. modifikasi. fleksibilitas.dan sering terjadi di atas tingkat cedera. Dalam laporan studi manajemen nyeri pada 120 individu dengan SCI. Intervensi tambahan untuk orang dengan SCI mungkin melibatkan penilaian ergonomis dan modifikasi tempat duduk kursi rodanya dan teknik propulsi. istirahat. dan olahraga. dan pelatihan kiprah saat yang tepat. terapi behavorial kognitif dan intervensi bedah. dan tidak ada intervensi yang efektif secara konsisten. gaya hidup. 40 telah mencoba terapi fisik dan 50% dari mereka dinilai sebagai membuat sakit "jauh lebih baik" atau "menghilang". . FASE REHABILITASI Selama fase pemulihan rehabilitasi. Beberapa studi klinis telah dilakukan untuk mengevaluasi efektivitas dari setiap pengobatan yang diberikan. Pelatihan untuk setiap tugas ini bisa disertai dengan latihan khusus untuk meningkatkan kekuatan. dukungan psikososial.

Berdasarkan pemantauan kadar oksigen transkutan selama tekanan relief. kursi belakang harus dibaringkan seberapa mungkin nyaman dan kaki ditinggikan (120-150 derajat). Pasien dengan SCI berada pada peningkatan risiko untuk mengembangkan tekanan ulkus selama episode awal mereka mendapat perawatan cedera. Namun. Pasien maka perlu direposisi di mana kursi ditulis ke posisi kanan atas setelah bantuan tekanan. Dengan jenis mekanisme. dan ini dapat memicu spastik. Sumber sebagian besar setuju bahwa tekanan relief pada awalnya harus dilakukan selama 15 detik atau lebih. Juga penting untuk . daerah atas sakrum juga meningkatkan risiko. Oleh karena itu penting bahwa teknik tekanan bantuan diajarkan sesegera mungkin setelah cedera dan sering diperkuat selama proses rehabilitasi. Asisten dapat memiringkan kursi roda dengan duduk di belakang kursi roda. Pasien harus memahami pentingnya keterampilan ini dan semua tim harus memberi isyarat dan memperkuat kinerja mereka. Untuk pasien dengan tetraplegia atau di atas tingkat tekanan relief C4 dilakukan oleh asisten atau sistem kekuasaan yang miring atau dengan berbaring di kursi roda. Ketika duduk. jaringan di sekitar tuberositas iskia iis merupakan risiko terbesar untuk rincian. penelitian telah menyimpulkan bahwa studi yang paling diuji diperlukan 1. bukti terbaru menunjukkan bahwa ini mungkin tidak cukup untuk reoksigenasi jaringan terkompresi. pada setiap 15-30menit. Jika pasien memiliki postur kyphotic dengan kemiringan pelvis posterior. Berat badan dengan lebih lanjut pergeseran dapat dicapai oleh sebagian individu untuk setiap sisi sekali dalam posisi terlentang. Beberapa kursi roda memiliki mekanisme di mana bagian belakang kursi roda dibaringkan terpisah dari permukaan tempat duduk. Kerugian pasien berbaring melibatkan perubahan relatif posisi pasien di kursi.Pasien Yang Terkait Instruksi Tekanan relief Saat Duduk.5-2 menit tekanan relief untuk mengembalikan oksigen setara dengan tingkat dasar dibongkar. menggenggam push dan memiringkan kembali ke roda belakang sampai kursi dimiringkan setidaknya 65 derajat (bagian belakang kursi dapat bertumpu pada lutut asisten).

disadari bahwa beberapa sudut berbaring dapat mengurangi tekanan iskia dan meningkatkan kekuatan permukaan geser dan risiko gangguan jaringan. beberapa teknik dapat digunakan untuk membantu dengan memperbaiki tekanan dalam kursi roda manual. Ini melibatkan penempatan tangan di kursi roda atau ban sandaran tangan dan mengangkat tubuh lepas dari kursi dengan gerakan push-up. A). Pasien dapat diajarkan untuk menggunakan otot-otot bahu depan mereka untuk mendorong hingga duduk atau untuk membuang satu lengan kembali dan menghubungkan belakang kursi atau mendorong pegangan untuk menarik diri kembali ke posisi tegak. pengurangan tekanan dapat dilakukan dengan menggunakan teknik push-up (gambar 20-6. C). dengan menggunakan lengan yang berlawanan (misalnya lengan kiri untuk bersandar ke kanan) untuk menghubungkan kursi roda belakang atau mendorong pegangan (dengan lengan untuk individu dengan fungsi C5 dan dengan ekstensi pergelangan tangan untuk individu dengan fungsi C6 ) untuk mengontrol kemiringan dan untuk pulih dari kemiringan (gambar 20-6. Untuk pasien dengan CMS pada tingkat C5-6 dengan kontrol kepala dan leher yang baik dan beberapa fungsi lengan (tidak termasuk trisep). jika konfigurasi tempat duduk mereka memungkinkan mereka untuk posisi lengan dengan cara yang pasif mengunci siku ke ekstensi sementara tekanan bahu digunakan untuk menciptakan gaya angkat. B). Individu mungkin miring ke depan dengan dada bergerak maju ke paha (Gambar 20-6. Untuk individu-individu dengan penggunaan fungsional dari trisep. Teknik ini harus kemudian diulang pada sisi yang berlawanan untuk menghilangkan tekanan bilateral. Kerugian dari teknik push-up adalah . Hal ini juga penting untuk menyadari bahwa beberapa sudut berbaring yang mengurangi tekanan iskia dapat meningkatkan kekuatan geser permukaan dan itu merupakan risiko gangguan jaringan. Bagian paling sulit dari teknik ini adalah belajar untuk pulih dari posisi ke depan tanpa fungsi trisep. Beberapa individu tanpa fungsi trisep dapat melakukan jenis keterampilan ini. Teknik lain adalah untuk bersandar miring di kursi roda sejauh mungkin. Henderson dkk menemukan teknik ini yang menjadi lebih efektif dalam mengurangi tekanan yang melebihi derajat iskia.

posisi. Tingkat cedera tulang . Bantal busa tersedia dalam berbagai bentuk dan berbagai kombinasi kerapatan busa dan bahan. Hal ini juga sangat sulit bagi seseorang untuk mempertahankan posisi push-up cukup lama untuk memungkinkan perfusi jaringan yang cukup (1. tetapi mereka memerlukan pemeliharaan rutin dan memberikan permukaan yang kurang stabil untuk melakukan keterampilan mobilitas. Bantal lain yang dibuat dari sejumlah bahan sintetis dalam berbagai konfigurasi (contoh. dan keterampilan mobilitas. dan persyaratan distribusi tekanan dari individu dengan karakteristik bantal. masing-masing dengan keuntungan dan kerugian. Pelatihan individu dengan berbagai tingkat cedera tulang belakang untuk menggunakan kursi roda sangat penting untuk mobilitas harian agar mandiri.5-2 menit). Bantal gel membutuhkan perawatan minimal dan umumnya lebih mudah untuk bergerak naik dan turun tetapi dapat menjadi berat dan kelembaban terangkap. penting juga untuk setiap individu dengan CMS untuk menggunakan bantalan kursi yang dirancang untuk mendistribusikan tekanan saat duduk di kursi roda atau pada permukaan apapun untuk waktu yang lama. dan penilaian hati-hati diperlukan untuk mencocokkan dengan keinginan. Pelatihan Gaya Berjalan dan Lokomotor Mobilitas kursi roda. Selain teknik pengurangan tekanan biasa. Setelah periode awal keterampilan dan pelatihan daya tahan.bahwa hal itu memberikan kontribusi lebih lanjut untuk penggunaan berlebihan dari bahu dan pergelangan tangan yang sudah melekat pada mobilitas kursi roda. kebutuhan mobilitas. kontruksi sarang lebah) dengan berbagai sifat yang terkait dengan distribusi tekanan. seorang individu harus mampu mendorong kursi rodanya sepanjang hari rata-rata di tingkat masyarakat tanpa membuat nyeri otot atau kelelahan. Bantal kursi roda tersedia dalam empat tipe dasar. Efektivitas pengurangan tekanan dan keawetan bahan sangat bervariasi antara jenis busa. Bantal yang menggunakan udara atau dengan dukungan yang konsisten dalam mengurangi tekanan atas penonjolan tulang dan umumnya ringan.

sekitar hambatan. napas. Kursi roda harus disesuaikan untuk memungkinkan kemampuan manuver maksimum. Lingkaran roda dari kursi roda didesain khusus untuk dapat didorong sehingga memberikan proyeksi pasien atau permukaan yang lembek yang dapat digunakan untuk tepi pegangan pada saat tidak adanya fungsi jari. Gerakangerakan kecil dari kepala. Bagi individu-individu ini. diikuti dengan gerakan meremas pada bahu depan dan otot dada untuk menyelesaikan gerakan dorongan. gerakan dorongan kursi roda melibatkan peletakan tangan pada lingkaran roda di belakang pinggul dan menarik dengan biseps untuk memulai gerakan mendorong. . Kursi listrik dapat dikendalikan oleh salah satu dari sejumlah mekanisme kontrol yang dicocokkan dengan mobilitas pasien. Berbagai sistem pemasangan tangan dan lengan memungkinkan individu untuk menggerakkan kursi roda dengan gerakan lengan terbatas. bibir. termasuk mekanisme berhenti dari menjalankan kursi roda dan memungkinkan kursi roda didorong oleh seorang asisten jika terjadi kerusakan mekanik. atau bahu dapat digunakan untuk mengontrol kursi dan untuk mengontrol pilihan kekuatan untuk mengurangi tekanan. sementara pada saat yang sama kursi menjadi stabil dan dukungan punggung yang cukup untuk memungkinkan gerakan dorongan maksimal yang efisien tanpa kompensasi perubahan postural. dagu. Alat bantu pernapasan portabel dapat dipasang pada kursi roda listrik untuk memungkinkan individu yang tergantung dengan alat bantu napas untuk bergerak bebas di tingkat rumah tangga dan masyarakat. Individu dengan CMS di C4 atau di atasnya akan menggunakan kursi roda listrik untuk mobilitas. Pengguna kursi listrik harus mampu melakukan pengelolaan dan pemeliharaan dari semua bagian dari kursi nya. ia harus diinstruksikan untuk menggunakan kursi di medan yang tidak rata. Seiring dengan kemajuan keterampilan individu. di tempat umum. dan di lift. Praktek awal dengan mobilitas bertenaga harus dilakukan di area terbuka dengan kontrol kursi roda disesuaikan dengan kecepatan lambat.belakang akan menentukan keterampilan yang dibutuhkan dan jenis kursi roda yang diperlukan untuk memenuhi tujuan ini. CMS di tingkat midcervival (C5-6) menghasilkan kontrol motor penggerak yang memungkinkan dorongan kursi roda manual yang terbatas.

dan mencengkeram lingkaran roda lagi. semua harus diajarkan selama rehabilitasi pasien. dapat mandiri pada pekerjaan-pekerjaan ringan dengan penggerak kursi roda manual.Keterampilan tarikan juga harus diperkenalkan (Gambar 20-7) untuk memungkinkan keseimbangan selama turunan yang curam. Kelompok risiko ini terutama terdiri dari wanita. mengoperasikan lift. Kebanyakan individu dengan CMS yang lengkap atau sebelum C7 menggunakan kursi roda manual untuk mobilitas. Dengan cara ini gerakan dorongan menjadi gerakan melingkar ketimbang gerakan tipe gergaji yang bolak-balik. 8 pria dan 6 wanita) tidak memungkinkan untuk kesimpulan yang pasti tentang hubungan gerakan dorongan dan cedera bahu. pengguna kursi roda manual harus diinstruksikan dalam berbagai keterampilan tambahan sehingga mereka kemudian dapat beradaptasi dengan kebutuhan mereka sehari-hari. bukan sejajar dengan as roda mempunyai peningkatan risiko dalam kemajuan pada temuan MRI yang konsisten dengan cedera bahu. ini tidak menyoroti kebutuhan dalam penyediaan intervensi pengajaran dan peralatan yang memaksimalkan dorongan sementara meminimalkan risiko untuk cedera masa depan dan gangguan. Sebuah studi yang kecil tapi menarik oleh Boninger dkk menemukan bahwa individu yang mendorong dengan sejumlah besar tenaga yang diarahkan secara radial menuju as roda dari kursi roda. Kemampuan untuk membuka dan menutup pintu. tetapi untuk mobilitas pada tingkat komunitas sering memerlukan penggunaan kekuatan bantuan kursi roda manual atau kursi roda listrik. yang memungkinkan tangan untuk melipat dan kemudian mengekstensikan bahu selama fase pemulihan.Sementara itu sebagian besar individu dengan tingkat CMS ini. dan melakukan tugas-tugas aktivitas hidup sehari-hari dalam posisi duduk. untuk membongkar bagian depan kursi roda untuk meningkatkan mobilitas di atas . Setelah menguasai gerakan dorongan dasar yang dibutuhkan untuk mendorong pada permukaan yang datar. Gerakan dorongan untuk individu-individu ini melibatkan penggenggaman dorongan pada lingkaran roda di belakang pinggul (dengan modifikasi lingkaran roda yang diperlukan untuk cidera leher) mendorong lingkaran roda maju ke depan. Meskipun jumlah subjek dalam penelitian ini (n = 14.

Trotoar yang rendah dapat dinaiki dengan menggunakan tarikan untuk mengangkat roda depan di atas trotoar. Trotoar yang rendah dapat dituruni melalui dengan menuruni trotoar menggunakan roda belakang sambil bersandar ke depan sejauh mungkin melewati bagian depan kursi. Saat belakang kursi pada permukaan lebih rendah. Pasien harus diajarkan untuk melindungi diri agar tidak jatuh. sementara pada saat yang sama bersandar kepala dan bahu ke belakang. mendorong kursi ke depan sampai roda belakang berada di tepi trotoar.permukaan kasar. Posisi tarikan dicapai dengan memberikan dorongan yang kuat oleh tangan pada lingkaran roda dari posisi tepat di belakang pinggul. Turun naik trotoar merupakan keterampilan yang membutuhkan latihan berulang untuk menguasainya. selain itu juga untuk mencegah pasien dari kehilangan keseimbangan bagian belakang. Jika jatuh mundur. Hal ini memungkinkan terapis untuk membantu pasien mendapatkan kembali kemiringan yang cukup jauh untuk menemukan posisi yang seimbang. ujung depan dipindahkan dari trotoar dengan memutar ke samping atau dengan menggunakan sebuah tarikan untuk mengangkat ujung depan dan menarik . Dengan latihan kebanyakan individu dapat belajar untuk mempertahankan kursi dalam posisi seimbang dengan pemusatan berat pada roda belakang saja. individu harus condong ke depan dengan kepala mereka berpaling (untuk menghindari kaki mereka jatuh langsung ke wajah mereka) dan mencoba untuk menggenggam bagian depan kerangka kursi roda. Ketika melatih pasien di keterampilan ini. Mereka tidak mempunyai waktu untuk mendapatkan kembali posisinya dan menangkap diri mereka untuk mencegah jatuh. hal ini menempatkan lengan beresiko tinggi untuk cedera bahu atau dislokasi. Hal ini menyebabkan roda-roda kecil pada depan kursi naik dari lantai dan semua berat ditransfer ke roda belakang. dada bersandar jauh sampai sedepan mungkin dan kemudian menarik dan mendorong maju dengan tangan di lingkaran roda. Teknik ini membutuhkan lengan dan kekuatan cengkeraman yang baik. terapis harus mempertahankan pegangan yang kuat pada pegangan pendorong kursi roda atau pada tali pengaman yang dilingkarkan di bagian belakang bingkai kursi roda. dan sebagai komponen keterampilan tepi jalan yang menanjak.

individu juga harus nyaman dengan mekanisme kursi roda tersebut. Perhatikan bahwa kedua keterampilan ini membutuhkan pertimbangan ketepatan waktu yang baik. . pelatihan cara berjalan untuk individu dengan cedera tulang belakang difokuskan pada penggunaan ortotik dan alat bantu untuk memungkinkan individu untuk menanggung berat badan di tungkai yang lain dan mencapai posisi tegak dan ukuran terbatas dari mobilitas fungsional saat berdiri. Hal ini meliputi pencapaian trotoar dengan kursi bergulir secara stabil.mundur dari tepi jalan. dll). Cara berjalan Secara tradisional. dan melakukan perawatan dasar. menggunaan kunci roda. duduk ke sudut belakang. Sebuah teknik yang lebih efisien untuk trotoar yang menanjak adalah memastikan kursi bergulir ke depan sepanjang pendakian sehingga momentum ke depan dari pergerakan kursi menyediakan sebagian besar gaya yang dibutuhkan untuk naik ke trotoar (Gambar 20-8). membuat kursi tepat untuk perjalanan (ini mungkin melibatkan melipat kursi dan / atau menyingkirkan roda). Selain belajar keterampilan mobilitas kursi roda. membuat penyesuaian mekanik untuk mengubah kinerja kursi (pada jalanan yang tidak rata. tergantung pada kontrol dada) sementara lengan melanjutkan gerakan dorongan. Mengelola bersandar kaki dan sandaran tangan (diperlukan untuk pindah). kecepatan sedang. sehingga memungkinkan roda belakang untuk mendarat di permukaan bawah baik sesaat sebelum atau pada saat yang sama dengan roda-roda kecil bagian depan. Pasien harus dibantu agar dapat berhasil selama latihan awal dan harus dijaga ketat untuk mencegah cedera sehingga mereka dapat mengalami kemajuan dalam pelatihan. koordinasi motorik. yaitu tijakan kaki yang akan mencapai trotoar dengan ujung depan diangkat dengan tarikan dan secepat mungkin bagian depan dari kursi melewati tepi trotoar. Trotoar yang melandai dituruni dengan metodfe yang sama yaitu dengan mendekati tepi jalan dengan cara bergulir dan melakukan tarikan kecil di tepi trotoar untuk menahan ujung depan kursi dan roda belakang turun dari trotoar. tubuh bagian atas dilempar ke depan (bersandar atau jatuh. dan penguasaan yang tepat dari keterampilan tarikan.

Dari waktu ke waktu. Bukti yang mendukung adanya CPGs pada manusia telah menyebabkan perkembangan jumlah intervensi yang bertujuan menggunakan jalur saraf untuk menghasilkan gerakan lokomotor pada pasien dengan CMS. Pelatihan lokomotor mengambil keuntungan dari jaringan saraf di medula spinalis yang disebut generator pola sentral (CPGs) yang dapat menghasilkan aktivitas saraf ritmik tanpa masukan dari supraspinal dan proprioseptif. Program pengobatan yang konsisten dengan paradigma ini mencakup berbagai bentuk pelatihan lokomotor yang kadang-kadang dikombinasikan dengan modalitas tambahan (contoh fungsi stimulasi listrik.tungkai secara pasif akan digerakkan atau dirangsang secara elektrik untuk menghasilkan pola gerakan sebenar mungkin secara kinematik. penyelidikan yang lebih baru telah menyebabkan pergeseran paradigma intervensi yang bertujuan untuk lebih memanfaatkan sirkuit saraf tulang belakang. CPGs dapat memberikan pola-pola gerakan dasar. Saat treadmill mulai bergerak. hasil latihan berulang . Sementara keberadaan dan fungsi yang tepat dari CPGs pada manusia lebih kontroversial. terapi obat) dan intervensi terapi tradisional lainnya.dengan pusat yang lebih tinggi dan input sensorik untuk memulai dan memodifikasi pola-pola gerakan ini. dan bukti dari hewan-hewan ini menunjukkan bahwa pelatihan motorik berulang dapat memberikan input yang cukup untuk memodifikasi atau meningkatkan output motorik dari CPG.Meskipun pendekatan ini mempertahankan beberapa manfaat dan dibahas kemudian dalam bagian ini. penelitian telah menunjukkan bahwa individu dengan CMS komplit dan inkomplit dapat menghasilkan jenis gerakan lokomotor dan pola EMG ketika gerakan melangkah tungkai dibantu secara eksternal untuk memberikan isyarat sensorik sesuai dengan medula spinalis. Keberadaan CPGs berkontribusi terhadap berbagai gerakan yang lebih baik pada sejumlah vertebrata daripada manusia. Pelatihan lokomotor. Hal ini umumnya dilakukan oleh individu dengan memanfaatkan treadmill yang terhubung ke perangkat yang memungkinkan sebagian dari berat badan orang tersebut akan berkurang dari kaki mereka.

dan jumlah berat badan yang ditangguhkan dan jumlah bantuan yang diberikan mengalami penurunan sebagai ditoleransi. Setelah 36sesi pelatihan selama12 minggu. pelatihan lokomotor juga berkaitan dengan keuntungan psikologis termasuk meningkatkan . Field-Fote dan Tepavae menerapkan BWST yang dikombinasikan dengan FES ke saraf peroneal dari 14subyek dengan kronis dan CMS inkomplit. peneliti ini mencatat kecepatan berjalan meningkat (di atas treadmill) 135% dan peningkatan 55% dalam waktu berjalan per sesidi atas treadmill.1tahun) yang dilatih dengan pelatihan treadmill didukung berat badan(BWST) dengan petunjuk manual berdasarkan kebutuhan yang diberikan oleh terapis. Menariknya.dalam melangkah spontan lebih besar. kecepatan berjalan di permukaan tanah meningkat sebesar 84% dan kecepatan berjalan ditreadmill meningkat sebesar 158%. Carhart dkk mengangkombinasikan stimulasi epidural medulla spinalis dengan terapi treadmill dengan penahanan beban parsial (pelatihan lokomotor) dan mencatat penurunan kekuatan berjalan (dari 8 /10sampai 3 /10 pada skala Borg) dan peningkatan 100% dalam kecepatan berjalan pada tiap individu. Setelah 6 bulan dari BWST progresif. pasien ini juga memiliki pengurangan yang signifikan pada kolesterol total dan perubahan sifat serat otot yang mencakup peningkatan ukuran dari serattipe I dan IIa.5meter per detik). Stewart dkk mempelajari sembilan subyek dengan CMS kronis (waktu rata-rata sejak cedera 8. Dalam studi kasus tunggal. Empat dari sembilan subjek juga menunjukkan peningkatan yang terukur dalam berjalan di atas permukaan tanah yang fungsional sebagaimana dinilai pada Skala Berjalan Wernig. Banyak variasi dari metode ini telah digunakan dengan hasil yang bervariasi. Tujuan intervensi ini adalah untuk memaksimalkan penggunaan plastisitastergantung dari jaringan saraf tulang belakang untuk meningkatkan efektivitas ambulasi. Sembilan dari 14subyek juga mengalami peningkatan konsistensi dan koordinasi antar tungkai. Sebuah tinjauan penelitian dengan pelatihan lokomotor pada treadmill dengan FES menemukan bahwa manfaatnya termasuk penurunan biaya fisiologis berjalan (dikurangi dengan faktor2) dan peningkatan kecepatan berjalan maksimal (rata-rata kenaikan 0. Selain manfaat fisik dan fungsional.

Persentase dukungan berat badan pada inisiasi berkisardari 20% ke 50%. Pelatihan lokomotor adalah pilihan pengobatan yang menjanjikan untuk pasien dengan CMS. Protokol ini cukup mewakili artikel-artikel lain. badan. harga diri. . hal ini secara definitif belum menunjukkan bahwa satu jenis pelatihan lokomotor efektif untuk berbagai individu dengan CMS atau pelatihan lokomotor lebih efektif daripada teknik pelatihan gaya tradisional untuk populasi. Bantuan untuk melangkah disediakan secara manual sebagai kebutuhan untuk tungkai. dan kualitas hidup pada pasien dengan CMS. harapan. dengan menggunakan stimulator listrik yang ditanamkan (dikenal sebagai neuroprosthese) untuk menghasilkan kontraksi otot yang dibutuhkan untuk berdiri dan bergerak. Protokol ini termasuk 1jam latihan melangkah dengan BWST 5hari perminggu. Sejumlah peneliti telah mengembangkan standarisasi protokol BWST untuk digunakan dalam studi multicenter guna efektivitas pelatihan lokomotor setelah CMS. Namun.dengan target 20menit melangkah terus menerus dalam jangka waktu tersebut. seperti pemulihan secara spontan dan intervensi terapi simultan lainnya. Terapis yang ingin menggunakan intervensi pelatihan lokomotor akan menemukan sejumlah besar variasi protokol yang digunakan untuk pelatihan dalam berbagai uji penelitian. dengan kemungkinan pengecualian dari pelatihan 5hari perminggu dibandingkan dengan 3hari yang digunakan dalam sejumlah penelitian lain. Meskipun hasil studi ini sangat menjanjikan. yang dapat meningkatkan aktivitas CPG dan/atau plastisitas dalam jaluryang dilindungi. Perkembangan terbaru dalam teknik pelatihan lokomotor termasuk menggunakan perangkat robot mekanik untuk memberikan bantuan selama berjalan (untuk mengurangi ketegangan pada terapis dan meningkatkan waktu pasien dalam pelatihan selama sesi tertentu). sangat kecil jumlah subyek dan strategi variasi intervensi da ada banyak faktor pembias. Pelatihan lokomotor disertai dengan sangat banyak tugas spesifik. dan panggul. tergantung kemampuan pasien.5mil per jam sesegera mungkin. dan menggabungkan pelatihan lokomotor dengan terapi obat. Kecepatan treadmill bervariasi. tetapi ditujukan untuk mencapai kecepatan minimal 2 sampai 2.kepercayaan diri.

Mereka juga harus memiliki ekstensi pinggul pasif yang utuh. bagi kebanyakan orang ini setidaknya 2m/detik.dorsofleksi pergelangan kaki. Pola yang paling sering diajarkan adalah2-titik ayunan melalui pola dengan menggunakan kruk lengan dan bilateral lutut-kaki-kaki orthoses (KAFOs) dengan sendi lutut terkunci dalam ekstensi dan pergelangan kaki terkunci dalam sikap dorsi-fleksi. Bantalan berat lengan harus dihindari. Kinematik pada lutut dan pergelangan kaki juga harus senormal mungkin. Rangsangan sensorik yang berlawanan dengan informasi sensorik yang berhubungkan dengan penggerak harus diminimalkan(misalnya rangsangan aferen ekstensor selama fasea yunan). Cara berjalan pelatihan dengan KAFOs bilateral Pada pasien dengan CMS komplit atau inkomplit tanpa kemampuan ambulasi fungsional.dan ROM ekstensi lumbal. Kecepatan treadmill harus sedekat mungkin mendekati kecepatan gaya berjalan normal pasien (sebelum cedera). Cara berjalan KAFOs yang paling efisien adalah sebagai berikut: . dan dibutuhkan ayunan lengan yang berlawanan.dan karena itu penting untuk menggabungkan keterampilan BWST dipraktekkan ke dalam program ambulasi permukaan tanah untuk membuat kemampuan sefungsional mungkin.terapis harus mencoba untuk mencapainya selama BWST untuk memaksimalkan efektivitas input saraf. termasuk intervensi yang menguatkan disertai dengan instruksi dalam polacara berjalan alternatif. Pembelajaran dari studi pelatihan lokomotor terhadap hewan dan manusia telah menunjukkan bahwa ada beberapa parameter cara berjalan. Berat muatan maksimum (yaitu dengan sedikitnya jumlah berat badan dukungan) yang dapat ditoleransi tanpa kerusakan pola cara berjalan harus digunakan. Untuk keefektifan penggunaan teknik ini. individu harus memiliki fungsi lengan normal dengan kekuatan dan daya tahan yang sangat baik dan lebih disukai pada kontrol tubuh yang aktif(T8 dan di bawah). Pada akhir fase sikap. ekstensi penuh pinggul harus difasilitasi dan disinkronisasi dengan kemampuan ekstremitas yang berlawanan untuk memicu respon fleksi ipsilateral.

dll). Pelatihan Fungsional dalam Perawatan Diri dan Pengurusan Rumah Kemampuan bergerak Terbatasnya penggunaan beberapa kelompok otot setelah CMS membutuhkan metode alternatif yang digunakan pasien untuk melakukan keterampilan mobilitas.sementara kedua kakit erangkat dan terayun serempak ke titik di ujung depan kruk. Pada posisi ini. untuk mobilitas jarak pendek.Meskipun rangkaian ini dapat dikuasai oleh beberapa individu. 4. bus atau lorong pesawat).1. hingga kebanyakan orang memilih untuk menggunakan kursi roda sebagai sarana utama mereka untuk bergerak. atau untuk melakukan ADL yang memerlukan berdiri jangka pendek (mencapai objek dari atas lemari.Tidak seperti banyak aplikasi terapi fisik lainnya di mana pasien sedang mencoba untuk kembali ke pola gerakan yang telah dikenal sebelumnya. Berat penuh kemudian bertumpu pada lengan. sebuah cara yang berbeda untuk melakukan gerakan sehari-hari. Keseimbangan sesaat dicapai dengan memperluas pinggul dan tubuh dengan menggeser berat badan maju atas mata kaki dan lengan diekstensikan dengan membalik posisi kruk penahan di belakang kaki. dan berat dipindahkan ke kruk dalam gerakanjatuh ke depan. Pengulangan keseimbangan sementara ini diikuti oleh maju"jatuh" menciptakan rangkaian gaya berjalan. Mobilitas dengan KAFOs disediakan untuk ruang yang terlalu kecil untuk menampung kursi roda(misalnya. mata kaki yang terkunci dengan pengikat menyediakan stabilitas ke depan.Bagi banyak individu dengan CMS.proses rehabilitasi akan melibatkanproses yang lambat dan kesulitan belajar untuk . 3. kebutuhan energi begitu tinggi.banyak pasien CMS akan perlu belajar metode baru. dan risiko kehilangan keseimbangan begitu signifikan. beban pada sendi lengan begitu besar. 2. Kedua kruk diangkat dan diekstensikan ke depan serentak. Dorongan kuat pada kruk digunakan pada saat yang sama tubuh diekstensikan untuk mendorong pinggul ke depan ke ekstensi dan mencapai posisi keseimbangan.

Posisi ini juga mengurangi tekanan dari bagian posterior setelah periode duduk atau berbaring pronasi supinasi dan rentang otot-otot pinggul anterior pada pinggul dan tubuh yang dapat dengan mudah memendek dengan duduk yang lama. dengan pelatihan teknik yang dapat digunakan untuk meningkatkan kontrol dalam postur dan teknik yang dapat diajarkan untuk membantu dengan transisi antara postur fungsional. Berikutnya adalah deskripsi dari beberapa postur fungsional yang merupakan kunci untuk mobilitas dan ADL. Ini adalah poin penting untuk mengendalikan kemajuan dengan mobilitas .20-10) menekankan penguatan seratus anterior dan otot-otot bahu anterior dan kontrol eksentrik otot skapula. Salah satu tindakan pencegahan yang perlu dipertimbangkan untuk posisi ini adalah apakah individu memiliki lordosis yang cukup untuk mencapai posisi nyaman. dan keterampilan) pada pemindahan sebagian berat pada bahu dalam persiapan untuk menahan beban penuh lengan. Push-up dalam posisi pronasi di-siku (Gambar. berguling. Posisi pronasi pada siku adalah posisi yang sangat stabildengan dukungan dasar yang besar yang digunakan secara ekstensif selama proses rehabilitasi untuk meningkatkan semua tingkat kontrol motor(mobilitas. Posisi ini harus dihindari pada individu dengan sendi bahu yang sangat tidak stabil yang mungkin trauma dengan bantalan berat bahkan parsial.menggunakan lengan untuk mengimbangi gerakan tungkai yang tidak ada atau lemah. dan maju ke posisi duduk. mobilitas dikendalikan. stabilitas. Ptmelakukan peran kunci dalam membantu individu untuk menemukan cara mobilitas yang paling efektif dan efisien sesuai dengan pola tertentu gerakan mereka. Lihat grafi khasil di bagian prognosis dari bab ini untuk pedoman yang berkaitan dengan jumlah bantuan yang mungkin diperlukan untuk teknik ini untuk pasien dengan tingkat CMS yang berbeda Posisi dasar tubuh Pronasidi siku Sikap pronasi pada siku berguna untuk posisi tidur.

secara manual diterapkan pada sendi aproksimasi. sementara tanpa berat dan/atau mencapai dengan lainnya (gerakan dinamis statis). push-up(pada siku atau ketangan). Mobilitas-mengumpamakan gerakan pronasi-pada-siku posisi dari miring atau pronasi.kegiatan stabilitas. dan sisi kesisi gerakan dapat dipraktekkan dalam posisi ini. dan stabilisasi ritmik 3.beban tubuh dalam posisi ini. Keterampilan-"berjalan" di sisisiku kesamping dan ke depan dan belakang (gerakan jenis komando) Terlentang pada siku Posisi supinasi-pada-siku terutama digunakan untuk meningkatkan fleksibilitas dan mobilitas pada bahu dan dalam persiapan untuk pindah dari supinasi untuk duduk lama. 4.Posisi ini lebih membutuhkan kontrol otot dan motorik karena penurunan dasar dukungan dan pengungkit lengan untuk gerakan. Dalam kebanyakan kasus. Mobilitas terkendali-mengontrol anterior-posterior dan sisi kesisi untuk memindahkan berat badan. Individu dengan kelemahan atau tidak ada (di atas C6) fungsi serratus anterior akan ditandai dari skapula selama push-up dalam posisi pronasi di siku. isometrik bergantian dalam berbagai arah. Stabilitas.Serupa dengan posisi pronasi-pada-siku untuk meningkatkan kontrol motorik.fungsional. aktivitas seperti menggeser berat. Kemajuan melalui tahapan kontrol motor dalam posisi pronasi-di-siku dapat difasilitasi dengan kombinasi berbagai kegiatan diantaranya: 1. secara sepihak mendukung pada satu lengan.pasien dengan posisi tinggi-berlutut akan menggunakan . Quadruped dan tinggi berlutut Posisi quadruped dan tinggi-berlutut berfungsi sebagai progresi dari posisi yang dicatat sebelumnya. Proses dengan asumsi posisi-on-siku supinasi dijelaskan dalam bagian pada transisi dari supinasi untuk duduk yang panjang. push-up 2.

dukungan tungkai di atas meja atau guling untuk membantu dalam mempertahankan postur tegak tubuh. Hal ini penting karenaukuran hamstring tidak terlalu pendek. yang akan memungkinkan panggul untuk . Posisi berlutut diasumsikan dari quadruped. panggul. Tinggi berlutut paling sering digunakan dengan individu-individu yang memiliki sebagian fungsi tubuh. dapat dicapai kegiatan isometrik dan dinamis yang dapat ditambahkan ke kemampuan individu pada tingkat progresif kontrol motor. Long sitting juga merupakan posisi yang stabil untuk berlatih dan terkait kemajuan keterampilan. Setelah berlutut. posisi ini berguna untuk melatih kontrol motor berat parsial melalui seluruh lengan dengan siku dalam keadaan ekstensi. Posisi quadruped dapat diasumsikan dari pronasi pada siku atau dari duduk miring.di mana lengan dapat digunakan untuk mengontrol gerakan melalui permukaan. Untuk individu dengan tetraplegia dan paraplegia yang tinggi. lengan umumnya digunakan untuk membantu. Stabilitas disediakan dengan dukungan basis besar dan dengan otot hamstring tegang menahan panggul pada posisi stabil di tengah. dan kontrol tungkai dalam persiapan untuk kegiatan yang membutuhkan keseimbangan dalam tegak dan kontrol dalam duduk dan berdiri. Dari posisi ini. atau terlalu panjang. keduanya memberikan tantangan yang signifikan pada tingkat mobilitas atau kontrol motor. individu didorong untuk mencari posisi keseimbangan dengan pinggul dan tubuh diekstensikan dan berat di lengan diminimalkan. terutama bagi individu tanpa kontrol penuh tubuh atau lengan. yang akan menarik panggul ke posterior panggul. Long sitting Long sitting adalah posisi utama yang digunakan selama ADL berpakaian dan lainnya.Individu tanpa kontrol trisepakan memerlukan bantuan terapis untuk menjaga siku tetap ekstensi ketika dalam posisi quadruped atau tinggi-berlutut. Individu dengan paraplegia komplit yang lebih rendah atau dengan cedera inkomplit pada tingkat apapun dapat dimasukkan ke dalam postur-postur ini untuk menguji tubuh. Sebuah bola terapi atau guling besar juga dapat ditempatkan di bawah tubuh untuk memberikan dukungan selama kegiatan quadruped.

Posisi ini juga penting bagi pasien trauma servikal. Kaki menyokong pinggang dan lutut dengan sudut 90º untuk memungkinkan sebagian berat tubuh ditahan oleh kaki untuk menjaga keseimbangan. dan siku untuk mengontrol pergeseran tubuh. Pasien harus berlatih posisi peralihan dari supinasi dengan tangan di depan pinggul ke posisi tangan di belakang pinggul dengan bantuan tubuh bagian atas. Pada .jatuh menjadi posisi miring anterior. Posisi ini sangat penting selama aktivitas duduk. Posisi ini juga memungkinkan latihan keseimbangan aktivitas statis dan dinamis dengan bantuan tungkai bilateral atau unilateral atau tanpa bantuan siku. Gerakan dinamis mungkin dapat dilakukan dengan menggerakan kepala. Kebanyakan pasien CMS di level C5 atau di bawah.Idealnya. Push up pada posisi ini dapat membantu kekuatan dan persiapan dalam penguasaan transfer keahlian. Sejumlah gerakan aktif harus digunakan untuk melakukan fungsi short sitting. didapati dalam posisi short sitting untuk menjaga keseimbangan statis tanpa dukungan tungkai dan memiliki derajat keseimbangan dinamis pada posisi ini. Kemampuan bergerak dan menjaga keseimbangan dalam posisi short sitting adalah sangat penting dalam independensi. fleksi trunkus. dan kepala dikedepankan. Tangan diposisikan dengan cara jari-jari fleksi ketika berat tubuh ditahan oleh lengan saat duduk untuk mencegah peregangan fleksi jari panjang dan kelemahan tendon saat menggenggam. Pasien dengan cedera level thorak bawah harus dapat berdiri tegak dengan sedikit atau tanpa memiringkan pelvis. Pasien dengan cedera servikal dan thorak level tinggi atau rendah akan sering menjaga keseimbangan statisnya dengan kombinasi gerakan memiringkan pelvis posterior. Duduk lama merupakan posisi bagus bagi individu dengan inervasi otot trunkus untuk latihan statis kekuatan trunkus dan kontrol dinamis. Pergerakan melampaui batas kemampuan dibutuhkan bantuan paling tidak satu lengan. bergerak ke tempat tidur. Aktivitas long sitting serupa dengan posisi pronasi siku. Salah satu dari keadaan ini akan menyebabkan panggul menjadi kurang stabil di posisi tengah. pundak. dan beberapa ADL sertauntuk mendapatkan fungsi aktivitas siku yang bebas. otot-otot lutut dapat diangkat secara pasif kurang lebih 100 derajat.

Gerakan ini sangat dibutuhkan penguasaan gerakan push up dari short sitting untuk mengangkat bokong dari permukaan tempat duduk.posisi ini pasien dapat sedikit menggerakkan satu atau kedua ekstremitas superiornya sesaat untuk mengompensasi gerakan kepala dan ekstremitas superior (Gambar 20-12). Untuk mengauasai ketrampilan tersebut dibutuhkan latihan kekuatan. Ketrampilan ini dilakukan dengan cara menfiksasi siku pada posisi ekstensi. menggunakan fiksasi pundak. dan kontrol motorik tingkat tinggi. individu tanpa fungsi trisep akan membutuhkan bantuan rotasi eksternal dengan tangan terfiksasi di bagian lebih distal. Mekanisme gerakan ini berkebalikan dengan gerakan normal yang menggunakan depresor scapula dimana pelvis dan trunkus difiksasi dan konsentrasi tarikan scapula terhadap trunkus. pasien harus belajar beralih dari posisi menopang ke depan (tangan di depan pinggul) ke posisi bersandar ke belakang (tangan dan bahu di belakang pinggang). Selanjutnya. Rangkaian gerakan yang sama digunakan juga pada posisi pronasi siku melalui tahapan pengontrolan motorik yang juga digunakan pada posisi short sitting. dengan mencondongkan kepala ke depan dan mengangkat trunkus dan pelvis. Selama tubuh condong ke depan dengan tangan terfiksasi. Sama dengan long sitting. tetapi masih belum stabil dan hampir semua gerakan dinamis pada posisi duduk dibutuhkan untuk menahan berat tubuh. ketahanan. sedangkan pelvis terhadap scapula. sehingga dapat menciptakan gerakan ekstensi ekstremitas ke depan siku. Peralihan antarposisi Rolling . dan scalpula sebagai fulcrum. Untuk menjaga ekstensi siku pada saat menopang berat tubuh. Gerakan ini membuat sendi siku berada di depan dan secara pasif menjaga siku agar tetap ekstensi. menggunakan depressor scapula (antara muskulus trapezius dengan sekitarnya) dan beberapa otot-otot trunkus. deltoid anterior dan pektoralis mayor dapat digunakan untuk menarik humerus agar teradduksi.

Saat gerakan pertama dilakukan dengan gerakan mengayun siku dan kepala. bersama-sama atau . 2. Sekali tubuh bagian atas terguling ke tengah belakang. 3. tetapi nantinya pasien harus dapat melakukannya di rumah. Kedua siku diayun dari sisi satu ke sisi lain secara simetris. Bergerak dari posisi supinasi ke samping membutuhkan tahapan pergerakan yang terkoordinasi. dan membantu pembanguanan gerakan ketrampilan lain (seperti bergerak dari duduk ke posisi supinasi). webbing loop. beberapa pasien dengan cedera servikal membutuhkan alat batu tersebut untuk dapat menguasai ketrampilan yang diajarkan.Rolling diajarkan pada awal terapi rehabilitasi dilakukan karena rolling sangat penting untuk banyak ADL (seperti memakai baju). untuk gerakan mandiri di rumah. Pada individu yang tidak menggunakan trisep. tubuh bagian bawah akan mengikutinya karena gravitasi. ayunan tunggal yang kuat dilakukan sejauh mungkin dengan siku atas. pundak diperpanjang. 6. Namun. sehingga memutar tubuh bagian atas ke posisi supinasi. 4. lengan dan kepala dilemparkan sekuat mungkin ke arah yang diinginkan untuk membantu menyempurnakan gerakan ini. Lengan dilebarkan semaksimal mungkin dari dada.13): 1. atau over bed trapez. 5. Fleksi dan rotasi kepala yang dikombinasi dengan gerakan siku untuk membantu gerakan tubuh ke arah yang diinginkan. Tubuh bagian bawah secara pasif mengikuti gerakan tubuh bagian atas. kedua lengan ditekan sedikit kebawah sampai siku bila memungkinkan. Jika dibutuhkan. trunkus dielongasikan. dan menggerakkan kepala untuk rotasi tubuh bagian atas ke posisi pronasi. Abduksi horizontal pundak bawah dapat membantu gerakan ini. Kebanyakan orang memiliki berbagai variasi dalam melakukan gerakan ini (gambar 20. Bila memungkinkan latihan di ajarkan tanpa menggunakan alat bantu seperti bed rail. Latihan awal dilakukan di atas treatment mat. Pasien kembali ke posisi supinasi dengan cara menggapai kembali lengan atas dan menggerakkan kepala sesuai dengan gerakan yang diinginkan.

Latihan anjuran yang dapat digunakan untuk mempraktekkan bagian dari latihan ini adalah proprioceptive neuromuscular faCMSlitation (PNF) secara bilateral simetris pada lengan. Beberapa individu mengkin menggunakan rangkaian weebing loop yang ditempelkan pada kaki tempat tidur untuk menarik ke posisi duduk. Berbagai ukuran dan tinngi bed rail dapat digunakan untuk pendorong manuver ini. berat tubuh dibebankan ke pergelangan tangan untuk meningkatkan kekuatan gerakan ayunan. rolling dapat dilakukan dengan beberapa cara. Tungkai disilangkan secara pasif sebelum dimulai gerakan rolling dengan cara mengangkat pelvis. Dengan melebarkan siku. Latihan ini akan sangat sulit apabila dilakukan tanpa menggunakan mat table. apakah fungsi trisep masih ada atau sudah tidak berfungsi lagi. dan latihan kekuatan untuk latihan kekuatan otot seratus anterior dan pektoralis. Cara seperti ini berkebalikan apabila pasien sudah mampu menguasai ketrampilan ini. Mat table dapat dipertimbangkan untuk membantu gerakan tersebut saat berpindah posisi dan pengaruh gravitasi. Gerakan rolling ini dapat dimulai dengan membuat posisi parsial saja terlebih dahulu dan kemudian baru dilakukan gerakan supinasi utuh. Pasien meletakkan lengan bawahnya melalui lingkaran tangga dan mengerutkan bisepnya . Terapis dapat juga menyediakan bantuan untuk mencapai gerakan tersebut dan membantu pelvis melakukan rolling secara utuh. Individu yang memiliki fungsi otot trisep atau abdominal secara umum menggunakan bisepnya dan alat bantu untuk bergerak dari posisi supinasi ke ke duduk. Peralihan Posisi Supinasi ke Long Sitting Pasien dalam posisi duduk stelah sebelumnya dalam posisi supinasi pada beberapa ADL.Selama latihan awal. sehingga membantu elongasi trunkus untuk menyempurnakan rolling. Untuk individu yang tidak memiliki fungsi trisep. air splint dapat digunakan untuk menjaga ekstensi siku dan meningkatkan kekuatan siku untuk melancarkan gerakan. Pemilihan teknik didasarkan pada fungsi trisep. incorporation inspiration and expiration dengan irama ayunan dan reaching motion. Beberapa teknik diperlukan untuk mencapai ketrampilan tersebut.

Dengan menggunakan trisep. B). Gerakkan dari sisi atau tiga per empat tiarap ke tiarap dengan dasar siku. Lagi-lagi tiap individu memiliki tekhik yang sedikit berbeda. 2. atau menyangkutkan paha ke lengan atas. gerakan ini dilakukan dengan gerakan push up menggunakan otot pektoralis proksimal dengan tangan terfiksasi di sebelah distal (gambar 20-14. mungkin dapat menggunakan lengan atas untuk melakukan tarikan pada pinggang dan paha sehingga tubuh akan tertarik ke arah depan (gambar 20-14. Tubuh bagian atas disandarkan pada siku ke arah paha. C). Tubuh bagian atas selanjutnya digerakkan ke sekitar ekstremitas superior untuk menahan berat tubuh sampai posisi long sitting sempurna dilakukan (gambar 20-14. Gerakan ini sulit dilakukan dan biasanya dikombinasikan dengan abduksi pundak dan depresi lengan bawah secara adduksi horizontal lengan atas (gambar 20-14. 4. lalu meletakkan sikunya melalui lingkaran berikutnya. Pada individu dengan paraplegi atau tetraplegi servikal bawah. denagn cepet akan terbentuk reposisi dalam posisi ektensi. 5. Teknik yang umum dipakai untuk bergerak dari posisi supinasi ke long sitting terdiri atas rolling ke samping dan selanjutnya menggerakkan trunkus superior ke sekitar siku sampai tercapai posisi long sitting. Selanjutnya. Salah . Tanpa trisep. teknik alternatif yang dapat dilakukan untuk mencapai long sitting mungkin ada. 3. Peralihan antara posisi siku ke posisi tangan. gerakan ini dapat dilakukan menggunakan manuver tradisional push up. Gerakan ini diulang-ulang hingga tubuh dalam posisi long sitting lurus. A). D). Gulingkan ke depan pelan-pelan seperti yang dideskripsikan (Gambar 2014. Saat paha sudah diraih. menarik dengan menggunakan bisep untuk melepaskan lengan atas. tetapi langkah-langkah yang dilakukan umumnya seperti berikut (Gambar 20-14): 1.untuk menaikkan sebagian tubuhnya. Fungsi trisep adalah membuat gerakan push up di atas siku yang secara langsung di atas tangan dengan cara melebarkan siku. F).

Berat tubuh ditumpukan pada siku sebelahnya dengan kepala dan tubuh bagian atas dicondongkan ke arah siku yang lain dengan cara merentangkan pundak dan tangan ditampakkan ke lantai dengan siku yang direntangkan. pasien tetraplegi level bawah dapat melakukan sit up tradisional. A2). B).satu kemungkinan teknik alternatif tersebut adalah sebagai berikut (Gambar 2015): 1. 3. alternatif lain adalah bangun dimulai dari samping dengan lengan atas secepatnya direntangkan ke pundak dengan siku di fleksikan sehingga berat badan ditumpukan ke siku (gambar 20-15. D). Siku tersebut menjadi tumpuan berat tubuh (gambar 20-15. menyondongkan kepala ke depan dan bergantian sisi. A). Gerakan ini membutuhkan kekuatan dan fleksibilitas shoulder girdle (gambar 20-15. meskipun mereka akan membutuhkan bantuan ekstremitas superior karena ekstremitas inferior tidak dapat menstabilkan pelvis. siku dan leher difleksikan sehingga siku akan menjadi tumpuan (gambar 20-15. 4. E). dan gerakan lambat tangan sampai terbentuk posisi keseimbangan long sitting (gambar 20-15. C). tangan berpegangan dibawah pinggang. Teknik ini digunakan pada beberapa tetraplegi level tinggi dengan keseimbangan yang bagus dan kontrol ekstremitas superior. Untuk pasien dengan kontrol otot abdominal yang buruk. Pada posisi supinasi.Kepala dibungkukkan dan diayunkan ke pundah lalu dengan mengganti berat tubuh ke siku lainnya saat pundak sisi sebelahnya direntangkan. Dengan otot abdominal. Kepala dan trunkus digerakkan melengkung untuk gerakan awal sebelum duduk dan kemudian ditambahkan seperlunya dengan menekan ekstremitas superior. Dari posisi tersebut. 2. tubuh bagian atas digerakkan ke dapan. . Berat tubuh kemudian dipindahkan ke atas siku dengan gerakan kombinasi mengayun dan mencondongkan sampai berat tubuh kembali ke tempat asalnya dan dapat juga dicapai dalam posisi ekstensi (gambar 20-15.

10-16): 1. Transisi dari short sitting ke long sitting untuk terlentang Ketika berpindah dari kursi roda menjadi berbaring. atau short sitting. kemudian memindahkan kaki ke permukaan baru dan akhirnya pindah ke posisi terlentang. pergelangan tangan atau lengan bawah dikaitkan ke bawah kaki untuk mengangkat. bergerak dari short sitting ke long sitting. B) . Dalam posisi short sitting. Individu dengan tetraplegia midservical dapat menggunakan langkahlangkah berikut untuk membawa kaki mereka naik ke tempat tidur. A).Latihan yang dapat digunakan untuk mempraktekkan bagian dari aktivitas ini seperti PNF.bergeser sejauh mungkin di permukaan tempat duduk(setidaknya sampai fosa poplitea kontak dengan tepi permukaan baru) dan sebagian tubuh bagian atas berpindah sedikit demi sedikit menuju ujung tempat tidur di mana kaki akhirnya akan diposisikan. atau long sitting dengan berat ditumpukan pada lengan. Transisi ini memerlukan keseimbangan yang baik dan koordinasi. pronasi parsial pada siku. serta panjang urat lutut yang cukup.20-16. teknik pengontrolan supinasi siku.Tungkai dan/atau kekakuan tubuh dapat mengganggu transisi ini. 2. mungkin perlu untuk bertumpu ke siku lengan terkuat untuk mendapatkan stabilitas dan pengaruh yang cukup untuk mengangkat berat kaki(Gambar. Dalam contoh ini individu bergerak dari sisi kanannya(Gbr. posisi supinasi bisep. individu umumnya beranjak dari duduk di kursi roda menjadi posisi short sitting pada permukaan lain. dan push up pada push up parsial. Pada titik ini. Aktivitas keseimbangan statis dan dinamis pada long sitting. Lengan terkuat (kanan) memimpin gerakan sementara lengan (kiri) mengikuti.mulai mengangkat kaki kanan ke matras(Gambar. atau kaki diangkat untuk dengan menyimpulkan ikatan pada kaki diamankan di sekitar paha distal. long sitting.20-16. Bagi individu tanpa fungsi menggenggam.

B) 4. (gbr. Pinggul kemudian direndahkan ke matras dan lengan direposisi untuk mendapatkan posisi yang seimbang. Seated scooting.kaki kemudian diluruskan ke ekstensi. kemampuan untuk berpindah dari sisi satu ke sisi lainnya dalam posisi duduk meningkatkan kemampuan fungsional dalam transfer dan mobilitas terbatas tempat tidur. 20-17. Scooting dapat dilakukan dengan tehnik yang sama pada posisi long-sitting dan short sitting (gbr. Tungkai kedua ini kemudian diangkat ke matras menggunakan teknik yang sama seperti yang pertama. kepala berotasi ke sisi berlawanan dengan arah pergerakan yang diinginkan. 5. tangan terkuat digunakan sejajar dengan pelvis. Push-up dilakukan dengan kepala direndahkan dan dimajukan sesuai dengan penjelasan pada sesi short-sitting diatas (gbr. memanjangkan lengan dibelakang tubuh. dengan menggunakan teknik parsial longsit push-up atau.3. A) 3. dan tangan sebelahnya mendorong kaki. Berat ditumpu pada tangan yang diluruskan pada sebelah tubuh.sampai ke matras. jika disandarkan di siku seperti pada langkah2. dan tangan terkuat (arah pergerakan abduksi sesuai keinginan dimana tangan ditempatkan dekat dengan pinggul) 2. dan menekuk siku ke posisi supine-on elbows). 20-16. dan pinggul berputar ke arah yang diinginkan. Posisi terlentang apapun ke tehnik long-sitting awalnya dijelaskan dapat dikembalikan menjadi transisi terlentang sempurna (bersandar ke sisi dan"berjalan" dengansiku. dan keseimbangan dicapai dalam posisi long sitting(Gambar. Penopang berat digeser ke tangan terkuat. Setelah kaki terkuat mandi atas matras. Pasien tanpa daya genggam dapat menggunakan webbing misalnya loop untuk mengkontrol tungkai . dengan menarik tubuh pada siku pada model komando. 4. 20-17): 1. tubuh dapat berpindah menyamping. 20-17. Ketika pinggul mencapai matras. C dan D) 5.

dengan tempat penekanan lambat. Dalam situasi. dan pemilihan pribadi akan menentukan teknik yang tepat untuk digunakan dalam berbagai situasi transfer. ketahanan. gerakan terkontrol. 3. kepala direndahkan ke depan untuk menaikkan pinggul.Ketika mentransfer dari kursi roda. Transfer Transisi dari satu permukaan ke yang lain (misalnya. dan kendali motorik dikembangkan dalam postur dan rangkaian gerakan yang dijelaskan sebelumnya. 4. Transfer umumnya dimulai dengan memposisikan permukaan tempat transfer. bantuan dan instruksi yang cukup harus disediakan untuk memungkinkan kinerja yang sukses dari keterampilan ini. dan kepala dipindahkan ke sampingu ntuk memindahkan pinggul disebaliknya arah. Jika individu tidakbisa melakukan ini sendirian.proporsi tubuh. pedoman umum berikut ini harus diamati selama transfer: 1. Urutan dasar dari transfer serupa di sebagian besar keadaan. Prinsip ini dikenal sebagai hubungan kepala-pinggul dan sering digunakan selama keahlian mobilitas melibatkan penahan berat badan tungkai. keseimbangan.Selama tindakan kepala selalu bergerak ke arah yang berlawanan dari pinggul sekitar titik rotasi di bahu. Lingkungan harus diatur sebelum mentransfer untuk memungkinkan tingkat transfer terkendali yang paling mungkin. dari kursi roda ke tempat tidur) memerlukan kombinasi mobilitas. meskipun pola individu dari pemeliharaan motorik. Pelatihan transfer awal. kursi umumnya diposisikan pada . Bokong harus diangkat dan tidak diseret di antara permukaan. asisten manual harus disediakan dan/atau papan luncur atau perangkat serupa harus digunakan untuk meminimalkan gaya geser selama bergeser.Sangat penting bahwa individu menyelesaikan tugas secara semandiri mungkin sehingga mereka mendapatkan rasa kemandirian dan kontrol. Menggunakan momentum bagi gerakan harus diminimalkan. 2.

mengangkat pinggul. keseimbangan kembali dan tangan reposisi(lihat gambar.pijakan kaki biasanya diangkat dan ditempatkan datar di lantai. dan untuk individu dengan kontrol keseimbangan kaki yang buruk dapat diangkat ke matras untuk menempatkan individu dalam posisi long sitting lebih stabil sebelum memulai bergeser bagian dari transfer.toilet. dan menaruh beberapa titik berat melalui tungkai(Gambar. dan mengulangi teknik ini di sisi lain. dan merotasikan kepala ke permukaan perpindahan-bahwa menggunakan hubungan kepala-pinggul untuk mengayunkan pinggul ke permukaan transfer(Gambar. C).20-18.dengan kursi berkerangka kaku.20-18. atau mereka mungkin dibiarkan menarik tubuh dan diposisikan setelah akhir duduk dicapai. Panggul kemudian bergerak maju sedikit di kursi untuk membawa pinggul lebih dekat ke permukaan perpindahan untuk memindahkan pinggul anterior ke roda kursi roda. Pinggul diturunkan. Individu kemudian menyandarkan kepala ke depan.atau permukaan yang relatif lainnya. melakukan push-up. Hal ini memungkinkan pasien untuk bertahan di depan roda kursi roda selama transfer. Jika papan geser yang dibutuhkan(umumnya untuk individu dengan CMS midservical tanpa trisep atau selama pelatihan awal untuk pasien dengan cedera tingkat yang lebih ringan) papan ditempatkan di bawah paha kaki terkuat dan miring ke arah tuberositas pada iskia sisi berlawanan.mobil. D). Kaki dapat direposisi setelah setiap bergeser. B). jika diperlukan untuk keseimbangan. 2018. dan kemudian rangkaian urutan diulang sampai pinggul diposisikan secara aman pada permukaan perpindahan(Gambar.sudut 30 sampai 45 derajat ke meja matras(atau permukaan lainnya). dengan kursi lipat. Kaki kemudian diposisikan dalam persiapan untuk transfer. Variasi pada teknik dasar yang digunakan untuk transfer ke bangku bak mandi. satu atau kedua kaki mungkin ditinggalkan pada pelat kaki dan berbalik sedikit mengarah ke transfer. Pasien dengan tingkat cedera cervival yang tinggi akan secara fisik tergantung untuk transfer tetapi harus menjadi mandiri dalam mengarahkan . Pasien tetrapalgia sering mencapai hal ini dengan bergeser ke depan dengan memutar kepala dan tubuh bagian atas dengan satu tangan berpegangan pada pendorong kursi roda. A). 20-18.

Sekali pinggang tentu berada di bangku dengan sedikit angkatan dan meluncur mungkin digunakan untuk membawa kedua pinggang dengan teguh ke . Pada kasus ini.Tangan ditempatkan pada bangku kursi roda. transfer puvot dengan papan luncur dan bantuan oleh satu atau dua orang umumnya digunakan. Perhatikan bahwa masih penting bahwa orang yang sedang ditransfer memiliki kaki mereka di lantai. Variasi dari beberapa teknik dasar digunakan untuk melakukan kemampuan ini. untuk memungkinkan berat badan melalui bantalan parsial kaki(yang menguatkan oleh kaki asisten) dan mengurangi daya angkat yang dibutuhkan selama transfer. Perpindahan dari lantai ke kursi roda adalah kemampuan lanjutan yang dikuasai hanya setelah individu sudah menguasai level perpindahan permukaan dan berkembang banyak dalam kekuatan. Para bahu Hubungan kepala pinggul juga di pekerjakan. Individu kemudian memiringkan kepala sejauh mungkin dan mendorong dengan lengan untuk mengangkat pinggang mereka ke bangku kursi roda. sumbu tubuh titik poros dari hubungan kepala-pinggang adalah kaki dari individu yang dipindahkan. jika mungkin. Tungkai mungkin difleksikan dan ditempatkan miring. walaupun sering merumitkan. Perhatian harus diberikan untuk mencegah tarikan tungkai selama perpindahan dibantu untuk mencegah salah urat yang tidak stabil pada sendi bahu. Teknik pertama dimulai dengan posisi individu di samping dan kira-kira parallel dengan bagian depan ujung dari kursi roda. dan tangan yang lain ditempatkan di samping pinggang. dan koordinasi.bantuan yang dibutuhkan sebelum mereka keluar dari rehabilitasi.mengurangi regangan jangka panjang pada pengasuh yang harus berulang kali mengangkat dan memindahkan individu.Hubungan kepala-pinggang juga akan dipergunakan. Dalam situasi di mana lift mekanik tidak dapat dilakukan. individu akan memindahkan kepala dan trunkus atas dari perpindahan permukaan dan pinggang bergerak ke arah perpindahan permukaan.individu yang ditransfer memiliki kepalanya dan badan bagian atas berpaling dari permukaan transfer dan pinggul bergerak menuju permukaan perpindahan. atau lurus ke kiri selama perpindahan. fleksibilitas.Sebuah lift mekanis dapat digunakan untuk mentransfer pasien di rumah sakit atau pengaturan rumah modifikasi. dengan kepala dan bahu.Sebuah lift mekanis.

Trunkus dibawa ke posisi atas dengan push up dari lengan yang berada di depan frame kursi roda atau bangku. maka paling efektif digunakan oleh individu dengan derajat kontrol trunkus aktif. Karena gerakan memutar yang besar yang diperlukan dalam teknik ini.untuk mengurangi pekerjaan. Individu mulai duduk dengan punggung di depan bangku dan meraih belakang dan mengangkat dengan kedua lengan sampai tangan berada di atas frame kursi roda atau ujung depan bangku.permukaan bangku. Kemampuan ini dapat dibuat mudah dengan menggeser bantal kursi roda dari kursi (efektif mengurangi tinggi yang diperlukan untuk mengangkat) dan menggunakannya di bawah pinggang di lantai (efektif meningkatkan permukaan lantai dan mengurangi angkatan yang diperlukan). Walaupun beberapa individu dengan CMS akan dilatih perpindahan dari lantai secara mandiri. Kemampuan ini juga dapat dilatih atau disederhanakan dengan menggunakan perantaraan tinggi permukaan. Teknik lain untuk memindahkan dari lantai ke kursi adalah dengan menggunakan push up depan dari posisi intermediate seperti binatang berkaki empat. Tangan kemudian direposisi dan push up tambahan dilakukan untuk membawa pinggang seluruhnya ke posisi duduk. . Push up kemudian dilakukan dengan tangan pada bangku kursi roda sampai pinggang benar berada pada ujung kursi. semua pasien dengan CMS harus mandiri dengan langsung untuk keamanan dan efektivitas perpindahan mereka dari lantai ke sebuah kursi. Teknik ini memerlukan banyak kekuatan pada posisi mekanik yang tidak menguntungkan dari ekstensi dan elevasi bahu yang ekstrim. Push up kemudian dilakukan untuk mengangkat tubuh ke kursi. Individu kemudian memutar dan poros trunkus untuk memindahkan pinggang utama ke permukaan bangku. Pilihan lain yang digunakan adalah push up belakang. Lutut diposisikan di depan kursi roda dan individu menarik dirinya ke atas pada kursi sampai beratnya didistribusikan pada lutut di lantai dan dada bersandar pada bangku kursi. Ini harus dipraktekkan di tempat rehabilitasi sehingga ketika individu intensif dan ditemukan kecelakaan pada mereka sendiri di lantai atau tanah mereka tidak terintimidasi oleh lingkungan sekitar dan dapat kontrol secara aman dengan kursi roda.

Awalnya tekanan suara meningkatkan mobilisasi aktif dan ekpektorasi sekret. sejumlah intervensi respirasi mungkin ditambahkan untuk mulai fase akut. . kompresi chest anterior. atau oleh waktu kemajuan trunkus dengan fase ekspulsi batuk. Pasien datang dengan medikasi yang stabil dan fisik yang aktif selama rehabilitasi. Kompetisi spesifik dan acara tim akan dikembangkan untuk individu yang mobilitasnya menggunakan kursi roda.Latihan Fungsional pada Integrasi Waktu Luang atau Reintegrasi Kemajuan pada kursi roda dan adaptasi lain daya teknologi membuat waktu luang dan membuka peluang rekreasi untuk individu dengan CMS. Terapis dapat membantu dalam mempersiapkan aktivitas ini dengan penilaian untuk daya adaptasi pelatihan aktivitas spesifik kemampuan mobilitas. dan menggambar rugby dengan banyak peserta dan mempunyai kompetisi pada semua level dari lokal sampai internasional. dan program nasional yang dapat memberi informasi dan membantu ketika individu mengikuti area yang diminati. Ekspektorasi ditujukan oleh teknik yang didesain untuk meningkatkan kemampuan batuk. atau rotasi counter trunkus. membangun dan mengkondisikan kekuatan. Individu dengan keseimbangan cukup dan volume inspirasi paru dapat juga belajar untuk menggunakan strategi airway clearance independen yang disebut siklus aktif pernapasan (ACB) diikuti oleh teknik ekspirasi paksaan (FET). Olahraga seperti tenis. Penunjukan juga dapat dibuat untuk sekolah. dan edukasi mengenai pencegahan luka dan penatalaksanaan. membantu kostofrenikus. Teknik Airway Clearance. termasuk tetapi tidak terbatas pada “quad-cough” (ekspirasi dengan tekanan penuh membantu dengan tipe Heimlich atau abdominal thrust maneuver).aktivitas rekreasi seperti ski salju dan ski air juga dapat dinikmati oleh individu dengan semua level mobilitas. basket. Intervensi mungkin meliputi bantuan manual teknik batuk. komunitas. wilayah. Pasien mungkin belajar untuk melakukan versi quad-cough dengan bantuan sendiri dengan menggunakan teknik seperti posisi tangan mereka di bawah rusuk sangkar dan menggunakan bisep untuk mendorong.

lembut. dsb.Pertama individu tegak. rolling ke posisi terlentang. dan laporan subjektif penurunan usaha pernapasan dengan menggunakan latihan VMT. ekstensi spina torakal. 5-7 hari per minggu untuk kira-kira 6 minggu. Lurus meliputi sedikit retraksi bahu (membuka dinding dada anterior). Kesabaran dan kekuatan dari sistem respirasi dapat dikumpulkan dengan latihan otot pernapasan. Isyarat manual dan verbal dapat juga digunakan sebagai fasilitas kombinasi yang disediakan untuk gerakan dengan kuat yang berhubungan dengan konsentrik (inspirasi atau ekspirasi) usaha pernapasan dan perlahan. 2 kali per hari. Program latian VMT digunakan selama fase rehabilitasi untuk 15-20 menit. Jika sebuah pekerjaan meliputi ekstensi trunkus (over head reaching. Konsentrik trunkus dan gerakan ekstrim dapat dipasangkan dengan gerakan respirasi konsentrik. pola ekstensi PNF) dapat dipasangakan dengan usaha ekspirasi. Fasilitas ini mempertahankan postur primer dan menundukkan otot pernapasan dan mencegah perkembangan postur sekunder (kifosis) yang dapat merusak kapasitas pernapasan.) Itu dapat dipasangkan dengan inspirasi (ekspansi rongga thorak). Spirometer insentif dengan rentang target dapat digunakan untuk latihan pernapasan repetitif. dan posisi pelvis yang mencegah kemiringan posterior yang berlebihan. Panjang dan kontrol usaha pernapasan dapat dipraktikkan dalam aktivitas biasa seperti menyanyi. bahu netral atau rotasi eksternal. Dengan kombinasi ketersediaan isyarat dan gerakan. pola fleksi UE PNF. dsb. memiliki postur lurus akan membantu dengan difasilitasi otot pernapasan. efisiensi mobilitas dan pernapasan meningkat dan keuntungan dari intervensi pelatihan kemampuan mobilitas dicampur. . berhubungan dengan eksentrik (ekspirasi) usaha pernapasan. humming atau meniup pada jerami atau meniup mainan. Penggunaan ventilatory muscle training devices (VMTs) menguatkan pernapasan dengan menambah resistensi dari kontraksi otot pernapasan. Gerakan converselve meliputi fleksi thorak dan kompresi (solling supine to sidelying dengan kepala dan trunkus atas pola fleksi. Penelitian menunjukkan meningkatnya kekuatan otot inspirasi dan kesabaran. Usaha memperbaiki pernapasan dengan gerakan komplementer dapat membantu memaksimalkan kedua usaha pernapasan dan kemampuan mobilitas.

memposisikan di tempat tidur. berlatih untuk duduk. dan menjalani spinal stabilization operation. JD tidak dapat menerima bantuan untuk mengatasi batuk atau bantuan fasilitas manual untuk pernapasan karena adanya rasa nyeri dari jaringan tempat luka memar dan fraktur tulang iga. meperidine (demerol) untuk nyeri. Keadaan JD diperparah dengan adanya komplikasi pneumonia dan penurunan clearance secretion. edukasi pasien dan keluarga serta latihan bernapas aktif. Setelah 3 minggu dirawat. Terapi farmako yang didapat pada saat rawat jalan meliputi heparin (profilaksis DVT). JD pernah mengalami menisectomy lutut kanan 3 tahun lalu dengan perbaikan fungsional yang baik.10. JD mengalami kelumpuhan thoracolumbosacral orthosis (TLSO) dengan tipe plastic body-jacket style. dan menderita patah tulang iga 9. . JD selalu menggunakan TLSO ketika turun dari tempat tidur dan tidak menggunakan penahan/penguat di tempat tidur sejak mendapat petunjuk dokter.Case study Riwayat perjalanan penyakit JD adalah seorang pelajar berusia 20 tahun yang terlibat dalam MVA 22 hari yang lalu. JD dibawa ke pusat trauma dengan fraktur dan komplit CMS setinggi T10. pengobatan terhadap pneumonia selesai dan JD dinyatakan dalam kondisi kesehatan yang stabil dan dapat melakukan rawat jalan untuk rehabilitasi di pusat rehabilitasi medik.11 sebelah kanan. dan docusate sodium (colace) untuk pelembut kotoran serta antibiotik untuk pneumonia. Terapi awal yang didapat JD meliputi ROM.

dengan lebih menggunakan tipe pernapasan diafragma dengan sedikit anteroposterior chest expansion pada saat istirahat karena itu dapat mengurangi sedikit rasa nyeri. Cognition. ROM anggota gerak bagian bawah dalam keadaan normal kecuali dorsoflexi tidak dapat dinilai pada saat ROM flexi pinggul dan pelurusan kaki pada saat diangkat tidak dapat di tes karena operasi tulang belakang yang baru dilakukan. Neuromuscular Arousal. Pemeriksaan fisik khusus Muskuloskletal Range of Motion. JD dapat menggerakkan upper abdominal muscle secara isometris untuk menghasilkan kontraksi otot yang dapat dilihat dan diraba. tekanan arah 110/68mmHg dalam keadaan supinasi dan perpindahan posisi dari duduk ke tidur. JD dalam keadaan sadar dan berorientasi. JD mengeluhkan nyeri posterior badan dari leher sampai pelvis terutama di daerah luka sekitar operasi. Nyeri tulang iga timbul terus menerus (dengan frekuensi 2/10 saat istirahat) dan meningkat saat pernapasan dalam. Pengobatan farmako . Kekuatan trunk tidak dapat di periksa karena adanya rasa nyeri dan keterbatasan gerak setelah operasi. JD dapat bernapas dengan pernafasan biasa tapi tidak dalam pada saat beraktifitas. dan tidak ada masalah dalam kemampuan kognisi.Keadaan umum JD. berat badan 183 lb. JD tidak memiliki gerakan abnormal atau kontraksi otot yang terlihat pada anggota gerak bagian bawah dan kekuatannya 0/5. tinggi badan 5 kaki 11 inci. Kekuatan otot pada kedua anggota gerak bagia atas lebih besar atau sama dengan 4/5 pada saat pemeriksaan. Attention. Pernafasan 14x/menit dengan tipe pernafasan lebih menggunakan diafragma. Nyeri. Aktif ROM di kedua anggota gerak bagian atas dalam keadaan normal. laki-laki. Nadi 80x/menit. bergerak dan donning TLSO (8/10 pada saat kambuh). Keadaan otot. Ekstremitas bagian bawah dalam keadaan hipotoni.

JD vital capacity kurang dari 40% dibanding orang yang seumur dan memiliki tinggi badan yang sama. Luka operasi terlihat tertutup di badan bagian posterior daerah thoraks dan sepanjang tempat transplantasi tulang pelvis. rasa tajam. Fungsi koordinasi dalam batas normal di kedua anggota gerak bagian atas. JD mengeluh nafas yang pendek pada saat memakai kursi roda dan latihan bergerak. JD dapat menjalankan kursi rodanya sendiri dengan lancar sampai jarak 50 kaki. tetapi perawat menyatakan luka dalam proses penyembuhan tanpa adanya tanda infeksi. getaran. Jantung. JD dapat duduk seimbang pada daerah yang dibatasi di matras terapi dengan menggunakan bantuan kedua anggoota gerak bagian atas agar lebih seimbang. keseimbangan. Fungsi motorik. Fungsi sensori. Kulit. Fungsi koordinasi kedua anggota gerak bagian bawah tidak dapat diperiksa karena tidak ada gerakan aktif. JD tidak dapat duduk dengan seimbang apabila tidak menggunakan bantuan lengan. kinesthesia. propriosepsi dan nyeri) di seluruh daerah atas umbilicus tetapi JD memiliki maalah sensori di seluru daerah bawah umbilikus. Di tempat tidur JD menggunakan alat yang digantung melebihi tinggi kepala untuk membantu bergerak tapi JD sedang berusaha untuk tidak menggunakan alat ini lagi.diberikan unyuk mengatasi nyeri. JD menggunakan pegangan panjang untuk latihan dalam melakukan aktifitas sehari-hari dan spirometer bantuan untuk membantu bernapas lebih dalam. Kulit JD tidak memiliki masalah dan tidak ada kulit yang kemerahan. . JD menggunakan bantal yang dapat mengurangi tekanan pada saat di kursi roda. JD tidak memiliki masalah sensori (refleks cahaya. paru. JD menggunakan kursi roda manual dengan posisi kaki dalam keadaan istirahat. JD memiliki keseimbangan gerak yang buruk. nyeri dirasakan berkurang sampai (3/10) pada saat bergerak. Daerah ini tidak secara langsung diperiksa karena diperban. Kemampuan adaptasi peralatan. Fungsi Gait.

JD hanya membutuhkan sedikit bantuan perawat dengan kemampuan lebih dalam menggunakan kursi roda dn berpindah tempat 6. JD dan perawatnya memiliki kemampuan dalam mengatasi. IADLs.Kemampuan mengurus diri sendiri dan aktifitas sehari-hari. JD dapat melakukan kegiatan seharihari sendiri kecuali makan. Skor FIM 2 untuk perpindahan dan 2 untuk pergerakan. karyawan. JD mampu melakukan sendiri seluruh gerakan di tempat tidur tanpa peralatan bantuan 3. saluran pencernaan dan penyakit kulit serta depresi. ADLs. Luka yang dialami JD diklasifikasikan sebagai ASIA A. JD dan perawatnya dapat melakukan sendiri latihan fleksibilitas. dan bekurangnya kemampuan bergerak di kursi roda. JD memiliki resiko tinggi untuk komplikasi penyakit pernafasan. serta atlit paruh waktu. JD cukup memerlukan bantuan dari seserorang untuk melakukan semua gerakan di tempat tidur. JD dapat bergerak menggunakan kursi roda dengan jarak minimal 500 kaki untuk kondisi di dalam dan luar ruangan 5. diagnosis. JD dapat berpindah tempat sendiri untuk mempermudah ADL 4. Keterbatasan fungsi meliputi keterbatasan kemampuan untuk berpindah. prognosis JD menderita kerusakan dan kehilangan fungsi dari beberapa otot dan fungsi sensori dibawah T10 dan kekurangan kapasitas pernafasan. JD juga tidak dapat menjalankan tugasnya sebagai pelajar. Kateter yang biasa digunakan sudah dilepas dan JD belajar menggunakan kateter yang ia dapat gunakan sendiri. Tujuan 1. tidak dapat menahan BAK dan BAB. pemanasan dan kekuatan . komplit paraplegia. berkurangnya sensasi nyeri. Evaluasi. mengenali dan memberikan terapi untuk mengatasi komplikasi sekunder dari CMS 2. JD memerlukan bantuan maksimal dari seseorang dan sebuah papan untuk berpindah pada tempat yang tidak rata.

Oleh karena itu. tidak adanya gangguan kognisi. dan latihan untuk jantung serta latihan dalam berpindah posisi. .nvnfnkf vkfl Intervensi prosedur Latihan bernapas. Rencana perawatan 50 kali kunjungan dalam waktu 4 minggu. latihan otot pernafasan 2x sehari dalam 3 minggu sampai kemampuan aktif meningkat. latihan pernafasan menggunakan bantuan spirometry. JD dapat meningkatkan kapasitas pernapasannya sampai 80% dibanding orang normal sesuai usia dan tinggi badan JD Prognosis Prognosis JD baik karena adanya bantuan dari orang sekitarnya. Edukasi dan latihan perawatan kulit sangat penting bagi JD. posisi di tempat tidur dan kursi roda serta perlindungan kulit selama latihan kemampuan mobilitas. meningkatkan fungsi pernapasan adalah prioritas untuk penatalaksanaan awal bagi JD. Faktor yang dapat membatasi atau memperlambat penyembuhan adalah keterbatasan gerak akibat TLSO dan adanya rasa nyeri pada daerah fraktuur tulang iga dan daerah operasi thorax yang timbul karena akitifitas. JD memiliki faktor resiko tinggi untuk mengalami komplikasi pada kulit dan ini dapat mempengaruhi kemajuan pengobatan di seluah daerah latihan mobilitas. edukasi teknik bernapas. Mobilisasi dan teknik manual lain yang dapat diterapkan pada latihan pernafasan tidak dapat dilakukan karena adanya fraktur tulang iga dan nyeri. Latihan perawatan kulit meliputi edukasi bagi JD dan perawatnya mengenai teknik pressure relief. Latihan mobilitas fokus pada terapi fisik JD.7. Intervensi Edukasi pasien. Latihan mobilitas meliputi latihan penggunaan kursi roda. Latihan mobilitas. dan keadaan normal dari anggota gerak bagian atas. Dengan adanya riwayat pneumonia dan kesulitan bernapas. cara bergerak di tempat tidur.

Latihan cara berjalan bertujuan untuk melatih cara berdiri juga untuk melatih ROM. dan escalator. JD juga bergabung dalam body weightsupported locomotor. . JD memerlukan bantuan maksimal untuk belajar melangkah. BABdan BAK. JD dimasukkan dalam organisasi kemasyarakatan yang menyediakan olahraga serta rekreasi bagi orang yang memiliki keterbatasan. mandi. dengan atau tanpa menggunakan kendaraan.latihan keseimbangan dalam duduk. Latihan cara berjalan. menggunakan peralatan sehari-hari. turun dan naik dari lantai. Integrasi. JD dilatih untuk menggunakan kursi roda nya pada berbagai jenis situasi dan tangga (dengan perawat apabila diperlukan) dan dilatih cara untuk membuka pintu. JD dikenalkan ada kursi roda untuk berolahraga dan berekreasi secara aktif sebagai bagian dari terapi yang ia jalani. latihan kekuatan otot bahu dan skapula untuk latihan mobilitas. serta masuk dan keluar dari bak mandi. Direncanakan untuk cara berdiri dan berajalannya memiliki kemajuan tergantung pada tingakat kemampuan dari anggota gerak bagian bawah. Latihan ADLs dan IADLs berkoordinasi dengan anggota tim rehabilitasi untuk mengajari dan melatih kemampuan memakai baju. dan melakukan beberapa pekerjaan rumah tangga dan pekerjaan sosial. Latihan terapi meliputi latihan kelenturan (fleksibilitas) dan latihan untuk menggerakan anggota gerak bagian bawah. Latihan mobilitas di tempat tidur meliputi latihan berputar dan berpindah dari posisi supinasi ke posisi duduk serta dari posisi duduk ke supinasi. Latihan terapi. JD juga dilatih keseimbangannya ketika duduk dan berpindah tempat. dan latihan berpindah tempat. Pada saat latihan. elevator. Latihan ADLs dan IADLs. Dengan tambahan.

Perpindahan dari lantai ke kursi roda adalah kemampuan lanjutan yang dikuasai hanya setelah individu sudah menguasai level pergerakkan dan berkembang banyak dalam kekuatan. dan tangan yang lain ditempatkan di samping pinggang. rangka. individu akan menggerakkan kepala dan trunkus berlawanan dan pinggang bergerak ke arah berlawananan. jantung. Perubahan-perubahan ini memerlukan penangan medis dan perubahan aktifitas sehari-hari. CMS menyebabkan perubahan pada sistem tubuh meliputi saluran pencernaan.Tangan ditempatkan pada bangku kursi roda. Hubungan kepala-pinggang juga digunakan. serta sistem saraf.Ringkasan. Perhatian harus diberikan untuk mencegah tarikan lengan selama pergerakkan dibantu untuk mencegah salah urat yang tidak stabil pada sendi bahu. kulit. Pada kasus ini. dengan kepala dan bahu. Individu kemudian memiringkan kepala sejauh mungkin dan mendorong dengan lengan untuk mengangkat pinggang mereka ke bangku kursi roda. Pinggang berada di bangku dengan sedikit angkatan dan meluncur untuk . Teknik pertama dimulai dengan posisi individu di samping dan kira-kira sejajar dengan bagian depan ujung dari kursi roda. sumbu tubuh dari hubungan kepala-pinggang adalah kaki dari individu yang dipindahkan. Tungkai difleksikan dan ditempatkan miring. fleksibilitas. dan koordinasi. Variasi dari beberapa teknik dasar digunakan untuk melakukan kemampuan ini. pernafasan. atau lurus ke kiri selama pergerakkan. Beberapa efek yang bersifat sistemik antara lain ulcer atau AD yang dapat mengancam kehidupan. Penanganan perawatan yang baik oleh tim rehabilitasi yang profesional sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pasien dengan CMS. otot dan rangka.

Tangan kemudian direposisi dan push up tambahan dilakukan untuk membawa pinggang seluruhnya ke posisi duduk. Push up kemudian dilakukan untuk mengangkat tubuh ke kursi. Lutut diposisikan di depan kursi roda dan individu menarik dirinya ke atas pada kursi sampai beratnya didistribusikan pada lutut di lantai dan dada bersandar pada bangku kursi. Push up kemudian dilakukan dengan tangan pada bangku kursi roda sampai pinggang benar berada pada ujung kursi.membawa kedua pinggang dengan teguh ke permukaan bangku. Pilihan lain yang digunakan adalah push up belakang. Kemampuan ini dapat dibuat mudah dengan menggeser bantal kursi roda dari kursi (efektif mengurangi tinggi yang diperlukan untuk mengangkat) dan menggunakannya di bawah pinggang di lantai (efektif meningkatkan permukaan lantai dan mengurangi angkatan yang diperlukan). Individu kemudian memutar dan poros trunkus untuk memindahkan pinggang utama ke permukaan bangku. Teknik lain untuk memindahkan dari lantai ke kursi adalah dengan menggunakan push up depan dari posisi intermediate seperti binatang berkaki empat. maka paling efektif digunakan oleh individu dengan derajat kontrol trunkus aktif. Teknik ini memerlukan banyak kekuatan pada posisi mekanik yang tidak menguntungkan dari ekstensi dan elevasi bahu yang ekstrim. semua pasien dengan CMS harus mandiri dengan langsung untuk keamanan dan efektivitas pergerakkan mereka dari lantai ke sebuah kursi. Ini harus dipraktekkan di tempat rehabilitasi sehingga ketika individu intensif dan ditemukan terjatuh di lantai atau tanah tapi mereka tidak terintimidasi oleh lingkungan sekitar dan dapat mengontrol kursi roda dengan aman. Individu mulai duduk dengan punggung di depan bangku dan meraih belakang dan mengangkat dengan kedua lengan sampai tangan berada di atas frame kursi roda atau ujung depan bangku. Kemampuan ini juga dapat dilatih atau disederhanakan dengan menggunakan perantaraan tinggi permukaan. Walaupun beberapa individu dengan CMS akan dilatih pergerakkan dari lantai secara mandiri. . Karena gerakan memutar yang besar yang diperlukan dalam teknik ini. Trunkus dibawa ke posisi atas dengan push up dari lengan yang berada di depan frame kursi roda atau bangku.untuk mengurangi pekerjaan.

Awalnya tekanan suara meningkatkan mobilisasi aktif dan ekpektorasi sekret. basket. Lurus meliputi sedikit retraksi bahu (membuka . komunitas. Aktivitas rekreasi seperti ski salju dan ski air juga dapat dinikmati oleh individu dengan semua level mobilitas. membangun dan mengkondisikan kekuatan. Penunjukan juga dapat dibuat untuk sekolah. Pertama individu tegak. Teknik Airway Clearance. memiliki postur lurus akan membantu dengan difasilitasi otot pernapasan. sejumlah intervensi respirasi mungkin ditambahkan untuk mulai fase akut. Intervensi mungkin meliputi bantuan manual teknik batuk. Pasien mungkin belajar untuk melakukan versi quad-cough dengan bantuan sendiri dengan menggunakan teknik seperti posisi tangan mereka di bawah rusuk sangkar dan menggunakan bisep untuk mendorong. Kompetisi spesifik dan acara tim akan dikembangkan untuk individu yang mobilitasnya menggunakan kursi roda. Kemajuan pada kursi roda dan adaptasi lain daya teknologi membuat waktu luang dan membuka peluang rekreasi untuk individu dengan CMS. Individu dengan keseimbangan cukup dan volume inspirasi paru dapat juga belajar untuk menggunakan strategi airway clearance independen yang disebut siklus aktif pernapasan (ACB) diikuti oleh teknik ekspirasi paksaan (FET). kompresi chest anterior.Latihan Fungsional pada Integrasi Waktu Luang atau Reintegrasi. dan edukasi mengenai pencegahan luka dan penatalaksanaan. wilayah. Terapis dapat membantu dalam mempersiapkan aktivitas ini dengan penilaian untuk daya adaptasi pelatihan aktivitas spesifik kemampuan mobilitas. termasuk tetapi tidak terbatas pada “ quad-cough” (ekspirasi dengan tekanan penuh membantu dengan tipe Heimlich atau abdominal thrust maneuver). dan menggambar rugby dengan banyak peserta dan mempunyai kompetisi pada semua level dari lokal sampai internasional. Pasien datang dengan medikasi yang stabil dan fisik yang aktif selama rehabilitasi. Ekspektorasi ditujukan oleh teknik yang didesain untuk meningkatkan kemampuan batuk. dan program nasional yang dapat memberi informasi dan membantu ketika individu mengikuti area yang diminati. membantu kostofrenikus. atau rotasi counter trunkus. atau oleh waktu kemajuan trunkus dengan fase ekspulsi batuk. Olahraga seperti tenis.

dsb. 2 kali per hari. Spirometer insentif dengan rentang target dapat digunakan untuk latihan pernapasan repetitif. Kesabaran dan kekuatan dari sistem respirasi dapat dikumpulkan dengan latihan otot pernapasan. ekstensi spina torakal. berhubungan dengan eksentrik (ekspirasi) usaha pernapasan. Isyarat manual dan verbal dapat juga digunakan sebagai fasilitas kombinasi yang disediakan untuk gerakan dengan kuat yang berhubungan dengan konsentrik (inspirasi atau ekspirasi) usaha pernapasan dan perlahan. dan posisi pelvis yang mencegah kemiringan posterior yang berlebihan. Penelitian menunjukkan meningkatnya kekuatan otot inspirasi dan kesabaran. Konsentrik trunkus dan gerakan ekstrim dapat dipasangkan dengan gerakan respirasi konsentrik. Jika sebuah pekerjaan meliputi ekstensi trunkus (over head reaching. Dengan kombinasi ketersediaan isyarat dan gerakan. dsb. Panjang dan kontrol usaha pernapasan dapat dipraktikkan dalam aktivitas biasa seperti menyanyi.) Itu dapat dipasangkan dengan inspirasi (ekspansi rongga thorak). efisiensi mobilitas dan pernapasan meningkat dan keuntungan dari intervensi pelatihan kemampuan mobilitas dicampur. Penggunaan ventilatory muscle training devices (VMTs) menguatkan pernapasan dengan menambah resistensi dari kontraksi otot pernapasan. Program latian VMT digunakan selama fase rehabilitasi untuk 15-20 menit. Usaha memperbaiki pernapasan dengan gerakan komplementer dapat membantu memaksimalkan kedua usaha pernapasan dan kemampuan mobilitas.dinding dada anterior).lembut. bahu netral atau rotasi eksternal. humming atau meniup pada jerami atau meniup mainan. . dan laporan subjektif penurunan usaha pernapasan dengan menggunakan latihan VMT. Fasilitas ini mempertahankan postur primer dan menundukkan otot pernapasan dan mencegah perkembangan postur sekunder (kifosis) yang dapat merusak kapasitas pernapasan. pola fleksi UE PNF. rolling ke posisi terlentang. 5-7 hari per minggu untuk kira-kira 6 minggu. Gerakan converselve meliputi fleksi thorak dan kompresi (solling supine to sidelying dengan kepala dan trunkus atas pola fleksi. pola ekstensi PNF) dapat dipasangakan dengan usaha ekspirasi.

Keadaan JD diperparah dengan adanya komplikasi pneumonia dan penurunan clearance secretion. dan docusate sodium (colace) untuk pelembut kotoran serta antibiotik untuk pneumonia. edukasi pasien dan keluarga serta latihan bernapas aktif. Nadi 80x/menit.Studi Kasus Riwayat perjalanan penyakit JD adalah seorang pelajar berusia 20 tahun yang terlibat dalam MVA 22 hari yang lalu. Terapi awal yang didapat JD meliputi ROM. dan menjalani spinal stabilization operation. Setelah 3 minggu dirawat. berat badan 183 lb. JD dibawa ke pusat trauma dengan fraktur dan komplit CMS setinggi T10.10. memposisikan di tempat tidur. pengobatan terhadap pneumonia selesai dan JD dinyatakan dalam kondisi kesehatan yang stabil dan dapat melakukan rawat jalan untuk rehabilitasi di pusat rehabilitasi medik. Terapi farmako yang didapat pada saat rawat jalan meliputi heparin (profilaksis DVT). JD mengalami kelumpuhan thoracolumbosacral orthosis (TLSO) dengan tipe plastic body-jacket style. Keadaan umum JD. JD pernah mengalami menisectomy lutut kanan 3 tahun lalu dengan perbaikan fungsional yang baik. meperidine (demerol) untuk nyeri. dan menderita patah tulang iga 9. laki-laki. JD selalu menggunakan TLSO ketika turun dari tempat tidur dan tidak menggunakan penahan/penguat di tempat tidur sejak mendapat petunjuk dokter. berlatih untuk duduk. tinggi badan 5 kaki 11 inci. tekanan arah 110/68mmHg dalam keadaan supinasi dan perpindahan . JD tidak dapat menerima bantuan untuk mengatasi batuk atau bantuan fasilitas manual untuk pernapasan karena adanya rasa nyeri dari jaringan tempat luka memar dan fraktur tulang iga.11 sebelah kanan.

Nyeri. Pernafasan 14x/menit dengan tipe pernafasan lebih menggunakan diafragma. Nyeri tulang iga timbul terus menerus (dengan frekuensi 2/10 saat istirahat) dan meningkat saat pernapasan dalam. Neuromuscular Arousal.posisi dari duduk ke tidur. JD dapat bernapas dengan pernafasan biasa tapi tidak dalam pada saat beraktifitas. JD dapat menggerakkan upper abdominal muscle secara isometris untuk menghasilkan kontraksi otot yang dapat dilihat dan diraba. Kekuatan trunk tidak dapat di periksa karena adanya rasa nyeri dan keterbatasan gerak setelah operasi. nyeri dirasakan berkurang sampai (3/10) pada saat bergerak. Kekuatan otot pada kedua anggota gerak bagian atas lebih besar atau sama dengan 4/5 pada saat pemeriksaan. Attention. dan tidak ada masalah dalam kemampuan kognisi. Pemeriksaan fisik khusus Muskuloskletal Range of Motion. JD dalam keadaan sadar dan berorientasi. JD tidak memiliki gerakan abnormal atau kontraksi otot yang terlihat pada anggota gerak bagian bawah dan kekuatannya 0/5. Cognition. Aktif ROM di kedua anggota gerak bagian atas dalam keadaan normal. Keadaan otot. bergerak dan donning TLSO (8/10 pada saat kambuh). Pengobatan farmako diberikan unyuk mengatasi nyeri. JD mengeluhkan nyeri posterior badan dari leher sampai pelvis terutama di daerah luka sekitar operasi. Ekstremitas bagian bawah dalam keadaan hipotoni. dengan lebih menggunakan tipe pernapasan diafragma dengan sedikit anteroposterior chest expansion pada saat istirahat karena itu dapat mengurangi sedikit rasa nyeri. . ROM anggota gerak bagian bawah dalam keadaan normal kecuali dorsoflexi tidak dapat dinilai pada saat ROM flexi pinggul dan pelurusan kaki pada saat diangkat tidak dapat di tes karena operasi tulang belakang yang baru dilakukan.

Fungsi sensori. JD tidak memiliki masalah sensori (refleks cahaya, rasa tajam, getaran, kinesthesia, propriosepsi dan nyeri) di seluruh daerah atas umbilicus tetapi JD memiliki maalah sensori di seluru daerah bawah umbilikus. Fungsi motorik. Fungsi koordinasi dalam batas normal di kedua anggota gerak bagian atas. Fungsi koordinasi kedua anggota gerak bagian bawah tidak dapat diperiksa karena tidak ada gerakan aktif. Jantung, paru. JD mengeluh nafas yang pendek pada saat memakai kursi roda dan latihan bergerak. JD vital capacity kurang dari 40% dibanding orang yang seumur dan memiliki tinggi badan yang sama. Kulit. Kulit JD tidak memiliki masalah dan tidak ada kulit yang kemerahan. Luka operasi terlihat tertutup di badan bagian posterior daerah thoraks dan sepanjang tempat transplantasi tulang pelvis. Daerah ini tidak secara langsung diperiksa karena diperban, tetapi perawat menyatakan luka dalam proses penyembuhan tanpa adanya tanda infeksi. Fungsi Gaya berjalan, keseimbangan. JD dapat menjalankan kursi rodanya sendiri dengan lancar sampai jarak 50 kaki. JD dapat duduk seimbang pada daerah yang dibatasi di matras terapi dengan menggunakan bantuan kedua anggoota gerak bagian atas agar lebih seimbang. JD tidak dapat duduk dengan seimbang apabila tidak menggunakan bantuan ekstremitas atas. JD memiliki keseimbangan gerak yang buruk. Kemampuan adaptasi peralatan. JD menggunakan kursi roda manual dengan posisi kaki dalam keadaan istirahat. JD menggunakan bantal yang dapat mengurangi tekanan pada saat di kursi roda. Di tempat tidur JD menggunakan alat yang digantung melebihi tinggi kepala untuk membantu bergerak tapi JD sedang berusaha untuk tidak menggunakan alat ini lagi. JD menggunakan pegangan panjang untuk latihan dalam melakukan aktifitas sehari-hari dan spirometer bantuan untuk membantu bernapas lebih dalam.

Kemampuan mengurus diri sendiri dan aktifitas sehari-hari. JD memerlukan bantuan maksimal dari seseorang dan sebuah papan untuk berpindah pada tempat yang tidak rata. JD cukup memerlukan bantuan dari seserorang untuk melakukan semua gerakan di tempat tidur. JD dapat melakukan kegiatan seharihari sendiri kecuali makan, tidak dapat menahan BAK dan BAB. Kateter yang biasa digunakan sudah dilepas dan JD belajar menggunakan kateter yang ia dapat gunakan sendiri. Evaluasi, diagnosis, prognosis JD menderita kerusakan dan kehilangan fungsi dari beberapa otot dan fungsi sensori dibawah T10 dan kekurangan kapasitas pernafasan. Luka yang dialami JD diklasifikasikan sebagai ASIA A, komplit paraplegia. Skor FIM 2 untuk perpindahan dan 2 untuk pergerakan. Keterbatasan fungsi meliputi keterbatasan kemampuan untuk berpindah, ADLs, IADLs, berkurangnya sensasi nyeri, dan bekurangnya kemampuan bergerak di kursi roda. JD memiliki resiko tinggi untuk komplikasi penyakit pernafasan, saluran pencernaan dan penyakit kulit serta depresi. JD juga tidak dapat menjalankan tugasnya sebagai pelajar, karyawan, serta atlit paruh waktu. Tujuan 1. JD dan perawatnya memiliki kemampuan dalam mengatasi, mengenali dan memberikan terapi untuk mengatasi komplikasi sekunder dari SCI 2. JD mampu melakukan sendiri seluruh gerakan di tempat tidur tanpa peralatan bantuan 3. JD dapat berpindah tempat sendiri untuk mempermudah ADL 4. JD dapat bergerak menggunakan kursi roda dengan jarak minimal 500 kaki untuk kondisi di dalam dan luar ruangan 5. JD hanya membutuhkan sedikit bantuan perawat dengan kemampuan lebih dalam menggunakan kursi roda dn berpindah tempat 6. JD dan perawatnya dapat melakukan sendiri latihan fleksibilitas, pemanasan dan kekuatan

7. JD dapat meningkatkan kapasitas pernapasannya sampai 80% dibanding orang normal sesuai usia dan tinggi badan JD Prognosis Prognosis JD baik karena adanya bantuan dari orang sekitarnya, tidak adanya gangguan kognisi, dan keadaan normal dari anggota gerak bagian atas. Faktor yang dapat membatasi atau memperlambat penyembuhan adalah keterbatasan gerak akibat TLSO dan adanya rasa nyeri pada daerah fraktuur tulang iga dan daerah operasi thorax yang timbul karena akitifitas. Rencana perawatan 50 kali kunjungan dalam waktu 4 minggu. Intervensi Edukasi pasien. JD memiliki faktor resiko tinggi untuk mengalami komplikasi pada kulit dan ini dapat mempengaruhi kemajuan pengobatan di seluah daerah latihan mobilitas. Edukasi dan latihan perawatan kulit sangat penting bagi JD. Latihan perawatan kulit meliputi edukasi bagi JD dan perawatnya mengenai teknik pressure relief, posisi di tempat tidur dan kursi roda serta perlindungan kulit selama latihan kemampuan mobilitas.nvnfnkf vkfl Intervensi prosedur Latihan bernapas. Dengan adanya riwayat pneumonia dan kesulitan bernapas, meningkatkan fungsi pernapasan adalah prioritas untuk penatalaksanaan awal bagi JD. Mobilisasi dan teknik manual lain yang dapat diterapkan pada latihan pernafasan tidak dapat dilakukan karena adanya fraktur tulang iga dan nyeri. Oleh karena itu, latihan pernafasan menggunakan bantuan spirometry, latihan otot pernafasan 2x sehari dalam 3 minggu sampai kemampuan aktif meningkat, edukasi teknik bernapas, dan latihan untuk jantung serta latihan dalam berpindah posisi.

dengan atau tanpa menggunakan kendaraan. rangka. JD juga dilatih keseimbangannya ketika duduk dan berpindah tempat. JD juga bergabung dalam body weightsupported locomotor. dan melakukan beberapa pekerjaan rumah tangga dan pekerjaan sosial. Latihan ADL dan IADL berkoordinasi dengan anggota tim rehabilitasi untuk mengajari dan melatih kemampuan memakai baju. elevator. jantung. dan latihan berpindah tempat. Latihan terapi meliputi latihan kelenturan (fleksibilitas) dan latihan untuk menggerakan anggota gerak bagian bawah. JD dimasukkan dalam organisasi kemasyarakatan yang menyediakan olahraga serta rekreasi bagi orang yang memiliki keterbatasan.Latihan mobilitas. Perubahan-perubahan ini memerlukan penangan medis dan perubahan aktifitas . JD dilatih untuk menggunakan kursi roda nya pada berbagai jenis situasi dan tangga (dengan perawat apabila diperlukan) dan dilatih cara untuk membuka pintu. Latihan cara berjalan bertujuan untuk melatih cara berdiri juga untuk melatih ROM. turun dan naik dari lantai. Latihan ADL dan IADL. latihan kekuatan otot bahu dan skapula untuk latihan mobilitas. serta masuk dan keluar dari bak mandi. Ringkasan CMS menyebabkan perubahan pada sistem tubuh meliputi saluran pencernaan. cara bergerak di tempat tidur. JD memerlukan bantuan maksimal untuk belajar melangkah. Latihan cara berjalan. menggunakan peralatan sehari-hari. Latihan mobilitas fokus pada terapi fisik JD. Latihan mobilitas di tempat tidur meliputi latihan berputar dan berpindah dari posisi supinasi ke posisi duduk serta dari posisi duduk ke supinasi. Pada saat latihan. mandi. Latihan terapi. Latihan mobilitas meliputi latihan penggunaan kursi roda. pernafasan. BABdan BAK. otot dan rangka. dan escalator. JD dikenalkan ada kursi roda untuk berolahraga dan berekreasi secara aktif sebagai bagian dari terapi yang ia jalani. kulit. serta sistem saraf. Direncanakan untuk cara berdiri dan berajalannya memiliki kemajuan tergantung pada tingakat kemampuan dari anggota gerak bagian bawah. latihan keseimbangan dalam duduk. Integrasi. Dengan tambahan.

Beberapa efek yang bersifat sistemik antara lain ulcer atau AD yang dapat mengancam kehidupan.sehari-hari. Penanganan perawatan yang baik oleh tim rehabilitasi yang profesional sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pasien dengan CMS. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful