I.

Latar Belakang Berkaitan dengan penyelenggaraan otonomi daerah, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah memberikan kewenangan yang luas, nyata dan bertanggung jawab kepada daerah secara proporsional. Sebagai konsekwensi dan luasnya wewenang yang diberikan kepada daerah, tentunya tuntutan kebutuhan akan pelayanan kepada masyarakat menjadi semakin besar pula. Oleh karena itu pemerintah daerah harus mampu menggali sumber keuangannya sendiri sehingga dapat menyediakan sumber-sumber pembiayaan yang memadai. Sesuai dengan Pasal 157 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 jo pasal 6 Undang-Undang no.33 Tahun 2004 disebutkan bahwa sumber pendapatan daerah terdiri dari : a. Pendapatan Asli Daerah yaitu : 1. Hasi Pajak Daerah; 2. Hasil Retribusi Daerah; 3. Hasil Pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan ; 4. lain-lain. b. Dana Perimbangan c. Lain-lain Pendapatan Daerah yang sah. Dana Perimbangan tersebut terdiri dari : Bagian daerah dari penerimaan PBB, BPHTB, dan penerimaan sumber daya alam; Dana Alokasi Umum; dan Dana Alokasi khusus. Sehubungan dengan sumber-sumber pendapatan daerah yang dapat digali oleh daerah sebagaimana tersebut diatas, kontribusi dari sektor pajak mempunyai peranan yang sangat penting. Namun semua penerimaan pajak dari negara berarti juga pengeluaran dari sisi masyarakat, yang artinya penerimaan pajak adalah beban bagi masyarakat, yaitu dengan mengalihkan sebagian penghasilan yang diperolehnya untuk dibayarkan kepada negara dalam bentuk pajak. Pajak Bumi dan Bangunan merupakan salah satu bentuk pajak untuk penerimaan daerah dimana sistem pemungutannya menggunakan sistem official assessment yaitu system pemungutan yang memberikan wewenang kepada pemerintah (fiscus) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang, sehingga dimungkinkan terjadi perbedaan besarnya pajak yang terutang yang ditetapkan fiscus lebih besar dari yang diperkirakan wajib pajak. Sehingga Wajib Pajak diberikan upaya-upaya hukum untuk mengantisipasi apabila ada tindakan fiscus yang merugikan wajib pajak.

II. Pengertian Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) adalah Pajak Negara yang dikenakan terhadap bumi dan/atau bangunan berdasarkan Undang-undang nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi

dan Bangunan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang nomor 12 Tahun 1994 tanggal 9 November 1994. PBB adalah pajak yang bersifat kebendaan dalam arti besarnya pajak terutang ditentukan oleh keadaan objek yaitu bumi/tanah dan/atau bangunan. Keadaan subyek (siapa yang membayar) tidak ikut menentukan besarnya pajak. III. Objek PBB Objek PBB adalah ³Bumi dan/atau Bangunan³ Bumi : Permukaan bumi (tanah dan perairan) dan tubuh bumi yang ada dibawahnya. Termasuk dalam pengertian bumi adalah : Sawah Ladang Kebun Tanah Pekarangan tambang, dll Pasal 1 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 JO Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994 Bangunan : Konstruksi teknik yang ditanamkan atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan di wilayah Republik Indonesia Termasuk dalam pengertian bangunan adalah : jalan lingkungan yang terletak dalam suatu kompleks bangunan seperti hotel, pabrik, dan emplasemennya dan lain-lain yang satu kesatuan dengan kompleks bangunan tersebut; jalan TOL; kolam renang; pagar mewah tempat olah raga; galangan kapal, dermaga; taman mewah; tempat penampungan/kilang minyak, air dan gas, pipa minyak; fasilitas lain yang memberikan manfaat; Pasal 1 angka 3 UU No. 12 TAHUN 1985 JO UU No. 12 TAHUN 1994.

IV. Objek PBB Yang Dikecualikan Objek yang dikecualikan adalah objek yang : 1. Digunakan semata-mata untuk melayani kepentingan umum di bidang ibadah, sosial, pendidikan dan kebudayaan nasional yang tidak dimaksudkan memperoleh keuntungan, seperti mesjid, gereja, rumah sakit pemerintah, sekolah, panti asuhan, candi, dan lain-lain. 2. Digunakan untuk kuburan, peninggalan purbakala. 3. Merupakan hutan lindung, suaka alam, hutan wisata, taman nasional, dan lain-lain. 4. Dimiliki oleh Perwakilan Diplomatik berdasarkan azas timbal balik dan Organisasi Internasional yang ditentukan oleh Menteri Keuangan. Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 JO Undang-Undang Nomor 12 TAHUN 1994 V. Objek Pajak Yang Digunakan Oleh Negara Yang dimaksud dengan obyek pajak ini adalah obyek pajak yang dimiliki/dikuasai/digunakan oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam menyelenggarakan pemerintahan. Obyek pajak yang digunakan oleh negara untuk penyelenggaraan pemerintahan, penentuan pengenaan pajaknya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 3 angka (2) UU No. 12 Tahun 1984 jo UU No. 12 TAHUN 1994

VI. Subjek Pajak dan Wajib Pajak Subjek pajak PBB adalah mereka (orang atau badan) yang : mempunyai hak atas bumi/tanah, dan atau memperoleh manfaat atas bumi/tanah dan atau memiliki, menguasai atas bangunan, dan atau memperoleh manfaat atas bangunan Apabila suatu bidang dan bangunan tidak diketahui secara jelas siapa yang akan menanggung pajaknya maka yang menetapkan adalah Direktorat Jenderal Pajak. Penetapan ini ditentukan berdasarkan bukti-bukti; Apakah ada perjanjian antara pemilik dan penyewa yang mengatur, siapa yang menanggung kewajiban pajaknya dan siapa yang secara nyata mendapat manfaat atas bidang tanah dan bangunan tersebut.

Wajib Pajak adalah Subyek Pajak yang dikenakan kewajiban membayar pajak.

VII. dengan menggunakan formulir Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP) yang tersedia gratis di Kantor Pelayanan PBB/Kantor Penyuluhan Pajak setempat. 3. Setiap Wajib Pajak memperoleh pengurangan NJOPTKP sebanyak satu kali dalam satu Tahun Pajak. Dasar Penghitungan PBB Dasar penghitungan PBB adalah Besarnya NJKP adalah sebagai berikut : y y y y Nilai Jual Kena Pajak (NJKP).. Cara Mendaftarkan Objek PBB Orang atau Badan yang menjadi Subjek PBB harus mendaftarkan Objek Pajaknya ke Kantor Pelayanan PBB atau Kantor Penyuluhan Pajak yang wilayah kerjanya meliputi letak objek tersebut. maka yang mendapatkan pengurangan NJOPTKP hanya satu Objek Pajak yang nilainya terbesar dan tidak bisa digabungkan dengan Objek Pajak lainnya.000. nilai perolehan baru. 2.Pasal 4 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 Jo Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994.000. penentuan nilai jual objek pengganti. VIII. Objek pajak perkebunan adalah 40% Objek pajak kehutanan adalah 40% Objek pajak pertambangan adalah 20% Objek pajak lainnya (pedesaan dan perkotaan): . Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP) NJOPTKP adalah batas NJOP atas bumi dan/atau bangunan yang tidak kena pajak. Apabila wajib pajak mempunyai beberapa Objek Pajak. NJOP ditentukan per wilayah berdasarkan keputusan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak dengan terlebih dahulu memperhatikan : 1. perbandingan harga dengan objek lain yang sejenis yang letaknya berdekatan dan telah diketahui harga jualnya. 4.dengan ketentuan sebagai berikut : 1. Besarnya NJOPTKP untuk setiap daerah Kabupaten/Kota setinggi-tingginya Rp 12. Dasar Pengenaan PBB Dasar pengenaan PBB adalah ³Nilai Jual Objek Pajak (NJOP)´. 2. harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar. IX. VI.

1% x (NJOP-NJOPTKP) XII.id (NJOP 40% x (NJOP 20% NJOPTKP) x NJOPTKP) x maka besarnya PBB (NJOP-NJOPTKP) (NJOP-NJOPTKP) maka besarnya PBB (NJOP-NJOPTKP) .5% x = 0.» apabila NJOP-nya » apabila NJOP-nya <> X.5%. Pajak yang terjadi setelah tanggal 1 Januari akan dikenakan pajak pada tahun berikutnya.000. Kewajiban PBB Tahun 1996 masih menjadi tanggung jawab A. Rumus Penghitungan PBB > Rp1. Contoh : A menjual tanah kepada B pada tanggal 2 Januari 1996.00 adalah 40% PBB adalah 0. Kewajiban PBB Tahun 1996 masih menjadi tanggung jawab A.go. Tarif PBB Besarnya tarif XI. Dengan demikian segala mutasi atau perubahan atas Objek Pajak yang terjadi setelah tanggal 1 Januari akan dikenakan pajak pada tahun berikutnya.5% x = 0. Jika NJKP = 20% x = 0. Saat Yang Menentukan Pajak Terutang Saat yang menentukan pajak terutang menurut Pasal 8 ayat 2 UU PBB adalah keadaan Objek Pajak pada tanggal 1 Januari. Contoh : A menjual tanah kepada B pada tanggal 2 Januari 1996. XIII. Sejak Tahun Pajak 1997 kewajiban PBB menjadi tanggung jawab B.2% b. Sejak Tahun Pajak 1997 kewajiban PBB menjadi tanggung jawab B.pajak. Rumus penghitungan PBB = Tarif x NJKP a.000. Surat Ketetapan Pajak (SKP) dan Surat Tagihan Pajak (STP) dari Kantor Pelayanan PBB atau disampaikan lewat Pemerintah Daerah harus melunasinya tepat waktu pada tempat pembayaran yang telah ditunjuk dalam SPPT yaitu Bank Persepsi atau Kantor Pos dan Giro. Tempat Pembayaran PBB Wajib Pajak yang telah menerima Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT). Jika NJKP = 40% x = 0.000. [triyono-infokito] ***Sumber: http://www.

Pajak Bumi Dan Bangunan (PBB) Pengertian Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) adalah Pajak yang dikenakan terhadap objek pajak berupa tanah dan bangunan yang didasarkan pada asas kenikmatan dan manfaat yang dibayar tiap berdasarkan Undang-undang nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang nomor 12 Tahun 1994. termasuk kekayaan yang terkandung didalamnya. Objek PBB adalah ³Bumi dan atau Bangunan´: Bumi. Bangunan. Keadaan subyek (siapa yang membayar) tidak ikut menentukan besarnya pajak. Termasuk jalan lingkungan yang termasuk dalam satu kompleks bangunan tersebut Objek PBB yang dikecualikan . tapi juga dari permukaan sampai pusat bumi. adalah konstruksi teknik yang ditanam atau diletakkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan. merupakan permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada di dalamnya.I. PBB adalah pajak yang bersifat kebendaan dalam arti besarnya pajak terutang ditentukan oleh keadaan objek yaitu bumi/tanah dan atau bangunan. Yaitu bahwa yang dimaksud bukan hanya permukaan bumi saja.

hutan wisata. Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) atau Kantor Penyuluhan dan Pengamatan Potensi Perpajakan (KP4) yang wilayah kerjanya meliputi letak objek tersebut. suaka alam. Digunakan oleh badan dan perwakilan organisasi internasional yang ditentukan oleh Menteri Keuangan. dan tanah negara yang belum dibebani suatu hak Digunakan oleh perwakilan diplomatik berdasarkan asas perlakuan timbal balik. NJOP ditetapkan perwilayah berdasarkan keputusan Menteri Keuangan dengan mendengar pertimbangan gubernur serta memperhatikan: Harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar perbandingan harga dengan objek lain yang sejenis yang letaknya berdekatan dan fungsinya sama dan telah diketahui harga jualnya Nilai Perolehan baru . dan lain-lain. taman nasional.Digunakan semata-mata untuk melayani kepentingan umum dibidang ibadah. dan/atau Memiliki Menguasai dan/atau Memperoleh manfaat atas bangunan Subjek pajak PBB beum tentu menjadi wajib pajak PBB. Dasar Pengenaan Pajak Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) Dasar pengenaan PBB adalah ³Nilai Jual Objek Pajak (NJOP)´. Kantor Pelayanan PBB (KP PBB). peninggalan purbakala atau yang sejenis dengan itu. yaitu memeiliki objek yang dikenakan PBB. Subjek PBB Subjek pajak adalah orang atau badan yang secara nyata:      Mempunyai suatu hak atas bumi dan/atau Memperoleh manfaat atas bumi. gereja. pendidikan dan kebudayaan nasional yang tidak dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan. KP2KP atau KP4 setempat. kesehatan. dengan menggunakan formulir Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP) yang tersedia gratis di KPP Pratama. Cara Mendaftarkan Objek Pajak PBB Orang atau Badan yang menjadi Subjek PBB harus mendaftarkan Objek Pajaknya ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama. candi. Digunakan untuk kuburan. panti asuhan. tanah penggembalaan yang dikuasai oleh desa. rumah sakit pemerintah. karena dia baru menjadi wajib pajak jika memenuhi syarat syarat objektif. Merupakan hutan lindung. sekolah. KP PBB. seperti mesjid. sosial.

5% Rumus penghitungan PBB = Tarif x NJKP Jika NJKP = 40% x (NJOP .000. maka yang mendapatkan pengurangan NJOPTKP hanya satu Objek Pajak yang nilainya terbesar dan tidak bisa digabungkan dengan Objek Pajak lainnya.NJOPTKP) = 0.000.2%x (NJOP-NJOPTKP) .000.dengan ketentuan sebagai berikut: Setiap Wajib Pajak memperoleh pengurangan NJOPTKP sebanyak satu kali dalam satu Tahun Pajak.NJOPTKP) maka besarnya PBB = 0. 1 .00 adalah 40% apabila NJOP-nya < Rp.000.Penentuan Nilai Jual Objek Pajak pengganti.00 adalah 20% Tarif PBB Besarnya tarif PBB adalah 0.NJOPTKP) = 0.2%x (NJOP-NJOPTKP) NJKP = 40% x (NJOP .000.5% x 40% x (NJOP . Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP) NJOPTKP adalah batas NJOP atas bumi dan/atau bangunan yang tidak kena pajak.NJOPTKP) maka besarnya PBB = 0. 1.000. Apabila Wajib Pajak mempunyai beberapa Objek Pajak..Besarnya NJKP adalah sebagai berikut: Objek pajak perkebunan adalah 40% Objek pajak kehutanan adalah 40% Objek pajak pertambangan adalah 20% Objek pajak lainnya (pedesaan dan perkotaan): apabila NJOP-nya > Rp.000.5% x 40% x (NJOP .000. Besarnya NJOPTKP untuk setiap daerah Kabupaten/Kota setinggi-tingginya Rp 12. Dasar Perhitungan PBB DPP adalah Nilai Jual Kena Pajak (NJKP).

Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) atau Kantor Penyuluhan dan Pengamatan Potensi Perpajakan (KP4) yang wilayah kerjanya meliputi letak objek tersebut. Tempat Terutangnya pajak secara umum adalah Kabupaten/Kota dimana objek berada. Kantor Pelayanan PBB (KP PBB). Surat Ketetapan Pajak (SKP) dan Surat Tagihan Pajak (STP) dari Kantor Pelayanan PBB atau disampaikan lewat Pemerintah Daerah harus melunasinya tepat waktu pada tempat pembayaran yang telah ditunjuk dalam SPPT yaitu Bank Persepsi atau Kantor Pos dan Giro. Tempat Pembayaran PBB Wajib Pajak yang telah menerima Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT).Tata cara Cara Mendaftarkan Objek PBB Orang atau Badan yang menjadi Subjek PBB harus mendaftarkan Objek Pajaknya ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama. WP melunasi pajak yang terutang setelah lewat saat jatuh tempo pembayaran SPPT/SKP tetapi denda administrasi tidak dilunasi. STP (Surat Tagihan Pajak) Dasar Penerbitan STP Wajib Pajak (WP) tidak melunasi pajak yang terutang sedangkan saat jatuh tempo pembayaran Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT/Surat Ketetapan Pajak (SKP) telah lewat. kecuali wilayah Jakarta yang meliputi seluruh wilayah DKI Jakarta (Pasal 8 UU PBB) SKP (Surat Ketetapan Pajak) Pengertian STP PBB adalah surat yang diterbitkan oleh Kepala Kantor Pelayanan PBB untuk melakukan tagihan pajak yang terutang dalam Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) atau Surat Ketetapan Pajak (SKP) yang tidak atau kurang dibayar setelah lewat jatuh tempo pembayaran dan atau denda administrasi.Dengan demikian segala mutasi atau perubahan atas Objek Pajak yang terjadi setelah tanggal 1 Januari akan dikenakan pajak pada tahun berikutnya. . Saat dan Tempat Menentukan pajak terutang Saat yang menentukan pajak terutang atau belum dibayar adalah keadaan Objek Pajak pada tanggal 1 Januari.

tidak mengembalikan/menyampaikan Surat Pemberitahuan Obyek Pajak kepada Direktorat Jenderal Pajak . Lain-lain 1. Atas STP tidak dapat diajukan keberatan atau pengurangan. Sanksi Administrasi Sanksi administrasi berupa denda sebesar 2% (dua persen) setiap bulan. menyampaikan Surat Pemberitahuan Obyek Pajak. Pajak yang terutang dalam STP apabila tidak dilunasi setelah jangka waktu yang telah ditentukan dapat ditagih dengan surat paksa. wajib: Menyampaikan laporan bulanan mengenai semua mutasi dan perubahan objek pajak secara tertulis kpd DJP yang wilayah kerjanya meliputi letak OP Memberikan keterangan yang diperlukan atas permintaan DJP 5. untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dihitung dari saat jatuh tempo sampai dengan hari pembayaran. Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) atau Kantor Penyuluhan dan Pengamatan Potensi Perpajakan (KP4).Cara Penyampaian STP STP disampaikan kepada WP melalui : 1) Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama. WP dapat mengajukan permohonan peninjauan kembali atas STP jika ternyata WP telah melunasi kewajiban pajaknya. 6. tetapi isinya tidak benar atau tidak Iengkap dan/atau melampirkan keterangan yang tidak benar. Batas Waktu Pelunasan STP STP harus dilunasi selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sejak tanggal STP diterima WP. Kantor Pelayanan PBB (KP PBB). Barangsiapa karena kealpaannya: a. Ketentuan Pidana Pasal 25 UU PBB. Pejabat yang dalam jabatannya atau tugas pekerjaannya berkaitan langsung dengan objek pajak . 2. 4. Ketentuan Bagi Pejabat Sesuai pasal 21 UU PBB. Barangsiapa dengan sengaja: a. 2) Kantor Pos dan Giro 3) Pemerintah Daerah. sehingga menimbulkan kerugian pada Negara dipidana dengan pidana kurungan selama-lamanya 6 (enam bulan) atau denda setinggi-tingginya sebesar 2 (dua) kali pajak yang terhutang. 3. tidak mengembalikan/menyampaikan Surat Pemberitahuan Obyek Pajak kepada Direktorat Jenderal Pajak b. Ketentuan Pidana Pasal 24 UU PBB.

Standar Investasi anaman (SIT). . . Run Of Mine (ROM).b. . antara lain: 1. klasifikasi Objek Pajak bumi dan atau bangunan.Keberatan diajukan dalam jangka waktu 3(tiga) bulan sejak tanggal diterimanya SPPT/SKP oleh Wajib Pajak. Penetapan Subjek Pajak sebagai Wajib Pajak. Keberatan atas Pengenaan Bumi dan Bangunan Alasan Pengajuan Keberatan adalah Dalam hal WP merasa SPPT / SKP tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Tanggal Jatuh Tempo 10. c. b. Syarat materil: . 9. tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap dan/atau melampirkan keterangan yang tidak benar. 11. d. Syarat Formal: .Pengajuan Keberatan Tidak Menunda Kewajiban Membayar Pajak dan Pelaksanaan Penagihan Pajak.Free On Rail (FOR). memperlihatkan surat palsu atau dipalsukan atau dokumen lain yang palsu atau dipalsukan seolah-olah benar d. c. menyampaikan Surat Pemberitahuan Obyek Pajak. mengenai: a. Keberatan atas Pengenaan Bumi dan Bangunan Persyaratan Pengajuan Keberatan: a. . Ada Terdapat perbedaan penafsiran Undang -undang dan peraturan perundang-undangan antara Wajib Pajak dengan Fiskus. b. Objek Pajak yang tidak dikenakan PBB.Mengemukakan alasan yang jelas dan mencantumkan besarnya Pajak Bumi dan Bangunan menurut perhitungan Wajib Pajak. luas Objek Pajak bumi dan atau bangunan. Free On Board (FOB). 8.Dalam hal keadaan terpaksa (force majeur) wajib pajak harus dapat memberikan dan membuktikan alasan bahwa jangka waktu tersebut tidak dapat dipenuhi b. sehingga menimbulkan kerugian pada Negara. c.Dalam hal dikuasakan kepada pihak lain harus melampirkan surat kuasa. Keputusan Keberatan. dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 2 (dua) tahun atau denda setinggi-tingginya sebesar 5 (lima) kali pajak yang terhutang 7. Penerapan Nilai Jual Kena Pajak (NJKP). . .Keberatan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia. Kantor Pelayanan PBB yang menerbitkan SPPT/SKP.Diajukan masing-masing dalam satu Surat Keberatan kecuali yang diajukan secara kolektif melalui Lurah/ Kepala Desa untuk setiap SPPT/SKP per tahun pajak. 2. Objek Pajak yang seharusnya tidak dikenakan PBB. tidak memperlihatkan atau tidak meminjamkan surat atau dokumen lainnya e. Penentuan saat pajak terutang. . penetapan/pengenaan. Perbedaan penafsiran Undang-undang antara WP dan Fiskus. tidak menunjukkan data atau titik menyampaikan keterangan yang diperlukan. misalnya: a. Penetapan Subjek Pajak sebagai Wajib Pajak.Diajukan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama.

apabilaberdasarkan hasil pemeriksaan diperoleh perhitungan yang menambah besarnya jumlah pajak yang terutang. Kelebihan Pembayaran PBB Pengertian Kelebihan pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) adalah selisih antara pajak yang dibayar dengan pajak yang terutang. c. Kepala Kantor Pelayanan PBB yang menerbitkan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT)/Surat Ketetapan Pajak (SKP)/SuratTagihan Pajak (STP). 5) Menambah besarnya jumlah pajak yang terutang. apabila permohonan keberatan wajib pajak memenuhi persyaratan formal atau formal dan material. b. 2. 13. 100. 15. f. Mengajukan permohonan secara tertulis dalam bahasa Indonesia yang jelas kepada Direktur Jenderal Pajak c. Penyebab Terjadinya Kelebihan Pembayaran adalah: a. atau atas perintah Undang-undang. 4) Tidak dapat diterima. 12. Tanda terima dari KP PBB/ tanda pengiriman Surat Keberatan melalui pos tercatat/ sejenisnya merupakan tanda bukti bagi kepentingan WP 16. apabila sebagian alasan Wajib Pajak sesuai dengan data/keterangan yang diperoleh dari hasil pemeriksaan.00 dapat diajukan secara perseorangan ataupun kolektif melalui Kepala Desa/Lurah yang bersangkutan. Kelebihan pembayaran PBB terjadi dalam hal pembayaran yang dilakukan oleh Wajib Pajak (WP) lebih besardari jumlah PBB yang seharusnya terutang. Keberatan terhadap SPPT dan atau SKP dengan ketetapan sampai dengan Rp 100. Tata Cara Pengajuan Permohonan 1.000. menerima sebagian. Keberatan terhadap SPPT dan atau SKP dengan ketetapan di atas Rp. . Surat Keputusan Pemberian Pengurangan. 2) Menerima seluruhnya atau sebagian 3) menerima seluruhnya. d. 14. Kelebihan Pembayaran PBB 17. Surat Keputusan Penyelesaian Keberatan. dan telah dilakukan pemeriksaan sehingga alasan yang diajukan oleh wajib pajak tidak tepat atau tidak benar.00 harus diajukan oleh WP secara perseorangan. KP PBB setelah menerima Surat Keberatan dari WP memberikan tanda terima. Perubahahan peraturan. Kep-59/PJ. Keputusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap. e. Surat permohonan disampaikan langsung atau dikirim melalui pos tercatat.q.Keputusan keberatan atas SPPT/SKP berupa: 1) Menolak. apabila permohonan keberatan Wajib Pajak tidak memenuhi persyaratan jangka waktu 3 (tiga) bulan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (3) Keputusan Direktur Jenderal Pajak No.000. Kekeliruan pembayaran.6/2000. apabila alasan wajib pajak sesuai dengan data/keterangan yang diperoleh dari hasil pemeriksaan dan diterima seluruhnya berdasarkan perhitungan Wajib Pajak.

2. Permohonan banding diajukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak tanggal diterimanya Surat Keputusan atas Keberatan oleh WP. Fotokopi SPPT/SKP/STP dan Surat Keputusan tentang Keberatan/Banding dan atau Surat Keputusan tentang Pemberian Pengurangan atau Surat Keputusan Pengadilan. Surat Keputusan Kelebihan Pembayaran Pajak (SKKPP) PBB. Asli Surat Tanda Terima Setoran (STTS) PBB Meminta tanda bukti penerimaan surat permohonan (yang sudah lengkap) dari pejabat Kantor Pelayanan PBB yang ditunjuk. apabila jumlah yang dibayar sama dengan jumlah PBB yang seharusnya terutang. Kelebihan Pembayaran PBB Pelaksanaan Pengembalian Dalam jangka waktu 12 bulan sejak diterimanya surat permohonan secara lengkap dari WP Kantor Pelayanan PBB harus menerbitkan: 1.PBB.PBB. WP dapat mengajukan permohonan agar kelebihan pembayaran PBB diperhitungkan dengan penetapan PBB yang akan datang.PBB langsung diperhitungkan terlebih dahulu. Surat permohonan dilampiri dengan dokumen yang berkaitan dengan Objek Pajak yang dimohonkan berupa: 4.3. Atas sisa penghitungan sebagaimana dimaksud pada huruf c dan d.apabila jumlah yang dibayar ternyata lebih besar dari yang seharusnya terutang. maka kelebihan pembayaran PBB yang tercantum dalam SKKPP. Pengajuan Banding PBB Pengertian Wajib Pajak (WP) yang masih tidak sependapat dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak atas keberatannya. dapat mengajukan banding kepada Pengadilan Pajak (PP). 20. 18. . Surat Pemberitaan (SPb). dapat diterbitkan SPMKP. Surat Ketetapan Pajak (SKP) apabila jumlah yang dibayar ternyata kurang dari jumlah PBB yang seharusnya terutang. Dalam hal WP mempunyai utang PBB atas objek lainnya dalam wilayah Kabupaten/Kota yang sama. 19. Pengajuan Banding PBB Tata Cara Pengajuan Banding Permohonan banding diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan memuat alasan yang jelas. Kepala Kantor Pelayanan PBB atau Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama harus menerbitkan Surat Perintah pencairan Dana (SP2D) dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak diterbitkannya SKKPP.

Putusan banding oleh Pengadilan Pajak merupakan putusan akhir dan bersifat tetap serta bukan merupakan keputusan Tata Usaha Negara. membatalkan. menolak. menambah jumlah PBB yang harus dibayar 4. 5. 6. dan atau. . tidak dapat diterima. 2. mengabulkan sebagian atau seluruhnya. Pengajuan Banding PBB Bentuk Putusan Banding Putusan banding dapat berupa : 1. 3. Pengajuan Banding PBB Imbalan Bunga Apabila pengajuan permohonan banding diterima sebagian atau seluruhnya. Lain-lain Pengajuan permohonan banding tidak menunda kewajiban membayar pajak dan pelaksanaan penagihan pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) Pengertian Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB): adalah pajak yang dikenakan atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan.. yang selanjutnya disebut pajak. maka kelebihan pembayaran (bila ada) dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% sebulan dihitung sejak pembayaran dilakukan sampai dengan tanggal diterbitkannya (diucapkan di muka umum) Putusan untuk selama-lamanya 24 bulan. membetulkan kesalahan tulis dan atau kesalahan hitung .Permohonan banding harus dilampiri foto kopi Surat Keputusan atas Keberatan.

tukar-menukar. dan Cara Pembayaran Pajak Terutang Subjek Pajak Nilai Perolehan Objek Pajak Objek Pajak Yang Tidak Dikenakan BPHTB Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP) ditetapkan secara regional paling banyak Tarif Pajak BPHTB Terhutang Pembayaran BPHTB Penetapan Objek Pajak Yang menjadi objek pajak adalah perolehan hak atas tanah dan atau bangunan. jual beli. Perolehan hak atas tanah dan atau bangunan meliputi: a. Undang-undang Nomor 16 tentang Rumah Susun dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang lainnya. 3. hibah.Perolehan hak atas tanah dan atau bangunan: adalah perbuatan atau peristiwa hukum yang mengakibatkan diperolehnya hak atas dan atau bangunan oleh orang pribadi atau badan. 2. Tempat. berserta bangunan di tasnya sebagaimana dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun 1960tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria. Pemindahan hak karena 1. . Hak atas tanah adalah hak atas tanah termasuk hak pengelolaan. Dasar-Dasar BPHTB Objek Pajak Jenis Hak atas Tanah dan atau Bangunan Saat.

dan terpenuh yang dipunyai orang pribadi atau badan hukum tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah. Hak millik adalah hak turun-temurun.terkuat. 10. kelanjutan pelepasan hak. hak guna usaha. pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya. 7. 6. 8. hibah wasiat.hak guna bangunan. 13. Jenis Hak atas Tanah dan atau Bangunan Berdasarkan pasal 2 ayat (3) UU BPHTB. hak pakai. Pemberian hak baru karena: 1. 11.4.penggabungan usaha.hak guna usaha. penunjukan pembeli dalam lelang. pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap. di luar pelepasan hak.pemekaran usaha. hak milik atas satuan rumah susun atau hak pengelolaan.peleburan usaha.hak pakai.hadiah Objek Pajak b. Hak Guna Usaha adalah hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh negara dalam jangka waktu sebagaimana yang ditentukan oleh perundang-undangan yang berlaku. pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan. 12. Objek Pajak Hak atas tanah adalah hak milik. 9. 5. hak guna bangunan.hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) adalah hak milik. waris. .hak Malik atas satuan rumah susun dan hak pengelolaan. 2.

dan Cara Pembayaran Pajak Terutang.penyerahan bagian-bagian dari tanah tersebut kepada pihak ketiga dan atau bekerja sama dengan pihak ketiga.waris adalah sejak tanggal yang bersangkutan mendaftarkan peralihan haknya ke Kantor Pertanahan.penggunaan tanah untuk keperluan pelaksanaan tugasnya.dan tanah bersama yang semuanya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan satuan yang bersangkutan. e.hibah adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. b. d. pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta.jual beli adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. c.tukar-menukar adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta.segala sesuatu sepanjang tidak bertentangan dengan jiwa dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Objek Pajak Hak Pakai adalah hak untuk menggunakan dan atau memungut hasil dari tanah yang dikuasai langsung oleh negara atau tanah milik orang lain. Tempat. Objek Pajak .Hak Guna Bangunan adalah hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunanbangunan atas tanah yang bukan miliknya sendiri dengan jangka waktu yang ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria. Saat terutang Pajak atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan untuk: a. Saat. Hak pengelolaan adalah hak menguasai dari negara yang kewenangan pelaksanaannya sebagian dilimpahkan kepada pemegang haknya antara lain berupa perencanaan peruntukan dan penggunaan tanah.Hak milik atas satuan rumah susun meliputi juga hak atas bagian bersama. f.benda bersama.pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta.yang bukan perjanjian sewa-menyewa atau perjanjian pengolahan tanah.yang memberi wewenang dan kewajiban yang ditentukan dalam keputusan pemberiannya oleh pejabat yang berwenang memberikannya atau dalam perjanjian dengan pemilik tanahnya. Hak milik atas satuan rumah susun adalah hak milik atas satuan yang bersifat perorangan dan terpisah.

k. pemekaran usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. Kota.Tukar-menukar adalah nilai pasar.putusan hakim adalah sejak tanggal putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap. hadiah adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. hibah wasiat adalah sejak tanggal yang bersangkutan mendaftarkan peralihan haknya ke Kantor Pertanahan. b. Nilai Perolehan Objek Pajak Dasar Pengenaan Pajak adalah Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP) dalam hal. n. . a. i.g. Cara Pembayaran Pajak adalah wajib pajak membayar pajak yang terutang dengan tidak mendasarkan pada adanya surat ketetapan pajak. h.Jual beli adalah harga transaksi. penggabungan usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. atau Propinsi yang meliputi letak tanah dan bangunan. Pajak terutang dibayar ke kas negara melalui Kantor Pos/Bank BUMN/BUMD atau tempat pembayaran lain yang ditunjuk oleh Menteri dengan Surat Setoran Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (SSB).pemberian hak baru di luar pelepasan hak adalah sejak tanggal ditandatangani dan diterbitkannya surat keputusan pemberian hak. m. Objek Pajak Tempat Pajak Terutang adalah di wilayah Kabupaten.lelang adalah sejak tanggal penunjukan pemenang lelang. pemberian hak baru atas tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak adalah sejak tanggal ditandatangani dan diterbitkannya surat keputusan pemberian hak. Subjek Pajak Yang menjadi subjek pajak adalah orang pribadi atau badan yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan. l. j. o.peleburan usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. Subjek Pajak sebagaimana tersebut diatas yang dikenakan kewajiban membayar pajak menjadi Wajib Pajak menurut Undang-Undang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.

m. pemberian hak baru atas tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak adalah nilai pasar. Badan atau perwakilan organisasi internasional yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri dengan syarat tidak menjalankan usaha atau melakukan kegiatan lain diluar fungsi dan tugas badan atau perwakilan organisasi tersebut.Pemekaran usaha adalah nilai pasar n. e. Hadiah adalah nilai pasar. o. dasar pengenaan pajak yang dipakai adalah NJOP PBB.Peralihan hak karena pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap adalah nilai pasar.c. Nilai Perolehan Objek Pajak Apabila NPOP dalam hal a s/d n tidak diketahui atau lebih rendah daripada NJOP PBB yang digunakan dalam pengenaan PBB pada tahun terjadinya perolehan .Hibah wasiat adalah nilai pasar. Peleburan usaha adalah nilai pasar. f. d.Penggabungan usaha adalah nilai pasar. . konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik Negara untuk penyelenggaraan pemerintahan dan atau untuk pelaksanaan pembangunan guna kepentingan umum. Nilai Perolehan Objek Pajak h. k.Pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan adalah nilai pasar. Pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya adalah nilai pasar. g. l. Objek Pajak Yang Tidak Dikenakan BPHTB adalah objek pajak yang diperoleh: Perwakilan diplomatik.Waris adalah nilai pasar. j.Hibah adalah nilai pasar. Penunjukan pembeli dalam lelang adalah harga transaksi yang tercantum dalam Risalah Lelang. Pemberian hak baru atas tanah di luar pelepasan hak adalah nilai pasar. i.

Tarif Pajak Tarif pajak ditetapkan sebesar 5% (lima persen). Rp.Artinya sistem pemungutan BPHTB adalah self assessment di mana WP diberi kepercayaan untuk menghitung dan membayar sendiri pajak yang terhutang dengan menggunakan SSB(Surat Setoran BPHTB) dan melaporkannya tanpa mendasarkan diterbitkannya surat ketetapan pajak. 49.SSB juga berfungsi sebagai sarana balik nama Subjek Pajak Bumi dan Bangunan. Paling banyak Rp. Pajak yang terhutang dibayar di Bank Persepsi/Kantor Pos atau tempat pembayaran yang ditunjuk Menteri Keuangan dengan SSB. atau hibah wasiat yang diterima orang pribadi yang masih dalam hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke atas atau satu derajat ke bawah dengan pemberi hibah termasuk istri/suami. Orang pribadi atau badan yang digunakan untuk kepentingan ibadah. Rp.300.000 dalam hal perolehan hak baru melalui program pemerintah yang diterima pelaku usaha kecil atau mikro dalam dalam rangka program peningkatan sertifikasi tanah untuk memperkuat penjaminan kredit bagi usaha Mikro dan kecil. BPHTB Terhutang Pasal 10 BPHTB menentukan bahwa Wajib Pajak membayar pajak yang terhutang dengan tidak mendasarkan pada adanya surat ketetapan pajak.000 dalam hal perolehan hak karena waris.SSB terdiri rangkap 5 dan dikirimkan paling lambat 7 hari setelah pembayaran BPHTB. Artinya Wajib Pajak Wajib Pajak diberi kepercayaan untuk menghitung dan membayar sendiri pajak yang terutang dengan tidak mendasarkan pada adanya surat ketetapan pajak. Orang pribadi atau badan karena wakaf.000. 10.Orang pribadi atau badan atau karena konversi hak dan perbuatan hukum lain dengan tidak adanya perubahan nama.000 dalam hal selain a. b dan c. Rp. Pembayaran BPHTB Sistem pemungutan BPHTB pada prinsipnya menganut sistem ³self assessment´.000 dalam hal perolehan hak Rumah Sederhanan Sehat (RSH) dan Rumah Susun Sederhana. NPOPTKP ditetapkan secara regional paling banyak.Pajak yang terutang dibayarkan ke kas Negara melalui Kantor Pos dan atau Bank .000.60.000.000.

Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam SKBKBT ditambah dengan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100 % (seratus persen) dari jumlah kekurangan pajak tersebut. -50% (lima puluh persen) dari BPHTB yang seharusnya terutang dalam hal penerima Hak Pengelolaan selain dimaksud diatas. dihitung mulai saat terutangnya pajak sampai dengan diterbitkannya SKBKB.pengenaan BPHTB karena waris dan Hibah Wasiat BPHTB yang terutang atas perolehan hak karena waris dan hibah wasiat adalah sebesar 50% dari BPHTB yang seharusnya terutang. Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sesudah saat terutangnya pajak. Pengurangan BPHTB Pasal 20 ayat (1) UU BPHTB menentukan bahwa atas permohonan wajib pajak. b. Pemerintah Daerah Propinsi.pengenaan BPHTB karena pemberian Hak Pengelolaan. kecuali wajib pajak melaporkan sendiri sebelum dilakukan tindakan pemeriksaan. Pemerintah Daerah Kabupaten/kota. Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar (SKBPHTBKB) apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain ternyata jumlah pajak yang terutang kurang dibayar.pengurangan dapat diberikan oleh Menteri karena: Kondisi tertentu WP yang ada hubungannya dengan Objek Pajak. Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar Tambahan (SKBKBT) apabila ditemukan data baru dan atau data yang semula belum terungkap yang menyebabkan penambahan jumlah pajak yang terutang setelah diterbitkannya SKBKB. Lembaga Pemerintah Non Departemen. Kondisi WP yang ada hubungannya dengan sebab tertentu. Penetapan Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sesudah saat terutangnya pajak. . Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam SKBKB ditambah dengan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2 % (dua persen) sebulan untuk jangka waktu paling lama 24 bulan. Pengenaan BPHTB a. dan Perusahaan Umum Pembangunan Perumahan Nasional (Perum Perumnas). Besarnya BPHTB karena pemberian Hak Pengelolaan adalah sebagai berikut: -0% (nol persen) dan BPHTB yang seharusnya terutang terutang dalam hal penerima Hak Pengelolaan adalah Departemen.Badan Usaha Milik Negara atau Bank Badan Usaha Milik Daerah atau tempat pembayaran lain yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan dengan menggunakan Surat Setoran Bea (SSB). Lembaga Pemerintah lainnya.

Surat Keputusan Keberatan maupun Putusan Banding yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah. b. Banding 3. wajib pajak dikenakan sanksi administrasi berupa denda dan atau bunga. Dan jika tidak atau kurang dibayar pada waktunya dapat ditagih dengan Surat Paksa. Pengembalian Kelebihan Pembayaran BPHTB 1. dari hasil pemeriksaan SSB terdapat kekurangan pembayaran pajak sebagai akibat salah tulis dan atau salah hitung. Keberatan 2. Hak Bagi Wajib Pajak 1. Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar. .Tanah dan atau bangunan digunakan untuk kepentingan social atau pendidikan yang semata-mata tidak untuk mencari keuntungan. Penagihan BPHTB Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar. Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar Tambahan. merupakan dasar penagihan pajak dan harus dilunasi dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan sejak diterima oleh Wajib Pajak. c. Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar Tambahan. Pengurangan 4. dan Surat Keputusan Pembetulan. Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Lebih Bayar. Keberatan (1) Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan hanya kepada Direktur Jenderal Pajak atas suatu : a. Penagihan BPHTB Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan Surat Tagihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan apabila : pajak yang terutang tidak atau kurang dibayar. Surat Tagihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.

. harus memberi keputusan atas keberatan yang diajukan. (10) Keputusan Direktur Jenderal Pajak atas keberatan dapat berupa mengabulkan seluruhnya atau sebagian. keberatan yang diajukan tersebut dianggap dikabulkan. (8) Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan sejak tanggal Surat Keberatan diterima. (4)Keberatan yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada angka (2) dan angka (3) tidak dianggap sebagai Surat Keberatan sehingga tidak dipertimbangkan. (7) Pengajuan keberatan tidak menunda kewajiban membayar pajak dan pelaksanaan penagihan pajak. Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Nihil. (9) Sebelum surat keputusan diterbitkan. Direktur Jenderal Pajak wajib memberikan keterangan secara tertulis hal-hal yang menjadi dasar pengenaan pajak. kecuali apabila Wajib Pajak dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan diluar kekuasaannya. atau menambah besarnya jumlah pajak yang terutang. (3)Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal diterimanya Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar atau Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar Tambahan atau Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Lebih Bayar atau Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Nihil oleh Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada angka (1). 1. Keberatan (5)Tanda penerimaan Surat Keberatan yang diberikan oleh pejabat Direktorat Jenderal Pajak yang ditunjuk untuk itu atau tanda pengiriman Surat Keberatan melalui pos tercatat menjadi tanda bukti penerimaan Surat Keberatan tersebut bagi kepentingan Wajib Pajak. (11) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada angka (8) telah lewat dan Direktur Jenderal Pajak tidak memberi suatu keputusan.d. Wajib Pajak dapat menyampaikan alasan tambahan atau penjelasan tertulis. (6) Apabila diminta oleh Wajib Pajak untuk keperluan pengajuan keberatan. (2) Keberatan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan mengemukakan jumlah pajak yang terutang menurut perhitungan Wajib Pajak dengan disertai alasanalasan yang jelas. menolak.

contoh. (3)Pengajuan permohonan banding tidak menunda kewajiban membayar pajak dan pelaksanaan penagihan pajak. kelebihan pembayaran pajak dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dihitung sejak tanggal pembayaran yang menyebabkan kelebihan pembayaran pajak sampai dengan diterbitkannya Keputusan Keberatan atau Putusan Banding. (2)Permohonan sebagaimana dimaksud pada angka (1) diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan disertai alasan-alasan yang jelas dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak keputusan keberatan diterima. a. a. Pengurangan 2. Pengurangan Atas permohonan Wajib Pajak. b. Wajib Pajak yang memperoleh hak atas tanah melalui pembelian dari hasil ganti rugi pemerintah yang nilai ganti ruginya di bawah Nilai Jual Objek Pajak. pengurangan pajak yang terutang dapat diberikan oleh Menteri karena: 1. 3. kondisi tertentu Wajib Pajak yang ada hubungannya dengan Objek Pajak.2. contoh. Wajib Pajak yang memperoleh hak atas tanah sebagai pengganti atas tanah yang dibebaskan oleh pemerintah untuk kepentingan umum yang memerlukan persyaratan khusus. (4)Apabila pengajuan keberatan atau permohonan banding dikabulkan sebagian atau seluruhnya. . 3. Wajib Pajak tidak mampu secara ekonomis yang memperoleh hak baru melalui program pemerintah di bidang pertanahan. kondisi Wajib Pajak yang ada hubungannya dengan sebab-sebab tertentu. Banding (1)Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan banding hanya kepada Badan Peradilan Pajak terhadap keputusan mengenai kebertannya yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak. Wajib Pajak pribadi menerima hibah dari orang pribadi yang mempunyai hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke atas atau satu derajat ke bawah. dilampiri salinan dari surat keputusan tersebut. b.

pesantren. Pejabat Pembuat Akta Tanah/Notaris dan Kepala Kantor Lelang Negara melaporkan pembuatan akta atau Risalah Lelang perolehan hak atas tanah kepada Direktorat Jenderal Pajak selambatlambatnya pada tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya. rumah yatim piatu. sekolah yang tidak ditujukan mencari keuntungan. antara lain. Kantor Pelayanan Pratama atau Kantor Pelayanan PBB setempat. Pengembalian Kelebihan Pembayaran BPHTB Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan pengembalian atas kelebihan pembayaran pajak kepada Direktur Jenderal Pajak. panti jompo. Pejabat yang berwenang menandatangani dan menerbitkan surat keputusan pemberian hak atas tanah hanya dapat menandatangani dan menerbitkan surat keputusan dimaksud pada saat Wajib Pajak menyerahkan bukti pembayaran pajak berupa Surat Setoran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Pejabat Lelang Negara hanya dapat menandatangani Risalah Lelang perolehan hak atas tanah dan atau bangunan pada saat Wajib Pajak menyerahkan bukti pembayaran pajak berupa Surat Setoran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. 3. Pengurangan 3. untuk panti asuhan. Terhadap pendaftaran peralihan hak atas tanah karena waris atau hibah wasiat hanya dapat dilakukan oleh Pejabat Pertanahan Kabupaten/ Kota pada saat Wajib Pajak menyerahkan bukti pembayaran pajak berupa Surat Setoran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Tanah dan atau bangunan yang digunakan. Ketentuan dan Sanksi Bagi Pejabat Ketentuan Bagi Pejabat Sanksi Bagi Pejabat Ketentuan Bagi Pejabat Pejabat Pembuat Akta Tanah/ Notaris hanya dapat menandatangani akta pemindahan hak atas tanah dan atau bangunan pada saat Wajib Pajak menyerahkan bukti pembayaran pajak berupa Surat Setoran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. c. 4. rumah sakit swasta Institusi Pelayanan Sosial Masyarakat.c.tanah dan atau bangunan digunakan untuk kepentingan sosial atau pendidikan yang semata-mata tidak untuk mencari keuntungan.q. contohnya. . Wajib Pajak yang terkena dampak krisis ekonomi dan moneter yang berdampak luas pada kehidupan perekonomian nasional sehingga Wajib Pajak harus melakukan restrukturisasi usaha dan atau utang usaha sesuai dengan kebijaksanaan pemerintah.

7. Secara matematis adalah.Sanksi Bagi Pejabat a. yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam angka 5.000. d.Pejabat yang berwenang menandatangani dan menerbitkan surat keputusan pemberian hak atas tanah yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam angka 3 . BPHTB = 5 % X (NPOP ± NPOPTKP) BEA MATERAI Pengertian Bea Materai adalah Pajak atas dokumen yang dipakai oleh masyarakat dalam lalu lintas hukum (Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 Jo Peraturan Pemerintah Nomor 24 TAHUN 2000 ) DASAR HUKUM Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea meterai Peraturan Pemerintah Nomor 24 TAHUN 2000 tentang perubahan tarif bea meterai dan besarnya pengenaan harga nominal yang dikenakan bea materai. c. .Kepala Kantor Lelang Negara.00 untuk setiap pelanggaran.Pejabat Pembuat Akta Tanah/Notaris yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam angka 5. b.dikenakan sanksi menurut ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Cara Penghitungan BPHTB Besarnya BPHTB terutang adalah Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP) dikurangi Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP) dikalikan tarif 5 % (lima persen). dikenakan sanksi menurut ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku.00 untuk setiap laporan.Pejabat Pertanahan Kabupaten/Kota yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam angka 4. 250.000. e. Peraturan ini sekaligus mencabut peraturan sebelumnya yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1995 . dikenakan sanksi administrasi dan denda sebesar Rp. dikenakan sanksi menurut ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku Penghitungan BPHTB I.Pejabat Pembuat Akta Tanah/Notaris dan Pejabat Lelang Negara yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam angka 1.500. dan angka 2 dikenakan sanksi administrasi dan denda sebesar Rp.

Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP . KETENTUAN KHUSUS .04/2000' .ukuran. tentang pengadaan.04/2000 .04/2000. tentang bentuk./2000 tentang tata cara pelunasan bea meterai dengan menggunakan benda meterai. keadaan atau kenyataan bagi seseorang dan atau pihak-pihak yang berkepentingan./peraturan/133/KMK. dan warna benda meterai desain tahun 2000.122a/PJ. ukuran.122b/PJ.122c/PJ. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 560/KMK.04/2000 .04/2000.04/2000 . Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP . dan warna benda meterai desain tahun 2000./2000 tentang tata cara pelunasan bea meterai dengan membubuhkan tanda bea meterai lunas dengan sistem komputerisasi TERMINOLOGI BEA METERAI Yang dimaksud dengan dokumen menurut pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 adalah kertas yang berisikan tulisan yang mengandung arti dan maksud tentang perbuatan. tentang pemusnahan benda meterai Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP . ukuran. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 571/KMK.122d/PJ.04/2000' /peraturan/133/KMK. pengelolaan dan penjualan benda meterai Keputusan Menteri Keuangan Nomor 133b/KMK./2000 tentang tata cara pelunasan bea meteri dengan membubuhkan tanda bea meterai lunas dengan teknologi percetakan./2000 tentang tata cara pelunasan bea meterai dengan membubuhkan tanda bea meterai lunas dengan mesin teraan meterai Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP . tentang perubahan atas Keputusan Menteri Keuangan Nomor 133/KMK. tentang perubahan atas Keputusan Menteri Keuangan Nomor 133/KMK. dan warna benda meterai desain tahun 2000. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 133a/KMK.04/2000 .04/2000 tentang bentuk.Keputusan Menteri Keuangan Nomor 133/KMK. tentang pelunasan bea meterai dengan menggunakan cara lain Keputusan Menteri Keuangan Nomor 133c/KMK.04/2000' /peraturan/133/KMK.04/2000 tentang bentuk.

menyerahkan. menyediakan untuk dijual atau dimasukkan ke negara Indonesia meterai yang mereknya. mempertimbangkan atau menyimpan dokumen yang bea meterainya tidak atau kurang dibayar. Dengan sengaja menyimpan dengan maksud untuk diedarkan atau memasukkan ke negara Indonesia meterai palsu. . juru sita. tandatangannya. yang dipalsukan atau yang dibuat dengan melawan hak.Pihak-pihak yang mendapat Ketentuan Khusus ( Pasal 11 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 ) adalah: Pejabat pemerintah. rangkapan atau petikan dari dokumen yang bea meterainya tidak atau kurang dibayar Memberikan keterangan atau catatan pada dokumen yang tidak atau kurang dibayar sesuai dengan tarif bea meterainya. hakim . panitera. Setiap pelanggaran terhadap ketentuan ini . dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan DALUARSA Pasal 12 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985: Kewajiban pemenuhan bea meterai dan denda administrasi yang terutang menurut Undang undang Bea Materai menjadi daluwarsa setelah lampau waktu 5 tahun sejak tanggal dokumen dibuat. tembusan. notaris dan pejabat umum lainnya yang masing-masing tengah berada dalam tugas dan jabatannya tidak dibenarkan: Menerima. capnya. atau tanda sahnya atau tanda waktunya telah dihilangkan seolah-olah meterai itu belum dipakai dan atau menyuruh orang lain menggunakannya dengan melawan hak. KETENTUAN PIDANA Pasal 13 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 Meniru atau memalsukan meterai tempel. menawarkan. kertas meterai atau meniru dan memalsukan tanda tangan yang perlu untuk mensahkan meterai. KETENTUAN PIDANA Yang sengaja menggunakan. Melekatkan dokumen yang bea meterainya tidak atau kurang dibayar sesuai dengan tarifnya pada dokumen lain yang berkaitan Membuat salinan. menjual.

00 maka tarif bea meterainya Rp 3.00 ( tiga ribu rupiah ) .00 4. Akta-akta notaris termasuk salinannya. surat pernyataan) yang dibuat dengan tujuan untuk digunakan sebagai alat pembuktian mengenai perbuatan.00 Objek dan Tarif Bea Materai 3.000.Menyimpan bahan-bahan atau perkakas-perkakas yang diketahuinya digunakan untuk melakukan salah satu kejahatan untuk meniru dan memalsukan benda meterai.000.000. Objek dan Tarif Bea Materai Pada hakekatnya objek untuk bea meterai adalah dokumen. Objek dan Tarif Bea Materai Pasal 2 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 jo. Ketentuan dalam pasal 14 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 mengenai ketentuan pidana menyebutkan bahwa akan dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 7 tahun ( tindak pidana kejahatan ) bagi barangsiapa yang dengan sengaja menggunakan cara lain pelunasan bea meterai atas dokumen tanpa izin menteri keuangan.00 atau harga nominal yang dinyatakan dalam mata uang asing : Yang menyebutkan penerimaan uang Yang menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan uang dalam rekening di bank Yang berisi pemberitahuan saldo rekening di bank Yang berisi pengakuan bahwa utang uang seluruhnya atau sebagian telah dilunasi atau diperhitungkan (b).00 tetapi tidak lebih dari Rp 1.00 2. Surat perjanjian dan surat-surat lainnya (antara lain: surat kuasa. kenyataan atau keadaan yang bersifat perdata. Apabila harga nominalnya lebih dari Rp 250. Akta yang dibuat PPAT termasuk rangkap-rangkapnya.000. Surat yang memuat jumlah uang lebih dari Rp 1.000. Peraturan Pemerintah Nomor 24 TAHUN 2000 mengatur tentang objek dan tarif bea meterai. surat hibah. Tarif bea meterai untuk dokumen jenis ini adalah Rp 6. Tarif bea meterai untuk dokumen jenis ini adalah Rp 6. Dalam hal ini bentuk dokumen yang menjadi objek dari bea meterai adalah sebagai berikut: 1.000. ‡ (a).000.000.000. Tarif bea meterai untuk dokumen jenis ini adalah Rp 6.

pesiun. Apabila harga nominalnya tidak lebih dari Rp 250.00 maka tarif bea meterainya adalah Rp 6.00 tetapi tidak lebih dari Rp 1. maka tarif bea meterai untuk cek dan bilyet giro ditetapkan sebesar Rp 3.000.000.00 maka tidak terutang bea meterai. Segala bentuk ijazah. yang akan digunakan sebagai alat pembuktian di muka pengadilan.000. Namun apabila harga nominalnya lebih dari Rp 250.00. konosemen. Tarif bea meterai untuk dokumen ini Rp 6.000. bukti untuk pengiriman dan penerimaan barang.000.000.000.000. Namun apabila harga nominalnya lebih dari Rp 250. Apabila harga nominalnya tidak lebih dari Rp 250. 8. Surat-surat biasa dan surat-surat kerumahtanggaan serta surat-surat yang semula tidak dikenakan bea meterai berdasarkan tujuannya.000.00 ( tiga ribu rupiah ). Objek dan Tarif Bea Materai 7.00 tanpa batas pengenaan besarnya harga nominal.000.00 ( enam ribu rupiah ). surat angkutan penumpang dan barang. promes dan aksep yang harga nominalnya lebih dari Rp 1. uang tunggu. Dokumen-dokumen tersebut adalah sebagai berikut : Dokumen yang berupa surat penyimpanan barang . surat pengiriman barang untuk dijual atas tanggungan pengirim dan surat-surat sejenis lainnya.00.00 tidak terutang bea meterai. Tanda terima gaji. Tarif bea meterai yang dikenakan sebesar Rp 6. sepanjang harga nominalnya lebih dari Rp 1. Efek dengan nama dan dalam bentuk apapun. Objek yang dikecualikan . keterangan pemindahan yang dituliskan pada ketiga surat tersebut.00 ( tiga ribu rupiah ).00 ( enam ribu rupiah ).000.(c).000. Surat berharga seperti wesel .00 tarif bea meterainya Rp 3.000. Apabila harga nominalnya tidak lebih dari Rp 250. jika digunakan untuk tujuan lain atau digunakan oleh orang lain.00 tetapi tidak lebih dari Rp 1. Objek dan Tarif Bea Materai 5.000. uang tunjangan dan pembayaran lainnya yang kaitannya dengan hubungan kerja serta surat-surat yang diserahkan untuk mendapatkan pembayaran itu. 6. Berdasarkan bunyi pasal 3 Peraturan Pemerintah Nomor 24 TAHUN 2000 . lain dari maksud semula .000.000.000. Tarif ini berlaku efektif per 1 Mei 2000 Objek yang dikecualikan Pasal 4 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 mengatur tentang dokumen-dokumen yang bukan termasuk objek bea meterai.00 maka tarif bea meterainya Rp 3000.000.00 maka tidak terutang bea meterai.

Saat terutangnya bea meterai adalah pada saat dokumen tersebut selesai dibuat. Dokumen yang Tidak Terutang Bea Meterai Surat yang memuat jumlah uang. promes.Tanda bukti penerimaan uang negara dari kas negara dan kas pemerintah daerah. dan aksep yang mempunyai harga nominal sampai dengan Rp 250.000. yaitu: Menyebutkan penerimaan uang. Berisi pengakuan bahwa hutang uang seluruhnya atau sebagiannya telah dilunasi atau diperhitungkan. yang ditutup dengan tandatangan dari pihak-pihak yang bersangkutan.000. Tanda penerimaan uang yang dibuat untuk keperluan intern oganisasi. Menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan uang dalam rekening di bank. kas pemerintah. koperasi dan badan-badan lainnya yang bergerak di bidang tersebut. Surat gadai yang diberikan oleh perusahaan umum pegadaian. Tanda pembagian keuntungan atau bunga dari efek.00 Saat dan Pihak yang berutang Saat terutang bea meterai adalah sebagai berikut : Dokumen yang dibuat oleh satu pihak. yang mempunyai harga nominal sampai dengan Rp 250. dengan nama dan dalam bentuk apa pun. . Dokumen yang dibuat di luar negeri. misalnya cek. Dokumen yang dibuat oleh lebih dari satu pihak. Berisi pemberitahuan saldo rekening di bank. Saat terutangnya bea meterai atas dokumen yang dibuat oleh satu pihak adalah pada saat dokumen diserahkan kepada pihak untuk siapa dokumen itu dibuat. Kuitansi untuk semua jenis pajak dan untuk penerimaan lainnya yang dapat disamakan dengan itu dari kas negara. Dokumen yang menyebutkan tabungan pembayaran uang. uang tabungan kepada penabung oleh bank.00 Surat berharga seperti wesel.

Bea meterai terutang oleh pihak yang menerima atau pihak yang mendapat manfaat dari dokumen.KEP .04/2000 . Pihak yang terutang bea meterai.5/2001 Jo SE .122b/PJ. Dengan menggunakan benda meterai yaitu meterai tempel dan kertas meterai. 2./2000 Jo SE . Cara Pelunasan Pasal 7 ayat (2) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 mengatur tata cara pelunasan bea meterai. TATA CARA PELUNASAN BEA METERAI DENGAN TEKNOLOGI PERCETAKAN Dasar Hukum : . dan efek dengan nama dan dalam bentuk apapun.04/PJ.07/PJ.5/2001 Jo SE . yaitu : Tata Cara Pelunasan Bea Meterai dengan menggunakan Mesin Teraan Meterai Dasar Hukum : .04/2000 .Saat terutangnya bea meterai adalah pada saat dokumen tersebut digunakan di Indonesia. Cara pelunasan bea meterai dengan cara lain yang ditetapkan menteri keuangan.KEP . bilyet giro.122c/PJ.133b/KMK.28/PJ./2000 Jo SE .28/PJ.5/2001 TATA CARA PELUNASAN BEA METERAI DENGAN TEKNOLOGI PERCETAKAN Tata Cara Pelunasan Bea Meterai dengan Teknologi Percetakan Pelunasan Bea Meterai dengan teknologi percetakan hanya digunakan untuk dokumen yang berbentuk cek. kecuali pihak-pihak yang bersangkutan menentukan lain. Pada dasarnya pelunasan bea meterai dapat ditempuh dengan dua cara yaitu : 1.5/2001 Tata Cara Pelunasan Bea Meterai dengan menggunakan Mesin Teraan Meterai Pelunasan Bea Meterai dengan menggunakan Mesin Teraan Meterai diperbolehkan bagi penerbit dokumen yang melakukan pemeteraian dengan jumlah rata-rata setiap hari minimal 50 dokumen.133b/KMK. .

PT Graficindo Megah Utama. Penerbit dokumen yang melakukan pelunasan Bea Meterai dengan teknologi percetakan harus mengajukan permohonan ijin tertulis kepada Dirjen Pajak dengan mencantumkan jenis dokumen yang akan dilunasi Bea Meterai dan jumlah Bea Meterai yang telah dibayar. bilyet giro. dan efek yang belum digunakan dapat dialihkan untuk pengisian deposit mesin teraan meterai atau untuk pembubuhan tanda Bea Meterai dengan cara lainnya. PT Swadharma Eragrafindo Sarana. bilyet giro. Bea Meterai yang telah dibayar atas tanda Bea Meterai Lunas yang tercetak pada cek. bilyet giro. Penerbit dokumen yang akan mengalihkan Bea Meterai harus mengajukan permohonan secara tertulis kepada Dirjen Pajak dengan mencantumkan alasan dan jumlah Bea Meterai yang akan dialihkan. harus menyampaikan laporan bulanan kepada Dirjen Pajak paling lambat tanggal 10 setiap bulan. PT Sandipala Arthaputra. atau efek. dan efek yang tanda lunasnya dibubuhkan sejak tanggal 1 Mei 2000 harus dilunasi dengan menggunakan mesin teraan meterai atau dengan meterai tempel ditambah denda administrasi sebesar 200% dari Bea Meterai kurang bayar (Lihat Pasal 9 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985) . dan efek yang tanda Bea Meterai Lunasnya dibubuhkan sebelum tanggal 1 Mei 2000 harus dilunasi dengan menggunakan mesin teraan meterai atau meterai tempel. TATA CARA PELUNASAN BEA METERAI DENGAN TEKNOLOGI PERCETAKAN Penerbit dokumen yang akan melakukan pelunasan Bea Meterai dengan teknologi percetakan harus melakukan pembayaran Bea Meterai di muka sebesar jumlah dokumen yang harus dilunasi Bea Meterai. dengan menggunakan SSP ke Kas Negara melalui Bank Persepsi. bilyet giro.Perusahaan yang ditunjuk oleh Dirjen Pajak untuk melaksanakan pembubuhan tanda Bea Meterai lunas adalah Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (PERURI) dan/atau perusahaan sekuriti yang memperoleh ijin dari Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu (BOTASUPAL) yang ditunjuk oleh Bank Indonesia. PT Jasuindo Tiga Perkasa. Bea Meterai kurang bayar atas cek. PT Karsa Wira Utama. TATA CARA PELUNASAN BEA METERAI DENGAN TEKNOLOGI PERCETAKAN Surat ijin dikeluarkan oleh Dirjen pajak dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari sejak permohonan diterima secara lengkap. Perum PERURI dan perusahaan sekuriti yang melakukan pembubuhan tanda Bea Meterai Lunas pada cek.yaitu : PT Wahyu Abadi. TATA CARA PELUNASAN BEA METERAI DENGAN TEKNOLOGI PERCETAKAN Bea Meterai kurang bayar atas cek.

harus mengajukan permohonan ijin baru. Penerbit dokumen yang menggunakan sistem komputerisasi harus mengajukan ijin tertulis kepada Dirjen Pajak dengan mencantumkan jenis dokumen dan perkiraan jumlah rata-rata dokumen yang akan dilunasi Bea Meterai setiap hari. Ijin pelunasan Bea Meterai dengan sistem komputerisasi berlaku selama saldo Bea Meterai yang telah dibayar pada saat mengajukan ijin masih mencukupi kebutuhan pemeteraian 1 (satu) bulan berikutnya.05/2001 TATA CARA PELUNASAN BEA METERAI DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM KOMPUTERISASI Tata Cara Pelunasan Bea Meterai dengan menggunakan Sistem Komputerisasi Pelunasan Bea Meterai dengan sistem komputerisasi digunakan untuk dokumen yang berbentuk surat yang memuat jumlah uang dengan jumlah rata-rata pemeteraian setiap hari minimal 100 dokumen.133b/KMK.122d/PJ. .KEP ./2000 Jo SE . TATA CARA PELUNASAN BEA METERAI DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM KOMPUTERISASI Penerbit dokumen yang memperoleh ijin pelunasan Bea Meterai dengan sistem komputerisasi harus menyampaikan laporan bulanan tentang realisasi penggunaan dan saldo Bea Meterai kepada Dirjen Pajak paling lambat tanggal 15 setiap bulan. Penerbit dokumen yang menggunakan sistem komputerisasi harus membayar Bea Meterai di muka minimal sebesar perkiraan jumlah dokumen yang harus dilunasi Bea Meterai setiap bulan. Bea Meterai yang belum digunakan karena sesuatu hal. atau pencetakan Bea Meterai Lunas dengan teknologi percetakan.04/2000 . TATA CARA PELUNASAN BEA METERAI DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM KOMPUTERISASI Penerbit dokumen yang saldo Bea Meterainya kurang dari estimasi kebutuhan satu bulan. dapat dialihkan untuk pengisian deposit mesin teraan meterai. dengan menggunakan SSP ke Kas Negara melalui Bank Persepsi.TATA CARA PELUNASAN BEA METERAI DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM KOMPUTERISASI Dasar Hukum : . dengan terlebih dahulu membayar uang muka minimal sebesar kekurangan yang harus dipenuhi untuk kebutuhan 1 (satu) bulan.05/PJ.

Penerbit dokumen yang melakukan pengalihan Bea Meterai harus mengajukan permohonan secara tertulis kepada Dirjen Pajak dengan mencantumkan alasan dan jumlah Bea Meterai yang dialihkan.03/2002) Objek Pemeteraian Kemudian Mekanisme Pemeteraian Kemudian Besarnya Pelunasan Bea Meterai Dengan Cara Pemeteraian Kemudian Sanksi yang diberikan atas Pemeteraian Kemudian PELUNASAN BEA METERAI DENGAN PEMETERAIAN KEMUDIAN Objek Pemeteraian Kemudian Dokumen yang semula tidak terutang Bea Meterai namun akan digunakan sebagai alat pembuktian di muka pengadilan Dokumen yang Bea Meterainya tidak atau kurang dilunasi sebaimana mestinya Dokumen yang dibuat di luar negeri yang akan digunakan di Indonesia PELUNASAN BEA METERAI DENGAN PEMETERAIAN KEMUDIAN Mekanisme Pemeteraian Kemudian Pemeteraian kemudian dilakukan oleh pemegang dokumen dengan menggunakan meterai tempel atau SSP yang telah disahkan oleh Pejabat Pos Lembar ke-1 (satu) dan ke-3 (ketiga) SSP dilampiri dengan daftar dokumen yang dimeteraikan kemudian yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan Pengesahan atas pemeteraian kemudian dilakukan setelah pemegang dokumen membayar denda PELUNASAN BEA METERAI DENGAN PEMETERAIAN KEMUDIAN Besarnya Pelunasan Bea Meterai Dengan Cara Pemeteraian Kemudian . PELUNASAN BEA METERAI DENGAN PEMETERAIAN KEMUDIAN Dasar Hukum: (476/KMK.

Atas dokumen yang semula tidak terutang Bea Meterai namun akan digunakan sebagai alat bukti di pengadilan adalah sebesar Bea Meterai yang terutang sesuai dengan peraturan yang berlaku pada saat pemeteraian kemudian Atas dokumen yang tidak atau kurang dilunasi adalah sebesar Bea Meterai yang terutang Atas dokumen yang dibuat di luar negeri yang akan digunakan di Indonesia adalah sebesar Bea Meterai yang terutang sesuai dengan peraturan yang berlaku pada saat pemeteraian kemudian PELUNASAN BEA METERAI DENGAN PEMETERAIAN KEMUDIAN Sanksi yang diberikan atas Pemeteraian Kemudian Denda sebesar 200% (dua ratus persen) dari Bea Meterai yang tidak atau kurang dilunasi untuk point 1d Denda sebesar 200% (dua ratus persen) dari Bea Meterai terutang untuk point 1c apabila pemeteraian kemudian dilakukan setelah dokumen digunakan TATA CARA PEMETERAIAN KEMUDIAN DENGAN METERAI TEMPEL Dasar Hukum : Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor 476/KMK.02/PJ.03/2002. Pemegang dokumen yang Bea Meterainya tidak atau kurang dilunasi dikenakan denda administrasi sebesar 200% dari Bea Meterai yang tidak atau kurang dilunasi dengan menggunakan SSP kode MAP 0174./2003 Surat Edaran Nomor SE . Pemegang dokumen melunasi Bea Meterai yang terutang atas dokumen yang dimeteraikan kemudian sesuai dengan SKMK Nomor 476/KMK.03/2002 Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP . Dokumen yang telah dimeteraikan kemudian dan SSP dicap TELAH DIMETERAIKAN KEMUDIAN SESUAI UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 1985 Jo .01/PJ.53/2003 TATA CARA PEMETERAIAN KEMUDIAN DENGAN METERAI TEMPEL Tata Cara Pemeteraian Kemudian Dengan Meterai Tempel Pemegang dokumen membawa dokumen ke Kantor Pos terdekat.

03/2002./2003 Surat Edaran Nomor SE .476/KMK. TATA CARA PEMETERAIAN KEMUDIAN DENGAN SURAT SETORAN PAJAK Dasar Hukum : Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor 476/KMK.03/2002 oleh Pejabat Pos disertai dengan tanda tangan. nama dan nomor pegawai Pejabat Pos bersangkutan. Pemegang dokumen yang Bea Meterainya tidak atau kurang dilunasi dikenakan denda administrasi sebesar 200% dari Bea Meterai yang tidak atau kurang dilunasi dengan menggunakan SSP terpisah dengan SSP yang digunakan untuk memeteraikan kemudian. Denda Administrasi Pasal 8 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 . nama dan nomor pegawai Pejabat Pos bersangkutan.53/2003 TATA CARA PEMETERAIAN KEMUDIAN DENGAN SURAT SETORAN PAJAK Tata Cara Pemeteraian Kemudian Dengan Surat Setoran Pajak (SSP) Membuat daftar dokumen yang akan dimeteraikan kemudian. TATA CARA PEMETERAIAN KEMUDIAN DENGAN SURAT SETORAN PAJAK Cara Pengisian SSP sbb : SSP yang digunakan untuk melunasi pemeteraian kemudian diisi dengan Kode Jenis Pajak (MAP) 0171 SSP yang digunakan untuk membayar denda administrasi diisi dengan Kode Jenis Pajak (MAP) 0174 Daftar Dokumen yang telah dimeteraikan kemudian dan SSP yang digunakan untuk membayar pemeteraian kemudian dicap TELAH DIMETERAIKAN KEMUDIAN SESUAI UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 1985 Jo 476/KMK.03/2002 oleh Pejabat Pos disertai dengan tanda tangan. Membayar Bea Meterai terutang berdasarkan Pasal 4 SKMK Nomor 476/KMK.03/2002 Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP .02/PJ.01/PJ.

pemeteraian kemudian dilakukan pula terhadap : Dokumen yang akan digunakan sebagai alat pembuktian di muka pengadilan Dokumen yang bea meterainya tidak atau kurang dilunasi ditambah denda .Dokumen yang terutang bea meterai tetapi bea meterainya tidak atau kurang dilunasi sebagaimana mestinya dikenakan denda sebesar 200% dari bea meterai yang tidak atau kurang di bayar Pelunasan bea meterai yang terutang berikut dendanya dilakukan dengan cara pemeteraian kemudian BEA METERAI ATAS DOKUMEN YANG DIBUAT DI LUAR NEGERI (Pasal 9 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985) Dokumen yang dibuat di Luar Negeri pada saat akan digunakan di Indonesia harus telah dilunasi dengan cara pemeteraian kemudian. Selain itu. sesuai dengan bunyi pasal 10 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful