1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang .

Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan

diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu, bayi dan balita (Depkes, 2006). Partisipasi masyarakat dalam pemanfaatan posyandu

ditunjukan dengan tingginya jumlah kunjungan balita yang datang dan ditimbang berat badannya sekurang ± kurangnya satu kali dalam sebulan berdasarkan jumlah seluruh balita yang menjadi tanggung jawab pelayanan disuatu wilayah posyandu Wiyono, 2009. Pelayanan kesehatan yang ada di posyandu meliputi Pelayanan pemantauan pertumbuhan berat badan balita, Djoko

Pelayanan Imunisasi, Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak, Pencegahan dan penanggulangan Diare (Arali, 2008). Sedangkan sasaran posyandu yaitu Pasangan Usia Subur, Ibu Hamil, Ibu Menyusui, Bayi dan Balita (Shakira, 2009).

2

Ibu yang tidak menimbang balitanya ke Posyandu dapat menyebabkan tidak terpantaunya pertumbuhan dan perkembangan balita. Balita yang tidak ditimbang berturut -turut beresiko keadaan gizinya memburuk sehingga mengalami gangguan pertumbuhan (Depkes RI, 2006). hasil Riskesdas tahun 2007 menunjukan secara nasional cakupan penimbangan balita (anak yang pernah ditimbang di posyandu sekurang±kurangnya satu kali selama sebulang terakhir) di posyandu sebesar74,5%. Frekuensi kunjungan balita ke posyandu semakin berkurang dengan semakin meningkatnya umur anak. Sebagai gambaran proporsi anak umur 6 ± 11 bulan yang ditimbang di posyandu 91,3%, pada anak usia 12 ± 23 bulan turun menjadi83,6%, dan pada usia 24 ± 35 bulan turun menjadi 73,3%. Berdasarkan laporan dari dinas kesehatan provinsi tahun 2009 cakupan penimbangan balita di posyandu sebesar 63,9%. Masalah yang berkaitan dengan kunjungan posyandu antara lain : dana operasional dan sarana prasarana untuk menggerakkan kegiatan posyandu; tingkat pengetahuan kader dan kemampuan petugas dalam pemantauan pertumbuhan dan konseling; tingkat

pemahaman keluarga dan masyarakat akan manfaat posyandu; serta pelaksanaan pembinaan kader . Hasil Riskesdas tahun 2007 menunjukan bahwa alasan utama rumah tangga tidak memanfaatkan posyandu walaupun

3

sebenarnya membutuhkan adalah karena; pelayanan tidak lengkap (49,6%), lokasinya jauh (26%), dan tidak tersedianya posyandu (24%) (Sistem Kesehatan Nasional, 2009).

Tabel 1 Data D/S posyandu provinsi Kalimantan Timur Tahun 2008, 2009 dan 2010
Tahun 2008 2009 2010 D 171.532 175.361 166.244 S 312.546 327.393 429.883 Persentase 54.9 % 53.56% 38.7 % Target 90 % 90 % 90 %

Sumber : Dinkes Provinsi Kaltim, 2011 Keterangan : D : Jumlah balita yang datang dan di timbang berat badannya setiap bulan. S : Jumlah seluruh balita di suatu wilayah posyandu.

Tabel 2 Data D/S posyandu kabupaten Kutai kartanegara Tahun 2008, 2009 dan 2010
Tahun 2008 2009 2010 D 28.767 26.295 26.643 S 61.661 62.620 61.723 Persentase 46.7 % 41.99 % 48.03 % Target 80 % 80 % 80 %

Sumber : Dinkes kabupaten Kutai Kartanegara , 2011 Keterangan : D : Jumlah balita yang datang dan di timbang berat badannya setiap bulan. S : Jumlah seluruh balita di suatu wilayah posyandu.

4

Tabel 3 Data D/S posyandu Puskesmas Kecamatan Muara Kaman Tahun 2008, 2009 dan 2010
ahun 2008 2009 2010 D 1.273 1.921 1.510 S 3.608 3.828 3.828 Persentase 35.3 % 50.2 % 39.4 % Target 70 % 70 % 70 %

Sumber : bagian gizi Puskesmas Muara Kaman, 2011 Keterangan : D : Jumlah balita yang datang dan di timbang berat badannya setiap bulan. S : Jumlah seluruh balita di suatu wilayah posyandu.

Tabel 4 Data D/S posyandu desa Sedulang kecamatan Muara Ka man Tahun 2008, 2009 dan 2010
Tahun 2008 2009 2010 D 71 60 71 S 146 158 173 Persentase 48.6 % 37.9 % 41 % Target % % %

Sumber : Posyandu desa Sedulang, 2011 Keterangan : D : Jumlah balita yang datang dan di timbang berat badannya setiap bulan. S : Jumlah seluruh balita di suatu wilayah posyandu.

Menurut Lawrence Green (Notoatmodjo, 200 7) ada tiga faktor yang memberi kontribusi seseorang melakukan tindakan atau prilaku yaitu faktor Predisposisi, misalnya pengetahuan ibu,

5

pekerjaan ibu dan jumlah balita dalam keluarga, pendidikan ibu. Faktor pendukung, misalnya jarak posyandu, sumber waktu daya,

penyelenggaraan

posyandu,

ketersediaan

keterjangkauan sumber daya, motivasi. Fa ktor penguat misalnya keluarga, kelompok, tokoh masyarakat. Dari data diatas secara umum terlihat adanya tren

penurunan kunjungan balita ke posyandu dari tahun 2008 hingga tahun 2010 walaupun berbanding terbalik ter hadap peningkatan jumlah sasaran balita. Desa Sedulang Kecamatan Muara Kaman merupakan desa terpencil dengan jarak tempuh sekitar 2 -3 jam perjalanan baik melalui darat maupun sungai. Di desa ini terdapat satu buah posyandu dengan tipe pratama dan jumlah kader aktif sekitar 4 orang yang dibina oleh satu orang tenaga kesehatan yang berada di puskesmas pembantu didesa tersebut . Rata-rata pendidikan masyarakat didesa Sedulang adalah menengah kebawah dan tidak sekolah, selain itu pendidikan dan promosi kesehatan tentang posyandu hampir tidak pernah dilakukan. Faktor -faktor lain seperti jadwal pelaksanaan kegiatan posyandu serta jauhnya jarak ke posyandu memungkinkan penyebab rendahnya partisipasi

masyarakat terhadap pelayanan di posyandu di desa Sedulang kecamatan Muara Kaman. Hal ini ditunjukan oleh rendahnya jumlah balita yang berkunjung ke posyandu dan ditimbang berat badannya

6

minimal satu kali dalam sebulan yang berbanding terbalik dengan jumlah seluruh sasaran yang menjadi tanggung jawab pelayanan di suatu wilayah posyandu (tabel 4). Sehingga hal inilah yang mendorong peneliti untuk menggali lebih mendalam tentang faktor faktor yang berhubungan dengan perilaku ibu balita umur 0 -5 tahun yang tidak membawa balitanya ke posyandu.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut diatas dapat maka Rumusan Masalah yang dibuat adalah : 1. Bagaimana Pengetahuan ibu terhadap posyandu Sedulang kecamatan Muara Kaman. 2. Bagaimana Sikap ibu terhadap posyandu di desa Sedulang kecamatan Muara Kaman. 3. Bagaimana Motivasi ibu terhadap posyandu di desa Sedulang kecamatan Muara Kaman. 4. Bagaimana Akses ibu terhadap posyandu di desa Sedulang kecamatan Muara Kaman. di desa

7

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum Untuk mengetahui atau menggali informasi tentang faktor ± faktor yang berhubungan dengan prilaku Ibu balita umur 0 -5 tahun yang tidak membawa Balitanya ke Posyandu. 2. Tujuan Khusus Tujuan Khusus dari penelilitian ini adalah : a. Menggali informasi tentang pengetahuan ibu terhadap pelayanan, kegiatan, tujuan, sasaran, alur pelayanan, strata dan kepemilikan posyandu. b. Menggali informasi tentang sikap ibu yang berkaitan dengan kepercayaan atau keyakinan, dan pendapat tentang kader posyandu/ petugas kesehatan serta akibat terhadap balita jika tidak dibawa ke posyandu. c. Menggali informasi tentang motivasi ibu yang berkaitan dengan arti posyandu bagi ibu balita, penyebab ibu yang tidak membawa balitanya ke posyandu dan faktor dukungan/ dorongan bagi ibu untuk membawa balitanya ke posyandu. d. Menggali informasi tentang akses yang berkaitan dengan jarak dan keterjangkauan ibu terhadap sarana dan

pelayanan di posyandu.

8

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Puskesmas Manfaat penelitian bagi Pelayana n Kesehatan adalah sebagai bahan masukan dalam penyusunan dan pengembangan serta peningkatan program di Posyandu. 2. Bagi Institusi Pendidikan Manfaat penelitian bagi Perguruan Tinggi adalah sebagai dasar/ acuan bagi Peningkatan, Penyusunan dan Pengembangan Kurikulum dan Keahlian yang peka terhadap kebutuhan lapangan/ pasar serta sebagai Advokator, promotor, motivator sekaligus sebagai Evaluator penerapan keilmuan ditingkat pengambil/ pembuat kebijakan. 3. Bagi Mahasiswa Manfaat Penelitian bagi Mahasiswa adalah sebagai acuan pengalaman keilmuan dan keahlian dalam melakukan penelitian terhadap berbagai macam kesenjangan/ permasalahan yang terjadi dibidang kesehatan.

9

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN

A. Tinjauan Teori 1. POSYANDU 1.1 Pengertian

Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber daya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan selenggarakan dari, oleh , untuk dan bersama masyarakat kesehatan, memperoleh dalam guna penyelengaraan pembangunan dalam untuk

memberdayakan

masyarakat dasar

pelayanan

kesehatan

mempercepat angka kematian Ibu, Balita dan Bayi (Depkes RI, 2006). Surat Edaran Mendagri dan Otonomi daerah dalam Djoko Wiyono, 2009 Posyandu adalah unit pelayanan kesehatan dasar (termasuk pelayanan pemenuhan gizi dan KB) terutama ditujukan untuk para ibu dan anak Balita, yang pengelolaannya dilakukan dengan prinsip dari, oleh untuk dan bersama masyarakat dengan dukungan teknis petuga s puskesmas dan instansi pemerintah lainnya (Depkes,

Dpdagri, BKKBN, dan PKK) serta dapat difasilitasi unsur LSM maupun unsure swasta atau dunia usaha yang

10

mempunyai misi dan minat terhadap pelayanan kesehatan ibu dan anak.

1.2 Tujuan Posyandu

a. Tujuan Umum Adalah menunjang penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia melalui pemberdayaan masyarakat. b. Tujuan Khusus : 1). Meningkatnya peran masysarakat dalam

penyelenggaran upaya kesehatan dasar, terutama yang berkaitan denganAKB dan AKI. 2). Meningkatnya peran lintas sector dalam

penyelenggaraan posyandu, terutama berkaitan dengan penurunan AKB dan AKI. 3). Meningkatnya cakupan dan jangkauan pelayanan kesehatan dasar, terutama yang berkaitan dengan AKB dan AKI (Depkes RI, 2006).

1.3 Sasaran Posyandu

Sasaran posyandu adalah seluruh masyarakat, utamanya : a. Bayi b. Balita

11

c. Ibu Hamil, Ibu Melahirkan, Ibu Menyusui dan Ibu Nifas d. Pasangan usia subur (Depkes RI, 2006). Balita merupakan kelompok umur rawan gizi. Kelompok ini merupakan umur yang paling menderita akibat gizi (KKP) dan jumlahnya dalam populasi besar. Beberapa kondisi yang menyebabkan anak balita rawan gizi dan rawan kesehat an antara lain sebagai berikut: a. Anak balita berada dalam masa transisi dari makan bayi ke makanan orang dewasa. b. Biasanya anak balita ini sudah mempunyai adik atau ibunya sudah bekerja sehingga perhatian ibu sudah berkurang c. Anak balita sudah main ditanah dan sudah dapat main diluar rumah sendiri sehingga terpapar dengan

lingkungan yang kotor dan kondisi yang me mungkinkan untuk terinfeksi dengan berbagai macam penyakit d. Adanya posyandu yang sasaran utamanya adalah anak balita adalah sangat tepat untuk meningkatkan gizi dan kesehatan anak balita ( Soekidjo Notoatmodjo, 200 7).

12

1.4 Kegiatan Posyandu

a. Lima Kegiatan Posyandu ( Panca Krida Posyandu ), yaitu: KIA, KB, Imunisasi, Peningkatan gizi dan

Penanggulangan Diare ( Depkes RI, 2006) b. Tujuh Kegiatan Posyandu ( Sapta Krida Posyandu ), yaitu : KIA, KB, Imunisasi, Peningkatan Gizi, Penanggulangan Diare, Sanitasi Dasar, dan Penyediaan obat esensial (Nasrul Effendy, 1998).

1.5 Prinsip Dasar Posyandu

Pos Pelayanan Terpadu merupakan usaha masyarakat dimana terdapat perpaduan antara pelayanan professional (petugas kesehatan) dan non professional (masyarakat). a. Adanya kerjasama lintas program yang baik (KIA, KB, Gizi, Imunisasi, Penaggulangan Diare) maupun lintas sektoral (Depkes, Depdagri/Bangdes, dan BKKBN). b. Kelembagaan masyarakat (Pos Desa, Pos Tumbuh Kembang, Pos Imunisasi, Pos Kesehatan dam lain -lain). c. Mempunyai sasaran penduduk yang sama (Bayi 0-1 tahun, Balita 1-5 tahun, Ibu hamil, Ibu Melahirkan, Ibu Nifas, Ibu Menyusui dan PUS). d. Pendekatan yang dibutuhkan adalah pengembangan dan PKMD/PHC (Nasrul Effendy, 1998).

13

1.6 Sistem Pelayanan

Penyelenggaraan pelayanan di posyandu adalah dengan system lima meja, yaitu : a. Meja I : pendaftaran, pencatatan bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui dan PUS. b. Meja II : Penimbangan balita dan ibu hamil c. Meja III : Pengisian KMS d. Meja IV : penyuluhan peorangan e. Meja V : pelayanan oleh tena ga profesional, meliputi pemberian imunisasi, pemeriksaan kehamilan,

pemeriksaan kesehatan dan pengobatan , pelayanan kontrasepsi (Nasrul Effendy, 1998).

1.7 Klasifikasi Posyandu

Posyandu diklasifikasikan menjadi empat tingkatan, yaitu : a. Posyandu Pratama (Warna Merah) Pelaksanaan masih belum mantap, kegiatan belum bisa rutin tiap bulan dan kader aktifnya terbatas. Frekuensi penimbangan kurang dari delapan kali dalam setahun. Posyandu dinilai gawat. b. Posyandu Madya (Warna Kuning) Dapat melaksanakan kegiatan lebih dari delapan kali dalam setahun, jumlah kadernya kurang lebih 5 orang,

14

cakupan program utama yaitu KB, KIA, Gizi, Imunisasi masih rendah yaitu kurang dari 50%. c. Posyandu Purnama ( Warna Hijau) Dapat melaksanakan kegiatan lebih dari delapan kali dalam setahun, jumlah kader lima orang atau lebih, cakupan lima program utama lebih dari 50%, sudah ada program tambahan, bahkan mungkin sudah ada dana sehat yang mesih sederhana. d. Posyandu Mandiri (Warna Biru) Kegiatan teratur, cakupan lima program utama sudah baik, ada program tambahan, dan dana sehat telah menjangkau lebih dari 50 KK. Dana Sehat menggunakan prinsip Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM) serta mampu berswasembada (Depkes RI, 1997).

1.8 Pokok Kegiatan Posyandu

Dengan berpedoman pada dasar pemikiran UPGK, maka dapat ditetapkan pokok-pokok kegiatan posyandu sebagai berikut: a. Pengawasan Gizi Anak Balita Melalui penimbangan berat badan secara teratur dan terus menerus setiap bulan dengan menggunakan Kartu

15

Menuju Sehat (KMS). maka apabila anak ditimbang berat badannya secara teratur setiap bulan dan ika titik -titik yang menunjukan berat badan anak pada KMS

dihubungkan akan tergambar dengan apa yang disebut dengan Garis Pertumbuhan Anak. Garis pertumbuhan anak tersebut dapat dibandingkan dengan gar is

pertumbuhan tubuh baku yang tertera dalam KMS. Apabila berat badan angka sewaktu penimbangan tidak menunjukan kenaikan maka ini berarti anak tidak tumbuh yang berarti pula sebagai tanda awal tidak terpenuhinya kebutuhan gizi anak (Sjahmien Moehjie, 2002 ). b. Gangguan pertumbuhan dapat terjadi dalam waktu singkat dan dapat terjadi pula dalam waktu yang lama. Gangguan pertumbuhan dalam waktu singkat sering terjadi pada perubahan berat badan sebagai akibat menurunnya nafsu makan, sakit seperti diare infeksi saluran pernapasan atau karena kurangnya makanan yang dikonsumsi. Sedangkan gangguan pertumbuhan yanga berlangsung dalam waktu yanglama dapat terlihat pada hambatan pertumbuhan tinggi badan (Depkes RI, 2004).

16

c. Pemberian bimbingan dan nasehat kepada ibu sangat penting dalam usaha menumbuhkan perilaku gizi yang positif yang diperlukan dalam kegiatan posyandu. d. Pelayanan pertolongan penderita gizi diberikan gizi untuk terutama

menanggulangi

gangguan

penderita defisiensi Vitamin A, penderita Anemia gizi dan pencegahan terjadinya dehidrasi pada anak yang

menderita Diare. e. Motivasi dan pelayanan KB untuk menunjang kegiatan posyandu. f. Kegiatan Puskesmas rujukan penderita atau penyakit Rumah infeksi ke

terdekat

Sakit

sebagai

pelengkap kegiatan posyandu. g. Pemanfaatan mendorong pekarangan tumbuhnya guna membantu keluarga dan untuk

swadaya

perbaikan gizi (Sjahmian Moehjie, 2000).

1.9 Tujuan dan Sasaran Kegiatan Posyandu

Tujuan dari kegiatan posyandu adalah meningkatkan dan membina gizi seluruh anggota masyarakat melalui partisipasi dan pemerataan kegiatan, perubahan tingkah laku yang mendukung tercapainya perbaikan gizi, termasuk gizi anak balita. Sedangkan Sasaran dari diadakanya kegiatan

17

Posyandu adalah seluruh masyarakat dengan prioritas anak 0-5 tahun, wanita hamil, ibu menyusui, golongan pekereja terutama yang berpenghasilan rendah dan golongan penduduk di daerah rawan pangan (Suharjo, 2005).

2. Pemantauan

Partisipasi

Masyarakat

dan Pertumbuhan

Balita melalui posyandu.

Pemantauan partisipasi masyarakat melalui posyandu adalah dilakukan dengan melihat cakupan data D/S yaitu jumlah balita yang datang dan ditimbang berat badannya dibandingkan dengan jumlah seluruh balita yang menjadi tanggung jawab pelayanan di suatu wilayah atau posyandu. Setiap wilayah posyandu dapat mencakup dusun, desa atau suatu kelompok penduduk yang diharapkan dapat melayani 60 ± 100 balita. Dengan kata lain, jumlah posyandu dalam satu desa dapat ditentukan berdasarkan jumlah balita. Jika satu desa dengan jumlah penduduk 3000 orang (dengan proporsi rata ± rata balita sekitar 10 persen terhadap jumlah penduduk), maka jumlah posyandu balita pada desa dimaksud adalah 10% x 3000 = 300 anak, seharusnya desa tersebut

mempunyai 3 ± 5 posyandu. Sampai saat ini jumlah posyandu yang ada sekitar 240.000 tersebar di 60.000 desa seluruh wilayah Indonesia;

18

atau dapat diartikan hampir 90% dari seluruh desa yang ada sudah mempunyai posyandu. Akan tetapi pada kenyataannya posyandu yang ada masih di jumpai berbagai kelemahan, seperti : a. Tidak semua wilayah desa tercakup dalam wilayah

posyandu. b. Cakupan balita dalam posyandu relatif belum terpenuhi. c. Rendahnya jumlah balita yang secara rutin mengikuti penimbangan bulanan di posyandu. Oleh karena itu partisipasi masyarakat terhadap posyandu sangat berpengaruh terhadap upaya p emantauan pertumbuhan Balita mulai lahir sampai usia lima tahun dengan menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS). Dari hasil kegiatan bulanan d i posyandu dapat di perol eh informasi tentang; Jumlah seluruh balita yang menjadi wilayah posyandu (S),

tanggung jawab pelayanan di suatu

Jumlah seluruh balita yang mempunyai KMS (K), jumlah balita yang datang ke posyandu dan ditimbang berat badannya (D), jumlah balita yang ditimbang naik berat badannya (N), jumlah balita yang tidak di timbang bulan lalu (T), jumlah balita yang pertama kali ditimbang (B), dan jumlah balita yang berat badannya berada dibawah garis merah/ titik ± titik (BGM / BGT) serta informasi lainnya, seperti :

19

a. Jumlah balita yang ada dibedakan bayi (0 -12 bulan, anak balita (13-36 bulan) dan anak balita (37 -60 bulan). b. Jumlah anak balita (13-60 bulan) menerima kapsul vitamin A periode Februari dan Agustus. c. Jumlah ibu hamil yang mendapat tablet tambah darah (Fe). d. Jumlah vitaminA. Hal yang perlu diperhatikan dalam memantau pertumbuhan balita disuatu wilayah antara lain : a. Mengusahakan supaya balita rutin dating ke posyandu untuk ditimbang dan memberikan penyuluhan kepada orang tua dan pengasuh balita. b. Mengusahakan agar jumlah balita yang ditimbang mendekati angka S, sehingga gambaran yang dihasilkan merupakan situasi yang mewakili balita di wilayah tersebut. c. Perhitungan prosentase (%) N/D harus dilakukan pada anak yang datang dan diukur 2 bulan berturut -turut. Nilai D yang pakai adalah yang sudah dikoreksi dengan O (tidak ditimbang bulan lalu) dan B (baru ditimbang bulan ini) === D = D - O ± B. d. Meningkatkan mutu atau kualitas data melalui latihan penyegaran kader (LADER) dalam hal penimbangan dan ibu menyusui/nifas yang memperoleh kapsul

20

pengisian data BB ke dalam KMS, serta melakukan pemeriksaan ketelitian alat timbang (DACIN) e. Pemantaun hendaknya dilakukan secara teru menerus dan tepat waktu, sehingga bila terdapat masalah dapat diketahui secara cepat dan penanggulangannya dapat dilakukan dengan segera.

3. PERILAKU

Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain : berjalan, berbicara , menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca, dan sebagainya. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pi hak luar (Notoatmodjo, 2003). Menurut Skinner, seperti yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003), merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adany a stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut

merespons, maka teori Skinner ini disebut teori ³S -O-R´ atau Stimulus ± Organisme ± Respon.

21

Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat dibedaka n menjadi dua (Notoatmodjo, 2007) : a. Perilaku tertutup (covert behavior) Perilaku tertutup adalah respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup ( covert/Fasif). Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain. b. Perilaku terbuka (overt behavior) Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka (overt/aktif). Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek, yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain.

3.1 Perilaku Kesehatan

Perilaku kesehatan menurut Notoatmodjo ( 2007) adalah suatu respon seseorang (organisme) terhadap

stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit atau penyakit, sistim pelayanan kesehatan, makanan, dan

lingkungan. Batasan ini mempunyai 2 unsur pokok yaitu

22

Respon dan Simulus/rangsangan. Respon atau reaksi manusia berupa respon fasif /covert dan respon overt/aktif, sedangkan stimulus disini terdiri atas 4 unsur pokok, yakni Sakit, Penyakit, Sistem Pelayanan Kesehatan dan

kesehatan lingkungan. Dengan demikian Perilaku Kesehatan itu mencakup : a. Perilaku terhadap sakit dan Penyakit yaitu respon manusia baik Fasif (mengetahui, bersikap dan

mempersepsi penyakit dan rasa sakit yang ada pada dirinya dan diluar dirinya) maupun Aktif (tindakan) yang dilakukan sehubungan dengan sakit dan penyakit

tersebut. Perilaku terhadap sakit dan penyakit ini dengan sendirinya sesuai dengan tingkat-tingkat pencegahan penyakit, yakni : 1). Perilaku sehubungan dengan peningkatan dan pemeliharaan kesehatan (health promotion

behaviour), misalnya makan makanan bergizi, olah raga dan sebagainya. 2). Perilaku pencegahan penyakit (health prevention behaviour) merupakan respon untuk melakukan pencegahan penyakit, misalnya tidur menggunakan kelambu untuk mencegah penyakit malaria.

23

3). Perilaku sehubungan dengan pencarian pengobatan (health seeking dan behaviour) mencari yaitu respon untuk

melakukan

pengobatan,

misalnya

berusaha mengobati sendiri penyakitnya dan mencari pengobatan ke pelayanan kesehatan modern. 4). Perilaku sehubungan dengan pemulihan kesehatan (health rehabilitation behaviour) yaitu merupakan respon yang berhubungan dengan usaha -usaha pemulihan kesehatan setelah sembuh dari penyakit, misalnya mematuhi anjuran dokter dalam rangka pemulihan kesehatannya. b. Perilaku terhadap system pelayanan kesehatan

merupakan respon seseorang terhadap sistem pelayanan kesehatan modern maupun tradisional, hal ini

menyangkut respon terhadap fasilitas pelayanan, cara pelayanan, petugas kesehatan dan obat -obatannya yang tewujud dalam pengetahuan, persepsi, sikap dan

penggunaan fasilitasp pelayanan, petugas dan obat obatan. c. Perilaku terhadap respon makanan terhadap (nutrition makanan behaviour) sebagai

merupakan

kebutuhan vital bagi kehidupan, perilaku ini meliputi pengertahuan, persepsi, sikap dan praktik terhadap

24

makanan didalamnya

serta (zat

unsure-unsur gizi),

yang

terkandung dan

pengolahan

makanan,

sebagainya sehubungan kebutuhan tubuh kita. d. Perilaku terhadap kesehatan lingkungan environmental health behaviour) adalah respon sesesorang terhadap lingkungan sebagai determinan kesehatan manusia. Lingkup perilaku ini seluas lingkup kesehatan lingkungan itu sendiri.

3.2 Domain Perilaku

Menurut Bloom, seperti dikutip Notoatmodjo (2007 ), membagi perilaku itu didalam 3 domain (ranah/kawasan), meskipun kawasan-kawasan tersebut tidak mempunyai batasan yang jelas dan tegas. Pembagian kawasan ini dilakukan untuk kepentingan tujuan pendidikan, yaitu

mengembangkan atau meningkatkan ketiga domain perilaku tersebut, yang terdiri dari ranah kognitif ( kognitif domain), ranah affektif (affectife domain), dan ranah psikomotor (psicomotor domain). ketiga domain itu diukur dari: a. Pengetahuan (knowlegde) Pengetahuan adalah hasil dari ¶tahu¶, dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Tanpa pengetahuan seseorang

25

tidak mempunyai dasar untuk mengambil keputusan dan menentukan tindakan terhadap masalah yang dihadapi. Faktor-faktor seseorang : 1). Faktor Internal : faktor dari dalam diri sendiri, misalnya intelegensia, minat, kondisi fisik. 2). Faktor Eksternal : faktor dari luar diri, misalnya keluarga, masyarakat, sarana. 3). Faktor pendekatan belajar : faktor upaya belajar, misalnya strategi dan metode dalam pembelajaran. Ada enam tingkatan domain pengetahuan yaitu : 1). Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat kembali ( recall) terhadap suatu materi yang telah dipelajari yang mempengaruhi pengetahuan

sebelumnya. 2). Memahami (Comprehension) Suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat

menginterpretasikan materi tersebut secara benar. 3). Aplikasi Diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi yang sebenarnya

26

4). Analisis Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen -komponen tetapi masih dalam suatu struktur organisasi dan ada kaitannya dengan yang lain. 5). Sintesa Sintesa menunjukkan atau suatu kemampuan untuk

meletakkan

menghubungkan

bagian -bagian

dalam suatu bentuk keseluruhan baru. 6). Evaluasi Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melaksanakan justifikasi atau penilaian suatu materi / objek. b. Sikap (attitude) Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Allport (1954) menjelaskan bahwa sikap mempunyai tiga komponen pokok : 1). Kepercayaan (keyakinan), ide, konsep terhadap suatu objek 2). Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek 3). Kecenderungan untuk bertindak ( tend to behave) terhadap

27

Seperti halnya pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan : 1). Menerima (receiving) Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (obyek). 2). Merespon (responding) Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. 3). Menghargai (valuing) Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau

mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga. 4). Bertanggung jawab (responsible) Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko merupakan sikap yang paling tinggi. c. Praktik atau tindakan (practice) Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior). Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan yang nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan,

28

antara lain adalah fasilitas dan faktor dukungan ( support) praktik ini mempunyai beberapa tingkatan : 1). Persepsi (perception) Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil adalah

merupakan praktik tingkat pertama. 2). Respon terpimpin (guide response) Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh adalah merupakan indikator praktik tingkat kedua. 3). Mekanisme (mecanism) Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan, maka ia sudah

mancapai praktik tingkat tiga. 4) . Adopsi (adoption) Adaptasi adalah suatu praktik atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. Artinya tindakan itu sudah dimodifikasi tanpa meng urangi kebenaran tindakan tersebut.

Menurut penelitian Rogers (1974) s eperti dikutipNotoatmodjo (2007), mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi

29

perilaku baru didalam diri orang tersebut terjadi proses berurutan yakni : a. Kesadaran (awareness) Dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus ( objek)

b. Tertarik (interest) Dimana orang mulai tertarik pada stimulus, sikap subjek sudah mulai timbul. c. Evaluasi (evaluation) Menimbang-nimbang terhadap baik dan tidaknya

stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi. d. Mencoba (trial) Dimana orang telah mulai mencoba perilaku baru. e. Menerima (Adoption) Dimana subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, stimulus. kesadaran dan sikapnya te rhadap

3.3 Asumsi Determinan Perilaku

Menurut Spranger membagi kepribadian manusia menjadi 6 macam nilai kebudayaan. Kepribadian seseorang

30

ditentukan oleh salah satu nilai budaya yang dominan pada diri orang tersebut. Secara refleksi rinci dari perilaku manusia gejala

sebenarnya

merupakan

berbagai

kejiwaan seperti pengetahuan, keinginan, kehendak, minat, motivasi, persepsi, sikap dan sebagainya.

Namun demikian realitasnya sulit dibedakan atau dideteksi gejala kejiwaan tersebut dipengaruhi oleh fakto r lain diantaranya adalah pengalaman, keyakinan,

sarana/fasilitas, sosial budaya dan sebagainya.
4. MOTIVASI

Motif

seringkali diartikan dengan istilah dorongan.

Dorongan atau tenaga tersebut merupakan gerak jiwa dan jasmani untuk berbuat. Jadi motif tersebut merupakan suatu driving force yang menggerakkan manusia untuk bertingkah laku, dan di dalam perbuatanya itu mempunyai tujuan tertentu.Setiap tindakan yang dilakukan oleh manusia selalu di mulai dengan motivasi (niat). Berikut adalah beberapa definisi moto vasi menurut beberapa ahli : 1. Menurut Wexley & Yukl (dalam As¶ad, 1987) motivasi adalah pemberian atau penimbulan motif, dapat pula diartikan hal atau keadaan menjadi motif.

31

2. Menurut Mitchell (dalam Winardi, 2002) motivasi mewakili proses- proses psikologikal, yang menyebabkan timbulnya, diarahkanya, dan terjadinya persistensi kegiatan - kegiatan sukarela (volunter) yang diarahkan ke tujuan tertentu. 3. Menurut Gray (dalam Winardi, 2002) motivasi merupakan sejumlah proses, yang bersifat internal, atau eksternal b agi seorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi, dalam hal melaksanakan kegiatan- kegiatan tertentu. 4. Morgan mengemukakan bahwa motivasi bertalian dengan tiga hal yang sekaligus merupakan aspek- aspek dari motivasi. Ketiga hal tersebut adalah: keadaan yang

mendorong tingkah laku ( motivating states ), tingkah laku yang di dorong oleh keadaan tersebut ( motivated behavior ), dan tujuan dari pada tingkah laku tersebut ( goals or ends of such behavior ). 5. McDonald, Motivasi adalah suatu perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. (Mr. Donald : 1950). 6. Menurut Suprihanto (2003)Motivasi merupakan masalah kompleks dalam organisasi, karena kebutuhan dan

keinginan setiap anggota organisasi berbeda satu dengan

32

yang lainnya. Hal ini berbeda karena setiap anggota suatu organisasi adalah unik secara biologis mau pun psikologis, dan berkembang atas dasar proses belajar yang berbeda pula. 7. Soemanto (1987) secara umum mendefinisikan motivasi sebagai suatu perubahan tenaga yang ditandai oleh dorongan efektif dan reaksi- reaksi pencapaian tujuan. Karena kelakuan manusia itu selalu bertujuan, kita dapat menyimpulkan bahwa perubahan tenaga yang memberi kekuatan bagi tingkahlaku mencapai tujuan,telah terjadi di dalam diri seseorang. 8. Motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif -motif menjadi perbuatan / tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan / keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan. (Drs. Moh. Uzer Usman : 2000) 9. Motivasi adalah kekuatan tersembunyi di dalam diri kita yang mendorong kita untuk berkelakuan dan bertindak dengan cara yang khas (Davies, Ivor K : 1986) 10. Motivasi adalah usaha ± usaha untuk menyediakan kondisi ± kondisi sehingga anak itu mau melakukan sesuatu (Prof. Drs. Nasution : 1995)

33

11. Chung dan Megginson yang dikutip oleh Faustino Cardoso Gomes, menerangkan bahwa pengertian motivasi adalah tingkat usaha yang dilakukan oleh seseorang yang mengejar suatu tujuan dan berkaitan dengan kepuasan kerja dan perfoman pekerjaan. 12. T. Hani Handoko mengemukakan bahwa motivasi ada lah keadaan pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan tertentu guna mencapai tujuan. 13. A. Anwar Prabu Mangkunegara, memberikan pengertian motivasi dengan kondisi yang berpengaruh membangkitkan, mengarahkan dan memelihara prilaku yang berubungan dengan lingkungan kerja. 14. H. Hadari Nawawi mendefinisikan motivasi sebagai suatu keadaan yang mendorong atau menjadi sebab seseorang melakukan sesuatu perbuatan atau kegiatan yang

berlangsung secara sadar. 15. Henry Simamora, pengertian motivasi menurutnya adalah Sebuah fungsi dari pengharapan individu bahwa upaya tertentu akan menghasilkan tingkat kinerja yang pada gilirannya akan membuahkan imbalan atau hasil yang dikehendaki.

34

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah merupakan sejumlah proses- proses psikologikal, yang menyebabkan persistensi timbulnya, diarahkanya, sukarela dan terjadinya yang

kegiatan-

kegiatan

(volunter)

diarahkan ke tujuan tertentu, baik yang bersifat internal, atau eksternal bagi seorang individu, ya ng menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi.

A. TEORI MOTIVASI Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik). Seberapa kuat motivasi yang dimiliki individu akan banyak menentukan terhadap kualitas perilaku yang

ditampilkannya, baik dalam konteks belajar, bekerja m aupun dalam kehidupan lainnya.. Kajian tentang motivasi telah sejak lama memiliki daya tarik tersendiri bagi kalangan pendidik, manajer, dan peneliti, terutama dikaitkan dengan kepentingan upaya pencapaian kinerja (prestasi) seseorang. Dalam konteks studi psikologi, Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan bahwa untuk memahami motivasi individu dapat dilihat dari beberapa indikator, diantaranya:

35

1. durasi kegiatan 2. frekuensi kegiatan 3. persistensi pada kegiatan 4. ketabahan, keuletan dan kemampuan dalam

mengahadapi rintangan dan kesulitan 5. devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan 6. tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan 7. tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan 8. arah sikap terhadap sasaran kegiatan.

Untuk memahami tentang motivasi, kita akan bertemu dengan beberapa teori tentang motivasi, antara lain :

1. Teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan) Teori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham H. Maslow pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia

mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan, yaitu : a. kebutuhan fisiologikal (physiological needs), seperti : rasa lapar, haus, istirahat dan sex b. kebutuhan rasa aman (safety needs), tidak dalam arti fisik semata, akan tetapi juga mental, p sikologikal dan intelektual

36

c. kebutuhan akan kasih sayang (love needs) d. kebutuhan akan harga diri (esteem needs), yang pada umumnya status; dan e. aktualisasi diri (self actualization), dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata. tercermin dalam berbagai simbol-simbol

Kebutuhan-kebutuhan (fisiologis) dan kedua dengan

yang

disebut

pertama

(keamanan) cara lain,

kadang -kadang dengan

diklasifikasikan

misalnya

menggolongkannya sebagai kebutuhan primer, sedangkan yang lainnya dikenal pula dengan klasifikasi kebutuhan sekunder. Terlepas dari cara membuat klasifikasi kebutuhan manusia itu, yang jelas adalah bahwa sifat, jenis dan intensitas kebutuhan manusia berbeda satu orang dengan yang lainnya karena manusia merupakan individu yang unik. Juga jelas bahwa kebutuhan manusia itu tidak hanya bersifat materi, akan tetapi bersifat pskologikal, mental, intelektual dan bahkan juga spiritual. Menarik pula untuk dicatat bahwa de ngan makin banyaknya organisasi yang tumbuh dan berkembang di

37

masyarakat dan makin mendalamnya pemahaman tentang unsur manusia dalam kehidupan organisasional, teori ³klasik´ Maslow semakin dipergunakan, bahkan dikatakan mengalami tersebut ³koreksi´. Penyempurnaan pada a tau konsep ³koreksi´ ³hierarki

terutama

diarahkan

kebutuhan ³ yang dikemukakan oleh Maslow. Istilah ³hierarki´ dapat diartikan sebagai tingkatan. Atau secara analogi berarti anak tangga. Logikanya ialah bahwa menaiki suatu tangga berarti dimulai dengan anak tangga yang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Jika konsep tersebut diaplikasikan pada pemuasan kebutuhan manusia, berarti seseorang tidak akan berusaha memuaskan kebutuhan tingkat kedua,- dalam hal ini keamanan- sebelum kebutuhan tingkat pertama yaitu sandang, pangan, dan papan

terpenuhi; yang ketiga tidak akan diusahakan pemuasan sebelum seseorang merasa aman, demikian pula

seterusnya.

Berangkat dari kenyataan bahwa pemahaman tentang berbagai kebutuhan manusia makin mendalam

penyempurnaan dan ³koreksi´ dirasakan bukan hanya tepat, akan tetapi juga memang diperlukan karena pengalaman menunjukkan bahwa usaha pemuasan berbagai kebutuhan manusia berlangsung secara simultan. Artinya, sambil

38

memuaskan kebutuhan fisik, seseorang pada waktu yang bersamaan ingin menikmati rasa aman, merasa dihargai, memerlukan teman serta ingin berkembang.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa lebih tepat apabila berbagai kebutuhan manusia digolongkan sebagai rangkaian dan bukan sebagai hierarki. Dalam hubungan ini, perlu ditekankan bahwa :

a. Kebutuhan yang satu saat sudah terpenuhi sangat mungkin akan timbul lagi di waktu yang akan datang b. Pemuasaan berbagai kebutuha n tertentu, terutama

kebutuhan fisik, bisa bergeser dari pendekatan kuantitatif menjadi pendekatan kualitatif dalam pemuasannya. c. Berbagai kebutuhan tersebut tidak akan mencapai ³titik jenuh´ dalam arti tibanya suatu kondisi dalam mana seseorang tidak lagi dapat berbuat sesuatu dalam pemenuhan kebutuhan itu.

Kendati pemikiran Maslow tentang teori kebutuhan ini tampak lebih bersifat teoritis, namun telah memberikan fundasi dan mengilhami bagi pengembangan teori -teori motivasi yang berorientasi pada kebutuhan berikutnya yang lebih bersifat aplikatif.

39

2. Teori McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi) Dari McClelland dikenal tentang teori kebutuhan untuk mencapai prestasi atau Need for Acievement (N.Ach) yang menyatakan bahwa motivasi berbeda-beda, sesuai dengan kekuatan kebutuhan seseorang akan prestasi. Murray sebagaimana dikutip oleh Winardi merumuskan kebutuhan akan prestasi tersebut sebagai keinginan :³ Melaksanakan sesuatu tugas atau pekerjaan yang sulit. Menguasai, memanipulasi, atau mengorganisasi obyek -obyek fisik, manusia, atau ide-ide melaksanakan hal-hal tersebut

secepat mungkin dan seindependen mungkin, sesuai kondisi yang berlaku. Mengatasi kendala -kendala, mencapai standar tinggi. Mencapai performa puncak untuk diri sendiri. Mampu menang dalam persaingan dengan pihak lain. Meningkatkan kemampuan diri melalui penerapan bakat secara berhasil.´ Menurut McClelland karakteristik orang yang

berprestasi tinggi (high achievers) memi liki tiga ciri umum yaitu : a. sebuah preferensi untuk mengerjakan tugas-tugas

dengan derajat kesulitan moderat b. menyukai situasi-situasi di mana kinerja mereka timbul karena upaya-upaya mereka sendiri, dan bukan karena faktor-faktor lain, seperti kemujuran misalnya

40

c. menginginkan umpan balik tentang keberhasilan dan kegagalan mereka, dibandingkan dengan mereka yang berprestasi rendah. 3. Teori Clyton Alderfer (Teori ³ERG) Teori Alderfer dikenal dengan akronim ³ERG´ . Akronim ³ERG´ dalam teori Alderfer merupakan huruf -huruf pertama dari tiga istilah yaitu : E = Existence (kebutuhan akan eksistensi), R = Relatedness (kebutuhanuntuk

berhubungan dengan pihak lain, dan G = Growth (kebutuhan akan pertumbuhan) Jika makna tiga istilah tersebut didalami akan tampak dua hal penting. Pertama, secara konseptual terdapat persamaan antara teori atau model yang dikembangkan oleh Maslow dan Alderfer. Karena ³Existence´ dapat dikatakan identik dengan hierarki pertama dan kedua dalam teori Maslow; ³ Relatedness´ senada dengan hierarki kebutuhan ketiga dan keempat menurut konsep Maslow dan ³Growth´ mengandung makna sama dengan ³self actualization´ menurut Maslow. Kedua, teori Alderfer menekankan bahwa berbagai jenis kebutuhan manusia itu diusahakan

pemuasannya secara serentak. Apabila teori Alderfer disimak lebih lanjut akan tampak bahwa :

41

a. Makin tidak terpenuhinya suatu kebutuhan tertentu, makin besar pula keinginan untuk memuaskannya b. Kuatnya keinginan memuaskan kebutuhan yang ³lebih tinggi´ semakin besar apabila kebutuhan yang lebih rendah telah dipuaskan c. Sebaliknya, semakin sulit memuaskan kebutuhan yang tingkatnya lebih tinggi, semakin besar keinginan untuk memuasakan kebutuhan yang lebih mendasar.

Tampaknya

pandangan

ini

didasarkan

kepada

sifat

pragmatisme oleh manusia. Artinya, karena menyadari keterbatasannya, seseorang dapat menyesuaikan diri pada kondisi obyektif yang dihadapinya dengan antara lain memusatkan perhatiannya kepada hal-hal yang mungkin dicapainya.

4. Teori Herzberg (Teori Dua Faktor) Ilmuwan ketiga yang diakui telah memberikan

kontribusi penting dalam pemahaman motivasi Herzberg. Teori yang dikembangkannya dikenal dengan ³ Model Dua Faktor´ dari motivasi, yaitu faktor motivasional dan faktor hygiene atau ³pemeliharaan´. Menurut teori ini yang dimaksud faktor motivasional adalah hal-hal yang mendorong berprestasi yang sifatnya

42

intrinsik, yang berarti bersumber dalam diri seseorang, sedangkan yang dimaksud dengan faktor hygiene atau pemeliharaan adalah faktor -faktor yang sifatnya ekstrinsik yang berarti bersumber dari luar diri yang turut menentukan perilaku seseorang dalam kehidupan seseorang. Menurut Herzberg, yang tergolong sebagai faktor motivasional antara lain ialah pekerjaan seseorang,

keberhasilan yang diraih, kesempatan bertumbuh, kemajuan dalam karier dan pengakuan orang lain. Sedangkan faktor faktor hygiene atau pemeliharaan mencakup an tara lain status seseorang dalam organisasi, hubungan seorang individu dengan atasannya, hubungan seseorang dengan rekan-rekan sekerjanya, teknik penyeliaan yang diterapkan oleh para penyelia, kebijakan organisasi, sistem administrasi dalam organisasi, kondisi kerja dan sistem imbalan yang berlaku. Salah satu tantangan dalam memahami dan

menerapkan teori Herzberg ialah memperhitungkan dengan tepat faktor mana yang lebih berpengaruh kuat dalam kehidupan seseorang, apakah yang bersifat intrinsik ataukah yang bersifat ekstrinsik. 5. Teori Keadilan

43

Inti teori ini terletak pada pandangan bahwa manusia terdorong untuk menghilangkan kesenjangan antara usaha yang dibuat bagi kepentingan organisasi dengan imbalan yang diterima. Artinya, apabila seorang pegawai mempunyai persepsi bahwa imbalan yang diterimanya tidak memadai, dua kemungkinan dapat terjadi, yaitu : a. Seorang akan berusaha memperoleh imbalan yang lebih besar, atau b. Mengurangi intensitas usaha yang dibuat dalam

melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya .

Dalam menumbuhkan persepsi tertentu, seorang pegawai biasanya menggunakan empat hal sebagai pembanding, yaitu :

a. Harapannya tentang jumlah imbalan yang dianggapnya layak diterima berdasarkan kualifikasi pribadi, seperti pendidikan, keterampilan, sifat pekerjaan dan

pengalamannya b. Imbalan yang diterima oleh orang lain dalam organisasi yang kualifikasi dan sifat pekerjaannnya relatif sama dengan yang bersangkutan sendiri c. Imbalan yang diterima oleh pegawai lain di organisasi lain di kawasan yang sama serta melakukan kegiatan sejenis

44

d. Peraturan perundang-undangan yang berlaku mengenai jumlah dan jenis imbalan yang merupakan hak para pegawai.

Pemeliharaan hubungan dengan pegawai dalam kaitan ini berarti bahwa para pejabat dan petugas di bagian kepegawaian harus selalu waspada jangan sampai persepsi ketidak adilan timbul, apalagi meluas di kalangan para pegawai. Apabila sampai terjadi maka akan timbul berbagai dampak negatif bagi organisasi, seperti ketidakpuasan, tingkat kemangkiran yang tinggi, sering terjadiny a

kecelakaan dalam penyelesaian tugas, seringnya para pegawai berbuat kesalahan dalam melaksanakan pekerjaan masing-masing, pemogokan atau bahkan perpindahan pegawai ke organisasi lain.

6. Teori penetapan tujuan (goal setting theory) Edwin Locke mengemukakan bahwa dalam

penetapan tujuan memiliki empat macam mekanisme motivasional yakni : a. tujuan-tujuan mengarahkan perhatian b. tujuan-tujuan mengatur upaya c. tujuan-tujuan meningkatkan persistensi

45

d. tujuan-tujuan menunjang strategi -strategi dan rencanarencana kegiatan. 7. Teori Victor H. Vroom (Teori Harapan ) Victor H. Vroom, dalam bukunya yang berjudul ³Work And Motivation´ mengetengahkan suatu teori yang

disebutnya sebagai ³ Teori Harapan´. Menurut teori ini, motivasi merupakan akibat suatu hasil dari yang ingin dicapai oleh seorang dan perkiraan yang bersangkutan bahwa tindakannya akan mengarah kepada hasil yang diinginkannya itu. Artinya, apabila seseorang sangat

menginginkan sesuatu, dan jalan tampaknya terbuka untuk memperolehnya, mendapatkannya. Dinyatakan dengan cara yang sangat sederhana, teori harapan berkata bahwa jika seseorang menginginkan sesuatu dan harapan untuk memperoleh sesuatu itu cukup besar, yang bersangkutan akan sangat terdorong untuk memperoleh hal yang diinginkannya itu. Sebaliknya, jika harapan memperoleh hal yang diinginkannya itu tipis, motivasinya untuk berupaya akan menjadi rendah. Di kalangan ilmuwan dan para praktisi manajemen sumber daya manusia teori harapan ini mempunyai daya tarik tersendiri karena penekanan tentang pentingnya bagian yang bersangkutan akan berupaya

46

kepegawaian membantu para pegawai dalam menentukan hal-hal yang diinginkannya serta menunjukkan cara -cara yang paling tepat untuk mewujudkan keinginannnya i tu. Penekanan ini dianggap penting karena pengalaman

menunjukkan bahwa para pegawai tidak selalu mengetahui secara pasti apa yang diinginkannya, apalagi cara untuk memperolehnya. 8. Teori Penguatan dan Modifikasi Perilaku Berbagai teori atau model motivasi yang telah dibahas di muka dapat digolongkan sebagai model kognitif motivasi karena didasarkan pada kebutuhan seseorang berdasarkan persepsi orang yang bersangkutan berarti sifatnya sangat subyektif. Perilakunya pun ditentukan oleh persepsi tersebut. Padahal dalam kehidupan organisasional disadari dan diakui bahwa kehendak seseorang ditentukan pula oleh berbagai konsekwensi ekstrernal dari perilaku dan

tindakannya. Artinya, dari berbagai faktor di luar diri seseorang turut berperan sebagai penentu dan pengu bah perilaku. Dalam hal ini berlakulah apaya yang dikenal dengan ³hukum pengaruh´ yang menyatakan bahwa manusia cenderung untuk mengulangi perilaku yang mempunyai konsekwensi yang menguntungkan dirinya dan mengelakkan

47

perilaku yang mengibatkan perilaku yan g mengakibatkan timbulnya konsekwensi yang merugikan. Contoh yang sangat sederhana ialah seorang juru tik yang mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik dalam waktu singkat. Juru tik tersebut mendapat pujian dari atasannya. Pujian tersebut berakibat pada ke naikan gaji yang dipercepat. Karena juru tik tersebut menyenangi konsekwensi perilakunya itu, ia lalu terdorong bukan hanya bekerja lebih tekun dan lebih teliti, akan tetapi bahkan berusaha meningkatkan keterampilannya, misalnya dengan belajar menggunakan komputer sehingga kemampuannya semakin bertambah, yang pada gilirannya diharapkan mempunyai konsekwensi positif lagi di kemudian hari. Contoh sebaliknya ialah seorang pegawai yang datang terlambat berulangkali mendapat teguran dari atasannya, mungkin disertai ancaman akan dikenakan sanksi indisipliner. Teguran dan kemungkinan dikenakan sanksi sebagi konsekwensi negatif perilaku pegawai tersebut berakibat pada modifikasi perilakunya, yaitu datang tepat pada waktunya di tempat tugas. Penting untuk diperhatika n bahwa agar cara-cara yang digunakan untuk modifikasi perilaku tetap

memperhitungkan harkat dan martabat manusia yang harus

48

selalu diakui dan dihormati, cara -cara tersebut ditempuh dengan ³gaya´ yang manusiawi pula. 9. Teori Kaitan Imbalan dengan Prestasi. Bertitik tolak dari pandangan bahwa tidak ada satu model motivasi yang sempurna, dalam arti masing -masing mempunyai kelebihan dan kekurangan, para ilmuwan terus menerus berusaha mencari dan menemukan sistem motivasi yang terbaik, dalam arti menggabung berba gai kelebihan model-model tersebut menjadi satu model. Tampaknya terdapat kesepakan di kalangan para pakar bahwa model tersebut ialah apa yang tercakup dalam teori yang mengaitkan imbalan dengan prestasi seseorang individu . Menurut model ini, motivasi seorang individu sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Termasuk pada faktor internal adalah : a. persepsi seseorang mengenai diri sendiri. b. harga diri c. harapan pribadi d. kebutuhaan e. keinginan f. kepuasan kerja g. prestasi kerja yang dihasilkan.

49

Sedangkan

faktor

eksternal

mempengaruhi

motivasi

seseorang, antara lain ialah : a. jenis dan sifat pekerjaan b.kelompok kerja dimana seseorang bergabung c. organisasi tempat bekerja d. situasi lingkungan pada umumnya e. sistem imbalan yang berlaku dan cara penerapannya.

(disarikan dari berbagai sumber : Winardi, 2001:69 -93; Sondang P. Siagian, 286-294; Indriyo Gitosudarmo dan Agus

Mulyono,183-190, Fred Luthan,140 -167)
5. Kerangka Teori

Menurut Lawrence Green dalam Notoatmodjo (2009) Faktor perilaku ditentukan atau dibentuk oleh : Faktor Predisposisi : Pengetahuan Sikap Kepercayaan Persepsi Nialai-nilai

Faktor Pendorong : Lingkungan Fisik Fasilitas/ sarana kesehatan

Kunjungan Posyandu

Faktor Penguat : Sikap dan Perilaku petugas Kesehatan atau petugas lain Dukungan Keluarga, Toma

50

BAB III METODOLOGI PENELITAN

A. Jenis Penelitian

Jenis Penelitian yang digunakan dalam melakukan penelitian ini adalah Metode Kualitatif dengan pendekatan Indepth Interview untuk menggali Informasi tentang Faktor ± factor yang

berhubungan dengan Prilaku pada Ibu yang tidak membawa Balitanya ke Posyandu.

B. Waktu dan Tempat Penelitan

Penelitian ini dilakukan pada April Minggu ketiga sampai Mei minggu ketiga tahun 2011 di Desa sedulang di Desa Sedulang Kecamatan Muara Kaman Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur.

C. Jadwal Penelitian

April No Kegiatan Minggu III 1. Observasi lapangan. 2. 3. 4. Menentukan sarasaran/ informan Menentukan rencana kunjungan Melakukan kunjungan dan pendahuluan data IV I

Mei Minggu II III

51

pengumpulan informan. 5.

data

kepada

Mereduksi data/ mengelompokan data.

6.

Mereduksi data/ mengelompokan data.

7.

Verifikasi

data/

membuat

kesimpulan awal data 8. 9. Melengkapi data/ validasi data Melakukan validasi data tentang partisipasi masyarakat terhadap informan kunci (kepala desa dan ketua PKK) 10. Membuat kesimpulan hasil

pengumpulan data. 11. Membuat laporan hasil penelitian

D. Tehnik Pengambilan Data

Tehnik pengambilan data pada penelitian ini adalah menggunakan indepth interview yang dicatat pada Matriks Data dan direkam melalui tape recorder, yaitu mengambil data melalui wawancara mendalam kepada informan dan informan kunci tentang faktor ± faktor yang berhubungan dengan perilaku ibu yang tidak membawa dan tidak rutin membawa 2 kali beturut ± turut balitanya usia 0 ± 5 tahun ke posyandu. Jawaban informan dan informan kunci dicatat pada Matriks Data serta direkam melalui tape recorder.

52

E. informan

Jumlah Informan pada penelitian ini berdasarkan pada tingkat kejenuhan informasi yang di peroleh dari Informan kunci dan informan dengan menggunakan Tehnik Furposive sampling yaitu menggali informasi dari informan kunci serta informan yang memenuhi kriteria. 1. Kriteria informan kunci Kriteria informan kunci disini adalah orang yang dianggap mengetahui tentang program posyandu Posyandu. 2. Kriteria informan : a. Ibu yang mempunyai balita umur 0 ± 5 tahun yang tidak membawa balitanya ke posyandu. b. Ibu yang mempunyai balita umur 0 ± 5 tahun yang 2 kali berturut ± turut tidak membawa balitanya ke posyandu. c. Ibu yang mempunyai balita umur 0 -5 tahun yang rutin membawa balitanya ke posyandu. di desa : Kader

53

F. Kerangka Konsep

Kerangka konsep yang di gunakan dalam penelitian ini adalah menggacu pada Teori Lawrence Green dalam Notoatmodjo (2007).

Pengetahuan

Sikap

Kunjungan Posyandu

Motivasi

Akses

Definisi Konsep :

1. pengetahuan merupakan hal ± hal yang berkaitan dengan pengetahuan informan tentang kegiatan, manfaat, tujuan, sasaran, alur pelayanan, strata dan kepemilikan posyandu. 2. sikap merupakan hal-hal yang berkaitan dengan kepercayaan atau keyakinan, pendapat, akibat, dan pengalaman informan terhadap posyandu dan petugas kesehatan termasuk kader posyandu.

54

3. Motivasi

merupakan

hal-hal

yang

berkaitan

dengan

dukungan/dorongan informan untuk memanfaatkan pelayanan di posyandu. 4. Akses merupakan hal-hal yang berkaitan dengan jarak dan keterjangkauan informan terhadap sarana dan pelayanan di posyandu. 5. Kunjungan posyandu merupakan hal-hal yang berkaitan dengan respon informan dalam memanfaatkan pelayanan yang

diberikan di posyandu.

G. Instumen penelitian

Instrumen pada penelitian ini adalah peneliti sendiri dengan mengunakan pedoman wawancara dan perekam tape recorder .

H. Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah menggunakan Metode Kualitatif melalui Indepth Interview/

wawancara mendalam dengan menggunakan pedoman wawancara untuk menemukan informasi dari Informan dalam hal ini ibu yang mempunyai balita usia 0 ± 5 tahun yang tidak membawa balitanya ke posyandu serta ibu yang mempunyai balita usia 0 ± 5 tahun tidak membawa balitanya 2 kali berturut ± turut keposyandu. Serta Informan Kunci dalam hal ini adalah kepala desa dan ketua PKK.

55

Jawaban dari informan dan informan kunci dicatat pada Matriks Data dan di rekam melalui tape recorder.

I. proses Analisa Data

analisa data telah di mulai sejak merumuskan da n menjelaskan masalah, sebelum terjun kelapangan, dan

berlangsung terus sampai penulisan hasil penelitian. (Nasution, 1998). Analisis dalam penelitian kualitatif dilaksanakan dengan : 1. Reduksi Data Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal -hal yang penting, dicari tema dan polanya, karena data yang diperoleh dari lapangan cukup banyak, dengan demikian data yang telah di reduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data. 2. Penyajian data Dengan menyajikan data maka akan mudah memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah di pahami tersebut. Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat , bagan, hubungan antar kategori, flowchart, dan sejenisnya. (Miles dan Huberman, 1984).

56

Untuk mempermudah melihat pola-pola jawaban informan, maka data dianalisa dengan cara mencari persamaan dan perbedaan jawaban informan, mengelompokan antara jawaban yang sama dan berbeda, mengutip ungkapan lisan dar i informan yang menggambarkan tiap sudut pandang informan yang berbeda. 3. Verifikasi Menurut Miles dan huberman langkah ketiga dalam analisa data kualitatif adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi.

Kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin dapat men jawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin juga tidak, karena seperti telah dikemukakan bahwa masalah dan rumusan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersipat sementara dan akan berkembang setelah peneliti berada dilapangan. Kesimpulan merupakan temuan baru yang

sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau ganbaran, hipotesis atau teori.

J. Pengujian validitas Penelitian

Triangulasi dalam pengujian kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Dengan demikian terdapat triangulasi terdapat

57

triangulasi

sumber,

triangulasi

data

dan

triangulasi

waktu.

(Sugiyono, 2009). Triangulasi berarti cara terbaik untuk menghilangkan

perbedaan-perbedaan konstruksi kenyataan yang ada dalam konteks suatu studi sewaktu mengumpulkan data tentang berbagai kejadian dan hubungan dari berbagai pandangan. Dengan kata lain bahwa dengan triangulasi, peneliti dapat mengecek temuannya dengan jalan membandingkannya dengan berbagai sumber, metode, atau teori. (Moleong, 2006).

.

58

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.

2009.

http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/11/definisi -

motivasi-dan-teori-teori-motivasi/. Diakses tanggal 17 maret 2010. Anonim. 2010. Permenkes Nomor 155. http://Typecot.com/PERATURANMENTERI-KESEHATAN-REPUBLIK-INDONESIA-Nomor-155. Diakses tanggal 15 Maret 2011. Anonim. 2010. Buku Profil Kesehatan Indonesia tahun 2010.

http://www.depkes.go.id. Diakses tanggal 5 Maret 2011 Anonim, 2010. SKN 2009. http://www.pppl.depkes.go.id . Diakses tanggal 1 Maret 2011. Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Jakarta: Rhineka Cipta Wijono, Djoko. 2009. Manajemen Perbaikan Gizi Masyarakat. Surabaya : Duta Prima Airlangga. Wijono, Djoko. 2008. Manajemen Kesehatan Ibu dan Anak. Surabaya : 2008. Moleong, J Lexy. 2006. Metodologi Penelitian Kualitataif. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. Muliyana, Deddy. 2003. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Rosdakarya. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan seni.

59

Soeryoto. 2002. Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Cakupan Penimbangan Di Posyandu. Jakarta : Depkes RI. Depkes RI. 2001. Pedoman Manajemen Peran Serta Masyarakat, Jakarta. Depkes RI. 2000. Pemantauan Balita, Ditjen BINKES, Jakarta : Direktorat Gizi Masyarakat. A.Burn August, dkk. 2000. Pemberdayaan Wanita Dalam Bidang Kesehatan. Yogyakarta : Yayasan Essentia Medica. Oktaviani, W.L. 2009. Skripsi Pola Pencarian Pelayanan Kesehatan Dengan Pendekatan Upacara Belian di Kampung MUUT

Kecamatan Nyuatan Kabupaten Kutai Barat. Samarinda : FKM Universitas Mulawarman.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.