KEBIJAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP FORMULASI PEMBUKTIAN TERBALIK DALAM PERUNDANG-UNDANGAN TINDAK PIDANA KORUPSI

PENULISAN HUKUM

Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat guna menyelesaikan program Sarjana (S1) Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang

Oleh : NAMA NIM : MARSINTA ULY : B2A 006 182

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2010

i

1

HALAMAN PENGESAHAN KEBIJAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP FORMULASI PEMBUKTIAN TERBALIK DALAM PERUNDANG-UNDANGAN TINDAK PIDANA KORUPSI Penulisan Hukum

Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat guna menyelesaikan program Sarjana (S1) Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang

Oleh : MARSINTA ULY B2A 006 182 Penulisan Hukum Dengan Judul di Atas Telah Disahkan Dan Disetujui Untuk Diperbanyak Kemudian Diujikan

Pembimbing I

Pembimbing II

(Eko Soponyono, SH.MH.)

(Suparno, SH.M.Hum)

ii

2

HALAMAN PENGUJIAN

KEBIJAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP FORMULASI PEMBUKTIAN TERBALIK DALAM PERUNDANG-UNDANGAN TINDAK PIDANA KORUPSI Dipersiapkan dan Disusun Oleh : MARSINTA ULY B2A 006 182 Telah Diujikan di Depan Dewan Penguji Pada Hari Senin , Tanggal 24 Maret 2010

Semarang, Maret 2010 Dewan Penguji Ketua Sekretaris

(Prof. Dr. Arief Hidayat, S.H., M.S.) (Prof. Dr. Yos Johan Utama, S.H., M.Hum) Pembimbing I Pembimbing II

(Eko Soponyono, SH.MH.)

(Suparno, SH.M.Hum)

Penguji

(Prof. Dr. Nyoman Serikat Putra Jaya,SH.M.H)

iii

3

yang menjanjikannya setia Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati Rendahkanlah dirimu dihadapan Tuhan. dan Ia akan meninggikan kamu The duty of youth is to challenge corruption (Kurt Cobain) If you dont have enemy. sebab Ia. diberikanNya kepadamu Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita. tetapi akulah yang memilih kamu. you dont have character (Paul Newman) Talk less do more iv 4 . tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan Bukan kamu yang memilih Aku. supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam namaKu. supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap.MOTTO Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan.

PERSEMBAHAN Ku persembahkan karyaku ini kepada : Tuhan Yesus Kristus yang selalu memberikan kekuatan dan penghiburan Bapak dan Mama yang kusayangi yang selalu mendoakan aku Kakak dan Adik yang kusayangi untuk semua semangat dan dukungan yang diberikan Almamaterku Diponegoro Negara Kesatuan Republik Indonesia yang Fakultas Hukum Universitas kukagumi Para Koruptor yang mencuri hak orang lain v 5 .

sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul: “KEBIJAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP FORMULASI PEMBUKTIAN TERBALIK DALAM PERUNDANG-UNDANGAN TINDAK PIDANA KORUPSI”. yang telah memberikan berkatNya. arahan. Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Med. petunjuk. Bapak Eko Soponyono. Untuk itu. semangat dan kepercayaan sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.. selaku Rektor Universitas Diponegoro Semarang.S.. Dr. Bapak Prof. S. M. SH.KATA PENGANTAR Syalom. Arief Hidayat. dengan rasa hormat penulis menyampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini. Dr. M. selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang. Skripsi ini dimaksudkan sebagai salah satu persyaratan guna menyelesaikan Program Sarjana (S1) Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang. Penulis menyadari dalam menyelesaikan skripsi ini banyak memperoleh dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Susilo Wibowo. dr.And. vi 6 . Bapak Prof. 2.S. Sp..H. antara lain kepada : 1.H selaku Dosen Pembimbing I yang dengan sabar memberikan bimbingan. 3.M.

H.Hum. serta dukungan materiil maupun spiritual yang telah diberikan kepada penulis selama ini. 6.. 9. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang dan segenap Civitas Akademik Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang yang telah banyak membantu selama masa studi penulis.4. Bapak Prof.M.. S. 8. selaku Dosen Pembimbing II yang senantiasa memberikan bimbingan. Nyoman Serikat Putra Jaya. bimbingan dan arahan selama penulis menempuh studi di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang. Michael dan Evi yang selalu memberikan semangat buat penulis. 7. vii 7 . Desi. M. arahan. Bapak Yunanto Hakim tindak pidana korupsi yang telah bersedia membantu penulis dalam melakukan penelitian dan memberikan data-data yang dibutuhkan penulis dalam skripsi ini. S. kerja keras. Bapak Suparno. semangat dan kepercayaan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya. Dr. serta kakak dan adik-adik penulis : Ka Ita. terima kasih buat setiap doa. Kedua orang tua penulis yang sangat penulis hormati dan cintai dengan sepenuh hati.H. Bapak Dadang Siswanto.H selaku Dosen Penguji yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk menguji penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan studi di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang. tetesan keringat.. Trysia. S. Bapak Rasamala Aritonang bagian Biro Hukum Komisi Pemberantasan Korupsi. 5.Hum selaku Dosen Wali yang telah memberikan nasehat. dan air mata. Bapak Bima Suprayoga Kepala bagian pidana khusus kejaksaan negeri Semarang dan Bapak Joko.M.H.

Semoga kita tetap bisa bergerak dimanapun kita berada. Terima kasih atas dukungan. Rocky. Togi. Ka Sabet. doa dan persahabatan yang telah kita jalin selama ini. Teman-Teman Kostan Singosari 1 No. Asti dan adik-adikku terkasih Juris. Bena. Maestro. Tere. QaQa.11 : Mb Mimin. Nova. Inggrid. Sephine.Bang Iman. Ayu. Wilma. Marco. Terima kasih buat setiap semangat dan dukungan yang kalian berikan. Dwipa. Tian. 14.10. Ka Renti. Mb Pipit. Selprida. Selpi. 12. 11. Xenia. Mb Tri yang telah menemani hari-hari penulis viii 8 . teman-teman seperjuanganku: Mikhael. Bang Coki. Didior. Terima kasih buat dukungan. Saudara-saudaraku yang terkasih di FKPMI (Forum Kristiani Pemimpin Muda Indonesia) : Ka neta. Indry. 15. Ka Dwi. Ana. Jefri. Vera. Saudara-saudaraku di PMK (Persekutuan Mahasiswa Kristen) Fakultas Hukum Undip. Mas Bayu dan Basten. Grace. Tetap semangat untuk menjadi terang ”Being Light in Law Area” 13. Jojo. Ka Yohana. Terima kasih buat semua kasih sayang yang telah kalian berikan selama aku kuliah di Fakultas Hukum Undip tercinta ini. Sahabat-sahabatku Marini. Mekel. Kristo. Saudara-saudaraku yang terkasih di movers. Cintya. semangat serta bantuan yang diberikan kepada penulis.Ijal. Adek-Adek Komsel ku : Aline. Anggiat. Ka lina. Pengalaman yang aku peroleh bersama kalian selama di PMK takkan pernah terlupakan sampai kapan pun.Bagiku kalian adalah keluarga terhebat yang aku miliki di Semarang. Vina. Imel. Bang Anjo.

Maret 2010 Hormat Penulis Marsinta Uly ix 9 . Teman-teman angkatan 2006 Fakultas Hukum Undip.selama di semarang. Tetap semangat yah guys. Terima kasih buat hari-hari dengan segala kegilaan dan canda tawa yang mengisi hari-hari penulis. Hakenia. Teman. maka dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan masukan baik saran maupun kritik dari semua pihak guna kesempurnaan skripsi ini.Terima kasih buat dukungan kalian. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca dan bagi semua pihak yang membutuhkan.teman Tim I KKN PPM Undip 2010 Desa Kedung Karang . Elis. 16. Dhaniar. Teman-Teman seperjuangan dalam penyusunan skripsi : Mitha. 19. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyusun skripsi ini. 17. Martin dan teman-teman lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu-satu. Nana. Dalam penyusunan skripsi ini penulis menyadari masih banyak kekurangan dan kesalahan yang tentu saja tidak disengaja. Semarang. Tuhan memberkati. 18.

31 Tahun 1999. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang kemudian disempurnakan ke dalam Undang-Undang No. Pembuktian Terbalik x 10 . Kata kunci : Kebijakan Hukum Pidana. Formulasi pembuktian terbalik merupakan penyimpangan dari pembuktian yang terdapat di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Salah satu upaya yang dianggap mampu untuk menyelesaikan perkara korupsi tersebut adalah dengan dirumuskannya pembuktian terbalik di dalam perundang-undangan tindak pidana korupsi saat ini yang diawali dalam Undang-Undang No. Adapun permasalahan yang diangkat dalam penulisan hukum ini adalah bagaimana kebijakan hukum pidana terhadap formulasi serta aplikasi pembuktian terbalik dalam perundang-undangan tindak pidana korupsi saat ini serta bagaimana kebijakan hukum pidana terhadap formulasi pembuktian terbalik dalam perundang-undangan tindak pidana korupsi pada masa yang akan datang. Selain itu untuk mengenai kebijakan dalam tataran aplikasinya maka diperoleh data dengan diadakannya wawancara terhadap praktisi hukum yang terkait yaitu jaksa tindak pidana korupsi. 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Undang-Undang No.ABSTRAKSI Korupsi merupakan kejahatan luar biasa (extraordinary crime) yang di dalam penanganannya diperlukan undang-undang yang luar biasa pula.3 tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Metode pendekatan masalah yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode yuridis normatif dengan metode pengumpulan data studi kepustakaan dan perundang-undangan yang berkaitan tindak pidana korupsi. Oleh karena itu. Undang-Undang No. agar tidak terjadi tumpang tindih maka pembuktian terbalik harus memiliki arah kebijakan hukum pidana yang jelas di dalam perumusannya dengan tetap memperhatikan efektifitas dan efisiensi dari kegunaan rumusan pembuktian terbalik tersebut. hakim tindak pidana korupsi dan anggota komisi pemberantasan tindak pidana korupsi.

.. Tujuan Penelitian………………………………………............ BAB I : PENDAHULUAN A.... ABSTRAKSI……………………………………………………………...………….... C.... HALAMAN PENGUJIAN…………………………………………………....….. MOTTO……………………………………………………………………. i ii iii iv v vi x xi xv 1 8 8 9 10 BAB II : TINJAUAN PUSTAKA A..... E.... Tindak Pidana Korupsi………………………………………… 1... Perumusan Masalah…………………………………………….……………….. Kebijakan Hukum Pidana……………………………... 12 B......……..... D..………....... Pengertian Tindak Pidana.. HALAMAN PENGESAHAN…………………………………. B.……… Kegunaan Penelitian…………………………………………… Sistematika Penulisan………………………………………………....... Latar Belakang Permasalahan…………………………………..…………. 2. PERSEMBAHAN…………………………………………………………. KATA PENGANTAR……………………………………………………….. DAFTAR TABEL……………………………………………………...DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL……………………………………….. Jenis-Jenis Tindak Pidana…………. DAFTAR ISI……………………………………………………..……………………… 20 20 22 xi 11 ......

Metode Pengumpulan Data……………………………………. B..3. 40 3.………………. Tinjauan Umum mengenai Pembuktian…….. Teori Hukum Pembuktian Menurut Undang-Undang Secara Positif…………………………………………………… b....…………. Beban pembuktian Berimbang………………………….. 1..... Hukum Pembuktian…………………………………………... Teori Hukum Pembuktian Menurut Undang-Undang Secara Negatif…………………………………………………...... a... 48 49 49 44 40 xii 12 ..... 4. BAB III :METODE PENELITIAN A............. C..... 39 2.. Pengertian Pidana dan Jenis-Jenis dan Teori 24 26 31 31 34 Pemidanaan…………………………. Metode Pendekatan……………………………………………. Teori Hukum Pembuktian………………. Pengertian Tindak Pidana Korupsi………………………… C. Beban Pembuktian pada Terdakwa…………………….... 2.. Teori Pembalikan Beban Pembuktian Keseimbangan Kemungkinan (Balanced Probability of Principles) dalam Tindak Pidana Korupsi…………………………………….. Teori Hukum Pembuktian Menurut Keyakinan Hakim… c. e.…………. d...... Teori Pembalikan Beban Pembuktian (Omkering van het 34 36 38 Bewijslast atau Shifting of Burden of Proof/Onus of Proof) 39 1.... Spesifikasi Penelitian…………………………. Beban Pembuktian pada Penuntut Umum……………...

. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi………………………………… 3........ Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Undang.. 3 Tahun 1971 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi………………………………… 2.. Kebijakan Aplikasi terhadap Formulasi Pembuktian Terbalik dalam Undang-Undang No.. Formulasi Pembuktian Terbalik dalam Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi………… 2. BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.Undang 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi…………………………………... 4.... Undang-Undang No. Negara Malaysia…………………………………………. Formulasi Pembuktian Terbalik dalam Rancangan Undang-Undang Pengadilan Tindak Pidana 53 54 57 58 65 78 78 Korupsi…………………………………………… 3.. xiii 81 85 a.... 20 Tahun 2001…………….……...... Formulasi Pembuktian Terbalik di Beberapa Negara ………...... Kebijakan Hukum Pidana Terhadap Formulasi Pembuktian Terbalik di Masa Mendatang……………………………… 1. 1. B. 85 13 ..D. Metode Analisis Data………………………..……….. Undang-Undang No. Kebijakan Hukum Pidana Terhadap Formulasi Pembuktian Terbalik dalam Perundang-undangan Tindak Pidana 51 Korupsi Saat Ini………………………..

88 BAB V : PENUTUP A........... Kesimpulan………………………………………………. Saran……………………………………………………………........b. Negara Hongkong………………………………….. 93 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN xiv 14 .87 c.... 90 B. Negara Singapura ………………………………………….

.......................................... Penanganan Perkara Korupsi Periode 2004 s/d 2009 Tahap Penuntutan........... Penanganan Kasus oleh KPK Tahun 2004 ................ 3...... Jumlah Kasus/Perkara yang ditangani oleh KPK Selama Tahun 2005-2008 ............................................. 66 67 69 15 xv ............. 2........................DAFTAR TABEL Halaman 1........................

Selain itu. dan juga politik. Konstitusi negara kesatuan Republik Indonesia menetapkan tujuan nasional yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Latar Belakang Permasalahan Setiap negara merdeka pasti memiliki tujuan di dalam menjalankan pemerintahan. Salah satu tindak pidana yang cukup fenomenal adalah tindak pidana korupsi. mewujudkan kesejahteraan umum dan ikut menciptakan perdamaian dunia. korupsi adalah masalah serius yang dapat membahayakan stabilitas dan keamanan masyarakat. Guna mencapai kesejahteraan rakyat serta menjamin keadilan sosial. Negara Indonesia adalah salah satu negara berkembang yang sedang mengalami proses pembangunan. membahayakan pembangunan sosial ekonomi.BAB I PENDAHULUAN A. mencerdaskan kehidupan bangsa. Proses pembangunan tersebut dapat menimbulkan dampak sosial positif yaitu kemajuan dalam kehidupan masyarakat. serta dapat merusak nilai-nilai 1 . Tindak pidana ini tidak hanya merugikan keuangan negara. selain itu dapat mengakibatkan perubahan kondisi sosial masyarakat yang memiliki dampak sosial negatif diantaranya berupa kejahatan (tindak pidana) yang dapat meresahkan masyarakat. maka setiap negara berkewajiban melakukan pembangunan terutama pembangunan di sektor ekonomi. Tujuan setiap negara mewujudkan kesejahteraan rakyat. tetapi juga merupakan pelanggaran terhadap hak-hak sosial dan hak-hak ekonomi masyarakat.

termasuk dan tidak terbatas pada negara-negara di Asia dan Afrika. baik dari jumlah kasus yang terjadi dan jumlah kerugian negara. Alasan keempat. melainkan sudah merupakan masalah antarnegara atau hubungan antara dua negara atau lebih. Akan lebih berbahaya lagi kalau perbuatan ini menjadi budaya di masyarakat. 2 . sehingga memerlukan kerjasama aktif antara negara-negara yang berkepentingan atau dirugikan karena korupsi. pemberantasan korupsi sangat sulit diperangi di dalam sistem birokrasi yang juga koruptif sehingga memerlukan instrumen hukum yang luar biasa untuk mencegah dan memberantasnya. korupsi terbukti telah melemahkan sistem pemerintahan dari dalam alias merupakan virus berbahaya dan penyebab proses pembusukan dalam kinerja pemerintahan serta melemahkan demokrasi. Alasan ketiga. dan dilakukan secara besar-besaran oleh sebagian terbesar pejabat tinggi. modus operandi korupsi telah menyatu dengan sistem birokrasi hampir di semua negara. Tindak pidana korupsi sudah meluas dalam masyarakat. korupsi menjadi musuh utama dalam proses pembangunan bangsa.demokrasi dan moralitas. Oleh karena itu. Alasan kedua. korupsi tidak lagi merupakan masalah dalam negeri atau masalah nasional suatu negara. Ditempatkannya korupsi sebagai salah satu kejahatan terorganisasi dan bersifat transnasional karena pertama. maupun dari segi kualitas tindak pidana yang dilakukan semakin sistematis serta lingkupnya yang memasuki seluruh aspek kehidupan masyarakat. Korupsi terus menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun.

Peraturan perundang-undangan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah ternyata belum bisa menjadi senjata yang ampuh dalam menanggulangi dan memberantas masalah korupsi. Kasus-kasus tindak pidana korupsi sulit diungkapkan karena para pelakunya menggunakan peralatan yang canggih serta biasanya dilakukan oleh lebih dari satu orang dalam keadaan yang terselubung dan terorganisasi. seperti halnya pembuktian yang dianut oleh UU No. perkara korupsi memerlukan pembuktian khusus yang menyimpang dari hukum acara pidana biasa. 3 Tahun 1971 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi pasal 17 yang menganut adanya pembagian beban pembuktian antara jaksa dan terdakwa. kejahatan ini sering disebut white collar crime atau kejahatan kerah putih. Oleh karena itu. maka pemerintah Indonesia membuat peraturan perundang-undangan mengenai tindak pidana korupsi dimulai dari Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan karena dianggap terlalu luas dan tidak sesuai lagi dengan perkembangan masyarakat maka undang-undang tersebut diganti dengan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 yang kemudian direvisi beberapa pasalnya di dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001. Diberlakukannya Undang-Undang Korupsi dimaksudkan untuk menanggulangi dan memberantas korupsi. Akan tetapi. White collar crime atau kejahatan kerah putih yaitu kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki status sosial tinggi dan terhormat berkaitan dengan jabatannya. undang-undang 3 . Melihat kesulitan dalam melakukan pembuktian.Melihat akibat yang dapat ditimbulkan dari tindak pidana korupsi.

tidak relevan lagi dalam menyelesaikan perkara korupsi yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Seorang tersangka yang telah mengembalikan harta yang telah dikorupsinya. Pembuktian perkara korupsi yang dianut oleh UU No. Akibatnya. 3 Tahun 1971 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi dirasakan cukup sulit bagi upaya menjerat para pelakunya karena pada undang-undang tersebut lebih menitikberatkan pada delik materil. yaitu merugikan keuangan atau perekonomian negara. sering diklasifikasikan tidak termasuk merugikan keuangan negara dan atau perekonomian negara sehingga sulit bagi jaksa untuk membuktikan salah satu unsur perbuatan pidana korupsi tersebut. karena dalam pembuktian terbalik jaksa penuntut umum dan terdakwa sama-sama dibebani pembuktian. 31 tahun 1999 jo UU No. baik bagi terdakwa maupun bagi Jaksa Penuntut Umum seperti yang dianut oleh UU No. 20 tahun 2001 yaitu pembuktian terbalik.tersebut sudah ketinggalan zaman. Pembuktian terbalik merupakan penyimpangan dari pasal 66 KUHAP. apabila terdakwa dapat membuktikan bahwa ia tidak 4 . banyak orang yang didakwa melakukan korupsi ternyata hanya dijatuhi pidana yang jauh lebih ringan. diperlukan suatu pembuktian yang mudah dan tidak berbelit-belit dalam pelaksanaannya. Menghadapi masalah sulitnya pembuktian ini. yaitu terjadinya kerugian pada keuangan dan atau perekonomian negara. Pembuktian dalam undang-undang tersebut di rasa sulit dan berbelit-belit dalam mengungkap kasus korupsi.

akan dinyatakan bersalah melakukan pelanggaran.”1 Ketentuan di atas menjelaskan bahwa menguasai sumber-sumber pendapatan atau harta yang tidak sebanding dengan gaji seorang pejabat pemerintah pada saat ini atau pendapatan resmi di masa lalu. unless he gives satisfaktory explanation to the court as to how he was able to maintain such a standard of living or how such pecuniary resources of property came under his control. Pembuktian terbalik terhadap tindak pidana korupsi ini sudah dianut oleh negara lain seperti Hongkong.google. shall. Di Hongkong misalnya. Pembuktian terbalik bukanlah hal baru yang digunakan dalam perundangundangan tindak pidana korupsi. kecuali kalau pejabat tersebut dapat memberikan suatu penjelasan yang memuaskan kepada pengadilan mengenai bagaimana ia mampu memperoleh standar hidup yang demikian itu atau bagaimana sumber-sumber pendapatan atau harta itu dapat ia kuasai. dan Singapura. Malaysia.com 5 . terdakwa tidak langsung bebas karena jaksa penuntut umum masih wajib membuktikan dakwaannya. Added 1974 : “or is in control of pecuniary resources of property disproportionate to his present or past official emoluments. pembuktian terbalik ini diatur dalam Pasal 10 (1b) Prevention of Bribery Ordonance 1970. Pemberlakuan sistem pembuktian terbalik ini menurut keterangan seorang pejabat Independent Comission Against Corruption Hongkong cukup efektif 1 www.melakukan tindak pidana korupsi. be guilty of an offence.

38B UU Nomor 31 Tahun 1999 jo UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana korupsi. Hal ini dapat dilihat dengan dirumuskannya pembuktian terbalik dalam ketentuan Pasal 12B. 37 dan 37A. pembuktian terbalik juga dianggap melanggar hak asasi manusia karena setiap orang berhak untuk memperoleh kekayaannya dan hak privasi yang harus dilindungi. bertolak kepada pemikiran bahwa korupsi merupakan sumber kemiskinan dan kejahatan serius yang sulit pembuktiannya di dalam praktik sistem hukum di semua negara maka hak asasi individu atas harta kekayaannya bukanlah dipandang sebagai hak 6 . karena seseorang akan takut melakukan korupsi dikarenakan kesulitan memberikan penjelasan yang memuaskan tentang sumber kekayaannya kalau memang kekayaannya itu diperoleh dengan cara yang tidak sah. Indonesia juga menggunakan sistem pembuktian terbalik tersebut. Perumusan pembuktian terbalik menimbulkan pendapat yang berbeda di kalangan ahli hukum. rumusan pasal tersebut yang menjelaskan bahwa pembuktian terbalik merupakan hak terdakwa dan tergantung kepada terdakwa untuk menggunakan atau tidak membuat rumusan pasal tersebut menjadi kurang jelas fungsinya dan dianggap kurang memberikan batasan yang jelas.untuk memberantas tindak pidana korupsi. Namun. Selain itu. Perumusan pasal mengenai pembuktian terbalik dalam undang-undang tindak pidana korupsi diharapkan akan membantu proses pembuktian dalam pemeriksaan di persidangan. Namun demikian. Pembuktian terbalik yang berlaku saat ini sulit untuk diterapkan karena dianggap bertentangan dengan presumption of innocent atau asas praduga tak bersalah.

sehingga si pejabat bisa diinvestigasi. Oleh karena itu. Dimana. (Bandung : Citra Aditya Bakti. google. melainkan hak relatif. 2 Berdasarkan pertimbangan pemikiran di atas. kesalahan atau kelemahan kebijakan legislatif merupakan kesalahan strategis yang dapat menjadi penghambat penanggulangan kejahatan pada tahap aplikasi dan eksekusi. kebijakan hukum terutama diimplementasikan dalam suatu kebijakan kriminal.75 3 2 7 . Seharusnya disyaratkan laporan kekayaan pejabat sebelum menjabat dan diumumkan kekayaannya setiap tahun. karena selama ini laporan kekayaan pejabat tidak dibuat. Jadi sulit dipisahkan antara kekayaan pribadi dengan kekayaan-kekayaan “haram” yang dia peroleh. Kebijakan kriminal ini terutama menggunakan sarana penal pada tahap formulasi/legislatif. 2001). yaitu tahap perumusan atau penyusunan hukum pidana dalam hal ini perumusan suatu perbuatan yang dijadikan tindak pidana dan sanksi apa sebaiknya digunakan atau dikenakan pada pelanggar.com Barda Nawawi Arief. maka dianggap perlu diadakan suatu kebijakan hukum pidana mengenai formulasi rumusan pembuktian terbalik tersebut di dalam undang-undang tindak pidana korupsi.absolut.3 www. hal. Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Penanggulangan Kejahatan. Kebijakan legislatif merupakan tahap paling strategis dari upaya penanggulangan kejahatan melalui penal policy. Menurut Todung Mulia Lubis penerapan asas pembuktian terbalik ini tidak mudah. dan berbeda dengan perlindungan atas kemerdekaan seseorang dan hak untuk memperoleh peradilan yang fair dan terpercaya.

Untuk mengetahui dan menjelaskan kebijakan hukum pidana terhadap formulasi serta aplikasi pembuktian terbalik dalam perundang-undangan tindak pidana korupsi pada saat ini. Masalah-masalah yang muncul dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. Perumusan Masalah Dari uraian di atas ditemukan berbagai masalah terkait formulasi rumusan pembuktian terbalik dalam peraturan perundang-undangan. 2. Bagaimanakah kebijakan hukum pidana terhadap formulasi serta aplikasi pembuktian terbalik dalam perundang-undangan tindak pidana korupsi pada saat ini? 2. 8 .B. Bagaimanakah kebijakan hukum pidana terhadap formulasi pembuktian terbalik dalam perundang-undangan tindak pidana korupsi pada masa yang akan datang? C. Tujuan Penelitian Perumusan tujuan penelitian merupakan pencerminan arah dan penjabaran strategi terhadap masalah yang muncul dalam penelitian. Dengan adanya tujuan maka suatu penelitian akan lebih terarah dan lebih bermanfaat. Untuk mengetahui dan menjelaskan kebijakan hukum pidana terhadap formulasi pembuktian terbalik dalam perundang-undangan tindak pidana korupsi pada masa yang akan datang. Adapun tujuan yang akan dicapai dengan adanya penelitian ini adalah sebagai berikut : 1.

c. E. Sistematika Penulisan Untuk mempermudah memahami isinya.D. b. Manfaat Penelitian Setiap hasil penelitian termasuk penelitian hukum pasti mempunyai manfaat. Adapun manfaat yang dapat diambil dari penelitian hukum ini adal. yang terdiri dari lima bab yang berisi tentang uraian secara umum. Memberikan masukan kepada setiap pihak yang terkait tentang formulasi serta aplikasi rumusan pembuktian terbalik dalam pemberantasan tindak pidana korupsi. Memberikan jawaban atas permasalahan yang diteliti serta memberikan dasar-dasar atau landasan untuk penelitian lebih lanjut. 2. Manfaat penelitian biasanya sering disebut juga dengan kegunaan penelitian. Memberikan wawasan kepada para mahasiswa dan akademisi lainnya mengenai formulasi rumusan pembuktian terbalik serta aplikasinya dalam perundang-undangan tindak pidana korupsi pada saat ini dan yang akan datang. Kegunaan Teoritis Menambah dan mengembangkan wawasan dan pengetahuan dalam ilmu hukum mengenai kebijakan hukum pidana terhadap formulasi serta aplikasi rumusan pembuktian terbalik pada saat ini dan yang akan datang. teori-teori yang diperlukan dalam menganalisa permasalahan dan 9 .ah sebagai berikut : 1. maka penulisan skripsi ini disajikan dalam bentuk rangkaian bab. Kegunaan Praktis a.

yang berisi kerangka pemikiran atau teori-teori yang berkaitan kebijakan hukum pidana. perumusan masalah. BAB III METODE PENELITIAN Bab ini berisikan metode penelitian yang digunakan penulis dalam skripsi ini meliputi metode pendekatan. tujuan. manfaat dan sistematika penulisan. spesifikasi penelitian.pembahasan hasil penelitian serta kesimpulan dan saran. tindak pidana. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Bab ini berisikan landasan teoritis untuk mendasari penganalisaan masalah yang akan dibahas. metode pengumpulan data dan metode analisis data. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 10 . Adapun sistematikanya adalah sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN Bab ini berisikan tentang alasan atau latar belakang penelitian yang menjadi pengantar menuju ke pokok permasalahan yang akan dibahas. tindak pidana korupsi dan mengenai teori-teori hukum pembuktian serta teori pembalikan beban pembuktian yang akan menunjang dalam menjawab permasalahan mengenai kebijakan hukum pidana tehadap formulasi serta aplikasi rumusan pembuktian terbalik dalam perundang-undangan tindak pidana korupsi pada saat ini dan yang akan datang.

20 Tahun 2001. 31 Tahun 1999 dan UU No. 3 Tahun 1971. UU No. Bab ini juga akan menjelaskan kebijakan hukum pidana terhadap rumusan pembuktian terbalik yang akan datang dengan menganalisis rumusan pembuktian Pidana terbalik Korupsi dalam dan Rancangan Undang-Undang Tindak Rancangan Undang-Undang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. 11 .Bab ini berisi hasil dan pembahasan dari penelitian. Bab ini menyajikan saran bagi pihak terkait dalam menanggulangi tindak pidana korupsi. Selain itu akan dibahas aplikasi dari rumusan pembuktian terbalik tersebut di dalam proses persidangan. proses pembuktian serta kendalakendalanya. Dimana akan dijelaskan mengenai rumusan pembuktian terbalik dalam peraturan perundang-undangan tindak pidana korupsi yaitu UU No. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Bab ini berisikan kristalisasi dari semua yang telah dicapai di dalam masing-masing bab sebelumnya mengenai kebijakan hukum pidana terhadap formulasi pembuktian terbalik dalam perundangundangan tindak pidana korupsi.

Kamus Besar Bahasa Indonesia. istilah ”kebijakan hukum pidana” dapat pula disebut dengan istilah ”politik hukum pidana” atau sering dikenal dengan istilah ”penal policy”.4 Istilah ”kebijakan diambil dari istilah ”policy” (Inggris) atau ”politiek” (Belanda). ”criminal law policy” atau ”strafrechtspolitiek”. (Jakarta : Kencana. pernyataan cita-cita. kebijakan. dapat dikatakan bahwa tujuan akhir atau tujuan utama dari politik kriminal ialah perlindungan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. 2008).5 Kebijakan atau upaya penanggulangan kejahatan pada hakikatnya merupakan bagian integral dari upaya perlindungan masyarakat (sosial defense) dan upaya mencapai kesejahteraan masyarakat (sosial welfare). tujuan. sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran. Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana. Oleh karena itu. kebijaksanaan. 131 5 Barda Nawawi Arief. organisasi dan sebagainya). (Jakarta : Balai Pustaka). Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. kepemimpinan dan cara bertindak (tentang pemerintahan. hal .BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. juga dapat diartikan sebagai rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana pelaksanaan di suatu pekerjaan. 22 4 12 . kemahiran. Kebijakan Hukum Pidana Kebijakan dalam kamus besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai kepandaian. Oleh karena itu. prinsip atau maksud. hal.

Ada keterpaduan (integralitas) antara politik kriminal dengan politik sosial.Dengan demikian dapatlah dikatakan. b. Sudarto mengemukakan bahwa apabila hukum pidana hendak dilibatkan dalam 13 . Secara skematis hubungan itu dapat digambarkan sebagai berikut : Social Welfare Policy Social Policy Social Defense Policy Penal Criminal Policy Tujuan Non-Penal Dari uraian skema di atas terlihat. bahwa upaya penanggulangan kejahatan perlu ditempuh dengan pendekatan kebijakan. Penegasan perlunya upaya penanggulangan kejahatan diintegrasikan dengan keseluruhan kebijakan sosial dan perencanaan pembangunan (nasional). Ada keterpaduan (integralitas) antara upaya penanggulangan kejahatan dengan ”penal” dan ”non penal”. dalam arti : a. bahwa politik kriminal pada hakikatnya juga merupakan bagian integral dari politik sosial (yaitu kebijakan atau upaya untuk mencapai kesejahteraan sosial).

hakikatnya masalah kebijakan hukum pidana bukanlah semata-mata pekerjaan teknik perundang-undangan yang dapat dilakukan secara yuridis normatif dan sistematik-dogmatik. maka hendaknya dilihat dalam hubungan keseluruhan politik kriminal atau social defence planning dan ini pun harus merupakan bagian integral dari rencana pembangunan nasional. ”Criminal Law” dan ”Penal Policy”. tetapi juga kepada pengadilan yang menerapkan undang-undang dan juga kepada para penyelenggara atau pelaksana putusan pengadilan. Kebijakan hukum pidana dapat didefinisikan sebagai usaha mewujudkan peraturan perundang-undangan pidana yang sesuai dengan keadaan dan situasi pada suatu waktu dan untuk masa yang akan datang. historis dan komparatif. hal. bahwa ”Penal Policy” adalah suatu ilmu sekaligus seni yang pada akhirnya mempunyai tujuan praktis untuk memberi pedoman tidak hanya pembuat undang-undang.6 Marc Ancel pernah menyatakan bahwa ”modern criminal science” terdiri dari tiga komponen ”Criminology”. bahkan memerlukan pendekatan komprehensif dari berbagai disiplin sosial lainnya dan pendekatan integral dengan kebijakan sosial dan pembangunan nasional pada umumnya. 19 14 . Sudarto mengemukakan tiga arti mengenai kebijakan kriminal.usaha mengatasi segi-segi negatif dari perkembangan masyarakat/modernisasi. Dikemukakan olehnya. yaitu : 6 7 Ibid. 3-4 Ibid.7 Dengan demikian. hal. Di samping itu memerlukan pendekatan yuridis faktual yang dapat berupa pendekatan sosiologis.

8 Pengertian kebijakan atau politik hukum pidana dapat dilihat dari politik hukum maupun dari politik kriminal. hal. dan c. 22 10 Ibid.a. politik hukum pidana mengandung arti. b. yang dilakukan melalui perundang-undangan dan badan-badan resmi. b. Menurut Sudarto. Usaha untuk mewujudkan peraturan-peraturan yang baik sesuai dengan keadaan dan situasi pada suatu saat. istilah kebijakan hukum pidana sama dengan istilah ”penal policy” yaitu suatu ilmu sekaligus seni yang bertujuan untuk 8 9 Ibid.23 15 . Dalam arti paling luas (yang beliau ambil dari Jorgen Jepsen). Dengan demikian. ialah keseluruhan asas dan metode yang menjadi dasar dari reaksi terhadap pelanggaran hukum yang berupa pidana. termasuk di dalamnya cara kerja dari pengadilan dan polisi. Dalam arti sempit. bagaimana mengusahakan atau membuat dan merumuskan suatu perundangundangan yang baik. ialah keseluruhan fungsi dari aparatur penegak hukum. 1 Ibid. hal. yang bertujuan untuk menegakkan normanorma sentral dari masyarakat. ialah keseluruhan kebijakan.9 Bertolak dari pengertian di atas Sudarto menyatakan bahwa melaksanakan ”politik hukum pidana” berarti mengadakan pemilihan untuk mencapai hasil perundang-undangan pidana yang paling baik dalam arti memenuhi syarat keadilan dan daya guna. Kebijakan dari negara melalui badan-badan yang berwenang untuk menetapkan peraturan-peraturan yang dikehendaki yang diperkirakan bisa digunakan untuk mengekspresikan apa yang terkandung dalam masyarakat untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Sudarto juga menyatakan bahwa melaksanakan ”politik hukum pidana” berarti usaha mewujudkan peraturan perundang-undangan pidana yang sesuai dengan keadaan dan situasi pada suatu waktu dan untuk masa-masa yang akan datang. Dalam arti luas. hal. ”Politik Hukum” adalah : a.10 Menurut Marc Ancel.

maka politik hukum pidana identik dengan pengertian ”kebijakan penanggulangan kejahatan dengan hukum pidana”. Dengan perkataan lain. 16 . pada hakikatnya tidak dapat dilepaskan dari tujuan penanggulangan kejahatan. dilihat dari sudut politik kriminal. Usaha penanggulangan kejahatan dengan hukum pidana pada hakikatnya juga merupakan bagian dari usaha penegakan hukum (khususnya penegakan hukum pidana). peradilan dan pelaksanaan pidana harus dilaksanakan. Apa yang dapat diperbuat untuk mencegah terjadinya tindak pidana. b.memungkinkan peraturan hukum positif dirumuskan secara lebih baik. Menurut A. Dengan demikian. sering pula dikatakan bahwa politik atau kebijakan hukum pidana merupakan bagian dari kebijakan penegakan hukum (law enforcement policy). ”Strafrechtspolitiek” ialah garis kebijakan untuk menentukan: a. Mulder. Usaha dan kebijakan untuk membuat peraturan hukum pidana yang baik. cara bagaimana penyidikan. yang dimaksud dengan ”peraturan hukum positif” (the positive rules) dalam defenisi Marc Ancel jelas adalah peraturan perundang-undangan hukum pidana. c. penuntutan. Seberapa jauh ketentuan-ketentuan pidana yang berlaku perlu diubah atau diperbarui. Dengan demikian istilah ”penal policy” menurut Marc Ancel adalah sama dengan istilah ”kebijakan atau politik hukum pidana”. Jadi kebijakan atau politik hukum pidana juga merupakan bagian dari politik kriminal. Oleh karena itu.

Kebijakan sosial (social policy) dapat diartikan sebagai segala usaha yang rasional untuk mencapai kesejahteraan masyarakat dan sekaligus mencakup perlindungan masyarakat. wajar pulalah apabila kebijakan atau politik hukum pidana juga merupakan bagian integral dari kebijakan atau politik sosial (social Policy). termasuk pula kebijakan dalam menangani dua masalah sentral di atas. Penganalisaan terhadap dua masalah sentral ini tidak dapat dilepaskan dari konsepsi integral antara kebijakan kriminal dengan kebijakan sosial atau kebijakan pembangunan nasional. dan 2. harus pula dilakukan dengan pendekatan yang berorientasi pada kebijakan (policy oriented approach). sekaligus tercakup di dalamnya ” social welfare policy dan ”social defense policy”. Problem dari pendekatan yang berorientasi pada kebijakan adaah kecenderungan untuk menjadi pragmatis dan kuanitatif serta tidak memberi 17 . Oleh karena itu. Jadi di dalam pengertian ” social policy”.Di samping itu. usaha penanggulangan kejahatan lewat pembuatan undang-undang (hukum) pidana pada hakikatnya juga merupakan bagian integral dari usaha perlindungan masyarakat (social welfare). perbuatan apa yang seharusnya dijadikan tindak pidana. sanksi apa yang sebaiknya digunakan atau dikenakan kepada si pelanggar. Ini berarti pemecahan masalah-masalah di atas harus pula diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu dari kebijakan hukum pidana. Dua masalah sentral dalam kebijakan kriminal dengan menggunakan sarana penal (hukum pidana) ialah masalah penentuan: 1.

Tahap formulasi. yaitu tahap penetapan hukum pidana mengenai macam perbuatan yang dapat dipidana dan jenis sanksi yang dapat dikenakan. hukum pidana dapat dibedakan dalam tiga fase/tahap. Tahap Aplikasi. 99 18 . 2. 3. (Bandung : Citra Aditya Bakti. atau penjatuhan pidana kepada seseorang atau korporasi oleh hakim atas perbuatan yang dilakukan oleh orang tersebut. Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan dan Pengembangan Hukum Pidana. Namun demikian. 1998). misalnya nilai-nilai ke dalam proses pembuatan keputusan. Kekuasaan yang berwenang dalam melaksanakan tahap ini adalah kekuasaan legislatif/formulatif. dalam arti bagaimana perwujudan dan bekerjanya. yaitu tahap menerapkan hukum pidana.kemungkinan untuk masuknya faktor-faktor yang subjektif. pendekatan yang berorientasi pada kebijakan ini menurut Bassiouni seharusnya dipertimbangkan sebagai salah satu scientific device dan digunakan sebagai alternatif dari pendekatan dengan penilaian emosional (the emosionally laden value judgement approach) oleh kebanyakan badan-badan legislatif. yaitu : 1. Dari sudut operasionalisasi/fungsionalisasi. Kewenangan dalam hal ini ada pada kekuasaan eksekutif/administratif. hal. yaitu tahap pelaksanaan pidana oleh aparat eksekusi pidana atas orang atau korporasi yang telah dijatuhi pidana tersebut. Yang berwenang dalam tahap ini adalah kekuasaan aplikatif/yudikatif.11 11 Barda Nawawi Arief. Tahap Eksekusi.

tahap aplikasi (proses peradilan/judicial) dan tahap eksekusi (proses administrasi). Cherif Bassioni menyebutkan adanya tiga tahap kebijakan yaitu kebijakan pada tahap formulasi (proses legislasi). kesalahan pada tahap legislasi akan berpengaruh besar ketahap aplikasi dan administrasi. sedangkan tahap aplikasi dan tahap eksekusi telah memasuki tahap in concreto. maka tahap formulasi atau tahap penetapan hukum pidana dalam perundang-undangan merupakan tahap yang paling strategis. Pembahasan yang berkaitan dengan kebijakan formulasi tidak lepas dari kebijakan kriminal. Kebijakan kriminal merupakan usaha rasional yang dilakukan untuk menanggulangi kejahatan dalam rangka perlindungan masyarakat. Hal ini dikarenakan kebijakan formulasi merupakan bagian dari kebijakan hukum pidana yang juga merupakan bagian dari kebijakan kriminal. 71 12 19 .12Pada dasarnya. Selain itu.Dari ketiga tahap tersebut di atas. (Bandung : Alumni. Pembalikan Beban Pembuktian Tindak Pidana Korupsi. kebijakan legislatif merupakan tahap yang paling strategis dan menentukan dilihat dari keseluruhan proses kebijakan untuk mengoperasionalisasikan sanksi pidana. M. Kebijakan formulasi menurut Barda Nawawi Lilik Mulyadi. karena dalam tahap inilah dirumuskan garis-garis kebijakan legislasi yang sekaligus merupakan landasan legalitas bagi tahap-tahap berikutnya. 2007). tahap formulasi merupakan tahap penegakan hukum in abstracto. yaitu tahap penerapan pidana oleh badan peradilan dan tahap pelaksanaan pidana oleh aparat pelaksana pidana. Karena kebijakan legislatif merupakan tahap strategis dan menentukan. hal. Kebijakan formulasi adalah kebijakan dalam merumuskan sesuatu dalam suatu bentuk perundang-undangan.

hal. 1994). Pengertian Tindak Pidana Istilah tindak pidana dipakai sebagai pengganti “straafbaarfeit”. Perencanaan atau kebijakan tentang perbuatan yang dilarang b. Perencanaan/ kebijakan tentang sanksi apa yang dapat dikenakan terhadap pelakunya (baik berupa pidana atau denda) dan sistem penerapannya. dalam rumusannya straafbaarfeit itu adalah tindakan melanggar hukum yang telah dilakukan dengan sengaja ataupun tidak dengan sengaja oleh seseorang 13 Barda Nawawi Arief. 63 20 .Arief adalah suatu perencanaan atau program dari pembuat undang-undang mengenai apa yang akan dilakukan dalam menghadapi problema tertentu dan cara bagaimana melakukan atau melaksanakan sesuatu yang telah direncanakan atau diprogramkan itu.13 Dengan demikian kebijakan legislatif / formulatif atau disebut pula sebagai kebijakan perundang-undangan merupakan langkah awal di dalam penanggulangan kejahatan. yang secara fungsional dapat dilihat sebagai bagian dari perencanaan dan mekanisme penanggulangan kejahatan itu dituangkan ke dalam perundang-undangan dan meliputi : a. Tindak Pidana Korupsi 1. Perencanaan/kebijakan tentang prosedur atau mekanisme sistem peradilan pidana dalam rangka penegakan hukum pidana. Menurut Simons. “Kebijakan Legislatif dalam Penanggulangan Kejahatan dengan Pidana Penjara”. (Semarang : UNDIP. c. B.

H.15 Ada dua aliran yang merumuskan tentang unsur-unsur tindak pidana yaitu: 1) Aliran monistis Aliran monistis tidak secara tegas memisahkan antara unsur tindak pidana dengan syarat untuk dapat dipidananya pelaku. (Jakarta : Sinar Grafika. Tidak membedakan antara unsur tindak pidana dengan syarat untuk dapat dipidana. syarat pidananya itu masuk dalam dan menjadi unsur tindak pidana. 2006). van Schravedijk. hal.yang dapat dipertanggungjawabkan atas tindakannya dan oleh undang-undang telah dinyatakan sebagai tindakan yang dapat dihukum. di mana penjatuhan hukuman terhadap pelaku itu adalah penting demi terpeliharanya tertib hukum dan terjaminnya kepentingan umum. J. hal. Moeljatno mengatakan straafbaarfeit merupakan perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum. Wirjono Prodjodikoro. dan Simons. 2) Aliran dualistis Golongan dualistis mengadakan pemisahan antara dilarangnya suatu perbuatan dengan sanksi ancaman pidana (criminal act atau actus 14 15 Evi Hartanti. Tokoh-tokoh yang menganut pandangan monistis antara lain adalah J. larangan yang mana disertai sanksi berupa pidana tertentu bagi barang siapa yang melanggar aturan tersebut. perkataan straafbaarfeit secara teoritis dapat dirumuskan sebagai suatu pelanggaran norma atau gangguan terhadap tertib hukum yang dengan sengaja atau tidak sengaja telah dilakukan oleh seorang pelaku. Tindak Pidana Korupsi. 6 21 . 5 Ibid. E Jonkers.14 Menurut Pompe.

FH Undip. Wetsdelicten (delik undang-undang) Perbuatan yang oleh umum baru disadari sebagai suatu tindak pidana karena undang-undang menyebutnya sebagai delik. Secara kuantitatif 16 17 Sudarto. Jenis-jenis Tindak Pidana Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) saat ini jenis delik dibagi menjadi dua (2) yaitu kejahatan dan pelanggaran. Rechtsdelicten (delik hukum) Perbuatan yang bertentangan dengan keadilan.reus) dan dapat dipertanggungjawabkannya si pembuat (criminal responbility atau adanya mens rea)16 Tokoh-tokoh yang termasuk dalam aliran dualistis adalah Moeljatno.17 2). Jadi karena undangundang mengancamnya dengan pidana. (Semarang : Yayasan Sudarto. terlepas apakah perbuatan itu diancam pidana dalam suatu undang-undang atau tidak. Hukum Pidana I. Delik semacam ini disebut dengan “pelanggaran” (mala quia prohibita). Tresna. 2. 1990). Pembagian jenis delik seperti tersebut di atas didasarkan pada perbedaan sebagai berikut : 1). hal. Pompe dan R. 44 Ibid. hal 56 22 . Contoh : pembunuhan. Secara kualitatif a. Delik semacam ini disebut dengan “kejahatan” (mala per se). pencurian. b.

Delik commisionis : delik yang berupa pelanggaran terhadap larangan. ialah berbuat sesuatu yang dilarang. masih terdapat pembagian jenis delik lainnya. terdiri dari : a. b. Delik ini baru selesai apabila akibat yang tidak dikehendaki itu telah terjadi. Misal : penipuan (Pasal 378 KUHP). Delik Formil Delik yang perumusannya dititikberatkan kepada perbuatan yang dilarang. 23 . yaitu bahwa ‘pelanggaran’ lebih ringan anaman pidananya dari ‘kejahatan’ Selain jenis delik ‘kejahatan’ dan ‘pelanggaran’. Delik tersebut telah selesai dengan dilakukannya perbuatan seperti tercantum dalam rumusan delik.Perbedaan antara ‘kejahatan’ dan ‘pelanggaran’ hanya dilihat dari segi kriminologi. terlepas dari akibat yang ditimbulkan ada atau tidak dan selesai atau tidak. antara lain : 1) Pembagian jenis delik yang didasarkan pada perumusannya. Misal : penghasutan (Pasal 160 KUHP) dan pencurian (Pasal 362 KUHP). pembunuhan (Pasal 338 KUHP). 2) Delik-delik yang dibagi menjadi delik commisionis. delik omissionis dan delik commisionis per omissionen commisa. a. Delik materil Delik yang perumusannya dititikberatkan kepada akibat yang tidak dikehendaki (dilarang).

hal. ialah tidak melakukan sesuatu yang diperintahkan atau yang diharuskan.18 2) Roeslan Saleh Muladi dalam Muladi dan Barda Nawawi Arief.b. 3) Delik-delik yang dibagi menjadi delik dolus dan delik culpa. (Bandung : Alumni. b. c. 2005). Delik omissionis : delik yang berupa pelanggaran terhadap perintah. Pengertian Pidana dan Jenis-Jenis Teori Pemidanaan Pengertian pidana menurut pendapat dari para ahli hukum pidana seperti Soedarto dan Roeslan Saleh yaitu : 1) Soedarto Penderitaan yang sengaja dibebankan kepada orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu. Delik commisionis per omissionen commisa : delik yang berupa pelanggaran terhadap larangan akan tetapi dapat dilakukan dengan cara tidak berbuat. 6) Delik-delik yang dibagi menjadi delik aduan dan bukan delik aduan. 5) Delik-delik yang dibagi menjadi delik tunggal dan delik berganda. Delik dolus : delik yang memuat unsure kesengajaan. Teori-Teori dan Kebijakan Pidana. a. 4) Delik-delik yang dibagi menjadi delik yang berlangsung terus dan delik yang tidak berlangsung terus. 2 18 24 . Delik culpa : delik yang memuat kealpaan sebagai salah satu unsurnya. 3.

Dalam banyak literature. b. Pidana itu diberikan dengan sengaja oleh orang atau badan yang mempunyai kekuasaan atau yang berwenang. dan ini berwujud suatu nestapa yang dengan sengaja ditimpakan negara kepada pembuat delik itu. c. masyarakat. Negara berhak menjatuhkan pidana terhadap penjahat karena penjahat tersebut telah melakukan penyerangan dan perkosaan pada hak dan kepentingan hukum (pribadi. Pidana dijatuhkan semata-mata karena orang telah melakukan suatu tindak pidana. Pidana itu pada hakikatnya suatu pengenaan penderitaan atau nestapa atau akibat-akibat lain yang tidak menyenangkan. atau negara) yang telah dilindungi. Teori ini mencari dan menerangkan tentang dasar dari hak negara dalam menjatuhkan dan menjalankan pidana tersebut. Pidana itu dikenakan pada seseorang yang telah melakukan tindak pidana menurut undang-undang. harus diberikan pidana yang setimpal dengan perbuatan atau kejahatan yang telah dilakukannya. 1) Teori Absolut Dasar pijakan teori ini adalah pembahasan.19 Dari beberapa defenisi di atas dapat disimpulkan bahwa pidana mengandung unsur-unsur atau ciri-ciri sebagai berikut : a.Pidana adalah reaksi atas delik. Cit 25 . teori pemidanaan disebut juga dengan teori hukum pidana (strafrecht-theorien). Karena itu. 2) Teori Relatif atau Teori Tujuan 19 Loc.

4. Poerwadarminta. Teori Gabungan yang mengutamakan pembalasan. tidak bermoral. Ditinjau dari sudut pertahanan masyarakat itu tadi. Indonesia-Inggris. dengan tujuan agar tata tertib masyarakat tetap terpelihara. 3) Teori Gabungan Teori ini mendasarkan pidana pada asas pembalasan dan asas pertahanan tata tertib masyarakat.Teori ini berpangkal pada pendapat bahwa pidana adalah alat untuk menegakkan tata tertib dalam masyarakat. Teori ini dibedakan menjadi dua golongan yaitu : a. dan ketidakjujuran 20 b. Teori Gabungan yang mengutamakan perlndungan tata tertib masyarakat.21 20 W. penerimaan uang sogok. dan sebagainya. dapat disuap. tetapi pembalasan itu tidak boleh melampaui batas dari apa yang perlu dan cukup untuk dapat mempertahankan tata tertib masyarakat. Pengertian Tindak Pidana Korupsi Adapun arti harafiah dari korupsi dapat berupa : a. maka pidana itu adalah suatu yang terpaksa perlu diadakan. Perbuatan yang buruk seperti penggelapan uang. b.S. Kejahatan. (Hasta. kebusukan. kebejatan. Kamus Lengkap Inggris-Indonesia. tetapi penderitaan atas dijatuhinya pidana tidak boleh lebih berat dari pada perbuatan yan dilakukan terpidana.J. Pidana adalah alat untuk mencegah timbulnya suatu kejahatan. Bandung) 26 .

Korupsi : busuk.S. suka memakai barang atau uang yang dipercayakan kepadanya. 2. 1976) 27 . Poerwadarminta. 2) M. Kamus Umum Bahasa Indonesia. penyelewengan atau penggelapan (uang negara atau perusahaan dan sebagainya) untuk kepentingan pribadi dan orang lain. Bayley Perkataan ‘korupsi’ dikaitkan dengan perbuatan penyuapan yang berkaitan dengan penyalahgunaan wewenang atau kekuasaan sebagai akibat adanya pertimbangan dari mereka yang memegang jabatan bagi keuntungan pribadi. dimana pendapatannya akan diusahakan semaksimal mungkin. Rumusan korupsi dari sisi pandang teori pasar Jacob van Klaveren yang mengatakan bahwa seorang pengabdi negara (pegawai negeri) yang berjiwa korup menganggap kantor/instansinya sebagai perusahaan dagang. rusak. dapat disogok (melalui kekuasaannya untuk kepentingan pribadi). b. 1. Mc Mullan Seorang pejabat pemerintahan dikatakan ‘korup’ apabila ia menerima uang yang dirasakan sebagai dorongan untuk melakukan sesuatu yang ia bisa lakukan dalam tugas jabatannya padahal ia selama menjalankan tugasnya 21 W. Perkembangan Pengertian Korupsi antara lain : a. secara harafiah dapat ditarik kesimpulan bahwa sesungguhnya istilah korupsi memiliki arti yang sangat luas.Dengan demikian. Rumusan yang menekankan titik berat jabatan pemerintahan 1) L.J. Korupsi. (Balai Pustaka.

khususnya dalam pemberian jabatan atau memberikan perlindungan dengan alasan hubungan asal usul dan bukannya berdasarkan pertimbangan prestasi. d.22 3) J. penyalahgunaan atau secara tidak sah menggunakan sumber penghasilan negara untuk kepentingan/keperluan pribadi).seharusnya tidak boleh berbuat demikian. Friesrich. seperti penyuapan (memberi hadiah dengan maksud hal-hal menyelewengkan seseorang dalam kedudukan pada jawatan dinasnya). Penerapan Pembuktian Terbalik dalam Delik Korupsi UU No. hal. nepotisme (kedudukan sanak saudaranya sendiri didahulukan. karena kepentingan pribadi (keluarga.S Nye Korupsi sebagai perilaku yang menyimpang dari kewajiban-kewajiban normal suatu peran instansi pemerintah.9 22 28 . teman). demi mengejar status dan gengsi. kawan. atau melanggar peraturan dengan jalan melakukan atau mencari pengaruh bagi kepentingan pribadi. (Bandung : Mandar Maju. Rumusan korupsi dengan titik berat pada kepentingan umum Carl J. mengatakan bahwa pola korupsi dapat dikatakan ada apabila seorang memegang kekuasaan yang berwenang untuk melakukan hal-hal tertentu seperti seorang pejabat yang bertanggung jawab melalui uang atau semacam hadiah lainnya yang tidak diperbolehkan oleh undang-undang. 8 23 Ibid. 2009). Rumusan korupsi dari sisi pandang politik Martiman Prodjohamidjojo. Atau dapat berarti menjalankan kebijaksanaannya secara sah untuk alasan yang tidak benar dan dapat merugikan kepentingan umum. hal. Yang menyalahgunakan kewenangan dan kekuasaan.23 c. 20 Tahun 2001. membujuk untuk mengambil langkah yang menolong siapa saja yang menyediakan hadiah dan dengan demikian benar-benar membahayakan kepentingan umum. golongan. Hal ini mencakup tindakan.

Ia menyentuh keabsahan (legitimasi) pemerintah di mata generasi muda. kaum elite terdidik dan pegawai pada umumnya. Dari rumusan pengertian korupsi sebagai tercermin di atas bahwa korupsi menyangkut segi moral.Mubyarto mengutip pendapat. penyelewengan kekuasaan karena pemberian. Korupsi mengurangi dukungan pada pemerintah dari kelompok elite di tingkat propinsi dan kabupaten”. Karena itu. klik golongan ke dalam dinas si bawah kekuasaan jabatannya. 11 April 1971) mengatakan sebagai berikut : “Secara keseluruhan korupsi di Indonesia muncul lebih sering sebagai masalah politik daripada masalah ekonomi. factor ekonomi dan politik serta penempatan keluarga. dalam bukunya “The Sosiology of Corruption” yang antara lain menyebutkan bahwa “terjadi korupsi adalah apabila seorang pegawai negeri menerima pemberian yang disodorkan oleh seorang dengan maksud mempengaruhinya agar memberikan perhatian istimewa pada 29 . maka rumusan pengertian korupsi tidak ada yang sama pada setiap negara. tergantung pada tekanan atau titik beratnya yang diambil oleh pembentuk undang-undang. jabatan dalam instansi atau aparatur pemerintahan. e. sifat dan keadaan yang busuk. Smith dalam tulisannya “ Corruption Tradition and Change” Indonesia (Cornell University No. Rumusan-rumusan pengertian korupsi pada dasarnya dapat member warna pada korupsi dalam hukum positif. jika memperhatikan uraian Syed Hussein Alatas. Rumusan korupsi dari sisi pandang sosiologi Pengkajian makna korupsi secara sosiologis. Theodore M.

Melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri. sehingga si pembuat bertambah kaya. Kadang-kadang juga berupa perbuatan menawarkan pemberian uang hadiah lain yang dapat menggoda pejabat. Memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu badan c.25 24 25 Ibid. atau perbuatan itu diketahui atau patut disangka oleh si pembuat bahwa merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.Op. atau diketahui atau patut disangka olehnya bahwa perbuatan tersebut merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. korupsi adalah perbuatan yang memenuhi unsur-unsur sebagai berikut : a. c. 18 30 . memindahbukukan. Unsur ini perlu dibuktikan karena tercantum secara tegas dalam rumusan delik. “Perbuatan memperkaya” artinya berbuat apa saja. Melawan hukum b. Sudarto menjelaskan unsur-unsur tindak pidana korupsi yaitu : a.kepentingan-kepentingan si pemberi”. menandatangani kontrak dan sebagainya. Yang secara langsung atau tidak langsung merugikan keuangan negara dan perekonomian negara. hal. 10 Evi Hartanti. hal. misalnya mengambil. Perbuatan itu bersifat melawan hukum “Melawan hukum” di sini diartikan secara formil dan materil. Termasuk dalam pengertian ini juga pemerasan yakni permintaan pemberian atau hadiah seperti itu dalam pelaksanaan tugas-tugas politik. b. Perbuatan itu secara langsung atau tidak langsung merugikan keuangan negara dan/atau perekonomian negara.Cit.24 Menurut undang-undang tindak pidana korupsi. orang lain atau suatu badan.

menyaksikan dan meyakinkan. 31 .C. cara. Dikaji secara makna leksikon pembuktian adalah suatu proses. di sini sudah ada tahapan pembuktian. Hukum Pembuktian 1. perbuatan terdakwa dalam siding pengadilan. Pengadilan tidak boleh sesuka hati dan semena-mena membuktikan kesalahan terdakwa. kata pembuktian berasal dari kata “bukti” yang berarti suatu hal (peristiwa atau sebagainya) yang cukup untuk memperlihatkan kebenaran suatu hal (peristiwa tersebut). Oleh karena itu. Aspek hukum pembuktian asasnya sudah dimulai sejak tahap penyelidikan perkara pidana. Tinjauan Umum mengenai Pembuktian Dikaji secara umum. melaksanakan. melakukan sesuatu dengan kebenaran. menurut M. Pembuktian juga merupakan ketentuan yang mengatur alat-alat bukti yang dibenarkan undangundang dan mengatur mengenai alat bukti yang boleh digunakan hakim guna membuktikan kesalahan terdakwa. Dikaji dari perpektif yuridis. Membuktikan sama dengan member (memperlihatkan) bukti. Pembuktian adalah perbuatan membuktikan. menandakan. Begitu pula halnya dengan penyidikan. ditentukan adanya tindakan penyidik untuk mencari serta mengumpulkan bukti dan dengan bukti tersebut membuat terang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya. Pada tahap penyelidikan ketika tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan sesuatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan. Yahya Harahap pembuktian adalah ketentuan-ketentuan yang berisi penggarisan dan pedoman tentang cara-cara yang dibenarkan undang-undang membuktikan kesalahan yang didakwakan kepada terdakwa.

ketentuan pasal 1 angka 2 dan angka 5 KUHAP menegaskan bahwa untuk dapat dilakukan tindakan penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan bermula dilakukan penyelidikan dan berakhir sampai adanya penjatuhan pidana (vonnis) oleh hakim di depan sidang pengadilan baik di tingkat Pengadilan Negeri atau Pengadilan Tinggi jikalau perkara tersebut dilakukan upaya hukum banding. Proses pembuktian merupakan interaksi antara pemeriksaan yang dilakukan oleh majelis hakim dalam menangani perkara tersebut dengan dibantu oleh seorang panitera pengganti, kemudian adanya penuntut umum yang melakukan penuntutan dan terdakwa atau beserta penasehat hukumnya. Hakikatnya hukum pembuktian dapat dikategorisasikan ke dalam hukum pembuktian yang bersifat umum/konvensional dan khusus. Dimensi dari hukum pembuktian yang bersifat umu/konvensional terdapat dalam KUHAP. Pada ketentuan ini, hukum pembuktian dalam sidang pengadilan dilakukan secara aktif oleh jaksa penuntut umum untuk menyatakan kesalahan terdakwa melakukan tindak pidana yang didakwakan dalam surat dakwaan. Sebaliknya, terdakwa atau penasehat hukumnya akan berusaha untuk menyatakan dan membuktikan bahwa terdakwa tidak terbukti bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan oleh jaksa penuntut umum. Hukum pembuktian yang bersifat khusus, dasarnya bukan semata-mata kepada ketentuan hukum acara pidana sebagaimana Pasal 183 KUHAP. Tegasnya, ketentuan hukum pembuktian yang bersifat khusus terdapat dalam UU tindak pidana khusus di luar tindak pidana umum sebagaimana diatur dalam Pasal 103 KUHP. Di dalam UU tindak pidana khusus tersebut diatur mengenai ketentuan

32

umum pidana formal dan hukum pidana materil secara sekaligus. Misalnya, Pasal 26 UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No. 20 Tahun 2001 menentukan bahwa : “ Penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan dalam perkara tindak pidana korupsi, dilakukan berdasarkan hukum acara pidana yang berlaku, kecuali ditentukan lain dalam Undang-Undang ini.” Dari redaksional di atas, terminology “dilakukan berdasarkan hukum acara pidana yang berlaku” sehingga ada ketentuan hukum pidana formal diintrodusir dalam KUHAP. Kemudian terminology “kecuali ditentukan lain dalam Undang-Undang ini” menunjukan ada kekhususan hukum acara. Apabila aspek ini dijabarkan, dalam Pasal 26A UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No. 20 Tahun 2001 ditentukan adanya pembalikan beban pembuktian tentang ketentuan alat bukti petunjuk. Dalam ketentuan tersebut alat bukti petunjuk diperluas, jangkauan pembuktian tidak hanya digali dari keterangan saksi, surat dan keterangan terdakwa sebagaimana ketentuan Pasal 188 ayat (2) KUHAP melainkan dapat digali dari alat bukti lain yang berupa informasi yang diucapkan, dikirim, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optic atau yang serupa dengan itu; dan dokumen, yakni setiap rekaman data atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan/atau didengar yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang tertuang dalam kertas, benda fisik apapun selain kertas maupun yang terekam secara elektronik yang berupa tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, huruf, tanda, angka, atau perforasi yang memiliki makna dan lain sebagainya.

33

2. Teori Hukum Pembuktian Secara teoritis asasnya dikenal 3 (tiga) teori tentang pembuktian, yaitu berupa : a. Teori Hukum Pembuktian menurut undang-undang Secara Positif Pada dasarnya, teori hukum pembuktian menurut undang-undang secara positif berkembang sejak abad pertengahan. Menurut teori ini, teori hukum pembuktian positif bergantung kepada alat-alat bukti sebagaimana disebut secara limitatif dalam undang-undang. Singkatnya, undang-undang telah menentukan tentang adanya alat-alat bukti mana yang dapat dipakai hakim, cara bagaimana hakim harus mempergunakan kekuatan alat-alat bukti tersebut dan bagaimana caranya hakim harus memutus terbukti atau tidaknya perkara yang sedang diadili. Dalam aspek ini, hakim terikat kepada adagium kalau alat-alat bukti tersebut telah dipakai sesuai ketentuan undang-undang, hakim mesti menentukan terdakwa bersalah, walaupun hakim “berkeyakinan” bahwa sebenarnya terdakwa tidak bersalah. Demikian sebaliknya, apabila tidak dapat dipenuhi cara mempergunakan alat bukti sebagaimana ditetapkan undang-undang, hakim harus menyatakan terdakwa tidak bersalah walaupun menurut “keyakinannya” sebenarnya terdakwa bersalah. Dengan demikian, pada esensinya menurut D. Simons, sistem atau teori hukum pembuktian berdasarkan undang-undang secara positif ini berusaha untuk menyingkirkan semua pertimbangan subjektif hakim dan mengikat hakim secara

34

92-93 35 . Dianut di Eropa pada waktu berlakunya asas inkisitor (inquisitoir) dalam acara pidana. Pokoknya. Meskipun demikian. Untuk membuktikan salah atau tidaknya terdakwa semata-mata bergantung kepada alat-alat bukti yang sah. tidak ikut berperan menentukan salah atau tidaknya terdakwa.26 Lebih lanjut lagi. hakim seolah-olah robot pelaksana undang-undang yang tidak memiliki hati nurani. Apakah hakim yakin atau tidak tentang kesalahan terdakwa. hal. Sistem ini berpedoman pada prinsip pembuktian dengan alatalat bukti yang ditentukan undang-undang. keyakinan hakim tidak ikut ambil bagian dalam membuktikan kesalahan terdakwa. Keyakinan hakim dalam sistem ini. Hati nuraninya seolah-olah tidak ikut hadir dalam menentukan salah atau tidaknya terdakwa. hakim tidak lagi menanyakan keyakinan hati nuraninya akan kesalahan terdakwa. apabila dikaji secara hakiki ternyata teori hukum pembuktian positif mempunyai segi negatif dan segi positif.ketat menurut peraturan-peraturan pembuktian yang keras. apabila sudah dipenuhi cara-cara pembuktian dengan alat-alat bukti yang sah menurut undang-undang. sudah cukup menentukan kesalahan terdakwa tanpa mempersoalkan keyakinan hakim. dari satu segi sistem ini mempunyai kebaikan. Dari 26 LIlik Mulyadi. suatu kewajiban mencari dan menemukan kebenaran salah atau tidaknya terdakwa sesuai dengan tatacara pembuktian dengan alat-alat bukti yang telah ditentukan undang-undang. Asal sudah dipenuhi syarat-syarat dan ketentuan pembuktian menurut undang-undang. Sistem ini benar-benar menuntut hakim. Yahya Harahap berpendapat bahwa pembuktian menurut undang-undang secara positif.Cit. M. Op. Dalam sistem ini. bukan menjadi masalah.

Teori Hukum Pembuktian Menurut Keyakinan Hakim Pada teori hukum pembuktian berdasarkan keyakinan hakim. Sekali hakim majelis menemukan hasil pembuktian yang objektif sesuai dengan cara dan alat-alat bukti yang sah menurut undang-undang. kesalahan terdakwa bergantung kepada “keyakinan” belaka. lebih lanjut teori hukum pembuktian berdasarkan keyakinan hakim mempunyai 2 (dua) bentuk polarisasi. hakim dapat menjatuhkan putusan berdasarkan “keyakinan” belaka dengan tidak terikat oleh suatu peraturan (bloot gemoedelijke overtuiging. dalam perkembangannya dengan titik tolak aspek negatif dan positif. Dalam perkembangannya. hal. putusan hakim di sini tampak timbul nuansa subjektifnya. Dengan demikian. Kasasi dan Peninjauan Kembali. Yahya Harahap. 789-799 27 36 . Hakim semata-mata berdiri tegak pada nilai pembuktian objektif tanpa mencampuradukan hasil pembuktian yang diperoleh di persidangan dengan unsur subyektif keyakinannya. Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP Pemeriksaan Sidang Pengadilan. yaitu : “Conviction Intime” dan “Conviction Raisonce”. M. conviction intime). mereka tidak perlu lagi menanya dan menguji hasil pembuktian tersebut dengan keyakinan hati nuraninya. baik secara teoritis dan praktik teori hukum pembuktian menurut undangundang secara positif relatif sudah tidak pernah diterapkan lagi. b. conviction intime). 2005).27 Kemudian. sehingga hakim tidak terikat oleh suatu peraturan (bloot gemoedelijke overtuiging. (Jakarta : Sinar Grafika. Banding. hakim harus melemparkan dan mengeyampingkan jauh-jauh factor keyakinannya.sejak semula pemeriksaan perkara.

dalam sistem pembuktian conviction-intime. mendalam dan terinci. dan langsung menarik kesimpulan dari keterangan atau pengakuan terdakwa. Keyakinan hakimlah yang paling “dominan” atau yang paling menentukan salah atau tidaknya terdakwa. walaupun kesalahan terdakwa “tidak terbukti” berdasar alat-alat bukti yang sah. Keyakinan boleh diambil dan disimpulkan hakim dari alat-alat bukti yang diperiksanya dalam sidang pengadilan. Bisa juga hasil pemeriksaan alat-alat bukti itu diabaikan hakim. Keyakinan hakimlah yang menentukan keterbuktian kesalahan terdakwa. Sistem pembuktian conviction-intime ini. telah cukup terbukti dengan alat-alat bukti yang lengkap. selama hakim tidak yakin atas kesalahan terdakwa. Hakim dapat saja menjatuhkan hukuman pada seorang terdakwa semata-mata atas “dasar keyakinan” belaka tanpa didukung oleh alat bukti yang cukup. Jadi. sekalipun kesalahan terdakwa sudah cukup terbukti. sudah cukup membuktikan kesalahan terdakwa. 37 . sudah barang tentu mengandung kelemahan. pembuktian yang cukup itu dapat dikesampingkan oleh keyakinan hakim.Apabila dikaji secara detail. Seolah-olah sistem ini menyerahkan sepenuhnya nasib terdakwa kepada keyakinan hakim semata-mata. terdakwa bisa dinyatakan bersalah semata-mata atas “dasar keyakinan” hakim. penerapan teori hukum pembuktian “Conviction Intime” mempunyai bias subjektif. Dari mana hakim menarik dan menyimpulkan keyakinannya. yaitu apabila pembuktian conviction-intime menentukan salah tidaknya terdakwa. Sebaliknya hakim leluasa membebaskan terdakwa dari tindak pidana yang dilakukannya walaupun kesalahan terdakwa. Keyakinan tanpa alat bukti yang sah. semata-mata ditentukan oleh penilaian “keyakinan” hakim. Sebaliknya. tidak menjadi masalah dalam sistem ini.

Cit. hal.96 38 . hal. Lebih lanjut lagi. Akan tetapi. pada teori hukum pembuktian “Conviction Raisonance” keyakinan hakim tetap memegang peranan penting untuk menentukan tentang kesalahan terdakwa. 797-798 Lilik Mulyadi. penerapan keyakinan hakim tersebut dilakukan secara selektif dalam arti keyakinan hakim “dibatasi” dengan harus didukung oleh “alasan-alasan jelas dan rasional” dalam mengambil keputusan. Dari aspek historis ternyata teori hukum pembuktian menurut undang-undang secara negatif. Secara teoritis dan normatif hukum pembuktian di Indonesia mempergunakan teori hukum pembuktian secara negative.Keyakinan hakimlah yang menentukan wujud kebenaran sejati dalam sistem pembuktian ini. hakikatnya merupakan “peramuan” antara teori hukum pembuktian menurut undang-undang secara positif dan teori hukum pembuktian berdasarkan keyakinan hakim. Op. teori hukum pembuktian menurut undang-undang negative menentukan bahwa hakim hanya boleh menjatuhkan pidana terhadap terdakwa apabila alat bukti tersebut secara limitatif ditentukan oleh undangundang dan didukung pula oleh adanya keyakinan hakim terhadap eksistensinya alat-alat bukti tersebut. Teori Hukum Pembuktian menurut Undang-Undang Secara Negatif Pada prinsipnya.29 c.28 Teori hukum pembuktian “Conviction Raisoance” asasnya identik sistem “Conviction Intime”. tetapi dalam praktik peradilan selintas dan tampak penerapan Pasal 183 KUHAP mulai terjadi 28 29 Ibid.

Secara universal ketiga teori beban pembuktian tersebut hakikatnya terdapat di negara Indonesia maupun di beberapa negara seperti di Negara Malaysia. Hongkong maupun di Negara Republik Singapura. United Kingdom of Great Britain (Inggris). Teori beban pembuktian ini dikenal di Indonesia. d. sedangkan segmen “keyakinan hakim” hanyalah bersifat “unsur pelengkap” karena tanpa adanya aspek tersebut tidak mengakibatkan batalnya putusan.pergeseran pembuktian pada teori hukum pembuktian menurut undang-undang secara positif bahwa unsur “sekurang-kurangnya dua alat bukti” merupakan aspek dominan. sebab jika tidak demikian akan susah meyakinkan hakim tentang kesalahan terdakwa. Teori Pembalikan Beban Pembuktian (Omkering van het Bewijslast atau Shifting of Burden of Proof/Onus of Proof) Dikaji dari perpektif ilmu pengetahuan hukum pidana dikenal ada 3 (tiga) teori tentang beban pembuktian. Konsekuensi logis beban pembuktian ada pada Penuntut Umum ini berkorelasi asas praduga tidak bersalah dan aktualisasi asas tidak mempersalahkan diri sendiri (non self incrimination). 39 . bahwa ketentuan Pasal 66 KUHAP dengan tegas menyebutkan bahwa “tersangka atau terdakwa tidak dibebani kewajiban pembuktian”. bahwa Penuntut umum harus mempersiapkan alat-alat bukti dan barang bukti secara akurat. dan praktiknya hanya “diperbaiki” dan “ditambahi” pada tingkat banding oleh Pengadilan Tinggi ataupun pada tingkat kasasi oleh Mahkamah Agung RI. yaitu : 1) Beban Pembuktian pada Penuntut Umum Konsekuensi logis teori beban pembuktian ini.

Apabila ketiga polarisasi teori beban pembuktian tersebut dikaji dari tolok ukur penuntut umum dan terdakwa. terdakwa dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana. terdakwalah di depan sidang pengadilan yang akan menyiapkan segala beban pembuktian dan bila tidak dapat membuktikan. Pada hakikatnya.2) Beban Pembuktian pada Terdakwa Dalam konteks ini. Pada asasnya teori beban pembuktian jenis ini dinamakan teori “Pembalikan Beban Pembuktian”. sebenarnya teori beban pembuktian dapat dibagi menjadi 2 (dua) kategorisasi. Dikaji dari perpektif teoritis dan praktik teori beban pembuktian ini dapat diklasifikasikan lagi menjadi pembalikan beban pembuktian yang bersifat murni maupun bersifat terbatas (limited burden of proof). 3) Beban Pembuktian Berimbang Konkretisasi asas ini baik penuntut umum maupun terdakwa dan/atau penasihat hukumnya saling membuktikan di depan persidangan. Oleh karena itu. yaitu: 40 . pembalikan beban pembuktian tersebut merupakan suatu penyimpangan hukum pembuktian dan juga merupakan suatu tindakan luar biasa terhadap tindak pidana korupsi. Lazimnya penuntut umum akan membuktikan kesalahan terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan. Dalam kepustakaan ilmu hukum asas beban pembuktian ini dinamakan juga asas pembalikan beban pembuktian “berimbang” seperti dikenal di Amerika Serikat dan juga di Indonesia. terdakwa berperan aktif menyatakan bahwa dirinya bukan sebagai pelaku tindak pidana.

Secara kronologis. sistem beban pembuktian “biasa” atau “konvensional”. 20 Tahun 2001). teori pembalikan beban pembuktian yang dalam aspek ini dapat dibagi menjadi pembalikan beban pembuktian yang bersifat “absolute” atau “murni” bahwa terdakwa dan/atau penasihat hukumnya membuktikan ketidakbersalahan terdakwa. Kedua. 8 Tahun 1999). asas pembalikan beban pembuktian dalam sistem hukum pidana Indonesia dikenal dalam tindak pidana korupsi (UU Nomor 31 Tahun 1999 jo UU No. tindak pidana pencucian uang (UU No. 15 Tahun 2002 jo UU No.Pertama. misalnya seperti di United Kingdom of Great Britain kemudian juga yang terjadi pada Negara Republik Singapura dan Malaysia serta di Indonesia. Pada hakikatnya.30 30 Ibid. penuntut umum membuktikan kesalahan terdakwa dengan mempersiapkan alat-alat bukti sebagaimana ditentukan undang-undang. Kemudian teori pembalikan beban pembuktian yang bersifat “terbatas dan berimbang” dalam artian terdakwa dan penuntut saling membuktikan kesalahan atau ketidakbersalahan dari terdakwa. hal 101-104 41 . 25 Tahun 2003) dan perlindungan konsumen (UU No. asas pembalikan beban pembuktian bermula dari sistem pembuktian yang dikenal pada negara-negara yang menganut rumpun AngloSaxon atau negara-negara penganut “case law” terbatas pada “certain cases” atau kasus-kasus tertentu khususnya terhadap tindak pidana “gratification” atau pemberian yang berkorelasi dengan “bribery” (suap). Kemudian terdakwa dapat menyangkal alat-alat bukti dan beban pembuktian dari Penuntut Umum sesuai ketentuan Pasal 66 KUHAP.

Konsekuensinya. Dalam Hukum Pidana (Formal). Korupsi dan Pembalikan Beban Pembuktian. praduga bersalah relatif cenderung dianggap sebagai pengingkaran asas yang bersifat universal khususnya terhadap asas praduga tidak bersalah. Konsekuensi logis demikian. Itu pun tidak dilakukan secara overall. Hanya saja. tetapi memiliki batas-batas yang seminimal mungkin tidak melakukan suatu destruksi terhadap perlindungan dan penghargaan Hak Asasi Manusia. baik sistem kontinental maupun Anglo Saxon. (Jakarta : Penerbit Kantor Pengacara dan Konsultasi Hukum “Prof Oemar Seno Adji. Pada asasnya. setiap orang yang didakwa melakukan tindak pidana mendapatkan hak untuk tidak dianggap bersalah hingga terbukti kesalahannya dengan tetap berlandaskan kepada beban pembuktian pada penuntut umum. khususnya Hak 31 Tersangka/Terdakwa. teori pembalikan beban pembuktian yang meletakkan beban pembuktian pada terdakwa untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya. Lebih lanjut. Pada dasarnya. Indriyanto Seno Adji Indriyanto Seno Adji. yaitu Sistem Pembalikan Beban Pembuktian atau dikenal sebagai “Reversal of Burden Proof” (Omkering van Bewjislast). mengenal pembuktian dengan tetap membebankan kewajibannya pada Jaksa Penuntut Umum. norma pembuktian yang cukup dan metode pembuktian harus mengikuti cara-cara yang adil. dalam “certain cases” (kasus-kasus tertentu) diperkenankan penerapan dengan mekanisme yang diferensiel. praduga tidak bersalah merupakan asas fundamental dalam negara hukum. dengan dianutnya pembalikan beban pembuktian secara murni menyebabkan beralihnya asas praduga tidak bersalah menjadi asas praduga bersalah. SH & Rekan”.Indriyanto Seno Adji berasumsi bahwa : Asas pembalikan beban pembuktian merupakan suatu sistem pembuktian yang berada di luar kelaziman teoritis pembuktian dalam Hukum (Acara) Pidana yang universal. 2001) 31 42 . apabila dijabarkan lebih terinci.

terdakwalah yang harus membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah. (Jakarta : Penerbit Kantor Pengacara dan Konsultasi Hukum “Prof Oemar Seno Adji. Sebagai suatu penyimpangan.32 Konsekuensi logis aspek tersebut. Lebih jauh lagi bahwa terdakwa memiliki hak yang dinamakan “The Right to Remain Silent” (hak untuk diam). apabila dikaji lebih detail teori pembalikan beban pembuktian akan bersinggungan dengan Hak Asasi Manusia (HAM) khususnya implementasi terhadap ketentuan hukum acara pidana.menyebutkan asas pembalikan beban pembuktian merupakan penyimpangan asas umum hukum pidana yang menyatakan kebenaran tuntutannya. bahwa pembalikan beban pembuktian relatif tidak dapat diperlakukan terhadap kesalahan pelaku karena selain bertentangan dengan asas-asas sebagaimana tersebut di atas juga relatif mengedepankan asas praduga bersalah. khususnya terhadap delik baru tentang pemberian (gratification) dan yang berkaitan dengan bribery (penyuapan). bahkan tidak pernah diwajibkan untuk mempersalahkan dirinya sendiri (non self incrimination). Kesemua ini merupakan bahagian dari prinsip perlindungan dan penghargaan HAM yang tidak dapat dikurangi sedikit apapun dengan alasan apapun juga (Non-Derogable Right). yaitu yang berkaitan dengan delik korupsi. 2001). Pembalikan Beban Pembuktian dalam Tindak Pidana Korupsi. Selain itu. hal. Indriyanto Seno Adji menyebutkan terdakwa tidak pernah dibebankan untuk membuktikan kesalahannya. 32 Indriyanto Seno Adji. Dalam hal pembalikan beban pembuktian. SH & Rekan. asas ini hanya diterapkan terhadap perkara-perkara tertentu. 50 43 .

Karena teori pembalikan beban pembuktian tidak dapat diperlakukan terhadap kesalahan pelaku. tentu harus dicari suatu formula baik dari perpektif teoritis. yuridis. e. secara bersamaan di satu sisi khusus terhadap asas pembalikan beban pembuktian dapat dilakukan terhadap 44 . dan perampasan hak individu yang bersangkutan atas harta kekayaan milik pelaku yang diduga kuat berasal dari korupsi di sisi lainnya. filosofis dan praktik bagaimana teori ini dapat diterapkan ditataran kebijakan legislasi dan aplikasi. Konklusinya. Dalam konteks ini. Kemudian. teori pembalikan beban pembuktian keseimbangan kemungkinan menempatkan pelaku tindak pidana korupsi terhadap perbuatan atau kesalahan orang yang diduga melakukan tindak pidana korupsi tidak boleh dipergunakan asas pembalikan beban pembuktian melainkan tetap berdasarkan asas negative karena perlindungan terhadap hak individu ditempatkan paling tinggi terhadap perampasan kemerdekaan seseorang. kedudukan hak asasi pelaku tindak pidana korupsi ditempatkan dalam kedudukan yang paling tinggi dengan mempergunakan teori “probabilitas berimbang yang sangat tinggi” yang tetap mempergunakan sistem pembuktian menurut UU secara negatif. Teori Pembalikan Beban Pembuktian Keseimbangan Kemungkinan (Balanced Probability of Principles) dalam Tindak Pidana Korupsi Teori Pembalikan Beban Pembuktian secara Keseimbangan antara Kemungkinan perlindungan mengedepankan keseimbangan proporsional kemerdekaan individu di satu sisi.

penerapan teori ini dalam tindak pidana korupsi telah dilakukan oleh Pengadilan Tinggi HongKong dalam kasus antara Attotney General of Hongkong v Lee Kwang Kut.Cit. pelaku tindak pidana korupsi terhadap kepemilikan harta kekayaan dipergunakan Teori “probabilitas berimbang yang diturunkan”. 33 Lilik Mulyadi. Op.kepemilikan harta kekayaan pelaku tindak pidana korupsi sehingga tidak berdasarkan asas pembuktian negatif.33 Teori pembalikan beban pembuktian keseimbangan kemungkinan adalah upaya teoritis untuk menentukan solusi penerapan pembalikan beban pembuktian dalam pemberantasan korupsi yang sulit pembuktiannya terutama yang menyangkut asal usul harta kekayaan milik terdakwa. Oleh karena itu. Dalam praktiknya. hal 109-111 45 . Apabila dijabarkan terhadap harta kekayaan milik seseorang dapat dilakukan penerapan asas pembalikan beban pembuktian karena harta kekayaan orang ditempatkan dalam kedudukan yang paling rendah ketika pelaku tersebut dalam kedudukan yang belum kaya.

memecahkan problem melalui hubungan sebab dan akibat. dan mendasarkan pada teori dan hipotesis atau jawaban sementara. Discovery diartikan hasil temuan yang memang sebetulnya sudah ada sedangkan invention dapat diartikan sebagai penemuan hasil penelitian yang betul-betul baru dengan dukungan fakta. merumuskan.BAB III METODE PENELITIAN Metode merupakan sarana untuk menemukan. empiris. baik itu discovery maupun invention. Penelitian dapat diartikan sebagai cara pengamatan dan mempunyai tujuan untuk mencari jawaban permasalahan atau proses penemuan. dapat diulang kembali dengan cara yang sama dan hasil sama. Penelitian adalah merupakan proses ilmiah yang mencakup sifat formal dan intensif. Karakter formal dan intensif karena mereka terikat dengan aturan. Penelitian menurut Kerlinger ialah proses penemuan yang mempunyai karakteristik sistematis. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penelitian tidak lain adalah usaha seseorang yang dilakukan secara sistematis 46 . urutan maupun cara penyajiannya agar memperoleh hasil yang diakui dan bermanfaat bagi kehidupan manusia. karena metode pada prinsipnya memberikan pedoman tentang cara ilmuwan mempelajari. menganalisis suatu masalah tertentu untuk mengungkapkan suatu kebenaran. terkontrol. menganalisis serta memahami apa yang dihadapinya. Intensif dengan menerapkan ketelitian dan ketepatan dalam melakukan proses penelitian agar memperoleh hasil yang dapat dipertanggungjawabkan.

Maksudnya ialah bahwa penelitian berfungsi untuk menemukan sesuatu yang belum ada. Pengembangan Fungsi ini disebut fungsi developmental. dan mendasarkan pada teori yang ada dan diperkuat dengan gejala yang ada. Pengujian Fungsi ini disebut juga sebagai fungsi verifikatif.3-4 35 Rianto Adi. 2004). 2004). 34 Sukardi. Maksudnya penelitian berfungsi untuk menguji kebenaran suatu pengetahuan yang sudah ada. 3-4 47 . Maksudnya penelitian berfungsi mengembangkan pengetahuan yang sudah ada. Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya. yang disebut juga penelitian hukum kepustakaan. c.35 Penelitian hukum dapat dibedakan menjadi dua yaitu penelitian hukum normatif dan penelitian hukum sosiologis. penelitian mempunyai fungsi menemukan. Penelitian hukum normatif dilakukan denga cara meneliti bahan pustaka yang merupakan data sekunder. b.mengikuti aturan-aturan metodologi misalnya observasi secara sistematis. (Jakarta : Granit. hal. mengembangkan atau menguji kebenaran suatu pengetahuan. (Jakarta : Bumi Aksara. hal. Metodologi Penelitian Sosial dan Hukum. Dengan demikian penelitian mengisi kekosongan atau kekurangan ilmu. Penjajagan Fungsi ini juga disebut fungsi eksploratif.34 Pada hakikatnya. Secara rinci penelitian berfungsi sebagai berikut : a. Sedangkan penelitian hukum sosiologis terutama digunakan untuk meneliti data primer. dikontrol.

Metode yang akan diterapkan ini harus disesuaikan dengan ilmu pengetahuan dari metodemetode penelitian sehingga dalam kegiatan penelitian dapat mengarah pada tujuan yang telah ditentukan. Pendekatan yuridis komparatif diperlukan dalam melihat norma-norma yang menyangkut pembuktian terbalik dalam perundang-undangan tindak pidana korupsi di beberapa negara. terutama berupa bahan-bahan hukum primer berupa perundang-undangan dan bahan hukum sekunder berupa rancangan KUHP dan karya ilmiah. Metode Pendekatan Metode pendekatan yang digunakan adalah metode yuridis normatif. 48 . diperlukan data primer untuk mendukung data. dilakukan juga pendekatan komparatif. yaitu dengan mengkaji/menganalisis data sekunder. Hal ini berkaitan pula dengan usaha-usaha dalam menentukan kebijakan hukum pidana terhadap pembuktian terbalik di masa mendatang. menganalisa dan memahami lingkungan yang dihadapinya. Untuk lebih jelasnya dalam penulisan hukum ini penulis akan menggunakan metode-metode sebagai berikut : A. Metodologi pada hakikatnya memberikan pedoman tentang tata cara seorang ilmuwan mempelajari. Penggunaan metode sosial ini disamping penelitian normatif.Suatu penelitian juga memerlukan metode-metode tertentu. Di samping data sekunder.

yaitu sebagai berikut : 1. Pengadilan Negeri Semarang 2. Data Primer Data primer dilakukan dengan melakukan penelitian lapangan. yaitu dengan wawancara kepada hakim. Metode Pengumpulan Data Pada penelitian ini. Untuk mendapatkan data primer. Dalam penelitian ini akan digambarkan mengenai keadaan objek yang akan diteliti yaitu pembuktian terbalik. yakni : 1. Spesifikasi Penelitian Spesifikasi penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitis. Komisi Pemberantasan Korupsi C. Metode deskriptif adalah prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan kedaan objek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampil atau sebagaimana adanya. khususnya mengenai kebijakan hukum pidana terhadap formulasi rumusan pembuktian terbalik pada saat ini dan yang akan datang. jaksa dan anggota Komisi Pemberantasan 49 .B. Deskriptif analitis adalah suatu penelitian yang berusaha menemukan gejala-gejala yang diperlukan dalam dokumen atau suatu buku dan menggunakan informasi-informasi yang berguna di bidang masing-masing. peneliti melakukan penelitian di institusiinstitusi terkait. Kejaksaan Negeri Semarang 3. penulis akan mempergunakan data primer dan data sekunder.

Adapun data sekunder di bidang hukum yang dapat diteliti adalah : 1. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi d. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi c. Bahan hukum primer terdiri atas : a. Bahan hukum primer adalah badan hukum yang mengikat. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi b. Data Sekunder Data sekunder adalah data yang diperoleh dari bahan-bahan pustaka guna menemukan landasan teoritis berupa peraturan perundang-undangan maupun berbagai literatur. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU No.Korupsi atau para pihak yang terkait dengan permasalahan yang dikemukakan oleh penulis. Wawancara yang dilakukan adalah wawancara terpimpin yaitu dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan lebih dahulu sebagai garis pedoman yang ditetapkan sebelumnya dengan tujuan agar arah wawancara dapat dikendalikan dan tidak menyimpang dari pedoman yang telah ditetapkan. terdiri dari sumber-sumber hukum yang berkaitan dengan rumusan pembuktian terbalik dalam perundang-undangan tindak pidana korupsi. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana 50 . 2.

melainkan memperhitungkan data 36 37 Dari S. dan juga perilakunya yang nyata. Nasution. hal.2. Rancangan Undang-Undang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi c.37 Dalam metode kualitatif tidak perlu diperhitungkan jumlah data yang dianalisis. yaitu data yang diperoleh di lapangan dalam bentuk tulisan dan segera dianalisa. Hasil-hasil penelitian yang berkaitan dengan permasalahan pada penelitian ini Selain data sekunder di bidang hukum tersebut. 2006). antara lain berupa : a. yang diteliti dan dipelajari sebagai sesuatu yang utuh. Metode Penelitian Naturalistik. hal 250 51 . Pengantar Penelitian Hukum. Metode yang digunakan dalam menganalisis data adalah metode analisis normatif kualitatif. tulisan atau pendapat para pakar hukum d. 1968). (Jakarta: Raja Grafindo Persada. Tarsito. Metode Analisis Data Setelah data-data yang dibutuhkan terkumpul maka dilanjutkan dengan menganalisis data-data tersebut. penelitian ini juga meneliti data sekunder yang bersifat publik yaitu data arsip dan data resmi dari instansi pemerintah yang berkaitan dengan permasalahan. Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi b. D. Penelitian Hukum Normatif. 129 Soerjono Soekanto.36 Apa yang dinyatakan oleh responden secara tertulis atau lisan. yaitu proses analisis terhadap data yang terdiri dari kata-kata yang dapat ditafsirkan. Hasil karya para sarjana. Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang menjadi karya para sarjana. baik yang telah dipublikasikan maupun belum yang memberikan penjelasan tentang bahan hukum primer. (Bandung: PT.

Data primer dan data sekunder dikumpulkan. Selanjutnya ditarik kesimpulan dari hasil pembahasan tersebut. 52 .dari kemampuannya mewakili keadaan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian dianalisis menurut disiplin ilmu hukum pidana sehingga menjadi pembahasan yang sinergis dan terpadu. diolah dan disusun secara jelas dan sistematis.

Kebijakan hukum pidana adalah usaha mewujudkan peraturan perundangundangan pidana yang sesuai dengan keadaan dan situasi pada suatu waktu dan untuk masa yang akan datang sehingga untuk membuat suatu kebijakan hukum pidana terhadap formulasi pembuktian terbalik harus dikaji melalui undangundang yang pernah dan sedang merumuskan pembuktian terbalik yaitu diantaranya adalah undang-undang nomor 3 Tahun 1971 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. undang-undang tindak pidana korupsi mencoba menerapkan upaya hukum pembuktian terbalik. undang-undang nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi dan undang-undang dan undang-undang 53 . Karena itu. Untuk bisa dilaksanakan maka perlu diadakan suatu kebijakan hukum pidana.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Namun rumusan pembuktian terbalik yang dicantumkan di dalam undang-undang belum pernah bisa dilaksanakan. Kebijakan Hukum Pidana Terhadap Formulasi Pembuktian Terbalik dalam Perundang-undangan Tindak Pidana Korupsi Saat Ini Delik korupsi adalah delik yang dilakukan dengan berbagai modus operandi penyimpangan keuangan negara yang semakin canggih dan rumit sehingga banyak perkara-perkara delik korupsi lolos dari jaringan pembuktian melalui sistem KUHAP.

3 Tahun 1971 secara eksplisit telah mengatur pembuktian terbalik. bahwa perbuatannya itu menurut keinsyafan yang wajar tidak merugikan keuangan atau perekonomian negara. (2) Keterangan tentang pembuktian yang dikemukakan oleh terdakwa bahwa ia tidak bersalah seperti dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat diperkenankan dalam hal: a. apabila terdakwa menerangkan dalam pemeriksaan. apabila terdakwa menerangkan dalam pemeriksaan. atau b. Dalam hal demikian Penuntut Umum tetap mempunyai kewenangan untuk memberikan pembuktian yang berlawanan.nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas undang-undang nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. (4) Apabila terdakwa tidak dapat memberikan keterangan tentang pembuktian seperti dimaksud dalam ayat (1) maka keterangan 54 . Kebijakan legislasi pemberantasan korupsi sampai dengan sebelum tahun 1960 tidak mengatur mengenai pembuktian terbalik. Undang-Undang No. Hal ini disebabkan oleh perspektif kebijakan legislasi yang memandang perbuatan korupsi sebagai delik biasa sehingga penanggulangan korupsi cukup dilakukan secara konvensional dan tidak memerlukan perangkat hukum yang luar biasa (extra ordinary measures). Ketentuan Pasal 17 UU No. (3) Dalam hal terdakwa dapat memberi keterangan tentang pembuktian seperti dimaksud dalam ayat (1) maka keterangan tersebut dipergunakan sebagai hal yang setidak-tidaknya menguntungkan baginya. 1. selengkapnya berbunyi sebagai berikut : (1) Hakim dapat memperkenankan terdakwa untuk kepentingan pemeriksaan memberikan keterangan tentang pembuktian bahwa ia tidak bersalah melakukan tindak pidana korupsi. bahwa perbuatannya itu dilakukan demi kepentingan umum. 3 Tahun 1971 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Kebijakan formulasi dalam UU No. 3 Tahun 1971.

ketentuan pasal 18 UU No.39 Dalam penjelasan pasal 17 ayat (1). Pasal 17 Ibid. Dalam pasal ini hakim memperkenankan terdakwa memberi keterangan tentang pembuktian yang tidak merupakan alat bukti menurut hukum. tetapi segala sesuatu yang dapat lebih memberikan kejelasan tentang perkara tersebut. anak dan setiap orang. terdakwa dibebani untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah. (2) Bila terdakwa tidak dapat memberi keterangan yang memuaskan sidang pengadilan tentang sumber kekayaan yang tidak seimbang dengan penghasilannya atau sumber penambahan kekayaannya maka keterangan tersebut dapat digunakan untuk memperkuat keterangan setiap saksi bahwa terdakwa telah melakukan tindak pidana korupsi. Dalam hal demikian Penuntut Umum tetap diwajibkan memberi pembuktian bahwa terdakwa bersalah melakukan tindak pidana korupsi. Pembuktian terbalik akan mengakibatkan penuntut umum dibebaskan dari kewajiban untuk membuktikan kesalahan seorang terdakwa. pembuktian terbalik tidak dimiliki terdakwa sebagai hak dan terdakwa baru dapat mempergunakan 38 39 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. aturan mengenai pembuktian terbalik tidak diikuti sepenuhnya meskipun hal ini tidak berarti bahwa pasal ini menghendaki suatu pembuktian yang terbalik. Sebaliknya. Apabila dianalisis berdasarkan penjelasan pasal tersebut maka pembuktian terbalik hanya diperkenankan sepanjang hakim memandang perlu untuk kepentingan pemeriksaan. Konsekuensi logisnya. serta badan yang diduga mempunyai hubungan dengan perkara yang bersangkutan apabila diminta oleh Hakim.tersebut dipandang sebagai hal yang setidak-tidaknya merugikan baginya. 3 Tahun 1971 tentang kepemilikan harta benda pelaku selengkapnya berbunyi sebagai berikut: (1) Setiap terdakwa wajib memberi keterangan tentang seluruh harta bendanya dan harta-benda isteri/suami. Pasal 18 55 .38 Selanjutnya.

Penjelasan pasal 18 menjelaskan kalau terdakwa dalam perkara pidana korupsi tidak dapat memberikan keterangan yang memuaskan tentang sumber kekayaannya yang tidak seimbang dengan penghasilannya atau sumber penambahan kekayaannya maka keterangan tersebut selain dapat digunakan untuk memperkuat keterangan saksi-saksi bahwa terdakwa telah melakukan tindak pidana korupsi juga dapat dipandang suatu petunjuk adanya perbuatan memperkaya diri seperti dimaksud dalam Pasal 1 ayat (1) sub a. dalam persidangan terdakwa lazimnya akan menyangkal dakwaan yang diajukan kepadanya dan sedapat mungkin berusaha lepas dari dakwaan jaksa penuntut umum. ada tidaknya ketentuan tersebut tidak berpengaruh banyak terhadap hak terdakwa untuk melakukan pembelaan diri. Oleh karena itu. Apabila dianalisis berdasarkan penjelasan pasal tersebut mengenai 56 . Dapat dikatakan lebih jauh. Berbeda dengan penilaian harta benda yang dahulu diselenggarakan oleh Badan Koordinasi Penilik Harta Benda yang bersifat perdata maka kewajiban terdakwa memberi keterangan tentang sumber kekayaannya hanya dapat dilakukan dalam perkara pidana (korupsi). Apabila terdakwa dapat memberikan keterangan tentang pembuktian penuntut umum tetap mempunyai kewenangan untuk memberikan pembuktian yang berlawanan.pembuktian terbalik sepanjang hakim memperkenankan untuk kepentingan pemeriksaan. Pada ayat (3) dijelaskan bahwa keterangan pembuktian itu adalah bahan penilaian bagi hakim yang dapat dipandang sebagai hal yang menguntungkan atau merugikan terdakwa. Keterangan yang menguntungkan atau merugikan tersebut bukanlah hal yang mengandung suatu penghukuman atau pembebasan dari penghukuman. tanpa adanya ketentuan itu.

(2) Dalam hal terdakwa dapat membuktikan bahwa ia tidak melakukan tindak pidana korupsi.40 Kemudian penjelasan ketentuan Pasal 37 tersebut menentukan bahwa ketentuan ini merupakan suatu penyimpangan dari ketentuan Kitab Undangundang Hukum Acara Pidana yang menentukan bahwa jaksa yang wajib membuktikan dilakukannya tindak pidana. bukan terdakwa. Pasal 37 57 . 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Kebijakan hukum Indonesia mengenai pembuktian terbalik juga diatur dalam UU No.pembuktian terbalik baik terhadap kesalahan maupun harta kepemilikan pelaku tindak pidana diperkenankan sepanjang hakim memandang perlu. Undang-Undang No. Pembuktian terbalik tersebut juga tidak dapat dijadikan hakim sebagai dasar untuk memutuskan terdakwa bersalah atau tidak walaupun terdakwa telah membuktikan hasil harta kekayaannya karena hakim juga harus melihat pembuktian yang dilakukan oleh penuntut umum. Apabila terdakwa dapat membuktikan hal tersebut tidak berarti ia tidak terbukti 40 Undang-Undang No. maka keterangan tersebut dipergunakan sebagai hal yang menguntungkan baginya. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Ketentuan Pasal 37 berbunyi sebagai berikut : (1) Terdakwa mempunyai hak untuk membuktikan bahwa ia tidak melakukan tindak pidana korupsi. Menurut ketentuan ini terdakwa dapat membuktikan bahwa ia tidak melakukan tindak pidana korupsi. 2. 31 Tahun 1999 yaitu di dalam Pasal 37.

31 Tahun 1999 pada asasnya tetap menggunakan teori pembuktian negatif. 31 Tahun 1999 memberikan keleluasaan bagi hak terdakwa untuk membuktikan secara negatif tentang ketidakbersalahannya melakukan tindak pidana korupsi. Ketentuan UU No. Pasal 37. karena jaksa masih tetap wajib membuktikan dakwaannya.melakukan korupsi. Selain itu. 3 Tahun 1971. sebab penuntut umum masih tetap berkewajiban untuk membuktikan dakwaannya. 31 Tahun 1999 masih terdapat banyak kelemahan sehingga dilakukan perbaikan dengan mengeluarkan UU No. Dikaji dari perspektif hukum. Pasal 37A dan Pasal 38B UU No. Apabila diperbandingkan. undang-undang tersebut tetap mengacu pada kewajiban penuntut umum untuk membuktikan membuktikan. dakwaannya disamping terdakwa mempunyai hak untuk 3. 20 Tahun 2001. dikaji dari beban pembuktian. 20 Tahun 2001. 31 Tahun 1999 bahwa terdakwa menggunakan pembuktian terbalik merupakan hak dari terdakwa bukan atas perkenan hakim untuk kepentingan pemeriksaan sebagaimana Ketentuan UU No. kebijakan hukum pidana terhadap formulasi pembuktian terbalik pada Pasal 37 UU No. Analisis hukum terhadap ketentuan Pasal 37 UU No. pada ketentuan 58 . Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan UndangUndang 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Beberapa ketentuan dalam UU No. Ketentuan pasal ini merupakan pembuktian terbalik yang terbatas. Perbaikan tersebut terdapat dalam ketentuan Pasal 12B.

Sehingga bunyi keseluruhan dari Pasal 37 adalah sebagai berikut : (1) Terdakwa mempunyai hak untuk membuktikan bahwa ia tidak melakukan tindak pidana korupsi. Penyempurnaan terhadap undang-undang tersebut memunculkan dua pengertian dalam hal pembuktian terbalik. 31 Tahun 1999 maupun UU No. 20 Tahun 2001 adanya penyempurnaan pada ayat (2) frasa yang berbunyi “keterangan tersebut dipergunakan sebagai hal yang menguntungkan baginya” diubah menjadi “pembuktian tersebut digunakan oleh pengadilan sebagai dasar untuk menyatakan bahwa dakwaan tidak terbukti”. maka pembuktian tersebut dipergunakan oleh pengadilan sebagai dasar untuk menyatakan bahwa dakwaan tidak terbukti. Pada ketentuan Pasal 37 ayat (2) UU No. 20 Tahun 2001 adalah sama. Pengertian pembuktian terbalik tersebut bisa diartikan secara luas dan sempit. Dimana pengertian pembuktian terbalik adalah terdakwa yang melakukan gratifikasi dengan nilai di atas 10 juta wajib membuktikan bahwa gratifikasi tersebut bukan suap. 31 Tahun 1999 maupun UU No. 59 . sedangkan untuk ketentuan Pasal 37 ayat (2) UU No.Pasal 37 ayat (1) baik dalam UU No. Pembuktian terbalik dalam arti luas terdapat dalam Pasal 37 dan Pasal 38B dimana pengertian pembuktian terbalik adalah terdakwa berhak untuk membuktikan bahwa dia tidak bersalah atas dakwaan yang ditujukan kepadanya dan bahwa setiap harta benda yang dimilikinya bukan hasil tindak pidana korupsi Sedangkan pembuktian terbalik dalam arti sempit terdapat dalam Pasal 12 B mengenai gratifikasi. 20 Tahun 2001 ada sedikit perbedaan dan penyempurnaan. (2) Dalam hal terdakwa dapat membuktikan bahwa ia tidak melakukan tindak pidana korupsi.

Pasal 14. pembuktian terbalik juga diatur dalam ketentuan Pasal 37A UU No. maka hal itu sudah menjadi dasar untuk menyatakan dakwaan tidak terbukti.” Sekilas. Terdakwa tetap memerlukan perlindungan hukum yang berimbang atas pelanggaran hak-hak mendasar yang berkaitan dengan asas praduga tidak bersalah dan menyalahkan diri sendiri (non self-incrimination). Selain itu. kesalahan terdakwa atas perbuatan yang didakwakan kepadanya tidak terbukti secara sah dan meyakinkan. maka terdakwa diputus bebas. (4) dan (5) Pasal 37 UU No. ketentuan Pasal 37 ayat (1) UU No. Pasal 4. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan Pasal 5 sampai dengan Pasal 12 Undang- 60 . Pasal 15. Namun di dalam Pasal 37 A ayat 3 disebutkan lain bahwa Jaksa Penuntut Umum tetap berkewajiban untuk membuktikan dakwaannya. Apabila dianalisis. 20 Tahun 2001 sebagai konsekuensi berimbang atas penerapan pembuktian terbalik terhadap terdakwa.Dalam penjelasan pasal tersebut. Dimana Pasal 37A ayat (3). UU No. pembuktian terbalik merupakan hak dari terdakwa. 31 Tahun 1999. kemudian penjelasan ayat (2) menyatakan ketentuan tersebut tidak menganut sistem pembuktian secara negatif menurut undang-undang. Pasal 13. Pasal 3. Oleh karena itu kepadanya harus dijatuhkan putusan bebas (vrijspraak requitool) berdasarkan pasal 191 ayat (1) KUHAP yang menyebutkan “Jika pengadilan berpendapat bahwa dari hasil pemeriksaan disidang. Apabila terdakwa dapat membuktikan bahwa dia tidak bersalah. 20 Tahun 2001 yang berasal dari pemenggalan ayat (3). 20 Tahun 2001 berbunyi : “Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) merupakan tindak pidana atau perkara pokok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. dan Pasal 16 Undang-undang No. undang-undang tersebut menggunakan pembuktian terbalik secara mutlak.

dan Pasal 16 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan Pasal 5 sampai dengan Pasal 12 Undang-undang ini. Sehubungan dengan itu. maka para ahli hukum berpendapat bahwa prosedur dan cara serta syarat atau standar pembuktian yang harus dipenuhi tetap berpatokan pada cara dan prinsip Pasal 183 KUHAP. Pasal 4. Pasal 38 B 61 . maka pengertian rumusan Pasal 37 adalah seolah-olah terdakwa saja yang membuktikan. Berdasarkan hal ini dapat disimpulkan bahwa rumusan mengenai pembuktian terbalik tidak mempunyai batasan yang jelas karena tidak diatur bagaimana prosedur dan cara yang harus dilakukan terdakwa dalam penerapan pembuktian terbalik itu dan tidak mengatur syarat atau standar yang harus dipenuhi agar terdakwa dapat dinyatakan mampu atau berhasil membuktikan dirinya tidak bersalah.”42 41 42 Undang-Undang No. Pasal 15. 20 Tahun 2001 yang berbunyi bahwa : “Setiap orang yang didakwa melakukan salah satu tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2.”41 Apabila dianalisis. 20 Tahun 2001. Namun rumusan pada Pasal 37 ayat (3) mengatakan Jaksa Penuntut Umum juga harus membuktikan dakwaannya. Pasal 37A Ibid. Pasal 14.undang ini. sehingga penuntut umum tetap berkewajiban untuk membuktikan dakwaannya. tetapi juga diduga berasal dari tindak pidana korupsi. Kebijakan hukum terhadap formulasi pembuktian terbalik juga diatur dalam ketentuan Pasal 38B ayat (1) UU No. Pasal 13. wajib membuktikan sebaliknya terhadap harta benda miliknya yang belum didakwakan. Pasal 3.

37A dan 38B UU No. 20 Tahun 2001 mengundang problematis yang menyebabkan adanya ketidakjelasan perumusan pengaturan norma pembuktian terbalik yang mengakibatkan ketidakharmonisan dan ketidaksinkronan dalam ketentuan UU tersebut. perampasan harta ini tidak berlaku bagi ketentuan Pasal 12B ayat (1) huruf a UU No. ketentuan pasal ini merupakan pembuktian terbalik mengenai harta benda yang belum didakwakan dalam rangka menjatuhkan pidana perampasan dimana terdakwa wajib dibebani wajib bukti untuk membuktikan harta tersebut bukan hasil korupsi serta berhasil atau tidaknya tergantung kepada kemampuan atau keberhasilan terdakwa membuktikan sumber perolehan harta benda yang belum didakwakan tersebut. Di satu sisi. Apabila dikaji dari segi perumusan tindak pidana. pembuktian terbalik akan diterapkan kepada penerima gratifikasi yang dirumuskan secara tegas dalam pasal 12 B yang berbunyi : 1) Setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dianggap pemberian suap. ketentuan tersebut menimbulkan ketidakjelasan perumusan norma pembuktian terbalik. dengan ketentuan sebagai berikut: 62 . Pasal 37. kebijakan hukum terhadap formulasi pembuktian terbalik dalam ketentuan Pasal 12B UU No. apabila berhubungan dengan jabatannya dan yang berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya.Pada hakikatnya. Akan tetapi. Apabila dianalisis. melainkan terhadap pelaku yang didakwa melakukan tindak pidana pokok. 20 Tahun 2001 tersebut dapat dilihat dari beberapa segi. 20 Tahun 2001. Apabila dijabarkan tentang eksistensi ketidakjelasan dan ketidaksinkronan perumusan norma ketentuan Pasal 12B.

pembuktian dalam 43 Ibid. Apabila dikaji.000. 20 Tahun 2001 sepanjang redaksional “…dianggap pemberian suap”. beban pembuktian (bahwa gratifikasi itu bukan suap) pada penerima. yang nilainya Rp 10. Pasal 12B 63 . pembuktian bahwa gratifikasi tersebut suap dilakukan oleh penuntut umum.” Karena itu. tidak ada perbedaan secara substantif yang ada hanya perbedaan prosedural. Eksistensi asas pembuktian terbalik sesuai norma hukum pidana bukan ditujukan kepada gratifikasi dengan redaksional”…dianggap pemberian suap”. terdapat kekeliruan perumusan norma ketentuan Pasal 12B UU No. yaitu untuk gratifikasi pertama. apabila dikaji dari rumusan pasal 12B. Apabila suatu gratifikasi yang telah diterima oleh pegawai negeri atau penyelenggara negara maka gratifikasi tersebut bukan dikategorisasikan “…dianggap pemberian suap”. pembuktian bahwa gratifikasi tersebut bukan merupakan suap dilakukan oleh penerima gratifikasi.00 (sepuluh juta rupiah) atau lebih. pada penuntut umum. tetapi sudah termasuk tindakan “penyuapan”. beban pembuktian (bahwa gratifikasi itu merupakan suap).000. Selain itu.a. sedangkan untuk gratifikasi jenis kedua.000.43 Namun disisi lain tidak dapat diterapkan kepada penerima gratifikasi karena ketentuan pasal tersebut secara tegas mencantumkan redaksional : “Setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dianggap pemberian suap apabila berhubungan dengan jabatannya dan yang berlawanan dengan kewajiban dan tugasnya. b.00 (sepuluh juta rupiah). tetapi harus kepada dua unsur rumusan sebagai bagian inti delik berupa rumusan yang berhubungan dengan jabatannya dan yang melakukan pekerjaan yang bertentangan dengan kewajiban.000. yang nilainya kurang dari Rp 10.

31 Tahun 1999 dan Pasal 5 sampai dengan Pasal 12 sesuai ketentuan Pasal 38B ayat (1). Teori pembalikan beban pembuktian yang bersifat “terbatas dan berimbang” dalam artian terdakwa dan Penuntut saling membuktikan kesalahan atau ketidakbersalahan dari terdakwa. dari perspektif praktik dan sebagai suatu hak. tindak pidana korupsi sebagai extraordinary crime. Analisis ketentuan pasal ini bahwa pembuktian terbalik terhadap harta benda pelaku yang belum didakwakan. Pasal 15. 20 Tahun 2001 disebutkan sebagai pembuktian terbalik. melainkan beban pembuktian berimbang. ketentuan Pasal 37 ayat (1) tidak mempunyai pengaruh terhadap ada atau tidaknya pasal tersebut dicantumkan. dan Pasal 16 UU No. 20 Tahun 2001. Secara normatif. 20 Tahun 2001. Begitu juga halnya dengan ketentuan Pasal 38B UU No. Pembuktian terbalik terhadap harta kekayaan hanya dapat dilakukan terhadap pembuktian perkara pokok sebagaimana dimaksud Pasal 2. Dikaji dari perspektif kebijakan formulatif. Konsekuensi logis. Pasal 13. dan memerlukan extraordinary enforcement dan extraordinary measures maka aspek krusial dalam kasus-kasus tindak pidana korupsi adalah upaya pemenuhan beban pembuktian dalam proses yang dilakukan aparat penegak hukum. eksistensi pembuktian terbalik dikenal dalam tindak pidana korupsi sebagai ketentuan yang bersifat “premium remidium” dan sekaligus mengandung prevensi khusus. Pasal 14.gratifikasi tidak dapat disebut sebagai pembuktian terbalik yang mutlak. 31 Tahun 1999 jo UU No. Akan tetapi. 64 . Pasal 4. ketentuan pasal 37 UU No. tetapi juga diduga berasal dari tindak pidana korupsi tidak berhubungan dengan ketentuan Pasal 12B UU No. Pasal 3. 31 Tahun 1999 jo UU No.

30 Tahun 2002 yang menyebutkan bahwa dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf c. b. 20 Tahun 2001 Proses pembuktian merupakan interaksi antara pemeriksaan yang dilakukan oleh majelis hakim dalam menangani perkara dibantu oleh seorang panitera pengganti. mendapat perhatian yang meresahkan masyarakat. praktik perkara korupsi di Indonesia pada tataran aplikatifnya tidak mempergunakan pembuktian terbalik padahal perangkat hukum memberikan hak kepada terdakwa dan atau Penasihat Hukumnya. Jaksa Penuntut Umum maupun Majelis Hakim untuk menerapkan pembuktian terbalik baik terhadap kesalahan pelaku maupun tentang kepemilikan harta benda pelaku yang diduga kuat melakukan tindak pidana korupsi. dan orang lain yang ada kaitannya dengan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh aparat penegak hukum atau penyelenggara negara. Kebijakan Aplikasi terhadap Formulasi Pembuktian Terbalik dalam Undang-Undang No. 65 . dan penuntutan tindak pidana korupsi yang : a. Tegasnya. melibatkan aparat penegak hukum.4.000. dan/atau c. Sesuai dengan ketentuan Pasal 11 UU no. menyangkut kerugian negara paling sedikit Rp.000.00 (satu milyar rupiah). penyidikan.000. 1. penyelenggara negara. kemudian adanya penuntut umum yang melakukan penuntutan dan terdakwa atau beserta penasihat hukumnya. Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang melakukan penyelidikan.

penyidikan. namun memngungkap fakta bahwa dari sekian kasus korupsi yang ditangani tidak ada yang menggunakan pembuktian terbalik. Tabel yang disampaikan tidak mengungkap mengenai jumlah perkara korupsi yang telah berhasil ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi atau Kejaksaan Negeri Semarang. maka KPK yang mempunyai wewenang melakukan penyelidikan. 30 Tahun 2002 tentang KPK tersebut maka KPK berwenang di dalam menangani kasus gratifikasi yang dilakukan oleh penyelenggara negara sesuai dengan Pasal 12B UU No. dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi yang sesuai dengan ketentuan Pasal 11 UU No. Data penanganan perkara tindak pidana korupsi yang ditangani oleh Komisi Pemberantasan Korupsi dari Tahun 2004 -2008 : Tabel 1 Penanganan Kasus oleh KPK Tahun 2004 Uraian Dilimpahkan ke pengadilan Tahap penyidikan Dilimpahkan Kejaksaan ke Kepolisian/ Jumlah 2 1 3 66 .Apabila dianalisis. Berikut ini penulis menyajikan data penanganan perkara tindak pidana korupsi yang ditangani oleh Komisi Pemberantasan Korupsi dan Kejaksaan Negeri Semarang di dalam tabel. 20 Tahun 2001. Oleh karena itu. KPK juga harus terlibat terhadap kebijakan aplikasi atas formulasi tentang pembuktian terbalik.

67 . 1 perkara masih dalam penyidikan. Selain itu.awal tahun 2005). KPK belum pernah menangani kasus gratifikasi sampai tahun 2009. KPK telah menangani 26 perkara korupsi yang terdiri dari 2 perkara telah dilimpahkan ke pengadilan. Tabel 2 Jumlah kasus/perkara yang ditangani oleh KPK selama tahun 2005-2008 Tahun 2005 2006 2007 2008 Penyelidikan 31 50 68 70 Penyidikan 19 15 29 53 Penuntutan 19 24 24 43 Eksekusi 5 6 21 25 Jumlah 74 95 142 191 Sumber: Laporan Tahun Tahun 2005-2008 Dari setiap perkara korupsi yang ditangani oleh KPK dari tahun 20042008 mulai dari tahap penyelidikan.Dihentikan penyelidikannya Proses pengumpulan alat bukti Jumlah Sumber : Laporan Tahunan KPK Tahun 2004 3 17 26 Selama tahun 2004 (sejak Maret 2004. terdakwa tidak menggunakan haknya untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah. penuntutan sampai putusan. 3 perkara dihentikan penyelidikannya dan 17 perkara masih dalam proses pengumpulan alat bukti. penyidikan.

Berikut ini penulis menyajikan data penanganan perkara tindak pidana korupsi yang ditangani oleh Kejaksaan Negeri Semarang periode 2004 – 2009 : 68 .

252.841. 14. 1.Tengah 2003 Dobel anggaran pada APBD Kota Semarang Rp. ETTY HERMIWATY DRS. 2. SOBRI HADIWIDJAYA.- Kasasi 2.- Banding/ Eksekusi 3.200.780. 1. IP. 5. Bc.Rp. 1.156.780.642. SE 2005 Penyimpangan pengelolaan keuangan IKIP Veteran Semarang Penyimpangan pengelolaan IKIP Veteran Semarang Penyimpangan pengelolaan PT.DKK SHONHAJI.210. JFM SUWANDI HARI PRABOWO.756.841.811.000. Kasasi 69 .642. 4.346.- Kasasi Kasasi Kasasi/ Eksekusi 1. laut di Rp.PENANGANAN PERKARA KORUPSI PERIODE 2004 s/d 2009 TAHAP PENUNTUTAN NO 1.000.210. 1.Tengah tahun 2003 Penyimpangan penyusunan Anggaran Belanja DPRD Jawa Rp. 45. HASBI. DKK Kasasi 3. BJS Semarang Rp. 14. Penyimpangan pelaksanaan pengadaan kapal Departemen Kehakiman Propinsi Jawa Tengah KERUGIAN NEGARA laut di Rp.200.346.840.Rp.160. MOCH.811. DRA. IRWANSYAH Penyimpangan pelaksanaan pengadaan kapal Departemen Kehakiman Propinsi Jawa Tengah SOEWONDO.148.756. DKK Penyimpangan penyusunan Anggaran Belanja DPRD Jawa Rp.840. TERSANGKA/TERDAKWA KASUS POSISI 2004 IR.KETERANGAN Banding 2.

200.Departemen Agama Propinsi Jawa Tengah Penyimpangan proyek pengadaan tanah untuk Balai Diklat Rp.285.300. 2.811.50703 Tingkir Penyimpangan penyusunan rencana anggaran belanja DPRD Rp.tahun 2003 Penyimpangan penyusunan rencana anggaran belanja DPRD Rp. 14.000. SH Penyimpangan dana Diklat Pengembangan SDM pada Bank Rp. MARDIJO PK/Eksekusi 8.Jateng Penyimpangan proyek pengadaan tanah untuk Balai Diklat Rp.200. DRS.SUDJOKO. ISMOYO. DRS. 1.200.000.Rp.515.811.000.642. BUCHORI MUSLIM.4. DKK Kasasi/Eksekusi 3. 6.000.160.DKK Kasasi 2006 1. ASYROFI.515. WIRAWAN.Departemen Agama Propinsi Jawa Tengah Kasasi 2.DKK Kasasi 9.tahun 2003 Penyimpangan Semarang penyaluran bantuan beasiswa walikota Rp.000. 10. CHABIB THOHA.Jateng dengan cara menambah sales order BBM lebih besar dari jumlah pembayaran untuk SPBU 44.489.- PK/Eksekusi PK/Eksekusi Kasasi/Eksekusi Penyimpangan pembelian BBM pada Pertamina UPMS IV Rp.000.642. 5. DKK FATURRAHMAN.314. Kasasi/Eksekusi 70 .167. 2. 14.285.160.- 7. 974. DKK DRS. 84.200.000. 1. DKK IBNU SUDJOKO Dobel anggaran pada APBD Kota Semarang Dobel anggaran pada APBD Kota Semarang Rp.

WIDJIANTO.360. SE.000 Tensindo Sedjati Kasasi 7.- Kasasi 6.360.360. 1. 20. DRS.360. FATURRAHMAN.000. US $ 5.000. DRS. 1. 1. (Penyidik Polwiltabes Semarang) Eksekusi 71 . 1. 1.- Banding 5. DENY KRISWANTO.000.- Kasasi 4.600.000 Tensindo Sedjati Penyimpangan pemberian kredit dari Bank Jateng kepada PT.836.000. PRANTIYONO Kasasi 3.DKK Penyimpangan pembayaran premi asuransi anggota DPRD Rp.MM Penyimpangan pemberian kredit dari Bank Jateng kepada PT.000. MM Kasasi 2008 1. KUSRIN Penyimpangan bantuan kontigensi dari Pemkot Semarang di Rp. KAMSURI.000.000.000. US $ 5.SH. Mijen.Kec.000.Kota Semarang Penyimpangan pengadaan Politeknik Negeri Semarang Penyimpangan pengadaan Politeknik Semarang Penyimpangan pengadaan Politeknik Semarang Penyimpangan pengadaan Politeknik Semarang peralatan dan laboratorium Rp. JOKO TRIWARDOYO.000. Kota Semarang.000. SUGIHARTO peralatan dan laboratorium Rp.2007 1.000.ST peralatan dan laboratorium Rp.ST peralatan dan laboratorium Rp.600.Banding 2.

000.000. Tindak pidana korupsi dalam pelaksanaan bantuan fasilitas dan Rp. SH. HASYIM NGABDUL ROSYID Proses Persidangan Sumber : Kejaksaan Negeri Semarang 72 .bidang keagamaan tahun anggaran 2008 pada Mesjid At Taqwa Kel. Kota Semarang Eksekusi 2.000.MM Melakukan pemerasan terhadap Paguyuban Angkutan Lintas Rp. Semarang Barat. AFFANDI. 12. Ngaliyan. EDDY SUBAGYO Proses Persidangan 3.Malam (PALM) untuk pengurusan ijin trayek.500. Poderejo Kec. 50.000.000. Kota Semarang Tindak pidana korupsi dalam pelaksanaan dana bantuan sosial Rp.2009 1. Bongsari. Kec. 50.stimultan perbaikan kualitas perumahan dan lingkungan rumah tangga miskin berbasis pemberdayaan masyarakat tahun 2008 pada pengaspalan jalan RT 03 RW 04 Kel.

Menurut Yunianto. penuntut umum mengajukan tuntutan pidana b. pembuktian terbalik merupakan hak dari terdakwa yang merupakan kewajiban bagi hakim untuk memperkenankan terdakwa melakukan pembuktian sesuai dengan Pasal 37 dan 38 A dan B. Dari pasal ini dapat dilihat bahwa pembuktian terbalik dapat diterapkan pada saat pembelaan yang dilakukan oleh terdakwa di dalam argumentasi yang meringankan.Dari data penuntutan periode 2004-2009 yang dilakukan Kejaksaan Negeri Semarang. Setelah pemeriksaan dinyatakan selesai. penggunaan pembuktian terbalik diberikan jaksa penuntut umum pada saat penyidikan. Hal ini sudah dikatakan secara tersirat di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) pasal 182 yang berbunyi : a. belum pernah diterapkan pembuktian terbalik di dalam proses persidangannya. dengan ketentuan bahwa terdakwa atau penuntut umum selalu mendapat giliran terakhir. Selanjutnya terdakwa atau penasehat hukum mengajukan pembelaannya yang dapat dijawab oleh penuntut umum. Namun.44 Terdakwa juga sebenarnya dapat menerapkan pembuktian mengenai dirinya di dalam pembelaan atas tuntutan jaksa penuntut umum. menurut Bima Suprayoga. Bagian Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Semarang. Desember 2009 44 73 . memberikan tangkisan-tangkisan atau sanggahan atas tuntutan jaksa penuntut umum. Namun telah diuraikan bahwa rumusan pasal 37 tidak menjelaskan mengenai prosedur dan cara Wawancara dengan Bima Suprayoga.

Aplikasi tentang pembuktian terbalik yang dilakukan oleh penyelenggara negara hanya sebatas melakukan pemeriksaan administrastif atas Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LKHPN) sesuai dengan ketentuan Pasal 37A kepada Komisi Pemberantasan Korupsi sebagai kewajiban agar apabila terjadi korupsi. Dan di dalam penerapan formulasi pembuktian terbalik Wawancara dengan Yunianto. Kewajiban pelaporan kekayaan tersebut merupakan salah satu sarana untuk mencegah terjadinya korupsi oleh penyelenggara negara.terdakwa dalam melakukan pembuktian tersebut. pembuktian terbalik tersebut belum pernah diterapkan. Oleh karena itu cara hakim di dalam menerapkan pembuktian terbalik dalam persidangan adalah ketika terdakwa menyangkal bahwa harta benda yang ada bukan dari hasil korupsi maka hakim harus memberikan kesempatan kepada terdakwa untuk membuktikannya. Namun sejauh ini. maka Komisi Pemberantasan Korupsi sudah mempunyai alat bukti yang kuat. Hakim Tindak Pidana Korupsi Pengadilan Negeri Semarang. Padahal pembuktian terbalik tersebut hanya untuk ketentuan Pasal 12B yaitu gratifikasi. Februari 2010 45 74 . Namun sesuai rumusan Pasal 12B bahwa setiap kasus gratifikasi terhadap penyelanggara negara akan dianggap sebagai penyuapan karena itu belum pernah ditemukan kasus korupsi.45 Kendala-Kendala Dalam Menerapkan Pembuktian Terbalik Dari hasil wawancara penulis dengan Rasamala Aritonang anggota Biro Hukum KPK kendala yang menyebabkan belum diterapkannya pembuktian terbalik karena belum ditemukannya kasus gratifikasi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.

Pasal 37. hal 185 46 75 .yang berkaitan dengan kepemilikan harta. 15 Januari 2010 47 LIlik Mulyadi. ditemukan ketidakjelasan dan ketidaksinkronan perumusan norma pembuktian terbalik dalam rumusan pasal gratifikasi karena seluruh bagian inti delik disebut sehingga yang tersisa untuk dibuktikan sebaliknya tidak ada. relatif akan sulit untuk membuktikan secara negatif ketidakbersalahannya melakukan tindak pidana Wawancara dengan Rasamala Aritonang. apabila terdakwa dan atau penasehat hukumnya akan mempergunakan haknya melakukan pembuktian terbalik. kemungkinan ada kendala substansial yang memicu problematik yuridis apakah benar ketentuan UU Tindak Pidana Korupsi Indonesia (Pasal 12B. Biro Hukum Komisi Pemberantasan Korupsi. Op. 37A dan 38B UU No. yaitu : Pertama. Dalam belum kasus pernah gratifikasi yang mempunyai karena sulit ketidaksinkronan juga diterapkan. Konsekuensi logis demikian menimbulkan asumsi bahwa pembuktian terbalik relatif ada dalam kebijakan formulasi namun tidak ada dan tidak dapat diterapkan dalam kebijakan aplikasi.47 Kedua. tersebut. KPK secara formil tidak mempunyai kewajiban. 31 Tahun 1999 jo UU No. membedakan apakah perkara tersebut memenuhi unsur delik gratifikasi atau delik penyuapan.Cit. Selain kendala di atas.46 Konkretnya apabila pembuktian terbalik akan diminta untuk diterapkan. 20 Tahun 2001) menganut pembuktian terbalik karena terkendala adanya ketidakjelasan dan ketidaksinkronan perumusan norma di dalamnya. terdapat beberapa kendala di dalam menerapkan pembuktian terbalik tersebut.

Oleh karena itu. tetapi dilakukan oleh beberapa orang relatif tidak mungkin untuk mendapatkan bukti-bukti guna mendukung ketidakbersalahan seorang pelaku melakukan tindak pidana korupsi. Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 52 KUHAP yang menyebutkan dalam pemeriksaan pada tingkat 48 49 Wawancara dengan Bima Suprayoga. Namun hal tersebut tidak ada perbedaan dengan KUHAP mengenai hak terdakwa untuk memberikan keterangan mengenai yang didakwakan terhadapnya.48 Perumusan pembuktian terbalik dalam perundang-undangan tindak pidana korupsi sebenarnya ditujukan dalam rangka pengembalian uang atau aset negara (asset recovery). korelasi dengan aspek korupsi yang tidak bersifat sendirian . beliau menyatakan bahwa pembuktian mengenai harta kekayaan dan kesalahan terdakwa yang dilakukan oleh pihak terdakwa sudah dilakukan.korupsi dikarenakan adanya kelemahan dalam mengumpulkan alat bukti karena aspek administrasi yang kurang tertata rapi. Di samping itu. Hal ini disebabkan karena kurangnya sosialisasi terhadap Pasal 37 yang seharusnya diberitahukan oleh penasihat hukum dari terdakwa.49 Dalam wawancara penulis dengan Bima Suprayoga. terkadang terdakwa tidak mengetahui bahwa dia mempunyai hak untuk membuktikan dirinya tidak bersalah. pola pembuktian terbalik yang diterapkan lebih kepada aspek kepemilikan harta dari si terdakwa.Cit Ibid 76 . Ketiga. Op. Jaksa sebagai penyidik meminta tersangka atau terdakwa kasus korupsi untuk memberikan keterangan terkait dengan perkaranya. Pembuktian terbalik tersebut mulai dilakukan didalam proses penyidikan yang dilakukan oleh jaksa.

Kondisi terdakwa dikatakan sudah menggunakan pembuktian pada saat terdakwa memberikan keterangan di penyidikan atau melampirkannya dalam setiap pembelaan yang terdakwa lakukan di dalam proses persidangan. 50 Ibid 77 . tersangka atau terdakwa berhak memberikan keterangan secara bebas kepada penyidik atau hakim. Namun kendala yang dihadapi oleh jaksa sebagai penyidik yaitu terdakwa tidak mau berterus terang mengenai keterangan yang dia berikan termasuk keterangan mengenai kepemilikan harta terdakwa dalam perkara korupsi.penyidikan dan pengadilan. alasan belum diterapkannya pembuktian terbalik tersebut. Pembuktian terbalik tersebut bisa efektif diterapkan apabila undang-undang jelas merumuskan pembuktian terbalik tersebut secara mutlak. Oleh karena itu. jadi hanya terdakwa yang berhak membuktikan dakwaan sedangkan Jaksa Penuntut Umum tidak perlu membuktikan dakwaannya. Selain itu perlu ditingkatkan kualitas sumber daya aparat penegak hukumnya dalam pemahaman akan penggunaan pembuktian terbalik di dalam penanganan tindak pidana korupsi. Tidak total dan masih terbatas maksudnya masih terdapat pembagian pembuktian di dalam membuktikan dakwaan penuntut umum.50 Hal ini berbeda dengan ketentuan Pasal 66 KUHAP yang menyebutkan bahwa tersangka atau terdakwa tidak dibebani kewajiban pembuktian. menurut beliau. karena undang-undang merumuskannya tidak total dan masih terbatas.

Di dalam ketentuan Pasal 49 RUU Tipikor tersebut disebutkan bahwa : (1) Pembalikan beban pembuktian dapat dilakukan terhadap tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud pasal 9 dan pasal 15 (2) Pembalikan beban pembuktian dapat dilakukan pada tahap pemeriksaan pendahuluan atau pada tahap pemeriksaan alat bukti di persidangan Berdasarkan ketentuan pasal ini.B. Oleh karena itu. Formulasi Pembuktian Terbalik dalam Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi Apabila dikaji dari setiap undang-undang yang sedang atau pernah berlaku di Indonesia.20 tahun 2001 yang membedakan pengertian pembuktian terbalik ke dalam dua pengertian. terdapat batasan dan rumusan yang kurang jelas mengenai formulasi pembuktian terbalik tersebut. Dalam rancangan undang-undang tindak pidana korupsi yang diajukan oleh Koalisi Pemantau Peradilan terdapat rumusan tentang pembuktian terbalik. 78 . Ketentuan di dalam rancangan undang-undang ini telah merumuskan secara jelas bahwa pembuktian terbalik berlaku terhadap tindak pidana korupsi menurut Pasal 9 dan Pasal 15. maka berbeda dengan Undang-Undang No. kebijakan hukum terhadap formulasi pembuktian terbalik di dalam undang-undang tindak pidana korupsi dapat merumuskan mengenai pembuktian terbalik secara lengkap serta memiliki batasan yang jelas. Kebijakan Hukum Pidana Terhadap Formulasi Pembuktian Terbalik Di Masa Mendatang 1.

(2) Setiap gratifikasi yang diterima oleh pejabat publik dianggap sebagai penerimaan suap dengan ancaman pidana yang sama dengan ayat 1. bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan karena kekuasaan atau kewenangan yang berhubungan dengan jabatannya.000. c.000. b. Pejabat publik yang menerima hadiah atau janji. (4) Pelaporan gratifikasi yang dilakukan oleh penerima gratifikasi tidak menghapuskan kewenangan penuntutan terhadap pemberi gratifikasi. (3) Ketentuan ayat (2) tidak berlaku jika dalam waktu selama-lamanya 14 (empat belas) hari sejak diterimanya gratifikasi tersebut penerima melaporkan dan menyerahkan gratifikasi tersebut kepada Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi untuk ditentukan apakah gratifikasi tersebut dapat menjadi milik penerima atau menjadi milik negara.000.000. kecuali apabila terdakwa dapat membuktikan bahwa penerimaan gratifikasi tersebut tidak berkaitan dengan kekuasaan atau kewenangannya yang berhubungan dengan jabatannya.00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 1. atau yang menurut pikiran orang yang memberikan hadiah atau janji tersebut ada hubungan dengan jabatannya.Tindak pidana korupsi yang dimaksud dalam pasal 9 menyebutkan bahwa : (1) Dipidana dengan penjara paling singkat 2 tahun 6 bulan paling lama 12 tahun dan denda paling sedikit Rp 200. (5) Ketentuan mengenai tata cara pelaporan sebagaimana dimaksud ayat (3) diatur dalam Undang-Undang yang mengatur tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Pejabat publik yang menerima hadiah atau janji padahal diketahui atau patut diduga. Apabila dianalisis. yang bertentangan dengan kewajibannya. Pejabat publik yang menerima hadiah. padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah tersebut diberikan sebagai akibat atau disebabkan karena telah melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya.000. padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk menggerakkan agar melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya. Di dalam penjelasan Pasal 9 ayat (2) RUU Tipikor tersebut jelas disebutkan bahwa ketentuan ini merupakan ketentuan mengenai pembalikan beban pembuktian yang dirumuskan di dalam pasal 49. maka 79 .00 (satu miliar rupiah) a. Setiap gratifikasi akan dianggap sebagai penyuapan apabila terdakwa bisa membuktikan bahwa gratifikasi tersebut tidak ada hubungannya dengan kekuasaan atau kewenangannya yang berhubungan dengan jabatannya.

00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 350. 20 Tahun 2001 bahwa setiap penerimaan gratifikasi yang nilainya dibawah 10 juta rupiah dilakukan oleh penuntut umum. Hal ini terkait dengan akibat yang ditimbulkan karena dilakukannya tindak pidana korupsi yang telah merugikan keuangan negara. Tindak Pidana korupsi yang diatur dalam Pasal 5 RUU Tipikor menyebutkan bahwa : (1) Pejabat publik yang memiliki peningkatan kekayaan yang tidak seimbang dengan pendapatannya secara sah dipidana penjara paling singkat 2 tahun dan paling lama 8 tahun dan atau denda 100.rumusan mengenai pembuktian terbalik jelas bahwa pembuktian gratifikasi hanya dilakukan oleh terdakwa sebagai penerima gratifikasi sedangkan jaksa penuntut umum tidak mempunyai hak untuk membuktikan. Dalam penjelasan pasal 15 tersebut menjelaskan bahwa ketentuan ini merupakan penerapan atas asas pembalikan beban pembuktian yang diatur dalam Pasal 49 RUU ini. Hal ini berbeda dengan rumusan pasal 12B UU No. Dan yang dimaksud dengan kekayaannya termasuk juga kekayaan istri atau suami dan anak yang berasal dari terdakwa.00 (tiga ratus lima puluh juta rupiah) (2) Kekayaan yang diperoleh dari pendapatan yang tidak sah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dirampas untuk negara. Oleh karena itu. 80 .000.000. Selain itu.000.000. katakata redaksional mengenai kekayaan yang tidak seimbang dengan pendapatannya adalah apabila terdakwa tidak dapat membuktikan bahwa setiap kekayaan yang dia miliki berasal dari pendapatannya atau dari setiap tunjangan atas prestasinya dan jabatannya maka terdakwa dianggap telah melakukan korupsi dan akan dipidana. setiap harta yang diperoleh bukan dari pendapatannya akan dikembalikan kepada negara.

kebijakan formulasi terhadap pasal-pasal yang menggunakan pembuktian terbalik. berdasarkan ketentuan pasal 49 ayat (1) RUU Tipikor tersebut menjelaskan bahwa pembalikan beban pembuktian dilakukan hanya terdapat perkara gratifikasi dan ketidakseimbangan antara pendapatan dan kekayaan yang dimiliki oleh pejabat publik. Formulasi Pembuktian Terbalik dalam Rancangan Undang-Undang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Kebijakan formulasi pembuktian terbalik di masa mendatang juga terdapat dalam rancangan undang-undang pengadilan tindak pidana korupsi. Selain itu. sedangkan aspek kesalahannya tidak dijelaskan. Op.51 2.Jadi. lebih difokuskan terhadap pengembalian keuangan negara dan kepemilikan harta. cit 81 . Menurut Rasamala Aritonang. rumusan kapan diterapkannya pembalikan beban pembuktian juga jelas di dalam ayat (2) bahwa pembuktian terbalik dilakukan pada saat pemeriksaan pendahuluan dan pada saat tahap pemeriksaan alat bukti. Di dalam isi 51 Wawancara dengan Rasamala Aritonang. Namun. Hal ini jelas lebih baik dari pengaturan undang-undang tindak pidana korupsi saat ini yang tidak ditentukan mengenai kapan mulai diterapkan pembuktian terbalik tersebut. sangatlah perlu dirumuskan secara eksplisit mengenai waktu penerapan dari pembuktian terbalik karena ketidakjelasan mengenai kapan mulai digunakan hak tersebut juga menjadi kendala sampai saat ini sehingga pembuktian terbalik tersebut belum pernah diterapkan.

maupun yang terekam secara elektronik. 82 . dokumen. dikirim. baik yang tertuang diatas kertas. diterima. yakni setiap rekaman data atau informasi yang dapat dilihat. Namun demikian. atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu. benda fisik apapun selain kertas. dibaca. maka harus diakomodir dengan dirumuskannya ketentuan Pasal 52 RUU Pengadilan Tipikor bahwa alat bukti yang tidak hanya telah diatur dalam Hukum Acara Pidana yang berlaku.naskah akademik dijelaskan bahwa proses persidangan yang panjang dan memakan waktu lama akan berakhir dengan pembacaan putusan oleh majelis hakim. Minimum dua alat bukti dan keyakinan hakim merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. mengingat tindak pidana korupsi yang semakin canggih. tetapi alat bukti lain yang meliputi: informasi yang diucapkan. Putusan bersalah atau tidak seorang terdakwa didasarkan pada hasil pembuktian di persidangan. Teori sistem pembuktian tersebut mensyaratkan hakim untuk menjatuhkan pidana berdasarkan alat bukti yang telah ditentukan oleh Undang-Undang disertai dengan keyakinan hakim. yang berupa tulisan. Tidak adanya salah satu unsur pembuktian tersebut akan menyebabkan putusan hakim menjadi batal demi hukum. dan/atau didengar yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana. Proses pembuktian di persidangan dilakukan dengan sesuai dengan sistem pembuktian yang dianut di dalam hukum acara pidana yaitu sistem pembuktian negative wettelijk bewjis theory. Hukum acara pidana yang berlaku mensyaratkan minimum dua alat bukti sebagai dasar bagi hakim untuk memperoleh keyakinan bahwa seorang terdakwa bersalah atau tidak.

suara. Kebijakan formulasi tersebut dirumuskan untuk memudahkan pembuktian dan mendukung kelancaran penyelesaian perkara korupsi. gambar. foto. Walaupun demikian di beberapa negara. dan harta benda setiap orang atau korporasi yang diduga mempunyai hubungan dengan perkara yang didakwakan. angka. huruf. Beban pembuktian secara terbalik. termasuk Indonesia telah diambil kebijakan hukum. (2) Terdakwa wajib memberikan keterangan tentang seluruh harta bendanya dan harta benda isteri atau suami. harta benda tersebut dianggap diperoleh dari tindak pidana korupsi dan hakim berwenang memutuskan seluruh atau sebagian harta benda tersebut dirampas untuk negara. khususnya dalam 83 . sehingga perlu diakomodir sistem pembuktian terbalik (reverse of burden proof) dimana ketentuan ini diatur dalam Pasal 54 RUU Pengadilan Tipikor yang menyebutkan bahwa: (1) Terdakwa berhak membuktikan bahwa dirinya tidak melakukan tindak pidana korupsi. peta. tanda. yang diserahkan kepada seorang terdakwa. pada dasarnya bertentangan dengan asas kesalahan yang dianut dalam sistem hukum pembuktian yang mengacu pada kewajiban jaksa penuntut umum yang harus membuktikan kesalahan terdakwa. (3) Dalam hal terdakwa tidak dapat membuktikan bahwa harta benda sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diperoleh bukan sebagai hasil tindak pidana korupsi. rancangan. anak. atau porforasi yang memiliki makna.

Jenis tindak pidana korupsi tertentu. suap serta perolehan harta kekayaan yang tidak sah. suap atau perolehan yang tidak sah. pembuktian terbalik tersebut berlaku hanya untuk tindak pidana gratifikasi. Kepada tersangka/terdakwa diberi kesempatan untuk membuktikan bahwa keuntungan/kekayaan yang diperoleh bukan berasal dari gratifikasi.pemberantasan tindak pidana korupsi. suap. 84 . agar untuk tindak pidana korupsi tertentu digunakan ketentuan bahwa beban pembuktian diserahkan kepada tersangka/ terdakwa. Hal ini serupa dengan yang diatur dalam rancangan undang-undang tindak pidana korupsi di masa yang akan datang. Kesempatan tersebut dapat diberikan kepada tersangka/terdakwa dalam pemeriksaan pendahuluan atau dalam persidangan sebelum tuntutan jaksa penuntut umum dibacakan. Jika tersangka/terdakwa dapat membuktikan bahwa dirinya tidak melakukan hal-hal seperti yang didakwakan. Jika hal itu terjadi dalam pemeriksaan pendahuluan. yakni : gratifikasi. Dimana. maka putusan akan berbunyi : dakwaan jaksa penuntut umum tidak dapat diterima. hakim wajib memasukkan dalam pertimbangan hukumnya dan menyatakan terdakwa dilepaskan dari segala tuntutan hukum. Penjelasan mengenai kebijakan formulasi pembuktian terbalik tersebut memberikan batasan yang jelas mengenai aplikasi pembuktian terbalik tersebut. Selain itu dirumuskan juga mengenai kapan pembuktian terbalik tersebut diterapkan yaitu pada saat pemeriksaan pendahuluan. dan illicit enrichment dapat menggunakan pembuktian semacam ini. Hal ini diperlukan hanya untuk memudahkan pembuktian.

promised. diberikan. atau ditawarkan oleh atau kepada terdakwa maka pemberian itu dianggap secara korup telah diterima atau setuju untuk diterima. Pasal tersebut berbunyi : “Where in any proceedings against any person for an offence under section 10. 13. 14. obtained or attempted to be obtained. or 15 it is proved that any gratification has been accepted or agreed to be accepted. given or agreed to be given. 2005). unless the contrary is proved. atau setuju untuk diberikan. 53 85 . 14. 13. didapatkan. 52 Andi Hamzah. or offered as an inducement or a reward for or on account of the matters set out in the particulars of the offence. 11. Perbandingan Pemberantasan Korupsi. atau 15. or attemped to be abtained. (Jakarta : Sinar Grafika. hanya ditemukan di dalam Pasal 42 yang mengatur tentang pembuktian (evidence). solicited. kecuali dibuktikan sebaliknya. diberikan atau setuju untuk diberikan dijanjikan. Formulasi Pembuktian Terbalik Di Beberapa Negara a) Negara Malaysia Pembalikan beban pembuktian secara tegas.”52 Apabila diartikan maka pada setiap proses terhadap setiap orang yang didakwa melanggar Pasal 10. 11. telah dibuktikan bahwa suatu pemberian (gratification) telah diterima atau setuju untuk diterima. atau ditawarkan sebagai suatu bujukan atau hadiah untuk suatu atau karena hal yang dinyatakan khusus dalam delik itu. Meskipun hanya menyangkut pemberian (gratification). diperoleh.3. obtained. promised or offered by or to the accused. didapat. the gratification shall be presumed to have been corruptly accepted or agreed to be accepted. atau dicoba untuk diperoleh. diperoleh atau dicoba untuk diperoleh. solicited. hal. dijanjikan. given or agreed to be given.

hal. atau 164 KUHP. Hal ini tentu berbeda dengan kebijakan formulasi di Indonesia bahwa di dalam gratifikasi diterapkan pembuktian terbalik yang berimbang.”53 Apabila diartikan maka pada semua proses terhadap semua orang yang didakwa melanggar Pasal 161. or 164 of the Penal Code. maka orang itu dianggap telah melakukan perbuatan demikian sebagai motif atau hadiah atas hal-hal yang dinyatakan secara khusus dalam delik itu. Lengkapnya berbunyi: “Where in any proceedings against any person for an offence under section 161. it is proved that such person has accepted or agreed to accept. Pada ayat (2) Pasal 42 ACA dinyatakan. 54 86 . bahwa ketentuan tentang pembuktian terbalik berlaku juga bagi delik suap di dalam Penal Code (KUHP). telah dibuktikan bahwa orang itu telah menerima atau setuju menerima atau memperoleh atau mencoba untuk memperoleh suatu pemberian (gratification). such person shall be presumed to have done so as motive or reward for the matters set out in the particulars of the offence. 163. or obtained or attempted to obtain any gratification. bahwa 53 Ibid.Di dalam rumusan ini ternyata bahwa pembuktian terbalik berlaku bagi penerima (passieve omkoping) dan pemberi (actieve omkoping) dengan kata-kata “…by or to the accused…” (oleh atau kepada terdakwa). kecuali dibuktikan sebaliknya. menjadi tidak usah dibuktikan tetapi terdakwalah yang membuktikan. unless the contraty is proved. 162. Rumusan kata-kata “…hal-hal yang dinyatakan secara khusus dalam delik itu…” adalah bagian dari inti delik (bestanddelen) yang harus dibuktikan oleh penuntut umum.

yang tercantum di dalam Pasal 8 PCA yang berbunyi : Where in any proceedings against a person for an offence under section 5 or 6 it is proved that any gratification has been paid or given to or received by a person in the employment of the Government or any department there of or any public body. Singapura membentuk komisi pemberantasan korupsi dipicu dengan kenyataan ekonominya yang tertumpu sebagai perantara dagang antara negara tetangganya dengan negara luar.gratifikasi lebih dari 10 juta harus dibuktikan oleh terdakwa sebagai penerima gratifikasi sedangkan gratifikasi kurang dari 10 juta dibuktikan oleh penuntut umum. Undang-undang ini telah berkali-kali diamandemen (tahun 1963. Adapun rumusan delik umumnya diambil dari KUHP-nya tanpa diubah sanksinya menjadi lebih berat seperti halnya Indonesia. 1981. Undang-undang anti korupsinya pun sudah ada sejak tahun 1960. 1972. 1989. Undang-undang tersebut memuat hukum pidana materil dan hukum acara pidana. 1966. Di dalam PCA diatur pembalikan beban pembuktian tetapi lain dari Malaysia yang mencantumkannya pada bagian acara (pembuktian). dan 1991). that gratification shall be deemed to have been paid or given and received corruptly as an 87 . Nama resmi undang-undangnya adalah Prevention of Corruption Act disebut PCA. b) Negara Singapura Singapura tergolong negara kecil dan paling kecil kasus korupsinya namun tetap menciptakan badan antikorupsi yang disebut CPIB (Corrupt Practices Investigation Bureau). Singapura menjadikannya bagian dari rumusan delik.

com 88 .google. Setiap pemberian akan dianggap sebagai suap apabila terdakwa tidak dapat membuktikan bahwa pemberian tersebut bukan suap.inducement or reward as here in before mentioned unless the contrary is proved. Kalau ia tidak dapat membuktikan. Apabila dikaji. yaitu membuktikan kekayaan yang dimilikinya diperoleh secara sah. 65 www. karena seseorang yang berada dalam posisi demikian dinyatakan bersalah melakukan korupsi. terdapat kebijakan formulasi dalam undang-undang negara Singapura hampir sama dengan kebijakan formulasi yang dirumuskan di Indonesia. dianggap suap sampai dibuktikan sebaliknya.54 Dapat diartikan bahwa yang berkaitan dengan pemerintah. akan dinyatakan bersalah melakukan pelanggaran kecuali kalau ia dapat memberikan suatu penjelasan yang memuaskan kepada pengadilan mengenai bagaimana ia mampu memperoleh standar hidup yang demikian itu dapat ia dikuasai. hal. kecuali dia dapat membuktikan sebaliknya. yang berarti pemberian oleh seseorang kepada pejabat pemerintah yang mencari kontak dengan pemerintah atau departemen atau badan publik.”55 Jelas ketentuan ini menganut pembuktian terbalik. c) Negara Hongkong Pembuktian terbalik juga sudah dilaksanakan di Hongkong yang tertera dalam Prevention of Bribery Ordinance 1970 Pasal 10 (1b) yang berbunyi: “ Mengenai sumber-sumber pendapatan atau harta yang tidak seimbang dengan gajinya pada saat ini atau pendapatan resmi pada masa lalu. ia dinyatakan terbukti 54 55 Ibid.

melakukan korupsi. Hal ini berbeda dengan yang berlaku di Indonesia, dimana apabila terdakwa tidak dapat membuktikan apakah dia bersalah atau tidak, jaksa penuntut umum masih mempunyai kewajiban untuk membuktikan dakwaannya. Jadi tidak seperti Hongkong yang menggunakan pembuktian terbalik mutlak, Indonesia menggunakan pembuktian terbalik berimbang. Penggunaan pembuktian terbalik yang mutlak mengakibatkan korupsi di negara Hongkong semakin mudah untuk diberantas. Dari uraian di atas, dapat dilihat terdapat banyak kekurangan terhadap kebijakan formulasi pembuktian terbalik dalam perundang-undangan tindak pidana korupsi. Hal ini semakin terlihat jelas ketika kebijakan aplikasinya belum ada. Kalau berkaca dari kebijakan formulasi di negara Hongkong, maka kebijakan formulasi pembuktian terbalik di masa yang akan datang perlu dirumuskan secara jelas dan tegas mengenai pembuktian terbalik itu sendiri. Apabila melihat kondisi negara Indonesia dengan tindak pidana korupsi yang semakin merajalela, maka perlu diterapkan suatu usaha yang luar biasa yaitu dengan menggunakan pembuktian terbalik yang mutlak seperti yang sudah diterapkan oleh negara Hongkong.

89

BAB V PENUTUP

A. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan sebagai berikut : 1. Kebijakan Hukum Pidana terhadap Formulasi serta Aplikasi Pembuktian Terbalik dalam Perundang-undangan Tindak Pidana Korupsi Saat Ini Pengaturan tindak pidana korupsi dimulai dari Undang-Undang No. 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang secara eksplisit sudah mengatur mengenai pembuktian terbalik yaitu di dalam Pasal 17. Dalam Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juga mengatur mengenai pembuktian terbalik yaitu di dalam Pasal 37. Namun kebijakan di dalam formulasi pembuktian terbalik tersebut belum bisa mewakili keadaan dan situasi dalam penanganan tindak pidana korupsi saat itu dimana korupsi termasuk kejahatan luar biasa yang sudah merugikan keuangan negara. Dikeluarkannya Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi memberikan arah kebijakan yang lebih jelas dibandingkan undang-undang sebelumnya yaitu dengan adanya penyempurnaan

formulasi pembuktian terbalik. Formulasi pembuktian terbalik di bagi ke dalam dua pengertian yaitu secara luas dan sempit. Pembuktian Terbalik

90

secara luas terdapat di dalam pasal 37 dan 38B. Dalam pasal tersebut dinyatakan bahwa setiap terdakwa yang didakwa melakukan tindak pidana korupsi memiliki hak untuk membuktikan bahwa dia tidak bersalah dan hasil kekayaannya bukan berasal dari tindak pidana korupsi. Sedangkan pembuktian terbalik secara sempit yaitu terdapat dalam Pasal 12B yang menyebutkan bahwa pembuktian terbalik dilakukan oleh terdakwa yang didakwa menerima gratifikasi di atas sepuluh juta rupiah. Berdasarkan ketentuan tersebut dapat disimpulkan bahwa kebijakan hukum pidana terhadap formulasi pembuktian terbalik saat ini sudah cukup efektif dalam menangani tindak pidana korupsi walaupun masih terdapat ketidakjelasan dalam perumusannya. Ketidakjelasan dalam formulasi pembuktian terbalik tersebut mengakibatkan kesulitan dalam menerapkan pembuktian terbalik tersebut. Dalam tataran aplikasi menurut ketentuan Undang-Undang No. 20 TAhun 2001, pembuktian terbalik belum pernah diterapkan. Hal ini disebabkan karena: a. ada ketidakjelasan dan ketidaksinkronan perumusan pembuktian terbalik dalam perkara gratifikasi b. Terdakwa dan penasehat hukumnya akan kesulitan didalam

mengumpulkan alat bukti karena aspek administrasi yang kurang tertata rapi. c. Terdakwa tidak mengetahui bahwa ia mempunyai hak untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah

91

Apabila terdakwa berhasil membuktikan maka terdakwa akan bebas dari setiap dakwaan yang dituduhkan kepadanya sehingga aturan hukum seperti ini sudah lebih 92 . Tidak dirumuskannya secara jelas mengenai kapan. Dalam Rancangan undang-undang tindak pidana korupsi pembuktian terbalik serta rancangan undang-undang pengadilan tindak pidana korupsi sudah lebih baik dan jelas khususnya formulasi pembuktian terbalik di masa mendatang. serta prosedur dalam melaksanakan pembuktian terbalik tersebut. Hal ini bisa diwujudkan dengan menentukan kebijakan hukum pidana terhadap formulasi pembuktian terbalik di masa mendatang. Dalam rancangan itu secara jelas dirumuskan mengenai kapan diterapkannya pembuktian terbalik. tata cara serta prosedur di dalam melakukan pembuktian terbalik. Dalam menentukan kebijakan tersebut perlu melihat kekurangan dari undangundang yang berlaku saat ini antara lain mengenai kapan.d. Dengan adanya kendala-kendala di atas. Kebijakan Hukum Pidana terhadap Formulasi Pembuktian Terbalik dalam Perundang-undangan Tindak Pidana Korupsi di Masa Mendatang Kebijakan hukum pidana terhadap formulasi pembuktian terbalik di masa mendatang diharapkan dapat mewakili keadaan atau situasi negara dalam menghadapi tindak pidana korupsi dimana tindak pidana korupsi merupakan suatu kejahatan luar biasa yang memerlukan upaya yang luar biasa juga. syarat. 2. menyebabkan pembuktian terbalik hanya ada di dalam kebijakan formulasi namun tidak ada dalam kebijakan aplikasinya.

para penegak hukum harus memahami rumusan pembuktian terbalik tersebut sehinngga mampu memberikan pemahaman kepada terdakwa kasus korupsi sehingga pasal pembuktian terbalik tersebut bisa diterapkan. Mengingat keberadaan 93 . SARAN Saran yang dapat dianjurkan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan adalah : 1. 2. Apabila dibandingkan dengan formulasi pembuktian terbalik di negara Malaysia. 3. Menurut penulis. Dalam menentukan kebijakan hukum pidana terhadap formulasi pembuktian yang akan datang sebelumnya perlu dilakukan kajian mengenai pembuktian terbalik di negara Hongkong yang telah berhasil menerapkan pembuktian terbalik secara efektif yang berdampak tindak pidana korupsi di negara tersebut berhasil diatasi. B.sesuai dengan kondisi negara Indonesia yang banyak dengan tindak pidana korupsi. Singapura serta Hongkong maka Hongkong adalah negara yang telah berhasil di dalam menerapkan pembuktian terbalik sebagai sarana dalam pemberantasan tindak pidana korupsi. batasan dan kapan berlakunya pembuktian terbalik tersebut sehingga pembuktian terbalik dapat diterapkan. Kebijakan hukum pidana terhadap formulasi pembuktian terbalik yang akan datang diharapkan dapat dirumuskan lebih jelas lagi di dalam redaksionalnya mengenai pengertian.

korupsi di negara Indonesia yang masih sulit diatasi dan telah menimbulkan kerugian yang besar terhadap negara maka kajian tersebut dapat digunakan untuk merumuskan peraturan perundang-undangan yang lebih jelas sehingga dapat diterapkan dengan mudah. 94 .

(Bandung : Citra Aditya Bakti. Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Penanggulangan Kejahatan. (Semarang : UNDIP. Pembalikan Beban Pembuktian dalam Tindak Pidana Korupsi. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan dan Pengembangan Hukum Pidana. Pembalikan Beban Pembuktian Tindak Pidana Korupsi. Perbandingan Pemberantasan Korupsi. Tarsito. Metode Penelitian Naturalistik. 1998) Barda Nawawi Arief. (Jakarta : Kencana. SH & Rekan. 2007) 95 . (Jakarta : Penerbit Kantor Pengacara dan Konsultasi Hukum “Prof Oemar Seno Adji. Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana. (Bandung: PT. Korupsi dan Pembalikan Beban Pembuktian. 2005) Barda Nawawi Arief. 2001) Dari S. 2008) Barda Nawawi Arief. (Bandung : Alumni. (Jakarta : Penerbit Kantor Pengacara dan Konsultasi Hukum “Prof Oemar Seno Adji. SH & Rekan”. (Bandung : Citra Aditya Bakti. 2006) Indriyanto Seno Adji. 1994) Barda Nawawi Arief. Kebijakan Legislatif dalam Penanggulangan Kejahatan dengan Pidana Penjara. 2001) Lilik Mulyadi. (Jakarta : Sinar Grafika. 1968) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Tindak Pidana Korupsi.DAFTAR PUSTAKA BUKU Andi Hamzah. 2001) Indriyanto Seno Adji. (Jakarta : Balai Pustaka) Evi Hartanti. Nasution. (Jakarta : Sinar Grafika.

(Semarang : Yayasan Sudarto. (Jakarta: Raja Grafindo Persada. Kasasi dan Peninjauan Kembali. (Bandung : Mandar Maju.J. Banding. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi 96 . (Balai Pustaka. Penerapan Pembuktian Terbalik dalam Delik Korupsi UU No. Kamus Lengkap Inggris-Indonesia. Bandung) W.S. Yahya Harahap. Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya. 1990) Sukardi. Metodologi Penelitian Sosial dan Hukum. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan UU No.J. (Hasta. 2004) Soerjono Soekanto. Pengantar Penelitian Hukum. 2005) Rianto Adi. Poerwadarminta. (Jakarta : Bumi Aksara.Martiman Prodjohamidjojo. 1976) PERUNDANG-UNDANGAN Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Undang-Undang No. Indonesia-Inggris. (Bandung : Alumni. Hukum Pidana I.S. FH Undip. Poerwadarminta. 2005) M. 2004) W. Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP Pemeriksaan Sidang Pengadilan. 2006) Sudarto. 2009) Muladi dalam Muladi dan Barda Nawawi Arief. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Undang-Undang No. Teori-Teori dan Kebijakan Pidana. (Jakarta : Sinar Grafika. Penelitian Hukum Normatif. (Jakarta : Granit. 20 Tahun 2001. Kamus Umum Bahasa Indonesia.

com LAPORAN Laporan Penuntutan Kejaksaan Negeri Semarang Laporan Tahunan KPK Tahun 2004-2008 97 . 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi INTERNET www.Undang-Undang No.google.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful