BAGIAN 1

PENGANTAR

1.1.1 Sistem hukum Singapura adalah hamparan permadani yang kaya dengan undang-undang, institusiinstitusi, nilai-nilai, sejarah serta budaya. Layaknya sulaman perca ala Singapura, setiap helai sistem hukum itu dijalin bersama sedemikian sehingga membentuk kaleidoskop yurisprudensi dan diikat dengan identitas nasional yang unik. 1.1.2 Sistem hukum tersebut sudah tentu akan menyebabkan suatu tekanan seperti tekanan yang dialami karena adanya perubahan-perubahan sosial-ekonomi dan politik-hukum yang timbul seiring dengan meningkatnya globalisasi dan regionalisasi. Karenanya, Singapura harus bereaksi dengan cepat dan tangkas dalam membuat undang-undang dan institusi-institusi baru, atau menyesuaikan undang-undang dan institusiinstitusi yang sudah ada. 1.1.3 Dalam hal ini, Singapura telah siap dan bersedia belajar dari perkembangan-perkembangan hukum yang terjadi di luar negeri, jika memiliki kesamaan aspirasi. Kadang-kadang, cara-cara penyelesaian masalah yang sudah kuno harus diganti dengan ide-ide baru yang telah teruji dengan modifikasi-modifikasi yang tepat agar sesuai dengan keadaan setempat. Dalam proses adaptasi, belajar dan perubahan berkesinambungan yang (kadang kala) sulit ini, bagaimanapun, peranan sejarah tetap amat berguna sebagai petunjuk (meskipun tidak sempurna) menuju hukum Singapura yang sekarang dan di masa yang akan datang (lihat Bagian 2). Kembali ke atas BAGIAN 2 SEJARAH KONSTITUSIONAL DAN HUKUM

1.2.1 Sejak ditemukan oleh Sir Thomas Stamford Raffles dari British East India Company di tahun 1819 hingga kemerdekaannya di tahun 1965, perkembangan hukum Singapura telah sangat berhubungan erat dengan majikan kolonial Inggris-nya. Seringkali, tradisi-tradisi hukum, kebiasaan-kebiasaan, kasus-kasus hukum dan perundang-undangan menurut hukum Inggris diserap tanpa banyak pertimbangan apakah hal tersebut cocok dengan keadaan setempat Singapura. 1.2.2 Dengan kemerdekaannya, kemudian secara bertahap – dan terus meningkat – terjadilah pergerakanpergerakan menuju perkembangan suatu sistem hukum lokal. Prinsip kuncinya adalah setiap penyerapan suatu praktek hukum atau norma harus sesuai dengan kondisi budaya, sosial dan ekonomi Singapura. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa kesuksesan ekonomi Singapura didorong oleh, antara lain, faktor bijaknya kepemimpinan, penggunaan hukum dan sistem hukum dalam membangun masyarakat baru dan memastikan kelangsungan hidup ekonominya, sambil memastikan pula agar sistem hukum Singapura dapat selaras dengan kebutuhan dan permintaan komunitas internasional. Sebagai kelanjutannya, maka terbentuklah suatu sketsa tonggak-tonggak bersejarah perkembangan konstitusional dan hukum Singapura. Kedatangan Inggris – Singapura dalam Kerajaan Inggris (1819) 1.2.3 Awal abad ke-19: Singapura berada di bawah kekuasaan Sultan Johor, yang menetap di kepulauan RiauLingga. Kombinasi tradisi Melayu dan hukum adat (yaitu hukum dan kebiasaan tradisional yang secara lokal berlaku di Indonesia dan Malaysia) telah membentuk dasar bagi sistem hukum awal yang berlaku bagi masyarakat nelayan pada waktu itu yang jumlahnya tidak lebih dari 200 orang. 1.2.4 29 Januari 1819: Pendirian Singapura modern oleh Raffles, yang pada saat itu adalah Letnan-Gubernur Bengkulu. Raffles telah sanggup meramal ke depan dan menentukan bahwa Singapura sebagai lokasi yang strategis secara geo-politis: hal ini telah menjadikan Singapura sebagai titik kontrol yang sangat baik bagi Kerajaan Inggris untuk mengawasi gerbang masuk menuju Selat Malaka dan rute pelayaran utama antara Asia Selatan dan Asia Timur Laut. Secara cepat, Singapura telah berevolusi menjadi pelabuhan dagang yang penting. 1.2.5 30 Januari 1819: Raffles membuat suatu perjanjian awal dengan Temenggong Abdu'r Rahman, perwakilan Sultan Johor di Johor dan Singapura, untuk mendirikan suatu pusat perniagaan (trading factory) di Singapura. 1.2.6 6 Februari 1819: Suatu perjanjian formal dibuat antara Sultan Hussein dari Johor bersama Temenggong Abdu’r Rahman, masing-masing adalah penguasa de jure dan penguasa de facto Singapura waktu itu,

9 27 November 1826: Piagam Keadilan Kedua (The Second Charter of Justice) disetujui oleh Parlemen Inggris atas petisi dari East India Company. Pada masa ini.2.8 Maret 1824: Status Singapura sebagai daerah kekuasaan Inggris ditegaskan dalam Perjanjian AngloBelanda (Anglo-Dutch Treaty) dan Perjanjian Penyerahan Kekuasaan (Treaty of Cession). Raffles kemudian menetapkan Singapura sebagai bagian dari yurisdiksi Bengkulu. yang membuat keadilan diperlakukan secara menyedihkan. Kemudian.2. namun diasumsikan bahwa Piagam tersebut telah meletakkan dasar hukum bagi penerimaan secara umum hukum Inggris di Singapura. setelah kasus terkenal R v Willans (1858) di Penang. Belanda mencabut semua keberatannya terhadap pendudukan Inggris atas Singapura dan menyerahkan Malaka. maka pengadilan-pengadilan di Singapura turut direstrukturisasi sedemikian sehingga serupa dengan pengadilan-pengadilan di bawah Pengadilan Tinggi Inggris (English High Court). setelah dibubarkannya Pengadilan Yudikatur (Court of Judicature). sebagai akibat dari perubahan yang terjadi pada sistem yudisial Inggris.7 1819 .10 1833: Dengan adanya reorganisasi daerah-daerah yang dikuasai East India Company oleh Parlemen Inggris pada tahun 1833. karena hal ini cenderung menimbulkan perasaan direndahkan. 1. telah menyerap posisi hukum bahwa hukum Inggris (baik common law maupun equity yang berlaku pada 1826 maupun perundangan Inggris pra-1826) telah diperkenalkan kepada Singapura melalui The Second Charter of Justice. di bawah penguasaan India Britanika (British India). baik pengadilan perdata maupun pidana. Piagam Keadilan Ketiga (The Third Charter of Justice) disetujui [oleh Parlemen Inggris] agar dapat mempermudah penanganan pekerjaan di bidang hukum yang meningkat. yang sejajar dengan pengadilan-pengadilan sejenis di Inggris. Dari Inggris ke Jepang ke Inggris Lagi (1942 – 1945) . jika tidak diabaikan. Namun. 1.2. 1.11 1855: Atas petisi East India Company. Piagam Ketiga tidak berhasil memperbaiki keadaan. Sistem Hukum yang Masih Baru – Suatu Awal yang Kacau Balau (1826 . dalam tahun yang sama. Gubernur Jenderal India kemudian diberi wewenang untuk membuat peraturan perundangan yang berlaku bagi Daerah-daerah Pendudukan di Selat (Straits Settlements). Kasus hukum lokal sejak abad ke-19.2.12 1 April 1867: Straits Settlements berubah menjadi Koloni Kerajaan (Crown Colony) di bawah yurisdiksi langsung Kantor Pemerintahan Kolonial (Colonial Office) di London. sebagai ganti pelepasan penguasaan Inggris atas pabrik-pabrik di Bengkulu dan Sumatera kepada Belanda. terjadi lagi reorganisasi lanjutan yaitu dengan diberikannya kekuasaan kepada Mahkamah Agung untuk berfungsi sebagai Pengadilan Banding (Court of Appeal). Piagam tersebut tidak secara eksplisit menyebutkan bahwa hukum Inggris harus diterapkan di Singapura. Raffles menetapkan suatu kitab undang-undang yang dikenal dengan sebutan “Singapore Regulations” atau “Peraturan-peraturan Singapura” dan menetapkan suatu sistem hukum yang mendasar namun bersifat fungsional dengan penerapan hukum yang seragam yang berlaku bagi semua penduduk. Dalam Piagam tersebut ditetapkan pendirian Pengadilan Yudikatur (Court of Judicature) di Pulau Milik Pangeran Wales .13 1868: Mahkamah Agung untuk Straits Settlements didirikan. 1. Namun demikian. 1. yang kemudian berada di bawah pemerintahan Gubernur Jenderal di Calcutta.1867) 1. banyak suara tidak puas dari Straits Settlements yang diperintah di luar wilayah India. Dengan dibubarkannya East India Company pada tahun 1858. maka Daerah-daerah Pendudukan di Selat (Straits Settlements) kemudian dialihkan ke dalam kekuasaan Pemerintah India.1823: Agar pemerintahan di Singapura berjalan dengan baik. Masyarakat bisnis lokal merasa tidak suka dengan kerangka yudisial yang dinilai tidak adil. berdasarkan mana Kesultanan Johor menyerahkan Singapura kepada Inggris sebagai ganti peningkatan pembayaran uang tunai dan pensiun.2. 1. muncul suatu ketidakpuasan pada sistem hukum yang ada. upaya-upaya banding diajukan kepada Dewan Kerajaan (King-in-Council).Penang. India. Singapura dan Malaka.14 1934: Pengadilan Banding Pidana (Court of Criminal Appeal) ditambahkan ke dalam struktur Mahkamah Agung.2.2.untuk meresmikan perjanjian awal yang telah dibuat sebelumnya. 1.2. Sebelumnya. Pada tahun 1873. Singapura bersama-sama dengan Malaka dan Penang (dua daerah pendudukan Inggris lainnya di Semenanjung Melayu) kemudian menjadi Daerah-daerah Pendudukan di Selat (Straits Settlements) pada tahun 1826. perjanjian yang kedua dibuat dengan Sultan Hussein dan Temenggong Abdu’r Rahman. Pada tahun 1878.

1.2.19 1955: Dalam pemilihan anggota Majelis Legislatif (Legislative Assembly) yang pertama. dengan memenangkan 10 dari 25 kursi. Nama “Singapura” diubah menjadi “Syonan” (Cahaya dari Selatan) dan dioperasikan di bawah pemerintahan militer Jepang. Marshall kemudian dijadikan Menteri Kepala (Chief Minister) yang kemudian bersikeras untuk mempercepat gerakan menuju pemerintahan sendiri. 1. Akhir Perang Dunia II telah mengakibatkan Singapura berada di bawah pemerintahan sementara Pemerintah Militer Inggris (British Military Administration .2. 1. Konstitusi Negara (State Constitution) baru diberlakukan berdasarkan proklamasi Gubernur Sir William Goode.2. .2.2.2.1. Singapura dijadikan Koloni Kerajaan yang memiliki konstitusi sendiri. Pemerintah menerima hampir semua laporan Komite termasuk transformasi Dewan Legislatif (Legislative Council) menjadi suatu dewan (chamber) yang terdiri dari para anggota yang dipilih secara langsung.September 1945: Masa penjajahan Jepang atas Singapura. yang menandai transisi Singapura dari negara koloni menjadi negara yang mengatur dirinya sendiri pada tahun 1959.18 1953: Suatu Komite Konstitusional (Constitutional Commission). kekuasaan yang sesungguhnya masih berada di tangan Gubernur dan Pejabat-pejabat Anggota Dewan Menteri (Council of Ministers) dan bukan pada anggota Dewan terpilih tadi. memenangkan 3 kursi. yang merupakan 53.BMA). Lim memimpin Misi Konstitusional pada bulan Maret 1957. Parlemen Inggris mengesahkan Undang-undang tentang Negara Singapura (The State of Singapore Act) pada tanggal 1 Agustus. 1. melalui pemilihan perwakilan terbatas di Dewan Legislatif (Legislative Council).21 8 Mei 1958: Perjanjian Konstitusional (The Constitutional Agreement) ditandatangani di London. yang berhasil menegosiasikan ketentuan-ketentuan utama Konstitusi Singapura (Singapore Constitution) yang baru. yang dipimpin oleh Sir George Rendel (‘Rendel Comission’) didirikan untuk menelaah konstitusi Negara Koloni itu dan untuk meningkatkan partisipasi publik dalam hal penatakelolaan sendiri (self-governance). dengan misi tanpa pendukung (non-partisan mission) yang terdiri dari perwakilan-perwakilan seluruh partai dalam Majelis. kekuasaan imperial kemudian mendorong penentuan nasib sendiri dan de-kolonisasi.2. Adapun Lee Kuan Yew menjadi Perdana Menteri Singapura pertama. Progressive Party merupakan partai politik unggul di Singapura yang telah memenangi pemilihan anggota Dewan Legislatif (Legislative Council) pada tahun 1948 dan 1951. Kekuasaan sesungguhnya untuk memerintah dan membuat peraturan berada di tangan Gubernur dan pejabat-pejabat kolonial dengan sedikit porsi partisipasi dan perwakilan lokal. Lim Yew Hock. partai Labour Front – yang dipimpin oleh David Saul Marshall – berhasil menggantikan posisi Progressive Party sebagai partai pemenang pemilihan. Pembicaraan-pembicaraan konstitusional mengenai pemerintahan sendiri dimulai pada tahun 1956 di London. Pemilihan perwakilan yang pertama dilakukan pada tahun 1948. 1.15 Februari 1942 . Setelah masa ini.2. Penang dan Malaka menjadi bagian dari Malayan Union pada tahun 1946 dan setelah itu menjadi Persekutuan Tanah Melayu (Federation of Malaya) pada tahun 1948. yang menjadi Kepala Negara Singapura pertama. People’s Action Party (selanjutnya disebut ‘PAP’). 1. Jalan menuju Pemerintahan Sendiri (1948 – 1959) 1. yang adalah wakil Marshall dan Menteri Perburuhan. Pemerintah di Singapura dan Malaya (yang pada tahun 1957 menjadi Malaysia) mengawasi dengan ketat partai komunis (Communist Party of Malaya).16 1946: Daerah-daerah Pendudukan di Selat (Straits Settlements) dibebaskan.22 Mei 1959: Partai PAP memenangkan 43 kursi. Peristiwa ini menandakan titik kulminasi perjalanan menuju pemerintahan sendiri dan merupakan awal dari perjalanan sulit menuju kemerdekaan melalui penggabungan dengan Malaysia. Sehingga pada masa ini. yang didirikan pada tahun yang sama. Peraturan-peraturan yang amat keras (seperti penjara tanpa proses pengadilan) telah ditetapkan sebagai upaya mengendalikan kegiatankegiatan frontal komunis bersatu.4% dari total suara.17 1948-1960: Masa darurat. yang telah mendeklarasikan tujuan mereka untuk mengambil alih Malaya dan Singapura dengan cara kekerasan. kemudian menggantikannya menjadi Menteri Kepala (Chief Minister). dalam pemilihan 51 perwakilan anggota Majelis Legislatif (Legislative Assembly) yang untuk pertama kalinya dipilih secara penuh.20 1956: Marshall mengundurkan diri pada tanggal 6 Juni dari kedudukannya sebagai Menteri Kepala setelah gagalnya pembicaraan-pembicaraan konstitusional mengenai apakah Komisaris Tinggi Inggris (British High Commissioner) di Singapura memiliki hak suara atas Dewan Pertahanan (Defence Council) yang diusulkan. Bagaimanapun. Pada tanggal 3 Juni.

“… Singapura akan selamanya merupakan negara demokratis yang berdaulat dan merdeka yang didirikan berdasarkan prinsip-prinsip kemerdekaan. dipimpin oleh Hakim Kepala Wee Chong Jin. Tunku Abdul Rahman.Singapura dalam Malaysia (1963 – 1965) 1. Peristiwa ini berbarengan dengan masa penyusunan kembali secara konstitusional dan intensif untuk mengembangkan sistem pemerintahan dan parlemen sendiri milik Singapura. Pada tanggal yang sama. melalui suatu penggabungan.2. Kesemuanya ini. Singapura. Komite konstitusional kedua kemudian dibentuk. Parlemen Singapura menyelesaikan penyusunan ‘tata tertib prosedur dan formalitas konstitusional dan hukum’ agar selaras dengan status Singapura sebagai negara merdeka. Perjanjian tentang Kemerdekaan Singapura (The Independence of Singapore Agreement) tanggal 9 Agustus 1965 mendeklarasikan bahwa. kebiasaan dan hukum Inggris.2. Namun. Komite Wee (Wee Commission) merekomendasikan ditetapkannya ketentuan-ketentuan konstitusional mengenai kemerdekaan fundamental. Ketentuan-ketentuan utama penggabungan menetapkan bahwa pemerintah federal di Kuala Lumpur bertanggung jawab untuk bidang pertahanan. kesatuan itu gagal karena berbagai alasan. 1. badan yudikatif. badan legislatif. kedudukan khusus orang Melayu dan prosedur-prosedur perubahan (dalam hal ini. Borneo Utara dan Brunei. yaitu suatu badan penasehat yang mengusulkan nasehat-nasehat kepada Parlemen mengenai suatu peraturan yang sedang diajukan dan dampaknya terhadap golongan minoritas. Perpisahan dengan Malaysia dan Kemerdekaan (1965) 1. Sarawak.2. Presiden Indonesia. pemilihan umum. Badan ini sekarang dikenal dengan nama Dewan Kepresidenan untuk Bidang Hak-hak Minoritas (Presidential Council for Minority Rights). 1.2. Indonesia dan Filipina menentang penggabungan ini. yang diupayakan untuk mengatasi keadaan politik yang unik di Singapura. Sarawak dan Borneo Utara (sekarang Sabah) – dibentuk. untuk menelaah bagaimana hak-hak golongan minoritas (tentang ras. telah memicu pemisahan Singapura dari Malaysia pada tanggal 9 Agustus.25 16 September 1963: Malaysia – yang terdiri dari Persekutuan Tanah Melayu (Federation of Malaya).2. hak-hak minoritas. Sukarno. mengusulkan kerja sama politik dan ekonomi yang lebih erat di antara Persekutuan Tanah Melayu (Federation of Malaya). Dalam laporannya pada tahun 1966. Instansi pengadilan banding terakhir adalah Pengadilan Federal (Federal Court) di Kuala Lumpur.2. ditambah dengan ancaman dan ledakan kekerasan rasial serta ancaman komunis yang sekalipun telah berkurang. mulai dari politik rasial Malaysia sampai pertengkaran pribadi. urusan luar negeri dan keamanan dalam negeri. Mahkamah Agung Singapura diganti dengan Pengadilan Tinggi Malaysia di Singapura. ditetapkan pula tentang otonomi lokal atas bidang keuangan. Para pendukung kaum komunis memandang usulan ini sebagai suatu skenario imperialis.24 1 September 1962: Dilakukan suatu referendum untuk menentukan ketentuan-ketentuan penggabungan dan rencana penggabungan PAP disetujui. meluncurkan kampanye keras Konfrontasi melawan Malaysia. Dengan penggabungan tersebut. pendidikan dan perburuhan. termasuk membereskan anomali Pengadilan Tinggi Singapura yang merupakan bagian dari sistem yudikatif Malaysia. Satu rekomendasi yang diterima adalah dibentuknya Dewan Negara (State Council). . Dorongan untuk menciptakan sistem hukum sendiri telah meningkatkan momentum pada akhir tahun 1980-an dan dipercepat dengan pengangkatan Hakim Kepala Yong Pung How pada bulan September 1990 yang masih menjabat hingga saat ini. Perkembangan Sistem Hukum Milik Sendiri 1. 1. sistem pengadilan Singapura menjadi bagian dari sistem pengadilan Malaysia. Ditinggalkannya sistem parlemen yang terinspirasi gaya Westminster telah dibuktikan melalui inovasi-inovasi.23 27 Mei 1961: Perdana Menteri Malaya. keadilan dan berusaha mencapai kesejahteraan serta kebahagiaan bagi warganegaranya dalam masyarakat yang lebih adil dan setara”. untuk mengubah ketentuan-ketentuan tersebut diperlukan proses [persetujuan] dua tahap: 2/3 mayoritas suara di Parlemen dan diikuti dengan 2/3 mayoritas suara pada referendum nasional).27 Desember 1965: Yusof bin Ishak terpilih sebagai Presiden Singapura pertama pada tanggal 22 Desember 1965. Partai PAP lebih memilih penggabungan dengan Persekutuan Tanah Melayu (Federation of Malaya) dengan alasan demi kelangsungan perekonomian dan sebagai cara untuk mencapai kemerdekaan politik dari Inggris.28 Pada tahun 1970-an dan 1980-an terasa adanya kemudahan secara implisit karena telah mewarisi tradisi. bahasa dan agama) dapat secara konstitusional dilindungi.26 1965: Dalam waktu dua tahun sejak penggabungan. Singapura juga diharuskan memiliki pemerintahan negara sendiri. Singapura.

kecuali jika terdapat ketentuan lain berdasarkan suatu hukum yang berlaku di Singapura. Penerimaan Hukum Inggris 1. Komisaris Yudisial juga dapat ditunjuk untuk memeriksa dan memutuskan suatu kasus tertentu saja. 1994 Rev Ed) diberlakukan dan menentukan sejauh mana hukum Inggris dapat diterapkan di Singapura.33 Permasalahan ini menunjukkan dengan jelas penerimaan hukum Inggris secara spesifik berdasarkan Section 5 (sekarang sudah dicabut) dari Undang-undang tentang Hukum Perdata (the Civil Law Act. Cap 7A.29 1979: Ketentuan-ketentuan konstitusional dibuat untuk membentuk Komisaris Yudisial (Judicial Commissioners) yang berfungsi memfasilitasi penyelesaian perkara di Mahkamah Agung untuk suatu waktu yang terbatas yang dapat diperbaharui. Kepercayaan diri yang meningkat dalam pertumbuhan kedewasaan. dengan syarat harus memperhatikan kecocokan dan modifikasi sesuai kebutuhan dalam negeri. yang hingga kini sangat bergantung pada hukum dari bekas negara penjajahnya. demikian juga keputusan-keputusan Pengadilan Banding (Court of Appeal) yang dikeluarkan sebelumnya tidak lagi mengikat Pengadilan Banding permanen. upayaupaya banding ke Privy Council dilarang keras). sepanjang masih menjadi bagian dari hukum Singapura sebelum 12 November 1993.2. maka hukum yang diterapkan dalam hal ini adalah hukum yang sama yang diterapkan di Inggris pada kurun waktu yang sama pula. 1994 Rev Ed). hal ini merupakan ketentuan penerimaan yang penting dalam kitabkitab undang-undang Singapura.30 1993: Penghapusan semua upaya banding ke Dewan Penasehat (Privy Council) (pada 1989. ditetapkan sebagai pengadilan tertinggi Singapura. The Practice Statement memberikan alasan bahwa “pembangunan hukum kita harus menunjukkan perubahan-perubahan ini [bahwa keadaan politik. 1. kedudukan sistem hukum Singapura di dunia internasional. sosial dan ekonomi telah mengalami perubahan sangat besar sejak kemerdekaan Singapura] serta menunjukkan nilai-nilai fundamental masyarakat Singapura”.2. yaitu Dewan Penasehat (Privy Council). dibaca bersamaan dengan the First Schedule. yaitu antara 6 bulan sampai 3 tahun. yang diberlakukan atau terus diberlakukan di Singapura. Sampai dengan dicabut pada tahun 1993. Section 7 .2. 1.2.32 Sebelum diundangkannya Undang-undang tentang Penerapan Hukum Inggris (The Application of English Law Act. Section 4. untuk tetap duduk di kursi hakim untuk masa jabatan yang lebih panjang berdasarkan suatu kontrak. Cap 43. dengan modifikasi yang diperlukan. Piagam Keadilan Kedua (The Second Charter of Justice) menetapkan dasar hukum bagi penerimaan secara umum prinsip-prinsip dan aturan-aturan hukum Inggris (common law and equity) dan undang-undang Inggris pra-1826 di Singapura.2. telah memberikan dorongan untuk upayaupaya pembentukan hukum sendiri. kesulitannya adalah tidak seorang pun yang tahu dengan pasti yang manakah dari undang-undang Inggris tersebut yang diterapkan di sini (bahkan undang-undang yang di Inggris telah dicabut). 1. yang seharusnya sudah pensiun pada usia 65 tahun. dipimpin oleh Hakim Kepala (Chief Justice) dan dua Hakim Banding (Justices of Appeal). Pada bulan November 1993. Section 3 dari Undang-undang tersebut menetapkan bahwa bagaimanapun common law akan tetap berlaku di Singapura sepanjang hal tersebut dapat diterapkan pada keadaan-keadaan di Singapura dan harus dimodifikasi jika keadaan khusus di Singapura mengharuskannya.34 Undang-undang tentang Penerapan Hukum Inggris (The Application of the English Law Act) menetapkan bahwa common law Inggris (termasuk prinsip-prinsip dan aturan-aturan tentang keadilan). akan tetap menjadi bagian dari hukum Singapura. menentukan pengundangan peraturan-peraturan Inggris (baik seluruhnya maupun sebagian). pada tahun 1971. 1988 Rev Ed) yang menetapkan bahwa jika ada suatu pertanyaan atau masalah yang timbul di Singapura mengenai kategori hukum tertentu atau tentang hukum yang menyangkut perdagangan secara umum. Namun.31 11 Juli 1994: Suatu Pernyataan Praktek tentang Preseden Yudisial (The Practice Statement on Judicial Precedent) yang penting menyatakan bahwa keputusan-keputusan pengadilan Singapura terdahulu. Pencabutannya juga telah menghapus banyak ketidakpastian dan keadaankeadaan yang tidak memuaskan yang timbul dari suatu negara berdaulat. Cap 7A.1. 1. kecuali dalam hal tidak ada jaminan tentang jangka waktu masa jabatan. Sebelumnya. serta kekhawatiran bahwa hubungan Inggris yang meningkat dengan Uni Eropa akan mengakibatkan hukum Inggris menjadi tidak cocok lagi dengan perkembangan dan aspirasi dalam negeri [Singapura].2. sehingga memungkinkan para Hakim Pengadilan Tinggi. Undang-undang tentang Penerapan Hukum Inggris (The Application of English Law Act. Konstitusi Singapura telah diubah sedemikian rupa agar memungkinkan diangkatnya hakim-hakim tambahan. Komisaris Yudisial melaksanakan wewenang dan fungsi yang sama dengan Hakim Pengadilan Tinggi (High Court Justice) dan memiliki imunitas seperti yang dimiliki Hakim Pengadilan Tinggi. Suatu Pengadilan Banding (Court of Appeal) yang permanen.

Dalam hal ini. dapat diabaikan oleh pengadilan yang lebih rendah tingkatannya. 1. Dalam bidang perbuatan melawan hukum (torts). dengan memasukkan peraturan hukum Inggris yang relevan.2 Pada intinya.6 Dua contoh yang terjadi baru-baru ini.3. yang tidak secara langsung mempengaruhi hasil akhir suatu kasus. akan memberikan gambaran yang cukup jelas tentang hasrat Singapura mengembangkan sistem dan badan hukum sendiri. kepastian dan internasionalisasi yang inheren dalam sistem Inggris (khususnya dalam bidang komersial/perdagangan). Doktrin Preseden Yudisial (Judicial Precedent) 1. Bahkan saat ini terdapat pengakuan yang lebih besar pada yurisprudensi lokal di dalam perkembangan common law di Singapura. Pernyataan-pernyataan yudisial lainnya (obiter dicta) yang dibuat dalam keputusan pengadilan yang lebih tinggi tingkatannya. Kembali ke atas BAGIAN 3 COMMON LAW DI SINGAPURA Akar-akar Common Law 1. Mengenai bidang-bidang yang didasarkan pada undang-undang ini.3. para hakim hanya diwajibkan untuk menerapkan ratio decidendi (atau alasan yang mempengaruhi diambilnya suatu keputusan) dari pengadilan yang tingkatnya lebih tinggi dalam hirarki yang sama. Singapura telah mewarisi tradisi common law Inggris dan karenanya telah menikmati manfaat-manfaat kestabilan. di Singapura.menetapkan berbagai perubahan pada undang-undang dalam negeri. Berdasarkan doktrin ini. ratio decidendi yang terdapat dalam keputusan-keputusan Pengadilan Banding Singapura (Singapore Court of Appeal) secara ketat mengikat Pengadilan Tinggi Singapura (Singapore High Court). Singapura memiliki akar common law Inggris yang sama dengan yang dimiliki negara-negara tetangganya (seperti India. dalam bidang hukum perjanjian. Dalam kasus yang baru-baru ini terjadi. Pengaruh dari dan Ditinggalkannya Common Law Inggris 1. hukum itu dibangun dan dikembangkan terus oleh para hakim melalui aplikasi prinsip-prinsip hukum pada fakta-fakta dari kasus-kasus tertentu.3.3. sistem hukum common law Singapura dicirikan dari doktrin preseden yudisial (atau stare decisis).3 Pengadilan yang lebih rendah tingkatannya. jika (a) pengadilan tersebut dapat membedakan secara material fakta-fakta kasus yang dibawa ke hadapannya dengan fakta-fakta dari keputusan yang sebelumnya pernah diambil oleh pengadilan yang lebih tinggi. Hukum Perusahaan/Company Law dan Hukum Pembuktian/Law of Evidence). pengadilan-pengadilan Singapura telah secara sadar menyimpang dari exclusionary rule dalam kasus Inggris Murphy vs Pengadilan Negeri Brentford (1991) sehingga memungkinkan pemulihan kerugian secara ekonomi yang timbul dari tindakan kelalaian (negligent acts) atau kegagalan melakukan sesuatu (omissions) berdasarkan kasus Anns vs Merton (1978). akhir-akhir ini tendensi pengadilan di Singapura yang dahulu selalu mengindahkan keputusankeputusan Inggris telah secara signifikan mulai beralih menuju ditinggalkannya pengadilan-pengadilan Inggris tersebut (bahkan untuk bidang-bidang tradisional common law).com Pte Ltd (2005) di Pengadilan Banding Singapura (Singapore Court . walaupun detil penerapan dan pelaksanaan dari masing-masing negara berbeda sesuai dengan kebutuhan dan kebijakan setiap negara. keputusan-keputusan pengadilan Inggris dan negara-negara Persemakmuran lainnya tidak secara ketat mengikat Singapura. Malaysia. Brunei dan Myanmar).3. yaitu kasus Chwee Kin Keong v Digilandmall.3. Perbuatan Melawan Hukum/Tort dan Restitusi/Restitution) daripada bidang-bidang lain yang didasarkan pada undang-undang (seperti Hukum Pidana/Criminal Law. negara-negara lain seperti India dan Australia telah amat mempengaruhi dari segi pendekatan dan isi dari beberapa undang-undang Singapura tersebut. 1. dalam beberapa kasus. dapat menghindarkan diri dari keharusan menerapkan ratio decidendi dari keputusan pengadilan yang lebih tinggi yang dikeluarkan sebelumnya.1 Common Law adalah sehelai benang penting dari lembar kain politik-hukum Singapura.5 Namun. Di lain pihak. 1.4 Pengaruh besar dari hukum common law Inggris pada perkembangan hukum Singapura secara umum lebih terbukti dari beberapa bidang common law tradisional (seperti Perjanjian/Contract. Pengadilan Negeri (District Court) dan Pengadilan Magistrat (Magistrate’s Court). Jadi. tanpa menghiraukan doktrin stare dicisis). atau (b) keputusan pengadilan yang lebih tinggi tersebut memang dibuat secara per incuriam (yaitu.

termasuk doktrin Undue Influence dan Promissory Estoppel.7 Sistem common law di Singapura mengandung perbedaan yang material dengan sistem hukum di beberapa negara Asia lainnya yang telah dipengaruhi oleh tradisi sistem civil law (seperti RRC. perbedaan antara sistem hukum common law dan civil law sekarang menjadi lebih tidak kentara dibandingkan dengan masa yang lampau. Pada masa yang lalu di Inggris. 1. telah mulai membuat peraturan-peraturan untuk mengisi kesenjangan yang terjadi di dalam sistem common law.3.3.3. Laporan-laporan Hukum Singapura (Singapore Law Reports) merupakan publikasi utama/penting bagi putusan-putusan pengadilan Singapura sejak 1992. di dalam sistem common law.11 Menurut Undang-undang Hukum Perdata Singapura (Singapore Civil Law Act. Competition Act 2004 (No 46 of 2004) dan Consumer Protection (Fair Trading) Act) (Cap 52A.10 Menurut sejarah. Kebutuhan untuk memiliki sistem hukum sendiri ini secara lebih jauh telah didorong oleh adanya perkembangan-perkembangan hukum Uni Eropa dan dampaknya bagi sistem Inggris. demarkasi sejarah tersebut tidaklah penting bagi Singapura di masa kini. 2002 Rev Ed). pengadilan-pengadilan Singapura diberi wewenang untuk menjalankan common law dan equity secara bersamaan. Namun. sistem civil law tidak terlalu mengandalkan diri pada putusan pengadilan yang telah ada sebelumnya dan tidak tunduk pada doktrin stare decisis. Dampak praktisnya adalah penggugat dapat mencari upaya-upaya hukum secara common law (Ganti rugi/Damages) dan secara equity (termasuk Putusan Sela/Injunctions dan Pelaksanaan Janji Tertentu/Specific Performance) dalam persidangan yang sama dan di hadapan pengadilan yang sama pula. Perbandingan Sekilas: Sistem Hukum Common Law dengan Sistem Hukum Civil Law 1.of Appeal).12 Tanpa adanya publikasi secara reguler tentang preseden-preseden yudisial yang dapat diakses oleh para hakim dan penasehat hukum.3 di atas. pengadilan tersebut telah memilih untuk tidak mengadopsi pendapat dalam putusan Pengadilan Banding Inggris (the English Court of Appeal) dalam kasus Great Peace Shipping Ltd v Tsavliris Salvage (International) Ltd (2002) mengenai yurisdiksi yang adil (equity jurisdiction) dalam hal terjadi kesalahan unilateral. Pengadilan Syariah (Syariah Court) juga telah menerapkan/menjalankan hukum Islam untuk menangani masalah-masalah hukum tertentu mengenai . 2004 Rev Ed).9 Akan tetapi. prinsip Equity telah memegang peran yang bersifat menentukan. Yurisdiksi common law. prinsip Equity (atau raga dari prinsip-prinsip keadilan – fairness or justice) telah diterapkan oleh pengadilan-pengadilan untuk memperbaiki cacat atau kelemahan yang inheren dalam sistem common law yang kaku. Cap 43. Publikasi Laporan-laporan Hukum 1. maka common law Singapura tidak akan berkembang sepesat dan seekstensif sekarang.3. Common Law dan Equity 1. Meskipun telah ada penghapusan pemisahan Common Law-Equity. Pengadilan-pengadilan common law seperti di Singapura pada umumnya mengambil pendekatan yang berlawanan (adversarial approach) di dalam proses litigasi antara para pihak yang bersengketa sedangkan hakim dari sistem civil law bertendensi untuk mengambil peran yang lebih aktif di dalam penemuan bukti dalam memutuskan perkara yang dihadapinya. 1. di Inggris. Singapura baru-baru ini telah mengundangkan berbagai undang-undang untuk mengatur berbagai bidang hukum tertentu (misalnya Contract (Rights of Third Parties) Act 2001 (Cap 53B. Hukum Islam (dalam Masalah Hukum Perorangan/Keluarga) 1. 1. Buku-buku hukum dan artikel-artikel jurnal mengenai bidang-bidang yang penting juga telah memberikan sumbangan bagi common law Singapura yang sedang tumbuh. Ketiga.2 dan 3.3. banyak prinsip-prinsip hukum yang telah dikembangkan oleh para hakim sedangkan hakim dalam sistem civil law lebih mengandalkan diri pada kitab undang-undang yang umum dan lengkap yang mengatur berbagai bidang hukum.8 Pertama-tama.13 Di samping Common Law dan Equity. tidak seperti halnya sistem common law sebagaimana dijelaskan di dalam Bagian 3. misalnya. 1999 Rev Ed). Vietnam dan Thailand) atau negara-negara yang sistem hukumnya merupakan campuran dari sistem civil law dan common law (misalnya Filipina). dalam perkembangan doktrin-doktrin tertentu dalam hukum perjanjian. Malayan Law Journal merupakan sumber publikasi kasus-kasus lokal sejak 1932. pengadilan-pengadilan Chancery [Chancery courts] menjalankan Equity secara terpisah dari pengadilan-pengadilan common law. Dalam hal ini. Sebelumnya.3.3.

sebagai masyarakat asli/pribumi Singapura. dapat memutuskan untuk menyerahkan RUU tersebut kepada suatu Komite Khusus (Select Committee) agar memeriksa/membahas dengan seksama dan melaporkan hasilnya kepada Perlemen. perceraian. badan eksekutif/Executive (Bagian 6) dan badan yudikatif/Judiciary (Bagian 7).4 Konstitusi mengandung ketentuan-ketentuan yang secara tegas menentukan wewenang dan tugas/fungsi berbagai organ negara. moralitas dan keamanan nasional.3 Konstitusi menetapkan hak-hak fundamental tertentu. BADAN LEGISLATIF Proses Pembuatan Undang-undang 1.4. Di samping perlindungan umum ras dan agama golongan minoritas.4.4. disyaratkan juga persetujuan dari sedikitnya 2/3 dari jumlah total suara yang diambil oleh para pemilih (electorate) dalam suatu referendum nasional.perkawinan. 1. dalam beberapa hal. Sehubungan dengan perubahan-perubahan konstitusional tertentu untuk mengubah wewenang-wewenang memutuskan dari Presiden Terpilih dan ketentuan-ketentuan tentang kemerdekaan fundamental. kadang-kadang para Menteri melakukan pidato atau presentasi yang mengesankan dalam upaya mereka mempertahankan RUU tersebut dan menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit yang diajukan oleh para penentangnya (backbenchers).5. Selama masa diskusi dalam Parlemen mengenai suatu RUU yang penting. termasuk badan legislatif/Legislature (Bagian 5). Cap 3. Para Anggota Perlemen (Members of the Parliament – MPs). .5. Jika laporan tersebut dinilai baik atau jika usulan perubahan-perubahan atas RUU tersebut disetujui oleh Parlemen. kebebasan berbicara (freedom of speech) dan persamaan hak (equal rights). pembatalan perkawinan dan perpisahan yudisial di bawah Undang-undang Administrasi Hukum Islam (the Admintration of Muslim Law Act – AMLA. Diamanatkan bahwa setiap peraturan yang bertentangan dengan Konstitusi adalah batal. maka RUU tersebut diterima dan disetujui oleh Parlemen. 1999 Rev Ed) adalah undang-undang tertinggi di Singapura. yang biasanya disusun oleh pejabat-pejabat hukum Pemerintah. 1999 Rev Ed) yang berlaku untuk penduduk muslim atau para pihak yang menikah berdasarkan hukum Islam (walaupun Pengadilan Tinggi/High Court mempunyai yurisdiksi yang setara dengan Pengadilan Syariah/Syariah Court untuk masalah-masalah tertentu yang berhubungan dengan pemeliharaan/maintenance. Untuk bidang waris/inheritance dan suksesi/succession. seperti pemeliharaan ketertiban umum. kedudukan kaum Melayu. seperti kebebasan beragama (freedom of religion). Kembali ke atas BAGIAN 5 Tugas 1.1 Tugas utama Parlemen Singapura adalah mengundangkan undang-undang yang mengatur Negara.1 Konstitusi (Constitution. Kembali ke atas BAGIAN 4 KONSTITUSI Undang-undang Tertinggi (Supreme Law) 1. RUU-RUU yang berjenis private members jarang terdapat di Singapura.2 Proses pembuatan undang-undang dimulai dengan Rancangan Undang-Undang (“RUU”).4. Hak-hak individual ini tidaklah bersifat absolut melainkan dibatasi oleh kepentingan umum. AMLA secara tegas menerima teks-teks Islami tertentu sebagai bukti dalam hukum Islam.2 Ketentuan-ketentuan dalam Konstitusi hanya dapat diubah berdasarkan persetujuan 2/3 suara dari jumlah total Anggota Parlemen terpilih. pengasuhan/custody dan pemisahan harta/division of property). Hak-hak Fundamental 1. bagaimanapun. juga secara konstitusional diamanatkan. Wewenang dan Fungsi Organ-organ Negara 1.

Anggota Parlemen Yang Dipilih .1.PCMR) yang dibentuk berdasarkan Konstitusi Singapura ditugasi untuk memeriksa/menelaah RUU-RUU dengan seksama. Pada tahap inilah RUU tersebut secara resmi telah diundangkan sebagai “undang-undang”. kecuali untuk beberapa RUU tertentu yang dikecualikan. selanjutnya akan diteruskan kepada Presiden untuk disetujui.4 Dari segi susunan.5. Jika laporan PCMR itu menunjukkan hasil yang baik atau jika persetujuan 2/3 mayoritas di Parlemen telah diterima untuk menyampingkan laporan PCMR yang menunjukkan hasil tidak baik. maka RUU tersebut. untuk memastikan agar RUU yang diperiksanya itu dengan cara apapun tidak merugikan orang-orang dari golongan ras atau agama tertentu dan secara seimbang tidak pula merugikan golongan lainnya.5. baik yang secara langsung menaruh prasangka pada orang-orang dari golongan tertentu atau yang secara tak langsung memberikan keuntungan hanya pada suatu golongan tertentu lainnya. Susunan 1.3 Dewan Kepresidenan untuk Hak-hak Minoritas (The Presidential Council for Minority Rights -. Parlemen Singapura terdiri dari para anggota yang dipilih dan para anggota yang tidak dipilih.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful