BAB I PENDAHULUAN

Tubuh kita terdiri atas 60% air, sementara 40% sisanya merupakan zat padat seperti protein, lemak, dan mineral. Proposi cairan tubuh menurun dengan pertambahan usia, dan pada wanita lebih rendah dibandingkan pria karena wanita memiliki lebih banyak lemak dibandingkan pria, dan lemak mengandung sedikit air. Sementara neonatus atau bayi sangat rentan terhadap kehilangan air karena memiliki kandungan air yang paling tinggi dibandingkan dengan dewasa. Kandungan air pada bayi lahir sekitar 75% berat badan, usia 1 bulan 65% dewasa pria 60% dan wanita 50%. Zat-zat yang terkandung dalam cairan tubuh antara lain adalah air, elektrolit, trace element, vitamin, dan nutrien-nutrien lain seperti protein, karbohidrat, dan lemak. Dengan makan dan minum maka tubuh kita akan tercukupi akan kebutuhan nutrien-nutrien tersebut. Air dan elektrolit yang masuk ke dalam tubuh akan dikeluarkan dalam waktu 24 jam dengan jumlah yang kira-kira sama melalui urin, feses, keringat, dan pernafasan. Tubuh kita memiliki kemampuan untuk mempertahankan atau memelihara keseimbangan ini yang dikenal dengan homeostasis. Namun demikian, terapi cairan parenteral dibutuhkan jika asupan melalui oral tidak memadai atau tidak dapat mencukupi. Sebagai contoh pada pasien koma, anoreksia berat, perdarahan banyak, syok hipovolemik, mual muntah yang hebat, atau pada keadaan dimana pasien harus puasa lama karena akan dilakukan pembedahan. Selain itu dalam keadaan tertentu, terapi cairan dapat digunakan sebagai tambahan untuk memasukan obat dan zat makanan secara rutin atau untuk menjaga keseimbangan asam basa.

1

BAB II PRINSIP-PRINSIP DASAR CAIRAN TUBUH

KOMPARTEMEN TUBUH Tubuh kita sebagian besar terdiri dari air. Air tubuh total pada pria sebesar 60% dari berat badan dan pada wanita sebesar 50% dari BB. Di dalam air tersebut terlarut zat-zat erlarut (solute) inorganic dan ongarnik, dimana secara umum air dengan zat terlarut di dalamnya disebut cairan tubuh. Kompartemen berisi cairan intraseluler (40% BB) dan cairan ekstraseluler (20% BB). Ruang ekstraseluler meliputi ruang interstisial yang berisi cairan interstisial (15% BB) dan ruang intravascular yang berisi cairan intravascular, darah dan plasma (5%BB). Serta ruang serebrospinal berisi cairan serebrospinal. Terdapat ruang ketiga yang termasuk ruang ekstraseluler yang disebut ketiga (third space). Cairan dalam ruang ketiga diabaikan isinya seperti di ruang intrapleura, perikard, intraperitoneal dan lain-lain. Air dapat masuk secara bebas memasuki ruang intraseluler dan ruang ektraseluler secara bebas melalui proses osmosis mengikuti konsentrasi osmotik. Konsentrasi osmotic ditentukan oleh jumlah solute dalam larutan tersebut. Natrium (Na) adalah solute yang berperan dalam ruang ekstraseluler dan kalium (K) adalah solute yang berperan dalam ruang intraseluler. Terjadi gangguan volume pada masing – masing kompartemen sering kali terkait gangguan pada keseimbangan elektrolit terutama Na. Air Masuk dan Keluar ke Dalam Tubuh
Air sebagai kebutuhan pokok masuk kedalam tubuh secara fisiologis melalui makanan dan minuman sehari – hari, baik secara oral normal atau secara artificial melalui pipa naso atau orogastrik maupun melalui gastrotomi. Apabila tidak memungkinkan, cairan dimasukkan melalui vena perifer atau vena sentral.

2

Sementara pengeluaran air dari tubuah dapat melalui urin, evaporasi melalui kulit, evaporasi melalui paru dan feses. Dengan total pengeluaran keseluruhannya sebesar 2500ml yang sebagian besar keluar melalui urin yaitu sekitar 1200ml.

OSMOLALITAS DAN TONISITAS Perpindahan air dari cairan ekstraseluler dan intraseluler atau sebaliknya disebut sebagai pergeseran cairan. Air akan berpindah dari ruang dengan konsentrasi osmotic rendah menuju ruang dengan konsentrasi osmotic tinggi, sehingga akhirnya didapat keseimbangan yang membuat konsentrasi osmotic kedua ruang menjadi sama. Konsentrasi osmotic ini ditentukan oleh sejumlah solute terlarut. Ukuran yang dipakai adalah osmolalitas atau osmolaritas. Beberapa unit pengukuran solute yang sebagian besar berupa elektrolit adalah sebagai berikut: Milligram adalah mengukur berat Miliequivalent adaah ukuran kapasitas untuk ikatan kimia sesuatu zat sesuai dengan valensinya. Milimol adalah ukuran jumlah partikel dalam larutan.di dalam larutan. Hampir semua eletrolit terutama yang terdapat didalam cairan ekstraseluler dianggap terionisasikan dengan sempurna menjadi kation dan anion. Kation terbanyak di ekstraseluler adalah Natrium ( Na ) dan kation terbanyak dalam intraseluler adalah kalaium ( K ). Anion terbanyak dalam ekstraseluler adalah klorida dan anion terbanyak dalam intraseluler adalah fosfat. Osmolaritas cairan ekstraseluler adalah sama dengan jumlah zat terlarut dalam milimol atau mEq ( bilamana valensi=1 ). Tonisitas adalah pengukuran hasil perhitungan dari partikel – partikel yang aktif secara osmotic yang mana nilainya kira – kira sama dengan osmolaritas. Osmolaritas serum normal = 290 ±10 mOsm/L Tonisitas serum normal = 280±10 mOsm/L

3

Tekanan osmotik (mmhg)= 19. Bila nilai berada dalam batas – batas 280 – 300 Mo sm/L disebut isotonik. endotel tersusun rapat terdapat pada jaringan otot.4 mOsm/L) sanagat penting dalam menjaga keseimbangan air antara cairan interstisial dan cairan intravaskular. osmolalitas dan tonisitas normal adalah 290±10 mOsm/L. Tekanan Osmotik dan Tekanan Onkotik Tekanan osmotik adalah besar tekanan yang diperlukan untuk menahan agar perpindahan air dari larutan konsentrasi rendah ke dalam larutan konsentrasi tinggi melalui membran semipermeabel tidak terjadi. ginjal. B. Nilai lebih dari 300 mOsm/L disebut hipertonik dan niali kurang dari 280mOsm/L disebut hipotonik. Struktur membran kapiler tersusun kontinyu. yang dalam keadaan normal tidak permeabel terhadap protein.3 x Osmolaritas (mOsm/L) Tekanan onkotik plasma adalah tekanan osmotik yang ditimbulkan oleh larutan koloid plasma. Walaupun nilainya kecil (1. Kapiler jenis kontinyu.dextran atau HES dalam menahan air adalah berkisar antara 14 – 20ml untuk setiap gram. berlubang atau tidak kontinyu sangat selektif menahan protein plasma. berlubang atau discontinuos. subkutan. Jenis tidak kontinyu sangat permeabel terhadap protein plasma. Membran kapiler bersifat permeabel terhadap air. Kemampuan koloid seperti albumin. Hubungan Antar Kompartemen Ruang intravaskular dipisahkan dari ruang interstisial oleh membran kapiler.Untuk kepentingan klinik. permeabel tehadap air dan ion. albumin dan molekul besar. A. gastrointestinal dan tidak kontinyu terdapat pada hepar. elektrolit dan moleku – molekul kecil. paru. jantung. Kapiler jenis kontinyu. Jenis berlubang terdapat pada glomerulus. limpa dan beberapa kelenjar. 4 .

gas – gas. kecepatan kombinasi transporter dengan zat. Zat – zat yng berdifusi melaluimembran yang bersifat permeabel terhadap zat tersebut. Zat – zat yang tidak lipid terlarut berdifusi keluar dan masuk sel melalui pori – pori kecil terbentuk oleh protein seperti Na. Difusi melalui pori – pori lebih lambat daripada melalui membran fosfolipid. Difusi terfasilitasi adalah difusi melalui membran sel yang dibantuoleh protein integral yang berfungsi sebagai transporter ( carrier ). Molekul beukuran kecil dan sedang dapat dipaksa melewati membran seperti nutrien. Air dan molekul – molekul lipid terlarut seperti oksigen.K.Perpindahan zat –zat dari intravaskular melewati dnding kapiler dengan cara difusi. K. glukosa. Contohnya adalah glukosa yang di ubah menjadi glukosa – 6 – fosfat oleh enzim kinase. Insulin mempercepat proses difusi terfasilitasi glukosa dalam sel. jumlah transporter yang ada. Difusi misalnya oksigen. lipid terlarut antibodi. karbon dioksida. Difusi terfasilitasi terjadi lebih cepat daripada difusi sederhana dan bergantung pada perbedaan konsentrasi zat`di dalam dan diluar membran. Bulk transport adalah filtrasi dan absorbsi. gliserol. menggunakan ATP sebagai energi fosfat. hormon dan vitamin. Proses osmotik menimbulkan tekanan osmotik dan tekanan osmotik memberikan nilai tonisitas Filtrasi adalah proses perpindahan air dan beberapa zat terlaurt melewati suatu membran oleh karena gaya gravitasi atau tekanan hidrostatik air. filtrasi dan difusi terfasilitasi. vitamin A. steroid. amonium dan lain – lain kecuali protein dan molekul besar lainnya. osmosis. vesikuler transport dan bulk transport. Urea. nitrogen. melalui membran permeabel yang selektif. seperti yang terjadi pada glomerulus dan tubulus ginjal. D.E. sedikit amonia dan alkohol berdifusi melalui membran fosfolipid masuk dan keluar sel. Vesicular transport (endositosis. Proses Pasif Proses pasif adalah difusi. Ca. Proses Aktif 5 . karbondioksida. Cl. Air berpindah secara osmosis dari tempat konsentrasi tinggi ke tempat dengan konsentrasi rendah. ion. Osmosis adalah proses pasif dimana terjadi perpindahan zat terlarut yaitu air. eksositosis) misalnya molekul besar.

Pompa natrium merupakan pompa transpor aktif primer yang mempertahankan kadar Na tetap rendah di dalam sel dengan memompanya keluar melawan gradien konsentrasi. Pada transpor yang sekunder.Beberapa zat tidak dapat masuk dan keluar sel melalui membran sel secara pasif. Pengaturan Cairan dan Protein Melewati Kapiler Filtrasi cairan intravaskular ke ruanginterstisial dan absorpsi cairan interstitial kedalam ruang ruang intravaskular dijelaskan dalam persamaan ernest starling: JV = kA(Pc-Pt) – j( CoPc-CoPt) JV k A Pc Pt j = Laju filtrasi cairan melewati kapiler = koefisien ultrafiltrasi = lua area terjadinya filtrasi = tekanan hidrostatik kapiler = tekanan hidrostatik jaringan = koefisien refleksi CoPc = tekanan koloid osmotik kapiler 6 . Transpor aktif primer adalah energi dari ATP langsung memindahkanzat melewati membran sel. energi disimpan dalam bentuk gradien ion membawa zat melewati membran. Pompa transpor aktif primer ini disebut Na/K pump atau lebih sering disebut pompa natrium. Transpor aktif ada dua yaitu primer dan sekunder. Zattersebut memerlukan proses yang membutuhkan energi transport aktif dan “bulk transport “. memakai energi untuk menginduksi perubahan dalam protein – transport. Kedua cara tersebut membuthkan energi dari pemecahan ATP. Pompa natrium bekerja terus menerus sebab K dan Na dapat bocor melalui membran secara pelan – pelan melalui pori – pori. juga memindahkan K ke dalam sel melawan gradien konsentrasi. Bulk transport adalah endositosis dan eksositosis yaitu cara – cara untuk memindahkan bahan – bahan masif masuk dan keluar sel. Protein integral pada membran sel berfungsi sebagai pompa pengendali ATP.pump di membran sel.

Sehingga pada praktiknya kita memberikan cairan dengan balans positif yang berlebihan selama operasi besar dan lama. Makin kecil nilai j maka makin mudah air dan partikel kecil lain melewati dinding kapiler. Setiap jaringan mempunyai nilai j tertentu. Ruang Ketiga Istilah ini awalnya dimaksudkan untuk kompartemen yang tidak termasuk kedalam intraseluler dan ekstraseluler yaitu ruang intraperitoneal. ruang intrapleural.CoPt = tekanan koloid osmotik jaringan Koefisien refleksi dinyatakan dengan nilai antara nol sampai nilai mendekati satu. Komposisi Cairan Tubuh Komposisi cairan tubuh yang dimaksud adalah komposisi kandungan elektrolit kation dan anion yang ada pada masing – masing kompartemen. 7 . disamping hilang cairan karena irreversible loss akibat berkeringat dan puasa. menunjukan kemampuan membran kapiler guna mencegah perpindahan air. Ruang ketiga disebut ruang penampung hilangnya cairan masa perioperatif.

Montoring hemodinamik lebih akurat dalam menilai cairan intravaskuler. salah satunya adalah pemeriksaan vena jugularis (jugular venous pressure). Dalam perkembangan nya parameter tradisional seperti pemeriksaan fisik dan tanda-tanda vital sering keliru disebabkan tingginya tingkat sensitvitas dari pemeriksa. Pengkajian secara noninvasif dapat dilakukan melalui pemeriksaan. jika tantangan cairan empirik tidak memberikan perbaikan. (Eddy Harijanto. curah jantung dan tekanan perfusi sistemik. Namun. Pemantauan hemodinamik memberikan informasi mengenai keadaan pembuluh darah. 2009) Pendekatan non invasive dapat dipakai pada kasus yang sudah diberi bolus cairan (cairan tantangan ) dan tekanan darah jumlah urine. 2003) 8 . maka perlu dipasang jalur sentral. (Fundamental Course on Fluid Therapy. jumlah darah dalam tubuh dan kemampuan jantung untuk memompakan darah. Pemantauan hemodinamik secara invasif. Pemantauan hemodinamik adalah suatu pengukuran terhadap sistem kardiovaskuler yang dapat dilakukan baik invasif atau noninvasive. status mental dan kadar laktat normal. yaitu dengan memasukkan kateter ke dalam ke dalam pembuluh darah atau rongga tubuh.BAB III PENILAIAN DAN TARGET TERAPI CAIRAN Metode Pemantauan dan Penilaian Hemodinamik Metode yang digunakan untuk menilai volume intravaskular dan preload penting untuk penataklasanaan pasien yang menjalani pembedahan.

(Eddy Harijanto. Edema Paru. Penyakit Katup Jantung. i. (Eddy Harijanto. b. Hipertensi Pulmonal. Nilai CVP lebih dari 15 mmHg biasanya 9 . Tekanan vena sentral (CVP) Tekanan arteri pulmonalis Thermodilution cardiac out put Pengukuran volume darah intratoraks Transesophageal echocardiography ( TEE ). Pasca operasi jantung. 2009) Tekanan Vena Sentral Tekanan vena sentral atau central venous pressure (CVP) digunakan sebagai indeks dari preload ventrikel. Secara invasif dapat dilakukan dengan dua cara. f. h. 2009) Pengukuran CVP secara nonivasif dapat dilakukan dengan cara mengukur tekanan vena jugularis. d e. mengetahui reaksi pemberian obat. Pengukuran ini hanya dapat dilakukan dengan menggunakan sistem transduse (Rokhaeni H. 2) Melalui bagian proksimal kateter arteri pulmonalis. Tamponade Jantung. Gagal napas akut. Sarana untuk memberikan cairan/resusitasi cairan. teknik pengukuran menggunakan manometer air atau transduser. Nyeri dada yang berulang.Indikasi Pemantauan Hemodinamik a. 2001) Meskipun tidak ada nilai mutlak untuk CVP pada penggunaanya berkisar antara 6-12 mmHG cukup kuat sebagian besar kasus. Tekanan vena sentral secara langsung merefleksikan tekanan pada atrium kanan.. yaitu: 1) memasang kateter CVP yang ditempatkan pada vena kava superior atau atrium kanan. b. g. . Hipotensi/Hipertensi. e. c. 2009) Parameter Hemodinamik a. Infark Miokard Akut (AMI). Secara tidak langsung menggambarkan beban awal jantung kanan atau tekanan ventrikel kanan pada akhir diastole. yg disertai: Gagal jantung kanan/kiri. Shock. d. (Eddy Harijanto. c.

(Eddy Harijanto.merupakan indikasi ada masalah pada jantung dan respirasi. Hal itu bisa terjadi dengan asumsi bahwa PCWP adalah ekuivalen dengan atrium kiri. 2009) Kateter Arteri Pulmonal Sentral Kateter arteri pulmonal mempunyai banyak data hemodinamik yang bisa dperoleh seperti CVP. respon terhadap cairan berupa peningkatan tekanan darah dan jantung yang akan berakibat penurunan CVP. (Eddy Harijanto. PCWP) volume sekuncup (SV). Tetapi pada pasien gangguan jantung dan ventrikel perubahan LVEDV dabn LVEDP akan berbanding terbalik. Faktor pasien.CVP juga akan merespon terrhadap pengisian cairan. PCWP mencerminkan preload ventrikel kiri karena PCWP dianggap ekuivalen dengan left ventricular end diastolic volume (LVEDV). 2009) Dalam prateknya penggunaannya harus dikritisi terutama pada pasien dengan kondisi buruk.mixed venous oxygen saturation (SvO2) resistensi sistemik (sistemik vascular resistance. Seperti CVP. Ada 3 fakor yang mempengaruhi monitoring kateter arteri pulmonal yaitu: 1.Sedangakan nilai CVP kurang dari 6 mmHg dengan hemodinamik stabil tidak perlu intervesi lebih lanjut. sedangkan atrium kiri sebanding dengan left ventrikel end diastolic pressure ( LVEDP). curah jantung (CO). PVR). Kateter arteri pulmonal menuntungkan untuk digunakan pada pasien dengan pembedahan mayor karena mempunyai akses yang cepat. pasien dengan disfungsi organ akan meningkatkan resiko gangguan hemodianamik 10 . PAP) tekanan baji ateri pulmonal (pulmonary capiler wedge pressure. Pada pasien bedah nilai pCWP biasanya berkisar antara 6-15 mmHg. SVR) dan resistensi paru (pulmonary vascula resistance. respon PCWP pada loading cairan lebih berguna daripada nilai absolut. Misalnya pada keadaan meningkatnya tekanan torak atau karena peningkatan tekanan intra perkardial akan menyebabkan CVP berbanding terbalik dengan preload. Data data tersebut disertai dengan interprestasi yang tepat akan mengurangi morbiditas dan mortalitas. perubahan LVEDP sebanding lurus dengan perubahan LVEDV. nilai CVP tinggi meskipun preload ventrikel rendah.tekanan arteri pulmonal (pulmonary artery pressure. Contohnya pada pasien dengan keadaan hipovolemik.

Penyebab pengukuran jantung tidak akurat: 1. Faktor prosedur.2. Tetapi jika ada penurunan pada aliran darah paru karena menurunnya curah jantung menyebabkan end tidal CO2 menurun (Eddy Harijanto. (Eddy Harijanto. Faktor praktisi. 2009) Thermodilution Cardiacoutput Sentral Thermodilution cardiac output yaitu sejumlah cairan dingin diinjensikan ke atrium kanan yang akan dideteksi oleh termistor pada ujung kateter arteri pulmonal. Volume yang diinjeksikan lebih kecil dari volume yang dianjurkan menyebabkan overtimasi CO 2. Monitoring kateter arteri pulmonal tergantung denagn kompetensi dasar dari dokter dan perawat. perubahan yang cepat pada temperatur tubuh menyebabkan undertimasi CO Pengukuran tidak langsung curah jantung menggunakan end tidal CO2 tension. adanya regurgitasi katup triskupid menyebabkan adanya undertimasi CO 5. adanya koordinasi antara injeksi dingin dengan siklus ventilasi mekanik dikarenakan ada pengaruh tekanan intrapleura pada preload ventrikel kanan 4. Pasien menjalani prosedur pembedahan mayor yang menyebabkan gangguan hemodinamik dan disfungsi ogan 3. bila kondisi ventilasi semenit dan CO2 relatif stabil. 2009) Pengukuran Volume Darah Intratoraks Intrathoracic blood volume ( ITBV) menverminkan jumlah end diastolic blood volume darah pada sirkulasi pulmonal dan aorta torakalis. Dengan menggunakan teknik 11 . adanya aliran infus yang cepat bersamaan dengan cairan injeksi dingin menyebabksn undertimasi CO 3.

SV dan curah jantung. karena ada hubungan antar LVEDV denagn volume sekuncup (SV). Tetapi pada prateknya hanya 40-72 % pasien krtitis yang responsif terhadap peningkatan SV pada ekspansi volume. 2009) Penilaiaan Volume Intravaskuler Pada Sasien Syok dan Kritis Resusitasi cairan yang hanya diberikan dengan hanya berdasarkan keadaan nyata yang diukur dalah pedoman yang jelek untuk terapi. Hal itu disebabkan peningkatan SV yang disebabakan peningktan LVEDV tergantung pada pada fungsi ventrikel. terutama pada pasien dengan keadaa syok septik. sedangkan ITBV dan TEDV merupakan parameter baik terhadap volume darah dan preload . (Eddy Harijanto. kita tidak dapat menilai kecukupan perfusi jaringan tanpa menghubungkan DO 2 dengan VO2 ( Fundamental Course Fluid Therapy. CO extra vascular lung water ( EWLW) dan total end tidal (TEDV). Contohnya pada penggunaan 12 . Ekspansi volume ( loading cairan ) sering digunankan pada pasien kritis untuk memperbaiki hemodinamik. Bila fungsi ventrikel menurun maka hubungan LVEDV dengan SV tidak signifikan. kendati dilengkapi dengan pengukuran-pengukuran tersebut. 2009) Transesophgeal Echocardiography (TEE TEE dugunakan untk menilai preload dan CO yang bersifat kurang invasif dibandingkan dengan arteri pulmonal.transpulmonary indicator dilution dapat diperoleh nilai ITBV. ITBV juga sensitif untuk digunakan pada pasien dengan gagal nafas. perubahan pada cardiac index. Respon yang diharapkan pada loading cairan adalah terjadi peningkatan LVEDV.Sehingga TEE lebih superior dalam hal diagnosis penyebab instabilitas hemodianamik dibandingkan dengan kateter arteri pulmonal. Preload pada TEE dianilai terutama dengan mengukur left ventrikel end diastolic area sedangkan CO diperoleh dengan metode doppler. karena jumlah cairan yang diperlukan dapat jauh lebih banyak dari volume normal. 2003). (Eddy Harijanto. Namun. tissue organ delivery. Oleh karena itu pada pasien kritis dibutuhkan suatu faktor prediksi untuk apakah paien responsif terhadap ekspansi volume atau tidak. Dengan tujuan memastikan apakah dengan pemberian cairan keadaan menjadi lebih baik atau tidak. EVLW merupakan indikator yang sensitif terhadap edem paru. Pada keadaan syok dapat terjadi hipoksia jaringan berat biarpun kelihatannya aliran darah. tekanan dan oksigenasi sistemik jantung dapat diukur dengan memakai kateter arteri pulmonal termodilusi dan bersama-sama dengan pengukuran SaO2 dan Hb dapat digunakan untuk menilai DO2.

13 . 4. 3. Salah satu teknik untuk mengukurvolume intravaskuler adalah dengan mengukur gelombang tekanan arteri yang ditimbulkan pada ventilasi mekanik. Parameter yang digunakan di klinik selama ini adalh pengisian jantung misalnya pada vena sentral. Systolik pressure variation (SPV) adalah selisih antara sistolik maksimal dan minimal selama satu siklus ventilasi bertekanan positif 2. tekanan baji arteri pulmonalis dan LVEDA dengan TEE. 2000 1.katekolamin tanpa disertai dengan resusitasi yang adekuat akan menyebabkan iskemia jaringan. 5. Sebaliknya loading cairan tanpa ada peningkatan CO akan menyebabkan edem jaringan dan disfungsi organ. 2009) Dikutip: dari Eddy Harijanto. Up adalah selisih antara tekanan sistolik maksimal dengan sistolik dasar Down adalah selisih antara tekanan sistolik dasar dengan sistolik minimal Tekanan sistolik dasar adalah tekanan sistolik yang diukur apada periode apneu Pulse press varition ( PPV ) yaitu selisih antara pulse pressure maksimal dan minimal yang s ventilasi bertekanan positif. (Eddy Harijanto.

2009) DO2 (oksigen delivery) O 2 digunakan untuk menjamin metabolisme jaringan secara aerob untuk menghasilkan energi yang digunakan organ dan menghasilkan produk akhir yang akan di keluarkan oleh tubuh. Pada keadaan istirahat jantung yang normal akan membutuhkan global deliver oksigen lebih banyak dari total oksigen yang dibutuhkan untuk mejaga metabolisme berjaln secara aerob. Dan tidak responsif bila down 4 +2 mmHg dengan nilai therehold down nya 5 mmHg. Pasien dengan gangguan jantung dianjurkan memakai ventilasi mekanik dengan pernafasan kontrol volume tidal yang normal karena penilaian SPV dan PPV tidak akurat. Metode Untuk Menilai Sirkulasi Mikro Sentral Terapi cairan periopertif bertujuan nuntuk mempertahankan tanda – tanda vital dalam batas normal dan produksi urin 0.Untuk mencegah hal tersebut perlu diperhatikan golbal oksigen delivery yaitu jumlah total oksigen yang di sediakan untuk seluruh jaringan setiap menit ter gantung dengan aliran darah. selama dan sesudah operasi. Tetapi dalam perkembangan nya penilaian tanda vital tersebut tidak dapt menjadi pegangan kareana banyak komplikasi pasca operaalsi .5 ml/kg/jam. 14 . Sehingga kegagalan dalam memasok O2 akan mengakibatkan kegagalan organ seperti pada pasien syok yang tidak diresusitasi dengan baik .Pasien dikatakan responsif bila down 11+4 mmHg dan curah jantung nya meningkat kurang lebih 15 persen terhadap loading cairan.Jadi terapi cairan perioperatif mengguankan sirkulasi mikro sebagai goal dari terapi caira untuk menjaga ketersediaan 02 dalam tubuh untuk menghadapi sterss anestesi pada pembedahan. Pada pasien dengan gagal sirkulasi karena sepsis dan dengan ventilasi mekanik dianjurkan PPv untuk menilai efek loading cairan. Nilai PPV > 13% dinyatakan responsif dan jika < 13% dinyatakan tidak responsif.Maka ada perubahan paradigma penilaian dari tanda vital menjadi keseimbangan antara suplai 02 dengan dengan kebuuhan O2 baik sebelum. Berikut adalah beberapa hal yang perlu mdiperhatikan dalam penilaian sirkulasi mikro (Eddy Harijanto. Sedangkan indikator SPV adalah jika > 5 mmHg dinyatakan responsif. Tetapi dalam prateknya nilai PPV lebih akurat dari SPV.

Dan cara tidak langsung adalah dengan memaki hukum Fick : VO 2 ( miln/min) =10 CO ( mil/min )x (caO2 –CvO2 ) CvO2 adalah kandungan oksigen darah mixed venous (1. dan berbading terbalik dengan jarak difusi. Peningkatan konsentrasi hemoglobin dengan transfusi darah. jumlah oksigen yang di konsumsi ( VO2) Menurut hukum fick meningkatan oksigen delivery ke jaringan paling efisien dengan meninggkatkan konsentrasi hemoglobin dan curah jantung.Difusi oksigen mengikuti hukum Fick yang berabnding lurus dengan luas area difusi.003 x PvO2 ) dimana PvO 2adalah tekanan parsial oksigen untuk mixed venous. Sedangkan curah jantung sendiri ditingkatkan dengan pemberian cairan dan pemberian vasoaktif dan inotropik. posisi kurva disoisasi oksigen (P50 ) 4. 15 .34 adalah jumlah oksigen yang dapt diikat oleh satu hemoglobin. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi oksigen dari kapiler darah ke jaringan : 1. Hemoglobin 15 gr/100ml dan SaO2 100%. perbedaan tekanan parsial antara kedua medium. Jumlah i yang masuk dapat dihitung dengan rumus Fick: DO 2 (mil/min )=`10 x CO ( L/min)x CaO 2 Keterangan CaO2 adalah kandungan oksigen di dalam arteri ( 1. faktor yang mempengaruhi difusi 2.003 x Pa02) 1.34 x hemoglobin x SvO2 +0. konstanta medium difusi. jumlah oksigen yang sampai ke kapiler ( DO2 ) 3.34 x Hb x SaO2 + 0. Oxygen Consuption dan Oksygen Extraction Ratio Sentral Ada 2 cara dalam menghitung konsumsi oksigen dengan cara yang langsung adalh analisa gas darah dan grafik metabolisme. CO adalah curah jantung hasil perkalian antara laju nadi dan isi sekuncup. Dalam keadaan normal DO2 mendekati 1000 mil/min didapat dari perkiraan co 5l/min. Pengukuran langsung mempunyai nilai lebih akurat daripada tidak langsung.

2009) Mixed Venous Oksygen Saturation Sentral Mixed venous oxygen saturation merupakan salah satu penanda klinis dari kecukupan oksigen delivery dan rasio ekstraksi oksigen dan merupakan pemeriksaan rutin untuk pasien yang kritis.5 ml /kg /bb /jam. Nilai batas penurunan VO2 dan DO2 disebut critical value. ansietas. Parameter standar yang digunakan nilai mean areteril pressure >65 mmHg. CVP > 18-22mmHg dan produksi urin 0.Oxygen extraction ratio adalah perbandingan oxygen consumption terhadap oxygen delivery (O2ER) O2ER = VO2/DO2 Beberapa keadaan yang dapat meningkatkan O2ER misalnya pada keadaan latihan berat. Hubungan DO dan VO2 adalah bifasik.. O2ER meningkat sampai tidak dapt ditingkatkan lagi. Mixed okygen menggambarkan jumlah oksigen yang tidak di ambil oleh jaringan dan kembali ke jantung. anemia berat dan gagal jantung.Penurunan nilai mixed venous berhubungan dengan prognosis pasien syok sepsia dan kegagaln jantung. Mixed venous diambil melalui vena sentral dengan target > 70%. (Eddy Harijanto. sehingga terja penurunan VO2 dan DO2. Pengukuran mixed venous dapat melalui arteri pulmonalis degan menggunakan keterter Swan Ganz yang merupakan pengukuran invasif dan melalui vena` cava superior dengan menggunakan vena sentral. Karena kemampuannya inilah mixed venous juga sering digunakan dalm pemantauan hemodinamik. 2009) Laktat Kadar laktat dalam darah merupakan indikator tanda adnya metabolisme anaerob dan kekurangan energi pada tingkat seluler contoh nya pada syok septik yang mengalami 16 . pada keadaan penurunan DO2 contoh pada perdarahan atau hipoksia VO2 tetep dipertahankan normal. anemia. atau gangguan dalm rongga dada. (Eddy Harijanto.

hipoperfusi jaringan. Peningkatan kadar laktat dalam darah dipengaruhi oleh ambilan alanin oleh hati dan gangguan pernafasan di mitokondria. Kadar laktat yang meningkat pada syok akan menujukkan bahwa terjadi hipoksia jaringan dan nteralisasi jarinagn asisdosis metabolik merupakan salah satu tujuan terapi cairan dan mengarahkan ke resusitasi Karena fungsinya sebagai indikator kekurangan energi dalam jaringan, bersihan laktat menjadi parameter prognosis mortalitas dan morbiditas. Bersihan laktat setiap peneliti berbeda – beda namun memberikan nilai yang sam pada bersihan sebesar 50%. (Eddy Harijanto, 2009)

Penggantian Cairan Tubuh Selama Perioperatif

Terapi cairan dibutuhkan kalau tubuh sudah tidak mampu memasukkan air dan elektrolit dan makanan secara oral misalnya pada pasien harus puas lama kareana pembedahan saluran cerna, perdarahan banyak, syok hipovolemik, dan lain sebagainya. Tujuan dari terapi cairan perioperatif adalah menyediakan jumlah cairan yang cukup untuk mempertahankan volume intravaskuler yang adekuat agar sistem kardiovaskular dan organ vital lain agar dapat bekerja optimal. Subtitusi cairan ditujukan untuk mengganti kehilangan cairan sebelumnya, mengganti kebutuhan cairan yang normal, mengganti cairan pada saat operasi. Kebutuhan cairan untuk rumatan ( keperluan sehari-hari ) dapt dilihat dari: • •

4ml /kg/bb jam untuk berat badan 10kg pertama 2ml /kg /bb untuk berat badan 10 kg kedua 1 ml/kg /bb untuk sisa berat badan. (Eddy Harijanto, 2009)

Kehilangan Cairan Sebelumnya

17

Pasien yang akan dioperasi akan puasa dan mengalami defisit cairan proposional. Untuk menghitung defisitnya dapat diestimasi dengan mengalikan jumlah jam puasa dengan kebutuhan normal rumatan. Puasa selama 6 -8 jam sebelum induksi anestesi merupakan program standar pada pembedahan elektif dengan tujuan mencegah terjadinya regurgitasi, muntah dan apirasi paru. Tapi dalam beberapa penelitian menyatakan bahwa puasa terlalu lam akan menyebabkan rasa haus dehidrasi, tidak nyaman dan naiknya morbiditas. Rekomendasi yang terbaru menyebutkan puasa pada pasien bedah elektif adalah 2 jam sebelum induksi. (Eddy Harijanto, 2009)

Penggantian Cairan Setelah Puasa Defisit cairan setelah puasa terutam karena kehilangan air harus diganti dengan air pula (glukosa 5% ) Infus glukosa l juga dapat diberikan karena dapat memperbaiki kekuatan otot. Tetapi pengguanaannya harus dikontrol karena stres pembedahan akan meningkatkan kadar gula darah. Pada pelaksanaanya infus glukosa dapat diberikan 2 jam sebelum induksi. (Eddy Harijanto 2009) Insebile Water Loss Sentral Insebile water loss adalah kehilangan pure water dan tidak ada hubungan dengan zat terlarut pada waktu tidak kita sadari. Kehilangan tersebut dapat terjadi karena evaporasi melalui kulit dan pernafasan. Dalam klinis insebile water loss sering kali tidak diperhitungkan karena sudah diganti dengan produksi air hasil metabolisme. (Eddy Harijanto, 2009) Kehilangan Cairan Abnormal Sentral Kehilangan cairan abnormal seperti muntah, diare, perdarahan pre operatif, asites, demam, hiperventilasi,yang harus dikoreksi untuk mencegah hipotensi dan hipoperfusi yang dapat muncul saat induksi anestesi. (Eddy Harijanto, 2009)

Kehilangan Cairan Selama Pembedahan Sentral
18

Salah satu tugas terpenting dari seorang anstesi adalah memperkirakan jumlah kehilangan darh yang terjadi. Metode yang sering dipakai adalah menghitung jumlah darah yang ada dalam suction dan perkiraan jumlah darah yang terhisap pada kasus bedah. Nilai hematokrit dapat menggambarkan rasio sel-sel darah terhadap plasam. Nilai hematokrit ini diperlukan untuk operasi yang lama atau perhitungan darah sulit dilakukan. Dalam pembedahan seorang anestesi harus bisa memperhatikan petunjuk- petunjuk ( misalnya; urine output, keadaan jantung aritmia atau tidak) yang dijadikan acuan dalam terapi cairan dan transfusi. Kebutuhan cairan berdasarkan derajat trauma pada pembedahan 1. derajat keparahan minimal ( herniorapphy ) kebutuhan cairan tambahan 0-2 ml/kg
2. derajad keparahan sedang ( kolesistektomi ) kebutuhan cairan tambahan 2-4 ml/kg 3. derajad keparahan berat ( reseksi usus ) kebutuhan cairan tambahan 4 – 8 ml/kg (Eddy

Harijanto, 2009) Bentuk Kehilangan Cairan yang Lain Bentuk kehilangan ini sering disebabakan evaporasi dan redistribusi internal cairan tubuh. Kehilangan cairan akibat evaporasi sering berkaitan dengan luka yang besar dan area permukaan yang terpapar dan lamanya oprerasi. Redistribusi cairan sering disebut dengan perpindahan cairan intervaskuleer ke permukaan serosa atau ke lumen saluran cerana sehingga dapat terjadi peningktan komponen fungsional pada bagian ekstra selulernya. Redistribusi dapat terjadi pada yang berat seperti luka bakar yang luas atau peritonitis . Dari penelitian Lamke mengenai kehilangan cairan akibat evaporasi dariu rongga abdomen, pembedahan minor dengan hanya sedikt manipulasi organ visera terdapat kehilangan cairan sebesar 2,1 + 0,5 g/jam , insisi sedang dengan manipulasi usus akan kehilangan cairan sebesar 8 g /jam.Sedangakan insisi luas dengan ekoriasi usus akan menyebabkan kehilangan cairan sebesar 32,3 + 2,9 g/jam Kehilangan cairan yang disebabkan karena efusi plura, asites dan obstruksi usushanya bisa diestimasi. Estimasi kehilangan cairan dari rongga abdomen yang terbuka dengan evaporasi berkisar antara 10 ml/kg ?jam sementara torak yang terbuka 5 ml / kg /jam (Eddy Harijanto, 2009)
19

penggantian kehilangan darah akn diberikan RL sebannyak kira 3 – 4 volume darah yang hilang. Sedangkan Hb 10 digunakan untuk orang tua dengan penyakkit jantung atau paru-paru yang nyata.Penggantian Cairan Intraoperatif Sentral Pengantian cairan intraopertif berupa penyediaan kebituhan cairan dasar dan penggantian sisa defist intraopertif serta kehilangan cairan intra operatif. Untuk pembedahn yang menimbulkan kehilangan dan pergeseran cairan yang minimal dapat diguankan rumatan. Penggantian cairan infus sangat tergantung pada pembedahan dan perkiraan kehilangan darah. cairan rumatan yang seing dipakai adalah RL. 8gr% atau ht < 30 % pada orangtua dengan kelainan paru atau jantung HB <10g/dl bedah mayor dengan kehialngan darah sebesar lebih dari 20 20 . Pada pratiknya. (Eddy Harijanto. 2009 Volume darah 95ml/kg 85 ml/kg 80 ml/kg 75 ml/kg 65 ml/kg Indikator transfusi adalah: • • • perdarahan akut Hb . 2009) Penggantian Kehilangan Darah Sentral Dalam tubuh kita darah yang hilang harusnya digantikan dengan cairan kristoloid atau koloid dengan tujuan mempertahankan volume intravaskuler agar tetap normovolemia. Sedangkan pemberian koloid dengan perbandingan 1:1 sampai tercapai ambang batas untuk transfusi. (Eddy Harijanto. 2009) VOLUME DARAH MENURUT UMUR Dewasa Umur Prematur Cukup bulan Bayi Laki-laki Perempuan Dikutip: dari Eddy Harijanto. Pada batas tersebut kehilangan darah dapt diganti dengan transfusi sel darh merah untuk mempertahankan konsentrasi hemoglobin agar tetap 7-8 g/dl atau ht 21-24%.

2009) 21 .Jumlah darah yang hilang yang diperlukan untuk menurunkan kadar Hb sampai 30 persen dapat dihitung sebagai berikut: • • Hitung volume darah berdaasrakan tabel di atas Hitung volume sel darah merah berdasarkan kadar Ht pre operatif (RBC preop ) Hitung RBCV pada kadar Ht 30% ( RBCV 30% ) dengan asumsi darah normal dipertahankan • • Hitung volume sel darah merah yang hilng ketika kadar Ht 30 % RBCV lost = RBCV preop-RBCV 30% • Kehilangan darah yang diperbolehkan adalah RBCV lost x 3 Jika terjadi perdarahan masif ( perdarahan lebih dari 1/ 3 volume darah dalam waktu kurang dari 30 menit) kita perlu mentrasfusi drah senyak lebih drai 1-2 kali volume darah dalam waktu lebih dari 24 jam dan transfusi darah Beberapa hal lain yang penting untuk transfusi adalah: • Satu unit PRC akan menaikan kadar HB 1 gr / dl dan akan menaikan Ht2-3 % pada orang dewasa • Transfusi PRC 10 ml/kg BB akan menaikkan konsentrasi HB menjadi 3 g / dl serta menaikkan Ht 10% (Eddy Harijanto.

interstitial dan plasma dengan/tanpa peningkatan volume intrasel.tanpa penambahan solute ionic atau nonioik. Larutan kristaloid digunakan untuk meningkatkan volume ekstrasel.Kristaloid tidak mengandung partikel onkotik dank arena itu tidak terbatas dalam ruang intravaskuler. Tabel distribusi cairan iv dengan kompartemen tubuh 22 .seperti NaCl ke dalam air. Kebanyakan.namun tidak semuanya.iso-osmolar dan tidak seperti koloid.BAB IV JENIS CAIRAN INTRAVENA CAIRAN KRISTALOID (Indro Mulyono.Eddy Rahardjo) Kristaloid adalah suatu kelompok cairan. kristaloid murah.Eddy Harijanto.mudah membuatnya dan tidak menyebabkan reaksi imunologis.

21:1118-1123) Tabel di atas digunakan untuk menentukan jenis cairan yang akan diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien.Larutan yg sering kita sebut sebagai larutan isotonic seperti NaCl 0.namun yg benar adalah mendekati isotonic. Pemberian RL tidak memperburuk academia laktat akibat syok.9% jumlah besar dapat menimbulkan dilutional acidosis.9% atau RL tidaklah tepat. 25:481-485.Perbaikan segera volume iv sangat penting untuk mengembalikan perfusi jaringan dan keberhasilan resusitasi. Pemberian NaCl 0.kristaloid isotonic : -pasien syok hipovolemik (gastroenteritis).tetapi dengan memperbaiki volume sirkulasi akan terjadi penurunan produksi asam laktat dan laktat akan dimetabolisme di hepar.(disadur dari :ICM 1999. Vd= volume distribusi) Larutan Kristaloid Isotonik Larutan dikatakan isotonic apabila osmolalitas plasma normal secara klinis (280-300 mOsm/L).tetapi bukan masalah klinis yg penting karena kelebihan klorida dapat dikeluarkan melalui ginjal. Rumus untuk menghitung jumlah cairan iv yang hilang : Volume iv yg hilang = volume infuse x Pv/Vd (Pv=volume plasma . CCM 1993 . Volume iv berkurang pada berbagai keadaan gawat darurat. 110:185-188. Indikasi lar. 23 . Chest 1966.9% (308 mOsm/L) sedikit hipertonik -RL (273mOsm/L) sedikit hipotonik.karena : -Nacl 0.

Larutan Kristaloid Hipertonik Cairan tubuh semua kompartemen mengandung garam dengan konsentrasi yang berbeda. Kadar Na > plasma akan menyebabkan penarikan air dari ISF masuk ke dalam IVF.pemberian cairan koloid akan lebih efisien dalam meningkatkan volume iv.sedangkan dalam intraseluler hanya 10 mEq/L.Larutan koloid isotonic = jumlah darah yang hilang 3. 24 .elektronik isotonic.yaitu dengan cairan Na(140-150 mEq/L).Larutan hipertonik dengan jumlah < jumlah darah yang hilang. Cairan ekstraseluler (ECF)yang berada di iv ataupun di interstitial (isf) mengandung Natrium 140-150 mEq/L .Apabila sumber pendarahan sudah mulai teratasi. Kehilangan vol air dan Na isotonic terjadi pada kehilangan cairan iv seperti : -pendarahan -diare -muntaber Subtitusi kehilangan dua jenis tadi harus dilakukan dengan lar. Kemampuan air tidak Nampak bermakna pada kadar <5% dan tidak dapat > 10%. Makin tinggi kadar Na infuse.yaitu : 1. Larutan yang sekarang mulai banyak digunakan adalah NaCl 7-7.Larutan elektrolit isotonic 2-4x dari jumlah darah yang hilang. 2. Untuk mempertahankann kadar Na antara intra dan ekstraseluler ada mekanisme pompa Na yg bertugas mengeluarkan kembali Na yang berhasil masuk ke intraseluler.5% dan 5%. Penggantian untuk pendarahan dapat dilakukan dengan beberapa cara.makin banyak air ISF yang dapat ditarik ke dalam IVF.

Indikasi larutan garam hipertonik : -resusitasi volume cairan pada pasien kritis -terapi cedera kepala 25 .5-7. -pengaruhi keseimbangan cairan  menurunkan TIK -hipernatremi -hiperkloremia -ggg elektrolit (tanda aritmia) -mengurangi cairan paru extravaskuler -sindrom kompartemen abdomen sekunder (co : pasien syok akibat luka bakar yg diresusitasi).Mekanisme perpindahan cairan ini dapat diperkiran sbb : Volume yang akan pindah = (kadar NaCl hipertonik : 0.9) x volume NaCl hipertonik yg diberikan Larutan garam hipertonik NaCl 1.5% (500-2400mOsm/L) dipakai untuk : -syok hipovolemik -resusitasi pasien luka bakar -trauma kepala dalam upaya mengurangi bertambahnya edema -luka bakar -edema otak Efek larutan garam hipertonik : -meningkatkan curah jantung (perbaikan preload) memperbaiki aliran darah ke organ2 vital.

Kendati semua larutan koloid akan mengekspansi ruang intravaskuler.kanji hidroxyetil.ascites ataupun melalui urine (sindroma nefrotik). Albumin Endogen Pada trauma dan stress . Sehingga menghasilkan tekanan onkotik.limfedema. Darah dan produk darah seperti albumin.penurunan 50% albumin dapat dioreksi dengan translokasi interstitial iv. Sintesis albumin meningkat akut setelah pendarahan dan luka bakar.Larutan Hipertonik memberikan keuntungan dalam pembentukan edema jaringan .Eddy Harijanto.keseimbangan cairan. CAIRAN KOLOID (Indro Muljono.seperti gelatin. Bila diinfuskan koloid akan tinggal dalam ruang intravaskuler. Albumin Eksogen Efek samping pemberian albumin eksogen : -hepatitis -AIFS -edema paru -penularan penyakit -penurunan kadar Ca 26 .Sunatrio) Koloid adalah cairan yang mengandung partikel onkotik.tetapi salin hipertonik dapat membantu dalam kasus dimana peningkatan TIK tidak dapat diatasi dengan manitol.sintesis albumin menurun secara akut sementara produksi dan kadar globulin serta fibrinogen serum meningkat.dextran. Dalam keadaan ini.Sun. Dapat hilang melalui bermacam2 cairan tubuh seperti : edema pada CHF.dan sindroma kompartemen intracranial. Koloid artificial juga mengandung molekul besar .sirosis.penyakit ginjal.menghasilkan tekanan onkotik karena mengandung molekul protein besar.

enzim.antigen.bilirubin. -tidak ada efek samping/infeksi tertentu -tidak mahal dan dapat disimpan dalam suhu ruang untuk jangka panjang.sebaiknya : .anafilakti Koloid sintetik (Dextran.iso-onkotik dan isotonic -efek volume sedang dan dapat diperkirakan waktu paruhnya dalam iv -tak meningkatkan viskositas plasma -dapat diekskresikan ginjal /dipecah dengan cepat tanpa penyimpanan intrasel -tidak ada aktivitas farmakologis yang merugikan selain efek volume . HES dan Gelatin) Koloid sintetik tidak mempunyai sifat seperti albumin dalam hal efek onkotik ataupun sebagai alat pengangkut hormone.logam.obat.-rx. -mengganti kehilangan volume darah dengan cepat -mengganti keseimbangan hemodinamik -menormalkan aliran sirkulasi mikro -memperbaiki homeorologi -memperbaiki penyediaan O2 dan fungsi organ. plasma sintetik ideal.dan toxic -infus tidak menyebabkan koagulopati .dll. Hidroksietil Starches.atau gangguan cocok silang.aglutinasi sel darah merah.as.larutan stabil dan mudah disimpan untuk waktu yang lama -koloid bebas dari zat-zat pirogen.lemak.hemolisis. Efek yg tdk disukai dari koloid adalah : 27 .

alergi dan anafilaksis -menetap di jaringan -metabolisme yg tdk lengkap -efek hemostatik -gagal ginjal akut -masalah cross-match -overload volume DEXTRAN Merupakan glukopolisakarida netral dengan BM tinggi.anafilaktoid -kegagalan osmotic ginjal KontraIndkasi : -gagal jantung kongestif -gagal ginjal -hipervolemia 28 .-rx.VIIIagregasi trombosit Kerugiannya: -rx. Keuntungannya : -terjangkau -dapat disimpan jangka lama pengganti volume -profilaksis embolus thrombus (=heparin tak terfraksinasi) menurunkan f.

dan eritosit.-riwayat hipersensitivitas dextran GELATIN Keuntungan : .anafilaktik << Tabel jenis cairan koloid HES dan karakternya 29 .koagulasi tak terlalu menonjol. karena dilusi factor koagulasi .dampak terhadap sist.aman bagi ginjal Kerugiannya : -mempercepat agregasi trombosit -meningkatkan viskositas darah -rx. trombosit.alergi HES ( hydroxyethil starch ) Keuntungannya : -menurunkan viskositas darah -perbaiki aliran mikrosirkulasi darah -aman untuk ginjal -potensi rx. .terjangkau .

anafilaktik << . Tabel. dan terbatasnya volume yg dihasilkannya -HES  rx.resiko gagal ginjal.anafilaktoid >> .anafilaktoid . aman untuk ginjal.pengaruhi hemostatis). Dampak koloid sintetik terhadap ginjal bergantung pada keamanan kandungannya.anafilaktoid.tapi kerugiannya : rx. Kesimpulan -Dextran menunjukkan resiko resiko keuntungan terburuk terburuk dari semua koloid (rx.(Eddy Hariyanto.anafilaktoid terhadap koloid sintetik Dilaporkan bahwa reaksi anafilaktoid sering terjadi pada pemberian gelatin> dextran>albumin>HES Terdapat 4 faktor resiko terjadinya rx.yaitu: -pemberiann gelatin -pemberian dextran -riwayat alergi obat -jenis kelamin : laki-laki Pengaruh Koloid sintetik pada fungsi ginjal Meningkatkan volume iv dan menurunkan viskositas plasma  memperbaiki perfusi ginjal pasien hipovolemik.Komposisi macam –macam Cairan IV 30 . -Efek gelatin pada ginjal masih belum jelas .2009) Rx.

karena perpindahan glukosa ke dalam sel disertai perpindahan osmotic air.translokasi air intrasel akhirnya mencapai keseimbangan dengan ekstrasel bersamaan dengan terjadinya metabolism glukosa yang akan menghilangkan tekanan osmotic molekul glukosa.osmotik plasma Promo dieresis Preload volume untuk cegah hipotensi Morbiditas pasca bedah Recovery dan kenyamanan pasca bedah Transport oksigen ke jaringan Biaya Biaya Menyebabkan sembab paru Menyebabkan sembab perifer Aliran urine + > << << + + < >> + > + sering >> < + Jarang GFR menurun (Eddy Hariyanto.stabil hemodinamik. 31 .(Edy Hariyanto.tek.2009) Larutan Dextrosa Elektrolit seimbang lainnya.2009) Perbedaan Kristaloid danKoloid Kristaloid + + Koloid + Efek Koagulabilitas Efek inflamator Normovolemi.

Meskipun pemberian cairan glukosa di indikasikanuntuk hidrasi pasien – pasien yang menjalani puasa atau penyakit akut. Cairan glukosa tidak efektif untuk meningkatkan volume plasma DIPAKAI UNTUK MENINGKATKAN VOLUME Karena adanya proses distribusi dan klirens glukosa dari plasma serta menimbulkan akumulasi air didalam sel. Kadar glukosa darah yang berlebihan terbukti akan memperberat kerusakan sel saraf serta dapat memperburuk kondisi akhir pasien iskemia fokal atau global serebral. Cairan glukosa dapat meningkatkan volume plasma dalam 30 menit pertama pemberian setara dengan cairan ringer dan Nacl 0. Pemeberian glukosa selama operasi diragukan manfaatnya karena stress dan trauma akan merangsang pelepasan katekolamin. hormone pertumbuhan yang akan menghambat kerja insulin terhadap glukosa sehingga menyebabkan hiperglikemia. Perubahan volume pada kompartemen cairan tubuh akibat pemberian cairan glukosa berbedadibandingkan cairan luka. penyembuhan Cairan yang mengandung glukosa dengan kadar rendah maupun sedang sering diberikan sbagai terapi untuk pasine – psien perioperatif. Pada pasien ambulatory pemberian cairan intraoperatif sekitar 1liter untuk mengganti puasa dapat memperbaiki kondisi pasien pasca operasi dikarenakan pemberian cairan akan menghilangkan rasa haus. trauma kepala ataupasien bedah saraf. CAIRAN GLUKOSA TIDAK DAPAT PLASMA 1.Tujuan pemberian cairan glukosa untuk menjamin kecukupan energi yang dibutuhkan untuk metabolisme sel otak. kortisol. Tubuh akan mendistribusikan dan memetabolisme glukosa didalam sel dan air akan mengikuti glukosa ke dalam sel sehingga kemampuan cairan glukosa untuk meningkatkan volume plasma tidak besar. kegunaannya selama dan sesudah operasi masih merupakan kontroversi. 32 . pusing. mual . Pemberian cairan sering dihindari pada pasien dengan gangguan serebral. sel darah merah.muntah pasca operasi sehingga mempercepat pemulihan dan pemulangan pasien.9 tapi seiring dengan masuknya glukosa disertai ikutnya air kedalam sel maka volume plasma akan kembali turun dan mengakibatkan hipovolemia ringan meskipun hal ini tidak akan berlangsung lama. dan menghambat glukoneogenesis sehingga mencegah hilangya massa otot.

Cairan glukosa dapat diberikan sebagai sumber free water untuk mengkompensasi kehilangan air akibat evaporasi melalui jalan nafas atau luka pembedahan. 3. Namun demikian pada kondisi dimana evaporasi tidak terlalu besar pemberian cairan glukosa harus disertai elektrolit lainnya untuk mencegah hiponatremia.2. Gejala klinis adalah produksi dilusi urin yang sangat banyak disertai peningkatan osmolaritas plasma. Cairan glukosa diberikan bila terjadi hipernatremia. pemakaian fenitoin atau intoksikasi alcohol. Glukosa adalah sumber utama energi dalam metabolisme sel 2. ditandai dengan timbulnya resistensi insulin dan produksi glukosa endogen yang lebih tinggi selama operasi 33 . Pemberian cairan glukosa dan insulin padapasien pasca operasi terbukti dapat menurunkan mortalitas. Puasa akan menyebabkan timbulnya stress response dan pada kondisi cadangan glikogen yang menurun akan meningkatkan resistensi terhadap insulin. PEMBERIAN CAIRAN GLUKOSA UNTUK HIDRASI EKSTRA – INTRASELULER SERTA SEBAGAI SUMBER ENERGI 1. Pemberian cairan hipotonik glukosa dalam jumlah besar tanpa disertai elektrolit lainnya dapat menimbulkan hiponatremia sub akut yang dapat timbul 12 jam setelah operasi kecil – sedang atau 2 sampai 4 hari pasca operasi besar. Tubuh memberikan respon berbeda terhadap glukosa dalam kondisi normal dengan kondisi stress operasi. Pasien yang menjalani operasi umumnya dalam kondisi puasa. meningitis bacterial. trauma kepala. Cairan glukosa dapat dipakai untuk mengganti kehilangan cairan pada penderita dibetes insipidus. Pemberiannya seringdisertai pemberian Kalium untuk mencegah komplikasi 4. Diabetes insipidus juga terjadi pada pasien dengan tekanan intracranial tinggi atau mati batang otak. pasca operasi intracranial. atau pasien dengan diabetes dimana hipoglikemia dapat terjadi. Diabetes insipidus sering terjadi pada kelainan atau kerusakan kelenjar pituitary atau hipotalamus. 3.

34 . 4. sehingga hasil yang paling rendah untuk kadar glukosa yang optimal harus diinterpretasikan secara hati – hati.3 mmol/lt) 3. hipoksia karena hipoglikemi dapat menambah kerusakan sel saraf dibandingkan dengan normoglikemia PEMBERIAN CAIRAN GLUKOSA DAN TERAPI INSULIN UNTUK MENCAPAI KADAR GLUKOSA YANG OPTIMAL PADA PASIEN PASCA OPERASI 1. setelah itu gula darah dapat dimonitoring tiap 4 jam. Pemberian terapi insulin harus disertai pemberian glukosa sebagai sumber kalori. Pengukuran kadar glukosa plasma atau arterial dapat memberikan hasil lebih tinggi daripada kadar glukosa yang sebenarnya. Pemberian cairan glukosa dihindari padapasien dengan serebral akibat CVD. Terapi insulin diberikan secara intravena dalam larutan glukosa secara kontinyu 2. Pemberian cairan glukosa dapat mencegah hipoglikemi akut yang dapat terjadi pada saat nutrisi parenteral atau ketika cairan glukosa diberhentikan mendadak saat awal maupun akhir operasi 6. Kadar guladadarah harus dimonitor tiap 1 – 2 jam sampai kadar glukosa darah optimal dengan dosis insulin yang tepat. Pemberian terapi insulin harus mengikuti protocol yang sudah divalidasi dengan target kadar glukosa yang optimal yaitu < 50mg/dl ( 8.5. Pemberian terapi insulin iv untuk mencegah hiperglikemi selama stabilisasi pasien post operasi dengan kondisi kritis di ICU. Trauma. henti jantung.

Pemberian tambahan obat vasopresor cukup efisien mengatasi hipotensi namun tidak dianjurkan pemberian rutin tanpa disertai pemberian cairan karena memiliki efek samping. karena hambatan simpatis menyebabkan dilatasi arteri dan vena akibatnya aliran darah balik vena menuju jantung kanan menurun dan manifestasinya adalah penurunan tekanan darah. memposisikan uterus ke kiri (left lateral displacement) dan pemberian obat vasopresor CAIRAN KRISTALOID Cairan kristaloid sebagai preload tidak dianjurkan karena tidak terbukti mencegah hipotensi pasca anesthesia spinal. Beberaa kasus edema paru karena terjadi akumulasi cairan di paru-paru akibat pemberian cairan yang cukup besar. Hipotensi merupakan respon fisiologis yang terjadi akibat anesthesia spinal. atu penurunan MAP(mean arterial pressure) lebih dari 2030% MAP awal. Khusus pasien obstetric trias yang rutin dilakukan adalah prehidras. Pemberian cairan harus dilakukan secara benar karena bila berlebihan malah meningkatkan morbiditas dan mortalitas.BAB V TERAPI CAIRAN PADA PRAKTIK ANESTESI TERAPI CAIRAN PADA ANESTESIA SPINAL Anestesia spinal sering dilakukan karena mudah dan efisien dalam pelaksanaannya. Salah satu cara paling cepat untuk mengatasi hipotensi adalah pemberian cairan kristaloid atau koloid secara cepat. Definisi hipotensi antara lain tekanan sistolik kurang dari 90-100 mmHg atau kurang dari 70-80% tekanan sistolik awal. 35 . Anestesia spinal meningkatkan volume intravascular central (central blood volume) dengan pemberian cairan infuse intravena (kristaloid atau koloid) atau secara mekanik menaikan preload dengan elevasi kaki.

36 .Pemberian cairan kristaloid pada saat atau segera setelah di lakukan anestesia spinal adalah cara yang lebih baik untuk mencegah hipotensi dibandingkan pemberian preload. Namun harga yang mahal dan kemungkinan terjadinya penularan penyakit lewt human albumin jadi pertimbangan tersendiri pada pemberian albumin untuk mencegah hipotensi. Molekul albumin yang besar hanya sedikit yang melewati sawar pembuluh darah dan tidak menembus membrane sel sehingga merupan cairan ekspander volume intravascular yang baik. terutama akibat edema paru. Tonisitas Natrium dapat menarik cairan sehingga dapat membantu mempertahankan volume intravascular. Cairan koloid yang mengandung Natrium dapat mempertahankan intravascular lebih baik.memperlambat penyembuhan luka. Semakin besar jumlah koloid yang diberikan semakin sedikit terjadi hipotensi Pemberian albumin sebagai preload dapat mencegah timbulnya hipotensi tapi tidak lebih baik dari koloid. Molekul Natrium melewati sawar pembuluh darah tapi tidak menembus membrane sel(tetap brada di luar sel). menimbulkan gagal organ. Pemberian kristaloid sebagai preload tidak efektif mencegah terjadinya hipotensi pasca spinal karena waktu paruhnya yang relatif singkat dalam intravascular dan cepat terdistribusi keluar ke ekstravaskular. cara pemberian tersebut di sebut coload. Cairan koloid merupakan alternative pilihan karena terbukti efektif mengisi volume intravascular lebih lama daripada kristaloid. gangguan pembekuan darah dan harganya relative mahal dibanding kristaloid. Kekurangan koloid adalah dapat menimbulkan reaksi alergi. CAIRAN KOLOID Pemberian cairan kristaloid untuk mengatasi hipotensi merupakan hal yang rutin dilakukan namun pemberian cairan yang berlebihan dapat menimbulkan komplikasi seperti meningkatnya resiko infeksi. Cairan koloid diberikan sebagai preload sebelum dilakukan anestesia spinal dapat menurunkan angka kejadian hipotensi dibandingkan cairan kristaloid.selain itu pemberian cairan secara cepat dalam jumlah banyak(loading) meningkatkan tekanan preload di atrium kanan dan merangsang keluarnya ANP(atrial natriuretic peptide) yang bersifat merelaksasi otot polos dan menimbulkan vasodilatasi.

Fenlefrin dianggap ebih baik daripada efedrin karena menghasilkan pH umbilical dan skor APGAR yang lebih baik Pemberian preload koloid atau coload kristaloid dapat menurunkan kejadian mual muntah. pasien pasca bedah resiko tinggi. Koloid sendiri terbukti lebih baik untuk meningkatkan tekanan darah meskipun memiliki komplikasi seperti dapat mangganggu fungsi koagulasi dibanding kristaloid. pemberian cairan secara cepat tanpa melampaui tekanan baji arteri paru (pulmonary artery wedge pressure. Pemberian cairan hanya meningkatkan volume intravascular sedangkan vasopresor untuk meningkatkan retensi pembuluh darah. Strategi dasar dalam terapi adalah membuat optimal variabel-variabel hemodinamik dan transport O2 (delivery oxygen. HES 200/0. Pemberian cairaan dapat membantu mencegah dan mengatasi hipotensi dengan mengisi volume intravasculer dan memperbaiki curah jantung. Kemudian terapi tambahan apat dititrasikan secara lebih gradual untuk mencapai titik akhir kedua yaitu DO2 ditinggikan sampai tidak terjadi lagi peningkatan konsumsi O2 Tujuannya adalah untuk meminimalkan derajat dan lama hipoksia jaringan dengan memakai tujuan-tujuan fisiologis sabagai hasil keluaran(outcome) untuk titrasi cepat dan kasar dan konsep interdependensi VO2 untuk titrasi gradual ke titik akhir final. mobilisasi lebih cepat dan masa pulih yang lebih baik. hipovolemia dan edema jaringan. Vasopresor efedrin dan fenilefrin dapat menimbulkan vasokonstriksi pembuluh koroner dan menimbulkan iskemia organ tapi tidak menimbulkan iskemia umbilikalis yang berefek pada janin. sehingga kombinasi dapat mencegah dan mengatasi hipotensi.Pemberian vasopresor seperti efedrin dan fenilefrin membantu mangatasi hipotensi tapi sebaiknya diberikan bersama pemberian cairan.5 pada pasien 37 . TERAPI CAIRAN KRISTALOID & KOLOID PADA PASIEN SAKIT KRITIS Terapi Cairan Untuk pasien kritis.DO2) dalam 8-12 jam pertama pascabedah.5 bermanfaat terutama pada pasien sakit kritis dengan gagal organ yang sudah terwujud atau yang masih mengancam. Infus 10% HES 200/0. karena potensial khasnya untuk mencegah kebocoran kapiler. PAWP) stinggi 20mmHg adalah terapi pertama yang paling penting diperlukan untuk mencapai tujuan terapi aliran rendah akut.

paling baik memberikan cairan yag mengekspansikan ruang tersebut yakni koloid. Pemberian cairan pada pasien syok melibatkan pertimbangan kualitatif dan kuantitatif. Pada syok hipovolemik dan juga syok kardiogenik bahwa peninggian prabeban seringkali disebabkan oleh kontraktilitas yang menurun. Pada pasien muda sehat aman membeikan kristaloid dalam jumlah besar karena mempunyai mekanisme kompensatori yang baik untuk mengatasi kelebihan cairan. Penatalaksanaan pasien ini terutama suportif dan pada cedera paru akut ventilasi mekanis seringkali diperlukan karena adanya hipoksemia. TERAPI CAIRAN PADA PASIEN PASCABEDAH TANPA KOMPLIKASI Respon tubuh terhadap stress adalah menahan Na+ dan air mencakup peningkatan sekresi hormone antidiuretik dan aldosteron. bradikinin. Persamaan starling ada dua faktor yang mempengaruhi perpindahan kapiler yaitu tekanan 38 . leukotriene dan endotoksin.sakit kritis dengan hipovolemia dan syok akibat trauma. Yang pertama. sepsis atau kombustio untuk memperoleh nilai PAWP setinggi 15-18 mmHg memperbaiki hemodinamik(indeks jantung(cardiac index. Dalam melakukan resusitasi pada pasien ini penting mengingat dua konsep. Karena berbagai faktor hormonal seperti histamine. DO dan VO2) ke nilai-nilai normal atau supranormal. Konsep terpenting pada setiap resusitasi hemodinamik adalah membuat optimal prabeban(preload) dengan memberi volume intravascular yang adekuat untuk kontraktilitas yang masih ada. ditandai rembesan cairan ke dalam interstisium paru dan alveolus. Pada pasien kritis lebih berbahaya. operasi berat. Kebocoran kapiler ini paling sering dijumpai pada cendera paru akut dan SIRS akibat septisemia.CI). Syok hiperdinamik terjadi hipovolemia relative akibat vasodilatasi dan hipovolemia absolute akibat permeabilitas kapiler yang meningkat. komplemen. TERAPI CAIRAN PADA PASIEN SAKIT KRITIS Penggunaan cairan intravena untuk resusitasi lebih sulit pada pasien sakit kritis karena sel-sel endotel kapiler sering bocor sehingga molekul-molekul protein besar keluar ke ruang interstitial.

Edem paru disebabkan oleh kombinasi berbagai faktor. Kebanyakan pasien kombustio mendapat volume kristaloid yang besar dalam 24 jam pertama untuk ekspansi cairan ekstravaskular. Kristaloid dapat dipakai untuk resusitasi walaupun diperlukan volume yang lebih besar dan disertai dengan peningkatan edema perifer dan penambahan berat badan. febris. Dengan kristaloid tidak timbul peningkatan air paru ekstravaskular asalkan tidak ada sepsis. curah jantung dan keluaran urine yang menurun dan syok. Sesudah 24 jam umumnya dipakai volume koloid yang lebih besar dan volume kristaloid yang lebih kecil. diare. adanya muntah-muntah. edema yang luas dan penurunan PV disertai dengan hipotensi. yaitu hipoproteinemia. disebabkan oleh berbagai factor antara lain: puasa prabedah. karena pengaruh penyakit dasarnya. yang mengakibatkan kehilangan cairan isotonic dan albumin dari kompartemen intravascular ke dalam jaringan sekitar cedera. persiapan operasi(bowel preparation). Yang kedua disertai hipoksemia karena itu pengantaran oksigen dan DO2 darah harus dimaksimalkan dengan memberikan darah lengkap atau eritrosit(packed cells) untuk mempertahankan kadar hemoglobin normal(12-14 g/dL) dan memastikan tekanan pengisian ventricular kiri adekuat untuk mempertahankan curah jantung normal atau tinggi.hidrostatik dalam kapiler dan tekanan osmotic koloid plasma. Sekali pasien terinfeksi. atau dehidrasi. cedera inhalasi dan perubahan permeabilitas kapiler paru akibat kombustio atau sepsis. Semua keadaan di atas akan menyebabkan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit pada pasien yang 39 . Ini akan menimbulkan tekanan onkotik plasma yang rendah. RESUSITASI CAIRAN PADA PASIEN KOMBUSTIO Perawatan kombustio melibatkan kehilangan integritas kapiler pada jaringan yang rusak. TERAPI CAIRAN PADA PEMBEDAHAN INTRA ABDOMINAL Penilaian Kebutuhan Cairan Pasien-pasien yang akan menjalani pembedahan mayor intra abdominal sudah mengalami gangguan keseimbangan cairan sejak prabedah. maka kebocoran paru bertambah dan air paru ekstravaskular meningkat. Ruang intravascular diisi sampai adekuat untuk mempertahankan variable-variabel hemodinamik normal dan pasien tidak “kekeringan”.

Tidak setiap perdarahan harus diganti dengan darah.bersangkutan. dengan efek samping yang cukup membahayakan. dan dieresis masih merupakan parameter untuk menilai tingkat defisit cairan yang terjadi akan tetapi bukan indikator yag adekuat untuk menunjukan perfusi organ. hilangnya cairan k rongga ke-3(sequesterisasi). Penilaian aliran darah(flowl perfusi) untuk menentukan status cairan pasien. tekanan darah. CVP. Besarnya/tingkat sequesterisasi sebandig dengan berat ringannya injuri dan komposisi dari cairan sequester ini sama dengan cairan plasma atau interstitial. Pada pasien yang nilai hematokrit rendah saat prabedah maka perdarahan saat pembedahan memerlukan penggantian darah secepatnya. perdarahan. memaksimalkan perfusi. Pemerikasaan klinis. allowable blood loss dapat diganti dengan cairan saja tujuannya untuk mempertahankan euvolemia dan mempertahankan hematokrit di sekitar nilai sebelum pembedahan. memerlukan keterampilan(skill) khusus. dengan memeriksa system kardiovaskular seperti aju jantung. Tujuan penatalaksanaan cairan perioperatif pada pasien pembedahan mayor abdomen adalah: untuk mempertahankan hidrasi normal selama pembedahan. Harus di perhitungkan insensible loss karena adanya penguapan dari daerah yang terekspos Jumlah perdarahan tergantung dari jenis pembedahan dan keterampilan pembedahnya. parameter ini dapat diukur bila di pasang kateter arteri pulmonalis(swann-ganz catheter) tetapi merupakan prosedur yang invasive. penilaian volume sekuncup(stroke volume) atau curah jantung(cardiac output) dapat merupakan parameter yang sensitive dibandingkan tekanan darah atau CVP saja. PERUBAHAN KESEIMBANGAN CAIRAN ANTAR KOMPARTEMEN SAAT PEMBEDAHAN Kehilangan cairan saat pembedahan dapat terjadi oleh berbagai sebab antara lain. 40 . Kompartemen yang pertama akan tepengaruh adalah kompartemen ekstraseluler(intravascular dan interstitial) terlebih lagi bila sudah terjadi asites. Jumlah sequsterisasi akan lebih besar lagi pada sepsis dan trauma dimana kaskade inflamasi menyebabkan kebocoran sistem vascular yang akan menyebabkan kehilangan cairan dari intravascular ke daerah transcellular fluid space. obstruksi usus.dan pada sepsis.

Dekstrosa 5% dimetabolisme dengan cepat dan tinggal tersisa air saja. diperlukan untuk memperbaiki dehidrasi ringan tetapi cairan ini tidak dapat digunakan sebagai cairan resusitasi. 41 .9% sebagai cairan kristaloid isotonic Cairan Dekstrosa 5% mengandung glukosa 50 mg/l Didistribusikan ke seluruh kompartemen interstitial kecuali dekstrosa yang akan juga masuk ke intraseluler jadi kurang efektif mengisi volume intravascular. Cairan kristaloid ini merupakan cairan ideal unuk mengganti deficit cairan di interstitial yang tidak terlalu banyak. Na. Memberikan hasil: gangguan hemostasis minimal. yang disebabkan pemberian Cl dalam jumlah banyak. NaCl 0. dan mempertahankan volume intravaskular yang adekuat terutama saat melepaskan klem aorta pada pembedahan repair aneurisma aorta abdominalis. dan laktat yang bertindak sebagai buffer - Cairan NaCl 0. Cairan Ringer Laktat mempunyai komposisi yang lebih mendekati komposisi plasma. Pemberian cairan kristaloid dalam jumlah banyak ke intravascular akan menyebabkan ekspansi interstitial.mempertahankan dieresis.9% dalam jumlah banyak dapat menyebabkan terjadinya asidosis metabolik hiperkloremik. dan menunjukan fungsi renal yang lebih baik. Hal inilah yang dapat meyebabkan edem paru dan edema jaringan yang disebabkan oleh penurunan tekanan koloid onkotik dan bocornya cairan dari intravascular ke interstitial. memperbaiki perfusi gaster. Hiperkloremik menyebabkan vasokonstriksi renal yang menyebabkan penurunan GFR. Cairan kristaloid Sering digunakan pada pembedahan intra abdominal antara lain: - Cairan Ringer Laktat dikenal sebagai “balanced crystalloid solution” mengandung K. JENIS-JENIS CAIRAN YANG DIGUNAKAN 1.

transient volume expander dengan cara meningkatkan osmolaritas plasma dan dapat menarik caran interstitial dan intravascular untuk masuk ke intravascular 3. dapat mengurangi kejadian edema serebri pada pembedahan bedah saraf dibandingkan NaCl fisiologis.2. meningkatkan tekanan onkotik koloid dan menurunka pergerakan cairan ke interstitial. NaCl hipertonik Cairan ini digunakan untuk resusitasi dan dapat meningkatkan tekanan darah dan curah jantung pada suatu syok hipovolemik yang refrakter saat bedah jantung dengan CPB. dan lama rawat pasien dapat menjadi lebih pendek. 42 . Keuntungan cairan koloid adalah. dan fungsi renal. Cairan koloid Cairan koloid mengandung molekul koloid semisintetik yang mempertahankan cairan tersebut di intravascular untuk waktu yang lebih lama. Cairan hipertonik tidak mempengaruhi system koagulasi. serta dapat meningkatkan pO2 jaringan saat pembedahan. dan pasien dapat mentoleransi makanan peroral lebih cepat. Kristaloid vs Koloid Pada pembedahan abdomen. Apabila edema usus dapat dikurangi maka diharapkan fungsi dari usus akan lebih cepat pulih. hasil biosintesa sukrosa Gelofusin dan Hemacel mengandung Gelatin hasil hidrolisis dari kolagen bovine Hespan dan Hextend mengandung hydroxyethyl starch 4. mual dan muntah lebih sedikit. pemberian cairan koloid dapat mecegah edema pada usus(interstinal) karena cairan koloid dapat mempertahankan tekanan onkotik plasma. NaCl hipertonik berperan sebagai rapid. Pada pembedahan intra abdominal masalah yang sering dihadapi saat pasca bedah salah satunya adalah disfungsi system gastrointestinal. Cairan koloid yang sering digunakan pada pembedahan intra abdominal: Human Albumin 5% dan 20% Dekstran 40 dan 70.

1 cc darah digantikan kristaloid 3 cc. dan menyebabkan peningkatan kejadian infeksi. dan berpengaruh terhadap prognosis. Pasien dengan nilai platelet <50. Alat monitor pengukur curah jantung non invasive salah satunya yaitu EDM. Hemisonic Dopplerr Monitor mengukur blood flow velocity pada aorta desendens. dan meningkatkan delivery oxygen (DO2).000 yang akan menjalani pembedahan intra abdominal memerlukan transfuse trombosit prabedah. serta harganya mahal. Transfusi degan darah alogenik mempengaruhi system imun resipien. Penggunaan PAC(kateter arteri pulmonalis) suatu tindakan invasive dan kemungkinan komplikasi cukup berat. penggantiannya adalah 1 cc darah diganti 1 cc cairan koloid. dimana penggunaan komposisi RL dapat mencegah asidosis hiperkloremik. Bila perdarahan mencapai 10% dari estimated blood volume. Tujuan praktis yaitu: meningkatkan curah jantung. diberikan koloid. dan menunjukkan perfusi mukosa gaster lebih baik.Cairan koloid dapat digunakan komposisi RL atau NaCl. Keputusan memberikan transfuse pada Hb antara 8-10 gr% atau Ht 27-31%. darah: kristaloid = 1 3. pemasangan memerlukan keterampilan khusus.5 kali akan memerlukan pemberian komponen koagulasi. Batas kadar Hb direkomendasikan pada prabedah adalah 8% pasien normal dan 10% pasien dengan gangguan system kardiovaskular. TRANSFUSI DARAH DAN PRODUK DARAH Kehilangan darah diganti dengan pemberian cairan kristaloid sejumlah. Target ini berdasarkan pengukuran tekanan intravascular dan perfusi jaringan. Pada pembedahan kolorektal karena karsinoma ternyata pasien-pasien yang mendapat transfusi menunjukan kejadian infeksi lebih tinggi. Pada pembedahan pintas koroner digunakan mengukur perfusi mukosa usus yang digunakan 43 . Bila pasien sudah menerima transfuse sel darah merah >4 unit maka nilai PT dan APTT memanjang >1. Tujuannya untuk menurunkan mortalitas dan morbiditas pasien dengan resiko tinggi yang akan dilakukan pembedahan intra abdominal. Keputusan komponen darah yang berhubungan dengan fungsi pembekuan dipandu dengan pemeriksaan PT dan APTT. GOAL DIRECTED THERAPY Goal directed therapy adalah prinsip terapi mengganti volume plasma ddengan target parameter yang harus dicapai.

Terapi cairan pada pasien-pasien bedah intra abdominal dengan resiko tinggi bertujuan mempertahankan fungsi hemodinamik. Nilai pHi(pH intramukosa gaster) yang rendah. base deficit. perfusi jaringan. transoesophageal echocardiography. plethysmography. yang menggunakn partial CO2 rebreathing.dan lainnya. mual. kateter intra arterial untuk mengukur tekanan darah. Saat Ht turun mencapai 25-27% berikan PRC kecuali pada pasien dengan gangguan kardiovaskular trigger trafusi PRC harus lebih tinggi. dan perfusi jaringan akan lebih baik. Metode lain mengukur curah jantung secara non invasif seperti NICO. aliran darah lebih baik. Pemberian cairan rumatan berupa cairan RL. Banyak klinisi yag tidak menerapkan teknik goal directed therapy dengan alasan: keterbatasan alat-alat dan kemampuan SDM untuk melaksanakannya. kadar laktat. Kehilangan darah awalnya menggunakan kristaloid kemudian menggunakan cairan koloid. Pemberian koloid dapat memperbaiki perfusi mukosa traktus gastrointestinal. cairan kristaloid untuk mengisi volume intravaskular akan mempertahankan tekanan intravascular adekuat. LIDCO. peningkatan kadar laktat dan base deficit meningkat menunjukan perfusi jaringan yang buruk. dilihat menggunakan tonometri gaster. Kesimpulannya pemberian cairan yang optimal akan menyebabkan perfusi usus yang lebih baik sehingga disfungsi system GI lebih rendah dan masa rawat di rumah sakit lebih pendek. pemasangan kateter PA. dan untuk mencegah komplikasi yang timbul sehubungan dengan kondisi hipovolemia. muntah. 44 . gangguan fungsi organ.sebagai panduan terapi cairan. sebanyak 5-10 cc/kgBB/hari. merupakan indikasi pemberian cairan. Perfusi jaringan dapat diukur dengan tonometri gaster. Beberapa alat monitor yang diperlukan antara lain: CVP. Kasus resiko tinggi yang akan menjalani pembedahan intra abdominal dianjurkan menggunakan system monitoring goal directed dalam menentukan pemberian bolus. Pemberian bous cairan kristaloid dan koloid merupakan praktek yang penting sebelum induksi anestesi.

dieresis. selama pembedahan sampai pasca bedah TERAPI CAIRAN PADA OBSTETRIK Kehamilan adalah periode dimana perubahan drastis terhadap dinamika cairan tubuh segera setelah konsepsi dan berakhir segera setelah bayi lahir. Bila terjadi perdarahan pada ibu maka penilaian cairan menjadi sulit dan retriksi tidak lagi dianjurkan. VOLUME CAIRAN YANG DIBERIKAN Pemberian restriksi cairan 80-85mL/jam atau 1mL/kg/jam kristaloid dengan pemantauan ketat urine output direkomendasikan untuk mencegah terjadinya overload cairan pada saat intra partum maupun post partum. Menyediakan volume adekuat untuk kebutuhan pemeliharaan sehari-hari. hemokonsentrasi dan hipoproteinemia. Edema pulmonal salah satu penyebab kematian ibu hamil yang sering terjadi sering dikaitkan dengan pemberian cairan yang tidak sesuai dengan kebutuhan. Ht. Pemeliharaan urine output yang diharapkan. Prinsip terapi cairan adalah: 1. 3. hormonal dan adaptasi fungsional pada wanita hamil. Mengganti cairan untuk pemberian obat terapi seperti MgSO4 dan hidralazin Kompensasi untuk penurunan preoad dan afterload selama anesthesia. Pasien Yang Akan Menjalani Operasi Sesar 45 . Semuanya dilakukan sejak prabedah. PEMBERIAN CAIRAN PADA PRE-EKLAMSIA Pre-eklamsia berhubungan dengan penurunan volume intravascular. Hb. dan kompensasi insensible loses 2. Retriksi cairan dilakukan sampai terjadi diuresis post partum dimana oliguria terjadi pada sebagian besar pasien dengan pre-eklamsia berat. 4. status asam basa. Terjadi perubahan anatomi.Volume dan flow harus selalu dinilai menggunakan alat-alat monitor hemodinamik.

Pasien yang akan menjalani operasi sesar dan mendapat anesthesia spinal atau epidural diberikan hidrasi cairan dengan jumlah sedang yaitu 250-500 ml untuk mencegah hipotensi akibat vasodilatasi yang akan mempengaruhi ibu dan janin.5 kali dari nilai normal.5 ml/kg/jam. Mengingat koloid lebih mahal daripada kristaloid maka pemakaiannya hanya digunakan pada kasus tertentu. TERAPI CAIRAN PADA UROLOGI Manajemen Cairan dan Cedera Ginjal Akut Kegagalan untuk memberikan cairan intravena yang adekuat menimbulkan suatu keadaan cedera ginjal akut (AKI) sekunder diakibatkan oleh hipovolemia Cedera ginjal akut didefinisikan sebagai penurunan fungsi ginjal secara cepat. Pemberian cairan sebaiknya bersamaan dengan saat terjadinya vasodilatasi. Pasien harus menjalani evaluasi klinis menyingkirkan kemungkinan cedera ginjal pre. Urine output sulit dinilai selama 24 jam pasca operasi dikarenakan respon fisiologi tubuh menyimpan garam dan cairan. Oliguria didefinisikan sebagai output urin <0.atau post. berakibat pada peningkatan kreatinin serum >25m mol/L atau 1. Tidak terdapat perbedaan bermakna antara pemberian kristaloid-koloid saat intrapartum maupun post partum pasien dengan pre-eklamsia. maka sacara praktis koloid hanya digunakan pada pasien yang mengalami gangguan ginjal. KRISTALOID VS KOLOID Kontroversi kristaloid-koloid perdebatan dalam managemen pre-eklamsia karena komplikasinya yaitu rendahnya Tekanan Onkotik Koloid(TOK) dan kebocoran kapiler. Pemberian infuse kristaloid dapat menurunkan TOK. harus dilakukan evaluasi terhadap status volume cairan dari pasien tersebut. Obat di evaluasi kembali untuk mengidentifikasi adanya obat yang nefrotoksik. dan kemudian beresiko terjadinya edema paru non-kardiogenik. 46 . Oliguri muncul segera setelah operasi.kidney.

Penanganan efektif ialah memerlukan resusitasi cairan yang agresif dengan cairan kristaloid. 47 . Sangatlah penting mempersiapkan cairan kristaloid saat memberikan cairan koloid untuk mencegah terjadiny hiperonkotik. Kadar puncak yang mendapat HES adalah sebesar 225 sedangkan pada grup gelatin 169. AKI salah satu komplikasi yang sering terjadi pada kasus sepsis yang membuat angka mortalitas pasien sepsis meningkat. Dalam hal ini terdapat penurunan kemampuan untuk mengeluarkan cairan dan elektrolit mengakibatkan edema dan akan meningkatkan resiko terjadinya hiperkalemia. Pemberian HES tidak mempengaruhi penurunan fungsi ginjal. Lisis sel mengakibatkan pelepasan mioglobin kemudian disaring ginjal. PEMBERIAN KOLOID PADA KASUS SEPSIS DAN RESIKO AKI Pemberian hydroxyethyl starch berat molekul besar (>200kDa) (hetastarch dan pentastarch) dihindari pada pasien sepsis berat karena peningkatan resiko AKI. Perlu rujukan ke bagian ginjal-hipertensi untuk membantu melakukan evaluasi klinis terhadap status volume pasien dan merencanakan manajemen cairan yang sesuai. Ginjal dari donor uyang telah menerima hydroxyethyl starch mengalami lesi osmoticnephrosis-like dan fungsi ginjal lebih cepat mengalami gangguan. Namun cairan yang beratmolekul yang tinggi hidroxyethylstarch(hetastarch dan pentastarch) dihubungkan peningkatan resiko AKI pada pasien sakit berat dengan sepsis. pada hipovolemik dapat menyebabkan AKI. Kita harus waspada memberikan cairan kalium pada pasien dengan AKI karena adanya resiko hiperkalemia. Terdapat bukti perbaikan fungsi ginjal dengan HES berat molekul ringan dibandingkan gelatin pada pembedahan vascular. Penggunaa koloid sebagai cairan pemeliharaan maupun resusitasi harus memperhatikan resiko ini. Perlu alkalinisasi urin melalui pemberian natrium bikarbonat. Rhabdomiolisis(Sindrom Crush) disebabkan trauma otot secara langsung dan sindrom kompartemen..Pasien yang mengalami AKI pre-kidney akan menahan garam dan cairan yang berakibat turunnya produksi urine. Ringer Laktat lebih aman pada yang mejalani pembedahan transplatasi ginjal.

Pada pasien yang mengalami hiperkalemia atau AKI progrsif caira diganti kristaloid seperti Cairan dengan elektrolit yang seimbang dan mengandung kalium digunakan pada pasien dengan AKI lebih baik dibandingkan dengan NaCl 0. manitol maupun albumin dapat memperbaiki fungsi ginjal.9%.6 g/kg) dapat memperbaiki angka ketahanan ginjal dibandingkan albumin dosis rendah.9% UNTUK PASIEN DENGAN AKI DAN TRANSPLANTASI GINJAL dekstrose salin. Hal ini disebabkan albumin dosis tinggi meningkatkan volume intravaskular sahingga dapat meningkatkan perfusi ginjal dan menurunkan cedera ginjal akibat hipoksia.45% salin atau 4%/0. namun harus dalam monitoring ketat di HCU atau ICU. Pemberian cairan yang mengandung kalium seperti Ringer Laktat (RL) menyebabkan hiperkalemia terutama pada pasien dengan kelainan ginjal kronik atau penyakit ginjal tahap akhir (ESRD). menyebabkan penurunan fungsi ginjal setelah transplantasi sehingga memerlukan hemodialisa setelah transplantasi.18 dekstrose/salin. Penggunaan infuse RL pada orang tua yang menjalani operasi dapat meningkatkan perfusi splanknikus. PEMBERIAN ALBUMIN DOSIS TINGGI INTRAOPERATIF TERHADAP PERBAIKAN FUNGSI GINJAL PADA TRANSPLANTASI GINJAL DENGAN KADAVER Pasien yang menjalani transplantasi ginjal menghadapi kemungkinan terjadinya penurunan fungsi ginjal segera setelah operasi. Pemberian albumin intraoperatif dosis tinggi (1.2-1. Pemberian furosemid. Normal Salin (NS) menyebabkan terjadiny asidosis metabolik hiperkloremik dapat menyebabkan hiperkalemia dengan mekanisme perpindahan kalium ekstraselular. Jika diperluka cairan bebas elektrolit mka dilakukan pemberian dekstrose 5% atau 0. Penggunaan NaCl berhubungan dengan perubahan status mental dan ras tidak nyaman pada perut pada pasien sehat.PEMBERIAN KOLOID DENGAN BERAT MOLEKUL TINGGI PADA PASIEN YANG MENJADI DONOR GINJAL Hyroxyethyl starch berat molekul tinggi (>200kDa) dihindari pada donor ginjal dari pasien dengan kematian batang otak karena adanya lesi osmotic nephrosis like. 48 . RINGER LAKTAT VS SALIN 0.

Kebutuhan perimbangan energy melalui: 49 . Memelihara homeostatis dari metabolism secara keseluruhan Tolok ukur yang sering digunakan dalam terapi cairan adalah: 1. Status elektrolit yang optimal(baik plasma maupun urine) 4. infeksi berat dan luka bakar. Untuk memelihara perfusi yang sebaik mungkin Sebagai kelanjutan dari fungsi terapi cairan. Memberikan intake bagi keperluan metabolism secara parenteral. Memelihara volume dan perfusi sirkulasi cairan 2. Stabilitas sirkulasi(nadi. Memelihara perimbangan yang baik dari zat air elektrolit dan ion-ion asam basa 3.MANAJEMEN TERAPI CAIRAN UNTUK KEBUTUHAN RUMATAN Pendekatan Dalam Menyusun Program Terapi Cairan Untuk Cairan Untuk Kebutuhan Rumatan Gangguan homeostatis dan metabolism pada penderita sakit berat terjadi secara akut missalnya terpacu oleh trauma.tensi) 2. Terapi cairan mempunyai tujuan dan fungsi sebagai berikut: 1. tindakan kedokteran sendiri bisa memicu gangguan homeostatis. Memelihara homeostatis antara system anabolic dan katabolic 4. Perfusi perifer adekuat ditandai produksi urin yang cukup 3. Memelihara homeostatis dari system metabolism energy 5. amak tujuan berikutnya adalah untuk: 1. baik partial maupun total 6. Untuk mengkoreksi setiap kekurangan volume dan cairan tubuh 2.

Faktor kebutuhan penderita Berdasarkan kedua faktor diatas. Faktor waktu Berapa lama pasien memerlukan terapi tersebut 2. Cairan elektrolit dan nutrisi adekuat sesuai kebutuhan dan laju metabolism dalam tubuhnya. 50 . yaitu: 1. Yang membutuhkan waktu singkat. Dasar orientasi Sebagai dasar orientasi menyusun terapi cairan terdapat 2 faktor yang penting mendapat perhatian. Progam terapi cairan berdasarkan “requirement adapted nutrition” 4. untuk memelihara volume sirkulasi dan memelihara perfusi jaringan. yaitu: 1. penderita dapat dibagi dalam 4 kategori.a. Metabolisme energy ex protein(glukoneogenesis. terbatas 5 hari. Yang membutuhkan dalam waktu pendek. untuk 2 hari saja (Nitrogen Sparring Efect) hanya memerlukan cairan kristaloid saja. 2. 3. Yang membutuhkan waktu panjang dalam minggu ataupun bulan daitambah dengan kondisi metabolism yang khusus Memerlukan cairan elektrolit ditambah nutritional yang khusus yang bersifat terapi misalnya insufisiensi renal.cairan elektrolit dan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan minimal untuk mencegah katabolisme protein endogen. ensefalopatia hepatogenik. Metabolisme energy ex lemak( kadar asam bebas dalam sirkulasi dan ketouria) c. berkurangnya otot rangka dan ekskresi metabolit asam amino melalui renal. Metabolisme energy ex karbohidrat(kadar glukosa darah dan urin) b. Yang membutuhkan waktu panjang dalam batas minggu atau bulan. Diharapkan membawa tubuh dalam status anaboli.

Jika kebutuhan tidak dapat dipenuhi. Metabolism basal sebagai batas minimal laju metabolism pada penderita harus berjalan terus untuk menghasilkan energy biologic bagi kerja otot-otot secara tidak disadari. Ion kalium adalah sekitar 50-100 meq/hari. Kebutuhan ion Natrium sekitar 150 meq/hari. Pada dasarnya proses energy biologic dimulai dari konversi asetil co A dan oksaloasetat ked an didalam siklus asam sitrat. Hipermetabolisme sering pada penderita-penderita yang dirawat di ICU. 51 .5-2 ml/kgbb/jam.Kebutuhan cairan dan zat-zat perhari Kebutuhan air adalah sekitar 40ml/kg/hari atau sekitar 1. keperluan kerja seperti pompa sodium-kalium dan untuk keperluan kerja biosintesis kegiatan organ. Suplai komponen cairan Karbohidrat Kebutuhan minimal Karbohidrat untuk nitrogen sparing untuk mencegah/mengurangi terjadinya glukoneogenesis pada keadaan biasa atau katabolisme ringan berkisar antara 400600 kal/hari Karbohidrat non glukosa yaitu sorbitol. operasi berat maupun infeksi berat dalam keadaan operasi maupun tidak.cairan yang osmolaritasnya isotonic dengan plasma sekitar 300m0sm/L disebabkan jalur masuk intravaskulaer yang umumnya melalui vena perifer. Kebutuhan substrat untuk produksi energy Merancang jumlah substrat tujuan perhitungan adalah untuk memberikan jumlah yang seimbang dengan kebutuhan minimal. sesuai laju metabolisme penderita. dikenal sebagai siklus asam sitrik. dan fruktosa digunakan pada pasien dengan keadaan hiperkatabolisme karena bersifat non insulin dependent dan juga mencegah terjadinya Mallard reaction dalam cairan. Keadaan metabolism yang berubah mendadak akan menyebabkan pengerahan cadangan glukosa melalui proses glikogenolisis didalam hepar. pengerahan molekul glukosa yang baru yang berasal dari protein dikenal dengan gluko neogenesis dan pembentukan asetil co A dari asam lemak melalui proses lipolisis. baik akibat trauma berat.dan di dalam siklus kreb dengan outpunya terbentuk ATP dan ADP.xylitol.

Untuk terapi cairan perlu dipahami mengenai fisiologi cairan yang mendalam sehingga tujuan akhir dari terapi cairan ini dapat tercapai. Untuk minimal requirement pada basic nutrition b. casein) 2. Vitamin Banyak vitamin merupaka bagian dari molekul koenzim dan substrat metabolism intermediate. arakidonat. yaitu: 1. BAB VI EFEK SAMPING PADA TERAPI CAIRAN 52 . Kristal asam amino sintetik hanya L form yang efektif Kebutuhan dalam kuantum: a. Misalnya Asetil co A mengandung asam panthothenat suatu bagian dari vitamin B kompleks. Tetap perlu diberikan untuk memberikan asam lemak esensial seperti asam linoleat. Kesimpulan Cairan rumatan segera setelah resusitasi cairan pada penderita sakit berat.Protein Untuk parenteral nutrisi ada 2 macam. hydroxybutirat dan aceton dalam darah. Hidrolisat enzimatik (fibrin. Untuk requirement adopted Lemak Lipolisis dalam tubuh mengakibatkan ketogenesis (ketosis) yaitu meningginya kadar aceto-acetat. Terapi cairan untuk rumatan sering diberikan sebagai sarana untuk parenteral nutrisi.

dekstran Nacl hipertonik ( HSD )] pada dosis 4 ml/ kgBB yang diberikan selama 10 menit. Nyeri/ tromboflebitis/ thrombosis Cairan koloid dan kristaloid umumnya bersifat nontoksik dan mempunyai efek terhadap dinding pembuluh darah pada tempat insersi infuse kecuali bila cairan yang diberikan sangat dingin atau panas. Hal ini dibuktikan pada jenis larutan kristaloid dan larutan koloid buatan/ sintetik yang sering digunakan saat ini atau koloid alami. wajah serta kepala. Pada infuse HSD gejala nyata terjadi pada pasien normovolemia disbanding hipovolemia. Larutan osmolaritas yang sangat tinggi sebaiknya di infuskan melalui jalur vena sentral sehingga beban osmolar local akan dikurangi oleh aliran darha yang lebih besar pada vena sentral.REAKSI SAMPINGAN AKIBAT CAIRAN INFUS . Efek samping akibat terapi cairan intravena dapat diklasifikasikan sebagai respon local atau respon sistemik. Cairan infus intravena yang digunakan untuk mengoreksi gangguan volume cairan dan plasma pada prosedur pembedahan atau pengelolaan pasien kritis memiliki resiko terjadinya efek samping. bila di infuskan kedalam vena perifer dihubungkan dengan resiko terjadinya reaksi peradangan local dan menyebabkan terjadinya tromboflebitis pembuluh darah yang sangat nyeri. Infuse cepat HS [ 7. Sementara cairan dengan suhu yang sama dengan suhu tubuh menimbulkan rasa tidak nyaman berupa rasa berat di dada. Peskin. memiliki osmolalitas tinggi sekitar 2400 mOsm/Kg dan menyebabkan peradangan local. A.5%) yang digunakan untuk resusitasi cairan akut pada pasien trauma dan untuk pengelolaan perioperatif pasien bedah. Sensasi Akibat Temperatur dan osmolalitas Infuse cairan dingin terkadang menyebabkan menggigil sebagai respon terhadap perubahan temperature. dapat menimbulkan sensasi panas yang dimulai dari bagian atas dada dan menyebar ke tenggorokan. Dapat pula dirasakan nyeri kepala ringan atau euphoria. Larutan glukosa dengan kadar glukosa lebih dari 10% dan osmolalitas 600 mOsm/Kg. dkk menyatakan larutan Na hipertonik yang mengandung klorida menyebabkan serangan panic pada pasien panic yang tidak diemukan pada pasien normal. Cairan hiperosmolar ini disebut menyebabkan sensasi panas dan rasa tertekan disekitar lengan tempat infuse. Larutan garam hipertonik (HS) (7. 53 .5% Nacl + 6% DEX 70.

Koloid dengan COP yang lebih beasr dari plasma akan menarik cairan ekstravaskuler dari ruang interstitial keruang intravaskuler. Mengingat tingginya efektifitas koloid yang rutin digunakan dalam praktik klinis dalam mensupport volume plasma.B. Resutisasi HS pada kondisi hipovolemia. Hidrasi Jaringan Pembentukan edema berlebihan edema 54 . khususnya pada pemberian HS dengan infuse cepat. Hipotensi Pasien dengan gagal jantung laten atau manifest dapat mengalami gangguan sirkulasi dan hipotensi bila menerima beban volume intravena yang berlebihan. 2. jelaslah bahwa pasien dengan euvolemia atau hipovolemia sedang terdapat pada resiko overload volume plasma dan peningkatan tekanan darah. Hipervolemi/ Hipertensi Koloid Cairan koloid dengan tekanan osmotic koloid yang sama atau lebih rendah dari plasma umumnya menyebabkan ekspansi volume plasma yang isovolemik. khususnya jika diberikan infuse cepat juga memilki efek yang merugikan yang lebih besar dibanding manfaatnya terhadap jantung dengan mencetuskan aritmia. infuse cepat koloid dengan kapasitas penyokong volume plasma yang baik pada pasien dengan gagal jantung laten atau manifest dapat menyebabkan kelebihan volume intravascular yang akan membahayakan sirkulasi. Dengan demikian. Hipervolemi/ Hipertensi/ Hipotensi 1. meski diberikan dengan laju infuse yang cepat. adanya resiko hipotensi sementara baik akibat depresi miokard maupun akibat penurunan resistensi perifer total pada resusitasi cairan berbasis HS. Kien dkk menyebutkan bahwa hipotensi akut akibat infuse cepat HS mungkin tidak melalui mekanisme depresi jantung akan tetapi diakibatkan oleh penurunan total tahanan pembuluh darah perifer. 1. kapasitas ekspansi volume plasma intravascular dari cairan tersebut dapat melebihi volume yang sebenarnya di infuskan. depresi miokard dan penurunan tekanan darah. Namun demikian baik jantung iskemik maupun noniskemik menunjukkan adanya efek depresi miokard sementara. Dengan demikian. Dengan demikian.

tetapi juga semua jenis cairan yang dipakai dalam terapi massif. Hipotermia Perlunya menghangatkan cairan iv yang diberikan. tidak hanya untuk cairan dingin seperti darah dan produk darah. 4. pada kasus hipotermia yang disebabkan oleh infuse cairan dingin terutama dan pembedahan. Manfaat serupa juga tampak nyata pada resusitasi kristaloid untuk pasien trauma dibanding aritmia 3. Oleh karena itu. kegagalan perfusi jaringan. Hal ini dikarenakan redistribusi kristaloid dari ruang intravascular keseluruh kompartemen cairan ekstrasel yan lebih cepat. Dengan demikian. untuk mencapai normovolemia dan stabilitas hemodinamik. gangguan metabolic dan koagulopati. Edema paru dianggap sebagai factor dari resusitasi cairan kristaloid. jelas terdapat risiko koaglopati akibat pengaruh temperature ditambah dengan efek pengenceran langsung factor – factor koagulasi. Sebagian besar reaksi koagulasi tidak dapat berlangsung pada suhu dibawah 37ºC dan fungsi trombosit juga terganggu pada suhu tersebut. yaitu penambahan volume yang menyebabkan pengenceraan HCO3 dan pembuangan HCO3 ginjal. 55 . perubahan kadar klorida dan perubahan base excess. infuse cairan dapat menyebabkan asidosis hiperkloremia dan akan memperburuk asidosis yang telah ada akibat hipoperfusi jaringan sebelum pemberian cairan. Pembedahan yang lama dapat meningkatkan kadar klorida dimana waters dkk melaporkan adanya hubungan kuat antara volume Nacl yang diberikan. Efek membahayakan dari infuse cairan dan hipotermia antara lain resiko terjadinya aritmia jantung . Asidosis delusional. Beberapa tinjauan meta analisis sistemik tentang tentang studi control random menunjukan bahwa pemilihan resusitasi berbasis kristaloid pada pasien kritislebih bermanfaaat dan dapat menurunkan angka kematian total dibanding resusitasi berbasis koloid. Disarankan untuk memeriksakan klorida bila di dapati asidosis metabolic preoperasi. Efek terhadap Keseimbangan Asam – Basa Garam Fisiologis Sebagian besar larutan kristaloid bersifat asidotik dan memiliki kandungan klorida yang tinggi.Pada pasien hipovolemia untuk menyokong volume plasma diperlukan infuse cairan kristaloid intravena dalam jumlah yang relative besar. Hipotermia akan menurunkan sintesis factor – factor koagulasi oleh hepar. Cairan ekstravaskuler akan terkumpul dalam jaringan yang memiliki komplians tinggi seperti kulit dan jaringan.

infuse larutan kristaloid berimbang (mengandung laktat) dikombinasi dengan koloid (HES) dapat mencegah terjadinya asidosis metabolic hiperkloremik pada pasien bedah usia lanjut. Pengenceran darah invitro dengan lautan garam dapet meningkatkan koagulasi whole blood yang diukur dengan trombelastogram(TEG).Larutan koloid berimbang Penggunaan larutan jenis rnger yang mengandung klorida dalam konsentrasi yang lebih rendah akan mencegah terjadinya asidosis metabolic akibat hiperkloremia disamping menurunkan SID. Larutan Ringer mengandung asetat lebih menguntungkan dibanding yang mengandung laktat karena kemampuan tubuh untuk memetabolisme laktat sangat tergantung pada kapasitas fungsional ginjal dan hati. Status hiperkoagulabel dapat dikurangi atau dicegah bila penurunan antitrombin III yang disebabkan oleh 56 . Kristaloid Terapi cairan hanya memiliki pengaruh minimal terhadap koagulasi dan hemostasis. Selain itu. gangguan hemostasis dapat disebabkan oleh adanya asidosis metabolic hiperkloremik. Gangguan Homeostasis Gangguan homeostasis dapat disebabkan oleh semua jenis cairan infuse Mekanismenya antara lain pengenceran factor koagulasi yang beredar. 5. Wilkes. Hemodilusi menyebabkan efek prokoagulan melalui peningkatan pembentukan thrombin. Kadar antitrombin III disebabkan oleh hemodilusi saja. Penambahan volume plasma yang terjadi pada pemberian kristaloid hanyalah sedikit dan larutan jenis Ringer fisiologis berimbang tidak memiliki pengaruh khuus terhadap mekanisme hemostasis. Hemodilusi akibat penambahan volume plasma akan menurunkan kadar faktorfaktor koagulasi dan pada kasus pemberian Klorida yang berlebihan(infuse NaCl fisiologis). Cairan jenis Ringer dengan kandungan Klorida yang lebih rendah dan kemampuan buffernya(laktat atau asetat) lebih disukai untuk memnimalkan efek hemostasis. dkk menyebutkan Nacl kombinasi dengan KOLOID ( HES ). Hemodilusi meningkatkan koagulabilitas whole blood invitro dan komponen garam juga memiliki efek terhadap kekuatan bekuan. hipotermia dan interaksi spesifik dari komponen cairan dengan mekanisme hemostasis normal. kombinasi kristaloid berimbang koloid juga dapat memperbaiki perfusi mukosa lambung dibandingkan dengan larutan koloid berbasis Nacl.

Pengenceran darah dengan larutan Ringer dalam konsentrasi lebih dari 20% terbukti menurunkan koagulabilitas. BAB VII KESIMPULAN 57 .pengenceran dicegah dengan pemberian antitrombin III.

Dalam perkembangannya parametee tradisional seperti pemeriksaan fisik dan tanda vital sering menghasilkan hasil yang keliru.5mljenis v/kgBB. transesovageal ecocardiografi. maka kristraloid lebih cocok. karena tiap jenis cairan mempunyai fungsi dan efek samping yang tidak sama. Mungkin perlu memberi koloid dan kristaloid bila terjadi deficit di ruang intravaskuler dan interstitial. Curah jantung dan tekanan perfusi sistemik. dan termodilusion.monitoring hemodinamik invasif lebih akjurat dalam menilai status cairan intravaskuler. Monitoring hemodinamik invasive yang sering digunakan adalah tekanan vena sentral kateter. cairan tubuh ini mengandung nutrisi-nutrisi yang amat penting peranannya dalam metabolism sel sehingga amat penting dalam menunjang kehidupan. Dalam pembedahan tubuh kekurangan cairan karena perdarahn selama pembedahan di tambah lagi puasa sebelum dan sesudah operasi maka diperlukan metode yang tepat yang tepat untuk menilai volume intravaskuler dan preload yang merupakan komponen yang penting dalam pembedahan.Tubuh mengandung 60%air yang di sebut juga cairan tubuh. Terapi cairan bertujuan untuk mempertahankan tandfa-tanda vital dan produksi urin 0. Contohnya : -Perbedaan dalam hal fungsional : Bila terjadi kekurangan cairan intravascular yng cocok adalah koloid dan darah. Hal ini menjadi dasar pertimbangan untuk menyatakan target resusitasi cairan telah tercapai. Tapi dalam perkembangannya target akhir dari resusitasi cairan adalah keseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan oksigen baik sebelum operasi. 58 . Dalam terapi cairan diperlukan pemahaman yang jelas tentang jenis cairan intravena. Pemberian infus yang tidak sesuai untuk keadaan tertentu akan sia-sia dan tidak bias menolong pasien. Dalam terapi cairan harus diperhatikan kebutuhan sesuai usia dan keadaan pasiaen serta cairan infus itu sendiri. selama operasi dan setelah tindakan operasi. arteri pulmonal. Terapi cairan amat di perlukan untuk pemeliharaan dan mencegah kehilangan cairan dan mencegah kehilangan cairan terlalu banyak yang bisa membahayakan.Bila terjadi kekurangan cairan inerterstitial. Cairan tubuh terdistribusi dalam intrasel dan ekstrasel yang dibatasi membrane sel adanya tekanan osmotik yang isotonic menjaga difusi cairan ekstrasel atau masuk kedalam sel.

59 .-Perbedaan dalam hal efek samping : Dextran (koloid) menyebabkan reaksi anafilaktoid. atau terjadinya asidosis hiperkloremik dapat dihindari dengan pemilihan jenis cairan yang tepat dan monitoring terapi cairan yang baik. susunan molekul. overload sirkulasi atau pembentukan edema terutama pada pemberian kristaloid. atau osmolalitas cairan yag tidak tepat lebih jarang terjadi dan tidak begitu penting secara klinis.pengaruhi hemostasis. Semua jenis cairan IV baik kristaloid maupun koloid dapat menimbulkan reaksi – reaksi sampingan bila tidak digunakan secara tepat atau bila terdapat faktor – faktor berisiko spesifik pada pasien. Respon sistemik dari terapi cairan akibat infuse yang telalu cepat atau pemberian cairan yang berlebihan berupa hipervolemia. Efek samping local pda tempat infuse yang disebabkan oleh suhu.resiko gagal ginjal. Salah satu faktor yang penting yang harus diperhatikan untuk keamanan penggunaan cairan IV adalah bahwa terapi cairan harus didasarkan pada pengetahuan yang tepat tentang kebutuhan individual pasien dan bahwa kemungkinan bahaya akibat pemberian infuse berbagai jenis cairan yang tersedia telah diketahui dengan baik.

Harijanto.Terapi Cairan Untuk Rumatan dan Resusitasi.http://www.org 2. Panduan Tatalaksana Terapi Cairan Periopertif. 133-135. 261-273. 306-315. 117-129. Hal 21-22 5.Jakarta.2002. 248.2001.Rokhaeni. Jakarta. 2000. 259. Semarang. 108-117.Hal 2- 16.2009.Anonim.nmanet. 346368 4.Fundamental Course Fluid on Therapy. 5-8 60 .Eddy.DAFTAR PUSTAKA 1. Hal 2-3. Hal 1-3 3.Buku Ajar keperawatan Kardiovaskular. 52-79. 88-97. Jakarta.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer: Get 4 months of Scribd and The New York Times for just $1.87 per week!

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times