BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar belakang Setiap manusia berhak mendapat perlindungan kesehatan maupun keselamatan dalam setiap lingkungan hidupnya. Begitu juga dengan pekerja yang dalam aktivitasnya akan selalu berhadapan dengan resiko. Faktanya, setiap tahun ada 1.1 juta jiwa yang meninggal akibat kerja dan terdapat sekitar 160 juta penyakit akibat hubungan kerja (ILO). Dalam undang-undang no 1 tahun 1970 pasal 1 ayat 1 dikatakan bahwa tempat kerja adalah tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, berg erak atau tetap, dimana tenaga kerja bekerja atau sering dimasuki kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya; termasuk tempat kerja adalah seluruh ruangan, lapangan, halaman dan sekelilingnya yang merupakan bagian-bagian atau berhubungan dengan tempat kerja tersebut. Dari definisi tersebut dapat dikatakan bahwa hampir semua tempat kerja harus menerapkan K3, terutama tempat kerja yang mengandung satu atau lebih sumber bahaya guna menjaga keselamatan dan kesehatan p ekerja serta alat-alat yang ada ditempat kerja tersebut. Dalam dunia kerja, penggunaan APD (Alat Pelindung Diri) sangat dibutuhkan terutama pada lingkungan kerja yang memiliki potensi berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan kerja seperti proyek bangunan, tukang las, pabrik keramik, dan lain-lain. Pada umumnya perusahaan formal sudah menerapkan

1

sistem menejemen K3, yang didalamnya juga terdapat ketentuan-ketentuan dalam penggunaan APD. Namun, pada proyek atau pekerjaan informal, seperti pembangunan rumah-rumah diperkotaan atau pedesaan, banyak ditemukan pekerja yang tidak menggunakan APD. Hal ini dapat dimaklumi karena sebagian besar pekerja yang berada pada sektor informal merupakan masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah kebawah. Selain itu, mereka juga belum paham dengan resiko pekerjaan yangada. Dan juga di dalam beberapa kasus hanya bersifat kronik sehingga ada anggapan bahwa penggunaan APD tidak diperlukan. Hal ini juga menjadi salah satu faktor peristiwa gunung es, dimana resiko akibat kerja yang dialami sangat jarang terungkap. Peneliti telah menjumpai beberapa pekerja di sektor informal (yang mengabaikan penggunaan APD) mengalami kerugian akibat kerja baik berupa material, Penyakit Akibat Kerja( PAK) maupun kecelakan kerja (taruma). Oleh karena itu, dari kejadian faktor-faktor tersebut yang peneliti mendapat dengan inisiatif untuk

mengidentifikasi

berhubungan

implementasi

penggunaan APD pada pekerja di sektor informal.

1.2 Rumusan masalah Untuk mencegah maupun mengurangi terjadinya kecelakaan atau penyakit akibat kerja pada sektor informal, maka perlu diutamakan adanya perlindungan tenaga kerja melalui usaha-usaha teknis pengamanan tempat, peralatan dan lingkungan kerja. Namun kadang-kadang keadaan bahaya masih belum dikendalikan sepenuhnya, sehingga digunakan alat pelindung diri (APD).

2

Hal tersebut dapat menambah tingkat resiko kerugian baik berupa material maupun non-material. radiasi. Dalam hal kesadaran inilah yang merupakan kelemahan dari pekerja pada sektor informal. baik yang bersifat kimia. Namun. Sebagai contoh. penggunaan APD tetap dibutuhan. mekanik dll. elektrik. selain di atur oleh undang-undang. fisik. sebelum memutuskan untuk menggunakan APD. Alat Pelindung Diri (APD) merupakan Salah satu bentuk upaya dalam menanggulangi resiko akibat kerja. metode-metode lain harus dilalui terlebih dahulu dengan melakukan upaya optimal agar bahaya atau hazard bisa dihilangkan atau paling tidak dikurangi. penggunaaan APD merupakan metode pengendalian paling akhir. Artinya. Implementasi yang kurang dalam penggunaan APD merupakan salah satu masalah di dalam dunia kerja. pada banyak pekerjaan terutama pekerjaan dengan resiko tinggi. Hal ini juga menjadi salah satu penyebab lemahnya tindakan preventif terutama pada resiko yang bersifat kronik. kesadaran pekerja juga menjadi faktor yang penting. Dalam implementasinya. Karena didalam pekerjaanya jarang terdapat ahli K3 mengingat background pendidikan mereka kebanyakan dari tingkat SMA ke bawah dengan keahlian kerja yang diperoleh dari pengalaman langsung tanpa pendalamaman teori. personal protective equipment atau (APD) didefinisikan sebagai alat yang digunakan untuk melindungi pekerja dari luka atau penyakit yang diakibatkan oleh adanya kontak dengan bahaya (hazard) ditempat kerja. biologis. Sehingga angka kecelakaan kerja ditempat kerja berkurang. Dalam hirarki hazard control atau pengendalian bahaya. jika terjadi 3 .Menurut OSHA atau occupational safety and health administration.

Sehingga diharapkan adanya kebijakan dan gerakan 4 . Apakah ada hubungan antara ppengetahuan dengan implementasi penggunaan alat pelindung diri (APD) pada pekerja informal? 1. 1. Sebagai alternatif.4. Sehingga kedepannya dapat dilakukan pencegahan dengan menggunakan pendekatan yang tepat.kecelakaan pada pekerja tentunya akan menjadi kerugian bagi pekerja apalagi pada pekerja di sektor informal yang biasanya tidak memiliki jaminan pembiayaan jika terjadi kecelakaan. yang menjadi pertanyaan penelitian diantaranya : 1.4 Tujuan penelitian 1.3 Pertanyaan penelitian Berdasarkan rumusan masalah diatas. Peneliti berharap dapat menggambarkan pengaruh pengetahuan terhadap implementasi penggunaan APD pada pekerja informal. penulis berargumen bahwa penanganan masalah ini dapat melalui beberapa upaya antara lain yaitu dengan mengoptimalkan sistem informasi (dalam hal ini adalah promosi) dan pembuatan kebijakan khusus bagi pekerja bangunan informal.1 Tujuan umum Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk membuktikan adanya hubungan antara faktor pengetahuan dengan implementasi penggunaan APD pada pekerja informal. Dalam penelitian ini akan diidentifikasi faktor pengetahuan yang menurut peneliti menjadi pengaruh bermakna terhadap kesadaran pekerja dalam penggunaan APD.

5 Manfaat penelitian 1.yang dapat meminimalisir resiko kesehatan dan keselamatan kerja pada pekerja di sektor informal. Meningkatkan pengetahuan dan memberikan pengalaman khususnya dalam hal kajian alat pelindung diri (APD).1 Bagi pekerja bangunan 1. sehinnga dapat menjadi acuan dalam pengendalian bahaya secara terencana serta berkelanjutan.5. Sebagai bahan perttimbangan untuk melakukan perbaikan dalam berbagai hal yang berhubungan dengan keselamatan dan kesehatan kerja terutama yang berkaitan dengan penggunaan alat pelindung diri (APD).5. dalam hal ini adalah penggunaan APD (alat pelindung diri). 1. 5 .2 Bagi peneliti 1. 1.2 Tujuan khusus Tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk memberikan informasi kepada pekerja bangunan informal selaku objek penelitian tentang pentingnya penerapan K3.4. 2. 1. Menjadi informasi tentang pentingnya penggunaan APD.

keterampilan diperoleh dari luar sistem formal sekolah dan tidak diatur dan pasar yang kompetitif. tempat pekerjaan yang tidak terdapat keamanan kerja (job security). pedagang kaki lima (PKL). Hal ini didorong oleh tingkat urbanisasi yang tinggi dimana penawaran pasar tenaga kerja mampu direspon oleh permintaan tenaga kerja sektor informal. Contoh dari jenis kegiatan sektor informal antara lain pekerja bangunan. Pengelompokkan definisi formal dan informal menurut Hendri Saparini dan M.1 Tinjauan Umum Tentang Pekerja Informal (kuli bangunan) Perekonomian di kebanyakan negara berkembang bahkan di beberapa negara maju adalah fenomena jumlah dan tingginya peningkatan penduduk yang bekerja di sektor informal. buruh tani dan lainnya. pengamen dan anak jalanan. Definisi lainnya adalah segala jenis pekerjaan yang tidak menghasilkan pendapatan yang tetap.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Sedangkan ciri-ciri kegiatan-kegiatan informal adalah mudah masuk. Chatib Basri dari Universitas Indonesia menyebutkan bahwa tenaga Kerja sektor informal adalah tenaga kerja yang bekerja pada segala jenis pekerjaan tanpa ada perlindungan negara dan atas usaha tersebut tidak dikenakan pajak. biasanya usaha milik keluarga. tempat bekerja yang tidak ada status permanen atas pekerjaan tersebut dan unit usaha atau lembaga yang tidak berbadan hukum. pedagang pasar. bersandar pada sumber daya lokal. artinya setiap orang dapat kapan saja masuk ke jenis usaha informal ini. becak. operasi skala kecil. 6 . penata parkir. padat karya.

Alat pelindung diri harus memenuhi standar yang telah ada. Alat pelindung diri harus tahan untuk pemakaian lama. Alat pelindung diri adalah alat yang mempunyai kemampuan untuk melindungi tenaga kerja dari bahaya.2 Tinjauan Umum Tentang Alat Pelindung Diri Tenaga kerja yang melakukan pekerjaan disamping harus melakukan prosedur kerja yang standard juga harus memakai alat pelindung diri. Ini untuk menjaga supaya risiko bahaya yang mungkin terjadi dapat dihindari. 3.bahaya di lingkungan kerja baik fisik maupun kimiawi. Alat harus dapat dipakai secara fleksibel. Alat pelindung diri tidak menimbulkan bahaya. 8. yaitu: 2. 7 .bahaya tambahan lagi bagi pemakainya. 5. 4. Alat pelindung diri yang akan digunakan di tempat kerja harus memperhatikan. Bentuknya harus cukup menarik. 6.2. Berat alat pelindung diri hendaknya seringan mungkin dan alat tersebut tidak menyebabkan rasa tidak nyaman yang berlebihan. 7. Alat pelindung diri tidak membatasi gerak dan persepsi sensoris pemakainya.

9. dsb.pesawat. Alat pelindung diri harus memberikan perlindungan yang adekuat terhadap bahaya yang spesifik yang dihadapi oleh tenaga kerja (Usman dalam wulandari. 2004). tapi dari bahan kulit dilapisi metal dengan sol dari karet tebal dan kuat. dsb. benda panas. Kebanyakan di lapisi dengan metal untuk melindungi kaki dari benda tajam atau berat. Macam-macam APD y Safety Helmet Berfungsi sebagai pelindung kepala dari benda yang bisa mengenai kepala secara langsung. y Tali Keselamatan (safety belt) Berfungsi sebagai alat pengaman ketika menggunakan alat transportasi ataupun peralatan lain yang serupa (mobil. cairan kimia. cairan kimia. y Sepatu pelindung (safety shoes) Seperti sepatu biasa. alat berat. Berfungsi untuk mencegah kecelakaan fatal yang menimpa kaki karena tertimpa benda tajam atau berat. 8 . dan lain-lain) y Sepatu Karet (sepatu boot) Berfungsi sebagai alat pengaman saat bekerja di tempat yang becek ataupun berlumpur. benda panas.

y Masker (Respirator) Berfungsi sebagai penyaring udara yang dihirup saat bekerja di tempat dengan kualitas udara buruk (misal berdebu. Diwajibkan menggunakan alat ini di ketinggian lebih dari 1. Bahan dan bentuk sarung tangan di sesuaikan dengan fungsi masing-masing pekerjaan. y Pelindung wajah (Face Shield) 9 . y Kaca Mata Pengaman (Safety Glasses) Berfungsi sebagai pelindung mata ketika bekerja (misalnya mengelas).8 meter.y Sarung Tangan Berfungsi sebagai alat pelindung tangan pada saat bekerja di tempat atau situasi yang dapat mengakibatkan cedera tangan. dsb). beracun. y Tali Pengaman (Safety Harness) Berfungsi sebagai pengaman saat bekerja di ketinggian. y Penutup Telinga (Ear Plug / Ear Muff) Berfungsi sebagai pelindung telinga pada saat bekerja di tempat yang bising.

Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo. yakni indera penglihatan. Penginderaan terjadi melalui pancaindra manusia. Yang dimana pemakaian APD merupakan salah satu perilaku aman. Menurutnya bahwa pengetahuan 1 Keselamatan artikel di akses pada 28 oktober 2010 dari http://id. 2003:122).Berfungsi sebagai pelindung wajah dari percikan benda asing saat bekerja (misal pekerjaan menggerinda) y Jas Hujan (Rain Coat) Berfungsi melindungi dari percikan air saat bekerja (misal bekerja pada waktu hujan atau sedang mencuci alat).3. dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu.org/wiki/Alat_pelindung_diri"Kategori: Keselamatan 10 . rasa dan raba. pendengaran.1 Pengetahuan Dalam kamus besar bahasa indonesia. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang dalam hal ini pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan (Notoatmodjo. penciuman. 2003:121). Pengertian lain menyebutkan bahwa Pengetahuan merupakan hasil dari tahu. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Pudjowati pada tahun 1998 dikatakan bahwa secara statistik tidak ada hubungan yang bermakna antara pengatahuan pekerja dengan perilaku penggunaan APD.wikipedia.3 Tinjauan Tentang Pengetahuan 2. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui (kepandaian). 1 2.

Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dap at menjelaskan. meramalkan. Memahami (comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui.adalah sesuatu yang perlu tetapi bukan merupakan faktor yang cukup kuat untuk mengubah perilaku. Tahu (know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. menyebutkan contoh. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. namun perlu dibarengi dengan niat yang kuat. b. a. dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. sehingga seorang pekerja akan bertindak sesuai dengan tingkatan pengetahuannya. Bahkan tidak jarang mereka yang mempunyai pengetahuan tinggi cenderung bertindak ceroboh. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Aplikasi (aplication) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi di sini dapat 11 . c. menyimpulkan. Dengan demikian pengetahuan yang tinggi merupakan sarana yang baik untuk mengubah perilaku. dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.

Sintesis (synthesis) Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Evaluasi (evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu meteri atau objek. dan sebagainya. dan masih ada kaitannya satu sama lain. dapat meringkaskan. d. Penilaian ± penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri. Misalnya. Menurut Lavine (1962) pengetahuan pekerja dalam penggunaan alat pelindung diri yang baik dan aman mutlak dimiliki penggunanya 12 . dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada. dapat menyesuaikan. dapat menyusun.diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum. Analisis (analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. tetapi masih di dalam satu struktur organisasi. dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. e. rumus. mengelompokan. seperti dapat menggambarkan (membuat bagan). membedakan. metode. atau menggunakan kriteria ± kriteria yang telah ada. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja. dapat merencanakan. f. prinsip. memisahkan.

Dengan demikia n pengetahuan akan timbul akibat rasa takut akan sesuatu yang mungkin terjadi dan jika pekerja tahu akan dampak atau bahaya yang timbul jika tidak menggunakan APD.mengingat ahaya yang dapat ditimbul an. peneliti mengaitkan pengetahuan sebagai faktor yang berpengaruh terhadap implementasi penggunaan APD.3. Oleh karena itu. 2. Peneliti berasumsi bahwa perilaku bekerja pada dasarnya dipengaruhi oleh pengetahuan yang juga menjadi dasar prinsip dalam k ehidupan sehri hari.3 Kerangka Teori Key Fas as T g Pe Pe ghas an pe ge hu pe g Sos al Bu aya Diagram 1. yaitu : 13 . pengetahuan seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. untuk itu pekerja harus tahu fungsi dari APD itu sendiri serta potensi bahaya pada tempat kerjanya. maka diharapkan pekerja akan memberikan perhatian dalam penggunaan APD.1 : Skema konsep pengtahuan Menurut Notoatmodjo (2003).

b) Tingkat Pendidikan Pendidikan dapat membawa wawasan atau pengetahuan seseorang. Keyakinan ini bias mempengaruhi pengetahuan seseorang. dan buku serta alat ±alat yang mendukung. Namun bila seseorang berpenghasilan cukup besar maka 14 . c) Keyakinan Biasanya keyakinan diperoleh secara turun temurun dan tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu. majalah. Pengalaman yang sudah diperoleh dapat memperluas pengetahuan seseorang. Secara umum. televise. misalnya radio.a) Pengalaman Pengalaman dapat diperoleh dari pengalaman sendiri maupun orang lain. seseorang yang berpendidikan lebih tinggi akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas dibandingkan dengan seseorang yang tingkat pendidikannya lebih rendah. baik keyakinan itu sifatnya positif maupun negatif d) Fasilitas Fasilitas ± fasilitas sebagai sumber informasi yang dapat mempengaruhi pengetahuann seseorang. Koran. e) Penghasilan Penghasilan tidak berpengaruh langsung terhadap pengetahuan seseorang.

dan sikap seseorang terhadap sesuatu.3. 2003). dan nilai ± nilai. Selanjutnya perilaku itu sendiri ditentukan atau dibentuk dari 3 faktor. 2. kepercayaan. Kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi perilaku ( non behaviour causes). Beberapa teori lain yang telah dicoba untuk mengungkapkan determinan perilaku dari analisis factor ± fator yang mempengaruhi perilaku. yaitu : 1.dia akan mampu untuk menyediakan atau membeli fasilitas ± fasilitas sumber informasi. f) Sosial Budaya Kebudayaan setempat dan kebiasaan dalam keluarga dapat mempengaruhi pengetahuan. keyakinan. antara lain teori (Green. faktor ± factor pengaruh (predisposing factor) yang terwujud dalam pengetahuan. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat disesuaikan dengan tingkatan domain diatas (Notoatmodjo. 15 . khususnya perilaku yang berhubungan dengan kesehatan. sikap.4 pengukuran pegetahuan Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menyatakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subyek penelitian atau responden. dalam Notoatmodjo. persepsi.2003) mencoba menganalisa Lawrence Green perilaku manusia dari tingkat kesehatan.

faktor ± factor penguat ( reinforcing factor) yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan atau sarana 16 . faktor ± factor pendukung (enabling factor) yang terwujud dalam lingkungan fisik.2. 3. tersedia atau tidak tersedianya fasilitas kesehatan.

BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL 3. 3. 17 .2 Hipotesis H0 : tidak ada Ada hubungan antara tingkat pendidikan. Hal ini didasarkan pada argumentasi peneliti setelah melakukan pengamatan dimana dua variabel diatas dianggap berpengaruh dalam implementasi penggunaan APD. dan pengalaman kecelakaan dengan implementasi penggunaan alat pelindung diri (APD) pada pekerja bangunan informal. pengalaman training.1 Kerangka Konsep Variable Independen pengetahuan Variable Dependen: Penggunaan APD Dari konsep diatas. peneliti mengambil variabel pengalaman dan tingkat pendidikan. dan pengalaman kecelakaan dengan implementasi penggunaan alat pelindung diri (APD) pada pekerja bangunan informal. pengalaman training. pengalaman kerja. Ha : Ada hubungan antara tingkat pendidikan. pengalaman kerja.

Baik (76% .3 Definisi operasional No 1 nama Penggunaan APD Definisi Implementasi (penggunaan) APD oleh pekerja Alat ukur kategori skala wawancara 1.100%) Ordinal (kepandaian) 18 .menggunakan 2.3. Kurang (<60%) 2.tidak menggunakan Ordinal bangunan iformal. 2 pengetahuan segala yang sesuatu wawancara diketahui 1. Cukup (60% ± 75%) 3.jarang menggunakan 3.

3 Variabel Penelitian Variabel pekerja dalam penelitian ini yang melibatkan pengetahuan tentang implementasi APD adalah dan tingkat pendidikan dan pengalaman (pengalaman kerja bangunan. Kriteria sampel : Pekerja bangunan informal Bersedia menjadi responden 3.1 Desain Penelitian Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. pengalaman training (k3) dan pengalaman kecelakaan) 3.2 Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pekerja bangunan informal diwilayah ciputat. 3.BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 3. Untuk melihat adanya hubungan antara pengetahuan dengan implementasi penggunanan alat pelindung diri (APD). Sample yang diambil sebagai responden dalam penelitian ini adalah sebagian atau wakil dari populasi.4 Teknik Pengumpulan Data Pertama peneliti menjelaskan tujuan dan konsekuensi dari penelitian serta meminta kesediaan subyek untuk menjadi responden. 19 .

kemudian dibandingkan dengan jumlah responden dan dikalikan 100% hasilnya berupa presentase dengan menggunakan rumus : P = X/n x 100% Dimana : P = Persentase X = Jumlah alternatif jawaban n = jumlah responden Kemudian dimasukkan ke dalam kriteria menurut Arikunto (1998) dengan pembagian kategori ¶baik¶ (jika 76 % ± 100 %).Setelah mengisi lembar kesediaan.5 Analisa data Teknik analisa data yang digunakan dalam pengolahan pengetahuan adalah dengan cara menjumlahkan setiap alternatif pada item soal.39% : Tidak seorangpun responden : sangat sedikit responden : sebagian kecil responden 20 . Selanjutnya hasil perhitungan diinterpretasikan dengan mengguanakan kriteria : 0% 1% ± 19% 20% . subyek diberi angket yang berisi pertanyaan. 3.75%). dan criteria ¶kurang¶ (jika kurang dari 60 %). kriteria ¶cukup¶ (jika 60% .

dimulai pada 11 juni 2011. 21 .40% .79% : sebagian besar responden 80% .99% 100% : hampir seluruh responden : seluruh responden 3. Estimasi durasi penelitian selama 3 bulan dan tergantung pada keadaan dan situasi pekerja (kondisionil).6 lokasi dan waktu penelitian Penilitian dilakukan di kawasan kertamukti Ciputat dan sekitarnya.59% : sebagian responden 60% .

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilaksanakan sejak akhir bulan Juni sampai awal bulan juli 2011.25 26 .3 % 66.60 total Tabel 1. Jumlah pekerja yang menjadi responden dalam penelitian ini sebanyak 30 orang.1.7 % 100% Berdasarkan Tingkat Tingkat Pendidikan SD -SMP SMA total Frekuensi 21 9 30 Presentasi 70 % 30 % 100% Tabel 1.1 Distribusi Frekuensi Pendidikan Frekuensi 10 20 30 Responden Presentasi 33. Karakteristik responden akan tergambar pada tabel 1.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Penggunaan APD 22 .1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia Umur 19 .6 sampai dengan tabel 4.7 Tabel 1. Sedangkan hasil penelitian tergambar pada tabel 4.

kadang Menggunakan total Frekuensi 18 6 6 30 Presentasi 60 % 20 % 20 % 100% Tabel 1.3 % 40 % 100% 23 .7 % 13.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Lama Kerja < 5 tahun 5 ± 10 tahun > 10 tahun total Frekuensi 14 4 12 30 Presentasi 46.Tingkat Pendidikan Tidak menggunakan Kadang .3 % 40 % 100% Tabel 1.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Lama Bekerja Lama Kerja < 5 tahun 5 ± 10 tahun > 10 tahun total Frekuensi 14 4 12 30 Presentasi 46.7 % 13.

2 Pembahasan 24 .1 Hasil Penelitian Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka diperolah data : Tabel 1.2 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden Mengenai 5.5.

Jakarta : PT. S. Rineka Cipta Notoatmodjo. S.DAFTAR PUSTAKA Arikunto. Edisi IV. 1 ± 13 25 . (e-USU Repository 2005 Universitas Sumatera Utara). (1998). h. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. ³Pengetahuan Manusia Dan Epistemologi Islam´. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek. (2003). Jakarta : PT. Rineka Cipta Nasrah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful