Manajemen aktif kala tiga Tujuan manajemen aktif kala tiga adalah untuk menghasilkan kontraksi uterus yang

lebih efektif sehingga dapat memperpendek waktu kala tiga persalinan dan mengurangi kehilangan darah dibandingkan dengan penatalaksanaan fisiologis. Sebagian besar kesakitan dan kematian ibu di Indonesia disebabkan oleh perdarahan pascapersalinan, di mana sebagian besar disebabkan oleh atonia uteri dan retensio plasenta yang sebenarnya dapat dicegah melalui manajemen aktif kala tiga. Keuntungan-keuntungan manajemen aktif kala tiga:
y y y

Kala tiga persalinan yang lebih singkat Mengurangi jumlah kehilangan darah Mengurangi kejadian retensio plasenta

Manajemen aktif kala tiga terdiri dari tiga langkah utama:
y y y

pemberian suntikan oksitosin melakukan penegangan tali pusat terkendali rangsangan taktil (pemijatan) fundus uteri (masase)

Pemberian suntikan oksitosin 1. Segera berikan bayi yang telah terbungkus kain pada ibu untuk diberi ASI. 2. Letakkan kain bersih di atas perut ibu. Alasan: Kain akan mencegah kontaminasi langsung dari tangan penolong persalinan (yang sudah memakai sarung tangan) dan darah pada perut ibu. 1. Periksa uterus untuk memastikan tidak ada bayi yang lain. (Undiagnosed twin) Alasan. Oksitosin menyebabkan uterus berkontraksi yang akan sangat menurunkan pasokan oksigen kepada bayi. Hati-hati untuk tidak menekan uterus dengan keras sehingga terjadi kontraksi tetanik yang akan menyulitkan pengeluaran plasenta. 1. Memberitahukan pada ibu bahwa ia akan disuntik. 2. Selambat-lambatnya dalam waktu dua menit setelah bayi lahir, segera suntikkan oksitosin 10 unit IM pada 1/3 bawah paha kanan bagian luar. Alasan: Oksitosin merangsang fundus uteri untuk berkontraksi dengan kuat dan efektif sehingga dapat membantu pelepasan plasenta dan mengurangi kehilangan darah. Aspi rasi sebelum penyuntikan akan mencegah penyuntikan oksitosin ke pembuluh darah. Catatan: Jika oksitosin tidak tersedia, minta ibu untuk melakukan stimulasi puting susu atau menganjurkan ibu untuk menyusukan dengan segera. ini akan menyebabkan pelepasan oksitosin secara alamiah. Penegangan tali pusat terkendali

2. 5. ke arah dorso-kranial) dengan tangan yang lain. Ikuti langkah-langkah tersebut pada setiap kontraksi hingga terasa plasenta terlepas dari dinding uterus. Berdiri di samping ibu. jarigan teruskan penegangan tali pusat. Pada saat plasenta terlihat pada introitus vagina. Pertahankan kesabaran pada saat melahirkan plasenta. 2. 4. Selaput ketuban mudah robek. Gunakan tangan ini untuk meraba kontraksi uterus dan menahan uterus pada saat melakukan penegangan pada tali pusat. Pada saat kontraksi mulai (uterus menjadi bulat atau tali pusat memanjarig) tegangkan kembali tali pusat ke arah bawah (dengan hati-hati) bersamaan dengan itu. Pegang klem dan tali pusat dengan lembut dan tunggu sampai kontraksi berikutnya. Lakukan penarikan secara lembut dan perlahan-lahan untuk melahirkan selaput ketuban. 1. teruskan kelahiran plasenta dengan menggunakan kedua tangan. 1. anjurkan ibu untuk meneran sehingga plasenta akan terdorong ke introitus vagina. Setelah terjadi kontraksi yang kuat. Pada saat kontraksi berikutnya terjadi. Jika perlu pindahkan klem lebih dekat ke perineum pada saat tali pusat memanjarig. 2. Tetap tegangkan tali pusat ke arah bawah mengikuti arah jalan lahir. tunggu hingga ada kontraksi yang kuat (sekitar dua atau tiga menit). Alasan: Segera melepaskan plasenta yang telah terpisah dari dinding uterus dapat mencegah kehilangan darah yang tidak perlu. 2. Pindahkan klem kedua yang telah dijepit sewaktu kala dua persalinan pada tali pusat sekitar 5-10 cm dan vulva.1. Jangan melakukan penegangan tali pusat tanpa diikuti dengan tekanan yang berlawanan arah pada bagian bawah uterus (di atas tulang pubis. Lakukan secara hati-hati untuk menghindari terjadinya inversio uteri (Gambar 5-1). ulangi penegangan tali pusat terkendali dan lakukan tekanan berlawanan arah pada uterus secara serentak. kemudian tangan pada dinding abdomen menekan korpus uteri ke bawah dan atas (dorso-kranial) korpus. Letakkan tangan yang lain pada abdomen ibu (alas dengan kain) tepat di atas tulang pubis. Setelah plasenta terlepas. Jika plasenta tidak turun setelah 30-40 detik dimulainya penegangan tali pusat dan tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan lepasnya plasenta. lakukan penekanan korpus uteri ke arah bawah dan kranial hingga plasenta terlepas dari tempat implantasinya. tegangkan tali pusat. . pegang plasenta dengan kedua tangan rata dan dengan lembut putar plasenta hingga selaput terpilin. Alasan: Melahirkan plasenta dan selaputnya dengan hati-hati akan membantu mencegah agar selaput tidak robek. 3. Bila plasenta belum lepas. 1. Alasan: Memegang tali pusat lebih dekat ke vulva akan mencegah avulsi.

Jika uterus masih belum berkontraksi.10. Ulangi penegangan tali pusat seperti tercantum di atas. Rangsangan taktil (pemijatan) fundus uteri Segera setelah kelahiran plasenta. Periksa uterus setelah satu hingga dua menit untuk memastikan bahwa uterus berkontraksi dengan baik. Jelaskan tindakan ini kepada ibu. Jika plasenta tetap tidak lahir. 4. gunakan teknik aseptik untuk memasukkan kateter Nelaton disinfeksi tingkat tinggi atau steril untuk mengosongkan kandung kemih. Pada menit ke 30 coba lagi melahirkan plasenta dengan melakukan penegangan tali pusat untuk terakhir kalinya. Nasehati keluarga bahwa rujukan mungkin diperlukan jika plasenta belum lahir setelah waktu 30 menit terlampaui. Periksa kandung kemih. 2. 1. 4. Evaluasi selaput untuk memastikan kelengkapannya. Jika terjadi selaput robekan pada selaput ketuban saat melahirkan plasenta. 2. ulangi rangsangan taktil (pemijatan) fundus uteri. lakukan rangsangan taktil (pemijatan) fundus uteri: 1. 3. rujuk segera. Letakkan telapak tangan pada fundus uteri. Periksa plasenta bagian fetal (yang menghadap ke jarlin) untuk memastikan tidak ada kemungkinan loba ekstra (suksenturiata). Gunakan jari-jari tangan anda atau klem atau cunam DTT atau steril untuk keluarkan selaput ketuban yang dapat dicapai oleh jari-jari tangan tersebut. berikan 10 unit oksitosin IM dosis kedua. Ingat. Periksa sisi maternal plasenta (yang menempel pada dinding uterus) untuk memastikan bahwa semuanya lengkap dan utuh (tidak ada bagian yang hilang). perlahan dan berlaku tenang. gerakkan tangan secara memutar pada fundus uteri sehingga uterus berkontraksi (lihat Gambar 5-2). jika ternyata penuh. 2. . jarigan mencoha untuk melepaskan plasenta dengan cara lain dan segera lakukan rujukan. katakan bahwa ibu mungkin merasa kurang nyaman. dengan hati-hati periksa vagina dan serviks dengan seksama. Catatan: Jika plasenta belum lahir dalam waktu 15 menit. Jika uterus tidak berkontraksi dalam waktu 15 detik. 3. lakukan penatalaksanaan atonia uteri (lihat di bawah). Ajarkan ibu dan keluarganya cara melakukan rangsangan taktil (pemijatan) uterus sehingga segera dapat diketahui jika uterus tidak berkontraksi dengan baik. Anjurkan ibu untuk menarik napas dalam. Periksa kontraksi uterus setiap 15 menit selama satu jam pertama pascapersalinan dan setiap 30 menit selama satu jam kedua pascapersalinan. Dengan lembut tapi mantap. apabila plasenta tidak lahir setelah 30 menit dan tidak ada perdarahan. Pasangkan bagian-bagian plasenta yang robek atau terpisah untuk memastikan tidak ada bagian yang hilang. Periksa plasenta dan selaputnya untuk mernastikan keduanya lcngkap dan utuh: 1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful