LAPORAN Kajian Kebijakan Penanggulangan (Wabah) Penyakit Menular

(Studi Kasus DBD)

Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat

Deputi Bidang SDM dan Kebudayaan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional 2006

LAPORAN AKHIR

KAJIAN KEBIJAKAN PENANGGULANGAN (WABAH) PENYAKIT MENULAR
Studi Kasus DBD

DIREKTORAT KESEHATAN DAN GIZI MASYARAKAT BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL TAHUN 2006

Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular

LAPORAN AKHIR

Ringkasan Eksekutif
Kajian ini dilatarbelakangi adanya kecenderungan terus meningkatnya wabah penyakit menular di berbagai daerah di Indonesia. Selain penyakit menular yang telah lama ada, penyakit menular baru (new emerging diseases) juga menunjukkan peningkatan. Kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular telah diatur dalam peraturan perundangan. Namun demikian implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai permasalahan. Beberapa permasalahan yang teridentifikasi antara lain berkaitan dengan (1) pelaksanaan surveilans, (2) upaya penanggulangan, serta (3) adanya desentralisasi kewenangan pengelolaan. Berdasarkan hasil penelitian WHO Tahun 2003 dilaporkan bahwa pelaksanaan kegiatan surveilans masih menghadapi kendala antara lain berkaitan dengan (1) kebijakan sistem surveilans yang belum dipahami sampai ke petugas teknis di lapangan, (2) terbatasnya tenaga pelaksana surveilans, (3) adanya ketidaksesuaian kompetensi, (4) terbatasnya dana pelaksanaan surveilans di tingkat operasional, dan (5) belum optimalnya penggunaan sarana kesehatan dalam mendukung pelaksanaan surveilans penyakit seperti pemanfaatan laboratorium dan peralatan. Berdasarkan latar belakang tersebut, tujuan utama kajian adalah menyusun rumusan kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular secara terpadu berdasarkan analisis faktor-faktor yang berpengaruh melalui (1) identifikasi kinerja surveilans, (2) identifikasi kinerja penanggulangan wabah penyakit , serta (3) identifikasi peran dan tanggungjawab Pemerintah Daerah. Metode kajian dilakukan melalui analisis diskriptif (kualitatif) berdasarkan data dan informasi yang didapat di lapangan, baik berbentuk data sekunder maupun hasil wawancana mendalam serta melakukan pembahasan dengan nara sumber dalam bentuk focus group discussion (FGD) dan workshop. Landasan pemikiran kajian didasarkan pada asumsi adanya hubungan timbal balik antara rendahnya kinerja surveilans dan kinerja penanggulangan dengan implementasi kebijakan wabah penyakit menular khususnya dalam kasus kebijakan penanganan penyakit DBD. Kinerja surveilans diukur dengan melihat (1) keberadaan peta rawan, (2) pelaksanaan diseminasi informasi DBD, dan (3) Pelaporan serta dengan melihat faktor-faktor berpengaruh mencakup (1) tenaga, (2) data, (3) sarana, (4) dana, dan (5) SOP. Kinerja Penanggulangan diukur dengan melihat (1) Frekuensi KLB, (2) Jumlah Kasus, (3) Jumlah Kematian, (4) Luas Daerah Terserang serta dengan melihat faktor-faktor berpengaruh mencakup (1) tenaga, (2) data, (3) sarana, (4) dana, dan (5) SOP. Implementasi kebijakan wabah penyakit menular juga dipengaruhi kebijakan desentralisasi kewenangan pengelolaan pembangunan. Kajian menyimpulkan bahwa kendala utama yang dihadapi dalam implementasi kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular dalam kasus DBD adalah (1) koordinasi antar instansi dan antar unit yang bertanggung jawab dalam penanganan DBD masih belum optimal, khususnya dalam pelaksanaan surveilans dan penanggulangan DBD, (2) koordinasi antara pusat dan daerah belum dilandasi suatu kebijakan operasional yang jelas tentang kewenangan dan tanggung jawab masingmasing, (3) sistem pengelolaan program penanganan penyakit menular masih didominasi pusat, (4) tingginya beban puskesmas sebagai unit operasional utama di lapangan dalam implementasi kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular. Indikator Kinerja Surveilans dan Penanggulangan mencakup (1) Peta rawan, hampir semua dinkes propinsi maupun dinkes kab/kota memiliki peta rawan, sedangkan di Puskesmas sebagai unit pelayanan dasar dan rumah sakit sebagai unit pelayanan rujukan, peta rawan tidak selalu tersedia, (2) proses diseminasi informasi dilakukan
Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular ii

Hampir semua unit pelayanan kesehatan di daerah memiliki pedoman dan peraturan dalam rangka pelaksanaan surveilans dan penanggulangan DBD. beban kerja yang tinggi merupakan masalah yang hampir ditemukan disemua tingkatan. pengetahuan tim pada umumnya dipenuhi dari pengalaman lapangan dalam penanganan P2M. mengadakan pertemuan/ lokakarya. Ketepatan dan kelengkapan laporan dari kabupaten masih rendah. Dana. hampir semuanya menggunakan dana APBD. belum dilakukan. Sarana. Operasi lapangan untuk suatu kasus (DBD) serentak dilakukan. Baik APBD propinsi maupun APBD kabupaten/kota atau APBD sharing. (3) dana. Data. Namun demikian kebanyakan SOP tersebut belum operasional. Dana yang digunakan untuk penanggulangan KLB berasal dari APBN (Dekon) dan APBD. baik di tingkat propinsi maupun kabupaten (baru bersifat pengumpulan data). Sarana utama yang dibutuhkan dalam penanganan kasus DBD adalah adanya mesin fogging serta insektisida. (2) ada masa ketiadaan anggaran. Untuk tingkat kabupaten/kota. dan (6) data. Data yang ada belum dilakukan analisis. namun ketepatannya masih 60%. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kinerja surveilans dan penanggulangan terkait dengan (1) tenaga. Dana operasional selain bersumber dari dana operasional umum juga memanfaatkan dana JPK-MM. Dana menjadi persoalan dalam implementasi kebijakan penanggulangan penyakit menular. Tenaga. Upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan Propinsi maupun kabupaten/kota dalam rangka peningkatan kemampuan adalah pembinaan teknis. Pengadaan insektisida dan mesin fogging di supply oleh Dinkes Propinsi karena kab/kota belum siap. Pengetahuan. Bidang pendidikan yang ada adalah perawat. Beberapa dinkes kabupaten/kota inisiatif melakukan modifikasi terhadap SOP yang dibuat Depkes. kualifikasi pendidikan yang belum sesuai. (4) SOP. khususnya ketika kasus terjadi. tetapi tidak menjadi kendala dalam berjalannya sistem. Selain pelatihan formal. dan epidemiologi. Kualitas dan kualifikasi masih belum terpenuhi sesuai dengan bidang tugas dan kompetensinya. Pemahaman tentang surveilans dan penanggulangan KLB masih belum sama. Struktur organisasi Dinkes propinsi maupun Kab/Kota tidak menggambarkan pembedaan kedua tugas tersebut. dan (3) proporsi anggaran untuk preventif dan kuratif yang tidak seimbang. Hampir semua level baik di propinsi hingga kabupaten/kota termasuk puskesmas dan rumah sakit mengalami masalah ketenagaan dalam kegiatan surveilans dan penanggulangan. Propinsi belum mempunyai sistem peringatan ke kabupaten bila terjadi keterlambatan atau ketidak lengkapan data. dana untuk pelaksanaan penanggulangan wabah penyakit menular dirasakan pihak daerah mencukupi.LAPORAN AKHIR melalui penerbitan buletin kajian epidemiologi yang diterbitkan oleh dinkes propinsi dan dinkes kabupaten/kota. Pada tingkat propinsi. (3) sistem pelaporan ditunjukkan dengan kelengkapan laporan mencapai 90-100%. perpindahan yang begitu cepat. rakor dan melakukan berbagai pelatihan di bidang surveilans maupun penangulangan penyakit. Di rumah sakit tidak terdapat dana surveilans. Kurangnya jumlah SDM. Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular iii . sedangkan data kematian cenderung meningkat. Case Fatality Rate (CFR) DBD fluktuatif. Sarjana (SKM) dan MKes. khusus untuk KLB tersedia block grant dari pusat. Walaupun kondisi sarana dan prasarana untuk kegiatan penanggulangan penyakit menular tidak selalu memadai. SOP. (4) Jumlah Kasus periode 2003-2005 cenderung stagnan untuk propinsi lokasi kajian (kecuali Jatim meningkat). Puskesmas tidak memiliki alokasi dana khusus untuk kegiatan surveilans. yang ada hanya pencatatan pelaporan yang dilakukan di bagian rekam medis. (2) pengetahuan. Validitas data yang dilaporkan tidak pernah dipermasalahkan. (5) sarana. Permasalahan dana terutama berkaitan dengan (1) keterlamabatan turunnya DIPA. Sehingga untuk SKDKLB data yang seharusnya dapat dilihat/diprediksi diawal untuk kewaspadaan terjadinya KLB. Tidak ada batas yang tegas yang membedakan antara Surveilans dan Penanggulangan dalam praktek operasional di lapangan. Pendidikan rata-rata perawat.

akibatnya kegiatan tindak lanjut yang seharusnya dilakukan tidak berjalan. Banyak kendala. Permasalahan operasional penanganan DBD juga dipengaruhi oleh sistem kepemerintahan yang belum sepenuhnya dapat mengakomodasi sistem perencanaan dan sistem keuangan yang baru. malalui (i) Peningkatan dukungan dana yang memadai dari APBN maupun APBD. (ii) Penyempurnaan SOP sesuai “local specific”. (7) Melakukan bimbingan. dan evaluasi kegiatan pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. advokasi. sebagai suatu kegiatan rutin. yang paling menonjol adalah penanggulangan (PE). Keperdulian pemerintah daerah masih belum terlihat. (8) Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. (2) Aktivitas surveilans dilakukan oleh Tim Lapangan. kecuali kalau ada kasus KLB yang menyebabkan sarana TT tidak mencukupi. ketiadaan sarana. analisis. (6) Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan faktor risiko. Komitmen daerah dalam penyediaan anggaran (APBD) untuk penanganan wabah penyakit menular belum optimal. (iv) Optimalisasi penggunaan sarana dan prasarana dengan melibatkan peran aktif masyarakat. (11) Diperlukan model manajemen pemberantasan penyakit dan penyehatan lingkungan secara terintegrasi yang berbasis wilayah kabupaten/kota dalam perspektif Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular iv . Pengobatan dapat dilakukan dengan baik kecuali kalau ada keterlambatan datang ke sarana pengobatan dan akibat terlambat merujuk. (5) Meningkatkan peran dan tanggung jawab Pemerintah Daerah melalui intensifikasi kegiatan sosialisasi. (10) Diperlukan dukungan dalam bentuk peraturan perundangan dalam meningkatkan komitmen para pihak di daerah dalam rangkan pencegahan dan penanggulangan DBD. namun belum maksimal melaksanakan surveilans karena keterbatasan tenaga. dekonsentrasi maupun tugas perbantuan). Bupati/Walikota . hal ini tampak dari keaktifan instansi kesehatan dalam penyebaran informasi kesehatan. Gubernur.LAPORAN AKHIR Kondisi umum Pelaksanaan Surveilans dan Penanggulangan DBD: (1) Ujung tombak pelaksanaan surveilans ada di Puskesmas. sarana dan dana. surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah. validasi dan pengembangan “respond system”. serta pelaporan (evaluasi). (4) Memperkuat kapasitas dan kapabilitas Puskesmas sebagai unit terdepan dalam operasionalisasi surveilans dan penanggulangan wabah penyakit menular. Penyelidikan Epidemiologi (PE) yang dilakukan Puskesmas belum maksimal. (iii) Peningkatan kualitas sistem pelaporan melalui ketepatan data. namun belum maksimal. bukan sebaliknya pemerintah daerah yang aktif meminta informasi. Penanggulangan DBD di Rumah sakit relatif tidak masalah. keterbatasan dana. jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis peningkatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit. Pengobatan dan isolasi penderita dirujuk ke rumah sakit. (3) Mengurangi secara bertahap dominasi peran pengelolaan program oleh pusat melalui pendelegasian kewenangan ke daerah serta peningkatan profesionalisme pengelola program di daerah. pemantauan. Hal ini berkaitan dengan masih cukup besarnya alokasi dana yang berasal dari APBN (dalam bentuk DAU. promosi dan koordinasi. karena tidak seimbang antar area yang harus dipantau dengan kemampuan sumberdaya yang tersedia. dan sistem kewaspadaan dini (early warning system). Namun pada saat kasus. baik pada internal sektor maupun lintas sektor. antara lain keterbatasan tenaga. (2) Percepatan penyusunan kebijakan operasional dalam koordinasi pelaksanaan program antar pusat daerah yang mencakup aspek perencnaaan. (9) Membangun dan mengembangkan kemitraan. Rekomendasi kajian yang diusulkan mencakup (1) Peningkatan koordinasi antar instansi dan antar unit dalam berbagai tingkatan dalam penanganan wabah penyakit menular yang dilakukan oleh Menko Kesra. (3) Surveilans mulai diperlukan ketika ada kasus. Koordinasi penanganan kasus masih bersifat sporadis. belum tertata dalam sebuah sistem yang aktif dan terstruktur. tidak setiap kasus DBD ditindaklnajuti dengan PE karena DBD dianggap kasus rutin. PE tidak dilakukan maksimal sesuai prosedur yang ada. pelaksanaan (monitoring).

Serta didukung jaringan dan kerjasama erat baik antar wilayah dan adimistrasi pemerintah maupun diantara para pelaku pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan itu sendiri dalam satu wilayah. (5) SOP. dan rehabilitatif. perlu di kelola secara profesional dan berkesinambungan dengan memanfaatkan teknologi yang tepat dan mudah diaplikasikan serta dimungkinkan adanya Pusat Informasi Penanaganan DBD (DBD Center). perlu terus dikembangkan pola pendanaan sistem jaminan kesehatan seperti askeskin sehingga kepastian dana sampai kepada masyarakat terjamin. (4) Ketenagaan. preventif. Motivasi dankomitmen selain muncul atas kesadaran memerlukan dukungan eksternal dalam bentuk insentif. Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular v . (3) Data dan Informasi. diperlukan revitalisasi peran kelembagaan khususnya kelembagaan Puskesmas. Puskesmas perlu diperkuat dengan kapasitas manajemen pelayanan untuk kegiatan yang bersifat promotif. selain kuratif. mendorong terbangunnya motivasi dan komitmen para pelaksana pembangunan kesehatan di lapangan sebagai ujung tombak pembangunan kesehatan. promotif dan rehabilitatif) menyertai peran dimaksud secara memadai. Dukungan pendanaan serta tenaga dan sarana dalam rangka pelaksanaan operasional pencegahan dan penanggulangan (preventif. Implikasi Kebijakan dan Rencana Tindak Lanjut mencakup aspek-aspek: (1) Kelembagaan. (2) Pendanaan. Sebagai perangkat utama Kesehatan.LAPORAN AKHIR komprehensif. Keberadaan data dan informasi yang akurat dan sinambung menjadi salah satu indikator kinerja pembangunan kesehatan. sekaligus menjamin setiap masyarakat terlayani untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. dibuat sesederhana mungkin agar memudahkan pelaksanaan operasional tenaga lapangan dan distribusikan.

serta responden di dinas kesehatan propinsi dan dinas kesehatan kabupaten/kota. Ucapan terima kasih pada seluruh pihak yang telah memberikan kontribusi pada pelaksanaan kajian ini mulai dari tim perumus rekomendasi kebijakan. DR. Desember 2006 Tim Perumus Rekomendasi Kebijakan 1.LAPORAN AKHIR KATA PENGANTAR Dengan memanjat puji dan syukur pada Allah SWT. bappeda serta masyarakat. Yosi Diani Tresna. Jakarta. Namun demikian implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai permasalahan. SH. akhirnya Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular dapat diselesaikan tepat pada waktunya. STP. SKM. Inti Wikanestri. khususnya kasus Demam Berdarah dengue (DBD). Kajian ini dilatarbelakangi adanya kecenderungan terus meningkatnya wabah penyakit menular di berbagai daerah di Indonesia. Nurlaili Aprilianti Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular vi . Hadiat. Ir. DR. ME 6. Tiada gading yang tak retak. Sularsono. Selain penyakit menular yang telah lama ada. Pungkas Bahjuri Ali. penyakit menular baru (new emerging diseases) juga menunjukkan peningkatan. para nara sumber. anggota FGD. Kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular telah diatur dalam peraturan perundangan. Kasus penyakit menular dalam kajian ini adalah Demam Berdarah Dengue (DBD). Dinas Teknis terkait. Pelaksanaan kajian telah melibatkan Deputi bidang SDM dan Kebudayaan Bappenas. tidak saja dalam bentuk temuan tetapi juga pengalaman proses pelaksanaan survey lapangan yang dilakukan sampai ke tingkat Puskesmas dan pelosok masyarakat untuk melakukan wawancara dan diskusi. Banyak hal telah didapat dari pelaksanaan kajian ini. Arum Atmawikarta. Dadang Rizki Ratman. Perguruan Tinggi. dibuat implikasi kebijakan yang harus menjadi langkah tindak lanjut. masyarakat serta FGD dari Bappenas. Pemerintah Daerah. SP. MPH 2. SKM 8. Hasil kajian ini jelas belum menggambarkan kondisi utuh pelaksanaan kabijakan sehingga langkah kebijakan yang diambil pun tidak luput dari bias dari peneliti dan pengkaji. khususnya Subdit Arbovirosis. MA 3. Mudah-mudahan laporan kajian ini memliki kontribusi substansial bagi penataan kebijakan di bidang kesehatan maupun menjadi salah satu referensi bagi penelitian kebijakan selanjutnya maupun untuk kepentingan bersifat akademis. MPA 4. MS 7. Hasil temuan dan kesimpulan dirumuskan menjadi suatu rekomendasi kebijakan yang diharapkan dapat memperbaiki kebijakan dalam penanggulangan wabah penyakit menular. Selanjutnya berdasarkan rekomendasi yang dirumuskan. baik di di tingkat kebijakan makro (RKP) maupun dalam bentuk kebijakan teknis yang perlu di tindak lanjuti oleh departemen/instansi teknis maupun instansi terkait lainnya. Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat serta seluruh staf di lingkungan Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas serta melibatkan nara sumber dari Departemen Kesehatan. Unuk itu saran dan masukan guna penyempurnaan hasil kajian ini secara terbuka dinantikan. khususnya dalam penanganan kasus demam berdarah. MPM 5.

1 Implementasi Kebijakan Penanggulangan DBD – 33 4.7 2.29 Jenis dan Sumber Data – 30 Responden Kajian – 31 Lokasi Kajian – 32 Teknik Analisis – 32 BAB 4 : HASIL DAN PEMBAHASAN .3 1.2 2.LAPORAN AKHIR DAFTAR ISI Ringkasan Eksekutif .1 3.33 4.1.6 BAB 2 : LANDASAN TEORI .Peran Masyarakat dalam Penanggulangan DBD .2 Faktor-faktor Berpengaruh terhadap Kinerja Surveilans dan Kinerja Penangulangan KLB – 46 (1) Tenaga .4 2.25 BAB 3 : METODOLOGI .4 1.1 Indikator Kinerja Surveilans dan Penanggulangan KLB – 42 4.2.2 Kebijakan Penanggulangan Penyakit DBD – 35 4.8 2.1 Perumusan Masalah .1 2.9 Penyakit Menular di Indonesia – 8 Surveilans Epidemiologi – 8 Kebijakan Sistem Surveilans – 10 Indikator Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan – 11 Penanggulangan Wabah Penyakit Menular – 14 Epidemiologi Global Penyakit – 16 Strategi Pengendalian Penyakit – 18 Kejadian Luar Biasa – 18 Penyakit Demam Berdarah – 20 .1 1.3 3.2 Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular .6 Ruang Lingkup Kajian .6 Latar Belakang .6 Kerangka Pemikiran – 27 Disain Kajian .5 3.3 2.8 2.46 (2) Dana – 51 (3) Standar Operasi dan Prosedur – 53 (4) Data – 56 (5) Sarana – 57 vii 4.vi BAB 1 : PENDAHULUAN .2.3 Kendala Penanggulangan DBD – 41 Kinerja Surveilans dan Penanggulangan DBD – 41 4.6 2.Kendala Pencegahan DBD – 21 .1.27 3.4 3.2 3.5 2.6 Sistematika Penulisan .Tatalaksana Penanggulangan DBD – 23 .5 1.1 1.2 1.1 Incidence Rate (IR) dan Case Fatalities Rata (CFR) – 33 4.1.i Kata Pengantar .5 Tujuan dan Sasaran – 5 Keluaran Kajian .

65 5.68 DAFTAR PUSTAKA .70 DAFTAR LAMPIRAN LAMPIRAN 1: Instrumen Kajian – 72 LAMPIRAN 2: Pelaksanaan Kegiatan dan Pembahasan – 76 LAMPIRAN 3 : Struktur Organisasi/Tim Pelaksana LAMPIRAN 4: Notulen Pembahsan Dengan Tim Pakar – 81 LAMPIRAN 5 : Pokok-Pokok Pikiran Hasil Ekspose dengan Tim Ahli – 83 LAMPIRAN 6 : Laporan Pelaksanaan Survey – 86 Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular viii .LAPORAN AKHIR 4.2 Peran Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan DBD – 61 4.1 Kewenangan Daerah dan Stndar Pelayanan Minumum – 59 4.1 Kesimpulan – 65 5.3.2 Rekomendasi Kebijakan – 68 5.3 Peran dan Tanngung Jawab Pememrintah Daerah dalam Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit DBD – 59 4.3.3 Implikasi Kebijakan .3 Koordinasi Antar Sektor – 63 BAB 5 : KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN .3.

2 Tabel 2.15 : Sepuluh Penyakit Utama Pada Pasien Rawat Inap Tahun 2003 – 2 : Target dan Capaian Pemberantasan Penyakit DBD .5 Tabel 4. Kab/Kota.1 Tabel 3. Rs dan Puseksmas – 42 : Distribusi Indikator Diseminasi Informasi Surveilans di Dinkes Propinsi.12 Tabel 4.11 Tabel 4.14 Tabel 4. RS dan Puskesmas – 44 : Distribusi Jenis Tenaga di Dinkes Propinsi dan Kab/Kota – 47 : Distribusi Jenis Tenaga di Rumah Sakit dan Puskesmas – 48 : Persepsi Responden Tentang Surveilans DBD – 49 : Persepsi Responden Tentang Penanggulangan DBD – 50 : Distribusi Sumber Dana di Dinkes Propinsi dan Kab/Kota – 51 : Distribusi Sumber Dana di Rumah Sakit dan Puskesmas – 52 : Distribusi Ketersediaan SOP Surveilans dan Dinkes Propinsi. RS dan Puskesmas – 57 : Distribusi Ketersediaan Sarana Surveilans di Dinkes Propinsi.7 Tabel 4.3 Tabel 4. RS dan Puskesmas – 55 : Distribusi Ketersediaan Data Surveilans di Dinkes Propinsi.4 Tabel 4. Kab/Kota . Dikes Kab/Kota. RS dan Puskesmas – 56 : Distribusi Ketersediaan Data Penanggulangan KLB Propinsi. Kab/Kota . RS dan Puskesmas – 58 : Daftar KW dan SPM Bidang Kesehatan – 60 Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular ix .4 : Indikator Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan – 12 : Responden Kajian – 31 : Distribusi Indikator Kinerja Surveilans di Dinkes Propinsi.1 Tabel 1.2 Tabel 4. RS dan Puskesmas – 58 : Distribusi Ketersediaan Sarana Penanggulangan di Dinkes Propinsi.10 Tabel 4. Kab/Kota. RS dan Puskesmas – 54 : Distribusi Ketersediaan SOP Penanggulangan KLB di Propinsi.1 Tabel 4.8 Tabel 4.LAPORAN AKHIR DAFTAR TABEL Tabel 1.1 Tabel 4.6 Tabel 4.9 Tabel 4. Dnkes Kab/Kota. Kab/kota.13 Tabel 4. Dinkes Kab/Kota.

1 Gambar 3. Tahuan 2005-20006 – 34 : Jumlah Kasus DBD di Indonesia Tahun 2005-2006 – 35 : Data Kasus DBD di Lokasi Kajian – 44 : Data Kematian DBD di Lokasi Kajian – 45 : Case Fatality Rate (CFR) DBD di Lokasi Kajian – 46 Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular x .3 Gambar 4.3 Gambar 3.2 Gambar 3.1 Gambar 2.LAPORAN AKHIR DAFTAR GAMBAR Gambar 2.2 Gambar 2.4 Gambar 4.7 : Alusr Distribusi Data Surveilans Terpadu Penyakit – 10 : Skema Program Penanggulangan KLB – 15 : Bagan Penanggulangan Fokus (Penanggulangan Penderita DBD di Lapangan) – 24 : Kerangka Pikir Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular – 27 :Kerangka Konsep Kinerja Surveilans – 28 : kerangka Konsep Kinerja Penanggulangan – 28 : Tahapan Pelaksanan Kajian – 32 : IR & CFR DBD Tahun 1968-2004 – 33 : Perkembangan Kasus DBD Nasional Per bulan – 34 : Kasus DBD Per Bulan di Indonesia.5 Gambar 4.1 Gambar 4.6 Gambar 4.3 Gambar 3.4 Gambar 4.2 Gambar 4.

LAPORAN AKHIR DAFTAR SINGKATAN & DEFINISI ISTILAH 3M : Menguras. Mengubur ABJ : Angka Bebas Jentik APBN : Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara APBD : Anggaran Penerimaan dan Belanja Daerah Askeskin : Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin Bappeda : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Bappenas : Badan Perencanaan Pembangunan Nasional COMBI : Communication for Behavioral Impact CFR : Case Fatality Rate DAU : Dana Alokasi Umum DBD : Demam Berdarah Dengue Dekon : Dekonsentrasi DOP : Dana Operasional Puskesmas DPRD : Dewan Perwakilan Daerah Epidemiologi : Ilmu yang mempeljari penyebaran penyakit dan faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit pada manusia Epidemiologis: Orang yang ahli dalam ilmu epidemiologi FGD : Focused Group Discussion Gakin : Keluarga Miskin HIV/AIDS : Human Immuno deficiency Virus/Acquired Immuno Deficiency Syndrome IPTEK : Ilmu Pengetahuan dan Teknologi IR : Incidence Rate ISPA : Infeksi Saluran Pernafasan Akut JPK-MM : Jaminan Pelayanan Kesehatan Masyarakat miskin KIE : Komunikasi. Pemeriksaan Jentik Berkala PKK : Pembinaan Kesejahteraan Kelaurga PKPS-BBM : Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak Pokjanal : Kelompok Kerja Operasional Posyandu : Pos Pelayanan Terpadu PP & PL : Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan PSN : Pemberantasan Sarang Nyamuk Puskesmas : Pusat Kesehatan Masyarakat RSUD : Rumah Sakit Umum Daerah SARS : Severe Acute Respiratory Syndrome SKD-KLB : Sistem Kesiapan Dini Kejadian Luar Biasa SOP : Standar Operasional Prosedur SDM : Sumber Daya Manusia SKM : Sarjana Kesehatan Masyarakat Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular xi . Menutup. Informasi dan Edukasi KLB : Kejadian Luar Biasa LSM : Lembaga Swadaya Masyarakat MDGs : Millennium Development Goals P2B2 : Penanggulangan Penyakit Bersumber Binatang P2M : Pemberantasan Penyakit Menular PE : Penyelidikan Epidemiologi PHBS : Pola Hidup Bersih dan Sehat PI : Perencanaan dan Informasi PJB .

mengumpulkan. yang melebihi keadaan biasanya : World Health Organization : Pelayanan Medik Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular xii .LAPORAN AKHIR SPIRS SP2PT SST STP Surveilans TBC TPA UGD UKS UPT Wabah WHO Yanmedik : Sistem Pelaporan Rumah Sakit : Sistem Pencatatan Pelaporan Terpadu Puskesmas : Sistem Surveilans Terpadu : : Rangkaian kegiatan secara teratur dan terus menerus. emnganalisis. dan menginterpretasi suatu fenomena peristiwa kesehatan pada manusia/masyarakat tertentu yang hasilnya dipakai untuk melakukan tindakan terhadap peristiwa kesehatan tersebut : Tuberculosis : Tempat Penampungan Air : Unit Gawat Darurat : Usaha Kesehatan Sekolah : Unit Pelaksanan Teknis : Suatu peningkatan kejadian kesakitan dan atau kematian suatu penyakit di suatu tempat tertentu. secara aktif maupun pasif dalam mengamati.

Di samping kemajuan yang telah dicapai di atas. telah menurun dari 34.4 persen (1999) menjadi 25.1 Latar Belakang a. antar kawasan. Masalah kesehatan dapat disebabkan oleh berbagai sebab. (6) meningkatkan akses terhadap obat esensial. dan antar perkotaan-perdesaan. Selain itu. di kawasan timur Indonesia. oleh karena itu secara operasional masalah-masalah kesehatan tidak dapat diselesaikan oleh Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular . (4) menekan penyebaran penyakit HIV/AIDS. Kondisi Umum Pembangunan Kesehatan Pembangunan kesehatan di Indonesia ditujukan untuk meningkatkan kesadaran. Malaysia. Prevalensi gizi kurang (underweight) pada anak balita.BAB 1 PENDAHULUAN 1. sebagai “benchmarks” untuk mengukur perkembangan dalam pencapaian Deklarasi Millenium 2000. (5) menekan penyebaran penyakit malaria dan TBC. Angka kematian bayi menurun dari 46 (1997) menjadi 35 per 1.000 kelahiran hidup (2002–2003) dan angka kematian ibu melahirkan menurun dari 334 (1997) menjadi 307 per 100. indikator kesehatan dan gizi yang telah dicapai selama ini masih jauh dari sasaran yang telah ditargetkan dalam Millennium Development Goals (MDGs). memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata. baik ditinjau dari tingkat sosial ekonomi. MDGs merupakan suatu kesepakatan global. dan Philipina. yang berkaitan dengan pembangunan kesehatan di Indonesia antara lain adalah: (1) mengurangi separuh penduduk yang mengalami kelaparan. serta pada penduduk dengan tingkat ekonomi dan pendidikan rendah. kemauan. dan (7) mengurangi separuh proporsi penduduk yang tidak memiliki akses terhadap penyediaan air bersih. AKB dan AKI lebih tinggi di daerah perdesaan. status kesehatan masyarakat Indonesia masih tertinggal.8 tahun (1999) menjadi 66.2 tahun (2003). di masa datang pembangunan kesehatan menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan yang cukup berat.8 persen (2002). kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. (3) mengurangi tiga per empat angka kematian ibu. Pembangunan kesehatan selama ini secara umum dapat dilihat dari status kesehatan dan gizi masyarakat yang telah menunjukkan perbaikan seperti terlihat dari angka kematian bayi. yang ditandai dengan penduduknya yang hidup dengan perilaku dan dalam lingkungan sehat. kematian ibu melahirkan dan prevalensi gizi kurang. Umur harapan hidup meningkat dari 65. Disparitas status kesehatan masih cukup tinggi. (2) mengurangi dua per tiga angka kematian bayi dan angka kematian balita.000 kelahiran hidup (2002-2003). Beberapa target MDG yang ingin dicapai pada akhir tahun 2015. Jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN seperti Thailand.

Penyakit menular tidak mengenal batas-batas daerah administratif. disamping mulai meningkatnya masalah penyakit tidak menular. penyakit saluran pencernaan dan penyakit lainnya.LAPORAN AKHIR sektor kesehatan sendiri. b. Satu dari 200 kasus infeksi virus akan menyebabkan kelumpuhan.7 5 Cedera intrakanial 2. Lampung dan Sumatera Selatan. Diperlukan tatalaksana terintegrasi dan komprehensif dengan kerjasama yang harmonis antar sektor dan antar program. Berbagai emerging diseases misalnya polio dan flu burung dapat terjadi antara lain karena tingginya mobilitas penduduk antar negara. Beberapa penyakit menular yang menjadi masalah utama di Indonesia adalah diare. Tidak ada obat untuk penyakit polio.1 Sepuluh Penyakit Utama Pada Pasien Rawat Inap Tahun 2003 No Pasien Rawat inap % 1 Diare dan gastroenteritis infeksi tertentu 8. misalnya antar propinsi. 5-10 % pasien meninggal akibat kelumpuhan pada otot pernafasan. tifus abdominalis. Penyakit Menular Penyakit menular masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat Indonesia.8 10 Pneumonia 1.9 7 Demam yang sebabnya tidak tahu 1. hewan dan lain-lain antar Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 2 . YYT dan daerah badan multiple 1. Banten. Tabel 1. kabupaten/kota bahkan antar negara. Surveilans Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Jawa Tengah. Penyakit ini hanya bisa dicegah dengan imunisasi. Surveilans Epidemiologi Masalah Kesehatan.9 8 Diabetes Melietus 1. demam berdarah dengue. Polio merupakan penyakit menular yang sangat berbahaya disebabkan oleh virus yang menyerang sistem syaraf dan bisa menyebabkan kelumpuhan total.0 2 Demam berdarah dengue 3. sehingga pemberantasan penyakit menular memerlukan kerjasama antar daerah.9 4 Demam tifoid dan paratifoid 2. dan Surveilans Epidemiologi Kesehatan Matra. malaria.9 9 Cedera YDT lainnya.6 Salah satu penyakit menular yang akhir-akhir ini menonjol adalah munculnya kasus polio di beberapa wilayah seperti Provinsi Jawa Barat. Dengan demikian penularan penyakit antar negara (trans-nasional) ini dapat terjadi dengan mudah mengingat semakin mudahnya transportasi manusia. influenza.7 3 Penyakit kehamilan dan persalinan lainnya 2. Untuk itu perlu dikembangkan subsistem surveilans epidemiologi kesehatan yang terdiri dari Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular.0 6 Tuberkulosis paru 1.

dan Filipina (1 persen). HIV/AIDS. Walaupun demikian. Severe Acute Respiratory Syndrom (SARS) dan Flu Burung. yaitu UU No 4 Tahun 1984 tentang Penyakit Menular serta Peraturan Pemerintah No.3 persen). 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Penyakit Menular. sebenarnya angka kematian masih terlalu tinggi jika dibandingkan dengan Singapura (0. Penyakit DBD merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di wilayah tropis. Oleh karena itu perlu upaya ekstra agar penularan dapat dicegah dan ditangani sedini mungkin. Meskipun dibandingkan dengan KLB 1968 angka kematiannya jauh telah menurun. pada umumnya kajian menunjukkan bahwa pengendalian DBD perlu dilakukan secara komprehensif dari berbagai aspek baik medis maupun sosial. chikunguya. (5) ganti rugi dan penghargaan. infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Peraturan tersebut pada intinya mengatur (1) tata cara penetapan dan pencabutan penetapan daerah wabah .938 orang dengan angka kematian 1.3 persen. Dengan demikian telah terjadi transisi epidemiologi sehingga Indonesia menghadapi beban ganda pada waktu yang bersamaan (double burden). DBD masih sulit diberantas karena tidak tersedianya vaksin dan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 3 . Dalam KLB 2004 tercatat angka kejadian (incidence rate) 15 per 100. dan berulang kali menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) disertai kematian yang banyak. Penyakit yang ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti lingkungan domestik maupun iklim.000 penduduk pada tahun 2010. Sejak Januari sampai 17 Maret 2004. Vietnam (0. tetapi bahkan semakin mewabah. malaria. Berbagai penelitian mengenai faktor risiko terhadap kejadian DBD telah dilakukan oleh beberapa peneliti dengan memberikan hasil yang selaras maupun yang kontradiktif. Pola penyakit yang diderita oleh masyarakat sebagian besar adalah penyakit infeksi menular seperti tuberkulosis paru. kejadian luar biasa (KLB) DBD di Indonesia telah menyerang 39.9 persen). (4) pengelolaan bahan-bahan yang mengandung penyebab penyakit. padahal tujuan program pemberantasan DBD dalam Indonesia Sehat 2010 adalah menurunkan angka kejadian di bawah 5 per 100.3 persen). Thailand (0. serta diabetes mellitus dan kanker. Indonesia juga menghadapi emerging diseases seperti demam berdarah dengue (DBD). Salah satu penyakit menular yang merupakan masalah kesehatan masyarakat dan menimbulkan dampak sosial maupun ekonomi adalah penyakit demam berdarah dengue (DBD). Malaysia (0. (2) upaya penanggulangan. (6) pembiayaan penanggulangan wabah. DBD bukannya terkendali. dengan keterlibatan petugas kesehatan maupun pemberdayaan masyarakat. polio dan penyakit kulit. India (0. serta (7) pelaporan. Namun demikian. pada waktu yang bersamaan terjadi peningkatan penyakit tidak menular seperti penyakit jantung dan pembuluh darah. Meskipun sudah lebih dari 35 tahun berada di Indonesia.1 persen). Daerah endemis tersebar di sebagian besar wilayah Indonesia.LAPORAN AKHIR negara.2 persen). (3) peran serta masyarakat. diare. demografi. sosial ekonomi dan perilaku.000 penduduk. Kebijakan penanggulangan penyakit menular khususnya dalam penanggulangan wabah telah diatur dalam bentuk peraturan perundangan.

Kendala yang dihadapi antara lain berkaitan dengan (1) kebijakan sistem surveilans yang belum dipahami sampai ke petugas teknis di lapangan. (2) upaya penanggulangan.7 21. saat ini perkembangan vaksin masih memerlukan penelitian lebih lanjut agar dapat digunakan ke manusia. Semuanya menyadari bahwa strategi hanya dapat diperoleh dengan melaksanakan analisis situasi berdasarkan aspek epidemiologi.34 TAHUN 2004 4 37.2 Target dan Capaian Pemberantasan Penyakit DBD TARGET DAN CAPAIAN PEMBERANTASAN DBD 60 RASIO 40 20 0 Target Realisasi 2001 5. menutup. Gerakan pemberantasan sarang nyamuk dengan instrumen 3M (menguras.LAPORAN AKHIR kurangnya peran serta masyarakat. Ketiadaan vaksin merupakan penghambat utama eradikasi DBD. Meskipun demikian.000 penduduk selama periode tahun 2001-2005 selalu menunjukkan diatas rasio yang ditargetkan. Berdasarkan data Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan.31 Sumber: Ditjen PP & PL Depkes. Gerakan 3M selama 30 menit setiap minggu juga dicanangkan. Pemerintah sejak tahun 1993 telah berusaha membina peran serta masyarakat melalui berbagai kelompok kerja pemberantasan DBD di desa atau kelurahan. entomologi. rasio penderita DBD per 100. Namun demikian implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai permasalahan. Data ini selain menunjukkan kecenderungan makin tingginya penderita DBD dari tahun ke tahun.25 2003 4. dan sikap masyarakat. Beberapa permasalahan yang teridentifikasi antara lain berkaitan dengan (1) pelaksanaan surveilans. Tabel 1.1 2005 10 43. Berdasarkan hasil penelitian WHO Tahun 2003 dilaporkan bahwa pelaksanaan kegiatan surveilans masih menghadapi kendala. juga masih belum optimalnya pengendalian penyakit yang dilakukan oleh Pemerintah. serta (3) adanya desentralisasi kewenangan pengelolaan.66 2002 5 19. pengetahuan.5 24. dan mengubur) sudah sering disosialisasikan namun hasilnya belum menggembirakan. (2) terbatasnya tenaga pelaksana Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 4 . 2006 Kebijakan penanggulangan penyakit menular telah diatur dalam peraturan perundangan.

dana. Berkaitan dengan desentralisasi kewenangan pengelolaan kebijakan pembangunan (otonomi daerah). Identifikasi kinerja surveilans serta faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja surveilans penyakit menular 2. mencakup aspek tenaga. Langkah-langkah apa yang diperlukan untuk penanggulangan penyakit menular.3 Tujuan dan Sasaran Tujuan Tujuan utama kajian adalah menyusun rumusan kebijakan penanggulangan penyakit menular secara terpadu berdasarkan analisis faktor-faktor yang berpengaruh dalam pelaksanaan kebijakan penanggulangan penyakit menular di pusat dan daerah.LAPORAN AKHIR surveilans. fasilitas pendukung. Faktor-faktor apa saja yang mwempengaruhi kinerja surveilans dan penaggulangan penyakit menular ? 2. 32 dan 33 Tahun 2005 telah memberikan pembagian kewenangan dalam pengelolaan pemerintahan di daerah. Permasalahan yang dihadapi dalam penanggulangan wabah terutama berkaitan dengan aspek manajemen menyangkut kesiapan tenaga lapangan. Adanya otonomi daerah ini juga berpengaruh terhadap peran dan tanggung jawab Kabupaten/Kota/Propinsi untuk mengembangkan diri sesuai masalah kesehatan masyarakat. sarana. Identifikasi peran dan tanggungjawab Pemerintah Daerah dalam penanggulangan penyakit menular Sasaran Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 5 . (4) terbatasnya dana pelaksanaan surveilans di tingkat operasional. dan (5) belum optimalnya penggunaan sarana kesehatan dalam mendukung pelaksanaan surveilans penyakit seperti pemanfaatan laboratorium dan peralatan. (3) adanya ketidaksesuaian kompetensi. Bagaimana peran dan tanggungjawab (kewenangan) pemerintah daerah dalam penanggulangan penyakit menular ? 1.2 Perumusan Masalah Berdasarkan permasalahan di atas. Reformasi pemerintahan tersebut memberi dampak perubahan cukup signifikan terhadap peran pemerintah dan swasta dalam program dan pelayanan kesehatan. dukungan logistik. adanya regulasi pemerintahan dalam bentuk UU No. kemampuan SDM dan sumber dana daerah. SOP dan data ? 3. Identifikasi kinerja penanggulangan penyakit menular serta faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja penanggulangan penyakit menular 3. 22 dan 25 tahun 1999 yang kemudian direvisi dengan UU No. Tujuan khusus : 1. 1. dana serta sistem pelaporan. beberapa pertanyaan penelitian yang melandasi kajian ini antara lain adalah : 1.

sarana. Identifikasi faktor berpengaruh terhadap kinerja surveilans mencakup kondisi tenaga. serta tanggung jawab dan kewenangan antara pusat dan daerah. dan (2) pelaksanaan diseminasi informasi 2. sumber. 1. Identifikasi faktor berpengaruh terhadap kinerja penanggulangan KLB DBD mencakup tenaga. 1. keluaran serta ruang lingkup kajian. dan pengumpulan data serta metode analisis. sarana dan SOP 5. Identifikasi peran dan tanggung jawab daerah dalam penanganan penyakit menular khususnya pada kasus DBD.5 Ruang Lingkup Kajian ini difokuskan pada evaluasi kebijakan penanggulangan penyakit menular yang telah dilakukan selama ini.4 Keluaran Keluaran kajian adalah rumusan kebijakan penanggulangan penyakit menular yang mencakup aspek surveilans. dan SOP. Identifikasi kinerja penanggulangan KLB DBD yang mencakup frekuensi KLB. jenis. jumlah kasus. 1. dana. adalah : 1. Lingkup kegiatan yang akan dilakukan dalam kajian ini antara lain. tujuan dan sasaran kajian.LAPORAN AKHIR Tersusunnya rumusan kebijakan upaya penanggulangan penyakit menular secara terpadu melalui optimalisasi sumberdaya yang tersedia sekaligus sebagai acuan bagi pelaksanaan program penanggulangan penyakit menular di pusat dan daerah. dana. Identifikasi kinerja surveilans yang mencakup (1) ketersediaan peta rawan KLB DBD. Bab III membahas tentang metodologi yang digunakan berkaitan dengan kerangka pemikiran. jumlah kematian dan luas daerah terserang 4. 3. penanganan wabah.6 Sistematika Penulisan Penulisan laporan dibuat dengan sistematika sebagai berikut: Bab I membahas tentang latar belakang. Bab II membahas tentang landasan teori mencakup pengertian dan hasil kajian yang sudah dilakukan. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 6 . disain kajian. data. data.

Kinerja Surveilans dan Penanggulangan DBD. Faktor-faktor Berpengaruh terhadap Kinerja Surveilans dan Penanggulangan KLB.LAPORAN AKHIR Bab IV Hasil dan Pembahasan. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 7 . mencakup tenaga. Indikator kinerja surveilans dan penanggulangan KLB. data. Bab V Kesimpulan dan Rekomendasi Kebijakan. dana. sarana dan SOP. mencakup Gambaran Umum Penanggulangan DBD.

Tiap tahun diselenggarakan pertemuan nasional semacam konvensi untuk melakukan monitoring kemajuan program serta perkuatan dari networking. Penyakit menular tidak mengenal batas-batas daerah administratif. kemudian melakukan pengobatan hingga sembuh. yakni apa yang dikenal sebagai Sistem Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. pemerintah. Semua institusi pelayanan seperti kuratif penyakit menular maupun pelayanan kesehatan masyarakat. Intervensi faktor resiko. b. Beberapa penyakit menular yang menjadi masalah utama di Indonesia adalah diare. disamping mulai meningkatnya masalah penyakit tidak menular. Sekaligus merupakan kawasan yang berpotensi tinggi untuk hadirnya penyakit infeksi baru. HIV/AIDS (pertama kali di Denpasar 1987) kini merambah ke Indonesia. Manajemen pemberantasan dan pengendalian penyakit menular juga memiliki dua perspektif: a. malaria. Penyakit lain merupakan penyakit infeksi endemik dan sudah lama di Indonesia dan endemik di berbagai kabupaten (daerah pegunungan maupun pantai) yaitu TBC dan Malaria. misalnya antar propinsi. Beberapa penyakit infeksi baru (ketika itu) dan kini endemik adalah demam berdarah dengue (pertama kali tahun 1968 di Surabaya). merupakan kawasan endemik berbagai penyakit menular. kini diberbagai kota pelabuhan. Kabupaten/kota bahkan antar negara.2 Surveilans Epidemiologi Selama ini pengertian konsep surveilans epidemiologi sering dipahami hanya sebagai kegiatan pengumpulan data dan penanggulangan KLB. Masing-masing penyakit memiliki peta endemisitas tersendiri. 2. sehingga pemberantasan penyakit menular memerlukan kerjasama antar daerah. virus hantaan (1977) dijumpai pada tikus diberbagai pelabuhan. tifus abdominalis. Indonesia sebagai wilayah tropik dan wilayah dinamik secara sosial ekonomi. demam berdarah dengue. influenza. Epidemiologi lokal yang intinya dinamika tranmisi penyakit tertentu pada wilayah tertentu. Pengertian Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 8 . penyakit saluran pencernaan dan penyakit lainnya. partner nonkesehatan. Epidemiologi global yakni perjalan penyakit antar benua. Strategi pengendalian penyakit menular secara umum pada dasarnya sama.1 Penyakit Menular di Indonesia Penyakit menular masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat Indonesia. yakni menghilangkan sumber penyakit dengan cara menemukan dan mencari kasus secara proaktif.LAPORAN AKHIR BAB 2 LANDASAN TEORI 2. bergabung menjadi satu sistem. swasta. orgfanisasi nonpemerintah. misalnya lingkungan dan intervensi terhadap perilaku.

unit surveilans program pada masingmasing Puskesmas. Surveilans Terpadu Penyakit merupakan proses kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dan sistematis. Jejaring surveilans dalam pertukaran data. pelaksanaan. pengendalian dan evaluasi serta dukungan sumberdaya yang memadai sebagai suatu program surveilans terpadu.LAPORAN AKHIR seperti itu menyembunyikan makna analisis dan penyebaran informasi epidemiologi sebagai bagian yang sangat penting dari proses kegiatan surveilans epidemiologi. unit surveilans Dinas Kesehatan Propinsi dan Unit Surveilans Ditjen PPM & PL Depkes. surveilans adalah proses pengumpulan. sumber-sumber data. Laboratorium. termasuk Puskesmas dan Rumah Sakit Sentinel. Dinas Kesehatan Propinsi dan Ditjen PPM & PL Depkes termasuk Puskesmas Sentinel dan Rumah Sakit Sentinel c. b. analisis dan interpretasi data secara sistematik dan terus menerus serta penyebaran informasi kepada unit yang membutuhkan untuk mengambil tindakan. Rumah Sakit. pengolahan. Propinsi dan Pusat. pusat kajian dan penyelenggara program kesehatan. kajian. pusat-pusat kajian. unit surveilans di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Menurut WHO. Jejaring surveilans dalam pengiriman data dan informasi serta peningkatan kemampuan manajemen surveilans epidemiologi antara Puskesmas. Dinas Kesehatan Kab/Kota. sehingga membutuhkan dukungan perencanaan. Oleh karena itu perlu dikembangkan suatu definisi surveilans epidemiologi yang lebih mengedepankan analisis atau kajian epidemiologi serta pemanfaatan informasi epidemiologi. Jejaring Surveilans Jejaring surveilans digunakan dalam Surveilans terpadu penyakit adalah a. Dalam sistem ini yang dimaksud dengan surveilans epidemiologi adalah kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efesien melalui proses pengumpulan data. tanpa melupakan pentingnya kegiatan pengumpulan dan pengolahan data. upaya peningkatan kemampuan sumberdaya antara unit surveilans Dinas Kesehatan Kab/Kota. meliputi tata hubungan surveilans epidemiologi antar wilayah Kabupaten/Kota. Sistem surveilans epidemiologi merupakan tatanan prosedur penyelenggaraan surveilans epidemiologi yang terintehrasi antara unit-unit penyelenggara surveilans dengan laboratorium. unit surveilans di Dinas Kesehatan Propinsi dan unit surveilans di Ditjen PPM & PL Depkes. Jejaring surveilans dalam distribusi informasi kepada program terkait pusatpusat penelitian. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 9 . Alur distribusi data dan umpan balik dalam dilihat dalam skema di bawah. pusat penelitian. pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara program kesehatan. Rumah Sakit.

LAPORAN AKHIR Unit Surveilans Ditjen PPM & PL Depkes Unit Surveilans Dinas Kesehatan Propinsi Unit Surveilans Dinas Kesehatan Kab/Kota Unit Surveilans Puskesmas Unit Surveilans Rumah Sakit Unit Surveilans Laboratorium Gambar 2.1 Alur Distribusi Data Surveilans Terpadu Penyakit 2. Informasi epidemiologi yang berkualitas. Untuk melakukan upaya pemberantasan penyakit menular. akurat merupakan evidance atau bukti untuk digunakan dalam proses pengambilan kebijakan yang tepat dalam pembangunan kesehatan. penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit dan keracunan. serta penanggulangan penyakit tidak menular diperlukan suatu sistem surveilans penyakit yang mampu memberikan dukungan upaya program dalam daerah kerja Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 10 .3 Kebijakan Sistem Surveilans Surveilans Epidemiologi merupakan kegiatan yang sangat penting dalam manajemen kesehatan untuk memberikan dukungan data dan informasi epidemiologi agar pengelolaan program kesehatan dapat berdaya guna secara optimal. cepat.

Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 242 tahun 2003 tentang Penetapan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) sebagai penyakit yang dapat menimbulkan wabah dan pedoman penanggulangannya. Indikator-indikator tersebuat adalah sebagai berikut: Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 11 . Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 3. tatacara penyampaian laporannya dan tacara penanggulangan seperlunya. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom. dimana kelemahan salah satu indikator tersebut menunjukkan kinerja sistem surveilans yang belum memadai. Peraturan Menteri Kesehatan No. Peraturan Pemerintah No. 2. Ketiga indikator tersebut merupakan satu kesatuan. dan sistem Pelaporan Rumah Sakit (SPIRS). 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pemerintah Pusat dan Daerah. 1116 tahun 2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Surveilans Epidemilogi Kesehatan. dukungan kerjasama antar program dan sektor serta kerjasama antara Kabupaten/Kota. Sistem surveilans tersebut perlu dikembangkan dan disesuaikan dengan ketetapan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah. Undang-Undang No.LAPORAN AKHIR Kabupaten/Kota. 4 tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular. Nasional dan internasional. 7. proses dan keluaran. Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 5. yang telah mengalami beberapa kali perubahan dan perbaikan. 4. 949 tahun 2004. 2. Propinsi dan Nasional. 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Penyakit Menular. 1479 tahun 2003 tentang Surveilans Terpadu Penyakit. Sistem Pencatatan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP). dan Keputusan Menteri Kesehatan No. 1116/Menkes/SK/VIII/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan serta kebutuhan informasi epidemiologi untuk mendukung upaya pemberantasan penyakit menular dan penyakit tidak menular. 6. Propinsi. Peraturan Menteri Kesehatan tentang Sistem Kewaspadan Dini KLB No. Disamping keberadaan SST telah juga dikembangkan beberapa Sistem Surveilans khusus penyakit. Beberapa produk hukum lain terkait dengan pelaksanaan surveilans epidemiologi adalah 1. Undang-Undang No. 560 tahun 1989 tentang Jenis Penyakit yang dapat menimbulkan wabah. Pada tahun 1987 telah dikembangkan Sistem Surveilans Terpadu (SST) berbasis data.4 Indikator Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan Kinerja penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan diukur dengan indikator masukan.

Puskesmas 1. 1 tenaga dokter umum a. faksimili. Pusat. 2 tenaga epidemiologi ahli (S2) b. 1 paket jaringan elektromedia b. 1 tenaga dokter umum a. 1 paket jaringan elektromedia b. Rumah Sakit Sarana 5.1 Indikator Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan Masukan Tenaga Tingkat 1. Kabupaten/Kota 4. Pusat Indikator Unit utama Departemen Kesehatan memiliki a. 1 roda dua a. 8 tenaga epidemiologi ahli (S2) c.LAPORAN AKHIR Tabel 2. faksimili. SSB dan telekomunikasi lainnya) c. 16 tenaga epidemiologi ahli (S1) d. Kabupaten/Kota Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 12 . 1 tenaga epidemiologi terampil 1 tenaga epidemiologi terampil a. 2 tenaga epidemiologi ahli (S1) c. 1 paket alat komunikasi (telepon. SSB dan telekomunikasi lainnya) c. 1 paket kepustakaan d. 1 tenaga epidemiologi ahli b. 2 tenaga epidemiologi terampil d. Propinsi 2. 4 tenaga epidemiologi terampil d. 1 roda empat. 1 tenaga dokter umum a. 1 paket formulir 2. 4 tenaga epidemiologi ahli (S1) c. 1 paket alat komunikasi (telepon. 1 paket kepustakaan d. 1 paket pedoman pelaksanaan surveilans epidemiologi dan program aplikasi komputer e. 2 tenaga epidemiologi ahli (S1) atau terampil c. 32 tenaga epidemiologi terampil UPT Departemen Kesehatan memiliki a. 4 paket peralatan pelaksanaan surveilans epidemiologi f. Propinsi 3. 1 tenaga epidemiologi ahli (S3) b. 1 tenaga epidemiologi ahli (S2) b. 1 tenaga epidemiologi ahli (S2) b. 1 paket pedoman pelaksanaan surveilans epidemiologi dan program aplikasi komputer e.

SSB) c. Ketepatan laporan unit pelapor sebesar 80% atau lebih c. Ketepatan laporan unit pelapor dan sumber data awal sebesar 80% atau lebih c. 1 paket komputer Rumah Sakit b. Umpan balik sebesar 80% atau lebih 3. 1 roda empat. 1 roda dua 3. 1 paket peralatan pelaksanaan surveilans epidemiologi g. Kabupaten/Kota a. Umpan balik sebesar 80% atau lebih 1. Ketepatan laporan unit pelapor dan sumber data awal sebesar 80% atau lebih c. Penerbitan buletin kajian epidemiologi sebesar 4 kali atau lebih setahun d. Kelengkapan laporan unit pelapor dan sumber data awal sebesar 80% atau lebih b. Umpan balik sebesar 80% atau lebih 2. 1 roda dua 1. 1 paket pedoman pelaksanaan surveilans epidemiologi dan program aplikasi komputer e. 1 paket kepustakaan d. Kelengkapan laporan unit pelapor sebesar 80% atau lebih b. Penerbitan buletin kajian epidemiologi sebesar 12 kali atau lebih setahun d. 2003 Selanjutnya Indikator Surveilans Kesehatan dijabarkan dalam Indikator Kinerja Penyelenggaraan terpadu Penyakit sebagai berikut: a. Pusat Profil Surveilans Epidemiologi Nasional sebesar 1 kali setahun Profil Surveilans Epidemiologi Propinsi sebesar 1 kali setahun Profil Surveilans Epidemiologi Kabupaten/ Kota sebesar 1 kali setahun Sumber: Inspektorat Jenderal Depkes RI. Propinsi a.LAPORAN AKHIR Proses Kegiatan Surveilans Keluaran f. faksimili. Pusat a. 2 paket peralatan pelaksanaan surveilans epidemiologi g. 1 paket alat komunikasi (telepon. Kelengkapan laporan unit pelapor dan sumber data awal sebesar 80% atau lebih b. Kelengkapan laporan bulanan STP unit pelayanan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebesar 90% Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 13 . Penerbitan buletin kajian epidemiologi sebesar 12 kali atau lebih setahun d. Puskesmas dan a. 1 paket formulir f.

LAPORAN AKHIR b. Penanggulangan wabah penyakit menular bukan hanya semata menjadi wewenang dan tanggung jawab Departemen Kesehatan. Penerbitan buletin Epidemiologi di Kabupaten/Kota adalah 4 kali setahun k. Umpan balik laporan bulanan Kabupaten/Kota. tetapi menjadi tanggung jawab bersama. wewenang dan tanggung jawabnya dalam upaya penanggulangan wabah. Dalam upaya penanggulangan penyakit menular. Keterkaitan sektor-sektor dalam upaya penanggulangan wabah tersebut sesuai dengan tugas. 2. Distribusi data dan informasi bulanan Kabupaten/Kota. Depatemen Sosial. Ketepatan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota ke Dinas Kesehatan Propinsi sebesar 90% f. Kondisi lain yang dapat menimbulkan penyakit menular adalah akibat kondisi masyarakat dari suatu wilayah tertentu yang kurang mendukung antara lain kesehatan lingkungan yang kurang baik atau gizi masyarakat yang belum baik. harus dilakukan secara terpadu dengan upaya kesehatan lain. Ketepatan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Propinsi ke Ditjen PPM & PL Depkes sebesar 90% h. Wabah penyebaran penyakit dapat berlangsung secara cepat. propinsi dan nasional sebesar 100% i. Departemen Komunikasi dan Informasi. propinsi dan nasional sebesar 100% j. yaitu upaya pencegahan. Departemen Keuangan dan Departemen Dalam Negeri. maupun kontak hubungan langsung atau karena jenis dan sifat dari kuman penyebab penyakit wabah itu sendiri. baik melalui perpindahan. Penerbitan buletin Epidemologi di propinsi dan nasional adalah sebesar 12 kali setahun l. Oleh karena itu dalam pelaksanaan penanggulangannya memerlukan keterkaitan dan kerjasama dari berbagai lintas sektor Pemerintah dan masyarakat. penyembuhan dan pemulihan kesehatan. Kelengkapan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota ke Dinas Kesehatan Propinsi sebesar 100% e. Kelengkapan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Propinsi ke Ditjen PPM & PL Depkes sebesar 100% g. Selain itu dalam upaya Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 14 . Oleh karena itu penanggulangan wabah harus dilakukan secara dini. Ketepatan laporan bulanan STP Unit Pelayanan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Kota sebesar 80% c.5 Penanggulangan Penyakit Menular Penanggulangan penyakit menular merupakan bagian dari pelaksanaan pembangunan kesehatan. Penanggulangan secara dini dimaksudkan untuk mencegah timbulnya kejadian luar biasa dari suatu penyakit wabah yang dapat menjurus terjadinya wabah yang dapat mengakibatkan malapetaka. Berbagai lintas sektor Pemerintah misalnya Departemen Pertahanan Keamanan. Propinsi dan Nasional adalah satu kali setahun. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mencapai indikator Epidemiologi STP sebesar 80% d. Penerbitan profil tahunan atau buku data surveilans epidemiologi Kabupaten/Kota.

Indonesia menerapkan secara penuh UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Penanggulangan wabah/KLB penyakit menular diatur dalam UU No. ekonomi dan sosial. yamg kemudian diikuti dengan terbitnya PP No. Peraturan Menteri Kesehatan No. yang keseluruhannya harus dilaksanakan secara terpadu. sehingga membutuhkan perhatian dan penanganan oleh semua pihak terkait.LAPORAN AKHIR penanggulangan wabah tersebut. 4 tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular. 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Penyakit Menular. KLB penyakit dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan kesakitan dan kematian yang besar. 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom yang berpengaruh terhadap penyelenggaraan penanggulangan KLB. masyarakat juga dapat diikutsertakan dalam penanggulangannya. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan No. 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah.2 Skema Program Penanggulangan KLB Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 15 . Kejadian-kejadian KLB perlu dideteksi secara dini dan diikuti tindakan yang cepat dan tepat. yang juga berdampak pada pariwisata. PP No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan UU No. perlu diidentifikasi adanya ancaman KLB beserta kondisi rentan yang memperbesar resiko terjadinya KLB agar dapat dilakukan peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan KLB. Pada tahun 2000. 560 tentang Jenis Penyakit Tertentu Yang dapat Menimbulkan Wabah. Undang-undang tersebut kemudian direvisi menjadi UU No. Data & Informasi Penduduk dan Lingkungan Perbaikan kondisi rentan KLB Prioritas Penanggulangan KLB SKD-KLB KLB tidak Menjadi Masalah Kesehatan Masyarakat Penanggula ngan KLB Data KLB dan Data Epidemiologi Lain Kesiapsiagaan Menghadapi KLB Gambar 2.

Nusa Tenggara Timur. terutama penyakit menular melalui transmisi serangga atau binatang yang memiliki reservoir. Demikian juga dengan daerah wisata internasional. epidemiologi global harus pempelajari kejadian dan persebaran dalam perspektif dunia. Penyebaran global memiliki potensi terjadinya pandemik. Dengan demikian. Jawa. Maksudnya. Epidemiologi Global Penyakit Penyakit menular bersifat global. Seperti asal datangnya penyakit. Penyakit menular juga dapat berpindah atau bergerak dari satu wilayah ke wilayah lainnya melalui mobilitas penduduk sebagai sumber penularan maupun komoditas sebagai wahana transmisi. dan mekanisme jaringan antar negara yang bersifat lintas batas. Misalnya. Selain itu. lebih dipengaruhi oleh batasan ekosistem. Filipina. maka memiliki masalah yang sama seperti malaria. memiliki jalur barat yakni kawasan semenanjung Malaysia. Sulawesi Utara. Sumatera. LSM. Oleh karena itu. Seorang Kepala Dinas Kesehatan harus memahami benar apakah daerahnya termasuk lalulintas internasional atau bukan. penyakit menular tidak mengenal batas wilayah administratif pemerintah. wilayah tropik secara umum memiliki karakteristik ekosistem sama. kemudian melalui apa penyakit tersebut datang. maupun masyarakat hendaknya memiliki kapasitas terhadap permasalahan epidemiologi global. Lintas Batas Penyakit menular bersifat lintas batas. penyakit menular dipengaruhi mobilitas penduduk sebagai sumber penyakit.6. kabupaten dan kota di Indonesia merupakan wilayah yang terkena resiko yang sama dalam perspektif global. Termasuk petugas yang mengawasi jalur-jalur penerbangan internasional. setiap sudut Kabupaten dan Kota di Indonesia harus dianggap sebagai bagian dari komunitas dunia. Binatang umumnya memiliki habitat tertentu dan terkait dan batasan ekosistem. Penyakit menular yang sifatnya relatif “tertutup”. Sebab. dua kabupaten berbatasan yang memiliki ekosistem penyakit yang sama wajib bekerjasama. hingga Amerika Latin. migrasi burung utara selatan dan sebaliknya. Seorang Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/kota yang berbatasan dengan negara lain. kemudian langsung ke selatan menuju Australia. hendaknya meningkatkan kemampuannya untuk mengahadapi globalisasi penyakit menular. KLB polio pada awal tahun 2005. Afrika Tengah. harus memahami hal ini. Dengan kata lain. Peta endemisitas malaria terbentang dari Asia Tenggara. Sebagai contoh Avian influenza. Dengan kata lain. Wilayah-wilayah yang merupakan jalur transmisi sebaiknya memiliki kapasitas dan aktif mengakses informasi. Dalam hal ini Dinas Kesehatan. Misalnya. Sedangkan wilayah yang sifatnya “terbuka” dengan teknologi transportasi jarak jauh. serta sebaliknya. ketimbang batasan administratif. migrasi berbagai binatang seperti migrasi burung antar benua bisa merupakan sumber pembawa penyakit. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 16 . kabupaten/kota terikat pada komitmen dunia. Hal ini memerlukan kerjasama global. Dalam perspektif global. Sedangkan wilayah timur dari arah utara menyusur pantai timur China. Atau perjalanan kelelawar yang dapat menyebarluaskan virus Nipah.LAPORAN AKHIR 2.

sehingga dapat meyakinkan pihak-pihak otoritas pendanaan seperti DPRD. Kemudian. Semua itu dituangkan dalam bentuk perencanaan yang didukung fakta (evidences) lokal. Di lain pihak. Kemudian keterpaduan dikaitkan dengan promosi kesehatan seperti penggunaan alat pelindung ketika bekerja. Yakni. Namun. Keterpaduan Untuk memvisualisasikan proses transmisi penyakit serta simpul manajemen. sedangkan di wilayah Riau risiko tertular malaria datang ketika sedang menyadap karet di pagi buta. Di satu sisi.LAPORAN AKHIR dalam satu wilayah otonomi kabupaten. antara stakeholder. antara penyakit. Sehingga intervensi faktor resiko yang bersifat lokal lebih bisa mudah dikendalikan. Keterpaduan pun termasuk penggunaan sumber daya. Bahkan keterpaduan surveilans yakni surveilans kasus sekaligus bersama-sama dengan faktor risiko terkait. desentralisasi berati mengharuskan manajemen penyakit menular melakukan pendekatan wilayah administratif. maka perlu identifikasi mitra kerja untuk menangani faktor risiko tersebut. Untuk itu. dan berbagai upaya lain secara bersama dengan lintas sektor. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 17 . membutuhkan model manajemen penyakit menular berbasis wilayah kabupaten/kota. jadwal. Dengan memahami faktor-faktor yang berperan timbulnya penyakit menular khas daerahnya. penggunaan mikroskop. antar negara. mitra mana yang dianggap berkepentingan. Serta didukung jaringan dan kerjasama erat baik antar wilayah dan adimistrasi pemerintah maupun diantara para pelaku pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan itu sendiri dalam satu wilayah. Sebagai contoh. Desentralisasi juga memudahkan identifikasi faktor resiko yang bersifat lokal. Kemudian ditentukan siapa saja yang harus diikutsertakan. seperti yang telah diuraikan sebelumnya hal-hal yang bersifat lintas batas berpotensi terabaikan. seorang “kepala” pengendalian penyakit harus mampu menemukan dan mengobati sumber penularan penyakit secara aktif. sekaligus sebagai mata air. untuk kepentingan perencanaan dan kegiatan berdasarkan keperluan (fakta). tenaga. memerlukan model manajemen pemberantasan penyakit dan penyehatan lingkungan secara terintegrasi yang berbasis wilayah kabupaten/kota dalam perspektif komprehensif. penularan Malaria di Kabupaten Banjarnegara berkenaan dengan nyamuk yang memiliki habitat kebun salak dan/atau kolam yang merupakan jamban keluarga. penderita penyakit menular itu sendiri. secara teoritis Bupati atau Kepala Dinas Kesehatan secara efektif melakukan upaya pemberantasan penyakit menular yang bersifat spesifik lokal. Serta mengendalikan faktor risiko penyakit. kendaraan. antar propinsi. intervensi holistik. dalam perspektif ekosistem maupun dinamika/mobilitas faktor risiko penyakit antar kabupaten. pendekatan wilayah kabupaten/kota membantu perencanaan dan pelaksanaan serta pelaksanaan program lebih fokus. Analisis masing-masing faktor risiko dilakukan sekaligus dan terpadu melalui perencanaan. Didukung fakta hasil surveilans terpadu. di daerah Pacitan berkaitan dengan cekungan-cekungan padas di sungai-sungai. Dengan demikian.

Oleh sebab itu. keluarga terdekat atau tokoh masyarakat setempat dapat meminta bantuan Pengawas Menelan Obat (PMO). tentu saja tidak semua penyakit menular dapat dicegah dengan imunisasi. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 18 . karena dikhawatirkan akan meluas.7 Strategi Pengendalian Penyakit Strategi pemberantasan penyakit menular berbasis wilayah memiliki pengertian bahwa setiap wilayah administrasi pembangunan (kabupaten/kota) pemberantasan penyakit menggunakan “paket” pendekatan strategi sebagai berikut : (1) Intensifikasi Pencarian dan Pengobatan Kasus Melakukan pencarian dan pengobatan secara intensif terhadap penderita. Untuk beberapa penyakit menular yang memerlukan pengobatan jangka panjang seperti halnya TBC. Untuk penyakit tertentu yang membutuhkan konfirmasi laboratorium lebih tinggi. 2. harus ada jaminan ketersediaan obat dan jaminan disiplin menelan obat.3 persen. Juru Kusta. Kejadian luar biasa pertama di Indonesia dilaporkan oleh David Beylon di Batavia (Jakarta) pada tahun 1779. dan sebagainya. seperti pemberdayaan tenaga semi-profesional terlatih misalnya juru Malaria Desa. Cakupan imunisasi amat penting karena dapat mencegah penyakit dalam satu wilayah. (2) Memberikan Perlindungan Spesifik dan Imunisasi Manajemen pengendalian penyakit menular dapat dilakukan dengan cara memberikan kekebalan secara artifisial yaitu imunisasi. baik dari segi jumlah kasus maupun wilayah yang terkena persebaran penyakit tersebut. Dalam satu wilayah kabupaten dapat dilakukan secara intensif dengan memperluas jangkauan pelayanan. selain mengobati dan menyembuhkan penderita yang juga merupakan upaya pokok untuk menghilangkan sumber penularan dengan cara pemutusan mata rantai penularan. demam berdarah dengue baru dikenal pada tahun 1968 dalam KLB di Jakarta dan Surabaya dengan angka kematian sangat tinggi sekitar 41. Namun.8 Kejadian Luar Biasa (KLB) Kejadian Luar Biasa (KLB) yaitu munculnya penyakit di luar kebiasaan (base line condition) yang terjadi dalam waktu relatif singkat serta memerlukan upaya penanggulangan secepat mungkin. memerlukan bantuan pemeriksaan yang dilakukan Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Penyelidikan Penyakit (Labkes) terdekat yang secara regional harus tersedia.LAPORAN AKHIR 2. Namun. perlu dilakukan upaya alternatif berupa pemberantasan penyakit yang berbasis lingkungan. Di masa mendatang sebaiknya diciptakan petugas lapangan penyakit menular setara dengan bidan di desa untuk menekan angka kematian ibu. Untuk itu.

penanganan saat kejadian KLB dan pascaKLB. Bila KLB terjadi lebih dari satu wilayah kabupaten/kota maka penanggulangannya dikoordinasikan oleh Gubernur. namun draft Permenkes menyebutkan Pemerintah Daerah atas usulan Kepala Dinas Kesehatan setempat menetapkan dan mencabut KLB. sosial. Tahun 1991. Kepala wilayah ketika mengetahui adanya tersangka di wilayah atau adanya tersangka penderita penyakit menular yang dapat menimbulkan wabah. informasi pra-KLB menjadi penting. Pasal 1). KLB pada dasarnya merupakan suatu kejadian baik pada sumber penyakit (penyebab) dengan dinamika transmisi. Tahun 1984. KLB adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu. Penetapan daerah wabah merupakan pertimbangan epidemologis dan keadaan masyarakat (mencakup keamanan. serta korban kejadian penyakit yang berlangsung dalam tempo yang relatif singkat. pencermatan ini dikenal sebagai pencermatan pra-KLB. Pasal 4. dan akhirnya berupa pencegahan. Bab 1. dan merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah. Sedangkan yang menetapkan penyakit menular dan kemudian mencabut ketetapan tersebut adalah Menteri Kesehatan (UU Nomor 4. ekonomi dan budaya) yang disampaikan Kepala Daerah. Apabila kita mencermati proses kejadiannya. amat penting. Ayat 1 dan 2 serta PP Nomor 40. KLB merupakan kejadian proses awal. ledakan industri. namun terminologi ini digunakan untuk tujuan atau rumusan upaya antisipatif. Kemudian kegiatan tersebut harus dilaporkan kepada Menteri Kesehatan secara berjenjang. prediktif. Penetapan KLB. Misalnya. tidak hanya mencegah terjadinya KLB. Gempa bumi di sebuah wilayah endemik malaria memerlukan peta dimana pengungsi akan ditempatkan. Sedangkan untuk penetapan dan pencabutan KLB hingga saat ini belum diatur. memang tidak lazim disebut sebagai KLB. Mengacu kepada teori simpul atau mengacu kepada patogenesis kejadian penyakit. atau suhu yang meningkat sehingga menimbulkan populasi nyamuk atau ledakan gas. Ayat 1). Penetapan atau pencabutan daerah wabah diberlakukan dalam suatu wilayah Kabupaten/Kota.LAPORAN AKHIR Menurut PP 40. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 19 . Pasal 1 Ayat 7. Manajemen pra-KLB termasuk sistem kewaspadaan dini. Tahun 1984. adanya indikasi peningkatan jumlah dan kepadatan vektor penular penyakit. Pengertian KLB seringkali dikacaukan dengan pengertian wabah. Penyakit menular adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat dengan jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi keadaan yang lazim pada waktu daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka (UU Nomor 4. Pasal 12. Bab IV. dan sebagainya. tahun 1991. terjadinya kerusakan hutan secara terus menerus. pemantauan kondisi kualitas lingkungan tertentu yang menurun. Pasal 2 sampai 5). Bab I. Penanggungjawab operasional pelaksanaan penanggulangan KLB adalah Bupati/Walikota. dapat juga ditetapkan pada faktor risiko penyakit seperti bila terjadi ledakan gas beracun. Sedangkan penanggugjawab teknis adalah Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Tahun 1984. wajib melakukan tindakan secara cepat berupa penanggulangan seperlunya (UU Nomor 4.

Sejak tahun 1968 jumlah kasusnya cenderung meningkat dan penyebarannya bertambah luas. menyusun guidlines petunjuk. konflik sosial maupun timbulnya penyakit baru seperti SARS. akan menimbulkan KLB. perencanaan strategik. dan menetapkan sasaran nasional. Satu foci penyakit menular –entah itu demam berdarah. Keadaan ini erat kaitannya dengan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 20 . Tugas Pemerintah Nasional (Pusat) antara lain menyusun berbagai kebijakan nasional. tetapi sistem baru belum established atau mapan. HIV/AIDS. Pemerintah Pusat dapat mengambil inisiatif melakukan penanganan KLB. apabila dibiarkan berkembang. upaya-upaya kesehatan termasuk didalamnya manajemen KLB semuanya sudah di desentralisasikan kepada Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Kota. namun dalam hal KLB dan bencana dapat meminta bantuan Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Pusat. KLB pada dasarnya merupakan ujung dari sebuah proses. atau penyakit infeksi lama-selalu memiliki dua makna manajemen. Kegagalan manajemen penyakit secara terintegrasi dalam satu wilayah. Manajemen kasus maupun faktor risiko mencegah timbulnya eskalasi yang lebih luas. dan sebagainya. filariasis. pada hakekatnya adalah manejemen faktor risiko kejadian KLB. Kurun waktu 2000-2005 banyak terjadi kejadian luar biasa. Manajemen kasus. Di samping itu. Avian influenza. standar. yakni manajemen kesehatan masyarakat untuk mengendalikan jatuhnya korban berikutnya. Sebagai perwujudan demokratisasi pembangunan maka sejak tahun 2000. Hal ini tampak adanya kesimpang siuran menajemen penyakit menular pada saat dimulainya otonomi atau peralihan sistem tersebut. maka berpotensi menyebarkan KLB ke saentero Nusantara. bencana lingkungan karena ulah manusia. dan harus dilakukan secara simultan dalam waktu relatif singkat. Sedangkan kewenangan pelaksanaan ada pada pemerintah Kabupaten/Kota. dengan mobilitas penduduk yang tinggi akibat krisis sosial. penyakit menular tidak mengenal batas wilayah administratif seperti halnya kesehatan lingkungan. Mengapa hal tersebut terjadi? Pemberantasan penyakit menular memerlukan sistem manajemen. Bahkan bila dipandang perlu. malaria. Contohnya tahun 2005 yaitu penyakit polio. tetapi keduanya memiliki batas wlayah ekosistem. Oleh sebab itu. Manajemen KLB secara terintegrasi berbasis wilayah adalah juga manajemen dua bagian penting yang tak terpisahkan. Manajemen public health (manajemen faktor risiko) Manajemen public health atau manajemen kesehatan masyarakat. 2.LAPORAN AKHIR Setiap KLB-apakah itu bencana alam. selama sistem atau kapasitas manajemen penyakit berbasis wilayah secara terintegrasi belum mapan. khususnya saat penanganan KLB penyakit menular.9 Penyakit Demam Berdarah Penyakit Demam berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. b. maka KLB akan terus menjadi ancaman. yakni : a. Untuk membangun sistem tersebut. memerlukan waktu. Manajemen kasus menjadi amat penting. Sementara sistem lama telah dicabut. untuk mencegah terjadinya penularan penyakit lebih lanjut. TBC.

99. Pada awalnya penyakit DBD ini merupakan penyakit perkotaan dan menyerang terutama anak-anak usia di bawah 5 tahun. Pada tahun 1999 IR menurun tajam sebesar 10.19 per 100. Kendala Pencegahan DBD Penularan DBD terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dewasa.24 per 100. (3) Peningkatan upaya pemberantasan vektor penular penyakit DBD. maka Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 21 . Cara penularan penyakit DBD adalah melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang menggigit penderita DBD kemudian ditularkan kepada orang sehat.17 per 100. Upaya pemberantasan demam berdarah terdiri dari 3 hal. dengan perkembangan waktu penyakit ini kemudian tidak hanya berjangkit di daerah perkotaan. 21. Di Indonesia sendiri.000 penduduk dan CFR 2. memberikan pelatihan dan bantuan teknis. Jumlah kasus terus meningkat baik dalam jumlah maupun luas wilayah yang terjangkit dan secara sporadis. yaitu urbanisasi yang cepat.LAPORAN AKHIR peningkatan mobilitas penduduk sejalan dengan semakin lancarnya hubungan transportasi serta tersebar luasnya virus dengue dan nyamuk penularnya di berbagai wilayah Indonesia. selalu menjadi KLB setiap tahun. Melihat kondisi tersebut penyakit DBD harus diwaspadai kemungkinan adanya KLB lima tahunan. mengembangkan teknologi pemberantasan. Usia penderita juga cenderung bergeser menyerang usia dewasa. (2) Diagnosis dini dan pengobatan dini. penyakit ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1953 di Manila. mengembangkan pedoman pemberantasan.000 penduduk berturutturut pada tahun 2000 sampai 2002. Di Asia Tenggara.0%. adanya pemanasan global yang dapat mempengaruhi bionomik vektor Aedes aegypti. kurangnya persediaan air bersih. yaitu: (1) Peningkatan kegiatan surveilans penyakit dan surveilans vektor. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penyebaran dan penularan penyakit DBD. dan 19.75. Penyakit DBD sering kali muncul sebagai wabah. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah baik lintas sektor maupun lintas program dan masyarakat termasuk sektor swasta. selanjutnya menyebar ke berbagai negara. penyakit DBD dilaporkan pertama kali di Surabaya dan DKI Jakarta. tetapi juga menyebar ke daerah pedesaan. Tugas dan tanggung jawab pemerintah dalam upaya pemberantasan penyakit DBD antara lain membuat kebijakan dan rencana strategis penanggulangan penyakit DBD. melakukan penyuluhan dan promosi kesehatan serta penggerakan masyarakat. perkembangan pembangunan di daerah pedesaan. yaitu 15. Namun. Dengan fogging yang disemprotkan ke udara. Penyakit demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit menular berbahaya yang disebabkan oleh virus Dengue dan dapat menimbulkan kematian dalam waktu singkat oleh karena terjadinya perdarahan dan shock. Pemberantasan nyamuk dewasa dilakukan dengan menggunakan racun serangga (insektisida) yang disemprotkan atau dengan pengasapan (fogging) bila dilakukan pada wilayah yang luas.000 penduduk. mudahnya transportasi yang menyebabkan mudahnya lalu lintas manusia antardaerah. namun pada tahun-tahun berikutnya tampak adanya peningkatan IR. KLB yang terbesar terjadi pada tahun 1998 dilaporkan dari 16 propinsi dengan IR=35.

Karena nyamuk dewasa Aedes aegypti berada di dalam lingkungan rumah tinggal. selain termasuk kategori korupsi. seharusnya segera dilakukan fogging terhadap rumah tinggal penderita dan area dengan radius 100 meter di sekitarnya. PSN harus dilakukan segenap warga. Semua insektisida adalah bahan beracun yang jika penggunaannya tidak tepat dapat mengganggu kesehatan manusia maupun hewan dan dapat mencemari lingkungan. Tidak usah menunggu terjadinya KLB atau wabah yang lebih luas. pada waktu ada laporan kasus DBD di satu rumah. penularan virus oleh nyamuk dapat dihentikan segera. juga dapat menimbulkan dampak serius di kemudian hari. Fogging ditujukan untuk memberantas nyamuk betina dewasa karena hanya nyamuk betina yang mengisap darah. penggunaan insektisida menjadi rawan keracunan bagi penghuni dan lingkungan hidup sekitar rumah. sebelum larva berubah jadi nyamuk dewasa. bukan sarang nyamuk Aedes aegypti). Apalagi nyamuk Aedes aegypti mampu terbang dalam radius 100 meter dari sarang asalnya. Dengan demikian. baik untuk manusia maupun lingkungan hidup. Fogging tidak akan berefek lama dan tidak boleh dilakukan terus-menerus karena insektisida yang digunakan adalah bahan beracun. Menutup rapat tempat penyimpanan air bersih dan mengurasnya sesering mungkin akan bermanfaat mengurangi kesempatan nyamuk untuk bertelur dan berkembang biak. Dari jentik nyamuk yang hidup di dalam air (tandon air). nyamuk dewasa yang beterbangan atau yang hinggap di tempat persembunyiannya di lingkungan rumah penderita akan mati. Keberadaan sarang nyamuk Aedes aegypti di dalam rumah memerlukan tindakan yang spesifik. termasuk kaleng-kaleng berisi air atau bak mandi. Karena itu. Karena itu. jika ada satu rumah saja tidak melakukan PSN. selama tandon-tandon air masih dijumpai. Selain itu. Takaran insektisida yang dikurangi (asal bau obat). Selain itu. ia menjadi sumber terbentuknya populasi nyamuk Aedes aegypti untuk wilayah di sekitarnya.LAPORAN AKHIR nyamuk dewasa yang beterbangan atau yang hinggap di tempat persembunyiannya di lingkungan rumah penderita akan mati. Gerakan PSN harus dilakukan terus-menerus. Dengan melakukan fogging di sekitar tempat tinggal penderita. Sebab. penggunaan insektisida yang tidak tepat dosisnya atau tidak tepat jenisnya dapat menjadikan fogging tidak memberikan hasil yang memuaskan atau gagal sama sekali. Pemberian abate untuk membunuh jentik nyamuk yang terdapat di dalam air bak kamar mandi atau tandon air bersih lainnya cukup efektif mencegahnya berkembang biak. sepanjang tahun. Karena itu. yaitu terjadinya kekebalan nyamuk Aedes aegypti terhadap insektisida yang digunakan saat ini. Gagalnya atau tidak efektifnya fogging dapat terjadi akibat salahnya lokasi pengasapan (yang diasapi adalah got-got atau saluran kota yang kotor dan mampet. baik di musim hujan maupun di musim kemarau. dalam waktu beberapa hari akan tumbuh nyamuk dewasa. sarang nyamuk harus segera dimusnahkan. sebelum seseorang menunjukkan gejala klinis DBD dalam darahnya sudah beredar virus dengue yang dapat ditularkan kepada orang lain. fogging harus segera diikuti dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Hal ini harus dilakukan karena sarang-sarang nyamuk Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 22 .

ataukah terjadi "kesalahan teknis" di lapangan. tanpa menunggu terjadinya KLB. mengetahui ada tidaknya jentik nyamuk penular DBD. dan menentukan jenis tindakan (penanggulangan fokus) yang akan dilakukan. keluarga. baik untuk membantu kelancaran pelaksanaan kegiatan pemberantasan maupun dalam memberantas jentik nyamuk penularnya. apakah telah terjadi resistensi nyamuk terhadap insektisida yang digunakan. termasuk tempat-tempat umum dalam radius sekurang-kurangnya 100 m. Karena itu. Jika terjadi kegagalan fogging. harus dicari penyebabnya. penyuluhan dan penyemprotan (pengasapan) menggunakan insektisisda sesuai kriteria. jika terdapat laporan adanya kasus DBD. • Penyelidikan Epidemiolegis (PE) adalah kegiatan pencarian penderita DBD atau tersangka DBD lainnya dan pemeriksaan jentik nyamuk penular DBD di tempat tinggal penderita dan rumah/bangunan sekitarnya. segera ditindaklanjuti dengan kagiatan Penyelidikan Epidemiologis (PE) dan Penanggulangan Fokus. melalui GGPSN (Gebyar Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk). • Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 23 . Adanya nyamuk Aedes aegypti penular DBD sepanjang tahun di Indonesia menyebabkan penularan virus dengue juga akan terjadi sepanjang tahun. Fogging akan sangat efisien jika dilakukan pada waktu populasi nyamuk masih rendah. PE juga dilakukan untuk mengetahui adanya penderita dan tersangka DBD lainnya. tindakan yang pertamatama harus dilakukan adalah memberantas nyamuk dewasa di lingkungan tempat tinggal penderita dan sekitarnya dengan melakukan fogging. larvadiasasi. misalnya. untuk mencegah penyebaran penyakit. Tata Laksana Penanggulangan DBD Setiap diketahui adanya penderita DBD. sehingga setiap warga dapat saling melindungi diri. sehingga kemungkinan penyebarluasan DBD dapat dibatasi dan KLB dapat dicegah. Selanjutnya dalam melaksanakan kegiatan pemberantasan DBD sangat diperlukan peran serta masyarakat. dan lingkungannya dari penularan DBD. Tujuannya adalah untuk mengetahui penularan dan penyebaran DBD lebih lanjut serta tindakan penanggulangan yang perlu dilakukan di wilayah sekitar tempat penderita. Sosialisasi dalam pelaksanaan PSN dan cara hidup gotong royong harus kembali digalakkan. Penanggulangan Fokus adalah kegiatan pemberantasan nyamuk penular DBD yang dilaksanakan dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah dengue (PSN DBD). baik di musim penghujan maupun di musim kemarau. Tujuannya adalah membatasi penularan DBD dan mencegah terjadinya KLB di lokasi tempat tinggal penderita DBD dan rumah/bangunan sekitarnya serta tempat-tempat umum yang berpotensi menjadi sumber penularan DBD lebih lanjut.LAPORAN AKHIR merupakan sumber produksi nyamuk dewasa.

Tujuannya adalah membatasi penularan DBD.3. larvasidasi dan penyuluhan. sehingga penularan DBD dapat dicegah dan dikurangi. Sarang Nyamuk demam berdarah dengue (PSN DBD) adalah kegiatan memberantas telur. jentik dan kepompong nyamuk penular DBD (Aedes aegypti) di tempat-tempat perkembangbiakannya. Tujuannya adalah mengendalikan populasi nyamuk.LAPORAN AKHIR Penderita/tersangka DBD Penyelidikan Epidemiologi (PE) . pemberantasan vektor penular DBD. Sedangkan penilaian epidemiologi ditujukan untuk mengetahui dampak upaya penanggulangan terhadap jumlah penderita dan kematian DBD dengan cara membandingkan data kasus/kematian DBD sebelum dan sesudah penanggulangan KLB.Pencarian Penderita Panas Ada penderita DBD lain atau ada jentik dan ada penderita panas ≥ 3 orang dan ditemukamn jentik (≥ 25%) Ya Penyuluhan PSN DBD Fogging radius 200m - Tidak Penyuluhan PSN FDBD Larvasidasi Gambar 2. Bagan Penanggulangan Fokus (Penanggulangan Penderita DBD di Lapangan) • Penanggulangan • Pemberantasan Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah upaya penanggulangan yang meliputi : pengobatan/perawatan penderita. Keberhasilan PSN DBD diukur dengan Angka Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 24 . penyuluhan kepada masyarakat dan evaluasi/penilaian penanggulangan yang dilakukan di seluruh wilayah yang terjadi KLB. sehingga KLB yang terjadi di suatu wilayah tidak meluas ke wilayah lainnya. Penilaian operasional ditujukan untuk mengetahui persentase (coverage) pemberantasan vektor dari jumlah yang direncanakan.Pemeriksaan Jentik . Penilaian Penanggulangan KLB meliputi penilaian operasional dan penilaian epidemiologi. Penilaian ini dilakukan melalui kunjungan rumah secara acak dan wilayah-wilayah yang direncanakan untuk pengasapan.

Sebagai contoh: peran masyarakat dalam kegiatan surveilans penyakit. Tujuan pemberian pertolongan pertama di atas adalah untuk mempertahankan volume cairan dalam pembuluh darah penderita sehingga dapat membantu mengurangi angka kematian karena DBD. Seperti diketahui nyamuk Aedes aegipty adalah nyamuk domestik yang hidup sangat dekat dengan pemukiman penduduk seperti halnya Culex. kaleng bekas yang dapat menampung air hujan. dan (3) mengubur atau menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan. Sehingga upaya pemberantasan dan pencegahan penyebaran penyakit DBD adalah upaya yang diarahkan untuk menghilangkan tempat perindukan (breeding places) nyamuk Aedes aegypti yang ada dalam lingkungan permukiman penduduk. Masyarakat juga berperan dalam upaya pemberantasan vektor yang merupakan upaya paling penting untuk memutuskan rantai penularan dalam rangka mencegah dan memberantas penyakit DBD muncul di masa yang akan datang. teh manis.LAPORAN AKHIR • Pemeriksaan Bebas Jentik (ABJ). Jentik Berkala adalah pemeriksaan tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti yang dilakukan secara teratur oleh petugas kesehatan atau kader atau petugas pemantau jentik (jumantik). yaitu (1) menguras dan menyikat tempat-trempat penampungan air. Dalam upaya pemberantasan vektor tersebut antara lain masyarakat berperan secara aktif dalam pemantauan jentik berkala dan melakukan gerakan serentak Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Sehingga bisa dilakukan penegakan diagnosa secara dini dan diberikan pertolongan dan pengobatan dini. Mengubur/membuang pada tempatnya barang-barang bekas seperti ban bekas. Cara PSN DBD dilakukan dengan ”3M”. Peran Masyarakat dalam Penanggulangan DBD Masyarakat berperan dalam upaya pemberantasan penyakit DBD. juice buah-buahan. Tujuannya adalah melakukan pemeriksaan jentik nyamuk penular demam berdarah dengue termasuk memotivasi keluarga/masyarakat dalam melaksanakan PSN DBD. Obat penurun panas yang tidak boleh diberikan adalah dari jenis yang mengandung asam salisilat yang dapat memperberat perdarahan. (2) menutup rapat-arapat tempat penampungan air. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 25 . Menutup rapat-rapat tempat penampungan air agar nyamuk Aedes aegypti tidak bisa bertelur di tempat itu. yaitu masyarakat dapat mengenali secara dini tanda-tanda penyakit DBD yang menimpa salah satu anggota keluarga maupun tetangga mereka dan segera merujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. pemberian obat penurun panas seperti paracetamol. Dengan demikian gerakan PSN dengan 3M Plus yaitu Menguras tempat-tempat penampungan air minimal seminggu sekali atau menaburinya dengan bubuk abate untuk membunuh jentik nyamuk Aedes aegypti. sirup. Apabila ABJ lebih atau sama dengan 95% diharapkan penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi. Pertolongan pertama kepada tersangka penderita DBD dapat dilakukan di rumah sebelum dirujuk ke tempat pelayanan kesehatan yaitu dengan memberikan minum sebanyak-banyaknya dengan oralit.

" Keberhasilan Jenderal WC Gorgas memberantas nyamuk Aedes aegypti untuk memberantas demam kuning (Yellow Fever) lebih dari 100 tahun yang lalu di Kuba dapat kita ulangi di Indonesia.. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD oleh masyarakat sangat besar.. Bagi pemilik rumah yang ditempeli stiker hitam diberi peringatan 3 kali untuk membersihan rumah dan lingkungannya dan jika tidak dilakukan maka orang tersebut dipanggil dan didenda. Berbagai negara yang mempunyai masalah yang sama dengan Indonesia menggunakan berbagai macam pendekatan dalam melakukan PSN antara lain Singapura dan Malaysia menggunakan pendekatan hukum yaitu masayarakat yang rumahnya kedapatan ada jentik Aedes aegypti dihukum dengan membayar denda. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 26 . Adipura. terus-menerus berupa gerakan serentak. diare dan lain-lain akan ikut terberantas ibaratkan "sekali merengkuh dayung. Sri Lanka menggunakan gerakan Green Home Movement untuk tujuan yang sama yaitu menempelkan stiker hijau bagi rumah yang memenuhi syarat kebersihan dan kesehatan termasuk bebas dari jentik Aedes aegypti dan menempelkan stiker hitam pada rumah yang tidak memenuhi syarat kebersihan dan kesehatan. menyemprot rumah dengan obat nyamuk yang tersedia luas di pasaran.. Hal sederhana lainnya yang dilakukan oleh masyarakat adalah menata gantungan baju dengan baik agar tidak menjadi tempat hinggap dan istirahat nyamuk Aedes aegypti. Pemberantasan DBD akan berhasil dengan baik jika upaya PSN dengan 3M Plus dilakukan secara sistematis. sehingga dapat mengubah perilaku masyarakat dan lingkungannya ke arah perilaku dan lingkungan yang bersih dan sehat. tidak kondusif untuk hidup nyamuk Aedes aegypti aegypti. Gerakan Jumat Bersih (GJB). Sejak dulu tidak ada yang berubah dengan bionomik atau perilaku hidup nyamuk Aedes aegypti sehingga teknologi pemberantasannya pun dari dulu tidak berubah. boleh dikatakan lebih dari 90% dari keseluruhan upaya pemberantasan penyakit DBD. tidur dengan kelambu. Dan upaya tersebut sangat berkaitan dengan faktor perilaku dan faktor lingkungan. Teknologi yang digunakan oleh Jenderal Gorgas adalah gerakan PSN yang dilaksanakan serentak dan secara besar-besaran di seluruh negeri. Jika ini dilakukan maka selain penyakit DBD maka penyakit-penyakit lain yang berbasis lingkungan seperti leptospirosis. Dalam era otonomi dan desentralisasi saat ini Pemerintah Kabupaten/Kota dalam mengatur rumah tangganya sendiri dapat melakukan gerakan-gerakan inovatif seperti yang disebutkan di atas yang didukung dengan berbagai Peraturan Daerah. Berbagai gerakan yang pernah ada di masyarakat seperti Gerakan Disiplin Nasional (GDN). dua tiga pulau terlampaui. Agar gerakan yang dilakukan oleh Jenderal Gorgas bisa dilakukan di Indonesia diperlukan komitmen yang kuat dari seluruh jajaran struktur pemerintahan bersama-sama masyarakat dan swasta. Kota Sehat dan gerakangerakan lain serupa dapat dihidupkan kembali untuk membudayakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).LAPORAN AKHIR Masyarakat juga melakukan upaya mencegah gigitan nyamuk dengan menggunakan obat gosok antinyamuk.

Faktor-faktor yang terkait dengan kinerja surveilans mencakup (1) tenaga.1 Kerangka Pemikiran Kajian ini dilandasi pemikiran adanya hubungan timbal balik antara rendahnya kinerja surveilans dan kinerja penanggulangan dalam implementasi kebijakan penyakit menular khususnya dalam kasus kebijakan penanganan penyakit DBD. Kinerja surveilans diukur dengan melihat (1) keberadaan peta rawan. (2) data. dan (5) SOP.LAPORAN AKHIR METODOLOGI 3. (2) pelaksanaan diseminasi informasi DBD. dan (3) pelaporan. (2) Jumlah Kasus. (4) dana. (3) Jumlah Kematian. (4) dana. kerangka pikir kajian digambarkan dalam skema berikut: BAB 3 Kinerja Surveilans DESENTRALISASI KEWENANGAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENYAKIT MENULAR Kinerja Penanggulangan Gambar 3. (3) sarana. Faktor-faktor yang terkait dengan kinerja surveilans mencakup (1) tenaga. (2) data. dan (5) SOP. (3) sarana. Implementasi kebijakan penyakit menular juga dipengaruhi kebijakan desentralisasi kewenangan pengelolaan pembangunan. Berdasarkan landasan pemikiran diatas. Kinerja Penanggulangan diukur dengan melihat (1) Frekuensi KLB. (4) Luas Daerah Terserang.1 Kerangka Pikir Kajian Kebijakan Penannggulangan Penyakit Menular Kerangka pikir kajian tersebut selanjutnya dijabarkan dalam kerangka konsep kinerja surveilans dan kerangka konsep kinerja penanggulangan yang digambarkan dalam skema berikut: Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 27 .

2. Transportasi . alat penyemprotan SOP 1. 2. Curah Hujan Kinerja Surveilans DBD •Peta Rawan KLB DBD . 3. 2. 3. 6. Komunikasi. Pedoman. 2. 3. 3. Jumlah .Peta Rawan KLB DBD •Diseminasi Informasi . 5.Diseminasi Informasi . Peraturan Gambar 3. jenis pengeluaran Data Kasus . 4.3 Kerangka Konsep Kinerja Penanggulangan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 28 . Sumber (APBD. Jentik. 4. Obat. Pengetahuan (Penyelidikan & Penanggulangan) Kerangka Konsep Kinerja Penanggulangan Dana 1. Pengolah data. Pengolah data. Transportasi. Proses . Logistik. 4. Pengetahuan .Pelaporan Sarana 1. Curah Hujan.LAPORAN AKHIR Tenaga 1. APBD. 2. Monev Kerangka Konsep Kinerja Surveilans Dana 1. Komunikasi SOP 1. Prilaku (3M). Lingkungan (genangan). support). Sumber . Tim Penanggulangan (epid. insektisida. klinis. Pedoman (7 seri : modelpokjanal . Vektor. PHLN) 2. Vektor . motivasi . Logistik Kinerja Penanggulangan KLB DBD •Frekuensi KLB •Jumlah Kasus •Jumlah Kematian •Luas Daerah Terserang Sarana 1. Peraturan Gambar 3. Jumlah .2 Kerangka Konsep Kinerja Surveilans Tenaga 1. 3. lab. Proses. 2. Jentik . Jenis pengeluaran Data Kasus. 2.

Sumber 3. yaitu kinerja surveilans dan kinerja penanggulangan No Variabel Parameter yang diukur KINERJA SURVEILANS DBD Idependent Variabel 1 Kinerja Surveilans 1.2 Disain Kajian 1. Komunikasi 5 SOP 1. Tujuannya adalah untuk memperoleh berbagai gambaran yang jelas dan diskripsi yang lengkap tentang variabel penelitian. Pelaporan Dependent Variabel 1. klinis. support) 2. Pengetahuan 4. Jumlah 2. lab. Kajian ini menggunakan metode penelitian survey explanatory. Jumlah Kasus 3. Jentik 3. Jumlah Kematian 4. Peraturan KINERJA PENANGGULANGAN KLB DBD Idependent Variabel 1 Tenaga 1 Kinerja Penanggulangan KLB 1. Variabel Penelitian Variabel penelitian mencakup 2 aspek. Kasus 2. Peta rawan KLB DBD 2 Diseminasi informasi 3.LAPORAN AKHIR 3. Tim Penanggulangan (epid. Transportasi 2. Vektor 4. Proses 4. Pedoman (7 seri modul pokjanal) 2. Jenis pengeluaran 3 Data 1. Luas Daerah Terserang 1. Pengolah data 3. Sumber 3. Curah Hujan 4 Sarana 1. dimana data diperoleh melalui angket dan wawancara kepada sejumlah responden terpilih secara acak. Monitoring dan Evaluasi 2 Dana 1. 2. Jumlah 2. Pengetahuan (penyelidikan & Dependent Variabel 1 Tenaga Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 29 . Frekuensi KLB 2.

peraturan perundangan dalam bentuk Undang-Undang. Pengolah data 3. serta focus group discussion. Curah hujan 7. Untuk interpretasi hasil analisis data. Alat penyemprotan 1. kab/kota). Insektisida 7. baik dalam bentuk data kualitatif maupun kuantitatif. pengisian kuesioner. dilakukan pula studi kepustakaan terutama kajian teoritis dari hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan kajian ini Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 30 . Jentik 3. Data sekunder mencakup data berkaitan dengan profil kesehatan pusat. Keputusan Presiden. Keputusan Dirjen. Peraturan Pemerintah. Obat 6. Jenis pengeluaran 1. Kasus 2. Jumlah 2. Proses 4. Prilaku (3M) 5. Komunikasi 4. Logistik 1. Peraturan Daerah maupun Peraturan Gubernur. propinsi dan kab/kota. propinsi. laporan tentang wabah. Sumber 3.3 Jenis. Sumber dan Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan dalam kajian ini meliputi data primer dan data sekunder. Lingkungan (genangan) 4. Keputusan Menteri Kesehatan. Peraturan 3. Logistik 5. Transportasi 2. Vektor 6. laporan tahunan tentang Penanggulangan Penyakit Menular (P2M).LAPORAN AKHIR 2 Dana 3 Data 4 Sarana 5 SOP penanggulangan) 1. Pedoman (7 seri modul pokjanal) 2. Data primer yang didapat melalui wawancara mendalam (indepth interview) di berbagai tingkat (Pusat.

Kota Balikpapan Sulawesi Selatan 1. (4) Lab. Kota Surabaya 2. Kab.4 Responden Kajian Responden Kajian mencakup 2 (dua) kelompok. (5) unit umum Puskesmas : (1) Kepala Puskesmas. (6) Kasubag Umum Kabupaten Dinas Kesehatan: (1) subdin P2M. (4) unit kepegawaian. bagian PI dan kepegawaian. Kota Bandung 2. (5) Kabag Keuangan.LAPORAN AKHIR 3. (3) staf Kesling Rumah Sakit: (1) Wakil Direktur Yanmed. Gowa Nusa Tenggara Barat 1. yang memiliki keahlian dan pengalaman dalam penanggulangan penyakit menular. Gresik Kalimantan Timur 1. Kab. (2) Seksi Surveilans. (3) Bag. Yanmedik dan Binkesmas Dinas Kesehatan Propinsi: (1) Kasubdin P2M. yaitu (1) kelompok pelaksana yang terlibat dalam penanggulangan penyakit menular. (2) petugas P2M. (2) UGD. Tabel 3. (3) pakar lain dari WHO. Kelompok Pakar yang menjadi responden adalah (1) ahli epidemiologi dari Perguruan Tinggi. Rumah Sakit. serta (2) kelompok pakar. Kota Makasar 2. Kab. (3) P2B2. (4) Kabag Kepegawaian. Kota Samarinda 2. Kota Pekanbaru 2.1 Responden Kajian No 1 2 3 4 5 6 Propinsi/Kab Riau 1. Siak Jawa Barat 1. Kab Lombok Tengah TOTAL Dinas 5 3 2 3 2 2 1 1 2 2 1 2 2 1 2 3 2 3 47 PKM 4 5 3 2 3 4 2 2 4 4 4 6 43 Rumah Sakit 1 1 2 1 2 1 1 4 1 2 2 3 21 Bapp 2 1 1 2 1 1 2 1 1 1 1 1 15 Masy 1 1 20 1 1 18 1 1 13 2 1 20 1 1 25 2 0 13 122 Jml 26 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 31 . Kelompok Pelaksana yang menjadi responden mencakup Pusat: Dit Epidemiologi dan P2B2 Ditjen P2M. Kota Mataram 2. subdit arbovirosis. (3) unit penanggulangan P2B2. (2) unit surveilans. Kab. (2) ahli epidemiologi dari Departemen Kesehatan. Bogor Jawa Timur 1. Medical Record.

Analisis dan interpretsi selanjutnya data yang sudah dibuat dalam bentuk tabulasi serta berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan responden. Pengumpulan Data . dengan kriteria. mendapatkan rumusan hasil kajian lebih fokus. dan 12 rumah sakit 3. Selanjutnya data hasil pengumpulan di lapangan dikelompokan.Data Primer (kuesioner & wawancara) Pengolahan Data .LAPORAN AKHIR 3. Lokasi Kajian Kajian ini dilaksanakan di 6 (enam) propinsi terpilih yang ditentukan berdasarkan karakteristik frekuensi terjadinya kejadian penyakit menular dari kelompok propinsi di Indonesia Bagian Barat. o Prevalensi kasus DBD tinggi dan rendah o Puskesmas di ibukota kabupaten o Puskesmas di kecamatan di luar ibu kota kab/kota Dengan demikian jumlah sampel kabupaten/kota sebanyak 12 buah. Pada setiap propinsi di ambil 2 (dua) Kabupaten/Kota dengan kriteria pemilihan kabupaten adalah o Prevalensi kasus DBD yang tinggi dan rendah o 1 kab/kota terletak di ibu kota propinsi dan 1 kab/kota di luar kab/ibu kota propinsi Pada setiap kabupaten dipilih dua puskesmas dan 1 (satu) rumah sakit.Mengelompokkan .Mentabulasi Analisis Data .Interpertasi data . diolah dan ditabulasikan untuk memudahkan dalam proses analisis.Data Sekunder .Mengolah . Hasil FGD disosialisasikan dalam bentuk workshop untuk kemudian dirumuskan dalam bentuk kesimpulan dan rekomendasi serta implikasi kebijakan. Tengah dan Timur. baik berbentuk data sekunder maupun hasil wawancara mendalam.6 Teknik Analisis Teknik analisis yang dilakukan dalam kajian ini adalah dengan melakukan analisis diskriptif (kualitatif) berdasarkan data dan informasi yang didapat di lapangan. 24 puskesmas.5.Interpretasi hasil wawancara FGD Kesimpulan & Rekomendasi Kebijakan Gambar 3. Berdasarkan hasil analisis dan temuan yang didapat selanjutnya dilakukan pembahasan dengan nara sumber dalam bentuk focus group discussion (FGD).4 Tahapan Pelaksanaan Kajian Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 32 .

00 3 5. hal ini dimungkinkan makin banyaknya kasus-kasus DBD yang tertangani.00 1 5.0 0 1 0. Kesadaran masyarakat mengenai kasus DBD dapat memperkecil peningkatan CFR. dan tidak terlaksananya program baik PSN Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 33 . PHBS yang rendah masih menjadi salah satu pemicu tidak menurunnya kasus IR.1 IR & CFR Tahun 1968-2004 IR & CFR DBD DI INDONESIA TAHUN 1968-2004 4 0.00 Sumber: Subdit Arbovirosis.1. gambaran Incidence Rate (IR) dan Case Fatalities Rate (CFR) penyakit DBD ini dapat dilihat pada Gambar di bawah ini.0 0 2 5.00 5 .0 0 3 0.1 Incidence Rate (IR) dan Case Fatalities Rate (CFR) Berdasarkan data tahun 1968 sampai dengan tahun 2004.7.00 1 0. maka kecenderungan terjadinya peningkatan kasus DBD lazimnya dimulai pada akhir bulan Desember sampai dengan terbanyak yang lazimnya terjadi pada sekitar bulan Februari – Maret (lihat Gambar 1. terlihat makin menurunnya CFR. di bawah ini). Pada kurun waktu tahun 2000 – 2004 terjadi kecenderungan peningkatan IR. 1988. Angka tertinggi IR terjadi pada tahun 1968.2004.00 CFR 2 5. Depkes.00 2 0.00 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 00 01 02 03 04 TAHUN 0 .LAPORAN AKHIR BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Ditjen PP&PL. Tingginya curah hujan menyebabkan banyaknya genangan-genangan air yang memudahkan nyamuk untuk berkembangbiak. peningkatan IR yang paling tinggi tidak mengakibatkan CFR meningkat di tahun yang sama. 1999 dan tahun 2004. Implementasi Kebijakan Penanggulangan DBD 4. namun demikian.0 0 IR 3 5. Dapat dilihat pada tahun 1998.0 0 3 0.00 4 5.00 CFR 4 0. Jika diperhatikan gambaran IR dan CFR (gambar) antara kurun waktu 1968 sampai 2004. R 2 0.0 0 1 5.0 0 I. Gambar 4.0 0 5. 2005 Apabila dilihat secara khusus per bulan selama kurun waktu 2003 .1.00 0.

65 5.79 1. 3 KASUS DBDPer Bulan di Indonesia.000 5.03 5. 2006 11.7. 2005 Sementara itu. 7. menunjukkan bahwa kecenderungan peningkatan kasus DBD per bulan hampir sama polanya dengan tahun 2003 – 2004.7 15. 2005 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 34 .77 2. Depkes.61 5.0 6. Gambar 4.LAPORAN AKHIR (Pemberantasan Sarang Nyamuk) maupun 3M mengakibatkan kecenderungan peningkatan kasus DBD. Hal ini ada kaitannya dengan pergantian musim kemarau ke musim hujan.4 10. tahun 2005-2006 Kasus DBD PER BULAN DI INDONESIA TAHUN 2005-2006 35.005 14.8 30.3 18.52 6.2 Perkembangan Kasus DBD Nasional Per Bulan PERKEMBANGAN KASUS DBD NASIONAL PER BULAN 30000 2003-2004 25000 20000 S SU KA 15000 KASUS IK NA 10000 5000 0 JAN FEB MAR APR MAY JUN JUL AUG SEP OCT NOV DEC JAN FEB MAR APR 2003 2004 Sumber: Subdit Arbovirosis. data tahun 2005 – 2006. Sumber: Subdit Arbovirosis. Ditjen PP&PL.35 5.000 15.94 6.000 30.10 908 992 1.000 0 JAN FEB MARAPRMAYJUN JUL AUGSEPOCT NOVDECJAN FEB MARAPRMAYJUN JUL AUGSEPOCT NOVDES JAN FEB MARAPRMAY 2.61 10. yaitu pada bulan akhir Desember (lihat Gambar 1.99 7. Gambar 4.0 335 KASUS 9.59 2.000 10.76 1.000 25.27 1.41 19.03 8.a).004 2.000 20.9 7. Ditjen PP&PL. Depkes.

(2) meningkatkan perlindungan kesehatan masyarakat terhadap penyakit DBD. Strategi dalam pelaksanaan kebijakan di atas dilakukan melalui Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 35 . data tahun 2003 hingga Juni 2006.01 14. Depkes. 1.028 Sumber: Subdit Arbovirosis.4 JUMLAH KASUS DBD DI INDONESIA TAHUN 2005 & 2006 JUMLAH KASUS DBD DI INDONESIA TAHUN 2004 DAN 2005 (SITUASI SD TGLJuni 2006) (s/d 19 19 JUNI 2006) 20000 18000 16000 14000 12000 10000 8000 6000 4000 2000 0 2005 2006 Total sd Akhir Mei 2005: 35.8.LAPORAN AKHIR Gambar 4. maka cara yang paling efektif untuk mencegah penyakit DBD ialah dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang dilaksanakan oleh masyarakat/keluarga secara teratur setiap seminggu sekali. 4.7a. dan (4) memantapkan kerjasama lintas sektor/lintas program. yaitu kecenderungan terjadinya peningkatan kasus DBD pada akhir bulan Desember sampai dengan kasus terbanyak pada bulan Februari – Maret.2 Kebijakan Penanggulangan Penyakit DBD Departemen Kesehatan telah melewati pengalaman yang cukup panjang dalam penanggulangan penyakit DBD.143 11. Kedua metode ini sampai sekarang belum memperlihatkan hasil yang memuaskan dimana terbukti dengan peningkatan kasus dan bertambahnya jumlah wilayah yang terjangkit DBD. Ditjen PP&PL. Kemudian strategi diperluas dengan menggunakan larvasida yang ditaburkan ke Tempat Penampungan Air (TPA). dan 1. 2005 Berdasarkan gambar 1.686 Total sd Akhir Mei 2006: 50.418 7. Pada awalnya strategi utama pemberantasan DBD adalah pemberantasan nyamuk dewasa melalui pengasapan. seperti di atas. Hal ini menurut beberapa hasil analisa ada kaitannya dengan pergantian musim kemarau ke musim hujan.034 8 8528 9 6997 10 7610 11 12 10712 15355 18.935 1 2005 2006 6475 2 10916 3 7610 4 5033 5 5652 335 6 5357 7 5.7. (3) meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi program pemberantasan DBD. Kebijakan dalam rangka penanggulangan menyebarnya DBD adalah (1) peningkatan perilaku dalam hidup sehat dan keamandiriian masyarakat terhadap penyakit DBD. Mengingat obat dan vaksin untuk membunuh virus dengue belum ada. terlihat pola yang jelas mengenai kecenderungan peningkatan kasus DBD.1.

sosialisasi. sehingga populasi vektor sebagai penular penyakit DBD dapat berkurang. Upaya pemberantasan penyakit DBD tidak dapat dilaksanakan oleh sektor kesehatan saja. meningkatkan dan mewujudkan kemitraan. Optimalisasi pendelegasian wewenang pengelola kepada kabupaten/kota. Orientasi. (2) Peningkatan Kemitraan Berwawasan Bebas dari Penyakit DBD. pemantauan dan penilaian. Jaringan kemitraan diselenggarakan melalui pertemuan berkala. dan berbagai kegiatan KIE kepada semua pihak yang terkait perlu dilaksanakan agar semuanya dapat memahami peran lingkungan dalam pemberantasan penyakit DBD. social marketing. maka upaya-upaya KIE. (4) Desentralisasi. (4) Penanggulangan kasus. peran sektor terkait pemberantasan penyakit DBD sangat menentukan. Pokok-pokok program pemberantasan DBD mencakup (1) Kewaspadaan dini DBD. guna memadukan berbagai sumber daya yang tersedia di masing-masing mitra. tata laksana kasus harus dikuasai karena hal-hal tersebut merupakan landasan dalam penyususnan kebijaksanaan program P2 DBD. advokasi. (5) Pembangunan Berwawasan Kesehatan Lingkungan. Oleh sebab itu. (2) Pemberantasan vektor melalui PSN dengan cara 3M Plus. Meningkatnya mutu lingkungan hidup dapat mengurangi angka kesakitan penyakit DBD karena di tempat-tempat penampungan air bersih dapat dibersihkan setiap minggu secara berkesinambungan. Pertemuan berkala sejak dari tahap perencanaan sampai tahap pelaksanaan. merupakan langkah awal dalam menggalang. dimana Puskesmas melakukan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 36 . Angka kesakitan penyakit ini bervariasi antara satu wilayah dengan wilayah lain. SDM yang terampil dan menguasai IPTEK merupakan salah satu unsur penting dalam pelaksanaan program P2 DBD. (3) Peningkatan Profesionalisme Pengelola Program.LAPORAN AKHIR (1) Pemberdayaan masyarakat. dikarenakan perbedaan situasi dan kondisi wilayah. Meningkatnya peran aktif masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit DBD merupakan salah satu kunci keberhasilan upaya pemberantasan penyakit DBD. maka identifikasi stakeholders baik sebagai mitra maupun pelaku potensial. dan berbagai upaya penyuluhan kesehatan lainnya dilaksanakan secara intensif dan berkesinambungan melalui berbagai media massa dan sarana. virology dan faktor-faktor perubahan iklim. Penyakit DBD hampir tersebar luas di seluruh Indonesia kecuali di daerah yang di atas 1000 m diatas permukaan air laut. Untuk mendorong meningkatnya peran aktif masyarakat. (3) Bulan Bakti gerakan ”3M”. Pengetahuan mengenai Bionomic vektor. dan pemeriksaan jentik berkala (PJB) yang dilakukan setiap 3 bulan sekali.

sebagai dasar tindak lanjut perencanaan program dan penanggulangan KLB. Tim Pokjanal DBD terdiri dari unsur-unsur Diknas. (5) penanggulangan KLB. lintas program dan lintas sektor terkait serta mengaktifkan kembali peran UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) untuk menggerakkan anak sekolah dalam pemberantasan demam berdarah. PKK. maka uang tidak bisa dicairkan. Strategi yang dilakukan mencakup (1) intensifikasi pelaksanaan kasus melalui pencarian kasus dan pemutusan rantai penularan. pelatihan tenaga operasional. melalui penyediaan insektisida dan larvasida. Strategi dan program adalah (1) pertemuan dengan tim pokjanal DBD propinsi Riau menghasilkan beberapa kesepakatan yang menitikberatkan pada peran aktif dari pokja/pokjanal DBD dengan melibatkan masyarakat. pelatihan tenaga puskesmas dan rumah sakit. pengendalian faktor resiko dan penyehatan lingkungan. Dana KLB dianggarkan dengan menggunakan pola kinerja artinya bila KLB tidak terjadi. sedangkan sekretariat berada di kantor Dinas Kesehatan. sedangkan dana dari Dinas Kesehatan diutamakan untuk membeli peralatan dan kegiatan yang sifatnya pencegahan. dana bencana dan dana belanja rutin sekretariat daerah. (2) Di Kota Pekanbaru. Implementasi kebijakan. (3) meningkatkan SDM. lintas sektor.LAPORAN AKHIR penyelidikan epidemiologi (PE) untuk mengurangi persebaran lebih luas dan tindakan yang lebih tepat. kewaspadaan dini. Dinkes. Bila Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 37 . strategi dan program penanggulangan DBD di daerah lokasi kajian dilaporkan sebagai berikut: Propinsi Riau Kebijakan Daerah mecakup (1) pemberantasan DBD diselenggarakan dengan menggunakan penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat. Hasil implementasi kebijakan. dan menyiapkan sarana pemeriksaan untuk diagnosa melaksanakan PE dan penanggulangan fokus. (6) peningkatan profesionalisme SDM. (3) Bila terjadi KLB. Bappeda. menyiapkan juknis dan juklaknya. serta kemitraan dengan masyrakat (LSM) termasuk swasta. PMD. (2) mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi dengan fokus pemantauan wilayah setempat. tersedia pos untuk penanggulangan. pembinaan dalam pelaksanaan gerakan 3M. perbaikan manajemen kasus diagnostik dan pengobatan serta rujukan. Program yang dilakukan mencakup (1) kewaspadaan dini DBD melalui penyuluhan intensif. melengkapi sarana pemberantasan vektor. (4) menyiapkan pengadaan dan distribusi kebutuhan obatobatan dan bahan-bahan yang esensial. (2) pemberantasan vektor. (7) Pendekatan Peran Serta Masyarakat dann PSN DBD. (3) memantapkan jejaring lintas program. (2) surveilans epidemiologi. komunikasi perubahan perilaku. melalui pelaksanaan pertemuan berkala Pokjanal/Pokja DBD. Ketiga dana tersebut diatas berasal dari dana Kantor Walikota. melalui perencanaan. yaitu dana tak terduga. (5) meningkatkan kemampuan penggalian sumberdaya daerah dan sumberdaya masyarakat dalam pengelolaan program P2M. Tim Pokjanal DBD diketuai oleh Walikota. (8) Penelitian. Depag dan pihak legislatif. pemantauan dan informasi program pemberantasan penyakit dan meningkatkan kewaspadaan di semua tingkat administrasi. kab/kota.

(6) peningkatan profesionalisme SDM. yaitu mencakup 1) Kewaspadaan dini DBD. perawat. dan pemeriksaan jentik berkala (PJB) yang dilakukan setiap 3 bulan sekali. (2) upaya preventif yang dilakukan melalui ”managing vector and environment” malalui gerakan 3M yang dilakukan secara lintas sektor dalam wadah Pokjanal DBD. (2) Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 38 . Strategi pelaksanaan kebijakan penanggulangan DBD di Propinsi Jawa Barat dilakukan melalui (1) pendekatan ”gerak cepat” dan putus rantai. Hasil pelaksanaan program ditunjukkan antara lain (1) pemantauan jentik belum optimal dilakukan oleh kader dengan alasan terbatasnya dana operasional. Propinsi Jawa Timur Kebijakan daerah mencakup (1) upaya penanggulangan masalah-masalah kesehatan yang dilakukan merupakan hasil dari kajian surveilans epidemiologi. Strategi dalam penanggulangan DBD dilakukan melalui (1) penemuan kasus dan kematian melalui surveilans di rumah sakit. dan tidak seimbangnya jumlah kader dengan cakupan daerah yang harus diselidiki. (7) Pendekatan Peran Serta Masyarakat dann PSN DBD. (3) Bulan Bakti gerakan ”3M”. (2) Fogging dilaksanakan apabila terjadi KLB dengan menggunakan dana yang berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten dengan peruntukan untuk larvasidasi dan abatesisasi. (4) Penanggulangan kasus. dan melakukan ”CLEAN-UP” lingkungan yang dipimpin oleh walikota selama 1-2 jam. dimana Puskesmas melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) untuk mengurangi persebaran lebih luas dan tindakan yang lebih tepat. maka kinerjanya akan dipertanyakan (3) Disamping Tim Pokjanal DBD.LAPORAN AKHIR terjadi KLB. uang dicairkan. (3) Upaya peningkatan kemampuan tenaga kesehatan dalam penanggulangan DBD secara kuratif dilakukan melalui ”workshop tata laksana” dengan melibatkan dokter spesialis dan urusan dalam. Kota Pekanbaru juga memiliki Forum Perkampungan Sehat. (8) Penelitian. (5) penanggulangan KLB. pemeriksaan jentik dengan memberdayakan tenaga jumantik. kab/kota. fogging focus massal. diketuai oleh Bappeda dan sekretariat juga berada di Bappeda. (4) Pelibatan partisipasi masyarakat melalui gerakan PSN setiap hari Jumat pagi. bidan. dokter. (2) kegiatan surveilans epidemiologi dilaksanakan oleh tim fungsional di masingmasing tingkat mulai dari Puskesmas. (3) komitmen dari pimpinan unit penyelenggara kesehatan diperlukan untuk kegiatan surveilans epidemiologi. (6) Sosialisasi Pola Hidup Bersih (PHBS). Kegiatan pokok adalah melakukan rapat lintas sektor untuk menangani masalah-masalah khususnya penyakit menular. (5) Pelibatan lintas sektor. kesibukan kader. yaitu pada setiap kasus petugas siap melakukan PE sehingga ditemukan akar permasalahan dan sumber penyebabnya untuk kemudian dilakukan tindakan agar tidak menyebar ke tempat lain. dukun bayi dan kendaraan kesehatan. Propinsi Jawa Barat Kebijakan penanggulangan di Jawa Barat secara umum mengacu pada kebijakan dan program yang telah ditetapkan oleh Departemen Kesehatan (Pusat). praktek swasta. (2) Pemberantasan vektor melalui PSN dengan cara 3M Plus. (4) penemuan kasus dilaksanakan secara bekerjasama dengan masyarakat. puskesmas dan masyarakat. dan propinsi.

dan (3) Membangun kerja sama lintas sektor. Pelaksanaan program penanggulangan DBD mencakup (1) SKD-KLB melalui kegiatan pengumpulan data baru dari penyakit-penyakit yang berpotensi KLB. APBD mengalokasikan dana 500 juta untuk penanggulangan KLB dan habis untuk penanggulangan KLB DBD. (6) Pelatihan khusus tentang epidemiologi dan surveillens baru dilakukan 1 kali dalam 5 tahun terakhir. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 39 . orang dan tempat. (2) mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi dengan fokus pemantauan wilayah setempat. merencanakan penelitian lain yang sistematis. (2) Pelaksanaan Surveilans Epidemiologi. perilaku masyarakat. kerja sama dengan dengan masyarakat dan swasta. mengidentifikasikan keadaan penyebab KLB. Gambaran implementasi adalah (1) Pelaksanaan penanggulangan DBD melibatkan masyarakat. (4) melakukan kajian epidemiologi harus bekerjasama dengan lintas program dan lintas sektor. pertemuan berkala Pokjanal/Pokja DBD. penyediaan insektisida dan larvasida. status gizi. (5) melakukan studi epidemiologi pada daerah dengan kinerja yang tidak baik. Propinsi Kalimantan Timur Kebijakan Daerah yang dilakukan mencakup (1) Pemberantasan DBD diselenggarakan dengan menggunakan penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat. mengamati indikasi pra-KLB misal cakupan program. (2) penyelidikan dan penanggulangan KLB. menetapkan sistem penemuan kasus baru. (3) Pelatihan tenaga surveilens (pelatihan epidemiologi. (3) penyelidikan epidemiologi terhadap kasus yang dicurigai pada daerah yang resiko rendah. melengkapi sarana pemerantasan vektor.LAPORAN AKHIR pencarian kasus tambahan dilakukan pada saat penyelidikan epidemiologi. mendeskripsikan kasus berdasarkan waktu. pelaksanaan gerakan 3M. pengolahan dan analisis data untuk penyusunan rumusan kegiatan perbaikan oleh tim epidemiologi. Pokok-pokok Program yang dilakukan mencakup Kewaspadaan Dini DBD. pelatihan tenaga kesehatan. mengidentifikasikan sumber dan cara penyebaran. (5) Dinas kesehatan kota Balikpapan selalu melaksanakan pendataan DBD dengan rutin. (3) Untuk tahun 2005. menetapkan apakah kejadian tersebut suatu KLB. perubahan perilaku dalam pola hidup bersih dan sehat. Kota Balikpapan memiliki Yayasan DBD yang ketuanya adalah kasubdin P2M Dinkes dan didanai oleh perusahaan minyak swasta. membuat cara penanggulangan sementara. (2) Pemberantasan vector. (4) Di samping Tim Pokjanal DBD. Strategi yang dilakukan mencakup (1) peningkatan pencarian kasus dan pemutusan rantai penularan perbaikan manajemen pengobatan serta rujukan. melalui persiapan penyelidikan lapangan. beranggotakan kepala – kepala dinas yang ketika diadakan rapat-rapat selalu dihadiri oleh personal yang berlainan. mengidentifikasi dan menghitung kasus atau paparan. memastikan diagnostik etiologi. lintas program dan lintas sekor terkait. penyuluhan. kewaspadaan dini. (2) Tim Pokjanal DBD diketuai oleh Walikota. sehingga sesuai data memang DBD di Kota Balikpapan tinggi. pelaksanaan PE. penyehatan lingkungan. menetapkan rekomendasi cara pencegahan dan penanggulangan.

dan fogging massal. Implementasi kebijakan penanggulangan DBD di Sulawesi Selatan antara lain (1) Kewaspadaan Dini. Dengan demikian Puskesmas sebagai fasilitas yang paling dekat dengan masyarakat tidak dimanfaatkan dengan baik dalam penanggulangan KLB DBD.3 Kendala Penanggulangan DBD Kendala penting yang masih terjadi saat ini adalah kurang atau tidak adanya koordinasi dari instansi-instansi yang seharusnya terkait dalam menangani Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 40 . Propinsi Nusa Tenggara Barat Pedoman surveilans dan KLB kurang operasional. Di kabupaten Lombok Tengah. pemantauan jentik berkala. 4. bulan kewaspadaan DBD. pelatihan bagi pengelola program P2 DBD di 23 kab/kota. (3) Peningkatan Sumber Daya Manusia. menghasilkan penemuan dan pelaporan penderita. (4) Peningkatan SDM. penyuluhan intensif melalui media cetak dan elektronik. Pada pelaksanaan di Puskesmas. (2) Penanggulangan KLB menemukan jumlah kasus KLB DBD tahun 2005 sebanyak 66 kasus. melalui pelatihan petugas kesehatan. lintas program dan kabupaten/kota terdekat. melakukan pelatihan tatalaksana DBD bagi dokter di rumah sakit pada daerah endemis. melalui penemuan dan pelaporan penderita. kab/kota dan puskesmas.LAPORAN AKHIR Propinsi Sulawesi Selatan Upaya penanggulangan kejadian luar biasa (KLB)/penyakit menular. gerakan PSN. melalui penyuluhan. pertemuan Kewaspadaan Dini DBD sebanyak 4 kali melibatkan sektor terkait. pembinaan di 23 kab/kota. dimana peran puskesmas sangat kecil karena dukungan dana dan personil sangat kecil. pengamatan bebas jentik dilakukan oleh murid-murid sekolah dan telah terbukti cukup efektif untuk dapat direflikasi di daerah lain. dukungan dana surveilans tertolong oleh adanya subsidi dari Askeskin.1. terutama untuk insentif tenaga kesehatan dan kader. sedangkan tahun 2004 jumlah KLB DBD sebanyak 88 kasus. abatisasi. (3) Penanggulangan KLB. pada dasarnya dilaksanakan berpedoman pada arah kebijakan dan program dari Pemerintah Pusat (Departemen Kesehatan). penanggulangan fokus. Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan selanjutnya menyusun Prosedur Tetap (Protap) Penanggulangan DBD sebagai pedoman/acuan pelaksanaan kegiatan Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Dinkes Propinsi Nusa Tenggara Barat membuat pedoman operasional yang berisi ”step by step” metodologi penanggulangan DBD. (2) Pemberantasan Nyamuk Penular DBD terhadap nyamuk dewasa dan jentik nyamuk. Materi yang disusun dalam prosedur tetap (Protap) ini adalah langkahlangkah penanggulangan DBD sebagai berikut: (1) Kewaspadan Dini. Surveilans dilaksanakan pada tingkat dinas kesehatan propinsi. pemantauan jentik berkala di berbagai kabupaten endemis dengan sasaran masing-masing 100 rumah. khususnya penyakit DBD di Propinsi Sulawesi Selatan. Namun terdapat ”gap” pelaksanaan/penanganan KLB.

2. serta instansi penyedia sarana air bersih (PDAM) juga harus ikut pula berpartisipasi. Kinerja Surveilans dan Pe 4.2. nanggulangan DBD Kajian P2M KLB DBD dilakukan di enam propinsi. yaitu propinsi Riau. Pada tiap propinsi dilakukan kunjungan dan wawancara terhadap 2 kabupaten/kota. Karena itu. Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat. Penanganan DBD tidak semata-mata tugas Dinas Kesehatan. Adanya intervensi dari pendamping (orang dinas) dalam wawancara di tingkat Kab/kota. populasi nyamuk Aides dewasa yang mempunyai potensi menyebarkan virus dengue juga akan selalu dijumpai dan menjadi sumber penularan di sepanjang tahun. baik di musim penghujan maupun di musim kemarau. Hal ini menjadi faktor penghambat praktek penanganan kasus di lapangan. dilakukan kunjungan ke dinas kesehatan kabupaten/kota. Dengan demikian. selama PDAM belum mampu menyediakan air bersih untuk seluruh penduduk.3. kebersihan dan lingkungan hidup. baik dana maupun tenaga. sarang-sarang nyamuk Aides akan tetap ada di sepanjang tahun. Beberapa kendala yang ditemukan di lapangan. Responden yang diharapkan sebagai informan tidak sesuai. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 41 . Adanya intervensi dalam pemilihan responden di tingkat dinas. Jawa Timur. Kebijakan desentralisasi juga berpengaruh terhadap koordinasi antara pusat dan daerah dalam kewenangan penanganan DBD. puskesmas dan rumah sakit. hal ini dikarenakan adanya perubahan posisi (rolling) yang terjadi beberapa bulan sebelum kunjungan. diantaranya: 1. 3. bahkan Dinas Pendidikan. 4. yang memang membutuhkan biaya sangat tinggi.LAPORAN AKHIR DBD sehingga menimbulkan masalah tersendiri di lapangan. serta melakukan wawancara ke Bappeda dan masyarakat. Kebijakan tersebut terkait dengan anggaran kesehatan untuk pencegahan serta pemberantasan penyakit menular. Instansi-instansi yang mengatur tata kota dan permukiman. 4. dan di tiap kabupaten/kota tersebut. Jawa Barat. 4. Dengan adanya kewenangan penanganan yang didaerahkan terkadang menyulitkan dalam koordinasi penganggaran. Sebagai contoh. pemerintah pusat mengalami kendala dalam pendistribusiannya ke daerah. Kalimantan Timur. Pihak daerah seringkali kewalahan dalam penyediaan biaya operasional penanganan penyakit karena keterbatasan sumberdaya. 2 puskesmas dan 1 Rumah Sakit. maka penduduk masih terpaksa menyiapkan bak mandi dan tandon-tandon air (yang dapat menjadi sarang nyamuk) untuk menampung air yang sering hanya menetes bahkan mampet. Sumber informan yang seharusnya dan pada saat yang bersamaan tidak berada di tempat sehingga dilakukan wawancara terhadap informan pengganti. melainkan juga terkait dengan instansi lainnya. Disisi lain adanya desentralisasi sumberdaya yang dimiliki.4.

RS dan Puskesmas.0 jml 10 7 6 9 9 % 83.3 50.1 Sumber: Data Lapangan.4%) yang memiliki peta rawan.3% memiliki peta rawan.0 60.1 Indikator Kinerja Surveilans dan Penanggulangan KLB (1) Indikator Kinerja Surveilans Peta Rawan Indikator Kinerja Surveilans bisa dilihat dari peta rawan.9 57.1 Distribusi Indikator Kinerja Surveilans di Dinkes Propinsi. K-DBD. DP-DBD. 4. hanya 11 (52.3 jml 11 9 12 15 12 % 52. Hal ini dapat dipahami berkaitan dengan fungsi rumah sakit sebagai unit rujukan yang berperan melakukan tindakan medis atas kejadian kasus. Berdasarkan data tersebut terlihat 4 dari 5 dinkes propinsi memiliki peta rawan sebagai salah satu indikator kinerja surveilans. Kesulitan pada proses wawancara di beberapa puskesmas dan RS dikarenakan waktu wawancara dilakukan pada saat jam kerja. tak satupun memiliki peta rawan DBD. Tidak demikian dengan Rumah Sakit. Tabel 4. dari sebanyak 12 rumah sakit kab-kota yang menjadi lokasi kajian.0 75. Dinkes Kab/Kota.2. dari 12 dinkes kab/kota sebanyak 10 dinkes kab/kota atau 83. 1 miss ) (ntot =12) Peta rawan DP-DBD K-DBD W2-DBD W1 jml 4 4 3 3 4 % 80. 6 miss) (nto= 5.LAPORAN AKHIR 5. Sedangkan di tingkat kab/kota indikator kinerja surveilans yang dimiliki dinkes kab/kota dan RS lebih banyak pada Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 42 . Dinkes Kab/Kota. Sementara di Puskesmas sebagai unit pelayanan kesehatan dasar. Dari tabel di atas tergambarkan di tingkat propinsi data tersebut hampir semuanya tersedia.3 58. indikator kinerja surveilans lainnya adalah DP-DBD.0 80. Tabel di bawah ini memperlihatkan persentase keberadaan indikator tersebut di Dinkes Propinsi.1 71.0 80. 6.4 42. dan W1. W2 DBD. W2-DBD dan W1. Begitu pula pada tingkat dinkes kab/kota.7 16. KDBD. Ketidaklengkapan data dikarenakan keterbatasan waktu dalam pengumpulan data 3 tahun terakhir (tahun 2003-2005).0 75.4 57. RS dan Puskesmas DINKES DINKES RUMAH INDIKATOR PUSKESMAS KAB/KOTA PROPINSI SAKIT (ntot =24. Dari 19 puskesmas yang dikunjungi. 2006 Selain peta rawan.7 83. 5 miss) KINERJA (ntot =12.0 60.3 83. peta rawan tidak tersedia disemua puskesmas.0 jml 0 1 1 5 5 % 0.0 16. Indikator kinerja surveilans tersebut tidak sepenuhnya merupakan indikator surveilans.

ketiadaan indikator di atas karena pendekatan rumah sakit yang lebih kepada kuratif. Kadangkala diperlukan pengiriman informasi melalui short message system (sms dengan hand phone) untuk melaporkan kejadian BDB. Diseminasi Informasi Kinerja surveilans juga diukur berdasarkan indikator diseminasi informasi seperti terlihat pada tabel di bawah ini. Di Dinkes kota Samarinda. Sementara. setelah kejadian KLB laporan W2 seringkali terlupakan untuk dilaporkan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota. 76% puskesmas sudah menerima laporan umpan balik dari Pemda kab/kota. Laporan umpan balik dari propinsi sudah dilakukan oleh sebagian dinkes propinsi. dalam hal ini laporan W1. namun apakah laporan tersebut tepat waktu atau tidak. Pada tingkat puskesmas. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 43 . Lokasi yang tercakup dalam peta rawan kadang kali tidak kecil. Demikian pula untuk pembuatan profil surveilans epidemiologi. seksi surveilans dan program pemberantasan penyakit (dalam hal ini program DBD/pemberantasan penyakit bersumber binatang). Pada level puskesmas. Sedangkan di tingkat Puskesmas. Penerbitan bulletin kajian epidemiologi ternyata lebih banyak dilakukan oleh Dinkes propinsi. dinkes kab/kota dan puskesmas. Pada tingkatan rumah sakit. walau tidak semua puskesmas memilikinya. sementara untuk rumah sakit hanya 1 buah rumah sakit saja yang menerima laporan umpan balik dari Pemda kab/kota. namun ketepatannya hanya 60% saja. Di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota. Ke dua pertanyaan lainnya (penerbitan epidemiologi dan laporan umpan balik dari propinsi) tidak berkaitan langsung pada aktifitas puskesmas. keberadaaan datadata tersebut relatif tersedia. dan K-DBD. karena merupakan kota endemis. laporan peta rawan. Seperti halnya di propinsi Riau. informasi mengenai ke lima indikator. maka peta rawan adalah seluruh kota Samarinda itu sendiri. merupakan gabungan dari bagian seksi surveilans dan program pemberantasan penyakit (DBD). diperoleh dari bagian program pemberantasan DBD. W2. meskipun kelengkapan laporan puskesmas mencapai 90-100%. hanya pertanyaan mengenai adanya umpan balik dari kabupaten dan profil surveilans epidemiologi yang ditanyakan. Dalam pembuatan laporan. Laporan umpan balik ke RS sangat jarang dilakukan.LAPORAN AKHIR indikator W2 DBD dan W1. Dari hasil keseluruhan memperlihatkan adanya persentase yang tinggi dalam hal kinerja ditingkat propinsi. pengumpulan data surveilans dilakukan oleh dua bagian. Surveilans hanya menerima laporan yang berkaitan dengan KLB. Pembuatan laporan pun tidak dilakukan setiap hari. DP-DBD. faktor ketepatan juga sangat penting. Di Samarinda. Sehingga. Yang perlu diperhatikan adalah meskipun semua indikator terpenuhi.

angka kematian dan Case Fatality Rate (CFR).4 2 50.2 Distribusi Indikator Diseminasi Informasi Surveilans di Dinkes Propinsi. RS dan Puskesmas INDIKATOR KINERJA DINKES PROPINSI (ntot=6) jml Penerbitan buletin kajian epidemiologi Laporan umpan balik dari propinsi Laporan umpan balik dari kab/kota (untuk RS & puskesmas) Profil survaeilans epidemiologi 3 % 75.8 1 14. Dinkes Kab/Kota. Grafik diatas ini memperlihatkan dari ke 6 lokasi kajian.9 3 75.7 Sumber: Data Lapangan.0 6 66. 2006 (3) Indikator Kinerja Penanggulangan Data Kasus Hasil kinerja surveilans dan penanggulangan diukur dengan penemuan kasus. Gambar 4.0 5 55.7 2 28.0 1 7.1 RUMAH SAKIT (ntot =12) jml 0 % 0.5 Data Kasus DBD di Lokasi Kajian Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 44 .0 DINKES KAB/KOTA ntot =12) jml 1 % 11.0 PUSKESMAS (ntot =24) jml 2 % 15.3 10 76.6 7 53.6 0 0.LAPORAN AKHIR Tabel 4.

disusul dengan Propinsi Jawa Timur. Sedangkan kasus terendah terjadi di propinsi Nusa Tenggara Barat. Grafik ini adalah data yang diambil di Dinkes propinsi.6 Data Kematian DBD di Lokasi Kajian DATA KEMATIAN DBD DI LOKASI KAJIAN TAHUN 2003-2005 300 250 200 150 100 50 0 RIAU JABAR JATIM KALTIM SULSEL NTB 39 8 2003 6 201 59 2004 21 214 120 41 25 16 2005 32 285 254 82 59 15 Sumber: Ditjen PP & PL Depkes RI. Berdasarkan data tersebut kecenderungan data selama tahun 2003-2005 menunjukkan peningkatan kasus di semua propinsi. 2006 Berdasarkan gambar tersebut terlihat propinsi Jawa Barat memiliki kasus DBD yang paling banyak. Gambar 4. grafik di atas memperlihatkan jumlah kematian tertinggi di Jabar disusul dengan Jatim. 2006 Sementara untuk jumlah kematian.LAPORAN AKHIR DATA KASUS DBD DI LOKASI KAJIAN TAHUN 2003-2005 20000 15000 10000 5000 0 RIAU JABAR JATIM KALTIM SU LSEL N TB 2003 739 8932 4243 2004 1059 19012 8321 2276 2005 1897 18590 14796 3165 3164 1062 2628 198 4175 805 Sumber: Ditjen PP & PL Depkes RI. NTB adalah propinsi terendah Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 45 .

13 1.5 2004 1.00 3. Jatim.53 1.86 1.50 0. Namun bila Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 46 .98 1.00 1.69 1.81 2. yaitu di propinsi Riau.60 1.25 1. CFR tertinggi adalah NTB.50 1. Salah satu penyebab tingginya kasus DBD adalah faktor geografis dan perilaku masyarakat. Jabar.59 1.7 Case Fatality Rate (CFR)DBD di Lokasi Kajian CASE FATALITY RATE (CFR) DBD DI LOKASI KAJIAN TAHUN 2003-2005 4. Pada tahun 2004 CFR di lokasi kajian terlihat rendah. dapat dilihat dengan indikator CFR.LAPORAN AKHIR dalam jumlah kematian.41 1. di sana banyak perumahan penduduk yang tersebar di pulau-pulau kecil sehingga menyulitkan petugas untuk memantau.72 2.50 3.2 2005 1.00 0. Masyarakat pun memiliki kebiasaan menampung air hujan (tadah hujan) yang menambah habitat jentik.00 2.50 4. Grafik di atas memperlihatkan pada tahun 2003. Kaltim.04 1. Seperti terjadi di Samarinda.80 0.50 2. Gambar 4.39 0. Indikator ini menunjukkan jumlah penderita DBD yang meninggal dari tiap 100 penderita DBD.00 RIAU JABAR JATIM KALTIM SULSEL NTB NAS 2003 0. dan Sulsel.44 1. khususnya pada rumah sakit yang berfungsi kuratif.00 1.36 Sumber: Ditjen PP & PL Depkes RI.99 1.48 4. Dari data yang dicatat dinkes propinsi selama tahun 2003-2005 menunjukkan sejumlah propinsi mengalami peningkatan jumlah kematian. bahkan di atas angka nasional. 2006 Untuk melihat kinerja penanganan kasus. Sementara Dinkes tidak memiliki kendaraan untuk menjangkaunya. Tipe rumah panggung yang merupakan ciri masyarakat asli Kaltim turut menambah risiko pertumbuhan habibat jentik karena biasanya bagian bawah rumah tergenang air buangan rumah tersebut dan menjadi sarang nyamuk.

staf administrasi. Tabel 4. sementara dokter umum berperan sebagai tenaga penanggulangan KLB. komposisi jenis tenaga yang bertugas dalam pelaksanaan surveilans dan penanggulangan terbanyak adalah S1 dan S2 Epidemiologi. tenaga rekam medis.LAPORAN AKHIR dibandingkan dengan angka nasional. SKM.3 jml 1 3 4 2 % 4.6 8. CFR sejumlah propinsi lebih tinggi. teknik lingkungan.6 jml 5 17 65 6 % 2. Pada tingkat dinkes propinsi. manajemen kesehatan. angka CFR kembali meningkat di bandingkan tahun sebelumnya. Kaltim dan NTB.3 Distribusi Jenis Tenaga di Dinkes Propinsi dan Dinkes Kab/Kota DINKES PROPINSI JENIS TENAGA SURVEILANS PENANGGULA NGAN KLB DINKES KAB/KOTA SURVEILANS PENANGGULA NGAN KLB Jml S2 Epidemiologi S1 Epidemiologi Dokter umum Epidemiologi terampil 9 15 5 4 % 20. dokter gigi. kesehatan lingkungan/ sanitasi.5 jml 3 14 4 8 % 8.9 11.7 9.6 8.6 9.8 14. ahli gizi. Data pada grafik memperlihatkan pula adanya kenaikan CFR dari tahun 2003-2005 di sejumlah propinsi yaitu Jatim. sementara di tingkat dinkes kab/kota adalah dokter umum dan tenaga pendukung laibnya. Pada tahun 2005. Yang dimaksud tenaga pendukung/lainnya adalah tenaga yang berprofesi/ berpendidikan perawat.1 34. CFR yang paling tertinggi dimiliki oleh Riau dan NTB.9 34.3 19. Semua CFR berada di atas angka nasional. CFR tertinggi pada tahun 2005 adalah di propinsi Kaltim. Lulusan S1 dan S2 Epidemiologi lebih banyak berperan sebagai tenaga surveilans. 4.9 3.2.2 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 47 . lulusan SMA.6 8. lulusan D3. dan kader kesehatan/posyandu. Pada tahun 2004. tenaga fogging.2 Faktor-faktor Berpengaruh terhadap Kinerja Surveilans dan Kinerja Penanggulangan KLB (1) Tenaga Tenaga adalah sumberdaya manusia dari pihak provider kesehatan yang terlibat langsung dalam kegiatan surveilans maupun penanggulangan KLB.0 9. Sementara di propinsi lain CFR terlihat fluktuatif (naik dan turun). APK.

7 PUSKESMAS SURVEILA NS jml 0 5 15 % 0. tenaga dokter masuk dalam kategori sebagai ‘pengumpul data’.6 100.7 100.4 34.8 47. Seperti halnya di dinas kesehatan propinsi Riau.8 20.0 10.4 2. 2006 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 48 . maupun sebagai tenaga klinis pada saat penanggulangan. kepala seksi surveilans adalah seorang dokter dengan pendidikan strata dua epidemiologi.0 27.8 Sumber: Depkes RI.LAPORAN AKHIR Analis Laboratorium Pendukung/lainnya Jumlah 0 10 43 0.0 0 18 118 179 0.4 4.0 0 6 35 8.6 8.0 1 10 21 4.7 68.9 100.6 8.2 21. Sementara di tingkat puskesmas maupun rumah sakit. dalam pengelompokkan dimasukkan dalam tenaga yang mempunyai latar belakang S2 Epidemiologi. Tabel 4.0 5 2 17 44 11. Hal yang sama juga ditemukan pada tingkat puskesmas. sehingga sumber daya yang bersifat klinis tidak banyak tersedia. adalah semua dokter yang berada di puskesmas.0 23.8 31. dokter umum paling banyak terlibat dalam kegiatan surveilans maupun penanggulangan.6 35 59 187 18.1 PENANGGU LANGAN KLB jml 0 4 39 % 0.6 PENANGGU LANGAN KLB jml 1 0 18 % 1.5 38.9 100. Banyaknya tenaga dokter untuk penanggulangan di tingkat kabupaten/kota dikarenakan pelaksana operasional penanggulangan KLB berada di tingkat kabuapten/kota.4 Distribusi Jenis Tenaga di RS dan Puskesmas RS JENIS TENAGA SURVEILAN S jml S2 Epidemiologi S1 Epidemiologi Dokter umum Epidemiologi terampil Analis Laboratorium Pendukung/lainnya Jumlah 1 3 31 45 2. Sehingga.0 50.5 0.1 65.2 6. dimana mereka sebagai pemeriksa pasien. tenaga dokter yang ada.0 2.0 2 1 7 % 4.2 15.0 0 33 13 65 0.0 100. Sehingga. 2006 Di Rumah Sakit.0 11. Sementara.5 Sumber: Data Lapangan. peran propinsi hanya sebagai koordinator.6 100.3 100.

Namun. ada hal yang menarik dari pernyataan dinas kota pekan baru. karena mereka berasumsi bahwa yang dimaksud dengan tim penanggulangan adalah tim penanggulangan yang berada di dinas kesehatan kabupaten itu sendiri. Pada Dinas Kesehatan kabupaten atau kota. Selain itu. sehingga sudah terlihat hasil laboratoriumnya. Sementara bila dokter umum tidak terlibat dalam kegiatan penanggulangan seperti yang terjadi di kabupaten Lombok Tengah. rakor dan melakukan berbagai pelatihan di bidang surveilans maupun penanggulangan penyakit. seperti yang terjadi di propinsi Sulawesi Selatan. Selain pelatihan formal. ada pula RS yang mengkategorikan dokter sebagai tenaga surveilans seperti di rumah sakit daerah Siak. Salah satu upaya untuk mengatasinya adalah pelatihan di dalam atau di luar negeri seperti terjadi di Jabar. Hal yang berbeda di puskesmas lainnya. Di tingkat Puskesmas. Khusus Jawa Barat sebagai daerah P2M pengetahuan praktis tenaga surveilans dan penanggulangan melebihi pengetahuan bersifat formal Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 49 .LAPORAN AKHIR Untuk penanggulangan. Di rumah sakit ini yang mengumpulkan data adalah bagian rekam medis yang bertugas mengumpulkan dan merekap data. satu tenaga juga merangkap sebagai tenaga untuk program DBD. satu tenaga berperan sebagai tenaga DBD merangkap tenaga untuk program malaria dan zoonosis. Bahkan di tingkat puskesmas. seperti terjadi di RS Mataram. “kalau sudah terjadi KLB. Ketiadaan tenaga epidemiologi pada tingkat rumah sakit salah satunya disebabkan karena sudah adanya tim pokja DBD seperti yang ada di di RSUD Mataram. mengadakan pertemuan/lokakarya. Puskesmas Tambak Rejo. Hal ini dikarenakan tenaga dokter yang diasumsikan oleh responden adalah tenaga dokter yang berada di puskesmas (seluruh puskesmas). Usaha lain yang dilakukan Dinas Kesehatan Propinsi dalam rangka peningkatan kemampuan adalah pembinaan teknis. tenaga perawat atau sanitarian sering dijadikan petugas yang merangkap sebagai tenaga surveilans dan penyelidikan epidemiologi (PE). Selain jumlah. untuk apa tenaga laboran?”. laporan kasus yang masuk biasanya penderita sudah dari rumah sakit. kualifikasi tenaga masih kurang. Jumlah tenaga dirasakan masih kurang. filariasis dan zoonosis. terlihat jumlah tenaga dokter umum yang banyak. pengetahuan tim pada umumnya dipenuhi dari pengalaman lapangan dalam penanganan P2M. yang berasumsi bahwa dokter juga merupakan tenaga surveilans. yang langsung berada di bawah institusi dinas kesehatan kabupaten/kota dan terlibat sebagai tim penanggulangan. Hal ini mungkin yang menyebabkan tidak adanya laboran di tingkat dinas kabupaten/kota. malaria. Sementara itu untuk tenaga laboran/laboratorium. Perawat atau sanitarian puskesmas sering merangkap sebagai tenaga surveilans dan tenaga penyelidikan epidemiologi (PE). Di lapangan juga ditemukan masih adanya perbedaan persepsi tentang tenaga surveilans dan tenaga penanggulangan. Sehingga dokter-dokter tidak dianggap bukan tenaga surveilans. Tenaga laboran cenderung banyak di RS yang berfungsi sebagai RS pendidikan. dan Puskesmas Kota Mataram berpendapat bahwa tenaga surveilans merupakan tenaga tersendiri. yaitu orang yang melakukan rekap data. Di puskesmas Pekanbaru Kota.

5 Persepsi Responden Tentang Surveilans DBD Total % Tinggi 18 85.LAPORAN AKHIR Untuk mengetahui tingkat pengetahuan responden tentang surveilans oleh tenaga surveilans.3 Total 21 100. 2006 Total 10 9 19 % 52. 19 sampel dari daftar tenaga diambil. Data menunjukkan bahwa total skor persepsi surveilans berkisar dari 93-181. rerata 150 dan median 156. rerata 127 dan median 128. Tiap pertanyaan mempunyai skala 1 sampai 5 (buruk hingga baik). yaitu 52. Cut off dipilih median karena distribusi data tidak normal. Data menunjukkan bahwa total skor persepsi penanggulangan berkisar dari 86-156. Tiap pertanyaan mempunyai skala 1 sampai 5 (buruk hingga baik). Berdasarkan cut off ≥ 128 untuk kategori pengetahuan tinggi didapat bahwa hanya 53 % dari 19 sampel tenaga mempunyai tingkat pengetahuan yang baik. Apabila dibandingkan persepsi responden terhadap Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 50 .7 % responden menyatakan cukup memahami tentang pengetahuan surveilans.6 47.3menyatakan kurang memahami. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan responden tentang penanggulangan oleh tenaga penanggulangan. 2006 Berdasarkan tabel di atas tergambarkan bahwa pengetahuan para petugas (responden) terhadap pengetahuan surveilans cukup baik. Tabel 4.0 Sumber: Data Lapangan. Dari data tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya pemahaman aparat terhadap program surveilans cukup baik.7 Rendah 3 14.0 Berdasarkan data di atas dapat digambarkan bahwa persepsi responden terhadap pengetahuan berkaitan dengan penanggulangan DBD cukup baik. Dari sejumlah responden yang ditanya.6% responden memiliki pengetahuan tinggi dan 47.6 Persepsi Responden Tentang Penanggulangan DBD Tingkat Pengetahuan Tinggi Rendah Total Sumber: data Lapangan. Pengetahuan ini diukur dengan persepsi terhadap 40 pertanyaan tentang surveilans.3% responden memiliki pengetahuan rendah. Pengetahuan ini diukur dengan persepsi terhadap 36 pertanyaan tentang penanggulangan DBD. 85. Tabel 4. Berdasarkan cut off ≥ 156 untuk kategori pengetahuan tinggi didapat bahwa 85% dari 21 sampel tenaga mempunyai tingkat pengetahuan yang baik. dan 14.3 100. sejumlah sampel dari daftar tenaga diambil.

kabupaten/kota sering lupa untuk mengirimkan laporan W2 (mingguan). Kalau tidak diminta oleh propinsi. terlihat persentase responden lebih tinggi dalam pemahaman surveilans. Tabel 4.LAPORAN AKHIR pengetahuan berkaitan dengan surveilans dan pengetahuan berkaitan dengan penanggulangan. Hal ini menandakan terutama pada praktek di lapangan. Dari hasil kunjungan lapangan ke Puskesmas diketahui bahwa dana atau anggaran yang dipergunakan untuk operasional penanggulangan penyakit menular di Puskesmas adalah sebagian besar mempergunakan dana operasional yang diperoleh dari program asuransi kesehatan masyarakat miskin (Askeskin). Setiap terjadi KLB. Selain itu. Sumber dana untuk kegiatan surveilans dan penanggulangan DBD di lokasi kajian terlihat pada tabel di bawah ini. Untuk puskemas. Namun setiap usulan dana dari APBD untuk kegiatan Pokjanal sering tidak mendapat persetujuan Pemda karena urusan DBD dianggap urusan dinas kesehatan. Data di atas juga menggambarkan masih adanya persoalan berkaitan dengan tenaga dalam penanganan DBD khususnya dalam hal koordinasi. Dalam operasional di lapangan sudah baik karena mereka langsung cepat tanggap untuk menangani KLB dan mencegah penyebaran lebih luas. Masih banyak ditemukan masalah kurangnya atau lemahnya koordinasi untuk pemberantasan DBD. yang sebenarnya merupakan salah satu tools untuk melakukan evaluasi.7 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 51 . Adanya otonomi daerah pun malah mempersulit koordinasi. Namun pemahaman ditingkat kabupaten/kota secara general terhadap penanggulangan KLB belum optimal. Hal tersebut berdampak pada pembiayaan untuk operasional Puskesmas dalam upaya penanggulangan KLB. kabupaten/kota tidak mengirimkan. Seperti terjadi di Sulsel. Sedangkan praktek penanggulangan dipahami lebih banyak oleh tenaga medis di rumas sakit sebagai unit rujukan dalam kasus penanganan DBD. Hal ini sejalan dengan kebijakan yang ada. dana yang bersumber APBN sangat kecil. Di Sulsel terdapat Pokjanal yang terdiri dari lintas sektor. masing-masing kabupaten atau kota dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya terkesan tidak memerlukan bantuan dinkes propinsi. (2) Dana Masalah pembiayaan dalam penanggulangan penyakit DBD menjadi permasalahan yang dihadapi setiap tahunnya oleh Dinas Kesehatan karena alokasi anggaran yang bersumber dari APBD tidak/belum mencukupi sesuai dengan kebutuhan. dimana dana APBN berkaitan dengan operasional di Puskesmas terbatas pada dana perbantuan untuk penguatan kapasitas. Sebagian besar dana ternyata berasal dari APBD. sesuai dengan standar. meskipun sudah teralokasi namun sebagian besar alokasi anggaran dipergunakan untuk pengadaan obat dan peralatan (investasi) tidak berupa biaya operasional. namun dalam sistem pelaporan mereka masih ada masalah. Pengetahuan dalam penyelidikan dan penanggulangan KLB DBD sudah bagus. dimana sebagian responden adalah tenaga aparat dinas dan tenaga puskesmas yang memiliki informasi dalam praktek kegiatan surveilans.

Sumber dana lain tersebut didapat dari kelompok masyarakat yang peduli terhadap penanganan kesehatan masyarakat. Kader merupakan salah satu tenaga yang terlibat dan dibiayai dengan dana kegiatan surveilans dan penanggulangan KLB. dan penanggulangan fokus. Berdasarkan wawancara dengan beberapa kepala puskesmas di lapangan. seperti JPK-MM. transport supervisor. Dana APBN didapat dalam bentuk dana dekonsentrasi yang disalurkan melalui APBD propinsi.0 Sumber: Data Lapangan. Yang dimaksud dengan sumber dana lainnya adalah swadaya RS. Salah satu peran kader jumantik adalah mendampingi petugas puskesmas dalam melakukan pemeriksaan di 20 rumah sekeliling rumah penderita jika ada kasus DBD. Tidak ada dana yang spesifik diperuntukkan untuk kegiatan surveilans.0 DINKES KAB/KOTA SURVEILAN S jml 7 1 2 % 100. 2006 Sumber dana untuk kegiatan surveilans dan penanggulangan di tingkat dinkes propinsi bersumber dari APBN (dekonsentrasi) dan APBD propinsi. selain berasal dari APBN (dalam bentuk dana tugas perbantuan) dan APBD propinsi dan APBD kab/kota. serta peningkatan manajamen puskesmas. penyelidikan epidemiologi. upah kader. Sementara di tingkat puskesmas. pembelian bahan bakar/solar.0 14. khususnya di lingkungan RT/RW melalui posyandu.0 75.0 PENANGGULA NGAN KLB jml 5 4 0 % 100.LAPORAN AKHIR Distribusi sumber dana di Dinkes Propinsi dan Dinkes Kab/Kota DINKES PROPINSI SUMBER DANA SURVEILANS jml APBD APBN Lainnya 4 3 0 % 100. pembelian obat-obatan. Bila tidak mencukupi menggunakan dana program. swadaya masyarakat. jasa dokter. sebagian besar kegiatan operasional surveilans dan penanggulangan DBD mengggunakan dana Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 52 . penanggulangan kasus. fogging.0 0. seperti pelatihan tenaga puskesmas. jasa kader. Begitupula dana APBD. sebagian dana diberikan untuk pembelian bahan operasional. sumber dana untuk pelaksanaan opersional penanggulangan DBD juga bersumber dari APBN dan APBD serta sumber lainnya. biaya perawatan. biaya transfusi darah. serta partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan penyuluhan. sumber dana untuk kegiatan surveilans berasal dari dana operasional puskesmas (DOP).6 PENANGGULA NGAN KLB jml 10 1 3 % 100. juga berasal dari sumber lainnya. pembelian insektisida. biaya akomodasi. peralatan fogging. penyuluhan.3 28. seperti insektisida. pembuatan laporan. seperti dalam pelaksanaan fogging fokus.0 10. dan swadana puskesmas.0 80. Sedangkan di tingkat dinkes kab/kota. pembelian mesin. Dana tersebut digunakan untuk kegiatan peningkatan kapasitas. selain untuk peningkatan kapasitas puskesmas.0 0. penyediaan bahan-bahan pendukung untuk promosi kesehatan.0 30. larvasida.

yaitu berasal dari APBN dan APBD (Gakin). Di rumah sakit tidak terdapat dana surveilans. 2006 Operasional surveilans di tingkat propinsi menggunakan dana APBN murni maupun Dekon. Sehingga wajar saja jika digunakan sumber lain. Walaupun beberapa puskesmas terkadang menggunakan dana JPKMM sebagai tambahan. Sementara untuk puskesmas. Hal tersebut karena dalam prakteknya kegiatan operasional di lapangan dilakukan oleh semua petugas puskesmas. Di kota Surabaya bahkan terkadang menggunakan dana pribadi. Masalah lain dalam aspek dana berkaitan dengan proses pencairan yang dirasakan prosesnya selalu lama dan terlambat.3 85.7 PENANGGUL ANGAN KLB jml 8 1 10 % 57. rata-rata penggunaan operasional surveilans berasal dari APBD.0 100. Alokasi dana terbanyak adalah untuk obat dan peralatan (investasi). 2 milyar yang berasal dari dana dekon (APBN) khusus untuk penanggulangan KLB.8 Distribusi Sumber Dana di RS dan Puskesmas RS SUMBER DANA SURVEILANS jml APBD APBN Lainnya 1 1 0 % 100.0 25. Sedangkan untuk tingkat kabupaen/kota. Dana yang digunakan untuk penanggulangan KLB berasal dari APBN (Dekon) dan APBD. yang ada hanya pencatatan pelaporan yang dilakukan di bagian rekam medis. hampir semuanya menggunakan dana APBD. Tidak jarang puskesmas juga harus menggunakan dana swadaya masyarakat atau pribadi.LAPORAN AKHIR operasional umum yang ada di puskesmas.0 0. serta dana APBD. selain dana penanggulangan dari APBD.0 0. seperti terjadi di Sulsel. Hanya rumah sakit Gresik yang menyatakan adanya dana surveilans.4 Sumber: Data Lapangan.1 7.0 PENANGGUL ANGAN KLB jml 4 0 1 % 100.1 71.0 PUSKESMAS SURVEILAN S jml 3 1 6 % 42. Namun tidak menutup kemungkinan pendanaan dapat juga berasal dari APBN. Untuk tingkat kabupaten/kota penggunaan dana terbanyak berasal dari APBD baik APBD murni. bila dana yang diusulkan belum turun. Seperti ditemukan di puskesmas Duduk Sampeyan dan puskesmas Kebomas. Hal ini karena adanya kebijakan setiap propinsi mendapatkan dana Rp. Untuk tingkat puskesmas. seperti halnya kabupaten Gresik. Tabel 4. maupun APBD-ABT yang diajukan sebagai tambahan. seringkali harus menggunakan dana tambahan dari PKPS-BBM (JPKMM) maupun Askeskin karena seringnya dana terlambat dicairkan. Contoh di Jawa Barat DIPA Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 53 . Baik APBD propinsi maupun APBD kabupaten/kota atau APBD sharing.9 14.

(c) bulan kewaspadaan DBD. DBD masih merupakan masalah besar di Kaltim. 4.LAPORAN AKHIR seringkali terlambat. (b) penangggulangan focus. Keberadaan SOP penting untuk panduan petugas. Kewaspadaan Dini. RS dan Puskesmas Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 54 .9 Distribusi Ketersediaan SOP Surveilans di Dinkes Propinsi. 2. pada dasarnya dilaksanakan berpedoman pada arah kebijakan dan program dari Pemerintah Pusat (Departemen Kesehatan). Pada tingkat dinkes propinsi maupun dinkes kab/kota keberadaan SOP dalam bentuk peraturan dan pedoman cukup baik. antara lain pelatihan petugas kesehatan. Pemberantasan Nyamuk Penular DBD. (b) Gerakan PSN. (c) abatisasi. 3. Pelaksanaan SOP kegiatan surveilans dilakukan berdasarkan pedoman dan peraturan. Dinas Kesehatan Propinsi selanjutnya menyusun Prosedur Tetap (Protap) Penanggulangan DBD sebagai pedoman/acuan pelaksanaan kegiatan Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Tabel 4. Pedoman yang bersifat teknis di lapangan diwujudkan dalam bentuk SOP. Di propinsi Kalimantan Timur yang merupakan daerah endemis DBD. Penanggulangan KLB. Sedangkan di tingkat puskesmas dan RS masih sangat rendah. (d) pemantauan jentik berkala. (a) penemuan dan pelaporan penderita. (a) terhadap nyamuk dewasa. (d) fogging massal. Proporsi anggaran untuk preventiv (surveilans) dan kuratif (penanggulangan) tidak seimbang. Sementara SOP kegiatan penanggulangan KLB tampaknya sudah cukup banyak dimiliki di semua level. (a) penyuluhan. (b) terhadap jentik nyamuk. khususnya penyakit DBD. Materi yang disusun dalam Protap ini adalah langkah-langkah penanggulangan DBD sebagai berikut: 1. Bahkan meskipun sudah dibentuk Yayasan Penanggulangan DBD dengan SK Walikota dan didanai oleh perusahaanperusahaan minyak. Peningkatan SDM. peran swasta dalam kontribusi dana belum optimal. Lebih banyak dana dikucurkan untuk kuratif. (3) Standar Operasi dan Prosedur (SOP) Upaya penanggulangan kejadian luar biasa (KLB)/penyakit menular. Dinkes Kab/Kota.

0 75.0 DINKES KAB/KOTA jml 7 9 10 10 7 9 4 % 63.4 jml 3 3 2 3 2 2 3 RS % 75. Tabel 4. pedoman SKD-KLB. 2006 SOP dalam rangka penanggulangan KLB di Dinkes propinsi.3 PUSKESMAS jml 12 0 % 50.6 81. Penyusunan SOP dimaksud dilakukan dengan melibatkan lintas program.8 90.0 75.1 jml RS % 57.0 100. 2006 Propinsi belum membuat SOP sendiri.0 75. Kedepan propinsi juga akan menyusun Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Standar operasional (SOP) agar SOP bisa operasional di lapangan. rumah sakit maupun puskesmas yang ada mencakup peraturan SKD-KLB.0 50.9 63.6 81.0 50.4 57.0 DINKES KAB/KOTA jml 11 4 % 91.0 80.1 SOP Sumber: Data Lapangan.0 50.0 Pedoman Peraturan 4 1 Sumber: Data Lapangan.1 14.0 80. RS dan Puskesmas DINKES PROPINSI jml Peraturan SKD-KLB Pedoman SKD-KLB Pedoman penyelidikan KLB Pedoman Penanggulangan KLB Pedoman Cara Pelaporan Laporan Penyakit Potensi KLB Laporan Kondisi Rentan KLB 5 5 5 5 5 4 4 % 100.0 100.0 100.10 Distribusi Ketersediaan SOP Penanggulangan KLB di Propinsi.3 100.9 68.LAPORAN AKHIR SOP DINKES PROPINSI jml % 5 3 83. laporan penyakit potensi KLB.1 78. kab/kota.8 42. Di tingkat kabupaten/kota SOP yang ada selain mengadopsi dari pusat juga mengadopsi SOP yang dibuat oleh Dinkes propinsi. pedoman cara pelaporan.0 0. Dinkes Kab/Kota.7 57. dan laporan kondisi rentan KLB. pedoman penyelidikan KLB.0 100.8 36. selama ini masih mengikuti pedoman dari pusat.9 90. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 55 .9 42. pedoman penanggulangan KLB.0 PUSKESMA S jml 7 8 15 13 13 11 8 % 36.4 68.

LAPORAN AKHIR

Dari Tabel 4.10 tergambarkan keberadaan SOP di masing-masing tingkatan. Seperti halnya SOP dalam rangka kegiatan surveilans, pada kegiatan penanggulangan, setiap dinkes propinsi dan kabupaten/kota memiliki cukup lengkap pedoman dan peraturan sebagai landasan operasional penanggulangan penyakit. Namun demikian SOP dimaksud tidak secara lengkap dimiliki oleh puskesmas. Rumah sakit memiliki SOP penanggulangan cukup baik dibandingkan SOP surveilans. Hal ini dipahami berkaitan dengan fungsi rumah sakit sebagai unit rujukan dalam penanganan kasus penyakit menular termasuk kasus DBD. Walaupun keberadaan SOP dimaksud cukup lengkap hampir pada setiap tingkat unit pelayanan kesehatan, namun demikian keberadaan pedoman belum tentu digunakan. Seperti halnya di RSU Ujung Berung, di propinsi Jawa Barat SOP yang ada dianggap kurang operasional karena tidak sesuai dengan kondisi dan permasalahan yang ada di lapangan. Upaya yang dilakukan dalam melakukan operasionalnya dilakukan dengan membuat SOP yang lebih rinci dan sederhana menjabarkan SOP yang dibuat dinkes propinsi maupun dinkes kab/kota. Yang menarik adalah di RSUD Mataram yang juga merupakan rumah sakit pendidikan dan memilki tim pokja DBD, hanya laporan kondisi rentan KLB yang mereka miliki. Namun mereka juga membuat standar operasional dalam pertolongan pasien DBD yang tidak terdapat dalam ke-enam SOP tersebut. (4) Data

Ketersediaan data, baik pada kegiatan surveilans maupun penanggulangan KLB sangat penting. Data untuk surveilans yang dibutuhkan mencakup kasus, jentik, vektor dan curah hujan. Dari ke-4 data tersebut ternyata hanya data kasus yang tersedia di semua tingkatan. Data jentik yang sangat penting pun tidak tersedia kecuali pada level puskesmas. Jumlah puskesmas yang memiliki data tersebut sangat sedikit. Ketiadaan data di tingkat RS dikarenakan fungsi rumah sakit yang lebih sebagai kuratif. Informasi data surveilans diperoleh berdasarkan data dari seksi surveilans, yang notabene tidak melakukan pengumpulan data jentik, vektor maupun curah hujan. Baik di tingkat propinsi maupun di tingkat kabupaten/kota. Adapun informasi jentik dan curah hujan dilakukan oleh seksi pemberantasan penyakit (program DBD) yang bekerjasama dengan sanitasi. Oleh karena informasi yang diperoleh berasal dari seksi surveilans, maka ketiga data tersebut tidak ada. Sementara di bagian pemberantasan penyakit sendiri juga terdapat bagian surveilans, yang melakukan pengumpulan data rutin DBD. Oleh karena itu bukan berarti dalam surveilans data mengenai jentik dan vektor tidak ada, informasi mengenai jentik dan vektor tidak bisa didapatkan. Hal tersebut dapat dilihat dari informasi penanggulangan yang merupakan perpaduan informasi dari seksi surveilans dan pemberantasan. Tabel 4.11 Distribusi Ketersediaan Data Surveilans di Dinkes Propinsi, Dinkes Kab/Kota, RS dan Puskesmas

Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

56

LAPORAN AKHIR

DATA

DINKES PROPINSI jml % 100.0 0.0 0.0 0.0

DINKES KAB/KOTA jml 6 0 0 1 % 100.0 0.0 0.0 16.7 jml 4 0 0 0

RS % 80.0 0.0 0.0 0.0

PUSKESMAS jml 11 2 0 0 % 100.0 18.2 0.0 0.0

Kasus Jentik Vektor Curah hujan

3 0 0 0

Sumber: Data Lapangan, 2006 Data yang dibutuhkan untuk penanggulangan DBD mencakup kasus, jentik, lingkungan/genangan, perilaku 3M, vektor, curah hujan dan logistik. Terlihat pada tabel di bawah ini bahwa data yang paling banyak tersedia adalah data kasus dan jentik. Tampaknya di dinkes propinsi dan dinkes kab/kota, data lebih lengkap tersedia dibandingkan di tingkat RS dan puskesmas. Tabel 4.12 Distribusi Ketersediaan Data Penanggulangan KLB di Propinsi, Dinkes Kab/Kota, RS dan Puskesmas
DINKES PROPINSI jml Kasus Jentik Lingkungan/genan gan Perilaku 3M Vektor Curah hujan Logistik 5 3 1 0 1 1 2 % 100.0 60.0 20.0 0.0 20.0 20.0 40.0 DINKES KAB/KOTA jml 12 12 4 2 1 1 4 % 100.0 100.0 33.3 16.7 8.3 8.3 33.3 jml 5 0 0 0 0 0 2 RS % 71.4 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 28.6 PUSKESMAS jml 18 7 1 0 1 2 5 % 94.7 36.8 5.3 0.0 5.3 10.5 26.3

DATA

Sumber: Data Lapangan, 2006 Di Dinkes Kota Bandung Jawa Barat kegiatan surveilans dilakukan secara manual dengan cara pengumpulan data, pencatatan dan pelaporan. Sementara pelaporan yang dilakukan Puskesmas dikirim langsung oleh petugas puskesmas ke dinas kesehatan kota sesuai format yang ditentukan dalam bentuk manual. Sharing informasi antar petugas bidang/unit puskesmas dilakukan dalam bentuk ”rakor bulanan”, sekaligus ajang tukar informasi dan pengalaman serta upaya pemecahan masalah yang ditemukan.
Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

57

LAPORAN AKHIR

Temuan lain yang di dapat di lapangan adalah tidak dikumpulkannya data jentik, vektor, dan curah hujan. Selain itu ketepatan dan kelengkapan laporan dari kabupaten masih rendah. Juga belum dilakukan analisis data baik di tingkat propinsi maupun kabupaten (baru bersifat pengumpulan data). Sehingga untuk SKD-KLB data yang seharusnya dapat dilihat /diprediksi diawal untuk kewaspadaan terjadinya KLB, belum dilakukan. Selama ini propinsi tidak pernah mempermasalahkan validitas data yang dilaporkan. Untuk pengecekan data biasanya menyamakan informasi yang berasal dari media massa. Propinsi belum mempunyai sistem peringatan ke kabupaten bila terjadi keterlambatan atau ketidak lengkapan. (5) Sarana Ketersediaan sarana penunjang kegiatan surveilans terlihat pada tabel berikut ini. Dari tabel tersebut terlihat bahwa jumlah sarana masih sangat terbatas. Kepemilikan sarana transportasi dan pengolah data, dari level puskesmas hingga dinkes propinsi berkisar 11-50% saja. Sementara untuk sarana komunikasi sudah lebih baik; meskipun untuk level RS dan puskesmas masih perlu ditambah. Tabel 4.13 Distribusi Ketersediaan Sarana Surveilans di Dinkes Propinsi, Dinkes Kab/Kota, RS dan Puskesmas
DINKES PROPINSI jml Transportasi Pengolah data Komunikasi 3 3 6 % 50.0 50.0 100.0 DINKES KAB/KOTA jml 4 5 10 % 36.4 41.7 83.3 jml 1 4 6 RS % 11.1 44.4 66.7 PUSKESMAS jml 11 9 14 % 50.0 40.9 63.6

SARANA

Sumber: Data Lapangan, 2006 Bila di lokasi kajian lain, peralatan pengolah data sudah menggunakan komputer, tidak halnya di Puskesmas Benteng Hilir yang masih menggunakan cara manual. Padahal di puskesmas lainnya, sudah disediakan komputer. Faktor geografis rupanya menentukan jenis alat komunikasi dan dipakai. Di propinsi Jawa Timur, semua wilayah dapat dijangkau dengan telepon, sementara di NTB tidak hanya memanfaatkan telepon sebagai alat komunikasi, tetapi juga SSB. Di kabupaten Lombok Tengah yang menggunakan SSB sebagai sarana komunikasi karena belum adanya kabel telepon. Di propinsi Riau, sarana komunikasi menggunakan telepon, walaupun tidak semua wilayah dapat dijangkau dengan fasilitas telepon. Untuk kegiatan penanggulangan KLB, ketersediaan/kepemilikan sarana yang diperlukan terlihat sudah jauh lebih baik daripada ketersediaan/kepemilikan
Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

58

0 33.0 58. obat. Dinkes Kab/Kota. Kaltim.2 44.7 33.LAPORAN AKHIR sarana untuk kegiatan surveilans.0 66. kondisinya pun belum tentu bagus. 2006 Sarana yang dimiliki ada yang statusnya “tidak khusus” untuk kegiatan surveilans atau penanggulangan KLB.3 83. Pengadaan insektisida dan fogging fokus untuk beberapa propinsi di kirim oleh Dinkes Propinsi karena kab/kota belum siap. yaitu di Dinas Kesehatan Kota Bandung.14 Distribusi Ketersediaan Sarana Penanggulangan KLB di Propinsi.8 50.0 100. Artinya bisa digunakan juga untuk kegiatan lainnya. Namun. Di Dinkes Kota Samarinda. Umumnya sarana yang demikian adalah untuk jenis transportasi. maupun dinkes di kab/kota. 0 100. dan di Puskesmas Bojong Gede selain ada 1 mobil juga tersedia 1 motor.3 jml 2 5 4 4 2 0 4 RS % 33. untuk insektisida.6 SARANA Sumber: Data Lapangan. Untuk alat komunikasi. karena tidak adanya fasilitas kantor.0 72. Senter digunakan untuk surveilans khususnya dalam penemuan jentik dari rumah ke rumah. tersedia 3 mobil. dalam kenyataannya terdapat variasi di berbagai dinkes propinsi. Di propinsi Jabar.2 77. Berkaitan dengan jumlah dan jenis sarana.3 0. Selain itu. misalnya.7 PUSKESMAS jml 12 13 14 9 13 8 10 % 66.0 0 DINKES KAB/KOTA jml 10 10 9 4 11 12 7 % 83. RS dan Puskesmas DINKES PROPINSI jml Transportasi Pengolah data Komunikasi Obat Insektisida Alat penyemprot Alat Penyuluhan 4 5 5 4 5 3 0 % 80. sementara di Dinkes Kabupaten Bogor hanya 1 mobil. Kondisinya pun belum tentu bisa digunakan. 0 80.3 75. Bahkan yang Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 59 .0 100. rumah sakit dan puskesmas. Tabel 4.4 55.3 83.3 91.7 66. 0 60.7 72.7 100. Satu hal yang unik adalah ketiadaan sarana senter. alat penyemprot dan alat penyuluhan masih kurang tersedia di semua level. seringkali digunakan fasilitas pribadi seperti handphone. alat transportasi untuk surveilans dalam kondisi rusak. tetapi hanya 1 yang bisa digunakan. seperti yang terjadi di Dinkes Kabupaten Gowa dan Puskesmas Palangga di Sulsel.3 66. Sarana utama yang dibutuhkan dalam penanganan kasus DBD adalah adanya fogging fokus serta insektisida. Misalnya di Dinkes Kota Samarinda tersedia 2 motor.

LAPORAN AKHIR

sangat menyedihkan, di puskesmas Temindung Kaltim penggantian biaya batere untuk senter hanya setahun sekali saja. 4.3 Peran dan Tanggung Jawab Penanggulangan Penyakit DBD Pemerintah Daerah dalam

4.3.1 Kewenangan Daerah dan Standar Pelayanan Minimum Sejak diberlakukannya paket UU Otonomi Daerah (UU No. 22 dan No. 25 tahun 1999 yang kemudian direvisi menjadi UU No. 32 dan No. 33 tahun 2004) telah terjadi perubahan pembagian fungsi antara pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota. Sesuai dengan UU No. 22 tahun 1999 dan SK Menkes RI No. 1147 tahun 2000, maka tugas Depkes Pusat adalah menyusun kebijakan nasional, pedoman, standar, petunjuk teknis, fasilitasi dan bantuan teknis kepada daerah, sementara fungsi-fungsi yang bersifat operasional sudah harus diserahkan kepada daerah (propinsi dan kabupaten/kota). Penerapan UU tersebut, khususnya di bidang kesehatan belum disikapi dengan utuh, sehingga terkesan tidak tuntas dalam bertindak. Ini disebabkan adanya kegamangan dalam peran dan tanggungjawab di masing-masing jenjang ataupun instansi di pemerintahan. Selanjutnya pasal 12 UU No. 32/2004 menyatakan bahwa fungsi yang telah dilimpahkan kepada daerah tersebut termasuk tanggung jawab daerah untuk menyediakan sumberdaya yang diperlukan, termasuk pembiayaan, sarana dan ketenagaan yang diperlukan untuk melaksanakan standar pelayanan minimum (SPM). Untuk itu daerah wajib menyediakan pelayanan dasar yang dianggap esensial bagi kesejahteraan penduduk, termasuk di bidang kesehatan. SPM yang sekarang ini berlaku adalah daftar yang ditetapkan dalam Keputusan Menkes No. 1457/2003 (saat ini sedang dilakukan proses revisi). Dalam daftar tersebut ada 9 kewenangan wajib (KW) dan 31 jenis kegiatan/pelayanan/program, seperti dalam tabel di bawah. Tabel 4.15 Daftar KW dan SPM Bidang Kesehatan
No 1 Kewenangan Wajib (KW) Pelayanan Dasar No 1 2 3 4 5 6 7 8 Standar Pelayanan Minimum (SPM) KIA Kesehatan anak pra-sekolah 7 sekolah KB Imunisasi Pengobatan dan perawatan dasar Kesehatan Jiwa Kesehatan kerja *) Kesehatan usila *) Pemantauan pertumbuhan balita Pelayanan gizi

2

Giji Masyarakat

Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

60

LAPORAN AKHIR 3 4 Rujukan dan Pelayanan Penunjang Pencegahan dan Penyakit Menular Pemberantasan 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Pelayanan obstetri dan neonatal emergency dasar Pelayanan emergency Surveilans dan pengendalian KLB kurang gizi Pencegahan dan pengobatan polio Pencegahan dan pengobatan TBC Pencegahan dan pengobatan infeksi saluran nafas Pencegahan dan pengobatan HIV/AIDS Pencegahan dan pengobatan DBD Pencegahan dan pengobatan Diare Pencegahan dan pengobatan Malaria *) Pencegahan dan pengobatan Kusta *) Pencegahan dan pengobatan Filaria *) Kesehatan lingkungan Pengendalian vektor Hygiene dan sanitasi tempat umum Promosi Kesehatan Promkes dan pengendalian penyalahgunaan obat Pengadaan obat dan bahan medis Obat generik Pembiayaan untuk pelayanan kesehatan perorangan Pembiayaan kesehata penduduk miskin dan risti

5 6 7 8 9

Kesehatan Dasar

Lingkungan

dan

Sanitasi

Promosi Kesehatan Pengendalian Napza Pelayanan Farmasi Pembiayaan kesehatan, kesehatan perorangan dan auransi kesehatan

18 19 20 21 22 23 24 25 26

Sumber: Depkes RI, 2006 *) Hanya di kab/kota tertentu

Berdasarkan hasil analisis tentang daftar SPM tersebut disebutkan bahwa kriteria yang tersirat dalam 3 kegunaan SPM seperti disebutkan dalam UU No. 32/2004 belum seluruhnya terakomodir. Tiga pelayanan dasar menurut UU tersebut adalah (1) hak konstitusi penduduk, (2) kepentingan nasional untuk kesejahteraan masyarakat, keamanan dan ketertiban umum serta integritas dan kesatuan nasional, (3) komitmen nasional terhadap kesepakatan dan konvensi internasional. Pelaksanaan SPM di tingkat kabupaten/kota ternyata menimbulkan kebingungan dan masalah. Pertama, penghitungan kebutuhan biaya untuk semua pelayanan dalam daftar SPM tersebut menghasilkan suatu jumlah yang tidak dapat ditanggung oleh banyak daerah. Ada daerah beranggapan bahwa pemerintah pusat harus menanggung selisih biaya yang tidak bisa ditanggung pemerintah daerah. Kedua, banyak daerah mengalami kesulitan menterjemahkan target nasional dalam target daerah. Misalnya, tidak banyak kabupaten/kota yang memiliki data dasar tentang prevalens penyakit, masalah kesehatan kerja, TBC dan penyakit lainnya, sehingga kesulitan dalam menetapkan target untuk Indonesia Sehat 2010. Ketiga, tidak mudah menterjemahkan target 2010 dalam target tahunan. Dalam kenyataan, banyak kabupaten/kota yang menetapkan target programnya atas dasar plafond anggaran yang akan diterima untuk tahun bersangkutan.
Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

61

LAPORAN AKHIR

4.3.2 Peran Pemerintah daerah dalam Penanggulangan DBD Pemberantasan penyakit demam berdarah dengue (DBD) sangat tergantung pada peran besar pemerintah daerah, yang langsung menghadapi masyarakat. Daerah diharapkan lebih aktif menggerakkan masyarakatnya untuk menjaga lingkungan masing-masing. Peran daerah dalam penanggulangan DBD antara lain dilakukan dengan tindakan preventif seperti (1) mengeluarkan surat edaran kewaspadaan penyakit DBD kepada semua kepala dinas kesehatan kabupaten/kota, (2) kampanye gerakan pembersihan sarang nyamuk, (3) penyebaran poster, ceramah klinik penyegaran tata laksana kasus, maupun membahas penanganan dan antisipasi DBD. Pemerintah Provinsi memfasilitasi teknis dan pengamatan DBD di daerah endemis, membagikan bubuk abate dan malathion untuk pengasapan ke kabupaten/kota, selain juga memberikan bantuan cairan infus. Kebijakan pemerintah melalui PSN dalam mengendalikan tempat perindukan telah ditetapkan dan disosialisasikan melalui berbagai media. Usaha promosi kesehatan secara konvensional telah meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai pemberantasan DBD, namun belum diikuti dengan perbaikan sikap. Belajar dari negara tropis lainnya yang telah mengembangkan inovasi pemberdayaan masyarakat melalui COMBI (Communication for Behavioural Impact) menunjukkan bahwa sebelum menetapkan intervensi, perlu didasari pada suatu formative research yang mengungkap hal-hal yang dibutuhkan masyarakat (Park 2004, WHO 2003). Inovasi ini masih belum menjadi fokus perhatian dalam kegiatan PSN di Indonesia. Di propinsi pemantauan kasus terus dilakukan, para bupati dan wali kota disurati untuk mengantisipasi DBD, termasuk kampanye di media massa. Pemerintah Provinsi juga mendistribusikan abate, malathion, cynoft, dan filter paper ke kabupaten/kota. Selain itu juga dilakukan penyuluhan dan gerakan 3 M (menguras, menimbun, dan menutup tempat-tempat potensial perindukan nyamuk). Strategi penanganan DBD dilakukan dengan pengumpulan data kasus DBD dari RS, puskesmas, klinik swasta, pengumpulan data morbiditas kasus DBD yang lalu (tiga-lima tahun) yang akan dipakai sebagai data dasar. Pengumpulan data lapangan dengan mengunjungi rumah penderita, dan pencarian kasus baru, serta pengamatan terhadap perilaku masyarakat disertai penaburan abate 10 gr/100 lt pada TPA di setiap rumah penduduk dengan radius 400 meter persegi dari rumah kasus. Dinkes mengembangkan sistem kerja deteksi dini, yaitu mengidentifikasi berbagai kasus penyakit yang timbul, mulai dari gejala, penyebab, dan daerah sebarannya, terutama daerah rawan endemi. Pelaporan dini, pada tahap ini dilakukan Puskesmas sebagai ujung tombak dalam tindakan darurat mengatasi berbagai permasalahan.

Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

62

Hal ini disebabkan tidak adanya dukungan pendanaan dari masing-masing instansi terkait yang tergabung dalam Pokjanal DBD. Dengan demikian daerah harus merencanakan dan menganggarkan program kesehatan dan bersaing dengan sektor lain untuk mendapatkannya. Hal ini diperkuat oleh Halstead (2000) mengenai sukses dan kegagalan pengendalian penyakit DBD. Setelah desentralisasi kebijakan sektor kesehatan menghadapi apa yang disebut anggaran pembangunan melalui Dana Alokasi Umum (DAU) yang berbasis pada formula. dengan pertimbangan antara lain bahwa urusan penyakit menular DBD adalah urusan dinas kesehatan. menjadi lebih sulit untuk dilakukan. Secara implisit DAU kesehatan dianggap sudah termasuk dalam formula tersebut walaupun sebenarnya secara eksplisit tidak ada.LAPORAN AKHIR Kebijakan desentralisasi semakin rumit ketika harus dilaksanakan di sektor kesehatan yang mencakup area kegiatan luas dan yang selama ini didominasi peran pemerintah pusat. Pemberdayaan lintas sektor dalam menjalankan Pokja/Pokjanal DBD yang telah dibentuk. masih dijumpai dalam pelaksanaan penanggulangan penyakit.3 Koordinasi antar sektor Koordinasi dengan instansi terkait di tingkat Kabupaten/Kota setelah adanya desentralisasi dan otonomi daerah.3. pelaksanaan tugas kelompok kerja operasional (Pokjanal) DBD tingkat Propinsi. Koordinasi yang sulit terlihat dari lambatnya mekanisme pelaporan kasus KLB. belum optimal. 4. abatisasi. Masalah penanggulangan KLB semakin sulit penanganannya manakala mekanisme pelaporan tidak berjalan baik. meskipun prosedur pelaporan ada dan telah baku. Praktis sektor kesehatan harus berjuang di tiap propinsi dan kabupaten/kota untuk mendapatkan anggaran. Setiap usulan rencana kegiatan dan pembiayaan kegiatan Pokjanal DBD yang diajukan oleh masing-masing instansi terkait di luar kesehatan sering tidak mendapat persetujuan untuk mendapat dana APBD dari Pemerintah Daerah setempat. tidak melibatkan instansi di luar kesehatan. Di tingkat Propinsi. Masalah lemahnya koordinasi lintas program dan lintas sektor. sektor kesehatan masih dipandang sebagai aktor dan inisiator utama dalam pencegahan DBD. Sebelum desentralisasi alokasi anggaran kesehatan dilakukan oleh pemerintah pusat dengan menggunakan model negosiasi ke propinsi-propinsi. Pada umumnya. Dalam formula ini pembagian alokasi anggaran tidak hanya ke propinsi melainkan sampai ke sekitar 400-an kabupaten/kota di Indonesia. meski prosedur telah ada dan baku. namun belum berhasil Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 63 . Hal ini dikarenakan ada kesan masing-masing Kabupaten/Kota dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya tidak memerlukan bantuan/koordinasi Dinas Kesehatan Propinsi. PSN dan PJB dalam menurunkan insidens DBD di Kota Medan. Hal ini sejalan dengan temuan Siregar (2003) tentang tidak adanya hubungan bermakna antara fogging. karena tenaga Pokja DBD tidak aktif. Metode konvensional promosi kesehatan melalui KIE (Komunikasi Informasi Edukasi) dan advokasi telah meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat. tidak/belum dapat berjalan dengan baik. yang merupakan salah satu wadah koordinasi antar instansi/lintas sektor.

Petugas dinas kesehatan mengemukakan esensi intensifikasi penyuluhan mengenai PSN-DBD pada masa rendah penularan penyakit Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 64 . Communication for Behavioural Impact (COMBI) menawarkan pendekatan dinamis untuk mengubah perilaku dalam pengembangan sosial (Kusriastuti. kesehatan lingkungan. Parks. walaupun tidak di seluruh tempat. 2004). bahkan seorang di antara enam Kepala Puskesmas yang diwawancarai.LAPORAN AKHIR memperbaiki perilaku. tidak dilakukan sebelum masa penularan. Semua petugas sektor kesehatan memiliki panduan mengenai tata laksana penanggulangan penyakit DBD yang diterbitkan oleh Departemen Kesehatan RI. 2004: Umniyati. 2004. Adanya usulan mengenai pembentukan dan pengaktifan Tim Epidemiologi Kota sebagai wahana untuk penelusuran penyakit berbasis lingkungan. Walaupun demikian hasil wawancara dengan masyarakat menunjukkan bahwa masyarakat mengakui PSN melalui 3M lebih baik dan lebih murah daripada pengasapan. Hampir seluruh petugas memahami takaran larutan untuk fogging dan mengatakan bahwa fogging fokus dilaksanakan hanya setelah ada kasus. Diakui oleh para petugas kesehatan adanya peminatan masyarakat yang lebih tinggi terhadap fogging bila dibandingkan dengan PSN. promosi kesehatan maupun lintas sektor dari lingkungan dan dinas tata kota. menindaklanjutinya dengan menyusun protap pelaksanaan di lapangan. diharapkan dapat merangkum berbagai pihak terkait dari lintas program pemberantasan penyakit. Mekanisme PSN-DBD terhadap masyarakat diakui berjalan dengan baik.

Jumlah Kasus periode 2003-2005 cenderung stagnan untuk propinsi lokasi kajian (kecuali Jatim meningkat). (5) sarana. (2) pengetahuan.LAPORAN AKHIR BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 5. Tidak ada batas yang tegas yang membedakan antara Surveilans dan Penanggulangan dalam praktek operasional di lapangan. hampir semua dinkes propinsi maupun dinkes kab/kota memiliki peta rawan. ii. perpindahan yang begitu cepat. (3) sistem pengelolaan program penanganan penyakit menular masih didominasi pusat. Diseminasi informasi dilakukan melalui penerbitan buletin kajian epidemiologi yang diterbitkan oleh dinkes propinsi dan dinkes kabupaten/kota. khususnya dalam pelaksanaan surveilans dan penanggulangan DBD. Pendidikan rata-rata perawat. sedangkan data kematian cenderung meningkat. (4) tingginya beban puskesmas sebagai unit operasional utama di lapangan dalam implementasi kebijakan penanggulangan penyakit menular. sedangkan di Puskesmas sebagai unit pelayanan dasar dan rumah sakit sebagai unit pelayanan rujukan. Sarjana (SKM) dan MKes. Hampir semua level baik di propinsi hingga kabupaten/kota termasuk puskesmas dan rumah sakit mengalami masalah ketenagaan dalam kegiatan surveilans dan penanggulangan. namun ketepatannya masih 60%. i. iii. (3) Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kinerja surveilans dan penanggulangan terkait dengan (1) tenaga. kualifikasi pendidikan yang belum sesuai. peta rawan tidak selalu tersedia. Tenaga. (4) SOP. Sistem Pelaporan ditunjukkan dengan kelengkapan laporan mencapai 90-100%. (3) dana. Peta rawan. dan (6) data. (2) koordinasi antara pusat dan daerah belum dilandasi suatu kebijakan operasional yang jelas tentang kewenangan dan tanggung jawab masing-masing. Kualitas dan kualifikasi masih belum terpenuhi sesuai dengan bidang tugas dan kompetensinya. iv. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 65 . Case Fatality Rate (CFR) DBD fluktuatif. Kurangnya jumlah SDM. (2) Indikator Kinerja Surveilans dan Penanggulangan i. beban kerja yang tinggi merupakan masalah yang hampir ditemukan disemua tingkatan.1 Kesimpulan (1) Kendala utama yang dihadapi dalam implementasi kebijakan penanggulangan penyakit menular dalam kasus DBD adalah (1) koordinasi antar instansi dan antar unit yang bertanggung jawab dalam penanganan DBD masih belum optimal.

LAPORAN AKHIR Struktur organisasi Dinkes propinsi maupun Kab/Kota tidak menggambarkan pembedaan kedua tugas tersebut. Walaupun kondisi sarana dan prasarana untuk kegiatan penanggulangan penyakit menular tidak selalu memadai. pengetahuan tim pada umumnya dipenuhi dari pengalaman lapangan dalam penanganan P2M. Operasi lapangan untuk suatu kasus (DBD) serentak dilakukan Bidang pendidikan yang ada adalah perawat. Hampir semua unit pelayanan kesehatan di daerah memiliki pedoman dan peraturan dalam rangka pelaksanaan surveilans dan penanggulangan DBD. Baik APBD propinsi maupun APBD kabupaten/kota atau APBD sharing. (2) ada masa ketiadaan anggaran. Upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan Propinsi maupun kabupaten/kota dalam rangka peningkatan kemampuan adalah pembinaan teknis. dan (3) proporsi anggaran untuk preventif dan kuratif yang tidak seimbang. Permasalahan dana terutama berkaitan dengan (1) keterlambatan turunnya DIPA. Namun demikian kebanyakan SOP tersebut belum operasional. Dana yang digunakan untuk penanggulangan KLB berasal dari APBN (Dekon) dan APBD. iv. Beberapa dinkes kabupaten/kota inisiatif melakukan modifikasi terhadap SOP yang dibuat Depkes. Pada tingkat propinsi. dan epidemiologi. khususnya ketika kasus terjadi. Pengetahuan. khusus untuk KLB tersedia block grant dari pusat. Puskesmas tidak memiliki alokasi dana khusus untuk kegiatan surveilans. Dana menjadi persoalan dalam implementasi kebijakan penanggulangan penyakit menular. mengadakan pertemuan/ lokakarya. Selain pelatihan formal. sarana utama yang dibutuhkan dalam penanganan kasus DBD adalah adanya fogging fokus serta insektisida Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 66 . ii. v. dana untuk pelaksanaan penanggulangan penyakit menular dirasakan pihak daerah mencukupi. tetapi tidak menjadi kendala dalam berjalannya sistem. SOP. Sarana. hampir semuanya menggunakan dana APBD. Pemahaman tentang surveilans dan penanggulangan KLB masih belum sama. iii. Untuk tingkat kabupaten/kota. Dana. Dana operasional selain bersumber dari dana operasional umum juga memanfaatkan dana JPK-MM. yang ada hanya pencatatan pelaporan yang dilakukan di bagian rekam medis. rakor dan melakukan berbagai pelatihan di bidang surveilans maupun penangulangan penyakit. Di rumah sakit tidak terdapat dana surveilans.

Komitmen daerah dalam penyediaan anggaran (APBD) untuk penanganan penyakit menular belum optimal. Ketepatan dan kelengkapan laporan dari kabupaten/kota masih rendah. Hal ini berkaitan dengan masih cukup besarnya alokasi dana yang berasal dari APBN (dalam bentuk DAU. Validitas data yang dilaporkan tidak pernah dipermasalahkan Propinsi belum mempunyai sistem peringatan ke kabupaten bila terjadi keterlambatan atau ketidak lengkapan data. karena tidak seimbang antar area yang harus dipantau dengan kemampuan sumberdaya yang tersedia. tidak setiap kasus DBD ditindaklanjuti dengan PE karena DBD dianggap kasus rutin. yang paling menonjol adalah penanggulangan (PE). baik di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota (baru bersifat pengumpulan data). Namun pada saat kasus. (4) Kondisi umum Pelaksanaan Surveilans dan Penanggulangan DBD Ujung tombak pelaksanaan surveilans ada di Puskesmas. PE tidak dilakukan maksimal sesuai prosedur yang ada. sarana dan dana. sebagai suatu kegiatan rutin. namun belum maksimal melaksanakan surveilans karena keterbatasan tenaga. Penyelidikan Epidemiolegi (PE) yang dilakukan Puskesmas belum maksimal. belum dilakukan. namun belum maksimal. kecuali kalau ada kasus KLB yang menyebabkan sarana TT tidak mencukupi Pengobatan dapat dilakukan dengan baik kecuali kalau ada keterlambatan pengobatan akibat terlambat merujuk (5) Permasalahan operasional penanganan DBD juga dipengaruhi oleh sistem kepemerintahan yang belum sepenuhnya dapat mengakomodasi sistem perencanaan dan sistem keuangan yang baru. Surveilans mulai diperlukan ketika ada kasus. (3) ketiadaan sarana. antara lain (1) keterbatasan tenaga. akibatnya kegiatan tindak lanjut yang seharusnya dilakukan tidak berjalan. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 67 . Pengobatan dan isolasi penderita dirujuk ke rumah sakit. i. Data. Aktivitas surveilans dilakukan oleh Tim Lapangan. Banyak kendala. (2) Keterbatasan dana. Data yang ada belum dilakukan analisis. Sehingga untuk SKD-KLB data yang seharusnya dapat dilihat /diprediksi diawal untuk kewaspadaan terjadinya KLB.LAPORAN AKHIR pengadaan insektisida dan fogging fokus di supply oleh Dinkes Propinsi karena kab/kota belum siap vi. dekonsentrasi maupun tugas perbantuan). Penanggulangan DBD di Rumah sakit relatif tidak masalah.

pelaksanaan (monitoring). Melakukan bimbingan. Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. d. Peningkatan kualitas sistem pelaporan melalui ketepatan data. Mengurangi secara bertahap dominasi peran pengelolaan program oleh pusat melalui pendelegasian kewenangan ke daerah serta peningkatan profesionalisme pengelola program di daerah. baik pada internal sektor maupun lintas sektor. surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah.2 Rekomendasi Kebijakan Rekomendasi kajian yang diusulkan mencakup 1. c. serta pelaporan (evaluasi). 2. analisis. advokasi. promosi dan koordinasi. pemantauan. 3. 7. 5. 10. bukan sebaliknya pemerintah daerah yang aktif meminta informasi. Optimalisasi penggunaan sarana dan prasarana dengan melibatkan peran aktif masyarakat. Koordinasi penanganan kasus masih bersifat sporadis. Peningkatan dukungan dana yang memadai dari APBN maupun APBD. Memperkuat kapasitas dan kapabilitas Puskesmas sebagai unit terdepan dalam operasionalisasi surveilans dan penanggulangan penyakit menular. validasi dan pengembangan “respond system”. iii. Peningkatan koordinasi antar instansi dan antar unit dalam berbagai tingkatan dalam penanganan penyakit menular. Keperdulian pemerintah daerah masih belum terlihat.LAPORAN AKHIR ii. belum tertata dalam sebuah sistem yang aktif dan terstruktur. 5. Penyepurnaan SOP sesuai “local specific”. 6. 9. dan sistem kesiapan dini (early warning system). Percepatan penyusunan kebijakan operasional dalam koordinasi pelaksanaan program antar pusat daerah yang mencakup aspek perencanaaan. hal ini tampak dari keaktifan instansi kesehatan dalam penyebaran informasi kesehatan. Membangun dan mengembangkan kemitraan. 8. jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis peningkatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 68 . 4. b. malalui a. Diperlukan dukungan dalam bentuk peraturan perundangan dalam meningkatkan komitmen para pihak di daerah dalam rangkan pencegahan dan penanggulangan DBD. dan evaluasi kegiatan pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan faktor risiko. Meningkatkan peran dan tanggung jawab Pemerintah Daerah melalui intensifikasi kegiatan sosialisasi.

promotif dan rehabilitatif) menyertai peran dimaksud secara memadai. Aspek Kelembagaan. Diperlukan model manajemen pemberantasan penyakit dan penyehatan lingkungan secara terintegrasi yang berbasis wilayah kabupaten/kota dalam perspektif komprehensif. pelaksana pembangunan kesehatan di lapangan sebagai ujung tombak pembangunan kesehatan. mendorong terbangunnya motivasi dan komitmen para 5. Sebagai perangkat utama Kesehatan.3 Implikasi Kebijakan dan Rencana Tindak Lanjut Berdasarkan kesimpulan dan rekomendasi yang disampaikan. perlu terus dikembangkan pola pendanaan sistem jaminan 3. langkah tindak lanjut yang diperlukan mencakup 1. Aspek Ketenagaan. Motivasi dan komitmen selain muncul atas kesadaran memerlukan dukungan eksternal dalam bentuk insentif. preventif. diperlukan revitalisasi peran kelembagaan khususnya kelembagaan Puskesmas. Puskesmas perlu diperkuat dengan kapasitas manajemen pelayanan untuk kegiatan yang bersifat promotif. sekaligus menjamin setiap masyarakat terlayani untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Aspek Pendanaan. Keberadaan data dan informasi yang akurat dan sinambung menjadi salah satu indikator kinerja pembangunan kesehatan. kesehatan seperti askeskin sehingga kepastian dana sampai kepada masyarakat terjamin. selain kuratif. Dukungan pendanaan serta tenaga dan sarana dalam rangka pelaksanaan operasional pencegahan dan penanggulangan (preventif. Data dan Informasi. Serta didukung jaringan dan kerjasama erat baik antar wilayah dan adimistrasi pemerintah maupun diantara para pelaku pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan itu sendiri dalam satu wilayah. 4.LAPORAN AKHIR 11. 2. dibuat sesederhana mungkin agar memudahkan pelaksanaan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 69 . Pola pendanaan diharapkan dapat lebih fleksibel dan dimungkinkan untuk kebutuhan KLB dalam bentuk multiyears fund. 5. opersional tenaga lapangan. dan rehabilitatif. perlu di kelola secara profesional dan berkesinambungan dengan memanfaatkan teknologi yang tepat dan mudah diaplikasikan. Aspek SOP.

2005.2006. 2005. Will & Linda Lloyd. Metodologi Penelitian Kesehatan. Notoatmodjo. Scott B. 2005. Manual Pemberantasan Penyakit Menular. JMES.org/en/Section10/Section332 Kusriastuti. Jakarta: Elex Media Komputindo Anies. 2004. Jakarta: Rekacipta. Nur Nasry. 2006. Standar Pengawasan Program Bidang Kesehatan. Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular. 2006. Subdit Arbovirosis. A. Tata Laksana Demam Berdarah Dengue di Indonesia. 2000. Modul Surveilans Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Umar Fahmi. Sri Rezeki.A. Pemberantasan Demam Berdarah Dengue (DBD) Hadinegoro. Departemen Kesehatan RI Halstead. 2004. Planning social mobilization and communication for dengue fever prevention and control. Gde. Manajemen Berbasis Lingkungan. 2005. Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif.2004. Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah. Successes and Failures in Dengue Control-Global Experience. December-2000 [cited 9 Juli 2005] Available from : http://w3. 2005. Jakarta: Infomedika Departemen Kesehatan Republik Indonesia. World Health Organization Santoso. Pencegahan Pemberantasan Demam Berdarah Dengue di Indonesia dan dan Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta: Prestasi Pustaka Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 70 . Jakarta: PT Gramedia Bappenas.LAPORAN AKHIR DAFTAR PUSTAKA Achmadi. Jakarta: Ditjen P2M & PL. Solusi Mencegah Menanggulangi Penyaki Menular. 2005. Kebijakan Penanggulangan Demam Berdarah Dengue di Indonesia. Gempur. Manajemen Kesehatan. Parks. Jakarta: EGC Noor. Mewaspadai Penyakit Lingkungan. Soekidjo. Jakarta: Penerbit Buku KOMPAS Anies. Dengue Bulletin Volume 24. 2003. Progress Report on The Millenium Development Goals Chin. Ditjen PP & PL Depkes RI Muninjaya. Rita. dkk.whosea. 2001. Jakarta: Reka Cipta.

Penanggulangan Wabah Oleh Puskesmas. EGC. Universitas Airlangga. 1479/MENKES/SK/X/2003 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular Terpadu Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 2003. Sulastomo. Resna A. 1989.. Jakarta : Bina Putra Aksara. 2003. 4 Tahun 1991 tentang Penanggulangan Penyakit Menular Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.LAPORAN AKHIR Siregar. Analisa Penatalaksanaan Penanggulangan Demam Berdarah Dengue (DBD) dalam menurunkan Insidens DBD dan Menentukan Kebijakan Operasional di Kota Medan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran. Panduan Lengkap Pencegahan & Pengendalian Dengue dan Deman Berdarah Dengue. 2001. 949/Menkes/SK/VIII/2004 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (KLB) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1984 Tentang Penyakit Menular Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Manajemen Kesehatan. 949/MENKES/SK/VIII/2004 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (KLB) Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 71 . Sari Nurhamida. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama World Health Organization. Soerawidjaja. Peraturan Perundangan Peraturan Pemerintah No. dan Azrul Azwar. 1116/MENKES/SK/VIII/2003 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan Keputusan Menteri Kesehatan RI No.

LAPORAN AKHIR Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 72 .

Tujuan a. Kerangka Konsep SURVEILANS INPUT • • • • • • • PROSES • Koordinasi kegiatan pengumpulan • Validasi • Pengolahan data • Analisis data • Supervisi pengumpulan • Supervisi pengolahan OUTPUT Tenaga Dana Sarana Pengetahuan yang benar Pelatihan Metoda pengumpulan data Potensi komunitas • Identifikasi masalah • Penyelidikan sebab masalah • Diseminasi PENANGGULANGAN WABAH PENYAKIT MENULAR INPUT PROSES OUTPUT • • • • • III. Tenaga • Sarana • Dana • Protap • Pengetahuan ttg Wabah & Penanggulangan • Pelatihan Definisi Operasional • • Informasi surveilans • Pengambilan Keputusan SURVEILANS • Potensi komunitas Input Koordinasi lintas sektor Upaya perbaikan kondisi rentan Sistem kewaspadaan dini Penyelidikan & Penanggulangan wabah Kesiapsiagaan menghadapi wabah • Wabah tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 73 . Identifikasi faktor-faktor yang menghambat system informasi manajemen surveilans penyakit menular b. Identifikasi langkah-langkah yang dilakukan dalam penanggulangan penyakit menular II.LAPORAN LAMPIRAN 1 AKHIR RANCANGAN INSTRUMEN KAJIAN I. Identifikasi peran dan tanggungjawab Pemerintah Daerah dalam penanggulangan penyakit menular c.

Metoda pengumpulan data merupakan keberadaan tata laksana kegiatan pengumpulan data dan kesesuaian dengan fungsinya. 6. Partisipasi komunitas merupakan peran serta berbagai kelompok komunitas (seperti: tenaga kesehatan. 3. Sarana merupakan ketersediaan dan kesuaian fasilitas alat atau bahan yang diperlukan dalam melakukan kegiatan surveilans.LAPORAN AKHIR 1. Supervisi pengumpulan merupakan keberadaan pengawasan terhadap proses pengumpulan data. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 74 . 5. Tenaga merupakan pelaksana kegiatan surveilans yang meliputi jumlah pelaksana dan tingkat pendidikan serta lamanya bekerja di surveilans. 6. Proses 1. Kelengkapan diukur berdasarkan SOP yang ada PENANGGULANGAN PENYAKIT MENULAR Input 1. Koordinasi kegiatan pengumpulan merupakan kerjasama tim surveilan dengan komunitas dan koordinasi di dalam tim itu sendiri dalam melakukan pengumpulan data 2. 3. 5. Protap merupakan keberadaan peraturan yang sesuai dengan fungsinya dalam kegiatan. Pelatihan merupakan pernah dan tidaknya petugas mendapatkan pelatihan tentang penanggulangan penyakit. Identifikasi masalah merupakan hasil analisis data yang sudah diproses untuk mengetahui kemungkinan munculnya/timbulnya kejadian (morbiditas/mortalitas) penyakit menular. Pelatihan merupakan pernah dan tidaknya petugas mendapatkan pelatihan tentang surveilans penyakit. Pengolahan data merupakan ketapatan waktu dan keakuratan suatu data di olah. 2. Tenaga merupakan pelaksana kegiatan penanggulangan wabah yang meliputi jumlah pelaksana dan latar belakang pendidikan serta lamanya bekerja. pemenuhan dan sumber dana kegiatan. Diseminasi merupakan ketepatan waktu penyebaran dan kelengkapan informasi surveilans kepada pihak-pihak yang berkepentingan (pengambil keputusan). Output 1. Pengetahuan petugas merupakan pemahaman petugas tentang karakteristik dan kegiatan penanggulangan penyakit menular. Penyelidikan sebab masalah merupakan proses identifikasi sumber/penyebab timbulnya masalah 3. 2. Dana merupakan ketersediaan pengalokasian. 4. Supervisi pengolahan merupakan keberadaan pengawasan terhadap proses pengolahan data. pemenuhan dan sumber dana kegiatan surveilans. Analisis data merupakan ketepatan penggunaan teknik analisa data. 6. 4. 2. masyarakat/toma/toga) dalam kegiatan surveilans. 5. Pengetahuan petugas merupakan pemahaman petugas tentang survailans penyakit menular. 7. 3. Dana merupakan ketersediaan pengalokasian. 4. Validasi merupakan kesesuaian proses kegiatan dengan SOP yang sudah ada. Sarana merupakan ketersediaan dan kesuaian fasilitas alat atau bahan yang diperlukan dalam melakukan kegiatan penanggulangan wabah.

6. dan penyilidikan wabah yang dilakukan oleh pihak yang bertanggung jawab (Dinas kesehatan dan pusat). Pengambilan Keputusan merupakan individu yang bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan dalam kegiatan penanggulangan. Koordinasi lintas sektor merupakan kerjasama antar pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam penanggulangan wabah. Upaya perbaikan kondisi rentan merupakan upaya pencegahan melalui perbaikan keadaan yang menjadi sebab timbulnya kerentanan. Surveilans Ketat merupakan upaya pemantauan kecenderungan wabah. Penyelidikan merupakan proses kegiatan kajian penyelidikan pendahuluan dan laporan awal. 5. 4. Potensi komunitas merupakan peran serta berbagai kelompok komunitas (seperti: tenaga kesehatan. 3. Output 1.LAPORAN AKHIR 7. 9. 2. penyelidikan awal dan laporan perkembangan wabah (periodik). Wabah tidak menjadi masalah kesehatan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 75 . dan peningkatan jumlah penderita yang merupakan indikasi adanya kemungkinan meletusnya suatu wabah. masyarakat/toma/toga) dalam kegiatan penanggulangan wabah. 7. Pelayanan pengobatan merupakan upaya pengobatan terhadap kelompok yang berisiko. Proses 1. Sistem kewaspadaan dini merupakan pelaksanaan pemantauan terus menerus terhadap munculnya kerawanan yang terjadi pada unsur-unsur dasar penyebab terjadinya suatu wabah. Informasi Surveilans merupakan hasil output system surveilans yang sudah diolah dan dianalisis dengan melihat ada dan tidaknya informasi. ketepatan dan kelengkapan data. 8. dan ketepatan waktu yang diterima oleh pihak-pihak pengambil keputusan. Pencegahan merupakan upaya memutus mata rantai penularan.

Draft Instrumen Instrumen yang akan dirancang adalah instrument untuk wawancara mendalam (indepth interview) dan instrument observasi (check list).LAPORAN AKHIR IV. Puskesmas: Kepala Puskesmas. LMD/Dewan Kel. Tingkat Provinsi antara lain: 3. Kader Kesehatan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 76 . staf Kesling 5. kasubdin P2M. yaitu: 1. Ka RT. Bappeda. petugas P2M. Yanmedik dan Binkesmas 2. Sumber Informan adalah petugas yang terkait dengan pelaksanaan surveilans dan penanggulangan penyakit menular.Pustu/polindes. Masyarakat anatar lain: : Ka Desa. Biro Kesra 4. Tingkat Kabupaten antara lain: kepala dinas kesehatan. seksi surveilance. Tingkat Pusat antara lain P2M..

Broto Warsito. MOH. pemilihan lokasi peneltian.Tim Fakultas Kesehatan Masyarakat.LAPORAN AKHIR LAMPIRAN 2 PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PEMBAHASAN A. (2) Ekspose Tim Ahli Ekspose Tim Ahli dilaksanakan pada tanggal 5 April 2006 Ekspose Tim Pakar dimaksudkan untuk menggali lebih dalam lagi berbagai aspek yang berkaitan dengan Penanggulangan Penyakit Menular. kerangka pemikiran. (1) Brainstorming dengan Tim Pakar Pelaksanaan brainstorming dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 28 Pebruari 2006. oleh Prof. Masukan yang diharapkan dari pelaskanaan brainstorming mencakup perbaikan konsep.Dr. serta (3) Diskusi Internal. Masa Kini. Setditjen P3L Depkes .Dr. Indrijono Tantoro. rumusan masalah serta tujuan dan sasaran penelitian. Masykur Riyadi. Soedarto Romoatmojo. Balitbang Depkes . mencakup aspek • Review tentang Kajian Penyakit Menulat (Aspek Metodologi Kajian. serta variabel kajian Hasil brainstorming selengkapnya pada LAMPIRAN 2. Sukirman. Dr. dan Masa Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 77 . Penyempurnaan Proposal Dalam rangka memperkaya proposal telah dilakukan beberapa kegiatan mencakup (1) pelaksanaan brainstorming dengan Tim Pakar. MPH . FKM-UI • Tinjauan Umum tentang Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular di Indonesia (Kebijakan Masa Lalu. Ahli Gizi IPB . Dalam aspek metodologi masukan dari brainstorming yang diharapkan berkiatan dengan aspek runga lingkup kajian.D.Dr.Dr. Deputi Bidang SDM dan Kebudayaan Bappenas Brainstorming dengan tim pakar dimaksudkan untuk mendapatkan wawasan yang lebih jelas mengenai penanggulangan penyakit menular. Erna Tresnaningsih Suharsa. (2) Ekspose Tim Ahli. Tim yang diundang dalam acara brainstorming adalah nara sumber dari kajian ini serta beberapa pakar lainnya. Ph.Prof. yaitu . Dadi Argadiredja. MPH. penetapan responden. Dr. MPH. dr.Dr. Universitas Indonesia . Fakultas Kedokteran Unpad . Dedi M.

Depkes Pokok-pokok Pikiran hasil Ekspose Tim Ahli selengkapnya dalam LAMPIRAN-3. oleh Dr. oleh Direktur Bina Kesehatan Komunitas. Setditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes Kebijakan Umum Departemen Kesehatan dan/atau Nasional dalam Upaya Penanggulangan Penyakit Menular. Yang Akan datang. (B) Pembahasan Disain Riset Pembahsan disain riset yang dilakukan mencakup aspek (1) penetapan lokasi kajian. Depkes Tinjauan terhadap Kebijakan Surveilans Epidemiologi. Teori dan Praktek dalam Penanggulangan Penyakit Menular. Depkes Penanggulangan Penyakit Menular di Puskesmas. oleh Direktur Bina Pelayanan Medik dasar. Penetapan Lokasi Kajian Lokasi kajian ditetapkan di 6 propinsi dengan kriteria pemilihan propinsi didasrkan pada ferkuensi dan jumlah kasus Keadaan Luar Biasa (KLB) penyakit. Depkes Penanggulangan penyakit Menular di Rumah Sakit Kabupaten/Kota. (3) perumusan kuesioner. Dalam diskusi internal juga dibahas berbagai pertauran perundangan yang berkaitan dengan penanggulangan penyakit menular. Kebijakan Penanggulangan Wabah DHF. metodologi serta teknis pelaksanaan survei lapangan. (2) penentuan sampel dan responden. Indriono. oleh Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang. oleh Kepala Pusat Kajian Kebijakan Pembangunan Kesehatan. ole Direktur Surveilans Epidemiologi. Dalam diskusi internal juga dilakukan kesepakatan akhir berkaitan dengan disain kajian. serta (4) teknik analisis data. serta rencana analisis data dan informasi dan bentuk laporan kajian. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 78 . Depkes. sekaligus dibahs tentang aspek kewenangan dari masing-masing tingkatan.LAPORAN AKHIR • • • • • . Imunisasi dan Kesehatan Matra. (3) Diskusi Internal Diskusi internal dilakukan pada berbagai kesempatan diskusi yang diselenggarakan di Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Diskusi inernal dilakukan diantara anggota Tim Perumus Rekomendasi Kebijakan dengan melibatkan Tim dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Diskusi internal dilakukan dalam rangka menyempurnakan kerangka acuan kajian dengan mengakomodasi berbagai masukan yang didapat dalam pertemuan brainstorming tim pakar maupun dari hasil ekspose tim ahli.

Popinsi Jawa Timur 6. Propinsi Sumatera Selatan 3. Propinsi Riau 2. mengolah. Pada setiap kabupaten ditetapkan 2 kecamatan/puskesmas Penetapan Responden Pada setiap Propinsi dan Kabupaten ditetapkan 4 orang responden mencakup Kepala Dinas/Subdinas Kepala Rumah Sakit/Bagian P2M Kepala Puskesmas pada 2 kecamatan Perumusan Kuesioner Rumusan Kuesioner dibuat dalam bentuk pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup Pengelompokkan didasarkan pendekatan sistem serta berdasarkan kalster variabel dari konsep penanggulangan penyakit menular. Pelaksanaan Uji Coba Kuesioner dilakukan di Kota Depok. Aspek realibilitas dan vailiditas materi kuesioner juga menjadi target uji coba. Uji coba juga dilakukan untuk melihat kesesuaian. pada tanggal 3-11 Juli 2006. mentabulasikan dan menginterpertasikan data C. Pelaksanaan Uji Coba Kuesioner Uji Coba Kuesioner dilakukan dalam rangka menguji sejauhmana materi pertanyaan dan isian dalam kuesioner dapat dijawab sesuai dengan tujuan kajian. Propinsi Kalimantan Timur 4. mencakup (1) aspek surveilans dan (2) aspek penanggulangan wabah Kuesioner bersifat terbuka akan dilakukan dalambentuk interview dan wawancana mendalam Kuesioner dalam bentuk tertutup akan disampaikan kepada responden untuk mengisi Kuesioner Pada LAMPIRAN 1 Teknik Analisis Data Untuk menganalisis data yang bersumber dari responden dilakukan analisis data menggunakan analisis statistik deskriptif Analisis statistik deskriptif dilakukan dengan cara mengelompokkan. Propinsi Sulawesi Selatan 5. konsistensi dari materi kuesioner sehingga runtut dan dapat dijawab dengan baik oleh responden. ditetapkan propinsi yang akan menjadi lokasi kajian adalah 1. Propinsi Nusa Tenggara Barat Pada setiap porpinsi ditetapkan sampel 2 kabupaten .LAPORAN AKHIR Berdasarkan hasil pembahasan dengan kriteria di atas. dengan responden adalah petugas di lingkungan Dinas Kesehatan. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 79 .

. Pembahasan Dengan FGD Pembahasan dengan Forum Group Disscussion dilakukan untuk mendapatkan masukan dan penyempurnaan konsep kajian. (3) Metode Kajian. Beberapa masukan dari FGD adalah • Responden perlu ditambah tidak hanya unsur aparat (institution base)... (2) Lingkup Kajian.. propinsi. Provinsi Jawa Barat. Hasil uji coba kuesioner selanjutnya dianalisa untuk kemudian dijadikan bahan perbaikan. (3) penetapan waktu wawancara yang sesuia sehingga tidak berbebnturan dengan agenda lain bagi petugas di lapangan..LAPORAN AKHIR Puskesmas serta Rumah Sakit yang menangani bidang penyakit menular. tetapi juga dari unsur masyarakat (community based) • Unsur institusi selain Dinkes juga ditambah Bappeda • Bagaimana menemukan sistem penanggulangan yang cepat (efektif dan efesien) dengan mempertimbangkan sistem pelaporan (survailans) yang ada dan cenderung birokratis • Masalah kewenangan penanganan perlu diperjelas (otorisasi) antara kewenangan pusat.. Namun pusat tepat ”take a lead” • Perlu kejelasan antara survailans dan penanggulangan: mekanisme kerja serta proses pengambilan keputusannya E. Jadwal dan Tim pelaksana dari Survei Lapangan dalam LAMPIRAN . Hal lain yang juga menjadi masukan dari pelaksanaan uji coba kuesioner adalah berkaitan dengan (1) perijinan dalam pelaksanaan wawancara. mencakup aspek (1) Tujuan. D. dan fasilitas kesehatan (facility based).. kabupaten/kota. 2 puskesmas. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 80 . Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Nusa Tenggara Barat. dan pada masing-masing kabupaten dilakukan wawancara mendalam serta pengisian kuesioner pada dinas kesehatan. Provinsi Kalimantan Timur. yaitu Provinsi Riau. Pelaksanaan Survey Lapangan Sesuai dengan lokasi kajian yang telah ditetapkan. Pelaksanaan Survey di masing-masing propinsi dilakukan di 2 (dua) kabupaten. 1 rumah sakit dan tokoh/perwakilan warga masyarakat. survey lapangan dilakukan di 6 (enam) provinsi. termasuk lokasi. Bappeda. (2) penetapan kontak person di lapangan. variabel serta parameter kajian. Laporan umum hasil uji coba kuesioner dalam LAMPIRAN . Provinsi Jawa Timur. khususnya terkait dengan penanganan surveilans dan penaggulangan penyakit Demam Berdarah (DHF).

Erna Tresnaningsih Suharsa. Masykur Riyadi. Ph. MPA. MPH Dr. 5. Soekirman Dr. Dadi Argadiredja. Indrijono Tantoro. SP.LAPORAN AKHIR LAMPIRAN 3 Struktur Organisasi/Tim Pelaksana PENANGGUNG JAWAB Dr. Hadiat. Yosi Diani Tresna. Drs. Nurlaily Aprilianti 2. Dr. Dr. TIM PENDUKUNG 1. ME. 3. MPH Dr.D. SKM. 3. 4. Broto Wasisto. Ir. Arum Atmawikarta. Dedy M. 5. 4. Sulaeman Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 81 . 2. MPH Dr. SH. MPH Prof. 2. MA Dadang Rizki Ratman. Deputi SDM dan Kebudayaan TPRK 1. MPM NARA SUMBER 1. Sularsono. MOH.

LAPORAN AKHIR LAMPIRAN 4 NOTULENSI PEMBAHASAN DENGAN TIM PAKAR KAJIAN KEBIJAKAN PENANGGULANGAN WABAH PENYAKIT MENULAR Jakarta. Kabupaten/Kota. Rumah Sakit terpilih • Responden – Pusat: P2M. Kader Kesehatan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 82 . 28 Februari 2006 • Fokus yang akan diteliti – Umum. LMD/Dewan Kel. Puskesmas dan Desa. – Case Study : DBD • Kriteria Lokasi Kajian – Endemis dan Non Endemis – Sedang ada KLB dan tidak ada KLB – Pusat. Kasubdin P2M.. petugas P2M. Yanmedik dan Binkesmas – Propinsi: Kadinkes. Pustu/polindes. staf Kesling – Desa: Ka Desa. Biro Kesra – Kabupaten : idem – Puskesmas : Kepala Puskemas. Ka RT. Seksi Surveilance. Propinsi. Bappeda.

PERUMUSAN MASALAH. TUJUAN. propinsi. kab/kota & kec) – Operasional (puskesmas ke bawah) • Cara Pengumpulan Data – data sekunder – data primer : wawancara mendalam di berbagai tingkat (Pusat s/d kab/kota) dan focus group discussion di tingkat Kecamatan dan desa • Perlu diperhatikan – Kaitan antara JUDUL. PERTANYAAN PENELITIAN. kab/kota) – Managerial/sistem (pusat.LAPORAN AKHIR • Design Penelitian: Case Control • Variabel Penelitian: – Peraturan perundang-undangan (pusat. SASARAN dan REKOMENDASI Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 83 . propinsi.

Ruang Lingkup: Umum dengan case DBD Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 84 . 5 April 2006 I. METODOLOGI KAJIAN 1. Pendekatan kajian: • • policy review dengan fokus pada management oriented system model Identifikasi terhadap faktor penghambat dan diakhiri dengan rekomendasi kebijakan 2. Jenis Penelitian: Penelitian Operasional 3. Sampling: Non Propability Sampling 4.LAPORAN AKHIR LAMPIRAN 5 POKOK-POKOK PIKIRAN EKSPOSE TIM AHLI Kajian Penanggulangan Wabah Penyakit Menular Jakarta.

sarana. sarana. PRAKTEK PENANGGULANGAN DI LAPANGAN PUSKESMAS • Surveilans di Puskesmas belum Optimal • Koordinasi lintas sektor belum terintegrasi • Keterbatasan tenaga yang kompeten • Kontribusi utama Puskesmas dalam penanggulangan wabah PP dalam jejaring pelayanan. Kebijakan peraturan perundangan dapat diikuti oleh stakeholder: Kepmen Perpres 4. Infrastruktur Puskesmas untuk surveilans ditingkatkan : Poskesdes Vs Pustu III. TINJAUAN KABIJAKAN 1. Pemahaman terhadap produk hukum yang ada masih rendah 3. Kebijakan yang ada belum fokus 2. tenaga dan koordinasi 6. u/ hidup sehat dan (2) peningkatan sistem surveilans 5. Dalam Renstra Depkes Penanggulangan Wabah masuk dalam 2 strategi utama: (1) memberdayakan masy.LAPORAN AKHIR II. sistem pencatatan RUMAH SAKIT Pelayanan gawat darurat masih di bawah standar Sistem monev periodik antar pusat dan daerah belum terbangun Insentif petugas perlu menjadi perhatian Kelengkapan sarana. sesuai dengan kasus penyakit • • • • Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 85 . Ketentuan yang ada belum dilaksanakan secara optimal di tingkat operasional akibat keterbatasan dana. tenaga.

Daerah berperan dalam pengambilan keputusan menentukan prioritas masalah maupun penanggulangan 2. Optimalisasi dan profesionalisme Sumber Daya (SDM dan dana) 4. Dukungan tenaga.LAPORAN AKHIR IV. Perlu Advokasi untuk dukungan legal aspek pelaksanaan dilapangan 3. sarana dan anggaran V. Manajemen terpadu berbais wilayah: Jumantik. Pengembangan jejaring kerjasama dan kemitraan 3. Penguatan program: evidence based. Penguatan komitmen semua pihak 2. KEBIJAKAN SURVEILANS 1. prioritisasi 5. Fleksibilitas pencairan dana KLB 7. KEBIJAKAN PENANGGULANGAN DBD 1. Mobilisasi Sosial Gerakan Masyarakat “3M” Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 86 . Pelaksanaan SKD-KLB belum optimal 4. Surveilans faktor resiko selain surveilans penyakit 5. desa siaga 6.

melalui Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 87 . Kab. Gresik Kalimantan Timur 1. lintas sektor. Kota Makasar 2. Kota Mataram 2. (4) menyiapkan pengadaan dan distribusi kebutuhan obatobatan dan bahan-bahan yang esensial. Kesimpulan Hasil Survey PROPINSI RIAU Kebijakan Daerah mecakup (1) pemberantasan DBD diselenggarakan dengan menggunakan penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat. Bogor Jawa Timur 1. (2) mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi dengan fokus pemantauan wilayah setempat. (2) surveilans epidemiologi.LAPORAN AKHIR LAPORAN PELAKSANAAN SURVEY KAJIAN KEBIJAKAN PENYAKIT MENULAR 1. Kota Bandung 2. Kab Lombok Tengah TOTAL Dinas 5 3 2 3 2 2 1 1 2 2 1 2 2 1 2 3 2 3 47 PKM 4 5 3 2 3 4 2 2 4 4 4 6 43 Rumah Sakit 1 1 2 1 2 1 1 4 1 2 2 3 21 Bapp 2 1 1 2 1 1 2 1 1 1 1 1 15 Masy 1 1 20 1 1 18 1 1 13 2 1 20 1 1 25 2 0 13 122 Jml 26 2. Kota Samarinda 2. (5) meningkatkan kemampuan penggalian sumberdaya daerah dan sumberdaya masyarakat dalam pengelolaan program P2M. Kab. kewaspadaan dini. Strategi yang dilakukan mencakup (1) intensifikasi pelaksanaan kasus melalui pencarian kasus dan pemutusan rantai penularan. Kab. (3) memantapkan jejaring lintas program. Gowa Nusa Tenggara Barat 1. Kota Pekanbaru 2. sebagai dasar tindak lanjut perencanaan program dan penanggulangan KLB. Kab. perubahan perilaku. perbaikan manajemen kasus diganostik dan pengobatan serta rujukan. serta kemitraan dengan masyrakat (LSM) termasuk swasta. Siak Jawa Barat 1. Kota Balikpapan Sulawesi Selatan 1. imunisasi. Responden Kajian No 1 2 3 4 5 6 Propinsi/Kab Riau 1. Kota Surabaya 2. kab/kota. pengendalian faktor resiko dan penyehatan lingkungan.

(4) Penanggulangan kasus. Ketiga dana tersebut diatas berasal dari dana Kantor Walikota. (3) Bulan Bakti gerakan ”3M”. sedangkan sekretariat berada di kantor Dinas Kesehatan. Strategi dan program adaah (1) pertemuan dengan tim pokjanal DBD propinsi Riau menghasilkan beberpa kesepakatan yang menitikberatkan pada peran aktif dari pokja/pokjanal DBD dengan melibatkan masyarakat. Strategi pelaksanaan kebijakan penanggulangan DBD di Propinsi Jawa Barat dilakukan melalui (1) pendekatan ”gerak cepat” dan putus rantai. pematauan dan informasi program pemberantasan penyakit dan meningkatkan kewaspadaan di semua tingkat administrasi. diketuai oleh Bappeda dan sekretariat juga berada di Bappeda. melalui penyediaan insektisida dan larvasida. yaitu dana tak terduga. maka uang tidak bisa dicairkan. melalui pelaksanaan pertemuan berkala Pojanal/Pokja DBD. Depag dan pihak legislatif. (8) Penelitian. Program yang dilakukan mencakup (1) kewaspadaan dini DBD melalui penyuluhan intensif. pelatihan tenaga operasional. Kegiatan pokok adalah melakukan rapat lintas sektor untuk menangani masalah-masalah khususnya penyakit menular. Bappeda. Tim Pokjanal DBD terdiri dari unsur-unsur Diknas. menyiapkan juknis dan juklaknya. uang dicairkan. melengkapi sarana pemberantasan vektor. (3) meningkatkan SDM. sedangkan dana dari Dinas Kesehatan diutamakan untuk membeli peralatan dan kegiatan yang sifatnya pencegahan. dimana Puskesmas melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) untuk mengurangi persebaran lebih luas dan tindakan yang lebih tepat. Kota Pekanbaru juga memiliki Forum Perkampungan Sehat. Hasil implemnatsi kebijakan. (5) penanggulangan KLB. PMD. (3) Disamping Tim Pokjanal DBD. tersedia pos untuk penanggulangan. (2) pemberantasan vektor. (3) Bila terjadi KLB. maka kinerjanya akan dipertanyakan. (2) Di Kota Pekanbaru. (7) Pendekatan Peran Serta Masyarakat dann PSN DBD. Dana KLB dianggarakan dengan menggunakan pola kinerja artinya bila KLB tidak terjadi. dan pemeriksaan jentik berkala (PJB) yang dilakukan setiap 3 bulan sekali.LAPORAN AKHIR perencanaan. dan menyiapak sarana pemeriksaan untuk diagnosa melaksanakan PE dan penanggulangan fokus. yaitu mencakup 1) Kewaspadaan dini DBD. Nbila terjadi KLB. PKK. pembinaan dalam pelaksanaan gerakan 3M. PROVINSI JAWA BARAT Kebijakan penannggulangan di Jawa Barat secara umum mengacu pada kebijakan dan program yang telah ditetapkan oleh Departemen Kesehatan (Pusat). yaitu pada setiap Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 88 . (6) peningkatan profesionalisme SDM. Tim Pokjanal DBD diketuai oleh Walikota. (2) Pemberantasan vektor melalui PSN dengan cara 3M Plus. lintas program dan lintas sektor terkait serta mengaktifkan kembali peran UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) untuk menggerakkan anak sekolah dalam pemberantasan demam berdarah. Dinkes. dana bencana dan dana belanja rutin sekretariat daerah. pelatihan tenaga puskesmas dan rumah sakit.

Pelaksanaan program penannggulangan DBD mencakup (1) SKD-KLB melalui kegiatan pengumpulan data baru dari penyakit-penyakit yang berpotensi KLB. (2) pencarian kasus tambahan dilakukan pada saat penyelidikan epidemiologi. (2) upaya preventif yang dilakukan melalui ”managing vector and environment” malalui ger kan 3M yang dilakukan secara linta sektor dalam wadah Pokjanal DBD. (3) Upaya peningkatan kemamampuan tenaga kesehatan dalam penanggulangan DBD secara kuratif dilakukan melalui ”workshop tata laksana” dengan melibatkan dokter spesialis dan urusan dalam. Hasil pelaksanaan program ditunjukkan antara lain (1) pemantauan jentik belum optimal dilakukan oleh kader dengan alasan terbatasnya dana operasional. (2) penyeldikan dan penanggulangan KLB. orang dan tempat. mengidentifikasi dan menghitung kasus atau paparan. dan propinsi. (2) Fogging dilaksanakan apabila terjadi KLB dengan menggunakan dana yang berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten dengan peruntukan untuk larvasidasi dan abatesisasi. bidan. memastikan diagnostik etiologi. membuat cara penanggulangan sementara. kab/kota. pemeriksaan jentik dengan memberdayakan tenaga jumantik. (2) kegiatan surveilans epidemiologi dilaksanakan oleh tim fungsional di masingmasing tingkat mulai dari Puskesmas. mendeskripsikan kasus berdasarkan waktu. perilaku masyarakat. (4) Pelibatan partisipasi masyarakat melalui gerakan PSN setiap hari Jumat pagi.LAPORAN AKHIR kasus petugas siap melakukan PE sehingga ditemukan akar permasalahan dan sumber penyebabnya untuk kemudian dilakukan tindakan agar tidak menyebar ke tempat lain. status gizi. dan tidak seimbangnya jumlah kader dengan cakupan daerah yang harus diselediki. dan melakukan ”CLEAN-UP” lingkungan yang dipimpin oleh wali kota selama 1-2 jam. kesibukan kader. Strategi dalam penanggulangan DBD dilakukan melalui (1) penemuan kasus dan kematian melalui surveilans di rumah sakit. melalui persiapan penyelidikan lapangan. foggig focus massal. praktek swasta. menetapkan apakah kejadian tersebut suatu KLB. puskesmas dan masyarakat. pengolahan dan analisis data untuk penyususnan rumusan kegiatan perbaikan oleh tim epidemiologi. mengamati indikasi pra-KLB misala cakupan program. (3) komitmen dari pimpinan unit penyelenggara kesehatan diperlukan untuk kegiatan surveilans epidemiologi. (6) Sosialissi Pola Hidup Bersih (PHBS). (3) penyelidikan epidemiologi terhadap kasus yang dicurigai pada daerah yang resiko rendah. mengidentifikasikan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 89 . (4) penemuan kasus dilaksnakan secara bekerjasama dengan masyarakat. perawat. dukun bayi dan kendaraan kesehatan. PROVINSI JAWA TIMUR Kebijakan daerah mencakup (1) upaya penanggulangan masalah-masalah kesehatan yang dilakukan merupakan hasil dari kajian surveilans epidemiologi. (5) melakukan studi epidemiologi pada daerah dengan knerja yang tidak baik. (4) melakukan kajian epidemiologi harus bekerjasama dengan lintas program dan lintas sektor. (5) Pelibatan lintas sektor. dokter.

merencanakan penelitian lain yang sistematis. (2) Pemberantasan vector. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 90 . PROVINSI KALIMNATAN TIMUR Kebijakan Daerah yang dilakukan mencakup (1) Pemberantasan DBD diselenggarakan dengan menggunakan penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat. Pokok-pokok Program yang dilakukan mencakup Kewaspadaan dini DBD. perubahan perilaku dalam pola hidup bersih dan sehat. pertemuan berkala Pokjanal/Pokja DBD. (2) Tim Pokjanal DBD diketuai oleh Walikota. (5) Dinas kesehatan kota Balikpapan selalu melaksanakan pendataan DBD dengan rutin. (4) Di samping Tim Pokjanal DBD. penyehatan lingkungan. (2) mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi dengan fokus pemantauan wilayah setempat. (3) Pelatihan tenaga surveilens (pelatihan epidemiologi. mengidentifikasikan keadaan penyebab KLB. menetapkan sistem penemuan kasus baru. kewaspadaan dini. Kota Balikpapan memiliki Yayasan DBD yang ketuanya adalah kasubdin P2M Dinkes dan didanai oleh perusahaahn2 minyak swasta. sehingga sesuai data memang DBD di Kota Balikpapan tinggi. penyuluhan. Strategi yang dilakukan mencakup (1) peningkatkan pencarian kasus dan pemutusan rantai penularan perbaikan manajemen pengobatan serta rujukan. (6) Pelatihan khusus tentang epidemiologi dan surveillens baru dilakukan 1 kali dalam 5 tahun terakhir. kerja sama dengan dengan masyarakat dan swasta. (2) Pelaksanaan Surveilans Epidemiologi. pelatihan tenaga kesehatan. dan (3) Membangun kerja sama lintas sektor. pelaksanaan gerakan 3M. Gambaran implementasi adalah (1) Pelaksanaan penanggulangan DBD melibatkan masyarakat. penyediaan insektiside dan larvasida. PROVINSI SULAWESI SELATAN Upaya penanggulangan kejadian luar biasa (KLB)/penyakit menular. pelaksanaan PE. lintas program dan lintas sekor terkait. khususnya penyakit DBD di Propinsi Sulawesi Selatan. beranggotakan kepala – kepala dinas yang ketika diadakan rapatrapat selalu dihadiri oleh personal yang berlainan. melengkapi sarana pemerantasan vektor. pada dasarnya dilaksanakan berpedoman pada arah kebijakan dan program dari Pemerintah Pusat (Departemen Kesehatan). APBD mengalokasikan dana 500 juta untuk peanggulangan KLB dan habis untuk penanggukangan KLB DBD. Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan selanjutnya menyusun Prosedur Tetap (Protap) Penanggulangan DBD sebagai pedoman/acuan pelaksanaan kegiatan Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupten/Kota.LAPORAN AKHIR sumber dan cara penyebaran. menetapkan rekomendasi cara pencegahan dan penanggulangan. (3) Untuk tahun 2005.

sedangkan tahun 2004 jumlah KLB DBD sebanyak 88 kasus. (2) Penanggulangan KLB menemukan jumah kasus KLB DBD tahun 2005 sebanyak 66 kasus.LAPORAN AKHIR Materi yang disusun dalam Protap ini adalah langkah-langkah penanggulangan DBD sebagai berikut: (1) Kewaspadan Dini. pertemuan Kewaspadaan Dini DBD sebanyak 4 kali melibatkan sektor terkait. gerakan PSN. pengamatan bebas jentik dilakukan oleh murid-murid sekolah dan telah terbukti cukup efektif untuk dapat direflikasi di daerah lain. (4) Peningkatan SDM. pembinaan di 23 kab/kota.. melalui pelatihan petugas kesehatan. pelatihan bagi pengelola program P2 DBD di 23 kab/kota. (2) Pemberantasan Nyamuk Penular DBD terhdap nyamuk dewasa dan jentik nyamuk. melalui penemuan dan pelaporan penderita. kab/kota dan puskesmas. Di kabupaten Lombok Tengah. PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Pedoman surveilans dan KLB kurang operasional. Implementasi kebijakan penanggulangan DBD di Sulawesi Selatan antara lain (1) Kewaspadaan Dini. bulan kewaspadaan DBD. melalui penyuluhan. Namun terdapat ”gap” pelaksanaan/penanganan KLB. lintas program dan kabupaten/kota terdekat. dan fooging massal. abatisasi. menghasilkan penemuan dan pelaporan penderita. Surveilans dilaksanakan pada tingkat dinas kesehatan propinsi. pemantauan jentik berkala di berbagai kabupaten endemis dengan sasaran masing-masing 100 rumah. Dngan demikian Puskesmas sebagai fasilitas yang paling dekat edngan masyarakat tidak dimanfaatkan dengan baik dalam penanggulangan KLB DBD. pemantauan jentik berkala. (3) Peningkatan Sumber Daya Manusia. terutma untuk insentif tenaga kesehatan dan kader. dimana peran puskesmas sangat kecil karena dukungan dana dan personil sangat kecil. Pada pelaksanaan di Puskesmas. (3) Penanggulangan KLB. melakukan pelatihan tatalaksana DBD bagi dokter di rumah sakit pada daerah endemis. penanggulangan fokus. Dinkes Propinsi Nusa Tenggara Barat membuat pedoman operasional yang berisi ”step by step” metodologi penanggulangan DBD. dukungan dana surveilans tertolong oleh adanya subsidi dari Askeskin. penyuluhan intensif melalui media cetak dan elektronik. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 91 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful