Ulumul Hadis Ulumul Hadis adalah istilah ilmu hadis di dalam tradisi ulama hadits.

(Arabnya: ‘ulumul al-hadist). ‘ulum al-hadist terdiri dari atas 2 kata, yaitu ‘ulum dan Al-hadist. Kata ‘ulum dalam bahasa arab adalah bentuk jamak dari ‘ilm, jadi berarti “ilmu-ilmu”; sedangkan alhadist di kalangan Ulama Hadis berarti “segala sesuatu yang disandarkan kepada nabi SAW dari perbuatan, perkataan, taqir, atau sifat.” (Mahmud al-thahhan, Tatsir Mushthalah al-hadist (Beirut: Dar Al-qur’an al-karim, 1979), h.14) dengan demikian, gabungan kata ‘ulumul-hadist mengandung pengertian “ilmu-ilmu yang membahas atau berkaitan Hadis nabi SAW”. Ilmu Hadis Riwayah Menurut Ibn al-Akfani, sebagaimana yang dikutip oleh Al-Suyuthi, bahwa yang dimaksud Ilmu Hadis Riwayah adalah: Ilmu Hadis yang khusus berhubungan dengan riwayah adalah ilmu yang meliputi pemindahan (periwayatan) perkataan Nabi saw dan perbuatannya, serta periwayatannya, pencatatannya, dan penguraian lafaz-lafaznya. (Jalal al-din ‘Abd al-Rahman Ibn Abu Bakar al-Suyuthi, Tadrib al-Rawi fi Syarh Taqrib alNawawi. Ed. ‘Abdul Al-Wahhab’ Abd al-Lathif (Madinah: Al-Maktabat al-‘Ilmiyyah.cet kedua. 1392 H/ 1972 M), h. 42; Lihat juga M. Jammaluddin al-Qasimi, Qawa’id alTahdist min Funun wa Mushthalah al-Hadist (Kairo: Al-Bab al-Halabi, 1961). H. 75) Sedangkan pengertian menurut Muhammad ‘ajjaj a-khathib adalah: Yaitu ilmu yang membahas tentang pemindahan (periwayatan) segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi saw, berupa perkataan, perbuatan, taqrir (ketetapan atau pengakuan), sifat jasmaniah, atau tingkah laku (akhlak) dengan cara yang teliti atau terperinci. (Lihat M.’Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadits (Beirut: Dar al-Fikr, 1989), h.7. Definisi yang hampir sama senada juga dikemukkan oleh Zhafar Ahmad ibn Lathif al-‘Utsmani al-Tahanawi di dalam Qawa’id fi ‘ulum al-Hadist, Ilmu hadis yang khusus dengan riwayah adalah ilmu yang dapat diketahui dengan perkataan, perbuatan dan keadaan Rasulullah saw serta periwayatan, pencatatan, dan penguraian lafaz-lafaznya. (Zhafar Ahmad ibn Lathif al-‘Utsmani al- Tahanawi, Qawa ‘id fi ‘ Ulum al-Hadist, Ed. ‘Abd al-Fattah Abu Ghuddah (Beirut: Maktabat al-Nahdhah, 1404 H/ 1984).h.22.). Dari ketiga definisi di atas dapat dipahami bahwa Ilmu Hadis Riwayah pada dasarnya adalah membahas tentang tata cara periwayatan, pemeliharaan, dan penulisan atau pembukuan Hadis Nabi saw. Objek kajian ilmu Hadis Riwayah adalah Hadis Nabi saw dari segi periwayatan dan pemeliharaannya. Hal tersebut mencakup:
• •

Cara periwayatan Hadis, baik dari segi cara penerimaan dan demikian juga dari cara penyampaiannya dari seorang perawi ke perawi lain; Cara pemeliharaan Hadis, yaitu dalam bentuk penghafalan, penulisan, dan pembukuannya.

Ilmu Hadis Riwayah ini sudah ada semenjak Nabi saw masih hidup, yaitu bersamaan dengan dimulainya periwayatan dengan hadis itu sendiri. Para Sahabat Nabi saw menaruh perhatian yang tinggi terhadap Hadis Nabi saw. Mereka berusaha untuk memperoleh Hadis-Hadis Nabi saw dengan cara mendatangi Majelis Rasul saw serta mendengar dan menyimak pesan atau nasihat yang disampaikan beliau. Sedemikian besar perhatian mereka, sehingga kadang-kadang mereka berjanji satu sama lainnya untuk bergantian menghadiri majelis Nabi saw. Tersebut, manakala di antara mereka ada yang sedang berhalangan. Hal tersebut seperti yang dilakukan Umar r.a., yang menceritakan, “Aku beserta tetanggaku dari kaum Ansar, yaitu Bani Umayyah ibn Zaid, secara bergantian menghadiri majelis Rasul saw. Apabila giliranku yang hadir, maka aku akan menceritakan kepadanya apa yang aku dapatkan dari Rasul SAW pada hari itu; dan sebaliknya, apabila giliran dia yang hadir, maka dia pun akan melakukan hal yang sama. (“Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadits, h. 67). Demikianlah periwayatan dan pemeliharaan Hadis Nabi saw berlangsung hingga usaha penghimpunan Hadis secara resmi dilakukan pada masa pemerintahan Khalifah ‘Umar ibn ‘Abd al-‘Aziz (memerintah 99 H/717 M- 124 H/ 742 M). Al-Zuhri dengan usahanya tersebut dipandang sebagai pelopor Ilmu Hadis Riwayah; dan dalam sejarah perkembangan Hadis, dia dicatat sebagai ulama pertama yang menghimpun Hadis Nabi saw atas perintah Khalifah ‘Umar ibn ‘abd al-Aziz. Usaha penghimpunan, penyeleksian, penulisan, dan pembukuan Hadis secara besarbesaran terjadi pada abad ke 3 H yang dilakukan oleh para ulama, seperti Imam alBukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam al-Tarmidzi, dan lain-lain. Dengan dibukukan Hadis-Hadis Nabi saw oleh para Ulama di atas, dan buku mereka pada masa selanjutnya telah jadi rujukan para Ulama yang datang kemudian, maka dengan sendirinya Ilmu Hadis Riwayah tidak banyak lagi berkembang. Berbeda lagi dengan Ilmu Hadis Dirayah, pembicaraan dan perkembangannya tetap berjalan sejalan dengan perkembangan dan lahirnya sebagai cabang Ilmu Hadis. Dengan demikian, pada masa berikutnya apabila terdapat pembicaraan dan pengkajian tentang Ilmu Hadis Dirayah, yang oleh para Ulama disebut juga dengan ‘Ilm Mushthalah alHadist atau ‘Ilm Ushul al-Hadist. Ilmu Hadis Dirayah Ibn al-Akfani memberikan Ilmu Hadis Dirayah sebagai berikut: dan Ilmu Hadis yang khusus tentang Dirayah adalah ilmu yang bertujuan untuk mengetahui hakikat riwayat, syarat-syarat, macam-macam, dan hukum-hukumnya, keadaan para perawi, syarat-syarat mereka, jenis yang diriwayatkan, dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya (Lihat al-Suyuthi, Tadrb al-Rawi h. 40; Lihat juga al-Qasimi, Qawa’id al-Tahdits, h.75.) Uraian dan elaborasi dari definisi di atas diberikan oleh Imam al-Suyuthi, sebagai beikut: Hakikat riwayat, adalah kegiatan sunah (Hadis) dan penyandaran kepada orang yang meriwayatkannya dengan kalimat tahdits, yaitu perkataan seorang perawi “haddatsana fulan”, (telah menceritakan kepada kami si Fulan), atau Ikhbar, seperti perkataannya

atau al-ajza’ dan lainnya dari jenis-jenis kitab yang menghimpun Hadis Nabi saw. al-marwi adalah segala sesuatu yang diriwayatkan. h. Tadrib alRawi. dan wajadah (mendapatkan koleksi tertentu tentang Hadis dari seorang guru). Definisi yang lebih ringkas namun komprehensif tentang Ilmu Hadis Dirayah dikemukakan oleh M. Keadaan para perawi. sebagai berikut : Ilmu Hadis Dirayah adalah kumpulan kaidah-kaidah dan masalah-masalah untuk mengetahui keadaan rawi dan marawi dari segi diterima atau ditolaknya. adalah al-qabul. (al-suyuthi. (menyerahkan suatu hadis yang tertulis kepada seseorang untuk diriwayatkan). maksudnya adalah. al-mu’jam. h. 8) Al-khatib lebih lanjut menguraikan definisi di atas sebagai berikut: al-rawi atau perawi. adalah orang yang meriwatkan atau menyampaikan Hadis dari satu orang kepada yang lainnya. ‘Ajjaj al-khathib.16: Mahmud al-thahhan. seperti sahabat atau yang lainnya Tabi’in. yaitu periwayatan yang terputus. dan al-radd. yaitu diterimanya suatu riwayat karena telah memenuhi persyaratan tertentu. yaitu penerimaan para perawi terhadap apa yang diriwayatkannya dengan menggunakan cara-cara tertentu dalam penerimaan riwayat (cara-cara tahammul al-Hadits). (telah mengabarkan kepada kami si Fulan). kitabah (menuliskan Hadis untuk seseorang). baik di awal. h. dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya dalam kaitannya dengan periwayatan Hadis. adalah penulisan Hadis di dalam kitab almusnad.M Azami. (M. keadaan perawi dari segi diterima atau ditolaknya adalah. Studies ih Hadith Methologi and Literature. dan lainnya. atau munqathi’. munawalah. kitabah. ataupun di akhir. Syarat-syarat mereka. 40. (menuliskan hadis untuk seseorang). yaitu periwayatan yang bersambung mulai dari perawi pertama sampai perawi terakhir. yaitu ditolak. i’lam (memberitahu seseorang bahwa Hadis-Hadis tertentu adalah koleksinya). ‘Ajjaj al-Khathib. yaitu syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seorang perawi ketika mereka menerima riwayat (syarat-syarat pada tahammul) dan syarat ketika menyampaikan riwayat (syarat pada al-adda’). kepada seorang untuk diriwayatkan). Taisir Mushthalah al-Hadist. keadaan mereka dari segi keadilan mereka (al’adalah) dan ketidakadilan mereka (al-jarh). keadaan marwi adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan ittishal al-sanad .) Syarat-syarat riwayat. Ushul al. Jenis yang diriwayatkan (ashnaf al-marwiyyat).“akhbarana fulan”. mengetahui keadaan para perawi dari segi jarh dan ta’dil ketika tahammul dan adda’ al-Hadist. karena adanya persyaratan tertentu yang tidak terpenuhi. washiyyat (mewasiatkan kepada seseorang koleksi hadis yang dikoleksinya). qira’ah (murid membacakan catatan Hadis dari gurunya di hadapan guru tersebut). yaitu segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi saw atau kepada yang lainnya. seperti sama’ (perawi mendengarkan langsung bacaan Hadis dari seorang guru). ijazah (memberi izin kepada seseorang untuk meriwayatkan suatu Hadis dari seorang ulama tanpa dibacakan sebelumnya). (M. di tengah. 157-164) Muttashil. Hukum riwayat.Hadits.

dan pengklasikasiannya antara yang tsiqat dan yang dha’if. karena bertentangan dengan akal dan panca indera. Pembahasan tentang sanad meliputi: (i) segi persambungan sanad (ittishal al-sanad). latar belakang kehidupannya.ma’na). atau dengan kandungan dan makna AlQur’an. (iii) segi keselamatan dan kejanggalan (syadz). Imam al-Suyuthi menyatakan bahwa macam-macam Ulumul Hadis tersebut banyak sekali. Sedangkan pembahasan mengenai matan adalah meliputi segi ke-shahih-an atau ke dhaifan-nya. Tujuan dan urgensi Ilmu Hadis Dirayah adalah untuk mengetahui dan menetapkan HadisHadis yang maqbul (yang dapat diterima sebagai dalil atau untuk diamalkan) dan yang mardud (yang ditolak). dan(iii) dari kata-kata asing (gharib). (ii) dari cacat atau kejanggalan dari maknanya (fasad al. tidak dibenarkan suatu rangkaian sanad tersebut yang terputus. seperti pembahasan tentang pembagian Hadis Shahih. Keseluruhan nama-nama di atas. yaitu kata-kata yang tidak bisa dipahami berdasarkan maknanya yang umum dikenal. Hasan.. yaitu ilmu yang membahas tentang kaidah-kaidah untuk mengetaui keadaan perawi (sanad) dan marwi (matan) suatu Hadis. tersembunyi. dan pembahasan lainnya. sesuai dengan pembahasannya. adalah sanad dan matan Hadis. lihat juga Tadrib al-rawi. serta macam-macamnya. h. berdasarkan definisi di atas.(persambungan sanad) atau terputusnya. 11. oleh karenanya. Dan Dha’if. yaitu bahwa suatu rangkaian sanad Hadis haruslah bersambung mulai dari Sahabat sampai pada Periwayat terakhir yang menuliskan atau membukukan Hadis tersebut. Ilmu Hadis Dirayah inilah yang pada masa selanjutnya secara umum dikenal dengan Ulumul Hadis. Masing-masing pembahasan di atas dipandang sebagai macam-macam dari Ulumul Hadis. dan (v) tinggi dan rendahnya martabat suatu sanad. karena banyaknya. (Ibd. berdasarkan kepada permasalahan yang dibahas padanya. tidak diketahui identitasnya atau tersamar: (ii) segi kepercayaan sanad (tsiqat al-sanad). atau Ushul al-Hadits. seperti yang . yatu setiap perawi yang terdapat di dalam sanad suatu Hadis harus memiliki sifat adil dan dhabith (kuat dan cermat hafalan atau dokumentasi Hadisnya ). mushthalah al-Hadits. adanya ‘illat atau tidak. Objek kajian atau pokok bahasan Ilmu Hadis Dirayah ini. h. (iv) keselamatan dan cacat (‘illat). dari segi diterima dan ditolaknya. atau dengan fakta sejarah. pembahasan tentang perawi. h. pembahasan tentang tata cara penerimaannya (tahmmul) dan periwayatan (adda’) Hadis. 9. meskipun bervariasi. Hal tersebut dapat dilihat dari kesejalananya dengan makna dan tujuan yang terkandung di dalam al-quran. bahkan tidak terhingga jumlahnya. atau selamatnya: (i) dari kejanggalan redaksi (rakakat alfaz). 53 ). Ibn al-Shaleh menyebutkan ada 65 macam Ulumul Hadis. yang menentukan diterima atau ditolaknya suatu Hadis.) Para ulama Hadis membagi Ilmu Hadis Dirayah atau Ulumul Hadis ini kepada beberapa macam. sehingga. (Ibid. namun mempunyai arti dan tujuan yang sama. pembahasan al-jarih dan al-ta’dil serta tingkatan-tingkatannya.

Sehingga. 1972). Jika diambil dari contoh sebelumnya maka sanad hadits bersangkutan adalah Al-Bukhari > Musaddad > Yahya > Syu’bah > Qatadah > Anas > Nabi Muhammad SAW Sebuah hadits dapat memiliki beberapa sanad dengan jumlah penutur/perawi bervariasi dalam lapisan sanadnya. ed. Sanad. Contoh:Musaddad mengabari bahwa Yahyaa sebagaimana diberitakan oleh Syu'bah. perbuatan. lapisan dalam sanad disebut dengan thaqabah. hal ini dijelaskan lebih jauh pada klasifikasi hadits. Signifikansi jumlah sanad dan penutur dalam tiap thaqabah sanad akan menentukan derajat hadits tersebut. Jadi yang perlu dicermati dalam memahami Al Hadits terkait dengan sanadnya ialah : • • Keutuhan sanadnya Jumlahnya .dikemukakan di atas. maka pada saat ini bisa berarti segala perkataan (sabda).[3] [sunting] Struktur Hadits Secara struktur hadits terdiri atas dua komponen utama yakni sanad/isnad (rantai penutur) dan matan (redaksi). Hadits secara harfiah berarti perkataan atau percakapan. ketetapannya (Arab: taqrîr). h 5-10). memberikan gambaran keaslian suatu riwayat. perbuatan. dari Qatadah dari Anas dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda: "Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga ia cinta untuk saudaranya apa yang ia cinta untuk dirinya sendiri" (Hadits riwayat Bukhari) [sunting] Sanad Sanad ialah rantai penutur/perawi (periwayat) hadits. Sanad terdiri atas seluruh penutur mulai dari orang yang mencatat hadits tersebut dalam bukunya (kitab hadits) hingga mencapai Rasulullah. arti hadits di sini semakna dengan sunnah. ‘ulum al-hadits. baik berupa perkataan. Nur al-Din ‘Atr (Madinah: Maktabat al-Ilmiyyah. Kata hadits yang mengalami perluasan makna sehingga disinonimkan dengan sunnah. perjalanan setelah diangkat sebagai Nabi (Arab: bi'tsah) dan terkadang juga sebelumnya. sifat jasmani atau sifat akhlak. Dalam terminologi Islam istilah hadits berarti melaporkan/ mencatat sebuah pernyataan dan tingkah laku dari Nabi Muhammad. ketetapan maupun persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum.[2] maka kata tersebut adalah kata benda. Menurut istilah ulama ahli hadits.[siapa?] hadits yaitu apa yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad.[1] Kata hadits itu sendiri adalah bukan kata infinitif. (Abu ‘Amr Ibn al-Shaleh.

mauquf (terhenti) dan maqtu' : • • • Hadits Marfu' adalah hadits yang sanadnya berujung langsung pada Nabi Muhammad SAW (contoh:hadits sebelumnya) Hadits Mauquf adalah hadits yang sanadnya terhenti pada para sahabat nabi tanpa ada tanda-tanda baik secara perkataan maupun perbuatan yang menunjukkan derajat marfu'. Contoh hadits ini adalah: Imam Muslim meriwayatkan dalam pembukaan . jika sedang bersama rasulullah" maka derajat hadits tersebut tidak lagi mauquf melainkan setara dengan marfu'.. jumlah penutur (periwayat) serta tingkat keaslian hadits (dapat diterima atau tidaknya hadits bersangkutan) [sunting] Berdasarkan ujung sanad Berdasarkan klasifikasi ini hadits dibagi menjadi 3 golongan yakni marfu' (terangkat). apakah berujung pada Nabi Muhammad atau bukan. "Kami dilarang untuk. Namun jika ekspresi yang digunakan sahabat seperti "Kami diperintahkan. Matan hadits itu sendiri dalam hubungannya dengan hadits lain yang lebih kuat sanadnya (apakah ada yang melemahkan atau menguatkan) dan selanjutnya dengan ayat dalam Al Quran (apakah ada yang bertolak belakang)... [sunting] Matan Matan ialah redaksi dari hadits. Akan tetapi mayoritas penerapan sanad digunakan dalam mengutip hadits-hadits nabawi. maka yang perlu dicermati dalam mamahami hadits ialah: • • Ujung sanad sebagai sumber redaksi.Hal ini diterapkan di dalam mengutip berbagai buku dan ilmu pengetahuan lainnya. Contoh: Al Bukhari dalam kitab Al-Fara'id (hukum waris) menyampaikan bahwa Abu Bakar. Hadits Maqtu' adalah hadits yang sanadnya berujung pada para Tabi'in (penerus).• Perawi akhirnya Sebenarnya. penggunaan sanad sudah dikenal sejak sebelum datangnya Islam. "Kami terbiasa. Dari contoh sebelumnya maka matan hadits bersangkutan ialah: "Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga ia cinta untuk saudaranya apa yang ia cinta untuk dirinya sendiri" Terkait dengan matan atau redaksi... [sunting] Klasifikasi Hadits Hadits dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa kriteria yakni bermulanya ujung sanad.". keutuhan rantai sanad. Ibnu Abbas dan Ibnu Al-Zubair mengatakan: "Kakek adalah (diperlakukan seperti) ayah".".

sahihnya bahwa Ibnu Sirin mengatakan: "Pengetahuan ini (hadits) adalah agama. atau ketersediaan beberapa jalur berbeda yang menjadi sanad hadits tersebut. Bila sanad putus pada salah satu penutur yakni penutur 4 atau 3 Hadits Mu'dal bila sanad terputus pada dua generasi penutur berturut-turut. Mu'allaq.. Namun klasifikasi ini tetap sangat penting mengingat klasifikasi ini membedakan ucapan dan tindakan Rasulullah SAW dari ucapan para sahabat maupun tabi'in dimana hal ini sangat membantu dalam area perdebatan dalam fikih ( Suhaib Hasan. Keaslian hadits yang terbagi atas golongan ini sangat bergantung pada beberapa faktor lain seperti keadaan rantai sanad maupun penuturnya. Hadits mutawatir sendiri dapat dibedakan antara dua jenis yakni mutawatir lafzhy (redaksional sama pada . Hadits Mursal. [sunting] Berdasarkan keutuhan rantai/lapisan sanad Berdasarkan klasifikasi ini hadits terbagi menjadi beberapa golongan yakni Musnad. telah sampai kepadaku bahwa Rasulullah mengatakan. Yakni urutan penutur memungkinkan terjadinya transfer hadits berdasarkan waktu dan kondisi. Science of Hadits). Hadits Munqati' . Ilustrasi sanad : Pencatat Hadits > penutur 4> penutur 3 > penutur 2 (tabi'in) > penutur 1(Para sahabat) > Rasulullah SAW • • • • • Hadits Musnad. • Hadits mutawatir. adalah hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang dari beberapa sanad dan tidak terdapat kemungkinan bahwa mereka semua sepakat untuk berdusta bersama akan hal itu. maka berhati-hatilah kamu darimana kamu mengambil agamamu"... Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah sanad minimum hadits mutawatir (sebagian menetapkan 20 dan 40 orang pada tiap lapisan sanad). sebuah hadits tergolong musnad apabila urutan sanad yang dimiliki hadits tersebut tidak terpotong pada bagian tertentu. Jadi hadits mutawatir memiliki beberapa sanad dan jumlah penutur pada tiap lapisan (thaqabah) berimbang. Bila penutur 1 tidak dijumpai atau dengan kata lain seorang tabi'in menisbatkan langsung kepada Rasulullah SAW (contoh: seorang tabi'in (penutur2) mengatakan "Rasulullah berkata" tanpa ia menjelaskan adanya sahabat yang menuturkan kepadanya). Berdasarkan klasifikasi ini hadits dibagi atas hadits Mutawatir dan hadits Ahad. [sunting] Berdasarkan jumlah penutur Jumlah penutur yang dimaksud adalah jumlah penutur dalam tiap tingkatan dari sanad. Keutuhan rantai sanad maksudnya ialah setiap penutur pada tiap tingkatan dimungkinkan secara waktu dan kondisi untuk mendengar dari penutur diatasnya. Hadits Mu'allaq bila sanad terputus pada penutur 4 hingga penutur 1 (Contoh: "Seorang pencatat hadits mengatakan." tanpa ia menjelaskan sanad antara dirinya hingga Rasulullah). Munqati'. Mu'dal dan Mursal.

serta matannya tidak syadz serta cacat. bila terdapat lebih dari dua jalur sanad (tiga atau lebih penutur pada salah satu lapisan) namun tidak mencapai derajat mutawatir. Hadits Dhaif (lemah). yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi yang lemah yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang tepercaya/jujur. Hadits shahih memenuhi persyaratan sebagai berikut: 1. Hadits ahad kemudian dibedakan atas tiga jenis antara lain : o Gharib. Hadits Hasan. terjaga muruah(kehormatan)-nya. tidak fasik. 2. mu’allaq. [sunting] Berdasarkan tingkat keaslian hadits Kategorisasi tingkat keaslian hadits adalah klasifikasi yang paling penting dan merupakan kesimpulan terhadap tingkat penerimaan atau penolakan terhadap hadits tersebut. yang berarti hadits yang ditinggalkan yaitu Hadits yang hanya dirwayatkan oleh seorang perawi saja dan perawi itu dituduh berdusta. Tingkatan hadits pada klasifikasi ini terbagi menjadi 4 tingkat yakni shahih. bila hadits dicurigai palsu atau buatan karena dalam sanadnya dijumpai penutur yang memiliki kemungkinan berdusta. mudallas. mengandung kejanggalan atau cacat. [sunting] Jenis-jenis lain Adapun beberapa jenis hadits lainnya yang tidak disebutkan dari klasifikasi di atas antara lain: • • Hadits Matruk. bila hanya terdapat satu jalur sanad (pada salah satu lapisan terdapat hanya satu penutur. Diriwayatkan oleh penutur/perawi yg adil. Hadits Mungkar. memiliki sifat istiqomah. ialah hadits yang sanadnya tidak bersambung (dapat berupa mursal. bila terdapat dua jalur sanad (dua penutur pada salah satu lapisan) o Mashur. Matannya tidak mengandung kejanggalan/bertentangan (syadz) serta tidak ada sebab tersembunyi atau tidak nyata yg mencacatkan hadits . 3. dan kuat ingatannya. hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang namun tidak mencapai tingkatan mutawatir. meski pada lapisan lain terdapat banyak penutur) o Aziz. . diriwayatkan oleh rawi yg adil namun tidak sempurna ingatannya. bila hadits yg tersebut sanadnya bersambung. da'if dan maudu' • • • • Hadits Shahih. yakni tingkatan tertinggi penerimaan pada suatu hadits. berakhlak baik. Hadits Maudu'. hasan.• tiap riwayat) dan ma'nawy (pada redaksional terdapat perbedaan namun makna sama pada tiap riwayat) Hadits ahad. Sanadnya bersambung. munqati’ atau mu’dal)dan diriwayatkan oleh orang yang tidak adil atau tidak kuat ingatannya.

Shahih Bukhari. Hadits Mudallas. yaitu hadits yang terbalik sebagian lafalnya hingga pengertiannya berubah Hadits Mudraj. yaitu hadits yang mengalami penambahan isi oleh perawinya Hadits Syadz. 2. Hadits yang jarang yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi orang yang tepercaya yang bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan dari perawi-perawi yang lain. 5. disusun oleh Muslim (204-262 H) Sunan Abu Dawud. disusun oleh an-Nasa'i (215-303 H) Sunan Ibnu Majah. artinya hadits yang dinilai sakit atau cacat yaitu hadits yang didalamnya terdapat cacat yang tersembunyi.• • • • • • • Hadits Mu'allal. 3. 4. Menurut Ibnu Hajar Al Atsqalani bahwa hadits Mu'allal ialah hadits yang nampaknya baik tetapi setelah diselidiki ternyata ada cacatnya. . baik dalam sanad atau pada gurunya. disusun oleh Abu Dawud (202-275 H) Sunan at-Turmudzi. Jadi Hadits Mudallas ini ialah hadits yang ditutup-tutupi kelemahan sanadnya [sunting] Periwayat Hadits Sampul kitab hadits Sahih Bukhari [sunting] Periwayat Hadits yang diterima oleh Muslim 1. disusun oleh Bukhari (194-256 H) Shahih Muslim. Hadits ini biasa juga disebut Hadits Ma'lul (yang dicacati) dan disebut Hadits Mu'tal (Hadits sakit atau cacat) Hadits Mudlthorib. yakni hadits yang terbalik yaitu hadits yang diriwayatkan ileh perawi yang dalamnya tertukar dengan mendahulukan yang belakang atau sebaliknya baik berupa sanad (silsilah) maupun matan (isi) Hadits gholia. artinya hadits yang kacau yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi dari beberapa sanad dengan matan (isi) kacau atau tidaksama dan kontradiksi dengan yang dikompromikan Hadits Maqlub. Yaitu Hadits yang diriwayatkan oleh melalui sanad yang memberikan kesan seolah-olah tidak ada cacatnya. padahal sebenarnya ada. disusun oleh At-Turmudzi (209-279 H) Sunan an-Nasa'i. disusun oleh Ibnu Majah (209-273). 6. disebut juga hadits yang disembunyikan cacatnya.

melalui Fatimah az-Zahra. [sunting] Masa Pembentukan Al Hadits Masa pembentukan Hadits tiada lain masa kerasulan Nabi Muhammad itu sendiri. ialah lebih kurang 23 tahun. atau disampaikan kepada murid-muridnya dan diteruskan kepada murid-murid berikutnya lagi hingga sampai kepada pembuku Hadits. tetapi sebagian besar menggunakan: • • • • Ushul al-Kafi Al-Istibshar Al-Tahdzib Man La Yahduruhu al-Faqih [sunting] Pembentukan dan Sejarahnya Bagian ini membutuhkan pengembangan. Itulah pembentukan Hadits. Pada masa ini Al Hadits belum ditulis. Muwatta Malik. perbuatan dan sikap Nabi Muhammad sebagai Rasul. yang melawan Ali pada Perang Jamal. Berita itu selanjutnya disampaikan kepada sahabat lain yang tidak mengetahui berita itu. Sunan Darimi. Ada beberapa sekte dalam Syi'ah. perode ini disebut al wahyu wa at takwin. Syi'ah tidak menggunakan hadits yang berasal atau diriwayatkan oleh mereka yang menurut kaum Syi'ah diklaim memusuhi Ali. . Seiring dengan perkembangan dakwah. disusun oleh Imam Ahmad bin Hambal 8. Ad-Darimi [sunting] Periwayat Hadits yang diterima oleh Syi'ah Muslim Syi'ah hanya mempercayai hadits yang diriwayatkan oleh keturunan Muhammad saw. seperti Aisyah.7. istri Muhammad saw. mulailah bermunculan persoalan baru umat Islam yang mendorong para sahabat saling bertukar Al Hadits dan menggali dari sumber-sumber utamanya. Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sejarah hadits Hadits sebagai kitab berisi berita tentang sabda. Berita tersebut didapat dari para sahabat pada saat bergaul dengan Nabi. dan hanya berada dalam benak atau hafalan para sahabat saja. atau oleh pemeluk Islam awal yang memihak Ali bin Abi Thalib. Pada masa ini Al Hadits belum ditulis ataupun dibukukan. Musnad Ahmad. disusun oleh Imam Malik 9. periode ini dimulai sejak muhammad diangkat sebagai nabi dan rosul hingga wafatnya (610M632 M) [sunting] Masa Penggalian Masa ini adalah masa pada sahabat besar dan tabi'in. dimulai sejak wafatnya Nabi Muhammad pada tahun 11 H atau 632 M.

[sunting] Kitab-kitab Hadits penggunaan kata athi'u. dengan penuh kesadaran dan kerelaan tanpa sedikit pun rasa enggan dan pembangkangan. kata athi'u diulang dua kali. (Perhatikan Firman Allah dalam QS 4:59). maka para ulama mulai mengelompokkan Hadits dan memisahkan kumpulan Hadits yang termasuk marfu' (yang berisi perilaku Nabi Muhammad). seiring terjadinya tragedi perebutan kedudukan kekhalifahan yang bergeser ke bidang syari'at dan 'aqidah dengan munculnya Al Hadits palsu. dan Al Hadits yang terhimpun belum dipisahkan mana yang merupakan Al Hadits marfu' dan mana yang mauquf dan mana yang maqthu'.[sunting] Masa Penghimpunan Masa ini ditandai dengan sikap para sahabat dan tabi'in yang mulai menolak menerima Al Hadits baru. sebagaimana diisyaratkan oleh kasus Ubay ibn Ka'ab yang ketika sedang shalat dipanggil oleh Rasul saw. [sunting] Masa Pendiwanan dan Penyusunan Abad 3 H merupakan masa pendiwanan (pembukuan) dan penyusunan Al Hadits. usaha pembukuan Hadits terus dilanjutkan hingga dinyatakannya bahwa pada masa ini telah selesai melakukan pembinaan maghligai Al Hadits. Guna menghindari salah pengertian bagi umat Islam dalam memahami Hadits sebagai prilaku Nabi Muhammad. baik . sehingga jika ada Al Hadits baru yang belum pernah dimiliki sebelumnya diteliti secermat-cermatnya siapa-siapa yang menjadi sumber dan pembawa Al Hadits itu. Selanjutnya pada abad 4 H. Perintah kedua mencakup kewajiban taat kepada beliau walaupun dalam hal-hal yang tidak disebut secara eksplisit oleh Allah SWT dalam Al-Quran. Maka pada masa pemerintahan Khalifah 'Umar bin 'Abdul 'Aziz sekaligus sebagai salah seorang tabi'in memerintahkan penghimpunan Al Hadits. Usaha pembukuan Al Hadits pada masa ini selain telah dikelompokkan (sebagaimana dimaksud diatas) juga dilakukan penelitian Sanad dan Rawi-rawi pembawa beritanya sebagai wujud tash-hih (koreksi/verifikasi) atas Al Hadits yang ada maupun yang dihafal. Masa ini terjadi pada abad 2 H. bahkan kewajiban taat kepada Nabi tersebut mungkin harus dilakukan terlebih dahulu --dalam kondisi tertentu-. tetapi bersyarat dengan sejalannya perintah mereka dengan ajaran-ajaran Allah dan Rasul-Nya.walaupun ketika sedang melaksanakan perintah Allah SWT. mana yang mauquf (berisi prilaku sahabat) dan mana yang maqthu' (berisi prilaku tabi'in). Sedangkan abad 5 hijriyah dan seterusnya adalah masa memperbaiki susunan kitab Al Hadits seperti menghimpun yang terserakan atau menghimpun untuk memudahkan mempelajarinya dengan sumber utamanya kitab-kitab Al Hadits abad 4 H. dan atas dasar ini pula perintah taat kepada Ulu Al-'Amr tidak dibarengi dengan kata athi'u karena ketaatan terhadap mereka tidak berdiri sendiri. Menerima ketetapan Rasul saw. Para sahabat dan tabi'in ini sangat mengenal betul pihak-pihak yang melibatkan diri dan yang terlibat dalam permusuhan tersebut. Itu sebabnya dalam redaksi kedua di atas.

yang pada umumnya disampaikan oleh orang per orang dan itu pun seringkali dengan redaksi yang sedikit berbeda dengan redaksi yang diucapkan oleh Nabi saw. 'Abdul Halim menegaskan bahwa. Penjelasan atau bayan tersebut dalam pandangan sekian banyak ulama beraneka ragam bentuk dan sifat serta fungsinya.pada saat ditetapkannya hukum maupun setelah itu. Ini menjadikan kedudukan hadis dari segi otensititasnya adalah zhanniy al-wurud. Atas dasar ini. Dengan menunjuk kepada pendapat Al-Syafi'i dalam Al-Risalah. dalam kaitannya dengan Al-Quran. itu tidak berarti terdapat keraguan terhadap keabsahan hadis karena sekian banyak faktor -. karena sejak diterimanya oleh Nabi. merupakan syarat keabsahan iman seseorang. Fungsi Hadis terhadap Al-Quran Al-Quran menekankan bahwa Rasul saw. diyakini bahwa wahyu Al-Quran disusun langsung oleh Allah SWT. yaitu apa yang diistilahkan oleh sementara ulama dengan bayan ta'kid dan bayan tafsir. Dari segi redaksi. mantan Syaikh Al-Azhar. Ini. dan demikian seterusnya generasi demi generasi. Malaikat Jibril hanya sekadar menyampaikan kepada Nabi Muhammad saw. dalam bukunya Al-Sunnah fi Makanatiha wa fi Tarikhiha menulis bahwa Sunnah mempunyai fungsi yang berhubungan dengan Al-Quran dan fungsi sehubungan dengan pembinaan hukum syara'. Di samping itu. wahyu-wahyu Al-Quran menjadi qath'iy al-wurud. dapat dipastikan tidak mengalami perubahan. Yang pertama sekadar menguatkan atau menggarisbawahi kembali apa yang terdapat di . namun pada umumnya penyampaian atau penerimaan kebanyakan hadis-hadis yang ada sekarang hanya berdasarkan hafalan para sahabat dan tabi'in.mustahil akan sepakat berbohong. diakui pula oleh ulama hadis bahwa walaupun pada masa sahabat sudah ada yang menulis teksteks hadis. yang topang-menopang sehingga mengantarkan generasi berikut untuk merasa tenang dan yakin akan terpeliharanya hadishadis Nabi saw. berfungsi menjelaskan maksud firman-firman Allah (QS 16:44).. 'Abdul Halim Mahmud. dan beliau pun langsung menyampaikannya kepada umat. harus diakui bahwa terdapat perbedaan yang menonjol antara hadis dan Al-Quran dari segi redaksi dan cara penyampaian atau penerimaannya. ia ditulis dan dihafal oleh sekian banyak sahabat dan kemudian disampaikan secara tawatur oleh sejumlah orang yang --menurut adat-. Walaupun demikian. di sisi lain. berbeda dengan hadis. Redaksi wahyu-wahyu Al-Quran itu. di samping kondisi sosial masyarakat ketika itu. demikian Allah bersumpah dalam Al-Quran Surah Al-Nisa' ayat 65. ada dua fungsi Al-Sunnah yang tidak diperselisihkan.baik pada diri Nabi maupun sahabat beliau. Tetapi.

melarang seorang suami memadu istrinya dengan bibi dari pihak ibu atau bapak sang istri. maka jalan keluarnya mungkin tidak terlalu sulit. bahkan persoalan akan semakin sulit jika Al-Quran yang bersifat qathi'iy al-wurud itu diperhadapkan dengan hadis yang berbeda atau bertentangan. Muhammad Al-Ghazali dalam bukunya Al-Sunnah Al-Nabawiyyah Baina Ahl Al-Fiqh wa Ahl Al-Hadits. merinci. Ketika Rasul saw. apabila fungsi Al-Sunnah terhadap Al-Quran didefinisikan sebagai bayan murad Allah (penjelasan tentang maksud Allah) sehingga apakah ia merupakan penjelasan penguat. atau rinci. menyatakan bahwa "Para imam fiqih menetapkan hukum-hukum dengan ijtihad yang luas berdasarkan pada Al-Quran terlebih dahulu. mengecualikan sebagian kandungannya pun tidak dapat dilakukan oleh hadis. apakah hadis atau Sunnah dapat berfungsi menetapkan hukum baru yang belum ditetapkan dalam Al-Quran? Kelompok yang menyetujui mendasarkan pendapatnya pada 'ishmah (keterpeliharaan Nabi dari dosa dan kesalahan.dalam Al-Quran. mereka menerimanya. untuk ditaati. kesemuanya bersumber dari Allah SWT. jalan keluar ini tidak disepakati. Inn al-hukm illa lillah. sedangkan yang terakhir ini yang bersifat zhanniy al-wurud. pengertian lahir dari ayat-ayat Al-Quran. tidak disetujui oleh Imam Malik dan pengikut-pengikutnya. yang pada zhahir-nya berbeda dengan nash ayat Al-Nisa' ayat 24. Disini. Pendapat yang demikian ketat tersebut. Menurut mereka. Yang menerapkan secara utuh hanya Imam Abu Hanifah dan pengikut-pengikutnya. pandangan para pakar sangat beragam. pembatas dan bahkan maupun tambahan. Persoalan yang diperselisihkan adalah. Kelompok yang menolaknya berpendapat bahwa sumber hukum hanya Allah. Kalau persoalannya hanya terbatas seperti apa yang dikemukakan di atas. tetapi kalau tidak sejalan. bahkan membatasi. jangankan membatalkan kandungan satu ayat. ketika hendak menetapkan hukum. apabila mereka menemukan dalam tumpukan riwayat (hadits) yang sejalan dengan Al-Quran. sedangkan yang kedua memperjelas." Pendapat di atas. khususnya dalam bidang syariat) apalagi sekian banyak ayat yang menunjukkan adanya wewenang kemandirian Nabi saw. Sehingga. mereka menolaknya karena Al-Quran lebih utama untuk diikuti. Tentu. walaupun . sehingga Rasul pun harus merujuk kepada Allah SWT (dalam hal ini Al-Quran). tidak sepenuhnya diterapkan oleh ulamaulama fiqih. Mereka berpendapat bahwa al-hadits dapat saja diamalkan. maka pada hakikatnya penambahan tersebut adalah penjelasan dari apa yang dimaksud oleh Allah SWT dalam firman tersebut.

Apakah pemahaman makna sebuah hadis harus dikaitkan dengan konteksnya atau tidak. boleh saja berbeda dengan Al-Quran. problem menyangkut teks sebuah hadis masih dapat saja muncul. hadis yang melarang memadu seorang wanita dengan bibinya. walaupun tidak sejalan dengan lahir teks ayat Al-Nisa' ayat 24. Dalam hal ini. manusia teladan tersebut suatu kali bertindak sebagai Rasul. dalam arti ucapan-ucapan yang dinisbahkan kepada Nabi Muhammad saw. baik dalam bentuk pengecualian maupun penambahan terhadap kandungan Al-Quran. bukan saja menolak pandangan Abu Hanifah yang sangat ketat itu. selama terdapat indikator yang menguatkan hadis tersebut. memilah Al-Sunnah dalam kaitannya dengan pribadi Muhammad saw. Al-Qarafiy. tidak dilakukan oleh ulama kecuali dengan sangat cermat dan setelah menganalisis dan membolak-balik segala seginya. atau adanya ijma' ulama menyangkut kandungannya. pada umumnya diterima berdasarkan riwayat dengan makna. Al-Sunnah. maka tidak ada jalan kecuali mempertahankan wahyu yang diterima secara meyakinkan (Al-Quran) dan mengabaikan yang tidak meyakinkan (hadis). atau mencakup pula mitra bicara dan kondisi sosial ketika diucapkan atau diperagakan? Itulah sebagian persoalan yang dapat muncul dalam pembahasan tentang pemahaman makna hadis. tetapi juga pandangan Imam Malik yang lebih moderat. tidak sepenuhnya persis sama dengan apa yang diucapkan oleh Nabi saw. haram hukumnya. Menurutnya. namun demikian. dalam arti teks hadis tersebut. sebelum mereka diperkenankan meriwayatkan dengan makna. hadis. Bila masih juga ditemukan pertentangan. yang mendapat gelar Nashir Al-Sunnah (Pembela Al-Sunnah). Apakah konteks tersebut berkaitan dengan pribadi pengucapnya saja. seperti adanya pengamalan penduduk Madinah yang sejalan dengan kandungan hadis dimaksud. Bukankah Allah sendiri telah mewajibkan umat manusia untuk mengikuti perintah Nabi-Nya? Harus digarisbawahi bahwa penolakan satu hadis yang sanadnya sahih.. dalam pandangan mereka. dan kali ketiga sebagai qadhi (hakim penetap hukum) atau pemimpin satu masyarakat atau bahkan sebagai pribadi dengan kekhususan dan keistimewaan manusiawi atau kenabian yang membedakannya . Imam Syafi'i.tidak sejalan dengan Al-Quran. dalam berbagai ragamnya. misalnya. di kali lain sebagai mufti. Karena itu. Pemahaman atas Makna Hadis Seperti dikemukakan di atas. Walaupun diakui bahwa cukup banyak persyaratan yang harus diterapkan oleh para perawi hadis.

"Istahlaltum furujahunna bi kalimat Allah (Kalian memperoleh kehalalan melakukan hubungan seksual dengan wanita-wanita karena menggunakan kalimat Allah)". tetapi untuk pengembangan hukum. karena bentuk hukum dan bunyi teks-teksnya adalah ta'abbudiy. kecuali jika ada petunjuk yang mengalihkan arti lahiriah teks. Setiap hadis dan Sunnah harus didudukkan dalam konteks tersebut.dengan manusia lainnya. walaupun dalam bidang muamalat. "Zadaka Allah tha'atan. Ubay ibn Ka'ab. yang sedang dalam perjalanan menuju masjid." Sebagian memahami teks hadis tersebut secara tekstual. Imam Syafi'i dinilai sangat ketat dalam memahami teks hadis. sehingga tidak boleh diubah. Kajian 'illat. sehingga tidak shalat Ashar walaupun waktunya telah berlalu --kecuali di tempat itu. Dalam peperangan Al-Ahzab. Sebagian lainnya memahaminya secara kontekstual. Nabi bersabda. Menurutnya. bersabda." dan seketika itu juga Ubay duduk di jalan. Melihat hal itu. tidak mempersalahkan kedua kelompok sahabat yang menggunakan pendekatan berbeda dalam memahami teks hadis. bukan terhadap bunyi teks Al-Quran dan hadis. dalam pasal ketiga karyanya. Ada yang memahaminya secara tekstual dan ada pula yang secara kontekstual. Sikap para sahabat menyangkut perintah Nabi yang jelas pun berbeda. karena bunyi hadis Nabi saw. Karena itu. sehingga mereka melaksanakan shalat Ashar. kaidah al-hukm yaduru ma'a illatih wujud wa 'adam. harus dipertahankan bunyi teksnya. Al-Syathibi. Dalam hal ini. perintah tersebut ada yang jelas dan ada yang tidak jelas. Al-Syafi'i berpendapat bahwa pada dasarnya ayat-ayat Al-Quran dan hadis-hadis Nabi saw. Nabi yang mengetahui hal ini lalu bersabda kepadanya. Ubay memahami hadis tersebut secara tekstual. dikembangkan bukan untuk mengabaikan teks. sedangkan kalimat (lafal) yang . sebelum tiba di perkampungan yang dituju. hanya lafal nikah dan zawaj.115 hanya dapat diterapkan olehnya terhadap hasil qiyas. Maksud syariat sebagai maslahat harus dipahami secara terpadu dengan bunyi teks. "Ijlisu (duduklah kalian). Itu sebabnya Al-Syafi'i berpendapat bahwa lafal yang mengesahkan hubungan dua jenis kelamin. menyatakan. Suatu ketika. Al-Muwafaqat." Di sini. dalam kasus terakhir ini. menguraikan tentang perintah dan larangan syara'. mendengar Nabi saw.. "Jangan ada yang shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah. tidak terkecuali dalam bidang muamalat. dalam pandangan Al-Syafi'i. tentang perintah dan larangan pada masalah ketujuh. Nabi.

. tetapi juga karena teks tersebut diterima atas dasar qath'iy al-wurud. berpuasa pada bulan Romadhon.digunakan oleh Allah dalam Al-Quran untuk keabsahan hubungan tersebut hanya lafal zawaj dan nikah. membayar zakat. bukan saja karena akal tidak dapat memastikan mengapa teks tersebut yang dipilih. Teks-teks itu. tetapi dalam bidang muamalat. dapat dijangkau oleh nalar. sikapnya terhadap teks-teks hadis menjadi longgar. atau membenarkan keabsahan hubungan perkawinan dengan lafal hibah atau jual beli. harus dipertahankan. periwayatan lafalnya dengan makna dan penerimaannya bersifat zhanniy. Kemudian ia duduk di hadapan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam. Walaupun demikian. dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya. adalah penjabaran dari pandangan di atas. Fatwanya yang membolehkan membayar zakat fitrah dengan nilai. dengan alasan kemaslahatan. karena dia yang bertanya dan dia pula yang membenarkannya. beriman kepada para malaikat-Nya. seperti dikemukakan di atas. tidak demikian.” Kemudian Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam menjawab: ”Islam yaitu: hendaklah engkau bersaksi tiada sesembahan yang haq disembah kecuali Alloh dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Alloh. Berpijak pada hal tersebut di atas. Beliau sependapat dengan ulama-ulama lain yang menetapkan bahwa teks-teks keagamaan dalam bidang ibadah harus dipertahankan. Imam Abu Hanifah lain pula pendapatnya. Orang itu bertanya lagi: ”Lalu terangkanlah kepadaku tentang iman”. (Riwayat Turmuzi dan Muslim) Dari Umar rodhiyallohu’anhu juga. kemudian berkata: ”Wahai Muhammad. atau qurb Dari Abu Abdurrahman. beliau berkata: Pada suatu hari ketika kami duduk di dekat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam. Pada dirinya tidak tampak bekas dari perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Karena. menegakkan shalat.” Kami menjadi heran. maka ketika itu ia bersifat ta'abbudiy juga. menunaikan zakat. lalu mendempetkan kedua lututnya ke lutut Nabi. (Rosululloh) menjawab: ”Hendaklah engkau beriman kepada Alloh. tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan rambutnya sangat hitam. Hendaklah engkau mendirikan sholat. Dengan alasan terakhir ini. Kecuali apabila ia merupakan ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan perincian. dan mengerjakan haji ke rumah Alloh jika engkau mampu mengerjakannya. melaksanakan haji dan puasa Ramadhan.” Orang itu berkata: ”Engkau benar. terangkanlah kepadaku tentang Islam. Bidang ini menurutnya adalah ma'qul al-ma'na. kitab-kitab-Nya. Imam Abu Hanifah tidak segan-segan mengubah ketentuan yang tersurat dalam teks hadis. menurutnya. beliau tidak membenarkan pembayaran dam tamattu' dalam haji. Abdullah bin Umar bin Al-Khottob radiallahuanhuma dia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Islam dibangun diatas lima perkara. Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah.

Akar kata “al ayalah” yang berarti “as siyasah”= mengatur. Kedudukan Hadits Tafsir Arti bahasa à keterangan (al idhah)penjelasan (al bayan). khas dan ‘ammnya. Lalu Nabi shollallohu ’alaihi wasallam bersabda: ”Wahai Umar.” Orang itu berkata lagi: ”Beritahukanlah kepadaku tentang hari kiamat. hal ihwalnya. kitab yang berbahasa arab yang agung dan mu’jizat abadi bagi nabi Muhammad.” Orang itu selanjutnya berkata: ”Beritahukanlah kepadaku tanda-tandanya.” (Beliau) menjawab: “Hendaklah engkau beribadah kepada Alloh seolah-olah engkau melihat-Nya. wa’ad dan wa’idnya. Tafsir=masdar “tafsirah”.” Kemudian orang itu pergi. sebab-sebab yang terjadi dalam nuzulnya. Hal ihwal al qur’anul karim adalah kedudukannya sebagai kitab petunjuk yang benar.para utusan-Nya. Al Furqan 33) Lisanul ‘Arab: “al fasrul bayan”. tahukah engkau siapa orang yang bertanya itu ?”. penafsiran (al fasr) adalah usaha untuk menyingkap sesuatu yang tertutup “kasyful muradi ‘anil lafzhil musykili”. nasikh dan mansukhnya. perintah dan larangannya. tertib makkiyah dan madaniyahnya. madlulah dan ahkamnya secara ifrady (sendiri-sendiri) dan tarkib (tersusun) dan ma’aninya yang mengandung keterangan tentang hal ihwal susunannya (Abu Hayyan. muhkam dan mutasyabihnya. yaitu: sebuah nama bagi sesuatu yang dipergunakan dokter untuk mengetahui suatu penyakit. hari akhir. Kamus: “aalan aulan dan ma’lan ilayhi”= kembali.” Lalu beliau bersabda: ”Dia itu adalah malaikat Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian. Namun jika engkau tidak dapat (beribadah seolah-olah) melihat-Nya. halal dan haramnya. sesungguhnya Ia melihat engkau. sedangkan aku tetap tinggal beberapa saat lamanya. yang miskin lagi penggembala domba berlomba-lomba dalam mendirikan bangunan.” Lalu orang itu bertanya lagi: ”Lalu terangkanlah kepadaku tentang ihsan. Masdar dari fi’il “fassara” Qs. Tafsir ialah ilmu yang membahas tentang cara-cara mengucapkan lafadz-lafadz al Qur’an. yakni “keterangan yang memberikan penjelasan” “al fasru kasyful mughthi”.”(HR. yaitu mengungkapkan arti yang dimaksud dari lafaz yang pelik. Tafsir adalah ilmu yang membahas tentang hal ihwal al Qur’anul karim. Muslim). ungkapan dan tamtsilnya dan lain sebagainya. Takwil Menurut bahasa: akar kata “al aulu” yang berarti “ar ruyu”=kembali. dari segi indikasinya akan apa yang dimaksud oleh Allah. dan engkau melihat orang-orang Badui yang bertelanjang kaki. dan hendaklah engkau beriman kepada taqdir yang baik dan yang buruk. muthlaq dan muqayyadnya. Tafsir adalah ilmu yang menerangkan tentang nuzul (turunnya) ayat-ayat.” (Beliau) mejawab: “Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.” (Beliau) menjawab: ”Apabila budak melahirkan tuannya. Aku menjawab: ”Alloh dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui. dalam kitabnya “al Bahrul Muhith”.”Orang tadi berkata: ”Engkau benar. . kisah-kisah.

Namun takwil secara istilah yang masyhur dikalangan ulama adalah: sinonim dari tafsir.“aala-aulan dan ma’lan ‘anhu”=“irtadda” (balik kembali). Sedangkan menurut istilah ulama sangat banyak mendefenisikannya diantanya sebagai berikut : Menurut Abadullah Azzarkasyi dalam kitabnya ulumul qur’an. mendalami. Esensi dari apa yang dikehendaki oleh suatu kalimat. Defenisi takwil Menurut bahasa.: awwalul kalam takwiilan dan takwilnya. : tafsir adalah suatu ilmu untuk mengetahui dan memahami kitab Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dan menjelaskan makna-maknanya dan mengeluarkan hukum-hukum dan hikmahnya. Yusuf 44. Menurut Muhammad Abdul ‘azim azzarqni.berberda pendapat ulama dalam mendefenisikannya diantaranya : Menurut mutaqaddiminn bahwa takwil itu sama defenisinya dengan tarsir. didalam lisanun arab tafsi menurut bahasa adalah penjalasan. .: tafsir adalah suatu ilmu yang menjelaskan makna-makna Alqur’an dan menerangkan secara umum lafaz yang sulit dan selainnya dan bentuk makna yang nyata dan selainnya . Ali Imran 7. Menurut imam Assayuti. baik arti tersebut sama dengan bunyi lahiriah kalimat tersebut. Kata takwil dapat ditemukan pada QS. (cakupannyDefenisi tafsir Tafsir menurut bahasa adalah penjelasan dan penerangan. Yusuf 100 Ulama salaf à menegaskan.: tafsir adalah suatu ilmu yang membahas tentang Alqur’anulkarim dari segi dalil-dalilnya terhadap apa yang dimaksud oleh Allah ta’la sesuai dengan kemampuan manusia Dari beberapa definisi diatas dapat kita simpulkan bahwa tafsif adalah suatu ilmu yang mengkaji dan membahas Alqur’an dan mencari hikmah-hikmah yang terkandung dalam Alqur’an. 2. dan rangkaian kalimat/keterangan seperti tafsiran. dan cocok dengan ilmu lughah dan ilmu nahwu dan sharaf ilmu bayan dan ushul fiqih dan ilmu qira’at dan asbabunuzul dan nasikh dan mansukh. dengan dalil ayat Allah dalam surat ali imran ayat yang ke tujuh Menurut istilah.dengan tujuan menjelasan sesuatu yang kurang paham. dan meneliti dan menerangkan . didalam lisanul arab. An Nisa 59.Menafsirkan kalimat dan menerangkan artinya. ataupun berlawanan dengannya. komentar.: mengambalikan makna sesuatu.Takwiil diambil dari kata al-awala dengan makna kembali Didalam kamus Al-muhit. Takwil berarti ungkapan atau penjelasan suatu pandangan. dan penjelasan). (cakupannya: bab ilmu. takwil adalah: 1.

adakalanya secara hakiki dan adalakanya secara majazi sedangakan takwil menjelaskan lafaz secara batin atau yang tersembunyi yang diambil dari khabar orang-orang yang sholeh. ada beberapa pendapat ulama. dan juga masdar dengan makna bacaan. Alqur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW sebagai mu’jizat lafaznya. Alqur’an menurut istilah. Perbedaan antara tafsir dengan takwil Tentang perbedaan tafsir dan takwil ini banyak pendapat ulama yang perpendat tentang ini. InsyaAllah akan dijelaskan secara terperinci terhadap perbedaan antara keduanya. dan dari pendapat ulama itu tidak sama dan bahkan ada yang jauh perbedaan satu sama lain. . diantaranya. Menurut ahli ushul dan ahli fikih. Tafsir apa yang bersangkut paut dengan riwayah sedangkan takwil apa-apa yang bersangkut paut dengan dirayah Tafsir menjelaskan secara detail sedangkan takwil hanya menjelaskan secara global tentang apa yang dimaksud dengan ayat itu. Defenisi Alqur’an Alqu’an menurut bahasa berasal dari masdar dari fiil qa ra a yang artinya membaca.. dan beribadah membacanya yang disampaikan dengan mutawatir. Alqur’anul karim adalah kalam Allah ta’ala yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW beribadah membacanya yang sampai kepada kita dengan mutawatir yang diliputi dengan surat darinya. tertulis di mushaf dari awal surat alfatihah sampai akhir surat annas. maka darip itu bisa kita simpulkan sebagaiberikut: Tafsir lebih banyak digunakan pada lafaz dan mufradat sedangkan takwil lebih banyak digunakan pada jumlah dan makna-makna. Takwil dianya menjabarkar kalimat-kalimat dan menjelaskan maknanya sedangkan tafsir menjelaskan dengan sunnah dan menyampaikan pendapat para sahabat dan para ulama dalam penfsiran itu Tafsir menjelaskan lafaz yang zahir.Menurut sebagian ulama bahwa takwil itu lebih khusus dari pada tafsir Takwil menjelasan lafaz alqur’an dengan jalan dirayah sedangkan tafsir menjelaskan lafaz alqur’an dengan jalan riwayat Dengan itu dapat kita simpulkan bahwa takwil tidak jauh berbeda dengan tafsir namun ada sedikit perbedan dalam meneliti ayat alqur’an.. sesuai dengan firman allah surat alqiyamah ayat 17.18.

A. Imam Assayut telah menuliskan dalam itqaannya. akan tetapi Abu bakar dan Umar dan Usman bin affan sedikit sekali meriwayatkan disebabkan cepatnya wafat semoga Allah meredhoi mereka. Adapun dari khulafah urrasyidiin yang terbanyak meriwayatkan ialah ali bin abi talib. insyallah akan dijelas dengan terang. . sebab mana ayat yang ridak dipahami oleh parasahat. Dengan itu menurut Dr. M. Namun yang menjadi pertanyaan bagi kita mulai kapankah muncul para ahli tafsir. Munculnya Tafsir dan ilmunya Sebenarnya tafsir sudah muncul semenjak dari maualainya turun Alqr’an. M. karena tiada satu bacaanpun sejak manusia mengenal tulis baca lima ribu tahun yang lalu yang dapat menandingi Al-Quran Al-Karim. Ketika ibnu umar ditanya oleh seorang laki-laki tentang tafsir surat Al-ambiyak ayat 30. tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä óOs9ur (#þqÝ¡Î6ù=tƒ OßguZ»yJƒÎ) AOù=ÝàÎ/ y7Í ´¯»s9'ré& ãNßgs9 ß`øBF{$# Nèdur tbr߉tGôg•B ÇÑËÈ Para sahabat lansung bertanya kepada rasul Saw. Ini salah bukti bahwa tafsir sangat dibutuhkan daikalangan umat islam. C. dan Ibnu Abbas . para ahli tafsir yang masyhur dikalangan sahabat adalah khulafah arrasyidiin. bacaan sempurna lagi mulia itu. ketika turun surat Al-an’am ayat 82.Zaid bin Sabit. Abu musa al asy’ari. Tafsir merupaka jalan penjelas bagi kita untuk memahami Alqu’an. dan Ibnu Mas’ud. 1 Dari kalangan shababat. dan siapa saja membacanya dengan ikhlas pasti akan deberi ganjaran dan pahala dari Allah SWT. ketika itu Ibnu umar langsung menyuruh laki-laki itu menemui Ibnu Abbas untuk menjelaskan apa yang dimaksud ayat tersebut. Ya rasulallah sipakah diantara kita yang tidak menzalimi dirinya? Rasul langsung menjawab dengan ayat Allah juga dalam surat luqman ayat 13. seperti. Ubai bin Ka’ab. sebagai mu’jizat dari Allah SWT. itu langsung ditanyakan pada nabi SAW. Abdullah bin zubair. Quraish Shihab.Dari defenisi diatas dapat dipulkan bahwa alqur’an adalah benar-benar perkataan Allah SWT yang telah diwahyukan kepada nabi kita yang mulia yaitu nabi Muhammad SAW.øŒÎ)ur tA$s% ß`»yJø)ä9 ¾ÏmÏZö/ew uqèdur ¼çmÝàÏètƒ ¢Óo_ç6»tƒ Ÿw õ8ÎŽô³è@ «!$$Î/ ( žcÎ) x8÷ŽÅe³9$# íOù=Ýàs9 ÒOŠÏàtã ÇÊÌÈ yang dimakasud dengan zalim itu adalah syirik.Al-Quran yang secara harfiah berarti "bacaan sempurna "merupakan suatu nama pilihan Allah yang sungguh tepat.

Muhammad bin Ka’ab alqurzy. Attak. Berkata Ibnu Taimiyah: manusia yang paling tahu tentang tafsir penduduk makkah karna mereka berguru kepada ibnu Abbas. Hasan albasri. yang masyhur dimakah murid dari Ibnu Abbas : Si’id bin jubair. D.Alaswad bin yazid.Qitadah bin da’amah assudusy. dan tabi’ tabien. Dan ulama penduduk madinah yang ahli tentang tafsir.’Aamir Asyi’bi. Seperti Tafsir Jami’ Ahkam oleh Qurtubi yang berbentuk permasalahan fikih atau fahaman yang dimasukkan dalam penafsiran Al-Quran. tafsir dan perkara yang tidak ada keuzuran bagi sesiapa pun untuk mengetahuinya lantaran terlalu jelas dan tafsir yang hanya diketahui oleh para ulama’ serta tafsir dan perkara yang hanya diketahui oleh Allah swt. Tafsir Al-Baghawi “ Ma’alim At-Tanzil” serta tafsir Syaukani “ Fathul Qadir” yang menafsikan Alqur’an berdasarkan riwayat para sahabat. Sebgaimana detulis diatas. Dan Ibnu Masu’ud tentang tarjuman 2. Tafsir bil makstur adalah tafsir dengan riwayat . Dan seperti itu juga penduduk kufah dari murid Abadullah bin Mas’ud dan dari demikian di istewaakan atas selain mereka. Sebagaimana dikatakan oleh Azzarqani dalam kitabnya. tabien. Ibnu Abbas merupakan yang ahli tentang tafsir dan takwiil maka dari itu dia dinamakan dengan bahrul ulum. 1. Dan ada juga ahli tafsir yang menafsirkan Alqur’an dengan ilmu-ilmu yang lain. akan dipengaruhi penafsirannya oleh akidah dan mazhab yang dimiliki oleh ulama itu. Dan yang masyhur di iraq murid dari Abdullah bin mas’ud: ‘Alqamah bin Qais. tafsir Al-Alusi “ Ruh Al-Ma’ani Fi Tafsir Quranil Azim Wa’ Sab’ul Masani” . seperti Mujahid. dan mengambil juga anaknya Abdurrahman dan Abdullah bin wahab Para sahabat dan tabiin sangat tinggi keinginnan untuk mengethui tentang tafsir maka banyak dikalangan mereka yang tahu tentang tafsir alqur’an sebagaim mana yang telah ditulis sebahagian mereka diatas. Setelah itu dilanjutkan oleh para mufassir yang kita kenala sekarang namun tafsir yang ditulis para ulama baik yang telah wafat ataupun yang masih hidup sekarang.Menurut imam Azzarkasyi. Tafsir Al-Baidhawi “ Anwar At-Tanzil Wa’ Asrar Ta’wil” dan Tafsir Jalalain. Maula ibnu Abbas.Dari kalangan tabi’in. Ikrimah.” Kebanyakan ulama membagi tafsir kepada tiga. Thaus bin kisan Alyamaniy.Masruq. Terdapat juga tafsir–tafsir lain seperti Tafsir ibn Katsir “ Tafsir Al-Quran Azim”. Athaak bin abi rabah. seperti falsafah dan mantik.menurut perspektif akal dan logika seperti tafsir Fakhrul Din Ar-Razi yang berbentuk falsafah. Pembagian tafsir Diriwayatkan dari Ibn Abbas ra bahawa “ Tafsir itu terbahagi kepada 4 bahagian. Dan yang masyhur di madinah murid dari Ubay bin Ka’ab: Zaid bin Aslam Abul ‘aliyah. seperti Zaid bin Aslam yang mengambil darinya maalik tafsir. iaitu perkara yang dapat diketahui oleh orang arab akan maknanya. riayadah.Mujahid.

Bahkan terkadang mengalihkan suatu ayat hanya untuk memenangkan pendapat atau madzhabnya. Tafsir bil rakyi adalah tafsir dengan dirayah dan pendapat 3. Tafsir maudhu’i adalah menafsikan ayat sesuai dengan maudu’ yang ada dalam Alqur’an seperti sabar.rab. seseorang harus memenuhi beberapa kreteria diantaranya: 1). 2.Faham bahasa arab dan perangkat-perangkatnya. SYARAT DAN ADAB PENAFSIR AL-QUR’AN Untuk bisa menafsirkan al-Qur’an. mengetahui nasikh wal mansukh. Karena dengan hawa nafsu seseorang akan memenangkan pendapatnya sendiri tanpa melilhat dalil yang ada. ilmu qiroat (macam-macam bacaan dalam al-Qur’an).Faham dengan pokok-pokok ilmu yang ada hubungannya dengan al-Qur’an seperti ilmu nahwu (grammer).Tidak dengan hawa nafsu semata.Mengikuti urut-urutan dalam menafsirkan al-Qur’an seperti penafsiran dengan al-Qur’an. ushul fiqh. Tafsir tahlili adalah menafsirkan ayat kalimat demi kalimat dan dilengkapi dengan i. Adapun adab yang harus dimiliki seorang mufassir adalah. diantaranya : 1.memiliki pemahaman yang mendalam agar bisa mentaujih (mengarahkan) suatu makna atau mengistimbat suatu hukum sesuai dengan nusus syari’ah.2. berbicara tentang Kitabullah (al-Qur’an) jikalau tidak menguasai bahasa arab“.Beraqidah shahihah. karena al-Qur’an turun dengan bahasa arab. dan lainnya yang dibutuhkan dalam menafsirkan. Niatnya harus bagus. kisah-kisah dalam islam. E. 5). kemudian as-sunnah. Tafsir ayatul ahkam adalah mennafsirkan ayat yang disana ada hukum fiqih seperti tetnang ayat talak. “Tidak boleh seorangpun yang beriman kepada Allah dan hari akhir. al-bayan. hanya untuk mencari keridloan Allah semata. hadits. alma’ani. al-Isytiqoq (pecahan atau perubahan dari suatu kata ke kata yang lainnya). 3). Karena seluruh amalan tergantung dari niatannya (lihat hadist Umar bin Khottob tentang niat yang . al-badi’. Mujahid berkata. jihad dll. fiqh. perkataan para sahabat dan perkataan para tabi’in. 2). 6). 3. karena aqidah sangat pengaruh dalam menafsirkan al-Qur’an. aqidah shaihah. asbabunnuzul. Tafsir Isyari adalah tafsir dengan isyarat Akan tetapi ada tiga bagian tafsir yang termasyhur di kalangan banyak orang yaitu. 1. 4).

Berakhlak mulia.diriwayatkan oleh bukhori dan muslim diawal kitabnya dan dinukil oleh Imam Nawawy dalam buku Arba’in nya). 2. a .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful