Proposal Kritik Mitepoik Pada Cerpen Siti Rahima

Diajukan untuk memenuhi syarat salah satu tugas mata kuliah “KRITIK SASTRA”

Dosen Pengampu :Drs. Eddy Mulyadi. Disusun Oleh : Sukmawati Kls : 1V A 0800888201021

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS BATANGHARI JAMBI

Sumardjo dan Saini (1997 : 37) mengatakan bahwa cerita pendek adalah cerita atau parasi (bukan analisis argumentatif) yang fiktif (tidak benar-benar terjadi tetapi dapat terjadi dimana Saja dan kapan saja.2 Ciri-Ciri Cerpen Menurut Morris dalam Tarigan (1985 : 177). unity.1 Pengertian Cerpen Cerita pendek apabila diuraikan menurut kata yang membentuknya berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut : cerita artinya tuturan yang membentang bagaimana terjadinya suatu hal. serta relative pendek).ya relatif singkat dan padat. Sementara itu. ciri-ciri cerita pendek adalah sebagai berikut. 1. Dari beberapa pendapat di atas penulis simpulkan bahwa yang dimaksud dengan cerita pendek adalah karangan yang bersifat nasehat yang berupa fiktif yang menceritakan suatu peristiwa dalam kehidupan pelakundan padat. sedangkan pendek berarti kisah pendek (kurang dari 10. . cerita pendek adalah cerita yang panjangnya sekitar 5000 kata atau kira-kira 17 halaman kuarto spasi rangkap yang terpusat dan lengkap pada dirinya sendiri. • Ciri-ciri utama cerita pendek adalah singkat. padu.BAB 1 KAJIAN TEORI 1. dan intensif (brevity. Menurut Susanto dalam Tarigan (1984 : 176). and intensity).000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam situasi atau suatu ketika ( 1988 : 165 ).

itu duli. sudah lama sekali. Seorang perempuan.3 Unsur Intrinsik A. B. suggestive.• Unsur-unsur cerita pendek adalah adegan. Setting kadangkala diangkat tidak jauh dari latarbelakang penulis sebuah karya sastra. “ Dulu aku manusia juga. dan Purser menyatakan tama adalah pandangan hidup yang tertentu atau perasaan tertentu mengenai kehidupan atau rangkaian nilai-nilai tertentu yang membentuk atau membangun dasar atau gagasan utama dari suatu bentuk karya tulis. Maksudnya sebagian besar setting dari sebuah karya sastra adalah merupakan tempat dari pengalaman penulis yang sangat berkesan. and alert). Sedangkan disatu sisi yang berbeda Brooks. Waren. Tema Menurut Brook dan Waren dalam Guntur (93:125) menyatakan tema adalah unsur atau makna suatu cerita atau novel. suasana yang terjadi didalam cerita. Tetapi. and action). toko. Jauh sebelum jalan lingkar luar ini dibangun oleh konsorsium kontraktor Jepang-Indonesia. Setting Cerpen Setting adalah waktu. Dalam Cerpen Hikayat Siti Rahima berlatar belakang setting di sebuah kampung dipinggiran kota yang berbatasan langsung dengan Ibukota Negara Jakarta. . tempat. • Bahasa cerita pendek harus tajam. dan gerak (scena. dan menarik perhatian (incicive. 1. sugestif. Tema merupakan gagasan pokok yang terdapat adalm sebuah wacana. Tema yang bisa diangkat dari Hikayat Siti Rahima adalah : “ Perjuangan seorang gadis dalam mempertahankan kisah hidupnya di dunia fana”. character.

Wanita tegar. sampai sang gadis Mengandung benih dari cinta mereka. taat pada ajaran agamanya. Tim Pengembangan Kurikulum . tokoh-tokoh yang terdapat dalam cerpen hikayat Siti Rahima yaiti : 1. 2. Kembang kampung yang baru merasakan jatuh cinta kepada seorang konsorsium kontrkator jalan. sehingga pembaca bisa memilai . lemah. Siti Rahima Seorang wanita yang terlahir dari keluarga sederhana. Pria yang mengusir anaknya gadisnya karena telah mencoreng nama baik keluarga. wanita yang sangat taat pada suaminya. Dia tidak bisa menetang ayah. pria yang tidak bertanggung jawab. ketika beliau mengusir Rahima dari rumah. yang lagi berputus asa dalam pencarian sang lelaki pujaan hati yang pergi entah ke mana. Setiap tokoh dalam novel memiliki karakter yang berbeda-beda. Pria yang menjadi pacar Rahima ( seorang Konsorsium Kontrkator Jalan) Pria pekerja keras. 4. Penggambaran watak tokoh dalam novel sangat detail. .masingmasing tokoh tersebut. Tokoh-Tokoh Cerpen Tokoh merupakan orang-orang yang diceritakan dalam sebuah karya sastra. Ayah Pria yang tegas. Ibu Seorang wanita yang lembut. 3. berwibawa.C. 10). (Bahasa Indonesia. Pria yang meninggalkan Siti Rahima setelah ia meraih hati dan tubuh gadis itu.

dengan lidah yang terjulur di dalam gerowong pohon asam.alur dalam cerpen Hikayat Siti Rahima Yaitu alur maju. melalaui suatu pertengahan (middle). Gaya bahasa yang dipakai dalam cerpen Hikayat Siti Rahima adalah : Ø Anastrof/inverse adalah semacam gaya retoris yang diperoleh dengan pembalikan susunan kata yang ada pada kalimat “ Esok paginya orang-orang kampung . Artinya sebuah karya novel bergerak maju dari suatu permulaan (beginning). dan akhirnya menuju kesuatu akhir cerita (ending). Masih percaya kepada yang namanya dukun dan percaya kepada mitos.menemukan tubuhku tergeletak kaku. kata orang.5. . kata yang lain. Gaya bahasa adalah cara menggunakan bahasa. Alur adalah struktur yang terdapat dalam fiksi atau drama (Brook dalam Guntur 1995:126). Alur Yang Digunakan Dalam Cerpen. Orang-Orang Kampung Orang-orang yang kurang mengecam pendidikan. Gaya Bahasa Yang Digunakan Dalam Cerpen. Rahima bunuh diri. D. Dibunuh orang. Masih menganut sistem yang sangat tradisional. agar dia dia bisa diterima di surge atau neraka. style atau gaya bahasa dapat dibatasi sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis. 5. Ø Asidenton Adalah suatu gaya yang merupakan kebalikan dari pasidenton. Dan diakhiri dengan pencarian tempat kehidupan oleh Rahima.

Amanat yang Terdapat Dalam Cerpen Amanat yang disampaikan melalui cerpen Hikayat Siti Rahima adalah bahwa kita manusia jangan terlalu mengutamakan kehidupan dunia saja. Matahari akan hilang. Ia memindai percik api dimataku. apaun masalah yang lagi kita hadapi. Jangan mudah berputus asa.“ Pejamkan matamu.. dan mencatat. Tong. Sebab Tuhan tidak akan memberikan sebuah cobaan melebihi kemampuan umatnya. “ namun. apalagi yang bisa menjerumuskan kita kedalam dunia penuh dosam seperti free sexs. semacam gaya bahasa yang mengadung suatu pernyataan yang berlebihan dengan membesar-besarkan sesuatu hal. Dan aku merasakan debur ombak di dadanya. Kita harus menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat.Beberapa kata. Ø Hiperbola. Hujan pertama akan datang. frasa atau klausa yang berurutan dihubungkan satu sama lain dengan kata-kata sambung. E. lelaki itu tidak hanya mengukur. . mengeker.

atau sesuatu. kritik mitepoik ini adalah kritik yang paling baru dan yang paling ambisius dianta pendekatan-pendekatan kritik konterporer yang barang kali juga yang paling profokatif dalam tindakantindakan dan kemungkinannya. Cerpen Hikayat Siti Rahima mengangkat kritik tentang mitepoik. Yang nyangkut ngoyor kelaut. Setan Rahima jangan ngeganggu. Aer manek aer sagu. yang selalu lebih besar dari hidup. Di hari yang ditentukan. adalah bahwa Zen Hae . di dalam novel ini Zen Hae menceritakan tentang penduduk kampung yang masih memegang erat tentang mitos dalam kehidupan.1 Kritik Mitepoik Pada cerpen ini Kritik yang dapat diangkat yaitu. “Akhirnya mereka panggil seorang lelaki tua bermisai panjang dan bermata picak. Puh!” aku tertawa mendengarnya. Hikayat tidak selalu harus bercerita tentang orang-orang besar. Begitu kental mitos yang ada di kampung itu sehingga pohon itu dijadikan tempat sacral pemujaan. sang dukun membakar dupa dan membaca mantra di depan gerowong tubuhku. dan hal inilah yang membuat sebuah hikayat menjadi cukup berharga untuk dituturkan. Kritikus mitepoik pun mendapatkan fakta-fakta yang dikumpulkan dari hasil riset histories dan kuantitatifnya dalam mitos. “ dut serudut ular kadut. Rumah Kawin. menjadi petunjuk jalan yang telah hampir hilang dalam perjalan kritik ke dalam sastra. Hal pertama yang paling kuat tertinggal di dalam benak setelah membaca ceritacerita dalam kumpulan cerpen Zen Hae. Hikayat berkisah tentang seseorang.BAB 11 PEMBAHASAN 2. tetapi ia pasti berisi perbuatan-perbuatan besar.

modernitas adalah pemangsa yang tak kenal lelah. Bahkan. Lihat saja beberapa tokoh dalam kumpulan cerpen ini. dan ia . Mustahil bagi si pemulung untuk mewujudkan mimpinya. Siti Rahima. menghisap segenap elan dari yang lemah yang hidup di dalamnya. tokoh pemulung yang tak bernama dari semula telah dihadap-hadapkan dengan suatu kemustahilan: bagaimana caranya menjadi seekor jekimpreng. melainkan juga berkisah tentang kekalahan-kekalahan alih-alih kebesaran-kebesaran. tetapi mewujudkan impian tersebut juga merupakan satu-satunya kemungkinan yang tersisa baginya. yakni terbang dan melepaskan diri dari kehidupan urban yang tak berwajah dan tak berhati. tokoh dalam cerpen “Hikayat Siti Rahimah” adalah sebatang pohon asam tua yang dahulu konon merupakan jelmaan seorang gadis yang terusir dan mati merana. secara mengherankan ia tumbuh kembali seperti sedia kala. meski hanya menjadi bayangbayang cerita di latar belakang. Ia menjadi sebuah pohon yang ditakuti karena keangkerannya. Namun. Seperti Mamat Jago. yang tak lagi punya tempat di kota besar yang. Hikayathikayat dalam Rumah Kawin adalah hikayat tentang kekalahan manusia dan kehidupan dari kemajuan dan zaman. burung kecil yang tak punya apa-apa kecuali kebebasan karena kemampuannya untuk terbang dan melampaui dunia.tampaknya menciptakan hikayat-hikayat yang bukan saja tidak berisikan kronikel orang-orang besar. Dalam “Taman Pemulung”. Kemustahilan ini justru merupakan titik persilangan eksistensi bagi si pemulung. Tokoh-tokoh Zen Hae adalah orang-orang yang ditaklukkan dan terpinggirkan di sebuah latar urban yang jauh dari kemanusiaan. ketika ditebang pun. sejenak Rahima mencicipi rasanya “berkuasa”.

Seperti kata tokoh ‘saya’ dalam “Kota Anjing”. Sentimentalisme seperti ini hanyalah isapan jempol kaum idealis dan romantik. dalam kumpulan cerpen ini dikisahkan oleh mulut para tokoh atau pelaku sendiri. Untunglah bahwa Zen Hae tidak sekalipun jatuh dalam idealisasi kaum lemah ataupun terperangkap oleh wacana bahwa yang lemah. dan tanggal-tanggal yang .’ Meski demikian. Memang ada jejak-jejak realisme yang kuat dalam banyak cerpennya yang. agaknya Zen Hae juga bukan seorang realis. yang dalam tradisinya biasa dituturkan oleh seorang penglipur lara.punya kuasa yang tanpa batas. Mereka harus bercerita tentang dirinya sendiri. misalnya. tokoh-tokoh dalam kisah modern yang berhadapan dengan modernitas: sendirian dan bernasib tragis. ‘Saya sedang mengalami keterasingan daari realitas sehari-hari dan saya menemukan penyelamatan dalam dunia binatang. Ini konsisten dengan takdir yang telah dijatuhkan atas mereka. atau kisah-kisah itu akan selamanya lenyap dan tak sampai kepada siapa-siapa. hikayat. bukan pula cerita tentang kekuatan transenden yang ada dalam jiwa setiap manusia dan selalu muncul di kala manusia terjepit di antara persoalan hidup dan mati. Kalaupun mereka bersuara. bagaimanapun juga. Sebabnya adalah mereka bukan pelaku-pelaku persitiwa besar yang kisah hidupnya layak dikenang dan diturunkan dari generasi ke generasi. peristiwa-peristiwa. jalan terakhir inipun bahkan tak mampu menyelamatkan mereka dari kebinasaan Jadi. ada nama-nama. tempat-tempat. Akan tetapi. seolah-olah meleburkan fakta dan fiksi. masih mampu memberdayakan dirinya sendiri. Dalam “Rumah Jagal”. sebagaimana diidentifikasi dengan jeli oleh Kurnia Effendi. itu adalah suara yang menyampaikan berita tentang kekalahan dan bukan kejayaan.

Hikayat boleh jadi mengandung derajat ke-nyata-an yang tertentu. Barangkali. Rahima yang menjadi pohon asam dalam “Hikayat Siti Rahima”. tak dapat dipungkiri pula bahwa ada sejumlah cerpen yang mustahil dapat ditangkap isinya bila kita membacanya dengan kacamata realis. Perempuan Cina yang menjelma jadi burung jekimpreng dalam “Taman Pemulung”. tetapi juga penuh dengan peristiwaperistiwa aneh yang tak berbasiskan logika realitas. Ia adalah semacam kronikel yang kental dengan unsur kesejarahan. melainkan pesan yang disampaikannya melalui berbagai perlambangan. Demikian pula dalam “Taman Pemulung” dan “Rumah Kawin”. tetapi ia juga menolak menjadi bagian dari “realitas” yang dikisahkannya dengan cara bermain-main dalam tataran simbolik: ada pesan lain di balik yang tersurat atau yang terlihat. Namun. dan Si Naga Merah dalam “Kelewang Batu” tak dapat dicerna dengan akal sehat yang berbasis pada realisme. tokoh ‘saya’ yang menjelma seekor anjing dalam “Kota Anjing”. Bagi sebuah hikayat. dan yang karena satu dan lain hal. bukan dimensi kesejarahan dirinya yang utama. perempuan panri yang secara gaib muncul di hadapan lelaki tua dalam “Kereta Ungu” dengan tarian erotisnya. melainkan sebuah upaya mengawinkan realisme dan simbolisme dengan cara yang tidak biasa.memang hadir dalam kenyataan. Dalam . ikan-ikan yang berlompatan keluar dari dalam kepala si anggora betina dalam “Segalanya Terbakar di Matamu. hanya dapat disampaikan melalui peranti-peranti simbolik. Persoalan ini membawa kita kembali kepada genre hikayat. yang kita saksikan bukan sekadar penggabungan antara fiksi dan fakta. serta cerpen-cerpen lainnya.

dan keterpinggiran tanpa mengatakannya? Karena mengatakan itu semua sama artinya dengan mereduksinya menjadi kategori-kategori yang dangkal. walaupun kadarnya bisa saja tidak terlalu tinggi. ketertaklukan. seperti kemanusiaan. hanya akan menafikan apa yang simbolik dan mengembalikannya pada realisme yang mentah. Mendefinisikan yang hilang itu sebagai esensi-esensi. yang tak terpahami dan tak terjangau oleh akal sehat. dsb. yang memungkinkan pembaca melihat apa yang hilang dalam kenyataan alih-alih menemukan keutuhan suatu kenyataan. yang selalu punya jalan untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang lain. hanya dapat dimunculkan kembali secara simbolik. tercipta jarak antara pembaca dan realitas dalam cerpen. tampaknya menawarkan alternatif bagi kebuntuan tersebut. sehingga realisme belaka tak akan mampu mementaskan kembali kekerasan dan kepahitan itu. yakni lewat berbagai keganjilan di luar logika di tengahtengah daya realis yang mendesakkan dirinya.bentuknya yang tradisional. Namun. Bahkan. Yang hilang itu. Apakah strategi simbolik ini lalu hanya berfungsi sebagai pelarian belaka dari kenyataan yang bahkan tak mampu ditangkap sepenuhnya oleh realisme? Bagaimana caranya berbicara tentang penderitaan. hikayat selalu memiliki kandungan moral atau didaktik tertentu. bisa jadi kita malahan terperangkap dalam idealisasi dan sentimentalisme. jelas bahwa common sense terganggu ketika dalam proses membaca kita sampai pada kejanggalan-kejanggalan yang berserakan di sana-sini dalam hampir semua cerpen. jiwa. Lewat simbolisme. kenyataan yang hendak dilukiskan terlalu keras dan pahit untuk menjadi nyata. Bagaimana caranya membuat kenyataan berbicara dengan sendirinya tanpa dibuat menjadi . Dalam cerpencerpen Zen Hae. Simbolisme.

‘Aku pengarang yang menyukai simbolisme’ [‘Ahai. Ini menjadi beberapa problematika yang agaknya dihadapi oleh Zen Hae. Semoga bukan Cuma ini alasannya. secara sambil lalu. saya mulai berteori sekenanya’]. yang tanpa sungkan-sungkan atapun tinggi hati mengakui bahwa dirinya secara sengaja diberi beraneka macam bumbu.stylized oleh realisme? Karena mendandaninya dengan gaya realis sama artinya dengan menggunakan bentuk untuk menyangkali substansi kenyataan. tetapi ia adalah juga pembawa berita. ia sempat melontarkan guyonan. melainkan pada ada atau tidaknya pilihan lain untuk menggambarkan apapun wajah kenyataan yang hendak ditampilkan itu. Seperti dilukiskan . Persoalannya barangkali bukan terletak pada preferensi stilistik pribadi penulis. dan mengasumsikan bahwa segala hal yang dialami oleh tokoh besar itu adalah penting tidak hanya untuk tokoh itu sendiri. Dan inilah yang mungkin membuat kumpulan cerpen ini tampak jadi bernuansa simbolik sekaligus realis. kisah ini bukan sekadar kisah. Memang. Ini memang bukan realisme. Pertama. Ada hal mahapenting yang mendesak untuk disampaikan di balik kisahan yang dituturkan. hikayathikayat Zen Hae tidak mengambil posisi “sepenting” itu. Inikah pertimbangan yang membawa Zen Hae ke jalur hikayat? Bilamana epik menokohkan orang-orang besar. tetapi ketelanjangannya jelas nyata. Inilah cara sebuah kisah untuk tampil secara jujur sebagai dirinya sendiri. seberapapun realistisnya isi sebuah kisah. bahkan yang setengah dewa. melainkan juga untuk semua orang di dunia ini. Kedua. dalam salah satu cerpennya. ia tetap harus dipertahankan sebagai sebuah kisah. tetapi persoalannya adalah untuk siapakah hal tersebut penting? Ada jebakan universalisme di sini jikalau penulis tidak berhati-hati.

antara lain. Pendek kata. mudah-mudahan. Maka itu. Kita membaca kisah-kisah tentang keterusiran dan kekalahan yang mengecilkan harapan. Mustahil untuk secara tuntas mengupas keseluruhan cerpen di dalam Rumah Kawin ini bukan terutama karena keterbatasan ruang.sendiri olehnya dalam “Kelewang Batu”. makelar tanah. peramal kode buntut. penggali kubur. kisah-kisah yang diceritakan pun bisa saja kisah-kisah tentang kehidupan para sahibul hikayat itu sendiri meski mereka bukan orang-orang penting ataupun orang-orang besar. ‘yang sehari-harinya bekerja sebagai petani. tetapi kita juga mendengarkan suarasuara yang tak kunjung henti menuturkan cerita. kau punya sedikit kerendahan hati untuk memahami kami…’Sebagai penutup. Isi hikayatnya. adalah “Rumah Jagal”. Termasuk dalam kategori ini. Dan ukuran besar kecil pun tak lagi menjadi soal di sini. tukang gado-gado’. ‘Aku berbicara langsung padamu. ‘Setelah ini. melainkan terlebuh karena tingka kerumitan makna yang dihadirkannya. para sahibul hikayat pun adalah orangorang biasa. kalaupun penting. Siapa lagi yang akan menuturkan kisah hidup mereka yang tak dianggap ada itu? Di sini kita melihat pertalian antara substansi cerita-cerita dalam kumpulan cerpen ini dengan sudut pandang orang pertama yang dominan dalam penceritaan. dan “Segalanya Terbakar di Matamu”. “Kereta Ungu”.’ ujar Siti Rahima yang menjelma pohon asam. menjadi demikian halnya karena peristiwa yang diceritakannya dialami oleh manusia. Cuma ini. . penyabung ayam. Tanpa perantaraan mimpi. tukang kayu. harus diakui bahwa nyaris separuh dari cerpen-cerpen yang dimuat menghadapkan kita dengan jejaring perlambangan yang sangat sulit untuk direka-reka maknanya. mereka yang ‘berperuntungan kecil’.

BAB 111 PENUTUP 3. Pertikaian yang terjadi tidak menimbulkan perubahan nasib pelaku. Jadi secara sederhana.1 Kesimpulan Salah satu bentuk karya sastra adalah cerpen. yang tidak memungkinkan adanya digresi. Untuk dapat menetukan apakah suatu karya sastra itu mutunya baik atau buruk. . Cerpen adalah jenis prosa yang berisi cerita sebuah peristiwa kehidupan sang pelaku pada suatu saat. seorang penilai tentu harus membaca karya itu terlebih dahulu. kritik sastra dapat diartikan sebagai penilaian terhadap mutu karya sastra berdasarkan kriteria dan pendekatan tertentu.

masuk dan tumbuhnya menyatu ke dalam Pohon Asam tersebut. Pohon asam. . Dengan keputus asaan Siti Rahima berjalan mencari lelakinya itu. Siti Rahima duduk untuk sekedar beristirahat. di bawah sebuah pohon besar. warga kampung menemukan Siti Rahima tanpa nyawa. karena ia tidak lagi suci. Tiba di sebuah tempat. Akhirnya Siti Rahima diusir oleh keluarganya. Siti Rahima nama gadis itu mengandung benih dari seorang pria yang bekerja sebagai kontraktor jalan.Sinopsis Cerpen Seorang gadis yang sedang berputus asa. Siti Rahima mati. Keesokan harinya. karena telah mencoreng nama baik keluarga dan masyarakat kampungnya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful