Prosiding Simposium Sains Geoinformasi – I : Meningkatkan Peran dan Kualitas Data Spasial untuk Melayani Masyarakat PUSPICS Fakultas

Geografi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 17-18 November 2009. ISBN 978-979-98521-3-7

PENGGUNAAN DATA SRTM UNTUK ANALISIS GEOMORFOLOGI TEKTONIK SESAR LEMBANG, KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT
Edi Hidayat1 dan Puguh D.Raharjo2 1,2 Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung LIPI Email: edihidayat.karsam@yahoo.com, puguh.draharjo@yahoo.co.id

ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat aktivitas tektonik disepanjang jalur Sesar Lembang. Lokasi Sesar Lembang berada sekitar 10 km di utara pusat Kota Bandung dengan arah barat – timur sepanjang 22 km. Pengetahuan tingkat aktivitas tektonik Sesar Lembang menjadi sangat penting karena sesar ini melintasi daerah pemukiman padat penduduk. Metoda penelitian yang dipakai untuk mengungkap aktivitas sesar tersebut adalah dengan pendekatan morfotektonik. Data yang digunakan adalah peta topografi dalam bentuk dgital dengan skala 1:25.000, Peta DEM, landsat TM, Peta Geologi, dan kompilasi data Aster. Semua data digabung dan dianalisis menggunakan GIS. Selain itu, dalam menganalisis semua data tersebut dipergunakan analisis morfometri yang telah berhasil digunakan dalam studi tektonik aktif, seperti indeks gradien panjang sungai (SL) dan perbandingan lebar lembah dan tinggi lembah (Vf). Hasil seluruh perhitungan SL menunjukkan adanya nilai-nilai kemiringan lereng yang semuanya dipengaruhi oleh keberadaan Sesar Lembang. Bagitupula dengan hasil perhitungan Vf yang menunjukkan nilai sangat kecil berkisar dari 0,1 sampai 1.5 artinya sungai-sungai yang terbentuk di sepanjang Sesar Lembang sangat dipengaruhi oleh aktivitas Sesar Lembang. Oleh karena itu, dapat ditafsirkan bahwa Sesar Lembang merupakan sesar aktif yang mempengaruhi bentang alam sekitarnya. Kata kunci: Sesar Lembang, geomorfologi, tektonik, GIS, morfometri, sesar aktif

1. PENDAHULUAN
Geomorfologi tektonik didefinisikan sebagai studi tentang bentang alam yang dihasilkan oleh proses tektonik, atau penerapan prinsip-prinsip geomorpik untuk pemecahan permasalahan tektonik (Keller dan Pinter 1996). Istilah lain geomorfologi tektonik adalah tektonik aktif (Keller dan Pinter, 1996), dimana kajiannya mempelajari dinamika bumi meliputi proses terjadinya, bagaimana proses tektonik membentuk bentang alam dan memberikan dampak terhadap kehidupan manusia. Geomorfologi tektonik dapat didefinisikan menjadi 2 cara (Keller dan Pinter, 1996), yaitu : 1. Mempelajari bentuk lahan (landform) yang dihasilkan oleh proses tektonik yang menyangkut ukuran, asal dan fungsi pada proses tektonik. 2. Mengaplikasikan prinsip geomorfik untuk menyelesaikan permasalahan tektonik atau dapat dikatakan menggunakan geomorfologi sebagai alat untuk mengevalusi sejarah, besaran dan kecepatan proses tektonik. Wilayah Indonesia merupakan tempat pertemuan tiga lempeng, yaitu Lempeng Samudera Hindia-Australia yang bergerak relatif ke utara, Lempeng Samudera Pasifik yang bergerak relatif ke barat dan Lempeng Benua Eurasia yang relatif stabil, akibatnya wilayah ini Indonesia menjadi daerah yang rawan gempabumi baik yang bersumber pada zona subduksi ataupun gempa yang diakibatkan aktivitas pergerakan sesar aktif. Salah satu sesar yang diperkirakan aktif adalah Sesar Lembang (Kertapati, 2006 dan Marjiyono et al., 2008). Keberadaan Sesar Lembang menjadi salah satu bukti aktivitas tektonik di dataran tinggi Bandung yang menghasilkan bentang alam berupa gawir sesar yang sangat tegas dengan ketinggian gawir sampai 450 meter dibagian timur (Maribaya, G. Pulusari) hingga 40-an meter disebelah barat (Cisarua) dan menghilang di ujung barat utara Padalarang (Brahmantyo, 2005). Dari kenampakan bentang alam ini kita dapat 75

Prosiding Simposium Sains Geoinformasi – I : Meningkatkan Peran dan Kualitas Data Spasial untuk Melayani Masyarakat PUSPICS Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 17-18 November 2009. ISBN 978-979-98521-3-7 memperhitungkan seberapa besar tingkat aktivitas tektonik dari Sesar Lembang. Dengan kajian geomorfologi tektonik ini diharapkan akan diperoleh informasi tentang keaktifan Sesar Lembang.

II. METODA
Beberapa indikasi geomorfik telah dikembangkan sebagai alat kajian dasar penting untuk mengidentifikasi deformasi tektonik yang baru pada suatu daerah. Indikasi geomorfik merupakan bagian yang sangat penting pada studi tektonik karena dapat digunakan untuk mengevaluasi secara cepat pada suatu daerah yang luas dan data yang diperlukan mudah diperoleh dari peta topografi maupun foto udara. Beberapa indikasi geomorfik penting yang digunakan untuk studi tektonik aktif (Keller dan Pinter, 1996) adalah: 1. Perbandingan lebar dasar lembah dan tinggi lembah (ratio of valley floor width to valley height) Perbandingan lebar dan tinggi lembah (Vf) diekspresikan dengan persamaan: Vf = 2 Vfw / ( Eld – Esc ) + ( Erd – Esc ) Vfw adalah lebar dasar lembah, Eld dan Erd adalah elevasi bagian kiri dan kanan lembah, Esc adalah elevasi dasar lembah. Gambar 1 menjelaskan metode perhitungan Vf. Nilai Vf tinggi berasosiasi dengan kecepatan pengangkatan rendah, sehingga sungai akan memotong secara luas pada dasar lembah dan bentuk lembah akan semakin melebar. Sedangkan nilai Vf rendah akan merefleksikan lembah dalam dan mencerminkan penambahan aktivitas sungai, hal ini berasosiasi dengan kecepatan pengangkatan. Metode ini juga telah diterapkan untuk menganalisis tektonik aktif di zona Sesar Garlock daerah California. Nilai Vf berkisar antara 0,05 – 47. Nilai Vf rendah dijumpai pada lembah bagian utara zona Sesar Garlock yang diasumsikan bahwa aktivitas tektoniknya lebih kuat/aktif dibanding daerah lainnya (Keller dan Pinter, 1996). 2. Indeks Gradien Panjang Sungai (stream length – gradient index) Indeks gradien panjang sungai (SL) dihitung dari peta topografi berdasarkan persamaan: SL = (Δ H/ ΔL) x L dimana: ΔH : beda elevasi dari titik yang akan dihitung ΔL : panjang sungai hingga titik yang akan dihitung L : total panjang sungai hingga ke arah hulu dengan titik yang akan dihitung Indeks SL sangat sensitif oleh perubahan kemiringan sungai (channel slope). Tingkatan sensitivitas ini dapat digunakan untuk mengevaluasi hubungan antara tektonik aktif, resistensi batuan dan topografi. Metode ini telah diaplikasikan untuk analisis tektonik aktif di Sungai Potomac negara bagian Washington D.C, (Keller dan Pinter, 1996).

76

Prosiding Simposium Sains Geoinformasi – I : Meningkatkan Peran dan Kualitas Data Spasial untuk Melayani Masyarakat PUSPICS Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 17-18 November 2009. ISBN 978-979-98521-3-7

Gambar 1. Metode perhitungan perbandingan lebar dan tinggi lembah (Vf) dan indeks gradien sungai (SL) (Keller dan Pinter, 1996).

Peta Dasar Digital Administrasi Wilayah

Data Citra SRTM Pembuatan Kontur (CI : 3 meter) Pembuatan TIN

Data Citra Aster Koreksi Geometrik Radiometrik Saluran VNIR 3B Penajaman Image Linier 2 %

Survei Lapangan Perhitungan Data Lapangan Morfometri SL, Vf

Geomorfologi Tektonik Sesar Lembang Gambar 2. merupakan diagram alir penelitian

III. DATA
Dengan adanya perkembangan teknologi penginderaan jauh dan sistem informasi geografi (geographic information system) yang pesat saat ini, analisis spasial wilayah dalam hubungannya dengan bidang ilmu kebumian seperti geologi, geomorfologi, tataguna lahan dan lain-lainnya mudah dilakukan. Penggabungan atau integrasi hasil interpretasi dan data sekunder lainnya dapat dilakukan dengan cepat dan akurat dengan bantuan teknik sistem informasi geografis. Sajian dalam SIG dapat berupa manipulasi data yang berupa spasial serta data yang berupa atribut, serta mempunyai kemampuan untuk menyimpan dan memodelkan suatu 3D permukaan sebagai DEM (Digital Elevation Model, Model Digital Ketinggian); DTM (Digital Terrain model : Model Digital Permukaan) atau TIN (Triangular Irregular Network ; Jaringan Bersegitiga yang tidak beraturan).

77

Prosiding Simposium Sains Geoinformasi – I : Meningkatkan Peran dan Kualitas Data Spasial untuk Melayani Masyarakat PUSPICS Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 17-18 November 2009. ISBN 978-979-98521-3-7 Dalam perhitungan morfometri data yang dipergunakan adalah data-data digital. Penggunaan data-data spasial dalam penelitian ini menggunakan bahan data berupa citra SRTM, citra aster, serta peta dasar digital. Data srtm dilakukan peng-konversian ke dalam bentuk vektor yaitu berupa data kontur dengan interval kontur pada penelitian ini sebesar 3 meter, hal ini dilakukan guna pembuatan peta TIN (triangular irregular network) sehingga konfigurasi permukaan dengan kesan 3 dimensional dapat terlihat dengan jelas. Kesan topografi ini dapat mempermudah untuk mengetahui jalur sesar utama serta untuk mengetahui pola-pola aliran yang terbentuk pada daerah tersebut. Data raster berupa citra aster dilakukan pengkoreksian terlebih dahulu sebelum dilakukan intepretasi dan analisis, koreksi tersebut meliputi koreksi geometrik dan koreksi radiometrik. Koreksi geometrik dimaksudkan agar citra sesuai dengan kondisi di permukaan, sedangkan koreksi radiometrik dimaksudkan guna piksel-piksel dalam citra bebas dari pengaruh awan pada saat perekaman data, sehingga data dapat digunakan untuk intepretasi lebih lanjut. Saluran citra aster yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan band 3B, VNIR (Visible and Near Infrared) dengan panjang gelombang 0, 78 – 0, 86 m dengan resolusi spasial 30 meter, pemilihan saluran ini dikarenakan pada band 3B citra aster memiliki sudut penyiaman 27, 6  untuk mempertegas kenampakan permukaan maka digunakan penajaman citra linier 2%, kesan-kesan topografis lebih terlihat jelas sehingga intepretasi mengenai sesar serta pola aliran pada sesar lembang dapat dengan mudah dilakukan.

Gambar 3. Citra Aster Saluran 3 B (VNIR) Wilayah Bandung dan Sekitarnya

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Lokasi perhitungan perbandingan lebar dasar lembah dan tinggi lembah (nilai Vf) pada Sesar Lembang dilakukan pada lembah sungai mulai dari hulu sampai ke muara dan menyebar dari barat ke timur (Gambar 4). Grafik perhitungan perbandingan lebar dasar lembah dan tinggi lembah (Gambar 5) memperlihatkan adanya suatu pola berupa perubahan nilai yang semakin kecil ketika sungai 78

Prosiding Simposium Sains Geoinformasi – I : Meningkatkan Peran dan Kualitas Data Spasial untuk Melayani Masyarakat PUSPICS Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 17-18 November 2009. ISBN 978-979-98521-3-7 memotong gawir Sesar Lembang (Lokasi 3, 4, 5, 6, 7, 8 dan 9). Nilai tersebut merefleksikan adanya lembah yang curam dan dalam akibat sungai mengerosi bagian dasar pada blok selatan. Selanjutnya nilai Vf bertambah besar setelah melewati gawir sesar menuju muara. Hal ini tentunya berhubungan dengan aktivitas tektonik yang terjadi pada Sesar Lembang. Pada lokasi 4, 5, 6, 7 menunjukkan nilai yang besar pada bagian hulu mendekat puncak G. Tangkubanparahu. Ini terjadi akibat material vulkanik yang cukup tebal sehingga menjadikan daerah tersebut relatif landai dengan relief yang halus. Pada sungai dengan hulu berada di gawir sesar blok selatan menunjukkan nilai Vf yang kecil (Gambar 6). Pada bagian barat blok selatan nilai tersebut merupakan respon dari lembah yang curam dan dalam dengan lebar lembah yang sempit akibat erosi vertikal yang jauh lebih besar daripada erosi horizontal. Proses ini akan terjadi pada daerah yang mengalami pengangkatan yang besar, dan hal ini terjadi di bagian barat blok selatan. Sedangkan di bagian timur terutama lokasi 17 dan 18, nilai Vf yang kecil lebih dipengaruhi oleh faktor litologi pada daerah tersebut yang lebih keras dan lebih resistan (breksi dan lava) (Silitonga, 2003). Faktor litologi menjadikan bagian lembah sungai pada daerah ini terlihat curam dengan lebar lembah yang sempit.

79

Prosiding Simposium Sains Geoinformasi – I : Meningkatkan Peran dan Kualitas Data Spasial untuk Melayani Masyarakat PUSPICS Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 17-18 November 2009. ISBN 978-979-98521-3-7

Gambar 4. Peta yang menunjukkan lokasi perhitungan perbandingan lebar dan tinggi lembah pada Sesar Lembang yang dioverlap dengan Peta DEM.

80

Prosiding Simposium Sains Geoinformasi – I : Meningkatkan Peran dan Kualitas Data Spasial untuk Melayani Masyarakat PUSPICS Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 17-18 November 2009. ISBN 978-979-98521-3-7
Utara
5.00 4.50 4.00 Sungai 2 3.50 3.00 Sungai 3 Sungai 4 Sungai 5 Sungai 6 Sungai 7 Sungai 8 Sungai 9

Selatan Sesar Lembang
Sungai 1

Nilai Vf

2.50 2.00 1.50 1.00 0.50 -12000 -10000 -8000 -6000 -4000 -2000 0 2000 4000 6000 8000

Jarak (m) Gambar 5. Grafik hasil perhitungan perbandingan lebar dasar lembah dengan tinggi lembah pada sungai yang berhulu di utara Sesar Lembang

Utara
5.00 4.50

Selatan

Sungai 10
4.00 3.50

Sesar Lembang

Sungai 11 Sungai 12 Sungai 13 Sungai 14 Sungai 15 Sungai 16 Sungai 17

Nilai Vf

3.00 2.50 2.00 1.50 1.00

Sungai 18
0.50 0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000 9000

Jarak (m)

Gambar 6. Grafik hasil perhitungan perbandingan lebar dasar lembah dengan tinggi lembah pada sungai yang berhulu di selatan Sesar Lembang

81

Prosiding Simposium Sains Geoinformasi – I : Meningkatkan Peran dan Kualitas Data Spasial untuk Melayani Masyarakat PUSPICS Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 17-18 November 2009. ISBN 978-979-98521-3-7 Perhitungan indeks gradien panjang sungai (SL) dilakukan sebanyak 18 lokasi subdas tersebar di sepanjang Sesar Lembang (Gambar 7). Perhitungan dilakukan pada sungai utama. Nilai SL setiap sungai memperlihatkan adanya perbedaan nilai tergantung dari kemiringan (slope) sungai dan batuan penyusun dasar sungai tersebut. Pada blok utara bagian barat Sesar Lembang memperlihatkan nilai SL yang bervariasi dari rendah dan langsung tinggi kemudian turun lagi, hal ini sangat dipengaruhi oleh kemiringan (slope) dari sungai tersebut. Penampang gradien sungai pada lokasi 1, 3, 4, 7 dan 8 memperlihatkan kemiringan yang curam namum tidak terlihat adanya suatu anomali. Ini terjadi karena litologi penyusun di lokasi tersebut sama berupa tuf pasiran dan tidak ada struktur yang mempengaruhinya. Penampang sungai lokasi 5 dan 6 memperlihatkan adanya kemiringan sungai yang curam kemudian landai (elevasi 1600 m - 1700 m). Perbedaan kemiringan ini akan tercermin pula dari nilai SL yang tinggi kemudian turun secara drastis (Gambar 8). Perbedaan kemiringan dan nilai SL yang tegas merupakan suatu anomali kemungkinan akibat adanya suatu struktur yang mempengaruhi alur sungai tersebut. Selain itu, anomali pada penampang sungai terdapat pula pada lokasi 2 dan 9 (elevasi 900 m – 1100 m) dengan perubahan nilai SL yang mencolok, ini diakibatkan adanya struktur berupa Sesar Lembang yang mempengaruhi pola aliran sungai tersebut (Gambar 8). Pada lokasi 7, 8 dan 9 yang terletak di blok utara bagian timur sesar memperlihatkan nilai SL dengan kenaikan yang stabil mulai dari muara ke hulu. Pada lokasi ini kemiringan (slope) relatif kecil dan interval kontur pada sungai utama relatif renggang sehingga kenaikan nilai SL-nya kurang bervariasi. Hanya pada elevasi 1000-1100 m terlihat ada penurunan nilai yang drastis kemudian naik kembali secara teratur. Gejala ini diakibatkan adanya struktur Sesar Lembang yang mempengaruhi sungai-sungai di lokasi tadi. Selain lokasi 17, ada beberapa penampang sungai yang memperlihatkan adanya suatu anomali yang nampak dari perbedaan elevasi dan nilai SL-nya. Penampang 14 memperlihatkan adanya anomali pada elevasi 1100 m – 1200 m walaupun disusun oleh litologi yang sama. Gambar 8 memperlihatkan grafik gradien sungai dimana ada beberapa grafik yang memperlihatkan anomali berupa pelengkungan secara tegas yang akan berkorelasi dengan perubahan nilai SL. Perubahan tersebut diakibatkan oleh pengaruh adanya struktur geologi ataupun perbedaan litologi yang resistan dengan yang tidak resistan (Silitonga, 2003). Hal ini sangat nampak jelas pada gradien sungai yang terpotong oleh Sesar Lembang. Pada lokasi tersebut ditunjukkan dengan elevasi sungai yang terjal kemudian secara tiba-tiba berubah landai (lokasi 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8 dan 9). Hasil perhitungan nilai indeks gradien panjang sungai (SL) di sepanjang zona Sesar Lembang memperlihatkan adanya perbedaan karakteristik sungai yang terjadi di blok utara dan blok selatan Sesar Lembang. Pada blok utara bagian barat memperlihatkan sungai yang lebih curam dibandingkan dengan sungai yang berada di bagian timur. Sedangkan pada blok selatan, sungai yang berada di bagian timur terlihat lebih curam dibandingkan dengan bagian barat. Karakteristik ini terbentuk akibat adanya pengaruh tektonik dan juga perbedaan litologi pada daerah tersebut.

82

Prosiding Simposium Sains Geoinformasi – I : Meningkatkan Peran dan Kualitas Data Spasial untuk Melayani Masyarakat PUSPICS Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 17-18 November 2009. ISBN 978-979-98521-3-7

Gambar 7. Peta yang menunjukkan lokasi perhitungan indeks gradien panjang sungai (SL) yang dioverlap dengan Peta DEM

83

Prosiding Simposium Sains Geoinformasi – I : Meningkatkan Peran dan Kualitas Data Spasial untuk Melayani Masyarakat PUSPICS Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 17-18 November 2009. ISBN 978-979-98521-3-7

S

Sesar Lembang

U

Sesar Lembang

1

S

U

2

Gambar 8. Grafik indeks gradien panjang sungai (SL) di sepanjang Sesar Lembang, 1) nilai SL yang dipotong Sesar Lembang, 2) nilai SL tidak terpotong Sesar Lembang

Seluruh perhitungan morfometri menunjukkan nilai Vf sangat kecil berkisar dari 0,1 sampai 1.5 walaupun ada juga yang menunjukkan nilai 3 (Gambar 5). Menurut Keller dan Pinter (1996), semakin kecil nilai Vf artinya secara tektonik daerah tersebut masuk ke dalam kategori daerah tektonik aktif. Analisis perbandingan lebar lembah dan tinggi lembah (Vf) memperlihatkan adanya penurunan nilai Vf yang semakin kecil ketika sungai melewati gawir sesar. Perubahan nilai Vf ini akibat pergerakan turun pada blok utara terhadap blok selatan sehingga sungai akan mengejar base-level dengan mengerosi ke dasar sungai (erosi vertikal) pada blok selatan. Erosi vertikal ini menyebabkan lembah yang dalam dan curam pada gawir sesar blok selatan. Penampang gradien sungai dari muara ke hulu pada sungai yang tidak terganggu oleh struktur memperlihatkan kenikan nilai SL yang berangsur dan relatif besar. Sungai yang terganggu struktur Sesar Lembang memperlihatkan kenaikannya kecil dan kadang-kadang menurun ketika sungai mendekati gawir sesar pada elevasi 1000-1100 m. Hal ini akan terjadi jika blok utara turun terhadap blok selatan sehingga yang terjadi adalah pengendapan yang besar pada daerah-daerah yang mendekati gawir sesar. Dari topografi memperlihatkan daerah ini relatif landai/datar sehingga akan tercermin dari nilai SL dengan kenaikan yang kecil. Ketika sungai menembus gawir sesar yang terjadi adalah erosi yang besar karena sehingga memperlihatkan gradien sungai yang relatif curam dengan kenaikan nilai SL yang besar. Analisis nilai indeks gradien panjang sungai (SL) memperlihatkan grafik dengan perubahan nilai SL yang besar ketika masih berada dekat dengan hulu. Tetapi kemudian perubahan nilai SL menjadi relatif kecil ketika sungai melewati gawir sesar dan kemudian berubah lagi secara 84

Prosiding Simposium Sains Geoinformasi – I : Meningkatkan Peran dan Kualitas Data Spasial untuk Melayani Masyarakat PUSPICS Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 17-18 November 2009. ISBN 978-979-98521-3-7 tajam setelah melewati gawir sesar. Hal ini terjadi karena blok utara relatif turun terhadap blok selatan yang menyebabkan proses sedimentasi yang cukup besar pada blok utara. Hasil sedimentasi ini mengakibatkan bagian yang dekat dengan gawir sesar terlihat lebih datar. Selain itu, hasil penelitian ini memperlihatkan adanya kesamaan dengan pendapat Bemmelen (1949), Dam (1994) dan Nossin et al (1996) yang menyebutkan bahwa Sesar Lembang merupakan sesar normal dimana blok utara relatif turun terhadap blok selatan. Sedangkan menurut Tjia (1968) yang menyebutkan bahwa pergerakan Sesar Lembang selain mempunyai arah gerak normal juga mempunyai komponen gerak sesar geser (strike-slip).

V. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa: 1. Berdasarkan analisis perhitungan perbandingan lebar dasar lembah dan tinggi lembah (Vf) dan data indeks gradien sungai (SL) menunjukkan bahwa daerah di sepanjang Sesar Lembang merupakan daerah yang dipengarui oleh aktivitas tektonik, hal ini kemungkinan besar sangat dipengaruhi oleh aktivitas Sesar Lembang yang aktif. 2. Berdasarkan analisis perhitungan perbandingan lebar dasar lembah dan tinggi lembah (Vf) dan data indeks gradien sungai (SL) menunjukkan bahwa mekanisme pergerakan Sesar Lembang diperkirakan merupakan pergerakan normal dimana blok utara (hangingwall) relatif bergeser turun terhadap blok selatan (footwall).

UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Dr. Ir. Budi Brahmantyo, M.Sc dan Eko Yulianto, Ph.D yang telah membimbing penulis dalam melakukan penelitian sebagai bahan tesis dan penyusunan makalah ini diharapkan lebih menambah pemahaman penulis terhadap permasalahan Sesar Lembang terutama menyankut tingkat keaktifan sesar tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Bemmelen, R.W., 1949, The geology of Indonesia, Vol. I A., The hague Martinus Niijhoff. Brahmantyo, B., 2005, Geologi Cekungan Bandung, Penerbit Institut Teknologi Bandung. Christiana, 2008. Identifikasi Penampakan Sesar Aktif Dengan Menggunakan Citra Dan Metode Sig (Studi kasus: Solok dan sekitarnya, Sumatera Barat). ITB. Bandung http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jbptitbpp-gdl-immaculata-31590 diakses tanggal 11 November 2009 jam 12.00 WIB. Dam M.A.C., 1994, The Late Quaternary Evolution of the Bandung Basin, West Java, Indonesia, Thesis, Vrije Universiteit Amsterdam. Edi Hidayat, 2009, Analisis Morfotektonik Sesar Lembang, Master Theses, Institut Teknologi Bandung. Keller, E.A. and Pinter N., 1996, Active Tectonics (Earthquake, Uplift and Landscape), Prentise Hall, Upper Saddle River, New Jersey 07458. Kertapati E., 2006, Aktivitas Gempabumi di Indonesia (Perspektif Regional pada Karakteristik Gempabumi Merusak), Pusat Survey Geologi, Badan Geologi, Bandung. Marjiyono, A. Soehaimi dan Kamawan, 2008, Identifikasi Sesar Aktif Daerah Cekungan Bandung dengan Data Citra Landsat dan Kegempaan, Jurnal Sumber Daya Geologi, Vol. XVIII. No.2, Hlm 65-132, ISSN. 1829-5819. Nossin, J.J., Voskuil, R.P.G.A., Dam, R.M.C., 1996, Geomorphological development of the Sunda volcanic complex, west Java, Indonesia, ITC Journal, p.157-165.

85

Prosiding Simposium Sains Geoinformasi – I : Meningkatkan Peran dan Kualitas Data Spasial untuk Melayani Masyarakat PUSPICS Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 17-18 November 2009. ISBN 978-979-98521-3-7
Silitonga, P.H., 2003, Peta Geologi Lembar Bandung, Jawa, Skala 1:100.000, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung. Tjia H.D., 1968, The Lembang Fault, West Java, Geologie En Mijnbouw, vol. 47 p. 126-130.

86

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful