BUKU PINTAR MIGAS INDONESIA

BAB V CATALYTIC REFORMING PROCESS/ PLATFORMING PROCESS
I. Pendahuluan Catalytic reforming (atau UOP menyebut Platforming) telah menjadi bagian penting bagi suatu kilang di seluruh dunia selama bertahun-tahun. Fungsi utama proses catalytic reforming adalah meng-upgrade naphtha yang memiliki octane number rendah menjadi komponen blending mogas (motor gasoline) dengan bantuan katalis melalui serangkaian reaksi kimia. Naphtha yang dijadikan umpan catalytic reforming harus di-treating terlebih dahulu di unit naphtha hydrotreater untuk menghilangkan impurities seperti sulfur, nitrogen, oksigen, halide, dan metal yang merupakan racun berbahaya bagi katalis catalytic reformer yang tersusun dari platina. Selain itu, catalytic reforming juga memproduksi by-product berupa hydrogen yang sangat bermanfaat bagi unit hydrotreater maupun hydrogen plant atau jika masih berlebih dapat juga digunakan sebagai fuel gas bahan bakar fired heater. Butane, by-product lainnya, sering digunakan untuk mengatur vapor pressure gasoline pool. II. Teori Catalytic Reforming Feed naphtha ke unit catalytic reforming biasanya mengandung C6 s/d C11, paraffin, naphthene, dan aromatic. Tujuan proses catalytic reforming adalah memproduksi aromatic dari naphthene dan paraffin. Kemudihan reaksi catalytic reforming sangat ditentukan oleh kandungan paraffin, naphthene, dan aromatic yang terkadung dalam naphtha umpan. Aromatic hydrocarbon yang terkandung dalam naphtha tidak berubah oleh proses catalytic reforming. Sebagian besar napthene bereaksi sangat cepat dan efisien berubah menjadi senyawa aromatic (reaksi ini merupakan reaksi dasar catalytic reforming). Paraffin merupakan senyawa paling susah untuk diubah menjadi aromatic. Untuk aplikasi low severity, hanya sebagian kecil paraffin berubah menjadi aromatic. Sedangkan pada aplikasi high severity, konversi paraffin lebih tinggi, tetapi tetap saja berlangsung lambat dan inefisien. Gambar berikut menggambarkan konversi hydrocarbon yang terjadi pada operasi typical catalytic reforming, yaitu untuk lean naphtha (high paraffin, low naphtha content) dan untuk rich naphtha (lower paraffin, higher naphthene content) :

Teknologi Proses Kilang Minyak Bumi

Halaman 1 dari 14

Kontributor : Adhi Budhiarto

1.1. Konversi Hydrocarbon pada Proses Catalytic Reformer II.BUKU PINTAR MIGAS INDONESIA Lean Naphtha Reformate/ Platformate Rich Naphtha Reformate/ Platformate P P Loss P P Loss N A A N Dari P Dari N Dari A N Dari P N A A Dari N Dari A Keterangan : P = Paraffin N = Naphthene A = Aromatic Loss : Karena cracking dan shrinkage Gambar 1.1.Dehidrogenasi Naphthene Naphthene merupakan komponen umpan yang sangat diinginkan karena reaksi dehidrogenasi-nya sangat mudah untuk memproduksi aromatic dan by-product hydrogen. radikal ethyl Halaman 2 dari 14 Kontributor : Adhi Budhiarto . Reaksi dehidrogenasi naphthene sangat terbantu oleh metal catalyst function dan temperatur reaksi tinggi serta tekanan rendah. R R + Keterangan : S S : saturated ring (naphthene) : dehydrogenated ring (aromatic) R Teknologi Proses Kilang Minyak Bumi 3 H2 : radikal atau rantai samping yang terikat pada ring. misal –CH 2 CH 3 . Reaksi-reaksi yang Terjadi di Catalytic Reforming Reaksi-reaksi yang terjadi di catalytic reforming adalah sebagai berikut : II. Reaksi ini sangat endotermis (memerlukan panas).

1.Hydrocracking Kemungkinan terjadinya reaksi hydrocracking karena reaksi isomerisasi ring dan pembentukan ring yang terjadi pada alkylcyclopentane dan paraffin dank area kandungan acid dalam katalis yang diperlukan untuk reaksi catalytic reforming. Reaksi hydrocracking ini tentu mengkonsumsi hydrogen dan menghasilkan yield reformate yang lebih rendah.Dehydrocyclization Paraffin Dehydrocyclization paraffin merupakan reaksi catalytic reforming yang paling susah.2. R R’ Contoh reaksi isomerisasi paraffin adalah sebagai berikut : C R-C-C-C-C II. Reaksi dehydrocyclization terjadi pada tekanan rendah dan temperature tinggi. Penghilangan paraffin melalui reaksi hydrocracking akan meningkatkan konsentrasi aromatic dalam produk sehingga akan meningkatkan octane number.3.4.BUKU PINTAR MIGAS INDONESIA II. Reaksi ini sangat tergantung dari kondisi operasi.1. C R-C-C-C + H2 RH + C C-C-C H Teknologi Proses Kilang Minyak Bumi Halaman 3 dari 14 Kontributor : Adhi Budhiarto . Hydrocracking paraffin relative cepat dan terjadi pada tekanan dan temperature tinggi. Fungsi metal dan acid dalam katalis diperlukan untuk mendapatkan reaksi ini. R’ S + H2 R-C-C-C-C R” S + H2 R-C-C-C II.1.Isomerisasi Napthene dan Paraffin Isomerisasi cyclopentane menjadi cyclohexane harus terjadi terlebih dahulu sebelum kemudian diubah menjadi aromatic.

C – CH + CH4 II.1.Dealkylation Aromatic Dealkylation aromatic serupa dengan aromatic demethylation dengan perbedaan pada ukuran fragment yang dihilangkan dari ring.C . Pada unit catalytic cracking sangat penting untuk memiliki balance yang sesuai antara fungsi metal dan fungsi acid dari katalis. sebagian reaksi menggunakan fungsi metal dari katalis dan sebagian reaksi lainnya menggunakan fungsi acid dari katalis. Catalytic Reforming Catalyst Dual Function Balance Seperti terlihat pada tabel 1 (Reaksi yang terjadi pada Unit Catalytic Reforming). reaksi ini dapat dianggap sebagai reaksi cracking ion carbonium terhadap rantai samping.2. Reaksi-reaksi yang terjadi pada unit catalytic reforming dapat diringkas sebagai berikut : Tabel I. Reaksi ini memerlukan temperature dan tekanan tinggi. Reaksi yang Terjadi pada Unit Catalytic Reforming Jenis Reaksi Naphthene dehydrogenation Naphthene isomerization Paraffin isomerization Parafin dehydrocyclization Hydrocracking Demethylation Aromatic dealkylation Catalyst Function Temperatur Metal Tinggi Acid Rendah Acid Rendah Metal/Acid Tinggi Acid Tinggi Metal Tinggi Metal/Acid Tinggi Pressure Rendah Rendah Tinggi Tinggi Tinggi H2 RH + CH4 R .BUKU PINTAR MIGAS INDONESIA II.Demetalization Reaksi demetalisasi biasanya hanya dapat terjadi pada severity operasi catalytic reforming yang tinggi. seperti terlihat pada gambar berikut : Teknologi Proses Kilang Minyak Bumi Halaman 4 dari 14 Kontributor : Adhi Budhiarto .1.5. R-C-C-C-C + H2 dan R-C + II.6. Jika alkyl side chain cukup besar. Reaksi ini dapat terjadi selama startup unit catalytic reformate semi-regenerasi pasca regenerasi atau penggantian katalis.

Halaman 5 dari 14 Kontributor : Adhi Budhiarto Teknologi Proses Kilang Minyak Bumi . Terlalu banyak H 2 O dalam fase uap akan memaksa chloride dari permukaan katalis keluar dan menyebabkan katalis menjadi underchloride (fungsi acid dalam katalis tidak dapat dijalankan dengan baik).Catalyst Unloading untuk Catalytic Reformer-Continuous Catalytic Regeneration Prosedur unloading untuk catalytic reformer-CCR lebih susah dibandingkan prosedur unloading untuk fixed bed catalytic reformer.3.BUKU PINTAR MIGAS INDONESIA Desired Metal-Acid Balance Platina (Metal Function) Demethylation Chloride (Acid Function) Cracking Dehydrogenation Dehydrocyclization Isomerization Gambar 2. Catalyst Unloading II. Desired Metal-Acid Balance Pada proses catalytic reforming. sangat penting untuk meminimumkan reaksi hydrocracking dan memaksimumkan reaksi dehydrogenation dan dehydrocyclization.3.1. II. Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat melakukan catalyst unloading untuk catalytic reformer-CCR adalah sebagai berikut : • Jangan pernah membiarkan udara masuk ke dalam reactor karena akan menyebabkan spontaneous combution. Fase uap H 2 O dan HCl berada dalam kesetimbangan dengan permukaan chloride dan kelompok hydroxyl.3.Catalyst Unloading untuk Fixed Bed Catalytic Reformer Prosedur catalyst unloading untuk fixed bed catalyst reformer serupa dengan prosedur catalyst unloading untuk hydrotreater (silahkan merujuk ke bab hydrotreating process). II. Balance ini dijaga dengan pengendalian H 2 O/Cl yang tepat selama siklus katalis semiregeneration dan dengan menggunakan teknik regenerasi yang tepat. sedangkan terlalu banyak chloride dalam fase uap akan menjadikan katalis overchloride yang juga tidak baik untuk katalis (fungsi metal dalam katalis tidak dapat dijalankan dengan baik).1.

yaitu: • Reactor by reactor loading procedure • Entire Reactor Stack Loading Procedure • Pneumatic Catalyst Loading Procedure Teknologi Proses Kilang Minyak Bumi Halaman 6 dari 14 Kontributor : Adhi Budhiarto . Selama unloading. II.Catalyst Loading untuk Catalytic Reformer-Continuous Catalytic Regeneration Terdapat 3 metode catalyst loading untuk catalytic reformer-CCR. maka drum dapat ditutup dengan penutup yang sesuai untuk menghindari masuknya moisture ke dalam drum. Jangan menggunakan kayu. reaktor harus dijaga dalam kondisi inert dengan menggunakan nitrogen blanketting sehingga katalis tidak berkontak dengan udara. Semua orang yang masuk ke dalam reaktor harus dilengkapi peralatan keselamatan yang sesuai untuk confined space dan kondisi inert (breathing apparatus). atau material mudah terbakar lainnya. maka naikkan supply nitrogen semaksimal mungkin. Gunakan drum metal sebagai penampung spent catalyst dan setiap drum harus di-purge dengan nitrogen selama proses unloading untuk mencegah kontak katalis dengan udara. Jika timbul pyrite dalam reaktor selama proses unloading.1.Catalyst Loading untuk Fixed Bed Catalytic Reformer Prosedur catalyst loading untuk fixed bed catalyst reformer serupa dengan prosedur catalyst loading untuk hydrotreater (silahkan merujuk ke bab hydrotreating process). karena dapat merusak struktur katalis dan internal reaktor. Setelah drum berisi spent catalyst hasil unloading mengalami pendinginan alami dan pendinginan dengan supply nitrogen ke dalam drum. II.BUKU PINTAR MIGAS INDONESIA • • • • • • • • • Jangan pernah membuka top dan bottom reaktor secara bersamaan karena akan menciptakan natural chimney draft effect yang akan menarik udara masuk ke dalam reactor. kanvas. jangan pernah menggunakan air untuk memadamkannya.4. Semua orang yang berada di sekitar area unloading harus menggunakan pelindung muka dan mata dan menggunakan baju lengan panjang (jika mungkin yang flame-resistant) karena sewaktu-waktu spark/api dapat saja terjadi dengan kehadiran pyrites. Catalyst Loading II.4. Yakinkan beberapa CO 2 extinguisher tersedia di sekitar lokasi unloading dan siapkan selang water hydrant menjulur ke lokasi unloading.4.1.

dissolved oxygen. Biasanya diusahakan kandungan sulfur dalam umpan naphtha sebesar 0. Beberapa sumber yang membuat kandungan air dalam system tinggi adalah : proses hydrotreating yang tidak sesuai. memproses feed yang memiliki end point tinggi. maka ketiga metode catalyst loading tersebut tidak akan diuraikan disini.BUKU PINTAR MIGAS INDONESIA Karena prosedur ketiga metode catalyst loading di atas sangat rumit dan sangat technical. Lebih lanjut lagi. II. Beberapa sumber yang membuat kandungan nitrogen dalam umpan naphtha tinggi adalah : proses hydrotreating yang tidak baik (temperature reactor kurang tinggi atau katalis sudah harus diganti).2 wt-ppm untuk menjamin stabilitas dan selektivitas katalis yang maksimum. atau combined oxygen di unit catalytic reforming. Tingkat moisture di atas level ini dapat menyebabkan reaksi hydrocracking yang excessive dan juga dapat menyebabkan coke laydown. kebocoran heat exchanger yang menggunakan pemanas/ Teknologi Proses Kilang Minyak Bumi Halaman 7 dari 14 Kontributor : Adhi Budhiarto . • Water Kandungan air dalam recycle gas sebesar 30 mol-ppm sudah menunjukkan excessive water. penggunaan filming atau neutralizing amine sebagai corrosion inhibitor di seluruh area yang tidak tepat guna. Catalyst Poison Beberapa racun katalis catalytic reforming adalah sebagai berikut : • Sulfur Konsentrasi sulfur maksimum yang diijinkan dalam umpan naphtha adalah 0. recombination sulfur dari naphtha hydrotreater (dan terbentuknya sedikit olefin) akibat temperature hydrotreater yang tinggi dan tekanan hydrotreater yang rendah. Beberapa sumber yang membuat kandungan sulfur dalam umpan naphta tinggi adalah : proses hydrotreating yang tidak baik (temperature reactor kurang tinggi atau katalis sudah harus diganti). Kandungan nitrogen dalam umpan naphtha akan menyebabkan terbentuknya deposit ammonium chloride pada permukaan katalis. sehingga mengganggu kesetimbangan H 2 O/Cl dan menyebabkan reaksi menjadi terganggu.5.5 wt-ppm. kondisi ini akan menyebabkan chloride ter-strip dari katalis.5 wt-ppm. • Nitrogen Konsentrasi nitrogen maksimum yang diijinkan dalam umpan naphtha adalah 0.1-0. hydrotreater stripper upset.

dan kebocoran steam jacket di regeneration section. hydrocracker naphtha. dan injeksi corrosion inhibitor yang berlebihan ke stripper naphtha hydrotreater. produk korosi. Feed dan Produk Catalytic Reforming Unit Feed unit catalytic reforming adalah heavy naphtha yang berasal dari unit naphtha hydrotreating yang telah mengalami treating untuk menghilangkan impurities seperti sulfur. maka tiap arus umpan harus dianalisa secara terpisah dan tiap stream tidak boleh memiliki endpoint > 204 o C. proses drying yang tidak cukup di drying zone di dalam regeneration tower. • Metal Karena efek reaksi irreversible. system injeksi water catalytic reforming. halida. Pada endpoint > 204 o C.BUKU PINTAR MIGAS INDONESIA pendingin steam/water di upstream unit. cracked naphtha). yang merupakan petunjuk adanya coke. • High feed end point Catalytic reforming didisain untuk memproduksi aromatic hydrocarbon. sehingga umpan catalytic reformer tidak boleh mengandung metal sedikit pun. Teknologi Proses Kilang Minyak Bumi Halaman 8 dari 14 Kontributor : Adhi Budhiarto . Beberapa sumber kandungan metal dalam umpan naphtha adalah : arsenic (ppb) dalam virgin naphtha. oxygen. Boiling range umpan heavy naphtha antara 70 s/d 150 o C. kandungan silicon dalam cracked naphtha yang berasal dari silicon based antifoam agent yang diijeksikan ke dalam coke chamber untuk mencegah foaming. Hasil blending antara high end point stream dengan low end point stream akan ”mengaburkan” kandungan fraksi endpoint yang tinggi. copper. nitrogen. Jika umpan catalytic reforming merupakan hasil blending dari berbagai sumber (straight run naphtha. senyawa water treating yang mengandung zinc. kebocoran naphtha hydrotreater stripper feed effluent heat exchanger. III. phosphorous. maka kontaminasi metal ke dalam katalis catalytic reforming sama sekali tidak dibolehkan. Produksi aromatic ini tidak dapat terjadi tanpa kondensasi single ring aromatic menjadi mulgi-ring polycyclic aromatic. lead mungkin timbul akibiat memproses ulang off-spec leaded gasoline atau kontaminasi umpan dari tangki yang sebelumnya digunakan untuk leaded gasoline. dan metal yang merupakan racun bagi katalis catalytic reforming. konsentrasi polycyclic aromatic dalam umpan naphtha akan meningkat tajam. Endpoint naphtha maksimum yang diijinkan sebagai umpan catalytic reforming adalah 204 o C.

Produk LPG dikirim ke tangki produk (jika sudah memenuhi spesifikasi produk LPG) atau dikirim ke unit Amine-LPG recovery terlebih dahulu. Process Flow Diagram Fixed Bed Catalytic Reforming IV.BUKU PINTAR MIGAS INDONESIA Produk unit catalytic reforming berupa high octane motor gasoline component (HOMC) yang digunakan sebagai komponen blending motor gasoline. By product hydrogen dikirim ke unit hydrotreater dan hydrogen plant. Aliran Proses Semi-Regenerative Catalytic Reforming (Fixed Bed Catalytic Reforming) Process Flow Diagram Fixed Bed Catalytic Reforming dapat dilihat pada gambar berikut : Gambar 3. Aliran Proses Catalytic Reforming IV.2. Aliran Proses Catalytic Reforming-Continuous Catalytic Regeneration/CCR Process Flow Diagram Catalytic Reforming-Continuous Catalytic Regeneration dapat dilihat pada gambar berikut : Teknologi Proses Kilang Minyak Bumi Halaman 9 dari 14 Kontributor : Adhi Budhiarto . Produk lain adalah LPG dan byproduct hydrogen.1. IV. Produk unit catalytic reforming ini mempunyai RONC > 95 dan bahkan dapat mencapai RONC 100.

Process Flow Diagram Catalytic Reforming-CCR (Seksi CCR) Teknologi Proses Kilang Minyak Bumi Halaman 10 dari 14 Kontributor : Adhi Budhiarto .BUKU PINTAR MIGAS INDONESIA Gambar 4. Process Flow Diagram Catalytic Reforming-CCR (Seksi Reaktor) Gambar 5.

2. Sedangkan jika berat umpan naphtha per jam dan berat katalis yang digunakan. maka istilah yang digunakan adalah Weight Hourly Space Velocity (WHSV). chloride level. namun pada temperatur di atas 560 o C dapat menyebabkan reaksi thermal yang akan mengurangi reformate dan hydrogen yield serta meningkatkan kecepatan pembentukan coke pada permukaan katalis.BUKU PINTAR MIGAS INDONESIA V. Temperatur reactor dapat didefinisikan menjadi 2 macam. untuk mempertahankan RONC produk. Teknologi Proses Kilang Minyak Bumi Halaman 11 dari 14 Kontributor : Adhi Budhiarto . Jika volume umpan naphtha per jam dan volume katalis yang digunakan.1. Katalis catalytic reformer dapat beroperasi hingga temperatur yang cukup tinggi. Variabel Proses Catalytic Reforming Unit Beberapa variabel proses yang berpengaruh pada operasi Catalytic Reforming adalah sebagai berikut : V. yaitu : • Weighted Average Inlet Temperature (WAIT). Catalyst Type Tipe katalis berpengaruh terhadap operasi catalytic reforming terutama dalam hal basic catalyst formulation (metal-acid loading).3. Temperatur Reaksi Catalytic reformer reactor catalyst bed temperature merupakan parameter utama yang digunakan untuk mengendalikan operasi agar produk dapat sesuai dengan spesifikasi. yaitu total (fraksi berat katalis dalam bed dikali temperature inlet bed). walaupun WABT sebenarnya adalah ukuran yang lebih baik dari kondisi reaksi dan temperatur katalis rata-rata. istilah yang digunakan adalah Liquid Hourly Space Velocity (LHSV). Jika space velocity naik. dan activator level. V. platinum level. yaitu total (fraksi berat katalis dalam bed dikali rata-rata temperatur inlet dan outlet). Space Velocity Space velocity merupakan ukuran jumlah naphtha yang diproses untuk jumlah katalis yang tertentu selama waktu tertentu. • Weighted Average Bed Temperature (WABT). Dari kedua macam definisi tersebut di atas. WAIT paling sering digunakan dalam perhitungan karena kemudahan perhitungan. V. maka semakin rendah octane number (RONC) produk atau semakin rendah jumlah reaksi yang terjadi pada WAIT yang tetap. Satuannya sama. maka kompensasi yang dilakukan adalah dengan menaikkan temperatur reaktor. yaitu 1/jam Semakin tinggi space velocity atau semakin rendah residence time.

VI.4. V.5. mengurangi kebutuhan temperatur untuk membuat produk dengan octane number yang sama. maka reactor pressure dapat digunakan sebagai variabel proses (hydrogen partial pressure = purity hydrogen x tekanan reactor). kebutuhan temperatur reaktor. penyebab. Hydrogen/Hydrocarbon Ratio Hydrogen/hydrocarbon ratio didefinisikan sebagai mol recycle hydrogen per mol naphtha umpan. Tekanan reaktor akan mempengaruhi struktur yield produk.BUKU PINTAR MIGAS INDONESIA V. Penyederhanaan ini dapat diterima karena hydrogen yang ada dalam sistem merupakan produk samping reaksi sehingga juga tergantung tekanan reaktor. sehingga akan menurunkan kecepatan pembentukan coke pada permukaan katalis dengan pengaruh yang kecil terhadap kualitas dan yield produk. Reactor Pressure Sebenarnya lebih tepat mengatakan hydrogen partial pressure sebagai variabel proses dibandingkan reactor pressure. berbeda dengan di unit hydrocracker yang menggunakan supply hydrogen dari hydrogen plant. dan kecepatan pembentukan coke pada permukaan katalis. dan troubleshooting yang terjadi di Catalytic Reforming Unit dapat dilihat dalam table II berikut ini : Teknologi Proses Kilang Minyak Bumi Halaman 12 dari 14 Kontributor : Adhi Budhiarto . namun untuk kemudahan penggunaan. Menurunkan tekanan reaktor akan meningkatkan jumlah hydrogen dan yield reformate. Kenaikan H 2 /HC ratio akan menyebabkan naphtha melalui reaktor dengan lebih cepat (residence time lebih singkat). dan meningkatkan kecepatan pembentukan coke pada permukaan katalis. Troubleshooting Beberapa contoh permasalahan.

Umpan kurang naphthenic. ∆T reaktor tinggi Produksi H2 purity-nya rendah Yield reformate rendah Kecepatan pembentukan coking yang tinggi ΔP reaktor tinggi ΔP reaktor rendah Loss of chloride injection • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Teknologi Proses Kilang Minyak Bumi Halaman 13 dari 14 Kontributor : Adhi Budhiarto . Umpan kurang naphthenic. Kontaminasi metal. Kontaminasi sulfur. Perbaiki atau ganti pressure indicator. Kontaminasi sulfur. Bad temperature indicator. Kurangi injeksi chloride. H2/HC ratio rendah. Restart pompa dan line up jika perlu. Tidak perlu troubleshooting. Kurangi injeksi chloride. dan Troubleshooting Catalytic Reforming Unit Permasalahan ∆T reaktor rendah Penyebab Umpan kurang naphthenic. Cari sumber kontaminasi. Suction atau discharge plugging. Cari sumber kontaminasi. Internal screen plugging. Penyebab. Contoh Permasalahan. Tidak perlu troubleshooting. Kurangi injeksi water dan cari sumbernya. Cari sumber kontaminasi. Umpan lebih naphthenic. Umpan sangat parafinic. Excessive coke level. Shutdown dan cleaning reaktor. Cari sumber kontaminasi. Tidak perlu troubleshooting. Bad pressure indicator. Shutdown dan repair reaktor. Naikkan recycle rate. Bad pressure indicator. Cari sumber kontaminasi. Injeksi chloride yang berlebihan. Water tinggi. Kontaminasi water. Tidak perlu troubleshooting. Kontaminasi metal. Injeksi chloride yang berlebihan. Perbaiki atau ganti pressure indicator. Kontaminasi nitrogen. Perbaiki atau ganti temperature indicator. Kurangi injeksi chloride. Injeksi chloride yang berlebihan. Kontaminasi sulfur.BUKU PINTAR MIGAS INDONESIA Tabel II. Cari sumber kontaminasi. Cari sumber kontaminasi. Pompa injeksi stop atau valve tertutup. Troubleshooting Tidak perlu troubleshooting. Loss of catalyst bed. Stop pompa dan repair suction/discharge. Shutdown dan cleaning reaktor.

Mahmood Kot. Teknologi Proses Kilang Minyak Bumi Halaman 14 dari 14 Kontributor : Adhi Budhiarto . Operating Manual CCR-Platforming Unit PERTAMINA Unit Pengolahan II Dumai. Istilah-istilah • • • Mogas Motor gasoline RONC Research Octane Number Clear (unleaded) Straight run naphtha Naphtha yang berasal dari unit naptha hydrotreater VIII. Pakistan. Operation Manual for Unit 300 Platforming Process Unit. Pakistan-Arabian Refinery Limited. 2. Mid-Country Refinery Project (PARCO).BUKU PINTAR MIGAS INDONESIA VII. Daftar Pustaka 1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful