SINDROM KOMPARTEMEN I.

DEFINISI Sindroma kompartemen adalah suatu kondisi dimana terjadi peningkatan tekanan intertisial di dalam ruangan yang terbatas, yaitu di dalam kompartemen osteofasial yang tertutup. Peningkatan tekanan intra kompartemen akan mengakibatkan berkurangnya perfusi jaringan dan tekanan oksigen jaringan, sehingga terjadi gangguan sirkulasi dan fungsi jaringan di dalam ruangan tersebut. Ruangan tersebut (Kompartemen osteofasial) berisi otot, saraf dan pembuluh darah yang dibungkus oleh tulang dan fascia serta otot-otot individual yang dibungkus oleh epimisium. Ditandai dengan nyeri yang hebat, parestesi, paresis, pucat, disertai denyut nadi yang hilang. Secara anatomi sebagian besar kompartemen terletak di anggota gerak. Paling sering disebabkan oleh trauma, terutama mengenai daerah tungkai bawah dan tungkai atas.

Gambar 1. Gambar Kompartemen Tungkai Bawah(5) Berdasarkan etiologinya, Sindroma Kompartemen dapat di klasifikasikan menjadi penurunan volume kompartemen dan peningkatan tekanan struktur kompartemen, sdangkan berdasarkan lamanya gejala, dapat dibedakan menjadi akut dan kronik. Penyebab umum terjadinya sindroma kompartemen akut adalah fraktur, 1

trauma jaringan lunak, kerusakan pada arteri dan luka bakar. Sedangkan sindroma kompartemen kronik biasa terjadi akibat melakukan aktivitas yang berulang-ulang, misalnya pelari jarak jauh, pemain basket, pemain sepak bola dan militer. II. INSIDEN Compartment syndrome paling sering melibatkan kompartemen flexor dari lengan bawah dan kompartemen tibia anterior dari tungkai bawah (meskipun dapat terjadi pada kompartemen osteofsial manapun). (1) Insiden compartment syndrome tergantung pada traumanya. Pada fraktur humerus atau fraktur lengan bawah, insiden dari compartment syndrome dilaporkan berkisar antara 0,6-2%. Pasien dengan kombinasi ipsilateral fraktur humerus dan lengan bawah memiliki insiden sebesar 30%. Secara keseluruhan, prevalensi compartment syndrome meningkat pada kasus yang berhubungan dengan kerusakan vascular. Abouezzi et al melaporkan fasiotomi dilakukan pada 29,5% kasus arterial injuries, 15,2% kasus venous injuries, dan 31,6% pada kasus dengan kombinasi keduanya; kasus-kasus tersebut tidak melibatkan tindakan memperbaiki vena ataupun ligasi. Feliciano et al melaporkan secara keseluruhan, 19% pasien dengan kerusakan vaskuler memerlukan fasiotomi.(6) DeLee dan Stiehl menemukan bahwa 6% dari pasien dengan open fraktur tibia berkembang menjadi compartment syndrome sedangkan pada closed fraktur tibia hanya 1,2%.(7) Insidens compartment syndrome yang sesungguhnya mungkin lebih besar dari yan dilaporkan karena sindrom tersebut tidak terdeteksi pada pasien yang keadaanya sangat buruk. Prevalensinya juga lebih besar pada pasien dengan keusakkan vascular. Feliciano et al melaporkan secara keseluruhan, 19% pasien dengan kerusakan vaskuler memerlukan fasiotomi, namun pada pasien tanpa fasiotomi diperkirkan angka kejadiannya sekitar 30%. Insiden yang sesungguhnya mungkin tidak akan diketahui karena banyak ahli bedah melakukan profilaksis fasiotomi ketika melakukan perbaikkan vaskuler pada pasien risiko tinggi.(7) Di Amerika, prevalensi sesungguhnya dari compartment syndrome belum diketahui; namun sebuah penelitian menemukan angka kejadian anterior chronic 2

Anggota gerak bawah a. ANATOMI Kompartemen adalah daerah tertutup yang dibatasi oleh tulang. yaitu: (1) Kompartemen Anterior : : : : fasia kruris septum intermuskular anterior bagian lateral dari os. Tungkai atas: Terdapat tiga kompartemen. sebagian besar kompartemen terletak di anggota gerak Berdasarkan letaknya komparteman terdiri dari beberapa macam. (8) III. antara lain: 1. syaraf dan pembuluh darah. Otot mempunyai perlindungan khusus yaitu fascia. Lengan bawah : Terdapat tiga kompartemen. Chronic exertional compartment syndrome (CECS) biasanya terjadi pada atlet yang sehat dan lebih muda dari 40 tahun. Laki-laki dan perempuan presentasinya adalah sama dan biasanya bilateral meskipun dapat juga unilateral. dan fascia. Anggota gerak atas a. dimana fascia ini melindungi semua serabut otot dalam satu kelompok.yaitu: flexor superficial. yang melibatkan jaringan otot. interosseus membran. Lengan atas : Terdapat kompartemen anterior dan posterior b. dan ekstensor 2. fleksor profundus. Atlet dengan CECS yang meningkatkan latihannya dengan hebat dapat meningkatkan risiko terjadinya eksaserbasi akut. Tibia membrane interosea Lateral Medial Posterior (2) Dengan batas: Anterior Kompartemen Lateral : 3 . medial. dan posterior b. Secara internasional. Secara anatomik.exertional compartment syndrome (CECS) sebesar 14% pada individual yang mengeluhkan nyeri tungkai bawah. prevalensi compartment syndrome belum diketahui. Tungkai bawah Tungkai bawah memiliki 4 kompartemen. demikian pula pada orang yang tidak aktif yang kemudian memulai latihan yang serius. yaitu: anterior.

Dengan batas: Anterior Lateral Medial Posterior (3) Dengan batas: Anterior Lateral Medial Posterior (4) Dengan batas: Anterior Lateral Medial Posterior : : : : : : : : : : : : septum intermuskular anterior fasia kruris bagian lateral dari os. Tibia septum intermuskular transversal septum intermuskular transversal Kompartemen Deep Posterior: Kompartemen Superficial Posterior : dan posterior fasia kruris fasia kruris fasia kruris Gambar 2 Anatomi Kompartemen Tungkai Bawah(1) 4 . Fibula septum intermuskular posterior membrane interosea bagian medial dari os. Fibula bagian posterior dari os.

suplai vaskuler ke nervus akan terpengaruh menyebabkan timbulnya paresthesia IV. ETIOLOGI Penyebab terjadinya sindroma kompartemen adalah tekanan di dalam kompartemen yang terlalu tinggi. Adapun penyebab terjadinya peningkatan tekanan intrakompartemen adalah peningkatan volume cairan dalam kompartemen atau penurunan volume kompartemen. Ketika tekanan kompartemen meningkat. Kompartemen anterior memiliki nervus peroneus profundus. kompartemen lateral memiliki nervus peroneus superficial. kompartemen posterior profunda memiliki nervus tibialis posterior dan kompartemen posterior superficial memiliki nervus suralis. dan posterior profundus) serta lengan atas (kompartemen volar dan dorsal) Setiap kompartemen pada tungkai bawah memiliki satu nervus mayor. posterior superficial.Gambar 3 Cross section Tungkai Bawah(1) Syndrome kompartemen yang paling sering terjadi adalah pada daerah tungkai bawah (yaitu kompartemen anterior. yaitu antara lain : 5 . lebih dari 30 mmHg. lateral.

dimana 45 % kasus terjadi akibat fraktur. Pada titik ini. tidak ada lagi darah yang akan masuk ke kapiler sehingga menyebabkan 6 . Tanpa memperhatikan penyebabnya. Penurunan volume kompartemen Kondisi ini disebabkan oleh: • • • • • Penutupan defek fascia Traksi internal berlebihan pada fraktur ekstremitas Balutan yang terlalu ketat Berbaring di atas lengan Gips 2. penurunan aliran darah kapiler. Peningkatan tekanan secara terus menerus menyebabkan tekanan arteriolar intramuskuler bawah meninggi.1. dan nekrosis jaringan lokal yang disebabkan hipoksia. Peningkatan tekanan pada struktur komparteman Beberapa hal yang bisa menyebabkan kondisi ini antara lain: • • • • • • • Pendarahan atau Trauma vaskuler Peningkatan permeabilitas kapiler Penggunaan otot yang berlebihan Luka bakar Operasi Gigitan ular Obstruksi vena Sejauh ini penyebab sindroma kompartemen yang paling sering adalah cedera. V. dan 80% darinya terjadi di anggota gerak bawah. PATOFISIOLOGI Patofisiologi sindrom kompartemen melibatkan hemostasis jaringan lokal normal yang menyebabkan peningkatan tekanan jaringan. peningkatan tekanan jaringan menyebabkan obstruksi vena dalam ruang yang tertutup. Peningkatan tekanan eksternal 3.

Jika hal ini terus berlanjut. Terdapat tiga teori yang menyebabkan hipoksia pada kompartemen sindrom yaitu. Theory Of Critical Closing Pressure. maka ketika tekanan jaringan melebihi tekanan vena maka ia akan kolaps. ini dibutuhkan untuk memelihara patensi aliran darah. Akibat selanjutnya adalah arteriol akan menutup c. Tekanan transmural secara signifikan berbeda (tekanan arteriol-tekanan jaringan). tekanan vena akan meningkat lagi melebihi tekanan jaringan sehingga drainase vena terbentuk kembali. Sehingga terjadi hipoksia jaringan (pale). McQueen dan Court-Brown berpendapat bahwa perbedaan tekanan diastolik dan tekanan kompartemen yang kurang dari 30 mmHg mempunyai korelasi klinis dengan sindrom kompartemen. tekanan vena meningkat. yang akan menyebabkan kerusakan ireversibel komponen tersebut. Spasme arteri akibat peningkatan tekanan kompartemen b. Setelah itu. Tipisnya dinding vena  Karena dinding vena itu tipis.kebocoran ke dalam kompartemen. yang diikuti oleh meningkatnya tekanan dalam kompartemen. Kondisi seperti ini dinamakan dengan tercapainya critical closing pressure. Patogenesis dari sindroma kompartemen) kronik telah digambarkan oleh Reneman. antara lain: a. Otot dapat membesar sekitar 20% selama latihan dan akan menambah peningkatan sementara dalam tekanan intra kompartemen.  Hal ini disebabkam oleh diameter pembuluh darah yang kecil dan tekanan mural arteriol yang tinggi. aliran darah melalui kapiler akan berhenti. Dalam keadaan ini penghantaran oksigen juga akan terhenti. Bila tekanan tekanan jaringan meningkat atau tekanan arteriol menurun maka tidak ada lagi perbedaan tekanan. Kontraksi otot berulang 7 . Metsen mempelihatkan bahwa bila terjadi peningkatan intrakompartemen. Akan tetapi bila kemudian darah mengalir secara kontinyu dari kapiler maka. Penekanan terhadap saraf perifer disekitarnya akan menimbulkan nyeri hebat. maka terjadi iskemia otot dan nervus.

paralysis. pulselessness. terkadang 7 P untuk poikilotermia (dingin) ditambahkan. Sindroma kompartemen kronik terjadi ketika tekanan antara kontraksi yang terus – menerus tetap tinggi dan mengganggu aliran darah. Biasanya. nyeri bersifat sementara atau tidak menetap dan akan sembuh dengan beristirahat dalam waktu 15-30 menit dari penghentian latihan. yaitu: 1. - Pasien dengan sindroma kompartemen kronik mempunyai gejala yang khas. aliran arteri selama relaksasi otot semakin menurun. dan pasien akan mengalami kram otot. Gejala utama berupa nyeri yang ditimbulkan akibat berolah raga. puffiness. Otot yang tegang pada kompartemen merupakan gejala yang spesifik dan sering. Kompartemen anterior dan lateral dari tungkai bagian bawah biasanya yang kena VI. ketika ada trauma langsung. Nyeri merupakan gejala dini yang paling penting. Pallor (pucat) : kulit terasa dingin jika di palpasi. pallor (pucat). paresthesia. warna kulit biasanya pucat. - Nyeri dirasakan seperti kram dimana akibat dari vasokonstriksi pembuluh darah sehingga darah dan oksigen tidak dapat mencapai otot-otot tersebut. Sebagaimana terjadinya kenaikan tekanan. klinisnya didapatkan 6 P yaitu: pain.dapat meningkatkan tekanan intamuskular pada batas dimana dapat terjadi iskemia berulang. MANIFSTASI KLINIS Gejala sindrom kompartemen. Pain (nyeri) : - Nyeri yang hebat saat peregangan pasif pada otot-otot yang terkena. Terutama jika munculnya nyeri tidak sebanding dengan keadaan klinik (pada anak-anak tampak semakin gelisah atau memerlukan analgesia lebih banyak dari biasanya). Hal ini dapat menyebabkan kerusakan permanent pada jaringan. 8 . 2. Biasanya hal ini muncul setelah sekitar 20 menit berlari sebelum dirasakan semakin nyeri hingga dimana orang tersebut tidak dapat melanjutkan aktivitasnya. abu-abu atau keputihan.

Biasanya pengukuran tekanan kompartemen dilakukan pada pasien dengan penurunan kesadaran. maka tekanan kompartemen harus diukur. Nyeri pada regangan pasif juga merupakan gejala yang mengarah pada compartment syndrome.3. Puffines: Kulit yang tegang. merupakan tanda lambat akibat menurunnya sensasi saraf yang berlanjut dengan hilangnya fungsi. Parestesia dari saraf pada kompartemen bilateral pada sekitar 82 % pasien. Pallor dan pulselessness adalah tanda yang jarang jika tidak disertai cedera vaskuler. Pulselesness (berkurang atau hilangnya denyut nadi ) 4. 9 . dan pasien dengan cedera kepala. Dan yang paling pasti bahwa dapat terjadi peningkatan tekanan kompartemen. Parestesia : biasanya memberikan gejala rasa panas dan gatal pada daerah lesi. Cara ini paling berguna jika diagnosis belum dapat disimpulkan dari gejala klinis. Paralysis : biasanya diawali dengan ketidakmampuan untuk menggerakkan sendi. VII. bengkak dan mengkilat. DIAGNOSIS Pada umumnya diagnosis dibuat dengan melihat tanda dan gejala sindrom kompartemen dan pengukuran tekanan secara langsung. pada pasien politrauma. 5. Pengukuran Tekanan Kompartemen Pengukuran tekanan kompartemen adalah salah satu tambahan dalam membantu menegakkan diagnosis. Jika diagnosis compartment syndrome belum dapat ditegakkan atau jika data objektif diperlukan. Regangan pasif pada otot yang terkena setelah latihan dapat meningkatkan nyeri. Dapat juga terjadi kelemahan dan atrofi otot. 6. Palpasi dapat menunjukkan ekstremitas yang tegang dan keras. pasien yang tidak kooperatif. Paresthesi berkenaan dengan saraf yang melintang pada kompartemen yang bermasalah merupakan tanda lanjutan dari compartment syndrome. Paralysis dan kelemahan motorik adalah tanda yang amat lanjut yang mengarah pada compartment syndrome. Gejala terpenting pada pasien yang sadar dan koheren adalah nyeri yang proporsinya tidak sesuai dengan beratnya trauma.

10 . tapi tidak sampai menginfiltrasi otot. anestesi local pada kulit. - normal saline sterile. masukkan kateter dengan jarum ke dalam otot.5+6 mmHg. Teknik pengukuran langsung dengan teknik injeksi - Teknik ini adalah kriteria diagnostik standar yang seharusnya menjadi Alat yang dibutuhkan : spuitt 20 cc. b. caranya : Pertama. Hilangkan semua tekanan external pada otot yang diperiksa dan ukur tekanan kompartemen. Tekanan arteri rata-rata yang normal pada kompartemen otot adalah 8. Selama tekanan pada salah satu kompartemen kurang dari 30 mmHg (tekanan pengisian kapiler diastolik). sindroma kompartemen dapat timbul jika tekanan dalam kompartemen lebih dari 10 mmHg. tekanan air raksa akan naik. medulla spinalis atau trauma saraf perifer. balut wick kateter ke kulit. Ketiga. Prosedur pengukuran tekanan kompartemen antara lain : a. tabung intra vena. Wick kateter. tidak perlu khawatir tentang sindroma kompartemen. three way tap. Masukkan jarum 18 kedalam otot yang diperiksa. atur spuit dengan plunger pada posisi 15 cc. maka indikasi dilakukan fasciotomi. Pengukuran tekanan kompartemen dapat dilakukan dengan menggunakan teknik injeksi atau wick kateter. Pertama. hubungkan tabung dengan manometer air raksa dan buka three way tap. Dorong plunger dan tekanan akan meningkat secara lambat. tarik jarum dan masukkan kateter wick melalui sarung plastik. Periksa ulang patensi kateter dengan tangan menekan pada otot. pasien yang sulit berkomunikasi dan pasien-pasien dengan multiple trauma seperti trauma kepala. Saat tekanan kompartemen tinggi. Selanjutnya. Tandai saline sampai mengisi setengah tabung . tutup three way tap tahan normal saline dalam tabung. Baca manometer air raksa. jika tekanan mencapai 30 mmHg. manometer air raksa untuk mengukur tekanan darah. prioritas utama jika diagnosis masih dipertanyakan. isi system dengan normal saline yang mengandung heparine dan ukur tekanan kompartemen dengan transducer recorder. Kedua.seperti anak-anak. Setelah itu. dan dorong sarung plastik kembali.

dimana nyeri muncul pada saat berolah raga dan berkurang pada saat beristirahat. IX. Syaraf dapat beregenerasi sedangkan otot tidak sehingga jika terjadi infark tidak dapat pulih 11 . Sedangkan sindroma kompartemen kornik adanya kontraksi otot berulang-ulang yang dapat meningkatkan tekanan intramuskuler sehingga menyebabkan iskemia kemudian menurunkan aliran darah dan otot menjadi kram. DIAGNOSIS BANDING Diagnosis yang paling sering membingungkan dan sangat sulit dibedakan dengan sindrom kompartemen adalah oklusi arteri dan kerusakan saraf primer. Apabila sindrom kompartemen lebih dari 8 jam dapat mengakibatkan nekrosis dari syaraf dan otot dalam kompartemen. Pada sindroma kompartemen kronik di dapatkan nyeri yang hilang timbul. Wick Kateter VIII. biasanya nyeri berhenti 2-5 menit setelah beraktivitas. KOMPLIKASI Komplikasi terjadi akibat trauma permanen yang mengenai otot dan syaraf yang dapat mengurangi fungsinya. Hal ini disebabkan oleh adanya oklusi atau obstruksi pada arteri bagian proksimal. tidak ada peningkatan kompartemen dalam hal ini.Gambar 4. Sindroma kompartemen kronik dibedakan dengan claudikasio intermitten yang merupakan nyeri otot atau kelemahan otot pada tungkai bawah karena latihan dan berkurang dengan istirahat.

Sedangkan komplikasi sistemik yang dapat timbul dari sindroma kompartemen meliputi gagal ginjal akut. yang kemudian menyebabkan terjadinya kontraktur Volkmann.kembali dan digantikan dengan jaringan fibrosa yang tidak elastis yaitu kontraktur iskemik Volkmann. seperti timing. Berbeda dengan kompleksitas diagnosis. Jika hal tersebut tidak berhasil maka tindakan operasi dekompresi perlu dipertimbangkan. Semua ahli bedah setuju bahwa adanya disfungsi neuromuskular adalah indikasi mutlak untuk melakukan fasciotomi. Trauma vaskuler menyebabkan infark otot dan kematian serat otot. PENATALAKSANAAN Tujuan dari terapi sindrom kompartemen adalah mengurangi defisit fungsi neurologis dengan lebih dulu mengembalikan aliran darah lokal. Disebabkan oleh iskemia yang biasanya disebabkan oleh peningkatan tekanan (sindrom kompartemen). Tindakan nonoperatif tertentu mungkin bisa berhasil. dan pergelangan tangan karena adanya trauma pada lengan bawah. Walaupun fasciotomi disepakati sebagai terapi yang terbaik. sepsis dan acute respiratory distress syndrome (ARDS) yang fatal jika terjadi sepsis kegagalan organ secara multi sistem. Kira-kira 1-10% dari semua kasus sindrom kompartemen berkembang menjadi kontraktur volkmann. 12 . X. terapi kompartemen sindrom sederhana yaitu fasciotomi kompartemen yang terlibat. seperti menghilangkan selubung eksternal. tiap pasien dan tiap sindrom kompartemen memiliki individualitas yang berpengaruh pada cara untuk menindakinya. Iskemia berat yang berlangsung selama 6-8 jam dapat menyebabkan kematian otot dan nervus. jari. Kontraktur Volkmann adalah deformitas pada tangan. yaitu kelanjutan dari sindrom kompartemen akut yang tidak mendapat terapi selama lebih dari beberapa minggu atau bulan. namun beberapa hal. Indikasi mutlak untuk operasi dekompresi sulit untuk ditentukan. kemudian otot digantikan oleh jaringan ikat. masih diperdebatkan. biasanya dengan bedah dekompresi.

Manitol mereduksi edema seluler. Tujuannya untuk menurunkan tekanan dengan memperbaiki perfusi otot. atau kalau tekanan kompartemen meningkat. Terapi Medikal/non operatif Pemilihan secara medical terapi digunakan apabila masih menduga suatu sindroma kompartemen. 13 . gips harus di buka dan pembalut kontriksi dilepas. Mengoreksi hipoperfusi dengan cairan kristaloid dan produk darah. - Pada kasus penurunan ukuran kompartemen. yaitu : - Menempatkan kaki setinggi jantung. Pada kasus gigitan ular berbisa. - - 2.Penanganan sindroma kompartemen meliputi : 1. Apabila tekanannya kurang dari 30 mmHg. untuk mempertahankan ketinggian kompartemen yang minimal. diuretik dan pemakainan manitol dapat mengurangi tekanan kompartemen. Kalau tidak ada perbaikan. Pada peningkatan isi kompartemen. Insisi ganda pada tungkai bawah paling sering digunakan karena lebih aman dan lebih efektif. dengan memproduksi kembali energi seluler yang normal dan mereduksi sel otot yang nekrosis melalui kemampuan dari radikal bebas. elevasi dihindari karena dapat menurunkan aliran darah dan akan lebih memperberat iskemia. tungkai dapat diobservasi dengan cermat dan diperiksa lagi pada jam-jam berikutnya. Tidak ada keuntungan yang utama dari kedua teknik ini. Ada dua teknik dalam fasciotomi yaitu teknik insisi tunggal dan insisi ganda. Terapi pembedahan / operatif Terapi operatif untuk sindroma kompartemen apabila tekanan intrakompartemen lebih dari 30 mmHg memerlukan tindakan yang cepat dan segera dilakukan fasciotomi. fasiotomi harus segera dilakukan. Keberhasilan dekompresi untuk perbaikan perfusi adalah 6 jam. pemberian anti racun dapat menghambat perkembangan sindroma kompartemen. kalau keadaan tungkai itu membaik. evaluasi klinik yang berulang-ulang dilanjutkan hingga bahaya telah terlewati.

atau dilakukan pencangkokan kulit. dibuka di sepanjang daerah 14 . fasiotomi dapat berarti membuka ke empat kompartemen. operasi dekompresi harus segera dilakukan karena penundaan akan meningkatkan kemungkinan kerusakan jaringan intrakompartemen sebagaimana terjadinya komplikasi. Gambaran klinik yang meragukan dengan resiko tinggi (pasien koma. kalau perlu dengan mengeksisi satu segmen fibula. kalau terdapat nekrosis otot. Beberapa teknik telah diterapkan untuk operasi dekompresi untuk semua sindrom kompartemen akut. dapat dilakukan debridemen. atau skin graft mungkin diperlukan untuk menutup luka ini. Insisi panjang dibuat pada fascia untuk menghilangkan tekanan yang meningkat di dalamnya. Luka tersebut dibiarkan terbuka (ditutup dengan pembalut steril) dan ditutup pada operasi kedua. pasien dengan masalah psikiatrik. dapat dilakukan debridemen. Prosedur ini dilakukan tanpa torniket untuk mencegah terjadinya periode iskemia yang berkepanjangan dan operator juga dapat memperkirakan derajat dari sirkulasi lokal yang akan didekompresi. dan dibawah pengaruh narkotik) dengan tekanan jaringan lebih dari 30 mmHg pada pasien yang diharapkan memiliki tekanan jaringan yang normal. kalau terdapat nekrosis otot. biasanya 5 hari kemudian. kalau jaringan sehat. termasuk kulit. Luka harus dibiarkan terbuka. Indikasi untuk melakukan operasi dekompresi antara lain: a. Pada tungkai bawah. Terapi untuk sindrom kompartemen akut maupun kronik biasanya adalah operasi. Adanya tanda-tanda sindrom kompartemen seperti nyeri hebat dan b. Jika dicurigai adanya sindrom kompartemen. pengukuran tekanan dan konsultasi yang diperlukan harus segera dilakukan secepatnya. Setiap yang berpotensi membatasi ruang. Karena kerusakan nervus permanen mulai setelah 6 jam terjadinya hipertensi intrakompartemen.sedangkan insisi tunggal membutuhkan diseksi yang lebih luas dan resiko kerusakan arteri dan vena peroneal. Bila ada indikasi. luka dapat di jahit (tanpa regangan). luka dapat di jahit (tanpa regangan). kalau jaringan sehat.

Insisi 1-5 cm dibuat pada septum intermuskular lateral. Setelah kompartemen anterior dan posterior terbuka. Kulit dibuka pada bagian anterior dan jangan sampai melukai nervus peroneal superficial. dibuat insisi setengah medial untuk membebaskan kompartemen adductor. Debridemant otot harus seminimal mungkin selama operasi dekompresi kecuali terdapat otot yang telah nekrosis. • Fasciotomi insisi tunggal (davey. fasciotomi insisi tunggal perifibular. Perlahan-lahan dibuka sampai vastus lateralis dan septum intermuskular terlihat. b. Dibuat fasciotomy longitudinal pada kompartemen anterior dan lateral. disesksi subkutaneus digunakan untuk mengekspos daerah iliotibial dan dibuat insisi lurus sejajar dengan insisi kulit sepanjang fascia iliotibial. Teknik insisi ganda lebih aman dan efektif. perdarahan ditangani bila ada. semua kelompok otot harus lunak pada palpasi setelah prosedur selesai. longitudinal pada garis fibula. Berikutnya kulit dibuka ke bagian posterior dan dilakukan fasciotomi kompartemen posterior superficial. Jika meningkat. Rorabeck. dan Fowler) : Dibuat insisi lateral. termasuk indikasi pada sindrom kompartemen akut.kompartemen. Fasciotomi tungkai atas • - Teknik Tarlow : Insisi lateral dibuat mulai dari distal garis intertrocanterik sampai ke epikondilus lateral. dan jika ada. Fasciotomi tungkai bawah Ada 3 pendekatan fasciotomi untuk kompartemen regio cruris : fibulektomy. 15 . • Fibulektomi adalah prosedur radikan dan jarang dilakukan. sepanjang mulai dari distal caput fibula sampai 3-4 cm proksimal malleolus lateralis. perpanjang ke proksimal dan distal. Insisi tunggal dapat digunakan untuk jaringan lunak pada ektremitas. Fasciotomi untuk Sindrom Kompartemen Akut a. dan fasciotomi insisi ganda. tekanan kompartemen medial diukur.

Fasciotomi pada regio antebrachium • Pendekatan volar (Henry) Dekompresi kompartemen fleksor volar profunda dan superficial dapat dilakukan dengan insisi tunggal. Dibuat insisi tranversal untuk mengidentifikasi septum antara kompartemen posterior profunda dan superficial. • Fasciotomi insisi ganda (Mubarak dan Hargens) : Insisi sepanjang 20-25 cm dibuat pada kompartemen anterior. Insisi tranversal dibuat pada septum intermuskular lateral dan identifikasi nervus peroneal superficial pada bagian posterior septum. Vena dan nervus saphenus ditarik ke anterior. Insisi 16 .Batas antara kompartemen superficial dan lateral dan interval ini diperluas ke atas dengan memotong soleus dari fibula. Setelah kompartemen posterior dibuka. Kemudian dilakukan fasciotomi pada kompartemen lateral ke arah proksimal dan distal pada garis tubulus fibula. setengah antara fibula dan caput tibia. Kemudian diidentifikasi fascia otot tibialis posterior ke fibula dan dilakukan inisisi secara longitudinal. segera dibuka. c. Kemudian dibuka fascia gastrocsoleus sepanjang kompartemen. Buka kompartemen anterior kearah proksimal dan distal pada garis tibialis anterior. Digunakan diseksi subkutaneus yang luas untuk mengidentifikasi fascia. Tekanan kompartemen dapat diukur selama operasi untuk mengkonfirmasi dekompresi. Insisi kedua dibuat secara longiotudinal 1 cm dibelakang garis posterior tibia. Dibuat insisi lain pada otot fleksor digitorum longus dan dibebaskan seluruh kompartemen posterior profunda. Otot dan pembuluh darah peroneal ditarik ke belakang. Insisi kulit dimulai dari proksimal ke fossa antecubiti sampai ke palmar pada daerah tunnel carpal. Jika terjadi peningkatan tekanan pada kompartemen ini. Diseksi subkutaneus digunakan untuk mengekspos fascia kompartemen. Tidak ada penggunaan torniket. identifikasi kompartemen otot tibialis posterior.

terus ke bawah melewati garis ulnar lengan bawah. Fascia pada kompartemen fleksor profunda kemudian diinsisi. Kemudian kompartemen fleksor superficial diinsisi. yang harus dicari dan dilindungi. keduanya kemudian ditarik ke arah radial. Hal ini lebih baik ditentukan dengan pengukuran tekanan kompartemen intraoperatif setelah dilakukan fasciotomi kompartemen fleksor. harus diputuskan apakah perlu dilakukan fasciotomi dorsal (ekstensor). Kemudian nervus radialis diidentifikasi dibawah brachioradialis. Pada dasar fleksor digitorum sublimis terdapat arteri dan nervus ulnaris. mulai pada titik 1 atau 2 cm di atas siku kearah bawah sampai di pergelangan. kemudian fleksor carpi radialis dan arteri radialis ditarik ke sisi ulnar yang akan mengekspos fleksor digitorum profundus fleksor pollicis longus. Lengan disupinasikan dan insisi mulai dari medial bagian atas tendon bisep. harus dilakukan dekompresi fascia disekitar otot tersebut untuk memastikan bahwa dekompresi yang adekuat telah dilakukan. • Pendekatan Volar Ulnar Pendekatan volar ulnar dilakukan dengan cara yang sama dengan pendekatan Henry. pronatus quadratus. Karena sindrom kompartemen biasanya melibatkan kompartemen fleksor profunda. • Pendekatan Dorsal Setelah kompartemen superficial dan fleksor profunda lengan bawah didekompresi. bersebelahan dengan siku kemudian ke sisi radial tangan dan diperpanjang kea rah distal sepenjang brachioradialis. Kemudian dicari batas antara fleksor carpi ulnaris dan fleksor digitorum sublimis. fasciotomi harus dilakukan 17 . dilanjutkan ke palmar. melewati lipat siku.kulit mulai dari medial ke tendon bicep. Jika terjadi peningktan tekanan pada kompartemen dorsal yang terus meningkat. Fascia superficial pada fleksor carpi ulnaris diinsisi ke atas sampai ke aponeurosis siku dan ke carpal tunnel ke arah distal. dan pronatus teres. dan sampai ke carpal tunnel sepanjang lipat thenar.

Kompartemen profunda diekspos.dengan posisi lengan bawah pronasi. Batas antara ekstensor carpi radialis brevis dan ekstensor digitorum komunis diidentifikasi kemudian dilakukan fasciotomi. Masuk dan dibuka kompartemen superficial. Perawatan pasca operasi: - Luka harus dibiarkan terbuka selama 5 hari Kalau terdapat nekrosis otot. Nervus peroneal segera dicari dan lewatkan fasciotom ke kompartemen anterior pada garis otot tibialis anterior. Tibialis posterior adalah kunci dekompresi kompartemen posterior dan biasanya berkontraksi ke proksimal antara fleksor hallucis longus. Kemudian dicari vena saphenus pada insisi proksimal dan tarik ke anterior bersama dengan saraf. Pada kompartemen lateral. dapat dilakukan debridemen. Tutup luka diatas drain untuk meminimalkan pembentukan hematom. Tutup kulit dengan cara biasa dan pasang pembalut steril. fasciotome diarahkan ke posterior nervus peroneal superficial pada garis fibular. termasuk otot digitorum longus dan tibialis posterior dangan merobek sambungan soleus. Fascia profunda kemudian diinsisi. Insisi lurus dari epikondilus lateral sampai garis tengah pergelangan. 18 . lebarkan batas antaranya untuk memeriksa kontraksinya. Fasciotomi untuk Sindrom Kompartemen Kronik • Fasciotomi insisi tunggal : Teknik Fronek - Dibuat sebuah insisi 5 cm pada pertengahan fibula dan kaput tibia atau melalui defek fascia jika terdapat hernia muskuler pada daerah keluarnya nervus peroneal. • Fasciotomi insisi ganda: Teknik Rorebeck - Dibuat 2 insisi pada tungkai bawah 1 cm dibelakang garis posteromedial tibia. Kumparan neurovaskuler dan tendo tibialis posterior kemudian diinsisi ke proksimal dan distal fascia pada terdon tersebut.

Jika diagnosa terlambat dapat menyebabkan trauma syaraf dan hilangnya fungsi otot. 19 . Walaupun fasciotomi dilakukan dengan cepat dan awal. hampir 20% pasien mengalami deficit motorik dan sensorik yang persisten. atau dilakukan pencangkokan kulit atau dibiarkan sembuh dengan intensi sekunder.- Kalau jaringan itu sehat. toleransi otot untuk terjadinya iskemia adalah 4 jam. luka dapat dijahit (tanpa tegangan). Prognosis Sindroma kompartemen akut cenderung memiliki hasil akhir yang jelek. Kerusakan irreversible terjadi bila lebih dari 8 jam. XI.

20 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful