Tugas Makalah Mata Kuliah Perspektif Teori Komunikasi Dosen : Dr.Antar Venus,M.

A Comm Groupthink Theory

Oleh : F.X. Arief Poyuono/2010010362009

Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Jayabaya Jakarta 2011

A.LANDASAN TEORI 1. DEFINISI & KLASIFIKASI KELOMPOK Kelompok didefenisikan sebagai dua atau lebih individu, yang berinteraksi dan saling tergantung antara satu dengan yang lain, yang bersama-sama ingin mencapai tujuan-tujuan tertentu. Kelompok dapat berbentuk formal atau informal. Kelompok formal maksudnya jika kita mendefinisikannya sebagai struktur organisasi, dengan memberikan penugasan pekerjaan yang membentuk kelompok tugas dan kelompok kerja. Dalam kelompok formal, perilaku yang harus ditunjukkan oleh seseorang ditentukan dan diarahkan untuk tujuan organisasi. Sebaliknya, kelompok informal merupakan aliansi yang tidak terstruktur atau tidak ditetapkan secara organisasional. Dalam lingkungan kerja, kelompok-kelompok semacam ini terbentuk secara alamiah sebagai suatu tanggapan terhadap kebutuhan untuk mengadakan kontak sosial. Memang memungkinkan untuk membuat subklasifikasi kelompok menjadi kategori kelompok perintah (command group), kelompok tugas (task group), kelompok kepentingan (interest group), atau kelompok persahabatan (friendship group). Kelompok perintah dan kelompok tugas didikte oleh organisasi formal, sementara kelompok kepentingan dan kelompok persahabatan merupakan aliansi informal. Kelompok perintah ditentukan oleh struktur organisasi. Kelompok ini terdiri dari para bawahan yang melapor langsung pada manajer tertentu. Seorang kepala sekolah dasar dan dua belas orang guru membentuk suatu kelompok perintah, begitu pun seorang direktur audit kantor pos dan lima orang inspekturnya. Kelompok tugas, juga ditentukan secara organisasional, mewakili orang-orang yang bekerjasama untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Akan tetapi, batasan dari kelompok tugas ini tidak terbatas pada hierarki dari atasan langsungnya. Batasannya bisa melewati hubungan perintah. Contohnya, jika seorang mahasiswa pergurua tinggi dituduh melakukan tindak criminal di kampus, maka hal ini memerlukan komunikasi dan koordinasi antara dekan dari urusan akademik, dekan mahasiswa tersebut, bagian akademik, direktur keamanan, dan penasihat mahasiswa tersebut. Formasi seperti itu dapat mewakili suatu kelompok tugas. Perlu dicatat

bahwa seluruh kelompok perintah juga merupakan kelompok tugas, namun kelompok tugas dapat melintasi seluruh organisasi, sebaliknya kelompok perintah tidak. Orang-orang yang mungkin atau tidak mungkin bergabung menjadi kelompok perintah atau kelompok tugas biasa, dapat menggabungkan diri untuk mencapai tujuan tertentu yang memperhatikan kepentingan masing-masing kelompok. Inilah yang disebut dengan kelompok kepentingan. Para pegawai yang memainkan musik bersama untuk mengisi jadwal liburan mereka, untuk mendukung seorang rekan yang dipecat, atau berupaya meningkatkan pendapatan mewakili formasi dari lembaga gabungan untuk kemudian mencapai kepentingan mereka yang sama. Kelompok-kelompok sringkali terbentuk karena para anggota individunya memiliki satu atau lebih karakteristik yang sama. Kita menyebut formasi seperti ini sebagai kelompok persahabatan. Kesetiakawanan sosial, yang seringkali berkembang di luar situasi kerja, bisa berdasarkan pada, contohnya, usia yang sebaya, berasal dari universitas yang sama, atau memiliki pandangan politik yang sama. Kelompok informal memberikan fungsi yang paling penting dengan cara memuaskan kebutuhan sosial para anggotanya. Karena interaksi yang disebabkan oleh kedekatan pekerjaan atau tugas, kita mendapati para pegawai yang bermain golf bersama, berangkat dan pulang dari tempat kerja bersama-sama, makan siang bersama, dan menghabiskan waktu istirahat secara bersama. Kita harus mengenali bahwa tipe-tipe interaksi antar-individu semacam ini, walaupun informal sifatnya, namun sangat mempengaruhi perilaku dan kinerja mereka. 2. KONSEP DASAR KELOMPOK Kajian mengenai konsep dasar kelompok dalam hal ini berusaha mengembangkan keyakinan bahwa kelompok tidak sekadar terbentuk oleh adanya gerombolan orang banyak. Kelompok memiliki suatu struktur yang membentuk perilaku dari anggotanya.

y

PERAN

Pemahaman tentang perilaku peran dapat disederhanakan secara dramatis jika masing-masing dari kita memilih suatu peran dan memainkannya secara regular dan konsisten. Sayangnya, kita diminta untuk memainkan bermacam-macam peran, baik di dalam maupun di luar pekerjaan kita. Kelompok yang berbeda menuntut persyaratan peran yang berbeda terhadap orang-orang. Dan kita dapat lebih memahami peran apa yang sedang dimainkan oleh orang tersebut. Berdasarkan penelitian selama beberapa decade mengenai peran, kita dapat membuat kesimpulan sebagai berikut:[1] (1) Orang-orang akan memainkan peran ganda. (2) Orang-orang mempelajari peran dari rangsangan yang diterima dari sekitarnya ± teman-teman, buku, film, televisi. Contohnya, banyak diantara pengacara di zaman sekarang yang telah membentuk peran mereka dengan model peran seperti Perry Mason atau anggota pemain dalam L.A. Law. (3) Orang-orang memiliki kemampuan untuk berganti peran dengan cepat ketika mereka menyadari bahwa situasi dan tuntutan benar-benar menghendaki perubahan yang sangat penting. (4) Orang-orang seringkali mengalami konflik peran ketika mendapati persyaratan dari suatu peran merupakan hal yang ganjil bagi peran yang lainnya. Semakin hari semakin banyak orang, contohnya, mengalami stress karena berupaya mencari titik temu antara peran keluarga dan pekerjaan.
y

NORMA

Norma adalah standar perilaku yang diterima di dalam suatu kelompok yang dirasakan bersamasama oleh para anggota kelompok tersebut. Setiap kelompok akan membentuk serangkaian normanya sendiri-sendiri. Contohnya, norma kelompok mungkin menentukan pakaian yang tepat, kapan waktunya berhura-hura dapat diterima, dengan siapa kelompok tersebut makan siang, dan persahabatan di dalam dan di luar waktu kerja. Bagaimanapun juga, mungkin norma yang paling luas adalah ± dan orang-orang yang paling cenderung mendapat perhatian yang besar dari para manajer ± berhubungan dengan proses yang berkaitan dengan kinerja. Kelompok-kelompok kerja biasanya memberia anggota mereka isyarat yang jelas mengenai seberapa keras seharusnya mereka bekerja, bagaimanapun cara menyelesaikan pekerjaan mereka, tingkatan output mereka , saluran komunikasi yang tepat, dan sejenisnya. Norma-norma sangat berpengaruh pada kinerja pekerja secara individu. Ketika

disetujui dan diterima oleh kelompok, norma bertindak sebagai alat dalam mempengaruhi perilaku anggota kelompok dengan pengendalian eksternal yang minimum. Nyatanya, tidaklah aneh jika menemukan kasus di aman seorang pekerja yang memiliki kecakapan dan motivasi diri yang tinggi menunjukkan kinerja yang sangat rendah karena pengaruh yang terlalu berlebihan dari norma kelompok yang tidak memotivasi anggotanya untuk menghasilkan kinerja pada level yang tinggi. Kunci utama untuk diingat mengenai norma adalah bahwa kelompok menggunakan tekanan terhadap anggotanya untuk menuntun perilaku anggota tersebut agar menyesuaikan diri dengan standar kelompok. Jika orang-orang dalam kelompok melanggar norma tersebut, maka anggota kelompok akan bertindak untuk mengoreksinya atau bahkan dapat menghukum pelanggaran tersebut. Hal ini hanya merupakan satu kesimpulan yang langsung didapatkan dari penemuan dalam studi yang dilakukan Hawthorne.
y

KEKOHESIFAN (KEKOMPAKAN)

Kekompakan kelompok berbeda-beda: yakni, sejauh mana anggota merasa tertarik satu sama lain dan termotivasi untuk tetap berada dalam kelompok tersebut. Misalnya, pekerja suatu kelompok kerja yag kompak karena anggota-anggotanya menghabiskan banyak waktu bersama, atau kelompok yang berukuran kecil menyediakan sarana interaksi yang lebih intensif, atau kelompok yang telah berpengalaman dalam menghadapi ancaman dari luar menyebabkan anggotanya lebih dekat satu sama lain. Kekompakan merupakan hal yang penting karena terbukti erat kaitannya dengan produktivitas kelompok. Studi-studi secara konsisten memperlihatkan bahwa hubungan kekompakan dengan produktivitas tergantung pada norma kinerja yang dibangun oleh kelompok tersebut. Semakin kompak kelompok tersebut, para anggota semakin mengarah pada tujuannya. Jika norma kinerja tinggi (misalnya, output tinggi, pekerjaan berkualitas, kerja sama dengan individu di luar kelompok), maka suatu kelompok yang kompak akan lebih produktif daripada kelompok yang kurang kompak. Namun, jika kekompakannya tinggi dan norma kinerjanya rendah, produktivitasnya akan rendah. Jika kekompakannya rendah dan norma kinerjanya tinggi, maka produktivitas meningkat, namun kurang dari kelompok yang tinggi nilai kekompakannya dan tinggi situasi

normanya. Bila kekompakan dan norma kinerjanya rendah, maka tidak aka nada pengaruh yang signifikan terhadap produktivitas.
y

UKURAN

Salah satu dari penemuan yang paling penting sehubungan dengan ukuran dari suatu kelompok deberi nama social loafing (kemalasan sosial). Social loafing maksudnya adalah kecenderungan individu untuk memberikan hanya sedikit usaha ketika bekerja secara kolektif disbanding jika mereka bekerja secara individu. Hal ini secara langsung menantang logika bahwa produktivitas dari kelompok tersebut secara keseluruhan setidaknya harus sama dengan jumlah produktivitas dari seluruh individu di dalam kelompok tersebut. Apa penyebab dari pengaruh social loafing ini? Mungkin ini bersumber dari suatu keyakinan bahwa anggota lain dalam kelompok tersebut tidak melaksanakan bagian tugas mereka dengan seimbang. Jika anda melihat anggota lainnya malas atau enggan, anda dapat menciptakan kembali keseimbangan dengan mengurangi usaha anda. Penjelasan lainnya adalah penyebaran tanggung jawab. Karena hasil-hasil dari kelompok tersebut tidak mungki diberikan oleh seorang saja, maka hubungan antara input individu dan output kelompok menjadi tidak jelas. Dalam situasi seperti itu, individu-individu dapat tergoda untuk menjadi ³penumpang gratis (free riders)´ dan mengandalkan pada usaha-usaha kelompok. Dengan kata lain, aka nada reduksi dalam efisiensi bila individu berpikir bahwa kontribusi mereka tidak diukur.
y

KOMPOSISI

Kebanyakan aktivitas kelompok memerlukan berbagai kemampuan dan pengetahuan. Dengan syarat tersebut, maka akan lebih logis untuk menyimpulkan bahwa kelompok-kelompok heterogen ± mereka yang terdiri dari individu-individu yang tidak sama ± mungkin akan lebih memiliki kemampuan dan informasi yang beragam dan mestinya lebih efektif dibandingkan dengan kelompok-kelompok yang homogen.

y

STATUS

Status merupakan perbedaan peningkatan gengsi, posisi, atau peringkat di dalam suatu kelompok. Status tersebut mungkin ditentukan secara formal oleh suatu kelompok; yakni, ditentukan secara organisasi, melalui titel atau gelar seperti ³juara kelas berat dunia´ atau ³ yang paling menyenangkan.´ Kita akrab dengan segala jebakan yang berhubungan dengan status yang tinggi secara organisasional ± kantor yang besar dengan karpet yang tebal, titel yang mengesankan, bayaran yang tinggi dan tunjangan yang besar, jadwal kerja yang boleh dipilih sendiri, dan sebagainya. Apakah pihak berwenang mengakui keberadaan hierarki status atau sebaliknya, organisasi dipenuhi dengan gelar yang tidak umum untuk semua orang dan karenanya, member nilai status.

[1] R. K. Merton, Social Theory and Social Structure (New York: Free Press, 1968); dan S. E. Jackson dan R. S. Schuler, ³A Meta-Analysis and Conceptual Critique of Research on Role Ambiguity and Role Conflict in Work Settings,´ Organizational Behavior and Human Decision Processes, Agustus 1985, hlm. 16-78. 3. INDIVIDU DALAM KELOMPOK Berikut ini adalah beberapa penjelasan berupa alasan dan manfaat mengapa orang-orang tergabung di dalam kelompok. Mengapa Orang-orang Bergabung dalam Kelompok? Alasan Manfaat Dengan bergabung dalam suatu kelompok, para individu dapat mengurangi rasa ketidakamanan untuk ³berdiri sendiri.´ Orang-orang merasa lebih kuat, Keamanan memiliki lebih sedikit keragu-raguan pada diri-sendiri, dan menjadi lebih resisten terhadap ancaman ketika mereka merupakan bagian dari suatu kelompok. Status Masuknya ke dalam suatu kelompok dianggap penting karena kelompok memberikan pengakuan dan status bagi para anggotanya.

Kelompok dapat memberikan perasaan akan berharganya seseorang. Di Harga Diri samping memberikan status pada mereka yang berada di luar kelompok tersebut, keanggotaan juga member tambahan perasaan berharga sebagai anggota dari kelompok itu sendiri. Kelompok dapat memenuhi kebutuhan social. Orang-orang yang menikmati interaksi yang regular yang berasal dari keanggotaannya dalam suatu Afiliasi kelompok. Bagi banyak orang, interaksi µon the job¶ merupakan sumber utama bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan mereka akan keanggotaan (afiliasi). Apa yang tidak dapat dicapai secara individu seringkali mungkin terwujud Kekuasaan melalui aksi kelompok. Jumlah yang banyak menyebabkan adanya kekuasaan. Ada saat-saat dibutuhkan lebih dari satu orang untuk menyelesaikan suatu tugas tertentu ± ada kebutuhan untuk mengumpulkan banyak bakat, Pencapaian Tujuan pengetahuan, atau kekuasaan agar suatu pekerjaan dapat diselesaikan. Dari contoh-contoh tersebut, maka pihak manajemen akan mengandalkan penggunaan kelompok formal. Tidak akan hanya satu alasan saja yang menjelaskan mengapa para individu bergabung dalam suatu kelompok. Kebanyakan orang menjadi milik dari sejumlah kelompok, jadi jelaslah bahwa kelompok yang berbeda memberikan keuntungan yang berbeda bagi anggotanya. Alasan-alasan diatas tadi merangkum alasan-alasan yang popular mengapa orang-orang bergabung dalam sebuah kelompok. 4. PERILAKU DALAM KELOMPOK Mana yang lebih baik, performance kelompok atau performance individu? Pertanyaan di atas seringkali muncul karena ada adagium yang berbunyi ³dua kepala lebih baik daripada yang dikerjakan oleh seorang individu´. Adagium itu ada benarnya dalam beberapa kasus, karena kelompok memungkinkan orang saling tukar informasi dan pendapat. Interaksi dalam kelompok bisa menghasilkan ide dan solusi baru. Kelompok memiliki pengetahuan yang luas dan probabilitas yang lebih besar bahwa seseorang dalam kelompok akan memiliki pengetahuan

khusus yang relevan dengan persoalan kelompok. Namun demikian, kelompok juga tidak selalu menghasilkan keputusan yang lebih baik. Dalam kelompok tidak semua orang memberikan kontribusi secara bersamaan, melainkan individu harus menunggu giliran. Akibat giliran dalam mengungkapkan pendapat ini, di antara anggota kelompok seringkali mengalami production blocking, terganggu pikirannya, atau kehilangan motivasi untuk berpartisipasi (malas). Individu kadang tidak mau berbagi (sharing) dalam memberikan informasinya. Meskipun performance kelompok seringkali lebih baik daripada performance rata-rata individu, seringkali performance itu di bawah standart individu, terutama bila anggota kelompoknya umumnya relatif lemah kemampuannya. Di dalam kelompok juga bisa terjadi social impact (Latane & Nida, 1981), yaitu suatu penggolongan anggota dalam suatu kelompok. Bila kelompoknya mayoritas maka pengambilan keputusannya akan sangat efektif, sebaliknya bila kelompoknya minoritas, maka sering kali orang mengalami kekecewaan, karena merasa tidak diperhatikan. Berikut ini adalah beberapa pengaruh orang lain pada performance (Perilaku Individu). 1. Kehadiran orang lain bisa mempengaruhi usaha (effort) seseorang. Bentuk dari efek ini antara lain: persaingan (rivalry), fasilitasi sosial, dan social loafing. Rivalry merupakan peningkatan motivasi dan usaha seseorang pada suatu kompetisi. Fasilitasi sosial merupakan peningkatan usaha seseorang karena mengetahui orang lain yang juga melakukan hal yang sama. Sedangkan social loafing merupakan menurunnya kinerja seseorang dalam kelompok bila dibandingkan dengan kerja individual. 2. Kehadiran orang lain menyebabkan meningkatnya Arousal. Robert Zajonc menyatakan bahwa kehadiran orang lain dapat meningkatkan drive atau tingkat arousal. Performance akan meningkat bila bentuk perilakunya itu sederhana, dikuasai, dan responya sesuai dengan situasi yang berlangsung. Sebaliknya, performance akan menurun, bila responnya kompleks, dan tidak dikuasai. Kehadiran orang lain dapat menyebabkan distraksi (konflik performance) dan evaluasi. Bila seseorang itu sadar bahwa ia memiliki audiens, ia mungkin cenderung mengalami dua konflik yaitu: memperhatikan pada tugas (pool position) atau memperhatikan audiensnya. Konflik ini

menyebabkan meningkatnya arousal dan pada akhirnya dapat meningkatkan kecenderungan untuk memberikan respon secara dominan. Bila audiens dirasakan mengevaluasi performance seseorang maka performance seseorang akan terpengaruh kadang meningkat dan kadang menurun. 5. PENGAMBILAN KEPUTUSAN KELOMPOK Berikut ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan kelompok : 1) Komposisi kelompok. Ada 4 hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun komposisi

kelompok. a) b) c) penerimaan tujuan umum; mempengaruhi kerjasama dan tukar informasi. pembagian (divisibilitas) tugas kelompok; tidak semua tugas dapat dibagi. komunikasi dan status struktur; biasanya yang osisinya tertinggi paling mendominasi dalam

kelompok. d) ukuran kelompok; semakin besar kelompok semakin menyebar opini, konsekuensinya

adalah semakin lemah partisipasi individu dalam kelompok tersebut. 2) Kesamaan anggota kelompok. Keputusan kelompok akan cepat dan mudah dibuat bila

anggota kelompok sama satu dengan yang lain. 3) Pengaruh (pengkutuban) polarisasi kelompok. Seringkali keputusan yang dibuat kelompok

lebih ekstrim dibandingkan keputusan individu. Hal itu disebabkan karena adanya perbadingan sosial. Tidak semua orang berada di atas rata-rata. Oleh karena itu, untuk mengimbanginya perlu dibuat keputusan yang jauh dari pendapat orang tersebut. Cara lain untuk memahami komunikasi dalam kelompok adalah dengan melihat bagaimana suatu kelompok menggunakan metode-metode tertentu untuk mengambil keputusan terhadap masalah yang dihadapi. Dalam dataran teoritis, kita mengenal empat metode pengambilan keputusan, yaitu kewenangan tanpa diskusi (authority rule without discussion), pendapat ahli (expert

opinion), kewenangan setelah diskusi (authority rule after discussion), dan kesepakatan (consensus). B.LATAR BELAKANG TEORI GROUPTHINK Group think Merupakan proses berpikir dan mengambil keputusan ketika kelompok menghadapi keputusan yang penuh stres, mereka menjadi lebih memperhatikan adanya kesempatan daripada mengevaluasi fakta-fakta yang muncul dalam situasi yang dipikirkan. Hal ini bisa saja terjadi karena kelompok melakukan devensive avoidance, yaitu mencoba menghindari informasi yang mungkin menyebabkan kecemasan. Konsep groupthink merupakan hasil dari kohesivitas dalam kelompok yang pertama kali dibahas secara mendalam oleh Kurt Lewin di tahun 1930 sejak itu groupthink dilihat sebagai variable penting untuk efektifitas kelompok Kemudian groupthink dirumuskan menjadi teori groupthink dari penelitian panjang oleh Irvin L Janis. Melalui karya ¶Victims of Groupthink : A Psychological Study of Foreign Decisions and Fiascoes (1972)¶, Janis menggunakan istilah groupthink untuk menunjukkan suatu mode berpikir sekelompok orang yang sifatnya kohesif (terpadu), ketika usaha-usaha keras yang dilakukan anggota-anggota kelompok untuk mencapai kata mufakat (kebulatan suara) telah

mengesampingkan motivasinya untuk menilai alternatif-alternatif tindakan secara realistis. Dari sinilah groupthink dapat didefinisikan sebagai satu situasi dalam proses pengambilan keputusan yang menunjukkan tumbuhnya kemerosotan efisiensi mental, pengujian realitas, dan penilaian moral yang disebabkan oleh tekanan-tekanan kelompok (Mulyana, 1999: ). Sementara groupthink menurut Rakhmat (2005) adalah proses pengambilan keputusan yang terjadi pada kelompok yang sangat kohesif, di mana anggota-anggota berusaha mempertahankan konsensus kelompok sehingga kemampuan kritisnya menjadi tidak efektif lagi. Dalam definisi tersebut, groupthink meninggalkan cara berpikir individual dan menekankan pada proses kelompok. Sehingga pengkajian atas fenomena kelompok lebih spesifik terletak pada proses pembuatan keputusan yang kurang baik, serta besar kemungkinannya akan menghasilkan keputusan yang buruk dengan akibat yang sangat merugikan kelompok (Sarwono, 1999).

Selanjutnya diperjelas oleh Janis, bahwa kelompok yang sangat kompak (cohesiveness) dimungkinkan terlalu banyak menyimpan atau menginvestasikan energi untuk memelihara niat baik dalam kelompk ini, sehingga mengorbankan proses keputusan yang baik dari proses tersebut Kelompok dapat menghindari Groupthink dengan dua tahap: discouraging leader bias, dan menghindari isolasi kelompok. Kelompok jangan sampai dominan, dan memberikan kepada anggota untuk mengkritik. Untuk menghindari isolasi kelompok, rencana kebijakan kelompok dapat dibagi ke dalam sub grup dan dan sub grup ini bertemu untuk membahas tujuan kelompok secara terpisah, dengan pemimpin masing-masing sub group yang berbeda dengan pemimpin semula. C.Esensi Teori Lahirnya konsep groupthink didorong oleh kajian secara mendalam mengenai komunikasi kelompok yang telah dikembangkan oleh Raimond Cattel, yaitu melalui penelitian yang difokuskan pada kepribadian kelompok sebagai tahap awal. Teori yang dibangun menunjukkan bahwa terdapat pola-pola tetap dari perilaku kelompok yang dapat diprediksi, yaitu : 1. Sifat-sifat dari kepribadian kelompok 2. Struktur internal hubungan antar anggota 3. Sifat keanggotaan kelompok Temuan teoritis tersebut masih belum mampu memberikan jawaban atas suatu pertanyaan yang berkaitan dengan pengaruh hubungan antar pribadi dalam kelompok. Hal inilah yang memunculkan satu hipotesis dari Janis untuk menguji beberapa kasus terperinci yang ikut memfasilitasi keputusan-keputusan yang dibuat kelompok. Hasil pengujian ilmiah yang dilakukan Janis, menunjukkan bahwa terdapat satu kondisi yang mengarah pada munculnya kepuasan kelompok yang tinggi, tetapi tidak dibarengi dengan hasil keputusan kelompok yang baik (ineffective output). Asumsi penting dari groupthink, sebagaimana dikemukakan West dan Turner (2007) adalah:

1. Terdapat kondisi-kondisi di dalam kelompok yang mempromosikan kohesivitas tinggi. 2. Pemecahan masalah kelompok pada intinya merupakan proses yang menyatu. 3. Kelompok dan pengambilan keputusan oleh kelompok sering kali bersifat kompleks. Hasil akhir analisis Janis,menunjukkan beberapa dampak negatif dari pikiran kelompok dalam membuat keputusan, yaitu : 1. Diskusi amat terbatas pada beberapa alternatif keputusan saja. 2. Pemecahan masalah yang sejak semula sudah cenderung dipilih, tidak lagi dievaluasi atau dikaji ulang. 3. Alternatif pemecahan masalah yang sejak semula ditolak, tidak pernah dipertimbangkan kembali. 4. Tidak pernah mencari atau meminta pendapat para ahli dalam bidangnya. 5. Kalau ada nasehat atau pertimbangan lain, penerimaannya diseleksi karena ada bias pada pihak anggota. 6. Cenderung tidak melihat adanya kemungkinan-kemungkinan dari kelompok lain akan melakukan aksi penentangan, sehingga tidak siap melakukan antisipasinya. 7. Sasaran kebijakan tidak disurvei dengan lengkap dan sempurna. Ilustrasi analisis Janis selanjutnya mengungkapkan kondisi nyata suatu kelompok yang dihinggapi oleh pikiran kelompok, yaitu dengan menunjukkan delapan gejala perilaku kelompok sebagai berikut. 1. Persepsi yang keliru (illusions), bahwa ada keyakinan kalau kelompok tidak akan terkalahkan.

2. Rasionalitas kolektif, dengan cara membenarkan hal-hal yang salah sebagai seakan-akan masuk akal. 3. Percaya pada moralitas terpendam yang ada dalam diri kelompok. 4. Stereotip terhadap kelompok lain (menganggap buruk kelompok lain). 5. Tekanan langsung pada anggota yang pendapatnya berbeda dari pendapat kelompok. 6. Sensor diri sendiri terhadap penyimpangan dari konsensus kelompok. 7. Ilusi bahwa semua anggota kelompok sepakat dan bersuara bulat. 8. Otomatis menjaga mental untuk mencegah atau menyaring informasi-informasi yang tidak mendukung, hal ini dilakukan oleh para penjaga pikiran kelompok (mindguards). Sejalan dengan itu, teori mengenai keputusan kelompok yang dikembangkan oleh Hirokawa, memberikan beberapa kontribusi pemikiran mengenai kesalahan keputusan yang menganggap sepele penyimpulan dari suatu proses pengambilan keputusan, yaitu: 1. Penafsiran yang tidak akurat terhadap suatu permasalahan yang dihadapi oleh kelompok. 2. Sumber gangguan dalam proses pengambilan keputusan, terletak pada ketidaktepatan menentukan sasaran dan objek yang dikaji. 3. Ketidaktepatan menentukan taraf kualitas penafsiran mengenai baik-buruk dan benarsalah. 4. Kelompok sengaja dibiarkan membangun ketidakakurasian dalam mengambil informasi dan sumbernya, kadangkala terjadi penampilan terhadap informasi yang bernilai valid dan sebaliknya. Sedangkan banyak informasi bahkan tidak tertata atau terseleksi dengan baik dan semakin membingungkan, namun informasi yang kurang berarti justru dengan mudah terungkapkan.

5. Kelompok boleh jadi melakukan kesalahan dengan alasan keliru dalam menyerap informasi dari sumbernya, namun hal ini dapat teratasi dengan pendekatan komunikatif dari para anggotanya. Berdasarkan penelitian yang berkembang pada periode selanjutnya, diperoleh hipotesisi mengenai faktor-faktor determinan yang terdapat pada pikiran kelompok, yaitu (Sarwono, 1999) : 1. Faktor Anteseden Kalau hal-hal yang mendahului ditujukan untuk meningkatkan pikiran kelompok, maka keputusan yang dibuat oleh kelompok akan bernilai buruk. Akan tetapi, kalau hal-hal yang mendahului ditujukan untuk mencegah pikiran kelompok, maka keputusan yang akan dibuat oleh kelompok akan bernilai baik. 2. Faktor Kebulatan Suara Kelompok yang mengharuskan suara bulat justru lebih sering terjebak dalam pikiran kelompok, dari pada yang menggunakan sistem suara terbanyak . 3. Faktor Ikatan Sosial-Emosional Kelompok yang ikatan sosial-emosionalnya tinggi cenderung mengembangkan pikiran kelompok, sedangkan kelompok yang ikatannya lugas dan berdasarkan tugas belaka cenderung lebih rendah pikiran kelompoknya. 4. Toleransi terhadap Kesalahan Pikiran kelompok lebih besar kalau kesalahan-kesalahan dibiarkan dari pada tidak ada toleransi atas kesalahan-kesalahan yang ada . Setelah dilakukan pengujian atas berbagai hipotesis tersebut, serta didukung oleh data-data historis dari peristiwa sukses di Amerika khususnya disebabkan oleh proses yang baik dalam pembuatan keputusan kelompok, maka ada beberapa saran untuk pemimpin kelompok, sebagai

upaya mencari jalan keluar dari belenggu pikiran kelompok. Untuk itu pemimpin kelompok perlu melaksanakan aktifitas dengan mengkondisikan kelompok seperti berikut ini. 1. Menyampaikan secara terbuka mengenai kemungkinan tumbuhnya pikiran kelompok dengan sengaja konsekuensinya. 2. Ditekankan perlu adanya keberpihakan atas posisi yang lain. 3. Meminta evaluasi secara kritis dari setiap anggota, dengan memberikan dorongan dan menguraikan keraguan. 4. Tunjuk satu atau dua orang untuk menjadi kritikus kelompok. 5. Saat tertentu kelompok perlu dipecah menjadi lebih kecil dan efektif, dan saat kemudian dikembalikan seperti semula untuk memperoleh peran yang maksimal dari setiap anggota. 6. Menyediakan cukup waktu untuk mempelajari keberadaan kelompok lain (saingan), dengan mengidentifikasi tanda-tanda atau pernyataan-pernyataan ataupun kemungkinan lainnya yang dinilai membahayakan. 7. Setelah keputusan sementara dicapai, dimintakan kepada anggota untuk mengevaluasi kembali dalam kesempatan yang berbeda. 8. Menyediakan waktu untuk mengundang pakar-pakar dalam menghadiri pertemuan kelompok, guna mengkritisi atau menolak pandangan kelompok. 9. Membuka kemungkinan adanya anggota kelompok untuk selalu mendiskusikan secara terbuka di forum lain, dengan catatan hasilnya semata-mata untuk kelompok. 10. Membuat beberapa kelompok yang bebas tidak saling bergantung (independent), untuk bekerja secara bersama dalam memecahkan suatu persoalan. Proses pembuatan keputusan yang menggunakan kiat-kiat tersebut, dapat memakan waktu yang panjang. Namun manfaat yang dapat diperoleh sangat luar biasa, yaitu kepastian mengurangi

kesalahan sampai tingkat terendah dari proses pengambilan keputusan. Dengan demikian dapat diperoleh gambaran lebih nyata, bahwa untuk mencapai keputusan kelompok yang baik, maka pikiran kelompok harus diubah menjadi pikiran tim. Sedangkan untuk memperoleh pelaksanaan prosedur yang baik dan akurat, sedapat mungkin dikurangi desakan yang didasarkan pada alasan keterbatasan waktu (Sarwono, 1999). Sebagaimana teori-teori lainnya, teori groupthink juga tak lepas dari kritik. Mereka yang mengkritik teori ini, antara lain adalah: 1. Aldag dan Fuller (1993) Menurut Aldag dan Fuller, analisis groupthink bersifat retrospektif (berlaku surut), sehingga Janis dapat mengambil bukti-bukti yang mendukung teorinya saja. Keterpaduan kelompok itu sendiri belum tentu menimbulkan pikiran kelompok. Misalnya perkawinan dan keluarga, dapat tetap terpadu atau kohesif tanpa menimbulkan pikiran kelompok, dengan tetap membiarkan perbedaan pendapat tanpa mengurangi keterpaduan itu sendiri. 2. Tetlock, dkk (1992) Tetlock, et.al menilai, fakta sejarah membuktikan bahwa ada juga kelompok-kelompok yang sudah mengikuti prosedur yang baik, namun tetap melakukan kesalahan, misalnya ketika Presiden Carter dan penasehat-penasehatnya merencanakan pembebasan sandera di Iran pada tahun 1980. Operasi itu gagal total dan Amerika Serikat dipermalukan, walaupun kelompok itu sudah mengundang berbagai pendapat dari luar dan memperhitungkan segala kemungkinan secara realistik. 3.Turner & Pratkanis (1998)

The unconditional acceptance of the groupthink phenomenon without due regard to the body of scientific evidence surrounding it leads to unthinking conformity to a theoretical standpoint that may be invalid for the majority of circumstances"

4.McCauley (1989)

"Telah ada penelitian sangat sedikit yang ditujukan Janis hipotesis ... Hasil memanipulasi kohesi relatif lemah dan tidak pasti "

5.Brown (2000)

³It clearly is not the case, as Janis had surmised, that cohesion leads to poor decision making. Indeed, all the evidence suggests that it is unrelated to decision quality or may even be associated with better decision processes´

6.Raven (1998)

" Even if most of us can identify some flaws in the groupthink analysis, we would still give Janis a lot of credit for his careful and scholarly analysis, his relating a broad body of literature and group processes and group dynamics to the understanding of the new series of very significant social political events´
"Bahkan jika sebagian besar dari kita dapat mengidentifikasi beberapa kelemahan dalam analisis groupthink, kita masih akan memberikan Janis banyak kredit untuk analisis yang cermat dan ilmiah, terkait dengan kerangaka literature dan proses kelompok groupthink dan dinamika kelompok untuk memahami teori pemikiran baru dalam masalah social politik yang signifikan

D. ASUMSI GROUPTHINK Dalam hal ini Irving Janis memfokuskan penelitiannya pada Problem-Solving Group dan taskoriented group, yang mempunyai tujuan utamanya yaitu untuk mengambil keputusan dan memberikan rekomendasi kebijakan akan solusi-solusi yang ada. Berikut merupakan 3 asumsi penting dalam Groupthink Theory : 1. Kondisi-kondisi di dalam kelompok yang mempromosikan kohesivitas yang tinggi.

Ernest Bormann mengamati bahwa anggota kelompok sering kali memiliki perasaan yang sama atau investasi emosional, maka mereka cenderung untuk mempertahankan identitas kelompok. Pemikirian kolektif ini biasanya menyebabkan sebuah kelompok memiliki hubungan yang baik, tetap bersatu, memiliki semangat kebersamaan dan memiliki kohesivitas tinggi. Kohesivitas : batasan dimana anggota-anggota suatu kelompok bersedia untuk bekerja sama. Atau bisa dibilang, rasa kebersamaan dari kelompok tersebut. Kelompok dimana anggotanya saling tertarik dengan sikap, nilai dan perilaku anggota lainnya cenderung dapat dikatakan kohesif. 2. Pemecahan masalah di dalam kelompok pada dasarnya merupakan proses yang terpadu. Para anggota biasanya berusaha untuk dapat bergaul dengan baik. Dennis Gouran mengamati bahwa kelompok-kelompok rentan terhadap batasan afiliatif (affiliative constraints), yang berarti bahwa anggota kelompok lebih memilih untuk menyimpan masukan atau pendapat mereka daripada mengambil risiko pendapat mereka ditolak. Menurut Gouran, mereka akan cenderung untuk ³memberikan perhatian lebih pada pemeliharaan kelompok daripada isu-isu yang sedang dipertimbangkan´. Oleh karena itu, anggota kelompok lebih tertarik mengikuti pemimpin saat pengambilan keputusan tiba. 3. Kelompok dan pengambilan keputusan oleh kelompok sering kali bersifat kompleks. Usia, sifat kompetitif, ukuran, kecerdasan, komposisi gender gaya kepemimpinan dan latar belakang budaya dari para anggota kelompok dapat mempengaruhi proses-proses yang terjadi di dalam kelompok. Seperti misalnya karna banyak budaya yang tidak menghargai komunikasi yang terbuka dan ekspresif, beberapa anggota kelompok akan menarik diri dari perdebatan atau dialog, dan hal ini mungkin dapat membuat anggota kelompok yang lain heran, serta bisa mempengaruhi persepsi dari para anggota kelompok, baik yang partisipatif ataupun yang nonpartisipatif. Oleh karena itu, kelompok dan keputusan kelompok dapat menjadi lebih sulit, tetapi biasanya melalui kerja kelompok, orang dapat mencapai tujuan mereka lebih baik dan efisien.

E.FAKTOR TERBENTUKNYA GROUPTHINK Kohesivitas Kelompok Kohesivitas kelompok mendukung terjadinya groupthink. Di dalam kelompok yang memiliki kohesivitas yang tinggi akan lebih antusias mengenai tugastugas mereka, dan anggotanya merasa dimampukan untuk melaksanakan tugas-tugas tambahan, karena kelompok mereka sangat kompak atau kohesif. Walaupun terdapat keuntungannya, tetapi kelompok yang sangat kohesif juga bisa memberikan tekanan yang besar pada anggota kelompoknya untuk memenuhi standard kelompok. Dan biasanya anggota kelompok tidak bersedia untuk mengemukakan keberatan mereka mengenai solusi yang diambil. Maka Irving Janis berpendapat bahwa kohesivitas menuntun kepada groupthink. Faktor Struktural Karakteristik struktural yang spesifik, atau kesalahan, mendorong terjadinya groupthink. Faktor-faktor ini juga termasuk isolasi kelompok, kurangnya kepemimpinan imparsial, kurangnya prosedur yang jelas dalam mengambil keputusan, dan homogenitas latar belakang anggota kelompok. Isolasi kelompok (group insulation) Merujuk pada keinginan kelompok untuk tidak terpengaruh oleh pihak di luar kelompok. Padahal ada kemungkinan bahwa pihak di luar kelompok dapat membantu dalam pengambilan keputusan. Kurangnya kepemimpinan imparsial (lack of impartial leadership) Anggota kelompok dipimpin oleh orang yang memiliki minat pribadi terhadap hasil akhir. Pemimpin berpendapat bahwa opini lain akan merugikan rencananya, dan kepemimpinan alternatif ditekan. Kurangnya prosedur pengambilan keputusan (lack of decision making procedures) Beberapa kelompok memiliki prosedur untuk mengambil keputusan; kegagalan untuk memiliki norma yang telah disepakati untuk mengevaluasi suatu masalah dapat menimbulkan groupthink. Jika ada masalah di suatu kelompok, mereka masih harus mencari penyebabnya dan sejauh apa masalah teresebut. Homogenitas latar belakang (Homogenity of members¶ backgrounds)

Tanpa keragaman latar belakang sosial, pengalaman dan ideology akan mempersulit sebuah kelompok untuk mendebat masalah yang penting. Tekanan Kelompok (Group Stress) Tekanan internal dan eksternal (internal and external stress) yang dialami kelompok dapat menuntun kepada groupthink. Jika suatu kelompok dalam membuat keputusan sedang mengalami tekanan yang berat ± baik disebabkan oleh dorongan-dorongan dari luar maupun dari dalam kelompok ± mereka cenderung tidak dapat menguasai emosi, sehingga dapat mencari segala cara agar masalah dapat cepat diselesaikan tanpa memikirkan akal sehat, maka kelompok tersebut sedang menuju groupthink. F.GEJALA-GEJALA GROUPTHINK a. Penilaian Berlebihan terhadap Kelompok / Overestimation of the Group (keyakinan yang keliru, suatu kelompok lebih dari dirinya yang sebenarnya) Ilusi Akan Ketidakrentanan (illusion of invulnerability) Kelompok ini memiliki keyakinan bahwa mereka cukup istimewa atau hebat untuk mengatasi rintangan-rintangan. Kelompok ini percaya bahwa mereka tidak terkalahkan. Keyakinan akan Moralitas yang Tertanam di dalam Kelompok Kelompok ini memiliki keyakinan bahwa anggota-anggota kelompoknya bijaksana dan memiliki moral yang baik, sehingga keputusan yang mereka buat juga akan baik pula. Anggota kelompok ini membersihkan diri dari rasa malu atau bersalah, walaupun mereka tidak mengindahkan moral dari keputusan mereka. b. Ketertutupan Pikiran / Closed-Mindedness (tidak mengindahkan pengaruh-pengaruh dari luar terhadap kelompok) Stereotip Kelompok Luar (out group stereotypes) Kelompok memiliki persepsi stereotip terhadap kelompok lawannya (musuhnya), yaitu menekankan bahwa kelompok lawan terlalu lemah atau terlalu bodoh untuk membalas taktik mereka yang ofensif. Rasionalisasi Kolektif (collective rationalization)

Situasi dimana kelompok tidak mengindahkan peringatan-peringatan yang dapat mendorong mereka untuk mempertimbangkan kembali pemikiran mereka sebelum mereka mencapai keputusan akhir. c. Tekanan untuk Mencapai Keseragaman / Pressures Toward Uniformity (terjadi ketika para anggota kelompok berusaha untuk menjaga hubungan baik antar anggota) Sensor Diri (self-censorship) Kecenderungan para anggota kelompok untuk meminimalkan keraguan mereka dan argumen-argumen yang menentang terhadap pemikiran mereka. Membungkam pemikiran-pemikiran pribadi yang menentang pemikiran kelompok dan menggunakan retorika kelompok dapat memperkuat keputusan-keputusan kelompok. Ilusi akan Adanya Kebulatan Suara (illusion of unanimity) Menganggap kalu diam itu artinya setuju. Karna biasanya dalam groupthink anggota mengikuti pemimpin, sehingga keputusan pemimpin adalah keputusan kelompok, sehingga jika ada anggota yang mempunyai pemikiran yang berbeda dengan pemimpin, anggota lebih memilih diam, maka disinilah dianggap bahwa tidak ada keberatan, dan dianggap bahwa ada kebulatan suara kelompok. Self-Appointed Mindguards Anggota-anggota kelompok melindungi kelompok dari informasi yang tidak mendukung kelompoknya. Para anggota tersebut melakukan mindguard, yaitu seperti menyaring aliran informasi yang bertolak belakang terhadap kelompoknya. Para mindguards yakin bahwa mereka bertindak demi kepentingan kelompok mereka. Tekanan Terhadap Para Penentang (pressures on dissenters) Tekanan atau pengaruh langsung terhadap anggota-anggota kelompok yang menyumbangkan opini, pendapat, pandangan, atau komitmen yang berlawanan terhadap opini mayoritas kelompoknya. G.Dampak Negative Groupthink a. Diskusi amat terbatas pada beberapa alternatif keputusan saja dan kecenderungan untuk mengkompromikan solusi walaupun kualitasnya rendah.

b. Pemecahan masalah yang sejak semula sudah cenderung dipilih, tidak lagi dievaluasi atau dikaji ulang. c. Alternatif pemecahan masalah yang sejak semula ditolak, tidak pernah dipertimbangkan kembali. d. Tidak pernah mencari atau meminta pendapat para ahli dalam bidangnya. e. Kalau ada nasehat atau pertimbangan lain, penerimaannya diseleksi karena ada bias pada pihak anggota. f. Cenderung tidak melihat adanya kemungkinan-kemungkinan dari kelompok lain akan melakukan aksi penentangan, sehingga tidak siap melakukan antisipasinya. g. Sasaran kebijakan tidak disurvei dengan lengkap dan sempurna. h. Pengaruh yang tak layak dari grup dinamis (contoh, dominasi waktu, topik, atau opini dari satu atau segelintir individu; ketakutan untuk bicara; kekakuan suasana). i. Kecenderungan untuk mengulangi apa yang sudah dibicarakan

H.Mencegah Terjadinya Groupthink Dibutuhkan adanya supervisi dan kontrol (membentuk komite parlementer) i. ii. iii. Mengembangkan sumber daya untuk memonitor proses pembuatan kebijakan. Memberi dukungan akan adanya intervensi. Mengaitkan kepentingan nasib dengan nasib anggota lain.

Mendukung adanya pelaporan kecurangan (suarakan keraguan) i. ii. iii. Hindari menekan kekhawatiran akan keputusan kelompok Terus tidak sepakat dan mendebat ketika tidak ada jawaban yang memuaskan Pertanyakan asumsi

Mengizinkan adanya keberatan (lindungi conscientious objectors) i. ii. iii. Berikan jalan keluar bagi para anggota kelompok Jangan menganggap remeh implikasi moral dari sebuah tindakan Dengarkan kekhawatiran pribadi anggota akan isu-isu etis di kelompok

Menyeimbangkan consensus dan suara terbanyak (mengubah pilihan pengaturan peraturan) i. ii. iii. Kurangi tekanan kepada anggota kelompok yang berada pada posisi minoritas Mencegah terjadinya subkelompok (peer group) Memperkenalkan pendekatan yang pengambilan keputusan I. Contoh Peristiwa Groupthink Kajian groupthink menemukan fakta menarik bahwa banyak peristiwa penting yang berdampak luas disebabkan oleh keputusan sekelompok kecil orang, yang mengabaikan informasi dari luar mereka. 1.Misalnya dalam peristiwa Pearl Harbour (1941) mendukung banyak pendapat dalam

keputusan fatal diambil karena mengabaikan informasi penting intelejen sebelumnya.Mingguminggu menjelang penyerangan Pearl Harbour di bulan Desember 1941 yang menyebabkan Amerika Serikat terlibat Perang Dunia II, komandan-komandan militer di Hawaii sebetulnya telah menerima laporan intelejen tentang persiapan Jepang untuk menyerang Amerika Serikat di suatu tempat di Pasifik. Akan tetapi para komandan memutuskan untuk mengabaikan informasi itu karena menganggap remeh bahwa kemampuan pesawat tempur Jepang tidak bisa terbang sampai Pearl Harbour . Akibatnya, Pearl Harbour sama sekali tidak siap untuk diserang. Tanda bahaya tidak dibunyikan sebelum bom-bom mulai meledak. Walhasil, perang mengakibatkan 18 kapal tenggelam, 170 pesawat udara hancur dan 3700 orang meninggal.

2. Meledaknya Pesawat Ruang Angkasa Challenger.Padahal salah satu mekaniknya sudah faham kalau ada yang tidak beres dengan pesawat tersebut, sebelum diadakan peluncuran. Tetapi karena kepala mekanik sudah mengatakan bahwa pesawat dalam kondisi siap luncur, maka para anggota mekanik harus menjalankan tugasnya. Akhirnya, pesawat itu meledak diangkasa yang menewaskan seluruh awaknya. Namun para mekanik tetap membela kelompoknya dengan alasan bahwa suatu kecelakaan lumrah saja terjadi. Jadi tidak ada pihak yang salah. Namun tentunya, pengakuan mereka dianggap demikian oleh masyarakat sejauh media massa memberitakannya sesuai dengan alasan seluruh mekanik tersebut.

3. Peristiwa penculikan 14 aktivis mahasiswa dan pro demokrasi tahun 1997-1998

adalah

merupakan suatu contoh terjadinya groupthink oleh Suharto dan para kroninya dimana pada saat itu politik yang berkembang menginginkan adanya reformasi dan demokrasi yang dituntut oleh para mahasiswa kepada pemeritah Suharto , semantara hasil assement dari Kasospol ABRI yang dijabat oleh Susilo Bambang Yudhoyono(1997-1998) memberikan suatu pendapat bahwa ke 14 aktivis prodemokrasi tersebut merupakan factor yang membahayakan bagi kekuasaan pemerintah Suharto dan sangat kental dengan ideology kiri , berdasarkan assement Kasospol ABRI , maka keputusan kelompok kroni Suharto melalui markas besar ABRI mengambil keputusan untuk menghilangkan ke 14 aktivis prodemokrasi tanpa memperhitungkan bahwa pengambilan paksa nyawa manusia serta penculikan adalah merupakan suatu pelanggaran hak asasi manusia dan merupakan kejahatan kemanusiaan yang sangat serius , serta tidak berpikir bahwa efek dari hilangnya ke 14 aktivis malah menimbulkan sentiment anti Suharto yang sangat besar serta menyedot perhatian public internasional yang pada akhirnya meyebabkan lengsernya Suharto

J.Kritik dan Kesimpulan
Groupthink adalah merupakan suatu teori untuk memahami mengenai proses pengambilan keputusan dalam kelompok kecil ,Janis percaya bahwa kelompok kecil tersebut seringkali membuat keputusan dengan konsekwensi yang besar walaupun studynya difokuskan pada kelompok kebijakan asing .terminologi groupthink juga dapat diterapkan pada kelompok pembuat keputusan lainya , dari criteria pengujian sebuah teori ,ada empat yang relevan untuk didiskusikan yaitu 1. HEURISME Teori groupthink adalah teori yang heuristic ,teori ini dalam kajiannya telah banyak digunakan dan banyak mendapatkan perhatian dari ilmuwan komunikasi , psikologi social serta ilmu ekonomi terapan .walaupun sebagian besar dari ilmuwan dapat mengidentifikasi beberapa kelemahan dalam analisis groupthink, Janis masih layak mendapatkan banyak kredit untuk analisis yang cermat dan ilmiah, terkait dengan literature teori dan proses kelompok groupthink dan dinamika kelompok untuk memahami teori pemikiran baru dalam masalah social politik yang signifikan( Raven (1998)) 2.RUANG LINGKUP

Walaupun banyak prinsisp groupthink yang dapat diterapkan dalam pada beberapa tipe kelompok ,Janis telah cukup jelas dalam konseptualisasi awalnya dalam dalam menerapkan groupthink hanya pada kelompok pembuat keputusan dalam periode krisis ,ia tidak menerapkan pada tipe tipe kelompok oleh karenanya ruang lingkup dari teori ini sangat sempit 2.KEMUNGKINAN PENGUJIAN Beberapa peneliti kelompok telah menunjukan beberapa maslah validitas dari teori ini dan karenanya banyak mengundang hal pertanyaan dalam hal kemungkinan pengujiannya ,misalnya Sebuah tinjauan penelitian dan perdebatan mengenai Model groupthink Janis mengarah ke kesimpulan bahwa setelah tiga puluh tahun penyelidikan, sebagian besar bukti gagal mendukung prediksi perumusan lebih ambisius dan kontroversial; khusus yang menghubungkan kondisi anteseden tertentu dengan fenomena groupthink. Selain itu, penelitian di tahun sejak berdirinya teori mengindikasikan bahwa sebagian besar fenomena groupthink yang dijelaskan oleh Janis terjadi dalam berbagai jauh lebih luas dari pengaturan grup daripada yang dia bayangkan awalnya Secara kolektif, data ini sangat menyarankan bahwa Janis keliru ketika mengidentifikasi kondisi-kondisi anteseden yang diperlukan dan cukup untuk groupthink. Dimana sebuah model A ubiquitymodel of groupthink adalah diperkenalkan yang menetapkan sekumpulan direvisi kondisi Anteseden untuk menjelaskan mengapa groupthink-perilaku seperti terjadi pada minim duniawi, sementara dan bahkan kelompok namun bukan merupakan fitur invarian kelompok-pengambilan keputusan. (So right it¶s wrong: Groupthink and the ubiquitous nature of polarized group

decision-making. ,Robert S. Baron Department of Psychology University of Iowa)

3.PENGUJIAN WAKTU BERJALAN Teori groupthink telah berhasil melalui pengujian waktu berjalan ,para peneliti terus banyak meneliti banyak fitur utama teori ini dan teori ini banyak didiskusikan dalam media popular (mass media )pada ulang tahun ke tiga puluh Groupthink Scwartz and Wald (2003 ) meyebut Janis sebagai pelopor dalam ³bidang studi dinamika social ³karena keputusan pemerintah akan selalu ada maka groupthink untuk bertahan dimasa depan juga tetap ada

KESIMPULAN Singkatnya tentang groupthink, terjadi manakala ada semacam konvergenitas pikiran, rasa, visi, dan nilai-nilai di dalam sebuah kelompok menjadi sebuah entitas kepentingan kelompok, dan orang-orang yg berada dalam kelompok itu dilihat tidak sebagai individu, tetapi sebagai

representasi dari kelompoknya. Apa yang dipikirkan, dirasa, dan dilakukan adalah kesepakatan satu kelompok. Tidak sedikit keputusan-keputusan yang dibuat secara groupthink itu yang berlawanan dengan hati nurani anggotanya, maupun orang lain di luarnya. Namun mengingat itu kepentingan kelompok, maka mau tidak mau semua anggota kelompok harus kompak mengikuti arah yang sama agar tercapai suatu kesepakatan bersama Dalam perkembangan teori tentang pengambilan keputusan Groupthink sendiri sering dijadikan suatu asumsi yang negative dalam cara pengambilan keputusan terutama dalam manajemen suatu perusahaan sebab pengambilan keputusan secara kelompok dengan pola groupthink akan menyebabkan minimnya inovasi ,kualitas serta tidak memberikan keunggulan yang kompetitif ,walaupun dalam gejala groupthik dalam kelompok merasakan adanya suatu superioritas dalam kelompok groupthink . Pemikiran secara groupthink juga dalam pengambilan keputusan sangat minim dengan Penilaian situasi (Situational Approach), Analisis persoalan (Problem Analysis), Analisis keputusan (Decision Analysis), Analisis persoalan potensial (Potential Problem Analysis) oleh sebab itu pemikiran secara Groupthink selalu menjadi asumsi yang harus dihindari jika ingin membuat keputusan yang efektif dan efisien dalam menghasilakan suatu feedbak dari keputusan yang diambil. . Sifat narsisisme ada dalam setiap manusia sejak lahir bahkanAndrew Morrison berpendapat bahwa dimilikinya sifat narsisisme dalam jumlah yang cukup akan membuat seseorang memiliki persepsi yang seimbang antara kebutuhannya dalam hubungannya dengan orang lain. Namun apabila jumlahnya berlebihan, dapat menjadi suatu kelainan kepribadian yang bersifat patologis. (Patologi merupakan cabang bidang kedokteran yang berkaitan dengan ciri-ciri dan perkembangan penyakit melalui analisis perubahan fungsi atau keadaan bagian tubuh.) Pemikiran kelompok secara groupthink dimana individu individu yang mempunyai sifat narsisisme bawaan juga bisa meyebabkan timbulnya narsisme kelompok dimana sebuah pola sifat dan perilaku yang dipenuhi obsesi dan Hasrat pada kelompok untuk mengabaikan orang lain, egois, serta tidak memperdulikan orang lain dalam memenuhi kepuasan, dominasi, dan ambisi kelompok .

Model

groupthink dari Janis

ini bisa dibilang aplikasi yang paling luas dipublikasikan

prinsip-prinsip psikologi

untuk pimpinan militer tingkat tinggi, pengambilan keputusan

kelompok politik dan teknis dalam sejarah psikologi eksperimental. Hal ini menarik bagi peneliti yang menawarkan formulasi ini sebagai jembatan menarik antara prinsip-prinsip yang didokumentasikan oleh laboratorium penelitian dan "kehidupan nyata" masalah (misalnya, Janis, 1971). Dengan demikian model "Melegitimasi" pentingnya dekade penelitian akademis tentang pengaruh sosial dan proses kelompok yang banyak berfokus pada penilaian persepsi dan sikap, memiliki sedikit atau tidak ada bahan konsekuensi untuk participants1 DAFTAR PUSTAKA
y y

Em Griffin, A First Look at Communication Theory, McGrraw-Hill Companies, 2003 John Fiske, Introduction to Communication Studies, Sage Publications, 1996Robbins, Stephen P. Prinsip-Prinsip Perilaku Organisasi. Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga, 2002

y y

Latif, Yudi dan Idi Subandy Ibrahim, ed. Bahasa dan Kekuasaan. Bandung: Mizan, 1996 Mulyana, Deddy. Nuansa-Nuansa Komunikasi: Meneropong Politik dan Budaya Komunikasi Masyarakat Kontemporer. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999

y

Padilla, Amando M., dan Perez, William. Acculturation, Social Identity, and Social Cognition: A New Perspective. Hispanic Journal of Behavioral Sciences. Sage Publications, 2003

y

West, R. & Turner, L. H. (2003). Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan 3. Jakarta : Salemba Humanika

Aplikasi. Edisi ke-

y y

Kurt Lewin .Resolving Social Conflicts :Selected Papers on Groups Dynamics(1948)

Rakhmat, Jalaluddin. Psikologi Komunikasi. Cetakan keduapuluhtiga. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005

y

Sofyandi, Herman, dan Iwa Garniwa. Perilaku Organisasional. Edisi Pertama. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007

y

Stephen W. Littlejohn, Theories of Human Communiation, Wadsworth Publication, New Jersey, 1996

y

R. K. Merton, Social Theory and Social Structure (New York: Free Press, 1968); dan S. E. Jackson dan R. S. Schuler, ³A Meta-Analysis and Conceptual Critique of Research on

Role Ambiguity and Role Conflict in Work Settings,´ Organizational Behavior and Human Decision Processes, Agustus 1985, hlm. 16-78.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful