DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH.

2009 /2010 BAB I PENDAHULUAN A. URGENSI PRAKTIK PENGALAMAN LAPANGAN (PPL) 1. Latar Belakang

1

Bicara persoalan pendidikan akan selalu aktual untuk dibahas dan diperbincangkan. Sebab pada hakekatnya pendidikan adalah kebutuhan dasar (basic need) hidup manusia (Firdaus M. Yunus, 2004:27). Dengan kata lain, pendidikan merupakan upaya untuk memanusiakan manusia dalam berproses menuju kedewasaan. Jika demikian pun dapat dikatakan, bahwa manusia tanpa pendidikan tidak akan bisa hidup sebagaimana layaknya seorang manusia. Tentunya sebagai seorang manusia yang sejak lahir, oleh Sang Kholiq sudah disertakan fasilitas berupa akal budi, yang sering disebut dengan potensi. Maka selanjutnya kewajiban manusia untuk mengembangkan talenta tersebut, yang dalam bahasa agama adalah fitrah agar kebahagian hidup baik di dunia dan akherat dapat diraih salah satunya adalah melalui pendidikan. Merupakan tantangan besar bagi sistem pendidikan di negeri ini, dalam menyelenggarakan pendidikan yang terjangkau dan bermutu bagi semua kalangan, guna bersama-sama membangun bangsa yang lebih bermartabat. Kesadaran ini, setidaknya harus dipahami oleh seluruh stake holder pendidikan, mulai dari pemerintah, institusi pendidikan (sekolah, pesantren, tempat kursus, pelatihan, dll), juga masyarakat termasuk orang tua. Terlebih pemerintah yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan pendidikan yang merata dan berkualitas bagi setiap warga negaranya. Lebih jauh berbicara tentang subsistem pendidikan, maka tidak akan terlepas dari beberapa komponen, yakni guru, peserta didik, kurikulum, serta komponen pendukung lainnya. Salah satu yang terpenting dari beberapa hal di atas adalah guru. Guru dalam konteks pendidikan persekolahan adalah orang yang memberi arahan/bimbingan, dan pelatihan ataupun pengajaran kepada peserta didik dalam menjalankan proses

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010

2

pembelajaran. Suatu kekeliruan besar ketika guru dipandang hanya sebagai pen-transfer ilmu pengetahuan yang sering ditemui di ruang kelas. Lebih dari itu, seorang guru merupakan tenaga profesional yang mengusahakan peserta didiknya mampu merencanakan, menganalisis dan menyimpulkan serta mengatasi masalah kekinian dan kedisinian. Profesional di sini dapat diartikan bahwa guru harus mampu menempatkan dirinya sebagai pendidik yang bertanggung jawab atas perkembangan peserta didik, baik di sekolah atau luar sekolah. Hal itu senada dengan pendapat Syaiful B. Djamarah, dalam bukunya, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, dituliskan bahwa guru adalah semua orang yang bertanggung jawab atas perkembangan potensi peserta didik, baik dari aspek knowledge, behaviour, psikomotor, dan estetika dengan cara membimbing, membina, dan mengarahkan baik individual ataupun klasikal di sekolah maupun di luar sekolah. (Syaiful B.Djamarah, 2000:32) Berangkat dari dasar pemikiran di atas, maka sudah menjadi fardlu ain bagi Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, salah satu institusi yang bertujuan menyiapkan tenaga ahli guru Agama Islam dan meningkatkan kompetensi serta profesionalitas dalam bidang kependidikan Islam, yang terdiri dari Pendidikan Agama Islam (PAI), Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Kependidikan Islam (KI), Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyyah (PGMI), dan Tadris (Matematika, Biologi, Kimia, Fisika dan Bahasa Inggris). Tujuan tersebut dapat dilakukan secara profesional, apabila mahasiswa dibekali seperangkat ilmu, maupun pengalaman baik yang bersifat teoritis maupun praktis. Sedangkan pengalaman praktis diberikan melalui kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL). Secara umum kegiatan praktik ini bertujuan untuk memberikan pengalaman nyata dan memperluas pengetahuan mahasiswa dalam pembentukan kompetensi pedagogik, professional, personal maupun sosial sebagai calon pendidik (guru) maupun tenaga kependidikan di sekolah, yang meliputi pengelolaan

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010

3

kelas, administrasi dan manajemen sekolah, dan kegiatan-kegiatan lain yang berhubungan dengan sekolah secara memadai. Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) adalah salah satu program di Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang yang mengupayakan dan mempersiapkan tenaga ahli guru di lingkungan SD/MI, SMP/MTs dan SMA/MA. Untuk mencapai tujuan tersebut Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang memberikan bekal pengetahuan bagi mahasiswa dengan berbagai disiplin ilmu yang terkait dengan pendidikan. Sedangkan untuk memberikan bekal Praktek Pengalaman Lapangan kepada mahasiswa, maka salah satu mata kuliah praktek yang harus ditempuh oleh mahasiswa adalah melaksanakan PPL. Dengan demikian, melalui PPL mahasiswa mampu membimbing, mendorong dan membangkitkan minat dan motivasi peserta didik dalam belajar. Selain itu mahasiswa Fakultas Tarbiyah mempunyai tujuan bahwa pendidikan Islam tidak semata-mata memberikan ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), tetapi juga menanamkan rasa keimanan dan nilainilai ketaqwaan (transfer of value) terhadap Tuhan Yang Maha Esa, serta mengembangkan peserta didik menjadi manusia yang berakhlaqul karimah. Pada dasarnya PPL bukan merupakan satu-satunya rangkaian pembelajaran yang ada di Fakultas Tarbiyah, bahkan di setiap perguruan tinggi maupun sekolah-sekolah kejuruan yang menerapkan sistem perpaduan teori dan praktik, juga melaksanakan program PPL. Maka untuk keseimbangan antara learning to know dan learning to do, serta learning to be, kegiatan PPL yang diorientasikan pada penerjunan langsung mahasiswa pada realitas dunia pendidikan yang ada pada suatu lembaga atau institusi. Agar nantinya ketika lulus dari perguruan tinggi, mahasiswa tidak canggung dan sudah siap melibatkan diri dalam dunia nyata. Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang memiliki kekhususan dibandingkan

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010

4

mahasiswa LPTK lainnya. Sebab tujuan pendidikan agama Islam, tidak hanya mengajarkan ilmu agama dan ketrampilan beribadat saja, tetapi juga menanamkan rasa keimanan dan ketakwaan terhadap Allah SWT serta mengembangkan kepribadian peserta didik menjadi manusia yang memiliki akhlakul karimah. Dalam PPL periode 2009 ini, Fakultas Tarbiyah untuk ketiga kalinya menerjunkan praktikan-pratikan dari mata pelajaran selain agama, yaitu Bahasa Inggris dan MIPA. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa pada khususnya dan Fakultas Tarbiyah pada umumnya untuk menunjukkan potensi-potensi mahasiswa dalam bidang ilmu umum serta tantangan kompetisi dengan universitasuniversitas lain yang ada. 2. Tujuan dan Manfaat PPL Sesuai dengan berbagai alasan yang dikemukakan di atas, juga berdasarkan buku pedoman Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Fakultas Tarbiyah edisi 2009/2010, yang memuat hal ihwal tentang pelaksanaan program PPL tersebut, maka tujuan yang ingin dicapai dalam PPL ini sebagai berikut : a. Membimbing mahasiswa ke arah terbentuknya pribadi yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperlukan dalam pembentukan profesi Guru Pendidikan Agama Islam, Guru Bahasa Arab, Tenaga Kependidikan Islam, Guru Bahasa Inggris, Guru Matematika, Guru Fisika, Guru Biologi dan Guru Kimia. b. Melatih dan meningkatkan kompetensi keguruan mahasiswa agar dapat terampil melaksanakan tugas-tugas kependidikan baik bersifat edukatif, administratif, maupun layanan bimbingan keagamaan, dan kepeserta didikan. c. Memberikan memahami pengalaman kepada mahasiswa untuk dapat segala keberadaan lembaga pendidikan dengan

permasalahannya baik yang berhubungan dengan proses pembelajaran maupun pengelolaan sekolah secara umum.

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010

5

d. Menjalin dan meningkatkan hubungan kerjasama antara Fakultas Tarbiyah dengan sekolah latihan. Sedangkan manfaat yang ingin dicapai dalam PPL ini adalah sebagai berikut: a.
1)

Bagi Mahasiswa Memperdalam pemahaman mahasiswa tentang proses pendidikan di sekolah dengan segala problematikanya.
2)

Memberikan pengalaman lapangan kepada mahasiswa tentang proses pembelajaran dan kegiatan administrasi sekolah. Bagi Sekolah Latihan

b.
1)

Memperoleh kesempatan untuk berperan serta menyiapkan dan membentuk berkompeten. Memperoleh calon guru/tenaga tenaga, kependidikan ilmu, dan Islam yang untuk

2)

bantuan

pemikiran

pengembangan sekolah. c.
1)

Bagi Fakultas Tarbiyah Memperoleh umpan balik (feed back) dari pengalaman mahasiswa praktikan terhadap perkembangan kependidikan di lapangan bagi penyesuaian dan pengembangan program akademik Fakultas Tarbiyah.
2)

Meningkatkan

kerjasama

dengan

sekolah

latihan

untuk

mengembangkan Tri Darma Perguruan Tinggi. 3. Metode Pengumpulan Data Sebuah laporan tidak akan tersaji ketika tidak ada data-data yang jelas tentang obyek kajian atau penelitian. Laporan pada intinya merupakan deskripsi ataupun gambaran nyata tentang sebuah kegiatan. Maka data merupakan syarat terpenting dalam menyusun laporan. Semakin banyak data yang terkumpul, maka semakin valid hasil laporan tersebut. Adapun untuk memperoleh data-data yang digunakan untuk

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010

6

menyusun laporan ini, maka metode yang digunakan adalah sebagai berikut : 1) Wawancara Yang dimaksud dalam metode ini adalah suatu cara untuk mendapatkan data-data ataupun fakta-fakta yang berhubungan dengan pelaksanaan kegiatan PPL di lapangan, baik dengan mengadakan audensi secara formal ataupun obrolan-obrolan non formal. Wawancara setidaknya akan menunjukkan atau mencerminkan pemikiran seseorang, sehingga beberapa hal dapat terkumpul dari sumber terkait baik kepala sekolah, guru, staf karyawan maupun peserta didik di lembaga pendidikan tempat pelaksanaan PPL, dalam hal ini keluarga besar MTs N 1 Semarang. 2) Observasi Dalam bukunya Sutrisno Hadi (1990:136), Metodologi Research, diterangkan bahwa metode observasi yaitu metode untuk mengadakan pengamatan dan pencatatan sistematis terhadap fenomena yang diselidiki. Metode ini digunakan untuk mendapatkan data tentang pelaksanaan PPL dengan mengamati fenomena dan gejala-gejala yang ada di MTs N 1 Semarang. Hal ini meliputi bangunan fisik gedung, sekolah, dan sarana lain, bahkan interaksi yang berlangsung dalam proses belajar mengajar. 3) Dokumentasi Keberadaan dokumen sebagai wujud fisik tentang data-data penting akan dijadikan bahan pelengkap bahkan acuan dalam penyusunan laporan ini, sehinggga dokumentasi tersebut sangatlah penting keberadaannya. Maka dalam konteks lapangan dokumendokumen ini dapat berupa ; buku-buku, transkip, surat kabar, majalah, notulen rapat, catatan-catatan kecil, surat-surat, piagam, brosur, selebaran, foto, arsip, dan lain sebagainya yang terkait dengan obyek yang diperlukan dalam laporan.

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010 4) Metode Analisis Data

7

Setelah data terkumpul, maka langkah selanjutnya adalah mengadakan pembahasan dan menganalisanya. Dalam menganalisa laporan ini metode yang digunakan adalah metode content analisis (analisis isi) yang merupakan analisis ilmiah tentang isi pesan suatu komunikasi yang ada. Dalam metode content analisis ini menampilkan tiga syarat yaitu: objektifitas, pendekatan sistematis, dan generalisasi, artinya mempunyai sumbangan teoritik. (Nung Muhajir, 1996: 49) 4. Sistematika Penulisan Sistematika penulisan laporan ini meliputi dari bab satu sampai bab lima, dan disesuaikan dengan sistematika yang ada dalam buku pedoman PPL. Untuk lebih jelasnya sistematika penulisan laporan PPL mahasiswa IAIN Walisongo di MTs N 1 Semarang adalah sebagai berikut : Halaman Judul Halaman Tim Praktik Pengalaman lapangan (PPL) Halaman Pengesahan Kata Pengantar Daftar Isi BAB I : A. PENDAHULUAN Urgensi Praktik Pengalaman Lapangan

1. Latar Belakang 2. Tujuan dan Manfaat 3. Metode Pengumpulan Data 4. Sistematika Penulisan Laporan B. BAB II : A. B. C. Gambaran Umum MTS N 1 Semarang ORIENTASI KAMPUS Pembekalan PPL (Coaching) Praktik Pembelajaran Mikro(Micro Teaching) Real Teaching

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010 BAB III : A. OBSERVASI LINGKUNGAN SEKOLAH DAN PEMBELAJARAN MODEL Observasi Lingkungan Sekolah 1. Tinjauan Historis 2. Kajian Geografis 3. Identitas Sekolah 4. Struktur Organisasi 5. Sarana dan Keadaan Fisik 6. Kurikulum Sekolah 7. Visi dan Misi 8. Keadaan Guru 9. Keadaan Peserta didik 10. Personalia Sekolah B. BAB IV Observasi Pembelajaran Model : PELAKSANAAN A. B. C. D. E. BAB V : A. B. Lampiran-lampiran

8

PRAKTIK PEMBELAJARAN

DAN MANAJEMEN PENDIDIKAN Praktik Pembelajaran di Kelas Praktik Administrasi dan Manajemen Sekolah Pelaksanaan Ekstra Kurikuler Pengelolaan Sumber Belajar Kendala Pelaksanaan PPL PENUTUP Kesimpulan Saran dan Kritik

B. GAMBARAN UMUM SEKOLAH LATIHAN MTs N 1 Semarang terletak di Jl. fatmawati Semarang, tepat berada dalam posisi strategis di pusat kota yang berhadapan langsung dengan pusat aktivitas pemerintahan kota Semarang. Sarana dan prasarananya pun ditata

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010

9

secara menarik dan cukup representataif untuk kegiatan proses pembelajaran. Sistem manajemen kependidikan dikerjakan secara serius sehingga mampu meningkatkan etos kerja yang lebih peduli terhadap perkembangan peserta didik. Peserta didik yang berminat belajar di MTs N 1 Semarang juga berkategori memiliki nilai yang baik. Inilah yang kemudian menjadikan MTs N 1 Semarang sebagai salah satu sekolah pilihan bagi calon peserta didik dan orang tua di antara sekian sekolah favorit di Semarang. Yang pasti soal prestasi MTs N 1 Semarang tidak diragukan lagi. Dari segi kuantitas maupun kualitas setiap tahunnya semakin bertambah baik. Sampai sekarang (tahun pelajaran 2009/ 2010) prosentase jumlah peserta didik MTs N 1 Semarang mencapai peningkatan yang cukup banyak, yakni sekarang berjumlah 962 peserta didik, yang terdiri 311 anak kelas VII, 315 anak kelas VIII, dan 336 anak kelas IX. Dari segi kualitas, MTs N 1 Semarang salah satu sekolah lanjutan tingkatan pertama yang paling favorit se-kota Semarang karena mempunyai prestasi dan kelebihan dalam bidang pendidikan, salah satu keunggulan MTs N 1 ini adalah madrasah ini merupakan madrasah model yang memiliki keunggulan kelas excelent. Jadi sangatlah wajar jika MTs N 1 Semarang ini tiap tahunnya diserbu ribuan pendaftar baru dan menjadi impian calon peserta didik yang mempunyai prestasi dan kelebihan di bidang akademiknya untuk bisa menjadi bagian dari sekolah tersebut.

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010 BAB II ORIENTASI KAMPUS

10

Orientasi kampus merupakan rangkain pelaksanaan kegiatan PPL, sebelum mahasiswa diterjunkan ke sekolah-sekolah praktikan. Orientasi kampus ini bertajuk memberikan arahan, bimbingan dan masukan serta me-refresh tentang berbagai hal ihwal ilmu pendidikan. Dengan begitu mahasiswa diharapkan semakin mantap dan siap baik secara psikis maupun performance. Sehingga dalam melaksanakan praktik mengajar mahasiswa lebih berkualitas dan mengangkat nama baik institusi. Bagi mahasiswa mata kuliah PPL di Fakultas Tabiyah ini, cukup menjadi agenda penting dan memberikan pengalaman baru yang tidak mungkin didapatkan di dalam kampus. A. PEMBEKALAN PPL (COACHING) Praktik pengalaman lapangan merupakan langkah nyata dalam memberikan pengalaman kepada mahasiswa Fakultas Tarbiyah, sebagai calon pendidik. Dalam program ini mahasiswa diharapkan mampu menerapkan ilmu dan teori yang diperoleh di bangku kuliah pada sekolah-sekolah latihan. Sebagai langkah awal praktik pengalaman lapangan, mahasiswa perlu dibekali materi yang berkaitan dengan situasi yang akan dihadapi, untuk mengantisipasi masalah-masalah yang mungkin muncul, baik tingkah laku dan lainnya yang bisa membawa nama baik almamater di sekolah-sekolah latihan. Sebelum mahasiswa bergelut langsung dilapangan (sekolah praktikan), termuat kegiatan orientasi kampus yakni pembelakalan (Coaching) dimana mahasiswa wajib mengikuti kegiatan pembekalan PPL (Coaching) tersebut tanpa terkecuali agar mahasiswa yang akan terjun langsung di lapangan (sekolah praktikan) mampu seperti yang diharapkan yakni profesionalitas mahasiswa menjadi seorang tenaga edukatif. Pelatihan atau pembekalan ini telah diberikan kepada calon guru praktik pengalaman lapangan yang berlangsung pada: Hari/Tanggal Waktu : Senin/ 6 Juli 2009 : 07.00 – 12.00 WIB

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010 Tempat : Auditorium II Kampus III IAIN Walisongo Semarang

11

Kegiatan Orientasi Kampus ini berlangsung selama 1 hari yang dikoordinasikan oleh Panitia Penyelenggara PPL. Adapun materi pembekalan (coaching) yang disampaikan dalam orientasi ini meliputi : 1. Penyegaran kembali masalah-masalah keguruan, antara lain: kebijakan akademik tentang PPL, kode etik keguruan, keterampilan dasar mengajar, pembelajaran aktif, penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan penilaian hasil belajar. 2. pendidikan. 3. permasalahannya. 4. Penyusunan laporan. Kegiatan orientasi ini diharapkan agar mahasiswa praktikan mampu memahami lebih lanjut tentang dunia pendidikan sebenarnya. B. PRAKTIK PEMBELAJARAN MIKRO (MICROTEACHING) Pelaksanaan microteaching dilaksanakan selama satu semester dengan bobot 2 SKS dan menjadi syarat utama dalam pelaksanaan PPL. Ini telah dipersiapkan selama satu semester agar semua mahasiswa benar-benar menguasai bagaimana proses pembelajaran yang baik dan benar. Ada tiga job discription yang harus diperankan oleh peserta, yakni 1 orang bertindak sebagai guru, 20 orang menjadi peserta didik (salah satu dari peserta menjadi timer), sisanya menjadi observer. Tugas observer dalam microteaching adalah mengamati, menilai dan mengevaluasi praktikan yang sedang praktik mengajar di ruang microteaching. Observer juga diminta mengisi lembar penilaian yang sudah disediakan panitia. Ruang observer dilengkapi dengan televisi atau monitor yang digunakan untuk memantau gerak dan gerik dari praktikan. Dari tiap peserta berkesempatan untuk mencoba mengajar dalam microteaching tersebut, dan waktu yang disediakan 15 menit. Setelah itu, para Informasi tentang sekolah latihan dengan berbagai Penyajian materi administrasi dan supervisi

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010

12

peserta kembali ke ruang utama untuk menyaksikan kembali rekaman kamera yang tadi sudah dilakukan oleh operator. C. REAL TEACHING Pada dasarnya real teaching terjadi ketika mahasiswa praktikan mulai menginjakkan kakinya di sekolah latihan sampai penarikan kembali ke Fakultas. Sebab ketika mahasiswa diterima secara resmi oleh pihak sekolah, maka status mahasiswa sudah menjadi guru, yang dituntut bersikap dan bertingkah laku sebagai guru / pengajar. Agenda ini diawali dengan upacara pemberangkatan PPL Fakultas Tarbiyah pada hari senin, 15 Juli 2009 di samping Audit I Kampus I IAIN Walisongo Semarang . Pagi itu juga, masing-masing kelompok meluncur ke sekolah latihan, dengan didampingi DPL masing-masing, secara resmi peserta PPL diserahkan pada sekolah. Tim PPL tiba di MTs N 1 Semarang sekitar jam 10.00 WIB, dengan didampingi Nasirudin, M. Ag selaku DPL. Keramahan dari pihak sekolah, menambah keyakinan dan motivasi mahasiswa untuk segera manjadi bagian anggota dari MTS N 1 Semarang. Tim PPL diterima pihak sekolah di aula madrasah, tepat di depan kantor kepala madrasah. Acara penerimaan itu diawali dengan perkenalan dari masing-masing pihak sekolah latihan dan dari IAIN Walisongo. Dan secara resmi diterima oleh Drs. Sugiyanto sebagai WaKaMad bagian kurikulum didampingi oleh Suwarno, S. Ag sebagai koordinator guru pamong PAI. Sebelum acara penerimaan ditutup, Bp. Nasirudin, M. Ag. langsung menyerahkan berkasberkas untuk laporan team PPL di MTs N 1 Semarang. Observasi dilakukan mulai hari pertama dan dilaksanakan selama satu minggu untuk mengamati lingkungan, mengetahui kondisi kelas, dan lain sebagainya. Minggu kedua, kami sudah harus menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan materi bahan ajar semester gasal ini, untuk bahan mengajar selama berada di MTS N 1 Semarang. Beragam yang dirasakan oleh peserta pada hari pertama mengajar, namun rata-rata mahasiswa memang kurang percaya diri, karena baru pertama kali berdiri di depan kelas sebenarnya. Akan tetapi setelah beberapa saat berada dalam kelas,

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010

13

berinteraksi dengan para peserta didik lama-lama menjadi terbisa dan sangat menyenangkan. Aktivitas pembelajaran, dimulai dari perencanaan pembelajaran, yakni dengan menyusun RPP. Setelah konsultasi dengan guru pamong, praktikan masuk kelas. Maka di situlah para mahasiswa harus berjuang bagaimana mampu tampil maksimal. Ibarat seorang prajurit yang dilepas di tengah hutan belantara untuk menjaga kedaulatan negara, maka yang mereka lakukan adalah bagaimana bisa selamat dan tetap hidup. Jadi mungkin, itu analog yang tepat untuk menggambarkan kondisi mahasiswa PPL saat mengajar pertama kali. Yang jelas, pengalaman pertama itu dirasa paling berkesan, sebab mereka harus mampu berimprovisasi, bagaimana mengkondisikan kelas, membuka pelajaran, berdoa, apersepsi, memberikan motivasi kepada peserta didik di kelas, dan berpenampilan semaksimal mungkin agar yang kita hadapi mendapatkan kesan pertama yang menyenangkan sebagai pintu gerbang pertemuan selanjutnya. Kemudian, bagaimana setiap praktikan mampu menggunakan sumber dan media yang ada dalam kelas, memilih metode yang tepat, serta bagaimana dia juga mampu menggunakan perangkat evaluasi secara tepat, juga yang terakhir bagaimana menutup pelajaran. Semuanya adalah kenyataan yang memberikan pengalaman yang berharga pada diri masing-masing praktikan.

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010

14

BAB III OBSERVASI LINGKUNGAN SEKOLAH DAN PEMBELAJARAN MODEL Di atas telah disinggung, bahwa saat kedatangan tim PPL di hari pertama tersebut, maka observasi mulai dilakukan. Observasi ini kiranya juga sangat penting, agar para praktikan lebih dekat mengenal baik secara fisik maupun sosio cultural seluruh warga sekolah di MTs N 1 Semarang, setidaknya mengetahui posisi/letak kelas-kelas yang akan dimasuki. Pengamatan di hari pertama tersebut, memang sebatas hanya melihat-lihat keadaan lingkungan secara sepintas, kemudian setiap sebelum pulang tim PPL selalu mengadakan breafing untuk evaluasi dan kebutuhan hari berikutnya. Sesuai kesepakatan, kami berbagi tugas untuk mengadakan pengamatan, maupun mencari data terkait dengan beberapa hal yang sekiranya diperlukan. Adapun secara singkat observasi yang dilakukan dapat diklasifikasikan menjadi dua, yakni observasi lingkungan sekolah dan observasi pembelajaran model. Untuk meringankan tugas dan kekompakan dalam tim, maka kami membuat job discribtion/pembagian tugas untuk mendapatkan seluruh data yang dibutuhkan dalam observasi. No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Kegiatan Observasi Guru, Karyawan dan Kurikulum Peserta didik dan Ekstrakurikuler Tata letak sekolah/keadaan fisik UKS dan Labolatorium Sejarah BK Perpustakaan Kelengkapan lain Penanggung Jawab Durroh, Rohmah dan Rahmawati Roh Agung DW Asrori dan Faiz Niat dan Fitri Shoim dan Kharisma Muslimah Bersama (tim)

Struktur Organisasi dan Kepengurusan Umam, Cinung dan Miftah

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010

15

A. OBSERVASI LINGKUNGAN SEKOLAH Kedatangan tim PPL IAIN Walisongo memang boleh dikatakan sangat tepat waktu, sebab proses pembelajaran semester gasal baru dimulai. Adapun cara yang kami lakukan untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dalam observasi adalah membagi tugas, sebab deadline yang kita tetapkan adalah minggu pertama berada di MTs N 1 Semarang masalah data-data observasi dapat segera diselesaikan agar minggu-minggu berikutnya bisa lebih fokus pada observasi model pembelajaran dan proses belajar-mengajar di dalam kelas. Beberapa hal utama yang kami data adalah: (1) Tinjauaan Historis (2) Tinjauan Geografis (3) Sarana dan Fasilitas Fisik (4) Perpustakaan Sekolah (5) Kurikulum Sekolah dan Visi/Misi (6) Kondisi Guru, Kondisi Peserta didik, dan sebagainya. Perlu kiranya kami sertakan, tentang hal-hal umum yang berkaitan dengan MTs N 1 Semarang, meliputi: 1. Tinjauan Historis Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Semarang adalah sebuah lembaga pendidikan tingkat menengah pertama yang berdiri sekitar tahun 1978 M, yang lokasinya dulu di daerah candi, pada tahun 1979 M sekolah di pindah ke daerah ketileng, dan pada tanggal 15 juli tahun 1980 M sekolah di buka secara resmi. Dan sekolah di renovasi pada tahun 2007 M. Adapun secara umum perkembangan MTsN Semarang 1 mengarah pada suatu kemajuan. Hal ini dapat diketahui dari beberapa perubahan yaitu sebagai berikut: 1. Adanya penambahan tenaga edukatif, sesuai dengan spesialisasi masing-masing. 2. Sarana dan prasarana untuk kepentingan pendidikan bertambah sistem seleksi masuk kepemimpinan yang tegas, disiplin dan mementingkan kepentingan umum. 2. Kajian Geografis

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010

16

Secara geografis MTsN 1 Semarang, berada di pinggiran kota, sehingga terlepas dari hiruk pikuk kehidupan pusat kota. Walaupun letaknya dipinggir kota, akan tetapi mudah dijangkau sebab posisinya cukup strategis, sehingga orang mudah menemukannya dengan mudah dan tidak perlu susah-susah karena berada di pinggir jalan. Sebelah timur Sebelah utara Sebelah barat Sebelah selatan :Berbatasan dengan lahan pertanian :Berbatasan dengan rumah penduduk :Berbatasan dengan Jl. Fatmawati :Berbatasan dengan lahan kosong milik PT. Gudang Garam Kemudian jika dilihat dari sudut pandang lingkungan sekitarnya, maka MTsN 1 Semarang mempunyai beberapa keuntungan. Diantaranya adalah berada jauh dari keramaian kota, sehingga sangat menguntungkan dalam proses belajar-mengajar. 3. Identitas Sekolah Nama Sekolah NSS Terakreditasi Tahun didirikan Status Sekolah Alamat Sekolah Telepon-Fax Provinsi Otonomi Daerah Kegiatan Belajar Bangunan Sekolah Kelompok Sekolah Organisasi Penyelenggara : MTS N 1 Semarang : 211 337 404 014 :A : 1978 M : Negeri : Jl. Fatmawati Semarang : 024-6716521 : Jawa Tengah : Jakarta : Pagi : Milik Sendiri : Komite Sekolah : Departemen Agama 4. Struktur Organisasi

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010

17

Dalam sebuah sistem manajemen yang baik, harus ada pembagian job description yang jelas dan sesuai dengan keahlihan di bidangnya. Sehingga kinerja pegawai dapat berjalan secara optimal. Di MTs N 1 Semarang sudah dilakukan sebagaimana mestinya. Hal itu diindikasikan dalam setiap semester, kepala sekolah (sebagai manajer tertinggi), mengeluarkan keputusan berkenaan dengan pembagian tugas. Baik tugas guru sebagai pelaksana kegiatan belajar mengajar, juga tugas staf tata usaha sebagai pelaksana administrasi sekolah. MTs N 1 Semarang saat ini dipimpin oleh Drs. Amiruddin Aziz dan dibantu olah WaKaMad Bidang Kurikulum, Drs. Sugiyanto. Sebagai WaKaMad Bidang Kesiswaan, Suyikto, S.Pd.I. WaKaMad Bidang Humas, Marjoko, S.Pd. I. WaKaMad Bidang Sarana Prasarana, M. Junaidi, S.Ag. Struktur personalia tata usaha MTs N 1 Semarang dipimpin oleh Arif Budiman, SH. Koordinator Bagian Bendahara dipegang oleh Dewi Asriyah, Koordinator Perpustakaan dipegang oleh RM. Setya Sad Puspa DWH. Drs. Sugiyarto sebagai koordinator Lab. Komputer. Sebagai Koordinator Lab. Bahasa Agus Muhadjir, S. Pd. I. 5. Sarana dan Fasilitas Fisik Kenapa disini bagunan fisik menjadi salah satu bagian penting untuk dilaporkan. Keberhasilan proses pembelajaran di sekolah, selain ditentukan oleh sumber daya manusia, juga tidak akan terlepas dari fasilitas dan media belajar yang tersedia, termasuk bangunan dan fasilitas fisik. Beberapa fasilitas fisik yang sempat tertangkap dalam pengamatan tim kami selama berada di MTs N 1 Semarang diantaranya adalah; Diantara bangunan yang sudah ada yaitu, ruang kepala sekolah, ruangan bagian tata usaha (TU), ruangan guru, aula, ruang kelas, lapangan olah raga (volly, futsal, dan sepak bola) ruang pramuka, ruang OSIS, ruangan UKS, ruang BK, ruangan multimedia, mushola, dan lain sebagainya.

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010

18

Dari kesekian banyak fasilitas fisik tersebut, hanya beberapa saja yang sedikit akan kami uraikan, untuk mendapatkan gambaran tentang sarana, prasarana dan media pembelajaran di sekolah praktikan.

a.

Ruang Kelas Menurut tim observer, ada 25 ruang kelas yang setiap hari digunakan proses pembelajaran. Ruang tersebut terdiri dari kelas VII, VIII dan IX yang masing-masing tingkat kelas paralel yang berbeda. Untuk kelas VII terdiri dari 8 kelas, yaitu kelas VII A s/d VII H. Kemudian kelas VIII terdiri dari 8 kelas, yaitu kelas VII A s/d VII H. Dan untuk kelas IX terdiri dari 9 kelas, yaitu kelas IX A s/d IX I. Kelas VII A, VIII A, dan IX A merupakan kelas unggulan.Setiap kelasnya rata-rata terdapat kurang lebih 40 peserta didik. Menurut aturan tata ruang, di setiap kelas terlihat cukup sehat, karena ada ventilasi udara dan pencahayaan yang cukup. Seperti lazimnya sebuah kelas, di dalamnya terdapat perlengkapan dan aksesoris ruang kelas, misalnya bangku, papan tulis, papan informasi peserta didik, meja guru, lampu penerangan, stop kontak, gambar Presiden dan Wakil Presiden, serta lambang negara burung garuda. Ada beberapa variasi kelas yang lain seperti regu piket maupun gambar-gambar yang mengandung pesan edukatif juga terlihat di sana, hanya saja aksesoris itu beragam/tidak sama antara kelas satu dengan kelas lainnya, sebab selera penghuni berlainan. Dari beberapa gambaran itu setidaknya menunjukkan bahwa pada masing-masing kelas cukup representatif untuk proses pembelajaran di kelas.

b.

Ruang Kepala Madrasah dan Ruang Guru Ruang kepala madrasah berada di lantai dasar bersebalahan dengan ruang BK (Bimbingan Konseling) dan berhadapan dengan aula. Sedangkan ruang guru berada di lantai dua tepat di atas aula. Di dalam

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010

19

ruang guru dilengkapi dengan fasilitas antara lain: meja, kursi guru, almari, dispenser dan sebuah TV. c. Kantor Tata Usaha dan Administrasi Lokasi ruang tata usaha terdapat di lantai dua di atas ruang BK yang berhadapan dengan ruang guru yang disekat oleh ruang lobi. Seluruh administrasi sekolah dikerjakan oleh staf tata usaha dalam ruang tersebut. Urusan Tata Usaha dikoordinatori oleh H. Arif Budiman S.H. d. Laboratorium Ruang laboratorium yang ada di MTsN 1 Semarang terdiri dari 5 ruang, yaitu laboratorium kimia, laboratorium bahasa, dan laboratorium komputer/internet. IPA, laboratorium Dalam setiap

laboratorium memiliki kepengurusan yang terdiri dari koordinator laborat, laboran, dan beberapa anggota laboratorium yang bertanggung jawab penuh atas terselenggaranya kegiatan praktikum di ruang laboratorium tersebut. e. Musholla Tempat ibadah di madrasah merupakan bangunan sentral untuk menanamkan nilai-nilai agama pada peserta didik. Jadi keberadaan dan eksistensinya sebagai tempat ibadah juga mutlak diperlukan. salah satu bangunan di MTsN 1 Semarang, cukup representatif untuk melaksanakan kegiatan keagamaan, maupun kegiatan pembelajaran. Misalnya shalat jama’ah dan praktik shalat. Berdasarkan pengamatan selama di tempat PPL, mushola tersebut sering dipakai sholat oleh seluruh warga sekolah, termasuk guru, staf karyawan dan para peserta didik. Setiap waktu dhuha digunakan oleh sebagaian peserta didik untuk mengerjakan sholat dhuha dan setiap siang terdapat agenda sholat dzuhur berjamah. f. Perpustakaan Sekolah Perpustakan adalah mata air ilmu pengetahuan. Kualitas dan mutu sekolah bisa tercermin dari kondisi dan keadaan perpustakaan. Artinya

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010

20

pengelolaan dan penyediaan media belajar/sumber belajar berupa perpustakaan akan sangat menentukan proses belajar peserta didik. Sebab Penanaman kebisaaan membaca harus dimulai sejak dini, termasuk peserta didik MTsN 1 Semarang haruslah mulai dikenalkan dan dipahamkan bahwa buku adalah gerbang ilmu pengetahuan. Peserta didik harus disadarkan bahwa cara mendapatkan ilmu bukan hanya ketika proses pengajaran di dalam kelas. Penanaman motivasi agar peserta didik menjadi Manusiapembelajar harus digalakkan. Maka salah satu langkah yang urgen bagaimana sekolah dapat menyediakan bahan bacaan pada peserta didiknya buku-buku yang diminati oleh peserta didik, untuk pembisaaan dan membangkitkan hobi baca. Ketika menginjakkan kaki di ruang perpustakaan di MTsN 1 Semarang suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan menyapa kami, penataan ruangan yang rapi sedikit memberi sentuhan akan tanggapnya pengelola perpustakaan terhadap kondisi perpustakaan. Perpustakaan yang di motori RM. Setya Sad Puspa DWH sebagai pelaksana teknis dan Hj Rupiah, BA sebagai pelaksana peminjaman, sangat bersahabat sekali dengan pengunjung baik itu dengan team PPL maupun dengan peserta didik MTsN 1 Semarang yang berkunjung ke perpustakaan. Dalam ruang yang cukup luas tersebut, terdapat banyak sekali pajangan di dinding diantaranya papan tata tertib di perpustakaan, visi dan misi perpustakaan dan semboyan perpustakaan MTsN 1 Semarang. Selain itu buku-buku tertata rapi di almari. Buku-buku tersebut dikumpulkan dalam klasisifikasi dengan aturan DDC yang sederhana. Data yang kami dapatkan mengenai jumlah buku koleksi perpustakaan di MTsN 1 Semarang berjumlah 7.339 exp. Selain buku, disana juga ada beberapa media massa; koran Kompas, Suara Merdeka, dan majalah-majalah lain. Adapun pengelola perpustakaan di MTsN 1 Semarang di bawah tanggung jawab langsung kepala sekolah, dan dibantu oleh koordinator yang lain.

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010

21

Selain melayani peminjaman dan pengembalian buku-buku dan tempat membaca, perpustakaan MTsN 1 Semarang juga digunakan sebagai penunjang pelajaran yang dilengkapi dengan TV dan VCD.

6. Kurikulum Sekolah Kurikulum merupakan salah satu sub sistem pendidikan di sekolah yang sangat menentukan pencapaian tujuan pendidikan itu sendiri. Kurikulum hendaknya bukan dimaknai sebagai kumpulan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam setiap jenjang pendidikan. Kurikulum setidaknya harus dipahami sebagai suatu kumpulan atau rangkaian kegiatan belajar mengajar yang meliputi beberapa aspek pembelajaran yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Di MTs N I Semarang sudah merespon adanya tuntutan perubahan dibidang kurikulum. Penerapan kurikulum 2006, yaitu KTSP (Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan) pada proses pembelajaran di sana, -walaupun belum semuanya- merupakan bukti bahwa MTs tersebut juga peka terhadap tuntutan perubahan. Adapun perangkat pelaksanaan dengan kurikulum baru tersebut adalah menggunakan acuan dari Diknas. 7. Visi dan Misi Visi merupakan tujuan universal sebuah institusi/ lembaga untuk mengarahkan dan menjadi barometer keberhasilan tujuan yang ingin dicapai. MTS N Semarang 1 menetapkan visi, “Berakhlak terpuji, bersaing dalam prestasi” Maka untuk memperjelas visi tersebut, kemudian dijabarkan dalam sebuah misi, yakni : a. Uswah Hasanah Nabi Muhammad menjadi suri tauladan. b. Bangga terhadap agamanya. c. Berdedikasi tinggi. d. Disiplin dan bersahaja. e. Memiliki tanggung jawab keilmuan

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010 f. Out put unggul 8. keadaan Guru

22

Guru merupakan salah faktor penentu dalam Proses Belajar Mengajar. Maka ketersediaan tenaga pendidik dalam suatu lembaga pendidikan yang berkualitas dan mempunyai dedikasi yang tinggi sangat penting adanya. Di MTsN 1 Semarang, memiliki tenaga pendidik dan karyawan sebanyak 73 orang, terdiri dari guru tetap sebanyak 44 orang dan guru tidak tetap 11 serta pegawai dan karyawan-karyawan ada 18 orang. Untuk guru lulusan S2 sebanyak 2 orang, S1 sebanyak 54 orang, D3 sebanyak 2 orang, PGAN ada 2 orang, SMA sebanyak 12 orang dan SD ada 1 orang. Lebih lengkapnya bisa dilihat dalam lampiran daftar guru. (lampiran I). Selain itu guru juga Mengajar dan menjadi wali murid dari siswa MTsN 1 Semarang serta menjadi pembina dari kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler di madrasah. 9. Keadaan Peserta Didik Berkenaan dengan kondisi peserta didik di MTsN 1 semarang sangat variatif, ada yang pintar secara akademis, ada yang mempunyai kelebihan yang lain seperti kemampuan menjalin hubungan sosial, ada yang aktif ada yang pendiam, dan masih banyak karakter peserta didik yang tidak bisa teridentifikasi secara lengkap, sebab butuh waktu yang lebih panjang untuk mempelajari mereka. Keragaman-keragaman mereka ada karena mereka berasal dari latar belakang atau background keluarga yang tidak sama. Tetapi secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa peserta didik di MTsN 1 Semarang kritis dan aktif dalam mengikuti pelajaran selama tim PPL dari IAIN melakukan proses pembelajaran selama kurang lebih 2 bulan. TABEL KEADAAN PESERTA DIDIK DI MTS N 1 SEMARANG TAHUN AJARAN 2009/2010 NO. Kelas Jumlah Jumlah Murid Jumlah

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010 1. VII 2. VIII 3. IX JUMLAH Kelas 8 8 9 25 Putra 143 150 158 451 Putri 168 165 178 511 Seluruhnya 311 315 336 962

23

10. Personalia Sekolah a. Kepala Madrasah Tugas kepala madrasah disingkat dengan EMAS (Edukator, MTs Nager, Administrator dan supervisor). a.1. Edukator (lihat tugas guru) a.2. MTs Nager a.2.1. menyusun perencanaan a.2.2. mengorganisasikan kegiatan a.2.3. mengarahkan kegiatan a.2.4. mengkoordinasikan kegiatan a.2.5. melaksanakan pengawasan a.2.6. melakukan evaluasi terhadap kegiatan a.2.7. menentukan kebijakan a.2.8. mengadakan rapat a.2.9. mengambil keputusan a.2.10. mengatur proses belajar mengajar a.2.11. mengatur administrasi a.2.12. mengatur organisasi intra a.2.13.mengatur hubungan madrasah dengan masyarakat dan instansi terkait. a.3. Administrasi Kepala a.3.1. perencanaan a.3.2. Pengorganisasian a.3.3. Pengarahan madrasah selaku administrator bertugas menyelenggarakan administrasi.

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010 a.3.4. Pengkoordinasian a.3.5. Pengawasan a.3.6. Kurikulum a.3.7. Kesiswaan a.3.8. Ketatausahaan a.3.9. Ketenagaan a.3.10. Kantor a.3.11. Keuangan a.3.12. Perpustakaan a.3.13. Laboratorium a.3.14. Ruang Keterampilan /kesenian a.3.15. Bimbingan Konseling a.3.16. UKS a.3.17. OSIS a.3.18. Wali kelas a.3.19. Guru a.3.20. Gudang a.3.21. 6K (keaMTs Nan, kebersihan, kedisiplinan, Keindahan, Kekeluargaan, dan kerindangan) a.4. Supervisor Kepala madrasah selaku supervisor

24

bertugas

menyelenggarakan supervisi a.4.1. Proses belajar mengajar a.4.2. kegiatan bimbingan dan konseling a.4.3. kegiatan ekstrakurikuler a.4.4. kegiatan ketatausahaan a.4.5 kegiatan kerjasama dengan masyarakat dan instansi terkait a.4.6. sarana dan prasarana a.4.7. kegiatan osis a.4.8. kegiatan 6K b. Tugas wakil kepala madrasah secara umum

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010

25

Wakil kepala madrasah mempunyai tugas membantu kepala madrasah dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Menyerahkan perencanaan membuat program kegiatan dan jadwal pelaksanaan. Pengorganisasian Pengarahan Ketenagaan Pengkoordinasian Pengawasan Identifikasi dan pengumpulan Penyusunan laporan. Adapun tugas-tugas wakil kepala madrasah sesuai urusan /bidang masing-masing adalah sebagai berikut: 1.Wakil kepala urusan kurikulum mempunyai tugas sebagai beikut: 1.1. Menyusun program pengajaran 1.2. Menyusun pembagian dan uraian tugas guru 1.3. Menyusun jadwal pelajaran 1.4. Menyusun penjabaran kalender akademik 1.5. Menyusun evaluasi belajar 1.6.Memeriksa administrasi wali kelas, guru, perpustakaan, administrasi laboratorium dan administrasi guru piket. 1.7.Menyusun kriteria prasyarat naik/tidak naik kelas, lulus/tidak lulus. 1.8. Mengatur pembagian laporan pendidikan (rapor) 1.9. Menyusun peringkat kelas/paralel setiap ulangan umum. 1.10. Senantiasa meningkatkan stabilitas dan mutu pendidikan 1.11. Menyusun personalia walikelas dan petugas guru piket. 1.12. Mengkoordinir dan membina kegiatan sanggar pkg / mgmp /media 1.13. Menyusun guru inti

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010

26

1.14. Menyusun program penjurusan siswa bersama dengan BP dan walikelas 1.15. Memeriksa dan mengusulkan calon guru teladan kepada kepala madrasah 1.16. Mengkoordinir dan membina lomba-lomba bidang akademis dikalangan guru 1.17. Membantu penyusunan administrasi guru dan walikelas 1.18. Membina, memeriksa dan mengawasi pelaksanaan program walikelas, guru pustakaan dan laboran. 1.19. Membina dan memeriksa penyusunan satuan pembelajaran, daya serap siswa, deposit soal program remidi dan pengayaan setiap guru. 1.20. Membuat laporan pelaksanaan tugas kepala madrasah. 2. Wakil kepala Urusan kesiswaan mempunyai tugas 2.1. Menyusun program binaan 2.2. Membimbing, mengarahkan dan mengandalkan kegiatan siswa/osis dalam rangka mengadakan disiplin tata tertib siswa 2.3. Membimbing, mengarahkan dan mengendalikan proses penilaian pengurus osis. 2.4. Menyelenggarakan latihan kepemimpinan dasar madrasah 2.5. Mengkoordinir, membina dan mengasawasi kegiatan upacara bendera 2.6. Mengkoordinir, membina dan mengawasi kegiatan tryout 2.7. Merencanakan, mengkoordinir dan melaksanakan pelaksanaan bhakti masyarakat dan pada siswa 2.8. Memantau kelulusan madrasah 2.9. Senantiasa berusaha meningkatkan kualitas siswa dan kegiatan siswa 2.10. Mengkoordinir, membinan dan mengawasi kegiatan UKS, PMR, PRAMUKA, dan kegiatan siswa lainnya.

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010

27

2.11. Menyusun jadwal dan program pembinaan siswa secara berkala dan insidental. 2.12. Melaksanakan PMB berdasarkan musyawarah dan SK kepala madrasah 2.13. Melakukan pemilihan siswa teladan, calon siswa dan penerimaan siswa. 2.14.Mengkoordinir pemohonan kebebasan, keringanan pembayaran sumbangan BP3 dari para siswa. 2.15. Mengurusi, membina dan mengawasi asrama siswa 2.16.Mengadakan pemilihan siswa untuk mewakili madrasah dalam kegiatan diluar sekolah 2.17. Membina pengurus osis dalam berorganisasi. c. Tugas Umum Guru dan Karyawan Sebagai Mitra 1. 2. mingguan 3. 4. atasan 5. Bertanggung jawab secara lisan dan tertulis terhadap kelancaran pelaksanaan teknis dan teknis administrasi. Untuk lebih jelasnya data pegawai dapat dilihat pada lampiran (lampiran II) d. Tugas kepala urusan tata usaha 1. Bertugas dan bertanggungjawab atas berlakunya garis kebijaksanaan kepala madrasah dibidang ketatausahaan 2. Membina staf tata usaha madrasah sehingga mampu dan kreatif dalam melakukan tugas masing-masing. Mewujudkan program madrasah sesuai bidang dan tugas masing-masing Mewujudkan program madrasah sesuai dalam hal yang berkaitan dengan keputusan edaran kebijakan Membantu kepala madrasah menentukan kebijakan sesuai dengan tugas masing-masing. Mengikuti secara aktif rapat evaluasi

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010

28

3. Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan administrasi madrasah. B. OBSERVASI MODEL PEMBELAJARAN Pada dasarnya observasi model dilakukan untuk mendapatkan gambaran bagaimana guru pamong melaksanakan pembelajaran di kelas. Selain itu praktikan dapat melakukan penjajakan terhadap situasi pembelajaran yang ada. Praktikan akan lebih mengenal medan, menganalisa media yang ada di kelas, sehingga dalam mempersiapkan rencana pembelajaran dapat maksimal. Dengan adanya observasi model, praktikan juga dapat mengidentifikasi peserta didik yang berpotensi menciptakan suasana hidup, maupun gaduh dalam kelas, dan pada endingnya praktikan dapat mengantisipasi semua itu. Teknis observasi model ini, dilakukan dengan secara langsung praktikan mengikuti pembelajaran dalam kelas bersama guru pamong dan peserta didik. Prosedur yang ditetapkan oleh kebijakan fakultas Tarbiyah dan dalam buku pedoman PPL mengejar target tatap muka minimal 10 kali. Oleh karena itu observasi model dilakukan dalam bentuk lain, misalnya dengan konsultasi dengan guru pamong. Dari situ praktikan mendapat gambaran sekilas tentang kondisi dan situasi kelas, beserta anakanak yang dianggap berpotensi membuat ramai di kelas. Secara substansial observasi model sebenarnya bisa dilakukan dengan banyak hal, tidak harus secara langsung mengikuti guru pamong ke dalam kelas. Yang terpenting dalam kegiatan ini para praktikan mendapatkan gambaran, tentang bagaimana membuka pelajaran yang baik, memberikan motivasi, melaksakan apersepsi agar suasana bisa in dahulu. Selanjutnya bagaimana praktikan mampu mengelola kelas, sehingga dalam menyampaikan materi pelajaran, peserta didik dapat lebih senang dalam mengikuti pembelajaran. Kemudian bagaimana praktikan juga mampu memberikan stimulus agar peserta didik tergerak untuk berperan aktif dalam proses tersebut. Mungkin dengan cara melemparkan pertanyaaan pancingan ataupun memberikan penghargaan pada peserta didik yang bertanya atau berani berkomentar tentang materi yang sedang

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010

29

dibicarakan. Hingga bagaimana praktikan terampil dalam menyimpulkan materi dan memberikan tugas sebagai alat evaluasi.

BAB IV PELAKSANAAN PRAKTIK PEMBELAJARAN DAN MANAJEMEN PENDIDIKAN A. PRAKTIK PEMBELAJARAN DI KELAS Sebelum pelaksanaan pembelajaran di kelas, beberapa tahapan yang ditempuh oleh masing-masing mahasiswa praktikan adalah sebagai berikut: 1. Pembagian dan Penyusunan Jadwal Mengajar Di hari pertama selain kita telah mendapatkan kalender akademik dan jadwal pelajaran MTS N 1 Semarang, kita juga telah diberitahukan masing-masing guru pamong tiap-tiap jurusan. Sehingga untuk pembagian jadwal mengajar, kita langsung berkonsultasi dengan masing-masing guru pamong untuk mendapatkan persetujuan. Adapun sistem pembagian jadwal mengajar tersebut, tidak menggunakan rolling. Artinya dalam mengajar, dari awal sampai akhir di kelas yang sama. Sebab, dengan pertimbangan agar waktu tidak habis untuk perkenalan dan untuk memudahkan dalam proses pembelajaran, karena ketika gonta-ganti, karakteristik/psikologi peserta didik kurang bisa dipahami. Alasan lain yang lebih krusial adalah dalam membuat evaluasi/ulangan, agar tidak terjadi kerancuan. Dengan sistem tersebut akan lebih memudahkan dalam mengukur keberhasilan belajar-mengajar yang dilakukan setiap guru praktikan. Untuk jadwal guru praktikan lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran. (lampiran III)

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010

30

2. Persiapan Pengajaran Kualitas pembelajaran yang bermutu, merupakan kewajiban seorang guru. Mempersiapkan segala sesuatunya guna menunjang proses pemberdayaan peserta didik adalah suatu keharusan. Sebab pada hakekatnya guru bertindak sebagai pemandu bagi peserta didik dalam mengantarkannya menuju kedewasaan dalam hidup. Sehingga hal itulah yang menuntut seorang guru untuk mempersiapkan kualitas pembelajaran yang lebih baik dari hari ke-hari. Dengan kata lain tugas seorang guru bukan hanya mengajar, melainkan juga belajar untuk meningkatkan kualitas intelektual. Mana mungkin menjadi seorang guru yang baik jika tidak mampu memberikan dan mengarahkan peserta didik memahami dan mampu mengembangkan kreatifitas. Bagaimana seorang guru mampu menghadirkan hal-hal yang aktual, jika guru tidak me-refresh pengetahuannya dengan banyak membaca buku, majalah, surat kabar, atau berdiskusi dan lain sebagainya. Maka bagi praktikan sebelum mengajar, hukumnya wajib ‘ain untuk belajar lebih dahulu. Sehingga untuk keperluan tersebut, praktikan berusaha mempersiapkan dan merencanakannya dengan matang. Beberapa hal yang dilakukan praktikan dalam menyusun perencanaan pengajaran, yaitu sebagai berikut: o semester, dan alokasi waktu. o ranah. o Mengusahakan agar setiap pembelajaran tersebut dapat diukur dengan membuat perencanaan penilaian berupa bentuk soal atau bentuk lainnya. o Memilih dan menentukan pendekatan atau metode yang akan digunakan. Penjabaran tujuan pembelajaran umum ke dalam tujuan pembelajaran khusus (indikator), yang meliputi tiga Melihat kurikulum, dalam hal ini tujuan pembelajaran umum (kompetensi dasar), pokok bahasan, kelas,

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010 o o memperkaya materi.

31

Memilih penggunaan media yang tepat. Memperbanyak sumber untuk

Kemudian untuk memperbanyak materi sering kita melakukan diskusi, tentang materi pelajaran yang akan disampaikan. Terkadang kami juga menyempatkan diri lari ke perpustakaan untuk mencari sumber/referensi lain guna menambah masukan tentang satu pokok bahasan. 3. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Salah satu persiapan yang dilakukan sebelum mengajar adalah menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) (untuk kelas VII dan VIII MTs KTSP). Yakni mempersiapkan secara tertulis dari mulai mata pelajaran, kelas, semester, alokasi waktu, tujuan, metode/strategi, dan media pembelajaran serta alat dan model evaluasi. Semua disusun secara sistematis dan jelas, serta disesuaikan format sekolah latihan, sehingga mudah untuk dilaksanakan (aplikatif). Sebelum membuat RPP beberapa praktikan juga membuat persiapan untuk mengajar agar waktu atau jumlah jam efektif sudah bisa ditentukan sebelum membuat RPP selama satu semester. Praktikan menyusun rencana pembelajaran tersebut dengan tulisan tangan di buku besar dan ada beberapa guru pamong yang meminta hasil print outnya. Setiap praktikan membuat masing-masing satu, dan setiap materi pelajaran yang ingin disampaikan ditunjukkan kepada guru pamong sebelum mengajar. Jika persiapan dan penyusunan RPP tersebut sudah baik, maka bisa dikatakan keberhasilan pembelajaran sudah 50 %, selebihnya bagaimana pelaksanaannya. Adapun format/contoh penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dapat dilihat dalam lampiran (lampiran IV). 4. Kegiatan Pembelajaran di Kelas Pengalaman ini yang paling urgen dalam pelaksanaan praktik pengalaman lapangan. Ketika menunggu bel berbunyi sebagai tanda masuk, pada hari pertama masuk kelas, rata-rata mahasiswa praktikan

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010

32

merasakan sesuatu yang beragam. Ada yang gugup karena grogi, bahkan ada yang minta ditemani, ada yang tenang-tenang saja dan ada juga yang tidak sabar masuk kelas. Semua tergantung pada persiapan masingmasing, baik mental maupun materi. Berdasarkan evaluasi yang kami lakukan setiap kali selesai mengajar, rata-rata hari pertama memang membutuhkan tenaga ekstra dalam melaksanakan tugas. Tidak sedikit praktikan, yang suaranya langsung habis pada saat pertama kali masuk kelas, sebab rata-rata, kelas rame dan agak susah dikendalikan. Ramai atau tidaknya, dan nakal atau tidaknya peserta didik di kelas sangat bergantung dengan bagaimana guru praktikan membawa peserta didik dalam pembelajaran yang aktif dan menyenangkan. Pada saat praktikan mengajar, biasanya guru pamong berada dalam kelas selama 20-45 menit, setelah itu guru pamong meninggalkan ruangan, atau bahkan ada yang ditunggui sampai jam pelajaran selesai. Dalam proses pembelajaran, guru praktikan melakukan beberapa tahapan sebagai berikut : 1. Membuka pelajaran Dalam kegiatan ini guru melaksanakan kegiatan sebagai berikut : a. Menyiapkan kondisi kelas sebaik mungkin b. Membuka pelajaran dengan salam atau do’a c. Mendata peserta didik yang hadir (presensi) d. Apersepsi, penjelasan materi yang telah disampaikan pada pertemuan sebelumnya dan hubungannya dengan materi yang akan disampaikan. e. Mengembangkan test awal (pre test) 2. Pengembangan Materi Dalam langkah ini guru melakukan hal-hal berikut : a. Menjelaskan tujuan yang akan dicapai dalam pertemuan tersebut b. Menggunakan metode belajar yang tepat

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010

33

c. Memanfaatkan sumber belajar yang ada seperti buku, media, dan lingkungan. 3. Pengelolaan dan dinamika kelas Untuk melakukan pengelolaan kelas ada beberapa yang dilakukan untuk membentuk hubungan antar pribadi yang sehat dan serasi, seperti : a. b. c. d. Berbicara dengan sopan kepada peserta didik Mendorong terjadinya tukar pendapat Menerapkan aturan yang telah disepakati Menunjukkan sikap adil terhadap semua peserta didik Di samping itu dinamika kelas juga mempengaruhi proses belajar mengajar, mengingat dalam suatu kelas terdiri dari peserta didik yang beragam mulai dari tingkat kecerdasan, kepandaian, latar belakang, kenakalan dan lain-lain. Sehingga keadaan seperti ini cukup membuat guru praktikan bekerja keras menyampaikan materi sehingga benar-benar dapat diterima oleh seluruh peserta didik. 4. Menutup Pelajaran Untuk langkah yang terakhir dalam proses belajar mengajar ini bisaanya dilakukan dengan berbagai cara diantaranya yaitu : a. b. c. d. Menyimpulkan pelajaran Memberikan pertanyaan atas materi yang telah disampaikan sebagai tolak ukur penerimaan peserta didik Memberikan tugas rumah sebagai pengayaan Menutup dengan salam atau do’a Gambaran singkat mengenai proses pembelajaran di kelas, guru praktikan mengawalinya dengan salam, berdoa bersama, presensi, kemudian motivasi. Setelah memberikan motivasi guru praktikan melakukan apersepsi dengan pendekatan CTL (contekstual teaching learning) tentang materi yang akan dibahas. Selanjutnya dalam menyampaikan inti/materi pokok sesuai dengan tujuan pembelajaran (Kompetensi Dasar), maka guru praktikan memilih

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010

34

metode dan media yang lebih menarik (tidak monoton). Misalnya dengan permainan. Jadi media yang digunakan tidak hanya papan tulis saja, sehingga suasana pembelajaran akan lebih hidup dan menyenangkan. Setelah kegiatan inti sudah selesai, guru praktikan berusaha mereview apa yang sudah disampaikan, dengan sistem ceramah maupun post test (tes akhir). Baru kemudian memberikan PR ataupun penugasan dengan memberikan soal untuk dikerjakan di rumah. Dan yang terakhir adalah sedikit merefleksikan kegiatan barusan dengan menyimpulkan inti sari dari materi, dan diakhiri dengan penutup dan doa. Demikian sedikit gambaran singkat proses pembelajaran di kelas yang tidak mungkin secara detail dituliskan dalam laporan ini. 5. Evaluasi dan Resitasi Evaluasi merupakan rangkaian kegiatan belajar mengajar yang mutlak dilakukan untuk mengukur keberhasilan pembelajaran. Tanpa evaluasi ini guru tidak akan mengetahui sejauh mana materi dapat ditangkap oleh peserta didik. Evaluasi dalam proses pembelajaran sering kita jumpai pada akhir watku, misalnya dengan test formatif maupun test sumatif. Namun dengan paradigma baru pendidikan, dan bergulirnya pembelajaran berbasis kompetensi yang disempurnakan, yakni KTSP mengharuskan bahwa belajar adalah proses menuju kematangan. Maka dengan itu, paradigma lama mengenai evaluasi harus mulai ditinggalkan. Sehingga dalam penilaian pun harus menekankan pada proses. Artinya hasil belajar tidak diukur hanya dengan menggunakan aspek kognitif saja seperti UTS, UAS, dan UAN. Namun aspek-aspek penilaiaan afektif dan psikomotorik seperti penilaian harian, presensi, kerapian, keaktifan peserta didik, keseriusan sikap, tugas-tugas harian, keterampilan, piagam penghargaan atas prestasi peserta didik, juga harus ditempatkan yang proporsional dan seimbang dari ketiga aspek tersebut.

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010

35

Di sinilah sebenarnya menuntut kesabaran dan keuletan guru. Sebab inilah yang cenderung dirasakan oleh praktikan sebagai sebuah tugas yang cukup berat. Karena dalam setiap pertemuan guru harus mempunyai data dan tabungan nilai buat peserta didik, sehingga caranya setiap mengajar harus memberikan tugas, baik berupa resum, latihan soal di buku paket, atau mengerjakan soal-soal di LKS. Dan tugas-tugas itu harus dikerjakan di luar jam pelajaran, karena jam pelajaran yang ada digunakan sepenuhnya untuk praktik mengajar. Dalam praktiknya, diakui memang bahwa penilaian proses tidak bisa sepenuhnya dapat dilakukan. Pertimbangan tentang catatan harian peserta didik misalnya, susah untuk dilaksanakan. Seringkali, guru praktikan hanya menggunakan hasil ulangan harian, hasil mengerjakan LKS dan mid semester. Namun yang jelas dalam melakukan evaluasi ini, masing-masing guru praktikan diberi otoritas penuh, selain membuat soalsoal test untuk kelas yang di ajar, termasuk dalam memberikan penilaian dan analisisnya. Contoh soal-soal yang pernah dibuat oleh guru praktikan bisa dilihat pada lampiran Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RRP) . B. PRAKTIK ADMINISTRASI DAN MANAJEMEN SEKOLAH Mengenai praktik administrasi dan manajemen sekolah, terus terang team PPL tidak banyak melakukan kegiatan tersebut. Sebab dari awal hingga akhir kami banyak mengerjakan tugas-tugas pembelajaran yang memang cukup menyita waktu dan perhatian. Seperti mengoreksi hasil ulangan siswa, maupun tugas LKS yang setiap pertemuan pasti ada penugasan untuk mengerjakan soal-soal dalam LKS tersebut. Alasan lain adalah, ketika anggota PPL dari jurusan Kependidikan Islam (KI) tidak ada dalam tim kami. Jadi untuk urusan administrasi dan manajemen, kami hanya bisa membantu semampunya.

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010 C. PELAKSANAAN KEGIATAN EKSTRA KURIKULER

36

Ekstrakurikuler merupakan agenda sekolah yang dimaksudkan untuk mengembangkan potensi non akademik dan mengasah talenta peserta didik sesuai dengan bakat dan keinginan peserta didik itu sendiri. Dalam era KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) sekarang ini, tentunya sangat relevan ketika ekstra kurikuler dijadikan ajang yang lebih serius untuk menggarap keahlihan peserta didik dalam bidang tertentu. Sebab dalam pelajaran yang disajikan dalam intrakurikuler tidaklah maksimal untuk menjadikan potensi peserta didik lebih terasah. Satu misal, dalam pelajaran Pendidikan Jasmani, hanya menekankan pada aspek kebugaran saja. Tidak sampai pada wilayah prestasi, jadi dalam ekstrakurikuler itulah peserta didik dapat dikondisikan untuk lebih berprestasi dalam sebuah bidang yang benar-benar menjadi bakat dan minatnya. Seperti halnya di sekolah-sekolah lain, di MTs N 1 Semarang menyediakan banyak jenis kegiatan ektrakurikuler yang ditawarkan. Ada sekitar 20 jenis kegiatan di luar jam pelajaran sekolah tersebut, yang boleh dipilih peserta didik untuk diikuti sesuai dengan keinginan masing-masing. Adapun jenis kegiatan tersebut antara lain; Paskibra, PMR, Qiro’ah, Muhadatsah, Kaligrafi, Pramuka, volly, basket, Drum Band, Band, Rebana, Dan masih banyak lagi. untuk lebih jelasnya dapat lihat dalam lampiran kegiatan Ekstra Kurikuler (lampiran V) Adapun tata tertib kegiatan Ekstra Kurikuler di MTS N 1 Semarang adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. Siswa kelas X wajib mengikuti kegiatan ekstra kurikuler Siswa kelas X wajib mengikuti salah satu kegiatan ekstra Semua siswa kelas XI harus mengikuti maksimal 2 macam Siswa kelas XII boleh mengikuti 1 macam kegiatan ekstra Pramuka selama I Semester. kurikuler di sekolah selain Pramuka. kegaiatan ekstra kurikuler. kurikuler hanya sampai dengan semester I.

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010 5. 6. wib.

37

Kegiatan ekstra kurikuler berlangsung pada sore hari, jam Kegiatan ekstra kurikuler harus sudah selesai pada jam 17.00

15.00 – 17.00 wib.

Peserta didik dipersilahkan memilih ekstra mana yang disukai, dan untuk tekhnis perekrutan ektra tersebut mekanisme adalah peserta didik diberi surat edaran pada awal tahun ajaran baru, yang memuat daftar jenis ektra, beserta tanggal dan waktunya. Setiap peserta didik mendapatkan surat tersebut, untuk kemudian agar dapat dikonsultasikan pada orang tua untuk mendapatkan persetujuan. Sehingga kegiatan peserta didik di luar jam pelajaran sekolah tersebut, ikut dipantau oleh orang tua. D. PENGELOLAAN SUMBER BELAJAR Pengelolaan sumber belajar yang telah dilakukan oleh guru praktikan adalah menyesuaikan sumber acuan yang digunakan oleh sekolah latihan. Ada beberapa sumber buku belajar yang kami gunakan yaitu, buku pedoman Pemkot Semarang, LKS dari sekolah, dan tambahan sumber lainnya yang kami dapatkan dari perpustakaan sekolah atau buku pegangan kami sendiri dari berbagai sumber disesuaikan dengan materi ajar. E. KENDALA PELAKSANAAN PPL Dalam pelaksanaan PPL selama 2 bulan, mulai tanggal 15 Juli sampai 12 September 2009, ada beberapa kendala yang kami temui di lapangan antara lain: 1. Satu kendala yang terkadang dialami oleh guru praktikan, adalah dalam me-manage waktu kurang. Sehingga tidak jarang ketika bel tanda waktu habis, guru praktikan belum sempat memberikan tugas apapun. Akibatnya ada peserta didik yang jarang merespon kalau guru praktikan memberikan tugas rumah. 2. Dalam tahap penilaian mahasiswa praktikan belum maksimal, sebab semuanya diserahkan kepada guru pamong dan Dosen

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010

38

pembimbing jurusan yang seharusnya ikut berperan menilai di dalam kelas dalam aturan fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang belum ada. 3. Jarak sekolah latihan yang lumayan jauh dari kampus, membuat beberapa mahasiswa praktikan ada yang terlambat ketika berangkat. Sebab tidak ada yang kos di lingkungan sekitar sekolah latihan, dan angkutan umum yang menuju kesana agak susah.

BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN Berdasarkan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) yang telah kami lakukan selama kurang lebih dua bulan di MTs N 1 Semarang, maka kami dapat menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut: 1. MTS N 1 Semarang adalah institusi yang memengang teguh kedisiplinan dan tetap konsisten menjalankan tata tertib yang ada. Maka tak diragukan lagi bahwa keberhasilan MTS N 1 Semarang dalam mencetak segudang prestasi berpangkal pada kedisiplinan yang selama ini dipatuhi dan dijalankan dengan baik. 2. Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di MTS N 1 Semarang memberikan banyak pengalaman berharga dan tantangan tersendiri bagi para mahasiswa praktikan dalam menghadapi peserta didik maupun lingkungan di dalamnya. Sehingga dapat menjadi lahan pengasahan kompetensi calon pendidik yang sebenarnya, baik kompetensi pribadi, kompetensi ilmu pengetahuan, maupun kompetensi kemasyarakatan.

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010

39

3. Dukungan yang luar biasa baik dari pihak MTs N 1 Semarang, terutama Guru Pamong dan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) kepada kami memberikan motivasi tersendiri bagi kelancaran dan keberhasilan kegiatan PPL. B. SARAN DAN KRITIK Untuk pengembangan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) ke depan agar lebih optimal, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai berikut: 1. Pihak Fakultas Tarbiyah hendaknya: a. Meningkatkan keseriusan menyelenggerakan kegiatan PPL dengan lebih baik, sehingga dalam pelaksanaannya benar-benar dapat mencapai tujuan yang diidealkan. Bukan sekedar berjalan, tanpa adanya upaya-upaya perbaikan. Mengadakan evaluasi dan follow up secara jelas demi perbaikan mutu dan kualitas fakultas Tarbiyah ke depan. Seperti mengagendakan Dosen Pemimbing tiap-tiap Jurusan, agar semua urusan mahasiswa praktikan dalam hal penilaian tidak sepeenuhnya diserahkan pada DPL dari keilmuan/jurusan berbeda. b. Seyogyanya dalam proses coaching PPL diberikan muatan materi praktis tentang cara mengajar yang baik, relatif merupakan cara mengajar yang sebenarnya dilaksanakan di sekolahsekolah lapangan, tidak sekedar teori praktis yang melangit, namun perlu untuk mendatangkan coach atau guru dari sekolah-sekolah yang berkaitan. c. proporsional kemampuan d. Menempatkan mahasiswa praktikan secara selektif dan dengan mempertimbangkan agar dalam mutu sekolah PPL dan tidak mahasiswa, pelaksanaan

menjatuhkan nama lembaga sendiri. Mengontrol kinerja dosen pembimbing lapangan (DPL) secara aktif, sebab tidak jarang DPL yang tidak melaksanakan

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010

40

tugasnya dengan baik. Jadi setidaknya optimalisasi bimbingan dapat terealisasi. e. Mengurangi faktor like and dislike dalam penilaian terhadap mahasiswa praktikan dan ditekankan pada parameter kualitas kemampuan mahasiswa yang secara obyektif, bisaanya hanya bisa dilakukan pihak sekolah praktikan. f. Meningkatkan hubungan yang lebih baik dengan instusi pendidikan (sekolah/madrasah), artinya tidak sebatas sebagai partner untuk menyediakan tempat praktik bagi mahasiswa, namun bagaimana fakultas dan sekolah mampu menjadi partner dalam meningkatkan mutu pendidikan. 2. MTs N 1 Semarang hendaknya: a. Tetap konsisten dan terus mempertahankan kualitas dan mutu pendidikan, dalam arti prestasi sekolah harus tetap diupayakan sesuai dengan tujuan institusional MTs N 1 Semarang itu sendiri. b. Jadikan para mahasiswa praktikan sebagai salah satu subyek pendidikan yang masih mempunyai idealisme untuk sedikit mengusahakan perubahan dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Walaupun mereka masih miskin dalam hal pengalaman dan realitas di lapangan. Setidaknya dengan adanya perpaduan antara segudang teori yang mengganjal dalam benak para mahasiswa praktikan, dapat ditemukan dengan realitas persoalan yang ada, akan menghasilkan sebuah solusi terhadap permasalahan pendidikan. c. Memberikan motivasi dan pengertian kepada peserta didik tentang posisi PPL sehingga dalam proses belajar mengajar tidak terganggu karena mengartikan bahwa praktikan masih dalam proses belajar dan bukan guru sebenarnya. d. Meningkatkan kualitas keagamaan pada peserta didik dengan terus mengarahkan peserta didik supaya taat beragama, dengan memberikan

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010 kesempatan yang lebih banyak agar pribadi anak

41

terbisaa

melaksanakan ajaran-ajaran/nilai-nilai keberagamaan. e. Mengusahakan peningkatan kinerja seluruh stake holder yang ada dengan menjalin komunikasi yang baik, agar timbul kesadaran dan komitmen merasa bersama bahwa dengan tanggungjawab diindikasikan penyelenggaraan adanya partisipasi pendidikan adalah tugas bersama. Sehingga masyarakat pun ikut memilikinya, masyarakat dalam wadah komite sekolah, agar paradigma pendidikan adalah sepenuhnya urusan sekolah. Sehingga masyarakat tidak hanya sebagai penyokong dana, akan tetapi bisa memberikan masukan, seperti kurikulum dan sebagainya. 3. Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) a. Sering mengontrol peserta PPL sehingga kinerja praktikan menjadi optimal, bukan hanya mengontrol, akan tetapi benar-benar menjalankan fungsinya sebagai pembimbing. b. Menjalin hubungan baik dengan pihak sekolah, khususnya guru pamong sehingga dalam melaksanakan fungsinya lebih objektif. c. Berperan 4. Guru Pamong a. Meningkatkan kualitas bimbingan yang selama ini diberikan, juga lebih menciptakan hubungan emosional yang lebih baik kepada seluruh tim PPL, sehingga akan terjalin hubungan kerjasama yang lebih baik dalam hal melaksanakan pembelajaran. b. Dalam memberikan tugas lain selain mengajar, hendaknya secara sistematis dan terorganisir sehingga meminimalisir keruwetan kegiatan yang dilakukan peserta PPL. c. Selebihnya sudah baik, dan terimah kasih kami khusus buat seluruh guru pamong yang benar-benar ngemong kami dengan sabar selama di MTs N 1 Semarang. Jazaakumullah khoiron jaza. aktif bersama guru pamong membimbing dan mengarahkan praktikan.

DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO LAPORAN PPL FAKULTAS TARBIYAH DI MTS NEGERI 1 SEMARANG TH. 2009 /2010

42

Demikian laporan ini disusun, semoga dapat memberikan manfaat bagi para pembaca umumnya dan tim PPL di MTs N 1 Semarang khususnya. Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pelaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) ini sampai selesai. Apabila ada keterbatasan dalam pelaksanaan PPL selama kurang lebih 2 bulan (15 Juli sampai 12 September) di MTS N 1 Semarang ini, serta ada kesalahan atau kekurangan dalam mendeskripsikan laporan ini, kami mohon maaf kepada pihak sekolah. Semoga MTs N 1 Semarang menjadi salah satu lembaga pendidikan yang konsisten dalam membangun bangsa ini ke arah yang lebih baik. Dan berhasil mewujudkan generasi penerus yang berbudi pekerti luhur serta unggul dalam mutu sesuai dengan Visi-Misi yang diharapkan. Amien.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer: Get 4 months of Scribd and The New York Times for just $1.87 per week!

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times