You are on page 1of 170

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Permasalahan Sejak diberlakukannya Undang Undang No. 22 Tahun 1999 dan kemudian dirubah menjadi Undang Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagai penganti Undang Undang No. 5 Tahun 1974, diskusi tentang efektivitas pelayanan publik dalam otonomi daerah menjadi semakin menarik untuk dibicarakan. Permasalahannya karena sudah 2 (dua) kali perubahan undang-undang tersebut dilakukan, namun peningkatan pelayanan publik publik sebagai sasarannya selalu dipertanyakan, bahkan ada diskusi yang membahas bahwa Undang Undang No. 32 Tahun 2004 perlu lagi perubahan. Undang-undang ini merupakan implimentasi pasal 18 ayat (1) UUD 1945 yang mengatakan bahwa Negara Republik Indonesia merupakan negara kesatuan yang dibagi atas daerah-daerah propinsi dan propinsi terdiri dari daerah kabupaten dan kota yang mempunyai pemerintahan daerah yang diatur dalam undang-undang. Selanjutnya, pasal 2 ayat (2) menyebutkan bahwa pemerintah daerah propinsi, daerah kabupaten dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut azas otonomi dan tugas perbantuan. Dalam menjalankan otonomi dan tugas perbantuan, kecuali urusan pemerintah pusat, pemerintah daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturan lain sesuai dengan ketentuan berlaku. Pada dasarnya, maksud pasal 18 UUD 1945 tersebut adalah mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan,

2 pemberdayaan dan peran serta masyarakat. 1 Selanjutnya dijelaskan bahwa pemerintahan penyelenggaraan daerah dalam meningkatkan perlu efisiensi dan antar efektivitas susunan

otonomi

daerah,

memperhatikan

pemerintahan antar pemerintahan daerah, potensi dan keanekaragaman daerah dalam sistem Negara Kesatuan RI. Dalam berbagai aspek UU No. 32 Tahun 2004 mengatur hubungan keuangan pusat dan daerah, pelayanan umum, pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya secara adil dan selaras. Di samping itu, dalam menjalankan perannya, daerah diberikan

kewenangan yang seluas-luasnya disertai dengan pemberian hak dan kewajiban menyelenggarakan Otonomi Daerah dalam kesatuan sistem penyelenggaraan pemerintahan negara.2 Masalah pelayanan publik di Indonesia masih sangat memprihatinkan, karenanya pemerintah masih perlu membuat strategi dan kebijakan agar dapat memenuhi hak azazi warga negara dan membutuhkan solusi menyeluruh untuk membuat pelayanan publik yang baik.3 Sebagai gambaran dan fenomena pelayanan publik di Provinsi Sumatera Barat saat ini seperti terlihat rendahnya tingkat kinerja aparatur penyelenggara pemerintahan di daerah. Indikasi menunjukan bahwa Pemerintah Daerah melalui Peraturan Gubenur Sumatera Barat Nomor 74 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2006 - 2010 menempatkan hal ini sebagai skala prioritas utama. Dalam bagian IV, (Agenda penyelenggaraan pemerintahan daerah yang baik dan bersih Bab II diatur

11 Penjelasan Umum, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Publik CV. Jaya Jakarta, Cetakan Pertama, 2004. hal. 125. 22 Ibid, hal. 123, 124 3 Wacana HAM, Pandangan Publik yang memprihatinkan Edisi 17, Tahun III, 15 Oktober 2005, hal. 1

3 tentang Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik)4 yang menerangkan bahwa

berdasarkan hasil identifikasi dalam pembinaan pelayanan publik masih banyak permasalahan yang perlu ditindaklanjuti dan diselesaikan seperti : belum kompetitif, transfaran dan akuntabilitas proses pelayanan publik, rendahnya etos kerja aparatur, pelayanan publik belum didukung oleh teknologi informasi serta belum ada instrumen yang jelas untuk mengevaluasi kualitas pelayanan. Sasaran yang hendak dicapai dalam peningkatan kualitas pelayanan publik tahun 2006-2010 ke depan adalah : 1. Terlaksananya pelayanan publik kepada masyarakat sesuai dengan standar layanan yang ditetapkan. 2. Tercapainya transparansi dalam proses pelayanan publik. 3. Meningkatnya etos kerja, profesionalisme dan kompetensi aparatur. 4. Meningkatnya kemandirian masyarakat dalam mendapatkan pelayanan publik. 5. Meningkatnya pengguna teknologi informasi dalam pemberian pelayanan publik. 6. Meningkatnya peran masyarakat terhadap penilaian kinerja aparatur pelayanan publik. Dalam RPJMD tersebut ditetapkan arah kebijakan, program pengembangan pelayanan publik dan pengembangan partisipasi publik (masyarakat) yang berada dalam agenda penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan bersih bersamaan dengan sub-sub agenda lainnya, yaitu : peningkatan kemampuan pemerintah daerah, peningkatan kualitas pelayanan publik, pemberantasan korupsi, kolusi dan
4 Naskah Peraturan Gubernur Sumatera Barat Nomor 74 Tahun 2005, hal. 121

4 nepotisme, pembangunan hukum dan perlindungan hak azazi manusia, peningkatan keamanan dan ketertiban. Dengan demikian "masalah" Pelayanan publik sudah diakomodir dalam suatu konsepsi dan strategi kebijakan untuk kurun waktu 2006-2010 mendatang yakni dengan isu bagaimana meningkatkan kualitas pelayanan publik tersebut dari tahun ke tahun yang disinyalir seakan-akan berjalan di tempat. Berdasarkan fakta dalam RPJMD Propinsi Sumatera Barat, betapa rendahnya kualitas pelayanan publik tersebut, salah satu diantaranya terdapat pada Perangkat Daerah/Dinas (Satuan Kerja Perangkat Daerah) yaitu Dinas Pendapatan Daerah. Fakta lain menjelaskan, walaupun jumlah penerimaan daerah yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) cenderung menunjukan peningkatan dan

memberikan kontribusi yang besar terhadap penerimaan daerah, pencapaian hasil relatif masih dibawah target. Khususnya pencapaian target (realisasi) penerimaan pajak daerah dari sub-sektor Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB). Bertitik tolak dari fakta dan kenyataan di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dan penulisan ilmiah dengan menyingkap dan

menganalisanya secara mendalam dengan penekanan yang diarahkan kepada peningkatan pelayanan publik terutama terhadap sub sektor pajak daerah yang berasal dari pajak kendaraan bermotor dan bea balik nama kendaraan bermotor melalui Dinas Pendapatan Daerah Cq. UPTD Pelayanan Pendapatan Provinsi Sumatera Barat di Padang, melalui Kantor Bersama SAMSAT. Pelaksanaan pelayanan publik yang diselenggarakan oleh unit pelayanan Kantor Bersama SAMSAT ini terdapat 3 unit kerja yang terkait dan berhubungan,

5 yaitu pihak Pemerintah Provinsi c.q. Dinas Pendapatan Daerah, Polri c.q. Kepolisian Daerah dan PT. AK Jasa Raharja. Dengan adanya 3 unit kerja masalah yang ditemukan dalam pelayanan adalah bertemunya 3 (tiga) kepentingan yang berbeda yang saling membutuhkan dan saling berhubungan, namun menyatu dan saling berkaitan (Simbiose Mutualistis). Ketiga unit kerja ini sama-sama bertujuan memberikan pelayanan publik secara prima kepada masyarakat. Pihak Pemda dalam memberikan pelayanan bertujuan untuk peningkatan penerimaan daerah yang diperlukan bagi keperluan dana pembangunan yang berasal dari sumber-sumber PAD, sedangkan di pihak lain Polda lebih berkepentingan dalam masalah pengidentifikasian kepemilikan dan keamanan. Pengelolaan kebijakan melalui Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (SAMSAT) sudah sesuai dengan maksud Undang Undang 32 Tahun 2004, namun efektivitas keberadaan pola dan sistem SAMSAT masih perlu penyempurnaan. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan kajian karena sepengatahuan penulis belum ada yang menelaahnya, terutama bila dikaitkan dengan suasana dan nuansa tuntutan tatanan Pemerintahan yang Baik dan Bersih (Good Governance and Clean Government). Penulisan dan penganalisaan mempedomani teori-teori menurut Ilmu Hukum Administrasi Negara, dikaitkan dengan aspek normatif dari berbagai ketentuan peraturan perundangan dengan judul : Efektivitas Pelayanan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor pada Dinas Pendapatan Daerah Propinsi Sumatera Barat (Suatu Kajian Dalam Perspektif Hukum Administrasi Negara).

6 B. Rumusan Permasalahan Adapun pokok bahasan penelitian ini, akan ditinjau dari perspektif Hukum Administrasi Negara yakni : a. Sejauh mana pelayanan publik di bidang perpajakan pada Dispenda cq. UPTD Pelayanan Pendapatan Prop. Sumbar di Padang melalui Kantor Bersama Samsat terhadap Pengelolaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (PKB dan BBN-KB) efektivitasnya (efektif dan efisien) mewujudkan "Pemerintahan Yang Baik dan Bersih (Good Governance and Glean Government)? b. Faktor-faktor dominan apa saja yang mempengaruhi efektivitas pelayanan sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM) kepada wajib pajak agar sejalan dengan peningkatan pemasukan pendapatan daerah (pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor) baik secara intensifikasi maupun ekstensifikasi? C. Tujuan Penelitian Mengetahui efektivitas pelayanan umum yang diberikan oleh instansi

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat Cq. Dinas Pendapatan Daerah cq. UPTD PPP di Padang, melalui kantor bersama SAMSAT kepada wajib pajak (masyarakat pemilik kendaraan bermotor). Mengetahui peranan dan fungsi UPTD PPP di Padang dalam mengelola kewenangannya dalam mengelola sumber pendapatan daerah yang menjadi tugas dan urusan sesuai dengan kewenangan dalam kompetensi wilayah

7 administratifnya sesuai ketentuan perundang-undangan.

D. Manfaat Penelitian Manfaat Teoritis Manfaat teoritis dari hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi dan sumbangan pemikiran untuk pengembangan Hukum Administrasi Negara di Bidang Tata Pemerintahan Daerah pada umumnya, serta Hukum Perpajakan/Pajak Daerah pada khususnya. Manfaat Praktis Manfaat praktis, hasil penelitian diharapkan sebagai kontribusi sumbangan pemikiran dalam upaya meningkatkan kinerja SKPD serta kualitas kerja aparat pemerintahan daerah dalam memberikan pelayanan publiknya kepada wajib pajak/masyarakat. E. Kerangka Teoritis dan Konseptual 1 Kerangka Teoritis 1) Otonomi Daerah Pengertian otonomi daerah yang melekat dalam keberadaan pemerintah daerah, juga sangat berkaitan dengan desentralisasi. Baik pemerintahan daerah, desentralisasi maupun otonomi daerah, adalah bagian dari suatu kebijakan dan praktek penyelenggaraan pemerintahan, tujuannya adalah demi terwujudnya kehidupan masyarakat yang tertib, maju dan sejahtera, setiap orang bias hidup tenang, nyaman, wajar oleh karena memperoleh kemudahan dalam segala hal di bidang pelayanan

8 masyarakat.5 Oleh karena itu keperluan otonomi di tingkat lokal pada hakekatnya adalah untuk memperkecil intevensi pemerintah pusat kepada daerah. Dalam Negara Kesatuan (unitarisme) otonomi daerah itu diberikan oleh pemerintah pusat (central government), sedangkan pemerintah daerah hanya menerima penyerahan dari pemerintah pusat.6 Berbeda halnya dengan otonomi daerah di Negara federal, dimana otonomi daerah sudah melekat pada negara-negara bagian. Secara normatif, penyerahan kewenangan pemerintah pusat kepada pihak lain (pemerintah daerah) untuk dilaksanakan disebut dengan desentralisasi. Desentralisasi sebagai suatu system yang dipakai dalam system pemerintahan merupakan kebalikan sentralisasi. Dalam system sentralisasi, kewenangan pemerintah baik di pusat maupun di daerah, dipusatkan dalam tangan pemerintahan pusat.7 Dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan negara yang

menganut prinsip pemencaran kekuasaan secara vertikal, membagi kewenangan kepada pemerintah daerah bawahan dalam bentuk penyerahan kewenangan. Penerapan prinsip ini melahirkan model pemerintahan daerah yang menghendaki adanya otonomi dalam penyelenggaraannya. Dalam sistem ini, kekuasaan negara terbagi antara pemerintah pusat di satu pihak dan pemerintah daerah di lain pihak. Penerapan pembagian kekuasaan
5 Parjoko, Filosofi Otonomi Daerah Dikaitkan dengan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999, Nomor 25 Tahun 1999, makalah, Makalah Falsafah Sains (Pps 720) Program Pascasarjana/S3 Institut Pertanian Bogor, Februari, 2002, hal. 1. 6 Sarundajang, Arus Balik Kekuasaan Pusat ke Daerah, Pustaka SInar Harapan, Jakarta, Cetakan 1, Juli, 1999. 7 Soetijo, Hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, PT Rineka Ripta, Jakarta, 1990.

9 dalam rangka penyerahan kewenangan otonomi daerah, antara negara yang satu dengan negara yang lain tidak sama, termasuk Indonesia yang menganut negara kesatuan.8 Philip Mawhood menyatakan desentralisasi adalah pembagian dari sebagian kekuasaan pemerintah oleh kelompok yang berkuasa di pusat terhadap kelompok-kelompok lain yang masing-masing memiliki otorisasi dalam wilayah tertentu suatu negara.9 Sementara itu, B.C. Smith mendefenisikan desentralisasi sebagai proses melakukan pendekatan kepada pemerintah daerah yang

mensyaratkan terdapatnya pendelagasian kekuasaan (power) kepada pemerintah bawahan dan pembagian kekuasaan kepada daerah. Pemerintah pusat diisyaratkan untuk menyerahkan kekuasaan kepada Pemerintah Daerahseagai wujud pelaksanaan desentralisasi.10 Tujuan desentralisasi secara umum oleh Smith dibedakan atas 2 (dua) tujuan utama, yakni tujuan politik dan ekonomis. Secara politis, tujuan desentralisasi antara lain untuk memperkuat pemerintah daerah, untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan politik para

penyelenggara pemerintah dan masyarakat, dan untuk mempertahankan integritas nasional. Sedangkan secara ekonomi, tujuan desentralisasi, antara lain adalah untuk meningkatkan kemampuan pemerintah daerah dalam menyediakan public good and service, serta untuk meningkatkan

8 Bambang Yudoyono, makalah Telaah Kritis Implementasi UU NO. 22/1999, Upaya Mencegah Desintegrasi Bangsa, disampaikan pada seminar dalam rangka kongres ISMAHI di Bengkulu, 22 Mei 2000. 9 Siswanto Sunarno, Hukum Pemerintahan Daerah di Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 2006. 10 Ibid.

10 efisiensi dan efektifitas pembangunan ekonomi di daerah.11 Sedangkan D. Juliantara, dkk memberikan pengertian desentralisasi dengan merujuk pada asal katanya, bahwa istilah desentralisasi berasal dari bahasa latin, de artinya lepas dan centrum artinya pusat.12 Lebih jauh ia menyebutkan desentralisasi yang dimaknai dalam konteks yang lebih luas, bahwa konstek negara-negara demokrasi modern, kekuasaan politik diperoleh melalui pemilihan umum yang diselenggarakan secara regular dan serentak di setiap daerah untuk memberikan legitimasi terhadap tugas dan wewenang lembaga-lembaga politik di tingkat nasional dan juga di tingkat local sendiri. Dengan kata lain, kekuasaan pemerintah daerahlah yang memintah dan menarik kembali sebagian kewenangan yang telah diberikan kepada pemerintah pusat, bukan karena kebaikan hati pemerintah pusat.13 Dengan demikian jelaslah, bahwa desentralisasi akan melahirkan otonomi daerah dan bahkan kadangkala sulit untuk membedakan pengertian diantara keduanya secara terpisah. Desentralisasi dan otonomi daerah bagaikan dua sisi mata uang yang saling memberi makna satu sama lainnya. Lebih spesifik, ungkin tidak berlebihan ila dikatakan ada atau tidaknya otonomi daerah sangat ditentukan oleh beberapa jauh wewenang yang telah didesentralisasikan oleh Pemerintah Pusat ke Pemerintah Daerah. Itulah sebabnya, dalam studi Pemerintahan Daerah, para analis sering menggunakan istilah desentralisasi dan otonomi daerah secara
11 Syarif Hidayat (editor), Kegamangan Otonomi Daerah? Pustaka Quantum, Jakarta, 2004. 12 D. Juliantara, dkk. Desentralisasi Kerakyatan, Gagasan da Praksis, Pondok Edukasi, Bantul, 2006. 13 Ibid.

11 bersamaan, interchange. Adanya otonomi daerah dalam negara, dilatarbelakangi oleh pengalaman masa lalu dimana keberadaan negara hanya dianggap sebagai instrument oleh kaum kapitalis. Kondisi ini kemudian melahirkan konsep Marxis tentang Instrumental State. Demikian halnya paham Sosialis yang menghendaki adanya otonomi dari pengaruh partai politik (partai komunis) yang cenderung mengintervensikan kehidupan negara. Dalam hubungan ini negara menginginkan otonomi untuk memperkecil intervensi dan bahkan

menghilangkan

pengaruh-pengaruh

ataupun

kaum-kaum

kapitalis dan sosialis. Berbeda halnya dengan pemberian otonomi dengan pemerintah local, yaitu untuk memperbesar kewenangan mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri.14 Oleh karena itu, keperluan otonomi di tingkat local pada hakikatnya adalah untuk memperkecil intervensi pemerintah pusat kepada daerah. Dalam negara kesatuan (unitarisme) otonomi daerah itu diberikan oleh pemerintah pusat (central government), sedangkan pemerintah daerah hanya menerima penyerahan dari pemerintah pusat. Berbeda halnya dengan otonomi daerah di negara federal, di mana otonomi daerah sudah melekat pada negara-negara bagian. Reuter, mengemukakan, desentralisasi adalah sebagian pengakuan atas penyerahan wewenang oleh badan-badan umum yang lebih tinggi kepada badan-badan umum yang lebih rendah untuk secara mandiri dan berdasarkan pertimbangan kepentingan sendiri mengambil keputusan
14 Sarundajang, op cit.

12 pengaturan dalam pemerintahan, serta struktur wewenang yang terjadi. Dalam hal itu Rondineli, mengatakn bahwa desentralisasi dari arti luas mencakup setiap penyerahan kewenangan dari pemerintah pusat baik kepada daerah maupun kepada pejabat pemerintah pusat yang ditugaskan di daerah.15 Koeswara, mengemukakan, bahwa pengertian desentralisasi pada dasarnya mempunyai makan bahwa melalui proses desentralisasi urusanurusan pemerintahan yang semua termasuk wewenang dan tanggung jawab pemerintah pusat, sebagian diserahkan kepada badan/lembaga

pemerintahan di daerah.16 Prakarsa untuk menemukan prioritas, memilih alternatif dan mengambil keputusan yang menyangkut kepentingan daerahnya, baik dalam hal menentukan kebijaksanaan, perencanaan, maupun pelaksanaan sepenuhnya diserahkan kepada daerah. Lebih dalam lagi, bila kita cermati prinsip-prinsip hukum dalam pengelolaan masalah-masalah bangsa (nation affairs) ke depan governance dikatakan baik (good atau sound) apabila sumber daya dan masalahmasalah publik dikelola secara efektif dan efisien serta aspiratif yang didasarkan kepada transparansi, akuntabilitas dan partisipasi masyarakat serta rule of law. Oleh karena itu pelaksanaan kewenangan politik, ekonomi dan administrasi dalam mengelola masalah-masalah layanan tersebut perlu
15 Oentara Sm, dkk, Menggagas Format Otonomi Daerah Masa Depan, Samitra Media Utama, Jakarta, 2004. 16 Koeswara, Prospek Pengembangan desentralisasi dan Otonomi Daerah dengan Titik Berat pada Daerah Tingkat II, Badan Pendidikan dan Latihan Departemen Dalam Negeri, 1996.

13 memperhatikan prinsip-prinsip hukum pengelolaan sumber daya yang dimiliki, seperti prinsip good governance, subsidiarity, equity, privaty use, prier appropriation (first in time, first in right), sustainable development, good sustainable development govermance dan participatory

development. Menurut peneliti prinsip subsidiarity dalam pelaksanaan otonomi daerah dalam koridor Negara Kesatuan Republik Indonesia sangat relevan dan tepat dipedomani dan diterapkan dalam pengelolaan sumber daya pendapatan daerah, karena menurut teori subsidiarity secara lugas dan tegas dikatakan bahwa kewenangan yang telah diberikan oleh pemerintah tingkat lebih atas (pusat) kepada pemerintah tingkat lebih rendah (seperti provinsi dan atau kabupaten/kota) akan dapat ditarik kembali oleh tingkat lebih atas bila ternyata tingkat lebih rendah yang menerimanya tidak dapat melaksanakan mestinya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan pemerintah provinsi dalam menjalankan urusan otonomi daerahnya di bidang perpajakan including/ termasuk di dalamnya pemberian pelayanan publik yang baik terhadap wajib pajak sektor tertentu jelas akan menjadi ukuran tingkat kemampuan yang realistas bagi suatu pemerintah provinsi tersebut. Artinya bila pemerintah provinsi ternyata tidak mampu mengelola kewenangan dan administrasi pengelolaannya dengan baik, maka pemerintah pusat memiliki otoritas penuh untuk menarik kembali penyerahan/pemberian kewenangan untuk mengelola urusan seperti kewenangan (urusan/administrasi)-nya sebagai mana

14 kewenangan mengelola/memungut pajak daerah tertentu. Berdasarkan penjelasan di atas, kita dapat memahami bahwa salah satu tujuan otonomi yaitu peningkatan pelayanan dan kesejahteraan yang semakin baik. Untuk itu dengan desentralisasi diharapkan daerah akan memberikan pelayanan yang lebih baik dibandingkan dengan sistem sentralistik. Pelayanan pemerintah dengan sistem sentralistik. Pelayanan pemerintah di era otonomi, diharapkan akan lebih baik dan aspiratif, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sasaran dari kemandirian daerah adalah agar daerah dapat mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Kertergantungan daerah terhadap pusat dalam pengambilan berbagai keputusan publik

diminimalkan. Diharapkan keputusan publik yang dibuat oleh daerah bagi kepentingan masyarakatnya akan lebih cermat, lebih tepat dan lebih cepat atau dengan kata lain pelayanan akan lebih berdaya guna dan berhasil guna.17 Kemandirian daerah ini adalah dimaksudkan untuk tujuan pemberian pelayanan yang efisien, partisipatif dan akhirnya peningkatan daya saing daerah. Keputusan publik yang cermat, tepat dan cepat itu adalah merupakan cerminan dari efisiensi pelayanan. Pendirian sebuah sekolah dikatakan efisien bila daya tampungnya terpenuhi. Keputusan pembuatan jalan raya efisien bila jalan tersebut bermanfaat oleh masyarakat yang ada di sekitarnya. Begitu juga halnya dengan pendirian

17 Syahruddin dan Werry Darta Taifur, Peranan DPRD untuk Mencapai Tujuan Desentralisasi dan Perspektif tentang Pelaksanaan Desentralisasi, Laporan penelitian Iris Indonesia dan Pusat Studi Kependudukan UNAND Padang, Tahun 2002, hal. 28.

15 rumah sakit pada lokasi tertentu. Dalam rangka itu reposisi daerah hendaknya dipahami sebgai upaya mengaktualisasikan berbagai potensi dan aspirasi masyarakat daerah, sehingga rakyat di daerah dapat mengekspresikan kepentingan dan kehendaknya. Untuk itu pemerintah daerah perlu menyusun kerangka kerja yang memungkinkan terserapnya berbagai potensi dan aspirasi rakyat terutama prinsip pelayanan. Mengingat tujuan utama dibentuknya pemerintahan adalah untuk menjaga sistem ketertiban di dalam masyarakat, sehingga bisa menjalani kehidupannya secara wajar. Pemerintah diadakan tidaklah untuk melayani dirinya sendiri tetapi juga untuk melayani masyarakat, 18 dalam

mengembangkan kemampuan dan kreatifitasnya demi mencapai tujuan bersama. Untuk mencapai pelaksanaan pelayanan umum tersebut dibutuhkan oaparatur yang berkualitas, memiliki kemampuan dalam melayani, memenuhi memuaskan, kebutuhan, menanggapi keluhan masyarakat secara

sesuai dengan ekspektasi (harapan)

mereka melalui

kebijaksanaan, perangkat hukum yang berfungsi sebagai acuan dalam pengendalian, pengaturan agar kekuatan sosial dan aktivitas masyarakat tidak membahayakan negara dan bangsa. Teori mewujudkan pemerintahan good modern mengajarkan dijalankan bahwa untuk

governance

perlu

desentralisasi

18 Ryaas Rasyid, Makna Pemerintahan : Tinjauan dari Segi Etika dan Kepemimpinan, PT. Yarsif Watampone, Jakarta, 1997.

16 pemerintahan.19 Dengan desentralisasi pemerintahan maka pemerintahan akan semakin dekat dengan rakyat. Asumsinya pemerintahan yang dekat denagn rakyat, maka pelayanan yang diberikan menjadi lebih cepat, hemat, murah, responsif, inovatif, akomodatif dan produktif. Ryaas Rasyid mengatakan the closer givernment, the better it service.20 Dalam desentralisasi terkandung makna otonomi dan demokratisasi. Dua kata tersebut yakni otonomi dan demokrasi tidak mungkin dipisahkan, ia ibarat dua sisi mata uang yang satu dan yang lain saling memberi nilai. Otonomi tanpa demokratisasi merupakan suatu keniscayaan21 dan sebaliknya demokratisasi tanpa otonomi adalah kebohongan. Dalam sejarah otonomi di Indonesia sejak kemerdekaan memang sarat dengan kebohongan. Yuridis formal dalam undang-undang pemerintahan daerah otonomi diakui, tetapi dalam implementasinya terjadi pemasungan-pemasungan melalui filter-filter yuridis peraturan pelaksanaan undang-undang tersebut, akibatnya kemandirian dan otoaktivitas daerah menjadi tersumbat. Hal itulah yang kemudian melahirkan resistensi daerah terhadap pusat yang sangat menguras energi menyelesaikannya. Adanya otonomi kebijakan otonomi khusus bagi Propinsi Aceh dan Irian Jaya memang lahir di tengah derasnya tuntutan disintegrasi. Hal itu jika pusat menyadari secara filosofis dan sosiologis otonomi yang dibangun bikan linear atau simetris tetapi
19 Baca David Osborne dan Ted Gaebler, Reinventing Government, 1993, hal. 250 dst. 20 M. Ryaas Rasyid, Desentralisasi dalam Rangka Menunjang Pembangunan Daerah, dalam Administrasi Pembangunan Indonesia, LP3ES, 1998, hal. 140. 21 Yuslim, Titik Berat Otonomi pada Daerah Tingkat II, Tesis, Pascasarjana Unpad, 1997. Kasus Pemilihan Gubernur Riau tanggal 2 September 1985 di mana Ismail Suko yang memperoleh dukungan DPRD dengan 19 suara, sementara H. Imam Munandar yang memperoleh dukungan 17 suara, karena kuatnya arus sentralisasi Ismail Siko menyatakan mundur dari pencalonan Gubernur setelah diminta menghadap Ketua Golkar, waktu itu Wakil Presiden Sudarmono.

17 suatu asymmetric decentralization.22 2) Pelayanan Umum Pelayanan pemerintahan daerah merupakan tugas dan fungsi utama pemerintah daerah. Hal ini berkaitan dengan fungsi dan tugas pemerintahan secara umum, yaitu memberikan pelayanan kepada masyarakat. Dengan pemberian pelayanan yang baik kepada masyarakat, maka pemerintah akan dapat mewujudkan tujuan negara yaitu menciptakan kesejahteraan masyarakat. Pelayanan kepada masyarakat tersebut

terintegrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan.23 Pelayanan publik berhubungan dengan pelayanan yang masuk kategori sektor publik, bukan sektor privat. Pelayanan tersebut dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah dan BUMN/BUMD. Ketiga komponen yang menangani sektor publik tersebut menyediakan layanan publik, seperti kesehatan, pendidikan, keamanan, dan ketertiban, bantuan sosial dan penyiaran.24 Dengan demikian yang dimaksud pelayanan publik adalah pelayanan yang diberikan oleh negara/daerah dan perusahaan milik negara kepada masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dalam rangka menciptakan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah baik pusat maupun daerah mempunyai tiga fungsi utama : 1) memberikan pelayanan (service) baik pelayanan perorangan maupun pelayanan publik/khalayak, 2) melakukan pembangunan fasilitas ekonomi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi (development for
22 Kebijakan otonomi yang uniformitas tidak sesuai dengan esensi kebhinekaan di Indonesia, dan juga tidak sesuai dengan ajaran rumah tangga riil. 23 Hanif Nurcholish, Teori dan Pratek Pemerintahan dan Otonomi Daerah, PT. Grasindo, 2005, hal. 175. 24 Ibid, hal. 176.

18 economic growth), dan 3) memberikan perlindungan (protective) masyarakat.25 Sebagai fungsi public services, pemerintah wajib

memberikan pelayanan publik secara perorangan maupun khalayak/publik. Pelayanan untuk orang perorangan misalnya pemberian KTP, SIM, IMB, Sertifikat tanah, paspor, surat izin dan keterangan. Pelayanan publik misalnya pembuatan lapangan sepakbola, taman kota, hutan lindung, trotoar, waduk, taman nasional, panti anak yatim/jompo/cacat/miskin, tempat pedagang kaki lima dan lain-lain.26 Oleh karena itu pemerintah daerah wajib memberikan pelayanan perorangan dengan biaya murah, cepat dan baik, harus mendapatkan

pelayanan yang sama. Disamping itu juga harus diperlakukan oleh petugas dengan sikap yang sopan dan ramah. Semua orang tanpa kecuali baik kaya, miskin, pejabat, orang biasa, orang desa atau kota, harus diperlakukan sama. Tidak boleh dibeda-bedakan baik dengan sikap, biaya maupun waktu penyelesaian. Pelayanan pemerintah daerah kepada khalayak juga harus adil dan merata. Pemerintah Daerah tidak boleh menganakemaskan atau menganaktirikan kelompok masyarakat tertentu, sehingga yang satu diberi lebih dan yang lain diberi sedikit.27 Dengan demikian pelayanan publik oleh pemerintah daerah harus dapat memuaskan publik. Untuk mengetahui sejauh mana kualitas pelayanan yang diberikan oleh pemerintah daerah bisa diukur dengan

25 Ibid, hal. 178. 26 Ibid. 27 Ibid, hal. 182.

19 indikator-indikator : mudah, murah, cepat, tidak berbelit, petugasnya murah senyum, petugasnya membantu jika ada kesulitan, adil dan merata serta memuaskan. 3) Kualitas Pelayanan Vincent Gesperz, mengemukakan bahwa kualitas pelayanan, meliputi dimensi-dimensi berikut :28 Ketaatan waktu pelayanan, berkaitan dengan waktu tunggu dan waktu proses Akurasi keakuratan pelayanan, pelayanan berkaitan dan dengan dari

bebas

kesalahan-kesalahan. Kesopanan dan keramahan dalam memberikan pelayanan, berkaitan dengan prilaku orangorang yang berintegrasi langsung kepada pelanggan eksternal. Tanggung jawab, berkaitan dengan penerimaan pesanan dan penanganan keluhan pelanggan eksternal (masyarakat). Kemudahan mendapatkan pelayanan, berkaitan dengan banyaknya petugas yang melayani dan fasilitas pendukung. Kenyamanan mendapat pelayanan, berkaitan dengan lokasi, ruangan tempat pelayanan,
28 Ditjen Pemerintahan Umum, op.cit.

20 tempat parkir, ketersediaan informasi dan petunjuk panduan lainnya. Atribut pendukung lainnya, seperti lingkungan, kebersihan, ruang tunggu, fasilitas musik, AC, dan lain-lain. Vincent Gesperz juga mengemukakan manajemen perbaikan kualitas yang dikenal dengan konsep Vincent. Konsep ini terdiri dari strategi perbaikan kualitas yaitu : Visionary transformation (tranformasi misi) Infrastructure (infrastruktur) Need for Improvement (kebutuhan untuk perbaikan) Customer Focus (Fokus Pelanggan) Empowerment (Pemberdayaan) NewViews of Quality (pandangan baru tentang kualitas) Top Management ( Komitmen manajemen puncak) 4) Prinsip Good Governance Word Bank maupun UNDP mengembangkan istilah baru yaitu governace sebagai pendamping kata government. Istilah tersebut sekarang sedang sangat populer digunakan dikalangan akademisi maupun masyarakat luas. Kata governace kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dalam berbagai kata. Ada yang menterjemahkan menjadi

21 tata pemerintahan, ada pula yang menterjemahkan menjadi

kepemerintahan.29 Perubahan penggunaan istilah dengan pengertiannya akan

mengubah secara mendasar pratek-pratek penyelenggaraan pemerintahan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Perubahannya akan mencakup tiga dimensi yaitu dimensi struktural, dimensi fungsional serta dimensi kultural. Perubahan struktural menyangkut struktur hubungan antara pemerintahan pusat dengan pemerintahan daerah, struktur hubungan antara eksekutif dan legislatif maupun struktur hubungan antara pemerintah dengan masyarakat. Perubahan fungsional menyangkut perubahan fungsifungsi yang dijalankan pemerintah pusat, pemerintah daerah maupun masyarakat. Sedangkan perubahan kultural menyangkut perubahan pada tata nilai dan budaya-budaya yang melandasi hubungan kerja

intraorganisasi, antarorganisasi maupun eksraorganisasi.30 United Nation Development Programe (UNDP), memberikan batasan pada kata governance sebagai pelaksanaan kewenangan politik, ekonomi, dan administrasi dalam mengelola masalah-masalah bangsa. Governance dikatakan baik (good atau sound) apabila sumber daya publik dan masalah-masalah publik dikelola secara efektif dan efisien, yang merupakan respon terhadap kebutuhan masyarakat. Tentu saja pengelolaan yang efektif dan efisien dan responsive terhadap kebutuhan rakyat menuntut iklim demokrasi dalam pemerintahan, pengelolaan sumber daya

29 Sadu Wasistiono, Kapita Selekta Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah, Alqprint Jatinangor, Bandung, hal. 27. 30 Ibid.

22 alam dan pengelolaan masalah-masalah publik yang didasarkan pada keterlibatan masyarakat, akuntabilitas, serta transparan. Governance berarti pelaksanaan pemerintahan. Ini berarti good governance adalah pemerintahan yang baik (lembaga), sedangkan (good governance) adalah pelaksanaan pemerintahan yang baik

(penyelenggaraannya). Clean government mengandung arti pemerintahan yang bersih (lembaga), sedangkan Clean government berarti pelaksanaan pemerintahan yang bersih. Baik buruknya suatu pemerintahan bisa dinilai bila ia telah bersinggungan dengan semua unsur prinsip-prinsip good governance sebagaimana tersebut di bawah ini.31 Partisipasi (Participation) Sebagai pemilik kedaulatan rakyat, setiap warga negara mempunyai hak dan kewajiban untuk mengambil bagian dalam bernegara, berpemerintahan serta bermasyarakat. Partisipasi tersebut dapat dilakukan secara langsung maupun melalui institusi intermediasi seperti DPRD, LSM dan lain sebagainya. Partisipasi rakyat warga negara dilakukan tidak hanya pada tahapan implementasi, tetapi secara menyeluruh mulai dari tahapan penyusunan kebijakan, pelaksanaan, evaluasi serta pemanfaatan hasil-hasilnya. Syarat utama warga negara disebut transparansi dalam kegiatan berbangsa, bernegara dan berpemerintahan, yaitu :
31 Sadu Wasistiono, Kapita Selekta Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah, Alqaprint Jatinangor, Bandung, hal. 27, lihat juga dalam Agung Hendarto, nazar Suhendar (eds), Good government dan Penguatan Institusi Daerah, Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI), 2002, hal 2-3.

23 Ada rasa kesukarelaan (tanpa paksaan) Ada keterlibatan secara emosional Memperoleh manfaat secara langsung maupun tidak langsung dari keterlibatannya. Penegakan Hukum (Rule of Law) Good governance dilaksanakan dalam rangka demokratisasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satu syarat kehidupan demokratisasi adalah adanya penegakan hukum yang adil dan dilaksanakan tanpa pandang bulu. Tanpa penegakan hukum yang tegas, tidak akan tercipta kehidupan yang demokratis, melainkan anarki. Tanpa penegakan hukum, orang secara bebas berupaya mencapai tujuannya sendiri tanpa mengindahkan kepentingan orang lain, termasuk menghalalkan segala cara. Oleh karena itu, langkah awal penciptaan good governance adalah membangu sistem hukum yang sehat, baik perangkat lunak (software), perangkat keras (hardware) maupun sumber daya manusia yang menjalankan sistemnya (human ware). Transparansi (Transparancy) Salah satu karakteristik good governance adalah keterbukaan. Karakteristik ini sesuai dengan semangat zaman yang serba terbuka akibat adanya revolusi informasi. Keterbukaan tersebut mencakup semua aspek aktivitas yang menyangkut kepentingan publik mulai dari proses pengambilan keputusan, penggunaan dana-dana publik sampai pada tahap evaluasi.

24 Daya Tanggap (Responsiveness) Sebagai konsekwensi logis dari keterbukaan, maka setiap komponen yang terlibat dalam proses pembangunan good governance perlu memiliki daya tanggap terhadap keinginan maupun keluhan para pemegang saham (satake holder). Upaya peningkatan daya tanggap tersebut terutama ditujukan pada sektor publik yang selama ini cendrung tertutup, arogan serta berorientasi pada kekuasaan. Untuk mengetahui kepuasan masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan oleh sektor publik, secara periodik perlu dilakukan survey tingkat kepuasan konsumen (custumer satisfaction). Berorientasi pada Konsenseus (Consensus Orientation) Kegiatan bernegara, berpemerintahan dan bermasyarakat pada dasarnya adalah kreatifitas politik, yang berisi dua hal utama yaitu konflik dan konsensus. Di dalam good governance, pengambilan keputusan maupun pemecahan masalah bersama lebih diutamakan berdasarkan konsensus, yang dilanjutkan dengan kesedian untuk konsisten melaksanakan konsensus yang telah diputuskan bersama. Konsensus bagi bangsa Indonesia sebenarnya bukanlah hal baru, karena nilai dasar kita dalam memecahkan persoalan bangsa adalah melalui musyawarah. Keadilan (Equity) Melalui prinsip good governance, setiap warga negara memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh kesejahteraan. Akan tetapi karena kemampuan masing-masing warga negara berbeda-beda, maka

25 sektor publik perlu memainkan peranan agar kesejahteraan dan keadilan dapat berjalan seiring sejalan. Keefektifan dan Efisiensi (Effectiveness and Efficiency) Agar mampu berkompetisi secara sehat dalam percaturan dunia, kegiatan domain dalam governance perlu mengutamakan efektivitas dan efisiensi dalam setiap kegiatan. Tekanan perlunya efektivitas dan efisiensi terutama ditujukan pada sektor publik karena sektor ini menjalankan aktivitasnya secara monopolistik. Tanpa adanya

kompetensi tidak akan tercapai efisiensi. Akuntabilitas (Accountability) Setiap aktivitas yang berkaitan dengan kepentingan publik perlu mempertanggungjawabkan kepada publik. Tanggung gugat dan tanggung jawab tidak hanya diberikan kepada atasan saja melainkan juga pada para pemegang saham (stake holder), yakni masyarakat luas. Secara teoritis, akuntabilitas itu sendiri dapat dibedakan menjadi lima macam yaitu sebagai berikut : Akuntabilitas Organisasional / administratif. Akuntabilitas legal Akuntabilitas politik Akuntabilitas profesional Akuntabilitas moral

Visi Strategis (Strategic Vision) Dalam era yang berubah secara dinamis seperti sekarang ini, setiap domain dalam good governance perlu memiliki visi yang

26 strategis. Tanpa adanya visi semacam itu, maka suatu bangsa dan negara akan mengalami ketertinggalan. Visi itu sendiri dapat dibedakan antara visi jangka panjang (long term vision) antara 20 sampai 25 tahun (satu generasi) serta visi jangka pendek (short term vision) sekitar 5 tahun. 2 Kerangka Konseptual 1) Pengeseran kewenangan Administrasi Negara Sejak diundangkannya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan saat ini telah diperlakukannya UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 telah membawa berbagai implikasi sebagai akibat adanya pergeseran kewenangan yang semua bersifat sentralistik menjadi desentralistik. Artinya kewenangan kewenangan yang semua diatur dan ditentukan oleh Pemerintah Pusat otonotis berpindah dan telah menjadi kewenangan dan tanggung jawab Daerah. Dalam pada itu, bila dicermati pengertian Pasal 7 ayat (2) UndangUndang Nomor 22 Tahun 2004 diterangkan bahwa kewenangan bidang lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kebijakan tentang perencanaan nasional dan pengendalian pembangunan nasional secara makro, dana perimbangan keuangan, sistem administrasi negara dan lembaga perekonomian negara, pembinaan dan pemberdayaan sumber daya manusia, pemberdayaan sumber daya alam serta teknologi tinggi yang strategis, konservasi dan standardisasi nasional, disebutkan bahwa posisi pemerintah pusat hanya sebatas menyiapkan dan berbuat yang bersifat kebijakan-kebijakan saja, dengan pengertian tidak lagi bertindak

27 sebagai menetapkan setiap kebutuhan daerah. Bila pergeseran kewenangan termasuk kewenangan yang bertalian dalam menerbitkan berbagai bentuk tata usaha negara atau administrasi negara yang semula terpusat/terkonsentrasi (dikuasai) oleh pemerintah pusat tentu pergesaran tersebut akan termasuk berbagai kewenangan tata usaha negara atau administrasi negara yang selama ini ditangani pusat akan menjadi kewenangan dan tanggung jawab daerah. Selain itu, dalam Undang-Undang Pemerintaha Daerah disebutkan pula bahwa otonomi yang bertanggung jawab adalah berupa perwujudan pertanggungjawaban sebagai konsekuensi pemberian hak dan kewenangan kepada Daerah dalam wujud tugas dan kewajiban yang harus dipikul oleh Daerah dalam mencapai tujuan pemberian otonomi tersebut berupa peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang semakin baik, pengembangan kehidupan demokrasi, keadilan dan pemerataan. Makna pengertian Pasal 7 ayat (2) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan pengertian otonomi bertanggung jawab, akan terlepasnya hak dan kewenangan pusat berupa ijin yang meliputi pengesahan, penghapusan, persetujuan, penetapan dan berbagai kewenangan lain bergeser/berpindah menjadi hak dan kewenangan Daerah Propinsi, Kabupaten/Kota. Begitupun dalam pengertian otonomi luas vide Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, daerah diharapkan mampu meningkatkan daya saing dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan dan kekhususan serta potensi dari Daerah dalam sistem

28 Negara Kesatuan RI inilah prinsip dari otonomi seluas-luasnya itu yaitu berdasarkan asas otonomi dan urusan pembantuan. Menurut Bagir Manan,32 ketentuan ini memberikan gambaran bahwa otonomi daerah itu merupakan wewenang dari daerah. 2) Efektivitas Reformasi Perpajakan Upaya pemerintah untuk meningkatkan penerimaan pajak salah satunya melalui: Reformasi perpajakan (1983) dengan perubahan sistem perpajakan yaitu dari sistem official assesment, menjadi sistem self assesment. Perubahan sistem perpajakan didikuti dengan penyempurnaan administrasi perpajakan melalui perubahan struktur organisasi melalui reorganisasi, harus terus dilakukan secara

berkesinambungan. Dengan harapan dapat meningkatkan kinerja yang dapat diukur berdasarkan produktivitas, responsivitas dan akuntabilitas. Sasaran Administrasi perpajakan adalah untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak (Toshiyuki). : Target Akhir administrasi perpajakan adalah untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak, bahwa dalam sistem self assesment aktifitas utama administrasi perpajakan adalah untuk mengawasi kepatuhan dan meyakinkan bahwa wajib pajak menjalankan kewajiban perpajakannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam hal: Pendaftaran wajib pajak

32 Bagir Manan, Fungsi dan Materi Peraturan Perundang-undangan, makalah disampaikan pada Penataran Dosen Pendidikan dan Latihan Kemahiran Hukum BKS-PTN bidang Hukum seWilayah Barat, Fakultas Hukum Universitas Lampung di Bandar Lampung, tanggal 11 November 1994, hal 2

29 Penilaian Menjalankan Prosedur pemungutan Pelaporan penghindaran dan penggelapan pajak Menurut Bird dan Jantscher terdapat hubungan antara administrasi perpajakan dengan kepatuhan wajib pajak yang dapat memperkecil angka ketidak patuhan. Bukan hanya melihat dari aspek peningkatan penerimaan saja.33 Administrasi pajak yang baik pada dasarnya tidak mampu mengumpulkan penerimaan pajak sebesar-besarnya. Administrasi

perpajakan yang mudah ditagih, seperti gaji pegawai, tetapi tidak mampu untuk menagih pajak dari perusahaan-perusahaan dan profesional, jadi penerimaan pajak bukan merupakan ukuran yang tepat atas efektivitas administrasi perpajakan. Pengukuran lebih akurat untuk mengetahui efektivitas administrasi perpajakan adalah berapa besarnya jurang kepatuhan, yaitu selisih antara penerimaan pajak yang sesungguhnya dengan penerimaan pajak potensial dengan tingkat kepatuhan dari masingmasing sektor perpajakan. Berdasarkan hal tersebut di atas dapat dikatakan bahwa kepatuhan wajib pajak saat ini masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari aspek pemenuhan kewajiban perpajakan, khususnya yang berkaitan dengan kewajiban; pendaftaran, pelaporan SPT dan pelunasan pajak terhutang, pendeknya kepatuhan WP dapat diidentifikasikan sebagai berikut: Pertama :
hal. 8-9

Kepatuhan wajib pajak dalam mendaftarkan diri, jumlah

33 Chaizi Nasuha, Reformasi Administrasi Publik Teori dan Praktek, Grasindo, Jakarta, 2004,

30 wajib pajak yang terdaftar pada administrasi pajak masih sangat rendah (pada tahun 2002 dari 210 juta jumlah penduduk wajib pajak orang pribadi dan badan yang terdaftar hanya 2.583.960 wajib pajak. Artinya Sistem Perpajakan Nasional belum dapat meningkatkan pembayaran beban pajak yang terdistribusi secara merata, karena hanya 10 % lebih wajib pajak yang menanggung beban pajak (Tax Corverage Ratio). Kedua : Kepatuhan wajib pajak untuk menyetor kembali Surat Pemberitahuan (SPT). Ketiga : Kepatuhan wajib pajak dalam perhitungan dan pembayaran pajak terhutang masih rendah (1.068.467 WP atau 41,35% dari keseluruhan wajib pajak efektif yaitu 2.583.960 wajib pajak). Keempat : Kepatuhan dalam pembayaran tunggakan pajak, akumulasi jumlah nominal tunggakan pajak cukup besar (sampai tahun 2000 Rp. 17,3 Triliun, besarnya jumlah tunggakan dan rendahnya pencapaian penagihan pajak tiap tahun

menunjukkan bahwa penegakkan hukum melalui penagihan aktif belum dilaksanakan secara optimal sesuai dengan ketentuan. Dengan demikian menurut Chaizi Naruha tersebut terlihat bahwa ada hubungan/korelasi antara reformasi perpajakan dengan tingkat kepatuhan wajib pajak.

31 Menurut Andreoni et, al; Kepatuhan wajib pajak dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain: Pelayanan Publik, kebijakan dan keuangan publik, penawaran tenaga kerja, jenis pekerjaan, bentuk organisasi, moral wajib pajak, tarif pajak, demografi (jenis kelamin dan umur), kondisi sosial masyarakat, penegakan hukum (audit dan penalti), kompleksitas dan amnesti pajak. Mengingat banyaknya faktor yang mempengaruhi kepatuhan wajib pajak, untuk membatasi permasalahan penelitian ini hanya difokuskan pada pengaruh efektivitas reformasi administrasi perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak yang meliputi reformasi organisasi, prosedur organisasi, strategi organisasi dan budaya organisasi. Berdasarkan gambaran di atas, terlihat bahwa tingkat kepatuhan wajib pajak dipengaruhi oleh bagaimana administrasi perpajakan dijalanka.34 Administrasi perpajakan yang lemah, baik yang menyangkut aspek struktur organisasi, prosedur organisasi, strategi organisasi maupun budaya organisasi dapat menyebabkan akuntabilitas organisasi dan tingkat kepatuhan wajib pajak rendah dan ini berdampak juga pada rendahnya kinerja perpajakan. Permasalahan pokok yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah apakah reformasi administrasi perpajakan yang telah dilakukan selama ini sudah atau belum secara menyeluruh mencakup perubahan dari aspek struktur organisasi, prosedur, strategi organisasi, dan budaya organisasi,
34 Ibid, hal 28-29

32 sehingga berpengaruh terhadap akuntabilitas organisasi,

(SAMSAT/UPTD) dalam meningkatkan kepatuhan wajib pajak. 3) Kinerja Sektor Publik Kinerja merupakan tingkat pencapaian tujuan organisasi menurut, Rue dan Bryan, kinerja adalah tingkat pencapaian (the degree of accomplishment). Kinerja bagi setiap organisasi sangat penting terutama penilaian ukuran keberhasilan suatu organisasi dalam batas waktu tertentu. Berbagai pendapat menyamakan kinerja (performance) dengan prestasi kualitas pelaksanaan tugas atau aktivitas pencapaian tujuan dan misinya.35 Di samping itu ada pula pendapat yang menyamakan pengertian kinerja dengan efisiensi dan efektivitas. (Miles dan Snow 1978, 77-78). (Interplant, 1969 : 15)36 Atmo Sudirjo, berpendapat bahwa kinerja dapat berarti prestasi kerja, prestasi penyelenggaraan sesuatu. Levine, Lima indikator untuk mengukur kinerja sektor publik, produktifitas, kualitas pelayanan, responsivitas, responsibilitas, dan akuntabilitas.37 a. Produktivitas adalah ukuran seberapa pelayanan publik itu menghasilkan yang diharapkan, dari segi efisiensi dan efektivitas. b. Kualitas pelayanan adalah ukuran-ukuran citra yang

35 Ibid, hal. 24 36 Opcid, hal 24 37 Loc cit

33 diakui masyarakat mengenai pelayanan yang diberikan yaitu masyarakat merasa puas atau tidak puas. c. Responsivitas adalah ukuran kemampuan organisasi untuk mengenali kebutuhan masyarakat, menyusun agenda dan prioritas pelayanan publik sesuai kebutuhan dan aspirasi masyarakat. d. Responsibilitas adalah ukuran apakah pelaksanaan kegiatan sesuai dengan prinsip-prinsip administrasi yang benar. e. Akuntabilitas adalah ukuran seberapa besar kebijakan dan kegiatan organisasi publik dapat

dipertanggungjawabkan kepada rakyat atau konsisten dengan kehendak rakyat. 4) Pelayanan Publik dalam Administrasi Negara Pengertian pelayanan adalah suatu proses bantuan kepada orang lain dengan cara-cara tertentu yang memerlukan kepekaan dan hubungan interpersonal agar terciptanya kepuasan dan keberhasilan.38 Sedangkan pelayanan umum menurut Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara ( Men-Pan ) No. 81 Tahun 1993 adalah segala bentuk pelayanan umum yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah di pusat, di daerah dan lingkungan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dalam bentuk barang dan atau jasa, bai dalam rangka upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan
38 Direktorat Jenderal Pemerintahan Umum Departemen Dalam Negeri,

34 perundang-undangan. Dari pengertian tentang pelayanan umu di atas, terkait beberapa istilah dalam administrasi Negara, seperti instansi pemerintah, tata laksana, tata kerja, prosedur kerja, sistem kerja, kewajiban dan seterusnya yang diuraikan di bawah ini.39 1. Instansi Pemerintah Yang dimaksud dengan instansi pemerintah di sini adalah sebutan kolektif yang meliputi satuan kerja atau satuan organisasi suatu departemen, lembaga pemerintah bukan departemen, instansi pemerintah lainnya, baik instansi pemerintah di tingkat pusat maupun instansi pemerintah di tingkat daerah, termasuk BUMN dan BUMD. 2. Tata Laksana Yang dimaksud dengan tata laksana adalah segala aturan yang ditetapkan oleh pimpinan instansi pemerintah yang menyangkut tata cara, prosedur dan sistem kerja dalam melaksanakan kegiatan yang berkenaan dengan penyelenggaraan tugas dan fungsi pemerintah dan pembangunan pelayanan di bidang umum. 3. Tata Kerja Tata kerja dimaksudkan sebagai cara-cara pelaksanaan kerja yang efisien mengenai satu atau serangkaian tugas dengan memperhatikan segisegi tujuan, peralatan, fasilitas, tenaga waktu, ruang, biaya yang tersedia. 4. Prosedur Kerja Yang dimaksud dengan prosedur kerja adalah rangkaian tata kerja
39 Ibid, hal.3

35 yang berkaitan satu sama lain, sehingga menunjukkan adanya urutan secara jelas dan pasti serta cara-cara yang harus ditempuh dalam rangka penyelesaian suatu bidang tugas. 5. Sistem Kerja Sistem kerja di sini diartikan dengan rangkaian tata kerja dan prosedur kerja yang membentuk suatu kebulatan pola kerja tertentu dalam rangka mencapai hasil kerja yang diharapkan. 6. Kewajiban Kewajiban di sini diartikan sebagai aparatur penyelenggaraan pelayanan umum untuk mengambil tindakan dalam rangka pelaksanaan tugas dan fungsi sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku. Dalam rangka memuaskan masyarakat sebagai pelanggan, kewajiban bukan hanya melekat pada pejabat, tetapi setiap aparatur dalam lingkungan kerja ketika bertemu dengan pelanggan. Misalnya wajib untuk menanyakan apa yang diinginkan pelanggan yang hadir pada waktu itu. Artinya harus proaktif dalam menyambut kedatangan pelanggan. F Metode Penelitian a. Pendekatan Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan empiris menurut penelitian hukum sosiologis untuk mengetahui efektivitas dan dampak hukum dari adanya kebijaksanaan publik pelayanan di bidang perpajakan. Yang diukur dari standar waktu dan biaya berdasarkan Standar Pelayanan Minimal (SPM). Dalam hal ini secara normatif apakah telah berhasil atau gagal menciptakan kinerja (pencapaian target penerimaan/

36 pemungutan pajak kendaraan bermotor dan bea balik nama kendaraan bermotor) secara bersamaan yang ditilik dari aspek kepatuhan wajib pajak (kesadaran hukum masyarakat) dan pemahaman aparat perpajakan dalam memberikan pelayanan saat mengemban tugasnya sehari-hari. Penelitian ini menggunakan data kuantitatif dan kualitatif yang diperdapat saat survey deskriptif, yang disampaikan dalam bentuk deskripsi kualitatif. b. Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan pada Kantor Bersama SAMSAT/ UPTD Pelayanan Pendapatan Provinsi Sumatera Barat di Padang dengan wilayah kerja meliputi wilayah otonom dan Administratif Kota Padang yang terdiri dari sebelas Kecamatan, yaitu Kecamatan Padang Timur, Padang Barat, Padang Utara, Padang Selatan, Lubuk Begalung, Kuranji, Nanggalo, Koto Tangah, Teluk Kabung, Lubuk Kilangan dan Pauh dengan 103 kelurahannya. Pengambilan sampel penelitian diambil dari lima kecamatan tertentu yang padat penduduknya di Kota Padang, sedangkan kecamatan lain (6 kecamatan) hanya 2 kecamatan (diambil/dipilih) secara acak, sesuai dengan kompetensi keperluan situasi dan kondisi sampel. c. Metode dan Alat Pengumpulan bahan hukum. Teknik pengumpulan data yang digunakan tergantung kepada data dan sumber data yang dibutuhkan, antara lain adalah : 1) Dokumentasi; untuk mengumpulkan data primer dan sekunder, penulis menganalisa dokumen-dokumen

dalam bentuk tulisan. Data yang dikumpulkan antara lain tentang APBD, Pendapatan Asli Daerah, Hukum

37 Pajak Daerah, data kepegawaian, data statistik berupa PDRB, laporan-laparan dan lain-lain yang berkaitan dengan tujuan penelitian. 2) Observasi; untuk memperoteh informasi serta gambaran empirik tentang data-data yang diperlukan dengan mengadakan penelitian. 3) Wawancara; maksud adalah percakapan data langsung sekunder dengan yang pengamatan langsung pada obyek

untuk

memperkuat

diperlukan dalam penelitian. Percakapan itu dilakukan aleh dua pihak yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai

(responden). Tehnik wawancara yang digunakan adalah wawancara terbuka (open interview) dengan maksud agar responden tahu bahwa mereka sedang

diwawancarai dan mengetahui pula maksud wawancara tersebut. Untuk itu instrumen penelitian yang digunakan adalah pedoman wawancara (indepth interview) yang merupakan penuntun bagi peneliti dalam

mengembangkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka sehingga memberikan kebebasan yang seluasluasnya bagi responden untuk menyampaikan

pendapatnya. 4) Untuk melengkapi sumber data primer dalam penelitian

38 ini, juga ditetapkan para fungsionaris pejabat terkait yang berkompeten mengambil kebijakan terhadap kinerja Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera

Barat dan UPTD Samsat Padang yakni pejabat yang menempati tingkatan (top management, middle

management, dan lower rrranagement' serta staf) serta para penentu kebijakan pada Pemerintah Propinsi Sumatera Barat dan Jajaran Polda Sumatera Barat. d. Populasi dan Sampel Dari populasi 420 yang didapatkan dari jumlah rata-rata wajib pajak dan aparat perpajakan terkait setiap harinya, diambil sebagai sampel sebanyak 42 orang (10%), yang ada pada Kantor Bersama

SAMSAT/UPTD Pelayanan Pendapatan Provinsi Sumatera Barat di Padang, dari para wajib pajak dipilih sampelnya sebanyak 42 orang yang berasal dari masyarakat Kota Padang dalam wilayah 5 kecamatan sampel/terpilih yaitu Kecamatan Padang Timur 8 orang, Kecamatan Padang Barat 8 orang, Kecamatan Koto Tangah 8 orang, Kecamatan Lubuk Begalung 8 orang dan Kecamatan Bungus 28 orang dan 2 orang dari aparat pajak yang berdomisili di luar Kota Padang. Teknik yang dipakai dalam pengambilan sampel adalah Stratified random sampling, karena dcngan cara ini sub kelompok yang spesifik akan memiliki jumlah yang cukup terwakili dalam sampel, serta menyediakan jumlah sampel sebagai sub analisis dari anggota kelompok tersebut. Dalam strategi ini populasi dikategorikan dalam kelompok-kelompok yang

39 memiliki strata yang sama sesuai karakteristik masing-masing responden. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari responden (wajib pajak) dan petugas pajak serta pejabat yang berwenang/ terkait. Untuk melengkapi data yang diperoleh secara langsung dari responden tersebut, data juga diperoleh dari beberapa informan tertentu, yaitu orang-orang yang relevan dianggap mengetahui masalah objek penelitian dengan melakukan wawancara. Sedangkan Data Sekunder merupakan data yang diperoleh dari

buku referensi dan data yang ada di Dispenda Provinsi Sumatera Barat, Ditlantas Polda Sumatera Barat, PT. Jasa Raharja (Persero) Cabang Sumatera Barat dan Kantor Bersama Samsat Sumatera Barat di Padang. Data yang diperoleh antara lain yang berkaitan dengan situasi dan Kondisi Samsat, seperti sumber daya yang tersedia, meliputi manusia (kualitas dan kuantitas) dan prasarana serta wajib pajak yang dilayani. Selain itu, Data Sekunder ini diperoleh melalui penelitian kepustakaan yang bersumber dari : 1. Bahan Hukum Primer, antara lain : a. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah; b. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal. c. Instruktur Presiden No. 7 Tahun 1999 tentang

40 Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintahan. d. Instruksi Presiden No. 1 Tahun 1995 tentang Perbaikan Mutu Pelayanan Aparatur

Pemerintahan Kepada Masyarakat. e. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. 63/KEP/ M.PAN/2003 tentang Pedoman Umum Penyeleng-garaan Pelayanan Publik. f. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 7 Tahun 2006 tentang Standarisasi Sarana dan Prasarana Kerja Pemerintah Daerah. g. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 24

Tahun 2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu. h. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara : Kep/25/M.PAN/2/2004 tentang

Pedoman Umum Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat Pemerintah. i. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. Kep/26/M.PAN/2/2004 tentang Petunjuk Akuntabilitas Pelayanan Publik. Teknis dalam Transparansi dan Unit Pelayanan Instansi

Penyelenggaraan

41 j. Surat Keputusan Bersama Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima ABRI, Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri Nomor Nomor

PoI/KEP/13/XII/1976,

KEP.1693/MK/TU/12/1976 dan Nomor 311 Tahun 1976, tentang Peningkatan Kerjasama antara Pemerintah Daerah Tingkat I, Komando Daerah Kepolisian dan Aparat Departemen Keuangan dalam rangka peningkatan pelayanan kepada masyarakat serta peningkatan

Pendapatan Daerah khususrya mengenai Pajak Kendaraan Bermotor; k. Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air; l. Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2003 tentang Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air; m. Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2002 tentang Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan; n. Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 1973 tentang Pembentukan Dinas Pendapatan Daerah; o. Surat Keputusan Gubernur Sumatera Barat

42 Nomor 22 Tahun 2001 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Provinsi Barat; p. Keputusan Gubernur Sumatera Barat Nomor 57 Tahun 2004 tentang Pedoman Umum di Sumatera

Penyelenggaraan lingkungan Barat.

Pelayanan

Publik

Pemerintah

Provinsi

Sumatera

q. Surat Keputusan Bersama Direktur Lalu Lintas Kepolisian Daerah Sumatera Barat dan Kepala Dinas Pendapatan Daerah Propinsi Sumatera Barat ( dan Kepala ) Cabang Jasa Raharja Nomor :

Persero

Sumatera

Barat per

B/24/I/2006/DITLANTAS

Nomor:

973/043/ PAJAK-2006/ Nomor: P/1/SPP/2006, tanggal 24 Januari 2006, tentang Standar Pelayanan Pembayaran Minimal Pajak Penerbit Kendaraan STNK, Bermotor

( PKB ), Bea Balik Nama Kendaraan Bermtor ( BBNKB ), dan Sumbangan Wajib dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan ( SWDKLLJ ). Pada Kantor Bersama SAMSAT Di Sumatera Barat.

43 r. Surat Edaran Kepala Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Barat Nomor

065/181/Dipenda-2006, 28 Februari Tahun 2006 tentang Standar Pelayanan Minimal Penerbitan Naskah Dinas dalam bentuk surat yang berkaitan dengan Pelayanan Umum yang diberikan oleh Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Barat. s. Produk hukum yang berlaku dan relevan lainnya. 2. Bahan Hukum Sekunder Dihimpun melalui kegiatan penelitian dengan memanfaatkan media cetak dan elektronik berupa buku-buku, tesis, majalah, surat kabar, internet dan sebagainya. 3. Bahan Hukum Tertier Yaitu bahan hukum yang memberi penjelasan terhadap bahan hukum sekunder, seperti ensiklopedi, kamus, dan lain-lain d. Teknik Analisis Bahan Hukum (Kualitatif) Teknik analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini dilakukan secara kualitatif. Setelah data primer terkumpul, dilakukan pengelompokan data dan pengeditan guna mengidentifikasi data yang relevan dengan pokok permasalahan penelitian. Setelah itu data dianalisis. Analisis data dimaksudkan adalah untuk menyederhana-kan data agar menjadi informasi yang dapat digunakan dalam menjelaskan permasalahan

44 penelitian. Pada tahap ini analisis data dilakukan setelah semua informasi dianggap cukup memadai oleh peneliti. Langkah yang dilakukan untuk menganalisi data yaitu melakukan penyederhanaan informasi yang diperoleh dengan memilah-milah informasi berdasarkan kategori yang telah disiapkan dalam blanko tanggapan dan daftar wawancara dengan menggunakan aturan positif yang ada dan teori-teori maupun pendapat yang disinggung dalam tinjauan pustaka, sehingga dapat ditafsirkan untuk merumuskan kesimpulan penelitian.

BAB II PELAYANAN PUBLIK DIBIDANG PERPAJAKAN

A. Pelayanan Publik 1. Pengertian Pelayanan adalah suatu cara melayani, membantu menyiapkan, mengurus dan menyelesaikan keperluan kebutuhan mayarakat, baik secara perorangan, kelompok dan atau sekelompok anggota organisasi). 40 Dalam pengertian pelayanan tersebut terkandung suatu kondisi bahwa yang melayani memiliki suatu keterampilan, keahlian dibidang tertentu. Berdasarkan keterampilan dan keahlian tersebut pihak aparat
40Sianipar, J.PG. Manajemen Pelayanan Masyarakat, (Jakarta:Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia, 2000).

golongan, organisasi ataupun

45 yang melayani mempunyai posisi atau nilai lebih dalam kecakapan tertentu, sehingga mampu memberikan bantuan dalam menyelesaikan suatu keperluan, kebutuhan individu atau organisasi. Dalam pengertian pelayanan tersebut secara konkrit diutarakan : 1) Pelayanan merupakan salah satu tugas utama aparatur pemerintah, termasuk pelaku bisnis. 2) Obyek yang dilayani : masyarakat (publik) 3) Bentuk pelayanan itu berupa barang dan jasa yang sesuai dengan kepentingan kebutuhan masyarakat dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dengan demikian pelayanan publik dapat diartikan sebagai suatu proses pemenuhan kebutuhan masyarakat terutama yang berkaitan dengan kepentingan umum dan kepentingan golongan atau individu dalam bentuk barang dan jasa. Pelayanan adalah suatu bentuk kegiatan pelayanan yang

dilaksanakan oleh instansi pemerintah baik di pusat dan daerah maupun BUMN dan BUMD dalam rangka pemenuhan kebutuhan masyarakat sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam kamus besar bahasa Indonesia dinyatakan bahwa pelayanan publik adalah suatu usaha untuk membantu menyiapkan (mengurus) apa yang diperlukan orang lain.41 Dalam pelaksanaannya pelayanan dilakukan secara pelayanan profesional, dan prima artinya dilakukan secara konkrit bahwa yang melayani harus memiliki suatu kemampuan dalam melayani, menanggapi
41 Tamaruddin, Pengembangan Polaksanaan Polayanan Prima (Padang: Badan Pendidikan dan Lalihan Provinsi Sumatera Barat). hal 1, tahun 2001

46 kebutuhan khas (unik, khusus, istimewa) orang lain agar mereka puas. Pelayanan prima merupakan pelayanan yang memenuhi standar pelayanan terhadap permintaan, keinginan, dan harapan masyarakat yang mempunyai nilai yang tinggi dan bermutu (berkualitas). Selanjutnya, Drs. H. Tamaruddin dalam Pengembangan

Pelaksanaan Pelayanan Prima menyebutkan : Tujuan dari pelayanan prima adalah memuaskan dan atau sesuai dengan keinginan pelanggan. Untuk mencapai hal itu, diperlukan kualitas pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan dan atau keinginan pelanggan. Zeithaml et el, (1990) seperti dikutip Yun, Yong, dan Loh (1998) menyatakan bahwa mutu pelayanan didefinisikan oleh pelanggan, yaitu kesesuaian antara harapan dan atau keinginan dengan kenyataan. 2. Konsepsi Pelayanan Kekuasaan dan wewenang pemerintah bersumber dari rakyat. Oleh karena itu, maju atau mundurnya suatu pemerintah ditentukan dukungan rakyat. Untuk mempertahankan dan meningkatkan pelayanan diperlukan dukungan, kepercayaan, loyalitas masyarakat, seyogyanya aparat pemerintah pada semua bidang dan tingkat menerapkan suatu konsep pelayanan berwawasan pada pemenuhan kebutuhan, keperluan, kepentingan masyarakat. Segala kebijakan, peraturan, program yang ditetapkan hendaknya berorientasi kepada kepuasan masyarakat. 42 Menurut Sianipar aparatur pemerintah hendaknya selalu lebih mengutamakan kepentingan masyarakat, lebih mempercepat proses

42 Sianipar, Manajemen Pelayanan Masyarakat, Opcid hal 14

47 penyelesaian urusan masyarakat, memberikan yang lebih berkualitas, lebih baik, lebih murah, lebih cepat, lengkap dan tuntas. Aparat pemerintah hendaknya sudah meninggalkan konsep menjual, yakni menawarkan secara agresif produk-produk yang dihasilkan berupa kebijaksanaan, peraturan, program yang belum tentu kondusif dengan kebutuhan masyarakat yang berubah cepat, keinginan dan kepuasan masyarakat. Aparat harus cepat tanggap terhadap tuntutan dan perubahan kebutuhan masyarakat. Melakukan berbagai perbaikan, perubahan atas berbagai cara, prosedur kerja, peraturan, kebijakan, program pada semua bidang kehidupan.43 Selanjutnya Sianipar menyebutkan bahwa sejalan dengan konsepsi pelayanan yang berwawasan masyarakat, maka timbul cara pandang baru yakni merubah posisi masyarakat yang dilayani dari di bawah manajemen garis depan menjadi diatas manajemen. Konsepsi memposisikan masyarakat pada puncak manajemen, merupakan suatu cara pengaktualisasian fungsi aparatur pemerintah sebagai abdi masyarakat. Konsepsi ini juga merupakan pencerminan pemikiran bahwa pelanggan adalah raja. Semua aparatur pemerintah mereformasi konsepsi, wawasan berfikir, merubah paradigma, dan -prilaku mereka dari dilayani menjadi melayani. Melayani dengan cepat, tepat pada setiap level dibidang masing-masing sesuai dengan tugas pokok dan fungsi. Cara kerja lama yang terkesan lamban diubah, dirancang menjadi pelayanan yang cepat, tepat, lebih efektif, lebih efisien. Cara-cara berfikir yang kurang terbuka, yang kaku dalam mengartikan,
439Sianipar, J.P.G., Opcid

48 menerapkan peraturan, disiplin, direformasi menjadi pemikir yang kreatif, inovatif, dan adaptif terhadap perubahan. Peraturan kebijakan yang kurang kondusif terhadap tuntutan masyarakat, dikaji, disempurnakan, atau diganti.

3. Sistem Pelayanan Nasional Sebagai titik tolak, esensi dalam penyelenggaraan pelayanan publik yang perlu disadari adalah masalah pelayanan publik bersumber pada : Adanya kewajiban pada pihak administrasi negara untuk menjalankan fungsi dan wewenangnya berdasarkan prinsip-prinsip pemerintahan yang baik dan bersih. Adanya pengakuan terhadap hak-asasi setiap warganegara atas

pemerintahan, perilaku administratif, dan kualitas hasil pelayanan yang baik. Adanya keanekaragaman jenis serta bidang pelayanan publik di Indonesia sebagai akibat dari adanya keragaman urusan dan kepentingan masyarakat yang harus dipenuhi. Terlepas dari perbedaan jenis dan bidang pelayanan di atas, aktivitas pelayanan publik hampir selalu berkaitan dengan pelaksanaan tugas-tugas penyelenggaraan pemerintahan, di mana semua tugas yang harus

diselenggarakan dalam rangka merealisasikan kebijakan umum (public policies) pemerintah harus dapat didelegasikan pada pihak-pihak atau institusi tertentu yang memiliki kewenangan (authority), kompetensi (competensi), dan sumber-sumber daya (resources) untuk menyelenggarakan pelayanan publik.

49 Sejalan dengan itu, beberapa hal pokok yang selalu melekat sebagai ciri dari Pelayanan Publik dan Penyelenggaraan Pelayanan Publik (public servants) adalah : a. Umumnya diselenggarakan sebagai pengejawantahan dari dan dalam rangka realisasi kebijaksanaan negara yang ditujukan untuk masyarakat umum (dalam wujud penetapan hak dan kewajiban bagi warga masyarakat) yang ditetapkan melalui aturan-aturan dan perundangundangan. b. Diselenggarakan oleh petugas-petugas atau instansi yang berdasarkan hukum dan peraturan perundangundangan diberi kewenangan serta diwajibkan untuk memenuhi kualifikasi tertentu dalam memberikan pelayanan. c. Menyangkut penyelenggaraan pelayanan kepada

masyarakat yang dijalankan berdasarkan kerangka prosedural tertentu yang telah distandarisasi dari segi kinerja maupun kualitasnya. d. Menyangkut masyarakat pelbagai pada urusan dan bidang kepentingan kehidupan

berbagai

pemenuhannya menjadi tanggung jawab negara, dan penyelenggaraannya dapat berkenaan dengan pelayanan administratif, penyediaan barang, penyediaan jasa bagi

50 masyarakat44 atau gabungan dari jenis-jenis pelayanan itu. e. Tingkat keberhasilannya diukur dari tingkat kepuasan masyarakat penerima pelayanan, baik dari segi kualitas pelayanan, praktikabilitas, tingkat biaya pelayanan yang harus dikeluarkan, kualitas produk (barang/jasa/status), tingkat responsitivitas terhadap keanekaragaman

kepentingan dan kebutuhan masyarakat, serta tingkat responsivitas terhadap keluhan-keluhan yang

disampaikan oleh masyarakat. f. Selalu harus diselenggarakan berdasarkan standar kualitas hasil kerja tertentu yang mengikat para penyelenggara pelayanan publik sehingga dapat dijamin pencapaian tingkat kepuasan masyarakat penerima pelayanan publik yang minimal seragam secara nasional dan atau seragam di pelbagai sektor pelayanan publik yang ada. g. Selalu berhadapan dengan pluralitas di dalam

masyarakat, baik dari segi kepentingan (interest), kebutuhan (necessities), latar belakang ekonomi, sosial, politik, budaya dan sebagainya, sehingga dalam penyelenggaraannya tercakup pula adanya jaminan
4410 Bahkan apabila sebagian dari tugas-tugas kepolisian hendak dikategorikan sebagai pelayanan publik, maka tugas-tugas ini dapat dilihat sebagai pelayanan publik yang khusus, yaitu pelayanan untuk penegakan hukum dan ketertiban di dalam masyarakat.

51 untuk bersifat non-diskriminatif, proporsional, obyektif dan imparsial.45 Artinya, apabila terdapat

penyimpangan hanya dapat dibenarkan bila terdapat justifikasinya di dalam hukum. h. Karena pada tingkat realisasinya dilaksanakan oleh petugas atau pejabat publik tertentu, adanya standar perilaku yang mencakup standar etik maupun manajerial dalam wujud code of good conduct menjadi keharusan. Standar semacam itu menjadi pedoman perilaku bagi para petugas/pejabat dan pedoman penilaian terhadap pemenuhan hak-hak masyarakat untuk memperoleh pelayanan prima. Dari gambaran di atas, dapat disimpulkan bahwa Sistem

Penyelenggaraan Pelayanan Publik Indonesia perlu bersinergi dan saling mengisi dalam mendukung bekerjanya keseluruhan sistem itu secara optimal. Faktor-faktor penentu meliputi : a) Regulasi Publik Regulasi pelayanan publik berwujud seperangkat peraturan perundang45 Sebagai perbandingan, di dalam wacana tentang Pelayanan Publik di luar Indonesia, dikenal konsep citizenry yang mengandung makna bahwa pelayanan publik lebih dari sekedar menyediakan pelayanan pada pelanggan atau kline, bukan sekedar memberikan layanan konsultasi pada pihak-pihak yang berkepentingan, dan bahkan lebih dari sekedar mengupayakan efisiensi demi kepentingan para pembayar pajak. Pelayanan publik menyediakan pelayanan kepada masyarakat secara keseluruhan, tanpa melihat pribadi-pribadi atau kelompok-kelompok kepentingan yang berada di belakangnya. Disarikan dari : Shergold, Peter, Ethics and the Changing Natur of Public Service, makalah pada The Fifth International Conferences on Public Sector Ethics Between Past and Future, Aurtralia, 1996.

tentang

Pelayanan

52 undangan, yang sebagian besar merupakan kaidah-kaidah hukum administrasi negara, yang memberikan dasar hukum dari beroperasinya sistem palayanan publik. Peraturan-peraturan hukum yang menjadi dasar keabsahan adalah : 1) Keberadaan hukum (legal existence) institusi-institusi administrasi negara penyelenggara pelayanan publik. 2) Bekerjanya struktur organisasi, pengisian jabatan dan fungsi penyelenggara pelayanan publik dengan pejabat dengan kualifikasi dan kompetensi tertentu. 3) Penetapan dan pelaksanaan tugas, tanggung jawab, kewenangan dan hak-hak penyelenggaraan pelayanan publik. 4) Pengakuan kedudukan, dan penegakan hak, kewajiban, serta tanggung jawab warga masyarakat pengguna pelayanan jasa publik. 5) Penetapan berlakunya proses/prosedur penyeleng-

garaan pelayanan jasa publik serta standar minimum pelayanan (tolok ukur kinerja/hasil kerja kualitas produk) termasuk indeks kepuasan masyarakat dan proses/prosedur pengajuan dan pelayanan keluhan publik (publik complaint/public grievance). 6) Berlakunya standar perilaku (standard of conduct) para penjabat penyelenggara pelayanan publik. b) Asas-asas Penyelenggaraan Pelayanan Publik

53 Dimaksud dengan asas-asas penyelenggaraan pelayanan publik adalah prinsip-prinsip dasar yang menjadi acuan dalam pengorganisasian, acuan kerja, serta pedoman penilaian kerja bagi setiap lembaga penyelenggara pelayanan publik. Asas-asas penyelenggaraan dikategorikan sebagai asas-asas umum administrasi publik yang baik (general principles of good administra-tion) dan azas bersifat adaptif. Bersifat umum karena asas ini secara langsung menyentuh hakekat pelayanan publik sebagai wujud dari upaya melaksanakan tugas pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat banyak dan/atau tugas pelaksanaan perintah peraturan perundang-undangan. Bersifat adaptif, karena asas-asas ini secara tidak langsung bersentuhan dengan pemberian pelayanan kepada masyarakat umum, baik di bidang pelayanan administratif, pelayanan jasa, pelayanan barang, ataupun kombinasi dari pelayanan-pelayanan tersebut. Menurut Cadbury Committee di Inggris ( 1992) Asas-asas utama, yang melekat secara inherent pada esensi Pelayanan Publik adalah :46 1) Asas Keterbukaan (openness) Keterbukaan menjadi salah satu asas utama untuk menjamin bahwa para stakeholders47 yang mengandalkan proses pengambilan keputusan, tindakan-tindakan oleh institusi publik, pengelolaan aktivitas, serta
46 Asas-asas ini merupakan hasil modifikasi dari asas-asas yang dikembangkan oleh: Lihat :Report of the Committee on the Financial Aspects of Corporate Governance, dengan asas-asas Administrasi yang Baik (General Principles of Good Administration) yang ditetapkan oleh European Commission dalam : Code of Good Administrative Behavior: Relations ewith the Public, Official Journal of the European Communities: OJ L 267, 20.20.2000. 47 Dalam konteks penelitian ini, stakeholders pada dasarnya adalah warga masyarakat pengguna jasa layanan publik, masyarakat pembayar pajak.

54 pengelolaan sumber daya manusia dalam melaksanakan pelayanan publik. Keterbukaan (mungkin setara dengan asas transparansi) yang diwujudkan melalui pembinaan komunikasi secara penuh, terinci dan jelas dengan para stakeholders yang menjadi salah satu prinsip utama dari suatu good governance. 2) Asas Integritas Integritas mengandung makna berurusan secara langsung (straightforward dealings) dan ketuntasan (completeness) dalam pelaksanaan fungsi-fungsi pelayanan publik. Asas moral yang mendasari asas integritas ini terutama adalah kejujuran, obyektivitas dan standar kesantunan yang tinggi, serta tanggung jawab atas penggunaan dana-dana dan sumber daya publik. 3) Asas Akuntabilitas Asas ini berkenaan dengan proses di mana unit-unit pelayanan publik dan orang-orang yang berfungsi di dalamnya harus bertanggung jawab atas keputusan dan tindakan yang dibuatnya. Singkatnya, akuntabilitas melahirkan kewajiban untuk bertanggung jawab atas fungsi dan kewenangan yang secara sah dipercayakan kepada setiap public servant. 4) Asas Legalitas Berdasarkan asas lawfulness ini, setiap tindakan, pengambilan keputusan, serta pelaksanaan fungsi suatu institusi pelayanan publik harus sejalan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan dijalankan sesuai dengan aturan dan prosedur berdasarkan peraturan perundang-undangan. yang ditetapkan

55 6) Asas Non-Diskriminasi dan Perlakuan yang Sama Institusi penyelenggara pelayanan publik harus bekerja atas dasar

prinsip pemberian pelayanan yang sama dan setara kepada masyarakat, tanpa membedakan gender, ras, agama/kepercayaan, kemampuan fisik, aspirasi politik, dan sebagainya. 7) Asas Proporsionalitas Asas ini meletakkan kewajiban pada setiap penyeleng- gara pelayanan publik untuk menjamin bahwa beban yang harus ditanggung oleh masyarakat pengguna jasa layanan publik akibat tindakan-tindakan yang diambil institusi pelayanan publik berbanding proporsional

dengan tujuan dan manfaat yang hendak diperoleh masyarakat. Asas ini berkaitan erat dengan beban administratif, biaya dan waktu pelayanan yang harus ditanggung oleh masyarakat apabila mereka hendak memperoleh pelayanan publik. 8) Asas Konsistensi Berdasarkan asas ini, warga masyarakat dan/atau stakeholders layanan publik pada umumnya memperoleh jaminan bahwa institusi pelayanan publik akan bekerja secara konsisten sesuai pola kerjanya yang normal dalam perilaku administratifnya. Penyimpangan terhadap asas ini (dispensasi, perlakuan khusus, dan sebagainya) harus memperoleh pembenarannya secara sah (duly justified).

56 B. Perpajakan Daerah 1. Pengertian Pajak Pajak merupakan kata yang dipergunakan dalam bahasa Indonesia dengan berbagai pengertian seperti tempat, beban dan sebagainya. E. Soetan Harahap dalam Kamoes Indonesia menjelaskan : Padjak I. mentoeakoe mendjoeal II. berpadjak nasi, mentoeakoe berpen-tjaharian

nasi dikedai (lepau nasi );

sem.para-para (pemidangan) tempat mendje-moer ikan;

III. membajar padjak tanah f 10,-setahoen, ia membajar bia tanah f 1C,-setahoen; lihat bia dan tjoekai; IV. anak-anak, lih. Zoerriat. 48 Sedangkan dalam Kamus Indonesia Katjik-nya : PADJAK, I PADJAK, II PADJAK, III tjukai, bia, roba-roba. padjak nasi, kedai nasi, warung nasi. pendjemuran ikan. 49

W.J.S.Poerwadarminta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia : Padjak : 1. kewadjiban membajar atau wang jg wadjib dibajarkan kpd pemerintah (kotapradja, Provinsi dsb) 2 pak;hal

mengusahakan sesuatu dgn membajar pak (sewa) kpd pemerintah; 3 + los; bagian (dipasar); mis. 1 membajar --; kena --; wajib --,orang jang wadjib membajar padjak; --pendapatan (-penghasilan, pentjarian), padjak, jang

48 Harahap, E, Soetan, Kamoos lndonosia (Djakarta-Bandung: Gunseikandu Kanri Insatu Kodjo Tjetakan ketdedjoeh), oktober 2602, 254. 49 Harahap, E.St., Kamus Indonesia Ketjik (Bandung; G,Kalff & C0, 1950),196,

57 dikenakan pada pendapatan (penghasilan) orang; -- tanah -bumi, padjak jang dikenakan pada pemilik tanah; 2 rumah

--, -gadai,rumah gadai, pegadaian; -- tjandu, pendjualan tjandu; 3 - sajur (ikan dsb) los atau tempat mendjual sajur (ikan dsb) dipasar. 50 Pajak merupakan salah satu sumber penghasilan negara yang penting. Pajak ialah iuran rakyat kepada kas negara yang diwajibkan berdasarkan undang-undang tanpa

rnendapat balas jasa (tegenprestatie) secara langsung. Pajak merupakan peralihan kekayaan dari sektor swasta ke sektor Pemerintah. Kewajiban membayar pajak dapat dipaksakan.51 Dari keempat sumber di atas terlihat keanekaan penggunaan kata "pajak", namun salah satunya berkaitan pengertiannya dengan kewajiban terhadap Negara. Pengertian ini relevan dengan inti pokok penguraian, karenanya lebih lanjut akan lebih menekankan "pajak" sebagai sumber pendapatan. Prof. Dr. P.J.A. Adriani memberikan batasan : Pajak adalah iuran kepada Negara (yang dapat di paksakan) yang terhutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturanperaturan dengan tidak mendapat prestasi-kembali yang langsung dapat ditunjuk dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubungan dengan tugas Negara
50 Purwadarminta, WIS., Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Kementerian P.P. dan K). 51 Hassan Shadili et al. Ensiklopedia Umum (Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1977), 774.

58 untuk menyelenggarakan Pemerintahan 52 (dengan ejaan baru, Pen.) Dari batasan tersebut dapat disimpulkan unsur-unsurnya : pajak merupakan iuran menurut peraturan; dibayarkan oleh wajib membayar; tanpa prestasi kembali; dapat dipaksakan menurut peraturan-peraturan; membiayai tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan Kesimpulan yang dapat ditarik dari definisi tersebut diatas, bahwa pajak sebagai pengertian yang dianggap, sebagai suatu species ke dalam genus pungutan (jadi, pungutan adalah lebih luas). Dalam definisi tersebut titik berat diletakkan pada fungsi budgetair dari pajak, sedangkan pajak masih mempunyai fungsi lain yang tidak kalah penting, mengatur. 2. Jenis Pajak dan Dasar Hukum Negara dalam menyelenggarakan fungsinya melakukan berbagai kegiatan. Semua kegiatan tersebut dimaksudkan untuk bagaimana tugas dan tanggung jawab yang dilimpahkan (dimandatkan) kepada Pemerintah (Presiden) agar dapat dilaksanakan, yaitu agar kesejahteraan rakyat dapat dicapai. Kegiatan-kegiatan tersebut melibatkan sejumlah besar manusia, perlengkapan, penunjang dan sebagainya. Dan pada akhirnya akan menyerap pembiayaan. Dalam rangka pengadaan dana yang diperlukan untuk membiayai kegiatan yang dilakukan, maka berbagai sumber dipergunakan sebagai
52 Brotodihardjo, R. Santoso,SH., Penyatar Ilmu Hukum Pajak (BandungJakarta; Eresco NV, 1971).

yaitu fungsi

59 sumber pendapatan. Sumber-sumber tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut : yang dipungut langsung dari masyarakat; hasil dari perusahaan-perusahaan Negara; hasil dari penyertaan modal milik Pemerintah; denda dan perampasan untuk kepentingan umum; hak-hak waris atas harta peninggalan yang terlantar; hibah wasiat dan hibah lainnya. Semua sumber tersebut termasuk kedalam public finance, dimana Pemerintah dapat memperoleh, mengurus dan membelanjakan Uangnya yang diperlukan untuk menunaikan tugasnya. Di samping itu Pemerintah juga mencetak dan mengedarkan uang sebagai alat pembayaran yang sah. Dari keseluruhan sumber pendapatan di atas, maka yang diperdapat melalui pemungutan langsung adalah pajak, retribusi dan sumbangan, pungutan dilakukan baik dengan memberikan prestasi kembali (imbalan) maupun tidak. Pajak merupakan iuran kepada Negara yang dapat dipaksakan sesuai aturan yang berlaku tanpa adanya kontraprestasi yang gunanya untuk membiayai pengeluaran umum pemerintah. Sedang retribusi pada umumya hubungan dengan prestasi-kembalinya adalah langsung. Sedangkan Sumbangan mengandung pikiran, bahwa biaya-biaya yang dikeluarkan untuk prestasi pemerintah tertentu, tidak boleh dikeluarkan dari kas umum, karena prestasi itu tidak ditujukan kepada penduduk seluruhnya, melainkan hanya terhadap golongan tertentu penduduk saja. Pajak merupakan salah satu sumber pendapatan negara. Pada

60 bahagian diatas dikemukan pengertian pajak yang secara bebas dapat dikatakan dengan : pungutan yang dilakukan oleh Negara (dapat dengan paksaan) kepada warga negaranya (wajib pajak) tanpa memberikan imbalan yang langsung, dimana hasil pungutan itu dipergunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh Pemerintah. Perpajakan diatur dalam undang-undang perpajakan yang merupakan bahagian dari hukum publik, karena dia berkaitan dengan kepentingan orang banyak. Hukum perpajakan bukanlah merupakan hukum yang berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan hukum lainnya yang terdapat dalam kehidupan bernegara. Disini akan disinggung pembicaraan menyangkut antara hubungan hukum pajak dengan hukum pidana dan hukum perdata. Hukum pajak diartikan "adalah keseluruhan dari peraturan-peraturan yang meliputi wewenang Pemerintah untuk mengambil kekayaan seseorang dan

menyerahkannya kembali kepada masyarakat dengan melalui Kas Negara"53 Hukum perdata merupakan bahagian dari hukum yang mengatur hubungan di antara orang-orang hukum pribadi pajak sebagai diantara pendukung Negara hak

(rechtspersoon),

sedangkan

dengan

perorangan sebagai wajib pajak. Terlihat di sini bahwa terdapat hubungan yang sangat erat diantara hukum pajak dengan hukum perdata. Hukum pajak pada dasarnya "mencari dasar kemungkinan pemungutan atas kejadian-kejadian, keadaan-keadaan dan perbuatan-perbuatan hukum yang bergerak dalam lingkungan perdata seperti pendapatan, kekayaan, perjanjian, penyerahan, pemindahan hak
53 Ibid, 1.

61 karena warisan dan sebagainya".54 Terlihat bahwa sasaran hukum pajak adalah peristiwa-peristiwa perdata. Selanjutnya dengan dibaginya wilayah negara atas wilayah Daerah, maka pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah, diberlakukan Pajak Daerah. Pajak Daerah merupakan sumber pendapatan Daerah yang berasal dari pajak yang diserahkan Pemerintah pusat kepada Daerah untuk menjadi sumber pendapatan Daerah. Untuk dapat berlakunya Pajak Daerah, terlebih dahulu ditetapkan dalam Peraturan Daerah, dan setelah di sahkan oleh Pejabat yang berwenang, maka diundangkan dalam Lembaran Daerah. Jadi dasar hukum setiap pajak adalah undang-undang bagi pajak yang bersifat nasional dan dilaksanakan di daerah melalui Peraturan Daerah. Mengenai pajak, jenis dan dasar hukum masih banyak yang perlu diuraikan, namun mengingat dengan relevansi penulisan, maka penguraian dibatasi sampai di sini. 3. Pajak sebagai Sumber Pendapatan Daerah Sebagaimana diatur dalam pasal 157 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah menyebutkan bahwa Sumber Pendapatan Daerah terdiri atas: 1) pendapatan asli daerah yang selanjutnya disebut PAD, yaitu : hasil pajak daerah; hasil retribusi daerah;
54 Ibid, 5.

62 hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan; dan lain-lain PAD yang sah; 2) dana perimbangan; dan 3) lain-lain pendapatan daerah yang sah. Pajak sebagai sumber pendapatan terbagi atas dua bahagian, yaitu : 1) Pajak yang diserahkan Pemerintah kepada Daerah untuk dikelolanya sebagai Sumber Pendapatan Daerah. 2) Pajak yang diatur sendiri oleh Daerah atas sumber pendapatan yang berhasil digali oleh Daerah di

wilayahnya. Sebagai contoh jenis pajak ini adalah Pajak Izin Menangkap Ikan (Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 1972). Dinas Pendapatan Daerah selaku instansi yang diberi tugas untuk mengelola seluruh pendapatan daerah dihadapkan kepada wilayah yang luas yaitu melipti wilayah Provinsi Sumatera Barat. Dalam pemungutan dari sumber-sumber pendapatan tersebut, Dinas Pendapatan Daerah sebagai instansi pemungut pendapatan Daerah, pemungutannva

dilakukan secara langsung kepada masyarakat wajib pajak melalui Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pelayanan Pendapatan Provinsi Sumatera Barat sebagai perpanjangan tangan dari Dinas Pendapatan Daerah. Pembentukan UPTD dibentuk melalui Surat Keputusan

Gubernur Sumatera Barat nomor 22 Tahun 2001 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Provinsi Sumatera Barat. Sejalan dengan pembentukan UPTD, maka sekaligus

63 diserahkanlah sumber-sumber Pendapatan Daerah menjadi tugas dan kewenangannya. Adapun sumber pendapatan yang menjadi tugas dan kewenangannya dari UPTD adalah : 1) Pajak Kendaraan Bermotor (disingkat PKB) diatur

berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air. 2) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (disingkat BBN.KB) diatur berdasarkan Pertauran Daerah Nomor 5 Tahun 2003 tentang Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air. 3) Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan, diatur berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2002. 4) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (disingkat PBBKB). 5) 6) Pajak Alat-alat Berat dan Alat-Alat Besar. Pajak Kendaraan Diatas Air diatur berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air Bea Balik Nama Kendaraan Diatas Air diatur berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2003 tentang Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air. Sehubungan dengan lokus dan fokus penelitian ini, penulis hanya

64 akan menjelaskan kebenaran sub sektor pajak daerah yang berasal dari Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB ), sistim pengelolaan penerimaannya dilakukan dalam sistem administrasi manunggal satu atap ( SAMSAT ). C. Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) 1. Pengertian Dari sejumlah besar pajak yang berlaku dan dipungut bagi Daerah, salah satu diantaranya Pajak Kendaraan Bermotor (sering disingkat dengan PKB). Mengenai Pajak Kendaraan Bermotor dapat dikemukakan sebagai berikut : Pajak Kendaraan Bermotor, termasuk golongan pajak langsung dan merupakan pajak lokal (daerah). Dipungut dari pemegangpemegang kendaraan bermotor yang a) dihidupkan dengan generator gas arang atau b) memakai bahan baker minyak tanah atau campuran minyak tanah dan c) bensin atau juga d)yang tidak semata-mata menggunakan bensin sebagai bahan baker. Kereta gandengan aanhangwagen (pada truk mis.) juga

dikenakan pajak ini. 55 Selanjutnya dalam Ordonansi Pajak Kendaraan Bermotor Tahun 1934 pasal 1 dikutipkan : Dengan nama Pajak Kendaraan Bermotor, dipungut pajak karena memegang : (1) Kendaraan bermotor, yang

digerakkan dangan motor yang


55 Hassan Shadily, Opcit.

65 dihidupkan dengan generator gas arang atau oleh yang memakai bahan baker minyak tanah atau campuran minyak tanah dan

bensin, terlepas dari hal apakah motor itu khusus diperuntukkan guna dipakai dengan minyak tanah atau dengan campuran minyak tanah dan bensin; (2) Segala kendaraan bermotor

lainnya, yang tidak digerakkan oleh motor yang semata-mata memakai bensin sebagai bahan pembakar; (3) Kendaraan digerakkan semata-mata bermotor oleh motor yang yang bensin

memakai

sebagai bahan pembakar tetapi mempunyai diizinkan berat 5.500 total kg. yang atau

lebih; .........kendaraan bermotor yang dengan menggunakan digerakkan oleh motor

semata-mata bensin sebagai

66 bahan mempunyai pembakar, berat total yang yang

diizinkan 3.500 kg. atau lebih. (4) Kereta gandengan) bermotor. (5) Kendaraan bermotor seperti tambahan dari (kereta kendaraan

dimaksudkan dibawah c yang mempunyai berat total yang

diperkenankan kurang dari 3.500 kg, kecuali yang telah dikenakan pajak rumah tangga atau yang dibebaskan dari pajak rumah tangga. Memperhatikan tentang Pajak Kendaraan Bermotor

sebagaimana dijelaskan oleh kedua kutipan diatas, maka dapat ditarik beberapa patokan pokok, antara lain : (1) pajak ini ditimbulkan oleh adanya kendaraan bermotor yang dimiliki; (2) pajak dipungut dari pemilik kendaraan bermotor sebagai wajib pajak; (3) penentuan besarnya beban pajak didasarkan kepada ukuran yang digariskan; (4) kendaraan bermotor dipandang sebagai suatu kesatuan yang bulan

67 dan utuh; (5) tahun pajak ialah tahun takwim. (pasal 8 ayat 1) Dalam pasal 1 angka (6) Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air menyebutkan bahwa Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air yang selanjutnya disebut pajak adalah pajak atas kepemilikan dan / atau penguasaan kendaraan bermotor dan kendaraan di atas air. Kendaraan Bermotor adalah semua kendaraan beroda dua atau lebih beserta gandengannya yang digunakan di semua jenis jalan darat dan digerakkan oleh peralatan teknik berupa motor atau peralatan lainnya yang berfungsi untuk mengubah suatu sumber daya energi tertentu menjadi tenaga gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan, termasuk alat-alat berat dan alat-alat besar yang bergerak (pasal 1 angka 7). 2. Dasar Hukum Republik Indonesia sebagai negara hukum menekankan ketentuan tentang keharusan adanya dasar hukum yang mengatur setiap tindakan kebijaksanaan yang berhubungan kehidupan

bernegara. Pengaturan tentang Pajak Kendaraan Bermotor diadakan untuk pertama kali dengan Ordonansi Pajak Kendaraan Bermotor Tahun 1934. (Staatsblad tahun 1934 Nomor 718). Peninjauanpeninjauan dan penyernpurnaan haruslah selalu dilakukan terhadap setiap peraturan perundang-undangan. Langkah tersebut perlu

68 dilakukan mengingat bahwa ketentuan-ketentuan itu berhadapan dengan masa dan manusia yang selalu berkembang. Begitupun dengan bidang pengetahuan dan teknologi bertumbuh dengan pesat. Ordonansi Pajak Kendaraan Bermotor Tahun 1934 sebagai peraturan mengalami perundang-undangan peninjauan-peninjauan semenjak berupa ditetapkan penambahan telah dan

perubahan sebagai berikut : a. Staatsblad Tahun 1935 Nomor 551; b. Staatsblad Tahun 1937 Nomor 33; c. Staatsblad Tahun 1939 Nomor 603; d. Staatsblad Tahun 1940 Nomor 226; e. Staatsblad Tahun 1949'Nomor 376; f. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1959 dalam Lembaran Negara Tahun 1959 Nomor 101. Dalam semua ketentuan diatas penyempurnaan terhadap pajak ini telah dilakukan. Pemerintah Indonesia yang menganut otonomi, menyebabkan dalam penyerahan urusan yang akan diselenggarakan oleh Daerah diiringi dengan pemberian sumber pendapatan yang diperlukan dalam pembiayaan. Pajak Kendaraan Bermotor yang selama ini dikelola oleh pemerintah sebagai pajak negara termasuk dalam sumber

pendapatan yang diserahkan pada daerah. Penyerahan ini dilakukan dengan Poraturan Pcmerintah Nomor 3 Tahun 1957 tentang Penyerahan Pajak Negara kepada Daerah. Untuk berlakunya suatu

69 pajak yang diserahkan kepada Daerah diterbitkanlah Peraturan Daerah. Adapun dasar hukum pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor saat ini berdasar kepada Peraturan Daerah Nornor 4 Tahun 2003 tentang Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air. 3. Obyek Pajak Pelaksanaan pajak didasarkan pada adanya obyek yang dikenakan beban pajak. Pajak Kendaraan Bermotor sebagai pajak mempunyai obyek berupa kendaraan bermotor yang terdaftar. Keberadaan kendaraan bermotor sebagai obyek yang terdaftar, adalah melalui proses yang akan dibicarakan tersendiri. Dalam pasal 1 ayat (2) huruf a Ordonansi Pajak Kendaraan Bermotor 1934 dikutip sebagai berikut : Kendaraan bermotor; setiap kendaraan (elkrij of Voertig), yang diperuntukkan guna semata-mata digerakkan atau juga turut digerakkan, selain atas ril, oleh suatu kekuatan mekanik yang ada di atau pada kendaraan itu, begitu pula kereta-kereta tambahan dari kendaraankendafaan itu. Sedangkan di dalam Peraturan paerah Nomor 4 Tahun 2003 Pasal 3 angka (1) menyebutkan : Objek Pajak Kendaraan Bermotor adalah kepemilikan dan / atau penguasaan kendaraan bermotor, termasuk kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan

bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar yang bergerak. 4. Subyek Tanggung Pajak dan Beban

70 Pajak Pengenaan beban pajak didasarkan kepada adanya

kendaraan bermotor. Keberadaannya secara sah dibuktikan oleh berbagai hal yang harus dipenuhi dan terutama bukti bahwa kendaraan sudah terdaftar sesuai dengan ketentuan administrasi yang ditentukan. Dalam pasal 5 angka 1, menyebutkan bahwa Subjek pajak adalah orang pribadi atau badan yang memiliki dan/atau menguasai kendaraan bermotor dan atau kendaraan di atas air. Jadi tertanggung beban pajak adalah pemilik kendaraan, yaitu orang seorang atau kelembagaan/badan hukum. "Pajak terhutang oleh orang yang memegang kendaraan bermotor". Pengertian "yang memegang" adalah dikaitkan kepada siapa yang memiliki dan atau yang berhak penuh atas kendaraan tersebut. Jadi subyek tanggung pajak adalah pemilik kendaraan orang seorang dan badan hukum. Setiap wajib pajak akan dikenakan penagihan sebesar beban pajak yang ditentukan terhadap pemilikan atas kendaraan bermotor. Beban pajak akan dapat diketahui melalui surat penagihan yang dicantumkan berdasarkan penentuan beban yang ditetapkan dengan peraturan perundangan. Dalam pasal 6 Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2003 ditentukan Dasar Pengenaan, Tarif dan Penghitungan Pajak adalah : a. Dasar pengenaan pajak kendaraan bermotor dihitung sebagai perkalian dari 2 (dua) unsur pokok

71 (1) Nilai jual kendaraan bermotor; (2) Bobot yang mencerminkan secara relatif kadar kerusakan akibat jalan dan pencemar kndaraan

lingkungan bermotor.

penggunaan

b. Nilai jual kendaraan bermotor diperoleh berdasarkan harga pasaran umum atas suatu kendaraan bermotor. c. Dalam hal harga pasaran umum atas suatu kendaraan bermotor tidak diketahui, nilai jual kendaraan bermotor ditentukan

berdasarkan faktor-faktor : 1) Isi silinder dan/atau satuan daya; 2) Penggunaan kendaraan bermotor; 3) Jenis bermotor; 4) Merek bermotor; 5) Tahun pembuatan kendaraan kendaraan

kendaraan bermotor; 6) Berat total kendaraan bermotor dan

72 banyaknya penumpang diizinkan; 7) Dokumen impor yang

untuk jenis kendaraan bermotor. d. Bobot sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b dihitung berdasarkan faktor-faktor : 1) Tekanan ganda; 2) Jenis bahan baker kendaraan bermotor; 3) Jenis, penggunaan, tahun pembuatan, dan ciri-ciri mesin dari kendaraan bermotor. e. Penghitungan kendaraan dasar pengenaan pajak

bermotor

sebagaimana

dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (5), dinyatakan dalam suatu table yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. f. Dalam hal dasar pengenaan pajak

kendaraan bermotor yang belum tercantum dalam table sebagaimana dimaksud pada ayat (6), dasar pengenaan pajak kendaraan bermotor ditetapkan dengan Keputusan Gubernur dan diberitahukan kepada DPRD

73 dan Menteri Dalam Negeri. g. Tabel sebagaimana dimaksud dalam ayat (6) ditinjau kembali setiap tahun. Pasal 7 menyebutkan : 1) Tarif pajak kendaraan bermotor ditetapkan sebesar : 1,5 % (satu koma lima persen) untuk kendaraan bermotor bukan umum; 2) 1 % (satu persen) untuk kendaraan bermotor umum; 0,5 % (nol koma lima persen) untuk kendaraan bermotor alat-alat berat dan alatalat besar. Pasal 8 menyebutkan : Besarnya pajak terutang dihitung dengan cara mengalikan tariff sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 dengan dasar pengenaan pajak sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (7) dan ayat (8). Selanjutnya pasal 9 menyebutkan : a) Pajak kendaraan bermotor dikenakan untuk masa pajak 12 (dua belas) bulan berturut-turut dihitung mulai saat pendaftaran kendaraan bermotor, b) Pajak kendaraan bermotor dibayar sekaligus di muka. Berdasarkan patokan-patokan diatas ditetapkan-lah beban pajak atas kendaraan bermotor yang dimiliki oleh wajib pajak. Beban pajak ditetapkan untuk masa satu tahun yang mempedomani tahun takwim. Terhadap pemilikan kendaraan bermotor yang

74 berada dalam tahun yang sedang berjalan, maka beban pajak yang dikenakan kepada wajib pajak adalah dengan memperhatikan sisa waktu tahun yang tersisa. Dalam hal penghitungan beban pajak diberlakukan pembulatan ke atas. 5. Pengecualian dan atau Pembebasan Walaupun dalam ketentuan mengenai perpajakan umurnnya dinyatakan bahwa pemungutan pajak harus dilakukan dengan memperhatikan sifat umum dan merata, namun Pajak Kendaraan Bermotor tidaklah dapat dilaksanakan sepenuhnya demikian. Pengenaan beban pajak dilaksanakan dengan mengadakan

pengecualian dan atau pembebasan. Kebijaksanaan ini dilatar belakangi dan didasarkan kepada peranan atau pemanfaatannya. Pasal 2 mengatur tentang pengecualian atau pembebasan terhadap beban pajak atas kendaraan bermotor dilakukan atas : a) kendaraan bermotor oleh Negara atau Daerah yang dimaksud, dalam pasal-pasal 119, 121 dan 123 IS. Inipun jika kendaraan itu sematamata dipergunakan untuk dinas umum; b) kendaraan bermotor yang menurut atau berdasarkan peraturanperaturan Ordonansi Lalu Lintas yang diizinkan berjalan dengan nomor percobaan; c) kendaraan bermotor yang menurut sifatnya semata-mata

diperuntukkan guna dipakai dilain tempat dari pada dijalanan; d) kendaraan bermotor oleh para konsul dan lain-lain skill Negara Asing oleh orang-orang yang diperbantukan dan yang bekerja

75 serta bertempat tinggal padanya selanjutnya

tidak melakukan perusahaan atau pekerjaan bebas dan dengan syarat timbale balik, jika oleh Negara yang wakil-wakilnya diizinkan, bermotor; e) kendaraan bermotor pemadam kebakaran; f) kendaraan bermotor oleh para pelancong dan lain-lain orang yang berada di Indonesia untuk waktu yang tidak lebih lama dari sembilan puluh hari berturut-turut. Pada pasal 4 Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2003 menyebutkan : Dikecualikan dari objek pajak adalah kepemilikan dan/ atau penguasaan kendaraan bermotor dan/atau kendara-an diatas air oleh : a) Pemerintah Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, dan dikenakan pajak karena memegang kendaraan

Kabupaten/

Kota

Pemerintah Desa/Nagari; b) Kedutaan, Konsutat, Perwakilan Negara P.sing, dan Perwakilan Lembaga-lembaga Internasional dengan azas timbal balik, c) Pabrikan atau importer kendaraan bermotor baru yang semata-mata untuk dipamerkan, untuk dijual dan tidak dipergunakan dalam lalu lintas bebas; d) Wisatawan asing yang berada di daerah

76 untuk jangka waktu sampai dengan 60 (enam puluh) hari; e) Penguasaan kendaraan bermotor yang

disegel atau disita oleh Negara; f) Orang Pribadi atau Badan atas kendaraan di atas air perintis; g) Orang Pribadi atau Badan atas kendaraan di atas air yang digunakan untuk keperluan keselamatan seperti kapal pandu dan kapal tunda; h) Orang Pribadi atau Badan atas Kendaraan di atas air yang khusus digunakan untuk penelitian, SAR, kepentingan social dan keagamaan. Dari ketentuan di atas terlihat bahwa kendaraan bermotor yang dibebaskan dari pajak adalah kendaraan dinas, kendaraan yang berada dalam status percobaan, kendaraan yang bukan dipergunakan dijalanan, kendaraan yang dipergunakan oleh perwakilan asing dan tenaga kerja diperbantukan dalam kerja sama dansebagainya, kendaraan pemadam kebakaran dan kendaraan yang dibawa sendiri oleh wisatawan untuk waktu yang terbatas, kendaraan bermotor yang disegel atau disita Negara, kapal pandu dan kapal tunda yang digunakan untuk keperluan keselamatan serta kendaran penelitian SAR.

77 6. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB) Di samping Pajak Kendaraan Bermotor terdapat sumber pendapatan yang berkaitan dengan kendaraan bermotor. Sumber pendapatan tersebut disebut Bea Balik Nama Kendaraan Berrnotor yang popular disingkat dengan BBN.KB. Jenis sumber pendapatan ini dalam bentuk pajak juga yang dipungut atas dasar pengalihan hak milik atas kendaraan bermotor sebagai akibat perjanjian dua pihak atau perbuatan sepihak atau keadaan yang terjadi jual beli, tukar menukar, hibah termasuk hibah wasiat dan hadiah, warisan atau pemasukan kedalam badan usaha. Dasar hukum dari Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor adalah Undang Undang Nomor 10 Tahun 1968 tentang Penyerahan Pajak Negara Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN.KB), Pajak Bangsa Asing dan Pajak Radio kepada Daerah. Dasar hukum tersebut oleh Daerah dilanjutkan pengaturannya dengan menerbitkan Peraturan Daerah. Dalam Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2003 pasal 3 menyebutkan Obyek daripada Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor adalah penyerahan Kendaraan Berrnotor, termasuk penyerahan kendaraan bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar yang bergerak. Dalam pasal 4 diatur tentang pengecualian dalam

pemungutan pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor yang diserahkan kepada :

78 Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi , Pemerintah

Kabupaten/Kota dan Pemerintah Desa/Nagari; Kedutaan, Konsulat, Perwakilan Asing, dan Lembaga-lembaga Internasional dengan azaz timbal balik; Pabrikan atau importer kendaraan bermotor baru yang sematamata untuk dipamerkan, untuk dijual dan tidak dipergunakan dalam lalu lintas bebas; Orang pribadi atau badan atas kendaraan di atas air perintis. Dalam pasal 6 diatur subyek pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor ; 1) Suby ek pajak Bea Balik Nam a adala h orang priba di atau bada

79 n yang dapat mene rima peny eraha n kend araan berm otor dan atau kend araan di atas air. 2) Waji b Pajak Bea Balik

80 Nam a adala h oran g priba di atau bada n yang mene rima peny eraha n kend araan berm otor dan atau kend

81 araan di atas air. 3) Yang berta nggu ng jawa b atas pemb ayara n Bea Balik Nam a adala h: (a) untuk orang pribadi adalah orang yang bersangkutan, kuasanya atau ahli warisnya. (b) Untuk badan adalah pengurusnya.

82 Dasar Pengenaan Bea Balik Nama diatur dalam pasal 7 : 1) Dasar pengenaan pajak Bea Balik Nama

Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air adalah Nilai Jual Kendaraan Bermotor dan Nilai Jual Kendaraan di Atas Air. 2) Nilai Jual Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air sebagaimana dimaksud ayat (1) adalah Nilai Jual Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air yang tercantum dalam ketetapan Menteri Dalam Negeri atau Gubernur. Dalam hal dasar pengenaan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air belum tercantum dalam tabel yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri, dasar pengenaan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air dimaksud ditetapkan dengan Keputusan Gubernur, dan

diberitahukan kepada DPRD dan Menteri Dalam Negeri. Pemungutan kedua sumber pendapatan tersebut diatas (Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor), pelaksanaan operaionalnya bergabung dengan instansi lain Kepolisian Republik Indonesia melalui Direktorat Lalu Lintas dan PT (Persero) A.K. Jasaraharja melalui mekanisme Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap, yang lebih populer disebut SAMSAT. Ketentuan pendukung tentang mekanisme ini diatur dalam

83 Surat Keputusan Bersama Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Direktur Jenderal Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah, dan Direktur Utama PT. Jasa Raharja (Persero) Nomor :

Skep/06/X/1999, Nomor : 973 - 1228, Nomor : SKEP/02/X/1999 tentang Pedoman Tata laksana Sistem Administrasi Manunggal Di Bawah Satu Atap dalam Penerbitan Surat Tanda Nomor

Kendaraan Bermotor, Surat Tanda Coba Kendaraan Bermotor, Tanda Nomor Kendaraan Bermotor, Tanda Coba Kendaraan Bermotor, dan Pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor sera Sumbangan Wajib Dana

Kecelakaan Lalu Lintas Jalan. Dalam Surat Keputusan Bersama tersebut ditegaskan bahwa dalam pelaksanaan tugas, seluruh instansi tersebut harus bekerja sama, mempunyai otonomi masing-masing instansi dan saling hormat menghormati serta bertanggung jawab kepada atasan masing-masing. D. Kebijaksanaan Pelayanan 1.Kebijakan Pemerintah Terhadap Pelayanan Dalam rangka penyelenggaraan peningkatan Pelayanan Nasional Untuk Efektivitas

Publik 56 peran pemerintah sebagai konsekuensi logis dari adanya kepentingan publik, maka pemerintah secara nasional telah menetapkan kebijakan yang mengarah pada kepuasan masyarakat terhadap

56Komisi Hukum Indonesia, Hasil Penelitian Normatif Sistem Penyelenggaraan Pelayanan Publik Indonesia, 2006, hal. 19-35.

84 pelayanan public yang diselenggarakan oleh pemerintah. Pemerintah dalam hal ini Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara menerbitkan berbagai landasan peraturan perundang-undangan, pedoman, dan surat edaran dibidang pelayanan publik antara lain : Keputusan Men PAN Nomor : 63lKEP/M.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum

Penyelenggaraan Pelayanan Publik, Keputusan Men PAN Nomor KEP/25/M.PAN/2/2004 tentang Pedoman Umum Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat pada Unit PelayananInstansi Pemerintah dan KEP/26/ M.PAN/2/2004 tentang Petunjuk Teknis Transparansi dan Akuntabilitas dalam Penyelenggaraan Pelayanan Publik. Upaya pemerintah untuk memberikan pelayanan publik yang optimal menjadi sangat penting untuk dilakukan. Pelayanan publik harus memperoleh perhatian dan penanganan yang sungguh-sungguh, karena merupakan tugas dan fungsi yang melekat pada setiap aparatur pemerintah. Tingkat kualitas kinerja pelayanan publik memiliki implikasi yang luas dalam berbagai aspek kehidupan, terutama untuk mencapai tingkat kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu upaya penyempurnaan pelayanan publik harus dilakukan secara terus menerus, berkelanjutan dan dilaksanakan oleh jajaran aparatur pemerintah daerah.57 Menurut Progo Nurdjaman Pelayanan Publik sebagai berikut : a). Kesederhanaan
57Progo Nurdjaman., Penyelenggaran Departemen Dalam Negeri RI)., 2004. ha1. 33 Pemarintahan Umum, (Jakarta;

ada 8 prinsip-prinsip Pokok

85 Prinsip kesederhanaan ini mengandung arti bahwa prosedur/tata cara pelayanan diselenggarakan secara mudah, lancar, cepat, tepat, tidak berbelit-belit, mudah dipahami dan mudah dilaksanakan oleh masyarakat yang meminta pelayanan. b). Kejelasan dan kepastian Prinsip ini mengandung arti adanya kejelasan dan kepastian mengenai : 1) Prosedur tatacara pelayanan, baik persyaratan teknis maupun administrative; 2) Unit kerja dan atau pejabat yang berwenang dan

bertanggungjawab dalam memberikan pelayanan; 3) Rincian biaya/tarif pelayanan dan tata cara pembayarannya; 4) Jadwal waktu penyelesaian pelayanan. c). Keamanan Prinsip ini mengandung arti proses serta hasil pelayanan dapat memberikan keamanan, kenyamanan dan dapat memberikan

kepastian hukum bagi masyarakat. d). Keterbukaan Prinsip ini mengandung arti bahwa prosedur/tatacara, persyaratan satuan kerja/pejabat penanggungjawab pemberi pelayanan, waktu penyelesaian, rincian biaya/tariff serta hal-hal lain yang berkaitan dengan proses pelayanan wajib diinformasikan secara terbuka agar mudah diketahui dan dipahami oleh masyarakat, baik diminta maupun tidak diminta.

86 e). Efisiensi Prinsip ini mengandung arti : Persyaratan pelayanan hanya dibatasi pada hal-hal yang berkaitan langsung dengan pencapaian sasaran pelayanan dengan tetap memperhatikan keterpaduan antara

persyaratan dengan produk pelayanan yang diberikan. Mencegah adanya pengulangan pernenuhan persyaratan, dalam hal proses pelayanan masyarakat yang bersangkutan memper-syaratkan adanya kelengkapan persyaratan dari satuan kerja/instansi pemerintah lain yang terkait. f). Ekonomis Prinsip ini mengandung arti pengenaan biaya dalam penyelenggaraan pelayanan harus ditetapkan secara wajar dengan memperhatikan : 1) Nilai barang dan atau jasa pelayanan masyarakat dan tidak menuntut biaya yang terlalu tinggi di luar kewajaran; 2) Kondisi dan kemampuan masyarakat untuk membayar; 3) Ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. g). Keadilan yang Merata Prinsip ini mengandung arti cakupan/jangkauan pelayanan harus diusahakan seluas mungkin dengan distribusi yang merata dan diberlakukan secara adil bagi seluruh lapisan masyarakat, h). Ketepatan Waktu Prinsip ini mengandung arti pelaksanaan pelayanan masyarakat dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang ditentukan.

87 2. Peranan Pelayanan Administrasi Kepolisian Di samping berfungsi sebagai salah satu lembaga penegak hukum dan penjaga keamanan masyarakat, kepolisian juga memiliki fungsi sebagai instansi yang memberikan pelayanan administrasi kepada masyarakat. Pelayanan publik (yang di lingkungan kepolisian dikenal dengan istilah pelayanan masyarakat/YANMAS) sebenarnya merupakan esensi pekerjaan polisi, dalam rangka mewujudkan filosofi POLRI Rastra Sewakottama yang berarti abdi utama nusa dan bangsa (masyarakat). Abdi utama di sini dimaksudkan sebagai pelayanan prima yang kemudian menjiwai kode etik POLRI baru. Menurut Jenderal Polisi (Purn) Drs. Chaeruddin Ismail, SH., pelayanan publik bagi kepolisian tercantum dalam TRI BRATA yang merupakan filosofi POLRI yang kemudian dijabarkan lebih lanjut dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian khususnya pasal 13 huruf c memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat dan pasal 14 huruf k memberikan pelayanan

kepada masyarakat sesuai kepentingannya di dalam lingkup tugas kepolisian. Selanjutnya dalam Kode Etik POLRI berdasarkan Keputusan Kapolri No. Pol.KEP/32/VII/ 2003 ditegaskan dalam pasal 5 bahwa memberikan pelayanan terbaik, memberikan pelayanan kepada

masyarakat secara ikhlas dengan prosedur cvepat, sederhana, serta tidak bermasa bodoh, apatis, mendiamkan adanya harapan masyarakat. Secara lebih rinci diatur beberapa tindakan atau perilaku yang harus dan dilarang untuk dilakukan dalam rangka pelayanan publik tersebut, [e]

88 mengutamakan kemudahan dan tidak mempersulit, [e] tida membedabedakan (diskrimiasi cara pemberian pelayanan, [g] tidak meminta biaya kecuali diatur oleh undang-undang, [i] tidak mengeluarkan kata-kata atau gerakan tubuh yang mengisyaratkan minta imbalan atas jasa pelayanan yang diberikan.58 Pelaksanaan pelayanan publik oleh kepolisian berupa

pelayanan administratif antara lain adalah penerbitan ijin seperti Surat Ijin Mengemudi (SIM) dan Ijin Keramaian. Pelayanan SIM dilakukan oleh Kepolisian Resor atau Kepolisian Wilayah Kota Besar, sedang ijin keramaian diberikan oleh seluruh tingkat kepolisian dari Kepolisian Sektor sampai Mabes POLRI tergantung cakupan kegiatan atau keramaian yang dimintakan ijin. 3.Dimensi Kebijakan Pelayanan Publik Progo Nurdjaman menyebutkan pelayanan publik dapat ditinjau dari dua dimensi, yaitu dimensi internal dan eksternal. Pada dimensi internal, pelayanan publik merupakan salah satu isu utama sejalan dengan tuntutan demokratisasi dan desentralisasi Demokratisasi pada hakekatnya menyuarakan pentingnya partisipasi masyarakat dan akuntabilitas pemegang kekuasaan, yang dengan demikian suara masyarakat diletakkan pada derajat yang paling tinggi. Semangat demokratisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan akan menjadi peluang bagi peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Sementara itu penyelenggaraan
58 Jenderal Polisi (Purn) Drs. Chaeruddin Ismail, SH., Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Pelayanan Publik, Makalah pada Lokakarya Penelitian ini, Bandung, 30 Oktober 2004, halaman 9-10.

89 pelayanan publik yang terdesentralisasi akan mendekatkan penyelenggaraan fungsi pelayanan publik kepada masyarakat dan memungkinkan untuk menyelesaikan komplain (bila ada) dengan lebih cepat karena masyarakat bisa lebih mudah bertemu dengan pihak penyelenggara pelayanan. Pada sisi perencanaan, penyelenggaraan pelayanan publik yang terdesentralisasi akan meningkatkan responsifitas (daya tanggap) terhadap kebutuhan lokal dan membantu Pemerintah Daerah (lembaga penyedia layanan) mengidentifikasi dan memhami karekteristik khas masyarakat setempat. Pada dimensi eksternal, pelayanan publik akan memainkan peranan kunci dalam menghadapi tantangan globalisasi. Paling tidak tantangan globalisasi tersebut memerlukan jawaban dalam hal

peningkatan daya saing (competitiveness) dan daya tarik (attractiveness), baik ditingkat regional maupun internasional. 4. Faktor - faktor yang mempengaruhi Pelayanan Selanjutnya Progo Nurdjaman menjelaskan bahwa, kualitas pelayanan publik secara umum ditentukan oleh beberapa aspek yaitu : 1) Sistem Yaitu kewenangan Daerah untuk mengatur struktur, tugas fungsi serta mekanisme kerja unit-unit kerja Daerah diatur dalam Peraturan Daerah, yang pengaturannya berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2003 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah sebagai pengganti Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 2000. Pembagian kewenangan daerah tersebut telah diatur dalam Undang-Undang Nomor

90 32 Tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 serta Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 130-67 Tahun 2002 yang merupakan referensi pembagian tupoksi dan mekanisme kerja pada unitunit kerja daerah serta Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2001 tanggal 9 Mei 2001 tentang kedudukan Tupoksi dan Susunan Organisasi Dinas Pendapatan Daerah Sumatera Barat. 2) Kelembagaan Berbagai tantangan yang dihadapi oleh pemerintah dalam era globalisasi akan semakin berat. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, menjadikan masyarakat semakin tinggi tingkat pengetahuan dan pendidikannya, sehingga permintaan masyarakat terhadap

peningkatan kualitas pelayanan publik akan menjadi hal yang penting. Oleh sebab itu organ isasi/kelembagaan pemerintah yang ada saat ini harus mampu menata diri menjadi organisasi yang dapat mengantisipasi perubahan kondisi yang datang begitu cepat dan tuntutan masyarakat yang semakin meningkat dan kompleks. Penataan organisasi dapat diartikan sebagai upaya untuk menciptakan postur organisasi yang lebih proporsional sesuai dengan visi dan misi yang diembannya, sehingga dapat diciptakan efisiensi, efektivitas, dan produktivitas aparatur, yang pada akhirnya dapat meningkatkan pelayanan publik. Disamping itu dengan penataan organisasi dapat memperjelas wewenang, tugas, dan tanggung jawabnya masing-masing.

91 3) Sumber Daya Manusia ( SDM ) Sumber daya manusia di lingkungan pemerintahan, merupakan salah satu penentu terciptanya pemerintahan yang bersih, efektif dan efisien. Pemerintahan yang bersih dan efisien sangat penting bukan hanya agar masyarakat dapat mengambil manfaat yang sebesar-besarnya dari pelayanan publik , melainkan juga untuk menciptakan lingkungan yang memungkinkan dunia usaha tumbuh lebih sehat dan efisien agar investor dari dalam dan luar negeri terdorong untuk meningkatkan investasinya di Indonesia. Pembenahan kualitas sumber daya manusia (PNS) sebagai aparatur Negara pada dewasa ini menjadi semakin penting karena fungsinya yang strategis. Kebutuhan akan terciptanya aparatur yang bersih dan efisien semakin dirasakan sejalan dengan perubahan-perubahan yang terjadi sebagai hasil dari pembangunan dan dari akibat perubahan eksternal pada tingkat regional dan global. Hal ini tentunya menuntut pegawai negeri menjadi lebih professional, terampil, terbuka, inovatif, peduli, berakhlak dan amanah. Untuk itu PNS harus lebih mengedepankan kepentingan publik, menyelenggarakan pelayanan publik dengan optimal dan menjalankan tugas dan fungsi pelayanannya berasarkan kebijakan kebijakan publik secara proporsional. 4) Komitmen Dukungan Terhadap Keuangan Daerah Kinerja penyelenggaraan pelayanan publik sangat dipengaruhi oleh kinerja dalam pengelolaan keuangan daerah. Dalam arti bahwa

92 keberhasilan pemerintah menyelenggarakan pelayanan publik dapat dilihat dari besarnya dana APBD yang dialokasikan kepada belanja publik, dan bukan sebaliknya pada belanja aparatur. Mengingat pentingnya kebijakan pengalokasian dana dari APBD untuk kepentingan publik dalam rangka mengedepankan peleyanan publik tersebut, maka sudah sewajarnya Pemerintah Daerah

memperhatikan pola perencanaan dan penyusunan APBD yang lebih bersifat akuntabel. Dengan demikian diharapkan penyelenggaraan pelayanan publik dapat menjadi lebih baik lagi. Dalam kaitan itu semua maka sangat strategis posisi belanja daerah, apakah mengedepankan belanja untuk aparatur atau untuk belanja publik. Oleh karena itu perlu adanya analisis pola/ perilaku belanja daerah, yang kemudian diumumkan/ diinformasi-kan melalui media masa kepada masyarakat, agar masyarakat dapat mengkritisi kebijakan publik secara langsung. Apalagi dalam kondisi yang multi partai seperti saat ini, tidak menutup kemungkinan terjadinya trade-off dalam pembahasan Rancangan APBD, yang berdampak pada alokasi kegiatan dan dana kurang proporsional terhadap kepentingan publik

dibandingkan dengan belanja aparatur atau kegiatan-kegiatan yang tidak berdarnpak langsung pada kepentingan publik. 5) Kebijakan Fasilitas Pelayanan Publik Dalam rangka mendorong Pemerintah Daerah menye-lenggarakan pelayanan publik secara optimal, telah dilaksanakan sosialisasi program

93 peningkatan pelayanan publik dalam bentuk Bimbingan Teknis di Daerah berupa : a) Pengembangan Lembaga Pelayanan Terpadu Satu Atap (LPTSA). Pemerintah menaruh perhatian besar terhadap upaya-upaya reformasi di bidang pelayanan publik, salah satunya adalah system pelayanan umum satu atap. Adapun lembaga yang mengelola system ini biasa disebut dengan Lembaga Pelayanan Terpadu Satu Atap (LPTSA). Sistem pelayanan satu atap pada hakekatnya adalah penyeleng-garaan pelayanan dalam satu gedung (satu atap). Sistem ini diyakini sebagai salah satu cikal bakal terjadinya proses transparansi dalam pemberian pelayanan umum oleh pemerintah kepada masyarakat. b) Peningkatan transparansi dan akuntabilitas akan berdampak pada

pelayanan yang lebih baik (better), lebih murah (cheaper), dan lebih cepat (faster) menjadi tujuan utarna reformasi manajeman

pelayanan publik daerah, maka LPTSA di daerah menjadi amat penting dan strategis peranannya. Peran penting dan strategis dari LPTSA dimaksud adalah : (1) LPTSA pemerintah bisa mendorong menjadi aparat lebih

untuk

responsive dan efisien melalui standarstandar yang telah ditentukan. Hal ini akan memberikan dorongan dan

insentif kepada birokrasi pemerintah untuk menjadi lebih responsive dan

94 efisien. (2) LPTSA kepada memberikan aparatur kesempatan untuk

pemerintah

belajar dari sektor swasta terutama dalam mengembangkan pola

manajemen yang berorientasi kepada masyarakat (what public want). Sedangkan aspek-aspek dominan yang mempengaruhi optimalisasi LPTSA antara lain : Dari hasil monitoring dan evaluasi bahwa aspek komitmen pimpinan daerah terhadap LPTSA sangat dominan terhadap optimalnya LPTSA. Apabila pimpinan daerah mempunyai komitmen yang tinggi, maka akan mampu menggerakkan unit-unit kerja terkait untuk mendukung LPTSA. Sebaliknya apabila pemimpin daerah kurang komitmen maka biasanya masing-masing unit kerja enggan melepaskan fungsi-fungsi yang berkitan dengan pelayanan. Pemahaman pendekatan ACSD yaitu Abolish (Penghapu-san), Combine (Penggabungan), Simplified (Penyederha-naan) dan Decentralized (Pelimpahan). Pendekatan ini memberi cara bagaimana

menyederhanakan persyaratan- persyaratan yang diperlukan dalam suatu proses pelayanan. Pemahaman makna kehidupan bagi para penyelenggara pelayanan publik dan aparatur yang terkait. Pemahaman terhadap beban pekerjaan melayani masyarakat akan berubah menjadi bekal

95 perjalanan di alam berikutnya akan menjadi spirit kerja dengan baik, sungguh-sungguh dan ikhlas, tanpa memikirkan dan mendapat income tambahan atau tidak. 6) Aspek Proses Pelaksanaan

Pelayanan Prima Pelayanan prima dilaksanakan untuk memenuhi standar

pelayanan terhadap permintaan, keinginan, dan harapan masyarakat yang mempunyai nilai yang tinggi dan bermutu (berkualitas). Lebih jauh hakekat dari pelayanan prima adalah berupa upaya-upaya sebagai berikut : 1) Meningkatkan dan mutu

produktifitas tugas instansi

pelaksanaan dan fungsi

pemerintah di bidang pelayanan umum. 2) Mendorong mengefektifkan system tatalaksana pelayanan, pelayanan sehingga umum dan upaya

dapat diselenggarakan secara lebih berdaya

96 guna guna dan berhasil dan

(efektif

efisien). 3) Mendorong tumbuhnya kreatifitas, dan masyarakat luas. Untuk mendukung terselenggaranya pelayanan prima tersebut harus dilaksanakan dalam suatu rangkaian kegiatan terpadu yang mencakup aspek-aspek sebagai berikut : a)Sederhana, artinya dalam pelaksanaan tidak menyulitkan, prosedurnya tidak berbelit-belit, dan persyaratannya mudah dipenuhi. b)Terbuka, artinya masyatakat ingin dilayani secara jujur. Oleh karena itu aparat yang bertugas melayani harus memberikan penjelasan sejujur-jujurnya, dan apa adanya sesuai dengan peraturan perundangan yang mengaturnya. c)Lancar, artinya petugas pelayanan harus bekerja secara ikhlas dan sepenuh hati, dengan didukung sarana dan prasarana yang menunjang kecepatan pelayanan itu sendiri. prakarsa peranserta secara

97 d)Tepat, artinya pemberian pelayanan dapat

dilakukan secara tepat arah dan sasarannya, tepat jumlahnya tidak lebih dan tidak kurang, dan tepat waktu. e)Lengkap, artinya apa yang diharapkan dan diinginkan masyarakat terhadap suatu pelayanan tertentu dapat tersedia secara lengkap. f)Wajar, artinya pelayanan dilakukan sebagaimana mestinya dan tidak dibuat-buat. g)Terjangkau, artinya biaya pelayanan tersebut dapat dijangkau oleh masyarakat. Setelah dilakukan hal-hal sebagaimana diuraikan diatas,

diharapkan pemerintah dapat memberikan kepada masyarakat suatu pelayanan publik yang prima, sehingga dengan demikian persepsi masyarakat terhadap kinerja birokrasi pemerintah akan menjadi lebih baik lagi, yang pada akhirnya nanti dapat dibangun hubungan yang harmonis antara pemerintah dan masyarakat. Pada satu sisi pemerintah akan memiliki legitimasi yang kuat dihadapan masyarakat dan pada sisi yang lain masyarakat akan mendapat pelayanan yang baik dan prima dari pemerintah. 7) Lembaga Penampungan

Pengaduan Masyarakat Dalam rangka menciptakan good governance khususnya dalam hal pelayanan publik serta untuk memicu kinerja Pemerintah Daerah

98 dalam menyelenggarakan pelayanan publik bagi masyarakatnya

diperlukan suatu lembaga pengawas eksternal yang bersifat independent dan non struktural. Sistem penampungan keluhan yang berkembang di daerah saat relatif bervariasi, namun belum berjalan efektif terhadap upaya peningkatan kinerja pelayanan publik. Dewasa ini ada berbagai media yang digunakan masyarakat untuk menyampaikan keluhan mengenai pelayanan publik, antara lain, melalui mass-medya cetak dan elektronik seperti koran, radio TV, ataupun menemui langsung instansi terkait. Namun jumlah keluhan yang masuk relatif sedikit karena msyarakat cenderung : a) Tidak mengetahui kemana masyarakat harus mengadu; atau b) Merasa pesimis bahwa keluhan masyarakat tersebut akan

ditindaklanjuti. Seluruh Pemerintah Daerah yang pernah disurvei menyatakan setuju jika lembaga khusus penampungan aspirasi/keluhan masyarakat

dibentuk didaerah. Alasan perlunya pembentukan lembaga khusus tersebut bervariasi, antara lain : a) Untuk mencairkan kebekuan antara

informasi/misko-munikasi

masyarakat dan pemerintah karena kurang berfungsinya lembaga yang sudah ada. b) Untuk menampung keluhan dan aspirasi masyarakat digunakan untuk masukan

99 dalam penyusunan program. c) Untuk memperbaiki kinerja pelayanan

publik pada khususnya dan Pemerintah Daerah pada umumnya. d) Untuk melakukan penilaian yang obyektif terhadap masalah yang timbul antara

eksekutif, legislatif dan masyarakat. e) Sebagai Daerah alat kontrol bagi Pemerintah berbagai

dalam

menetapkan

kebijakan publik. f) Sebagai upaya pengoptimalan mekanisme penampungan keluhan masyarakat maka perlu untuk mengembangkan Lembaga Penampungan Pengaduan Masyarakat

Daerah sesuai dengan situasi dan kondisi daerah masing-masing.

100 BAB III PELAKSANAAN PELAYANAN PKB DAN BBN-KB

A. Diskripsi Wilayah Propinsi Sumatera Barat terletak di sebelah Barat pulau Sumatera. Propinsi ini memiliki luas wilayah 42,2 ribu Km2 (2,17 persen dari luas Indonesia). Secara administratif Propinsi Sumatera Barat terbagi dalam 12 (dua belas) kabupaten dan 7 (tujuh) kota yaitu : Kabupaten Pesisir Selatan, Solok, Sawahlunto/Sijunjung, Tanah Datar, Padang Pariaman, Agam, 50 Kota, Pasaman, Mentawai, Pasaman Barat, Solok,

Dharmasraya, Solok Selatan dan Kota Solok dan, Kota adalah Padang, Sawahlunto, Padang Panjang, Bukittinggi, Payakumbuh dan Pariaman.

Berdasarkan perkiraan Sensus Penduduk (SP) Tahun 2000 dan Survey Penduduk Antar Sensus (SUPAS) Tahun 2005, jumlah penduduk Propinsi Sumatera Barat pada tahun 2006 adalah sekitar 4.632.152 jiwa dengam laju pertumbuhan ratarata sekitar 1,87% per tahun. Masalah umum kependudukan di Propinsi Sumatera Barat sama seperti daerah-daerah lainnya di Indonesia, yaitu terdapat penyebaran yang tidak merata antar wilayah menurut kabupaten dan kota. Penyebaran tidak merata ini disebabkan perbedaan karakteristik dan potensi daerah serta pengaruh demografi yang dimiliki masing-masing daerah. Disamping itu, faktor mobilitas penduduk (migrasi) antar daerah cukup tinggi, sehingga efektivitas proses pembangunan masing-masing daerah sangat dipengaruhi oleh kecenderungan arus penduduk yang pindah dan pergi ke kota (urbanisasi) serata menetap tinggal di kota. Urbanisasi disebabkan daerah perkotaan lebih menarik (pull factors), sedangkan di daerah kabupaten yang mempunyai ciri pedesaan dianggap kurang tertarik (push

101 factors). Faktor pull and push faktor didasarkan kepada ekspetasi penduduk kehidupan di kota jauh lebih baik apabila dibandingkan dengan daerah kabupaten. Ekspetasi kehidupan penduduk ( expectation of life ) kota, yaitu ada harapan untuk memperoleh pekerjaan dan peluang mendapatkan pendapatan. Faktor urbanisasi ini membawa kecenderungan kepadatan penduduk kota lebih tinggi di bandingkan daerah kabupaten. Dari jumlah penduduk Propinsi Sumatera Barat tahun 2006 sekitar 4.632.152 jiwa tersebut, dimana sebanyak 72,89% tinggal di 12 kabupaten dan sisanya sekitar 27,11 % di 7 daerah kota. Apabila diperhatikan distribusi antar daerah kabupaten dan kota, jumlah penduduk Kota Padang merupakan jumlah terbanyak, yaitu sekitar 819.765 jiwa. Kemudian diikuti Kabupaten Pesisir Selatan sebanyak 429.647 jiwa dan Agam sebanyak 426.767 jiwa. Sedangkan daerah yang relatif sedikit jumlah

penduduknya adalah terdapat pada beberapa daerah perkotaan, seperti Padang Pajang sebanyak 49.779 jiwa, kemudian diikuti oleh Sawahlunto sebanyak 53.327 jiwa dan Solok sebanyak 55.784 jiwa. Untuk jelasnya distribusi dapat dilihat Tabel 1 berikut :

Tabel 1 :

102 Jumlah Penduduk Sumatera Barat, 2000, 2004-2006 ( Dalam orang )


No. I. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. II 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. Kabupaten/Kota KABUPATEN Pesisir Selatan Solok Swl/Sijunjung Tanah Datar Pdg Pariaman Agam Lim Puluh Kota Pasaman Mentawai Solok Selatan Dhamasraya Pasaman Barat KOTA Padang Solok Swhlunto Padang Panjang Bukittinggi Payakumbuh Pariaman Jumlah 2000 3.186.311 388.153 434.425 306.817 326.874 495.757 414.844 310.918 508.523 ----1.034.007 708.369 47.883 48.616 40.103 91.444 97.592 --4.220.318 2004 3.309.220 417.708 457.389 343.819 339.216 375.538 428.433 324.258 555.486 67.375 ---1.219.022 784.740 55.709 53.837 44.699 100.254 104.377 75.406 4.528.242 2005 3.331.142 423.093 342.930 188.217 331.576 378.208 424.789 324..201 244.554 64.540 126.812 165.194 316.928 1.224.668 799.736 54.049 53.081 45.439 100.512 101.819 70.032 4.555.810 2006 3.376.542 429.647 347.286 192.997 334.258 381.803 426.767 327.203 248.930 66.332 128.614 170.347 322.356 1.255.610 819.765 55.784 53.327 49.779 102.515 104.084 70.356 4.632.152

Catatan : * Angka SP 2000 ** Angka SUPAS 2005 -- Sebelum pemekaran Sumber : BPS, Kantor Statistik Sumbar B. Keadaan Ekonomi Berdasarkan laporan Kantor Statistik Daerah (BPS, 2007) Propinsi Sumatera Barat, pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat tahun 2006 mengalami kenaikan sekitar 5,7 %. Pertumbuhan ekonomi tahun 2007 diperkirakan lebih tinggi sekitar 6,2 % dibandingkan pertumbuhan ekonomi tahun 2005 sekitar 5,73% dan tahun 2004 sekitar 5,37%. Dengan laju pertumbuhan sekitar 5,9 %, jumlah Produk Domestik Regional (PDRB) menurut harga konstan tahun dasar 2000) mencapai Rp 30.949,95 milyar, sedangkan pada tahun 2005 baru mencapai Rp 29.159,48 milyar dan tahun 2004 sebanyak Rp.27.578,14 milyar.

103 Perkembangan yang cukup mengembirakan ini terjadi akibat pertumbuhan 4 (empat) sektor dominan, seperti sektor pertanian, pengangkutan dan perdagangan, hotel dan restoran. Pada tahun 2006 sektor pertanian memberi sumbangan terhadap pembentukan PDRB Sumatera Barat sekitar 25,30%, sektor perdagangan, hotel dan restoran sekitar 17,62%. sektor industri dan pengolahan sekitar 14,30% dan sektor pengangkutan dan komunikasi sekitar 14,02%. Apabila diperhatikan perkembangan ke empat sektor dominan tersebut, pada tahun 2006 sektor pertanian naik sekitar 6,70%, sektor industri dan pengolahan naik sekitar 4,0%, sektor perdagangan, hotel dan restoran naik sekitar 5,99% dan sektor pengangkutan dan komunikasi naik sekitar 9,84%. Diantara ke empat sektor dominan diatas, khusus sektor pengangkutan dan komunikasi sangat potesial dan relevan apabila dikaitkan dengan topik pemahasan ini, karena indikator yang digunakan dalam perhitungan PDRB adalah jumlah kendaraan bermotor.

Tabel 2 : Produk Domestk Regionl Bruto Propinsi Sumatera Barat atas Harga Konstan Tahun 2000, Menurut Lapangan Usaha

104
Tahun 2002-2006 ( Dalam Rp. Juta )
No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Lapangan Usaha Pertanian. Pertambangan dan penggalian Industri pengolahan. Listrik,gas,air bersih Bangunan Perdagangan,hotel dan restoran Pengangkutan dan komunikasi. Keuangan,persewaan,j asa perusahaan Jasa-jasa. Jumlah 2002 6.091.915,6 884.878,7 3.404.309,8 271.084,9 1.194.839,2 4.543.977,6 2.928.943,5 1.230.509,4 4.289.729,1 24.840.187,7 2003 6.557.510,7 894.245,3 3.472.186,0 284.294,0 1.278.358,4 4.755.166,3 3.165.005,3 1.294.725,5 4.445.290,3 26.146.781,6 2004 6.937.172,9 923.379,1 3.629..455,7 301.070,7 1.375.769,3 5.006.640,3 3.419.244,7 1.376.937,7 4.608.466,1 27.578.136,6 2005 7.293.205,7 951.882,6 3.808.287,0 338.722,9 1.440.337,6 5.305.757,2 3.754.819,8 1.464.102,8 4.802.365,0 29.159.480,5 2006 7.658.394,8 980.826,8 3.978.641,1 368.981,7 1.544.889,6 5.662.879,4 4.140.569,9 1.579.347,5 5.035.414,3 30.949.945,1

Sumber : Kantor Sensus dan Statistk Propinsi Sumatera Barat Struktur perekonomian daerah dalam satu dekade terakhir masih didominasi oleh tiga sektor utama yaitu sektor peranan sektor pertanian dalam tahun 2003 sebesar 24,18% dan mengalami peningkatan pada tahun 2004 menjadi 24,40%, sedangkan dalam tahun 2005 mencapai 25,06%. Dari perkembangan tersebut menandakan sektor pertanian semakin dominan dan masih tetap menjadi penggerak perekonomian untuk beberapa tahun ke depan. Oleh sebab itu pembangunan sektor pertanian tahun 2007 tetap menjadi prioritas pembangunan dalam kerangka pengembangan perekonomian daerah dan peningkatan pendapatan penduduk yang sebahagian besar masih mengandalkan lapangan kerja pada sektor pertanian ini. Sektor perdagangan, hotel dan restoran yang merupakan penyumbang kedua terbesar dalam pembentukan PDRB daerah dengan kontribusi sebesar 18,79% dalam tahun 2003 dan pada tahun 2004 mengalami penurunan menjadi 18,71%, selanjutnya pada tahun 2005 juga mengalami penurunan menjadi 18,18%. Hal ini disebabkan semakin menurunnya kontribusi sektor pertambangan dan penggalian serta sektor

105 industri pengolahan yang sangat mempengaruhi sektor perdagangan ini. Sedangkan sektor jasa-jasa sebagai penyumbang ketiga dalam pembentukan PDRB juga mengalami penurunan sejak tahun 2002 sehingga menjadi dibawah 17%, hal ini berlangsung sampai dengan tahun 2004. Pertumbuhan ekonomi daerah pada tahun 2005 sebesar 5,53% yang berarti lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi yang dicapai pada tahun 2004 sebesar 5,46%. Diharapkan perekonomian daerah terus membaik dengan pertumbuhan sebesar 6,00% pada tahun 2006 dan pada tahun 2007 diharapkan lebih tinggi lagi yaitu sebesar 6,20%. Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2005 dari sisi permintaan, didukung oleh konsumsi masyarakat yang mengalami pertumbuhan sebesar 3,5% dan konsumsi pemerintah sebesar 4,0%, sedangkan ekspor mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi yaitu sebesar 15,0%. Diharapkan ekspor ini terus mengalami peningkatan sehingga dapat lebih mendorong gerak perekonomian daerah. Dari sisi penawaran, sektor pertanian mengalami pertumbuhan sebesar 6,96% sementara sektor industri pengolahan hanya mengalami pertumbuhan sebesar 3,56% yang berarti berada dibawah sektor pertanian. Diharapkan untuk masa yang akan datang pertumbuhan sektor industri dapat lebih tinggi dari sektor pertanian sehingga terjadi kegiatan ekonomi yang memberikan nilai tambah bagi daerah. Untuk langkah-langkah yang dapat meningkatkan industri pengolahan terutama yang berbasis pertanian akan terus diupayakan, baik melalui pemberdayaan usaha yang sudah ada maupun dengan mendorong investor mengembangkan industri pengolahan dimaksud. Untuk merealisasikan pertumbuhan ekonomi daerah sebesar 5,9 % pada tahun 2006 dibutuhkan investasi sebesar Rp. 6.234 milyar menurut harga konstan tahun 2000, sedangkan untuk merealisasikan pertumbuhan sebesar 6,20 % pada tahun 2007

106 dibutuhkan investasi sebesar Rp. 7.104 milyar menurut harga konstan tahun 2000. Investasi tersebut berasal dari pemerintah, masyarakat dan dunia usaha. Investasi masyarakat dan dunia usaha akan berperan lebih besar dibandingkan investasi pemerintah, untuk itu program kerja pemerintah akan lebih diarahkan kepada penyiapan kerangka kebijakan dan peningkatan pelayanan serta menyediakan sarana prasarana yang dapat mendorong aktivitas penanaman modal. Dengan terjadinya peningkatan perekonomian daerah melalui berbagai kebijakan dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi telah terjadi peningkatan diberbagai sektor, terutama pada sektor dominan yang diharapkan meningkat seperti digambarlan diatas. Diharapkan peningkatan pertumbuhan ekonomi tersebut membawa pengaruh terhadap penurunan jumlah penduduk miskin dan jumlah pengangguran. Perkembangan kondisi perekonomian Sumatera Barat, dalam temuan dan hasil wawancara dalam penelitian ini, termasuk peningkatan investasi daerah sangat besar artinya terhadap efektifitas penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD), khususnya penerimaan pajak daerah yang berasal dari Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea balik Nama (BBN). Di samping itu, kondisi sosial ekonomi masyarakat, dimana tingkat kemiskinan dan pengangguran mempunyai efek tidak langsung kepada efektivitas penerimaan daerah. Pada tahun 2005 berdasarkan hasil pendataan Susenas, 2006, jumlah penduduk miskin di Propinsi Sumatera Barat tercatat sebanyak 1.079.241 orang atau sebanyak 233.825 Kepala Keluarga. Jumlah ini diperkirakan sebanyak 22,07% dari jumlah penduduk Sumatera Barat. Pada tahun 2006 jumlah ini diperkirakan mengalami peningkatan, yaitu sekitar 30,0% dari jumlah penduduk tahun 2006. Peningkatan jumlah penduduk miskin dalam temuan penelitian sangat

107 mempengaruhi efektivitas pemasukan penerimaan yang berasal dari PAD, salah satu diantanya adalah Penerimaan yang bersumber dari pajak daerah, khususnya Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama (BBN). Namun dalam tahun 2007 dengan berbagai program penanggulangan kemiskinan diantara adalah

penanggulangan kemiskinan yang berbasis nagari, diharapkan angka kemiskinan tahun 2007 menjadi 17,09%. Demikian halnya dengan angka pengganguran terbuka, Jumlah pengangguran terbuka di Propinsi Sumatera adalah cukup tinggi, dimana dari jumlah pencari kerja sebanyak 2.026.950 orang diperkirakan tingkat pengangguran terbuka sekitar 16,53%, sedeangkan pada tahun 2004 jumlah tersenbut diperkirakan akan terjadi penurunan, yaitu sekitar 14,40% dan awal tahun berikutnya akan mengalami penurunan lagi menjadi 13,10%. Namun, masalah pengangguran bukan terletak kepada penanganan penurunan tingkat pengangguran terbuka menjadi 13,10% tersebut, tetapi yang lebih penting dan erat kaitannya dengan efektivitas pembayaran PKB dan BBN adalah tenaga yang bekerja yang dikelompokan kedalam setengah penganggur. Berdsarkan data Kantor Sensus dan Statistik Sumatera Barat, pengangguran tersebut adalah : Kelompok orang yang bekerja dibawah jam kerja yang sudah ditentukan (Under Employment). Kelompok orang yang bekerja tidak pada tempatnya dan tidak sesuai dengan latar belakang serta keahliannya, sehingga bekerja tidak seperti yang diharapkan. (Under - Utilized). Bekerja tidak sepantasnya bekerja, seperti anak-anak, hubungan keluarga, teman dan saudara serta bentuk KKN lainnya (Disquised Un-Employment).

108 Ketiga bentuk pengangguran ini jumlahnya cukup besar, Dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah ( RKPD ) Propinsi Sumatera Barat Tahun 2007, pada tahun 2004 jumlah sekitar 44,0 % dan tahun 2005 sekitar 44,5 %. Penyebab tingginya angka orang bekerja yang disebut setengah penganggur tersebut disebabkan rendah kualitas sumberdaya manusia seperti pendidikan, kesehatan, gizi dan tekanan urbanisasi. Kemudian secara alamiah kenaikan jumlah penduduk satu dekade sebelumnya menjadi pencari dan menyebabkan tingginya jumlah pencari kerja, belum lagi

termasuk pertambahan kelompok pencari dari anak sekolah/mahasiswa yang menamatkan pendidikan. Kedua faktor penyebab tenaga kerja setengah penganggur tersebut akan mempengaruhi efektivitas pelayanan sumber daya bagi pusat-pusat pelayanan, seperti pada kasus pelayanan publik pembayaran pembayaran melalui calo dalam pengurusan pajak daerah, perizinan, adanya parkir liar yang mengganggu tata tertib pelayanan. C. Efektivitas Pajak Daerah Dalam membahas efektivitas pajak daerah terhadap penerimaan daerah, penulis menguraikan kemampuan daerah dalam pemungutan pajak daerah, khususnya penerimaan daerah yang bersumber dari Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama (BBN). Untuk menjelaskan efektivitas pemungutan pajak daerah ini, kemampuan untuk merealisasikan target yang telah ditetapkan di awal tahun anggaran berjalan dengan realisasi pemungutan yang dilakukan pada tahun bersangkutan. Kemampuan daerah dalam memajukan perekonomian daerahnya terlihat dari perkembangan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang positif disisi penerimaan dan peranannya dari tahun ketahun yang semakin meningkat. Pendapatan Asli Daerah

109 merupakan salah satu sumber utama keuangan daerah untuk membiayai biaya administrasi umum dan biaya operasi pemeliharaan disamping penerimaan lainnya berupa bagi hasil pajak/bukan pajak, bantuan pembangunan serta pinjaman daerah. Keuangan daerah merupakan salah satu faktor terpenting dalam menganalisa potensi dan kebutuhan daerah. Perkembangan Pendapatan Asli Daerah Sumatera Barat dari tahun ketahun terus mengalami peningkatan rata-rata 32,69% pertahun, akan tetapi persentase pertumbuhannya berfluktuatif. Tabel 3 Pertumbuhan PAD Propinsi Sumatera Barat Selama Tahun Anggaran 2002 - 2006 (dalam Rp. 000)
No. 1 2 3 4 5 Tahun Anggaran 2002 2003 2004 2005 2006 Realisasi PAD 213.284.546 281.450.709 375.074.888 406.649.236 457.256.065 Kenaikan Rp 72.521.346 68.166.163 93.624.179 31.574.348 50.606.829 % 34,00 31,96 33,26 8,42 12,44

Sumber : Dinas Pendapatan Prop. Sumbar Tahun 2006. Besarnya kontribusi Pendapatan Asli Daerah terhadap Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) menunjukkan tingkat ketergantungan daerah terhadap Pemerintah Pusat. Kontribusi PAD Sumatera Barat Tahun Anggaran 2002 sampai dengan 2006 dapat dilihat pada tabel IV.4 berikut :

Tabel 4 Kontribusi PAD terhadap APBD Propinsi Sumbar Dalam Tahun Anggaran 2002 2006 (Dalam Rp. ribuan)

110

Tahun Anggaran PAD 2002 2003 2004 2005 2006 213.284.546 281.450.709 375.074.888 406.649.236 457.256.065

Realisasi APBD 561.809.383 704.409.383 724.431.755 738.641.236 985.149.165 51,78

% 37,96 39,96

55.50 46,41

Sumber : - Dinas Pendapatan Prop. Sumbar.Tahun 2006. Dari data di atas terlihat bahwa kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) mengalam fluktuasi, namun apapabila dilihat perkembangan selama 5 tahun terakhir jumlahnya menunjukan peningkatan. Pada tahun 2006, konstribusi PAD terhadap APBD Sumatera adalah sebanyak 46,41%. Angka ini sedikit lebih rendah

dibandingkan tahun 2005 sekitar 55,50 %. Menurut undang-undang nomor 34 tahun 2000 jenis-jenis pajak daerah propinsi meliputi : Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan kendaraan di atas air Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) dan kendaraan di atas air Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Permukaan Kontribusi PKB dan BBN KB terhadap PAD dan APBD Propinsi Sumatera Barat Tahun Anggaran 2002-2006 rata-rata sekitar 61, 12 % sampai 80,57 %, sedangkan dibandingkan dengan jumlah PDRB Propinsi Sumatera Barat adalah ratarata sekitar 23,20 % sampai 37,40 %. Rendahnya konstribusi perimaan ini sebagai sumber PAD utama adalah disebabkan penerimaan daerah yang terbesar adalah berasal dari dana perimbangan keuangan yang bersumber dari APBN seperti DAU,

111 DBH dari pajak dan bukan pajak serta DAK. Untuk mengetahui kontribusi pajak daerah terhadap penerimaan asli daerah dan penerimaan total daerah (APBD) di Propinsi Sumatera Barat selama tahun 2002 sampai dengan tahun 2006 dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 5 Kontribusi PKB dan BBN KB terhadap PAD dan APBD Propinsi Sumatera Barat Tahun Anggaran 2002-2006
PAD ( Rp. 000 ) % 129,7 1 145,5 5 130,0 2 108.1 7 112,6 8 213.284.546 281.450.709 375.074.888 406.649.236 457.256.065 61,12 61,95 65,16 72,48 80,57 23,20 24,75 33,74 39,90 37,40 Kontr. thd PAD (%) Kontr. thd APBD (%)

Tahun

Target PKB dan BBNKB

Realisasi ( Rp.000)

2002 2003 2004 2005 2006

100.500.000 119.800.000 187.975.000 272.500.000 327.000.000

130.356.216 174.365.197 244.404.980 294.763.945 368.454.931

Sumber : Dinas Pendapatan Daerah Prop. Sumbar.Tahun 2006.

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa kontribusi pajak daerah (PKB dan BBNKB) Propinsi Sumatera Barat terhadap Pendapatan Asli Daerah setiap tahunnya masih berluktuatif dengan rata rata kontribusinya selama lima tahun terakhir sebesar 61,12%. Sedangkan kontribusinya terhadap APBD adalah sebesar 23,20% sampai dengan 37,40%. Pada tahun 2003 konstribusinya terhadap PAD adalah sekitar 61,95%, sedangkan pada tahun 2006 adalah sekitar 80,57%. Sedangkan konstribusinya terhadap APBD, pada tahun 2003 adalah sekitar 23,20% dan pada tahun 2006 naik menjadi 37,40%. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 65 Tahun 2005 tentang

112 Pedoman dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal, dimana fakta yang dikemukakan Tabel 6 terlihat bahwa realisasi telah melampaui target yang ditetapkan. Dilihat dari segi penerimaan daerah pencapaian target telah kinerja memuaskan. Secara terinci kinerja dari aspek penerimaan tersebut dapat dilihat tabel berikut: Tabel 6 Target dan Realisasi PKB dan BBNKB Selama tahun anggaran 2002 s/d 2006 (Dalam Rp. 000)
N o Tahun Pajak Kendaraan Bermotor % Bea Balik Nama KendaraanBermotor %

Target 1. 2. 3. 4. 5. 2002 2003 2004 2005 2006

Realisasi 123,88 132,98 118,21 118,32 151.469

Target

Realisasi 135,03 156,69 138,88 101,70 132,43

48.000.000 59.463.557 56.300.000 74.869.162 80.575.000 95.245.946 106.000.000 125.418.588 127.200.000 192.669.237

52.500.000 70.892.658 63.500.000 99.496.034 107.400.000 149.159.033 166.500.000 169.345.358 199.800.000 264.586.828

Sumber : Dinas Pendapatan Daerah Prop.Sumbar 2006. D. Hasil Penelitian dan Analisis Keadaan Personil Kantor Bersama Samsat Berdasarkan situasi kantor per akhir Januari 2006, jumlah personil yang terdapat di Kantor Bersama Samsat Sumatera Barat adalah sebagai berikut : Dit. Lantas Polda Dispenda Jasa Raharja Jumlah : : : : 30 orang 33 orang 2 orang 65 orang

Distribusi petugas yang terdapat pada setiap pokja/loket yang langsung berhubungan dengan masyarakat wajib pajak dapat dilihat pada tabel 7 berikut :

113

Tabel 7 Distribusi Jumlah Petugas Samsat Pada Setiap Loket Pelayanan Pokja/ Loket Polda Dispenda 2 0 9 3 1 15 Jasa Raharja 0 0 1 1 1 3 Jumlah 5 4 16 4 4 33

Loket I 3 Loket II 4 Loket III 6 Loket IV 0 Loket V 2 Jumlah 15 Sumber : Ditlantas Polda Sumatera Barat.

Adapun jumlah wajib pajak yang dilayani rata-rata per hari adalah sebagaimana dapat dilihat pada tabel 8. Tabel 8 Jumlah Rata-rata Wajib Pajak yang Dilayani Per hari Pokja/ Loket Loket I Loket II Loket III Loket IV Loket V Sumber : Ditlantas Polda Sumatera Barat. Jumlah WP 650 orang 200 orang 400 orang 650 orang 200 orang

Rata-rata setiap loket melayani 420 orang wajib pajak. Dari tabel 8 terlihat bahwa jumlah wajib pajak yang dilayani pada setiap loket tidak sama. Rata-rata wajib pajak yang datang setiap hari ke Loket I lebih banyak jika dibandingkan dengan Loket II, yang jumlahnya paling sedikit (rata-rata 200 orang wajib pajak perhari). Jumlah wajib pajak yang dilayani memang dapat berbeda, karena sifat pekerjaan di setiap loket mempunyai spesifikasi yang berbeda. Menurut pedoman tata laksana Sistim Administrasi Manunggal Dibawah Satu Atas (Samsat), tidak semua kendaraan bermotor wajib melakukan cek phisik (khususnya untuk

114 mengesahkan STNK setiap tahun), walaupun dalam prakteknya semua kendaraan bermotor diharuskan untuk melakukan cek phisik, tetapi yang terdaftar hanya yang sesuai dengan ketentuan. Semua kendaraan bermotor yang hendak membayar PKB, BBN-KB dan SWDKLLJ wajib mengambil formulir di Loket I. Umumnya wajib pajak setelah mengambil formulir di Loket I, melanjutkan cek phisik kendaraan bermotor di Loket II, lalu melakukan pendaftaran di Loket III. Setelah selesai di Loket III kebanyakan wajib pajak pergi meninggalkan Kantor Samsat, karena untuk membayar PKB, BBN-KB dan SWDKLLJ, petugas memerlukan waktu untuk menghitung besarnya PKB, di samping adanya wajib pajak yang belum mempersiapkan dana untuk melakukan pembayaran pada saat itu. Kebanyakan wajib pajak baru datang kembali ke Kantor Bersama Samsat pada keesokan harinya. Masyarakat yang hendak membayar PKB atau memperpanjang STNK diperkenankan untuk melakukannya sebulan sebelum tanggal jatuh tempo. Data Primer Data primer diperoleh dari wawancara dan kuesioner, dijelaskan sebagai berikut : Terhadap Karakteristik Responden Berdasarkan hasil berikut ini : Pada tabel 9 dapat dilihat profil responden berdasarkan pekerjaan. Umumnya responden bekerja sebagai wiraswastawan, yaitu sebanyak 19 responden atau sebesar 45,24%, sebagai pegawai sebanyak 15 responden atau 35,71% dan sebanyak 8 orang atau 19,05% memiliki pekerjaan selain wiraswasta dan pegawai. penelitian, diperoleh data sebagaimana dijelaskan

115

Tabel 9 Profil Responden Berdasarkan Pekerjaan Pekerjaan Jumlah Sampel (n) 19 15 5 3 42 Responden Prosentase (%) 45,24 35,71 11,91 7,14 100

Wiraswasta Pegawai Pengemudi Lainnya Jumlah

Berdasarkan umur responden, usia 15-30 tahun sebanyak 6 responden atau 14,29%, umur 31-40 tahun sebanyak 17 responden atau 40,48% dan yang berumur 4150 tahun sebanyak 15 responden atau 35,71%. Sisanya berumur di atas 51 tahun, yaitu 4 responden atau 9,52%. Variasi umur wajib pajak yang menjadi responden dianggap bisa mewakili seluruh usia wajib pajak. Profil umur responden dapat dilihat pada tabel 10. Tabel 10. Profil Responden Berdasarkan Umur Umur (Tahun) Jumlah Sampel (n) 6 17 15 4 42 Responden Prosentase (%) 14,29 40,48 35,71 9,52 100

15 30 31 40 41 50 51 ke atas Jumlah

Umumnya responden mempunyai pendidikan SLTA yaitu sebanyak 18 responden atau 42,86%, Perguruan Tinggai (PT) 14 responden atau 33,33%. Responden yang berpendidikan dasar (SD dan SLTP) ada 8 responden atau 19,05%. Berarti tingkat pendidikan responden cukup baik. Profil responden berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel 11.

116

Tabel 11. Profil Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Pendidikan Responden Jumlah Sampel (n) 2 6 18 14 2 42 Prosentase (%) 4,76 14,29 42,86 33,33 4,76 100

SD SLTP SLTA PT Lainnya Jumlah

Hasil penelitian yang diperoleh dari kuesioner yang diedarkan dengan menanyakan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan urusan pada setiap loket pelayanan, mulai dari Loket I hingga Loket V, dapat diuraikan berikut ini. Loket I (Penyediaan Formulir dan Penerangan) Hasil angket yang disebarkan kepada 42 responden wajib pajak yang berurusan ke Samsat mengenai waktu yang digunakan untuk pelayanan pada Loket I adalah sebagai mana yang dapat dilihat pada tabel 12. Dari sebaran kuesioner diperoleh hasil 29 orang atau 69,05% responden menjawab waktu yang diperlukan di Loket I kurang dari 15 menit, 12 orang atau 28,57% responden mengatakan waktu yang diperluken antara 15 menit 30 menit dan 1 orang atau 2,38% responden mengatakan lebih dari 30 menit tetapi kurang dari 60 menit.

117

Tabel 12. Profil Responden Berdasarkan Waktu Yang Digunakan Pada Loket I Waktu Kurang dari 15 menit 15 menit 30 menit 31 menit 60 menit Lebih dari 60 menit Jumlah Responden Jumlah Sampel Prosentase (n) (%) 29 69,05 12 28,57 1 2,38 0 0 42 100

Rata-rata seorang wajib pajak menghabiskan waktu 12,68 menit di Loket I (lihat tabel 13). Loket II (Cek Phisik Kendaraan Bermotor) Loket II melayani pekerjaan cek phisik kendaraan bermotor meliputi pengecekan nomor rangka, nomor mesin, warna, merek serta tahun pembuatan kendaraan bermotor. Hasil yang diperoleh dari sebaran kuesioner adalah sebagaimana yang dapat dilihat pada tabel 13. Dari jawaban kuesioner yang diberikan kepada 42 responden wajib pajak menunjukkan bahwa banyak waktu yang digunakan pada Loket II, yang dimulai dari menyerahkan formulir cek phisik, lalu petugas lapangan melaksanakan tugasnya dengan menggesek nomor rangka dan nomor mesin kendaraan bermotor, sampai pengesahan yang dilakukan oleh petugas yang berwenang yaitu Perwira Urusan Cek Phisik menunjukkan 18 orang atau 42,86% responden mengatakan kurang dari 15 menit, 21 orang atau 50% responden mengatakan antara 15 menit 30 menit. Sedangkan 3 orang atau 7,14% responden mengatakan antara 31 menit 60 menit dan

118 yang mengatakan lebih dari 60 menit nihil. Tabel 13. Profil Responden Berdasarkan Waktu Yang Digunakan Pada Loket II Waktu Responden Jumlah Sampel (n) 18 21 3 0 42 Prosentase (%) 42,86 50 7,14 0 100

Kurang dari 15 menit 15 menit 30 menit 31 menit 60 menit Lebih dari 60 menit Jumlah

Rata-rata seorang wajib pajak menghabiskan waktu 17,68 menit di Loket II (lihat tabel 13). Loket III (Pendaftaran, Penelitian dan Penetapan) Pada Loket III dilaksanakan pendaftaran, penelitian berkas dan hasil cek phisik, merekam data STNK dan melakukan order TNKB (Tanda Nomor Kendaraan Bermotor), selanjutnya menyerahkan notice, KTP, BPKB atau identitas lainnya, di mana kegiatan ini dilakukan oleh petugas Polri. Sedangkan kegiatan yang dilakukan oleh Dispenda meliputi penelitian pajak, penetapan PKB dan print notice untuk diteruskan ke loket berikutnya. Selanjutnya kegiatan Jasa Raharja menetapkan SWDKLLJ untuk asuransi kendaraan bermotor. Dari hasil sebaran kuesioner yang dilakukan, diperoleh komposisi sebagaimana dapat dilihat pada tabel 14.

119

Tabel 14. Profil Responden Berdasarkan Waktu Yang Digunakan Pada Loket III Waktu Responden Jumlah Sampel (n) 8 27 5 2 42

Kurang dari 15 menit 15 menit 30 menit 31 menit 60 menit Lebih dari 60 menit Jumlah

Prosentase (%) 19,05 64,29 11,90 4,76 100

Komposisi hasil penelitian yang diperoleh adalah 27 orang atau 64,29% responden mengatakan lebih dari 15 menit tetapi kurang dari 30 menit, 8 orang atau 19,05% responden mengatakan kurang dari 15 menit, 5 orang atau 11,90% responden mengatakan lebih dari 30 menit tetapi kurang dari 60 menit dan 2 orang atau 4,76% responden yang mengatakan lebih dari 60 menit. Rata-rata pelayanan seorang wajib pajak pada Loket III adalah 24,11 menit (lihat tabel 13). Loket IV (Pemeriksaan, Pembayaran PKB, BBN-KB, Administrasi STNK, TNKB dan SWDKLLJ) Pada Loket IV, dilakukan pembayaran, validasi dan menyerahkan notice 1 dan 2 yang dilakukan oleh Kas Daerah (Dispenda). Hasil sebaran kuesioner pada Loket IV, di dalam penggunaan waktu adalah 24 orang atau 57,14% responden mengatakan diperlukan waktu kurang dari 15 menit, 14 orang atau 33,33% responden mengatakan lebih dari 15 menit tetapi tidak lebih dari 30 menit, 4 orang atau 9,53% responden memerlukan waktu 31 menit 60 menit. Untuk lengkapnya dapat dilihat pada

120 tabel 15. Rata-rata seorang wajib pajak menghabiskan waktu 16,07 menit untuk berurusan di Loket IV (lihat tabel 15). Tabel 15. Profil Responden Berdasarkan Waktu Yang Digunakan Pada Loket IV Waktu Responden Jumlah Sampel (n) 24 14 4 0 42 Prosentase (%) 57,4 33,33 9,53 0 100

Kurang dari 15 menit 15 menit 30 menit 31 menit 60 menit Lebih dari 60 menit Jumlah

Loket V (Pengesahan dan Penyerahan) Loket V bertugas memberikan pelayanan pengesahan dan penyerahan berkas yang dikirim dari Loket IV. Pada Loket V petugas yang melayani terdiri dari instansi Polri, Dispenda dan Jasa Raharja, dengan melakukan kegiatan untuk pekerjaan verifikasi, melakukan pencetakan STNK, menerbitkan Penning PKB dan validasi dengan mencetak KTL (PKB dan SWDKLLJ). Pekerjaan Polri mencetak STNK dan validasi, sedangkan Dispenda dan Jasa Raharja menerbitkan Penning PKB dan mencetak KTL. Dari kuesioner yang diisi responden hasilnya dapat dilihat pada tabel 16. Komposisi yang diperoleh dari hasil penelitian adalah 8 orang atau 19,05% responden mengatakan kurang dari 15 menit, 25 orang atau 59,52% responden mengatakan diperlukan waktu antara 15 menit sampai dengan 30 menit, 7 orang atau 16,67% responden mengatakan diperlukan waktu lebih dari 30 menit tetapi kurang

121 dari 60 menit, dan 2 orang atau 4,76% responden mengatakan lebih dari 60 menit. Tabel 16. Profil Responden Berdasarkan Waktu Yang Digunakan Pada Loket V Waktu Responden Jumlah Sampel Prosentase (n) (%) Kurang dari 15 menit 8 19,05 15 menit 30 menit 25 59,52 31 menit 60 menit 7 16,67 Lebih dari 60 menit 2 4,76 Jumlah 42 100 Rata-rata pelayanan untuk seorang wajib pajak di Loket V adalah 25,18 menit (lihat tabel 17). Penilaian Terhadap Kriteria Pelayanan Penilaian terhadap 8 (delapan) kriteria pelayanan adalah untuk mengetahui kepuasan wajib pajak terhadap pelayanan yang diberikan oleh petugas Samsat. Hasil penilaian terhadap kriteria ini dapat dilihat pada tabel 18 sampai dengan tabel 23. Dari tabel 8 dapat diketahui, pada umumnya yaitu 57,14% responden atau 24 orang mengatakan pelayanan mudah, bahkan 28,57% responden atau 12 orang mengatakan pelayanan sangat mudah. Sebesar 11,91% responden atau 5 orang mengatakan pelayanan tidak mudah dan hanya 2,38% responden atau 1 orang mengatakan pengurusan sangat tidak mudah atau sulit. Untuk efisiensi dan kesederhanaan dalam pelayanan, prosesnya

diselenggarakan dengan mudah, cepat, tidak berbelit-belit dan dapat dipahami serta efisien. Tabel 19 memperlihatkan hasil sebaran kuesioner yang telah diolah. Sebanyak 14,29 % responden atau 6 orang mengatakan bahwa pembuatan STNK dilakukan dengan sangat efisien, 28,57% responden atau 12 orang mengatakan efisien. Sedangkan yang menjawab tidak efisien ada 47,62 % responden atau 20 orang

122 dan 9,52% responden atau 4 orang tidak menjawab atau tidak melingkari salah satu nomor pilihan yang telah disediakan. Tabel 18. Profil Responden Berdasarkan Kemudahan Kejelasan Dalam Pelayanan Kategori Responden Jumlah Sampel (n) 12 24 5 1 42 Prosentase (%) 28,57 57,14 11,91 2,38 100

Sangat Mudah Mudah Tidak Mudah Sangat Tidak Mudah / Sulit Jumlah

Tabel 19. Profil Responden Berdasarkan Efisiensi dan Kesederhanaan Dalam Pembuatan STNK Kategori Responden Jumlah Sampel (n) 6 12 20 4 42 Prosentase (%) 14,29 28,57 47,62 9,52 100

Sangat Efisien Efisien Tidak Efisien Tidak Menjawab Jumlah

Mengenai keamanan dan kenyamanan, baik dari segi dokumen maupun lingkungan dan dalam pemerosesan berkas wajib pajak, jawaban responden dapat dilihat pada tabel 20. Dari tabel 20 tersebut terlihat 23,81 % responden atau 10 orang menjawab sangat aman, 59,52 % responden atau 25 orang mengatakan aman. Sedangkan yang menjawab tidak aman ada 4,76 % responden atau 2 orang dan 11,91 % responden atau 5 orang rnemilih tidak menjawab. Tabel 20

123 Profil Responden Berdasarkan Keamanan dan Kenyamanan Selama Penyelesaian STNK Kategori Responden Jumlah Sampel (n) 10 25 2 5 42 Prosentase (%) 23,81 59,52 4,76 11,91 100

Sangat Aman Aman Tidak Aman Tidak Menjawab Jumlah

Sebaran responden berdasarkan rasa keadilan dalam pelayanan yang diberikan oleh petugas Samsat sebagaimana yang dapat dilihat pada tabel 21 adalah, 23,81% responden atau 10 orang menjawab sangat adil, 54,76 % responden atau 23 orang mengatakan adil. Sedangkan responden yang mengatakan tidak adil ada 19,05 % responden atau 8 orang dan 2,38 % responden atau 1 orang mengatakan sangat tidak adil. Dari hasil kuesioner terlihat bahwa tarnyata petugas di dalam memberikan pelayanan tidak membeda-bedakan antara calo dan yang bukan ca1o. Mengenai ketersediaan prasarana, sarana dan fasilitas yang ada dapat dilihat, 8,43% responden atau 9 orang menjawab bahwa prasarana, sarana dan fasilitas yang tersedia sangat memadai, 61,90% responden 26 orang mengatakan prasarana, sarana dan fasilitas yang ada cukup memadai, sedangkan 14,29 % responden atau 6 orang mengatakan kurang memadai dan 2,38 % responden atau 1 orang mengatakan tidak memadai. Selengkapnya dapat dilihat pada label 22.

Tabel 21 Profil Responden Berdasarkan Keadlan

124 Dalam Pelayanan yang Diberikan oleh Petugas Samsat Kategori Sangat Adil Adil Tidak Adil Sangat Tidak Adil Jumlah Responden Jumlah Sampel Prosentase (n) (%) 10 23,81 23 54,76 8 19,05 1 2,38 42 100 Tabel 22 Profil Responden Berdasarkan Prasarana Sarana dan Fasilitas yang Tersedia Kategori Sangat Memadai Cukup Memadai Kukrang Memadai Tidak Memadai Jumlah Responden Jumlah Sampel Prosentase (n) (%) 9 21,43 26 61,90 6 14,29 1 2,38 42 100

Prasarana, sarana serta fasilitas yang tersedia, misalnya peralatan kerja, ruangan yang tersedia untuk pelayanan, fasilitas umum seperti mushalla, toilet, kantin dan lain-lain. Berdasarkan pelayanan secara keseiuruhan yang diberikan oleh petugas, 11,91% responden atau 5 orang mengatakan sangat balk, 30,95% responden atau 13 orang mengatakan cukup baik, dan 52,38% responden atau 22 orang mengatakan kurang baik dan 4,76% responden atau 2 orang mengatakan tidak baik. Hasil sebaran kuesioner mengenai kualitas pelayanan yang diberikan oleh petugas secara keseluruhan dapat dilihat pada tabel 23.

Tabel 23

125 Profil Responden Berdasarkan Kualitas Pelayanan Secara Keseluruhan Kategori Responden Jumlah Sampel (n) 5 13 22 2 Jumlah 42 Prosentase (%) 11,91 30,95 52,38 4,76 100

Sangat Baik Cukup Baik Kurang Baik Tidak Baik

Terhadap Identitas Pribadi Responden Umumnya responden masih berusia niuda yaitu 31-40 tahun (40,48%) dan 4150 tahun (35,71%) dengan tingkat pendidikan cukup dominan SLTA (42,86 %) dan Perguruan Tinggi (33,33 %). Pekerjaan responden sebagian besar adalah Wiraswasta (45,24 %) dan Pegawai (35,71 %). Ketersediaan Prasana, Sarana dan Fasilitas Ketersediaan prasarana, sarana dan fasilitas yang ada di Kantor Bersama Samsat Sumatera Barat di Padang, secara umum cukup baik. Prasarana, sarana dan fasilitas yang disediakan diantaranya ruang tunggu dan kursi tamu yang mencukupi, tempat parkir yang cukup luas, peralatan kerja seperti komputer dan ruangan kerja petugas yang memadai, tersedianya mushalla, telepon umum dan warung atau kantin. Menurut Moenir (1998), sarana pelayanan adalah segala jenis peralatan peralatan, perlengkapan kerja dan fasilitas lain yang berfungsi sebagai alat utama atau pendukung di dalam pelaksanaan pekerjaan, dan juga berfungsi sosial dalam rangka memenuhi kebutuhan orang-orang yang sedang berhubungan dengan orang kerja. Bila dilakukan analisis untuk melihat kaitan antara ketersediaan prasarana, sarana dan fasilitas di Kantor Bersama Samsat dengan kepuasan dalam pelayanan,

126 maka akan diperoleh hubungan antara dua variabel dengan nilai yang cukup baik, yang berarti bahwa kaitan yang sangat nyata antara ketersediaan prasarana, sarana dan fasifitas dengan kepuasan pelayanan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik pelayanan dan ketersediaan prasarana, sarana dan fasilitas yang disediakan di kantor tersebut, maka akan semakin besar pula kepuasan yang dirasakan oleh masyarakat pemohon STNK, sehingga pelayanan satu hari selesai (one day service) diharapkan dapat dilaksanakan atau diwujudkan. Sesuai dengan apa yang dikatakan Moenir (1998), bahwa salah satu fungsi dari sarana pelayanan adalah menimbulkan perasaan puas dan nyaman pada orang yang berkepentingan, sehingga dapat mengurangi sifat emosional mereka yang berlebihan. E. Mekanisme Pelayanan Kantor Bersama SAMSAT Secara kelembagaan Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) pelayanan pendapatan daerah berada dibawah Dinas Pendapatan Daerah Propinsi Sumatera Barat yang ditetapkan melalui Peraturan Daerah Nomor : 5 Tahun 2001 tanggal, 9 Mei

2001 tentang Kedudukan, Tugas Pokok dan Fungsi, dan Susunan Organisasi Dinas Pendapatan Daerah Sumatera Barat. Pada UPTD Pelayanan Pendapatan Daerah mempunyai tugas pokok melaksanakan pemungutan pendapatan daerah sesuai dengan bidang teknisnya. Dalam pelaksanaan operasional mempunyai fungsi : a. Melakukan pendaftaran dan penetapan, penagihan dan pelaporan pendapatan daerah. b. Melakukan penatausahaan pemungutan pendapatan daerah. c. Memberikan pelayanan kepada masyarakat.

127 Pelaksanaan pelayanan terhadap PKB dan BBN-KB yang dilkelola pada UPTD dilaksanakan melalui Simtim Administrasi Manunggal Dibawah Satu Atap yang dikenal dikenal dengan SAMSAT. Sebelum adanya Samsat pembayaran PKB, BBN-KB dan SWDKLLJ maupun pengurusan STNK, dilakukan di tempat masing-masing instansi, yang sangat melelahkan, membebani dan tidak efisien bagi masyarakat. Dengan adanya Perda No. 3 Tahun 1973 tentang Dinas Pendapatan Daerah pengurusan PKB dan BBN-KB dilaksanakan oleh Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Barat yang dipusatkan di Padang, STNK oleh Ditlantas Polda Sumatera Barat dan Asuransi (SWDKLLJ) oleh PT. Jasa Raharja (Persero) Cabang Sumatera Barat. Dengan demikian, sebelum adanya SAMSAT pembayaran PKB, BBN-KB, SWDKLLJ serta pengurusan STNK melibatkan 3 (tiga) instansi yang terpisah yaitu Dispenda, Ditlantas Polda, dan PT. Jasa Raharja. Karena masing-masing instansi berada di lokasi yang berjauhan menyebabkan masyarakat sangat terbebani, karena memerlukan waktu yang lama, dan biaya yang relatif besar untuk mengurus PKB, BBN-KB, SWDKLLJ serta STNK. Masyarakat yang mengurus atau membayar pajak atas pemilihan atau penguasaan kendaraan bermotor harus dan pergi ke Padang untuk mengunjungi ketiga instansi tersebut di lokasi yang berjauhan. Pengurusan dan pembayaran pajak berkenaan dengan pemilikan dan penguasaan kendaraan bermotor pada waktu itu bisa menghabiskan waktu sekitar 10 (sepuluh) hari kerja. Masyarakat pemilik kendaraan bermotor melihat lebih penting membayar STNK dan plat nomor polisi kendaraan bermotor dari pada membayar PKB dan SWDKLLJ, karena yang selalu melakukan razia kendaraan bermotor di jalan raya hanya Ditlantas Polda Sumatera Barat. Akibat pembayaran yang terpisah-pisah jumlah

128 penerimaan dari pemilikan atau penguasaan kendaraan bermotor sangat rendah. Melihat kerepotan yang dialami oleh masyarakat dan rendahnya penerimaan pembayaran atas pemilikan atau penguasaan kendaraan bermotor, pada tahun 1976 diadakan instruksi bersama antara Menteri Dalam Negeri, Menteri Keuangan dan Menteri Pertahanan dan Keamanan, tentang pembentukan Samsat. Dimana ketiga instansi yang terkait dengan pembayaran PKB, BBN-KB, SWDKLLJ maupun pengurusan STNK bernaung di dalam satu kantor atau satu atap, sehingga sangat memudahkan bagi masyarakat dan dapat meningkatkan penerimaan. Di dalam Samsat ketiga instansi tetap melakukan tugas masing-masing seperti sebelumnya. Jadi Samsat bukanlah suatu institusi atau organisasi baru. Hanya pekerjaan yang tadinya dilakukan di tempat atau di kantor masing-masing, kini bernaung dalam satu atap atau satu kantor, sehingga masyarakat hanya cukup datang kesatu tempat. Dengan adanya Samsat, pada waktu itu pengurusan PKB atau BBN-KB bisa dipersingkat menjadi sekitar 6 (enam) hari kerja. Masing lamanya waktu yang diperlukan karena pembayaran PKB maupun BBN-KB untuk Provinsi Sumatera Barat masih dipusatkan di Kota Padang. Selanjutnya, untuk lebih mempermudah masyarakat di daerah, dibentuk cabang-cabang Samsat sehingga masyarakat tidak perlu lagi harus datang ke Padang. Jangka waktu pengurusan PKB, BBN-KB, SWDKLLJ maupun pengurusan STNK bisa ditekan menjadi 2-3 hari kerja. Dalam era otonomi daerah dimana tujuan penyelenggaraan pemerintah daerah adalah memberikan pelayanan prima kepada masyarakat, maka pelayanan pada Samsat untuk membayar PKB, BBN-KB, SWDKLLJ dan atau perpanjangan STNK dilaksanakan dengan motto one day service. Artinya dalam pengurusan atau

129 pembayaran PKB, BBN-KB dan SWDKLLJ diharapkan bisa diselesaikan dalam 1 (satu) hari kerja. Maksud dilaksanakan one day servises adalah untuk peningkatan efisiensi dan efektivitas pelayanan dalam pembayaran PKB dan BBN-KB karena : Menghabiskan banyak waktu dan biaya karena pembayaran atau

pengurusannya dilakukan di masing-masing instansi yang letaknya berjauhan Biaya pengurusan ( social cost ) yang dikeluarkan masyarakat cukup besar. Penerimaan rendah, karena adakalanya masyarakat hanya membayar di satu instansi sesuai dengan kepentingannya. Dengan dilaksanakan one day services masyakat merasa diuntungkan karena : Sangat meringankan masyarakat dari sisi waktu dan biaya pengurusan karena pembayarannya dilakukan di satu tempat atau kantor. Di tiap-tiap kabupaten dan kota dibentuk cabang Samsat sehingga sangat membantu masyarakat. Penerimaan PKB, BBN-KB dan SWDKLLJ dilakukan sekaligus atau bersamaan. Prosedur pelayanan pada Kantor Bersama SAMSAT pada dasarnya dilakukan melalui kelompok kerja (pokja) atau loket, yang terbagi atas 3 (tiga) golongan : Golongan I, merupakan pendaftaran Surat Tanda Coba Kendaraan (STCK), dilayani melalui 3 (tiga) pokja atau loket pelayanan, yaitu : Pokja I/Loket I, melayani penyediaan formulir, penerangan KTL (PKB dan SWDKLLJ) Pokja II/Loket II, melayani pendaftaran, penelitian, registrasi dan penyerahan. Pokja III/Loket III, melayani pengarsipan.

130 Golongan II, meliputi pendaftaran kendaraan bermotor baru, kendaraan bermotor tukar identitas pemilik dan atau kendaraan bermotor, kendaraan bermotor khusus, kendaraan bermotor setelah 5 tahun, dan kendaraan bermotor pindah keluarga daerah. Golongan ini dilakukan melalui 6 (enam) pokja/loket pelayanan, yaitu : Pokja I/Loket I, melayani penyediaan formulir dan penerangan. Pokja II/Loket II, melayani cek phisik kendaraan bermotor. Pokja III/Loket III, melayani pendaftaran, penelitian dan penetapan. Pokja IV/Loket IV, melayani penerimaan pembayaran PKB, BBN-KB, biaya administrasi STNK, TNKB dan SWDKLLJ. Pokja V/Loket V, melayani pengesahan dan penyerahan. Pokja VI/Loket VI, melayani pengarsipan. Loket khusus, dibentuk berdasarkan tuntutan kebutuhan pelayanan di luar mekanisme Pokja I hingga Pokja VI, berfungsi melaksanakan kegiatan pelayanan beberapa persyaratan meliputi blokir, kuasa wajib pajak dan ektra cover. Golongan III, melayani pendaftaran pengesahan STNK setiap 1 (satu) tahun. Dilakukan melalui 5 (lima) pokja/loket pelayanan, di mana pelayanannya hampir sama dengan pelayanan pada Golongan II. Rincian kegiatan ke 3 (tiga) unsur, yaitu Dispenda, Polri dan PT. Jasa Raharja (Persero), dilihat dari kewajib mereka melayani permohonan pembuatan STNK menurut masing-masing pokja/loket adalah sebagai berikut : Pokja I/Loket I (Polri, Dispenda, PT. Jasa Raharja (Persero)) Polri, bertugas menyediakan dan menyerahkan formulir, memberikan penerangan

131 tentang syarat-syarat pendaftaran, membukukan keluar/masuk suatu formulir, memberikan paraf pada formulir, terima dan ganti formulir, menerima biaya administrasi STNK, TNKB, dan nota cepat phisik. Dispenda, bertugas memberikan penerangan tentang kewajiban membayar pajak. PT. Jasa Raharja (Persero), bertugas memberikan penerangakan SWDKLLJ dan premi asuransi, pemeriksaan premi asuransi Jasa Raharja. Pokja II/Loket III (Polri) Polri, bertugas melakukan cek phisik lengkap, mengaman-kan dan menugaskan tim pemeriksa, membubuhkan paraf pada lembar cek phisik dan registrasi kendaraan bermotor yang telah melakukan cek phisik. Pokja III/Loket III (Polri, Dispenda, PT. Jasa Raharga (Persero)) Polri, bertugas menerima dan meneliti kelengkapan dan keabsahan berkas, memberikan paraf dan resi pada pemohon, memberikan dan menetapkan No. Pol. serta menuliskannya dalam formulir, meneruskan berkas ke sub pokok pengetikan notice/STNK dan mengorder TNKB ke pabrik TNKB. Dispenda, bertugas menetapkan besarnya PKB dan BBN-KB, memberi No. Skum pada nota pajak atau notice, meneruskan berkas ke sub pokja SWDKLLJ dan menerima kembali berkas tersebut, menyerahkan pening PKB ke pokja penyerahan STNK (Pokja V). PT. Jasa Raharja (Persero), bertugas menetapkan SWDKLLJ atau denda serta paraf pada nota pajak, mengembalikan berkas ke sub pokja penetapan PKB dan BBN-KB. Pokja IV/Loket IV (Dispenda, PT. Jasa Raharja (Persero)) Dispenda, bertugas melayani penerimaan pembayaran PKB, BBN-KB, SWDKLLJ

132 dan administrasi STNK, menyerahkan lembar asli nota/notice, mendistribusikan tindasan nota ke Dispenda dan Jasa Raharja. PT. Jasa Raharja (Persero), menerima dan mengadminis-trasikan SWDKLLJ Pokja V/Loket V (Polri, Dispenda dan PT. Jasa Raharja (Persero)) Polri, bertugas melaksanakan penyerahan STNK yang akan diketik, menyerahkan STNK ke pokja penyerahan. Ketiga pimpinan instansi (Dispenda, Polri dan PT. Jasa Raharja (Persero) memberikan pengesahan pada STNK, bukti pembayaran pajak dan asuransi (Surat Ketetapan Pajak Daerah-SKPD) PKB, BBN-KB dan SWDKLLJ. Dispenda, memberikan pengesahan pada STNK. PT. Jasa Raharja (Persero), memberikan pengesahan pada STNK. Pokja VI/Loket VI (Polri) Polri, bertugas menerima berkas dari Pokja V dan meneruskannya ke petugas Pokja VI. Pkja VI menyiapkan dan mencari berkas yang diminta pokja pendaftaran, menatausahakan berkas untuk memudahkan pencarian, membukukan dan mencatat berkas yang diterima dan yang keluar, menandai dan menyisihkan berkas yang diblokir. Berdasarkan hasil penelitian masih ditemui beberapa kelemahan antara lain : a. Masih panjangnya proses birokrasi karena diharuskan dan pokja-pokja yang telah ditetapkan di atas. b. Walaupun bekerja dalam satu atap atau kantor sulit menyatukan ego masingmasing instansi. c. Dalam pelaksanaan di lapangan, hanya sebahagian kecil masyarakat yang dapat menikmati pelayanan one day sevice. melalui loket-loket

133 Hal ini disebabkan masih terdapat pengurusan pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor penyelesaiannya dalam dua atau tidak tiga hari kerja. Berdasarkan penelitian ditemukan faktor penyebabnya adalah masih adanya kelalaian oknum aparat,

masalah prosedur admintrasi baik pada petugas maupun pada masyarakat wajib pajak yang ingin serba cepat dan melalui jalan pintas. Penilaian terhadap keberhasilan pelayanan satu hari selesai (one day serice) yang dilakukan oleh Samsat, dapat diukur melalui ketepatan waktu penyelesaian berkas. Selain itu kriteria lain yang dapat mendukung terwujudnya one day service adalah faktor kesederhanaan, kejelasan, keamanan dan keterbukaan serta

memperhitungkan efisiensi, ekonomis dan keadilan yang merata bagi setiap wajib pajak. Standar pelayanan one day service (1 x 24 jam), dihitung mulai saat wajib pajak memasukkan berkas pada Loket I dan berakhir pada Loket V. Standar kualitas waktu pelayanan setiap pajak pada setiap loket diupayakan mendekati Surat Keputusan Kapolri yaitu Skep No. Pol. : Skep/1320/VIII/ 1998 sebagai berikut : Loket I Loket II : 3 menit : 5 menit

Loket III : 6 menit Loket IV : 4 menit Loket V : 4 menit

Jika dihitung total waktu yang diperlukan dari Loket I sampai dengan Loket V memerlukan 22 menit, seandainya perpindahan dari satu loket ke loket lainnya diperlukan waktu seluruhnya sekitar 60 menit, berarti total waktu yang diperlukan dalam berurusan di Kantor Bersama Samsat berdasarkan Skep Kapolri tersebut,

134 seharusnya dapat diselesaikan dalam waktu paling lama 2 jam. Berdasarkan keterangan dari staf Ditlantas Polda Sumatera Barat di Kantor Bersama Samsat Padang, jumlah waktu pelayanan seluruhnya dari Loket I sampai dengan Loket V adalah 35 menit dan jumlah petugas operasional yang langsung berhubungan dengan wajib pajak 33 orang. Dari sini dapat diambil kesimpulan jumlah petugas telah cukup memadai untuk melayani masyarakat yang datang berurusan setiap hari, sehingga kurang relevan untuk mengukur berapa jumlah petugas yang ideal dalam penelitian ini. Yang perlu kita ketahui adalah apakah dengan jumlah petugas yang ada dan jumlah wajib pajak yang dilayani setiap hari, one day service dapat terwujud atau apakah masyarakat telah dapat menikmati pelayanan selesai dalam satu hari dan bagaimana fungsi-fungsi manajemen dijalankan. Berdasarkan Visi Kantor Bersama SAMSAT : Terwujudnya Pendapatan Daerah Yang Optimal Untuk Mendukung Keberhasilan Pembangunan Daerah, maka perlu dilaksanakan Misi yang telah ditetapkan : 1. Untuk menjadikan Pendapatan Asli Daerah Sebagai Tulang Punggung Pendapatan Daerah. 2. Memberikan Pelayanan Yang Prima Kepada Masyarakat Melalui Peningkatan Kinerja Aparatur Pemerintahan Secara berkesinambungan. Maka untuk melaksanakan Visi dan Misi tersebut perlu dilakukan strategi dan kebijakan Kantor SAMSAT sebagai berikut : Meningkatkan pelayanan kepada masyarakat Memberikan keamanan dan keselamatan kepada pemilik kenderaan bermotor. Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah ( PAD ) Berdasarkan strategi dan kebijakan diatas, maka hasil penelitian ini

135 merekomendasikan pengelolaan PKB dan BBN-KB pada Kantor SAMSAT sebagai berikut : 1. Dalam peningkatan pelayanan kepada masyarakat perlu dilakukan : a. Penyederhanaan sistim prosedur. b. Kemudahan, kepastian dan kecepatan pelayanan. c. Menerapkan pelayanan prima 2. Dalam memberikan keamanan dan keselamatan kepada pemilik kendaraan bermotor. a. Memberikan pelayanan tepat waktu b. Mengurangi kasus dan penyimbangan sistem prosedur 3. Meningkatkan PAD dilakukan : a. Melaksanakan pemungutan secara efektif dan efisien b. Melaksanakan tertib administrasi dan tertib pungutan. c. Meningkat sistem koordinasi dengan instansi terkait. Oleh karena itu, dalam pelayanan pembayaran PKB dan BBN-KB terhadap wajib pajak sesuai dengan makna otonomi daerah untuk meningkatkan pelayanan ke depan sebetulnya dapat dilakukan pelayanan PKB dan BBN-KB melalui mekanisme dua loket atau dilayani dua pintu saja yakni : 1. Loket Pendaftaran dan Penetapan 2. Loket Pembayaran dan Penyerahan

BAB IV ANALISIS PROSEDUR DAN MEKANISME

136 PELAYANAN PKB / BBN-KB

A. Prosedur Pelayanan ke dalam dan keluar Berdasarkan hasil penelitian terhadap responden diatas diperoleh gambaran bahwa, profil pelayanan secara keseluruhan yang diberikan oleh petugas, 11,91% responden atau 5 orang mengatakan sangat baik, 30,95% responden atau 13 orang mengatakan cukup baik, dan 52,38% responden atau 22 orang mengatakan kurang baik dan 4,76% responden atau 2 orang mengatakan tidak baik. Hasil sebaran kuesioner mengenai kualitas pelayanan yang diberikan oleh petugas secara keseluruhan dapat dilihat pada tabel 24. Tabel .24 Profil Responden Berdasarkan Kualitas Pelayanan Secara Keseluruhan Kategori Responden Jumlah Sampel (n) 5 13 22 2 42 Prosentase (%) 11,91 30,95 52,38 4,76 100

Sangat Baik Cukup Baik Kurang Baik Tidak Baik Jumlah

Pelayanan terhadap responden dapat dikelompokkan dalam 2 bentuk, yaitu pelayanan kedalam (intern) dan pelayanan keluar (ekstern). 1. Pelayanan Kedalam (Intern) Menurut petugas untuk peningkatan pelayanan Polri dalam sistem dan prosedur SAMSAT senantiasa mempedomani standar kualitas pelayanan untuk setiap wajib pajak (pemohon pembuatan STNK). Pada dasarnya pelayanan dilakukan melalui kelompok kerja (pokja) atau loket, yang terbagi atas 3 (tiga) golongan seperti

137 diuraikan diatas. Kelompok kerja atau loket terdiri dari golongan merupakan prosedur pembayaran pajak kendaraan seperti berikut : Golongan I, merupakan pendaftaran Surat Tanda Coba Kendaraan (STCK), dilayani melalui 3 (tiga) pokja atau loket pelayanan, yaitu : Pokja I/Loket I, melayani penyediaan formulir, penerangan KTL (PKB dan SWDKLLJ) Pokja II/Loket II, melayani pendaftaran, penelitian, registrasi dan penyerahan. Pokja III/Loket III, melayani pengarsipan.

Golongan II, meliputi pendaftaran kendaraan bermotor baru, kendaraan bermotor tukar identitas pemilik dan atau kendaraan bermotor, kendaraan bermotor khusus, kendaraan bermotor setelah 5 tahun, dan kendaraan bermotor pindah keluarga daerah. Golongan ini dilakukan melalui 6 (enam) pokja/loket pelayanan, seperti diuraikan pada bagian diatas. Golongan III, melayani pendaftaran pengesahan STNK setiap 1 (satu) tahun.

Dilakukan melalui 6 (enam) pokja/ loket pelayanan, di mana pelayanannya hampir sama dengan pelayanan pada Golongan II, serti rinciannya diuraikan diatas. Berdasarkan hasil penelitian ternyata pembentukan Pokja dan Loket diatas tidak berjalan sebagai mana mestinya, karena masalah birokrasi dan panjangnya prosedur pada masing instansi, sehingga proses pembayaran pajak berjalan panjang dan lama. Permasalahan terlihat pada : a. Loket I Setelah dilakukan penelitian, ternyata berdasarkan banyaknya waktu yang

138 digunakan responden pada Loket I, sebagian besar (69,05% responden atau 29 orang) menyatakan bahwa lamanya waktu yang diperlukan pada Loket I adalah kurang dari 15 menit, tetapi sebagian responden yang lain (30,95% responden atau 13 orang) menyatakan bahwa lamanya waktu yang digunakan pada Loket I lebih dari 15 menit. Bila dilakukan analisis dengan menggunakan frekuensi yang muncul untuk melihat dominasi antara variabel lamanya waktu (alokasi waktu yang digunakan pada Loket I) dengan efisiensi dan kesederhanaan dalam pembuatan STNK, ternyata tidak terdapat hubungan yang paralel antara kedua variabel tersebut. Hal ini berarti bahwa semakin sedikit waktu yang digunakan pada Loket I, tidak ada kaitan dengan tingkat kepuasan pemohon STMK (wajib pajak) terhadap pelayanan yang diberikan. Selain itu peneliti melihat melihat nilai kepuasan pelayanan dengan kualitas kerja petugas dalam melayani masyarakat yang ingin membuat atau memperpanjang STNK, pada tingkat sedang atau 01,92 %, sehingga dapat dikatakan bahwa semakin baik kualitas kerja petugas semakin besar kepuasan yang dirasakan masyarakat yang berurusan ke Kantor Bersama Samsat. b. Loket II Di pelayanan yang diberikan pada Loket II adalah melaksanakan cek phisik lengkap, mengamankan dan menugaskan tim pemeriksa, membubuhkan paraf pada lembar cek phisik dan registrasi kendaraan bermotor yang telah dicek phisik. Pada Loket II yang nelayani adalah petugas dari Polri. Menurut petunjuk lapangan peningkatan pelayanan dalam era reformasi, menyatakan bahwa standar kualitas pelayanan setiap wajib pajak (pemohon perbitan

139 STNK) pada Loket II diupayakan waktu selama 5 menit. Setelah dilakukan penelitian, ternyata dari sebaran kuesioner sebagian besar responden (57,14 % responden atau sebanyak 24 orang) mengatakan banyaknya waktu yang digunakan pada Loket lI lebih dari 15 menit. Sebagian responden yang lain (42,86 % responden atau 18 orang) mengatakan lamanya waktu yang digunakan kurang dari 15 menit. Berarti pada Loket II, lamanya waktu yang digunakan tidak sesuai dengan petunjuk lapangan yang telah ditetapkan yaitu hanya 5 menit. Banyak faktor yang mempengaruhi tidak sesuainya alokasi waktu yang disediakan dengan kenyataan, diantaranya adalah karena pada Loket II merupakan pelayanan cek phisik terhadap kendaraan bermotor, dimana setiap satu kendaraan yang di cek phisik memerlukan waktu lebih kurang 20 menit dan setiap hari kendaraan yang dicek phisik sekitar 50 unit (menurut petugas, walaupun dalam prakteknya semua kendaraan bermotor harus di cek phisik), dengan jumlah petugas 4 (empat) orang. Bila dilakukan analisis data untuk melihat hubungan antara variabel lamanya waktu (alokasi waktu) yang digunakan pada Loket II dengan kesederhanaan dan efisiensi pelayanan masyarakat pemohon penerbitan STNK (wajib pajak), ternyata terdapat hubungan yang positif antara kedua variabel tersebut dengan kategori tidak efisien diperoleh sebesar 47,62%. Ini berarti terdapat hubungan yang paralel antara ketidak kepuasan dalam pelayanan dengan alokasi waktu atau lamanya waktu yang digunakan pada loket tersebut. Selain itu peneliti membuat prosentase terhadap variabel kepuasan pelayanan dengan variabel kualitas pelayanan petugas dalam melayani masyarakat yang ingin membuat atau memperpanjang STNK pada Loket II, ternyata hubunganan antara kedua variabel tersebut dengan nilai sangat baik dan cukup baik 42,86%, sedangkan kurang baik dan tidak baik 57,14%, sehingga dapat

140 dikatakan bahwa kualitas kerja petugas yang ada di Loket II belum sesuai dengan harapan masyarakat. Jika dianalisa secara mendalam terdapat keluhan wajib pajak, akibat adanya pungutan liar yang dilakukan oleh petugas (92%) dan adanya keharusan untuk melakukan cek phisik setiap tahun bagi seluruh kendaraan bermotor (81%). Bila alokasi waktu dan pelayanan dikaitkan dengan adanya pungutan liar dan keharusan untuk melakukan cek phisik, terdapat hubungan yang positif, yang berarti secara keseluruhan masyarakat tidak puas terhadap pelayanan pada Loket II. c. Loket III Sebagian besar responden mengatakan banyaknya waktu yang digunakan pada Loket III lebih dari 15 menit (80,95% responden atau 34 orang). Berarti pada Loket III waktu yang diperlukan tidak sesuai dengan juklak. Faktor yang dapat mempengaruhi lamanya pelayanan adalah karena kurangnya petugas yang melayani pemohon pembuatan STNK (wajib pajak) yang cukup banyak setiap harinya. Jika dilakukan analisis data menggunakan prosentase dengan melihat hubungan variabel lamanya waktu yang digunakan pada Loket III terhadap kualitas pelayanan masyarakat pemohon penerbita STNK (wajib paJak), ternyata ada hubungan yang positif antara kedua variabel tersebut dengan nilai yang diperoleh pada kategori kurang baik (52,38%). Hal ini berarti bahwa semakin banyak waktu yang digunakan pada Loket III, akan semakin tidak puas masyarakat pemohon STNK (wajib pajak) terhadap pelayanan yang diberikan. d. Loket IV Setelah dilakukan penelitian, ternyata dari sebaran responden, berdasarkan

141 banyaknya waktu yang digunakan pada Loket IV, lebih dari setengah responden (57,14% responden atau 24 orang) menyatakan bahwa lamanya waktu yang digunakan pada Loket IV adalah kurang dari 15 menit. Sebagian responden lainnya menyatakan lamanya waktu yang digunakan pada Loket IV lebih dari 15 menit, yaitu sebanyak 18 orang atau sebesar 42,86% responden. Bila dilakukan analisis dengan menggunakan metode prosentase untuk melihat variabel alokasi waktu yang digunakan pada Loket IV dengan kepuasan pelayanan masyarakat pemohon penerbitan STNK (wajib pajak), ternyata terdapat hubungan antara kedua variabel tersubut pada kondisi cukup memuaskan, dengan nilai prosentase sebesar 14% responden atau 24 orang. Hal ini berarti bahwa semakin sedikit waktu yang digunakan pada Loket IV, maka akan semakin puas masyarakat pemohon STNK (wajib pajak terhadap pelayanan yang diberikan. e. Loket V Berdasarkan banyaknya waktu yang digunakan pada Loket V, 19,05% responder atau sebanyak 8 orang yang menyatakan lamanya waktu yang digunakan pada Loket V adalah kurang dari 15 menit, sebagian besar responden yaitu 80,95% responden atau 34 orang menyatakan waktu yang diperlukan lebih dari 15 menit. Pada Loket V ini wajib pajak menerima STNK yang telah selesai. Bila dilakukan analisis data dengan menggunakan metode prosentase untuk melihat hubungan antara variabel lamanya waktu (alokasi waktu) yang digunakan pada Loket V, dengan variabel kepuasan pelayanan masyarakat pemohon penerbitan STNK (wajib pajak), ternyata dapat dilihat hubungan antara kedua variabel tersebut dengan nilai prosentase yang diperoleh sebesar 80,95%

142 memerlukan waktu di atas 15 menit. Hal ini berarti bahwa semakin banyak waktu yang digunakan pada Loket V, maka semakin tidak puas masyarakat pemohon STNK (wajib pajak) terhadap pelayanan yang diberikan. 2. Pelayanan Keluar (Ekstern) Dari hasil penelitian umumnya responden merasa mudah dan jelas dalam mengikuti aturan-aturan atau ketentuan yang ada di Kantor Bersama Samsat. Peraturan tersebut berupa prosedur atau tata cara pemohon (wajib pajak) untuk membuat atau memperpanjang STNK. Sebanyak 28,57% responden atau 12 orang menyatakan sangat mudah dalam mengikuti peraturan pelayanan yang ada di kantor tersebut, dan sebesar 67,14% responden atau 24 orang menyatakan mudah. Hal ini berarti pada kantor Samsat, kriteria kesederhanaan terhadap pelayanan yang diberikan pada wajib pajak telah dapat dirasakan oleh wajib pajak. Kesederhanaan mengandung arti prosedur atau tata cara pelayanan yang diselenggarakan mudah, tepat, cepat, tidak berbelit-belit, mudah dipahami dan dilaksanakan oleh masyarakat yang berurusan. Sedangkan kejelasan dan kepastian artinya kejelasan mengenai penetapan dan penanganan hak dan kewajiban yang dilayani dan yang melayani. Keterbukaan berkaitan dengan proses pelayanan yang wajib diinformasikan secara terbuka. Umumnya wajib pajak datang ke Kantor Bersama Samsat untuk mengurus sendiri hak kendaraan yang harus dibayar, tanpa melalui biro jasa atau calo. Walaupun ada sebagian kecil responden yang mengatakan mengurus lewat biro jasa atau calo, tetapi salahnya tidak terdata dan di Kantor Bersama Samsat tidak satupun biro jasa yang daftar atau melakukan kerja sama dalam pengurusan PKB,

143 BBN-KB, maupun STNK wajib pajak. Untuk mencegah agar masyarakat jangan sampai mengurus lewat calo, setiap sudut telaih dicantumkan beberapa tulisan yang menghimbau agar masyarakat jangan berurusan lewat calo, karena akan merugikan wajib pajak sendiri. Sebanyak 28,57% responder atau 12 orang menyatakan, bahwa biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan STNK adalah ekonomis dan efisien. Hal ini berarti sesuai dengan ketentuan berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh pemohon pembuatan STNK (wajib pajak). Sebagian responden menjawab bahwa biaya dalam pembuatan STNK tidak ekonomis dan tidak efisien, yaitu 4762 % responden atau 20 orang. Tidak ekonomis mengandung arti biaya pelayanan adalah tidak wajar, karena tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Sedangkan efisien mengandung arti bahwa persyaratan dan pelayanan prosesnya tidak berbelit-belit. Begitu pun hasil penelitian dapat menggambarkan bahwa responden merasa aman dan nyaman selama pengurusan STNK di kantor Samsat, dimana 59,52% responden atau 25 orang menyatakan hal tersebut. Berarti dalam pengurusan STNK responden tidak merasa takut akan kehilangan barang atau uang karena kondisinya cukup aman dan nyaman. Hal ini menunjukkan bahwa Kantor Bersama Samsat memenuhi 8 (delapan) kriteria pelayanan yang baik dalam hal kenyamanan yang harus diberikan kepada pemohon pembuatan atau penerbitan STNK (wajib pajak). Pengertian nyaman adalah pelayanan di Kantor Bersama Samsat harus memberikan rasa aman serta kepastian hukum. Dalam pada itu juga dapat dilihat sebaran responden berdasarkan keadilan dalam pelayanan yang diberikan oleh petugas Samsat, dimana ternyata mereka

144 tidak membeda-bedakan pelayanan antara calo dengan yang bukan calo, di dalam permohonan penerbitan STNK. Terdapat sehanyak 54,76% responden atau 23 orang yang menyatakan bahwa pelayanan yang diberikan cukup adil terhadap masyarakat pemohon pembuatan STNK, hanya 19,05% responden atau 8 orang yang menyatakan bahwa pelayanan yang diberikan tidak adil dan 2,38% responden atau 1 orang menyatakan sangat tidak adil. Dari penjelasan di atas, berarti kriteria pelayanan yang harus adil terhadap para pemohon yang datang ke Kantor Bersama Samsat, harus dilayani secara keseluruhan, tanpa memandang apa dan siapapun. Sedangkan keadilan yang merata artinya adalah pelayanan yang diberikan, dilakukan secara merata dan adil hagi selruh lapisan masyarakat. Tepat waktu mengandung arti bahwa pelayanan yang diberikan dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang telah ditentukan. B. Implementasi Standar Pelayanan Minimal (SPM) Berdasarkan Surat Keputusan Bersama Direktur Lalu Lintas Kepolisian Daerah Sumatera Barat dan Kepala Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Barat serta Kepala Cabang PT. Jasa Raharja (Persero) Sumatera Barat No.B/24/I/2006 DITLANTAS per Nomor : 973/043/PAJAK-2006 per Nomor : P/1/SPP/I/2006 24 Januari 2006, bahwa Standar Pelayanan Minimal adalah ukuran yang dibakukan dalam penyelenggaraan pelayanan penertiban Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK), pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB) dan Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ) yang wajib ditaati oleh aparatur Kantor Bersama Samsat di Padang sebagai pemberi pelayanan maupun pemilik kendaraan bermotor

145 sebagai penerima pelayanan. Standar Pelayanan Minimal ( SPM ) tersebut dalam penerbitan STNK, pembayaran PKB, BBN-KB dan SWDKLLJ adalah sebagai berikut : a. Prosedur Pelayanan Prosedur Pelayanan penerbitan STNK, pembayaran PKB, BBN-KB dan SWDKLLJ telah diatur dan ditetapkan dalam petunjuk pelaksanaan Keputusan Bersama Kepolisian RI, Dirjen PUOD dan Direktur Utama PT. Jasa Raharja (Persero) Nomor : SKEP/06/10/1999, Nomor : 9731228 dan Nomor : SKEP/02/X/1999 tanggal 15 Gktober 1999. Prosedur pelayanan diumumkan secara terbuka pada ruangan pelayanan atau loket-loket pelayanan Kantor Bersama Samsat. Hal ini telah didapatkan pamflet dipajangkan pada Loket Pelayanan, tetapi masih dengan gambaran sistem 5 Loket dan belum sistem 2 Loket. b. Persyaratan Administratif Dalam penyelenggaraan pelayanan Penerbitan STNK, Pembayaran PKB, BBN-KB dan SWDKLLJ telah ditetapkan dalam Keputusan Bersama Kepclisian RI, Dirjen PUOD dan Direktur Utama PT. Jasa Raharja (Persero) Nomor : SKEP/06/10/1999, Nomor : 973-1228 dan Nomor : SKEP/02/X/1999 tanggal 15 Oktober 1999. Persyaratan Administratif telah diumumkan secara terbuka pada ruangan pelayanan pada loket - loket pelayanan yang tersedia di Kantor Bersama Samsat.

c. Waktu Penyelesaian 1) Pengesahan STNK, pembayaran PKB dan SWDKLLJ setiap tahun

146 selesai dalam waktu 1 (satu) hari kerja. 2) Perpanjangan STNK dan TNKB setelah 5 tahun, pembayaran PKB dan SWDKLLJ selesai dalam waktu 1 (satu) hari kerja. 3) Pembayaran BBN-KB, penggantian STNK dan TNKB selesai dalam waktu 2 (dua) hari kerja. 4) Pengurusan kendaraan bermotor yang pindah dalam Daerah dan Luar Daerah selesai dalam waktu 1 (satu) hari kerja. 5) Pengurusan kendaraan bermotor yang masuk dari dalam Daerah dan luar Daerah selesai dalam waktu 2 (dua) hari kerja. Dalam penyelenggaraannya belum terlaksana sebagaimana mestinya. d. Biaya Pelayanan 1) Biaya pelayanan adalah beberapa jenis biaya yang dipungut oleh Aparatur Kantor Bersama Samsat berdasarkan Ketentuan

Perundangundangan yang berlaku yaitu sebagai berikut : a) Pajak Kendaraan Bermotor terhutang sebesar

tercantum dalam SKPD sesuai dengan Peraturan Daerah Propinsi Sumatera Barat tentang Pajak Kendaraan Bernnotor dan Keputusan Menteri Dalam Negeri tentang Perhitungan Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama

Kendaraan Bermotor. b) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor sebesar tercantum dalam SKPD sesuai dengan Peraturan Daerah Propinsi Sumatera Barat tentang Pajak

147 Kendaraan Bermotor dan Keputusan Menteri Dalam Negeri tentang Perhitungan Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama

Kendaraan Bermotor. c) Biaya SWDKLLJ sebesar tercantum dalam SKPD sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan

Republik Indonesia tentang Penetapan Santunan dan Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan. d) Khusus Angkutan Penumpang Umum, dipungut Premi Asuransi Dana Pertanggungan Wajib

Kecelakaan Penumpang (termasuk kru angkutan) besarnya sesuai dengan yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia tentang Penetapan Santunan dan lyuran Wajib Dana Pertanggungan Umum di Wajib Uarat, Kecelakaan Penurnpang Ferry/

Sungai/Danau,

Penyeberangan, Laut dan Udara. e) Biaya Administrasi STNKITNKB/BPKB besarnya sesuai dengan yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku pada Kepolisian Negara Republik Indonesia. f) Semua biaya pelayanan terbuka untuk masyarakat

148 dan diumumkan melalui ruangan pelayanan dan diketahui secara jelas oleh masyarakat. g) Semua pernbayaran oleh pemilik kendaraan bermotor harus mempunyai tanda bukti penerimaan yang sah dan dapat dipertanggungjawabkan. e. Produk Pelayanan 1) Hasil pelayanan yang akan diterima oleh pemilik kendaraan bermotor sebagai penerima pelayanan adalah: a) Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD) b) Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (STNK) c) Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB). d) Buku Pemilik Kendaraan Bermotor. 2) Penyerahan STNK, TNKB, BPKB dan SKPD dilakukan melalui loket penyerahan. Khusus penyerahan STNK bagi Kendaraan Angutan Umum, diwajibkan terlebih dahulu melampirkan Asli Bukti Pelunasan Premi Asuransi Dana Pertanggungan Wajib Kecelakaan Penumpang (termasuk kru angkutan) untuk beberapa bulan kedepan sesuai masa jatuh tempo pengesahan STNK tahun berikutnya. f. Sarana dan Prasarana. 1) Prasarana pelayanan pernbayaran Pajak Kendaraan Bermotor, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan serta penerbitan Surat Tanda Nomor

149 Kendaraan yaitu berupa Kantor Bersama Samsat yang sekaligus berupa Kantor Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pelayanan Pendapatan Propinsi Sumatera Barat di Padang. 2) Sarana pelayanan juga dilengkapi fasilitas pendukung dan sistim komputer dalam rangka mempercepat penyelesaian produk pelayanan, sehingga batas waktu pelayanan yang dijanjikan dapat dipenuhi. g. Kompetensi Petugas Pemberi Pelayanan Kompetensi petugas ditetapkan berdasarkan keteram-pilan sikap dan prilaku. Petugas harus menjaga kesopanan, ramah tamah dan kejujuran dalam pemberian pelayanan. Petugas harus bekerja menurut waktu yang telah ditetapkan dalam jam kerja pada Kantor Samsat, namun tidak tertutup kemungkinan jam kerja ditambah sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. h. Kesamaan Hak 1) Dalam pemberian pelayanan tidak bersifat diskriminatif, kecuali bagi orang lanjut usia, wanita hamil dan penyandang cacat. 2) Pemilik kendaraan yang mengurus sendiri diutamakan daripada pengurusan melalui perantara atau pihak ketiga. i. Pengawasan Pelayanan Pengawasan pelayanan pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan dan Surat Tanda Nomor Kendaraan dilaksanakan melalui : 1) Pengawasan melekat oleh atasan langsung.

150 2) Pengawasan Fungsional oleh masing-masing instansi. 3) Pengawasan oleh Tim Pembina Samsat. 4) Pengawasan oleh masyarakat melalui Kotak Saran dan keluhan masyarakat. j. Penanganan Saran dan Keluhan Masyarakat 1) Saran dan keluhan masyarakat dapat disampaikan secara tertulis dengan mencantumkan identitas yang bersangkutan dengan jelas. 2) Saran dan keluhan dari masyarakat yang sifatnya non teknis diselesaikan dan di koordinir Kantor Samsat bersama Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pelayanan Pendapatan Propinsi Sumatera Barat di Padang serta Petugas Jasa Raharja. 3) Saran dan keluhan masyarakat yang bersifat teknis seperti Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK), Tanda Nomor kendaraan (TNKB), Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB), Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB) serta Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ) diselesaikan oleh masing-masing unit kerja yang berada pada Kantor Bersama Samsat. Dengan demikian bila ditijau dari aspek hukum Adminstrasi Negara khususnya Pemerintahan Daerah dilihat dari sisi Azas legalitas, kewenangan pengelolaan PKB dan BBN-KB oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat sudah sesuia dengan ketentuan aturan yang lebih tinggi dan berlaku dimana PKB- dan BBN-KB ini dilaksanakan berdasarkan Perda No. 41 Tahun 2003 dan Perda No. 5 Tahun 2003 yang di serahkan

151 secara atributif dan delegatif / distributif dari pusat kepada daerah sesuai Peraturan Pemerintah RI No. 3 Tahun 1957 dan undang undang No. 10 Tahun 1968 sebagaimana penulis terangkan pada hal. 80 dan hal. 87 dimuka. Dengan demikian secara hakekatnya dengan adanya regulasi tersebut diatas akan terdapat jaminan adanya kepastian hukum dan kesamaan perlakuan ( keadilan ) sebab secara tertulis telah dapat dipedomani semua pihak secara transparan, namun disisi lain secara teoritis azar legalitas menemui kesulitan dalam penerapannya ditengah masyarakat sebagaimana di katakan Bagir Manan bahwa adanya kelemahan penerapan azas legalitas. Oleh sebab itu menurut Prajudi Atmosudirjo
59

menyebutkan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam penyelenggaraan pemerintah yaitu sebagai berikut : 1) Efektivitas artinya kegiatanya harus mengenai sasaran yang telah ditetapkan 2) Legimitas artinya kegiatan administrasi negara jangan sampai

menimbulkan heboh oleh karena tidak dapat diterima oleh masyarakat setempat atau lingkungan yang bersangkutan 3) Yuridikitas artinya syarat yang menentukan bahwa perbuatan para pejabat administrasi negara tidak boleh melanggar hukum dalam arti luas. C. Faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Pelayanan a) SDM Kantor Bersama Samsat Berdasarkan situasi pada akhir Januari 2006, jumlah personil yang
59 Ridwan HR. Hukum Administrasi Negara, Jakarta, PT. Raja Grafindo, 2006 hal. 99

152 terdapat di UPTD Pelayanan Pendapatan yang sekaligus juga berada pada Kantor Bersama Samsat Sumatera Barat di Padang adalah sebagai berikut : Dit. Lantas Polda Dispenda Jasa Raharja Jumlah : : : : 30 orang 33 orang 2 orang 65 orang

Sedangkan Distribusi petugas yang terdapat pada setiap pokja/loket praktis yang langsung berhubungan dengan masyarakat wajib pajak dapat dilihat pada tabel 7 terdahulu. Adapun jumlah wajib pajak yang dilayani rata-rata per hari adalah sebagaimana dapat dilihat pada tabel 8 terdahulu yaitu sebanyak 420 wajib pajak per hari. Namun dari tabel 8 terlihat bahwa jumlah wajib pajak yang dilayani pada setiap loket tidak sama. Rata-rata wajib pajak yang datang setiap hari ke Loket I lebih banyak jika dibandingkan dengan Loket II, yang jumlahnya paling sedikit (rata-rata 50 orang wajib pajak per hari). Jumlah wajib pajak yang dilayani memang dapat berbeda, karena sifat pekerjaan di setiap loket mempunyai spesifikasi yang berbeda. Menurut pedoman tata laksana Sistim Administrasi Manunggal Dibawah Satu Atas (Samsat), tidak semua kendaraan bermotor wajib melakukan cek phisik (khususnya untuk mengesahkan STNK setiap tahun), walaupun dalam prakteknya semua kendaraan bermotor diharuskan untuk melakukan cek phisik, tetapi yang terdaftar hanya yang sesuai dengan ketentuan. Semua kendaraan bermotor yang hendak membayar PKB, BBN-KB

153 dan SWDKLLJ wajib mengambil formulir di Loket I. Umumnya wajib pajak setelah mengambil formulir di Loket I, melanjutkan cek phisik kendaraan bermotor di Loket II, lalu melakukan pendaftaran di Loket III. Setelah selesai di Loket III kebanyakan wajib pajak pergi meninggalkan Kantor Samsat, karena untuk membayar PKB, BBN-KB dan SWDKLLJ, petugas memerlukan waktu untuk menghitung besarnya PKB, di samping adanya wajib pajak yang belum mempersiapkan dana untuk melakukan pembayaran pada saat itu. Kebanyakan wajib pajak baru datang kembali ke Kantor Bersama Samsat pada keesokan harinya. Masyarakat yang hendak membayar PKB atau

memperpanjang STNK diperkenankan untuk melakukan-ya sebulan sebelum tanggal jatuh tempo. Dengan demikian Akibat dari sistem dan prosedur tersebut terlihat waktu pelayanan pada Kantor Bersama SAMSAT adalah sebagaimana terlihat pada tabel 23 berikut ini: Tabel. 23 Perhitungan Alokasi Waktu Rata-rata Pengurusan Di setiap Loket Pelayanan (Loket Is/d Loket V) Untuk Setiap Wajib Pajak Rata-Rata Waktu Jumlah Jumlah Waktu Loket Pelayanan Responden (n) (Menit) (Menit) Loket I 7,50 29 217,50 22,50 12 270 45,00 1 45 60,00 0 0 Jumlah 42 532,50 Loket II 7,50 18 135,00 22,50 21 472,50 45,00 3 135,00 60,00 0 0 Jumlah 42 742,50 Rata-rata Waktu (Menit)

12,68

17,68

154 8 60,00 27 607,50 5 225,00 2 120,00 Jumlah 42 1.012,50 Loket IV 7,50 24 180,00 22,50 14 315,00 45,00 4 180,00 60,00 0 0,00 Jumlah 42 675,00 Loket V 7,50 8 60,00 22,50 25 562,50 45,00 7 315 60,00 2 120 Jumlah 42 1.057,50 Jumlah Waktu Pelayanan dari Loket I s/d Loket V Loket III 7,50 22,50 45,00 60,00

24,11

16,07

25,18 95,72

b) Prasarana dan sarana Kantor Bersama SAMSAT Prasarana, sarana serta fasilitas yang tersedia, misalnya peralatan kerja, ruangan yang tersedia untuk pelayanan, fasilitas umum seperti mushalla, toilet, kantin dan lain-lain. Ketersediaan prasarana, sarana dan fasilitas yang ada di Kantor Bersama Samsat Sumatera Barat di Padang, secara umum cukup baik. Prasarana, sarana dan fasilitas yang disediakan diantaranya ruang tunggu dan kursi tamu yang mencukupi, tempat parkir yang cukup luas, peralatan kerja seperti komputer dan ruangan kerja petugas yang memadai, tersedianya mushalla, telepon umum dan warung atau kantin. Bila dilakukan analisis untuk melihat kaitan antara ketersediaan prasarana, sarana dan fasilitas di Kantor Bersama Samsat dengan kepuasan dalam pelayanan, maka akan diperoleh hubungan antara dua variabel dengan nilai yang cukup baik, yang berarti bahwa kaitan yang sangat nyata antara ketersediaan prasarana, sarana dan fasifitas dengan

155 kepuasan pelayanan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik pelayanan dan ketersediaan prasarana, sarana dan fasilitas yang disediakan di kantor tersebut, maka akan semakin besar pula kepuasan yang dirasakan oleh masyarakat pemohon STNK, sehingga pelayanan satu hari selesai (one day service) diharapkan dapat dilaksanakan atau diwujudkan. Sesuai dengan apa yang dikatakan Moenir (1998), bahwa salah satu fungsi dari sarana pelayanan adalah menimbulkan perasaan puas dan nyaman pada orang yang berkepentingan, sehingga dapat mengurangi sifat emosional mereka yang berlebihan. c) Rekomendasi kebijakan terhadap Pelayanan Upaya yang harus dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas kerja petugas, sehingga dapat memberkan pelayanan yang memuaskan masyarakat adalah : a. Menciptakan budaya pelayanan, agar : 1) Setiap loket atau kelompok kerja mengenali dimana dan siapa-siapa yang menjadi pelanggannya. 2) Secara terus menerus melakukan

penelitian masyarakat

tentang dan

harapan-harapan kritik yang

dilontarkan terhadap pelayanan yang diberikan. 3) Menetapkan dan menyepakati standar dan tingkat pelayanan secara terukur

156 yang hanrs diberikan setiap loket. 4) Menyelenggarakan proses dimana

setiap petugas pelaksana memahami standar pelayanan dalam praktek

sehari-hari. 5) Terus menerus melakukan evaluasi terhadap berupaya kualitas pelayanan dan selalu

untuk

meningkatkannya. b. Menciptakan budaya kerja ; 1) Setiap petugas pelaksana menetapkan

bersama dengan supervisornya, tentang tugas yang halus dilaksanakan dan sasaran yang harus dicapai secara periodik. 2) Merumuskan pembagian tugas (job

description) pada setiap loket, selanjutnya digunakan sebagai dasar penilaian dan pertanggungjawaban berlanjut. 3) Setiap suvervisor selalu berupaya tugas secara

meningkatkan keteram-pilan yang dimiliki oleh setiap petugas pelaksana. 4) Memperhatikan secara khusus

pemanfaatan sumber daya yang tersedia

157 untuk memperoleh hasil yang sebesarbesarnya. c. Meningkatkan pengawasan dan

memperkuat unit-unit pelayanan 1) Meningkatkan secara didukung pengawasan yang sistim sesuai

berjenjang, dengan

pertanggungjawaban dengan tingkatan-ya. 2) Mengadakan

pertemuan

secara rutin dengan supervisor untuk mengetahui kendalakendala di lapangan serta mendorong untuk keputusan. 3) Meningkatkan pengawas secara mendukung atau nyata peranan supervisor dalam kemampuan pengambilan

keberhasilan

pelayanan tersebut. 4) Menggunakan sumber daya yang, ada secara maksimal untuk mencapai keberhasilan

158 petugas pelayanan. 5) Supervisor memberikan

kesempatan dan mendorong setiap anggota untuk bekerja secara membina maksimal mereka dan untuk

Inenjadi yang terbaik sesuai kemampuan masing-masing. 6) Secara terus menerus

mengadakan evaluasi kualitas supevisor, kerja sama antar kelompok kerja atau loket dan petugas polaksana, agar

termotivasi dan tetap pada sasaran. d. Melaksanakan Minimal (SPM). Penyelenggaraan pelayanan publik yang berkwalitas sudah merupakan kebutuhan organisasi untuk merespon tuntutan dan harapan masyarakat yang terus meningkat. Pelayanan yang berkwalitas harus memenuhi beberapa unsur yaitu sebagai berikut : 1) Cepat, artinya pemenuhan kebutuhan dengan cepat, tidak melalui birokrasi yang berbelit. Stndar Pelayanan

159 2) Tepat, artinya apa yang diberikan atau dilakukan sesuai menurut apa yang dibutuhkan. 3) Murah, dimana masyarakat

memperoleh apa yang diinginkan itu dengan biaya murah. 4) Ramah, hubungan artinya antara pelayanan aparat atas dengan

masyarakat dilakukan dengan sopan dan bersahabat. e. Peningkatan Sumber Daya Aparatur 1) Aparatur Pelayanan di SAMSAT belum mempunyai persepsi yang sama dalam pemberian pelayanan yang baik Wajib kepada masyarakat maka perlu tentang

Pajak,

penyamaan pelayanan. 2) Mengurangi

persepsi

egoisme

sektoral

kelembagaan dalam pelayanan. 3) Meningkatkan koordinasi antar

kelembagaan yang terkait. 4) Peningkatan sarana dan prasarana pendukung pada Kantor Bersama

160 SAMSAT 5) Anggaran biaya untuk

memperbaiki tata ruang pelayanan masih terbatas. f. Langkah antisipasi untuk mengatasi adanya pendapat bahwa birokrasi di Kantor SAMSAT berbelit. 1) Memperbanyak informasi dan masih agak

pengumuman kepada Wajib Pajak. 2) Melakukan prosedur pembayaran STNK/TNKB SWDKLLJ. 3) Melakukan koordinasi yang baik dengan mitra kerja guna mengatasi adanya kendala dalam percepatan pelayanan di Kantor SAMSAT. 4) Melakukan kantor pembenahan sehingga ruang terdapat dan penyederhanaan dalam Pajak, dan proses pengurusan pembayaran

kenyamanan,

ketenangan,

keamanan bagi Wajib Pajak.

161 g. UPTD berada langsung di bawah Dipenda Propinsi Sumatera Barat sementara Kantor Bersama SAMSAT yang dilaksanakan secara sinergis hal ini dapat

berjalan tanpa pengabaian tupoksi UPTD. Beberapa faktor yang menyebabkan adanya kelemahan disebabkan antara lain : 1) Belum adanya pemisahan Personil UPTD yang bekerja di SAMSAT dengan bertugas di UPTD karena sistim rekruitmen personil yang bertugas di SAMSAT tidak ada kejelasan. 2) Struktur organisasi UPTD yang ada saat ini membingung-kan karena dari 3 (tiga) unit kerja yang ada, yang mana yang bertugas di SAMSAT dan yang mana bertugas di UPTD tidak ada penegasan yang jelas. 3) Ruang Kantor UPTD menyatu dengan Kantor SAMSAT, seharusnya ada pemisahan yang jelas. Hal ini terjadi karena terbatasnya pembiayaan untuk pembangunan/ revisi gedung kantor. Sehubungan dengan hal tersebut perlu hal sebagai berikut :

162 1) Memperbaharui struktur organisai UPTD dan sekaligus ada penegasan Unit Kerja UPTD yang akan bertugas di SAMSAT dalam memungut PKB/BBN KB,

sedangkan Unit Kerja yang lain hanya bertugas di UPTD tidak di SAMSAT. Untuk itu idealnya struktur UPTD tersebut salah satu seksinya adalah Seksi

PKB/BBN KB yang langsung bertugas di SAMSAT sedangkan Kasubag Tata Usaha dan seksi lainnya bertugas di UPTD. Atau ada Pejabat Fungsional yang bertugas memonitor proses pembayaran PKB/BBN KB di SAMSAT dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala UPTD. 2) Pemisahan ruang kerja UPTD dengan SAMSAT. Dalam artian bahwa jajaran aparatur dan Kepala UPTD tidak lagi fokus pada kerja di SAMSAT akan tetapi tugas utamanya lebih banyak koordinasi, pengawasan, melahirkan kebijakan,

penyusunan rencana kerja / /kegiatan dan lain-lain. Karena Pembentukan UPTD dimaksud juga untuk pengelolaan

163 pemungutan Pajak dan Retribusi Daerah lainnya. 3) Perlunya adanya penetapan atau produk hukum yang disepakati oleh ketiga

instansi di Kantor SAMSAT tentang tata cara penunjukan personil masing-masing yang akan bertugas di SAMSAT sehingga diharapkan jumlah personil yang bertugas di SAMSAT sebanding dengan beban kerja yang ada, dan hubungan kerja antara satu dengan lainnya berjalan harmonis.

BAB V

164

PENUTUP A. Kesimpulan 1. Pelayanan Kantor Bersama Samsat melibatkan 3 (tiga) instansi yaitu, Dina Pendapatan Daerah (Dispenda), Direktorat Lalu Lintas Kepolisian Daerah (Ditlantas Polda) dan PT Jasa Raharja (Persero). Ketiga instansi ini bekerja sama melayani masyarakat dan bernaung dibawah satu atap atau satu kantor yang disebut dengan sistim Administrasi Manunggal Dibawah Satu Atap (Samsat). Sebelum ada nya samsat, masyarakat harus mendatangi ketiga instansi tersebut di tempat yang berbeda, sehingga membutuhkan waktu biaya dan tenaga dan hal ini sangat dirasakan tidak efesien serta memberatkan masyarakat. Pengurusan PKB, BBN-KB dan

SWDKLLJ oleh masyarakat pada awalnya dilakukan di ibu kota provinsi, karena belum dibentuknya cabang-cabang samsat di daerah kabupaten atau kota. PKB, BBN-KB dan SWDKLLJ merupakan pajak provinsi yang sangat berperan untukpenyelenggaraan pemerintah dan pembangunan di daerah. Sedemikian besarnyaperanan pajak tersebut, sehingga pemerintah daerah perlu memberikan pelayanan yang baik kepada Masyarakat yang berurusan ke Kantor Bersama Samsat. Unit Pelaksana Teknis Dinas ( UPTD ) Pelayanan Pendapatan Propinsi Sumatera Barat di Padang merupakan instansi teknis pemerintah daerah yang diberi kewenangan urituk menggali dan memungut pajak daerah

165 sebagai sumber pendapatan daerah yang berada dalam wilayah kerjanya melalui SAMSAT pada Kantor Bersama SAMSAT Padang, harus mampu merealisir sesuai dengan potensi yang ada sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. Walaupun UPTD Pelayanan Pendapatan Propinsi Sumatera Barat di Padang berhasil merealisir sumber pendapatan daerah yang menjadi kewenangannya dengan melampaui sejumlah beban target yang ditetapkan oleh instansi induknya (Dinas Pendapatan Daerah Propinsi Sumatera Barat), namun UPTD Padang belum dapat dikatakan berhasil dalam melaksanakan tugasnya. Hal ini dapat dilihat masih banyaknya wajib pajak yang tidak membayar pajak serta masih banyaknya potensi yang menjadi sumber pendapatan daerah yang belum terdata. Dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat wajib pajak, UPTD Pelayanan Pendapatan Propinsi Sumatera Barat di Padang melalui Kantor Bersama Samsatnya belum efektif dan efisien mampu memberikan pelayanan seperti apa yang diharapkan oleh masyarakat. Keluhan-keluhan masyarakat masih dijumpai baik dari pelayanan yang diberikan oleh aparat itu sendiri, maupun terhadap sarana dan prasarana yang tersedia sehingga secara umum dapaat dikatakan bahwa efektivitas pelayanan pengelolaan PKB dan BBN-KB belum sesuai dengan SPM dan Kepmen PAN No. 63 Tahun 2003. Pelayanan Kantor bersama samsat selama ini sering mendapat sorotan tajam dari masyarakat, terutama yang berurusan dengan kantor tersebut. Sorotan dilakukan karena lambatnya proses pelayanan pengurusan pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Bea Balik Nama Kendaraan

166 Bermotor (BBN-KB), Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ), maupun Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK), serta masih adanya pungutan-pungutan yang tidak resmi atau pungutan liar, sarana,

prasarana dan fasilitas yang tidak memadai, banyaknya calo, sikap petugas yang kurang simpatik dalam melayani masyarakat sampai kepada tidak terampilnya petugas dalam melaksanakan pekerjaannya. Karena adanya kritikan, terutama pelayanan dalam pengurusan pembayaran pajak berkaitan dengan pemilikan atau penguasaan kendaraan bermotor oleh masyarakat, Kantor Bersama Samsat Khusunya di Provinsi Sumatera Barat bertekat untuk memberikan pelayanan yang lebih baik, dengan mencanangkan pelayanan satu hari selesai atau yang dikenal dengan One day Service dan bahkan diwacanakan denga pelayanan cepat One Hour Service ( Pelayanan 1 Jam ). Kantor Bersama Samsat telah memiliki acuan lamanya pelayanan disetiap loket, yang dikeluarkan oleh kapolri melalui Petunjuk Pelaksanaan, yaitu selama 22 (dua puluh dua) menit untuk setiap wajib pajak. Agar jangka waktu yang telah ditentukan dapat terealisir, diperlukan pengawasan dari atasan,terutama oleh Pembina SAMSAT di tingkat Provinsi Sumatera Barat ( Gubernur dan Kapolda ). Dengan dioperasikannya sistim 2 (dua) loket di Samsat Padang dan Samsat-Samsat di seluruh Propinsi Sumatera Barat berarti pelayanan kepada Pemilik kendaraan bermotor dalam membayar pajak kendaraan bermotornya sudah sesuai dengan INBERS tahun 1999 berarti tercermin bahwa pelayanan Samsat lebih cepat dan mudah serta akan tercipta team works yang solid,

167 efektif dan efisien. 2. Faktor faktor yang mempengaruhi belum tercapainya kepuasan pelayanan dan waktu penyelesaian dalam pembuatan STNK adalah karena kurangnya pengawasan petugas oleh atasan, sehingga tidak sesuai dengan waktu pelayanan menurut juklak. Koordinasi antar tiga instansi yang berada pada SAMSAT ( Dispenda, Polri, dan PT. Jasa Raharja / Persero ) kurang cepat dan delapan kriteria pelayanan yang belum terpenuhi dengan baik, seperti efisiensi dan kesederhaan prosedur yang kurang lengkap serta pemahaman wajib pajak terhadap mekanisme prosedur pelayanan yang masih relatif rendah. Disamping itu karena SAMSAT adalah kantor kerja bersama, dimana masig masing membawa nama instansi, maka ego sektoral masih terasa cukup kental. Penilaian terhaap delapan kriteria standar pelayanan yang

dilaksanakan SAMSAT Provinsi Sumatera Barat pada tingkatan cukup baik, artinya berdasarkan hasil analisis data, prosentase dominan memilih kategori mudah, sedang, efisien, cukup baik, cukup adil dan aman. Artinya pilihan responden adalah baik, walaupun belum pada tingkatan sangat baik. Sedangkan kriteria pelayanan mengenai ketepatan waktu yang sesuai dengan standar pelayanan, masih dalam kategori harus ditingkatkan. Kondisi ini masih dapat diterima, karena mayoritas responden menyatakan bahwa pelaksanaan one day service belum berjalan dan belum dapat dirasakan oleh wajib pajak. Upaya yang dilakukan untuk peningkatan one day service, meliputi aktivitas meciptakan budaya pelayanan yang tinggi, berusaha menciptakan

168 budaya kinerja melalui pemahaman tugas masing masing, menghidupkan paengawasan dan memperkuat unit unit pelayanan dengan melihat kendala dan peluang yang ada melalui supervisi dan evaluasi pelayanan yang optimal. Fungsi manajemen pada Kantor Bersama SAMSAT belum dapat berjalan sebagaimana seharusnya untuk suatu organisasi yang baik. Hal ini dapat dilihat dari jumlah waktu yang diperlukan oleh masyarakat untuk berurusan pada setiap loket pelayanan yang masih relatif lama dibandingkan dengan juklak yang telah ditetapkan. Begitu juga adanya pungutan tidak resmi yang dilakukan oleh petugas di Loket II. Berarti fungsi pengawasan tidak berjalan dengan baik. B. Saran -Saran 1. Regulasi Standar Pelayanan Minimal (SPM) sebagai acuan bagi aparatur Dinas Pendapatan Daerah dalam memberikan Pelayanan PKB dan BBN-KB bagui Wajib Pajak dan untuk menerbitkan surat dinas yang dibutuhkan oleh

penerima pelayanan, agar dapat dievaluasi oleh Gubernur Sumatera Barat selaku unsur Pembina SAMSAT dan atau bahkan ditinjau kembali, sesuai dengan kebutuhan masyarakat sebagai penerima pelayanan sesuai dengan yang diharapkannya. 2. Dalam rangka rneningkatkan pendapatan Daerah, UPTD Pelayanan

Pendapatan Propinsi Sumatera Barat di Padang dapat lebih berperan aktif lagi dalam rnengelola sumber pendapatan Daerah yang ada dalam wilayah kerjanya. Aparat UPTD dapat lebih jeli dalam memantau, mendata dan sekaligus menagih terhadap objek pajak yang masih menunggak dan belum terpantau dan terdata, karena masih banyak tunggakan kendaraan bermotor

169 yang tidak membayar pajak dan BBNKB. 3. Apabila dilakukan perbandingan antara Samsat-Samsat yang ada di Propinsi Sumatera Barat khususnya Samsat di Padang dengan Samsat-Samsat Propinsi lainnya di Indonesia yang sudah mendapatkan penilaian pelayanan yang berstandar Internasional (ISO 1999-2001), maka Samsat yang ada di Sumatera Barat perlu berbenah diri dalam beberapa sisi pelayanan. Untuk itu disarankan agar system pelayanan yang ada sekarang ini masih memakai sistem 5 (lima) Loket harus dirobah menjadi Sistem 2 (dua) loket dan system pelayanan lainnya harus ditingkatkan terus sehingga samsat yang ada di Propinsi Sumatera Barat tidak jauh tertinggal dari daerah lainnya di Wilayah Indonesia serta peningkatan pelayanan tersebut diharapkan sebagai cikal untuk mempersiapkan diri meraih pelayanan prima yang berstandar lnternasional seperti yang diprogramkan oleh Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara. 4. Sehubungan dengan hal tersebut, Kantor Bersama SAMSAT melalui Pemerintah Daerah perlu memperbaharui struktur organisai UPTD dan sekaligus ada penegasan Unit Kerja UPTD. Idealnya struktur UPTD tersebut salah satu seksinya adalah Seksi PKB/BBN KB yang langsung bertugas di SAMSAT sedangkan Kasubag Tata Usaha dan seksi lainnya bertugas di UPTD. 5. Pemisahan ruang kerja UPTD dengan SAMSAT, yaitu Kepala UPTD tidak lagi fokus pada kerja di SAMSAT akan tetapi tugas utamanya lebih banyak koordinasi, pengawasan, melahirkan kebijakan, penyusunan rencana

kerja/kegiatan, penentuan kebijakan dan lain-lain yang bersifat strategis. 6. Perlunya adanya penetapan atau produk hukum yang disepakati oleh ketiga

170 instansi di Kantor SAMSAT tentang tata cara penunjukan personil masingmasing yang akan bertugas di SAMSAT sehingga diharapkan jumlah personil yang bertugas di SAMSAT sebanding dengan beban kerja yang ada, dan hubungan kerja antara satu dengan lainnya berjalan harmonis.