ASKEP APENDISITIS

Pengertian Apendisitis akut adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan rongga abdomen, penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat (Smeltzer, 2001).

Apendisitis adalah kondisi di mana infeksi terjadi di umbai cacing. Dalam kasus ringan dapat sembuh tanpa perawatan, tetapi banyak kasus memerlukan laparotomi dengan penyingkiran umbai cacing yang terinfeksi. Bila tidak terawat, angka kematian cukup tinggi, dikarenakan oleh peritonitis dan shock ketika umbai cacing yang terinfeksi hancur. (Anonim, Apendisitis, 2007)

Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai cacing (apendiks). Infeksi ini bisa mengakibatkan pernanahan. Bila infeksi bertambah parah, usus buntu itu bisa pecah. Usus buntu merupakan saluran usus yang ujungnya buntu dan menonjol dari bagian awal usus besar atau sekum (cecum). Usus buntu besarnya sekitar kelingking tangan dan terletak di perut kanan bawah. Strukturnya seperti bagian usus lainnya. Namun, lendirnya banyak mengandung kelenjar yang senantiasa mengeluarkan lendir. (Anonim, Apendisitis, 2007)

Apendisitis merupakan peradangan pada usus buntu/apendiks ( Anonim, Apendisitis, 2007) Klasifikasi Klasifikasi apendisitis terbagi atas 2 yakni : Apendisitis akut, dibagi atas: Apendisitis akut fokalis atau segmentalis, yaitu setelah sembuh akan timbul striktur lokal. Appendisitis purulenta difusi, yaitu sudah bertumpuk nanah.

Apendisitis kronis, dibagi atas: Apendisitis kronis fokalis atau parsial, setelah sembuh akan timbul striktur lokal. Apendisitis kronis obliteritiva yaitu appendiks miring, biasanya ditemukan pada usia tua. Anatomi dan Fisiologi Appendiks merupakan organ yang kecil dan vestigial (organ yang tidak berfungsi) yang melekat sepertiga jari. Letak apendiks. Appendiks terletak di ujung sakrum kira-kira 2 cm di bawah anterior ileo saekum, bermuara di bagian posterior dan medial dari saekum. Pada pertemuan ketiga taenia yaitu: taenia anterior,

8° Celsius.3 ± 0. rasa mual hilang dan nyeri berpindah ke perut kanan bagian bawah. Akhirnya apendiks yang terinflamasi berisi pus. Namun terdapat banyak sekali faktor pencetus terjadinya penyakit ini. Nyeri bisa secara mendadak dimulai di perut sebelah atas atau di sekitar pusar. Panjang apendiks rata-rata 6 ± 9 cm. Demam bisa mencapai 37. Secara klinik appendiks terletak pada daerah Mc. Laterosekal: di lateral kolon asendens. Obstruksi pada lumen apendiks ini biasanya disebabkan karena adanya timbunan tinja yang keras ( fekalit). nyerinya tidak terlalu berat dan di daerah ini nyeri tumpulnya tidak terlalu . penyakit cacing. nyeri bisa bertambah tajam. menimbulkan nyeri abdomen atas atau menyebar hebat secara progresif. Pada bayi dan anak-anak.medial dan posterior. lalu timbul mual dan muntah. Etiologi Terjadinya apendisitis akut umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri. Pelvis minor. Posisi apendiks. Pada orang tua dan wanita hamil. Jika dokter menekan daerah ini. 2007) Patofisiologi Apendiks terinflamasi dan mengalami edema sebagai akibat terlipat atau tersumbat kemungkinan oleh fekolit (massa keras dari faeces) atau benda asing. hipeplasia jaringan limfoid. cairan bersifat basa mengandung amilase dan musin. Manifestasi Klinik Apendisitis memiliki gejala kombinasi yang khas.7 cm. Setelah beberapa jam. Lebar 0. Isi 0. penderita merasakan nyeri tumpul dan jika penekanan ini dilepaskan.8-38. Diantaranya obstruksi yang terjadi pada lumen apendiks. di semua bagian perut. yang terdiri dari : Mual. parasit. Namun yang paling sering menyebabkan obstruksi lumen apendiks adalah fekalit dan hiperplasia jaringan limfoid. muntah dan nyeri yang hebat di perut kanan bagian bawah. Di daerah inguinal: membelok ke arah di dinding abdomen. benda asing dalam tubuh. Ukuran dan isi apendiks. dalam beberapa jam terlokalisasi dalam kuadran kanan bawah dari abdomen. (Irga.1 cc. Proses inflamasi meningkatkan tekanan intraluminal. cancer primer dan striktur. Burney yaitu daerah 1/3 tengah garis yang menghubungkan sias kanan dengan pusat. nyerinya bersifat menyeluruh.

Burney. Pada pemeriksaan rektal toucher akan teraba benjolan dan penderita merasa nyeri pada daerah prolitotomi. (Anonim. ada 4 hal yang penting adalah: Nyeri mula-mula di epigastrium (nyeri viseral) yang beberapa waktu kemudian menjalar ke perut kanan bawah. Pemeriksaan laboratorium Leukosit meningkat sebagai respon fisiologis untuk melindungi tubuh terhadap mikroorganisme yang menyerang. tetapi paling terasa nyeri pada daerah titik Mc. Pemeriksaan yang lain Lokalisasi. penderita nampak sakit. nyeri dan demam bisa menjadi berat. Muntah oleh karena nyeri viseral. kecuali bila terjadi peritonitis. di perut terasa nyeri. Hb (hemoglobin) nampak normal. Gejala lain adalah badan lemah dan kurang nafsu makan. Penatalaksanaan Pembedahan diindikasikan bila diagnosa apendisitis telah ditegakkan. Antibiotik dan cairan IV diberikan sampai pembedahan dilakukan. Urine rutin penting untuk melihat apa ada infeksi pada ginjal. Jika sudah terjadi perforasi. analgesik dapat diberikan setelah diagnosa ditegakkan. lokal infeksi juga terjadi jika orang dapat menahan sakit. Infeksi yang bertambah buruk bisa menyebabkan syok.terasa. nyeri akan terjadi pada seluruh perut. Panas (karena kuman yang menetap di dinding usus). Laju endap darah (LED) meningkat pada keadaan apendisitis infiltrat. 2007) Pemeriksaan diagnostik Untuk menegakkan diagnosa pada apendisitis didasarkan atas anamnese ditambah dengan pemeriksaan laboratorium serta pemeriksaan penunjang lainnya. Pada keadaan perforasi ditemukan adanya udara bebas dalam diafragma. Pada apendisitis akut dan perforasi akan terjadi lekositosis yang lebih tinggi lagi. Test rektal. dan kita akan merasakan seperti ada tumor di titik Mc. Burney. . Kadang ada fecolit (sumbatan). Apendisitis. menghindarkan pergerakan. Pemeriksaan radiologi Pada foto tidak dapat menolong untuk menegakkan diagnosa apendisitis akut. Bila usus buntu pecah. Jika sudah infiltrat. Gejala apendisitis ditegakkan dengan anamnese. tapi kadang kala dapat ditemukan gambaran sebagai berikut: Adanya sedikit fluid level disebabkan karena adanya udara dan cairan. Apendektomi (pembedahan untuk mengangkat apendiks) dilakukan sesegera mungkin untuk menurunkan resiko perforasi.

batuk. kekakuan. pekerjaan. Ada perubahan denyut nadi dan pernapasan. Identitas penanggung Riwayat kesehatan sekarang. alamat. Nyeri pada kuadran kanan bawah karena posisi ekstensi kaki kanan/posisi duduk tegak. biasanya rendah. Burney. dangkal. Distensi abdomen. Ada perasaan takut. status perkawinan. Keamanan Demam. Keluhan yang menyertai Biasanya klien mengeluh rasa mual dan muntah. Keluhan utama Klien akan mendapatkan nyeri di sekitar epigastrium menjalar ke perut kanan bawah.Apendektomi dapat dilakukan dibawah anastesi umum atau spinal dengan insisi abdomen bawah atau dengan laparoskopi. Riwayat kesehatan masa lalu Biasanya berhubungan dengan masalah kesehatan klien sekarang Pemeriksaan Berat Sirkulasi badan : Klien fisik Keadaan Sebagai mungkin umum indicator takikardia. Eliminasi Konstipasi pada awitan awal. dan nomor register. jenis kelamin. dapat hilang atau timbul nyeri dalam waktu yang lama. Nyeri/kenyamanan Nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilicus. penurunan atau tidak ada bising usus. pendidikan. agama. . menentukan : Takipnoe. nyeri tekan/nyeri lepas. Konsep Asuhan Keperawatan Sebelum operasi dilakukan klien perlu dipersiapkan secara fisik maupun psikis. yang merupakan metode terbaru yang sangat efektif. gerakan kaki dan duduk) untuk digunakan dalam periode post operatif. suku/bangsa. pemberian pernapasan obat. Aktivitas/istirahat : Malaise. yang meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc. Klien untuk Respirasi tampak sakit ringan/sedang/berat. bersin. meningkat karena berjalan. umur. Untuk melengkapi hal tersebut. Hal ini penting oleh karena banyak klien merasa cemas atau khawatir bila akan dioperasi dan juga terhadap penerimaan anastesi. Sifat keluhan Nyeri dirasakan terus-menerus. Data psikologis Klien nampak gelisah. atau napas dalam. panas. maka perawat di dalam melakukan asuhan keperawatan harus menggunakan langkah-langkah sebagai berikut: Pengkajian Identitas klien Nama. diare kadang-kadang. pendapatan. Timbul keluhan Nyeri perut kanan bawah mungkin beberapa jam kemudian setelah nyeri di pusat atau di epigastrium dirasakan dalam beberapa waktu lalu. disamping itu juga klien perlu diberikan pengetahuan tentang peristiwa yang akan dialami setelah dioperasi dan diberikan latihan-latihan fisik (pernafasan dalam. Penampilan yang tidak tenang.

Nafsu makan baik. 3) Beri cairan sedikit demi sedikit tapi sering.Diagnosa keperawatan Resiko berkurangnya volume cairan berhubungan dengan adanya mual dan muntah. Nafsu makan berkurang. Distensi abdomen. Nyeri berhubungan dengan distensi jaringan intestinal. Klien tidak mual dan muntah. Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh. 1. Frekuensi pernapasan meningkat. ditandai dengan : Kadang-kadang diare. Burney Leuco > 10.000/mm3. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakitnya berhubungan dengan informasi kurang. Intervensi : 1) Monitor tanda-tanda vital. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake menurun. Rasional : Merupakan indicator secara dini tentang hypovolemia. 2. 2) Monitor intake dan out put dan konsentrasi urine. Distensi abdomen. Nyeri tekan daerah titik Mc. Ada rasa mual dan muntah. ditandai dengan : Suhu tubuh di atas normal. . Rencana tujuan dan intervensi disesuaikan dengan diagnosis dan prioritas masalah keperawatan. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan adanya rasa mual dan muntah. Tegang. Rasional : Menurunnya out put dan konsentrasi urine akan meningkatkan kepekaan/endapan sebagai salah satu kesan adanya dehidrasi dan membutuhkan peningkatan cairan. Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh. Rasional : Untuk meminimalkan hilangnya cairan. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan yang dirasakan Intervensi keperawatan . Tujuan : Tidak akan terjadi infeksi Kriteria Hasil : Tidak ada tanda-tanda infeksi post operatif (tidak lagi panas. Tujuan : Mempertahankan keseimbangan volume cairan dengan Kriteria Hasil : Klien tidak diare.

Rasional : Obat pencahar dapat merangsang peristaltic usus sehingga bab dapat lancar. sehingga benar-benar bersih dapat terhindar dari pertumbuhan mikro organisme. 2) Beri obat pencahar sehari sebelum operasi dan dengan melakukan klisma. ditandai dengan : Pernapasan tachipnea. 3) Anjurkan klien mandi dengan sempurna. Rasional : Pengukuran dengan arah yang berlawanan tumbuhnya rambut akan mencapai ke dasar rambut. sehingga dapat mengakibatkan ruptura apendiks. Rasional : Untuk mengetahui sejauh mana tingkat nyeri dan merupakan indiaktor secara dini untuk dapat memberikan tindakan selanjutnya. Tujuan : Rasa nyeri akan teratasi Kriteria Hasil : Pernapasan normal. klien dapat bekerja sama dalam pelaksaan tindakan. . 4) HE tentang pentingnya kebersihan diri klien.kemerahan). Sirkulasi normal. Rasional : Kulit yang bersih mempunyai arti yang besar terhadap timbulnya mikro organisme. lokasi dan karasteristik nyeri. 3. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi jaringan intestinal. Sedangkan klisma dapat merangsang peristaltic yang lebih tinggi. Intervensi : 1) Bersihkan lapangan operasi dari beberapa organisme yang mungkin ada melalui prinsip-prinsip pencukuran. 2) Anjurkan pernapasan dalam. Klien mengeluh rasa sakit pada perut bagian kanan bawah. Burney Gelisah. Rasional : Pernapasan yang dalam dapat menghirup O2 secara adekuat sehingga otot-otot menjadi relaksasi sehingga dapat mengurangi rasa nyeri. Rasional : Dengan pemahaman klien. Intervensi : 1) Kaji tingkat nyeri. Sirkulasi tachicardia. Sakit di daerah epigastrum menjalar ke daerah Mc.

Rasional : Klien dapat memahami dan dapat merencanakan serta dapat melaksanakan setelah operasi. Klien mengeluh rasa sakit. Rasional : Dengan gate control saraf yang berdiameter besar merangsang saraf yang berdiameter kecil sehingga rangsangan nyeri tidak diteruskan ke hypothalamus. 2) Menganjurkan aktivitas yang progresif dan sabar menghadapi periode istirahat setelah operasi. Klien mengeluh sulit tidur Tujuan : Klien akan memahami manfaat perawatan post operatif dan pengobatannya. sehingga dapat mengembalikan fungsi-fungsi optimal alat-alat tubuh. 4) Beri analgetik. Intervensi : 1) Jelaskan pada klien tentang latihan-latihan yang akan digunakan setelah operasi. Wajah murung.3) Lakukan gate control. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake menurun. Rasional : Mencegah luka baring dan dapat mempercepat penyembuhan. . Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakitnya berhubungan dengan informasi kurang. 4. 3) Disukusikan kebersihan insisi yang meliputi pergantian verband. Rasional : Sebagai profilaksis untuk dapat menghilangkan rasa nyeri (apabila sudah mengetahui gejala pasti). Klien sering menanyakan tentang penyakitnya. Rasional : Mengerti dan mau bekerja sama melalui teraupeutik dapat mempercepat proses penyembuhan. 5. Gelisah. Nafsu makan menurun Berat badan menurun Porsi makan tidak dihabiskan Ada rasa mual muntah Tujuan : klien mampu merawat diri sendiri Intervensi : 1) Kaji sejauh mana ketidakadekuatan nutrisi klien Rasional : menganalisa penyebab melaksanakan intervensi. pembatasan mandi. dan penyembuhan latihan.

Kuku nampak kotor Kulit kepala kotor Klien nampak kotor Tujuan : klien mampu merawat diri sendiri Intervensi : 1) Mandikan pasien setiap hari sampai klien mampu melaksanakan sendiri serta cuci rambut dan potong kuku klien. Rasional : Agar klien dan keluarga dapat termotivasi untuk menjaga personal hygiene. 4) Beri makan sedikit tapi sering Rasional : Tidak memberi rasa bosan dan pemasukan nutrisi dapat ditingkatkan. 3) Timbang berat badan sesuai indikasi Rasional : Mengawasi keefektifan secara diet. Rasional : Untuk melindungi klien dari kuman dan meningkatkan rasa nyaman 3) Berikan HE pada klien dan keluarganya tentang pentingnya kebersihan diri. 5) Anjurkan kebersihan oral sebelum makan Rasional : Mulut yang bersih meningkatkan nafsu makan 6) Tawarkan minum saat makan bila toleran. jaga komentar tentang nafsu makan sampai minimal Rasional : Mengidentifikasi kekurangan / kebutuhan nutrisi berfokus pada masalah membuat suasana negatif dan mempengaruhi masukan. Memberi makanan yang bervariasi Rasional : Makanan yang bervariasi dapat meningkatkan nafsu makan klien. 6. Rasional : Agar badan menjadi segar. Rasional : Melibatkan pasien dalam perencanaan. memampukan pasien memiliki rasa kontrol dan mendorong untuk makan. 7) Konsul tetang kesukaan/ketidaksukaan pasien yang menyebabkan distres. Rasional : Dapat mengurangi mual dan menghilangkan gas.2) Perkirakan / hitung pemasukan kalori. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan yang dirasakan. 2) Ganti pakaian yang kotor dengan yang bersih. . melancarkan peredaran darah dan meningkatkan kesehatan.

2) Apakah klien dapat terhidar dari bahaya infeksi?.A. Yayasan Mesentha Medica. Jakarta. EGC. 3) Apakah rasa nyeri akan dapat teratasi?. Henderson. Penerbit Buku Kedokteran. Penerbit Buku Kedokteran. DAFTAR PUSTAKA Doenges. Schwartz. Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta. Pada fungsi independen adalah mencakup dari semua kegiatan yang diprakarsai oleh perawat itu sendiri sesuai dengan kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya Pada fungsi interdependen adalah dimana fungsi yang dilakukan dengan bekerja sama dengan profesi/disiplin ilmu yang lain dalam keperawatan maupun pelayanan kesehatan. EGC. Seymour. 4) Apakah klien sudah mendapat informasi tentang perawatan dan pengobatannya. Rasional : Agar klien merasa tersanjung dan lebih kooperatif dalam kebersihan 5) Bimbing keluarga / istri klien memandikan Rasional : Agar keterampilan dapat diterapkan 6) Bersihkan dan atur posisi serta tempat tidur klien. . Pada pelaksanaan ini perawat melakukan fungsinya secara independen. Pada tahap ini perawat menggunakan segala kemampuan yang dimiliki dalam melaksanakan tindakan keperawatan terhadap klien baik secara umum maupun secara khusus pada klien post apendektomi. Marylinn E. Implementasi Pelaksanaan adalah pemberian asuhan keperawatan secara nyata berupa serangkaian kegiatan sistimatis berdasarkan perencanaan untuk mencapai hasil yang optimal. Jakarta. (1992). Rasional : Klien merasa nyaman dengan tenun yang bersih serta mencegah terjadinya infeksi. Evaluasi. Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah. M. sedangkan fungsi dependen adalah fungsi yang dilaksanakan oleh perawat berdasarkan atas pesan orang lain. (2000).4) Berikan pujian pada klien tentang kebersihannya. Ilmu Bedah Perawat. (2000). interdependen dan dependen. Untuk mengetahui pencapaian tujuan dalam asuhan keperawatan yang telah dilakukan pada klien perlu dilakukan evaluasi dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut : 1) Apakah klien dapat mempertahankan keseimbangan cairan dalam tubuh?.

4. Apendisitis. Tergantung pada bentuk appendiks 5. (Anonim. d. Penonjolan jaringan limpoid dalam lumen appendiks.Smeltzer. Apendisitis akut. c. b. 1. Yang terbanyak pada umur 15 ± 30 tahun (remaja dewasa). setelah sembuh akan timbul striktur lokal. Volume 2. 2007) B. C. Apendisitis adalah kondisi di mana infeksi terjadi di umbai cacing. b. Striktura lumen karena fibrosa akibat peradangan sebelumnya 2. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah. dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. 8. Factor tersering yang muncul adalah obtruksi lumen. Appendik yang terlalu panjang. Kelainan katup di pangkal appendiks. 6. Adanya faekolit dalam lumen appendiks. Appendicitis adalah peradangan dari appendiks vermiformis. Appendisitis purulenta difusi. yaitu setelah sembuh akan timbul striktur lokal. Ini disebabkan oleh karena peningkatan jaringan limpoid pada masa tersebut. Bila tidak terawat. Penerbit Buku Kedokteran EGC. yaitu sudah bertumpuk nanah. b. Coli dan streptococcus 3. ini merupakan penyebab terbanyak. dibagi atas: Apendisitis akut fokalis atau segmentalis. Definisi. Seperti biji Lombok. 7. Suzanne C. biji jeruk dll. Adanya benda asing seperti biji ± bijian. Klasifikasi Klasifikasi Apendisitis ada 2 : a. Messo appendiks yang pendek. Apendisitis kronis obliteritiva yaitu appendiks miring. Pada umumnya obstruksi ini terjadi karena : a. Hiperplasia dari folikel limfoid. 2002 hal 1097 ). dikarenakan oleh peritonitis dan shock ketika umbai cacing yang terinfeksi hancur. melekat pada sekum tepat dibawah katup ileocecal ( Brunner dan Sudarth. angka kematian cukup tinggi. c. Apendisitis kronis. Jakarta ASKEP APENDISITIS ( USUS BUNTU ) Filed Under: Pencernaan ² putri_rahza ² 3 Comments February 10. Appendicitis belum ada penyebab yang pasti atau spesifik tetapi ada factor-faktor prediposisi yang menyertai. Appendiks adalah organ tambahan kecil yang menyerupai jari.a. biasanya ditemukan . tetapi banyak kasus memerlukan laparotomi dengan penyingkiran umbai cacing yang terinfeksi. dibagi atas: Apendisitis kronis fokalis atau parsial. (2001). 2010 A. Dalam kasus ringan dapat sembuh tanpa perawatan. Laki ± laki lebih banyak dari wanita. Etiologi. Infeksi kuman dari colon yang paling sering adalah E. (Arif Mansjoer ddk 2000 hal 307 ).

Anamnesa 1. Pekerjaan. Akhirnya apendiks yang terinflamasi berisi pus. 2. Agama. Komplikasi 1. Timbul . tapi jarang. Web Of Caution (WOC BAB III ASUHAN KEPERAWATAN PENGKAJIAN A. Prognosis. Nyeri. E. Gejala lain adalah badan lemah dan kurang nafsu makan. di perut terasa nyeri. G. kecuali ada perforasi. Nama. Status perkawinan. Alamat. permulaan nyeri timbul pada daerah sentral (viseral) lalu kemudian menjalar ketempat appendics yang meradang (parietal). Muntah. Retrosekal/nyeri punggung/pinggang.5%. ada 4 hal yang penting adalah: Nyeri mula-mula di epigastrium (nyeri viseral) yang beberapa waktu kemudian menjalar ke perut kanan bawah. Penatalaksanaan Tidak ada penatalaksanaan appendicsitis. Pendapatan. 2. sampai pembedahan dapat di lakukan. Pieloflebitis dan abses hati. I. Patofisiologi Apendiks terinflamasi dan mengalami edema sebagai akibat terlipat atau tersumbat kemungkinan oleh fekolit (massa keras dari faeces) atau benda asing. Suku/bangsa. 3. Penundaan selalu menyebabkan ruptur organ dan akhirnya peritonitis. Manifestasi Klinis Untuk menegakkan diagnosa pada apendisitis didasarkan atas anamnese ditambah dengan pemeriksaan laboratorium serta pemeriksaan penunjang lainnya. F. Diare. Tanda dan gejala : 1. Perforasi dengan pembentukan abses. Pembedahan dapat dilakukan melalui insisi kecil/laparoskop. Bila operasi dilakukan pada waktunya laju mortalitas kurang dari 0. Keluhan utama. Postekal/nyeri terbuka. Proses inflamasi meningkatkan tekanan intraluminal.pada usia tua. Klien akan mendapatkan nyeri di sekitar epigastrium menjalar ke perut kanan bawah. Jenis kelamin. dalam beberapa jam terlokalisasi dalam kuadran kanan bawah dari abdomen. Pendidikan. Gejala apendisitis ditegakkan dengan anamnese. Data demografi. Pembedahan sering ditunda namun karena dianggap sulit dibuat dan klien sering mencari bantuan medis tapi lambat. D. menghindarkan pergerakan. Anoreksia biasanya tanda pertama. H. Umur : sering terjadi pada usia tertentu dengan range 20-30 tahun. Bila terjadi perforasi klien memerlukan antibiotik dan drainase. demam derajat rendah. Cairan intra vena dan antibiotik diberikan intervensi bedah meliputi pengangkatan appendics dalam 24 jam sampai 48 jam awitan manifestasi. Nomor register. Muntah oleh karena nyeri viseral. Panas (karena kuman yang menetap di dinding usus). menimbulkan nyeri abdomen atas atau menyebar hebat secara progresif. 2. Peritonitis generalisata 3. penderita nampak sakit.

intake cairan menurun. B4 (Bladder) : B5 (Bowel) : Distensi abdomen. nyeri tekan/nyeri lepas. B2 (Blood) : Sirkulasi : Klien mungkin takikardia. DO : nyeri tekan titik MC Burney Nyeri 3 DS : Mual. anorexia Infeksi epigastrium Inflamasi dinding usus Mual dan muntah Nutrisi kurang dari kebutuhan 2 DS : Pasien mengeluh nyeri. Lemah dan lesu . kekakuan. Biasanya berhubungan dengan masalah kesehatan klien sekarang. Data Etiologi Masalah Keperawatan 1. Data psikologis Klien nampak gelisah. Analisis Data No. Riwayat penyakit sekarang B. Nyeri/kenyamanan nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilicus. 4. Tungkai kanan tidak dapat diluruskan f. 3. Diare atau konstipasi e. B3 (Brain) : Ada perasaan takut. Burney. Pemeriksaan Fisik. Volume cairan kurang dari kebutuhan Hipertermi Intoleran Aktifitas Kurang pengetahuan Data Subyektif a. yang meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc. Rasa sakit di epigastrium atau daerah periumbilikus kemudian menjalar ke bagian perut bawa b. pernapasan dangkal. Rewel dan menangis g. Mual. muntah d. Nyeri dirasakan terus-menerus. rasa sakit di bag. B1 (Breathing) : Ada perubahan denyut nadi dan pernapasan. Penampilan yang tidak tenang. Respirasi : Takipnoe. B. Perut sebelah kanan bawah. Keluhan yang menyertai antara lain rasa mual dan muntah. muntah DO : BB menurun. Riwayat penyakit dahulu. Berat badan sebagai indikator untuk menentukan pemberian obat. Rasa sakit hilang timbul c. DS : Mual. panas. Aktivitas/istirahat : Malaise. penurunan atau tidak ada bising usus. Muntah DO : BB . Eliminasi Konstipasi pada awitan awal dan kadang-kadang terjadi diare B6 (Bone) : Nyeri pada kuadran kanan bawah karena posisi ekstensi kaki kanan/posisi duduk tegak.keluhan Nyeri perut kanan bawah mungkin beberapa jam kemudian setelah nyeri di pusat atau di epigastrium dirasakan dalam beberapa waktu lalu.

Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan dengan perforasi pada Apendiks dan tidak adekuatnya pertahanan utama. Memberikan deteksi dini terjainya proses infeksi. Beriakn informasi yang tepat dan jujur pada pasien e.h. Lihan insisi dan balutan. Volume cairan kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual dan muntah.000/ui bila sudah terjadi perforasi Diagnosa keperawatan 1. c. bebas tanda infeksi atau inflamasi No. Resiko berkurangnya volume cairan berhubungan dengan adanya mual muntah. d. 6. d. Intoleransi Aktifitas berhubungan dengan keadaan nyeri yang mengakibatkan terjadinya penurunan pergerakan akibat nyeri akut. dan atau pengawasan penyembuhan peritonitis yang telah ada sebelumnya. Penetahuan tenteng kemajuan situasi memberikan dukungan emosi. Data Obyektif a.000 ± 12. Awasi tanda vital. perut kembung c. Kultur pewarnaan gram dan sensitifias berguna untuk mengidentifikasi organism penyebab dan pilihan terapi. dan secara individual haluaran urine adekuat. 4. Suhu tubuh meningkat 5. menggigil. berkeringat. turgor kulit baik. Intervensi Rasional 1. meningkatnya nyeri abdomen. b. membantu menurunkan anxietas. Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi yang ditandai dengan anxietas. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan terjadinya mual dan muntah. b. Bising usus meningkat.000 /ui dan 13. Nyeri tekan titik MC. c. Ambil contoh drainage bila diindikasikan. No. f.Burney b. Suhu meningkat. Nyeri berhubungan dengan anatomi ureter yang berdekatan dengan apendiks oleh inflamasi. Menurunkan resiko penyebaran bakteri. Catat karakteristik drainase luka. Tujuan : Kriteria Hasil : Mempertahankan keseimbangan cairan dibuktikan oleh kelembaban membrane mukosa. Berikan antibiotic sesuai indikasi/ a. Resiko tinggi terhadap infeksi behubungan dengan perforasi pada Apendiks dan tidak adekuatnya pertahanan utama. Berika perawatan paripurna. Intervensi Rasional . e. Tujuan : Kriteria Hasil : Meningkatkan penyembuhan luka dengan benar. 2. peritonitis. perubahan mental. tanda-tanda vital stabil. abses. f. Intervensi dan Rasional 1. 5. adanya eritema. Dugaan adanya infeksi/terjadinya sepsis. 3. nadi cepat d. Perhatikan demam. Mungkin diberikan secara profilaktik atau menurunkan jumlah organism (pada innfeksi yang telah ada sebelumnya) utuk menurunkan penyebaran dan pertumbuhannya pada rongga abdomen 2. Hasil leukosit meningkat 10. Lakukan pencucian tangan yang baik dan perawatn luka aseptic. a.

Awasi TD dan nadi b. Analgesic dapat menghilangkan nyeri yang diderita pasien. Berikan sejumlah kecil minuman jernih bila pemasukan oral dimulai dan lanjutkan dengan diet sesuai toleransi. Berikan anlgesik sesuai indikasi. catat warna urine. Nyeri berhubungan dengan anatomi ureter yang berdekatan dengan apendiks oleh inflamasi. meningkatkan relaksasi dan dapat meningkatkan kemampuan koping. Berikan nutrisi IV Memenuhi kebutuhan nutrisi klien. . d. Dehidrasi dan dapat terjadi ketidakseimbangan elektrolit. Peritonium bereaksiterhadap infeksi dengan menghasilkan sejumlah besar cairan yang dapat menurunkan volume sirkulasi darah. mengakibatkan hipovolemia. berat jenis. Tujuan : Kriteria hasil : Pasien tampak rileks mampu tidur/ istirahat dengan tepat. menghilangkan tegangan abdomen yang bertambah dengan posisi terlentang (supine) 2. Intervensi Rasional 1. gerakan usus.1. Tanda yang membantu mengidentifikasi fluktuasi volume intravaskuler. kesiapan untuk pemasukan per oral. Penurunan haluaran urine pekat dengan peningkatan berat jenis diduga dehidrasi cairan. Auskultasi bising usus. 3. 2. mencegah muntah g. No. Pertahankan penghisapan gaster/usus g. Berikan aktivitas hiburan Focus perhatian kembali. f. kaji turgor ulit dan pengisian kapiler c. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan terjadinya mual dan muntah. e. Indikator keadekuatan sirkulasi perifer dan hidrasi seluler c. konsentrasi. Pertahankan istirahat dengan posisi semi-fowler Gravitasi melokalisasi eksudat inflamasi dalam abdomen bawah atau pelvis. f. d. meningkatnya istirahat usus. e. Intervensi Rasional 1. Menurunkan muntah untuk meminimalkan kehilangan cairan. Indikator kembalinya peristaltic. b. a. Beriakn cairan IV dan elektrolit a. Awasi masuk dan haluaran. 4. No. Cata kelancaran flatus. Dekompresi usus. 3. Kriteria Hasil : BB normal. 4. Berikan kantong es pada abdomen Menghilangkan dan mengurangi nyeri melalui penghilangan rasa ujung saraf. Lihat membrane mukosa.

tetapi hal ini tidak selalu menimbulkan nyeri di daerah abdomen. 2007) Apendisitis merupakan peradangan pada usus buntu/apendiks (Anonim. Lokasi apendik pada daerah illiaka kanan. Penyumbatan pengeluaran sekret mukus mengakibatkan perlengketan. Usus buntu merupakan saluran usus yang ujungnya buntu dan menonjol dari bagian awal usus besar atau sekum (cecum). 2007) Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai cacing (apendiks). Bila tidak terawat. Dari keadaan hipoksia menyebabkan gangren atau dapat terjadi ruptur dalam waktu 24-36 jam. Bila proses ini berlangsung terus-menerus organ disekitar dinding apendik terjadi perlengketan dan akan menjadi abses (kronik). merupakan bagian dari sekum. Apabila proses infeksi sangat cepat (akut) dapat menyebabkan peritonitis. infeksi dan terhambatnya aliran darah. tepatnya pada dinding abdomen di bawah titik Mc Burney. (Anonim.6 inci. PATOFISIOLOGI Apendik belum diketahui fungsinya.LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN APENDISITIS PENGERTIAN Apendisitis merupakan peradangan pada apendik periformis. (Anonim. biasanya ditemukan pada usia tua. Apendisitis akut. Apendisitis kronis obliteritiva yaitu appendiks miring. yaitu setelah sembuh akan timbul striktur lokal. lendirnya banyak mengandung kelenjar yang senantiasa mengeluarkan lendir. Apendisitis. 2001). penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat (Smeltzer. Bila infeksi bertambah parah. Apendisitis adalah kondisi di mana infeksi terjadi di umbai cacing. 2007). Strukturnya seperti bagian usus lainnya. usus buntu itu bisa pecah. di bawah katup iliacecal. Peritonitis merupakan komplikasi yang sangat serius. Dalam kasus ringan dapat sembuh tanpa perawatan. setelah sembuh akan timbul striktur lokal. Appendisitis purulenta difusi. Apendisitis akut adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan rongga abdomen. Infeksi ini bisa mengakibatkan pernanahan. Masa / tinja / benda asing Obstruksi lumen apendiks . yaitu sudah bertumpuk nanah. dibagi atas: Apendisitis kronis fokalis atau parsial. dibagi atas: Apendisitis akut fokalis atau segmentalis. tetapi banyak kasus memerlukan laparotomi dengan penyingkiran umbai cacing yang terinfeksi. angka kematian cukup tinggi. dikarenakan oleh peritonitis dan shock ketika umbai cacing yang terinfeksi hancur. Apendik periformis merupakan saluran kecil dengan diameter kurang lebih sebesar pensil dengan panjang 2 . Apendisitis. 2. Usus buntu besarnya sekitar kelingking tangan dan terletak di perut kanan bawah. Peradangan pada apendik dapat terjadi oleh adanya ulserasi dinding mukosa atau obstruksi lumen (biasanya oleh fecolif/faeses yang keras). Infeksi kronis dapat terjadi pada apendik. KLASIFIKASI Klasifikasi apendisitis terbagi atas 2 yakni : 1. Namun. Apendisitis. Apendisitis kronis.

gelisah Bising usus berkurang atau tidak ada C Demam 38 .Peradangan sekresi. MANAGEMENT KOLABORASI Pengkajian Riwayat: Data yang dikumpulkan perawat dari klien dengan kemungkinan apendisitis meliputi : umur. Pada wanita dan laki-laki insidennya sama kecuali pada usia pubertas dan usia 25 tahun wanita lebih banyak dari laki-laki dengan perbandingan 3 : 2 PENCEGAHAN Pencegahan pada apendisitis yaitu dengan menurunkan resiko obstruksi atau peradangan pada lumen apendik.Nekrose + perporasi ETIOLOGI Ulserasi pada mukosa Obstruksi pada colon oleh fecalit (faeses yang keras) Pemberian barium Berbagai macam penyakit cacing Tumor Striktur karena fibrosis pada dinding usus INSIDEN Apendiksitis sering terjadi pada usia tertentu dengan range 20-30 tahun. muntah. Data Obyektif Sebelum operasi Nyeri tekan di titik Mc. mukus tidak dapat keluar Pembengkakan jaringan limpoid Peregangan apendik Tekanan intra luminal suplai darah terganggu Hipoksia Nyeri Akut ---. pemberian barium baik lewat mulut/rektal. Berney Spasme otot Takhikardi. PENGKAJIAN a. takipnea Pucat. jenis kelamin. Pola eliminasi klien harus dikaji. dan peritonitis. riwayat pembedahan. dan riwayat medik lainnya.5 . perforasi. kembung Pusing b. sebab obstruksi oleh fecalit dapat terjadi karena tidak adekuatnya diit serat.38. demam Tungkai kanan tidak dapat diluruskan Diare atau konstipasi Sesudah operasi Nyeri daerah operasi Lemas Haus Mual. Perawatan dan pengobatan penyakit cacing juga meminimalkan resiko. diit tinggi serat. riwayat diit terutama makanan yang berserat.Ulserasi + invasi bakteri Kronis ---. Pengenalan yang cepat terhadap gejala dan tanda apendiksitis meminimalkan resiko terjadinya gangren. kembung Tidak nafsu makan. Data Subyektif Sebelum operasi Nyeri daerah pusar menjalar ke daerah perut kanan bawah mual.

Anjurkan klien untuk tidur pada posisi nyaman (miring dengan menekuk lutut kanan). Subyektif Klien / keluarga ber-tanya tentang prosedur persiapan dan sesudah operasi Obyektif Klien tidak kooperatif terhadap tindakan per-siapan operasi. Data Pemeriksaan Diagnostik Radiologi : Foto colon yang memungkinkan adanya fecalit pada katup. Jauhkan makanan/bau-bauan yang merangsang mual atau muntah. Observasi tanda vital suhu. Kompres es pada daerah sakit untuk mengurangi nyeri. Setelah diberikan penje-lasan klien memahami tentang prosedur persiap-an dan sesudah operasi . 2 Resiko kekurangan vo lume cairan berhubung an dengan mual. Pemeriksaan Laboratorium Leukosit : 10. Pantau efek terapeutik dan non terapeutik dari pemberian analgetik. cara mengurangi. anoreksia dan diare.18. tentukan lokasi. Kolaborasi pemberian infus dan pipa lambung. Wajah dan posisi tubuh tampak rilaks Kaji tanda vital Kaji keluhan nyeri. Kriteria : Klien mengungkapkan ra-sa sakit berkurang. Subyektif : Nyeri daerah pusar menjalar kedaerah perut kanan bawah. Obyektif : Nyeri tekan di titik Mc Burney. Beri posisi ½ duduk untuk me-ngurangi penyebaran infeksi pada abdomen.000 . mun.tah. Ajarkan tehnik relaksasi.000 / mm3 Netrofil meningkat 75 % WBC yang meningkat sampai 20. jenis dan intensitas nye-ri. nadi. Puasa makan minum apabila akan dilakukan tindakan. tekanan darah. Kriteria : Turgor kulit baik. Cairan dan elektrolit dalam keadaan seimbang. Jelaskan penyebab rasa sakit.000 mungkin indikasi terjadinya perforasi (jumlah sel darah merah) d. 3 Kurang pengetahuan ten tang prosedur persiapan dan sesudah operasi. Potensial Komplikasi Perforasi Peritonitis Dehidrasi Sepsis Elektrolit darah tidak seimbang Pneumoni Diagnosa Keperawatan NO DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN / KRITERIA RENCANA TINDAKAN 1 Nyeri abdomen berhu-bungan dengan obstruksi dan peradangan apen-diks. Tungkai kanan tidak dapat diluruskan. Cairan yang keluar dan masuk seimbang. perna-pasan tiap 4 jam. Nyeri berkurang.Sesudah operasi Terdapat luka operasi di kuadran kanan bawah abdomen Terpasang infus Terdapat drain/pipa lambung Bising usus berkurang Selaput mukosa mulut kering c. Ukur dengan skala 1-10. Laksanakan program medik. Observsi cairan yang keluar dan yang masuk. Ciptakan lingkungan yang tenang. Barium enema : apendiks terisi barium hanya sebagian e.

R & Jong. Jakarta. cukur daerah operasi. Doengoes. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Makanan mencukupi untuk mempercepat proses penyembuhan. 2000. kemerahan. Ed.Lynda Juall. Rothrock.Jane C. Jelaskan aktivitas yang perlu dilakukan setelah operasi. EGC.Unair.Wim de. PSIK FK. Jakarta.EGC. Luka insisi sembuh tanpa ada tanda infeksi.E. warna jum-lah dan karakteristik.1997. 2000. DAFTAR PUSTAKA : Carpenito. pemasangan infus. Rawat luka secara steril. 2001. bengkak dan cairan yang keluar. EGC. Jakarta . Revisi. Klien mendemonstrasikan latihan yang diberikan. puasa makan & minum sebelumnya 6 .8 jam. Surabaya. EGC. mobilisasi dini secara pasif dan aktif bertahap. M. TA: 2000/2001. Latihan batuk efektif. Perencanaan Asuhan Keperawatan Perioperatif. Beri antibiotika sesuai program medik. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Diktat Kuliah Medikal Bedah II. 2000. Sjamsuhidajat. Jelaskan prosedur persiapan operasi. Jelaskan situasi dikamar bedah. Beri makanan berkualitas atau dukungan klien untuk makan. 4 Kerusakan integritas ku-lit berhubungan dengan luka pembedahan.Kriteria Klien kooperatif dengan tindakan persiapan operasi maupun sesudah operasi. Jakarta. Buku Ajar Ilmu Bedah. Pantau luka pembedahan dari tanda-tanda peradangan : de-mam.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful