Tata Dunia Baru?

World Economic Forum 2011 dan (Re-)Konsolidasi Tatanan Global1
Oleh: Hizkia Yosie Polimpung2 Pengajar Tidak Tetap pada Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta

Abstract The present paper tries to make an account for the World Economic Forum in Davos 2011 from the perspective of global order. In carrying the task, this paper asks why, for the reality perceived and presented by the forum, the solution needed is such particular kind of norm like one it advances? Drawing from Michel Foucault’s genealogical account of governmental technology and Jacques Lacan’s psychoanalytical work of anxiety, the author argues that the WEF 2011, along with its proposal of Risk Response Network, should be seen as a gesture of global reconsolidation of the present neoliberal order that is severely in crisis. This renewed neoliberal order seeks to subdue the globalisation process that is perceived as eroding the state sovereignty over capitalism. Eventually, this erosion leads to anxiety, and this anxiety ends at the desire to reinforce the sovereignty itself. WEF 2011 is the symptom of this desire, and its RRN proposal is its manuver to attain the desire. The main objective of this paper is to conclude that the present global reconsolidation of order is not new at all, and to show what is at stake if we perceive it otherwise. Keywords: tatanan global, penataan global, kegelisahan, kedaulatan, WEF 2011

The World Economic Forum, WEF, adalah sebuah organisasi non-profit Swiss, yang berbasis di Cologny, Jenewa. Ia terkenal juga dengan sebutan Davos, suatu daerah di sebelah timur kawasan Alpen yang setiap tahun dijadikan tempat pertemuannya. Pertemuan ini mempertemukan para pebisnis (yang kelas kakap tentunya), para pemimpin dunia (yang sekarang bisa disempitkan pada G20), para intelektual terpilih untuk membahas isu-isu yang sedang menjadi permasalahan dunia. WEF juga menghasilkan laporan-laporan tertentu. Untuk 2011 ini, WEF mengeluarkan Global Risks Report, Global Competitiveness Report, dan Outlook on the Global Agenda 2011. Pertama kali diselenggarakan pada 1971 oleh seorang Profesor Bisnis dari Universitas Jenewa, Klaus Schwab, WEF awalnya bernama European Management Forum yang hanya berkisar pada permasalahan di Eropa (Barat). Baru pada 1987, saat Schwab memperluas scope isu, jangkauan dan partisipan ke luar Eropa, mencoba merambah seluruh dunia, forum tersebut diganti namanya menjadi WEF yang seperti kita ketahui hari-hari ini. Pada pertemuan tahun ini, tanggal 26-30 Januari lalu, WEF mengangkat tema “Shared norms for the new reality.” Untuk memulai diskusi ini, saya ingin mengklarifikasi dua hal terkait tema tersebut. Mencoba meletakkan kalimat tersebut dalam kerangka analitis umum, maka dalam kalimat tersebut di dapati dua variabel: “new reality” sebagai variabel independen; dan “shared norms” sebagai variabel dependen. Dengan bergaya ala Morpheus (The Matrix, 1999), saya bertanya, “What is ‘real’? How do you define ‘real’? If you’re
Makalah untuk disampaikan pada panel Teori-Teori Hubungan Internasional dan Isu-isu Ekonomi-Politik Global Kontemporer, Konvensi Nasional II, Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia, Bandung, 11-13 Juli 2011. 2 Saya menyampaikan terima kasih kepada Muhammad Al-Fayyadl, Fitri Bintang Timur, David Tobing, Muhammad Ridha, Dodi Mantra, dan Coen Husain Pontoh untuk komentar-komentar dan masukannya. Namun demikian, argumentasi dalam makalah ini tetap menjadi beban tanggung-jawab saya.
1

1

talking about what you can feel, what you can smell, taste and see, the ‘real’ is simply electrical signals interpreted by your brain. This is the world that you know.” Realitas, yang olehnya kita anggap the real, dengan demikian hanyalah realitas yang mampu kita ketahui, sehingga the reality akan selalu my reality. Hal serupa juga berlaku bagi yang disebut-sebut “the new reality” oleh WEF 2011, ia sebenarnya adalah “their new reality.” 3 Pertanyaan berikutnya berkaitan dengan “shared norms.” Pertama, statusnya sebagai variabel dependen membuatnya bersifat kontingen, dalam artian bergantung pada sang variabel independen—“the new reality.” Kedua, secara etimologis norma-bersama ini berbeda dari norma-norma lainnya dari segi kepemilikan. Norma-bersama tentu dimiliki atau dijunjung secara bersama, berbeda dengan norma lain yang dipegang sendiri-sendiri. Pertanyaan berikutnya yang biasanya akan muncul: siapakah yang masuk dalam kategori “bersama” tersebut? Siapa sajakah yang dieksklusi dari kategori “bersama” tersebut? Atas dasar apa? dst. Namun sayangnya bukan pertanyaan ini yang mengganggu saya.4 Pertanyaan besar yang memukul kepala saya adalah ini: mengapa untuk realitas semacam ini—yang dianggap baru; yang, tentu saja, dengan segala keterbatasannya dianggap riil—memerlukan norma-norma yang secara esensial seperti yang diusulkan dalam WEF 2011, dan bukan hanya itu, ia harus dijunjung secara bersama? Tentu saja saya tidak menganggap tema ini sebagai suatu hal yang serius dan benarbenar berkontribusi bagi, misalnya sebagaimana retorika-retorika di WEF 2011, “kehidupan yang lebih baik bagi generasi mendatang.” Saya kira kita semua yang sudah cukup familiar dengan politik sehari-hari akan segera tahu bahwa tema-tema muluk tersebut adalah sebuah retorika di siang bolong. Saya juga berpikir seperti itu. Namun demikian, bagi saya, bukan berarti karena ia adalah retorika di siang bolong lantas ia bukan berarti apa-apa. Justru karena ia retorika di siang bolong ia menjadi sangat berarti. Mengapa demikian? Karena retorika di siang bolong inilah yang sebenarnya menjadi proyeksi hasrat yang diuniversalisasikan, yang ditawarkan kepada siapapun pendengarnya—yang biasanya sedang dirundung duka-lara (atau dalam kosakata WEF, “krisis”). Untuk menjadi proyeksi hasrat, ia tidak harus mungkin atau setidaknya feasible, hanya saja ia harus cukup menyejukkan. Hal penting untuk memahami retorika ini dengan demikian adalah tidak meremehkannya sebagai semata-mata jargon kosong belaka; se-“kosong” apapun retorika itu, ia pasti memuat dan mengakomodasi hasrat terdalam dari siapa-siapa yang menjadi targetnya. 5 Dari perspektif psikoanalisis yang saya kampanyekan, inilah pentingnya menseriusi suatu retorika yang kita tahu “tidak serius.” Karena hanya dengan demikianlah kita bisa menyingkapkan kegilaan neurotik seperti apakah yang menghasrati obat penenang semacam retorika yang kita tahu “tidak serius” tersebut. Obat penenang inilah yang akan memberikan konsistensi, stabilitas, dan kesembuhan sementara bagi sang penderita neurotik tersebut. Dalam psikoanalisis, obat penenang ini disebut simptom. Secara analitis, dengan demikian,
Fakta: “Over 1,400 business leaders from the Forum’s 1,000 Member companies will take part in the Annual Meeting. Participants also include over 35 heads of state or government, with 19 of the G20 governments represented at ministerial level or higher. They are joined by government ministers, central bankers, top officials from international organizations, labour leaders, religious leaders, representatives of civil society, media and leading academics.” Dapat dicek di http://www.weforum.org/news/world-economic-forumannual-meeting-focus-shared-norms-new-reality. 4 Biasanya jawaban-jawaban atas pertanyaan ini akan dengan mudahnya menuduh kelas-kelas penguasa (borjuis, aristokrat, dst.) sebagai “aktor di balik layar.” 5 Louis Althusser, “Ideology and Ideological State Apparatuses,” dalam Lenin and Philosophy and Other Essays, terj. Ben Brewster (NY & London: Monthly Review Press, 1971), hal. 174-5; Slavoj Zizek, The Ticklish Subject: The Absent Centre of Political Ontology (London: Verso, 1999), hal. 184.
3

2

saya akan memperlakukan WEF—berikut tema, jargon, retorika, agenda, laporan, dsb.— sebagai simptom. Simptom yang dimaksud adalah sebuah jalinan rapi suatu penampakan yang membentuk satu kesatuan tertentu, yang muncul sebagai akibat dari, sekaligus menutupnutupi, suatu gejolak irasional yang mendahuluinya. 6 Setidaknya kerangka ini yang akan menuntun diskusi saya melalui tulisan ini. Pertama-tama akan dibahas apakah realitas baru yang dimaksudkan oleh WEF 2011. Berikutnya interogasi akan diarahkan pada letak kebaruan dari krisis tersebut. Interogasi ini penting, setidaknya dari perspektif praksis, atau lebih spesifiknya praksis perlawanan yang juga saya kampanyekan, karena hanya dengan mengidentifikasi kebaruan realitas—jika memang baru—yang menjadi pemicu WEF ini kalkulasi akurat bagi praksis perlawanan dapat diformulasikan. Hal ini penting karena, sebagaimana film Mechanic (2011) mengingatkan, “victory loves preparation.” New Reality “The shifts of political and economic power from West to East and from North to South, as well as the speed of technological innovation, have created a completely new reality. Global systems and decision models can no longer cope with the speed and complexity of all these changes. In Davos this year, instead of looking only at the aftershocks of the recent crisis, we will concentrate on defining the new reality and discuss which shared norms are required for making global cooperation possible in this new age,” —Klaus Schwab, pendiri WEF, pada pembukaan WEF 20117 Tanpa perlu mengernyitkan dahi, dengan mudah bisa disimpulkan dari kutipan diatas bahwa terdapat dua hal yang menjadi penyebab lahirnya suatu hal yang disebut-sebut ‘realitas baru’, yaitu: pertama, perpindahan kekuatan ekonomi-politik (dari apa yang disebutnya “Barat” ke “Timur,” dan dari “Utara” ke “Selatan”); dan kedua, inovasi teknologi yang berlangsung sangat cepat. Kedua hal ini berikutnya menciptakan suatu realitas baru yang karenanya para pemimpin dunia (maksudnya, tentu saja, pemimpin negara-negara) menjumpai kesulitan untuk menentukan kebijakan yang tepat. Mengapa? Schwab menuturkan, realitas baru ini sarat dengan kompleksitas yang berpotensi mengacaukan semua prediksi dan rationale yang melandasi setiap kebijakan yang diambil pemimpin dunia. Kekacauan ini berikutnya, ditengarai Schwab, sebagai penyebab krisis yang telah dan/atau tengah dialami dunia—mulai dari krisis di Timur Tengah, krisis finansial, krisis lingkungan, dst. Lalu apakah realitas baru tersebut? Jawab WEF 2011: the global risk. Sayangnya resiko global ini kurang mendapat elaborasi definisional di WEF 2011. Namun demikian, dari perbincangan dan laporan yang ada di WEF 2011, dapat disimpulkan bahwa resiko global dipahami sebagai suatu potensi krisis (atau bahkan krisis lebih lanjut) yang memiliki dampak global. Dampak global, maksudnya krisis di satu daerah akan memiliki implikasi di daerah lainnya. Resiko global sebaiknya tidak dipahami sebagai resiko yang mengglobal (globalized risk). Yang terakhir ini mengasumsikan bahwa resiko global saat ini merupakan akibat perluasan dari suatu resiko lokal/nasional/regional. Resiko global
Bagi pembaca yang familiar dengan psikoanalisis Lacanian, simptom adalah suatu gestur simbolik yang muncul sekaligus menyegel suatu citra (gestalt) imajiner yang sebelumnya telah terlebih dahulu membendung, melokalisir, atau mendomestifikasi suatu realitas chaos, disorder atau imbalance yang tidak terpahami. Bdk. Jacques Lacan, Seminar XXIII: The Sinthome, 1975-76, terj. L. Thurston, diterbitkan di Ornicar, 6-11, (19761977), hal 16. 7 Cetak tebal oleh saya.
6

3

merupakan resiko yang muncul dari praktik apapun (politik, ekonomi, dst.) yang telah terglobalisasi—terjejaring secara global—saat ini. Dengan kata lain, mirip dengan Ulrich Beck, resiko global adalah dampak yang eksklusif by-product dari globalisasi itu sendiri.8

Gambar 1 Pemetaan Resiko Global a la WEF 2011 Mencoba merangkumkan pemetaan resiko global yang dihimpun oleh tim WEF (lihat Gambar 1), setidaknya ada lima macam resiko global: ekonomi, geopolitik, lingkungan, kemasyarakatan, dan teknologi. Jalinan antara kelima ini membentuk tiga macam klusterisasi resiko global: kluster pertama adalah ketidak-seimbangan makro-ekonomi (macroeconomics imbalances) yang berkisar umumnya pada tiga macam resiko—rontoknya nilai asetketidakpastian nilai mata uang-krisis fiskal; kluster kedua adalah ekonomi ilegal (illegal economy) yang berkisar umumnya pada empat macam resiko—perdagangan ilegal-korupsikejahatan terencana-negara lemah; kluster ketiga, yaitu resiko yang berkaitan dengan ketersediaan tritunggal energi-makanan-air, berhubungan dengan empat resiko minor— ketidakmenentuan ekstrim harga energi-ketersediaan pangan-ketersediaan air-perubahan iklim. Tim WEF juga mengidentifikasi resiko lain yang kurang mendapat perhatian namun berpotensi menghasilkan krisis yang cukup besar: keamanan cyber, tantangan demografi, ketersediaan sumber daya, penarikan diri dari globalisasi dan senjata pemusnah massal. Laporan tersebut ditutup dengan seruan: “the purpose of this report is not to eliminate risk,… but to inspire decision makers to engage collectively the global risk.”9 New Reality?

Bdk. Ulrich Beck, World Risk Society (Cambridge: Polity Press, 1998) Untuk uraian ini lihat Global Risks 2011, sixth edition. An Inititative of the Risk Response Network. Jenewa: World Economic Forum 2011.
9

8

4

Asumsi implisit dari laporan ini adalah karena resiko-resiko ini mempunyai dampak global, maka ia harus dihadapi pula secara global. Dan semenjak globalisasi menjaring seluruh dunia ini kedalam suatu jejaring-global, maka resiko global juga harus dihadapi secara berjejaring. (Metode berjejaring ini termanifestasi dalam proposal WEF 2011 akan suatu Jaringan Respon terhadap Resiko (The Risk Response Network, RRN)). Mencoba berjarak dari laporan ini, saya melihat suatu kegelisahan yang berkali-kali muncul dalam berbagai bentuk konsep njelimet baik di laporan ini maupun di pidato-pidato dan forum diskusi yang terselenggara. Kegelisahan tersebut diarahkan pada kompleksitas situasi dan kondisi yang berikutnya berpengaruh pada instabilitas, inkonsistensi dan ketidakmenentuan…diri. Kegelisahan muncul saat imaji diri ideal yang ada di benak seseorang berselisih, berkebalikan, atau setidaknya berbeda dari realitas imaji dirinya. 10 Namun perlu ditekankan di sini bahwa kegelisahan bereaksi bukan terhadap suatu krisis, bencana, atau kehilangan. Kegelisahan bereaksi melainkan terhadap potensi, bahaya, kemungkinan atau fantasi dari krisis, bencana atau kehilangan tersebut. Jadi, dimensi terpenting dari kegelisahan bukan pada obyeknya, melainkan pada resiko yang ditimbulkan apabila sang subyek tidak mendapat/kehilangan obyek tersebut.11 Kegelisahan selalu akan berujung pada gestur penguasaan situasi dan kondisi. Gestur penguasaan tersebut akan dilakukan dengan pengambilan langkah-langkah tertentu, treatment tertentu terhadap situasi tersebut. Namun demikian, langkah yang pertama kali perlu dilakukan adalah memahami situasi tersebut, bahkan jika perlu, memetakan, mendefinisikan, mengkonseptualisasikan dan menteorikan situasi tersebut. Ini adalah gestur penguasaan tahap pertama: pengetahuan.12 Gestur penguasaan berikutnya adalah membangun suatu jangkar tatanan yang mampu pertama-tama menaklukan inkonsistensi situasi dan membuatnya menjadi stabil, dapat dipahami, bahkan dapat diprediksi. Gestur penguasaan ke dua ini umumnya akan menghasilkan suatu teknologi penguasaan (situasi).13 Untuk contoh seharihari, lihat misalnya, jam weker/alarm—ia merupakan inovasi untuk menguasai kondisi dimana manusia tidak mampu mengatur jam hidupnya, yang berikutnya menimbulkan kegelisahan bahwa ia akan gagal mengikuti jadwal yang sialnya ditentukan orang lain yang lebih berkuasa atas dirinya, (atas penghasilannya lebih tepatnya). Dari sini, WEF (2011 dan sebelumnya) bisa dipahami juga sebagai suatu gestur penguasaan sebagai respon dari suatu kegelisahan eksistensial yang diberi label akademik ‘resiko global’.14 Namun yang terpenting bagi saya, setidaknya untuk diskusi kali ini, jauh
Sigmund Freud, “The Uncanny (1919),” dalam Standard Edition, Vol. XVII Kata Jacques Lacan, “anxiety emerges when the lack is lacking.” Lihat, Seminar X: Anxiety. Makalah seminar tidak terbit, Nov. 14, 1962. 12 Agak berbeda dari pemahaman pengetahuan dalam koridor kekuasaan Foucaultian yang bertujuan menjustifikasi kekuasaan dan memproduksi subyek untuk dikuasai, pengetahuan yang dimaksud di sini lebih mengarah kepada suatu gestur pemaknaan untuk meresolusi suatu absurditas. *Untuk catatan ini saya berterima kasih pada David Tobing yang telah mempermasalahkan ini, dengan demikian menunjukkan ambiguitas yang perlu saya klarifikasi. 13 Teknologi yang dimaksud tidak sesempit anggapan umum tentang gadget dan pernak-pernik elektronik. Lebih dari itu, teknologi merupakan suatu temuan (bisa material maupun non material) yang berusaha menjawab suatu tantangan permasalahan konkrit di lapangan. Untuk uraian lebih lanjut mengenai ini, lihat Michel Foucault, “Technologies of the Self” dan “The Political Technology of Individuals” dalam L.H. Martin, H. Gutman, dan P.H. Hutton, peny., Technologies of the Self: A Seminar with Michel Foucault (Amherst: Uni Massachussetts Press, 1988). 14 Pembuatan laporan ini juga turut melibatkan “the expertise and thought leadership” yang menjadi partner dari WEF 2011 seperti Marsh & McLennan Companies, Swiss Reinsurance Company, Wharton Center for Risk Management, University of Pennsylvania, and Zurich Financial Services. Lihat pengantar Klauss Schwab untuk Global Risk 2011.
11 10

5

melebihi konseptualisasi saintifik kegelisahan kontemporer bernama resiko global, keseluruhan WEF 2011 sebenarnya adalah tentang problem penataan global (global order), atau lebih tepatnya penataan-ulang global (global re-ordering). Jika kita melihat secara seksama proposal RRN WEF 2011, yang diarahkannya pada pembaharuan (jika bukan penciptaan) suatu pemerintahan global (global governance),15 ide yang ditawarkan adalah sebentuk tatanan global baru yang lebih up to date untuk menghadapi tantangan resiko global. Tatanan yang lama dianggapnya “can no longer cope with the speed and complexity of all these changes.”16 Dengan tatanan yang lama, nampaknya adalah unilateralisme Amerika Serikat yang sedang disindir, terutama terhadap sikapnya yang “lembek” terhadap bos-bos perusahaan finansial yang notabene merupakan sumber krisis finansial global 2008 silam.17 Tatanan yang baru tentunya adalah tatanan yang bukan unilateralis. Sebagaimana RRN, tatanan baru tersebut adalah tatanan multilateral, dan bukan hanya itu, ia terintegrasi dalam suatu jaringan! Masuk akal tidaknya proposal ini sama sekali bukan urusan saya. Satu hal yang ingin saya tekankan, WEF 2011 adalah suatu upaya untuk meng-upgrade tatanan global kepada suatu tatanan yang mampu menjawab kegelisahan kontemporer yang disebutsebut resiko global. Problem tatanan global ini sebenarnya bukan hal yang baru. Menurut pelacakan saya, ia sudah berumur lebih dari satu milenium semenjak gestur penataan Eropa pasca invasi kaum Barbar di abad 9. Saat itu Paus Leo III menganugerahi Raja Charlemagne dari Dinasti Carolingian gelar Kaisar Agung Romawi yang menguasai suatu penataan Imperium Eropa. Kegelisahan kehidupan barbarianistik saat itu mendorong terciptanya suatu teknologi penguasaan berupa Kekaisaran Romawi Agung berikut ide imperiumnya. Begitu pula di awal abad 11, pasca serangan Viking dan Magyar sekitar akhir abad 9 sampai abad ke 10 yang memporak-porandakan kekuasaan Kekaisaran Romawi Agung saat itu, hasrat penataan kembali muncul, kali ini menghadirkan dua aktor berbeda—Paus dan Kaisar Romawi Agung, berikut proposal penataan yang berbeda pula—Persemakmuran Kristen Eropa (Respublica Christiana, atau Kristendom) dan Kekaisaran Romawi Agung. Perbedaan konsep dan manuver penataan dalam satu teritorial tertentu tentunya akan menghasilkan bentrok. Bentrok ini pada gilirannya akan menjadi suatu krisis yang lagi-lagi membawa pada suatu kondisi kegelisahan—ketidak-menentuan, peperangan, resesi. Sehingga pada abad 17, kembali suatu resolusi tatanan global tercapai (yaitu Perjanjian Westphalia), kali ini oleh raja-raja Eropa yang sudah lelah “dipermainkan” baik oleh Kaisar Romawi Agung dan Paus. (lihat tabel 1).18 Gestur penataan global ini terus berlanjut hingga hari ini, dengan berbagai versi yang saling berkompetisi. Untuk penataan global di masa-masa semenjak Perang Dingin, saya rangkumkan secara sederhana pada tabel 2.)

Ada baiknya ‘pemerintahan global’ (global governance) dibedakan dari ‘pemerintah global’ (global government). Yang pertama lebih berkonotasi koordinasi, yang terakhir mengimplisitkan suatu sentralisasi pemerintahan. 16 Klaus Schwab, pidato pembukaan. 17 Sebagaimana diketahui, AS memberi bailout sampai ratusan trilyunan dolar terhadap perusahaanperusahaan yang kolaps akibat krisis. 18 Saya menjabarkan gestur penataan Eropa abad pertengahan ini dengan sangat ekstensif di Psikoanalisis Paradoks Kedaulatan Kontemporer, Tesis Magister Hubungan Internasional, Depok: UI, 2010.

15

6

Abad 11-16 Versi Kekaisaran Romawi Agung Fragmentasi Internal (perang saudara); Wilayah yang sempit Gereja Katolik Roma Fragmentasi internal (Skisma Besar; Reformasi); pembangkangan beberapa Kaisar dan raja Dominasi relijius total atas Eropa Persemakmuran Kristen Eropa

Abad 17 Raja-raja & Pangeranpangeran Eropa Ketidak-jelasan teritori, krisis otoritas dalam negeri karena perang sipil, ekspansionisme Kekaisaran, campur tangan Gereja dalam kekuasaannya. Sekulerisasi kehidupan politik Sistem negara berdaulat; pengakuan kedaulatan antar-negara Manusia tercerahkan Eropa yang diterjemahkan ke negara berdaulat (oleh mulai Machiavelli, Hobbes sampai Bodin) Konspirasi dalam menjatuhkan Kekaisaran dan Paus via Perjanjian Westphalia 1648

Sumber Kegelisah an

Proposal/ Ide Tatanan

Dominasi politik total atas Eropa Kekaisaran Romawi Kejayaan Kekaisaran Romawi abad ke2&3

Inspirasi

Imaji Kristus dalam Alkitab

Gestur Penataan

Ekspansi imperial

Mengkonversi Kaisar; Menghasut raja-raja atau pangeran-pangeran

Tabel 1 Evolusi Ide & Gestur Penataan Eropa Abad Pertengahan19 Pasca Krisis Finansial Global The rest of the US, WEF 2011 misalnya Melemahnya negara & pasar; muncul spekulanspekulan serakah; Global Risk Globalisasi berjejaring (networked globalization); Risk Response Network

Perang Dingin

Pasca-Perang Dingin AS AS

Pasca 9/11 Al-Qaidah dan sejenisnya Imperialisme AS; ekses modernitas/ sekulerisme; degradasi moral

Versi

AS & Sovyet

Sumber Kegelisah an

Pemberontaka n kolonial; kehancuran ekonomi pasca perang

Konflik etnis pasca-ideologi; separatisme; etnonasionalisme

Usangnya negara; ancaman (teror) yang tidak jelas; axis of evil

Proposal/ Ide Tatanan

Bipolar, peaceful coexistent, proxy war

Unilateralisme AS

Imperium global; global surveillance system

Khilafah internasional; teokrasi global

19

Disarikan dari Psikoanalisis Paradoks Kedaulatan Kontemporer, Idem.

7

Inspirasi

Perimbangan Kekuasaan Eropa abad 18 Pengeblokan (BaratTimur); pakta pertahanan (NATO vs Pakta Warsawa); Kebijakan Pembendunga n (AS) vs Tirai Besi (Sovyet)

Imperium (lihat karyakarya Niall Ferguson)

Masih tetap Imperium Intervensi militer di Irak, Afghanistan dan Kosovo; pembukaan kamp Gitmo dan Abu Ghraib; doktrin kontrateroris preemptif Bush; promosi demokrasi; teknologi pengintaian (stealth)

Khilafah Ottoman

Sistem cellgroup teroris; sibernetika20 Penguatan blok regional; eksplorasi kerjasama dan koordnasi interregional; eksklusi pengaruh AS di berbagai kawasan; penyelenggaraan forum multilateralis

Gestur Penataan

Intervensi kemanusiaan; penyesuaian struktural; demokratisasi; globalisasi

Radikalisasi; perekrutan milisi; manuver & retorika kontra-tatananan dominan (AS & kapitalisme)

Tabel 2 Ide & Gestur Penataan Dunia semenjak Perang Dingin hingga Hari Ini21

Sampai sini sekiranya sudah cukup dijelaskan argumentasi bahwa kerinduan akan tatanan global ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru. Sehingga terkait WEF 2011, yang saya usulkan untuk diperdebatkan lebih jauh bukanlah pertanyaan-pertanyaan: “temuan abad berapakah tatanan global?”, atau “siapakah yang diuntungkan dari tatanan global?”, atau malah “bagaimana sukses di era dengan tatanan global seperti ini?” Saya kira hipotesis bahwa tatanan global hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu sudahlah jelas; siapa-siapa yang diuntungkan dari tatanan tersebut juga sudahlah jelas. Lalu persoalan bagaimana tatanan selalu mensyaratkan peminggiran kelompok-kelompok tertentu juga sudah cukup kentara— munculnya World Social Forum sebagai tandingan WEF misalnya dengan jelas menyuarakan teriakan mereka yang terpinggirkan. Pertanyaan bagaimana sukses di tatanan seperti saat ini juga jelas-jelas dengan naifnya mengasumsikan begitu saja bahwa tatanan global yang ada saat ini adalah tidak terelakkan; pula untuk pertanyaan ini adalah Hermawan Kertajaya atau Tung Desem Waringin atau Mario Teguh yang saya kira lebih “kompeten” menjawabnya. Satu Lagi Penataan-ulang Global Dengan mempertimbangkan hal-hal ini, maka saya mengusulkan problematisasi sebagai berikut: dengan melihat gestur penataan global yang telah terus-menerus terjadi, dan terus-menerus krisis, sehingga terus-menerus ditata-ulang, maka pertanyaan yang sebaiknya diajukan adalah: “bagaimana konsolidasi-rekonsolidasi tatanan global ini bisa terus terjadi?”, “mengapa krisis yang seperti ini, memerlukan tatanan global yang seperti itu?”, “tatanan global seperti apakah yang akan coba dire-kreasikan?”, “model penguasaan seperti apa yang coba dilembagakan melalui tatanan global yang baru tersebut nantinya?”, atau yang lebih
Terima kasih untuk Fitri Bintang Timur yang mengusulkan poin ini. Dengan sadar saya akui tabel ini terpaksa melakukan banyak penyederhanaan, belum lagi dalam hal tidak mencantumkan versi-versi penataan global lainnya yang lebih kecil, seperti misalnya versi Zapatista, versi Freemason, dst. Namun demikian, sekalipun hanya mencantumkan versi-versi dominan/besar saja, tabel ini setidaknya ingin menunjukkan bahwa gestur penataan telah dan akan terus ada beriringan dengan kegelisahan yang silih berganti manifestasinya.
21 20

8

khas WEF 2011, “tatanan global seperti apa yang mensyaratkan setiap entitas di dalamnya memegang norma yang dijunjung bersama dan mengintegrasikan dirinya dalam sistem jejaring respon global?” Sehingga dibandingkan meletakkan WEF 2011 sebagai semata-mata gestur rekonsolidasi kelas dominan—sebagaimana argumen standar Marxis, bukankah lebih baik melihat WEF 2011 sebagai satu lagi upaya rekonsolidasi tatanan yang menguntungkan kelas dominan? Dengan memahami seperti ini kiranya akan dihasilkan suatu pertanyaan berikutnya yang cukup mengganggu setiap upaya pergerakkan anti kelas dominan: mengapa pergerakkan tersebut selalu gagal mengantisipasi gestur penataan global yang notabene sudah berulang-ulang kali terjadi? Atau bahkan yang mungkin lebih praksis, mengapa krisis-krisis yang memicu gestur penataan dan penataan-ulang global ini tidak mampu dimanfaatkan untuk mengakhiri kekuasaan kelas dominan once and for all? Saya kira pertanyaanpertanyaan ini perlu menjadi introspeksi bagi setiap perjuangan anti kelas dominan, termasuk WSF dan sebangsanya.22 Sekali lagi ditekankan, saya memahami WEF 2011 ini sebagai suatu simptom dari kegelisahan tertentu dan sekaligus sebagai kerinduan akan penataan global tertentu (sebagai akibat kegelisahan yang mendahuluinya tersebut). Melalui WEF 2011 ini saya melihat kembali suatu gestur yang mengarah pada pendirian suatu pemerintahan global. Dan dalam gestur kreasi pemerintahan global ini, ada dua kekuatan yang sedang bertempur: negara dan kapitalis. Semenjak abad ke-18, kedua entitas ini selalu berseteru. Saking seru dan berdampak-globalnya, tatanan global yang terbentuk semenjak abad ke-18 tersebut, saya berani mengklaim, sampai sekarang adalah tatanan yang terbentuk sebagai kompromi, untuk memperhalus skandal, di antara keduanya. Dengan negara dan kapitalis saya tidak berbicara orang-orang atau oknum-oknum tertentu; melainkan sebagai logika. Logika negara terkulminasi dalam gagasan kedaulatan, sementara logika kapitalis terkulminasi pada fundamentalisme pasar bebas dan komodifikasi. Sekalipun mode eksistensi dan perjuangan yang berbeda, namun demikian kedua logika ini memiliki sifat yang sama: tujuannya tak lain adalah replikasi dirinya secara terus-menerus. Lalu di mana peran manusia? Tidak lebih sebagai, meminjam Richard Dawkins, kendaraan-kendaraan (vehicles) yang semata-mata berfungsi mereplikasi, memproliferasi, memperjuangkan, bahkan mempertahankan matimatian kedua logika tersebut dari kepunahan. 23 Singkat cerita, salah satu kompromi kedua oknum ini adalah yang terkenal dengan sebutan neoliberalisme, dengan tatanan neoliberal globalnya. Tatanan neoliberal global berupaya menjadikan seluruh negara—dalam suatu tatanan sistem negara berdaulat yang merupakan warisan penataan global abad 17, dan sistem negara berteritori fix warisan abad 19—sebagai negara neoliberal, yaitu negara yang kuat—cukup kuat untuk menjaga sistem pasar bebas, menjaga kebebasan individu, dan menjaga ideologi kebebasan. Tugas negara, dalam imajinasi neoliberal, adalah menjaga, meregulasi, melegislasi dan memelihara kebebasan: titik. Apakah ini lantas membuat negara tunduk pada kapitalisme: TIDAK! Dengan menjaga dan meregulasi ini, negara hadir. Kehadiran negara inilah yang dibutuhkan oleh logika kedaulatan, yaitu bahwa eksistensinya terjaga. Bagi kapitalis, ia akan puas dengan negara yang mampu menciptakan kondisi agar ia dan antek-anteknya (kita semua) mendapat

Keterbatasan tempat membuat saya memilih untuk menunda pembahasan tentang perlawanan terhadap penataan (ulang) global ini. Namun setidaknya, melalui diskusi ini, saya kira cukup untuk memberi usulan “kisikisi” bagi gerakan perlawanan tersebut. 23 Keterbatasan tempat membuat saya membatasi diskusi dengan tidak membahas asal-usul kedua logika tersebut, yang notabene memerlukan ruang yang lebih banyak. Untuk konsep ‘kendaraan’ ide, atau yang disebut Dawkins meme, lihat bukunya, The Selfish Gene, edisi revisi (Oxford: Oxford Uni Press, 1989).

22

9

jaminan untuk mereplikasi diri. Suatu tawaran yang adil, bukan? ... Tatanan inilah yang sedang dirundung krisis. Kebaruan krisis kali ini adalah saat globalisasi, sebagai suatu model penataan global yang sedang berlaku, yang juga merupakan hasil kompromi keduanya, tidak mampu lagi berpihak pada kedua logika tersebut. Perlawanan terhadap negara dan kapitalisme juga mengambil keuntungan melalui globalisasi: peristiwa Seattle 1999, tragedi “9/11” New York, Chanchun 2003, bahkan sampai Tunisia & Mesir 2011—untuk menyebut beberapa perlawanan yang “kentara.” Akibatnya, negara dan kapitalisme menjadi melemah kapasitasnya: negara menjadi tidak efektif dalam memerintah karena mendapat perlawanan di mana-mana; sementara kapitalisme, pasca krisis finansial global, dipertanyakan reputasinya sebagai penggadang panji “kebebasan pasar,” dst...dst.. yang kesemuanya dapat dirangkum dalam satu frase: ‘resiko global’. Inilah rupa-rupa kegelisahan yang memotivasi secara libidinal suatu gestur penataan-ulang global. Akibatnya, globalisasi menjadi dipersalahkan, dan dicarikan penggantinya melalui, misalnya, WEF 2011. Kutipan berikut saya kira representatif, “Without state intervention, there would have been a total colapse. It’s not a question of liberalism, of government control, of socialism, of left or right; it's a reality. After the events of a year ago, to not reach the conclusion that we must change our way would be quiet simply irresponsible.This crisis is not just a global crisis. It’s not just a crisis in globalization. This is a crisis of globalization.” — Nicholas Sarkozy (penekanan dari ybs.) Dengan memperhatikan proposal-proposal yang beredar di forum-forum WEF, saya menangkap suatu proposal pengganti tatanan global saat ini sebagai apa yang saya sebut sebagai ‘globalisasi yang terjejaring’ (networked-globalization). Mengapa terjejaring? Hal ini ditujukan supaya kendali dan kontrol atas globalisasi menjadi efisien. Membalik tesis Paul Virilio, integral effect bisa terjadi bukan hanya pada krisis (accident, dalam term Virilio)— yaitu karena terintegrasi, krisis satu akan menjalar ke lainnya, dan seterusnya sampai sistem itu sebagai kesatuan akan black-out; integral effect juga dapat terjadi pada pengendalian dan penguasaan krisis: pengendalian krisis yang di sini, berkat jaringan, akan berdampak pada penguasaan krisis di sana, dan sebaliknya, dan seterusnya. 24 Semua ini bisa terjadi berkat suatu korelat yang bernama ‘informasi’, dan terima kasih dihaturkan pada revolusi teknologi komunikasi dan informasi, informasi pengendalian dan penguasaan krisis ini bisa tersebar luas secara real time. Koordinasi penguasaan akhirnya menjadi semakin sinergis dan solid. Dengan kata lain, melalui globalisasi yang terjajaring ini, adalah kapasitas dan reputasi negara sebagai regulator, administrator, “the one in charge” … singkatnya sebagai sang berdaulat, yang direstorasi dan dikuatkan. Bisa dilihat dari kutipan-kutipan para pembesar Eropa berikut, “There is no solution in anti-capitalism. There is no alternative system to market economy. But we could only save capitalism and market economy by reengineering it, there I say this words, by restoring its moral dimension, giving it a conscience to it.” — Nicholas Sarkozy, Presiden Perancis (penekanan dari saya)
Untuk konsep integral accident sebagai akibat integralisasi dan otomasi sistemik, lihat Paul Virilio, Information Bomb, terj. Chris Turner (London: Verso, 2005), hal. 132-4.
24

10

“We have an enormous job yet to be done. … The main question is: ‘can we actually prevent the crisis from happening again, and can we ensure sustainable growth for the world as we know it?’ … We need to do more, we need to regulate more.. Every financial center, every financial player has to be made subordinate to supervision. So far we have not yet trully coordinated the national response to the question of what happen if a systemicly important institution, or a systemically important bank collapses ... so [it is] how can we prevent that from happening again.” —Angela Merkel, Kanselir Jerman (penekanan dari saya) “I want to make the case for optimism, for confidence in our future. We can overcome these problems, but we do need a change of direction. We have been our own worst enemy, but the power is within us to change. ... It is going to be tough, but we must see it through. The task is immense, but we need to be bold to build the economy of the future. ... Above all, what we urgently need in Europe is an aggressive, pancontinental drive to unleash enterprise.” —David Cameron, Perdana Menteri Inggris (penekanan dari saya) Tatanan selalu butuh justifikasi, atau yang disebut Foucault sebagai rasionalitas politik (political rationality): justifikasi moral, jejaring ekspertis dan aparatus. Oleh beberapa pemikir yang disebut-sebut pos-workerist marxist Italia, ditambahkan variabel precarity (kekhawatiran), yang akan menakut-nakuti orang untuk patuh dan tunduk pada penataan ini.25 Menanamkan percarity ini bisa dilihat sebagai penanaman ontologi krisis. Setelah precarity ini ditanamkan, monopoli solusi harus segera dilakukan. Hal ini yang berikutnya akan menjadi justifikasi moral dan mental bagi tatanan yang terbentuk. Inilah yang ingin dilakukan Sarkozy, misalnya. “[t]he globalization we have dreamt of …how can we move toward globalization in which the development of each will assist the development of others. How can we build a more cooperative, less conflictual form of globalization—because it is too conflictual right now. Let me be clear, let us be clear about this, I want you to understand me: we are not asking ourself what we will replace the capitalism with; but what kind of capitalism we want. The crisis we are experiencing is not a crisis of capitalism. It is a crisis as the result of eschewing capitalism. Capitalism has always been inseparable from the system of values, the conception of civilization, and the idea of the humankind. Financial capitalism is a distortion.” — Nicholas Sarkozy, Presiden Perancis (penekanan dari saya) Penutup Akhirnya, sekedar meringkas, ada beberapa poin yang ingin saya tekankan kembali. Pertama, miopia dalam memandang WEF sebagai semata-mata restorasi kelas dominan justru kontra-produktif bagi perjuangan perlawanan terhadap kelas dominan itu sendiri. Pertamatama karena ia hanya memahami satu bagian saja dari keseluruhan simptom WEF 2011 ini
Misal, Maurizio Lazzarato, “The Political Form of Coordination,” transversal, 2004 (diakses 23 Desember 2007): http://eipcp.net/transversal/0707/lazzarato/en; lainnya, Enda Brophy, “System Error: Labour Precarity and Collective Organizing at Microsoft,” Canadian Journal of Communication, 31, 3, 2006.
25

11

seraya melupakan bagian lainnya yaitu bahwa ia juga merupakan restorasi bahkan peneguhan logika kedaulatan negara. Dan kedua, karena ia sama sekali luput melihat problem restorasi— baik kelas dominan maupun kedaulatan negara—ini sebagai permasalahan penataan-ulang global. Padahal, justru penataan inilah yang menjustifikasi secara moral, saintifik dan bahkan libidinal (dalam hal ia mampu menjawab kegelisahan kontemporer) bagi tidak hanya restorasi, melainkan juga bagi “kenormalan” keberadaan ahistoris keduanya. Poin kedua, dalam memahami tatanan global, adalah esensialisme yang menjadi biang kegagalan untuk memahami evolusinya. Melihat tatanan semata-mata dari ideologi atau agenda-agenda retorik semata beresiko membuat kita tersandung dalam memahami faktorfaktor yang membuat mode penataan global periode tertentu berbeda dengan periode lainnya. Sifat tatanan, terutama dalam hal ini tatanan global, adalah anti-esensialis. Gagasan universal apapun, retorika apapun, justifikasi apapun, negara manapun, bahkan ideologi manapun dapat dimanfaatkannya sebagai kendaraan untuk melestarikan apa yang saya sebut di awal sebagai kegilaan neurotik yang melandasi setiap tatanan. Kegilaan neurotik tersebut tak lain adalah kegelisahan eksistensial, yaitu hasrat akan kelangsungan ontologis eksistensial dari (si)apapun yang disubordinasi oleh tatanan tersebut, termasuk saya dan anda. Hanya dengan mengintervensi proses kristalisasi dan kanalisasi kegelisahan ini ke arah suatu gestur penataan yang difantasikan, maka proyek perlawanan dapat dilakukan, yaitu dengan cara memanfaatkan dan membalikkan krisis inheren dari tatanan tersebut—yang notabene menjadi biang kegelisahan abadi segala tatanan—untuk mengakhiri gestur penataan-global tersebut sekali dan selamanya. Saya kira ini yang penting untuk segera diperdebatkan “bagaimana?”nya. Salam.

Kritik dan konfrontasi: yosieprodigy@live.com

12

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.