KESEHATAN, KESEJAHTERAAN SOSIAL, DAN PERANAN WANITA

BAB XVIII KESEHATAN, KESEJAHTERAAN SOSIAL, DAN PERANAN WANITA

A. PENDAHULUAN
Pembangunan nasional adalah pembangunan manusia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat I n d o n e s i a . Pembangunan dalam Repelita V ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup, kecerdasan dan kesejahteraan seluruh rakyat yang makin merata dan adil. Sejalan dengan prioritas pembangunan pada bidang ekonomi, maka pembangunan sosial budaya dan lain-lain makin ditingkatkan secara s e p a d a n . Dalam kaitan tersebut pengembangan sumber daya manusia perlu diselenggarakan secara menyeluruh, terarah dan terpadu di berbagai bidang. Pembangunan kesehatan, kesejahteraan sosial dan peranan wanita merupakan bagian terpadu dari pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1988 mengamanatkan bahwa pembangunan di bidang kesehatan dalam Repelita V ditingkatkan untuk mewujudkan perbaikan kualitas manusia dan

XVIII/3

kualitas kehidupan masyarakat dengan mempertinggi derajat kesehatan termasuk keadaan gizi masyarakat. Dalam pembangunan kesejahteraan sosial, GBHN 1988 mengamanatkan agar dalam Repelita V jangkauan pelayanan kesejahteraan sosial ditingkatkan sehingga kesadaran, tanggung jawab serta kemampuan setiap warga negara untuk ikut berperan serta aktif dalam pembangunan terns meningkat. Pelayanan kesejahteraan sosial terutama ditujukan untuk anggota masyarakat yang kurang beruntung agar dapat hidup layak sesuai dengan harkat dan martabatnya, mandiri dan produktif sehingga dapat ikut berperan serta dalam pembangunan. Peranan wanita dalam pembangunan telah mendapat penekanan yang besar dalam Pembangunan Jangka Panjang Pertama (PJP I). GBHN 1988 mengarahkan bahwa dalam melaksanakan pembangunan, wanita merupakan mitra sejajar yang mempunyai hak kewajiban dan kesempatan yang sama dengan kaum pria, serta mempunyai peranan sangat penting dalam pembinaan keluarga karena secara langsung akan mempengaruhi kualitas generasi muda dan kesejahteraan keluarga. Kebijaksanaan dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun Kelima (Repelita V), untuk pembangunan kesehatan, kesejahteraan sosial dan peranan wanita adalah sebagai berikut. Pembangunan kesehatan dikembangkan melalui berbagai kebijaksanaan yang meliputi: peningkatan mutu dan pemerataan kesehatan; peningkatan efisiensi pemanfaatan dana, tenaga dan sarana; peningkatan berbagai upaya kesehatan dengan perhatian khusus untuk menekan angka kematian bayi, anak dan ibu; peningkatan kesehatan lingkungan untuk memasyarakatkan sikap dan perilaku hidup bersih; peningkatan status gizi masyarakat; peningkatan penyediaan obat dan alat kesehatan; penurunan tingkat kesuburan; peningkatan pengadaan dan pengelolaan tenaga kesehatan serta peningkatan kesegaran jasmani terutama pada kelompok usia kerja. XVIII/4

Pembangunan kesejahteraan sosial diutamakan pada kegiatan yang bersifat perbaikan, peningkatan dan perluasan pelayanan dan rehabilitasi sosial bagi fakir miskin, penyandang cacat, lanjut usia yang tidak mampu, anak terlantar, anak nakal dan korban narkotika, gelandangan pengemis, wanita tuna susila dan korban bencana alam. Kegiatan-kegiatan tersebut dilaksanakan dengan melibatkan sebanyak mungkin organisasi-organisasi sosial dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat, termasuk lembaga-lembaga keagamaan yang melaksanakan usaha-usaha kesejahteraan sosial. Dengan keterlibatan lembaga-lembaga tersebut jangkauan dan mutu pelayanan sosial dapat makin ditingkatkan. Pembangunan peranan wanita diarahkan kepada peningkatan kedudukan wanita dalam masyarakat dan peranannya dalam pembangunan sesuai dengan kodrat, harkat, dan martabatnya sebagai wanita; peningkatan peran aktif wanita tidak saja sebagai sasaran tetapi juga sebagai pelaku kegiatan dan penikmat basil pembangunan; peningkatan pengetahuan dan keterampilan wanita; peningkatan kesejahteraan keluarga atas dasar peran serta aktif masyarakat dalam kegiatan pembangunan; dan peningkatan peranan dan tanggung jawab wanita dalam pembangunan. Pembangunan kesehatan telah memperluas cakupan dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang selanjutnya berdampak terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Pada akhir Repelita V di semua kecamatan telah berfungsi 6.954 puskesmas, 19.977 puskesmas pembantu, dan 6.024 puskesmas keliling. Selanjutnya pada akhir PJP I rumah sakit umum telah berjumlah 830 buah dengan 97.197 tempat tidur, dan rumah sakit khusus dan swasta berjumlah 843 buah dengan 28.784 tempat tidur. Dalam Repelita V kegiatan pencegahan dan pemberantasan penyakit telah ditingkatkan sehingga terjadi percepatan penurunan angka kesakitan dan kematian. Hal ini tercermin antara lain dari penurunan angka kematian penyakit demam berdarah yang pada XVIII/5

awal Repelita I masih di atas 40 persen turun menjadi 2,40 persen dan penyakit malaria dari 1,3 persen turun menjadi sekitar 0,1 persen untuk daerah Jawa Bali pada 'akhir Repelita V. Demikian juga terjadi penurunan angka kesakitan dan kematian penyakit diare, tuberkulosa paru, kusta, kaki gajah (filariasis) dan frambusia secara bermakna. Cakupan imunisasi lengkap secara nasional telah mencapai 91,1 persen, berarti telah melewati sasaran Universal Child Immunization (UCI) yang ditetapkan oleh KTT anak sedunia (World Summit for Children) pada tahun 2000 yaitu sebesar 80 persen. Selanjutnya untuk mendukung pelayanan kesehatan dasar terutama kegiatan pelayanan kesehatan ibu dan anak melalui puskesmas, selama Repelita V telah ditempatkan dokter sebagai pegawai tidak tetap (dokter PTT) dan bidan di desa, masing masing sebanyak 4.952 orang dokter dan 19.712 orang bidan. Jumlah dokter meningkat dari 4,3 dokter untuk melayani 100.000 penduduk pada tahun 1968 menjadi 16,9 dokter untuk 100.000 penduduk pada tahun 1993/94. Dampak dari peningkatan dan perluasan cakupan dan mutu pelayanan kesehatan tercermin dari perbaikan berbagai indikator kesehatan masyarakat. Angka kematian bayi turun dari 145 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 1967, menjadi .58 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 1993, sedangkan angka kematian ibu turun dari 450 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1986 menjadi 425 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1992. Selain itu angka prevalensi kurang energi dan protein (KEP) sedang dan berat pada anak balita turun dari 18,9 persen pada tahun 1978 menjadi 11,8 persen pada tahun 1992 dan prevalensi kurang vitamin A turun dari 1,3 persen pada awal Repelita I menjadi 0,35 persen pada akhir PJP I. Sejalan dengan itu angka harapan hidup waktu lahir meningkat dari 45,7 tahun pada tahun 1967 menjadi 62,7 tahun pada tahun 1993.

XVIII/6

Sementara itu pembangunan kesejahteraan sosial telah meningkatkan kemampuan pelayanan yang dilakukan melalui pembangunan, rehabilitasi dan penyempurnaan panti-panti sosial baik milik pemerintah maupun masyarakat serta meningkatkan mutu pelayanan dan rehabilitasi sosial. Selama Repelita V telah diberikan penyantunan bagi 452.015 anak terlantar, 116.979 lanjut usia yang tidak mampu, 113.735 penyandang cacat, pelayanan sosial dan bantuan modal usaha bagi 76.841 kepala keluarga miskin serta pembinaan bagi 5.286 kepala keluarga masyarakat terasing. Selanjutnya dalam rangka meningkatkan peran serta masyarakat dalam pelayanan sosial telah ditingkatkan pengetahuan dan keterampilan 59.640 orang PSM, diberikan bantuan paket sarana usaha bagi 2.985 Karang Taruna dan diberikan bantuan sarana pelayanan bagi 2.977 organisasi sosial (orsos) yang memiliki panti serta diberikan pelatihan manajemen dan profesi pekerjaan sosial bagi 6.000 dan 3.180 pengurus orsos. Dengan demikian selama PJP I pembangunan bidang kesejahteraan sosial telah berhasil meningkatkan taraf kesejahteraan sosial masyarakat yang kurang beruntung terutama penyandang cacat, anak terlantar, lanjut usia yang tidak mampu, dan masyarakat terasing dan meningkatkan peran serta masyarakat dalam pelayanan sosial yang tercermin dari meningkatnya kesadaran, kesetiakawanan dan tanggung jawab sosial masyarakat. Dalam PJP I peranan wanita dalam berbagai kehidupan dan pembangunan telah meningkat pesat. Hal ini terlihat dari data mengenai peranan wanita di bidang pendidikan, kesehatan dan tenaga kerja. Di bidang pendidikan jumlah penduduk wanita yang mampu membaca dan menulis huruf latin dalam tahun 1990 tercatat 76,7 persen, meningkat dari 61,1 persen pada tahun 1980. Jumlah wanita yang memperoleh pendidikan formal tercatat 78,2 persen dalam tahun 1990 atau meningkat 37,8 persen dibanding keadaan pada tahun 1980 yaitu sebesar 40,4 persen. Demikian pula angka partisipasi sekolah dasar murid perempuan sudah hampir seimbang dengan murid laki-laki. XVIII/7

Di bidang kesehatan kemajuan yang dicapai antara lain tercermin pada peningkatan angka harapan hidup wanita yang pada tahun 1993 telah mencapai 64,4 tahun, atau meningkat 10,4 tahun dari keadaan tahun 1976. Peranan wanita dalam meningkatkan derajat kesehatan dan keadaan gizi ibu dan anak juga cukup meningkat, antara lain melalui peningkatan penggunaan air susu ibu (PP-ASI) dan pembinaan pertumbuhan dan perkembangan anak melalui kegiatan bind keluarga balita (BKB). Peningkatan peranan wanita di bidang ketenagakerjaan ditunjukkan oleh tingkat partisipasi tenaga kerja (TPAK) yang telah mencapai 40,8 persen pada akhir Repelita V, atau meningkat sekitar 8 persen dibandingkan dengan kondisi dalam tahun 1980. Peningkatan peranan wanita dalam pembangunan, terutama di perdesaan yang amat menonjol dalam PJP I adalah ber kembangnya gerakan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), yang makin efektif peranannya dalam kehidupan masyarakat di perdesaan termasuk dalam pengentasan kemiskinan. Dewasa ini gerakan PKK telah menjangkau hampir semua desa di Indonesia. Secara keseluruhan pembangunan selama PJP I telah berhasil meningkatkan kemampuan dan memperluas kesempatan bagi para wanita untuk lebih berperan dalam pembangunan sesuai kodrat, bakat, kemampuan, dan perhatiannya, dan mengurangi kesenjangan antara pria dan wanita di berbagai segi kehidupan masyarakat. B. KESEHATAN Sesuai dengan arahan GBHN 1988, pembangunan kesehatan dalam Repelita V dilaksanakan melalui berbagai program: (1) upaya pelayanan kesehatan masyarakat; (2) upaya kesehatan rujukan; (3) pemberantasan penyakit menular; (4) perbaikan gizi;

XVIII/8

(5) penyediaan air bersih; (6) penyehatan lingkungan permukiman; (7) penyuluhan kesehatan masyarakat; (8) pengendalian, pengadaan dan pengawasan obat makanan dan sebagainya; dan (9) pendidikan, latihan dan pendayagunaan tenaga kesehatan. Program-program di atas didukung oleh program penyempurnaan efisiensi aparatur kesehatan dan pengawasan, penyempurnaan prasarana fisik kesehatan; pembinaan generasi muda dalam pembangunan kesehatan dan peningkatan peranan wanita dalam pembangunan kesehatan. 1. Program Upaya Pelayanan Kesehatan Masyarakat Program ini bertujuan meningkatkan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat sehingga tercapai tingkat kesehatan yang optimal dengan melakukan pencegahan penyakit dan memberikan pelayanan kesehatan dasar. Kegiatan pokok program ini meliputi peningkatan lembaga pelayanan kesehatan, peningkatan pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA), pemeliharaan kesehatan usia sekolah, pelayanan kesehatan gigi dan mulut, pelayanan kesehatan jiwa dan pelayanan laboratorium kesehatan. Berbagai kegiatan program ini dilaksanakan melalui pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) dan jaringannya yaitu puskesmas perawatan, puskesmas keliling dan puskesmas pembantu. Pelaksana kegiatan adalah tenaga medis dan paramedis termasuk bidan. Untuk mendukung berbagai kegiatan tersebut, partisipasi masyarakat dibina dan dikembangkan melalui pos pelayanan terpadu (posyandu). a. Peningkatan Lembaga Pelayanan Kesehatan Kegiatan ini bertujuan untuk mendekatkan, meratakan dan meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan masyarakat dengan mengembangkan dan memantapkan jaringan upaya kesehatan sampai tingkat keluarga.

XVIII/9

Pada tahun 1993/94 telah dibangun 140 puskesmas dan 1.387 puskesmas pembantu (Tabel XVIII-1A). Selanjutnya selama Repelita V telah dibangun 775 puskesmas, dan 7.205 puskesmas pembantu. Dengan demikian pada akhir PJP I telah berfungsi sebanyak 6.954 puskesmas dan 19.977 puskesmas pembantu dan setiap puskesmas rata-rata telah didukung oleh 3 puskesmas pembantu (Tabel XVIII-1B). Bila dibandingkan dengan sasaran yang harus dicapai pada akhir Repelita V yaitu masing-masing 6.196 puskesmas dan 20.062 puskesmas pembantu, maka tingkat realisasi pencapaian sasaran sebesar 112,6 persen dan 99,6 persen. Bagi puskesmas dan puskesmas pembantu yang mengalami kerusakan ringan maupun berat, telah dilaksanakan perbaikan yang dalam tahun 1993/94 jumlahnya masing-masing 1.575 dan 2.900 gedung (Tabel XVIII-1A). Sampai dengan akhir Repelita V jumlah puskesmas dan puskesmas pembantu yang diperbaiki masing-masing berjumlah 14.613 dan 18.539 gedung (Tabel XVIII-1B). Selain itu, selama tahun 1993/94 telah dibangun 300 rumah dokter dan 250 rumah dokter gigi, sehingga sampai dengan tahun 1993/94 jumlahnya masing-masing menjadi 5.200 rumah dokter dan 450 rumah dokter gigi (Tabel XVIII-1B). Untuk meningkatkan mobilitas puskesmas melayani masyarakat yang berada di wilayah kerjanya, telah dilaksanakan pengadaan puskesmas keliling sebanyak 720 unit, sehingga jumlahnya sampai dengan tahun 1993/94 menjadi 6.024 unit. Bagi daerah-daerah yang sukar dijangkau oleh sarana transportasi dilaksanakan puskesmas keliling jalan kaki yang pada tahun 1993/94 telah mencakup 308 desa, meningkat dari 170 desa pada tahun 1992/93 atau peningkatan lebih dari dua kali lipat (Tabel XVIII-1B). Melalui pelaksanaan kegiatan puskesmas keliling jalan kaki, tenaga kesehatan dari puskesmas akan berjalan berhari-hari, pindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya untuk memberikan pelayanan kesehatan terhadap penduduk yang bertempat tinggal di daerah yang sukar dijangkau kendaraan.

XVIII/10

TABEL XVIII — IA PERKEMBANGAN PELAKSANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS, 1973/74, 1988/89, 1989/90 — 1993/94

1) 2)

Angka kumulatif 5 tahunan untuk kolom yang bertuliskan Akhir Repelita 1, yang lain adalah angka tahunan Angka diperbaiki

TABEL XVIII – 1 B PERKEMBANGAN JUMLAH PUSKESMAS, 1968,1988/89,1989/90 — 1993/94

1) 2)

Angka kumulatif sejak awal Repelita I Angka diperbaiki

XVIII/11

Melalui peningkatan berbagai upaya itu telah berhasil di tingkatkan pelayanan kesehatan dasar antara lain pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA), penyuluhan kesehatan masyarakat, usaha kesehatan sekolah (UKS),. gigi dan mulut, kesehatan jiwa dan laboratorium kesehatan secara bermakna. b. Peningkatan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Salah satu kegiatan pelayanan kesehatan dasar yang berperan penting dalam upaya penurunan angka kematian, bayi, anak di bawah umur lima tahun (balita) dan ibu melahirkan adalah pelayanan KIA. Kegiatannya antara lain meliputi pencegahan penyakit, perawatan, pemulihan dan peningkatan kesehatan ibu dan anak. Pelaksana kegiatan adalah tenaga paramedis, khususnya bidan, yang penempatannya,tersebar di desa-desa. Dalam tahun 1993/94, telah selesai dididik dan siap ditempatkan sekitar 10.319 bidan, sedangkan penempatan bidan sejak tahun 1989/90 sampai dengan tahun 1992/93 berjumlah 19.712 orang. Peningkatan yang mencolok dari jumlah bidan yang ditempatkan di desa-desa selama Repelita V disebabkan oleh adanya kebijaksanaan untuk mempercepat penurunan angka kematian bayi dan angka kematian ibu melahirkan. Dibandingkan dengan sasaran yang hams dicapai pada akhir Repelita V yaitu menempatkan 18.000 bidan di tingkat desa, maka sasaran tersebut telah dilampaui. Walaupun demikian jika dibandingkan antara jumlah desa yang membutuhkan yaitu sekitar 58.000 desa dengan jumlah bidan yang telah ditempatkan, masih terdapat perbedaan yang cukup besar. Untuk itu peranan dukun bayi sebagai mitra kerja terus dibina dan kemampuan mereka terus ditingkatkan. Pada tahun 1993/94 telah dilatih sebanyak 1.105 dukun bayi, sedangkan pembinaan dukun bayi dilaksanakan terhadap 15.339 orang.

XVIII/12

Sejalan dengan penambahan tenaga tersebut, maka pelayanan kegiatan KIA semakin meningkat. Cakupan imunisasi lengkap bayi pada tahun 1993/94 adalah sebesar 91,1 persen, meningkat dari tahun 1992/93 yaitu 89,9 persen. Selanjutnya pertolongan persalinan oleh tenaga terlatih meningkat menjadi 70 persen dari 65 persen, sesuai dengan sasaran yang harus dicapai pada akhir Repelita V. Selain itu cakupan kunjungan anak balita juga meningkat menjadi 75 persen dari 70 persen. Kegiatan-kegiatan tersebut telah memberikan dampak yang sangat berarti dalam mempercepat penurunan angka kematian bayi dan anak. c. Pemeliharahn Kesehatan Usia Sekolah Kegiatan ini dilaksanakan melalui usaha kesehatan sekolah (UKS) dengan sasaran anak sekolah mulai dari sekolah dasar (SD) sampai dengan sekolah menengah lanjutan tingkat atas (SLTA) termasuk sekolah-sekolah agama. Tujuannya adalah untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan anak sekolah, melalui kegiatan penyuluhan, pemeriksaan kesehatan, bimbingan kepada guru, pemeliharaan kebersihan lingkungan dan upaya perbaikan gizi. Pada tahun 1993/94 kegiatan UKS telah dilaksanakan di 24.218 sekolah, sama halnya seperti cakupan tahun sebelumnya. Dengan dilaksanakannya pemeriksaan kesehatan secara berkala terhadap anak sekolah, dapat diketahui secara dini kemungkinan adanya kelainan fisik dan rohani. Bagi anak yang menderita kelainan atau anak luar biasa, akan diberikan pelayanan kesehatan lanjutan di puskesmas atau dirujuk ke rumah sakit (RS). Pada tahun 1993/94, pelayanan kesehatan bagi anak luar biasa dilaksanakan di 567 puskesmas, meningkat dari 150 puskesmas pada tahun 1992/93 atau peningkatan hampir empat kali lipat. Selanjutnya untuk anak sekolah di desa tertinggal, secara selektif diberikan makanan tambahan untuk memperbaiki keadaan gizinya.

XVIII/13

d.

Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut

Dalam rangka meningkatkan dan meratakan kegiatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut, secara bertahap jumlah dokter gigi ditambah setiap tahunnya sehingga selama Repelita V telah ditempatkan 2.087 orang dokter gigi baik di puskesmas maupun di rumah sakit. Pada tahun 1993/94, jumlah dokter gigi yang ditempatkan' 336 orang sedangkan pada tahun 1992/93 telah ditempatkan 520 orang. Penurunan ini disebabkan terbatasnya jumlah formasi yang tersedia pada 1993/94, serta dimulainya rencana pengangkatan dokter gigi melalui hubungan kerja sebagai pegawai tidak tetap. Pada tahun 1993/94 cakupan pelayanan kesehatan gigi sekolah meliputi 113.780 SD, sama halnya dengan tahun 1992/93 tetapi dengan mutu pelayanannya malcin ditingkatkan antara lain melalui penambahan peralatan gigi. Pada tahun 1993/94, disediakan 2.088 set peralatan gigi untuk puskesmas melengkapi penyediaan pada tahun 1992/93 yaitu sebanyak 2.238 set. Dengan penambahan tersebut kebutuhan peralatan sebagian besar dokter gigi dan perawat gigi telah terpenuhi. Upaya peningkatan kesehatan gigi dan mulut bagi masyarakat desa antara lain ditempuh melalui kegiatan usaha kesehatan gigi masyarakat desa (UKGMD). Salah satu kegiatannya adalah pelatihan kader UKGMD. yang pada tahun 1993/94 dilaksanakan di 6.336 desa. Untuk menunjang pelayanan kegiatan ini maka pembangunan perumahan bagi dokter gigi terus ditingkatkan. Pada tahun 1993/94 telah dibangun 250 unit perumahan bagi dokter gigi, meningkat jika dibandingkan dengan tahun 1992/93 yaitu 200 unit. e. Pelayanan Kesehatan Jiwa

Kegiatan pelayanan kesehatan jiwa, sudah dikembangkan menjadi kegiatan yang diintegrasikan antara kegiatan di Rumah Sakit Jiwa dengan kegiatan pelayanan di puskesmas dan rumah sakit umum. Tujuannya agar puskesmas dan rumah sakit umum XVIII/14

mampu menangani masalah kesehatan jiwa di lingkungan masyarakat melalui bimbingan dan pembinaan dari rumah sakit jiwa. Pada tahun 1993/94 kegiatan tersebut sudah dilaksanakan di 146 puskesmas dan 69 rumah sakit umum, sedangkan untuk tahun 1992/93 dilaksanakan di 145 puskesmas dan 94 rumah sakit, di 20 propinsi. Kegiatan lain dari pelayanan kesehatan jiwa bagi masyarakat adalah penjaringan gelandangan yang berpenyakit jiwa (psikotik). Kegiatan ini dilaksanakan secara terpadu oleh berbagai instansi dan pada tahun 1993/94 telah dilaksanakan di 18 propinsi. Selanjutnya dalam pelayanan kesehatan jiwa dilaksanakan penyuluhan kesehatan yang ditujukan kepada masyarakat umum terutama keluarga penderita mengenai cara-cara mencegah dan mengatasi gangguan kejiwaan. Kegiatan penyuluhan ini pada tahun 1993/94 dilaksanakan sebanyak 4.648 kali, sedangkan tahun 1992/93 tercatat sebanyak 2.280 kali, atau meningkat lebih dari dua kali lipat. Selain itu sebagai upaya untuk terus memantau perkembangan kesehatan jiwa penderita setelah keluar dari rumah sakit jiwa, diadakan kunjungan kepada para bekas penderita penyakit jiwa, yang pada tahun 1993/94 dilaksanakan terhadap 4.649 bekas pasien penyakit jiwa. f. Laboratorium Kesehatan Pelayanan laboratorium kesehatan dilaksanakan untuk mendukung pelayanan kesehatan baik di rumah sakit maupun puskesmas. Untuk mendukung kegiatan pelayanan laboratorium pada tahun 1993/94 dilaksanakan rehabilitasi sarana di 15 balai laboratorium kesehatan (BLK), dan pengadaan alat-alat laboratorium sebanyak 161 unit. Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas dilaksanakan pendidikan dan pelatihan teknis bagi tenaga laboratorium terdiri dari 87 orang dari BLK, XVIII/15

160 orang dari Rumah Sakit dan 1.040 orang dari Puskesmas. Pelatihan tenaga laboratorium di tingkat puskesmas mendapat perhatian penting, sehingga jumlahnya meningkat hampir dua kali lipat jika dibandingkan dengan hasil yang dicapai tahun 1992/93 yaitu 585 orang. Pemeriksaan dan pengambilan spesimen di lapangan tahun 1993/94 meliputi 161 lokasi dengan jumlah spesimen sebanyak 3.220 buah. Kemampuan pemeriksaan laboratorium terus ditingkatkan, antara lain ditunjukkan oleh kemampuan pemeriksaan virus HIV/AIDS pada tahun 1993/94 yang telah dapat dilaksanakan di 27 BLK, 39 rumah sakit umum dan 149 laboratorium PMI. Pemeriksaan awal virus HIV/AIDS ini didukung oleh laboratorium rujukan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta. Dalam rangka meningkatkan kemampuan pelayanan laboratorium di rumah sakit pada tahun 1993/94 telah dilaksanakan bimbingan teknis terhadap 304 laboratorium RSU. Pelayanan laboratorium kesehatan di klinik swasta juga berkembang sehingga jumlahnya pada tahun 1993/94 menjadi 507 laboratorium. Dengan bertambahnya jumlah laboratorium, didukung dengan peralatan yang memadai dan tenaga terlatih, maka kemampuan dan kualitas pemeriksaan laboratorium meningkat. Dengan demikian selama Repelita V terjadi peningkatan jumlah laboratorium yang mampu melakukan pemeriksaan virus HIV/AIDS yaitu sebanyak 19 buah BLK, 36 buah laboratorium RS dan 147 buah laboratorium PMI. 2. Program Upaya Kesehatan Rujukan Program upaya kesehatan rujukan bertujuan untuk memantapkan sistem pelayanan rujukan antara puskesmas dan rumah sakit serta meningkatkan mutu dan fungsi pelayanan yang dilakukan oleh semua kelas rumah sakit, dimulai dari kelas D, C, B dan A. Kegiatan peningkatan pelayanan rujukan meliputi : penambahan dan pemerataan persebaran tenaga dokter ahli, XVIII/16

penggantian dan pengadaan peralatan medis berdasarkan standar pelayanan di masing-masing unit pelayanan rujukan, bantuan obatobatan, peningkatan biaya operasional dan pemeliharaan rumah sakit, dan peningkatan keterampilan petugas di berbagai bidang pelayanan di semua unit pelayanan rujukan. Dalam rangka peningkatan penampilan fisik rumah sakit dan mutu pelayanan, sejak tahun 1990/91 diberikan biaya untuk kegiatan operasional dan pemeliharaan untuk seluruh rumah sakit pemerintah, baik pusat maupun daerah. Pada tahun 1993/94, secara kumulatif jumlah rumah sakit seluruhnya tercatat 1.673 buah dengan 125.981 tempat tidur yang terdiri dari 830 rumah sakit umum (RSU) dengan 97.197 tempat tidur dan 843 rumah sakit khusus (RSK) dengan 28.784 tempat tidur. Jika dibandingkan dengan tahun 1992/93 terdapat pertambahan 29 rumah sakit dengan 2.540 tempat tidur (Tabel XVIII-2). Pelayanan rumah sakit terutama di rumah sakit kelas C dan D ditingkatkan melalui peningkatan jenis dan mutu pelayanannya. Selama tahun 1993/94 telah ditempatkan 434 orang dokter ahli dari empat keahlian dasar yaitu ahli bedah, ahli anak, ahli penyakit dalam dan ahli kebidanan-kandungan di berbagai rumah sakit kelas C dan D atau peningkatan hampir dua kali lipat jika dibandingkan dengan tahun 1992/93. Selain itu telah dilaksanakan pula pengadaan alat bagi empat keahlian dasar sebanyak 117 paket; sedangkan peralatan untuk tiga keahlian penunjang (ahli anestesi, ahli radiologi, ahli laboratorium) sebanyak 151 paket dan peralatan untuk dokter spesialis lainnya sebanyak 523 paket. Jika dibandingkan dengan tahun 1992/93, pengadaan peralatan tahun 1993/94 naik dua kali lipat. Upaya peningkatan kemampuan pelayanan di rumah sakit mencakup pula pengadaan peralatan yang pada tahun 1993/94 berupa 1.124 unit peralatan medik dan 769 unit peralatan nonmedik, dan pengadaan 66 unit kendaraan/ ambulans.

XVIII/17

TABEL XVIII – 2 PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT (RS) DAN TEMPAT TIDUR (TT) 1) 1968, 1988/89, 1989/90 – 1993/94

1) Angka kumulatif sejak awal Repelita I
2) Angka diperbaiki

3) Terdiri dari 550 Rumah Sakit Umum dan 240 Rumah Bersalin, mulai awal Repelita I jumlah Rumah Bersalin tidak dimasukkanlagi dalam penghitungan Rumah Sakit
Umum

XVIII/18

Selain itu diberikan pula bantuan peralatan dan obat-obatan kepada RSU Pemerintah kelas C dan D sebanyak 157 RSU, dan terhadap RS swasta sebanyak 19 RS. Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas, telah dilaksanakan berbagai pelatihan yang pada tahun 1993/94 diikuti oleh 2.438 orang. Dalam rangka persiapan pembangunan dan perluasan rumah sakit di masa datang telah disusun 11 rencana induk rumah sakit dan 3 studi kelayakan. Di samping itu untuk mewujudkan kesehatan lingkungan di rumah sakit telah dilakukan program analisa mengenai dampak lingkungan (AMDAL) di 81 rumah sakit. Dengan dilaksanakannya berbagai kegiatan tersebut di atas maka selama Repelita V telah dibangun 83 buah rumah sakit umum (RSU) dengan 6.916 buah tempat tidur dan 92 rumah sakit khusus dan swasta dengan 2.218 tempat tidur. Selanjutnya dalam kurun waktu PJP I, telah dibangun 280 buah rumah sakit umum dengan 36.034 buah tempat tidur dan 516 buah rumah sakit khusus dan swasta dengan 7.001 buah tempat tidur. Dengan demikian sampai pada akhir PJP I, secara keseluruhan jumlah rumah sakit umum menjadi 830 buah dengan 97.197 tempat tidur sedangkan rumah sakit khusus dan swasta menjadi 843 buah dengan 28.784 tempat tidur. 3. Program Pemberantasan Penyakit Menular Tujuan program ini adalah untuk meningkatkan upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit terutama yang mempunyai ciri-ciri seperti penyakit dengan angka kesakitan dan atau angka kematian yang tinggi, dapat menimbulkan wabah dan menyerang bayi, anak dan golongan usia produktif. Kegiatan dari program ini dilaksanakan secara terpadu melalui pelayanan kesehatan di Puskesmas dan rujukan kesehatan, bekerja sama dengan sektor terkait serta melibatkan peran serta masyarakat. XVIII/19

a. Penyakit Malaria Kegiatan pemberantasan penyakit malaria dititikberatkan pada pemberantasan vektor melalui penyemprotan rumah dan lingkungannya. Di samping itu secara teratur juga dilakukan kegiatan pengumpulan dan pemeriksaan sediaan darah untuk menemukan penderita dan pengobatan penderita. Pemberantasan penyakit ini diprioritaskan pada daerah-daerah yang masih dianggap rawan, terutama daerah-daerah transmigrasi, permukiman baru di luar Pulau Jawa-Bali, dan daerah perbatasan. Untuk daerah rawan malaria di Jawa-Bali penyemprotan rumah dengan DDT diganti dengan insektisida alternatif yang mudah terurai yaitu Fenetrothion, Karbamat dan L-sihalothrin. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari dampak negatif penggunaan DDT terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Pada tahun 1993/94 telah dilaksanakan. pengumpulan dan pemeriksaan sediaan darah tersangka penderita sebanyak 5,8 juta sediaan, pengobatan terhadap tersangka malaria 5,8 juta orang, dan kegiatan penyemprotan yang mencakup sekitar 1,4 juta rumah (Tabel XVIII-3). Jumlah rumah yang disemprot menurun dari tahun 1992/93, karena selain dengan cara penyemprotan dalam pemberantasan nyamuk malaria ditingkatkan penggunaan metode pengendalian biologis. Dengan demikian selama Repelita V jumlah penderita malaria yang diobati sekitar 24,3 juta orang dan penyemprotan rumah sekitar 6,6 juta buah rumah.
Parasite Index). Pada tahun 1993/94 API di Jawa dan Bali tercatat

Angka kesakitan malaria diukur dengan satuan API (Annual

0,19 per 1.000 penduduk, lebih tinggi bila dibandingkan dengan API tahun 1992/93 sebesar 0,13 per 1.000 penduduk. Ini bukan berarti terjadi kenaikan angka kesakitan, tapi karena semakin meluasnya daerah yang dicakup dalam survai malaria.

XVIII/20

b. Penyakit Diare dan atau Kholera Penyakit ini penyebabnya berkaitan erat dengan keadaan lingkungan dan perilaku masyarakat yang kurang mendukung hidup sehat. Kegiatan utama dalam pemberantasan penyakit ini dititikberatkan pada usaha menggiatkan pencarian dan pengobatan penderita diare dan atau kholera sedini mungkin. Pada tahun 1993/94 melalui upaya pencarian dan pengobatan penderita ditemukan 14.800 orang tersangka kholera dan 4,1 juta orang penderita diare, menurun dari angka tahun 1992/93 masingmasing sebesar 41 ribu orang dan 6,2 juta orang. Selama Repe lita V, pencarian dan pengobatan penderita telah dilakukan terhadap sekitar 25,9 juta orang penderita diare dan terhadap sekitar 185,8 ribu penderita tersangka kholera (Tabel XVIII-3). Upaya pemberantasan penyakit diare dan atau kholera yang makin intensif ditunjang dengan pemanfaatan berbagai hasil kemajuan teknologi kesehatan dan penggunaan oralit yang semakin meluas, menyebabkan angka kematian akibat penyakit ini menurun secara bermakna. Penurunan angka kematian ini disebabkan antara lain karena semakin baiknya penatalaksanaan penanganan kasus dan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat dalam upaya pencegahan penyakit. Di samping itu dari basil kegiatan puskesmas panduan menunjukkan angka penggunaan oralit pada golongan umur balita sebesar 87 persen, sedangkan untuk seluruh golongan umur sebanyak 86 persen. Penggunaan infus di puskesmas untuk penderita diare untuk semua umur hanya 3 persen. Angka yang rendah ini menunjukkan tingkat kesadaran masyarakat untuk pencegahan diare antara lain dengan penggunaan oralit sudah baik, sehingga kebutuhan penggunaan infus menurun. Selanjutnya program pengembangan pemberantasan penyakit diare kecamatan (P4D) semakin luas jangkauannya. Bila pada tahun 1992/93 jumlah puskesmas yang tercakup dalam P4D Baru 5.400 puskesmas, pada tahun 1993/94 telah mencapai 5.985 puskesmas.

XVIII/21

TABEL XVIII - 3 PERKEMBANG AN USAHA PEMBERANTASAN DAN PENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR, 1973/74, 1958/89, 1989/90 – 1993/94 (ribuan)
No. Jenis Usaha Pemberantasan Penyakit Malaria - Pengumpulan dan Pemeriksaan Sediaan Darah - Pengobatan Penderita - Penyemprotan Rumah 2. Pemberantasan Penyakit Kholera/ Gastroenteritis Acuta - Mencari dan Mengobati Penderita - Tenangka Kholera Diare - Pengembangan Program Pemberantasan Penyakit Diare Kecamatan(P4D) Pemberantasan Arbovirosis - Aplikasi Abate - Fogging Pemberantasan Penyakit TB Paru - Pemerikuao Bakleriologi - Pengobatan Pemberantasan Filariasis - Survei Darah - Pengobatan M a s a l Imunisasi - Vakainui BCG - Vaksinasi T F T / I T - Vakainasi DPT - Revaksinaal Polio - Vakainasi DT - Campak Pengamatan Penyakit Menular - Sunni Epidemiologi - Survei K h u s u s Akhir 1) Akhir 1) Satuan Repelila IV (1973/ (1988189) 1989/90 74) sediaa n orang Rumah 32527, 0 32.641 8.629, 0 32.069,0 32.327,0 7.809,0 5278,0 5318,0 1.193,0 Repelita V 199/92

1990/9 1 4.348, 0 4.072, 1220, 0

199/9 3

1993/9 4 5.852 ,4 5.852 1.378 ,9

5.427,0 5226, 0 4.162,0 4390, 1.310,0 1.638, 0

orang Orang puskesma s rumah Rumah orang orang sediaa orang Bayi ibu Anak Anak Anak Anak KLB rumah sakit

127,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 28,0 76,0 0,0 38.303 ,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0

168,0 13.195,0 4,3 2.713,0 1.397,0 766,0 83,0 487,0 306,0 15.4120 19.135,0 14.065,0 11283,0 11.676,0 8.920,0 11,0 1,0

41,0 5.392,0 4,5 1.955,0 1.624,0 174,0 23,0 17,0 34,0 4.412,0 4290,0 3.891,0 3.991,0 3.063,0 3.541,0 1,8 0,2

59,0 5.181, 3,7 1.151, 1.127, 0 274,0 29,0 28,0 57,0 4.728, 0 4227, 4.407, 0 4.473, 2239, 4297, 0 1,5 -

30,0 5.028,0 5,1

41,0 6243, 5,4

14,8 4.153 6,0 2.937 2577, 3 972,4 68,0 2,4 168,0 4.687 ,9 5.419 4.828 5 4.485 4.484 4.381 ,1 3,8 -

3.

4.

1.689,0 2.341, 2.302,0 3.408, 0 370,0 66,0 2,0 185,0 4.685,0 4.977,0 4.486,0 4.502,0 2.990,0 4.358,0 3,3 792,0 74,0 0,0 131,0 4.732, 0 5.309, 4366, 0 4.645, 3.991, 4.429, 0 3,4 -

5.

6.

7.

1 ) Angka kumulalif 5 tahunan untuk kolam yang bertuliskan Akhir Repelila I den IV, yang lain adalah angka tahunan

XVIII/22

c. Penyakit Demam Berdarah (Arbovirosis) Penyakit demam berdarah (PDB) masih merupakan penyakit yang endemis terutama di 19 propinsi yang mencakup 122 daerah tingkat II. Pada tahun 1993/94 angka kejadian penyakit ini tercatat 2,40 per 100.000 penduduk atau terjadi sedikit penurunan jika dibandingkan tahun 1992/93 yaitu sebesar 2,45 per 100.000 penduduk. Penurunan ini menunjukkan makin intensifnya kegiatan pencegahan dan pemberantasan penyakit ini. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit ini terutama dilakukan dengan cara abatisasi masal dan penyemprotan masal di tempattempat pembiakan nyamuk Aedes Aegypti. Di samping itu juga dilakukan peningkatan pemantauan dan pengobatan penderita secara dini yang ditunjang dengan kegiatan pemberantasan penyakit menular secara terpadu dan efektif melalui berbagai sarana pelayanan kesehatan yang ada. Pada tahun 1993/94 dilakukan kegiatan abatisasi masal yang mencakup sekitar 2,9 juta rumah, atau terjadi peningkatan jika dibandingkan tahun 1992/93 yang baru mencapai 2,3 juta rumah. Selain dengan metode abatisasi masal, kegiatan pemberantasan nyamuk dilakukan pula dengan metode biologis di tempat-tempat pembiakan nyamuk. Dalam metode biologis dilaksanakan pengendalian lingkungan yang bertujuan mengurangi atau menghilangkan vektor.'antara lain dengan penebaran ikan kepala timah dan penyaluran air tergenang yang menjadi tempat perindukan vektor. Metode ini lebih baik karena mengurangi pencemaran lingkungan, lebih murah dan lebih efektif. Selain dengan abatisasi dan penyemprotan, untuk memberantas nyamuk pembawa PDB dilakukan juga pengasapan (fogging) di rumahrumah yang tersangka menjadi sarang nyamuk pembawa PDB. Kegiatan pengasapan rumah pada

tahun 1993/94 mencakup 2,6 juta rumah. Pengurangan jumlah rumah yang menerima pengasapan dibandingkan dengan tahun 1992/93 disebabkan meningkatnya penggunaan metode biologis. Selama Repelita V XVIII/23

jumlah rumah yang telah diabatisasi sekitar 9,9 juta rumah dan pengasapan dilaksanakan terhadap sekitar 11,1 juta rumah. Berkat berbagai upaya pemberantasan dan pencegahan tersebut maka laju kenaikan angka kesakitan penyakit ini dapat ditekan. Pada tahun 1993/94 angka kematiannya sekitar 2,4 persen, sedangkan pada tahun 1992/93 masih sekitar 2,9 persen. d. Penyakit Tuberkulosa Paru

Sampai saat ini penyakit Tuberkulosa Paru masih merupakan masalah yang memerlukan perhatian karena prevalensinya masih cukup tinggi dan penyakit ini terutama menyerang masyarakat berpenghasilan rendah dan yang tinggal di daerah perdesaan. Upaya pemberantasan penyakit ini meliputi penemuan penderita, pemeriksaan bakteriologis dan pengobatan penderita. Pemeriksaan bakteriologis pada tahun 1993/94 dilakukan pada 972 ribu orang, sedangkan pada tahun 1992/93 jumlah pemeriksaan menjangkau 792 ribu orang. Upaya pengobatan terhadap penderita pada tahun 1993/94 telah dilakukan pada 68 ribu orang. Pengurangan jumlah pemeriksaan dan jumlah penderita yang mendapat pengobatan sejalan dengan kebijaksanaan baru dalam pemberantasan tuberkulosa yaitu lebih meningkatkan pengawasan pengobatan untuk mempertinggi tingkat kesembuhan penderita. Di samping itu kegiatan pencegahan dan pemberantasan penyakit ini didukung pula oleh peran serta masyarakat melalui organisasi perkumpulan pemberantasan tuberkulosa Indonesia (PPTI). e. Penyakit. Kaki Gajah dan Demam Keong

Penyakit kaki gajah masih diderita oleh sebagian penduduk perdesaan di wilayah-wilayah Wtentu. Penyakit ini dapat menyebabkan turunnya produktivitas kerja. Atas dasar suatu survai yang diadakan pada tahun 1991/92 di daerah endemis diketahui bahwa angka kesakitan penyakit kaki gajah (Filariasis) adalah sekitar 43 per 1.000 penduduk. Sebagai tindak lanjut dari survai XVIII/24

tersebut pada tahun 1993/94 dilakukan pengobatan masal terhadap 168 ribu orang, dari 238 desa yang endemis penyakit filariasis di 22 propinsi. Upaya ini merupakan kelanjutan dari tahun 1992/93 yang mencakup 131 ribu orang, dari 964 desa di 21 propinsi. Upaya pemberantasan penyakit demam keong (Schistosomiasis) terutama ditujukan di daerah-daerah endemis yaitu di Propinsi Sulawesi Tengah di sekitar Lembah Lindu, Kabupaten Donggala dan Lembah Napu, Kabupaten Poso. Berjangkitnya penyakit ini erat kaitannya dengan faktor lingkungan sebagai habitat vektor penyakit demam keong. Penanggulangan penyakit ini antara lain mencakup kegiatan pemeriksaan tinja dan peng obatan penderita, di samping pengelolaan lingkungan berupa upaya mengubah lingkungan setempat menjadi daerah irigasi pertanian sehingga tidak memberi tempat hidup binatang/vector penyakit ini. Pengobatan masal terhadap penduduk dilaksanakan dengan menggunakan obat praziquantel secara rutin setiap 6 bulan. Kegiatan ini diikuti dengan pengamatan penyakit, dan pemberantasan fokus keong penular. f. Imunisasi Salah satu program utama yang dilaksanakan dalam rangka mempercepat penurunan angka kesakitan dan kematian bayi dan anak balita adalah program Imunisasi. Cakupan imunisasi, sesuai sasaran yang ditetapkan KTT Anak Sedunia (World Summit for Children) pada tahun 2000 adalah 80 - 80 - 80. Artinya sasaran cakupan imunisasi dasar (BCG, DPT, polio, Campak) pada tingkat nasional, propinsi dan kabupaten masing-masing minimal harus mencakup 80 persen bayi. Sasaran yang ditetapkan oleh KTT Anak Sedunia tersebut dikenal dengan sasaran UCI. Secara nasional Indonesia telah mencapai cakupan imunisasi lengkap sebesar 91,1 persen untuk tahun 1993/94, yang berarti telah melewati UCI. Angka cakupan imunisasi pada akhir Repe lita V ini meningkat jika dibandingkan dengan angka cakupan pada akhir Repelita IV yaitu sebesar 64,2 persen. XVIII/25

Untuk memantapkan hasil imunisasi ini pengadaan sarana yang dibutuhkan terus ditingkatkan, terutama untuk pengadaan vaksin, alat sterilisator, cold chain, pelatihan petugas, dan sarana pendukung operasional. Di samping itu dilakukan pula pemantauan pelaksanaan di lapangan, terutama terhadap mutu vaksin dan sebagainya. g. Penyakit Kusta

Upaya penanggulangan penyakit kusta terus ditingkatkan, terutama bagi daerah-daerah yang prevalensinya cukup tinggi seperti DI Aceh, Sulawesi Tenggara, Irian Jaya, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan. Kegiatan penanggulangannya adalah berupa pencarian penderita, pemantauan kasus dan pengobatan penderita. Pada tahun 1993/94 telah dilaksanakan pemantauan kasus di 5.000 desa, pemeriksaan terhadap 432 ribu orang anggota keluarga yang mempunyai kontak erat dengan penderita, pemeriksaan terhadap 3,4 juta anak sekolah dasar, dan pengobatan teratur terhadap 39 ribu orang. Selama Repelita V penemuan penderita baru berjumlah 11,7 juta orang, sedangkan jumlah penderita yang melaksanakan pengobatan teratur adalah sekitar 321 ribu orang. h. Penyakit Frambusia

Pelaksanaan kegiatan ini terutama ditujukan untuk pemberantasan penyakit Frambusia didaerah endemis seperti propinsi Jawa Timur, Sumatera Barat, Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Irian Jaya dan Timor Timur. Pada tahun 1993/94 pemeriksaan dilakukan terhadap sekitar 28 ribu orang, lebih besar jumlahnya dari yang diperiksa tahun 1992/93 yang baru mencakup 21,9 ribu orang. Di samping pemeriksaan juga dilakukan kegiatan pengobatan. Pada tahun 1993/94 jumlah penderita yang diobati adalah 241 ribu orang, menurun sedikit jika dibandingkan dengan tahun 1992/93 sebanyak 248 ribu. Selama Repelita V jumlah penderita yang telah diobati adalah sekitar 2,4 juta orang. XVIII/26

i. Penyakit Kelamin dan AIDS Penanggulangan penyakit kelamin makin diintensifkan sejak ditemukannya penderita Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) di Indonesia pada tahun 1987. Jumlah penderita Human Immuno Deficiency Virus (HIV) positif dan penderita AIDS menunjukkan kecenderungan meningkat dengan cepat. Jika pada tahun 1987 baru dilaporkan 2 kasus AIDS dan 4 kasus HIV positif maka sampai bulan Maret 1994 telah meningkat menjadi 55 kasus AIDS dan 158 kasus HIV positif. Kegiatan utama pencegahan dan penanggulangan penyakit kelamin dan AIDS ditekankan pada kegiatan penyuluhan secara intensif tentang cara-cara pencegahan terhadap penyakit ini, dan pencarian tersangka penderita. Cara dan bahan penyuluhan disesuaikan dengan nilai-nilai budaya dan agama yang berkembang dimasyarakat. Bagi penderita penyakit kelamin bukan AIDS diberikan pengobatan, sedangkan bagi penderita AIDS diberikan pembinaan dan pengobatan khusus. Selama Repelita V telah dilaksanakan kegiatan sero survai AIDS dan sifilis terhadap 74.967 contoh, pemeriksaan Serologic Test f o r Syphilis (STS) terhadap 29.367 contoh, dan pemeriksaan virus HIV terhadap 669.951 kolf darah yang akan ditransfusikan. Untuk meningkatkan pencegahan dan penanggulangan AIDS di Indonesia secara menyeluruh, terpadu dan terkoordinasi, maka pada tahun 1993/94 telah disiapkan pengaturan kerja sama antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat dan pihak terkait lainnya di bawah koordinasi Menteri Negara Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat.

XVIII/27

j. Karantina dan Kesehatan Pelabuhan (KKP) Tujuan dari program ini adalah meningkatkan pengamatan penyakit di pelabuhan-pelabuhan dengan prioritas utama pelabuhan yang merupakan tempat masuknya sebagian besar wisatawan asing. Hal ini sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan oleh WHO dalam International Health Regulation, yang mengatur tentang pemantauan dan pengamatan terhadap penyakit menular tertentu di pelabuhan-pelabuhan. Kegiatan utama program ini adalah berupa pelatihan petugas dan pengadaan peralatan penunjang. Upaya tersebut selanjutnya ditingkatkan dengan kegiatan pemberantasan terhadap vektor nyamuk. Pada tahun 1993/94, telah dilakukan pemberantasan vektor nyamuk di sekitar pelabuhanpelabuhan yang termasuk wilayah kerja KKP meliputi seluas kurang lebih 10.491 hektare, sedangkan pada akhir Repelita IV baru mencakup 3.222 hektare. Untuk mendukung kegiatan KKP dilanjutkan kegiatan rehabilitasi dan pembangunan seluas 2.250 meterpersegi dan pengadaan peralatan serta pengadaan mobil ambulans sebanyak 32 unit untuk 8 daerah KKP. Dengan ditingkatkannya pelaksanaan program kegiatan pencegahan dan pemberantasan penyakit maka sainpai dengan Repelita V terjadi percepatan penurunan angka kesakitan dan kematian. Hal ini antara lain dapat dilihat dari penurunan angka kematian penyakit demam berdarah yang pada awal Repelita I masih di atas 40 persen menurun menjadi 2,40 persen dan penyakit malaria dari 1,3 persen menurun menjadi 0,1 persen untuk daerah Jawa-Bali pada akhir PJP I. Demikian juga terjadi penurunan angka kesakitan dan kematian untuk penyakit diare, TB paru, kusta, kaki gajah dan frambusia secara bermakna.

XVIII/28

4. Program Perbaikan Gizi Keadaan gizi masyarakat merupakan salah satu indikator derajat kesehatan masyarakat dan kualitas hidup bangsa. Program perbaikan gizi masyarakat akan mendukung upaya penurunan angka kematian bayi, anak balita dan angka kematian ibu melahirkan. Kegiatan program ini dalam tahun 1993/94 meliputi usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK), penanggulangan kurang vitamin A, penanggulangan gangguan akibat kurang iodium (GAKI), penanggulangan anemia gizi besi dan pengembangan sistem kewaspadaan pangan dan gizi (SKPG). Kegiatan utama UPGK berupa penyuluhan gizi masyarakat, pelayanan gizi di posyandu dan pemanfaatan lahan pekarangan. Kegiatan UPGK dilaksanakan secara lintas sektor dan didukung oleh peran serta aktif masyarakat. Pada tahun 1993/94, UPGK telah dilaksanakan di seluruh propinsi dan kabupaten/kota madya meliputi 3.680 kecamatan, 61.766 desa. Pelayanan gizi di posyandu dilakukan melalui kegiatan penimbangan bulanan anak balita, penyuluhan gizi dan pemberian paket pertolongan gizi. Jumlah posyandu yang melakukan pelayanan kegiatan gizi tahun 1993/94 adalah sebanyak 244.843 buah atau bertambah dengan lebih dari 3.500 posyandu baru jika dibandingkan dengan tahun 1992/93. Dengan meningkatnya jumlah posyandu, meningkat pula jumlah anak balita yang dilayani. Upaya penanggulangan kurang vitamin A meliputi penyuluhan gizi untuk meningkatkan konsumsi pangan yang kaya vitamin A, terutama sayuran dan buah-buahan, dan pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi kepada anak balita yang didistribusikan melalui posyandu dan sarana pelayanan kesehatan lainnya. Pada tahun 1993/94 jumlah anak balita yang mendapatkan kapsul ini berjumlah lebih dari 13,7 juta atau meningkat sekitar 300 ribu dari tahun 1992/93.

XVII.I/29

Anemia gizi terutama pada ibu hamil, akibat kekurangan zat besi, masih merupakan masalah gizi yang memerlukan perhatian besar. Kegiatan utama penanggulangan anemia gizi adalah pemberian tablet besi kepada ibu hamil dan penyuluhan gizi tentang pentingnya makanan yang bergizi seimbang. Pada tahun 1993/94 jumlah ibu hamil yang mendapatkan tablet besi adalah sekitar 1,8 juta orang lebih, atau meningkat sekitar 400 ribu lebih jika dibandingkan dengan tahun 1992/93. Upaya penanggulangan GAKI terus ditingkatkan. Kegiatannya meliputi penyuluhan gizi untuk meningkatkan konsumsi pangan yang kaya akan iodium, iodisasi garam dan pemberian kapsul iodium terhadap penduduk di daerah endemik. Pada tahun 1993/94 jumlah penduduk yang mendapatkan kapsul iodium adalah sekitar 11 juta penduduk atau meningkat sekitar 2,4 juta penduduk jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kegiatan iodisasi garam juga dilanjutkan dengan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam upaya mencegah penyakit gondok dengan cara mengonsumsi garam beriodium. Perhatian lebih besar diberikan pada penyempurnaan peraturan perundangan tentang iodisasi garam sebagai persiapan intensifikasi program dalam Repelita VI. Kegiatan SKPG seperti halnya tahun 1992/93 lebih ditekankan pada pelaksanaan pemantauan status gizi (PSG) anak balita.. Kegiatan ini pada tahun 1993/94 telah dilaksanakan di 10.365 posyandu dari 1.203 kecamatan, 102 kabupaten dan 8 propinsi. Jika dibandingkan dengan tahun 1992/93 jumlah posyandu yang melaksanakan kegiatan ini meningkat sekitar 2.500 posyandu. Dengan demikian pelaksanaan program perbaikan gizi telah berhasil meningkatkan cakupan yang cukup berarti pada akhir Repelita V. Jumlah desa yang melaksanakan UPGK sampai akhir Repelita V tercatat lebih dari 61,7 ribu desa, sedangkan jumlah posyandu sejak mulai dirintis telah meningkat menjadi 245 ribu buah. Begitu pula halnya dengan cakupan penduduk yang mendapatkan preparat iodiuln dalam rangka pencegahan GAKI

XVIII/30

sampai akhir PJP I sebanyak 36,5 juta orang. Sedangkan jumlah anak balita yang mendapatkan kapsul vitamin A selama PJP I telah mencakup 75,0 juta anak. Hal ini berdampak terhadap penurunan prevalensi penyakit gizi kurang, terutama prevalensi kurang vitamin A yang telah menurun dari 1,3 persen pada awal Repelita I menjadi 0,35 persen pada akhir PJP I. Dengan demikian, program perbaikan gizi, khususnya kegiatan penanggulangan kurang vitamin A telah berhasil menurunkan jumlah penderita kebutaan, dan berpengaruh pula terhadap penurunan angka kematian bayi dan anak balita. 5. Program Penyediaan Air Bersih Program penyediaan air bersih terutama diarahkan untuk mencukupi kebutuhan penyediaan air bersih yang memenuhi syarat kesehatan bagi seluruh masyarakat, khususnya bagi penduduk perdesaan dan perkotaan yang kurang mampu. Kegiatan pokoknya meliputi peningkatan peran serta masyarakat, penyuluhan kesehatan dan peningkatan kualitas air, pengembangan institusi pengelola air, pembangunan sarana penyediaan air bersih dan pengawasan kualitas air. Kegiatan pengawasan kualitas air pada tahun 1993/94 meliputi monitoring kualitas air, survai kualitas air bersih dan pengawasan kualitas air pada badan-badan air. Untuk mendukung kegiatan ini pada tahun 1993/94 dilaksanakan pengadaan 30 paket alat laboratorium untuk pemeriksaan kualitas bakteriologis air. Khusus untuk Puskesmas di daerah terpencil disediakan 30 paket alat laboratorium (water test kit). Untuk meningkatkan cakupan air bersih bagi penduduk pada tahun 1993/94 telah dibangun berbagai sarana penyediaan air bersih yang terdiri dari penampungan air bersih dengan sistem perpipaan (PP) 61 buah, penampungan air hujan (PAH) 997 bak, perlindungan mata air 43 buah, sumur pampa tangan dangkal (SPTDK) 1.235 buah, sumur pompa tangan dalam (SPTDL) 1.451 buah, sumur gali 2.487 buah dan hidran umum 6.311 buah. Jumlah sarana ini meningkat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya (Tabel XVIII-4). XVIII/31

TABEL XVIII — 4 JUMLAH SARANA PENYEDIAAN AIR BERSIH DAN SARANA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN 1973/74, 1988/89, 1989/90 — 1993/94
Akhir 1) No. Jenis Program Satuan Repelita I (1973174) Akhir 1) Repelita IV (1988189) Repelita V 1989/90 1990/91 1991,92 1992,93 1993/94

A. Sarana Penyediaan Air Bersih 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Penampungan Mata Air dengan Perpipaan (PP) Penampungan Air Hujan (PAR) Perlindungan Mata Air Sumur Artetis (SA) Sumur Pompa Tangan Dangkal (SPTDK) Sumur Pompa Tangan Dalam (SPTDL) Sumur Gali Hidran Umum buah bak buah sumur sumur sumur sumur buah 24 10 3 2.882 0 0 26.834 46.953 1.023 808 1.075 679 1522 2.749 1.103 340 5.101 225 2.087 4.702 1.451 2.487 6.311 14.942 1.357 67 162.931 543 60 3.015 534 90 1.485 417 95 2389. 429 115 1.117 997 43 1235

B. Sarana Kesehatan Perumahan dan Lingkungan 1. 2. Pembangunan Jamban Keluarga Sarana Pembuangan Air Limbah (SPAL) 20.019 buah 0 53.774 1.735 1.069 3.639 24.137 634 3.408

1) Angka kumulatif 5 tahunan untuk kolom yang bertuliskan Akhir Repelita I dan IV, yang lain adalah angka tahunan

XVIII/32

Dalam rangka meningkatkan partisipasi masyarakat, telah dilaksanakan penyuluhan penyehatan air, peningkatan kegiatan kelompok pemakai air, dan pembentukan desa percontohan kesehatan lingkungan. Kegiatannya' pada tahun 1993/94 mencakup sekitar 144 kabupaten, 251 kecamatan dan 3.348 desa. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya jumlah desa percontohan meningkat lebih dari 16 kali lipat. Dengan dilaksanakannya program ini, selama Repelita V telah berhasil dibangun sarana penyediaan air bersih sebanyak 2.920 buah bak penampung air hujan, 9.241 buah sumur pompa tangan dangkal, 4.481 buah sumur pompa tangan dalam dan 19.938 hidran umum yang baru dimulai pembangunannya pada awal Repelita V. Secara keseluruhan, pada akhir PJP I, jumlah sarana yang telah dibangun adalah sebanyak 38.566 bak PAH, 385.172 buah SPTDK, 56.315 buah SPTDL. Dengan demikian, pada akhir PJP I cakupan air bersih bagi penduduk telah mencapai 80 persen untuk daerah perkotaan dan 50 persen untuk daerah perdesaan. 6. Program Permukiman Penyehatan Lingkungan

Kegiatan penyehatan Iingkungan permukiman pada tahun 1993/94 dilaksanakan melalui pembangunan sarana kesehatan perumahan dan lingkungan, penyehatan perumahan dan lingkungan, penyehatan daerah industri dan wisata, penyehatan makanan serta pengawasan dan pengendalian pestisida. Program ini bertujuan untuk mewujudkan lingkungan permukiman yang sehat, terutama bagi kelompok masyarakat yang mempunyai risiko tinggi XVIII/33

terhadap penyakit dan gangguan akibat lingkungan yang kurang sehat. Pada tahun 1993/94 telah dilaksanakan penyehatan perumah an dan lingkungan di 519 lokasi, penyehatan makanan di 10.055

tempat pengelolaan makanan, dan pengawasan serta pengendalian pestisida di 572 lokasi. Selain itu telah dibangun jamban keluarga dan sarana pembuangan air limbah masing-masingnya berjumlah 51.271 buah dan 3.408 buah. Dibandingkan dengan tahun 1992/93 pembangunan jamban keluarga meningkat dua kali lipat, sedangkan pembangunan sarana pembuangan air limbah meningkat lima kali lipat. Selanjutnya melalui program pemugaran perumahan dan lingkungan desa terpadu (P2LDT) yang dilaksanakan secara lintas sektor, telah dilakukan upaya penyehatan rumah di 4.246 desa dengan pemugaran 63.690 rumah. Melalui peningkatan pelaksanaan berbagai kegiatan tersebut di atas, selama lima tahun Repelita V telah dibangun 111.852 buah jamban keluarga dan 10.485 buah sarana pembangunan air limbah, sehingga pada akhir PJP I, telah berhasil dibangun sekitar 1,9 juta buah jamban keluarga dan 95.024 buah sarana pembuangan air limbah. Jika pada awal PJP I kegiatan program ini lebih ditekankan pada kegiatan pembangunan sarana, maka selama Repelita V lebih ditekankan pada kegiatan penyuluhan kesehatan dan pengawasan mutu lingkungan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang lebih sehat. 7. Program Penyuluban Kesehatan Masyarakat Tujuan program ini adalah untuk mengubah perilaku perorangan, keluarga dan masyarakat, dalam rangka membina dan memelihara perilaku hidup sehat dan lingkungan sehat serta untuk meningkatkan peran aktif mereka dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Kegiatan pokoknya adalah berupa pengembangan metode dan penyelenggaraan penyuluhan, penyebarluasan informasi kesehatan, dan pengembangan potensi swadaya masyarakat di bidang kesehatan.

XVIII/34

Kegiatan penyebarluasan informasi kesehatan tahun 1993/94 meliputi pengadaan dan distribusi media penyuluhan sebanyak 1,7 juta lembar, penyebarluasan informasi melalui radio sebanyak 192 ribu kali, dan penyiaran melalui televisi sebanyak 883 kali. Kegiatan lainnya yaitu, penyuluhan kelompok telah dilakukan 192.055 kali meningkat 16 kali jika dibandingkan dengan tahun 1992/93. Kelompok masyarakat yang menjadi sasaran penyuluhan adalah organisasi wanita, pemuda dan organisasi keagamaan serta profesi sehingga peran kelompok tersebut dapat meningkat dalam pembangunan kesehatan. Penyuluhan kesehatan di rumah sakit dilakukan terhadap penderita rawat jalan atau rawat inap dan keluarganya yang ditujukan untuk meningkatkan kesadaran mereka akan perlunya upaya pencegahan, pengobatan dan pemulihan kesehatan. Pengembangan penyelenggaraan penyuluhan antara lain dilaksanakan dengan cara melatih para petugas penyuluh kesehatan di tingkat propinsi, kabupaten dan puskesmas yang pada tahun 1993/94 berjumlah 827 orang. Jenis pelatihannya antara lain meliputi pelatihan teknis penyuluhan, pelatihan media dan pela tihan penyuluhan kesehatan masyarakat di rumah sakit (PKM-RS). Bersamaan dengan meningkatnya kegiatan program penyuluhan kesehatan selama kurun waktu PJP I, peran serta masya rakat dalam pembangunan kesehatan juga meningkat yang tercermin antara lain dari peningkatan jumlah posyandu dari 25 ribu buah pada tahun 1983 menjadi 244.843 buah pada akhir Repelita V. 8. Program Pengendalian, Pengadaan dan Pengawasan Obat Makanan dan Sebagainya Tujuan dari program ini adalah untuk menyediakan obat yang bermanfaat secara merata dan terjangkau oleh rakyat banyak. Selain itu untuk menjamin mutu dan keamanan obat, makanan, minuman, dan kosmetika yang beredar di masyarakat. XVIII/35

Upaya penyediaan obat yang makin merata dan terjangkau oleh rakyat banyak ditempuh melalui peningkatan pemanfaatan obat generik berlogo (OGB). Nilai peredaran OGB tahun 1993/94 adalah Rp63,9 miliar sedikit meningkat jika dibandingkan dengan tahun 1992/93 yang nilainya Rp63,6 miliar. Demikian pula halnya dengan jumlah industri farmasi yang memproduksi OGB meningkat dari 22 menjadi 26 industri yang memproduksi 167 jenis obat yang beredar. Penilaian dan pengujian keamanan obat, makanan, kosmetik, dan alat kesehatan yang dilakukan pada tahun 1993/94 meliputi 1.710 jenis obat, 250 jenis obat tradisional, 3.000 jenis makanan dan minuman, dan 2.600 jenis kosmetika dan alai kesehatan. Selama tahun 1993/94 dilaksanakan pula operasi pemeriksaan sarana produksi dan distribusi terhadap 10.949 unit. Selanjutnya dilaksanakan penyelidikan terhadap, peredaran produk gelap, palsu serta pelanggaran lainnya meliputi 312 kasus. Selain itu telah dilaksanakan analisis laboratorium terhadap 39.800 contoh dalam rangka pengawasan mutu sediaan farmasi, makanan dan alat kesehatan. Selanjutnya dilakukan bimbingan dan pembinaan secara intensif tentang penerapan cara produksi obat yang baik (CPOB) terhadap 91 industri farmasi. Hal ini meningkat hampir dua kali lipat jika dibandingkan dengan tahun 1992/93 yang baru mencakup 52 industri farmasi. Dalam rangka peningkatan kemampuan pengelola obat khususnya perencanaan obat di Dati II, pada tahun 1993/94 telah dilatih 357 orang petugas pengelola obat Dati II. Untuk mendukung kegiatan pengelolaan obat pada tahun 1993/94 dibangun lagi 3 gudang farmasi baru di Dati II, sehingga gudang farmasi yang telah dibangun total berjumlah 299 buah. Dengan demikian pada akhir Repelita V hampir semua Dati II telah memiliki gudang farmasi.

XVIII/36

Dengan dilaksanakannya kegiatan-kegiatan dalam program ini, maka pada akhir Repelita V sekitar 98 persen dari nilai kebutuhan obat nasional telah dapat diproduksi di dalam negeri. Keberhasilan lain yang penting dari program ini adalah dalam hal peningkatan pemanfaatan OGB. Jika pada tahun 1990 nilai peredaran OGB adalah sebesar Rp24 miliar maka pada tahun terakhir Repelita V telah menjadi Rp63,9 miliar atau terjadi peningkatan hampir 3 kali lipat. Begitu pula halnya jenis obat yang diproduksi meningkat dari 109 jenis menjadi 167 jenis. Dengan demikian kegiatan program ini makin mengarah kepada tujuan program, yaitu tersedianya obat secara merata dengan harga yang terjangkau oleh rakyat banyak. 9. Program Pendidikan, Latihan dan Pendayagunaan Tenaga Kesehatan Program ini bertujuan untuk mendukung penyediaan tenaga kesehatan yang cukup jumlahnya, bermutu dan merata distribusinya sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan. Untuk mendukung penambahan jumlah dan jenis tenaga kesehatan, selama tahun 1993/94 telah dibangun 9 institusi pendidikan baru terdiri dari 6 institusi pendidikan paramedis perawatan dan 3 institusi pendidikan paramedis nonperawatan. Dengan demikian jumlah institusi pendidikan kesehatan pada tahun 1993/94 menjadi 483, meningkat jika dibandingkan dengan tahun 1992/93 yang berjumlah 474 buah. Sejalan dengan pertambahan jumlah institusi pendidikan maka jumlah peserta didik dan lulusan meningkat pula yaitu dari 87.320 orang dan 29.298 orang tahun 1992/93 menjadi 100.843 orang dan 32.972 orang. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan, selama tahun 1993/94 telah diangkat 373 tenaga guru. Selain itu untuk meningkatkan kemampuan guru dalam proses belajar mengajar telah dilaksanakan program akta mengajar III dan IV terhadap 283 orang guru, dan pelatihan untuk pendalaman bidang studi terhadap 1.846 guru.

XVIII/37

Upaya peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan tenaga kesehatan, antara lain dilaksanakan melalui berbagai pelatihan yang dikoordinasikan oleh balai latihan kesehatan masyarakat (BLKM) dan pusat pendidikan latihan pegawai (pusdiklat). Kegiatan pelatihan pada tahun 1993/94 meliputi 8.793 orang latihan prajabatan, 13.508 teknis fungsional, 1.993 orang latihan administrasi manajemen dan 662 orang pelatihan widyaiswara. Untuk lebih memeratakan distribusi tenaga kesehatan, dalam tahun 1993/94 telah diangkat dan ditempatkan 1.700 dokter, 336 dokter gigi, 4.490 paramedis perawatan termasuk bidan, 3.803 paramedis nonperawatan dan 605 orang tenaga akademis bidang kesehatan (Tabel XVIII-5). Dibandingkan dengan jumlah tenaga yang diangkat pada tahun 1992/93 -sebanyak 16.050 orang telah terjadi penurunan, disebabkan adanya keterbatasan formasi untuk pengangkatan tenaga baru. Penempatan dokter sebagai pegawai tidak tetap (PTT) pada 1992/93 lebih besar dari tahun 1993/94 oleh karena jumlah tersebut selain untuk semua dokter lulusan tahun 1992 juga dimasukkan dokter lulusan tahun-tahun sebelumnya. Seluruh lulusan pendidikan dokter tahun 1993 telah diangkat sebagai dokter PTT pada tahun 1993/94. Melalui program ini telah berhasil ditempatkan. berbagai jenis tenaga kesehatan yang selama Repelita V berjumlah sebanyak 78.543 orang termasuk 4.952 orang dokter PTT dan 19.712 orang bidan di desa. Dengan demikian dalam kurun waktu PJP I, yaitu sejak awal Repelita I sampai dengan akhir Repelita V, secara keseluruhan penempatan tenaga kesehatan berjumlah 502.235 orang. Selain itu jumlah dokter meningkat dari 4,3 dokter untuk melayani 100.000 penduduk pada tahun 1968 menjadi 16,9 dokter untuk 100.000 penduduk pada tahun 1993/94. Dampak dari peningkatan dan perluasan cakupan dan mutu pelayanan kesehatan tercermin dari perbaikan berbagai indikator

XVIII/38

TABEL XVIII - 5 PERKEMBANGAN JUMLAH BEBERAPA JENIS TENAGA KESEHATAN, 1968, 1988/89, 1989/90 - 1993/94
No. Jenis Tenaga 1968 1) Akhir 1) Repelita IV (1988/89) 24.070 749 3.767 Perawat Kesehatan 2) 4. Bidan ) 3.863 2.085 1.182 67.762 8.752 77.935 10.840 11.003 7.090 9.655 4.490 Repelita V 1989/90 1.632 346 1990/91 1.096 263 1991/92 924 622 1992/93 2.604 520 1993/94 1.700 336

1. Dokter 2. 3. Dokter Gigi Perawat)

5.000

5. Paramedis Non Perawat dan Pekarya Kcsehatan 6. Tenaga akademis bidang kesehatan

5.145 1.251

4.983 1.605

3.199 1.560 13.395

1.904 1.367 16.050

3.803 605

.Iumlah

15.897

179.268

19.214

18.950

10.934

1) Angka kumulatif untuk tahun 1968/69 dan Akhir Repelita IV, yang lain angka tahunan 2) Mulai tahun 1976/77 Perawat dan Bidan ditingkatkan menjadi tenaga Perawat Kesehatan

XVIII/38

kesehatan masyarakat. Angka kematian bayi.turun dari 145 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 1967, menjadi 58 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 1993, sedangkan angka kematian ibu turun dari 450 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1986 menjadi 425 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1992. Selain itu angka prevalensi kurang energi dan protein (KEP) sedang dan berat pada anak balita turun dari 18,9 persen pada tahun 1978 menjadi 11,8 persen pada tahun 1992 dan prevalensi kurang vitamin A turun dari 1,3 persen pada awal Repelita I menjadi 0,35 persen pada akhir PJP I. Dengan demikian angka harapan hidup waktu lahir meningkat dari 45,7 tahun pada tahun 1967 menjadi 62,7 tahun pada tahun 1993. Perluasan cakupan dan peningkatan rnutu pelayanan kesehatan antara lain dapat dilihat dari pertambahan sarana pelayanan kesehatan terutama pelayanan kesehatan dasar, penambahan dan penyebaran tenaga yang semakin merata dan peningkatan cakupan kegiatan berbagai program pembangunan kesehatan serta peningkatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan kesehatan. C. KESEJAHTERAAN SOSIAL Pembangunan di bidang kesejahteraan sosial dilaksanakan melalui program-program: (1) pembinaan dan pengembangan kesejahteraan sosial; (2) pelayanan clan rehabilitasi sosial; (3) pembinaan generasi muda; (4) peningkatan peranan wanita; (5) pendidikan dan pelatihan tenaga kesejahteraan sosial; dan (6) penelitian dan pengembangan kesejahteraan sosial. 1. Program Pembinaan dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial Program ini bertujuan untuk membina dan mengembangkan swadaya masyarakat dengan menggerakkan potensi dan sumbersumber kesejahteraan sosial yang ada di masyarakat. Dengan demikian diharapkan dapat dicegah atau diperkecil timbulnya XVIII/40

kerawanan sosial di dalam masyarakat sehingga taraf kehidupan masyarakat meningkat. Program ini dilaksanakan bersama dengan Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna dan organisasi-organisasi sosial lainnya. Dalam tahun 1993/94 kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dalam program ini meliputi: (a) penyuluhan sosial dan pembinaan pekerja sosial masyarakat; (b) pembinaan swadaya masyarakat bidang perumahan dan lingkungan; (c) pembinaan kesejahteraan sosial masyarakat terasing; (d) pembinaan nilai-nilai kepahlawanan dan keperintisan; (e) pembinaan organisasi sosial masyarakat. a. Penyuluhan Sosial dan Pembinaan Pekerja Sosial Masyarakat. Penyuluhan sosial yang merupakan kegiatan pokok dalam usaha kesejahteraan sosial dilaksanakan untuk menciptakan kondisi agar masyarakat makin dapat menerima dan mendukung nilai-nilai pembaharuan yang ditentukan oleh pembangunan. Untuk meningkatkan efektivitas kegiatan penyuluhan sosial, tenaga PSM terus dibina dan ditingkatkan pengetahuan dan keterampilannya melalui berbagai pelatihan. Dalam tahun 1993/94 telah dilatih dan dibina sebanyak 12.750 PSM yang terdapat di semua propinsi. Jumlah tersebut hampir sama dengan jumlah PSM yang dilatih dan dibina pada tahun sebelumnya. Dengan demikian dalam Repelita V PSM yang telah dilatih dan dibina seluruhnya berjumlah 59.640 orang yang tersebar di seluruh Indonesia (Tabel XVIII-6). Sedangkan PSM yang telah dilatih dan dibina selama PJP I seluruhnya berjumlah 207.058 orang. Jumlah tersebut merupakan cerminan dari besarnya potensi kesadaran dan partisipasi masyarakat yang dapat diharapkan dalam menangani permasalahan kesejahteraan sosial. Dengan makin bertambahnya tenaga PSM yang lebih tinggi pengetahuan, keterampilan dan pengabdiannya, makin tersedia tenaga yang lebih profesional untuk memperluas dan meningkatkan mutu pelayanan sosial disemua daerah. XVIII/41

TABEL XVIII,- 6 PEMBINAAN PEKERJA SOSIAL MASYARAKAT (PSM) 1) MENURUT DAERAH TINGKAT I, 1 9 7 3 /7 4 ,1 9 8 8/8 9 ,1 9 8-9 1993/94 /9 0 (orang)
Akhir No Daerah Tingkat 1/ Propinsi D K I Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D I Yogyakarta Jawa Timur D I Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Maluku B a l i Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Irian Jaya Timor Timur Jumlah 1) Repelita I (1973/74) 90 330 360 180 390 60 60 60 60 60 60 60 180 60 30 60 60 90 90 180 90 120 90 120 90 Akhir Repelita IV (1988/89) 810 5.310 7.270 1.080 7.760 4.360 6.340 3.870 1.622 2.040 2.830 1.140 2.320 3.733 1.260 1.680 1.800 1.170 1.470 2.070 1.530 1.500 1•.280 880 2.400 2.430 1.710 71.665 Repelita V 1989/90 1990/91 380 600 875 240 925 600 600 300 210 180 240 240 210 480 300 540 480 420 690 180 240 240 180 300 540 210 11.000 1991/92 300 720 900 300 930 540 510 420 210 360 690 510 390 270 270 660 510 390 480 1.020 240 330 600 510 390 270 270 12.990 1992/93 300 600 780 330 900 780 600 450 330 300 720 450 360 510 390 600 390 540 360 810 420 300 450 300 360 180 390 12.900 1993/94 150 1.260 1.590 300 1.110 630 720 690 210 240 510 300 600 240 480 240 360 240 480 210 270 540 180 600 180 270 150 12.750

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27.

360 420 510 360 600 450 600 540 300 360 300 180 130 300 270 210 300 300 600 270 600 210 360 300 390 450 750 180 10.000

3.030

Angka kum ulatif lima tahunan untuk kolom yang bertuliskan Akhir Repelita, yang lain adalah angka tahunan

XVIII/42

b. Pembinaan Swadaya Masyarakat Bidang Perumahan dan Lingkungan Kegiatan pembinaan swadaya masyarakat bidang perumahan ditujukan terutama untuk masyarakat perdesaan agar memiliki kesadaran akan pentingnya rumah dan lingkungan yang bersih dan sehat, sehingga secara gotong royong dan berantai bersedia memperbaiki atau memugar rumah yang kurang memenuhi syarat. Pembinaan swadaya masyarakat ini dilakukan melalui kegiatan penyuluhan, pembuatan rumah-rumah contoh, perbaikan bangunan rumah, perbaikan jalan lingkungan, pengadaan sarana Mandi Cuci Kakus (MCK), pengadaan sarana air bersih dan pemberian stimulan usaha produksi bahan bangunan. Kegiatan ini dilak sanakan secara terpadu antarinstansi pemerintah terkait di bawah koordinasi Kantor Menteri Negara Perumahan Rakyat. Pada tahun 1993/94 telah diperbaiki dan dipugar sejumlah 63.690 rumah di 4.246 desa yang tersebar di seluruh propinsi. Jumlah ini hampir sama dengan tahun sebelumnya. Dalam Repe lita V telah diperbaiki dan dipugar 264.868 rumah di 22.008 desa (Tabel XVIII-7). Dengan demikian sejak dimulainya kegiatan ini pada Repelita I sampai dengan tahun terakhir Repelita V telah diperbaiki dan dipugar sebanyak 422.397 rumah di 32.927 desa di Indonesia. Melalui kegiatan pemugaran rumah perdesaan ini maka kebiasaan masyarakat desa tinggal di rumah yang gelap, lembab dan tidak sehat, lambat lawn makin berubah ke arah rumah dan lingkungan yang bersih dan sehat. Hal ini merupakan kemajuan yang penting dalam kehidupan masyarakat desa. c. Pembinaan Kesejahteraan Sosial Masyarakat Terasing

Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk membantu "membuka jalan" masyarakat terasing ke arah cara hidup bermasyarakat yang lebih maju seperti yang telah dimiliki oleh masyarakat di desa-desa sekitarnya. Kegiatan yang dilaksanakan adalah berupa penyuluhan XVIII/43

TABEL XVIII - 7 PELAKSANAAN PEMBINAAN SWADAYA MASYARAKAT 1) BIDANG PERUMAHAN DAN LINGKUNGAN MENURUT DAERAH TINGKAT I, 1 9 7 3 /7 4 ,
1 9 8 8 /8 9 , 1 9 8 9 /9 0 - 1 9 9 3 /9 4

(rumah)

No. Daerah Tingkat I/ Propinsi 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D I Yogyakarta Jawa Timur D I Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Maluku Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Irian Jaya Timor Timur

Akhir Repelita I (1973/74)

Akhir Repelita IV (1988/89)

Repelita V 1989/90 1990/91 1991/92 1992/93 1993/94

5 59 59 8 28 6

40

27 4 8 3 3 36 2

11.982 20.433 3.016 14.649 6.026 6.640 5.602 6.358 2.220 2.890 3.856 2.893 6.578 2.379 3.001 2.205 2.923 2.338 4.952 2.132 1.350 2.389 3.339 6.107 1.622 1.305

6.105 6.120 135 6.120 1.395 2.025 1.650 570 780 1.335 795 1.950 795 450 1.395 420 1.395 765 1.410 465 435 135 630 450 225 150

5.172 4.872 276 7.788 1.608 1.788 1.836 1.656 1.176 1.272 1.356 1.284 1.872 1.248 1.548 1.500 1.392 2.268 1.320 984 1.308 744 972 1.380 888 756

5.196 5.046 720 7.212 3.072 1.896 2.064 1.320 1.308 1.260 1.008 1.704 1.320 840 1.968 2.124 1.248 840 1.464 1.044 1.056 1.032 1.080 1.500 900 756

6.888 6.852 756 6.912 4.044 2.937 2.112 2.076 2.016 2.208 1.860 2.200 1.788 1.812 2.316 1.608 2.040 1.920 2.796 1.441 1.364 1.416 1.980 2.148 1.356 990

5.685 6.825 1.095 10.095 3.720 2.670 2.745 1.950 1.560 2.055 1.440 2.055 1.335 1.920 1.875 1.335 1.575 1.935 2.190 1.485 1.350 1.080 1.515 1.995 1.260 945

Jumlah : R u m a h Desa

288 19

129.185 9.029

38.100 3.178

48.264 4.022

48.978 4.104

65.836 6.458

63.690 4.246

1)Angka kumulatif lima tahunan untuk kolom yang bertuliskan Akhir Repelita, yang lain adalah angka tahunan

XVIII/44

dan bimbingan sosial, perintisan perkampungan, penyediaan sarana sosial yang dilengkapi dengan penyediaan lahan, rumah, jaminan hidup, pemberian bimbingan keterampilan seperti pertanian, peternakan yang diikuti dengan pemberian bermacam bibit. Upaya pembinaan masyarakat terasing ini dilakukan secara terpadu dengan instansi pemerintah terkait seperti Departemen Kesehatan, Departemen Pertanian, Departemen Agama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Pertanahan Nasional, Pemerintah Daerah dan lembaga sosial masyarakat termasuk lembaga keagamaan. Pada tahurl 1993/94 masyarakat terasing yang dibina seluruhnya sejak awal Repelita V (1989/90) berjumlah 5.286 kepala keluarga termasuk tambahan baru pada tahun 1993/94 sejumlah 316 kepala keluarga (Tabel XVIII-8). Apabila dibandingkan dengan repelita-repelita sebelumnya, khususnya Repelita I dan Repelita IV, jumlah keseluruhan yang dibina dalam Repelita V lebih sedikit. Hal tersebut disebabkan oleh adanya upaya-upaya penyempurnaan pola dan peningkatan intensitas pembinaan bagi mereka. Pembinaan yang dilakukan dalam Repelita I dan II masih sangat sederhana oleh karena itu hasilnya kurang memadai. Berdasarkan pengalaman tersebut, sejak Repelita III paket pembinaan diberikan tidak hanya dalam bentuk penyuluhan dan bimbingan sosial, perintisan perkampungan dan penyediaan sarana sosial, tetapi juga dilengkapi dengan penyediaan lahan, rumah, jaminan hidup, pemberian keterampilan praktis, bibit pertanian dan peternakan. Dalam Repelita V paket pembinaan ini dilanjutkan dan lebih disempurnakan lagi dengan meningkatkan intensitas penyuluhan dan bimbingan sosial bagi mereka. Dengan paket yang lebih lengkap ini keluarga yang dapat dimasyarakatkan dalam satu tahun jumlahnya lebih terbatas tetapi pembinaannya lebih efektif. Pembinaan masyarakat terasing yang berhasil, dapat dilihat pada beberapa lokasi pembinaan seperti di permukiman Taramanu di Propinsi Sulawesi Selatan dimana masyarakat telah berkebun

XVIII/45

TABEL XVIII — 8 PEMBINAAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT TERASING MENURUT DAERAH TINGKAT I, 1973/74, 1988/89, 1989/90 — 1993/94 (kepala keluarga)
Akhir No. Daerah Tingkat I/ Propinsi Jawa Barat D I Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat R i a u Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Maluku Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Irian Jaya Jumlah 1) 2) Repelita I 1973/74) 1) Akhir Repelita IV (1988/89) 1) 100 75 45 200 465 75 55 175 465 190 92 345 50 536 310 300 500 250 375 2.715 7.318 Repelita V 2) 1989/90 — 40 45 75 225 70 47 300 — 87 120 50 131 45 100 50 665 2.050 .1990/91 — 90 45 150 300 70 47 400 50 87 220 50 181 50 95 150 100 91.5 3.000 1991/92 — 150 45 213 351 70 91 496 101 134 353 50 230 98 141 201 145 1.115 3.984 1992/93 25 190 45 263 425 115 191 536 153 186 478 50 280 140 191 246 204 1.252 4.970 1993/94 100 246 — 238 352 317 187 586 210 192 525 — 232 180 247 203 259 1.212 5.286

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20.

— 150 400 700 2.400 — 400 — 220 600 — 415 600 ` 150 — 1.000

7.035

Angka kumulatif lima tahun untuk yang bertuliskan Akhir Repelita Angka kumulatif sejak tahun 1989/90

XIII/46

tanaman coklat sebagai mata pencaharian dan telah mampu membayar pajak; permukiman Suru di Propinsi Irian Jaya yang semakin giat membuat karya seni ukir Asmat untuk dipasarkan diluar lokasi mereka; permukiman Harantan di Propinsi Kalimantan Selatan merupakan desa budaya sebagai obyek wisata; permukiman Turang di Propinsi Kalimantan Barat yang telah mengembangkan tanaman jeruk dan coklat; permukiman Rarantikala di Propinsi Sulawesi Tengah yang telah berkembang menjadi pusat perekonomian di tingkat kecamatan dengan hasil kacang hijau dan kedele, anak-anak telah bersekolah dan bahkan ada yang bersekolah di Perguruan Tinggi; dan permukiman Bone Kacintala di Propinsi Sulawesi Tenggara dimana warganya telah mengembangkan perkebunan jambu mete seluas 170 hektare dan merupakan penghasil jambu mete terbesar di Kabupaten Muna. Desa ini telah pula berhasil menjadi ' juara lomba PKK tingkat propinsi dan desa teladan. Mengingat masyarakat terasing pada umumnya termasuk masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan, maka upaya untuk memajukan kehidupan mereka merupakan bagian pula dari upaya penanggulangan kemiskinan. d. Pembinaan Nilai-nilai Kepahlawanan dan Keperintisan Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk melestarikan pewarisan dan penyebarluasan nilai-nilai kepahlawanan dan keperintisan para Pahlawan Pejuang dan Perintis Kemerdekaan agar senantiasa dihargai dan dihayati oleh generasi muda sebagai generasi penerus bangsa. Kegiatan yang dilaksanakan meliputi pemugaran dan pembangunan Taman-taman Makam Pahlawan (TMP), Makam Pahlawan Nasional (MPN), dan Makam Perintis Kemerdekaan (MPK) yang terdapat di hampir semua daerah. D'alam tahun 1993/94 TMP dan MPN/MPK yang diperbaiki dan dipugar berjumlah 46 buah TMP, dan 112 MPN/MPK tersebar di 11 propinsi. Pada tahun 1992/93 jumlah yang diperbaiki dan XVIII/47

dipugar adalah 40 buah TMP dan 101 buah MPN/MPK. Dengan demikian dalam Repelita V dari 260 TMP/TMPN yang ada telah diperbaiki dan dipugar sebanyak 131 buah. Di samping itu pada tahun 1993/94 telah dicetak dan disebarluaskan 5.000 eksemplar buku otobiografi dan sejarah perjuangan para pahlawan pejuang kemerdekaan yang disebarluaskan ke sekolah-sekolah tingkat SLTP dan SLTA seluruh Indonesia. Selama lima tahun Repelita V telah dicetak dan disebarluaskan 25.000 eksemplar buku otobiografi yang memuat 32 orang Pahlawan Nasional dan Perintis Kemerdekaan. e. Pembinaan Organisasi Sosial Masyarakat Tujuan utama kegiatan ini adalah membimbing dan memantapkan organisasi sosial masyarakat yang bergerak di bidang usaha kesejahteraan sosial agar kemampuan dan profesionalisasi pelayanannya meningkat. Pembinaan bag i organisasi-organisasi sosial (orsos) dilaksanakan melalui berbagai macam pelatihan antara lain pelatihan manajemen organisasi sosial, pelatihan profesi pekerjaan sosial, di samping penyelenggaraan forum komunikasi antara warga mampu dengan para pengurus orsos dan forum komunikasi antara orsos yang kuat dengan orsos yang lemah. Untuk lebih memantapkan dan memperluas jangkauan pelayanan sosial diberikan pula bantuan sarana pelayanan bagi organisasiorganisasi sosial yang memiliki panti. Dalam tahun 1993/94 terdapat 843 organisasi sosial yang mendapatkan bantuan sarana panti. Di samping itu telah dilaksanakan pula pelatihan manajemen bagi 1.050 pengurus orsos dan pelatihan profesi pekerjaan sosial bagi 1.380 pengurus orsos. Dalam lima tahun Repelita V telah diberikan bantuan sarana pelayanan sosial bagi 2.977 o r s o s , dilaksanakan pelatihan manajemen bagi 6.000 pengurus orsos dan pelatihan profesi pekerjaan sosial bagi 3.180 pengurus orsos. Dengan demikian sejak dimulainya kegiatan ini pada Repelita III sampai dengan

XVIII/48

akhir Repelita V secara kumulatif telah diberikan bantuan perlengkapan dan sarana panti untuk 5.177 orsos yang memiliki panti, dan dilaksanakan pelatihan manajemen bagi 27.000 pengurus orsos. Dalam Repelita V telah semakin banyak organisasi sosial dan kelompok masyarakat berperan serta dalam memberikan pelayanan sosial. Hal ini menunjukkan meningkatnya kesadaran dan kesetiakawanan sosial sebagai upaya perwujudan kehidupan bermasyarakat yang peduli akan lingkungan dan nasib sesamanya. 2. Program Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Program Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial bertujuan untuk memulihkan, memelihara, melayani dan meningkatkan kesejahteraan sosial para penyandang masalah sosial yang tidak dapat menjalankan fungsi sosialnya secara wajar. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat dipulihkan harga diri dan kepercayaan diri para penyandang masalah sosial sehingga dapat hidup mandiri secara layak dan dapat melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar serta dapat berperan aktif dalam pembangunan. Dalam tahun 1993/94 kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan melalui program ini meliputi: (a) penyantunan lanjut usia, anak terlantar dan yatim piatu; (b) penyantunan dan pengentasan penyandang cacat; (c) penyantunan tuna sosial, anak nakal dan korban narkotika; (d) bantuan pengentasan fakir miskin; (e) bantuan rehabilitasi korban bencana. a. Penyantunan Lanjut Usia, Anak Terlantar dan Yatim Piatu Penyantunan yang diberikan bagi para lanjut usia ditujukan bagi mereka yang tidak mampu, baik yang tinggal sendiri ataupun bersama keluarganya yang tidak mampu, dan mereka yang tinggal di panti lanjut usia (Panti Tresna Werdha). Penyantunan yang XVIII/49

diberikan pada lanjut usia di dalam panti adalah jaminan hidup termasuk jaminan kesehatan dan rasa aman. Sementara itu bentuk bantuan bagi mereka yang berada, di luar panti adalah berupa sarana usaha agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Dalam tahun 1993/94 jumlah bantuan kepada para lanjut usia yang tidak mampu meningkat lebih dari dua kali lipat yaitu 40.144 orang dibanding dengan jumlah tahun 1992/93 yang berjumlah 19.021 orang. Selama Repelita V seluruhnya telah berhasil dibantu sebanyak 116.979 lanjut usia yang tidak mampu (Tabel XVIII-9). Dengan demikian sejak Repelita I sampai dengan tahun terakhir Repelita V telah dibantu sebanyak 551.589 orang lanjut usia tidak mampu. Di samping itu untuk mendukung pelayanan bagi mereka pada tahun 1993/94 telah diperbaiki, dibangun dan disempurnakan sebanyak 26 panti lanjut usia milik pemerintah. Kegiatan penyantunan bagi anak terlantar dan yatim piatu diberikan dalam bentuk bimbingan dan motivasi, serta pemberian pelatihan berbagai jenis keterampilan. Pelatihan keterampilan dilaksanakan dengan kerja sama antara lain dengan Balai Latihan Kerja Indonesia (BLKI) Departemen Tenaga Kerja. Dalam tahun 1993/94 telah dibina dan dientaskan sebanyak 118.938 anak terlantar atau meningkat sebanyak 11.232 orang anak (10,43 persen) bila dibandingkan dengan tahun 1992/93. Dengan demikian selama Repelita V seluruhnya telah berhasil dibina sebanyak 452.015 orang (Tabel XVIII-9). Sementara itu sejak Repelita I sampai dengan akhir Repelita V telah dibina dan dientaskan sebanyak 1.010.365 orang anak terlantar. Di samping itu pada tahun 1993/94 telah dilaksanakan perbaikan dan pembangunan panti anak terlantar sebanyak 35 panti milik pemerintah dan 58 panti milik masyarakat.
b. Penyantunan dan Pengentasan Penyandang Cacat

Upaya penyantunan dan pengentasan penyandang cacat bertujuan untuk meningkatkan harkat dan martabat serta XVIII/50

TABEL XVIII - 9 PELAKSANAAN PENYANTUNAN KEPADA PARA LANJUT USIA DAN ANAK TERLANTAR MENURUT DAERAH TINGKAT I,t) 1968, 1988/89, 1989/90 - 1993/94 (orang)
No. Daerah Tingkat I/ Propinsi DKI Jakarta Jawa Barest Java Tenph D I Yogyakarta Jawa Maur D I Aceh Sumatera Utara Sum-atom Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan KalknantanTimur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Maluku Bali Nusa Tenggara Sara t Nusa Tenggara Timur Irian Jaya Timor Timur Akhe Repelita IV Repelita V __________________________1968________________(1988,/89)_________1989/90_______________1990,91____________1991,92_______________1992/93_ 993194 1 Lanjut Anak Lanjm Anak Lan jut Anak Lanjm Anak Lanjm Anak Lanjm Amok Lan jut Anak Usia Terlantar Usia Teriantar Usia Teriantar Usia Tedamar Usia Terlamar Usia Terianlar Usia Tertantar 80 40 40 30 40 40 30 40 30 20 30 30 20 30 30 30 30 30 30 30 20 30 20 200 120 120 90 120 80 90 120 90 60 80 90
50

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. IS. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27.

80 20 90 70 70 20 90 20 90 90 60 90 -

12.016 I2389 12.174 5.745 13.025 6245 9.829 6.748 4.955 422A 8262 3.855 6.025 5.369 4.700 4.925 3.815 6.631 3.685 7.314 3.125 4.705 5.445 5.093 5.100 4.845 320

12.390 19.180 18.480 7.620 21375 7.956 12.707 9.247 6.437 6.384 8.760 6.340 8.894 5.857 6.000 7.552 6.210 7.677 6.480 13.320 5.752 7.351 8.548 9.430 8.070 8.370 613

1.945 2.010 2.070 650 2.120 445 1253 556 265 370 792 315 520 373 270 465 335 577 265 390 305 295 405 477 470 225 102

3.910 8591 6.445 2.401 10.718 1.557 3.535 2235 1.504 902 1.007 513 855 1226 569 1.870 1.381 1.345 752 3.247 826 746 2.370 2.973 1298 1.309 717

2591 2248 2263 640 2.047 345 1255 425 335 330 742 375 620 533 395 425 505 668 365 590 405 395 485 321 460 255 190

4.316 10572 6.819 2271 10.596 2.732 4.038 3.152 1.632 709 1.779 542 1.836 1.465 604 1.400 1.558 1253 1.439 2.751 661 726 1.925 3.326 393 2.591 2.739

2.882 2.193 2.020 580 2.047 515 910 310 285 265 782 375 520 473 355 390 335 688 475 560 335 375 375 435 350 315 196

4.413 11517 7.771 2.645 11.171 3.766 5.107 3.431 2.483 1226 1.587 757 2.009 1.832 678 1585 1.738 1.784 2.079 3.789 685 1.210 2229 4.960 . 835 3.556 1.901

3.375 1.542 1.801 633 1.898 525 766 410 285 300 825 400 525 599 355 385 345 645 475 525 335 375 405 440 340 315 197

4333 12.465 6284 2.632 15255 3.609 5.883 11.760 1.641 1.004 2.585 1.502 2.336 2.743 1.014 2.425 2.085 2.552 2.389 3.997 1.881 1.566 2.579 5.640 2.823 2.912 1.811

2.551 3.980 3.831 1.003 3.741 1.150 2.256 1.407 800 1.327 1258, 1.414 960 635 1.000 1270 1.155 1.079 1.695 834 1.096 875 1.415 1.360 1240 377 435

4.886 16.740 6.782 2.971 21.333 4210 12.703 4581 2.757 1.181 2.502 2282 2.879 1.062 2293 2299 1.908 2.417 5.409 1.251 1288 2.095 6.061 1.787 2.577 853 1.831

Jumlah

750

2.100

170.560

247.000

18265

64.802 20.208

73.825

19.341

86.744

19.021

107.706

40.144

118.938

1) Angka kumulatif lima tahunan untuk kolom yang bertuliskan akhir Repelita, yang lain adalah angka tahunan

XVIII/51

produktivitas penyandang cacat sebagai sumber daya manusia. Upaya. tersebut dilaksanakan melalui pemberian motivasi, rehabilitasi fisik, bimbingan mental dan sosial, serta pelatihan keterampilan yang diikuti dengan praktek belajar kerja pada perusahaan-perusahaan tertentu. Berbagai kegiatan tersebut dilakukan dalam panti-panti rehabilitasi sosial penyandang cacat yang didahului oleh santunan awal di luar panti melalui Unit Rehabilitasi Sosial Keliling (URSK): dan pelatihan di Loka Bina Karya (LBK). Pada tahun 1993/94 telah diberikan pelayanan dan rehabilitasi sosial bagi 44.701 penyandang cacat. Jumlah ini meningkat sebanyak 16.659 orang (59,4 persen) dibanding tahun sebelumnya (Tabel XVIII-10). Dengan demikian selama Repelita V telah dilayani dan direhabilitasi penyandang cacat sebanyak 133,735 orang. Sejak Repelita I sampai tahun kelima Repelita V telah berhasil dilayani dan direhabilitasi sebanyak 429.382 penyandang cacat di seluruh Indonesia. Di samping itu pada tahun 1993/94 telah pula dilaksanakan pembangunan dan rehabilitasi panti pemerintah dan masyarakat sebanyak 48 buah, pembangunan 8 buah LBK dan rehabilitasi gedung LBK sebanyak 31 buah clan pengadaan 10 buah URSK. Selanjutnya telah pula diberikan bantuan pengasramaan bagi murid Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) sebanyak 2.995 orang di 173 SDLB milik Pemerintah Daerah. Dengan , berbagai upaya pelayanan dan rehabilitasi sosial tersebut, telah banyak perusahaan-perusahaan yang menggunakan penyandang cacat sebagai tenaga kerja produktif. Sebagai contoh di Jawa Timur, para penyandang cacat telah bekerja di perusahaanperusahaan pakaian jadi, alat-alat rumah tangga, elektronika dan mebel. Sementara itu di Sumatera Selatan para penyandang cacat telah bekerja di pabrik perusahaan pakaian jadi. Di samping itu Kelompok Usaha Produktif (KUP) penyandang cacat telah dipercaya untuk memperoleh kredit dengan bunga ringan dari Bank

XVIII/52

T A B E L XVIII - 10 P E L A K S A N A A N P E N Y A N T U N A N DAN PENGENTASAN PARA CACAT M E N U R U T D A E R A H TINGKAT I, 1) 1968, 1988/89, 1989/90 – 1993/94 (orang)
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. Daerah Tingkat I/ Propinsi DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D I Yogyakarta Jawa Timur D I Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lam pu n g Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Maluku Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Irian Jaya Timor Timur Jumlah 1968 1.210 735 1.300 525 830 210 620 120 120 120 520 210 220 120 80 520 80 420 220 420 120 120 430 420 310 Akhir Repelita (1988/89 1989/90 ) 12.130 525 9.879 1.571 14.708 2.124 2.409 312 7.319 1.435 1.980 240 5.534 1.380 3.702 490 1.654 134 1.422 177 5.886 781 1.374 180 2.069 435 1.293 114 1.434 285 3.774 444 1.050 154 3.769 736 4.305 305 6.913 402 1.309 184 3.154 239 3.169 310 3.700 167 3.140 210 1.846 200 315 190 Repelita V 1990/9 1991/9 1992/9 1 2 3 1.762 1.300 ' 965 2.269 1.900 1.921 1.599 1.707 2.585 1.149 1.115 890 2.095 2.160 2.185 1.100 1.025 1.050 1.305 1.405 1.705 985 850 1.155 409 524 505 172 495 490 1.186 1.278 1.545 198 371 730 335 1.040 975 264 630 845 240 465 565 1.070 1.075 835 1.285 850 710 1.552 900 760 275 590 610 462 750 1.450 539 520 710 714 715 990 345 524 865 632 662 1.121 445 700 840 290 335 565 405 300 475 1993/ 94 1.504 3.100 4.107 1.263 3.810 1.785 2.144 1.920 1.075 910 2.570 1.753 1.180 995 1.525 1.228 1.190 905 2.540 990 1.215 880 1.607 1.400 1.005 1.015 1.085

10.000 109.237 13.724 23.08 24.186 28.04 44.701 2 2 1) Angka kumulatif lima tahunan untuk kolom yang bertuliskan Akhir Repelita, yang lain adalah angka tahunan

XVIII/53

Rakyat Indonesia (BRI) dalam bentuk Kredit Modal Kerja Permanen (KMKP) di 12 propinsi. Kepercayaan melalui pemberian dan pembinaan kredit ini semakin luas dengan adanya tawaran kredit antara lain dari PT Telekomunikasi, Indosat, dan Bukit Asam serta proyek Pembinaan Peningkatan Pendapatan Petani Kecil (P4K) Departemen Pertanian. Pada tahun 1993/94 telah dilakukan rehabilitasi sosial bagi para bekas penyandang penyakit kusta di luar permukiman sebanyak 100 orang di Propinsi Nusa Tenggara Barat, dan 885 prang dalam permukiman di Propinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, Maluku, Nusa Tenggara Barat, dan Irian Jaya. Dengan demikian dalam Repelita V telah dilakukan rehabilitasi sosial bagi 8.866 orang bekas penyandang penyakit kusta baik yang dilakukan di dalam permukiman maupun di luar permukiman. c. Penyantunan Tuna Sosial, Anak Nakal dan Korban Narkotika Tujuan kegiatan ini adalah menyantun dan mengentaskan para tuna sosial, dan anak nakal dan korban penyalahgunaan narkotika agar mereka dapat kembali menjadi anggota masyarakat yang hidup secara baik dan layak. Rehabilitasi sosial bagi tuna sosial yaitu gelandangan dan pengemis, tuna susila dan bekas narapidana terutama dilakukan dengan bimbingan sosial dan motivasi, pembinaan mental dan spiritual, dan pelatihan keterampilan untuk dapat memanfaatkan kesempatan kerja yang ada. Sementara itu kegiatan rehabilitasi untuk anak nakal dan korban penyalahgunaan narkotika ditekankan pada upaya pencegahan yang dilakukan dalam bentuk penyuluhan tentang bahaya narkotika melalui pertemuan dengan warga masyarakat dan penyebaran selebaran berisi informasi tentang hal tersebut. Bagi para penderita diupayakan rehabilitasi sosial baik di dalam panti maupun di luar panti melalui bimbingan mental, sosial dan fisik serta pelatihan keterampilan.

XVIII/54

Dalam tahun 1993/94 telah direhabilitasi dan diresosialisasi sebanyak 950 orang tuna susila, 1.550 orang gelandangan dan pengemis, dan 2.396 orang anak nakal dan korban penyalahgunaan narkotika. Jumlah ini meningkat bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya terutama untuk anak nakal dan korban penyalahgunaan narkotika sebanyak 413 orang (20,83 persen). Dengan demikian selama Repelita V yang telah direhabilitasi dan diresosialisasi 4.418 tuna susila, 6.674 gelandangan dan pengemis dan 9.158 anak nakal dan korban penyalahgunaan narkotika. Melalui program ini sejak Repelita I sampai tahun terakhir Repelita V telah direhabilitasi dan dientaskan gelandangan dan pengemis sebanyak 55.098 orang. Sedangkan untuk tuna susila dan anak nakal dan korban penyalahgunaan narkotika yang rehabilitasinya dilaksanakan sejak awal Repelita II sampai dengan tahun terakhir Repelita V masing-masing berjumlah 17.213 dan 20.891 orang. Untuk menunjang kegiatan ini pada tahun 1993/94 telah direhabilitasi dan disempurnakan 26 Panti Karya Wanita, 9 Panti Rehabilitasi Anak Nakal dan Korban Narkotika dan 6 buah Lingkungan Pondok Sosial (LIPOSOS) di beberapa daerah dan 5 Sasana Rehabilitasi Pengemis Gelandangan dan Orang Terlantar (SRPGOT). Upaya rehabilitasi anak nakal dan korban narkotika yang dilakukan oleh Panti Rehabilitasi Sosial Korban Narkotika Wisma Teratai, Surabaya (Jawa Timur) misalnya, telah berhasil memperoleh kepercayaan dari pengusaha-pengusaha yang memesan barang-barang industri rotan, kulit, sepatu dan tas yang dihasilkan oleh anak-anak binaan panti tersebut. Panti Rehabilitasi Sosial Korban Narkotika di Lembang (Jawa Barat) telah menjalin hubungan kerja sama dengan perusahaan pakaian jadi dan sebagian besar anak-anak binaannya dapat disalurkan untuk bekerja pada perusahaan tersebut.

XVIII/55

d. Bantuan Pengentasan Fakir Miskin Tujuan utama kegiatan ini adalah membantu meningkatkan taraf kesejahteraan sosial kelompok masyarakat yang sangat miskin terutama di daerah perdesaan yang dilakukan melalui pemberian motivasi, pembentukan kelompok, dan pemberian paket usaha produktif yang diawali dengan pelatihan keterampilan. Paket usaha produktif dikelola secara berkelompok yang masing-masing terdiri dari 10 kepala keluarga. Di setiap desa miskin yang terpilih disantun rata-rata 3-5 Kelompok Usaha Bersama (KUB). Kegiatan ini baru dimulai pada akhir Repelita IV dengan jumlah kepala keluarga miskin yang dibina sebanyak 2.710. Pada tahun 1993/94 jumlah kepala keluarga miskin yang berhasil dibantu telah berjumlah 21.600 kepala keluarga yang tersebar di. 474 desa di seluruh propinsi (Tabel XVIII-11). Jumlah ini meningkat bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebanyak 4.970 kepala keluarga (29,89 persen). Dalam Repelita V telah berhasil dibantu 76.841 kepala keluarga miskin. Mengingat jumlah kepala keluarga miskin yang memerlukan bantuan masih banyak, maka dalam kegiatan ini diupayakan adanya peran serta masyarakat sebagai wujud kesetiakawanan sosial. Sebagai contoh yang berhasil di desa Giri Rejo Imogiri Kabupaten Bantul (DI Yogyakarta) bantuan berupa sejumlah ternak sapi dalam beberapa tahun telah berlipat jumlahnya sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat miskin bahkan kemudian telah dapat disumbangkan pada keluarga miskin lainnya yang belum memperoleh bantuan. Sementara itu di desa Giri Wungu Kabupaten Gunung Kidul bantuan ternak sapi sebanyak 27 ekor untuk 5 kelompok dalam beberapa tahun berkembang menjadi 72 ekor. Setengah dari jumlah sapi tersebut telah dijual untuk membiayai kebutuhan hidup dan sisanya dipelihara untuk dikembangkan lagi.

XVIII/56

TABEL XVIII — 11 PENYANTUNAN DAN PENGENTASAN FAKIR MISKIN MENURUT DAERAH TINGKAT I, 1) 1988/89, 1989/90 — 1993/94 (desa dan kepala keluarga)
No. Daerah Tingknt I/ Propinsi Akhir Repelita IV _ (1988/89) desa kk 13 47 39 17 31 15 19 800 3.440 3.440 960 2.740 775 920 Repelita V 1989/90 desa kk 55 41 13 49 29 33 8 8 19 7 13 23 8 10 9 12 4 4 10 4 24 22 7 15 427 1.930 1:400 360 1.710 560 720 160 160 430 140 300 430 160 200 180 280 120 120 200 120 610 550 150 300 11.350 1990/91 desa kk 48 36 22 38 20 44 11 20 20 22 13 26 33 13 13 17 20 11 24 20 13 16 500 1.920 1.440 880 1,520 400 1.330 330 600 600 440 260 780 810 260 420 340 600 330 700 600 260 320 15.140 1991/92 desa kk 29 28 13 26 17 23 20 17 21 16 17 19 20 — 15 18 19 15 — 20 20 8 19 400 1.160 1.120 520 1.040 340 690 600 510 630 400 425 570 500 — 375 576 475 450 — 600 600 160 380 12.121 1992/93 kk 2.490 2.420 900 2.360 380 650 600 420 480 480 420 370 400 320 370 620 790 330 — 510 500 270 550 16.630 1993/94 desa kk 44 46 14 52 12 20 15 10 6 17 20 20 12 15 12 15 12 10 18 17 10 7 20 22 6 22 474 2.340 2.460 880 2.810 480 790 610 430 290 720 830 810 430 590 520 700 410 360 750 700 330 400 890 960 220 890 21.600

desa 62 60 22 59 13 21 —. — 20 14 15 17 13 12 13 10 12 20 26 11 — 17 16 9 18 480

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27.

DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D I Yogyakarta Jawa Timur D I Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera. Selatan Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawei Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Maluku Bal i Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Irian Jaya Timor Timor Jumlah

310 1 24 550 750

2 9 11 9 23 IS 6 296

100 585 910 770 1.130 910 450 19.540

1)

Angka kumulad[ lima tahunan untuk kolom yang bertuliskan Akhir Repelita, yang lain adalah angka tahunan

XVIII/57

e. Bantuan Rehabilitasi Korban Bencana Alam Kegiatan ini bertujuan untuk meringankan beban para korban bencana alam, khususnya mereka yang tidak mampu, yang diberikan dalam bentuk bantuan bahan makanan, obat-obatan, dan bahan bangunan rumah untuk memperbaiki rumah mereka yang rusak atau hancur akibat bencana. Pada tahun 1993/94 tercatat serangkaian kejadian bencana alam yang relatif besar. Bersama dengan masyarakat telah diberikan bantuan darurat dan rehabilitasi rumah sebanyak 2.904 unit bagi korban bencana kebakaran Kotabaru di Kalimantan Selatan. Di samping itu bantuan darurat dan rehabilitasi rumah sebanyak 1.000 unit telali diberikan bagi korban gempa bumi di Kabupaten Maluku Utara dan Halmahera Tengah di Maluku. Untuk korban gempa Liwa di Lampung telah diberikan bantuan darurat berupa bahan bangunan rumah sebanyak 10.387 unit, di samping bantuan perbaikan sarana pelayanan umum, antara lain rehabilitasi 115 SD dan 13 buah puskesmas yang rusak akibat bencana. Dalam rangka kesiapsiagaan penanggulangan bencana alam, dalam tahun 1993/94 telah dilatih Satuan Tugas Sosial Penanggulangan Bencana (SATGASOS PB) sebanyak 1.240 orang dan diadakan sejumlah peralatan penanggulangan bencana dan penyelamatan para korban. Selama PJP I tercatat beberapa bencana besar, antara lain meletusnya gunung Kelud di Jawa Timur, gunung Agung di Bali; gunung Colo dan Soputan di Sulawesi Utara, gunung Galunggung di Jawa Barat, gunung Kie Besi dan gunung Gamalama di Maluku; tanah longsor di lembah Baliem (Irian Jaya), Padang (Sumatera Barat), Kurima (Irian Jaya), Tasikmalaya (Jawa Barat), Lampung Selatan (Lampung) dan Lumajang (Jawa Timur); gempa bumi di Daerah Istimewa Aceh, Bali, Sulawesi Utara, Majalengka (Jawa

XVIII/58

Barat), Flores (Nusa Tenggara Timur), dan beberapa kabupaten di Nusa Tenggara Timur yaitu Ende, Sikka, Ngada, Flores Timur, Manggarai, Sumba Timur dan Alor, Maluku Utara dan Halmahera (Maluku) dan Liwa (Lampung); kekeringan di gunung Kidul (Jawa Tengah) dan Nusa Tenggara Timur; dan kebakaran di Kota Baru (Kalimantan Selatan). 3. Program Pembinaan Generasi Muda Pembinaan generasi muda di bidang kesejahteraan sosial dipusatkan pada peningkatan pembinaan Karang Taruna, sebagai organisasi sosial kepemudaan di tingkat desa/kelurahan. Karang Taruna berfungsi pula sebagai wadah untuk mencegah kenakalan remaja dan berperan dalam penanggulangannya, serta membantu mengatasi masalah sosial di lingkungannya. Dalam rangka itu Karang Taruna dibina agar anggota-anggotanya memiliki keterampilan yang handal sehingga mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi diri dan lingkungannya. Pembinaan Karang Taruna sejak Repelita I sampai dengan Repelita IV dititikberatkan pada upaya menumbuhkan Karang Taruna di seluruh desa di Indonesia. Upaya ini telah berhasil dilakukan. Dalam Repelita V pembinaan Karang Taruna dititikberatkan pada upaya memantapkan dan meningkatkan mutu organisasi melalui kegiatan pelatihan berbagai keterampilan seperti pertanian dan industri serta pemberian bantuan paket Sarana Usaha Karang Taruna. Pada tahun 1993/94 telah diberikan bantuan paket Sarana Usaha Karang Taruna kepada 2.985 Karang Taruna yang tersebar di seluruh propinsi (Tabel XVIII-12). Selama.Repelita V telah diberikan modal kerja bagi 13.288 Karang Taruna dari sekitar 65.000 Karang Taruna yang ada di Indonesia. Di samping itu pada tahun 1993/94 telah dilaksanakan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kemampuan manajemen dan keterampilan bekerjasama dengan Pusat Pendidikan Zeni Angkatan Darat (PUSDIKZIAD) XVIII/59

11

TABEL XVIII — 12 BANTUAN PAKET SARANA USAHA KARANG TARUNA 1) MENURUT DAERAH TINGKAT I, 1989/90 — 1993/94 (Karang Taruna)
Repelita V No Daerah Tingkat It Propinsi DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D I Yogyakarta Jawa Timur D I Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Maluku Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Irian Jaya Bengkulu Timor Timur Jumlah
1) Angka tahunan

1989/90 42 199 200 54 200 140 145 118 55 50 X80 49 50 50 50 75 50 49 49 60 50 50 50 50 60 50 50 2.125

1990/91 50 230 240 56 240 165 180 118 50 51 86 56 57 44 75 52 52 45 61 48 58 57 52 56 50 50 46 2.325

1991/92 47 245 240 50 265 215 226 125 90 75 130 100 85 70 106 70 70 70 130 70 75 76 75 75 75 75 70 3.000

1992/93 55 270 251 40 270 166 150 115 100 71 160 75 65 116 79 70 70 110 60 75 40 60 75 50 80 115 65 2.853

1993/94 26 331 331 36 341 171 202 151 71 56 125 100 81 56 121 56 56 66 106 53 91 43 52 99 46 67 51 2.985

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23, 24. 25. 26. 27.

XVIII/60

di Bogor dan dengan Balai Pelatihan Pertanian di Ciawi, pembudidayaan udang galah dan peternakan di Tasikmalaya, serta dalam pembudidayaan udang windu di Jepara, kerajinan rotan dan kulit di Sidoarjo, dan peternakan dan pertanian terpadu di Tapos. Selanjutnya telah diselenggarakan pula temu karya, bhakti sosial dan tukar menukar informasi dan pengalaman• antar Karang Taruna dari berbagai propinsi. Hasil pembinaan Karang Taruna dapat dilihat antara lain dari tumbuhnya usaha-usaha Karang Taruna dalam bidang industri kecil, kerajinan rotan, kulit, bambu, kayu, perbengkelan, pertambakan, dan pertanian di beberapa daerah, seperti di desa desa Raba (Bima), Pagar Dewa (Bengkulu), Sido Mulyo (Magetan), Babat (Lamongan), Purwodadi (Pasuruan), Wonoatu (Trenggalek), Singasari (Tasikmalaya), Potobo (Donggala), Bangunjiwo (Bantul), dan Pakem (Kaliurang). Selain itu terdapat pula beberapa Karang Taruna dari sejumlah desa di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Ba'rat, Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan yang ikut mengelola Posyandu, memberikan pelayanan Keluarga Berencana dan melaksanakan Program Paket Kerja dan Belajar (Kejar) dari Program Pendidikan Masyarakat. 4. Program Peningkatan Peranan Wanita Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan peran serta wanita desa dalam pembangunan melalui peningkatan keterampilan kaum wanita yang rawan sosial ekonominya, yang dilakukan dengan bimbingan usaha swadaya wanita desa (USWD), usaha pencegahan urbanisasi wanita usia muda ke daerah perkotaan, serta pelatihan kepemimpinan sosial wanita untuk dapat menanggulangi dan mencegah, masalah kenakalan remaja, masalah tuna karya dan tuna susila. Dalam tahun 1993/94 telah dilaksanakan pelatihan kepemimpinan sosial wanita bagi 120 orang pimpinan organisasi di 6 kabupaten, dan peningkatan keterampilan kaum wanita yang XVIII/61

rawan sosial ekonomi melalui bimbingan USWD untuk 1.282 orang di 106 desa dari 23 propinsi. Pada tahun yang sama dilakukan pula usaha-usaha penyuluhan pencegahan urbanisasi wanita muda usia di desa-desa yang rawan sosial ekonominya. Kegiatan ini telah dapat menjangkau sekitar 985 orang di 81 desa, termasuk pemberian bantuan sarana usaha produktif untuk meningkatkan pendapatan mereka. Dengan demikian dalam Repelita V telah dilaksanakan pelatihan kepemimpinan sosial wanita bagi 2.050 orang pimpinan organisasi dan peningkatan keterampilan kaum wanita yang rawan sosial ekonomi melalui USWD untuk 5.742 orang. Melalui program ini sejak Repelita III sampai dengan Repelita V kegiatan pelatihan kepemimpinan sosial wanita bagi pimpinan organisasi dan peningkatan keterampilan kaum wanita yang rawan sosial ekonomi yang diberikan dalam bentuk bimbingan USWD secara berturut-turut telah dilaksanakan bagi 10.205 orang dan 55.217 orang wanita yang rawan sosial ekonominya. 5. Program Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesejahteraan Sosial Program ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan, keahlian dan keterampilan serta wawasan tenaga-tenaga pelaksana pembangunan bidang kesejahteraan sosial baik pegawai pemerintah maupun tenaga kesejahteraan sosial masyarakat, melalui berbagai pelatihan administrasi dan pelatihan profesi pekerjaan sosial. Dalam tahun 1993/94 telah dilaksanakan pelatihan profesi pekerjaan sosial untuk 300 petugas sosial kecaniatan (PSK) dan dalam Repelita V PSK yang dilatih berjumlah 800 orang. Melalui program ini pada tahun 1993/94 dilaksanakan pula pelatihan bagi pemuda potensial sebagai PSM Satuan Tugas Sosial (PSM SATGASOS) yang akan bertugas sebagai penggerak XVIII/62

pembangunan, dan sukarelawan di daerah terpencil dan terasing. Di daerah-daerah tersebut mereka akan membina masyarakat terpencil dan terasing agar dapat membangun sendiri keluarga dan masyarakatnya melalui kegiatan pertanian , peternakan, pertukangan dan lain sebagainya. Pada tahun 1993/94 telah dilatih PSM SATGASOS sebanyak 350 orang dan telah ditempatkan di Propinsi Riau, Sumatera Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Propinsi Nusa Tenggara Barat. Jumlah ini lebih kecil dari tahun 1992/93 karena pola pelatihan SATGASOS akan diterapkan untuk melatih seluruh pegawai baru di Departemen Sosial pada tahun berikutnya, sehingga setiap pegawai baru paling tidak memiliki semangat dan keterampilan yang setara dengan SATGASOS. Dalam Repelita V telah dilatih dan ditempatkan 1.950 PSM SATGASOS. 6. Program Penelitian dan Pengembangan Sosial Kesejahteraan

Program ini bertujuan untuk mengkaji dan menyempurnakan sistem dan pola penanganan masalah dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan program kesejahteraan sosial sesuai dengan keadaan dan perkembangan masalah sosial yang dihadapi. Kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan dalam tahun 1993/94 meliputi : a) Kaji tindak (Action Research) Pola Konsentrasi Proyek-proyek Pembangunan Bidang Kesejahteraan Sosial.

b) Evaluasi Kesiapsiagaan Tenaga Pelaksana pembangunan Bidang Kesejahteraan Sosial Dalam Rangka Pelaksanaan Kebijaksanaan Desentralisasi dan Otonomi Daerah. c) Evaluasi Pelaksanaan Pembinaan Rehabilitasi Sosial Bekas Penyandang Penyakit Kusta di lokasi Permukiman.

XVIII/63

d) Evaluasi Program Penyantunan dan Pengentasan Anak Terlantar melalui Sistem dalam Panti/Sasana. e). Penelitian Eksploratif Terhadap Permasalahan Kesejahteraan Sosial di Daerah Sentra Industri (tinjauan terhadap sumber timbulnya wanita tuna susila di Batam dan Bontang). f) Penelitian Fungsi dan Peranan PSK dalam melaksanakan tugas Pelayanan Kesejahteraan Sosial.

g) Penelitian Determinan Perilaku Penyalahgunaan Obat/ Narkotika. h) Penelitian Peranan PSM dalam Penanganan Masalah Kesejahteraan Sosial. i) Penelitian efektivitas kegiatan pelaksanaan SATGASOS PB dalam rangka meningkatkan Kesiapsiagaan Masyarakat di Daerah Rawan Bencana.

D. PERANAN WANITA DALAM PEMBANGUNAN BANGSA Peningkatan peranan wanita dalam Repelita V dilaksanakan melalui: (1) pembinaan dan pelatihan, (2) penataan kelembagaan, (3) kerja sama internasional, dan (4) penyelenggaraan kegiatan terpadu secara lintas sektoral. 1. Pembinaan dan Pelatihan Dalam Repelita V telah dilaksanakan pembinaan dan pelatihan melalui: (a) latihan kepemimpinan wanita (LKW), (b) pelatihan teknik analisa gender (TAG), (c) peningkatan peranan wanita menuju keluarga sehat sejahtera (P2WKSS), (d) kegiatan-kegiatan pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK), (e) bina keluarga balita (BKB), (f) peningkatan penggunaan air susu ibu (PP-ASI), XVIII/64

(g) pendidikan pendahuluan bela negara, dan (h) pengembangan pusat studi wanita (PSW). a. Latihan Kepemimpinan Wanita (LKW)

Pelatihan kepemimpinan bagi wanita yang menduduki jabatan pimpinan bertujuan untuk meningkatkan jumlah wanita pemimpin yang berkualitas agar mampu menjadi penggerak masyarakat dan terlibat dalam proses pengambilan keputusan, perencanaan dan pengelolaan program dan dilaksanakan oleh berbagai sektor pembangunan. Untuk itu pada tahun 1993/94 telah dilatih sebanyak 5.832 orang peserta LKW dan 30 orang pelatih LKW dan selama lima tahun dalam Repelita V telah dilatih sebanyak 21.465 orang dan 320 orang pelatih LKW. b. Pelatihan Teknik Analisa Gender (TAG)

Pelatihan TAG ditujukan agar di dalam proses perencanaan pembangunan kepentingan wanita mendapat perhatian melalui suatu analisis yang memperhatikan data dan informasi berdasarkan jenis kelamin. Dengan teknik analisa tersebut diharapkan makin dapat diwujudkan peningkatan peranan wanita sebagai mitra sejajar pria baik sebagai pelaku pembangunan maupun sebagai penikmat hasil pembangunan. Pada tahun 1993/94 telah dilatih sebanyak 604 orang atau peningkatan sebesar 72 persen dibandingkan dengan jumlah orang yang dilatih pada tahun 1992/93 yaitu sebanyak 351 orang. Peningkatan yang cukup besar tersebut disebabkan oleh perluasan cakupan peserta pelatihan termasuk para peneliti dan widyaiswara dari berbagai departemen dan lembaga pemerintah nondepartemen yang belum dilatih pada tahun-tahun sebelumnya. Dengan demikian, dalam Repelita V, yaitu sejak dimulainya pelatihan TAG pada tahun 1990/91 sampai dengan tahun 1993/94, telah berhasil dilatih sebanyak 1.486 orang.

XVIII/65

c. Peningkatan Peranan Wanita Menuju Keluarga Sehat Sejahtera (P2WKSS) Kegiatan P2WKSS ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan, kemampuan, keterampilan, kesadaran dan sikap mental wanita dalam mewujudkan dan mengembangkan kehidupan keluarga sehat, sejahtera, dan bahagia. Untuk itu, sejak Repelita III telah dilaksanakan kegiatan P2WKSS dengan sasaran utama wanita usia 10-44 tahun dari keluarga yang tergolong berpendidikan rendah dan berpenghasilan rendah di desa rawan sosial dan ekonomi. Kegiatan yang dilakukan antara lain berupa pemasyarakatan P-4, pemberantasan tiga buta, pembinaan kesehatan lingkungan, keluarga berencana,, gizi, dan pertanian. Dalam Repelita V, telah dilaksanakan pembinaan P2WKSS terhadap 592 desa per tahun, sehingga jumlah desa P2WKSS yang telah dibina selama 5 tahun Repelita V tercatat sebanyak 2.960 desa. Dengan demikian sejak dimulainya kegiatan P2WKSS pada Repelita III sampai akhir Repelita V, desa yang telah melaksanakan dan mendapat pembinaan kegiatan P2WKSS secara keseluruhan berjumlah 8.276 desa yang tersebar di 3.839 kecamatan di berbagai propinsi. Kegiatan tersebut telah meningkatkan peranan wanita tidak saja sebagai sasaran pembangunan tetapi juga sebagai pelaku pembangunan. d. Gerakan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Pembinaan Kesejahteraan Keluarga ditujukan untuk meningkatkan keterampilan dan memperluas pengetahuan wanita dalam mewujudkan keluarga sehat sejahtera, dengan didasarkan atas 10 program pokok PKK. Pelaksanaan kegiatan PKK dalam Repelita V diutamakan untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan di luar sekolah melalui kelompok belajar Paket A, program kesehatan dan gizi, serta keluarga berencana melalui posyandu dan Dasawisma. Kegiatan-kegiatan tersebut dilaksanakan oleh kaderkader PKK yang dilatih khusus urttuk berbagai keterampilan PKK XVIII/66

termasuk keterampilan pengelolaan PKK. Sejak dibentuknya kader-kader PKK pada tahun 1982 dalam Repelita III sampai akhir Repelita V telah dibina kurang lebih 6,3 juta orang kader yang terdiri dari 4,0 juta orang kader PKK umum dan 2,3 juta orang kader PKK khusus. Pembentukan kader dan pembinaannya dilaksanakan melalui pembentukan satuan penggerak PKK. Untuk kurun waktu yang sama yaitu sejak tahun 1982 sampai akhir Repelita V, pembentukan satuan penggerak PKK sampai dengan tahun 1993/94 telah mencakup 296 kabupaten/kotamadya, 28 kota administratif, dan 3.526 kecamatan di semua propinsi. Untuk mendorong perkembangan dan kemajuan PKK, sejak tahun 1982/83 Pemerintah memberikan bantuan biaya operasional sebesar Rp250.000,- untuk setiap PKK di setiap desa. Dalam Repelita V bantuan tersebut ditingkatkan secara bertahap sehingga pada tahun 1992/93 menjadi Rp900.000,- Pada tahun 1993/94 bantuan tersebut dinaikkan lagi menjadi Rpl.000.000,- untuk tiap PKK di setiap desa yang disalurkan melalui Inpres Bantuan Desa. Sejak awal pembentukkannya, PKK telah melaksanakan kegiatan yang mendukung program pendidikan luar sekolah melalui kegiatan pemberantasan tiga buta terutama dengan peningkatan penyelenggaraan kegiatan Kejar Paket A. Selama Repelita V PKK juga telah mendukung kegiatan-kegiatan berbagai sektor seperti, kegiatan perbaikan rumah sehat bagi sekitar 27,3 juta rumah di perdesaan, dan pembentukan 3,7 juta kelompok P-4 dan kelompok usaha seperti kelompok Prakoperasi, dan Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang tersebar di hampir semua daerah di Indonesia. Kegiatan PKK lainnya yang menonjol dalam Repelita V adalah peranannya dalam mendorong perluasan pembentukan posyandu. Pada tahun 1993/94 telah terbentuk posyandu baru sebanyak 3.607 buah atau merringkat sebanyak 445 buah bila dibandingkan dengan jumlah posyandu yang dibentuk dalam tahun 1992/93 yaitu sebanyak 3.158 buah. Secara keseluruhan, dalam Repelita V

XVIII/67

tambahan jumlah posyandu selama 5 tahun tercatat sebanyak 20.144 buah. Dengan demikian sejak terbentuknya posyandu dalam Repelita III sampai dengan akhir Repelita V secara keseluruhan telah mencapai jumlah 244,8 ribu buah. Sementara itu, peran serta aktif dari PKK dalam mendukung pembangunan kesehatan dan perbaikan gizi terutama melalui posyandu telah mendapat penghargaan internasional berupa Maurice Pate Memorial Award dari UNICEF di New York tanggal 18 April 1988 dan Sasakawa Health Prize dari WHO pada tanggal 4 Mei 1988 di Jenewa. Sejalan dengan perkembangan kegiatan PKK, pembentukan Dasawisma sebagai unit pelayanan dan penerangan kesehatan serta keluarga berencana terkecil dalam lingkungan PKK yang terdiri dari 10-20 keluarga, terus ditingkatkan. Dalam tahun 1993/94 telah dibentuk 997 ribu kelompok Dasawisma atau meningkat 28 kali lipat dibandingkan dengan jumlah yang dibentuk dalam tahun 1992/93 yaitu sekitar 34 ribu kelompok. Dengan demikian sampai akhir PJP I seluruhnya sudah terbentuk sebanyak 2.216 ribu kelompok Dasawisma. e. Bina Keluarga Balita (BKB) Kegiatan 13KB bertujuan untuk meningkatkan kemampuan ibu dan anggota keluarga lainnya dalam membina pertumbuhan dan perkembangan anak balita secara optimal. Kegiatan ini telah dimulai sejak tahun 1981, dan sepuluh tahun kemudian oleh Presiden Soeharto dicanangkan menjadi "Gerakan BKB". Sampai akhir Repelita V Gerakan BKB telah menyebar ke seluruh propinsi melalui berbagai bentuk kegiatan yang dilaksanakan oleh beberapa sektor pemerintah yang didukung oleh masyarakat terutama PKK. Selama Repelita V gerakan BKB mengalami perkembangan yang sangat pesat. Pada tahun 1993/94 terdapat penambahan sejumlah 39,6 ribu kelompok yaitu dari 67,1 ribu pada tahun 1992/93 sehingga menjadi 106,7 ribu kelompok BKB. Dalam

XVIII/68

kurun waktu yang sama, gerakan BKB juga sudah menjangkau lebih dari 42 ribu desa, atau bertambah 15 ribu desa dibandingkan jumlah desa yang dijangkau sampai dengan tahun 1992/93 yang baru mencapai 27 ribu desa. Dalam Repelita III dan Repelita IV BKB baru mencakup 1.200 desa. Gerakan BKB telah dirasakan manfaatnya bagi perkembangan anak balita di perdesaan. Gerakan ini telah mendukung dan melengkapi kegiatan-kegiatan posyandu, KB dan UPGK yang pelaksanaannya dilakukan secara terpadu. Dengan berbagai kegiatan BKB tersebut mutu fisik, mental dan spiritual anak-anak dapat ditingkatkan. f. Peningkatan Penggunaan Air Susu Ibu (PP ASI) Kegiatan Peningkatan Penggunaan Air Susu Ibu (PP-ASI) bertujuan untuk meningkatkan penggunaan ASI sebagai makanan bayi yang utama. Kegiatan ini mulai dirintis dalam Repelita II oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan dicanangkan sebagai Gerakan Nasional Penggunaan ASI oleh Presiden Soeharto pada Hari Ibu tanggal 22 Desember 1990. Pada tahun 1993/94, dilanjutkan berbagai kegiatan penyuluhan tentang manfaat ASI baik oleh masyarakat antara lain melalui LSM maupun instansi Pemerintah. Kegiatan PP-ASI juga dilakukan di rumah-rumah sakit melalui kegiatan rawat gabung ibu dan anak, dan telah digalakkan lagi, dengan diselenggarakannya Lomba Rumah Sakit Sayang Bayi. Dalam lomba ini dinilai perhatian dan mutu pelayanan persalinan di rumah sakit yang mendorong penggunaan ASI sejak di rumah sakit. Pada tahun 1993/94 sebanyak 23 rumah sakit di Indonesia telah mendapat akreditasi internasional sebagai Rumah Sakit Sayang Bayi atau Baby Friendly Hospital Initiative (BFHI). Jumlah tersebut telah meningkat tiga kali lipat dari hanya 7 rumah sakit pada tahun 1992 yang memperoleh akreditasi internasional. Selain berbagai kegiatan tersebut telah digalakkan pula pelaksanaan kode etik pemasaran

XVIII/69

susu formula bayi di kalangan produsen susu yang ditetapkan oleh WHO dalam International Code of Marketing of Breastmilk Substitutes. g. Pendidikan Pendahuluan Bela Negara (PPBN)

Dalam upaya pembentukan manusia Indonesia seutuhnya dan pernantapan ketahanan dan stabilitas nasional, wanita mempunyai kedudukan yang strategis dan bertanggung jawab dalam pelaksanaan PPBN bagi anak dan remaja sejak dini dalam keluarga. PPBN mengandung nilai kebangsaan yang perlu ditanamkan kepada generasi muda untuk mencintai tanah air, menjunjung tinggi kehormatan bangsa dan negara dan rela berkorban apabila bangsa dan negara dalam bahaya. Sasaran kegiatan ini terutama adalah penduduk di daerah-daerah perbatasan dan daerah lain yang rawan terhadap pengaruh negatif dari interaksi antar bangsa. Kegiatan PPBN dilaksanakan sejak tahun 1990/91, dan dimulai dengan penyusunan materi pesan simulasi PPBN untuk wanita di daerah perdesaan, dan telah diujicobakan di DKI Jakarta. Pada tahun 1993/94 telah diadakan evaluasi basil uji coba pelaksanaan PPBN terhadap sejumlah tenaga kerja wanita di bidang industri di DKI Jakarta, Pulau Batam, Maluku dan di Kalimantan Timur. Melalui kegiatan-kegiatan ini peranan wanita tidak hanya terbatas pada memberikan pengertian untuk meningkatkan kesadaran serta kemampuan bela negara di lingkungan keluarganya, tetapi dapat ikut pula berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan bela negara sebagai unsur rakyat yang terlatih. h. Pengembangan Pusat Studi Wanita Pusat Studi Wanita (PSW)/Kelompok Studi Wanita (KSW) yang mulai didirikan pada tahun 1990/91, bertugas melakukan penelitian dan analisis untuk mengenali dan memecahkan berbagai permasalahan wanita dalam pembangunan termasuk pembangunan XVIII/70

regional dan daerah. Hasil penelitian dan pengkajian PSW/KSW dijadikan masukan bagi perumusan kebijaksanaan pembangunan terutama untuk Pemerintah Daerah. Dalam tahun 1993/94 telah terbentuk 5 PSW/KSW baru yaitu di Universitas Trisakti di Jakarta, IAIN Imam Bonjol di Padang, Universitas Muhammadiyah Jember, Universitas Muhammadiyah Malang, dan IAIN Lampung. Secara keseluruhan, sampai akhir Repelita V sudah terdapat 57 PSW/KSW di perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia. Beberapa penelitian penting yang telah dilaksanakan oleh PSW/KSW antara lain adalah penelitian mengenai aspek sosial budaya dari wanita miskin di kota, penelitian mengenai masalah ekonomi tenaga kerja wanita di luar negeri, dan penelitian mengenai partisipasi wanita dalam politik di DK1 Jakarta. 2. Pemantapan Mekanisme dan Kelembagaah Peningkatan Peranan Wanita Sejak diprogramkannya upaya peningkatan peranan wanita dalam Repelita III telah dilakukan berbagai usaha penataan dan pemantapan kelembagaan kegiatan tersebut. Pemantapan kelembagaan yang terpenting adalah diterbitkannya Surat Keputusan (SK) Menteri Dalam Negeri Tahun 1990/91 yang menetapkan Wakil Gubernur dan Asisten Sekwilda Tingkat I Bidang Kesejahteraan Rakyat di setiap daerah sebagai koordinator program Peningkatan Peranan Wanita (P2W) di daerah. Pada tahun 1991, SK Menteri Dalam Negeri tersebut ditindakianjuti dengan SK Menteri Negara Urusan Peranan Wanita Nomor 02/KEP/MenUPW/IV/91 tentang Pengesahan Pedoman Pelaksanaan Peningkatan Peranan Wanita Dalam Pembangunan Bangsa di Pusat dan Daerah. Dengan adanya SK ini maka kelembagaan koordinasi peningkatan peranan wanita di pusat dan di daerah berjalan semakin mantap.

XVIII/71

Sampai dengan tahun 1993/94, di tingkat propinsi telah diadakan rapat-rapat koordinasi antarinstansi pemerintah dan organisasi wanita untuk membantu program-program peningkatan peranan wanita di daerah. Rapat-rapat tersebut dipimpin oleh Wakil Gubernur dan Asisten Sekwilda Tingkat I Bidang Kesejahteraan Rakyat. Beberapa daerah telah melakukan kegiatan koordinasi perencanaan dan pelaksanaan program peningkatan peranan wanita pada tingkat kabupaten dan kecamatan. 3. Kerja Sama Luar Negeri Kegiatan kerja sama internasional dan regional telah dibina sejak Repelita III. Di tingkat regional, kegiatan tersebut diselenggarakan antara lain melalui Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) Women's Programme (AWP) dan ASEAN Confederation of Women's Organization (ACWO). Dengan Deklarasi Singapura tahun 1992, yang menyatakan komitmen negara-negara ASEAN mengenai peranan wanita, maka kegiatan UPW di tingkat regional ASEAN menjadi lebih mantap. Dalam tahun 1993/94 Indonesia menjadi tuan rumah bagi kegiatan ASEAN Network of Indicators and Statistics on Women untuk menentukan variasi dan macam data yang mungkin dikumpulkan oleh negara-negara ASEAN guna menunjang upaya meningkatkan peran wanita dalam pembangunan. Selain itu, dalam kegiatan AWP Indonesia berperan sebagai koordinator Asean Network of Clearinghouses on Information of Women in Development. Dalam kaitan dengan kegiatan ini, pada tahun 1993 telah diselenggarakan Workshop on the Improvement of Thesaurus on Women in Development. Pada tahun 1993 Indonesia hadir, sebagai peserta dalam pertemuan internasional Sidang Majelis Umum PBB ke 48 Komite 3 Cluster tentang Kedudukan Wanita, dan telah ikut serta pula dalam Konperensi Dunia tentang flak Azasi Manusia, dan secara khusus telah menyampaikan pernyataan dalam penyusunan pokok-pokok Hak Azasi Manusia khususnya wanita. Kegiatan lainnya dalam tahun 1993/94 adalah penyeXVIII/72

lenggaraan seminar dan workshop dalam rangka mempersiapkan Asia Pasific Conference on Women in Development yang diselenggarakan di Jakarta pada bulan Juni 1994. Selama Repelita V, Indonesia telah ikut serta dalam berbagai kegiatan internasional, seperti secara aktif berperan dalam Komisi PBB tentang Kedudukan Wanita (UN Commission on the Status of Women) dalam tahun 1990-1992, dan menjadi salah satu wakil ketua untuk periode 1992-1993. Kedudukan Indonesia dalam organisasi internasional lainnya adalah sebagai anggota senior Women's Advisor Group dari Executive Board UNEP yang berkedudukan di Nairobi, Kenya, dan menjabat sebagai salah satu wakil ketua International Council of Women (ICW) yang berpusat di Paris untuk kurun waktu 1988-1993. Juga telah diikuti berbagai pertemuan lain di tingkat internasional, seperti sidang tahunan ke 47 ESCAP di Seoul pada tahun 1990/91 dan Konperensi Puncak Peningkatan Ekonomi Wanita Perdesaan di Jenewa pada tahun 1992. Partisipasi Indonesia dalam berbagai kegiatan internasional tentang wanita dalam pembangunan merupakan wujud nyata penggalangan kerja sama antar negara dalam rangka meningkatkan peranan wanita. Melalui partisipasi tersebut Indonesia turut serta dalam upaya meningkatkan peranan wanita seperti memasyarakatkan konsep penghapusan segala bentuk diskriminasi berdasarkan jenis kelamin yang merupakan sasaran prioritas dari masyarakat internasional. Di samping itu, Indonesia ikut berperan dalam menyumbangkan pikiran dan pendapat dalam penyusunan konsep-konsep internasional tentang wanita dalam pembangunan seperti konsep kemitrasejajaran antara pria dan wanita, kemandirian, dan usaha pengentasan kemiskinan. 4. Kegiatan di Berbagai Sektor Pembangunan Pelaksanaan kegiatan peningkatan peranan wanita (P2W) di masing-masing sektor pembangunan diselenggarakan dengan XVIII/73

sasaran para wanita berusia 10-44 tahun. Pada umumnya kegiatan lebih ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan dan kete rampilan wanita agar dapat ikut serta memperbaiki tingkat kesejahteraan keluarganya. Kegiatan ini sejalan dengan rencana pembangunan di masing-masing sektor atau merupakan rencana pembangunan dengan koordinasi lintas sektor. a. Sektor Pertanian Kegiatan peningkatan peranan wanita di sektor pertanian bertujuan untuk meningkatkan peran serta wanita tani dan nelayan dalam upaya meningkatkan produksi serta meningkatkan nilai tambah dalam proses panen dan pemasaran hasil-hasil pertanian melalui kegiatan penyuluhan, pelatihan, dan pembinaan. Pada tahun 1993/94, kegiatan pelatihan bagi wanita taninelayan yang telah dilaksanakan sejak, Repelita III, sudah mencapai 6.209 kelompok atau bertambah sebanyak 438 kelompok dari jumlah kelompok yang dicapai pada tahun 1992/93 yaitu sebesar 5.771 kelompok. Selain itu sejak tahun 1990/91 telah dilaksanakan pula pelatihan perkreditan bagi kelompok wanita tani-nelayan. Pada tahun 1993/94 jumlah kelompok pelatihan perkreditan telah mencapai 106 kelompok, sehingga secara keseluruhan sejak tahun 1990/91 kegiatan ini telah mencakup 314 kelompok wanita tani nelayan. Untuk menunjang berbagai kegiatan tersebut, pada tahun 1993/94 disediakan sarana usaha tani bagi 332 kelompok usaha bersama (KUB), atau meningkat hampir dua kali lipat jika dibandingkan dengan jumlah sarana usaha tani yang disediakan pada tahun 1992/93 yaitu untuk 114 KUB. Selama Repelita V jumlah KUB yang telah diberi sarana usaha tani sudah mencapai 834 KUB.

XVIII/74

b.

Sektor Industri

Kegiatan peningkatan peranan wanita di sektor industri bertujuan membina para wanita dalam kegiatan usaha industri kecil dan kerajinan rumah tangga,. guna memperoleh lapangan kerja, meningkatkan pendapatan keluarga, dan sekaligus mencegah urbanisasi kaum wanita ke kota. Cabang industri kecil yang dibina meliputi pengolahan pangan, sandang, dan kerajinan. Kegiatan yang dilaksanakan adalah pelatihan perawatan dan penggunaan peralatan produksi, pengembangan dan diversifikasi produksi, pengelolaan permodalan, dan pemasaran hasil produksi. Sasaran kegiatan ini adalah para wanita motivator, wanita pengrajin, dan tenaga kerja wanita dalam. kegiatan industri kecil yang tergabung dalam KUB. Melalui kegiatan ini, dalam tahun 1993/94 telah dibina sejumlah 35 KUB, atau hampir sama dengan jumlah yang dibina pada tahun 1992/93 yaitu sebanyak 34 KUB. Selama Repelita V telah dibina sejumlah 148 KUB, sehingga secara keseluruhan dari tahun 1981/82 sampai dengan tahun terakhir Repelita V telah berhasil dibina sejumlah 566 KUB. Sejalan dengan itu dilakukan pula pembinaan bagi motivator KUB dan tenaga kerja wanita yang tergabung dalam KUB. Pada tahun 1993/94 telah dibina sebanyak 600 orang motivator KUB dan 1.800 orang tenaga kerja wanita, sehingga selama Repelita V telah dibina 3.425 orang motivator KUB dan 10.275 orang tenaga kerja wanita. Dengan demikian jumlah motivator KUB dan tenaga kerja wanita yang dibina sejak tahun 1981/82 sampai dengan akh.ir Repelita V berturut-turut berjumlah 13.875 orang dan 41.625 orang. c. Sektor Perdagangan

Kegiatan peningkatan peranan wanita di sektor perdagangan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan berdagang bagi para wanita yang mempunyai jiwa wirausaha, XVIII/75

terutama pedagang kecil dari golongan ekonomi lemah. Kegiatan yang dilakukan meliputi penataran keterampilan perdagangan, penyuluhan, temu usaha, dan partisipasi dalam pameran dagang. Dalam tahun 1993/94 dilaksanakan lanjutan penataran keterampilan perdagangan bagi 1.400 orang wanita dan kegiatan temu usaha bagi 3.540 orang. Di samping itu pada tahun 1993/94 juga telah dilakukan pembinaan bagi 660 orang pedagang di pasar tradisional yang dilaksanakan secara terpadu oleh berbagai sektor yang dikoordinir oleh para walikota. Kegiatan tahun 1993/94 ini lebih meningkat bila dibandingkan dengan kegiatan tahun 1992/93 yang mencakup sebanyak 440 orang pedagang. Dalam Repelita V, kegiatan peranan wanita di sektor perdagangan meliputi penataran keterampilan berdagang, temu usaha, pembinaan pedagang di pasar tradisional, dan pameranpameran dagang. Seluruh kegiatan tersebut selama lima tahun Repelita V telah diikuti oleh kurang lebih 20.000 pedagang dan mengikuti pameran dagang di 404 lokasi. d. Sektor Koperasi Pembinaan peranan wanita di sektor koperasi yang dimulai sejak tahun 1978/79 ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan wanita terutama di perdesaan dan di perusahaan mengenai manfaat dan pentingnya koperasi sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dan membina peranan wanita di bidang perkoperasian. Dalam tahun 1993/94 telah dilaksanakan kegiatan pelatihan perkoperasian bagi 2.940 orang wanita. Jumlah tersebut meningkat dibanding yang dilatih pada tahun 1992/93 yaitu sebanyak 2.650 orang. Selama Repelita V, melalui kegiatan ini telah dilatih sebanyak 19.055 orang. Sehingga, secara keseluruhan jumlah wanita yang dilatih di sektor koperasi selama PJP I adalah sebanyak 27.639 orang. Melalui kegiatan pelatihan di atas telah XVIII/76

banyak wanita yang turut aktif dalam mengelola koperasi, baik sebagai anggota pengurus, anggota badan pemeriksa, maupun sebagai karyawan. Bahkan sudah banyak pula para kader koperasi yang berupaya mendirikan koperasi-koperasi wanita atau mempelopori pendirian koperasi karyawan di perusahaan tempat mereka bekerja. e. Sektor Tenaga Kerja Kegiatan peningkatan peranan wanita di sektor tenaga kerja yang dimulai pada tahun 1989/90 diarahkan agar tenaga kerja wanita d.apat Iebih berperan dalam dunia kerja baik di sektor formal maupun informal sesuai dengan kodrat dan martabatnya. Kegiatan yang dilakukan adalah berupa penyuluhan dan pelatihan bagi tenaga kerja wanita baik yang sudah bekerja maupun yang sedang mencari pekerjaan. Pada tahun 1993/94 telah dilaksanakan pelatihan bagi 140 pengusaha wanita di sektor informal di tujuh propinsi di Sumatera Utara, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan. Acara pelatihan ditekankan pada pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan kemampuan menciptakan kondisi dan lingkungan kerja yang memenuhi syarat untuk mendorong peningkatan keselamatan dan produktivitas kerja. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari tahuntahun sebelumnya, tetapi dengan sasaran yang berbeda. Pada tahun 1993/94 ini, sasaran pelatihan adalah para pengusaha. Sedang pada tahun sebelumnya lebih banyak ditujukan untuk para pelatih yang akan melatih dan menyebarluaskan pengetahuan dan keterampilan mengenai keselamatan dan produktivitas kerja bagi wanita di perusahaan. Guna meningkatkan keterampilan tenaga kerja wanita di sektor informal, pada tahun 1993/94 telah dilaksanakan pelatihan bagi 30 orang calon pelatih yang akan diberi tugas memberikan bimbingan dan pembinaan langsung kepada para pekerja wanita di sektor XVIII/77

informal. Pada tahun 1993/94, calon-calon pelatih tersebut sudah langsung melatih sebanyak 200 orang fasilitator. Dengan pola pelatihan seperti di atas, diharapkan jumlah tenaga kerja wanita yang dapat dilatih akan meningkat dengan pesat. Kegiatan lain dalam tahun 1993/94 adalah pelatihan bagi pelaksana tempat penitipan anak (TPA) bagi sebanyak 200 orang di 10 propinsi. Jumlah ini meningkat bila dibandingkan dengan pelatihan yang dilaksanakan pada tahun 1992/93 yaitu bagi sebanyak 120 orang. Selanjutnya pada tahun 1993/94 telah pula dilaksanakan pelatihan peningkatan penggunaan ASI bagi 360 orang tenaga kerja wanita yang bekerja di sektor informal di 18 propinsi. Dalam Repelita V, dilanjutkan kegiatan penyuluhan bagi tenaga kerja wanita antara lain mengenai peraturan perundangundangan yang menyangkut ketenagakerjaan, khususnya tentang hak dan kewajiban bagi tenaga kerja di perusahaan serta keselamatan dan produktivitas kerja. Pelatihan untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja wanita torus ditingkatkan baik di sektor formal maupun di sektor informal. f. Sektor Transmigrasi Kegiatan peningkatan peranan wanita di bidang transmigrasi yang dimulai pada Repelita IV bertujuan untuk meningkatkan keterampilan wanita transmigran sehingga dapat berperan serta dalam upaya meningkatkan kesejahteraan keluarganya dan memajukan daerah permukimannya. Kegiatan yang dilaksanakan meliputi pelatihan keterampilan, kepemimpinan dan P4 bagi wanita transmigran; pelatihan dan pembinaan kader-kader PKK, BKB, Kejar Paket A, dan KUB; pemanfaatan tanaman obat keluarga; dan pembinaan bagi dukun bayi. Pada tahun 1993/94 telah dilakukan pelatihan bagi 1.754 orang wanita transmigran yang ada di 9 propinsi dan meliputi 27 XVIII/78

Unit Permukiman Transmigrasi (UPT) serta terdiri dari 240 orang melalui pelatihan keterampilan, 270 orang melalui pelatihan kepemimpinan, 270 orang melalui pelatihan P-4, 240 orang kader PKK, 240 orang kader BKB, 200 orang tutor Kejar Paket A, 270 orang melalui pemantapan KUB, dan pelatihan 24 orang dukun bayi. Jumlah tersebut di atas merupakan suatu peningkatan dibandingkan dengan yang dilatih pada tahun 1992/93 yang secara keseluruhan berjumlah 1.631 orang dan tersebar di 20 UPT yang ada di 7 propinsi. Secara keseluruhan selama Repelita V dalam rangka peningkatan peranan wanita di bidang transmigrasi, telah dilatih dan dibina sebanyak 7.845 orang wanita transmigran di 91 UPT yang tersebar di 19 propinsi. Sektor Kesehatan Peningkatan peranan wanita di sektor kesehatan diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku yang membantu dalam pemeliharaan kesehatan perorangan, keluarga, masyarakat dan lingkungannya. Di samping itu diarahkan pula untuk menolong para wanita agar aktif berperan serta sebagai kader kesehatan yang akan mengelola kegiatan kesehatan, gizi, keluarga berencana, kebersihan lingkungan, Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) melalui posyandu, dasawisma dan BKB. Pada tahun 1993/94 kegiatan program ini terutama ditekankan pada pelatihan dengan materi pelatihan yang ditekankan pada kebersihan lingkungan, kesehatan ibu dan anak, pemanfaatan air susu ibu (ASI), dan pembinaan posyandu. Selain itu dilaksanakan pula lomba posyandu yang dikelola oleh Dharma Wanita di tingkat pusat, dan pameran mengenai perbaikan kesehatan wanita dalam rangka peringatan Hari Ibu. Kegiatan lainnya adalah berupa evaluasi program peningkatan peranan wanita di sektor kesehatan di 27 propinsi dalam rangka peningkatan manajemen program di masa datang.

XVIII/79

Selama Repelita V kegiatan yang dilakukan meliputi pelatihan bagi kelompok organisasi wanita tentang gerakan kebersihan yang dilaksanakan di 27 propinsi mencakup 300 kabupaten dan 600 kecamatan, dan setiap kelompok latihan berkisar antara 16-20 orang. Di samping itu telah dilaksanakan pelatihan kesehatan kerja bagi wanita nelayan, petani, dan pengrajin di 15 propinsi. Kegiatan-kegiatan lainnya meliputi pelatihan tentang kepemimpinan kesehatan yang telah dilaksanakan di 300 daerah tingkat II; penyuluhan penanggulangan narkotik dan obat berbahaya (narkoba) bagi organisasi wanita di 14 propinsi; pelatihan kelompok kerja gerakan kebersihan organisasi wanita di 27 propinsi; dan penggalakkan penggunaan ASI di 27 propinsi dengan cara melaksanakan lomba pemahaman tentang penting'riya ASI. Selain itu dilaksanakan pula kajian nasional tentang peningkatan penggunaan ASI di 5 regional yaitu di Jawa Timur, Sumatera Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan Timor Timur serta di tingkat Pusat. Untuk menunjang pelaksanaan tempat penitipan anak (TPA) telah disusun kurikulum dan program pelatihan tenaga pengasuh anak. Dalam Repelita V untuk program ini telah diterbitkan dan diedarkan 10.500 eksemplar buku pedoman tentang penyelenggaraan peningkatan peranan wanita dalam pembangunan kesehatan. Peningkatan kegiatan program ini memberi andil yang besar terhadap peningkatan kesehatan ibu, bayi dan anak balita. Hal ini ditunjukkan dengan turunnya angka kematian bayi dan ibu melahirkan, dan perbaikan status gizi anak balita. h. Sektor Agama Di sektor agama, program ini bertujuan untuk meningkatkan dan mengembangkan peranan wanita dalam pembangunan melalui pendekatan agama selaras dengan tanggung jawab dan peranannya dalam mewujudkan dan mengembangkan keluarga yang beriman, sehat, bahagia, dan sejahtera.

XVIII/80

Pada tahun 1993/94 telah dilakukan penataran dan penyu luhan keluarga bahagia sejahtera, baik di perdesaan maupun perkotaan, termasuk santri putri pada pondok pesantren. Dalam rangka menunjang upaya peningkatan kesejahteraan ibu dan anak serta menurunkan angka kematian balita, peran serta aktif lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) wanita berlatar belakang agarna dalam kegiatan penyuluhan kesehatan, makin ditingkatkan dan diperluas antara lain melalui kegiatan Pengembangan Kelangsungan Hidup Anak (PKHA). Pada tahun 1993/94 telah dilaksanakan kegiatan pelatihan kepemimpinan wanita untuk 30 orang, penataran keluarga bahagia sejahtera (KBS) bagi santri putri yang diikuti oleh lebih dari 4 ribu orang, disertai dengan penyediaan buku pedoman, modul dan leaflet sebanyak lebih dari 37 ribu eksemplar, serta pemberian bantuan paket sarana. peribadatan sebanyak 750 paket. Sejak tahun 1991/92, telah diselenggarakan latihan kepemimpinan bagi. pimpinan organisasi wanita yang diikuti oleh 190 orang. Penataran KBS yang dimulai sejak Repelita III telah diikuti oleh sekitar 85,8 ribu orang santri putri. Kegiatan PKHA dilaksanakan antara lain berupa penyuluhan tentang imunisasi, pemeliharaan kesehatan ibu hamil dan balita, dan penyuluhan mengenai peranan posyandu dengan pendekatan ajaran agama kepada motivator dan supervisor dari LSM wanita yang berlatar belakang agama. Pada tahun 1993/94 dilakukan pelatihan bagi 220 orang motivator baru dan 21 orang supervisor baru serta pengadaan lebih dari 37 ribu eksemplar buku pedoman. Dengan demikian, kegiatan PKHA yang dilaksanakan sejak tahun 1986 telah diikuti oleh lebih dari 25 ribu orang motivator dan sekitar 3 ribu orang supervisor dari 20 LSM wanita di 15 propinsi. i. Sektor Pendidikan dan Kebudayaan Di sektor pendidikan dan kebudayaan, program ini ditujukan antara lain untuk mempercepat tercapainya pembebasan wanita dari XVIII/81

tiga buta yaitu buta aksara dan angka, buta bahasa Indonesia, dan buta pengetahuan dasar, serta memperbesar peluang wanita untuk memperoleh pekerjaan dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembangunan. Dalam rangka meningkatkan kemampuan wanita dalam peningkatan kesejahteraan keluarga, pada tahun 1993/94 telah dilaksanakan berbagai pelatihan keterampilan praktis bagi wanita di tingkat kecamatan yang melibatkan 3,6 ribu orang, sehingga selama Repelita V telah melibatkan 13,6 ribu orang wanita. Pada tahun 1993/94 juga diselenggarakan pelatihan kepemimpinan wanita di berbagai kabupaten/kotamadya yang melibatkan sekitar 2,6 ribu orang. Selama Repelita V, telah diselenggarakan pelatihan kepemimpinan wanita bagi sekitar 8,6 ribu orang. Kegiatan-kegiatan tersebut ditunjang dengan penyediaan sarana belajar berupa buku pendidikan kesejahteraan keluarga dan teknologi. Pada tahun 1993/94 telah disediakan sekitar 57 ribu eksemplar, sehingga selama Repelita V buku yang disediakan telah mencapai 464 ribu eksemplar. Pada tahun 1993/94 kegiatan Kejar Paket A telah menjangkau sekitar 1,65 juta orang yang sebagian besar pesertanya adalah wanita. Bila dibandingkan dengan tahun 1992/93 yang menjangkau sekitar 1,35 juta orang, terdapat penambahan sekitar 300 ribu orang atau terjadi peningkatan sekitar 20 persen. Selama Repe lita V jumlah peserta kegiatan Kejar Paket A selalu meningkat dari tahun ke tahun. j. Sektor Kesejahteraan Sosial Di sektor kesejahteraan sosial, kegiatan peningkatan peranan wanita ditujukan untuk membantu meningkatkan kesejahteraan sosial kelompok wanita dari keluarga yang rawan sosial ekonominya. Kegiatan yang dilakukan berupa bimbingan usaha swadaya bagi wanita, pelatihan kepemimpinan sosial wanita untuk XVII1/82

dapat menanggulangi dan mencegah timbulnya permasalahan kenakalan remaja, masalah pengangguran, dan tuna susila. Dalam pelaksanaannya, kegiatan-kegiatan ini diintegrasikan dengan kegiatan PKK dan P2WKSS. Pada tahun 1993/94 telah dilaksanakan pelatihan kepemim pinan sosial wanita bagi 120 orang pimpinan organisasi wanita di 6 kabupaten.dan peningkatan keterampilan kaum wanita yang rawan sosial ekonomi melalui bimbingan Usaha Swadaya Wanita Desa (USWD) bagi 1.282 orang wanita di 23 propinsi. Dengan demikian selama Repelita V telah dilatih sebanyak 2.050 orang pimpinan organisasi wanita dan dibina 5.742 orang wanita melalui USWD. Melalui program ini sejak Repelita III sampai dengan akhir Repelita V telah dilaksanakan latihan kepemimpinan bagi 10.205 wanita dan dibina 55.217 orang wanita melalui USWD. k. Sektor Hukum Peningkatan peranan wanita di sektor hukum ditujukan untuk meningkatkan kesadaran hukum kaum wanita akan hak dan kewajiban, peranan, serta kedudukannya sebagai warga negara dan anggota masyarakat. Tujuan tersebut antara lain diupayakan melalui pembentukan keluarga sadar hukum (kadarkum) wanita, dengan bentuk kegiatan antara lain temu sadar hokum , simulasi dan tebak silang dengan materi yang berkaitan dengan pemahaman akan berbagai hak, kewajiban, dan kesempatan bagi wanita, baik di lingkungan keluarga maupun dalam masyarakat dan dalam pembangunan. Pada tahun 1993/94 telah diselenggarakan seb. nyak 37 kali lomba kadarkum wanita di tingkat propinsi, dan 2 kali lomba di tingkat nasional. Selain itu, telah dilakukan pula suatu penelitian mengenai segi hukum wanita korban pelaku kejahatan. Kegiatan kadarkum wanita dimulai pada tahun 1989/90 di 7 propinsi. Pada akhir Repelita V kegiatan tersebut telah dilakXVIII/83

sanakan di semua propinsi dan pada tahun 1993/94 telah dikembangkari di tingkat kecamatan dan desa. Di samping itu, pada tahun 1993/94 telah dilakukan pula kegiatan kajian peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan termasuk yang berkaitan dengan tenaga kerja wanita. Dari kegiatan tersebut telah dihasilkan naskah akademis peraturan perundang-undangan, antara lain mengenai aspek hukum dan sosial budaya yang mempengaruhi hak-hak wanita di bidang ketenagakerjaan dan perlindungan tenaga kerja wanita dan anak. 1. Sektor Penerangan Di sektor penerangan, kegiatan peningkatan peranan wanita ditujukan untuk mendorong terbentuknya iklim sosial budaya yang mendukung peranan wanita yang selaras dengan upaya pembentukkan keluarga sehat, sejahtera, dan bahagia. Kegiatan tersebut dilakukan terutama melalui siaran televisi dan radio. Pada tahun 1993/94 telah dilakukan kegiatan pembuatan paket siaran radio sebanyak 233 paket siaran dan untuk televisi sebanyak 11 paket siaran. Untuk mendukung kegiatan tersebut, telah dilaksanakan pelatihan bagi 28 orang tenaga produsen dan penyiar radio dan televisi untuk acara-acara siaran wanita dalam pembangunan. Pada tahun 1993/94 juga telah diselesaikan pembuatan film "Peningkatan Peranan Wanita Dalam Pembangunan" yang menggambarkan perkembangan peranan wanita dalam PJP I. Selain itu, juga telah diproduksi rekaman audio dan sound slide mengenai peranan wanita yang disebarluaskan ke semua propinsi; diadakan pameran peranan wanita pada peringatan Hari Ibu tanggal 22 Desember 1993; dan telah diberikan penyuluhan bagi 320 orang wanita di daerah transmigrasi dan di desa-desa nelayan yang tergabung dalam kelompencapir di propinsi Riau, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. XVIII/84

Dalam Repelita V telah diproduksi dan disiarkan sebanyak 1.241 paket siaran radio dan 47 paket siaran televisi termasuk pelatihan tenaga teknisnya sebanyak 241 orang. m. Sektor Pengelolaan Sumber Alam dan Lingkungan Hidup Kegiatan peningkatan peranan wanita di sektor pengelolaan sumber daya alam dan Lingkungan hidup yang dimulai pada tahun 1991/92 terutama diarahkan untuk membantu meningkatkan pendapatan keluarga melalui beberapa usaha budi daya sumber alam secara sederhana dan dalam lingkup kecil. Sasaran kegiatan ini terutama adalah wanita perdesaan yang tinggal di kawasan dekat hutan dan konservasi taman nasional. Dalam tahun 1993/94 telah dilaksanakan pengembangan unit percontohan sutera alam bagi kader PKK di Sumatera Barat, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan. Selain itu telah dilakukan pula pengembangan budi daya jamur kayu oleh kelompok PKK di unit percontohan di propinsi Riau, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Utara, dan pengembangan budi daya lebah madu yang dilakukan di propinsi Sumatera Utara dan Nusa Tenggara Timur. Kegiatan yang dilakukan pada tahun 1993/94 tersebut merupakan tindak lanjut dari kegiatan yang dilakukan pada tahun 1992/93. Dengan demikian sejak tahun 1991/92 sampai dengan tahun 1993/94 telah dilakukan pelatihan bagi lebih dari 60 orang wanita kader usaha sutera alam, 95 orang kader usaha budi daya jamur kayu, dan 110 orang wanita kader peternakan lebah madu. Kegiatan-kegiatan tersebut didukung oleh sekitar 50 macam buku pedoman yang disusun sejak tahun 1991/92.

XVIII/85

n. Sektor Perumahan Rakyat dan Permukiman Kegiatan peningkatan peranan wanita di bidang perumahan dan permukiman dimulai pada tahun 1990/91 ditujukan untuk meningkatkan peran serta wanita dalam pembangunan dan perbaikan perumahan sehat di perdesaan, melalui pelatihan dan penyuluhan yang dilaksanakan oleh kader-kader penyuluh perumahan dan permukiman. Pada tahun 1993/94 kegiatan penyuluhan dilakukan di 26 desa percontohan perumahan sehat yang tersebar di 17 propinsi. Pada tahun 1992/93 desa percontohan ini baru mencakup 16 desa yang tersebar di 7 propinsi. Di desa-desa percontohan tersebut selain dibangun contoh rumah sehat, dibangun pula dengan peran serta masyarakat termasuk wanita berbagai sarana air bersih, MCK, pembuangan limbah rumah tangga dan tempat-tempat pembuangan sampah. o. Sektor Pariwisata

Kegiatan peningkatan peranan wanita di bidang pariwisata yang baru dimulai pada tahun 1991/92 bertujuan untuk meningkatkan peluang berusaha dan kesempatan kerja bagi wanita guna meningkatkan kesejahteraan keluarganya. Pada tahun 1993/94, telah diselenggarakan pelatihan mengenai kepariwisataan bagi 25 orang wanita pengusaha di bidang pariwisata di Pulau Batam. Kegiatan ini dilaksanakan atas dasar hasil suatu studi kelayakan yang memberikan gambaran kemungkinan dikembangkan desa wisata dan pusat kerajinan di Pulau Batam yang dipelopori oleh pengusaha-pengusaha wanita.

XVIII/86

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful