POKOK – POKOK MATERI PERKULIAHAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Oleh : AKHMAD SUDRAJAT, M.Pd.

UNIVERSITAS KUNINGAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN 2006

BAB I PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN PERILAKU INDIVIDU
A. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini, diharapkan Anda dapat : 1. Mendefinisikan psikologi dan psikologi pendidikan 2. Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan individu, indikator-indikator motivasi, bentukbentuk konflik, bentuk-bentuk perilaku salah-suai dan taksonomi perilaku individu. 3. Menjelaskan psikologi pendidikan sebagai ilmu, arti penting psikologi pendidikan bagi guru, peranan dan pengaruh pendidikan terhadap perubahan dan perkembangan perilaku individu. 4. Menguraikan mekanisme pembentukan perilaku menurut pandangan behaviorisme dan holistik. B. Pokok Bahasan 1. Pengertian Psikologi Pendidikan. 2. Perilaku Individu. 3. Taksonomi Perilaku Individu. 4. Pengaruh Pendidikan terhadap Perubahan Perilaku dan Pribadi Individu. C. Intisari Bacaan Pengertian Psikologi Pendidikan Secara etimologis, psikologi berasal dari kata “psyche” yang berarti jiwa atau nafas hidup, dan “logos” atau ilmu. Dilihat dari arti kata tersebut seolah-olah psikologi merupakan ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Jika kita mengacu pada salah satu syarat ilmu yakni adanya obyek yang dipelajari, maka tidaklah tepat jika kita mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa, karena jiwa merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan tidak bisa diamati secara langsung. Berkenaan dengan obyek psikologi ini, maka yang paling mungkin untuk diamati dan dikaji adalah manifestasi dari jiwa itu sendiri yakni dalam bentuk perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan demikian, psikologi kiranya dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Psikologi terbagi ke dalam dua bagian yaitu psikologi umum (general phsychology) yang mengkaji perilaku pada umumnya dan psikologi khusus yang mengkaji perilaku individu dalam situasi khusus, diantaranya :  Psikologi Perkembangan; mengkaji perilaku individu yang berada dalam proses perkembangan mulai dari masa konsepsi sampai dengan akhir hayat.

 Psikologi Kepribadian; mengkaji perilaku individu khusus dilihat dari aspek – aspek kepribadiannya.  Psikologi Klinis; mengkaji perilaku individu untuk keperluan penyembuhan (klinis)  Psikologi Abnormal; mengkaji perilaku individu yang tergolong abnormal.  Psikologi Industri; mengkaji perilaku individu dalam kaitannya dengan dunia industri.  Psikologi Pendidikan; mengkaji perilaku individu dalam situasi pendidikan Disamping jenis – jenis psikologi yang disebutkan di atas, masih terdapat berbagai jenis psikologi lainnya, bahkan sangat mungkin ke depannya akan semakin terus berkembang, sejalan dengan perkembangan kehidupan yang semakin dinamis dan kompleks. Psikologi pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu ilmu karena didalamnya telah memiliki kriteria persyaratan suatu ilmu, yakni :  Ontologis; obyek dari psikologi pendidikan adalah perilaku-perilaku individu yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan, seperti peserta didik, pendidik, administrator, orang tua peserta didik dan masyarakat pendidikan.  Epistemologis; teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip dan dalil – dalil psikologi pendidikan dihasilkan berdasarkan upaya sistematis melalui berbagai studi longitudinal maupun studi cross sectional, baik secara pendekatan kualitatif maupun pendekatan kuantitatif.  Aksiologis; manfaat dari psikologi pendidikan terutama sekali berkenaan dengan pencapaian efisiensi dan efektivitas proses pendidikan. Dengan demikian, psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai salah satu cabang psikologi yang secara khusus mengkaji perilaku individu dalam konteks situasi pendidikan dengan tujuan untuk menemukan berbagai fakta, generalisasi dan teori-teori psikologi berkaitan dengan pendidikan, yang diperoleh melalui metode ilmiah tertentu, dalam rangka pencapaian efektivitas proses pendidikan. Pendidikan memang tidak bisa dilepaskan dari psikologi. Sumbangsih psikologi terhadap pendidikan sangatlah besar. Kegiatan pendidikan, khususnya pada pendidikan formal, seperti pengembangan kurikulum, Proses Belajar Mengajar, sistem evaluasi, dan layanan Bimbingan dan Konseling merupakan beberapa kegiatan utama dalam pendidikan yang di dalamnya membutuhkan psikologi. Pendidikan sebagai suatu kegiatan yang di dalamnya melibatkan banyak orang, diantaranya peserta didik, pendidik, adminsitrator, masyarakat dan orang tua peserta didik. Oleh karena itu, agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien, maka setiap orang yang terlibat dalam pendidikan tersebut seyogyanya dapat memahami tentang perilaku individu sekaligus dapat menunjukkan perilakunya secara efektif. Guru dalam menjalankan perannya sebagai pembimbing, pendidik dan pelatih bagi para peserta didiknya, tentunya dituntut memahami tentang berbagai aspek perilaku dirinya maupun perilaku orang-orang yang terkait dengan tugasnya,--terutama perilaku peserta

Kedua pendekatan ini memiliki implikasi yang luas terhadap proses pendidikan. yaitu: (1) behaviorisme dan (2) holistik atau humanisme. Selain itu. Untuk memahami perilaku individu dapat dilihat dari dua pendekatan. sehingga dapat menjalankan tugas dan perannya secara efektif.didik dengan segala aspeknya--. Behaviorisme menjelaskan mekanisme proses terjadi dan berlangsungnya perilaku individu dapat digambarkan dalam bagan berikut : S R atau S O R . dan (i) dapat mengadministrasikan pembelajaran secara efektif dan efisien. Oleh karena itu itu. (f) menciptakan iklim belajar yang kondusif. Dalam hal ini. Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Behaviorisme Behaviorisme memandang bahwa pola-pola perilaku itu dapat dibentuk melalui proses pembiasaan dan penguatan (reinforcement) dengan mengkondisikan atau menciptakan stimulus-stimulus (rangsangan) tertentu dalam lingkungan. tentu saja seorang guru seyogyanya dapat memahami tentang bagaimana proses dan mekanisme terbentuknya perilaku para peserta didiknya. pengelolaan kelas. dengan memahami Psikologi Pendidikan para guru juga dapat memahami dan mengembangkan diri-pribadinya untuk menjadi seorang guru yang efektif dan patut diteladani. (b) memilih strategi atau metode pembelajaran. Di bawah ini akan diuraikan mekanisme pembentukan perilaku dilihat dari kedua pendekatan tersebut dengan merujuk pada tulisan Abin Syamsuddin Makmun (2003). yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi nyata bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah. baik untuk kepentingan pembelajaran. yakni kompetensi pedagogik. (h) menilai hasil pembelajaran. (d) memberikan bimbingan atau bahkan memberikan konseling kepada peserta didiknya. Di sinilah arti penting Psikologi Pendidikan. (g) berinteraksi secara bijak dengan peserta didiknya. Abin Syamsuddin Makmun (2003) menyebutkan bahwa tugas guru antara lain sebagai pengubah perilaku peserta didik (behavioral changes). dengan memahami psikologi pendidikan. (e) memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik. yang saling bertolak belakang. seorang guru melalui pertimbangan-pertimbangan psikologisnya diharapkan dapat : (a) merumuskan tujuan pembelajaran. (c) memilih alat bantu dan media pembelajaran yang tepat. a. pembimbingan serta berbagai kegiatan pendidikan lainnya. Perilaku Individu Salah satu tugas utama guru adalah berusaha mengembangkan perilaku peserta didiknya. Penguasaan guru tentang psikologi pendidikan merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai guru. agar perilaku peserta didik dapat berkembang optimal. Muhibbin Syah (2003) mengatakan bahwa diantara pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai guru dan calon guru adalah pengetahuan psikologi terapan yang erat kaitannya dengan proses belajar mengajar peserta didik.

Karena stimulus datang dari lingkungan (W = world) dan R juga ditujukan kepadanya. meminta ijin ke dosen. maka mekanisme terjadi dan berlangsungnya dapat dilengkapkan seperti tampak dalam bagan berikut ini : W S O R W Yang dimaksud dengan lingkungan (W = world) di sini dapat dibagi ke dalam dua jenis yaitu : (1) Lingkungan objektif (umgebung=segala sesuatu yang ada di sekitar individu dan secara potensial dapat melahirkan S).S = stimulus (rangsangan). ada seorang mahasiswa yang sadar kemudian dia berjalan ke depan dan meminta ijin kepada dosen untuk menyalakan lampu neon yang ada di ruangan kelas. dan menyalakan lampu merupakan respons yang dilakukan oleh mahasiswa . Ruangan kelas yang panas merupakan lingkungan (W) dan menjadi stimulus (S) bagi mahasiswa tersebut (O). --meski di ruangan kelas terdapat banyak mahasiswa namun mereka mungkin tidak menyadari terhadap keadaan sekelilingnya--. secara spontan mahasiswa tersebut mengipasngipaskan buku untuk meredam kegerahannya. waktu sore hari. ada mahasiswa yang sadar akan keadaan di sekelilingnya (Ow). secara spontan mengipaskan-ngipaskan buku merupakan respons (R) yang dilakukan mahasiswa. Merasakan ruangan tidak terasa gerah (W) setelah mengipas-ngipaskan buku. Ruangan kelas yang gelap. dan cuaca mendung merupakan lingkungan (W). Sedangkan perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut: W S Ow R W Contoh : ketika sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa agak gelap karena waktu sudah sore hari ditambah cuaca mendung. Contoh : seorang mahasiswa sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa panas. aktivitas) dan O=organisme (individu/manusia). (2) Lingkungan efektif (umwelt=segala sesuatu yang aktual merangsang organisme karena sesuai dengan pribadinya sehingga menimbulkan kesadaran tertentu pada diri organisme dan ia meresponsnya) Perilaku yang berlangsung seperti dilukiskan dalam bagan di atas biasa disebut dengan perilaku spontan. berjalan ke depan. sehingga di kelas terasa terang dan mahasiswa lebih nyaman dalam mengikuti perkuliahan. R = Respons (perilaku.

bagan di atas dapat dijelaskan bahwa mahasiswa yang sadar (Ow) mungkin merasakan penglihatannya (receptor) menjadi tidak jelas. Selengkapnya mekanisme perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut : Ow W S r e R W Dengan mengambil contoh perilaku sadar tadi. Menggerakkan kaki menuju ke depan. Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Holistik (Humanisme) Holistik atau humanisme memandang bahwa perilaku itu bertujuan. mengucapkan minta izin kepada dosen. baik bersumber dari diri individu itu sendiri (motivasi instrinsk) maupun yang bersumber dari luar individu (motivasi ekstrinsik). how (bagaimana). tekad) dari dalam diri individu merupakan faktor penentu untuk melahirkan suatu perilaku. What (apa) menunjukkan kepada tujuan (goals/incentives/ purpose) apa yang hendak dicapai dengan perilaku itu. How (bagaimana) menunjukkan kepada jenis dan bentuk cara mencapai tujuan (goals/incentives/pupose). proses dan mekanisme terjadinya perilaku menurut pandangan Holistik. yakni perilakunya itu sendiri. otot dan sebagainya yang merupakan pelaksana gerak R). b. suasana kelas menjadi terang dan mahasiswa menjadi lebih menyaman dalam mengikuti perkuliahan merupakan (W). Holistik atau humanisme menjelaskan mekanisme perilaku individu dalam konteks what (apa). Sedangkan why (mengapa) menunjukkan kepada motivasi yang menggerakan terjadinya dan berlangsungnya perilaku (how). dapat dijelaskan dalam bagan berikut : Kebutuhan dirasakan (felt needs) Dorongan (motivation) Aktivitas yang dilakukan (Instrumental behavior) Tujuan dihayati (goals/ incentive) Berdasarkan bagan di atas tampak bahwa terjadinya perilaku individu diawali dari adanya kebutuhan. masih ada dua unsur penting lainnya dalam diri setiap individu yang mempengaruhi efektivitas mekanisme proses perilaku yaitu receptors (panca indera sebagai alat penerima stimulus) dan effectors (syaraf. Sebenarnya. tangan menekan saklar lampu merupakan effector. Secara skematik rangkaian. akan merasakan adanya kekurangan-kekurangan . motif. meskipun tanpa ada stimulus yang datang dari lingkungan. yang berarti aspek-aspek intrinsik (niat. demi mempertahankan kelangsungan dan meningkatkan kualitas hidupnya.yang sadar tersebut (R). sehingga tulisan dosen di papan tulis tidak terbaca dengan baik. dan why (mengapa). Setiap individu.

organisasi ataupun persahabatan. Dalam hal ini. yang dapat digambarkan sebagai berikut : Motif Rasa puas atau kecewa Perilaku Instrumental Tujuan . (2) kebutuhan keamanan. Jika kebutuhan yang serupa muncul kembali maka pola mekanisme perilaku itu akan dilakukan pengulangan (sterotype behavior). Kebutuhan-kebutuhan tersebut selanjutnya menjadi dorongan (motivasi) yang merupakan kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu aktivitas. (4) kebutuhan prestise atau harga diri. baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik). baik dengan dirinya atau dengan orang lain dalam mencapai prestasi yang tertinggi. psikologikal dan intelektual. (4) Kebutuhan takut akan kegagalan (need for fear of failure). Stranger (Nana Syaodih Sukmadinata. dan (5) kebutuhan aktualisasi diri. akan tetapi juga mental. membentuk keluarga.atau kebutuhan-kebutuhan tertentu dalam dirinya. yaitu kebutuhan untuk menghindar diri dari kegagalan atau sesuatu yang menghambat perkembangannya. yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status. tidak dalam arti fisik.2005) mengetengahkan empat jenis kebutuhan individu. pangan dan papan. yaitu kebutuhan untuk mencari dan memiliki kekuasaan dan pengaruh terhadap orang lain. Maslow mengungkapkan jenis-jenis kebutuhan-individu secara hierarkis. (3) kebutuhan kasih sayang atau penerimaan. yaitu kebutuhan untuk mengikat diri dalam kelompok. sehingga membentuk suatu siklus. Tingkatan kebutuhan tersebut dapat diragakan seperti tampak dalam gambar berikut ini : SELF ACTUALIZATION ESTEEM NEEDS LOVE NEEDS SAFETY NEEDS PHYSIOLOGICAL NEEDS Sementara itu. yaitu kebutuhan untuk berkompetisi. yaitu: (1) Kebutuhan berprestasi (need for achievement). yaitu: (1) kebutuhan fisiologikal. (2) Kebutuhan berkuasa (need for power). seperti : sandang. (3) Kebutuhan untuk membentuk ikatan (need for affiliation).

minum. 2. 3. dikenal dengan istilah drive. minat). yang satu positif dan dikehendaki dan yang lainnya motif negatif serta tidak dikehendaki namun sama kuatnya. Namun sebaliknya. motif-motif obyektif dan interest (eksplorasi. dikehendaki serta bersifat positif. tercapai atau tidak tercapai tujuan tersebut. (8) arah sikap terhadap sasaran kegiatan. (6) tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan. konformitas dan sebagainya). seperti : takut yang dipelajari. menyelamatkan diri dan sejenisnya. melarikan diri.Berkaitan dengan motif individu. Dalam pandangan holistik. motif individu dapat dikelompokkan ke dalam 2 golongan. (4) ketabahan. motif-motif sosial (ingin diterima. adakalanya individu harus berhadapan dengan motif yang saling bertentangan atau biasa disebut konflik. Dalam hal ini. Dengan beragamnya motif yang terdapat dalam individu. (3) persistensi pada kegiatan. jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih. keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan. Jika tercapai tentunya individu merasa puas dan memperoleh keseimbangan diri (homeostatis). menunjukkan kepada motif yang tidak pelajari. Dalam diri individu akan didapati sekian banyak motif yang mengarah kepada tujuan tertentu. jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sama-sama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif. manipulasi. Approach-approach conflict. Approach-avoidance conflict. Motif primer (basic motive dan emergency motive). terdapat dua kemungkinan. seperti : dorongan untuk makan. Jika seorang individu dihadapkan pada bentuk-bentuk motif seperti dikemukakan di atas tentunya dia akan mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan dan sangat mungkin menjadi perang batin yang berkepanjangan. Bentuk-bentuk konflik tersebut diantaranya adalah : 1. menyerang. disebutkan bahwa dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam dirinya. (7) tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan. 2. setiap aktivitas yang dilakukan individu akan mengarah pada tujuan tertentu. untuk keperluan studi psikologis. Untuk memahami motivasi individu dapat dilihat dari indikator-indikatornya. jika tujuan tersebut tidak tercapai dan . jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sama-sama kuat. menunjukkan kepada motif yang berkembang dalam individu karena pengalaman dan dipelajari. (5) devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan. yaitu : (1) durasi kegiatan. yaitu : 1. (2) frekuensi kegiatan. maksud dan aspirasi serta motif berprestasi. Avoidance-avoidance conflict. Motif sekunder.

(3) regresi (kemunduran perilaku). Jika akal sehatnya berani mengahadapi kenyataan maka dia akan lebih dapat menyesuaikan diri secara sehat dan rasional (well adjustment). jika akal sehatnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. (7) proyeksi (melemparkan kesalahan kepada lingkungan). di bawah ini akan dikemukakan contoh terbentuknya perilaku berdasarkan pendekatan holistik. bergantung kepada akal sehatnya (reasoning. secara sukarela Arjuna memutuskan untuk melanjutkan pada salah program studi yang ada di FKIP UNIKU (sublimasi). nanti pada saat mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL). (8) sublimasi (menyalurkan hasrat dorongan pada obyek yang sejenis). dia berharap dapat . diantaranya : (1) agresi marah. Di sinilah peran guru untuk sedapat mungkin membantu para peserta didiknya agar terhindar dari konflik yang berkepanjangan dan rasa frustasi yang dapat menimbulkan perilaku salah-suai. (10) berfantasi (dalam angan-angannya. sejak awal dia sudah menyadari bahwa dia kekurangan pengetahuan. dengan berbekal kesadaran diri bahwa dia memiliki potensi dalam bidang psikologi pendidikan. inteligensi). Sekaligus juga dapat memberikan bimbingan untuk mengatasinya apabila peserta didik mengalami konflik yang berkepanjangan dan frustrasi. Untuk tujuan jangka pendeknya. (4) fiksasi. Tujuan jangka menengah. (6) rasionalisasi (mencari alasan). dan setelah mempertimbangkan segala sesuatunya (moralitas). Reaksi individu terhadap frustrasi akan beragam bentuk perilakunya. (2) kecemasan tak berdaya. pada akhir semester dia berharap lulus mata kuliah Psikologi Pendidikan dengan mendapatkan nilai A (kebutuhan harga diri). (9) kompensasi (menutupi kegagalan atau kelemahan dengan sukses di bidang lain). Ketika mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan yang merupakan salah satu mata kuliah yang wajib diikuti para mahasiswa. (5) represi (menekan perasaan). Bentuk perilaku salah suai (maldjustment). dia berharap dapat memperoleh kemampuan baru berupa pengetahuan. maka dia akan mengalami penyesuaian diri yang keliru (maladjusment). seakan-akan ia dapat mencapai tujuan yang didambakannya). Contoh 1 : Karena gagal mengikuti mengikuti testing pada salah satu Fakultas di Perguruan Tinggi ternama melalui jalur UMPTN (frustration). Selain itu. sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan psikologi pendidikan. Untuk lebih jelasnya. Namun. yang diperolehnya dari setiap pertemuan tatap muka dengan dosen. sikap dan keterampilannya dalam bidang Psikologi Pendidikan sehingga dia menyadari Psikologi Pendidikan merupakan kebutuhan bagi dirinya (need felt) dalam rangka mencapai tujuan-tujuannya (goals/incentives).kebutuhannya tidak terpenuhi maka dia akan kecewa atau dalam psikologi disebut frustrasi. perilakunya lebih dikendalikan oleh sifat emosinalnya.

Berkat aktivitas dan kesungguhannya dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan. karena gagal mengikuti mengikuti testing pada Fakultas Ekonomi di Perguruan Tinggi ternama melalui jalur UMPTN (frustration). Setelah dia selesai kuliah dia menjadi guru di sebuah sekolah. Dia sangat mensyukuri atas segala keberhasilannya. Contoh 2 : Astrajingga rekan seangkatan Arjuna. memperoleh kesuksesan dalam mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL). Keinginan dan tujuan untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam bidang psikologi pendidikan. Setiap tugas yang diberikan diselesaikan dengan sebaik-baiknya dan tepat waktu. baik ketika selama menjadi mahasiswa maupun setelah menjadi guru (homeostatis). sehingga selama kuliah. memperoleh kesuksesan belajar dengan mendapatkan nilai A. termasuk mata kuliah Psikologi Pendidikan (kurang merasakan adanya kebutuhan dan kekurangan motivasi).melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. dia benar-benar berharap dapat menjadi guru yang efektif dan kompeten. membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan yang diwajibkan dan dianjurkan oleh dosen. Sedangkan tujuan yang ingin dicapai untuk jangka panjang. pada saat PPL dia termasuk mahasiswa praktikan yang disukai oleh peserta didiknya. Dia juga sangat menyukai diskusi tentang psikologi pendidikan dengan teman-temannya di luar kelas (perilaku instrumental). Pada saat mengikuti lomba pemilihan guru berprestasi tingkat kabupaten. sikap yang positif dan memiliki keterampilan yang bisa dibanggakan dalam menerapkan prinsip-prinsip psikologi. Bagi dirinya. Dia bercita-cita menjadi seorang ekonom. dia memperoleh nilai terbaik di kelasnya. keinginan menjadi guru yang efektif dan kompeten kemudian berkembang menjadi dorongan yang kuat dalam dirinya (motivasi intrinsik) Pada saat mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan dia senantiasa aktif bertanya dan mengemukakan pendapatnya tentang materi yang disampaikan. Begitu juga. para peserta didik sangat menyenangi dia karena dia sangat dekat dan akrab dengan peserta didiknya. dia memperoleh pengetahuan yang luas. Perkuliahan Psikologi Pendidikan telah mendasari dia menjadi seorang yang sukses. Pada akhir semester. Dia tidak begitu berminat mengikuti perkuliahan mata kuliah kependidikan. kemudian dia dipaksa orang tuanya untuk melanjutkan pada salah satu program studi di FKIP UNIKU (motivasi ekstrinsik/substitusi). dia berhasil meraih sebagai juara pertama. bahkan kepala sekolahnya meminta dia untuk menjadi guru di sekolah menjadi tempat prakteknya. rekan-rekan seprofesinya sangat hormat dan kagum atas kinerjanya sebagai guru. dia belum menemukan apa tujuan kuliahnya. Pikirannya selalu terganggu bahwa seolah-olah dia sedang kuliah pada Fakutas Ekonomi di Perguruan Tinggi yang diidam-idamkannya .

kejadian masa lalu. Dia dihadapkan pada perang batin antara terus melanjutkan studi yang tidak sesuai dengan cita-citanya atau keluar dari kuliah dengan resiko orang tua akan marah besar terhadap dirinya (conflict). Taksonomi Perilaku Individu Kalau perilaku individu mencakup segala pernyataan hidup. daftar. orang tempat. Pengetahuan merupakan aspek kognitif yang paling rendah tetapi paling mendasar.dan dia merasa seolah-olah bakal menjadi Ekonom (fantasi). Dengan pengetahuan individu dapat mengenal dan mengingat kembali suatu objek. sumber informasi. dia menyalahkan dosen bahwa dosennya tidak becus mengajar (proyeksi).Dalam konteks pendidikan. teori. Bloom mengungkapkan tiga kawasan (domain) perilaku individu beserta sub kawasan dari masing-masing kawasan. sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan dan pada akhirnya dia dinyatakan tidak lulus dan terpaksa harus mengikuti remedial. Kawasan Kognitif. arah dan gerakan suatu gejala atau fenomena pada waktu yang berkaitan. peristiwa. atau kesimpulan. peristiwa. betapa banyak kata yang harus dipergunakan untuk mendeskripsikannya. dia hanya memperoleh sebagian kecil saja pengetahuan.  Mengetahui fakta tertentu yaitu mengenal atau mengingat kembali tanggal. sekalipun dia masuk kuliah hanya sebatas takut dimarahi oleh dosen yang bersangkutan dan takut dinyatakan tidak lulus (kebutuhan rasa aman). kebudayaan masyarakat tertentu. yakni : a.  Mengetahui kebiasaan atau cara mengetengahkan ide atau pengalaman  Mengetahui urutan dan kecenderungan yaitu proses. konsep. Selama satu semester mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan. dan ciri-ciri yang tampak dari keadaan alam tertentu. Tugas-tugas yang diberikan dosen pun jarang dikerjakan. baik berbentuk verbal maupun non verbal. nama. yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek intelektual atau berfikir/nalar. 1) Pengetahuan (knowledge). Dia sering tidak masuk kuliah. Sambil menangis (regresi). terdiri dari :  Mengetahui terminologi yaitu berhubungan dengan mengenal atau mengingat kembali istilah atau konsep tertentu yang dinyatakan dalam bentuk simbol. Untuk keperluan studi tentang perilaku kiranya perlu ada sistematika pengelompokan berdasarkan kerangka berfikir tertentu (taksonomi). rumus. ide prosedur. b) Mengetahui tentang cara untuk memproses atau melakukan sesuatu. kalaupun dikerjakan hanya alakadarnya dan selalu telat disetorkan. Dilihat dari objek yang diketahui (isi) pengetahuan dapat digolongkan sebagai berikut : a) Mengetahui sesuatu secara khusus. tahun. definisi. .

 Mengetahui kriteria yang digunakan untuk mengidentifikasi fakta.  Mengetahui metodologi. 3. yaitu perangkat cara yang digunakan untuk mencari. Untuk bisa seperti itu. informasi. baik dalam bentuk simbol verbal maupun non verbal. 5. maka kelanjutannnya dapat dinyatakan berdasarkan prinsip tersebut. Mengetahui kelas. perangkat atau susunan yang digunakan di dalam bidang tertentu. atau memproses sesuatu. 3) Penerapan (application) . yaitu ide. menemukan atau menyelesaikan masalah. bagan dan pola yang digunakan untuk mengorganisasi suatu fenomena atau pikiran. arah atau kelanjutan dari suatu temuan. yaitu melihat kecenderungan. dan c) Ekstrapolasi.  Mengetahui prinsip dan generalisasi  Mengetahui teori dan struktur. Jika ditemukan bahwa kelima bilangan tersebut adalah urutan bilangan prima. Mengetahui penggolongan atau pengkategorisasian. Misalnya. 11. fakta disusun kembali dalam struktur kognitif yang ada. memperbandingkan atau mempertentangkannya dengan sesuatu yang lain. Seseorang dapat dikatakan telah dapat menginterpretasikan tentang suatu konsep atau prinsip tertentu jika dia telah mampu membedakan. Temuantemuan ini diakomodasikan dan kemudian berasimilasi dengan struktur kognitif yang ada. Tingkatan dalam pemahaman ini meliputi : a) translasi yaitu mengubah simbol tertentu menjadi simbol lain tanpa perubahan makna. Contoh sesesorang dapat dikatakan telah mengerti konsep tentang “motivasi kerja” dan dia telah dapat membedakannya dengan konsep tentang ”motivasi belajar”. terlebih dahulu dicari prinsip apa yang bekerja diantara kelima bilangan itu. peristiwa. 7. Misalkan simbol dalam bentuk kata-kata diubah menjadi gambar. kelompok. bagan atau grafik. 2) Pemahaman (comprehension) Pemahaman atau dapat dijuga disebut dengan istilah mengerti merupakan kegiatan mental intelektual yang mengorganisasikan materi yang telah diketahui. sehingga membentuk struktur kognitif baru. pendapat atau perlakuan.  Mengetahui hal-hal yang universal dan abstrak dalam bidang tertentu. kepada siswa dihadapkan rangkaian bilangan 2. b) interpretasi yaitu menjelaskan makna yang terdapat dalam simbol. prinsip. dengan kemapuan ekstrapolasinya tentu dia akan mengatakan bilangan ke-6 adalah 13 dan ke-7 adalah 19. Temuan-temuan yang didapat dari mengetahui seperti definisi.

. melihat penyebab-penyebab dari suatu peristiwa atau memberi argumen-argumen yang menyokong suatu pernyataan. Secara rinci Bloom mengemukakan tiga jenis kemampuan analisis. Menentukan bagian-bagian dari suatu masalah dan menunjukkan hubungan antar-bagian tersebut.Menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah atau menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. 4) Penguraian (analysis). dulu ketika pertama kali diperkenalkan kereta api kepada petani di Amerika.  Kemampuan untuk menganalisis hubungan di antara pernyataan dan argumen guna membedakan mana pernyataan yang relevan mana yang tidak. memanfaatkan. ingat kuda ingat transportasi. Bagi mereka. Seseorang dikatakan menguasai kemampuan ini jika ia dapat memberi contoh.  Kemampuan untuk memastikan konsistensinya hipotesis dengan informasi atau asumsi yang ada. Hal ini menunjukkan bagaimana mereka menerapkan konsep terhadap sebuah temuan baru. Contoh. Dengan pemahaman demikian.  Kemampuan untuk memisahkan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang mendukungnya. mereka berusaha untuk memberi nama yang cocok bagi alat angkutan tersebut. menyelesaikan dan mengidentifikasi hal-hal yang sama. maka mereka memberi nama pada kereta api tersebut dengan iron horse (kuda besi). yaitu : a) Menganalisis unsur :  Kemampuan melihat asumsi-asumsi yang tidak dinyatakan secara eksplisit pada suatu pernyataan  Kemampuan untuk membedakan fakta dengan hipotesa. mengklasifikasikan.  Kemampuan untuk mengidentifikasi motif-motif dan membedakan mekanisme perilaku antara individu dan kelompok.  Kemampuan untuk mengenal unsur-unsur khusus yang membenarkan suatu pernyataan. b) Menganalisis hubungan  Kemampuan untuk melihat secara komprehensif interrelasi antar ide dengan ide. menggunakan.  Kemampuan untuk membedakan pernyataan faktual dengan pernyataan normatif.  Kemampuan untuk mengenal fakta atau asumsi yang esensial yang mendasari suatu pendapat atau tesis atau argumen-argumen yang mendukungnya. Satu-satunya alat transportasi yang sudah dikenal pada waktu itu adalah kuda.

b. 1) Penerimaan (receiving/attending) . Kemampuan untuk mendeteksi hal-hal yang tidak logis di dalam suatu argumen. sudut pandang atau ciri berfikirnya dan perasaan yang dapat diperoleh dalam karyanya.. Kemampuan berfikir induktif dan konvergen merupakan ciri kemampuan ini. Kawasan Afektif. kepatuhan terhadap moral dan sebagainya. menilai dan mengambil keputusan benar-salah. Contoh: memilih nada dan irama dan kemudian manggabungkannya sehingga menjadi gubahan musik yang baru. 6) Penilaian (evaluation) Mempertimbangkan. memberi nama yang sesuai bagi suatu temuan baru. misalnya kesesuaiannya dengan aspirasi umum atau kecocokannya dengan kebutuhan pemakai.  Kemampuan untuk mengenal hubungan kausal dan unsur-unsur yang penting dan yang tidak penting di dalam perhitungan historis. seperti perasaan. baik-buruk. Terdapat dua kriteria pembenaran yang digunakan. c) Menganalisis prinsip-prinsip organisasi  Kemampuan untuk menguraikan antara bahan dan alat  Kemampuan untuk mengenal bentuk dan pola karya seni dalam rangka memahami maknanya. yang dilakukan dengan memperhatikan konsistensi atau kecermatan susunan secara logis unsurunsur yang ada di dalam objek yang diamati. atau merangkai berbagai informasi menjadi satu kesimpulan atau menjadi suatu hal yang baru. sikap.  Kemampuan untuk mengetahui maksud dari pengarang suatu karya tulis. 5) Memadukan (synthesis) Menggabungkan.  Kemampuan untuk melihat teknik yang digunakan dalam meyusun suatu materi yang bersifat persuasif seperti advertensi dan propaganda. yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek emosional. yaitu : a) Pembenaran berdasarkan kriteria internal. menciptakan logo organisasi. yang dilakukan berdasarkan kriteria-kriteria yang bersumber di luar objek yang diamati. meramu. atau bermanfaat – tak bermanfaat berdasarkan kriteria-kriteria tertentu baik kualitatif maupun kuantitatif. minat. b) Pembenaran berdasarkan kriteria eksternal.

c) Komitmen yaitu kesetujuan terhadap suatu nilai dengan alasan-alasan tertentu yang muncul dari rangkaian pengalaman. yang meliputi proses sebagai berikut : a) Kesiapan menanggapi (acquiescene of responding). tetapi mulai melihat beberapa nilai yang . yaitu adanya aksi atau kegiatan yang berhubungan dengan usaha untuk memuaskan keinginan mengetahui. yang ditandai dengan kehadiran dan usaha untuk memberi perhatian pada stimulus yang bersangkutan. Misalnya pada desain atau warna saja. yaitu usaha untuk melihat hal-hal khusus di dalam bagian yang diperhatikan. b) Kemauan menanggapi (willingness to respond). yaitu : a) Kesiapan untuk menerima (awareness). terpesona. Mungkin perhatian itu hanya tertuju pada warna. kagum. Komitmen ini dinyatakan dengan rasa senang. 3) Penghargaan (valuing) Pada tahap ini sudah mulai timbul proses internalisasi untuk memiliki dan menghayati nilai dari stimulus yang dihadapi. Contoh kegiatan yang tampak dari kepuasan menanggapi ini adalah bertanya. c) Mengkhususkan perhatian (controlled or selected attention). dan sebagainya. memotret dari objek yang menjadi pusat perhatiannya. yaitu adanya kesiapan untuk berinteraksi dengan stimulus (fenomena atau objek yang akan dipelajari). suara atau kata-kata tertentu saja. menempelkan gambar dari tokoh yang disenangi pada tembok kamar yang bersangkutan. b) Kemauan untuk menerima (willingness to receive). b) Menyeleksi nilai yang lebih disenangi (preference for a value) yang dinyatakan dalam usaha untuk mencari contoh yang dapat memuaskan perilaku menikmati. membuat coretan atau gambar. menunjukkan komitmen terhadap nilai keberanian yang dihargainya. yaitu usaha untuk mengalokasikan perhatian pada stimulus yang bersangkutan.Kawasan penerimaan diperinci ke dalam tiga tahap. misalnya lukisan yang memiliki yang memuaskan. 4) Pengorganisasian (organization) Pada tahap ini yang bersangkutan tidak hanya menginternalisasi satu nilai tertentu seperti pada tahap komitmen. 2) Sambutan (responding) Mengadakan aksi terhadap stimulus. yaitu kelanjutan dari usaha memuaskan diri untuk menanggapi secara lebih intensif. c) Kepuasan menanggapi (satisfaction in response). Kagum atas keberanian seseorang. Contoh : mengajukan pertanyaan. atau mentaati peraturan lalu lintas. Penilaian terbagi atas empat tahap sebagai berikut : a) Menerima nilai (acceptance of value).

Proses ini terjadi dalam dua tahapan. 4) Adaptasi yaitu seseorang sudah mampu melakukan modifikasi untuk disesuaikan dengan kebutuhan atau situasi tempat keterampilan itu dilaksanakan. Seperti anak yang baru belajar bahasa meniru kata-kata orang tanpa mengerti artinya. Artinya mudah berubah-ubah sesuai situasi yang dihadapi. sekalipun ia belum dapat mengubah polanya. (b) peniruan (imitation). 3) Membiasakan yaitu seseorang dapat melakukan suatu keterampilan tanpa harus melihat contoh. Karakterisasi yaitu kemampuan untuk menghayati atau mempribadikan sistem nilai Kalau pada tahap pengorganisasian di atas sistem nilai sudah dapat disusun. yaitu kemampuan untuk melihat suatu masalah dari suatu sudut pandang tertentu. c. dan seterusnya menurut urutan kepentingan. b) Pengorganisasian sistem nilai. 2) Meniru adalah kemampuan untuk melakukan sesuai dengan contoh yang diamatinya walaupun belum mengerti hakikat atau makna dari keterampilan itu. 5) Karakterisasi (characterization). yaitu menyusun perangkat nilai dalam suatu sistem berdasarkan tingkat preferensinya. mempersiapkan alat. Pada tahap karakterisasi. sistem itu selalu konsisten.atau kesenangan dari diri yang bersangkutan. yaitu : a) Generalisasi. yakni : a) Konseptualisasi nilai. menjawab pertanyaan. (d) menyesuaikan (adaptation) dan (e) menciptakan (origination) 1) Kesiapan yaitu berhubungan dengan kesediaan untuk melatih diri tentang keterampilan tertentu yang dinyatakan dengan usaha untuk melaporkan kehadirannya. yaitu keinginan untuk menilai hasil karya orang lain. Dalam sistem nilai ini yang bersangkutan menempatkan nilai yang paling disukai pada tingkat yang amat penting. b) Karakterisasi. Proses ini terdiri atas dua tahap. (c) membiasakan (habitual). yaitu mengembangkan pandangan hidup tertentu yang memberi corak tersendiri pada kepribadian diri yang bersangkutan. maka susunan itu belum konsisten di dalam diri yang bersangkutan.relevan untuk disusun menjadi satu sistem nilai. Kawasan ini terdiri dari : (a) kesiapan (set). . Kawasan Psikomotor. yaitu kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan yang melibatkan fungsi sistem syaraf dan otot (neuronmuscular system) dan fungsi psikis. menyusul kemudian nilai yang dirasakan agak penting. atau menemukan asumsi-asumsi yang mendasari suatu moral atau kebiasaan. menyesuaikan diri dengan situasi.

pendidikan dipahami sebagai sebagai alat pembentukan watak. Yang menjadi persoalan. serta media untuk meningkatkan keterampilan. dan cekatan dalam melakukan gerakan yang sulit dan rumit (kompleks). Melihat begitu pentingnya pendidikan bagi umat manusia. Gerakan fisik (Physical Abilities) yaitu gerakan yang menunjukkan daya tahan (endurance). kelenturan (flexibility) dan kegesitan.5) Menciptakan (origination) di mana seseorang sudah mampu menciptakan sendiri suatu karya. sejauhmanakah pendidikan dapat mempengaruhi perubahan dan perkembangan perilaku individu. . dan sebagainya. pendidikan lebih diyakini sebagai suatu media atau wahana untuk menanamkan nilai-nilai moral dan ajaran keagamaan. banyak peradaban manusia yang “mewajibkan” masyarakatnya untuk tetap menjaga keberlangsungan pendidikan. yang terpola dan dapat ditebak. Sementara itu. serta wahana untuk pembebasan manusia. kekuatan (strength). Gerakan indah dan kreatif (Non-discursive communication) yaitu mengkomunikasikan perasan melalui gerakan. Gerakan Persepsi (Perceptual abilities) yaitu gerakan sudah lebih meningkat karena dibantu kemampuan perseptual. Basis semua perilaku bergerak atau respons terhadap stimulus tanpa sadar. alat pelatihan keterampilan. misalnya : melompat. alat mengasah otak. menunduk. Bagaimana pula kontribusi individu itu sendiri terhadap perubahan dan perkembangan perilakunya. berjalan. yaitu : sub kawasan ini 1) Gerakan refleks (reflex movements). Penyelenggaraan pendidikan selanjutnya menjadi kewajiban kemanusiaan dalam rangka mempertahankan kehidupannya. Gerakan dasar biasa (Basic fundamental movements) yaitu gerakan yang muncul tanpa latihan tapi dapat diperhalus melalui praktik. Abin Syamsuddin Makmun( 2003) memerinci dengan tahapan yang berbeda. atau sebagai wahana untuk memanusiakan manusia. Gerakan terampil (skilled movements) yaitu dapat mengontrol berbagai tingkatan gerak secara terampil. 2) 3) 4) 5) 6) Peranan dan Pengaruh Pendidikan terhadap Perubahan dan Perkembangan Perilaku Pendidikan memang sejak zaman dahulu kala menjadi salah satu bentuk usaha manusia dalam rangka mempertahankan keberlangsungan eksistensi kehidupan maupun budaya manusia itu sendiri. Sementara kalangan humanisme. tangkas. Bagi kalangan behaviorisme. baik dalam bentuk gerak estetik: gerakan-gerakan terampil yang efisien dan indah maupun gerak kreatif: gerakangerakan pada tingkat tertinggi untuk mengkomunikasikan peran.

minat. motivasi. Melalui interaksi belajar mengajar yang disepakati dengan Dosen. selanjutnya dengan bantuan atau tanpa bantuan orang lain. mengobservasi perilaku di kelas. Walaupun demikian. arah dan kualifikasi perubahan dan perkembangan perilaku akan sangat bergantung pada faktor S (conditioning). Sedangkan dalam pandangan humanisme. dapat dijelaskan dalam bagan berikut ini : P = f (S. terutama potensi intelektual. baik dalam aspek kognitif. Sehingga potensi yang semula masih bersifat laten (terpendam) dapat diaktualisasikan menjadi prestasi. Secara skematik. Seberapa besar tingkat atau derajat perubahan dan perkembangan perilaku yang dicapai melalui usaha – usaha conditioning dikenal dengan istilah prestasi belajar atau hasil belajar (achievement). perilaku) f = function (fungsi) S=stimulus (pendidikan/belajar) O=organisme Contoh : Untuk memiliki pengetahuan. seorang mahasiswa (O) dengan segala karakteristiknya (kondisi fisik. Dengan adanya perbedaan pandangan tersebut menyebabkan pula terjadinya perbedaan-perbedaan dalam pendekatan dan teknis proses pendidikan.O) P= person (pribadi. . sikap dan keterampilan tentang Psikologi Pendidikan (P). Jika kita amati dari kedua pandangan tersebut tampak ada hal yang kontras. pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha conditioning (penciptaan seperangkat stimulus) yang diharapkan dapat menghasilkan pola-pola perilaku (seperangkat respons) tertentu. yang dimanifestasikan dalam bentuk perubahan dan perkembangan perilaku. membaca dan mengkaji buku-buku yang relevan. Menurut pandangan behaviorisme hasil belajar individu merupakan hasil reaktif dari lingkungan.Dengan menggunakan konsep dasar psikologis. termasuk lingkungan sekolah. dia memperoleh sejumlah pengalaman belajar. Pada dasarnya individu sejak lahir sudah dibekali potensi-potensi tertentu. dalam pandangan humanisme bahwa justru organisme atau individu itu sendiri yang memegang peranan penting dalam suatu proses belajar atau proses pendidikannya. hasil belajar sebelumnya serta karakteristik lainnya) mengikuti kegiatan belajar Psikologi Pendidikan. Sementara itu. hasil belajar individu merupakan hasil dari upaya aktif dan pro-aktifnya terhadap lingkungan. misalnya melalui: diskusi dengan teman. individu yang bersangkutan berupaya aktif mengembangkan segenap potensi yang dimilikinya melalui interaksi dengan lingkungannya. harus diakui bahwa kedua pandangan tersebut memiliki peranan penting dan memberikan kontribusi terhadap perubahan dan perkembangan pribadi atau perilaku individu. pengaruh fungsional pendidikan terhadap perubahan dan perkembangan perilaku.Dengan demikian. maupun psikomotor. afektif. menurut pandangan behaviorisme. khususnya dalam pandangan behaviorisme. bakat.

bahkan melakukan penelitian. Mekanisme terbentuknya perilaku sadar menurut pandangan Behaviorisme a. Beberapa persyaratan ilmu yang sudah dipenuhi oleh Psikologi Pendidikan. Arti penting Psikologi Pendidikan bagi guru adalah : a. d. Ilmu yang mempelajari perilaku individu dalam situasi pendidikan. b. dia mendapatkan pengetahuan. Konsep dan teori Psikologi Pendidikan diperoleh berdasarkan upaya yang sistematis. Kebutuhan akan aktualisasi diri. d. Menjadi pedoman bagi para pendidik dalam mengembangkan proses pendidikan. maka pada akhirnya. Guru dapat menjalankan peran tugas dan fungsinya secara efektif dan efisien Guru dapat merencanakan pembelajaran dengan sebaik-baiknya Guru dapat melaksanakan pembelajaran secara efektif. c. Kebutuhan akan rasa aman. Di bawah ini merupakan jenis-jenis kebutuhan individu yang dikemukakan oleh Maslow. kecuali : a. WS S S O WS Ow R R O R R W W 6. Latihan Soal : Pilihan Ganda : Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat. Kebutuhan akan prestasi. disamping dihasilkan melalui kegiatan pendidikan (belajar) juga dipengaruhi oleh faktor internal dari individu itu sendiri. 4. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 2. Memiliki obyek yang jelas yaitu perilaku individu yang terlibat dalam pendidikan. sikap dan memiliki keterampilan baru tentang psikologi pendidikan. c. b. Memberikan manfaat untuk kepentingan efektivitas dan efisiensi pendidikan. a. 5. b. . b. kiranya bisa dipahami bahwa perubahan perilaku atau diperolehnya kemampuan individu. baik untuk kepentingan diri-pribadi sehari-hari maupun dalam rangka mempersiapkan diri untuk menjadi guru kelak di kemudian hari. kecuali : a. d. Psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai : 1) 2) 3) 4) Ilmu Jiwa Ilmu yang mempelajari tentang perilaku peserta didik . Dengan demikian. b. c. Guru dapat menilai peserta didiknya secara efisien. dan c benar 3. c. d. Kebutuhan akan harga diri. baik melalui pendekatan kuantitatif maupun kualitatif.

evaluasi b. dan c benar 8. frekuensi dan persistensi kegiatan. Konflik yang dialami jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sama-sama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif. application b. Uraikan dan berikan gambaran secara skematik tentang mekanisme pembentukan perilaku dan pribadi individu menurut aliran holistik ! . Approach-approach conflict c. durasi. dan c benar 9.7. characterization by value or value complex d. a. c. Approach. synthesis d. evaluation Uraian 1. a. Non-discursive communication c. proyeksi 10. a. a. menggabungkan merupakan indikator atau kata kerja operasional untuk mengukur perubahan perilaku dalam aspek : a. ketabahan. Dapat menyimpulkan. fiksasi d. Jelaskan peranan dan pengaruh pendidikan terhadap perubahan dan perkembangan perilaku individu ! 2. a. agresi b. Di bawah ini merupakan kemampuan yang berkaitan dengan perilaku kawasan afektif. tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan dan arah sikap terhadap sasaran kegiatan. b. keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan. b . a. menghubungkan.avoidance conflict b. Di bawah ini merupakan indikator untuk mengetahui tingkat motivasi individu. a. regresi c. Reaksi frustasi individu atas kegagalan dalam mencapai tujuan dan tidak terpenuhinya kebutuhan individu dengan cara mencari kambing hitam. d. analysis c. b dan c benar 11. b. Avoidance-avoidance conflict d.

Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. ciri-ciri keberbakatan. Intisari Bacaan Keragaman Individu dalam Kecakapan dan Kepribadian Dalam melaksanakan tugasnya. dalam Kecakapan dan C. adakalanya guru dibuat frustrasi. yang penting dan perlu diketahui guru adalah berkenaan dengan kecakapan dan kepribadian peserta didiknya. Mendefinisikan kecakapan nyata. dan kepribadian 2.BAB II KERAGAMAN INDIVIDU DALAM KECAKAPAN DAN KEPRIBADIAN A. guru mungkin akan menganggap seolah-olah tidak ada hambatan. ukuran kecerdasan. aspek-aspek kepribadian.Dari segi kecepatan belajar. Di antara sekian banyak karakteristik yang dimiliki peserta didik. guru akan berhadapan dengan ciri-ciri kepribadian para peserta didiknyanya yang khas atau unik. dengan masing-masing karakateristik yang dimilikinya. Menjelaskan tentang teori-teori kecerdasan dan pengukuran kecerdasan. kecakapan potensial. kecerdasan (inteligensi). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Keragaman Kepribadian. seorang guru mungkin akan dihadapkan dengan puluhan atau bahkan ratusan peserta didiknya. Berhadapan dengan peserta didik yang memiliki kecepatan belajar dan memiliki ciri-ciri kepribadian yang positif. Menganalis faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian. Namun ketika berhadapan dengan peserta didik yang lambat dalam belajar atau ciri-ciri kepribadian yang negatif. B. ada peserta didik yang menunjukkan cepat dalam menangkap pelajaran. Dari segi kepribadian. Mengidentifikasi tentang indikator kecerdasan. 3. 4. diharapkan Anda dapat : 1. Keragaman Individu dalam Kecakapan dan Kepribadian. 3. Ujung-ujungnya . namun sebaliknya ada juga yang sangat lambat. Pokok Bahasan 2.

dia langsung saja akan menyimpulkan bahwa peserta didiklah yang salah. Peserta didik dianggap kurang rajin, bodoh, malas, kurang sungguh-sungguh dan sebagainya. Jika saja guru tersebut dapat memahami tentang keragaman individu, belum tentu dia akan langsung menarik kesimpulan bahwa peserta didiklah yang salah. Terlebih dahulu mungkin dia akan mempelajari latar belakang sosio-psikologis peserta didiknya, sehingga akan diketahui secara akurat kenapa peserta didik itu lambat dalam belajar, selanjutnya dia berusaha untuk menemukan solusinya dan menetukan tindakan apa yang paling mungkin bisa dilakukan agar peserta didik tersebut dapat mengembangkan perilaku dan pribadinya secara optimal. Membicarakan tentang keragaman individu secara luas dan mendalam sebetulnya sudah merupakan kajian tersendiri yaitu dalam bidang Psikologi Diferensial. Untuk kepentingan pengetahuan guru dalam memahami peserta didiknya, di bawah ini akan diuraikan dua jenis keragaman individu yaitu keragaman dalam kecakapan dan kepribadian. a. Keragaman Individu dalam Kecakapan Kecakapan individu dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu kecakapan nyata (actual ability) dan kecakapan potensial (potential ability). Kecakapan nyata (actual ability) yaitu kecakapan yang diperoleh melalui belajar (achivement atau prestasi), yang dapat segera didemonstrasikan dan diuji sekarang. Misalkan, setelah selesai mengikuti proses perkuliahan (kegiatan tatap muka di kelas), pada akhir perkuliahan mahasiswa diuji oleh dosen tentang materi yang disampaikannya (tes formatif). Ketika mahasiswa mampu menjawab dengan baik tentang pertanyaan dosen, maka kemampuan tersebut merupakan atau kecakapan nyata (achievement). Sedangkan kecakapan potensial merupakan aspek kecakapan yang masih terkandung dalam diri individu dan diperoleh dari faktor keturunan (herediter). Kecakapan potensial dapat dibagi ke dalam dua bagian yaitu kecakapan dasar umum (inteligensi atau kecerdasan) dan kecakapan dasar khusus (bakat atau aptitudes). C.P. Chaplin (1975) memberikan pengertian inteligensi sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif. Pada awalnya teori inteligensi masih bersifat unidimensional (kecerdasan tunggal), yakni hanya berhubungan dengan aspek intelektual saja, seperti teori inteligensi yang dikemukakan oleh Charles Spearman (1904) dengan teori “Two Factors”-nya. Menurut pendapatnya bahwa inteligensi terdiri dari kemampuan umum yang diberi kode “g” (genaral factor) dan kemampuan khusus yang diberi kode “s” (specific factor). Selanjutnya, Thurstone (1938) mengemukakan teori “Primary Mental Abilities”, bahwa inteligensi merupakan penjelmaan dari kemampuan primer, yaitu : (1) kemampuan berbahasa (verbal comprehension); (2) kemampuan mengingat (memory); (3) kemampuan nalar atau berfikir (reasoning); (4) kemampuan tilikan

ruangan (spatial factor); (5) kemampuan bilangan (numerical ability); (6) kemampuan menggunakan kata-kata (word fluency); dan (7) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat (perceptual speed). Sementara itu, J.P. Guilford mengemukakan bahwa inteligensi dapat dilihat dari tiga kategori dasar atau “faces of intellect”, yaitu : 1. Operasi Mental (Proses Befikir) a. Cognition (menyimpan informasi yang lama dan menemukan informasi yang baru). b. Memory Retention (ingatan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari).

c. Memory Recording (ingatan yang segera). d. Divergent Production (berfikir melebar=banyak kemungkinan jawaban/
alternatif). e. Convergent Production (berfikir memusat= hanya satu kemungkinan jawaban/alternatif). f. Evaluation (mengambil keputusan tentang apakah suatu itu baik, akurat, atau memadai). 2. Content (Isi yang Dipikirkan) a. Visual (bentuk konkret atau gambaran). b. Auditory. c. Word Meaning (semantic). d. Symbolic (informasi dalam bentuk lambang, kata-kata atau angka dan notasi musik). e. Behavioral (interaksi non verbal yang diperoleh melalui penginderaan, ekspresi muka atau suara). 3. Product (Hasil Berfikir) a. Unit (item tunggal informasi). b. Kelas (kelompok item yang memiliki sifat-sifat yang sama). c. Relasi (keterkaitan antar informasi). d. Sistem (kompleksitas bagian saling berhubungan). e. Transformasi (perubahan, modifikasi, atau redefinisi informasi). f. Implikasi (informasi yang merupakan saran dari informasi item lain). Belakangan ini banyak orang menggugat tentang kecerdasan intelektual (unidimensional), yang konon dianggap sebagai anugerah yang dapat mengantarkan kesuksesan hidup seseorang. Pertanyaan muncul, bagaimana dengan tokoh-tokoh dunia, seperti Mozart dan Bethoven dengan karya-karya musiknya yang mengagumkan, atau Maradona dan Pele sang legenda sepakbola dunia,. Apakah mereka termasuk juga orang-orang yang genius atau cerdas ? Dalam teori kecerdasan tunggal (uni-dimensional), kemampuan mereka yang demikian hebat ternyata tidak terakomodasikan. Maka muncullah, teori inteligensi yang berusaha mengakomodir kemampuan-kemampuan individu yang tidak hanya berkenaan dengan aspek

intelektual saja. Dalam hal ini, Howard Gardner (1993), mengemukakan teori Multiple Inteligence, dengan aspek-aspeknya sebagai tampak dalam tabel di bawah ini: INTELIGENSI 1. Logical – Mathematical 2. Linguistic 3. Musical 4. Spatial 5. Bodily Kinesthetic 6. Interpersonal 7. Intrapersonal KEMAMPUAN INTI Kepekaan dan kemampuan untuk mengamati pola-pola logis dan bilangan serta kemampuan untuk berfikir rasional. Kepekaan terhadap suara, ritme, makna kata-kata, dan keragaman fungsi-fungsi bahasa. Kemampuan untuk menghasilkan dan mengapresiasikan ritme. Nada dan bentukbentuk ekspresi musik. Kemampuan mempersepsi dunia ruangvisual secara akurat dan melakukan tranformasi persepsi tersebut. Kemampuan untuk mengontrol gerakan tubuh dan mengenai objek-objek secara terampil. Kemampuan untuk mengamati dan merespons suasana hati, temperamen, dan motivasi orang lain. Kemampuan untuk memahami perasaan, kekuatan dan kelemahan serta inteligensi sendiri.

Kecakapan potensial seseorang hanya dapat dideteksi dengan mengidentifikasi indikator-indikatornya. Jika kita perhatikan penjelasan tentang aspek-aspek inteligensi dari teori-teori inteligensi di atas, maka pada dasarnya indikator kecerdasan akan mengerucut ke dalam tiga ciri yaitu : kecepatan (waktu yang singkat), ketepatan (hasilnya sesuai dengan yang diharapkan) dan kemudahan (tanpa menghadapi hambatan dan kesulitan yang berarti) dalam bertindak. Dengan indikator-indikator perilaku inteligensi tersebut, para ahli mengembangkan instrumen-instrumen standar untuk mengukur perkiraan kecakapan umum (kecerdasan) dan kecakapan khusus (bakat) seseorang. Alat ukur inteligensi yang paling dikenal dan banyak digunakan di Indonesia ialah Tes Binet Simon -- walaupun sebetulnya menurut hemat penulis alat ukur tersebut masih terbatas untuk mengukur inteligensi atau bakat persekolahan (scholastic aptitude), belum dapat mengukur aspek – aspek inteligensi secara keseluruhan (multiple inteligence). Selain itu, ada juga tes intelegensi yang bersifat lintas budaya yaitu Tes Progressive Metrices (PM) yang dikembangkan oleh Raven. Dari hasil pengukuran inteligensi tersebut dapat diketahui seberapa besar tingkat integensi (biasa disebut IQ = Intelligent Quotient yaitu ukuran kecerdasan dikaitkan dengan usia seseorang. Rumus yang biasa digunakan untuk menghitung IQ seseorang adalah :

Balitbang Depdiknas (1986) telah mengidentifikasi ciri-ciri keberbakatan peserta didik dilihat dari aspek kecerdasan. Begitu juga kecerdasan atau bakat seseorang bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan tingkat keberhasilan atau kesuksesan hidup seseorang. (2) kefasihan mengungkapkan kata. (3) pemahaman bilangan. melalui pengamatan yang sistematis tentang indikator – indikator kecerdasan yang dimiliki para peserta didiknya. Alat tes ini dapat mengungkap tentang : (1) pemahaman kata. diantaranya : DAT (Differential Aptitude Test). untuk kepentingan pengembangan diri. dapat menggunakan beberapa instrumen standar.25 % 0. yaitu: . (6) kecepatan pengamatan. seorang guru pada dasarnya dapat pula mendeteksi dan memperkirakan inteligensi peserta didiknya. SRA-PMA (Science Research Action – Primary Mental Ability). kreativitas dan komitmen terhadap tugas. FACT (Flanagan Aptitude Calassification Test). dan (8) kecakapan gerak.79 50 .75 % 6% 13 % 60 % 13 % 6% 0. dan kemudahan peserta didik dalam dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dan mengerjakan soal-soal pada saat ulangan atau ujian. yaitu dengan cara memperhatikan kecenderungan kecepatan ketepatan. IQ > 140 130-139 120-129 110-119 90-109 80 .05 % Selain menggunakan instrumen standar.49 < 25 KATEGORI Jenius (Genius) Sangat Unggul (Very Superior) Unggul (Superior) Diatas rata-rata (High Average) Rata-rata (Average) Dibawah Rata-Rata (Low Average) Bodoh (Dull) Debil (Moron) Imbecil Idiot PERSENTASE 0. rata-rata (midle group) dan lambat (lower group) dalam belajarnya.69 25 . Dalam rangka Program Percepatan Belajar (Accelerated Learning). baik menggunakan instrumen standar atau hanya berdasarkan pengamatan sistematis guru bukanlah bersifat memastikan tingkat kecerdasan atau bakat seseorang namun hanya sekedar memperkirakan (prediksi) saja. (7) berfikir logis.89 70 . Perlu dicatat bahwa pengukuran tersebut.20 % 0.MA (Mental Age) IQ= 100 x CA (Chronological Age) Di bawah ini disajikan norma ukuran kecerdasan dikaitkan dengan usia seseorang.75 % 0. Untuk mengukur bakat seseorang. (4) tilikan ruangan. (5) daya ingat. sehingga pada akhirnya akan diketahui kelompok peserta didik yang tergolong cepat (upper group).

Memiliki kemampuan memikirkan beberapa macam pemecahan masalah. Belajar dengan dan cepat. Lancar berbahasa (mampu mengutarakan pikirannya). teori Personologi dari Murray. Allport (Calvin S. teori Analitik dari Carl Gustav Jung. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya. Memiliki kemampuan yang tinggi dalam berfikir logis dan kritis Mampu belajar/bekerja secara mandiri. sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersangkutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. 14. 2. Memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap ilmu pengetahuan. tergantung sudut pandang masing-masing. teori Medan dari Kurt Lewin. Mampu berkonsentrasi.1. 13. serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan. Mempunyai tujuan yang jelas dalam tiap kegiatan atau perbuatannya Cermat atau teliti dalam mengamati. 5. misalnya konstitusi dan kondisi fisik. Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu. Horney dan Sullivan. 11. diantaranya : teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud. 9. Mempunyai daya imajinasi yang tinggi. hormon. Scheneider (1964) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri. 7. 4. 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbedabeda. Berangkat dari studi yang dilakukannya. terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal. Mempunyai minat luas. segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpengaruh. frustrasi dan konflik. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas perilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu lainnya. ketegangan emosional. teori Sosial Psikologis dari Adler. 8. b. Hall dan Gardner Lindzey. . 12. 3. Fromm. akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. Mampu mengemukakan dan mempertahankan pendapat. Keragaman Individu dalam Kepribadian Para ahli tampaknya masih sangat beragam dalam memberikan rumusan tentang kepribadian. Tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari luar. 6. Menurut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. 10. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa). tampang.

yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku. yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. Berbahagia 9. Ketidakmampuan untuk 5. kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat. Setiap individu memiliki ciri-ciri kepribadian tersendiri. yang di dalamnya mencakup : tentang aspek-aspek a. Berorientasi tujuan 6. Hull. Kurang memiliki kesadaran untuk mentaati ajaran agama 14. Dapat mengontrol emosi menyimpang 7. 2003) mengemukakan ciri-ciri kepribadian yang sehat atau tidak sehat. Hiperaktif 9. Sering merasa tertekan (stress atau 3. sedih. Seperti mudah tidaknya tersinggung. Kebiasaan berbohong 8. Seperti mau menerima resiko secara wajar. Kemandirian menghindar dari perilaku 6. Menunjukkan kekhawatiran dan 2. Sering mengalami pusing kepala 13. marah. Kurang rasa tanggung jawab 12. Seperti : sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. Sulit tidur 11. Menerima tanggung jawab 5. Mampu menilai prestasi yang depresi) diperoleh secara realistik 4. Memiliki filsafat hidup otoritas 11. mulai dari yang menunjukkan ciri-ciri kepribadian yang sehat sampai dengan ciri-ciri kepribadian yang tidak sehat. Senang mengkritik/ mencemooh 10. Sosiabilitas. atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan kepribadian. Elizabeth Hurlock (Syamsu Yusuf. Mampu menilai situasi secara kecemasan realistik 3. Stabilitas emosi. yaitu disposisi reaktif seorang. f.teori Psikologi Individual dari Allport. sambutan terhadap objek yang bersifat positif. b. teori Stimulus-Respons dari Throndike. Berorientasi keluar (ekstrovert) 7. Bersikap memusuhi semua bentuk 10. Mampu menilai diri sendiri secara 1. atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan. teori The Self dari Carl Rogers dan sebagainya. cuci tangan. c. Bersikap kejam 4. Responsibilitas (tanggung jawab). Watson. Dalam hal ini. Temperamen. atau putus asa e. Mudah marah realistik 2. Karakter. Pesimis KEPRIBADIAN YANG SEHAT . negatif atau ambivalen d. sebagai berikut : KEPRIBADIAN YANG TIDAK SEHAT 1. Penerimaan sosial 8. Sikap. Sementara itu.

Kendati demikian. Gregor Mendel mengemukakan pandangannya.15. yaitu : a. seyogyanya guru dapat memperlakukan peserta didik dan mengembangkan strategi pembelajaran. dan (3) pada waktu proses pembentukan sel-sel kelamin. Oleh karena itu. baik mengenai kuantitas maupun kualitasnya. Berdasarkan percobaannya dengan cara mengawinkan bunga merah dengan bunga putih. Herediter. dan satu dari pada pasangan alternatif itu memegang pengaruh besar. 1. dan tiap-tiap sel kelaminnya menerima salah satu faktor dari pasangan keturunan itu. para ahli sepakat bahwa pada dasarnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian dipengaruhi oleh tiga faktor utama. Sehingga peserta didik dapat mengembangkan diri sesuai dengan kecepatan belajar dan karakteristik perilaku dan kepribadiannya masing-masing. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Keragaman dalam Kecakapan dan Kepribadian Timbulnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian dipengaruhi oleh bebagai faktor. dengan memperhatikan aspek perbedaan atau keragaman kecakapan dan kepribadian yang dimiliki peserta didiknya. dia dihadapkan dengan sejumlah keragaman kecakapan dan kepribadian yang dimiliki para peserta didiknya. pembawaan sejak lahir atau berdasarkan keturunan yang bersifat kodrati. Hasil percobaan Mendel ini menjelaskan kepada kita bahwa faktor keturunan memegang peranan penting bagi perilaku dan pribadi individu. yaitu memunculkan kembali mengenai apa yang sudah ada pada hasil perpaduan benih saja. (2) tiap-tiap pasangan faktor keturunan menentukan bentuk alternatif sesamanya. kecakapan potensial (bakat dan kecerdasan). 2. baik yang berasal dari ayah maupun ibu. Asas Reproduksi Menurut asas ini bahwa kecakapan (achievement) dari masing-masing ayah atau ibunya tidak dapat diturunkan kepada anak-anaknya. dan bukan didasarkan pada perilaku orang tua yang diperolehnya melalui hasil belajar atau hasil berinteraksi dengan lingkungannya. akan didapati beberapa . Sifat-sifat atau ciri-ciri perilaku yang diturunkan orang tua kepada anaknya hanyalah bersifat reproduksi. Oleh karena itu. seperti : konstitusi dan struktur fisik. bahwa : (1) tiap-tiap sifat (traits) makhluk hidup itu dikendalikan oleh keturunan. Beberapa asas tentang keturunan di bawah ini akan memberikan gambaran pembanding kepada kita tentang apa-apa yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya : 1. Seberapa kuat pengaruh keturunan sangat bergantung pada besarnya kualitas gen yang dimiliki oleh orang tuanya (ayah atau ibu). Kurang bergairah Berdasarkan uraian diatas kita dapat memahami bahwa ketika seorang guru berhadapan dengan peserta didiknya di kelas. Asas Variasi Bahwa penurunan sifat pembawaan dari orang tua kepada anak-anaknya akan bervariasi. Hal ini disebabkan karena pada waktu terjadinya pembuahan komposisi gen berbeda-beda. pasangan faktor keturunan itu memisah.

Manusia tidak bisa melepaskan diri secara mutlak dari pada pengaruh lingkungan itu. dapat kita ikuti pada uraian berikut : 1.Misalnya. Sejauh mana pengaruh lingkungan itu bagi diri individu. Asas Jenis Menyilang Menurut asas ini bahwa apa yang diturunkan oleh masing-masing orang tua kepada anak-anaknya mempunyai sasaran menyilang jenis. Asas Regresi Filial Terjadi pensurutan sifat atau ciri perilaku dari kedua orangtua pada anaknya yang disebabkan oleh gaya tarik-menarik dalam perpaduan pembawaan ayah dan ibunya. Terputusnya hubungan manusia dengan masyarakat manusia pada tahun-tahun permulaan perkembangannya. lingkungan tempat di mana individu itu berada dan berinteraksi. termasuk didalamnya adalah belajar. walaupun berasal dari ayah dan ibu yang sama. Seorang anak perempuan akan lebih banyak memilki sifat-sifat dan tingkah laku ayahnya. karena lingkungan itu senantiasa tersedia di sekitarnya. sehingga kenyataannya akan menuntut suatu keharusan sebagai makhluk sosial yang dalam keadaan bergaul satu dengan yang lainnya. 4.perbedaan sifat dan ciri-ciri perilaku individu dari orang yang bersaudara. Asas konformitas Berdasarkan asas konformitas ini bahwa seorang anak akan lebih banyak memiliki sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku yang diturunkan oleh kelompok rasnya atau suku bangsanya. sedangkan bagi anak laki-laki akan lebih banyak memilki sifat pada ibunya. Terhadap faktor lingkungan ini ada pula yang menyebutnya sebagai empirik yang berarti pengalaman. sehingga mungkin saja kakaknya lebih banyak menyerupai sifat dan ciri-ciri perilaku ayahnya sedangkan adiknya lebih banyak menyerupai sifat dan ciri-ciri perilaku ibunya atau sebaliknya. b. karena dengan lingkungan itu individu mulai mengalami dan mengecap alam sekitarnya. baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosio-psikologis. Sedangkan perbandingannya mana yang lebih besar antara sifat-sifat ayah dan ibunya ini sangat tergantung kepada daya kekuatan tarik menarik dari pada masing-masing sifat keturunan tersebut. Environment. 3. sehingga akan didapati sebagian kecil dari sifat-sifat ayahnya dan sebagian kecil pula dari sifat-sifat ibunya. 5. orang Eropa akan menyerupai sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku seperti orang-orang Eropa lainnya dibandingkan dengan orang-orang Asia. akan mengakibatkan berubahnya tabiat manusia . Lingkungan membuat individu sebagai makhluk sosial Yang dimaksud dengan lingkungan pada uraian ini hanya meliputi orang-orang atau manusia-manusia lain yang dapat memberikan pengaruh dan dapat dipengaruhi.

Contoh : air banjir pada musim hujan mendorong manusia untuk mencari cara-cara untuk mengatasinya. karena dirinya telah sesuai dengan lingkungannya. sebagai : a. Lingkungan membuat wajah budaya bagi individu Lingkungan dengan aneka ragam kekayaannya merupakan sumber inspirasi dan daya cipta untuk diolah menjadi kekayaan budaya bagi dirinya. namun lama-kelamaan dia menjadi terbiasa dan tidak menjadi gangguan lagi. Lingkungan yang beraneka ragam senantiasa memberikan rangsangan kepada individu untuk berpartisipasi dan mengikutinya serta berupaya untuk meniru dan mengidentifikasinya. c. Dalam hal ini. Dapat kita bayangkan andaikata seorang anak manusia yang sejak lahirnya dipisahkan dari pergaulan manusia sampai kira-kira berusia 10 tahun saja. Contoh : seorang anak yang senantiasa bergaul dengan temannya yang rajin belajar. apabila dianggap sesuai dengan dirinya. b. . Lingkungan memiliki peranan bagi individu. karena manusia hidup adalah manusia yang berfikir dan serba ingin tahu serta mencoba-coba terhadap segala apa yang tersedia di alam sekitarnya.sebagai manusia. sedikit banyaknya sifat rajin dari temannya akan diikutinya sehingga lama kelamaan dia pun berubah menjadi anak yang rajin. baik secara alloplastis maupun autoplastis. d. Obyek penyesuaian diri bagi individu. pada awalnya dia merasa mual karena bau obat-obatan. maka sudah dapat dipastikan bahwa dia tidak akan mampu berbicara dengan bahasa yang biasa. Penyesuaian diri alloplastis artinya individu itu berusaha untuk merubah lingkungannya. Berubahnya tabiat manusia sebagai manusia dalam arti bahwa ia tidak akan mampu bergaul dan bertingkah laku dengan sesamanya. individu melakukan manipulation yaitu mengadakan usaha untuk memalsukan lingkungan panas menjadi sejuk sehingga sesuai dengan dirinya. 2. Alat untuk kepentingan dan kelangsungan hidup individu dan menjadi alat pergaulan sosial individu. Sehingga kalaupun dia kemudian dididik. Contoh : air dapat dipergunakan untuk minum atau menjamu teman ketika berkunjung ke rumah. walaupun diberinya cukup makanan dan minuman. Sedangkan penyesuaian diri autoplastis. Sesuatu yang diikuti individu. maka penyesuaian dirinya itu akan berlangsung sangat lambat sekali. canggung pemalu dan lain-lain. Lingkungan dapat membentuk pribadi seseorang. Tantangan bagi individu dan individu berusaha untuk dapat menundukkannya. penyesusian diri yang dilakukan individu agar dirinya sesuai dengan lingkungannya. Contoh : dalam keadaan cuaca panas individu memasang kipas angin sehingga dikamarnya menjadi sejuk. akan tetapi serentak dia dihadapkan kepada pergaulan manusia. Contoh : seorang juru rawat di rumah sakit.

Inteligensi merupakan penjelmaan dari : (1) kemampuan berbahasa (verbal comprehension).c. emosi. hasil belajar yang diperoleh peserta didik. Maturity. (3) kemampuan nalar atau berfikir (reasoning). Kematangan terjadi pula pada aspek-aspek psikis. b dan c benar. dan . terutama dalam mata pelajaran Matematika dan bahasa Inggris b.E. Latihan Soal : Pilihan Ganda Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat. dan kemudahan peserta didiknya dalam menyelesaikan tugastugas yang diberikan dan mengerjakan soal-soal pada saat ulangan atau ujian. syaraf dan kelenjar.M) P= Pribadi atau perilaku f = fungsi H= Herediter (pembawaan) E=Environment (lingkungan. sosial. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 1. Aptitude c. (4) kemampuan tilikan ruangan (spatial factor). (6) kemampuan menggunakan kata-kata (word fluency). seorang guru dapat melakukan pengamatan dengan melihat indikator sebagai berikut : a. Untuk mengenali tingkat kecerdasan peserta didiknya. Ketiga faktor tersebut di atas dapat dibuat formulasi sebagai berikut : P= f (H. (5) kemampuan bilangan (numerical ability). seperti adanya kematangan jaringan-jaringan tubuh. Achievement b. Kematangan seperti ini disebut kematangan biologis. (2) kemampuan mengingat (memory). religius. seperti : kemampuan berfikir. a. Kecakapan khusus individu yang merupakan hasil pembawaan. dan kepribadian. 3. a. Inteligensi d. c. Kepribadian 2. otot. Kematangan aspek psikis ini diperlukan adanya latihan dan belajar tertentu. kecepatan ketepatan. d. moral. cara berbicara dan bertindak peserta didik sehari-hari. Kematangan pada awalnya merupakan hasil dari adanya perubahan-perubahan tertentu dan penyesuaian struktural pada diri individu. kematangan yang mengacu pada tahap-tahap atau fase-fase perkembangan yang dijalani individu. termasuk belajar) M=Maturity (tingkat kematangan) D.

dan c benar 5. Hasil ini menunjukkan bahwa siswa X memiliki kecerdasan tergolong : a. d. Terjadi pensurutan sifat atau ciri perilaku dari kedua orangtua pada anaknya yang disebabkan oleh gaya tarik-menarik dalam perpaduan pembawaan ayah dan ibunya. b. c. karakter temperamen stabilitas emosi sikap dan stabilitas emosi 9. b. d. Di bawah ini merupakan aspek-aspek kepribadian menurut Abin Syamsuddin Makmun : a. Di bawah ini merupakan ciri-ciri keberbakatan dalam rangka percepatan belajar (accelerated learning). kecuali : a. karakter dan temperamen stabilitas emosi sikap dan stabilitas emosi responsibilitas dan sosiabilitas a. selalu memperoleh peringkat pertama di kelas memiliki kemampuan memikirkan beberapa macam pemecahan masalah. d. c. c. dan c benar terhadap rangsangan- 8. Intelligence Quotient (IQ) merupakan ukuran tingkat kecerdasan seseorang dibandingkan dengan : a. c. b. Two Factors Primary Mental Abilities Multiple Intlelligence a. Asas Reproduksi . mampu belajar/bekerja secara mandiri. c. Berdasarkan hasil test kecerdasan. Merupakan teori inteligensi : a. b. d. b. a. atau cepat lambatnya mereaksi rangsangan yang datang dari lingkungan. d. 7. kemampuan usia prestasi belajar a. c. b. a. Very Superior Superior Genius Di atas rata-rata 6. siswa X memperoleh ukuran kecerdasan (IQ) sebesar 135. d. Disposisi reaktif seorang. b. tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari luar. dan c benar 4. b.(7) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat (perceptual speed). b.

lingkungan dan kematangan dapat mempengaruhi terhadap timbulnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian ! . alloplastis b. autoplastis c. well-adjusment Uraian 1.b. Asas Variasi c. mal-adjusment d. Jelaskan bagaimana cara mengukur kecerdasan seseorang ? 3. Asas Jenis Menyilang 10. Jelaskan tentang teori Multiple Inteligensi menurut Howard Gardner ! 2. a. Jelaskan bahwa faktor herediter. Penyesuaian diri yang dilakukan individu dengan berusaha merubah lingkungannya. Asas konformitas d.

Mendefinisikan perkembangan. dan model pentahapan perkembangan individu. Pokok Bahasan 1. baik fisik maupun psikis dan merupakan satu kesatuan yang harmonis. progresif dan berkesinambungan dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan pula sebagai perubahan – perubahan yang dialami individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya. Mengidentifikasi ciri-ciri umum perkembangan. Pengertian Perkembangan. Menjelaskan tentang aspek-aspek perkembangan individu. 4. 2.BAB III PERKEMBANGAN INDIVIDU A. Kemampuan berjalan seseorang akan seiring . diharapkan Anda dapat : 1. Ciri-Ciri Umum Perkembangan Individu Model Pentahapan Perkembangan. prinsip-prinsip perkembangan. 2. aspek-aspek perkembangan perilaku dan pribadi pada masa remaja. Intisari Bacaan 1. Tugas – Tugas Perkembangan Individu Perkembangan Pada Masa Remaja C. serta problema yang dihadapi pada masa remaja. B. 6. dan remaja. Aspek – Aspek Perkembangan Individu. Contoh : kemampuan berbicara seseorang akan sejalan dengan kematangan dalam perkembangan intelektual atau kognitifnya. 5. 4. 5. 3. Pengertian Perkembangan Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang sistematis. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. tugas perkembangan individu dan masa remaja. 3. Yang dimaksud dengan sistematis adalah bahwa perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya. Menguraikan tugas-tugas perkembangan individu pada masa bayi kanak-kanak. Menjelaskan tahapan perkembangan individu berdasarkan pendekatan didaktis.

f. Begitu juga ketertarikan seorang remaja terhadap jenis kelamin lain akan seiring dengan kematangan organ-organ seksualnya. seperti : berbicara dan berfikir. Lebih jauh lagi. 1. baik secara kuantitatif (fisik) mapun kualitatif (psikis). Diferensiasi ke integrasi. 6. beberapa prinsip perkembangan Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti. Struktur mendahului fungsi.dengan kesiapan otot-otot kaki. Fisik. Progresif berarti perubahan yang terjadi bersifat maju. Setiap fase perkembangan mempunyai ciri khas. Yelon dan Winstein (Syamsu Yusuf. Dari outer control ke inner control. seperti : perubahan imajinasi dari fantasi ke realistis. Ciri-Ciri Umum Perkembangan Individu Perkembangan individu mempunyai ciri-ciri umum sebagai berikut : a. Lenyapnya tanda-tanda yang lama. Setiap individu normal akan mengalami tahapan/fase perkembangan. Berkesinambungan artinya bahwa perubahan pada bagian atau fungsi organisme itu berlangsung secara beraturan atau berurutan. seorang anak terlebih dahulu harus menguasai tahapan perkembangan sebelumnya yaitu kemampuan duduk dan merangkak. Perkembangan terjadi pada tempo yang berlainan. seperti : berat dan tinggi badan. Dari konkret ke abstrak. meningkat dan meluas. b. Dari egosentris ke perspektivisme. Psikis. 2003) mengemukakan tentang arah atau pola perkembangan sebagai berikut : 1. 2. Psikis. individu. perubahan pengetahuan dan keterampilan dari sederhana sampai kepada yang kompleks (mulai dari mengenal huruf sampai dengan kemampuan membaca buku). 3. Cephalocaudal & proximal-distal (perkembangan manusia itu mulai dari kepala ke kaki dan dari tengah (jantung. 4. Perkembangan mengikuti pola atau arah tertentu. c. 2. c. yaitu : a. Terjadinya perubahan dalam proporsi. Contoh : untuk dapat berdiri. d. b. 2. dengan fase . Terjadinya perubahan dalam aspek : 1. seperti : proporsi tubuh anak berubah sesuai perkembangannya. Semua aspek perkembangan saling berhubungan. Syamsu Yusuf (2003) memerinci. 2. paru dan sebagainya) ke samping (tangan). 5. Contoh : perubahan proporsi dan ukuran fisik (dari pendek menjadi tinggi dan dari kecil menjadi besar). Fisik. e.

1. Fisik; seperti: rambut-rambut halus dan gigi susu, kelenjar thymus dan kelenjar pineal. 2. Psikis; seperti : lenyapnya masa mengoceh, perilaku impulsif. d. Diperolehnya tanda-tanda baru. 1. Fisik; seperti : pergantian gigi dan karakteristik sex pada usia remaja, seperti kumis dan jakun pada laki dan tumbuh payudara dan menstruasi pada wanita, tumbuh uban pada masa tua. 2. Psikis; seperti berkembangnya rasa ingin tahu, terutama yang berkaitan dengan sex, ilmu pengetahuan, nilai-nilai moral dan keyakinan beragama. 3. Model Pentahapan Perkembangan Individu Memperhatikan kompleksitas dari sifat perkembangan individu, maka untuk kepentingan studi para ahli telah mencoba mengembangkan model pentahapan (stages) mengenai proses perkembangan. Para ahli mengemukakan pendapat tentang model – model petahapan yang beragam, yang secara garis besarnya dapat dikelompokkan ke dalam tiga pendekatan yaitu pendekatan biologis, didaktis, dan psikologis. Di bawah ini disajikan tabel tentang model tahapan perkembangan yang dikemukakan oleh beberapa ahli.
Nama Ahli Aristoteles Tahapan Masa Kanak-Kanak Masa Anak Sekolah Masa Remaja Masa Usia Pra Sekolah Masa Usia Sekolah Dasar Masa Usia Sekolah Menengah Masa Usia Mahapeserta didik Tahap I Masa Asuhan Tahap II Masa Pendidikan Jasmani dan latihan Panca Indera Tahap III Masa Pendidikan Akal Tahap IV Masa Pendidikan Watak dan Agama Fullungs (Pengisisian) I Streckungs (Rentangan) I Fullungs (Pengisisian) II Streckungs (Rentangan)II Pranatal Infancy (orok) Babyhood (bayi) Childhood (kanak-kanak) Adolesence/puberty (masa remaja): - Pre Adolesence - Early Adolesence - Late Adolesence Adulthood (masa dewasa) Middle age (tengah baya) Old Age (masa tua) Sensori-motor Pra-operasional : - Pre-konseptual - Intuitif Konkret -Operasional Waktu 0-7 th 7-14 th 14-21 th 0- 6 th 6-12 th 12-18 th 18- 25 th 0-2 th 2-12 th 12-15 th 15-20 th 0-3 th 3-7 th 7-13 th 13-20th 9 bln-280 hr 10 hr-14 hr 2 mng -2 th 2 th-remaja 11-13 th 16-17 th 18-21 th 21-25 th 25-30 th 30- wafat 0-2 th 2-7 th 2-4 th 4-7 th 7-11 th

Syamsu Yusuf

Rosseau

Kretschmer

Elizabeth Hurlock

Piaget

Formal - operasional

11-15 th

Loevenger sebagaimana dikemukakan oleh Sunaryo dkk (2003) mengemukakan tentang fase-fase perkembangan individu beserta ciri-cirinya, yaitu :
Tahap Impulsif Ciri – Ciri Identitas diri terpisah dari orang lain Bergantung pada lingkungan Beorientasi hari ini Individu tidak menempatkan diri sebagai penyebab perilaku Peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dari berhubungan dengan orang lain 2. Mengikuti aturan secara oportunistik dan hedonistik 3. Berfikir tidak logis dan stereotip 4. Melihat kehidupan sebagai “zero-sum game” 5. Cenderung menyalahkan dan mencela orang lain 1. Peduli terhadap penampilan diri 2. Berfikir sterotip dan klise 3. Peduli akan aturan eksternal 4. Bertindak dengan motif dangkal 5. Menyamakan diri dalam ekspresi emosi 6. Kurang introspeksi 7. Perbedaan kelompok didasarkan ciri-ciri eksternal 8. Takut tidak diterima kelompok 9. Tidak sensitif terhadap keindividualan 10. Merasa berdosa jika melanggar aturan 1. Bertindak atas dasar nilai internal 2. Mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan 3. Mampu melihat keragaman emosi, motif. Dan perspektif diri 4. Peduli akan hubungan mutualistik 5. Memiliki tujuan jangka panjang 6. Cenderung melihat peristiwa dalam konteks sosial 7. Berfikir lebih kompleks dan atas dasar analisis 1. Peningkatan kesadaran invidualitas 2. Kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dengan ketergantungan 3. Menjadi lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang lain 4. Mengenal eksistensi perbedaan individual 5. Mampu bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan 6. Membedakan kehidupan internal dan kehidupan luar dirinya 7. Mengenal kompleksitas diri 8. Peduli akan perkembangan dan masalah-masalah sosial 1. Memiliki pandangan hidup sebagai suatu keseluruhan 2. Bersikap realistis dan obyektif terhadap diri sendiri maupun orang lain 3. Peduli akan paham abstrak, seperti keadilan sosial. 4. Mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan 5. Peduli akan self fulfillment 6. Ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal 7. Respek terhadap kemandirian orang lain 8. Sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain 1. 2. 3. 4. 1.

Perlindungan Diri

Konformistik

Seksama

Individualistik

Otonomi

9.

Mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan keceriaan

Dengan memperhatikan fase dan ciri-ciri perkembangan di atas, Sunaryo, dkk. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak tugas-tugas perkembangan individu. Yang dikenal dengan sebutan Inventori Tugas Perkembangan (ITP). Selanjutnya, dengan merujuk pada pemikiran Syamsu Yusuf (2003), di bawah ini dikemukakan tahapan perkembangan individu dengan menggunakan pendekatan didaktis: a. Masa Usia Pra Sekolah Masa Usia Pra Sekolah terbagi dua yaitu (1) Masa Vital dan (2) Masa Estetik 1. Masa Vital; pada masa ini individu menggunakan fungsi-fungsi biologis untuk menemukan berbagai hal dalam dunianya. Untuk masa belajar pada tahun pertama dalam kehidupan individu , Freud menyebutnya sebagai masa oral (mulut), karena mulut dipandang sebagai sumber kenikmatan dan merupakan alat untuk melakukan eksplorasi dan belajar.Pada tahun kedua anak belajar berjalan sehingga anak belajar menguasai ruang, mulai dari yang paling dekat sampai dengan ruang yang jauh. Pada tahun kedua umunya terjadi pembiasaan terhadap kebersihan. Melalui latihan kebersihan, anak belajar mengendalikan impulsimpuls atau dorongan-dorongan yang datang dari dalam dirinya. 2. Masa Estetik; dianggap sebagai masa perkembangan rasa keindahan. Anak bereksplorasi dan belajar melalui panca inderanya. Pada masa ini panca indera masih sangat peka. b. Masa Usia Sekolah Dasar Masa Usia Sekolah Dasar disebut juga masa intelektual, atau masa keserasian bersekolah pada umur 6-7 tahun anak dianggap sudah matang untuk memasuki sekolah. Masa Usia Sekolah Dasar terbagi dua, yaitu : (a) masa kelas-kelas rendah dan (b) masa kelas tinggi. Ciri-ciri pada masa kelas-kelas rendah(6/7 – 9/10 tahun) : 1. 2. 3. 4. 5. Adanya korelasi positif yang tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi Sikap tunduk kepada peraturan-peraturan permainan tradisional. Adanya kecenderungan memuji diri sendiri Membandingkan dirinya dengan anak yang lain Apabila tidak dapat menyelesaikan suatu soal, maka soal itu dianggap tidak penting. 6. Pada masa ini (terutama usia 6 – 8 tahun) anak menghendaki nilai angka rapor yang baik, tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak. Ciri-ciri pada masa kelas-kelas tinggi (9/10-12/13 tahun) : 1. Minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret

3.00 tahun) Masa ini dapat digolongkan pada masa remaja akhir sampai masa dewasa awal atau dewasa madya. kuantitaif dan fungsional dari sistem kerja biologis. 4. Amat realistik. yang intinya pada masa ini merupakan pemantapan pendirian hidup. Masa Usia Kemahasiswaan (18. dalam jasmani dan mental. proporsi tinggi kepala dengan tinggi garis keajegan badan secara secara keseluruhan. Pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran tepat mengenai prestasi sekolahnya. yang akan memberikan dasar bagi memasuki masa berikutnya yaitu masa dewasa. prestasi. 2. pada masa ini mulai tumbuh dorongan untuk hidup. c. pantas dijunjung dan dipuja. 6. serta sikap sosial. Dalam permainan itu mereka tidak terikat lagi dengan aturan permainan tradisional (yang sudah ada). masa remaja. masa remaja awal. Pada masa ini sebagai masa mencari sesuatu yang dipandang bernilai. persyarafan. indeks tinggi dan berat badan. mereka membuat peraturan sendiri. setelah remaja dapat menentukan pendirian hidupnya. seperti konstraksi otot-otot. Perkembangan Fisik Perkembangan fisik individu mencakup aspek-aspek : 1. peredaran darah dan pernafasan. Gemar membentuk kelompok sebaya untuk bermain bersama. Perkembangan fisiologis.00-25. biasanya ditandai dengan sifat-sifat negatif. d. kebutuhan akan adanya teman yang dapat memahami dan menolongnya. pada dasarnya telah tercapai masa remaja akhir dan telah terpenuhi tugas-tugas perkembangan pada masa remaja. . Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal atau mata pelajaran khusus sebagai mulai menonjolnya bakat-bakat khusus 4. Aspek. yang terbagai ke dalam 3 bagian yaitu : 1. ditandai dengan adanya perubahan secara kualitatif.Aspek Perkembangan Individu a. adanya perubahan kuantitatif pada struktur tulang. sekresi kelenjar dan pencernaan. Sampai usia 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang dewasa lainnya untuk menyelesaikan tugas dan memenuhi keinginannya. Masa Usia Sekolah Menegah Masa usia sekolah menengah bertepatan dengan masa remaja. masa remaja akhir. Selepas usia ini pada umumnya anak menghadapi tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha untuk menyelesaikannya 5. 2.2. Perkembangan anatomis. rasa ingin tahu dan ingin belajar 3.

kembangan menurun sangat lambat bahkan menjadi mapan. Perkembangan bahasa dimulai dengan masa meraban. pada permulaan masa remaja akhir bagi wanita dan penghujung masa remaja akhir bagi pria. c.1970) menunjukkan bahwa laju perkembangan inteligensi berlangsung sangat pesat sampai masa remaja. membaca dan menggambar permulaan. Dua prinsip utama dalam perkembangan psikomotorik. manusia. laju per. mencatat. Kemudian. dan setelah itu terjadi plateau (mapan) sampai dengan usia 60 tahun selanjutnya berangsur menurun. pada masa bayi dan kanak-kanak perubahan fisik sangat pesat. Perubahan-perubahan amat tipis sampai usia 50 tahun. baik dalam bentuk lisan. konatif). mengekspresikan dan mengkomunikasikan berbagai informasi. b. Bloom (1964) mengungkapkan prosentase taraf perkembangan sebagai berikut : Usia Perkembangan . gambar. mengkodifikasikan. Perkembangan Perilaku Psikomotorik Perkembangan psikomotorik memerlukan adanya koordinasi fungsional antara neuronmuscular system (sistem syaraf dan otot) dan fungsi psikis (kognitif. gemar bertanya yang tidak selalu harus dijawab. yaitu : (1) bahwa perkembangan itu berlangsung dari yang sederhana kepada yang kompleks. Jones dan Conrad (Loree. Kedua jenis keterampilan ini menjadi dasar bagi perkembangan keterampilan yang lebih kompleks untuk bermain (playing) dan bekerja (working). membuat kalimat sederhana. Loree dalam Abin Syamsuddin (2003) mengatakan bahwa ada dua macam perilaku psikomotorik utama yang bersifat universal harus dikuasai oleh setiap individu pada masa bayi atau masa kanak-kanak yaitu berjalan (walking) dan memegang benda (prehension). menyimpan. mulai masa remaja terjadi amat mencolok. bicara monolog. dan bahasa ekspresif dengan belajar menulis. Melalui bahasa. d. Perkembangan Bahasa Kemampuan berbahasa merupakan kemampuan yang membedakan antara manusia dengan hewan. tulisan. dan mimik serta simbol ekspresif lainnya. afektif.Laju perkembangan berjalan secara berirama. haus nama-nama.gerik. Puncak perkembangan pada umumnya tercapai di penghujung masa remaja akhir. lukisan gerak . Perkembangan Perilaku Kognitif Dengan menggunakan hasil pengukuran tes inteligensi yang mencakup General Information and Verbal Analogies. dan (2) dari yang kasar dan global (gross bodily movements) kepada yang halus dan spesifik dan terkoordinasikan (finely coordinated movements). pada usia sekolah menjadi lambat. setelah itu kepesatannya berangsur menurun. Dengan berpatokan kepada hasil tes IQ.

tidak ia sentuh. Pada periode ini anak baru mampu berfikir sistematis mengenai benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang konkret. benda apapun yang tidak ia lihat. 4. anak tersebut sudah memiliki kesadaran akan tetap eksisnya suatu benda yang harus ada atau biasa ada. pandangan terhadap eksistensi benda tersebut berbeda dengan pandangan pada periode sensori motor. Artinya. walaupun benda tersebut sudah ia tinggalkan atau sudah tak dilihat. Dalam rentang 18 . yang berfaedah untuk belajar berbuat terhadap lingkungannya sebelum mampu berfikir mengenai apa yang sedang ia perbuat. anak belum mengenal object permanence. didengar atau disentuh lagi. Pada dasarnya perkembangan kognitif anak ditinjau dari karakteristiknya sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. yakni tidak bergantung lagi pada pengamatannya belaka. Pada periode ditandai oleh adanya egosentris serta pada periode ini memungkinkan anak untuk mengembangkan diferred-imitation. Namun masih ada keterbatasan kapasitas dalam mengkoordinasikan pemikirannya. insight learning dan kemampuan berbahasa. Kapasitas menggunakan hipotesis .1 tahun 4 tahun 8 tahun 13 tahun Sekitar 20 % Sekitar 50 % Sekitar 80 % Sekitar 92 % Secara kualitatif perkembangan perilaku kognitif diungkapkan oleh Piaget. Inteligensi individu pada tahap ini masih bersifat primitif. 2. dengan menggunakan kata-kata yang benar serta mampu mengekspresikan kalimat-kalimat pendek tetapi efektif. Artinya. sebagai berikut : 1. Tahap Sensori-Motor (0-2) Inteligensi sensori-motor dipandang sebagai inteligensi praktis (practical intelligence). Tahap Pra Operasional (2 – 7) Pada tahap ini anak sudah memiliki penguasaan sempurna tentang object permanence. Jadi. Tahap konkret-operasional (7-11) Pada periode ditandai oleh adanya tambahan kemampuan yang disebut system of operation (satuan langkah berfikir) yang bermanfaat untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu ke dalam pemikirannya sendiri. 3.24 bulan barulah kemampuan object permanence anak tersebut muncul secara bertahap dan sistematis. namun merupakan inteligensi dasar yang amat berarti untuk menjadi fondasi tipe-tipe inteligensi tertentu yang akan dimiliki anak kelak.dewasa) Pada periode ini seorang remaja telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara simultan maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif yaitu : a. atau tidak ia dengar dianggap tidak ada meskipun sesungguhnya benda itu ada. Sebelum usia 18 bulan. Tahap formal-operasional (11 .

Kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak Kemampuan untuk mempelajari materi-materi pelajaran yang abstrak secara luas dan mendalam. mengidentifikasi dan mengamati segala sesuatu yang ditampilkan orang tua dan anggota keluarga lainnya. ia menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari masyrakat dan dituntut untuk berperilaku sesuai dengan tuntutan masyarakat. Buhler (Abin Syamsuddin Makmun. Proses tersebut biasa disebut sosialisasi. ciri-ciri respons interpersonal yang bertalian dengan kesukaan. 2003) mengemukakan tahapan dan ciri-ciri perkembangan perilaku sosial individu sebagaimana dapat dilihat dalam tabel berikut : . ciri-ciri respons interpersonal yang bertautan dengan ekspresi diri. ia mempelajari segala yang terjadi dalam lingkungan keluarga. 2. Sementara itu Gilmore (1974) mengemukakan bahwa “…socialization is the process whereby an individual is prepared or trainned to participate in his environment”. e. Kecenderungan peranan (role disposition). Perkembangan Perilaku Sosial Sejak individu dilahirkan ke muka bumi ini ia telah mulai belajar tentang keadaan lingkungan sosialnya. dengan menampilkan kebiasaan-kebiasaan khasnya (particular fashion). dan kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam masyarakat. (1962) mengemukan bahwa untuk memahami perilaku sosial individu. b. Pada awalnya. al. Kagan (1972) mengartikan sosialisasi sebagai: “…the process by which the child is integrated into the society throgh exposure to the actions and opnions of older members of the society”. Akhirnya. norma. Kecenderungan ekspresif (expressive disposition). kepercayaan terhadap individu lain. Sementara itu. Kecenderungan sosiometrik (sociometric disposition). Krech et.Kemampuan berfikir mengenai sesuatu khususnya dalam hal pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkungan yang dia respons dan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak. Ia mencoba meniru. Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sosialisasi pada intinya merupakan upaya mempersiapkan individu untuk dapat berperilaku sesuai dengan lingkungan sosialnya. yang dibagi ke dalam tiga kategori : 1. 3. ciri-ciri respons interpersonal yang merujuk kepada tugas dan kewajiban dari posisi tertentu. dapat dilihat dari ciri-ciri respons interpersonalnya. Selanjutnya ia mempelajari keadaan-keadaan di luar rumah. baik yang menyangkut nilai.

dan konatifnya. 1970). 3.4 ) Trozt Alter Kanak – Kanak Akhir ( 4 – 6 ) Masa Subyektif Menuju Masa Obyektif Anak Sekolah ( 6 – 12 ) Masa Obyektif Kritis II ( 12 – 13 ) Masa Pre Puber Remaja Awal ( 13 – 16 ) Masa Subyektif Menuju Masa Obyektif Remaja Akhir ( 16 – 18 ) Masa Obyektif Ciri-Ciri Segala sesuatu dilihat berdasarkan pandangan sendiri Pembantah. ingin diuji Mulai menyadari adanya kenyataan yang berbeda dengan sudut pandangnya Berperilaku sesuai dengan tuntutan masyarakat dan kemampuan dirinya f. Keputusan untuk melakukan sesuatu berdasarkan pertimbangan norma yang berlaku dan nilai yang dianutnya itu disebut moralitas. serba salah. Penghayatan seperti itu disebut pengalaman keagamaan (religious experience) (Zakiah Darajat. individu akan meyakini dan menerima tanpa keraguan bahwa di luar dirinya ada sesuatu kekuatan yang maha Agung yang melebihi apa pun.Tahap Kanak-Kanak Awal ( 0 – 3 ) Subyektif Kritis I ( 3 . Brightman (1956) menjelaskan bahwa penghayatan . bersamaan itu pula individu mulai menyadari bahwa dalam lingkungan sosialnya terdapat aturan-aturan. keras kepala Mulai bisa menyesuaikan diri dengan aturan Membandingkan dengan aturan – aturan Perilaku coba-coba. Tahap Orientasi terhadap kepatuhan dan hukuman Relativistik hedonism Orientasi mengenai anak yang baik Mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas Orientasi terhadap perjanjian antara dirinya dengan lingkungan sosial Prinsip etis universal g. termasuk dirinya. pada saat-saat tertentu. 1. Dalam hal ini. 5. Kohlberg mengemukakan tahapan perkembangan moralitas individu. sebagaimana tampak dalam tabel berikut : Tingkat Pre Conventional (0 – 9) Conventional (9 – 15) Post Conventional ( > 15 ) 6. kognitif. Perkembangan Moralitas Ketika individu mulai menyadari bahwa ia merupakan bagian dari lingkungan sosial dimana ia berada. norma-norma/nilai-nilai sebagai dasar atau patokan dalam berperilaku. Perkembangan Penghayatan Keagamaan Dengan melalui pertimbangan fungsi afektif. 2. 4.

namun juga mengakui-Nya sebagai sumber nilai-nilai luhur yang abadi yang mengatur tata kehidupan alam semesta raya ini.2003) mengemukakan tentang tahapan-tahapan perkembangan perilaku yang berhubungan obyek pemuasan psychosexual.keagamaan tidak hanya sampai kepada pengakuan atas kebaradaan-Nya. karena beragamnya aliran paham yang saling bertentangan Masa Sekolah Penghayatan rohaniahnya cenderung skeptik. baik secara individual maupun kolektif. bersamaan dengan kedewasaan intelektual bahkan akan agama menjadi pegangan hidupnya Pandangan ke-Tuhan-an dipahamkannya dalam konteks agama yang dianut dan dipilihnya Penghayatan rohaniahnya kembali tenang setelah melalui proses identifikasi dan merindu puja. Oleh karena itu. sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : . Freud (Di Vesta & Thompson dalam Abin Syamsuddin. sehingga banyak yang enggan melaksanakan ritual yang selama ini dilakukan dengan penuh kepatuhan Sikap kembali ke arah positif. Abin Syamsuddin (2003) menjelaskan tahapan sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : Tahapan Ciri-Ciri Sikap reseptif meskipun banyak bertanya Masa Kanak-Kanak Pandangan ke-Tuhan-an yang dipersonifikasi Penghayatan secara rohaniah yang belum mendalam Hal ke-Tuhan-an dipahamkan secara ideosyncritic (menurut khayalan pribadinya) Sikap reseptif yang disertai pengertian Pandangan ke-Tuhan-an yang diterangkan secara rasional Penghayatan secara rohaniah semakin mendalam. melaksanakan kegiatan ritual diterima sebagai keharusan moral Sikap negatif disebabkan alam pikirannya yang kritis melihat realita orang – orang beragama yang hypocrit (pura-pura) Pandangan ke-Tuhan-an menjadi kacau. manusia akan tunduk dan berupaya untuk mematuhinya dengan penuh kesadaran dan disertai penyerahan diri dalam bentuk ritual tertentu. secara simbolik maupun dalam bentuk nyata kehidupan sehari-hari. ia dapat membedakan antara agama sebagai doktrin atau ajaran manusia perkembangan keagamaan Perkembangan Perilaku Konatif Perilaku konatif merupakan perilaku yang berhubungan dengan motivasi atau faktor penggerak perilaku seseorang yang bersumber dari kebutuhan-kebutuhannya.

sebagai berikut : . 1970) menjelaskan proses perkembangan dan diferensiasi emosional pada anak-anak. dan (2) intensitasnya (kuat-lemah). MASA ANAK SEKOLAH (LATENCY PERIOD) Represi Reaksi formasi Sublimasi dan kecen. Bridges (Loree. Yang mungkin dirubah dan dipengaruhi adalah variabel yang kesatu (stimus) dan yang ketiga (respons).Daerah Sensitif Pre Genital Period Oral Stage Early Oral Late Oral Anal Stage Early Anal Late Anal Early Genital Period (phalic stage) No New Zone (tidak ada daerah sensitif baru) Late Genital Period Hidup kembali daerah sensitif waktu masa kanak-kanak Akhirnya. MASA BAYI DAN KANAK-KANAK (INFANCY PERIOD) Infantile Sexuality Mulut dan benda Menghisap ibu jari Menggigit. menunjukkan alat kelaminnya melihat.derungan kasih sayang Berkembangnya perasaan sosial perasaan– C. memegang. memilih dan memasukkan benda kemulut Memilih benda dan digigitnya secara sadis Dubur dan benda Memeriksa dan memainkan duburnya Memainkan dan memperhatikan duburnya Menyentuh. merusak dengan mulut Mulut sendiri. dan (3) pola sambutan. Terdapat dua dimensi emosional yang sangat penting untuk dipahami yaitu : (1) senang – tidak senang (suka-tidak suka). Perkembangan Emosional Aspek emosional dari suatu perilaku. yaitu : (1) rangsangan yang menimbulkan emosi (stimulus). siap berfungsinya alat kelamin Cara Pemuasan Sasaran Pemuasan A. Ditujukan kepada orang tuanya (oediphus atau electra phantaties) Memilih benda dan menyentuhnya/memasukkan ke dubur B. sedangkan variabel yang kedua merupakan yang tidak mungkin dirubah karena terjadinya pada individu secara mekanis. MASA REMAJA (ADOLESENCE PERIOD) Mengurangi cara-cara waktu masa kanakkanak Munculnya cara orang memperoleh pemuasan dewasa Menyenangi diri sendiri (narcisism) atau objeck oediphus-nya Objek pemuasannya mungkin diri sendiri/sejenis (homosexual) atau lain jenis (heterosexual) h. (2) perubahan– perubahan fisiologis yang terjadi pada individu. pada umumnya selalu melibatkan tiga variabel.

sehingga seringkali minta pertolongan atau persetujuan dari orang tuanya. Masa Sekolah (School Age) ditandai adanya kecenderungan industry–inferiority. dalam arti duduk. temperatur) Kesenangan dan kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya Ketidaksenangan berdiferensiasi ke dalam kemarahan. tetapi karena kemampuan anak tersebut masih terbatas adakalanya dia mengalami kegagalan. perlakuan asing dan sebagainya. Pada masa ini sampai-batas-batas tertentu anak sudah bisa berdiri sendiri. kebencian dan ketakutan Kegembiraan berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang Kecemburuan mulai berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang Kenikmatan dan keasyikan berdiferensiasi dari kesenangan Ketidaksenangan berdiferensiasi di dalam rasa malu. Oleh karena itu kadang-kadang bayi menangis bila di pangku oleh orang yang tidak dikenalnya. Masa bayi (infancy) ditandai adanya kecenderungan trust – mistrust. Kalau menghadapi situasi-situasi tersebut seringkali bayi menangis. tempat asing. 3.Usia Pada saat dilahirkan 0 . 2005 mengemukakan perkembangan kepribadian dengan kecenderungan yang bipolar : tahapan 1. cahaya. tetapi di pihak lain dia ga telah mulai memiliki rasa malu dan keraguan dalam berbuat. berjalan. bermain. Sebagai kelanjutan dari perkembangan tahap sebelumnya. 2. Ia bukan saja tidak percaya kepada orang-orang yang asing tetapi juga kepada benda asing. Perkembangan Kepribadian Meskipun kepribadian seseorang itu relatif konstan. Masa pra sekolah (Preschool Age) ditandai adanya kecenderungan initiative – guilty. Perilaku bayi didasari oleh dorongan mempercayai atau tidak mempercayai orang-orang di sekitarnya. minum dari botol sendiri tanpa ditolong oleh orang tuanya. Masa kanak-kanak awal (early childhood) ditandai adanya kecenderungan autonomy – shame. suara asing. terutama dipengaruhi oleh faktor lingkungan dari pada faktor fisik. namun dalam kenyataannya sering ditemukan bahwa perubahan kepribadian dapat dan mungkin terjadi.3 bln 3 – 6 bln 9 – 12 bln 18 bulan pertama 2 th 5 th Ciri-Ciri Bayi dilengkapi kepekaan umum terhadap rangsangan – rangsangan tertentu (bunyi. Erikson dalam Nana Syaodih Sukmadinata. Kegagalan-kegagalan tersebut menyebabkan dia memiliki perasaan bersalah. Pada masa ini anak telah memiliki beberapa kecakapan. dan untuk sementara waktu dia tidak mau berinisatif atau berbuat. dengan kecakapan-kecakapan tersebut dia terdorong melakukan beberapa kegiatan. 4. pada masa ini anak . Dia sepenuhnya mempercayai orang tuanya. doubt. cemas dan kecewa sedangkan kesenangn berdiferensiasi ke dalam harapan dam kasih sayang i. berdiri. tetapi orang yang dianggap asing dia tidak akan mempercayainya.

Masa hari tua (Senescence) ditandai adanya kecenderungan ego integrity – despair. Dorongan pembentukan identitas diri yang kuat di satu pihak. kecakapannya cukup banyak. Sebagai persiapan ke arah kedewasaan didukung pula oleh kemampuan dan kecakapan–kecakapan yang dimilikinya dia berusaha untuk membentuk dan memperlihatkan identitas diri. sering diimbangi oleh rasa setia kawan dan toleransi yang besar terhadap kelompok sebayanya. Dorongan membentuk dan memperlihatkan identitas diri ini. dan kurang akrab atau renggang dengan yang lainnya. . ciri-ciri yang khas dari dirinya. Dalam situasi ini individu merasa putus asa. Dorongan untuk mengatahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar. pada para remaja sering sekali sangat ekstrim dan berlebihan. Pribadi yang telah mapan di satu pihak digoyahkan oleh usianya yang mendekati akhir. sehingga keputusasaan acapkali menghantuinya. Mereka sudah mulai selektif. dan seringkali mereka sangat patuh terhadap peran yang diberikan kepada masing-masing anggota. Jadi pada tahap ini timbul dorongan untuk membentuk hubungan yang intim dengan orang-orang tertentu. individu memiliki ikatan yang kuat dengan kelompok sebaya. Di antara kelompok sebaya mereka mengadakan pembagian peran. sehingga tetap pengetahuan dan kecakapannya terbatas. tetapi di pihak lain karena keterbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya kadangkadang dia menghadapi kesukaran. Untuk mengerjakan atau mencapai hal – hal tertentu ia mengalami hambatan. Masa Remaja (adolescence) ditandai adanya kecenderungan identity – Identity Confusion. namun pada masa ini ikatan kelompok sudah mulai longgar. semua yang telah dikaji dan didalaminya telah menjadi milik pribadinya. 8. hambatan bahkan kegagalan. Meskipun pengetahuan dan kecakapan individu sangat luas. Pengetahuannya cukup luas. tetapi pengikisan kemampuan karena usia seringkali mematahkan dorongan tersebut. Hambatan dan kegagalan ini dapat menyebabkan anak merasa rendah diri. Dorongan untuk terus berprestasi masih ada.sangat aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. tetapi dia tidak mungkin dapat menguasai segala macam ilmu dan kecakapan. Mungkin ia masih memiliki beberapa keinginan atau tujuan yang akan dicapainya tetapi karena faktor usia. dia membina hubungan yang intim hanya dengan orang-orang tertentu yang sepaham. Masa Dewasa (Adulthood) ditandai adanya kecenderungan generativity – stagnation. Sesuai dengan namanya masa dewasa. Masa Dewasa Awal (Young adulthood) ditandai adanya kecenderungan intimacy – isolation. sehingga tidak jarang dipandang oleh lingkungannya sebagai penyimpangan atau kenakalan. 7. Pada masa ini individu telah memiliki kesatuan atau intregitas pribadi. hal itu sedikit sekali kemungkinan untuk dapat dicapai. Kalau pada masa sebelumnya. sehingga perkembangan individu sangat pesat. pada tahap ini individu telah mencapai puncak dari perkembangan segala kemampuannya. 5. 6.

Adapun yang dimaksud dengan perilaku karier yaitu segenap perilaku yang ditampilkan individu dalam usaha menyiapkan masa depan untuk memperoleh kematangan kariernya. namun merupakan suatu proses panjang dari tahapan perkembangan karier yang dilalui sepanjang hayatnya. attitudes. Zunker (Popon Sy. berkenaan dengan tahapan perkembangan karier. Tugas – Tugas Perkembangan Individu Salah satu prinsip perkembangan bahwa setiap individu akan mengalami fase perkembangan tertentu. Keberhasilan seseorang dalam suatu pekerjaan bukanlah sesuatu yang diperoleh secara tiba-tiba atau secara kebetulan.…) 5. sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : Tahap Growth Exploratory Establishment Maintenance Decline Ciri-Ciri Development of capacity. mulai dari usaha memperoleh kesadaran karier. work out put. eksplorasi karier.Kedelapan tahapan perkembangan kepribadian dapat digambarkan dalam tabel berikut ini : Developmental Stage Infancy Early childhood Preschool age School age Adolescence Young adulthood Adulthood Senescence Basic Components Trust vs Mistrust Autonomy vs Shame. Doubt Initiative vs Guilt Industry vs Inferiority Identity vs Identity Confusion Intimacy vs Isolation Generativity vs Stagnation Ego Integrity vs Despair j. interest. Usia (birth -14 or 15) (15 – 24) (25 – 44) (45 – 64) (65 . Tylor & Walsh (1979) menyebutkan bahwa kematangan karier individu diperoleh manakala ada kesesuaian antara perilaku karier dengan perilaku yang diharapkan pada umur tertentu. and needs associated with self concept Tentative phase in which choices are narrowed but not finalized Trial and stabilization trhough work experiences A continual adjustment process to improve working position and situation Preretirement consideration. Perkembangan Karier Perkembangan karier sangat erat kaitannya dengan pekerjaan seseorang. persiapan karier hingga sampai pada penempatan kariernya.1983) mengemukakan lima tahapan perkembangan karier individu. Arifin. and eventual retirement. yang merentang sepanjang hidupnya fase-fase perkembangan tersebut dapat dilihat dalam gambar berikut ini : . Selanjutnya.

Belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang tua. Yang dimaksud dengan kedewasaan adalah dapat terpenuhinya tugas-tugas perkembangan. (2) tuntutan masyarakat secara kultural.0) Belajar berjalan pada usia 9. 8. 2. Tugas Perkembangan Masa Bayi dan Kanak-Kanak Awal 1. Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin. Pendidikan sebagai upaya sadar untuk mengantarkan individu mencapai kedewasaan. perilaku dan keterampilan yang seyogyanya dikuasai sesuai dengan usia atau fase perkembangannya. 3. Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis. sehingga dapat bertindak wajar sesuai dengan tingkat usianya. Tugas perkembangan bersumber pada faktor – faktor : (1) kematangan fisik. saudara. Havighurst (1961) memberikan pengertian tugas-tugas perkembangan bahwa : “ A developmental task is a task which arises at or about a certain period in the life of the individual.0 bulan. Belajar memakan makan padat. 9. a. dan (4) norma-norma agama. Di bawah ini dikemukakan tugas-tugas perkembangan dari setiap fase menurut Havighurst. 7. . Oleh karena itu segenap proses pendidikan seyogyanya diarahkan untuk tercapainya tugastugas perkembangannya para peserta didik.Masa Dewasa : Masa Tua Tengah Baya Masa Dewasa Awal Masa Remaja (Adolesence) : (1) Late Adolesence (18 – 21 th) (2) Early Adolesence (16 – 17 th) (3) Pre Adolesence (11 – 13 th) Masa Kanak-Kanak (2 th – Remaja) Masa Bayi (2 Minggu s. (0. difficulty with later task. 5. while failure leads to unhappiness in the individual. (3) tuntutan dan dorongan dan cita-cita individu iru sendiri. Membentuk konsep-konsep sederhana kenyataan sosial dan alam.d. Belajar berbicara. Tugas–tugas perkembangan ini berkenaan dengan sikap. succesful achievement of which leads to his happiness and to success with later task. disaproval by society. 4. 2 th) Masa Orok (10 –14 hari) Masa Konsepsi (Pranatal) (0-9 bln) Pada setiap fase perkembangan menuntut untuk tertuntaskannya tugas-tugas perkembangan. 6. Belajar mengadakan hubungan baik dan buruk dan pengembangan kata hati.0–6. Belajar buang air kecil dan buang air besar. dan orang lain.0 – 15.

4. Mengelola rumah tangga. 8. Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan bagi warga negara. Mengembangkan kata hati.0) 1. menulis dan berhitung. Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permainan. Depdiknas (2003) memberikan rincian tentang tugas perkembangan masa remaja untuk usia tingkat SLTP dan SMTA. 8. 5. Sementara itu. 8. Memilih pasangan. Belajar hidup dengan pasangan.b. Belajar mengembangkan konsep-konsep sehari-hari. Mencapai perilaku yang bertanggung jawab secara sosial. Menerima keadaan fisik dan menggunakannya secara efektif. 3. Memulai bekerja. Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya. Tugas Perkembangan Masa Remaja (12. yang dijadikan sebagai rujukan Standar Kompetensi Layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Memilih dan mempersiapkan karier. Mencapai peran sosial sebagai pria atau wanita. 4. 6. Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk biologis. Mengambil tanggung jawab sebagai warga negara.0-21. 2. Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi. 4.0-12. Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok sosial. 2. 7. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya.Memperoleh seperangkat nilai sistem etika sebagai petunjuk/pembimbing dalam berperilaku. 3. d. 5. Mempersiapkan pernikahan dan hidup berkeluarga. 9. Belajar keterampilan dasar dalam membaca. Belajar bergaul dengan teman sebaya. Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya. Memelihara anak. 3. 5. 2. yaitu : . Tugas Perkembangan Masa Dewasa Awal 1. Menemukan suatu kelompok yang serasi. 10. Mencapai jaminan kemandirian ekonomi. 7. 7. 6.0) 1. 9. 6. c. Memulai hidup dengan pasangan. Tugas Perkembangan Masa Kanak-Kanak Akhir dan Anak Sekolah (6.

8. serta kematangan dalam perannya sebagai pria dan wanita. 5. Mencapai kematangan dalam sistem etika dan nilai. sosial dan ekonomi. Tugas Perkembangan Tingkat SLTP 1. 9. Mencapai kematangan dalam hubungan teman sebaya. dan minat serta arah kecenderungan karier dan apresiasi seni. Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan kebutuhannya untuk mengikuti dan melanjutkan pelajaran dan atau mempersiapkan karier serta berperan dalam kehidupan masyarakat. Memantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam kehidupan sosial yang lebih luas. persiapan karir dan melanjutkan pendidikan tinggi serta berperan dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas. 3. teknologi. sosial. Mencapai kematangan dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa 2. b. 4. Mengembangkan penguasaan ilmu. Mengenal kemampuan bakat. 7. intelektual dan ekonomi. 3. Mengenal sistem etika dan nilai-nilai sebagai pedoman hidup sebagai pribadi. Tugas Perkembangan Peserta didik SLTA 1. menerima dan bersikap positif serta dinamis terhadap perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri untuk kehidupan yang sehat. Mencapai kematangan dalam pilihan karir 6.a. berbangsa dan bernegara. . 7. Mempersiapkan diri. bermasyarakat. 8. Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 5. Mencapai pola hubungan yang baik dengan teman sebaya dalam peranannya sebagai pria atau wanita. Mengembangkan kemampuan komunikasi sosial dan intelektual serta apresiasi seni. anggota masyarakat dan minat manusia. 6. Mengenal gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional. 2. dan kesenian sesuai dengan program kurikulum. Mencapai kematangan pertumbuhan jasmaniah yang sehat 4. Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang berkehidupan berkeluarga. Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional.

di bawah ini disajikan berbagai karakteristik perilaku dan masa remaja. emosi afektif dan kepribadian. yang terbagi ke dalam bagian dua kelompok yaitu remaja awal (11-13 s. G. sosial. Pengetian dan Makna Masa Remaja Fase remaja merupakan masa perkembangan individu yang sangat penting. 4. Spranger memberikan tafsiran masa remaja sebagai masa pertumbuhan dengan perubahan struktur kejiwaan yang fundamental. bahasa. Conger berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa yang amat kritis yang mungkin dapat merupakan the best of time and the worst of time. 2003). Hofmann menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa pembentukan sikap-sikap terhadap segala sesuatu yang dialami individu. para ahli mengklasikasikan masa remaja ini ke dalam dua bagian yaitu: (1) remaja awal (11-13 th s. b. Kita menemukan berbagai tafsiran dari para ahli tentang masa remaja : 1.d.18-20 th).6. Pada rentangan periode ini (sekitar 6 – 7 th) terdapat beberapa indikator perbedaan yang signifikan. Oleh karena itu. 5. Stanley Hall menafsirkan masa remaja sebagai masa storm and drang (badai dan topan). 1415 th). Freud menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa mencari hidup seksual yang mempunyai bentuk yang definitif.d. 14-15 tahun) dan remaja akhir (14-16 s.d. dan (2) remaja akhir (14-16 th s. keagamaan. Karakteristik Perilaku dan Pribadi Pada Masa Remaja Dengan merujuk pada berbagai ciri-ciri dari aspek perkembangan individu sebagaimana telah dikemukakan terdahulu. kognitif. 18-20 tahun) meliputi aspek : fisik.d. psikomotor. 3. Harold Alberty (1957) mengemukakan bahwa masa remaja merupakan suatu periode dalam perkembangan yang dijalani seseorang yang terbentang sejak berakhirnya masa kanak-kanak sampai dengan awal masa dewasa. moralitas. Para ahli umumnya sepakat bahwa rentangan masa remaja berlangsung dari usia 1113 tahun sampai dengan 18-20 th (Abin Syamsuddin. . Charlotte Buhler menafsirkan masa remaja sebagai masa kebutuhan isimengisi. konatif. Perkembangan Pada Masa Remaja a. baik secara kuantitatif maupun kualitatif. 2.

otot mengembang pada bagian – bagian tertentu). Kecakapan dasar intelektual menjalani laju perkembangan yang terpesat. disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelamin (menstruasi pada wanita dan day dreaming pada laki-laki.kali kurang seimbang. Menggemari literatur yang bernafaskan mengandung segi erotik. Berkembangnya penggunaan bahasa sandi 1.14-15 Th) Fisik 1. Remaja Akhir (14-16 Th. Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua 1.Remaja Awal (11-13 Th s. sangat lambat.s. 1. 2. Aktif dalam berbagai permainan. 2. Bahasa 1. Sudah mampu meng-operasikan kaidahkaidah logika formal disertai kemampuan membuat generalisasi yang lebih bersifat konklusif dan komprehensif. Laju perkembangan secara umum kembali menurun. Kebergantungan kepada kelompok sebaya berangsur fleksibel. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan lebih seimbang mendekati kekuatan orang dewasa. komparasi. Siap berfungsinya organ-organ reproduktif seperti pada orang dewasa. fantastik dan dan mengandung nilai-nilai filosofis. 3. Psikomotor Gerak – gerik tampak canggung dan kurang terkoordinasikan. diferen-siasi. Moralitas 1. Kecenderungan bakat tertentu mencapai titik puncak dan kemantapannya 1. 2. 2. Laju perkembangan secara umum berlangsung pesat. Menggemari literatur yang bernafaskan dan 2. kausalitas) yang bersifat abstrak. ethis. 2. Bergaul dengan jumlah teman yang lebih terbatas dan selektif dan lebih lama (teman dekat). Kecakapan dasar khusus (bakat) mulai menujukkan kecenderungan-kecenderungan yang lebih jelas. Proses berfikir sudah mampu mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal (asosiasi. kecuali dengan teman dekat pilihannya yang banyak memiliki kesamaan minat. 2. Jenis dan jumlah cabang permainan lebih selektif dan terbatas pada keterampilan yang menunjang kepada persiapan kerja. 2. Gerak gerik mulai mantap. jenis cabang 1. Perilaku Sosial 1. asing. meskipun relatif terbatas. . estetik. 3. 1. Diawali dengan kecenderungan ambivalensi keinginan menyendiri dan keinginan bergaul dengan banyak teman tetapi bersifat temporer. 2. Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbul bulu pada pubic region. Perilaku Kognitif 1. 3. Lebih memantapkan diri pada bahasa dan mulai tertarik mempelajari bahasa asing tertentu yang dipilihnya.18-20 Th) 1. Tercapainya titik puncak kedewasaan bahkan mungkin mapan (plateau) yang suatu saat (usia 50-60) menjadi deklinasi. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan sering.d.d. Adanya kebergantungan yang kuat kepada kelompok sebaya disertai semangat konformitas yang tinggi. religius. Sudah dapat memisahkan antara sistem nilai – nilai atau normatif yang universal 2. 3.

3. rasa aman. 2. 3. Merupakan masa kritis dalam rangka meng-hadapi krisis identitasnya yang sangat dipengaruhi oleh kondisi psiko-sosialnya. Sudah berangsur dapat menentukan dan menilai tindakannya sendiri atas norma atau sistem nilai yang dipilih dan dianutnya sesuai dengan hati nuraninya. bahkan dapat menjurus pada berbagai tindakan kenakalan remaja dan kriminal. 2. yang akan membentuk kepribadiannnya. politis. Sudah menunjukkan arah kecenderungan tertentu yang akan mewarnai pola dasar kepribadiannya. Lima kebutuhan dasar (fisiologis. Kecenderungan titik berat ke arah sikap nilai tertentu sudah mulai jelas seperti yang akan ditunjukkan oleh kecenderungan minat dan pilihan karier atau pendidikan lanjutannya. Mulai menemukan pegangan hidup 3. Afektif dan Kepribadian 1. Kalau kondisi psikososialnya menunjang secara positif maka mulai tampak dan ditemukan identitas kepribadiannya yang relatif definitif yang akan mewarnai hidupnya sampai masa dewasa. Problema yang mungkin timbul pada masa remaja diantaranya : 1.nya mana yang harus dirundingkan dengan orang tuanya. c. Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyakan secara kritis dan skeptis. dari para pendukungnya yang mungkin dapat ber-buat keliru atau kesalahan.dengan kebutuhan dan bantuan dari orang tua. Penghayatan kehidupan keagamaan seharihari dilakukan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya. 4. ekonomis. . dan religius). Reaksi-reaksi dan ekspresi emosinalnya tampak mulai terkendali dan dapat menguasai dirinya. 3. yang juga akan memberi warna kepada tipe kepribadiannya. Mulai dapat memelihara jarak dan batas-batas kebebasan. estetis. Problema pada Masa Remaja Masa remaja ditandai dengan adanya berbagai perubahan. kasih sayang. Emosi. 2. Perilaku Keagamaan 1. 1. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari mulai dilakukan atas dasar kesadaran dan pertimbangan hati nuraninya sendiri secara tulus ikhlas 3. Mengidentifikasi dengan tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idolanya. harga diri dan aktualisasi diri) mulai menunjukkan arah kecenderungannya 2. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalnya masih labil dan belum terkendali seperti pernya-taan marah. sosial. Masih mencari dan mencoba menemukan pegangan hidup Konatif. gembira atau kesedihannya masih dapat berubah-ubah dan silih berganti dalam yang cepat 3. meski masih dalam taraf eksplorasi dan mencobacoba. baik secara fisik maupun psikis. Dengan sikapnya dan cara berfikirnya yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyataannya dalam perilaku sehari-hari oleh para pendukungnya. 1. Problema berkaitan dengan perkembangan fisik dan motorik. pabila tidak disertai dengan upaya pemahaman diri dan pengarahan diri secara tepat. 4. Kecenderungan-kecenderungan arah sikap nilai mulai tampak (teoritis. 2. 2. Eksistensi dan sifat kemurah-an dan keadilan Tuhan mulai dipahamkan dan dihayati menurut sistem kepercayaan atau agama yang dianutnya. yang mungkin saja dapat menimbulkan problema tertentu bagi si remaja.

Tidak bisa dipungkiri. termasuk dengan guru di sekolah. Namun dengan adanya hambatan dalam pengembangan ketidakmampuan berbahasa asing tentunya akan sedikit-banyak berpengaruh terhadap kesuksesan hidup dan kariernya. 2. Pada masa remaja juga ditandai dengan adanya keinginan untuk . menyebabkan si remaja kesulitan untuk menguasai bahasa asing. di satu sisi adanya keinginan untuk melepaskan ketergantungan dan dapat menentukan pilihannya sendiri. si remaja tidak mendapatkan kesempatan pengembangan kemampuan intelektual. perkembangan fisik yang tidak proporsional. Masa remaja disebut pula sebagai masa social hunger (kehausan sosial).Pada masa remaja ditandai dengan adanya pertumbuhan fisik yang cepat. yang ditandai dengan adanya keinginan untuk bergaul dan diterima di lingkungan kelompok sebayanya (peer group). namun ketika keadaan fisik tidak sesuai dengan harapannya (ketidaksesuaian antara body image dengan self picture) dapat menimbulkan rasa tidak puas dan kurang percaya diri. Terhambatnya perkembangan kognitif dan bahasa dapat berakibat pula pada aspek emosional. 3. Pada masa remaja awal ditandai dengan perkembangan kemampuan intelektual yang pesat. Problema berkaitan dengan perkembangan perilaku sosial. maka boleh jadi potensi intelektualnya tidak akan berkembang optimal. sosial. Keadaan fisik pada masa remaja dipandang sebagai suatu hal yang penting. terutama remaja awal merupakan masa terbaik untuk mengenal dan mendalami bahasa asing. namun juga dapat terjadi dengan orang tua dan dewasa lainnya. Begitu juga. terutama melalui pendidikan di sekolah. hubungan sosial yang dikembangkan pada masa remaja ditandai pula dengan adanya keinginan untuk menjalin hubungan khusus dengan lain jenis dan jika tidak terbimbing dapat menjurus tindakan penyimpangan perilaku sosial dan perilaku seksual. Kematangan organ reproduksi pada masa remaja membutuhkan upaya pemuasan dan jika tidak terbimbing oleh norma-norma dapat menjurus pada penyimpangan perilaku seksual. Namun dikarenakan keterbatasan kesempatan dan sarana dan pra sarana. Begitu juga masa remaja. dalam era globalisasi sekarang ini. moralitas dan keagamaan. penguasaan bahasa asing merupakan hal yang penting untuk menunjang kesuksesan hidup dan karier seseorang. namun di sisi lain dia masih membutuhkan orang tua. dan aspek-aspek perilaku dan kepribadian lainnya. Namun sebaliknya apabila remaja dapat diterima oleh rekan sebayanya dan bahkan menjadi idola tentunya ia akan merasa bangga dan memiliki kehormatan dalam dirinya. Penolakan dari peer group dapat menimbulkan frustrasi dan menjadikan dia sebagai isolated dan merasa rendah diri. khususnya remaja awal akan ditandai adanya keinginan yang ambivalen. Sejalan dengan pertumbuhan organ reproduksi. Problema berkaitan dengan perkembangan kognitif dan bahasa. Problema perilaku sosial remaja tidak hanya terjadi dengan kelompok sebayanya. Namun ketika. terutama secara ekonomis. Hal ini disebabkan pada masa remaja.

mungkin saja akan berkembang menjadi konflik nilai dalam dirinya maupun dengan lingkungannya. 4. c. baik internal maupun eksternal. dan emosional. perilaku imitasi atau identifikasi. Problema berkaitan dengan perkembangan kepribadian. Lenyapnya tanda-tanda yang lama. b. a. Dalam hal ini. a. Usaha pencarian identitas pun. tentunya masih banyak problema keremajaan lainnya. D. Perkembangan bersifat progresif. Masa remaja disebut juga masa untuk menemukan identitas diri (self identity). kecuali : a. Diperolehnya tanda-tanda baru Setiap individu menjadi lebih matang. c.mencoba-coba dan menguji kemapanan norma yang ada. Ahli yang mengelompokkan tahapan perkembangan berdasarkan pendekatan didaktis. Perkembangan bersifat sistematis Perkembangan berkesinambungan. Selain yang telah dipaparkan di atas. sehingga mungkin saja akan terbentuk sistem kepribadian yang bukan menggambarkan keadaan diri yang sebenarnya. d. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 1. Latihan Soal : Pilihan Ganda : Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat. Rosseau . Pertengkaran dan perkelahian seringkali terjadi akibat dari ketidakstabilan emosinya. d. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosional yang masih labil dan belum terkendali pada masa remaja dapat berdampak pada kehidupan pribadi maupun sosialnya. Ketika remaja gagal menemukan identitas dirinya. Timbulnya problema remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor. dia akan mengalami krisis identitas atau identity confusion. Agar remaja dapat terhindar dari berbagai kesulitan dan problema kiranya diperlukan kearifan dari semua pihak. jika tidak terbimbing. peranan orang tua. 3. banyak dilakukan dengan menunjukkan perilaku coba-coba. Perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya. Di bawah ini merupakan ciri-ciri umum perkembangan individu. b. Terjadinya perubahan dalam proporsi. Dia menjadi sering merasa tertekan dan bermuram durja atau justru dia menjadi orang yang berperilaku agresif. a. serta masyarakat sangat diharapkan. Upaya untuk memfasilitasi perkembangan remaja menjadi amat penting. sekolah. b dan c benar 2.

bahasa ekspresif. d. Kanak-Kanak Awal (0–3 th) Kanak – Kanak Akhir (4–6 th) Anak Sekolah (6–12 th) Remaja Awal (13–16 th) 10.b. 6. kanak-kanak (2-7 th) dan remaja (12-20 th). d. Menurut Lovenger. tahapan perkembangan tertinggi untuk siswa tingkat SMTA. bahasa ekspresif. dan bahasa ekspresif. membuat kalimat sederhana. kanak-kanak (2-7 th) dan remaja (12-20 th) bayi (0-2 th) dan remaja (12-20 th). Kretschmer c. bicara monolog. gemar bertanya. d. kanak-kanak (2-7 th) dan sekolah (7-12 th). Merangkak dan memegang Memegang dan berjalan Berjalan dan berbicara Memegang dan berbicara 7. b. d. c. Meraban. yaitu : a. Pola urutan perkembangan bahasa adalah : a. gemar bertanya. c. bicara monolog. c. c. Piaget d. namun masih ada keterbatasan kapasitas dalam mengkoordinasikan pemikirannya. bicara monolog. Perkembangan perilaku sosial yang ditandai dengan usaha untuk membandingkan aturan – aturan. terjadi pada masa : a. c. bicara monolog. bahasa ekspresif. Tahap perkembangan moralitas yang ditandai dengan orientasi mengenai anak yang baik dan mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas. a. membuat kalimat sederhana. Meraban. haus nama-nama. membuat kalimat sederhana. b. Perkembangan fisik yang sangat pesat terjadi pada masa : a. gemar bertanya.. Konformistik Seksama Individualistik Otonomi 5. Meraban. b. b. haus nama-nama. haus nama-nama. gemar bertanya. d. Elizabeth Hurlock 4. . b. c. bayi (0-2 th). 8. Tahap Sensori-Motor Tahap Pra-Operasional Tahap Konkret-Operasional Tahap Formal-Operasional 9. Kemampuan kognitif anak sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. Perkembangan psikomotorik utama yang harus dikuasai pada masa bayi dan masa kanakkanak : a. bayi (0-2 th). d. haus nama-nama. b. Meraban.

Jenis dan jumlah cabang permainan lebih selektif. Perkembangan kepribadian yang ditandai oleh adanya dorongan untuk membentuk dan memperlihatkan identitas diri. d. disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelamin (menstruasi pada wanita dan day dreaming pada laki-laki. b. b. 14. sehingga enggan melaksanakan ritual. terjadi pada tahap: a. Sikap negatif yang disebabkan melihat realita orang – orang beragama yang hypocrit (pura-pura). d. Kesenangan dan kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya.a. Kegembiraan berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang. d. cahaya. b. d. Perkembangan emosi pada usia 0-3 bulan ditandai oleh adanya : a. c. Hal ke-Tuhan-an dipahamkan secara ideosyncritic. b. d. d. Conventional c. Pandangan ke-Tuhan-an yang kacau. c. Non Conventional 11. Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbul bulu pada pubic region. otot mengembang pada bagian – bagian tertentu). b. Laju perkembangan secara umum berlangsung pesat. dan c benar 16. Post Conventional d. Pre Conventional b. Perkembangan karier yang ditandai oleh adanya proses penyesuaian yang berkesinambungan untuk meningkatkan posisi dalam pekerjaan. c. temperatur) c. Perkembangan perilaku motorik pada masa remaja awal ditandai oleh adanya : a. terjadi pada masa : a. b. Aktif dalam berbagai jenis cabang permainan. dan c benar. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan seringkali kurang seimbang. a. Infancy Early Childhood Pre-Schoolage Adolescence. Perkembangan fisik pada masa remaja awal ditandai oleh adanya: a. Gerak gerik mulai mantap. Growth Exploratory Establishment Maintenance 15. Penghayatan rohaniah yang skeptik. Ketidaksenangan berdiferensiasi ke dalam kemarahan. b. kebencian dan ketakutan. karena beragamnya aliran paham yang saling bertentangan. Kepekaan umum terhadap rangsangan – rangsangan tertentu (bunyi. . c. c. b. a. Perkembangan penghayatan keagamaan pada masa kanak-kanak ditandai oleh adanya : a. 13. 12.

dan religius). Penghayatan secara rohaniah yang belum mendalam. politis. c. Apa yang dimaksud dengan tugas perkembangan ? 2. 18.. d. yang akan membentuk kepribadiannnya. meski masih dalam taraf eksplorasi dan mencoba-coba. Sudah dapat memisahkan antara sistem nilai – nilai atau normatif yang universal dari para pendukungnya yang mungkin dapat ber-buat keliru atau kesalahan. Uraian 1. d. c. sosial. Berupaya mempelajari norma-norma yang berlaku di lingkungan sosialnya. kecuali : a. 20.17. Menarik diri dari lingkungan sosialnya. rasa aman. c. Lima kebutuhan dasar (fisiologis. estetis. b. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari dilakukan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya. Mengidentifikasi dengan tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idolanya. ekonomis. d. b. Kecenderungan-kecenderungan arah sikap dan nilai mulai tampak (teoritis. Bergaul dengan jumlah teman yang lebih terbatas dan selektif dan lebih lama (teman dekat). gembira atau kesedihannya masih dapat berubah-ubah dan silih berganti dalam yang cepat. 19. Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua dengan kebutuhan dan bantuan dari orang tua. Ciri-ciri Perkembangan perilaku keagamaan pada masa remaja awal. Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyakan secara kritis dan skeptis. c. b. Perkembangan perilaku sosial pada masa remaja awal ditandai oleh adanya : a. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalnya masih labil dan belum terkendali seperti pernya-taan marah. Dengan sikap dan cara berfikirnya yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyataannya dalam perilaku sehari-hari oleh para pendukungnya. guru serta masyarakat dalam upaya mencegah timbulnya berbagai prolema pada remaja ? . Jelaskan problema-problema yang terjadi pada masa remaja ! dan bagaimana pula peran orang tua. harga diri dan aktualisasi diri) mulai menunjukkan arah kecenderungannya. Perkembangan perilaku moralitas pada masa remaja akhir ditandai oleh adanya : a. Jelaskan tugas-tugas perkembangan individu pada masa remaja ! Bagaimana implikasinya terhadap pendidikan ? 3. Masa kritis dalam rangka menghadapi krisis identitasnya yang sangat dipengaruhi oleh kondisi psiko-sosialnya. Di bawah ini merupakan ciri perkembangan konatif pada masa remaja awal. d. a. Kebergantungan yang kuat kepada kelompok sebaya disertai semangat konformitas yang tinggi. kasih sayang. b. Masih mencari dan mencoba menemukan pegangan hidup.

sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”. Hakekat Belajar Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu.  Crow & Crow dan (1958) : “ belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan. peran dan kompetensi guru. C. pendekatan . Pembelajaran Peran dan Kompetensi Guru Pengelolaan Kelas. apa sesungguhnya belajar itu ? Di bawah ini disampaikan tentang pengertian belajar dari para ahli :  Moh. Teori-Teori Pokok Belajar. bentuk-bentuk perubahan perilaku sebagai hasil belajar. Surya (1997) : “belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan. Intisari Bacaan 1. Mengidentifikasi ciri-ciri belajar.  Witherington (1952) : “belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan. 2. Menjelaskan secara skematik tentang perubahan perilaku dan pribadi yang terjadi dari proses belajar. 2. 3. Nana Syaodih Sukmadinata (2005) menyebutkan bahwa sebagian terbesar perkembangan individu berlangsung melalui kegiatan belajar. Hakekat Belajar. diharapkan Anda dapat : 1. B. 5. masalah-masalah dalam pengelolaan kelas. Menerapkan berbagai pendekatan dalam mengatasi masalah pengelolaan kelas. Pokok Bahasan 1. sikap. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini.pendekatan pembelajaran. Lantas.  Hilgard (1962) : “belajar adalah proses dimana suatu perilaku muncul perilaku muncul atau berubah karena adanya respons terhadap sesuatu situasi” . pengetahuan dan kecakapan”. 4. pengetahuan dan sikap baru”. kebiasaan. 3. Mendefinisikan belajar dan pengelolaan kelas. 4.BAB IV PROSES BELAJAR MENGAJAR A.

Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan. c. seorang mahasiswa telah belajar Psikologi Pendidikan tentang “Hakekat Belajar”. dengan memperoleh sejumlah pengetahuan. Begitu juga. pengetahuan. . sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan Psikologi Pendidikan. akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan. Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya. yaitu : a. maka pengetahuan. Dalam hal ini. sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu. sikap dan keterampilan berikutnya. Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari individu yang bersangkutan. Perubahan yang berkesinambungan (kontinyu). misalnya pengetahuannya semakin bertambah atau keterampilannya semakin meningkat. Perubahan yang fungsional. Misalnya. dibandingkan sebelum dia mengikuti suatu proses belajar. kata kunci dari belajar adalah perubahan perilaku. Perubahan yang disadari dan disengaja (intensional). Di Vesta dan Thompson (1970) : “ belajar adalah perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman”. Begitu juga. individu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan. maka pengetahuan dan keterampilannya dalam psikologi pendidikan dapat dimanfaatkan untuk mempelajari dan mengembangkan perilaku dirinya sendiri maupun mempelajari dan mengembangkan perilaku para peserta didiknya kelak ketika dia menjadi guru.  Gage & Berliner : “belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang yang muncul karena pengalaman” Dari beberapa pengertian belajar tersebut diatas. Contoh : seorang mahasiswa belajar tentang psikologi pendidikan. Ketika dia mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”. Dia menyadari bahwa dia sedang berusaha mempelajari tentang Psikologi Pendidikan. setelah belajar Psikologi Pendidikan dia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan perilaku. Begitu juga dengan hasil-hasilnya. b. Misalnya. Moh Surya (1997) mengemukakan ciri-ciri dari perubahan perilaku. sikap dan keterampilannya tentang “Hakekat Belajar” akan dilanjutkan dan dapat dimanfaatkan dalam mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”. baik untuk kepentingan masa sekarang maupun masa mendatang. seorang mahasiswa sedang belajar tentang psikologi pendidikan.

tetapi melalui berbagai tahapan dan kegiatan yang harus ditempuh individu. jangka menengah maupun jangka panjang. Individu melakukan kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai. Perubahan perilaku secara keseluruhan. Perubahan yang bersifat aktif. Misalnya. tetapi termasuk memperoleh pula perubahan dalam sikap dan keterampilannya. baik tujuan jangka pendek. terjadinya perubahan perilaku diperoleh tidak secara tiba-tiba. disamping memperoleh informasi atau pengetahuan tentang “Teori-Teori Belajar”. Perubahan yang bersifat positif. g. Berbagai aktivitas dilakukan dan diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. dia memperoleh keterampilan dalam menerapkan “Teori-Teori Belajar”. Misalnya. Untuk memperoleh perilaku baru. dia juga memperoleh sikap tentang pentingnya seorang guru menguasai “Teori-Teori Belajar”. Perubahan perilaku yang diperoleh dari proses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya. Misalnya. Sedangkan tujuan jangka panjangnya dia ingin menjadi guru yang efektif dengan memiliki kompetensi yang memadai tentang Psikologi Pendidikan. Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata. namun setelah mengikuti pembelajaran Psikologi Pendidikan.d. seorang mahasiswa belajar psikologi pendidikan. Begitu juga. maka mahasiswa tersebut aktif melakukan kegiatan membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan. mahasiswa belajar mengoperasikan komputer. tujuan yang ingin dicapai dalam panjang pendek mungkin dia ingin memperoleh pengetahuan. Perubahan yang bersifat pemanen. maka penguasaan keterampilan mengoperasikan komputer tersebut akan menetap dan melekat dalam diri mahasiswa tersebut. Misalnya. h. seorang mahasiswa sebelum belajar tentang Psikologi Pendidikan menganggap bahwa dalam dalam Prose Belajar Mengajar tidak perlu mempertimbangkan perbedaan-perbedaan individual atau perkembangan perilaku dan pribadi peserta didiknya. berdiskusi dengan teman tentang psikologi pendidikan dan sebagainya. f. Perubahan yang bertujuan dan terarah. individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan. mahasiswa belajar tentang “Teori-Teori Belajar”. e. mahasiswa ingin memperoleh pengetahuan baru tentang psikologi pendidikan. Misalnya. Belajar merupakan suatu proses. dia memahami dan berkeinginan untuk menerapkan prinsip – prinsip perbedaan individual maupun prinsip-prinsip perkembangan individu jika dia kelak menjadi guru. Di . Perubahan perilaku yang terjadi bersifat normatif dan menujukkan ke arah kemajuan. sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan yang diwujudkan dalam bentuk kelulusan dengan memperoleh nilai A.

dalam perkuliahan Strategi Belajar Mengajar pada semester 2. maka dalam dirinya telah bertambah kemampuannya. Pada awalnya dia tidak memiliki pengetahuan. sikap keterampilannya tentang “TeoriTeori Belajar” (Post Learning). sikap dan keterampilan tentang “Teori-Teori Belajar” (Pre learning).-. Contoh 2 : Mahasiswa Y akan mempelajari tentang “Metode-Metode Pembelajaran”. dia dapat berhasil menghilangkan kebiasaan merokoknya (Post Learning). Contoh 3 : Mahasiswa Z memiliki kebiasaan merokok yang ingin dihilangkannya. Praktik. dengan bertambah pengetahuan. dengan bertambah pengetahuan. Belajar terjadi karena adanya sesuatu yang mendorong (motivasi) dan ada suatu tujuan yang ingin dicapai. namun setelah dia membaca dan mengkaji buku dan berlatih mempraktekan “Teori-Teori Belajar” dalam kegiatan simulasi (Learning Experience). Seberapa kuat motivasi belajar yang dimiliki individu.dan seberapa kuat komitmen individu terhadap tujuan belajarnya akan menentukan kualitas perubahan perilaku belajarnya. maka kemampuannya akan meningkat.menggunakan teknikteknik konseling tertentu-. Akhirnya. Pada semester 1 dia telah menguasai tentang “Teori-Teori Belajar” yang akan mendasari penguasaan “MetodeMetode Pembelajaran” (Pre Learning). dia memiliki motivasi yang sangat kuat . lalu dia datang meminta bantuan dari konselor yang ada di kampus (PreLearning). Misalnya. Kemudian oleh konselor dia dilatih untuk menghilangkan kebiasaan merokoknya. sikap keterampilannya tentang “Metode-Metode Pembelajaran” (Post Learning).Vesta dan Tompson dalam Abin Syamsuddin (2003:157) menggambarkan perubahan perilaku atau pribadi yang terjadi dari suatu proses belajar seperti tampak dalam bagan berikut: Perilaku/Pribadi sebelum belajar (Pre Learning) X=0 Y=1 Z= 1 Perilaku/Pribadi setelah belajar (Post Learning) X = (X+1) = 1 Y = (Y+1) = 2 Z = (Z-1) = 0 Pengalaman. Latihan (Learning Experience) Contoh 1 : Mahasiswa X belajar akan mempelajari tentang “Teori-Teori Belajar” dalam perkuliahan Psikologi Pendidikan pada semester 1. --khususnya motif berprestasi-. seorang mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan. Setelah dia membaca dan mengkaji buku dan berlatih mempraktekan “Metode-Metode Pembelajaran” dalam kegiatan simulasi (Learning Experience). Dengan tekun dan penuh kesungguhan dia mengikuti apa-apa yang harus dilakukan untuk menghilangkan kebiasaan merokoknya (Learning Experience).

baik secara tertulis maupun tulisan. Strategi kognitif. Sikap adalah keadaan dalam diri individu yang akan memberikan kecenderungan vertindak dalam menghadapi suatu obyek atau peristiwa. meraba/menjamah. Termasuk dalam keterampilan intelektual adalah kecakapan dalam membedakan (discrimination). . Begitu juga. dia memiliki komitmen yang kuat serta memiliki tujuan-tujuan yang ingin dicapainya secara jelas. ialah hasil belajar yang berupa kecakapan pergerakan yang dikontrol oleh otot dan fisik. dan mencium. Dengan kata lain. misalnya: penggunaan simbol matematika. Kecakapan motorik. mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan ingin memperoleh pengetahuan tentang “Keterampilan Pengelolaan Kelas”. strategi kognitif yaitu kemampuan mengendalikan ingatan dan cara – cara berfikir agar terjadi aktivitas yang efektif. Dia dapat mengamati langsung bagaimana guru mempraktekkan berbagai pendekatan dalam mengatasi masalah-masalah yang muncul dalam pengelolaan kelas. Sikap. perubahan perilaku yang merupakan hasil belajar dapat berbentuk : a. Selain itu. Ketrampilan ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi pemecahan masalah. lalu dia bersamasama kawan-kawannya melakukan observasi langsung ke kelas. 2003). perasaan yang menyertai pemikiran dan kesiapan untuk bertindak. Dalam belajar. Kecakapan intelektual menitikberatkan pada hasil pembelajaran. mendengar. Selain itu. didalamnya terdapat unsur pemikiran. aturan dan hukum. Misalnya. memahami konsep konkrit. d. yaitu hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih macam tindakan yang akan dilakukan. Dalam konteks proses pembelajaran. c. individu memperoleh pengalaman langsung melalui pengalaman indrawi yang memungkinkan mereka memperoleh pengetahuan dari melihat. maka sangat mungkin mahasiswa tersebut akan memperoleh prestasi belajar yang tinggi dalam mata kuliah Psikologi Pendidikan Belajar juga merupakan bentuk pengalaman kehidupan melalui situasi nyata. Menurut Gagne (Abin Syamsuddin Makmun. dan sebagainya. b. Informasi verbal. dia juga memperoleh pengalaman bagaimana bekerjasama dengan temannya dan berkomunikasi dengan orang lain. sedangkan strategi kognitif lebih menekankan pada pada proses pemikiran. dalam belajar individu juga memperoleh berbagai pengalaman sosial melalui interaksi dengan lingkungan sosialnya. misalnya pemberian nama-nama terhadap suatu benda. e. mencicipi. Kecakapan intelektual. yaitu keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol. konsep abstrak. yaitu penguasaan informasi dalam bentuk verbal.untuk menjadi yang terbaik (the best) di kelasnya. definisi. kecakapan individu untuk melakukan pengendalian dan pengelolaan keseluruhan aktivitasnya.

Keterampilan. Inhibisi (menghindari hal yang mubazir). yaitu: (a) teori behaviorisme. Surya (1997) mengemukakan bahwa hasil belajar akan tampak dalam : a. seperti : peserta didik belajar bahasa berkali-kali menghindari kecenderungan penggunaan kata atau struktur yang keliru.Namun dalam kesempatan ini hanya akan dikemukakan lima jenis teori belajar saja. seperti : menulis dan berolah raga yang meskipun sifatnya motorik. . marah. benci. sehingga akhirnya ia terbiasa dengan penggunaan bahasa secara baik dan benar. Berfikir rasional dan kritis yakni menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar pengertian dalam menjawab pertanyaan kritis seperti “bagaimana” (how) dan “mengapa” (why). Moh. (lihat tentang taksonomi perilaku individu pada Bab I) Teori-Teori Pokok Belajar Jika menelaah literatur psikologi. g. Sikap yakni kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan. yakni proses menerima. Berfikir asosiatif. a. yakni berfikir dengan cara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya dengan menggunakan daya ingat. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. sedih. Dengan kata lain. kita akan menemukan banyak teori belajar yang bersumber dari aliran-aliran psikologi. i. perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil belajar meliputi perubahan dalam kawasan (domain) kognitif. h. Kebiasaan. f. senang. Sedangkan menurut Bloom. beserta tingkatan aspek-aspeknya. dan mengabaikan aspek – aspek mental. Pengamatan. was-was dan sebagainya. (4) teori pemrosesan informasi dari Gagne. behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan. kecewa. dan memberi arti rangsangan yang masuk melalui indera-indera secara obyektif sehingga peserta didik mampu mencapai pengertian yang benar. menafsirkan. Perilaku afektif yakni perilaku yang bersangkutan dengan perasaan takut. (b) teori belajar kognitif menurut Piaget. e. Apresiasi (menghargai karya-karya bermutu).Sementara itu. afektif dan psikomotor. keterampilan-keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran yang tinggi. d. c. gembira. minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. bakat. b. dan (5) teori belajar gestalt. Behaviorisme memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah. Teori Behaviorisme Sebagaimana telah dikemukakan pada Bab II bahwa behaviorisme merupakan salah satu pendekatan untuk memahami perilaku individu.

c. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar. pendekatan behaviorisme ini. b. artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan. maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat. maka kekuatannya akan menurun. semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons. Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. diantaranya: a. Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer. b. Law of Readiness. Law of Exercise. 3.Respons. Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum belajar. maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat. Reber (Muhibin Syah. diantaranya : a.Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari diantaranya : 1. Operant Conditioning menurut B.F. jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih. Skinner Dari eksperimen yang dilakukan B.Respons akan semakin kuat.F. 2. Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat. Sebaliknya. maka hubungan Stimulus . b. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer). Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike. Law of Effect. artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit). diantaranya : a. Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar. artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat. dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah. Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat. 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap .

Prinsip dasar belajar menurut teori ini. (2) pre operational. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik. melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu. Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya. bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). b. 2. yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond). Social Learning menurut Albert Bandura Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. seperti : Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan dan prinsip kebaruan. seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan. Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori belajar behavioristik ini. mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan. bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Miller dan Dollard dengan teori pengurangan dorongan. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. (3) concrete operational dan (4) formal operational. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak. Menurut Piaget. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya. Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Melalui pemberian reward dan punishment. metode meletihkan (The Fatigue Method) dan Metode rangsangan tak serasi (The Incompatible Response Method). Guthrie dengan teorinya yang disebut Contiguity Theory yang menghasilkan Metode Ambang (the treshold method).lingkungan. 4. namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning. melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus. . Teori Belajar Kognitif menurut Piaget Dalam bab sebelumnya telah dikemukan tentang aspek aspek perkembangan kognitif menurut Piaget yaitu tahap (1) sensory motor. Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah : 1. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif.

maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure. . (7) perlakuan dan (8) umpan balik. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya. Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship). Bila figure dan latar bersifat samar-samar. yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. 4. 5. Kesamaan (similarity). (3) pemerolehan. Menurut Koffka dan Kohler. Kedekatan (proxmity). ada tujuh prinsip organisasi yang terpenting yaitu : 1. warna dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. Di dalam kelas. bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan dipandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing. (4) penyimpanan. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan. 4. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi. Teori Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. (5) ingatan kembali. untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Penampilan suatu obyek seperti ukuran. anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya. Teori Belajar Gestalt Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti sebagai “bentuk atau konfigurasi”. bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu. (6) generalisasi. c.3. dan 2. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. potongan. (2) pemahaman. 5. Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu. bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. bahwa orang cenderung menata bidang pengamatannya bentuk yang sederhana. Kesederhanaan (simplicity). 3. penampilan reguler dan cenderung membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan susunan simetris dan keteraturan. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. (1) motivasi. Arah bersama (common direction). Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisikondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. d.

gumpalan awan tampak seperti gunung atau binatang tertentu. bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. yaitu: 1. Perilaku “Molar” lebih mempunyai makna dibanding dengan perilaku “Molecular”. sedangkan lingkungan behavioral merujuk pada sesuatu yang nampak. Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain : 1. seperti : sagitarius. 3. 4. Berlari. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya. Misalnya. bahwa perilaku terarah pada tujuan. Terdapat empat asumsi yang mendasari pandangan Gestalt. Proses pengamatan merupakan suatu proses yang dinamis dalam memberikan tafsiran terhadap rangsangan yang diterima. Lingkungan geografis adalah lingkungan yang sebenarnya ada. sedangkan perilaku “Molar” adalah perilaku dalam keterkaitan dengan lingkungan luar. Pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensoris adalah merupakan suatu proses yang dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis. adanya penamaan kumpulan bintang. Dalam proses pembelajaran. Organisme tidak mereaksi terhadap rangsangan lokal atau unsur atau suatu bagian peristiwa. hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa. 3. Perilaku “Molecular” adalah perilaku dalam bentuk kontraksi otot atau keluarnya kelenjar.6. Perilaku bertujuan (pusposive behavior). bermain sepakbola adalah beberapa perilaku “Molar”. virgo. Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). Misalnya. Ketertutupan (closure) bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap. padahal kenyataannya merupakan suatu lingkungan yang penuh dengan hutan yang lebat (lingkungan geografis). berjalan. kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran . Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons. khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. gemini dan sebagainya adalah contoh dari prinsip ini. akan tetapi mereaksi terhadap keseluruhan obyek atau peristiwa. gunung yang nampak dari jauh seolah-olah sesuatu yang indah. tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Pengalaman tilikan (insight). Perilaku “Molar“ hendaknya banyak dipelajari dibandingkan dengan perilaku “Molecular”. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Contoh lain. mengikuti kuliah. 2. 2. Hal yang penting dalam mempelajari perilaku ialah membedakan antara lingkungan geografis dengan lingkungan behavioral. pisces. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah. (lingkungan behavioral).

bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. sopan santun berhadapan dengan orang tua dan sebagainya. Menurut pandangan Gestalt. Pembelajaran. termasuk metode ceramah . Oleh karena itu. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Oleh karena itu. terdapat dua pendekatan pembelajaran. guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya. transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Orang tua memiliki keterbatasan dalam menjalankan fungsinya sebagai pendidik di rumah. menyeterikan baju. sementara tuntutan kehidupan yang harus dipenuhi individu semakin tinggi. 4. Oleh karena itu.akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik. guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya. namun juga dilaksanakan di rumah maupun masyarakat. memasak. Secara garis besarnya. Prinsip ruang hidup (life space). kegiatan belajar yang berlangsung di sekolah lebih bersifat formal. dengan bimbingan guru atau pendidik lainnya. disengaja dan direncanakan. Transfer dalam Belajar. yaitu : a. Kegiatan belajar di sekolah ditandai dengan adanya interaksi antara atau pendidik dengan peserta didik. Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. atau peserta didik dengan peserta didik untuk mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan. yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Bentuk-bentuk kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik di sekolah sangat ditentukan oleh pendekatan-pendekatan pembelajaran yang diberikan oleh guru. Misalnya. maka kegiatan belajar di sekolah dijadikan pilihan untuk mengembangkan perilaku dan pribadi individu dalam rangka memenuhi berbagai tuntutan kehidupan. seorang anak perempuan memiliki keterampilan bagaimana cara mencuci piring. 5. biasanya lebih banyak diperoleh dari pengalaman belajarnya di rumah. Belajar tidak hanya berlangsung sekolah saja. Interaksi pendidikan seperti itu biasa disebut pembelajaran. Pendekatan Ekspositorik adalah pendekatan yang bisa dijadikan pedoman dalam memilih metode yang sifatnya penyampaian informasi. Berbeda dengan kegiatan belajar di rumah.

di mana ia bertindak sebagai orang sumber (resource person).dan sejenisnya. mengemukakan peran guru dalam proses pembelajaran peserta didik. b. baik secara formal (kepada pihak yang mengangkat dan menugaskannya) maupun secara moral (kepada sasaran didik. seorang guru yang ideal seyogyanya dapat berperan sebagai : a. Guru sebagai penilai (evaluator) yang harus mengumpulkan.. . transmitor (penerus) sistem-sistem nilai tersebut kepada peserta didik. harus membantu pemecahannya (remedial teaching). menafsirkan dan akhirnya harus memberikan pertimbangan (judgement). serta Tuhan yang menciptakannya). eksperimen. yang mencakup : a. konsultan kepemimpinan yang bijaksana dalam arti demokratik & humanistik (manusiawi) selama proses berlangsung (during teaching problems). dalam proses interaksi dengan sasaran didik. menganalisa. termasuk discovery-inquiry. dalam konteks proses belajar mengajar di Indonesia. Abin Syamsuddin menambahkan satu peran lagi yaitu sebagai pembimbing (teacher counsel). Peran dan Kompetensi Guru Efektivitas dan efisien belajar individu di sekolah sangat bergantung kepada peran dan kompetensi guru. c. Pendekatan ini lebih berpusat kepada guru dan pada umumnya guru bertindak sebagai sumber informasi yang utama. Pendekatan Heuristik yaitu yang bisa dijadikan pedoman dalam memilih metode yang sifatnya praktek. observasi dan sejenisnya. Selanjutnya. Sedangkan dalam pengertian pendidikan yang terbatas. organisator (penyelenggara) terciptanya proses edukatif yang dapat dipertanggungjawabkan. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan bahwa dalam pengertian pendidikan secara luas. dan kalau masih dalam batas kewenangannya. d. inovator (pengembang) sistem nilai ilmu pengetahuan. berdasarkan kriteria yang ditetapkan. c. melakukan diagnosa. b. Guru sebagai pelaksana (organizer). yang harus dapat menciptakan situasi. Guru sebagai perencana (planner) yang harus mempersiapkan apa yang akan dilakukan di dalam proses belajar mengajar (pre-teaching problems). memimpin. baik mengenai aspek keefektifan prosesnya maupun kualifikasi produknya. prognosa. Abin Syamsuddin dengan mengutip pemikiran Gage dan Berliner. di mana guru dituntut untuk mampu mengidentifikasi peserta didik yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar. merangsang. menggerakkan. transformator (penterjemah) sistem-sistem nilai tersebut melalui penjelmaan dalam pribadinya dan perilakunya. motivator dan pembimbing untuk kepentingan belajar peserta didiknya. Pendekatan ini lebih menekankan kepada aktivitas siswa dan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator. dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan rencana. b. atas tingkat keberhasilan proses pembelajaran. konservator (pemelihara) sistem nilai yang merupakan sumber norma kedewasaan. e.

Pekerja sosial (social worker). diri pribadi (self oriented). g. artinya guru bertanggung jawab untuk mengarahkan perkembangan peserta didik sebagai generasi muda yang akan menjadi pewaris masa depan. artinya guru adalah model perilaku yang harus dicontoh oleh mpara peserta didik. Penterjemah kepada masyarakat. guru berperan sebagai perancang pembelajaran. pengarah. Dari sudut pandang secara psikologis. kepada masyarakat. dan Pemberi keselamatan bagi setiap peserta didik. yaitu seorang yang harus senantiasa belajar secara terus menerus untuk mengembangkan penguasaan keilmuannya. seorang guru berperan sebagai : a. yaitu menguasai bahan yang harus diajarkannya. guru berperan sebagai pembina masyarakat (social developer). keluarga dan masyarakat. Peserta didik diharapkan akan merasa aman berada dalam didikan gurunya. Pengambil inisiatif. f. Sementara itu di masyarakat. Wakil masyarakat di sekolah. dan dari sudut pandang psikologis. Lebih jauh. dan k. guru berperan sebagai : a. artinya guru adalah wakil orang tua peserta didik bagi setiap peserta didik di sekolah. artinya guru berperan sebagai pembawa suara dan kepentingan masyarakat dalam pendidikan. . Orang tua. yaitu guru bertanggung jawab agar pendidikan dapat berlangsung dengan baik. Pelajar dan ilmuwan. yaitu guru berperan untuk menyampaikan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat. d. Sedangkan dalam keluarga. pengelola pembelajaran. Dalam hubungannya dengan aktivitas pengajaran dan administrasi pendidikan.Di lain pihak. penilai hasil pembelajaran peserta didik. Moh. Pakar psikologi pendidikan. h. yaitu guru harus menjaga agar para peserta didik melaksanakan disiplin. dikemukakan pula tentang peranan guru yang berhubungan dengan aktivitas pengajaran dan administrasi pendidikan. guru berperan sebagai pendidik dalam keluarga (family educator). yaitu seorang yang harus memberikan pelayanan b. e. Di sekolah. penemu masyarakat (social inovator). model keteladanan. dan penilai pendidikan. guru berperan sebagai : e. j. Seorang pakar dalam bidangnya. c. Surya (1997) mengemukakan tentang peranan guru di sekolah. i. pengarah pembelajaran dan pembimbing peserta didik. dan agen masyarakat (social agent). Pemimpin generasi muda. Penegak disiplin. Di pandang dari segi diri-pribadinya (self oriented). Pelaksana administrasi pendidikan. artinya guru merupakan seorang yang memahami psikologi pendidikan dan mampu mengamalkannya dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik.

orang tua maupun masyarakat. interaksi peserta didik dengan sesamanya. guru masa depan harus paham penelitian guna mendukung terhadap efektivitas pengajaran yang dilaksanakannya. Artinya. namum kenyataannya justru mematikan kreativitas para peserta didiknya. interaksi peserta didik dengan guru. yaitu guru merupakan orang yang yang mampu menciptakan suatu pembaharuan bagi membuat suatu hal yang baik. . lingkungan belajar. Catalyc agent atau inovator. dan e. Jika guru tidak memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang demikian cepat. Untuk menghadapi tantangan profesionalitas tersebut. sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian kemampuan profesionalnya. Sementara itu. Guru harus harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik. ia akan terpuruk secara profesional. a. Disamping itu. seniman dalam hubungan antar manusia (artist in human relations).b. berkembang. dengan dukungan hasil penelitian yang mutakhir memungkinkan guru untuk melakukan pengajaran yang bervariasi dari tahun ke tahun. artinya guru adalah orang yang memiliki kemampuan menciptakan suasana hubungan antar manusia. prosedur dan sistem yang mendukung proses pembelajaran. Petugas kesehatan mental (mental hygiene worker). guru harus melakukan pembaruan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya secara terus menerus. Begitu juga. seperti : tata letak tempat duduk. ia akan kehilangan kepercayaan baik dari peserta didik. pengelolaan bahan belajar. guru bukan satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah peserta didiknya. Yang dimaksud keteraturan di sini mencakup hal-hal yang terkait langsung atau tidak langsung dengan proses pembelajaran. jam masuk dan keluar untuk setiap sesi mata pelajaran. khususnya dengan para peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan. Pembentuk kelompok (group builder). Kalau hal ini terjadi. guru perlu berfikir secara antisipatif dan proaktif. d. Doyle sebagaimana dikutip oleh Sudarwan Danim (2002) mengemukan dua peran utama guru yaitu menciptakan keteraturan (establishing order) dan memfasilitasi proses belajar (facilitating learning). Guru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well informed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang tumbuh. peran dan tanggung jawab guru pada masa mendatang akan semakin kompleks. disesuaikan dengan konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang berlangsung. berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. sehingga dengan dukungan hasil penelitiaan guru tidak terjebak pada praktek pengajaran yang menurut asumsi mereka sudah efektif. artinya guru bertanggung jawab bagi terciptanya kesehatan mental para peserta didik. yaitu mampu mambentuk menciptakan kelompok dan aktivitasnya sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan. dan lain-lain. Di masa depan. disiplin peserta didik di kelas. pengelolaan sumber belajar. Sejalan dengan tantangan kehidupan global. c.

perancangan pembelajaran. konsep. 5. 7. 3. 8. 3. c. dan mengembangkan diri secara berkelanjutan. pengembangan kurikulum/silabus. Kompetensi sosial yaitu merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk : 1. pemerintah telah menetapkan Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. 5. tenaga kependidikan. bergaul secara efektif dengan peserta didik. Berkenaan dengan kompetensi guru. mantap. pemahaman wawasan atau landasan kependidikan. orangtua/wali peserta didik. struktur. 4. 2. 2. 9. dalam Undang-Undang tersebut dikemukakan empat jenis kompetensi yang harus dikuasai guru yaitu : a. berwibawa. mengevaluasi kinerja sendiri. dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. 6. Kompetensi pedagogik yaitu merupakan kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang meliputi: 1. . hubungan konsep antar mata pelajaran terkait. pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis. 3. 2. 7. 3. kompetensi. diantaranya adalah berkenaan dengan kualifikasi. 4. b. dan 4. menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional. berakhlak mulia. pemahaman terhadap peserta didik. dewasa. 2. menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat. bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar. d. stabil. yang di dalamnya mengatur berbagai hal yang berkaitan dengan profesi guru. sesama pendidik. arif dan bijaksana. Kompetensi kepribadian yaitu merupakan kemampuan kepribadian yang : 1. dan metoda keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/ koheren dengan materi ajar. Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi: 1. evaluasi hasil belajar. sertifikasi dan remunerasi guru.Untuk meningkatkan profesionalisme guru di Indonesia. materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah. berkomunikasi lisan dan tulisan. 6.

kompetisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional. yaitu: a. dan . 2. Pemahaman guru tentang perkembangan belajar peserta didik. Sebagai pembanding. Kompetensi profesional meliputi aspek kepakaran atau keahlian dalam bidangnya yaitu penguasaan bahan yang harus diajarkannya beserta metodenya. b. d. rasa tanggung jawab akan tugasnya. yaitu kualitas keimanan dan ketaqwaan sebagai seorang yang beragama. Raka Joni sebagaimana dikutip oleh Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) mengemukakan tiga jenis kompetensi yang seyogyanya dimiliki guru. Dalam kompetensi sosial ini termasuk keterampilan interaksi sosial dan melaksanakan tanggung jawab sosial. yaitu kualitas kemampuan pribadi seorang guru yang diperlukan agar dapat menjadi guru yang baik. c.4. Perlakuan guru terhadap seluruh peserta didik secara adil. Surya (1997) a. mampu berkomunikasi. pengarahan diri. yaitu : a. yaitu kemampuan yang diperlukan oleh seorang guru agar berhasil dalam berhubungan dengan orang lain. yaitu penguasaan berbagai ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan tugasnya sebagai guru. Kompetensi profesional. Kompetensi personal. penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari. Kompetensi intelektual. baik dengan peserta didik. Kompetensi kemasyarakatan. 3. yaitu berbagai kemampuan yang diperlukan untuk dapat mewujudkan dirinya sebagai guru profesional . Kompetensi personal ini mencakup kemampuan pribadi yang berkenaan dengan pemahaman diri. e. sesama guru. Kompetensi personal. mengetengahkan lima jenis kompetensi guru. yang menjadi dasar bagi guru untuk mendapatkan sertifikasi guru. National Board for Profesional Teaching Skill (NBPTS) merumuskan standar kompetensi bagi guru di Amerika. Dengan jumlah yang berbeda namun esensinya sama. dan 5. Penghargaan guru terhadap perbedaan individual peserta didik. di dalamnya terdiri dari lima proposisi utama. seorang guru akan mampu menjadi seorang pemimpin yang menjalankan peran : ing ngarso sung tulada. Teachers are Committed to Students and Their Learning : 1. memiliki pengetahuan yang luas dari bidang studi yang diajarkannya. c. maupun masyarakat luas. ing madya mangun karsa. penerimaan diri. dapat memilih dan menggunakan berbagai metode mengajar di dalam proses belajar mengajar yang diselenggarakannya. Kompetensi sosial. Kompetensi profesional. meliputi : Moh. dan rasa kebersamaan dengan sejawat guru lainnya. dengan rumusan What Teachers Should Know and Be Able to Do. tut wuri handayani. dan perwujudan diri. b. Kompetensi spiritual. Sementara itu. memiliki kepribadian yang mantap dan patut diteladani. Dengan demikian.

Thomas dalam bukunya Effective Schools and Effective Teachers. Mengutip pemikiran Davis dan Margareth A. Memiliki hubungan baik dengan peserta didik 3. Teachers Think Systematically About Their Practice and Learn from Experience : 1. Menyusun proses pembelajaran dalam berbagai setting kelompok (group setting). Mengembangkan usaha untuk memperoleh pengetahuan dengan berbagai cara (multiple path). Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) memaparkan tentang beberapa kemampuan guru yang mencerminkan guru yang efektif. khususnya kemampuan untuk menunjukkan empati. Melibatkan peserta didik dalam mengorganisasikan dan merencanakan kegiatan pembelajaran. Menilai kemajuan peserta didik secara teratur. 5.4. Kesadaran akan tujuan utama pembelajaran. yaitu mencakup : a. Mampu menciptakan atmosfer untuk bekerja sama dan kohesivitas dalam kelompok. Menunjukkan minat dan enthusias yang tinggi dalam mengajar. dan 4. 2. seperti : 1. 3. c. Teachers are Responsible for Managing and Monitoring Student Learning : 1. Guru memberikan kontribusi terhadap efektivitas sekolah melalui kolaborasi dengan kalangan profesional lainnya. e. penghargaan kepada peserta didik. b. 3. d. kemampuan untuk memberikan ganjaran (reward) atas keberhasilan peserta didik. . Secara tulus menerima dan memperhatikan peserta didik. Teachers are Members of Learning Communities: 1. 3. Guru bekerja sama dengan tua orang peserta didik. Guru meminta saran dari pihak lain dan melakukan berbagai riset tentang pendidikan untuk meningkatkan praktek pembelajaran. Misi guru dalam memperluas cakrawala berfikir peserta didik. Memiliki kemampuan interpersonal. disusun dan dihubungkan dengan mata pelajaran lain. 6. Guru dapat menarik keuntungan dari berbagai sumber daya masyarakat. Apresiasi guru tentang pemahaman materi mata pelajaran untuk dikreasikan. Penggunaan berbagai metode dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Guru secara terus menerus menguji diri untuk memilih keputusan-keputusan terbaik. dan ketulusan. Teachers Know the Subjects They Teach and How to Teach Those Subjects to Students : 1. 2. 2. 2. 2. 4. Kemampuan guru untuk menyampaikan materi pelajaran. Kemampuan yang terkait dengan iklim kelas.

2. Mampu memberikan respon yang membantu kepada peserta didik yang lamban belajar. Pengelolaan Kelas Dalam uraian di atas telah disinggung bahwa salah satu keterampilan yang harus dimiliki guru adalah keterampilan dalam mengelola kelas. Sedangkan pengelolaan kelas lebih berkaitan dengan upaya-upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar (pembinaan rapport. Mampu menerapkan kurikulum dan metode mengajar secara inovatif. b. c. didalamnya mencakup pengaturan orang (peserta didik) dan fasilitas. Mmeminimalkan friksi-friksi di kelas jika ada. Mampu memberikan umpan balik yang positif terhadap respon peserta didik. seperti: 1. Mampu mendengarkan peserta didik dan menghargai hak peserta didik untuk berbicara dalam setiap diskusi. dan mampu memberikan transisi dalam mengajar. 2. helplessness (peragaan ketidakmampuan). Terdapat dua macam masalah pengelolaan kelas. Power seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan) Revenge seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan balas dendam). d. penyelesaian tugas oleh peserta didik secara tepat waktu. Mampu memperluas dan menambah pengetahuan metode-metode pengajaran. penetapan norma kelompok yang produktif). 4. Pengelolaan pembelajaran lebih menekankan pada kegiatan perencanaan.7. Kemampuan yang terkait dengan peningkatan diri. antara lain: 1. pemberian ganjaran. yaitu : 1. mengalihkan pembicaraan. Masalah Individual : 1. dan 8. Mampu bertanya atau memberikan tugas yang memerlukan tingkatan berfikir yang berbeda. 3. Kemampuan yang terkait dengan strategi manajemen. Mampu memberikan tindak lanjut terhadap jawaban yang kurang memuaskan. . penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas. Mampu memberikan bantuan kepada peserta didik yang diperlukan. 2. Memiliki kemampuan secara rutin untuk mengahadapi peserta didik yang tidak memiliki perhatian. 3. evaluasi dan tindak lanjut dalam suatu pembelajaran. Mampu memanfaatkan perencanaan kelompok guru untuk menciptakan metode pengajaran. 2. Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian). Pengelolaan kelas merupakan hal yang berbeda dengan pengelolaan pembelajaran. pelaksanaan. 4. 3. yaitu : a. suka menyela. Kemampuan yang terkait dengan pemberian umpan balik dan penguatan (reinforcement).

terdapat beberapa pendekatan yang dapat dilakukan dalam pengelolaan kelas. Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap. karena menganggap tugas yang diberikan kurang fair. 2. yaitu : l. bukan pribadi pelaku pelanggaran dan mendeskripsikan apa yang ia lihat dan rasakan. serta mendeskripsikan apa yang perlu dilakukan sebagai alternatif penyelesaian. Sedangkan Haim C. memupuk keberanian menanggung akibat “kurang menyenangkan”. Upaya memodifikasi perilaku dalam mengelola kelas dilakukan melalui pemberian positive reinforcement (untuk membina perilaku positif) dan negative reinforcement (untuk mengurangi perilaku negatif). Semangat kerja rendah atau semacam aksi protes kepada guru. Penyimpangan dari norma-norma perilaku yang telah disepakati sebelumnya. suku. Rogers mengemukakan pentingnya sikap tulus dari guru (realness.b. Dalam hal ini. sosio-emosional yang baik. trust) dan mengerti dari sudut pandangan peserta didik sendiri (emphatic understanding). congruence). caring. serta membantu peserta didik membuat rencana penyelesaian baru yang lebih baik. Berangkat dari teori-teori belajar sebagaimana telah dikemukakan terdahulu. Kelas kurang kohesif. Carl A. genuiness. Hal senada dikemukakan William Glasser bahwa guru seyogyanya membantu mengarahkan peserta didik untuk mendeskripsikan masalah yang dihadapi. prizing. 4. Behavior . Ginnot mengemukakan bahwa dalam memecahkan masalah. menerima dan menghargai peserta didik sebagai manusia (acceptance. 7. menganalisis dan menilai masalah. Socio-Emotional Climate Approach (Humanistic Approach) Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa proses belajar mengajar yang baik didasari oleh adanya hubungan interpersonal yang baik antara peserta didik . “Membombong” anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok. karena alasan jenis kelamin. .Modification Approach (Behaviorism Apparoach) Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa perilaku “baik” dan “buruk” individu merupakan hasil belajar. Masalah Kelompok : 1. tingkatan sosial ekonomi. 3. 5. m. 6.guru dan atau peserta didik – peserta didik dan guru menduduki posisi penting bagi terbentuknya iklim. mengarahkan peserta didik agar committed terhadap rencana yang telah dibuat. guru berusaha untuk membicarakan situasi. Kelas kurang mampu menyesuakan diri dengan keadaan baru. menyusun rencana pemecahannya. Kelas mereaksi secara negatif terhadap salah seorang anggotanya. dan sebagainya.

Group Process Approach Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa pengalaman belajar berlangsung dalam konteks kelompok sosial dan tugas guru adalah membina dan memelihara kelompok yang produktif dan kohesif. Schmuck menegemukakan prinsip – prinsip dalam penerapan pendekatan group proses. c. Latihan : Soal : Pilihan Ganda 1. Sebaliknya. dari tidak tahu menjadi tahu. Perubahan yang bersifat aktif dan menyeluruh. (b) leadership. d. a. Perubahan yang bersifat intensional. d. semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons. b.Respons. Di bawah ini merupakan hakekat belajar. (c) norm. Keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol merupakan bentuk perubahan perilaku dalam : a. (c) attraction (pola persahabatan). memperlakukan peserta didik sebagai manusia yang dapat secara bijak mengambil keputusan dengan segala konsekuensinya. dan permanen Perubahan yang bersifat fungsional. Belajar sebagai usaha untuk memperoleh pengetahuan. Belajar merupakan usaha individu. b. c. Law of Effect Law of Readiness Law of Exercise Law of Respondent Conditioning . dan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menghayati tata aturan masyarakat. bertujuan dan terarah. Jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan. yaitu : (a) mutual expectations. n. kecuali : a. (d) cohesiveness D. Di bawah ini merupakan ciri-ciri perubahan perilaku dari kegiatan belajar : e. a. b dan c benar 3. Belajar merupakan usaha individu memperoleh perubahan perilaku. kontinyu.Sementara itu. c. dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat memikul tanggung jawab. b. positif. Belajar merupakan kegiatan individu di sekolah untuk memperoleh pengetahuan 2. Richard A. h. g. maka hubungan Stimulus Respons akan semakin kuat. f. Informasi verbal Kecakapan intelektual Strategi kognitif Sikap dan kecakapan motorik 4. Rudolf Draikurs mengemukakan pentingnya Democratic Classroom Process. maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus. (d) communication. Schmuck & Patricia A. d.

menggerakkan. b. a. Pendekatan pembelajaran yang dianggap paling sesuai untuk pembentukan kompetensi peserta didik. hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa. Jelaskan secara skematik tentang perubahan perilaku dan pribadi yang terjadi dari proses belajar !. c. b. 7. Perencana Pembelajaran Pelaksana Pembelajaran Evaluator Pembelajaran Fasilitator Pembelajaran 10. Uraian 1. c. c. Teori belajar yang menganggap pentingnya imitation dan modelling dalam belajar. b. a. Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah : a. b. memimpin. d. b. Ekspositorik Heuristik Discovery Inquiry 9. Materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik merupakan salah satu aplikasi dalam pembelajaran yang dihasilkan dari teori belajar : a. b. d. d. c. b. Connectionism (S-R Bond) Classical Conditioning Social Learning Operant Conditioning 6. Kompetensi guru yang berhubungan dengan pemahaman perkembangan peserta didik. Kompetensi akademik Kompetensi personal Kompetensi pedagogik Kompetensi sosial . Pentingnya reinforcement dalam pembentukan perilaku individu Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. adalah : a. d. Behaviorisme Gestalt Kognitif Pemrosesan Informasi 8. dan c benar. d. merencanakan. c. c.5. melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran. Apa yang dimaksud dengan pengelolaan kelas ? 2. Dapat menciptakan situasi belajar. dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar merupakan peran guru sebagai : a. d. Dalam proses pembelajaran. merangsang. a.

bimbingan terhadap peserta didik bermasalah. Menganalisis kasus dan mengatasi masalah yang dihadapi peserta didik. menentukan. apa yang akan dilakukan jika di kelas menemukan: a. Peran Kepala Sekolah dan Guru Mata Pelajaran dan Wali Kelas dalam Bimbingan dan Konseling. 2. 5. Mendefinisikan bimbingan dan konseling. giving instructions (memberikan petunjuk). Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling. C. Kegiatan Layanan dan Pendukung Bimbingan dan Konseling. 3. jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. Menjelaskan peran kepala sekolah dan guru mata pelajaran dalam Bimbingan dan Konseling. 4. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. or steer (menunjukkan. regulating (mengatur). Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling a. asas. Proses dan Teknik Konseling. diharapkan Anda dapat : 1. leading (memimpin). para siswa kurang kompak dan selalu berisik. conducting (menuntun). mengatur. manager. siswa yang sedang asyik ngobrol dengan temannya. Sedangkan menurut W. governing (mengarahkan) dan giving advice (memberikan nasehat). Menerapkan teknik – teknik dalam konseling.S. B. prinsip. Intisari Bacaan 1. Mengidentifikasi fungsi. 4. Bimbingan terhadap Peserta Didik Bermasalah.3. prosedur umum bimbingan dan konseling. b. Pengertian Bimbingan dan Konseling Bimbingan merupakan terjemahan dari guidance yang didalamnya terkandung beberapa makna. BAB V BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH A. atau mengemudikan). 3. orientasi baru. Sebagai guru. pilot. Winkel (1981) mengemukakan bahwa guidance mempunyai hubungan dengan guiding : “ showing a way” (menunjukkan jalan). . 5. Pokok Bahasan 1. 6. Sertzer & Stone (1966) menemukakan bahwa guidance berasal kata guide yang mempunyai arti to direct. proses konseling. 2. Prosedur Umum Bimbingan dan Konseling.

(1970) mengemukakan : “guidance is the help given by one person to another in making choice and adjusment and in solving problem. misalnya problema kependidikan. 1978) memberikan rumusan bimbingan sebagai kegiatan yang terorganisir untuk memberikan bantuan secara sistematis kepada peserta didik dalam membuat penyesuaian diri terhadap berbagai bentuk problema yang dihadapinya. sosial dan pribadi. jabatan. (1975) berpendapat bahwa bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis kepada individu dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. melalui . 1975) mengartikan bimbingan sebagai proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum di sekolah. 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah dikemukakan bahwa “Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi. baik keluarga. bimbingan sosial. agar tercapai kemampuan untuk dapat memahami dirinya (self understanding). kemampuan untuk menerima dirinya (self acceptance).al. Hal ini tentu saja tidak sesuai lagi dengan arah perkembangan dewasa ini. baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal. Surya. bimbingan belajar. dan bimbingan karier. bimbingan harus mengarahkan kegiatannya agar peserta didik mengetahui tentang diri pribadinya sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. dalam bimbingan pribadi. Surya. dkk.  Prayitno. Dalam pelaksanaannya.  Jones et. Untuk memahami lebih jauh tentang pengertian bimbingan. keluarga dan masyarakat. dan merencanakan masa depan”.  Peters dan Shertzer (Sofyan S. Djumhur dan Moh. mengenal lingkungan. (2003) mengemukakan bahwa bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik.  United States Office of Education (Arifin.  Dalam Peraturan Pemerintah No.  I. Djumhur dan Moh. 2004) mendefiniskan bimbingan sebagai : the process of helping the individual to understand himself and his world so that he can utilize his potentialities. di bawah ini dikemukakan pendapat dari beberapa ahli :  Miller (I. sekolah dan masyarakat. kemampuan untuk mengarahkan dirinya (self direction) dan kemampuan untuk merealisasikan dirinya (self realization) sesuai dengan potensi atau kemampuannya dalam mencapai penyesuaian diri dengan lingkungan. Willis. dimana pada saat ini klien lah yang justru dianggap lebih memiliki peranan penting dan aktif dalam proses pengambilan keputusan serta bertanggungjawab sepenuhnya terhadap keputusan yang diambilnya.Penggunaan istilah bimbingan seperti dikemukakan di atas tampaknya proses bimbingan lebih menekankan kepada peranan pihak pembimbing. kesehatan.

Orientasi Baru Bimbingan dan Konseling Pada masa sebelumnya (atau mungkin masa sekarang pun.. b. kemudian pada Kurikulum 1994 dan Kurikulum 2004 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling. kendati demikian kita dapat melihat adanya benang merah. perkembangan optimal dan kemandirian merupakan tujuan yang ingin dicapai dari bimbingan. Masalah-masalah . Dari beberapa pendapat di atas. Akibatnya. Bantuan dimaksud adalah bantuan yang bersifat psikologis. guru bahkan kepala sekolah. dan menghukum para peserta didik yang melakukan tindakan indisipliner.10%). merazia. meski secara formal istilah ini belum digunakan. Dari 100 orang peserta didik paling banyak 5 hingga 10 (5% . Keberadaan layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan di Indonesia dijalani melalui proses yang panjang. berdasarkan norma-norma yang berlaku. sejak kurang lebih 40 tahun yang lalu. dkk. Selebihnya. terlambat SPP. yang memberikan pengertian bimbingan disatukan dengan konseling merupakan pengertian formal dan menggambarkan penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang saat ini diterapkan dalam sistem pendidikan nasional. Akhir-akhir ini para ahli mulai meluncurkan sebutan Profesi Konseling. seperti peserta didik yang bolos. Ada anggapan bimbingan dan konseling merupakan “polisi sekolah”. bahwa :  Bimbingan merupakan upaya untuk memberikan bantuan kepada individu atau peserta didik. berkelahi.berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung. Untuk kepentingan penulisan ini. Selama perjalanannya telah mengalami beberapa kali pergantian istilah. dalam prakteknya masih ditemukan) bahwa penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling cenderung bersifat klinis-therapeutis atau menggunakan pendekatan kuratif. Padahal kenyataan di sekolah jumlah peserta didik yang bermasalah atau berperilaku menyimpang mungkin hanya satu atau dua orang saja. Anggapan lain yang keliru bahwa bimbingan dan konseling sebagai “keranjang sampah” tempat untuk menampung semua masalah peserta didik. bodoh. bimbingan dan konseling memiliki citra buruk dan sering dipersepsi keliru oleh peserta didik. penulis akan menggunakan istilah Bimbingan dan Konseling sesuai dengan istilah formal yang saat ini dipergunakan dalam sistem pendidikan nasional. peserta didik yang tidak memiliki masalah (90% -95%) kerapkali tidak tersentuh oleh layanan bimbingan dan konseling.  Tercapainya penyesuaian diri. yakni hanya berupaya menangani para peserta didik yang bermasalah saja. tempat menangkap. tampaknya para ahli masih beragam dalam memberikan pengertian bimbingan. semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (dalam Kurikulum 84 dan sebelumnya). Dari pendapat Prayitno. menentang guru dan sebagainya.

orang tua. yaitu : landasan-landasan filosofis dari orientasi 1. dan keluarga peserta didik dan orang tua. Dengan demikian. dan sosial budaya/terutama nilai-nilai oleh peserta didik. 3. guru pembimbing. c. 4. 2. yaitu: 1. Pengentasan. Humanistik-religius. . kiranya perlu adanya orientasi baru bimbingan dan konseling yang bersifat pengembangan atau developmental dan pencegahan pendekatan preventif. kehadiran bimbingan dan konseling di sekolah akan dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh peserta didik. 2. Potensial. Fungsi Bimbingan dan Konseling Dengan orientasi baru Bimbingan dan konseling terdapat beberapa fungsi yang hendak dipenuhi melalui pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling. Pedagogis. Mengingat keadaan seperti itu. Sofyan. jabatan/pekerjaan. artinya pendekatan terhadap peserta didik haruslah manusiawi dengan landasan ketuhanan. artinya setiap peserta didik adalah individu yang memiliki potensi untuk dikembangkan. yang berpengetahuan dan berketerampilan berbagi teknik bimbingan dan konseling. lingkungan yang lebih luas. tetapi upaya pemberian layanan bimbingan dan konseling lebih dikedepankan dan diutamakan yang bersifat pengembangan dan pencegahan. Pencegahan. Dengan adanya orientasi baru ini. menghasilkan pemahaman pihak-pihak tertentu untuk pengembangan dan pemacahan masalah peserta didik meliputi : (a) pemahaman diri dan kondisi peserta didik. S. bukan berarti upaya-upaya bimbingan dan konseling yang bersifat klinis ditiadakan. peserta didik sebagai manusia dianggap sanggup mengembangkan diri dan potensinya. Pemahaman. yaitu proses bimbingan dan konseling harus dilakukan secara profesional atas dasar filosofis. Willis (2004) mengemukakan baru bimbingan dan konseling. artinya menciptakan kondisi sekolah yang kondusif bagi perkembangan peserta didik dengan memperhatikan perbedaan individual diantara peserta didik. menghasilkan tercegahnya atau terhindarnya peserta didik dari berbagai permasalahan yang timbul dan menghambat proses perkembangannya. tidak hanya bagi peserta didik yang bermasalah saja.kecil seperti itu dapat diantisipasi dan diatasi oleh para guru mata pelajaran atau wali kelas dan tidak perlu diselesaikan oleh guru pembimbing. . teoritis. informasi pendidikan. 3. Profesional. menghasilkan terentaskannya atau teratasinya berbagai permasalahan yang dialami peserta didik. sedangkan kelemahannya secara berangsur-angsur akan diatasinya sendiri. (2) lingkungan peserta didik termasuk di dalamnya lingkungan sekolah.

Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan permasalahan yang dialami individu. (c) perhatian adanya perbedaan individu dalam layanan. (b) pengambilan keputusan yang diambil oleh klien hendaknya atas kemauan diri sendiri. jenis layanan dan kegiatan pendukung. d. (b) timbulnya masalah pada individu oleh karena adanya kesenjangan sosial. terpelihara dan terkembangkannya berbagai potensi dan kondisi positif peserta didik dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan berkelanjutan. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan sasaran layanan. 4. suku. dan (e) proses pelayanan bimbingan dan konseling melibatkan individu yang telah memperoleh hasil pengukuran dan penilaian layanan. Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling : Sejumlah prinsip mendasari gerak langkah penyelenggaraan kegiatan bimbingan dan konseling. (b) program bimbingan dan konseling harus fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan tujuan dan pelaksanaan pelayanan.4. 3. Prinsip-prinsip ini berkaitan dengan tujuan. 5. (a) diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu secara mandiri membimbing diri sendiri. menghasilkan kondisi pembelaaan terhadap pengingkaran atas hakhak dan/atau kepentingan pendidikan. (d) program pelayanan bimbingan dan konseling perlu diadakan penilaian hasil layanan. Prinsip-prinsip tersebut adalah : 1. (a) melayani semua individu tanpa memandang usia. serta berbagai aspek operasionalisasi pelayanan bimbingan dan konseling. 2. e. (b) memperhatikan tahapan perkembangan. sekolah dan masyarakat sekitar. baik di rumah. agama dan status sosial. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan program pelayanan Bimbingan dan Konseling. jenis kelamin. (d) perlu adanya kerja sama dengan personil sekolah dan orang tua dan bila perlu dengan pihak lain yang berkewenangan dengan permasalahan individu. Advokasi. Pemeliharaan dan pengembangan. (c) permasalahan individu dilayani oleh tenaga ahli/profesional yang relevan dengan permasalahan individu. (a) menyangkut pengaruh kondisi mental maupun fisik individu terhadap penyesuaian pengaruh lingkungan. (a) bimbingan dan konseling bagian integral dari pendidikan dan pengembangan individu. sasaran layanan. Asas-Asas Bimbingan dan Konseling . ekonomi dan budaya. sehingga program bimbingan dan konseling diselaraskan dengan program pendidikan dan pengembangan diri peserta didik. (c) program bimbingan dan konseling disusun dengan mempertimbangkan adanya tahap perkembangan individu.

dengan ciri-ciri mengenal diri sendiri dan lingkungannya. Asas Kesukarelaan. baik dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. yaitu asas yang menghendaki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan/kegiatan bersikap terbuka dan tidak berpura-pura. maka penyelenggaraan bimbingan dan konseling akan berjalan tersendat-sendat atau bahkan terhenti sama sekali. Asas keterbukaan ini bertalian erat dengan asas kerahasiaan dan dan kekarelaan. yaitu asas yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan peserta didik (klien) mengikuti/ menjalani layanan/kegiatan yang diperuntukkan baginya. 2.asas bimbingan dan konseling tersebut adalah : 1.Penyelenggaraan layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling selain dimuati oleh fungsi dan didasarkan pada prinsip-prinsip tertentu. 3. Asas Kerahasiaan (confidential). Asas Kegiatan. yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui orang lain. Dalam hal ini. juga dituntut untuk memenuhi sejumlah asas bimbingan. Betapa pentingnya asas-asas bimbingan konseling ini sehingga dikatakan sebagai jiwa dan nafas dari seluruh kehidupan layanan bimbingan dan konseling. 5. Guru pembimbing (konselor) berkewajiban mengembangkan keterbukaan peserta didik (klien). mampu mengambil keputusan. Asas. Asas Keterbukaan. mengarahkan. Apabila asas-asas ini tidak dijalankan dengan baik. serta mengurangi atau mengaburkan hasil layanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu sendiri. Guru Pembimbing (konselor) perlu mendorong dan memotivasi peserta didik untuk dapat aktif dalam setiap layanan/kegiatan yang diberikan kepadanya. serta mewujudkan diri sendiri. Pemenuhan asas-asas bimbingan itu akan memperlancar pelaksanaan dan lebih menjamin keberhasilan layanan/kegiatan. yaitu asas yang menuntut dirahasiakannya segenap data dan keterangan peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan. Guru Pembimbing (konselor) berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan seperti itu. 4. yaitu asas yang menghendaki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan dapat berpartisipasi aktif di dalam penyelenggaraan/kegiatan bimbingan. Guru Pembimbing . yaitu peserta didik (klien) sebagai sasaran layanan/kegiatan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi individu-individu yang mandiri. guru pembimbing (konselor) terlebih dahulu bersikap terbuka dan tidak berpura-pura. guru pembimbing (konselor) berkewajiban memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin. Agar peserta didik (klien) mau terbuka. sedangkan pengingkarannya akan dapat menghambat atau bahkan menggagalkan pelaksanaan. Asas Kemandirian. yaitu asas yang menunjukkan pada tujuan umum bimbingan dan konseling.

tidak monoton. yaitu asas yang menghendaki agar segenap layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada norma-norma. 7. baik yang berada di dalam lembaga sekolah maupun di luar sekolah. menghayati dan mengamalkan norma-norma tersebut. hukum. 12. 8. dapat mengalihtangankan kasus kepada pihak yang lebih kompeten. sebaliknya guru pembimbing (konselor). peraturan. 11. Asas Kenormatifan. mengembangkan keteladanan. Bahkan lebih jauh lagi. atau ahli lain. melalui segenap layanan/kegiatan bimbingan dan konseling ini harus dapat meningkatkan kemampuan peserta didik (klien) dalam memahami. Asas Keahlian. Asas Keterpaduan.(konselor) hendaknya mampu mengarahkan segenap layanan bimbingan dan konseling bagi berkembangnya kemandirian peserta didik. Dalam hal ini. dan kebiasaan – kebiasaan yang berlaku. 10. harmonis dan terpadukan. yaitu asas yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan peserta didik (klien) kiranya dapat mengalihtangankan kepada pihak yang lebih ahli. Kondisi masa lampau dan masa depan dilihat sebagai dampak dan memiliki keterkaitan dengan apa yang ada dan diperbuat peserta didik (klien) pada saat sekarang. baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain. Profesionalitas guru pembimbing (konselor) harus terwujud baik dalam penyelenggaraaan jenis-jenis layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling dan dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling. ilmu pengetahuan. Asas Kekinian. baik norma agama. dan . Guru pembimbing (konselor)dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua. yaitu asas yang menghendaki agar layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselnggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. Asas Kedinamisan. adat istiadat. Asas Tut Wuri Handayani. yaitu asas yang menghendaki agar berbagai layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling. Asas Alih Tangan Kasus. yaitu asas yang menghendaki agar pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana mengayomi (memberikan rasa aman). saling menunjang. kerja sama dan koordinasi dengan berbagai pihak yang terkait dengan bimbingan dan konseling menjadi amat penting dan harus dilaksanakan sebaikbaiknya. para pelaksana layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling lainnya hendaknya tenaga yang benar-benar ahli dalam bimbingan dan konseling. Dalam hal ini. guru-guru lain. Demikian pula. 6. yaitu asas yang menghendaki agar obyek sasaran layanan bimbingan dan konseling yakni permasalahan yang dihadapi peserta didik/klien dalam kondisi sekarang. 9. yaitu asas yang menghendaki agar isi layanan terhadap sasaran layanan (peserta didik/klien) hendaknya selalu bergerak maju. dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.

dan bimbingan dan konseling merupakan suatu kesatuan yang terpadu. Guru Mata Pelajaran dan Wali Kelas dalam Bimbingan dan Konseling Dalam kurikulum 2004. serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik (klien) untuk maju. sosial. latihan. secara tegas dikemukakan bahwa : “Sekolah berkewajiban memberikan bimbingan dan konseling kepada siswa yang menyangkut tentang pribadi. Membantu memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling kepada siswa b. Selain Guru Pembimbing atau Konselor sebagai pelaksana utama. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling Di sekolah kepada Dinas Pendidikan yang menjadi atasannya. harmonis.memberikan rangsangan dan dorongan. serta pengumpulan data tentang siswa-siswa tersebut. Mengkoordinir segenap kegiatan yang diprogramkan dan berlangsung di sekolah. c. juga perlu melibatkan kepala sekolah . peran. Sedangkan. tidak lepas dari peranan berbagai pihak di sekolah. Menyediakan fasilitas. dan berbagai kemudahan bagi terlaksananya pelayanan bimbingan dan konseling yang efektif dan efisien. guru mata pelajaran dan wali kelas. dan dinamis. c. dan dukungan dalam kegiatan kepengawasan yang dilakukan oleh Pengawas Sekolah Bidang BK. sebagai berikut : a. Melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap perencanaan dan pelaksanaan program. e. Mengalihtangankan siswa yang memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling kepada Guru Pembimbing . Peranan Kepala Sekolah. maka setiap sekolah mutlak harus menyelenggarakan bimbingan dan konseling. belajar. b. Dengan adanya kata “kewajiban”. d. tugas dan tanggung jawab guru-guru mata pelajaran dalam bimbingan dan konseling adalah : a. Membantu Guru Pembimbing mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling. Secara garis besarnya. 2. peran. kesempatan. tugas dan tanggung jawab kepala sekolah. Keberhasilan penyelenggaraan bimbingan dan konseling di sekolah. Kepala sekolah selaku penanggung jawab seluruh penyelenggaraan pendidikan di sekolah memegang peranan strategis dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling di sekolah. sehingga pelayanan pengajaran. penyelenggaraan Bimbingan dan konseling di sekolah. penilaian dan upaya tidak lanjut pelayanan bimbingan dan konseling. tenaga. Menyediakan prasarana. dan karier”.

baik dalam jenis layanan maupun kegiatan pendukung. yaitu siswa yang menuntut Guru Pembimbing memerlukan pelayanan pengajar /latihan khusus (seperti pengajaran/ latihan perbaikan. membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi siswa. Menerima siswa alih tangan dari Guru Pembimbing. Sofyan S. membantu Guru Pembimbing melaksanakan tugas-tugasnya. untuk mengikuti/menjalani layanan dan/atau kegiatan bimbingan dan konseling. Sedangkan kegiatan pendukung merupakan kegiatan untuk menopang terhadap keberhasilan layanan yang diberikan. e. mendorong. g. Sebagai pengelola kelas tertentu dalam pelayanan bimbingan dan konseling. Membantu mengembangkan suasana kelas. d. Namun sangat mungkin ke depannya akan semakin berkembang. h. bersahabat. Willis (2005) mengemukakan bahwa guru-guru mata pelajaran dalam melakukan pendekatan kepada siswa harus manusiawi-religius. Para ahli bimbingan di Indonesia saat ini sudah mulai meluncurkan dua jenis layanan baru yaitu layanan konsultasi dan layanan mediasi. c. ramah. kedua jenis layanan ini belum dijadikan sebagai kebijakan formal dalam sistem pendidikan. konkret. Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah siswa. khususnya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya. dan e. Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional saat ini terdapat tujuh jenis layanan dan lima kegiatan pendukung. seperti konferensi kasus. Membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian pelayanan bimbingan dan konseling serta upaya tindak lanjutnya. khususnya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya. program pengayaan). Kegiatan Layanan dan Pendukung Bimbingan dan Konseling Kegiatan layanan merupakan kegiatan dalam rangka memenuhi fungsi-fungsi bimbingan dan konseling. b. seperti konferensi kasus.d. berpartisipasi aktif dalam kegiatan khusus bimbingan dan konseling. mengalihtangankan siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling kepada Guru Pembimbing. Wali Kelas berperan : a. khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya. hubungan guru-siswa dan hubungan siswa-siswa yang menunjang pelaksanaan pelayanan pembimbingan dan konseling. memahami dan menghargai tanpa syarat. Berkenaan peran guru mata pelajaran dan wali kelas dalam bimbingan dan konseling. . 3. f. Namun. membantu Guru Mata Pelajaran melaksanakan peranannya dalam pelayanan bimbingan dan konseling. Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan layanan/kegiatan bimbingan dan konseling untuk mengikuti /menjalani layanan/kegiatan yang dimaksudkan itu. jujur dan asli.

Layanan pembelajaran berfungsi untuk pengembangan. Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. pendidikan lanjutan). dalam bidang pribadi. Layanan Bimbingan Kelompok. sosial. Layanan Orientasi. Layanan informasi pun berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. Tujuan layanan informasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai. a. 6. karier. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik.Untuk lebih jelasnya. kegiatan ko/ekstra kurikuler. Layanan Informasi. Kegiatan Layanan Bimbingan dan Konseling 1. yang berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu. Layanan Konseling Perorangan. program latihan. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan segenap bakat. di bawah ini akan diuraikan tujuh jenis layanan dan lima kegiatan pendukung bimbingan dan konseling yang saat ini diterapkan dalam pendidikan nasional. Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya. pergaulan. 4. kelompok belajar. Layanan Pembelajaran. merupakan layanan yang memungkinan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk . merupakan layanan yang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar. belajar maupun karier berdasarkan informasi yang diperolehnya yang memadai. 2. magang. terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari. 3. 5. jurusan/program studi. minat dan segenap potensi lainnya. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam menguasai materi belajar atau penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran di dalam kelas. Layanan orientasi merupakan layanan yang memungkinan peserta didik memahami lingkungan baru. sekurangkurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awal semester. Layanan Penempatan dan Penyaluran. Layanan Penempatan dan Penyaluran berfungsi untuk pengembangan.

keterangan. Kunjungan Rumah. merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang peserta didik. 3. 4. sistematik. merupakan kegiatan untuk memperoleh data. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. baik tes maupun non tes. yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen. kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien. Himpunan Data. Konferensi Kasus. kemudahan. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman dan Pengembangan 7. 2. Himpunan data diselenggarakan secara berkelanjutan. Pertemuan konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. komprehensif. . tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainnya. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. yaitu : 1.menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. dengan tujuan untuk memahami peserta didik dengan segala karakteristiknya dan memahami karakteristik lingkungan. kiranya perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung Dalam hal ini. b. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan. merupakan kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik. terdapat lima jenis kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. terpadu dan sifatnya tertutup. Kegiatan Pendukung Bimbingan dan Konseling Untuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah dikemukakan di atas. merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. Tujuan konferensi kasus adalah untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan klien. dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kunjungan rumah klien. Aplikasi Instrumentasi Data. Layanan Konseling Kelompok. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. dengan tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua/keluarga untuk mengentaskan permasalahan klien. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok.

3. seperti kepada guru mata pelajaran atau konselor. yakni : 1. rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya. menciptakan hubungan yang baik. seperti tes inteligensi. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja. . Maintain good relationship. penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru pembimbing dengan peserta didik. prosedur bimbingan dan konseling dapat ditempuh melalui prosedur seperti tampak dalam bagan berikut : Datang Sendiri/Dicari Informasi yang Ada/Dicari Informasi yang Ada/Dicari Informasi yang Ada/Dicari Identifikasi Kasus Identifikasi Masalah Diagnosis Prognosis Remedial/Referal Evaluasi/Follow Up a. menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran peserta didik akan masalah yang dihadapinya. Alih Tangan Kasus. Identifikasi kasus. Developing a desire for counseling. melakukan wawancara dengan memanggil semua peserta didik secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan peserta didik yang benar-benar membutuhkan layanan konseling. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan peserta didik yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes. misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler. merupakan kegiatan untuk untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dialami klien dengan memindahkan penanganan kasus ke pihak lain yang lebih kompeten. dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya. Call them approach. merupakan upaya untuk menemukan peserta didik yang diduga memerlukan layanan bimbingan dan konseling. Prosedur Umum Bimbingan dan Konseling Secara umum. tes bakat. dokter serta ahli lainnya. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dihadapinya melalui pihak yang lebih kompeten. 2. 4.5. Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi peserta didik yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan dan konseling.

Burton membagi ke dalam dua bagian faktor – faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar peserta didik. Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. kepribadian. upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. Untuk mengidentifikasi masalah peserta didik. seputar aspek : (1) jasmani dan kesehatan. (2) struktural – fungsional. (7) agama. (4) ekonomi dan keuangan. sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya. Melakukan analisis terhadap hasil belajar peserta didik. dan atau (4) personality. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar.H. dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi peserta didik. jika jenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru atau guru pembimbing. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah peserta didik. nilai dan moral. Instrumen ini sangat membantu untuk mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi peserta didik. Identifikasi Masalah. Namun. (9) keadaan dan hubungan keluarga. Prognosis. 5. Proses mengambil keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus. Diagnosis. permasalahan peserta didik dapat berkenaan dengan aspek : (1) substansial – material. dan (10) waktu senggang. dengan melibatkan pihak-pihak yang kompeten untuk diminta bekerja sama menangani kasus . lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya. yaitu : (1) faktor internal. bisa dilihat dari segi input. pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor yang penyebab kegagalan belajar peserta didik. dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). W. (3) hubungan sosial. (3) behavioral. dan (2) faktor eksternal. e. bakat. seperti : lingkungan rumah. c. langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis. d. Remedial atau referal (Alih Tangan Kasus). Melakukan analisis sosiometris. proses.kasus yang dihadapi. emosi. langkah ini untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami peserta didik masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya. jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih . ataupun out put belajarnya. kecerdasan. (6) pendidikan dan pelajaran. (8) hubungan muda-mudi. Prayitno dkk. seperti : kondisi jasmani dan kesehatan.4. karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi peserta didik. (5) karier dan pekerjaan. (2) diri pribadi. dengan cara ini dapat ditemukan peserta didik yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial b. faktor yang besumber dari dalam diri peserta didik itu sendiri.

f. 7. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah berserta mekanisme dan petugas yang menanganinya. Evaluasi dan Follow Up. 2. Sementara itu. Peserta didik telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha –usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya. namun perlu diingat bahwa tidak semua masalah peserta didik harus ditangani oleh Guru Pembimbing (konselor). sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya. Peserta didik telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance). yaitu apabila: 1. 5. dan 3. Sofyan S. 5. Peserta didik telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi. evaluasi atas usaha pemecahan masalah seyogyanya dilakukan evaluasi dan tindak lanjut. Berkenaan dengan evaluasi bimbingan dan konseling. 3. Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh peserta didik sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya. 4. Peserta didik telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi. mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional. Depdiknas telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan dan konseling yaitu : 1. Peserta didik telah menurun penentangan terhadap lingkungannya 6. Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh peserta didik berkaitan dengan masalah yang dibahas. cara manapun yang ditempuh. Peserta didik telah menurun ketegangan emosinya (emotion stress release). Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan. Peserta didik mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan. 2. Dalam hal ini. Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan. Bimbingan terhadap Peserta Didik Bermasalah Bimbingan terhadap peserta didik bermasalah tetap menjadi perhatian bimbingan dan konseling. sebagaimana dalam bagan berikut : Ringan Masalah peserta didik Sedang Berat Semua Guru/Wali Kelas Guru Pembimbing Alih Tangan Kasus . untuk melihat seberapa pengaruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi peserta didik.mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbing sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten.

seperti : gangguan emosional. berkelahi dengan teman sekolah. perkelahian dengan senjata tajam atau senjata api. minum minuman keras tahap awal. kecanduan alkohol dan narkotika. Tahap Awal . guru dan sebagainya. mencuri kelas sedang. kesulitan belajar. Kasus ringan dibimbing oleh wali kelas dan guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor/guru pembimbing) dan mengadakan kunjungan rumah. seperti : gangguan emosional berat. malas. Dapat pula mengadakan konferensi kasus. Dalam prakteknya. dengan perbuatan menyimpang. berpacaran. karena gangguan di keluarga. sehingga bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka pengentasan masalahnya dapat berjalan secara efektif dan efisien.a. percobaan bunuh diri. pelaku kriminalitas. (2) tahap inti (tahap kerja). a. Masalah (kasus) sedang. Kasus berat dilakukan referal (alihtangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater. Oleh karena itu. berkelahi antar sekolah. b. Masalah (kasus) berat. polisi. kesulitan belajar pada bidang tertentu. Masalah (kasus) ringan. c. Karena layanan yang satu ini boleh dikatakan merupakan ciri khas dari layanan bimbingan dan konseling. dokter. dan (3) tahap akhir (tahap perubahan dan tindakan). memang strategi layanan bimbingan dan konseling harus terlebih dahulu mengedepankan layanan – layanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan. peserta didik hamil. proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah). mencuri kelas ringan. polisi. Proses Konseling dan Teknik-Teknik Konseling Dari beberapa jenis layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada peserta didik. berpacaran. Proses Konseling Secara umum. dengan berkonsultasi dengan kepala sekolah. tampaknya untuk layanan konseling perorangan perlu mendapat perhatian lebih. melakukan gangguan sosial dan asusila. guru maupun konselor seyogyanya dapat menguasai proses dan berbagai teknik konseling. namun tetap saja layanan yang bersifat pengentasan pun masih diperlukan. ahli hukum yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kegiatan konferensi kasus. seperti : membolos. 6. bertengkar. 1. ahli/profesional. minum minuman keras tahap pertengahan. Kasus sedang dibimbing oleh guru pembimbing (konselor).

proses konseling selanjutnya adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja. maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien. kesukarelaan. diantaranya : a. terutama asas kerahasiaan. Konselor melakukan reassessment (penilaian kembali). Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara. Kunci keberhasilan membangun hubungan terletak pada terpenuhinya asasasas bimbingan dan konseling. Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya. c. yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien. Kontrak waktu. yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien. Tahap Inti (Tahap Kerja) Setelah tahap Awal dilaksanakan dengan baik. b. Pada tahap ini terdapat beberapa hal yang harus dilakukan. d. dan menentukan berbagai alternatif yang sesuai bagi antisipasi masalah. 2. Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih dalam. Menegosiasikan kontrak Membangun perjanjian antara konselor dengan klien. Hal ini bisa terjadi jika : . Memperjelas dan mendefinisikan masalah. Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). Kontrak tugas. berisi : 1. yaitu berapa lama waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkebaratan. bersama-sama klien meninjau kembali permasalahan yang dihadapi klien. Membuat penaksiran dan perjajagan Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan. diantaranya : a. b. 2. dan kegiatan. Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri. keterbukaan.Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan masalah klien. Kontrak kerjasama dalam proses konseling. 3. Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan. yaitu terbinanya peran dan tanggung jawab bersama antara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling.

b. yaitu : (1) teknik umum dan (2) teknik khusus. 2. bahasa tubuh. yaitu : a. 3. yaitu . Perilaku attending yang baik dapat : 1. c. di bawah ini akan disampaikan beberapa jenis teknik umum. Meningkatkan harga diri klien. serta menampakan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya. baik oleh pihak konselor maupun klien. Adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program yang jelas. Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik konseling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur. ikhlas dan benar – benar peduli terhadap klien. Tahap Akhir (Tahap Tindakan) Pada tahap akhir ini terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan. d. Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera). Perilaku Attending Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup komponen kontak mata. c. Untuk lebih jelasnya. Teknik Umum Teknik umum merupakan teknik konseling yang lazim digunakan dalam tahapantahapan konseling dan merupakan teknik dasar konseling yang harus dikuasai oleh konselor. a. sehat dan dinamis. Menurunnya kecemasan klien Perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif. d. 2. dan bahasa lisan. Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara konseling.1. 1. c. Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak. Konselor bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proses konseling b. diantaranya : a. Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga. Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya. Menciptakan suasana yang aman . b. Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya Pada tahap akhir ditandai beberapa hal. Teknik-Teknik Konseling Dalam konseling perorangan terdapat dua jenis teknik yang biasa dilakukan. Pemahaman baru dari klien tentang masalah yang dihadapinya.

mata melotot. Tangan : variasi gerakan tangan/lengan spontan berubah-ubah. diam (menanti saat kesempatan bereaksi).3. 5. Contoh ungkapan empati primer : ” Saya dapat merasakan bagaimana perasaan Anda”. senyum 3. Kepala : kaku 2. Keikutan konselor tersebut membuat klien tersentuh dan . dengan tujuan agar klien dapat terlibat dan terbuka. Empati tingkat tinggi. Memutuskan pembicaraan. tidak melihat saat klien sedang bicara. Mendengarkan : aktif penuh perhatian. pikiran dan keinginan klien. ” Saya dapat memahami pikiran Anda”. yaitu bentuk empati yang hanya berusaha memahami perasaan. Empati dilakukan sejalan dengan perilaku attending. Contoh perilaku attending yang baik : 1. Ekspresi wajah : tenang. ekspresi melamun. b. yaitu empati apabila kepahaman konselor terhadap perasaan. Contoh perilaku attending yang tidak baik : 1. tanpa perilaku attending mustahil terbentuk empati. Posisi tubuh : tegak kaku. Perhatian : terpecah. merasa dan berfikir bersama klien dan bukan untuk atau tentang klien. jarak antara konselor dengan klien agak dekat. Posisi tubuh : agak condong ke arah klien. duduk akrab berhadapan atau berdampingan. Empati Empati ialah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien. mudah buyar oleh gangguan luar. miring. b. Kepala : melakukan anggukan jika setuju 2. 4. menunggu ucapan klien hingga selesai. Muka : kaku. ” Saya mengerti keinginan Anda”. 5. ceria. menggunakan tangan sebagai isyarat. mengalihkan pandangan. bersandar. pikiran keinginan serta pengalaman klien lebih mendalam dan menyentuh klien karena konselor ikut dengan perasaan tersebut. duduk kurang akrab dan berpaling. yaitu : a. Empati primer. perhatian terarah pada lawan bicara. Terdapat dua macam empati. Mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas. menggunakan tangan untuk menekankan ucapan. jarak duduk dengan klien menjauh. 3. 4. berbicara terus tanpa ada teknik diam untuk memberi kesempatan klien berfikir dan berbicara.

Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan.” 3. yaitu keterampilan atau teknik untuk dapat memantulkan perasaan klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. pengalaman termasuk penderitaannya. pikiran.” ” Barangkali yang akan Anda utarakan adalah. Refleksi pengalaman.terbuka untuk mengemukakan isi hati yang terdalam.(kiasan)” ” Adakah yang Anda maksudkan... yaitu teknik untuk memantulkan ide.” ” Hal itu rupanya seperti ... berupa perasaan. Terdapat tiga jenis refleksi..” ” Barangkali Anda merasa.. pikiran. Refleksi perasaan.. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan adalah ..” ” Adakah yang Anda maksudkan........ Refleksi Refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentang perasaan..” d. dan pendapat klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien... Eksplorasi . Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan suatu. dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbalnya. pikiran.” ” Adakah yang Anda maksudkan peristiwa. c..” 2.. Contoh ungkapan empati tingkat tinggi : ”Saya dapat merasakan apa yang Anda rasakan.. yaitu teknik untuk memantulkan pengalamanpengalaman klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Refleksi pikiran..” ” Barangkali yang akan Anda utarakan adalah. dan saya ikut terluka dengan pengalaman Anda itu”. yaitu : 1.

yaitu teknik untuk dapat menggali perasaan klien yang tersimpan. Seperti halnya pada teknik refleksi. Eksplorasi pikiran. menutup diri. dan mengamati respons klien terhadap konselor. yaitu keterampilan atau teknik untuk menggali pengalaman-pengalaman klien.Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan. Contoh : ” Saya terkesan dengan pengalaman yang Anda lalui Namun saya ingin memahami lebih jauh tentang pengalaman tersebut dan pengaruhnya terhadap pendidikan Anda” e. Dapatkah Anda menguraikannya lebih lanjut ? 3.. Hal ini penting dilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin. pikiran. dan pendapat klien. yaitu teknik untuk menggali ide. atau tidak mampu mengemukakan pendapatnya. Eksplorasi perasaan. Dapat Anda kemukakan lebih lanjut ?” 2. biasanya ditandai dengan kalimat awal : adakah atau nampaknya. mengungkapkan kalimat yang mudah dan sederhana. pikiran. Dengan teknik ini memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut. Contoh : ” Bisakah Anda menjelaskan apa perasaan bingung yang dimaksudkan . tertekan dan terancam.. Menangkap Pesan (Paraphrasing) Menangkap Pesan (Paraphrasing) adalah teknik untuk menyatakan kembali esensi atau initi ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama klien.” ” Saya kira rasa sedih Anda sangat mendalam. Tujuan paraphrasing adalah : (1) untuk mengatakan kembali kepada klien bahwa konselor bersama dia dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan klien. Contoh : ” Saya yakin Anda dapat menjelaskan lebih lanjut ide Anda tentang sekolah sambil bekerja” ” Saya kira pendapat Anda mengenai hal itu baik. dan pengalaman klien. yaitu : 1.. Eksplorasi pengalaman. terdapat tiga jenis dalam teknik eksplorasi. (2) mengendapkan apa yang dikemukakan klien dalam .

Contoh : ” Apakah Anda merasa ada sesuatu yang ingin kita bicarakan ? ” ” Bagaimana perasaan Anda saat ini ?” ” Dapatkah Anda mengemukakan hal itu lebih lanjut ?” g. terus.. dalam hal-hal tertentu dapat pula digunakan pertanyaan tertutup. lebih baik gunakan kata tanya apakah. jika dia tidak tahu alasan atau sebab-sebabnya. Contoh dialog : Klien Konselor f. ..... akan tetapi saya tidak mengambilnya.. Oleh karenanya.” Pertanyaan Terbuka (Opened Question) Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk memancing siswa agar mau berbicara mengungkapkan perasaan. yang harus dijawab dengan kata Ya atau Tidak atau dengan kata-kata singkat. pengalaman dan pemikirannya dapat digunakan teknik pertanyaan terbuka (opened question).. dan (4) pengecekan kembali persepsi konselor tentang apa yang dikemukakan klien. bagaimana. ya. : ” Empat ” : ” Sekarang berapa ? ” : ” Sebelas ” Konselor Klien Konselor Klien h. adakah.. Tujuan pertanyaan tertutup untuk : (1) mengumpulkan informasi.Misalnya dengan menggunakan ungkapan : oh. (3) memberi arah wawancara konseling. Pertanyaan Tertutup (Closed Question) Dalam konseling tidak selamanya harus menggunakan pertanyaan terbuka. Pertanyaan yang diajukan sebaiknya tidak menggunakan kata tanya mengapa atau apa sebabnya.bentuk ringkasan .. (2) menjernihkan atau memperjelas sesuatu.. : ” Itu suatu pekerjaan yang baik. lalu.... Contoh dialog : Klien : ”Saya berusaha meningkatkan prestasi dengan mengikuti belajar kelompok yang selama ini belum pernah saya lakukan”. Dorongan minimal (Minimal Encouragement) Dorongan minimal adalah teknik untuk memberikan suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikemukakan klien. Pertanyaan semacam ini akan menyulitkan klien. dan (3) menghentikan pembicaraan klien yang melantur atau menyimpang jauh..dan. Saya tidak tahu mengapa demikian ? ” : ” Tampaknya Anda masih ragu.. : ”Biasanya Anda menempati peringkat berapa ? ”. dapatkah.

.. Mengarahkan (Directing) Yaitu teknik untuk mengajak dan mengarahkan klien melakukan sesuatu. dan saya nyaris. : ” Saya putus asa. Membantu orang tua memang harus..” : ” Bisakah Anda mencobakan di depan saya.” Konselor j. maka dibutuhkan manusia Indonesia yang berkualitas.Tujuan dorongan minimal agar klien terus berbicara dan dapat mengarah agar pembicaraan mencapai tujuan.” : ” nekad bunuh diri” : ” lalu. Saya tak dapat lagi menahan diri..” Konselor . Klien : ” Ayah saya sering marah-marah tanpa sebab. Misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor atau menghayalkan sesuatu... Contoh dialog : Klien : ” Saya pikir dengan berhenti sekolah dan memusatkan perhatian membantu orang tua merupakan bakti saya pada keluarga. Akhirnya terjadi pertengkaran sengit. Interpretasi Yaitu teknik untuk mengulas pemikiran. Terutama hidup di kota besar seperti Anda. perasaan dan pengalaman klien dengan merujuk pada teori-teori. bukan pandangan subyektif konselor. Contoh dialog : Klien Konselor Klien Konselor i. dengan tujuan untuk memberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dari hasil rujukan baru tersebut. Dorongan ini diberikan pada saat klien akan mengurangi atau menghentikan pembicaraannya dan pada saat klien kurang memusatkan pikirannya pada pembicaraan atau pada saat konselor ragu atas pembicaraan klien.. Karena tantangan masa depan makin banyak. namun mungkin disayangkan jika orang seperti Anda yang tergolong akan meninggalkan SMA”. karena adik-adik saya banyak dan amat membutuhkan biaya.. ” (klien menghentikan pembicaraan) : ” ya. bagaimana sikap dan kata-kata ayah Anda jika memarahi Anda.” : ” Pendidikan tingkat SMA pada masa sekarang adalah mutlak bagi semua warga negara.

konselor seyogyanya dapat membantu klien agar dia dapat menentukan apa yang fokus masalah. Contoh : ” Setelah kita berdiskusi beberapa waktu alangkah baiknya jika simpulkan dulu agar semakin jelas hasil pembicaraan kita.k. namun masih ada hambatan yang akan hadapi. Memimpin (leading) Yaitu teknik untuk mengarahkan pembicaraan dalam wawancara konseling sehingga tujuan konseling . Pada umumnya dalam wawancara konseling. yaitu : sikap orang tua Anda yang menginginkan Anda segera menyelesaikan studi. tekad Anda untuk bekerja sambil kuliah makin jelas. Contoh dialog : Klien Konselor :” Saya mungkin berfikir juga tentang hubungan dengan pacar. Ada beberapa yang dapat dilakukan. Menyimpulkan Sementara (Summarizing) Yaitu teknik untuk menyimpulkan sementara pembicaraan sehingga arah pembicaraan semakin jelas. (4) mempertajam fokus pada wawancara konseling. (2) menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap. Mengenai pacaran apakah termasuk dalam kerangka kepedulian Anda juga ?” m. Mungkin Anda tinggal merinci kepedulian itu. Fokus pada diri klien. Contoh : . Tapi bagaimana ya?” masalah : ” Sampai ini kepedulian Anda tertuju kuliah kuliah sambil bekerja. Dari materi materi pembicaraan yang kita diskusikan. (3) meningkatkan kualitas diskusi. Oleh karena itu. kita sudah sampai pada dua hal: pertama. klien akan mengungkapkan sejumlah permasalahan yang sedang dihadapinya.” l. diantaranya : 1. Tujuan menyimpulkan sementara adalah untuk : (1) memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik dari hal-hal yang telah dibicarakan. Misalnya dengan mengatakan : ” Apakah tidak sebaiknya jika pokok pembicaraan kita berkisar dulu soal hubungan Anda dengan orang tua yang kurang harmonis ”. kedua. dan waktu bekerja yang penuh sebagaimana tuntutan dari perusahaan yang akan Anda masuki. Fokus Yaitu teknik untuk membantu klien memusatkan perhatian pada pokok pembicaraan.

” Tampaknya Anda berjuang sendirian” 2. Contoh : ” Roni.” Tanti. Fokus mengenai budaya. (3) dilakukan dengan perilaku attending dan empati. tapi kelihatannya ada yang tidak beres” ”Saya melihat ada perbedaan antara kenyataan diri ”. Penggunaan teknik ini hendaknya dilakukan secara hati-hati. senyum dengan kepedihan. Konfrontasi Yaitu teknik yang menantang klien untuk melihat adanya inkonsistensi antara perkataan dengan perbuatan atau bahasa badan. Contoh dialog : Klien Konselor : ” Saya baik-baik saja”. ide awal dengan ide berikutnya. Terangkanlah tentang dia dan apa yang telah dilakukannya ?” 3. Anda tidak yakin apa yang akan Anda lakukan ”. Menjernihkan (Clarifying) ucapan dengan . 4. konflik.” :” Anda mengatakan baik-baik saja.” n. (3) membawa klien kepada kesadaran adanya diskrepansi. yaitu dengan : (1) memberi komentar khusus terhadap klien yang tidak konsisten dengan cara dan waktu yang tepat. Fokus pada orang lain. dan sebagainya. posisi tubuh gelisah). Fokus pada topik. wajah murung. Contoh: ” Mungkin budaya menyerah dan mengalah pada laki-laki harus diatas sendiri oleh kaum wanita. Tujuannya adalah : (1) mendorong klien mengadakan penelitian diri secara jujur. o. atau kontradiksi dalam dirinya. (2) meningkatkan potensi klien. Contoh : ” Pengguguran kandungan ? Kamu memikirkan aborsi ? Pikirkanlah masak-masak dengan berbagai pertimbangan”. (suara rendah. Wanita tak boleh menjadi obyek laki-laki.(2) tidak menilai apalagi menyalahkan. telah membuat kamu menderita.

Tujuannya adalah (1) menanti klien sedang berfikir.... (2) agar klien menjelaskan.” Konselor p. Tujuannya adalah : (1) mengundang klien untuk menyatakan pesannya dengan jelas... dan pengalamannya secara bebas Contoh : ” Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya. kurang jelas dan agak meragukan. komunikasi yang terjadi dalam bentuk perilaku non verbal.. (3) jika klien kehilangan arah pembicaraan...... Memudahkan (facilitating) Yaitu teknik untuk membuka komunikasi agar klien dengan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan... Contoh dialog : Klien Konselor Klien Konselor r.. Diam Teknik diam dilakukan dengan cara attending. (2) jika klien lambat berfikir untuk mengambil keputusan.. tidak tahu.... (3) menunjang perilaku attending dan empati sehingga klien babas bicara. (2) sevagai protes jika klien ngomong berbelit-belit. :”... Saya tidak mengerti siapa yang menjadi pemimpin di rumah itu. dan dengan alasan-alasan yang logis. :”Saya tidak senang dengan perilaku guru itu” :”. Contoh: .. dan kurang parisipatif. sering diam... karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya. Contoh dialog : Klien : ” Perubahan yang terjadi di keluarga saya membuat saya bingung.harus bagaimana..... atau saudara-saudara Anda. mengulang dan mengilustrasikan perasaannya. ungkapan kata-kata yang tegas. pikiran. Konselor mengajak klien untuk berinisiatif dalam menuntaskan diskusi. ibu.” (diam) :” Saya.. Teknik ini bertujuan : (1) mengambil inisiatif jika klien kurang semangat. paling lama 5 – 10 detik. Saya.” : ”Bisakah Anda menjelaskan persoalan pokoknya ? Misalnya peran ayah..” (diam) Mengambil Inisiatif Teknik ini dilakukan manakala klien kurang bersemangat untuk berbicara...” q.Yaitu teknik untuk menjernihkan ucapan-ucapan klien yang samar-samar.

dalam hal-hal tertentu dapat menggunakan teknik-teknik khusus. (3) pemahaman baru klien. Teknik-Teknik Khusus Dalam konseling. Pemberian informasi Sama halnya dengan nasehat. Contoh : ” Mengenai berapa biaya masuk ke Universitas Pendidikan Indonesia. Coba Anda renungkan kembali”. u. di samping menggunakan teknik-teknik umum. Kalau pun konselor mengetahuinya. saya pikir Anda mempunyai satu keputusan namun masih belum keluar. Walaupun demikian. terutama mengenai kecemasan. apakah tidak lebih baik jika Anda mulai menyusun rencana yang baik berpedoman hasil pembicaraan kita sejak tadi ” v. Sebab dalam memberi nasehat tetap dijaga agar tujuan konseling yakni kemandirian klien harus tetap tercapai. dan (4) pokok-pokok yang akan dibicarakan selanjutnya pada sesi berikutnya. Menyimpulkan Teknik ini digunakan untuk menyimpulkan hasil pembicaraan yang menyangkut : (1) bagaimana keadaan perasaan klien saat ini.upi. perbuatan yang produktif untuk kemajuan klien. (2) memantapkan rencana klien. jika dipandang masih perlu dilakukan konseling lanjutan. jika konselor tidak memiliki informasi sebaiknya dengan jujur katakan bahwa dia mengetahui hal itu. konselor tetap harus mempertimbangkannya apakah pantas untuk memberi nasehat atau tidak. sebaiknya tetap diupayakan agar klien mengusahakannya. 2. Teknik-teknik khusus ini . Merencanakan Teknik ini digunakan menjelang akhir sesi konseling untuk membantu agar klien dapat membuat rencana tindakan (action). saya sarankan Anda bisa langsung bertanya ke pihak UPI atau Anda berkunjung ke situs www. s. Contoh : ” Nah. dalam hal seperti ini saya yakin Anda lebih mengetahuinya dari pada saya. Contoh respons konselor terhadap permintaan klien : ” Apakah hal seperti ini pantas saya untuk memberi nasehat Anda ? Sebab.” t. Memberi Nasehat Pemberian nasehat sebaiknya dilakukan jika klien memintanya.” Baiklah.com di internet”.

b. c. dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung. . Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. Latihan Asertif Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. yaitu : a. kesulitan menyatakan tidak. Pembentukan Perilaku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk Perilaku baru pada klien. model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis perilaku yang hendak dicontoh. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. Jadi desensitisasi sistematis hakekatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Esensi teknik ini adalah menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang perilaku model. Perilaku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. Rational Emotive Theraphy. Gestalt dan sebagainya Di bawah disampaikan beberapa teknik – teknik khusus konseling. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap.dikembangkan dari berbagai pendekatan konseling. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya perilaku yang tidak dikehendaki kemunculannya. seperti pendekatan Behaviorisme. dapat menggunakan model audio. model fisik. d.

Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “. Kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung. dan saya bertanggung jawab atas ketidaktahuan itu”. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog. 3. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” “Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang. Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan. Dalam teknik bermain proyeksi . f. Kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak. Sering terjadi.. misalnya : 1. Bermain Proyeksi Proyeksi :  Memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya  Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain.dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. Melalui dialog yang kontradiktif ini. Misalnya : “Saya merasa jenuh.e. 4. g. perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya.. Kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah. Kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh”. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”. Kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. 5. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu” Meskipun tampaknya mekanis. “Saya malas. 2.

Bertahan dengan Perasaan Teknik ini dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. h. mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru. klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis. Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor. i. . mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaanperasaan yang dikeluhkannya. Home work assigments. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perilaku yang diharapkan.konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan hal-hal yang diproyeksikan kepada orang lain. Dengan tugas rumah yang diberikan. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan perilaku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. membiasakan diri. j. Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingkah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu.

k. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif. dan merencanakan masa depan. D. d. Fungsi bimbingan dan konseling yang menghasilkan kondisi pembelaaan terhadap pengingkaran atas hak-hak dan/atau kepentingan pendidikan. dan bimbingan karier. bimbingan belajar. mendorong. l. Adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. Bimbingan dan konseling merupakan upaya untuk membantu mengatasi masalahmasalah yang dihadapi peserta didik. keluarga dan masyarakat. berdasarkan normanorma yang berlaku. Pemahaman dan pencegahan Pengembangan Advokasi Pengentasan 3. Di bawah ini merupakan pengertian bimbingan dan konseling. baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku yang diinginkan. d. 2. Latihan : Soal : 1. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. b. Bimbingan dan konseling merupakan layanan bantuan untuk peserta didik. bimbingan sosial. Bimbingan dan konseling merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. a. c. c. m. Prinsip bimbingan dan konseling berkenaan dengan sasaran layanan . kecuali : a. dalam bimbingan pribadi. Bimbingan dan konseling merupakan proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum di sekolah. mengenal lingkungan. b. melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung.

Bimbingan dan konseling melayani semua individu tanpa memandang usia. c. Oleh karena itu. d. b. a. a. 6. kemandirian. Petugas bimbingan yang profesional Data yang lengkap dan memadai Bekerja sama dengan kalangan profesional lainnya a. Bimbingan dan konseling diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu secara mandiri membimbing diri sendiri. c. Memperoleh keterangan yang lebih lengkap tentang klien dan membangun komitmen dari para peserta konferensi dalam rangka pengentasan masalah klien. Di bawah ini merupakan beberapa asas yang harus dipenuhi dalam layanan bimbingan dan konseling. Mencari cara yang terbaik guna menyelamatkan kepentingan dan nama baik klien maupun sekolah. Tujuan dilaksanakan kegiatan konferensi kasus. keahlian kegiatan. b. b. dan c benar Orientasi dan Informasi Konseling Perorangan dan Konseling Kelompok Pembelajaran dan Bimbingan Kelompok Penempatan 5. suku. Jenis layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. Orientasi Informasi Konseling Perorangan Pembelajaran 7. Kegiatan pendukung yang dilakukan guru atau konselor. d. d. c. b. kedinamisan. a. setiap layanan yang diberikan kepada peserta didik hendaknya didukung oleh : a. b. keterbukaan. b. c. Program bimbingan dan konseling harus fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan. alih tangan kasus. apabila kasus yang ditangani berada diluar kemampuan atau kewenangannya. sukarela. d. c. 4. tut wuri handayani a. jenis kelamin. a. kekinian. agama dan status sosial. a. Pengambilan keputusan yang diambil oleh klien hendaknya atas kemauan diri sendiri b. dan c benar 9. c. Layanan bimbingan dan konseling yang memiliki fungsi pemahaman dan pencegahan. d.a. d. b. Kunjungan rumah Konferensi kasus Alih tangan kasus Aplikasi instrumentasi data . Bimbingan dan konseling merupakan pekerjaan ilmiah. kerahasiaan. c. d. dan c benar 8. b. b. a. Membangun komitmen dari para peserta konferensi dalam rangka penegakan disiplin sekolah. keterpaduan kenormatifan.

14. Permainan dialog c. Identifikasi kasus Diagnosis Prognosis Treatment 12. ”Anda mengatakan baik-baik saja. Dapat Anda kemukakan lebih lanjut ?” d. a. Guru pembimbing/konselor Guru dan wali kelas Polisi a. ”Saya dapat memahami pikiran Anda”. Penanganan peserta didik yang menunjukkan permasalahan atau perilaku menyimpang tingkat ringan.” b. dapat dilakukan oleh : a. Memperjelas dan mendefinisikan masalah. Jelaskan peran Kepala Sekolah dan Guru Mata Pelajaran dalam Bimbingan dan Konseling ! 3. c. Home work assigments Uraian 1. Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanperasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. d. karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya. b dan c benar 11. ”Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya. seperti bolos. c. d. b. c. b. a. kecuali a. Contoh ungkapan penggunaan teknik konfrontasi : a. Upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. Bermain peran d. b. b. d. tapi kelihatannya ada yang tidak beres”. Di bawah ini merupakan hal-hal yang perlu dilakukan pada tahap awal konseling. Analisis Kasus : . a.10. ” Saya kira rasa sedih Anda sangat mendalam. Imitasi b. c. Jelaskan orientasi baru bimbingan dan konseling ! 2. Aversi Desensitisasi Latihan asertif Pembentukan Perilaku Model 15. Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih. Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). berkelahi dengan teman. Membuat penaksiran dan perjajagan 13. Teknik konseling dengan menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. c. Mengapa guru pembimbing (konselor) perlu menjaga kerahasiaan data klien ? 4. d.

Melihat kondisi demikian. Selama bulan Februari 2006. dia telah menjadi anak yatim dan semenjak itu dia hidup bersama dengan kakek-neneknya.Fulan seorang siswa kelas XI SMA Negeri 1 Nunjauh Disana. Sementara itu. sang ibu sudah satu tahun ini pergi merantau ke Malaysia menjadi TKI di sana namun jarang memberi khabar apalagi memberi kiriman uang untuk anaknya. dia suka nongkrong di terminal. tanpa alasan yang jelas. hampir terjadi pada semua mata pelajaran. Bahkan Andi. dia pernah meraih predikat sebagai Siswa Berprestasi seKecamatan Nunjauh Disana dan pernah menjadi Juara Pertama Lomba Nyanyi AnakAnak se. Padahal ketika masih duduk di kelas X kehadirannya termasuk bagus.Kabupaten Nun Jauh Disana. pernah menyaksikan dia dalam keadaan teler di terminal dan sempat meminta paksa uang kepadanya. Tugas : Tuntaskan kasus tersebut di atas dengan memperhatikan dan menggunakan prinsipprinsip dan prosedur bimbingan dan konseling ! . tercatat sudah tujuh hari dia tidak masuk kelas. Berdasarkan catatan absensi yang ada di wali kelas. bahwa jika dia tidak masuk kelas. prestasi belajarnya sungguh sangat tidak memuaskan. dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan. Ketika dia masih duduk dibangku SD. prestasinya malah jauh berada di atas kawan-kawannya. kecuali untuk Mata Pelajaran Kesenian. pada semester yang lalu dia sering tidak masuk sekolah. jika dibiarkan tentunya Fulan sangat beresiko tinggi untuk tidak naik kelas bahkan mungkin dikeluarkan dari sekolah. kawan sekelasnya. Dalam buku Laporan Pendidikan semester yang lalu. Berdasarkan informasi dari rekan sekelasnya. Ketika dia masih duduk di bangku kelas VIII SMP.

Remaja Rosdakarya. Psikologi Belajar. 2002 . New York : McMillan H. Panduan Pembelajaran KBK.1992. ---------. 2005. Kamus Lengkap Psikologi.org/ standards/fivecore. Konsep. Jakarta : Dirjen Dikdasmen. Jakarta : PPPG Sumadi Suryabrata. 2003.2005. 1980.Konseling Individual. Willis. Bandung : Lab. Publishing. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti --------. E. 31 Oct 2002). Psikologi Kepribadian. Remaja Rosdakarya. 2004. dkk. Bandung : Alfabeta Sudarwan Danim.nbpts. 2003. Learning & Instruction. Jakarta : P. Dasar Standarisasi Profesi Konseling.Bandung : P. Elizabeth B. Hurlock. Arifin. Nana Syaodih Sukmadinata. Remaja Rosdakarya. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. 2004. 2003. (terj. Inovasi Pendidikan : Dalam Upaya Meningkatkan Profesionalisme Tenaga Kependidikan.2003.T. Implementasi Kurikulum 2004. Mulyasa. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Jakarta : Depdiknas. Sofyan S. <http://www. Bandung : Pustaka Setia. Jakarta. Supratiknya).T.html>.DAFTAR PUSTAKA Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Hall & Gardner Lidzey (editor A. NBPTS Home Page. Bandung PPB . Calvin S. Gendler. J. dkk.. 1984.IKIP Bandung. Sugiharto. Teori dan Praktek. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Jakarta : PT Raja Grafindo. 1997.2003. Developmental Phsychology.(2005. Surya. Five Core Propositions. Teori-Teori Psiko Dinamik (Klinis) : Jakarta : Kanisius Chaplin. Depdiknas. PT Golden Terayon Press. SMP dan SMA. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling. Raja Grafindo Persada. Pedoman Penyelenggaraaan Program Percepatan Belajar SD. New Yuork : McGraw-Hill Book Company Moh. Theory Into Practice. Margaret E. 2004. Psikologi Pendidikan. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). PPB-UPI Bandung . (Accessed. Jakarta : Rineka Cipta. National Board for Professional Teaching Standards. 2004. 2005. Prayitno. Muhibbin Syah. Bandung : P. 2004. Sunaryo Kartadinata.T. 2002.P. Bandung : P. Kurikulum Berbasis Kompetensi.Karakteristik dan Implementasi.T. Jakarta : Rajawali. Inventori Tugas Perkembangan.M. Kartini Kartono). Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling. ----------.

Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. 2003.. Yogyakarta : Adi Cita. Bandung : PT Rosda Karya Remaja.id.go.puskur. .Suyanto dan Djihad Hisyam. Refleksi dan Reformasi Pendidikan Indonesia Memasuki Millenium III. 2000. Syamsu Yusuf LN. www.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful