BERWISATA DI DANAU-DANAU KECIL

Lelaki itu menggandeng anak perempuannya di tepian satu danau kecil di wilayah Depok, Jawa Barat. “Ini namanya refreshing sambil mengasuh anak,”kata Erman Supratman (32), yang sore itu mengajak anaknya Asyiah (6). Danau yang mereka kunjungi bernama Situ Pengasinan. Situ, atau setu, adalah danau dalam bahasa Sunda. Tempat ini ramai dikunjungi penduduk sekitar, terutama pada sore hari. Para pengunjung biasanya keluarga, kelompok remaja atau pasangan-pasangan muda. Mereka datang dan bermain di tepi danau, memancing, atau mengayuh wahana air semacam sepeda air, dengan badan yang dibentuk bermacam binatang, seperti bebek atau kuda laut. Wahana air ini tampak lucu dan efektif menggoda pengunjung untuk menaiki. Sementara itu, pengeras suara menyenandungkan lagu-lagu dangdut terbaru, dan aroma kuah bakso mengisi ruang di tepian situ. Situ Pengasinan berukuran kurang lebih delapan hektar. Danau kecil ini adalah satu dari sekitar 200 danau kecil yang tersebar di wilayah Jabotabek. Pada dasarnya wilayah Parahyangan memang memiliki banyak sekali danau kecil, yang bermanfaat sebagai pemelihara cadangan air tanah dimusim kemarau, serta menjaga agar arus banjir terkendali di musim hujan. Di dekat kampus Universitas Indonesia, Depok, misalnya, terdapat situ yang tampak asri dikelilingi pepohonan. Danau ini memberikan nuansa alam yang khusus kepada kampus dan lingkungan sekitar. Situ Babakan, terkenal karena masyarakat asli Betawi yang hidup tepat di sekitar danau tersebut. Konon legenda si Pitung pun berasal dari sini. Di wilayah dekat kampus Institut Pertanian Bogor, di Darmaga, Situ Gede, danau kecil seluas kurang lebih 15 hektar, yang berdampingan dengan hutan penelitian kehutanan milik IPB, seluas kurang lebih 800 hektar. Sejumlah danau merupakan danau alami,walaupun ada pula yang secara sengaja dibangun pada jaman Belanda, sebagai reservoir air. Meski ada yang dapat tetap lestari dan hingga kini berfungsi baik, tetapi banyak pula di antara danau-danau ini kemudian mengalami kerusakan dan pendangkalan, hingga akhirnya tak terlihat lagi bahwa pernah ada situ di tempat itu. Hancurnya danau terkadang menimbulkan bencana, seperti yang pernah terjadi pada Situ Gintung, hampir dua tahun lalu. Gugurnya satu dinding danau mengakibatkan tumpahnya air danau yang mengakibatkan korban jiwa serta kerusakan yang tidak sedikit. Berbagai

media menyebutkan bahwa salah satu persoalan adalah pemeliharaan rutin dari Situ Gintung kurang diperhatikan. Hancurnya ekosistem situ, dapat diakibatkan oleh pendangkalan, alih fungsi, dan pencemaran. Di Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, terdapat Situ Salabenda dan Situ Kaliangke yang terancam mengalami kekeringan karena pendangkalan yang terus terjadi.. Situ Pengasinan pun sebenarnya mengalami nasib yang tak berbeda dengan situ-situ yang pernah bernasib sial. Menurut Hasan Yakup, ketua kelompok kerja Situ Pengasinan, dahulu danau ini berukuran sekitar 17 hektar. Sekitar tahun 1990, salah satu dinding situ mengalami kerusakan, bahkan hingga gugur dan mengakibatkan air situ tumpah. Untungnya tak ada korban jiwa, karena wilayah yang dibanjiri adalah kebun, sawah dan kolam ikan milik penduduk. Akibatnya, cadangan air situ menurun drastis dan sebagian lahan situ mengering. Alih-alih diperbaiki, situ yang mengering ini kemudian malah dimanfaatkan penduduk untuk bersawah, beternak ikan bahkan menanam pisang. Karena terbengkalai dan tak terpelihara, Situ Pengasinan semakin mengecil. Harapan perbaikan baru muncul sekitar tahun 1996, ketika pemerintah mulai aktif merehabilitasi situ-situ yang rusak. Pada saat perbaikan situ hendak dilakukan, pemerintah kemudian membentuk pokja (kelompok kerja) untuk berhubungan dengan penduduk yang memanfaatkan lahan bekas situ. Tak ada kesulitan, penduduk kembali menyerahkan lahan situ. Ketika selesai diperbaiki, pokja ini mulai berfikir untuk memanfaatkan situ bagi keperluan pariwisata. “Dari wisata itu, diperkirakan ada pemasukan biaya untuk pemeliharaan situ,”kata Hasan Yakup. Pokja pun menghubungi pihak pemerintah kota dan Depok.Sambil menghubungi pemerintah, mereka pun menggalang dana bersama. 20 orang mengumpulkan uang dan membeli empat wahana air berbentuk bebek. Merekalah para investor pertama dari pariwisata rakyat ini. Hingga saat ini, warga menyebut wahana air sebagai “bebekbebekan”. Warga Pengasinan mengambil referensi keberhasilan dari pengelolaan Situ yang sudah dilakukan selama ini, seperti yang ada di situ Bojongsari. Selain itu, sejumlah aktivis LSM juga aktif mendampingi warga sebagai teman diskusi. Animo warga ini mendorong Dinas Pariwisata memberikan bantuan enam wahana air berbentuk kuda laut. Bentuk beda, nama sama: warga tetap menyebutnya “bebekbebekan”. Jadilah kini mereka memiliki sepuluh bebek-bebekan. Pengunjung menyewa bebek seharga Rp. 7000 per 15 menit. Saat ini pokja membentuk manajemen khusus untuk pengelolaan tempat wisata. Setelah lima tahun beroperasi, kini ada sekitar 80 pemegang saham yang memiliki 27 bebekbebekan. Bebek pun menjadi “satuan unit pemasukan”. Total setiap hari mereka mendapatkan pemasukan rata-rata 100 hingga 150 bebek. Di hari Sabtu dan Minggu

mereka dapat membukukan pemasukan 300 bebek, bahkan bisa sampai 500 bebek Ini artinya pemasukan sekitar 25 juta rupiah per bulan. Dengan segala kisah kekompakan warganya, Situ Pengasinan memang merupakan satu contoh keberhasilan pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat. Terdapat warga tiga desa yang terlibat langsung dalam organisasi kelompok kerja ini. Di samping memperoleh manfaat berupa pemasukan dari sector wisata, para penduduk sekitar juga memperoleh penghasilan dengan berjualan makanan, alat pancing, atau mainan anak. “Sehari, kalau bersih ya dapat cepek lah,”kata Oyong (70) seorang pemilik warung. Cepek artinya seratus (ribu) rupiah. Akibat yang tak kalah menguntungkan adalah kondisi air tanah. “Sesudah situ diperbaiki, sumur selalu ada air, dan tidak perlu tidak gali dalam-dalam lagi,”ujar Alih Syafrudin, seorang petani ikan, yang berumah sekitar 1 km dari Situ Pengasinan. Sebelum Situ Pengasinan kembali berfungsi, Alih sempat menggunakan pompa untuk mendapatkan air tanah dalam. “Situ berfungsi, listrik jadi irit,” kata Alih. Situ Pengasinan memang bukan satu-satunya kisah sukses. Sejumlah situ yang lain, seperti Situ Bojongsari dan situ Citayam, di Depok, Situ Gede di Bogor, juga dikelola dengan cara yang mirip dengan Situ Pengasinan. Pengelola Bebek-bebekan di Situ Bojongsari diserahkan kepada sebuah yayasan panti asuhan, agar mereka dapat memperoleh pemasukan. Hal ini menunjukkan, bahwa pengelolaan pariwisata dapat dilakukan bersama oleh dan untuk masyarakat, bila diorganisasikan dengan baik, melalui perencanaan dan kesepakatan yang baik. Kerja keras aparat birokrasi untuk menyediakan dukungan dan motivasi awal, tampaknya menjadi salah satu kunci keberhasilan. Satu-satunya persoalan dalam pengelolaan semacam ini adalah standar pemeliharaan situ. Masih ada saja sampah plastic di sekitar situ, menunjukkan kurangnya perhatian terhadap kebersihan lingkungan. Selain itu, masih terlihat pemuda-pemuda bersenapan angin yang berburu burung yang sudah sangat sedikit. Keinginan dan kemampuan yang sudah ditunjukan warga untuk mengelola dan menjaga kelestarian situ, sebaiknya juga disertai kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan yang memadai mengenai pemeliharaan ekosistem danau/situ. Pelatihan bagi kalangan muda dan masyarkat sekitar danau/situ tampaknya dapat dilakukan untuk memenuhi tantangan pemeliharaan lingkungan. Mudah-mudahan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful