You are on page 1of 12

GENERAL BUSINESS ENVIRONMENT

Cloud Computing Yang Berorientasi Pada Pasar


Topik: Technological Environment (Information Technology)
Dosen: Prof. Dr. Jazi Eko Istiyanto M.Sc.

Disusun Oleh:

Yohan Suryanto Pramono (10 / 310533 / PEK / 15410)

MAGISTER BISNIS FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS GADJAH MADA 2011

Abstrak Cloud computing merupakan teknologi yang berasal dari implementasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang bertujuan untuk mendapatkan utilitas komputasi optimal dengan konsep bahwa sumber informasi adalah sebuah layanan yang diberikan dalam teknologi tersebut. Cloud computing yang berorientasi pada pasar sangat dibutuhkan saat ini karena merupakan penurunan dari penelitian komputasi yang terdahulu seperti Service Oriented Architecture (SOA), komputasi terdistribusi, grid, dan virtualization. Sehingga cloud computing mewarisi keunggulan dan keterbatasan pada teknologi yang mengacu pada pelayanan pasar terseut. Makalah ini menjabarkan komputasi abad ke-21 dengan cara: mengidentifikasi berbagai macam paradigma komputasi yang memberikan visi utilitas komputasi, mendefinisikan Komputasi Awan (Cloud Computing), menjelaskan infrastruktur pasar yang berorientasi pada awan dengan memanfaatkan teknologi VM, menjelaskan strategi manajemen sumber informasi berbasis pasar yang mencakup manajemen pelanggan berbasis layanan dan manajemen risiko komputasi untuk mempertahankan alokasi sumber informasi pada SLA, menyajikan penjelasan Cloud platform yang telah dikembangkan di industri yang berorientasi pada alokasi sumber informasi generasi ke-3, menjelaskan interkoneksi Awan yang secara dinamis menciptakan atmosfer komputasi untuk komunitas riset di masa depan, dan yang terakhir adalah menyimpulkan persaingan TI untuk menyongsong abad ke-21. Cloud Computing ini dibahas dengan tujuan memberikan: pemahaman menyeluruh dalam bidang komputasi, pemahaman proses adopsinya yang cepat, pemahaman teknologi yang dapat merancang portal dan gateway pada cloud computing secara efisien, dan pemahaman tentang fasilitas-fasilitas yang mempunyai pendekatan komputasi terbaru di lingkungan bisnis

perusahaan. Selanjutnya, komputasi ini akan membantu komunitas ilmiah dalam mempercepat kontribusi dan wawasannya dalam bidang komputasi.

A. Pendahuluan Dengan kemajuan masyarakat manusia modern, pada umumnya layanan esensial dapat diakses dengan mudah seperti layanan utilitas: air, listrik, gas, dan telepon yang memenuhi kebutuhan sehari-hari sehingga layanan ini harus tersedia kapanpun konsumen membutuhkannya. Tahun 1969, Leonard Kleinrock[1], salah satu kepala ilmuwan Advanced Research Projects Agency Network (ARPANET) yang mengerjakan proyek Internet, mengatakan "Sampai sekarang, jaringan komputer masih tergolong dalam tahap awal penggunaan, tetapi ketika jaringan mulai tumbuh dan canggih, kita akan melihat penyebaran utilitas komputer layaknya seperti air, listrik dan telepon." Visi utilitas komputasi ini berdasarkan model layanan yang mendukung transformasi besar-besaran komputasi seluruh industri abad ke-21 dimana layanan komputasi ini seperti layanan utilitas lain yang tersedia di masyarakat. Pengguna jasa komputasi ini membayar penyedia (provider) ketika mereka mengaksesnya. Selain itu, konsumen tidak perlu berinvestasi, membangun dan memelihara infrastruktur teknologi informasi yang kompleks. Praktisi software menghadapi tantangan baru dalam menciptakan perangkat lunak untuk digunakan oleh jutaan konsumen sebagai layanan. Sehingga, paradigma komputasi kemudian dimunculkan disertai dengan kemajuan teknologi seperti multicore proceesors dan jaringan komputasi. Seperti yang ditunjukkan dalam gambar 1, yang termasuk paradigma komputasi baru adalah: cluster computing, grid computing, P2P computing, service computing, market-oriented computing, dan komputasi awan yang paling baru. Semua paradigma tersebut menyediakan kemampuan untuk mewujudkan utilitas pada industri komputasi senilai $1 triliun seperti dikutip oleh pendiri Sun Microsystems, Bill Joy[2]. Layanan komputasi harus handal, terukur, dan dapat mendukung akses di mana-mana, dinamis dan composability. Secara khusus, konsumen dapat menentukan tingkat pelayanan yang diperlukan melalui parameter Quality of Service (QoS) dan Service Level Agreements (SLA). Dari semua paradigma komputasi, dua yang paling menjanjikan adalah komputasi Grid dan Komputasi awan. Komputasi Grid[3] mendukung kegiatan berbagi informasi, seleksi, dan agregasi dari berbagai macam pendistribusian sumber informasi termasuk super komputer, sistem penyimpanan, sumber data, dan perangkat khusus yang dimiliki oleh organisasi-organisasi dalam memecahkan masalah sumber informasi berskala besar dalam ilmu pengetahuan, teknik dan perdagangan. Adanya kekuatan Grid, kemudahan dalam penggunaan, dan kehandalan[4], motivasi dari komputasi Grid pada awalnya didorong oleh aplikasi ilmiah komputasi dan data dalam skala besar yang membutuhkan banyak informasi dari satu komputer (PC, workstation, superkomputer, atau cluster) yang disediakan dalam administratif domain. Komputasi grid telah dianggap sebagai revolusi berikutnya setelah Internet dan Web. Saat ini paradigma baru yang muncul adalah cloud computing[5] menjanjikan layanan handal, disajikan melalui pusat data yang dibangun dengan teknologi virtualisasi dan penyimpanan. Sehingga konsumen dapat mengakses aplikasi dan data "Cloud" dari mana saja.

Gambar 1. Berbagai paradigma yang menjanjikan TI sebagai layanan. B. Rumusan Masalah Dengan semakin dibutuhkannya layanan TI dalam menjawab tantangan bisnis perusahan dimasa mendatang, penulis mencoba menjabarkan paradigma grid computing dan cloud computing dengan berbagai atributnya dalam mendukung kebutuhan pasar. Penjabaran tersebut dijelaskan dalam 4 hal, yaitu: 1. Kecenderungan Web Search 2. Infrastruktur Market-Oriented Cloud 3. Munculnya Cloud Platform 4. Global Cloud Exchange dan Pasar Sehingga dengan adanya platform komputasi yang ada di mana-mana, platform tersebut dapat digunakan untuk menciptakan pertukaran sumber informasi yang berorientasi pada pasar dan memberikan layanan pada pasar perdagangan. C. Landasan Teori Sejumlah peneliti komputasi dan praktisi berusaha mendefinisikan awan dengan berbagai cara[6]. Sehingga berdasarkan esensi layanan yang dijanjikan, definisi awan adalah: "Sistem paralel dan terdistribusi yang terdiri dari kumpulan interkoneksi dan virtualisasi komputer yang secara dinamis ditetapkan dan disajikan dalam satuan sumber daya informasi komputasi yang berdasarkan pada tingkat layanan perjanjian (SLA) yang dibentuk melalui negosiasi antara penyedia layanan dan konsumen." D. Kecenderungan Web Search Popularitas dari perbedaan paradigma akan bervariasi terhadap waktu seperti pencarian web yang diukur oleh Google selama 12 bulan terakhir mengenai cluster computing, Grid computing, cloud computing yang ditunjukkan pada gambar 2. Dari Google trend, dapat diamati bahwa cluster computing adalah istilah populer tahun 1990-an, awal tahun 2000 Grid computing menjadi populer, dan baru-baru ini cloud computing mendapatkan popularitas. Tanda titik-titik

pada Gambar 2 menunjukkan berita terkait dengan cloud computing yang ditunjukkan sebagai berikut: A. IBM Memperkenalkan Blue Cloud Computing, pengumuman CIO pada 15 November 2007. B. IBM, Uni Eropa Luncurkan Reservoir Research Initiative untuk cloud computing, berita IT Online pada 7 Februari 2008. C. Google dan Salesforce.com dalam kesepakatan cloud computing, Siliconrepublic.com pada 14 April 2008. D. Demystifying Cloud Computing, Intelligent Enterprise pada 11 Juni 2008. E. Realign dari Yahoo untuk mendukung cloud computing, inti strategi, San Antonio Business Journal pada 27 Juni 2008. F. Merrill Lynch memperkiraan cloud computing menjadi pangsa pasar senilai $100 Miliar, SYS-CON Media pada 8 Juli 2008.

Gambar 2. Tren pencarian web dengan Google pada 12 bulan terakhir. E. Infrastruktur Market-Oriented Cloud Konsumen bergantung pada penyedia cloud untuk memenuhi kebutuhan komputasi yang mensyaratkan QoS khusus dalam memenuhi tujuan dan operasi mereka. Penyedia awan perlu mempertimbangkan dan memenuhi parameter QoS yang berbeda dari setiap konsumen sesuai SLA. Untuk mencapai hal ini, penyedia awan tidak lagi menggukan sistem pengelolaan sumber informasi tradisional namun mengatur sumber informasi yang berorientasi pada pasar[7] khususnya pasokan dan permintaan. Cloud pada pasar seimbang memberikan umpan balik dalam bentuk insentif ekonomi baik dari konsumen maupun penyedia dan mempromosikan mekanisme QoS berbasis alokasi informasi yang dapat membedakan permintaan layanan berdasarkan utilitasnya. Gambar 3 menunjukkan infrastruktur yang mendukung alokasi sumber informasi yang berorientasi pada pasar dalam pusat data dan awan. Pada dasarnya ada empat entitas yang terlibat dalam infrastruktur ini:

Users/Brokers: Pengguna atau broker mengajukan permintaan layanan darimana saja ke pusat data dan awan untuk diproses. SLA Resource Allocator: Pengalokasi sumber informasi SLA bertindak sebagai antarmuka antara pusat data / penyedia layanan awan dan pengguna eksternal / broker. Hal ini membutuhkan beberapa mekanisme interaksi: 1) Service request examiner and admission control: mekanismenya adalah ketika permintaan layanan diajukan, pemeriksa permintaan layanan dan admisi menafsirkan terlebih dulu pengajuan persyaratan QoS sebelum menentukan apakah akan menerima atau menolak permintaan. Mereka memastikan bahwa tidak ada sumber informasi yang overload. 2) Pricing: mekanisme harga menentukan bagaimana permintaan layanan dikenakan biaya. Misalnya, permintaan dapat dikenakan biaya berdasarkan waktu penyerahan, harga tarif atau ketersediaan sumber informasi. Harga berfungsi sebagai dasar untuk mengelola penawaran dan permintaan sumber informasi komputasi ini. 3) Accounting: mekanisme akuntansi mengawasi penggunaan aktual sumber informasi berdasarkan permintaan sehingga biaya dapat dihitung dan dibebankan ke pengguna. 4) VM Monitor: mekanisme monitor VM melacak ketersediaan VMs dan sumber informasi. 5) Dispatcher: mekanisme dispatcher melakukan permintaan layanan pada VMs yang telah dialokasikan. 6) Service Request Monitor: mekanisme pemantauan ini dengan melacak kemajuan pelaksanaan permintaan layanan. VMs: Beberapa VMs dimulai dan dihentikan secara dinamis untuk memenuhi permintaan layanan, sehingga memberikan fleksibilitas untuk mengkonfigurasi berbagai sumber informasi pada mesin yang sama dengan persyaratan khusus. Selain itu, beberapa VMs secara bersamaan dapat menjalankan aplikasi berbasis sistem operasi yang berbeda. Physical Machines: Pusat data dari peralatan penyimpan data terdiri dari beberapa server komputasi yang menyediakan informasi untuk memenuhi kebutuhan layanan. Dalam pembahasan awan sebagai penawaran komersial untuk operasional bisnis perusahaan, parameter penting dari QoS yang dipertimbangkan dalam permintaan layanan adalah: waktu, kehandalan, biaya, dan kepercayaan / keamanan. Secara khusus, persyaratan QoS tidak tetap dan dapat diperbaharui secara dinamis karena adanya perubahan operasi bisnis dan lingkungan. Baru-baru ini dikembangkan mekanisme negosiasi yang berdasarkan pada alternatif protokol untuk membangun SLA[8]. Protokol ini mempunyai potensi untuk mengadopsi mereka kedalam sistem cloud computing yang dibangun menggunakan VMs. Sehingga diperlukan adanya penawaran komersial pada awan yang berorientasi pada pasar yang mempunyai kriteria: Mendukungan manajemen pelayanan berbasis pelanggan berdasarkan profil pelanggan dan persyaratan permintaan layanan. Mendefinisikan rencana manajemen risiko komputasi dengan mengidentifikasi, menilai, dan mengelola risiko yang terlibat dalam pelaksanaan aplikasi dengan berdasarkan pada persyaratan pelayanan dan kebutuhan pelanggan.

Mendapatkan strategi manajemen sumber informasi yang mencakup manajemen pelayanan yang berorientasi pada pelanggan dan manajemen resiko komputasi untuk mempertahankan SLA yang berorientasi pada alokasi sumber informasi. Menggabungkan model pengelolaan sumber informasi yang secara efektif dapat merubah dan mengelola sendiri sesuai persyaratan layanan untuk memenuhi tuntutan dan kewajiban layanan yang ada sekarang. Memanfaatkan teknologi VM untuk mengembangkan sumber informasi yang secara dinamis sesuai dengan persyaratan layanan.

Gambar 3. Infrastruktur awan yang berorientasi pada pasar. F. Munculnya Cloud Platform Analis industri telah membuat proyeksi tentang bagaimana cloud computing akan mengubah seluruh industri komputasi. Menurut catatan penelitian Merrill Lynch[9] baru-baru ini, pasar cloud computing diharapkan akan mempunyai peluang pasar senilai $160 miliar, termasuk $95 miliar aplikasi bisnis dan produktivitas, dan $65 miliar untuk iklan online. Studi penelitian oleh Morgan Stanley[10] juga mengidentifikasikan cloud computing sebagai salah satu tren teknologi yang menonjol. Dengan pergeseran platform industri komputasi yang menuju ke arah penyediaan layanan melalui software layanan untuk konsumen dan perusahaan dalam mengakses permintaan yang terlepas dari waktu dan lokasi, akan ada peningkatan jumlah platform awan. Baru-baru ini, beberapa akademis dan organisasi industri telah menyelidiki serta

mengembangkan platform teknologi dan infrastruktur untuk Cloud Computing. Upaya akademik meliputi ruang kerja virtual[11] dan OpenNebula[12]. Pada bagian ini, penulis membandingkan enam platform awan dengan hubungan industrial pada Tabel 1. Amazon Elastic Compute Cloud (EC2) [13] menyediakan lingkungan komputasi virtual yang memungkinkan pengguna menjalankan aplikasi berbasis Linux. Pengguna dapat membuat Amazon Machine Image (AMI) yang berisi aplikasi, perpustakaan, data dan pengaturan konfigurasi yang terkait, atau dapat memilih perpustakaan AMI yang tersedia secara global. Setelah dibuat, pengguna harus mengunggah AMIS ke Amazon Simple Storage (S3) sebelum ia memulai, menghentikan, dan memantau aplikasinya.

Tabel 1. Perbandingan beberapa platform representasi dari Cloud. Amazon EC2 mengenakan biaya pada pengguna untuk waktu aktif dalam mengakses, sedangkan Amazon S3 mengenakan biaya untuk transfer data (upload dan download). Google App Engine[14] memungkinkan pengguna untuk menjalankan aplikasi web yang ditulis dalam bahasa pemrograman Python. Selain mendukung standar perpustakaan Python, Google App Engine juga mendukung aplikasi pemrograman antarmuka untuk gudang data, akun Google, URL, rekayasa gambar, dan layanan email. Google App Engine juga menyediakan konsol administrasi berbasis web bagi pengguna untuk mengelola aplikasi web-nya yang sudah berjalan. Saat ini, Google App

Engine gratis digunakan sampai dengan penyimpanan 500MB dan tampilan halaman sekitar 5 juta perbulan. Microsoft Live Mesh[15] bertujuan memberikan lokasi terpusat bagi pengguna untuk menyimpan aplikasi dan data yang diakses dari seluruh perangkat yang diperlukan dari mana saja. Pengguna dapat mengakses aplikasi dan data yang telah diunggah melalui Web-based Live Dekstop atau perangkat sendiri dengan perangkat lunak Live Mesh. Setiap pengguna Live Mesh dilindungi dengan sandi dan dikonfirmasi melalui Login Windows Live, sementara semua transfer arsip (file) dilindungi dengan menggunakan Secure Socket Layer. Sun network.com (Sun Grid)[16] memungkinkan pengguna untuk menjalankan Solaris OS, Java, C, C + +, dan aplikasi berbasis FORTRAN. Pengguna harus membangun aplikasi dan script runtime pada lokasi yang dikonfigurasi agar serupa dengan Sun Grid. Kemudian, pengguna harus menciptakan archive zip (yang berisi semua script, perpustakaan, eksekusi binari dan masukan data) dan mengunggahnya ke SunGrid. Akhirnya, pengguna dapat melaksanakan dan memantau aplikasi dengan menggunakan portal web Sun Grid atau API. Setelah aplikasi selesai, pengguna perlu mengunduh hasil eksekusi untuk pengembangan lebih lanjut. Grids Lab Aneka[17], yang dikomersialkan melalui Manjrasoft, adalah platform yang dirancang untuk mendukung beberapa model aplikasi, solusi keamanan, dan komunikasi protokol yang dapat diubah kapan saja tanpa mempengaruhi sebuah sistem Aneka yang ada. Untuk membuat Grid, penyedia layanan hanya perlu memulai hosting Aneka yang dikonfigurasikan pada setiap layanan komputer desktop. Tujuan dari Aneka adalah menginisialisasi layanan dan berinteraksi dengan Grid. Aneka menyediakan dukungan SLA seperti tenggat waktu dan anggaran. Pengguna dapat mengakses Grids Lab Aneka dari jarak jauh melalui broker Gridbus. Broker ini memungkinkan pengguna untuk bernegosiasi dan menyetujui persyaratan QoS yang disediakan oleh penyedia layanan. G. Global Cloud Exchange dan Pasar Bidang usaha saat ini menerapkan layanan cloud untuk meningkatkan skalabilitas layanan dan menyediakan tuntutan sumber informasi. Namun saat ini, penyedia layanan memiliki harga yang tidak fleksibel, umumnya terbatas pada tarif flat atau tarif yang berdasarkan batas penggunaan. Banyak penyedia mempunyai interface untuk layanan mereka yang membuat konsumen tidak dapat melakukan memilih atau tukar-menukar layanan dengan penyedia lain. Untuk komputasi awan diperlukan pelayanan yang mengikuti standar antar muka. Hal ini memungkinkan layanan untuk dapat pasarkan dan membuka jalan bagi terciptanya infrastruktur pasar untuk perdagangan jasa seperti contoh model pasar pada gambar 4. Adanya petunjuk pasar memungkinkan pengguna mencari penyedia dengan tawaran harga yang tepat. Juru lelang (Auctioneer) secara berkala menjelaskan penawaran dan permintaan dari peserta pasar. Sistem perbankan memastikan bahwa transaksi keuangan yang berkaitan dengan perjanjian antara peserta telah dilakukan. Broker menengahi antara konsumen dan penyedia dengan membeli kapasitas dari penyedia dan mensub-leasingkan ini untuk konsumen.

Gambar 4: Global Cloud Exchange dan infrastruktur pasar untuk layanan perdagangan. Konsumen, broker dan penyedia telah terikat dengan kebutuhan serta kompensasi mereka melalui SLA. SLA menentukan rincian jasa yang akan disediakan dan disepakati oleh semua pihak serta ada hukuman bagi yang melanggarnya. Pasar tersebut dapat menjembatani antara cloud yang berbeda sehingga memungkinkan konsumen memilih operator yang sesuai dengan persyaratan. Penyedia dapat menggunakan pasar dalam rangka melakukan perencanaan kapasitas yang efektif. Penyedia mempunyai mekanisme pengaturan dan penetapan harga untuk sumber informasi berdasarkan kondisi pasar, permintaan pengguna, dan tingkat pemanfaatan sumber informasi. Broker mendapatkan utilitas mereka melalui perbedaan antara harga yang dibayar konsumen dan penyedia sumber informasi. Oleh karena itu, broker harus memilih para pengguna yang aplikasinya dapat memberikan utilitas maksimum. Broker berinteraksi dengan penyedia sumber informasi dan broker lain untuk mendapatkan atau untuk menjual sumber informasi. Mereka dilengkapi dengan modul negosiasi yang sesuai dengan kondisi sumber informasi dan permintaan saat ini untuk membuat keputusan. Konsumen memiliki fungsi utilitas sendiri seperti tenggat waktu, keabsahan hasil, dan aplikasi perputaran waktu dari informasi yang didapatkan. Mereka dibatasi oleh jumlah sumber informasi karena masalah anggaran yang terbatas. Konsumen juga mempunyai batasan infrastruktur TI mereka sendiri yang tidak sepenuhnya diberitakan ke Internet. Oleh karena itu, konsumen berpartisipasi dalam pasar utilitas melalui pengelolaan sumber informasi dengan memilih satu broker berdasarkan penawaran mereka. Dia membentuk SLA dengan broker yang mengikat untuk menyediakan sumber informasi. Baru-baru ini, banyak proyek penelitian seperti SHARP[18], Tycoon[19], Bellagio[20], dan Shirako[21] muncul dalam format struktur pasar perdagangan untuk alokasi sumber informasi.

Mereka fokus pada perdagangan di VM berdasarkan jaringan infrastruktur seperti pada Planet Lab. Proyek Gridbus juga menciptakan sumber informasi broker yang mampu bernegosiasi dengan penyedia informasi sehingga teknologi pasar utilitas sudah hadir dan siap digunakan. H. Kesimpulan Cloud menjadi kombinasi antara cluster dan Grid yang merupakan generasi baru pusat data yang mempunyai prinsip virtualisasi dalam teknologi hypervisor VM yang ditetapkan sesuai dengan SLA dan dapat diakses sebagai layanan composable melalui teknologi Web 2.0. Cloud computing menjanjikan pemberian layanan TI sebagai utilitas komputasi. Dengan dirancangnya cloud dalam memberikan layanan ke pengguna, penyedia perlu diberikan kompensasi karena telah berbagi sumber informasi dan kemampuan mereka. Infrastruktur awan yang berorientasi pada pasar alokasi sumber informasi mempunyai keterbatas pada: dukungan yang berorientasi pada pengelolaan pasar sumber informasi, negosiasi QoS antara pengguna dan penyedia untuk membangun SLA, mekanisme dan algoritma untuk alokasi sumber informasi VM dalam memenuhi SLA, dan pengelolaan risiko terkait dengan pelanggaran SLA. Selanjutnya, interaksi protokol harus diperluas untuk mendukung interoperabilitas antara penyedia layanan cloud yang berbeda. Sebagaimana diketahui bahwa platform awan yang sudah beredar, platform digunakan untuk menciptakan pertukaran awan global yang berorientasi pada pasar dalam memberikan layanan perdagangan. Visi ini perlu diwujudkan bagi mereka yang berperan dalam infrastruktur TI. Mereka adalah: pembuat pasar yang menyediakan layanan kepada konsumen, pendata pasar yang menerbitkan penyediaan layanan cloud, rumah kliring dan broker untuk pemetaan permintaan layanan ke penyedia yang dapat memenuhi QoS, dan manajemen pembayaran dan infrastruktur akuntansi untuk layanan perdagangan. Daftar Pustaka 1) Kleinrock. L, A vision for the Internet, ST Journal of Research, November 2005. 2) "INSIDE TRACK: The high-tech rebels", Financial Times, London, 06 Sept. 2002, accessed 20 August 2011 at http://www.search.ft.com/nonFtArticle?id=02090600 0371. 3) Foster and Kesselman. C, "The Grid: Blueprint for a Future Computing Infrastructure", Morgan Kaufmann, San Francisco, USA, 1999. 4) Chetty. M and Buyya, R, "Weaving Computational Grids: How Analogous Are They with Electrical Grids?", Computing in Science and Engineering, July 2002. 5) Weiss, "Computing in the Clouds", netWorker, Dec. 2007. 6) "Twenty Experts Define Cloud Computing", accessed 21 August 2011 at

http://www.cloudcomputing.syscon. com/read/612375_p.htm.

7) Buyya. R, Abramson. D and Venugopal, S, "The Grid Economy", Proceedings of the IEEE, IEEE Press, USA, March 2005. 8) Venugopal. S, Chu. X and Buyya. R, "A Negotiation Mechanism for Advance Resource Reservation using the Alternate Offers Protocol", In Proceedings of the 16th International Workshop on Quality of Service (IWQoS 2008), Twente, The Netherlands, June 2008. 9) Hamilton, "Cloud computing seen as next wave for technology investors", Financial Post, 04 June 2008, accessed 22 August 2011 at http://www.financialpost.com/money/story.html. 10) Morgan. S, "Technology Trends", 12 June 2008, Accessed 23 August 2011 at

http://www.morganstanley.com/institutional/techresearch/pdfs. 11) Keahey, Foster. I, Freeman. T, and Zhang. X, "Virtual workspaces: Achieving quality of service and quality of life in the Grid", Scientific Programming, October 2005, 12) Llorente, OpenNebula Project, Accesed 24 August 2011 at http://www.opennebula.org. 13) Amazon Elastic Compute Cloud (EC2), Accesed 25 August 2011 at http://www.amazon.com. 14) Google App Engine, Accesed 26 August 2011 at http://www.appengine.google.com. 15) Microsoft Live Mesh, Accesed 27 August 2011 at http://www.mesh.com. 16) Sun network.com (Sun Grid), 3 September 2011 http://www.network.com. 17) Chu. X, Nadiminti. K, Jin. C, Venugopal. S, and Buyya. R, "Aneka: Next-Generation Enterprise Grid Platform for e-Science and e-Business Applications". Proceedings of the 3th IEEE International Conference on e-Science and Grid Computing, India, December 2007. 18) Fu. Y, Chase. J, Chun. B, Schwab. S, and Vahdat. A. "SHARP: an architecture for secure resource peering", ACM SIGOPS Operating Systems Review, December 2003. 19) Lai, Rasmusson. L, Adar. E, Zhang. L, and Huberman. A, "Tycoon: An implementation of a distributed, market-based resource allocation system", Multiagent & Grid Systems, 2005. 20) AuYoung, Chun. B, Snoeren. A, and Vahdat. A, "Resource allocation in federated distributed computing infrastructures", Proceedings of the 1st Workshop on Operating System and Architectural Support for the Ondemand IT Infrastructure, USA, October 2004. 21) Irwin. E, Chase. J. S, Grit. L. E, Yumerefendi. A. R, Becker. D, and Yocum. K, "Sharing networked resources with brokered leases. In Proceedings of the 2006 USENIX Annual Technical Conference (USENIX 2006)", Boston, USA, June 2006.