Catatan Kuliah (4 sks

)
MT 303 Geometri Analitika
(Revisis Terakhir: Agustus 2009)
Oleh:
Didit Budi Nugroho, S.Si., M.Si.
Program Studi Matematika
Fakultas Sains dan Matematika
Universitas Kristen Satya Wacana
Daftar Isi
1 Tinjauan 1
1.1 Koordinat Kartesius . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1
1.2 Jarak antara Dua Titik . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3
1.3 Garis Lurus . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4
1.4 Koordinat Kutub . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 13
1.5 Persamaan-persamaan Parameter dan Kurva . . . . . . . . . . . . . . . 15
2 Irisan-irisan Kerucut 22
2.1 Irisan Bidang dari Suatu Kerucut . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 22
2.2 Eksentrisitas . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 24
3 Lingkaran 26
3.1 Persamaan Lingkaran . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 26
3.2 Persamaan Garis Singgung . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 28
4 Parabola 33
4.1 Persamaan Baku . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 33
4.2 Latus Rectum . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 38
4.3 Persamaan Parameter . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 38
4.4 Garis Singgung . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 39
4.5 Sifat-sifat Parabola . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 41
4.6 Persamaan Kutub . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 44
i
Bab 1
Tinjauan
Dalam bab ini didiskusikan kembali tentang koordinat geometri dalam dua dimensi dan
geometri dari garis lurus. Di sini kita melihat bagaimana meletakkan dan melabelkan
titik pada bidang Kartesius, dan juga menggambar gra…k dari beberapa persamaan
atau pertidaksamaan yang sederhana. Kita juga akan melihat bagaimana menghitung
jarak antara dua titik, membentuk berbagai persamaan dari suatu garis, menghitung
jarak suatu titik ke suatu garis, dan sudut antara dua garis. Pada bagian akhir diperke-
nalkan kembali mengenai sistem koordinat kutub dan persamaan-persamaan parame-
ter.
1.1 Koordinat Kartesius
Titik pada suatu bidang dapat diidenti…kasi dengan pasangan terurut dari bilangan-
bilangan real. Kita mulai dengan menggambar dua garis koordinat tegak lurus yang
berpotongan di titik asal O(0, 0). Biasanya satu garis adalah mendatar dengan arah
positif ke kanan dan dinamakan sumbu r. Garis lainnya adalah tegak dengan arah
positif ke atas dan dinamakan sumbu j.
-3 -2 -1 1 2 3 4 5
O
1
2
3
4
-1
-2
-3
-4
P(a,b)
a
b
-3 -2 -1 1 2 3 4 5
O
1
2
3
4
-1
-2
-3
-4
x
y
x
y
(1,3)
(-2,2)
(-3,-2)
(2,-4)
(5,0)
(a) (b)
I II
III IV
Gambar 1.1: Peletakan dan pelabelan titik.
1
Bab 1. Tinjauan 2
Sembarang titik 1 pada bidang dapat dinyatakan oleh suatu pasangan terurut tunggal
dari bilangan-bilangan seperti berikut ini. Digambar garis-garis yang melalui 1 dan
tegak lurus terhadap sumbu r dan j. Garis-garis tersebut memotong sumbu-sumbu
di titik-titik dengan koordinat a dan / seperti ditunjukkan dalam Gambar 1.1(a). Se-
lanjutnya titik 1 ditetapkan dengan pasangan terurut (a, /). Bilangan pertama a di-
namakan koordinat r dari 1, bilangan kedua / dinamakan koordinat dari j dari 1.
Kita mengatakan bahwa 1 adalah titik dengan koordinat (a, /), dan kita menotasikan
titik tersebut dengan simbol 1 (a, /). Dalam Gambar 1.1(a) beberapa titik diberikan
dengan koordinat-koordinatnya.
Dengan membalikkan proses sebelumnya kita bisa mulai dengan suatu pasangan terurut
(a, /) dan sampai di titik 1 yang berkorespondensi. [Meskipun notasi yang digunakan
untuk interval terbuka (a, /) sama seperti notasi yang digunakan untuk suatu titik
(a, /), anda akan mampu untuk mengetahui konteks mana yang dimaksudkan di sini.]
Dari pembahasan di atas dipunyai suatu sistem koordinat, yaitu suatu sistem untuk
menentukan titik-titik menggunakan koordinat-koordinat, yang terdiri dari dua garis
bilangan real yang saling tegak lurus dan ditempatkan sedemikian sehingga berpotong-
an di suatu titik yang menyatakan bilangan nol untuk keduanya. Sistem koordinat
tersebut dinamakan sistem koordinat persegi panjang atau sistem koordinat
Kartesius dalam dua dimensi. Nama Kartesius berkaitan dengan matematikawan Pe-
rancis bernama René Descartes (1596-1650, Latin: Cartesius) yang memperkenalkan-
nya pada tahun 1637. Bidang yang disediakan oleh sistem koordinat dinamakan bidang
koordinat atau bidang Kartesius dan dinotasikan dengan
R
2
= ¦(r, j) : r, j ¸ R¦ = R R,
dimana R = (÷·, ·) menotasikan suatu interval atau himpunan dari semua bilangan
real. Dalam pasangan terurut (r, j), bilangan pertama r dinamakan absis (abscissa),
sedangkan bilangan kedua j dinamakan ordinat (ordinate).
Sumbu-sumbu koordinat r dan j membagi bidang Kartesius menjadi empat kwadran
yang dilabelkan I, II, III, dan IV seperti dalam Gambar 1.1(b). Dicatat bahwa kwadran
I terdiri dari titik-titik dimana sumbu r dan j adalah positif.
Contoh 1.1 Gambarkan dan buat sketsa dari daerah yang diberikan oleh himpunan-
himpunan berikut ini.
(a) ¦(r, j) : r _ 0¦ (/) ¦(r, j) : j = 1¦ (c) ¦(r, j) : [j[ < 1¦
Penyelesaian.
(a) Titik dimana koordinat r adalah 0 atau positif, yaitu terletak pada sumbu j atau
ke arah kanannya seperti yang dinyatakan oleh daerah arsiran dalam Gambar
1.2(a).
(b) Himpunan dari semua titik dengan koordinat j adalah 1, yaitu dinyatakan oleh
suatu garis mendatar satu satuan di atas sumbu r (lihat Gambar 1.2(b)).
(c) Dari aljabar dipunyai
[j[ < 1 jika hanya jika ÷1 < j < 1.
Bab 1. Tinjauan 3
Daerah yang diberikan terdiri dari titik-titik dalam bidang dimana koordinat
j terletak antara ÷1 dan 1. Jadi daerah tersebut terdiri dari semua titik yang
terletak di antara (tetapi tidak pada) garis mendatar j = 1 dan j = ÷1. [Garis-
garis tersebut ditunjukkan seperti garis putus-putus dalam Gambar 1.2(c) untuk
menyatakan bahwa titik-titik pada garis tersebut tidak masuk dalam himpunan.]

O x
y
0 (a) ≥ x
O x
y
y = 1
O x
y
y = 1
y = -1
1 (b) = y 1 (c) < y
Gambar 1.2: Penyelesaian untuk Contoh 1.1.
1.2 Jarak antara Dua Titik
Ketika koordinat-koordinat dari dua titik 1
1
(r
1
, j
1
) dan 1
2
(r
2
, j
2
) diketahui, jarak
antara dua titik, dinotasikan [1
1
1
2
[, dapat dicari dengan mudah.
O
x
y
2
y
1
P
1
(x
1
,y
1
)
x
1
x
2
P
2
(x
2
,y
2
)
P
3
(x
2
,y
1
)
1 2
x x −
1 2
y y −
2 1
P P
y
Gambar 1.3: Jarak antara dua titik 1
1
dan 1
2
.
Digambarkan koordinat-koordinat dari 1
1
dan 1
2
, dan digambar ruas garis 1
1
1
3
tegak
lurus terhadap 1
3
1
2
(lihat Gambar 1.3). Dari aljabar dipunyai bahwa jarak antara
titik a dan / pada suatu garis bilangan adalah [a ÷/[ = [/ ÷a[. Jadi, jarak antara titik
1
1
(r
1
, j
1
) dan 1
3
(r
2
, j
1
) pada suatu garis mendatar sama dengan [r
2
÷r
1
[, dan jarak
antara titik 1
2
(r
2
, j
2
) dan 1
3
(r
2
, j
1
) pada suatu garis tegak sama dengan [j
2
÷j
1
[.
Untuk mencari jarak [1
1
1
2
[, kita mencatat bahwa segitiga 1
1
1
2
1
3
dalam Gambar
1.3 adalah suatu segitiga siku-siku, dan karena itu dengan Teorema Pythagoras kita
Bab 1. Tinjauan 4
mempunyai
[1
1
1
2
[ =
_
[1
1
1
3
[
2
+[1
2
1
3
[
2
=
_
[r
2
÷r
1
[
2
+[j
2
÷j
1
[
2
=
_
(r
2
÷r
1
)
2
+ (j
2
÷j
1
)
2
. (1.1)
Contoh 1.2 Secara cepat, jarak antara (1, ÷2) dan (5, 3) sama dengan
_
(5 ÷1)
2
+ (3 ÷(÷2))
2
=
_
4
2
+ 5
2
=
_
41.

Contoh 1.3 Diambil ¹(r
1
, j
1
), 1(r
2
, j
2
), dan C (r
3
, j
3
) adalah tiga titik pada bidang
Kartesius. Berapakah luas bidang datar dari segitiga ¹1C? Suatu cara untuk men-
jawab pertanyaan ini disarankan oleh gambar di bawah ini.
O x
y
A(x
1
,y
1
)
A′ C′ B′
C(x
3
,y
3
)
B(x
2
,y
2
)
Kita melihat bahwa
luas bidang datar dari segitiga ¹1C = luas bidang datar dari trapesium ¹
0
¹CC
0
+luas bidang datar dari trapesium C
0
C11
0
÷luas bidang datar dari trapesium ¹
0
¹11
=
1
2
(r
3
÷r
1
) (j
3
+j
1
) +
1
2
(r
2
÷r
3
) (j
2
+j
3
)
÷
1
2
(r
2
÷r
1
) (j
2
+j
1
)
=
1
2
[r
1
(j
2
÷j
3
) +r
2
(j
3
÷j
1
) +r
3
(j
1
÷j
2
)]
=
1
2
¸
¸
¸
¸
¸
¸
r
1
r
2
r
3
j
1
j
2
j
3
1 1 1
¸
¸
¸
¸
¸
¸
,
dimana tanda mutlak di sini menyatakan determinan dari matriks.
1.3 Garis Lurus
Di sini kita akan menggunakan kata "garis" untuk mengartikan suatu garis lurus.
Jika kita mempunyai dua titik, misalnya 1
1
(r
1
, j
1
) dan 1
2
(r
2
, j
2
), maka kita da-
pat menggambar satu dan hanya satu garis yang melalui kedua titik tersebut. Untuk
mencari persamaan dari garis tersebut, kita menggunakan kemiringannya, yaitu suatu
ukuran keterjalan dari garis.
Bab 1. Tinjauan 5
De…nisi 1.4 Kemiringan (slope) dari suatu garis tidak tegak yang melalui titik-titik
1
1
(r
1
, j
1
) dan 1
2
(r
2
, j
2
) yaitu
: =
j
r
=
j
2
÷j
1
r
2
÷r
1
. (1.2)
Kemiringan dari suatu garis tegak adalah tidak terde…nisi.
Jadi kemiringan dari suatu garis adalah rasio perubahan dalam j, j, terhadap per-
ubahan dalam r, r. (Lihat Gambar 1.4(a).) Oleh karena itu, kemiringan adalah laju
perubahan dari j terhadap r. Kenyataan bahwa garis adalah lurus mempunyai arti
bahwa laju perubahan adalah konstan.
O
x
P
1
(x
1
,y
1
)
P
2
(x
2
,y
2
)
1 2
x x x − = ∆
1 2
y y y − = ∆
y
l
O
x
y
m = 0
2
1
= m
m = 1
m = 2
m = 5
2
1
− = m
m = -1
m = -2
m = -5
(a) (b)
Gambar 1.4: Kemiringan garis.
Gambar 1.4(b) memperlihatkan beberapa garis yang dilabelkan dengan kemiringan-
nya. Dicatat bahwa garis-garis dengan kemiringan positif mempunyai arah naik ke
kanan, sedangkan garis-garis dengan kemiringan negatif mempunyai arah turun ke
kanan. Dicatat juga bahwa garis paling terjal adalah garis yang mempunyai nilai mu-
tlak kemiringan terbesar, dan suatu garis mendatar mempunyai kemiringan 0.
Bentuk titik-kemiringan dari persamaan garis.
Sekarang kita mencari persamaan garis | yang melalui suatu titik 1
1
(r
1
, j
1
) dan mem-
punyai kemiringan :. Suatu titik 1 (r, j), dengan r ,= r
1
, terletak pada garis | jika
hanya jika kemiringan dari garis yang melalui 1
1
dan 1 sama dengan :; artinya
j ÷j
1
r ÷r
1
= :.
Persamaan tersebut dapat dituliskan kembali menjadi
j ÷j
1
= :(r ÷r
1
) (1.3)
dan kita mengamati bahwa persamaan tersebut juga dipenuhi ketika r = r
1
dan j = j
1
.
Oleh karena itu, (1.3) adalah suatu persamaan dari garis | yang diberikan.
Contoh 1.5 Cari suatu persamaan garis yang melalui titik (÷1, 2) dan (3, ÷4).
Penyelesaian. Kemiringan dari garis adalah
: =
÷4 ÷2
3 ÷(÷1)
= ÷
3
2
.
Bab 1. Tinjauan 6
Dengan penggunaan bentuk (1.3) dimana r
1
= ÷1 dan j
1
= 2, kita memperoleh
j ÷2 = ÷
3
2
(r + 1)
yang disederhanakan menjadi
3r + 2j = 1.

Bentuk kemiringan-perpotongan dari persamaan garis.
Selanjutnya diandaikan suatu garis tidak tegak mempunyai kemiringan : dan memo-
tong j di /. (Lihat Gambar 1.5(a).) Ini berarti bahwa garis memotong sumbu j di titik
(0, /), sehingga bentuk titik-kemiringan dari persamaan suatu garis, dengan r
1
= 0 dan
j
1
= /, menjadi
j ÷/ = :(r ÷0) ,
yang disederhanakan menjadi
j = :r +/.
O
x
y
x = a
y = b
(a)
(b)
O x
y
b
y = mx+b
Gambar 1.5: Garis yang memotong sumbu j di / atau memotong sumbu r di a.
Secara khusus, jika suatu garis adalah mendatar, kemiringannya adalah 0, sehingga
persamaannya adalah j = /, dimana / adalah perpotongan garis dengan sumbu j
(lihat Gambar 1.5(b)). Suatu garis tegak tidak mempunyai kemiringan, tetapi kita
dapat menuliskan persamaannya seperti r = a, dimana a adalah perpotongan garis
dengan sumbu r, karena koordinat r dari setiap titik pada garis adalah a.
Contoh 1.6 Gambarkan gra…k dari ketaksamaan r + 2j 5.
Penyelesaian. Kita diminta untuk menggambarkan daerah dari himpunan
¦(r, j) : r + 2j 5¦
dan kita mulai dengan menyelesaikan ketaksamaan untuk j:
r + 2j 5
2j ÷r + 5
j ÷
1
2
r +
5
2
.
Bab 1. Tinjauan 7
Dibandingkan ketaksamaan di atas dengan persamaan j = ÷
1
2
r+
5
2
, yang menyatakan
suatu garis dengan kemiringan ÷
1
2
dan memotong sumbu j di
5
2
. Kita melihat bahwa
gra…k yang ditanyakan terdiri dari titik-titik dimana koordinat-koordinat j lebih besar
daripada titik-titik pada garis j = ÷
1
2
r+
5
2
. Jadi gra…knya adalah daerah yang terletak
di atas garis, seperti diilustrasikan dalam Gambar 1.6.
y
O x
5
2
5
Gambar 1.6: Penyelesaian untuk Contoh 1.6.
Garis-garis yang sejajar dan tegak lurus.
Kemiringan dapat digunakan untuk menunjukkan apakah garis-garis adalah sejajar
atau tegak lurus.
Proposisi 1.7
1. Dua garis tak tegak adalah sejajar jika hanya jika keduanya mempunyai kemiringan
yang sama.
2. Dua garis dengan kemiringan :
1
dan :
2
adalah tegak lurus jika hanya jika
:
1
:
2
= ÷1; artinya bahwa kemiringan satu garis adalah negatif kebalikan dari
yang lainnya:
:
2
= ÷
1
:
1
.
Contoh 1.8 Cari suatu persamaan dari garis yang melalui titik (5, 2) dan sejajar de-
ngan garis 4r + 6j + 5 = 0.
Penyelesaian. Garis yang diberikan dapat dituliskan dalam bentuk
j = ÷
2
3
r ÷
5
6
,
yang merupakan bentuk kemiringan-perpotongan dengan : = ÷
2
3
. Garis yang sejajar
mempunyai kemiringan sama, sehingga garis yang dicari mempunyai kemiringan ÷
2
3
dan persamaannya dalam bentuk titik-kemiringan adalah
j ÷2 = ÷
2
3
(r ÷5) .
Kita dapat menuliskannya kembali menjadi 2r + 3j = 16.
Contoh 1.9 Tunjukkan bahwa garis 2r + 3j = 1 dan 6r ÷ 4j ÷ 1 = 0 adalah tegak
lurus.
Bab 1. Tinjauan 8
Penyelesaian. Persamaan-persamaan yang diberikan dapat dituliskan kembali men-
jadi
j = ÷
2
3
r +
1
3
dan j =
3
2
r ÷
1
4
,
sehingga kita dapat melihat bahwa kemiringan dari garis-garis tersebut berturut-turut
adalah :
1
= ÷
2
3
dan :
2
=
3
2
. Karena :
1
:
2
= ÷1, kedua garis adalah tegak lurus.
Jarak dari suatu titik ke garis.
Sekarang diperhatikan suatu garis | yang dituliskan dalam bentuk
ar +/j +c = 0. (1.4)
Garis tersebut mempunyai kemiringan ÷
a
/
. Diambil 1
0
(r
0
, j
0
) adalah suatu titik pada
bidang Kartesius yang tidak perlu terletak pada garis |. Kita tertarik untuk mencari
jarak tegak lurus dari titik 1
0
ke garis, yaitu jarak [1
0
Q[. Berikut ini dilakukan suatu
trik untuk memudahkan pencarian tersebut dengan memperhatikan Gambar 1.7.
O
x
P
0
(x
0
,y
0
)
y
l
Q(x,y)
R
S
m
n
Gambar 1.7: Konstruksi garis dalam pencarian jarak tegak lurus dari suatu titik ke garis.
Dikonstruksi suatu garis : yang sejajar dengan garis | dan melalui titik 1
0
. Garis
: juga mempunyai kemiringan ÷
a
/
karena sejajar dengan garis |. Berikutnya, dikon-
struksi suatu garis : yang sejajar dengan 1Q dan melalui titik asal. Garis : ini akan
mempunyai kemiringan
/
a
karena tegak lurus dengan garis |. Perpotongan garis :
dengan garis : dinamakan titik 1, sedangkan perpotongan dengan garis | dinamakan
o. Kita akan mencari jarak [1o[ yang tentu saja sama dengan jarak [1
0
Q[ yang kita
inginkan pada awalnya.
Pertama kali dicari koordinat dari titik 1 yang merupakan perpotongan antara garis
: dan :. Karena garis : melalui (r
0
, j
0
) dan mempunyai kemiringan ÷
a
/
, maka
persamaannya adalah
j ÷j
0
= ÷
a
/
(r ÷r
0
) atau j =
÷ar +ar
0
+/j
0
/
.
Garis 1o mempunyai kemiringan
/
a
dan melalui (0, 0), sehingga persamaannya adalah
j =
/
a
r. Garis : berpotongan dengan garis 1o ketika
/
a
r =
÷ar +ar
0
+/j
0
/
.
Bab 1. Tinjauan 9
Diselesaikan persamaan terakhir untuk r, diperoleh
r =
a (ar
0
+/j
0
)
a
2
+/
2
.
Setelah disubstitusikan kembali ke j =
/
a
r, diperoleh koordinat titik 1 yaitu
_
a (ar
0
+/j
0
)
a
2
+/
2
,
/ (ar
0
+/j
0
)
a
2
+/
2
_
.
Berikutnya dicari koordinat dari titik o yang merupakan perpotongan antara garis
j =
/
a
r dan ar+/j+c = 0 (yang dapat dituliskan menjadi j = ÷
ar +c
/
). Perpotongan
tersebut terjadi ketika
/
a
r = ÷
ar +c
/
,
yang memberikan penyelesaian untuk r yaitu
r = ÷
ac
a
2
+/
2
.
Setelah disubstitusikan kembali ke j =
/
a
r, diperoleh koordinat titik o yaitu
_
÷
ac
a
2
+/
2
, ÷
/c
a
2
+/
2
_
.
Sekarang dihitung jarak [1o[, menggunakan rumus jarak (1.1), yaitu
[1o[ =
_
_
÷
ac
a
2
+/
2
÷
a (ar
0
+/j
0
)
a
2
+/
2
_
2
+
_
÷
/c
a
2
+/
2
÷
/ (ar
0
+/j
0
)
a
2
+/
2
_
2
=
_
(÷a (ar
0
+/j
0
+c))
2
+ (÷/ (ar
0
+/j
0
+c))
2
a
2
+/
2
=
_
(a
2
+/
2
) (ar
0
+/j
0
+c)
2
a
2
+/
2
=
_
(a
2
+/
2
)
a
2
+/
2
[ar
0
+/j
0
+c[
=
[ar
0
+/j
0
+c[
_
a
2
+/
2
.
Tanda nilai mutlak adalah perlu karena jarak haruslah bernilai positif, dan beberapa
kombinasi dari a, r
0
, /, j
0
, dan c dapat menghasilkan suatu bilangan negatif dalam
pernyataan ar
0
+ /j
0
+ c. Jadi, jarak dari titik 1
0
(r
0
, j
0
) ke garis ar + /j + c = 0
diberikan oleh
d =
[ar
0
+/j
0
+c[
_
a
2
+/
2
. (1.5)
Bab 1. Tinjauan 10
Contoh 1.10 Jarak tegak lurus dari titik (5, 6) ke garis ÷2r+3j+4 = 0, menggunakan
rumus jarak yang sudah diperoleh, yaitu
d =
[÷2 5 + 3 6 + 4[
_
(÷2)
2
+ 3
2
=
[12[
_
13
=
12
_
13
=
12
13
_
13.

Contoh 1.11 Untuk mencari jarak dari titik (÷3, 7) ke garis j =
6
5
r+2, pertama kali
dituliskan persamaan garis menjadi
6
5
r ÷ j + 2 = 0 atau 6r ÷ 5j + 10 = 0. Sekarang
digunakan rumus jarak yang sudah diperoleh untuk mendapatkan
d =
[6 (÷3) ÷5 7 + 10[
_
6
2
+ (÷5)
2
=
[÷43[
_
61
=
43
_
61
=
43
61
_
61.

Contoh 1.12 Suatu metode alternatif untuk mencari luas bidang datar dari segitiga
dalam Contoh 1.3 yaitu dengan mencatat bahwa luas bidang datar dari suatu segitiga
adalah
1
2
a|a: ti:qqi. Sebagai contoh, jika kita dapat mencari panjang dari sisi 1C
dan jarak tegak lurus dari ¹ ke 1C, maka kita dapat menghitung luas bidang datar
dari segitiga. Secara mudah,
[1C[
2
= (r
3
÷r
2
)
2
+ (j
3
÷j
2
)
2
.
Garis 1C mempunyai kemiringan
j
3
÷j
2
r
3
÷r
2
dan melalui titik (r
2
, j
2
), sehingga per-
samaannya adalah
j ÷j
2
=
j
3
÷j
2
r
3
÷r
2
(r ÷r
2
)
(r
3
÷r
2
) (j ÷j
2
) = (j
3
÷j
2
) (r ÷r
2
)
(r
3
÷r
2
) j ÷(r
3
÷r
2
) j
2
= (j
3
÷j
2
) r ÷(j
3
÷j
2
) r
2
,
yang dapat dituliskan menjadi
(j
3
÷j
2
) r ÷(r
3
÷r
2
) j + (r
3
÷r
2
) j
2
÷(j
3
÷j
2
) r
2
= 0.
Karena itu, jarak tegak lurus dari ¹ ke 1C yaitu
d =
[(j
3
÷j
2
) r
1
÷(r
3
÷r
2
) j
1
+ (r
3
÷r
2
) j
2
÷(j
3
÷j
2
) r
2
[
_
_
(j
3
÷j
2
)
2
+ (÷(r
3
÷r
2
))
2
_
=
[(j
3
÷j
2
) r
1
÷(r
3
÷r
2
) j
1
+ (r
3
÷r
2
) j
2
÷(j
3
÷j
2
) r
2
[
_
_
(j
3
÷j
2
)
2
+ (r
3
÷r
2
)
2
_
=
[(j
3
÷j
2
) (r
1
÷r
2
) ÷(r
3
÷r
2
) (j
1
÷j
2
)[
_
(j
3
÷j
2
)
2
+ (r
3
÷r
2
)
2
=
[(j
3
÷j
2
) (r
1
÷r
2
) ÷(r
3
÷r
2
) (j
1
÷j
2
)[
[1C[
Bab 1. Tinjauan 11
Jadi, luas bidang datar dari segitiga ¹1C sama dengan
1
2
[(j
3
÷j
2
) (r
1
÷r
2
) ÷(r
3
÷r
2
) (j
1
÷j
2
)[ .
Bisa diperiksa dengan mudah bahwa hasil ini sama dengan hasil di Contoh 1.3.
Sudut antara dua garis.
Ketika suatu garis memotong sumbu r, beberapa sudut dibentuk. Sudut positif di
sebelah kanan garis dan di atas sumbu r dinamakan sudut kemiringan (inclination),
dan dilabelkan dengan ¸ (lihat Gambar 1.8(a)). Di sini kita melihat bahwa sudut ¸
yang dibentuk oleh suatu garis j = :r +c dan sumbu r memenuhi tan(¸) = :.
(a) (b)
O x
y
y = mx + c
γ
O x
y
y = m
1
x + c
1
y = m
2
x + c
2
θ
β α
y ∆
x ∆
A B
C
φ
l
1
l
2
Gambar 1.8: Sudut antara dua garis.
Sekarang diperhatikan dua garis yang mempunyai persamaan:
|
1
: j = :
1
r +c
1
dan |
2
: j = :
2
r +c
2
. (1.6)
Kita tertarik untuk mencari sudut yang dibentuk oleh kedua garis tersebut. Perpo-
tongan kedua garis dengan sumbu r secara berturut-turut membentuk sudut, misalnya
c dan , dimana tan(c) = :
1
dan tan(,) = :
2
. (Lihat Gambar 1.8(b)). Dimisalkan
bahwa garis pertama memotong sumbu r di titik ¹, garis kedua memotong sumbu r
di titik 1, dan perpotongan kedua garis adalah titik C. Kita mencatat bahwa sudut
¹C1 sama dengan 0 dan sudut ¹1C sama dengan 180

÷ ,. Karena jumlah dari
ketiga sudut segitiga sama dengan 180

, maka dipunyai hubungan
c +0 + 180

÷, = 180

atau 0 = , ÷c.
Oleh karena itu, menggunakan rumus trigonometri elementer, diperoleh sudut dari |
1
ke |
2
:
tan(0) = tan(, ÷c)
=
tan(,) ÷tan(c)
1 + tan(,) tan (c)
,
atau
tan(0) =
:
2
÷:
1
1 +:
2
:
1
.
Bab 1. Tinjauan 12
Untuk mencari sudut c, dari |
2
ke |
1
, kita mempunyai
tan(c) = tan(180

÷0) = ÷tan(0)
=
:
1
÷:
2
1 +:
1
:
2
.
Contoh 1.13 Diperhatikan segitiga dengan titik-titik sudut ¹(÷5, ÷3), 1(4, ÷1), dan
C (3, 4), seperti gambar berikut ini.
-3 -2 -1 1 2 3 4 5
O
1
2
3
4
-1
-2
-3
-4
x
y
-5 -4
A
B
C
l
1
l
2
Di sini sudut ¹1C adalah sudut dari 1C ke 1¹, atau, dalam gambar, dari |
1
ke |
2
.
Selanjutnya karena
:
1
=
4 ÷(÷1)
3 ÷4
= ÷5 dan :
2
=
÷1 ÷(÷3)
4 ÷(÷5)
=
2
9
,
maka tangent dari sudut ¹1C sama dengan
:
2
÷:
1
1 +:
2
:
1
=
2
9
÷(÷5)
1 +
2
9
(÷5)
=
47
9
÷
1
9
= ÷47.

Garis Melalui Perpotongan Dua Garis.
Berikut ini diberikan suatu teorema dimana kita bisa menentukan suatu persamaan
garis yang melalui perpotongan dua garis tanpa harus mencari titik potong.
Teorema 1.14 Diberikan a
1
r + /
1
j + c
1
= 0 dan a
2
r + /
2
j + c
2
= 0 berturut-turut
adalah persamaan dari garis |
1
dan |
2
, maka persamaan
a
1
r +/
1
j +c
1
+/ (a
2
r +/
2
j +c
2
) = 0,
dimana / adalah suatu konstanta sembarang, menyatakan persamaan garis |
3
yang
melalui irisan dari garis |
1
dan |
2
.
Bab 1. Tinjauan 13
Bukti. Persamaan dari |
3
adalah berderajat satu dalam r dan j, apapun nilai dari /,
dan karena itu |
3
menyatakan suatu garis.
Lebih jauh, |
3
melalui irisan dari |
1
dan |
2
karena pasangan nilai yang memenuhi per-
samaan dari |
1
dan |
2
juga memenuhi |
3
.
Selain itu, / dapat ditentukan oleh kondisi bahwa |
3
melalui sembarang titik lain pada
bidang, misalnya (r
1
, j
1
), karena substitusi r
1
untuk r dan substitusi j
1
untuk j dalam
persamaan dari |
3
hanya memberikan nilai /.
Karena itu persamaan a
1
r +/
1
j +c
1
+/ (a
2
r +/
2
j +c
2
) = 0, untuk berbagai nilai /,
menyatakan garis-garis yang melalui irisan dari |
1
dan |
2
.
Contoh 1.15 Cari persamaan garis yang melalui irisan dari garis 3r ÷ 2j = 4 dan
j = 4r ÷7, dan melalui (4, ÷2).
Penyelesaian. Berdasarkan teorema di atas, persamaan yang dicari adalah
3r ÷2j ÷4 +/ (j ÷4r + 7) = 0.
Karena garis tersebut melalui (4, ÷2), dengan substitusi 4 untuk r dan substitusi ÷2
untuk j maka kita mendapatkan bahwa / =
12
11
. Disubstitusikan
12
11
untuk / dan
selanjutnya disederhanakan, kita memperoleh bahwa 3r + 2j = 8 adalah persamaan
yang diminta.
1.4 Koordinat Kutub
Sistem koordinat kutub (polar coordinate system) merupakan suatu alternatif untuk
sistem Kartesius. Dalam sistem ini setiap titik 1 (r, j) dalam bidang koordinat-rj
dapat dinyatakan sebagai koordinat kutub (r, 0) yang memenuhi hubungan berikut:
r
2
+j
2
= r
2
, r = r cos (0) , j = r sin(0) , 0 = arctan
_
j
r
_
.
Titik asal O dinamakan kutub (pole) dan sumbu-r positif dinamakan sumbu kutub
(polar axis). Bilangan r dinamakan koordinat jarak (distance coordinate) yang menya-
takan panjang garis dari titik 1 ke titik asal O, dan sudut 0 dinamakan sudut kutub
(polar angle) yang menyatakan sudut antara garis dan sumbu kutub. Suatu ilustrasi
dapat dilihat dalam Gambar 1.9.
y
x
r
) , ( ) , ( θ r y x P = =
θ
) , 0 ( kutub θ =
Gambar 1.9: Koordinat kutub (r, 0).
Dalam Gambar 1.9, kutub dilabelkan dengan (0, 0) karena 0 menyatakan suatu jarak
0 dari kutub, sehingga (0, 0) akan secara tepat berada di kutub tanpa memperhatikan
Bab 1. Tinjauan 14
sudut 0. Satuan untuk 0 dapat diberikan dalam radian atau derajat, tetapi pada
umumnya diberikan dalam radian. Untuk perubahan antara radian dan derajat, dapat
digunakan aturan:
untuk perubahan dari radian ke derajat, dikalikan dengan
180
¬
,
untuk perubahan dari derajat ke radian, dikalikan dengan
¬
180
.
Contoh 1.16 Letakkan titik-titik dengan koordinat-koordinat kutub:
¹(2, 30

) , 1
_
÷2,
1
6
¬
_
, dan C (÷1, 270

) .
Penyelesaian. Untuk mencari letak titik ¹, kita melihat sepanjang garis yang mem-
bentuk suatu sudut 30

terhadap sumbu kutub, dan selanjutnya mengambil 2 satuan
dalam arah tersebut. Untuk mencari letak titik 1, kita melihat sepanjang garis yang
membentuk suatu sudut
1
6
¬ atau 30

terhadap sumbu kutub, dan selanjutnya mengam-
bil 2 satuan mundur karena r = ÷2 adalah negatif. Untuk mencari letak titik C, kita
melihat sepanjang garis yang membentuk suatu sudut 270

terhadap sumbu kutub,
dan selanjutnya mengambil 3 satuan mundur karena r = ÷1 adalah negatif. Gambar
di bawah ini menunjukkan letak titik ¹, 1, dan C.
r
o
30
( ) π
2
1
90
o
( ) π
o
180
( ) π
2
3
270
o
1 2
A
B
o
0
o
270
C
Dalam sistem koordinat Kartesius, kita menggunakan (r, j) dan j = )(r): variabel per-
tama r adalah variabel bebas dan variabel kedua j adalah variabel tak bebas. Dalam
koordinat kutub, kita menggunakan (r, 0) dan r = )(0): variabel pertama r adalah
variabel tak bebas dan variabel kedua 0 adalah variabel bebas, suatu kebalikan dari
penggunaan koordinat Kartesius. Untuk merubah persamaan-persamaan Kartesius ke
persamaan-persamaan kutub digunakan informasi r = r cos (0) dan j = r sin(0). Se-
bagai contoh, akan dicari persamaan kutub yang berkorespondensi dengan persamaan
Kartesius 3r ÷ j + 2 = 0. Pertama kali disubstitusikan nilai kutub untuk r dan j,
selanjutnya diselesaikan untuk r sebagai fungsi dari 0:
3r ÷j + 2 = 0
3r cos (0) ÷r sin(0) + 2 = 0
r (3 cos (0) ÷sin(0)) = ÷2
r =
÷2
3 cos (0) ÷sin(0)
.
Bab 1. Tinjauan 15
1.5 Persamaan-persamaan Parameter dan Kurva
Pada waktu tertentu kita perlu untuk menyatakan nilai-nilai r dan j pada suatu gra…k
atau lintasan dalam suku-suku dari suatu variabel ketiga yang dinamakan parameter.
Variabel ketiga ini biasanya dinotasikan dengan t. Persamaan-persamaan yang diper-
oleh dinamakan persamaan-persamaan parameter yang dituliskan seperti berikut:
r = r(t) dan j = j (t) .
Setiap nilai t mende…nisikan suatu titik yang dapat digambarkan pada bidang Karte-
sius. Koleksi titik-titik yang diperoleh dengan pengambilan semua nilai t yang mungkin
adalah gra…k dari persamaan-persamaan parameter dan dinamakan kurva parame-
ter.
Suatu kurva parameter tidak selalu mudah untuk digambar. Berikut ini diberikan
contoh untuk melihat suatu cara menggambar kurva parameter.
Contoh 1.17 Gambarkan kurva parameter untuk persamaan-persamaan parameter be-
rikut ini:
r = t
2
+t, j = 2t ÷1, ÷1 _ t _ 1.
Penyelesaian. Disini pilihan untuk menggambar kurva parameter hanyalah mengam-
bil beberapa nilai t, mensubstitusikannya ke persamaan-persamaan parameter dan se-
lanjutnya menggambarkan titik-titik yang diperoleh. Kurva-kurva parameter mempu-
nyai suatu arah gerakan. Arah gerakan ini diberikan berdasarkan kenaikan t, sehingga
ketika kita menggambar kurva parameter maka kita juga menyertakan panah yang me-
nunjukkan arah gerakan. Jadi, dalam contoh ini kurva dimulai di t = ÷1 dan berakhir
di t = 1. Berikut ini diambil beberapa nilai t dalam batasan yang diberikan:
t r j
÷1 0 ÷3
÷
1
2
÷
1
4
÷2
0 0 ÷1
1 2 1
dan diperoleh kurva parameter seperti berikut:
x
y
1 2
1
-1
-2
-3
2
1
− = t
t = -1
t = 0
t = 1
Bab 1. Tinjauan 16
SOAL-SOAL UNTUK BAB 1
Dalam soal (1) ÷ (2), cari jarak antara kedua titik.
(1) (1, 1), (4, 5) (2) (1, ÷3), (5, 7)
Dalam soal (3) ÷ (4), cari kemiringan dari garis yang melalui titik 1 dan Q.
(3) 1 (÷3, 3), Q(÷1, ÷6) (4) 1 (÷1, ÷4), Q(6, 0)
(5) Tunjukkan bahwa titik-titik (÷2, 9), (4, 6), (1, 0), dan (÷5, 3) merupakan titik-
titik sudut dari suatu bujur sangkar.
(6) (a) Tunjukkan bahwa titik-titik ¹(÷1, 3), 1(3, 11), dan C (5, 15) adalah kolinear
(terletak pada garis yang sama) dengan menunjukkan bahwa [¹1[ +[1C[ =
[¹C[ .
(b) Pergunakan kemiringan untuk menunjukkan bahwa ¹, 1, dan C adalah
kolinier.
Dalam soal (7) ÷ (10), gambarkan gra…k dari persamaan yang diberikan.
(7) r = 3 (8) j = ÷2 (9) rj = 0 (10) [j[ = 1
Dalam soal (11) ÷ (24), cari suatu persamaan garis yang memenuhi kondisi yang
diberikan.
(11) Melalui (2, ÷3), kemiringan 6.
(12) Melalui (÷3, ÷5), kemiringan ÷
7
2
.
(13) Melalui (2, 1) dan (1, 6).
(14) Melalui (÷1, ÷2) dan (4, 3).
(15) Kemiringan 3, memotong sumbu j di ÷2.
(16) Kemiringan
2
5
, memotong sumbu j di 4.
(17) Memotong sumbu r di 1, memotong sumbu j di ÷3.
(18) Memotong sumbu r di ÷8, memotong sumbu j di 6.
(19) Melalui (4, 5), sejajar dengan sumbu r.
(20) Melalui (4, 5), sejajar dengan sumbu j.
(21) Melalui (1, ÷6), sejajar dengan garis r + 2j = 6.
(22) Memotong sumbu j di 6, sejajar dengan garis 2r + 3j + 4 = 0.
(23) Melalui (÷1, ÷2), tegak lurus dengan garis 2r + 5j + 8 = 0.
(24) Melalui
_
1
2
, ÷
2
3
_
, tegak lurus dengan garis 4r ÷8j = 1.
Bab 1. Tinjauan 17
Dalam soal (25) ÷ (28), cari kemiringan dari garis dan perpotongannya dengan sumbu
j. Selanjutnya gambarkan gra…knya.
(25) r + 3j = 0 (26) 2r ÷3j + 6 = 0
(27) 3r ÷4j = 12 (28) 4r + 5j = 10
Dalam soal (29) ÷ (36), gambarkan daerah dalam bidang rj.
(29) ¦(r, j) : r < 0¦ (30) ¦(r, j) : r _ 1 dan j < 3¦
(31) ¦(r, j) : [r[ _ 2¦ (32) ¦(r, j) : [r[ < 3 dan [j[ < 2¦
(33) ¦(r, j) : 0 _ j _ 4 dan r _ 2¦
(34) ¦(r, j) : j 2r ÷1¦
(35) ¦(r, j) : 1 +r _ j _ 1 ÷2r¦
(36)
_
(r, j) : ÷r _ j <
1
2
(r + 3)
_
(37) Tunjukkan bahwa garis
2r ÷j = 4 dan 6r ÷2j = 10
adalah tidak sejajar dan cari titik perpotongannya.
(38) Tunjukkan bahwa garis
3r ÷5j + 19 = 0 dan 10r + 6j ÷50 = 0
adalah tegak lurus dan cari titik perpotongannya.
(39) Tunjukkan bahwa titik tengah untuk ruas garis dari 1
1
(r
1
, j
1
) ke 1
2
(r
2
, j
2
)
adalah
_
r
1
+r
2
2
,
j
1
+j
2
2
_
.
(40) Cari titik tengah dari ruas garis yang menghubungkan titik (1, 3) dan (7, 15).
(41) Cari suatu persamaan garis yang tegak lurus dan melalui titik tengah dari garis
yang menghubungkan titik ¹(1, 4) dan 1(7, ÷2).
(42) (a) Tunjukkan bahwa jika perpotongan garis dengan sumbu r dan sumbu j
berturut-turut adalah bilangan tak nol a dan /, maka persamaan garis dapat
diambil dalam bentuk
r
a
+
j
/
= 1.
Persamaan ini dinamakan bentuk perpotongan-dua dari suatu persamaan
garis.
(b) Gunakan bagian (a) untuk mencari suatu persamaan garis yang memotong
sumbu r di 6 dan memotong sumbu j di ÷8.
Dalam soal (43) ÷ (48), gambarkan segitiga-segitiga dengan titik-titik yang diberikan
dan tunjukkan berdasarkan panjang sisi-sisinya apakah termasuk segitiga sama sisi,
sama kaki, tidak sama kaki, siku-siku, atau tidak mempunyai bidang datar.
(43) (÷4, 3) , (2, ÷5) , (3, 2) (44) (÷6, 8) , (6, ÷8) , (8, 6)
(45) (4, 0) , (÷4, 0) , (0, ÷4
_
3) (46) (5, 1) , (2, ÷2) , (8, 4)
(47) (2, 3) , (÷4, 1) , (6, ÷2) (48) (÷1, 1) , (0, 0) , (3, 3)
Bab 1. Tinjauan 18
(49) Diberikan bahwa garis /r ÷ j = 4 tegak lurus dengan garis /r + 9j = 11. Cari
nilai /.
(50) Diberikan titik ¹(5, 12), pada O¹ terletak titik 1 dimana [O1[ = 10. Cari
persamaan garis yang tegak lurus dengan O¹ dan melalui 1.
(51) Diberikan bahwa garis ar + /j + 10 = 0 tegak lurus dengan 3r + j = 7 dan
berpotongan dengan garis r +j = 7 di sumbu r. Cari nilai a dan /.
(52) Cari koordinat titik Q sedemikian sehingga 1 (3, 5) dan Q adalah simetris ter-
hadap garis j + 2r = 6. [Petunjuk: Dinotasikan Q dengan (a, /), dan cari a dan
/ dari dua kondisi bahwa 1Q tegak lurus dengan garis dan titik tengah dari 1Q
terletak pada garis.]
Dalam soal (53) ÷ (60), cari jarak dari garis ke titik-titik yang diberikan.
(53) Garis 8r + 6j = 55; titik-titik (10, 2), (9, 6), (4, 5), (4, ÷1), (÷1, 1).
(54) Garis 5r ÷12j = 26; titik-titik (13, 0), (÷2, ÷3), (0, 0).
(55) Garis j =
4
3
r ÷5; titik-titik (3, 6), (6, 1), (2, 2), (÷1, 3), (÷2, ÷6).
(56) Garis j ÷2r + 7 = 0; titik-titik (÷1, 1), (0, ÷1), (6, ÷3), (÷1, 3).
(57) Garis j = 5r; titik-titik (4, 1), (2, ÷2), (÷3, 0), (÷1, ÷5).
(58) Garis j = :r + 4; titik-titik (0, 0), (1, 1), (÷4, 2), (a, /).
(59) Garis j = :r +/; titik-titik (4, ÷1), (3, 2), (a, 1), (/, |).
(60) Garis j ÷6 = :(r + 1); titik-titik
_
_
1 +:
2
, 6 +
_
1 +:
2
_
, (1, 4), (÷2, 1).
Dalam soal (61) ÷ (62), cari nilai : dari setiap kasus yang diberikan.
(61) Garis j = 5:r + 8 adalah 5 satuan dari titik (4, 5).
(62) Garis 8r + 6j = 11 dan 8:r ÷8j = 7 mempunyai jarak sama dari titik (1, ÷2).
Dalam soal (63) ÷ (70), cari persamaan garis dari setiap kasus yang diberikan.
(63) Garis tegak lurus dengan 7r +j = 5 dan 4 satuan dari (6, 1).
(64) Garis melalui (÷1, ÷4) dan 6 satuan dari (3, 2).
(65) Garis j = ar +/ adalah 6 satuan dari titik (4, 1) dan 2 satuan dari titik asal.
(66) Garis j = ar +/ mempunyai jarak sama dari titik-titik (4, 1), (8, 2), dan (5, ÷3).
(67) Garis
r
a
+
j
/
= 1 melalui titik (3, 4) dan berjarak 3 satuan dari titik (6, 5).
(68) Garis adalah 4 satuan dari titik (÷2, 6), dan sudut dari garis ke 7r+j = 0 adalah
45

.
Bab 1. Tinjauan 19
(69) Garis mempunyai jarak sama dari (4, 1) dan (1, 4), dan juga sejajar dengan 5r ÷
2j = 1.
(70) Garis mempunyai jarak sama dari titik-titik (2, ÷2), (6, 1), dan (÷3, 4).
Dalam soal (71) ÷ (74), cari / dan | berdasarkan kondisi yang diberikan.
(71) Diberikan bahwa (/, |) adalah ÷4 satuan dari garis 12r÷5j = 49 dan ÷3 satuan
dari garis 4j = 3r + 24.
(72) Diberikan bahwa (/, |) berjarak sama dari garis 3r ÷j = 0 dan garis r +3j = 4,
dan juga / = |.
(73) Diberikan bahwa (/, |) berjarak sama dari garis 4r÷2j = 15 dan garis r÷2j = 5,
dan juga berjarak sama dari garis r +j = 6 dan garis r = j.
(74) Diberikan bahwa (/, |) terletak pada garis 2r + j + 2 = 0, dan juga berjarak 4
satuan dari garis 3r ÷4j = 10.
(75) Dalam jajaran genjang di bawah ini, [O1
1
[ = 6, [O1
2
[ = 4, dan sudut 1
1
O1
2
sama dengan 120

. Cari [O1[ dan [1
1
1
2
[.
O
F
1
R
6
F
2
4
(76) Tunjukkan bahwa sudut kemiringan c dari suatu garis yang melalui titik (÷2, ÷4)
dan (3, 8) sama dengan dua kali sudut kemiringan , dari garis yang melalui (3, ÷1)
dan (6, 1).
(77) Jika kemiringan dari |
1
dan |
2
berturut-turut adalah 3 dan :, dan sudut dari
|
1
ke |
2
adalah arctan(2), cari :. [Simbol arctan(2) berarti tangent dari sudut
adalah 2.]
(78) Cari kemiringan dari garis | jika diketahui bahwa sudut dari | ke garis yang melalui
(1, 3) dan (2, ÷2) adalah 45

; 120

.
Dalam soal (79) ÷ (82), cari luas bidang datar dari setiap segitiga dengan titik-titik
yang diberikan.
(79) (3, 3) , (÷1, ÷2) , (÷3, 4) (80) (1, 3) , (3, 0) , (÷4, 3)
(81) (0, 0) , (12, ÷4) , (3, 0) (82) (÷2, ÷2) , (0, 0) , (5, 5)
(83) Jika luas bidang datar segitiga ¹(6, 1), 1(3, 8), C (1, /) adalah 41, cari nilai /.
Bab 1. Tinjauan 20
(84) Dengan mencari luas bidang datar dari ¹1C, tunjukkan bahwa titik-titik ¹(÷1, ÷14),
1(3, ÷2), dan C (4, 1) terletak pada satu garis.
(85) Cari luas bidang datar segiempat (4, 5), (2, ÷3), (0, 7), (9, 2).
(86) Tunjukkan bahwa luas bidang datar segiempat 1
1
(r
1
, j
1
), 1
2
(r
2
, j
2
), 1
3
(r
3
, j
3
),
1
4
(r
4
, j
4
) diberikan oleh rumus
1
2
[r
1
(j
2
÷j
4
) +r
2
(j
3
÷j
1
) +r
3
(j
4
÷j
2
) +r
4
(j
1
÷j
3
)] .
Dalam soal (87) ÷ (90), cari persamaan garis yang melalui irisan dari setiap pasangan
garis dan memenuhi kondisi yang dinyatakan.
(87) 3r ÷2j = 13 dan r +j ÷6 = 0, melalui titik (2, ÷3).
(88) 4r +j ÷7 = 0 dan 3r ÷2j = 10, sejajar dengan r ÷3j = 6.
(89) 3r + 5j ÷13 = 0 dan r +j ÷1 = 0, tegak lurus dengan 7r ÷5j = 10.
(90) Cari ¡ jika garis ¡r+2j = 3 melalui irisan dari garis 4r+3j = 7 dan 2r÷j = 10.
(91) Gambarkan titik-titik dengan koordinat-koordinat kutub diberikan seperti berikut:
¹
_
2,
¬
2
_
, 1(2, ÷120

) , C
_
÷2,
¬
3
_
, 1(÷2, ÷135

) , dan 1 (2, 135

) .
Manakah dua titik yang berhimpit? Apa kesimpulan anda?
(92) Gambarkan gra…k berikut ini dalam sistem koordinat kutub:
(a) r = 2 untuk 0 _ 0 _ 2¬.
(b) r = 2 sin (0) untuk 0 _ 0 _ ¬.
(c) r = 2 cos (0) untuk 0 _ 0 _ ¬.
(93) Ubah (a) titik koordinat kutub 1
_
7,
2
5
_
ke koordinat Kartesius; (b) titik koordinat
Kartesius 1(12, 5) ke koordinat kutub.
(94) Ubah persamaan linear koordinat Kartesius j = 3r + 5 ke suatu persamaan
koordinat kutub.
(95) Ubah persamaan koordinat kutub r
2
= 4r sin(0) ke suatu persamaan koordinat
Kartesius.
(96) Gambarkan gra…k dari persamaan-persamaan parameter:
r(t) = 2t ÷2 dan j (t) = 3t + 1.
Selanjutnya menggunakan kedua persamaan tersebut tuliskan j sebagai fungsi
dalam r saja.
Bab 1. Tinjauan 21
(97) Gambarkan gra…k dari persamaan-persamaan parameter:
r(t) = 3 ÷t dan j (t) = t
2
+ 1.
Tuliskan j sebagai fungsi dalam r saja dan selanjutnya identi…kasi bentuk gra…k.
(98) Gambarkan gra…k dari persamaan-persamaan parameter:
r(t) = 3 cos (t) dan j (t) = 2 sin(t) , untuk 0 _ t _ 2¬,
dan tunjukkan bahwa persamaan tersebut memenuhi
r
2
9
+
j
2
4
= 1 untuk semua
nilai t.
(99) Lintasan suatu partikel memenuhi persamaan-persamaan parameter:
r(t) = sin
2
(t) dan j (t) = 2 cos (t) .
Gambarkan secara lengkap lintasan dari partikel tersebut. [Petunjuk: Identi…kasi
bentuk lintasan dengan mencari j sebagai fungsi dari r saja. Tentukan batasan
pada r dan j berdasarkan batasan trigonometri cosinus.]
(100) Gambarkan secara lengkap lintasan dari partikel yang memenuhi persamaan-
persamaan parameter:
r(t) = 3 cos (2t) dan j (t) = 1 + cos
2
(t) .
Bab 2
Irisan-irisan Kerucut
2.1 Irisan Bidang dari Suatu Kerucut
Diambil | sebagai suatu garis tegak dan : sebagai garis lain yang beririsan dengan | di
suatu titik \ dan membentuk sudut c (Gambar 2.1(a)). Diandaikan kita merotasikan
garis : mengelilingi garis | sedemikian sehingga sudut c tetap konstan. Selanjutnya,
permukaan yang dihasilkan dirujuk sebagai kerucut (cone) (Gambar 2.1(b)). Titik \
dinamakan puncak (vertex), garis | dinamakan sumbu (axis) dari kerucut, dan garis
rotasi : dinamakan pembangkit (generator).
V
m
l
α
α
m
l
V
sumbu
pembangkit
(a) (b)
permukaan
atas
permukaan
bawah
Gambar 2.1: Pembentukan kerucut dua permukaan.
Suatu irisan (section) adalah permukaan atau garis bentuk dari permukaan yang diper-
oleh dengan memotong suatu bentuk padat menggunakan suatu bidang. Jika bentuk
padat tersebut adalah suatu kerucut, kurva yang dihasilkan dinamakan irisan kerucut
(conic section).
Kita mendapatkan jenis-jenis berbeda dari irisan terkucut tergantung pada posisi dari
bidang potong terhadap kerucut dan oleh sudut yang dibentuknya dengan sumbu tegak
dari kerucut. Diambil , adalah sudut yang dibentuk oleh bidang potong dengan sumbu
tegak dari kerucut. Ketika bidang memotong permukaan (selain titik) dari kerucut, kita
mempunyai keadaan-keadaan berikut ini, lihat Gambar 2.2:
(a) Ketika , = 90

, irisannya adalah suatu lingkaran.
(b) Ketika c < , < 90

, irisannya adalah suatu ellips.
22
Bab 2. Irisan-irisan Kerucut 23
(c) Ketika , = c, irisannya adalah suatu parabola.
(Dalam setiap tiga kasus di atas, bidang memotong satu permukaan dari kerucut.)
(d) Ketika 0 _ , < c, bidang memotong kedua permukaan dan kurva-kurva dari irisan
adalah suatu hiperbola.
Secara khusus, nama parabola dan hiperbola diberikan oleh seorang matematikawan
Yunani bernama Apollonius (262 S.M. - 190 S.M.).
α
o
90 = β
lingkaran
α
β
o
90 < < β α
ellips
α
β
α β =
parabola
α
α β < ≤ 0
hiperbola
β
β
Gambar 2.2: Irisan-irisan kerucut.
α
β
o
90 ≤ < β α
titik
α
β
α
α β =
garis lurus
α β < = 0
dua garis lurus
berpotongan
α β < < 0
dua garis lurus
berpotongan
α
β
Gambar 2.3: Irisan-irisan ketika bidang memotong di puncak kerucut.
Ketika bidang memotong di puncak dari kerucut, kita mempunyai kasus-kasus berbeda
berikut ini, lihat Gambar 2.3:
(a) Ketika c < , _ 90

, maka irisannya adalah suatu titik.
Bab 2. Irisan-irisan Kerucut 24
(b) Ketika , = c, bidang memuat suatu pembangkit dari kerucut dan irisannya adalah
suatu garis lurus. Ini adalah kasus degenerate
1
dari parabola.
(c) Ketika 0 _ , < c, irisan adalah suatu pasangan dari garis lurus berpotongan. Ini
adalah kasus degenerate dari hiperbola.
2.2 Eksentrisitas
Lebih lanjut, dalam buku ini kita akan mempelajari irisan-irisan kerucut berdasarkan
pengertian dari koordinat seperti berikut ini.
De…nisi 2.1 Suatu irisan kerucut adalah tempat kedudukan dari suatu titik yang
bergerak sedemikian sehingga perbandingan jarak antara titik tersebut ke suatu titik
tetap dan ke suatu garis tetap adalah konstan.
d
P
F
l
d′
Gambar 2.4: Jarak dari titik bergerak 1 ke titik tetap 1 dan ke garis tetap |.
Dimisalkan 1 sebagai titik yang bergerak, 1 sebagai titik tetap, | sebagai garis tetap,
d sebagai jarak dari 1 ke 1, dan d
0
sebagai jarak dari 1 ke garis |. Diasumsikan bahwa
1 tidak terletak pada garis |. (Lihat Gambar 2.4) Titik tetap 1 dinamakan fokus
(focus) dari irisan kerucut dan garis tetap | dinamakan garis arah (directrix) dari
irisan kerucut. Berdasarkan pengertian di atas dipunyai bahwa semua titik 1 pada
suatu irisan kerucut memenuhi perbandingan
d
d
0
= c atau persamaan
d = c d
0
dengan c adalah suatu konstanta dan diasumsikan c 0. Kita akan melihat bahwa kita
mendapatkan jenis-jenis khusus dari irisan kerucut tergantung pada nilai dari konstanta
c:
(a) Jika c = 0, maka irisan kerucut adalah suatu lingkaran.
(b) Jika 0 < c < 1, maka irisan kerucut adalah suatu ellips.
(c) Jika c = 1, maka irisan kerucut adalah suatu parabola.
(d) Jika c 1, maka irisan kerucut adalah suatu hiperbola.
1
Dalam kasus ini, semua suku-suku dari persamaan degenerate dipindahkan ke ruas kiri dan dapat
difaktorkan. Sebagai contoh, gra…k dari persamaan x
2
xy 3y + 3x = 0, yang bisa dituliskan
(x y) (x + 3) = 0, terdiri dari dua garis x y = 0 dan x + 3 = 0.
Bab 2. Irisan-irisan Kerucut 25
Konstanta c dinamakan eksentrisitas (eccentricity) dari irisan kerucut.
Dalam buku ini tidak akan ditunjukkan bahwa irisan kerucut berdasarkan pengertian
koordinat ekivalen dengan irisan kerucut yang dide…nisikan dalam istilah irisan dari
suatu kerucut.
Latihan 2.2 Dalam setiap kasus berikut ini, diberikan suatu titik yang terletak pada
suatu irisan kerucut dengan fokus (2, 0) dan garis arah r = ÷2. Cari jenis irisan
kerucut dan eksentrisitasnya.
(a) (1, 0) (b) (0, 0) (c) (÷1, 0) (d) (8, 0)
(e) (2, 5) (f ) (5, ÷4) (g) (2, 4) (h) (÷6, 6)
Bab 3
Lingkaran
3.1 Persamaan Lingkaran
De…nisi 3.1 Lingkaran adalah himpunan dari semua titik pada bidang yang berjarak
sama dari satu titik tetap pada bidang.
Titik tetap tersebut dinamakan pusat dari lingkaran dan jarak dari pusat ke suatu
titik pada lingkaran dinamakan jari-jari lingkaran (Gambar 3.1(a)).
(a) (b)
jari-jari
pusat
P(x,y)
(h,k)
C
O
O
P
1
P
2
P
3
OP
1
= OP
2
= OP
3
x
y
Gambar 3.1: Lingkaran.
Persamaan paling sederhana dari lingkaran diperoleh jika pusat dari lingkaran adalah
di titik asal O(0, 0). Tetapi, di bawah ini kita akan menurunkan persamaan lingkaran
untuk sembarang pusat dan jari-jari (Gambar 3.1(b)).
Diberikan C (/, /) adalah pusat dan r adalah jari-jari lingkaran. Diambil 1 (r, j) adalah
sembarang titik pada lingkaran. Berdasarkan de…nisi lingkaran, dipunyai [C1[ = r.
Berdasarkan rumus jarak, dipunyai
_
(r ÷/)
2
+ (j ÷/)
2
= r
(r ÷/)
2
+ (j ÷/)
2
= r
2
. (3.1)
Ini adalah persamaan dari lingkaran dengan pusat di (/, /) dan jari-jari r. Persamaan
(3.1) bisa juga dituliskan menjadi
r
2
+j
2
÷2/r ÷2/j +/
2
+/
2
÷r
2
= 0
r
2
+j
2
÷2/r ÷2/j +c = 0 (3.2)
dimana c = /
2
+/
2
÷r
2
.
26
Bab 3. Lingkaran 27
Contoh 3.2 Tentukan suatu persamaan lingkaran dengan pusat di (0, 0) dan jari-jari
r.
Penyelesaian. Di sini / = / = 0. Oleh karena itu, persamaan lingkaran adalah
r
2
+j
2
= r
2
.
Contoh 3.3 Tentukan suatu persamaan lingkaran dengan pusat di (÷3, 2) dan jari-jari
4.
Penyelesaian. Di sini / = ÷3, / = 2 dan r = 4. Oleh karena itu, persamaan lingkaran
adalah (r + 3)
2
+ (j ÷2)
2
= 16.
Contoh 3.4 Tentukan pusat dan jari-jari dari lingkaran r
2
+j
2
+ 8r + 10j ÷8 = 0.
Penyelesaian. Persamaan yang diberikan dituliskan kembali menjadi
_
r
2
+ 8r
_
+
_
j
2
+ 10j
_
= 8.
Sekarang, melengkapi kuadrat dalam kurung, diperoleh
_
r
2
+ 8r + 16
_
+
_
j
2
+ 10j + 25
_
= 8 + 16 + 25
(r + 4)
2
+ (j + 5)
2
= 49
(r ÷(÷4))
2
+ (j ÷(÷5))
2
= 49.
Oleh karena itu, lingkaran yang diberikan mempunyai pusat di (÷4, ÷5) dan jari-jari
7.
Contoh 3.5 Tentukan persamaan lingkaran yang melalui titik-titik (2, ÷2) dan (3, 4),
serta mempunyai pusat yang terletak pada garis r +j = 2.
Penyelesaian. Diambil persamaan lingkaran adalah (r ÷/)
2
+(j ÷/)
2
= r
2
. Karena
lingkaran melalui (2, ÷2) dan (3, 4), kita mempunyai
(2 ÷/)
2
+ (÷2 ÷/)
2
= r
2
, (3.3)
dan
(3 ÷/)
2
+ (4 ÷/)
2
= r
2
. (3.4)
Dan juga karena pusat terletak pada garis r +j = 2, kita mempunyai
/ +/ = 2. (3.5)
Diselesaikan persamaan (3.3), (3.4), dan (3.5) untuk mendapatkan
/ = 0, 7, / = 1, 3, dan r
2
= 12, 58.
Karena itu, persamaan lingkaran adalah
(r ÷0, 7)
2
+ (j ÷1, 3)
2
= 12, 58.

Bab 3. Lingkaran 28
r
r
l
l
(a)
P
1
(x
1
,y
1
)
O
x
y
(b)
C(h,k)
P
1
(x
1
,y
1
)
O
x
y
Gambar 3.2: Garis singgung untuk lingkaran.
3.2 Persamaan Garis Singgung
Garis singgung (tangent) di suatu lingkaran adalah suatu garis lurus yang menyentuh
lingkaran hanya di satu titik (jadi garis tidak memotong lingkaran tapi hanya menyen-
tuhnya). Suatu garis singgung untuk suatu lingkaran membentuk sudut 90

terhadap
jari-jari lingkaran di titik sentuh dari persinggungan. [Lihat Gambar 3.2.]
Diperhatikan Gambar 3.2(a). Dimisalkan persamaan lingkaran adalah r
2
+ j
2
= r
2
dan 1
1
(r
1
, j
1
) adalah sembarang titik pada lingkaran. Kemiringan dari ruas garis O1
1
adalah
j
1
r
1
. Karena garis singgung di 1
1
tegak lurus dengan O1
1
, kemiringan garis
singgung di 1
1
adalah ÷
r
1
j
1
. Oleh karena itu, persamaan garis singgung di 1
1
adalah
j ÷j
1
= ÷
r
1
j
1
(r ÷r
1
)
r
1
r +j
1
j = r
2
1
+j
2
1
.
Karena titik (r
1
, j
1
) terletak pada lingkaran, dipunyai
r
2
1
+j
2
1
= r
2
.
Jadi persamaan garis singgung di titik 1
1
(r
1
, j
1
) pada lingkaran dengan pusat O(0, 0)
dan jari-jari r dinyatakan oleh
r
1
r +j
1
j = r
2
.
Sekarang diperhatikan untuk lingkaran berjari-jari r tetapi dengan pusat C (/, /), lihat
Gambar 3.2(b). Ingat bahwa lingkaran ini mempunyai persamaan
r
2
+j
2
÷2/r ÷2/j +c = 0,
dimana /
2
+/
2
÷r
2
. Diberikan titik 1
1
(r
1
, j
1
) pada lingkaran. Kemiringan dari ruas
garis C1
1
adalah
j
1
÷/
r
1
÷/
. Karena itu kemiringan garis singgung di 1
1
adalah ÷
r
1
÷/
j
1
÷/
,
Bab 3. Lingkaran 29
sehingga persamaan garis singgung di 1
1
yaitu
j ÷j
1
= ÷
r
1
÷/
j
1
÷/
(r ÷r
1
)
r
1
r +j
1
j ÷/r ÷/j ÷
_
r
2
1
+j
2
1
÷/r
1
÷/j
1
_
= 0.
Karena titik (r
1
, j
1
) terletak pada lingkaran, dipunyai
r
2
1
+j
2
1
÷2/r
1
÷2/j
1
+c = 0
r
2
1
+j
2
1
÷/r
1
÷/j
1
= /r
1
+/j
1
÷c.
Jadi persamaan garis singgung di titik 1
1
(r
1
, j
1
) pada lingkaran dengan pusat O(/, /)
dan jari-jari r dinyatakan oleh
r
1
r +j
1
j ÷/r ÷/j ÷(/r
1
+/j
1
÷c) = 0
r
1
r +j
1
j ÷/(r +r
1
) ÷/ (j +j
1
) +c = 0.
Dari kedua hasil di atas kita mencatat bahwa persamaan garis singgung secara seder-
hana diperoleh dari persamaan lingkaran dengan r
2
diganti oleh r
1
r, j
2
diganti oleh
j
1
j, 2r diganti oleh r +r
1
, dan 2j diganti oleh j +j
1
.
Berikutnya, kita mencari persamaan-persamaan garis singgung dengan kemiringan :
untuk lingkaran r
2
+ j
2
= r
2
. Jika kita mengambil j = :r + :, yang menyatakan
sembarang garis dengan kemiringan :, maka masalahnya sekarang adalah mencari nilai
: dimana garis j = :r +: menyinggung lingkaran r
2
+j
2
= r
2
. Untuk mencari titik-
titik di mana garis memotong lingkaran, kita harus menyelesaikan sistem persamaan.
Dengan substitusi kita memperoleh
r
2
+ (:r +:)
2
= r
2
_
1 +:
2
_
r
2
+ 2::r +:
2
÷r
2
= 0.
Kedua akar dari persamaan kuadrat ini adalah absis untuk titik persekutuan dari garis
dan lingkaran; tetapi agar garis menyinggung lingkaran, maka titik-titik tersebut harus
berhimpit dan dipunyai absis sama, karena itu kedua akar dari persamaan kuadrat
tersebut haruslah sama. Karena syarat bahwa kedua akar dari sembarang persamaan
kuadrat ar
2
+/r +c = 0 akan sama adalah /
2
÷4ac = 0, maka haruslah dipunyai
4:
2
:
2
÷4
_
1 +:
2
_ _
:
2
÷r
2
_
= 0
: = ±r
_
1 +:
2
.
Oleh karena itu, persamaan garis singgung yang dicari yaitu
j = :r ±r
_
1 +:
2
.
Bab 3. Lingkaran 30
SOAL-SOAL UNTUK BAB 3
Dalam soal (1) ÷ (5), tentukan persamaan lingkaran dengan
(1) pusat (0, 2) dan jari-jari 2 (2) pusat (÷2, 3) dan jari-jari 4
(3) pusat
_
1
2
,
1
4
_
dan jari-jari
1
12
(4) pusat (1, 1) dan jari-jari
_
2
(5) pusat (÷a, ÷/) dan jari-jari
_
a
2
÷/
2
.
Dalam soal (6) ÷ (17), tentukan pusat dan jari-jari lingkaran.
(6) (r + 5)
2
+ (j ÷3)
2
= 36 (7) r
2
+j
2
÷4r ÷8j ÷45 = 0
(8) r
2
+j
2
÷8r + 10j ÷12 = 0 (9) r
2
+j
2
÷8r + 4j = 5
(10) r
2
+j
2
÷12r ÷2j = 12 (11) r
2
+j
2
+ 8r + 6j = 0
(12) r
2
+j
2
+ 2r + 2 = 2j (13) r
2
+j
2
÷6r = 0
(14) r
2
+j
2
+ 8j = 0 (15) r
2
+j
2
÷6r = 16
(16) 2r
2
+ 2j
2
÷r = 0 (17) 2r
2
+ 2j
2
÷8r + 10j = 11
1
2
(18) Tentukan persamaan lingkaran yang melalui titik-titik (4, 1) dan (6, 5) dan mem-
punyai pusat yang terletak pada garis 4r +j = 6.
(19) Tentukan persamaan lingkaran yang melalui titik-titik (2, 3) dan (÷1, 1) dan
mempunyai pusat yang terletak pada garis r ÷3j ÷11 = 0.
(20) Tentukan persamaan lingkaran dengan jari-jari 5, pusat terletak pada sumbu r,
dan melalui titik (2, 3).
(21) Tentukan persamaan lingkaran yang melalui (0, 0) dan perpotongan dengan sumbu
r dan sumbu j berturut-turut adalah bilangan tak nol a dan /.
(22) Tentukan persamaan lingkaran dengan pusat (2, 2) dan melalui titik (4, 5).
(23) Apakah titik (÷2, 5, 3, 5) terletak di dalam, di luar, atau pada lingkaran r
2
+j
2
=
25?
(24) Gambarkan lingkaran dengan pusat (0, 0) dan jari-jari 5. Tunjukkan bahwa titik
¹(4, 3) terletak pada lingkaran. Gambarkan garis singgung terhadap lingkaran di
titik ¹, dan cari kemiringannya. [Petunjuk: Pertama kali dicari dicari kemiringan
dari garis O¹ dan selanjutnya dicari kemiringan dari garis singgung.]
(25) Gambarkan suatu lingkaran dengan pusat (3, ÷4) dan melalui (5, 2). Selanjutnya
gambarkan garis singgung di (5, 2) dan cari kemiringannya.
(26) Jika 1 (5, 9) terletak pada suatu lingkaran dengan pusat (1, 6), cari jari-jari
lingkaran dan kemiringan garis singgung di 1.
(27) Tunjukkan bahwa lingkaran dengan pusat (4, 1) dan jari-jari 10 melalui (÷2, 9),
(10, ÷7), dan (12, ÷5).
(28) Jika lingkaran di Soal no (27) juga melalui (÷4, /), cari nilai /.
(29) Cari nilai a jika lingkaran r
2
+ j
2
÷ 2ar = 0 bersinggungan dengan sumbu j di
titik asal.
Bab 3. Lingkaran 31
(30) Gambarkan lingkaran r
2
+j
2
÷4r÷6j+9 = 0 dan r
2
+j
2
+12r+6j÷19 = 0, dan
buktikan bahwa keduanya bersinggungan. [Petunjuk: Tunjukkan bahwa garis
yang menghubungkan pusat dari kedua lingkaran sama dengan jumlahan dari
jari-jarinya.
(31) Tunjukkan bahwa lingkaran r
2
+ j
2
÷18r + 45 = 0 bersinggungan dengan garis
j =
4
3
r ÷2.
Dalam soal (32) ÷ (35), cari persamaan lingkaran yang melalui ketiga titik yang
diberikan.
(32) (4, ÷2), (6, 1), (÷1, 3) (33) (4, 2), (5, ÷1), (÷2, 4)
(34) (6, ÷3), (4, ÷2), (0, 4) (35) (5, 1), (3, 2), (3, 1)
Dalam soal (36) ÷ (50), gambarkan lingkaran terhadap kondisi yang diberikan, dan
cari persamaan dari setiap lingkaran.
(36) Memotong sumbu r di ÷6 dan 10, dan memotong sumbu j di 8.
(37) Memotong sumbu r di ÷4 dan 2, dan mempunyai jari-jari 5.
(38) Melalui (0, 0) dan (÷1, 1), dan mempunyai jari-jari 5.
(39) Mempunyai suatu diameter yang menghubungkan (6, 3) dan (÷2, ÷5). [Ingat:
Diameter adalah ruas garis yang menghubungkan dua titik pada lingkaran dan
melalui pusat lingkaran.]
(40) Menyinggung sumbu r di (6, 0) dan menyinggung sumbu j.
(41) Menyinggung kedua sumbu dan melalui (2, 1).
(42) Menyinggung kedua sumbu dan juga garis 2r +j = 6 +
_
20.
(43) Menyinggung garis r = 6 dan r = 10, dan melalui titik (8, 3).
(44) Memotong sumbu j di 10 dan menyinggung sumbu r di titik (÷5, 0).
(45) Melalui (0, 0) dan juga titik persekutuan dari lingkaran r
2
+ j
2
= 25 dan r
2
+
j
2
÷4r + 2j = 15.
(46) Menyinggung garis-garis r = 6, r = 12, dan j = 8.
(47) Menyinggung garis-garis 4r ÷3j = 12, 8r + 6j = 36, dan 12r ÷5j = 36.
(48) Menyinggung garis 4r ÷3j = 10 dan 6r + 8j = 35, dan mempunyai jari-jari 10.
(49) Menyinggung lingkaran r
2
+ j
2
+ 4r ÷ 4j = 1, dan mempunyai pusat di titik
(4, 10).
(50) Melalui titik (2, ÷1), bersinggungan dengan r+j = 1 dan pusatnya terletak pada
garis j = ÷2r.
Bab 3. Lingkaran 32
(51) Cari persamaan-persamaan garis singgung dan normal untuk lingkaran r
2
+j
2
=
29 di titik (5, ÷2). [Dide…nisikan bahwa garis normal adalah garis yang tegak
lurus dengan suatu garis singgung di titik singgung.]
(52) Cari persamaan-persamaan garis singgung untuk lingkaran r
2
+ j
2
= 13 dan
melalui titik (÷4, 7).
(53) Jika garis 4r÷3j = 50 menyinggung lingkaran r
2
+j
2
= 100, cari titik singgungnya.
Dalam soal (54) ÷ (61), tunjukkan bahwa 1
1
terletak pada lingkaran, dan selanjutnya
cari persamaan garis singgung dan normal di 1
1
.
(54) r
2
+j
2
= 25; 1
1
(3, 4) (55) r
2
+j
2
= 1; 1
1
_
1
2
, ÷
1
2
_
3
_
(56) r
2
+j
2
= 29; 1
1
(2, ÷5) (57) r
2
+j
2
= 20; 1
1
(÷4, ÷2)
(58) r
2
+j
2
= 34; 1
1
(÷5, 3) (59) r
2
+j
2
= 37; 1
1
(÷1, ÷6)
(60) r
2
+j
2
÷6r + 2j = 0; 1
1
(2, 2) (61) r
2
+j
2
+ 4r ÷7j ÷11 = 0; 1
1
(3, 2)
Dalam soal (62) ÷ (65), cari persamaan-persamaan garis singgung untuk lingkaran
yang diberikan dibawah syarat yang ditetapkan, dan cari titik singgungnya.
(62) r
2
+j
2
= 25; kemiringan garis singgung adalah
3
4
.
(63) r
2
+j
2
= 36; garis singgung sejajar dengan 4r = 3j.
(64) r
2
+j
2
= 13; garis singgung tegak lurus dengan 3r = 2j.
(65) r
2
+j
2
= 64; garis singgung melalui (8, 4).
Dalam soal 66 - 68, buktikan hasil yang diberikan untuk sembarang lingkaran r
2
+j
2
÷
2/r ÷2/j +c = 0.
(66) Selisih dari perpotongan-perpotongan dengan sumbu r adalah 2
_
/
2
÷c.
(67) Jumlah dari perpotongan-perpotongan dengan sumbu r adalah 2/ dan hasil
kalinya adalah c.
(68) Jumlah dari perpotongan-perpotongan dengan sumbu j adalah 2/ dan hasil
kalinya adalah c.
(69) Cari syarat kapan lingkaran r
2
+j
2
+1r +1j +1 = 0 menyinggung sumbu r.
(70) Cari syarat kapan garis |r +:j +: = 0 menyinggung lingkaran r
2
+j
2
= r
2
.
Bab 4
Parabola
Dalam bab ini kita akan menurunkan persamaan dari parabola dengan puncak di
titik asal O(0, 0) dan garis arah sejajar dengan sumbu r atau sumbu j. Lebih lan-
jut diberikan sifat-sifat penting dari parabola.
4.1 Persamaan Baku
Berdasarkan pengertian parabola di subbab 2.2, dide…nisikan kembali parabola seperti
berikut ini dan juga istilah-istilah yang menyertainya.
De…nisi 4.1 Parabola adalah tempat kedudukan suatu titik yang bergerak sedemikian
sehingga jarak titik tersebut ke suatu fokus sama dengan jarak ke suatu garis arah.
Suatu garis yang melalui fokus dan tegak lurus dengan garis arah dinamakan sumbu
(axis) dari parabola. Titik potong antara parabola dengan sumbu dinamakan puncak
(vertex) parabola. (Lihat Gambar 4.1.)
parabola
fokus
sumbu
puncak
garis arah
L
3
L
2
L
1
P
3
P
2
P
1
F
l
P
1
F = P
1
L
1
P
2
F = P
2
L
2
P
3
F = P
3
L
3
Gambar 4.1: Parabola.
Ketika sumbu parabola sejajar dengan sumbu r atau sumbu j, persamaannya dina-
makan persamaan baku. Persamaan baku yang paling sederhana terjadi jika puncak
parabola adalah di titik asal O(0, 0). Dalam hal ini, terdapat empat kemungkinan dari
parabola seperti ditunjukkan dalam Gambar 4.2.
33
Bab 4. Parabola 34
O
l: y = -a
O -a
y
x
F(a,0)
a
l: x = a
y
x
F(-a,0)
l: x = -a
O
-a
y
x
F(a,0)
l: y = a
O
a
y
x
F(-a,0)
(a) (b)
(c) (d)
Gambar 4.2: Parabola-parabola dengan puncak di titik asal O(0, 0).
Garis arah sejajar dengan sumbu j.
Pertama kali kita akan menurunkan persamaan untuk parabola seperti yang ditun-
jukkan dalam Gambar 4.2(a) dengan fokus di 1 (a, 0), a 0, dan garis arah r = ÷a.
l: x = -a
L
x a
P(x,y)
O -a
y
x
F(a,0)
Gambar 4.3: Parabola dengan fokus di (a, 0) dan garis arah r = ÷a.
Diandaikan 1 (r, j) adalah sembarang titik pada parabola, maka jarak dari 1 ke fokus
1 adalah
[11[ =
_
(r ÷a)
2
+j
2
dan jarak dari 1 ke garis arah, lihat Gambar 4.3, adalah
[11[ = a +r.
Bab 4. Parabola 35
Karena de…nisi parabola mensyaratkan [11[ = [11[, maka diperoleh
_
(r ÷a)
2
+j
2
= a +r
(r ÷a)
2
+j
2
= (a +r)
2
r
2
÷2ar +a
2
+j
2
= a
2
+ 2ar +r
2
j
2
= 4ar. (4.1)
Karena itu, sembarang titik pada parabola memenuhi (4.1). Sebaliknya, diambil 1 (r, j)
memenuhi persamaan (4.1), maka dipunyai
11 =
_
(r ÷a)
2
+j
2
=
_
(r ÷a)
2
+ 4ar
=
_
(r +a)
2
= [11[ (4.2)
yang berarti bahwa 1 (r, j) terletak pada parabola.
Jadi, dari (4.1) dan (4.2) telah dibuktikan bahwa persamaan untuk parabola dengan
puncak di titik asal, fokus di (a, 0), a 0, dan garis arah r = ÷a adalah
j
2
= 4ar
dan dicatat bahwa koe…sien dari r adalah positif.
Selanjutnya, dengan cara yang serupa seperti di atas, kita bisa mendapatkan persamaan
untuk parabola seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 4.2(b) dengan puncak di titik
asal, fokus di 1 (÷a, 0), a 0, dan garis arah r = a, yaitu
j
2
= ÷4ar (4.3)
dan dicatat bahwa koe…sien dari r adalah negatif.
Contoh 4.2 Berikan persamaan untuk parabola dengan fokus di (1, 0) dan garis arah
r = ÷1.
Penyelesaian. Diambil persamaan (4.1) dengan a = 1, kita mempunyai
j
2
= 4r.

Contoh 4.3 Tentukan fokus dan garis arah untuk parabola j
2
+ 10r = 0.
Penyelesaian. Dituliskan kembali persamaan menjadi j
2
= ÷10r dan selanjutnya
dibandingkan dengan persamaan (4.3) karena koe…sien dari r adalah negatif. Kita
melihat bahwa ÷4a = ÷10, sehingga a =
5
2
. Jadi fokusnya di
_
÷
5
2
, 0
_
dan garis
arahnya r =
5
2
.
Garis arah sejajar dengan sumbu r.
Berikutnya, kita akan mencari persamaan untuk parabola seperti yang ditunjukkan
dalam Gambar 4.2(c) dan (d). Di sini kita melihat bahwa parabola dalam Gam-
bar 4.2(c) dan (d) berturut-turut merupakan pencerminan terhadap garis j = r dari
Bab 4. Parabola 36
parabola dalam Gambar 4.2(a) dan (b). Karena itu, jika kita menukarkan r dan j
dalam persamaan (4.1), maka diperoleh
r
2
= 4aj (4.4)
yang merupakan suatu persamaan untuk parabola dalam Gambar 4.2(c) dengan fokus
di (0, a), a 0, dan garis arah j = ÷a. Kemudian, jika kita menukarkan r dan j dalam
persamaan (4.2), maka diperoleh
r
2
= ÷4aj (4.5)
yang merupakan suatu persamaan untuk parabola dalam Gambar 4.2(d) dengan fokus
di (0, ÷a), a 0, dan garis arah j = a.
Contoh 4.4 Berikan persamaan untuk parabola dengan fokus di (0, 4) dan garis arah
j = ÷4.
Penyelesaian. Diambil persamaan (4.4) dengan a = 4, kita mempunyai
r
2
= 16j.

Contoh 4.5 Tentukan fokus dan garis arah untuk parabola 4r
2
= ÷j.
Penyelesaian. Dituliskan kembali persamaan menjadi r
2
= ÷
1
4
j dan selanjutnya
dibandingkan dengan persamaan (4.5) karena koe…sien dari r adalah negatif. Kita
melihat bahwa ÷4a = ÷
1
4
, sehingga a =
1
16
. Jadi fokusnya di
_
0, ÷
1
16
_
dan garis
arahnya j =
1
16
.
Contoh 4.6 Tentukan persamaan parabola dengan puncak di titik asal, simetris ter-
hadap sumbu j, dan melalui titik (2, ÷3).
Penyelesaian. Karena parabola simetris terhadap sumbu j dan mempunyai puncak
di titik asal, maka persamaannya berbentuk r
2
= 4aj atau r
2
= ÷4aj, dengan tanda
positif atau negatif tergantung pada apakah parabola terbuka ke atas atau ke bawah.
Karena parabola melalui (2, ÷3) yang terletak di kuadran IV, berarti parabola haruslah
terbuka ke bawah. Jadi persamaannya berbentuk r
2
= ÷4aj.
Karena parabola melalui (2, ÷3), kita mempunyai
2
2
= ÷4a (÷3) == a =
1
3
.
Oleh karena itu, persamaan parabola adalah
r
2
= ÷
4
3
j == 3r
2
= ÷4j.

Bab 4. Parabola 37
Menggambar Parabola.
Dari persamaan-persamaan parabola dan Gambar 4.2, kita mempunyai pengamatan-
pengamatan berikut ini.
1. Parabola simetris terhadap sumbu. Jika persamaan mempunyai suatu suku j
2
,
maka sumbu simetrinya adalah sumbu r karena (4.1) dan (4.3) tidak berubah
ketika j diganti dengan ÷j. jika persamaan mempunyai suatu suku r
2
, maka
sumbu simetrinya adalah sumbu j karena (4.4) dan (4.5) tidak berubah ketika r
diganti dengan ÷r.
2. Ketika sumbu simetri adalah sumbu r, parabola terbuka
(a) ke kanan jika koe…sien dari r adalah positif,
(b) ke kiri jika koe…sien dari r adalah negatif.
3. Ketika sumbu simetri adalah sumbu j, parabola terbuka
(a) ke atas jika koe…sien dari j adalah positif,
(b) ke bawah jika koe…sien dari j adalah negatif.
Contoh 4.7 Gra…k dari parabola-parabola dalam Contoh 4.2 ÷ 4.5 ditunjukkan seperti
berikut ini.
x = -1
O
y = -4
O
y
x
(1,0)
y
x
O
y
x
(0,4)
O
y
x
x y 4
2
=
( ) 0 ,
2
5

2
5
= x
x y 10
2
− =
y x 16
2
=
( )
16
1
, 0 −
16
1
= y
y x
4
1
2
− =
Bab 4. Parabola 38
4.2 Latus Rectum
De…nisi 4.8 Suatu garis yang menghubungkan sembarang dua titik pada suatu irisan
kerucut dinamakan tali (chord) dari irisan kerucut. Suatu tali yang melalui fokus
dinamakan tali fokus (focal chord). Suatu garis dari fokus ke suatu titik pada irisan
kerucut dinamakan jari-jari fokus (focal radius). Tali fokus yang tegak lurus dengan
sumbu dinamakan latus rectum.
F(a,0)
E
D
C
B
l
A
O
y
x
ax y 4
2
=
Gambar 4.4: Tali-tali dari suatu parabola.
Sebagai contoh, lihat Gambar 4.4, ruas garis ¹1, 1C, dan 11 adalah tali-tali parabola,
¹1 dan 1C adalah tali-tali fokus, 11 adalah jari-jari fokus, dan ¹1 adalah latus
rectum. Selain itu kita juga mempunyai garis ¹1 atau 11 yang dinamakan semi
latus rectum dengan panjangnya dinotasikan |.
Untuk mencari panjang latus rectum ¹1 dari parabola j
2
= 4ar dalam Gambar 4.4,
disubstitusikan r = a ke j
2
= 4ar untuk mendapatkan titik ¹ dan 1, yaitu ¹(a, 2a)
dan 1(a, ÷2a). Karena itu, panjang latus rectum sama dengan 4a atau panjang semi
latus rectum adalah
| = 2a. (4.6)
Dengan cara yang serupa, secara mudah kita dapat membuktikan bahwa panjang semi
latus rectum dari parabola-parabola j
2
= ÷4ar, r
2
= 4aj, dan r
2
= ÷4aj adalah juga
sama dengan (4.6).
4.3 Persamaan Parameter
Diperhatikan parabola j
2
= 4ar yang mempunyai garis arah r = ÷a dan fokus (a, 0).
Di sini kita mencoba untuk memilih bagaimana menyatakan r dan j dalam suku-
suku dari t sedemikian sehingga kita menghindari suatu akar kuadrat. Ini dapat kita
lakukan dengan membuat 4ar sebagai suatu kuadrat sempurna. Diambil r = at
2
,
maka j
2
= 4a
2
t
2
, sehingga j = 2at dimana t dapat bernilai positif atau negatif. Jadi
persamaan parameter untuk parabola yang mempunyai garis arah r = ÷a dan fokus
(a, 0) yaitu
r = at
2
, j = 2at. (4.7)
Ini berarti bahwa jika t adalah sembarang variabel, maka sembarang titik yang memenuhi
kedua persamaan (4.7) terletak pada parabola. Ketika nilai t berjalan dari suatu nilai
negatif besar ke suatu nilai positif besar, titik bergerak sepanjang parabola dan melalui
titik asal ketika t = 0, lihat Gambar 4.7.
Bab 4. Parabola 39
t < 0
t > 0
P(at
2
,2at)
O
y
x
Gambar 4.5: Kurva parabola ketika dipunyai persamaan-persamaan parameter.
4.4 Garis Singgung
Kita dapat menggunakan persamaan parameter dari parabola untuk mencari per-
samaan garis singgung di suatu titik 1 pada parabola.
Dimisalkan garis j = :r + : memotong parabola j
2
= 4ar. Disubstitusikan :r + :
untuk j, diperoleh
(:r +:)
2
= 4ar
:
2
r
2
+ 2::r +:
2
÷4ar = 0
:
2
r
2
+ 2 (:: ÷2a) r +:
2
= 0.
Garis adalah menyinggung jika diskriminannya sama dengan nol, yaitu
4 (:: ÷2a)
2
÷4:
2
:
2
= 0
÷16a:: + 16a
2
= 0
: =
a
:
.
Jadi persamaan-persamaan garis singgung terhadap parabola dengan garis arah r = ÷a
dan fokus (a, 0) mempunyai bentuk
j = :r +
a
:
. (4.8)
Gambar 4.6 mengilustrasikan beberapa garis yang menyinggung parabola.
Teorema 4.9 Diandaikan sembarang dua garis singgung terhadap parabola adalah sal-
ing tegak lurus, maka kedua garis akan berpotongan di suatu titik pada garis arah. (Ini
juga diilustrasikan dalam Gambar 4.6.)
Bukti. Diingat bahwa hasil kali dari kemiringan dua garis yang tegak lurus adalah
sama dengan ÷1. Oleh karena itu, jika kita mengganti : dalam persamaan (4.8)
dengan ÷
1
m
, kita akan memperoleh garis singgung lain terhadap parabola yang tegak
lurus dengan (4.8). Persamaan untuk garis singgung kedua yaitu
j = ÷
1
:
r ÷a:. (4.9)
Bab 4. Parabola 40
x
y
Gambar 4.6: Garis-garis singgung terhadap suatu parabola.
Jika kita mengurangkan (4.9) dari (4.8), kita akan memperoleh r = ÷a yang meny-
atakan absis untuk suatu titik dimana kedua garis singgung tersebut berpotongan. Ini
berarti bahwa dua garis singgung yang tegak lurus akan berpotongan di suatu titik
pada garis arah r = ÷a.
Sekarang kita akan menurunkan suatu persamaan untuk garis yang menyinggung parabola
j
2
= 4ar di titik 1 (r
1
, j
1
). Dari persamaan parameter, diambil (r
1
, j
1
) =
_
at
2
1
, 2at
1
_
adalah suatu titik pada parabola, dan (r
2
, j
2
) =
_
at
2
2
, 2at
2
_
adalah titik lain pada
parabola. Garis yang menghubungkan kedua titik tersebut yaitu
j ÷2at
1
r ÷at
2
1
=
2at
2
÷2at
1
at
2
2
÷at
2
1
=
2
t
2
+t
1
.
Selanjutnya diambil t
2
mendekati t
1
yang pada akhirnya berhimpit. Ini berarti bahwa
dengan pengambilan t
2
= t
1
= t dalam persamaan terakhir akan diperoleh
j ÷2at
r ÷at
2
=
1
t
tj ÷2at
2
= r ÷at
2
tj = r +at
2
(4.10)
yang merupakan persamaan garis singgung di titik 1
_
at
2
, 2at
_
.
Dikalikan persamaan (4.10) dengan 2a, diperoleh
2atj = 2a
_
r +at
2
_
.
Dari persamaan tersebut dapat dilihat bahwa persamaan untuk garis singgung di
(r
1
, j
1
) yaitu
j
1
j = 2a (r +r
1
) . (4.11)
Bab 4. Parabola 41
4.5 Sifat-sifat Parabola
Pada subbab ini akan dibahas sifat-sifat parabola dengan perhatian pada suatu parabola
j
2
= 4ar. Pertama kali akan diperhatikan sifat parabola yang berkaitan dengan tali-tali
sejajar dari parabola. Sifat ini diilustrasikan dalam Gambar 4.7.
y
x O
P
1
P
2
y
1
y
0
y
2
M
Gambar 4.7: Ilustrasi untuk sifat tali-tali yang sejajar.
Teorema 4.10 Titik tengah untuk tali-tali yang sejajar dari suatu parabola terletak
pada satu garis mendatar.
Bukti. Dimisalkan kemiringan dari tali-tali yang sejajar adalah :, dan sembarang satu
tali tersebut, misalnya 1
1
1
2
, dinyatakan dengan persamaan j = :r+/. Untuk mencari
titik-titik koordinat 1
1
dan 1
2
perlu diselesaikan persamaan-persamaan j
2
= 4ar dan
j = :r +/. Disubstitusikan r =
y
2
4a
ke persamaan j = :r +/ untuk memperoleh
:j
2
÷4aj + 4a/ = 0.
Akar-akar dari persamaan kuadrat tersebut adalah ordinat-ordinat j
1
dan j
2
untuk 1
1
dan 1
2
; dan ordinat j
0
untuk titik tengah ' dari 1
1
1
2
adalah setengah dari jumlahan
j
1
dan j
2
, artinya j
0
=
1
2
(j
1
+j
2
). Sementara itu, dari persamaan kuadrat diperoleh
bahwa j
1
+ j
2
=
4a
m
. Oleh karena itu j
0
=
2a
m
, artinya bahwa ordinat untuk titik
tengah dari tali 1
1
1
2
tidak tergantung pada konstanta / dan hanya tergantung pada
kemiringan :. Dengan kata lain, titik tengah untuk tali-tali yang sejajar terletak pada
satu garis mendatar j =
2a
m
.
De…nisi 4.11 Tempat kedudukan titik-titik tengah untuk sembarang tali-tali yang se-
jajar dari suatu irisan kerucut dinamakan diameter dari irisan kerucut.
Sifat berikutnya untuk parabola yaitu yang berkaitan dengan tali fokus dan garis
singgung di titik (r
1
, j
1
). Sifat ini diilustrasikan dalam Gambar 4.8.
Teorema 4.12 Jika suatu garis menyinggung parabola di suatu titik 1 dan memotong
garis arah di suatu titik Q, maka 1 dan Q membentuk sudut siku-siku di titik fokus 1,
artinya \11Q = 90

.
Bukti. Tanpa kehilangan keumuman, akan dibuktikan untuk parabola j
2
= 4ar yang
mempunyai garis arah r = ÷a dan fokus 1 (a, 0). Garis singgung di 1 (r
1
, j
1
) yaitu
j
1
j = 2a (r +r
1
) .
Bab 4. Parabola 42
R
Q
P
F
y
x
Gambar 4.8: Ilustrasi untuk sifat dari tali fokus dan garis singgung untuk parabola.
Disubstitusikan r = ÷a ke persamaan di atas untuk mendapatkan titik potong antara
garis arah dengan garis singgung, yaitu
Q =
_
÷a,
2a (r
1
÷a)
j
1
_
.
Kemiringan garis 11 dan 1Q berturut-turut adalah
:
PF
=
j
1
r
1
÷a
, :
QF
=
2a(x
1
a)
y
1
÷a ÷a
=
r
1
÷a
÷j
1
.
Secara mudah kita dapat melihat bahwa hasil kali dari kedua kemiringan sama dengan
÷1. Karena itu garis 11 tegak lurus dengan 1Q.
Dari Teorema 4.9 dan Teorema 4.12 diperoleh akibat seperti berikut.
Akibat 4.13 Diandaikan sembarang dua garis singgung terhadap parabola adalah sal-
ing tegak lurus, maka kedua titik singgung merupakan ujung-ujung dari tali fokus parabola.
(Ini juga diilustrasikan dalam Gambar 4.8.)
De…nisi 4.14 Proyeksi pada sumbu r dari ruas garis singgung untuk parabola dengan
titik-titik ujung pada sumbu r dan titik singgung 1 dinamakan subtangent untuk titik
1. Sementara itu, proyeksi pada sumbu r dari ruas garis normal dengan titik-titik
ujung pada sumbu r dan titik singgung 1 dinamakan subnormal untuk titik 1.
Diperhatikan Gambar 4.9. Diketahui bahwa garis singgung parabola di titik 1 mem-
otong sumbu r di titik T dan garis normalnya memotong sumbu r di titik ·. Ruas
garis TQ adalah subtangent, sedangkan ruas garis Q· adalah subnormal.
Berikut ini dibuktikan sifat-sifat parabola yang muncul berkaitan dengan subtangent,
subnormal, dan garis singgung di titik (r
1
, j
1
). Sifat-sifat ini diilustrasikan dalam
Gambar 4.10.
Teorema 4.15 Titik tengah dari subtangent TQ adalah titik asal O(0, 0).
Bab 4. Parabola 43
O T
P
Q
y
x
N
Gambar 4.9: Subtangent dan subnormal untuk titik singgung parabola.
O T
P
1
Q
y
x
N F
R
α
β
β S
K
Gambar 4.10: Ilustrasi dari sifat parabola yang berkaitan dengan garis singgung di suatu
titik pada parabola.
Bukti. Persamaan garis singgung di titik 1
1
(r
1
, j
1
) adalah j
1
j = 2a (r +r
1
). Titik
T dicari dengan mengambil j = 0 dalam persamaan garis singgung. Dengan cara ini
diperoleh titik T (÷r
1
, 0), sehingga [OT[ = r
1
. Karena [OQ[ = r
1
, maka OT dan
OQ mempunyai panjang sama. Ini berarti bahwa O(0, 0) adalah titik tengah dari
subtangent TQ.
Teorema 4.16 Diambil 1 adalah fokus dan 1
1
1 tegak lurus terhadap garis arah 11,
maka garis singgung di 1
1
membagi sudut 11
1
1 menjadi dua sama besar.
Bukti. Berdasarkan de…nisi parabola dipunyai bahwa 1
1
1 = 1
1
1 = a + r
1
. Selain
itu, berdasarkan sifat sebelumnya dan juga de…nisi parabola diperoleh
T1 = TO +O1 = OQ+O1 = OQ+O1 = r
1
+a.
Oleh karena itu 1
1
1 = 1
1
1 = T1. Jadi, T11
1
1 adalah suatu belah ketupat dan
, = c.
Akibat 4.17 Sudut 1
1
1T sama dengan dua kali sudut 1
1
T1.
Bukti. Berdasarkan kenyataan bahwa keempat sudut belah ketupat adalah sama besar.
Teorema 4.18 Jika garis 11
1
diperpanjang dari titik 1
1
ke suatu titik o, maka garis
normal ·1
1
membagi sudut 11
1
o menjadi dua sama besar.
Bukti. Karena ·1
1
tegak lurus dengan 1
1
T, maka 11
1
· adalah komplemen dari c.
Di sisi lain, dipunyai bahwa ·1
1
o adalah komplemen dari ,. Jadi, berdasarkan sifat
sebelumnya, , = c, diperoleh bahwa sudut 11
1
· sama dengan sudut ·1
1
o.
Bab 4. Parabola 44
Teorema 4.19 Panjang subnormal Q· sama dengan 2a untuk semua posisi titik 1
1
pada parabola.
Bukti. Karena T11
1
1 adalah suatu belah ketupat, maka 11 tegak lurus terhadap
T1
1
. Karena itu 11 sejajar dengan 1
1
·, sehingga segitiga 111 sebangun dengan
segitiga 1
1
1· dan ini berarti bahwa
[Q·[ = [11[ = 2a.
4.6 Persamaan Kutub
Dalam koordinat kutub, dipilih fokus adalah kutub dari koordinat polar dan sumbu
mayor adalah garis awal (0 = 0

) untuk koordinat polar.
SOAL-SOAL UNTUK BAB 4
Dalam soal (1) ÷ (8), gambarkan setiap parabola, cari panjang latus rectum, koordinat
fokus, dan persamaan garis arah. Beri tanda untuk fokus dan gambarkan garis arah
dalam setiap gambar.
(1) j
2
= 8r (2) j
2
= ÷8r (3) j
2
= 12r (4) r = 2j
2
(5) 6r = ÷j
2
(6) r
2
= 8j (7) r
2
= ÷8j (8) 2r
2
= 9j
Dalam persamaan j
2
= 4ar, cari nilai j terhadap kondisi berikut ini:
(9) Parabola melalui titik (2, 6).
(10) Panjang latus rectum sama dengan 16.
(11) Jarak dari puncak ke fokus sama dengan 3.
(12) Koordinat fokus yaitu (÷5, 0).
Dalam soal (13) ÷ (17), cari persamaan parabola dengan puncak di titik asal, sumbu
parabola adalah salah satu sumbu koordinat, dan juga memenuhi kondisi yang diberikan.
(13) Garis dari (÷2, 5) ke (÷2, ÷5) adalah suatu tali parabola.
(14) Garis dari (÷2, 6) ke (2, 6) adalah suatu tali parabola.
(15) Koordinat fokus yaitu (0, ÷3).
(16) Koordinat fokus terletak pada garis 3r + 4j = 12.
(17) Garis arah yaitu garis j = 6.
Dalam soal (18) ÷(23), cari persamaan parabola yang memenuhi kondisi yang diberikan.
Bab 4. Parabola 45
(18) Fokus (6, 0) dan garis arah r = ÷6.
(19) Fokus (0, ÷3) dan garis arah j = 3.
(20) Puncak (0, 0) dan fokus (3, 0).
(21) Puncak (0, 0) dan fokus (÷2, 0).
(22) Puncak (0, 0), melalui (2, 3) , dan sumbunya adalah sepanjang sumbu r.
(23) Puncak (0, 0), melalui (5, 2) , dan simetris terhadap sumbu j.
(24) Dalam parabola j
2
= 4ar, suatu segitiga sama sisi dibuat sedemikian sehingga
puncaknya terletak di titik asal dan kedua titik sudut lainnya terletak pada
parabola. Cari panjang sisi-sisi segitiga tersebut.
(25) Diberikan parabola j
2
= 16r. Cari persamaan lingkaran dengan pusat (12, 0)
dan melalui titik-titik ujung latus rectum. Dengan mencari titik potong antara
lingkaran dan parabola, tunjukkan bahwa lingkaran dan parabola adalah bers-
inggungan.
(26) Suatu irisan penampang (cross-section) dari pemantul cahaya berbentuk parabola
ditunjukkan dalam gambar berikut:
V
A
B
C
D
F
5 cm
5 cm
11 cm
The bulb ditempatkan di fokus dan diameter di fokus adalah 10 cm.
(a) Cari persamaan parabola.
(b) Cari diameter CD yang terletak 11 cm dari puncak.
(27) Jika suatu pemantul cahaya berbentuk parabola dengan diameter 20 cm dan
kedalaman 5 cm, tentukan fokusnya.
(28) Diketahui suatu busur berbentuk parabola dengan sumbunya tegak. Busur mem-
punyai tinggi 10 m dan lebar 5 m pada ujung-ujungnya. Berapakah lebar busur
yang jaraknya 2 m dari puncak parabola.
Daftar Pustaka
[1] Sicelo¤, L.P., Wentworth, G., dan D.E. Smith (1922), Analytic Geometry, Ginn and
Company, Boston.
[2] Stewart, J. (), Essential Calculus: Early Transcendentals
[3] Uppal, S. (2006), Mathematics: Textbook for Class XI, NCERT Publication.
46

Daftar Isi
1 Tinjauan 1.1 Koordinat Kartesius . . . . . . . 1.2 Jarak antara Dua Titik . . . . . 1.3 Garis Lurus . . . . . . . . . . . . 1.4 Koordinat Kutub . . . . . . . . . 1.5 Persamaan-persamaan Parameter 1 1 3 4 13 15 22 22 24 26 26 28 33 33 38 38 39 41 44

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . dan Kurva

. . . . .

. . . . .

. . . . .

. . . . .

. . . . .

. . . . .

. . . . .

. . . . .

. . . . .

. . . . .

. . . . .

. . . . .

. . . . .

. . . . .

. . . . .

2 Irisan-irisan Kerucut 2.1 Irisan Bidang dari Suatu Kerucut . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2.2 Eksentrisitas . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3 Lingkaran 3.1 Persamaan Lingkaran . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3.2 Persamaan Garis Singgung . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4 Parabola 4.1 Persamaan Baku . . . 4.2 Latus Rectum . . . . . 4.3 Persamaan Parameter 4.4 Garis Singgung . . . . 4.5 Sifat-sifat Parabola . . 4.6 Persamaan Kutub . .

. . . . . .

. . . . . .

. . . . . .

. . . . . .

. . . . . .

. . . . . .

. . . . . .

. . . . . .

. . . . . .

. . . . . .

. . . . . .

. . . . . .

. . . . . .

. . . . . .

. . . . . .

. . . . . .

. . . . . .

. . . . . .

. . . . . .

. . . . . .

. . . . . .

. . . . . .

. . . . . .

. . . . . .

. . . . . .

. . . . . .

. . . . . .

. . . . . .

i

Bab 1

Tinjauan
Dalam bab ini didiskusikan kembali tentang koordinat geometri dalam dua dimensi dan geometri dari garis lurus. Di sini kita melihat bagaimana meletakkan dan melabelkan titik pada bidang Kartesius, dan juga menggambar gra…k dari beberapa persamaan atau pertidaksamaan yang sederhana. Kita juga akan melihat bagaimana menghitung jarak antara dua titik, membentuk berbagai persamaan dari suatu garis, menghitung jarak suatu titik ke suatu garis, dan sudut antara dua garis. Pada bagian akhir diperkenalkan kembali mengenai sistem koordinat kutub dan persamaan-persamaan parameter.

1.1

Koordinat Kartesius

Titik pada suatu bidang dapat diidenti…kasi dengan pasangan terurut dari bilanganbilangan real. Kita mulai dengan menggambar dua garis koordinat tegak lurus yang berpotongan di titik asal O (0; 0). Biasanya satu garis adalah mendatar dengan arah positif ke kanan dan dinamakan sumbu x. Garis lainnya adalah tegak dengan arah positif ke atas dan dinamakan sumbu y.

y 4 b 3 2 1 -3 -2 -1 O -1 x 1 2 3 a 4 5 P(a,b) (-2,2) 4 3 2 1

y

(1,3)

II

I

(5,0) x 1 2 3 4 5

-3 -2 -1 O -1 (-3,-2) -2 -3 -4

III

-2 -3 -4

IV

(2,-4)

(a)

(b)
Gambar 1.1: Peletakan dan pelabelan titik.

1

Bab 1. Tinjauan

2

Sembarang titik P pada bidang dapat dinyatakan oleh suatu pasangan terurut tunggal dari bilangan-bilangan seperti berikut ini. Digambar garis-garis yang melalui P dan tegak lurus terhadap sumbu x dan y. Garis-garis tersebut memotong sumbu-sumbu di titik-titik dengan koordinat a dan b seperti ditunjukkan dalam Gambar 1.1(a). Selanjutnya titik P ditetapkan dengan pasangan terurut (a; b). Bilangan pertama a dinamakan koordinat x dari P , bilangan kedua b dinamakan koordinat dari y dari P . Kita mengatakan bahwa P adalah titik dengan koordinat (a; b), dan kita menotasikan titik tersebut dengan simbol P (a; b). Dalam Gambar 1.1(a) beberapa titik diberikan dengan koordinat-koordinatnya. Dengan membalikkan proses sebelumnya kita bisa mulai dengan suatu pasangan terurut (a; b) dan sampai di titik P yang berkorespondensi. [Meskipun notasi yang digunakan untuk interval terbuka (a; b) sama seperti notasi yang digunakan untuk suatu titik (a; b), anda akan mampu untuk mengetahui konteks mana yang dimaksudkan di sini.] Dari pembahasan di atas dipunyai suatu sistem koordinat, yaitu suatu sistem untuk menentukan titik-titik menggunakan koordinat-koordinat, yang terdiri dari dua garis bilangan real yang saling tegak lurus dan ditempatkan sedemikian sehingga berpotongan di suatu titik yang menyatakan bilangan nol untuk keduanya. Sistem koordinat tersebut dinamakan sistem koordinat persegi panjang atau sistem koordinat Kartesius dalam dua dimensi. Nama Kartesius berkaitan dengan matematikawan Perancis bernama René Descartes (1596-1650, Latin: Cartesius) yang memperkenalkannya pada tahun 1637. Bidang yang disediakan oleh sistem koordinat dinamakan bidang koordinat atau bidang Kartesius dan dinotasikan dengan R2 = f(x; y) : x; y 2 Rg = R R;

dimana R = ( 1; 1) menotasikan suatu interval atau himpunan dari semua bilangan real. Dalam pasangan terurut (x; y), bilangan pertama x dinamakan absis (abscissa), sedangkan bilangan kedua y dinamakan ordinat (ordinate). Sumbu-sumbu koordinat x dan y membagi bidang Kartesius menjadi empat kwadran yang dilabelkan I, II, III, dan IV seperti dalam Gambar 1.1(b). Dicatat bahwa kwadran I terdiri dari titik-titik dimana sumbu x dan y adalah positif. Contoh 1.1 Gambarkan dan buat sketsa dari daerah yang diberikan oleh himpunanhimpunan berikut ini. (a) f(x; y) : x 0g (b) f(x; y) : y = 1g (c) f(x; y) : jyj < 1g Penyelesaian. (a) Titik dimana koordinat x adalah 0 atau positif, yaitu terletak pada sumbu y atau ke arah kanannya seperti yang dinyatakan oleh daerah arsiran dalam Gambar 1.2(a). (b) Himpunan dari semua titik dengan koordinat y adalah 1, yaitu dinyatakan oleh suatu garis mendatar satu satuan di atas sumbu x (lihat Gambar 1.2(b)). (c) Dari aljabar dipunyai jyj < 1 jika hanya jika 1 < y < 1:

dan karena itu dengan Teorema Pythagoras kita . y y2 P2(x2. y2 ) diketahui. Jadi.3). jarak antara titik P1 (x1 .1.] y y y y=1 y=1 O x O x O y = -1 x (a) x ≥ 0 (b) y = 1 Gambar 1. y1 ) dan P3 (x2 . Dari aljabar dipunyai bahwa jarak antara titik a dan b pada suatu garis bilangan adalah ja bj = jb aj. Digambarkan koordinat-koordinat dari P1 dan P2 . dan jarak antara titik P2 (x2 . dapat dicari dengan mudah. y1 ) pada suatu garis tegak sama dengan jy2 y1 j.Bab 1.2(c) untuk menyatakan bahwa titik-titik pada garis tersebut tidak masuk dalam himpunan.3 adalah suatu segitiga siku-siku. dan digambar ruas garis P1 P3 tegak lurus terhadap P3 P2 (lihat Gambar 1.y1) y2 − y1 P3(x2. Jadi daerah tersebut terdiri dari semua titik yang terletak di antara (tetapi tidak pada) garis mendatar y = 1 dan y = 1.2 Jarak antara Dua Titik Ketika koordinat-koordinat dari dua titik P1 (x1 . Untuk mencari jarak jP1 P2 j. y1 ) pada suatu garis mendatar sama dengan jx2 x1 j.y2) P P2 1 y1 O P1(x1. (c) y < 1 1.2: Penyelesaian untuk Contoh 1.3: Jarak antara dua titik P1 dan P2 . jarak antara dua titik. Tinjauan 3 Daerah yang diberikan terdiri dari titik-titik dalam bidang dimana koordinat y terletak antara 1 dan 1. y1 ) dan P2 (x2 . dinotasikan jP1 P2 j. [Garisgaris tersebut ditunjukkan seperti garis putus-putus dalam Gambar 1. y2 ) dan P3 (x2 .y1) x2 x x2 − x1 x1 Gambar 1. kita mencatat bahwa segitiga P1 P2 P3 dalam Gambar 1.

Tinjauan mempunyai jP1 P2 j = = q q q jP1 P3 j + jP2 P3 j = jx2 2 2 4 x1 j2 + jy2 y1 j2 (1. .3 Garis Lurus Di sini kita akan menggunakan kata "garis" untuk mengartikan suatu garis lurus. Jika kita mempunyai dua titik.Bab 1. y C(x3.y2) A(x1. misalnya P1 (x1 . 2) dan (5.3 Diambil A (x1 . y2 ). y1 ) dan P2 (x2 .2 Secara cepat. B (x2 . dan C (x3 . maka kita dapat menggambar satu dan hanya satu garis yang melalui kedua titik tersebut.1) (x2 x1 )2 + (y2 y1 )2 : Contoh 1. y3 ) adalah tiga titik pada bidang Kartesius. yaitu suatu ukuran keterjalan dari garis. 3) sama dengan q p p (5 1)2 + (3 ( 2))2 = 42 + 52 = 41: Contoh 1.y1) O A′ C′ B′ x Kita melihat bahwa luas bidang datar dari segitiga ABC = luas bidang datar dari trapesium A0 ACC 0 +luas bidang datar dari trapesium C 0 CBB 0 = luas bidang datar dari trapesium A0 ABB 1 1 (x3 x1 ) (y3 + y1 ) + (x2 x3 ) (y2 + y3 ) 2 2 1 (x2 x1 ) (y2 + y1 ) 2 1 [x1 (y2 y3 ) + x2 (y3 y1 ) + x3 (y1 y2 )] 2 x1 x2 x3 1 y1 y 2 y 3 . Berapakah luas bidang datar dari segitiga ABC? Suatu cara untuk menjawab pertanyaan ini disarankan oleh gambar di bawah ini. kita menggunakan kemiringannya. y1 ). Untuk mencari persamaan dari garis tersebut. y2 ). jarak antara (1. 1.y3) B(x2. 2 1 1 1 = = dimana tanda mutlak di sini menyatakan determinan dari matriks.

(1.y1) ∆y = y2 − y1 m= 1 2 ∆x = x2 − x1 O x O m=−1 2 m = -1 m = -2 m = -5 x m=0 (a) Gambar 1. Kenyataan bahwa garis adalah lurus mempunyai arti bahwa laju perubahan adalah konstan.4(b) memperlihatkan beberapa garis yang dilabelkan dengan kemiringannya.) Oleh karena itu. terletak pada garis l jika hanya jika kemiringan dari garis yang melalui P1 dan P sama dengan m. Kemiringan dari garis adalah m= 4 3 2 = ( 1) 3 : 2 . y P2(x2. terhadap perubahan dalam x. (b) Gambar 1.4: Kemiringan garis. 4). sedangkan garis-garis dengan kemiringan negatif mempunyai arah turun ke kanan.4 Kemiringan (slope) dari suatu garis tidak tegak yang melalui titik-titik P1 (x1 . y1 ) dan mempunyai kemiringan m. kemiringan adalah laju perubahan dari y terhadap x. y2 ) yaitu m= y y2 = x x2 y1 : x1 (1. Bentuk titik-kemiringan dari persamaan garis. dengan x 6= x1 . Dicatat bahwa garis-garis dengan kemiringan positif mempunyai arah naik ke kanan.Bab 1.4(a). Contoh 1. Dicatat juga bahwa garis paling terjal adalah garis yang mempunyai nilai mutlak kemiringan terbesar.2) Kemiringan dari suatu garis tegak adalah tidak terde…nisi. (Lihat Gambar 1. 2) dan (3.5 Cari suatu persamaan garis yang melalui titik ( 1.3) dan kita mengamati bahwa persamaan tersebut juga dipenuhi ketika x = x1 dan y = y1 . Oleh karena itu. artinya y x y1 = m: x1 Persamaan tersebut dapat dituliskan kembali menjadi y y1 = m (x x1 ) (1. y. dan suatu garis mendatar mempunyai kemiringan 0. Penyelesaian.3) adalah suatu persamaan dari garis l yang diberikan. Suatu titik P (x. y1 ) dan P2 (x2 . x. y). Jadi kemiringan dari suatu garis adalah rasio perubahan dalam y. Sekarang kita mencari persamaan garis l yang melalui suatu titik P1 (x1 . Tinjauan 5 De…nisi 1.y2) l y m=5 m=2 m=1 P1(x1.

6 Gambarkan gra…k dari ketaksamaan x + 2y > 5. Kita diminta untuk menggambarkan daerah dari himpunan f(x.Bab 1. kita memperoleh (x + 1) Bentuk kemiringan-perpotongan dari persamaan garis. Penyelesaian. sehingga bentuk titik-kemiringan dari persamaan suatu garis. b).) Ini berarti bahwa garis memotong sumbu y di titik (0. yang disederhanakan menjadi y = mx + b: y b y = mx+b y y=b x=a O x O x (a) (b) Gambar 1. menjadi y b = m (x 0) . Tinjauan Dengan penggunaan bentuk (1:3) dimana x1 = y yang disederhanakan menjadi 3x + 2y = 1: 2= 3 2 6 1 dan y1 = 2. sehingga persamaannya adalah y = b. (Lihat Gambar 1. Contoh 1. Secara khusus. dengan x1 = 0 dan y1 = b. dimana a adalah perpotongan garis dengan sumbu x. jika suatu garis adalah mendatar. tetapi kita dapat menuliskan persamaannya seperti x = a.5(a). Selanjutnya diandaikan suatu garis tidak tegak mempunyai kemiringan m dan memotong y di b. dimana b adalah perpotongan garis dengan sumbu y (lihat Gambar 1.5: Garis yang memotong sumbu y di b atau memotong sumbu x di a. kemiringannya adalah 0.5(b)). Suatu garis tegak tidak mempunyai kemiringan. karena koordinat x dari setiap titik pada garis adalah a. y) : x + 2y > 5g dan kita mulai dengan menyelesaikan ketaksamaan untuk y: x + 2y > 5 2y > y > x+5 5 1 x+ : 2 2 .

yang menyatakan 2 1 5 suatu garis dengan kemiringan 2 dan memotong sumbu y di 2 .Bab 1. 2. Contoh 1. Jadi gra…knya adalah daerah yang terletak 2 di atas garis. 2) dan sejajar dengan garis 4x + 6y + 5 = 0. artinya bahwa kemiringan satu garis adalah negatif kebalikan dari yang lainnya: 1 m2 = : m1 Contoh 1. 4y 1 = 0 adalah tegak .9 Tunjukkan bahwa garis 2x + 3y = 1 dan 6x lurus.6: Penyelesaian untuk Contoh 1. Dua garis dengan kemiringan m1 dan m2 adalah tegak lurus jika hanya jika m1 m2 = 1. seperti diilustrasikan dalam Gambar 1. y 5 2 O 5 x Gambar 1.6. Garis-garis yang sejajar dan tegak lurus.8 Cari suatu persamaan dari garis yang melalui titik (5. Dua garis tak tegak adalah sejajar jika hanya jika keduanya mempunyai kemiringan yang sama.7 1. Proposisi 1. Kemiringan dapat digunakan untuk menunjukkan apakah garis-garis adalah sejajar atau tegak lurus. sehingga garis yang dicari mempunyai kemiringan 2 3 dan persamaannya dalam bentuk titik-kemiringan adalah y 2= 2 (x 3 5) : Kita dapat menuliskannya kembali menjadi 2x + 3y = 16. 6 yang merupakan bentuk kemiringan-perpotongan dengan m = 2 .6. Tinjauan 7 5 Dibandingkan ketaksamaan di atas dengan persamaan y = 1 x + 2 . Kita melihat bahwa gra…k yang ditanyakan terdiri dari titik-titik dimana koordinat-koordinat y lebih besar 1 daripada titik-titik pada garis y = 2 x+ 5 . Penyelesaian. Garis yang sejajar 3 mempunyai kemiringan sama. Garis yang diberikan dapat dituliskan dalam bentuk y= 2 x 3 5 .

Kita tertarik untuk mencari jarak tegak lurus dari titik P0 ke garis.Bab 1. sedangkan perpotongan dengan garis l dinamakan S.y) S O x P0(x0.y0) m Gambar 1. Perpotongan garis n a dengan garis m dinamakan titik R. Tinjauan 8 Penyelesaian. Garis m berpotongan dengan garis RS ketika a b ax + ax0 + by0 x= : a b . Berikut ini dilakukan suatu trik untuk memudahkan pencarian tersebut dengan memperhatikan Gambar 1. sehingga persamaannya adalah a b y = x. maka m dan n. Garis a karena sejajar dengan garis l. yaitu jarak jP0 Qj. kedua garis adalah tegak lurus.7: Konstruksi garis dalam pencarian jarak tegak lurus dari suatu titik ke garis. y0 ) adalah suatu titik pada Garis tersebut mempunyai kemiringan b bidang Kartesius yang tidak perlu terletak pada garis l. Kita akan mencari jarak jRSj yang tentu saja sama dengan jarak jP0 Qj yang kita inginkan pada awalnya. Pertama kali dicari koordinat dari titik R yang merupakan perpotongan antara garis a . y0 ) dan mempunyai kemiringan b persamaannya adalah y y0 = a (x b x0 ) atau y = ax + ax0 + by0 : b b Garis RS mempunyai kemiringan dan melalui (0. Sekarang diperhatikan suatu garis l yang dituliskan dalam bentuk ax + by + c = 0: (1. Karena m1 m2 = 1. 3 3 2 4 sehingga kita dapat melihat bahwa kemiringan dari garis-garis tersebut berturut-turut 2 adalah m1 = 3 dan m2 = 3 . y n R l Q(x. Karena garis m melalui (x0 .7. Diambil P0 (x0 . Garis n ini akan b mempunyai kemiringan karena tegak lurus dengan garis l. 0). Berikutnya. Dikonstruksi suatu garis m yang sejajar dengan garis l dan melalui titik P0 . Persamaan-persamaan yang diberikan dapat dituliskan kembali menjadi 2 1 3 1 y= x+ dan y = x . dikonm juga mempunyai kemiringan b struksi suatu garis n yang sejajar dengan P Q dan melalui titik asal.4) a . 2 Jarak dari suatu titik ke garis.

5) a2 + b2 . diperoleh x= a (ax0 + by0 ) : a2 + b2 b x. menggunakan rumus jarak (1. Jadi. y0 . diperoleh koordinat titik R yaitu a : 9 Setelah disubstitusikan kembali ke y = a (ax0 + by0 ) b (ax0 + by0 ) . dan c dapat menghasilkan suatu bilangan negatif dalam pernyataan ax0 + by0 + c. x0 . dan beberapa kombinasi dari a. diperoleh koordinat titik S yaitu a bc a2 + b2 : ac . b. Tinjauan Diselesaikan persamaan terakhir untuk x. a2 + b2 a2 + b2 Berikutnya dicari koordinat dari titik S yang merupakan perpotongan antara garis b ax + c y = x dan ax+by +c = 0 (yang dapat dituliskan menjadi y = ). a2 + b2 Sekarang dihitung jarak jRSj. Perpotongan a b tersebut terjadi ketika b ax + c x= . jarak dari titik P0 (x0 . a b yang memberikan penyelesaian untuk x yaitu x= Setelah disubstitusikan kembali ke y = a2 ac : + b2 b x. yaitu s a (ax0 + by0 ) 2 bc b (ax0 + by0 ) ac + jRSj = 2 + b2 2 + b2 2 + b2 a a a a2 + b2 q ( a (ax0 + by0 + c))2 + ( b (ax0 + by0 + c))2 = a2 + b2 q (a2 + b2 ) (ax0 + by0 + c)2 = a2 + b2 p (a2 + b2 ) jax0 + by0 + cj = a2 + b2 jax0 + by0 + cj p = : a2 + b2 2 Tanda nilai mutlak adalah perlu karena jarak haruslah bernilai positif.Bab 1.1). y0 ) ke garis ax + by + c = 0 diberikan oleh jax0 + by0 + cj p d= : (1.

jarak tegak lurus dari A ke BC yaitu d = j(y3 j(y3 j(y3 j(y3 y2 ) x1 r (x3 (y3 x2 ) y1 + (x3 y2 )2 + ( (x3 x2 ) y2 x2 ))2 (y3 y2 ) x2 j (y3 y2 ) x2 j = y2 ) x1 = = y2 ) (x1 y2 ) (x1 q (y3 (x x2 ) y1 + (x3 x2 ) y2 r3 (y3 y2 )2 + (x3 x2 )2 x2 ) (x3 x2 ) (y1 x2 )2 x2 ) (y1 y2 )j y2 )j y2 )2 + (x3 x2 ) (x3 jBCj . Tinjauan Contoh 1. 6) ke garis rumus jarak yang sudah diperoleh. Sekarang 5 digunakan rumus jarak yang sudah diperoleh untuk mendapatkan d= j6 ( 3) 5 7 + 10j j 43j 43 43 p q 61: = p =p = 61 61 61 62 + ( 5)2 Contoh 1. jBCj2 = (x3 Garis BC mempunyai kemiringan samaannya adalah y (x3 (x3 x2 ) y x2 ) (y (x3 y3 x3 x2 )2 + (y3 y2 )2 : y2 dan melalui titik (x2 . menggunakan j 2 5 + 3 6 + 4j j12j 12 12 p q 13: =p =p = 13 13 13 ( 2)2 + 32 Contoh 1. maka kita dapat menghitung luas bidang datar dari segitiga. jika kita dapat mencari panjang dari sisi BC dan jarak tegak lurus dari A ke BC. Sebagai contoh. y2 ).Bab 1. yaitu d= 10 2x+3y+4 = 0. Secara mudah.12 Suatu metode alternatif untuk mencari luas bidang datar dari segitiga dalam Contoh 1.3 yaitu dengan mencatat bahwa luas bidang datar dari suatu segitiga 1 adalah 2 alas tinggi. y3 x3 y2 ) = (y3 y2 = x2 ) y2 = (y3 yang dapat dituliskan menjadi (y3 y2 ) x (x3 x2 ) y + (x3 x2 ) y2 (y3 y2 ) x2 = 0: Karena itu. sehingga perx2 y2 (x x2 ) x2 y2 ) (x x2 ) y2 ) x (y3 y2 ) x2 . 7) ke garis y = 6 x + 2. pertama kali 5 dituliskan persamaan garis menjadi 6 x y + 2 = 0 atau 6x 5y + 10 = 0.11 Untuk mencari jarak dari titik ( 3.10 Jarak tegak lurus dari titik (5.

Ketika suatu garis memotong sumbu x. Dimisalkan bahwa garis pertama memotong sumbu x di titik A. y y l2 y = mx + c y = m2x + c2 φ θ C β B l1 ∆y y = m1x + c1 γ O ∆x α x O A x (a) (b) Gambar 1. diperoleh sudut dari l1 ke l2 : tan ( ) = tan ( ) tan ( ) tan ( ) = .8(a)). Kita mencatat bahwa sudut ACB sama dengan dan sudut ABC sama dengan 180 . luas bidang datar dari segitiga ABC sama dengan 1 j(y3 2 y2 ) (x1 x2 ) (x3 x2 ) (y1 y2 )j : 11 Bisa diperiksa dengan mudah bahwa hasil ini sama dengan hasil di Contoh 1.8(b)).6) Kita tertarik untuk mencari sudut yang dibentuk oleh kedua garis tersebut. misalnya dan dimana tan ( ) = m1 dan tan ( ) = m2 .3. 1 + tan ( ) tan ( ) atau tan ( ) = m2 m1 : 1 + m2 m1 . beberapa sudut dibentuk.8: Sudut antara dua garis. dan perpotongan kedua garis adalah titik C. Sekarang diperhatikan dua garis yang mempunyai persamaan: l1 : y = m1 x + c1 dan l2 : y = m2 x + c2 : (1. Sudut antara dua garis.Bab 1. Tinjauan Jadi. Perpotongan kedua garis dengan sumbu x secara berturut-turut membentuk sudut. Di sini kita melihat bahwa sudut yang dibentuk oleh suatu garis y = mx + c dan sumbu x memenuhi tan ( ) = m. maka dipunyai hubungan + + 180 = 180 atau = : Oleh karena itu. (Lihat Gambar 1. Karena jumlah dari ketiga sudut segitiga sama dengan 180 . menggunakan rumus trigonometri elementer. Sudut positif di sebelah kanan garis dan di atas sumbu x dinamakan sudut kemiringan (inclination). dan dilabelkan dengan (lihat Gambar 1. garis kedua memotong sumbu x di titik B.

maka persamaan a1 x + b1 y + c1 + k (a2 x + b2 y + c2 ) = 0. atau. 3). Tinjauan Untuk mencari sudut . Berikut ini diberikan suatu teorema dimana kita bisa menentukan suatu persamaan garis yang melalui perpotongan dua garis tanpa harus mencari titik potong. dari l1 ke l2 . Teorema 1. menyatakan persamaan garis l3 yang melalui irisan dari garis l1 dan l2 . 1). dan C (3. seperti gambar berikut ini. B (4. 4 ( 5) 9 maka tangent dari sudut ABC sama dengan 2 ( 5) m2 m1 = = 9 2 1 + m2 m1 1 + 9 ( 5) 47 9 1 9 = 47: Garis Melalui Perpotongan Dua Garis.13 Diperhatikan segitiga dengan titik-titik sudut A ( 5. . Selanjutnya karena m1 = 4 ( 1) = 3 4 5 dan m2 = 1 ( 3) 2 = . 4).Bab 1. dalam gambar. dari l2 ke l1 . kita mempunyai tan ( ) = tan (180 )= m1 m2 : = 1 + m1 m2 tan ( ) 12 Contoh 1.14 Diberikan a1 x + b1 y + c1 = 0 dan a2 x + b2 y + c2 = 0 berturut-turut adalah persamaan dari garis l1 dan l2 . y 4 3 2 1 -5 -4 -3 -2 -1 O -1 -2 A -3 -4 1 l2 2 3 4 5 B x l1 C Di sini sudut ABC adalah sudut dari BC ke BA. dimana k adalah suatu konstanta sembarang.

15 Cari persamaan garis yang melalui irisan dari garis 3x y = 4x 7. Persamaan dari l3 adalah berderajat satu dalam x dan y. Suatu ilustrasi dapat dilihat dalam Gambar 1. Berdasarkan teorema di atas. dengan substitusi 4 untuk x dan substitusi 2 untuk y maka kita mendapatkan bahwa k = 12 . Karena itu persamaan a1 x + b1 y + c1 + k (a2 x + b2 y + c2 ) = 0. 1. sehingga (0. θ ) r y kutub = (0. ). Dalam Gambar 1. Dalam sistem ini setiap titik P (x.9: Koordinat kutub (r. x = r cos ( ) . dan karena itu l3 menyatakan suatu garis. karena substitusi x1 untuk x dan substitusi y1 untuk y dalam persamaan dari l3 hanya memberikan nilai k. persamaan yang dicari adalah 3x 2y 4 + k (y 4x + 7) = 0: Karena garis tersebut melalui (4.4 Koordinat Kutub Sistem koordinat kutub (polar coordinate system) merupakan suatu alternatif untuk sistem Kartesius. misalnya (x1 . 2). y ) = ( r . y1 ). dan sudut dinamakan sudut kutub (polar angle) yang menyatakan sudut antara garis dan sumbu kutub. Lebih jauh. y) dalam bidang koordinat-xy dapat dinyatakan sebagai koordinat kutub (r. P = ( x. l3 melalui irisan dari l1 dan l2 karena pasangan nilai yang memenuhi persamaan dari l1 dan l2 juga memenuhi l3 . kutub dilabelkan dengan (0. menyatakan garis-garis yang melalui irisan dari l1 dan l2 . Bilangan r dinamakan koordinat jarak (distance coordinate) yang menyatakan panjang garis dari titik P ke titik asal O. Tinjauan 13 Bukti. untuk berbagai nilai k. 2y = 4 dan Penyelesaian. apapun nilai dari k. dan melalui (4.9. k dapat ditentukan oleh kondisi bahwa l3 melalui sembarang titik lain pada bidang. ) yang memenuhi hubungan berikut: x2 + y 2 = r2 .Bab 1. kita memperoleh bahwa 3x + 2y = 8 adalah persamaan yang diminta. Disubstitusikan 12 untuk k dan 11 11 selanjutnya disederhanakan.9. = arctan y : x Titik asal O dinamakan kutub (pole) dan sumbu-x positif dinamakan sumbu kutub (polar axis). 2). y = r sin ( ) . ) karena 0 menyatakan suatu jarak 0 dari kutub. ) akan secara tepat berada di kutub tanpa memperhatikan . Selain itu.θ ) θ x Gambar 1. Contoh 1.

Untuk merubah persamaan-persamaan Kartesius ke persamaan-persamaan kutub digunakan informasi x = r cos ( ) dan y = r sin ( ). kita melihat sepanjang garis yang membentuk suatu sudut 270 terhadap sumbu kutub.Bab 1. kita menggunakan (x. 270 ) : Penyelesaian. 30 ) . Untuk mencari letak titik A. ) dan r = f ( ): variabel pertama r adalah variabel tak bebas dan variabel kedua adalah variabel bebas.16 Letakkan titik-titik dengan koordinat-koordinat kutub: A (2. dapat digunakan aturan: untuk perubahan dari radian ke derajat. dan selanjutnya mengam6 bil 2 satuan mundur karena r = 2 adalah negatif. Pertama kali disubstitusikan nilai kutub untuk x dan y. Sebagai contoh. Satuan untuk dapat diberikan dalam radian atau derajat. . y) dan y = f (x): variabel pertama x adalah variabel bebas dan variabel kedua y adalah variabel tak bebas. 180 Contoh 1. Gambar di bawah ini menunjukkan letak titik A. tetapi pada umumnya diberikan dalam radian. suatu kebalikan dari penggunaan koordinat Kartesius. Dalam koordinat kutub. selanjutnya diselesaikan untuk r sebagai fungsi dari : 3x 3r cos ( ) r (3 cos ( ) y+2 = 0 sin ( )) = r = 2 2 3 cos ( ) sin ( ) : r sin ( ) + 2 = 0 . Untuk perubahan antara radian dan derajat. Tinjauan 14 sudut . dikalikan dengan 180 . dikalikan dengan untuk perubahan dari derajat ke radian. kita melihat sepanjang garis yang membentuk suatu sudut 30 terhadap sumbu kutub. kita melihat sepanjang garis yang membentuk suatu sudut 1 atau 30 terhadap sumbu kutub. B. Untuk mencari letak titik B. akan dicari persamaan kutub yang berkorespondensi dengan persamaan Kartesius 3x y + 2 = 0. Untuk mencari letak titik C. kita menggunakan (r. 1 6 . dan selanjutnya mengambil 2 satuan dalam arah tersebut. dan C ( 1. dan C. 90 o C r 180 o ( ) π 270o (1 π ) 2 A 30o 1 B 270 o 2 0o (3 π ) 2 Dalam sistem koordinat Kartesius. B 2. dan selanjutnya mengambil 3 satuan mundur karena r = 1 adalah negatif.

Berikut ini diambil beberapa nilai t dalam batasan yang diberikan: t 1 1 2 x 0 1 4 0 1 0 2 y 3 2 1 1 dan diperoleh kurva parameter seperti berikut: y 1 1 -1 t = 0 t =−1 2 -2 -3 t = -1 2 t=1 x . Suatu kurva parameter tidak selalu mudah untuk digambar. Kurva-kurva parameter mempunyai suatu arah gerakan. y = 2t 1. Tinjauan 15 1.Bab 1.17 Gambarkan kurva parameter untuk persamaan-persamaan parameter berikut ini: x = t2 + t. Setiap nilai t mende…nisikan suatu titik yang dapat digambarkan pada bidang Kartesius. Jadi. Persamaan-persamaan yang diperoleh dinamakan persamaan-persamaan parameter yang dituliskan seperti berikut: x = x (t) dan y = y (t) . Berikut ini diberikan contoh untuk melihat suatu cara menggambar kurva parameter. 1 t 1: Penyelesaian. sehingga ketika kita menggambar kurva parameter maka kita juga menyertakan panah yang menunjukkan arah gerakan.5 Persamaan-persamaan Parameter dan Kurva Pada waktu tertentu kita perlu untuk menyatakan nilai-nilai x dan y pada suatu gra…k atau lintasan dalam suku-suku dari suatu variabel ketiga yang dinamakan parameter. Arah gerakan ini diberikan berdasarkan kenaikan t. Disini pilihan untuk menggambar kurva parameter hanyalah mengambil beberapa nilai t. mensubstitusikannya ke persamaan-persamaan parameter dan selanjutnya menggambarkan titik-titik yang diperoleh. Variabel ketiga ini biasanya dinotasikan dengan t. dalam contoh ini kurva dimulai di t = 1 dan berakhir di t = 1. Contoh 1. Koleksi titik-titik yang diperoleh dengan pengambilan semua nilai t yang mungkin adalah gra…k dari persamaan-persamaan parameter dan dinamakan kurva parameter.

(12) Melalui ( 3. (6) (a) Tunjukkan bahwa titik-titik A ( 1. (19) Melalui (4. tegak lurus dengan garis 2x + 5y + 8 = 0. 7) Dalam soal (3) (4). (21) Melalui (1. (22) Memotong sumbu y di 6. 0). 3). 1) dan (1. 4). 8. 3). dan C (5. (5. B. Tinjauan 16 SOAL-SOAL UNTUK BAB 1 Dalam soal (1) (2). 2) dan (4. 6) (4) P ( 1. 6). (8) y = 2 (9) xy = 0 (10) jyj = 1 (24). gambarkan gra…k dari persamaan yang diberikan. 6). kemiringan 6. (15) Kemiringan 3. sejajar dengan garis 2x + 3y + 4 = 0. (3) P ( 3. cari suatu persamaan garis yang memenuhi kondisi yang (11) Melalui (2. (20) Melalui (4. (4. . 15) adalah kolinear (terletak pada garis yang sama) dengan menunjukkan bahwa jABj + jBCj = jACj : (b) Pergunakan kemiringan untuk menunjukkan bahwa A. 5). memotong sumbu y di 4. Q ( 1. dan C adalah kolinier. memotong sumbu y di (18) Memotong sumbu x di 3. cari kemiringan dari garis yang melalui titik P dan Q. sejajar dengan garis x + 2y = 6. 1). Dalam soal (7) (7) x = 3 Dalam soal (11) diberikan. 5) (2) (1. memotong sumbu y di 6. 5 (17) Memotong sumbu x di 1. 2 3 . tegak lurus dengan garis 4x 8y = 1. (1. 0) (5) Tunjukkan bahwa titik-titik ( 2. 11). 5). 3). 3). 3). kemiringan (13) Melalui (2. 6). (14) Melalui ( 1. cari jarak antara kedua titik. (16) Kemiringan 2 . (24) Melalui 1 2. 7 2. (23) Melalui ( 1. (4. Q (6. B (3. 3) merupakan titiktitik sudut dari suatu bujur sangkar.Bab 1. memotong sumbu y di 2. 5). 9). dan ( 5. sejajar dengan sumbu y. 2). sejajar dengan sumbu x. (10). (1) (1.

0) . tidak sama kaki. : 2 2 (40) Cari titik tengah dari ruas garis yang menghubungkan titik (1. 2) (48) ( 1. (38) Tunjukkan bahwa garis 3x 5y + 19 = 0 dan 10x + 6y 50 = 0 adalah tegak lurus dan cari titik perpotongannya. y) : 0 y 4 dan x 2g f(x. (8. sama kaki. 3) . 1) . Selanjutnya gambarkan gra…knya. f(x. (6. y) : jxj 2g (32) f(x. y2 ) adalah x1 + x2 y1 + y2 . 4 3) (47) (2. 0) . (3. (41) Cari suatu persamaan garis yang tegak lurus dan melalui titik tengah dari garis yang menghubungkan titik A (1. gambarkan segitiga-segitiga dengan titik-titik yang diberikan dan tunjukkan berdasarkan panjang sisi-sisinya apakah termasuk segitiga sama sisi. y) : x < 0g (30) f(x. y) : y > 2x 1g f(x. (0. 8) . ( 4. 5) . 0) . (3. 4) dan B (7. (42) (a) Tunjukkan bahwa jika perpotongan garis dengan sumbu x dan sumbu y berturut-turut adalah bilangan tak nol a dan b. (2. cari kemiringan dari garis dan perpotongannya dengan sumbu y. (2. maka persamaan garis dapat diambil dalam bentuk x y + = 1: a b Persamaan ini dinamakan bentuk perpotongan-dua dari suatu persamaan garis. (b) Gunakan bagian (a) untuk mencari suatu persamaan garis yang memotong sumbu x di 6 dan memotong sumbu y di 8. 2) (44) ( 6.Bab 1. ( 4. (8. (6. 1) . 3) . atau tidak mempunyai bidang datar. y) : x y < 1 (x + 3) 2 (37) Tunjukkan bahwa garis 2x y=4 dan 6x 2y = 10 adalah tidak sejajar dan cari titik perpotongannya. (0. y) : jxj < 3 dan jyj < 2g f(x. 3) dan (7. 1) . siku-siku. 15). 4) (45) (4. 2) . Dalam soal (43) (48). (25) x + 3y = 0 (26) 2x 3y + 6 = 0 (27) 3x 4y = 12 (28) 4x + 5y = 10 Dalam (29) (31) (33) (34) (35) (36) soal (29) (36). (39) Tunjukkan bahwa titik tengah untuk ruas garis dari P1 (x1 . y) : x 1 dan y < 3g f(x. 2). y1 ) ke P2 (x2 . gambarkan daerah dalam bidang xy. Tinjauan 17 Dalam soal (25) (28). 8) . 3) . y) : 1 + x y 1 2xg (x. 6) p (46) (5. (43) ( 4.

1). ( 1. [Petunjuk: Dinotasikan Q dengan (a. (2. 2). 1). 5) dan Q adalah simetris terhadap garis y + 2x = 6. (61) Garis y = 5mx + 8 adalah 5 satuan dari titik (4. 0). 3). (67) Garis x y + = 1 melalui titik (3. (51) Diberikan bahwa garis ax + by + 10 = 0 tegak lurus dengan 3x + y = 7 dan berpotongan dengan garis x + y = 7 di sumbu x. (k.] Dalam soal (53) (60). ( 2. pada OA terletak titik B dimana jOBj = 10. 1). (0. titik-titik (3. (65) Garis y = ax + b adalah 6 satuan dari titik (4. Dalam soal (61) (62). (6. titik-titik (4. (1. (52) Cari koordinat titik Q sedemikian sehingga P (3. 2). 4 (55) Garis y = 3 x (56) Garis y 2x + 7 = 0. 6). 5. titik-titik (0. (57) Garis y = 5x. 2). (64) Garis melalui ( 1. 6). 12). 1) dan 2 satuan dari titik asal. (59) Garis y = mx + b. 2). (2. 1). ( 2. ( 1. 18 y = 4 tegak lurus dengan garis kx + 9y = 11. 1). ( 1. (4. l). 1). titik-titik (13. (6. titik-titik (4. dan cari a dan b dari dua kondisi bahwa P Q tegak lurus dengan garis dan titik tengah dari P Q terletak pada garis. (0. 6). (66) Garis y = ax + b mempunyai jarak sama dari titik-titik (4. 2). Cari (50) Diberikan titik A (5. 4). (a. 0). ( 2. 2). 0). 1). ( 4. . (3. 5). (53) Garis 8x + 6y = 55. titik-titik (10. 2). (70). b). 3). (4. 3). 3). (9. (63) Garis tegak lurus dengan 7x + y = 5 dan 4 satuan dari (6. titik-titik ( 1. cari nilai m dari setiap kasus yang diberikan. Cari nilai a dan b. (62) Garis 8x + 6y = 11 dan 8mx Dalam soal (63) 8y = 7 mempunyai jarak sama dari titik (1. 6). 6 + 1 + m2 . titik-titik 1 + m2 . Tinjauan (49) Diberikan bahwa garis kx nilai k.Bab 1. ( 3. b). 0). 1). 4) dan berjarak 3 satuan dari titik (6. 1). (54) Garis 5x 12y = 26. 4) dan 6 satuan dari (3. cari persamaan garis dari setiap kasus yang diberikan. (1. 2). 5). 5). ( 1. Cari persamaan garis yang tegak lurus dengan OA dan melalui B. a b (68) Garis adalah 4 satuan dari titik ( 2. (a. dan (5. p p (60) Garis y 6 = m (x + 1). 1). (58) Garis y = mx + 4. 1). 1). (8. 5). 3). dan sudut dari garis ke 7x + y = 0 adalah 45 . cari jarak dari garis ke titik-titik yang diberikan.

Cari jORj dan jF1 F2 j. Dalam soal (79) (82). l) berjarak sama dari garis 3x dan juga k = l. jOF2 j = 4. l) berjarak sama dari garis 4x 2y = 15 dan garis x 2y = 5. 4). (73) Diberikan bahwa (k. dan juga berjarak 4 satuan dari garis 3x 4y = 10. B (3. k) adalah 41. y = 0 dan garis x + 3y = 4. (72) Diberikan bahwa (k. C (1. 4) dan (3. cari m. 3) dan (2. 2) . (77) Jika kemiringan dari l1 dan l2 berturut-turut adalah 3 dan m. 1) dan (1. 8) sama dengan dua kali sudut kemiringan dari garis yang melalui (3. 3) . (3. cari k dan l berdasarkan kondisi yang diberikan. ( 4. 0) . (3. dan juga berjarak sama dari garis x + y = 6 dan garis x = y. (70) Garis mempunyai jarak sama dari titik-titik (2. 120 . l) adalah dari garis 4y = 3x + 24. dan sudut dari l1 ke l2 adalah arctan (2). jOF1 j = 6. (75) Dalam jajaran genjang di bawah ini. 2). F2 R 4 O 6 F1 (76) Tunjukkan bahwa sudut kemiringan dari suatu garis yang melalui titik ( 2. 1). 4). Tinjauan 19 (69) Garis mempunyai jarak sama dari (4. 4) . ( 3. dan juga sejajar dengan 5x 2y = 1. l) terletak pada garis 2x + y + 2 = 0. [Simbol arctan (2) berarti tangent dari sudut adalah 2. 3) . 8). (0. (79) (3. . 1). (12. (74) Diberikan bahwa (k. Dalam soal (71) (74). ( 1. 2) adalah 45 . 4 satuan dari garis 12x 5y = 49 dan 3 satuan (71) Diberikan bahwa (k. cari luas bidang datar dari setiap segitiga dengan titik-titik yang diberikan. cari nilai k. dan ( 3. dan sudut F1 OF2 sama dengan 120 . 0) .] (78) Cari kemiringan dari garis l jika diketahui bahwa sudut dari l ke garis yang melalui (1. (5. 5) (83) Jika luas bidang datar segitiga A (6. 0) . 1) dan (6. 0) (82) ( 2. 1).Bab 1. 3) (81) (0. (6. 4) (80) (1. 2) .

7). 14). B (3. 3). (95) Ubah persamaan koordinat kutub r2 = 4r sin ( ) ke suatu persamaan koordinat Kartesius. P3 (x3 . (94) Ubah persamaan linear koordinat Kartesius y = 3x + 5 ke suatu persamaan koordinat kutub. (96) Gambarkan gra…k dari persamaan-persamaan parameter: x (t) = 2t 2 dan y (t) = 3t + 1: Selanjutnya menggunakan kedua persamaan tersebut tuliskan y sebagai fungsi dalam x saja. 135 ) : Manakah dua titik yang berhimpit? Apa kesimpulan anda? (92) Gambarkan gra…k berikut ini dalam sistem koordinat kutub: (a) r = 2 untuk 0 (b) r = 2 sin ( ) untuk 0 (c) r = 2 cos ( ) untuk 0 2 . 3 . 120 ) . Tinjauan 20 (84) Dengan mencari luas bidang datar dari ABC. dan C (4. 2 ke koordinat Kartesius. (85) Cari luas bidang datar segiempat (4. (86) Tunjukkan bahwa luas bidang datar segiempat P1 (x1 . 5) ke koordinat kutub. cari persamaan garis yang melalui irisan dari setiap pasangan garis dan memenuhi kondisi yang dinyatakan. B (2. y3 ). 2y = 10. y4 ) diberikan oleh rumus 1 [x1 (y2 2 y4 ) + x2 (y3 y1 ) + x3 (y4 y2 ) + x4 (y1 y3 )] : Dalam soal (87) (90). y = 10. C 2. 5y = 10. (0. P4 (x4 . 135 ) . 2). y1 ). tegak lurus dengan 7x (90) Cari q jika garis qx + 2y = 3 melalui irisan dari garis 4x + 3y = 7 dan 2x (91) Gambarkan titik-titik dengan koordinat-koordinat kutub diberikan seperti berikut: A 2. y2 ). . 5). . P2 (x2 . 2 . 3). 2). (93) Ubah (a) titik koordinat kutub P 7. (88) 4x + y (89) 3x + 5y 13 = 0 dan x + y 1 = 0. (b) titik koordinat 5 Kartesius R (12. . D ( 2. sejajar dengan x 3y = 6.Bab 1. tunjukkan bahwa titik-titik A ( 1. (9. 1) terletak pada satu garis. melalui titik (2. dan E (2. (87) 3x 2y = 13 dan x + y 7 = 0 dan 3x 6 = 0. (2.

] (100) Gambarkan secara lengkap lintasan dari partikel yang memenuhi persamaanpersamaan parameter: x (t) = 3 cos (2t) dan y (t) = 1 + cos2 (t) . Tinjauan (97) Gambarkan gra…k dari persamaan-persamaan parameter: x (t) = 3 t dan y (t) = t2 + 1: 21 Tuliskan y sebagai fungsi dalam x saja dan selanjutnya identi…kasi bentuk gra…k. .Bab 1. y2 x2 + = 1 untuk semua dan tunjukkan bahwa persamaan tersebut memenuhi 9 4 nilai t. untuk 0 t 2 . [Petunjuk: Identi…kasi bentuk lintasan dengan mencari y sebagai fungsi dari x saja. (99) Lintasan suatu partikel memenuhi persamaan-persamaan parameter: x (t) = sin2 (t) dan y (t) = 2 cos (t) . (98) Gambarkan gra…k dari persamaan-persamaan parameter: x (t) = 3 cos (t) dan y (t) = 2 sin (t) . Tentukan batasan pada x dan y berdasarkan batasan trigonometri cosinus. Gambarkan secara lengkap lintasan dari partikel tersebut.

Jika bentuk padat tersebut adalah suatu kerucut.2: (a) Ketika (b) Ketika = 90 .1(a)). lihat Gambar 2.1(b)). Kita mendapatkan jenis-jenis berbeda dari irisan terkucut tergantung pada posisi dari bidang potong terhadap kerucut dan oleh sudut yang dibentuknya dengan sumbu tegak dari kerucut. l m l sumbu α V permukaan atas α m V pembangkit permukaan bawah (a) (b) Gambar 2. kurva yang dihasilkan dinamakan irisan kerucut (conic section). Suatu irisan (section) adalah permukaan atau garis bentuk dari permukaan yang diperoleh dengan memotong suatu bentuk padat menggunakan suatu bidang. Ketika bidang memotong permukaan (selain titik) dari kerucut. Titik V dinamakan puncak (vertex ). Diambil adalah sudut yang dibentuk oleh bidang potong dengan sumbu tegak dari kerucut. kita mempunyai keadaan-keadaan berikut ini. irisannya adalah suatu lingkaran.1: Pembentukan kerucut dua permukaan.Bab 2 Irisan-irisan Kerucut 2. < < 90 . Selanjutnya. dan garis rotasi m dinamakan pembangkit (generator ). Diandaikan kita merotasikan garis m mengelilingi garis l sedemikian sehingga sudut tetap konstan. permukaan yang dihasilkan dirujuk sebagai kerucut (cone) (Gambar 2. 22 . irisannya adalah suatu ellips.1 Irisan Bidang dari Suatu Kerucut Diambil l sebagai suatu garis tegak dan m sebagai garis lain yang beririsan dengan l di suatu titik V dan membentuk sudut (Gambar 2. garis l dinamakan sumbu (axis) dari kerucut.

Ketika bidang memotong di puncak dari kerucut. bidang memotong satu permukaan dari kerucut. kita mempunyai kasus-kasus berbeda berikut ini. maka irisannya adalah suatu titik.3: (a) Ketika < 90 .Bab 2.M. β α β β α α α α < β ≤ 90 o β =α 0 = β <α 0< β <α titik garis lurus dua garis lurus berpotongan dua garis lurus berpotongan Gambar 2. 23 (Dalam setiap tiga kasus di atas.3: Irisan-irisan ketika bidang memotong di puncak kerucut. irisannya adalah suatu parabola. . nama parabola dan hiperbola diberikan oleh seorang matematikawan Yunani bernama Apollonius (262 S.190 S. β β β β α β = 90 o α α < β < 90 o α β =α α 0≤ β <α lingkaran ellips parabola hiperbola Gambar 2. bidang memotong kedua permukaan dan kurva-kurva dari irisan adalah suatu hiperbola.) (d) Ketika 0 < .). Irisan-irisan Kerucut (c) Ketika = . lihat Gambar 2. .2: Irisan-irisan kerucut. Secara khusus.M.

terdiri dari dua garis x y = 0 dan x + 3 = 0. l d′ P d F Gambar 2. dan d0 sebagai jarak dari P ke garis l. maka irisan kerucut adalah suatu parabola. (c) Jika e = 1. De…nisi 2. Diasumsikan bahwa F tidak terletak pada garis l. maka irisan kerucut adalah suatu lingkaran.1 Suatu irisan kerucut adalah tempat kedudukan dari suatu titik yang bergerak sedemikian sehingga perbandingan jarak antara titik tersebut ke suatu titik tetap dan ke suatu garis tetap adalah konstan. bidang memuat suatu pembangkit dari kerucut dan irisannya adalah suatu garis lurus. Dimisalkan P sebagai titik yang bergerak. 1 Dalam kasus ini. Kita akan melihat bahwa kita mendapatkan jenis-jenis khusus dari irisan kerucut tergantung pada nilai dari konstanta e: (a) Jika e = 0. 2. (b) Jika 0 < e < 1. d sebagai jarak dari P ke F . F sebagai titik tetap. Berdasarkan pengertian di atas dipunyai bahwa semua titik P pada d suatu irisan kerucut memenuhi perbandingan 0 = e atau persamaan d d = e d0 dengan e adalah suatu konstanta dan diasumsikan e > 0. . Ini adalah kasus degenerate dari hiperbola. (Lihat Gambar 2. (c) Ketika 0 < . Sebagai contoh. maka irisan kerucut adalah suatu ellips. semua suku-suku dari persamaan degenerate dipindahkan ke ruas kiri dan dapat difaktorkan. l sebagai garis tetap.4) Titik tetap F dinamakan fokus (focus) dari irisan kerucut dan garis tetap l dinamakan garis arah (directrix ) dari irisan kerucut. maka irisan kerucut adalah suatu hiperbola.2 Eksentrisitas Lebih lanjut. Ini adalah kasus degenerate1 dari parabola.4: Jarak dari titik bergerak P ke titik tetap F dan ke garis tetap l. dalam buku ini kita akan mempelajari irisan-irisan kerucut berdasarkan pengertian dari koordinat seperti berikut ini. gra…k dari persamaan x2 xy 3y + 3x = 0. Irisan-irisan Kerucut 24 (b) Ketika = . irisan adalah suatu pasangan dari garis lurus berpotongan.Bab 2. yang bisa dituliskan (x y) (x + 3) = 0. (d) Jika e > 1.

Bab 2. Irisan-irisan Kerucut Konstanta e dinamakan eksentrisitas (eccentricity) dari irisan kerucut. 5) (f ) (5. Latihan 2. 0) (e) (2. 4) (h) ( 6. diberikan suatu titik yang terletak pada suatu irisan kerucut dengan fokus (2. Cari jenis irisan kerucut dan eksentrisitasnya. 25 Dalam buku ini tidak akan ditunjukkan bahwa irisan kerucut berdasarkan pengertian koordinat ekivalen dengan irisan kerucut yang dide…nisikan dalam istilah irisan dari suatu kerucut. 6) . 0) (b) (0. (a) (1.2 Dalam setiap kasus berikut ini. 0) (c) ( 1. 4) (g) (2. 0) (d) (8. 0) dan garis arah x = 2.

0). k) adalah pusat dan r adalah jari-jari lingkaran. k) dan jari-jari r. Persamaan paling sederhana dari lingkaran diperoleh jika pusat dari lingkaran adalah di titik asal O(0.1(b)).1 Persamaan Lingkaran De…nisi 3. Berdasarkan rumus jarak. jari-jari pusat O P1 (h.Bab 3 Lingkaran 3. Diambil P (x. Persamaan (3. Titik tetap tersebut dinamakan pusat dari lingkaran dan jarak dari pusat ke suatu titik pada lingkaran dinamakan jari-jari lingkaran (Gambar 3.2) x2 + y 2 2ky + c = 0 .k) P2 P3 OP1 = OP2 = OP3 O x C y P(x.1 Lingkaran adalah himpunan dari semua titik pada bidang yang berjarak sama dari satu titik tetap pada bidang. di bawah ini kita akan menurunkan persamaan lingkaran untuk sembarang pusat dan jari-jari (Gambar 3. 26 2hx 2ky + h2 + k 2 2hx r2 = 0 (3.1: Lingkaran. dipunyai q (x h)2 + (y k)2 = r (x h)2 + (y k)2 = r2 : (3.y) (a) (b) Gambar 3.1) bisa juga dituliskan menjadi x2 + y 2 dimana c = h2 + k 2 r2 . Berdasarkan de…nisi lingkaran. dipunyai jCP j = r.1(a)). Diberikan C (h.1) Ini adalah persamaan dari lingkaran dengan pusat di (h. y) adalah sembarang titik pada lingkaran. Tetapi.

7)2 + (y 1. Persamaan yang diberikan dituliskan kembali menjadi x2 + 8x + y 2 + 10y = 8: Sekarang. Penyelesaian. melengkapi kuadrat dalam kurung. 3)2 = 12.5 Tentukan persamaan lingkaran yang melalui titik-titik (2. 7.4) Dan juga karena pusat terletak pada garis x + y = 2. Diambil persamaan lingkaran adalah (x lingkaran melalui (2. persamaan lingkaran adalah (x + 3)2 + (y 2)2 = 16. = 8 + 16 + 25 = 49 = 49: ( 5)) Oleh karena itu.3 Tentukan suatu persamaan lingkaran dengan pusat di ( 3. Contoh 3. Lingkaran 27 Contoh 3. Contoh 3. 3. Di sini h = k = 0. serta mempunyai pusat yang terletak pada garis x + y = 2. Contoh 3. lingkaran yang diberikan mempunyai pusat di ( 4. persamaan lingkaran adalah x2 + y 2 = r2 . Penyelesaian. kita mempunyai (2 dan (3 h)2 + (4 k)2 = r2 : (3. persamaan lingkaran adalah (x 0. kita mempunyai h + k = 2: Diselesaikan persamaan (3:3).4 Tentukan pusat dan jari-jari dari lingkaran x2 + y 2 + 8x + 10y Penyelesaian. Karena (3. h)2 + (y k)2 = r2 . Oleh karena itu.2 Tentukan suatu persamaan lingkaran dengan pusat di (0.3) . dan (3:5) untuk mendapatkan h = 0. 2) dan (3. dan r2 = 12. 2) dan (3.5) h)2 + ( 2 k)2 = r2 . Penyelesaian. 58: (3. Di sini h = 3. diperoleh x2 + 8x + 16 + y 2 + 10y + 25 (x + 4) + (y + 5) (x ( 4)) + (y 2 2 2 2 8 = 0. 2) dan jari-jari 4. 4). k = 1. 4). k = 2 dan r = 4.Bab 3. 0) dan jari-jari r. 58: Karena itu. 5) dan jari-jari 7. (3:4). Oleh karena itu.

y1 ) adalah sembarang titik pada lingkaran.2 Persamaan Garis Singgung Garis singgung (tangent) di suatu lingkaran adalah suatu garis lurus yang menyentuh lingkaran hanya di satu titik (jadi garis tidak memotong lingkaran tapi hanya menyentuhnya). Karena itu kemiringan garis singgung di P1 adalah . y1 ) terletak pada lingkaran.2(a). Lingkaran y y 28 l P1(x1. Karena garis singgung di P1 tegak lurus dengan OP1 . kemiringan garis adalah x1 x1 singgung di P1 adalah . 3. dipunyai 2 x2 + y1 = r2 : 1 Jadi persamaan garis singgung di titik P1 (x1 . 0) dan jari-jari r dinyatakan oleh x1 x + y1 y = r2 : Sekarang diperhatikan untuk lingkaran berjari-jari r tetapi dengan pusat C (h.y1) r O l x O C(h.y1) P1(x1. Dimisalkan persamaan lingkaran adalah x2 + y 2 = r2 dan P1 (x1 . y1 ) pada lingkaran dengan pusat O (0. k). Kemiringan dari ruas y1 k x1 h garis CP1 adalah .2: Garis singgung untuk lingkaran.k) r x (a) (b) Gambar 3.Bab 3. lihat Gambar 3. Ingat bahwa lingkaran ini mempunyai persamaan x2 + y 2 dimana h2 + k 2 2hx 2ky + c = 0. Diberikan titik P1 (x1 .] Diperhatikan Gambar 3.2(b). Kemiringan dari ruas garis OP1 y1 .2. Oleh karena itu. persamaan garis singgung di P1 adalah y1 x1 (x x1 ) y1 2 x1 x + y1 y = x2 + y1 : 1 y y1 = Karena titik (x1 . y1 ) pada lingkaran. x1 h y1 k . [Lihat Gambar 3. r2 . Suatu garis singgung untuk suatu lingkaran membentuk sudut 90 terhadap jari-jari lingkaran di titik sentuh dari persinggungan.

yang menyatakan sembarang garis dengan kemiringan m. Karena syarat bahwa kedua akar dari sembarang persamaan kuadrat ax2 + bx + c = 0 akan sama adalah b2 4ac = 0. kita mencari persamaan-persamaan garis singgung dengan kemiringan m untuk lingkaran x2 + y 2 = r2 . Jika kita mengambil y = mx + n. y1 ) terletak pada lingkaran. Berikutnya. persamaan garis singgung yang dicari yaitu p y = mx r 1 + m2 : . Untuk mencari titiktitik di mana garis memotong lingkaran. 2x diganti oleh x + x1 . y1 ) pada lingkaran dengan pusat O (h. Dengan substitusi kita memperoleh x2 + (mx + n)2 = r2 1 + m2 x2 + 2mnx + n2 r2 = 0: Kedua akar dari persamaan kuadrat ini adalah absis untuk titik persekutuan dari garis dan lingkaran. maka titik-titik tersebut harus berhimpit dan dipunyai absis sama. dan 2y diganti oleh y + y1 . maka masalahnya sekarang adalah mencari nilai n dimana garis y = mx + n menyinggung lingkaran x2 + y 2 = r2 . dipunyai 2 x2 + y1 1 2hx1 + 2 y1 2ky1 + c = 0 hx1 ky1 = hx1 + ky1 c: x2 1 Jadi persamaan garis singgung di titik P1 (x1 .Bab 3. k) dan jari-jari r dinyatakan oleh x1 x + y1 y x1 x + y1 y hx ky (hx1 + ky1 c) = 0 h (x + x1 ) k (y + y1 ) + c = 0: Dari kedua hasil di atas kita mencatat bahwa persamaan garis singgung secara sederhana diperoleh dari persamaan lingkaran dengan x2 diganti oleh x1 x. kita harus menyelesaikan sistem persamaan. karena itu kedua akar dari persamaan kuadrat tersebut haruslah sama. Lingkaran sehingga persamaan garis singgung di P1 yaitu y x1 x + y1 y hx ky 2 x2 + y1 1 29 y1 = ky1 = 0: x1 y1 h (x k x1 ) hx1 Karena titik (x1 . tetapi agar garis menyinggung lingkaran. maka haruslah dipunyai 4m2 n2 4 1 + m2 n2 r2 = 0 r p n = 1 + m2 : Oleh karena itu. y 2 diganti oleh y1 y.

3) dan jari-jari 4 p 1 1 1 (4) pusat (1. Tunjukkan bahwa titik A (4. 3).Bab 3. (27) Tunjukkan bahwa lingkaran dengan pusat (4. 5). 2) dan melalui titik (4. (19) Tentukan persamaan lingkaran yang melalui titik-titik (2. 2ax = 0 bersinggungan dengan sumbu y di . 4) dan melalui (5. atau pada lingkaran x2 +y 2 = 25? (24) Gambarkan lingkaran dengan pusat (0. 2). 0) dan jari-jari 5. 3) dan ( 1. (23) Apakah titik ( 2. (10. k). 7). 2) dan jari-jari 2 (2) pusat ( 2. (20) Tentukan persamaan lingkaran dengan jari-jari 5. (22) Tentukan persamaan lingkaran dengan pusat (2. 9) terletak pada suatu lingkaran dengan pusat (1. cari nilai k. Selanjutnya gambarkan garis singgung di (5. Gambarkan garis singgung terhadap lingkaran di titik A. 1) dan (6. 9). (29) Cari nilai a jika lingkaran x2 + y 2 titik asal. 1) dan jari-jari 10 melalui ( 2. 0) dan perpotongan dengan sumbu x dan sumbu y berturut-turut adalah bilangan tak nol a dan b. (x + 5)2 + (y 3)2 = 36 (7) x2 + y 2 4x 8y 45 = 0 x2 + y 2 8x + 10y 12 = 0 (9) x2 + y 2 8x + 4y = 5 2 + y2 x 12x 2y = 12 (11) x2 + y 2 + 8x + 6y = 0 2 + y 2 + 2x + 2 = 2y x (13) x2 + y 2 6x = 0 x2 + y 2 + 8y = 0 (15) x2 + y 2 6x = 16 2 + 2y 2 2x x=0 (17) 2x2 + 2y 2 8x + 10y = 11 1 2 (18) Tentukan persamaan lingkaran yang melalui titik-titik (4. 3) terletak pada lingkaran. dan cari kemiringannya. 5. 4 dan jari-jari 12 p (5) pusat ( a. tentukan persamaan lingkaran dengan (1) pusat (0. [Petunjuk: Pertama kali dicari dicari kemiringan dari garis OA dan selanjutnya dicari kemiringan dari garis singgung. dan (12. 3. 1) dan mempunyai pusat yang terletak pada garis x 3y 11 = 0. 6). (26) Jika P (5. tentukan pusat dan jari-jari lingkaran. Lingkaran 30 SOAL-SOAL UNTUK BAB 3 Dalam soal (1) (5). (28) Jika lingkaran di Soal no (27) juga melalui ( 4. di luar. 5). 5) terletak di dalam.] (25) Gambarkan suatu lingkaran dengan pusat (3. cari jari-jari lingkaran dan kemiringan garis singgung di P . (21) Tentukan persamaan lingkaran yang melalui (0. b) dan jari-jari a2 b2 : Dalam (6) (8) (10) (12) (14) (16) soal (6) (17). 5) dan mempunyai pusat yang terletak pada garis 4x + y = 6. 1) dan jari-jari 2 (3) pusat 2 . 2) dan cari kemiringannya. pusat terletak pada sumbu x. dan melalui titik (2.

(3. (36) Memotong sumbu x di (37) Memotong sumbu x di 6 dan 10. 0) dan menyinggung sumbu y. 1). 4y = 1. [Petunjuk: Tunjukkan bahwa garis yang menghubungkan pusat dari kedua lingkaran sama dengan jumlahan dari jari-jarinya. (41) Menyinggung kedua sumbu dan melalui (2. gambarkan lingkaran terhadap kondisi yang diberikan. 1). (38) Melalui (0. (44) Memotong sumbu y di 10 dan menyinggung sumbu x di titik ( 5. ( 2. 3) dan ( 2. (42) Menyinggung kedua sumbu dan juga garis 2x + y = 6 + p 20. 1). dan 12x 5y = 36. 3y = 10 dan 6x + 8y = 35. (32) (4. (3. 2). 2). 4) (35) (5. . (47) Menyinggung garis-garis 4x (48) Menyinggung garis 4x 3y = 12. 3). (6. 3 18x + 45 = 0 bersinggungan dengan garis Dalam soal (32) (35). dan buktikan bahwa keduanya bersinggungan. dan memotong sumbu y di 8. 1) Dalam soal (36) (50). (43) Menyinggung garis x = 6 dan x = 10. (45) Melalui (0. dan cari persamaan dari setiap lingkaran. 2). 2). (50) Melalui titik (2. dan y = 8. (46) Menyinggung garis-garis x = 6. dan mempunyai pusat di titik (49) Menyinggung lingkaran x2 + y 2 + 4x (4. Lingkaran 31 (30) Gambarkan lingkaran x2 +y 2 4x 6y +9 = 0 dan x2 +y 2 +12x+6y 19 = 0. 0). 3). (5. 5).] (40) Menyinggung sumbu x di (6. 10). bersinggungan dengan x+y = 1 dan pusatnya terletak pada garis y = 2x. x = 12. cari persamaan lingkaran yang melalui ketiga titik yang diberikan. 4 dan 2. (0.Bab 3. 3) (33) (4. (4. 0) dan ( 1. (39) Mempunyai suatu diameter yang menghubungkan (6. dan melalui titik (8. 1). 0) dan juga titik persekutuan dari lingkaran x2 + y 2 = 25 dan x2 + y 2 4x + 2y = 15. [Ingat: Diameter adalah ruas garis yang menghubungkan dua titik pada lingkaran dan melalui pusat lingkaran. 1). 8x + 6y = 36. 1). dan mempunyai jari-jari 5. 4) (34) (6. dan mempunyai jari-jari 10. ( 1. dan mempunyai jari-jari 5. (31) Tunjukkan bahwa lingkaran x2 + y 2 y = 4 x 2.

P1 ( 1. kemiringan garis singgung adalah 4 . 3 (62) x2 + y 2 = 25. P1 (2. cari titik singgungnya. 3) (58) x (59) x2 + y 2 = 37. (53) Jika garis 4x 3y = 50 menyinggung lingkaran x2 +y 2 = 100. Dalam soal (54) (61). dan cari titik singgungnya. P1 (3. (68) Jumlah dari perpotongan-perpotongan dengan sumbu y adalah 2k dan hasil kalinya adalah c. (64) x2 + y 2 = 13.Bab 3. 2) Dalam soal (62) (65).] (52) Cari persamaan-persamaan garis singgung untuk lingkaran x2 + y 2 = 13 dan melalui titik ( 4. 2) (61) x2 + y 2 + 4x 7y 11 = 0. P1 2 . (67) Jumlah dari perpotongan-perpotongan dengan sumbu x adalah 2h dan hasil kalinya adalah c. Lingkaran 32 (51) Cari persamaan-persamaan garis singgung dan normal untuk lingkaran x2 + y 2 = 29 di titik (5. [Dide…nisikan bahwa garis normal adalah garis yang tegak lurus dengan suatu garis singgung di titik singgung. cari persamaan-persamaan garis singgung untuk lingkaran yang diberikan dibawah syarat yang ditetapkan. P ( 5. 7). 4). tunjukkan bahwa P1 terletak pada lingkaran. 1 3 2 (56) x2 + y 2 = 29. P1 (2. (69) Cari syarat kapan lingkaran x2 + y 2 + Dx + Ey + F = 0 menyinggung sumbu x. (65) x2 + y 2 = 64. 5) (57) x2 + y 2 = 20. 4) (55) x2 + y 2 = 1. 2) 2 + y 2 = 34. (70) Cari syarat kapan garis lx + my + n = 0 menyinggung lingkaran x2 + y 2 = r2 . p (66) Selisih dari perpotongan-perpotongan dengan sumbu x adalah 2 h2 c. buktikan hasil yang diberikan untuk sembarang lingkaran x2 + y 2 2hx 2ky + c = 0. garis singgung tegak lurus dengan 3x = 2y. P1 (3.68. 2). 6) 1 (60) x2 + y 2 6x + 2y = 0. . garis singgung melalui (8. p 1 (54) x2 + y 2 = 25. Dalam soal 66 . dan selanjutnya cari persamaan garis singgung dan normal di P1 . garis singgung sejajar dengan 4x = 3y. P1 ( 4. (63) x2 + y 2 = 36.

2.2. terdapat empat kemungkinan dari parabola seperti ditunjukkan dalam Gambar 4. dide…nisikan kembali parabola seperti berikut ini dan juga istilah-istilah yang menyertainya. Persamaan baku yang paling sederhana terjadi jika puncak parabola adalah di titik asal O (0. Ketika sumbu parabola sejajar dengan sumbu x atau sumbu y. Suatu garis yang melalui fokus dan tegak lurus dengan garis arah dinamakan sumbu (axis) dari parabola. 4.1 Parabola adalah tempat kedudukan suatu titik yang bergerak sedemikian sehingga jarak titik tersebut ke suatu fokus sama dengan jarak ke suatu garis arah. 0). De…nisi 4. (Lihat Gambar 4. 0) dan garis arah sejajar dengan sumbu x atau sumbu y. Dalam hal ini.Bab 4 Parabola Dalam bab ini kita akan menurunkan persamaan dari parabola dengan puncak di titik asal O (0. Titik potong antara parabola dengan sumbu dinamakan puncak (vertex) parabola.1: Parabola.) L1 L2 L3 P2 P3 P1 parabola F fokus sumbu puncak garis arah l P1F = P1L1 P2F = P2L2 P3F = P3L3 Gambar 4.1. persamaannya dinamakan persamaan baku.1 Persamaan Baku Berdasarkan pengertian parabola di subbab 2. Lebih lanjut diberikan sifat-sifat penting dari parabola. 33 .

3: Parabola dengan fokus di (a.0) O a x l: x = -a (a) (b) l: x = a y F(a. dan garis arah x = a. adalah jP Lj = a + x: Diandaikan P (x. 0). 0) dan garis arah x = a. Garis arah sejajar dengan sumbu y. Parabola y y 34 -a O F(a.Bab 4. maka jarak dari P ke fokus F adalah q jP F j = (x a)2 + y 2 . y) adalah sembarang titik pada parabola.2(a) dengan fokus di F (a.0) x F(-a. lihat Gambar 4.0) x l: x = -a Gambar 4.2: Parabola-parabola dengan puncak di titik asal O (0.y) -a O F(a. Pertama kali kita akan menurunkan persamaan untuk parabola seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 4.3. dan jarak dari P ke garis arah.0) (d) Gambar 4. a > 0.0) y a O O -a l: y = -a (c) l: y = a x x F(-a. a L y x P(x. 0).

1) Karena itu. 0). Sebaliknya. Parabola Karena de…nisi parabola mensyaratkan jP F j = jP Lj.2) yang berarti bahwa P (x.Bab 4. dan garis arah x = a. kita akan mencari persamaan untuk parabola seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 4. fokus di (a. sembarang titik pada parabola memenuhi (4. kita mempunyai y 2 = 4x. Penyelesaian. maka diperoleh q (x a)2 + y 2 = a + x (x a)2 + y 2 = (a + x)2 y 2 = 4ax: x2 2ax + a2 + y 2 = a2 + 2ax + x2 35 (4. Dituliskan kembali persamaan menjadi y 2 = 10x dan selanjutnya dibandingkan dengan persamaan (4:3) karena koe…sien dari x adalah negatif. Garis arah sejajar dengan sumbu x. Diambil persamaan (4:1) dengan a = 1.2(c) dan (d). Selanjutnya. yaitu y2 = 4ax (4.2) telah dibuktikan bahwa persamaan untuk parabola dengan puncak di titik asal. y) terletak pada parabola.1) dan (4. dengan cara yang serupa seperti di atas. 0 dan garis 5 arahnya x = 2 . kita bisa mendapatkan persamaan untuk parabola seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 4. Berikutnya. Contoh 4. Kita 5 melihat bahwa 4a = 10. sehingga a = 5 . maka dipunyai q q 2 2 = PF = (x a) + y (x a)2 + 4ax q = (x + a)2 = jP Lj (4. y) memenuhi persamaan (4. Jadi.2(c) dan (d) berturut-turut merupakan pencerminan terhadap garis y = x dari .2(b) dengan puncak di titik asal. a > 0. dari (4.2 Berikan persamaan untuk parabola dengan fokus di (1. Di sini kita melihat bahwa parabola dalam Gambar 4. 0).1). Penyelesaian.1).3 Tentukan fokus dan garis arah untuk parabola y 2 + 10x = 0. diambil P (x. 0) dan garis arah x = 1. dan garis arah x = a adalah y 2 = 4ax dan dicatat bahwa koe…sien dari x adalah positif. Contoh 4. fokus di F ( a.3) dan dicatat bahwa koe…sien dari x adalah negatif. Jadi fokusnya di 2 2 . a > 0.

Dituliskan kembali persamaan menjadi x2 = 4 y dan selanjutnya dibandingkan dengan persamaan (4:5) karena koe…sien dari x adalah negatif. maka diperoleh x2 = 4ay (4. 1 Penyelesaian.5) yang merupakan suatu persamaan untuk parabola dalam Gambar 4. Karena parabola melalui (2. persamaan parabola adalah x2 = 4 y =) 3x2 = 3 4y: .4) yang merupakan suatu persamaan untuk parabola dalam Gambar 4. 16 dan garis 1 arahnya y = 16 . Jadi fokusnya di 0. a > 0. Contoh 4.2). Diambil persamaan (4:4) dengan a = 4. dan garis arah y = a. jika kita menukarkan x dan y dalam persamaan (4. Karena parabola simetris terhadap sumbu y dan mempunyai puncak di titik asal.Bab 4. Kita 1 1 1 melihat bahwa 4a = 4 . a).4 Berikan persamaan untuk parabola dengan fokus di (0. jika kita menukarkan x dan y dalam persamaan (4. dan garis arah y = a. Parabola 36 parabola dalam Gambar 4. Karena parabola melalui (2. 3).2(d) dengan fokus di (0. simetris terhadap sumbu y. Karena itu. 4) dan garis arah y = 4. kita mempunyai x2 = 16y. Contoh 4. a > 0. maka diperoleh x2 = 4ay (4.6 Tentukan persamaan parabola dengan puncak di titik asal.2(a) dan (b).1). Kemudian. dengan tanda positif atau negatif tergantung pada apakah parabola terbuka ke atas atau ke bawah. kita mempunyai 22 = 1 4a ( 3) =) a = : 3 Oleh karena itu. 3) yang terletak di kuadran IV. dan melalui titik (2. Jadi persamaannya berbentuk x2 = 4ay. sehingga a = 16 . Penyelesaian. Penyelesaian.5 Tentukan fokus dan garis arah untuk parabola 4x2 = y. berarti parabola haruslah terbuka ke bawah. Contoh 4.2(c) dengan fokus di (0. 3). a). maka persamaannya berbentuk x2 = 4ay atau x2 = 4ay.

Dari persamaan-persamaan parabola dan Gambar 4. Ketika sumbu simetri adalah sumbu y.2 berikut ini. Jika persamaan mempunyai suatu suku y 2 . parabola terbuka (a) ke atas jika koe…sien dari y adalah positif.1) dan (4. Contoh 4. kita mempunyai pengamatanpengamatan berikut ini.0) x (− 5 . 1.5) tidak berubah ketika x diganti dengan x.− 16 ) x y = -4 .4) x = 16 y 2 y 1 y = 16 O O x x2 = − 1 y 4 1 (0. jika persamaan mempunyai suatu suku x2 .3) tidak berubah ketika y diganti dengan y.0) 2 O x x = -1 x= 5 2 y (0. Parabola 37 Menggambar Parabola. (b) ke kiri jika koe…sien dari x adalah negatif.7 Gra…k dari parabola-parabola dalam Contoh 4. y y 2 = 4x y 2 = −10 x 4.Bab 4. maka sumbu simetrinya adalah sumbu x karena (4. (b) ke bawah jika koe…sien dari y adalah negatif. parabola terbuka (a) ke kanan jika koe…sien dari x adalah positif. maka sumbu simetrinya adalah sumbu y karena (4. Ketika sumbu simetri adalah sumbu x. Parabola simetris terhadap sumbu. 2. 3.2.4) dan (4.5 ditunjukkan seperti y O (1.

2 Latus Rectum De…nisi 4. lihat Gambar 4. titik bergerak sepanjang parabola dan melalui titik asal ketika t = 0. (4. y A B y 2 = 4ax O C D l F(a. 2a). BC. ruas garis AD. disubstitusikan x = a ke y 2 = 4ax untuk mendapatkan titik A dan D. yaitu A (a. F B adalah jari-jari fokus. Karena itu. Ini dapat kita lakukan dengan membuat 4ax sebagai suatu kuadrat sempurna. Diambil x = at2 . Di sini kita mencoba untuk memilih bagaimana menyatakan x dan y dalam sukusuku dari t sedemikian sehingga kita menghindari suatu akar kuadrat. lihat Gambar 4. dan AD adalah latus rectum.3 Persamaan Parameter Diperhatikan parabola y 2 = 4ax yang mempunyai garis arah x = a dan fokus (a. Suatu garis dari fokus ke suatu titik pada irisan kerucut dinamakan jari-jari fokus (focal radius). dan x2 = 4ay adalah juga sama dengan (4. y = 2at. 0).Bab 4. sehingga y = 2at dimana t dapat bernilai positif atau negatif.4. Ketika nilai t berjalan dari suatu nilai negatif besar ke suatu nilai positif besar. maka sembarang titik yang memenuhi kedua persamaan (4. panjang latus rectum sama dengan 4a atau panjang semi latus rectum adalah l = 2a: (4.6). Jadi persamaan parameter untuk parabola yang mempunyai garis arah x = a dan fokus (a.7. Suatu tali yang melalui fokus dinamakan tali fokus (focal chord).0) x E Gambar 4. Untuk mencari panjang latus rectum AD dari parabola y 2 = 4ax dalam Gambar 4. secara mudah kita dapat membuktikan bahwa panjang semi latus rectum dari parabola-parabola y 2 = 4ax.7) Ini berarti bahwa jika t adalah sembarang variabel. maka y 2 = 4a2 t2 . 0) yaitu x = at2 . . 4.8 Suatu garis yang menghubungkan sembarang dua titik pada suatu irisan kerucut dinamakan tali (chord) dari irisan kerucut.4: Tali-tali dari suatu parabola. Parabola 38 4. Sebagai contoh. Tali fokus yang tegak lurus dengan sumbu dinamakan latus rectum. Selain itu kita juga mempunyai garis AF atau F D yang dinamakan semi latus rectum dengan panjangnya dinotasikan l.6) Dengan cara yang serupa.4. 2a) dan D (a. AD dan BC adalah tali-tali fokus. x2 = 4ay. dan BE adalah tali-tali parabola.7) terletak pada parabola.

Persamaan untuk garis singgung kedua yaitu y= 1 x m am: (4. diperoleh (mx + n)2 = 4ax m2 x2 + 2mnx + n2 m x + 2 (mn 2 2 4ax = 0 2a) x + n2 = 0: Garis adalah menyinggung jika diskriminannya sama dengan nol. 4.) Bukti.2at) O x t<0 Gambar 4. Parabola y 39 t>0 P(at2.8) Gambar 4. Teorema 4.9) . 0) mempunyai bentuk y = mx + a : m a (4.6 mengilustrasikan beberapa garis yang menyinggung parabola. maka kedua garis akan berpotongan di suatu titik pada garis arah.6. Diingat bahwa hasil kali dari kemiringan dua garis yang tegak lurus adalah sama dengan 1.Bab 4. (Ini juga diilustrasikan dalam Gambar 4. Dimisalkan garis y = mx + n memotong parabola y 2 = 4ax.8). jika kita mengganti m dalam persamaan (4. yaitu 4 (mn 2a)2 4m2 n2 = 0 16amn + 16a2 = 0 a n = : m Jadi persamaan-persamaan garis singgung terhadap parabola dengan garis arah x = dan fokus (a.8) 1 dengan m .4 Garis Singgung Kita dapat menggunakan persamaan parameter dari parabola untuk mencari persamaan garis singgung di suatu titik P pada parabola. Disubstitusikan mx + n untuk y. Oleh karena itu. kita akan memperoleh garis singgung lain terhadap parabola yang tegak lurus dengan (4.5: Kurva parabola ketika dipunyai persamaan-persamaan parameter.9 Diandaikan sembarang dua garis singgung terhadap parabola adalah saling tegak lurus.

y1 ) = at2 . Jika kita mengurangkan (4.11) .10) dengan 2a. 2at . Ini berarti bahwa dengan pengambilan t2 = t1 = t dalam persamaan terakhir akan diperoleh y 2at 1 = x at2 t 2 ty 2at = x at2 (4. Parabola 40 y x Gambar 4. Dari persamaan parameter. 2at2 adalah titik lain pada 2 parabola. Dikalikan persamaan (4.8). y1 ).9) dari (4. y1 ) yaitu y1 y = 2a (x + x1 ) : (4. y2 ) = at2 .10) ty = x + at2 yang merupakan persamaan garis singgung di titik P at2 . 2at1 1 adalah suatu titik pada parabola. diperoleh 2aty = 2a x + at2 : Dari persamaan tersebut dapat dilihat bahwa persamaan untuk garis singgung di (x1 .Bab 4. kita akan memperoleh x = a yang menyatakan absis untuk suatu titik dimana kedua garis singgung tersebut berpotongan.6: Garis-garis singgung terhadap suatu parabola. Sekarang kita akan menurunkan suatu persamaan untuk garis yang menyinggung parabola y 2 = 4ax di titik P (x1 . diambil (x1 . Ini berarti bahwa dua garis singgung yang tegak lurus akan berpotongan di suatu titik pada garis arah x = a. dan (x2 . Garis yang menghubungkan kedua titik tersebut yaitu 2at2 y 2at1 = x at2 at2 1 2 2at1 2 : = t2 + t1 at2 1 Selanjutnya diambil t2 mendekati t1 yang pada akhirnya berhimpit.

5 Sifat-sifat Parabola Pada subbab ini akan dibahas sifat-sifat parabola dengan perhatian pada suatu parabola y 2 = 4ax. Garis singgung di P (x1 . y1 ). Teorema 4. m De…nisi 4. y y2 P2 y0 M x P1 O y1 Gambar 4. akan dibuktikan untuk parabola y 2 = 4ax yang mempunyai garis arah x = a dan fokus F (a.Bab 4. 0). Tanpa kehilangan keumuman. Parabola 41 4.7. dinyatakan dengan persamaan y = mx+b. misalnya P1 P2 . Bukti. Sifat ini diilustrasikan dalam Gambar 4. Sifat berikutnya untuk parabola yaitu yang berkaitan dengan tali fokus dan garis singgung di titik (x1 . artinya \P F Q = 90 .10 Titik tengah untuk tali-tali yang sejajar dari suatu parabola terletak pada satu garis mendatar.8. dari persamaan kuadrat diperoleh 2 bahwa y1 + y2 = 4a .12 Jika suatu garis menyinggung parabola di suatu titik P dan memotong garis arah di suatu titik Q. Sifat ini diilustrasikan dalam Gambar 4. Oleh karena itu y0 = 2a . y1 ) yaitu y1 y = 2a (x + x1 ) : . Dimisalkan kemiringan dari tali-tali yang sejajar adalah m. Untuk mencari titik-titik koordinat P1 dan P2 perlu diselesaikan persamaan-persamaan y 2 = 4ax dan y2 y = mx + b. Dengan kata lain. Disubstitusikan x = 4a ke persamaan y = mx + b untuk memperoleh my 2 4ay + 4ab = 0: Akar-akar dari persamaan kuadrat tersebut adalah ordinat-ordinat y1 dan y2 untuk P1 dan P2 . dan ordinat y0 untuk titik tengah M dari P1 P2 adalah setengah dari jumlahan y1 dan y2 . Bukti. titik tengah untuk tali-tali yang sejajar terletak pada satu garis mendatar y = 2a .11 Tempat kedudukan titik-titik tengah untuk sembarang tali-tali yang sejajar dari suatu irisan kerucut dinamakan diameter dari irisan kerucut. Pertama kali akan diperhatikan sifat parabola yang berkaitan dengan tali-tali sejajar dari parabola. Teorema 4.7: Ilustrasi untuk sifat tali-tali yang sejajar. artinya y0 = 1 (y1 + y2 ). artinya bahwa ordinat untuk titik m m tengah dari tali P1 P2 tidak tergantung pada konstanta b dan hanya tergantung pada kemiringan m. maka P dan Q membentuk sudut siku-siku di titik fokus F . Sementara itu. dan sembarang satu tali tersebut.

y1 ).) De…nisi 4. mQF = 2a(x1 a) y1 a a = x1 y1 a : Secara mudah kita dapat melihat bahwa hasil kali dari kedua kemiringan sama dengan 1. .15 Titik tengah dari subtangent T Q adalah titik asal O (0. maka kedua titik singgung merupakan ujung-ujung dari tali fokus parabola. Disubstitusikan x = a ke persamaan di atas untuk mendapatkan titik potong antara garis arah dengan garis singgung. yaitu Q= a. sedangkan ruas garis QN adalah subnormal. Dari Teorema 4. dan garis singgung di titik (x1 .9 dan Teorema 4. Berikut ini dibuktikan sifat-sifat parabola yang muncul berkaitan dengan subtangent. 0).10. (Ini juga diilustrasikan dalam Gambar 4.8. Sifat-sifat ini diilustrasikan dalam Gambar 4.9. proyeksi pada sumbu x dari ruas garis normal dengan titik-titik ujung pada sumbu x dan titik singgung P dinamakan subnormal untuk titik P . Teorema 4. Ruas garis T Q adalah subtangent. Diketahui bahwa garis singgung parabola di titik P memotong sumbu x di titik T dan garis normalnya memotong sumbu x di titik N .8: Ilustrasi untuk sifat dari tali fokus dan garis singgung untuk parabola. Diperhatikan Gambar 4. subnormal.14 Proyeksi pada sumbu x dari ruas garis singgung untuk parabola dengan titik-titik ujung pada sumbu x dan titik singgung P dinamakan subtangent untuk titik P .12 diperoleh akibat seperti berikut. 2a (x1 y1 a) : Kemiringan garis P F dan F Q berturut-turut adalah mP F = y1 x1 a . Parabola y 42 P Q F R x Gambar 4.Bab 4. Sementara itu. Akibat 4. Karena itu garis P F tegak lurus dengan F Q.13 Diandaikan sembarang dua garis singgung terhadap parabola adalah saling tegak lurus.

0) adalah titik tengah dari subtangent T Q.16 Diambil F adalah fokus dan P1 R tegak lurus terhadap garis arah KR. Di sisi lain.17 Sudut P1 F T sama dengan dua kali sudut P1 T F . maka garis singgung di P1 membagi sudut RP1 F menjadi dua sama besar. T F P1 R adalah suatu belah ketupat dan = .10: Ilustrasi dari sifat parabola yang berkaitan dengan garis singgung di suatu titik pada parabola. Akibat 4. dipunyai bahwa N P1 S adalah komplemen dari . sehingga jOT j = x1 . Jadi. Ini berarti bahwa O (0.18 Jika garis RP1 diperpanjang dari titik P1 ke suatu titik S. Dengan cara ini diperoleh titik T ( x1 . Karena N P1 tegak lurus dengan P1 T . Bukti. berdasarkan sifat sebelumnya dan juga de…nisi parabola diperoleh T F = T O + OF = OQ + OF = OQ + OK = x1 + a: Oleh karena itu P1 R = P1 F = T F . y R βα P1 β S T K O F Q N x Gambar 4. Berdasarkan de…nisi parabola dipunyai bahwa P1 R = P1 F = a + x1 . Teorema 4. = . maka garis normal N P1 membagi sudut F P1 S menjadi dua sama besar. Selain itu. . Bukti.9: Subtangent dan subnormal untuk titik singgung parabola. Persamaan garis singgung di titik P1 (x1 . Jadi. Teorema 4. 0). diperoleh bahwa sudut F P1 N sama dengan sudut N P1 S. Parabola y 43 P T O Q N x Gambar 4. Titik T dicari dengan mengambil y = 0 dalam persamaan garis singgung. Bukti. Berdasarkan kenyataan bahwa keempat sudut belah ketupat adalah sama besar.Bab 4. maka F P1 N adalah komplemen dari . berdasarkan sifat sebelumnya. maka OT dan OQ mempunyai panjang sama. Karena jOQj = x1 . Bukti. y1 ) adalah y1 y = 2a (x + x1 ).

(16) Koordinat fokus terletak pada garis 3x + 4y = 12. 6) ke (2. . Beri tanda untuk fokus dan gambarkan garis arah dalam setiap gambar. cari persamaan parabola dengan puncak di titik asal. 0). 6) adalah suatu tali parabola. dipilih fokus adalah kutub dari koordinat polar dan sumbu mayor adalah garis awal ( = 0 ) untuk koordinat polar. cari persamaan parabola yang memenuhi kondisi yang diberikan. (17) Garis arah yaitu garis y = 6. (10) Panjang latus rectum sama dengan 16. Parabola 44 Teorema 4. 5) adalah suatu tali parabola. (11) Jarak dari puncak ke fokus sama dengan 3. 5) ke ( 2. dan persamaan garis arah. Dalam soal (18) (23).Bab 4. sumbu parabola adalah salah satu sumbu koordinat. sehingga segitiga RKF sebangun dengan segitiga P1 KN dan ini berarti bahwa jQN j = jKF j = 2a: 4. Bukti. gambarkan setiap parabola. (12) Koordinat fokus yaitu ( 5. maka RF tegak lurus terhadap T P1 . 3). SOAL-SOAL UNTUK BAB 4 Dalam soal (1) (8). (1) y 2 = 8x (2) y 2 = 8x (3) y 2 = 12x (4) x = 2y 2 2 2 = 8y 2 = 8y (5) 6x = y (6) x (7) x (8) 2x2 = 9y Dalam persamaan y 2 = 4ax. (13) Garis dari ( 2. 6). cari panjang latus rectum.19 Panjang subnormal QN sama dengan 2a untuk semua posisi titik P1 pada parabola. (15) Koordinat fokus yaitu (0. koordinat fokus. (14) Garis dari ( 2. Karena T F P1 R adalah suatu belah ketupat. cari nilai p terhadap kondisi berikut ini: (9) Parabola melalui titik (2. dan juga memenuhi kondisi yang diberikan. Dalam soal (13) (17).6 Persamaan Kutub Dalam koordinat kutub. Karena itu RF sejajar dengan P1 N .

(26) Suatu irisan penampang (cross-section) dari pemantul cahaya berbentuk parabola ditunjukkan dalam gambar berikut: 11 cm C A 5 cm V F 5 cm B D The bulb ditempatkan di fokus dan diameter di fokus adalah 10 cm. 3) dan garis arah y = 3. 0) dan fokus (3. 0) dan garis arah x = 6. 0) dan fokus ( 2. 0).Bab 4. 0). 3) . melalui (2. (27) Jika suatu pemantul cahaya berbentuk parabola dengan diameter 20 cm dan kedalaman 5 cm. (22) Puncak (0. melalui (5. (25) Diberikan parabola y 2 = 16x. tunjukkan bahwa lingkaran dan parabola adalah bersinggungan. (23) Puncak (0. Parabola (18) Fokus (6. (24) Dalam parabola y 2 = 4ax. . (28) Diketahui suatu busur berbentuk parabola dengan sumbunya tegak. 0) dan melalui titik-titik ujung latus rectum. dan sumbunya adalah sepanjang sumbu x. Cari panjang sisi-sisi segitiga tersebut. Busur mempunyai tinggi 10 m dan lebar 5 m pada ujung-ujungnya. tentukan fokusnya. suatu segitiga sama sisi dibuat sedemikian sehingga puncaknya terletak di titik asal dan kedua titik sudut lainnya terletak pada parabola. (a) Cari persamaan parabola. Cari persamaan lingkaran dengan pusat (12. 2) . Dengan mencari titik potong antara lingkaran dan parabola. dan simetris terhadap sumbu y. 0). 0). Berapakah lebar busur yang jaraknya 2 m dari puncak parabola. (20) Puncak (0. (b) Cari diameter CD yang terletak 11 cm dari puncak. (21) Puncak (0. 45 (19) Fokus (0.

Smith (1922).. (2006). Wentworth. S. J.Daftar Pustaka [1] Sicelo¤. G.. Essential Calculus: Early Transcendentals [3] Uppal. (). L.P. [2] Stewart. Boston. NCERT Publication. Mathematics: Textbook for Class XI.E. Ginn and Company. dan D. Analytic Geometry. 46 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful