A.

Pendahuluan Setiap yang berkeinginan memahami agamanya secara mendalam, tidak dapat menolak urgensi mempelajari teologi yang terdapat dalam agama yang dianutnya. Mempelajari teologi akan mengokohkan keyakinan yang berdasarkan pada argumentasi atau landasan yang kuat sekaligus mengantisipasi serta mengatasi bentuk-bentuk invasi pemikiran yang bertujuan mendangkalkan atau bahkan menyesatkana keyakinan dari pemahaman yang absah. Sejarah perkembangan teologi Islam menunjukkan fakta bahwa terdapat lebih dari satu aliran teologi. Ada yang bersifat liberal, ada pula yang bersifat tradisional, dan ada pula yang mempunyai sifat antara keduanya. Corak teologi tersebut merupakan wujud dari dinamika intelektual atau pemahaman yanga kemudian menjadi khasanah ilmu dalam Islam. Seluruh agama samawi yang diturunkan oleh Allah SWT di muka bumi ini menempatkan teologi pada posisi sentral. Oleh karenanya para Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah sebagai pengemban risalah mempunyai misi untuk menyampaikan dan menanamkan teologi kapeda umatnya. Misi risalah yang seperti tersebut di atas jugalah yang diemban oleh Nabi Muhammad saw sebagai seorang Nabi dan Rasul yang terakhir yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan Risalah-Nya. Bahkan dari totalitas kehidupan rasul, sebagian besar tugas risalahnya menyampaikan misi sentral tersebut. Pada masa Rasul sampai dengan masa khalifah Usman Ibn Affan problem teologis di kalangan umat Islam belum muncul. Barulah setelah khalifah yang keempat Ali Ibn Thalib persoalan teologis muncul kepermukaan.Teologi (tauhid) pada masa Rasul belum merupakan ilmu keislaman yang berdiri sendiri. Istilah tersebut baru dikenal jauh setelah beliau wafat, yakni pada abad ke-3 H. Hal itu disebabkan oleh persoalan arbitrase antara Ali dan Muawiyah Ibn Abi Sofyan dan kelompok yang menolak arbitrase tersebut sehingga lambat laun terkristalisasi dalam berbagai bentuk aliran teologi dengan berbagai macam tokoh dan pendekatan masing-masing. Setiap orang yang berkeinginan memahami agamanya secara mendalam, tidak dapat menolak urgensi mempelajari teologi yang terdapat dalam agama yang dianutnya. Mempelajari teologi akan mengokohkan keyakinan yang berdasarkan pada argumentasi atau landasan yang kuat sekaligus mengantisipasi serta mengatasi bentuk-bentuk invasi pemikiran yang bertujuan mendangkalkan atau bahkan menyesatkan keyakinan dari pemahaman yang absah. Sejarah perkembangan teologi Islam menunjukkan fakta bahwa terdapat lebih dari satu aliran teologi. Ada yang bersifat liberal, adapula yang bersifat tradisional, dan adapula yang mempunyai sifat antara keduanya. Corak teologi tersebut merupakan wujud dari dinamika intelektual atau pemahaman yang kemudian menjadi khazanah ilmu dalam Islam. Oleh karena itu sekarang sangat diperlukan menggali kembali nilai-nilai dalam teologi Islam sebagaimana termaktub dalam referensi utamanya, sehingga teologi Islam berkembang tanpa harus kehilangan relevansinya sebab seharusnya teologi bersifat kontekstual dan transedental. Oleh karena itu sekarang sangat diperlukan menggali kembali nilai-nilai dalam teologi Islam sebagaimana termaktub dalam referensi utamanya, sehingga teologi Islam berkembang tanpa harus kehilangan relevansinya sebab seharusnya teologi bersifat kontekstual dan trasendental. Apakah sesungguhnya teologi islam tersebut ? Bagaimana pertumbuhan dan perkembangan kajian teologi Islam tersebut ? Siapa dan bagaimana tokoh yang mengembangkan dan karya-karyanya dengan sejumlah persoalan tersebut akan di kaji dalam makalah ini. B. Pengertian Istilah-Istilah teologi Islam Teologi berarti ilmu yang mempelajari tentang ketuhanan serta berbagai masalah yang berkaitan dengannya berdasarkan dalil-dalil yang meyakinkan dan jika dihubungkan dengan prediket Islam, maka teologi Islam berarti ilmu yang mempelajari tentang Tuhan dan hal-hal yang berkaitan dengan-Nya menurut konsepsi Islam. Ilmu kalam adalah salah satu cabang dari ilmu keislaman yang belakangan ini lebih populer dengan sebutan Teologi Islam. Sehubungan dengan itu dalam tulisan ini istilah teologi Islam akan sering juga dengan menggunakan ilmu kalam. Di dalam buku-buku Literatur Inggris maupun Prancis ditemukan istilah Theologi, yang berasal dari kata Theos yang artinya Tuhan dan Logos artinya Ilmu, jadi Theologi adalah ilmu tentang

karena persoalan yang terpenting yang menjadi pembicaraan pada abad-abad permulaan hijriyah adalah apakah kalam Allah itu qadim atau baharu. maka pembuktian dalam soal-soal agama ini dinamai ilmu kalam untuk membedakan dengan logika dalam filsafat. “Syarah Kitab At-tauhid Muhammad Bin Abdul Wahab”. sifat-sifat yang tidak ada padanya. tauhidan. didasari oleh beberapa alasan. Prinsip inilah yang menjadi tujuan utama diutusnya Nabi Muhammad Saw.Ketuhanan. Dalam bahasa diartikan bahwa kalam itu adalah suatu susunan kalimat yang ada artinya. Juga mengkaji tentang rasul dan Meyakini kerasulan mereka. sifat-sifat yang mesti ada pada-Nya. Kedua : dalam membahas masalah-masalah ketuhanan tidak terlepas dari dalil-dalil aqli yang dijadikan sebagai argumentasi yang kuat sesuai dengan aturan-aturan yang ditetapkan dalam logika (mantiq) yang penyajiannya melalui permainan kata-kata (kalam) yang tepat. Sedangkan menurut yang lain menyatakan bahwa tauhid adalah ilmu yang menyelidiki dan mengkaji tentang persoalan yang wajib.hal itu muncul sesuai dengan aspek kajian yang ditonjolkan dalam pengkajiannya. pembicaraan. atau menganggap bahwa ada satu tuhan tidak ada yang lainnya. dan Ma’ad (hal-hal yang membicarakan tentang hari yang akan datang atau kiamat). kemudian digambarkan dengan huruf dan dikumpulkan menjadi alquran. . Penyebutan ilmu kalam. Para ahli dibidang ini disebut dengan Mutakallimin. Ilmu tauhid juga mempunyai sebutan lain. Ilmu Kalam Disebut dengan ilmu kalam. Dan juga cara pembuktian kepercayaan-kepercayaan agama menyerupai logika dalam filsafat. sifat Allah ada pada-Nya. ucapan. Sebutan lain untuk ilmu ini juga disebut dengan ilmu aqidah atau aqo’id yang berarti ilmu yang mempelajari tentang hal-hal yang menetapkan agama dengan dalil-dalil yang dapat diyakini kebenarannya. Hal-hal yang boleh dan terlarang dihubungkan dengan mereka. Kalam artinya perkatann. apakah ia makhluk dalam arti diciptakan ataukah ia qadim dalam arti abadi tidak diciptakan. firman. jaiz dan mustahil bagi Allah dan para Rasul-Nya dan mengupas dalil-dalil yang berhubungan dengannya. Kalangan ahli tafsir dan ahli agama umumnya kalam itu diartikan dengan firman Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. satu dan esa. Dalam Islam ada sejumlah istilah tentang teologi diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Oleh karena itu pokok pembahasan yang paling penting adalah menetapkan keesaan Allah SWT dalam zat dan perbuatan-Nya dalam menjadikan alam semesta dan hanya ialah yang menjadi tujuan terakhir alam ini. Sedangkan tahid secara terminolgis adalah ilmu yang mengkaji tentang wujud Allah. sifat-sifat yang boleh pada Allah dan sifat-sifat yang mustahil bagi Allah. Ibn Khaldun mengatakan bahwa ilmu kalam adalah ilmu yang berisi alasan-alasan yang mempertahankan kepercayaan-kepercayaan iman dengan menggunakan dalil-dalil pikiran dan berisikan bantahan terhadap orang-orang yang menyeleweng dari kepercayaan-kepercayaan aliran golongan salaf dan ahli sunnah. Adapun Ilmu Kalam adalah sebagai Ilmu yang membicarakan tentang wujudnya Tuhan (Allah). yang berarti tunggal. Tauhid Tauhid secara etimologis berasal dari bahasa Arab yang merupakan bentuk masdar dari kata Wahhada. Abu Mansur al-Maturidi sebagai tokoh teologi dari kalangan Sunni menyebutkannya dengan fiqh al-Akbar dalam buku beliau al-fiqh al-Akbar Risalah fi al-‘aqaid. Wasitah (masalah yang berkaitan dengan perantara atau penghubung antara manusia dengan Allah). 2. antara lain : Pertama : problema-problema yang diperselisihkan umat Islam pada masa-masa ilmu ini adalah masalah kalam Allah SWT yaitu alquran. Dari defenisi diatas tentunya masih banyak defenisi lain yang dikemukakan oleh para ahli dapat ditarik kesimpulan bahwa masalah yang dikaji dalam tauhid meliputi mabda (persoalan yang berhubungan dengan Allah). yuwahhidu. yaitu yang membicarakan zat Tuhan dari segala seginya dan hubungannya dengan alam. menjelaskan makna tauhid adalah meyakini keesaan Tuhan. Selanjutnya Muhammad Thaher Badrie dalam kitabnya. Ilmu ini disebut juga dengan Ilmu Ushuluddin karena objek bahasan utamanya adalah pokok-pokok agama yang merupakan masalah esensial dalam ajaran Islam.

C. Kelompok inilah yang kemudian dikenal dengan nama khawarij. dan dari sinilah mulanya muncul persoalan teologi dalam Islam. Penyelesaian dengan tahkim ternyata tidak menyelesaikan persoalan. Pada masa ini ada dua peristiwa besar yang terjadi. Pertama. thalhah dan Aisyah yang terkenal dengan perang jamal. Masalah tersebut hendaknya diserahkan kepada hukuk-hukum Allah di dalam alquran. Pertempuran yang pertama berhasil dimenangkan oleh Ali. Karena itu mereka yang tidak berhukum kepada hukum-hukum Allah adalah kafir. Persoalan tersebut bermula dari terbunuhnya Khalifah Usman Ibn Affan dan diangkatnya Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah berikutnya. mereka yang masih loyal kepada Ali. kelompok yang masih loyal dengan Usman menuntut Ali untuk menyelesaikan persoalan terbunuhnya Usman dan tidak mengakui kekhalifahan Ali. Demikian halnya yang terjadi pada masa Usman Ibn Affan. Walaupun awalnya yang muncul dalam bidang politik. Keempat. Orang yang kafir tidak hanya seperti yang disebutkan di atas. karena menurut mereka ini hanya Allah yang berhak memutuskan perkara tersebut. Pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar persoalan teologi masih relatif kecil. Sebagian kelompok Ali tidak menyetujui jalan damai ini dan menganggap Ali telah keluar dari Islam atau kafir. Hal itu dikarenakan pada masa ini problem keagamaan tidak banyak ditambah lagi pada masa ini Rasul mempunyai otoritas untuk menyelesaikan berbagai problem keagamaan. Dalam perkembangan lebih lanjut paham khawarij mengalami perubahan. seorang Gubernur yang berada di Syam. Kedua . yang terkenal dengan perang Siffin. pada masa itu ada empat kelompok umat Islam : pertama. Dengan demikian. Pertikaian dalam masalah politik akhirnya dapat diselesaikan umat Islam. Mereka menganggap orang-orang yang menerima tahkim seperti Ali. bukan manusia. Karena pada masa ini umat Islam memusatkan perhatiannya pada persoalan dalam Negara dan ekspansi wilayah. Pertumbuhan dan Perkembangan Kajian Teologi Dalam Islam Agak aneh kiranya kalau dikatakan bahwa dalam Islam. Sedangkan pertempuran yang kedua berakhir dengan tahkim (arbitrase). bahkan menjadikan umat Islam makin terpecah. akan tetapi. Muawiyah. akan tetapi setiap orang Islam yang melakukan dosa besar dianggap kafir. Kelompok ini dikenal dengan nama Murji’ah. Agar hal ini menjadi jelas perlulah kita terlebih dahulu kembali sejenak ke dalam sejarah Islam. mereka berpendapat muslim yang melakukan dosa besar masih tetap mukmin. Pendapat khawarij ini mendapat tanggapan dari kelompok umat Islam lainnya. perang antara Ali Ibn Abi Thalib dengan Zubair. Berawal dari kasus kematian Usman (24-34 H/644-656 M) sebagai khalifah yang ketiga. Konsep inilah yang melahirkan polemik teologis sehingga muncul berbagai aliran teologi dalam Islam. Pendukung Muawiyah : Ketiga. Kedua. Pada masa kerasulan Muhammad teologi sudah diperkenalkan beliau secara mendalam kepada para sahabatnya. bahkan ia menuduh Ali melakukan konspirasi untuk membunuh Usman. . Perang antara Ali dan Muawiyah. Masalah dosa besar yang dilakukannya diserahkan kepada Allah. Abu Musa al-Asy’ari dan Amr bin As adalah kafir. Terutama yang berkenaan dengan khalifah. yakni Muawiyah dan bekas pengikutnya sendiri. Sebahagian pendukung Ali berbalik memusuhinya sehingga Ali menghadapi dua musuh. mereka yang tidak memihak kepada kelompok manapun (netral). Pada masa ini umat Islam tidak mengalami kesulitan dalam untuk menemukan solusi dalam problem keagamaan. Kelompok yang keluar dari barisan Ali berpendapat bahwa persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan dengan cara tahkim. Kelompok Muawiyah. tegasnya ke dalam fase perkembangannya yang pertama. dalam perkembangan selanjutnya persoalan politik muncul kembali dengan motif dan skala yang lebih besar dan kompleks. pada masa ini persoalan teologi sudah mulai muncul kepermukaan. sebagai agama. persoalan yang pertamatama timbul adalah dalam bidang politik dan bukan dalam bidang teologi. Berbeda halnya pada masa khalifah Ali Ibn Thalib. Tetapi persoalan politik ini segera meningkat menjadi persoalan teologi. Pertikaian antara pendukung Ali bin Abi Thalib dan Usman bin Affan ini melahirkan jalan damai melalui arbitrasi. mereka yang awalnya mendukung Ali berbalik memusuhi Ali.

Di samping itu. Oleh sebab itu kesungguhan umat Islam untuk mengatasi persoalan-persoalan yang muncul dalam teologi adalah sesuatu yang menjadi keharusan untuk diselesaikan. Keyakinan tersebut menumbuhkan sikap taat dan patuh terhadap ajaran agama yang dimiliknya. Murjiah. Pada masa khalifah Abu Bakar. Kata neo-Mu’tazilah mulai dipakai dalam tulisan-tulisan mengenai Islam. Dengan masuknya kembali faham rasionalisme ke dunia Islam. yang kalau dahulu masuknya itu melalui kebudayaan Yunani Klasik akan tetapi sekarang melalui kebudayaan Barat modern. Aliran-aliran Khawarij. yaitu Ka’ab al-Qur’an akbar. Karenanya segenap ketidakadilan dan kesewenang-wenangan harus dihadapi setiap muslim dengan keinginan untuk menghentikan dan melenyapkannya. khurafat dan kebatinan. Konsep tauhid ini merujuk pada alquran menekankan tegaknya keadilan dan kebijakan. Mu’tazilah. D. Di masa Nabi masih hidup. tidak berputus asa apalagi pasrah. Lambat laun reaksi terhadap mu’tazilah ini muncul diantaranya aliran teologi yang dipelopori oleh Abu Hasan al-‘Asy’ari di Bashrah dan Abu Mansur al-Maturidi di Samarkhand. terutama sekali di kalangan kaum intelegensia Islam yang mendapat pendidikan Barat. Konsep tauhid ini merujuk pada alquran menekankan tegaknya keadila dan kebajikan. maka ajaran-ajaran Mu’tazilah mulai timbul kembali. Sehingga Islam yang merupakan sumber kepercayaan tidak diragukan lagi eksistensinya sebagai sumber kepercayaan dan mengandung nilai-nilai fitrah yang antisipatif dan solutif terhadap dinamika kehidupan. Dengan demikian aliran-aliran teologi penting yang timbul dalam Islam ialah aliran Khawarij. yang dalam perkembangannya telah mengembangkan struktur sosial yang membebaskan manusia dari segala macam perbudakan. Islam Sebagai Sumber Kepercayaan.Tidak lama kemudian muncul pula kelompok Mu’tazilah yang berpendapat orang yang melakukan dosa besar tidak mukmin tidak pula kafir ia berada diantara keduanya (al-manzilah bain almanziatain). saat kaum khawarij muncul. Yang masih ada sampai sekarang ialah aliran-aliran Asy’ariah dan Maturidiah dan keduanya disebut ahl Sunnah wa al-Jamaah. Karena keterbatasan manusia ia bukan hanya tida bisa memahami yang metafisika yang sajapun tidak seluruhnya dapat dipahami oleh manusia. Akan tetapi pada masa khalifah ketiga Usman bin affan baru kelihatan secara terang-terangan timbulnya penyelewengan-penyelewengan aqidah yang dimulai oleh Yahudi yang bernama Abdullah Ibnu Saba’. Khalifah Umar bin Khattab juga masih murni.Agama ini tidak hanya mengajarkan kepada umatnyahal-hal yang bersifat fisika maupun hal-hal yang bersifat metafisika. Tauhid yang dipandang sebagai inti dari teologi Islam telah melahirkan masyarakat yang egaliter dan dinamis yang memiliki andil besar merekonstruksi peradaban Paganis menjadi peradaban yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sebagai makhluk termulia yang memiliki akal dan jiwa. Wahab bin Munabih dan al-Laitsyi. Aliran Maturidiah banyak dianut oleh umat Islam yang bermazhab Hanafi. Asy’ariah dan Maturidiah. Ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad mengandung sistem kepercayaan (iman). Aliran teologi Mu’tazilah ini dalam perjalanan sejarahnya pernah menjadi aliran teologi resmi Negara pada masa al-makmun khalifah ketujuh dari Dinasti Abbasiyah. Sebenarnya unsur penyelewengan itu sudah ada lebih dahulu yaitu ketika masuknya tiga orang pendeta Nasrani ke dalam Islam. Sehingga khalifah pada masa itu memaksakan aliran ini diikuti oleh rakyatnya. aqidah itu masih murni. Sejak saat it uterus menerus terjadi penyelewengan-penyelewengan dengan bentuk bermacam-macam diantaranya tahyul. Dengan demikian masalah bentuk dan wujud Tuhan bukanlah lokasi pembicaraan rasio tapi merupakan bagian dari rasa keberagaman. Konsep pokok dalam teologi Islam itu adalah Tauhid. Hal ini merupakan bagian yang paling mendasar dalam teologi Islam. sedangkan aliran Asy’ariah pada umumnya dipakai oleh umat Islam Sunni Lainnya. Rasa keberagaman itu muncul dari adanya keyakinan dalam diri manusia tentang adanya Tuhan dan hal-hal yang berhubungan dengannya ditambah fitrah manusia yang mempunyai kecendrungan untuk meyakini hal-hal yang ada di luar dirinya. Murjiah dan Mu’tazilah tak mempunyai wujud lagi kecuali dalam sejarah. juga muncul kelompok setia dari Ali bin Abi Thalib yang dikenal dengan Syi’ah. Dia adalah seorang pendeta Nasrani di Yaman yang masuk agama Islam. Karenanya .

4. Oleh sebab itu kesungguhan umat Islam untuk mengatasi persoalan-persoalan yang muncul dalam teologi adalah sesuatu yang menjadi keharusan untuk diselesaikan. Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk mewujudkan perbuatannya dan tidak mempunyai kemampuan untuk memilih segala gerak-gerik yang dilakukan oleh manusia ditentukan oleh Allah. Kedua. Tetapi ada pula yang menyatakan pemberian nama khawarij berdasarkan surah an-Nisa’ ayat 100 yang di dalamnya menyatakan ada sekelompok orang yang keluar dari kediamannya menuju Allah dan Rasul-Nya. Aliran teologi ini disebut murji’ah karena mereka berkeyakinan bahwa orang yang berdosa besar diberikan suatu pengharapan untuk mendapatkan rahmat dari surga Allah. orang Islam yang melakukan dosa besar adalah kafir. . tokohnya adalah Abu Hanifah. Hal ini merupakan bagian yang paling mendasar dalam teologi Islam. Beliau ini pimpinan kelompok yang memisahkan diri dari kelompok Ali. al-Ubaidillah. orang Islam yang melakukan dosa besar tidak dihukumkan kafir. Abd al-Karim bin Ajrad. Karya dan Pendekatannya. Abd al-Rabih. Adapun amal tidak merupakan suatu kemestian. Ziad bin Asfar dan Abdullah bin Ibad. Kedua. al-Salihiah dan Jaham bin Safwan. 1. Imam tidak diperlukan lagi apabila manusia secara sadar dapat mengatur dirinya sendiri. Murji’ah Kaum Murji’ah pada mulanya merupakan golongan yang tidak mau turut campur dalam pertentangan-pertentangan yang terjadi ketika itu dan mengambil sikap menyerahkan penentuan hukum kafir atau tidaknya orang-orang yang bertentangan itu kepada Tuhan. Pemikiran aliran ini terbagi dalam dua golongan Murji’ah moderat. Sehingga Islam yang merupakan sumber kepercayaan tidak diragukan lagi eksistensinya sebagai suatu sumber kepercayaan dan mengandung nilai-nilai fitrah yang antisipatif dan solutif terhadap dinamika kehidupan. Abu Sallat al-Samman dan Dirar bin Umar. Jabariyah Aliran ini merupakan anbitrasi dari pendapat Qadariyah mengenai perbuatan manusia. 2. Karena itu imam bukanlah wajib syar’i hanya sesuatu yang jaiz (boleh). Ketiga. Tokoh utama aliran ini adalah Abdullah bin Wahab al-Rasyidi. Qadariyah Aliran ini disebut dengan aliran qadariyah karena merekalah yang pertama sekali yang mempersoalkan tentang qadar. Tokoh-Tokoh. Qatari bin Fuja’ah.segenap ketidakadilan dan kesewenang-wenangan harus dihadapi setiap muslim dengan keinginan untuk menghentikan dan melenyapkannya. Karena itu manusialah yang menentukan perbuatannya apakah ingin melakukan kebaikan atau kejahatan dan mempertanggungjawabkan perbuatannya. 3. Aliran-aliran Utama Teologi Islam. Aliran ini berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk bertindak (qudrah) dan memilih atau berkehendak (iradah). hukum terhadap perbuatan manusia ditangguhkan sampai hari kiamat. Nafi bin azraq. Murji’ah berasal dari kata arja’a yang berarti menunda dan memberi pengharapan. Khawarij Kelompok yang mengutamakan khawarij ditujukan kepada golongan yang keluar dari kelompok Ali bin Abi Thalib sebagaimana yang telah diuraikan terdahulu. khalifah harus dipilih oleh rakyat dan tidak satupun kelompok berhak mengklaim kelompoknya yang paling berhak menduduki posisi tersebut. tidak berputus asa apalagi pasrah. Adapun ajaran pokok aliran ini adalah : Pertama. sedangkan golongan Murji’ah ekstrim tokohnya adalah Al-Khassaniah. Zubair bin Ali. Mustarid bin Sa’ad. Abdullah bin Basir. Quraib bin Maruah. E. Hausarah alAsadi. Perbedaan antara kelompok khawarij yang berpendapat bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh Bani Umayyah adalah menyeleweng dari ajaran Islam dan kelompok pendukung Ali memandang bahwa Muawiyah merampas kekuasaan dari Ali dan keturunannya menjadi penyebab timbulnya aliran ini. Ketiga. Ajaran pokok aliran ini dapat dikelompokkan menjadi tiga : Pertama. Ia tetap mukmin selama ia mengakui Syahadatain. Tokoh aliran ini adalah Ja’ad bin Dirham dan Jahm bin Safwan. iman kepada Allah dan Rasul-Nya cukup hanya di dalam hati. Kemudian Urwah bin Hudair. Pemimpin utama aliran ini adalah Hasan bin Bila al-Muzani. Dan selanjutnya Muhammad bin Ali bin Abi Thalib dan Jahm bin Safyan. Tokoh aliran ini adalah Ma’bad al-Juhaini dan Ghailam al-Dimasyqi.

yakni . Namun kemudian beliau keluar dari paham Mu’tazilah yang selama ini dipahaminya. karena tokoh utama Mu’tazilah Washil bin Atha’ memisahkan diri dari gurunya Hasan al-Basyri.5. Imam setelah rasul adalah Ali dan keturunannya). Al-Maturidiyah juga dinisbatkan kepada Abu Mansur bin Mahmud al-Maturidi yang lahir di Samarkhand. Janji Tuhan. al-Asy’ariyah dan al-Maturidiyah Aliran al-Asy’ari dinisbahkan kepada Abu Musa Abdullah bin Qais al-Asy’ari. Ajaran pokok al-Asy’ari adalah : pertama. keadilan Tuhan bersifat absolut. keempat. al-‘adl. Ajaran-ajaran pokok aliran ini adalah. masalah politik timbul buat pertama kali setelah Rasulullah wafat. yang berpendapat bahwa sesudah rasulullah wafat yang berhak menggantikan beliau sebagai kepala Negara (imam atau khalifah) ialah keluarga beliau.at-tauhid. Syi’ah Yang dimaksud dengan Syi’ah adalah segolongan umat Islam yang timbul sesudah Nabi Muhammad saw wafat. al-Wa’ad wa al-Wa’id. Ketiga. Tuhan dapat dilihat di akhirat. Ketiga. Versi lain menyatakan bahwa kata mu’tazilah adalah sebutan untuk mereka yang mengasingkan diri dari pertikaian politik pada saat itu dan memusatkan perhatian untuk beribadah. Tuhan mempunyai sifat dengan sifat itulah Tuhan melakukan yang dikehendakinya. keenam. dan bukan dengan zatnya. Tuhan mempunyai sifat-sifat yang disebutkan di dalam alquran. Namun kaum Mu’tazilah tidak begitu banyak berpegang pada sunnah atau tradisi. bukan karena tidak percaya pada tradisi Nabi dan para sahabat. Ajaran pokok aliran ini dikenal dengan istilah usul al-khamsah (lima prinsip ajaran). Kelima. Perbuatan manusia diwujudkannya sendiri walaupun kehendak untuk berbuat itu merupakan kehendak Tuhan. Kedua. Pertama. Amru bin Ubaid. Mu’tazilah Kaum Mu’tazilah adalah golongan yang membawa persoalan-persoalan teologi yang lebih mendalam dan bersifat filosofis dari persoalan-persoalan yang dibawa kaum Khawarij dan Mur’jiah. orang muslim yang berbuat dosa besar yang meninggal sebelum ia bertaubat. Pemikiran teologi al-Maturidi lebih rasional dibandingkan al-Asy’ari. kedua. Kelima. attauhid. baik janji memberikan pahala kepada orang berbuat baik dan siksaan kepada . yang akhirnya menjelma menjadi Syi’ah. al-Nazzam serta alJubba’i. yang dikenal dengan istilah ahlul bait. dan al-ma’ad (kepercayaan adanya hari akhirat yang pasti ada). tetapi karena ragu akan keorisinilan hadis-hadis yang mengandung sunnah atau tradisi itu. Pemikiran teologi alMaturidi. Syi’ah adalah kelompok yang loyal kepada Ali dan merupakan pendukung dan pengikut setia Ali. Dalam pembahasan mereka banyak memakai akal sehingga mendapat nama Kaum Rasionalis Islam. ia tetap mukmin. 7. Tokoh aliran ini adalah Washil bin Atha’. Sebutan untuk aliran ini berarti memisahkan diri. al-Manzilah bain al-manzilatain dan amar ma’ruf wa Nahi al-Munkar. Alquran adalah kalam Allah yang Qadim. perbuatan manusia diciptakan oleh Tuhan dan berbarengan dengan kekuasaan manusia. yakni . Pergolakan-pergolakan yang terjadi pada akhir pemerintahan Usman sampai terbunuhnya dan diangkatnya Ali menjadi Khalifah mengakibatkan timbulnya golongan baru yang bertendensi politik yaitu :Golongan umat Islam yang mendukung politik ahlul bait yang dipimpin oleh Ali bin abi Thalib. Aliran Syi’ah ini muncul karena dorongan masalah politik. Sama halnya dengan paham al-Asy’ari teologi al-Maturidi merupakan reaksi terhadap paham Mu’tazilah. al-asy’ari sebelumnya sangat menguasai paham mu’tazilah karena ia adalah murid dari tokoh Mu’tazilah alJubba’i. Tuhan mempunyai kewajiban-kewajiban tertentu. alquran Qadim bukan makhuk. 6. Pikiran-pikiran teologi al-Asy’ari dapat diketahui melalui karya-karyanya seperti Maqalat al-Islamiyyin al-Ibanah dan al-Luma’. al-Imamah (pemimpin umat hanyalah imam dan imam itu terpelihara dari dosa. Abu Huzail al-Allaf. al-adl. an-Nubuwwah. Keenam.

Gagasan dan Pemikiran. Dari uraian-uraian diatas dapat dikemukakan bahwa kajian teologi perlu dikaji melalui pendekatan baru. tetapi juga pada ayat-ayat yang mengandung arti Dzanni. Teolog-teolog yang berpendapat atau dekat dengan arti harfi dari teks Alquran dan Hadis. Dalam teologi tradisionil. 1996. Mesir : An-Nahdah al-Misriyyah. yaitu aliran mana yang sesuai dengan jiwa dan pendapatnya. Kairo : Maktabah an-Nahdoh. Deding S. Ahmad Hanafi. tidaklah keluar dari Islam. Fajr al-Islam. F. Di sinilah kelihatan hikmah ucapan Nabi Muhammad saw : “Perbedaan faham dikalangan umatku membawa rahmat”. Harun Nasution . G. Mesir : Mustafa al-baby al-Halaby. al-Maturidi banyak pula memakai akal dalam sistem teologinya. Ayat-ayat alquran yang menggambarkan Tuhan mempunyai bentuk jasmani seperti manusia harus ditakwil. sebaliknya penganutnya kurang mempunyai ruang gerak karena mereka terikat hanya pada dogma-dogma. mudah dapat dimengerti oleh kaum awam. Jakarta : Bulan Bintang. Islam Rasional. Jakarta : UI Press. tidaklah pula menyebabkan ia menjadi ke luar dari Islam. Pemikiran teologi al-Maturidi dapat dilihat dari karya-karya beliau seperti Risalah fi al-‘Aqaid dan Syarah al-Fiqh al-Akbar. Karena dalam pengkajian teologi harus dapat menjawab problem sosial umat seperti kajian teologi transformatif yang bersifat sosiologis. Para penganutnya tidak banyak menghadapi kesulitan-kesulitan dalam menyesuaikan hidup dengan perkembangan-perkembangan yang timbul dalam masyarakat modern. Kairo. Jakarta : Tintamas . al-Milal wa an-Nihal. Hal ini tidak ubahnya pula dengan keterbatasan tiap orang Islam memilih Mazhab Fiqh mana yang sesuai dengan jiwa dan kecenderungannya. tetapi tetap dalam Islam. selanjutnya dengan pembahasannya yang bersifat filosofis. Dalam Islam sebenarnya terdapat lebih dari satu aliran teologi. DAFTAR KEPUSTAKAAN Abu Bakar Aceh. terutama dalam lapangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknoogi. Bandung : Mizan. Harun Nasution. Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah Analisa perbandingan. Theologi Islam (Ilmu Kalam).orang yang berbuat jahat pasti ditepati. 1965. Signifikansi dan Kontribusi Pendekatan Teologi dalam Studi Islam Sedangkan ahli teolog berpendapat bahwa akal mempunyai daya yang kuat memberi interpretasi yang libera tentang teks ayat-ayat Alquran dan Hadis. Ahmad Amin. 1966. Al-Syahrastani. Ketujuh. 1997. 1967. Penutup. Sebagai pengikut Abu Hanifah banyak memakai rasio dalam pandangan keagamaannya. Duna al-Islam. Tetapi teologi tradisionil. Dan bukan membawa perpecahan sesama umat Islam. dengan demikian tiap orang Islam bebas memilih salah satu dari aliran-aliran teologi tersebut. 1936. Sehingga sukar untuk mengikuti perubahan dan perkembangan yang terjadi pada masyarakat modern. Teologi Liberal. Bandung : cv. . Dengan demikian orang yang memilih mana saja dari aliran-aliran itu sebagai teologi yang dianutnya. Dengan demikian timbullah teologi Liberal seperti yang terdapat dalam aliran Mu’tazilah. ada yang bersifat tradisionil dan ada pula yang mempunyai sifat antara liberal dan tradisionil. Pada hakikatnya semua aliran tersebut. Ada aliran yang bersifat liberal. Teologi liberal memberikan peluang-peluang dalam ruang gerak dalam menyesuaikan hidup dengan peredaran zaman dan perobahan kondisi dalam masyarakat bagi para penganutnya adalah luas. Sikap demikian menimbulkan teologi tradisional sebagai yang ada dalam aliran As’ariyah. 1990. dengan uraian yang sederhana. Ilmu Kalam. Ahmad Amin. sukar dapat ditangkap oleh golongan awam. Ilmu Ketuhanan ( Ilmu Kalam).Armico.

.Hasbi Ash-Shiddieqy. Dalam Antologi Kajian Islam. 2004. Jakarta : Raja Grafindo Persada. Muhammad Abduh. M. Jakarta: Pustaka Panjimas. Risalah at-Tauhid. T. dalam Majalah Ilmiyah An-Nadwah.Ictiar Baru Van Hoeve. 1993. Ilhamuddin. tt : Kita.Yusran Asmuni. Kairo :Maktbah al-Adab. 1999. Ikhtisar Ilmu Tauhid. Ilmu Tauhid. Tarikh al-MAzahib al-Islamiyah fi as-Siyasah wa al-‘Aqaid. Hasan Asari &Amroini Drajat (ed).Thahir A. Muhammad Thaher Badre. Jakarta : Bulan Bintang. Medan : Fakultas Dakwah IAINSU. 1996.M. tt. Kairo : Al-Manar. Syarah Kitab at-tauhid Muhammad bin Abdul Wahab. Sejarah dan Pengantar Ilmu Tauhid/Kalam. Tim Redaksi Ensiklopedi. tt. Jakarta : PT. Bandung : Citapustaka Media. 1969. Alam Pikiran Islam. M.1986. Ensiklopedi Islam. Muhammad Abu Zahrah.Muin. 1990.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful