PMRI (PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK INDONESIA) SUATU INOVASI DALAM PENDIDIKAN MATEMATIKA DI INDONESIA Oleh : DARSONO NIM : 0103509003

S2 MATEMATIKA A. Latar Belakang Dikeluarkannya Permen No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi (SI) adalah merupakan salah satu kelanjutan upaya pemerintah untuk memajukan pendidikan. Hal tersebut terlihat pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Undang-undang ini mengamanatkan pembaharuan yang besar dalam sistem pendidikan di Indonesia. Menurut Permen No. 22 Tahun 2006, mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Hal senada juga diungkapkan oleh Soedjadi (2004) bahwa pendidikan matematika memiliki dua tujuan besar yang meliputi: (1) tujuan yang bersifat formal yang memberi tekanan pada penataan nalar anak serta pembentukan pribadi anak, dan (2) tujuan yang bersifat material yang memberi tekanan pada penerapan matematika serta kemampuan memecahkan masalah matematika. Dari tujuan di atas terlihat bahwa matematika sangat penting untuk menumbuhkan penataan nalar atau kemampuan berpikir logis serta sikap positif siswa yang berguna dalam mempelajari ilmu pengetahuan maupun dalam penerapan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai landasan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan tersebut disusun standar kompetensi dan kompetensi dasar matematika. Standar kompetensi dan kompetensi dasar dijadikan sebagai landasan guru untuk menyusun program dan kegiatan belajar-mengajar di kelas. Upaya-upaya pembaharuan dalam sistem pendidikan tersebut dilakukan sebagai respon dari banyaknya permasalahan dalam pendidikan di Indonesia. Permasalahan tersebut juga terjadi pada mata pelajaran matematika. Masalah umum pada matematika seperti rendahnya daya saing di ajang international, rendahnya rata-rata NEM nasional, serta rendahnya minat belajar matematika, matematika terasa sulit karena banyak guru matematika mengajarkan matematika dengan materi dan metode yang tidak menarik dimana guru menerangkan atau 'teacher telling' sementara murid mencatat. Salah satu penyebab permasalahan tersebut adalah secara umum pendekatan pengajaran matematika di Indonesia masih menggunakan pendekatan tradisional atau mekanistik yang menekankan proses 'drill and practice', prosedural serta menggunakan rumus dan algoritma sehingga siswa dilatih mengerjakan soal seperti mekanik atau mesin. Konsekwensinya bila mereka diberikan soal yang beda dengan soal latihan mereka akan membuat kesalahan atau 'error' seperti terjadi pada komputer. Begitu pula mereka tidak terbiasa memecahkan masalah yang banyak di sekeliling mereka. Perhatian pemerintah dan pakar pendidikan matematika diberbagai negara untuk meningkatkan kemampuan matematika siswa dalam rangka mengatasi rendahnya aktivitas dan hasil belajar matematika, telah diuji-cobakan penggunaan pembelajaran matematika secara kontekstual dan humanistik seperti yang telah dikembangkan di

Menurutnya pendidikan harus mengarahkan siswa kepada penggunaan berbagai situasi dan kesempatan untuk menemukan kembali matematika dengan cara mereka sendiri. yaitu dimulai dari penyelesaian yang berkait dengan konteks (context-link solution). Model model yang muncul dari aktivitas matematik siswa dapat mendorong terjadinya interaksi di kelas. Mengenal Pendekatan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) Realistic Mathematics Education (RME) yang di Indonesia lebih dikenal dengan Pendekatan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) tidak dapat dipisahkan dari Institut Freudenthal. sehingga siswa harus di beri kesempatan untuk belajar melakukan aktivitas semua topik dalam matematika. Di Amerika Serikat dikembangkan suatu pendekatan pembelajaran yang disebut contextual teaching and learning. bahwa di negara Kangguru Australia sedang dipopulerkan pembelajaran matematika melalui pemahaman konteks yang disebut mathematics in context. matematika realistik dikembangkan berdasarkan pandangan Freudenthal yang berpendapat bahwa matematika merupakan kegiatan manusia yang lebih menekankan aktivitas siswa untuk mencari. Peningkatan aktivitas dan hasil belajar matematika siswa diduga dapat dilakukan melalui perantaraan benda-benda konkrik dan gambar-gambar yang menarik perhatian siswa.negara-negara maju. menemukan. dan membangun sendiri pengetahuan yang diperlukan sehingga pembelajaran menjadi terpusat pada siswa. Hal ini adalah salah satu upaya dalam rangka memperbaiki mutu pendidikan matematika (Sahat Saragih). Dua pandangan penting beliau adalah ‘mathematics must be connected to reality and mathematics as human activity ’. sehingga mengarah pada level berpikir matematik yang lebih tinggi. RME menggabungkan pandangan tentang apa itu matematika. Sejak tahun 1971. Di negara tetangga Singapura. Belanda. Pendekatan matematika realistik ini sesuai dengan perubahan paradigma pembelajaran. Menurut Becker dan Shimada (1997: 2). B. Freudenthal berkeyakinan bahwa siswa tidak boleh dipandang sebagai passive receivers of ready-made mathematics (penerima pasif matematika yang sudah jadi). Menurut Soedjadi(2004). ia menekankan bahwa matematika sebagai aktivitas manusia. . berada di bawah Utrecht University. Leader. siswa secara perlahan mengembangkan alat dan pemahaman matematik ke tingkat yang lebih formal. dan bagaimana matematika harus diajarkan. et al. Sedangkan di Indonesia sendiri tengah dipopulerkan Pembelajaran Matematika Realistik Indonesia atau disingkat PMRI. (1995: 78). Banyak soal yang dapat diangkat dari berbagai situasi (konteks). di negara Sakura Jepang saat ini sedang dipopulerkan pendekatan yang dikenal the open-ended approach. Institut Freudenthal mengembangkan suatu pendekatan teoritis terhadap pembelajaran matematika yang dikenal dengan RME (Realistic Mathematics Education). matematika harus dekat terhadap siswa dan harus relevan dengan situasi kehidupan sehari-hari. Nama institut diambil dari nama pendirinya. bagaimana siswa belajar matematika. yaitu dari paradigma mengajar ke paradigma belajar atau perubahan paradigma pembelajaran yang berpusat pada guru ke paradigma pembelajaran yang berpusat pada siswa. Pertama. Konsep matematika muncul dari proses matematisasi. Kedua. Misalnya di Belanda telah dikembangkan pendekatan pembelajaran dengan nama Realistic Mathematics Education (RME). yaitu Profesor Hans Freudenthal (1905 – 1990). Institut ini didirikan pada tahun 1971. pendekatan pembelajaran di sekolah dikenal dengan nama concretevictorial-abstract approach . yang dirasakan bermakna sehingga menjadi sumber belajar.

Generalisasi dan . Yang dimaksud “dunia riil” adalah segala sesuatu di luar matematika. Artinya siswa membuat model sendiri dalam menyelesaikan masalah. Ia bisa berupa mata pelajaran lain selain matematika. PMR mempunyai ciri antara lain. harus dipetakan (Gravemeijer. berargumentasi dengan teman sekelas sehingga mereka dapat menemukan sendiri ('student inventing' sebagai kebalikan dari 'teacher telling') dan pada akhirnya menggunakan matematika itu untuk menyelesaikan masalah baik secara individu maupun kelompok. karakteristik RME adalah menggunakan konteks “dunia nyata”. ataupun kehidupan sehari-hari dan lingkungan sekitar kita (Blum & Niss. RME adalah pendekatan pengajaran yang bertitik tolak dari hal-hal yang 'real' bagi siswa. moderator atau evaluator sementara siswa berfikir. menekankan ketrampilan 'proses of doing mathematics'. 1989). 1995). bahwa dalam proses pembelajaran siswa harus diberikan kesempatan untuk menemukan kembali (to reinvent) matematika melalui bimbingan guru (Gravemeijer. mengkomunikasikan 'reasoningnya'. Dunia riil diperlukan untuk mengembangkan situasi kontekstual dalam menyusun materi kurikulum. Kemudian siswa dapat mengaplikasikan konsep-konsep matematika ke bidang baru dari dunia nyata (applied mathematization). 2) Menggunakan model-model (matematisasi) Istilah model berkaitan dengan model situasi dan model matematik yang dikembangkan oleh siswa sendiri (self developed models). produksi dan konstruksi siswa. Dalam PMR. Menurut Treffers dan Van den Heuvel-Panhuizen dalam Suharta (2005:2). Materi kurikulum yang berisi rangkaian soal-soal kontekstual akan membantu proses pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Berdasarkan pemikiran tersebut. melatih nuansa demokrasi dengan menghargai pendapat orang lain. Pertama adalah model situasi yang dekat dengan dunia nyata siswa. atau bidang ilmu yang berbeda dengan matematika. pembelajaran diawali dengan masalah kontekstual (inti) dari konsep yang sesuai dari situasi nyata yang dinyatakan oleh De Lange sebagai matematisasi konseptual. proses belajar mempunyai peranan penting. Peran self developed models merupakan jembatan bagi siswa dari situasi real ke situasi abstrak atau dari matematika informal ke matematika formal. Sebagai konsekuensinya. 1997). dan bahwa penemuan kembali (reinvention) ide dan konsep matematika tersebut harus dimulai dari penjelajahan berbagai situasi dan persoalan “dunia riil” (de Lange. model-model. 1994).Hans Freudenthal berpendapat bahwa matematika merupakan aktivitas insani (human activities) dan harus dikaitkan dengan realitas. guru harus mampu mengembangkan pengajaran yang interaktif dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memberikan kontribusi terhadap proses belajar mereka. Pada pendekatan ini peran guru tak lebih dari seorang fasilitator. untuk menjembatani konsep-konsep matematika dengan pengalaman anak sehari-hari perlu diperhatikan matematisi pengalaman sehari-hari (mathematization of everyday experience) dan penerapan matematika dalam sehari-hari. berdiskusi dan berkolaborasi. interaktif dan keterkaitan (intertwinment) dan dijelaskan sebagai berikut : 1) Menggunakan konteks “dunia nyata” Dalam RME. Oleh karena itu. Rute belajar (learning route) di mana siswa mampu menemukan sendiri konsep dan ide matematika. Melalui abstraksi dan formalisasi siswa akan mengembangkan konsep yang lebih komplit. Dari prinsip di atas diperoleh kesimpulan bahwa Pendekatan Matematika Realistik (PMR) secara garis besar memiliki lima karakteristik.

akan menjadi model matematika formal. Secara eksplisit bentuk-bentuk interaksi yang berupa negosiasi. baik fisik maupun sosial. Melalui penalaran matematik model-of akan bergeser menjadi model-for masalah sejenis. 3) Guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif menyumbang pada proses belajar dirinya. modifikasi. dan secara aktif membantu siswa dalam menafsirkan persoalan riil.penghalusan. 2) Guru harus mampu membangun pengajaran yang interaktif. 4) Pengetahuan baru yang dibangun oleh siswa untuk dirinya sendiri berasal dari seperangkat ragam pengalaman. Dalam mengaplikasikan matematika. 5) Menggunakan keterkaitan (intertwinment) Dalam RME pengintegrasian unit-unit matematika adalah esensial. Menurut Sutarto Hadi. 4) Menggunakan interaktif Interaksi antar siswa dengan guru merupakan hal yang mendasar dalam RME. penyusunan kembali.formalisasi model-model tersebut akan berubah menjadi model-of masalah tersebut. 3) Menggunakan produksi dan konstruksi Dengan pembuatan “produksi bebas” siswa terdorong untuk melakukan refleksi pada bagian yang mereka anggap penting dalam proses belajar. dan tidak hanya aritmetika. RME juga mempunyai konsepsi tentang guru sebagai berikut: 1) Guru hanya sebagai fasilitator belajar. 5) Setiap siswa tanpa memandang ras. Pada akhirnya. biasanya diperlukan pengetahuan yang lebih kompleks. 2) Siswa memperoleh pengetahuan baru dengan membentuk pengetahuan itu untuk dirinya sendiri. dan penolakan. aljabar. atau geometri tetapi juga bidang lain. budaya dan jenis kelamin mampu memahami dan mengerjakan matematik. dan 4) Guru tidak terpancang pada materi yang termaktub dalam kurikulum. setuju. Jika dalam pembelajaran kita mengabaikan keterkaitan dengan bidang yang lain. 3) Pembentukan pengetahuan merupakan proses perubahan yang meliputi penambahan. 1995 dalam Sutarto Hadi): 1) Memulai pelajaran dengan mengajukan masalah (soal) yang “riil” bagi siswa sesuai dengan pengalaman dan tingkat pengetahuannya. Begitu pula RME mempunyai konsepsi tentang pembelajaran. berdasarkan karakteristik tersebut RME mempunyai konsepsi tentang siswa sebagai berikut: 1) Siswa memiliki seperangkat konsep laternatif tentang ide-ide matematika yang mempengaruhi belajar selanjutnya. kreasi. Strategi-strategi informal siswa yang berupa prosedur pemecahan masalah kontekstual merupakan sumber inspirasi dalam pengembangan pembelajaran lebih lanjut yaitu untuk mengkonstruksi pengetahuan matematika formal. pembenaran. pertanyaan atau refleksi digunakan untuk mencapai bentuk formal dari bentuk-bentuk informal siswa. sehingga siswa segera terlibat dalam . bahwa pengajaran matematika dengan pendekatan RME meliputi aspek-aspek berikut (De Lange. penjelasan. tidak setuju. maka akan berpengaruh pada pemecahan masalah. melainkan aktif mengaitkan kurikulum dengan dunia-riil.

Sedangkan inti dari tahap eksplorasi adalah aktivitas siswa yang dapat berupa: pemunculan gagasan atau pembentukan model. menekankan pada kemampuan berargumentasi. and higher order level. Dua tujuan terakhir. pada aspek prilaku diharapkan siswa mempunyai ciri-ciri: 1) di kelas mereka aktif dalam diskusi. Desain suatu ‘open material’ yang berangkat dari suatu situasi dalam realitas. 4) memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Dengan rambu-rambu sebagai berikut. mengajukan pertanyaan dan gagasan. Aktivitas siswa diatur sehingga mereka dapat berinteraksi sesamanya. materi. 4) Evaluasi. 2) mampu bekerja sama dengan membuat kelompok-kelompok belajar. berkomunikasi dan pembentukan sikap kritis. middle level. 2) Permasalahan yang diberikan tentu harus diarahkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam pelajaran tersebut. dan tahap penyimpulan. 3) Aktivitas. Sejalan dengan paradigma baru pendidikan sebagaimana yang dikemukakan oleh Zamroni. berangkat dari konteks yang berarti dalam kehidupan. tahap eksplorasi/penelusuran. metode dan evaluasi. Pada situasi ini siswa mempunyai kesempatan untuk bekerja. diberikan pula masalah kontekstual yang sudah mengarah ke sasaran pembelajaran. dan melakukan refleksi terhadap setiap langkah yang ditempuh atau terhadap hasil pelajaran. Tujuan haruslah mencakup ketiga level tujuan dalam RME yakni lower level. mencari alternatif penyelesaian yang lain. pertukaran gagasan/pembukaan situasi konflik. 4) Pengajaran berlangsung secara interaktif: siswa menjelaskan dan memberikan alasan terhadap jawaban yang diberikannya. secara umum (menurut model dari Connected Mathematics Project) terdiri dari tahap orientasi.pelajaran secara bermakna. 3) bersifat demokratis. mempertahankan gagasan dan sekaligus berani pula menerima gagasan orang lain. diskusi. serta aktif dalam mencari bahan-bahan pelajaran yang mendukung apa yang tengah dipelajari. negosiasi. 3) Siswa mengembangkan atau menciptakan model-model simbolik secara informal terhadap persoalan/masalah yang diajukan. 2) Materi. yang dilanjutkan dengan . pemberian masalah kontekstual yang masih bersifat umum. negosiasi. Materi evaluasi dibuat dalam bentuk ‘open question’ yang memancing siswa untuk menjawab secara bebas dan menggunakan beragam strategi atau beragam jawaban (free productions). Peranan guru hanya sebatas fasilitator atau pembimbing. Tahapan pembelajaran yang dilaksanakan di kelas. model tersebut harus merepresentasikan karakteristik RME baik pada tujuan. setuju terhadap jawaban temannya. menyatakan ketidaksetujuan. 1) Tujuan. Pada tahap orientasi selain disampaikan sasaran pembelajaran. Menurut M. pengkomunikasian gagasan atau model. memahami jawaban temannya (siswa lain). dan kolaborasi. Pada tahap penyimpulan diberikan rangkuman. yakni berani menyampaikan gagasan. (2000). berfikir dan berkomunikasi dengan menggunakan matematika. Asikin (2010). untuk mendesain suatu model pembelajaran berdasarkan pendekatan realistik.

Guru merespon secara positif jawaban siswa. 2. pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). 5. Kurikulum 2006 mengamanatkan bahwa. pembelajaran diawali dengan masalah kontekstual (inti) dari konsep yang sesuai dari situasi nyata yang dinyatakan oleh De Lange sebagai matematisasi konseptual. PMRI (Pembelajaran Matematika Realistik Indonesia) Suatu Inovasi Dalam Pendidikan Matematika di Indonesia Perubahan paradigma pembelajaran dari pandangan mengajar ke pandangan belajar atau pembelajaran yang berpusat pada guru ke pembelajaran yang berpusat pada siswa membawa konsekuensi perubahan yang mendasar dalam proses pembelajaran di kelas. 4. Untuk mendukung proses pembelajaran yang sesuai dengan perubahan tersebut dan sesuai dengan tujuan pendidikan matematika. 1) Siswa secara mandiri atau kelompok kecil mengerjakan masalah dengan strategi-strategi informal. 2001). 4) Beberapa siswa mengerjakan di papan tulis. 2010). Guru mendekati siswa sambil memberikan bantuan seperlunya. serta penggunaan metode evaluasi yang terintegrasi pada proses pembelajaran tidak hanya berupa tes pada akhir pembelajaran (Subandar. melainkan sebagai teman belajar. Guru memberikan tugas di rumah. 2) Siswa memikirkan strategi yang paling efektif. Adapun langkah-langkah pembelajaran pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) menurut Suharta (2005:5) adalah sebagai berikut. Guru mengenalkan istilah konsep. 3. yaitu Kurikulum 2006. 6) Siswa mengerjakan tugas rumah dan menyerahkannya kepada guru. yaitu mengerjakan soal atau membuat masalah cerita serta jawabannya sesuai dengan matematika formal. pendekatan matematika realistik adalah salah satu pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan perubahan tersebut. Asikin. peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika. Aktivitas Guru Aktivitas Siswa 1. melalui diskusi kelas. dalam setiap kesempatan. diperlukan suatu pengembangan materi pelajaran matematika yang difokuskan pada aplikasi dalam kehidupan sehari-hari (kontekstual) dan disesuaikan dengan tingkat kognitif siswa. 6. Guru mengarahkan siswa pada beberapa masalah kontekstual dan selanjutnya mengerjakan masalah dengan menggunakan pengalaman mereka. C. Perubahan tersebut menuntut agar guru tidak lagi sebagai sumber informasi.pemberian pertanyaan rangkuman (summary questions) dan pemberian tugas rumah (M. 3) Siswa secara sendiri-sendiri atau berkelompok menyelesaikan masalah tersebut. Siswa diberi kesempatan untuk memikirkan strategi siswa yang paling efektif. Dalam RME. 5) Siswa merumuskan bentuk matematika formal. Siswa dipandang sebagai makhluk yang aktif dan memiliki kemampuan untuk membangun pengetahuannya sendiri. Guru memberikan siswa masalah kontekstual. jawaban siswa dikonfrontasikan. Melalui abstraksi dan formalisasi siswa akan mengembangkan . Dengan mengajukan masalah kontekstual. Ditinjau dari perubahan kurikulum yang saat ini sedang diberlakukan.

Menurut Turmudi (2004). 4) Skripsi Hustiawan Cahyono (2009) menyimpulkan bahwa penerapan Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik Indonesia (PMRI) dapat meningkatkan mrestasi melajar miswa pada materi Bangun Ruang di Kelas VIII D SMP Negeri 5 Malang. Kemudian siswa dapat mengaplikasikan konsep-konsep matematika ke bidang baru dari dunia nyata (applied mathematization). Di Indonesia. Jerman. Brasilia. 2005). Teori PMR sejalan dengan teori belajar yang berkembang saat ini. Hal ini berarti bahwa pendekatan matematika realistik dapat mengakibatkan adanya perubahan pandangan siswa terhadap matematika dari matematika yang menakutkan dan membosankan ke matematika yang menyenangkan sehingga keinginan untuk mempelajari matematika semakin besar. 2000). beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran tradisional. Jepang. suatu prestasi yang sangat fantastis untuk mata pelajaran matematika yang banyak dipandang siswa sebagai mata pelajaran yang sangat menakutkan dan membosankan. Denmark. Hasil studi di Puerto Rico menyebutkan bahwa prestasi siswa yang mengikuti program pembelajaran matematika dengan pendekatan matematika realistik berada pada persentil ke-90 ke atas (Turmudi. Konsep PMR sejalan dengan kebutuhan untuk memperbaiki pendidikan matematika di Indonesia yang didominasi oleh persoalan bagaimana meningkatkan pemahaman siswa tentang matematika dan mengembangkan daya nalar. menemukan bahwa hasil pembelajaran perkalian dan pembagian bilangan besar siswa kelas IV SD dengan pendekatan matematika realistik lebih baik daripada pembelajaran secara tradisional. dan Malaysia (Zulkardi. disingkat CTL) . Matematika Realistik yang pertama kali dikembangkan di Negeri Belanda dan telah menempatkan negara tersebut pada posisi ke-7 dari 38 negara peserta TIMSS tahun 1999 (Mullis et al. berkesimpulan bahwa hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri 8 Baruga Kendari pada pokok bahasan penjumlahan dan pengurangan pecahan dapat ditingkatkan melalui pendekatan Realistic Mathematic Education (RME). 3) Penelitian yang dilaksanakan oleh Kamiluddin (2007:48). baik secara nasional maupun internasional (Romberg. . 2001). 2004. Spanyol. Matematika realistik juga telah diadopsi oleh banyak negara maju seperti Inggris. 1998). Haji.konsep yang lebih komplit. Beberapa penelitian tersebut antara lain adalah : 1) Penelitian yang dilakukan Fauzan (2002). 2) Hasil penelitian Armanto (2002). pembelajaran matematika dengan pendekatan matematika realistik sekurang-kurangnya telah mengubah minat siswa menjadi lebih positif dalam belajar matematika. Oleh karena itu. untuk menjembatani konsep-konsep matematika dengan pengalaman anak sehari-hari perlu diperhatikan matematisi pengalaman sehari-hari (mathematization of everyday experience) dan penerapan matematika dalam sehari-hari.. Afrika Selatan. Salah satu hasil yang dicapai oleh negara-negara tersebut adalah prestasi siswa yang meningkat. Amerika Serikat. menemukan bahwa hasil pembelajaran geometri siswa kelas IV dan V SD dengan pendekatan matematika realistik pada tes akhir lebih tinggi daripada pembelajaran secara tradisional. Namun. baik pendekatan konstruktivis maupun CTL mewakili teori belajar secara umum. Portugal. seperti konstruktivisme dan pembelajaran kontekstual (cotextual teaching and learning. PMR adalah suatu teori pembelajaran yang dikembangkan khusus untuk matematika.

jika kita (guru) rajin memperhatikan lingkungan dan mengaitkan pembelajaran matematika dengan lingkungan maka besar kemungkinan berpikir logis siswa itu akan tumbuh. sistematis. dan tunjukkan bahwa matematika banyak kegunaannya. Untuk menumbuhkan sikap positif terhadap matematika. tidak menakutkan. Tunjukkan bahwa matematika sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari sehingga matematika tidak dipandang sebagai sesuatu yang menyeramkan. Melakukan pembelajaran bermakna yang diharapkan dapat mengembangkan kemampuan berpikir logis dan sikap siswa terhadap matematika. Ruseffendi (2001) berpendapat bahwa untuk membudayakan berpikir logis serta bersikap kritis dan kreatif proses pembelajaran dapat dilakukan dengan pendekatan matematika realistik. Selanjutnya dikatakan. Teori RME telah digunakan di beberapa . Hal ini penting mengingat sikap positif terhadap matematika berkorelasi positif dengan prestasi belajar matematika (Ruseffendi. dapat dicapai melalui inovasi proses pembelajaran matematika di kelas. Hal ini sesuai dengan karakteristik pendekatan matematika realistik. Sehingga tujuan pembelajaran matematika yaitu membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis. Upayakan proses pembelajaran yang menyenangkan. Perkembangan PMRI (Pembelajaran Matematika Realistik Indonesia) di Indonesia RME awalnya dikembangkan di Belanda. Perlu perubahan pembelajaran dari paradigma mengajar ke paradigma belajar atau pembelajaran yang berpusat pada guru ke pembelajaran yang berpusat pada siswa. Dalam proses pembelajaran matematika perlu diperhatikan sikap positif siswa terhadap matematika. analitis. materi harus dipilih dan disesuaikan dengan lingkungan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari (kontekstual) dan tingkat kognitif siswa. dan kreatif. dimulai dengan cara-cara informal melalui pemodelan sebelum dengan cara formal. Sebagai konsekuensinya perlu diperhatikan pendekatan pembelajaran yang digunakan di kelas. baik proses maupun hasil dalam rangka untuk memperbaiki proses pembelajaran. Sahat Saragih menuliskan berdasarkan kajian teori yang telah dikemukakan maupun hasil penelitian yang telah dilakukan baik di dalam negeri maupun di luar negeri menunjukkan bahwa pendekatan matematika realistik layak dipertimbangkan untuk digunakan di jenjang pendidikan dasar di Indonesia dalam rangka untuk meningkatkan berpikir logis dan sikap siswa terhadap matematika yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam matematika. bukan merupakan akhir dari proses pembelajaran. 1988). serta kemampuan bekerjasama akan lebih tercapai. \Pada simpulan salah satu jurnal ilmiahnya. Oleh karena itu. melainkan harus dibangun sendiri oleh siswa. perlu diperhatikan agar penyampaian matematika dapat menyenangkan. tertarik dan termotivasi untuk belajar matematika. Penilaian harus dilakukan terhadap keseluruhan. kritis. Paham ini mendasari pendekatan matematika realistik. Tujuan pendidikan matematika yang lain adalah penekanannya pada pembentukan sikap siswa. mudah dipahami. diharapkan siswa mulai menyenangi.Dengan adanya perubahan pandangan yang selama ini menganggap matematika sebagai pelajaran yang menakutkan. Perubahan paradigma pembelajaran tersebut sesuai dengan paham konstruktivisme yang menyatakan bahwa pengetahuan matematika tidak dapat diajarkan oleh guru. D. Sehingga pendekatan matematika realistik layak dipertimbangkan untuk digunakan di jenjang pendidikan dasar di Indonesia untuk mencapai tujuan pembelajaran matematika. Untuk mencapai tujuan pendidikan matematika tersebut.

Setelah siswa di beberapa distrik sekolah dari negara yang berbeda menggunakan bahan-bahan. eksperimen. penelitian pendahuluan menunjukkan bahwa prestasi siswa dalam ujian nasional meningkat pesat (de Lange. (de Lange. Eksperimen kelas ini tidak hanya menyediakan dasar untuk pengembangan dan penyempurnaan teori PMRI. Pada dasarnya. .Bottom-up pelaksanaan.Guru secara aktif terlibat dalam merancang penyelidikan dan mengembangkan bahanbahan yang terkait. Hal ini dikenal sebagai PMRI. Gerakan tidak hanya menerapkan cara baru pengajaran dan pembelajaran matematika. tetapi dikaitkan dengan dorongan untuk mencapai transformasi sosial di Indonesia. Oleh karena itu. Perlu diakui bahwa hal itu tidak mudah untuk menerapkan teori dan pendekatan PMRI dalam pengajaran dan pembelajaran matematika di sekolah-sekolah Indonesia. Hal ini dikarenakan pendekatan pengajaran PMRI adalah bertentangan dengan kemapanan pembelajaran yang berpusat pada guru dan asumsi transfer pengetahuan kepada siswa. 1994). tetapi juga memberitahu mereka yang terlibat dalam pengembangan pelatihan bagi para guru dan penulisan buku pelajaran siswa. Utrecht University dan University Wisconsin. tidak hanya menyediakan PMRI sebagai pendekatan baru untuk mengajar matematika. satu kelompok yang kemudian disebut Tim Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI). tetapi juga cara baru berpikir tentang tujuan dan praktek-praktek matematika sekolah. 2000). antara Freudenthal Institute (FI). Banyak komentator di sekolah-sekolah di Indonesia percaya bahwa kebanyakan inovasi diperkenalkan ke sekolah-sekolah selama beberapa dekade tidak memiliki dampak signifikan pada kualitas pendidikan.sekolah di Amerika Serikat (AS) sebagai bagian dari proyek kolaboratif.Bahan dan kerangka kerja berdasarkan kelas dan dikembangkan melalui penelitian. buku pelajaran. PMRI menggunakan strategi bottom-up. . Di Indonesia. in-service pendidikan dan pelatihan dalam kelas. dengan pendekatan dan materi yang sebagian besar dikembangkan di dalam kelas daripada di belakang meja petugas kurikulum. Data menunjukkan bahwa kerjasama internasional ini telah menjadi perusahaan yang bermanfaat. diasumsikan oleh banyak pengamat. penyelidikan. sebuah adaptasi dari RME dalam Bahasa Indonesia.Hari-demi-hari pelaksanaan strategi yang memungkinkan siswa untuk menjadi pemikir yang lebih aktif. mengembangkan suatu pendekatan untuk meningkatkan pembelajaran matematika di sekolah-sekolah Indonesia. Terinspirasi oleh filosofi RME tersebut. Pendekatan untuk mereformasi diadopsi oleh PMRI meliputi: . Third International Mathematics and Science Study (TIMSS) Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa di Belanda mencetak gol yang sangat dalam matematika (Mullis et al. dalam arti bahwa 'hikmat praktek' dari bertahuntahun di Belanda telah digunakan sebagai titik awal bagi pengembangan kurikulum di Amerika Serikat. kemudian menjadi gerakan untuk mereformasi pendidikan matematika di Indonesia. . 1998). . Reformasi pendidikan matematika di Indonesia telah dimulai di kelas dan guru telah mengubah pendekatan pengajaran matematika sebagai hasil dari keterlibatan mereka dengan bahan-bahan baru. juga ada hasil positif dari penggunaan materi kurikulum RME. Hal ini dikembangkan melalui kajian desain dalam kelas di Indonesia. Di Belanda. .Konteks perkembangan dan materi yang secara langsung berkaitan dengan lingkungan sekolah dan kepentingan murid. Matematika dalam Konteks (MIC).

Tim PMRI menyadari bahwa untuk menjadikan sukses dalam menerapkan PMRI. dan tidak akan sangat mempengaruhi praktik kelas mereka. Asikin. sehingga mereka memberikan dukungan maksimal bagi pengembangan konsep-konsep matematika (Hadi 2002). sikap/mental pemegang otoritas. dan (iii) mengembangkan kurikulum matematika berbasis RME Untuk mengembangkan dan mengimplementasikan RME di Indonesia memerlukan kerja keras semua pihak. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari terulangnya berbagai kebijakan di bidang pendidikan yang terkesan selalu “top down”dan hanya karena alasan “proyek” yang didanai dan harus dijalankan(M. sikap/mental guru. Oleh karena itu para guru harus terlibat secara aktif dalam proses pengimplementasian RME. antara lain (i) melaksanakan uji coba di beberapa sekolah sambil melakukan penelitian pengembangan. Dan PMRI hadir sebagai metode alternatif yang mungkin akan diperlukan dalam reformasi matematika di sekolah. guru dan siswa memerlukan materi kurikulum yang konsisten dengan cita-cita dan konteks Indonesia. Meskipun beberapa guru belum menguasai filosofi PMRI dan belum mengadopsi pendekatan pengajaran yang direkomendasikan. Akan tetapi sekarang kenyataan sudah cukup berbeda. (ii) menatar guru-guru tentang RME. pandangan masyarakat terhadap belajar. Asikin : 2010). sikap/tingkah laku siswa. Model atau pendekatan ini haruslah sesuai dengan . Untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa dan penguasaan siswa terhadap konsep dasar matematika guru diharapkan mampu berkreasi dengan menerapkan model ataupun pendekatan dalam pembelajaran matematika yang cocok. 2010). Tidak hanya bertumpu pada para pengembang atau para peneliti di perguruan tinggi.bahwa pendekatan PMRI tidak akan menangkap pikiran guru. Jadi kegiatan dan konteks yang dipilih harus mudah dikenal oleh para siswa. Penutup Secara umum hasil belajar matematika siswa dan penguasaan siswa terhadap konsepkonsep matematika masih berada dalam tataran rendah. dan dapat membantu guru membimbing siswa dalam menemukan kembali konsepkonsep matematika. Guru-guru kini telah tumbuh menerima filosofi PMRI bahwa guru harus membimbing siswa di dalam menemukan konsep-konsep matematika. Secara singkat dapat dikatakan bahwa untuk mengembangkan pendekatan RME dalam pembelajaran matematika di sekolah-sekolah Indonesia perlu dilakukan berbagai perubahan seperti kurikulum. Salah satu pendekatan untuk memenuhi persyaratan ini adalah bagi para pengembang kurikulum dan penulis buku teks dari universitas untuk bekerja dengan guru. Meskipun demikian. E. maka menurut Slettenhaar (2000) dan Marpaung (2001) perlu beberapa upaya. sebagian besar guru telah mengembangkan persepsi positif dari PMRI. ada beberapa yang menganggap pendekatan PMRI terlalu radikal dan karena itu tidak pernah diterima oleh sebagian besar guru di Indonesia. Bahan-bahan yang harus diperlukan tersedia dan mendukung siswa berpikir. sehingga penerapan RME di Indonesia dapat berhasil. Mereka harus banyak mendukung guru dalam mengatur kegiatan belajar di kelas di mana terdapat keragaman latar belakang murid. Peran para guru matematika justeru sangat strategis. bahasa dan diagram harus sederhana dan jelas. khususnya dalam belajar matematika(M. Agar berbagai dampak tersebut akan dapat dikenali secara lebih dini.

Salah satu pendekatan yang membawa alam pikiran siswa ke dalam pembelajaran dan melibatkan siswa secara aktif adalah pendekatan Realistic Mathematic Education (RME).id/(diakses pada tanggal 15 September 2007).unnes. Skripsi: UMS.or. Pendekatan ini pula tepat diterapkan dalam mengajarkan konsep-konsep dasar dan diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar siswa. 2001. 2003. PMRI: Pembelajaran Matematika yang Mengembangkan Penalaran. Pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) adalah suatu pendekatan yang menempatkan realitas dan pengalaman siswa sebagai titik awal pembelajaran dimana siswa diberi kesempatan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan matematika formalnya melalui masalah-masalah realitas yang ada. Nurliana. Bandung. Saranggih. R. Pengantar Kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Dengan pendekatan ini siswa tidak hanya mudah menguasai konsep dan materi pelajaran namun juga tidak cepat lupa dengan apa yang telah diperolehnya tersebut.com/ (diakses pada tanggal 15 September 2007). Eko Siswono.. Skripsi.pmri. Implementasi Model Pembelajaran REALISTIC MATHEMATICEDUCATION (RME) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar SiswaKelas VI SD Negeri Limbangan 03 Tahun Pelajaran 2006/2007Dalam Pokok Bahasan Operasi Hitung Pada Bilangan Pecahan. REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION (RME):Paradigma baru pembelajaran Matematika. Sutarto Hadi. Hadi. www. Usaha Peningkatan Hasil Belajar Matematika Melalui Aktivitas Pembalajaran Dengan REALISTIC MATHEMATIC EDUCATION (RME) Pada Pokok Bahasan Bangun Ruang di SMP Kelas VIII.materi yang akan diajarkan serta dapat mengoptimalkan suasana belajar. 2004: PMRI dan KBK dalam Era Otonomi .. Caslan. Program Studi Pendidikan Matematika Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Maarten Dolk 2008 Reforming mathematics learning in Indonesian classrooms through RME ZDM Mathematics Education (2008) . http:// www. Menumbuhkembangkan Berpikir Logis dan Sikap Positif terhadap Matematika melalui Pendekatan Matematika Realistik. Sutarto. Sahat.ac. Bandung. PMR:Menjadikan Pelajaran Matematika Lebih Bermakna Bagi Siswa (Online). Anita. Makalah (Online).com/(diakses pada tanggal 10 September 2007).zainuri. Buletin PMRI Edisi III.id/buletin/ Ruseffendi. Skripsi. 2008.files. (On line) http://digilib. 2008. Singkat kata RME yang di Indonesia disebut PMRI dapat dipandang sebagai suatu inovasi dalam pembelajaran matematika di samping pendekakan-pendekatan pembelajaran inovatif yang lainnya. Dafar Pustaka Asikin.Soedjadi dan Sutarto Hadi. 2008. ET. 1988. M.wordpress.wordpress. 2008.info/ (diakses pada tanggal 11 April 2010). Hustiawan Adha.edukasi-online. Tarsito.http://www.Kreativitas dan Kepribadian Siswa FMIPA UNESA Surabaya (On line) http://tatagyes. 2009. Jurnal Ilmiah Sembiring. Penerapan Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik Indonesia (PMRI) untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Materi Bangun Ruang di Kelas VIII D SMP Negeri 5 Malang. Cahyono. Robert K.

1999. Jakarta. R.springerlink. 2005.id (diakses pada tanggal 15 September 2007). Matematika Realistik Apa dan Bagaimana. (Online). Universitas Negeri Semarang . Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jurusan Matematika.depdiknas. Keefektifan Model Pembelajaran Realistic Mathematics Education (RME) dan Creative Problem Solving (CPS) terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Peserta Didik Kelas VIII SMP Negeri 11 Semarang. Yuniati. Depdikbud. Skripsi.go. http://www . Asri. 2008. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia.com/ Soedjadi. Suharta.http://www.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful