LAPORAN PENGINDERAAN JAUH MODUL V Analisa Morfologi Dasar Laut Menggunakan Data Bathimetri Berbasis Raster

Oleh : Christiani Silalahi K2E009015

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN JURUSAN OSEANOGRAFI FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS DIPONEGORO 2011

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Penginderaan jarak jauh sangat bermanfaat dalam membantu proses pengukuran, penelitian dan pengelolaan suatu sumberdaya bumi dengan menggunakan konsep interpretasi foto udara, fotogeometri, interpretasi citra dari sensor nonfotografi baik secara visual maupun menggunakan teknik pemrosesan citra digital (www.geocities.com) Pemetaan morfologi laut, seperti kedalaman, palung laut, punggung laut, lembah laut dsb telah dilakukan oleh badan-badan penelitian yang berhubungan dengan kelautan, geologi kelautan serta geomorfologi laut, dan badan penelitian lain nya. Salah satu tujuan mereka adalah untuk mengetahui sejauh mana potensi sumber daya alam yang mempunyai prospek bagus serta memberikan manfaat yang banyak yang terkandung di dalam laut. Untuk mencapai tujuan itu, berbagai aktivitas telah dijalankan seperti kegiatan pemeruman, percontohan sedimen, seismik pantul dangkal, pengeboran, pembuatan peta bathimetri, pengambilan data topografi dsb (Subramanian S. K. S., Singh A., and Sudhakar M., 2003). Pengolahan data citra merupakan suatu cara memanipulasi data citra atau mengolah suatu data citra menjadi suatu keluaran (output) yang sesuai dengan yang kita harapkan. Adapun cara pengolahan data citra itu sendiri melalui beberapa tahapan, sampai menjadi suatu keluaran yang diharapkan. Tujuan dari pengolahan citra adalah mempertajam data geografis dalam bentuk digital menjadi suatu tampilan yang lebih berarti bagi pengguna, dapat memberikan informasi kuantitatif suatu obyek, serta dapat memecahkan masalah (www.geocities.com). Penginderaan jauh yang memanfaatkan data satelit khususnya untuk aplikasi data satelit pada bidang kelautan selalu menyusun data bathimetri yang berasal dari satelit untuk dikonversi menjadi peta bathimetri.

Indonesia sebagai negara kepulauan sudah barang tentu memiliki banyak daerah yang bukan merupakan alur pelayaran, sehingga daerah–daerah yang demikian tidak memiliki informasi kedalaman laut. Namun pengawasan pantai tetap dilakukan. Demikian juga daerahdaerah terumbu karang yang banyak terdapat di Indonesia baik lokasi maupun kedalamannya harus jelas. Oleh karena itu demi amannya kegiatan pelayaran di daerah-daerah pantai yang kedalamannya belum ada petanya tentu perlu dipetakan. Salah satu alternatifnya adalah menggunakan data penginderaan jauh dengan metode bathymetri

(http://tni.mil.ad/bathymetri.php3).

1.2. Tujuan Praktikum    Dapat memahami penggunaan citra data bathimetri dengan menggunakan software ER Mapper. Kita mampu menganalisis morfologi dasar laut menggunakan citra data bathimetri (berbasis raster) dengan memakai program ER Mapper. Kita dapat menganalisa morfologi dasar laut dan dapat memberi penjelasan dengan analisa yang telah dilakukan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Peta Bathimetri
Peta bathimetri adalah peta kedalaman laut yang dinyatakan dalam angka kedalaman atau kontur kedalaman yang diukur terhadap datum vertical (Anonim, 2003). Peta Bathimetri diperlukan untuk mengetahui keadaan kedalaman laut sekitar lokasi suatu perairan. Peta ini digunakan untuk mengetahui kondisi gelombang dilokasi suatu perairan (Triatmodjo, Bambang, 1999). Peta batimetri disajikan dalam proyeksi Mercator, Spheroida WGS 84 bersekala 1 : 250.000 dengan klasifikasi terbatas. Informasi utama yang disajikan berupa kedalaman laut (topografi dasar laut) juga tanda-tanda (benda-benda) di darat, pelampung-pelampung, lampulampu suar sesuai dengan standar internasional. Peta ini dapat digunakan untuk bernavigasi selain kegunaan utama untuk kepentingan ilmiah(http://tni.mil.ad/bathymetri.php3). Survei dan pemetaan batimetri menjadi sangat penting kaitannya dengan masalah perbatasan maritim baik melalui survey titik dasar untuk menentukan garis pangkal, survei batimetri untuk mengetahui kondisi topografi dasar laut di perbatasan, dan survei batimetri untuk menentukan batas landas kontinen yang lebih dari 200 mil sesuai dengan UNCLOS (www.sinarharapan.com).

2.2. Garis Kontur
Kontur (countur line) yaitu garis yang menghubungkan tempat-tempat yang mempunyai ketinggian sama. Kelebihan peta topografi: • Untuk mengetahui ketinggian suatu tempat. • Untuk memperkirakan tingkat kecuraman atau kemiringan lereng.

2.3. Perbedaan Peta Bathimetri dengan Peta Topografi
Peta Bathimetri diperlukan untuk mengetahui keadaan kedalaman laut sekitar lokasi suatu perairan. Peta ini digunakan untuk mengetahui kondisi gelombang dilokasi suatu perairan (Triatmodjo, Bambang, 1999). Pengukuran bathimetri menggunakan Fish finder untuk melihat kedalaman dasar dibantu dengan GPS (Global Position System) dalam penentuan koordinatnya. Titik pengambilan data bathimetri di sepanjang pesisir sampai daerah offshore ( DKP Semarang, 2007). Peta topografi adalah peta yang memiliki informasi tentang ketinggian permukaan tanah pada suatu tempat terhadap permukaan laut, yang digambarkan dengan garis – garis kontur. Informasi topografi yang terdapat pada peta topografi dapat digunakan untuk membuat model tiga dimensi dari permukaan tanah pada peta tersebut. Dengan model tiga dimensi maka objek pada peta dilihat lebih hidup seperti pada keadaan sesungguhnya di alam, sehingga untuk menganalisa suatu peta topografi dapat lebih mudah dilakukan (Rostianingsih dan Gunadi, 2004). Peta topografi /peta dasar.memuat keadaan permukaan bumi beserta informasi ketinggiannya menggunakan garis kontur (Lillesand, T.M dan R.W. Kiefer. 1994). Beberapa ketentuan pada peta topografi: 1) Makin rapat jarak kontur yang satu dengan yang lainnya menunjukkan daerah tersebut semakin curam. Sebaliknya semakin jarang jarak antara kontur menunjukkan daerah tersebut semakin landai. 2) Garis kontur yang diberi tanda bergerigi menunjukkan depresi (lubang/cekungan) di puncak, misalnya puncak gunung yang berkawah. 3) Peta topografi menggunakan skala besar, antara 1 : 50.000 sampai 1 : 100.000 (Romenah, 2008). Peta topografi dapat digunakan untuk berbagai macam tujuan, serta dapat digunakan sebagai peta dasar (base map) dalam pembuatan peta tematik, seperti peta arkeologi dan peta turis. Dalam survei arkeologi, peta topografi berguna untuk memperoleh gambaran umum tentang wilayah yang diteliti. Dalam kondisi tertentu, misalnya medan survei yang terlalu berat, peta yang sudah ada dapat dipakai untuk memplotkan temuan arkeologis. Pemetaan tersebut, meskipun hanya bersifat sementara, sangat efektif untuk menyimpan dan menyelamatkan data arkeologis (Anggraeni, 2004).

2.4. Digital Elevation Model ( DEM )
Digital Elevation Model (DEM) atau Model Elevasi Digital (MED) merupakan salah satu teknik penyajian keadaan tinggi rendah permukaan tanah, atau dapat dikatakan sebagai kumpulan titik-titik dalam sistem koordinat ruang (x, y, z) yang mewakili bentuk permukaan fisik tiga dimensi (3D) (Subramanian S. K. S., Singh A., and Sudhakar M., 2003). Pemanfaatan data Citra Landsat dan Digital Elevation Model (DEM) dipadukan dengan data lapangan, pada intinya dapat memberikan kemudahan, efisien dan akurat dalam pembuatan peta-peta tematik baik sebagai parameter pembatas maupun parameter penimbang dalam analisis arahan penataan lahan usaha tambang. Demikian pula dalam proses analisis morfometrik dapat memasukkan analisis tiga dimensi (3D) sehingga visualisasi hasil kajian lebih nyata (www.lapan.com). Geospasial merujuk kepada data (dan teknologi pengolahannya) yang terkait dengan posisi keruangannya di permukaan bumi. Kita mengenalnya dalam bentuknya yang paling konvensional, yaitu peta. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, produk geospasial muncul dalam bentuk digital dengan berbagai kemasan. Ini kemudian membuka bidang-bidang baru dari aplikasi teknologi geospasial itu sendiri. Tidaklah heran jika misalnya citra satelit, foto udara, data ketinggian (Digital Elevation Model), data tutupan lahan, dan data sejenis lainnya, digunakan untuk berbagai kepentingan (RSGIS Forum, 2007). Pembuatan DEM Pembuatan tidak hanya dapat dilakukan dengan satu cara, namun keseluruhannya lebih banyak digunakan proses penginderaan jauh daripada survey secara langsung. Salah satu teknik yang baik dalam menggunakan data DEM yaitu interferromatic synthetic aperture radar (www.wikipedia.org). Metode lama yang digunakan dalam pembutan DEM adalah menginterpolasi peta kontur digital yang dibuat dengan cara melakukan survey langsung ke lapangan. Metode ini masih digunakan dalam pembuatan DEM di wilayah pegunungan, dimana saat itu metode interferrometric tidak selalu berhasil (www.wikipedia.org)

Kualitas dari DEM didapat pada seberapa ketelitian dalam pengukuran dalam setiap pixelnya (absolute accuracy) dan bagaimana keakuratan penampakan morphology daerah yang dibuat DEM. Beberapa faktor yang penting dalam mengatur kualitas DEM yaitu : 1. Kekasaran tebing 2. Densitas sampling 3. Ukuran pixel 4. Algoritma interpolasi 5. Resolusi vertical 6. Analisa algoritma ketinggian ( www.wikipedia.org )

2.5. Color Dropping
Pilihan menu Limits untuk menspesifikasikan kisaran yang pasti dari suatu nilai data dan mendisplay nilai untuk memodifikasi kekontrasan citra dan pemetaan warna

(www.geocities.com) Menggunakan Limits to Actual untuk mengeset kisaran nilai X Lihatlah teks “Actual Input Limit” pada transform dialog. Dan perhatikan nilai yang tertera. ER Mapper mencatat kisaran sebenarnya dari nilai data yang di temukan pada citra dan menampilkannya pada teks Actual Input Limits (www.geocities.com).

2.6. Ekstraksi Garis Bathimetri
Dalam windows formula editor, edit teks formula menjadi: If input1>0 then 1 else null. Formula ini berarti ”jika nilai citra lebih besar dari 0, maka akan diproses, dan nilai lainnya akan menjadi nol‟‟. [setiap nilai pixel yang mempunyai nilai diluar nol tidak akan dimunculkan dalam hasil akhir] (www.geocities.com)

2.7. Pembuatan Profil Dasar Laut
Mengetahui cara melihat nilai data citra untuk semua band yang digambarkan sesuai profile garis atau polygon (disebut traverse extraction) (www.geocities.com) Dalam citra dilayer, untuk mendapatkan satu garis yang benar dengan cara meng-klik sekali titik start, kemudian klik kembali pada akhir titik , dilanjutkan dengan peng-klikan ganda untuk mengakhiri definisi satu garis. Sebuah profile garis akan muncul ER Mapper Traverse dialog. Garis ini menunjukan potongan atau perubahan dalam nilai pixel bawah pada garis traverse (www.geocities.com)

2.8. Pemetaan Kedalaman Laut
Peta bawah air dengan sekala 1 : 250.000 pada hakekatnya hampir sama dengan peta batimetri dengan beberapa klasifikasi, karena selain data kedalaman laut juga terdapat data (http://tni.mil.ad/bathymetri.php3). Kedalaman atau kontur dari BM (control point) dengan menggunakan Total Station dari GPS Sounder secara bersamaan, sehingga elevasi (Depth) yang diperoleh sudah terikat ke BM (di darat). Objek yang dibidik Total Station adalah receiver GPS yang posisisnya tepat di atas Sounder, dengan mengetahui tinggi tiang penghubung antara Receiver dan Sounder maka koordinat Sounder bisa dihitung. Sounder mengukur jarak antara alat sampai tanah di bawah air, sehingga kedalaman yang diukur dari posisi Sounder bisa ditentukan

(http://www.pondoksurveyor.com/product/bathimetry.html).

2.9. Permodelan 3Dimensi Dasar Laut
Formula biasanya digunakan dalam pemetaan suatu citra untuk menggambarkan informasi yang terdapat pada dua atau lebih band atau data. Proses penulisan formula bisa bervariasi dari suatu pengurangan sederhana sampai dengan menggunakan pembatasan data yang rumit dalam “if-Then-Else” seperti permodelan secara spasial atau penggunaan lain. Proses Formula dalam pengolahan citra adalah suatu operasi per titik karena operasi ini akan menerapkan fungsi matematik pada setiap pixel yang terdapat pada citra.

BAB III MATERI METODE
3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum Penginderaan Jauh tentang Analisis Morfologi Dasar Laut Menggunakan Data Bathimetri Berbasis Raster ini dilaksanakan pada : Hari/Tanggal Waktu Tempat : Senin, 25 April 2011 : 15.00 s/d 17.00 WIB : Laboratorium Komputer Kampus Ilmu Kelautan, FPIK, Universitas Diponegoro, Tembalang, Semarang.

3.2. Materi
Adapun Materi pada praktikum Analisa Morfologi dasar Laut menggunakan data Bathimetri berbasis Raster kali ini adalah:      Color Draping Ekstrasi Garis Bathimetri Pembuatan Profil Dasar Laut Pemetaan Kedalaman Laut Permodelan 3D Dasar laut

3.3. Metode
1. Buka Software ER Mapper, lalu klik pada icon Edit Algorithm

Kemudian Load Dataset, buka file Bathi_Indonesia_Timur.ers yang disimpan pada volume C:\, lalu OK. Kemudian klik kanan quick zoom-zoom to all data sheet pada layer citra.

3.3.1. Colour dropping
2. Kemudian pada window Algorithm, klik icon Edit Transform Limits, pada window Transform, klik bagian Limits dan pilih limit to actual.

Limit to actual

Maka akan terlihat hasilnya :

3. Lalu pilih Pseudo Layer, dan lakukan penggandaan (duplicate Layer), hingga menjadi 3 Pseudo Layer.

4.

Ganti Pseudo Layer pertama dengan cara klik kanan pada pseudo layer lalu pilih

Classification . maka layer akan berubah menjadi putih.

5.

Lalu klik icon Formula Editor dan masukkan rumus: if i1>0 then 1 else null. Maka layer akan berubah lagi menjadi:

6.

Lalu klik apply change pada window formula editor lalu close window formula editornya, maka tampilan layernya menjadi:

7.

Lalu ganti nama layer menjadi „Land‟ untuk layer pertama, „Ocean Basin‟ untuk layer kedua, dan „Sun Angel Shading‟ untuk layer terakhir.

8.

Lalu klik kanan pada layer „Sun Angel Shading‟ dan ubah menjadi layer Intensity. Maka akan berubah menjadi :

9.

Lalu pilih layer Intensity kemudian klik icon Edit Sun Angel, maka layer akan berubah menjadi:

10.

Untuk melihat nilai-nilai pada setiap pixel, maka zoom box tool daerah yang ingin diteliti, kemudian klik view pada window utama, dan pilih Cell_Value_Profile, lalu ganti hand

tool menjadi pointer Dan klik pada salah satu daerah yang ingin diketahui nilai elevasinya.

a. Untuk yang di daerah daratan ( warna putih )

b. Untuk yang di daerah Laut Dalam ( warna biru tua )

c. Untuk yang di daerah Laut Dangkal ( warna hijau )

11.

Lalu window cell value profil di close. 3.1.2. Ekstraksi Garis Bathimetri 1. Klik edit pada window algorithm,lalu pilih add vector layer kemudian pilih contours

2. Setelah muncul layer Contour, klik icon dynamic link chooser

3. Maka muncullah window contouring wizard ,lalu berikan tanda centang pada bagian Make Contours Multi-Color dan label contours. Lalu pilih next .

4. Maka muncul lagi window set contours style, Pada first contour level, berikan nilai 7000, dan last contour level, berikan nilai nol. Kemudian untuk contour interval beri nilai 200. 5. Setelah itu untuk pilihan secondary contour style nya pilih yang angka 7, lalu untuk make primary contour thicker nya di uncheklist kemudian pilih next untuk pilihan selanjutnya.

6. Setelah itu muncul lagi window set contours style, maka ganti lebel font colour nya menjadi warna biru, label font size nya 10 kemudian untul label font style ganti menjadi Times New Roman. 7. Kemudian pilih finish .

8. Maka tampilan layer citranya menjadi:

9. Lalu zoom daerah yang diinginkan dengan zoom box tool, kemudian disimpan dengan save as bathi_indonesia_Christiani Silalahi_K2E009015.erv lalu pilih OK.

10. Cut semua layer selain tiga layer di awal yaitu Land, Ocean Basin, dan Sun Angel Shading lalu klik edit-add vector layer dan pilih annotation map compotition. 11. Kemudian pilih load data sheet, dan pilih data yang tadi kita simpan.

12. Pilih load data sheet kemudian pilih data Bathi_Indonesia_Timur_contours.erv yang tadi kita simpan, kemudian zoom box tool daerah yang diinginkan.

3.3.3. Pembuatan profil dasar laut
1. Cut semua layer selain tiga layer di awal yaitu Land, Ocean Basin, dan Sun Angel Shading. 2. Pada window utama, klik View dan klik Travers. 3. Maka akan muncul window Tools.

4. Pada window Tools, pilih icon Polyline lalu tarik garis yang melintang dari dua daerah. Maka akan terlihat penampang berwarna krem yang melintang sepanjang daerah yang ditarik garisnya tadi. Dan akan terlihat intervalnya pada window travers.

5. Lalu klik Cut, dan tarik kembali garis dari kedalaman tinggi ke kedalaman lebih dangkal. Coba tarik garis-garis lain untuk melihat profil dasar laut yang lainnya.

6. Kemudian untuk pengujian ketiga kembali pilih cut, lalu lakukan pengukuran yang ke tiga dengan polyline pada daerah yang berbeda.

7. Setelah selesai, maka Close window traversenya.

3.3.4. Pemetaan kedalaman laut
1. Buka load data sheet kemudian pilih Bathi_Indonesia_Timur.ers lalu pilih OK.

2. Kemudian lakukan colour dropping sama seperti pada bagian pertama. 3. Lalu klik edit transform limit pilih limit to actual. Kemudian lihat perubahan layer untuk citra bathimetrinya.

4. Lalu pseudo layer pada window algorithm di duplikat menjadi tiga, kemudian untuk pseudo yang pertama, klik kanan pilih classification sehingga layernya menjadi berwarna putih. 5. Setelah itu masukkan rumus if i1>0 then 1 else null melalui icon edit formula pada window algorithm. 6. Kemudian apply changes dan close window formulanya.

7. Lalu pada pseudo colour yang sudah di duplikat diganti namanya. Untuk yang pertama land, yang kedua ocean basin dan yang ketiga sun angel shading.

8. Lalu pada pseudo layer ke 3 „ Sun angel shading‟ klik kanan pilih intensity, dan lihat perubahan layernya. Setelah itu pilih edit realtime sunshade lalu centang pada do sun shading pada window edit sun-shading.

9. Kemudian pilih New lalu pilih Load data sheet-Bathi_Indonesia_Timur.ers

10. Kemudian klik kanan pada pseudo layer untuk window algorithm yang baru langsung pilih classification dan setelah itu klik default surface pilih copy/cut lalu paste pada pseudo layer „land‟ pada window algorithm yang pertama.

11. Kemudian close layer yang hitam putih. 12. Lalu default surface pada deret pertama di window algorithm di tarik menjadi urutan terakhir kebawah pseudo layer „sun angel shading‟.

13. Lalu pilih edit transform limit pada classification layer kemudian pilih limit actual setelah itu close.

14. Setelah itu pilih edit formula „ emc2‟ kemudian input formula if i1>=depth1 and i1<depth2 then i1 else null lalu pilih apply changes.

15. Kemudian classification layer duplikat menjadi 6, dengan ketentuan: Layer 1: 0-200m Layer 2: 201-500 m Layer 3: 501-700 m Layer 4: 701-1000 m

Layer 5: 1001-2500 m Layer 6: > 2500 m

16. Untuk layer 1: 0-200 m di klik, lalu pilih edit formula „ emc2‟ kemudian klik variable yang di bagian tengah. Lalu pada INPUT1 masukan, nilai depth 1= -200 depth 2= 0

17. Untuk layer 2: 201-500 masukkan nilai depth 1= -500 dan depth2 = -200

18. Untuk layer 3: 501-700 masukkan nilai depth 1= -700 dan depth 2= -500

19. Untuk layer 4: 701-1000 masukkan nilai depth 1= -1000 dan depth 2= -700

20. Untuk layer 5: 1001-2500 masukkan depth 1= -2500 dan depth 2= -1000

21. Untuk layer 6: > 2500 masukkan rumus if i1<-2500 then i1 else null

22. Setelah selesai, maka dapat diperhatikan bahwa semakin kedalam, maka perubahan citranya akan semakin memutih dan pada layer ke enam citranya memutih semua . 23. Kemudian window formula editornya ditutup. 24. Setelah itu kita akan memberikan warna yang berbeda pada setiap layer citra. Maka untuk layer 0-200 m di klik, kemudian pilih edit layer color lalu pilih warna merah muda yang berada pada bagian kiri pojok atas pada window color.

25. Untuk layer 201-500 pilih warna kuning yang di sebelah kanan warna layer1.

26. Untuk layer 501-700 pilih warna hijau yang disebelah kanan warna layer 2 .

27. Untuk layer 701-1000 pilih warna merah yang dibawah warna merah muda pada layer 1.

28. Untuk layer 1001-2500 pilih warna coklat tua yang dibawah warna merah pada layer 4.

29. Untuk layer > 2500 pilih warna abu-abu yang berada pada baris ke3 kanan paling bawah.

30. Perubahan warna berdasarkan kedalaman, sehingga untuk melihat perubahan warnanya dapat di klik surface lalu pilih transparency, kemudian geser ke kanan transparency nya sampai 40 %. Maka lihat perubahannya.

3.3.5. Permodelan 3 Dimensi Dasar Laut
1. Sebelum memulai bagian ke lima, maka hasil dari pengerjaan bagian ke-4 di close terlebih dahulu. 2. Buka window baru, kemudian pilih load data sheet setelah itu pilih Bathi_Indonesia_Timur.ers yang digunakan pada bagian-bagian sebelumnya.

3. Kemudian pilih edit transform limit pada window algorithm lalu pilih limit to actual

4. Kemudian duplikat layer menjadi tiga bagian, dengan ketentuan: Layer 1 klik kanan pilih classification lalu masukkan rumus if i1>0 then i1 else null. Layer 2 masukkan rumus if i1>0 then 1 else null lalu apply changes Layer 3 klik kanan pilih height sampai muncul tanda ( x ) dimana tanda ini untuk melihat ketinggian namun masih dalam ruang 2 Dimensi

*layer 1

*layer 2

*layer 3

5. Untuk melanjutkan layer 3 maka setelah di klik kanan – height maka lihat di pojok kiri atas pada window algorithm terdapat pilihan view mode. Maka klik view mode dan pilih 3D Perspective.

6. Maka tampilannya akan berubah, dimana yang tadinya setelah di klik kanan height pada layer 3 terdapat tanda (x) sekarang sudah tidak, karena sudah di modifikasi dalam bentuk 3D.

7. Kemudian klik citranya atau di geser-geser dan tunggu beberapa saat selama prosesnya sampai muncul citranya.

8. Kemudian pilih surface pada window algorithm, lalu lihat bagian z scale pada window. Setelah itu geser ke kanan scale pada z scalenya lalu amati perubahannya.

9. Lalu pada bagian 3D View di sebelah Layer, terdapat tulisan Draw Mode, maka Draw mode tersebut diganti menjadi wire frame untuk melihat grid nya.

10. Masih pada window algorithm bagian 3D View lihat bagian Terain Detail. Kemudian pada bagian Terain Detail tersebut geser sampai 509 x 509 dimana jika ukurannya semakin besar maka akan semakin berat proses running nya.

11. Yang terakhir, pada tulisan Bonding Box di window algorithm di centang agar tampilan 3D nya dalam bentuk kotak ataupun box sehingga muncul dalam tampilan kotak.

12. Kemudian close semua window, dan pengerjaan selesai. ^_^

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. HASIL
A. COLOR DRAPING a. Untuk yang di daerah daratan ( warna putih )

b. Untuk yang di daerah Laut Dalam ( warna biru tua )

c. Untuk yang di daerah Laut Dangkal ( warna hijau )

B. EKSTRAKSI GARIS BATHIMETRI Hasil perbesaran dari conturing wizard untuk Ekstraksi Bathimetri:

C. PEMBUATAN PROFIL DASAR LAUT Menghitung jarak dengan Polyline.

D. PEMETAAN KEDALAMAN LAUT  Penduplikasian Classification Layer:

1. layer 1: 0-200 m dengan depth 1= -200 depth2=0

2. Layer 2: 201-500 dengan depth 1= -500 dan depth2 =-200

3. Layer 3: 501-700 dengan depth 1= -700 dan depth 2=-500

4. layer 4: 701-1000 dengan depth 1= -1000 dan depth 2= -700

5. layer 5: 1001-2500 dengan depth 1= -2500 dan depth 2= -1000

6. layer 6: > 2500 dengan rumus if i1<-2500 then i1 else null

Pemberian Warna pada setiap Layer

layer 0-200 m

layer 201-500

layer 501-700

layer 701-1000

layer 1001-2500

layer > 2500

Hasil Transparency 40 % setelah pemberian warna pada citra.

E. PERMODELAN 3D DASAR LAUT  Tampilan 3D Perspective

Tampilan hasil Z Scale

Tampilan wire frame pada 3D View

Tampilan Terain Detail 509 x 509

Tampilan keseluruhan model citra dalam bentuk BONDING BOX

4.2. PEMBAHASAN
a. Color Draping Pada bagian color drapping ini kita mengubah suatu formula generic pada suatu data citra, dalam hal ini kita ambil data citra bathimetri Indonesia Timur. Selain itu juga pada pseudo layer dibuat menjadi tiga layer dengan nama untuk layer 1 adalah “Land”, untuk layer 2 adalah “Ocean Basin”, dan untuk layer 3 adalah “Sun Angle Shading”. Dalam windows formula generic, edit teks formula-nya diganti menjadi : If input1>0 then 1 else null. Formula ini berarti “jika nilai citra lebih besar dari 0,maka akan diproses ,dan nilai lainnya akan menjadi nol”. Setiap nilai pixel yang mempunyai nilai diluar nol tidak akan dimunculkan dalam hasil akhir. Maka setelah itu akan terlihat hasil citra yang sudah diganti formula generiknya dari yang tadinya layer berwarna putih polos, maka akan berubah menjadi gambar citra dengan tampilan yang berbeda dengan yang sebelumnya. Kemudian selain itu pula kita dapat mengetahui nilai elevasi pada suatu daerah tertentu yang kita pilih. Hasil akhir dari color drapping adalah memperoleh nilai excel dari kedalaman daerah Sulawesi. Dimana setiap warna memiliki arti tersendiri, seperti warna putih menandakan

daerah daratan, warna Biru Tua menandakan Laut Dalam dan warna hijau adalah Laut dangkal. Selain itu diperoleh satu penentu yang dapat membantu dalam pengamatan yaitu apabila hasil cell value profile negative, berarti menandakan tempat pengamatan adalah di Laut. b. Ekstraksi Garis Bathimetri Untuk bagian Ekstraksi Garis Bathimetri ini kita melakukan pengeditan kontur pada suatu daerah, yang dalam hal ini kita ambil bagian Sulawesi. Dengan ekstraksi garis bathimetri ini kita akan tahu bagaimana gambaran kontur pada daerah tersebut. Seperti pada kemanfaatannya, Peta Bathimetri diperlukan untuk mengetahui keadaan kedalaman laut sekitar lokasi suatu perairan. Peta Bathimetri ini digunakan untuk mengetahui kondisi gelombang dilokasi suatu perairan. Ketika kita melakukan pengekstrasian garis bathimetri pada suatu daerah dengan menggunakan icon contour pada software ER Mapper ini, maka setelah didapatkan hasil akhirnya kita akan mengetahui daerah yang kita ambil dan lakukan pengekstraksian dan hasilnya itu ditandai dengan adanya titik-titik kontur yang mewakili untuk daerah tersebut

c. Pembuatan Profil Dasar Laut Pada bagian ini pembuatan profil dasar laut, yang mana dalam bagian ini kita tarik garis atau suatu penampang yang melintang dari suatu daerah ke daerah lain yang terpisah oleh suatu peraian. Untuk mengetahui cara melihat nilai data citra untuk semua band yang digambarkan sesuai profile garis atau polyline ini kita gunakan icon traverse extraction. Garis ini menunjukan potongan atau perubahan dalam nilai pixel bawah pada garis traverse. Dan dengan garis penampang ini kita akan seberapa dalam suatu perairan yang ada pada daerah tersebut yang sudah kita ambil garis penampangnya. d. Pemetaan Kedalaman Laut Pada bagian ini kita akan mengubah suatu formula generic pada suatu citra, dalam hal ini data citra yang digunakan adalah data citra bathimetri Indonesia Timur, khususnya data yang digunakan adalah Sulawesi . Dalam windows formula generic, edit teks formula-nya diganti menjadi If i1>=depth1 and i1<depth2 then else i1 else null. Formula ini berarti “jika nilai data citra lebih besar dari depth1 dan i1 mempunyai nilai lebih kecil dari depth2 maka data akan diproses dan nilainya akan menjadi nol”. Pada Classification Layer diduplikat menjadi enam,nama masing-masing layer lalu diubah dengan window : 0-200 m; 201-500 m; 501-700 m; 701-1000 m; 1001-2500 m; dan >2500 m. Akan tetapi pada layer terakhir, pada kedalaman >2500 m formula generic yang dituliskan adalah If i1 <2500 then i1 else null. Ini dikarenakan kedalaman yang diperintahkan adalah >2500 m. Lalu pada setiap layer diberikan warna yang berbeda, semakin dalam kedalaman laut warna yang diberikan semakin gelap. Maka akan didapatkan hasil terakhir berupa citra yang telah diolah dengan formula generic yaitu citra pemetaan kedalaman laut. e. Pemodelan 3 Dimensi Dasar Laut Pada bagian ini kita akan melakukan pemodelan 3 dimensi dasar laut dengan menggunakan data citra bathimetri Indonesia Timur, khususnya Sulawesi. Pada layer pertama akan dimasukkan formula generic, yaitu:

If i1>0 then i1 else null. Pada layer yang ketiga formula generic yang digunakan If i1>0 then 1 else i1. Kemudian layer ketiga diubah menjadi Height. Untuk mengetahui hasil 3 dimensinya pada bagian view mode diubah menjadi 3D Perpective. Untuk mengetahui tampilan tampak lebih tinggi maka pilih layer Height, dan di bagian surface diperbesar z scale-nya. Sedangkan untuk hasil akhirnya yaitu ubah view mode menjadi bounding box diklik, kemudian pada Draw Mode, pilih Wireframe dan perbesar nilai pada Terrain Detail-nya. Maka akan diperoleh citra hasil akhir yang telah diolah dengan formula generic yaitu citra pemodelan 3 dimensi dasar laut.

BAB V KESIMPULAN
 Penginderaan jauh yang memanfaatkan data satelit khususnya untuk aplikasi data satelit pada bidang kelautan selalu menyusun data bathimetri yang berasal dari satelit untuk dikonversi menjadi peta bathimetri.

Peta kedalaman (bathimetri) mempunyai morfologi dasar laut yang pada umumnya tidak beraturan. Sehingga dengan ER Mapper dapat digunakan untuk membuat peta kontur kedalaman (bathimetri) di suatu perairan dan membantu dalam bidang kelautan.

Dengan praktikum kali ini dapat lebih mengerti menggunakan Analisa Morfologi Dasar Laut menggunakan Data Berbasis Raster. Sehingga kita mengetahui permodelan 3 dimensi dasar laut dengan bantuan Transform limit dan Formula Generic.

Dengan ER Mapper dapat digunakan untuk melakukan pengukuran jarak maupun luasan sebenarnya dari citra yang ada dan sangat membantu dalam pembuatan Profile Dasar laut.

Dengan adanya praktikum Analisa Morfologi Dasar Laut Menggunakan Data Bathimetri Berbasis Raster dapat mengamati suatu peta Bathimetri, apakah daerah tersebut merupakan perairan / laut dalam atau laut dangkal atau bahkan bagian daratan dengan mengamati warna dasar yang ada pata Peta Bathimetri tersebut. Selain itu dapat mengamatinya dengan melihat hasil cell value profile dari pengamatannya.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2003. Modul Online : Pengetahuan Peta, Jenis Peta Berdasarkan Isi. www.edukasi.net

Dinas

Kelautan

dan

Perikanan

Kota

Semarang.

2007.

Bathimetri.

http://semarang.go.id/kelautan/index.php.

Lillesand, T. M, dan Kiefer, R. W. 1993. Penginderaan Jauh Dan Intepretasi Citra (terjemahan). Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

RSGISForum. 2007. Lomba Karya Ilmiah Geospasial. Http://rsgisforum.net/cgi-bin. Diakses tanggal 7 Mei 2011 pukul 19.00 WIB.

Subramanian S. K. S., Singh A., and Sudhakar M., 2003. Evaluation of Digital Elevation Models created from different satellite images. Triatmodjo, Bambang. 1999. “Teknik Pantai”. Yogyakarta: Beta Offset.

http://tni.mil.ad/bathymetri.php3. Diakses tanggal 7 Mei 2011 pukul 19.00 WIB

http://www.pondoksurveyor.com/product/batimetry.html. Diakses tanggal 7 Mei 2011 pukul 19.00 WIB

http://www.lapan.com. Diakses tanggal 7 Mei 2011 pukul 19.00 WIB

www.geocities.com, Diakses tanggal 7 Mei 2011 pukul 19.00 WIB

www.sinarharapan.com. Diakses tanggal 7 Mei 2011 pukul 19.00 WIB

http://www.wikipedia.org Diakses tanggal 7 Mei 2011 pukul 19.00 WIB

.