You are on page 1of 9

çoencucnmohcmcd.

com • Sels, Scstrc, Kitc ] :
Seks,
Sastra, Kita
Tulisan ini muncul dalam bunga rampai dengan judul yang sama, Seks, Sastra,
Kita, halaman 1-14, Penerbit: Sinar Harapan, Jakarta, 1980.
Versi PDF naskah ini disediakan oleh goenawanmohamad.com
dan dagdigdug.com | © Hak cipta dilindungi oleh undang-undang
z ] Sels, Scstrc, Kitc • çoencucnmohcmcd.com çoencucnmohcmcd.com • Sels, Scstrc, Kitc ] ¸
S
EKS adalah suatu risiko dalam kesusastraan Indonesia mo­
dern. Dalam sebuah studi singkat tentang seks dan kesusas­
traan kita masa kini, Harry Aveling menulis:
In modern Indonesicn litercture, ue miss those themes so comm-
on in the clcssiccl indeçineous, cnd other, modern, literctures: the
themes of firtation, seduction, adultery, rape, and full bodily, in­
tellectucl cnd emotioncl commitment oj loters (mcrried or not)
to each other as equal human beings. There is, on the contrary, a
prudery about the body and its functions, and an elaborate preten­
se that marriage­and even parenthood­is sustained without refe­
rence to sex.
1
Ada semacam sikap berhati­hati, ada semacam pretensi yang diper­
siapkan baik­baik, untuk tidak menyinggung seks dalam kehidupan
percintaan, perkawinan dan kehidupan ibu­bapak: saya kira demi­
kianlah memang kecenderungan umum sejumlah besar hasil sastra
kita, meskipun tidak semuanya. Keadaan ini memang menarik, bila
kita bandingkan—sebagaimana Aveling membandingkannya—de­
ngan apa yang terdapat dalam kesusastraan modern lainnya, dan
terutama dengan pelbagai hasil sastra lama dalam sejarah kita.
Tapi mungkin soalnya ialah karena hasil sastra modern, sedikit­
banyaknya, cenderung untuk merupakan sebuah pose. Seorang pe­
ngarang, dalam penglihatan saya, selalu nampak sebagai seorang
dirigen.
Seorang dirigen menyajikan lagu dan sebuah orkestra di suatu saat
dan menyajikan lagu serta orkestra lain di lain saat, tapi dengan
begitu ia juga menyajikan dirinya sendiri. Di atas sana ia tampak
dengan jelas, di tiap bagian partitur yang diperdengarkan ia selalu
hadir sebagai pemberi interpretasi. Di hadapan publik, dialah orkes­
tra itu sendiri: mengharapkan aplaus, menunggu pujian—dan mung­
kin juga keterkejutan serta amarah—atau apa saja, kecuali sikap tak
acuh. Demikian pula pada dasarnya seorang pengarang modern: ia
diberi kesempatan untuk menjadi genit dan kenes, sebagaimana ia
diberi beban untuk bertanggung jawab atas namanya sendiri.
Sebab, bagi kita, zaman kesusastraan anonim sudah barakhir. Ju­
ga zaman ketika para penyair malu­malu dan enggan untuk menya­
takan namanya—berarti menonjolkan diri—dan oleh sebab itu me­
makai “sandi­asma”, seperti misalnya Ronggowarsito dalam Serct
Witaradya. Tradisi kesusastraan kita kini bermula dengan perben­
daharaan sejarah masa Balai Pustaka dan Pujangga Baru, di mana
paling sedikit nama pengarang tak disembunyikan lagi dan apa ya­
ng disebut Alisyahbana di tahun 30­an sebagai “individualisme” di­
tekankan.
Sejak itu, seorang pengarang prosa atau puisi terlibat dalam perso­
alan bagaimana cara mengetengahkan diri sebaik mungkin. Ia tak
bisa lagi bersembunyi dengan teknik lama, di balik karya­karya tan­
( ] Sels, Scstrc, Kitc • çoencucnmohcmcd.com çoencucnmohcmcd.com • Sels, Scstrc, Kitc ] ¸
pa nama. Ia harus tampil terbuka penuh, atau memakai topeng, me­
milih satu pose yang dianggapnya baik buat dirinya.
Pada hemat saya, salah satu ciri kesusastraan kita dewasa ini ialah
bahwa ia menjadi gelisah dengan publik yang hadir di hadapan dan
di sekitarnya. Kesusastraan kontemporer kita, dalam derajat terten­
tu, adalah kesusastraan yang selj-conscious.
Semua itu bukan saja karena disebabkan hilangnya kesusastraan
anonim dari tengah­tengah kita, tapi juga karena terjadinya perubah­
an sifat medium serta khalayak. Berbeda dengan kesusastraan tra­
disional, karya­karya tak lagi diedarkan dalam bentuk manuskrip
yang cuma dibaca oleh suatu lingkungan terbatas dengan tingkat
persiapan jiwa yang sudah memperoleh bentuk, dan yang reaksinya
sudah dapat diduga. Dengan kata lain: suatu publik yang intim. Seba­
liknya, kesusastraan modern adalah kesusastraan lewat percetakan
dan distribusi: ia menjangkau sidang pembaca yang previlege satu­
satunya hanyalah melek­huruf. Ia menerobos keluar balairung­ba­
lairung, di mana karya­karya sastra lama dipelihara dan beredar
secara terbatas, dan ia menemui khalayak yang tak selamanya siap
dengan tradisi kultural yang sudah mapan: suatu khalayak yang
bahkan—seperti kurang­lebih yang merupakan anggapan para pen­
diri “Volkslectuur”—masih perlu dididik dengan bacaan “bermutu”.
Perluasan kesempatan untuk memperoleh kesusastraan telah mem­
beri kesusastraan modern kita suatu posisi baru: kita kehilangan
keintiman dengan khalayak yang meluas itu.
Dari sanalah tumbuh dan berkembang beberapa frustrasi. Di satu
segi kesusastraan modern Indonesia merupakan sebuah dunia ter­
sendiri, dihuni oleh sejumlah kecil pengarang dan sejumlah para
peminat yang paham; di lain segi ia berhadapan langsung dengan
masyarakat yang heterogin dan kian menjadi heterogin. Di satu pi­
hak ia menampilkan dan ditampilkan oleh seorang “aku”, tetapi di
lain pihak ia terletak di tengah­tengah suatu lingkungan kebuda­
yaan yang masih tetap enggan untuk membiarkan amour propre
semacam itu. Dalam situasi itu ia pun mencari orang kedua yang
bisa diajaknya berbicara, seorang “engkau”—tapi yang dihadapinya
selalu adalah suatu konglomerat yang tanpa bentuk, bernama ma­
syarakat. Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa justru
konglomerat yang tanpa bentuk itu menjadi kian penting dan ki­
an nyata bagi dirinya, meskipun tidak juga menjadi mudah untuk
dipahami dan memahaminya. Dalam dialektik seperti itulah kesu­
sastraan Indonesia modern lahir dan diasuh. Masalah hubungan
kesusastraan dengan masyarakatnya, oleh karena itu, merupakan
masalah yang senantiasa menggelisahkan, sejak kritik sastra kita
untuk pertama kalinya ditulis sampai dengan sekarang ini.
2
Pada hemat saya, selama keintiman dengan khalayak belum pulih
kembali dalam diri seorang pengarang, selama hubungan antara ke­
susastraan dengan masyarakatnya masih belum tenteram, selama
kesusastraan masih belum bebas dari sikapnya yang selj-conscious
dan kikuk, selama itu pula banyak hal takut untuk dibicarakan atau
sebaliknya terlalu keras diteriakkan—termasuk seks.
Dengan demikian yang menjadi persoalan bukanlah hadir atau ti­
dak hadirnya seks dalam sastra, tetapi wajar atau tidak wajarnya
suatu pengucapan literer. Dengan demikian kita tak bisa secara
mudah menilai suatu kesusastraan yang tanpa seks sebagai kurang
atau sebagai lebih, sebab yang menentukan di sini ialah sikap para
pengarang terhadap masalah itu. Dan sikap adalah juga suatu peris­
tiwa sosial. Seks atau tanpa seks bisa merupakan sekedar pose di
hadapan publik.
Yang kita butuhkan dari tiap hasil sastra modern, dengan kecen­
derungannya untuk merupakan sebuah pose, tentu saja justru
hilangnya kecenderungan itu. Godaan terbesar seorang penulis
modern ialah ketika ia terlalu diperhatikan publik. Tetapi kita ha­
rus lebih dulu merasa tenteram dengan khalayak kita, untuk ber­
ó ] Sels, Scstrc, Kitc • çoencucnmohcmcd.com çoencucnmohcmcd.com • Sels, Scstrc, Kitc ] ;
bicara tanpa kekhawatiran, tanpa tuntutan, juga di saat kita ber­
bicara menyinggung hal­hal penting seperti seks. Pada akhirnya
kesusastraan yang dewasa akan lahir, ketika pengarangnya tidak
menganggap khalayak itu sebagai majelis penguji ataupun sebagai
jemaah pemuja.
Shahnon Ahmad dalam tanggapannya atas tulisan Aveling di atas,
mengatakan: Buat saya, apa yang disebut oleh Aveling sebagai “ke­
tidakbolehan” (ketidakmampuan?—G.M.) pengarang­pengarang
Indonesia memaparkan sudut­sudut seks ini tidak timbul sama se­
kali. Yang timbul hanya ketidakmauan. Dan ketidakmauan ini mem­
punyai hubungan yang erat dengan obligation pengarang­pengara­
ng Indonesia terhadap bangsa dan tanah air mereka.
3
Sukar bagi kita untuk menemukan dari mana Shahnon Ahmad sam­
pai pada kesimpulan yang sedemikian: ia tak membubuhkan fakta­
fakta untuk menyokongnya.
Walaupun demikian, apa yang di nyatakannya tidak seluruhnya
meleset. Ada sementara pikiran di antara pengarang­pengarang In­
donesia, sepanjang sejarah kesusastraan kita, yang memang tidak
ingin berbicara tentang seks dalam kesusastraannya. Salah satu se­
babnya—tidak persis saya katakan dengan kalimat Shahnon Ahmad
tentang “obligation pengarang­pengarang Indonesia terhadap bang­
sa dan tanah air mereka”—ialah karena semacam pendirian tentang
noblesse oblige.
Seperti sudah dikatakan di atas, perluasan kesempatan bagi orang
banyak untuk memperoleh kesusastraan, dengan pendidikan, mesin
cetak dan distribusi, telah memberi kesusastraan Indonesia modern
suatu posisi baru. Dalam frustrasinya menghadapi khalayak yang
makin meluas itu, ia menemukan kompensasinya: ia mulai merasa
dan menimbang­nimbang besarnya pengaruh karya­karya sastra di
masyarakat. Kita mengenal tokoh Tuti, wanita pergerakan yang ti­
pikal, dalam novel Takdir Alisyahbana, Layar Terkembang. Dalam
suatu bagian diceritakan bahwa ia menonton sebuah pertunjukan
sandiwara, dan menjadi terharu karenanya. Atas dasar itu ia pun de­
ngan segera menyimpulkan, “betapa besarnya pengaruh seni atas
jiwa manusia.” Tapi hampir serentak dengan itu, dan justru karena
kesimpulannya itu, ia pun sampai pada pendirian selanjutnya: ia me­
nolak karya seni yang bagus, jika kebagusannya itu “melemahkan
hati.”
Tokoh Tuti, sebagaimana Takdir Alisyahbana sendiri, adalah prototip
seorang intelektual yang membesar­besarkan potensi kesenian dan
ke

susastraan di satu pihak, tetapi—justru karena itu—ingin memba­
tasi kebebasan kesusastraan di lain pihak, atas nama fungsi sosial.
Demikianlah kesenian sebagai “satu olahraga mewah yang tanpa
tujuan” ditolak, dan Takdir yang memujikan individualitas itu ber­
bicara juga tentang solidaritas dan pertanggungan jawab kepada
masyarakat.
4
Bagi jalan pikiran seperti ini, amat wajar apabila pe­
ngekangan diri sendiri dan pengekangan terhadap orang lain dapat
dilihat sebagai kebajikan, bila perlu. Tidak semua hal boleh dikata­
kan, karena kesusastraan adalah kekuatan yang bisa menggerakkan
kehidupan.
Saya sendiri tidak yakin, bahwa pendapat seperti itu merupakan si­
kap yang ideal. Di mana seorang pengarang begitu sibuk mengem­
bangkan impiannya tentang kekuatan pengaruh karya­karya sastra
di masyarakat, di situlah ia bisa kehilangan kebebasannya. Ia ter­
perangkap oleh perkiraan yang pongah tentang dirinya sendiri:
merasa bahwa ia punya peran yang begitu menentukan dalam ke­
hidupan sosial (suatu hal yang amat meragukan, khususnya buat
kesusastraan Indonesia), ia dikekang oleh kekhawatiran­kekhawa­
tiran. Ia ngeri untuk salah langkah dengan perannya sendiri yang di­
sangkanya besar itu. Seorang yang menganggap setiap kalimatnya
akan menjadi milik umum, hanya akan menemukan dirinya tidak
merdeka lagi untuk berbisik.
8 ] Sels, Scstrc, Kitc • çoencucnmohcmcd.com çoencucnmohcmcd.com • Sels, Scstrc, Kitc ] p
Tapi bagaimanapun harus kita akui, bahwa pandangan seperti yang
dirumuskan Takdir Alisyahbana itu­merupakan pandangan yang
galib, dan cukup dominan, dalam sejarah kesusastraan Indonesia
sejak permulaan abad ke­20 ini.
Dalam versi lain "Vollslectuur"—dinas bacaan rakyat yang kemudian
menjadi Balai Pustaka itu—menganutnya. Itulah sebabnya pelbagai
macam sensor dilakukan di sana, dan itu pulalah sebabnya karya­
karya yang dianggap immorcl tidak diberi tempat dalam rencana pe­
nerbitannya dan dan digunting oleh dewan redaksinya.
5
Bukankah
badan penerbit terpenting di zaman sebelum perang itu, atas nama
kesopanan, menolak sebuah novel yang kemudian ternyata merupa­
kan salah satu karya terpenting dalam sejarah sastra modern Indo­
nesia, yakni ßelenççu?
6
Dalam versi yang lain lagi, pandangan di atas juga pandangan H.B.
Jassin, yang di satu pihak menerima ßelenççu, tapi di lain pihak me­
nganggap peranannya sebagai lukisan tentang masyarakat semata­
mata. Kritikus ini menghendaki “lukisan yang menjadikan yang mem­
bentuk masyarakat”, dan menganjurkan pengarang­pengarang lain
untuk “menggambar masyarakat yang idealistis, manusia yang ting­
gi derajatnya, manusia yang sempurna dalam segala­galanya, yang
boleh dijadikan pedoman.” Bukankah pengarang dapat disamakan
dengan “pesuruh yang diturunkan Dewi Kesenian akan menjadi pe­
nunjuk jalan bagi bangsanya?”
7
Bagi sementara orang mungkin—paling tidak bagi saya—kepercayaan
bahwa para pengarang adalah utusan Dewi Kesenian hanyalah sebu­
ah takhayul, dan gambaran tentang “manusia yang sempurna da­
lam segala­galanya” adalah sesuatu yang tak mungkin, meskipun
itu dilakukan oleh para pesuruh Dewi­dewi sekalipun. Tapi apa
boleh buat: hal semacam itulah yang dikehendaki oleh para kritisi
kesusastraan”pendidikan” kita. Hal itu pulalah yang diteruskan
oleh para pemikir kesusastraan “perjuangan”: kalangan penulis rea­
lisme­sosialis, yang amat berpengaruh selama pertengahan 60­an
dan sesudahnya, yang dengan kerasnya telah mengucilkan otot geni­
tal dari otot­otot lain, dan berbicara tentang semangat, pikiran dan
perasaan manusia, tetapi tidak tentang nafsu berahinya.
Secara umum dapat dikatakan, bahwa sepanjang sejarah kesusastra­
an “pendidikan” dan “perjuangan” kita, pengarang­pengarang telah
memperbesar pahlawan cerita mereka dengan menghilangkan fung­
si alami kelaminnya. Tokoh yang sempurna itu mungkin bisa dika­
rikaturkan sebagai orang kasim yang kekar dan sekaligus berhati
malaikat, tapi agaknya begitulah gambaran ideal sementara penulis
kita tentang peran utamanya—yang sering disebut sebagai manusia
baru. Dengan demikian nampak bahwa bagi sastra “perjuangan”
umumnya seks bukan saja sebagai sesuatu yang terpisah dan tak
relevan, tapi juga merupakan suatu kekuatan oposisi. Atau lebih te­
pat: seks adalah simbol reaksi, dan nafsu berahi adalah suatu unsur
renegad.
Dibandingkan dengan perkembangan kesusastraan di Barat, ini
adalah suatu kontras yang menarik. Dalam eseinya entang porno­
graf dan kesusastraan Steven Marcus menulis:
Di dalam karya­karya para seniman avant­garde abad ke­19 dan
awal abad ke­20, dan terutama di antara novelis­novelis, seluruh
lapisan masyarakat modern mendapat serangan. Fokus penyera­
ngan itu adalah kehidupan seks kaum borjuis dan kelas menengah,
karena kelas ini dan cara­cara hidup yang mereka jalankan, telah
menjadi kekuatan sosial yang berpengaruh. Kesukaran­kesukaran,
kegelisahan, kantradiksi, hipokresi, ketidak­samaan, perasaan­
perasaan bersalah dan kekacauan­kekacauan dalam kehidupan
seksual kelas menengah, bagi novelis­novelis ini, bukan saja pada
dasarnya buruk, tapi juga merupakan lambang dari ketidakadilan,
kebobrokan, demoralisasi, dan malaise, yang bagi seniman­seniman
ini merupakan ciri dari masyarakat di mana mereka hidup.
10 | Seks, Sastra, Kita • çoencucnmohcmcd.com çoencucnmohcmcd.com • Sels, Scstrc, Kitc ] ::
Mereka menyatakan bahwa suatu kehidupan seksual yang lebih
merdeka, pada dasarnya adalah baik; mereka menggambarkan
kegelisahan manusia modern di dalam hipokresi seksual, bu­
kan saja untuk menonjol­nonjolkan atau membuat sensasi (mes­
kipun ada gejala­gejala seperti ini) tapi untuk menggugah dan
membangunkan masyarakat yang telah membiarkan berlang­
sungnya perbudakan yang begitu menakutkan.
8
Apa yang dikatakan Steven Marcus itu menunjukkan, bahwa ke­
hadiran seks dalam kesusastraan Barat abad XIX dan awal abad
XX tak bisa dilepaskan dari kehendak emansipasi sosial. Jika bagi
kesusastraan Indonesia modern, (yang notabene juga lahir dalam
hubungan dengan gerakan emansipasi sosial) seks adalah simbol
reaksi, maka bagi kesusastraan Barat seks justru lambang revolusi.
Dan ini pulalah yang masih terjadi hingga sekarang: Eros berada di
sayap kiri. Hippies, yippies dan pementasan “Hair” di Amerika, pa­
ra provo di Negeri Belanda, dan majalah Konlret di Jerman, adalah
kombinasi Marx, Marcuse, Mao, Guevara, dan cinta bebas.
Persoalan yang untuk dijawab di sini ialah: mengapakah kontras
ini?
Aveling dalam studinya yang dikutip di atas menggambarkan para
pengarang Indonesia sebagai on the whole young, well­educated
men of the upper and more modernized strata of society. Saya lebih
suka menyebut mereka sebagai sekelompok orang yang dibesarkan,
dan hidup, sebagai bagian dari lapisan sosial yang justru tidak aman
dengan strata atas masyarakatnya, tapi sementara itu juga bukan
bagian dari tingkat paling bawah. Dengan kata lain, pada mereka
terdapat pelbagai ciri satu kelas menengah yang sedangbergerak—
paling sedikit karena pendidikan, kalau tidak karena asal­usul. Ke­
nyataan ini juga berlaku buat para penulis realisme sosialis.
Dari situlah agaknya, bisa diterangkan mengapa kesusastraan kita
ditimbuni dengan karya­karya protes sosial.
Dari situ pulalah agaknya bisa menjadi jelas mengapa sikap kita ter­
hadap seks dalam kesusastraan diwarnai oleh semacam puritanisme.
Kaum realisme­sosialis meletakkan “kemaksiatan feodal” sebagai
salah satu musuh utamanya.
9
Apa yang dimaksudkan dengan istilah
itu agaknya bisa diperjelas, jika kita mengetahui betapa bebasnya
kehidupan seks lapisan masyarakat Gusti Kanjeng seperti diceritakan
oleh tokoh nenek dalam cerita Nugroho Notosusanto, “Tayuban.” Dan
jika kita memperhatikan bagaimana seks dimasukkan ke dalam karya­
karya sastra kontemporer kita, akan nampak suatu pola: seks adalah
satu bagian logis dari keleluasaan berbuat, satu lanjutan dari kekuasaan
dan kekayaan yang tidak sah. Novel Korupsi dari Pramudya Ananta Toer
dan Senja di Jakarta dari Mochtar Lubis adalah contoh terbaik dari
pola itu. Cerita­cerita yang dibikin Motinggo Busye, terutama Cross-
Mcmc, juga termasuk di dalam kecenderungan tersebut, demikian
pula Giçolo Asbari Nurpatria Krisna dan Lcli-lcli dcn Kotc dari Kelik
Diono, di mana adegan­adegan seksual dilukiskan dengan bebas sekali.
Sebagaimana kaum feodal, wujud lama dari stratum atas masyarakat
kita, mempunyai kekuasaan untuk berbuat leluasa dalam kehidupan
seksual, demikian pula kaum kaya baru, wujud baru dari stratum atas
masyarakat kita, bisa meneruskan imoralitas tersebut. Semua itu, lang­
sung atau tidak langsung, menunjukkan prasangka­prasangka suatu
kelas menengah yang sedang bergerak, dan pada umumnya dapat di­
katakan, bahwa seks dalam kesusastraan kita bukanlah pertanda sera­
ngan terhadap kehidupan seksual yang tak bebas, beku dan borjuis (se­
perti yang terdapat dalam kesusastraan Eropa sejak awal abad ke­20
hingga kini), tapi semacam afrmasi terhadap puritanisme itu.
Dengan mengatakan hal itu, tidak berarti dengan sendirinya kita
bisa menyimpulkan adanya kesadaran akan masalah kelas dalam
kesusastraan modern kita. Bagaimanapun dislokasi­dislokasi sosial
berlangsung secara ruwet.
Lagi pula, jika kita berbicara mengenai sikap terhadap seks dalam
kesusastraan, banyak sekali faktor yang ikut membentuknya. Yang
:z ] Sels, Scstrc, Kitc • çoencucnmohcmcd.com çoencucnmohcmcd.com • Sels, Scstrc, Kitc ] :¸
terpenting di antaranya ialah pelbagai sistem nilai­nilai: keyakinan
Islam, adat, gereja, kepatuhan tradisional, yang berpadu dengan di­
siplin pendidikan Belanda. Bagian penting hidup kita ditentukan
oleh sistem ni itu, termasuk inhibisi kita mengenai hal­hal yang
bersifat genital. Ini adalah kenyataan sosial yang amat jelas. Ini
adalah kenyataan sosial yang terus semakin jelas, justru dalam ma­
sa kegelisahan dan keguncangan sistem nilai­nilai yang ada. Dalam
masa seperti itu, orang selalu condong untuk mendapatkan apa
yang sering disebut sebagai “pegangan”, suatu hal yang menunjuk­
kan bukan saja masih kuatnya solidaritas serta ikatan, tapi juga
menunjukkan masih dibutuhkannya solidaritas serta ikatan itu.
Bagi alam pikiran kita, hidup yang tanpa “pegangan” tidak cuma
dirasakan (dan memang) riskan, namun juga dirasakan kurang
patut. Dalam kecemasan zaman ini, orang masih selalu ingin
berlindung dalam apa yang dinamakan Lionel Trilling “kepastian­
kepastian sistematis.”
Antara seks sebagai pengalaman berabad­abad dengan seks sebagai
obyek resecrch, kita memang berdiri di tengahnya. Bersama kita
ialah kesusastraan Indonesia modern. Membandingkan sikap terha­
dap nafsu berahi heteroseksuai dalam kesusastraan lama dengan
yang dalam kesusastraan modern memang menarik. Tapi antara
keduanya yang tampil bukanlah suatu “kontras yang aneh”, seperti
yang dikatakan Aveling, melainkan suatu kontrast yang wajar. Kesu­
sastraan lama, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, bukan
cuma memiliki khalayak yang sudah intim, akan tetapi sekaligus
merupakan milik khalayak homogin yang lebih toleran terhadap
penggambaran seksual—karena rasa aman dari gangguan peruba­
han, serta rasa pasti tentang diri sendiri.
Dalam keadaan semacam itu Para pengarang serta hadirinnya mem­
punyai prerogatif untuk mengendurkan yang amat kaku, serta me­
ngembangkan kehidupan fantasi mereka dengan gembira, tanpa
ketegangan. Dalam keadaan semacam itu, penggambaran seksual
dapat tumbuh sedemikian rupa hingga keberahian terlukis secara
wajar, menyenangkan dan indah, seperti yang kita lihat dalam versi
Bali atas cerita Panji, “Malat”. Bahkan penggambaran seksual dari si­
tu bisa berkaitan dengan hal­hal yang dekat dengan perlambangan
mistik, seperti yang kita dapatkan dalam buku Gctoloco di Jawa.
Tapi, dapatkah kita mengharapkan prerogatif semacam itu dari ke­
susastraan modern?
Kenyataan sejarah kebudayaan kita mengenai apa yang diketahui
dan tidak diketahui tentang seks, apa yang diizinkan dan dilarang ten­
tang perkelaminan, kini merupakan variasi ketegangan­ketegangan
serta ketegangan dari variasi­variasi. Misteri asal yang agaknya te­
lah melahirkan relief erotis Candi Sukuh, telah digantikan oleh ta­
bu­tabu defensif yang berhadapan dengan rasa ingin­tahu. Di satu
pihak berdiri sensor, organisasi massa dan pengadilan, di lain pi­
hak berdiri dunia penonton blue­flm, pornograf dan cinta bebas.
Pengalaman kongkrit seksualitas kita telah diredusir menjadi soal
hukum dan anti­hukum. Apakah yang tinggal kemudian, selain dari
pada konfik! Kesusastraan modern kita, dengan tegaknya yang ra­
gu dan selj-conscious, dengan posisinya yang gampang kena di te­
ngah­tengah masyarakat yang heterogin mau tak mau ditentukan
sebagian hidupnya oleh konfik itu.
Oleh sebab itulah, adegan­adegan seks di buku­buku dan di mi­
ngguan­mingguan kita dewasa ini pada dasarnya adalah tempat
bagi rasa senang dan rasa berdosa kita. Untuk memenuhi rasa se­
nang kita mendapatkan bahannya pada adegan­adegan semacam
itu, sedang untuk menenteramkan rasa berdosa kita mengutuknya
keras­keras. Tabu telah dilanggar, dan sesaji harus diadakan. Inilah
sebenarnya yang dilakukan oleh para pengisi koran­koran minggu
di Jakarta—yang lazimnya disebut “koran porno” itu. Di satu pihak
mereka membongkar kisah­kisah pelanggaran susila, dengan sebisa
mungkin disertai detail dan gambaran­gambaran untuk menggelitik
:( ] Sels, Scstrc, Kitc • çoencucnmohcmcd.com çoencucnmohcmcd.com • Sels, Scstrc, Kitc ] :¸
nafsu pembaca. Di lain pihak mereka tak tanggung­tanggung mem­
peringatkan bahaya immoralitas. Dalam derajat yang lain, dan
dengan teknik yang lebih pandai, saya kira begitu pulalah rahasia
kelarisan buku­buku Motinggo Busye akhir­akhir ini: ia tahu akan
konfik yang tersembunyi di hati para pembacanya, ia memancing
perhatian dan kegemaran mereka akan adegan tempat tidur, tapi
ia sekaligus menebus perasaan bersalah mereka dengan moralisme
dan beberapa tetes flsafat. Dan ia pun aman dari segala tuduhan
kotor.
Tidakkah dengan demikian kita sebenarnya berada dalam situasi
hipokrisi?
Dalam tingkat tertentu, memang begitulah agaknya. Kita berada
dalam suatu ketegangan antara dorongan pembebasan emosional
(yang berarti juga pembebasan individu dari sistem pantangan dan
inhibisi) dengan ketakutan untuk nu­inberontak. Freud dan Erich
Fromm belum datang membantu kita. Sebagaimana dikatakan
Aveling, nafsu­berahi memang bukan untuk orang baik­baik dalam
kesusastraan, Indonesia modern umumnya, meskipun kita semua
tahu bahwa kita memilikinya dan bahwa nafsu itu merupakan bagi­
an yang sah dari hidup.
Namun dengan demikian yang kita butuhkan bukanlah dengan sen­
dirinya sekian karya tentang coitus uninterruptus, di mana penga­
rang memilih pose sebagai seorang libertin dan sekaligus sebagai
pemberontak sosial yang meneriakkan seksual. Seks yang terlam­
pau diteriakkan sama kurang meyakinkannya dengan seks yang di­
lenyapkan. Yang kita butuhkan adalah semacam sikap wajar, yang
mengembalikan seksualitas ke dalam kehidupan, dan menerima
kenyataan itu tanpa ketegangan, sebagaimana kita menerima
badan sebagai diri kita. Inilah saya kira yang telah dicapai Sitor
Situmorang di pertengahan tahun 50­an, ketika ia menulis “La
Ronde”:
Adakah yang lebih indah
dari bibir padat merekah?
Adakah yang lebih manis
dari gelap di bayang alis?
Di keningnya pelukis ragu:
Mencium atau menyelimuti bahu?
Tapi rambutnya menuntun tangan
hingga pantatnya, penuh saran.
Lalu paha, Pualam pahatan
mendukung lengkung perut.
Berkisar di pusat, lalu surut
agak ke bawah, ke pusar segala,
hitam pekat, siap menerima
duçccn indch.
Ah, dada yang lembut menekan hati
Terimalah
kematangan mimpi lelaki!
Di dalamnya tidak kita lihat adanya “sikap berhati­hati tentang ba­
dan dan fungsi­fungsinya”—seperti yang dikatakan Aveling sebagai
salah satu ciri kesusastraan kita—dan di dalamnya berkembang ke­
mungkinan keindahan pengalaman nafsu birahi. Di sana seksualitas
adalah bagian yang tak terkutuk, tak menjijikkan, dan tidak pula
diaksentuasikan sebagai pernyataan protes yang melengking. Apa
yang tersirat di situ adalah juga yang tersirat dalam cerita Umar
Kayam, “Musim Gugur Kembali Di Connecticut.” Tokoh utama ce­
rita ini, Tono, menemukan kembali hasratnya untuk hidup, lebih
jelas, dalam persetubuhan dengan istrinya. Seksualitas di sini be­
gitu murni, suatu kontras yang mengharukan dengan sel penjara
sebelumnya dan maut yang dipaksakan sesudahnya. Sebelum bera­
ngkat dibawa oleh pembunuh­pembunuhnya, Tono mencium leng­
:ó ] Sels, Scstrc, Kitc • çoencucnmohcmcd.com
an jaketnya, dan mencium bau mani di sana, dan ia tersenyum se­
bagaimana istrinya juga tersenyum: kenangan terakhir dari tanda
kehidupan. Sebab seksualitas dalam cerita ini memang pertanda
kehidupan, yang kongkrit dan yang berharga, dan yang tidak seha­
rusnya lenyap hanya karena nasib yang absurd.
Sebagaimana begitulah kenyataannya.
(1969)
Catatan Kaki:
1.
Harry Aveling, “The Thorny Rose: The Avoidance of Passion in Modern
Indonesian Literature”, Indonesic, No. 7 (April), 1969, Modern Indonesia
Project, Cornell University, Ithaca, New York, hal. 67­76. Terjemahan tulisan
itu, berikut tanggapan Shahnon Ahmad, dimuat dalam Horison, No. 10 Tahun
IV, Oktober 1969.
2.
Barangkali sebuah tulisan perlu ditulis secara tersendiri untuk menggambarkan
kenyataan sejak polemik Takdir Alisyahbana dengan Sanusi Pane, atau bahkan
sebelumnya, sampai dengan polemik LEKRA versus Manifes Kebudayaan, pada
hakikatnya kita menyaksikan perdebatan mengenai soal tersebut.
3.
Shahnon Ahmad, “Pengarang­pengarang Indonesia yang Malu­malu Dan Sipu­
sipu”, Hcrison, No. 10 Tahun IV, Oktober, hal. 298.
4.
S. Takdir Alisyahbana, “Individualisme en Gemeenschapsbewustzijn in Moderne
Indonesische Letterkunde”, dalam Poedjangga Baroe, No. 9 Tabun VIII, Maret
1941, hal. 236­237.
5.
Lih. A Teetuw, Modern Indonesicn Litercture, Martinus Nijhoff, The Hague,
1967, hal 14.
6.
Lih. A.H. Johns, “Genesis of a Modern Literature”, dalam Ruth McVey (ed),
Indonesic, New Haven, H.R.A.F., 1963, hal. 418.
7.
H.B. Jassin Kesuscstrccn Indonesic Modern dclcm Kritil dcn Esei, cetakan
ke­4, Gunung Agung, Jakarta. MCMLXVII, hal. 135.
8.
Steven Marcus, “Pornograf dan Kesusastraan”, Horison, No. 11 Tahun III,
November 1968, hal. 330.
9.
Lihat D.N. Aidit, Tentang Sastra dan Seni, Yayasan “Pembaruan”, Jakarta,
1964, hal. 38.

Kita |  S EKS adalah suatu risiko dalam kesusastraan Indonesia mo­ dern. perkawinan dan kehidupan ibu­bapak: saya kira demi­ kianlah memang kecenderungan umum sejumlah besar hasil sastra  | Seks. Dalam sebuah studi singkat tentang seks dan kesusas­ traan kita masa kini. dan terutama dengan pelbagai hasil sastra lama dalam sejarah kita.kita. sebagaimana ia diberi beban untuk bertanggung jawab atas namanya sendiri. menunggu pujian—dan mung­ kin juga keterkejutan serta amarah—atau apa saja. meskipun tidak semuanya. ada semacam pretensi yang diper­ siapkan baik­baik. bagi kita. and an e­laborate­ pre­te­n­ se­ that marriage­­and e­ve­n pare­nthood­is sustaine­d without re­fe­­ rence to sex. Sebab. cenderung untuk merupakan sebuah pose. sedikit­ banyaknya. dalam penglihatan saya. on the­ contrary.com . seorang pengarang prosa atau puisi terlibat dalam perso­ alan bagaimana cara mengetengahkan diri sebaik mungkin. modern. bila kita bandingkan—sebagaimana Aveling membandingkannya—de­ ngan apa yang terdapat dalam kesusastraan modern lainnya. Seorang pe­ ngarang.com • Seks. zaman kesusastraan anonim sudah barakhir. Tradisi kesusastraan kita kini bermula dengan perben­ daharaan sejarah masa Balai Pustaka dan Pujangga Baru. Harry Aveling menulis: In modern Indonesian literature. selalu nampak sebagai seorang dirigen. we miss those themes so comm­ on in the classical indegineous. rape­. The­re­ is. untuk tidak menyinggung seks dalam kehidupan percintaan. in­ tellectual and emotional commitment of lovers (married or not) to e­ach othe­r as e­qual human be­ings. di tiap bagian partitur yang diperdengarkan ia selalu hadir sebagai pemberi interpretasi. adulte­ry. Ju­ ga zaman ketika para penyair malu­malu dan enggan untuk menya­ takan namanya—berarti menonjolkan diri—dan oleh sebab itu me­ makai “sandi­asma”. kecuali sikap tak acuh. and other. Keadaan ini memang menarik. Sastra. Seorang dirigen menyajikan lagu dan sebuah orkestra di suatu saat dan menyajikan lagu serta orkestra lain di lain saat. di mana paling sedikit nama pengarang tak disembunyikan lagi dan apa ya­ ng disebut Alisyahbana di tahun 30­an sebagai “individualisme” di­ tekankan. Kita • goenawanmohamad. dialah orkes­ tra itu sendiri: mengharapkan aplaus. a prude­ry about the­ body and its functions. Di hadapan publik. Sejak itu. Demikian pula pada dasarnya seorang pengarang modern: ia diberi kesempatan untuk menjadi genit dan kenes.1 Ada semacam sikap berhati­hati. se­duction. Di atas sana ia tampak dengan jelas. Ia tak bisa lagi bersembunyi dengan teknik lama. di balik karya­karya tan­ goenawanmohamad. seperti misalnya Ronggowarsito dalam Serat Witaradya. and full bodily. tapi dengan begitu ia juga menyajikan dirinya sendiri. Sastra. literatures: the the­me­s of flirtation. Tapi mungkin soalnya ialah karena hasil sastra modern.

Seba­ liknya. oleh karena itu. merupakan masalah yang senantiasa menggelisahkan. selama itu pula banyak hal takut untuk dibicarakan atau sebaliknya terlalu keras diteriakkan—termasuk seks. tentu saja justru hilangnya kecenderungan itu. Dalam dialektik seperti itulah kesu­ sastraan Indonesia modern lahir dan diasuh. atau memakai topeng. Sastra. Tetapi kita ha­ rus lebih dulu merasa tenteram dengan khalayak kita. dan ia menemui khalayak yang tak selamanya siap dengan tradisi kultural yang sudah mapan: suatu khalayak yang bahkan—seperti kurang­lebih yang merupakan anggapan para pen­ diri “Volkslectuur”—masih perlu dididik dengan bacaan “bermutu”. Pada hemat saya. sejak kritik sastra kita untuk pertama kalinya ditulis sampai dengan sekarang ini. Masalah hubungan kesusastraan dengan masyarakatnya. Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa justru konglomerat yang tanpa bentuk itu menjadi kian penting dan ki­ an nyata bagi dirinya. Dari sanalah tumbuh dan berkembang beberapa frustrasi. Semua itu bukan saja karena disebabkan hilangnya kesusastraan anonim dari tengah­tengah kita. Kita |  . karya­karya tak lagi diedarkan dalam bentuk manuskrip yang cuma dibaca oleh suatu lingkungan terbatas dengan tingkat persiapan jiwa yang sudah memperoleh bentuk. meskipun tidak juga menjadi mudah untuk dipahami dan memahaminya. kesusastraan modern adalah kesusastraan lewat percetakan dan distribusi: ia menjangkau sidang pembaca yang pre­vile­ge­ satu­ satunya hanyalah melek­huruf. dengan kecen­ derungannya untuk merupakan sebuah pose. Dalam situasi itu ia pun mencari orang kedua yang bisa diajaknya berbicara. Ia harus tampil terbuka penuh. di lain segi ia berhadapan langsung dengan masyarakat yang heterogin dan kian menjadi heterogin. adalah kesusastraan yang self­conscious. Dengan kata lain: suatu publik yang intim. selama hubungan antara ke­ susastraan dengan masyarakatnya masih belum tenteram. selama kesusastraan masih belum bebas dari sikapnya yang self­conscious dan kikuk. dan yang reaksinya sudah dapat diduga. tetapi wajar atau tidak wajarnya suatu pengucapan literer.com • Seks. salah satu ciri kesusastraan kita dewasa ini ialah bahwa ia menjadi gelisah dengan publik yang hadir di hadapan dan di sekitarnya.2 Pada hemat saya. tetapi di lain pihak ia terletak di tengah­tengah suatu lingkungan kebuda­  | Seks. Kita • goenawanmohamad. Berbeda dengan kesusastraan tra­ disional. dalam derajat terten­ tu. Seks atau tanpa seks bisa merupakan sekedar pose di hadapan publik.pa nama. Godaan terbesar seorang penulis modern ialah ketika ia terlalu diperhatikan publik. Dengan demikian kita tak bisa secara mudah menilai suatu kesusastraan yang tanpa seks sebagai kurang atau sebagai lebih. Di satu segi kesusastraan modern Indonesia merupakan sebuah dunia ter­ sendiri. Dengan demikian yang menjadi persoalan bukanlah hadir atau ti­ dak hadirnya seks dalam sastra. Sastra. dihuni oleh sejumlah kecil pengarang dan sejumlah para peminat yang paham. me­ milih satu pose yang dianggapnya baik buat dirinya.com yaan yang masih tetap enggan untuk membiarkan amour propre­ semacam itu. Kesusastraan kontemporer kita. Perluasan kesempatan untuk memperoleh kesusastraan telah mem­ beri kesusastraan modern kita suatu posisi baru: kita kehilangan keintiman dengan khalayak yang meluas itu. seorang “engkau”—tapi yang dihadapinya selalu adalah suatu konglomerat yang tanpa bentuk. Yang kita butuhkan dari tiap hasil sastra modern. Ia menerobos keluar balairung­ba­ lairung. Dan sikap adalah juga suatu peris­ tiwa sosial. Di satu pi­ hak ia menampilkan dan ditampilkan oleh seorang “aku”. untuk ber­ goenawanmohamad. tapi juga karena terjadinya perubah­ an sifat medium serta khalayak. selama keintiman dengan khalayak belum pulih kembali dalam diri seorang pengarang. sebab yang menentukan di sini ialah sikap para pengarang terhadap masalah itu. di mana karya­karya sastra lama dipelihara dan beredar secara terbatas. bernama ma­ syarakat.

Kita |  .) pengarang­pengarang Indonesia memaparkan sudut­sudut seks ini tidak timbul sama se­ kali. yang memang tidak ingin berbicara tentang seks dalam kesusastraannya. Seorang yang menganggap setiap kalimatnya akan menjadi milik umum. Pada akhirnya kesusastraan yang dewasa akan lahir. sebagaimana Takdir Alisyahbana sendiri. Seperti sudah dikatakan di atas. dengan pendidikan. telah memberi kesusastraan Indonesia modern suatu posisi baru. Kita mengenal tokoh Tuti. “betapa besarnya pengaruh seni atas jiwa manusia. ia dikekang oleh kekhawatiran­kekhawa­ tiran. dan justru karena kesimpulannya itu. khususnya buat kesusastraan Indonesia). adalah prototip seorang intelektual yang membesar­besarkan potensi kesenian dan kesusastraan di satu pihak. Saya sendiri tidak yakin. tanpa tuntutan. apa yang di nyatakannya tidak seluruhnya meleset. mesin cetak dan distribusi.com • Seks. Sastra. apa yang disebut oleh Aveling sebagai “ke­ tidakbolehan” (ketidakmampuan?—G. Di mana seorang pengarang begitu sibuk mengem­ bangkan impiannya tentang kekuatan pengaruh karya­karya sastra di masyarakat. ia menemukan kompensasinya: ia mulai merasa dan menimbang­nimbang besarnya pengaruh karya­karya sastra di masyarakat.” Tokoh Tuti. Dalam suatu bagian diceritakan bahwa ia menonton sebuah pertunjukan sandiwara. dan Takdir yang memujikan individualitas itu ber­ bicara juga tentang solidaritas dan pertanggungan jawab kepada masyarakat. amat wajar apabila pe­ ngekangan diri sendiri dan pengekangan terhadap orang lain dapat dilihat sebagai kebajikan. juga di saat kita ber­ bicara menyinggung hal­hal penting seperti seks. ketika pengarangnya tidak menganggap khalayak itu sebagai majelis penguji ataupun sebagai jemaah pemuja.bicara tanpa kekhawatiran. Demikianlah kesenian sebagai “satu olahraga mewah yang tanpa tujuan” ditolak. perluasan kesempatan bagi orang banyak untuk memperoleh kesusastraan. Shahnon Ahmad dalam tanggapannya atas tulisan Aveling di atas. bila perlu. sepanjang sejarah kesusastraan kita.4 Bagi jalan pikiran seperti ini. dalam novel Takdir Alisyahbana. atas nama fungsi sosial. Ada sementara pikiran di antara pengarang­pengarang In­ donesia.3 Sukar bagi kita untuk menemukan dari mana Shahnon Ahmad sam­ pai pada kesimpulan yang sedemikian: ia tak membubuhkan fakta­ fakta untuk menyokongnya. Tidak semua hal boleh dikata­ kan. Ia ngeri untuk salah langkah dengan perannya sendiri yang di­ sangkanya besar itu.M.” Tapi hampir serentak dengan itu. karena kesusastraan adalah kekuatan yang bisa menggerakkan kehidupan. ia pun sampai pada pendirian selanjutnya: ia me­ nolak karya seni yang bagus. goenawanmohamad. tetapi—justru karena itu—ingin memba­ tasi kebebasan kesusastraan di lain pihak. dan menjadi terharu karenanya. Kita • goenawanmohamad. bahwa pendapat seperti itu merupakan si­ kap yang ideal. hanya akan menemukan dirinya tidak merdeka lagi untuk berbisik.com pikal. Dan ketidakmauan ini mem­ punyai hubungan yang erat dengan obligation pengarang­pengara­ ng Indonesia terhadap bangsa dan tanah air mereka. Ia ter­ perangkap oleh perkiraan yang pongah tentang dirinya sendiri: merasa bahwa ia punya peran yang begitu menentukan dalam ke­ hidupan sosial (suatu hal yang amat meragukan. Walaupun demikian. wanita pergerakan yang ti­  | Seks. di situlah ia bisa kehilangan kebebasannya. Atas dasar itu ia pun de­ ngan segera menyimpulkan. Yang timbul hanya ketidakmauan. mengatakan: Buat saya. jika kebagusannya itu “melemahkan hati. Layar Te­rke­mbang. Salah satu se­ babnya—tidak persis saya katakan dengan kalimat Shahnon Ahmad tentang “obligation pengarang­pengarang Indonesia terhadap bang­ sa dan tanah air mereka”—ialah karena semacam pendirian tentang noble­sse­ oblige­. Dalam frustrasinya menghadapi khalayak yang makin meluas itu. Sastra.

5 Bukankah badan penerbit terpenting di zaman sebelum perang itu. tapi agaknya begitulah gambaran ideal sementara penulis kita tentang peran utamanya—yang sering disebut sebagai manusia baru. te­lah me­njadi ke­kuatan sosial yang be­rpe­ngaruh. ke­ge­lisahan. Sastra. manusia yang sempurna dalam segala­galanya. atas nama kesopanan. Atau lebih te­ pat: seks adalah simbol reaksi.” Bukankah pengarang dapat disamakan dengan “pesuruh yang diturunkan Dewi Kesenian akan menjadi pe­ nunjuk jalan bagi bangsanya?”7 Bagi sementara orang mungkin—paling tidak bagi saya—kepercayaan bahwa para pengarang adalah utusan Dewi Kesenian hanyalah sebu­ ah takhayul. Kita • goenawanmohamad. dan itu pulalah sebabnya karya­ karya yang dianggap immoral tidak diberi tempat dalam rencana pe­ nerbitannya dan dan digunting oleh dewan redaksinya. dan menganjurkan pengarang­pengarang lain untuk “menggambar masyarakat yang idealistis. bagi nove­lis­nove­lis ini. Secara umum dapat dikatakan. de­moralisasi. dan malaise­.com lisme­sosialis. tapi juga merupakan suatu kekuatan oposisi. dalam sejarah kesusastraan Indonesia sejak permulaan abad ke­20 ini. bahwa sepanjang sejarah kesusastra­ an “pendidikan” dan “perjuangan” kita. manusia yang ting­ gi derajatnya. bahwa pandangan seperti yang dirumuskan Takdir Alisyahbana itu­merupakan pandangan yang galib. ke­bobrokan. dan berbicara tentang semangat.B. Dalam versi lain "Volkslectuur"—dinas bacaan rakyat yang kemudian menjadi Balai Pustaka itu—menganutnya. Tapi apa boleh buat: hal semacam itulah yang dikehendaki oleh para kritisi kesusastraan”pendidikan” kita. Dalam eseinya entang porno­ gra­­fi da­­n kesusa­­stra­­a­­n Steven Ma­­rcus menulis: Di dalam karya­karya para se­niman avant­garde abad ke­­19 dan awal abad ke­­20. Kritikus ini menghendaki “lukisan yang menjadikan yang mem­ bentuk masyarakat”. dan nafsu berahi adalah suatu unsur renegad. yang bagi se­niman­se­niman ini me­rupakan ciri dari masyarakat di mana me­re­ka hidup. goenawanmohamad. Dibandingkan dengan perkembangan kesusastraan di Barat. hipokre­si. dan te­rutama di antara nove­lis­nove­lis. Kita |  . Dengan demikian nampak bahwa bagi sastra “perjuangan” umumnya seks bukan saja sebagai sesuatu yang terpisah dan tak relevan. se­luruh lapisan masyarakat mode­rn me­ndapat se­rangan. kantradiksi. menolak sebuah novel yang kemudian ternyata merupa­ kan salah satu karya terpenting dalam sejarah sastra modern Indo­ nesia. yang boleh dijadikan pedoman. tapi juga me­rupakan lambang dari ke­tidakadilan. bukan saja pada dasarnya buruk. pandangan di atas juga pandangan H. Tokoh yang sempurna itu mungkin bisa dika­ rikaturkan sebagai orang kasim yang kekar dan sekaligus berhati malaikat. Hal itu pulalah yang diteruskan oleh para pemikir kesusastraan “perjuangan”: kalangan penulis rea­  | Seks. dan gambaran tentang “manusia yang sempurna da­ lam segala­galanya” adalah sesuatu yang tak mungkin. Fokus pe­nye­ra­ ngan itu adalah ke­hidupan se­ks kaum borjuis dan ke­las me­ne­ngah. pe­rasaan­ pe­rasaan be­rsalah dan ke­kacauan­ke­kacauan dalam ke­hidupan se­ksual ke­las me­ne­ngah. yang dengan kerasnya telah mengucilkan otot geni­ tal dari otot­otot lain. dan cukup dominan. ke­tidak­samaan. yang di satu pihak menerima Belenggu. Ke­sukaran­ke­sukaran. tapi di lain pihak me­ nganggap peranannya sebagai lukisan tentang masyarakat semata­ mata. pengarang­pengarang telah memperbesar pahlawan cerita mereka dengan menghilangkan fung­ si alami kelaminnya.com • Seks. meskipun itu dilakukan oleh para pesuruh Dewi­dewi sekalipun. Sastra. Jassin. pikiran dan perasaan manusia. ini adalah suatu kontras yang menarik. tetapi tidak tentang nafsu berahinya. Itulah sebabnya pelbagai macam sensor dilakukan di sana. yang amat berpengaruh selama pertengahan 60­an dan sesudahnya. kare­na ke­las ini dan cara­cara hidup yang me­re­ka jalankan.Tapi bagaimanapun harus kita akui. yakni Belenggu?6 Dalam versi yang lain lagi.

bisa meneruskan imoralitas tersebut. Dengan kata lain. lang­ sung atau tidak langsung. kalau tidak karena asal­usul. Lagi pula. Saya lebih suka menyebut mereka sebagai sekelompok orang yang dibesarkan. tidak berarti dengan sendirinya kita bisa menyimpulkan adanya kesadaran akan masalah kelas dalam kesusastraan modern kita. dan hidup. adalah kombinasi Marx. ta­­pi sema­­ca­­m a­­firma­­si terha­­da­­p purita­­nisme itu. wujud baru dari stratum atas masyarakat kita. bu­ kan saja untuk me­nonjol­nonjolkan atau me­mbuat se­nsasi (me­s­ kipun ada ge­jala­ge­jala se­pe­rti ini) tapi untuk me­nggugah dan me­mbangunkan masyarakat yang te­lah me­mbiarkan be­rlang­ sungnya pe­rbudakan yang be­gitu me­nakutkan.9 Apa yang dimaksudkan dengan istilah itu agaknya bisa diperjelas. dan cinta bebas. dan majalah Konkret di Jerman. di mana adegan­adegan seksual dilukiskan dengan bebas sekali. bahwa ke­ hadiran seks dalam kesusastraan Barat abad XIX dan awal abad XX tak bisa dilepaskan dari kehendak emansipasi sosial. Guevara. demikian pula kaum kaya baru. Kaum realisme­sosialis meletakkan “kemaksiatan feodal” sebagai salah satu musuh utamanya. Sebagaimana kaum feodal. Kita • goenawanmohamad. demikian pula Gigolo Asbari Nurpatria Krisna dan Laki­laki dan Kota dari Kelik Diono. satu lanjutan dari kekuasaan dan kekayaan yang tidak sah. Jika bagi kesusastraan Indonesia modern. Sastra.Me­re­ka me­nyatakan bahwa suatu ke­hidupan se­ksual yang le­bih me­rde­ka. juga termasuk di dalam kecenderungan tersebut. Semua itu. mempunyai kekuasaan untuk berbuat leluasa dalam kehidupan seksual. Dengan mengatakan hal itu.8 Apa yang dikatakan Steven Marcus itu menunjukkan. we­ll­e­ducate­d me­n of the­ uppe­r and more­ mode­rnize­d strata of socie­ty. 10 | Se­ks. pada mereka terdapat pelbagai ciri satu kelas menengah yang sedangbergerak— paling sedikit karena pendidikan. jika kita mengetahui betapa bebasnya kehidupan seks lapisan masyarakat Gusti Kanjeng seperti diceritakan oleh tokoh nenek dalam cerita Nugroho Notosusanto. Hippie­s. Dan ini pulalah yang masih terjadi hingga sekarang: Eros berada di sayap kiri. bisa diterangkan mengapa kesusastraan kita ditimbuni dengan karya­karya protes sosial. “Tayuban. bahwa seks dalam kesusastraan kita bukanlah pertanda sera­ ngan terhadap kehidupan seksual yang tak bebas. banyak sekali faktor yang ikut membentuknya. sebagai bagian dari lapisan sosial yang justru tidak aman dengan strata atas masyarakatnya. Yang goenawanmohamad. Mao. akan nampak suatu pola: seks adalah satu bagian logis dari keleluasaan berbuat. terutama Cross­ Mama.com • Seks. pa­ ra provo di Negeri Belanda. jika kita berbicara mengenai sikap terhadap seks dalam kesusastraan. maka bagi kesusastraan Barat seks justru lambang revolusi. menunjukkan prasangka­prasangka suatu kelas menengah yang sedang bergerak. dan pada umumnya dapat di­ katakan. yippie­s dan pementasan “Hair” di Amerika. beku dan borjuis (se­ perti yang terdapat dalam kesusastraan Eropa sejak awal abad ke­20 hingga­­ kini). Ke­ nyataan ini juga berlaku buat para penulis realisme sosialis. Cerita­cerita yang dibikin Motinggo Busye. Novel Korupsi dari Pramudya Ananta Toer dan Se­nja di Jakarta dari Mochtar Lubis adalah contoh terbaik dari pola itu. Dari situlah agaknya. tapi sementara itu juga bukan bagian dari tingkat paling bawah. pada dasarnya adalah baik. Kita |  . Bagaimanapun dislokasi­dislokasi sosial berlangsung secara ruwet. me­re­ka me­nggambarkan ke­ge­lisahan manusia mode­rn di dalam hipokre­si se­ksual. Persoalan yang untuk dijawab di sini ialah: mengapakah kontras ini? Aveling dalam studinya yang dikutip di atas menggambarkan para pengarang Indonesia sebagai on the­ whole­ young. Marcuse. wujud lama dari stratum atas masyarakat kita.com Dari situ pulalah agaknya bisa menjadi jelas mengapa sikap kita ter­ hadap seks dalam kesusastraan diwarnai oleh semacam puritanisme.” Dan jika kita memperhatikan bagaimana seks dimasukkan ke dalam karya­ karya sastra kontemporer kita. (yang notabene juga lahir dalam hubungan dengan gerakan emansipasi sosial) seks adalah simbol reaksi. Sastra.

adegan­adegan seks di buku­buku dan di mi­ ngguan­mingguan kita dewasa ini pada dasarnya adalah tempat bagi rasa senang dan rasa berdosa kita. Bagian penting hidup kita ditentukan oleh sistem ni itu. kita memang berdiri di tengahnya. Tapi. akan tetapi sekaligus merupakan milik khalayak homogin yang lebih toleran terhadap penggambaran seksual—karena rasa aman dari gangguan peruba­ han.com • Seks. Tabu telah dilanggar. Sastra. organisasi massa dan pengadilan. Tapi antara keduanya yang tampil bukanlah suatu “kontras yang aneh”. Membandingkan sikap terha­ dap nafsu berahi heteroseksuai dalam kesusastraan lama dengan yang dalam kesusastraan modern memang menarik. Apakah yang tinggal kemudian. Dalam keadaan semacam itu. sedang untuk menenteramkan rasa berdosa kita mengutuknya keras­keras. seperti yang kita lihat dalam versi Bali atas cerita Panji. gereja. termasuk inhibisi kita mengenai hal­hal yang bersifat genital. Dalam keadaan semacam itu Para pengarang serta hadirinnya mem­ punyai prerogatif untuk mengendurkan yang amat kaku.” Antara seks sebagai pengalaman berabad­abad dengan seks sebagai obyek research. Pengalaman kongkrit seksualitas kita telah diredusir menjadi soal hukum dan anti­hukum. selain dari pa­­da­­ konflik! Kesusa­­stra­­a­­n modern kita­­. Oleh sebab itulah. Kita |  . Bagi alam pikiran kita. Dalam masa seperti itu. dan sesaji harus diadakan. “Malat”. seperti yang dikatakan Aveling. pornogra­­fi da­­n cinta­­ beba­­s. Dalam kecemasan zaman ini. kini merupakan variasi ketegangan­ketegangan serta ketegangan dari variasi­variasi. Ini adalah kenyataan sosial yang terus semakin jelas. di lain pi­ hak berdiri dunia penonton blue­­film. menyenangkan dan indah. penggambaran seksual  | Seks. bukan cuma memiliki khalayak yang sudah intim. serta rasa pasti tentang diri sendiri. denga­­n tega­­knya­­ ya­­ng ra­­­ gu dan self­conscious. Inilah sebenarnya yang dilakukan oleh para pengisi koran­koran minggu di Jakarta—yang lazimnya disebut “koran porno” itu. Misteri asal yang agaknya te­ lah melahirkan relief erotis Candi Sukuh. yang berpadu dengan di­ siplin pendidikan Belanda. Kesu­ sastraan lama.com dapat tumbuh sedemikian rupa hingga keberahian terlukis secara wajar.terpenting di antaranya ialah pelbagai sistem nilai­nilai: keyakinan Islam. adat. telah digantikan oleh ta­ bu­tabu defensif yang berhadapan dengan rasa ingin­tahu. Di satu pihak mereka membongkar kisah­kisah pelanggaran susila. melainkan suatu kontrast yang wajar. Di satu pihak berdiri sensor. orang selalu condong untuk mendapatkan apa yang sering disebut sebagai “pegangan”. orang masih selalu ingin berlindung dalam apa yang dinamakan Lionel Trilling “kepastian­ kepastian sistematis. suatu hal yang menunjuk­ kan bukan saja masih kuatnya solidaritas serta ikatan. seperti yang kita dapatkan dalam buku Gatoloco di Jawa. Untuk memenuhi rasa se­ nang kita mendapatkan bahannya pada adegan­adegan semacam itu. justru dalam ma­ sa kegelisahan dan keguncangan sistem nilai­nilai yang ada. Bersama kita ialah kesusastraan Indonesia modern. dengan sebisa mungkin disertai detail dan gambaran­gambaran untuk menggelitik goenawanmohamad. apa yang diizinkan dan dilarang ten­ tang perkelaminan. tapi juga menunjukkan masih dibutuhkannya solidaritas serta ikatan itu. dapatkah kita mengharapkan prerogatif semacam itu dari ke­ susastraan modern? Kenyataan sejarah kebudayaan kita mengenai apa yang diketahui dan tidak diketahui tentang seks. seperti yang sudah disebutkan sebelumnya. hidup yang tanpa “pegangan” tidak cuma dirasakan (dan memang) riskan. namun juga dirasakan kurang patut. dengan posisinya yang gampang kena di te­ ngah­tengah masyarakat yang heterogin mau tak mau ditentukan seba­­gia­­n hidupnya­­ oleh konflik itu. Sastra. Bahkan penggambaran seksual dari si­ tu bisa berkaitan dengan hal­hal yang dekat dengan perlambangan mistik. Ini adalah kenyataan sosial yang amat jelas. Kita • goenawanmohamad. kepatuhan tradisional. tanpa ketegangan. serta me­ ngembangkan kehidupan fantasi mereka dengan gembira.

di mana penga­ rang memilih pose sebagai seorang libertin dan sekaligus sebagai pemberontak sosial yang meneriakkan seksual.” Tokoh utama ce­ rita ini. nafsu­berahi memang bukan untuk orang baik­baik dalam kesusastraan. Dalam derajat yang lain. hitam pe­kat. ketika ia menulis “La Ronde”:  | Seks. lalu surut agak ke­ bawah. tak menjijikkan. ke­ pusar se­gala. Be­rkisar di pusat. Tidakkah dengan demikian kita sebenarnya berada dalam situasi hipokrisi? Dalam tingkat tertentu. Kita berada dalam suatu ketegangan antara dorongan pembebasan emosional (yang berarti juga pembebasan individu dari sistem pantangan dan inhibisi) dengan ketakutan untuk nu­inberontak. suatu kontras yang mengharukan dengan sel penjara sebelumnya dan maut yang dipaksakan sesudahnya. Lalu paha. Ah. Da­­n ia­­ pun a­­ma­­n da­­ri sega­­la­­ tuduha­­n kotor. Seks yang terlam­ pau diteriakkan sama kurang meyakinkannya dengan seks yang di­ lenyapkan. Pualam pahatan me­ndukung le­ngkung pe­rut. saya kira begitu pulalah rahasia kelarisan buku­buku Motinggo Busye akhir­akhir ini: ia tahu akan konflik ya­­ng tersembunyi di ha­­ti pa­­ra­­ pemba­­ca­­nya­­. yang mengembalikan seksualitas ke dalam kehidupan. sebagaimana kita menerima badan sebagai diri kita. siap me­ne­rima dugaan indah. Freud dan Erich Fromm belum datang membantu kita. menemukan kembali hasratnya untuk hidup. Di sana seksualitas adalah bagian yang tak terkutuk. Kita |  . ia­­ mema­­ncing perhatian dan kegemaran mereka akan adegan tempat tidur. memang begitulah agaknya. lebih jelas. Sebelum bera­ ngkat dibawa oleh pembunuh­pembunuhnya.nafsu pembaca. Sebagaimana dikatakan Aveling. Apa yang tersirat di situ adalah juga yang tersirat dalam cerita Umar Kayam. Di lain pihak mereka tak tanggung­tanggung mem­ peringatkan bahaya immoralitas. dada yang le­mbut me­ne­kan hati Te­rimalah ke­matangan mimpi le­laki! Di dalamnya tidak kita lihat adanya “sikap berhati­hati tentang ba­ dan dan fungsi­fungsinya”—seperti yang dikatakan Aveling sebagai salah satu ciri kesusastraan kita—dan di dalamnya berkembang ke­ mungkinan keindahan pengalaman nafsu birahi.com • Seks. “Musim Gugur Kembali Di Connecticut. dalam persetubuhan dengan istrinya. Tono. Inilah saya kira yang telah dicapai Sitor Situmorang di pertengahan tahun 50­an. Yang kita butuhkan adalah semacam sikap wajar. dan tidak pula diaksentuasikan sebagai pernyataan protes yang melengking. Kita • goenawanmohamad. Tono mencium leng­ goenawanmohamad. Seksualitas di sini be­ gitu murni. meskipun kita semua tahu bahwa kita memilikinya dan bahwa nafsu itu merupakan bagi­ an yang sah dari hidup. Indonesia modern umumnya. Namun dengan demikian yang kita butuhkan bukanlah dengan sen­ dirinya sekian karya tentang coitus uninte­rruptus. dan dengan teknik yang lebih pandai. dan menerima kenyataan itu tanpa ketegangan. tapi ia sekaligus menebus perasaan bersalah mereka dengan moralisme da­­n bebera­­pa­­ tetes filsa­­fa­­t. Sastra. pe­nuh saran. Sastra.com Adakah yang le­bih indah dari bibir padat me­re­kah? Adakah yang le­bih manis dari ge­lap di bayang alis? Di ke­ningnya pe­lukis ragu: Me­ncium atau me­nye­limuti bahu? Tapi rambutnya me­nuntun tangan hingga pantatnya.

4. 135. A. dan mencium bau mani di sana. 9 Tabun VIII. Maret 1941. Johns. 10 Tahun IV. 330. Modern Indonesian Literature. Takdir Alisyahbana. Oktober 1969. hal. A Teetuw. yang kongkrit dan yang berharga. cetakan ke­4. 1967.com . Aidit. “The Thorny Rose: The Avoidance of Passion in Modern Indonesian Literature”. 10 Tahun IV. No. 38.an jaketnya. Shahnon Ahmad. Lih.B. Indonesia.  | Seks. hal. Indonesia. 418. 1964.N. Terjemahan tulisan itu. “Pornogra­­fi da­­n Kesusa­­stra­­a­­n”. Jassin Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei. Steven Ma­­rcus. hal. 3. New Haven. Jakarta. Harison.H. hal 14. hal. 5. Kita • goenawanmohamad. 1963. Yayasan “Pembaruan”. H.F. No. hal. 1969. 11 Tahun III. Martinus Nijhoff. dan yang tidak seha­ rusnya lenyap hanya karena nasib yang absurd. Sebagaimana begitulah kenyataannya. “Pengarang­pengarang Indonesia yang Malu­malu Dan Sipu­ sipu”. Sebab seksualitas dalam cerita ini memang pertanda kehidupan. November 1968. Te­ntang Sastra dan Se­ni. dimuat dalam Horison. No. Oktober. No. Lih. hal.. Cornell University. Modern Indonesia Project. atau bahkan sebelumnya. berikut tanggapan Shahnon Ahmad. Jakarta. dalam Ruth McVey (ed). dan ia tersenyum se­ bagaimana istrinya juga tersenyum: kenangan terakhir dari tanda kehidupan. S. MCMLXVII. Sastra. 7. 236­237. 7 (April). Ithaca. 298. New York. Lihat D.R. hal. H. “Genesis of a Modern Literature”. No. 8. Horison. Gunung Agung. 6. 2. (1969) Catatan Kaki: Harry Aveling. The Hague. 9. pada hakikatnya kita menyaksikan perdebatan mengenai soal tersebut. 67­76. Barangkali sebuah tulisan perlu ditulis secara tersendiri untuk menggambarkan kenyataan sejak polemik Takdir Alisyahbana dengan Sanusi Pane. 1. dalam Poe­djangga Baroe­. sampai dengan polemik LEKRA versus Manifes Kebudayaan. “Individualisme en Gemeenschapsbewustzijn in Moderne Indonesische Letterkunde”.A.