BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kemajuan teknologi sangatlah pesat, berbagai kemajuan teknologi
bermunculan dan terus berkembang salah satunya adalah VSat. Karena itu tak
heran bahwa Gudang semen tiga roda menggunakan alat tersebut untuk
melakukan segala operasional kerjanya. Sedangkan fungsi dari VSat itu
sendiri adalah untuk mengirim data dan menerima data ke satelit. Maksudnya
yaitu dalam hal pengiriman laporan maupun pencetakan surat jalan atau biasa
disebut DO ( Delivery Order ). Karena fungsinya yang sangat vital dan untuk
kelancaran operasional dalam pengiriman semen ke toko maka harus adanya
perlindungan atau proteksi pada alat tersebut.
Dalam hal ini penulis telah membuat sistem pentanahan /
grounding untuk melindungi Modem Internal yang ada pada VSat, karena di
Wilayah / Area Gudang semen Tiga Roda adalah daerah yang rawan akan
sambaran petir ataupun tegangan lebih yang diakibatkan oleh instalasi jaringan
yang ada di Pemalang.
B. Perumusan Masalah
- Bagaimanakah merencanakan sistem pentanahan / grounding
dengan nilai tahanan kurang dari 5 ohm.
- Berapa jumlah kebutuhan material yang akan digunakan untuk
merencanakan sebuah sistem pentanahan / grounding.
1
C. Pembatasan Masalah
Mengingat permasalahan yang ada merupakan perencanaan atau
pembuatan sebuah sistem pentanahan / grounding , maka penulis membatasi
hanya perencanaan sistem pentanahan , langkah – langkah dalam pelaksanaan
pembuatan sistem pentanahan / grounding dan cara melakukan pengukuran
sistem pentanahan / grounding.
D. Tujuan Penulisan
- Mendapatkan sistem pentanahan / grounding dengan nilai tahanan
kurang dari 5 ohm.
- Mengetahui jumlah kebutuhan material yang akan digunakan untuk
merencanakan sebuah sistem pentanahan / grounding.
E. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data untuk analisa dalam penulisan tugas
akhir yang berjudul “SISTEM PENTANAHAN SINGLE GROUNDING
PADA MODEM VSAT DI GUDANG SEMEN PEMALANG“ ini adalah :
- Pengumpulan bahan – bahan dan alat untuk merencanakan sebuah
sistem pentanahan yang handal sesuai dengan standar PUIL.
- Daftar Pustaka metodeuntuk membantu didalam menganalisa data
dilapangan dan untuk mendapatkan data – data sebagai acuan untuk
perencanaan suatu pekerjaan .
2
F. Metode Pembuatan
Metode yang digunakan dalam pembuatan sistem pentanahan
adalah :
- Pendefinisian yaitu menjelaskan sistem pentanahan / grounding
yang akan dibuat. Meliputi : sistem pentanahan / grounding yang
digunakan, pemilihan lokasi, pemilihan bahan dan alat yang
digunakan.
- Langkah – langkah yaitu hal – hal yang perlu dilakukan atau proses
dalam pembuatan sistem pentanahan / grounding.
- Pengujian / pengukuran yaitu menguji / mengukur sistem
pentanahan / grounding yang telah dibuat. Pengujian / pengukuran
sistem pentanahan / grounding dilakukan untuk mengetahui apakah
nilai tahanan dari sistem pentanahan / grounding itu sesuai dengan
yang telah ditetapkan atau dengan kata lain bahwa pembuatan sistem
pentanahan / grounding bekerja dengan baik atau tidak.
G. Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan dalam memahami isi dari Tugas Akhir ini
maka diuraikan penulisannya sebagai berikut :
Bab I Pendahuluan
Pada bab ini menjelaskan tentang latar belakang
masalah, tujuan penulisan dan manfaat penelitian, perumusan
masalah, pembatasan masalah, metode pengumpulan data, metode
3
pembuatan program, dan sistematika penulisan.
Bab II Tinjauan Pustaka
Pada bab ini berisi tentang teori dasar sistem
pentanahan, teori tentang pengetanahan peralatan dan teori tentang
VSat.
Bab III Permasalahan
Pada bab ini menjelaskan tentang alasan pembuatan
sistem pentanahan / grounding, pemilihan lokasi, pemilihan bahan,
bahan dan alat yang digunakan, langkah – langkah pemasangan
sistem pentanahan / grounding, dan pengukuran nilai tahanan
pentanahan / grouding.
Bab IV Pembahasan Masalah
Pada bab ini menjelaskan tentang masalah yang terjadi
dan cara penyelesaian masalh tersebut.
Bab V Penutup
Pada bab ini menjelaskan tentang kesimpulan dan
saran – saran dari keseluruhan pembahasan sistem pentanahan /
grounding.
Daftar Pustaka
4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. PENTANAHAN
1. Sistem Pentanahan
Salah satu faktor kunci dalam setiap usaha pengamanan
( perlindungan ) rangkaian listrik adalah pentanahan. Apabila suatu
tindakan pengaman / perlindungan yang baik akan dilaksanakan, maka
harus ada sistem pentanahan yang dirancang dengan benar. Prinsip –
prinsip standar pentanahan yang bisa digunakan, telah banyak tertulis
dalam laporan – laporan berbagai organisasi nasional yang berkaitan.
Agar sistem pentanahan dapat, bekerja efektif, harus
memenuhi persyaratan – persyaratan sebagai berikut :
a. Membuat jalur impedansi rendah ke tanah untuk
pengamanan personil dan peralatan, menggunakan rangkain yang
efektif.
b. Dapat melawan dan menyebarkan gangguan
berulang dan arus akibat surja hubungan ( surge currents )
c. Menggunakan bahan tahan korosi terhadap berbagai
kondisi kimiawi tanah, untuk meyakinkan kontinuitas
penampilannya sepanjang umur peralatan yang dilindungi.
d. Menggunakan sistem mekanik yang kuat namun
mudah dalam pelayanan.
5
Dalam setiap pembicaraan tentang pentanahan, pertanyaan
yang selalu timbul adalah “Seberapa kecil tahanan untuk pentanahan ?”,
Pertanyaan ini sulit dijawab dalam harga Ohm. Makin kecil makin baik.
Lebih jauh lagi, untuk perlindungan / pengamanan personil dan peralatan ,
patut diusahakan tahanan pentanahan lebih kecil dari satu satu Ohm. Hal
ini tidak praktis untuk dilaksanakan dalam suatu sistem distribusi, saluran
transmisi, ataupun dalam subsstasion distribusi. Di beberapa tempat,
tahanan sebesar 5 Ohm mungkin sudah sangat sulit dicapai tahanan
pentanahan dibawah 100 Ohm.
Beberapa patokan / standar yang telah disepakati adalah bahwa
saluran transmisi substasion harus direncanakan sedemikian rupa,
sehingga tahanan pentanahan tidak melebihi harga 1 Ohm. Dalam
substasion – substasion distribusi, harga tahanan maksimum yang
diperbolehkan adalah 5 Ohm. Dalam substasion – substasion ( 6 kV atau
lebih ) sistem sisi tanam untuk suatu substasion akan memberikan tahanan
pentanahan yang diinginkan ( Std IEEE 80-1976 mengatur masalah
pengaman personil dan sistem pentanahan substasion ). Dalam sistem
tersebut dapat timbul masalah, pada tegangan 33 kV atau lebih rendah,
biasa digunakan pentanahan dengan batang pasak.
Kisi – kisi pentanahan substasion tergantung pada kerja ganda
kisi dan pasak – pasak yang terhubung. Dari segi besarnya harga tahanan,
bahan yang dipakai pasak tidak mengurangi besar tahanan pentanahan
6
sistem, namun mempunyai fungsi tersendiri yang penting. Bahannya
sendiri mempunyai harga impedansi awal beberapa kali lebih tinggi
daripada harga tahanannya terhadap tanah pada frekuensi rendah. Hal ini
dapat mengurangi penyebaran akibat surja hubung yang efektif. Bahan
pentanahan dimaksudkan untuk mengontrol dalam batas – batas aman,
potensial – potensial pada arus – arus gangguan yang lebih tinggi. Pasak –
pasak adalah batang – batang sederhana, sebaliknya dapat memberikan
impedansi surja yang dapat berharga sekitar separuh harga tahanan
frekuensi rendahnya. Hal inilah penyebab utama jatuhnya tanah dalam
gradient tegangan yang tinggi pada permukaan pasak. Sebagai akibat dari
sifat – sifat ini, maka pasak harus ditempatkan didekat / sekitar bangunan
stasion. Pasak – pasak tentu saja akan dibutuhkan dalam saluran – saluran
tegangan tinggi ( 132 kV, 66 kV ) dimana tahanan maksimal 15 Ohm
masih bisa diterima, dan dalam saluran – saluran distribusi ( 33 – 0.4 kV )
dimana dipilih tahanan 25 Ohm.
Parameter – parameter ini umumnya dapat dipenuhi dengan
pemakaian teori – teori dasar pentanahan secara benar. Namun, selalu
timbul keadaan – keadaan, yang akan menyulitkan dalam memperoleh
tahanan pentanahan yang diingini. Apabila timbul keadaan demikian dapat
digunakan beberapa metode untuk menurunkan harga tahanan pentanahan,
antara lain sistem batang paralel, sistem pasak tanam dalam dengan
beberapa pasak, dan perlakuan terhadap kondisi kimiawi tanah. Metode –
metode lain juga telah banyak diperkenalkan, yaitu pelat tanam,
7
pengahantar tanam, dan beton kerangka baja yang secara listrik terhubung.
Sejenis tanah liat yang dikenal sebagai bentonite, karena kemampuannya
menyerap dan menahan air, dapat digunakan untuk mengurangi tahanan
tanah di daerah dimana tahanan tanah tinggi, dalam orde 300 Ohm meter
atau lebih.
2. Tahanan dan Pengaman
Sekarang marilah kita tinjau bagian lain dari sistem hubungan
pentanahan, yaitu tanah itu sendiri. Pertama, bidang kontak antara tanah
dengan pasak harus cukup luas, sehingga harga tahanan dari jalur arus
masuk atau melewati tanah masih dalam batas – batas yang diperkenankan
untuk penggunaan – penggunaan tertentu. Tahanan dari jalur tanah ini
relatif rendah dan kurang lebih tetap sepanjang tahun.
Untuk memahami mengapa tahanan tanah harus rendah, kita
gunakan hukum Ohm, yaitu :
E = I x R
Dimana :
E adalah tegangan dalam volt
I adalah arus dalam ampere
R adalah tahanan dalam ohm
Sebagai contoh, ada tegangan sumber 415 volt ( 240 volt
terhadap tanah ) dengan tahanan 4 Ohm. Sekarang, misalnya ada
gangguan / kekeliruan, sehingga kabel dari sumber yang mencatu motor
8
listrik menyentuh badan motor. Hal ini berarti kabel tersebut
menghubungkan ke sistem pentanahan yang mempunyai tahanan 20 Ohm
ke tanah ( lihat gambar 1 ). Menurut hukum Ohm akan ada arus sebesar
10 Ampere mengalir melewati badan motor ke tanah.
Sumber Gambar : Pengetanahan Netral Sistem Tenaga dan Pengetanahan Peralatan,
Erlangga, Jakarta
Gambar II 1..Gangguan yang tinggi pada tahanan tanah
Apabila seseorang menyentuh badan motor, maka dia akan
menerima tegangan sebesar 200 Volt ( yaitu 20 Ohm kali 10 Ampere ).
Hal ini dapat berakibat fatal, tergantung pada tahanan orang tersebut, yaitu
bervariasi dengan tegangan yang disentuhnya. Hubungan tahanan listrik
badan manusia ( dewasa dengan kulit kering ) dengan tegangan adalah
tidak linier dan untuk arus searah atau frekuensi sampai 100 Hertz, dapat
dilihat pada Tabel 1.
9
Tabel II.1
Potensial – potensial aman sentuh
Tegangan Sentuh
Rms ( V )
Tahanan Listrik
badan manusia ( Ω )
25
50
250
Harga asimptot
2500
2000
1000
650
Sumber Pustaka : Pengetanahan Netral Sistem Tenaga dan Pengetanahan Peralatan,
Erlangga, Jakarta
Besaran arus lewat badan, maksimum 10 mA untuk pria dan 8
mA untuk wanita, adalah besaran – besaran yang telah ditetapkan sebagai
patokan. Arus 100 mA atau lebih dinyatakan sebagai fatal. Publikasi IEC
479 “ Pengaruh – pengaruh arus yang melewati badan manusia “ memuat
grafik ( gambar 2 ) yang memperlihatkan daerah – daerah bahaya yang
diakibatkan oleh sentuhan terhadap sumber arus bolak – balik 50 / 60
Hz oleh orang dewasa.
10
Sumber Gambar : Pengetanahan Netral Sistem Tenaga dan Pengetanahan Peralatan,
Erlangga, Jakarta
Gambar II.2. Pengaruh / akibat arus melewati badan manusia :
- Daerah – daerah 1, 2, dan 3 : bahaya mati oleh sengatan listrik
praktis terhindar.
- Daerah – daerah 4 dan 5 : Bahaya mati oleh sengatan listrik.
Apabila arus yang melewati badan manusia dapat di batasi
dalam besaran dan waktu seperti pada daerah – daerah satu, dua, dan tiga,
maka bahaya mati oleh sengatan listrik dalam keadaan normal akan dapat
dihindari. Namun, dalam beberapa hal, intensitas kejutan dapat berakibat
orang terjatuh / terlempar, yang dapat menyebabkan cedera. IEC 364
memberikan batas waktu maksimum pemutusan hubungan terhadap
sentuhan dengan tegangan, seperti terlihat pada Tabel 2.
11
Tabel II.2
220
280

5
1
0,5
0,2
0,1
0,05
0,03
75
90
110
150
Tegangan yang
mungkin tersentuh ( V )
Waktu maksimum pemutusan
hubungan ( detik )
< 50
50
Sumber Pustaka : Pengetanahan Netral Sistem Tenaga dan Pengetanahan Peralatan,
Erlangga, Jakarta
Tegangan waktu maksimum sentuhan tegangan
3. Sifat – Sifat Dari Sebuah Sistem Elektroda Tanah
Hambatan – hambatan arus melewati sistem elektroda tanah
mempunyai tiga komponen, yaitu :
a. Tahanan pasaknya sendiri dan sambungan –
sambungannya.
b. Tahanan kontak antara pasak dengan tanah
sekitar.
c. Tahanan tanah di sekelilingnya.
Pasak – pasak tanah, batang – batang logam, struktur dan peralatan lain
biasa digunakan untuk elektroda tanah. Elektroda – elektroda ini
umumnya besar dan penampangnya sedemikian, sehingga tahananya
dapat diabaikan terhadap tahanan keseluruhan system pentanahan.
Tahanan antara elektroda dan tanah jauh lebih kecil dari yang
12
biasanya diduga. Apabila elektroda bersih dari cat atau minyak, dan tanah
dapat dipasak dengan kuat, maka Biro Standarisasi Nasional Amerika
Serikat menyatakan bahwa tahanan kontak dapat diabaikan.
Pasak dengan tahanan seragam yang ditanam ke tanah akan
menghantarkan arus ke semua jurusan. Marilah kita tinjau suatu elektroda
( pasak ) yang ditanam di tanah yang terdiri dari lapisan – lapisan tanah
dengan ketebalan yang sama ( Gambar 3 ).
Lapisan tanah terdekat dengan pasak dengan sendirinya
memiliki permukaan paling sempit, sehingga memberikan tahanan
terbesar. Lapisan berikutnya, karena lebih luas, memberikan tahanan yang
lebih kecil. Demikian seterusnya, sehingga pada suatu jarak tertentu dari
pasak, lapisan tanah sudah tidak menambah besarnya tahanan tanah
sekeliling pasak. Jarak ini disebut daerah tahanan efektif, yang juga sangat
tergantung pada kedalaman pasak. Dari ke – 3 macam komponen
“tahanan” tahanan tanah merupakan besaran yang paling kritis dan paling
sulit dihitung ataupun diatasi.
13
Sumber Gambar : Pengetanahan Netral Sistem Tenaga dan Pengetanahan Peralatan,
Erlangga, Jakarta
Gambar II.3. Komponen – komponen tahanan elektroda tanah.
a. Menghitung Tahanan Tanah
Persamaaan – persamaan untuk tahanan tanah dari
berbagai sistem elektroda cukup rumit, dan dalam beberapa hal
dapat dinyatakan dengan pendekatan – pendekatan. Semua
pernyataan dalam persamaan – persamaan itu diperoleh dari
hubungan :
R = ρ L / A
Dan didasarkan pada asumsi bahwa tahanan tanah
seragam pada seluruh volume tanah, kendati hal ini tidak
mungkin / sangat jarang ada. Rumus yang biasa digunakan untuk
pasak tunggal dikembangkan oleh Profesor H. B. Dwight dari
Institut Teknologi Massachusetts yaitu :
R =
) 1
4
1 (
2

a
L
n
L π
ρ
Dimana,
ρ = tahanan rata – rata tanah ( ohm – cm )
L = panjang pasak tanah ( cm )
α = jari – jari penampang pasak ( cm )
R = tahanan pasak ke tanah ( ohm )
14
b. Pengaruh Ukuran Pasak Terhadap Tahanan
Apabila pasak ditanam lebih dalam ke tanah, maka
tahanan akan berkurang. Secara umum dapat dikatakan, dua kali
lipat lebih dalam tahanan berkurang 40% ( Gambar 4.a). Namun,
bertambahnya diameter pasak secara material tidak akan
mengurangi besarnya tahanan kurang dari 10 %.
c. Pengaruh Tahanan Tanah Terhadap Tahanan
Elektroda
Rumus Dwight menunjukan, bahwa tahanan elektroda
pentanaha ke tanah tidak hanya tergantung pada kedalaman dan
luas permukaan elektroda, tetapi juga pada tahanan tanah.
Tahanan tanah merupakan faktor kunci yang menentukan tahanan
elektroda dan pada kedalaman berapa pasak harus ditanam
agar diperoleh tahanan – tahanan yang rendah. Tahanan sangat
bervariasi di berbagai tempat, dan berubah menurut iklim.
Tahanan tanah ini terutama ditentukan oleh kandungan elektrolit
di dalamnya, kandungan air, mineral – mineral dan garam –
garam. Tanah kering mempunyai tahanan tinggi, tetapi tanah basah
dapat juga mempunyai tahanan tinggi, apabila tidak mengandung
garam – garam yang dapat larut.
Karena tahanan tanah berkaitan langsung dengan
kandungan air dan suhu, maka dapat saja diasumsikan bahwa
15
tahanan pentanahan suatu sistem akan berubah sesuai perubahan
iklim setiap tahunnya. Variasi – variasi tersebut dapat dilihat
pada Gambar 4 karena kandungan air dan suhu lebih stabil pada
kedalaman yang lebih besar, maka agar dapat bekerja efektif
sepanjang waktu, sistem pentanahan dapat dikonstruksi dengan
pasak tanah yang ditancapkan cukup dalam di bawah permukaan
tanah. Hasil terbaik akan diperoleh apabila kedalaman pasak
mencapai tingkat kandungan air yang tetap.
Sumber Gambar : Pengetanahan Netral Sistem Tenaga dan Pengetanahan
Peralatan, Erlangga, Jakarta
Gambar II.4. Variasi – variasi tahanan tanah : ( a ) terhadap
kedalaman tanah ; ( b ) terhadap garis tengah pasak ; ( c )
16
terhadap iklim
4. Perencanaan Elektroda – Elektroda Pentanahan
a. Perencanaan Elektroda
Elektroda – elektroda pentanahan untuk sistem –
sistem distribusi sampai 33 kV umumnya adalah batas MS ukuran
minimum dengan garis tengah 20 mm atau pipa GI bergaris tengah
25 mm sepanjang 3 m ( dengan pertimbangan kekuatan terhadap
mekanis dan korosi ) ditanam ke tanah dengan kedalaman 0,5 –
0,75 m dari permukaan tanah. Pasak panjang dan d itancapkan
lebih dalam sangat bermanfaat dalam mengurangi tahanan tanah.
Di tempat – tempat ( denagn tahanan tinggi ) di mana
tahanan pentanahan yang diperoleh dengan susunan / konstruksi di
atas melampaui harga batas yang ditentukan, maka digunakan
elektroda jamak. Dalam hal digunakan 2 elektroda, hubungan antar
elektroda dibuat dengan plat strip MS dengan ukuran yang sama
dengan penghantar pentanahan, dan jarak antara elektroda tidak
boleh kurang dari 2 kali panjang elektroda. Apabila masih
diperlukan elektroda ketiga, maka elektroda ketiga harus
ditempatkan sedemikian rupa sehingga tiga buah elektroda
membentuk segitiga sama – sisi, dengan panjang sisinya tidak
17
boleh kurang dari 2 kali panjang elektroda. Untuk praktisnya,
tahanan dari dua atau tiga pasak dapat dihitung paralel, dan
tahanan total menjadi setengah atau sepertiga dari tahanan tanah
dengan menggunakan pasak tunggal. Kadang – kadang jarak antar
elektroda tidak dapat dibuat besar. Untuk itu ada rumus empiris
penentuan tahanan total dari berbagai macam susunan paralel,
seperti di bawah ini :
1) Dua pasak dipasang paralel
Tahanan 2 pasak parallel I + x
Tahanan pasak tunggal 2
L
Dimana, x = ( ) / d,
1 In 48 L/α –
dimana d jarak antara 2 pasak parallel
( a ) ( b )
Sumber Gambar : Pengetanahan Netral Sistem Tenaga dan
Pengetanahan Peralatan, Erlangga, Jakarta
Gambar II.5. Elektroda tanah :
a. Dalam susunan segi - empat kosong.
b. Dalam susunan segi – empat terisii.
18
2) Tiga pasak paralel berbentuk segitiga sama sisi dengan sisi = d
Tahanan 3 pasak paralel I + 2x
Tahanan pasak tunggal 3
3) Pasak jamak tersusun dalam segi empat kosong atau segi –
empat terisi seperti terlihat pada gambar 5. Apabila jumlah
pasak adalah N, maka :
Tahanan N pasak paralel I + kx
Tahanan pasak tunggal N
Dimana k adalah konstanta yang tergantung jumlah pasak, dapat
dilihat pada Tabel 3.
Tabel II.3
16.8933
19.5003
22.3069
24.9587
5.8917
8.5545
11.4371
14.065
7.1479
7.4195
7.6551
5.3939
6.0072
6.4633
6.8363
8
4 2.7071
4.2583
24
20
16
12
9
36
32
28
49
36
25
16
10 100
81
64
6
7
8
9
Segi - empat kosong
3
4
5
7
8
9
10
2
3
4
5
6
Jumlah Pasak sepanjang
sisi segi - empat
Jumlah Pasak
Seluruhnya
Harga k
Segi - empat terisi
Sumber Pustaka : Pengetanahan Netral Sistem Tenaga dan Pengetanahan
Peralatan, Erlangga, Jakarta
19
Hubungan – hubungan antar elektroda pada system
elektroda di buat di kedalaman 0,5 – 0,75 m dari permukaan
tanah.
Di tempat – tempat dimana system elektroda tanam
jamak tidak dilaksanakan karena keterbatasan ruang ataupun
alasan lain, maka dapat dilakukan usaha merubah sifat – sifat tanah
/ pengolahan tanah seperti telah dibahas terdahulu. Dapat juga
digunakan dua macam hubungan ke tanah yang terpisah dan
berbeda, yang masing – masing dapat dilewati arus gangguan
sepenuhnya.
b. Nomogram Pentanahan
Untuk membantu teknisi dalam menentukan kira –
kira kedalaman yang diperlukan untuk memperoleh tahanan yang
diingini, dapat digunakan Nomogram pentanahan seperti pada
Gambar 6. Sebagai contoh, untuk memperoleh tahanan 20 Ohm di
dalam tanah dengan tahanan 10 ohm – m, suatu batang MS dengan
garis tengah 18 mm harus ditancapkan sampai kedalaman 6 m.
Perlu dicatat, bahwa harga – harga dalam Nomogram tersebut
berdasarkan asumsi, bahwa tanah adalah homogen, dan karena itu
mempunyai tahanan seragam.
20
Sumber Gambar : Pengetanahan Netral Sistem Tenaga dan Pengetanahan
Peralatan, Erlangga, Jakarta
Gambar II.6. Nomogram pentanahan : 1. Pilih harga tahanan
yang diperlukan pada skala R ; 2. Tandai harga tahanan pada skala
P ; 3. Tarik garis penghubung 2 titik diatas dan teruskan sehingga
21
memotong skala K ; 4. Tandai titik potong dengan skala K ; 5.
Tarik garis penghubung titik potong di skala K dengan titik harga
garis tengah di skala DIA, dan teruskan sehingga memotong skala
D ; 6. Titik potong di skala D adalah harga kedalaman yang dicari.
5. Skema Pentanahan
a. Sistem Daya
Suatu system daya ditanahkan pada titik – titik yang
cocok menurut skema tertentu untuk memperoleh keuntungan –
keuntungan seperti : mengurangi harga peralatan, menekan biaya
operasi dan biaya pemeliharaan, meningkatkan pengaman,
meningkatkan keterandalan, dan meningkatkan penampilan. Ada
dua metode pentanahan seperti dijelaskan di bawah ini.
1) Sistem Yang Ditanahkan
Secara Efektif
Apabila suatu Generator, titik – titik netral
Transformer, titik – titik netral penunjang saluran / X – arm,
ditanahkan langsung di titik – titik tertentu pada substasion –
substasion dan sepanjang rangkaian. Dalam system seperti
ini, koefisien pentanahan tidak dapat melebihi 80%.
2) Sistem Yang Ditanahkan
Secara Tidak Efektif
Dalam hal ini, titik – titik netral system
ditanahkan melalui tahanan – tahanan dan reaktor – reaktor,
22
termasuk di dalamnya penetralisir gangguan ( kumpulan –
kumpulan penekan loncatan listrik atau arc suppression coils)
Di India, system ditanahkan secara efektif.
Koefisien pentanahan tergantung pada system urutan fasa nol
dan urutan fasa positif dan negatif reaktansi dan tahanan.
Penelaahan menyimpulkan, bahwa dalam suatu system
distribusi, koefisien pentanahan sedikit kurang dari 80%.
Pada system – system 110 kV dan 132 kV, umumnya
koefisien tersebut tidak melebihi harga 75 %.
b. Saluran – saluran dan Substasion –
substasion
Pentanahan saluran – saluran adalah penting karena
alasan – alasan di bawah ini :
1) Untuk memperoleh urutan fasa nol
impedansi, sehingga dapat diperoleh arus gangguan cukup
besar untuk dapa mengerjakan relai pemutus arus pada saat
terjadi gangguan.
2) Untuk pengamanan personil dan
ternak.
3) Untuk mengurangi gangguan
interferensi pada komunikasi dengan menjaga potensia l tanah
tetap rendah.
Setiap pole dari distribusi primer, tiga fasa, system tiga
23
kawat, dengan atau tanpa kabel tanah, harus ditanahkan, dengan
tahanan pentanahan tidak lebih dari 20 – 25 Ohm dan terpasang
sesuai dengan praktek pentanahan pada India Standard Code of
Practive for Earthing. Hal ini lebih menjamin pengamanan dalam
hal ada gangguan. Untuk perlindungan terhadap tegangan lebih
yang lebih baik, disarankan untuk memasang ( pada saluran –
saluran dengan kabel tanah ) suatu kabel tanah pada rentangan
dekat substasion distribusi. Ini akan mengurangi intensitas
gelombang pulsa yang datang, dan meratakan / membagi arus
gangguan dengan adanya jalur paralel, dan dengan demikian
mengurangi / menurunkan potensial – potensial tanah setempat
pada kondisi gangguan.
Sesuai aturan 90 IE :
1) Semua penyangga logam dari
saluran udara dan semua logam pemegang, harus secara
permanen dan efisien ditanahkan. Untuk maksud ini
digunakan kabel tanah dan dipasangkan secara baik pada
setiap pola dan terhubung ke tanah pada empat titik setiap
1,609 km, dengan jarak antara titik – titik sedapat
mungkin sama. Atau, setiap penyangga dan pemegang
tersebut ditanahkan secara efektif.
2) Setiap kabel yang tidak
tersambung ( stray wire ) harus ditanahkan dengan jalan yang
24
sama, kecuali berisolasi dan berada pada ketinggian tidak
kurang dari 3,048 meter ( 10 kaki ) dari tanah.
Dalam saluran – saluran, impedansi gangguan
maksimum harus sedemikian, sehingga pada kondisi gangguan,
arus gangguan tidak kurang dari 2,5 kali batas arus pengerjaan
relai, atau arus fasa utama. Urutan impedansi nol saluran dan
tahanan kaki dari kutub dapat dihitung untuk pengecekan syarat
arus gangguan tersebut. Di daerah perkotaan, harus dilengkapi
dengan gardu yang alasnya ditanahkan, baik untuk pemeliharaan
maupun untuk pengamanan personil atau ternak. Di daerah
pedesaan, saluran – saluran dengan atau tanpa kabel tanah harus
dibangun sedemikian rupa sehingga apabila penghantar putus akan
berakibat hubung singkat ke tanah, misalnya harus menyentuh
struktur kutub yang ditanahkan atau kabel tanah.
Pada saluran – saluran 33 kV, 11 kV dan tegangan
rendah cengkeraman penghantar pada tanah bertahanan tinggi
atau tanah kering dengan tahanan sedang, memberikan arus
gangguan yang lemah, dalam hal ini di bawah arus beban penuh
atau arus pengerjaan relai, atau arus fasa, karena kontak yang
kurang baik dan tahanan tanah yang tinggi. Pemutusan saluran
catu dalam hal ini tidak akan bekerja, atau fasa tidak akan putus.
Banyak sekali kecelakaan terjadi karena kondisi cengkeraman
penghantar yang kurang baik, meskipun pada tanah – tanah liat di
25
musim kering. Kecelakaan – kecelakaaan tersebut tidak dapat
dihindari kecuali ada tindakan – tindakan khusus, seperti
membuat agar terjadi hubung singkat ke tanah pada saat terjadi
gangguan dengan suatu perencanaan mekanik khusus dari tangkai
silang atau salurannya, dan lain sebagainya. Tindakan – tindakan
khusus tersebut telah lazim dilakukan di Negeri – negeri sebelah
selatan India ( lihat Gambar II.7. Tindakan lain adalah
memperkecil tahanam pentanahan dari elektroda – elektroda.
Sumber Gambar : Pengetanahan Netral Sistem Tenaga dan Pengetanahan
Peralatan, Erlangga, Jakarta
Gambar II.7. Susunan pentanahan X – arm
c. Saluran – saluran Tegangan Rendah dan
26
Tempat Tinggal Landasan
Dengan naiknya penggunan listrik untuk pemansan,
memasak dan lain – lain keperluan rumah tangga, jumlah
kecelakaan listrik meningkat sebagai akibat pentanahan yang tidak
memadai untuk kemungkinan arus gangguan yang besar. Dari
berbagai metode pentanahan yang lazim, perlindungan dengan
pentanahan jaman titik – titik netral dengan ikatan tititk – titik
berpotensial yang sama, merupakan yang terbaik yang
memberikan pengamanan maksimal. Hal ini menghindari
penggunaan kabel tanah yang mahal sehingga mengurangi beban
ekonomi. Namun pengguanaan metode tersebut memerlukan
paling sedikit tiga elektroda setiap kilometer saluran, pemasangan
elektroda di tempat langganan, pengisolasian kabel – kabel, dan
sebagainya. Tahanan pentanahan harus cukup dibuat rendah agar
dengan cepat fasa dapat putus ( tidak lebih dari 6 Ohm ). Ini
biasanya dilengkapi dengan tiga buah elektroda 20 Ohm setiap
kilometer, atau lebih banyak lagi elektroda dengan harga Ohm
yang lebih tinggi. Tahanan elektroda tanah dapat direndahkan lagi
di tempat – tempat rawan dengan penggunaan pasak – pasak jamak
secara setempat ( lokal ), dalam hal ini lebih banyak dipilih model
segitiga dengan sisi – sisi paling sedikit dua kali panjang elektroda.
Aturan – aturan 33 dan 90 IE tidak secara khusus
memberikan pentanahan jamak untuk system tegangan rendah.
27
Pernyataan dalam aturan itu lebih ditekankan pada naiknya arus –
arus gangguan dan jumlah kecelakaan dalam system – system.
Keuntungan – keuntungan perlindungan pentanahan jamak atau
pentanahan jamak titik – titik netral semu ini mungkin untuk
digunakan industri catu daya untuk langganan secara aman, dan
merupakan suatu sistem yang lebih efisien dan murah dibanding
yang lain.
d. Perlindungan Gangguan dari Saluran
Catu pada Kondisi Arus Gangguan yang Lemah
Umumnya, gangguan – gangguan dalam system
distribusi adalah :
1) Penghantar fasa menyentuh logam
tangkai silang ( yang terhubung ke tanah ) melalui penyangga
atau secara terpisah.
2) Penghantar fasa menyentuh kabel
netral pentanahan jamak, pada tegangan rendah.
3) Cengkeram penghantar fasa pada
tanah – tanah dengan tahanan rendah, menengah maupun
tinggi.
4) Gangguan – gangguan loncatan
28
listrik.
5) Ikatan titik netral pentanahan
jamak.
Relai elektromagnetik umumnya disetel pada batas
arus terendah, pada 10% harga arus gangguan saluran termaksud.
Kerja relai – relai tersebut tergantung pada besar dan lamanya
terjadi arus gangguan. Relai – relai ini akan gagal dalam hal
tahanan pentanahan tinggi, atau arus gangguan yang lemah, atau
kondisi cengkeraman penghantar yang kurang baik. Cengkeraman
akan berkurang baik pada tanah keras atau tanah dengan tahanan
tinggi termasuk tanah berbatu – batu. Gangguan – gangguan dalam
hal seperti itu selanjutnya akan sulit dideteksi oleh relai
elektromagnetik meskipun dalam waktu yang culup lama, berjam
- jam sesudah kejadian, dan akan berbahaya terhadap manusia atau
ternak.
Tahanan dari titik gangguan tidak perlu menyebabkan
hubung singkat, terutama dalam saluran – saluran udara tegangan
rendah. Arus tegangan gangguan ini umumnya lebih kecil daripada
arus gangguan yang terjadi dalam kondisi cengkeraman
penghantar yang kurang baik
Sebagai hasil peneliti di Rusia, pengukuran –
pengukuran tahanan tanah pada penghantar telanjang yang jatuh ke
29
berbagai lapis permukaan tanah, dapat dilihat pada Tabel 4.
Tahanan tanah dari penghantar telanjang yang jatuh ke
tanah ( panjang 30 m, penampang 16 mm2 )
Tabel II.4
1Tanah liat dengan rumput jarang Sangat basah 101
2Tabah subur dengan rumput tebal basah 167
3Tabah berair ditanam Kering 583
4Jalan dengan kerikil dipadatkan Kering 690
5Parit berair, tanah subur, permukaan liat Kering 28
6Jalan aspal Basah 653
7Salju pada - 12 C Kering 1000
Tahanan rata -
rata ( Ohm )
SN Uraian tanah Cuaca
Sumber Pustaka : Pengetanahan Netral Sistem Tenaga dan Pengetanahan
Peralatan, Erlangga, Jakarta
Juga tahanan tanah dari penghantar tembaga telanjang
sepanjang 35 m, terletak di tanah lunak, telah menunjukan, bahwa
tahanan ini membesar dari 120 – 200 Ohm. Setelah penghantar
yang sama ditekan ke tanah jatuh sampai 8 – 10 Ohm, dan hanya
apabila ditempatkan di dalam parit berair maka tahanan akan jatuh
sampai sebesar 3 Ohm. Salah satu penolong untuk menjamin
keamanan terhadap gangguan – gangguan tersebut adalah dengan
relai – relai static yang bekerja berdasarkan sifat – sifat tertentu
dari gangguan.
e. Penyebab tidak Bekerjanya Relai
Elektromagnetik pada Kondisi Gangguan Lemah
Penyebab utama tidak bekerjanya relai – relai
30
elektromagnetik pada kondisi gangguan yang lemah adalah :
1) Selain kondisi cengkeraman
penghantar ke tanah, gangguan pada tahanan pentanahan
yang tinggi dapat menimbulkan arus gangguan dalam daerah
satu sampai beberapa Ampere, yang masih jauh lebih rendah
dari arus minimum yang dibutuhkan relai, meskipun relai
sudah di – stel pada batas arus terendah.
2) Cengkeraman penghantar pada
tanah dengan tahanan tinggi atau bahkan pada permukaan
keras tanah kering dengan tahanan sedang mengahsilkan
kontak yang kurang baik dengan permukaan tanah menjadi
demikian tinggi, sehingga arus gangguan yang timbul dapat
rendah dari batas arus terendah relai.
3) Kontak yang kurang baik dari
penghantar yang hanya dijatuhkan / diletakan ke tanah yang
sangat keras dapat menimbulkan loncatan listrik ke tanah
yang mengakibatkan danya arus yang sangat lemah, sekitar
beberapa ratus miliAmprere.
f. Pemilihan Relai – relai Statik
Dengan mempelajari hal – hal di atas, dapat
disimpulkan bahwa relai statik akan dapat dengan baik bereaksi
terhadap gangguan, apabila pemilihannya didasarkan pada sifat –
31
sifat gangguan berikut ini :
1) Sinyal tegangan ditimbulkan
karena adanya arus gangguan melewati transactor atau relai –
relai gangguan ( elektromagnetik ) diujung netral dari bagia
sekunder WYECT saluran termaksud.
2) Besaran tegangan membesar untuk
gangguan yang lebih kuat, sampai transfer arus yang
bersangkutan penuh.
3) Sinyal – sinyal gangguan pada
gangguan – gangguan yang besar akan berfrekuensi dasar
kecuali pada beberapa awal.
4) Sinyal – sinyal tegangan pada
gangguan – gangguan dengan tahanan pentanahan yang
tinggi akan berfrekuensi dasar ditambah frekuensi harmonisa
– harmonisa kuat. Spektrum harmonis tergantung pada
tahanan pentanahan, dalam hal ini tahanan tanah / permukaan
tanah.
5) Sinyal tegangan yang ditimbulkan
oleh gangguan loncatan listrik adalah tidak kontinyu. Kadang
– kadang dapat timbul lagi pada interval waktu yang acak,
dan hilang selama satu sampai beberapa detik.
6) Pita frekuensi harmonisa –
harmonisa adalah antara 100 dan 850 Hz, dan dalam
32
beberapa hal, pita frekuensi ini akan berada dalam orde
kilocycle. Spektrum frekuensi harmonisa cukup padat pada
gangguan – gangguan dengan tahanan pentanahan yang
tinggi.
7) Sinyal – sinyal tegangan yang
ditimbulkan arus karena saluran SWER terhubung ke saluran
catu tiga fasa, terutama akan berfrekuensi dasar dengan atau
tanpa harmonisa – harmonisa rendah.
8) Sinyal – sinyal palsu dengan
kekuatan 5 sampai 10 mV, yang muncul di sekunder
transactor tanpa adanya gangguan, dianggap tidak ada atau
dibuat menjadi sangat tidak berarti.
g. Mode – mode Fungsional dari Relai –
relai Statik
Berdasarkan sifat – sifat gangguan seperti yang telah
dibahas di atas, biasanya di pilih 3 mode fungsional sedemikian
rupa sehingga relai dapat tetap bekerja meskipun dalam gangguan
dengan tahanan tanah yang tinggi / gangguan lemah. Hal ini
dilaksanakan oleh tiga bagian yang berada dalam relai itu. Bagian
– bagian tersebut menerima sinyal tegangan akibat arus gangguan
sebagai sinyal masukan dari suatu inti setimbang transformator
arus dalam hal saluran – saluran dan melalui transactor dalam hal
saluran – saluran tegangan tinggi atau transformator –
33
transformator sebagai berikut :
1) Bagian pertama dirancang untuk
bereaksi terhadap gangguan kuat dengan perlengkapan
IDMT.
2) Bagian kedua dirancang untuk
bereaksi terhadap gangguan pada tahanan tanah yang tinggi
termasuk kondisi cengkeraman penghantar pada permukaan
tanah yang keras dengan tahanan menengah / tinggi, dengan
pembedaan yang baik dan waktu reaksi yang cukup untuk
stabilitas terhadap sinyal palsu.
3) Bagian ketiga dirancang untuk
mendeteksi kondisi cengkeraman penghantar pada tanah
dengan tahanan tinggi atau tanah berbatu – batu dengan
menggunakan sinyal – sinyal yang sangat lemah, lebih lemah
daripada sinyal pada bagian kedua.
Diagram lok untuk relai perlindungan saluran catu 11
kV dan saluran catu tegangan rendah terlihat dalam Gambar 8.
Relai – relai ini lebih murah, namun memerlukan pemilihan dan
penyetelan yang hati – hati. Juga diperlukan faktor stabilitas,
karena relai kadang – kadang bekerja oleh kemungkinan adanya
loncatan listrik di setiap bagian system yang bersangkutan.
34
Sumber Gambar : Pengetanahan Netral Sistem Tenaga dan Pengetanahan
Peralatan, Erlangga, Jakarta
Gambar II.8. Diagram blok dari relai setengah penghantar
untuk gangguan ; ( a ) Untuk saluran catu utama ; ( b ) Untuk
saluran catu tegangan rendah.
6. Pengujian Tanah
a. Metodologi
Pengujian tanah dilaksanakan dengan metode megger
tanah, yang berdasarkan harga potensial. Marilah kita tinjau
elektroda tanah dari pipa E yang ditanam, dan diandaikan ada
potensial antara pipa E dan batang pasak R yang ditanam pada
jarak yang cukup jauh, seperti pada Gambar 9. Arus yang mengalir
35
diukur dengan meter A. Apabila batang pasak yang lain, yaitu P
sekarang ditanam di beberapa tempat di sekitar E, Voltmeter akan
menunjukkan pada potensial antara pipa E dengan pasak P di
beberapa tempat tersebut. Menurut hukum Ohm, beda potensial ini
berbanding langsung dengan tahanan tanah. Dari sini dapat di –
plot hubungan antara tahanan dengan jarak dari pipa E, seperti
terlihat pada Gambar 10. Terlihat bahwa tahanan memperbesar
dengan kedudukan P semakin jauh dari pipa E, dan bahwa
kenaikan tersebut dengan cepat berkurang dan bahkan pada jarak
tertentu dari pipa E, kenaikan dapat diabaikan karena sangat kecil.
Pada kenyatannya, tahanan pada jarak ini berkisar 99% dari
tahanan keseluruhan pada jarak tidak terbatas. Dengan cara yang
sama, kurva dapat di – plot dari arah yang lain, sehingga diperoleh
titik – titik dalam satu daerah yang disebut daerah tahanan.
Persyaratan yang harus diperhatikan adalah :
36
Sumber Gambar : Pengetanahan Netral Sistem Tenaga dan Pengetanahan
Peralatan, Erlangga, Jakarta
Gambar II.9. Metode harga potensial tanah
1) Elektroda R harus cukup jauh dari
elektroda E, sehingga daerah tahanan tidak saling menutup (
overlap ).
2) Elektroda P harus ditempatkan di
luar dua daerah tahanan, dalam hal ini ditempatkan pada
daerah datar dari kurva.
3) Elektroda P harus terletak di antara
elektroda – elektroda R atau E, pada garis penghubung.
37
Sumber Gambar : Pengetanahan Netral Sistem Tenaga dan Pengetanahan
Peralatan, Erlangga, Jakarta
Gambar II.10. Pengaruh daerah tahanan R yang jauh terhadap
kurva harga potensial.
b. Penguji Tanah
Alat ini digunakan untuk mengukur tahanan elektroda
tanah dan tahanan tanah. Model yang banyak dipakai adalah tipe 4
terminal, yang memberikan keluaran bolak – balik. Merupakan
kombinasi dari Ohmmeter kumparan silang ( ratic – meter ) dan
generator putar tangan tipe khusus dimana arus bolak – balik
dilewatkan ke tanah sedangkan arus searah dilewatkan ke
peralatan pengukur. Peralatan ini umumnya mempunyai daerah
tegangan 10 – 110 Volt, dengan daerah arus sampai 5 mA,
frekuensi 92 – 95 Hz, daerah Ohm dari 0,2 sampai 10.000 Ohm.
Perancangan setempat diperlukan dalam pengujian dengan daerah
tegangan mendekati 50 – 200 V.
38
Ohmmeter mempunyai dua buah kumparan yang
terpasang dengan sudut tetap satu sama lain pada satu sumbu dan
bergerak dalam medan magnet dari magnet permanen ( PM ).
Suatu arus yang sebanding dengan arus keseluruhan yang mengalir
dalam rangkaian penguji, mengalir melewati kumparan arus (CC),
sedangkan kumparan potensial ( PC ) dialiri arus yang sebanding
dengan tegangan jatuh di tahanan yang diuji. Sistem kumparan
silang ini membuat peralatan mampu bekerja sebagai Ohmmeter
sebenarnya, yaitu memberikan pembacaan Ohm, namun bebas dari
pengaruh tegangan masuk, kecepatan putaran dan tahanan kontak
dari pasak – pasak tanah.
Hubungan – hubungan dari penguji tanah ini dapat
dilihat pada Gambar 11. Arus searah dari generator melewati
kumparan arus ( CC ) dari Ohmmeter ke pembalik arus yang
berputar dikendalikan dari handle generator. Arus bolak – balik
dengan demikian diteruskan ke terminal – terminal arus ( terminal
C1 dan C2 dalam gambar ) dari peralatan uji, yang terhubung ke
kontak penguji. Kumparan potensial ( PC ) dari Ohmmeter dicatu
dari terminal potensial ( terminal P1 dan P2 dalam gambar) dengan
terminal P2 terhubung ke tanah.
39
Sumber Gambar : Pengetanahan Netral Sistem Tenaga dan Pengetanahan
Peralatan, Erlangga, Jakarta
Gambar II.11. Diagram kerja penguji tanah
Karena catu kumparan potensial Ohmmeter diambil
dari terminal P1 dan P2 maka catu ini bolak – balik : oleh karena
itu harus dibuat searah sebelum melewati kumparan potensial.
Suatu komutator yang terpasang pada satu sumbu dan bekerja
sinkron dengan pembalik arus akan berfungsi sebagai penyearah
yang terpasang di antara terminal – terminal ini dilengkapi dengan
system komutator sinkron elektronik.
Dalam hal ini baik kumparan arus maupun kumparan
potensial dari Ohmmeter dicatu dengan arus searah. Tetapi bagian
yang ke anah dari rangkaian penguji dicatu dengan arus bolak –
balik.
40
Metode Penggunaan
Dalam pengujian dengan suatu penguji tanah, jarak
antara elektroda merupakan faktor terpenting, oleh karena itu harus
dijaga agar tidak dua tahanan saling menutup ( overlap ).
Secara umum, petunjuk – petunjuk berikut ini mungkin
dapat membantu. Dalam penguji elektroda tanah yang terdiri dari
pipa tanam atau plat tanam tunggal, elektroda arus harus dibuat /
ditempatkan sejauh 30 m dari elektroda yang diuji, dan elektroda
potensial sejauh 15 m. Apbila elektroda tanah adalah kisi – kisi
pentanahan, jarak – jarak tersebut harus lebih jauh lagi.
Elektroda arus temporer ditanam pada jarak yang
cukup dari elektroda yang diuji. Tiga pembacaan dilakukan dengan
elektroda potensial ditanam ditiga titik berturut – turut, pertama di
tengah – tengah antara elektroda tanah yang diuji, dan ketiga
dengan jarak 3 m lebih dekat ke elektroda kedua. Apbila diperoleh
tiga pembicara sesuai satu sama lain dalam batas – batas ketelitian
pengukuran yang diperlukan, maka tahanan dari hubungan tanah
adalah harga rata – rata tiga pembacaan tersebut. Namun, bila ada
kesesuaian, elektroda arus harus dipindah dan ditanam pada jarak
yang lebih jauh lagi dari elektroda yang diuji. Sekali lagi diambil
tiga pembacaan. Proses keseluruhan berulang sampai diperoleh
harga – harga pembacaan yang sesuai.
41
Elektroda potensial harus ditempatkan dalam satu garis
di antara elektroda arus dan elektroda yang diuji.
Pengukuran – pengukuran tahanan tanah dilakukan
dengan metode 4 – probe Wenner* berikut ini. Sambungan L1
dipindah. Dua elektroda yang diluar digunakan sebagai elektroda –
elektroda arus yang terhubung ke terminal C1 dan C2, dan dua
elektroda yang didalam digunakan sebagai elektroda – elektroda
potensial yang terhubung ke terminal P1 dan P2. Semua elektroda
dibuat berjarak sama dan pada satu garis lurus. Meter akan
memberikan pembacaan langsung dalam tahanan, dan tahanan
tanah dihitung dengan rumus berikut ini :
· ρ
2 π a R
Di mana, :
Ρ = resistivitas tanah dalam ( Ohm – m )
a = jarak antara elektroda dalam ( m )
R = tahanan dalam ( Ohm )
B. PENGETANAHAN PERALATAN
Pengetahanan peralatan berbeda dengan pengetanahan system.
Pengetanahan peralatan berarti hubungan peralatan dengan tanah, sedang
pengetanahan system adalah hubungan salah satu konduktor yang pada
keadaan normal dialiri arus tegangan dengan tanah.
42
Semua peralatan di GIS, baik itu rangka pemutus ( PMT atau
PMS ), transformator tenaga, maupun transformator instrument ( VT atau
CT ), harus diketanahkan melalui penghantar pembumian ( rod ) yang harus
terhubung ke bidang pembumian ( grid ) yang ditanam pada kedalaman
tertentu dan berfungsi untuk mengalirkan arus bocor ke tanah.
Jadi yang dimaksud dengan pengetanahan peralatan adalah
pengetanahan dari peralatan – peralatan di GIS yang pada kerja normal tidak
dilalui arus. Tujuan dari pengetanahan peralatan adalah sebagai pengaman
bagi seseorang atau personil yang berada dalam daerah gardu induk bila
terjadi hubungan singkat ke rangka peralatan akibat gangguan tersebut.
Pada pembangunan suatu GIS, perlu diperhatikan bahwa bila
terjadi kesalahan seperti hubungan singkat ke tanah, maka akan ada arus listrik
yang besar yang mengalir ke tanah. Hal ini mengakibatkan timbulnya gradient
tegangan di permukaan tanah dari GIS itu dan sekitarnya. Juga akan terdapat
suatu beda potensial antara peralatan yang satu dengan yang lain dan antara
peralatan dengan permukaan tanah. Perbedaan ini dapat terjadi karena adanya
tekanan tanah. Tegangan yang timbul tadi dapat membahayakan personil –
personil yang pada saat terjadi kesalahan berada pada gardu tersebut karena
ada arus listrik yang mengalir melalui badan manusia yang sangat
membahayakan. Arus inilah yang disebut arus kejut.
43
1. Bahaya Bagi Manusia
Berat ringannya bahaya yang dialami tubuh manusia
tergantung pada besar arus dan lintasan arus listrik yang melalui tubnh
manusia, lama arus tersebut mengalir, serta kondisi orang terhadap
tegangan tersebut.
Pada kenyataan, walaupun arus yang melewati tubuh kita
kecil dan dalam waktu yang lama akan tetap berbahaya bagi badan kita,
bila dibandingkan dengan arus yang lewat besar, tetapi dengan waktu yang
singkat, maka tidak akan berbahaya.
Berdasarkan penyelidikan oleh Dalziel, diperoleh bahwa
ventricular vibrillation current merupakan fungsi dari berat tubuh, besar
arus dan selang waktu arus mengalir. Dalziel menentukan hubungan antara
arus listrik dan selang waktu sebagai berikut : ( Ir. Hutauruk, 1991, p135 )
I k2t = K ( 2.1 )
Persamaan ( 2.1 ) dapat diubah menjadi :
Ik =
t
k
( 2.2 )
Dimana :
k :
K
Ik = harga rms dari arus yang melalui tubuh kita ( dalam ampere )
t = selang waktu dimana badan dilalui arus atau lama gangguan
tanah (detik )
K = konstanta empiris.
44
Kesimpulan yang dapat ditarik oleh Dalzial bahwa 99,5% dari
semua orang yang beratnya lebih kurang 50 kg masih dapat bertahan
terhadap besar arus dan lamanya waktu dari persamaan tadi.
- Untuk berat manusia 50 kg harga K = 0,0135
- Untuk berat manusia 70 kg harga K = 0,0246
Maka besarnya arus yang masih dapat ditahan seseorang adalah :
( IEEE Std 80, 1980, p4n )
- untuk berat manusia 50 kg →Ik =
t
116 , 0
( 2.3
)
- untuk berat manusia 70 kg →Ik =
t
157 , 0
( 2.4
)
Dengan mengetahui batas arus yang berbahaya bagi manusia
kita dapat menentukan batas tegangan yang berbahaya, sehingga untuk
dapat mengenai sasaran, maka akan ditinjau macam – macam tegangan
yang dapat timbul pada saat kesalahan yang mungkin membahayakan.
Secara umum perbedaan tegangan yang selama mengalirnya arus
gangguan ke tanah dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu :
a. Tegangan Sentuh ( Touch Voltage )
Tegangan sentuh adalah beda potensial antara kenaikan
potensial tanah dengan potensial pada titik di ipermukaan tanah,
dimana seseorang berdir sambil menyentuh suatu peralatan yang
45
ditanahkan pada saat terjadi gangguan ke tanah.
Sumber Gambar : Pengetanahan Netral Sistem Tenaga dan Pengetanahan
Peralatan, Erlangga, Jakarta
Gambar II.12 Tegangan sentuh dengan rangkaian penggantinya
Besarnya arus gangguan dibatasi oleh tahanan orang
dan tahanan kontak ke tanah dari kaki orang tersebut ( Gambar
II.12 )
Dari gambar di atas, terlihat bahwa seseorang yang
berdiri dalam suatu serandang ( switchyard ) sambil menyentuh
peralatan yang ditanahkan. Sebagai rnisal R„ adalah tahanan tubuh
manusia, Rp adalah tahanan tanah tepat di bawah setiap kaki,
sedang RMF adalah tahanan gandeng ( mutual resistance ) antara
masing - masing RF Rangkaian ekivalennya dari kejadian di atas
dapat digambarkan seperti gambar ( II.12 ). Dengan melihat
gambar didapat ( II.12 ), didapat :
46
ES = ( RB + R2Fp ) Ik ( 2.5 )
R2Fp adalah tahanan dari tanah di bawah dua kaki
yang merupakan hubungan paralel. Akibat dari lapisan tipis
permukaan batu karang dan struktur dua lapisan tanah ( ρ1, ρ2 )
maka :
R2Fp =
2
RMF RF +
( 2.6 )
Dengan mengasumsikan harga yang dianjurkan oleh
IEEE, yaitu :
RB = 1000 Ω
RF = 3 ρS,
maka didapat besarnya tegangan sentuh maksimum yang masih
dapat ditahan, yaitu : ( IEEE Std 80, 1980, p4n )
Es50 = ( 1000 + 1,5 Cs ρs )
t
116 , 0
( 2.7 )
Es70 = ( 1000 + 1,5 Csρs )
t
157 , 0
( 2.8 )
dimana :
ρs : tahanan jenis tanah di permukaan tanah ( Ω m )
RMF : relatif kecil sehingga dapat diabaikan terhadap RF
karena tahanan kontak tangan biasanya sangat rendah,
terutama untuk tangan yang basah ( Ohm )
IK : besarnya arus yang mengalir melalui tubuh manusia
47
( persamaan 2.3 dan 2.4 )
Es50 : tegangan sentuh maksimum yang masih dapat ditahan
orang dengan berat badan ± 50 kg ( dalam Volt )
Es70 : tegangan sentuh maksimum yang masih dapat ditahan
orang dengan berat badan ± 70 kg ( dalam Volt )
t : lamanya gangguan tanah ( detik )
Cs : faktor reduksi dari rating nilai nominal tahanan jenis
lapisan permukaan. ( IEEE Std 80, 1980, p41 )
Cs :
960 , 0
1
( 1 + 2 Σ
)
) 2 )
08 , 0
2
( 1 ( 1
nhs
n
Kn
+ ·
( 2.9 )
hs = ketebalan dari lapisan system permukaan crushed
rack ( meter )
K = faktor refleksi rumusnya, ( F. Dawalibi, 1979, p1659 )
K =
1 2
1 2
ρ ρ
ρ ρ
+

( 2.10 )
ρ1 = tahanan jenis tanah lapisan atas ( Ω )
ρ1 = tanahan jenis tanah lapisan bawah ( Ω )
Dengan persamaan ( 2.7 ) dan persamaan ( 2.8 ) dapat
diketahui besarnya tegangan sentuh yang terjadi. Pada table ( II.5 )
diberikan besar tegangan sentuh yang diijinkan dan lamanya
gangguan. Dari table tersebut diterangkan bahwa semakin besar
lamanya gangguan yang terjadi pada suatu peralatan GIS, maka
48
tegangan sentuh yang diijinkan akan semakin kecil.
Tabel II.5
Lama gangguan t
( detik )
Tegangan sentuh yang diijinkan
( Volt )
0,1
0,2
0,.3
0,4
0,5
1,0
2,0
3,0
1.980
1.400
1. 140
990
890
626
443
.362
Sumber Pustaka : Ir. Hutauruk, 1991, p135
Tegangan sentuh yang diijinkan dan lama gangguan
b. Tegangan Langkah ( Step Voltage )
Tegangan langkah adalah beda potensial pada
permukaan tanah dari dua titik yang berjarak satu langkah (1
meter), yang dialami oleh seseorang yang menghubungkan kedua
titik tersebut dengan kedua kakinya tanpa menyentuh suatu
peralatan apapun. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada gambar
II.13.
49
Sumber Gambar : Pengetanahan Netral Sistem Tenaga dan Pengetanahan
Peralatan, Erlangga, Jakarta
Gambar II.13 Tegangan langkah dengan rangkaian
penggantinya.
Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa :
E£ = ( RB – R2FS ) Ik ( 2.11 )
R2FS adalah tahanan tanah di bawah kedua kaki yang merupakan
hubungan seri dari RF, yaitu :
R2FS = 2 ( RF – RMF ) ( 2.12 )
Dengan menggunakan asumsi seperti pada tegangan
sentuh, maka didapat tegangan langkah yang besarnya adalah :
( IEEE, Std 00, 1986, p46 )
E£50 = ( 1000 + 6Csρs ) ( 2.13 )
E£70 = ( 1000 + 6Csρs ) ( 2.14 )
50
dimana :
E£50 = tegangan langkah maksimum yang masih dapat ditahan
orang dengan berat badan ± 50 kg ( dalam Volt )
E£70 = tegangan langkah maksimum yang masih dapat ditahan
orang dengan berat badan ± 70 kg ( dalam Volt )
t = lamanya gangguan tanah ( detik )
CS = faktor reduksi dari rating nilai nominal tahanan jenis
lapisan permukaan ( persamaan 2.9 )
hS = ketebalan dari lapisan system permukaan crushed rock
(meter)
K = faktor refleksi yang diberikan ( persamaan 2.10 )
Dari tabel II.6, dapat diterangkan bahwa semakin lama
gangguan yang terjadi pada suatu peralatan GIS, maka tegangan
langkah yang diijinkan akan semakin kecil.
51
Tabel II.6.
Lama gangguan t
( detik )
Tegangan langkah yang diijinkan
( Volt )
0,1
0,2
0,3
0,4
0,5
1,0
2,0
3,0
7.000
4.950
4.040
3.500
3.140
2.216
1.560
1.280
Sumber Pustaka : Ir. hutauruk, 1991, p133
Tegangan langkah yang diijinkan dan lama gangguan
c. Tegangan Peralihan ( Transferred Voltage )
Tegangan peralihan atau tegangan pindah adalah hal
khusus dari tegangan sentuh, di mana tegangan ini terjadi bila pada
saat terjadi kesalahan, seseorang berdiri di dalam gardu induk dan
menyentuh suatu peralatan yang diketanahkan pada titik yang jauh,
sedangkan peralatan tersebut dialiri arus kesalahan ke tanah. Dari
gambar II.14 terlihat bahwa besar tegangan yang dirasakan jauh
lebih besar dari tegangan sentuh atau tegangan langkah. Tetapi
pada umumnya konduktor – konduktor yang demikian selalu di
isolasi. Sebagai contoh adalah tegangan peralihan yang
ditimbulkan oleh konduktor netral tegangan rendah yang
52
diketanahkan pada sistem pengetanahan switchyard, dimana
konduktor tersebut merupakan jaringan distribusi yang melayani di
luar daerah switchyard.
Sumber Gambar : Pengetanahan Netral Sistem Tenaga dan Pengetanahan
Peralatan, Erlangga, Jakarta
Gambar II.14 Tegangan peralihan dengan rangkaian
penggantinya
Pada saat tidak terjadi gangguan, konduktor tersebut
tidak bermuatan, tetapi pada saat gangguan di switchyard yang
mana arus gangguan tersebut dialirkan ke system pengetanahan.
Switchyard akan terjadi aliran arus gangguan dari pengetanahan
tersebut melalui konduktor netral jaringan tegangan rendah itu.
Arus gangguan yang biasanya cukup tinggi ini akan menimbulkan
bahaya bagi orang yang menyentuh konduktor netral tersebut. Dari
gambar II.14, diperoleh :
53
EP = I R0 ( 2.15 )
Dengan anggapan Ik « I, sebab
2
RF
+ RB » R0
dimana :
EP = tegangan peralihan ( Volt )
R0 = tahanan pengetanahan ( Ohm ), yang besarnya adalah
R0 =
L r
ρ ρ
+
4
( 2.16 )
RB = tahanan tubuh manusia ( 1000 Ohm )
RF = tahanan tanah tepat berada di setiap kaki ( Ohm )
r = jari – jari dari luas gardu induk ( meter )
ρ = tahanan jenis tanah ( Ohm meter )
L = panjang total dari konduktor kisi – kisi dan batang ( meter )
Apabila kita perhatikan ketiga keadaan di atas, terlihat
bahwa arus kesalahan total I akan terbagi dua, dimana arus sebesar
Ik akan melewati badan, sedang sisanya sebesar I – Ik akan
langsung menuju tanah.
2. Perencanaan Sistem Pengetanahan
54
Pada dasarnya arus gangguan hubung singkat ke tanah yang
mengalir di tempat gangguan maupun di tempat pengetanahan switchyard
menimbulkan perbedaan tegangan di permukaan tanah yang dapat
mengakibatkan terjadinya tegangan sentuh dan tegangan langkah yang
melampui batas - batas tegangan yang berbahaya bagi keamanan manusia
maupun binatang, Oleh karena itu kita harus merencanakan sistem
pengetanahan yang akan diterapkan pada pengetanahan GIS, sedang
langkah - langkahnya adalah sebagai berikut ;
a. Penyelidikan Karakteristik Tanah dan Pengukuran Tahanannya
Karakteristik tanah sangat berkaitan erat dengan Tabel
II.4 perencanaan sistem pengetanahan yang akan digunakan. Pada
kenyataannya, tanah selain bersifat sebagai konduktor juga bersifat
sebagai dielektrik. Akibatnya, akan mengalir pengisian arus
( charging current ) yang disertai dengan rugi arus (leakage
current). Tetapi pada frekuensi yang biasadipakai ( 50 - 60 Hz ),
maka charging current ini dapat diabaikan dan tanah dapat kita
anggap tahanan murni.
Sesungguhnya struktur tanah tidak sesederhana yang
diperkirakan. Pada suatu lokasi tertentu, sering dijumpai beberapa
jenis tanah yang mempunyai tahanan jenis tanah yang berbeda -
beda ( non-uniform ). Jenis tanah terjadi karena proses alami.
Seperti halnya pada pemasangan sistem. pengetanahan dalam suatu
serandang, tidak jarang peralatan tersebut ditanam pada dua atau
55
lebih lapisan tanah yang berbeda.
Pada GIS Gejayan 150 KV peralatan pengetanahannya
ditanam pada dua lapisan tanah. Bila lapisan tanah pertama dengan
ketebalan H dari suatu pengetanahan yang mempunyai tahanan
jenis ρ1 sedang lapisan bawahnya dengan tahanan jenis pz, maka
menurut F. Dawalibi didapat faktorr refleksi K ( lihat persamaan
( 2.10 ) ).
Sumber Gambar : Pengetanahan Netral Sistem Tenaga dan Pengetanahan
Peralatan, Erlangga, Jakarta
Gambar II.15 Model tanah dengan dua lapisan
Hal yang penting pada penyelidikan karakterisrik tanah
ini adalah mencari tahanan jenis tanah ( p ) Harga p ini selalu
bervariasi sesuai dengan keadaan pada saat pengukuran. Misalnya
suhu di sekitar tanah yang diukur, basah keringnya tanah atau
kandungan air dan keadaan cuaca pada waktu pengukuran
dilakukan.
Dewasa ini ada beberapa cara untuk mengukur tahanan
jenis tanah. Pada pelaksanaan pengukuran tahanan jenis tanah ini
dengan menggunakan metoda empat buah elektroda, sebuah
56
baterai, sebuah ammpermeter dan sebuah voltmeter yang sensitif
( empat buah elektroda yang digunakan terdiri dari dua buah
elektroda untuk arus dan dua buah elektroda untuk tegangan ).
Keempat elektroda ini ditanam di dalam tanah pada garis lurus,
yaitu dengan menempatkan kedua elektroda-elektroda arus yang
diambil pada jarak yang sama antar elektroda, susunan
rangkaiannya dapat dilihat seperti pada gambar di bawah ini.
1 dan 2 : elektroda arus 3 dan 4 : elektro tegangan
Sumber Gambar : Pengetanahan Netral Sistem Tenaga dan Pengetanahan
Peralatan, Erlangga, Jakarta
Gambar II.16. Cara mengukur tahanan jenis tanah.
Dari susunan pada gambar tersebut, maka tahanan jenis
tanahnya dapat dihitung sebagai berikut : ( IEEE, std, 01, 1983 )
π ρ 2 ·
a R
Dimana :
57
R = tahanan antara 3 dan 4, yaitu sebesar
I
V
( Ohm )
V = pembacaan voltmeter ( Volt )
I = pembacaan Amperemeter ( Amperemeter )
A = jarak antara elektroda ( meter )
ρ
= tahanan jenis tanah ( Ohm – meter )
Pengukuran perlu dilakukan pada beberapa tempat
yang berbeda guna memperoleh nilai rata – ratanya. Setelah
didapat nilai pengukuran tahanan jenis tanah untuk kedua lapisan
tanah, kemudian dilakukan perhitungan tahanan jenis tanah rata –
rata kedua lapisan tersebut. Tahanan jenis dua lapisan tanah
dimodelkan sebagai berikut : ( IEEE, Std 01, 1983, p97 )
ρ
r
=
1
ρ
{ 1 + 2
1 ·

n d
k
n
1
1
1
1
1
1
]
1

¸

,
_

¸
¸
1
]
1

¸

+
+

,
_

¸
¸
1
]
1

¸

+
+
2 2
2
1
2
1
d c
nH
c
c
nH
d c
} ( 2.18)
Dimana :
r ρ
= tahanan jenis rata – rata dua lapisan tanah (
m Ω
)
1
ρ
= tahanan jenis tanah lapisan satu ( Ohm meter )
K = faktor refleksi
H = kedalaman lapisan tanah pertama ( meter )
c = jarak antara elektroda arus dan elektroda tegangan
(meter)
d = jarak antara ke dua elektroda tegangan ( meter )
58
d. Penentuan Besarnya Arus Gangguan
Besarnya arus kesalahan tergantung dari besar
kapasitas sistem tenaga listrik. Sehingga untuk menentukan
besarnya arus kesalahan dapat dipakai perhitungan biasa maupun
dengan menggunakan Network Analyser, atau dengan Computer
digital. Arus di sini merupakan arus gangguan satu saluran ke
tanah { Single Line to Ground Fault } yang simetri pada gardu
induk dengan menggunakan persamaan :( IEEE, Std, 80, 1980,
p99 )
IF = 3 I0 ( 2.19 )
dimana :
I0 =
XkVbXZtot
MVAb
3
( 2.20 )
MVAb = MVA base
kVb = kV base
Ztot = impedansi total ( dalam pu )
Oleh karena impedansi saluran dan impedansi
transformator mempengaruhi besarnya arus gangguan, maka
perlu diketahui harga – harga impedansi urutan nol, urutan
positif dan urutan negatif dari sistem.
e. Perencanaan Awal
59
Tahap perencanaan awal ini kita akan mempelajari atau
menentukan konduktor yang akan dipakai, baik ukuran, bahan
maupun panjangnya. Berikut ini adalah beberapa hal yang harus
ditentukan, antara lain :
1) Penentuan Waktu Kesalahan
Waktu kesalahan ini merupakan lamanya
kesalahan terjadi atau lamanya arus gangguan I mengalir.
Pada suatu gardu induk, waktu kesalahan dapat ditentukan
sehubungan dengan waktu pembukaan alat – alat proteksi
yang terdapat pada gardu tersebut, artinya kita harus
mengetahui berapa lama waktu yang diperlukan dari suatu
pemutus daya untuk membuka sejak saat terjadinya
kesalahan hubung singkat.
2) Bahan dan Ukuran Konduktor Pengetahanan
Bahan elektroda yang digunakan untuk konduktor
pengetanahan adalah tembaga, karena logam tersebut
mempunyai sifat konduktivitas yang tinggi dan sukar
berkarat. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel
(II.7), sebagai perbandingan sifat bahan dari tembaga dan
aluminium.
Tabel II.7
60
Sifat Tembaga Aluminium
* Berat tiap satuan panjang 1,0 0,50
untuk konduktifitas yang sama
* Konduktifitas untuk luas yang
sama :
1. Listrik 1,0 0,61
2. Temperatur 1,0 0,56
* Kekuatan tarik 1,0 0,40
* Kekerasan 1,0 0,44
* Modulus gaya pegas 1,0 0,55
* Koefisien suhu pemuaian 1,0 0,39
* titik lebur 1,0 0,61
Sumber Pustaka : IEEE, Guide for Measuring Earth resistivity, Ground 92
Perbandingan relatif dari tembaga dan aluminium
Ukuran kawat tembaga harus cukup besar karena
ia harus tahan terhadap arus kesalahan yang besar, dan
secara mekanis harus cukup kuat dan tahan terhadap
korosi. Oleh IEEE dianjurkan untuk menghitung
penampang kawat tembaga yang merupakan formula dari
Onderdonk adalah sebagai berikut : ( IEEE, Std 80, 1986,
p65 )
A =
cmils
Ta
Tn Tm
t
I
)
234
1 log( )
85 , 32
1
(
+

+
( 2.21 )
Di.mana :
A = Luas penampang kawat ( circular mils )
I = Arus gangguan yang mengalir melalui
konduktor ( Ampere )
61
t = Waktu lamanya kawat dialiri arus ( detik )
Ta = Temperatur sekeliling lokasi ( 0C )
Tm = Temperatur maksimum konduktor yang
diperbolehkan.
Temperatur yang diijinkan adalah : ( IEEE, Std 80, 1986,
p69 )
450 0C untuk sambungan las.
250 0C untuk sambungan dengan baut.
3) Rencana Pemasangan dan Penyambungan antar
konduktor
Pada sekeliling daerah pengetanahan kita pasang
konduktor, hal ini untuk menjaga agar tidak terjadi
pemusatan arus di ujung – ujung konduktor tersebut yang
dapat menimbulkan gradien tegangan yang besar.
Selanjutnya kita memasang konduktor – konduktor grid
yang sejajar satu sama lain pada lantai satu dan lantai dua
serta dihubungkan dengan metal peralatan. Pada lantai dua
kita pasang rod, ini dimaksudkan agar arus tidak terlalu
terpusat dipermukaan tanah. Hal tersebut cukup penting,
terutama di daerah dimana tanah di permukaan, jauh lebih
kecil dari pada tanah di bawah permukaan.
62
Untuk penyambungan antar konduktor
pengetahanan yang biasa digunakan adalah las atau dengan
klem dan baut. Sedang hal yang penting dalam
penyambungan adalah harus menjamin bahwa sambungan
tersebut tidak akan rusak atau minimal leleh pada saat
konduktor pengetanahan dilalui arus gangguan yang tinggi
serta tidak akan menimbulkan korosi pada konduktor
pengetanahan. Di samping itu sambungan harus dibuat
sebaik mungkin sehingga tidak mempengaruhi atau
memperbesar tahanan pengetanahan.
4) Penentuan Panjang Konduktor minimal
Kebutuhan akan konduktor pengetanahan
umumnya baru dapat diperkirakan setelah diketahui letak
peralatan yang hendak diketanahakan, serta sistem
pengetanahan yang digunakan. Perhitungan panjang
konduktor minimal ini diperlukan untuk mengetahui
gradien tegangan. Sebagai dasar perhitungan atau kriteria
akan dipakai tegangan sentuh dan bukan tegangan langkah
atau tegangan peralihan. Hal ini karena :
- Bahwa tegangan langkah lebih kecil dari pada
tegangan sentuh, juga badan lebih tahan terhadap arus
yang melalui kaki – kaki dari pada arus yang melalui
tangan dan kaki.
63
- Bahwa tegangan peralihan umumnya kurang
diperhatikan karena konduktor – konduktor yang
dapat mempunyai tegangan peralihan tersebut sudah
diisolasi.
Tegangan sentuh yang dimaksud di atas adalah
tegangan sentuh yang terjadi antara peralatan yang
diketanahkan terhadap tengah – tenga daerah yang
dibentuk konduktor kisi – kisi selama gangguan hubung
singkat ke tanah. Tegangan inilah yang biasa disebut
tegangan mesh atau tegangan sentuh maksimum atau
tegangan sentuh sebenarnya yang diambil sebagai tegangan
untuk desain yang aman. Besarnya tegangan sentuh
sebenarnya yang terjadi adalah : ( IEEE, Std, 80, 1986,
p114 )
ES ( ak ) = Km K1 ρr
. I
Ig
( 2.22 )
di mana :
Km = suatu koefisien potensial permukaan tanah yang
besarnya adalah :
Km =
η 2
1
{In[
dt
he
Dd
he D
hed
D
4 1 8
2 ) 2 (
1 16
2

+
+
]+
In
Kh
Kii
[
1 2 (
8
− n η
]} (2.23)
Ki = faktor koreksi untuk kerapatan arus yang
besarnya menurut IEEE dengan rumus empiris
64
adalah :
Ki = 0.656 +0.172 n ( 2.24 )
n = jumlah konduktor paralel dalam kisi – kisi
utama, tidak termasuk semua batang
pengetanahan.
n =
, nAxnB
untuk perhitungan tegangan mesh
n = max ( nA, nB ), untuk perhitungan tegangan
langkah.
ρr = tahanan jenis tanah rata – rata lapisan satu dan
dua ( Ohm meter )
Ig = arus pengetanahan grid ( Ampere )
Panjang total konduktor pengetanahan ( meter )
menurut IEEE dengan rumus empiris, adalah :
L = L1 + 1,15 Lr
L1 = panjang total konduktor grid ( meter )
Lr = panjang total konduktor rod ( meter )
D = jarak antara konduktor paralel dan kisi – kisi
(meter)
di = diameter konduktor grid ( meter )
he = kedalaman penanaman grid ( meter )
Kii = 1
Kh =
he + 1
65
Pada waktu arus gangguan mengalir antara batang
pengetanahan dan tanah, maka tanah akan menjadi panas
akibat dari i2R. Suhu tanah harus tetap dibawah 1000C
untuk menjaga jangan sampai terjadi penguapan pada air
yang dikandung di dalam tanah dan kenaikan tahanan
jenisnya. Kerapatan arus yang diijinkan pada permukaan
batang pengetanahan dapat dihitung dengan persamaan
sebagai berikut : ( Ir, Hutauruk, 1991, p150 )
I = 3,1414 X 10-5 X d
t
o
ρ
6
( 2.25 )
dimana :
i = kerapatan arus yang dijinkan ( A/cm )
d = diameter batang pengetanahan ( mm )
¢ = panas spesifik rata – rata tanah ( ± 1,75.106 watt
detik tiap m3 tiap 0C )
Ө = kenaikan suhu tanah yang diijinkan ( 0C )
Ρ = tahanan jenis tanah rata – rata lapisan satu dan dua
( Ohm meter )
T = lama waktu gangguan ( detik )
66
C. VSAT
VSAT ( dalam bahasa Inggris, merupakan singkatan dari Very
Small Aperture Terminal ) adalah stasiun penerima sinyal dari satelit dengan
antena penerima berbentuk piringan dengan diameter kurang dari tiga meter.
Fungsi utama dari VSAT adalah untuk menerima dan mengirim data ke satelit.
Satelit berfungsi sebagai penerus sinyal untuk dikirimkan ke titik lainnya di
atas bumi. Sebenarnya piringan VSAT tersebut menghadap ke sebuah satelit
geostasioner. Satelit geostasioner merupakan satelit yang selalu berada di
tempat yang sama sejalan dengan perputaran bumi pada sumbunya yang
dimungkinkan karena mengorbit pada titik yang sama di atas permukaan
bumi, dan mengikuti perputaran bumi pada sumbunya.
1. Mengirim dan Menerima Data
Mendapatkan data Internet dari setelit sama dengan
mendapatkan sinyal televisi dari satelit. Data dikirimkan oleh satelitdan
diterima oleh sebuah alat decoder pada sisi pelanggan. Data yang diterima
dan yang hendak dikirimkan melalui VSAT harus diencode dan di decode
terlebih dahulu. Satelit Telkom 1 menggunakan C Band ( 4-6 GHz ).
Selain C Band ada juga KU - Band. Namun C Band lebih tahan terhadap
cuaca dibandingkan dengan KU - Band. Satelit ini menggunakan frekuensi
yang berbeda antara menerima dan mengirim data. Intinya, frekuensi yang
tinggi digunakan untuk uplink ( 5,925 sampai 6,425 GHz ), frekuensi yang
lebih rendah digunakan untuk downlink ( 3,7 sampai 4.2 GHz ).
67
Sistem ini mengadopsi teknologi TDM dan TDMA. Umumnya
konfigurasi VSAT adalah seperti bintang. Piringan yang ditengah disebut
hub dan melayani banyak piringan lainnya yang berlokasi di tempat yang
jauh. Hub berkomunikasi dengan piringan lainnya menggunakan kanal
TDM dan diterima oleh semua piringan lainnya. Piringan lainnya
mengirimkan data ke hub menggunakan kanal TDMA. Dengan cara ini
diharapkan dapat memberikan konektifitas yang baik untuk hubungan
data, suara dan fax. Semua lalu lintas data harus melalui hub ini, bahkan
jika suatu piringan lain hendak berhubungan dengan piringan lainnya. Hub
ini mengatur semua rute data pada jaringan VSAT.
Frame TDM selalu berukuran 5.760 byte. Setiap frame
memiliki 240 sub - frame. Setiap sub – frame adalah 24 byte. Panjang
waktu frame tergantung pada data rate outbound yang dipilih. TDMA
selalu pada 180 ms. TDMA disinkronisasi untuk memastikan bahwa
kiriman data yang berasal dari stasiun yang berbeda tidak bertabrakan satu
dengan yang lainnya.
Pendapat umum mengatakan bahwa koneksi dengan satelit
adalah koneksi yang paling cepat. Kenyataanya adalah tidak. Waktu yang
dibutuhkan dari satu titik di atas bumi ke titik lainnya melalui satelit
adalah sekitar 700 milisecond, sementara leased line hanya butuh waktu
sekitar 40 milisecond. Hal ini disebabkan oleh jarak yang harus ditempuh
oleh data yaitu daribumi ke satelit dan kembali ke bumi. Satelit
geostasioner sendiri berketinggian sekitar 36.000 kilometer di atas
68
permukaan bumi.
2. Perangkat
Terminal Antena Sangat Kecil adalah alat di stasiun bumi dan
digunakan untuk mengirim serta menerima pancaran frekwensi daripada
satelit. Antena VSAT berukuran lebih kurang 2 hingga 10 kaki ( 0.55
-2.75m ) dipasang di atap, dinding atau atas tanah dan pemilihan besar
kecilnya antena sangat tergantung pada jenis frekuensi ( misalnya C band
atau KU band ) yang akan digunakan.
3. Komponen
Komponen VSAT, terdiri dari:
a. Unit Luar ( Outdoor Unit ( ODU ) :
1) Antena / dish / parabola ukuran 2 hingga 4 kaki ( 0.55
- 2.4m ), yang dipasang pada atap, dinding atau di tanah.
2) BUC ( Block Up Converter ), yang menghantarkan
sinyal informasi ke satelit. Juga sering disebut sebagai
Transmitter (Tx).
3) LNB ( Low Noise Block Up ), yang menerima sinyal
informasi dari satelit. Juga sering disebut sebagai Receiver ( Rx
).
69
Gambar. II.17 ( V – Sat )
b. Unit Dalam ( Indoor Uni t ( IDU ) :
1) Modem ( Modulator / Demodulator ), sebuah
alat dipanggil Return Channel Satellite Terminal yang
menyambungkan dari unit luar dengan IFL kabel berukuran
panjang tidak lebih 50 meter.
2) IFL ( Inter Facility Link ). Merupakan media
penghubung antara ODU & IDU. Fisiknya biasanya berupa
kabel dengan jenis koaksial dan biasanya menggunakan
konektor jenis BNC ( Bayonet Neill – Concelman ).
70
Gambar. II.18 ( Modem Internal )
c. Satelit
1) Merupakan alat di orbit bumi khusus untuk
menerima / menghantar maklumat secara nirkabel,
berkomunikasi melalui frekuensi radio.
Menggunakan Satelit Telkom 2 ( Indonesia ) digunakan
untuk Depdagri, dengan teknologi C band yang lebih tahan dengan
cuaca di Indonesia ( berhubungan dengan masalah curah hujan
yang cukup tinggi di Indonesia ). Menggunakan Komunikasi 2
arah, menerima dan menghantar isyarat. Daerah yang dipasang
VSAT dikenali sebagai remote terminal, dikawal oleh hub station.
Semua isyarat dari satelit dikirim ke hub terlebih dahulu sebelum
dikirim kembali ke terminal remote lain, yaitu Propinsi /
Kabupaten.
71
- Kapasitas muat turun ( download ) ialah 1 Mbps
tetapi boleh dinaik taraf sehingga mencapai 45 Mbps.
- Kapasitas muat naik (upload) pula ialah 128 Kbps
tetapi boleh dinaik taraf sehingga mencapai 1.1 Mbps.
- Kontrak perjanjian SchoolNet hanya 1 Mbps muat
turun dan 128 Kbps muat naik.
d. Kedudukan Satelit
Jenis-jenis satelit bergantung kepada kedudukannya
dengan permukaan bumi.
Ada 4 jenis satelit :
1) GEO - Geostaioner ( geo-synchronous ) earth
orbit
2) MEO -Medium earth orbit
3) LEO -Low earth orbit Orbit bumi rendah
4) HEO -Highly elliptical orbit
72
BAB III
TINJAUAN MASALAH
A. Alasan Pembuatan Sistem Pentanahan
Pengertian pentanahan ( grounding ) adalah merupakan suatu
mekanisme dimana daya listrik dihubungkan langsung dengan tanah ( bumi ).
Adapun alasan pembuatan sistem pentanahan tersebut adalah untuk membatasi
tegangan pada bagian-bagian peralatan yang tidak seharusnya dialiri arus mis:
body / casing, hingga tercapai suatu nilai yang aman untuk semua kondisi
operasi, baik kondisi normal maupun saat terjadi gangguan, memberikan
jaminan keselamatan dari bahaya kejut listrik, baik perlindungan dari sentuh
langsung maupun tak langsung, serta perlindungan terhadap suhu berlebih
yang dapat mengakibatkan kebakaran.
Tujuan utama dari adanya pentanahan adalah menciptakan jalur
yang lowimpedance ( tahanan rendah ) terhadap permukaan bumi untuk
gelombang listrik dan transient voltage. Penerangan, arus listrik, circuit
switching dan electrostatic discharge adalah penyebab umum dari adanya
sentakan listrik atau transient voltage. Sistem pentanahan yang efektif akan
meminimalkan efek tersebut.
Jika terjadi gangguan/kondisi yang tidak diinginkan, baik langsung
atau tidak langsung ( induksi ) diupayakan agar gangguan tersebut dialirkan
ke tempat yg aman, misal, ke tanah.
Ada dua macam grounding system :
73
- Yang pertama adalah Safety Grounding atau grounding untuk
keamanan / keselamatan perangkat maupun manusia.
- Yang kedua adalah RF Grounding. Sistem grounding ini khusus
diaplikasikan pada instalasi perangkat radio komunikasi.
B. Pemilihan Lokasi
Berbagai alasan kenapa dalam pembuatan sistem pentanahan
pemilihan lokasi sangat perlu diperhatikan. Adapun langkah – langkah dalam
pemilihan lokasi adalah sebagai berikut :
1. Lakukan pemilihan lokasi penanaman grounding road disekitar
bangunan anda, rencanakan berapa titik yang akan ditanamkan.
Pemasangan grounding road yang makin banyak akan menghasilkan
sistim pentanahan yang paling baik.
2. Jika anda akan memasang beberapa buah grounding road usahakan
jangan terlalu berdekatan, ditujukan supaya pembumian menyebar
disekitar rumah anda. Dan juga untuk menjaga bialamana salah satu
grounding rod sitim pembumiannya tidak bagus maka bisa dibumikan
oleh grounding road lainnya.
3. Lakukan pencarian tanah yang mudah ditancapkan. Hindari
penanaman grounding road di daerah tanah berbatu atau berpasir,
disamping penancapannya yang susah, juga kurang bagus untuk
pembumian.
4. Usahakan lokasi penempatan grounding road tidak terlalu jauh dari
74
bangunan, tapi harus diingat jangan sampai merusak sistim instalasi /
pemipaan yang telah tertanam.
5. Usahakan penempatan antara grounding road dalam garis lurus,
tidak terlalu banyak berbelok belok.
C. Pemilihan Bahan
1. Pemilihan grounding road dan kabel grounding yang akan
diinstalasi harus sesuai standar, baik jenis maupun ukurannya. ( Lihat
Gambar 14).
Gambar III.1 ( Batang Elektroda )
2. Grounding road yang paling bagus adalah pipa padat yang terbuat
dari tembaga. Disamping sebagai daya hantar yang kuat, tembaga
tidak mudah berkarat. Anda perlu memeriksa barang tersebut saat
pembelian, karena kadang kadang banyak pipa yang dijual
kelihatannya terbuat dari bahan tembaga padahal bagian dalamnya
adalah besi biasa tapi bagian luarnya disepuh dengan tembaga. Untuk
75
menchecknya anda bisa memotong secara diagonal maka akan
kelihatan apakah asli atau tidak.
3. Penggunaan besi biasa harus dihindari karena bahan ini sangat
mudah berkarat.
D. Bahan dan Alat yang Digunakan
Bahan – bahannya adalah :
1. Elektroda batang
2. Pipa Galvanis ukuran ¾“
3. Kabel NYA
4. Kawat / kabel BC
5. Isolasi
6. Klem beton No. 17
7. Klem beton No. 4
8. Klem besi / baja
9. Slang spiral
10. Terminal / Busbar
Alat – alat yang digunakan adalah :
1. Bor tanah
2. Tang
3. Obeng
4. Palu
5. Pisau cutter
76
6. Earth Tester
E. Langkah – langkah Pemasangan
Setelah alat – alat dan bahan – bahan yang diperlukan siap, maka
langkah – langkah yang harus dilakukan dalam pemasangan single grounding
adalah :
1. Membuat lubang / mengebor tanah hingga dalam kira – kira 6
meter ( dalam pengeboran ini tidak ditentukan berapa meter
dalamnya kita membuat lubang )
2. Setelah kedalaman didapat, selanjutnya memasukan pipa galvanis
berukuran ¾“ ke dalam titik pengeboran tadi.
3. Masukan batang elektroda yang telah disiapkan ke dalam pipa
galvanis yang telah dimasukan ke lubang tersebut ( pada point dua ini
saya memakai 4 buah batang elektroda yang telah dilas kuningan
hingga menjadi satu batang elektroda )
4. Setelah batang elektroda dimasukan ke lubang, maka selanjutnya
kita sambung ujung elektroda dengan kawat BC menggunakan klem
baja / besi.
5. Setelah selesai langkah ke empat, selanjutnya kawat BC yang telah
disambung dengan batang elektroda kita bungkus dengan slang spiral.
Lihat Gambar 14.
77
Gambar III.2. ( Kawat BC yang telah terbungkus dengan slang spiral ).
6. Kemudian kita pasang terminal / busbar untuk menghubungkan
kawat BC yang telah disambung dengan batang elektroda dengan
kabel NYA yang nantinya dihubungkan ke peralatan yang akan di
grounding. Lihat Gambar 15.
Gambar III.3. ( Terminal / busbar yang menghubungkan kawat BC
dengan Kabel NYA ).
78
7. Langkah terakhir adalah memasang terminal / busbar kembali,
jadi terminal / busbar tersebut fungsinya untuk membagi peralatan –
peralatan mana saja yang akan di grounding ( dalam hal ini penulis
memasang grounding untuk modem internal pada VSAT ). Lihat
Gambar 16a dan 16b.
Gambar III4a. ( Terminal / busbar untuk menghubungkan beberapa
peralatan yang akan di grounding ).
Gambar III.4b. ( Pemasangan grounding pada modem V - Sat ).
79
F. Langkah – langkah Pengukuran Pentanahan / Grounding
Setelah pemasangan grounding selesai maka langkah terakhir yaitu
pengukuran nilai tahanan. Dalam hal ini alat yang digunakan untuk melakukan
pengukuran tahanan adalah Earth Tester.
Langkah – langkah dalam pengukuran nilai tahanan adalah sebagai
berikut :
1. Periksa / cek kembali kondisi kabel grounding yang akan diukur.
( Dalam hal ini agar pada saat pengukuran mendapatkan hasil yang
maksimal )
2. Periksa kondisi alat ukur Earth Tester.
3. Bentangkan kabel warna merah sepanjang 10 meter. Ujung kabel
dijepit ke pasak yang telah ditancapkan ke dalam tanah, sedangkan
ujung yang lainnya dihubungkan ke alat ukur pada terminal C.
( Terminal C terdapat pada alat ukur ).
4. Bentangkan kabel warna biru sepanjang 10 meter. Ujung kabel
dijepit ke pasak yang telah ditancapkan ke dalam tanah, sedangkan
ujung yang lainnya dihubungkan ke alat ukur pada terminal P.
( Terminal P terdapat pada alat ukur ).
5. Hubungkan jepitan kabel warna hitam ke kabel grounding dan
ujung yang lainnya dihubungkan ke terminal E. ( Terminal terdapat
pada alat ukur ).
6. ON kan Earth Tester pada saklar sebelah kanan.
7. Tekan tombol merah / kuning pada sebelah kiri kurang lebih 10
80
detik.
8. Baca hasil pengukuran pada layar pengukuran.
Gambar III.5 ( Earth Tester )
G. Alasan Pemilihan Single Grounding
Karena sering terjadinya sambaran petir tidak langsung /
induksi pada kabel yang menuju peralatan elektronik dalam hal ini
modem VSAT dan Pemancar eksternal. Berikut adalah data – data
nilai minimum dari parameter petir adalah sebagai berikut :
Tabel III.1 Nilai minimum parameter petir
I II III IV
Arus Puncak Petir i kA 3 5 10 16
Radius bola gelinding R m 20 30 45 60
Kriteria Simbol Satuan
Tingkat SPP
81
BAB IV
PEMBAHASAN MASALAH
A. Permasalahan yang timbul dalam sistem pentanahan / grounding
adalah keadaan tanah yang juga dapat berubah seiring dengan waktu yang
tentunya saja akan mempengaruhi nilai tahanan pada pentanahan.
Karena faktor terpenting pada sistem pentanahan / grounding
adalah hambatan dalam dari tanah tempat batang ground di pasang, ada 3
( tiga ) metode untuk mengantisipasi yaitu :
1. Dengan menyiram tanah dari grounding tersebut dengan
campuran air dan serbuk arang. Mengapa serbuk arang ? serbuk arang
lebih bagus mempertahankan air ( kandungan elektrolit ) yang terserap
dibandingkan tanah itu sendiri yang cenderung mengalirkan kelapisan
tanah dibawahnya, apalagi jika lapisan atas dari tanah tempat grounding
tersebut berupa lapisan tanah pasir yang tentu saja akan lebih cepat
mengalirkan air ke lapisan tanah dibawahnya.
2. Metode ini umum dilakukan pada pembumian / grounding dari
menara maupun bangunan dengan penangkal petir yaitu dengan menanam
batang grounding / arde lebih dalam ke bumi. Penanaman dari grounding
tersebut umumnya menggunakan elektroda pelat dan bisa mencapai
belasan meter dibawah permukaan tanah. Tujuan dari penanaman lebih
dalam ini adalah untuk melewati beberapa lapisan tanah yang
82
memungkinan untuk mendapatkan lapisan tanah dengan hambatan dalam
terkecil. Cukup mengganti batang elektroda / arde menjadi lebih panjang
lagi sehingga lebih memungkinan untuk mendapatkan lapisan tanah
dengan hambatan dalam terkecil. Hal tersebut tentu saja juga dipengaruhi
kondisi tanah disekitar grounding sehingga anda dapat juga menambahkan
metoda pertama dalam penanaman grounding ini.
3. Sedikit berbeda dengan dua metoda sebelumnya yang hanya
menggunakan 1 batang ground / arde, metoda ketiga ini menggunakan dua
atau lebih batang ground / arde. Metoda ini sering digunakan pada
pemasangan peralatan jaringan distribusi TM / TR ( Gardu Distribusi,
ABSW pada tiang, dsb. ) Yang tujuannya tentu saja mendapatkan
hambatan dalam dari tanah sekecil – kecilnya.
Pada pembahasan mengenai hambatan ( resistansi ) yang
disimbolkan dengan huruf R, dikatakan bahwa pada rangkaian paralel:
Gambar IV.1
1 / R total = 1 / R1 + 1 / R2 + 1 / R3 + … + 1 / Rn
Dengan menggunakan perhitungan diatas kita akan memperoleh R
83
total menjadi lebih kecil. Dari prinsip inilah kita gunakan dalam memperbaiki
hambatan dalam pada sistim grounding. Pemasangan batang ground / arde
terlihat seperti gambar dibawah ini.
Gambar IV.2 Pemasangan 3 Batang Ground / Arde
Biasanya jarak pemasangan peralel dari batang ground antara satu
dan lainnya lumayan berjauhan. Aturan mengatakan bahwa jarak antar batang
ground / arde minimal adalah 2x panjang batang ground / arde tersebut. Jika
pada pengukurannya masih kurang bagus kita bisa tambahkan penanaman
batang arde lagi. Disamping itu kita dapat menambahkan metode pertama
pada tiap batang ground / arde yang ditanam.
84
B. Keuntungan dari sistem pentanahan single grounding adalah
sebagai berikut :
1. Pengaman tegangan sentuh.
2. Pengaman tegangan langkah.
3. Penyama tegangan grounding.
4. Pengaman dari adanya petir.
5. Pengikat netral.
Berikut ini adalah hasil dari analisa teori pengukuran single
grounding :
Luas tanah PH dan halamannya (A)= 80 x 120m2 pada system
grounding net ditanam n=20 batang rod dengan panjang 6 m /rod, Ørod 2cm
( Ø) =0,02m , grounding konduktor net dipilih dgn diameter (Ø) net 1cm (d)
= 0,01m (sesuai table terlampir untuk pemilihan penampang conductor
grounding dgn kalkulasi arus discharge surja petir maksimal < 13 kA , dan
kedalaman tanam konduktor net (S)= 1 s/d 2 m, nilai ρ (rho) tahanan jenis
tanah adalah kapur , berpasir, batuan liat = 200 Ω meter,
L net = (2 x 80) + (2 x √802 + 1202 ) + ( 2 x 30 ) + ( 2 x 20 ) + ( 4 x 45 ) + ( 4 x 30 )
= 1088m
L rod = 20 x 6m = 120m,
L t = 1088 + 120
= 1208 ≈ 1300 m Panjang konduktor gronding
85
(Ø) diameter konduktor ditetapkan= 0,01 meter, atau 100 mm Ø
rod diabaikan dan kedalaman tanam S ditetapkan 1 meter
A = 80 x 120 = 9600m2 Luas tanah yang akan di pasangkan
gounding
De = √4A / π
= √ ((4 x 9600)/ 3,14)
= √ 12.229,3 =110 Penampang efektif Net
Formula R minimal (Re)
Re = ρ / 4πL x{ ln (4L/d) -1+ln( {( (2L+(s2 + 4L )½) )/S + (S/2L)-((S2 +
4L)½ ) / 2L }
= (200/ (4x3,14x1300)) { ln (4x1300)/0,01) 1+ln(2x1300+√
(1+4x3,14x1300)/1 + 1/(2x1300) –(√1+4x1300)/(2x1300) }
= 200/(4x3,14x1300 { ln 520.000 – 1 + ln 2.672 +(1/2600)- √
(5201/2600)
= 0,0122 x { 13,16 – 1 +7,89 + 3,85 x 10-6 – 0,0278 }
= 0,0122 x 20,022
= 0,556Ω
Formula R maksimal (Rb)
Rb = ρ { (1/2De) + (1/L) }
= 200 { (1/2 x 110) + (1/1300) }
= 200 { 0,009 + 0,00076 } = 1,06 Ω
86
Untuk memperkecil nilai Rb maka Luasan Efektip De diperbesar
dan apabila Rb (maksimal ) sudah tidak lebih 2 x nilai Re (minimal) maka
Rt grounding system sbb :
1/Rt = (1/Ra) + (1/Rb)
1/Rt = (1/0,556) + (1/1,06) = 1,799
Rt = 0,555 Ω
87
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penangkal petir tidak akan bekerja / berfungsi tanpa sistem
grounding ( pentanahan ) yang benar ( maksimal dengan nilai resistansi
dibawah 5 Ohm ). Jadi grounding berfungsi sebagai sarana pengarah arus petir
yang bisa menyebar ke segala arah yang kemudian langsung diarahkan ke
dalam tanah. Yang perlu diperhatikan dalam perancangan sistem pentanahan
adalah tidak timbulnya bahaya tegangan yang mengalir. Kriteria yang dituju
dalam pambuatan sistem pentanahan adalah bukannya hanya rendahnya nilai
resistansi, akan tetapi dapat dihindarinya bahaya seperti tersebut diatas.
Namun demikian baik - buruknya sistem pentanahan / grounding
sangat menentukan rancangan sistem pentanahan / grounding internal,
semakin tinggi nilai resistansi suatu pentanahan, akan menyebabkan semakin
tinggi pula tegangan yang terdapat pada penyama potensial ( Potensial
Equalizing Bonding ), sehingga upaya proteksi internalnya akan akan kurang
efektif.
Dengan demikian kita harus menyadari bahwa betapa perlunya
sistem pentanahan / grounding untuk menghindari resiko kerugian yang lebih
besar dari bahaya sambaran petir maupun untuk membatasi tegangan pada
bagian - bagian peralatan yang tidak seharusnya dialiri arus mis : body /
casing, hingga tercapai suatu nilai yang aman untuk semua kondisi operasi,
88
baik kondisi normal maupun saat terjadi gangguan, memberikan jaminan
keselamatan dari bahaya kejut listrik, baik perlindungan dari sentuh langsung
maupun tak langsung, serta perlindungan terhadap suhu berlebih yang dapat
mengakibatkan kebakaran.
B. Saran – saran
Agar sistem pentanahan / grounding berfungsi dengan baik maka
perlu dilakukan pengecekan dan pengukuran rutin atau berkala sehingga nilai
tahanan yang diinginkan selalu sesuai yaitu dibawah 5 Ohm.
Jika pada saat pengukuran nila tahanan masih diatas 5 Ohm maka
perlu dilakukan penambahan batang elektroda supaya menghasilkan nilai
tahanan yang diinginkan.
Pemasangan sistem pentanahan / grounding memiliki kelebihan dan
kekurangan, karena itu untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal maka
perlu dilakukan penambahan yaitu pemasangan anti petir untuk mendukung
sistem pentanahan / grounding internal yang telah dibuat.
89
DAFTAR PUSTAKA
F. Dawalibi, D. Mukhedar, Influence of Ground Roads on Grounding grids,
IEEE Tran on PAS, Vol. Pas – 98, No. 6, Nov / Dec. 1979
F. Dawalibi, D. Mukhedar, Parametric Analysis of Grounding Grids, IEEE
Tran on PAS, Vol. PAS – 98, No. 5, Sept / Oct. 1979
Hutauruk, TS, Pengetanahan Netral Sistem Tenaga dan Pengetanahan
Peralatan, Erlangga, Jakarta, 1987
H. B. Dwight, Calculation of Resistance of Ground, Tran. Vol 5, Dec 1936
IEEE, Guide for Safety in AC Substation Grounding, Std, 80 – 1986, March
21, 1985
IEEE, Guide for Measuring Earth Resistivity, Ground 92
Wikipedia, V - Sat
90

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful